PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI ARBITRASE

Oleh Basuki Rekso Wibowo FH Unair 2007
BRW/FHUA/2007 1

BEBERAPA REFERENSI (1)
BUKU
Abdurrasjid Priyatna, Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Fikahati Sengketa, Aneska, Jakarta, 2002. Adolf, Huala, Arbitrase Komersial Internasional, Radjawali, Jakarta, 1991. Internasional, «««««.,. Hukum Arbitrase Komersial Internasional, Raja Grafindo Persada, Internasional, Jakarta, 1994 «««««., The Arbitration Law in Indonesia, dalam Hendarmin Djarab (ed)., Indonesia, Prospek dan Pelaksanaan Arbitrase di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001. Arrow, Kenneth, et.al, Barriers to Conflict Resolution, WW Norton Co, 1995. Born, Gary B., International Commercial Arbitration in the United States, Kluwer Law and Taxation Publishers, Deventer Boston, 1994. Buang, Saleh dan Maimoonah Hamid, Commercial Arbitration, Central Law Books Arbitration, Corp Sdn.Bhd, Kualalumpur, 1998. Kantaatmadja,Komar, Beberapa Hal Tentang Arbitrase, kertas kerja pada Penataran Hukum Ekonomi Internasional, Fakultas Hukum Unpad-Universitas Utrecht, 1989. Unpad-

BRW/FHUA/2007

2

BEBERAPA REFERENSI (2)
Cheong, Chan Wing, et.al, Current Legal Issues in International Commercial Litigation, Faculty of Law University of Singapore, 1997. Current Legal Issues in International Commercial Litigation, Faculty of Law University of Litigation, Singapore, 1997. David, Rene, Arbitration in International Trade, Kluwer, 1985. Trade, Domke, Martin, Domke on Commercial Arbitration (the Law of Practice of Commercial Arbitration), Revised edition , 1994. Elkouri, Frank, & Edna Elkouri, How Arbitration Works, fifth edition, American Bar Works, Association (ABA), BNA Books, Washington DC, 1997. Emirzon, Joni, Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan (Negosiasi, Mediasi, Konsiliasi dan Arbitrase), Gramedia, Jakarta, 2000. Fuady, Munir, Arbitrase Nasional (Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis), Citra Aditya Bisnis), Bakti, Bandung, 2000. Gautama, Sudargo,,Hukum Perdata Internasional, Buku ke-5, Jilid II, Bagian IV, Alumni, Sudargo,,Hukum Internasional, keBandung, 1992. ««««.., Arbitrase Bank Dunia Tentang Penanaman Modal di Indonsia dan Jurisprudensi Indonesia Dalam Perkara Perdata, Alumni, Bandung, 1994. Perdata, «««««., Aneka Hukum Arbitrase (KeArah Hukum Arbitrase Indonesia Yang Baru),Citra Baru),Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996. «««««, Undang-Undang Arbitrase Baru 1999, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999. UndangBRW/FHUA/2007 3

BEBERAPA REFERENSI (3).
Budidjaya,T., Public Policy as Grounds for Refusal of Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards in Indonesia, Tata Nusa,Jakarta, 2002. Khairandy, Ridwan, et.al., Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, Gama Media, Indonesia, Jogjakarta, 1999. Kusumohamidjojo, Budiono, Dasar-Dasar Merancang Kontrak, Grasindo, Jakarta, 1998. DasarKontrak, Law Firm ABNR & Law Firm MKK, Reformasi Hukum di Indonesia (terj. Diagnostic Assesment of Legal Development in Indonesia), World Bank Project ² IDF Grant No. 28557, Cyber Consult, Jakarta, 1999. Lew, Julian DM (ed)., Contemporary Problems in International Arbitration, Matnus Nijhoff Publishers, Netherlands, 1987. Lillich, Richard B. & Charles N.Brower, International Arbitration in the 21st Century : Towards ´Judicialization and Uniformityµ, twelfth Sokol Colloquium, Transnational Publishers Inc, Uniformityµ, Irvington, New York, 1993. Longdong, Tinneke Louise, Asas Ketertiban Umum dan Konvensi New York 1958, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 1998. Lubis, Macneil, Ian R, American Arbitration Law : Reformation, Nationalization, Internationalization, Oxford University Press, Oxford, 1992. Management Action Guides, Handling Conflict by Negotiation (Mengendalikan Konflik dan Negosiasi), alih bahasa Amitya Kumara Suharso, Gramedia, Jakarta, 1997.

BRW/FHUA/2007

4

2001. New York. John. 1983. Wolfgang . Pickering. Peter. Scott R. 2000.BEBERAPA REFERENSI (4). Foundtion Press. the Hague. Chandra Pengadilan. Peppet. Alan Scott. 1995. Jakarta. Jakarta. Bandung. BRW/FHUA/2007 5 . second edition. Erman. 1993. Aspek-Aspek Hukum Perdata Internasional Dalam AspekTransaksi Bisnis Internasional. How to Manage Conflict (Kiat Menangani Konflik).sherman. Handling Conflict and Negotiation. Rau. 2001. Manchester Open Learning. Putra. Erlangga. Agreements. Edward F. Arbitration Principles and Practice. Ida Bagus Wyasa. London.. Processes of Dispute Resolution : The Role of Lawyers. third edition. University Casebook Series. Arbitrase Dalam Putusan Pengadilan. Peg. alih bahasa Masri maris. Refika Aditama. Negotiation. Internasional. Pratama. Arbitration and Renegotiation of International Investment Agreements. Granada. Kluwer. Parris. Radjagukguk.

Vincent Powell. Konstruksi. Abdurrachman. Sammartano. Jakarta. New York.. BRW/FHUA/2007 6 .. Jakarta. Singer.Linda. Hamid. Proceedings Arbitrase dan Mediasi. Badan Arbitrase Muamalat Indonesia dan Indonesia. Aspek Hukum Dalam Sengketa Konstruksi.Bagir. Mediasi. International Arbitration Law. Sweet&Maxwell..18 tahun 1999 dan FIDIC. 1985. Saleh. Felix O.. Boulder. Kualalumpur.. 1995. Lokakarya Hukum Kepailitan dan Wawasan Hukum Bisnis Lainnya. Alan et. 1990.Emmy (ed).30 tahun 1999 dan Jalur Penyelesaian Alternatif Serta Kaitannya Dengan UU Jasa Konstruksi No. Mauro Rubino. Menyingkap dan Meneropong Undang Undang Arbitrase No.. Redfern. Reisman. dalam Yuhassarie. Publishers. Westview Press. University Casebook Series. The Foundation PressInc. Micahel W et. «««««. bank Muamalat. Materials and Notes on the Resolution of International Business Disputes. 1996. Shahab. Kluwer Law and Taxation Law.Westbury Disputes.al. Central Law Book Corporation. Djambatan. kerjasama 2002.al. Settling Disputes. (ed). Soebagijo. Smith. Kata Pengantar.. Jakarta. Indonesia. FIDIC. Aspect of Arbitration : Common Law & Sharia· Compared. Arbitrase di Indonesia. Djambatan. International Commercial Abitration : Cases. Manan.BEBERAPA REFERENSI (5). Law and Practice of International Commercial Arbitration. London. GA Deventer. 1995. Ghalia Indonesia. 2000. Arbitrase Islam Indonesia. 1994. 1997.1994..

West Publishing Co. Lokakarya Hukum Mediasi. 1998. disertasi Tay Swee Kian. Wijojo. Liliana. Proceedings Arbitrase dan Mediasi. Pilihan Hukum Sebagai Titik Pertalian Dalam Hukum Perdjanjian Internasional. Internasional. Tan Ngoh. 2002. 2000. Kepailitan dan Wawasan Hukum Bisnis Lainnya.. Singapore. Law. Larry L. Sumampouw. Teply. Nutshell. Overt and Camouflaged in International Litigation and Arbitration. Tiong. Alternatif Dispute Resolution in Bussines. Surabaya.. BRW/FHUA/2007 7 . Role of Public Policy. Know. Ridge Books. Family and Community : Multy Discipline Perspective. Tedjosaputro. Singapore University Press. Yuhassarie. Pagesetters Services. Yeo. (eds). 8th Singapore Conference on International Bussines Arbitration. Penyelesaian Sengketa Lingkungan (Settlement of Environmental Disputes). Airlangga University Press. Legal Negotiation in a Nutshell. 1995. Tan Min. Bigraf Pidana. Caterina. 1999. Minn. Publishing. St.Paul. kerjasama Pusat Pengkajian Hukum dan Mahkamah Agung RI. Perspective.Emmy (ed). 1992. Resolving Disputes by Arbitration : What You Need to Know. Etika Profesi Notaris Dalam Penegakan Hukum Pidana. M. Suparto. Jogjakarta.BEBERAPA REFERENSI (6).

Oktober-Nopember 2002... 21. Urgensi Pengaturan Arbitrase Dalam UU Pasar Modal.... ARTIKEL Abdurrasjid. Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional oleh Pengadilan Nasional. Jurnal Hukum Bisnis.. 1997... Jurnal Hukum Bisnis. Gautama. Harahap. OktoberJuwana....BEBERAPA REFERENSI (7).. Hukum Manakah Yang Dipakai Untuk Arbitrase Dagang Internasional... 14. Vo. Juli 2001.. Jurnal Hukum Bisnis. Yahya. Sudargo. ««««. No. makalah Seminar Nasional Hukum Ekonomi tentang Arbitrase Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa. 21. Bisnis. Pembangunan. Hukum dan Pembangunan.Kesulitan Dalam Menyusun Perjanjian Arbitrase Dagang Internasional. Arbitrase WIPO Dalam Bidang Hak Milik Intelektual.30/1999. Oktober 1987. Agustus 1989.... Bisnis. Varia Peradilan.. Pembatalan Keputusan Dewan Arbitrase Bank Dunia Mengenai Pencabutan Lisensi Penanaman Modal di Indonesia. No. No.. Perspektif Arbitrase di Indonesia.. FHUI.... Peradilan. Penerapan Klausula Arbitrase serta Pelaksanaan Putusan Arbitrase Dalam dan Luar Negeri di Indonesia....... . 1998. Beberapa Catatan Yang Perlu Mendapat Perhatian Atas UU No. Vol. Peradilan.. Oktober-Nopember 2002. ««««««««.... Jurnal Hukum Bisnis. ««««. Peradilan.. Surabaya 18 Maret 1995. Bisnis.. M. «««««. Sengketa ... Varia Peradilan. Maret 1987. OktoberBRW/FHUA/2007 8 . «««««««««. Vol.. Jurnal Hukum Bisnis.. Bisnis. Prijatna.61. Future Development of Arbitration and ADR Practices in Indonesia (Privatization of the Judicial System)..18.1. Oktober 1990.. 25. Vol.. Varia Peradilan. 5. Bisnis. Vol. Hikmahanto..

Konvensi New York 1958. Vol.Pengaruh Mandatory Rules Terhadap Kontrak Bisnis Internasional : Catatan Dari Jurisprudensi. ««««. Varia Peradilan. No. Varia Peradilan. Desember 1993. No. 21. Menurunnya Supremasi Azas Kebebasan Berkontrak. 1999. NJ. Newsletter. Agustus 1990. ««««. ««««. Peradilan.15. Sidik. No. Agustus 1994. Varia Peradilan.. Agustus 1990..Kontrak Bisnis Internasional : Choice of Law & Choice of Jurisdiction.. Jurnal Negeri. ICSID dan MIGA : Lembaga Internasional Untuk Meningkatkan Arus Penanaman Modal. Bisnis.Bontmantel ² HR. Oktober 1986. ««««.. No.98. Varia Peradilan.. Jurnal Hukum Bisnis. Vol. 107.8.2..59. Simanjuntak.. Hukum Bisnis. No. Eksekusi Putusan Arbitrase Asing : Perma No. Peradilan. Peradilan. ««««. Konflik Yurisdiksi Antara Arbitrase dan Pengadilan Negeri..Aplikasi dan Implikasinya. 14 Nopember 1924. Ricardo.1/1990. Nopember 1993. Suraputra. 13.. No. Kekuatan Mengikat Putusan Hakim Asing (Perk. Newsletter. 1925). Newsletter.. Oktober ² Nopember 2002. Newsletter. Bisnis.BEBERAPA REFERENSI (8) Setiawan. BRW/FHUA/2007 9 .

Yuridika..Man Sugar Ltd vs. N0. Masalah Petitum Subsider Ex Aequo Et Bono. Perdamaian Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata. Waluyo. Jurnal Hukum Bisnis. JanuariYuridika.2&3. Klausula Arbitrase. Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.BEBERAPA REFERENSI (9). Kompetensi dan Public Policy (Catatan Hukum Sengketa ED. Yuridika.4. Beberapa Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata.. tahun IX. «««««. 9. 1999. Peran Lawyer Dalam Menyelesaikan Sengketa Bisnis : Negosiator ataukah Gladiator (Sebuah Tinjauan Tentang Legitimasi Pilihan Peran Lawyer dan Pilihan Forum Penyelesaian Sengketa). «««««. Yuridika. Jan«««««. «««««. September-Oktober 1999. MeiMei-Juni 1995.14. Bandung. «««««. ProJustitia. Pro Justitia.Oktober 1997.3.F.7. Tahun VIII. JanuariPebruari 1995.5. No. Tahun XII. April. Tahun X.. FH Unpar. Peran Hakim Dalam Pembangunan Hukum. Maret«««««. Yuridika. No.. Wibowo. Vol. Bisnis. No. Vol. September- BRW/FHUA/2007 10 . No. Yuridika. Masalah Eksekusi Putusan Arbitrase Asing di Indonesia. Bernadette .. Maret-Juni 1997. Yani Hariyanto). Jan-April 1993..1 dan 2. Justitia.. No. Yuridika. Yuridika. 1997. ProJustitia. Basuki Rekso. FH Unpar.

11-12 Juni 1997. makalah dalam Lokakarya Terbatas Hukum Arbitrase. Jakarta. Priyatna. Fakultas Hukum UnpadUnpadUniversitas Utrecht. 8Badrulzaman. ´E-Commerce Tinjauan Dari Hukum Kontrak ´EIndonesia. Metode Penelitian Hukum Normatif. Bandung. kerjasama Pusat Pengkajian Hukum dan Mahkamah Agung RI. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum ² Lembaga Penelitian Universitas Airlangga bekerjasama dengan Fakultas Hukum Unair. Pengkajian Ilmu Hukum. «««««. makalah Pelatihan Hukum. BRW/FHUA/2007 11 . 2001. Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Beberapa Hal tentang Arbitrase. Surabaya 6 September 2000. Hadjon. kertas kerja pada Penataran Hukum Ekonomi Internasional. 11Kantaatmadja. 1989.BEBERAPA REFERENSI (10) MAKALAH SEMINAR/PELATIHAN Abdurrasjid. Law Offices Remy Darus. 12. dalam Jurnal Hukum Bisnis. Arbitrase. 8-9 Oktober 2002. Vol. Komar. Sengketa. Kepailitan dan Wawasan Hukum Bisnis Lainnya. Philipus Mandiri. Mariam darus. makalah pada Seminar tentang Arbitrase (ADR) dan E Commerce.

. paper on International Business Disputes : Disputes. Mekanisme Alternatif Penyelesaian Sengketa (MAPS) (terj). Negotiating Settlement in International Business Disputes. BRW/FHUA/2007 12 . 1004. 1995. July 2929-30. 11 Agustus 1990. Konvensi New York tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Luar Negeri. Jakarta. makalah Seminar Pembangunan Hukum Lingkungan Nasional. Masyarakat. Rosenfeld. San Fransisco. Moore. Bandung. makalah Seminar Penyelesaian Sengketa Dagang melalui Arbitrase. Walhi. ICEL & CDR Associates. Management and Resolution. Prevention. 24-25 Agustus 1990. Jakarta. 24Radhi. Teuku Mohamad.BEBERAPA REFERENSI (11). Rachmadi. Takdir. Christopher W. Pengembangan Mekanisme Alternative Penyelesaian Sengketa Lingkungan Sebagai Wadah Peran Serta Masyarakat. Negeri. Robert A.

1998. ««««««. Seminar on International Bussines Law. makalah dalam ForumDialog tentang Alternatif Disputes Resolution (ADR). Jakarta. ´E-Commerce Tinjauan Dari ´EPerspektifHukumµ.Tim Pakar Hukum Departemen Kehakiman ² The Asia Foundation. 5 Agustus 1999. Santosa. Surabaya. 2001. Sutan Remy. Court Connected ADR di Indonesia : Urgensi dan Prasyarat Pengembangannya. Ordonansi Kepailitan Serta Aplikasinya Kini. Jurnal Hukum Bisnis. 12.BEBERAPA REFERENSI (12).Jakarta. 3-4 May 2000. Pengembangannya. Petra Christian University. Vol. 3Sjahdeini. Mas Achmad. ICEL. Pengalaman. tt. Setiawan. Mediasi Lingkungan di Indonesia : Sebuah Pengalaman. ««««««. BRW/FHUA/2007 13 .. Alternative Disputes Resolution (ADR) di Bidang Lingkungan Hidup.

Natabaya. penelitian Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman RI. Resolution). Beberapa Yurisprudensi Perdata Yang Penting. Hongkong. 1989. 1996/1997. 1958. Bandung. M. Tinneke Louise Tuegeh. Longdong. Asas Ketertiban Umum dan Konvensi New York 1958. dan Singapore. disertasi FHUI. Jepang. Proyek Peningkatan Tertib Hukum dan Pembinaan Hukum Mahkamah Agung RI. 1996/1997. Pengaruh Putusan Arbitrase Asing Terhadap Peningkatan Ekonomi. 1994. RI. HASIL PENELITIAN Elips. Jakarta.BEBERAPA REFERENSI (13). Arbitrase Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis : Suatu Studi di Kotamadya Surabaya. 1995/1996. Harahap. Basuki Rekso. Wibowo. ««««««««««. BRW/FHUA/2007 14 . edisi II. RI. Citra Aditya Bakti. penelitian Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman RI. Laporan Studi Komparatif Mengenai Arbitrase di Korea Selatan.Kompetensi Peradilan Umum Terhadap Putusan Arbitrase. Arbitrase. Unair. Yahya. 1998. 2000 Unair. Penting. HAS. Intermanual Himpunan Putusan Mahkamah Agung Tentang Arbitrase. Proyek Yurisprudensi Mahkamah Agung RI. 1992. penelitian DPP/SPP Unair. Penyelesaian Sengketa Di Luar Peradilan (Alternative Dispute Resolution). penelitian DIK Suplemen Unair.

BEBERAPA REFERENSI (14). Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (Rv) Stb. 1847-52 jo.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (LN RI tahun 1997 No. BRW/FHUA/2007 15 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PERUNDANG- . 68 dan TLNRI No 3699). 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (LNRI tahun 1999 No. 18491847184960. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi (LN RI tahun 1999 No.42). UndangUndang-Undang No. 1941-44. UndangUndang-Undang No. 54 dan TLN RI No.32). 3955). 5 tahun 1968 tentang Persetujuan atas Konvensi Tentang Penyelesaian Perselisihan Antara Negara dan Warganegara Asing Mengenai Penanaman Modal (LNRI tahun 1968 No. 1941UndangUndang-Undang No. 1847Het Herziene Indonesische Reglement (HIR) atau Reglemen Indonesia Yang Diperbaharui (RIB) Stb. Burgerlijk Wetboek (BW) Stb. UndangUndang-Undang No. 1847-23.

Undang Undang No. 138 ² TLNRI 3872). 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. 109 dan TLN RI No. 4044). (LNRI tahun 2003 No. 4113). 31 tahun 2000 tentang Desain Industri (LN RI tahun 2000 No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang Undang No. Undang Undang No.243 dan TLN RI No.BEBERAPA REFERENSI (15). 15 tahun 2001 tentang Merek (LNRI tahun 2001 No. tahun 1999 No. 85 dan TLN RI No.32 tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (LN RI tahun 2000 No. 110 dan TLN RI No. Undang Undang No. 39 dan TLN RI No. 4046). 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang (LN RI tahun 2000 No. 244 dan TLN RI No. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (LNRI. UndangUndang-Undang No. UndangUndang-Undang No. UndangUndang-Undang No. BRW/FHUA/2007 16 . 4045). UndangUndang-Undang No.242 dan TLN RI No. 4310). 4220). 4279). 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta (LN RI tahun 2002 No. UndangUndang-Undang No. 14 tahun 2001 tentang Paten (LN RI tahun 2001 No.

16 dan TLNRI No. 4356).13 tahun 1998 tentang Perusahaan Umum (LNRI ahun 1998 No.BEBERAPA REFERENSI (16). 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (LN tahun 2004 No.3731).1 tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asingµ. Keppres No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Undang Undang No. Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Undang Undang No. Peraturan Pemerintah No. 15 dan TLNRI No. Undang Undang No.3732). BRW/FHUA/2007 17 . Peraturan Mahkamah Agung RI No. 34 tahun 1981 tentang Pengesahan Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards. 2 dan TLN No.12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (LNRI tahun 1998 No.

BEBERAPA REFERENSI (17).34 tahun 1981 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing di Wilayah Indonesia. Keppres No. KONVENSI INTERNASIONAL Convention on the Settlement of Investment Disputes between States and Nationals of other States 1965 jo.32). BRW/FHUA/2007 18 . Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards 1958 jo. 5/1968 tentang Persetujuan atas Konvensi Tentang Penyelesaian Perselisihan Antara Negara dan Warganegara Asing Mengenai Penanaman Modal (LNRI tahun 1968 No. UU No.

Ahju Forestry Company Ltd.2944 K/Pdt/1983 tanggal 29-11-1984 jo. PT. Putusan Mahkamah Agung RI No. Pardede vs.BEBERAPA REFERENSI (18) PUTUSAN PENGADILAN Putusan Mahkamah Agung RI No.M. Gapki Trading Co. Putusan Mahkamah Agung RI No. Putusan Mahkamah Agung RI No.Shorea Mas. Putusan Mahkamah Agung No.Maskapai Asuransi Ramayana. Syafei Juremi dkk.Metropolitan Timber Ltd vs. 794 K/Sip/1982 tanggal 27 Januari 1983 dalam perkara antara Sohandi Kawilarang vs. PT. Putusan Mahkamah Agung RI No. BRW/FHUA/2007 19 .Asuransi Indrapura. 1851 K/Pdt/1984 tanggal10 Desember 1985 dalam perkara antara S. Ir.225 K/Sip/1976 tanggal 30 September 1983 dalam perkara antara Dato Wong Guong dan PT.2288/Pdt. 455 K/Sip/1982 tanggal 27 Januari 1983 dalam perkara antara Sohandi Kawilarang vs. Ltd.Navigation Maritime Bulgare.Balapan Jaya vs. PT. Putusan Mahkamah Agung RI No.P/1979 tanggal 10 Juni 1981 antara PT.Asuransi Royal Indrapura. 795 K/Sip/1982 tanggal 27 Januari 1983 dalam perkara antara Sohandi Kawilarang vs. PT.Nizwar vs.Arpeni Pratama Ocean Line vs. PT. Putusan Mahkamah Agung RI No. Penetapan 29-11Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 3179 K/Pdt/1984 tanggal 4 Mei 1988 dalam perkara antara PT. 2424 K/Sip/1981 tanggal 22 Pebruari 1982 dalam perkara antara Sutomo qq.

Triguna Ikhlas vs.DKI jo. 3954 K/Pdt/1989 tanggal 9 Nopember 1993 antara Memet Sulaiman qq. Putusan Mahkamah AgungNo.Putusan BANI No. PT. Putusan Pengadilan Tinggi JakartaNo.G/1984/PN.BEBERAPA REFERENSI (19) Putusan Mahkamah Agung RI No.Ny. BRW/FHUA/2007 20 . Badan PemisahNo. Yahya Wijaya.Multi Plaza Properties vs.Pt. CV.2/Banding/Wasit/1986 tanggal 22 April 1987 jo.512/PDT/1985/PT.Batu Mulia Utama vs. Kencana. Putusan Mahkamah Agung No.Sel dalam perkara PT. SSC.4231 K/Pdt/1986 jo. 1/Banding/wasit/1981 tanggal 14 Mei 1984 antara PT. 5/XII-5/85 tanggal 30 Desember 1985.Trading Corporation of Pakistan Ltd.Arb/1986 tanggal 17 April 1986 antara CV. 64/Pdt. Karya Tehnindo Jaya. Putusan Mahkamah Agung RI No.Hajar Rifai. (Sainrapt et Brice Societe Auxiliare D·Enterprises Societe Routire Colas).Bakri & Brothers vs.01/IV/P. Putusan Mahkamah Agung No.1/Banding/Wasit/1986 tanggal 12 Pebruari 1987 jo.Sinar Surya Kencana. Lempuing Bengkulu vs.Jkt. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. Putusan Mahkamah Agung No.3992 K/Pdt/1984 tanggal 4 Mei 1988 dalam perkara antara PT. antara Zainal 5/XIIEfendivs.

G/VI/1988/PN. Putusan. 730/PDT/1998/PT. Putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur No.BEBERAPA REFERENSI (20) Putusan Mahkamah Agung RI No. Putusan Mahkamah Agung RI No. 1205 K/Pdt/1990 tanggal 4 Desember 1991 jo.Pst antara PT Enindo dan Kelompok Tani FSSP melawan PT Putri Fortuna Windu dan PPF International Corporatio Putusan Mahkamah Agung No.3145 K/Pdt/1999 tanggal 30 Januari 2001 jo. 1203 K/Pdt/1990 tanggal 4 Desember 1991 jo.Man (Sugar) Ltd vs. 486/Pdt/PT.DKI tanggal 14 Oktober 1989 jo. Yani Hariyanto. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.Pst tanggal 29 Juni 1989 antara E. Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. . Surabaya Land.Pst tangghal 29 Juni 1989 antara E.D. 736/Pdt. 12 K/N/1999 jo. F.96/Pdt.D.Sby tanggal 20 Nopember 1998jo. Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No.G/VI/1988/PN.putusan Pengadilan Negeri Surabaya No. 14/Pailit/1999/ PN Niaga/Jkt. BRW/FHUA/2007 21 .Jkt.s Yani Hariyanto. Putusan Mahkamah Agung RI No. Peninjauan Kembali Mahkamah Agung No. F.PT.DKI tanggal 14 Oktober 1989 jo.Jkt.485/Pdt/PT.Man (Sugar) Ltd v.Sbu tanggal 15 Juni 1998 dalam perkara antara Tjong Yenny Sukmawaty vs. 499/Pdt. 13 PK/N/1999 jo. Putusan Pengadilan Niaga Jakarta No. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.G/1998/PN.

Putusan Mahkamah Agung No. Dharma Niaga Ltd (Indonesia) dengan Hati Prima Potash Pte. 010 PK/N/2001 tanggal 16 Mei 2001 jo.BEBERAPA REFERENSI (21). Putusan BANI Jakarta No.80/Pailit/2000/P.Hotel Sahid Jaya International. Putusan BANI No.G/2002/PN.Ltd (Singapore). 5/X-09/ARB/BANI/99 tanggal 19 Oktober 1999. 01/Banding/Wasit/2001 tanggal 2 Maret 2001 jo.Bar tanggal 18 Juni 1997 dalam perkara pengangkatan arbitrator antara T.Sel tanggal 18 September 2000 jo. 86/Pdt.Pst dalam perkara antara Pertamina melawan Karaha Bodas Company LLC dan PT.P/1996/PN.Niaga/Jkt. Ssangyong Engineering & Construction dan PT Murinda Iron Stell. Jkt.764/Pdt. 5/V-29/ARB/BANI/2000 5/Vtanggal 25 Mei 2000 antara PT. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.P/2000/PN. Putusan Mahkamah Agung dalam Peninjauan Kembali No. dalam perkara antara 5/XPT.Jkt. 167/Pdt.Pst tanggal 21 Desember 2000jo. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.Danareksa Jakarta International vs PT.Jak. Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. PT. 05K/N/2001 tanggal 19 Pebruari 2001 jo. Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Barat No.Trakindo Utama vs. PLN Persero BRW/FHUA/2007 22 . Putusan Mahkamah Agung dalam Kasasi No.

seventh edition..30/1999). 1999). ´«. 1 ayat 1 UU No.a method of dispute resolution involving one or more neutral third parties who are agreed to by the disputing parties and whose decision is bindingµ (Black·s Law Dictionary. BRW/FHUA/2007 23 .PENGERTIAN ARBITRASE ´««adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat para pihak yang bersengketaµ (ps. Dictionary.

No. Arbitration (bahasa Inggris) atau Arbitrage (bahasa Belanda). BRW/FHUA/2007 24 . sedangkan istilah Arbitrase digunakan dalam UU No.PERISTILAHAN Istilah ´Arbitraseµ berasal dari istilah Arbitrare (bahasa Latin) yang maknanya adalah kewenangan memutus sengketa berdasarkan kebijaksanaan.30/1999. ´Perwasitanµ (Penjelasan Pasal 3 ayat 1 UU No.30/1999.14/1970 tentang Ketentuan Pokok Pokok Kekuasaan Kehakiman.

kejo. perbankan. 7. Ps. 66 (b) UU No. keuangan. Ps 3. Diluar Peradilan umum = out of (state) court dispute settlement. Ps. badan hukum perdata maupun badan hukum publik. Orang perorangan sebagai pribadi maupun. ke11 (1) UU No.3). industri dan hak kekayaan intelektual. Ps 1 ke-3. 5 (1) jo. Ps. penanaman modal. arbitrase = kesepakatan tertulis para pihak untuk menyelesaikan sengketa yg akan terjadi (pactum de compromi tendo) atau sengketa yg terjadi (acta van compromise). 1 ke-1. 9 (1. 1 (2) UU No.Penjelasan Pengertian Arbitrase Sengketa perdata = perdata khusus dalam ruang lingkup hukum perdagangan.30/1999. 11 (2) UU No.30/1999. Berdasarkan perj.30/1999 (penjelasan). Ps. (ps. yang meliputi : perniagaan.30/1999. 4 (2). Dibuat para pihak bersengketa = subyek hukum menurut hukum perdata maupun hukum publik. BRW/FHUA/2007 25 .

Catatan : Norma terkandung ayat (1) : apa yang dimaksud dengan ´sengketa perdaganganµ dapat ditafsirkan dari penjelasan Pasal 66 huruf ´bµ. penanaman modal. Norma terkanding ayat (2) : secara a contrario. dan HKI yang dikuasai sepenuhnya oleh pihak bersengketa. BRW/FHUA/2007 26 .KOMPETENSI ABSOLUT ARBITRASE Pasal 5 ayat (1) : ´Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanya sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang perundangbersengketaµ. industri. kompetensi aboslut arbitrase mencakup sengketa yang penyelesaiannya dapat dilakukan melalui perdamaian. perbankan. yang meliputi perniagaan. Ayat (2) : ´Sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat perundangdiadakan perdamaianµ. keuangan.

King Solomon was an arbitrator and the procedure he used was in many respects similar to that used by arbitrators today. 1997. BRW/FHUA/2007 27 . µArbitration as an institution is not new.. How Arbitration Works. specified the used 338of arbitration in disputes between members over vexed territoryµ. having been in use many centuries before the beginning of the English Common Law««««. in his treaty of peace with the city-states of citysouthern Greece circa 338-337 BC. Philip II of Macedon. the father of Alexander the Great.Frank Elkouri & Edna Asper Elkouri.. Fifth Edition. Works.

ARBITRASE DI INDONESIA Eksistensi arbitrase sudah dikenal sejak jaman penjajahan dan diatur dalam Reglement op de Burgerlijke Rechtsvoerdering (RV) Stb. serta Gol Bumiputera yang masing2 tunduk pada hukum perdata berbeda (Ps. 377 HIR/705 RBG. Berdasarkan Ps. Pasal 615 s/d 651. 131 dan 163 Indische Staatsregeling). Eropa. golongan Eropa. dengan syarat melakukan penundukan hukum terhadap RV. yakni Gol. Pada dasarnya hanya berlaku bagi penduduk Hindia Belanda. Gol Timur Asing (Tionghoa dan bukan Tionghoa). BRW/FHUA/2007 28 . Pada saat itu terjadi penggolongan penduduk Hindia Belanda. 1847 ² 52. menjadi 3 golongan. bagi golongan Bumiputera dapat menggunakan arbitrase.

µWhile arbitration is known in the large majority of legal system.Mauro Rubino Sammartano. Inevitably this sometimes reflects local problems and sometimes a different approach to the entire legal system. International Arbitration Law. 1990. Law. in some of them it takes a different shape. BRW/FHUA/2007 29 .

PERMA No. Konvensi Washington 1965 ² Convention on the Settlement of Investment Disputes between States and Nationals of other States yang diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan UU No. 1847Konvensi New York 1958 ² Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards yang diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan Keppres No.34/1981.SUMBER HUKUM ARBITRASE PERDAGANGAN DI INDONESIA UU No. BRW/FHUA/2007 30 .5/1968. UU 1/1967 (UUPMA) sebagaimana diubah & ditambah dengan UU 11/1970 yang kemudian dicabut dengan UU No. 25/2007 (UUPM).1/1990 tentang Prosedur Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing. 30/1999 tentang Arbitrase & Alternatif Penyelesaian Sengketa (mencabut Pasal 615 s/d 651 Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering Stb 1847-52.

dilengkapi dengan Penjelasan.02/2003) yang dilakukan sesuai acara mediasi.UU 30/1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENY. mediasi. serta proses yang diatur ´hukum acara arbitraseµ yang dalam beberapa hal mirip dengan hukum acara perdata yang berlaku di Pengadilan. Pengaturan Arbitrase dalam 81 Pasal. Kecuali mediasi di muka Pengadilan (Perma No. 82 Pasal. BRW/FHUA/2007 31 . SENGKETA MERUPAKAN SUMBER HUKUM UTAMA ARBITRASE INDONESIA Sistematika : Terdiri dari 11 Bab. prosedur. Catatan : Arbitrase dilakukan sesuai dengan syarat. Adapun pada negosiasi. sedangkan pengaturan Alternatif Penyelesaian Sengketa lainnya (negosiasi. konsiliasi) hanya dalam 1 Pasal (yakni pada Pasal 6 saja). mediasi dan konsiliasi dapat dilakukan sesuai kehendak para pihak tanpa harus menggunakan hukum acara tertentu.

Dll. Jaminan kerahasiaan subyek. 6. Keahlian arbitrator. limitasi waktu proses arbitrase. 2. serta proses berperkara. BRW/FHUA/2007 32 . 5. Otonomi para pihak yang luas. Lintas jurisdiksi pada arbitrase internasional.ALASAN UTAMA PARA PIHAK MEMILIH ARBITRASE 1. Eksekutabilitas putusan Arbitrase. 8. 3. 4. Putusan arbitrase bersifat final & mengikat. substansi. 7.

PENORMAAN PRINSIP PRINSIP ARBITRASE KE DALAM UU 30/1999 Pada dasarnya terdapat universalitas prinsip prinsip umum arbitrase yang berlaku di berbagai negara. Prinsip prinsip arbitrase yang telah dinormakan ke dalam UU (UU 30/1999) menjelma menjadi aturan hukum positip. kecuali hal-hal spesifik maupun aturan teknis halpelaksanaannya yang dapat berbeda antara masing masing negara. baik yang bersifat memaksa (dwingen recht) maupun yang bersifat mengatur (regelend recht). BRW/FHUA/2007 33 .

34 ayat 1). BRW/FHUA/2007 34 .1. 6 ayat 9). serta apakah Arbitrase Nasional ataukah Arbitrase Internasional (ps. OTONOMI PARA PIHAK MEMILIH FORUM (Choice of Arbitration Forum) Para pihak berdasarkan perjanjian tertulis dapat memilih penyelesaian sengketa melalui cara arbitrase. Apakah Arbitrase ad hoc ataukah arbitrase institusional (ps. OTONOMI PARA PIHAK : A.

Pertimbangannya. putusan Pengadilan Nasional suatu negara tidak memiliki efek mengikat dan efek eksekutorial di wilayah negara yang lain. OTONOMI PARA PIHAK MEMILIH FORUM (Choice of Arbitration Forum) CATATAN : Dewasa ini dalam kontrak2 komersial. dalam kontrak kemersial internasional. terutama kontrak internasional. pemeriksaannya tertutup (private & confidential). sehingga dapat dimohonkan pengakuan dan pelaksanaannya di wilayah Negara lain. Selain daripada itu. ekspertise arbitrator. pada umumnya telah mencantumkan ´dispute settlement caluseµ yang memilih penyelesaian sengketa melalui ´arbitraseµ. BRW/FHUA/2007 35 . Selain karena alasan ketidakpahaman prosedur dan proses hukumnya. Putusan arbitrase internasional bersifat ´trans jurisdiksiµ. juga putusannya bersifat final & binding. selain efisiensi waktu. juga karena adanya kekuatiran terjadinya ´pemihakanµ Pengadilan terhadap pihak (tuan rumah) yang bersengketa. pada umumnya menghindari penyelesaian sengketa melalui Pengadilan Nasional salah satu pihak (kontraktan). Sebaliknya para pihak.A.

OTONOMI PARA PIHAK MEMILIH FORUM (Choice of Arbitration Forum) CATATAN : Pencantuman ´dispute settlement clauseµ. merupakan klausula yang terakhir mendapat perhatian para pihak. pencantuman ´dispute settlement clauseµ sematasematamata sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya sengketa di kemudian hari. dalam hal ini ´arbitration clauseµ dalam kontrak komersial seringkali dijuluki sebagai ´midnight clauseµ. meskipun sengketa tersebut belum tentu terjadi dan pada dasarnya tidak dikehendaki terjadi. Mereka justru tidak menginginkan atau menghindarkan terjadinya sengketa. setelah mereka merampungkan substansi kontrak lainnya. Hal tersebut karena tujuan utama para pihak mengadakan kontrak adalah untuk melaksanakan kontrak itu sendiri. Karena itu.A. Artinya. BRW/FHUA/2007 36 .

Martin Hunter. BRW/FHUA/2007 37 . Contracts.Alasan memilih arbitrase. flexibility. Freshfileds Guide to Arbitration and ADR : Clauses in International Contracts. (4). (2). cost. 1993. antara lain : (1). speed. (3). focusing on the main issues.

(5). technical expertise. (2). extent of jurisdiction Chaterine Tay Swee Kian. (4). privacy and confidentiality.Alasan memilih arbitrase. 1998. speed. (9). BRW/FHUA/2007 38 . cost. Representation. Know. (7). antara lain : (1). (8) flexibility of procedure. (3). choice of tribunal. enforceability of award. (6). Resolving Disputes by Arbitration : What You Need to Know.

building. commercial arbitration is widely used by businessmen in fields such a construction. engineering. BRW/FHUA/2007 39 . etcµ. antara lain : Chaterina Tay Swee Kian : ´Today. banking and finance. professional practice.Alasan memilih arbitrase. M. ´commercial arbitrationµ is ´a bussines executive courtµ. transportation. 1991. insurance. shipping. Yahya Harahap.

2. ARBITRASE NASIONAL. BRW/FHUA/2007 40 .ARBITRASE : BENTUK & LINGKUPNYA DARI SEGI BENTUKNYA. DIBEDAKAN MENJADI DUA MACAM : 1. 2. DARI SEGI LINGKUPNYA. ARBITRASE AD HOC. ARBITRASE INTERNASIONAL. ARBITRASE INSTITUSIONAL. DIBEDAKAN MENJADI DUA MACAM : 1.

di Indonesia : BANI. HKHPM. didirikan oleh KONI. dll BRW/FHUA/2007 41 . didirikan oleh KADIN. BEJ. didirikan oleh MUI & BANK MUAMALLAT BAPMI. BAMUI. Misalnya.ARBITRASE LEMBAGA (INSTITUTIONAL ARBITRATION) Disebut juga sebagai arbitrase permanen yang eksistensinya sengaja didirikan oleh komunitas tertentu dalam rangka untuk melayani kebutuhan jasa penyelesaian sengketa para pihak bersengketa. didirikan oleh BAPEPAM. dll BAORI.

LEMBAGA ARBITRASE INTERNASIONAL American Arbitration Association (AAA) berkedudukan di New York. Kualalumpur Regional Centre for Arbitration (KRCA). Singapore International Arbitration Centre (SIAC). London Court of International Arbitration (LCIA) Permanent Court of Arbitration (PCA) di Hague Netherlands. Stockholm Chamber of Commerce (SCC) di Stockholm. International Centre for the Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington DC. International Chamber of Commerce Court of Arbitration (ICC) di Paris. dll BRW/FHUA/2007 42 .

LEMBAGA ARBITRASE DI INDONESIA Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Badan Arbitrase Muammalat Indonesia (BAMUI) kemudian berganti menjadi Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) Pusat Penyelesaian Perselisihan Bisnis Indonesia (P3BI). Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI). DLL BRW/FHUA/2007 43 . Badan Arbitrase Olah Raga Indonesia (BAORI).

´case caseµ. maka arbitrase ad hoc dengan sendirinya menjadi bubar setelah sengketa dagang yang diajukan kepadanya telah dijatuhkan putusan. Karena sifatnya insidentil. BRW/FHUA/2007 44 .ARBITRASE AD HOC Arbitrase ad hoc dibentuk secara khusus untuk menyelesaikan suatu sengketa tertentu yang telah terjadi. sehingga bersifat insidentil atau ´case by caseµ.

30/1999 TIDAK MEMBERIKAN PENGERTIAN YANG JELAS TENTANG APA YANG DIMAKSUD DENGAN ARBITRASE NASIONAL MAUPUN ARBITRASE INTERNASIONAL. DAN ARBITRASE INTERNASIONAL/ASING.ARBITRASE BERDASARKAN RUANG LINGKUPNYA DIBEDAKAN MENJADI 2 MACAM : ARBITRASE NASIONAL. BRW/FHUA/2007 45 . UU NO.

internasionalµ. Indonesia.30/1999 ´Putusan Arbitrase ´Putusan Internasionalµ Internasionalµ adalah : ´«. atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasionalµ.PENGERTIAN ARBITRASE INTERNASIONAL DAPAT DITAFSIRKAN DARI PENGERTIAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pasal 1 (9) UU No.putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga atau arbiter perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia. BRW/FHUA/2007 46 .

30/1999. atau yang menurut hukum Indonesia dianggap sebagai Arbitrase Internasional. BRW/FHUA/2007 47 . maka yang dimaksud dengan Arbitrase Internasional adalah Arbitrase yang putusannya dijatuhkan di luar wilayah hukum Negara Republik Indonesia.PENGERTIAN ARBITRASE INTERNASIONAL DAPAT DITAFSIRKAN DARI PENGERTIAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Bertolak dari rumusan pasal 1 ayat (9) UU No.

(interchangeable). Konvensi New York. menggunakan istilah ´foreign arbitrationµ. BRW/FHUA/2007 48 .UU NO. 1/1990 menggunakan istilah ´arbitrase asingµ. Perma No. 1958.30/1999 TIDAK MEMBERIKAN BATASAN JELAS TENTANG MAKNA ARBITRASE NASIONAL DAN ARBITRASE INTERNASIONAL UU No. masing masing istilah digunakan saling bergantian untuk maksud yang sama (interchangeable).30/1999 menggunakan istilah ´arbitrase internasionalµ.

INTERNATIONAL ARBITRATION
µNaturally , the question can be asked wheter there is a place for international arbitration in addition to national and foreign arbitration, or wheter in reality international arbitration is merely a synonym for foreign arbitrationµ. ´««.for example, Swedish law (Foreign Arbitration Agreements and Awards Act No.147/1929) defines as ´foreignµ that arbitration which takes place in a foreign country, or in Sweden, but in which one of the parties is not Swedish««....µ. ´«However, arbitration which takes place in a given state, but contains elements external to that legal system, is generally treated as international arbitration«µ system, ´««As we have seen, the recurring definition of international arbitration is based on the different nationality, or domicilie, of the parties to the proceedings MAURO RUBINO SAMARTANO, International Arbitration Law, Kluwer Law and Law, Taxation Publishers, GA Deventer, 1990.

BRW/FHUA/2007

49

ARBITRASE NASIONAL
Secara a contrario, Pengertian Arbitrase Nasional contrario, adalah arbitrase yang putusannya dijatuhkan di wilayah Negara Republik Indonesia, atau yang menurut Hukum Indonesia dianggap sebagai Arbitrase Nasional. Arbitrase nasional tidak mengandung ´unsur asingµ sama sekali. Misalnya, A dan B, keduanya WNI, sepakat memilih forum arbitrase yang berkedudukan di Indonesia, proses arbitrase berlangsung di Indonesia, menggunakan hukum Indonesia, serta menyangkut obyek sengketa di Indonesia.
BRW/FHUA/2007 50

B. OTONOMI PARA PIHAK MEMILIH TEMPAT ARBITRASE (CHOICE OF ARBITRATION VENUE) Ps. 37 (1) UU 30/1999.
Dalam memilih tempat (Negara) penyelenggaran Arbitrase Internasional, perlu dipetirmbangkan faktor faktor : Favourable legal environment . Tempat penyelenggaraan arbitrase di negara yang dinilai telah memiliki sistem hukum & tradisi hukum yang kuat dan dapat dipercaya kehandalannya; Enforceability of arbitration award. award. Negara yang bersangkutan haruslah negara peserta Konvensi New York 1958, serta memiliki perjanjian bilateral dengan negara para pihak maupun negara tempat pelaksanaan putusan arbitrase nantinya.

BRW/FHUA/2007

51

B. OTONOMI PARA PIHAK MEMILIH TEMPAT ARBITRASE (CHOICE OF ARBITRATION VENUE) Ps. 37 (1) UU 30/1999. Catatan : Adalah sangat beresiko bagi para pihak apabila memilih tempat penyelenggaraan arbitrase internasional di suatu negara yang tidak memiliki stabilitas serta sistem hukum dan tradisi hukumnya masih dinilai lemah, sebagaimana umumnya di negara berkembang. Selain daripada itu, perlu dipastikan apakah negara yang bersangkutan telah meratifikasi Konvensi New York 1958 ataukah tidak. Hal itu sangat terkait nantinya dengan eksekutabilitas putusan arbitrase internasional.
BRW/FHUA/2007 52

pada perjanjian diantara pihak2 yang tunduk dan dikuasai hukum materiil (nasional) yang sama. Perjanjian dagang internasional yang bersifat ´cross borderµ. 56 ayat 2). pilihan para pihak berlaku terhadap perjanjian. Perjanjian dagang internasional mengandung ´element asingµ Sedangkan.C. Hukum ´cross borderµ. maupun sebagai dasar hukum bagi penyelesaian sengketa yang timbul di kemudian hari. Pilihan hukum materiil pada umumnya dijumpai dalam perjanjian diantara pihak-pihak yang dikuasai dan tunduk pihakterhadap hukum materiil yang berlainan. .1. akibat hukum yang timbul. maka tidak relevan melakukan pilihan hukum materiil lain. Otonomi Para Pihak Memilih Hukum (Choice of Law) C. Memilih Hukum Materiil (ps. BRW/FHUA/2007 53 .

Pilihan hukum hanya relevan dengan kontrak dagang internasional. ´openbare ordeµ.30/1999 mengatur tentang kemungkinan para pihak melakukan pilihan hukum. baik terhadap hukum materiil maupun hukum formil. melainkan perlu juga diperhatikan prinsip-prinsip hukum lain yang berlaku. Pasal 31 (1) dan 34 (2) UU No. ´public policyµ. prinsipAntara lain tidak boleh melanggar prinsip ´dwingend rechtµ. BRW/FHUA/2007 54 .C.2. Pasal 56 (2) jo. CATATAN : Persoalan pilihan hukum tidak semata-mata semataditentukan berdasarkan prinsip kebebasan berkontrak serta otonomi para pihak saja.

34 ayat 2).C.3. 13 dan 14. dan arbiter atau majelis arbitrase telah terbentuk berdasarkan Pasal 12. Pasal 31 (1) : ´para pihak dalam suatu perjanjian yang tegas dan bebas untuk menentukan acara arbitrase yang digunakan dalam pemeriksaan sengketa sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam UU 30/1999µ. Pasal 31 (2) : dalam hal para pihak tidak menentukan sendiri ketentuan mengenai acara arbitrase yang akan digunakan dalam pemeriksaan. semua sengketa yang penyelesaiannya diserahkan kepada arbiter atau majelis arbitrase akan diperiksa dan diputus menurut ketentuan dalam UU 30/1999. BRW/FHUA/2007 55 . Memilih Hukum Formil (ps 31 jo.

C. harus ada kesepakatan mengenai ketentuan jangka waktu dan tempat diselenggarakan arbitrase. Pasal 31 (3) : Dalam hal para pihak telah memilih acara arbitrase sebagaimana dimaksud ayat (1). arbiter atau majelis arbitrase yang akan menentukan. Apabila jangka waktu dan tempat arbitrase tidak ditentukan.3. Memilih Hukum Formil (ps 31 jo. BRW/FHUA/2007 56 . 34 ayat 2).

maka hal itu harus diperjanjikan secara tegas. 66 huruf ´cµ).30/1999.Catatan Ps. Apabila para pihak bermaksud mengadakan pilihan hukum formil.30/1999. hatiOleh karena apabila hukum formil yang dipilih dalam suatu arbitrase internasional dinilai bertentangan dengan ketertiban umum i. Pilihan hukum formil. maka Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang menolak memberikan pengakuan dan melaksanakan putusan Arbitrase Internasional tersebut di wilayah Republik Indonesia (Vide Pasal 65 jo. 31 jo. 34 ayat 2. UU No. sepanjang hukum formil yang dipilih tidak bertentangan dengan UU No. BRW/FHUA/2007 57 .c. dalam arbitrase internasional harus dilakukan secara hati-hati.

pilihan hukum berdasarkan anggapan. pilihan hukum yang dilakukan secara tegas. Cara Pemilihan Hukum. Pilihan hukum dilakukan dengan cara : (a). (d). BRW/FHUA/2007 58 .C. pilihan hukum yang dilakukan secara diamdiamdiam. pilihan secara hipotetis.4. (c). (b).

Pilihan hukum yang dilakukan secara diam-diam.4. namun masih dimungkinkan untuk menyelidiki berbagai faktor obyektif untuk dijadikan pedoman dalam menentukan hukum pilihan para pihak.C. Pilihan hukum secara anggapan dan secara hipotetis menimbulkan keraguan yang semakin tinggi. BRW/FHUA/2007 59 . Pada pilihan hukum secara tegas kiranya telah jelas tentang apa yang dimaksud dan diinginkan oleh para pihak dalam perjanjian. Para pihak telah dengan tegas memilih suatu hukum tertentu . Cara Pemilihan Hukum. diammeskipun mengandung sedikit keraguan tentang apa sesungguhnya hukum pilihan para pihak.

C. BRW/FHUA/2007 60 . CHOICE OF LAW & APPLICABLE LAW Hukum Pilihan Para Pihak (law of the parties) berlaku sebagai (law parties) hukum yang diberlakukan/ diterapkan terhadap sengketa (applicable law/ governing law).Pilihan hukum hanya dilakukan dalam bidang hukum perjanjian yang bersifat mengatur (regelend recht) dan tidak (regelend recht) terhadap hukum yang bersifat memaksa (dwingend recht).5. penyelesaian sengketa yang terjadi atau akan terjadi di antara mereka dan dipergunakan sebagai dasar bagi arbitrator atau majelis arbitrase untuk memutuskan sengketa. (dwingend recht). C. Pilihan hukum dibatasi pada sistem hukum yang memiliki hubungan riil dengan dengan substansi perjanjian (the most (the characteristic connection). termasuk terhadap law).6.

Pilihan hukum juga tidak dapat dilakukan dengan maksud sebagai tindakan penyelundupan hukum. BRW/FHUA/2007 61 . Pilihan hukum harus dilakukan dengan maksudmaksudmaksud yang baik (made with a bonafide intention) (made intention) dari pihak-pihak yang terlibat di dalam perjanjian pihakyang bersangkutan. hukum.CHOICE OF LAW WITH A BONAFIDE INTENTION pilihan hukum tidak dapat diarahkan pada hukum yang tidak kaitannya sama sekali dengan substansi perjanjian.

untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitraseµ. atau yang DITUNJUK OLEH PENGADILAN NEGERI. atau OLEH LEMBAGA ARBITRASE. Otonomi Para Pihak Memilih Arbitrator/Arbiter (Choice of Arbitrator) : D-1.D. PENGERTIAN ARBITER (Pasal 1 ke-7) : ke´Arbiter adalah seorang atau lebih yang :DIPILIH OLEH PARA PIHAK YANG BERSENGKETA. BRW/FHUA/2007 62 .

BRW/FHUA/2007 63 . Memilih Arbitrator/Arbiter (Choice of Arbitrator) : CATATAN : Pemilihan arbitrator pada dasarnya merupakan opsi para pihak bersengketa.D. maka pemilihan arbitrator dilakukan oleh Pengadilan atau oleh Lembaga Arbitrase. Namun apabila opsi tersebut tidak digunakan oleh para pihak. atau karena terdapat hambatan prosedural dalam pemilihannya.

(c). (e).tidak mempunyai kepentingan finansial atau kepentingan lain atas putusan arbitrase. tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat kedua dengan salah satu pihak bersengketa.2. (d). (a).memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif di bidang paling sedikit 15 tahun. (b). BRW/FHUA/2007 64 . berumur paling rendah 35 tahun. cakap melakukan tindakan hukum. Syarat Syarat Menjadi Arbitrator (ps 12 ayat 1).D.

karena secara otomatis untuk bertindak sebagai arbitrator harus cakap melakukan perbuatan hukum. mengandung ´ratio legisµ agar tidak terjadi ´conflict of interestµ antara arbitrator dengan pihak2 berperkara.CATATAN TERHADAP PASAL 12 : SYARAT MENJADI ARBITRATOR Rumusan Ps. BRW/FHUA/2007 65 . 12 (c & d). 12 (a) bersifat berlebihan. 12 (b) tidak jelas apa ´ratio legisµ pengaturan batasan umur minimal arbitrator. Rumusan Ps. Rumusan Ps.

CATATAN TERHADAP PASAL 12 : SYARAT MENJADI ARBITRATOR Rumusan Ps. Persoalan penentuan ´15 tahunµ dihitung dari mana serta apakah hal itu berlangsung secara terus menerus ? Persoalan lainnya ´siapaµ yang kompeten menilai adanya ´pengalamanµ dan ´menguasai secara aktif di bidangnyaµ tersebut ? Apakah semata-mata berdasarkan anggapan ataukah harus sematadibuktikan melalui sertifikasi keahlian yang diterbitkan oleh asosiasi profesi atau lembaga yang kompeten ? BRW/FHUA/2007 66 . 12 (e) tidak jelas apa ´ratio legisnyaµ penentuan 15 tahun ´pengalamanµ dan ´menguasai secara aktif di bidangµnya.

(d). cakap melakukan tindakan hukum. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. tidak pernah dihukum karena suatu tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan yang telah mempunyai kekuatan pasti. (b). memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif bidangnya paling sedikit 15 tahun. warganegara Indonesia. (a). (f).Syarat Sebagai Arbitrator BAPMI. BRW/FHUA/2007 67 . (e). berumur paling rendah 35 tahun. (c).

berpendidikan minimum sarjana atau setara (j). ikatan dan/atau bentuk organisasi lain yang telah menjadi anggota BAPMI. (i).Syarat Sebagai Arbitrator BAPMI. telah memperoleh ijin orang perorangan profesi pasar modal dari BAPEPAM atau terdaftar sebagai profesi penunjang pasar modal di BAPEPAM. (h). BRW/FHUA/2007 68 . bukan merupakan pihak-pihak yang dilarang pihakuntuk menjadi arbiter oleh ketentuan perundangperundang-undangan yang berlaku. (g). himpunan. terdaftar sebagai anggota dari asosiasi.

tidak termasuk dalam Daftar Orang Tercela dan/atau daftar orang yang tidak boleh melakukan tindakan tertentu di bidang pasar modal sesuai dengan daftar yang dikeluarkan oleh BAPEPAM dan/atau tidak pernah dihukum karena suatu tindak pidana yang terkait dengan masalah ekonomi dan/atau keuangan. direksi bursa efek. memahami ketentuan perundang-undangan di bidang perundangpasar modal dan bidang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa di Indonesia. atau lembaga penyimpanan dan penyelesaian. atau lembaga kliring dan penjaminan. bukan merupakan pejabat di bidang pengawas pasar modal. (n). BRW/FHUA/2007 69 . (o). (m). bukan merupakan pejabat aktif dari instansi peradilan. memahami Peraturan dan Acara BAPMI. kejaksaan atau kepolisian. (l).Syarat Sebagai Arbitrator BAPMI (k).

berpengalaman.jujur dan tidak tercela. . . . BRW/FHUA/2007 70 . .ekspert sesuai substansi sengketa.memiliki reputasi tidak tercela.obyektif dan imparsialitas. Kualifikasi arbitrator : . .non conflict of interest.dll .3.profesionalitas. .D.

Born. several arbitrators will ussualy offer the broader range of legal. States. Expertise. several arbitrators are less likely to ´drop the ballµ by missing or misunderstanding some fundamental point. and convey to the parties that verry comprehend. and other expertise then a single arbitrator. Expertise. the issue in the case««. BRW/FHUA/2007 71 . 1994. technical.Garry B. Communications. Consistency. 1994. Consistency. several arbitrators are more likely than a single arbitrator to fully comprehend. International Commercial Arbitration in the United States.

since there need not be intra tribunal consultation. Several factors are relevant : Cost. States. Cost. although much depends on the individual. one arbitrator can in theory act more quickly than several. Born. BRW/FHUA/2007 72 .Garry B. International Commercial Arbitration in the United States. Speed. Convenience. 1994. Speed. Convenience. finding dates on which several arbitrators are all avaliable is harder than finding dates on which one arbitrators is avaliable. the more the parties can generally expect to pay in arbitrator fees and expences. the more arbitrators one has. Perhaps the most vital initial step in any arbitration is the appointment of the arbitrator or arbitrators who will resolve the dispute««««µ.

4.14 dan 15). selanjutnya arbiter yang ditunjuk masing-masing pihak tersebut harus masingsepakat menunjuk arbiter ketiga sebagai ketua majelis arbitrase. > Pada arbiter tunggal. Single or panel arbitrator (ps. masing-masing masingpihak menunjuk seorang arbiter.D. para pihak harus sepakat atas penunjukan figur arbiter tunggal yang bersangkutan. BRW/FHUA/2007 73 . > Sedangkan pada majelis arbitrase. > Para pihak bersengketa dapat menyepakati apakah arbitrase dilaksanakan dengan model arbiter tunggal (single) ataukah majelis arbiter (panel).

obyektif. jujur. serta tidak terdapat ´conflict of interestµ dengan pihak pihak bersengketa. tidak tercela. Penjelasan : ««agar terjamin adanya obyektifitas dalam pemeriksaan serta pemberian putusan oleh arbiter atau majelis arbitrase. Jaksa. mereka dapat ditunjuk atau diangkat sebagai arbiter. BRW/FHUA/2007 74 . setelah PURNA TUGAS. Secara a contrario. Larangan Menjadi Arbitrator (ps 12 ayat 2). maka contrario.5. sepanjang memiliki keahlian dan pengalaman sesuai dengan substansi sengketa. Panitera dan Pejabat Peradilan lainnya tidak dapat ditunjuk atau diangkat sebagai arbiterµ. ´Hakim. Serta selalu bersikap profesional.D.

6. Pada arbiter majelis. BRW/FHUA/2007 75 . Pada prinsipnya arbitrator dipilih oleh para pihak bersengketa.D. selanjutnya masing2 arbiter tersebut menunjuk arbiter ketiga untuk bertindak sebagai ketua majelis arbitrase. Pada arbiter tunggal. Prosedur pengangkatan arbitrator (pasal 13 s/d 19). maka arbiter yang bersangkutan harus disepakati oleh kedua belah pihak bersengketa. masing2 pihak bersengketa menunjuk seorang arbiter.

6. Pengadilan berwenang untuk menunjuk arbiter (tunggal) atau arbiter ketiga (ketua majelis). Atau para pihak bersengketa menyerahkan penunjukkan arbiter yang bersangkutan kepada lembaga arbitrase BRW/FHUA/2007 76 . maka atas permohonan pihak2 bersengketa. Apabila para pihak bersengketa tidak mencapai sepakat menunjuk arbiter (tunggal) atau para arbiter yang telah ditunjuk oleh para pihak tidak mencapai sepakat menunjuk arbiter ketiga (ketua majelis).D. Prosedur pengangkatan arbitrator (pasal 13 s/d 19).

Campur tangan Pengadilan dalam pemberhentian arbiter juga dilakukan atas permohonan pihak2 bersengketa. ´conflict interestµ. karena para pihak gagal mencapai sepakat dalam penunjukkan arbiter. Campur tangan Pengadilan diperlukan untuk mengatasi ´kebuntuan proseduralµ sebagai akibat tidak tercapainya kata sepakat tentang penunjukkan arbitrator.D.7. karena arbiter yang ditunjuk terbukti memiliki ´conflict of interestµ. atau para arbiter yang ditunjuk para pihak gagal mencapai sepakat memilih arbiter ketiga. Campur tangan Pengadilan (pasal 13 s/d 19). BRW/FHUA/2007 77 . Campur tangan Pengadilan dalam penunjukkan arbiter dilakukan atas dasar permohonan pihak2 bersengketa.

COURT INTERVENTION Istilah ´court interventionµ merupakan pernyataan yang seringkali ditemukan dalam berbagai literatur tentang arbitrase bahwa : ´The courts role therefore should be assist the arbitral tribunal to achieve the purpose of arbitration. but also to hear witnesses or expert. its appears that in their respective scopes the two concepts largely overlapµ. BRW/FHUA/2007 78 . or if parties do not appoint him. proceedingsµ. who do not voluntary appear before the arbitrators. Mauro Rubino Sammartano mencontohkan sebagaimana praktek di Jerman bahwa : ´German law provides for court intervention not only during the appointment of an arbitrator or a challenge. the administration oath to witnesses or experts is always done by the courts. Even if a distinction is made between ´court interventionµ and ´court assistance and supervisionµ as in article 5 and 6 of the UNCITRAL Model Law. The possibility for court to intervene by placing their power to the disposal of the arbitrators is certainly a substansial contribution to a better functioning of arbitral proceedingsµ. Furthermore.

to extend the time for rendering an award. or to enforce. Di India bahwa : ´the Court intervention may be sought to remove an arbitrator for .mengemukakan tinjauannya di beberapa negara Asia. Commercial Arbitrations Law in Asia and the Pacific. to extend the time limit for rendering an award.COURT INTERVENTION Simmond K. bahwa : ´««In Malaysia. BRW/FHUA/2007 79 . Paris. unless it finds that the said agreement is null and void. or in order for an arbitration agreement to cease effect. al. at the request of one of the parties. et. to order discovery or the appearance of witnessesµ Pasal II (3) Konvensi New York 1958 yang mengatur : ´The court of contracting state. inoperative or in capable of being performedµ . Pacific. Di Jepang bahwa : ´Court intervention may be sought to appoint or replace the arbitrator. modify or correct and award and to grant an extension of the time limit for rendering an award. 1987.R. 129. h. to order discovery or the appearance of witnesses. Demikian pula halnya di Malaysia. refer the parties to arbitration. the Courts have the authority to appoint or to remove an arbitrator. when seized of an action in a matter in respect of which the parties have made an agreement within the meaning of this article shall. ICC Publishing SA.

dan harus disampaikan kepada para pihak dalam waktu paling lama 14 hari terhitung sejak penunjukan dan pengangkatannya sebagai arbitrator.D. Opsi Calon Arbitrator Pasal 16 ayat (1) :Seorang yang ditunjuk sebagai arbitrator memiliki opsi untuk menerima atau menolak penunjukkan tersebut.8. atau alasan spesifik lainnya. BRW/FHUA/2007 80 . dengan alasan menyangkut kompetensi serta menyangkut hak & kewajiban masing2. Pasal 16 ayat (2) mengatur bahwa seseorang yang telah ditunjuk atau diangkat sebagai arbitrator harus menyatakan secara tegas dan tertulis tentang sikapnya apakah ia menerima atau menolak penunjukkan dan pengangkatan tersebut.

Arbiter atau para arbiter akan memberikan putusan nya secara jujur.D. adil. maka terjadi perjanjian perdata yang menimbulkan hak dan kewajiban timbal balik (pasal 17 ayat 1). dan sesuai dgn ketentuan yang berlaku dan para pihak akan menerima putusannya secara final dan mengikat seperti yang diperjanjian bersama (pasal 17 ayat 2). BRW/FHUA/2007 81 .8. Opsi Calon Arbitrato Apabila telah tercapai kesepakatan tertulis antara pihak pihak yang menunjuk dengan arbitrator yang bersangkutan.

BRW/FHUA/2007 82 . Seorang yang menerima penunjukkan sebagai arbitrator.D. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diberitahukan kepada para pihak mengenai penunjukkannya (pasal 18 ayat 2).8. Opsi Calon Arbitrator Seorang calon arbitrator yang diminta oleh salah satu pihak untuk duduk dalam majelis arbitrase. wajib memberitahukan kepada pihak tentang hal yang mungkin akan mempengaruhi kebebasannya atau menimbulkan ke berpihakan putusan yang akan diberikan (pasal 18 ayat 1).

maka arbitrator dibebaskan dari tugas sebagai arbitrator.8. maka tidak dapat menarik diri kecuali atas persetujuan para pihak.30/1999 : seseorang menerima penunjukan dirinya sebagai arbitrator sebagaimana dimaksud Pasal 16 UU No. sedangkan apabila tidak disetujui maka pembebasan tugas sebagai arbitrator ditetapkan oleh Pengadilan. BRW/FHUA/2007 83 . Apabila disetujui.30/1999. Pengunduran diri arbitrator diajukan secara tertulis kepada para pihak. Opsi Calon Arbitrator Pasal 19 UU No.D.

D. Dalam hal arbiter sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (1) yang telah menerima penunjukkan dan pengangkatan. maka yang bersangkutan wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada para pihak (pasal 19 ayat 2). menyatakan menarik diri. BRW/FHUA/2007 84 .8. kecuali atas persetujuan para pihak (pasal 19 ayat 1). maka yang bersangkutan tidak dapat menarik diri. Opsi Calon Arbitrator Dalam hal arbiter telah menyatakan menerima penunjukan atau pengangkatan sebagaimana dimaksud Pasal 16.

BRW/FHUA/2007 85 . Dalam hal permohonan penarikan diri tidak mendapatkan persetujuan para pihak. maka yang bersangkutan dapat dibebaskan dari tugas sebagai arbitrator (pasal 19 ayat 3). pembebasan tugas arbitrator ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri. Opsi Calon Arbitrator Dalam hal para pihak dapat menyetujui permohonan penarikan diri sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).D.8.

9. BRW/FHUA/2007 86 . sedangkan arbitrator harus tetap independen. Perjanjian Perdata antara Arbitrator dengan Pihak yg Menunjuknya (ps 17 ayat 1). lawyer memihak kepentingan klien.D. Peran arbitrator tidak identik dengan peran lawyer. obyektif & imparsial. meskipun seorang lawyer dapat saja ditunjuk sebagai arbitrator. Hubungan lawyer dengan klien atas dasar surat kuasa. Peran lawyer mengurus perkara klien sesuai dengan surat kuasa yang diberikan klien. sedangkan arbitrator memeriksa dan memutus perkara berdasarkan pengalaman dan keahlian yang dimilikinya. sedangkan hubungan arbitrator dengan pihak berperkara berdasarkan perjanjian perdata. Paradigma peran lawyer dan arbitrator berbeda satu sama lain.

BRW/FHUA/2007 87 . Arbitrator yang telah menyatakan resiprositas. Perjanjian perdata antara arbitrator dengan pihak yang menunjuknya menimbulkan hak dan kewajiban secara resiprositas.9.D. termasuk segala akibat hukum maupun hak dan kewajiban yang timbul dari adanya perjanjian perdata tersebut. Perjanjian tersebut harus memenuhi syarat-syarat syaratsebagaimana berlaku bagi ketentuan perjanjian pada umumnya. Perjanjian perdata antara arbitrator dgn pihak yg menunjuknya (ps 17 ayat 1). kesediaannya untuk diangkat sebagai arbitrator berkewajiban untuk memberikan jasa layanan berupa kemampuan melakukan memeriksa dan memutus sengketa sesuai keahlian &pengalamannya.

Arbitrator berhak mendapatkan imbalan atas jasa dan keahlian yang akan diberikannya yang berupa honorarium maupun berbagai fasilitas lain yang diperlukan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kewajibannya. apabila salah satu pihak tidak melaksanakan isi perjanjian tersebut dapat dikatakan telah melakukan wanprestasi oleh karenanya dapat digugat secara perdata oleh pihak yang dirugikan ke muka Pengadilan. Perjanjian perdata antara arbitrator dgn pihak yg menunjuknya (ps 17 ayat 1). Konsekuensinya.9.D. BRW/FHUA/2007 88 .

Terhadap arbitrator dapat diajukan tuntutan ingkar apabila terdapat cukup bukti otentik yang menimbulkan keraguan bahwa arbitartor akan melakukan tugasnya tidak secara bebas dan akan berpihak dalam mengambil putusan (pasal 22 ayat 1). Tuntutan Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26).10.D. keuangan atau pekerjaan dengan salah satu pihak atau kuasanya (pasal 22 ayat 2). Tuntutan ingkar terhadap arbitrator dapat pula dilaksanakan apabila terbukti adanya hubungan kekeluargaan. BRW/FHUA/2007 89 .

10. Hak ingkar terhadap arbitrator yang diangkat oleh Ketua Pengadilan Negeri diajukan kepada Pengadilan Negeri yang bersangkutan (pasal 23 ayat 1). Hak ingkar terhadap terhadap arbitrator tunggal diajukan kepada arbitrator yang bersangkutan (pasal 23 ayat 2). BRW/FHUA/2007 90 . Tuntutan Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26).D. Hak ingkar terhadap anggota majelis arbitrase diajukan kepada majelis arbitrase yang bersangkutan (pasal 23 ayat 3).

D. pengadilan. hanya dapat diingkari berdasarkan alasan yang diketahuinya setelah adanya penerimaan penetapan Pengadilan tersebut (pasal 24 ayat 2). Pihak yang berkeberatan terhadap penunjukkan seorang arbitrator yang dilakukan oleh pihak lain. Arbitrator yang diangkat dengan penetapan Pengadilan. BRW/FHUA/2007 91 . Tuntutan Hak Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26). hanya dapat diingkar berdasarkan alasan yang baru diketahui pihak yang mempergunakan hak ingkarnya setelah pengangkatan arbitrator yang bersangkutan (pasal 24 ayat 1). harus mengajukan tuntutan ingkar dalam waktu paling lama 14 hari sejak pengangkatan (pasal 24 ayat 3).10. Arbitrator yang diangkat tidak dengan penetapan pengadilan.

Tuntutan ingkar harus secara tertulis. (pasal 24 ayat 6). tuntutan ingkar harus diajukan dalam waktu paling lama 14 hari sejak diketahuinya hal tersebut. Dalam hal alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) dan (2) diketahui kemudian. Dalam hal tuntutan ingkar yang diajukan oleh salah satu pihak tidak disetujui oleh pihak lain. maupun kepada arbitrator yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan tuntutannya (pasal 24 ayat 5).D. BRW/FHUA/2007 92 . arbitrator yang bersangkutan harus mengundurkan diri dan seorang arbiter pengganti akan ditunjuk sesuai dengan cara yang ditentukan dalam UU 30/1999. baik kepada pihak lain tertulis. (pasal 24 ayat 4).10. Tuntutan Hak Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26).

pihak yang berkepentingan dapat mengajukan tuntutan kepada Ketua Pengadilan negeri yang putusannya mengikat kedua pihak dan tidak dapat diajukan perlawanan (pasal 25 ayat 1). Dalam hal Ketua Pengadilan negeri menolak tuntutan ingkar. maka arbitrator melanjutkan tugasnya (pasal 25 ayat 3). Dalam hal Ketua Pengadilan negeri memutuskan bahwa tuntutan sebagaimana dimaksud ayat (1) beralasan. Tuntutan Hak Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26).D. Dalam hal tuntutan ingkar yang diajukan oelh salah satu pihak tidak disetujui oleh pihak lain dan arbiter yang bersangkutan tidak bersedia mengundurkan diri. BRW/FHUA/2007 93 .10. seorang arbitrator pengganti harus diangkat dengan cara sebagaimana yang berlaku untuk pengangkatan arbitrator yang digantikan (pasal 25 ayat 2).

10. Arbitrator dapat dibebastugaskan bilamana ia terbukti berpihak atau menunjukkan sikap tercela yang harus dibuktikan melalui jalur hukum (pasal 26 ayat 2). BRW/FHUA/2007 94 . Wewenang arbitrator tidak dapat dibatalkan dengan meninggalnya arbitrator dan wewenang tersebut selanjutnya dilanjutkan oleh penggantinya yang kemudian diangkat sesuai dengan UU 30/1999 (Pasal 26 ayat 1).D. Tuntutan Hak Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26).

atau mengundurkan diri.D. Dalam hal selama pemeriksaan sengketa berlangsung.10. seorang arbitrator pengganti akan diangkat dengan cara sebagaimana yang berlaku bagi pengangkatan arbitrator yang bersangkutan (Pasal 26 ayat 3). (pasal 26 ayat 4). kewajibannya. BRW/FHUA/2007 95 . pemeriksaan sengketa hanya diulang kembali secara tertib antar arbitrator (pasal 26 ayat 5). Dalam hal seorang arbitrator tunggal atau ketua majelis arbitrase diganti. Tuntutan Hak Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26). semua pemeriksaan yang telah diadakan harus diulang kembali. arbitrator meninggal dunia. tidak mampu. Dalam hal anggota majelis yang diganti. sehingga tidak dapat melaksanakan diri.

Arbitrator atau majelis arbitrase tidak dapat dikenakan tanggung jawab hukum apapun atas segala tindakan yang diambil selama proses persidangan berlangsung untuk menjalankan fungsinya sebagai arbitrator atau majelis arbitrase. Imunitas arbitrator & batas2nya (ps.11. Persoalannya adalah bagaimana mekanisme untuk membuktikan bahwa arbitrator atau majelis arbitrase telah melakukan itikad tidak baik pada saat menjalankan tindakan dalam proses arbitrase hal itu bukanlah merupakan proses yang sederhana BRW/FHUA/2007 96 . kecuali dapat dibuktikan adanya itikad tidak baik dari tindakan tersebut (pasal 21). sepanjang dilakukan dengan itikad baik.D. juga memiliki imunitas dalam menjalankan kewajiban atau profesinya. 21). Sebagaimana halnya hakim dan advokat.

apakah secara otomatis batal ataukah dimohonkan pembatalan terlebih dahulu ke Pengadilan ? (lihat pasal 70 s/d 72). BRW/FHUA/2007 97 .D. Persoalan lainnya adalah siapa yang berwenang untuk memberikan penilaian terhadap masalah ´ada/tidaknya itikad baikµ arbitrator ketika memutus sengketa. hanya disebutkan ´cukup jelasµ.11 Imunitas arbitrator & batas2nya (ps. 21).Belum lagi muncul persoalan selanjutnya Persoalan lainnya lagi adalah bagaimana dengan status putusan arbitrase yang telah dijatuhkan. PersoalanPersoalan-persoalan tersebut dalam penjelasan UU No.30 tahun 1999.

(b). para pihak sepakat untuk menarik kembali penunjukkan arbitrator. meskipun sengketa telah diputus namun tugas Arbiter tidak langsung berakhir.12.D. CATATAN Pasal 73 huruf ´aµ. Berakhirnya tugas & wewenang arbitrator (ps 48 jo. BRW/FHUA/2007 98 . karena Arbiter atau kuasanya masih berkewajiban menyerahkan dan mendaftarkan putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri (Pasal 59). Pasal 73 UU No. 59 ). putusan mengenai sengketa telah diambil. jangka waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian arbitrase atau sesudah diperpanjang oleh para pihak telah lampau. atau (c).30/1999 mengatur bahwa tugas arbitrator berakhir karena : (a).

berkenaan dengan perbedaan latar belakang bahasa para pihak. KECUALI atas persetujuan arbitrator atau majelis arbitrase. para pihak dapat menggunakan bahasa lain yg disepakati. Ps. BRW/FHUA/2007 99 . Pada arbitrase internasional. 28 : keharusan proses arbitrase menggunakan Bahasa Indonesia. Otonomi Para Pihak Memilih Bahasa (Choice of Arbitration Language). Proses arbitrase.E. keterangan saksi. serta dokumen bukti dialihbahasakan ke dalam bahasa yang pilih. pemilihan bahasa merupakan soal yg penting.

Penggunaan ´bahasa asingµ harus mendapatkan persetujuan arbitrator yang akan menjalankan proses persidangan arbitrase. Pentingnya pemilihan bahasa dalam proses arbitrase berkaitan dengan kenyataan bahwa antara bahasa yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan konseptual dalam memaknai suatu terminologi dan konsep hukum tertentu sebagai akibat adanya perbedaan latar belakang sejarah.E. maupun dengan konsep ´ketertiban umumµ di Indonesia karena masing2 memiliki latar belakang sejarah dan sistem hukum berlainan. Misalnya konsep ´public policyµ di negara-negara Anglo American yang negaramaknanya tidak sama persis dengan konsep ´openbare ordeµ atau ´orde publiqueµ di negara negara Kontinental. akan digunakan sebagai bahasa resmi dalam proses arbitrase yang bersangkutan. Persoalannya adalah : Bahasa yang telah dipilih dan disepakati oleh para pihak. BRW/FHUA/2007 100 . Otonomi Para Pihak Memilih Bahasa (Choice of Arbitration Language). budaya dan sistem hukum masing2.

Pengertian Perjanjian Arbitrase (ps. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. atau suatu PERJANJIAN ARBITRASE tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketaµ. A. 1 ke-3 ) : ´Perjanjian arbitrase adalah kesuatu kesepakatan berupa KLAUSULA ARBITRASE yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa. BRW/FHUA/2007 101 .2.

2. BRW/FHUA/2007 102 . KECUALI dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan dalam UNDANG halUNDANG INIµ. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. ´Pengadilan Negeri WAJIB MENOLAK dan TIDAK AKAN CAMPUR TANGAN di dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase. (2). Pasal 11 (1). Pasal 3 : ´Pengadilan Negeri TIDAK BERWENANG untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitraseµ. ´Adanya suatu perjanjian arbitrase tertulis MENIADA KAN HAK PARA PIHAK untuk mengajukan penyelesaian sengketa atau beda pendapat yang termuat dalam perjanjiannya ke Pengadilan Negeriµ.

11 UU No. 11 mengandung norma yang bersifat memaksa. Pasal 3 jo. maka Pengadilan wajib menolak campur tangan atas perkara yang oleh para pihak sebelumnya telah diperjanjikan akan diselesaikan melalui arbitrase.2. Apabila sengketa tersebut oleh salah satu pihak tetap diajukan ke Pengadilan. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. juga wajib menghormati pilihan para pihak yang telah mengadakan perjanjian arbitrase. bahwa dengan adanya perjanjian arbitrase menentukan kompetensi absolut arbitrase mengadili sengketa. Konsekuensi adanya perjanjian arbitrase maka para pihak telah melepaskan haknya untuk menyelesaikan sengketanya melalui lembaga Pengadilan. BRW/FHUA/2007 103 . Pengadilan selain terikat pada Pasal 3 jo.30/1999. dengan demikian Pengadilan Negeri tidak memiliki kompetensi absolut untuk mengadili sengketa yang bersangkutan.

Pasal 303 Undang Undang No. 37/2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. PERJANJIAN ARBITRASE TIDAK BOLEH MELANGGAR UNDANGUNDANGUNDANG. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornyaµ BRW/FHUA/2007 104 . mengatur bahwa : ´Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari para pihak yang terikat dalam perjanjian arbitrase. dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan.2. sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Undang Undang iniµ. Pasal 2 ayat (1) mengatur : ´Debitor mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.

CATATAN Pasal 303 jo. BRW/FHUA/2007 105 . Pasal 2 ayat (1) UU 37/2004 KAITANNYA DENGAN KEWENANGAN ARBITRASE Norma yang terkandung dalam ketentuan tersebut. Hal tersebut menunjukkan sifat memaksa (´dwingendµ) ketentuan tersebut. namun yang berwenang asbolut memeriksa dan memutus sengketa kepailitan adalah Pengadilan Niaga. meskipun terdapat perjanjian arbitrase yang dibuat oleh para pihak. Kedudukan Pengadilan Niaga sebagai satu-satunya Pengadilan yang memiliki satukompetensi absolut dalam perkara kepailitan tidak dapat tergantikan atau disingkirkan oleh adanya perjanjian arbitrase yang dibuat oleh para pihak.

BRW/FHUA/2007 106 . namun pada pokoknya.2. Klausula Arbitrase & Perjanjian Arbitrase. B. Perbedaan antara klausula arbitrase dengan perjanjian arbitrase hanya terletak pada saat pembuatan serta cara penuangannya. sedangkan perjanjian arbitrase (arbitartion agreement/acta van compromise) dibuat tersendiri/ terpisah dengan perjanjian pokoknya namun tetap saling berkaitan. keduanya memiliki kesamaan yakni kesepakatan para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase. Dengan adanya klausula arbitrase atau perjanjian arbitrase maka yang berwenang secara absolut menyelesaikan sengketa adalah lembaga arbitrase yang telah disepakati para pihak. Klausula arbitrase (arbitration clause/pactum de compromittendo) merupakan salah salah satu klausula yang terdapat dalam suatu kontrak dan dibuat sebelum terjadi sengketa. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE.

PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. BRW/FHUA/2007 107 . Dibuat sebelum & sesudah terjadi sengketa (ps. dengan maksud untuk memanfaatkan kelambanan proses dan prosedur Pengadilan guna mengulur pemenuhan kewajiban. cenderung lebih menyukai penyelesaian melalui Pengadilan. Kesepakatan para pihak untuk mengadakan perjanjian arbitrase dapat dibuat sebelum terjadi sengketa (arbitration clause/ pactum de compromitendo) sebagai antisipasi kemungkinan terjadinya sengketa di kemudian hari. Dalam praktek. karena pihak yang posisi hukumnya lemah. 7). maupun dalam perjanjian arbitrase yang dibuat tersendiri setelah terjadinya sengketa (arbitration agreement/acta van compromis). C. mengadakan perjanjian arbitrase setelah terjadi sengketa pada umumnya lebih sulit dilakukan.2.

BRW/FHUA/2007 108 . Subyek hukum perdata meliputi orang dan badan hukum perdata (misalnya PT. Subyek hukum publik meliputi badan hukum publik (misalnya. Para Pihak dalam Perj.2. Arbitrase (ps. Pemerintah Pusat/Propinsi/Kabupaten/ Kota). dll). 1 ke-2). kePara pihak dalam perjanjian arbitrase adalah SUBYEK HUKUM BAIK MENURUT HUKUM PERDATA MAUPUN HUKUM PUBLIK. Yayasan. E. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE.

maka komunikasi para pihak. Perjanjian arbitrase dibuat secara tertulis yang ditandatangani oleh para pihak. sedangkan apabila para pihak tidak dapat menanda tangani maka perjanjian tertulis tersebut dibuat dalam bentuk AKTA NOTARIS (Ps. D. Padahal dalam praktek dewasa ini. e- BRW/FHUA/2007 109 . PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. termasuk pembuatan perjanjian arbitrase. Persetujuan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase dimuat dalam suatu DOKUMEN YANG DITANDATANGANI PARA PIHAK (ps. tanpa para pihak harus melakukan perjumpaan fisik. melalui kegiatan e commerce. dapat dilakukan melalui berbagai sarana komunikasi. CATATAN : Keharusan perjanjian dibuat tertulis dan ditandatangani para pihak masih menggunakan paradigma perjanjian berbasis kertas. 9 ayat 1 dan 2). Misalnya melalui e-mail dan lain sebagainya. Perjanjian Arbitrase Tertulis.2. 4 ayat 2).

Pasal 4 ayat (3) mengatur : Dalam hal disepakati penyelesaian sengketa melalui arbitrase terjadi DALAM BENTUK PERTUKARAN SURAT. maka pengiriman teleks. BRW/FHUA/2007 110 . PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. e-mail atau dalam bentuk sarana komunikasi elainnya. wajib disertai dengan catatan penerimaan oleh para pihak.2. telegram. faksimile. eRumusan frasa ´dalam bentuk sarana komunikasi lainnyaµ merupakan antisipasi terhadap kemungkinan munculnya teknologi mutakhir di bidang komunikasi di masa depan. CATATAN : Pasal 4 ayat (3) telah mengakomodasi kemungkinan pembuatan perjanjian arbitrase melalui berbagai sarana telekomunikasi akibat pesatnya perkembangan e-commerce.

Arbitrase harus memuat : a. nama lengkap dan tempat tinggal para pihak. nama lengkap dan tempat tinggal para arbiter dan majelis arbitrase. nama lengkap sekretaris. g. b. F.2. pernyataan kesediaan dari pihak yang bersengketa untuk menanggung segala biaya yang diperlukan untuk penyelesaian sengketa melalui arbitrase. masalah yang disengketakan. BRW/FHUA/2007 111 . PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. e. jangka waktu penyelesaian sengketa. tempat arrbiter atau majelis arbitrase akan mengambil keputusan. (Ps. Pasal 9 ayat (3) Perj. c. dan h. pernyataan kesediaan dari arbiter. 9 ayat 3). f. d.

apabila terbukti tidak memuat semua unsur Pasal 9 ayat (3). BRW/FHUA/2007 112 . Disertai ancaman sanksi dalam Pasal 9 ayat (4). PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE.2. CATATAN : Unsur2 dalam Pasal 9 ayat (3) bersifat limitatif dan imperatif. artinya semua unsur tanpa kecuali harus terpenuhi dan termuat dalam suatu perjanjian arbitrase. Pasal 9 ayat (4) mengatur bahwa perjanjian tertulis yang tidak memuat hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) BATAL DEMI HUKUM. yakni ´perjanjian arbitrase batal demi hukumµ.

atau dalam bentuk sarana komunikasi elainnya. Melainkan dapat memanfaatkan sarana teknologi yang ada. Perj. BRW/FHUA/2007 113 . e-mail. Emaka kesepakatan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dapat dibuat dalam bentuk pertukaran surat.2. melalui teleks. Namun hal itu disyaratkan wajib disertai dengan suatu catatan penerimaan oleh para pihak (ps. 4 ayat 3). Karena itu. telegram. perjanjian arbitrase tidak mutlak harus berbasis kertas serta ditandatangani para pihak di tempat yang sama. TI/TK/E-C. dan pada waktu yang sama pula. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. berdasarkan norma yang terkandung dalam pasal 4 ayat (3). TI/TK/EBerkaitan dengan perkembangan Teknologi Iinformasi/Teknologi Kominukasi maupun E-Commerce. Arbitrase Tertulis & Perkemb. G.

KECUALI DALAM HALHAL-HAL TERTENTU yang ditetapkan dalam UU ini (ps. Pengadilan negeri WAJIB MENOLAK dan TIDAK AKAN CAMPUR TANGAN di dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase. H. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. Wewenang Absolut Arbitrase Pengadilan Negeri TIDAK BERWENANG untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase (ps. BRW/FHUA/2007 114 . 11 ayat 2). Adanya suatu perjanjian arbitrase tertulis MENIADAKAN HAK PARA PIHAK untuk mengajukan penyelesaian sengketa atau beda pendapat yang termuat dalam perjanjiannya ke Pengadilan negeri (pasal 11 ayat 1).2. 3).

Berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok. b. meninggalnya salah satu pihak. Pewarisan.2. Novasi. Bilamana pelaksanaan perjanjian tersebut dialitugaskan pada pihak ketiga dengan persetujuan pihak yang melakukan perjanjian arbitrase tersebut. bangkrutnya salah satu pihak. Insolvensi salah satu pihak. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. I. d. f. Pasal 10. BRW/FHUA/2007 115 . c. Perjanjian arbitrase TIDAK MENJADI BATAL disebabkan keadaan tersebut di bawah ini : a. Berlakunya syarat2 hapusnya perikatan pokok. g. atau h. e.

bukankah batalnya perjanjian pokok maka secara otomatis menyebabkan batal pula perjanjian assessornya ? Ibaratnya perjanjian pokok sebagai ´lokomotipµ sedangkan perjanjian arbitrase sebagai ´gerbongµnya. khususnya menyangkut apa ´reasoningµ pengaturan dalam Pasal 10 huruf ´fµ dan huruf ´hµ. bahwa perjanjian arbitrase tidak batal karena berlakunya syarat2 hapusnya perikatan pokok serta berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok ??? Hal tersebut berkaitan dengan kedudukan perjanjian arbitrase yang bersifat ´assessorµ terhadap perjanjian pokoknya. Bukankah kedudukan perjanjian assessor mengikuti perjanjian pokoknya ? Dalam pengertian. Maka apabila lokomotipnya tidak jalan. apakah gerbongnya tetap jalan ? BRW/FHUA/2007 116 .KETIDAKBATALAN PERJANJIAN ARBITRASE : PASAL 10 ´fµ dan ´hµ UU 30/1999 Persoalan hukumnya adalah.

Prinsip ini merupakan ´pekecualianµ terhadap prinsip ´sidang terbuka untuk umumµ yang berlaku dalam proses peradilan. Prinsip ini merupakan daya tarik utama arbitrase dalam penyelesaian sengketa bisnis. obyek sengketa. substansi. proses. PRIVATE & CONFIDENTIAL : Pasal 27 : ´Semua pemeriksaan sengketa dilakukan secara tertutupµ. karena para pihak sejatinya tidak menginginkan publikasi terhadap persona.3. Terjadinya publikasi dikuatirkan justru dapat merugikan nama baik dan berbagai kepentingan para pihak lainnya. BRW/FHUA/2007 117 .

serta memberikan kesempatan yang sama kepada mereka untuk menggunakan hak dan kewajibannya dalam proses arbitrase. AUDI ET ALTERAM PARTEM : Pasal 29 : Para pihak yang bersengketa mempunyai hak & kesempatan yg sama dalam mengemukakan pendapat dalam proses arbitrase (audi et alteram partem). BRW/FHUA/2007 118 .4. Hal ini merupakan wujud prinsip keadilan dan keseimbangan (justice & fairness) dalam proses arbitrase. Arbitrator/Majelis arbitrase wajib mendengar keterangan para pihak yang bersengketa. Prinsip ini juga merupakan prinsip umum penyelenggaraan Peradilan pada umumnya.

LIMITASI WAKTU PROSES ARBITRASE Proses arbitrase dibatasi waktu paling lama 180 hari sejak arbiter atau majelis arbitrase terbentuk (ps. 38 ayat 2 jo. Sebaliknya ketika telah bersedia ditunjuk sebagai arbiter. BRW/FHUA/2007 119 . seorang calon arbiter harus mengukur kemampuannya apakah sanggup menyelesaikan sengketa dalam koridor waktu yang telah ditentukan. Ps. Perpanjangan waktu oleh arbiter atau majelis arbitrase dapat dilakukan atas persetujuan para pihak (ps. Oleh karena itu. 48 ayat 1). arbiter dapat dihukum untuk mengganti biaya kerugian yang diakibatkan karena keterlambatan tersebut kepada para pihak (Pasal 21). 33). maka ia harus melakukan manajemen waktu sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. SANKSI : dalam hal arbiter atau majelis arbitrase tanpa alasan yang sah dalam tidak memberikan putusan dalam jangka waktu yang telah ditentukan.5.

5.LIMITASI WAKTU PROSES ARBITRASE
CATATAN : dibandingkan dengan proses peradilan, maka secara teoritis maupun secara normatif waktu dalam proses arbitrase relatif lebih cepat. Selain dibatasi dalam waktu 180 hari, juga putusannya bersifat final & binding. Sedangkan terhadap putusan Pengadilan masih terbuka dimohonkan banding dan kasasi. Apabila diperlukan penambahan waktu, maka harus ada persetujuan para pihak, oleh karena hal itu akan berdampak pada bertambahnya biaya-biaya yang biayaharus ditanggung oleh para pihak.
BRW/FHUA/2007 120

Perpanjangan Waktu Proses Arbitrase (Ps. 33 UU 30/1999);
Arbitrator/majelis arbitrase berwenang memperpanjang jangka waktu tugasnya apabila : diajukan permohonan oleh salah satu pihak mengenai hal khusus tertentu atau sebagai akibat ditetapkan putusan provisionil atau putusan sela lain nya; atau memang dianggap perlu oleh arbiter atau majelis arbitrase untuk kepentingan pemeriksaan. Perpanjangan waktu diperlukan, mengingat kompleksitas perkara yang diperiksa, sehingga tidak meungkinkan diputus dalam waktu 180 hari. Namun perpanjangan waktu tetap harus mendapatkan persetujuan para pihak berperkara, mengingat perpanjangan waktu beresiko pada biaya-biaya yang harus biayadipikul para pihak berperkara itu sendiri.
BRW/FHUA/2007 121

ACARA ARBITRASE
Secara umum, prosedur dan proses beracara di forum arbitrase (UU 30/1999) memiliki berbagai kesamaan dengan beracara di forum peradilan (HIR atau RBG). Kecuali hal2 tertentu yang memang merupakan ciri khas arbitrase, antara lain berlakunya prinsip otonomi para pihak untuk memilih forum, memilih hukum, memilih bahasa, memilih arbiter, prinsip private & confidential, prinsip final & binding putusan arbitrase, prinsip resiprositas, eksekutabilitas putusan arbitrase internasional, dll.
BRW/FHUA/2007 122

ACARA ARBITRASE (1) (pasal 27 s/d 51) 
  

Pemeriksaan sengketa dilakukan secara tertutup (ps. 27). Bahasa yg digunakan dalam proses arbitrase adalah Bahasa indonesia, kecuali digunakan bahasa lain (ps.28). Para pihak memiliki hak dan kesempatan yg sama dalam mengemukakan pendapat masing2 (ps. 29 ayat 1). Para pihak yang bersengketa dapat diwakili kuasa dengan surat kuasa khusus (ps. 29 ayat 2);
BRW/FHUA/2007 123

apabila terdapat kepent yg terkait. Para pihak dapat sepakat memilih acara arbitrase. arbitrase dapat turut serta kemenggabungkan diri dalam proses arbitrase. maka acara arbitrase diselenggarakan menurut UU 30/1999 (ps. dan disepakati para pihak yg bersengketa. 30). BRW/FHUA/2007 124 . Apabila para pihak tidak menentukan sendiri acara arbitrase. serta disetujui arbitrator atau majelis arbitrator (ps.ACARA ARBITRASE (2) Pihak ke-3 di luar perj. Para pihak dalam perjanjian yang tegas & tertulis bebas menentukan acara arbitrase. sepanjang tidak bertentangan dg UU 30/1999 (ps. maka harus ada kesepakatan tentang jangka waktu dan tempat arbitrase (ps. 31 ayat 1). 31 ayat 2).31 ayat 3).

Pasal 32 ayat (2) : Jangka waktu pelaksanaan putusan provisionil atau putusan sela lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dihitung dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. Penjelasan Pasal 32 : cukup jelas. termasuk penetapan sita jaminan. arbiter atau majelis arbitrase dapat mengambil putusan provisionil atau putusan sela lainnya untuk mengatur ketertiban jalannya pemeriksaan sengketa.ACARA ARBITRASE (3) Pasal 32 ayat (1) : Atas permohonan salah stau pihak. BRW/FHUA/2007 125 . memerintahkan penitipan barang kepada pihak ketiga. atau menjual barang yang mudah rusak.

atau penjualan barang yang mudah rusak. penitipan barang kepada pihak ketiga. Adapun jangka waktu pelaksanaan ayat (1). termasuk sita jaminan. diluar jangka waktu 180 hari tersebut.ACARA ARBITRASE (4) CATATAN : KataKata-kata ´dapatµ pada Pasal 32 ayat (1) menunjuk kan bahwa arbiter atau majelis arbitrase secara tentative dapat mengabulkan atau menolak permohonan provisionil. atau putusan sela. Dengan kata lain. yang diajukan pihak berperkara. tidak dihitung dalam jangka waktu 180 hari proses arbitrase sebagaimana dimaksud Pasal 48. BRW/FHUA/2007 126 . Hal tersebut bergantung pada alasan dan urgensi permohonan yang diajukan oleh pemohon.

Penjelasan Pasal 34 ayat (2) : memberikan kebebasan kepada para pihak untuk memilih peraturan dan acara yang akan digunakan dalam penyelesaian sengketa antara mereka. Pasal 34 ayat (2) : Penyelesaian sengketa melalui lembaga arbitrase sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan menurut peraturan dan acara lembaga yang dipilih kecuali ditetapkan lain oleh para pihak.ACARA ARBITRASE (5) Pasal 34 ayat (1) : Para pihak berdasarkan kesepakatan dapat menyelesaikan sengketa melalui arbitrase nasional atau arbitrase internasional. BRW/FHUA/2007 127 . tanpa harus mempergunakan peraturan dan acara dari lembaga arbitrase yang dipilih.

BRW/FHUA/2007 128 . (Vide Pasal 28).ACARA ARBITRASE (6) Pasal 35 : Arbiter atau majelis arbitrase dapat memerintahkan agar setiap dokumen atau bukti disertai dengan terjemahan ke dalam bahasa yang ditetapkan oleh arbiter atau majelis arbitrase. CATATAN : Terkait dengan kemungkinan dokumen atau bukti yang diajukan ditulis dalam bahasa berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam proses arbitrase.

ACARA ARBITRASE (7) Pasal 36 ayat (1) : Pemeriksaan arbitrase terhadap sengketa harus dilakukan secara tertulis. BRW/FHUA/2007 129 . dimaksudkan agar proses jawab menjawab terdokumentasikan dalam berkas perkara. repik. duplik. Pasal 36 ayat (2) : Pemeriksaan secara lisan dapat dilakukan apabila disetujui para pihak atau dianggap perlu oleh arbiter atau majelis arbitrase. dstnya. kesimpulan. CATATAN : Pada umumnya proses arbitrase berlangsung secara tertulis. Mirip dengan proses peradilan perdata melalui proses jawab jinawab.

apakah pertemuan dengan saksi tersebut dimaksudkan dalam konteks pemeriksaan perkara ? BRW/FHUA/2007 130 . atau mengadakan pertemuan dengan saksi diluar tempat arbitrase diadakan. Ayat (2) : Arbiter atau majelis arbitrase dapat mendengar keterangan saksi atau mengadakan pertemuan yang dianggap perlu pada tempat tertentu diluar tempat arbitrase diadakan. CATATAN : Norma pada ayat (1) : para pihak berhak memilih dan menentukan tempat arbitrase.ACARA ARBITRASE (8) Pasal 37 Ayat (1) : Tempat arbitrase ditentukan arbiter atau majelis arbitrase. Tidak jelas. namun apabila hal itu tidak dilakukan maka arbiter atau majelis arbitrase yang memilih dan menentukannya. Norma pada ayat (2) : arbiter atau majelis arbitrase mendengar langsung keterangan saksi. kecuali ditentukan sendiri oleh para pihak.

memberikan keterangan yang benar sesuai pengetahuan dan pendengarannya sendiri (saksi fakta). atau sesuai dengan pengalaman dan keahliannya (saksi ahli).30/1999. diselenggarakan menurut ketentuan dalam hukum acara perdata. Ayat (4). atau atas permohonan pihak bersengketa. Arbiter atau majelis arbitrase dapat mengadakan pemeriksaan setempat atas barang yang dipersengketakan atau hal lain yang berhubungan dengan sengketa yang sedang diperiksa««. BRW/FHUA/2007 131 .ACARA ARBITRASE (9) Pasal 37 ayat (3) : Pemeriksaan saksi dan saksi ahli dihadapan arbiter atau majelis arbitrase.. di tempat dimana barang sengketa berada. mengangkat sumpah. CATATAN : Norma ayat (3) : Menurut Hukum Acara Perdata (HIR) jo. saksi wajib datang.µ. Norma ayat (4) : pemeriksaan setempat dilakukan atas inisiatif arbiter atau majelis arbitrase. Pasal 49 ayat (3) UU No.

BRW/FHUA/2007 132 . > uraian singkat sengketa disertai lampiran bukti2.ACARA ARBITRASE (10) Pasal 38 ayat (1) : Dalam jangka waktu yang ditentukan oleh arbiter atau majelis arbitrase. Tuntutan diajukan secara tertulis minimal harus memuat identitas para pihak bersengketa. > isi tuntutan yang jelas. Ayat (2) : Surat tuntutan minimal harus memuat : > nama lengkap & tempat tinggal atau tempat kedudukan para pihak. posita (fundamentum petendi) maupun petitum (tuntutan yang diajukan). pemohon harus menyampaikan surat tuntutannya kepada arbiter atau majelis arbitrase. Catatan : Hal tersebut mirip dengan format dan substansi surat gugatan dalam proses peradilan perdata.

yang di tetapkan paling lama 14 hari terhitung mulai dikeluarkannya perintah itu. arbiter atau ketua majelis arbitrase memerintahkan agar para pihak atau kuasanya menghadap sidang arbitrase. arbiter atau ketua majelis arbitrase menyampaikan satu salinan tuntutan tersebut kepada Termohon. BRW/FHUA/2007 133 . atas perintah arbiter atau ketua majelis arbitrase. Pasal 40 ayat (1) : Segera setelah diterimanya jawaban dari Termohon.ACARA ARBITRASE (11) Pasal 39 : Setelah menerima surat tuntutan dari pemohon. disertai dengan perintah bahwa Termohon harus menanggapi dan memberikan jawaban tertulis paling 14 hari sejak diterimanya salinan tuntutan tersebut oleh termohon. Ayat (2) : Bersamaan dengan itu. salinan jawaban tersebut diserahkan kepada Pemohon.

ACARA ARBITRASE (12) CATATAN : Norma yang terkandung dalam Pasal 39 dan 40 : jawaban Termohon atas tuntutan Pemohon. Kemudian arbiter atau majelis arbitrase menyerahkan jawaban Termohon kepada Pemohon. BRW/FHUA/2007 134 . dibatasi paling lama 14 hari sejak menerima salinan tuntutan tersebut. Selanjutnya arbiter atau majelis arbitrase memerintahkan para pihak atau kuasanya agar hadir dalam sidang arbitrase paling lama 14 hari terhitung mulai dikeluarkannya perintah itu.

ACARA ARBITRASE (13) Pasal 41 : Dalam hal Termohon setelah lewat 14 hari tidak menyampaikan jawabannya. apabila Termohon tanpa alasan yang sah tidak menyampaikan jawabannya dalam waktu 14 hari. Catatan : Norma yang terkandung dalam Pasal 41. termohon akan dipanggil dengan ketentuan dalam Pasal 40 ayat (2). maka Termohon akan dipanggil lagi menghadap sidang dalam waktu paling lama 14 hari terhitung mulai hari dikeluarkan perintah itu. BRW/FHUA/2007 135 .

BRW/FHUA/2007 136 . CATATAN Subtansi ketentuan tersebut mirip dengan proses peradilan perdata di Pengadilan. Terhadap tuntutan balasan/rekonpensi diperiksa dan diputus oleh arbiter atau majelis arbitrase bersama-sama bersamadengan pokok perkara.ACARA ARBITRASE (14) Pasal 42 : Termohon dalam sidang pertama dapat mengajukan tuntutan balasan/ rekonpensi.

Maka tuntutan Pemohon dinyatakan gugur dan tugas arbiter atau majelis arbitrase dianggap selesai. Proses perkara dihentikan. sedangkan telah dipanggil secara patut. maka Pemohon dianggap tidak serius dalam tuntutannya. surat tuntutannya dinyatakan gugur dan tugas arbiter atau majelis arbitrase dianggap selesai.ACARA ARBITRASE (15) Pasal 43 : Apabila pada hari yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) Pemohon tanpa suatu alasan yang sah tidak datang menghadap. CATATAN : Norma pasal 43 : Pemohon tanpa alasan sah tidak datang menghadap sidang meskipun telah dipanggil secara patut. BRW/FHUA/2007 137 .

ACARA ARBITRASE (16)
Pasal 44 ayat (1) : Apabila pada hari yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2), Termohon tanpa suatu alasan sah tidak datang menghadap, sedangkan termohon telah dipanggil secara patut, arbiter atau majelis arbitrase segera melakukan pemanggilan sekali lagi. Ayat (2) : Paling lama 10 hari setelah pemanggilan kedua diterima termohon dan tanpa alasan sah termohon juga tidak datang menghadap di muka persidangan, pemeriksaan akan diteruskan tanpa hadirnya termohon dan tuntutan pemohon dikabulkan seluruhnya, kecuali jika tuntutan tidak beralasan atau tidak berdasarkan hukum. CATATAN ; Norma yang terkandung, Termohon tanpa alasan sah dianggap mengabaikan panggilan sidang, oleh karena itu sidang dilanjutkan tanpa kehadiran Termohon. Arbiter atau Majelis Arbitrase dalam putusannya (Verstek) akan mengabulkan tuntutan Pemohon, kecuali apabila tuntutan Pemohon tidak beralasan atau tidak berdasarkan hukum. Hal ini mirip dengan proses peradilan perdata di Pengadilan Negeri.
BRW/FHUA/2007 138

ACARA ARBITRASE (17)
Pasal 45 ayat (1) : dalam hal para pihak datang menghadap pada hari yang telah ditetapkan, arbiter atau majelis arbitrase terlebih dahulu mengusahakan perdamaian antara para pihak yang bersengketa. Ayat (2) : dalam hal usaha perdamaian tercapai, maka arbiter atau majelis arbitrase membuat suatu akta perdamaian yang final dan mengikat para pihak dan memerintahkan para pihak untuk memenuhi ketentuan perdamaian tersebut. Catatan : Sebagaimana dalam peradilan perdata, maka penyelesaian damai harus dikedepankan. Apabila para pihak berhasil didamaikan, maka sengketa dinyatakan selesai, para pihak diperintahkan menjalankan akta perdamaian yang bersifat final dan mengikat. Kalau perdamaian di muka Pengadilan para pihaklah yang menyusun dan menandatangani akta perdamaian, namun pada perdamaian di muka arbitrase yang membuat akta perdamaian adalah arbiter atau majelis arbitrase.
BRW/FHUA/2007 139

ACARA ARBITRASE (18)
Pasal 46 ayat (1) : Pemeriksaan terhadap pokok perkara dilanjutkan apabila usaha perdamaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1) tidak berhasil. Ayat (2) : Para pihak diberi kesempatan terakhir kali untuk menjelaskan secara tertulis pendirian masing2 serta mengajukan bukti yang dianggap perlu untuk menguatkan pendiriannya dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh arbiter atau majelis arbitrase. Ayat (3) : Arbiter atau majelis arbitrase berhak meminta kepada para pihak untuk mengajukan penjelasan tambahan secara tertulis, dokumen atau bukti lainnya yang dianggap perlu dalam jangka waktu yang ditentukan arbiter atau majelis arbitrase. CATATAN : Norma yang terkandung Pasal 46, apabila perdamaian tidak berhasil, maka persidangan tetap dilanjutkan dengan memberikan kesempatan kepada para pihak untuk menjelaskan pendirian masing2 disertai bukti yang dipandang perlu.
BRW/FHUA/2007 140

ACARA ARBITRASE (19)
Pasal 47 ayat (1) : Sebelum ada jawaban dari Termohon, Pemohon dapat mencabut surat permohonan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase. Ayat (2) : Dalam hal sudah ada jawaban dari Termohon, perubahan atau penambahan surat tuntutan hanya diperbolehkan dengan persetujuan Termohon dan sepanjang perubahan atau penambahan itu menyangkut hal-hal yang bersifat fakta saja dan tidak menyangkut dasar haldasar hukum yang menjadi dasar permohonan. CATATAN Norma yang terkandung pada ayat (1), pencabutan tuntutan dapat dilakukan secara sepihak oleh Pemohon sepanjang belum ada jawaban Termohon. Norma ayat (2) : Apabila Termohon sudah mengajukan jawabannya, maka pencabutan tuntutan oleh Pemohon tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan termohon. Perubahan dan penambahan tuntutan hanya diperbolehkan apabila hanya menyangkut fakta, bukan menyangkut dasar hukum permohonan.

BRW/FHUA/2007

141

CATATAN : Norma yang terkandung ayat (1) merupakan prinsip limitasi waktu. Norma yang terkandung ayat (2) membuka kemungkinan perpanjangan waktu. Ayat (2) : dengan persetujuan para pihak dan apabila diperlukan sesuai ketentuan pasal 33. Karena perpanjangan waktu akan berdampak bagi para pihak itu sendiri. Mengandung prinsip efisiensi penggunaan waktu. artinya putusan arbitrase harus dijatuhkan dalam waktu 180 hari terhitung sejak arbiter atau majelis arbitrase terbentuk.ACARA ARBITRASE (20) Pasal 48 ayat (1) : Pemeriksaan atas sengketa harus diselesaikan dalam waktu paling lama 180 hari sejak arbiter atau majelis arbitrase terbentuk. biaya- BRW/FHUA/2007 142 . baik dari segi waktu maupun biaya-biaya. jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diperpanjang. dengan catatan hal itu sebelumnya telah disetujui oleh para pihak bersengketa.

saksi atau saksi ahli dihadirkan atas perintah arbiter/majelis arbitrase atau permintaan para pihak bersengketa.ACARA ARBITRASE (21) Pasal 49 ayat (1) : Atas perintah arbiter atau majelis arbitrase atau atas permintaan para pihak dapat dipanggil seorang saksi atau lebih atau seorang saksi ahli atau lebih untuk didengar keterangan. para saksi atau saksi ahli wajib mengucapkan sumpah. Ayat (2) : Biaya pemanggilan dan perjalanan saksi dan saksi ahli dibebankan kepada pihak yang meminta. Saksi dan saksi ahli wajib mengucapkan sumpah sebelum memberikan keterangan di muka sidang arbitrase. Biaya pemanggilan saksi menjadi kewajiban pihak yang meminta. Ayat (3) : sebelum memberikan keterangan. BRW/FHUA/2007 143 . CATATAN : Norma yang terkandung Pasal 49.

Ayat (2) : Para pihak wajib memberikan keterangan yang diperlukan oleh para saksi ahli. saksi ahli yang bersangkutan dapat didengar keterangannya di muka sidang arbitrase dengan dihadiri oleh para pihak atau kuasanya. atas permintaan para pihak yang berkepentingan. Ayat (4) : Apabila terdapat hal yang kurang jelas.ACARA ARBITRASE (22) Pasal 50 ayat (1) : Arbiter atau majelis arbitrase dapat meminta bantuan seorang atau lebih saksi ahli untuk memberikan keterangan tertulis mengenai suatu persoalan khusus yang berhubungan dengan pokok sengketa. BRW/FHUA/2007 144 . Ayat (3) : Arbiter atau majelis arbitrase meneruskan salinan keterangan saksi ahli tersebut kepada para pihak agar dapat ditanggapi secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.

Ayat 2 mengandung norma. bahwa dalam proses peradilan. bahwa para pihak wajib memberikan keterangan yang diperlukan saksi ahli. BRW/FHUA/2007 145 . bahwa arbiter atau majelis arbitrase secara tentative dapat meminta ´legal opinionµ kepada saksi ahli mengenai suatu persoalan khusus terkait pokok sengketa. Hal ini bedanya dengan proses peradilan. pihak yang meminta keterangan kepada saksi ahli adalah pihak berperkara.ACARA ARBITRASE (23) CATATAN Pasal 50 : Ayat (1) mengandung norma.

maka saksi ahli yang bersangkutan dapat didengar keterangannya di muka sidang. Ayat (4) mengandung norma. atas permintaan pihak berkepentingan.ACARA ARBITRASE (24) CATATAN Pasal 50 : Ayat (3) mengandung norma. para pihak bersengketa diberikan kesempatan menanggapi secara tertulis terhadap ´legal opinionµ yang telah diberikan oleh saksi ahli. dengan dihadiri para pihak atau kuasanya. apabila terdapat hal yang kurang jelas menyangkut ´legal opinionµ tersebut. dapat meminta konfirmasi atas ´legal opinionµ saksi ahli tersebut. dalam sidang. BRW/FHUA/2007 146 . Para pihak bersengketa. melalui arbiter atau majelis arbitrase.

hal itu tidak saja berfungsi sebagai dokumentasi pemeriksaan perkara. Fungsi berita acara arbitrase sangat penting.ACARA ARBITRASE (25) Pasal 51 : ´Terhadap kegiatan dalam pemeriksaan dan sidang arbitrase dibuat berita acara pemeriksaan oleh sekretarisµ. melainkan juga sebagai bahan bagi arbiter atau majelis arbitrase dalam membuat putusan. CATATAN : Ketentuan tersebut mengandung norma. bahwa sekretaris (panitera) berkewajiban untuk mencatat dan membuat berita acara tentang jalannya kegiatan pemeriksaan maupun sidang arbitrase. BRW/FHUA/2007 147 .

BRW/FHUA/2007 148 . 52).PENDAPAT MENGIKAT DAN PUTUSAN ARBITRASE BERSIFAT FINAL & BINDING Para pihak dalam suatu perjanjian arbitrase berhak untuk memohon pendapat mengikat (bindend advies/binding opinion) dari lembaga arbitrase atas hubungan hukum tertentu dari suatu perjanjian (Ps. 53). Terhadap pendapat yang mengikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 52 tidak dapat dilakukan perlawanan melalui upaya hukum (Ps.

Penjelasan Pasal 52, mengenai Pendapat Mengikat.
Tanpa adanya suatu sengketapun, lembaga arbitrase dapat menerima permintaan yang diajukan oleh para pihak dalam suatu perjanjian, untuk memberikan suatu pendapat yang mengikat (binding opinion) mengenai suatu persoalan (binding opinion) berkenaan dengan perjanjian tersebut. Misalnya penafsiran ketentuan yang berhubungan dengan timbulnya keadaan baru dan lain2. CATATAN : Dengan telah diberikannya pendapat oleh lembaga arbitrase tersebut, maka kedua belah pihak terikat padanya. Oleh karena itu wajib mentaati. Apabila salah satu pihak bertindak bertentangan dengan pendapat mengikat tersebut akan dianggap sebagai tindakan yang melanggar perjanjian. Persoalannya apakah ´pendapat mengikatµ memiliki kekuatan eksekutorial ?
BRW/FHUA/2007 149

PUTUSAN ARBITRASE (1)
Pasal 54 ayat (1), harus memuat : a. Kepala putusan yang berbunyi ´Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esaµ; b. Nama lengkap dan alamat para pihak; c. Uraian singkat sengketa; d. Pendirian para pihak; e. Nama lengkap dan alamat arbiter; f. Pertimbangan dan kesimpulan arbiter atau majelis arbitrase mengenai keseluruhan sengketa; g. pendapat tiap-tiap arbiter dalam hal terdapat perbedaan pendapat dalam tiapmajelis arbitrase; h. amar putusan; i. tempat dan tanggal putusan; j. tanda tangan arbiter atau majelis arbitrase.
BRW/FHUA/2007 150

PUTUSAN ARBITRASE (2)
Pasal 54 ayat (2) : ´Tidak ditandatanganinya putusan arbitrase oleh salah seorang arbiter dengan alasan sakit atau meninggal dunia tidak mempengaruhi kekuatan berlakunya putusanµ; Pasal 54 ayat (3) : ´Alasan tentang tidak adanya tandatangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus dicantumkan dalam putusanµ Pasal 54 ayat (4) : ´Dalam putusan ditetapkan suatu jangka waktu putusan tersebut harus dilaksanakanµ.
BRW/FHUA/2007 151

PUTUSAN ARBITRASE (3)
CATATAN : Pasal 54 ayat (1), mengandung norma yang bersifat memaksa (dwingend), dalam pengertian bahwa semua unsur harus termuat dalam putusan arbitrase. Secara umum unsur2 tersebut mirip dengan unsur2 dalam putusan Pengadilan. Kecuali unsur ´eµ, tentang alamat arbiter yang juga harus dicantumkan dalam putusan arbitrase. Pasal 54 ayat (2) dan (3), mengandung norma, bahwa meskipun salah seorang arbiter karena sakit atau meninggal dunia sehingga tidak mampu menandatangani putusan arbitrase, namun hal itu tidak mengurangi kekuatan berlaku putusan arbitrase. Namun dalam putusan tetap harus dicantumkan alasan tidak ditandatanganinya putusan tersebut.
BRW/FHUA/2007 152

bahwa sidang pembacaan putusan arbitrase ditetapkan oleh arbiter atau majelis arbitrase setelah proses pemeriksaan perkara telah dinyatakan selesai. yakni maksimal 30 hari setelah pemeriksaan ditutup. Catatan : Ketentuan ini mengandung norma. Pasal 57 : ´Putusan diucapkan dalam waktu paling lama 30 hari setelah pemeriksaan ditutupµ.PUTUSAN ARBITRASE (4) Pasal 55 : ´Apabila pemeriksaan sengketa telah selesai. BRW/FHUA/2007 153 . pemeriksaan segera ditutup dan ditetapkan hari sidang untuk mengucapkan putusan arbitraseµ jo.

Dissenting opinion merupakan wujud demokratisasi dan transparansi proses pengambilan putusan. dimana masingmasingmasing arbiter memiliki kedudukan. Putusan arbitrase dapat dijatuhkan secara aklamasi. Putusan arbitrase yang dijatuhkan berdasarkan voting harus memuat pendapat arbiter (minoritas) yang melakukan pendapat berbeda (dissenting opinion).DISSENTING OPINION Ps. BRW/FHUA/2007 154 . maka putusan dijatuhkan melalui voting. Pemuatan dissenting opinion dalam putusan arbitrase sekaligus merupakan pertanggungjawaban kualitas arbiter maupun kualitas putusan arbitrase. maupun hak dan kewajiban yang setara antara satu dengan yang lain. 54 (1) huruf ´gµ. namun apabila terjadi perbedaan pendapat diantara arbiter. peran.

 Ayat (2) : ´Para pihak berhak menentukan pilihan hukum yang akan berlaku terhadap penyelesaian sengketa yang mungkin atau telah timbul antara para pihakµ.PUTUSAN BERDASARKAN HUKUM ATAU EX AEQUO ET BONO.  Ps. BRW/FHUA/2007 155 . atau berdasarkan keadilan dan kepatutan. 56  Ayat (1) : Arbiter atau majelis arbitrase mengambil putusan berdasarkan ketentuan hukum.

BRW/FHUA/2007 156 . atau hukum yang dipilih/digunakan oleh arbiter. Penerapan hukum atau ex aequo et bono harus didasarkan pada perjanjian yang dibuat oleh para pihak telebih dahulu. yakni hukum di tempat arbitrase diadakan (bila para pihak tidak melakukan pilihan hukum). kecuali hukum yang bersifat memaksa (dwingend recht) tidak dapat disimpangi.PUTUSAN BERDASARKAN HUKUM ATAU EX AEQUO ET BONO. melainkan harus tetap diterapkan dalam putusan. Penerapan ex aequo et bono dalam putusan arbitrase mengenyampingkan penerapan peraturan perundangperundangundangan. Catatan : Yang dimaksud dengan putusan berdasarkan ´hukumµ adalah hukum pilihan para pihak (bila ada pilihan hukum).

Kalau pada proses peradilan. selain harus diperjanjian. BRW/FHUA/2007 157 . juga diajukan secara alternatif. petitum primer dan petitum subsider dapat diajukan secara simultan . yakni petitum primer (berisi sejumlah tuntutan).  CATATAN : Mirip dengan proses peradilan perdata di Pengadilan. serta petitum subsider berdasarkan keadilan dan kepatutan (ex aequo et bono).kumulatif. Penggugat dalam gugatannya secara sepihak dapat mengajukan petitum yang bersifat alternatif.PUTUSAN BERDASARKAN HUKUM ATAU EX AEQUO ET BONO. Adapun pada proses arbitrase. apakah putusan berdasarkan peraturan perundangperundang-undangan atau berdasarkan e x qequo et bono.

para pihak dapat mengajukan permohonan kepada arbiter atau majelis arbitrase untuk melakukan koreksi terhadap kekeliruan administratif dan atau menambah atau mengurangi sesuatu tuntutan putusanµ. BRW/FHUA/2007 158 . sudah tidak mungkin lagi dimohonkan penambahan atau pengurangan tuntutan. CATATAN : Ketentuan ini mengandung norma.KOREKSI PUTUSAN ARBITRASE Pasal 58 : ´Dalam waktu paling lama 14 hari setelah putusan diterima. maka hal itu mungkin saja dikoreksi melalui renvooi putusan. terhadap putusan yang telah dibacakan dalam sidang. Berbeda dengan peradilan perdata. bahwa terhadap putusan arbitrase yang sudah diterima masih terbuka kemungkinan diajukan permohonan koreksi atas kekeliruan administratif maupun untuk menambah atau mengurangi tuntutan putusan. Kecuali apabila terjadi kekeliruan adimistratif yang bersifat redaksional.

lembar asli atau salinan otentik putusan diserahkan dan didaftarkan oleh arbiter atau kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeriµ. dan catatan tersebut merupakan akta pendaftaranµ. Ayat (2) : ´Penyerahan dan pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan pencatatan dan penandatanganan pada bagian akhir atau dipinggir putusan oleh Panitera Pengadilan Negeri dan arbiter atau kuasanya yang menyerahkan. BRW/FHUA/2007 159 .PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL Pasal 59 Ayat (1) : ´Dalam waktu paling lama 30 hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan.

Ayat (4) : ´Tidak dipenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). ayat (4) bersifat imperatif. Atas kelalaian arbiter atau majelis arbitrase atau kuasanya tersebut. berakibat putusan tidak dapat dilaksanakan. maka pihak yang menang dalam putusan jelas akan merasa sangat dirugikan. Ayat (5) : ´Semua biaya yang berhubungan dengan pembuatan akta pendaftaran dibebankan kepada para pihakµ. Catatan : Norma yang terkandung ayat (1) jo.PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL Ayat (3) : ´Arbiter atau kuasanya wajib menyerahkan putusan dan lembar asli pengangkatan sebagai arbiter atau salinan otentiknya kepada Panitera Pengadilan Negeriµ. bila dilanggar maka putusan arbitrase menjadi non eksekutabel. BRW/FHUA/2007 160 .

Dalam hal para pihak tidak melaksanakan putusan arbitrase secara sukarela. BRW/FHUA/2007 161 .FINAL & BINDING PUTUSAN ARBITRASE Putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak (ps. secara teoritis. Karena itu. proses arbitrase lebih cepat dan efisien dibandingkan dengan proses peradilan.61).60). Tidak terdapat proses banding atau kasasi sebagaimana proses peradilan perdata. CATATAN : Putusan arbitrase memiliki kekuatan final & mengikat sejak dibacakan dan diberitahukan kepada pihak-pihak berperkara. putusan dilaksanakan berdasarkan PERINTAH KETUA PENGADILAN NEGERI atas permohonan salah satu pihak yang bersengketa (ps. pihakPutusan arbitrase merupakan putusan tingkat satu-satunya dan satuterakhir.

arbiter. maka Ketua Pengadilan Negeri atas permohonan pihak berperkara. bahasa dll. berwenang memerintahkan eksekusi putusan arbitrase. mengingat para pihaklah yang memilih forum arbitrase. Namun apabila putusan arbitrase tidak dijalankan secara sukarela. tempat.CATATAN Pasal 60 & 61 Idealnya suatu putusan arbitrase dijalankan secara sukarela disertai itikad baik oleh pihak yang dikalahkan. serta memahami sifat ´final & bindingµnya putusan arbitrase. hukum. BRW/FHUA/2007 162 .

melalui permohonan yang diajukan oleh para pihak. putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa.PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE (Pasal 70) Pasal 70 mengatur tentang dapat dibatalkannya putusan arbitrase. atau c. yang disembunyikan oleh pihak lawan. BRW/FHUA/2007 163 . diakui palsu atau dinyatakan palsu. dengan alasan putusan arbitrase mengandung unsur2 sebagai berikut : a. surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan. b. setelah putusan dijatuhkan. setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan.

BRW/FHUA/2007 164 . maka PUTUSAN PENGADILAN INI DAPAT DIGUNA KAN SEBAGAI DASAR PERTIMBANGAN BAGI HAKIM UNTUK MENGABULKAN ATAU MENOLAK PERMOHONAN. Alasanpermohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini HARUS DIBUKTIKAN dengan putusan pengadilan. Alasan-alasan PENGADILAN. Apabila pengadilan menyatakan bahwa alasan-alasan alasantersebut terbukti atau tidak terbukti.PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE Penjelasan Pasal 70 : Permohonan pembatalan HANYA DAPAT diajukan terhadap putusan arbitrase yang SUDAH DIDAFTARKAN DI PENGADILAN.

BRW/FHUA/2007 165 . namun mengapa pasal 70 justru membuka kemungkinan dapat dibatalkannya putusan arbitrase melalui Pengadilan Negeri ? Hal tersebut pada dasarnya menyangkut persoalan antara tuntutan ´kepastian hukumµ dan ´keadilanµ.CATATAN TERHADAP PASAL 70 Apakah terdapat ´konflik normaµ antara Pasal 60 tentang Asas Putusan Arbitrase bersifat Final & Binding dengan Pasal 70 tentang Asas ´Dapat Dibatalkannyaµ Putusan Arbitrase oleh Pengadilan Negeri berdasarkan alasan alasan limitatif tertentu ?. Pada satu pihak pasal 60 mengatur bahwa putusan arbitrase bersifat final & binding.

Mengingat terdapat kepentingan pihak lain i.233.c. Putusan Mahkamah Agung RI No. No. Pebruari 2005).G/2002 tanggal 27 Agustus 2002 (dimuat dalam Varia Peradilan. BRW/FHUA/2007 166 . Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. pihak yang menang dalam putusan arbitrase yang juga harus diberikan kesempatan untuk menjawab/menanggapi dalil-dalil dalil´permohonanµ a quo. Istilah tersebut sebagaimana digunakan dalam perkara antara Pertamina (Penggugat) vs Karaha Bodas Company (Tergugat) dan PLN (Turut Tergugat).86/Pdt. Lebih tepat sematadigunakan istilah gugatan pembatalan (contentiosa). Penggunaan istilah ´permohonanµ kurang tepat. bukan semata-mata bersifat voluntaria.CATATAN TERHADAP PASAL 70 Pasal 70 s/d 72 mengatur bahwa upaya hukum pembatalan putusan arbitrase diajukan dalam bentuk ´permohonanµ.c.01/BANDING / WASIT-INT/2002 WASITtanggal 8 Maret 2002 jo. oleh karena i.

maka Pemeriksaan Pengadilan terhadap permohonan pembatalan putusan arbitrase MENUNGGU putusan Pengadilan Pidana berkekuatan tetap. maka Pemeriksaan Pengadilan terhadap permohonan pembatalan putusan arbitrase dapat secara langsung dijalankan. Apabila menyangkut alasan ´aµ dan/atau ´cµ. Apabila menyangkut alasan ´bµ (Novum). permohonan pembatalan tidak dapat contrario. BRW/FHUA/2007 167 . diajukan sebelum putusan arbitrase telah didaftarkan secara resmi ke Pengadilan oleh arbiter atau kuasanya.CATATAN TERHADAP PASAL 70 Secara a contrario.

Padahal proses pidana mulai dari laporan polisi s/d putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap untuk membuktikan alasan Pasal 70 huruf ´aµ da/atau ´cµ tersebut memerlukan waktu bertahunbertahun-tahun. permohonan pembatalan putusan arbitrase memang didasarkan pada alasan2 dan bukti2 yang kuat. Namun. 6. BRW/FHUA/2007 168 . dengan alasan Pasal 70 huruf ´aµ dan/atau ´cµ. sehingga sifat ´final & bindingµ putusan arbitrase harus dipahami secara ´lenturµ dan ´kontekstualµ dengan alasan2 pembatalan dalam Pasal 70. Misalnya dengan membuat laporan pidana ke Polisi. yang sering terjadi permohonan pembatalan Putusan Arbitrase diajukan dengan ´itikad buruk Termohon Eksekusiµ yakni sekedar untuk ´mengganjalµ eksekusi putusan arbitrase ? Dengan alasan bahwa putusan arbitrase tersebut mengandung alasan2 pembatalan sebagaimana dimaksud Pasal 70 UU 30/1999. Secara kasuistis.CATATAN TERHADAP PASAL 70 5.

Ketua Pengadilan Negeri memiliki wewenang diskresioner untuk menangguhkan eksekusi atau tetap menjalankan eksekusi yang harus dipertimbangkan secara kasuistis (bukan generalisasi) dengan cermat dan hati-hati terhadap segala hatiresiko dan akibat hukum di kemudian hari dari penggunaan wewenang diskresionernya tersebut. Ataukah eksekusi putusan arbitrase tetap dijalankan meskipun terdapat permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan ke Pengadilan Negeri ? c. b.Bagaimana Ketua Pengadilan seharusnya menyikapi persoalan tersebut ? a.CATATAN TERHADAP PASAL 70 7. Apakah eksekusi ditangguhkan dengan alasan adanya permohonan pembatalan putusan arbitrase ? Jadi harus menunggu adanya putusan Pengadilan pidana berkekuatan tetap menyangkut Pasal 70 huruf ´aµ dan/atau ´cµ. BRW/FHUA/2007 169 .

BRW/FHUA/2007 170 .PROSEDUR PERMOHONAN PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE (Pasal 71) Pasal 71 : ´Permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan secara tertulis dalam waktu PALING LAMA 30 HARI terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeriµ. Konsekuensinya. rumusan redaksional ketentuan Pasal 71 harus dibaca secara tekstual sesuai dengan rumusannya. Penjelasan Pasal 71 : ´cukup jelasµ.

inisiatip siapakah penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase ke Pengadilan Negeri tersebut ? Bertolak dari Pasal 59 (1).CATATAN TERHADAP PASAL 71 Tenggang waktu 30 hari bersifat imperatif (harus). dianggap ´lampau waktuµ dan Pengadilan Negeri harus menyatakan permohonan pembatalan ´tidak dapat diterimaµ. BRW/FHUA/2007 171 . Pasal 67 (1) maka penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase merupakan kewajiban arbiter atau kuasanya. Persoalannya adalah. jo. Permohonan yang diajukan lewat 30 hari.

dimana yang mendafatrkan putusan arbitrase Jenewa bukan arbiter atau kuasanya. melainkan atas inisiatif pihak berperkara ? Apakah tindakan tersebut dilarang ? Periksa kasus Pertamina vs Karaha Bodas Company di Pengadilan Jakarta Pusat. selaku pihak yang berperkara dan dikalahkan dalam putusan Arbitrase Jenewa. melainkan kuasa hukum Pertamina.CATATAN TERHADAP PASAL 71 Persoalannya berikutnya adalah bagaimana apabila yang berinsiatif menyerahkan dan mendaftarkan putusan arbitrase itu bukan arbiter atau kuasanya. BRW/FHUA/2007 172 .

Ketua Pengadilan Negeri menentukan lebih lanjut akibat pembatalan seluruhnya atau sebagian putusan arbitrase. CATATAN : Ketua Pengadilan Negeri menentukan lebih lanjut akibat hukum pembatalan putusan arbitrase. bahwa yang berwenang membatalkan putusan arbitrase adalah Pengadilan Negeri di tempat kedudukan Termohon (Vide Pasal 1 ke.AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE Pasal 72 ayat (1) : Permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri. Pasal 72 ayat (2) : Apabila permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikabulkan. BRW/FHUA/2007 173 . CATATAN : Mengandung norma.4 UU ke30/1999).

Terhadap putusan Pengadilan Negeri dapat diajukan permohonan banding ke Mahkamah Agung yang memutus dalam tingkat pertama dan terakhir. CATATAN : . . Putusan atas permohonan pembatalan ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 hari sejak permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diterima.ayat 3 menetapkan norma terkait limitasi waktu (max 30 hari) bagi Ketua PN untuk memutus permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan Pemohon. (4). BRW/FHUA/2007 174 .AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE (3).ayat 4 menetapkan norma bahwa terbuka upaya banding ke MA (tingkat pertama & terakhir) terhadap putusan KPN atas permohonan pembatalan putusan arbitrase.

AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE (5). BRW/FHUA/2007 175 . CATATAN : mengandung norma terkait limitasi waktu (max 30 hari) bagi MA untuk memutus permohonan banding terhadap putusan KPN atas permohonan pembatalan putusan arbitrase. Mahkamah Agung mempertimbangkan serta memutuskan permohonan banding sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) dalam waktu paling lama 30 hari setelah permohonan banding tersebut diterima oleh Mahkamah Agung.

Ayat (4) : ´Yang dimaksud dengan ´bandingµ adalah hanya terhadap pembatalan putusan arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70. dan mengatur akibat dari pembatalan seluruhnya atau sebagian dari putusan arbitrase bersangkutan. BRW/FHUA/2007 176 . Ayat (2) : ´Ketua Pengadilan Negeri diberi wewenang untuk memeriksa tuntutan pembatalan jika diminta oleh para pihak.AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE Penjelasan Pasal 72. arbiter yang sama atau arbiter lain akan memeriksa kembali sengketa bersangkutan atau menentukan bahwa suatu sengketa tidak mungkin diselesaikan melalui arbitraseµ. (5) : cukup jelas. Ayat (1). Ketua Pengadilan Negeri dapat memutuskan bahwa setelah diucapkan pembatalan. (3).

apakah kewenangan pembatalan oleh Pengadilan Negeri meliputi putusan arbitrae nasional maupun arbitrase internasional ? Mengingat pasal 70 tidak secara tegas mengatur hal tersebut.OBYEK PEMBATALAN : PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL DAN/ ATAU PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL ? Timbul pertanyaan. Bertolak dari teori tersebut. BRW/FHUA/2007 177 . Adapun pembatalan putusan arbitrase internasional merupakan wewenang Pengadilan di negara dimana putusan arbitrase internasional itu dijatuhkan. berlaku ketentuan bahwa jurisdiksi pengadilan nasional terbatas di wilayah negara yang bersangkutan dan tidak berlaku di wilayah negara lain. Menurut teori jurisdiksi. maka kewenangan Pengadilan Negeri membatalkan putusan arbitrase terbatas hanya terhadap putusan arbitrase nasional yang bersangkutan.

OBYEK PEMBATALAN : PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL DAN/ ATAU PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL ? Periksa pertimbangan Putusan Mahkamah Agung RI No.G/2002 tanggal 27 Agustus 2002.01/BANDING/WASIT-INT/2002 tanggal 8 Maret 2002 jo. 233.01/BANDING/WASITNo. Yang berwenang Pengadilan di Negara dimana putusan arbitrase a quo dijatuhkan i. Pebruari 2005. madeµ BRW/FHUA/2007 178 . that award was madeµ (garis bawah oleh BRW).c. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dinyatakan tidak berwenang membatalkan putusan arbitrase Jenewa tersebut.or has been set aside or suspended by a competent authority of the country in which. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. Pengadilan Swiss. Dalam VARIA PERADILAN. or under the law of which. Pertimbangan didasarkan pada ketentuan Pasal V (1) (e) Konvensi New York 1958 bahwa : ´The award has not yet become binding on the parties. dalam perkara antara Pertamina (Penggugat) vs Karaha Bodas Company (Tergugat) dan PLN (Turut Tergugat). No.86/Pdt.

namun hal itu tidak irahdapat dipakai sebagai alasan untuk menolak memberikan pengakuan dan pelaksanaan. tidak mencantumkan irah-irah tersebut.RELIGIUSITAS PUTUSAN ARBITRASE DI INDONESIA. Eksekutorial putusan arbitrase. Oleh karena itu. meskipun suatu putusan Arbitrase Asing yang dimohonkan pengakuan dan pelaksanaannya di Indonesia. Putusan arbitrase di Indonesia harus memuat irah-irah : ´Demi irahKeadilan Berdasarkan Ketuhanan YMEµ (ps. Sebagai pertanggungjawaban etis religius arbiter/ majelis arbitrase kepada Tuhan YME terhadap putusan yang dijatuhkannya. Namun ketentuan tersebut tidak dapat diberlakukan untuk menilai putusan arbitrase asing yang dimohon kan pengakuan dan pelaksanaannya di Indonesia. BRW/FHUA/2007 179 . Irah2 memberikan kek. 54 ayat 1). Merupakan ciri khas arbitrase di Indonesia.

ps 11 ayat (2). BRW/FHUA/2007 180 . 11 ayat (2) secara imperatif mengatur tentang KETIDAKBERWENANGAN & LARANGAN CAMPUR TANGAN Pengadilan Negeri terhadap perkara yang oleh para pihak telah disepakati akan diselesaikan melalui Arbitrase. PN wajib menolak & tidak campur tangan di dalam peny. 3).NON INTERVENSI PENGADILAN PN tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase (ps. sengketa yg telah ditetapkan melalui arbitrase. CATATAN : Pasal 3 jo. KECUALI dalam hal hal tertentu yang ditetapkan dalam UU ini.

berdasarkan pasal 134 HIR. Apabila menyatakan berwenang mengadili maka pemeriksaan terhadap pokok perkara dilanjutkan. PN dalam putusan sela memutuskan apakah berwenang absolut mengadili atau tidak berwenang absolut mengadili. apabila salah satu pihak yang terikat dalam perjanjian arbitrase mengajukan perkara a quo ke PN. lebih dahulu wajib memeriksa kompetensi absolut atas perkara tsb. tanpa bergantung ada/tidaknya eksepsi Tergugat.NON INTERVENSI PENGADILAN Oleh karena itu. Apabila menyatakan tidak berwenang mengadili. PN menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (niet onvangkelijk verklaard) dan menghentikan pemeriksaan terhadap pokok perkara. BRW/FHUA/2007 181 . maka PN secara ´ex officioµ.

antara lain : PN berwenang menunjuk arbitrator (ps. PN berwenang mengeksekusi putusan arbitrase : > arbitrase nasional (ps. 15 ayat 4. ps 19 ayat 4).PN SEBAGAI ´SUPPORTING INSTITUTIONSµ TERHADAP PROSES ARBITRASE Peran PN sebagai ´state courtµ diperlukan untuk mengatasi ´kebuntuan proseduralµ yang mungkin terjadi dalam proses arbitrase. BRW/FHUA/2007 182 . 13. PN berwenang mengadili gugatan hak ingkar terhadap arbitrator (ps. 59 s/d 64). PN berwenang membatalkan putusan arbitrase berdasarkan alasan limitatif (ps. 14 ayat 3 dan 4. > arbitrase internasional (ps. 22 s/d 25). 70 s/d 72). ps. ps. 65 s/d 69).

Pasal 1 ke 4) Eksekusi Putusan Arbitrase Internasional merupakan wewenang Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (Vide Pasal 65). BRW/FHUA/2007 183 .EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL DAN INTERNASIONAL DI INDONESIA Eksekusi Putusan Arbitrase Nasional merupakan wewenang Ketua Pengadilan Negeri di tempat kedudukan Termohon Eksekusi (Vide Pasal 59 jo.

1 ke-4). keKewenangan eksekusi Putusan arbitrase internasional di Indonesia oleh PN Jakarta Pusat (ps. Bila putusan tidak dipenuhi sukarela. 65) jo. tempat. arbitrator. eksekusi dapat didelegasikan ke PN tempat kedudukan obyek sengketa. hukum.EKSEKUTABILITAS PUTUSAN ARBITRASE. Putusan arbitrase seharusnya dijalankan suka rela. 61 s/d 64 jo. Hukum acara eksekusi tidak diatur UU 30/1999. Secara teknis. karena para pihak berdasarkan perjanjian yang telah memilih forum (arbitrase). 61). ps. BRW/FHUA/2007 184 . bahasa. maka putusan arbitrase dapat dimohonkan eksekusinya melalui PN setempat (ps. Kewenangan eksekusi Putusan arbitrase nasional oleh PN tempat kedudukan termohon (ps. melainkan diatur dalam HIR/RIB atau RBG/RDS serta ketentuan lainnya. PERMA 1/1990.

dinilai oleh KPN tidak memenuhi syarat Ps. maka permohonan eksekusi ditolak. Untuk menghindarkan subyektifitas penilaian. Terhadap penolakan tersebut bersifat final dan tertutup upaya hukum apapun (ayat 3). CATATAN : Dalam persoalan ini. serta dinilai bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. kedudukan KPN sangat strategis dalam melakukan penilaian tersebut.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE KEDUDUKAN KPN BERSIFAT STRATEGIS Apabila putusan arbitrase yang dimohonkan eksekusi. BRW/FHUA/2007 185 . maka penolakan tersebut bersifat final dan menutup upaya hukum apapun. Mengingat apabila KPN menolak eksekusi putusan arbitrase dengan alasan bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. penilaian tsb hendaknya disertai argumentasi hukum yang cermat. 4 dan 5.

CATATAN : Norma yang terkandung dalam ketentuan tersebut.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE KEDUDUKAN KPN BERSIFAT STRATEGIS KPN tidak memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase (ayat 4). Kewenangan KPN sebatas apakah menerima ataukah menolak permohonan eksekusi putusan arbitrase. Karena itu. alasan dan pertimbangan putusan arbitrase merup ´ranah kompetensiµ arbiter atau majelis arbitrase. Artinya KPN tidak berwenang untuk memeriksa dan menilai substansi putusan arbitrase. KPN tidak wenang memeriksa alasan dan pertimbangan yang dipergunakan oleh arbiter atau majelis arbitrase dalam menjatuhkan putusannya. BRW/FHUA/2007 186 .

karena selain kedudukannya sebagai non state court. 61). juga tidak memiliki alat perlengkapan eksekusi (jurusita.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE Idealnya putusan arbitrase dijalankan dengan itikad baik dan secara sukarela oleh pihak bersengketa. BRW/FHUA/2007 187 . dll). pilihan bahasa. pilihan tempat. mengingat para pihaklah yang melakukan pilihan forum arbitrase. Apapun putusan arbitrase sepatutnya diterima secara lapang dada dan itikad baik oleh pihak bersengketa. Namun. pilihan hukum. khususnya pihak yang dikalahkan. Wewenang eksekusi putusan arbitrase dilimpah kan ke Pengadilan Negeri dan berdasarkan perintah Ketua Pengadilan Negeri atas permohonan salah satu pihak yang bersengketa (Ps. Lembaga arbitrase tidak memiliki wewenang melaksanakan putusannya sendiri. pilihan arbitrator.

Persoalannya. dalam waktu paling lama 30 (tigapuluh) hari terhitung sejak putusan diucapkan dengan menyerahkan lembaran asli atau salinan otentik putusan arbitrase. adalah SIAPA YANG BERWENANG DAN BERKEWAJIBAN MENDAFTARKAN PUTUSAN ARBITRASE ? Dikaitkan dengan Ps. 59 (1). Apakah hal itu mengandung pengertian bahwa pihak berperkara atau kuasanya dilarang mendaftarkan putusan arbitrase ? BRW/FHUA/2007 188 .EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL Perintah eksekusi Ketua Pengadilan Negeri diberikan waktu 30 hari setelah permohonan eksekusi didaftarkan kepada Panitera PN (ayat 1). pihak yang berwenang menyerahkan dan mendafarkan putusan arbitrase ke adalah arbiter atau kuasanya.

public order. orde publique). umum. BRW/FHUA/2007 189 . namun mengenai apa yang dimaksud dengan ´kesusilaan dan ketertiban umumµ masih memerlukan interpretasi secara kasusistis.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL Sebelum memberikan perintah pelaksanaan. juga berbeda antara suatu waktu dengan waktu yang lain (berubah dinamis). (ayat 2). Apa yang dimaksud dengan Pasal 4 dan 5 cukup jelas. namun substansinya bisa berbeda satu dengan yang lain. Di tiap negara memiliki prinsip dan konsep ´ketertiban umumµ (public policy. KPN memeriksa terlebih dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi ketentuan Pasal 4 dan 5 serta apakah tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. openbare orde.

CATATAN : prosedur eksekusi putusan arbitrase dilakukan sebagaimana eksekusi putusan perdata PN yang telah berkekuatan hukum tetap dengan mengacu ketentuan HIR/RIB atau RBG/RDS serta peraturan terkait lainnya. 63). 64). Putusan arbitrase yang telah dibubuhi perintah KPN dilaksanakan sesuai pelaksanaan putusan dalam perkara perdata yang putusannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap (Ps.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL Perintah KPN ditulis pada lembar asli dan salinan otentik putusan arbitrase (ps. BRW/FHUA/2007 190 .

maka eksekusi putusan arbitrase internasional memiliki dimensi yang lebih kompleks menyangkut masalah pengaturan hukum.30/1999 mengatur tentang eksekusi putusan arbitrase internasional pada pasal 65 s/d 69.34/1981 BRW/FHUA/2007 191 . pengaturan tentang eksekusi putusan arbitrase internasional di Indonesia juga terdapat dalam Konvensi New York 1958 jo. serta berbagai kendala nya.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Dibandingkan dengan eksekusi putusan arbitrase nasional. prosedur dan proses eksekusi. UU No. Selain daripada itu. Keppres No. Pengaturan hukum eksekusi putusan arbitrase internasional di Indonesia tidak hanya terdapat dalam perundang-undangan perundangnasional melainkan juga dalam konvensi internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia.

Kedua. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat merupakan pengadilan satu-satunya di Indonesia yang berwenang satumenangani masalah pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di Indonesia. CATATAN : Pertama. BRW/FHUA/2007 192 . pelaksanaan putusan arbitrase internasional. Kedua.30/1999 mengatur bahwa yang berwenang menangani masalah pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. pengakuan putusan arbitrase internasional b. Pertama. Dalam penjelasannnya disebutkan ´cukup jelasµ.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pasal 65 UU No. meliputi : a. menyangkut ruang lingkup wewenang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

terdapat perbedaan antara tempat (negara) putusan arbitrase dijatuhkan dengan tempat (negara) putusan arbitrase dilaksanakan. apakah negara-negara yang negarabersangkutan merupakan negara peserta atau negara yang turut meratifikasi Konvensi New York 1958 ataukah tidak. serta apakah telah terdapat perjanjian bilateral ataukah tidak. BRW/FHUA/2007 193 .EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pada dasarnya suatu putusan arbitrase internasional untuk dapat dilaksanakan di wilayah suatu negara tertentu harus memenuhi syarat dan prosedur yang ditentukan oleh hukum yang berlaku di negara yang bersangkutan. Sebelum suatu putusan arbitrase internasional dapat diakui dan dilaksanakan maka terlebih dahulu harus dilihat apakah hukum negara yang bersangkutan telah memberikan pengaturannya ataukah tidak. Lebih penting lagi adalah. Pada umumnya.

EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Suatu negara yang telah menjadi peserta atau ikut meratifikasi Konvensi New York 1958 berarti membuka pintu bagi kemungkinan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase intrnasional di wilayah hukum negara masing2 MasingMasing-masing negara yang meratifikasi tersebut akan mengatur lebih lanjut dan lebih tehnis dalam perundang-undangan tersendiri perundangyang substansinya tidak selalu sama antara negara yang satu dengan negara yang lain. BRW/FHUA/2007 194 .

Perma No. 30/1999. BRW/FHUA/2007 195 . Saat ini.1/1990 dibuat pada waktu jauh sebelum berlakunya UU No.1/1990 tersebut dimaksud kan untuk mengatur tentang teknis prosedural yang berkaitan dengan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di Indonesia. dan dijabarkan dalam Peraturan Mahkamah Agung No. pelaksanaan putusan arbitrase internasional di Indonesia telah diatur dalam UU No.1/1990 (PermaNo.34/1981.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Indonesia meratifikasi Konvensi New York 1958 berdasarkan Keppres No. Perma No.1/1990) tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing.30/1999.

Chervenoermeiski (Bulgaria) sebagai Termohon Kasasi/dahulu Pemohon.2944 K/Pdt/1983 tanggal 20 Agustus 1984. Sengketa tersebut sebelumnya telah diputus oleh Arbitrase di London.39 US dollar kepada Navigation Maritime Bulgare tersebut. PT. dalam perkara antara PT. Varna. Selanjutnya oleh Navigation Maritime Bulgare putusan arbitrase tersebut dimohonkan pelaksanaan setelah mendapat fiat eksekusi dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.2288/1979 P tanggal 10 Juni 1981.576.Nizwar (Indonesia) sebagai Pemohon Kasasi/dahulu Termohon melawan Navigation Maritime Bulgare. NIZWAR vs NAVIGATION MARITIME BULGARE Periksa putusan Mahkamah Agung RI No. yang intinya memerintahkan agar PT.Nizwar memenuhi isi putusan arbitrase London tersebut. BRW/FHUA/2007 196 .T.Nizwar dihukum untuk membayar uang sejumlah 72.KASUS P. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam penetapannya No.

34/1981 dan lampirannya tentang pengesahan ´Convention on the Recoqnition and Enforcement of Foreign Arbitral Awardsµ sesuai dengan praktek hukum yang berlaku masih harus ada peraturan pelaksanaannya«««««µ. Pertimbangan aquo. tanpa disertai dengan risalah/memori kasasi. Mahkamah Agung tersebut antara lain menyatakan :µ«««Keppres :µ«««Keppres No.1/1990. BRW/FHUA/2007 197 .KASUS P.Nizwar tersebut tidak dapat diterima.T. Namun yang menarik dalam pertimbangannya. NIZWAR vs NAVIGATION MARITIME BULGARE PT. kemudian ditindaklanjuti Mahkamah Agung dengan menerbitkan PERMA No. Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi menyatakan permohonan kasasi PT. pelaksanaannya«««««µ.Nizwar mengajukan kasasi terhadap Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut.

1/990 maupun UU recognitionµ No. Perma No. BRW/FHUA/2007 198 EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL . Secara implicit UU No.Konvensi New York 1958 dalam pasal-pasalnya tidak pasalmemberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan ´recognitionµ tersebut. Padahal suatu putusan arbitrase internasional hanya dapat dieksekusi di wilayah hukum Republik Indonesia setelah sebelumnya mendapatkan pengakuan dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.30/1999 juga tidak memberikan penjelasan secara eksplisit tentang apa yang dimaksud dengan istilah ´pengakuanµ. pula pada penjelasan pasal 65 hanya menyebutkan ´cukup ´cukup jelasµ. Lagi ´pengakuanµ.30/1999 menguraikan tentang pengertian :µpengakuanµ dengan jalan menetapkan syarat:µpengakuanµ syaratsyarat putusan arbitrase internasional yang dapat diakui dan dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia. jelasµ.

Putusan arbitrase internasional sebagaimana dimaksud huruf ´aµ terbatas pada pada putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum perdagangan. BRW/FHUA/2007 199 . Putusan arbitrase internasional dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase di suatu negara yang dengan negara Republik Indonesia terikat pada perjanjian. (c). (b). bik secara bilateral mupun multilateral. mengenai pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pasal 66 menetapkan syarat-syarat tersebut sebagai berikut : syarat(a). Putusan arbitrase internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf ´aµ hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum.

hany dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuatur dari Mahkamah Agung Republik Indonesia yang selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Putusan arbitrase internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL (d). Putusan arbitrase internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf ´aµ yang menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa. BRW/FHUA/2007 200 . dan (e).

Tanpa adanya bukti masingberupa perjanjian tersebut maka Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akan memasang ´palang pintuµ untuk ´palang pintuµ menutup permohonan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di wilayah hukum Republik Indonesia. BRW/FHUA/2007 201 .CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´aµ BERKAITAN DENGAN PRINSIP RESIPROSITAS PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Substansi Pasal 66 ´aµ di atas menyangkut tentang penerapan prinsip resiprositas diantara negara-negara negarayang telah mengadakan perjanjian tentang pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di wilayah negara masing-masing.

Menurut hukum di negara tempat putusan arbitrase dijatuhkan substansi sengketa merupakan ´sengketa komersialµ sehingga termasuk dalam kompetensi arbitrase. Tolok ukur yang dipergunakan bukan bagaimana menurut hukum yang berlaku di negara tempat putusan arbitrase dijatuhkan. komersialµ namun bisa jadi dipihak lain ternyata menurut hukum Indonesia dinilai bukan termasuk sengketa perdagangan. Dengan demikian.30/1999 menyangkut soal arbitralitas putusan arbitrase internasional yang dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan di Indonesia apakah menurut hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum perdagangan ataukah tidak.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´bµ TENTANG ARBITRABILITAS Substansi Pasal 66 ´bµ UU No. melainkan menggunakan tolok ukur menurut hukum yang berlaku di Indonesia sebagai tempat putusan arbitrase internasional tersebut dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan. BRW/FHUA/2007 202 . tidak tertutup kemungkinan terjadinya perbedaan substansial antara hukum di negara tempat putusan arbitrase dijatuhkan dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

perbankan.30/1999. keuangan.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´bµ TENTANG ARBITRABILITAS Tolok ukur tentang pengertian ´ruang lingkup hukum ´ruang perdaganganµ perdaganganµ menurut hukum Indonesia adalah dengan menggunakan interpretasi sistematis dan interpretasi ekstensif terhadap substansi Pasal 5 dengan 66 (b) UU No. industri. penanaman modal. BRW/FHUA/2007 203 . dan hak kekayaan intelektual. Adapun pasal 66 (b) memberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan ruang lingkup hukum perdagangan yaitu meliputi: perniagaan. Pasal 5 (1) hanya menyebutkan secara umum ´sengketa ´sengketa perdaganganµ perdaganganµ tanpa penjelasan apapun tentang apa yang dimaksudkannya.

dan hak kekayaan intelektual. BRW/FHUA/2007 204 . perbankan. Karena masing-masing istilah memiliki elastisitas masinginterpretasi secara dinamis sejalan dengan perkembangan waktu dan perubahan masyarakat. penanaman modal. Akibat ketidakjelasan batas-batas dari apa yang dimaksud batasdengan ´ruang lingkup perdaganganµ tidak menutup ´ruang perdaganganµ kemungkinan akan dipergunakan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk bertindak semena-mena memasang semena´palang pintuµ dengan cara menafsirkan secara subyektif pintuµ pengertian ´ruang lingkup hukum perdaganganµ sebagai alasan untuk menolak setiap permohonan pengakuan putusan arbitrase internasional di Indonesia. ternyata tidak jelas apa batasbatas-batas dari sengketa di bidang perniagaan. industri.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´bµ TENTANG ARBITRABILITAS Namun apabila ditelaah lebih jauh. keuangan.

apakah sengketa yang telah diputus oleh arbitrase internasional dan dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan tersebut menurut hukum Indonesia termasuk ke dalam ruang lingkup hukum dagang atau tidak. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang untuk menilai dan menafsirkan secara obyektif. Penafsiran tersebut sudah seharusnya bertumpu pada perkembangan ilmu hukum terkini serta dikaitkan dengan perkembangan dalam kegiatan praktek perdagangan seharisehari-hari.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´bµ TENTANG ARBITRABILITAS Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang untuk menilai dan menafsirkan secara obyektif. apakah sengketa yang telah diputus oleh arbitrase internasional dan dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan tersebut menurut hukum Indonesia termasuk ke dalam ruang lingkup hukum dagang atau tidak . BRW/FHUA/2007 205 .

BRW/FHUA/2007 206 . ´public policyµ. Istilah ´policyµ dipergunakan untuk menunjukkan adanya pengaruh ´policyµ besar dari faktor-faktor yang bersifat politis dalam hal menentukan faktorada atau tidaknya ketertiban umum. dalam bahasa Jerman disebut ´ordre publicµ. meskipun demikian hingga kini masih banyak pertentangan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan ketertiban umum. sedangkan di negara-negara dengan ´vorbenhaltklauselµ. sebagai ´vorbenhaltklauselµ. Perancis disebut sebagai ´ordre publicµ. Tinneke Louise Tuegeh Longdong. sebagaimana mengutip Sudargo Gautama. mengemukakan bahwa banyak penulis yang telah mencoba untuk menguraikan tentang apa yang dimaksud dengan ketertiban umum. dalam bahasa ´openbare ordeµ.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Pasal 66 (c) : Dalam bahasa Belanda disebut sebagai ´openbare ordeµ. negarasistem common law menggunakan istilah ´public policyµ.

Penggunaan prinsip ´ketertiban umumµ oleh Ketua Pengadilan Negeri ´ketertiban umumµ Jakarta Pusat sebagaimana diatur Pasal 66 © jo. Pasal V (2) ´bµ Konvensi New York 1958 : ´ the recognition or enforcement of the award would be contrary to the public policy of that countryµ.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Masalah ketertiban umum sangat penting. oleh karena fungsinya menyangkut tentang pengenyampingan berlakunya hukum asing dan putusan arbitrase asing yang seharusnya dilaksanakan. Dengan alasan bertentangan dengan sendi asasi sistem hukum yang berlaku di negara tempat dimana putusan arbitrase internasional tersebut dimohonkan pelaksanaannya. BRW/FHUA/2007 207 .30/1999 adalah dimaksudkan sebagai ´filterµ untuk menyaring dan menilai secara obyektif ´filterµ terhadap setiap permohonan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di wilayah hukum Republik Indonesia. 65 UU No.

namun pada dasarnya mereka berpendirian bahwa ketertiban umum memegang peran penting dalamarti bahwa setiap sistemhukum negara manapun memerlukan semacam veiligheidskiep atau rem darurat yang disebut dengan istilah ketertiban umum.meskipun system hukum dari setiap negara mengenal konsepsi tentang ketertiban umum.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Meskipun tidak ada kesatuan pendapat tentang apa yang dimaksud dengan ketertiban umum. namun sebaiknya dipergunakan seirit mungkin dan hanya sebagai pengecualian.Sumampouw mengemukakan bahwa. M. BRW/FHUA/2007 208 .

not as a sword). melainkan dalam kenyataannya kita berada dalam pergaulan hidup antara negara secara internasional dengan system hukumnya yang berbeda-beda. Menurut pendapat saya. BRW/FHUA/2007 209 . dengan terjadinya globalisasi kegiatan perdagangan yang melibatkan berbagai negara. adalah merupakan sikap yang berlebihan apabila berpendirian tentang superioritas hukum nasional terhadap hukum asing.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Oleh karena apabila setiap kali menggunakan ketertiban umum sebagai alasan untuk mengenyampingkan berlakunya hukum asing maka akan mengakibatkan hukum perdata internasional tidak berkembang (Sudargo Gautama. menggambarkan bagaimana seharusnya penggunaan prinsip tersebut««public tersebut««public policy only as a shield. Padahal kita tidaklah mungkin hidup secara soliter dengan mengasingkan diri dari pergaulan hidup antar negara. dengan keragaman sistem hukum masingmasing-masing. berbedaLebihLebih-lebih dewasa ini. sword).

1/1990. BRW/FHUA/2007 210 . Istilah ´ketertiban umumµ penjelasannya terdapat ´ketertiban dalam rumusan Perma No. maka pengertian serta batas-batasnya akan batasditentukan melalui interpretasi berdasarkan situasi dan kondisi kasus per kasus. Sebagai konsekuensinya. maka putusan tersebut tidak dapat dimohonkan pengakuan dan pelaksanaannya di wilayah Republik Indonesia.1/1990. apabila suatu putusan arbitrase internasional dinilai sebagai telah bertentangan dengan ketertiban umum di Indonesia. Namun apa pengertian serta sejauh mana batas-batas dari ´sendi-sendi asasi batas´sendidari seluruh sistem hukum dan masyarakat Indonesiaµ dalam ketentuan tersebut ternyata tidak terdapat penjelasan lebih jauh lagi. Pasal 4 (2) yakni : ´sendi-sendi asasi ´sendidari seluruh sistem hukum dan masyarakat Indonesiaµ. Dalam keadaan demikian.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Dalam kaitannya dengan syarat bahwa putusan arbitrase internasional tidak bertentangan dengan ´ketertiban umumµ juga diatur dalam Pasal 4 (2) Perma No.

untuk melindungi sendi-sendi asasi sendiseluruh sistem hukum dan masyarakat Indonesia. Penggunaan prinsip ketertiban umum tersebut ´escape clauseµ sesuai ´escape dengan istilah Sudargo Gautama hendaknya terbatas : ´only as a shield and not as a swordµ. Tiong Min Yeo mengemukakan bahwa : ´«.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Menurut Setiawan. dan bukannya digunakan sedemikian rupa bagaikan sebilah pedang untuk melumpuhkan terhadap setiap kemungkinan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di wilayah hukum Republik Indonesia. It opposes the application of foreign law or more precisely. fungsi ketertiban umum pada dasarnya adalah sebagai pengawal dari ´the fundamental moral convictions or policies of the forumµ dan berkaitan langsung dengan ´the principle of territorial souvereignityµ. Dalam pengertian. it is exception to the choice of law rule that would ordinarily mandate the application of foreign lawµ.public policy generally works in a negative way. BRW/FHUA/2007 211 ..

CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´dµ SOAL EKSEKUATUR Substansi Pasal 66 ´dµ UU No. Kedudukan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sangat penting dan menentukan berkenaan dengan pemberian atau penolakan eksekuatur terhadap permohonan eksekusi putusan arbitrase internasional. Berdasarkan persyaratan tersebut. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak hanya terbatas berwenang dalam memberikn eksekuatur melainkan sebaliknya juga berwenang untuk menolak pemberian eksekuatur terhadap permohonan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional.30/1999 menyangkut syarat bahwa Putusan arbitrase internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Artinya. dikaitkan dengan Pasal 65 tampak bahwa pengadilan yang berwenang memberikan eksekuatur adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. BRW/FHUA/2007 212 .

CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´dµ SOAL EKSEKUATUR Eksekuatur akan diberikan atau sebaliknya ditolak sepenuhnya bergantung pada apakah permohonan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di Indonesia telah memenuhi syarat-syarat kumulatif sebagaimana diatur dalam syaratPasal 66 dan 67 UUNo. BRW/FHUA/2007 213 . namun bila dikaitkan dengan Pasal 66 huruf ´eµ dapat ditafsirkan secara a contrario bahwa Termohon Eksekusi sebagaimana dimaksud pada Pasal 66 huruf ´dµ adalah menyangkut perorangan atau badan hukum perdata dan bukan menyangkut negara Republik Indonesia.30/1999. Meskipun tidak disebutkan secara tegas. Apabila Termohon Eksekusinya adalah menyangkut negara Republik Indonesia maka diperlukan persyaratan dan prosedur yang berbeda sebagaimana diatur secara tersendiri dalam Pasal 66 ´eµ UU No30/1999.

hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuatur dari Mahkamah Agung Republik Indonesia yang selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.30/1999 mengatur syarat apabila putusan arbitrase internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf ´aµ Pasal 66 a quo adalah menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa. Dalam hal Termohon Eksekusi adalah negara Republik Indonesia. Aturan ini memberikan wewenang eksekuatur kepada Mahkamah Agung sebagai puncak badan peradilan karena termohon akibat serta konsekuensi eksekusi putusan arbitrase internasional tersebut menyangkut kepentingan negara. BRW/FHUA/2007 214 .CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´dµ SOAL EKSEKUATUR Substansi pasal 66 ´eµ UU No. merupakan ujian yang cukup berat dan dilemmatis bagi Mahkamah Agung berkenaan dengan pemberian atau penolakan eksekuatur terhadap putusan arbitrase internasional.

pada bagaimana kenyataan prakteknya. Namun. Secara teoritis bisa saja terjadi bahwa Mahkamah Agung bersikap konsisten dengan undang-undang yakni tetap akan undangmemberikan eksekuatur.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´dµ SOAL EKSEKUATUR Dikuatirkan dapat menimbulkan ´conflict of interestµ. saya termasuk orang meragukan kemungkinan Mahkamah Agung mampu bersikap konsisten dengan hal tersebut. BRW/FHUA/2007 215 . karena ´conflict interestµ. di satu pihak kedudukan Mahkamah Agung sebagai lembaga negara Republik Indonesia sedangkan di pihak lain yang bertindak sebagai Termohon Eksekusi adalah negara Republik Indonesia.

interestµ. BRW/FHUA/2007 216 . Kecil kemungkinan Mahkamah Agung Republik Indonesia akan memberikan eksekuatur eksekusi putusan arbitrase internasional terhadap Negara Republik Indonesia sebagai pihak termohon eksekusinya. principle). maka Mahkamah Agung sebagai lembaga tinggi negara cenderung akan lebih menonjolkan pemihakannya kepada kepentingan negara (parochial (parochial principle).CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´dµ SOAL EKSEKUATUR Alasan pokoknya adalah terjadinya ´conflict of ´conflict interestµ. Apabila sudah menyangkut kepentingan negara.

BRW/FHUA/2007 217 . 67) (1). CATATAN PASAL 67 (1) : Ketentuan tersebut mengandung norma bahwa putusan arbitrase internasional yang dimohonkan pelaksanaannya di Indonesia. Permohonan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional dilakukan setelah putusan tersebut diserahkan dan didaftarkan oleh Arbiter atau Kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.PERMOHONAN EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL (Ps. harus lebih dahulu diserahkan & didaftarkan oeh arbiter atau kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

(c). (b). Lembar asli atau salinan otentik putusan Arbitrase Internasional sesuai ketentuan perihal otentikasi dokumen asing dan naskah terjemahan resminya dalam Bahasa Indonesia. yang menyatakan bahwa Negara pemohon terikat pada perjanjian. baik secara bilateral maupun multilateral dengan negara Republik Indonesia perihal pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional. Keterangan dari perwakilan diplomatik Republik Indonesia di negara dimana putusan Arbitrase Internasional tersebut ditetapkan.PERMOHONAN EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL (Ps. Penyampaian berkas permohonan disertai : (a). BRW/FHUA/2007 218 . 67) (2). Lembar asli atau salinan otentik perjanjian yang menjadi dasar putusan Arbitrase Internasional sesuai dengan ketentuan perihal otentitikasi dokumen asing dan naskah terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia.

CATATAN 67 AYAT 2 Pasal 67 ayat (2) huruf ´aµ dan ´bµ mengandung norma tentang keharusan dilakukannya otentikasi trhadap dokumen asing dan penterjemahan secara resmi naskah putusan arbitrase internasional maupun naskah perjanjian arbitrase dari bahasa asing yang digunakan ke dalam naskah yang menggunakan Bahasa Indonesia melalui penterjemah tersumpah. Hal tersebut dimaksudkan agar terdapat kesesuaian makna antara bahasa asing yang digunakan dalam naskah aslinya dengan naskah terjemahannya dalam bahasa Indonesia. BRW/FHUA/2007 219 .

b. Yang dibuat oleh perwakilan diplomatik Republik Indonesia di negara dimana putusan Arbitrase Internasional tersebut ditetapkan. ´keteranganµ. Negara Pemohon. f.CATATAN 67 AYAT 2 huruf ´Cµ. Perihal pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional. BRW/FHUA/2007 220 . yang menyatakan bahwa c. terikat pada perjanjian. multilateral dengan e. MENSYARATKAN : a. d. baik secara bilateral maupun perjanjian. Negara Republik Indonesia.

penting mendapatkan perhatian saat para pihak melakukan pemilihan forum dan tempat arbitrase (choice of forum & choice of arbitration venue). Berkaitan dengan hal tersebut. ternyata antara Negara Asal Pemohon Eksekusi dengan Negara Republik Indonesia tidak terdapat perjanjian bilateral maupun multilateral menyangkut masalah Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing maka Putusan Arbitrase Asing tersebut tidak dapat dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan nya di wilayah Negara Republik Indonesia. BRW/FHUA/2007 221 .KONSEKUENSI SYARAT PASAL 67 AYAT 2 huruf ´Cµ Konsekuensinya. apabila menurut ´keteranganµ yang dibuat oleh Perwakilan Diplomatik Negara Republik Indonesia di negara dimana putusan arbitrase asing dijatuhkan.

PERMOHONAN EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pasal 68 ayat (1) : ´Terhadap putusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagaimana dimaksud Pasal 66 huruf ´dµ yang mengakui dan melaksanakan Putusan Arbitrase Internasional. dapat diajukan kasasi. ayat (4) : ´Terhadap putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 huruf ´eµ. BRW/FHUA/2007 222 . ayat (3) : ´Mahkamah Agung mempetimbangkan serta memutuskan setiap pengajuan kasasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). ayat (2) : ´Terhadap putusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 66 huruf ´dµ yang menolak untuk mengakui dan melaksanakan suatu Putusan Arbitrase Internasional. tidak dapat diajukan upaya perlawananµ. dalam jangka waktu paling lama 90 hari setelah permohonan kasasi tersebut diterima oleh Mahkamah Agungµ. tidak dapat diajukan banding atau kasasiµ.

(3) dan (4).CATATAN TERHADAP PASAL 68 Norma ayat (1). tidak dapat diajukan upaya perlawanan. pemberian eksekuatur oleh Ketua PN Jakarta Pusat terhadap putusan arbitrase internasional bersifat ´final and bindingµ. bagaimana kalau terhadap putusan Mahkamah Agung tersebut kemudian dimohonkan peninjauan kembali ??? Oleh karena hakekat ´perlawananµ adalah berbeda dengan ´peninjauan kembaliµ. Namun timbul pertanyaan. BRW/FHUA/2007 223 . Setelah permohonan kasasi tersebut diputus oleh Mahkamah Agung. Norma ayat (2). penolakan pemberian eksekuatur oleh Ketua PN Jakarta Pusat terhadap putusan arbitrase internasional dapat dimohonkan kasasi ke Mahakamah Agung.

CATATAN : Norma ayat (1). menyangkut pendelegasian wewenang eksekusi dari Ketua PN Jakarta Pusat kepada Ketua PN setempat (domisili Termohon Eksekusi atau tempat kedudukan obyek sengketa). Norma ayat (2) dan (3). maka pelaksanaan selanjutnya dilimpahkan kepada Ketua PN yang secara relatif berwenang melaksanakannyaµ. ayat (2) : ´Sita eksekusi dapat dilakukan atas harta kekayaan serta barang milik termohon eksekusiµ. menyangkut tindakan sita eksekusi terhadap harta kekayaan termohon eksekusi yang dijalankan sebagaimana berlaku pada praktek peradilan berdasarkan HIR/RIB maupun RBG/RDS. ayat (3) : ´Tatacara penyitaan serta pelaksanaan putusan mengikuti tatacara sebagaimana ditentukan dalam Hukum Acara Perdataµ.PERMOHONAN EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pasal 69 ayat (1) : ´Setelah Ketua PN Jakarta Pusat memberikan perintah eksekusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64. BRW/FHUA/2007 224 .

ayat (2) : Dalam hal tuntutan hanya dikabul kan sebagian. BIAYA ARBITRASE Pasal 77 : ayat (1) : Biaya arbitrase dibebankan kepada pihak yang kalah.14. biaya arbitrase dibebankan kepada para pihak secara seimbang. BRW/FHUA/2007 225 .

dan d. biaya administrasi. BRW/FHUA/2007 226 . biaya perjalanan dan biaya lainnya yang dikeluarkan oleh arbiter. b. biaya saksi dan saksi ahli yang diperlukan dalam pemeriksaan sengketa. c. ayat (2) : Biaya sbagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a.14. BIAYA ARBITRASE Pasal 76 ayat (1) : Arbiter menentukan biaya arbitrase. honorarium arbiter.

maka pihak berperkara yang wajib menanggungnya (Vide Pasal 49 ayat 2). akomodasi. transportasi. Adapun menyangkut saksi atau saksi ahli. Para pihak hanya diwajibkan membayar biaya adimistrasi/perkara. hakim justru dilarang mendapatkan honorarium. biaya perjalanan dan yang lainnya yang dikeluarkan oleh arbitrator (misal : akomodasi. biaya adiministrasi dibebankan kepada pihak yang berperkara (Vide Ps. telekomunikasi dll) maupun biaya saksi dan saksi ahli (honorarium. lumpsum. yang menyangkut honorarium arbitrator.77). biaya perjalanan maupun lainnya dari pihak berperkara. dll). lumpsum. karena semua dibebankan kepada Negara. Berlainan dengan proses di Pengadilan. telekomunikasi.CATATAN MENGENAI BIAYA ARBITRASE (Ps 76 & 77) Konsekuesi biaya berkenaan dengan penyelesaian sengketa melalui arbitrase. BRW/FHUA/2007 227 .

Terima kasih. Thank U. BRW/FHUA/2007 228 .. pertanyaan. Arigato Gozaimazu. atas segala perhatian. Dank U.AKHIRNYA««««. kritik. Kamsiah. dan saran2nya. Matur Nuwun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful