P. 1
Menanamkan-Nasionalisme-pada-era-Orde-Baru-dan-era-Reformasi_asvi

Menanamkan-Nasionalisme-pada-era-Orde-Baru-dan-era-Reformasi_asvi

|Views: 420|Likes:
Published by Acha Al Mu'awwanah

More info:

Published by: Acha Al Mu'awwanah on Apr 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2012

pdf

text

original

1 Menanamkan Nasionalisme pada era Orde Baru dan era Reformasi1 Asvi Warman Adam Menanamkan nasionalisme pada

siswa telah dilakukan pada masa Orde Baru dengan memasukkan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) dalam kurikulum sekolah. Hal ini dilatarbelakangi hasrat Presiden Soeharto agar pelajaran sejarah tidak sekedar mengajarkan pengetahuan sejarah belaka, melainkan juga menanamkan nilainilai perjuangan bangsa dalam hati siswa. Keinginan itu muncul setelah dia mendapat masukan dari Jenderal M Jusuf bahwa calon taruna Akabri memiliki pengetahuan yang dangkal tentang sejarah perjuangan bangsa2. Dari kasus ini kelihatan bahwa urusan internal ABRI ternyata dijadikan urusan nasional. Untuk merealisasikan mata pelajaran PSPB di sekolah, Presiden menugaskan Sekretaris Kabinet, Moerdiono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nugroho Notosusanto, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Hasan Walinono, Kepala BP7 Hari Soeharto dan Ketua Umum PGRI Basuni Suryamiharja untuk membahas masalah ini. Sebelum menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nugroho Notosusanto telah lama mengusulkan pendidikan sejarah perjuangan bangsa bahkan itu telah disampaikan semasa jabatan Menteri dipegang oleh Mashuri, Sumantri Brodjonegoro, Syarif Thayeb dan Daoed Joesoef.3 Pada prinsipnya Menteri-Menteri itu setuju tetapi pada saat kebijakan itu akan dilaksanakan di tingkat bawah muncul berbagai kendala. Barulah saat Nugroho menjadi Menteri, niat itu terkabul. Sebagaimana halnya dengan kebijakan lain pada masa Orde Baru, maka program ini pun memerlukan dasar hukum yang jelas. Maka berdasarkan TAP MPR no II/MPR/1982 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara disebutkan “ Dalam rangka meneruskan dan mengembangkan jiwa, semangat dan nilai-nilai 1945 kepada generasi muda, maka di sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta, wajib diberikan pendidikan sejarah perjuangan bangsa”. Perbedaan antara PSPB dengan pelajaran sejarah adalah pada aspek afektif dari ranah tujuan pendidikan4 yaitu lebih menekankan penghayatan nilai-nilai. Misalnya setelah mendengar cerita tentang perang Aceh, siswa dapat menghayati semangat perjuangan yang dilakukan para pahlawan dari Aceh yang menentang penjajah Belanda. PSPB mulai dilaksanakan pada tahun ajaran 1984/1985 mulai dari tingkat TK (Taman Kanak-Kanak), SD, SMP sampai SMA. Sebelum buku khusus tentang PSPB diterbitkan

1

Disampaikan dalam seminar sehari “Membangun Paradigma Baru Pendidikan Sejarah SMA” yang diadakan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia dan Institut Sejarah Sosial Indonesia dengan dukungan HIVOS pada Galeri Nasional Jakarta, 5 Maret 2010. 2 “Pelajaran Sejarah Nasional Jangan Hanya Sebagai Pengetahuan, tapi Betul-Betul untuk Ditanamkan pada Anak Didik”, Kompas, 27 Mei 1982. 3 Darmiasti, Penulisan Buku Pelajaran Sejarah Indonesia Untuk Sekolah Menengah Atas 1964-1984: Sejarah Demi Kekuasaan, tesis S-2 UI, 2002. 4 Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no 264/U/1985.

Protes atau kritik PSPB memang pernah dilontarkan oleh berbagai sejarawan antara lain Abdurrachman Surjomihardjo tentang substansi PSPB itu. b) Siswa meyakini kebenaran perjuangan para pahlawan dalam mengusir penjajahan. Sejarah resmi pada masa Orde Baru dibuat atau didominasi penulisannya oleh Pusat Sejarah ABRI. Alasan untuk menghentikannya adalah alasan teknis. Sejarah untuk legitimasi rezim Menurut Marc Ferro7 penulisan sejarah sangat tergantung dari foyer atau dapur tempat sejarah itu diolah dan dimasak. f) Siswa menyadari bahwa aksi-aksi sepihak PKI merupakan pemaksaan kehendak secara sepihak untuk menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 6 Garis-Garis Besar Program Pengajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa untuk SMTA. Pada masa-masa terakhir pemerintahan Sukarno memang ada upaya untuk menggunakan sejarah bagi kepentingan politik “mencapai sosialisme Indonesia”. Karena pengajaran PSPB menekankan kepentingan afektif dan itu tidak tercapai dalam prakteknya di lapangan. Tujuan instruksional6 dari PSPB ini antara lain: a) Siswa menyadari bahwa penjajahan Belanda menyebabkan penderitaan rakyat Indonesia. h) Siswa meyakini bahwa Orde Baru mengutamakan kepentingan Negara dan Masyarakat. Gereja atau lembaga penelitian militer tentu akan berbeda. sedangkan aspek moral/nilai diberikan dalam pelajaran PKN (Pelajaran Kewarga Negaraan). d) Siswa menyadari bahwa politik “divide et impera” Belanda dapat terlaksana karena tidak adanya persatuan dan kesatuan. . 7 Marc Ferro. partai. g) Siswa menyadari bahwa kesatuan-kesatuan aksi melawan PKI didorong oleh keberanian membela kemerdekaan dan keadilan. Bahwa “persatuan dan kesatuan” mutlak perlu. e) Siswa meyakini bahwa tidak adanya persatuan dan pengutamaan kepentingan pribadi dan golongan mengakibatkan pemerintahan yang menyimpang dari UUD 1945 (bahan pengajaran tentang RIS). Dengan demikian kepentingan militer terlihat kentara dalam penulisan sejarah tersebut. 1985. Mata pelajaran PSPB tidak diajarkan lagi sejak tahun 1994 dengan keluarnya Kurikulum 1994 yang tidak memasukkan lagi PSPB. Histoire sous surveillance. Paris: Calman-Levy. Namun usaha untuk memonopoli kebenaran sejarah tidak sempat dilakukan seperti halnya pada masa 5 Buku ini diterbitkan oleh Sekretariat Negara pada tahun 1975 dengan penulis mayoritas dari Pusat Sejarah ABRI. Aspek sejarah diajarkan dalam mata pelajaran sejarah. Sejarah yang ditulis oleh Universitas. Orde Baru mesti didukung sedangkan PKI harus “diganyang”. c) Siswa menyadari bahwa persatuan dan kesatuan telah mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. 1985. Tetapi alasan yang dipakai untuk menghentikannya adalah alasan teknis di atas. Tujuan pengajaran sejarah tersebut jelas bermuatan politis yang sesuai dengan pandangan rezim yang berkuasa.2 maka buku “30 tahun Indonesia Merdeka”5 dan buku Sejarah Nasional Indonesia untuk SMU jilid III yang disunting oleh Nugroho Nosotusanto dan Yusmar Bari (keduanya sejarawan dari Pusat Sejarah ABRI) menjadi buku pegangan.

Kalau perang kemerdekakan itu membanggakan. Sejarah juga dimanfaatkan untuk menggalang kekuatan internal tentara. pemberontakan. Ini menjadi alasan kuat untuk mengagungkan masa “perang kemerdekaan”. jiwa dan semangat 1945 itu untuk mengenang generasi AD yang berjuang dalam perang kemerdekaan. ke dalam agar komponen ABRI senantiasa kompak dan ke luar. Nilai 45 itu menurut Kharis Suhud adalah “mengatasi paham golongan serta mendahulukan kepentingan umum atau bangsa dan negara di atas kepentingan kelompok dan perorangan”. Kemudian muncul Orde Baru yang menyelamatkan negara dan bangsa dari krisis sosial politik 1965. 2) ideologi dan sistem politik yang benar. Jadi tujuan ganda dari pewarisan nilai 45 itu ada dua. Menurut konstruksi sejarah Orde Baru.3 kekuasaan Soeharto. kebanggaan dan klaim bahwa tentara adalah pejuang kemerdekaan yang setia mempertahankan dan berjasa menyelamatkan Republik hasil Proklamasi Kemerdekaan ini menjadi alasan ABRI untuk berperan di luar tugas militer dalam berbagai segi kehidupan. artinya melalui ketentuan hukum (Surat Perintah 11 Maret yang disahkan kemudian dengan TAP MPRS dan seterusnya ). Sebab itu kehadiran Orde Baru yang menjaga Pancasila dan UUD 1945 diperlukan. Penegakan Pancasila dan UUD 1945 secara konsekuen melahirkan stabilitas politik dan ekonomi. Itu terjadi karena orang menyelewengkan Pancasila dan UUD 1945 dengan ideologi dan sistem politik yang lain. Tujuan pewarisan nilai. tidak demikian halnya dengan kehidupan dalam demokrasi liberal sampai demokrasi terpimpin. Pengalaman itu tidak saja dipandang membahayakan militer dan memperlemah perjuangan demi kepentingan politiknya yaitu konsolidasi kekuasaan dalam rangka melangsungkan pembangunan ekonomi. Fungsi itu tercakup dalam tiga tema utama tafsir sejarah penguasa: 1) persatuan dan kesatuan. Sebagaimana tertuang dalam doktrin dwifungsi. maka dicanangkan pelestarian nilai-nilai 45. agar masyarakat sipil meniru keteladanan dan mengagumi kepahlawanan militer. pendeknya semua yang mengancam kelangsungan hidup bangsa dan negara. “Sejarah adalah wahana yang paling efektif” untuk memperkuat semangat integrasi ABRI”. Dengan kontruksi sejarah seperti itu. Perubahan sejak era Reformasi . 3) pewarisan nilai. Masa itu menduduki tempat terhormat dalam wacana sejarah penguasa. Persatuan dan kesatuan dan pembangunan hanya bisa dicapai dengan memegang teguh Pancasila dan UUD 1945. Menurut Nugroho Notosusanto. Masa sebelum Orde Baru disebut Orde Lama dan digambarkan penuh keburukan: pertentangan ideologi. rezim ini muncul secara konstitusionalisme. Orba mengajukan alasan pembenaran pengambilalihan kekuasaan oleh penegak Orba dan sekaligus mempertahankan kehadiran mereka. Pada era Orde Baru sejarah dijadikan sebagai alat kepentingan penguasa dengan menciptakan wacana bahwa Orba pengemban setia amanat UUD 45 dan Pancasila serta pelopor pembangunan masyarakat. kemacetan pembangunan ekonomi. kebobrokan moral. Sesuai dengan seminar TNI AD tahun 1972.

masih belum tepat dijadikan rujukan menyangkut periode tertentu. memupuk kebanggaan nasional dan menggalang persatuan dan kesatuan bangsa”. maka aspek yang relevan yang diprioritaskan. Bila keterbatasan waktu untuk mengajarkan materi yang demikian banyak (sungguhpun terdapat pula ironi yaitu terbuangnya --kabarnya secara tidak sengaja-sejarah Timor Timur dari kurikulum) dicoba “disiasati” dengan pemusatan perhatian kepada penanaman identitas kebangsaan. Sebab itu saya berpandangan bahwa seyogianya periode pengajaran sejarah dibatasi sampai pada peristiwa yang terjadi 30 tahun silam atau sebelumnya. Perlu waktu 25-30 tahun untuk menunggu dibukanya arsip tertentu di berbagai negara di dunia. Bilamana tidak disepakati angka 25/30 tahun itu.4 Terjadi berbagai perubahan penting setelah berakhirnya kepemimpinan Jenderal Soeharto. Identitas bangsa diketahui dengan melacak asal-usul bangsa itu di samping mengetahui secara akurat perkembangan nama bangsa tersebut. Diperlukan rentang waktu yang cukup untuk menilai atau mengkaji lebih dalam suatu kejadian sejarah. melestarikan budaya. maka paling tidak pengajaran sejarah berhenti pada tahun 1998 dengan berhenti Soeharto sebagai Presiden RI. Dalam kurikulum KTSP tahun 2006 penulisan istilah G30S (dalam kurikulum berbasis kompentensi 2004) dikembalikan kepada istilah yang digunakan selama Orde Baru yakni G30S/PKI. ketiadaan buku pedoman juga menjadi persoalan. Buku Sejarah Nasional Indonesia edisi pemutakhiran terbitan Balai Pustaka masih memiliki berbagai kekurangan. Namun jika Indonesia dalam Arus Sejarah yang disunting oleh Prof Taufik Abdullah dan Prof AB Lapian yang terdiri dari 8 jilid itu dianggap sebagai buku pedoman. Era reformasi yang dimulai sejak tahun 1998 sebaiknya belum diajarkan di kelas karena prosesnya masih berlangsung dan belum selesai. Tempat tinggal dan berusaha suatu bangsa disebut tanah air. Buku Indonesia dalam Arus Sejarah yang bakal terbit. Tidak ada lagi kontrol penulisan sejarah resmi seperti yang terjadi pada masa Orde Baru. Tujuan pendidikan sejarah kebangsaan ini jelas berbeda dengan tujuan khusus PSPB. Jadi selain dari terbatasnya jam pengajaran sejarah dibanding materi yang harus disampaikan. Signifikansi letak dan kekayaan alam yang ada di tanah air itu perlu dikaji lebih mendalam . Namun tetap belum ada buku pedoman atau rujukan untuk pengajaran sejarah di sekolah seperti yang pernah dibuat pada era Orde Baru. maka kini penulisannya sudah dibakukan (kembali) menjadi G30S. Berbagai buku dan tayangan televisi mengenai sejarah yang dulu tidak mungkin bisa ditampilkan kini telah dapat dinikmati masyarakat Indonesia secara luas. Sejarah merupakan alat untuk menghidupkan dan memelihara gagasan tentang bangsa yaitu” menularkan nilai-nilai luhur. Walaupun masih dapat digunakan tujuan umumnya agar “masyarakat khususnya generasi penerus bisa meniru keteladanan dan menghindari kegagalan generasi pendahulu”.

lepas dari penjajahan dan masuk dalam komunitas internasional untuk mewujudkan perdamaian dunia. wawasan nusantara) dan sumber daya alam. perjuangan bersenjata (tentara/polisi). materi sejarah yang memprioritaskan pendidikan kebangsaan seyogianya memuat aspek sebagai berikut: Materi Esensial Sejarah Kebangsaan Indonesia 1) Asal usul bangsa Indonesia: Siapakah kita. 15) Mengapa Orde Baru tumbang tahun 1998 ? (Kelemahan Orde Baru) LAMPIRAN Indonesia dalam Arus Sejarah. Kita sebagai bangsa mampu menjalankan pemerintahan yang mandiri tidak didikte oleh kekuasaan asing. Dampak dari letak dan kekayaan alam. Dengan ikrar tersebut kita menyatakan sebagai bangsa yang merdeka. Meskipun demikian. dukungan rakyat) 12) Perang saudara pada beberapa daerah 1950-2005 (dari RMS sampai dengan GAM) 13) Percobaan dua demokrasi: Demokrasi liberal 1950-1959 (Perdebatan Konstituante) dan Demokrasi Terpimpin 1959-1965 (Revolusi Belum Selesai) 14) Orde Baru 1965/1966-1998 (Peralihan kekuasaan dalam konteks Perang Dingin dan Pencapaian Orde Baru). 2010 Komentar Asvi Warman Adam Buku setebal 635 halaman dengan 24 topik bahasan ini memang ditunggu-tunggu masyarakat. penyunting umum Prof Dr Taufik Abdullah mengatakan bahwa buku ini bukan . menurut hemat saya. Majapahit dan Banten. Berdasarkan pemikiran di atas. diplomasi (politisi/diplomat). unsur pembentuk bangsa 2) Sejarah nama Indonesia 3) Wilayah yang ditempati: posisi strategis (negara maritim. Sebab itu perlu ditulis buku pedoman yang baru. pencapaian pada kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya. 5) Penjajahan bangsa Eropa dan perlawanan daerah 6) Pergerakan kebangsaan sejak awal abad XX (dari etnonasionalisme menjadi nasionalisme) 7) Sumpah Pemuda dan Manifesto Perhimpunan Indonesia 1925 8) Perubahan signifikan pada Jaman Jepang 9) Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 10) Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 11) Mengisi kemerdekaan. 4) Kerajaan tradisional. berasal dari mana.5 Kalau kita berbicara tentang nasionalisme maka tonggak terpenting sejarah Indonesia adalah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. masa awal 1945-1950 (kekacauan transisi pemerintahan. Pada awal reformasi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa Sejarah Nasional Indonesia (SNI) yang disunting Nugroho Notosusanto tidak lagi dijadikan rujukan.

Z. keberhasilan penyelesaiannya patut diacungi jempol setelah mengalami berbagai “bongkar pasang” tim penyusun. Walaupun muncul kontroversi terutama jilid terakhir. Di samping beberapa nama baru. kejayaan dan keruntuhan Orde Baru masih perlu ditulis. Buku yang disusun dengan model ensiklopedi secara tematis ini merupakan pengayaan perbendaharaan pengetahuan sejarah dari waktu ke waktu. Buku Sejarah Nasional Indonesia pertama kali terbit sebanyak enam jilid tahun 1975.Leirissa (editor pemutakhiran). . 2008 Tanggapan Asvi Warman Adam Tahun 2008 terbit buku R. Setelah itu. Sejarah Nasional Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka). Sebuah bab pendahuluan yang menautkan benang merah buku ini serta menggambarkan pertumbuhan. Oleh sebab itu sejarawan Taufik Abdullah ditugasi membentuk tim menyusun ulang buku tersebut yang belum terbit sampai sekarang. di dalam daftar penulis terdapat pakar yang memang sangat ahli di bidangnya seperti Thee Kian Wie.000 telah dicetak ulang. Sejarah Nasional Indonesia (edisi pemutakhiran). Kini penerbit Balai Pustaka mengambil inisiatif merevisi buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) yang lama mengingat langkanya “sumber rujukan masyarakat terutama pelajar dan mahasiswa”. Mengingat harganya yang cukup mahal mungkin bukan pribadi yang membeli melainkan sekolah-sekolah yang kini telah memiliki anggaran yang meningkat pesat.P. Balai Pustaka. buku tersebut tetap dijadikan rujukan sampai ujung Orde Baru. Editor umum untuk paket buku ini adalah RP Soejono dan RZ Leirissa yang sudah terlibat dalam edisi terdahulu. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Juwono Sudarsono mengatakan bahwa buku “babon” ini tidak berlaku lagi. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang “status” yang disandang buku ini. SNI menggambarkan sejarah Indonesia dari dulu sampai sekarang. Dalam tempo singkat buku yang terdiri enam jilid senilai Rp 825. Pada jilid III dijelaskan tentang Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia (1500-1800). Istilah yang digunakan adalah pemutakhiran buku yakni penambahan data. penyunting buku ini secara tepat sudah menulis aksi yang terjadi saat itu sebagai Gerakan 30 September (G30S) tanpa strip atau embel-embel PKI.Soejono dan R.6 dimaksudkan sebagai “buku babon” sebagaimana halnya SNI pada masa Orde Baru. Jilid pertama tentang Zaman Prasejarah diikuti dengan jilid berikutnya Zaman Kuno (awal Masehi sampai akhir akhir abad XV) yang melukiskan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Nusantara berlatar Hindu dan Budha. Walaupun tulisan Saleh Djamhari tentang “Lahirnya Orde Baru” masih ditulis dengan perspektif Angkatan Darat yang menyerang Soekarno dan tulisan Ketut Ardhana berjudul “Konflik Lokal Setelah Kudeta yang Gagal” meskipun pembantaian massal tahun 1965 itu digerakkan secara nasional. Leo Suryadinata dan Edi Sedyawati. pengubahan/pengaturan subbab dan perbaikan redaksional.

Fungsi dan peran politik ABRI lebih ditegaskan bahkan kemudian menjadi dominan. demikian juga tentang diorama Monas yang sudah dibahas secara rinci dalam buku Katherine McGregor (2008). Sejak tahun 1967 dilakukan Pembangunan Lima Tahun yang hasilnya dapat dirasakan rakyat.000 jiwa tidak diungkapkan secara jelas. Namun visum itu tidak dilampirkan. kepanduan dan gerakan perempuan. Pembunuhan massal yang terjadi tahun 1965/1966 yang memakan korban sedikitnya 500. tetapi tidak disebutkan pemulangan 4 batalyon pasukan Tjakrabirawa yang loyal terhadap Presiden Sukarno dan pengontrolan pers (TVRI. Jilid VI tentang Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia. disinggung pula unsur pesantren. Peristiwa penting dari segi politik olahraga yakni Asian Games dan Ganefo hanya disinggung selintas. Pada jilid VI ditambahkan arsitektur era Sukarno yang merupakan bagian disertasi Yuke Ardhiati. Kini gambaran itu diperhalus “Visum dokter menunjukkan bahwa para perwira itu telah mengalami penganiayaan berat” (hal 487). “Menurut Suharto. Ini persis dongeng versi Orde Baru. Pidato tersebut menurut buku ini . perubahan hanya dapat dilaksanakan dengan pembangunan nasional. Subbab mengenai “Perkembangan Ekonomi Masa Kolonial dengan segala aspeknya sampai dengan Masa Depresi tahun 1930-an” dimasukkan pada jilid V. Pada tanggal 11 Maret 1996. Diusahakan agar semua penelitian mutakhir tentang VOV yang dapat diperoleh di tanah air dapat dimasukkan. Narasi tentang VOC yang sebelumnya pada jilid V dipindahkan pada jilid IV. Di samping pembangunan fisik material Suharto memperhatikan bidang ideologi Pancasila.7 “Kemunculan Penjajah di Indonesia 1700-1900” dibahas pada jilid IV. Maret 1966 Suharto membubarkan PKI dan menahan 15 orang Menteri. RRI dan mediamassa lain) yang tidak kalah signifikan dalam rangka pengambilalihan kekuasaan. Tahun 1967 Presiden Sukarno menyampaikan pidato di depan paripurna MPRS yang komposisi keanggotaannya sudah dirombak Suharto. Ada beberapa subbab yang ditambahkan seperti ““Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam pada enam kepulauan Indonesia” pada jilid III. Oleh sebab itu masa pemerintahan Suharto disebut masa demokrasi Pancasila. Kekuatan sosial politik disederhanakan. seakan tetap disembunyikan dari masyarakat. Namun tidak dibahas “Preanger Stelsel” (penanaman kopi di Jawa Barat) karena literaturnya tidak ada di Indonesia. Selanjutnya jilid V tentang Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda. Pancasila disosialisasikan dan penataran dilakukan di seluruh instansi pemerintah. tiga orang Jenderal pergi ke Bogor agar Bung Karno “tidak merasa terpencil” (hal 549). Selain itu.” Masih terdapat berbagai kontroversi misalnya mengenai pembunuhan terhadap enam Jenderal pada 1 Oktober 1965. Jilid terakhir SNI yang disunting Saleh A Djamhari ini masih ditulis dengan paradigma lama seperti berikut. Pers saat itu memberitakan tentang kemaluan jendral yang disilet.

Peristiwa Talangsari diuraikan sesuai keterangan resmi pemerintah. 23 buah mobil hangus. . dengan pendapat Presiden Sukarno berusaha menambah gawatnya situasi politik”. dikutip dari buku terbitan Pusat Sejarah TNI. Latief. Namun uraian mengenai kekerasan terkesan dituduhkan kepada pendukung Megawati. Demikian pula dengan kasus Tanjung Priok yang dikatakan berakar pada radikalisme. Penjelasan Kasospol ABRI Syarwan Hamid dikutip bahwa masalah ini tidak murni masalah intern PDI. Tetapi dengan lihainya ia menyatakan “berhenti sebagai Presiden”. Massa membakar Departemen Pertanian. Demikian pula terjemahan buku Robert Cribb tentang pembantaian 1965/1966 di Jawa/Bali hanya dipajang. Padahal Pelengkap Nawaksara itu mengungkapkan siapa dalang G30S. Showroom Toyota 2000. Pada subbab Konflik.00 WIB Presiden membacakan pidato pengunduran dirinya sebagai Presiden RI di Istana Merdeka”. Buku SNI ini belum bisa dijadikan rujukan. Pernyataan ini sungguh keliru. Sudisman.” Buku baru mengenai Omar Dani.8 “mendapat tanggapan dari seluruh rakyat. Referensi utama jilid VI ini tetaplah karya Jenderal Nasution 17 judul sedangkan Nugroho Nosotusanto 16 buah (di luar artikel). ia harus membacakan pertanggungjawaban di depan MPR. Buku ini tidak lupa mengutip harian Berita Yudha 26 Januari 1967 “Para alim ulama Jabar mengatakan tidak lagi mengakui Presiden Sukarno sebagai Presiden karena telah melakukan pelanggaran terhadap syariat Islam dan UUD 1945 serta TAP MPRS”. Aidit. Tesis Abdul Syukur mengenai gerakan Usroh di Lampung tidak dibahas. Deskripsi perusakan ini diawali dengan “Pendukung Megawati yang terkonsentrasi di depan gedung bioskop Megaria mencoba menembus barikade polisi. Pada halaman 672 tertulis “Kamis tanggal 21 Mei 1998 sekitar pukul 09. Bank Kesawan. Tidak dijelaskan syariat Islam yang mana yang dilanggar Bung Karno. Peristiwa 27 Juli 1996 semata-mata bentrokan antara pendukung Megawati dengan Surjadi. Massa kemudian mundur ke arah Cikini. Tidak jelas apakah itu mengacu kepada Megawati atau Surjadi. Salemba dan Proklamasi” dan diakhiri dengan kalimat “ Aksi pendukung Megawati masih berlanjut sampai 28 Juli 1996. Pembuangan tahanan politik lebih dari 10 ribu orang ke pulau Buru (1969-1979) tidak digolongkan sebagai pelanggaran HAM berat. sudah meluas dengan masuknya pelbagai kepentingan yang beraliansi dengan pimpinan PDI. Kalau Suharto mengundurkan diri. Dili. Penjelasan mengenai Peristiwa 12 November 1991 di Santa Cruz. Oei Tjoe Tat sekedar disebut dalam Kepustakaan. Kekerasan dan Komnas HAM berbagai pelanggaran HAM berat disinggung tetapi dalam perspektif kekerasan belaka.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->