ASKEP STROKE

Definisi Stroke (Penyakit Serebrovaskuler) adalah kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Stroke bisa berupa iskemik maupun perdarahan (hemoragik). Pada stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah. Pada stroke hemoragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya.

Penyebab Pada stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur arteri yang menuju ke otak. Misalnya suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam arteri karotis sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah. Keadaan ini sangat serius karena setiap arteri karotis dalam keadaan normal memberikan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah, kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil. Arteri karotis dan arteri vertebralis beserta percabangannya bisa juga tersumbat karena adanya bekuan darah yang berasal dari tempat lain, misalnya dari jantung atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut emboli serebral, yang paling sering terjadi pada penderita yang baru menjalani pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama jantung (terutama fibrilasi atrium). Emboli lemak jarng menyebabkan stroke. Emboli lemak terbentuk jika lemak dari sumsum tulang yan gpecah dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya bergabung di dalam sebuah arteri. Stroke juga bisa terjadi bila suatu peradangan atau infeksi menyebabkan menyempitnya pembuluh darah yang menuju ke otak. Obat-obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke. Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak, yang biasanya menyebabkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi jika seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak karena cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.

Gejala Sebagian besar kasus terjadi secara mendadak, sangat cepat dan menyebabkan kerusakan otak dalam beberapa menit (completed stroke). Stroke bisa menjadi bertambah buruk dalam beberapa jam sampai 1-2 hari akibat bertambah luasnya jaringan otak yang mati (stroke in evolution). Perkembangan penyakit bisasanya (tetapi tidak selalu) diselingi dengan periode stabil, dimana perluasan jaringan yang mati berhenti sementara atau tejadi beberapa perbaikan. Gejala yang terjadi tergantung kepada daerah otak yang terkena: • Hilangnya rasa atau adanya sensasi abnormal pada lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh • Kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh • Hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran • Penglihatan ganda • Pusing • Bicara tidak jelas (rero) • Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat • Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh • Pergerakan yang tidak biasa • Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih • Ketidakseimbangan dan terjatuh • Pingsan. Kelainan neurologis yang terjadi lebih berat, lebih luas, berhubungan dengan koma atau stupor dan sifatnya menetap. Selain itu, stroke bisa menyebabkan depresi atau ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi. Stroke bisa menyebabkan edema atau pembengkakan otak. Hal ini berbahaya karena ruang dalam tengkorak sangat terbatas. Tekanan yang timbul bisa lebih jauh merusak jaringan otak dan memperburuk kelainan neurologis, meskipun strokenya sendiri tidak bertambah luas. Dignosa Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan perjalanan penyakit dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik membantu menentukan lokasi kerusakan otak. Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI. Kedua pemeriksaan tersebut juga bisa membantu menentukan penyebab dari stroke, apakah perdarahan atau tumor otak. Kadang dilakukan angiografi. Pengobatan Biasanya diberikan odsigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke. Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan

Kelainan neurologis yang menetap setelah 6 bulan cenderung akan terus . saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit karena penekanan). biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. REHABILITASI Rehabilitasi intensif bisa membantu penderita untuk belajar mengatasi kelumpuhan/kecacatan karena kelainan fungsi sebagian jaringan otak. Pada completed stroke. Penderita stroke yang sangat berat mungkin memerlukan respirator untuk mempertahankan pernafasan yang adekuat. Yang berbahaya adalah stroke yang disertai dengan penurunan kesadaran dan gangguan pernafasan atau gangguan fungsi jantung. beberapa jaringan otak telah mati memperbaiki aliran darah ke daerh tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. mencegah kontraksi otot dan luka karena penekanan (akibat berbaring terlalu lama) dan latihan berjalan serta berbicara. biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi). Mereka bisa berfikir dengan jernih dan berjalan dengan baik. berbicara atau makan secara normal. Rehabilitasi segera dimulai setelah tekanan darah. Penderita lainnya mengalami kelumpuhan fisik dan menatal dan tidak mampu bergerak. Karena itu biasanya tidak dilakukan pembedahan. denyut nadi dan pernafasan penderita stabil. PROGNOSIS Banyak penderita yang mengalami kesembuhan dan kembali menjalankan fungsi normalnya. Sekitar 50% penderita yang mengalami kelumpuhan separuh badan dan gejala berat lainnya. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah atau dipulihkan jika obat tertentu yang berfungsi menghancurkan bekuan darah (misalnya streptokinase atau plasminogen jaringan) diberikan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya stroke.tidak pernah diberikan kepda penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah resiko terjadinya perdarahan ke dalam otak. Bagian otak lainnya kadang bisa menggantikan fungsi yang sebelumnya dijalankan oleh bagian otak yang mengalami kerusakan. Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut. tekanan darah tinggi dan infeksi paru-paru) harus diobati. Sekitar 20% penderita meninggal di rumah sakit. bisa kembali memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. bisa mengurangi resiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. meskipun penggunaan lengan atau tungkai yang terkena agak terbatas. yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah. Kelainan yang menyertai stroke (misalnya gagal jantung. yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis. Tetapi pengangkatan sumbatan setelah stroke ringan atau transient ischemic attack. Diberikan perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih. Segera dilakukan pemeriksaan untuk menentukan bahwa penyebabnya adalah bekuan darah dan bukan perdarahan. Dilakukan latihan untuk mempertahankan kekuatan otot. irama jantung yang tidak teratur. Setelah serangan stroke.

meskipun beberapa mengalami perbaikan. Kadang-kadang TIA terjadi pada anak-anak atau dewasa muda yang memiliki penyakit jantung atau kelainan darah. Gejala lainnya yang biasa ditemukan adalah: Hilangnya rasa atau kelainan sensasi pada lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh♣ Kelemahan atau kelumpuhan pada lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh♣ Hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran♣ Penglihatan ganda♣ Pusing♣ Bicara tidak jelas♣ Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat♣ Tidak mampu mengenali bagian tubuh♣ Gerakan yang tidak biasa♣ Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih♣ Ketidakseimbangan dan terjatuh♣ Pingsan. maka yang paling sering ditemukan adalah kebutaan pada salah satu mata atau kelainan rasa dan kelemahan • Jika mengenai arteri yang berasal dari arteri vertebralis. mengikuti aliran darah dan menyumbat pembuluh darah kecil yang menuju ke otak. Gejalanya tergantung kepada bagian otak mana yang mengalami kekuranan darah: • Jika mengenai arteri yang berasal dari arteri karotis.menetap. TIA lebih banyak terjadi pada usia setengah baya dan resikonya meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Serangan Iskemik Sesaat Definisi Serangan Iskemik Sesaat (Transient Ischemic Attacks.♣ . Gejala TIA terjadi secara tiba-tiba dan biasanya berlangsung selama 2-30 menit. Resiko terjadinya TIA meningkat pada: • tekanan darah tinggi • aterosklerosis • penyakit jantung (terutama pada kelainan katup atau irama jantung) • diabetes • kelebihan sel darah merah (polisitemia). Penyebab Serpihan kecil dari endapan lemak dan kalsium pada dinding pembuluh darah (ateroma) bisa lepas. biasanya terjadi pusing. sehingga untuk sementara waktu menyumbat aliran darah ke otak dan menyebabkan terjadinya TIA. jarang sampai lebih dari 1-2 jam. TIA) adalah gangguan fungsi otak yang merupakan akibat dari berkurangnya aliran darah ke otak untuk sementara waktu. penglihatan ganda dan kelemahan menyeluruh.

Obat-obatan diberikan untuk mengurangi kecenderungan pembentukan bekuan darah. Pengobatan Tujuan pengobatan adalah untuk mencegah stroke. . Tetapi TIA cenderung kambuh. tetapi obat ini hanya efektif untuk sebagian kecil penderita. Pembedahan ini memiliki resiko terjadinya stroke sebesar 2%. tetapi pada TIA gejala ini bersifat sementara dan reversibel. Luasnya penyumbatan pada arteri karotis membantu dalam menentukan pengobatan. maka perlu dilakukan pembedahan untuk mencegah stroke. sedangkan untuk menilai arteri vertebralis dilakukan pemeriksaan ultrasonik dan teknik Doppler. Kadang diberikan dipiridamol. Sekitar sepertiga kasus TIA berakhir menjadi stroke dan secara kasar separuh dari stroke ini terjadi dalam waktu 1 tahun setelah TIA. maka diagnosis tidak dapat ditegakkan dengan bantuan CT scan maupun MRI. Dilakukan skening ultrasonik dan teknik Doppler secara bersamaan untuk mengetahui ukuran sumbatan dan jumlah darah yang bisa mengalir di sekitarnya. Sumbatan yang kecil diangkat hanya jika telah menyebabkan TIA yang lebih lanjut atau stroke. Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Aliran darah yang tidak biasa menyebabkan suara (bruit) yang terdengar melalui stetoskop. karena itu langkah pertama adalah memperbaiki faktor-faktor resiko tersebut. bisa diberikan antikoagulan (misalnya heparin atau warfarin). endapan lemak (ateroma) di dalam arteri dibuang. yang merupakan penyebab utama dari stroke. Jika diperlukan obat yang lebih kuat. kadar kolesterol tinggi. Angiografi serebral dilakukan untuk menentukan ukuran dan lokasi sumbatan. bisa diganti dengan tiklopidin. Sumbatan di dalam arteri vertebral tidak dapat diangkat karena pembedahannya lebih sulit bila dibandingkan dengan pembedahan pada arteri karotis. Jika lebih dari 70% pembuluh darah yang tersumbat dan penderita memiliki gejala yang menyerupai stroke selama 6 bulan terakhir.Gejala-gejala yang sama akan ditemukan pada stroke. penderita bisa mengalami beberapa kali serangan dalam 1 hari atau hanya 2-3 kali dalam beberapa tahun. Untuk menilai arteri karotis biasanya dilakukan pemeriksaan MRI atau angiografi. Untuk yang alergi terhadap aspirin. merokok dan diabetes. Pada sumbatan kecil yang tidak menimbulkan gejala sebaiknya tidak dilakukan pembedahan. Faktor resiko utama untuk stroke adalah tekanan darah tinggi. karena resiko pembedahan tampaknya lebih besar. Salah satu obat yang paling efektif adalah aspirin. Karena tidak terjadi kerusakan otak. Pada pembedahan enarterektomi. Digunakan beberapa teknik untuk menilai kemungkinan adanya penyumbatan pada salah satu atau kedua arteri karotis.

30 ) sehabis nonton TV tiba – tiba klien bicaranya menjadi pelo. J DENGAN STROKE NON HAEMMORHAGIC DI RUANG PERAWATAN SERUNI (RUANG SYARAF) RSUD ULIN BANJARMASIN I. kaki kiri dan lengan kiri terasa lemah kemudian klien di konsulkan ke ruang syaraf dan akhirnya di rawat di ruang syaraf. II. Kelurahan Kuripan. PERSEPSI KESEHATAN DAN PENANGANAN KESEHATAN 1. di wc klien tidak dapat berdiri. Riwayat Penyakit Sekarang (sesuai PQRST): Sejak selasa sore sehabis kerja ( jam 15. 2. Kecamatan Banjar Timur. DATA DEMOGRAFI A. IDENTITAS PENANGUNG JAWAB Klien menggunakan KS. .00 di bawa ke RS Ulin dan di rawat di ruang PDP pad hari kamis pada saat hendak kembali ke tempat tidur. Tanggal wawancara : 13 Juni 2002 Tanggal MRS : 13 Juni 2002 Nomor RMK : 45 86 37 Diagnosa Medis : Stroke Non Haemmorhagic B. POLA FUNGSIONAL A. manggis Pasar Batuah Banjarmasin.laki Suku bangsa : Jawa/Indonesia Pendidikan : SD Pekerjaan : Tukang Kayu ( Buruh ) Status perkawinan : Kawin Alamat : Jln. SM Umur : 70 tahun Jenis kelamin : Laki . IDENTITAS PASIEN Nama : Tn.ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. kemudian jam 18. Keluhan Utama: Bicara pelo dan tidak bisa menggerakkan anggota badan sebelah kiri.

lauk pauk berupa ikan. Suhu 36oC. Jenis minuman air putih. Tidak ditemukan adanya edema. Keadaan gigi partial atau sudah banyak yang tanggal. 6. Berat Badan : 47 kg. turgor baik. Nafsu makan normal. dengan jenis makanan: nasi biasa. Riwayat penyembuhan/kulit tidak ada masalah (normal). Kulit Warna kulit normal. Pasien tidak menggunakan gigi palsu (protesa). Riwayat pemakaian alkohol tidak pernah. Riwayat Penyakit Keluarga: Didalam keluarga pasien terdapat anggota keluarga menderita hypertensi yaitu isteri pasien. dengan diet BBDM. Saat Sakit Selama dirawat di RS. tidak ada disfagia. telur dan sayur. tidak pucat. Kebiasaan : Kebiasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan seperti merokok tidak pernah dilakukan pasien. 2. Jenis minuman yang diminum: air teh dan air putih. POLA NUTRISI-MATABOLIK 1. Pasien tidak pernah menjalani prosedur tindakan bedah. 7. 3. Penggunaan Obat Sekarang: Infus RL 20 tetes/menit. frekuensi makan pasien 3 x sehari. Riwayat Penyakit Dahulu Klien tidak pernah masuk RS dan klien tidak mempunyai riwayat penyakit menular. ikan asin.− Nicholin 3 x 100 mg− Mertigo 3 x 1− 4. Fluktuasi BB 6 bulan terakhir: tetap. Pemeriksaan tanda vital Tinggi Badan : 158 cm. lesi maupun . Pemeriksaan Fisik: a. 5. cyanosis maupun ikterik tidak ditemukan. kembali kurang dari 2 detik. Upaya pencegahan yang dilakukan terhadap penyakit: pasien berobat ke mantri atau puskesmas. Makanan pantangan : daging. b. Riwayat Sosial Hubungan dengan keluarga dan tetangga di sekitar rumah baik ditandai dengan banyaknya amgota keluarga yang menuggui pasien serta tetangga yang datang membesuk.3. B. tempe. Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit pada masa anak-anak. tahu. Kudapan/makanan untuk sore hari : kue. keturunan dan penyakit lainnya. Masukan Nutrisi Sebelum Sakit: Frekuensi makan 3 x sehari.

Gigi sudah banyak yang tanggal. f. 2. e. mucosa tampak kering. Mono : 0.memar. a. Tidak ditemukan/teraba adanya distensi. tonsil dalam keadaan normal dan pasien dapat berbicara walaupun pelo.200/mm3. b. Sebagian besar rambut sudah mulai beruban. Keadaan lidah. Urea nitrogen : 13 mg/dl. masalah tidak ada. ginjal tidak teraba. Temuan laboratorium Darah : Hb : 11. Rektum Tidak ditemukan adanya lesi. b. SGOT : 27 mg/dl. limpa tidak teraba. Rambut dan kulit Kepala Keadaan rambut kering dan tebal. Cholesterol : 150 mg/dl. Masalah tidak ditemukan. Ginjal Ginjal tidak teraba. Eos : 0. Keadaan gusi normal. Limfo : 19. Creatinin : 0. Seg : 80. 3. c. Mulut Keadaan kebersihan (hygiene) mulut bersih. Leukosit : 11. Luka tirah baring (dekubitus) tidak ditemukan. d. Pasien tidak memakai gigi palsu. nyeri ketuk tidak ada. klien tidak menggunakan alat bantu. Kimia darah : Gula darah puasa: 92 mg/dl. Blast Tidak teraba adanya distensi. Frekuensi bising usus : 10 x/menit (normal: 8-12 x/menit). Feses Kebiasaan defekasi : 1 kali sehari. Pemeriksaan Fisik a. 68 mm/jam II. Abdomen Struktur simetris. Tryseligerida : 86 mg/dl Urea : 29 mg/dl.7 mg/dl. SGPT : 31mg/dl. LED : 40 mm/jam I. selama dirawat frekuensi BAB 1 x sehari. hitung jenis : Bas : 0. .0 mg/dl CT SCAN : Terjadi trombosis pad ventrikel dektra yang bersifat akut. Abdomen Hepar tidak teraba.9 gr%. Urine Frekuensi BAK 3-4 x/hari. C. Asam urat : 4. POLA ELIMINASI 1.

3 = Dibantu oleh orang lain dan alat.Leokosit : 0-2 /lbp . AKTIVITAS 0 1 2 3 4 √Mandi √Berpakaian/Berhias √Toileting √Mobilitas di TT √Berpindah √Ambulasi Naik tangga Berbelanja Memasak √Pemeliharaan kesehatan Penggunaan alat bantu : ada.LATIHAN Kemampuan perawatan diri: 0 = Mandiri. yaitu pispot. Pemeriksaan Fisik: a. ronchi kering maupun ronkhi basah. Tidak ditemukan adanya kelainan berupa Wheezing.Urobilin : Normal .Eritrocyt : 1-2 /lbp . . Pernafasan/Sirkulasi: Tekanan darah : 120/80 mmHg. tidak terdapat batuk. Muskuloskeletal: Rentang gerak pasien terbatas.Epithel : + D. ∨ Tonus otot N ∨ N lesi LMN.Warna : kuning jernih . Laboratorium Urinalisa : . b.4. Respirasi : 22 x/menit. terdapat hemiparetik pada ekstremitas sinistra. POLA AKTIVITAS . 4 = Tergantung secara total. 2 = Dibantu oleh orang lain. 1 = Alat Bantu. 1.Hipotonik pada ekstrmitas sinitra Kekuatan otot : SKALA KETERANGAN 0 Paralisis Total. Nadi : 80 x/menit. Kualitas pernafasan normal (reguler).Kejernihan : jernih . bunyi nafas normal (vesikuler).

3. Babinski : (-). Status Mental : Kesadaran : compos mentis.Tes Raba Halus : + ( menurun ) .Tes refleks: ∑RF = BHR 0 ∑TFR 0 ∑APR 0 ∑KPR 0 --BHR . dengan GCS: 4. POLA KOGNITIF-KONSEPTUAL 1.Pemeriksaan fungsi motorik: M51 51 ..Tes fibrasi : + ( menurun ) . 3 Gerakan dapat melawan gravitasi. 4.Tes nyeri : + ( menurun ) .Pemeriksaan sistem sensorik : . kebersihan mata bersih. Konjungtiva tidak anemis. Pada pupil isokor.6.1 Masih ada kontraksi. Tanda Brudzinski: (-). 4 Gerakan terjadi seperti menahan. E. 2 Gerakan mungkin bila gravitasi dihilangkan. Tanda kernig : (-). 5 Normal Tabel Skala Kekuatan Otot Ektremitas: . Pasien tidak menggunakan alat bantu penglihatan berupa kaca mata. benjolan tidak teraba.5. Dalam berkomunikasi pasien dapat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh perawat/dokter. 2.Tes Periposeptif : + ( menurun ) . Pendengaran Pendengaran dalam batas normal. Gravitasi dan tahanan ringan. Reflek terhadap cahaya (+/+) miosis. Kaku kuduk : (-). Penglihatan Mata simetris kiri dan kanan.Tes Fungsi Persyarafan: 1. alis mata tebal.--. kemampuan menggerakan alis mata baik (normal). .Genggaman tangan: miotonia pada bagian kiri. 3. . 2.Tes temperatur : + ( menurun ) .

Akustikus): Pasien dapat mendengarkan bunyi gesekan rambutnya. Kebiasaan tidur dalam sehari ± 7-8 jam. Tidur siang : kadang-kadang (± 1 jam). . pasien dapat berbicara walaupun agak terbata-bata ( pelo )/disatria.Bicara normal. IV. POLA TIDUR-ISTIRAHAT 1. Pasien merasa segar bila bangun tidur. VI (N. Asesorius): Dapat mengangkat bahu (massa otot trapezius baik). 2.Nervus XII (N. tak ada pembatasan gerak mata. pasien adalah orang yang suka humor. Selain itu pasien sering ditunggui oleh anak-anaknya yang menunggui secara bergantian.Nervus VIII (N. .Nervus II (N. Pada kedua hidung. ditandai dengan pasien dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di RS.Nervus VII (N. F. tidak ada fasikulasi.Nervus IX (N. Tidur malam : Pukul: 22. . rabaan. Pemeriksaan Fisik Kesadaran umum pasien composmentis. reguler. lingkaran hitam di sekitar mata tidak ditemukan.Nervus X (N. . 3. vertigo kadang – kadang. tidak ditemukan edema. Keadaan Emosional: Keadaan emosional pasien stabil. . Kemampuan adaptasi: Pola adaptasi pasien baik. Glossofaringeus): Ada refleks muntah ketika spatel disentuhkan pada posterior faring. pasien dapat merasakan rabaan. Masalah tidur tidak ada. POLA PERSEPSI/KONSEP DIRI 1. Konsep Diri: baik. .Nervus V (N.Nervus XI (N. . Masalah utama mengenai perawatan di RS / Penyakit (Finansial/perawatan): Tidak ada masalah dalam hal finansial/perawatan karena biaya perawatan/pengobatan di rumah sakit sepenuhnya dibiayai oleh dengan kartu sehat. Pemeriksaan Nervus I s. 2. Optikus): Pasien dapat mengenai keluarga. pupil mengecil dan kembali jika terkena cahaya. Pasien sering berbagi pengalaman dengan pasien lain di sebelahnya. Trokhlearis.Nervus III. Hipoglosus): Tidak ada atrofi. .00 (± 7 jam). Olfactorius): Pasien dapat membedakan bau alkohol dan minyak angin. G. Fasialis): Pasien dapat mebedakan nyeri . . Okulomotorius.d XII .00-05. posisi lidah mengarah ke kiri. 4. . reflek rahang ada tapi lmbat terdapat penurunan sudut mulut. 4. Trigeminus): Sensibilitas wajah baik. tidak ada ptosis. pasien tampak lemah.Nervus I (N. kontraksi masester lemah.Vagus): Ovula berada di tengah. Abdusent): Pupil berbentuk isokor.

pasien biasanya memecahkan masalahnya tersebut dengan jalan bermusyawarah bersama anggota keluarga yang lain (anak-anaknya). Kemampuan adaptasi: baik. POLA SEKSUALITAS Tidak dikaji. 3.Pasien mampu menerima keadaan dirinya walaupun sedikit ccemas dengan sakitnya. . J. H. Koping terhadap masalah : Apabila pasien mempunyai/mengalami masalah. I. Cara mengambil keputusan: dibantu oleh keluarga. K. POLA KOPING .TOLERANSI STRESS 1. POLA NILAI-KEPERCAYAAN Tidak ada pembatasan religius dan tidak meminta kunjungan pemuka agama. POLA PERAN HUBUNGAN Kepedulian keluarga terhadap pasien baik ditandai dengan adanya keluarga yang menunggui pasien selama dirawat RS dan keluarga mau bekerjasama dalam tindakan perawatan. 2.

.III. DO: . DO: . DS : .Penurunan dalam rasa dan refleks. .Klien mengatakan ia susah bicara.Hasil CT SCAN terdapat trombosis pada hemisfer kanan. Kerusakan neuromuscular sekunder terhadap hemiparese Kerusakan mobilitas fisik.Pasien mengalami hemiparese sinistra.Aktifitas klien di bantu oleh isterinya.Klien mengatakan kaki kiri dan lengan kirinya lemah. DS : .LED 40 mm/jam I. 3. DS: .Klien mengatakan lengan dan tungkai kirinya tidak dapat di gerakkan. . Kerusakan komonikasi verbal 4.Sebagian aktifitas klien di bantu oleh isteri. 2.Kekuatan lengan dan tungkai menurun. Gangguan perfusi jaringan serebral.Klien tampak lemah. Interupsi aliran darah sekunder terhdap adanya trombosis. . .Kekuatan lengan dan tungkai kiri ( 1 ). . .Rentang gerak pada lengan dan tungkai kir terbatas.Kekuatan lengan dan tungkai klien ( 1 ).Bicara klien terdengar pelo. .Sensasi dan refleks menurun. . . 60 mm/jam II.Posisi lidah agak ke kiri Kerusakan neuromuscular sekunder terhadap kelemahan. . duduk apalagi berdiri. . . . DO: . DATA ETIOLOGI MASALAH 1. ANALISA DATA NO.Klien mengatakan kadang – kadang pusing dan vertigo.Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak dapat bangun. DS: .Klien mengatakan lengan dan tungkainya lemah saat di gerakkan.

Penurunan dalam rasa dan refleks. . Resiko cedera IV. .Kekuatan lengan dan tungkai kiri ( 1 ). .Motorik dan refleks klien menurun dari normal. .Klien mengatakan lengan dan tungkai kirinya tidak dapat di gerakkan. 60 mm/jam II. duduk apalagi berdiri.Pasien mengalami hemiparese sinistra. . DAFTAR MASALAH NO. . Kerusakan mobilitas fisik b/d Kerusakan neuromuscular sekunder terhadap hemiparese d/d : .Klien mengatakan lengan dan tungkainya lemah saat di gerakkan. . Perubahan fungsi cerebral sekunder terhadap perubahan mobilitas. 13-06-2002 2. Gangguan perfusi jaringan serebral b/d Interupsi aliran darah sekunder terhadap adanya trombosis d/d .Aktifitas klien terbatas.Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak dapat bangun. .Klien mengatakan kadang – kadang pusing dan vertigo. .LED 40 mm/jam I. DIAGNOSA KEPERAWATAN TANGGAL MUNCUL TANGGAL TERATASI 1. .DO: .Kekuatan lengan dan tungkai menurun.Hasil CT SCAN terdapat trombosis pada hemisfer kanan.

cegah terjadinya mengejan saat defekasi dan pernafasan yang memaksa. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Rencana Intervensi Rasionalisasi 1. .Klien tampak lemah. 6.Kekuatan lengan dan tungkai klien ( 1 ). 13-06-2002 3. Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainage.Bicara klien terdengar pelo. 3. Berikan obat – obatan sesuai dengan indikasi. Mempengaruhi penetapan intervensi sesuai dengan keadaan. Kerusakan komonikasi verbal b/d Kerusakan neuromuscular sekunder terhadap kelemahan d/d : . . . Aktifitas dan stimylasi kontinu dapat meningkatkan tekanan TIK.Aktifitas klien di bantu oleh isterinya. 5. 1. . . .. Pantau tanda – tanda vital.Rentang gerak pada lengan dan tungkai kir terbatas. . . 3.Klien mengatakan ia susah bicara. Berikan oksigen sesuai dengan indikasi. . Letakkan kepala dalam posisi datar dan dalam posisi anatomis. Manuver valsava dapat meningkatkan TIK. 2. 5. 1.Motorik dan refleks klien menurun dari normal. kognitif.Klien mengatakan kaki kiri dan lengan kirinya lemah. fungsi motorik. 6. 9. I Mempertahankan tingkat kesadaran. 4. Menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan vasodilatasi cerebral dan tekanan meningkat sehingga terbentuk odema. 2. Resiko cedera b/d Perubahan fungsi cerebral sekunder terhadap perubahan mobilitas d/d : .Posisi lidah agak ke kiri 13-06-2002 21-06-2002 4. 7. 4. Hindari fleksi dan rotasi leher. . 8. motorik. Variasi mungkin terjadi oleh trauma cerebral akibat kerusakan vaso motor otak. 13-06-2002 V. 7.Aktifitas klien terbatas.Sensasi dan refleks menurun. sensorik dan kestabilan tanda vital. Pantau dan catat status neurologysesering mungkin dan badingkan dengan yang normal. Tentukan faktor penyebab penurunan perfusi jaringan. mengetahui tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK serta mengetahui resolosi SSP. 2.Sebagian aktifitas klien di bantu oleh isteri. Pertahankan keadaan tirah baring.

Inspeksi daerah kulit yang menonjol. 6. Kaji tipe / derajat disfungsi atau kesulitan bicara. IV Mencegah terjadinya cedera fisik. 9. Meningkatkan aliran balik vena dan membantu mencegah terjadinya edema. 2. 3. Membantu penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik. 3. 1. . footdroop serta meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena atau terkompensasi. Menurunkan resiko trauma / iskemia jaringan. 8. Lakukan latihan rentang gera pasif dan aktif. 3. . Bantu untuk mengembangkan keseimbangan duduk. Menentukan penilaian terhadap kerusakan motorik.Berikan pencahayaan yang adekuat pada setiap area. . Mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan yang membantu dalam pemilihanintervensi. tinggikan tangan dan kepala. Kaji kemempuan secara fungsional atau luasnya kerusakan awal dengan cara yang teratur. 4. 7. 7. 4. Menentukan daerah dan derajat kerusakancerebral yang terjadi dan kesulitan klien dalam berkomonikasi. Lakukan tidakan mengurangi bahaya lingkungan seperti : . Mintalah klien untuk mengikuti perintah sederhana. 2. Meminimalkan atrofi otot. Mencegah kontraktur dan memfasilitasi fungsinya. Sokong ektrimitas pada posisi fungsionalnya. 3. 3. Pengembangan program khusus untuk menemukan kebutuhan yang berarti. Ubah posisi minimal tiap 2 jam. 1.Pertahankan tempat tidur pada posisi rendah dan pengaman terpasang. 1. 1.II Mempertahankan posisi optimal dari fungsi yang di buktikan oleh tidak adanya kontraktur. 4. 8. 4. konsultasikan dengan ahli fisiotherapy. Observasi daerah yang terkena termasuk warna.Orientasikan klien dengan lingkungan. 1. 5. Perhatikan kesalahan dalam komonikasi dan berikan umpan balik. 9. meingkatkan respon prioseptik dan motorik. 6. III Komonikasi verbal dapat kembali normal. Membantu melatih kembali jaras syaraf. jaringan yang terkene edema lebih mudah terkena trauma. Tunjukkan objek dan minta klien untuk menyebutkan nama benda / barang. 4. 2. meningkatkan sirkulasi dan mencegah kontraktur. edema dan tanda ynag lainnya. Klien mungkin kehilangan kemampuan untuk memantau ucapan yang keluar dan tidak menyadari komonikasi yang dikeluarkannya tidak nyata. 5. 2. Resiko terjadi iskemia yang menyebabkan decubitus.

Pasien mengatakan sudah tidak pusing lagi. Jumat. HARI/ TANGGAL DIAGNOSA PERKEMBANGAN TANDA TANGAN 1. Pertahankan kaki tetap hangat dan kering serta kulit di lemaskan dengan lotion. 4.Kaji alat terhadap kebocoran dan kondisinya. . P: Lanjutkan intervensi 1. VI.6. Penekanan terhadap keamanan menurunkan resiko terjadinya cedera. 3. .Letakkan alat perabot pada jarak yang mudah di jangkau.TD: 140/100 mmHg . Penggunaan alat bantu yang tidak tepat dapat menyebabkan regangan atau jatuh.N: 80 x/menit. Mengkaji ektrimitas setiap hari terhadap cedera yang tidak terdeteksi. I : Melanjutkan intervensi: .Konsul dengan ahli therapy untuk latihan pustur.. I S: . 2. 29-03-2002 Pukul: 10. . Kerusakan sensori pasca CVA dapat mempengaruhi persepsi klien terhadap suhu dan cedera. CATATAN PERKEMBANGAN NO. .2.3.Resp: 16 x/menit. 2.Hemiparese sinistra A: Perubahan perfusi serebral dapat diminimalkan. .5.Kaji ketepatan penggunaan alat. O: .00 Wita. 3. 1. kurangi faktor resiko yang berkenaan dengan penggunaan alat bantu.

00 Wita. 5. Jumat. .Pasien dapat baring kiri dan kanan. Mengkaji kemampuan pasien dalam mengunyah dan menelan makanan dan minuman.Makanan dapat dihabiskan ½ dari porsi yang di-sediakan. Mengevaluasi keadaan pupil. A: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan dapat diminmalkan. 29-03-2002 Pukul: 10.Berkolaborasi pemberian obat: .5.Resp: 16 x/menit.4. Mengatur posisi kepala pada posisi agak ditinggikan.TD: 140/100 mmHg. Memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering. 6. . 3.Pasien dapat mengunyah makanan dengan perlahan. . 2. Meninggikan kepala pada tempat tidur selama makan.GCS: 4.3. 3. 29-03-2002 Pukul 13. . Meningkatkan upaya untuk dapat menelan dengan mudah disertai dengan makan pisang atau minum air dan menstimulasi bibir untuk membuka/ menutup. O: . . Jumat. P : Lanjutkan intervensi 1. I : 1. menciptakan lingkungan yang tenang. 3.Nadi: 80 x/menit. E : .6.Pasien dapat menghabiskan ½ bagian dari porsi yang disajikan. . Memantau TD. .Alinamin F 1x1 ampul/IV 2.1. .2. . Mempertahankan posisi tirah baring.Setelah menelan pasien tidak lagi memegangi lehernya. 4.Keluarga pasien mengatakan sudah dapat minum ½ gelas. 2. E : .30 Wita II S: Keluarga pasien mengatakan pasien sudah mulai banyak makan. .Nicholin 1 x 500 mg. Memantau/ mencatat status neurologis.

Mengobservasi adanya tanda-tanda infeksi seperti awan. Membantu mengembangkan keseimbangan duduk/bantu duduk di sisi tempat tidur.3. E : . 30-03-2002 Pukul: 15.Makan dan minum dibantu/disuapi. . 3. I : 1. . P : Lanjutkan intervensi 1. P : Lanjutkan intervensi 1. minum. 2. P : Hentikan intervensi.Skala ketergantungan: 4. A : Kerusakan mobilitas fisik belum teratasi.Makanan dapat di habiskan ½ porsi dari yang disedia-kan. 30-03-2002 . darah atau bau tidak enak pada urine. Menempatkan bantal di daerah aksila untuk melakukan abduksi pada tangan.3.Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak dapat bangun ataupun duduk tanpa bantuan.kan minum ½ gelas belimbing. P : 1.Pasien masih terpasang kateter. O : . O : . 4.III S : . . 3. . . Sabtu. 2.2. 5. II S : .Ekstremitas kiri atas dan bawah masih terjadi kelemahan tonus otot.aktifitas untuk duduk dibantu. E : . Mempalpasi adanya distensi kandung kemih.Jumlah urine 750 cc.kan bahwa semua aktifitas pasien seperti makan.30 Wita.4.Pasien masih terpasang kateter.5. 29-03-2002 Pukul: 13. .30 Wita IV S : .Pasien mengatakan sudah mulai dapat makan banyak. Mengkaji derajat imobilisasi dengan skala ketergantungan.Tidak ada tanda-tanda luka tirah baring. .2.Distensi kandung kencing tidak ada. . Mengkaji pola ber-kemih. I:6. BAK dan BAB dibantu. A : Inkontinensia refleks belum teratasi. Mengubah posisi minimal setiap 2 jam. Jumat.Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien masih terpasang kateter. . O : . Sabtu. Melakukan latihan ROM aktif maupun pasif.Pasien hanya dapat berbaring ke kiri dan ke kanan.Pasien mengatakan masih belum dapat mengontrol refleks berkemih. .Tanda infeksi tidak ada.Pasien mengata. 4. 5.Keluarga mengata. A : Perubahan nutrisi dapat diatasi.

5. Menempatkan bantal di daerah aksila untuk melakukan abduksi pada tangan. P : Lanjutkan intervensi 1.Tidak ada distensi kandung kemih. BAK dan BAB masih dibantu.Tidak ada tanda-tanda luka tirah baring. . 3. A : Inkontinensia refleks belum dapat diatasi. 4.3.Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien masih terpasang kateter. IV S : .00 Wita.Pasien hanya dapat berbaring ke kiri dan ke kanan. P : Lanjutkan intervensi 1. Melakukan palpasi adanya distensi pada kandung kemih. Mengkaji derajat imobilisasi dengan skala ketergantungan. 2010 Label: ASKEP KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH . 16. Membantu mengembangkan keseimbangan duduk/bantu duduk di sisi tempat tidur.2.2.Pada ekstremitas sinistra bagian atas dan bawah masih hemiparese.Pasien masih menggunakan kateter.5.Pasien mengata.Tanda infeksi tidak diemukan.Keluarga pasien mengatakan bahwa semua aktifitas pasien seperti makan. P : 1. Sabtu. 2. . A : Kerusakan mobilitas fisik belum teratasi. 30-03-2002 Pukul 17. Mengubah posisi minimal setiap 2 jam.4. April 02. P : 1. Melakukan latihan ROM aktif maupun pasif. Mengkaji pola berkemih. O : .Skala ketergantungan: 4. Mengobservasi adanya tanda infeksi. O : . E : .Ekstremitas kiri atas dan bawah masih terjadi kelemahan. Diposkan oleh Heri Saputra di Jumat.00 Wita. 7. . III S : . . 3. minum. 2.3. .kan masih belum mampu mengontrol refleks berkemih.Pukul.Pasien masih menggunakan kateter. . E : .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful