case inersia uteri hipotonik

BAB I PENDAHULUAN

Distosia adalah persalinan yang sulit. Sebab-sebabnya dapat dibagi dalam 3 golongan, yakni : kelainan tenaga (kelainan his). Distosia karena kelainan tenaga (his) adalah his yang tidak normal,baik kekuatan maupun sifatnya, sehingga menghambat kelancaran persalinan. Distosia karena kelainan jalan lahir misalnya panggul sempit, tumor-tumor yang mempersempit jalan lahir. Distosia karena kelainan letak atau kelainan anak, misalnya letak lintang, letak dahi, hydrocephalus atau monstrum. Inersia uteri (hipoaktif uteri) insiden proporsionalnya 44%, his inkoordinasi hiperaktif 44%, inefisiensi normotonik (his lemah) 10% dan distosia servikalis 2%. Baik di negara maju maupun di negara berkembang, seseorang disebut menderita anemia bila kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr%, disebut anemia berat, atau bila kurang dari 6 gr%, disebut anemia gravis. Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54%. Angka-angka tersebut juga berlaku untuk ibu hamil, terutama wanita yang mendapat pengawasan selama hamil. Oleh karena itu, pemeriksaan hematokrit dan hemoglobin harus menjadi pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan 1 dan sekali lagi pada triwulan terakhir. Laporan-laporan dari seluruh dunia menyebutkan bahwa frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi, terutama di negara-negara berkembang, yaitu 10-20%. Karena defisiensi makanan memegang peranan yang sangat penting dalam timbulnya anemia maka dapat difahami bahwa frekuensi itu lebih tinggi lagi di negeri-negeri yang sedang berkembang, dibandingkan dengan negeri-negeri yang sudah maju.menurut penyelidikan Hoo Swie Tjiong frekuensi anemia dalam kehamilan setinggi 18,5%, pseudoanemia 57,9%, dan wanita hamil dengan Hb 12 g/100 ml atau sebanyak 23,6%; Hb rata-rata 12,3 g/ml dalam trimester I, 11,3 g/100 ml dalam trimester II, dan 10,8 g/100 ml dalam trimester III. Hal itu disebabkan karena pengenceran darah menjadi
1

makin nyata dengan lanjutnya umur kehamilan, sehingga frekuensi anemia dalam kehamilan meningkat pula.

2

kemajuan turunnya bagian terendah janin. sehingga persalinan mengalami hambatan atau kemacetan. Besarnya caput succedaneum Kemajuan persalinan dinilai dari kemajuan pembukaan serviks. kekuatan dan lamanya his. His diketahui kurang kuat kalau : • • • Terlalu lemah Terlalu pendek Terlalu jarang His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan rintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persalinan.BAB II KERANGKA TEORI Persalinan yang normal (Eutocia) ialah persalinan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung spontan di dalam 24 jam. yakni menilai secara manual sifat-sifat his dengan palpasi atau bantuan CTG (Cardin tocograplzy). 3. tidak dapat diatasi. Kekuatan his tidak boleh dinilai dari perasaan nyeri penderita. Baik tidaknya his dinilai dengan : 1. Penilaian kekuatan his dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik. Kemajuan persalinan 2. Kekuatan his dinilai dengan menekan dinding rahim pada puncak kontraksi. Sifatnya his : frekuensi. dan bila janin sudah sampai di bidang Hodge III atau lebih rendah dinilai dari ada atau tidak adanya putaran paksi dalam. 3 . tanpa menimbulkan kerusakan yang berlebih pada ibu dan anak.

Kalau timbul setelah berlangsungnya his kuat untuk waktu yang lama. Partus yang sudah selesai kurang dari tiga jam. tonus otot di luar his juga biasa. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri. His terlampau kuat. Selama ketuban masih utuh umumnya tidak banyak bahaya. dinamakan partus presipitatus : sifat his normal. Kesalahan yang sering dibuat ialah mengobati seorang penderita untuk inersia uteri. tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah mulai. vagina dan perineum. kelainannya terletak pada kekuatan his. Keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction. Untuk sampai pada kesimpulan ini. Diagnosis inersia uteri paling sulit dalam masa laten. hal itu dinamakan inersia uteri sekunder. padahal persalinan belum mulai (false labour). kecuali jika persalinan berlangsung terlalu lama. khususnya serviks uteri. His yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai dalam waktu yang sangat singkat. Ligamentum rotundum menjadi tegang serta lebih jelas teraba. Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir. yakni pendataran dan/atau pembukaan. Keadaan umum penderita biasanya baik. Batas antara bagian atas dan segmen bawah atau lingkaran retraksi menjadi sangat jelas dan meninggi.Jenis-jenis kelainan his 1. 2. penderita merasa nyeri terus menerus dan 4 . baik bagi ibu maupun bagi janin. dan jarang daripada biasanya. Dalam keadaan demikian lingkaran dinamakan lingkaran retraksi patologik atau lingkaran Bandl. Kelainannya terletak dalam hal kontraksi uterus yaitu lebih singkat. Inertia uteri. diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi perubahan pada serviks. sedangkan bayi bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu yang singkat. dan rasa nyeri tidak seberapa. His terlampau kuat atau juga disebut hypertonic uterine contraction.

Distosia servikalis dinamakan primer kalau serviks tidak membuka karena tidak mengadakan relaksasi berhubung dengan incoordinate uterine action. dan dapat diraba jelas pinggir serviks yang kaku. Oleh karena itu. kelainan his ini menyebabkan spasmus sirkuler setempat. tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan. dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronasi antara kontraksi bagian-bagiannya. Lingkaran kontriksi tidak dapat ketahui dengan pemeriksaan dalam. sehingga terjadi penyempitan cavum uteri pada tempat itu. Secara teoritis. Disamping itu tonus otot uterus menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. apabila tidak diberi pertolongan. Adakalanya persalinan tidak maju karena kelainan pada serviks yang dinamakan distosia servikalis. Kelainan ini bisa primer atau sekunder. Kala I menjadi lama. Dengan his kuat serviks bisa robek. regangan segmen bawah uterus melampaui kekuatan jaringan.misalnya karena jaringan parut atau karena karsinoma. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas. His jenis ini juga disebut sebagai uncoordinate hypertonic uterine contraction. lingkaran ini dapat terjadi dimanamana. sehingga tangan dapat dimasukkan ke dalam cavum uteri. biasanya tidak mungkin mengenal kelainan ini dengan pasti. Kadang-kadang pada persalinan lama dengan ketuban yang sudah lama pecah. setiap wanita yang 5 . dan robekan ini dapat menjalar ke bagian bawah uterus. kecuali kalau pembukaan sudah lengkap. juga diluar his. Oleh sebab itu. Tonus otot uterus meningkat. jika pembukaan belum lengkap. Akhirnya. 3. Incoordinate uterine action. terjadilah ruptur uteri. Ini dinamakan lingkaran kontraksi atau lingkaran kontriksi.menjadi gelisah. Penderita biasanya seorang primigravida. Distosia servikalis sekunder disebabkan oleh kelainan organik pada serviks. akan tetapi biasanya ditemukan pada batas antara bagian atas dan segmen bawah uterus. Disini sifat his berubah. Kalau keadaan ini dibiarkan. maka tekanan kepala terus menerus dapat menyebabkan nekrosis jaringan serviks dan dapat mengakibatkan lepasnya bagian tengah serviks secara sirkuler.

pernah mengalami operasi pada serviks. 6 . apakah ada inersia uteri atau incoordinate uterine action. khususnya inertia uteri. misalnya uterus bikornis unikolis. khususnya primigravida tua. ETIOLOGI Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida. Pada multipara lebih banyak ditemukan kelainan yang bersifat inersia uteri. Tekanan darah diukur tiap empat jam. Akan tetapi pada sebagian besar kasus. keadaan wanita yang bersangkutan harus diawasi dengan seksama. Faktor herediter mungkin memegang peranan pula dalam kelainan his. ialah apabila bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus seperti misalnya pada kelainan letak janin atau pada disproporsi sefalopelvik.. Satu sebab yang penting dalam kelainan his. dan apakah ada disproporsi sefalopelvik biar pun ringan. pada permulaan kala I dapat diberi 10 mg morfin. selalu harus diawasi persalinannya di rumah sakit. Denyut jantung janin dicatat tiap setengah jam dalam kala I dan lebih sering dalam kala II. penyebab inersia uteri ini tidak diketahui. perlu diadakan penilaian yang seksama tentang keadaan. kurang lebih separuhnya. Untuk mengurangi rasa nyeri dapat diberikan pethidin 50 mg yang dapat diulangi. perlu ditetapkan apakah persalinan benar-benar sudah mulai atau masih dalam tingkat false labour. Sebaiknya diberikan infus larutan glukosa 5% dan larutan NaCl isotonik secara intravena berganti-ganti. Apabila persalinan berlangsung dalam 24 jam tanpa kemajuan yang berarti. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda maupun hidramnion juga dapat merupakan penyebab dari inersia uteri yang murni. Selain penilaian keadaan umum. PENATALAKSANAAN Dalam menghadapi persalinan lama oleh sebab apapun. Akhirnya gangguan dalam pembentukan uterus pada masa embrional. dapat pula mengakibatkan kelainan his.

kalau masih tidak ada kemajuan. 5 unit dimasukkan ke dalam larutan glukosa 5% dan diberikan secara infus intravena dengan kecepatan kira-kira 12 tetes permenit. yang merupakan tanda bahaya akan terjadi ruptur uteri. Sebaiknya oksitosin diberikan beberapa jam saja. Pada waktu pemeriksaan dalam. pemberiannya dihentikan. dan dengan demikian mempercepat jalannya persalinan. Kalau seorang wanita pernah mengalami partus presipitatus. Maksud pemberian oksitosin ialah memperbaiki his. harus diperiksa keadaan serviks. Kemudian dicoba lagi untuk beberapa jam. Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan. maka tidak banyak gunanya untuk memberikan oksitosin dalam dosis yang lebih tinggi. atau kalau denyut jantung janin menjadi cepat atau menjadi lambat. kalau tidak ada kemajuan. kemungkinan besar kejadian ini akan berulang pada persalinan berikutnya. Kekuatan dan kecepatan his.Inersia uteri. supaya penderita dapat beristirahat. keadaan dan denyut jantung janin harus diperhatikan secara teliti. lebih baik dilakukan seksio sesarea. Infus harus dihentikan kalau kontraksi uterus berlangsung lebih dari 60 detik. Apabila ada disproporsi sefalopelvik yang berarti. dapat menimbulkan lingkaran retraksi patologik. turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul. sebaiknya diambil keputusan untuk melakukan seksio sesarea. Bila his kuat dan ada rintangan yang menghalangi lahirnya janin. namun hal tersebut dapat dibenarkan oleh karena dapat merangsang his. His yang terlalu kuat. 7 . sehingga serviks dapat membuka. presentasi serta posisi janin. Apabila tidak ada disproporsi atau ada disproporsi ringan dapat dilakukan sikap lain. yang perlahan-lahan dapat dinaikkan sampai kira-kira 50 tetes. Dalam keadaan demikian janin harus segera dilahirkan dengan cara yang memberikan trauma sedikit-sedikitnya bagi ibu dan anak. Tindakan sederhana ini kadang-kadang menyebabkan his menjadi kuat. dan kandung kencing serta rektum dikosongkan. Keadaan umum penderita sementara itu diperbaiki. dan selanjutnya persalinan berjalan lancar. Kemudian harus disusun rencana menghadapi persalinan yang lamban ini. penderita disuruh berjalan-jalan. ketuban boleh dipecahkan. Kalau 50 tetes tidak membawa hasil yang diharapkan. Memang sesudah tindakan ini persalinan tidak boleh berlangsung terlalu lama. Kalau diobati dengan oksitosin. Apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam panggul.

baik dalam kehamilan. 5. Pedarahan post partum karena atonia uteri.pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah : 1. 4. Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan sulit. Berbagai penyulit dapat timbul akibat anemia. Usaha yang dapat dilakukan ialah mengurangi tonus otot dan mengurangi ketakuan penderita. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian analgetika. Infeksi. 3. 2. Kematian janin dalam kandungan. walaupun tidak terjadi perdarahan. persalinan maupun dalam nifas dan masa selanjutnya. Abortus. seperti morfin. 2. seperti : 1. Kematian perinatal tinggi. Syok. 3. Kematian janin waktu lahir (stillbirth). 5. Kelainan ini hanya dapat diobati secara simptomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional antara bagianbagian uterus. Anemia yang sangat berat dengan Hb kurang dari 4 g/100 ml dapat menyebabkan dekompensasi kordis. ANEMIA Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu. Partus prematurus.Incoordinate uterine action. dan lain-lain. baik intra partum maupun post partum. 8 . Prematuritas. 4. Partus lama karena inersia uteri. Bila terjadi anemia. Kematian mudigah (keguguran). 7. petidin. 6.

Kadar besi serum rendah b.0%) 3. Anemia defisiensi besi (62. Diagnosis Diagnosis anemia defisiensi besi yang berat tidak sulit karena ditandai ciri-ciri yang khas bagi defisiensi besi.0%) 4. Cadangan besi kurang Jadi anemia dalam kehamilan merupakan sebab potensial morbiditas mortalitas ibu dan anak.3%) 2. Anemia hipoplastik (8. Anemia yang ringan tidak selalu menunjukkan ciri-ciri khas itu. Dapat terjadi cacat bawaan. Sifat lain yang khas bagi defisiensi besi ialah : a.6. bahkan banyak yang bersifat normositer dan normokrom. 9 . dan d. Anemia megaloblastik (29. Protoporfirin eritrosit tinggi. Anemia hemolitik (sel Sickle) (0.7%) ANEMIA DEFISIENSI BESI Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak dijumpai. 7. Tidak ditemukan hemosiderin (stainable iron) dalam sumsum tulang Pemeriksaan sumsum tulang menunjukkan eritropoesis yang normoblastik tanpa tandatanda hipoplasia eritropoesis. Klasifikasi Anemia dalam Kehamilan : 1. Daya ikat besi serum tinggi c. yakni mikrositosis dan hipokromasia. Merupakan penyebab anemia pada umumnya.

Prognosis Prognosis anemia defisiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak. yang segera harus diberikan apabila terjadi perdarahan yang lebih dari biasa. dan infeksi. yang baru beberapa bulan kemudian tampak sebagai anemia infantum. Biasanya diberikan garam besi sebanyak 600-1000 mg sehari. maka wanita dapat dianggap sebagai menderita anemia defisiensi besi. Terapi parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan dengan obat besi per os. dan dekstran besi. Keperluan zat besi untuk wanita non-hamil. Darah secukupnya harus tersedia selama persalinan. seperti ferrum oksidum sakkaratum. hamil dan dalam laktasi yang di anjurkan adalah : • • FNB Amerika Serikat (1958) : 12 mg – 15 mg – 15 mg LIPI Indonesia : 12 mg – 17 mg – 17 mg. baik yang murni maupun yang dimorfis. ada gangguan penyerapan. Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi per os. sodium differat. Secara intramuskular dapat disuntikkan dekstran besi (Imferon) atau Sorbitol besi (Jectofer). penyakit saluran pencernaan. Juga secara intravena perlahan-lahan besi dapat diberikan. seperti sulfas-ferrosus atau glukonas ferrosus. namun cadangan besinya kurang. walaupun tidak lebih dari 1000 ml.Penatalaksanaan Apabila pada pemeriksaan kehamilan hanya Hb yang diperiksa dan Hb itu kurang dari 10 g/100 ml. Besi parenteral diberikan dalam bentuk ferri. perdarahan post partum. 10 . Anemia berat yang tidak diobati dalam kehamilan muda dapat menyebabkan partus lama. atau apabila kehamilannya sudah tua. Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau komplikasi lain. Walaupun bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita anemia defisiensi besi tidak menunjukkan Hb yang rendah.

naiknya jumlah retikulosit dan kasar Hb menunjukkan defisiensi asam folik. Diagnosis pasti baru dapat dibuat dengan percobaan penyerapan (absorption test) dan percobaan pengeluaran (clearence test) asam folik.ANEMIA MEGALOBLASTIK Anemia megaloblastik biasanya berbentuk mekrositik atau pernisiosa. Hal ini disebabkan karena dengan lahirnya anak keperluan akan asam folat jauh berkurang. Anemia megaloblastik dalam 11 . Sebaliknya. anemia pernisiosa memerlukan pengobatan yang terus menerus. jarang sekali akibat karena kekurangan vitamin B12. atau apabila pengobatan dengan berbagai obat penambah darah biasa tidak berhasil. Apabila penderita mencapai masa nifas dengan selamat dengan atau tanpa pengobatan. Biasanya karena malnutrisi atau infeksi yang kronik. juga diluar kehamilan. Transfusi darah kadang diperlukan apabila tidak cukup waktu karena kehamilan dekat aterm. Tablet asam folik diberikan dalam dosis 15-30 mg perhari. Pengobatan percobaan dengan asam folik dapat pula menyokong diagnosis. maka penderita harus diobati dengan vitamin B12 dengan dosis 100-1000 mikrogram sehari. Prognosis Anemia megaloblastik dalam kehamilan umumnya mempunyai prognosis cukup baik. maka anemianya akan sembuhdan tidak akan timbul lagi. Penatalaksanaan Dalam pengobatan anemia megaloblastik dalam kehamilan sebaiknya bersamasama dengan asam folik diberikan pula besi. kecuali bila anemianya sudah berat. Pengobatan dengan asam folik hampir selalu berhasil. Apabila anemia megaloblastik disebabkan oleh defisiensi vitamin B12. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik. Sifat khas sebagai anemia makrositer dan hiperkrom tidak selalu dijumpai. baik per os maupun parenteral. Diagnosis Diagnosis anemia megaloblastik dibuat apabila ditemukan megaloblas atau promegaloblas dalam darah atau sumsum tulang.

Pemeriksaan retikulosit. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan : • • • Darah tepi lengkap. Faktor intrakorpuskuler : dijumpai pada anemia hemolitik herediter. baik bagi ibu maupun bagi anak. Angka kematian bagi ibu mendekati 50% dan bagi anak 90%. yang sering perlu diulang sampai beberapa kali. Anemia aplastik dan anemia hipoplastik berat yang tidak diobati mempunyai prognosis buruk. membentuk selsel darah merah baru. maka satu-satunya cara untuk memperbaiki keadaan penderita ialah transfusi darah. H. ANEMIA HEMOLITIK Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. anemia sickle (sabit). I . dan sinar rontgen atau sinar radiasi. dll. Penyebabnya belum diketahui.kehamilan yang berat yang tidak diobati mempunyai prognosis kurang baik. talasemia. Karena obat-obatan penambah darah tidak memberikan hasil. hemoglobinopati C. Ini dapat disebabkan oleh : a. ANEMIA HIPOPLASTIK Anemia hipoplasti disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang. D. Pemeriksaan pungsi sternal. Sumsum tulang memberikan gambaran normoblastik dan hipoplasia ertiropoiesis. keracunan. 12 . kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis). dan paraksismal nokturia hemoglobinuria. G. Gambaran darah tepi : normositik dan normokromik.

Pengobatan ditujukan kepada sebab pokok anemianya. tumor ganas. keracunan zat logam. sepsis. Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. kelelahan. Dalam hal ini anemianya menjadi lebih berat dan mempunyai pengaruh tidak baik terhadap ibu dalam masa kehamilan. serta berhasil-tidaknya pengobatan. hal ini tidak memberikan hasil. obat-obat anti malaria. Maka transfusi darah yang berulang dapat membantu penderita ini. dpat menjadi hamil. persalinan. misalnya berbagai jenis anemia hemolitik herediter atau yang diperoleh seperti anemia karena malaria. dan lain-lain. cacing tambang. ANEMIA-ANEMIA LAIN Seorang wanita yng menderita anemia. Faktor ekstrakorpuskuler : disebabkan malaria. dan lain-lain. kelemahan. 13 . misalnya antibiotika untuk infeksi. serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ –organ vital. Prognosis bagi ibu dan anak tergantung pada berat dan sebab anemianya. tuberkulosis. dan sebagainya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diobati dan diberikan obat-obat penambah darah. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah. penyakit hodgkin. penykit hati. obat cacing. pada beberapa jenis obat-obatan. nifas. penyakit ginjla menahun. anti sifilis.b. Namun. leukimia. dan dapat beserta obat-obatan. sifilis. serta bagi anak dalam kandungan.

keluar air-air Riwayat penyakit sekarang : Wanita G7P6A0 merasa hamil 9 bulan.00  pergi ke dokter  dokter tidak di tempat 14 .00  mulas-mulas Jam 06.masih merasakan pergerakan janin. R/ SMP Umur Pekerjaan Agama Suku : 37 tahun : wiraswasta : Islam : Sunda Tanggal masuk : 28 -11-2010 jam 17. Y / SMP : 33 tahun : Tidak bekerja : Islam : Sunda : Kepongpongan Talun Nama suami : Tn. Wanita mengatakan : Tgl 27/11/10 jam 03.50 Rujukan Puskesmas : G7P6A0 parturient aterm kala I fase aktif memanjang II. IDENTITAS Nama Umur Pekerjaan Agama Suku Alamat istri : Ny.BAB III ILUSTRASI KASUS I. ANAMNESA Keluhan Utama : mulas.

00  Keluar air-air  pergi ke puskesmas saran rawat RS Jam 17. Abortus Pr/preterm/2200/dokter/spt Pr/preterm/1800/dokter/spt Pr/preterm/1700/dokter/spt Lk/preterm/1700/dokter/spt Lk/preterm/1700/dokter/spt Pr/preterm/1700/dokter/spt Sekarang Umur 14 tahun 9 tahun 5 tahun Keadaan Anak Hidup Meninggal Meninggal Meninggal Hidup Hidup HPHT : 03-03-10 HPL : 10-12-10 15 .Tgl 28/11/10 jam 10. Partus.55  datang ke vk Riwayat penyakit dahulu : Asma Hipertensi DM Jantung ::::- Riwayat Obstetri : No 1 2 3 4 5 6 7 Kehamilan.

III. Mammae : Puting menonjol. simetris : BJ I-II reguler. Gallop (-) : vesikuler di seluruh lapang paru. Wh (-/-) − − − − 7. Edema : 5. PEMERIKSAAN FISIK : 1. Tanda vital : Sedang : Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu : 130/90 : 93 : 21 : 36. Mata : Konjungtiva : Anemis Sklera : Tidak ikterik 4. Keadaan umum 2. Paru IV. puki 16 .3 mmHg x/menit x/menit o C 3. Rh (-/-). pres kep. Jantung 6. PEMERIKSAAN OBSTETRI : Pemeriksaan Luar : TFU Letak anak : 29 cm : memanjang. Murmur (-).

700/mm3 : 25.DJJ His : 136 x/menit :- Pemeriksaan Dalam : Vulva/vagina Portio Pembukaan Ketuban : tidak ada kelainan : tebal lunak : 5-6 cm :+ Bagian terendah : Kepala Hodge :I V. 17 . keluar air-air dari jalan lahir : Pasien G7P6A0 merasa hamil 9 bulan. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Lab darah tanggal (28-11-2010) • • Hb Leukosit Ht : 7. RESUME Keluhan utama Riwayat penyakit sekarang : mulas.7 g/dL : 16.000/mm3 HIV HbsAg : (-) : (-) • • VI. datang dikirim oleh puskesmas dengan keluhan keluar air-air dan mulas yang jarang. masih merasakan pergerakan janin.8 L % • • Trombosit : 248.

simetris : BJ I-II reguler.3 mmHg x/menit x/menit o C : Puting menonjol. Murmur (-). Gallop (-) : vesikuler di seluruh lapang paru. Wh (-/-) PEMERIKSAAN OBSTETRI : Pemeriksaan Luar : TFU Letak anak DJJ His : 29 cm : memanjang. Lalu pasien ke puskesmas dan dirujuk ke RSUD Gunung Jati. Rh (-/-). Status present tanggal 28 November 2010 Keadaan umum Tanda vital : Sedang : Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu Mata : Konjungtiva : Anemis Sklera Mammae Jantung Paru : Tidak ikterik : 130/90 : 93 : 21 : 36. pres kep. puki : 136 x/menit :- Pemeriksaan Dalam : 18 .Pasien sendiri datang dengan keluhan mulas dan keluar air-air sejak dini hari.

DIAGNOSA G7P6A0 parturient aterm (37-38 minggu) kala I fase aktif + anemia VIII. KRONOLOGIS 19 . PROGNOSIS Ibu Janin : Quo ad Vitam : Quo ad Vitam : bonam : bonam : Quo ad Functionam : bonam : Quo ad Functionam : bonam X. PENATALAKSANAAN • • • • Transfusi Amniotomi Antibiotik Drip oksitosin IX.Vulva/vagina Portio Pembukaan Ketuban : tidak ada kelainan : tebal lunak : 5-6 cm :+ Bagian terendah : Kepala Hodge :I VII.

Dari puskesmas di sarankan untuk di rawat di RS.15 konsul dr. Pukul 17.00 pasien merasa keluar air-air kemudian pergi ke puskesmas.OG.00 mulas-mulas lalu pergi ke dokter tetapi dokter tidak di tempat.a. Samsudin. 28 November 2010 Pukul 10.k p : tebal lunak pembukaan : 2-3 cm ketuban : + kepala : hodge I-II 20 .30 dilakukan pemeriksaan dalam ulang dan didapatkan hasil : v/v : t. Sp. Advice : drip oksitosin dan antibiotik Pukul 23.27 November 2010 Pukul 03.55 pasien tiba di vk.k p : tebal lunak pembukaan : 3-4 cm ketuban : + kepala : hodge I-II his : 29 November 2010 Pukul 05.a.15 dilakukan pemeriksaan dalam ulang dan didapatkan hasil : v/v : t. Di vk dilakukan pemeriksaan dalam dan hasilnya terdapat pembukann 5-6 cm tetapi tanpa his Pukul 19.

hasilnya : hamil tunggal hidup. HPL : 17-12-10.30 visit dr.OG. dan didapatkan hasil : v/v : t.OG. plasenta difundus. Pukul 13.15 konsul dr. air ketuban cukup. TBJ : 2600 gr. Sp. Doddy Sismayadi.k p : tebal lunak pembukaan : 6-7 cm ketuban : + kepala : hodge I-II his : Advice : transfusi PRC 1 labu Pukul 17. Advice : terapi lanjutkan Pukul 08. Sp.k p : tebal lunak pembukaan : 3-4 cm ketuban : + kepala : hodge I-II his : Pukul 11. Sp. presentasi kepala. Dadang Hidayat. Samsudin.OG. dan 21 .30 dilakukan pemeriksaan dalam ulang.his : Pukul 07. dilakukan pemeriksaan dalam.a. usia kehamilan 37-38 minggu.a.00 USG dr.45 dilakukan pemeriksaan dalam dan didapatkan hasil : v/v : t.

a.k p : tebal lunak pembukaan : 4-5 cm ketuban : + rembes kepala : masih tinggi his : 30 November 2010 Pukul 02.30 dilakukan pemeriksaan dalam ulang dan didapatkan hasil : v/v : t.k p : tebal lunak pembukaan : 5-6 cm ketuban : kepala : H I-II his : 3 x 10’ selama 20” 22 .didapatkan hasil : v/v : t.a. sisa keruh kepala : hodge II-III his : pukul 22.00 Dilakukan pemeriksaan dalam ulang dan didapatkan hasil : v/v : t.k p : tebal lunak pembukaan : 5-6 cm ketuban : .a..

Advice : observasi ketat. kelainan t. 23 . segera menangis.OG.45 Konsul dr.Pukul 02. Sp.50 Dilakukan manuallengkap FU : 2 jari bawah pusat perdarahan ± 200cc Perineum ruptur di hecting jelujur Perdarahan banyak  diinspekulo didapatkan robekan portio arah jam 9 ± 3 cm dan laserasi pada portio yang aktif mengeluarkan darah kemudian dilakukan hecting jelujur dan dipasang tampon 2 roll bersambung Pukul 07.k Pervaginam keluar darah banyak Pukul 02. Doddi Sismayadi. BB 2800 gr. Jk lakilaki. PB 48 cm.a.45 Bayi lahir spontan.

pasien tidak mengetahui bahwa multipara bisa membahayakan 24 . Dari hasil lab menunjukkan bahwa Hb pasien 7. Faktor pendidikan 2. 3. Faktor ekonomi Dasar-dasar Diagnosis 1. Non Klinis 1. Anemia Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva yang anemis.BAB IV ANALISA KASUS Identifikasi Masalah Klinis 1. 2. Inersia Uteri Hipotonik Pada pasien ini didiagnosis awal inersia uteri hipotonik karena : • Inersia uteri hipotonik Anemia Adanya fase aktif yang memanjang His yang semakin jarang • 2. Setelah itu dilakukan pengambilan darah untuk melihat Hb. Faktor pendidikan Tingkat pendidikan yang rendah mungkin menjadi salah satu faktor penyebabnya.7 L g/dL.

Etiologi dan Patofisiologi serta korelasi antar masalah Pada pasien ini faktor yang mungkin menyebabkan inersia uteri hipotonik adalah multipara dan anemia. Apabila setelah pemberian drip kedua masih belum meningkatkan kontraksi his dilakukan persalinan perabdominal yaitu dengan cara seksio sesarea. Mungkin asupan gizi yang diperlukan selama kehamilan tidak tercukupi dengan baik. • Pada anemia. makin kurang baik kondisi dan kontraksi uterus. sehingga ibu mengalami anemia. Analisa penatalaksanaan • Pada kasus inersia uteri hipotonik ini diberikan drip oksitosin dalam larutan dekstrose 5% secara intravena sebanyak 5 unit dengan kecepatan 10-40 tetes permenit dinaikkan secara bertahap dalam 30 menit.. Inersia uteri dalam kasus ini merupakan inersia uteri sekunder. di terapi dengan transfusi darah sampai Hb kembali normal. 4. keluarga ini merupakan keluarga dengan tingkat ekonomi yang rendah. Hal ini karena makin tinggi paritas ibu. Dan pengaruh anemia dalam kehamilan ini adalah partus lama karena inersia uteri dan perdarahan. karena sebelumnya sudah terjadi kontraksi his tetapi kemudian his menjadi jarang dan lama kelamaan menghilang. 25 . berikan drip ulang setelah 2 jam isirahat. Dan anemia bisa terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang gizi bagi ibu hamil. Apabila pemberian drip pertama masih belum meningkatkan his. Faktor ekonomi Meskipun suami bekerja.keselamatan ibu.

syok. Inertia uteri adalah pemanjangan fase laten atau fase aktif atau keduanya dari kala pembukaan 3. prematuritas. kematian janin waktu lahir. kematian perinatal. 26 . sifat his (frekuensi. kematian janin dalam kandungan. 6. infeksi intrapartum 8. cacat bawaan.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN I. Inersia uteri hipotonis biasanya terjadi di fase aktif 5. partus prematurus. KESIMPULAN 1. Hb akan turun karena pada saat ini janin membutuhkan banyak zat besi. dan cadangan besi yang kurang. Bila terjadi anemia. Terapi untuk inersia uteri hipotonis adalah dengan pemberian drip oksitosin sebanyak 5-10 unit. kekuatan dan lamanya his). atonia uteri. besarnya caput succedaneum 2. inersia uteri dan partus lama. Baik tidaknya his dinilai dari kemajuan persalinan. Ibu hamil dengan anemia dapat menyebabkan abortus. 7. Pada bulan ke 5-6 kehamilan. pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah kematian mudigah. Pemanjangan fase laten dapat disebabkan karena serviks yang belum matang 4.

Ibu hamil sebaiknya selalu memeriksakan kehamilannya tiap bulan untuk mencegah terjadinya penyulit dalam persalinannya 2. Pemberian preparat besi pada ibu hamil dapat mencegah terjadinya kelainan-kelainan pada kehamilan 3.II. 27 . SARAN 1. Pada wanita multipara sebaiknya diberikan penyuluhan untuk dilakukan sterilisasi agar terhindar dari penyulit-penyulit kehamilan yang biasa terjadi pada multipara.

2006. Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. dr. Prof. Hal 309-311. Sinopsis Obstetri. MPH. Prof. 1998. Prof. DSOG. Bandung: UNPAD. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Hal 448-458 dan Hal 587-594. Obstetri Patologi. Edisi kedua. dr.DAFTAR PUSTAKA 1. EGC. 2. cetakan kedelapan. Jakarta. 28 . 3. DSOG & Hanifa Wiknjosastro. Rustam Mochtar. YBP-SP. cetakan pertama. Edisi ketiga. Ilmu Kandungan. FKUI. dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.