P. 1
Ciptakan Generasi Kreatif Dan Mandiri

Ciptakan Generasi Kreatif Dan Mandiri

5.0

|Views: 2,575|Likes:
Published by Padepokan Kata

More info:

Published by: Padepokan Kata on Apr 08, 2011
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

Beragam karya inovasi teknologi tepat guna

Kita sering mendengar mitos bahwa inovasi harus datang dari luar. Kita

bukanlah bangsa yang mampu melahirkan inovasi. Dengan kata lain, inovasi kita

tidak akan mampu bersaing dengan produk asing. Kalau dicermati berbagai inovasi

yang dihasilkan anak-anak bangsa, kita dapat mengatakan bahwa mitos tersebut

tidak sepenuhnya benar.

Coba simak dari buku 100 Inovasi Indonesia yang diterbitkan Business

Innovation Center (BIC) bersama Kementerian Negara Riset dan Teknologi

pertengahan Agustus 2008. Banyak inovasi yang siap untuk diaplikasikan di sektor

produksi, seperti KWH meter yang mampu mencatat pemakaian listrik secara

digital, blok rem komposit kereta api dengan komponen lokal mencapai 90%; proses

membuat batik fraktal yang memadukan seni tradisional, ilmu matematika, dan

komputer; konstruksi sarang laba-laba (fondasi untuk daerah rawan gempa); dan

teknologi manufaktur rubber hose (pipa apung) untuk transportasi fluida.

Di samping itu, kalau kita lihat pameran Teknologi Tepat Guna (TTG),

banyak inovasi yang telah dikembangkan dan ada di masyarakat. Seiring dengan

upaya antisipasi pelemahan industri nasional sebagai dampak krisis global dengan

memperkuat pasar dalam negeri, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden

(Inpres) RI No 2/2009 tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri dalam Pengadaan

Barang dan Jasa dalam Pemerintah. Inpres ini mewajibkan 468 produk lokal yang

wajib digunakan di dalam negeri. Di sinilah letak pentingnya hubungan antara

111

aktivitas riset dan sektor produksi agar dapat menghasilkan produk-produk inovatif.

Kini sudah saatnya kita mengembangkan teknologi untuk kemandirian bangsa agar

bangsa kita tidak hanya sebagai penonton dalam kemajuan peradaban.

“Inovasi membedakan antara pemimpin dan pengikut.” Kata bijak ini

disampaikan Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple. Ia menyadari betapa pentingnya

sebuah inovasi dilakukan untuk mempertahankan produk yang berkualitas dan

bersaing di pasar internasional. Terbukti lewat berbagai inovasi yang dilakukannya,

baik melalui produk, perusahaan Apple mampu meningkatkan keuntungannya

hingga 50 persen. Inovasi memegang peranan penting bagi perusahaan Apple.

Kita juga tidak asing lagi dengan Jepang, Korea Selatan, China, dan India

yang dijuluki sebagai “Macan Asia”. Mereka berhasil melakukan ekspansi besar-

besaran terhadap produk maupun usaha yang mereka geluti, hingga mampu bersaing

di pasar global. Hal ini tidak terlepas dari adanya inovasi yang mereka lakukan. Di

Indonesia sendiri, produk China sudah merambah ke seluruh lapisan masyarakat.

Jepang dan Korea Selatan tidak pernah lelah menghadirkan teknologi dan

penemuan baru yang memudahkan aktivitas manusia. Sebut saja, robot, nano

teknologi, games, dan lain sebagainya. Padahal secara geografis, kondisi alam kedua

negara ini jauh di bawah Indonesia. Namun kondisi inilah yang menjadi dorongan

bagi mereka untuk maju dan berkembang, hingga akhirnya mengalahkan Amerika

Selatan sebagai negara dengan perekonomian terbaik dunia.

Dalam ilmu sejarah, dijelaskan teori Challenge and Respond. Teori ini

menyebutkan kondisi masyarakat yang ada di sebuah wilayah ditentukan dari

kondisi alam dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Masyarakat yang tinggal di

wilayah sub tropis yang memiliki empat musim yang berbeda umumnya memiliki

daya juang yang tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di wilayah

tropis. Indonesia berada di wilayah tropis dan musim yang terdapat di negara kita

hanya 2, yakni musim penghujan dan musim kemarau.

Berkaca dari teori ini, dapat disimpulkan bahwa negara maju umumnya

dibentuk dari suatu kondisi lingkungan yang serba terbatas dan kekurangan. Hal ini

membuat mereka berpikir bagaimana cara untuk bertahan hidup dan

mengembangkan diri menjadi lebih baik. Akhirnya karena dipaksa oleh kondisi

alam, mereka berani untuk berkreasi, berinovasi, dan menampilkan pemikiran-

pemikiran canggih yang tidak kita duga.

112

Berbeda dengan negara kita yang terletak di wilayah beriklim tropis, kita

cenderung dimanjakan oleh kondisi alam yang ada di sekitar kita. Tidak heran grup

musik “Koesplus” mengibaratkan kondisi geografis Indonesia sebagai “Kolam

Susu”. Bahan pangan melimpah, ikan-ikan siap ditangkap, dan cuaca yang nyaman

akhirnya membuat mental bangsa kita menjadi malas. Kecilnya tantangan yang

ditimbulkan kondisi alam membuat bangsa kita malas berinovasi karena

menganggap semua yang kita perlukan sudah ada.

Sumber: www.indonesiahijau.blogspot.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->