P. 1
Penyelesaian Kredit macet yang disebabkan oleh Faktor eksternal

Penyelesaian Kredit macet yang disebabkan oleh Faktor eksternal

|Views: 552|Likes:
Published by Yudi Saputra

More info:

Published by: Yudi Saputra on Apr 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/22/2012

pdf

text

original

Penyelesaian Kredit macet yang disebabkan oleh Faktor eksternal Dalam sekarang ini hampir tidak ada orang

, terutama yang tinggal dan bekerja di kota-kota besar di dunia, yang tidak mengenal bank. Selain fungsi utamanya sebagai penghimpun dana dari masyarakat, bank juga memiliki fungsi sebagai penyalur dana ke masyarakat. Dalam hal ini dalam bentuk kredit. Terutama kredit yang berfungsi untuk membantu memberikan modal bagi orang atau badan hukum yang akan membangun atau mengembangkan usahanya dalam bentuk apapun. Tidak semua orang dapat diberikan kredit oleh bank. Orang atau badan hukum yang dapat menerima kredit adalah mereka yang dianggap ³special´. Yang dimaksud oleh special adalah mereka yang memenuhi persyaratan dalam peraturan bank dan factor-faktor utama penerima kredit. Faktor itu disebut sebagai FIVE C. yaitu, character, capacity, capital, collateral, dan condition of economi. Namun tidak jarang walaupun sudah memenuhi syarat dan faktor tersebut kredit tersebut dapat memenuhi masalah. Tidak perlu dari faktor individu atau badan hukum yang menerima kredit atau bank, sebagai pemberi kredit. Namun bisa juga dari faktor eksternal. Faktor eksternal yang dapat memberikan masalah bagi jalannya suatu kredit salah satunya adalah dari kebijakan pemerintah. Dengan adanya suatu kebijakan yang sebelumnya tidak ada namun ketika tengah berjalannya kredit kebijakan tersebut menjadi halangan kelancaran pembayaran kredit. Sehingga seseorang atu badan hukum tersebut kehilangan kemampuan untuk membayar lunas kredit dan bunganya. Atau pembayaran dan peunasan tersebut menjadi tidak tepat waktu. Hal ini disebut dengan istilah perbankan ³KREDIT MACET´atau dalam hukum sebagai wanprestasi. Sebagai contoh dapat kita ambil dari kejadian yang baru-baru ini terjadi. Ketika merapi meledak, pemerintah mengambil kebijakan untuk mengosongkan dan melarang adanya kegiatan sampai dengan radius 20km dari merapi dengan waktu tidak terbatas. Hal ini menyebabkan segala kegiatan dalam radius tersebut dilarang. Termasuk didalamnya kegiatan usaha penambangan pasir yang banyak terjadi di sekitar kaki merapi. Sebagai pemilik usaha hal ini menjadi sebuah ketidakpastian dan penghalang bagi dirinya untuk melakukan pembayaran dan pelunasan kreditnya.

26/4/BPPP tanggal 29 Mei 1993 yang pada prinsipnya mengatur penyelamatan kredit bermasalah sebelum diselesaikan melalui lembaga hukum adalah melalui alternatif penanganan secara penjadwalan kembali (rescheduling). dan penataan kembali (restructuring).. yaitu suatu upaya hukum untuk melakukan perubahan terhadap beberapa syarat perjanjian kredit yang berkenaan dengan jadwal pembayaran kembali/ jangka waktu kredit termasuk . pengadilan Niaga.Karena kebijakan tersebut dirinya dapat dianggap wanprestasi dan kreditnya dimasukkan ke dalam kategori kredit bermasalah atau kredit macet. sedangkan penyelesaian kredit adalah suatu langkah penyelesaian kredit bermasalah melalui lembaga hukum. Yang dimaksud dengan penyelamatan kredit adalah suatu langkah penyelesaian kredit bermasalah melalui perundingan kembali antara bank sebagai kreditor dan individu peminjam sebagai debitor. melalui PUPN. reconditioning. dan melalui Arbitrase atau Badan Alternatif Penyelesaian sengketa Sebelum diselesaikan secara yudisial terhadap kredit yang bermasalah tersebut. Untuk menyelesaikan kredit bermasalah atau kredit macet itu dapat ditempuh dua cara atau strategi yaitu penyelamatan kredit dan penyelesaian kredit. Penanganan dapat melalui salah satu cara ataupun gabungan dari ketiga cara tersebut. dan restructuring adalah sebagai berikut: 1. selanjutnya diselesaikan secara yudisial melalui jalur pengadilan. Dalam surat edaran tersebut yang dimaksud dengan penyelamatan kredit bermasalah melalui rescheduling. dapat dilakukan usaha penyelesaian langsung antara bank pemberi kredit dengan penerima kredit dengan dilakukannya penjadwalan (rescheduling). Mengenai penyelamatan kredit bermasalah dapat dilakukan dengan berpedoman kepada Surat Edaran Bank Indonesia No. dan melalui Lembaga Paksa Badan. Yang dimaksud dengan lembaga hukum dalam hal ini adalah Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) dan Direktorat Jendral Piutang dan Lelang Negara (DJPLN). dan penataan kembali (restructuring). Setelah ditempuh dengan cara tersebut dan tetap tidak ada kemajuan penanganan. Melalui rescheduling (penjadwalan kembali). persyaratan (reconditioning). melalui Badan Peradilan. persyaratan kembali (reconditioning).

Melalui restructuring (penataan kembali).tenggang (grace priod). dan konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara. atau jangka waktu kredit saja. pengurangan tunggakan bunga kredit.14 Tahun 1970. pengurangan tunggakan pokok kredit. atau melakukan konversi atas seluruh atau sebagian kredit menjadi perusahaan. Bila perlu dengan penambahan kredit. yaitu melakukan perubahan atas sebagian atau seluruh persyaratan perjanjian. Lembaga yang berfungsi untuk menyelesaikan kredit perbankan yaitu: 1. penambahan fasilitas kredit. Tetapi perubahan kredit tersebut tanpa memberikan tambahan kredit atau tanpa melakukan konversi atas seluruh atau sebagian dari kredit menjadi equity perusahaan. Melalui reconditioning (persyaratan kembali).14 tahun 1970 ditetapkan berbagai peraturan perundang-undangan yang menentukan batas yurisdiksi untuk . yang tidak terbatas hanya kepada perubahan jadwal angsuran. pada umumnya upaya yang dilakukan bank dilakukan melalui prosedur hukum. Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) 3. yang dilakukan dengan atau tanpa rescheduling atau reconditioning. yaitu upaya berupa melakukan perubahan syarat-syarat perjanjian kredit berupa pemberian tambahan kredit. perpanjangan waktu kredit. Pengadilan Negri 2. Termasuk dalam restrukturisasi kredit yaitu. termasuk perubahan jumlah angsuran. Sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang No. Sehubungan dengan hal tersebut. sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku terdapat beberapa lembaga dan berbagai sarana hukum yang dapat dipergunakan untuk mempercepat penyelesaian masalah kredit macet 3. Pengadilan Negri Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 dan pasal 10 Undang-Undang No. perbankan. penurunan suku bunga. Kejaksaan.tentang KETENTUAN POKOK KEKUASAAN KEHAKIMAN badan peradilan merupakan lembaga yang sah dan berwenang untuk menyelesaikan sengketa. 2. Apabila penyelesaian non-hukum sebagaimana tersebut diatas tidak berhasil dilaksanakan.

Tahun 1960.49 Prp. Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) Dengan Undang-Undang No. Penyelesaian sengketa kredit macet bank-bank swasta dapat diselesaikan melalui Pengadilan Negeri dengan 2 (dua) cara yaitu dengan menggugat penerima kredit. dimana dengan adanya penyerahan piutang .setiap badan peradilan. Putusan tersebut dilaksanakan dengan sita eksekusi atas agunan yang diberikan untuk kepentingan pelunasan kredit. maka bank dapat langsung mengajukan permohonan penetapan sita eksekusi barang agunan untuk dapat memperoleh pelunasan piutangnya tanpa harus melalui proses gugatan biasa di Pengadilan. Terhadap barang agunan yang telah diikat secara sempurna. yurisdiksinya termasuk kewenangan lingkungan peradilan umum. seperti dengan cara hipotik (sekarang Hak Tanggungan) atau credietverband. Bank meminta penetapan sita eksekusi terhadap barang agunan debitur yang telah diikat secara sempurna. Bank dapat menggugat debitur yang melakukan wanprestasi dengan tidak membayar utang pokok maupun bunga ke Pengadilan Negeri. Dengan demikian bagi bank milik negara penyelesaian masalah kredit macetnya harus dilakukan melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) bertugas menyelesaikan piutang negara yang telah diserahkan kepadanya oleh instansi pemerintah atau badan-badan negara. Apabila proses pemeriksaan selesai dilakukan. Pengadilan Negeri dalam hal ini akan memproses gugatan tersebut dengan mempertimbangkan bukti-bukti dan sanggahan-sanggahan yang diajukan oleh kedua belah pihak. atau dengan mengajukan permohonan penetapan sita eksekusi. sehingga badan peradilan yang secara resmi bertugas menyelesaikan kredit macet bila disengketakan adalah Pengadilan Negeri. Pengadilan Negeri akan mengeluarkan putusan. Bank menggugat nasabah karena telah melakukan wanprestasi atas perjanjian kredit yang telah disepakati.Khusus berkenaan dengan permasalahan sengketa perkreditan.

Jika debitur menolak membuat Pernyataan Bersama. sarana hukum lain selain melalui lembaga hukum yang dapat dipergunakan untuk mempercepat penyelesaian masalah kredit macet perbankan yaitu : . Kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak didalam maupun diluar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah. sehingga pernyataan tersebut mempunyai titel eksekutorial. Pengurusan piutang negara dimaksud dilakukan dengan membuat Pernyataan Bersama antara PUPN dan debitur tentang besarnya jumlah hutang dan kesanggupan debitur untuk menyelesaikannya. Kejaksaan Berdasarkan UU No.tahun 1960). Pernyataan Bersama tersebut mempunyai kekuatan pelaksanaan seperti putusan hakim dalam perkara perdata yang berkekuatan pasti.Dengan demikian Kejaksaan dapat mewakili bank-bank milik negara dalam menyelesaikan masalah-masalah hukum.macet kepada badan tersebut secara hukum wewenang penguasaan atas hak tagih dialihkan kepadanya.55 tahun 1991. sehingga selanjutnya penyitaan dan pelelangannya disamakan dengan penagihan pajak negara (pasal 11 UU No. Dalam hal Pernyataan Bersama tidak dipenuhi oleh debitur. Surat Paksa dikeluarkan dalam bentuk keputusan Ketua PUPN dengan titel eksekutorial yang mempunyai kekuatan seperti grosse putusan hakim dalam perkara perdata yang tidak dapat diajukan banding lagi. termasuk masalah hukum yang timbul dari hubungan pemberian kredit antara bank dengan debitur bilamana debitur tidak memenuhi kewajibannya (wanprestasi) kepada bank. Oleh karena itu peranan Kejaksaan dalam bidang hukum perdata tersebut dapat disejajarkan dengan Government¶s Law Office atau Advokat/Pengacara Negara. maka Ketua PUPN dapat menetapkan besarnya jumlah hutang sendiri. PUPN dapat memaksa debitur untuk membayar sejumlah hutang dengan surat paksa.5 Tahun 1991 dan Keputusan Presiden No.49 Prp. Dengan demikian penagihan piutang negara dilakukan sesuai dengan parate eksekusi.

ada putusan lain yang sudah berkekuatan hukum yang tetap. Namun pelaksanaan pasal dimaksud harus dilakukan dengan memperhatikan pasal 1211 KUH Perdata yaitu melalui Kantor Lelang Negara sekarang Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). tulisan tangan yang menurut undang-undang mempunyai kekuatan bukti. atau . Putusan Yang Bersifat Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) Putusan Yang Bersifat Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) sebagaimana diatur dalam pasal 191 Rbg/pasal 180 HIR merupakan suatu proses khusus yang memungkinkan dapat dilaksanakannya eksekusi sebelum putusan Hakim yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap. atau 3.4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan) dapat diberi kuasa untuk menjual barang agunan dimuka umum untuk melunasi hutang pokok atau bunga yang tidak dibayar oleh debitur sebagaimana mestinya. Dengan demikian pemegang grosse akte pengakuan hutang cukup mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat agar bunyi atau isi grosse akte dimaksud dapat dilaksanakan. Grosse Akte Pengakuan Hutang Tujuan pemanfaatan grosse akte pengakuan hutang sebagaimana diatur dalam pasal 224 HIR adalah memberikan kekuatan hukum yang sama dengan Putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap agar langsung dapat dieksekusi. atau 2. Dengan demikian pelaksanaannya tidak memerlukan fiat/persetujuan Ketuan Pengadilan Negeri atau proses penyitaan serta tidak memerlukan adanya grosse akte. Putusan dimaksud dapat diterapkan hakim dengan syarat : 1. ada suatu surat otentik.Pelaksanaan Pasal 1178 ayat (2) KUH Perdata Menurut pasal 1178 ayat (2) KUH Perdata Kreditur pemegang Hipotik pertama (sekarang dikenal dengan Pemegang Hak Tanggungan sesuai dengan Undang-Undang No.

Sedangkan lembaga Lijfsdwang sebagaimana diatur dalam pasal 580-608 Rv merupakan paksaan yang bersifat mengasingkan seseorang dalam suatu tempat tertentu. dalam arti yang bersangkutan mempunyai barang dan kemampuan tetapi tidak melaksanakan kewajibannya. http://kuliahade. ada tuntutan provisioneel yang dikabulkan Gizjeling dan Lijfsdwang Gizjeling sebagaimana ditetapkan dalam pasal 209 sampai 224 HIR atau pasal 242 sampai dengan 258 RBg merupakan lembaga upaya paksa agar debitur memenuhi kewajibannya.com/2010/06/27/hukum-perbankan-kredit-bank-2/ 3. Dalam pelaksanaannya Lijfsdwang ditujukan kepada orang yang membangkang. sehingga dari segi keadilan lembaga ini lebih tepat untuk digunakan. 4. Google books.com/2010/06/09/cara-penyelesaian-kredit-macet/ 2. Gizjeling dikenakan terhadap orang yang tidak atau tidak cukup mempunyai barang untuk memenuhi kewajibannya.wordpress. Google scholar. Sumber dari: 1. .4. https://iwanvictorleonardo.wordpress.

TUGAS HUKUM BISNIS PENYELESAIAN KREDIT MACET YANG DISEBABKAN OLEH FAKTOR EKSTERNAL WAHYU HARYUDI R. 10790078 .S.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->