P. 1
AKIKAH

AKIKAH

|Views: 1,093|Likes:
Published by Sigit Rudiatwoko

More info:

Published by: Sigit Rudiatwoko on Apr 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2013

pdf

text

original

AKIKAH, PEMOTONGAN RAMBUT BAYI DAN PEMBERIAN NAMA

Kelahiran seorang anak bagi sebuah keluarga akan

menambah

kebahagiaan dan kerukunan rumah tangga. Mengikut sunnah Rasulullah SAW mengadakan akikah dan memberikan dagingnya sebagai sedekah kepada tetangga akan menambah keberkahan dan lebih mempererat tali silaturahim. Mengadakan akikah juga merupakan cerminan rasa suka cita dan bahagia atas kelahiran seorang anak. Sabda Nabi SAW : ³Barangsiapa yang dikaruniai seorang anak, lalu ia menyukmai hendak membaktikannya (mengakikahinya), maka hendaklah ia melakukannya.´ 1. PENGERTIAN AKIKAH Aqiqah berasal dari kata aqqa yang artinya memotong atau membelah. Ada yang mengungkapkan bahwa aqiqah artinya rambut yang tumbuh di atas kepala bayi sejak lahir. Ada lagi mengartikan bahwa aqiqah ialah nama kambing yang disembelih untuk kepentingan bayi. Adapun dalil yang menyatakan, bahwa kambing yang disembelih itu dinamakan aqiqah antara lain adalah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bazzar dari Atha¶, dari Ibnu Abbas secara marfu¶ : ³Bagi seorang anak laki-laki dua ekor aqiqah dan seorang anak perempuan seekor.´´ Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan aqiqah diindonesiakan menjadi akikah adalah serangkaian ajaran Nabi SAW untuk anak yang baru lahir yang terdiri atas mencukur rambut bayi, memberi nama, dan menyembelih hewan. 2. HUKUM AKIKAH Fukaha (ahli fikih) mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentang hukum akikah sebagai berikut :

a. Segolongan fukaha, di antaranya para pengikut Daud az-Zahiri, Imam Hasan al-Basri, dan Imam Lais bin Sa¶ad, berpendapat bahwa akikah adalah wajib. b. Jumhur (mayoritas) ulama seperti Imam Malik, ulama Madinah, Imam Syafi¶I serta para pengikutnya, imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), Ishaq, Abu Saur, dan segolongan besar ahli fikih dan mujtahid (ahli ijtihad) lainnya berpendapat bahwa hukum akikah adalah sunah. c. Para fukaha pengikut Abu Hanifah (Imam Hanafi) berpendapat bahwa akikah tidak wajib dan tidak pula sunah, melainkan termasuk ibadah tatawwu¶ (sukarela). 3. DASAR HUKUM AKIKAH Hadits-hadits yang menjadi dasar disyariatkannya akikah cukup banyak, antara lain : a. Hadits riwayat Imam Ahmad : ³Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan akikahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama.´´ b. Hadits riwayat Aisyah r.a. : ³Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami supaya

menyembelih akikah untuk anak laki-laki dua ekor dan untuk wanita seekor.´ c. Hadits riwayat Aisyah r.a. yang lain : ³Rasulullah SAW pernah membuat akikah untuk Hasan dan Husain pada hari ketujuhnya.´´ (HR Ibnu Hibban, Hakim, dan Baihaqi) d. Hadits yang diriwayatkan dari Salman bin Amar Adh-Dhahabi : ³Sesungguhnya bersama anak itu ada hak diakikahi, maka tumpahkanlah darah baginya (dengan menyembelih hewan) dan buanglah penyakit darinya (dengan mencukur rambutnya).´´ (HR Bukhari) e. Hadits riwayat Abu Buraidah r.a. :

³Akikah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya.´´ (HR Baihaqi dan Thabrani). f. Hadist dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : ³Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.´ [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa¶I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 1718, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya] g. Hadist dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah bersabda : ³Menaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu kambing dan satu kambing.´ [HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiqiel µIed] h. Hadist dari µAmr bin Syu¶aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda : ³Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.´ [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud (2843), Nasa¶I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)] i. Hadist dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata : Rasulullah bersabda : ³Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.´ [Sanadnya Hasan, Hadits iwayat Ahmad (6/390), Thabrani dalam ³Mu¶jamul Kabir´ 1/121/2, dan al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdillah bin Muhammad bin Uqoil]

Dari dalil-dalil yang diterangkan di atas maka dapat diambil hukumhukum mengenai seputar aqiqah dan hal ini dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat serta para ulama salafus sholih. Keterangan dari hadits-hadits di atas : a. Menurut Imam Ahmad (juga Al-Khatabi dan Ibnu Al-Qayyim) maksud dari kata-kata ³Anak-anak itu tergadai dengan akikahnya´ ialah bahwa pertumbuhan anak itu, baik badan maupun kecerdasan otaknya, atau pembelaannya terhadap ibu bapaknya pada hari kiamat akan tertahan jika ibu bapaknya tidak melaksanakan akikah baginya. b. Ibnu Al-Qayyim menegaskan, bahwa aqiqah itu berfungsi untuk melepaskan bayi yang bersangkutan dari godaan setan. c. Jumlah hewan akikah untuk anak laki-laki dua ekor, sedangkan untuk anak perempuan seekor. d. Tentang kapan sebaiknya akikah dilakukan ialah saat bayi berumur 7 hari. Namun jika hal itu tidak mampu dilaksanakan, maka boleh menundanya hingga bayi berumur 14 hari. Jika masih belum mampu juga, boleh dilakukan saat bayi sudah berumur 21 hari. 4. HEWAN UNTUK AKIKAH Sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a., menyatakan : ³Rasulullah SAW telah mengakikahkan buat Hasan dan Husain masingmasing satu ekor kibasy.´´ (HR Abu Dawud). Dari hadits di atas bisa kita dapatkan petunjuk, bahwa jenis hewan untuk akikah sesuai dengan yang pernah dilakukan Rasulullah SAW adalah kibasy. Hewan sejenis yang bisa dipakai adalah kambing, domba/ biri-biri, sapi dan unta. Syarat-syarat hewan yang bisa (sah) untuk dijadikan akikah itu sama dengan syarat-syarat hewan untuk kurban, yaitu : a. tidak cacat, b. tidak berpenyakit, c. cukup umur, yaitu kira-kira berumur satu tahun, d. warna bulu sebaiknya memilih yang berwarna putih. Persyaratan tersebut sesungguhnya untuk melatih kita agar senantiasa memakan sesuatu yang terbaik, sesuai dengan firman Allah SWT :

³Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.´´ (QS Al-Baqarah : 267). 5. JUMLAH HEWAN AKIKAH Dalam menentukan jumlah hewan akikah terdapat pula perbedaan pendapat dari para fukaha sebagai berikut : a. Imam Malik, berpendapat cukup satu ekor kambing, baik untuk anak lakilaki maupun untuk anak perempuan. b. Imam Syafi¶I, Abu Hanifah, Abu Saur Ibrahim bin Khalid Yamani al Kalbi, Abu Dawud, dan Ahmad bin Hanbal berpendapat untuk anak perempuan adalah satu ekor kambing dan untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing. 6. WAKTU PELAKSANAAN AKIKAH a. Waktu Ada¶ Waktu ada¶ atau waktu yang paling tepat untuk mengakikahkan anak, yaitu hari ke tujuh dan kelahiran bayi pada saat bayi berusia tujuh hari, yakni bersamaan dengan acara mencukur rambut serta menamainya. b. Waktu Qodha Akikah boleh dilaksanankan pasca pencukuran dan penamaan bayi. Di sisi lain hal itu mengisyaratkan bahwa sunnahnya akikah tidak akan gugur karena berlalunya hari ketujuh dari waktu kelahiran bayi. Artinya :´«(Kesunatan akikah) tidak gugur karena berlalunya hari ketujuh (dari kelahiran bayi).´ (Kifayatul Akhyar jus II, hal. 243)

Pendapat (Qaul) mukhtar dari mazhab syafi¶I menyatakan bahwa waktu pelaksanaan akikah masih berlaku pasca hari ketujuh dari kelahiran bayi, dengan urutan sebagai berikut : 1) Jika pada hari ketujuh belum mampu, akikah boleh dilakukan ketika masa nifas si ibu bayi berakhir. 2) Jika sampai nifas ibu bayi belum mampu, maka akikah dilaksanakan hingga berakhirnya masa menyusui. 3) Jika masa menyusui telah berakhir dan belum mampu mengakikahkan, maka akikah dilaksanakan hingga anak berusia tujuh tahun. 4) Jika usia tujuh tahun belum mampu akikah, maka akikahya sebelum anak dewasa (baligh). 5) Jika anak telah berusia dewasa, maka gugurlah kesunatan akikah bagi orang tuanya dan dipersilahkan anak mengakikahkan dirinya sendiri. 7. PEMOTONGAN RAMBUT BAYI Mencukur rambut bayi sebaiknya dilakukan di hadapan sanak keluarga agar mereka mengetahui dan menjadi saksi. Boleh dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Atau jika tidak mampu, bisa diwakilkan kepada ahlinya. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam mencukur rambut bayi, yaitu : a. Diawali dengan membaca basmallah, b. Arah mencukur rambut dari sebelah kanan ke kiri, c. Dicukur secara keseluruhan (gundul) sehingga tidak ada kotoran yang tersisa, d. Rambut hasil cukuran ditimbang dan jumlah timbangan dinilai dengan nilai emas atau perak kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Ada beberapa dalil yang menjadi dasar sedekah cukuran rambut yang dinilai dengan emas atau perak, di antaranya : a. Imam Malik meriwayatkan hadits dari Ja¶far bin Muhammad dari ayahnya, ia berkata: ´Fatimah r.a. menimbang rambut Hasan, Husain dan Zainab, dan Ummu Kultsum, lalu berat timbangan rambut tersebut diganti dengan perak dan disedekahkan.´ b. Ibnu Ishaq meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Abu Bakar, dari Muhammad bin Ali bin Husain r.a., ia berkata, "Rasulullah melaksanakan akikah berupa seekor kambing untuk Hasan. Beliau bersabda, µFatimah, cukurlah rambutnya¶. Fatimah kemudian menimbangnya dan

timbangannya mencapai ukuran perak seharga satu dirham atau setengah dirham.´ c. Yahya bin Bakr meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., ³bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk mencukur rambut Hasan pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Lalu rambutnya dicukur dan beliau mensedekahkan perak seberat rambut tadi.´ 8. PEMBERIAN NAMA Nama merupakan sarana yang mudah dan umum digunakan untuk mengenali seseorang dan memperlancar hubungan sosial. Namun demikian janganlah kita terjebak dengan suatu nama. Sebab, baik buruknya seseorang memang tidak terletak pada namanya semata, melainkan pada akhlak dan amal shalehnya. Dalam pandangan agama, nama juga berfungsi sebagai doa. Orang tua yang memberi anaknya dengan nama Muhammad atau Ahmad misalnya, itu merupakan doa semoga anaknya menjadi orang yang te rpuji. Atau mudahmudahan anak itu tersugesti untuk bersikap dan bertindak dengan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Tentang pentingnya pemberian nama yang baik Nabi SAW bersabda : ³Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama -nama kalian dan nama-nama bapak-bapak kalian, maka baguskanlah namanamamu.´´ (HR Muslim). 9. HIKMAH AKIKAH Di antara hikmah di balik pensyariatan akikah adalah sebagai berikut : a. Akikah merupakan suatu pengorbanan yang akan mendekatkan anak kepada Allah di masa awal ia menghirup udara kehidupan, b. Akikah merupakan tebusan bagi anak dari berbagai musibah, sebagaimana Allah telah menebus Ismail a.s. dengan sembelihan yang besar, c. Sebagai pembayaran hutang anak agar kelak di hari kiamat ia bisa memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya, d. Merupakan media untuk menunjukkan rasa syukur atas keberhasilan melaksanakan syariat Islam dan bertambahnya generasi mukmin, e. Mempererat tali persaudaraan di antara sesama anggota masyarakat. Dalam hal ini akikah bisa menjadi semacam wahana bagi berlangsungnya komunikasi dan interaksi sosial yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg02176.html http://rumahsantri.multiply.com/journal/item/18 http://dreamcorner.net/catatan/religi/akikah-cukur-dan-pemberian-nama/ http://www.almizanaqiqah.com/apaituaqiqah.html http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/mozaik-fiqih/953-syariat-aqiqah http://www.duadunia.net/aqiqah http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=856&bagian=0

Akikah, cukur dan pemberian nama
Alhamdulillahirabbilalamin, segala puji hanya bagi Allah tuhan semesta alam. Tidak terasa anak saya sekarang sudah berumur 14 hari. Pada hari ketujuh dari kelahiran anak saya (tanggal 7 april 2008), saya melaksanakan akikah (pemotongan kambing), pemberian nama dan juga pencukuran rambut. Ada sebagian masyrakat jawa yang melaksanakan akikah berdasarkan adat yaitu pada hari ke-empatpuluh. Saya tidak akan membahas masalah adat jawa, saya hanya akan memberi sedikit gambaran seputar akikah, pemberian nama dan pencukuran rambut sesuai dengan syariat islam yang dibawa oleh Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pemberian Nama Dari hadits riwayat Abu Dawud dari Adu Ad-Darda, Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada Hari Kiamat dengan namanama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka bagus-baguskanlah nama kalian." Saya meberi nama anak saya 'Shabiyyah an nafsul muthmainnah' yang artinya 'gadis yang berjiwa tenang'. Kata 'an nafsul muthmainnah' saya ambil dari Al Quran surat Al Fajr ayat 27. Kita dianjurkan untuk memberi nama anak dengan nama-nama yang bagus. Dimakruhkan memberi nama anak menyerupai nama-nama orang kafir. Yang mana apabila nama anak kita disebut orang akan bertanya, apakah agama anak ini? Semisal ada saudara-saudara kita yang muslim yang karena ketidaktahuannya akan syariat Islam memberi nama anaknya dengan nama-nama yang menyerupai orang-orang kafir yaitu : sebastian, brian, chintya, gwen dan yang semisal. Semoga Allah memberikan petunjukNya pada kita semua serta mempermudah kita untuk mengikuti syariat agama yang diridhoiNya. Masih banyak sekali bahasan seputar pemberian nama ini, tentang nama -nama yang dianjurkan, dimakruhkan dan diharamkan. Insya Allah pada kesempatan lain saya akan menulisnya. Akikah Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dari Salman bin Ammar Adh-Dhabi, Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

"Bersama (kelahiran) seorang anak terdapat hak untuk diakikahi. Maka tumpahkanlah darah (hewan) untuknya dan hilangkanlah kotoran darinya." Kemudian dalam hadits berikutnya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Alhasan, dari samurah bahwa Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Setiap anak (yang lahir) tergadai (terikat) dengan akikahnya. Maka disembelih (hewan) untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur (rambutnya) dan diberi nama." Dari hadits diatas disunnahkan pelaksanaan akikah adalah hari ketujuh dari kelahiran si bayi. Dalam redaksi hadits diatas terdapat kata tergadai, adapun maksud dari kata tergadai disini menurut Al-Baihaqi dari Salman bin Syarahbil dari Yahya bin Hamzah, ia berkata "Aku bertanya kepada Atha` Al Khurasani, tentang maksud setiap anak tergadai (terikat) dengan akikahnya". Ia pun menjawab, "Maksudnya, syafa'at anaknya akan terhalang baginya." Implikasi dari redaksi hadits ini sangat berat. Tapi Jumhur ulama dan mayoritas sahabat Nabi, golongan tabi'in dan ulamaulama pada generasi seterusnya mengatakan bahwa akikah hukumnya adalah Sunnah. Adapun jumlah dari hewan untuk akikah adalah dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan sebagaimana tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi "Untuk anak laki-laki disembelih dua ekor kambing dan untuk anak perempuan disembelih satu ekor kambing. Tidak jadi masalah apakah kambing itu jantan atau betina." Tujuan, hikmah dan manfaat dari akikah adalah : 1. Akikah merupakan kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang ditujukan (pahalanya) untuk bayi yang baru lahir ke alam dunia. 2. Akikah merupakan alat untuk melepas gadaian (ikatan) pada si bayi yang baru dilahirkan. Sebab seorang anak dalam keadaan tergadai (terikat) dengan akikahnya. Menurut Imam Ahmad, maksud tergadai disini adalah tertahannya syafaat sang anak untuk kedua orangtuanya. 3. Akikah merupakan fidyah (tebusan) untuk menebus si anak, sebagaimana Allah Subhanahuwa Ta'ala menebus Isma'il yang akan disembelih dengan seekor kambing yang sangat besar. Nabi mengatakan bahwa hewan yang disembelih untuk seorang bayi seyogyanya bertujuan untuk ibadah, seperti kurban dan hadyu (binatang yang disembelih oleh jamaah haji).

Cukur Sebagaimana hadits diatas yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa bersama akikah kita disunnahkan mencukur rambut bayi.Rambut yang telah dicukur ini ditimbang beratnya untuk kemudian dinilai dengan 'perak' (bukan emas) sesuai berat timbangan tersebut dan uangnya disedekahkan. Hal ini banyak diriwayatkan dan ditulis dalam kitab antara lain kitab AlMuwaththa: Dari Rabi'ah bin Abu Abdirrahman, dari Muhammad bin Ali bin Husain, ia berkata, "Fatimah binti Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam menimbang beratnya rambut Hasan dan Husain, kemudian ia menyedekahkan perak seberat rambut mereka". Dan riwayat-riwayat dari Malik, Yahya bin Bukair, Abdurrazzaq dan lainnya yang selafal dengan diatas. Hukum mencukur sebagian rambut kepala Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan permasalahan ini dalam Shahih mereka, dari hadits Ubaidillah bin Umar, dari Umar bin Nafi', dari ayahnya, dari Ibnu Umar, ia berkata, "Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang qaza" yaitu mencukur sebagian rambut bayi dan membiarkan sebagian yang lainnya. Berdasarkan hadits ini saya mencukur seluruh rambut anak saya. Demikian sedikit pembahasan tentang akikah, cukur dan pemberian nama, mohon maaf apabila ada kesalahan redaksi dalam penulisan hadits dan lainnya. Tu lisan ini saya saring dari buku karya : Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Semoga bisa mendekatkan kita kepada ketakwaan dan mendekati sunnah Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Karena sebagaimana beliau Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : "Barang siapa tidak mencintai sunnahku maka dia bukan umatku" Oleh Nidia Zuraya Tradisi akikah yang kini berkembang di Indonesia, tetap dijalankan sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. "Anak yang baru lahir itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari hari kelahirannya, dan pada hari itu juga hendaklah dicukur rambutnya dan diberi nama." (HR Ahmad dan Tirmidzi). . Dari hadis di atas, tampak jelas perintah tata cara berakikah, yakni menyembelih hewan (kambing, domba, unta, dan la(nnya), mencukur rambut, dan diberikan

nama yang baik. Hal yang demikian inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, baik untuk anak laki-laki maupun perempuan. Adapun pelaksanaan pemotongan rambut ini oleh Rasulullah SAW disunahkan dilakukan pada hari ketujuh dari hari kelahiran. Hal ini menurut jumhur ulama memiliki status hukum sunah muakkadah (sunah yangsangat diutamakan), dengan berlandaskan pada hadis riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Tidak ada ketentuan apakah harus digun-dul atau tidak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan dengan rata; tidak boleh hanya mencukur sebagian kepala dan sebagian yang lain dibiarkan. Setelah rambut dicukur, orang tua sang bayi diperintahkan untuk menimbang rambut tersebut dengan perak, kemudian mengeluarkan sedekah seberat timbangan rambut itu. Hukumnya adalah sunah. Dalam kitab al-Muwaththa, Imam Malik meriwayatkan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Hasan dan Husein, lalu ia menyedekahkan perak seberat rambut tersebut. Dalam bukunya "Hukum Qurban, Aqiqah dan Sembelihan", KHE Abdurrahman memaparkan bahwa di sebagian kalangan ada yang menimbang rambut bayi itu dengan emas, maksudnya adalah agar lebih banyak lagi sedekahnya. Karena dalam hal bersedekah, lebih banyak adalah lebih baik. Upacara pemotongan rambut akan dilan-jutkan dengan prosesi pemberian nama bayi. Islam menganjurkan agar diberikan nama yang sebaik -baiknya. Dan, jika perlu pemberian nama ini diumumkan kepada masyarakat sekitar. Pemberian nama yang baik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang baik yang layak diberikan adalah nama Muhammad. Sebagaimana sabda beliau, Dari Jabir RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku." (HR Bukhari dan Muslim) Perihal pemberian nama anak ini, terdapat sejumlah nash syarVyang menyatakan bahwa ada kaitan antara arti sebuah nama dengan yang diberi nama. Ibnu al Qoyyim berkata, "Barang siapa yang memperhatikan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya." ed syafiuddin Ringkasan Artikel Ini "Anak yang baru lahir itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari hari kelahirannya, dan pada hari itu juga hendaklah dicukur rambutnya dan diberi nama." (HR Bukhari dan Muslim) Perihal

pemberian nama anak ini, terdapat sejumlah nash syarVyang menyatakan bahwa ada kaitan antara arti sebuah nama dengan yang diberi nama. Ibnu al-Qoyyim berkata, "Barang siapa yang memperhatikan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya."

Makna Aqiqah Aqiqah adalah sembelihan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi. Jumhurul ulama menyatakan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkad baik bagi bayi laki-laki maupun bayi perempuan. Pelaksanaannya dapat dilakukan pada hari ke tujuh (ini yang lebih utama menurut para ulama), keempat belas, dua puluh satu atau pada hari-hari yang lainnya yang memungkinkan. Rasulullah SAW bersabda: ³Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama´. (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)

Yang lebih utama adalah menyembelih dua ekor kambing yang berdekatan umurnya bagi bayi laki-laki dan seekor kambing bagi bayi perempuan. Dari Ummi Kurz Al-Ka¶biyyah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ³Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang berdekatan umurnya dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.´ (HR. Ahmad 6/422 dan At-Tirmidzi 1516) Dalam pelaksanaan aqiqah sebaiknya dilakukan sendiri oleh orang tua bayi. Kalau toh ingin menitipkannya kepada orang lain, kita harus yakin bahwa hal tersebut dilakukan sesuai dengan tuntutan syari¶ah. Jangan sampai kita menitipkan sejumlah uang kepada suatu lembaga atau perorangan, kemudian uang tersebut dibagikan langsung sebagai pengganti daging. Praktek yang demikian tentunya tidak sesuai dengan tuntunan sunnah yang mensyaratkan adanya penyembelihan hewan Mencukur dalam pelaksanaan aqiqah. Rambut

Mencukur rambut bayi merupakan sunah Mu¶akkad, baik untuk bayi laki laki maupun bayi perempuan yang pelaksanaannya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran dan alangkah lebih baik jika dilaksanakan berbarengan dengan aqiqah.

Hal tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Rasulullah SAW bersabda: ³Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama.´ (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan) Dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda : ³Hilangkan darinya kotoran´ (HR. Al-Bazzar)

Ibnu sirin ketika mengomentari hadis tersebut berkata: ³Jika yang dimaksud dengan kotoran tersebut adalah bukan mencukur rambut, aku tidak mengetahui apa maksudnya dengan hadis tersebut.´ (fathul Bari)

Mengenai faedah dari mencukur rambut bayi tersebut, Ibnu Al-Qoyyim berkata: ³Mencukur rambut adalah pelaksanaan perintah Rasulullah SAW untuk menghilangkan kotoran. Dengan hal tersebut kita membuang rambut yang jelek/lemah dengan rambut yang kuat dan lebih bermanfaat bagi kepala dan lebih meringankan untuk si bayi. Dan hal tersebut berguna untuk membuka lubang poripori yang ada di kepala supaya gelombang panas bisa keluar melaluinya dengan mudah dimana hal tersebut sangat bermanfaat untuk menguatkan indera penglihatan, penciuman dan pendengaran si bayi´ (Athiflu Wa Ahkamuhu, hal 203-204) Kemudian rambut yang telah dipotong tersebut ditimbang dan kita disunahkan untuk bersedekah dengan perak sesuai dengan berat timbangan rambut bayi tersebut. Ini sesuai dengan perintah Rasulullah SAW kepada puterinya fatimah RA : ³Hai Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan rambutnya kepada fakir miskin´ (HR Tirmidzi 1519 dan Al-Hakim 4/237)

Dalam pelaksanaan mencukur rambut, perlu diperhatikan larangan Rasulullah SAW untuk melakukan Al-Qaz¶u, yaitu mecukur sebagian rambut dan membiarkan yang lainnya (HR. Bukhori Muslim).

Ada sejumlah gaya mencukur rambut yang termasuk Al-Qaz¶u tersebut : * Mencukur * Mencukur rambut bagian tengahnya saja dan membiarkan rambut di sisi kepalanya. * Mencukur rambut bagian sisi kepala dan membiarkan bag ian tengahnya * Mencukur rambut bagian depan dan membiarkan bagian belakan atau sebaliknya. Pemberian Nama rambut secara acak di sana-sini tak beraturan.

Nama bagi seseorang sangatlah penting. Ia bukan hanya merupakan identitas pribadi dirinya di dalam sebuah masyarakat, namun juga merupakan cermina n dari karakter seseorang. Rasululloh SAW menegaskan bahwa suatu nama (al-ism) sangatlah identik dengan orang yang diberinama (al-musamma) Dari Abu Hurairoh Ra, dari Nabi SAW beliau bersabda: ³Kemudian Aslam semoga Alloh menyelamatkannya dan Ghifar semoga Alloh mengampuninya.´ (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya.

Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadis di bawah ini: Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW,

beliau pun bertanya: ³Siapa namamu?´ Aku jawab: ³Hazin´ Nabi berkata: ³Namamu Sahl´ Hazn berkata: ³Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku´ Ibnu Al-Musayyib berkata: ³Orang tersebut senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya´ (HR. Bukhori 5836) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad AlIsawiy hal 65)

Oleh karena itu, Rasululloh SAW memberikan petunjuk nama apa saja yang sebaiknya diberikan kepada anak-anak kita. Antara lain: Dari Ibnu Umar Ra ia berkata: Rasululloh SAW telah bersabda: ³Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Alloh adalah Abdulloh dan Abdurrahman.´ (HR. Muslim 2132) Dari Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: ³Namailah dengan namaku dan jangnlah engkau menggunakan kun-yahku.´ (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133) Berkaitan dengan kapan saat yang tepat untuk pemberian nama bagi bari yang baru lahir, para ulama menyatakan hal tersebut sebaiknya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran berbarengan dengan pelaksanaan aqiqah dan pencukuran rambut. Namun juga pemberian nama tersebut boleh dilakukan sebelumnya. Rasulullah SAW bersabda: ³Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi Syukuran nama´ (HR. Ahmad 40 dan Ashabus Sunan) Hari

Berkaitan dengan perayaan 40 hari setelah kelahiran jabang bayi, kami berpendapat bahwa hal tersebut bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW sebagaimana di atas. Kalau memang ingin memperkenalkan bayi kepada para tetangga, kenapa hal tersebut tidak dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan aqiqah? Kami kira, adat atau kebiasaan perayaan tersebut merupakan warisan masa lalu

yang masih banyak dipercayai dan dilaksanakan oleh masyarakat kita. Tentunya ini adalah tugas kita untuk menyampaikan yang sebenarnya kepada mereka berkaitan dengan tuntunan Rasulullah SAW dalam pelaksanaan aqiqah. Anda dapat menyampaikan kepada orang tua anda bahwa pelaksanaan aqiqah merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah atas kelahiran bayi.

Disamping itu, dalam pelaksanaannya kita juga bisa mengundang para tetangga dalam syukuran aqiqahan ini atau membagi-bagukan daging aqiqah kepada mereka. Dengan sendirinya ini juga merupakan proses memperkenalkan jabang bayi yang baru lahir kepada tetangga. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Aqiqah
Aqiqah berasal dari kata µAqq yang berarti memutus dan melubangi, dan ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong, dan dikatakan juga bahwa ia adalah rambut yang dibawa si bayi ketika lahir.

Adapun maknanya secara syari¶at adalah hewan yang disembelih untuk menebus bayi yang dilahirkan. Menurut bahasa, aqiqah artinya memutus / memotong. Sedangkan menurut istilah syar`I, aqiqah berarti menyembelih kambing untuk anak yang baru dilahirkan, pada hari ke ± 7 ( tujuh ) dari hari kelahirannya. Rasulullah SAW bersabda : ³Setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya. Ia disembelih ( binatang ) pada hari ke ± 7 ( tujuh ) dari kelahirannya, diberi nama, dan dicukur kepalanya ³ ( HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Samirah ) Hukumnya Hukum aqiqah menurut pendapat yang paling kuat adalah sunnah muakkadah, dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama, berdasarkan anjuran Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan praktek langsung beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam. ³Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus)darinya darah (sembelihan) dan bersihkan darinya kotoran (Maksudnya cukur rambutnya).´ (HR Ahmad,Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Perkataannya, ³maka tumpahkan (penebus)darinya darah (sembelihan),´ adalah perintah, namun bukan bersifat wajib, karena ada sabdanya yang memalingkan dari kewajiban yaitu: ³Barangsiapa di antara kalian ada yang ingin menyembelihkan bagi anaknya, maka silahkan lakukan.´ (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).Perkataan beliau, ³ingin menyembelihkan,´ merupakan dalil yang memalingkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Mengapa

kita

harus

aqeqah

?

Aqiqah adalah salah satu ajaran Islam yang dicontohkan Rasulullah SAW. Aqiqah mengandung hikmah dan manfaat positif yang kita bisa petik di dalamnya. Oleh karena itu. Kita sebagai umat Islam sudah selayaknya melaksanakan setiap aja ran Rasulullah SAW tanpa terkecuali, termasuk aqiqah ini. Setiap orang tua mendambakan anak yang shaleh, berbakti dan mengalirkan kebahagiaan kepada kedua orangnya. Aqiqah adalah salah satu acara penting untuk menanamkan nilainilai ruhaniah kepada anak yang masih suci.

Dengan Aqiqah diharapkan sang banyi memperoleh kekuatan, kesehatan lahir dan batin. Ditumbuhkan dan dikembangkan lahir dan batinnya dengan nilai-nilai Ilahiyah. Dengan Aqiqah diharapkan sang bayi kelak menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Jika acara ini dilaksanakan dengan tulusikhlash dan dijiwai nilai-nilai ruhaninya oleh kedua orang tuanya, tentu akan berpengaruh terhadap perkembangan sang bayi, khususnya jiwa dan ruhaninya.Aqiqah adalah salah satu acara ritual di dalam Islam, yang dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahiran seorang bayi. Aqiqah hukumnya sunnah muakkad (mendekati Pentingnya wajib), bahkan sebagian ulama menyatakan wajib.

ber-aqiqah

Apabila kita memiliki barang yang bisa mendatangkan manfaat dan bangga memilikinya, namun barang tersebut dalam keadaan tergadai, bagaimana sikap kita terhadap barang tersebut ?. Tentunya kita berusaha semaksimal mungkin untuk menebusnya.

Aqiqah adalah upaya kita untuk menebus anak kita yang tergadai. Aqiqah ju ga merupakan realisasi rasa syukur kita atas anugrah, sekaligus amanah yang diberikan Allah SWT terhadap kita. Aqiqah juga sebagai upaya kita

menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, yang merupakan perbuatan yang terpuji, mengingat saat ini sunnah tersebut mulai jarang dilaksanakan oleh kaum muslimin. Rasulullah SAW bersabda : ³ Barangsiapa menghidupkan sunnahku disaat kerusakan pada umatku, maka baginya pahala orang yang mati syahid. ³ ( Al ± Hadist ) Selain itu, banyak juga manfaat yang lain, seperti : mempererat tali silaturrahmi dan ikatan sosial dengan para kerabat, tetangga, fakir miskin, dll. Oleh karena itu, marilah kita bersama ± sama berusaha menghidupkan

RISALAH AQIQAH 2 Ucapan Selamat untuk Bayi yang Baru Lahir :

Baarokallohulaka fiil mauhuubilaka, wa syakartal waahiba, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu. Ucapan Selamat untuk Bayi yang Baru Lahir : Baarokallohulaka fiil mauhuubilaka, wa syakartal waahiba, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu.

Semoga Alloh memberikan keberkahan untuk dirimu atas (karunia) yg diberikan kepadamu. Semoga engkau mensyukuri Yang Maha Memberi hingga sang anak menjadi dewasa dan menjadi anak yang berbakti.

Kemudian Dijawab :(atas orang yang mengucapkan doa di atas kepada kita): Baarokallohulaka wa baaroka¶alaika, wa jazaakallohu khoiron, wa rozaqokallohu mitslahu, wa ajzala tsawaabaka.Semoga Alloh memberikan berkahnya kepadamu dan dalam segala yang engkau miliki. Semoga Alloh membalas untukmu kebaikan yang banyak dan memberikan (karunia) tang sama kepadamu. Sem oga Alloh Do¶a pun Untuk berkenan Bayi melipat yang gandakan Baru pahalamu. Dilahirkan

Innii u¶iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli µaynin laammatinArtinya: Aku berlindung untuk anak ini dengan kalimat Allah Yang Sempurna dari segala gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi apa yang Menghidupkan dilihatnya. Sunnah Nabi (HR. saw. dengan Bukhari) µAqiqah

³Barang siapa yang menghidupkan sunnahku disaat terjadi kerusakan pada ummatku maka baginya pahala seseorang yang mati syahid.´ (Rasulullah saw.)Hadits ini menyadarkan kita akan pentingnya kembali pada kehidupan Islami dan menghidupkan sunnah Nabi saw. terutama di saat ummat mulai cenderung dan terpedaya dengan segala gaya hidup yang tidak berasal dari nilai-nilai Islam. Hal tersebut mengakibatkan ummat Islam tidak lagi memiliki jati diri, dan kecintaannya kepada Nabi saw sebagai suri teladan larut sedikit demi sedikit, berganti mengikuti gerak dan gaya masyarakat yang jahiliyah, termasuk dalam menyambut kehadiran anak yang sebenarnya merupakan amanah Allah SWT. Tulisan ini sekedar mengingatkan akan sebuah sunnah yang dahulu akrab dengan kehidupan kaum muslimin sebagai ummat yang dirahmati dan diberkahi Allah SWT. Beberapa Hal yang Harus Dilakukan oleh Orang tua Setelah Kelahiran Anaknya * 1. Menyuarakan adzan di telinga kanan dan qomat di telinga kiri bayi. Hal ini berdasarkan atas sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan AtTirmidzi, dari Abu Rafi¶: Aku melihat Rasulullah saw. Menyuarakan adzan pada telinga * 2. Melakukan tahniq, yaitu menggosok langit-langit (mulut bagian atas) dengan kurma yang sudah dilembutkan. Caranya ialah dengan menaruh sebagian kurma yang telah dikunyah pada jari, dan memasukkan jari itu ke dalam mulut bayi, kemudian menggerak-gerakkannya ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang lembut hingga merata di sekeliling langit-langit bayi. Jika kurma sulit di dapat, tahniq ini dapat dilakukan dengan bahan yang manis lainnya, seperti madu atau saripati gula, sebagai pelaksanaan sunnah Nabi saw. Di dalam Shahihain, terdapat hadits dari Abu Burdah, dari Abu Musa r.a., ia berkata: Aku telah dikaruniai seorang anak, kemudian aku membawanya kepada Nabi saw. lalu beliau menamakannya Ibrahim, menggosok-gosok langit-langit mulutnya dengan sebuah Al-Hasan bin µAli ketika Fatimah melahirkannya.

kurma

dan

mendo¶akannya

dengan

keberkahan.

Setelah

itu

beliau

menyerahkannya kepadaku.Hikmah dari tahniq ini ialah untuk menguatkan syaraf-syaraf mulut dan gerakan lisan beserta tenggorokan dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan, sehingga anak siap untuk menghisap air susu ibunya dengan kuat dan alami. Lebih utama kalau tahniq ini dilakukan oleh ulama/orang yang shalih sebagai penghormatan dan pengharapan agar si bayi menjadi orang yang * 3. Mencukur rambut kepala bayi, memberi nama, dan Aqiqah. µAqiqah shalih pula.

Makna

Secara bahasa µaqiqah berarti memutus. Sedangkan secara istilah Syara¶ aqiqah berarti menyembelih kambing untuk anak pada hari ke tujuh dari hari kelahirannya. Pentingnya Aqiqah

Rasulullah saw. bersabda: ³Sesungguhnya anak itu diaqiqahi. Maka tumpahkanlah darah baginya dan jauhkanlah penyakit daripadanya (dengan mencukurnya).´ (Hadits shahih riwayat Bukhari, dari Salman Bin Amar Adh-Dhabi).Rasulullah saw. bersabda: ³Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan (binatang) pada hari ke tujuh dari hari kelahirannya, diberi nama pada hari itu dan dicukur kepalanya´. (Ashhabus-Sunan).µAqiqah adalah tanda syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat anak yang diberikan-Nya. Juga sebagai washilah (sarana) memohon kepada Allah SWT. agar menjaga dan memelihara sang bayi. Dari hadits di atas pula ulama menjelaskan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi para wali bayi yang mampu, bahkan Hal-hal tetap dianjurkan, yang sekalipun wali bayi dalam dalam kondisi sulit. Aqiqah

Perlu

Diperhatikan

* 1. Kambing yang akan di sembelih mencapai umur minimal satu tahun dan sehat tanpa * 2. Jika bayi yang dilahirkan laki-laki, dianjurkan untuk menyembelih dua ekor kambing yang sepadan (sama besarnya), sedangkan bayi perempuan disembelihkan satu ekor kambing. Hal ini berdasar atas hadits dari Ummu Karaz al-Ka¶biyah, Rasul saw. bersabda: ³Bagi anak laki-laki (disembelihkan) dua ekor kambing dan bagi anak perempuan (disembelihkan) satu ekor. Dan tidak membahayakan kamu sekalian apakah (sembelihan itu) jan atau betina´ (H. R. tan Ahmad dan Tirmidzi). Hal di atas berlaku untuk orang yang dikaruniai rizqi yang cukup oleh Allah SWT. Sedangkan orang yang kemampuannya terbatas, diperbolehkan untuk meng¶aqiqahi anak laki-laki maupun anak perempuan dengan satu ekor kambing. Hal ini berdasar atas hadits dari Ibnu µAbbas r.a.: ³Bahwa Rasulullah saw. telah meng¶aqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan satu ekor biri-biri.´ (H.R. Abu Dawud), dan juga riwayat dari Imam Malik: ³Abdullah bin Umar r.a. telah meng¶aqiqahi anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan, satu * 3. Dianjurkan agar µaqiqah itu disembelih atas nama anak yang dilahirkan. Hal ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu al Mundzir dari µAisyah r.a.: Nabi saw. bersabda: ³Sembelihlah atas namanya (anak yang dilahirkan), dan ucapkanlah, µDengan menyebut nama Allah. Ya Allah, bagi-Mu-lah dan kepadaMu-lah ku persembahkan µaqiqah si Fulan ini.´ Akan tetapi, jika orang yang menyembelih itu telah berniat, meskipun tidak menyebutkan nama anak itu, maka tujuannya * 4. Adapun daging aqiqah tersebut selain dimakan oleh keluarga sendiri, juga disedekahkan * dan dihadiahkan. sudah tercapai. kambing-satu kambing.´ cacat sebagaimana persyaratan untuk hewan qurban.

5. Disukai untuk memberi nama anak pada hari ketujuh dengan memilihkannya nama-nama yang baik, lalu mencukur rambutnya, kemudian bersedekah senilai harga emas atau perak yang setimbang dengan berat rambutnya. Dari Ali r.a. berkata: Rasulullah saw. memerintahkan Fatimah dan bersabda : ³Timbanglah rambut Husain dan bersedekahlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan (rambut)nya dan berikanlah kaki kambing kepada kabilah (suku bangsa)´. Waktu µAqiqah

Di muka telah dikutipkan sebuah hadits yang menunjukkan bahwa waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan µaqiqah adalah hari ketujuh. Hadits lain yang menguatkan hal itu antara lain adalah hadits Abdillah bin Wahb dari µAisyah r.a.: Rasulullah saw. telah meng¶aqiqahi Hasan dan Husain pada hari ketujuuh (dari kelahiran mereka), menamakan mereka dan memerintahkan untuk menjauhkan penyakit dari kepala (mencukur) mereka.

Akan tetapi, ada pendapat yang menunjukkan bahwa keterikatan dengan hari ketujuh itu bukanlah keharusan, melainkan suatu anjuran. Al-Maimuni berkata: Aku bertanya pada Abdullah: ³Kapankah anak itu di¶aqiqahi?´. Abdullah menjawab, ³Adapun µAisyah telah mengatakan bahwa µaqiqah itu dilakukan pada hari ketujuh, hari keempat belas, atau hari ke duapuluh satu.´Imam Malik berkata: Pada zhahirnya, keterikatan pada hari ketujuh itu adalah atas dasar anjuran. Andaikan (pada hari itu tidak dapat dilak ukan), maka menyembelih pada hari keempat, kedelapan, atau kesepuluh atau sesudahnya, µaqiqah itu telah cukup. Ringkasnya, jika orang tua mampu menyembelih µaqiqah pada hari ketujuh, maka hal itu lebih utama, sesuai dengan perbuatan Nabi saw. Namun jika hal itu menyulitkan, maka diperbolehkan untuk melakukannya pada hari ke berapa saja sebagaimana telah dikatakan Imam Malik. Wa-Llahu a¶lam.Demikianlah tulisan ringkas yang dapat kami sampaikan, semoga anak-anak kita yang lahir kemudian di¶aqiqahi mendapat rahmat, inayah, serta dilindungi Allah SWT. dari godaan

syaitan yang terkutuk dan dimudahkan jalannya dalam menempuh Shiraathal Mustaqim. Makna Sebuah Aamiin. Nama

³Apalah arti sebuah nama´, begitulah ungkapan dari Shakespeare yang begitu sering terdengar di masyarakat. Konsekuensinya nama hanyalah sebagai panggilan/identitas yang membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain. Sehingga seringkali dalam pemberian sebuah nama yang dicari adalah lebih karena keunikannya bukan makna yang terkandung di dalamnya. Namun bagi kami ± dan sebagian besar orang Indonesia ± nama bermakna doa atau citacita. Sehingga setiap panggilan terhadapnya merupakan doa baginya dan setiap mengingat namanya maka mengingatkan akan cita-cita kehadirannya ke dunia. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, ³Sesungguhnya kalian akan diseru pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian, maka perbaguslah nama kalian´. (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban).

Nabi Muhammad Saw pun pernah mengganti nama yang tidak bagus, sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Umar ra: ³Sesungguhnya putri Umar diberi nama µAshiyah (yang berdosa), maka Rasulullah saw mengganti namanya dengan Jamilah (cantik).´ (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Risalah Aqiqah 1
Menghidupkan Sunnah Nabi SAW dengan µAqiqah

³Barang siapa yang menghidupkan sunnahku di saat terjadi kerusakan pada ummatku maka baginya pahala seseorang yang mati syahid.´ (Rasulullah SAW) Hadits ini menyadarkan kita akan pentingnya kembali pada kehidupan Islami dan menghidupkan sunnah Nabi SAW terutama di saat ummat mulai cenderung dan terpedaya dengan segala gaya hidup yang tidak berasal dari nilai-nilai Islam. Hal tersebut mengakibatkan ummat Islam tidak lagi memiliki jati diri, dan kecintaannya kepada Nabi SAW sebagai suri teladan, termasuk dalam menyambut kehadiran anak yang sebenarnya merupakan amanah Allah SWT.

Tulisan ini sekedar mengingatkan kita akan sebuah sunnah yang dahulu akrab dengan kehidupan kaum muslimin sebagai ummat yang dirahmati dan diberkahi Allah SWT.

Beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang tua setelah kelahiran anaknya: * 1. Dibacakan QS. Ali-Imran ayat 36 hadist riwayat bukhori muslim. Ini dianjurkan Abu Hurairah untuk benteng terhadap godaan setan. Wallahu a'lam. * 2. Melakukan tahniq, yaitu menggosok langit-langit (mulut bagian atas) dengan kurma yang sudah dilembutkan. Caranya ialah dengan menaruh sebagian kurma yang telah dikunyah pada jari, dan memasukkan jari itu k dalam mulut bayi, e kemudian menggerak-gerakkannya ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang lembut hingga merata di sekeliling langit-langit bayi.Jika kurma sulit di dapat, tahniq ini dapat ddilakukan dengan bahan yang manis lainnya, seperti madu atau saripati gula, sebagai pelaksanaan sunnah Nabi saw. Di dalam Shahihain, terdapat

hadits dari Abu Burdah, dari Abu Musa r.a., ia berkata: ³Aku telah dikaruniai seorang anak, kemudian aku membawanya kepada Nabi saw. lalu beliau menamakannya Ibrahim, menggosok-gosok langit-langit mulutnya dengan sebuah kurma dan mendo¶akannya dengan keberkahan. Setelah itu beliau menyerahkannya kepadaku´. Hikmah dari tahniq ini ialah untuk menguatkan syaraf-syaraf mulut dan gerakan lisan beserta tenggorokan dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan, sehingga anak siap untuk menghisap air susu ibunya dengan kuat dan alami. Lebih utama kalau tahniq ini dilakukan oleh ulama / orang yang shalih sebagai penghormatan dan pengharapan agar si bayi menjadi orang yang * 3. Mencukur rambut kepala bayi, Memberi nama, dan Aqiqah. µAqiqah shalih pula.

Makna

Secara bahasa µaqiqah berarti memutus. Sedangkan secara istilah Syara¶ aqiqah berarti menyembelih kambing untuk anak pada hari ke tujuh dari hari kelahirannya. Pentingnya Aqiqah

Rasulullah saw. bersabda:³Sesungguhnya anak itu diaqiqahi. Maka tumpahkanlah darah baginya dan jauhkanlah penyakit daripadanya (dengan mencukurnya).´ (Hadits shahih riwayat Bukhari, dari Salman Bin Amar Adh-Dhabi). Rasulullah saw. bersabda : ³Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan (binatang) pada hari ke tujuh dari hari kelahirannya, diberi nama pada hari itu dan dicukur kepalanya´. (Ashhabus-Sunan)."

Aqiqah adalah tanda syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat anak yang diberikan-Nya. Juga sebagai washilah (sarana) memohon kepada Allah SWT. agar menjaga dan memelihara sang bayi. Dari hadits di atas pula ulama menjelaskan

bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi para wali bayi yang mampu, bahkan tetap d ianjurkan, sekalipun wali bayi dalam Hal-hal * 1. Kambing yang akan di sembelih mencapai umur minimal satu tahun dan sehat tanpa * 2. Jika bayi yang dilahirkan laki-laki, dianjurkan untuk menyembelih dua ekor kambing yang sepadan (sama besarnya), sedangkan bayi perempuan disembelihkan satu ekor kambing. Hal ini berdasar atas hadits dari Ummu Karaz al-Ka¶biyah, Rasul saw. bersabda: ³Bagi anak laki-laki (disembelihkan) dua ekor kambing dan bagi anak perempuan (disembelihkan) satu ekor. Dan tidak membahayakan kamu sekalian apakah (sembelihan itu) jantan atau betina´ (H. R. Ahmad dan Tirmidzi). Hal di atas berlaku untuk orang yang dikaruniai rizqi yang cukup oleh Allah SWT.Sedangkan orang yang kemampuannya terbatas, diperbolehkan untuk meng¶aqiqahianak laki-laki maupun anak perempuan dengan satu ekor kambing. Hal ini berdasar atas hadits dari Ibnu µAbbas r.a.: ³Bahwa Rasulullah saw. telah meng¶aqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan satu ekor biri-biri.´ (H.R. Abu Dawud), dan juga riwayat dari Imam Malik: ³Abdullah bin Umar r.a. telah meng¶aqiqahi anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan, satu * 3. Dianjurkan agar µaqiqah itu disembelih atas nama anak yang dilahirkan. Hal ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu al Mundzir dari µAisyah r.a.: Nabi saw. bersabda: ³Sembelihlah atas namanya (anak yang dilahirkan), dan ucapkanlah, µDengan menyebut nama Allah. Ya Allah, bagi-Mu-lah dan kepadaMulah ku persembahkan µaqiqah si Fulan ini.´ Akan tetapi, jika orang yang menyembelih itu telah berniat, meskipun tidak menyebutkan nama anak itu, maka kambing-satu kambing.´ cacat sebagaimana persyaratan untuk hewan qurban. yang Perlu kondisi Diperhatikan dalam sulit. Aqiqah

tujuannya *

sudah

tercapai.

4. Adapun daging aqiqah tersebut selain dimakan oleh keluarga sendiri, juga disedekahkan * 5. Disukai untuk memberi nama anak pada hari ketujuh dengan memilihkannya nama-nama yang baik, lalu mencukur rambutnya, kemudian bersedekah senilai harga emas atau perak yang setimbang dengan berat rambutnya. Dari Ali r.a. berkata: Rasulullah saw. memerintahkan Fatimah dan bersabda : ³Timbanglah rambut Husain dan bersedekahlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan (rambut)nya dan berikanlah kaki kambing kepada kabilah (suku bangsa)´. * 6. Demikianlah tulisan ringkas yang dapat kami sampaikan, semoga anak -anak kita yang lahir kemudian di¶aqiqahi mendapat rahmat, inayah, serta dilindungi Allah SWT. dari godaan syaitan yang terkutuk dan dimudahkan jalannya dalam menempuh Shiraathal Mustaqim. Aamiin. dan dihadiahkan.

Pertanyaan Seputar Nasikah (Aqiqah)
Jawaban Oleh Ustadz Abu Muawiyah Tanya: 1. Bagaimana bentuk syukur Rasulullah Shallallahu µalaihi wa sallam apabila beliau dikaruniai seorang anak? 2. Bagaimanakah hukumnya µaqiqah, adakah kemudahan bagi orang yang tidak mampu? (Sedah Anuraga) SamarindaKaltim Jawab : 1. Adapun cara bersyukur kepada Allah adalah dengan melakukan kewajiban kewajiban syukur itu sendiri, yaitu: Meyakini dengan hati bahwa nikmat itu datangnya dari sisi Allah, memuji Allah dengan lisannya serta menyebut (menyandarkan) bahwa nikmat tersebut dari Allah, dan menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan. Di antara bentuk kesyukuran yang sepantasnya dilakukan oleh setiap orang tua secara umum adalah menyambut kelahiran anaknya dengan cara-cara yang sesuai dengan syari¶at dan menghindari amalan-amalan yang bertentangan dengannya, seperti adzan dan iqomah di telinga bayi, mengubur ariari bayi dengan tata cara tertentu dan selainnya, mengadakan acara kemaksiatan (misalnya musik dan ikhtilath) di tengah acara nasikah, dan selainnya. Di antara cara bersyukur adalah dia memberikan nama-nama yang baik kepada anaknya serta mendidiknya dengan pendidikan Islami yang benar. 2. Sebelum kami menerangkan tentang hukum nasikah, maka terlebih dahulu kami menegaskan bahwa penamaan acara penyembelihan untuk bayi yang baru lahir dengan nama nasikah lebih utama daripada menamakannya dengan nama µaqiqah berdasarkan hadits µAmr bin Syu¶aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah Shollallahu µalaihi wa µala alihi wasallam ditanya tentang µaqiqah maka beliau bersabda :

³Allah tidak menyukai µuquq (asal kata µaqiqah) ±seakan-akan beliau tidak menyukai nama itu-´ (HR. Abu Daud 2842 dan An -Nasa`i (2/188) dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Al-Irwa: 4/392) Adapun hukum nasikah, ada dua pendapat di kalangan para ulama, ada yang mewajibkan dan ada yang menyatakan sunnah. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang mengatakan hukumnya sunnah dengan dalil lanjutan hadits µAmr bin Syu¶aib di atas, Nabi Shollallahu µalaihi wa µala alihi wasallam bersabda :

³Siapa yang ingin mengadakan nasikah untuk anaknya maka hendaklah ia lakukan, untuk anak laki -laki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor´. Sisi pendalilannya adalah: Beliau shallallahu alaihi wasallam mengembalikan masalah nasikah kepada keinginan orang tua sang anak, apakah dia ingin melakukannya ataukah tidak. Seandainya hukumnya wajib, niscaya beliau tidak akan mengembalikannya kepada keinginan seseorang. Setelah kita mengetahui bahwa hukum dari nasikah ini adalah sunnah, maka tentunya ada keringanan bagi orang yang tidak mampu untuk tidak mengerjakannya, oleh karena itu kita tidak boleh mengatakan kepada seorang yang miskin: ³Pergi dan cari pinjaman untuk acara nasikah´. Adapun bila anaknya lahir pada pertengahan bulan sedangkan dia belum mempunyai uang saat itu, akan tetapi dia akan menerima gajinya pada akhir bulan, maka apakah dia harus meminjam uang dan membayarnya pada akhir bulan atau dia menunggu sampai akhir bulan? Syaikh Ibnu µUtsaimin (rahimahullah) menyatakan bahwa yang lebih baik adalah dia menunggu sampai akhir bulan lalu melaksanakan nasikah. (Lihat Syarhul Mumti¶ : 7/536) diambil dari: Al-Atsariyah.com LayananAqiqah.Blogspot.com

Pengertian Dari Aqiqah | Layanan Aqiqah
Berikut pengertian dari aqiqah menurut lughah / bahas dan syarah (Agama): Aqiqah menurut bahasa artinya sembelihan atau pemotongan. Ini arti yang dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal sehingga beliau mengatakan: ´ Aqiqah itu (artinya) tidak lain melainkan sembelihan itu sendiri. ³ Selain itu ada beberapa arti lagi yang diterangkan oleh para ulama di antaranya, ´ Asal arti dari aqiqah itu ialah rambut yang dicukur dari kepala anak yang dilahirkan ´ atau ´ Kambing yang disembelih dan rambut yang dicukur (habis) mmasing-masingnya dinamakan aqiqah. ³ Sedangkan arti aqiqah menurut istilah ialah, ´ Menyembelih kambing untuk anak pada hari ketujuh dari hari kelahirannya.´ Diposkan oleh just ME!! di 14:06

Waktu Pelaksanaan Aqiqah
Dianjurkan melaksanakan aqiqah pada hari ke 7 (tujuh) dari kelahirannya, adapun kalau belum bisa, boleh hari ke 14 (empat belas), 21 (dua puluh satu) atau kapan saja ia mampu. Orang yang mengaqiqahkan anaknya dan ia pandai memotong kambing, disunnahkan untuk menyembelih sendiri sambil membaca: ´ Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, Ya Allah dari -Mu dan untuk-Mu ini adalah Aqiqahnya «««.bin«««. ³ Dan disunnahkan memberi nama anak yang baru dilahirkan dengan nama -nama yang baik ini tentunya sesuai dengan harapan kita agar anak tersebut kelak menjadi anak yang baik karena dalam nama itu terkandung do¶a dan harapan kita. Nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah, Abdur Rahman, dll. Juga dibolehkan memakai nama para Nabi, para Rosul serta nama-nama orang sholeh dan hendaknya kita tidak memberi nama-nama yang buruk.

Jenis Kambing Yang Baik Untuk Aqiqah | Layanan Aqiqah
pertanyaan dari orang-orang yang ingin melaksanakan acara aqiqah perihal jenis kambing yang baik. Berikut informasi jenis kambing, umur dan sifatnya: 1. Jenis kambing µaqiqah boleh kambing laki-laki atau kambing perempuan sama saja berdasarkan sabda Nabi shallallahu µalaihi wa sallam dari jalan Ummu Kurz, ³«..tidak mudharat bagi kamu apakah kambing laki-laki atau kambing perempuan.´ 2. Tentang umurnya mereka mengkiaskan dengan umur kambing dhahaayaa (kambing korban), yaitu: - Untuk kambing domba atau biri-biri cukup satu tahun atau kurang sedikit. - Untuk kambing biasa umurnya cukup dua tahun dan masuk tahun ketiga. 3. Adapun tentang sifatnya mereka pun mengkiaskan dengan dhahaayaa yaitu kambing yang sehat dan bagus bukan kambing yang cacat dan sakit.

³Ritual Syar&#039i Menjelang dan Sesudah Kelahiran Bayi ´ ketegori Muslim. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Ustadz yang saya hormati, sebentar lagi isteri saya melahirkan anak pertama kami. Untuk itu saya mohon petunjuk dari ustadz mengenai ritual/bacaan pada saat menjelang dan sesudah kelahiran bayi yang sesuai syariah Islam. 1. Menjelang kelahiran apa yang harus dilakukan/banyak dibaca calon bapak/ibu? 2. Setelah bayi lahir apa yang harus segera dilakukan bapak/ibunya? 3. Menurut Islam apa yang harus dilakukan dengan ari-ari bayi dan sisa ari-ari yang kemudian lepas dari pusar bayi? 4. Mengenai potong rambut, kapan sebaiknya dilakukan dan siapa yang melakukannya? Apa yang harus dilakukan setelah acara ini? 5. Mengenai akikah, bagaimana pendistribusian daging, tulang dan kulitnya? Sebaiknya dibagikan mentah atau matang? Apakah orang tua dan keluarga bayi berhak mengambil sebagian, kalau ya seberapa banyak? 6. Mengenai nama, benarkah tidak diperbolehkan memakai nama dari asmaul husna tanpa didahului kata abdul? Demikian pertanyaan dari saya, atas jawabanya saya sampaikan terima kasih. Jazakumuloh. Ahmad Mubarok Jawaban Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh Doa Sebagai muslim yang akan dikaruniai anak, sebaiknya memang memperbanyak doa pada permohonan kepada Allah SWT. Tapi mengenai ritual atau seremoninya, tidak ada ketentuan yang baku. Yang penting sering-sering minta kepada-Nya dengan khusuyu¶ dan tadharru¶. Salah satu lafadznya boleh kita iqtbas dari lafadz Al-Quran, seperti yang tertera dalamsurat AL-Furqan ayat 74:

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Masalah Ari-ari Kepercayaan tentang penanganan ari-ari bayi tidak pernah kita dapat keterangannya, baik dari Al-Quran maupun dari Hadits-hadits nabawi. Kepercayaan itu datangnya dari tradisi nenek moyang yang sampai kepada kita tanpa referensi yang pasti. Dan biasanya, ditambahi dengan beragam kepercaaan aneh-aneh yang tidak masuk ke dalam logika, apalagi ke dalam syariah. Dengan demikian, lupakan saja masalah itu, karena tidak ada ketentuannya dalam syariah. Sedangkan ancaman bila tidak dibeginikan atau dibegitukan, akan melahirkan malapetaka dan sebagainya, semua adalah bagian dari kepercayaan yang menyesatkan. Kita diharamkan untuk mempercayainya, bila ingin selamat aqidah kita dari resiko kemusyrikan. Potong Rambut Memotong atau Mencukur rambut bayi merupakan sunah muakkadah, baik untuk bayi laki-laki maupun bayi perempuan yang pelaksanaannya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran dan alangkah lebih baik jika dilaksanakan berbarengan dengan aqiqah. Hal tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Rasulullah SAW bersabda: Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama Dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda: Hilangkan darinya kotoran Ibnu Sirin ketika mengomentari hadis tersebut berkata: Jika yang dimaksud dengan kotoran tersebut adalah bukan mencukur rambut, aku tidak mengetahui apa maksudnya dengan hadis tersebut Mengenai faedah dari mencukur rambut bayi tersebut, Ibnu Al-Qoyyim berkata: Mencukur rambut adalah pelaksanaan perintah Rasulullah SAW untuk menghilangkan kotoran. Dengan hal tersebut kita membuang rambut yang jelek/lemah dengan rambut yang kuat dan lebih bermanfaat bagi kepala dan lebih meringankan untuk si bayi. Dan hal tersebut berguna untuk membuka lubang poripori yang ada di kepala supaya gelombang panas bisa keluar melaluinya dengan mudah di mana hal tersebut sangat bermanfaat untuk menguatkan indera penglihatan, penciuman dan pendengaran si bayi. Kemudian rambut yang telah dipotong tersebut ditimbang dan kita disunahkan untuk bersedekah dengan perak sesuai dengan berat timbangan rambut bayi

tersebut. Ini sesuai dengan perintah Rasulullah SAW kepada puterinya Fatimah RA: Hai Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan rambutnya kepada fakir miskin. Dalam pelaksanaan mencukur rambut, perlu diperhatikan larangan Rasulullah SAW untuk melakukan Al-Qaz¶u, yaitu mencukur sebagian rambut dan membiarkan yang lainnya . Ada sejumlah gaya mencukur rambut yang termasuk Al-Qaz¶u tersebut: 1. Mencukur rambut secara acak di sana-sini tak beraturan. 2. Mencukur rambut bagian tengahnya saja dan membiarkan rambut di sisi kepalanya. 3. Mencukur rambut bagian sisi kepala dan membiarkan bagian tengahnya Mencukur rambut bagian depan dan membiarkan bagian belakan atau sebaliknya. µAqiqah Aqiqah adalah sembelihan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi. Jumhurul ulama menyatakan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkaddah baik bagi bayi laki-laki maupun bayi perempuan. Pelaksanaannya dapat dilakukan pada hari ke tujuh , keempat belas, dua puluh satu atau pada hari-hari yang lainnya yang memungkinkan. Rasulullah SAW bersabda, Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama. Yang lebih utama adalah menyembelih dua ekor kambing yang berdekatan umurnya bagi bayi laki-laki dan seekor kambing bagi bayi perempuan. Dari Ummi Kurz Al-Ka¶biyyah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang berdekatan umurnya dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Daging hasil sembelihan aqiqah tersebut boleh dibagikan kepada siapa saja dan tidak ada pembagian proporsi untuk yang melaksanakannya, sebagaimana halnya hewan qurban. Bahkan dalam aqiqah, orang yang melakukan aqiqah diperbolehkan memakan semuanya. Akan tetapi, sebagaimana sunah Rasulullah SAW, hendaklah daging tersebut dibagikan kepada para tetanga, baikyang miskin maupun kaya, sebagai ungkapan rasa syukur orang yang melaksanakannya, serta mudah -mudahan mereka yang menerima akan tergerak hatinya untuk mendoakan kebaikan bagi anak tersebut. .

Secara ketentuan, daging aqiqah disunnah dibagikan dalam bentuk makanan matang siap santap. Ini berbeda dengan daging hewan qurban yang disunnahkan untuk dibagikan dalam keadaan mentah. Pemberian Nama Nama bagi seseorang sangatlah penting. Ia bukan hanya merupakan identitas pribadi dirinya di dalam sebuah masyarakat, namun juga merupakan cerminan dari karakter seseorang. Rasululloh SAW menegaskan bahwa suatu nama sangatlah identik dengan orang yang diberi nama Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW beliau bersabda, Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya Ibnu Al-Qoyyim berkata, Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Dan jika Anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama maka perhatikanlah hadis di bawah ini: Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya ra., ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya, Siapa namamu? Aku jawab, Hazin. Nabi berkata, Namamu Sahl. Hazn berkata, Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku. Ibnu Al-Musayyib berkata, Orang tersebut senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya. Oleh karena itu, Rasululloh SAW memberikan petunjuk nama apa saja yang sebaiknya diberikan kepada anak-anak kita. Antara lain: Dari Ibnu Umar Ra ia berkata: Rasululloh SAW telah bersabda, Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman Dari Jabir ra. dari Nabi SAW beliau bersabda, Namailah dengan namaku dan jangnlah engkau menggunakan kun-yahku Memakai nama dari asmaul husna tanpa didahului kata abdul memang akan mengacaukan. Sebab asmaul husna itu nama Allah, maka tidak boleh menamakan manusia dengan nama-nama Allah, kecuali dengan menambahkan sebagai hamba Allah dan sejenisnya. Tidak harus lafadz Abdul, yang penting bukan langsung nama Allah. Misalnya, Muhibbullah yang artinya orang yang mencintai Allah. Atau Habiburrahman yang artinya orang yang dicintai Allah Yang Maha Rahman. Wallahu a¶lam bishshawab, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

y

Kambing Aqiqah Sebagai pernyataan gembira atas diberinya kekuatan untuk melaksanakan syariat Islam dan dianugerahinya seorang anak yang muslim yang diharapkan kelak akan mengabdikan dirinya hanya kepada Allah Swt semata. Membiasakan berkurbanKambing Aqiqah bagi orang tua/wali untuk si bayi sejak pertama kali kelahirannya di dunia. Melepaskan penghalang-penghalang pada si bayi dalam memberikan syafaat kepada orang tua mereka kelak. Melindungi dari gangguan setan sehingga setiap anggota tubuh aqiqah berguna untuk menebus seluruh anggota tubuh si bayi(lihat Jual Kambing Aqiqah). Pada waktu memotong aqiqah juga diucapkan apa yang diucapkan pada waktu memotong kurban yaitu Bismillah. Lebih diutamakan memasak Aqiqah dan tidak diberikan dalam keadaan mentah untuk mempermudah para fakir miskin dalam menikmatinya, dan ini lebih terpuji. UmurAqiqah yang disembelih adalah sesuai dengan yang diperintahkan, sehat, dan tidak cacat. Tidak sah bila dilaksanakan secara bersama-sama oleh beberapa orang dengan memotong seekor domba untuk beberapa anak dari mereka, carilah aqiqah di Jual Kambing. Sebaiknya aqiqah itu berupa domba, walau ada juga yang menyembelih seekor unta, sapi, atau kerbau. Diutamakan memotong aqiqah itu atas nama si bayi. Cek disini Jual Kambing Aqiqah. Sabda Rasul Saw : ³Sembelihlah atas namanya´, artinya diniatkan atas nama si bayi dengan mengucapkan : Dengan asma Allah, ya Allah untuk-Mu dan kepada-Mu, ini adalah aqiqah si fulan.´ Penyembelihannya yang baik dilakukan sesudah matahari terbit. Apa yang terpuji pada pemotongan aqiqah adalah sama seperti yang terpuji pada pemotongan kurban., yakni dagingnya disedekahkan. Ynang baik adalah sepertiga dikonsumsi sendiri, sepertiga dihadiahkan, dan sepertiga disedekahkan mintalah jasa bantuan layanan aqiqah yang bisa menJual Kambing aqiqah. Tidak diperkenankan menjual kulit aqiqah atau dijadikan bayaran penyembelihan. Harus disedekahkan atau diambil untuk kepentingan orang yang mengadakan aqiqah. Bagi orang yang mengetahui bahwa oleh orang tuanya belum disembelihkan aqiqah maka dianjurkan untuk mengadakan. Seperti Nabi telah mengadakan aqiqah untuk dirinya setelah diangkat sebagai Rasul. Sebelum dilakukan penyembelihan aqiqah terlebih dahulu dilakukan pencukuran rambut bayi. Kemudian rambutnya ditimbang dengan perak dan nilainya disedekahkan kepada fakir miskin.

y

y

y

y

y

y

y

y

y

y y

y

y

y

y

Syariat i ah Dit li ol h Dewan Asati Bisa kita si lkan bahwa jika seseorang berkemampuan untuk menyembelih 2 ekor kambing bagi 'Aq qah anak laki lakinya, maka sebaiknya ia melakukannya, namun jika ti ak mampu maka 1 ekor kambing untuk 'Aq qahanak laki lakinya juga diperbolehkan dan mendapat pahala. Wall ¢hu A'lam.

Kata 'Aqiqah berasal dari bahasa arab. Secara etimologi, ia berarti 'memutus'. 'Aqqa wi¢lidayhi, artinya jika ia memutus (tali silaturahmi keduanya. Dalam istilah, 'Aqiqah berarti "menyembelih kambing pada hari ketujuh (dari kelahiran seorang bayi sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat Allah swt berupa kelahiran seorang anak". 'Aqiqah merupakan salah satu hal yang disyariatkan dalam agama islam. Dalil dalil yang menyatakan hal ini, di antaranya, adalah Hadits Rasulullah saw, "Setiap anak tertuntut dengan 'Aqiqah-nya'?. Ada Hadits lain yang menyatakan, "Anak laki-laki ('Aqiqah-nya dengan 2 kambing) sedang anak perempuan ('Aqiqah -nya) dengan 1 ekor kambing'?. Status hukum 'Aqiqah adalah sunnah. Hal tersebut sesuai dengan pandangan mayoritas ulama, seperti Imam Syafi'i, Imam Ahmad dan Imam Malik, dengan berdasarkan dalil di atas. Para ulama itu tidak sependapat dengan yang mengatakan wajib, dengan menyatakan bahwa seandainya 'Aqiqah wajib, maka kewajiban tersebut menjadi suatu hal yang sangat diketahui oleh agama. Dan seandainya 'Aqiqah wajib, maka Rasulullah saw juga pasti telah menerangkan akan kewajiban tersebut. Beberapa ulama seperti Imam Hasan Al-Bashri, juga Imam Laits, berpendapat bahwa hukum 'Aqiqah adalah wajib. Pendapat ini berdasarkan atas salah satu Hadits di atas, "Kullu ghuli¢min murtahanun bi 'aqiqatihi'? (setiap anak tertuntut dengan 'Aqiqah-nya), mereka berpendapat bahwa Hadits ini menunjukkan dalil

wajibnya 'Aqiqah dan menafsirkan Hadits ini bahwa seorang anak tertahan syafaatnya bagi orang tuanya hingga ia di-'Aqiqah-i. Ada juga sebagian ulama yang mengingkari disyariatkannya (masyri»'iyyat) 'Aqiqah, tetapi pendapat ini tidak berdasar sama sekali. Dengan demikian, pendapat mayoritas ulama lebih utama untuk diterima karena dalil-dalilnya, bahwa 'Aqiqah adalah sunnah. Bagi seorang ayah yang mampu hendaknya menghidupkan sunnah ini hingga ia mendapat pahala. Dengan syariat ini, ia dapat berpartisipasi dalam menyebarkan rasa cinta di masyarakat dengan mengundang para tetangga dalam walimah 'Aqiqah tersebut. Mengenai kapan 'Aqiqah dilaksanakan, Rasulullah saw bersabda, "Seorang anak tertahan hingga ia di-'Aqiqah-i, (yaitu) yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan diberi nama pada waktu itu'?. Hadits ini menerangkan kepada kita bahwa 'Aqiqah mendapatkan kesunnahan jika disembelih pada hari ketujuh. Sayyidah Aisyah ra dan Imam Ahmad berpendapat bahwa 'Aqiqah bisa disembelih pada hari ketujuh, atau hari keempat belas ataupun hari keduapuluh satu. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa sembelihan 'Aqiqah pada hari ketujuh hanya sekedar sunnah, jika 'Aqiqah disembelih pada hari keempat, atau kedelapan ataupun kesepuluh ataupun sesudahnya maka hal itu dibolehkan. Menurut hemat penulis, jika seorang ayah mampu untuk menyembelih 'Aqiqah pada hari ketujuh, maka sebaiknya ia menyembelihnya pada hari tersebut. Namun, jika ia tidak mampu pada hari tersebut, maka boleh baginya untuk menyembelihnya pada waktu kapan saja. 'Aqiqah anak laki-laki berbeda dengan 'Aqiqah anak perempuan. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, sesuai Hadits yang telah kami sampaikan di atas. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa 'Aqiqah anak laki-laki sama dengan 'Aqiqah anak perempuan, yaitu sama-sama 1 ekor kambing. Pendapat ini berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah saw meng 'Aqiqah- i Sayyidina Hasan dengan 1 ekor kambing, dan Sayyidina Husein '³keduanya adalah cucu beliau saw'´ dengan 1 ekor kambing.

*** Bisa kita simpulkan bahwa jika seseorang berkemampuan untuk menyembelih 2 ekor kambing bagi 'Aqiqah anak laki-lakinya, maka sebaiknya ia melakukannya, namun jika tidak mampu maka 1 ekor kambing untuk 'Aqiqah anak laki-lakinya juga diperbolehkan dan mendapat pahala. Wallahu A'lam. Mungkin akan timbul pertanyaan, mengapa agama Islam membedakan antara 'Aqiqah anak laki-laki dan anak perempuan, maka bisa kita jawab, bahwa seorang muslim, ia berserah diri sepenuhnya pada perintah Allah swt, meskipun ia tidak tahu hikmah akan perintah tersebut, karena akal manusia terbatas. Barangkali juga kita bisa mengambil hikmahnya yaitu untuk memperlihatkan kelebihan seorang laki-laki dari segi kekuatan jasmani, juga dari segi kepemimpinannya (qawwamah) dalam suatu rumah tangga. Wallahu A'lam. Dalam penyembelihan 'Aqiqah, banyak hal yang perlu diperhatikan, di antaranya, sebaiknya tidak mematahkan tulang dari sembelihan 'Aqiqah tersebut, dengan hikmah tafa'Œul (berharap) akan keselamatan tubuh dan anggota badan anak tersebut. 'Aqiqah sah jika memenuhi syarat seperti syarat hewan Qurban, yaitu tidak cacat dan memasuki usia yang telah disyaratkan oleh agama Islam. Seperti dalam definisi tersebut di atas, bahwa 'Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ketujuh semenjak kelahiran seorang anak, sebagai rasa syukur kepada Allah. Tetapi boleh juga mengganti kambing dengan unta ataupun sapi dengan syarat unta atau sapi tersebut hanya untuk satu anak saja, tidak seperti kurban yang mana dibolehkan untuk 7 orang. Tetapi, sebagian ulama berpendapat bahwa 'Aqiqah hanya boleh dengan menggunakan kambing saja, sesuai dalil-dalil yang datang dari Rasulullah saw. Wallahu A'lam. Ada perbedaan lain antara 'Aqiqah dengan Qurban, kalau daging Qurban dibagi bagikan dalam keadaan mentah, sedangkan 'Aqiqah dibagi bagikan dalam keadaan matang. Kita dapat mengambil hikmah syariat 'Aqiqah. Yakni, dengan 'Aqiqah, timbullah rasa kasih sayang di masyarakat karena mereka berkumpul

dalam satu walimah sebagai tanda rasa syukur kepada Allah swt. Dengan 'Aqiqah pula, berarti bebaslah tali belenggu yang menghalangi seorang anak untuk memberikan syafaat pada orang tuanya. Dan lebih dari itu semua, bahwasanya 'Aqiqah adalah menjalankan syiar Islam. Wallahu A'lam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->