P. 1
Filsafat Rekonstruktivisme dan Aplikasinya dalam Pendidikan

Filsafat Rekonstruktivisme dan Aplikasinya dalam Pendidikan

|Views: 1,753|Likes:

More info:

Published by: Sofyan Zaibaski Gulu on Apr 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/18/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi

cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu: (1) pendidikan sebagai praktik dan (2) pendidikan sebagai teori. Pendidikan sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain (dalam hal ini peserta didik) agar memperoleh perubahan perilaku. Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Di antara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan. Demikian pula, teori-teori pendidikan seyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan. Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun 1|Makalah Filsafat Rekonstruktivisme

dapat mengimbas pada praktik pendidikan. Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains; (2) pendekatan filosofi; dan (3) pendekatan religi. (Uyoh Sadulloh, 1994). Kajian pendekatan filosofi dalam pendidikan menjadi diperlukan karena pandangan filosofi akan memberikan arah, warna dan semangat dalam merumuskan kebijakan-kebijakan dalam pendidikan. Kebijakan pendidikan, baik dalam peraturan maupun kebijakan terapan atau aplikasi pembelajaran harus mengacu kepada pandangan-pandangan filosofi. Dengan demikian arah dan semangat praktik-praktik pendidikan dan pembelajaran akan menjadi lebih bermakna. Filsafat pendidikan menurut Al-Syaibany dalam Uyoh (2003 : 71), adalah: ”Pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu mencerminkan satu segi dari segi kepada pelaksanaan pelaksanaan falsafah umum dan dan menitikberatkan umum dalam prinsip-prinsip

kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis”. Salah satu aliran filsafat yang dikenal dalam dunia pendidikan adalah filsafat merupakan rekonstruktivisme. kelanjutan dari Filsafat gerakan pada saat rekonstruksionisme bahwa dan

progresivisme. Gerakan ini lahir didasasi atas suatu anggapan masalah-masalah masyarakat Rugg pada tahun yang ada ingin sekarang ini. Rekonstruksionisme dipelopori oleh Geroge Count Harold 1930, membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil.

2|Makalah Filsafat Rekonstruktivisme

Setelah

gerakan

progresif

kehilangan

momentumnya,

Theodore Brameld dalam Uyoh (2003 : 168) meletakan dasar : ”Social reconstruction” dengan beberapa publikasinya seperti : ”Pattern Philosophy of Educational Philosophy, A Reconstructional of Education, dan Education as Power. Usaha

rekonstruksi sosial yang diupayakan Brammeld didasarkan atas suatu asumsi bahwa kita telah beralih dari masyarakat agraris pedesaan ke masyarakat urban yang berteknologi tinggi, namun masih terdapat suatu kelambatan budaya yang serius, yaitu dalam kemampuan manusia menyesuaikan diri terhadap masyarakat teknologi. Hal tersebut sesuai dengan pandangan Counts, bahwa apa yang diperlukan pada masyarakat yang memiliki perkembangan teknologi yang cepat adalah rekontruksi masyarakat dan pembentkkan serta perubahan tata dunia baru. Makalah ini akan membicarakan sekelumit filsafat rekonstruksionisme dan pengaruhnya dalam dunia pendidikan di Indonesia. Rumusan masalah yang muncul adalah, apa filsafat rekonstruksionisme Indonesia? Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan konsep filsafat rekonstruksionisme beserta tokoh pelopornya. Di samping itu juga akan mendeskripsikan pengaruh dan aplikasi semangat rekonstruksionisme dalam pendidikan dan pembelajaran di Indonesia. Manfaat yang dapat diambil dari pembahasan fisafat akan dalam ini adalah memberikan arah, semangat, wawasan, pandangan dan pola pikir baru mengenai aliran-aliran baru dunia pendidikan, khususnya dunia rekonstruksionisme. Dengan demikian, pandangan dan pola piker tersebut mewarnai aplikasinya dalam itu? Bagaimana pandangan rekonstruksionisme dan pengaruhnya dalam dunia pendidikan di

3|Makalah Filsafat Rekonstruktivisme

pendidikan dan pembelajaran, baik membangun teoritik maupun praktik pembelajaran.

BAB II PEMBAHASAN

4|Makalah Filsafat Rekonstruktivisme

2.1

Filsafat Rekonstruksionisme Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris

rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut, aliran rekonstruksionisme dan perenialisme, memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran. Walaupun demikian, prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Dalam hal ini aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut, rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang, yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka, proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar umat manusia. Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun 5|Makalah Filsafat Rekonstruktivisme

masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg. Pandangan rekonstruksionisme dan penerapannya di bidang pendidikan berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya teori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.

2.2 Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. masa depan tentang masalah, Pada sangat rekonstruktivisme, ditekankan. individual kritis untuk dan apa Di seperti peradaban pada manusia samping menekankan progresivisme, ini akan

perbedaan berfikir

rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan sejenisnya. berfikir Aliran mempertanyakan kritis, memecahkan

6|Makalah Filsafat Rekonstruktivisme

masalah,

dan

melakukan pendidikan

sesuatu?

Penganut

aliran

ini

menekankan pada hasil belajar dari pada proses. Aliran kelanjutan memikirkan rekonstruksionisme progresivisme. diri dengan Gerakan Merupakan ini lahir dari dan gerakan

didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya melibatkan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Fokus dalam aliran pendidikan Rekonstruksionisme adalah: a. Promosi pemakaian problem solving tetapi tidak harus dirangkaikan dengan penyelesaian problema sosial yang signifikan. b. Mengkritik pola life-adjustment (perbaikan tambal-sulam) para Progresivist. c. Pendidikan perlu berfikir tentang tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk itu pendekatan utopia pun menjadi penting guna menstimuli pemikiran tentang dunia masa depan yang perlu diciptakan. d. Pesimis terhadap pendekatan akademis, tetapi lebih fokus pada penciptaan agen perubahan melalui partisipasi langsung dalam unsur-unsur kehidupan. e. Pendidikan berdasar fakta bahwa belajar terbaik bagi manusia adalah terjadi dalam aktivitas hidup yang nyata bersama sesamanya. f. Learning by doing (Belajar sambil bertindak).

2.3 Pandangan dan Rekonstruksionisme a. Pandangan secara Ontologi

Sikap

Kita

tentang

Aliran

7|Makalah Filsafat Rekonstruktivisme

Dengan ontologi, dapat diterangkan tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu. Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal, yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat. Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju ke arah oleh yang khusus indra menampakkan seperti diri dalam dan perwujudan sebagaimana yang kita lihat di hadapan kita dan ditangkap panca manusia bewan tumbuhan atau benda lain disekeiling kita, dan realita yang kita ketahui dan kita badapi tidak terlepas dari suatu sistem, selain substansi yang dipunnyai dan tiap-tiap benda tersebut, dan dapat dipilih melalui akal pikiran. Kemudian, tiap realita sebagai substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi). Dengan demikian gerakan tersebut mencakup tujuan dan terarah guna mencapai tujuan masing-masing dengan caranya sendiri dan diakui bahwa tiap realita memiliki perspektif tersendiri. b. Pandangan Aksiologis Dalam proses interaksi sesama manusia, diperlukan nilainilai. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral, akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian, yang merupakan kecenderungan manusia. Tetapi, secara umum ruang lingkup tentang pengertian "nilai" tidak terbatas. Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis.

8|Makalah Filsafat Rekonstruktivisme

Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Kemudian, manusia sebagai subyek telah memiliki potensipotensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka, karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan. c. Pandangan Epistemologis Kajian epsitemologis aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme (progressive) dan perenialisme. Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. Karenanya, baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahun, dan akal di bawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya. Aliran yang ada ini juga berpendapat sendiri, bahwa realita dasar dan dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence, yakni bukti pada diri eksistensinya. Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. Sebagai ilustrasi, adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan (self evidence). Kajian tentang kebenaran itu diperlukan suatu pemikiran, metode yang diperlukan guna menuntun agar sampai kepada pemikiran yang tersendiri hakiki. agar Penalaran-penalaran memiliki hukum-hukum

9|Makalah Filsafat Rekonstruktivisme

dijadikan pegangan ke arah penemuan definisi atau pengertian yang logis. Ajaran yang dijadikan pedoman berasal dari Aristoteles yang membicarakan dua hal pokok, yakni pikiran (ratio) dan bukti (evidence), dengan jalan pernikirannya adalah silogisme. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara premis mayor, premis minor dan kesimpulan (condusion), dengan memakai cara pengambilan kesimpulan deduktif dan induktif. 2.4 Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga manusia. Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya teori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat

10 | M a k a l a h F i l s a f a t R e k o n s t r u k t i v i s m e

George S. Counts sebagai pelopor rekonstruksionisme dalam publikasinya ”Dare the School Build a New Social Order”, Mengemukakan bahwa sekolah akan betul-betul berperan apabila sekolah menjadi pusat bangunan masyarakat baru secara keseluruhan, membasmi kemelaratan, peperangan, dan kesukuan (rasialime). Masyarakat yang menderita kesulitan ekonomi dan masalah-masalah sosial yang besar meruapakan tantangan bagi pendidikan untuk menjalankan perannya sebagai agen pembaharu dan rekonstruksi sosial, daripada pendidikan hanya mempertahankan status quo. Sekolah harus bersatu dengan kekuatan buruh progresif, wanita, para petani, dan kelompok minoritas untuk mengadakan perubahan-perubahan pendidikan kesejahteraan progresif, sosial, yang telah dan ia diperlukan. gagal Counts mengkritik teori dengan menghasilkan sekolah

mengatakan

pendekatan ”child centered” tidak cocok untuk menentukan pengetahuan dan skill sesuai dalam abad dua puluh. Tujuan pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran peserta didik yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi manusia dalam skala global, dan memberi keterampilan kepada mereka agar memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Tujuan akhir pendidikan adalah terciptanya maysarakat baru, yaitu sesuatu masyarakat global yang saling ketergantungan. Kurikulum merupakan subjek matter yang berisikan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik yang beraneka aragm, yang dihadapi umat manusia, termasuk masalah-masalah sosial dan pribadi terdidik itu sendiri. Isi kurikulum tersebut berguna dalam penyusunan disiplin ”sains sosial” dan proses penemuan

11 | M a k a l a h F i l s a f a t R e k o n s t r u k t i v i s m e

ilmiah (inkuiri ilmiah) sebagai metode kerja untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Mengenai peranan guru, paham rekonstruksionisme sama dengan paham-paham progresivisme. Guru harus menyadarkan si terdidik terhadap masalah-masalah yang dihadapi manusia, membantu terdidik mengidentifikasi masalah-masalah untuk dipecahkannya, sehingga terdidik memiliki kemampuan memecahkan masalah tersebut. Guru harus mendorong terdidik untuk dapat berpikir alternatif dalam memecahkan masalah tersebut. Lebih jauh guru harus membantu menciptakan aktivitas belajar yang berbeda secara serempak. Sekolah merupakan agen utama untuk perubahan sosial, politik, daan ekonomi di masyarakat. Tugas sekolah adalah mengembangkan ”rekayasa sosial”, dengan tujuan mengubah secara radikal wajah masyarakat dewasa ini dan masyarakat yang akan datang. Sekolah memelopori masyarakat ke arah masyarakat baru yang diinginkan. Apabila tidak demikian, setiap individu dan kelompok nantinya akan memecahkan masalahmasalah kemasyarakatan secaara sendiri-sendiri sebagai pengaruh dan progresivisme. Power (1982) menggunanakan istilah neo progressivisme untuk aliran rekonstruksionisme, dan mengemukakan implikasi pendidikannya sebagai berikut : 1. Tema Pendidikan merupakan usaha sosial. Misi sekolah adalah untuk meningkatkan rekonstruksi sosial. 2. Tujuan Pendidikan Pendidikan bertanggung jawab dalam menciptakan aturan sosial yang ideal. Transmisi budaya adalah esensial dalam

12 | M a k a l a h F i l s a f a t R e k o n s t r u k t i v i s m e

masyarakat 3. Kurikulum Kurikulum

yang

majemuk.

Transmisi

budaya

harus

mengenal fakta budaya yang majemuk tersebut. sekolah tidak boleh didominasi oleh budaya

mayoritas maupun oleh budaya yang ditentukan atau disukai. Semua budaya dan nilai-nilai yang berhubungan berhak untuk mendapatkan tempat dalam kurikulum.

4. Kedudukan siswa Nilai-nilai budaya siswa yang dibawa ke sekolah merupakan hal yang berharga. Keluhuran pribadi dan tanggung jawab sosial ditingkatkan, manakala rasa hormat diterima semua latar belakang budaya. 5. Metode Sebagai kelanjutan dari pendidikan progresif, metode aktivitas dibenarkan (learning by doing). 6. Peranan Guru Guru harus menunjukkan rasa hormat yang sejati ( ikhlas ) terhadap semua budaya, baik dalam memberi pelajaran maupun dalam hal lainnya. Teori belajar rekontstruksi merupakan teori-teori yang menyatakan bahwa siswa itu sendiri yang harus secara pribadi menemukan dan menerapkan informasi kompleks, mengecek informasi baru dibandingkan aturan itu dengan apabila aturan tidak lama dan lagi. memperbaiki sesuai

Rekonstruktivisme lahir dari gagasan Jean Piaget dan Vigotsky dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami diolah melalui

13 | M a k a l a h F i l s a f a t R e k o n s t r u k t i v i s m e

suatu

proses

ketidakseimbangan

dalam

upaya

memakai

informasiInformasi baru. Hakikat dari teori rekonstruktivism adalah ide bahwa siswa harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Teori ini memandang siswa secara terus menerus memeriksa informasiinformasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan memperbaiki aturan-aturan tersebut. Salah satu prinsip paling penting adalah guru tidak dapat hanya siswa, semata-mata siswa harus memberikan pengetahuan kepada

membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri, guru hanya membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa dengan memberikan kesimpulan kepada siswa untuk menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar siswa menyadari dan secara sadar menggali strategistrategi mereka sendiri untuk belajar.

BAB III SIMPULAN DAN REKOMENDASI 3.1 Kesimpulan Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu: (1)

pendidikan sebagai praktik dan (2) pendidikan sebagai teori. Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui pendekatan filosofi, salah satunya aliran rekonstruktivisme. Pandangan ontologi terhadap aliran rekonstruksionisme, bahwa realita itu bersifat universal. Pandangan aksiologi, bahwa 14 | M a k a l a h F i l s a f a t R e k o n s t r u k t i v i s m e

masalah

nilai

berdasarkan

azas-azas

supernatural

yakni

menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Pandangan epistimologi, bahwa bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu (pengetahuan). Dalam aplikasinya dalam dunia pendidikan dan

pembelajaran, bahwa aliran rekonstruktivisme menghendaki pembelajaran adalah usaha sadar dari pebelajar untuk menyikapi setiap perkembangan untuk membangun suatu pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan baru. Pembelajaran bukanlah suatu proses yang bersifat dogmatis. Pembelajaran harus memiliki karakter berpusat kepada siswa.

3.2 Rekomendasi Memahami aliran-aliran filsafat dalam membangun pondasi pendidikan dan pembelajaran adalah suatu kebutuhan. Pengembangan pendidikan dan pembelajaran tanpa dasar filosofi yang jelas, maka tidak akan memberikan semangat, dan landasan yang kuat. Oleh karena itu, pemahaman aliran-aliran fisafat adalah suatu keharusan.

DAFTAR PUSTAKA

15 | M a k a l a h F i l s a f a t R e k o n s t r u k t i v i s m e

Jalaludin & Idi, Abdullah, 2007. Filsafat Pindidikan; Manusia, filsafat dan Pendidikan, Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA Russel, Berrand.2002. Sejarah Filsafat barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang. (terj) Sigit Jatmiko. Jogyakarta: Pustaka Pelajar. Sadullah, Uyoh, 2009. Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: CV. Alfabeta Suhartono, Suparlan. 2009. Filsafat Pendidikan. Jogyakarta: AR-RUZZ Media. Wibisono, Koento. 1997. Dasar-dasar Filsafat. Jakarta: Universitas Terbuka. Wiramiharja, Sutardjo A, 2007. Pengantar Filsafat, Bandung: PT. Refika Aditama Filsafat_Ilmu, http://members.tripod.com/aljawad/artikel/filsafat_ilmu.ht m, diundu 15 Mei 2009.

16 | M a k a l a h F i l s a f a t R e k o n s t r u k t i v i s m e

ALIRAN FILSAFAT REKONSTRUKSIONISME DAN APLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN

Tugas Kelompok Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Dosen Pengampu Dr. Maizar Karim, M.Hum

Oleh Kelompok 2 SOFYAN, RULIANA DEWI, MUKA DALLAS, DESI MARLINA EMMALINA, EDRI PENTA, NANI ROSITA

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN PASCASARJANA UNIVERSITAS JAMBI SELASA, 2 JUNI 2009

17 | M a k a l a h F i l s a f a t R e k o n s t r u k t i v i s m e

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->