P. 1
Larutan Asam Dan Basa

Larutan Asam Dan Basa

|Views: 253|Likes:
Published by Hana Afifah

More info:

Published by: Hana Afifah on Apr 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/04/2014

pdf

text

original

LARUTAN ASAM DAN BASA

I. TUJUAN 1. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH melalui titrasi
asam basa

2. Menentukan konsentrasi larutan
titrasi asam basa

COOH dengan larutan NaOH melalui

3. Membuat indicator asam basa alami II. DASAR TEORI
1. Teori Asam Basa Asam-basa merupakan salah satu sifat zat baik yang berbentuk larutan maupun non pelarut. Asam dan basa penting dalam proses kimia yang terjadi disekitar kita, mulai dari proses industry sampai proses biologi dalam tubuh makhluk hidup, mulai reaksi ya ng terjadi di laboratorium hingga reaksi yang terjadi di lingkungan sekitar. Dalam industry besar ataupun home industry, banyak proses -proses produksinya atau kualitas produksinya sangat bergantung pada tingkat keasaman atau kebasaan mediumnya. Misalnya pa da pembuatan tahu, kualitas pembentukan tahu (proses pengendapan) ditentukan keasaman larutan medianya. Di dalam tubuh kita terdapat system yang sangat rumit yang secara ketat dikendalikan oleh keasaman darah. Ada deviasi sedikit saja tingkat keasaman darah dapat mengakibatkan fatal bahkan kematian, sebab darah menjadi malfungsi akibat tidak dapat mengikat oksigen hasil pernafasan. Dengan demikian, kimia asam basa penting dipelajari disebabkan aplikasinya yang sangat dalam kehidupan sehari -hari. A. MENURUT ARRHENIUS Menurut teori Arrhenius, zat yang dalam air menghasilkan ion H + disebut asam danbasa adalah zat yang dalam air terionisasi menghasilkan ion OH - . HCl --> H + + Cl NaOH --> Na + + OH Meskipun teori Arrhenius benar, pengajuan desertasinya mengalami hambatan berat karena profesornya tidak tertarik padanya. Desertasinya dimulai tahun 1880, diajukan pada 1883, meskipun diluluskan teorinya tidak benar. Setelah mendapat bantuan dari Van· Hoff dan Ostwald pada tahun 1887 diterbitkan karangannya mengenai asam basa. Akhirnya dunia mengakui teori Arrhenius pada

tahun 1903 dengan hadiah nobel untuk ilmu pengetahuan. Sampai sekarang teori Arrhenius masih tetap berguna meskipun hal tersebut merupakan model paling sederhana. Asam dikatakan kuat atau lemah berdasarkan daya hantar listrik molar. Larutan dapat menghantarkan arus listrik kalau mengandung ion, jadi semakin banyak asam yang terionisasi berarti makin kuat asamnya. Asam kuat berupa elektrolit kuat dan asam lemah merupakan elektrolit lemah. Teori Arrhenius memang perlu perbaikan sebab dalam lenyataan pada zaman modern diperlukan penjelasanyang lebih bisa diterima secara logik dan berlaku secara umum. Sifat larutan amoniak diterangkan oleh teori Arrhenius sebagai berikut: NH 4 OH --> NH 4 + + OH Jadi menurut Svante August Arrhenius (1884) asam adalah spesi yang mengandung H +dan basa adalah spesi yang mengandung OH -, dengan asumsi bahwa pelarut tidak berpengaruh terhadap sifat asam dan basa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa: Asam ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion H+. Basa ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion OH - . Contoh: 1) HCl(aq) --> H + (aq) + Cl - (aq) 2) NaOH(aq) --> Na + (aq) + OH - (aq)

B. MENURUT BRONSTED LOWRY Pada tahun 1923, Johanes Bronsted dan Thomas Lowry mengemukakan bahwa reaksi asam dan basa dapat dipandang sebagai reaksi transfer proton, dan asam-basa dapat didefinisikan dalam bentuk transfer proton. Menurut teori asam-basa Bronsted-Lowry, suatu asam adalah spesi yang memberikan (donor) proton, sedangkan basa adalah yang bertindak sebagai penerima (akseptor) proton dalam suatu reaksi transfer proton. Pada reaksi asam Basa Bronsted-Lowry, terdapat dua pasangan asam basa. Pasangan pertama merupakan pasangan antara asam dengan basa konjugasi (yang menyerap proton); dalam hal ini ditandai dengan Asam 1 dan Basa 1. Pasangan kedua adalah pasangan antara basa dengan asam

konjugasi (yang memberi proton); dalam hal ini ditan dai dengan Basa 2 dan Asam 2. Rumusan kimia pasangan asam -basa konjugasi hanya berbeda satu proton (H+). Perhatikan contoh -contoh berikut. Asam 1 HCl H2 O CH3COOH HNO2 + + + + + Basa 2 NH3 CO32H 2O CH3COOH Basa 1 ClOHCH3COONO2+ + + + + Asam 2 NH4+ HCO3H 3O + CH3COOH2+

Teori tersebut bertentangan dengan yang dikemukakan Arrhenius, yakni bahwa jika ada senyawa yang bersifat asam (menghasilkan ion H+) tidak memiliki hubungan dengan senyawa lain yang bersifat basa (menghasilkan OH-). Sekarang dapat diungkapkan beberapa cara yang menunjukkan bahwa model ‡ ‡ ‡ ‡ asam-basa adalah dan menurut spesi basa Bronsted-Lowry proton, berupa terbatas lebih luas cakupannya ion OH-. air. dibandingkan model dari Arrhenius. Menurut model Bronsted -Lowry : Basa Asam Reaksi akseptor dapat tidak misalnya ion pada atau molekul.

asam-basa

larutan

Beberapa spesi dapat bereaksi sebagai asam atau basa tergantung

pada pereaksi lain. C. MENURUT G. N. LEWIS Selain dua teori mengenai asam basa seperti telah diterangkan diatas, masih ada teori yang umum, yaitu teori asam basa yang diajukan oleh Gilbert Newton Lewis ( 1875-1946 ) pada awal tahun 1920. Lewis lebih menekankan pada perpindahan elektron bukan pada perpindahan proton, sehingga ia mendefinisikan : as am penerima pasangan elektron dan basa adalah donor pasangan elekton . Teori Lewis dapat lebih luas meliput reaksi-reaksi yang tidak ternasuk asam basa Bronsted-Lowry, termasuk kimia Organik misalnya: CH 3 + + C
6

H6

C

6

H 6 CH 3

+

Asam ialah akseptor pasangan elektron, sedangkan basa adalah Donor pasangan elektron.

2. Titrasi Asam Basa Titrasi adalah salah satu metode kimia analisis kuantitatif yang dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu dengan cara mereaksikan sejumlah volume larutan tersebut terhadap jumlah volume larutan lain yang konsentrasinya sudah diketahui secara tepat. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, misalnya titrasi asam basa artinya melibatkan reaksi larutan asam dan basa. Titrasi asam basa terbagi dua: Asidimetri = Penentuan konsentrasi larutan basa dengan menggunakan larutan baku asam Alkalimetri = Penentuan konsentrasi larutan asam dengan menggunakan larutan baku basa Dibutuhkan 2 macam larutan pada percobaan titrasi yaitu titran dan analit. Titran (larutan penitrasi) merupakan larutan baku yang sudah diketahui secara pasti konsentrasinya, biasanya diletakkan di dalam buret (tabung panjang yang memiliki skala volume dan kran penetes). Sedangkan analit (larutan yang dititrasi) adalah larutan yang akan dicari konsentrasinya namun volumenya harus sudah diketahui terlebih dahulu dan biasanya diletakkan di dalam erlenmeyer. Syarat suatu senyawa dapat dijadikan sebagai titran dan analit. Reaksi antara titran dengan analit harus stoikiometri. Artinya reaksi keduanya dapat ditulis dalam persamaan reaksi yang telah diketahui dengan pasti. Jadi produk reaksi antara titran dan analit diketahui secara pasti sehingga kita dapat menulis dan menyetarakan reaksinya.Sebagai contoh reaksi antara HCl dengan KOH dapat ditulis secara pastisebagai berikut: HCl + KOH -> KCl + H2O Reaksi antara titran dan analit haru s berlangsung dengan cepat, hal ini untuk memastikan proses titrasi cepat berlangsung dan titik equivalent(perubahan warna tertentu yang terjadi saat asam dan basa telahmencapai perbandingan yang tepat untuk saling menetralkan) cepat diketahui. Tidak ada reaksi lain yang mengganggu reaksi antara titran dan analit. Bila ada zat-zat pengganggu maka zat tersebut harus dihilangkan.Sebagai contoh bila kita melakukan titrasi asam asetat dengan NaOH maka tidak

boleh ada asam lain seperti H2SO4 yang nantinya akan mengganggu reaksi antara asam asetat dan NaOH Bila reaksi antara titran dengan analit telah berjalan deng an sempurna (artinya titran dan analit sama -sama habis bereaksi) maka harus ada sesuatu yang dapat dipergunakan untuk penanda keadaan ini. Perubahan ini bisa berupa berubahnya warna larutan, perubahan aruslistrik, ataupun perubahan sifat fisik larutan yang lain. Perubahan ini dalam titrasi asam basa bisa dipergunakan indicator tapi yang perludi ingat jarak antara titik akhir titrasi dengan titik equivalent harus berdekatan. Kesetimbangan reaksi harus mengarah jauh ke pembentukan produk sehingga dapat diukur secara kuantitatif. Bila reaksi tidak mengarah jauh ke pembentukan produk maka akan sulit untuk menentukan titik akhir titrasi 3. Indikator alami Kita telah mengetahui bahwa asam mempunyai rasa asam, sedangkan basa mempunyai rasa pahit. Namun begitu, tidak dianjurkan untuk mengenali asam dan basa dengan, cara mencicipinya, sebab banyak diantaranya yang dapat merusak kulit (korosif) atau bahkan bersifat racun. Asam dan basa dapat dikenali dengan menggunakan za t indikator, yaitu zat yang memberi warna berbeda dalam lingkungan asam dan lingkungan basa (zat yang warnanya dapat berubah saat berinteraksi atau bereaksi dengan senyawa asam maupun senyawa basa). Kelopak bunga tumbuhan memiliki pigmen sehingga ketika diekstrak menghasilkan berbagai warna. Peng gunaan alcohol adalah untuk mempercepat proses ekstraksi karena sifat alcohol yang dapat melisiskan dinding sel tumbuhan tersebut. Zat warna tumbuhan menunjukan warna yang berbeda dalam kondisi pH yang berbeda -beda. Hasil pengujian warna terhadap larutan baku yang memiliki pH tertentu, menunjukan pH dimanakah indicator alami tersebut bekerja. Warna ini dapat digunakan sebagai standar dalam pengukuran pH dari larutan yang belum diketahui pH -nya. Asam kuat dan basa kuat akan terurai sempurna dalam air da n pada titik ekivalen memiliki pH sama dengan 7. Indicator alami dapat dipakai sebagai penentuan konsentrasi dalam titrasi asam basa. Di samping menggunakan indikator buatan, seperti lakmus, fenolftalein,metil merah dan brom timol biru, kita juga dapat men genali senyawaasam atau basa dengan menggunakan indikator alami, seperti bungasepatu, bunga hidrangea, kol merah, kunyit dan beberapa jenis tumbuhan lainnya. Indikator asam -basa yang baik adalah zat warna yang memberi warna berbeda dalam larutan asam dan l arutan basa.

III.

ALAT DAN BAHAN
Alat : 1. Pipet 2. Erlenmeyer 3. Gelas Kimia 4. Buret 5. Corong 6. Statif dan Klem 7. Gelas Ukur 8. Plat tetes 9. Pisau Bahan : 1. NaOH 0,1 N 2. 3. HCl 4. Bunga berwarna ungu 1,19 g 5. sampo 6. sabun 7. air soda 8. susu 9. pasta gigi 10. detergen 11. cuka 12. fenolftalein

Contoh gambar rancangan alat titrasi :

IV.

CARA KERJA a. Percobaan indicator alami
sampo, sabun, dan bahan bahan yang lain di masukan ke dalam plat tetes yang bersih dan di tetesi ekstrak bunga

bunga di kumpulkan sebanyak 1-2 gr

di amati dan di tentukan keasamannya

dipotong kecil -kecil dan di tambahkan 5 ml akohol/ campuran alkohol aseton(1:1)

zat warna hasil ekstrasi di tetesi dan di amati

di aduk hingga terekstrak (ditambahkan pelarut jika perlu)

2 tetes larutan baku di masukan ke dalam plat tetes yang sudah mempunyai pH 2,6,7,9,10 (1 lubang satu larutan pH)

b. Percobaan Titrasi

NaOH 0,1 N di masukan ke dalam buret

langkah 1 - 5 di lakukan sebanyak 3 kali pada larutan HCl dan CH3COOH

larutan HCl di masukan ke dalam erlenmeyer sebanyak 25 ml

jika larutan sudah terjadi perubahan warna maka di catat volume NaOH yang di tetesi tadi

di tambahkan 3 tetes fenolftalein ke dalam erlenmeyer tadi

di masukan tetes demi tetes kedalam erlenmeyer tadi sambi di goyangkan erlenmeyernya

V.

DATA PENGAMATAN
A. Percobaan Indikator Alami Bunga yang digunakan = 1,19 gr Warna Zat hasil filtrasi = ungu = ungu kehitaman

Table perubahan warna ekstrak bunga : Ph 2 6 7 9 10
Table 1

Pe u

han Warna Merah Merah keunguan Coklat Hijau Hijau Muda

Tabel indicator pH bahan percobaan : Bahan Perc aan Susu Detergent Pasta gigi Sabun Sampo Cuka Air soda
Table 2

Peru ahan Warna Coklat Hijau tua Hijau muda Hijau tua Coklat Merah Coklat

Analisis : Berdasarkan table 1 dan table 2 di atas dapat di prediksikan pH dari masing-masing bahan percobaan. Bahan Perc aan Susu Detergent Pasta gigi Sabun Sampo Cuka Air soda
£ ¡

¡

¢ ¡   ¡

£

pH 7 8 10 8 7 2 7

Dari table berikut dapat disimpulkan bahwa beberapa jenis bahan percobaan dapat di kelompokan ke dalam 2 kelompok berdasarkan sifat asam atau basa nya. Bahan percobaan yang memiliki sifat basa ialah: 1. Detergent 2. Pasta gigi 3. Sabun Bahan percobaan yang memiliki sifat netral ialah: 1. Susu 2. Sampo 3. Air soda Bahan percobaan yang memiliki sifat asam ialah: 1. Cuka Jadi, tanpa dicicipi bahan percobaan tersebut bisa di prediksikan kadar ke asamannya dengan menggunakan bahan alami, sehingga bisa terhindar dari zat racun yang terkandung dalam baha percobaan tersebut. B. Percobaan Titrasi N NaOH V HCl V = 0,1 N = 25 ml = 10 ml 

NaOH + HCl
V NaOH I II III NaOH V HCl   = 

NaCl + 
= 20,2 ml = 20,5 ml = 20,7 ml = 20,5 ml

I = II = III = 25 ml   

20,5 ml x 0,1 N = 25 ml x  
= 0,082 N

NaOH +
V NaOH I II III NaOH V  = = 10 ml    

= 10,5 ml = 10,4 ml = 10,7 ml = 10,53 ml 

   

10,53 ml x 0,1 N = 10 ml x  
= 0,1053 N

Analisis: Dari hasil percobaan titrasi larutan HCl terjadi perubahan warna pada larutan ketika volume (rata ² rata) NaOH = 20,5 ml di tetesi ke dalam larutan sehingga di dapat bahwa konsentrasi larutan HCl adalah 0,082 N sedangkan pada laruta n terjadi perubahan warna pada larutan adalah 0,1053 N ketika volume (rata ² rata) NaOH = 10,53 ml di tetesi ke dalam larutan sehingga di dapat bahwa konsentrasi larutan 

VI.

KESIMPULAN
1. Dengan melakukan titrasi, kita dapat menentukan konsentrasi suatu zat dengan menggunakan indicator asam basa (hingga terjadi perubahan tertentu) yang di tambahkan pada larutan lain yang sudah di ke tahui konsentrasi dan volumenya. Kemudian dapat ditemukan konsentrasi nya dengan rumusan sebagai berikut: 
   

Di temukan bahwa konsentrasi HCl = 0,082 N dan

= 0,1053 N

2. Praktikan dapat memprediksikan pH suatu bahan percobaan melalui indicator alami yang sebelumnnya sudah di reaksikan dengan beberapa larutan yang sudah di ketahui derajat keasamannya. Dengan melihat perubahan warna indicator alami yang di reaksikan dengan b ahan percobaan dapat diprediksikan derajat keasaman suatu bahan percobaan dengan cara mencocokan warna perubahan larutan indicator -bahan percobaan dengan indicator -larutan yang sudah diketahui pH nya.

VII.

DAFTAR PUSTAKA Jurnal praktikum kimia dasar 1
ai.c .cc/20 0/07/hasil-laporan-penelitian-titrasi-asam.html http://www.blac http://kimia-asyik.blogspot.com/2009/11/teori-asam-basa.html http://tuins.blogspot.com/2009/09/indikator-asam-basa-alami.html http://www.scribd.com/doc/29391451/27148002 -LAP RA -PRAKTIKUM-TITRASI

Mengetahui, Asisten Pembimbing

Surakarta, 20 oktober 2010 Praktikan

_____________________  

©

¨

§¦¥¤

Khairul Hadi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->