P. 1
Laporan Kasus "Gangguan Waham (F.22.0)

Laporan Kasus "Gangguan Waham (F.22.0)

|Views: 540|Likes:
Published by Nur Ilhaini Sucipto
Laporan Kasus SMF Psikiatri RSD.dr Soebandi Jember 2011 "Gangguan Waham (F.22.0)"
Laporan Kasus SMF Psikiatri RSD.dr Soebandi Jember 2011 "Gangguan Waham (F.22.0)"

More info:

Published by: Nur Ilhaini Sucipto on Apr 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2013

pdf

text

original

LAPORAN KASUS

Oleh:

Nur Ilhaini Sucipto, S.Ked 052011101047

Pembimbing:

dr. Justina Evy Tyaswati, Sp.KJ

Disusun untuk Melaksanakan Tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa di RSUD. Dr. Soebandi Jember

SMF. PSIKIATRI
RSUD. DR. SOEBANDI JEMBER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2011

LAPORAN KASUS PSIKIATRI RSUD dr. SOEBANDI JEMBER ==========================================================

I.

IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan kolam renang di Panti. Pendidikan Agama Suku Alamat Status Tanggal Pemeriksaan : SGO (Sekolah Guru Olahraga) : Islam : Jawa : Mxxxx Sxxx III/I Rambipuji, Jember : Menikah : 25 Maret 2011 (Poli Psikiatri RSD. Dr Soebandi), : Ny. H : 41 tahun : Perempuan : Guru Olahraga SMK x dan pemilik serta pengelola

26 Maret 2011 (SMK x Sukorambi) dan 27 Maret 2011 (Home Visite dan melalui telepon)

II. KELUHAN UTAMA Visum et Repertum III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG 25 Maret 2011 Autoanamnesis (Poli RSD. Dr. Soebandi Jember) Autoanamnesis dilakukan saat pasien datang ke poli jiwa RSD dr. Soebandi Jember pada tanggal 25 Maret 2011 pukul 12.00 WIB. Pasien diantar oleh penyidik dari kepolisian dengan sukarela, dalam keadaan sadar, terlihat sesuai umurnya, berpakaian rapi dan bersih. Saat datang, pasien tampak tenang, namun saat bercerita tentang permasalahan yang dia hadapi pasien tampak menggebugebu dan penuh keyakinan. Berikut ini hasil wawancara pemeriksa dengan pasien. Pemeriksa: ”Siapa namanya, buk?” Pasien: ”H”

Pemeriksa: ”Rumahnya di mana?” Pasien: ”Mxxx Sxxx III/I Rambipuji” Sambil menunjukkan beberapa lembar kertas tentang pengaduannya terhadap suaminya lengkap beserta bukti-bukti yang menurut pasien tidak menafkahinya lahir dan batin, pasien mulai bercerita panjang tentang permasalahannya dengan suaminya. Ketika pemeriksa bertanya mengapa datang kemari, pasien menjawab bahwa ia dilaporkan gila oleh suaminya. Belum sempat pemeriksa bertanya alasannya, pasien memberitahukan alasannya bahwa dalam setahun suami pasien mencatat bahwa 2 kali pasien telah memukul anaknya, dan sekali lagi tanpa ditanya alasannya pasien menceritakan bahwa alasan pasien memukul anaknya adalah karena (1) anak pertama pasien tidak mau sholat dan mengaji namun pemukulan yang pasien lakukan adalah dengan cara memukulkan semacam sapu lidi di pinggiran kayu disamping anak tersebut berdiri. (2) melemparkan pisau ke anaknya yang kedua dengan alasan saat itu spontanitas terjadi saat pasien sedang memegang pisau untuk memasak dan tiba-tiba anak bungsunya menjatuhkan semua kerupuk yang ada di meja makan, dan dalam kondisi yang lelah saat itu, pasien spontan melemparkan pisau. Pasien: ” Padahal lho mbak aku mukul anakku soalnya dia gak ngaji sama gak sholat dan mukulnya pake sapu lidi disamping anakku. Emang suamiku itu kena lintrik mbak, ney lho lihat aku bawa bukti-bukti semuanya ada disini (sambil menunjukkan beberapa lembar kertas), ini juga mbak aku punya fotonya waktu lagi pesta-pesta acara khitanan anaknya perempuan gak bener itu, dia bikin pesta besar-besaran sementara waktu anakku khitanan lho cuman ngundang 10 orang. Dial lho juga pernah minta aku buat nggugurno kandunganku, waktu itu aku belum tahu kalau dia itu ada selingkuhan, aku sampai konsultasi ke dr. M trus di rujuk di RS.DS, ney lh mbak semua bukti-buktinya ada disini, coba lihat (sambil menunjukkan beberapa kertas berisi fotokopi kuitansi-kuitansi rumah sakit), mbak juga bisa baca sekelumt kisahku disini (sekali lagi menunjukkan beberapa lembar kertas yang berisi kisah hidup mulai dari perkenalan dengan suaminya sampai permasalahan dengan suami dan proses pelaporannya ke polres). Mbak tahu, aku waktu ke rumahnya perempuan gak bener itu, aku sempet disiram air cabe sama

ibunya perempuan itu mbak, sampai aku masuk RSD. B ini lho buktinya (sambil kembali memperlihatkan bukti kuitansi dia masuk RSD. B). Pemeriksa: “Sejak kapan suami ibu tidak menafkahi ibu?” Pasien : “Wong aku menikah dengan suami ku itu waktu dia semester III kok

mbak, aku waktu itu sudah diangkat jadi PNS, aku khan SGO (sekolah guru Olahraga) makanya bisa langsung diangkat jadi PNS karena berprestasi, tapi aku tidak masalah mbak, sampai akhirnya sekarang suami ku sudah diangkat jadi PNS eh kok malah ada perempuan yang ngerebut suami ku. Aku tadinya gak nyangka mbak, karena waktu nalak dia pake alasan aku udah mukul anakku itu, tapi setelah tak selidiki….. Pemeriksa: “Kira-kira sejak kapan ibu?” Pasien : “Januari 2010 mbak,……………”

Pemeriksa: “Sejak ada masalah itu nafsu makan ibu berkurang atau tidak?” Pasien : “Iya mbak sejak itu berat badanku turun 12 kg, soalnya nafsu

makanku berkurang, ………” Pemeriksa: “Pekerjaan ibu bagaimana?” Pasien : “Saya tetap bekerja mbak, seperti biasa, tidak terganggu……….sejak

ada masalah saya sering lupa mbak, padahal sebelumnya tidak, trus jug gampang emosian, ………….”

26 Maret 2011 Heteroanamnesis dengan rekan kerja pasien (Home Visite di sekolah) Rekan kerja pasien adalah kepala tata usaha di sekolah sekaligus adalah sahabat pasien. Rekan kerja pasien menjelaskan bahwa sebelum ada masalah dengan suaminya, pasien adalah orang yang energik, kreatif, spontan dan ahli kampanye. Sejak ada masalah dengan suaminya, pasien menjadi lebih sensitive, gampang marah dan suka mencari perhatian. Pasien merasa bahwa di sekolah ini ia seperti di hutan belantara, karena pasien merasa dikucilkan. Sempat pasien berkata “kalau aku gak takut dosa, sudah tak bunuh semua orang yang aku benci”. Pasien juga lebih mudah curiga bahkan dengan teman dekatnya. Rekan kerja pasien pernah dituduh menyadap hp pasien. Saat pemeriksa bertanya apakah di sekolah ini banyak yang memusuhi pasien, rekan kerja pasien menjelaskan bahwa

tidak semua orang menyukai keterbukaan pasien, terutama tentang masalahnya dengan suaminya sehingga sering juga menjadi bahan pembicaraan rekan-rekan yang lain. Kemudian pemeriksa bertanya apakah ada perubahan cara mengajar pasien sebelum dan setelah ada masalah, rekan kerja pasien menjelaskan, pasien tetap bekerja seperti biasa, namun banyak murid yang mengeluhkan perubahan sikap pasien yang mudah marah, namun hanya sebatas itu saja tidak ada sikap menyakiti kepada murid-murid. Rekan kerja pasien juga mengatakan, sebenarnya harapan pasien adalah ingin keluarganya utuh, dan pasien akan normal kembali, Awalnya pasien sangat tidak ingin bercerai dengan suaminya, namun mungkin karena permasalahan ini begitu lama, harapan pasien saat ini adalah anaknya kembali ke rumah dan dalam pegasuhan. Menurut beliau, tidak ada gelagat bahwa pasien mempunyai teman bicara yang hanya bisa dilihat maupun didengar oleh pasien sendiri, dan pasien tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya sendri maupun orang lain.

27 Maret 2011 Autoanamnesis (Home Visite) Saat pemeriksa datang ke rumah pasien, pasien masih mengenali pemeriksa. Pasien tampak rapi dan bersih tidak berbeda dengan ketika berjumpa di rumah sakit. Selama wawancara, pasien cenderung banyak menceritakan segala hal tentang permsalahannya, sedangkan pemeriksa hanya sesekali menyela penjelasan pasien untuk mengarahkan pembicaraan tapi selalu jawaban berikutnya juga diikuti detail-detail yang menurut pasien menggambarkan tentang gambaran kejadian dari permasalahan yang terjadi. Berikut hasil wawancara pemeriksa dengan pasien. Pemeriksa: “Bagaimana keadaannya ibu?” Pasien : “Alhamdulillah baik mbak, tadi nyasar gak mbak?”

Pemeriksa: “tidak bu, ibu sedang apa?, kok sepi ya bu?” Pasien : “ku sedang istirahat, sendirian dirumah jadi sepi, anakku masih

dirumah mbahnya, ney lihat mbak rumahku sebenernya mau dicat lagi, tapi gak lanjut soale tukang catnya di berhentikan ma suamiku, sampek cat 4 galon dibelakang kering kabeh, lek gak percaya liat aja, ku yo kaget kok tiba-tiba

suamiku tuh kayak gitu, sampek tetangga itu getun (menyesal) wong pak E (suami ny.H) itu lho orangnya pendiem tapi kok bisa selingkuh, mangkane banyak orang gak percaya ma aku mbak, soale emang sebelum suamiku kena lintrik (gunaguna) dia tuh pendiem, setia, penyayang ma aku. Aku lapor kemana-mana gak direken mbak, gak ada yang percaya ma aku. Aku khan emang orange dari dulu tuh heboh, aku khan supporter terheboh mbak, lihat ney kalau gak percaya (sambil menunjukkan sebuah koran yang menyebutkan bahwa pasien adalah supporter terheboh pada suatu pertandingan bola). Aku ini juga orangnya aktif dan pekerja keras, dulu khan ku nikah ma suamiku waktu dia masih semester III dan waktu itu aku udah diangkat jadi PNS, jadi ya semuanya dari kerjaku mbak, dulu waktu masih awal ku masih ngekos sampai sekarang ku udah punya 2 rumah tingkat. Eh, kok malah pas suamiku sudah diangkat PNS, dia sudah mapan, malah ada “lintrik”.” Pemeriksa: “Pekerjaan suami ibu apa tho?” Pasien : “suami ku itu guru sejarah SMA x dan SMA y mbak, dia juga penyiar

radio di sekolahnya, dan sekarang perempuan itu dijadikan penyiar radioa juga di sana. Aku wes lapor kepala sekolahnya sana, tapi gak direken mbak. Perempuan gak bener itu emang kepingin punya suami yang mapan mbak mangkane aku gak terima. Seng lebih bikin aku gak terima lagi, anakku dijadikan senjata ma suamiku buat nalak aku mbak, selama setahun aku mukul anakku dua kali itu dicatet sama suamiku mbak, padahal aku mukul anakku itu soale ga mau ngaji ma gak mau sholat. Pas anakku ulang tahun, dia tak belikan motor, nomor motor ma kuncinya tak anterno ke rumah mbahe, anakku sampe bilang “mama ini ternyata saying tho sama aku”, trus aku bilang “ya iya, khan mama mukul kamu soale kamu gak ngaji ma sholat tho, coba disini kamu dipukul gak kalau gak ngaji ma sholat”, kata anakku “gak ma”. Wong aku itu lho mbak mukule cuman pake sapu lidi tak pukulno di sampinge anakku gitu mbak…..”(kisahnya masih panjang lagi dengan pola bicara sama dengan diatas) Pemeriksa: “Ibu nafsu makannya terganggu atau tidak?” Pasien : “kalau sekarang sudah gak mbak, ku sudah makan seperti biasa, mbak

lihat fotoku pas di Koran itu, gemuk banget khan, waktu awal kejadian ini tuh mbak..”

Pemeriksa: “kapan itu buk?” Tanya pemeriksa di tengah penjelasannya Pasien : “ya itu mbak pas bulan januari 2010-agustus gitu, nafsu makanku

turun, aku yo sekalian ae puasa biar menguatkan imanku lagian. Wong awal nalak aku pas 12 september 2009 itu pas puasaan, ku awale gak tau kalau suamiku itu kena “lintrik”, baru aku tau ya sekitar bulan januari 2010 itu, sejak itu aku males makan sampek berat badanku turun 12 kg. Awal-awal itu mbak aku sempet gak bisa tidur, trus aku minum CTM, aku juga gak sholat, ngrasa gelo gitu mbak, tapi lama-lama aku sadar dan mulai mendekatkan diri dengan Allah, mulai sholat ma puasa itu mbak.” Pemeriksa: “Bagaimana perasaan ibu saat itu?” Pasien : “aku sedih banget mbak, waktu aku nganter hadiah ulang tahunnya

anakku itu, diperjalanan aku seperti ngelihat bayangane anakku sakelebatan (sekilas), gara-gara itu aku jatuh dari motor…..Trus aku khan pernah ngajak kiai ke rumahku ya mbak, kata kiaine kamarku itu pernah dipake zina ma suamiku yo sama perempuan gak bener iku, pas aku gak ada itu mbak, mangkanya aku sekarang kalau tidur dikamar tamu, aku gak mau masuk kamar itu……….” Pemeriksa: “pekerjaan ibu bagaimana saat itu?” Pasien : “aku tetap bekerja sebagai guru olahraga mbak di SMK x, aku juga

gak pernah telat, cuman aku sekarang dikasih cuti ma sekolahku, supaya aku bisa nyelesaikan masalah keluargaku mbak, aku juga sampe nutup kolam renangku di panti, ya demi menyelesaikan masalahku ma suamiku ini mbak.” Pemeriksa: “harapan ibu kedepan apa ?” Pasien ma aku” Pemeriksa: “Langkah-langkah apa yang sudah ibu lakukan untuk mencapai harapan-harapan ibu?” Pasien : “ya itu mbak, aku sudah ke lapor kepala sekolah, banwaslu, polres, : “aku ingin suamiku sadar mbak, anakku juga kembali berkumpul lagi

aku juga udah ke orang pinter dan semua orang pinter yang aku temui itu bilang kalau suamiku itu kena lintrik, selain itu aku juga berdoa mbak suapaya suamiku bisa sadar, itu juga tujuanku kenapa sampek tak laporkan ke polres. Aku sampek sempet bikin sensasi di hape lho mbak, biar aku dipanggil trus khan aku bisa ngomong tentang masalah suamiku itu ke kepala sekolah………..”

Pemeriksa: “Ibu masih sering kelebatan anak ibu?” Pasien : “Gak mbak, tapi aku masih sangat ingin anakku pulang kerumah ini,

aku kangen banget” Pemeriksa: “Maukah ibu menuliskan harapan ibu pada kertas ini?” Pasien : “Iya mbak”

Berikut ini adalah harapan pasien:

27 Maret 2011 Heteroanamnesis (Melalui Telefon) Pemeriksa menghubungi rekan mengajar pasien di SMK x, namanya Ibu I seorang guru kimia yang sudah mengajar selama kurang lebih 8 tahun. Sebelumnya memuali wawancara, pemeriksa memperkenalkan diri terlebih

dahulu. Berikut hasil wawancara yang didapatkan. Pemeriksa: “Ibu I kenal dengan Ibu H?” Ibu I : “iya kenal, beliau adalah guru olahraga di sekolah.”

Pemeriksa: “Bagaimana kepribadian beliau menurut ibu?” Ibu I : “Beliau seorang yang ceplas-ceplos, heboh, dan cenderung ekstrovert

namun beliau sebenarnya baik dan ramah, namun sejak beliau ada masalah

keluarga,

beliau

semakin

terbuka

terutama

semakin

menunjukkan

ketidaksukaannya pada orang yang dia benci” Pemeriksa: “Jadi ibu mengetahui tentang masalah beliau?, bagaimana dia mengungkapkan rasa tidak sukanya pada orang lain?” Ibu I : “Semua orang di sekolah tahu mbak, karena beliau begitu terbuka

tentang masalahnya tersebut. Sebelumnya beliau masih tidak memperlihatkan secara frontal kalau membenci seseorang, namun sejak ada masalah belau jadi lebih mengungkapkan secara terbuka terhadap orang yang dia benci” Pemeriksa: “Ibu tahu juga tentang sensasi hape yang beliau buat? Dan bisa ceritakan kepada saya tentang kondisi beliau sejak ada masalah?” Ibu I : “Iya, tapi saya tidak tahu tentang isi tulisan di hape itu, saya tidak

melihat sendiri, saya pikir beliau berbuat demikian supaya mendapat perhatian atas masalahnya mbak, kasihan beliau, saya berharap, saat masalah ini sudah terselesaikan beliau bisa membaik. Beliau sejak ada masalah jadi lebih sensitif, maksud saya lebih mudah marah, tapi beliau tetap mengajar dan selalu tepat waktu sama seperti biasanya, beliau sejak ada masalah itu saya perhatikan mulai belajar pakai jilbab mbak, dan Alhamdulillah sampai sekarang.” Pemeriksa: “ Apakah beliau pernah menceritakan masalahnya kepada ibu?” Ibu I : “Iya”

Pemeriksa: “Pernahkah beliau mengungkapkan keinginannya untuk menyakiti dirinya sendiri atau orang lain?” Ibu I : “Tidak mbak.”

Pemeriksa: “Pernahkah beliau menceritakan bahwa beliau memiliki teman bicara yang hanya bisa dia dengar atau dia lihat sendiri?” Ibu I saya.” Pemeriksa: “Apa itu bu?” Ibu I : “ Beliau ingin keluarganya kembali utuh. Selain yang saya ceritakan : “Oh, tidak mbak, beliau pernah menyampaikan harapannya pada

tadi, setahu saya tidak ada hal lain yang aneh mbak. Saya berharap beliau segera bisa menyelesaikan masalahnya” Pemeriksa: “Amin. Baiklah ibu, terimakasih atas penjelasnnya.

Wassalamu’alaikum”

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pasien tidak pernah mengalami gangguan seperti ini sebelumnya. Pasien juga tidak pernah mengalami trauma kepala. RIWAYAT PENGOBATAN Pasien belum pernah mendapatkan pengobatan sebelumnya. Pasien tidak pernah menggunakan alkohol atau obat-obatan. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami hal serupa dengan pasien. RIWAYAT SOSIAL • • • Pendidikan Menikah Faktor Premorbid : Lulus SGO (Sekolah Guru Olahraga) : Menikah : Lincah, terbuka, ceplas-ceplos, mudah bergaul,

percaya diri, spontan namun masih bisa mengendalikan diri terhadap orang yang tidak disukainya. • Faktor Pencetus : Masalah keluarga (gugatan cerai suaminya dan

perpisahan dengan anak-anaknya) • • Faktor Organik Faktor Psikososial :: Hubungan dengan keluarga, saudara, dan

tetangganya kurang harmonis. Pasien dikucilkan oleh keluarga maupun oleh beberapa tetangganya. • Pekerjaan : Pasien sedang diberi cuti untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapinya. Selama bekerja, hubungan pasien dengan rekan kerja baik, namun tidak semua rekan kerjanya yang dapat menerima keterbukaan dan spontanitasnya.

I. 1.

PEMERIKSAAN FISIK Status Interna (25 Maret 2011, Poli Psikiatri RSD dr. Soebandi) • Keadaan Umum Kesadaran : Composmentis Tensi : 120/80 mmHg

Nadi Pernapasan Suhu • Pemeriksaan Fisik Kepala-Leher Thorax

: 89 x/menit : 25 x/ menit : 36,7°C

: a/i/c/d = -/-/-/: Cor : S1S2 tunggal Pulmo: Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/: Datar, bising usus normal, soepel, timpani : Akral hangat pada keempat ekstremitas Tidak ada oedema pada keempat ekstremitas

Abdomen Ekstremitas

2. Status Psikiatri (25 Maret 2011, Poli Psikiatri RSD dr. Soebandi) • Kesan umum : pasien terlihat seusia umurnya, cara berpakaiannya rapi, wangi berjilbab. Kuku jari tangan tampak bersih, kesehatan fisik cukup, tinggi badan normal, tidak terdapat cacat fisik. Pasien terlihat tenang, namun terlihat menggebu-gebu saat menceritakan permasalahan yang dihadapi. • Kontak • Kesadaran • Afek Emosi : mata (+), verbal (+), lancar, relevan : Kualitatif Kuantitatif : Psikotik : GCS 4-5-6

: Depresi, kesepian

• Proses Berpikir: o Bentuk : Non realistik o Arus o Isi : logorea, pikiran melayang (flight of ideas) : pikiran isolasi sosial (”social isolation”), sering curiga, waham (+) • Persepsi : halusinasi visual sementara (-), ilusi (-), depersonalisasi (), derealisasi (-), gangguan somatosensorik pada reaksi sensorik (-), gangguan psikofisiologik (-), agnosia (-) • Kemauan • Psikomotor : menurun : dalam batas normal

• Intelegensi

: dalam batas normal

II. DIAGNOSIS MULTIAXIAL Axis I Axis II Axis III Axis IV : F22.0 Gangguan Waham : F60.4 Gangguan kepribadian histrionik : : Masalah dengan ”primary support group” (gugatan cerai dari

suami dan perpisahan dengan anak kandungnya) Axis V : GAF scale 70-61

III. TERAPI 1. Psikoterapi • • mendengar dengan baik keluhan pasien psikoterapi untuk memperkuat fungsi ego dengan psikoterapi suportif dan agar pasien dapat bersosialisasi. • 2. konseling untuk membantu pasien mengerti dirinya lebih baik agar dapat mengatasi masalahnya menyesuaikan diri. Sosioterapi • Edukasi keluarga untuk mendengar curahan hati pasien dan membantu pasien menyelesaikan masalahnya. • Menciptakan lingkungan yang kondusif dalam keluarga dan lingkungan kerja.

VI. PROGNOSIS Dubia ad bonam

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->