P. 1
Pembelajaran Kelas Rangkap

Pembelajaran Kelas Rangkap

|Views: 1,117|Likes:

More info:

Published by: Muhamad Iskandar Suhifatullah on Apr 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KELAS RANGKAP DI KABUPATEN PACITAN

Sunardi Universitas Sebelas Maret ABSTRACT
There are two achievements of national development in the last four decades that might have contributed to the low rates of entrance in a few primary schools, especially in rural areas, i.e. family planning and primary education. Responding to that problem, assisted by the USAID through MBE Project, the District of Pacitan decided a policy to keep some of the primary schools with low rates attendance as they were, using a multigrade teaching model. Many changes towards more innovative practices in school management and classroom instruction were required. The implementation of that policy, however, was not as smooth as it was predicted. Some problems were presented, followed by suggestions to solve the existing problems. Keywords: classroom multigrade, heterogeneous.

Perkembangan pembangunan bidang pendidikan dasar yang dilakukan pemerintah sejak 1975 melalui proyek Inpres dalam tahapan beberapa Repelita secara kuantitatif telah menunjukkan hasil luar biasa. Jumlah siswa yang semula hanya 13 juta pada tahun 1975 (Balitbangdikbud, 1990) telah bertambah menjadi hampir 29 juta pada tahun 2003 (Balitbangdikbud, 2003). Tingkat partisipasi pendidikan dasar yang semula di bawah 50% telah mencapai hampir 100%. Mereka yang belum memperoleh layanan pendidikan dasar sebagian besar terdiri dari individu yang memang memerlukan layanan khusus, seperti anak berkebutuhan khusus, anak-anak yang tinggal di daerah terpencil, anak nelayan, dsb. Penurunan laju pertumbuhan penduduk pada dekade terakhir ternyata juga berpengaruh terhadap peta persekolahan di Indonesia. Data di beberapa kabupaten dan kota di eks karesidenan Surakarta menunjukkan kecenderungan menurunnya jumlah siswa SD. Hal ini sesuai dengan kecenderungan menurunnya jumlah siswa usia sekolah dasar, yang menurut data Balitbangdikbud (2003) dari tahun 2000 telah sedikit turun dari 38.679.000 menjadi 38.500.000. Kecenderungan ini mungkin berubah dalam beberapa tahun mendatang seiring dengan otonomi daerah, karena banyak daerah yang tidak memberi perhatian layak pada keluarga berencana. Sekolah-sekolah yang terletak di daerah perkotaan padat penduduk atau sekolah-sekolah favorit memang mempunyai jumlah siswa yang relatif stabil. Tetapi di daerah lain, beberapa sekolah dengan jumlah siswa di bawah ambang batas kelayakan (kurang dari 15 orang per angkatan) memaksa Dinas Pendidikan setempat mengambil kebijakan regrouping. Meskipun secara ekonomis kebijakan regrouping berdampak positif bagi pemerintah, di beberapa daerah ternyata mempunyai dampak negatif, baik bagi guru maupun para siswa. Beberapa guru merasa tidak ”merasa di rumah”, di tempat yang baru. Di daerah yang berpenduduk tidak padat, regrouping menimbulkan masalah transportasi bagi siswa yang harus pindah sekolah.

yaitu 1) keserempakan kegiatan belajar mengajar. model satu ruang dapat dipilih. terjadi kekurangan jumlah guru. dua atau tiga tingkat dalam sekolah yang sama digabung dan diajar oleh satu guru. 3) secara keseluruhan. yaitu 1) sulitnya transportasi peserta didik karena bermukim jauh dari sekolah. Sekolah di daerah dengan pertumbuhan penduduk dan pengembangan sekolah pesat. Menurut Udin S Winatasaputra (dalam Djalil. sehingga tidak dapat menampung siswa dua kelas secara nyaman. dua mata pelajaran. 5) kekurangan ruang kelas. Kolombia. satu ruangan. Implementasi dalam penelitian ini mengacu pada model PKR yang dikemukakan oleh Djalil. misalnya model dua kelas. Sekolah di daerah. Sebaliknya. Djalil. di mana orangtua memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah favorit di luar daerah. 2) banyaknya sekolah yang mempunyai jumlah siswa terlalu kecil. ditambah dengan beberapa prinsip khusus. Sementara itu. mengemukakan beberapa alasan mengapa model PKR diperlukan. dua ruangan. Sekolah dengan tingkat absensi guru tinggi dan sulit mencari guru pengganti. 2) waktu keaktifan akademik tinggi. sehingga guru dapat mengelola keduanya. ada beberapa model pengelolaan kelas dalam PKR. dan kemungkinan ada guru yang tidak hadir. dua mata pelajaran. jika ruang kelas kecil. dan Wihardit (1997). PKR menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran umum. sedangkan kuota pengangkatan guru baru dari pemerintah pusat jauh dari kebutuhan setiap tahun. dengan catatan keduanya mempunyai akses cukup mudah. menurut Little (2005). 2. Sekolah di daerah yang berangsur-angsur mengalami keadaan jumlah murid dan gurunya menurun. 74 . tetapi jumlah guru belum mencukupi. 4. Tidak banyak ditemukan sekolah dengan jumlah guru mencukupi. Nomor 2. atau model dua kelas. 7. model dua ruang dapat dipakai. Meksiko. Pembelajaran kelas rangkap juga dapat mengatasi masalah ketenagaan di sekolah. 6. Sekolah yang menerima jumlah siswa melebihi batas. guru harus dibekali dengan pengelolaan siswa heterogen dalam kelas yang sama. 8. dan 4) efisiensi pemanfataan sumber-daya. Volume 8. 3. Sekolah mobile yang berkeliling melayani berbagai kelompok. jika ruang kelas cukup besar dan siswa dapat dikendalikan agar tidak saling terganggu oleh kehadiran kelompok siswa lain. padahal tidak ada guru cadangan. 4) sebagian disebabkan oleh penyebaran tidak merata. Pemilihan model yang cocok harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan kelas. jumlah siswa yang tidak memenuhi ambang batas dibiarkan seperti adanya. karena saat ini sebagian besar daerah kekurangan guru. 3) kontak psikologis guru murid berkelanjutan. Wardani. & Wihardit. 1. sehingga perlu dilakukan penggabungan kelebihan siswa dengan kelas lain. karena besarnya jumlah guru pensiun. Misalnya. Dengan model ini. 9. 5. Wardani.Jurnal Pendidikan. yang sebenarnya telah dikenal secara praktis oleh para guru di lapangan. Sekolah-sekolah di daerah dengan penyebaran guru tidak merata. PKR banyak dipakai dalam kondisi berikut. Sekolah yang terdiri dari kelompok-kelompok kelas tersebar di beberapa lokasi. 10. Wardani. Karena itu. 73-82 Salah satu alternatif pemecahan masalah ini adalah dengan pembelajaran kelas rangkap (PKR). Daerah dengan tingkat kepadatan penduduk rendah dengan lokasi sekolah tersebar sehingga jumlah siswa kecil. Sekolah yang memang sengaja menyelengarakan model PKR. PKR ternyata populer dan banyak dipakai di berbagai negara dalam kondisi di mana terdapat banyak sekolah kecil. dan Wihardit (1997). September 2007. 1997). seperti Australia.

94% sekolah dasar adalah sekolah PKR. sedangkan daerah pedesaan yang merupakan bagian terbesar masih berupa hutan. 40% sekolah di Northern Territories menggunakan PKR pada tahun 1988. Peneltian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data meliputi dokumen yang ada di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten dan di sekolah-sekolah yang mengimplementasikan PKR. dan hambatannya dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara terbuka. dan 63% sekolah di Srilanka. sedangkan analisis dilakukan secara deskriptif. resitasi. Data tentang perkembangan PKR. Dalam hal akses. Dalam hal sosial/ personal. Dengan kondisi daerah seperti itu. Validasi data menggunakan triangulasi sumber. Tempat penelitian adalah di Kabupaten Pacitan. regrouping akan menyulitkan. METODOLOGI Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan PKR di Kabupaten Pacitan. sehingga pembelajaran didominasi oleh penggunaan metode ceramah. Little (2005) mencatat beberapa dampak dalam hal perluasan akses. sehingga jika ada sekolah yang kekurangan murid. diperkirakan 15 – 25 juta anak usia sekolah di seluruh dunia tidak terakomodasi dengan pembelajaran monogradasi atau satu level. yang terdiri dari 11 kecamatan dan mempunyai wilayah sebagian besar (80%) terdiri dari pedesaan. Untuk mengelola PKR memang diperlukan guru yang inovatif yang berbekal pengetahuan dan keterampilan dalam model-model pembelajaran non-konvensional. merupakan metode yang harus lebih banyak digunakan. dan hambatan yang ditemukan. PKR juga ditemukan di hampir semua sekolah di Nepal. Guru konvensional banyak menggunakan model-model pembelajaran berpusat pada guru. eksperimen. orangtua. konsep diri. Di India pada tahun 1996. bukan hanya bagi siswa. 75 . pengamatan. serta pejabat pemerintahan. 78% sekolah di Peru. Metode pembelajaran berbasis keaktifan siswa. pembelajaran harus diubah menuju model berpusat pada siswa. dilaporkan bahwa prestasi akademik anak PKR lebih baik daripada kelas satu level di negara-negara Togo. seperti diskusi. Turki. kerja kelompok. dan sikap terhadap sekolah anak-anak di kelas PKR cenderung lebih baik atau sama dengan anak-anak di kelas satu level. dan analisis dokumen. 21% sekolah di Irlandia Utara. toleransi. HASIL DAN PEMBAHASAN Kabupaten Pacitan yang terdiri dari 11 kecamatan memiliki jumlah sekolah dasar cukup besar yang tersebar di semua wilayah. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi. para guru. dan Indonesia. Di Inggris. dan kepribadian/sosial siswa.Sunardi. Dalam hal prestasi akademik. tutor sebaya. Kepulauan Caicus. prestasi akademik. Dalam mengelola kelas PKR. implementasi di lapangan. Di Australia. 2005). Implementasi Pembelajaran Kelas Rangkap di Kabupaten Pacitan PKR telah dipakai di berbagai negara (Little. Berbagai sumber belajar harus dimanfaatkan secara optimal dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran juga. Colombia. 25% kelas di sekolah dasar merupakan kelas PKR. letak sekolah-sekolah dasar tersebar. tetapi juga bagi guru dan orangtua. Guru tidak dapat lagi menempatkan diri sebagai satu-satunya sumber belajar. Khusus tentang pembelajaran kelas heterogen dengan model PKR. antara lain upaya peningkatan kualitas pendidikan dan penanganan sekolah-sekolah dengan jumlah siswa semakin menurun. implementasinya di lapangan. Hanya di Pakistan dilaporkan prestasi akademik mendukung kelas satu level. dilaporkan bahwa persahabatan. Kecamatan yang termasuk semi kota hanyalah daerah yang berbatasan atau dekat dengan ibukota kabupaten sendiri.

dengan didampingi District Coordinator (DC) dan tiga orang Tim MBE-RTI dilaksanakan koordinasi program MBE bekerjasama dengan pejabat Pemerintah Kabupaten Pacitan yaitu pihak legislatif (Komisi B DPRD) dan pihak eksekutif (Bappeda dan Dinas Pendidikan). Pemetaan oleh Tim yang terdiri dari unsur LSM. 76 . dengan mengembangkan praktek-praktek yang baik. agar semua perencanaan Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan dalam penentuan kebijakan program berbasis pada data. Dinas Pendidikan Kabupaten telah membuat rencana untuk melaksanakan penggabungan sekolah (SDN). agar pelaksanaan program yang dikelola oleh pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan legal dan berkekuatan hukum. di Jogjakarta pada tanggal 2-4 September 2003. Proses Belajar Mengajar (CD-3. serta 4). dalam meningkatkan kemampuan SDM di tingkat daerah. Dinas Pendidikan akan menindaklanjuti hasil pemetaan melalui program efisiensi manajemen pendidikan antara lain penggabungan sekolah/regroupimg dan penerapan PKR. 2. 73-82 Perkembangan Kebijakan PKR/Multigrade Teaching Upaya pengelolaan Pendidikan Dasar oleh Pemerintah daerah kabupaten Pacitan tidak lepas dari peran serta MBE/Managing Basic Education (Program Pengelolaan Pendidikan Dasar). yang sudah ada. pendistribusian guru dan pembentukan PKR. dan ada 35 buah sekolah yang dipertahankan sebagai sekolah kecil dengan model PKR. Fokus utama dari nota kesepakatan (MoU) antara Bupati Pacitan dan Direktorat Program MBE adalah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Pendanaan Sekolah. Fasilitas dan Pengelolaan Pegawai. 3). 2). disebutkan MBE memberi kontribusi berupa bantuan teknis dalam upaya meningkatkan kemampuan SDM di tingkat Kabupaten Pacitan agar daerah tersebut mampu mengelola Pendidikan Dasar. serta mendorong pengembangan dan diseminasi praktek yang baik tersebut sekaligus gagasan-gagasan lain di tingkat kabupaten/kota. Program ini diutamakan bekerja di tingkat kabupaten/kota. sebagai pimpinan proyek Pengelolaan Pendidikan Dasar. Tindakan awal yang dilakukan Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan adalah mengadakan pemetaan sekolah. Pada tanggal 14-15 Februari 2005. 1.Jurnal Pendidikan. Tindak lanjut dari penandatanganan Nota Kesepakatan (MoU) tersebut adalah ditunjuknya pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan. CHW1). sehingga program yang diimplementasikan dapat menjawab kebutuhan sekolah. dan Dinas Cabang dilakukan untuk mengetahui kondisi nyata sekolah. Pengawas Sekolah. Sudah dilaksanakannya diseminasi pemetaan sekolah di 10 kecamatan yang bukan binaan MBE. Dewan Sekolah. Peran Serta Masyarakat (PSM). ada 14 buah sekolah kecil yang diregroup menjadi 7 sekolah. MBE adalah suatu bagian dari program USAID. Dengan banyaknya dukungan dari berbagai pihak maka Pemerintah Daerah akhirnya memberikan payung hukum berupa: dikeluarkannya SK Bupati No: 100/2005 mengenai Penggabungan dan Perubahan Status Sekolah Dasar di Kabupaten Pacitan. Volume 8. Keterlibatan MBE dimulai ketika ditandatanganinya Nota Kesepakatan (MoU) antara Bupati Pacitan dan Direktorat Program MBE. serta Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) di tingkat sekolah. sehingga seluruh kecamatan sudah melakukan pemetaan sekolah. Hasil koordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan Kabupaten mengenai tindak lanjut Pemetaan Sekolah adalah sebagai berikut. Menururt SK tersebut. Di dalam MoU tersebut. Nomor 2. Praktek ini meliputi: 1). seperti yang terlihat pada Tabel 1. September 2007. pada tanggal 13 Juni 2005. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Peran Serta Masyarakat (PSM).

Beberapa perwakilan dari kabupaten lain juga hadir. Banyuwangi 1 orang. 2) pengorganisasian dan perencanaan untuk Kelas Rangkap. kemudian pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan memberi bekal pelaksanaan kepada 33 sekolah dasar yang telah resmi ditetapkan sebagai Sekolah Kelas Rangkap. Pelatihan tahap I diselenggarakan di gedung KPRI Hikmahdengan dihadiri oleh 40 peserta. Pelatihan difokuskan pada 3 hal yaitu: 1) struktur dan organisasi sekolah dengan Kelas Rangkap. dan Batu 1 orang. dan 3) strategi pembelajaran untuk Kelas Rangkap. Daftar Sekolah PKR berdasarkan SK Bupati Kecamatan Donorojo Punung Nama SD Sawahan 1 Sawahan 2 Sendang 2 Punung 2 Soka 2 Mendolo 2 Mendolo Kidul 1 Tinatar 3 Candi 1 Sugihwaras 1 Sugihwaras 2 Sidoharjo 2 Sambong 1 Tambakrejo 2 Karanganyar 1 Mlati 3 Kedungbendo 2 Karanggede 3 Gunungsari 3 Gembong 2 Mangunharjo 3 Temon 4 Nawangan 4 Nawangan 5 Jetis Lor 3 Watupatok 3 Tegalombo 3 Pucangombo 5 Tegalombo 4 Wonodadi Kulon 3 Bogoharjo Wiyoro 2 Wonokarto 7 Pager Lor 3 Klepu 4 Jumlah Murid 44 44 47 57 46 58 56 49 44 44 40 66 62 56 51 34 51 52 21 38 15 49 44 53 41 50 25 53 51 55 51 37 52 52 64 Pringkuku Pacitan Kebonagung Arjosari Nawangam Bandar Tegalombo Ngadirojo Wonokarto Menindaklanjuti dikeluarkannya SK Bupati Nomor: 100/2005 mengenai Penggabungan dan Perubahan status Sekolah Dasar di Kabupaten Pacitan. Implementasi Pembelajaran Kelas Rangkap di Kabupaten Pacitan Tabel 1. dari 6 SD yang akan melakukan perubahan ketenagaan. melalui penyelenggaraan pelatihan/workshop tentang PKR pada tanggal 2-4 Agustus 2005. di antaranya: kabupaten Probolinggo 2 orang.Sunardi. 77 .

justru menjadi sebuah ”permasalahan baru”. Diknas. Untuk memenuhi sebuah kriteria sekolah Kelas Rangkap yang hanya membutuhkan 3 guru dan 1 kepala sekolah. mendapat laporan bahwa: dari 6 sekolah yang telah mengikuti Workshop/ Pelatihan. terkait informasi mengenai kelas rangkap yang diberikan kepada 33 kepala sekolah setempat dan stakeholder. 3. Tujuannya ialah untuk memberikan penjelasan singkat mengenai pelatihan dan memberikan kesempatan kepada stakeholder untuk mendiskusikan perubahan-perubahan yang akan datang di sekolah-sekolah. Volume 8. 73-82 Kepala Seksi Program pada Dinas Pendidikan Pacitan kemudian meminta satu sesi lagi. Hal senada juga disampaikan fasilitator daerah/District Fasilitator MBE di Pacitan dan Kasi Progam Diknas untuk TK & SD. Kedua sekolah tersebut memang mempunyai motivasi tinggi. dan untuk menyusun kegiatan dan fasilitasi berikutnya. kendala yang dihadapi. Resistensi dari pihak pelaksana terutama guru. rata-rata sekolah yang ditunjuk untuk melaksanakan PKR. di antaranya adalah sebagai berikut: 1. konsultan MBE menindaklanjuti hasil pelatihan dengan mengunjungi dan melihat langsung pembelajaran pada sekolah yang melaksanakan PKR. sehingga wajar apabila program pembelajaran tersebut tidak dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan dan menjadi tujuan pihak inovator (MBE-Pemerintah Daerah). 2. selain hambatan dari sekolah mengenai keterbatasan dana pendukung program dan hambatan dari pihak pemerintah daerah yang belum mampu melengkapi perangkat pembelajaran. Pihak Dinas Pendidikan akhirnya sepakat menetapkan kedua SDN tersebut. September 2007. terutama tenaga guru honorer yang selalu bertanya seputar teknis pembelajaran. dapat diduga sebagai salah satu hambatan pelaksanaan PKR. Kenyamanan bekerja terganggu dengan akan adanya ancaman mutasi. workshop. Hambatan dari pihak guru sebagai pelaksana. dan filosofi inovasi PKR. muncul akibat dari akumulasi beberapa keluhan/kondisi psikis guru setelah diimplementasikannya keputusan inovasi pembelajaran oleh Pemerintah Daerah. yaitu PKR. seminar. Dari hasil kunjungan tersebut. mengikuti dan melaksanakan program baru. tahap I. pelayanan dan tanggung jawab guru terhadap siswa karena guru mengajar Kelas Rangkap. maka setiap saat mereka harus siap dimutasi. tetapi semuanya (sekali lagi) berpulang kepada masing-masing guru yang menganggap metode mereka sendiri yang paling sesuai (terlepas baik atau tidak). sebagai pilot/ rujukan program PKR. Hal ini mengakibatkan tidak pahamnya pihak pelaksana mengenai visi. yang antusias dan sudah mulai mencobakan PKR tersebut. Hal yang paling mencolok dikeluhkan oleh guru-sebagai pelaksana program adalah perubahan paradigma tentang belajar-mengajar. Pada September 2006. seperti kurikulum dan modul PKR. Selama ini perubahan metode belajar-mengajar telah banyak diterima guru melalui banyak simposium. Saat penelitian ini dilakukan. melalui informasi dari MBE. Tidak adanya sosialisasi sebelum diterbitkannya surat keputusan. misi. Sebab metode yang mereka lakukan selama ini memberikan rasa aman pada saat mereka 78 . Hambatan dari guru. Hambatan dan Solusi Pelaksanaan PKR PKR yang diciptakan Pemerintah Daerah sebagai sebuah ”solusi”. Nomor 2. Tujuan kunjungan ini untuk melihat sejauh mana sekolah mampu menerapkan pola dan metode mengajar PAKEM pada kelas rangkap serta ingin mendapatkan masukan-masukan. mempunyai 6 orang guru dan 1 kepala sekolah. hanya 2 sekolah saja (SDN Punung 2 di kecamatan Punung dan SDN Sidoharjo 2 di kecamatan Pacitan). pekerjaan akademik.Jurnal Pendidikan. Bertambahnya pekerjaan administratif. pada saat Pelatihan/Workshop tersebut.

Melekatnya budaya Top Down Management pada guru membuat guru tidak mempunyai inisiatif untuk mendukung dan berpatisipasi aktif dalam menyukseskan program PKR/Multigrade Teaching. hal ini sangat mempengaruhi guru dalam membuat tindakan-tindakan produktif di kelas. akibat perubahan pembelajaran dan fisik kelas. Bagaimana cara mencapai inovasi tersebut? Apabila visi. Penataan personel. Kasus seperti ini seharusnya tidak akan terjadi. Hambatan dari Pemerintah Daerah adalah belum adanya kurikulum khusus dan modul untuk PKR. membuat guru setengah hati dan gamang melakukan PKR. maka Pemerintah Daerah perlu mengadakan pembinaan khusus atas tanggung jawab pekerjaan sebagai pegawai negeri. a. 1. Akan tetapi penataan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah tidak maksimal. maka semua pihak akan lebih dapat menerima dengan baik. dapat dilaksanakan. selain nilai siswa juga meningkat. Langkah Penanganan oleh pemerintah Tindakan yang sudah dilakukan Pemerintah Daerah. Implementasi Pembelajaran Kelas Rangkap di Kabupaten Pacitan melakukan pembelajaran. sesuai dengan Undang-undang.Sunardi. yaitu sebagai pegawai pemerintah yang siap ditempatkan di mana saja (dalam negeri Indonesia) bukan sebagai pegawai lokal. Padahal penyediaan dana tambahan dari sekolah adalah mutlak. misalnya seperti berikut. Banyak guru yang mempunyai ikatan emosional dengan Pemerintah Daerah. Dana BOS yang ada di sekolah telah dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan individu jauh sebelum PKR ini diterapkan. selama pelaksanaan PKR adalah sebagai berikut. khususnya pihak guru sebagai pelaksana belum dapat menerima dengan baik. Hambatan dari sekolah adalah tidak tersedianya dana pendukung program PKR. apabila Pemerintah Daerah sudah melakukan sosialisasi program. Sosialisasi program yang dilakukan melalui SK Bupati Nomor: 100/2005 dipandang pihak pelaksana sebagai perintah bukan sebagai sosialisasi program. Hambatan dari sekolah. Jikapun beberapa dari mereka. tidak mau dimutasi. Hambatan dari Pemerintah Daerah 1. khususnya pihak pelaksana sebelum mengambil keputusan. Belum jelasnya keputusan mengenai jangka waktu pelaksanaan PKR dari Pemerintah Daerah. Bila hal tersebut tidak terpenuhi maka mustahil pembaharuan pembelajaran seperti yang diharapkan pada saat pelatihan. 2. akhirnya perampingan tenaga pengajar hanya dapat dilakukan dengan menunggu guru-guru tertentu pensiun. misi. 79 . 4. 2. yang siap ditempatkan di daerah tertentu saja. siapa target yang akan dimutasi? b. Mengenai kepastian penataan personil akibat inovasi. dan filosofi pelaksanaan inovasi ini telah dibicarakan dengan multi-stakeholder. benarkah inovasi digunakan untuk peningkatan kualitas dan efisiensi pendanaan juga efisiensi sumber-sumber belajar? c. sehingga wajar apabila guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang selalu mereka lakukan dan tidak ingin mengubah sistem atau metode yang sudah mereka laksanakan bertahun-tahun tersebut. Arah/tujuan diadopsinya sebuah inovasi. seperti penataan personel di SDN Punung 2. Hal yang seharusnya dilakukan Pemerintah Daerah adalah mengubah kebijakan Top-Down Management menjadi Bottom Up Management. yaitu pemindahan 1 guru baru ke SD lain. contohnya yaitu dengan melakukan sosialisasi program. Pemerintah Daerah melakukan sosialisasi program PKR melalui SK Bupati Nomor: 100/2005 dan diikuti Workshop.

c. membuat hubungan kerjasama yang sinergis antar kepala seksi program mengenai kejelasan job description untuk: a. guru. orang tua siswa. 3. Selama ini pendampingan hanya dilakukan ketika ada kunjungan dari pihak tertentu. Hal ini tidak disambut baik oleh pihak pelaksana (kelompok sekolah Kelas Rangkap). pekerjaan akademik. dan d. yang pada kenyataannya mereka bertambah pekerjaan administratif. yang memang diberikan untuk pengembangan program. Tidak adanya pendamping mutu pelaksanaan PKR. beban akademik. dengan insentif yang berbeda karena multi pekerjaan administratif. oleh BAPEDA. mengingat jarak sekolah tersebut hanya berkisar 1. Pemerintah Daerah mengeluarkan SK guru PKR. sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal berikut. Ketidaksinergian antarpengelola program juga terlihat ketika merebak isyu bahwa satu sekolah (Sidoharjo 2) yang sudah di-SK-kan melaksanakan PKR. pasti mendatangkan banyak permasalahan (terutama masalah teknis) yang harus sering dievaluasi dan dicarikan solusi bersama melalui pertemuan. memfasilitasi pertemuan rutin untuk evaluasi program. pendampingan proses pembelajaran. mengingat dana tersebut sudah lebih dahulu dialokasikan untuk kebutuhan siswa. dengan melibatkan multi-stakeholders. b. bukan diadakan atas inisiatif kelompok sekolah Kelas Rangkap. Pertemuan untuk evaluasi program ditentukan oleh pihak Dinas. melalui pertemuan khusus. d. 80 . akan diubah untuk digabung. padahal guru sebagai pelaksana sangat memerlukan keberlanjutan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mengajar Kelas Rangkap mereka. Kedua. Volume 8. e. 5. Pada kenyataannya memang Dana BOS hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tiap siswa. untuk kemudian ditindaklanjuti dengan pengeluaran dana Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM). September 2007. pada saat tiap-tiap sekolah Kelas Rangkap tersebut menemui masalah teknis. misalnya KKG. dan saling iri untuk melaksanakan program tersebut. Selama ini hubungan antar kepala seksi kurang harmonis. sebelum perintah melaksanakan program dilakukan. membuat antar sekolah Kelas Rangkap menjadi gamang/ragu-ragu. pelayanan dan tanggung jawab siswa. Nomor 2. Informasi mengenai kegiatan program simpang-siur. memfasilitasi pelatihan. 4. c. Pemerintah Daerah hendaknya memperhatikan kondisi keuangan sekolah. sebagai pembelajaran yang baru bagi guru. Keluarnya SK Bupati Nomor: 100/2005 yang tidak menyertakan petunjuk pelaksanaan program. sementara hal ini belum diketahui oleh Dinas Pendidikan.Jurnal Pendidikan.5 Km dengan sekolah lain (Sidoharjo 1). Dua hal yang seharusnya dilakukan Pemerintah Daerah adalah sepeti berikut. untuk mendukung dan memfasilitasi Pelaksanaan PKR. maka sangat masuk akal bila dana BOS tersebut tidak cukup untuk membiayai kegiatan makro organisasi tersebut. Pelaksanaan pelatihan PKR yang ditentukan dan diselenggarakan oleh pihak Dinas Pendidikan. belum dapat dilaksanakan. Pemerintah Daerah mengeluarkan mandat penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Pertama. siswa dan masyarakat. b. a. Pemerintah Daerah seharusnya menerbitkan SK Bupati lengkap dengan petunjuk pelaksanaan (juklak). multi pelayanan dan multi tanggung jawab siswa. akan tetapi Pemerintah Daerah belum memperhatikan kontribusi guru Kelas Rangkap. 73-82 seperti yang telah dibahas di atas. Padahal pelaksanaan PKR. Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan melaksanakan Workshop/ Pelatihan PKR diikuti dengan Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk menjawab kebutuhan guru (pelaksana program) dalam mengelola PKR. yang mengakibatkan guru melaksanakan PKR semampu dan sesuka mereka. administrator. dan jika satu sekolah hanya mempunyai maksimal 60 siswa. Pengawasan mutu pembelajaran.

Hambatan dari Pemerintah Daerah adalah belum adanya kurikulum khusus dan modul untuk PKR. Secara geografis. sebagai konsekuensi guru mengajar Kelas Rangkap. (1990). pelayanan dan tanggung jawab guru terhadap siswa. Tidak adanya sosialisasi sebelum diterbitkannya Surat Keputusan. Ada dua alternatif pemecahan. 2. 3. ternyata tidak semua sekolah kecil dapat diregroup. beberapa implikasi dan saran disajikan sebagai berikut. Belum jelasnya keputusan mengenai jangka waktu pelaksanaan PKR dari Pemerintah Daerah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hambatan dari Pemerintah Daerah a. 1. Hambatan dari sekolah. Bertambahnya pekerjaan administratif. 1. yang awalnya terfokus pada pengelolaan sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan . hal ini sangat mempengaruhi guru di dalam membuat tindakan-tindakan produktif di kelas. c. (2003). (1997). 81 . lalu dikembangkan menjadi kegiatan pelatihan PKR. 3.Sunardi. yaitu dengan regrouping atau dengan sekolah kecil berbasis PKR. dan evaluasi pembelajaran. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. & Wihardit. Hambatan dari guru. Diperlukan kegiatan sosialisasi dan pelatihan lanjutan tentang PKR. Wardani. Pemerintah daerah perlu menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil dengan menjadikan 35 sekolah menjadi sekolah kecil PKR adalah merupakan kebijakan serius. dengan perlakuan yang memadai juga. Dana BOS yang ada di sekolah telah dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan individu jauh sebelum PKR ini diterapkan. b. misalnya dalam hal pendanaan. Berdasarkan atas masalah yang dihadapi oleh Kabupaten Pacitan. Hambatan yang ada dapat dikelompokkan sebagai berikut. 2. pekerjaan akademik. Kenyamanan bekerja terganggu dengan akan adanya ancaman mutasi. membuat guru setengah hati dan gamang melakukan PKR. b. ternyata PKR tidak berjalan mulus. sehingga muncullah SK Bupati yang mengesahkan 35 SD sebagai SD dengan PKR. Implementasi Pembelajaran Kelas Rangkap di Kabupaten Pacitan KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kebijakan penerapan PKR di Kabupaten Pacitan disebabkan oleh kondisi semakin menurunnya jumlah siswa di beberapa sekolah. Jakarta: Badan Penelitan dan Pengembangan. Jakarta: Universitas Terbuka. di samping juga telah dikembangkan modul pelatihan. Djalil. Walaupun telah diangkat konsultan dan fasilitator. USAID memberikan bantuan melalui program MBE. d. REFERENSI Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Badan Penelitan dan Pengembangan. Indonesia: Educational indicators. Pembelajaran kelas rangkap. Melihat perkembangan penerapan PKR. Indonesia: Educational statistics in brief. Materi pelatihan difokuskan pada strategi pembelajaran. adaptasi kurikulum/materi ajar. a. Melekatnya budaya Top Down Management pada guru membuat guru tidak mempunyai inisiatif untuk mendukung dan berpatisipasi aktif dalam mensukseskan program PKR. Hambatan dari sekolah adalah tidak tersedianya dana pendukung program PKR.

(1999). Review of Educational Research. Paper presented for the UNESCO 2005 EFA Monitoring Report. A.W. Nomor 2. September 2007. Multi-age classes and high ability students. 187-212. Volume 8. (2005). 82 . L. Learning and teaching in multigrade settings.Jurnal Pendidikan. Lloyd. 73-82 Little. 69 (2).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->