PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI ARBITRASE

Oleh Basuki Rekso Wibowo FH Unair 2007
BRW/FHUA/2007 1

BEBERAPA REFERENSI (1)
BUKU
Abdurrasjid Priyatna, Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Fikahati Sengketa, Aneska, Jakarta, 2002. Adolf, Huala, Arbitrase Komersial Internasional, Radjawali, Jakarta, 1991. Internasional, «««««.,. Hukum Arbitrase Komersial Internasional, Raja Grafindo Persada, Internasional, Jakarta, 1994 «««««., The Arbitration Law in Indonesia, dalam Hendarmin Djarab (ed)., Indonesia, Prospek dan Pelaksanaan Arbitrase di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001. Arrow, Kenneth, et.al, Barriers to Conflict Resolution, WW Norton Co, 1995. Born, Gary B., International Commercial Arbitration in the United States, Kluwer Law and Taxation Publishers, Deventer Boston, 1994. Buang, Saleh dan Maimoonah Hamid, Commercial Arbitration, Central Law Books Arbitration, Corp Sdn.Bhd, Kualalumpur, 1998. Kantaatmadja,Komar, Beberapa Hal Tentang Arbitrase, kertas kerja pada Penataran Hukum Ekonomi Internasional, Fakultas Hukum Unpad-Universitas Utrecht, 1989. Unpad-

BRW/FHUA/2007

2

BEBERAPA REFERENSI (2)
Cheong, Chan Wing, et.al, Current Legal Issues in International Commercial Litigation, Faculty of Law University of Singapore, 1997. Current Legal Issues in International Commercial Litigation, Faculty of Law University of Litigation, Singapore, 1997. David, Rene, Arbitration in International Trade, Kluwer, 1985. Trade, Domke, Martin, Domke on Commercial Arbitration (the Law of Practice of Commercial Arbitration), Revised edition , 1994. Elkouri, Frank, & Edna Elkouri, How Arbitration Works, fifth edition, American Bar Works, Association (ABA), BNA Books, Washington DC, 1997. Emirzon, Joni, Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan (Negosiasi, Mediasi, Konsiliasi dan Arbitrase), Gramedia, Jakarta, 2000. Fuady, Munir, Arbitrase Nasional (Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis), Citra Aditya Bisnis), Bakti, Bandung, 2000. Gautama, Sudargo,,Hukum Perdata Internasional, Buku ke-5, Jilid II, Bagian IV, Alumni, Sudargo,,Hukum Internasional, keBandung, 1992. ««««.., Arbitrase Bank Dunia Tentang Penanaman Modal di Indonsia dan Jurisprudensi Indonesia Dalam Perkara Perdata, Alumni, Bandung, 1994. Perdata, «««««., Aneka Hukum Arbitrase (KeArah Hukum Arbitrase Indonesia Yang Baru),Citra Baru),Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996. «««««, Undang-Undang Arbitrase Baru 1999, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999. UndangBRW/FHUA/2007 3

BEBERAPA REFERENSI (3).
Budidjaya,T., Public Policy as Grounds for Refusal of Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards in Indonesia, Tata Nusa,Jakarta, 2002. Khairandy, Ridwan, et.al., Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, Gama Media, Indonesia, Jogjakarta, 1999. Kusumohamidjojo, Budiono, Dasar-Dasar Merancang Kontrak, Grasindo, Jakarta, 1998. DasarKontrak, Law Firm ABNR & Law Firm MKK, Reformasi Hukum di Indonesia (terj. Diagnostic Assesment of Legal Development in Indonesia), World Bank Project ² IDF Grant No. 28557, Cyber Consult, Jakarta, 1999. Lew, Julian DM (ed)., Contemporary Problems in International Arbitration, Matnus Nijhoff Publishers, Netherlands, 1987. Lillich, Richard B. & Charles N.Brower, International Arbitration in the 21st Century : Towards ´Judicialization and Uniformityµ, twelfth Sokol Colloquium, Transnational Publishers Inc, Uniformityµ, Irvington, New York, 1993. Longdong, Tinneke Louise, Asas Ketertiban Umum dan Konvensi New York 1958, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 1998. Lubis, Macneil, Ian R, American Arbitration Law : Reformation, Nationalization, Internationalization, Oxford University Press, Oxford, 1992. Management Action Guides, Handling Conflict by Negotiation (Mengendalikan Konflik dan Negosiasi), alih bahasa Amitya Kumara Suharso, Gramedia, Jakarta, 1997.

BRW/FHUA/2007

4

Negotiation. Erlangga. Peppet. Granada. Handling Conflict and Negotiation. 2001. Chandra Pengadilan. 1983. Aspek-Aspek Hukum Perdata Internasional Dalam AspekTransaksi Bisnis Internasional. Foundtion Press. Parris. 2000. New York. alih bahasa Masri maris. Manchester Open Learning. the Hague. Refika Aditama. 1993. Pratama. John. Arbitrase Dalam Putusan Pengadilan. Kluwer. Pickering. Agreements. Jakarta. Radjagukguk. Jakarta. Edward F. Ida Bagus Wyasa. 2001. University Casebook Series. Peg. Erman. Wolfgang .sherman. Scott R.BEBERAPA REFERENSI (4). Putra. Bandung. third edition. second edition. Peter. Alan Scott. Rau.. Internasional. Arbitration Principles and Practice. Arbitration and Renegotiation of International Investment Agreements. 1995. How to Manage Conflict (Kiat Menangani Konflik). Processes of Dispute Resolution : The Role of Lawyers. BRW/FHUA/2007 5 . London.

London.al. Westview Press. University Casebook Series. Arbitrase Islam Indonesia. Djambatan. Mauro Rubino. New York. Reisman.BEBERAPA REFERENSI (5).Westbury Disputes. Menyingkap dan Meneropong Undang Undang Arbitrase No. Ghalia Indonesia. dalam Yuhassarie. 1997. Indonesia. Konstruksi... 1985. Djambatan. Proceedings Arbitrase dan Mediasi. Micahel W et. Kualalumpur. Materials and Notes on the Resolution of International Business Disputes. BRW/FHUA/2007 6 . Sweet&Maxwell. Felix O. Publishers. International Arbitration Law. (ed). Smith. 1995. Manan. Lokakarya Hukum Kepailitan dan Wawasan Hukum Bisnis Lainnya. Hamid. Shahab. Mediasi.1994. Kluwer Law and Taxation Law. Jakarta. 1994.. Aspect of Arbitration : Common Law & Sharia· Compared. kerjasama 2002. 1996..30 tahun 1999 dan Jalur Penyelesaian Alternatif Serta Kaitannya Dengan UU Jasa Konstruksi No.. The Foundation PressInc.Emmy (ed).. Abdurrachman.Bagir. Settling Disputes. International Commercial Abitration : Cases. Vincent Powell. Aspek Hukum Dalam Sengketa Konstruksi. GA Deventer.al. Jakarta. Soebagijo. «««««. Singer. Badan Arbitrase Muamalat Indonesia dan Indonesia.18 tahun 1999 dan FIDIC. Law and Practice of International Commercial Arbitration. Redfern. Kata Pengantar. Arbitrase di Indonesia.. 2000.Linda. bank Muamalat. Boulder. Sammartano. Alan et. FIDIC.. Saleh. Jakarta. Central Law Book Corporation. 1990. 1995.

Alternatif Dispute Resolution in Bussines. Minn. Etika Profesi Notaris Dalam Penegakan Hukum Pidana. Pagesetters Services.. Overt and Camouflaged in International Litigation and Arbitration. 1998. Sumampouw. Tedjosaputro. Yuhassarie. Lokakarya Hukum Mediasi. Perspective. West Publishing Co. Kepailitan dan Wawasan Hukum Bisnis Lainnya. Know. Wijojo. Pilihan Hukum Sebagai Titik Pertalian Dalam Hukum Perdjanjian Internasional. Penyelesaian Sengketa Lingkungan (Settlement of Environmental Disputes). Family and Community : Multy Discipline Perspective. 1995. Legal Negotiation in a Nutshell. Proceedings Arbitrase dan Mediasi. Publishing. Law. kerjasama Pusat Pengkajian Hukum dan Mahkamah Agung RI. Singapore. Jogjakarta. Role of Public Policy. disertasi Tay Swee Kian. BRW/FHUA/2007 7 . 2000. Tan Ngoh. 1992. M. Bigraf Pidana. St.Paul.Emmy (ed). Surabaya. Teply. Larry L. Ridge Books. Singapore University Press. Tiong. Airlangga University Press. Nutshell. 1999. Liliana.BEBERAPA REFERENSI (6).. 8th Singapore Conference on International Bussines Arbitration. 2002. Internasional. Caterina. (eds). Yeo. Tan Min. Suparto. Resolving Disputes by Arbitration : What You Need to Know.

Vol. Hukum Manakah Yang Dipakai Untuk Arbitrase Dagang Internasional. M.. Vol. No. 1997... Varia Peradilan.. Oktober-Nopember 2002.. «««««««««. Agustus 1989.61. ««««««««.30/1999. Sengketa . Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional oleh Pengadilan Nasional... Perspektif Arbitrase di Indonesia.. Maret 1987... Prijatna.. No. Beberapa Catatan Yang Perlu Mendapat Perhatian Atas UU No. Pembatalan Keputusan Dewan Arbitrase Bank Dunia Mengenai Pencabutan Lisensi Penanaman Modal di Indonesia.. Peradilan.. Bisnis.. Urgensi Pengaturan Arbitrase Dalam UU Pasar Modal.. «««««.. 5.Kesulitan Dalam Menyusun Perjanjian Arbitrase Dagang Internasional.18. 25. Oktober 1990... Arbitrase WIPO Dalam Bidang Hak Milik Intelektual... Pembangunan. 1998. Bisnis. ««««. Future Development of Arbitration and ADR Practices in Indonesia (Privatization of the Judicial System). ««««.. 21. makalah Seminar Nasional Hukum Ekonomi tentang Arbitrase Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa. Jurnal Hukum Bisnis. Vol. Jurnal Hukum Bisnis. Hukum dan Pembangunan.. Jurnal Hukum Bisnis. Bisnis. FHUI... . Varia Peradilan. 21....BEBERAPA REFERENSI (7). Jurnal Hukum Bisnis. Sudargo. Peradilan.. 14... Oktober-Nopember 2002... OktoberJuwana.... Jurnal Hukum Bisnis. Bisnis. OktoberBRW/FHUA/2007 8 . Bisnis. Penerapan Klausula Arbitrase serta Pelaksanaan Putusan Arbitrase Dalam dan Luar Negeri di Indonesia.. Vol. Gautama.. ARTIKEL Abdurrasjid..1.... Harahap.. Vo. Peradilan. Oktober 1987. Juli 2001.. Hikmahanto. Varia Peradilan.. No. Yahya. Surabaya 18 Maret 1995.

Peradilan.98.. Sidik.Aplikasi dan Implikasinya.8. Bisnis. ««««. NJ. Desember 1993. 13. BRW/FHUA/2007 9 .Pengaruh Mandatory Rules Terhadap Kontrak Bisnis Internasional : Catatan Dari Jurisprudensi. 107. No. ««««.. 1999. Oktober ² Nopember 2002. Peradilan. ««««. Newsletter.Kontrak Bisnis Internasional : Choice of Law & Choice of Jurisdiction. 14 Nopember 1924.. Oktober 1986.. ««««.1/1990. Agustus 1994. Vol. Varia Peradilan. Agustus 1990. No. Jurnal Negeri. No. No. Varia Peradilan. Eksekusi Putusan Arbitrase Asing : Perma No.Bontmantel ² HR.BEBERAPA REFERENSI (8) Setiawan. 1925). Menurunnya Supremasi Azas Kebebasan Berkontrak. Ricardo. Newsletter. Newsletter. Suraputra.. Hukum Bisnis. Konvensi New York 1958. Vol. Newsletter. Konflik Yurisdiksi Antara Arbitrase dan Pengadilan Negeri. ««««... ICSID dan MIGA : Lembaga Internasional Untuk Meningkatkan Arus Penanaman Modal.. Bisnis. Nopember 1993. 21. Agustus 1990.59. Simanjuntak.15. Kekuatan Mengikat Putusan Hakim Asing (Perk.2. Jurnal Hukum Bisnis. Peradilan. Varia Peradilan.. Varia Peradilan.. No. No.

Yuridika. Beberapa Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata. Masalah Petitum Subsider Ex Aequo Et Bono.1 dan 2.Oktober 1997. Tahun X. JanuariPebruari 1995. 1997. Yuridika. 1999. Bandung.F. No.2&3.. Jurnal Hukum Bisnis. N0. FH Unpar. No. Yuridika. «««««. Perdamaian Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata. Wibowo.. Klausula Arbitrase. April... Yuridika. Jan-April 1993. Kompetensi dan Public Policy (Catatan Hukum Sengketa ED. MeiMei-Juni 1995.BEBERAPA REFERENSI (9). Masalah Eksekusi Putusan Arbitrase Asing di Indonesia. ProJustitia. No. Vol.14. «««««.7. tahun IX.4. «««««. Maret«««««.Man Sugar Ltd vs. Basuki Rekso.. Vol. Maret-Juni 1997.5. Peran Hakim Dalam Pembangunan Hukum. Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Yuridika. JanuariYuridika. Bernadette . Bisnis. Justitia. Pro Justitia. Yani Hariyanto). September- BRW/FHUA/2007 10 . September-Oktober 1999.. No.. Tahun XII. Peran Lawyer Dalam Menyelesaikan Sengketa Bisnis : Negosiator ataukah Gladiator (Sebuah Tinjauan Tentang Legitimasi Pilihan Peran Lawyer dan Pilihan Forum Penyelesaian Sengketa). 9. ProJustitia. FH Unpar. Yuridika. «««««. No. Waluyo. Yuridika. Jan«««««. Tahun VIII.3.

Metode Penelitian Hukum Normatif. Beberapa Hal tentang Arbitrase. makalah Pelatihan Hukum. Komar. 12. Law Offices Remy Darus. makalah dalam Lokakarya Terbatas Hukum Arbitrase. Pengkajian Ilmu Hukum. Sengketa. Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 2001. ´E-Commerce Tinjauan Dari Hukum Kontrak ´EIndonesia.BEBERAPA REFERENSI (10) MAKALAH SEMINAR/PELATIHAN Abdurrasjid. Vol. «««««. Arbitrase. Bandung. Mariam darus. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum ² Lembaga Penelitian Universitas Airlangga bekerjasama dengan Fakultas Hukum Unair. kerjasama Pusat Pengkajian Hukum dan Mahkamah Agung RI. 8-9 Oktober 2002. Philipus Mandiri. makalah pada Seminar tentang Arbitrase (ADR) dan E Commerce. Kepailitan dan Wawasan Hukum Bisnis Lainnya. 1989. BRW/FHUA/2007 11 . Hadjon. 11Kantaatmadja. Priyatna. 11-12 Juni 1997. dalam Jurnal Hukum Bisnis. Surabaya 6 September 2000. Jakarta. kertas kerja pada Penataran Hukum Ekonomi Internasional. 8Badrulzaman. Fakultas Hukum UnpadUnpadUniversitas Utrecht.

BEBERAPA REFERENSI (11). Robert A. Pengembangan Mekanisme Alternative Penyelesaian Sengketa Lingkungan Sebagai Wadah Peran Serta Masyarakat. Takdir. paper on International Business Disputes : Disputes. San Fransisco. Rachmadi. 24-25 Agustus 1990. Negotiating Settlement in International Business Disputes. Rosenfeld. 24Radhi. makalah Seminar Pembangunan Hukum Lingkungan Nasional. Masyarakat. Jakarta. Bandung. Management and Resolution. Jakarta. July 2929-30. Mekanisme Alternatif Penyelesaian Sengketa (MAPS) (terj). 11 Agustus 1990. ICEL & CDR Associates. Moore. 1004. 1995. Negeri. Walhi. BRW/FHUA/2007 12 . makalah Seminar Penyelesaian Sengketa Dagang melalui Arbitrase. Prevention. Teuku Mohamad. Christopher W. . Konvensi New York tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Luar Negeri.

BRW/FHUA/2007 13 . 3-4 May 2000. 12. tt. Court Connected ADR di Indonesia : Urgensi dan Prasyarat Pengembangannya. Seminar on International Bussines Law. 2001. makalah dalam ForumDialog tentang Alternatif Disputes Resolution (ADR). 1998. ´E-Commerce Tinjauan Dari ´EPerspektifHukumµ. ICEL. ««««««. Mediasi Lingkungan di Indonesia : Sebuah Pengalaman. 3Sjahdeini. Pengembangannya.Tim Pakar Hukum Departemen Kehakiman ² The Asia Foundation. Jurnal Hukum Bisnis. Santosa.BEBERAPA REFERENSI (12).Jakarta. 5 Agustus 1999. Mas Achmad. Ordonansi Kepailitan Serta Aplikasinya Kini. Jakarta. Petra Christian University. Pengalaman. Sutan Remy.. Alternative Disputes Resolution (ADR) di Bidang Lingkungan Hidup. ««««««. Vol. Surabaya. Setiawan.

1992. HAS. 1998. disertasi FHUI. Proyek Peningkatan Tertib Hukum dan Pembinaan Hukum Mahkamah Agung RI. edisi II. Basuki Rekso. 1996/1997.BEBERAPA REFERENSI (13). Natabaya. Jakarta. Longdong. Arbitrase Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis : Suatu Studi di Kotamadya Surabaya. RI. 1995/1996. BRW/FHUA/2007 14 . Wibowo. dan Singapore. Yahya. 1989. Arbitrase. ««««««««««. 2000 Unair. HASIL PENELITIAN Elips. Asas Ketertiban Umum dan Konvensi New York 1958. Tinneke Louise Tuegeh. penelitian DIK Suplemen Unair. Harahap. penelitian Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman RI. Resolution). M. Citra Aditya Bakti. 1994. Intermanual Himpunan Putusan Mahkamah Agung Tentang Arbitrase. RI. penelitian DPP/SPP Unair. Bandung. 1958. Laporan Studi Komparatif Mengenai Arbitrase di Korea Selatan. penelitian Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman RI.Kompetensi Peradilan Umum Terhadap Putusan Arbitrase. Unair. Penyelesaian Sengketa Di Luar Peradilan (Alternative Dispute Resolution). Jepang. Penting. Beberapa Yurisprudensi Perdata Yang Penting. 1996/1997. Proyek Yurisprudensi Mahkamah Agung RI. Pengaruh Putusan Arbitrase Asing Terhadap Peningkatan Ekonomi. Hongkong.

UndangUndang-Undang No. 3955). 1847-23. 68 dan TLNRI No 3699). 1941UndangUndang-Undang No.32).23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (LN RI tahun 1997 No.BEBERAPA REFERENSI (14). UndangUndang-Undang No. 1847-52 jo. 18491847184960. 54 dan TLN RI No. BRW/FHUA/2007 15 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PERUNDANG- .42). UndangUndang-Undang No. 1847Het Herziene Indonesische Reglement (HIR) atau Reglemen Indonesia Yang Diperbaharui (RIB) Stb. 1941-44. 5 tahun 1968 tentang Persetujuan atas Konvensi Tentang Penyelesaian Perselisihan Antara Negara dan Warganegara Asing Mengenai Penanaman Modal (LNRI tahun 1968 No. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi (LN RI tahun 1999 No. Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (Rv) Stb. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (LNRI tahun 1999 No. Burgerlijk Wetboek (BW) Stb.

19 tahun 2002 tentang Hak Cipta (LN RI tahun 2002 No. 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang (LN RI tahun 2000 No. tahun 1999 No.BEBERAPA REFERENSI (15). UndangUndang-Undang No. UndangUndang-Undang No. 110 dan TLN RI No. Undang Undang No. 4220).243 dan TLN RI No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri (LN RI tahun 2000 No. 138 ² TLNRI 3872). 4045).32 tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (LN RI tahun 2000 No. UndangUndang-Undang No. Undang Undang No. 4310). 39 dan TLN RI No. 15 tahun 2001 tentang Merek (LNRI tahun 2001 No. 244 dan TLN RI No. BRW/FHUA/2007 16 . Undang Undang No. 4279). 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (LNRI. 109 dan TLN RI No. UndangUndang-Undang No.242 dan TLN RI No. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. 85 dan TLN RI No. 4046). 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang Undang No. 14 tahun 2001 tentang Paten (LN RI tahun 2001 No. UndangUndang-Undang No. (LNRI tahun 2003 No. 4044). 4113).

Keppres No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Undang Undang No. Peraturan Mahkamah Agung RI No. Undang Undang No. 15 dan TLNRI No.3732).1 tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asingµ. 34 tahun 1981 tentang Pengesahan Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards. Peraturan Pemerintah No. Undang Undang No. 16 dan TLNRI No. BRW/FHUA/2007 17 . 2 dan TLN No.BEBERAPA REFERENSI (16). 5 tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (LN tahun 2004 No. Peraturan Pemerintah No.12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (LNRI tahun 1998 No.3731).13 tahun 1998 tentang Perusahaan Umum (LNRI ahun 1998 No. 4356).

34 tahun 1981 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing di Wilayah Indonesia. BRW/FHUA/2007 18 . Keppres No. Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards 1958 jo.32).BEBERAPA REFERENSI (17). 5/1968 tentang Persetujuan atas Konvensi Tentang Penyelesaian Perselisihan Antara Negara dan Warganegara Asing Mengenai Penanaman Modal (LNRI tahun 1968 No. KONVENSI INTERNASIONAL Convention on the Settlement of Investment Disputes between States and Nationals of other States 1965 jo. UU No.

Nizwar vs. 455 K/Sip/1982 tanggal 27 Januari 1983 dalam perkara antara Sohandi Kawilarang vs. Penetapan 29-11Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. Putusan Mahkamah Agung RI No.BEBERAPA REFERENSI (18) PUTUSAN PENGADILAN Putusan Mahkamah Agung RI No.Navigation Maritime Bulgare.P/1979 tanggal 10 Juni 1981 antara PT. Putusan Mahkamah Agung No.Maskapai Asuransi Ramayana.Metropolitan Timber Ltd vs. PT. Gapki Trading Co. Putusan Mahkamah Agung RI No. Ltd. 3179 K/Pdt/1984 tanggal 4 Mei 1988 dalam perkara antara PT.2944 K/Pdt/1983 tanggal 29-11-1984 jo.Asuransi Royal Indrapura.Arpeni Pratama Ocean Line vs. PT. PT.M.Shorea Mas. Ir. BRW/FHUA/2007 19 .225 K/Sip/1976 tanggal 30 September 1983 dalam perkara antara Dato Wong Guong dan PT.2288/Pdt. Ahju Forestry Company Ltd. Putusan Mahkamah Agung RI No. 795 K/Sip/1982 tanggal 27 Januari 1983 dalam perkara antara Sohandi Kawilarang vs. PT.Balapan Jaya vs. 794 K/Sip/1982 tanggal 27 Januari 1983 dalam perkara antara Sohandi Kawilarang vs. PT. 2424 K/Sip/1981 tanggal 22 Pebruari 1982 dalam perkara antara Sutomo qq. 1851 K/Pdt/1984 tanggal10 Desember 1985 dalam perkara antara S. Syafei Juremi dkk. Pardede vs. Putusan Mahkamah Agung RI No. Putusan Mahkamah Agung RI No.Asuransi Indrapura. Putusan Mahkamah Agung RI No.

1/Banding/wasit/1981 tanggal 14 Mei 1984 antara PT.4231 K/Pdt/1986 jo. Putusan Mahkamah Agung RI No. 5/XII-5/85 tanggal 30 Desember 1985. (Sainrapt et Brice Societe Auxiliare D·Enterprises Societe Routire Colas). Karya Tehnindo Jaya. Putusan Mahkamah Agung No. Putusan Mahkamah Agung No.Sinar Surya Kencana. Putusan Mahkamah AgungNo.512/PDT/1985/PT.Putusan BANI No.Trading Corporation of Pakistan Ltd.2/Banding/Wasit/1986 tanggal 22 April 1987 jo. Badan PemisahNo.Jkt. Lempuing Bengkulu vs.Multi Plaza Properties vs.Arb/1986 tanggal 17 April 1986 antara CV. CV. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.3992 K/Pdt/1984 tanggal 4 Mei 1988 dalam perkara antara PT.Pt.DKI jo. 64/Pdt. 3954 K/Pdt/1989 tanggal 9 Nopember 1993 antara Memet Sulaiman qq. PT. antara Zainal 5/XIIEfendivs. BRW/FHUA/2007 20 . Yahya Wijaya. SSC.Triguna Ikhlas vs.BEBERAPA REFERENSI (19) Putusan Mahkamah Agung RI No. Putusan Pengadilan Tinggi JakartaNo.Bakri & Brothers vs.Batu Mulia Utama vs. Kencana.01/IV/P.1/Banding/Wasit/1986 tanggal 12 Pebruari 1987 jo.Sel dalam perkara PT.G/1984/PN. Putusan Mahkamah Agung No.Hajar Rifai.Ny.

Jkt. 14/Pailit/1999/ PN Niaga/Jkt.DKI tanggal 14 Oktober 1989 jo.G/VI/1988/PN. . Putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur No.s Yani Hariyanto. 486/Pdt/PT.D. 12 K/N/1999 jo.putusan Pengadilan Negeri Surabaya No.G/1998/PN. 499/Pdt. 13 PK/N/1999 jo.G/VI/1988/PN. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. Putusan Mahkamah Agung RI No. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.Sbu tanggal 15 Juni 1998 dalam perkara antara Tjong Yenny Sukmawaty vs. 736/Pdt. F. Yani Hariyanto.Pst antara PT Enindo dan Kelompok Tani FSSP melawan PT Putri Fortuna Windu dan PPF International Corporatio Putusan Mahkamah Agung No. 1205 K/Pdt/1990 tanggal 4 Desember 1991 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No.Pst tangghal 29 Juni 1989 antara E. BRW/FHUA/2007 21 .3145 K/Pdt/1999 tanggal 30 Januari 2001 jo. 730/PDT/1998/PT.DKI tanggal 14 Oktober 1989 jo.Man (Sugar) Ltd vs. Surabaya Land. F. Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. Putusan.Sby tanggal 20 Nopember 1998jo.Jkt.Man (Sugar) Ltd v. Peninjauan Kembali Mahkamah Agung No.485/Pdt/PT.Pst tanggal 29 Juni 1989 antara E. 1203 K/Pdt/1990 tanggal 4 Desember 1991 jo.PT. Putusan Pengadilan Niaga Jakarta No. Putusan Mahkamah Agung RI No.BEBERAPA REFERENSI (20) Putusan Mahkamah Agung RI No.D.96/Pdt.

Putusan Mahkamah Agung No. 86/Pdt. Putusan BANI Jakarta No.Bar tanggal 18 Juni 1997 dalam perkara pengangkatan arbitrator antara T. Jkt. 01/Banding/Wasit/2001 tanggal 2 Maret 2001 jo. Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No.Pst dalam perkara antara Pertamina melawan Karaha Bodas Company LLC dan PT.Jkt. PLN Persero BRW/FHUA/2007 22 . Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.Trakindo Utama vs.Ltd (Singapore). Putusan Mahkamah Agung dalam Peninjauan Kembali No.Sel tanggal 18 September 2000 jo.BEBERAPA REFERENSI (21). 5/X-09/ARB/BANI/99 tanggal 19 Oktober 1999. 167/Pdt. Ssangyong Engineering & Construction dan PT Murinda Iron Stell. Dharma Niaga Ltd (Indonesia) dengan Hati Prima Potash Pte. PT. Putusan BANI No.P/1996/PN. 05K/N/2001 tanggal 19 Pebruari 2001 jo.Hotel Sahid Jaya International.Pst tanggal 21 Desember 2000jo.Niaga/Jkt. dalam perkara antara 5/XPT. Putusan Mahkamah Agung dalam Kasasi No.Jak. 010 PK/N/2001 tanggal 16 Mei 2001 jo.P/2000/PN. Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Barat No.80/Pailit/2000/P.Danareksa Jakarta International vs PT.G/2002/PN.764/Pdt. 5/V-29/ARB/BANI/2000 5/Vtanggal 25 Mei 2000 antara PT. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.

30/1999). Dictionary.PENGERTIAN ARBITRASE ´««adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat para pihak yang bersengketaµ (ps. seventh edition.. BRW/FHUA/2007 23 .a method of dispute resolution involving one or more neutral third parties who are agreed to by the disputing parties and whose decision is bindingµ (Black·s Law Dictionary. 1 ayat 1 UU No. ´«. 1999).

´Perwasitanµ (Penjelasan Pasal 3 ayat 1 UU No.30/1999.14/1970 tentang Ketentuan Pokok Pokok Kekuasaan Kehakiman.PERISTILAHAN Istilah ´Arbitraseµ berasal dari istilah Arbitrare (bahasa Latin) yang maknanya adalah kewenangan memutus sengketa berdasarkan kebijaksanaan.30/1999. BRW/FHUA/2007 24 . No. Arbitration (bahasa Inggris) atau Arbitrage (bahasa Belanda). sedangkan istilah Arbitrase digunakan dalam UU No.

(ps. keuangan. Ps. arbitrase = kesepakatan tertulis para pihak untuk menyelesaikan sengketa yg akan terjadi (pactum de compromi tendo) atau sengketa yg terjadi (acta van compromise). perbankan.30/1999 (penjelasan). 66 (b) UU No.30/1999. industri dan hak kekayaan intelektual. 11 (2) UU No. ke11 (1) UU No. Dibuat para pihak bersengketa = subyek hukum menurut hukum perdata maupun hukum publik. Ps. Ps 1 ke-3. Ps. 1 ke-1. Berdasarkan perj. 9 (1. 5 (1) jo. 7. 4 (2).30/1999. Diluar Peradilan umum = out of (state) court dispute settlement. yang meliputi : perniagaan. 1 (2) UU No. Orang perorangan sebagai pribadi maupun. badan hukum perdata maupun badan hukum publik. kejo. Ps 3.3). BRW/FHUA/2007 25 .Penjelasan Pengertian Arbitrase Sengketa perdata = perdata khusus dalam ruang lingkup hukum perdagangan. penanaman modal.30/1999. Ps.

Norma terkanding ayat (2) : secara a contrario.KOMPETENSI ABSOLUT ARBITRASE Pasal 5 ayat (1) : ´Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanya sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang perundangbersengketaµ. perbankan. Ayat (2) : ´Sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat perundangdiadakan perdamaianµ. penanaman modal. dan HKI yang dikuasai sepenuhnya oleh pihak bersengketa. keuangan. Catatan : Norma terkandung ayat (1) : apa yang dimaksud dengan ´sengketa perdaganganµ dapat ditafsirkan dari penjelasan Pasal 66 huruf ´bµ. industri. BRW/FHUA/2007 26 . kompetensi aboslut arbitrase mencakup sengketa yang penyelesaiannya dapat dilakukan melalui perdamaian. yang meliputi perniagaan.

King Solomon was an arbitrator and the procedure he used was in many respects similar to that used by arbitrators today. the father of Alexander the Great. µArbitration as an institution is not new. Fifth Edition.. Works. Philip II of Macedon. How Arbitration Works. specified the used 338of arbitration in disputes between members over vexed territoryµ. having been in use many centuries before the beginning of the English Common Law««««.Frank Elkouri & Edna Asper Elkouri.. in his treaty of peace with the city-states of citysouthern Greece circa 338-337 BC. BRW/FHUA/2007 27 . 1997.

Pada dasarnya hanya berlaku bagi penduduk Hindia Belanda. bagi golongan Bumiputera dapat menggunakan arbitrase. 131 dan 163 Indische Staatsregeling). Gol Timur Asing (Tionghoa dan bukan Tionghoa). Eropa. 377 HIR/705 RBG.ARBITRASE DI INDONESIA Eksistensi arbitrase sudah dikenal sejak jaman penjajahan dan diatur dalam Reglement op de Burgerlijke Rechtsvoerdering (RV) Stb. yakni Gol. 1847 ² 52. serta Gol Bumiputera yang masing2 tunduk pada hukum perdata berbeda (Ps. golongan Eropa. BRW/FHUA/2007 28 . Berdasarkan Ps. dengan syarat melakukan penundukan hukum terhadap RV. Pada saat itu terjadi penggolongan penduduk Hindia Belanda. menjadi 3 golongan. Pasal 615 s/d 651.

Law. BRW/FHUA/2007 29 . 1990. in some of them it takes a different shape. Inevitably this sometimes reflects local problems and sometimes a different approach to the entire legal system.Mauro Rubino Sammartano. International Arbitration Law. µWhile arbitration is known in the large majority of legal system.

25/2007 (UUPM).1/1990 tentang Prosedur Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing. PERMA No.34/1981. 30/1999 tentang Arbitrase & Alternatif Penyelesaian Sengketa (mencabut Pasal 615 s/d 651 Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering Stb 1847-52. UU 1/1967 (UUPMA) sebagaimana diubah & ditambah dengan UU 11/1970 yang kemudian dicabut dengan UU No. BRW/FHUA/2007 30 .SUMBER HUKUM ARBITRASE PERDAGANGAN DI INDONESIA UU No.5/1968. Konvensi Washington 1965 ² Convention on the Settlement of Investment Disputes between States and Nationals of other States yang diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan UU No. 1847Konvensi New York 1958 ² Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards yang diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan Keppres No.

serta proses yang diatur ´hukum acara arbitraseµ yang dalam beberapa hal mirip dengan hukum acara perdata yang berlaku di Pengadilan. Kecuali mediasi di muka Pengadilan (Perma No. 82 Pasal. Catatan : Arbitrase dilakukan sesuai dengan syarat. prosedur. konsiliasi) hanya dalam 1 Pasal (yakni pada Pasal 6 saja). BRW/FHUA/2007 31 . mediasi dan konsiliasi dapat dilakukan sesuai kehendak para pihak tanpa harus menggunakan hukum acara tertentu. sedangkan pengaturan Alternatif Penyelesaian Sengketa lainnya (negosiasi. Pengaturan Arbitrase dalam 81 Pasal. SENGKETA MERUPAKAN SUMBER HUKUM UTAMA ARBITRASE INDONESIA Sistematika : Terdiri dari 11 Bab. Adapun pada negosiasi. dilengkapi dengan Penjelasan.UU 30/1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENY.02/2003) yang dilakukan sesuai acara mediasi. mediasi.

Eksekutabilitas putusan Arbitrase. Dll. Keahlian arbitrator. 4. substansi. 6. Lintas jurisdiksi pada arbitrase internasional. Jaminan kerahasiaan subyek. 8. 7. limitasi waktu proses arbitrase. 2. 3. serta proses berperkara. 5. Putusan arbitrase bersifat final & mengikat. Otonomi para pihak yang luas. BRW/FHUA/2007 32 .ALASAN UTAMA PARA PIHAK MEMILIH ARBITRASE 1.

PENORMAAN PRINSIP PRINSIP ARBITRASE KE DALAM UU 30/1999 Pada dasarnya terdapat universalitas prinsip prinsip umum arbitrase yang berlaku di berbagai negara. BRW/FHUA/2007 33 . Prinsip prinsip arbitrase yang telah dinormakan ke dalam UU (UU 30/1999) menjelma menjadi aturan hukum positip. baik yang bersifat memaksa (dwingen recht) maupun yang bersifat mengatur (regelend recht). kecuali hal-hal spesifik maupun aturan teknis halpelaksanaannya yang dapat berbeda antara masing masing negara.

1. Apakah Arbitrase ad hoc ataukah arbitrase institusional (ps. serta apakah Arbitrase Nasional ataukah Arbitrase Internasional (ps. OTONOMI PARA PIHAK : A. 34 ayat 1). 6 ayat 9). BRW/FHUA/2007 34 . OTONOMI PARA PIHAK MEMILIH FORUM (Choice of Arbitration Forum) Para pihak berdasarkan perjanjian tertulis dapat memilih penyelesaian sengketa melalui cara arbitrase.

pada umumnya menghindari penyelesaian sengketa melalui Pengadilan Nasional salah satu pihak (kontraktan). sehingga dapat dimohonkan pengakuan dan pelaksanaannya di wilayah Negara lain. ekspertise arbitrator. Selain karena alasan ketidakpahaman prosedur dan proses hukumnya. Sebaliknya para pihak. Putusan arbitrase internasional bersifat ´trans jurisdiksiµ. BRW/FHUA/2007 35 .A. Selain daripada itu. selain efisiensi waktu. pada umumnya telah mencantumkan ´dispute settlement caluseµ yang memilih penyelesaian sengketa melalui ´arbitraseµ. putusan Pengadilan Nasional suatu negara tidak memiliki efek mengikat dan efek eksekutorial di wilayah negara yang lain. juga putusannya bersifat final & binding. Pertimbangannya. pemeriksaannya tertutup (private & confidential). terutama kontrak internasional. juga karena adanya kekuatiran terjadinya ´pemihakanµ Pengadilan terhadap pihak (tuan rumah) yang bersengketa. OTONOMI PARA PIHAK MEMILIH FORUM (Choice of Arbitration Forum) CATATAN : Dewasa ini dalam kontrak2 komersial. dalam kontrak kemersial internasional.

OTONOMI PARA PIHAK MEMILIH FORUM (Choice of Arbitration Forum) CATATAN : Pencantuman ´dispute settlement clauseµ. Karena itu. merupakan klausula yang terakhir mendapat perhatian para pihak. Artinya. dalam hal ini ´arbitration clauseµ dalam kontrak komersial seringkali dijuluki sebagai ´midnight clauseµ. setelah mereka merampungkan substansi kontrak lainnya. BRW/FHUA/2007 36 . Mereka justru tidak menginginkan atau menghindarkan terjadinya sengketa. meskipun sengketa tersebut belum tentu terjadi dan pada dasarnya tidak dikehendaki terjadi. pencantuman ´dispute settlement clauseµ sematasematamata sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya sengketa di kemudian hari.A. Hal tersebut karena tujuan utama para pihak mengadakan kontrak adalah untuk melaksanakan kontrak itu sendiri.

speed. (4). focusing on the main issues. Contracts. (3). (2). flexibility. Freshfileds Guide to Arbitration and ADR : Clauses in International Contracts.Alasan memilih arbitrase. Martin Hunter. cost. antara lain : (1). BRW/FHUA/2007 37 . 1993.

extent of jurisdiction Chaterine Tay Swee Kian. (7). (3). cost. 1998. (8) flexibility of procedure. (5). (6). choice of tribunal. privacy and confidentiality. Know.Alasan memilih arbitrase. Resolving Disputes by Arbitration : What You Need to Know. technical expertise. BRW/FHUA/2007 38 . enforceability of award. speed. (4). (9). Representation. (2). antara lain : (1).

1991. professional practice.Alasan memilih arbitrase. M. banking and finance. building. commercial arbitration is widely used by businessmen in fields such a construction. shipping. transportation. insurance. etcµ. antara lain : Chaterina Tay Swee Kian : ´Today. BRW/FHUA/2007 39 . ´commercial arbitrationµ is ´a bussines executive courtµ. Yahya Harahap. engineering.

DIBEDAKAN MENJADI DUA MACAM : 1. DIBEDAKAN MENJADI DUA MACAM : 1.ARBITRASE : BENTUK & LINGKUPNYA DARI SEGI BENTUKNYA. ARBITRASE INSTITUSIONAL. BRW/FHUA/2007 40 . ARBITRASE INTERNASIONAL. 2. 2. ARBITRASE NASIONAL. DARI SEGI LINGKUPNYA. ARBITRASE AD HOC.

dll BRW/FHUA/2007 41 . didirikan oleh MUI & BANK MUAMALLAT BAPMI.ARBITRASE LEMBAGA (INSTITUTIONAL ARBITRATION) Disebut juga sebagai arbitrase permanen yang eksistensinya sengaja didirikan oleh komunitas tertentu dalam rangka untuk melayani kebutuhan jasa penyelesaian sengketa para pihak bersengketa. BAMUI. didirikan oleh KADIN. didirikan oleh KONI. HKHPM. dll BAORI. di Indonesia : BANI. BEJ. Misalnya. didirikan oleh BAPEPAM.

International Centre for the Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington DC.LEMBAGA ARBITRASE INTERNASIONAL American Arbitration Association (AAA) berkedudukan di New York. Kualalumpur Regional Centre for Arbitration (KRCA). London Court of International Arbitration (LCIA) Permanent Court of Arbitration (PCA) di Hague Netherlands. dll BRW/FHUA/2007 42 . Stockholm Chamber of Commerce (SCC) di Stockholm. International Chamber of Commerce Court of Arbitration (ICC) di Paris. Singapore International Arbitration Centre (SIAC).

Badan Arbitrase Olah Raga Indonesia (BAORI). DLL BRW/FHUA/2007 43 . Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI). Badan Arbitrase Muammalat Indonesia (BAMUI) kemudian berganti menjadi Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) Pusat Penyelesaian Perselisihan Bisnis Indonesia (P3BI).LEMBAGA ARBITRASE DI INDONESIA Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI).

BRW/FHUA/2007 44 .ARBITRASE AD HOC Arbitrase ad hoc dibentuk secara khusus untuk menyelesaikan suatu sengketa tertentu yang telah terjadi. sehingga bersifat insidentil atau ´case by caseµ. maka arbitrase ad hoc dengan sendirinya menjadi bubar setelah sengketa dagang yang diajukan kepadanya telah dijatuhkan putusan. Karena sifatnya insidentil. ´case caseµ.

DAN ARBITRASE INTERNASIONAL/ASING. UU NO. 30/1999 TIDAK MEMBERIKAN PENGERTIAN YANG JELAS TENTANG APA YANG DIMAKSUD DENGAN ARBITRASE NASIONAL MAUPUN ARBITRASE INTERNASIONAL.ARBITRASE BERDASARKAN RUANG LINGKUPNYA DIBEDAKAN MENJADI 2 MACAM : ARBITRASE NASIONAL. BRW/FHUA/2007 45 .

PENGERTIAN ARBITRASE INTERNASIONAL DAPAT DITAFSIRKAN DARI PENGERTIAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pasal 1 (9) UU No. BRW/FHUA/2007 46 . Indonesia.putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga atau arbiter perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia. atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasionalµ. internasionalµ.30/1999 ´Putusan Arbitrase ´Putusan Internasionalµ Internasionalµ adalah : ´«.

30/1999. BRW/FHUA/2007 47 . maka yang dimaksud dengan Arbitrase Internasional adalah Arbitrase yang putusannya dijatuhkan di luar wilayah hukum Negara Republik Indonesia.PENGERTIAN ARBITRASE INTERNASIONAL DAPAT DITAFSIRKAN DARI PENGERTIAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Bertolak dari rumusan pasal 1 ayat (9) UU No. atau yang menurut hukum Indonesia dianggap sebagai Arbitrase Internasional.

Konvensi New York.30/1999 menggunakan istilah ´arbitrase internasionalµ. 1958. menggunakan istilah ´foreign arbitrationµ.UU NO. BRW/FHUA/2007 48 . masing masing istilah digunakan saling bergantian untuk maksud yang sama (interchangeable). 1/1990 menggunakan istilah ´arbitrase asingµ. (interchangeable). Perma No.30/1999 TIDAK MEMBERIKAN BATASAN JELAS TENTANG MAKNA ARBITRASE NASIONAL DAN ARBITRASE INTERNASIONAL UU No.

INTERNATIONAL ARBITRATION
µNaturally , the question can be asked wheter there is a place for international arbitration in addition to national and foreign arbitration, or wheter in reality international arbitration is merely a synonym for foreign arbitrationµ. ´««.for example, Swedish law (Foreign Arbitration Agreements and Awards Act No.147/1929) defines as ´foreignµ that arbitration which takes place in a foreign country, or in Sweden, but in which one of the parties is not Swedish««....µ. ´«However, arbitration which takes place in a given state, but contains elements external to that legal system, is generally treated as international arbitration«µ system, ´««As we have seen, the recurring definition of international arbitration is based on the different nationality, or domicilie, of the parties to the proceedings MAURO RUBINO SAMARTANO, International Arbitration Law, Kluwer Law and Law, Taxation Publishers, GA Deventer, 1990.

BRW/FHUA/2007

49

ARBITRASE NASIONAL
Secara a contrario, Pengertian Arbitrase Nasional contrario, adalah arbitrase yang putusannya dijatuhkan di wilayah Negara Republik Indonesia, atau yang menurut Hukum Indonesia dianggap sebagai Arbitrase Nasional. Arbitrase nasional tidak mengandung ´unsur asingµ sama sekali. Misalnya, A dan B, keduanya WNI, sepakat memilih forum arbitrase yang berkedudukan di Indonesia, proses arbitrase berlangsung di Indonesia, menggunakan hukum Indonesia, serta menyangkut obyek sengketa di Indonesia.
BRW/FHUA/2007 50

B. OTONOMI PARA PIHAK MEMILIH TEMPAT ARBITRASE (CHOICE OF ARBITRATION VENUE) Ps. 37 (1) UU 30/1999.
Dalam memilih tempat (Negara) penyelenggaran Arbitrase Internasional, perlu dipetirmbangkan faktor faktor : Favourable legal environment . Tempat penyelenggaraan arbitrase di negara yang dinilai telah memiliki sistem hukum & tradisi hukum yang kuat dan dapat dipercaya kehandalannya; Enforceability of arbitration award. award. Negara yang bersangkutan haruslah negara peserta Konvensi New York 1958, serta memiliki perjanjian bilateral dengan negara para pihak maupun negara tempat pelaksanaan putusan arbitrase nantinya.

BRW/FHUA/2007

51

B. OTONOMI PARA PIHAK MEMILIH TEMPAT ARBITRASE (CHOICE OF ARBITRATION VENUE) Ps. 37 (1) UU 30/1999. Catatan : Adalah sangat beresiko bagi para pihak apabila memilih tempat penyelenggaraan arbitrase internasional di suatu negara yang tidak memiliki stabilitas serta sistem hukum dan tradisi hukumnya masih dinilai lemah, sebagaimana umumnya di negara berkembang. Selain daripada itu, perlu dipastikan apakah negara yang bersangkutan telah meratifikasi Konvensi New York 1958 ataukah tidak. Hal itu sangat terkait nantinya dengan eksekutabilitas putusan arbitrase internasional.
BRW/FHUA/2007 52

Pilihan hukum materiil pada umumnya dijumpai dalam perjanjian diantara pihak-pihak yang dikuasai dan tunduk pihakterhadap hukum materiil yang berlainan.C. maka tidak relevan melakukan pilihan hukum materiil lain. akibat hukum yang timbul. maupun sebagai dasar hukum bagi penyelesaian sengketa yang timbul di kemudian hari. pada perjanjian diantara pihak2 yang tunduk dan dikuasai hukum materiil (nasional) yang sama. pilihan para pihak berlaku terhadap perjanjian. Otonomi Para Pihak Memilih Hukum (Choice of Law) C. Memilih Hukum Materiil (ps. Perjanjian dagang internasional mengandung ´element asingµ Sedangkan. . Hukum ´cross borderµ.1. Perjanjian dagang internasional yang bersifat ´cross borderµ. 56 ayat 2). BRW/FHUA/2007 53 .

melainkan perlu juga diperhatikan prinsip-prinsip hukum lain yang berlaku. ´openbare ordeµ. CATATAN : Persoalan pilihan hukum tidak semata-mata semataditentukan berdasarkan prinsip kebebasan berkontrak serta otonomi para pihak saja. Pilihan hukum hanya relevan dengan kontrak dagang internasional. BRW/FHUA/2007 54 .C. ´public policyµ.2.30/1999 mengatur tentang kemungkinan para pihak melakukan pilihan hukum. Pasal 56 (2) jo. Pasal 31 (1) dan 34 (2) UU No. baik terhadap hukum materiil maupun hukum formil. prinsipAntara lain tidak boleh melanggar prinsip ´dwingend rechtµ.

dan arbiter atau majelis arbitrase telah terbentuk berdasarkan Pasal 12. Pasal 31 (2) : dalam hal para pihak tidak menentukan sendiri ketentuan mengenai acara arbitrase yang akan digunakan dalam pemeriksaan.C. Memilih Hukum Formil (ps 31 jo. Pasal 31 (1) : ´para pihak dalam suatu perjanjian yang tegas dan bebas untuk menentukan acara arbitrase yang digunakan dalam pemeriksaan sengketa sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam UU 30/1999µ.3. 34 ayat 2). semua sengketa yang penyelesaiannya diserahkan kepada arbiter atau majelis arbitrase akan diperiksa dan diputus menurut ketentuan dalam UU 30/1999. BRW/FHUA/2007 55 . 13 dan 14.

BRW/FHUA/2007 56 .3.C. harus ada kesepakatan mengenai ketentuan jangka waktu dan tempat diselenggarakan arbitrase. 34 ayat 2). Pasal 31 (3) : Dalam hal para pihak telah memilih acara arbitrase sebagaimana dimaksud ayat (1). Memilih Hukum Formil (ps 31 jo. Apabila jangka waktu dan tempat arbitrase tidak ditentukan. arbiter atau majelis arbitrase yang akan menentukan.

31 jo. BRW/FHUA/2007 57 . maka hal itu harus diperjanjikan secara tegas. Apabila para pihak bermaksud mengadakan pilihan hukum formil. 34 ayat 2. maka Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang menolak memberikan pengakuan dan melaksanakan putusan Arbitrase Internasional tersebut di wilayah Republik Indonesia (Vide Pasal 65 jo.Catatan Ps.c. UU No.30/1999. sepanjang hukum formil yang dipilih tidak bertentangan dengan UU No. 66 huruf ´cµ).30/1999. Pilihan hukum formil. dalam arbitrase internasional harus dilakukan secara hati-hati. hatiOleh karena apabila hukum formil yang dipilih dalam suatu arbitrase internasional dinilai bertentangan dengan ketertiban umum i.

(d). Cara Pemilihan Hukum.4. pilihan secara hipotetis.C. pilihan hukum yang dilakukan secara diamdiamdiam. BRW/FHUA/2007 58 . (b). (c). Pilihan hukum dilakukan dengan cara : (a). pilihan hukum yang dilakukan secara tegas. pilihan hukum berdasarkan anggapan.

Para pihak telah dengan tegas memilih suatu hukum tertentu . Pilihan hukum secara anggapan dan secara hipotetis menimbulkan keraguan yang semakin tinggi. Pilihan hukum yang dilakukan secara diam-diam. diammeskipun mengandung sedikit keraguan tentang apa sesungguhnya hukum pilihan para pihak. namun masih dimungkinkan untuk menyelidiki berbagai faktor obyektif untuk dijadikan pedoman dalam menentukan hukum pilihan para pihak. Pada pilihan hukum secara tegas kiranya telah jelas tentang apa yang dimaksud dan diinginkan oleh para pihak dalam perjanjian.4.C. BRW/FHUA/2007 59 . Cara Pemilihan Hukum.

BRW/FHUA/2007 60 . CHOICE OF LAW & APPLICABLE LAW Hukum Pilihan Para Pihak (law of the parties) berlaku sebagai (law parties) hukum yang diberlakukan/ diterapkan terhadap sengketa (applicable law/ governing law). termasuk terhadap law).6. penyelesaian sengketa yang terjadi atau akan terjadi di antara mereka dan dipergunakan sebagai dasar bagi arbitrator atau majelis arbitrase untuk memutuskan sengketa. C.Pilihan hukum hanya dilakukan dalam bidang hukum perjanjian yang bersifat mengatur (regelend recht) dan tidak (regelend recht) terhadap hukum yang bersifat memaksa (dwingend recht).5. (dwingend recht).C. Pilihan hukum dibatasi pada sistem hukum yang memiliki hubungan riil dengan dengan substansi perjanjian (the most (the characteristic connection).

CHOICE OF LAW WITH A BONAFIDE INTENTION pilihan hukum tidak dapat diarahkan pada hukum yang tidak kaitannya sama sekali dengan substansi perjanjian. Pilihan hukum juga tidak dapat dilakukan dengan maksud sebagai tindakan penyelundupan hukum. Pilihan hukum harus dilakukan dengan maksudmaksudmaksud yang baik (made with a bonafide intention) (made intention) dari pihak-pihak yang terlibat di dalam perjanjian pihakyang bersangkutan. BRW/FHUA/2007 61 . hukum.

Otonomi Para Pihak Memilih Arbitrator/Arbiter (Choice of Arbitrator) : D-1. PENGERTIAN ARBITER (Pasal 1 ke-7) : ke´Arbiter adalah seorang atau lebih yang :DIPILIH OLEH PARA PIHAK YANG BERSENGKETA. atau OLEH LEMBAGA ARBITRASE. BRW/FHUA/2007 62 . atau yang DITUNJUK OLEH PENGADILAN NEGERI. untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitraseµ.D.

atau karena terdapat hambatan prosedural dalam pemilihannya.D. BRW/FHUA/2007 63 . Namun apabila opsi tersebut tidak digunakan oleh para pihak. maka pemilihan arbitrator dilakukan oleh Pengadilan atau oleh Lembaga Arbitrase. Memilih Arbitrator/Arbiter (Choice of Arbitrator) : CATATAN : Pemilihan arbitrator pada dasarnya merupakan opsi para pihak bersengketa.

(e).tidak mempunyai kepentingan finansial atau kepentingan lain atas putusan arbitrase. (b). BRW/FHUA/2007 64 . Syarat Syarat Menjadi Arbitrator (ps 12 ayat 1). berumur paling rendah 35 tahun.D. cakap melakukan tindakan hukum. (a). (d). (c).memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif di bidang paling sedikit 15 tahun. tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat kedua dengan salah satu pihak bersengketa.2.

karena secara otomatis untuk bertindak sebagai arbitrator harus cakap melakukan perbuatan hukum. 12 (b) tidak jelas apa ´ratio legisµ pengaturan batasan umur minimal arbitrator. 12 (a) bersifat berlebihan. Rumusan Ps. mengandung ´ratio legisµ agar tidak terjadi ´conflict of interestµ antara arbitrator dengan pihak2 berperkara. BRW/FHUA/2007 65 . Rumusan Ps. 12 (c & d).CATATAN TERHADAP PASAL 12 : SYARAT MENJADI ARBITRATOR Rumusan Ps.

CATATAN TERHADAP PASAL 12 : SYARAT MENJADI ARBITRATOR Rumusan Ps. 12 (e) tidak jelas apa ´ratio legisnyaµ penentuan 15 tahun ´pengalamanµ dan ´menguasai secara aktif di bidangµnya. Persoalan penentuan ´15 tahunµ dihitung dari mana serta apakah hal itu berlangsung secara terus menerus ? Persoalan lainnya ´siapaµ yang kompeten menilai adanya ´pengalamanµ dan ´menguasai secara aktif di bidangnyaµ tersebut ? Apakah semata-mata berdasarkan anggapan ataukah harus sematadibuktikan melalui sertifikasi keahlian yang diterbitkan oleh asosiasi profesi atau lembaga yang kompeten ? BRW/FHUA/2007 66 .

memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif bidangnya paling sedikit 15 tahun. (f).Syarat Sebagai Arbitrator BAPMI. cakap melakukan tindakan hukum. tidak pernah dihukum karena suatu tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan yang telah mempunyai kekuatan pasti. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. (c). (b). BRW/FHUA/2007 67 . warganegara Indonesia. (a). (e). berumur paling rendah 35 tahun. (d).

Syarat Sebagai Arbitrator BAPMI. telah memperoleh ijin orang perorangan profesi pasar modal dari BAPEPAM atau terdaftar sebagai profesi penunjang pasar modal di BAPEPAM. (h). berpendidikan minimum sarjana atau setara (j). BRW/FHUA/2007 68 . (i). himpunan. ikatan dan/atau bentuk organisasi lain yang telah menjadi anggota BAPMI. bukan merupakan pihak-pihak yang dilarang pihakuntuk menjadi arbiter oleh ketentuan perundangperundang-undangan yang berlaku. terdaftar sebagai anggota dari asosiasi. (g).

direksi bursa efek. atau lembaga penyimpanan dan penyelesaian. (l). (o). BRW/FHUA/2007 69 . memahami Peraturan dan Acara BAPMI. atau lembaga kliring dan penjaminan.Syarat Sebagai Arbitrator BAPMI (k). bukan merupakan pejabat di bidang pengawas pasar modal. tidak termasuk dalam Daftar Orang Tercela dan/atau daftar orang yang tidak boleh melakukan tindakan tertentu di bidang pasar modal sesuai dengan daftar yang dikeluarkan oleh BAPEPAM dan/atau tidak pernah dihukum karena suatu tindak pidana yang terkait dengan masalah ekonomi dan/atau keuangan. memahami ketentuan perundang-undangan di bidang perundangpasar modal dan bidang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa di Indonesia. bukan merupakan pejabat aktif dari instansi peradilan. kejaksaan atau kepolisian. (m). (n).

Kualifikasi arbitrator : . . .D.jujur dan tidak tercela.non conflict of interest.dll .3. BRW/FHUA/2007 70 .profesionalitas. . .memiliki reputasi tidak tercela.berpengalaman.ekspert sesuai substansi sengketa.obyektif dan imparsialitas. . .

1994. Expertise. 1994. and convey to the parties that verry comprehend. several arbitrators are less likely to ´drop the ballµ by missing or misunderstanding some fundamental point. Communications. several arbitrators are more likely than a single arbitrator to fully comprehend. several arbitrators will ussualy offer the broader range of legal. Consistency. the issue in the case««. International Commercial Arbitration in the United States.Garry B. States. technical. BRW/FHUA/2007 71 . and other expertise then a single arbitrator. Consistency. Expertise. Born.

Garry B. States. the more the parties can generally expect to pay in arbitrator fees and expences. the more arbitrators one has. International Commercial Arbitration in the United States. BRW/FHUA/2007 72 . Speed. 1994. Speed. although much depends on the individual. Convenience. one arbitrator can in theory act more quickly than several. Convenience. Several factors are relevant : Cost. since there need not be intra tribunal consultation. finding dates on which several arbitrators are all avaliable is harder than finding dates on which one arbitrators is avaliable. Cost. Perhaps the most vital initial step in any arbitration is the appointment of the arbitrator or arbitrators who will resolve the dispute««««µ. Born.

Single or panel arbitrator (ps. masing-masing masingpihak menunjuk seorang arbiter. > Para pihak bersengketa dapat menyepakati apakah arbitrase dilaksanakan dengan model arbiter tunggal (single) ataukah majelis arbiter (panel).14 dan 15).D. selanjutnya arbiter yang ditunjuk masing-masing pihak tersebut harus masingsepakat menunjuk arbiter ketiga sebagai ketua majelis arbitrase. > Pada arbiter tunggal. para pihak harus sepakat atas penunjukan figur arbiter tunggal yang bersangkutan. BRW/FHUA/2007 73 .4. > Sedangkan pada majelis arbitrase.

Penjelasan : ««agar terjamin adanya obyektifitas dalam pemeriksaan serta pemberian putusan oleh arbiter atau majelis arbitrase.5. sepanjang memiliki keahlian dan pengalaman sesuai dengan substansi sengketa. serta tidak terdapat ´conflict of interestµ dengan pihak pihak bersengketa. Secara a contrario. BRW/FHUA/2007 74 . Larangan Menjadi Arbitrator (ps 12 ayat 2). Jaksa. ´Hakim.D. maka contrario. Serta selalu bersikap profesional. tidak tercela. setelah PURNA TUGAS. jujur. Panitera dan Pejabat Peradilan lainnya tidak dapat ditunjuk atau diangkat sebagai arbiterµ. obyektif. mereka dapat ditunjuk atau diangkat sebagai arbiter.

6. BRW/FHUA/2007 75 . Prosedur pengangkatan arbitrator (pasal 13 s/d 19). masing2 pihak bersengketa menunjuk seorang arbiter. maka arbiter yang bersangkutan harus disepakati oleh kedua belah pihak bersengketa. Pada arbiter tunggal. Pada arbiter majelis. Pada prinsipnya arbitrator dipilih oleh para pihak bersengketa.D. selanjutnya masing2 arbiter tersebut menunjuk arbiter ketiga untuk bertindak sebagai ketua majelis arbitrase.

Prosedur pengangkatan arbitrator (pasal 13 s/d 19). Apabila para pihak bersengketa tidak mencapai sepakat menunjuk arbiter (tunggal) atau para arbiter yang telah ditunjuk oleh para pihak tidak mencapai sepakat menunjuk arbiter ketiga (ketua majelis).D. maka atas permohonan pihak2 bersengketa. Pengadilan berwenang untuk menunjuk arbiter (tunggal) atau arbiter ketiga (ketua majelis).6. Atau para pihak bersengketa menyerahkan penunjukkan arbiter yang bersangkutan kepada lembaga arbitrase BRW/FHUA/2007 76 .

Campur tangan Pengadilan diperlukan untuk mengatasi ´kebuntuan proseduralµ sebagai akibat tidak tercapainya kata sepakat tentang penunjukkan arbitrator. atau para arbiter yang ditunjuk para pihak gagal mencapai sepakat memilih arbiter ketiga. ´conflict interestµ.7. Campur tangan Pengadilan dalam pemberhentian arbiter juga dilakukan atas permohonan pihak2 bersengketa. Campur tangan Pengadilan dalam penunjukkan arbiter dilakukan atas dasar permohonan pihak2 bersengketa. karena arbiter yang ditunjuk terbukti memiliki ´conflict of interestµ. BRW/FHUA/2007 77 . karena para pihak gagal mencapai sepakat dalam penunjukkan arbiter. Campur tangan Pengadilan (pasal 13 s/d 19).D.

COURT INTERVENTION Istilah ´court interventionµ merupakan pernyataan yang seringkali ditemukan dalam berbagai literatur tentang arbitrase bahwa : ´The courts role therefore should be assist the arbitral tribunal to achieve the purpose of arbitration. Mauro Rubino Sammartano mencontohkan sebagaimana praktek di Jerman bahwa : ´German law provides for court intervention not only during the appointment of an arbitrator or a challenge. proceedingsµ. but also to hear witnesses or expert. the administration oath to witnesses or experts is always done by the courts. who do not voluntary appear before the arbitrators. The possibility for court to intervene by placing their power to the disposal of the arbitrators is certainly a substansial contribution to a better functioning of arbitral proceedingsµ. or if parties do not appoint him. BRW/FHUA/2007 78 . its appears that in their respective scopes the two concepts largely overlapµ. Furthermore. Even if a distinction is made between ´court interventionµ and ´court assistance and supervisionµ as in article 5 and 6 of the UNCITRAL Model Law.

ICC Publishing SA. or in order for an arbitration agreement to cease effect. unless it finds that the said agreement is null and void. 1987. to order discovery or the appearance of witnessesµ Pasal II (3) Konvensi New York 1958 yang mengatur : ´The court of contracting state. 129. refer the parties to arbitration. h. or to enforce. Di India bahwa : ´the Court intervention may be sought to remove an arbitrator for . modify or correct and award and to grant an extension of the time limit for rendering an award. Demikian pula halnya di Malaysia. al. Pacific.COURT INTERVENTION Simmond K. to extend the time limit for rendering an award. Commercial Arbitrations Law in Asia and the Pacific. Paris.R. inoperative or in capable of being performedµ . when seized of an action in a matter in respect of which the parties have made an agreement within the meaning of this article shall. BRW/FHUA/2007 79 . et.mengemukakan tinjauannya di beberapa negara Asia. the Courts have the authority to appoint or to remove an arbitrator. at the request of one of the parties. to order discovery or the appearance of witnesses. bahwa : ´««In Malaysia. Di Jepang bahwa : ´Court intervention may be sought to appoint or replace the arbitrator. to extend the time for rendering an award.

8. dan harus disampaikan kepada para pihak dalam waktu paling lama 14 hari terhitung sejak penunjukan dan pengangkatannya sebagai arbitrator. BRW/FHUA/2007 80 . dengan alasan menyangkut kompetensi serta menyangkut hak & kewajiban masing2. Opsi Calon Arbitrator Pasal 16 ayat (1) :Seorang yang ditunjuk sebagai arbitrator memiliki opsi untuk menerima atau menolak penunjukkan tersebut. Pasal 16 ayat (2) mengatur bahwa seseorang yang telah ditunjuk atau diangkat sebagai arbitrator harus menyatakan secara tegas dan tertulis tentang sikapnya apakah ia menerima atau menolak penunjukkan dan pengangkatan tersebut.D. atau alasan spesifik lainnya.

Arbiter atau para arbiter akan memberikan putusan nya secara jujur. maka terjadi perjanjian perdata yang menimbulkan hak dan kewajiban timbal balik (pasal 17 ayat 1). Opsi Calon Arbitrato Apabila telah tercapai kesepakatan tertulis antara pihak pihak yang menunjuk dengan arbitrator yang bersangkutan. dan sesuai dgn ketentuan yang berlaku dan para pihak akan menerima putusannya secara final dan mengikat seperti yang diperjanjian bersama (pasal 17 ayat 2).8. adil.D. BRW/FHUA/2007 81 .

Opsi Calon Arbitrator Seorang calon arbitrator yang diminta oleh salah satu pihak untuk duduk dalam majelis arbitrase. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diberitahukan kepada para pihak mengenai penunjukkannya (pasal 18 ayat 2). wajib memberitahukan kepada pihak tentang hal yang mungkin akan mempengaruhi kebebasannya atau menimbulkan ke berpihakan putusan yang akan diberikan (pasal 18 ayat 1). BRW/FHUA/2007 82 .D.8. Seorang yang menerima penunjukkan sebagai arbitrator.

sedangkan apabila tidak disetujui maka pembebasan tugas sebagai arbitrator ditetapkan oleh Pengadilan. Pengunduran diri arbitrator diajukan secara tertulis kepada para pihak.30/1999 : seseorang menerima penunjukan dirinya sebagai arbitrator sebagaimana dimaksud Pasal 16 UU No. Apabila disetujui. maka arbitrator dibebaskan dari tugas sebagai arbitrator. maka tidak dapat menarik diri kecuali atas persetujuan para pihak.30/1999. BRW/FHUA/2007 83 .D.8. Opsi Calon Arbitrator Pasal 19 UU No.

maka yang bersangkutan tidak dapat menarik diri.8. kecuali atas persetujuan para pihak (pasal 19 ayat 1). maka yang bersangkutan wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada para pihak (pasal 19 ayat 2). Opsi Calon Arbitrator Dalam hal arbiter telah menyatakan menerima penunjukan atau pengangkatan sebagaimana dimaksud Pasal 16. menyatakan menarik diri. Dalam hal arbiter sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (1) yang telah menerima penunjukkan dan pengangkatan. BRW/FHUA/2007 84 .D.

pembebasan tugas arbitrator ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri. maka yang bersangkutan dapat dibebaskan dari tugas sebagai arbitrator (pasal 19 ayat 3). Dalam hal permohonan penarikan diri tidak mendapatkan persetujuan para pihak. BRW/FHUA/2007 85 .D.8. Opsi Calon Arbitrator Dalam hal para pihak dapat menyetujui permohonan penarikan diri sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).

sedangkan hubungan arbitrator dengan pihak berperkara berdasarkan perjanjian perdata. Perjanjian Perdata antara Arbitrator dengan Pihak yg Menunjuknya (ps 17 ayat 1). BRW/FHUA/2007 86 . obyektif & imparsial. Paradigma peran lawyer dan arbitrator berbeda satu sama lain. Hubungan lawyer dengan klien atas dasar surat kuasa. lawyer memihak kepentingan klien. sedangkan arbitrator harus tetap independen.D. sedangkan arbitrator memeriksa dan memutus perkara berdasarkan pengalaman dan keahlian yang dimilikinya. meskipun seorang lawyer dapat saja ditunjuk sebagai arbitrator. Peran arbitrator tidak identik dengan peran lawyer. Peran lawyer mengurus perkara klien sesuai dengan surat kuasa yang diberikan klien.9.

Perjanjian tersebut harus memenuhi syarat-syarat syaratsebagaimana berlaku bagi ketentuan perjanjian pada umumnya.D. Perjanjian perdata antara arbitrator dengan pihak yang menunjuknya menimbulkan hak dan kewajiban secara resiprositas. Perjanjian perdata antara arbitrator dgn pihak yg menunjuknya (ps 17 ayat 1).9. BRW/FHUA/2007 87 . kesediaannya untuk diangkat sebagai arbitrator berkewajiban untuk memberikan jasa layanan berupa kemampuan melakukan memeriksa dan memutus sengketa sesuai keahlian &pengalamannya. termasuk segala akibat hukum maupun hak dan kewajiban yang timbul dari adanya perjanjian perdata tersebut. Arbitrator yang telah menyatakan resiprositas.

9. Konsekuensinya. Arbitrator berhak mendapatkan imbalan atas jasa dan keahlian yang akan diberikannya yang berupa honorarium maupun berbagai fasilitas lain yang diperlukan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kewajibannya. Perjanjian perdata antara arbitrator dgn pihak yg menunjuknya (ps 17 ayat 1).D. apabila salah satu pihak tidak melaksanakan isi perjanjian tersebut dapat dikatakan telah melakukan wanprestasi oleh karenanya dapat digugat secara perdata oleh pihak yang dirugikan ke muka Pengadilan. BRW/FHUA/2007 88 .

D. Tuntutan ingkar terhadap arbitrator dapat pula dilaksanakan apabila terbukti adanya hubungan kekeluargaan. Terhadap arbitrator dapat diajukan tuntutan ingkar apabila terdapat cukup bukti otentik yang menimbulkan keraguan bahwa arbitartor akan melakukan tugasnya tidak secara bebas dan akan berpihak dalam mengambil putusan (pasal 22 ayat 1). BRW/FHUA/2007 89 . Tuntutan Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26).10. keuangan atau pekerjaan dengan salah satu pihak atau kuasanya (pasal 22 ayat 2).

D.10. Hak ingkar terhadap terhadap arbitrator tunggal diajukan kepada arbitrator yang bersangkutan (pasal 23 ayat 2). Tuntutan Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26). Hak ingkar terhadap anggota majelis arbitrase diajukan kepada majelis arbitrase yang bersangkutan (pasal 23 ayat 3). BRW/FHUA/2007 90 . Hak ingkar terhadap arbitrator yang diangkat oleh Ketua Pengadilan Negeri diajukan kepada Pengadilan Negeri yang bersangkutan (pasal 23 ayat 1).

Arbitrator yang diangkat tidak dengan penetapan pengadilan. Arbitrator yang diangkat dengan penetapan Pengadilan. Tuntutan Hak Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26). hanya dapat diingkar berdasarkan alasan yang baru diketahui pihak yang mempergunakan hak ingkarnya setelah pengangkatan arbitrator yang bersangkutan (pasal 24 ayat 1).D. BRW/FHUA/2007 91 . hanya dapat diingkari berdasarkan alasan yang diketahuinya setelah adanya penerimaan penetapan Pengadilan tersebut (pasal 24 ayat 2).10. harus mengajukan tuntutan ingkar dalam waktu paling lama 14 hari sejak pengangkatan (pasal 24 ayat 3). Pihak yang berkeberatan terhadap penunjukkan seorang arbitrator yang dilakukan oleh pihak lain. pengadilan.

Dalam hal tuntutan ingkar yang diajukan oleh salah satu pihak tidak disetujui oleh pihak lain.10. arbitrator yang bersangkutan harus mengundurkan diri dan seorang arbiter pengganti akan ditunjuk sesuai dengan cara yang ditentukan dalam UU 30/1999. Tuntutan Hak Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26). (pasal 24 ayat 4). BRW/FHUA/2007 92 . baik kepada pihak lain tertulis. maupun kepada arbitrator yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan tuntutannya (pasal 24 ayat 5). Dalam hal alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) dan (2) diketahui kemudian. Tuntutan ingkar harus secara tertulis. (pasal 24 ayat 6).D. tuntutan ingkar harus diajukan dalam waktu paling lama 14 hari sejak diketahuinya hal tersebut.

BRW/FHUA/2007 93 . seorang arbitrator pengganti harus diangkat dengan cara sebagaimana yang berlaku untuk pengangkatan arbitrator yang digantikan (pasal 25 ayat 2). Dalam hal tuntutan ingkar yang diajukan oelh salah satu pihak tidak disetujui oleh pihak lain dan arbiter yang bersangkutan tidak bersedia mengundurkan diri.D. pihak yang berkepentingan dapat mengajukan tuntutan kepada Ketua Pengadilan negeri yang putusannya mengikat kedua pihak dan tidak dapat diajukan perlawanan (pasal 25 ayat 1). Dalam hal Ketua Pengadilan negeri memutuskan bahwa tuntutan sebagaimana dimaksud ayat (1) beralasan. maka arbitrator melanjutkan tugasnya (pasal 25 ayat 3). Tuntutan Hak Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26).10. Dalam hal Ketua Pengadilan negeri menolak tuntutan ingkar.

D. Tuntutan Hak Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26). Wewenang arbitrator tidak dapat dibatalkan dengan meninggalnya arbitrator dan wewenang tersebut selanjutnya dilanjutkan oleh penggantinya yang kemudian diangkat sesuai dengan UU 30/1999 (Pasal 26 ayat 1). Arbitrator dapat dibebastugaskan bilamana ia terbukti berpihak atau menunjukkan sikap tercela yang harus dibuktikan melalui jalur hukum (pasal 26 ayat 2).10. BRW/FHUA/2007 94 .

(pasal 26 ayat 4). Tuntutan Hak Ingkar terhadap arbitrator (ps 22 s/d 26). Dalam hal seorang arbitrator tunggal atau ketua majelis arbitrase diganti.10. seorang arbitrator pengganti akan diangkat dengan cara sebagaimana yang berlaku bagi pengangkatan arbitrator yang bersangkutan (Pasal 26 ayat 3). Dalam hal selama pemeriksaan sengketa berlangsung. arbitrator meninggal dunia. BRW/FHUA/2007 95 . Dalam hal anggota majelis yang diganti. kewajibannya. sehingga tidak dapat melaksanakan diri. atau mengundurkan diri. pemeriksaan sengketa hanya diulang kembali secara tertib antar arbitrator (pasal 26 ayat 5). tidak mampu. semua pemeriksaan yang telah diadakan harus diulang kembali.D.

Arbitrator atau majelis arbitrase tidak dapat dikenakan tanggung jawab hukum apapun atas segala tindakan yang diambil selama proses persidangan berlangsung untuk menjalankan fungsinya sebagai arbitrator atau majelis arbitrase. kecuali dapat dibuktikan adanya itikad tidak baik dari tindakan tersebut (pasal 21).D. Sebagaimana halnya hakim dan advokat.11. 21). Persoalannya adalah bagaimana mekanisme untuk membuktikan bahwa arbitrator atau majelis arbitrase telah melakukan itikad tidak baik pada saat menjalankan tindakan dalam proses arbitrase hal itu bukanlah merupakan proses yang sederhana BRW/FHUA/2007 96 . sepanjang dilakukan dengan itikad baik. juga memiliki imunitas dalam menjalankan kewajiban atau profesinya. Imunitas arbitrator & batas2nya (ps.

BRW/FHUA/2007 97 . 21).11 Imunitas arbitrator & batas2nya (ps. Persoalan lainnya adalah siapa yang berwenang untuk memberikan penilaian terhadap masalah ´ada/tidaknya itikad baikµ arbitrator ketika memutus sengketa.Belum lagi muncul persoalan selanjutnya Persoalan lainnya lagi adalah bagaimana dengan status putusan arbitrase yang telah dijatuhkan. apakah secara otomatis batal ataukah dimohonkan pembatalan terlebih dahulu ke Pengadilan ? (lihat pasal 70 s/d 72). PersoalanPersoalan-persoalan tersebut dalam penjelasan UU No.30 tahun 1999.D. hanya disebutkan ´cukup jelasµ.

para pihak sepakat untuk menarik kembali penunjukkan arbitrator. Berakhirnya tugas & wewenang arbitrator (ps 48 jo. karena Arbiter atau kuasanya masih berkewajiban menyerahkan dan mendaftarkan putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri (Pasal 59).30/1999 mengatur bahwa tugas arbitrator berakhir karena : (a).D. atau (c). CATATAN Pasal 73 huruf ´aµ. jangka waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian arbitrase atau sesudah diperpanjang oleh para pihak telah lampau. putusan mengenai sengketa telah diambil. (b). Pasal 73 UU No. 59 ). meskipun sengketa telah diputus namun tugas Arbiter tidak langsung berakhir.12. BRW/FHUA/2007 98 .

pemilihan bahasa merupakan soal yg penting. Proses arbitrase.E. serta dokumen bukti dialihbahasakan ke dalam bahasa yang pilih. berkenaan dengan perbedaan latar belakang bahasa para pihak. Ps. Otonomi Para Pihak Memilih Bahasa (Choice of Arbitration Language). 28 : keharusan proses arbitrase menggunakan Bahasa Indonesia. Pada arbitrase internasional. para pihak dapat menggunakan bahasa lain yg disepakati. BRW/FHUA/2007 99 . keterangan saksi. KECUALI atas persetujuan arbitrator atau majelis arbitrase.

BRW/FHUA/2007 100 . Penggunaan ´bahasa asingµ harus mendapatkan persetujuan arbitrator yang akan menjalankan proses persidangan arbitrase. akan digunakan sebagai bahasa resmi dalam proses arbitrase yang bersangkutan. Misalnya konsep ´public policyµ di negara-negara Anglo American yang negaramaknanya tidak sama persis dengan konsep ´openbare ordeµ atau ´orde publiqueµ di negara negara Kontinental. Pentingnya pemilihan bahasa dalam proses arbitrase berkaitan dengan kenyataan bahwa antara bahasa yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan konseptual dalam memaknai suatu terminologi dan konsep hukum tertentu sebagai akibat adanya perbedaan latar belakang sejarah.E. budaya dan sistem hukum masing2. Persoalannya adalah : Bahasa yang telah dipilih dan disepakati oleh para pihak. Otonomi Para Pihak Memilih Bahasa (Choice of Arbitration Language). maupun dengan konsep ´ketertiban umumµ di Indonesia karena masing2 memiliki latar belakang sejarah dan sistem hukum berlainan.

1 ke-3 ) : ´Perjanjian arbitrase adalah kesuatu kesepakatan berupa KLAUSULA ARBITRASE yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE.2. Pengertian Perjanjian Arbitrase (ps. A. atau suatu PERJANJIAN ARBITRASE tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketaµ. BRW/FHUA/2007 101 .

Pasal 3 : ´Pengadilan Negeri TIDAK BERWENANG untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitraseµ. ´Pengadilan Negeri WAJIB MENOLAK dan TIDAK AKAN CAMPUR TANGAN di dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase. (2). PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. Pasal 11 (1). BRW/FHUA/2007 102 .2. ´Adanya suatu perjanjian arbitrase tertulis MENIADA KAN HAK PARA PIHAK untuk mengajukan penyelesaian sengketa atau beda pendapat yang termuat dalam perjanjiannya ke Pengadilan Negeriµ. KECUALI dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan dalam UNDANG halUNDANG INIµ.

BRW/FHUA/2007 103 . Apabila sengketa tersebut oleh salah satu pihak tetap diajukan ke Pengadilan. Pengadilan selain terikat pada Pasal 3 jo. dengan demikian Pengadilan Negeri tidak memiliki kompetensi absolut untuk mengadili sengketa yang bersangkutan. bahwa dengan adanya perjanjian arbitrase menentukan kompetensi absolut arbitrase mengadili sengketa. 11 UU No. Pasal 3 jo.30/1999. 11 mengandung norma yang bersifat memaksa. juga wajib menghormati pilihan para pihak yang telah mengadakan perjanjian arbitrase. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE.2. maka Pengadilan wajib menolak campur tangan atas perkara yang oleh para pihak sebelumnya telah diperjanjikan akan diselesaikan melalui arbitrase. Konsekuensi adanya perjanjian arbitrase maka para pihak telah melepaskan haknya untuk menyelesaikan sengketanya melalui lembaga Pengadilan.

PERJANJIAN ARBITRASE TIDAK BOLEH MELANGGAR UNDANGUNDANGUNDANG. 37/2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornyaµ BRW/FHUA/2007 104 . sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Undang Undang iniµ. mengatur bahwa : ´Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari para pihak yang terikat dalam perjanjian arbitrase. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. Pasal 303 Undang Undang No.2. Pasal 2 ayat (1) mengatur : ´Debitor mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih. dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan.

CATATAN Pasal 303 jo. meskipun terdapat perjanjian arbitrase yang dibuat oleh para pihak. Pasal 2 ayat (1) UU 37/2004 KAITANNYA DENGAN KEWENANGAN ARBITRASE Norma yang terkandung dalam ketentuan tersebut. BRW/FHUA/2007 105 . namun yang berwenang asbolut memeriksa dan memutus sengketa kepailitan adalah Pengadilan Niaga. Kedudukan Pengadilan Niaga sebagai satu-satunya Pengadilan yang memiliki satukompetensi absolut dalam perkara kepailitan tidak dapat tergantikan atau disingkirkan oleh adanya perjanjian arbitrase yang dibuat oleh para pihak. Hal tersebut menunjukkan sifat memaksa (´dwingendµ) ketentuan tersebut.

keduanya memiliki kesamaan yakni kesepakatan para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. Dengan adanya klausula arbitrase atau perjanjian arbitrase maka yang berwenang secara absolut menyelesaikan sengketa adalah lembaga arbitrase yang telah disepakati para pihak. Klausula arbitrase (arbitration clause/pactum de compromittendo) merupakan salah salah satu klausula yang terdapat dalam suatu kontrak dan dibuat sebelum terjadi sengketa. Perbedaan antara klausula arbitrase dengan perjanjian arbitrase hanya terletak pada saat pembuatan serta cara penuangannya.2. BRW/FHUA/2007 106 . namun pada pokoknya. Klausula Arbitrase & Perjanjian Arbitrase. sedangkan perjanjian arbitrase (arbitartion agreement/acta van compromise) dibuat tersendiri/ terpisah dengan perjanjian pokoknya namun tetap saling berkaitan. B.

PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE.2. Dibuat sebelum & sesudah terjadi sengketa (ps. Dalam praktek. C. mengadakan perjanjian arbitrase setelah terjadi sengketa pada umumnya lebih sulit dilakukan. maupun dalam perjanjian arbitrase yang dibuat tersendiri setelah terjadinya sengketa (arbitration agreement/acta van compromis). Kesepakatan para pihak untuk mengadakan perjanjian arbitrase dapat dibuat sebelum terjadi sengketa (arbitration clause/ pactum de compromitendo) sebagai antisipasi kemungkinan terjadinya sengketa di kemudian hari. cenderung lebih menyukai penyelesaian melalui Pengadilan. karena pihak yang posisi hukumnya lemah. BRW/FHUA/2007 107 . 7). dengan maksud untuk memanfaatkan kelambanan proses dan prosedur Pengadilan guna mengulur pemenuhan kewajiban.

Subyek hukum publik meliputi badan hukum publik (misalnya. 1 ke-2). Yayasan. Subyek hukum perdata meliputi orang dan badan hukum perdata (misalnya PT. Para Pihak dalam Perj. Arbitrase (ps. E. dll). Pemerintah Pusat/Propinsi/Kabupaten/ Kota). BRW/FHUA/2007 108 .2. kePara pihak dalam perjanjian arbitrase adalah SUBYEK HUKUM BAIK MENURUT HUKUM PERDATA MAUPUN HUKUM PUBLIK. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE.

CATATAN : Keharusan perjanjian dibuat tertulis dan ditandatangani para pihak masih menggunakan paradigma perjanjian berbasis kertas. Persetujuan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase dimuat dalam suatu DOKUMEN YANG DITANDATANGANI PARA PIHAK (ps. maka komunikasi para pihak. dapat dilakukan melalui berbagai sarana komunikasi. Perjanjian Arbitrase Tertulis. Perjanjian arbitrase dibuat secara tertulis yang ditandatangani oleh para pihak. sedangkan apabila para pihak tidak dapat menanda tangani maka perjanjian tertulis tersebut dibuat dalam bentuk AKTA NOTARIS (Ps. melalui kegiatan e commerce. Misalnya melalui e-mail dan lain sebagainya. Padahal dalam praktek dewasa ini. 4 ayat 2). 9 ayat 1 dan 2). e- BRW/FHUA/2007 109 . tanpa para pihak harus melakukan perjumpaan fisik. termasuk pembuatan perjanjian arbitrase.2. D. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE.

eRumusan frasa ´dalam bentuk sarana komunikasi lainnyaµ merupakan antisipasi terhadap kemungkinan munculnya teknologi mutakhir di bidang komunikasi di masa depan. maka pengiriman teleks. Pasal 4 ayat (3) mengatur : Dalam hal disepakati penyelesaian sengketa melalui arbitrase terjadi DALAM BENTUK PERTUKARAN SURAT. e-mail atau dalam bentuk sarana komunikasi elainnya. wajib disertai dengan catatan penerimaan oleh para pihak. BRW/FHUA/2007 110 . PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE.2. CATATAN : Pasal 4 ayat (3) telah mengakomodasi kemungkinan pembuatan perjanjian arbitrase melalui berbagai sarana telekomunikasi akibat pesatnya perkembangan e-commerce. faksimile. telegram.

masalah yang disengketakan. d. g. Arbitrase harus memuat : a. c. Pasal 9 ayat (3) Perj. nama lengkap dan tempat tinggal para pihak. 9 ayat 3). PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. f. b. pernyataan kesediaan dari arbiter. (Ps. nama lengkap dan tempat tinggal para arbiter dan majelis arbitrase. tempat arrbiter atau majelis arbitrase akan mengambil keputusan. jangka waktu penyelesaian sengketa. pernyataan kesediaan dari pihak yang bersengketa untuk menanggung segala biaya yang diperlukan untuk penyelesaian sengketa melalui arbitrase. BRW/FHUA/2007 111 .2. nama lengkap sekretaris. dan h. F. e.

yakni ´perjanjian arbitrase batal demi hukumµ. Disertai ancaman sanksi dalam Pasal 9 ayat (4). BRW/FHUA/2007 112 . apabila terbukti tidak memuat semua unsur Pasal 9 ayat (3). CATATAN : Unsur2 dalam Pasal 9 ayat (3) bersifat limitatif dan imperatif. Pasal 9 ayat (4) mengatur bahwa perjanjian tertulis yang tidak memuat hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) BATAL DEMI HUKUM.2. artinya semua unsur tanpa kecuali harus terpenuhi dan termuat dalam suatu perjanjian arbitrase. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE.

dan pada waktu yang sama pula. TI/TK/EBerkaitan dengan perkembangan Teknologi Iinformasi/Teknologi Kominukasi maupun E-Commerce. Melainkan dapat memanfaatkan sarana teknologi yang ada. e-mail. berdasarkan norma yang terkandung dalam pasal 4 ayat (3). Arbitrase Tertulis & Perkemb. Perj. telegram. melalui teleks. TI/TK/E-C. perjanjian arbitrase tidak mutlak harus berbasis kertas serta ditandatangani para pihak di tempat yang sama. BRW/FHUA/2007 113 . Namun hal itu disyaratkan wajib disertai dengan suatu catatan penerimaan oleh para pihak (ps. atau dalam bentuk sarana komunikasi elainnya. Emaka kesepakatan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dapat dibuat dalam bentuk pertukaran surat. 4 ayat 3).2. G. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. Karena itu.

Pengadilan negeri WAJIB MENOLAK dan TIDAK AKAN CAMPUR TANGAN di dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. BRW/FHUA/2007 114 . H. Adanya suatu perjanjian arbitrase tertulis MENIADAKAN HAK PARA PIHAK untuk mengajukan penyelesaian sengketa atau beda pendapat yang termuat dalam perjanjiannya ke Pengadilan negeri (pasal 11 ayat 1). 3).2. Wewenang Absolut Arbitrase Pengadilan Negeri TIDAK BERWENANG untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase (ps. KECUALI DALAM HALHAL-HAL TERTENTU yang ditetapkan dalam UU ini (ps. 11 ayat 2).

g.2. d. bangkrutnya salah satu pihak. c. atau h. Perjanjian arbitrase TIDAK MENJADI BATAL disebabkan keadaan tersebut di bawah ini : a. Novasi. BRW/FHUA/2007 115 . I. f. Pewarisan. PERJANJIAN ARBITRASE MENJADI DASAR WEWENANG ARBITRASE. e. Berlakunya syarat2 hapusnya perikatan pokok. meninggalnya salah satu pihak. Insolvensi salah satu pihak. Berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok. Pasal 10. b. Bilamana pelaksanaan perjanjian tersebut dialitugaskan pada pihak ketiga dengan persetujuan pihak yang melakukan perjanjian arbitrase tersebut.

khususnya menyangkut apa ´reasoningµ pengaturan dalam Pasal 10 huruf ´fµ dan huruf ´hµ. Maka apabila lokomotipnya tidak jalan. bahwa perjanjian arbitrase tidak batal karena berlakunya syarat2 hapusnya perikatan pokok serta berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok ??? Hal tersebut berkaitan dengan kedudukan perjanjian arbitrase yang bersifat ´assessorµ terhadap perjanjian pokoknya. bukankah batalnya perjanjian pokok maka secara otomatis menyebabkan batal pula perjanjian assessornya ? Ibaratnya perjanjian pokok sebagai ´lokomotipµ sedangkan perjanjian arbitrase sebagai ´gerbongµnya. apakah gerbongnya tetap jalan ? BRW/FHUA/2007 116 . Bukankah kedudukan perjanjian assessor mengikuti perjanjian pokoknya ? Dalam pengertian.KETIDAKBATALAN PERJANJIAN ARBITRASE : PASAL 10 ´fµ dan ´hµ UU 30/1999 Persoalan hukumnya adalah.

Terjadinya publikasi dikuatirkan justru dapat merugikan nama baik dan berbagai kepentingan para pihak lainnya.3. Prinsip ini merupakan ´pekecualianµ terhadap prinsip ´sidang terbuka untuk umumµ yang berlaku dalam proses peradilan. Prinsip ini merupakan daya tarik utama arbitrase dalam penyelesaian sengketa bisnis. proses. karena para pihak sejatinya tidak menginginkan publikasi terhadap persona. substansi. BRW/FHUA/2007 117 . obyek sengketa. PRIVATE & CONFIDENTIAL : Pasal 27 : ´Semua pemeriksaan sengketa dilakukan secara tertutupµ.

Hal ini merupakan wujud prinsip keadilan dan keseimbangan (justice & fairness) dalam proses arbitrase. AUDI ET ALTERAM PARTEM : Pasal 29 : Para pihak yang bersengketa mempunyai hak & kesempatan yg sama dalam mengemukakan pendapat dalam proses arbitrase (audi et alteram partem).4. BRW/FHUA/2007 118 . Arbitrator/Majelis arbitrase wajib mendengar keterangan para pihak yang bersengketa. Prinsip ini juga merupakan prinsip umum penyelenggaraan Peradilan pada umumnya. serta memberikan kesempatan yang sama kepada mereka untuk menggunakan hak dan kewajibannya dalam proses arbitrase.

Oleh karena itu.LIMITASI WAKTU PROSES ARBITRASE Proses arbitrase dibatasi waktu paling lama 180 hari sejak arbiter atau majelis arbitrase terbentuk (ps. 48 ayat 1). seorang calon arbiter harus mengukur kemampuannya apakah sanggup menyelesaikan sengketa dalam koridor waktu yang telah ditentukan. maka ia harus melakukan manajemen waktu sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. arbiter dapat dihukum untuk mengganti biaya kerugian yang diakibatkan karena keterlambatan tersebut kepada para pihak (Pasal 21). SANKSI : dalam hal arbiter atau majelis arbitrase tanpa alasan yang sah dalam tidak memberikan putusan dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Ps. Perpanjangan waktu oleh arbiter atau majelis arbitrase dapat dilakukan atas persetujuan para pihak (ps. 38 ayat 2 jo. 33).5. BRW/FHUA/2007 119 . Sebaliknya ketika telah bersedia ditunjuk sebagai arbiter.

5.LIMITASI WAKTU PROSES ARBITRASE
CATATAN : dibandingkan dengan proses peradilan, maka secara teoritis maupun secara normatif waktu dalam proses arbitrase relatif lebih cepat. Selain dibatasi dalam waktu 180 hari, juga putusannya bersifat final & binding. Sedangkan terhadap putusan Pengadilan masih terbuka dimohonkan banding dan kasasi. Apabila diperlukan penambahan waktu, maka harus ada persetujuan para pihak, oleh karena hal itu akan berdampak pada bertambahnya biaya-biaya yang biayaharus ditanggung oleh para pihak.
BRW/FHUA/2007 120

Perpanjangan Waktu Proses Arbitrase (Ps. 33 UU 30/1999);
Arbitrator/majelis arbitrase berwenang memperpanjang jangka waktu tugasnya apabila : diajukan permohonan oleh salah satu pihak mengenai hal khusus tertentu atau sebagai akibat ditetapkan putusan provisionil atau putusan sela lain nya; atau memang dianggap perlu oleh arbiter atau majelis arbitrase untuk kepentingan pemeriksaan. Perpanjangan waktu diperlukan, mengingat kompleksitas perkara yang diperiksa, sehingga tidak meungkinkan diputus dalam waktu 180 hari. Namun perpanjangan waktu tetap harus mendapatkan persetujuan para pihak berperkara, mengingat perpanjangan waktu beresiko pada biaya-biaya yang harus biayadipikul para pihak berperkara itu sendiri.
BRW/FHUA/2007 121

ACARA ARBITRASE
Secara umum, prosedur dan proses beracara di forum arbitrase (UU 30/1999) memiliki berbagai kesamaan dengan beracara di forum peradilan (HIR atau RBG). Kecuali hal2 tertentu yang memang merupakan ciri khas arbitrase, antara lain berlakunya prinsip otonomi para pihak untuk memilih forum, memilih hukum, memilih bahasa, memilih arbiter, prinsip private & confidential, prinsip final & binding putusan arbitrase, prinsip resiprositas, eksekutabilitas putusan arbitrase internasional, dll.
BRW/FHUA/2007 122

ACARA ARBITRASE (1) (pasal 27 s/d 51) 
  

Pemeriksaan sengketa dilakukan secara tertutup (ps. 27). Bahasa yg digunakan dalam proses arbitrase adalah Bahasa indonesia, kecuali digunakan bahasa lain (ps.28). Para pihak memiliki hak dan kesempatan yg sama dalam mengemukakan pendapat masing2 (ps. 29 ayat 1). Para pihak yang bersengketa dapat diwakili kuasa dengan surat kuasa khusus (ps. 29 ayat 2);
BRW/FHUA/2007 123

31 ayat 2). Para pihak dalam perjanjian yang tegas & tertulis bebas menentukan acara arbitrase. BRW/FHUA/2007 124 . 30). sepanjang tidak bertentangan dg UU 30/1999 (ps. Apabila para pihak tidak menentukan sendiri acara arbitrase. serta disetujui arbitrator atau majelis arbitrator (ps. maka harus ada kesepakatan tentang jangka waktu dan tempat arbitrase (ps. dan disepakati para pihak yg bersengketa. Para pihak dapat sepakat memilih acara arbitrase.31 ayat 3). arbitrase dapat turut serta kemenggabungkan diri dalam proses arbitrase. apabila terdapat kepent yg terkait. 31 ayat 1). maka acara arbitrase diselenggarakan menurut UU 30/1999 (ps.ACARA ARBITRASE (2) Pihak ke-3 di luar perj.

Penjelasan Pasal 32 : cukup jelas. BRW/FHUA/2007 125 .ACARA ARBITRASE (3) Pasal 32 ayat (1) : Atas permohonan salah stau pihak. arbiter atau majelis arbitrase dapat mengambil putusan provisionil atau putusan sela lainnya untuk mengatur ketertiban jalannya pemeriksaan sengketa. Pasal 32 ayat (2) : Jangka waktu pelaksanaan putusan provisionil atau putusan sela lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dihitung dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. termasuk penetapan sita jaminan. atau menjual barang yang mudah rusak. memerintahkan penitipan barang kepada pihak ketiga.

Dengan kata lain. diluar jangka waktu 180 hari tersebut. Adapun jangka waktu pelaksanaan ayat (1). yang diajukan pihak berperkara. Hal tersebut bergantung pada alasan dan urgensi permohonan yang diajukan oleh pemohon. termasuk sita jaminan. atau putusan sela.ACARA ARBITRASE (4) CATATAN : KataKata-kata ´dapatµ pada Pasal 32 ayat (1) menunjuk kan bahwa arbiter atau majelis arbitrase secara tentative dapat mengabulkan atau menolak permohonan provisionil. atau penjualan barang yang mudah rusak. penitipan barang kepada pihak ketiga. tidak dihitung dalam jangka waktu 180 hari proses arbitrase sebagaimana dimaksud Pasal 48. BRW/FHUA/2007 126 .

ACARA ARBITRASE (5) Pasal 34 ayat (1) : Para pihak berdasarkan kesepakatan dapat menyelesaikan sengketa melalui arbitrase nasional atau arbitrase internasional. tanpa harus mempergunakan peraturan dan acara dari lembaga arbitrase yang dipilih. BRW/FHUA/2007 127 . Pasal 34 ayat (2) : Penyelesaian sengketa melalui lembaga arbitrase sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan menurut peraturan dan acara lembaga yang dipilih kecuali ditetapkan lain oleh para pihak. Penjelasan Pasal 34 ayat (2) : memberikan kebebasan kepada para pihak untuk memilih peraturan dan acara yang akan digunakan dalam penyelesaian sengketa antara mereka.

(Vide Pasal 28). CATATAN : Terkait dengan kemungkinan dokumen atau bukti yang diajukan ditulis dalam bahasa berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam proses arbitrase.ACARA ARBITRASE (6) Pasal 35 : Arbiter atau majelis arbitrase dapat memerintahkan agar setiap dokumen atau bukti disertai dengan terjemahan ke dalam bahasa yang ditetapkan oleh arbiter atau majelis arbitrase. BRW/FHUA/2007 128 .

Pasal 36 ayat (2) : Pemeriksaan secara lisan dapat dilakukan apabila disetujui para pihak atau dianggap perlu oleh arbiter atau majelis arbitrase. kesimpulan. Mirip dengan proses peradilan perdata melalui proses jawab jinawab. duplik. repik. dstnya. dimaksudkan agar proses jawab menjawab terdokumentasikan dalam berkas perkara.ACARA ARBITRASE (7) Pasal 36 ayat (1) : Pemeriksaan arbitrase terhadap sengketa harus dilakukan secara tertulis. BRW/FHUA/2007 129 . CATATAN : Pada umumnya proses arbitrase berlangsung secara tertulis.

ACARA ARBITRASE (8) Pasal 37 Ayat (1) : Tempat arbitrase ditentukan arbiter atau majelis arbitrase. CATATAN : Norma pada ayat (1) : para pihak berhak memilih dan menentukan tempat arbitrase. namun apabila hal itu tidak dilakukan maka arbiter atau majelis arbitrase yang memilih dan menentukannya. apakah pertemuan dengan saksi tersebut dimaksudkan dalam konteks pemeriksaan perkara ? BRW/FHUA/2007 130 . Ayat (2) : Arbiter atau majelis arbitrase dapat mendengar keterangan saksi atau mengadakan pertemuan yang dianggap perlu pada tempat tertentu diluar tempat arbitrase diadakan. Norma pada ayat (2) : arbiter atau majelis arbitrase mendengar langsung keterangan saksi. kecuali ditentukan sendiri oleh para pihak. atau mengadakan pertemuan dengan saksi diluar tempat arbitrase diadakan. Tidak jelas.

Arbiter atau majelis arbitrase dapat mengadakan pemeriksaan setempat atas barang yang dipersengketakan atau hal lain yang berhubungan dengan sengketa yang sedang diperiksa««.ACARA ARBITRASE (9) Pasal 37 ayat (3) : Pemeriksaan saksi dan saksi ahli dihadapan arbiter atau majelis arbitrase. mengangkat sumpah. diselenggarakan menurut ketentuan dalam hukum acara perdata. memberikan keterangan yang benar sesuai pengetahuan dan pendengarannya sendiri (saksi fakta). saksi wajib datang. Norma ayat (4) : pemeriksaan setempat dilakukan atas inisiatif arbiter atau majelis arbitrase. di tempat dimana barang sengketa berada.µ. BRW/FHUA/2007 131 .. atau atas permohonan pihak bersengketa. Ayat (4). Pasal 49 ayat (3) UU No. CATATAN : Norma ayat (3) : Menurut Hukum Acara Perdata (HIR) jo.30/1999. atau sesuai dengan pengalaman dan keahliannya (saksi ahli).

ACARA ARBITRASE (10) Pasal 38 ayat (1) : Dalam jangka waktu yang ditentukan oleh arbiter atau majelis arbitrase. > isi tuntutan yang jelas. posita (fundamentum petendi) maupun petitum (tuntutan yang diajukan). Tuntutan diajukan secara tertulis minimal harus memuat identitas para pihak bersengketa. BRW/FHUA/2007 132 . Catatan : Hal tersebut mirip dengan format dan substansi surat gugatan dalam proses peradilan perdata. > uraian singkat sengketa disertai lampiran bukti2. pemohon harus menyampaikan surat tuntutannya kepada arbiter atau majelis arbitrase. Ayat (2) : Surat tuntutan minimal harus memuat : > nama lengkap & tempat tinggal atau tempat kedudukan para pihak.

disertai dengan perintah bahwa Termohon harus menanggapi dan memberikan jawaban tertulis paling 14 hari sejak diterimanya salinan tuntutan tersebut oleh termohon.ACARA ARBITRASE (11) Pasal 39 : Setelah menerima surat tuntutan dari pemohon. arbiter atau ketua majelis arbitrase memerintahkan agar para pihak atau kuasanya menghadap sidang arbitrase. Ayat (2) : Bersamaan dengan itu. arbiter atau ketua majelis arbitrase menyampaikan satu salinan tuntutan tersebut kepada Termohon. Pasal 40 ayat (1) : Segera setelah diterimanya jawaban dari Termohon. atas perintah arbiter atau ketua majelis arbitrase. salinan jawaban tersebut diserahkan kepada Pemohon. BRW/FHUA/2007 133 . yang di tetapkan paling lama 14 hari terhitung mulai dikeluarkannya perintah itu.

dibatasi paling lama 14 hari sejak menerima salinan tuntutan tersebut. Selanjutnya arbiter atau majelis arbitrase memerintahkan para pihak atau kuasanya agar hadir dalam sidang arbitrase paling lama 14 hari terhitung mulai dikeluarkannya perintah itu.ACARA ARBITRASE (12) CATATAN : Norma yang terkandung dalam Pasal 39 dan 40 : jawaban Termohon atas tuntutan Pemohon. BRW/FHUA/2007 134 . Kemudian arbiter atau majelis arbitrase menyerahkan jawaban Termohon kepada Pemohon.

apabila Termohon tanpa alasan yang sah tidak menyampaikan jawabannya dalam waktu 14 hari. Catatan : Norma yang terkandung dalam Pasal 41. maka Termohon akan dipanggil lagi menghadap sidang dalam waktu paling lama 14 hari terhitung mulai hari dikeluarkan perintah itu. BRW/FHUA/2007 135 . termohon akan dipanggil dengan ketentuan dalam Pasal 40 ayat (2).ACARA ARBITRASE (13) Pasal 41 : Dalam hal Termohon setelah lewat 14 hari tidak menyampaikan jawabannya.

Terhadap tuntutan balasan/rekonpensi diperiksa dan diputus oleh arbiter atau majelis arbitrase bersama-sama bersamadengan pokok perkara.ACARA ARBITRASE (14) Pasal 42 : Termohon dalam sidang pertama dapat mengajukan tuntutan balasan/ rekonpensi. CATATAN Subtansi ketentuan tersebut mirip dengan proses peradilan perdata di Pengadilan. BRW/FHUA/2007 136 .

surat tuntutannya dinyatakan gugur dan tugas arbiter atau majelis arbitrase dianggap selesai. BRW/FHUA/2007 137 . Maka tuntutan Pemohon dinyatakan gugur dan tugas arbiter atau majelis arbitrase dianggap selesai.ACARA ARBITRASE (15) Pasal 43 : Apabila pada hari yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) Pemohon tanpa suatu alasan yang sah tidak datang menghadap. CATATAN : Norma pasal 43 : Pemohon tanpa alasan sah tidak datang menghadap sidang meskipun telah dipanggil secara patut. Proses perkara dihentikan. sedangkan telah dipanggil secara patut. maka Pemohon dianggap tidak serius dalam tuntutannya.

ACARA ARBITRASE (16)
Pasal 44 ayat (1) : Apabila pada hari yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2), Termohon tanpa suatu alasan sah tidak datang menghadap, sedangkan termohon telah dipanggil secara patut, arbiter atau majelis arbitrase segera melakukan pemanggilan sekali lagi. Ayat (2) : Paling lama 10 hari setelah pemanggilan kedua diterima termohon dan tanpa alasan sah termohon juga tidak datang menghadap di muka persidangan, pemeriksaan akan diteruskan tanpa hadirnya termohon dan tuntutan pemohon dikabulkan seluruhnya, kecuali jika tuntutan tidak beralasan atau tidak berdasarkan hukum. CATATAN ; Norma yang terkandung, Termohon tanpa alasan sah dianggap mengabaikan panggilan sidang, oleh karena itu sidang dilanjutkan tanpa kehadiran Termohon. Arbiter atau Majelis Arbitrase dalam putusannya (Verstek) akan mengabulkan tuntutan Pemohon, kecuali apabila tuntutan Pemohon tidak beralasan atau tidak berdasarkan hukum. Hal ini mirip dengan proses peradilan perdata di Pengadilan Negeri.
BRW/FHUA/2007 138

ACARA ARBITRASE (17)
Pasal 45 ayat (1) : dalam hal para pihak datang menghadap pada hari yang telah ditetapkan, arbiter atau majelis arbitrase terlebih dahulu mengusahakan perdamaian antara para pihak yang bersengketa. Ayat (2) : dalam hal usaha perdamaian tercapai, maka arbiter atau majelis arbitrase membuat suatu akta perdamaian yang final dan mengikat para pihak dan memerintahkan para pihak untuk memenuhi ketentuan perdamaian tersebut. Catatan : Sebagaimana dalam peradilan perdata, maka penyelesaian damai harus dikedepankan. Apabila para pihak berhasil didamaikan, maka sengketa dinyatakan selesai, para pihak diperintahkan menjalankan akta perdamaian yang bersifat final dan mengikat. Kalau perdamaian di muka Pengadilan para pihaklah yang menyusun dan menandatangani akta perdamaian, namun pada perdamaian di muka arbitrase yang membuat akta perdamaian adalah arbiter atau majelis arbitrase.
BRW/FHUA/2007 139

ACARA ARBITRASE (18)
Pasal 46 ayat (1) : Pemeriksaan terhadap pokok perkara dilanjutkan apabila usaha perdamaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1) tidak berhasil. Ayat (2) : Para pihak diberi kesempatan terakhir kali untuk menjelaskan secara tertulis pendirian masing2 serta mengajukan bukti yang dianggap perlu untuk menguatkan pendiriannya dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh arbiter atau majelis arbitrase. Ayat (3) : Arbiter atau majelis arbitrase berhak meminta kepada para pihak untuk mengajukan penjelasan tambahan secara tertulis, dokumen atau bukti lainnya yang dianggap perlu dalam jangka waktu yang ditentukan arbiter atau majelis arbitrase. CATATAN : Norma yang terkandung Pasal 46, apabila perdamaian tidak berhasil, maka persidangan tetap dilanjutkan dengan memberikan kesempatan kepada para pihak untuk menjelaskan pendirian masing2 disertai bukti yang dipandang perlu.
BRW/FHUA/2007 140

ACARA ARBITRASE (19)
Pasal 47 ayat (1) : Sebelum ada jawaban dari Termohon, Pemohon dapat mencabut surat permohonan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase. Ayat (2) : Dalam hal sudah ada jawaban dari Termohon, perubahan atau penambahan surat tuntutan hanya diperbolehkan dengan persetujuan Termohon dan sepanjang perubahan atau penambahan itu menyangkut hal-hal yang bersifat fakta saja dan tidak menyangkut dasar haldasar hukum yang menjadi dasar permohonan. CATATAN Norma yang terkandung pada ayat (1), pencabutan tuntutan dapat dilakukan secara sepihak oleh Pemohon sepanjang belum ada jawaban Termohon. Norma ayat (2) : Apabila Termohon sudah mengajukan jawabannya, maka pencabutan tuntutan oleh Pemohon tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan termohon. Perubahan dan penambahan tuntutan hanya diperbolehkan apabila hanya menyangkut fakta, bukan menyangkut dasar hukum permohonan.

BRW/FHUA/2007

141

ACARA ARBITRASE (20) Pasal 48 ayat (1) : Pemeriksaan atas sengketa harus diselesaikan dalam waktu paling lama 180 hari sejak arbiter atau majelis arbitrase terbentuk. Norma yang terkandung ayat (2) membuka kemungkinan perpanjangan waktu. biaya- BRW/FHUA/2007 142 . dengan catatan hal itu sebelumnya telah disetujui oleh para pihak bersengketa. jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diperpanjang. baik dari segi waktu maupun biaya-biaya. CATATAN : Norma yang terkandung ayat (1) merupakan prinsip limitasi waktu. Ayat (2) : dengan persetujuan para pihak dan apabila diperlukan sesuai ketentuan pasal 33. Karena perpanjangan waktu akan berdampak bagi para pihak itu sendiri. artinya putusan arbitrase harus dijatuhkan dalam waktu 180 hari terhitung sejak arbiter atau majelis arbitrase terbentuk. Mengandung prinsip efisiensi penggunaan waktu.

Saksi dan saksi ahli wajib mengucapkan sumpah sebelum memberikan keterangan di muka sidang arbitrase. Ayat (3) : sebelum memberikan keterangan. Ayat (2) : Biaya pemanggilan dan perjalanan saksi dan saksi ahli dibebankan kepada pihak yang meminta. saksi atau saksi ahli dihadirkan atas perintah arbiter/majelis arbitrase atau permintaan para pihak bersengketa.ACARA ARBITRASE (21) Pasal 49 ayat (1) : Atas perintah arbiter atau majelis arbitrase atau atas permintaan para pihak dapat dipanggil seorang saksi atau lebih atau seorang saksi ahli atau lebih untuk didengar keterangan. BRW/FHUA/2007 143 . para saksi atau saksi ahli wajib mengucapkan sumpah. CATATAN : Norma yang terkandung Pasal 49. Biaya pemanggilan saksi menjadi kewajiban pihak yang meminta.

ACARA ARBITRASE (22) Pasal 50 ayat (1) : Arbiter atau majelis arbitrase dapat meminta bantuan seorang atau lebih saksi ahli untuk memberikan keterangan tertulis mengenai suatu persoalan khusus yang berhubungan dengan pokok sengketa. saksi ahli yang bersangkutan dapat didengar keterangannya di muka sidang arbitrase dengan dihadiri oleh para pihak atau kuasanya. BRW/FHUA/2007 144 . Ayat (2) : Para pihak wajib memberikan keterangan yang diperlukan oleh para saksi ahli. Ayat (4) : Apabila terdapat hal yang kurang jelas. atas permintaan para pihak yang berkepentingan. Ayat (3) : Arbiter atau majelis arbitrase meneruskan salinan keterangan saksi ahli tersebut kepada para pihak agar dapat ditanggapi secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.

bahwa para pihak wajib memberikan keterangan yang diperlukan saksi ahli.ACARA ARBITRASE (23) CATATAN Pasal 50 : Ayat (1) mengandung norma. bahwa dalam proses peradilan. BRW/FHUA/2007 145 . bahwa arbiter atau majelis arbitrase secara tentative dapat meminta ´legal opinionµ kepada saksi ahli mengenai suatu persoalan khusus terkait pokok sengketa. Hal ini bedanya dengan proses peradilan. pihak yang meminta keterangan kepada saksi ahli adalah pihak berperkara. Ayat 2 mengandung norma.

Para pihak bersengketa. dalam sidang. dapat meminta konfirmasi atas ´legal opinionµ saksi ahli tersebut.ACARA ARBITRASE (24) CATATAN Pasal 50 : Ayat (3) mengandung norma. melalui arbiter atau majelis arbitrase. Ayat (4) mengandung norma. BRW/FHUA/2007 146 . para pihak bersengketa diberikan kesempatan menanggapi secara tertulis terhadap ´legal opinionµ yang telah diberikan oleh saksi ahli. maka saksi ahli yang bersangkutan dapat didengar keterangannya di muka sidang. atas permintaan pihak berkepentingan. apabila terdapat hal yang kurang jelas menyangkut ´legal opinionµ tersebut. dengan dihadiri para pihak atau kuasanya.

melainkan juga sebagai bahan bagi arbiter atau majelis arbitrase dalam membuat putusan. BRW/FHUA/2007 147 . bahwa sekretaris (panitera) berkewajiban untuk mencatat dan membuat berita acara tentang jalannya kegiatan pemeriksaan maupun sidang arbitrase. Fungsi berita acara arbitrase sangat penting. CATATAN : Ketentuan tersebut mengandung norma.ACARA ARBITRASE (25) Pasal 51 : ´Terhadap kegiatan dalam pemeriksaan dan sidang arbitrase dibuat berita acara pemeriksaan oleh sekretarisµ. hal itu tidak saja berfungsi sebagai dokumentasi pemeriksaan perkara.

BRW/FHUA/2007 148 . 53). Terhadap pendapat yang mengikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 52 tidak dapat dilakukan perlawanan melalui upaya hukum (Ps.PENDAPAT MENGIKAT DAN PUTUSAN ARBITRASE BERSIFAT FINAL & BINDING Para pihak dalam suatu perjanjian arbitrase berhak untuk memohon pendapat mengikat (bindend advies/binding opinion) dari lembaga arbitrase atas hubungan hukum tertentu dari suatu perjanjian (Ps. 52).

Penjelasan Pasal 52, mengenai Pendapat Mengikat.
Tanpa adanya suatu sengketapun, lembaga arbitrase dapat menerima permintaan yang diajukan oleh para pihak dalam suatu perjanjian, untuk memberikan suatu pendapat yang mengikat (binding opinion) mengenai suatu persoalan (binding opinion) berkenaan dengan perjanjian tersebut. Misalnya penafsiran ketentuan yang berhubungan dengan timbulnya keadaan baru dan lain2. CATATAN : Dengan telah diberikannya pendapat oleh lembaga arbitrase tersebut, maka kedua belah pihak terikat padanya. Oleh karena itu wajib mentaati. Apabila salah satu pihak bertindak bertentangan dengan pendapat mengikat tersebut akan dianggap sebagai tindakan yang melanggar perjanjian. Persoalannya apakah ´pendapat mengikatµ memiliki kekuatan eksekutorial ?
BRW/FHUA/2007 149

PUTUSAN ARBITRASE (1)
Pasal 54 ayat (1), harus memuat : a. Kepala putusan yang berbunyi ´Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esaµ; b. Nama lengkap dan alamat para pihak; c. Uraian singkat sengketa; d. Pendirian para pihak; e. Nama lengkap dan alamat arbiter; f. Pertimbangan dan kesimpulan arbiter atau majelis arbitrase mengenai keseluruhan sengketa; g. pendapat tiap-tiap arbiter dalam hal terdapat perbedaan pendapat dalam tiapmajelis arbitrase; h. amar putusan; i. tempat dan tanggal putusan; j. tanda tangan arbiter atau majelis arbitrase.
BRW/FHUA/2007 150

PUTUSAN ARBITRASE (2)
Pasal 54 ayat (2) : ´Tidak ditandatanganinya putusan arbitrase oleh salah seorang arbiter dengan alasan sakit atau meninggal dunia tidak mempengaruhi kekuatan berlakunya putusanµ; Pasal 54 ayat (3) : ´Alasan tentang tidak adanya tandatangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus dicantumkan dalam putusanµ Pasal 54 ayat (4) : ´Dalam putusan ditetapkan suatu jangka waktu putusan tersebut harus dilaksanakanµ.
BRW/FHUA/2007 151

PUTUSAN ARBITRASE (3)
CATATAN : Pasal 54 ayat (1), mengandung norma yang bersifat memaksa (dwingend), dalam pengertian bahwa semua unsur harus termuat dalam putusan arbitrase. Secara umum unsur2 tersebut mirip dengan unsur2 dalam putusan Pengadilan. Kecuali unsur ´eµ, tentang alamat arbiter yang juga harus dicantumkan dalam putusan arbitrase. Pasal 54 ayat (2) dan (3), mengandung norma, bahwa meskipun salah seorang arbiter karena sakit atau meninggal dunia sehingga tidak mampu menandatangani putusan arbitrase, namun hal itu tidak mengurangi kekuatan berlaku putusan arbitrase. Namun dalam putusan tetap harus dicantumkan alasan tidak ditandatanganinya putusan tersebut.
BRW/FHUA/2007 152

BRW/FHUA/2007 153 .PUTUSAN ARBITRASE (4) Pasal 55 : ´Apabila pemeriksaan sengketa telah selesai. Catatan : Ketentuan ini mengandung norma. Pasal 57 : ´Putusan diucapkan dalam waktu paling lama 30 hari setelah pemeriksaan ditutupµ. pemeriksaan segera ditutup dan ditetapkan hari sidang untuk mengucapkan putusan arbitraseµ jo. yakni maksimal 30 hari setelah pemeriksaan ditutup. bahwa sidang pembacaan putusan arbitrase ditetapkan oleh arbiter atau majelis arbitrase setelah proses pemeriksaan perkara telah dinyatakan selesai.

maupun hak dan kewajiban yang setara antara satu dengan yang lain. Putusan arbitrase dapat dijatuhkan secara aklamasi. Dissenting opinion merupakan wujud demokratisasi dan transparansi proses pengambilan putusan. namun apabila terjadi perbedaan pendapat diantara arbiter. Pemuatan dissenting opinion dalam putusan arbitrase sekaligus merupakan pertanggungjawaban kualitas arbiter maupun kualitas putusan arbitrase. 54 (1) huruf ´gµ. Putusan arbitrase yang dijatuhkan berdasarkan voting harus memuat pendapat arbiter (minoritas) yang melakukan pendapat berbeda (dissenting opinion). peran. maka putusan dijatuhkan melalui voting.DISSENTING OPINION Ps. BRW/FHUA/2007 154 . dimana masingmasingmasing arbiter memiliki kedudukan.

56  Ayat (1) : Arbiter atau majelis arbitrase mengambil putusan berdasarkan ketentuan hukum. atau berdasarkan keadilan dan kepatutan.PUTUSAN BERDASARKAN HUKUM ATAU EX AEQUO ET BONO. BRW/FHUA/2007 155 .  Ayat (2) : ´Para pihak berhak menentukan pilihan hukum yang akan berlaku terhadap penyelesaian sengketa yang mungkin atau telah timbul antara para pihakµ.  Ps.

yakni hukum di tempat arbitrase diadakan (bila para pihak tidak melakukan pilihan hukum). melainkan harus tetap diterapkan dalam putusan. atau hukum yang dipilih/digunakan oleh arbiter. Penerapan ex aequo et bono dalam putusan arbitrase mengenyampingkan penerapan peraturan perundangperundangundangan. BRW/FHUA/2007 156 . kecuali hukum yang bersifat memaksa (dwingend recht) tidak dapat disimpangi. Penerapan hukum atau ex aequo et bono harus didasarkan pada perjanjian yang dibuat oleh para pihak telebih dahulu. Catatan : Yang dimaksud dengan putusan berdasarkan ´hukumµ adalah hukum pilihan para pihak (bila ada pilihan hukum).PUTUSAN BERDASARKAN HUKUM ATAU EX AEQUO ET BONO.

selain harus diperjanjian. BRW/FHUA/2007 157 . juga diajukan secara alternatif. Adapun pada proses arbitrase. yakni petitum primer (berisi sejumlah tuntutan). apakah putusan berdasarkan peraturan perundangperundang-undangan atau berdasarkan e x qequo et bono. Penggugat dalam gugatannya secara sepihak dapat mengajukan petitum yang bersifat alternatif. petitum primer dan petitum subsider dapat diajukan secara simultan .  CATATAN : Mirip dengan proses peradilan perdata di Pengadilan. serta petitum subsider berdasarkan keadilan dan kepatutan (ex aequo et bono).PUTUSAN BERDASARKAN HUKUM ATAU EX AEQUO ET BONO. Kalau pada proses peradilan.kumulatif.

sudah tidak mungkin lagi dimohonkan penambahan atau pengurangan tuntutan. terhadap putusan yang telah dibacakan dalam sidang. BRW/FHUA/2007 158 . Berbeda dengan peradilan perdata. maka hal itu mungkin saja dikoreksi melalui renvooi putusan. CATATAN : Ketentuan ini mengandung norma. bahwa terhadap putusan arbitrase yang sudah diterima masih terbuka kemungkinan diajukan permohonan koreksi atas kekeliruan administratif maupun untuk menambah atau mengurangi tuntutan putusan. Kecuali apabila terjadi kekeliruan adimistratif yang bersifat redaksional.KOREKSI PUTUSAN ARBITRASE Pasal 58 : ´Dalam waktu paling lama 14 hari setelah putusan diterima. para pihak dapat mengajukan permohonan kepada arbiter atau majelis arbitrase untuk melakukan koreksi terhadap kekeliruan administratif dan atau menambah atau mengurangi sesuatu tuntutan putusanµ.

lembar asli atau salinan otentik putusan diserahkan dan didaftarkan oleh arbiter atau kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeriµ. BRW/FHUA/2007 159 .PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL Pasal 59 Ayat (1) : ´Dalam waktu paling lama 30 hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan. Ayat (2) : ´Penyerahan dan pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan pencatatan dan penandatanganan pada bagian akhir atau dipinggir putusan oleh Panitera Pengadilan Negeri dan arbiter atau kuasanya yang menyerahkan. dan catatan tersebut merupakan akta pendaftaranµ.

Atas kelalaian arbiter atau majelis arbitrase atau kuasanya tersebut. berakibat putusan tidak dapat dilaksanakan. bila dilanggar maka putusan arbitrase menjadi non eksekutabel. maka pihak yang menang dalam putusan jelas akan merasa sangat dirugikan. Catatan : Norma yang terkandung ayat (1) jo. BRW/FHUA/2007 160 . Ayat (4) : ´Tidak dipenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Ayat (5) : ´Semua biaya yang berhubungan dengan pembuatan akta pendaftaran dibebankan kepada para pihakµ. ayat (4) bersifat imperatif.PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL Ayat (3) : ´Arbiter atau kuasanya wajib menyerahkan putusan dan lembar asli pengangkatan sebagai arbiter atau salinan otentiknya kepada Panitera Pengadilan Negeriµ.

pihakPutusan arbitrase merupakan putusan tingkat satu-satunya dan satuterakhir. CATATAN : Putusan arbitrase memiliki kekuatan final & mengikat sejak dibacakan dan diberitahukan kepada pihak-pihak berperkara.60). BRW/FHUA/2007 161 .Dalam hal para pihak tidak melaksanakan putusan arbitrase secara sukarela. Tidak terdapat proses banding atau kasasi sebagaimana proses peradilan perdata.FINAL & BINDING PUTUSAN ARBITRASE Putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak (ps. secara teoritis. putusan dilaksanakan berdasarkan PERINTAH KETUA PENGADILAN NEGERI atas permohonan salah satu pihak yang bersengketa (ps. Karena itu. proses arbitrase lebih cepat dan efisien dibandingkan dengan proses peradilan.61).

maka Ketua Pengadilan Negeri atas permohonan pihak berperkara. BRW/FHUA/2007 162 . berwenang memerintahkan eksekusi putusan arbitrase. mengingat para pihaklah yang memilih forum arbitrase.CATATAN Pasal 60 & 61 Idealnya suatu putusan arbitrase dijalankan secara sukarela disertai itikad baik oleh pihak yang dikalahkan. Namun apabila putusan arbitrase tidak dijalankan secara sukarela. arbiter. bahasa dll. tempat. serta memahami sifat ´final & bindingµnya putusan arbitrase. hukum.

setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan. dengan alasan putusan arbitrase mengandung unsur2 sebagai berikut : a. setelah putusan dijatuhkan. diakui palsu atau dinyatakan palsu.PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE (Pasal 70) Pasal 70 mengatur tentang dapat dibatalkannya putusan arbitrase. putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa. melalui permohonan yang diajukan oleh para pihak. yang disembunyikan oleh pihak lawan. b. surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan. BRW/FHUA/2007 163 . atau c.

Apabila pengadilan menyatakan bahwa alasan-alasan alasantersebut terbukti atau tidak terbukti. maka PUTUSAN PENGADILAN INI DAPAT DIGUNA KAN SEBAGAI DASAR PERTIMBANGAN BAGI HAKIM UNTUK MENGABULKAN ATAU MENOLAK PERMOHONAN. Alasanpermohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini HARUS DIBUKTIKAN dengan putusan pengadilan. BRW/FHUA/2007 164 .PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE Penjelasan Pasal 70 : Permohonan pembatalan HANYA DAPAT diajukan terhadap putusan arbitrase yang SUDAH DIDAFTARKAN DI PENGADILAN. Alasan-alasan PENGADILAN.

namun mengapa pasal 70 justru membuka kemungkinan dapat dibatalkannya putusan arbitrase melalui Pengadilan Negeri ? Hal tersebut pada dasarnya menyangkut persoalan antara tuntutan ´kepastian hukumµ dan ´keadilanµ.CATATAN TERHADAP PASAL 70 Apakah terdapat ´konflik normaµ antara Pasal 60 tentang Asas Putusan Arbitrase bersifat Final & Binding dengan Pasal 70 tentang Asas ´Dapat Dibatalkannyaµ Putusan Arbitrase oleh Pengadilan Negeri berdasarkan alasan alasan limitatif tertentu ?. Pada satu pihak pasal 60 mengatur bahwa putusan arbitrase bersifat final & binding. BRW/FHUA/2007 165 .

Penggunaan istilah ´permohonanµ kurang tepat. oleh karena i. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.86/Pdt. BRW/FHUA/2007 166 .G/2002 tanggal 27 Agustus 2002 (dimuat dalam Varia Peradilan. Lebih tepat sematadigunakan istilah gugatan pembatalan (contentiosa).CATATAN TERHADAP PASAL 70 Pasal 70 s/d 72 mengatur bahwa upaya hukum pembatalan putusan arbitrase diajukan dalam bentuk ´permohonanµ. Istilah tersebut sebagaimana digunakan dalam perkara antara Pertamina (Penggugat) vs Karaha Bodas Company (Tergugat) dan PLN (Turut Tergugat). bukan semata-mata bersifat voluntaria.01/BANDING / WASIT-INT/2002 WASITtanggal 8 Maret 2002 jo.c.c. Mengingat terdapat kepentingan pihak lain i. Pebruari 2005). Putusan Mahkamah Agung RI No. No.233. pihak yang menang dalam putusan arbitrase yang juga harus diberikan kesempatan untuk menjawab/menanggapi dalil-dalil dalil´permohonanµ a quo.

BRW/FHUA/2007 167 . maka Pemeriksaan Pengadilan terhadap permohonan pembatalan putusan arbitrase MENUNGGU putusan Pengadilan Pidana berkekuatan tetap. diajukan sebelum putusan arbitrase telah didaftarkan secara resmi ke Pengadilan oleh arbiter atau kuasanya. maka Pemeriksaan Pengadilan terhadap permohonan pembatalan putusan arbitrase dapat secara langsung dijalankan.CATATAN TERHADAP PASAL 70 Secara a contrario. Apabila menyangkut alasan ´bµ (Novum). permohonan pembatalan tidak dapat contrario. Apabila menyangkut alasan ´aµ dan/atau ´cµ.

Padahal proses pidana mulai dari laporan polisi s/d putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap untuk membuktikan alasan Pasal 70 huruf ´aµ da/atau ´cµ tersebut memerlukan waktu bertahunbertahun-tahun. sehingga sifat ´final & bindingµ putusan arbitrase harus dipahami secara ´lenturµ dan ´kontekstualµ dengan alasan2 pembatalan dalam Pasal 70. 6. BRW/FHUA/2007 168 . dengan alasan Pasal 70 huruf ´aµ dan/atau ´cµ. permohonan pembatalan putusan arbitrase memang didasarkan pada alasan2 dan bukti2 yang kuat. Namun. Secara kasuistis. Misalnya dengan membuat laporan pidana ke Polisi.CATATAN TERHADAP PASAL 70 5. yang sering terjadi permohonan pembatalan Putusan Arbitrase diajukan dengan ´itikad buruk Termohon Eksekusiµ yakni sekedar untuk ´mengganjalµ eksekusi putusan arbitrase ? Dengan alasan bahwa putusan arbitrase tersebut mengandung alasan2 pembatalan sebagaimana dimaksud Pasal 70 UU 30/1999.

Apakah eksekusi ditangguhkan dengan alasan adanya permohonan pembatalan putusan arbitrase ? Jadi harus menunggu adanya putusan Pengadilan pidana berkekuatan tetap menyangkut Pasal 70 huruf ´aµ dan/atau ´cµ. Ataukah eksekusi putusan arbitrase tetap dijalankan meskipun terdapat permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan ke Pengadilan Negeri ? c. BRW/FHUA/2007 169 .Bagaimana Ketua Pengadilan seharusnya menyikapi persoalan tersebut ? a. Ketua Pengadilan Negeri memiliki wewenang diskresioner untuk menangguhkan eksekusi atau tetap menjalankan eksekusi yang harus dipertimbangkan secara kasuistis (bukan generalisasi) dengan cermat dan hati-hati terhadap segala hatiresiko dan akibat hukum di kemudian hari dari penggunaan wewenang diskresionernya tersebut. b.CATATAN TERHADAP PASAL 70 7.

Penjelasan Pasal 71 : ´cukup jelasµ.PROSEDUR PERMOHONAN PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE (Pasal 71) Pasal 71 : ´Permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan secara tertulis dalam waktu PALING LAMA 30 HARI terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeriµ. rumusan redaksional ketentuan Pasal 71 harus dibaca secara tekstual sesuai dengan rumusannya. BRW/FHUA/2007 170 . Konsekuensinya.

dianggap ´lampau waktuµ dan Pengadilan Negeri harus menyatakan permohonan pembatalan ´tidak dapat diterimaµ. BRW/FHUA/2007 171 . jo. inisiatip siapakah penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase ke Pengadilan Negeri tersebut ? Bertolak dari Pasal 59 (1). Persoalannya adalah. Permohonan yang diajukan lewat 30 hari. Pasal 67 (1) maka penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase merupakan kewajiban arbiter atau kuasanya.CATATAN TERHADAP PASAL 71 Tenggang waktu 30 hari bersifat imperatif (harus).

selaku pihak yang berperkara dan dikalahkan dalam putusan Arbitrase Jenewa.CATATAN TERHADAP PASAL 71 Persoalannya berikutnya adalah bagaimana apabila yang berinsiatif menyerahkan dan mendaftarkan putusan arbitrase itu bukan arbiter atau kuasanya. BRW/FHUA/2007 172 . dimana yang mendafatrkan putusan arbitrase Jenewa bukan arbiter atau kuasanya. melainkan atas inisiatif pihak berperkara ? Apakah tindakan tersebut dilarang ? Periksa kasus Pertamina vs Karaha Bodas Company di Pengadilan Jakarta Pusat. melainkan kuasa hukum Pertamina.

bahwa yang berwenang membatalkan putusan arbitrase adalah Pengadilan Negeri di tempat kedudukan Termohon (Vide Pasal 1 ke.AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE Pasal 72 ayat (1) : Permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri. Ketua Pengadilan Negeri menentukan lebih lanjut akibat pembatalan seluruhnya atau sebagian putusan arbitrase. CATATAN : Ketua Pengadilan Negeri menentukan lebih lanjut akibat hukum pembatalan putusan arbitrase.4 UU ke30/1999). BRW/FHUA/2007 173 . Pasal 72 ayat (2) : Apabila permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikabulkan. CATATAN : Mengandung norma.

AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE (3). Putusan atas permohonan pembatalan ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 hari sejak permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diterima. .ayat 4 menetapkan norma bahwa terbuka upaya banding ke MA (tingkat pertama & terakhir) terhadap putusan KPN atas permohonan pembatalan putusan arbitrase. (4). BRW/FHUA/2007 174 . Terhadap putusan Pengadilan Negeri dapat diajukan permohonan banding ke Mahkamah Agung yang memutus dalam tingkat pertama dan terakhir. CATATAN : .ayat 3 menetapkan norma terkait limitasi waktu (max 30 hari) bagi Ketua PN untuk memutus permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan Pemohon.

AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE (5). BRW/FHUA/2007 175 . Mahkamah Agung mempertimbangkan serta memutuskan permohonan banding sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) dalam waktu paling lama 30 hari setelah permohonan banding tersebut diterima oleh Mahkamah Agung. CATATAN : mengandung norma terkait limitasi waktu (max 30 hari) bagi MA untuk memutus permohonan banding terhadap putusan KPN atas permohonan pembatalan putusan arbitrase.

(5) : cukup jelas. (3). arbiter yang sama atau arbiter lain akan memeriksa kembali sengketa bersangkutan atau menentukan bahwa suatu sengketa tidak mungkin diselesaikan melalui arbitraseµ. Ayat (2) : ´Ketua Pengadilan Negeri diberi wewenang untuk memeriksa tuntutan pembatalan jika diminta oleh para pihak. BRW/FHUA/2007 176 .AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE Penjelasan Pasal 72. Ketua Pengadilan Negeri dapat memutuskan bahwa setelah diucapkan pembatalan. dan mengatur akibat dari pembatalan seluruhnya atau sebagian dari putusan arbitrase bersangkutan. Ayat (1). Ayat (4) : ´Yang dimaksud dengan ´bandingµ adalah hanya terhadap pembatalan putusan arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70.

apakah kewenangan pembatalan oleh Pengadilan Negeri meliputi putusan arbitrae nasional maupun arbitrase internasional ? Mengingat pasal 70 tidak secara tegas mengatur hal tersebut. BRW/FHUA/2007 177 . Menurut teori jurisdiksi. berlaku ketentuan bahwa jurisdiksi pengadilan nasional terbatas di wilayah negara yang bersangkutan dan tidak berlaku di wilayah negara lain. Adapun pembatalan putusan arbitrase internasional merupakan wewenang Pengadilan di negara dimana putusan arbitrase internasional itu dijatuhkan. maka kewenangan Pengadilan Negeri membatalkan putusan arbitrase terbatas hanya terhadap putusan arbitrase nasional yang bersangkutan.OBYEK PEMBATALAN : PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL DAN/ ATAU PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL ? Timbul pertanyaan. Bertolak dari teori tersebut.

madeµ BRW/FHUA/2007 178 . 233. No. Pebruari 2005. Yang berwenang Pengadilan di Negara dimana putusan arbitrase a quo dijatuhkan i. that award was madeµ (garis bawah oleh BRW).01/BANDING/WASITNo. Dalam VARIA PERADILAN.01/BANDING/WASIT-INT/2002 tanggal 8 Maret 2002 jo. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dinyatakan tidak berwenang membatalkan putusan arbitrase Jenewa tersebut.OBYEK PEMBATALAN : PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL DAN/ ATAU PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL ? Periksa pertimbangan Putusan Mahkamah Agung RI No.86/Pdt.or has been set aside or suspended by a competent authority of the country in which.c.G/2002 tanggal 27 Agustus 2002. Pertimbangan didasarkan pada ketentuan Pasal V (1) (e) Konvensi New York 1958 bahwa : ´The award has not yet become binding on the parties. or under the law of which. Pengadilan Swiss. dalam perkara antara Pertamina (Penggugat) vs Karaha Bodas Company (Tergugat) dan PLN (Turut Tergugat).

BRW/FHUA/2007 179 . tidak mencantumkan irah-irah tersebut. Oleh karena itu. namun hal itu tidak irahdapat dipakai sebagai alasan untuk menolak memberikan pengakuan dan pelaksanaan. 54 ayat 1). Irah2 memberikan kek. Putusan arbitrase di Indonesia harus memuat irah-irah : ´Demi irahKeadilan Berdasarkan Ketuhanan YMEµ (ps. Eksekutorial putusan arbitrase. Namun ketentuan tersebut tidak dapat diberlakukan untuk menilai putusan arbitrase asing yang dimohon kan pengakuan dan pelaksanaannya di Indonesia. meskipun suatu putusan Arbitrase Asing yang dimohonkan pengakuan dan pelaksanaannya di Indonesia. Merupakan ciri khas arbitrase di Indonesia. Sebagai pertanggungjawaban etis religius arbiter/ majelis arbitrase kepada Tuhan YME terhadap putusan yang dijatuhkannya.RELIGIUSITAS PUTUSAN ARBITRASE DI INDONESIA.

BRW/FHUA/2007 180 . ps 11 ayat (2). 3). KECUALI dalam hal hal tertentu yang ditetapkan dalam UU ini. PN wajib menolak & tidak campur tangan di dalam peny. 11 ayat (2) secara imperatif mengatur tentang KETIDAKBERWENANGAN & LARANGAN CAMPUR TANGAN Pengadilan Negeri terhadap perkara yang oleh para pihak telah disepakati akan diselesaikan melalui Arbitrase.NON INTERVENSI PENGADILAN PN tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase (ps. sengketa yg telah ditetapkan melalui arbitrase. CATATAN : Pasal 3 jo.

PN dalam putusan sela memutuskan apakah berwenang absolut mengadili atau tidak berwenang absolut mengadili. Apabila menyatakan berwenang mengadili maka pemeriksaan terhadap pokok perkara dilanjutkan. BRW/FHUA/2007 181 . tanpa bergantung ada/tidaknya eksepsi Tergugat.NON INTERVENSI PENGADILAN Oleh karena itu. lebih dahulu wajib memeriksa kompetensi absolut atas perkara tsb. PN menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (niet onvangkelijk verklaard) dan menghentikan pemeriksaan terhadap pokok perkara. Apabila menyatakan tidak berwenang mengadili. apabila salah satu pihak yang terikat dalam perjanjian arbitrase mengajukan perkara a quo ke PN. maka PN secara ´ex officioµ. berdasarkan pasal 134 HIR.

BRW/FHUA/2007 182 . antara lain : PN berwenang menunjuk arbitrator (ps. 22 s/d 25). PN berwenang mengeksekusi putusan arbitrase : > arbitrase nasional (ps. ps. 59 s/d 64). 13. PN berwenang mengadili gugatan hak ingkar terhadap arbitrator (ps. ps. 70 s/d 72). > arbitrase internasional (ps. PN berwenang membatalkan putusan arbitrase berdasarkan alasan limitatif (ps. ps 19 ayat 4).PN SEBAGAI ´SUPPORTING INSTITUTIONSµ TERHADAP PROSES ARBITRASE Peran PN sebagai ´state courtµ diperlukan untuk mengatasi ´kebuntuan proseduralµ yang mungkin terjadi dalam proses arbitrase. 14 ayat 3 dan 4. 65 s/d 69). 15 ayat 4.

EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL DAN INTERNASIONAL DI INDONESIA Eksekusi Putusan Arbitrase Nasional merupakan wewenang Ketua Pengadilan Negeri di tempat kedudukan Termohon Eksekusi (Vide Pasal 59 jo. Pasal 1 ke 4) Eksekusi Putusan Arbitrase Internasional merupakan wewenang Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (Vide Pasal 65). BRW/FHUA/2007 183 .

Hukum acara eksekusi tidak diatur UU 30/1999. Secara teknis. PERMA 1/1990. keKewenangan eksekusi Putusan arbitrase internasional di Indonesia oleh PN Jakarta Pusat (ps. Putusan arbitrase seharusnya dijalankan suka rela. 1 ke-4). maka putusan arbitrase dapat dimohonkan eksekusinya melalui PN setempat (ps. bahasa. Kewenangan eksekusi Putusan arbitrase nasional oleh PN tempat kedudukan termohon (ps. hukum. karena para pihak berdasarkan perjanjian yang telah memilih forum (arbitrase). melainkan diatur dalam HIR/RIB atau RBG/RDS serta ketentuan lainnya. 65) jo. BRW/FHUA/2007 184 . ps.EKSEKUTABILITAS PUTUSAN ARBITRASE. eksekusi dapat didelegasikan ke PN tempat kedudukan obyek sengketa. 61). arbitrator. tempat. Bila putusan tidak dipenuhi sukarela. 61 s/d 64 jo.

kedudukan KPN sangat strategis dalam melakukan penilaian tersebut. Terhadap penolakan tersebut bersifat final dan tertutup upaya hukum apapun (ayat 3).EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE KEDUDUKAN KPN BERSIFAT STRATEGIS Apabila putusan arbitrase yang dimohonkan eksekusi. CATATAN : Dalam persoalan ini. penilaian tsb hendaknya disertai argumentasi hukum yang cermat. BRW/FHUA/2007 185 . maka penolakan tersebut bersifat final dan menutup upaya hukum apapun. maka permohonan eksekusi ditolak. Untuk menghindarkan subyektifitas penilaian. Mengingat apabila KPN menolak eksekusi putusan arbitrase dengan alasan bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. serta dinilai bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. 4 dan 5. dinilai oleh KPN tidak memenuhi syarat Ps.

Artinya KPN tidak berwenang untuk memeriksa dan menilai substansi putusan arbitrase. alasan dan pertimbangan putusan arbitrase merup ´ranah kompetensiµ arbiter atau majelis arbitrase. Kewenangan KPN sebatas apakah menerima ataukah menolak permohonan eksekusi putusan arbitrase. Karena itu. CATATAN : Norma yang terkandung dalam ketentuan tersebut. BRW/FHUA/2007 186 . KPN tidak wenang memeriksa alasan dan pertimbangan yang dipergunakan oleh arbiter atau majelis arbitrase dalam menjatuhkan putusannya.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE KEDUDUKAN KPN BERSIFAT STRATEGIS KPN tidak memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase (ayat 4).

karena selain kedudukannya sebagai non state court. Namun. pilihan bahasa. pilihan tempat. Apapun putusan arbitrase sepatutnya diterima secara lapang dada dan itikad baik oleh pihak bersengketa. dll). mengingat para pihaklah yang melakukan pilihan forum arbitrase. 61). khususnya pihak yang dikalahkan. Wewenang eksekusi putusan arbitrase dilimpah kan ke Pengadilan Negeri dan berdasarkan perintah Ketua Pengadilan Negeri atas permohonan salah satu pihak yang bersengketa (Ps. pilihan hukum. Lembaga arbitrase tidak memiliki wewenang melaksanakan putusannya sendiri. juga tidak memiliki alat perlengkapan eksekusi (jurusita. BRW/FHUA/2007 187 .EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE Idealnya putusan arbitrase dijalankan dengan itikad baik dan secara sukarela oleh pihak bersengketa. pilihan arbitrator.

dalam waktu paling lama 30 (tigapuluh) hari terhitung sejak putusan diucapkan dengan menyerahkan lembaran asli atau salinan otentik putusan arbitrase. 59 (1). Persoalannya. adalah SIAPA YANG BERWENANG DAN BERKEWAJIBAN MENDAFTARKAN PUTUSAN ARBITRASE ? Dikaitkan dengan Ps.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL Perintah eksekusi Ketua Pengadilan Negeri diberikan waktu 30 hari setelah permohonan eksekusi didaftarkan kepada Panitera PN (ayat 1). Apakah hal itu mengandung pengertian bahwa pihak berperkara atau kuasanya dilarang mendaftarkan putusan arbitrase ? BRW/FHUA/2007 188 . pihak yang berwenang menyerahkan dan mendafarkan putusan arbitrase ke adalah arbiter atau kuasanya.

orde publique). BRW/FHUA/2007 189 . (ayat 2). namun mengenai apa yang dimaksud dengan ´kesusilaan dan ketertiban umumµ masih memerlukan interpretasi secara kasusistis. public order. Di tiap negara memiliki prinsip dan konsep ´ketertiban umumµ (public policy. openbare orde. KPN memeriksa terlebih dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi ketentuan Pasal 4 dan 5 serta apakah tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. umum. namun substansinya bisa berbeda satu dengan yang lain.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL Sebelum memberikan perintah pelaksanaan. Apa yang dimaksud dengan Pasal 4 dan 5 cukup jelas. juga berbeda antara suatu waktu dengan waktu yang lain (berubah dinamis).

EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL Perintah KPN ditulis pada lembar asli dan salinan otentik putusan arbitrase (ps. CATATAN : prosedur eksekusi putusan arbitrase dilakukan sebagaimana eksekusi putusan perdata PN yang telah berkekuatan hukum tetap dengan mengacu ketentuan HIR/RIB atau RBG/RDS serta peraturan terkait lainnya. 64). BRW/FHUA/2007 190 . Putusan arbitrase yang telah dibubuhi perintah KPN dilaksanakan sesuai pelaksanaan putusan dalam perkara perdata yang putusannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap (Ps. 63).

EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Dibandingkan dengan eksekusi putusan arbitrase nasional.34/1981 BRW/FHUA/2007 191 . Selain daripada itu. UU No. maka eksekusi putusan arbitrase internasional memiliki dimensi yang lebih kompleks menyangkut masalah pengaturan hukum. pengaturan tentang eksekusi putusan arbitrase internasional di Indonesia juga terdapat dalam Konvensi New York 1958 jo. serta berbagai kendala nya.30/1999 mengatur tentang eksekusi putusan arbitrase internasional pada pasal 65 s/d 69. Keppres No. prosedur dan proses eksekusi. Pengaturan hukum eksekusi putusan arbitrase internasional di Indonesia tidak hanya terdapat dalam perundang-undangan perundangnasional melainkan juga dalam konvensi internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia.

Pertama. pelaksanaan putusan arbitrase internasional. menyangkut ruang lingkup wewenang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam penjelasannnya disebutkan ´cukup jelasµ. meliputi : a.30/1999 mengatur bahwa yang berwenang menangani masalah pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pasal 65 UU No. BRW/FHUA/2007 192 . Kedua. Kedua. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat merupakan pengadilan satu-satunya di Indonesia yang berwenang satumenangani masalah pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di Indonesia. pengakuan putusan arbitrase internasional b. CATATAN : Pertama.

apakah negara-negara yang negarabersangkutan merupakan negara peserta atau negara yang turut meratifikasi Konvensi New York 1958 ataukah tidak.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pada dasarnya suatu putusan arbitrase internasional untuk dapat dilaksanakan di wilayah suatu negara tertentu harus memenuhi syarat dan prosedur yang ditentukan oleh hukum yang berlaku di negara yang bersangkutan. terdapat perbedaan antara tempat (negara) putusan arbitrase dijatuhkan dengan tempat (negara) putusan arbitrase dilaksanakan. Pada umumnya. BRW/FHUA/2007 193 . Sebelum suatu putusan arbitrase internasional dapat diakui dan dilaksanakan maka terlebih dahulu harus dilihat apakah hukum negara yang bersangkutan telah memberikan pengaturannya ataukah tidak. serta apakah telah terdapat perjanjian bilateral ataukah tidak. Lebih penting lagi adalah.

EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Suatu negara yang telah menjadi peserta atau ikut meratifikasi Konvensi New York 1958 berarti membuka pintu bagi kemungkinan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase intrnasional di wilayah hukum negara masing2 MasingMasing-masing negara yang meratifikasi tersebut akan mengatur lebih lanjut dan lebih tehnis dalam perundang-undangan tersendiri perundangyang substansinya tidak selalu sama antara negara yang satu dengan negara yang lain. BRW/FHUA/2007 194 .

30/1999. dan dijabarkan dalam Peraturan Mahkamah Agung No.1/1990 dibuat pada waktu jauh sebelum berlakunya UU No. pelaksanaan putusan arbitrase internasional di Indonesia telah diatur dalam UU No.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Indonesia meratifikasi Konvensi New York 1958 berdasarkan Keppres No.1/1990) tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing.1/1990 (PermaNo. 30/1999. Perma No. Saat ini. Perma No.1/1990 tersebut dimaksud kan untuk mengatur tentang teknis prosedural yang berkaitan dengan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di Indonesia.34/1981. BRW/FHUA/2007 195 .

576. Sengketa tersebut sebelumnya telah diputus oleh Arbitrase di London.39 US dollar kepada Navigation Maritime Bulgare tersebut. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam penetapannya No.2288/1979 P tanggal 10 Juni 1981.KASUS P.Nizwar memenuhi isi putusan arbitrase London tersebut. Varna.T. PT. Chervenoermeiski (Bulgaria) sebagai Termohon Kasasi/dahulu Pemohon.Nizwar dihukum untuk membayar uang sejumlah 72. Selanjutnya oleh Navigation Maritime Bulgare putusan arbitrase tersebut dimohonkan pelaksanaan setelah mendapat fiat eksekusi dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. dalam perkara antara PT.2944 K/Pdt/1983 tanggal 20 Agustus 1984. BRW/FHUA/2007 196 .Nizwar (Indonesia) sebagai Pemohon Kasasi/dahulu Termohon melawan Navigation Maritime Bulgare. yang intinya memerintahkan agar PT. NIZWAR vs NAVIGATION MARITIME BULGARE Periksa putusan Mahkamah Agung RI No.

NIZWAR vs NAVIGATION MARITIME BULGARE PT. Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi menyatakan permohonan kasasi PT.34/1981 dan lampirannya tentang pengesahan ´Convention on the Recoqnition and Enforcement of Foreign Arbitral Awardsµ sesuai dengan praktek hukum yang berlaku masih harus ada peraturan pelaksanaannya«««««µ. Pertimbangan aquo. Mahkamah Agung tersebut antara lain menyatakan :µ«««Keppres :µ«««Keppres No. BRW/FHUA/2007 197 .Nizwar mengajukan kasasi terhadap Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut. pelaksanaannya«««««µ. tanpa disertai dengan risalah/memori kasasi. Namun yang menarik dalam pertimbangannya.Nizwar tersebut tidak dapat diterima. kemudian ditindaklanjuti Mahkamah Agung dengan menerbitkan PERMA No.KASUS P.1/1990.T.

Konvensi New York 1958 dalam pasal-pasalnya tidak pasalmemberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan ´recognitionµ tersebut. jelasµ. pula pada penjelasan pasal 65 hanya menyebutkan ´cukup ´cukup jelasµ.1/990 maupun UU recognitionµ No.30/1999 menguraikan tentang pengertian :µpengakuanµ dengan jalan menetapkan syarat:µpengakuanµ syaratsyarat putusan arbitrase internasional yang dapat diakui dan dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia. Perma No. Padahal suatu putusan arbitrase internasional hanya dapat dieksekusi di wilayah hukum Republik Indonesia setelah sebelumnya mendapatkan pengakuan dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.30/1999 juga tidak memberikan penjelasan secara eksplisit tentang apa yang dimaksud dengan istilah ´pengakuanµ. BRW/FHUA/2007 198 EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL . Lagi ´pengakuanµ. Secara implicit UU No.

EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pasal 66 menetapkan syarat-syarat tersebut sebagai berikut : syarat(a). bik secara bilateral mupun multilateral. (b). BRW/FHUA/2007 199 . Putusan arbitrase internasional sebagaimana dimaksud huruf ´aµ terbatas pada pada putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum perdagangan. (c). Putusan arbitrase internasional dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase di suatu negara yang dengan negara Republik Indonesia terikat pada perjanjian. Putusan arbitrase internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf ´aµ hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum. mengenai pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional.

Putusan arbitrase internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL (d). Putusan arbitrase internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf ´aµ yang menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa. BRW/FHUA/2007 200 . dan (e). hany dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuatur dari Mahkamah Agung Republik Indonesia yang selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

BRW/FHUA/2007 201 . Tanpa adanya bukti masingberupa perjanjian tersebut maka Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akan memasang ´palang pintuµ untuk ´palang pintuµ menutup permohonan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di wilayah hukum Republik Indonesia.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´aµ BERKAITAN DENGAN PRINSIP RESIPROSITAS PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Substansi Pasal 66 ´aµ di atas menyangkut tentang penerapan prinsip resiprositas diantara negara-negara negarayang telah mengadakan perjanjian tentang pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di wilayah negara masing-masing.

30/1999 menyangkut soal arbitralitas putusan arbitrase internasional yang dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan di Indonesia apakah menurut hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum perdagangan ataukah tidak. Menurut hukum di negara tempat putusan arbitrase dijatuhkan substansi sengketa merupakan ´sengketa komersialµ sehingga termasuk dalam kompetensi arbitrase. melainkan menggunakan tolok ukur menurut hukum yang berlaku di Indonesia sebagai tempat putusan arbitrase internasional tersebut dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan. BRW/FHUA/2007 202 . Tolok ukur yang dipergunakan bukan bagaimana menurut hukum yang berlaku di negara tempat putusan arbitrase dijatuhkan. Dengan demikian.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´bµ TENTANG ARBITRABILITAS Substansi Pasal 66 ´bµ UU No. komersialµ namun bisa jadi dipihak lain ternyata menurut hukum Indonesia dinilai bukan termasuk sengketa perdagangan. tidak tertutup kemungkinan terjadinya perbedaan substansial antara hukum di negara tempat putusan arbitrase dijatuhkan dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Adapun pasal 66 (b) memberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan ruang lingkup hukum perdagangan yaitu meliputi: perniagaan.30/1999. keuangan. penanaman modal. BRW/FHUA/2007 203 . Pasal 5 (1) hanya menyebutkan secara umum ´sengketa ´sengketa perdaganganµ perdaganganµ tanpa penjelasan apapun tentang apa yang dimaksudkannya.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´bµ TENTANG ARBITRABILITAS Tolok ukur tentang pengertian ´ruang lingkup hukum ´ruang perdaganganµ perdaganganµ menurut hukum Indonesia adalah dengan menggunakan interpretasi sistematis dan interpretasi ekstensif terhadap substansi Pasal 5 dengan 66 (b) UU No. dan hak kekayaan intelektual. perbankan. industri.

industri. ternyata tidak jelas apa batasbatas-batas dari sengketa di bidang perniagaan. Akibat ketidakjelasan batas-batas dari apa yang dimaksud batasdengan ´ruang lingkup perdaganganµ tidak menutup ´ruang perdaganganµ kemungkinan akan dipergunakan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk bertindak semena-mena memasang semena´palang pintuµ dengan cara menafsirkan secara subyektif pintuµ pengertian ´ruang lingkup hukum perdaganganµ sebagai alasan untuk menolak setiap permohonan pengakuan putusan arbitrase internasional di Indonesia. perbankan. BRW/FHUA/2007 204 . dan hak kekayaan intelektual. penanaman modal. keuangan.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´bµ TENTANG ARBITRABILITAS Namun apabila ditelaah lebih jauh. Karena masing-masing istilah memiliki elastisitas masinginterpretasi secara dinamis sejalan dengan perkembangan waktu dan perubahan masyarakat.

apakah sengketa yang telah diputus oleh arbitrase internasional dan dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan tersebut menurut hukum Indonesia termasuk ke dalam ruang lingkup hukum dagang atau tidak . Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang untuk menilai dan menafsirkan secara obyektif. BRW/FHUA/2007 205 . Penafsiran tersebut sudah seharusnya bertumpu pada perkembangan ilmu hukum terkini serta dikaitkan dengan perkembangan dalam kegiatan praktek perdagangan seharisehari-hari.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´bµ TENTANG ARBITRABILITAS Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang untuk menilai dan menafsirkan secara obyektif. apakah sengketa yang telah diputus oleh arbitrase internasional dan dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan tersebut menurut hukum Indonesia termasuk ke dalam ruang lingkup hukum dagang atau tidak.

mengemukakan bahwa banyak penulis yang telah mencoba untuk menguraikan tentang apa yang dimaksud dengan ketertiban umum. Istilah ´policyµ dipergunakan untuk menunjukkan adanya pengaruh ´policyµ besar dari faktor-faktor yang bersifat politis dalam hal menentukan faktorada atau tidaknya ketertiban umum.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Pasal 66 (c) : Dalam bahasa Belanda disebut sebagai ´openbare ordeµ. meskipun demikian hingga kini masih banyak pertentangan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan ketertiban umum. dalam bahasa ´openbare ordeµ. ´public policyµ. Perancis disebut sebagai ´ordre publicµ. negarasistem common law menggunakan istilah ´public policyµ. dalam bahasa Jerman disebut ´ordre publicµ. sebagai ´vorbenhaltklauselµ. BRW/FHUA/2007 206 . Tinneke Louise Tuegeh Longdong. sebagaimana mengutip Sudargo Gautama. sedangkan di negara-negara dengan ´vorbenhaltklauselµ.

Dengan alasan bertentangan dengan sendi asasi sistem hukum yang berlaku di negara tempat dimana putusan arbitrase internasional tersebut dimohonkan pelaksanaannya. Penggunaan prinsip ´ketertiban umumµ oleh Ketua Pengadilan Negeri ´ketertiban umumµ Jakarta Pusat sebagaimana diatur Pasal 66 © jo. 65 UU No.30/1999 adalah dimaksudkan sebagai ´filterµ untuk menyaring dan menilai secara obyektif ´filterµ terhadap setiap permohonan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di wilayah hukum Republik Indonesia. BRW/FHUA/2007 207 .CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Masalah ketertiban umum sangat penting. Pasal V (2) ´bµ Konvensi New York 1958 : ´ the recognition or enforcement of the award would be contrary to the public policy of that countryµ. oleh karena fungsinya menyangkut tentang pengenyampingan berlakunya hukum asing dan putusan arbitrase asing yang seharusnya dilaksanakan.

namun sebaiknya dipergunakan seirit mungkin dan hanya sebagai pengecualian.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Meskipun tidak ada kesatuan pendapat tentang apa yang dimaksud dengan ketertiban umum.Sumampouw mengemukakan bahwa. BRW/FHUA/2007 208 . M. namun pada dasarnya mereka berpendirian bahwa ketertiban umum memegang peran penting dalamarti bahwa setiap sistemhukum negara manapun memerlukan semacam veiligheidskiep atau rem darurat yang disebut dengan istilah ketertiban umum.meskipun system hukum dari setiap negara mengenal konsepsi tentang ketertiban umum.

melainkan dalam kenyataannya kita berada dalam pergaulan hidup antara negara secara internasional dengan system hukumnya yang berbeda-beda.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Oleh karena apabila setiap kali menggunakan ketertiban umum sebagai alasan untuk mengenyampingkan berlakunya hukum asing maka akan mengakibatkan hukum perdata internasional tidak berkembang (Sudargo Gautama. sword). dengan terjadinya globalisasi kegiatan perdagangan yang melibatkan berbagai negara. berbedaLebihLebih-lebih dewasa ini. adalah merupakan sikap yang berlebihan apabila berpendirian tentang superioritas hukum nasional terhadap hukum asing. dengan keragaman sistem hukum masingmasing-masing. menggambarkan bagaimana seharusnya penggunaan prinsip tersebut««public tersebut««public policy only as a shield. Padahal kita tidaklah mungkin hidup secara soliter dengan mengasingkan diri dari pergaulan hidup antar negara. Menurut pendapat saya. BRW/FHUA/2007 209 . not as a sword).

1/1990.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Dalam kaitannya dengan syarat bahwa putusan arbitrase internasional tidak bertentangan dengan ´ketertiban umumµ juga diatur dalam Pasal 4 (2) Perma No. Sebagai konsekuensinya. BRW/FHUA/2007 210 . maka pengertian serta batas-batasnya akan batasditentukan melalui interpretasi berdasarkan situasi dan kondisi kasus per kasus. apabila suatu putusan arbitrase internasional dinilai sebagai telah bertentangan dengan ketertiban umum di Indonesia. Pasal 4 (2) yakni : ´sendi-sendi asasi ´sendidari seluruh sistem hukum dan masyarakat Indonesiaµ. Namun apa pengertian serta sejauh mana batas-batas dari ´sendi-sendi asasi batas´sendidari seluruh sistem hukum dan masyarakat Indonesiaµ dalam ketentuan tersebut ternyata tidak terdapat penjelasan lebih jauh lagi. Istilah ´ketertiban umumµ penjelasannya terdapat ´ketertiban dalam rumusan Perma No. Dalam keadaan demikian. maka putusan tersebut tidak dapat dimohonkan pengakuan dan pelaksanaannya di wilayah Republik Indonesia.1/1990.

Dalam pengertian. untuk melindungi sendi-sendi asasi sendiseluruh sistem hukum dan masyarakat Indonesia. It opposes the application of foreign law or more precisely.public policy generally works in a negative way. it is exception to the choice of law rule that would ordinarily mandate the application of foreign lawµ. BRW/FHUA/2007 211 . fungsi ketertiban umum pada dasarnya adalah sebagai pengawal dari ´the fundamental moral convictions or policies of the forumµ dan berkaitan langsung dengan ´the principle of territorial souvereignityµ.. dan bukannya digunakan sedemikian rupa bagaikan sebilah pedang untuk melumpuhkan terhadap setiap kemungkinan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di wilayah hukum Republik Indonesia. Tiong Min Yeo mengemukakan bahwa : ´«.CATATAN TEHADAP PASAL S 66 ´cµ TENTANG KETERTIBAN UMUM Menurut Setiawan. Penggunaan prinsip ketertiban umum tersebut ´escape clauseµ sesuai ´escape dengan istilah Sudargo Gautama hendaknya terbatas : ´only as a shield and not as a swordµ.

Kedudukan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sangat penting dan menentukan berkenaan dengan pemberian atau penolakan eksekuatur terhadap permohonan eksekusi putusan arbitrase internasional.30/1999 menyangkut syarat bahwa Putusan arbitrase internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. dikaitkan dengan Pasal 65 tampak bahwa pengadilan yang berwenang memberikan eksekuatur adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´dµ SOAL EKSEKUATUR Substansi Pasal 66 ´dµ UU No. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak hanya terbatas berwenang dalam memberikn eksekuatur melainkan sebaliknya juga berwenang untuk menolak pemberian eksekuatur terhadap permohonan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional. Berdasarkan persyaratan tersebut. Artinya. BRW/FHUA/2007 212 .

CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´dµ SOAL EKSEKUATUR Eksekuatur akan diberikan atau sebaliknya ditolak sepenuhnya bergantung pada apakah permohonan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di Indonesia telah memenuhi syarat-syarat kumulatif sebagaimana diatur dalam syaratPasal 66 dan 67 UUNo. Apabila Termohon Eksekusinya adalah menyangkut negara Republik Indonesia maka diperlukan persyaratan dan prosedur yang berbeda sebagaimana diatur secara tersendiri dalam Pasal 66 ´eµ UU No30/1999. BRW/FHUA/2007 213 .30/1999. Meskipun tidak disebutkan secara tegas. namun bila dikaitkan dengan Pasal 66 huruf ´eµ dapat ditafsirkan secara a contrario bahwa Termohon Eksekusi sebagaimana dimaksud pada Pasal 66 huruf ´dµ adalah menyangkut perorangan atau badan hukum perdata dan bukan menyangkut negara Republik Indonesia.

hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuatur dari Mahkamah Agung Republik Indonesia yang selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam hal Termohon Eksekusi adalah negara Republik Indonesia. Aturan ini memberikan wewenang eksekuatur kepada Mahkamah Agung sebagai puncak badan peradilan karena termohon akibat serta konsekuensi eksekusi putusan arbitrase internasional tersebut menyangkut kepentingan negara.30/1999 mengatur syarat apabila putusan arbitrase internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf ´aµ Pasal 66 a quo adalah menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa. merupakan ujian yang cukup berat dan dilemmatis bagi Mahkamah Agung berkenaan dengan pemberian atau penolakan eksekuatur terhadap putusan arbitrase internasional. BRW/FHUA/2007 214 .CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´dµ SOAL EKSEKUATUR Substansi pasal 66 ´eµ UU No.

saya termasuk orang meragukan kemungkinan Mahkamah Agung mampu bersikap konsisten dengan hal tersebut. Secara teoritis bisa saja terjadi bahwa Mahkamah Agung bersikap konsisten dengan undang-undang yakni tetap akan undangmemberikan eksekuatur. pada bagaimana kenyataan prakteknya. di satu pihak kedudukan Mahkamah Agung sebagai lembaga negara Republik Indonesia sedangkan di pihak lain yang bertindak sebagai Termohon Eksekusi adalah negara Republik Indonesia. Namun.CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´dµ SOAL EKSEKUATUR Dikuatirkan dapat menimbulkan ´conflict of interestµ. BRW/FHUA/2007 215 . karena ´conflict interestµ.

Apabila sudah menyangkut kepentingan negara. principle).CATATAN TERHADAP PASAL 66 ´dµ SOAL EKSEKUATUR Alasan pokoknya adalah terjadinya ´conflict of ´conflict interestµ. maka Mahkamah Agung sebagai lembaga tinggi negara cenderung akan lebih menonjolkan pemihakannya kepada kepentingan negara (parochial (parochial principle). Kecil kemungkinan Mahkamah Agung Republik Indonesia akan memberikan eksekuatur eksekusi putusan arbitrase internasional terhadap Negara Republik Indonesia sebagai pihak termohon eksekusinya. BRW/FHUA/2007 216 . interestµ.

Permohonan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional dilakukan setelah putusan tersebut diserahkan dan didaftarkan oleh Arbiter atau Kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.PERMOHONAN EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL (Ps. 67) (1). CATATAN PASAL 67 (1) : Ketentuan tersebut mengandung norma bahwa putusan arbitrase internasional yang dimohonkan pelaksanaannya di Indonesia. harus lebih dahulu diserahkan & didaftarkan oeh arbiter atau kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. BRW/FHUA/2007 217 .

67) (2). baik secara bilateral maupun multilateral dengan negara Republik Indonesia perihal pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional. (b).PERMOHONAN EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL (Ps. Keterangan dari perwakilan diplomatik Republik Indonesia di negara dimana putusan Arbitrase Internasional tersebut ditetapkan. Lembar asli atau salinan otentik putusan Arbitrase Internasional sesuai ketentuan perihal otentikasi dokumen asing dan naskah terjemahan resminya dalam Bahasa Indonesia. Penyampaian berkas permohonan disertai : (a). BRW/FHUA/2007 218 . yang menyatakan bahwa Negara pemohon terikat pada perjanjian. Lembar asli atau salinan otentik perjanjian yang menjadi dasar putusan Arbitrase Internasional sesuai dengan ketentuan perihal otentitikasi dokumen asing dan naskah terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia. (c).

Hal tersebut dimaksudkan agar terdapat kesesuaian makna antara bahasa asing yang digunakan dalam naskah aslinya dengan naskah terjemahannya dalam bahasa Indonesia.CATATAN 67 AYAT 2 Pasal 67 ayat (2) huruf ´aµ dan ´bµ mengandung norma tentang keharusan dilakukannya otentikasi trhadap dokumen asing dan penterjemahan secara resmi naskah putusan arbitrase internasional maupun naskah perjanjian arbitrase dari bahasa asing yang digunakan ke dalam naskah yang menggunakan Bahasa Indonesia melalui penterjemah tersumpah. BRW/FHUA/2007 219 .

f. terikat pada perjanjian.CATATAN 67 AYAT 2 huruf ´Cµ. d. Perihal pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional. yang menyatakan bahwa c. Yang dibuat oleh perwakilan diplomatik Republik Indonesia di negara dimana putusan Arbitrase Internasional tersebut ditetapkan. Negara Pemohon. BRW/FHUA/2007 220 . ´keteranganµ. multilateral dengan e. MENSYARATKAN : a. baik secara bilateral maupun perjanjian. b. Negara Republik Indonesia.

penting mendapatkan perhatian saat para pihak melakukan pemilihan forum dan tempat arbitrase (choice of forum & choice of arbitration venue). Berkaitan dengan hal tersebut. BRW/FHUA/2007 221 .KONSEKUENSI SYARAT PASAL 67 AYAT 2 huruf ´Cµ Konsekuensinya. ternyata antara Negara Asal Pemohon Eksekusi dengan Negara Republik Indonesia tidak terdapat perjanjian bilateral maupun multilateral menyangkut masalah Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing maka Putusan Arbitrase Asing tersebut tidak dapat dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan nya di wilayah Negara Republik Indonesia. apabila menurut ´keteranganµ yang dibuat oleh Perwakilan Diplomatik Negara Republik Indonesia di negara dimana putusan arbitrase asing dijatuhkan.

ayat (3) : ´Mahkamah Agung mempetimbangkan serta memutuskan setiap pengajuan kasasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). ayat (2) : ´Terhadap putusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 66 huruf ´dµ yang menolak untuk mengakui dan melaksanakan suatu Putusan Arbitrase Internasional. BRW/FHUA/2007 222 . dapat diajukan kasasi. tidak dapat diajukan upaya perlawananµ. ayat (4) : ´Terhadap putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 huruf ´eµ. tidak dapat diajukan banding atau kasasiµ.PERMOHONAN EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pasal 68 ayat (1) : ´Terhadap putusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagaimana dimaksud Pasal 66 huruf ´dµ yang mengakui dan melaksanakan Putusan Arbitrase Internasional. dalam jangka waktu paling lama 90 hari setelah permohonan kasasi tersebut diterima oleh Mahkamah Agungµ.

(3) dan (4). BRW/FHUA/2007 223 . bagaimana kalau terhadap putusan Mahkamah Agung tersebut kemudian dimohonkan peninjauan kembali ??? Oleh karena hakekat ´perlawananµ adalah berbeda dengan ´peninjauan kembaliµ. Namun timbul pertanyaan. tidak dapat diajukan upaya perlawanan. penolakan pemberian eksekuatur oleh Ketua PN Jakarta Pusat terhadap putusan arbitrase internasional dapat dimohonkan kasasi ke Mahakamah Agung. Norma ayat (2). Setelah permohonan kasasi tersebut diputus oleh Mahkamah Agung.CATATAN TERHADAP PASAL 68 Norma ayat (1). pemberian eksekuatur oleh Ketua PN Jakarta Pusat terhadap putusan arbitrase internasional bersifat ´final and bindingµ.

Norma ayat (2) dan (3). menyangkut tindakan sita eksekusi terhadap harta kekayaan termohon eksekusi yang dijalankan sebagaimana berlaku pada praktek peradilan berdasarkan HIR/RIB maupun RBG/RDS. BRW/FHUA/2007 224 .PERMOHONAN EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL Pasal 69 ayat (1) : ´Setelah Ketua PN Jakarta Pusat memberikan perintah eksekusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64. menyangkut pendelegasian wewenang eksekusi dari Ketua PN Jakarta Pusat kepada Ketua PN setempat (domisili Termohon Eksekusi atau tempat kedudukan obyek sengketa). ayat (3) : ´Tatacara penyitaan serta pelaksanaan putusan mengikuti tatacara sebagaimana ditentukan dalam Hukum Acara Perdataµ. ayat (2) : ´Sita eksekusi dapat dilakukan atas harta kekayaan serta barang milik termohon eksekusiµ. CATATAN : Norma ayat (1). maka pelaksanaan selanjutnya dilimpahkan kepada Ketua PN yang secara relatif berwenang melaksanakannyaµ.

biaya arbitrase dibebankan kepada para pihak secara seimbang. BIAYA ARBITRASE Pasal 77 : ayat (1) : Biaya arbitrase dibebankan kepada pihak yang kalah.14. ayat (2) : Dalam hal tuntutan hanya dikabul kan sebagian. BRW/FHUA/2007 225 .

biaya administrasi.14. ayat (2) : Biaya sbagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. c. b. biaya perjalanan dan biaya lainnya yang dikeluarkan oleh arbiter. BIAYA ARBITRASE Pasal 76 ayat (1) : Arbiter menentukan biaya arbitrase. dan d. biaya saksi dan saksi ahli yang diperlukan dalam pemeriksaan sengketa. honorarium arbiter. BRW/FHUA/2007 226 .

dll). Para pihak hanya diwajibkan membayar biaya adimistrasi/perkara. yang menyangkut honorarium arbitrator. Berlainan dengan proses di Pengadilan. telekomunikasi.77). hakim justru dilarang mendapatkan honorarium. BRW/FHUA/2007 227 . telekomunikasi dll) maupun biaya saksi dan saksi ahli (honorarium. lumpsum. akomodasi. lumpsum. biaya adiministrasi dibebankan kepada pihak yang berperkara (Vide Ps. biaya perjalanan dan yang lainnya yang dikeluarkan oleh arbitrator (misal : akomodasi. biaya perjalanan maupun lainnya dari pihak berperkara. Adapun menyangkut saksi atau saksi ahli.CATATAN MENGENAI BIAYA ARBITRASE (Ps 76 & 77) Konsekuesi biaya berkenaan dengan penyelesaian sengketa melalui arbitrase. karena semua dibebankan kepada Negara. transportasi. maka pihak berperkara yang wajib menanggungnya (Vide Pasal 49 ayat 2).

Kamsiah. dan saran2nya.. Arigato Gozaimazu. kritik. Matur Nuwun. BRW/FHUA/2007 228 . pertanyaan. atas segala perhatian. Terima kasih. Dank U.AKHIRNYA««««. Thank U.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful