P. 1
isi

isi

|Views: 387|Likes:
Published by Eka Jail

More info:

Published by: Eka Jail on Apr 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

BAB I

PENDAHULUAN
11 Latar Belakang
Dalam mekanika statistik, statistik Fermi-Dirac merupakan kasus tertentu dalam
statistik partikel yang dikembangkan oleh Enrico Fermi dan Paul Dirac dalam menentukan
distribusi statistik keadaan energi fermion dari sistem kesetimbangan termal. Dengan kata
lain distribusi peluang tiap kemungkinan level-level energi yang diduduki oleh suatu
fermion.
Pada umumnya, statistik Fermi-Dirac membahas tentang fungsi gelombang dari
fermion yang antisimetris di bawah pengaruh pertukaran fermion.
Fermion merupakan partikel yang tak dapat dibedakan dan mengikuti asas larangan
Pauli: tidak boleh suatu partikel mepunyai bilangan kuantum yang sama dalam waktu yang
sama. Fermion mempunyai spin setengah. Statistik thermodinamika digunakan untuk
mendeskripsikan perilaku partikel dalam jumlah besar. Kumpulan dari fermion tanpa
interaksi disebut dengan gas fermi.
Statistik Fermi-Dirac diperkenalkan pada tahun 1926 oleh Enrico Fermi dan Paul
Dirac yang diaplikasikan pada tahun yang sama oleh Ralph Fawler dalam menggambarkan
kehancuran bintang kerdil putih. Dan pada tahun 1927 oleh Arnold Sommerfeld digunakan
untuk menggambarkan elektron dalam logam.
Mempelajari statistik Fermi-Dirac mengikuti aturan larangan pauli. Namun
ketentuan dalam statistik Fermi-Dirac ini lebih ketat dalam pengisian titik fase. Misalkan
suatu kompartemen bervolume h
3
tidak boleh lebih dari dua titik fase. Implikasinya, prinsip
larangan pauli ini mempengaruhi susunan elektron di dalam atom yang sama yang
mempunyai bilangan kuantum yang sama. Koordinat kompartemen di dalam ruang fase
berkorespondensi dengan bilangan kuantum. Dengan alasan itu, maka boleh terdapat dua
titik fase di dalam kompartemen yakni elektron-elektron yang mana titik representatif
mempunyai arah spin yang berlawanan. Jumlah maksimum titik representatif mempunyai
arah spin yang berlawanan. Jumlah maksimum titik representatif di dalam sel dua kali
jumlah kompartemen (sudah tentu kondisi aktual mungkin kurang karena mungkin ada
kompartemen yang kosong). Jika dimisalkan masing-masing kompartemen dibagi menjadi
dua bagian dan masing-masing bagian tidak boleh lebih dari satu titik. Jumlah setengah
kompartemen di dalam masing-masing sell yaitu:
1
n = 2 H / h
3
dan jumlah titik maksimum di dalam masing-masing cell adalah n.
12 Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1.21Bagaimana peluang thermodinamika pada statistik Fermi-Dirac?
1.22Bagaimana fungsi distribusi Fermi-Dirac?
1.23Bagaimana fungsi distribusi kecepatan, kelajuan, dan energi?
1.24Bagaimana panas jenis menurut statistik Fermi-Dirac?
1.25Bagaimana emisi termionik menurut statistik Fermi-Dirac?
13 Tujuan
Dari permasalahan di atas, maka adapun tujuan yang ingin kami capai adalah
sebagai berikut.
1.31Untuk menjelaskan peluang thermodinamika pada statistik Fermi-Dirac.
1.32Untuk menjelaskan fungsi distribusi Fermi-Dirac.
1.33Untuk menjelaskan fungsi distribusi kecepatan, kelajuan, dan energi.
1.34Untuk menjelaskan panas jenis menurut statistik Fermi-Dirac.
1.35Untuk menjelaskan emisi termionik menurut statistik Fermi-Dirac
14 Manfaat
Manfaat yang ingin kami peroleh dalam pembuatan makalah ini adalah untuk
mengetahui statistik Fermi-Dirac pada permasalahan fisika.
15 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah dengan
metode kajian pustaka, yaitu dengan mengkaji berbagai sumber dan literatur yang terkait
dengan materi yang dibahas dalam makalah ini.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Peluang Thermodinamika
Misalkan sebuah sistem dengan dua cell i dan j, masing-masing dibagi menjadi
empat kompartemen, dengan menganggap makrostatetnya N
i
= 3, dan N
j
= 1. Gambar 1
menunjukkan cell i dan j dengan tidak boleh lebih dari satu titik tiap kompartemen,
dengan demikian terdapat 4 cara susunan tiga titik fase di dalam cell i, dan empat cara
susunan sebuah titik di dalam cell j.
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b02000000000
50000000c024e047b07040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc020000000
00102022253797374656d00047b070000fa070000985c110004ee8339681436020c0200000
40000002d01000004000000020101001c000000fb029cff000000000000900100000000044
0001254696d6573204e657720526f6d616e00000000000000000000000000000000000400
00002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000079074
c0420032d00040000002d010000030000000000
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b02000000000
50000000c024e047b07040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc020000000
00102022253797374656d00047b070000fa070000985c110004ee8339681436020c0200000
40000002d01000004000000020101001c000000fb029cff000000000000900100000000044
0001254696d6573204e657720526f6d616e00000000000000000000000000000000000400
00002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000079074
c0420032d00040000002d010000030000000000
Gambar 1: Susunan titik fase yang berbeda di dalam sebuah cell di dalam ruang fase
menurut statistik Fermi-Dirac.
Peluang thermodinamika masing-masing cell adalah:
W
i
= 4 dan W
j
= 4
Untuk setiap susunan di dalam cell i kita dapat memiliki salah satu susunan di dalam
cell j. Dengan demikian jumlah total kemungkinan susunan atau peluang
thermodinamika dari makrostate adalah:
W = W
i
W
j
= 16
Berbeda dengan hasil statistik Maxwell-Bolzmann untuk kasus yang sama di mana
diperoleh W = 4, serta untuk statistik Bose-Einstein W = 80.
3
Secara umum untuk sejumlah cell dalam statistik Fermi-Dirac dapat
dirumuskan:
W = Π W
i
Penurunan pernyataan untuk sembarang W
i
lebih mudah daripada untuk
statistik Bose-Einstein. Untuk n kompartemen dari sebuah cell, jika ada N, yang
ditempati, maka ada (n - N
i
) yang tak ditempati (kosong). Perhitungan jumlah cara
untuk n kompartemen yaitu dapat dibagi di dalam dua kelompok, satu kelompok
dengan kompartemen yang ditempati, dan kelompok yang lain untuk kompartemen
yang kosong.
Jumlah cara untuk N partikel yang didistribusikan di antara cell-cell dalam
ruang fase, dengan N
1
, N
2
, N
3
, dst. Jumlah tersebut yaitu:
! N
! N
!... N ! N ! N
! N
i 3 2 1
Π
·
Secara umum, persamaan di atas memberikan jumlah cara untuk sesuatu N
yang disusun dalam suatu kelompok, jumlah N
1
, N
2
, N
3
dst. menyatakan jumlah di
dalam tiap-tiap kelompok. Di dalam statistik Maxwell-Boltzmann “sesuatu” yang
disusun adalah titik fase, jumlah “kelompok “ sama dengan jumlah cell di dalam ruang
fase, dan jumlah cara dari susunan “sesuatu” disebut peluang thermodinamika dari
makrostate.
Dengan cara yang sama, peluang thermodinamika untuk cell tertentu
didefinisikan sebagai jumlah cara kompartemen yang berbeda dapat dibagi ke dalam
dua kelompok, yaitu kelompok yang ditempati dan kelompok yang kosong. Jumlah
kompartemen total adalah n, yang ditempati adalah N
i
, dan yang kosong adalah n - N
i
.
dengan demikian cara berbeda dalam pembagian kompartemen ke dalam kelompok
ditempati dan kelompok kosong, atau peluang thermodinamika W
i
, adalah:
)! N n ( ! N
! n
W
i i
i

·
(1)
Misalkan, N
i
= 3, N
j
= 1, n = 4, maka akan diperoleh:
4
)! 3 4 ( ! 3
! 4
W
i
·

·
4
4
)! 1 4 ( ! 1
! 4
W
i
·

·
Sehingga, sesuai dengan hasil yang diperoleh dengan cara menghitung. Secara
umum pernyataan untuk peluang thermodinamika dari makrostate tertentu dalam
statistik Fermi-Dirac adalah:
)! N n ( ! N
! n
W
i i

Π ·
22 Fungsi Distribusi Statistik Fermi-Dirac
Selanjutnya, untuk setiap jenis statistik, kita asumsikan bahwa entropi adalah
sebanding dengan logaritme peluang thermodinamikanya, dan bahwa keadaan
kesimbangan adalah entropinya maksimum, ini berarti ln W juga maksimum atau d ln W =
0. Berdasarkan persamaan (2), maka diperoleh:
[ ]

− − − · )! ln( ! ln )! ln() ln
i i
N n N n n W
(3)
Karena jumlah cell sangat besar, dengan demikian n dan N
i
merupakan bilangan yang
sangat besar, kita dapat pergunakan pendekatan Stirling.
[ ]

· ) ln ln ln ln ln
i i i i i
(n-N )-N (n-N -n N (n)-N n W
Misalkan W
o
menyatakan probabilitas maksimum, dan N
i
o
berkaitan dengan jumlah
titik-titik dalam cell ke i, dan n adalah konstan, maka:
0 ln ln ·
]
]
]


·
∑ i
o
i
o
i
N
N
N n
W δ δ
(4)
Jika jumlah partikel dan energi total adalah konstan, kita mempunyai persamaan
kondisi:
0 , 0 · · · ·
∑ ∑ i i
i
N w U N N δ δ δ δ
Kalikan persamaan pertama dengan -ln B dan persamaan ke dua dikalikan dengan
-β , kemudian tambahkan dengan pers (4), maka diperoleh:
0 ln ln ·
]
]
]

− −

∑ i i
o
i
o
i
N w B
N
N n
δ β
dan karena efek dNi sekarang independen, maka akan diperoleh:
5
1 ) exp(
1
+
·
i
o
i
w B n
N
β
(5)
Hal ini dikenal sebagai: fungsi distribusi Fermi-Dirac untuk keadaan probabilitas
thermodinamika maksimum. Bandingkan fungsi statistik Fermi-Dirac dengan fungsi
statistik Maxwell-Boltzmann yaitu:
) exp(
1
i
o
i
w B n
N
β
·
dengan n berharga 1, dan bandingkan pula dengan fungsi statistik Bose-Einstein:
1 ) exp(
1

·
i
o
i
w B n
N
β
Pembahasan selanjutnya adalah menentukan B dan β . Untuk menentukan β , kita
kembali menggunakan hubungan thremodinamika dalam keadaan setimbang, dalam suatu
proses pada volume konstan, yaitu:
TdS dU ·
Apabila dengan menggunakan hubungan thermodinamika untuk sistem
keseimbangan ini, maka akan diperoleh:

kT
1
· β
Kuantitas B dapat ditentukan dari sembarang statistik, dari kenyataan bahwa
jumlah total partikel ∑N
i
= N. Untuk mengevaluasi ∑N
i
, kita aproksimasi distribusi
diskontinu dari titik fase dengan fungsi distribusi kontinu dan ganti sigma dengan integral.
Gantilah n pada pers (5) dengan:
z y x
dp dp dxdydzdp
h
h
H
n
3
3
2
2
· ·
dan ubah notasi
o
i
N
dengan d
6
N, w
i
dengan w, maka diperoleh :
z y x
dp dp dxdydzdp
kT w B h
N d
1 ) / exp(
1 2
3
6
+
·
Sekarang integrasi seluruh nilai x, y, dan z, hasilnya adalah:
z y x
dp dp dp
kT w B h
V
N d
1 ) / exp(
1 2
3
3
+
·
(6)
Sekarang kita mempunyai fungsi distribusi dalam ruang momentum tiga dimensi.
6
Langkah selanjutnya adalaha nyatakan w dalam bentuk p, atau sebaliknya, dan integrasi
d
3
N untuk seluruh p (atau w) sama dengan N.
Jika Bexp(w/kT)>>1, faktor 1 pada penyebut dapat diabaikan dan sama seperti
statistik Bose-Einstein, maka kita akan dapatkan statistik Maxwell-Boltzmann. Untuk gas
elektron aprokmasi ini tak dapat dilakukan, dan B harus ditentukan dari persamaan (6).
Berikut ini akan dikaji pernyataan untuk B. Untuk kasus B kecil, pertama kali
diturunkan oleh Sommerfeld, dengan mengambil bentuk:
) exp(
kT
wm
B

·
dengan demikian persamaan (6) menjadi:
z y x
m
dp dp dp
kT
w w
h
V
N d
1 ) exp(
1 2
3
3
+

·
(7)
z y x
dp dp dp N d ρ ·
3
Bila suhu adalah T = 0K, fungsi distribusi ini dapat direduksi menjadi sangat
sederhana. Misalkan w
mo
menyatakan harga w
m
bila T = 0K. Untuk sebuah cell di dalam
ruang momentum yang mana w lebih kecil daripada w
mo
, maka suku di dalam kurung siku
pada persamaan (7) adalah -

, dan karena exp(-

) = 0, maka akan diperoleh:
3
0
2
h
V
· ρ

( )
mo
w w K T < · , 0
(8)
Dengan kata lain, pada nol absolut kerapatan titik-titik representatif dalam ruang
momentum adalah konstan dan sama dengan
3
2
h
V
, di dalam semua cell yang energinya w <
w
mo
.
Di lain pihak, jika w lebih besar daripada w
mo
dan T = 0K, maka suku di dalam
kurung siku pada persamaan (7) adalah +

, dan karena exp(+

) =

, maka akan
diperoleh:
0
0
· ρ ( )
mo
w w K T > · , 0
(8)
Interpretasi fisis dari w
mo
adalah merupakan energi maksimum dari elektron-
elektron pada nol absolut.
Hubungan antara energi w dan momentum p dapat dinyatakan sebagai berikut:
7
mw p
m
p
w mv 2 ,
2 2
1
2
2
2
· · ·
Energi maksimum w
mo
berkaitan dengan momentum maksimum yang diberikan
oleh:
( )
2
1
2
mo mo
mw p ·
dan, di dalam ungkapan secara geometri, kita dapat mengatakan bahwa pada ruang
momentum nol absolut populasinya secara uniform dalam sebuah bola yang jejarinya pmo
da n tidak ada titik-titik fase di luar bola ini. Proses integrasi kerapatan untuk seluruh ruang
momentum dapat direduksi menjadi perkalian kerapatan konstan r
o
dengan volume bola
yang jejarinya p
mo
, dan perkalian ini sama dengan jumlah total dari elektron N.
N p
h
V
mo
· ×
3
3
3
4 2
π
Selanjutnya akan diperoleh :
3
1
8
3
3

,
`

.
|
·
V
Nh
p
mo
π
dan
3
2
2
3
8
]
]
]

·
V
N
m
h
w
mo
π
(9)
Marilah kita coba hitung besarnya w
mo
dari persamaan (9).
Konstanta h adalah konstanta Planck yang besarnya 6,62 x 10
-34
Joule-sekon, dan
m adalah massa elektron, 9x10
-31
kg. Jumlah elektron per satuan volume tidak dapat diukur
secara langsung. Asumsi umum yang digunakan yaitu atom-atom masing-masing
memberikan kontribusi jumlah elektron yang sama untuk gas elektron. Kita juga akan
memprediksi jumlah ini kecil, mungkin 1 untuk atom valensi 1, 2 untuk atom valensi 2,
dst. Hal ini merupakan pembuktian secara tidak langsung, bahwa asumsi itu benar.
Misalkan kita hitung untuk perak, asumsikan satu elektron untuk satu atom, maka N/V =
5,86×10
28
elektron bebas/m3, dan dari persamaan (4.9),
( )
3
2
28
31
2
34
10 86 , 5
3
10 9 8
10 62 , 6
]
]
]

× ×
× ×
×
·


π
mo
w
= 9,0 x 10
-19
Joule
8
= 5,6 elektron-volt.
Harga ini merupakan energi kinetik maksimum dari elektron bebas pada nol
absolut. Energi rata-rata
w
pada nol absolut (lihat pasal 7) adalah 3/5 dari energi
maksimum, yakni :
( ) ( ) joule eV w
19
5
3
10 75 , 5 46 , 3 6 , 5

× · · ·
Menurut statistik Maxwell-Boltzmann, energi kinetik rata-rata dari molekul gas
adalah 3kT/2 dan berharga nol pada suhu nol absolut. Bila kita terapkan statistik Maxwell-
Boltzmann, maka untuk energi 5,75 x 10-19 Joule, diperlukan temperatur 27.000K.
Untuk selanjutnya kita akan mengevaluasi w
m
pada temperatur selain 0K. Hasil
yang diperoleh oleh Sommerfeld adalah:
¹
¹
¹
'
¹
¹
¹
¹
'
¹
+

,
`

.
|
− · ....
12
1
2
2
mo
mo m
w
kT
w w
π
(10)
Bila T=0 K, akan direduksi menjadi w
mo
. Demikian pula dengan penambahan
temperatur, perbedaan antara w
m
dan w
mo
adalah kecil, karena suku kT hanya beberapa
seper elektron-volt, sedangkan w
mo
dalam orde 2 sampai 10 elektron-volt. Jadi,
di dalam mengevaluasi fungsi distribusi ρ pada peramaan (7), sama halnya
pada temperatur tinggi beberapa ribu derajat Kelvin, akan terjadi kesalahan kecil untuk
substitusi wmo dengan wm.
Gambar 2 adalah grafik fungsi distribusi yang diplot sebagai fungsi w.
z y x
z y x
dv dv dv
v v dNv
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b02000000000
50000000c024e047b07040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc020000000
00102022253797374656d00047b070000fa070000985c110004ee8339681436020c0200000
40000002d01000004000000020101001c000000fb029cff000000000000900100000000044
0001254696d6573204e657720526f6d616e00000000000000000000000000000000000400
00002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000079074
c0420032d00040000002d010000030000000000
9
Gambar 2: Distribusi dalam ruang momentum
menurut statistik Fermi-Dirac.
Ordinat dari kurva adalah jumlah titik representatif per satuan volume ruang
momentum. Garis tebal adalah distribusi pada T = 0 K. Kerapatan adalah kosntan pada
semua titik untuk w < w
mo
atau (p < p
mo
) dan nol di luar harga ini. Garis putus-putus adalah
distribusi pada temperatur yang lebih tinggi, T
1
dan T
2
. Jika T 0, fungsi turun secara
asimtotik menuju nol sehingga energi bertambah, dan tidak ada batas atas yang lebih
tajam untuk energi atau momentum. Harga w
m
tidak menyatakan energi maksimum pada
temperatur T, tetapi harga w
mo
menyatakan energi maksimum pada T = 0 K.
23 Fungsi Distribusi Kecepatan, Laju, dan Energi
Untuk memperoleh fungsi distribusi kecepatan, yaitu dengan mengganti dp
x
pada
persamaan (7) dengan d(mv
x
), dst. Dengan demikian diperoleh persamaan
( ) [ ]
z y x
m
z y x
dv dv dv
kT w w h
V m
v v Nv d
1 / exp
1 2
3
3
3
+ −
·
Koefisen dari elemen volume dv
x
, dv
y
, dan dv
z
dalam persamaan (11) adalah jumlah titik
refresentatif persatuan volume atau kerapatan dalam ruang kecepatan
Fungsi distribusi speed (kelajuan) dapat diturunkan dari fakta bahwa distribusinya adalah
distribusi adalah simetri bola, dengan demikian jumlah titik representatif di dalam kulit
tipis di dalam ruang kecepatan dengan jejari v sama dengan hasil kerapatan di dalam ruang
kecepatan dengan volume kulit 4πv
2
dv,
dengan demikian:
10
??????????. 12
( ) [ ]
( ) [ ]
( ) [ ]
dv
kT w w
v
h
V m
dNv
dv dv dv
kT w w h
V m
v v Nv d
dv dv dv
kT w w h
V m
dv v v v Nv d
m
z y x
m
z y x
z y x
m
z y x
1 / exp
8
1 / exp
1 8
1 / exp
1 2
4
2
3
3
3
3
3
3
3
2 3
+ −
·
+ −
·
]
]
]

+ −
·
∫ ∫ ∫ ∫
π
π
π
Telah diketahui bahwa
m
w
v mv w
2
2
1
2 2
· ⇒ ·
, sehingga persamaan di atas menjadi:
( ) [ ]
dv
kT w w
w
h
V m
dNv
m
1 / exp
16
3
2
+ −
·
π
……………………………..13.
Pada T= 0 K,
( )
( )
( )
mo mo
mo
mo
w w v v
dv
dNv
w w w
h
V m
dv
dNv
v v v
h
V m
dv
dNv
> > ·
< ·
< ·
, 0
16
8
3
2
2
3
3
π
π
Fungsi distribusi speed (kelajuan) diplot pada gambar (4-3a) sebagai fungsi v, dan gambar
(4-3b) sebagai fungsi w. Pada T = 0 K dan pada dua temperatur yang lebih tinggi
Gambar 4-3a. Fungsi distribusi kelajuan menurut statistik Fermi-Dirac
Gambar 4-3a. Fungsi distribusi kelajuan
11
Dengan mengganti harga
2
1
2

,
`

.
|
·
m
w
v
, Fungsi distribusi energi dapat dinyatakan sebagai
berikut
( )
( ) [ ]
dw
kT w w
w
m
h
V
dNw
m
1 / exp
2
4
2 1
2
3
3
+ −
·
π
………………….14
Koefisien dw, atau fungsi distribusi energi diplot pada gambar 4-c sebagai fungsi w
Gambar 4-3c. Fungsi Distribusi Energi
Untuk memperoleh distribusi di dalam salah satu komponen kecepatan, katakanlah v, maka
kita dapat menggunakan persamaan (11) dan dengan mengintegrasi seluruh nilai v
y
dan v
z
sebagai berikut:
( ) [ ]
x y x
m
w v
dv dv dv
kT w w h
V m
dN
x
]
]
]

+ −
·
∫ ∫

∞ −

∞ −
1 / exp
1 2
3
3
Dengan
( )
2 2 2
2
1
z y x
v v v m w + + ·
Maka akan diperoleh persmaan sebagai berikut.
( ) [ ] { ¦
x m v
dv kT w w
h
kT Vm
dN
x
1 / exp ln
4
3
2
+ − ·
π
……………………….15
Untuk melihat bagaimana bentuk ungkapan ini pada T = 0 K, dimana pada persmaan 15 T
muncul pada koefisien suku logaritme dan pada penyebut suku eksponensial, dengna
demikian bila T = 0. ini berarti T harus mempunyai harga berhingga tetapi sangat kecil.
Jika w
z
< w
m,
suku eksponensial sangt besra sehingga komponen 1 dapat diabaikan. Karena
ln [exp (x)] = x, maka untuk T sangat kecil:
( )
x m v
dv w w
h
Vm
dN
x
− ·
3
2

12
Persamaan ini merupakan fungsi distribusi pada T = 0 K, yang mana grafiknya seperti
gambar berikut
24 Panas Jenis Gas Elektron
Salah satu penerapan statistik Fermi-Dirac adalah pada panas jenis gas elektron.
Panas jenis gas elektron ini tidak dapat dijelaskan sebelumnya dengan menggunakan
statistik Maxwell-Boltzmann. Sekarang kita akan mengkajinya dengan statistik Fermi-
Dirac. Meskipun energi untuk elektron dianggap lebih besar dari statistik sebelumnya,
namun perubahan energi terhadap temperatur sangat kecil dan hanya berubah dalam
pengaruh kapasitas panas.
Energi rata-rata
w
untuk sebuah elektron didefinisikan dengan cara yang sudah
umum yaitu:





·
0
0
w
w
dN
wdN
w
Pada nol absolut, batas limit atas integral dapat diambil karena pada temperatur ini tidak
ada elektron dengan energi yang lebih besar daripada wmo . Untuk w < w
mo
, dan pada T =
0K, maka dari persamaan (14) akan diperoleh:
( ) wdw m
h
V
dN
w
2 / 3
3
2

·
Jadi :
mo
w w
5
3
0
·
Energi rata-rata pada sembarang temperatur diperoleh dengan cara yang sama,
dengan menggunakan perluasan deret untuk wm sebagai fungsi T dan integrasi dari 0
sampai

sehingga diperoleh:
13

]
]
]
]

+

,
`

.
|
+ · 
2
2
12
5
1
5
3
mo
mo
w
kT
w w
π
Energi internal total U dari N elektron adalah:

w N U ·
dan kapasitas panas pada volume konstan adalah:
mo
v
w
T k N
dT
w d
N
dT
dU
C
2
2 2
π
· · ·
Jika N sama dengan bilangan Avogadro, Nk = R dan Cv menjadi panas jenis molar cv
yaitu :
mo
v
w
kTR
c
2
2
π
·
Statistik Maxwell-Boltzmann meramalkan
R c
v
2
3
·
, tak ber-gantung pada temperatur.
25 Emisi Termionik
Elektron-elektron di dalam konduktor muncul di permukaan konduktor dengan
energi yang cukup dapat lepas melewati permukaan. Peristiwa ini disebut emisi termionik.
Pemancaran elektron-elektron dapat digambar-kan dengan elektrode pengumpul pada
potensial positif relatif terhadap permukaan pemancar. Jika beda potensial antara elektrode
pengumpul dan pemancar (emiter) cukup besar, semua elektron yang dipancarkan akan
terkumpul. Berkaitan kerapatan arus pada permukaan pemancar disebut rapat arus jenuh,
Jsat, dan kita sekarang menunjukkan bagaimana hal ini bisa dihitung.
Ambillah sumbu X sebagai normal terhadap permukaan, dan anggaplah pertama-
tama elektron-elektron ini dengan komponen kecepatan tertentu v
x
. Dalam selang waktu dt,
semua elektron dalam jarak v
x
dt dari permukaan akan mencapai permukaan dalam waktu
dt dengan komponen kecepatan v
x
sama dengan jumlah komponen kecepatan yang diisi
dalam volume V=Av
x
dt. Substitusi nilai ini pada persamaan (15). Bagilah kedua ruas
dengan Adt, dan kalikan dengan muatan elektron e, maka kita dapatkan muatan per satuan
waktu, per satuan luas, atau kerapatan arus dJv
x
yaitu:

( ) [ ] { ¦
x x m x
dv kT w w
h
mekT
dJv 1 / exp ln
4
3
+ − ·
π
(19)
dimana : v
x
dv
x
telah diganti dengan dw
x
/m.
14
Pada semua permukaan konduktor ada suatu yang disebut potensial barrier yaitu
suatu daerah sempit dalam mana medan listrik mengarahkan sedemikian elekteron
bergerak pelan ke bawah mendekati permukaan dari dalam. Hanya elektron-elektron
dengan energi yang cukup besar dapat mengatasi potensial barrier, melompati permukaan,
dan memberi kontribusi terhadap arus emisi. Elektron dengan energi yang lebih kecil akan
kembali ke dalam logam. Misalkan wB adalah energi kinetik minimum, normal terhadap
permukaan, yang mana elektron-elektron harus melawan potensial barrier. Kerapatan arus
saturasi (jenuh) diperoleh dengan mengintegrasi pers (19) dari wB sampai tak hingga.

( ) [ ] { ¦
x
w
x m sat
dw kT w w
h
mekT
J
B


+ − · 1 / exp ln
4
3
π
(20)
Dalam rentangan integrasi, w
x
selalu lebih besar daripada w
B
. Selanjutnya, kita
harus menganggap harus lebih besar daripada w
B
, karena pada temperatur biasa, elektron-
elektron di dalam logam tidak lepas secara spontan. Jadi, (w
m
-w
x
)/kT, dalam rentangan
integrasi adalah bilangan negatif besar, suku eksponensial adalah kecil, dan dengan
menggunakan aproksimasi ln(x+1) = x, maka pers (20) menjadi :
Jsat = AT
2
exp(-
φ
/kT) (21)
dengan A =
2
4 mek π
/h3 dan
φ
= wB - wm
Persamaaan (21) adalah persamaaan Dushman untuk emisi termionik. Hal itu sama dengan
bentuk persamaan yang diturunkan sebelumnya oleh Richardson, didasarkan pada asumsi
bahwa elektron di dalam logam agaknya lebih mengikuti statistik Boltzmann daripada
statistik Fermi-Dirac.
15
BAB III
PENUTUP
31 Simpulan
Dari pembahasan makalah ini dapat ditarik suatu simpulan yang dapat dijabarkan
sebagai berikut.
a. Sad
b. Statistik Fermi-Dirac mengikuti aturan larangan Pauli, namun lebih ketat daripada
staristik Bose-Einstein dan Maxwell-Boltzmann.
c. Fungsi distribusi Fermi-Dirac adalah
1 ) exp(
1
+
·
i
o
i
w B n
N
β
.
d. Fungsi distribusi kecepatan, laju, dan energi adalah sebagai berikut.
1. Distribusi kecepatan menurut Statistik Fermi-Dirac dapat dinyatakan dengan
persamaan
( ) [ ]
z y x
m
z y x
dv dv dv
kT w w h
V m
v v Nv d
1 / exp
1 2
3
3
3
+ −
·
2. Distribusi kelajuan dapat dinyatakan dengan persamaan
( ) [ ]
dv
kT w w
w
h
V m
dNv
m
1 / exp
16
3
2
+ −
·
π
Dimana pada T= 0 K,
( )
( )
( )
mo mo
mo
mo
w w v v
dv
dNv
w w w
h
V m
dv
dNv
v v v
h
V m
dv
dNv
> > ·
< ·
< ·
, 0
16
8
3
2
2
3
3
π
π
3. Distribusi energi menurut statistik Fermi-Dirac adalah
( )
( ) [ ]
dw
kT w w
w
m
h
V
dNw
m
1 / exp
2
4
2 1
2
3
3
+ −
·
π
e. Besarnya panas jenis gas elektron menurut statistik Fermi-Dirac adalah
mo
v
w
kTR
c
2
2
π
·
.
f. Emisi termionik merupakan elektron-elektron dalam konduktor yang muncul di
permukaan kondyktor dengan energi yang cukup, sehingga dapat melewati
16
permukaan. Besarnya emisi termionik adalah Jsat = AT
2
exp(-
φ
/kT).
32 Saran
Penulis menyadari ketebatasan yang dimiliki dalam penyajian makalah ini. Oleh
karena itu, setelah membaca dan mengkaji makalah ini, kami selaku penulis mengharapkan
agar pembaca juga dapat mencari berbagai sumber lain sebagai bahan bandingan dan
referensi yang terkait dengan materi dalam makalah ini.
17

yaitu dengan mengkaji berbagai sumber dan literatur yang terkait dengan materi yang dibahas dalam makalah ini.25Bagaimana emisi termionik menurut statistik Fermi-Dirac? 13 Tujuan Dari permasalahan di atas.35Untuk menjelaskan emisi termionik menurut statistik Fermi-Dirac 14 Manfaat Manfaat yang ingin kami peroleh dalam pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui statistik Fermi-Dirac pada permasalahan fisika.31Untuk menjelaskan peluang thermodinamika pada statistik Fermi-Dirac.23Bagaimana fungsi distribusi kecepatan.32Untuk menjelaskan fungsi distribusi Fermi-Dirac. dan energi. 1. kelajuan. 1.21Bagaimana peluang thermodinamika pada statistik Fermi-Dirac? 1. 12 Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut.22Bagaimana fungsi distribusi Fermi-Dirac? 1. 2 . dan energi? 1. 15 Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah dengan metode kajian pustaka. 1. maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut. 1. 1.34Untuk menjelaskan panas jenis menurut statistik Fermi-Dirac.n = 2 H / h3 dan jumlah titik maksimum di dalam masing-masing cell adalah n.33Untuk menjelaskan fungsi distribusi kecepatan. 1.24Bagaimana panas jenis menurut statistik Fermi-Dirac? 1. kelajuan. maka adapun tujuan yang ingin kami capai adalah sebagai berikut.

Peluang thermodinamika masing-masing cell adalah: Wi = 4 dan Wj = 4 Untuk setiap susunan di dalam cell i kita dapat memiliki salah satu susunan di dalam cell j. dengan demikian terdapat 4 cara susunan tiga titik fase di dalam cell i. dan empat cara susunan sebuah titik di dalam cell j.BAB II PEMBAHASAN 2. serta untuk statistik Bose-Einstein W = 80. 0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b02000000000 50000000c024e047b07040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc020000000 00102022253797374656d00047b070000fa070000985c110004ee8339681436020c0200000 40000002d01000004000000020101001c000000fb029cff000000000000900100000000044 0001254696d6573204e657720526f6d616e00000000000000000000000000000000000400 00002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000079074 c0420032d00040000002d010000030000000000 0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b02000000000 50000000c024e047b07040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc020000000 00102022253797374656d00047b070000fa070000985c110004ee8339681436020c0200000 40000002d01000004000000020101001c000000fb029cff000000000000900100000000044 0001254696d6573204e657720526f6d616e00000000000000000000000000000000000400 00002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000079074 c0420032d00040000002d010000030000000000 Gambar 1: Susunan titik fase yang berbeda di dalam sebuah cell di dalam ruang fase menurut statistik Fermi-Dirac. Gambar 1 menunjukkan cell i dan j dengan tidak boleh lebih dari satu titik tiap kompartemen. Dengan demikian jumlah total kemungkinan susunan atau peluang thermodinamika dari makrostate adalah: W = Wi Wj = 16 Berbeda dengan hasil statistik Maxwell-Bolzmann untuk kasus yang sama di mana diperoleh W = 4. masing-masing dibagi menjadi empat kompartemen. dengan menganggap makrostatetnya Ni = 3. 3 .1 Peluang Thermodinamika Misalkan sebuah sistem dengan dua cell i dan j. dan Nj = 1.

N2. N3. jumlah N1. N3 dst. atau peluang thermodinamika Wi. Di dalam statistik Maxwell-Boltzmann “sesuatu” yang disusun adalah titik fase. yaitu kelompok yang ditempati dan kelompok yang kosong.Secara umum untuk sejumlah cell dalam statistik Fermi-Dirac dapat dirumuskan: W = Π Wi Penurunan pernyataan untuk sembarang Wi lebih mudah daripada untuk statistik Bose-Einstein. N2. Dengan cara yang sama. menyatakan jumlah di dalam tiap-tiap kelompok. dst. Jumlah tersebut yaitu: N! N! = N 1! N 2 ! N 3 !.Ni) yang tak ditempati (kosong). Ni = 3. jika ada N. yang ditempati. dan kelompok yang lain untuk kompartemen yang kosong. n = 4. ΠN i ! Secara umum. dan jumlah cara dari susunan “sesuatu” disebut peluang thermodinamika dari makrostate.. Nj = 1. Perhitungan jumlah cara untuk n kompartemen yaitu dapat dibagi di dalam dua kelompok. Jumlah cara untuk N partikel yang didistribusikan di antara cell-cell dalam ruang fase.. yang ditempati adalah Ni. jumlah “kelompok “ sama dengan jumlah cell di dalam ruang fase. dengan demikian cara berbeda dalam pembagian kompartemen ke dalam kelompok ditempati dan kelompok kosong. maka ada (n . adalah: Wi = n! N i !(n − N i )! (1) Misalkan. dan yang kosong adalah n . dengan N1. persamaan di atas memberikan jumlah cara untuk sesuatu N yang disusun dalam suatu kelompok. peluang thermodinamika untuk cell tertentu didefinisikan sebagai jumlah cara kompartemen yang berbeda dapat dibagi ke dalam dua kelompok. Jumlah kompartemen total adalah n. satu kelompok dengan kompartemen yang ditempati. maka akan diperoleh: Wi = 4! =4 3!(4 − 3)! 4 . Untuk n kompartemen dari sebuah cell.Ni.

maka:  n − N io  δ ln W = ∑ ln δN i = 0 N io   (4) Jika jumlah partikel dan energi total adalah konstan. dan Nio berkaitan dengan jumlah titik-titik dalam cell ke i. Secara umum pernyataan untuk peluang thermodinamika dari makrostate tertentu dalam statistik Fermi-Dirac adalah: W=Π n! N i !(n − N i )! 22 Fungsi Distribusi Statistik Fermi-Dirac Selanjutnya. kita mempunyai persamaan kondisi: δN = ∑ δN i = 0. Berdasarkan persamaan (2). sesuai dengan hasil yang diperoleh dengan cara menghitung.Wi = 4! =4 1!(4 − 1)! Sehingga. maka diperoleh: ln W = ∑ [ n ln()n)!− ln N i !− ln(n − N i )!] (3) Karena jumlah cell sangat besar. kita dapat pergunakan pendekatan Stirling. dan n adalah konstan. ini berarti ln W juga maksimum atau d ln W = 0. dan bahwa keadaan kesimbangan adalah entropinya maksimum. dengan demikian n dan Ni merupakan bilangan yang sangat besar. untuk setiap jenis statistik. maka diperoleh:  n − N io  ∑ ln N o − ln B − βwi δN i = 0 i   dan karena efek dNi sekarang independen. maka akan diperoleh: 5 . kita asumsikan bahwa entropi adalah sebanding dengan logaritme peluang thermodinamikanya. ln W = ∑ [ n ln (n)-N i ln N i -n ln (n-N i )-N i ln (n-N i )] Misalkan Wo menyatakan probabilitas maksimum. δU = ∑ wi δN i = 0 Kalikan persamaan pertama dengan -ln B dan persamaan ke dua dikalikan dengan -β . kemudian tambahkan dengan pers (4).

Untuk menentukan β . hasilnya adalah: d 3N = 2V 1 dp x dp y dp z 3 h B exp( w / kT ) + 1 (6) Sekarang kita mempunyai fungsi distribusi dalam ruang momentum tiga dimensi. y. maka akan diperoleh: β = 1 kT Kuantitas B dapat ditentukan dari sembarang statistik. dalam suatu proses pada volume konstan. dari kenyataan bahwa jumlah total partikel ∑Ni = N. Gantilah n pada pers (5) dengan: n = 2H h3 = 2 dxdydzdp x dp y dp z h3 o dan ubah notasi N i dengan d6N. Untuk mengevaluasi ∑Ni. kita aproksimasi distribusi diskontinu dari titik fase dengan fungsi distribusi kontinu dan ganti sigma dengan integral. maka diperoleh : d6N = 2 1 dxdydzdp x dp y dp z 3 h B exp( w / kT ) + 1 Sekarang integrasi seluruh nilai x. dan z. 6 . Bandingkan fungsi statistik Fermi-Dirac dengan fungsi statistik Maxwell-Boltzmann yaitu: N io 1 = n B exp( βwi ) dengan n berharga 1.N io 1 = n B exp( βwi ) + 1 (5) Hal ini dikenal sebagai: fungsi distribusi Fermi-Dirac untuk keadaan probabilitas thermodinamika maksimum. yaitu: dU = TdS Apabila dengan menggunakan hubungan thermodinamika untuk sistem keseimbangan ini. dan bandingkan pula dengan fungsi statistik Bose-Einstein: N io 1 = n B exp( βwi ) − 1 Pembahasan selanjutnya adalah menentukan B dan β . kita kembali menggunakan hubungan thremodinamika dalam keadaan setimbang. wi dengan w.

jika w lebih besar daripada wmo dan T = 0K. maka akan diperoleh: ρ0 = 0 ( T = 0 K . dan karena exp(. Di lain pihak. fungsi distribusi ini dapat direduksi menjadi sangat sederhana. pada nol absolut kerapatan titik-titik representatif dalam ruang 2V 3 momentum adalah konstan dan sama dengan h . Misalkan wmo menyatakan harga wm bila T = 0K. dan B harus ditentukan dari persamaan (6). atau sebaliknya. Untuk gas elektron aprokmasi ini tak dapat dilakukan. maka kita akan dapatkan statistik Maxwell-Boltzmann. pertama kali diturunkan oleh Sommerfeld. Berikut ini akan dikaji pernyataan untuk B. w > wmo ) (8) Interpretasi fisis dari wmo adalah merupakan energi maksimum dari elektronelektron pada nol absolut. maka akan diperoleh: 2V h3 ρ0 = ( T = 0 K . w < wmo ) (8) Dengan kata lain. Untuk kasus B kecil. maka suku di dalam kurung siku pada persamaan (7) adalah + ∞ .Langkah selanjutnya adalaha nyatakan w dalam bentuk p. faktor 1 pada penyebut dapat diabaikan dan sama seperti statistik Bose-Einstein. dan integrasi d3N untuk seluruh p (atau w) sama dengan N. Untuk sebuah cell di dalam ruang momentum yang mana w lebih kecil daripada wmo. Hubungan antara energi w dan momentum p dapat dinyatakan sebagai berikut: 7 . dan karena exp(+ ∞ ) = ∞ .∞ . di dalam semua cell yang energinya w < wmo.∞ ) = 0. maka suku di dalam kurung siku pada persamaan (7) adalah . dengan mengambil bentuk: B = exp(− wm kT ) dengan demikian persamaan (6) menjadi: d 3N = 2V 1 3 w − wm h exp( ) +1 dp x dp y dp z (7) kT d 3 N = ρdp x dp y dp z Bila suhu adalah T = 0K. Jika Bexp(w/kT)>>1.

Konstanta h adalah konstanta Planck yang besarnya 6. wmo ( 6. asumsikan satu elektron untuk satu atom. Jumlah elektron per satuan volume tidak dapat diukur secara langsung.1 2 p2 mv = w = . 9x10-31 kg. Kita juga akan memprediksi jumlah ini kecil. dan m adalah massa elektron. 2V 4 3 × π p mo = N h3 3 Selanjutnya akan diperoleh : p mo dan wmo h 2  3N  = 8m  πV    2 3  3 Nh 3  =  8πV     1 3 (9) Marilah kita coba hitung besarnya wmo dari persamaan (9). 2 untuk atom valensi 2.0 x 10-19 Joule 8 .62 x 10-34 Joule-sekon. di dalam ungkapan secara geometri. dan dari persamaan (4. Asumsi umum yang digunakan yaitu atom-atom masing-masing memberikan kontribusi jumlah elektron yang sama untuk gas elektron. dan perkalian ini sama dengan jumlah total dari elektron N. Proses integrasi kerapatan untuk seluruh ruang momentum dapat direduksi menjadi perkalian kerapatan konstan ro dengan volume bola yang jejarinya pmo. Hal ini merupakan pembuktian secara tidak langsung. dst. mungkin 1 untuk atom valensi 1.86 × 10    2 3 = 9. Misalkan kita hitung untuk perak. bahwa asumsi itu benar. kita dapat mengatakan bahwa pada ruang momentum nol absolut populasinya secara uniform dalam sebuah bola yang jejarinya pmo da n tidak ada titik-titik fase di luar bola ini.9).62 × 10 ) = 8 × 9 × 10 −31 −34 2 3 28   π × 5.86×1028 elektron bebas/m3. maka N/V = 5. 2 2m p 2 = 2mw Energi maksimum wmo berkaitan dengan momentum maksimum yang diberikan oleh: p mo = ( 2mwmo ) 1 2 dan.

46eV = 5. yakni : w = ( 3 5 )( 5. diperlukan temperatur 27. akan terjadi kesalahan kecil untuk substitusi wmo dengan wm.     (10) Bila T=0 K. energi kinetik rata-rata dari molekul gas adalah 3kT/2 dan berharga nol pada suhu nol absolut. sama halnya pada temperatur tinggi beberapa ribu derajat Kelvin. Gambar 2 adalah grafik fungsi distribusi yang diplot sebagai fungsi w.= 5.000K. Untuk selanjutnya kita akan mengevaluasi wm pada temperatur selain 0K. maka untuk energi 5. karena suku kT hanya beberapa seper elektron-volt. Harga ini merupakan energi kinetik maksimum dari elektron bebas pada nol absolut.. Bila kita terapkan statistik MaxwellBoltzmann... Demikian pula dengan penambahan temperatur. di dalam mengevaluasi fungsi distribusi ρ pada peramaan (7). dNv x v y v z dv x dv y dv z 0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b02000000000 50000000c024e047b07040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc020000000 00102022253797374656d00047b070000fa070000985c110004ee8339681436020c0200000 40000002d01000004000000020101001c000000fb029cff000000000000900100000000044 0001254696d6573204e657720526f6d616e00000000000000000000000000000000000400 00002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000079074 c0420032d00040000002d010000030000000000 9 . perbedaan antara wm dan wmo adalah kecil. sedangkan wmo dalam orde 2 sampai 10 elektron-volt.6 ) = 3. Energi rata-rata w pada nol absolut (lihat pasal 7) adalah 3/5 dari energi maksimum.75 x 10-19 Joule.6 elektron-volt. Hasil yang diperoleh oleh Sommerfeld adalah:  π 2  kT   wm = wmo 1 − 12  wmo    2     + . akan direduksi menjadi wmo.75 × 10 −19 joule Menurut statistik Maxwell-Boltzmann. Jadi.

23 Fungsi Distribusi Kecepatan. T1 dan T2. dan tidak ada batas atas yang lebih tajam untuk energi atau momentum. fungsi turun secara asimtotik menuju nol sehingga energi bertambah. Ordinat dari kurva adalah jumlah titik representatif per satuan volume ruang momentum. Garis putus-putus adalah distribusi pada temperatur yang lebih tinggi. Dengan demikian diperoleh persamaan d 3 Nvx v y vz = 2m3V 1 dvx dv y dvz 3 h exp[ ( w − wm ) / kT + 1] Koefisen dari elemen volume dvx. Laju. dan dvz dalam persamaan (11) adalah jumlah titik refresentatif persatuan volume atau kerapatan dalam ruang kecepatan Fungsi distribusi speed (kelajuan) dapat diturunkan dari fakta bahwa distribusinya adalah distribusi adalah simetri bola. Jika T 0. Garis tebal adalah distribusi pada T = 0 K. dengan demikian: 10 . dst. Kerapatan adalah kosntan pada semua titik untuk w < wmo atau (p < pmo ) dan nol di luar harga ini. dvy. tetapi harga wmo menyatakan energi maksimum pada T = 0 K. dengan demikian jumlah titik representatif di dalam kulit tipis di dalam ruang kecepatan dengan jejari v sama dengan hasil kerapatan di dalam ruang kecepatan dengan volume kulit 4πv2dv. Harga wm tidak menyatakan energi maksimum pada temperatur T. dan Energi Untuk memperoleh fungsi distribusi kecepatan. yaitu dengan mengganti dpx pada persamaan (7) dengan d(mvx).Gambar 2: Distribusi dalam ruang momentum menurut statistik Fermi-Dirac.

w > wmo ) Fungsi distribusi speed (kelajuan) diplot pada gambar (4-3a) sebagai fungsi v. 12  3 8πm V 1 d3 ∫ ∫ Nv x v y v z = h 3 ∫ ∫exp[ ( w − wm ) / kT + 1] dv x dv y dv z dNv = 8πm 3V v2 dv h 3 exp[ ( w − wm ) / kT + 1] w= 1 2 2w mv ⇒ v 2 = 2 m . 2m 3V  1 d 3 Nv x v y v z = 4πv 2 dv  3 dv x dv y dv z   h exp[ ( w − wm ) / kT + 1] ??????????. dan gambar (4-3b) sebagai fungsi w.13. Fungsi distribusi kelajuan menurut statistik Fermi-Dirac Gambar 4-3a. Pada T = 0 K dan pada dua temperatur yang lebih tinggi Gambar 4-3a. sehingga persamaan di atas menjadi: Telah diketahui bahwa dNv = 16πm 2V w dv 3 exp[ ( w − wm ) / kT + 1] h ……………………………. dNv 8πm 3V 2 = v dv h3 dNv 16πm 2V = w dv h3 dNv =0 dv ( v < vmo ) ( w < wmo ) ( v > v mo .. Pada T= 0 K. Fungsi distribusi kelajuan 11 .

maka untuk T sangat kecil: dN vx = 4πVm 2 ( w − wm ) dv x h3 12 . katakanlah v. atau fungsi distribusi energi diplot pada gambar 4-c sebagai fungsi w Gambar 4-3c. Fungsi distribusi energi dapat dinyatakan sebagai Dengan mengganti harga berikut dNw = 3 4πV w1 2 ( 2m ) 2 dw exp[ ( w − wm ) / kT + 1] h3 1 …………………. Karena ln [exp (x)] = x. Jika wz < wm. maka kita dapat menggunakan persamaan (11) dan dengan mengintegrasi seluruh nilai v y dan vz sebagai berikut: dNvx w ∞ 2m 3V  = 3 ∫ h −∞  1 dvx dvy  dvx ∫ exp[ ( w − wm ) / kT + 1] −∞  ∞ Dengan w= 1 2 2 2 m( v x + v y + v z ) 2 Maka akan diperoleh persmaan sebagai berikut. 2w  2 v=   m  .15 Untuk melihat bagaimana bentuk ungkapan ini pada T = 0 K.14 Koefisien dw. suku eksponensial sangt besra sehingga komponen 1 dapat diabaikan. ini berarti T harus mempunyai harga berhingga tetapi sangat kecil. Fungsi Distribusi Energi Untuk memperoleh distribusi di dalam salah satu komponen kecepatan. dengna demikian bila T = 0. dimana pada persmaan 15 T muncul pada koefisien suku logaritme dan pada penyebut suku eksponensial. dN vx 4πVm 2 kT = ln { exp[ ( w − wm ) / kT ] + 1} dv x h3 ……………………….

yang mana grafiknya seperti gambar berikut 24 Panas Jenis Gas Elektron Salah satu penerapan statistik Fermi-Dirac adalah pada panas jenis gas elektron. maka dari persamaan (14) akan diperoleh: dN w = Jadi : 3 w0 = wmo 5 Energi rata-rata pada sembarang temperatur diperoleh dengan cara yang sama. namun perubahan energi terhadap temperatur sangat kecil dan hanya berubah dalam pengaruh kapasitas panas. Sekarang kita akan mengkajinya dengan statistik FermiDirac. Energi rata-rata w untuk sebuah elektron didefinisikan dengan cara yang sudah umum yaitu: ∞ w= ∫ wdN 0 ∞ w ∫ dN 0 w Pada nol absolut. Panas jenis gas elektron ini tidak dapat dijelaskan sebelumnya dengan menggunakan statistik Maxwell-Boltzmann.Persamaan ini merupakan fungsi distribusi pada T = 0 K. dan pada T = 0K. dengan menggunakan perluasan deret untuk wm sebagai fungsi T dan integrasi dari 0 sampai ∞ sehingga diperoleh: 13 4πV ( 2m ) 3 / 2 wdw 3 h . Untuk w < wmo. Meskipun energi untuk elektron dianggap lebih besar dari statistik sebelumnya. batas limit atas integral dapat diambil karena pada temperatur ini tidak ada elektron dengan energi yang lebih besar daripada wmo .

dimana : vx dvx telah diganti dengan dwx/m. 5π 2  kT  2  3   +  w = wmo 1 + 5 12  wmo        Energi internal total U dari N elektron adalah: U =Nw dan kapasitas panas pada volume konstan adalah: dU dw Nπ 2 k 2T Cv = =N = dT dT 2 wmo Jika N sama dengan bilangan Avogadro. Jsat. Peristiwa ini disebut emisi termionik. Substitusi nilai ini pada persamaan (15). semua elektron yang dipancarkan akan terkumpul. atau kerapatan arus dJvx yaitu: dJv x = 4π mekT ln{ exp[ ( wm − wx ) / kT ] + 1} dv x h3 (19) cv = 3 R 2 . per satuan luas. Nk = R dan Cv menjadi panas jenis molar cv yaitu : π 2 kTR cv = 2wmo Statistik Maxwell-Boltzmann meramalkan 25 Emisi Termionik Elektron-elektron di dalam konduktor muncul di permukaan konduktor dengan energi yang cukup dapat lepas melewati permukaan. Bagilah kedua ruas dengan Adt. tak ber-gantung pada temperatur. dan kita sekarang menunjukkan bagaimana hal ini bisa dihitung. Dalam selang waktu dt. Ambillah sumbu X sebagai normal terhadap permukaan. Berkaitan kerapatan arus pada permukaan pemancar disebut rapat arus jenuh. semua elektron dalam jarak vx dt dari permukaan akan mencapai permukaan dalam waktu dt dengan komponen kecepatan vx sama dengan jumlah komponen kecepatan yang diisi dalam volume V=Avxdt. dan kalikan dengan muatan elektron e. maka kita dapatkan muatan per satuan waktu. Pemancaran elektron-elektron dapat digambar-kan dengan elektrode pengumpul pada potensial positif relatif terhadap permukaan pemancar. 14 . Jika beda potensial antara elektrode pengumpul dan pemancar (emiter) cukup besar. dan anggaplah pertamatama elektron-elektron ini dengan komponen kecepatan tertentu vx.

normal terhadap permukaan. 15 . Elektron dengan energi yang lebih kecil akan kembali ke dalam logam. Kerapatan arus saturasi (jenuh) diperoleh dengan mengintegrasi pers (19) dari wB sampai tak hingga.Pada semua permukaan konduktor ada suatu yang disebut potensial barrier yaitu suatu daerah sempit dalam mana medan listrik mengarahkan sedemikian elekteron bergerak pelan ke bawah mendekati permukaan dari dalam. Selanjutnya. yang mana elektron-elektron harus melawan potensial barrier. dan memberi kontribusi terhadap arus emisi. Jadi. dan dengan menggunakan aproksimasi ln(x+1) = x. didasarkan pada asumsi bahwa elektron di dalam logam agaknya lebih mengikuti statistik Boltzmann daripada statistik Fermi-Dirac. suku eksponensial adalah kecil. Hanya elektron-elektron dengan energi yang cukup besar dapat mengatasi potensial barrier. (wm-wx)/kT. dalam rentangan integrasi adalah bilangan negatif besar. melompati permukaan. Hal itu sama dengan bentuk persamaan yang diturunkan sebelumnya oleh Richardson. kita harus menganggap harus lebih besar daripada wB.wm (21) Persamaaan (21) adalah persamaaan Dushman untuk emisi termionik. elektronelektron di dalam logam tidak lepas secara spontan. karena pada temperatur biasa. Misalkan wB adalah energi kinetik minimum. maka pers (20) menjadi : Jsat = AT2 exp(. J sat = 4π mekT h3 ∞ wB ∫ ln{ exp[ ( w m − wx ) / kT ] + 1}dwx (20) Dalam rentangan integrasi. wx selalu lebih besar daripada wB.φ /kT) 2 dengan A = 4π mek /h3 dan φ = wB .

sehingga dapat melewati 16 . f. d 3 Nvx v y vz = dNv 8πm 3V 2 = v dv h3 dNv 16πm 2V = w dv h3 dNv =0 dv 3. Distribusi kecepatan menurut Statistik Fermi-Dirac dapat dinyatakan dengan persamaan 2m3V 1 dvx dv y dvz 3 h exp[ ( w − wm ) / kT + 1] 2. Besarnya panas jenis gas elektron menurut statistik Fermi-Dirac adalah π 2 kTR cv = 2wmo . a. Distribusi kelajuan dapat dinyatakan dengan persamaan 16πm 2V w dNv = dv 3 exp[ ( w − wm ) / kT + 1] h Dimana pada T= 0 K. Distribusi dNw = energi menurut ( v < vmo ) ( w < wmo ) ( v > v mo . Fungsi distribusi Fermi-Dirac adalah n d.BAB III PENUTUP 31 Simpulan Dari pembahasan makalah ini dapat ditarik suatu simpulan yang dapat dijabarkan sebagai berikut. laju. Emisi termionik merupakan elektron-elektron dalam konduktor yang muncul di permukaan kondyktor dengan energi yang cukup. Statistik Fermi-Dirac mengikuti aturan larangan Pauli. 1. namun lebih ketat daripada staristik Bose-Einstein dan Maxwell-Boltzmann. N io 1 = B exp( βwi ) + 1 . c. Fungsi distribusi kecepatan. Sad b. dan energi adalah sebagai berikut. w > wmo ) statistik Fermi-Dirac adalah 3 4πV w1 2 ( 2m ) 2 dw exp[ ( w − wm ) / kT + 1] h3 e.

setelah membaca dan mengkaji makalah ini.φ /kT). 32 Saran Penulis menyadari ketebatasan yang dimiliki dalam penyajian makalah ini.permukaan. Besarnya emisi termionik adalah Jsat = AT2 exp(. Oleh karena itu. 17 . kami selaku penulis mengharapkan agar pembaca juga dapat mencari berbagai sumber lain sebagai bahan bandingan dan referensi yang terkait dengan materi dalam makalah ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->