P. 1
Dewan Revolusi Islam

Dewan Revolusi Islam

|Views: 645|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Apr 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2011

pdf

text

original

Dewan Revolusi Islam

Monday, 28 March 2011 11:00 |

KH. M. Al Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Khaththath

Written by Shodiq Ramadhan |

Berita “investigasi” yang dilansir Al Jazeera tentang isu kudeta para Jenderal pensiunan yang dikaitkan dengan Dewan Revolusi Islam (DRI) sempat menggegerkan media massa Jakarta beberapa hari pada minggu lalu. Berbagai tanggapan pro kontra tentang DRI diberikan berbagai pihak. Isu tersebut telah memetakan siapa dalam posisi apa. Para pejabat yang sudah mapan umumnya menolak DRI, mulai dari yang menganggapnya lucu hingga yang menilai sebagai makar. Ada juga pihak yang menuduh bahwa DRI mainan pemerintah untuk menjegal “revolusi” yang akan dilakukan oleh pihak lain. Walau sejumlah kelompok anti Islam mendorong agar pemerintah mengambil tindakan kepada kelompok DRI, namun istana merasa tidak terusik dengan isu DRI dan mendapatkan laporan intelijen bahwa DRI tidak eksis. Sehingga wajar kalau ada tuduhan bahwa yang merekayasa DRI adalah pihak istana sendiri untuk memperbaiki image SBY. Isu DRI bermula dari wawancara Al Jazeera di Kantor FUI yang coba merangkai isu kudeta para jenderal dengan aktivitas pembubaran Ahmadiyah yang dipelopori oleh FUI yang sempat menghasilkan kosakata revolusi menanggapi pernyataan SBY yang hendak bubarkan ormas. Namun Al Jazeera tidak berhasil mengorek-ngorek dari saya siapa jenderal-jenderal yang pernah saya sebut di TV dongkol pada SBY. Akhirnya Stephanie, wartawan Al Jazeera tersebut, mengeluarkan print out daftar Kabinet Dewan Revolusi Islam (DRI) dari internet yang mencantumkan Jenderal Tyasno Sudarto sebagai Menkopolkam. Tentu saja saya senyum-senyum dan mengatakan kepadanya, itu daftar yang saya buat tahun lalu untuk perang sms dengan pihak lain yang juga mengeluarkan daftar kabinet dalam rangka mengantisipasi kevakuman pemerintahan pasca pansus Century. Tapi Step tampaknya terus berilusi dan Al Jazeera me-launching daftar DRI tersebut. Indonesia pun geger!. Wajarlah kalau banyak nama-nama yang dicantumkan di dalam daftar kabinet DRI terkaget-kaget tidak siap dengan pertanyaan-pertanyaan konfirmasi para wartawan. Meski, daftar tersebut tahun lalu sudah saya kirim kepada nama-nama yang tercantum untuk keperluan internal. Salah seorang yang disebut anggota DRI mengaku kepada media pernah menerima sms tersebut tahun lalu. Saya sendiri juga sudah lupa akan DRI karena pasca Pansus Century waktu itu tidak terjadi kevakuman politik. Jelaslah bahwa DRI tidak ada kaitannya dengan isu kudeta para jenderal. Sebab DRI tidak untuk kudeta, tapi untuk antisipasi vakum politik. Bahwasanya ada nama Jenderal Tyasno hanya untuk pemantes saja. Saya sempat ditanya seorang aktivis Islam, kenapa Tyasno masuk DRI?. “Bukankah dia sosialis dan anti Islam?.” Hemm… Waktu memasukkan nama Tyasno dalam daftar DRI saya khusnudzon saja karena beliau

pernah tampil dan diberi topi pet berlambang Laailahaillallah Muhamadur Rasulullah di Bunderan HI dalam sebuah aksi ormas Islam. Bahwasanya setelah isu DRI yang heboh Tyasno mengelak dan menolak untuk terlibat dalam DRI, ya saya maklum saja. Sebab, perlu pembinaan Islam intensif dan komprehensif buat para Jenderal untuk bisa menerima Islam dalam formalitas negara. Saya punya pengalaman hadir dalam sebuah diskusi di TIM beberapa waktu lalu membahas isu penanganan korupsi oleh rezim SBY dengan pembicara salah seorang jenderal yang dikenal dekat dengan mendiang Gus Dur. Diskusi tersebut mengkritik habis penanganan korupsi oleh rezim SBY dan sempat menyebut-nyebut sudah menyiapkan cabinet untuk melengserkan SBY. Namun setelah saya tawarkan revolusi Islam untuk membereskan korupsi dengan cara yang seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, ternyata sang jenderal mengatakan tidak siap revolusi. Jelas jenderal tersebut dan kawan-kawan revolusionernya menolak revolusi Islam yang saya paparkan. Oleh karena itu, kalau ada yang mengatakan jenderal-jenderal menunggangi FUI untuk mengkudeta SBY, saya tertawa geli aja. Adapun DRI sebenarnya suatu terobosan buat bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini untuk menembus berbagai kebuntuan atas berbagai kasus korupsi, hukum, dan politik yang ada selama ini. Di samping komposisinya yang meliputi seluruh ormas yang terbesar di negeri ini, juga ditambah para ahli politik dan hukum serta ekonomi yang terkemuka di negeri ini yang memiliki kredibilitas. Komposisi itulah yang selama ini ditunggu-tunggu rakyat. DRI harus menyusun kebijakan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan masing-masing individu rakyat dengan membuka kesempatan kerja seluas-luasnya. Juga membuat kebijakan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan kolektif rakyat dalam pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara gratis berdasarkan Al Quran dan As Sunnah yang diwariskan ilmunya oleh Nabi Muhammad Saw kepada para ulama. Dan implementasi DRI ini akan menjadi persiapan menyambut datangnya Khilafah A'la Minhajin Nubuwwah sesuai kabar dari Rasulullah saw. Dengan demikian, jika kita berfikir positif, maka keberadaan DRI sangat urgen untuk memajukan bangsa ini dan memerdekakannya dari segenap belenggu imperialism modern!. Wallahua’lam!.

• • •

Add New Search RSS

Comments (4)

|2011-03-29 13:25:53 Anonymous

amiin ya allah...
o

0

o

0

Quote

|2011-04-02 09:02:44 adi - kembali pada jalan Rasul SAW

kalo memang pengin khilafah, tentu harus sesuai dg teladan Rasul SAW....apa bener cara diatas sudah sesuai dg Beliau tuntunkan ???!!!!
o o

0 0

Quote

|2011-04-05 20:46:42 wahyu

Islam adl jalan! tidak yg laen lagi.
o o

0 0

Quote

|2011-04-05 23:16:31 taqiyuddin al batawy - DRI sesuai sunnah rasul

DRI menempatkan para ulama yang wara dalam dewan Fuqoha untuk menuntun pemerintahan Indonesia agar sesuai dengan ilmu syariat Islam dalam bidang pemerintahan sesuai sunnah Rasulullah. Jadi itu sesuai dengan sunnah Rasul. Kenapa masih ada yg mempertanyakan? Apakah meragukanilmu para ulama dalam Dewan

Fuqoha DRI. Jangan2 anda yg mempertanyakan itu ga tahu sunnah Rasul? Atau anda sekuler anti sunnah rasul? atau anda itu seprti orang2 yg suka membid'ahkan para ulama? Jangan karena Habib Rizieq yang ditempatkan sebagai kepala negara, bukan ustadz anda lalu anda cemburu dan menyoal kesesuaian DRI dengan sunnah Rasul. Percayalah itu sudah sesuai dengan sunnah. Insyaallah DRI siap mengantar bangsa Indonesia utk mencapai khilafah ala minhajin nubuwwah sesuai sunnah Rasul. wallahua'lam

Pelajaran Telak Bocoran WikiLeaks
Saturday, 02 April 2011 17:50 |

HM Pemimpin Aru Redaksi Syeiff Tabloid Assadullah Suara Islam

Written by Shodiq Ramadhan |

Laporan ini tidak lagi akan membahas bocoran WikiLeaks berupa kawat-kawat diplomatik yang dikirim Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dari 2004 sampai dengan 2010 ke Washington. Laporan diplomatik itu amat menggemparkan sejak dua koran Australia : The Age dan The Sydney Morning Herald, pada 11 Maret 2011 memuat bocoran WikiLeaks itu. Berita dua suratkabar itu dianggap sampah dan tidak akan ditanggapi apalagi digugat oleh Istana yang dinyatakan sejumlah pembantu dan juru bicara SBY. Namun surat kabar Australia itu kembali menanggapi bahwa berita-berita mereka bukanlah berita sampah, karena mempunyai sumber yang sangat valid. Dua suratkabar Australia itu niscaya benar, bahwa berita yang mereka muat bersumber dari kawat diplomatik Kedubes AS di Jakarta itu bukanlah berita sampah. Nilai laporan Kedubes AS tidak bisa dianggap main-main. Satu informasi yang telah diputuskan dikirim melalui sarana baku yang mereka miliki, niscaya dianggap suatu informasi penting. Pihak Kedubes AS pun menanggapi heboh berita dua suratkabar Australia itu, tidak pernah membantah bahwa berita itu tidak benar apalagi menyebut sebagai sampah. Tampak benar di balik sikap SBY yang serba “mengalah” bahkan tergesa-gesa menyatakan tidak akan menuntut dua suratkabar itu berkesan SBY “ketakutan: jika masalah ini diperpanjang malah akan membongkar lebih jauh di balik dokumen WikiLeaks itu. Apalagi dipastikan dokument WikiLeaks masih menyimpan kawat-kawat diplomatik Kedubes AS ke Washington tak kurang 3200 dokumen lagi. Baru membaca skandal yang telah dimuat dua suratkabar Australia itu saja, sungguh mengerikan. Nama-nama terpenting tokoh di negeri ini begitu kelam dan nista tingkah lakunya, mulai Presiden SBY, Ibu Negara Ani Yudhoyono, Ketua MPR Taufiq Kiemas, Wakil Presiden Yusuf Kalla, Kepala BIN Syamsir Siregar mengawasi menteri Menkumham dan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra, pengusaha Cina Tomy Winata menyuap keluarga Cikeas, hingga Jendral (Pur) Wiranto dan seterusnya (Lebih jelas baca SI edisi lalu di rubrik Khatimah dan Kolom). Pers Indonesia tampak ayal-ayalan menindak-lanjuti berita besar ini. Yang sangat aneh niscaya dua orang tokoh yang disebut-sebut dua suratkabar Australia sebagai narasumber Kedubes AS yakni TB Silalahi yang notabene adalah penasihat utama presiden SBY sendiri dan Ketua DPR (waktu itu) Agung Laksono yang justru kini menjadi Menko Kesra Kabinet Indonesia Bersatu ke-II. Dua tokoh inilah yang sepanjang 2004 hingga 2010 diam-diam “main-mata” dengan Kedubes AS, bahkan menjadi mata-mata dan spion bagi kepentingan AS. Tak bisa diingkari kedua tokoh itu : TB.Silalahi, dan Agung Laksono telah berperan ganda. Di satu sisi dia menjadi penasihat utama SBY namun diam-diam (entah melalui forum jamuan makan atau pesta kebun atau pertemuan resmi di kantor) selama bertahun-tahun memberikan

informasi yang amat jelek bahkan amat nista dan sangat melanggar hukum yang telah dilakukan oleh Presiden RI SBY. Terbayang peristiwa itu terjadi, malam hari informasi sampah itu diberikan di jamuan makan malam bersama, dan keesokan harinya yang bersangkutan menghadap SBY di Istana Negara dengan takzim dan memuji-muji presiden. Padahal malam harinya ia menistanya. Sungguh pengkhianatan yang tak terkira. Anehnya, dua tokoh yang justru menjadi kunci geger WikiLeaks ini tak pernah disinggung-singgung pers Indonesia lebih lanjut. Begitu halnya pihak Istana tidak pernah terdengar beritanya mempermasalahkan dua tokoh yang justru menjadi sumber masalah ini. Sungguh aneh , apa pasalnya ? Konspirasi Minoritas?

Memang aneh TB Silalahi dibiarkan begitu saja telah bertindak amat jauh sebagai “spionase AS” dan mendiskreditkan sejumlah tokoh-tokoh puncak NKRI. Begitu halnya pers cetak dan elektronik negeri ini tidak ada yang tertarik membongkar lebih jauh kasus inti keterlibatan TB Silalahi. Padahal pihak Kedubes AS sendiri telah mengangkat informasi itu ke derajad info yang sangat penting sebagai kawat diplomatik resmi. Artinya berita itu dipercaya pihak AS. Bagi sementara kalangan terbatas umat Islam, kasus TB Silalahi ini bukanlah hal yang eneh. Selalu begitu yang terjadi. Manakala di negeri ini, terjadi suatu peristiwa menyangkut ihwal kepentingan golongan minoritas (apalagi keselamatan para tokohnya) maka lobby golongan minoritas segera mengamankan dengan segala cara. Apakah cara ini yang telah menyelamatkan TB Silalahi dari kesalahan fatal itu? Sikap pers nasional yang memang dikuasai golongan minoritas sulit dibantah akan selalu menutupi-nutupi kasus yang merugikan golongan minoritas. Inilah jawaban mereka tidak mau mem-blow-up keterlibatan TB Silalahi juga Agung Laksono yang dikenal mempunyai istri Nasrani Perhatikan sebaliknya jika kasus itu menyangkut kepentingan aspirasi Islam, maka pers nasional akan membesar-besarkan dan memutar-balikkan fakta dan menyesatkan pembentukan opini di tengah masyarakat. Contoh paling mutakhir adalah kasus Gereja Cikeuting Bekasi, Ahmadiyah, terorisme dan bom-bom buku. Secara tendensius kasus-kasus seperti itu dijadikan stigma bahwa orang-orang Islam adalah pelaku tindak kekerasan, intoleran, tidak menghormati kebebasan beragama. Sejumlah Ormas Islam yang berusaha menjaga kesucian agamanya seperti FPI dan FUI dituduh sebagai kelompok radikal yang gemar mengintimidasi golongan minoritas. Padahal jika dikaji secara mendalam kasus-kasus Kristenisasi, seperti Cikeuting Bekasi, dan Penodaan agama oleh golongan Ahmadiyah jelas bahkan mutlak hal itu merupakan kasus Kristenisasi dan penodaan Islam. Tapi opini di tengah masyarakat di balik-balik. Cerita dan Lagu Lama

Agresifitas golongan minoritas yang justru menindas golongan mayoritas (tirani minoritas) sejatinya tercatat berlaku di NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sejak 1970-an. Pemerintahan presiden Soeharto kala itu amat “memanjakan” golongan minoritas Nasrani. Kendati berjumlah hanya 7% saja kala itu, namun berbagai pos negara terpenting justru dikuasai tokoh golongan minoritas. Perhatikan menteri perekonomian, Gubernur BI, hingga Kepala Bappenas di zaman orde baru selalu dikuasai orang-orang Nasrani, seperti Sumarlin, Radius Prawiro, Sudradjad Djiwandono,Adrianus Moy, sementara jabatan penting seperti Pangkopkamtib dan Panglima ABRI berturutan justru dikuasai orang-orang Nasrani seperti Mareden Panggabean, Sudomo, hingga Benny Moerdani. Aspirasi Islam belasan tahun di zaman orde baru terlunta-lunta. Orang Islam dituduh tidak mempunyai Wawasan Kebangsaan, Intoleran kepada minoritas, tidak mau ikut upacara Hormat Bendera dll. Karena itu para mubaligh kala itu pun diwajibkan memiliki SIM (Surat Ijin Mubaligh) yang dikeluarkan instansi dan aparat keamanan. Cerita paling monumental terjadi pada Januari 1974 tatkala terjadi Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari), seluruh pers nasional dibreidel termasuk milik kelompok Islam, seperti Abadi (Masyumi-Bulan Bintang), Duta Masyarakat (NU), dan serenceng koran lainnya, seperti Indonesia Raya,Harian Kammi, Pedoman, Kompas dan Sinar Harapan. Sungguh aneh semua pers yang dibreidel ini tidak lagi diijinkan terbit oleh Pangkopkamtib yang baru Laksamana Sudomo dan ijin terbit hanya diberikan kepada Kompas dan Sinar Harapan, milik orang Katolik dan Protestan. Kejaadian ini menjadi sejarah karena dua koran milik Nasrani itu karena memonopoli pembaca di seluruh Indonesia sehingga menjadikan dua pers milik Nasrani itu menjadi kekuatan pers raksasa di Indonesia. Sebaliknya pers lain, khususnya pers Islam terpuruk hingga hari ini.

Rakyat Indonesia sejatinya harus membaca dengan jeli di balik kasus WikiLeaks ini tak lain penghancuran NKRI dari balik tubuh sendiri. Inilah bentuk pengkhianatan yang luar biasa. Seharusnya SBY menindak secara tegas dan mengumumkan tindakannya itu di tengah masyarakat. Tapi sampai laporan ini dibuat SBY tidak sekali pun mempermasalahkan TB.Silalahi dan Agung Laksono. Tampak jelas jika masalah menyangkut golongan minoritas, niscaya ditutup-tutupi. Dibiarkan masyarakat dengan pengembangan opini, seolah-olah info dari WikiLeaks adalah sampah. Tapi masyarakat luas tahu bersama informasi WikiLeaks justru dipercaya lembaga terpenting di seluruh dunia. WikiLeaks sekadar mengunduh dari kawatkawat diplomatik negara superpower yang niscaya sangat akurat dan otentik dan sangat dipercaya. Wallahu a'lam bissawab!

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2011-04-03 16:02:42 abiya

Ya, itulah HAKIKAT keadaan yang ada di negeri kita. Sekelompok minoritas, memiliki akses besar terhadap: kekuasaan, dana, dan media. Mereka serasa hidup dalam "jannah", karena banyaknya fasilitas yang dimiliki. Karena itu pula, mereka tiada henti menyakiti gerakan Islam dan Ummat. Tapi sejujurnya, hidup mereka sendiri MENYEDIHKAN. Hanya saja kita tidak tahu terlalu dalam. Hal2 menyedihkan itu lagi2 sengaja disembunyikan. Namanya juga orang zhalim, mana ada yang hidup bahagia? Mereka dilukiskan dalam Al Qur'an "seperti binatang ternak". Apa tidak cukup perumpamaan ini untuk menggambarkan kedegilan hidup mereka? Pasti sangat cukup. Bersabarlah. Kaum zhalim tak akan menang, selamanya.

Informan Bernama Agung Laksono dan T.B. Silalahi
Tuesday, 29 March 2011 10:08 | Written by Shodiq Ramadhan |


Kedua pejabat Indonesia itu menurut laporan Kedubes Amerika Serikat adalah informannya. Tapi mengapa kasus spionase yang membahayakan keamanan negara ini tak diadili? Pelan-pelan kegaduhan itu berhenti. Sekarang, tak ada lagi anggota masyarakat yang membicarakan pemberitaan koran Australia, The Age dan Sydney Morning Herald yang menuduh Presiden SBY korupsi dan menyalahgunakan wewenang, dan Ibu Ani Yudhoyono memanfaatkan kekuasaan suaminya untuk melakukan spekulasi bisnis yang menghasilkan uang. Tak ada lagi pembicaraan di tengah masyakarat yang melibatkan pengusaha besar dari group Arta Graha, Tommy Winata, yang konon memberikan uang kepada Presiden SBY melalui penasehat dan orang dekatnya Mayor Jenderal (Pur) T.B. Silalahi. Atau tentang Ketua MPR dan tokoh PDIP Taufik Kiemas yang pada 2004 disebutkan diperiksa dan diusut Kejaksaan Agung karena terlibat korupsi sejumlah proyek ketika istrinya, Megawati Soekarno menjadi Presiden. Malah Taufik sudah akan ditangkap pada saat itu. Tapi kemudian Presiden SBY sendiri turun tangan, tulis koran The Age edisi 11 Maret 2011, memerintahkan Hendarman Soepandji, pejabat di Kejaksaan Agung untuk menghentikan pengusutan. Institusi yang mengurusi pemberantasan korupsi seperti Kejaksaan Agung atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun diam saja. Kedua lembaga itu tak mengusut informasi yang dibongkar The Age dan Sydney Morning Herald. KPK membuat dalih bahwa apa yang ditulis koran tadi belum memadai untuk diusut. Sikap kooperatif KPK kepada Presiden SBY memang bukan baru. Sejak terjadi kasus Ketua KPK Antasari Azhar, yang tiba-tiba dituduh sebagai pembunuh dan divonis 18 tahun penjara, KPK memang jadi letoi terhadap Presiden SBY. KPK sekarang hanya galak kepada para pensiunan. Dalam kasus korupsi yang datanya bersumber dari laporan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta yang kemudian dibobol situs pembocor Wikileaks, menurut The Age edisi 16 Maret 2011, sikap KPK itu didukung ICW (Indonesian Corruption Watch). Bagi ICW, seperti diungkapkan salah seorang pengurusnya, Emerson Yuntho, ICW tak akan mengusut kasus itu karena ada kesalahan fakta pada kabel laporan Kedubes Amerika Serikat. Yang dimaksudnya adalah tentang jabatan Hendarman Supandji yang oleh satu satu kabel disebutkan sebagai Asisten Jaksa Agung. Padahal pada 2004 itu, Hendarman belum memegang jabatan itu. Jadi hanya karena sebuah kabel tak akurat menyebut jabatan Hendarman, maka laporan semua kabel dianggap omong kosong oleh ICW. Luar biasa ICW dalam membela Presiden SBY dan keluarganya. Untuk diketahui saja, isu korupsi yang dituduhkan koran The Age dan Sydney Morning Herald berasal dari kawat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta kepada Departemen Luar Negeri di Washington setiap hari dari tahun 2004 sampai 2010. Jadi tuduhan itu bersumber dari bocoran isi banyak sekali kabel/kawat laporan oleh para pejabat Kedutaan Besar Amerika Serikat yang kemudian dibocorkan Wikileaks dan disimpulkan surat kabar The Age dan Sydney Morning Herald. ICW selama ini suka berkoar-koar sebagai badan independen anti-korupsi. Walau pun sebenarnya sampai sekarang, sebagai gerakan anti-korupsi ICW lebih banyak tampil di koran dan TV. Aksinya yang konkret di tengah masyarakat nyaris tak diketahui.

Presiden SBY sendiri semula amat terpukul oleh berita dua koran Australia itu. Ia sempat mengurung diri di Istana dan tak ikut Shalat Jumat. Istrinya, Nyonya Kristiani Herawati menangis. Tak hanya itu. Menurut The Age 15 Maret 2011, pada hari Jumat itu menurut rencana Presiden Barack Obama akan melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden SBY mengenai KTT Asia Timur. Nyatanya pembicaraan itu tak terjadi. SILALAHI BERHASIL MENYUSUP KE ISTANA

Tapi meski meski pukulan begitu berat, ternyata Presiden SBY dan istrinya cuma membantah berita itu. Keduanya mengaku telah difitnah. Tapi anehnya keduanya tak mau menuntut penghinaan dan fitnah itu melalui jalur hukum di pengadilan. Dengan membawa kasus itu ke pengadilan, sebenarnya akan terbuka secara transparan apakah berita itu benar atau bohong. Kalau memang yakin dirinya benar, sebenarnya sebaiknya klarifikasi Presiden dilakukan lewat pengadilan. Apalagi kedua koran itu mau pun para pejabat Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, sama sekali belum pernah membantah substansi berita/kawat itu. Apalagi dulu Presiden SBY sempat berkoar-koar akan menyelesaikan penghinaan dan fitnah terhadap dirinya melalui proses pengadilan. Oleh karena itulah Presiden SBY dan istrinya datang sendiri ke kantor Polda Metro Jaya pada hari Minggu untuk mengadukan bekas Wakil Ketua DPR Zaenal Maarif. Ketika itu Zaenal menuduh, sebelum menikahi Ibu Ani Yudhoyono, SBY sudah pernah menikah dan memiliki anak. Dalam kasus kabel Kedubes Amerika Serikat ini sebenarnya yang harus diklarifikasi bukan hanya kasus korupsi dan penyalanggunaan wewenang Presiden SBY dan Nyonya Ani Yudhoyono. Tapi juga menyangkut kasus spionase yang melibatkan dua orang dekat SBY yaitu T.B. Silalahi dan Agung Laksono. T.B. Silalahi diketahui sebagai penasehat SBY, sedang Agung Laksono, tokoh Golkar yang dikenal paling dekat dengan SBY, dan kini menjabat Menko Kesra. Dari laporan kawat itu diketahui bahwa T.B.Silalahi adalah seorang informan politik Kedubes Amerika Serikat yang paling berharga. Adalah Silalahi yang melapor ke Kedubes tentang kasus penghentian perkara Taufik Kiemas pada tahun 2004 oleh campur-tangan Presiden SBY. Silalahi juga yang melaporkan peran Nyonya Ani Yudhoyono yang begitu besar, termasuk dalam menggunakan kekuasaan suaminya untuk mencari keuntungan bisnis. Kalau semua ini benar berarti Silalahi berhasil menyelusup ke Istana sebagai orang dekat Presiden, padahal sebenarnya dia adalah imforman Kedutaan Besar Amerika Serikat yang amat dipercaya. Hal yang sama terjadi pada Agung Laksono. Sebagai orang dekat SBY, dialah yang melaporkan ke Kedubes bahwa T.B.Silalahi adalah penghubung antara Presiden SBY dengan pengusaha Tomy Winata dalam urusan pemberian dana. Penghubung SBY yang lain disebut Muhamad Lufti, bekas Kepala BKPM yang kini menjadi Dubes Indonesia di Tokyo. Laporan kedua tokoh dan pejabat pemerintah kepada sebuah Kedutaan Besar asing jelas adalah perbuatan spionase yang membayakan keselamatan negara. Maka kasus ini sebenarnya lebih berbahaya dari tuduhan korupsi dan penyalanggunaan wewenang kepada Presiden SBY mau pun istrinya. Apalagi mungkin banyak laporan lain yang disampaikan keduanya kepada Kedutaan Besar tapi belum terungkap kepada masyarakat. T.B. Silalahi yang bekas perwira tinggi militer itu dan Agung Laksono, politisi Golkar yang bekas Ketua DPR dan kini menjabat menteri, harus diadili untuk perbuatan mereka menjadi informan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Kalau terbukti itu adalah sebuah skandal spionase yang harus dihukum sekali pun Indonesia memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Amerika Serikat. Sekadar contoh bisa dilihat kasus yang melibatkan Lawrence Franklin, staf Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Januari 2006, Franklin dihukum 12 tahun lebih untuk kesalahannya memberikan dokumen kepada Steve Rosen dan Keith Weissman dari American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), lembaga yang dikelola warga Amerika keturunan Israel di Washington, dan dikenal sebagai lobi Yahudi paling utama di Amerika Serikat. Dari sana diduga informasi itu mengalir kepada Naor Gilon, Kepala Bidang Politik Kedubes Israel di Washington. Memang belakangan pengadilan yang lebih tinggi memperingan hukuman Franklin.

Informasi yang diberikan Franklin menyangkut berbagai langkah dan kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran dalam kaitan dengan pembangunan reaktor nuklir oleh Teheran. Bila diingat Amerika Serikat dan Israel adalah dua negara yang amat dekat hubungannya, dan Iran adalah musuh kedua negara, mestinya FBI tak perlu bersusah-payah menguntit Franklin. Tapi ternyata kasus ini tetap dianggap kejahatan dan dibawa FBI ke pengadilan. Yang hendak dikatakan: bahwa kasus spionase T.B.Silalahi dan Agung Laksono, pejabat resmi Indonesia yang menjadi informan Kedutaan Besar Amerika Serikat, harus dibawa ke pengadilan. Biarlah pengadilan kelak yang menentukan keduanya bersalah atau tidak, sebagaimana kasus Lawrence Franklin di Amerika Serikat. Amran (Staf Nasution Islam)

Ahli

Tabloid

Suara

• • •

Add New Search RSS

Comments (3)

|2011-03-31 12:43:12 amin

masya alloh ........
o o

0 0

Quote

|2011-04-02 11:27:26 IMAM BUKHORI - INILAH INDONE-SIAL-KOE

yang namanya MATA²...? berarti PENGKHIANAT, yang namanya "Pengkhianat" apalgi menyangkut "MARTABAT NEGARA", jadi hukumannya 'HARUS DIAKHIRI

NAFASNYA" Tentunya dengan nama "ALLAH", karena Dia-lah yang lebih berhak, jadi, dalilnya.. baru EKSEKUSI Pengkhianat kayak begitu. Jangan malah Islam lagi, Islam lagi yang dicari-cari kesalahannya. Sedangkan yang sudah jelas kesalahnnya....??! Ya Allah, Dhalamnaa anfusana.. wa inlam taghfirlana...
o o

0 0

Quote

|2011-04-02 16:16:43 pejuang kebenaran

sebenarnya orang2 yg berkhianat kpd bangsa dan negara Indonesia itu adalah orang2 yg mengaku demokrasi mereka berada di parlemen(pusat & daerah), pemerintahan (pusat & daerah), lembaga tinggi negara (polri, jaksa, ma dll), berada di parpol dll BUKAN umat ISLAM tapi liat aja aparat penegak hukum TIDAK berani menangkap si tb silalahi dan agung laksono malah menangkap MUJAHIDEEN, ulama, aktivis ISLAM

Teror Bom Buku Hasil Operasi Intelijen
Saturday, 02 April 2011 16:59 |

Kol. (Purn) H.Y. Herman Pengamat Politik, Militer dan Ibrahim Intelijen

Written by Shodiq Ramadhan |

Bermula dari kawat diplomatik rahasia Kedubes AS di Jakarta untuk Kementerian Luar Negeri AS di Washington DC yang dibocorkan WikiLeaks dan dimuat sebagai headline oleh dua koran terkemuka Australia, The Age dan The Sydney Morning Herald, edisi Jum’at (11/3). Menurut pengakuan WikiLeaks, Kedubes AS di Jakarta memperoleh kabar sensitif dari lingkaran elite Istana karena diberitahu mantan anggota Wantimpres TB Silalahi dan Menko Kesra Agung Laksono yang waktu itu menjadi petinggi Golkar.

Dalam kawat diplomatik rahasia itu disebutkan Presiden SBY telah menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power), di mana SBY secara pribadi telah campur tangan untuk mempengaruhi Jaksa dan Hakim demi melindungi para tokoh politik korup dan menekan musuh-musuh politiknya. Presiden SBY juga disebut telah mempergunakan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk memata-matai Mensesneg Yusril Ihza Mahendra yang dianggap sebagai lawan politiknya paling potensial. Semua gerak gerik Yusril Ihza Mahendra terus diamati aparat BIN untuk dilaporkan ke SBY termasuk ketika berkunjung ke Singapura. Selain itu juga diungkapkan Ibu Negara Ani Yudhoyono dan keluarganya telah bertindak sebagai makelar (broker) untuk mendapatkan imbalan persenan fulus dalam setiap proyek pembangunan, demi memperkaya diri sendiri dan keluarga besarnya serta koneksi politiknya. Akibat berbagai laporan tersebut, Presiden SBY seharian sempat ngumpet di Istana sampai tidak menjalankan Sholat Jum’at di Masjid Baiturrahim Istana Negara, sementara Ibu Ani Yudhoyono terus menerus menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya sebagai Ibu Negara. Demi untuk menutupi kasus WikiLeaks agar dilupakan masyarakat dan tidak menjadi pemberitaan media cetak maupun elektronik yang dikhawatirkan akan menjurus pada gerakan impeachment dari DPR, maka digelarlah operasi intelijen. Operasi Intelijen dilakukan dengan mengirimkan bom buku dan bom paket yang ditujukan kepada para tokoh yang selama ini menjadi musuh umat Islam seperti ‘dedengkot’ JIL, Ulil Absar Abdalla dan mantan Komandan Densus 88, Komjen (Pol) Gories Mere. Selain itu bom juga dikirimkan kepada tokoh yang memiliki massa yang sekiranya bisa diadudomba dengan massa ormas Islam seperti Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto Suryosumarno dan pentolan Manajemen ‘Republik Cinta’, Ahmad Dhani. Keempat tokoh tersebut semuanya selamat kecuali seorang polisi yang lagi apes nasibnya sehingga mengalami luka cukup serius, ketika nekat membuka bom buku yang ditujukan kepada si bibir seksi Ulil Absar Abdalla di KBR 68 H Utan Kayu, Jakarta Timur. Namun yang mencurigakan, biasanya Densus 88 dan aparat keamanan lainnya begitu sigap cepat dan kerja keras ketika terjadi peledakan bom. Tetapi untuk kasus bom buku dan bom paket kali ini, aparat keamanan terlihat bekerja setengah-setengah dan sangat santai, sehingga memasuki minggu kedua belum ada satu pun tersangka yang berhasil ditangkap. Hal inilah yang menimbulkan analisis bahwa sesungguhnya bom buku hasil operasi intelijen oleh aparat keamanan. Selain untuk menutupi kasus WikiLeaks demi menyelamatkan muka SBY, juga ditujukan untuk menfitnah ormas-ormas Islam garis keras yang akhirnya menjurus pada pembubaran dan mendiskreditkan umat Islam Indonesia secara keseluruhan. Berikut ini wawancara Tabloid Suara Islam dengan pengamat politik, militer dan intelijen sekaligus mantan perwira intelijen Kodam III Siliwangi, Kol (Purn) H Y Herman Ibrahim seputar bocoran kawat diplomatik Kedubes AS oleh WikiLeaks dan sejumlah operasi intelijen dari waktu ke waktu yang ditujukan untuk mendiskreditkan umat Islam Indonesia. SUARA ISLAM: Mengapa kawat diplomatik Kedubes AS yang dibocorkan WikiLeaks mengenai Yudhoyono Abused Power, sengaja dibuka koran Australia The Age dan The Sydney Morning Herald ketika Wapres Boediono berkunjung ke sana? Herman Ibrahim: Tidak sulit untuk menjelaskan mengapa media Australia memuat bocoran WikiLeaks saat kunjungan Wapres Boediono ke Canbera, Australia. Masyarakat media akan sangat faham bahwa isu politik atau apa pun tentang negara akan memiliki magnitude yang tinggi jika dilansir pada saat kunjungan kenegaraan. Saya menduga bahwa lontaran isu itu sudah lama dipersiapkan, bukankah WiliLeaks sudah memberi warning bahwa ada ribuan informasi tentang Indonesia yang akan dilempar ke publik pada saatnya yang tepat. Adalah menarik untuk membahas motif WikiLeaks menebar isu tak sedap dari bocoran kawat ke Dubes AS di seluruh dunia itu. Paling tidak ada tiga alasan mengapa WikiLeaks melakukan intersepsi diplomatic cable. Pertama, bisa jadi hal ini berawal dari keisengan seorang hacker yang melakukan pengembaraan hacking sehingga masuk ke wilayah sensitif dan berpeluang menjadi sesuatu

yang

memiliki

nilai

informasi

yang

tinggi.

Kedua, yang paling mungkin dan banyak dipersepsi orang adalah WikiLeaks menerima bocoran gratis dari pihak Kedubes untuk melempar informasi panas, semacam lempar batu sembunyi tangan. Motifnya jelas politik untuk menekan pemerintahan negara-negara tertentu. Ketiga, WikiLeaks bekerja sama dengan orang dalam melakukan black mail dengan motif bisnis. Namun, kecenderungan ini tidak terbukti karena jika ya, maka Julian Assange akan menjadi buronan internasional. Faktanya adalah bos WikiLeaks Julian Assange dibebaskan dari tahanan, karenanya motif kedua adalah paling mungkin terjadi. SUARA ISLAM: Apakah karena The Age dan The Sydney Morning Herald termasuk koran berhaluan kiri di Australia? Herman Ibrahim: Ihwal koran The Age dan The Sidney Morning Herald apakah keduanya berhaluan kiri, saya melihat tak ada kaitannya dengan pembocoran rahasia kawat ke Dubes AS di Indonesia. Yang pasti kedua koran itu adalah koran terkemuka dan memiliki market ke seluruh dunia. Saya tidak melihat haluan koran, melainkan membaca hal ini ada pada posisi geopolitik Australia yang selalu menganggap Indonesia sebagai ancaman. Siapapun Perdana Menteri Ausie apakah dari Partai Konservatif atau Partai Buruh, saya kira akan berupaya mendemoralisasi pemerintahan Indonesia. SUARA ISLAM: Jika bocoran WikiLeaks ternyata benar, apakah bisa menyebabkan pemakzulan terhadap Presiden SBY karena menyalahgunakan kekuasaan? Herman Ibrahim: Bagi Indonesia dan repotnya di dalam negeri sendiri, masyarakat cenderung lebih percaya kepada media asing daripada klarifikasi pemerintah. (lihat survei Harian Republika, di mana dikatakan 73 persen rakyat Indonesia percaya kepada informasi bahwa SBY telah melakukan Abuse of Power sesuai bocoran WikiLeaks). Meski demikian, bocoran WikiLeaks tidak akan menjadi sebuah bola salju untuk pemakzulan Presiden SBY. Pasalnya meski 73 persen rakyat Indonesia percaya atas bocoran WikiLeaks, tetapi suara rakyat kan tidak terepresentasi di Parlemen. Kita tahu, suara Setgab adalah suara mayoritas yang akan mempertahankan SBY sampai 2014. Sementara people power tidak memiliki kekuatan leadhership dan sumber daya gerakan. SUARA ISLAM: Institusi manakah yang paling tepat untuk menindaklanjuti laporan WikiLeaks, apakah DPR, KPK, Polri atau Kejagung? Herman Ibrahim: Penjelasan di atas akan memperkuat alasan bahwa tidak ada lembaga negara apapun yang akan merespon apalagi menindaklanjuti informasi WikiLeaks. Tentu saja, jika KPK memiliki keberanian moral dan dukungan total rakyat Indonesia, maka lembaga inilah yang paling tepat menindaklanjuti laporan WikiLeaks. SUARA ISLAM: Kalau selama ini SBY dikenal sahabat AS, mengapa Kedubes AS di Jakarta justru membuka aib SBY? Herman Ibrahim: Reaksi masyarakat akan merupakan ”test the water” bagi AS, apakah SBY masih layak dipertahankan atau siapa pemimpin yang layak dan harus dispot oleh CIA untuk menjadi Presiden RI pada 2014 nanti. Itulah sebabnya saya kira mengapa kendati pun SBY dikenal sahabat AS, namun Kedubes AS terkesan justru membuka aib SBY. SUARA ISLAM: Apakah pemerintah AS mulai kurang respek terhadap pemerintahan SBY? Herman Ibrahim: Dalam beberapa kasus, nampaknya ada beberapa hal yang membuat AS tidak begitu respek terhadap SBY. Pertama, SBY dinilai lemah dan lambat dalam pengambilan keputusan dan banyak melakukan tawar menawar politik dengan oposisi maupun dengan rekan-rekannya di Setgab. Kedua, SBY terlalu memberi ruang dan memanjakan China baik dalam hubungan dagang

maupun dalam konteks politik kawasan. Dalam hubungan dagang misalnya, bagaimana Menperindag Marie Elka Pangestu menerbitkan Permen No. 30 Tahun 2010 yang menguntungkan China tatkala barang impor diijinkan masuk ke Indonesia. Ketiga, SBY kurang berani menumpas atau membubarkan ormas-ormas Islam garis keras seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin (MM) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). SBY juga lemah dan cenderung membiarkan konflik sosial keagamaan menyangkut kehendak AS untuk membela eksistensi Ahmadiyah. SUARA ISLAM: Apakah SBY tidak bisa diharapkan lagi oleh pemerintahan Presiden Obama untuk mendukung policy luar negeri AS terutama di kawasan Asia? Herman Ibrahim: Dari penjelasan di atas tentang politik kawasan segera dapat ditemukan jawaban, bahwa politik luar negeri Indonesia di Asia tidak sepenuhnya menyenangkan AS. Kendati pun produk perundang-undangan Indonesia banyak memuaskan Barat (AS) namun dalam politik luar negeri Indonesia sangat menghitung eksistensi China. Saya ambil contoh, Indonesia tidak terdengar mengutuk serangan artileri Korut terhadap Korsel, sementara atas tekanan umat Islam Indonesia turut mengecam serangan Israel ke Jalur Gaza. SUARA ISLAM: Apakah ini merupakan indikasi AS akan menjadikan nasib Presiden SBY seperti Presiden Mubarak dan Presiden Ben Ali? Herman Ibrahim: Pada posisi seperti itu, nampaknya AS menghendaki agar Presiden Indonesia ke depan lebih total mendukung kebijakan AS di kawasan Asia. Maka tekanantekanan politik mulai dilakukan sejak dini, sehingga pada 2014 nanti Amerika tidak kecolongan tentang siapa Presiden Indonesia yang layak untuk di support. Tentu saja Capres Indonesia yang akan datang pun harus melihat ini, tanpa dukungan dan tanpa komitmen kepada AS jangan harap dia akan berhasil terpilih jadi Presiden RI. Tetapi berbagai tekanan politik AS tersebut masih jauh atau paling tidak tak akan sampai mendorong rakyat Indonesia untuk menjadikan nasib SBY seperti Mubarak dan Ben Ali. SUARA ISLAM: mengalihkan Apakah munculnya kasus teror perhatian dari kasus bom buku disengaja untuk bocoran WikiLeaks?

Herman Ibrahim: Adapun yang ganjil adalah pasca isu WikiLeaks yang sangat memojokkan SBY bahkan Ibu Negara Ani Yudhoyono, lantas muncul kasus teror bom buku. Saya ingin negara membuktikan kepada rakyat Indonesia bahwa teror bom buku bukanlah bagian dari operasi Intelijen penggalangan untuk memunculkan isu baru yang tidak prinsip, tetapi justru menghilangkan isu lama yang sangat penting dan menentukan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini. SUARA ISLAM: Menurut anda, apakah bom buku bagian dari operasi intelijen untuk mendiskreditkan umat Islam sebagaimana yang terbukti dalam kasus Ahmadiyah Cikeusik Pandeglang Banten dan kasus lainnya termasuk terorisme? Herman Ibrahim: Operasi Intelijen penggalangan dengan cara menarik turun elemen-elemen Negara Islam Indonesia (NII), kemudian didorong melakukan tindak kriminal seperti perampokan dan pembajakan pesawat, adalah pola-pola lama untuk menghancurkan Islam. Saya kira teror bom buku mirip-mirip model operasi intelijen penggalangan. Sayang Opsus model ini kurang bermutu dan mudah dibaca. SUARA ISLAM: Mengapa sejak BAKIN dipimpin Ali Moertopo hingga BIN dipimpin AM Hendro Priyono, umat Islam selalu menjadi sasaran operasi intelijen? Herman Ibrahim: Dulu umat Islam sukses membantu penumpasan PKI. Kemudian intelijen AS sengaja membuat gerakan NII untuk menyudutkan umat Islam. Kemudian pemerintah membuat Operasi Khusus (Opsus). Jadi sesungguhnya intelijen sangat berjasa dalam mendirikan gerakan NII. Kemudian muncul Asas Tunggal Pancasila dan umat Islam menolaknya. Adapun yang menjadi korban operasi intelijen diantaranya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Kita

tahu sejak dulu Ustadz Abu tidak pernah mau menerima Pancasila. Pada zaman Orba, Ustadz Abu pernah ditangkap dan dihukum 4 tahun penjara. Ketika dibebaskan sementara dan keputusan MA keluar kemudian harus dihukum 9 tahun, maka Ustadz Abu bersama almarhum Ustadz Abdullah Sungkar hijrah ke Malaysia dan baru kembali tahun 1999 lalu. Memang selama ini umat Islam selalu gagal memperjuangkan penerapan Syariah Islam di Indonesia, sehingga memicu sebagian dari mereka untuk memperjuangkannya dengan caranya sendiri. Tetapi kemudian dimanfaatkan oleh intelijen dengan membentuk Komando Jihad, Teror Warman, Kelompok Imron dan sebagainya. Semua ini rancangan intelijen Opsus untuk mendiskreditkan umat Islam Indonesia. SUARA ISLAM: Dalam kasus WikiLeaks, mengapa Presiden SBY tidak menindak TB Silalahi sebagai penasehat dan Agung Laksono anggota kabinet karena membocorkan rahasia Istana ke Kedubes AS? Herman Ibrahim: Saya kira salah alamat mempertanyakan mengapa TB Silalahi dan Agung Laksono tidak ditindak oleh SBY, seharusnya antum tanyakan hal itu kepada SBY. Satu hal yang ingin saya katakan, antara pahlawan dan pengkhianat sangat tipis bedanya, tergantung siapa yang memanfaatkan dan tergantung pula pada persepsi politik masyarakat. Kendati persepsi politik masyarakat buruk terhadap seseorang, tetapi jika penguasa menganggap TB Silalahi berjasa dan Agung Laksono juga sangat penting dan memiliki daya tawar politik kuat, ya tak akan terjadi penangkapan mereka itu. SUARA ISLAM: Mengapa ormas-ormas Islam selalu dijadikan sasaran fitnah pasca terjadinya teror bom buku, seperti statement Kepala BNPT Ansyaad Mbai dan mantan Kepala BIN AM Hendro Priyono, di mana dikatakan pelakunya alumni Poso dan Ambon yang ingin mendirikan Negara Islam atau Daulah Islamiyah? Herman Ibrahim: Dulu Ali Moertopo menjalankan Opsus sebagai upaya menciptakan kondisi yang sesuai dengan pesanan Barat, yakni setelah Indonesia berhasil sukses membasmi PKI, maka Indonesia diminta untuk menumpas sisa-sisa NII dan DI-TII. Pada kasus Bom Buku, saya kira orang yang memusuhi Islam tidak perlu dipercaya katakatanya karena yang ada hanya fitnah belaka. Hendro Priyono dan Ansyaad Mbai akan ditanya di akhirat kelak, apa yang salah dengan upaya mendirikan Negara Islam dan menegakkan Hukum Allah di muka bumi? Bukankah itu perintah Allah dalam Al Qur’an ? Kecuali mereka tak percaya Al Qur’an. Jazakumullah Khoiron Katsiiro. (Abdul Halim)

Liberal Lebih Iblis daripada Iblis
Saturday, 02 April 2011 17:30 |

Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA Ketua umum DPP Front Pembela Islam Pada hari Selasa 22 Februari 2011, KH. Hasyim Muzadi saat menjadi keynote speaker dalam acara Harlah NU ke-88 yang digelar PWNU Jawa Timur di Surabaya, beliau menyatakan dengan santai tanpa beban bahwa Liberal Indonesia kalau ke Amerika masih dianggap ”kurang kafirnya”, para peserta pun tertawa mendengar gurauan tersebut. Satu canda yang dalam sekali,

Written by Shodiq Ramadhan |

bahkan bagi saya dan kawan-kawan FPI yang ikut hadir sebagai undangan, itu bukan sekedar guyonan, tapi satu pukulan telak dan tusukan mendalam yang memposisikan Liberal di tempat yang semestinya. Vonis kafir untuk Liberal bukan serampangan tak berdasar. Dan Fatwa sesat dari MUI terhadap Liberal bukan ijtihad sembarangan. Serta kesimpulan bahwa Liberal adalah musuh besar Islam bukan kesimpulan berantakan. Begitu pula pernyataan bahwa Liberal lebih Iblis dari pada Iblis bukan pernyataan asal-asalan. Akan tetapi semua itu sudah melalui proses pengkajian mendalam, cermat dan teliti terhadap semua produk pemikiran Liberal, baik di tingkat nasional mau pun internasional. Melalui tulisan yang lalu, saya sudah memaparkan bahwasanya Liberal merupakan gabungan berbagai virus yang mematikan akal dan nalar serta membunuh iman, yaitu virus-virus Relativisme, Skeptisisme, Agnostisisme dan Atheisme, yang mengakibatkan komplikasi dari berbagai penyakit pemikiran yaitu Pluralisme, Sekularisme, Materialisme dan Rasionalisme, yang secara berurut bisa disebut sebagai kanker pemikiran stadium satu hingga empat. Pada tulisan yang lalu juga telah diuraikan rincian laporan Setara Institute tahun 2010 yang sangat anti Islam lengkap dengan halamannya, sebagai bukti bahwa saya tidak sedang berbohong, apalagi memfitnah tentang kesesatan Liberal, sekaligus bukti bahwa saya membaca dengan cermat dan sangat memahami kebobrokan pemikiran Liberal. Kini, sejumlah fakta dan data lain akan saya ungkapkan untuk lebih mempertegas kesesatan Liberal. Jadi, melalui tulisan tersebut dan tulisan kali ini, saya bukan sedang mencaci-maki Liberal, tapi tepatnya sedang menelanjangi kesesatan dan kebobrokan Liberal, sekaligus menjadi saham perjuangan untuk membela Islam. Insya Allah. LIBERAL DAN PENODAAN AGAMA Nashr Hamid Abu Zaid pentolan Liberal asal Mesir, yang telah dikafirkan oleh Ulama Mesir dan divonis Hukum Mati oleh Mahkamah Mesir, lalu melarikan diri ke Barat, di Indonesia justru dinobatkan sebagai Imam Kaum Liberal. Nashr Hamid merupakan rujukan utama Kaum Liberal dari kalangan yang mengaku ”Muslim Liberal”. Dalam buku karyanya yang berjudul Naqd AlKhithaab Ad-Diinii, Nashr Hamid menyimpulkan bahwa semua ayat tentang hal-hal yang yang Ghaib seperti ‘Arsy, Al-Kursiy, Lauh, Qolam, Sorga, Neraka, Jin, Syetan, dsb, hanya merupakan Gambaran Mitologis yang sudah tidak rasional untuk zaman kontemporer. Karenanya, semua ayat tentang Alam Ghaib harus dita’wilkan secara Metafor, sehingga sesuai dengan alam Materialistik dan sejalan dengan Metode Ilmiah Modern. Dengan kata lain bahwa ayat tentang Alam Ghaib mesti dirasionalisasikan, karena agama harus sesuai dengan akal. Jika semua masalah ghaib dianggap sebagai Mitos (Takhayul), maka konsekwensi ilmiahnya bahwa masalah ketuhanan pun pada akhirnya menjadi Mitos juga, karena justru masalah ketuhanan adalah masalah ghaib yang paling besar. Dan justru ciri utama orang yang muttaqin adalah beriman kepada yang ghaib, seperti beriman kepada Allah SWT, para Malaikat, Hari Qiyamat, Qodho dan Qodar, dsb. (QS.2. Al-Baqarah : 1-4). Selanjutnya, jika Tuhan sudah dianggap sebagai Mitos maka akan mengantarkan kepada sikap Atheis yang anti Tuhan. Konsekwensi tersebut akhirnya terbukti, dalam Jurnal JUSTISIA yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah IAIN Walisongo pada edisi 26 Th. XI 2004, di kolom Ekpresi dinyatakan bahwa Tuhan hanyalah sebuah Faith Identity (Identitas Keyakinan) bagi sebuah agama, yang kemudian direduksi oleh masing-masing agama dalam nama-nama : Allah SWT, Allah, Yesus, Sidarta Gautama, Yahwe, Brahma, Wisnu, Shiva, Laat, ‘Uzza, dsb. Disitu juga dinyatakan bahwa Atheis bukan anti Tuhan, melainkan anti Mitologi Ketuhanan atau Anti Rumusan Tuhan Tradisonal yang abstrak dan tidak rasional, sehingg perlu ada perumusan ulang tentang Tuhan berdasarkan Rasionalitas. Jejak Liberal lainnya menunjukkan bahwa Gus Dur dan Cak Nur semasa hidup keduanya dimana-mana selalu mengkampanyekan bahwa semua agama sama dan semuanya benar serta semuanya menyembah Tuhan yang sama. Ulil Abshar di Majalah Gatra 21 Desember 2002 menyatakan bahwa semua agama sama dan semuanya menuju jalan kebenaran, sehingga Islam bukan yang paling benar. Dawam Rahardjo dalam Sidang Majelis Pekerja

Lengkap Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia pada Rabu, 25 Januari 2006 di Pekanbaru menyatakan bahwa pindah agama tidak murtad. Luthfi Syaukani di Harian Kompas 3 September 2005 menyatakan bahwa pada gilirannya, perangkat dan konsep agama seperti Kitab Suci, Nabi, Malaikat dan lain-lain tak terlalu penting lagi. Syafi’i Ma’arif dalam Majalah MADINA No.06 / Tahun I, Juni 2008, hal.9, membuat tulisan tentang kesamaan umat Islam, Nashrani dan Yahudi di mata Allah. Jalaluddin Rahmat dalam bukunya Islam dan Pluralisme mengaminkan pendapat bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama. Abdul Munir Mulkhan dalam bukunya Ajaran dan Jalan Kematian Syeikh Siti Jenar menuliskan : ”Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri, terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya.” Selain itu, Nashr Hamid sebagai Gembong Liberal beserta para begundalnya adalah kelompok yang paling getol mengkampanyekan paham-paham Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) yang telah dinyatakan sebagai paham sesat menyesatkan oleh Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.7 Tahun 2005. Dalam rangka untuk mengetahui lebih jauh lagi kesesatan Liberal, maka berikut ini akan dipaparkan secara ringkas tentang kandungan dua buku paling kontroversial dari kalangan Liberal, yaitu : Fiqih Lintas Agama dan Lubang Hitam Agama. FIQIH LINTAS AGAMA Buku Fiqih Lintas Agama adalah karya Tim Penulis Paramadina yang terdiri dari Nurcholish Majid, Komaruddin Hidayat, Kautsar Azhari Noer, Zainun Kamal, Masdar F Mas’udi, Zuhairi Misrawi, Budhy Munawar Rachman, Ahmad Gaus AF, dengan editor Mun’im A Sirry, yang diterbitkan oleh Yayasan Waqaf Paramadina bekerja sama dengan The Asia Foundation pada Tahun 2004. Dalam Pengantar (hal.ix) dan Muqaddimah (hal.2) Tim Penulis menghina Fiqih sebagai belenggu kehidupan dan memfitnahnya sebagai ajaran yang mendiskreditkan agama lain, bahkan sebagai penyebar kebencian dan kecurigaan terhadap agama lain. Dan masih dalam Muqaddimah (hal.4-5) Tim Penulis menghina periode dan generasi As-Salaf Ash-Sholeh sebagai penyebab kebekuan pemahaman, dan memfitnah Imam Asy-Syafi’i sebagai penyebab tidak berkembangnya pemikiran Islam lebih dua belas abad. Dalam isi buku tersebut, Tim Penulis menuding bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Madinah adalah Diskriminatif, Eksklusif dan Fundamentalistik (Hal.142). Dan Tim Penulis menegaskan bahwa umat beragama apa pun tidak kafir, karena semua agama sama dan benar, sehingga tidak boleh ada yang mengklaim bahwa agamanya yang paling benar. (hal.133, 167, 206 dan 207). Selanjutnya, atas dasar Hikmah dan Kemaslahatan persaudaraan, persahabatan, kedamaian, kerukunan, solidaritas, persatuan dan kehangatan pergaulan antar umat beragama, maka Tim Penulis memfatwakan antara lain : boleh mengucapkan salam kepada non muslim, bahkan wajib menjawab salam mereka (hal.72, 77 dan 78), boleh mengucapkan selamat Natal atau selamat Hari Besar agama apa pun, bahkan boleh ikut merayakannya (hal.84-85), boleh mendoakan dan minta doa dari non muslim, termasuk doa bersama, bahkan semua itu dianjurkan (hal.110 dan 118), hukum Jizyah melecehkan non muslim sehingga harus dinasakh (hal.151-152), boleh kawin beda agama dan harus ada waris beda agama (hal 164 dan 167). Mulai dari pembukaan buku hingga penutupnya, terlihat jelas bagaimana Tim Penulis begitu berani melakukan haramisasi yang halal dan halalisasi yang haram. Tapi tentu saja itu tidak mengherankan, karena memang begitulah kebiasaan Kaum Liberal. Kita masih ingat bagaimana salah satu Antek Liberal, Musdah Mulia, pernah membuat Counter Legal Draft – Kompilasi Hukum Islam yang berusaha untuk mengharamkan polygamy, namun pada saat yang sama menghalalkan perkawinan sejenis (Homo dan Lesbi), sebagaimana pernyataannya di berbagai kesempatan dan wawancaranya di Jurnal Perempuan58, sehingga mendapat penghargaan International Women of Courage Award dari Amerika Serikat pada 7 Maret 2007. LUBANG HITAM AGAMA

Buku Lubang Hitam Agama karya Sumanto Qurtubi, seorang alumnus AIN Semarang, dengan pengantar Ulil Abshar Abdalla, dan diendos cover yang penuh pujian oleh Gus Dur, Moeslim Abdurrahman, Anif Sirsaeba Alafsana, Ahmad Tohari dan Trisno S Sutanto, yang diterbitkan oleh Ilham Insitute dan Rumah Kata pada tahun 2005. Buku ini secara vulgar dan demonstratif serta konfontratif menunjukkan kesesatan dan permusuhannya terhadap Agama, Al-Qur’an, Nabi, Shahabat, Ulama dan Syariat Islam. Tidak diragukan lagi bahwa serangan penulis terhadap Islam dalam bukunya tersebut merupakan penistaan dan penodaan agama. Penistaan terhadap Agama yang dilakukan penulis dalam buku tersebut antara lain : agama bukan produk Tuhan (hal.31), agama adalah penjajah budaya dan pemasung intelektual (hal.55 dan 58), agama mematikan akal dan nalar (hal.59), agama adalah sumber konflik dan pembawa bencana (hal.83 dan 87), Islam adalah strategi budaya Muhammad dan merupakan sinkretik serta campuran budaya : Judaisme, Kristianisme dan Arabisme (hal.216-217 dan 225), penulisan bahasa Arab adalah Arabisme (hal.228). Penistaan terhadap Al-Qur’an yang dilakukan penulis dalam buku tersebut antara lain : kemaslahatan lebih diutamakan daripada ayat-ayat Tuhan (hal.31), Umar ikut menciptakan AlQur’an (hal.32), Teks Al-Qur’an tidak autentik (hal.34 dan 37), Nabi dan para Shahabat adalah para pencipta Al-Qur’an (hal.43), Al-Qur’an angker dan perangkap bangsa Quraisy, serta dibuat oleh manusia dan bukan kitab suci (hal.64-65), Al-Qur’an membelenggu kebebasan dan menciptakan tragedy kemanusiaan (hal.117), Muhammad, Islam dan Al-Qur’an tidak terlepas dari distorsi / penyimpangan (hal.126), kandungan Al-Qur’an kontroversi (hal.142), Al-Qur’an saja bermasalah apalagi Kitab Kuning (hal.146). Penistaan terhadap Nabi, Shahabat dan Ulama yang dilakukan penulis dalam buku tersebut antara lain : Utsman pelaku nepotisme dan keliru membuat Mush-haf Al-Qur’an (hal.39), Nabi dan para tokoh non muslim seperti Gandhi, Luther, Bunda Terresa dan Romo Mangun bersama-sama menunggu di Surga (hal.45), Kisah Heroik para Nabi dan Mu’jizatnya hanya dongeng seperti Sinetron “Saras 008” atau kisah heroic James Bond (hal.58), Nalar Politik Tirani dibentuk oleh Khulafa Rasyidin (hal.124), Para Shahabat Nabi telah memperagakan Politik Islam dengan sangat sempurna mengerikannya (hal.134), Imam Al-Mawardi mengkhianati hak-hak rakyat dan seorang Rasis / Arabisme (hal.150 dan 155), Doktrin Politik Sunni ambigu dan out of date / kadaluarsa (hal.167), Al-Asy’ari dan Al-Ma’turidi menjalin persengkokolan politik (hal.171), Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah sekte yang telah memanipulasi teks-teks keagamaan (hal.229). Penistaan terhadap Syariat Islam yang dilakukan penulis dalam buku tersebut antara lain : Syariat Islam menciptakan gerombolan mafia dan anjing-anjing penjilat kekuasaan (hal.70), Syariat Islam diskriminatif terhadap perempuan dan non muslim (hal 131-132), Formalisasi Syariat Islam bukan hanya Utopis, tapi juga Tirani (hal.134). LEBIH IBLIS DARI PADA IBLIS Makhluq Iblis disebut Iblis karena pembangkangannya terhadap perintah Allah SWT. Karenanya, mereka yang membangkang terhadap Allah SWT layak disebut Iblis atau antek Iblis, atau sekurangnya pengikut Iblis. Bahkan pembangkangan manusia terhadap Allah SWT sering lebih dahsyat dari pada pembangkangan Iblis itu sendiri. Sekali pun Iblis selalu menggoda anak manusia agar atheis atau musyrik, namun Iblis sendiri dengan segala kesesatannya tidak pernah membenarkan atheis atau pun musyrik, apalagi menjadi atheis atau pun musyrik. Iblis tahu dan mengakui bahwa Allah SWT itu ada dan Maha Esa. Itulah sebabnya, Kaum Liberal yang membela dan membenarkan Atheis dan Kemusyrikan, apalagi menjadi Atheis dan Musyrik, jauh lebih Iblis dari pada Iblis itu sendiri. Dalam QS.59.Al-Hasyr : 16, Firman Allah SWT menyatakan, yang terjemahannya sebagai berikut : ”Seperti (bujukan) Syetan ketika ia berkata kepada manusia : ”Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata : ”Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam.”

Jadi, lucu sekali jika ada orang ”Liberal” mengaku sebagai ”Muslim Liberal” atau ”Islam Liberal”, karena Liberal bukan Islam dan Islam bukan Liberal. Lebih lucu lagi, jika ada orang Liberal kebakaran ubun-ubun (-bukan kebakaran jenggot karena tidak berjenggot dan memang tidak suka jenggot-), hanya karena tulisan saya yang lalu dan yang kini memaparkan fakta dan data dari buku karya mereka sendiri. Entah karena memang mereka Liberal Sejati yang memanfaatkan Islam untuk menghancurkan Islam, atau mungkin mereka baru setengah Liberal sehingga sebenarnya mereka tidak terlalu tahu juga tentang Liberal itu binatang macam apa. Dan yang paling menjijikkan adalah tatkala Kaum Liberal mengklaim bahwa mereka pembuka pintu ijtihad dan pejuang kebebasan. Padahal, pintu Ijtihad tidak pernah ditutup oleh Ulama Salaf mau pun Khalaf, bahkan di setiap zaman para Ulama selalu berijtihad untuk menjawab berbagai persoalan yang timbul seiring dengan kemajuan zaman. Soal kebebasan, baik dalam berpendapat mau pun beragama, itu merupakan ajaran Islam yang telah dikumandangkan dari zaman Nabi SAW hingga kini. Salah satu buktinya, Islam memberi kebebasan kepada setiap orang untuk meyakini bahwa agamanya yang paling benar dan selain agama yang dianutnya tidak benar, asal dia tidak melecehkan agama lain tersebut. Berbeda dengan Liberal yang dengan paham pluralismenya melarang setiap orang mengklaim agamanya yang paling benar dan memaksanya untuk membenarkan agama lain yang tidak dianut dan tidak diyakininya. Jadi, Islam lah pengusung kebebasan sejati dalam beragama, sedang Liberal justru menjadi pemerkosa kebebasan beragama dan berkeyakinan. Selain itu, yang juga tidak kalah menjijikkannya adalah Liberal mengaku sebagai kelompok yang sangat menghormati pendapat orang lain. Padahal, Liberal itu fundamentalis, ekstrimis dan anarkis dalam pemikiran dan berpendapat, sehingga mereka tidak pernah bisa menghormati pendapat kelompok lain yang berbeda dengan mereka. Itulah sebabnya, Kaum Liberal tidak pernah ragu untuk selalu mencaci-maki Gerakan Islam dan memfitnahnya sebagai preman berjubah, anarkis, radikalis, ekstrimis dan teroris. Dan kaum Liberal dengan tanpa punya rasa malu selalu berusaha untuk membubarkan Ormas Islam yang istiqomah di Rel Syariat Islam dengan berbagai macam cara. Bahkan kaum Liberal dengan sangat kafirnya mencaci-maki Agama, Al-Qur’an, Nabi, Shahabat, Ulama dan Syariat Islam, sebagaimana telah diuraikan fakta dan datanya di atas. Dengan demikian, untuk kesekian kali saya nyatakan bahwa Liberal adalah kelompok anarkis pemikiran, perusak agama dengan mengatas-namakan agama, musuh Syariat Islam, preman intelektual, koruptor dalil dan manipulator hujjah, serta tidak diragukan lagi sebagai antek Iblis, bahkan lebih Iblis dari pada Iblis. Ya Robb…Hancurkan Liberal !

• • •

Add New Search RSS

Comments (4)

|2011-04-02 17:57:15 Muslim - Kaum Sepilis Pemabok!

Bagi umat Islam yg telah terpedaya oleh kaum sepilis, silakan datang ke pusat JIL di Utan Kayu. Di sana anda akan menemukan banyak botol minuman keras dan mrk tdk pernah sholat! Hal ini diakui oleh salah seorg eks anggota JIL yg telah sadar dan kembali ke jalan yg benar, Jalan Islam! Silakan dibuktikan sendiri!
o o

0 0

Quote

|2011-04-03 16:17:33 abiya

"Ya Robb…Hancurkan Liberal!" Amin Allahumma amin. Wa shallallah 'ala Rasulilah Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.
o o

0 0

Quote

|2011-04-05 16:22:40 leo

Amin Ya Allah....
o o

0 0

Quote

|2011-04-08 08:28:38 chepot - maka,nya kembali Ke AL-QUR"AN dan HADIST nya Rasu

JIL anda harus berfikir ulang,bahwa Islam yang sebenarnya apabila Al-qur'an dan Hadist rasullah saw sebagai peganganya,saya harap anda kembali ke pangkuan Islam secara Kaffah sebelum Allah dan rasulnya menghukum anda karena kekeliruan anda,masih ada kesempatan untuk bertaubat sebelum Allah mencabut nyawa kalian.

Kritik Untuk Ustadz Yusuf Supendi
Friday, 08 April 2011 07:29 |

Hanif Abdullah Redaktur Majalah Online http://ansharullah.com, e-mail:

Written by Shodiq Ramadhan |

mujahidcerdas@gmail.com

Siapa yang tidak mengenal sosok ustadz Yusuf Supendi, beliau adalah salah satu pendiri Partai Keadilan yang sekarang bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Aktif di banyak organisasi kepemudaan dan mahasiswa. Salah satunya adalah PII (Pelajar Islam Indonesia) dan pernah menjabat sebagai wakil Dewan Syariah di Partai Keadilan periode 1998 – 1999 menjadikan beliau sangat mumpuni dibidang syariat Islam dan keilmuan Islam pada umumnya. Terlepas persengketaan dengan PKS dan konflik dengan elite partainya yang sampai hari ini menjadi bola liar, mengelinding tak tentu arah. Ada beberapa hal yang membuat miris hati penulis terhadap sikap beliau yang diumbar di media-media kafir, walaupun penulis dalam hal ini tidak membela PKS tapi bersikap adil adalah sebuah sikap yang harus diambil oleh seorang muslim. Ada beberapa aib yang tidak sepantasnya diumbar oleh ustadz Yusuf Supendi terkait personal PKS, yaitu masalah poligami, dana dari Timur Tengah dan isu bahwa ketua umum PKS pernah berjihad di Afghanistan. Paling parah adalah persengketaan sesama muslim diadukan dan coba diselesaikan dengan hukum sekuler. Hal tersebut membuat bertanya-tanya kaum muslimin, benarkah Ustadz Yusuf Supendi tulus ingin memperbaiki PKS yang menurut beliau sudah melenceng dari pemahaman Islam yang diusung sewaktu awal berdiri atau hanya karena tidak kebagian kue kekuasaan yang sekarang sedang dinikmati oleh elite PKS. Padahal bila beliau adalah seorang yang menguasai ilmu Syariah dan pernah kuliah di Saudi Arabia, seharusnya beliau lebih mengutamakan dialog, musyawarah, kalau perlu kritikan yang sesuai dengan hukum-hukum Islam agar PKS kembali ke jalan yang benar atau sama sekali berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh PKS yang menurut beliau sudah melenceng. Karena biar bagaimanapun sekulernya PKS saat ini dan jauhnya dari apa yang dicita-citakan oleh umat Islam, orang-orang kafir tetap menjadikan PKS adalah musuh dan memposisikan mereka sebagai rival politik yang mempunyai agenda tersembunyi dan tindakan beliau adalah pintu masuk yang paling jitu, umat Islam bertengkar karena rebutan singkong kekuasaan. Berhukum dengan Hukum Sekuler Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah berkata: “Seandainya penduduk desa dan penduduk kota perang saudara hingga semua jiwa musnah, tentu itu lebih ringan daripada

mereka mengangkat thaghut di bumi ini yang memutuskan (persengketaan mereka itu) dengan selain Syari’at Allah” (Ad Durar As Saniyyah: 10 Bahasan Thaghut). Masih mendingan bila dipaksa untuk berhukum dengan bukan hukum Islam atau mengancam kehidupan diri dan orang-orang disekitarnya, namun langkah-langkah yang diambil ustadz Yusuf Supendi tidak ada angin tidak ada hujan datang mengadukan permasalahan yang semestinya bisa diselesaikan kalau perlu dikubur rapat-rapat karena itu adalah sebuah aib apalagi sudah berlepas diri terhadap tindak-tanduk PKS kepada hukum yang bukan hukum Islam. Ini sama sekali tidak mengajarkan hal yang positif kepada umat Islam tapi malah menjerumuskan orang-orang awam. Apalagi terkait poligami yang seharusnya hukum Syariah yang menyelesaikan, karena biar bagaimanapun dalam negara sekuler poligami adalah sebuah tindakan yang tidak bisa diterima apalagi dilakukan oleh pejabat publik. Akhirnya publik tidak menyoroti oknum yang melakukan kesalahan tapi mereka akan mengambil kesimpulan sepihak bahwa kaum lelaki melakukan poligami yang diperbolehkan oleh Syariah sebagai tindakan pembenaran pemuas nafsu belaka, kenapa tidak berfikir sampai hal ini. Dalam hal ini Syariah yang kena imbasnya. Soal ketua umum PKS yang dituduh ustadz Yusuf Supendi pernah berjihad di Afghanistan, lalu kenapa kalau berjihad di Afghanistan. Jihad bukan perbuatan tercela atau aib bagi seorang muslim. Jihad disyariatkan dan diwajibkan oleh setiap orang muslim yang sehat dan mampu mengangkat senjata. Tidak ada masalah dengan orang yang berjihad bagi Islam dan kaum muslimin. Namun bila orang berjihad diadukan kepada UU Indonesia cerita jadi lain dan dikonsumsi publik, mungkin PKS bisa dibubarkan lewat pintu ini dan lewat kasus mendapat pendanaan dari luar negeri. Namun permasalahannya bukan ini, permasalahannya adalah Syariah jihad menjadi kambing hitamnya dan seolah-olah jihad adalah perbuatan kriminal dan pelakunya adalah seorang pesakitan, kenapa tidak berfikir sampai disini sang Ustadz yang lulusan Saudi Arabia ini. Yang lebih menakutkan adalah persangkaan orang-orang dengki bahwa orang-orang yang keluar dari PKS semuanya disamakan dengan tindakan yang dilakukan oleh ustadz Yusuf Supendi, kekecewaan yang tidak berdasarkan aqidah Islam. Kekecewaan yang membabi buta tanpa ilmu dan karena dunia semata. Padahal banyak yang keluar dari PKS bukan hanya permasalahan yang remeh seperti individu yang yang melenceng tapi keluar karena memang sudah tidak setuju dengan manhaj yang diusung oleh PKS hari ini. Permasalahan dunia digunakan untuk menghantam PKS adalah sikap yang tidak layak ditiru apalagi mencoba mempidanakan orang karena poligami dan pernah berjihad di Afghanistan adalah hal yang sangat tidak bisa diterima oleh logika orang Islam yang masih waras pikirannya. Semoga cacatan kecil ini menjadikan niat lurus dalam mengkritik saudaranya, hanya atas nama aqidah saja bukan atas kepentingan yang lain. Dan semoga catatan ini tidak dipidanakan oleh ustadz Yusuf Supendi karena pencemaran nama baik kepada kepolisian, karena tugas seorang muslim kepada muslim yang lainnya adalah saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Wallahu A’lam

Peradilan Sesat Sang Ustadz
Sunday, 03 April 2011 08:23 |

TPM memperkarakan 7 kejangggalan sidang kepada Komisi Yudisial. Ini bukan rekayasa pertama atas terdakwa. Dengan dalih melindungi keamanan para saksi, majelis hakim pengadilan atas Abu

Written by Shodiq Ramadhan |

Bakar Baasyir (ABB) pada 14 Pebruari lalu tidak menghadirkan 16 saksi. Sebagai gantinya, mereka akan bersaksi lewat telekonferensi. ‘’Lucunya,’’ kata Mahendradatta dari Tim Pengacara Muslim (TPM) yang membela Abu Bakar Ba’asyir, ‘’majelis hakim menolak permintaan 2 saksi yang ingin bersaksi langsung di pengadilan.’’ Pada hari sidang, saksi Joko Daryono alias Toyib, menolak memberi keterangan melalui telekonferensi. Ia juga tidak membubuhkan materai di atas kesaksian tertulisnya padahal saksi lainnya membubuhkan. Toyib lalu meninggalkan rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, tanpa bersaksi. Hal yang sama dilakukan Mujahidul Haq alias Mujahidin bin Abdul Wahab. Ia menolak telekonferensi dan meminta dihadirkan langsung di ruang persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Penasihat hukum Ba'asyir, Luhtfie Hakim, meminta agar pengadilan tidak merekayasa persidangan dengan menyetujui keputusan menghadirkan saksi melalui telekonferensi dengan pemilihan tempatnya di Mako Brimob. "Itu tidak kondusif dan tidak netral dan itu tidak menjadi pilihan kami," kata Luthfie di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (14/3). "Kita tegaskan bahwa tim penasihat hukum tidak ikut bertangung jawab dan memilih untuk meninggalkan ruang persidangan," imbuhnya menejlaskan alas an Tim Pengacara walk out. Munarman, pengacara Tim Advokasi ABB lainnya, menegaskan bahaya rekayasa itu. ‘’Ada salah seorang calon saksi Ba’asyir yang mengaku ditekan untuk memberi keterangan yang memberatkan Ba’asyir,’’ katanya. Saksi itu konon dipaksa mengatakan Ba’asyir menerima 20 persen dari perampokan CIMB Niaga di Medan yang dituding untuk mendanai terorisme. Padahal, Kapolda Sumut Irjen Pol Oegroseno sudah menegaskan bahwa perampokan Bank CIMB Niaga dan penyerbuan Mapolsekta Hamparan Perak, dilakukan oleh sisa separatis, bukan teroris. Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara pada forum diskusi antara Kapoldasu dengan sejumlah Ormas Islam, MUI Medan dan jajaran Pemko Medan di Ruang Rapat IV, Balai Kota, 23 September 2010. Bukan sekali ini Ustadz Abu hendak dijebak dengan saksi yang direkayasa. Pada 3 Maret 2005, ia dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara potong tahanan oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) No 1783/Pid.B/2004/PN.Jak.Sel dan dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) DKI No 46/PID/2005/PT.DKI tanggal 11 Mei 2005 atas tuduhan ''permufakatan jahat'' (pasal 187 ke3 KUHP). Vonis itu didasarkan pada dialog fiktif antara beliau dengan Amrozi yang konon disaksikan Utomo Pamungkas sekitar bulan Juli-Agustus 2002. Amrozi konon bertanya: ''Bagaimana kalau kawan-kawan mengadakan acara di Bali?'' Ustad menjawab: ''Terserah pada kalian, karena kalian yang tahu situasi di lapangan.'' Ternyata, sementara Utomo Pamungkas dihadirkan, Amrozi tidak pernah dihadirkan di persidangan. Amrozi lalu membuat surat pernyataan bermaterai yang menegaskan tidak pernah ada dialog tadi. Namun surat pernyataan Amrozi itu diabaikan oleh majelis hakim tingkat banding dengan alasan bahwa surat pernyataan itu bukan keterangan yang diberikan di bawah sumpah. Bahaya rekayasa telekonferensi itulah yang dipersoalkan TPM dengan mendatangi Komisi Yudisial (KY). Kepada KY, TPM mengemukakan 7 poin kesesatan pengadilan Ustadz Abu. Pertama, Majelis Hakim dinilai tidak adil dengan memihak salah satu pihak yaitu Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dalam persidangan, para saksi tidak dihadirkan. Hakim menggunakan teleconference untuk bersaksi tanpa menanyakan pendapat pengacara terlebih dulu., ada 2 saksi yang mengatakan secara langsung kalau dirinya ingin datang untuk menghadiri persidangan. Namun majelis hakim menolak dan menyuruh saksi untuk tetap melakukan teleconferance.

Lalu dari 16 saksi yang bersaksi, ada 1 saksi yang sebelumnya tidak diberitahu ke tim pengacara. Saksi bernama Joko Dariyono juga tidak membubuhkan materai di atas kesaksian tertulisnya padahal saksi lainnya membubuhkan materai. TPM juga mempersoalkan pengusiran wartawan JAT Media Center oleh hakim. Wartawan tersebut dinilai terlalu menyorot wajah sehingga hakim terganggu. Tak hanya itu, pengacara Abu Bakar Ba’asyir yang bernama Made Rahman Marasabesi dikeluarkan dari persidangan karena dianggap membuat kegaduhan di persidangan. Rahman juga harus menjalani persidangan tanggal 25 Maret 2011 akibat kegaduhannya tersebut. TPM pun heran kenapa polisi bersenapan laras panjang bisa masuk ke ruang persidangan saat akan membawa keluar pengacara Made Rahman. Padahal di dalam ruang sidang dilarang membawa senjata. Majelis hakim sendiri dinilai membiarkan polisi bersenjata masuk karena hakim tidak melarang ataupun menyuruh polisi keluar. (nurbowo)

(BOX) Asing Membidik Ustadz Abu

• Fred Burks, mantan penerjemah Gedung Putih, kepada The Washington Post (9/12/2004) mengungkap pertemuan rahasia di rumah dinas Megawati Jalan Teuku Umar pada 16 September 2002 antara Ralph L Boyce (Dubes AS untuk Indonesia), Karen Brooks (Direktur Asia National Security Council), seorang perempuan agen CIA asisten khusus Presiden Bush, dan Burks serta Megawati. Dalam pertemuan 20-an menit itu Amerika minta agar Abubakar Baasyir diserahkan ke Amerika karena terkait jaringan Al-Qaeda. Megawati menolak. Si agen CIA mengancam: "Jika Ba'asyir tidak diserahkan ke Amerika sebelum Konferensi APEC (enam minggu setelah pertemuan itu) situasi akan tambah sulit.’’ Pertemuan pun bubar, lalu bom Bali meledak pada 12 Oktober 2002. • Pemerintah AS mengutus Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Tom Ridge pada 10 Maret 2004 untuk menekan Presiden Megawati, Menko Polkam SBY, dan Kapolri Jendral Da'i Bachtiar agar tetap menahan Ustadz Abu setelah bebas dari Rutan Salemba. • Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Syafii Maarif menulis kesaksiannya di Republika (13/4/04) bahwa ia diminta langsung oleh Dubes AS di Jakarta Ralph L Boyce (28/3/04) agar melobi Ketua MA dan Kapolri supaya Ust Abu tetap ditahan sebelum pemilu dilangsungkan. Syafii tidak mau jadi kacung AS. • Ketua Ikhwanul Muslimin Indonesia Habib Husein al-Habsyi, seperti dikutip Koran Tempo (Januari 2005), mengungkap rencana yang diungkapkan Dubes AS Ralph Boyce dan Dubes Australia David Ritchie kepada Kapolri untuk membawa Ba`asyir ke kamp tahanan Guantanamo di Kuba. • Duta Besar Australia di Jakarta, David Ritchie, menyatakan: “Masyarakat internasional tidak memiliki simpati terhadap orang-orang seperti Ba’asyir, yang terbukti di pengadilan terlibat konspirasi dalam kasus bom Bali I yang menewaskan 202 orang, dan 88 orang di antaranya warga Australia. Apakah orang yang telah membunuh 202 orang tersebut layak mendapatkan remisi? Kami tetap mengawasi dia meski Azahari sudah terbunuh” (Jawa Pos, 14 November 2005). • Diplomat Australia, Duncan Campbel, minta kepada pemerintah SBY agar tidak perlu mengadili teroris seperti Abu Bakar Ba'asyir, tetapi langsung menembak mati saja agar tidak mahal biayanya (Sidney Morning Herald, 19/12/04). • Gagal dengan tuntutan maksimal itu, berulangkali Australia memprotes keras terhadap pemberian remisi (pengurangan hukuman) bagi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Bahkan Kedubes Australia sampai mengutus petugasnya ke Lapas Cipinang untuk memeriksa dokumen pengajuan remisi Ustadz Ba’asyir. Setelah mendapat remisi 4,5 bulan pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-60, Ustadz Abubakar Ba'asyir mestinya kembali akan mendapat remisi Lebaran 2005. Tapi, hak ini hilang karena tekanan keras Australia

terhadap Indonesia. Tak tanggung-tanggung, protes atas rencana pemberian remisi Lebaran kepada ABB langsung disampaikan PM John Howard. Seperti dikutip AFP, Howard mengatakan remisi akan menimbulkan ''kemarahan yang dalam dan abadi'' di negaranya. Hasilnya, dikatakan Howard, ''Kami menerima jaminan dari otoritas di Indonesia bahwa remisi secara otomatis tidak akan diberikan kepada orang-orang tertentu.’’ • Menanggapi ulah Australia tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyindir, ''Memang, untuk luar negeri, apapun yang terjadi di Indonesia, selalu dikait-kaitkan dengan pendukung Abu Bakar Ba'asyir.''

atu Bom Beragam Target
Saturday, 02 April 2011 20:14 |

Peristiwa bom selalu ditudingkan pada Islam karena menguntungkan secara nasional maupun internasional. Akhirnya, Polri menari atas gendang yang ditabuh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Setelah didesak oleh Presiden SBY dan petinggi partai Demokrat untuk mengungkap kasus bom buku, Polri menduga pelaku pengirim bom adalah para simpatisan JI (Jamaah Islamiyah). "Belum bisa dikategorikan 100 persen, tapi (JI) ini sifatnya baru dugaan saja," ujar Kabag Penum Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar, kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta (24/3). Boy beralasan, dugaan dilatari kemiripan modus dan jenis bom serta hasil penyelidikan sementara Polri terhadap aksi teror beberapa tahun lalu. Pada Selasa (15/3), ditemukan tiga paket buku berisi bom di Jakarta. Bom pertama ditujukan kepada Ulil Abshar Abdalla. Bom ini sempat meledak di Utan Kayu Jakarta Timur dan melukai 5 orang, termasuk polisi. Bom kedua ditujukan kepada Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional, Gories Mere, yang berhasil diamankan Tim Gegana Mabes Polri di Markas BNN Jakarta. Bom ketiga ditujukan kepada Japto Soerjosoemarno di rumahnya di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Bom ini juga berhasil dijinakkan Tim Gegana. Dua hari kemudian, Kamis (17/3), paket buku berisi bom juga ditemukan di rumah Ahmad Dhani di Pondok Indah. Lagi-lagi bom bisa dijinakkan. Kepala BNPT, Ansyaad Mbai, berteori bahwa ada benang merah kasus paket bom untuk Ulil Abshar Abdalla dengan terget bom lainnya. Semua target bom dikategorikan sebagai kafir yang wajib diperangi. "Kita hubungkan soal kasus Ulil dan target yang lain, ada satu benang merah, semua dikategorikan kafir harb, kafir yang wajib diperangi," kata Mbai dalam diskusi di Warung Daun, Cikini Raya, Jakarta, Sabtu (19/3/2011). Dengan fasih Mbai mengatakan, para peneror bom ideologinya ingin mendirikan khilafah, dengan membentuk Negara Islam Indonesia. ‘’Siapa yang menentang mereka, wajib diperangi,’’ ujar Mbai. Namun, menurut mantan Koordinator Kontras, Munarman, kasus pengiriman bom buku itu menggelikan. Misalnya, di paket tersebut tertera pengirimnya dengan alamat lengkap sampai nomor ponsel segala –meskipun semuanya cipoa. Paket bom yang dikirim dan meledak di Perumahan Kota Wisata, Cibubur, dibungkus plastik hitam dan ditulis ‘’ini bom’’. ‘’Penanganan bom yang sembrono oleh seorang pimpinan polisi sehingga melukai tangannya, jelas sebuah dagelan yang tidak lucu,’’ lanjut Munarman.

Written by Shodiq Ramadhan |

Karenanya, banyak pihak menduga bom buku ini cuma akal-akalan penguasa seperti biasanya. Misalnya Anggota Komisi III DPR RI, Trimedya Panjaitan, yang menduga bahwa rentetan teror bom buku merupakan pengalihan isu dari reshuffle kabinet. "Kita khawatir hiruk pikuk reshuffle membuat 3 peristiwa terjadi dalam 1 hari yakni teror bom itu," ujar Trimedya seperti dikutip tribunnewas.com (16/3/2011). Ia menegaskan, pemerintah sudah sangat terpojok soal reshuffle, sehingga terjadilah teror bom buku sebagai pengalih isu. "Ini pengalihan isu, karena apa yang bahaya dari Ulil, terus Japto apa yang bahaya. Terus BNN, BNN kan bukan kaya KPK, yang ditangkap BNN kan artis, siapa peduli sama artis, ini kan yang ditangkap BNN anak manis semua, tapi diteror bom, kan lucu," gugat Trimedya. Menurut pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendy Ghazali, maraknya aksi teror bom buku bisa saja menjadi bagian dari upaya pengalihan isu pengungkapan data Wikileaks yang menyerang Presiden SBY yang diungkap dua Koran besar Australia, The Age dan The Sidney Morning Herald. Walau operasinya lucu, Ketua Tim Advokasi Forum Umat Islam (FUI), Munarman, menilai si peneror bom buku bukan orang sembarangan. Menurutnya, pelakunya adalah orang yang membenci Islam yang terlatih. "Si pembuat bom bukan menarget orang-orang yang dikirimi paket bom buku. Tapi, tujuannya agar pemuda Pancasila misalnya, kemudian marah, lalu membenci kalangan Islam," kata Munarman. Target yang akan dicapai oleh para pelaku teror itu, kata Munarman, mendiskreditkan organisasi Islam, selain tokoh Islam yang selama ini selalu kencang bersuara. "Tujuan pembuat bom ingin menghancurkan umat Islam. Sehingga masyarakat bergerak, media massa dijadikan provokator kemudian menyerang kelompok Islam. Ini sebuah permainan yang dibuat yang anti Islam. Bisa saja ini dikatakan sebuah permainan intelijen," tandas Munarman. Menurut mantan Kepala Bakin, AC Manullang, otak intelektual di balik rangkaian aksi bom buku akhir-akhir ini bukan orang Indonesia, melainkan pihak luar yang memanfaatkan orang Indonesia. "Saya melihat dari data intelijen, di belakang yang bermain bukan orang Indonesia. Tapi memanfaatkan orang dalam negeri. Jadi mereka dimanfaatkan orang luar," terangnya. Manullang yakin pelaku bom buku bukan berasal dari pemain-pemain lama. Ia juga mensinyalir rangkaian teror di Tanah Air tidak lepas dari rancangan stretagi besar global Amerika Serikat yang bermaksud menyudutkan Islam. "Kalau itu tidak mungkin lepas dari masalah globalisasi. Grand strategy Amerika dengan cara menyelimutkan diri kepada kelompok Islam sebagai targetnya," jelasnya. Menurut Y. Herman Ibrahim, Mantan Kepala Penerangan Kodam III/Siliwangi, mengutip analisis David O Shea dari Australia, ‘’Amerika memerlukan aksi bom di Indonesia untuk membenarkan perang melawan terorisme.’’ Analisis Ibrahim merujuk pada pengakuan Fred Burks, mantan penerjemah Deplu AS, bahwa bom Bali memberi alasan yang diperlukan Megawati untuk menahan Abu Bakar Ba'asyir yang ketika itu gencar dituding Amerika dan Australia sebagai dalang teror bom Bali. Dalam pengakuannya di koran The Washington Post (9/12/04) itu, Burks juga menyatakan bahwa mayoritas korban bom Bali adalah warga Australia (88 orang). Ini membuat pemerintah dan rakyat Australia mendukung perang melawan terorisme, padahal mereka sebelumnya enggan. Sebelumnya, ribuan warga Australia berdemo di jalanan Canberra dan Melbourne menentang agresi Irak. Australia tetap mengirimkan 2000 tentaranya bergabung dengan

Sekutu menggempur Irak. Di bawah panji kepentingan global Amerika, aparat lokal Indonesia memanfaatkan isu terorisme sebagai ‘’proyek’’ semisal pembentukan Densus (Detasemen Khusus) 88 Polri. Satuan khusus ini dibentuk Polri pada 26 Agustus 2004. Ia dirancang sebagai unit antiteror yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teror mulai ancaman bom hingga penyanderaan. Unit khusus berkekuatan 400 personel ini terdiri ahli investigasi, penjinak bom, dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu. Densus 88 dibiayai melalui bagian Diplomatic Security Service Departemen Negara AS. Sudah puluhan juta dolar digelontorkan Amerika untuknya, termasuk guna membangun gedung markasnya. Mereka dilatih langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan US Secret Service. Nah, BNPT, terang Munarman, juga bagian dari penikmat proyek terorisme itu. ‘’BNPT berkepentingan agar isu terorisme ini sambung-menyambung sehingga mereka eksis dan ada kerjaan,’’ katanya. Terlebih, saat ini teori rumah pasir yang mendasari peradilan sesat atas Abu Bakar Baasyir terancam runtuh lantaran pengakuan Khairul Ghazali. Dari balik jeruji besi Polda Sumut, Ghazali menyatakan bertaubat dan menyebut isu terorisme Medan-Aceh hanyalah karangan aparat belaka. (nurbowo) (BOX)

Merekalah Pelaku Bom Bali
Selaku Ahli Peneliti Utama LIPI, Riza Sihbudi pada 2002 memaparkan, pelaku Bom Bali I (12 Oktober 2002) adalah dinas intelijen AS, CIA, yang berkolaborasi dengan dinas intelijen Israel, Mossad, yang bisa jadi juga melibatkan elemen-elemen lokal (Koran Tempo, 18/10/2002). Tujuannya, pertama, untuk membenarkan asumsi yang sudah cukup lama dikembangkan bahwa Indonesia merupakan salah satu sarang terorisme Islam. Kedua, untuk menekan pemerintah Megawati agar segera membungkam gerakan-gerakan Islam di Indonesia yang belakangan makin marak dan makin galak, terutama terhadap konspirasi AS-Israel. Abu Bakar Ba’asyir adalah target utamanya. Ketiga, untuk memecah belah NKRI agar mudah dikuasai dan dikendalikan AS. Keempat, untuk menekan pemerintah Megawati agar mendukung invasi militer AS ke Irak, setelah sebelumnya menduduki Afghanistan. Motif yang sama juga melatari peristiwa Bom Bali II, awal Oktober 2005. Tanpa tedeng alingaling, mantan Presiden Abdurrahman Wahid, seperti dipublikasikan Melbourne Independent Media Center, 17 Oktober 2005, mengungkap bahwa dalang teror bom Bali II adalah agenagen intelijen militer dan polisi yang didanai oleh intelijen Barat (CIA, Mossad, MI-6). Tujuannya antara lain guna membangun histeria anti-Muslim di publik Australia. Juga untuk meraup dukungan publik Australia guna mendukung pengiriman tentara Australia menyerang Irak. (nb)

Bom Menutupi Wikileaks
Saturday, 02 April 2011 18:20 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Hanya sehari-dua, isu WikiLeaks sudah menguap, diganti heboh bom buku. Siapa bermain, siapa diuntungkan ? Heboh Wikileaks yang dimuat dua koran Australia The Age dan Sydney Morning Herald, 11 Maret lalu, hanya berlangsung singkat saja. Dua-tiga hari isu itu sepertinya sudah menguap dari arus utama pemberitaan. Padahal isu Wikileaks ‘super panas’, menyangkut penyalahgunaan kekuasaan Presiden SBY. Wikileaks, seperti sudah banyak diberitakan, membocorkan kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika di Indonesia yang dikirimkan ke Deplu Amerika di Washington dari tahun 2004-2010. Headline Koran The Age “Yudhoyono Abused Power” mengungkapkan bagaimana Presiden SBY memerintahkan Hendarman Supanji – waktu itu Jampidsus- untuk tidak mengusut kasus korupsi petinggi politik Taufik Kiemas. Presiden SBY juga diisukan menggunakan Badan Intelijen Negara (BIN) memata-matai lawan politiknya, sementara istrinya, Christina Herawati dituduh mencari keuntungan bisnis dengan menggunakan wibawa suaminya. Berita Yudhoyono ‘abused power’ itu sungguh mengguncang dunia perpolitikan Indonesia. Tapi, reaksi istana nampaknya tak sepadan dengan beratnya guncangan politik yang bisa ditimbulkan WikiLeaks. Presiden bisa terancam impeachment karena dituduh menyalah gunakan kekuasaan. Sementara konter isu hanya dilakukan jubir istana Julian Adlin Pasha : "Jelas berita ini sangat merugikan reputasi Presiden dan merupakan pencemaran nama baik dan fitnah," kata Julian seperti dikutip detikcom. SBY sendiri tak pernah mengeluarkan pernyataan resmi. Memang Menlu Marty Natalegawa memanggil Dubes Amerika di Indonesia Scot Marcial yang kemudian meminta maaf atas bocornya kabel-kabel diplomatik kedutaannya. Namun sangat terasa itu belum cukup setara bobotnya dengan geger abused power (penyalah gunaan kekuasaan). Wajar jika Aktivis Petisi 28 mendesak Komisi I DPR RI menindaklanjuti pemberitaan soal data korupsi dan penyalagunaan kekuasaan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Data tersebut membuktikan bahwa episentrum korupsi terdapat pada SBY dan keluarga Cikeas. “Data tersebut bukan data sampah. Data tersebut berasal dari bocoran kawat diplomatik. Itu berarti betul,” ujar aktivis Petisi 28, Haris Rusli, di gedung DPR RI, Kamis (17/3). Sementara pengusaha Tomy Winata melayangkan surat protes atau hak jawab terhadap dua media Australia, The Age dan The Sydney Morning Herald. Bos Grup Artha Graha ini menyayangkan dan keberatan atas pemberitaan kedua koran terkemuka Australia tersebut yang menyebut ada hubungan khusus dirinya dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. Selebihnya, bantahan dilakukan TB Silalahi, penasehat Presiden dan Mantan Menteri Penertiban Aparatur Negara. Menurutnya, berita-berita itu bukan berasal dari lingkungan istana. "Duta Besar AS untuk Indonesia sudah menyampaikan bahwa informasi yang disampaikan WikiLeaks itu adalah berita-berita yang diperoleh, barangkali di pinggir jalan. Saya sendiri menganggapnya sebagai berita sampah," terang Silalahi seperti dikutip detikcom. Menurut WikiLeaks, TB Silalahi merupakan informan istana yang membocorkannya ke kedutaan Amerika. Selain TB Silalahi, WikiLeaks juga memperoleh informasi dari Agung Laksono, mantan Ketua DPR yang sekarang menjadi Menko Kesra. Pertanyaan yang menggantung di masyarakat adalah, mengapa Presiden SBY yang ‘tertuduh’ langsung tidak memberikan respon sepantasnya untuk menanggapi isu yang disebut sampah dan fitnah tersebut. Habib Rizieq Syihab (Ketua FPI) menyarankan, “Presiden SBY jangan diam saja, perlu klarifikasi, kalau tidak, akan muncul analisis dan asumsi yang menyesatkan. Kalau perlu mengambil langkah-langkah hukum. Ini menyangkut martabat lembaga tinggi Negara.”, ujar Habib Rizieq ketika diwawancara Suara Islam.

Selain itu, mengapa tidak ada tindakan apapun terhadap sumber informasi yang ternyata berada di lingkungan istana. Menurut Munarman, TB Silalahi maupun Agung Laksono bisa ditutntut hukum pidana dengan hukuman yang berat karena membahayakan keamanan Negara. Dua orang informan tersebut yang keduanya warga negara Indonesia, bisa dituduh menjadi intelijen asing, mata-mata asing. Jika merujuk pada hukum Islam, mata-mata musuh (tajassus) itu bisa dijatuhi hukuman mati. (lihat boks : Hukuman Bagi Mata-mata Asing) Geger WikiLeaks sayangnya hanya sebentar saja, tak lebih hanya empat hari. Setelah itu isu beralih ke merebaknya bom buku yang di blow-up media massa sedemikian rupa. Berawal dari bum buku yang dikirimkan kepada Ulil Abshar Abadlla 15 Maret, isu bom buku kemudian merebak menjadi isu nasional dua minggu berturut-turut, sehingga saking hebohnya, isu bom ini menutupi isu WikiLeaks. Banyak analisis menyatakan bom buku merupakan pengalihan isu atas isu WikiLeaks. Habib Rizieq mengatakan :”Kalau bom buku bukan bom politik, pelakunya pasti bisa cepat diketemukan. Tapi, kalau ini bom politik, sulit ditemukan, karena ini hanya untuk mengalihkan isu”. Bom buku menurut menurut pengamat militer Herman Y Ibrahim, merupakan operasi intelijen. Pelaku bom ini kemudian diarahkan tuduhannya kepada kelompok Islam. Ketua BNPT (Badan Nasional Penganggulangan Terorisme) dalam berbagai kesempatan selalu mengarahkan pelaku bom buku adalah kelompok Islam garis keras.. Demikian juga pandangan mantan Ketua BIN Drs Hendripriyono, dan pengamat politik Dr. Azyumardi Azra, seperti yang diberitakan berbagai media massa. Tapi anehnya, Ulil sendiri dan beberapa orang dari kelompok Liberal, menolak asumsi pelaku bom buku dinisbatkan kepada Islam garis keras :” Ulil menduga rangkaian teror bom yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah dilakukan jaringan tradisional teroris seperti Jamaah Islamiyah. Melainkan, kelompok tertentu yang bermaksud mengirimkan "pesan" bermuatan politis. Alla kulihal, siapa pun yang bermain dibalik bom buku, sudah berhasil menguapkan isu WikiLeaks. Tentu yang paling diuntungkan dengan pengalihan isu ini adalah kalangan istana, TB Silalahi, Agung Laksono, Tomi Winata, dan derivat serta turunan kelompok-kelompok mereka itu semua. Tapi, mungkin juga isu WikiLeaks ini, merupakan sinyal, bahwa bos besar sudah beralih pandangan. Munarman bilang : “Bagi Amerika, tidak ada goodboy, kalau sudah tidak bisa diharapkan, akan disingkirkan. Amerika menerapkan politik Machioavelli, menghalalkan segala cara”. (M. Syah Agusdin, dari berbagai sumber) (BOX)

Hukuman

Bagi

Mata-mata

Asing

Aktivitas mata-mata (spionase) dalam istilah Arab adalah tajassus, artinya mengorek-ngorek suatu berita. Secara bahasa bila dikatakan, jassa al-akhbar wa tajassasaha, artinya adalah mengorek-mengorek suatu berita. Jika seseorang mengorek-ngorek berita, baik berita umum maupun rahasia, maka ia telah melakukan aktivitas tajassus (spionase). Orang semacam ini disebut jaasus (mata-mata). Suatu aktivitas bisa terkategori tajassus (spionase), jika di dalamnya ada unsur mengorek-ngorek (mencari-cari) berita. Sedangkan berita yang dikorekkorek (dicari-cari itu) tidak harus berita rahasia. Akan tetapi semua berita, baik umum maupun rahasia. Hukum aktivitas tajasus berbeda sesuai objek pengintaiannya. Jika objeknya adalah umat Islam atau ahlul dzimi yang mendapat hak perlindungan, maka hukumnya haram dan tidak dibolehkan. Sementara jika objek pengintaiannya adalah kafir harbi, baik secara hakikat mauapun secara hukum, maka boleh bagi umat Islam untuk melakukan mata-mata, dan wajib bagi kepala negara. (lihat Syakhsiyah Islamiyah juz II, karya Taqiyuddin An Nabhani)

Kegiatan memata-matai umat Islam dan ahlul dzimmi serta memberikan informasi itu kepada negara asing (kafir) dihukumi haram berdasarkan ayat Al-Qur’an yang tegas (shorih). Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari kesalahankesalahan orang lain” (QS Al-Hujurat: 12). Hukuman bagi tindakan spionase termasuk dalam kategori ta’zir. Bentuk hukuman bagi matamata yang melakukan spionase demi kepentingan orang/negara kafir ditentukan berdasarkan intensitas dan agamanya. Kalau dia seorang kafir harby (orang kafir yang memusuhi Islam), maka hukumannya adalah hukuman mati, dan tidak ada hukum lain. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Salmah ibn Al-Akwa’ berkata: “Seorang matamata dari orang musyrik menemui Nabi yang sedang dalam perjalanan, ia duduk diantara para sahabat sambil bercakap-cakap, lalu pergi secara diam-diam. Lalu Nabi berkata: cari dan bunuh dia! Maka aku mendahului yang lain untuk mendapatkan dia, lalu aku membunuhnya, kemudian Rasululloh saw. memberikan barang rampasannya kepadaku”. Sementara bagi orang kafir dzimmi, bila ia menjadi mata-mata untuk kepentingan negara asing maka hukumannya adalah penjara mulai 5 hingga 25 tahun. Sanksi itu boleh juga ditambah hingga menjadi hukuman mati. Bagi orang muslim yang melakukan mata-mata untuk pihak musuh, maka ia tidak divonis mati, karena Rasulullah Saw pernah memvonis mati pada orang dzimmi, tapi setelah dipastikan dia telah masuk Islam, beliau mencabut vonis itu. Menurut Dr Abdurrahman Maliki dalam kitab Nidzamul Uqubat disebutkan bahwa vonis bagi muslim yang menjadi mata-mata adalah hukuman 5 sampai 25 tahun. Ketetapannya diserahkan kepada kepala Negara atau Qadhi. (shodiq ramadhan)

Komprador Pembocor Aib Negara
Saturday, 02 April 2011 16:50 |

Tiopan Bernhard Silalahi disebut-sebut sebagai informan terpenting Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta yang diungkap WikiLeaks. Ia bisa dikenai pasal kejahatan terhadap negara. Tapi mengapa aparat diam-diam saja? Ban bocor itu perkara biasa. Hanya dengan ongkos lima ribu rupiah, setengah jam kemudian tukang tambal ban sudah bisa menanggulangi kebocoran itu dengan rapi. Tapi jika aib dan rahasia negara yang bocor, stabilitas nasional terkoyak dan kredibilitas pejabat negara pun longsor. Apalagi jika berbagai informasi itu dibocorkan ke negara asing dan kemudian diumbar bebas ke jaringan internet. Hal itulah yang terjadi sejak dua pekan lalu, ketika berbagai informasi sensitif dan rahasia yang menyangkut Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dibocorkan para komprador kepara para diplomat Amerika Serikat, lalu diunduh penyedia jasa dokumen via internet WikiLeaks, dan kemudian diungkap dan diumbar bebas oleh media asing. Sayang, hingga kini si pembocor informasi itu masih bisa berlenggang kangkung. Semua berawal dari headline dua koran terbitan Australia, The Age dan The Sydney Morning Herald (TSMH), Jum’at, 11 Maret lalu. Dengan judul “Yudhoyono ‘Abused Power’” dan sub judul “Cables Accuse Indonesian President of Corruption", The Age menulis isu-isu sensitif tentang SBY dan orang-orang di sekitarnya. Adapun TSMH mengerek judul, “Corruption Allegations Against Yudhoyono” di headline dan satu artikel berjudul, “Allegation of Fear and Favour Persist” di halaman 6.

Written by Shodiq Ramadhan |

Ketiga artikel itu ditulis Philip Dorling, wartawan Australia yang ahli masalah Indonesia dan getol menulis dengan bahan bocoran WikiLeaks. Ketiga tulisan itu intinya sama dan saling melengkapi, dengan bahan berbagai kawat diplomatik Kedubes AS yang diperoleh WikiLeaks. Pembongkaran itu terjadi saat Wapres Boediono bertemu Perdana Menteri ad interim Australia Wayne Swan di Canberra dan berdialog tentang reformasi birokrasi Indonesia yang korup. Artikel-artikel itu mengungkap sejumlah kawat diplomatik rahasia AS hasil bocoran informasi sumber dalam negeri tentang dugaan keterlibatan SBY di sejumlah kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Tentu saja hal ini menodai reputasi SBY yang dikenal sebagai politisi bersih dan reformis. Menurut kawat itu, SBY dikabarkan telah turut campur secara pribadi, serta mempengaruhi jaksa dan hakim untuk melindungi kasus korupsi yang melibatkan tokoh-tokoh politik. Berdasarkan laporan itu, The Age mengungkap bahwa istri SBY, Kristiani Herrawati dan keluarga besarnya berupaya memperkaya diri dengan berbagai koneksi politik dan pengaruh. “Banyak sumber bercerita kepada kami bahwa anggota keluarga Kristiani mulai membangun perusahaan untuk mengkomersilkan pengaruh keluarga mereka,” tulis koran itu dengan mengutip kawat diplomatik AS. TSMH bahkan menulis, karena pengaruh sang first lady di belakang layar, Kedubes AS menggambarkan Kristiani sebagai “salah satu anggota kabinet” dan “penasehat utama Presiden yang tak terbantahkan.” Padahal, mereka melaporkan pula bahwa, “Sebagai Penasehat Presiden, TB Silalahi bercerita (kepada diplomat AS), bahwa para anggota Staf Presiden makin merasa terpinggirkan dan tak bisa memberikan nasehat kepada Presiden.” Sementara, tulis Dorling di TSMH, Yahya Asagaf (seorang agen) dari BIN, mengatakan bahwa pendapat sang Ibu Negara adalah acuan satu-satunya di berbagai masalah. Dengan tegas, beberapa kontak Kedubes AS mengidentifikasi Kristiani sebagai orang yang paling berpengaruh di belakang kebijakan SBY untuk mencoret Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai sekondannya dalam pemilu presiden 2009 lalu. Laporan yang diperoleh WikiLeaks dan disajikan secara eksklusif oleh The Age menjelaskan, tak lama setelah menjadi Presiden pada 2004, SBY mengintervensi kasus Taufik Kiemas, suami bekas Presiden Megawati Sukarnoputri. Taufik dilaporkan telah memanfaatkan pengaruh istrinya di PDI Perjuangan, untuk mencari perlindungan atas tuntutan dari apa yang disebut para diplomat AS itu sebagai “sebuah korupsi paling legendaris di masa jabatan isterinya.” Kedubes AS melaporkan pula bahwa pada Desember 2004, informan politik mereka yang sangat berharga sekaligus Penasehat Presiden TB Silalahi, mengatakan bahwa Hendarman Supandji --dalam laporan disebut sebagai Asisten Jaksa Agung dan Ketua Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi-- telah mendapat bukti cukup, dalam kasus korupsi yang melibatkan Taufik, untuk menangkap sang “first gentleman”. “Tapi Silalahi bercerita ke Kedubes AS bahwa SBY memerintahkan kepada Hendarman untuk tidak melanjutkan kasus Taufiq,” tulis laporan itu. Beberapa aib yang tertuang dalam kawat-kawat rahasia itu juga diungkap di tulisan Dorling. Misalnya dugaan bahwa SBY dan Sekkab Sudi Silalahi mengintimidasi seorang hakim dalam kasus sengketa Partai Kebangkitan Bangsa, untuk mengontrol PKB Gus Dur. Menurut kontak Kedubes AS itu, Sudi mengatakan kepada sang hakim, “Jika persidangan membantu (PKB Gus Dur), itu sama saja membantu menggulingkan pemerintahan.” Namun. intervensi tangan kanan SBY ini tak langsung berhasil karena menurut sumber Kedubes AS yang punya hubungan dekat dengan PKB dan pengacara, para pendukung Gus Dur menyuap hakim Rp 3 milyar untuk putusan yang memenangkan kubu PKB Gus Dur. Tapi, sasaran strategis SBY tercapai setelah tekanan luar terhadap posisi sulit Gus Dur memaksa PKB mendukung pemerintah. Dalam kawat-kawat itu SBY juga dilaporkan telah memanfaatkan BIN untuk mengintai menterinya sendiri. “Menurut seorang pejabat intelijen Indonesia, SBY memerintahkan Kepala BIN Syamsir Siregar agar anak buahnya memata-matai menteri senior di kabinetnya,

Mensesneg Yusril (Ihza) Mahendra, saat kunjungan rahasia ke Singapura untuk bertemu para pengusaha keturunan Cina di sana,” tulis laporan itu. SBY pun menugasi BIN untuk memata-matai bekas Panglima TNI Jenderal Purn. Wiranto, saingannya di pemilihan presiden. Lagi-lagi sumber info itu adalah TB Silalahi. “Pak (TB) Silalahi bercerita kepada beberapa diplomat AS bahwa Pak Yudhoyono membagi laporan yang sangat sensitif dari BIN tentang berbagai masalah politik hanya untuk dirinya dan Sekkab Sudi Silalahi,” tulis laporan yang dikutip TSMH. Meski SBY menang besar dalam pemilu 2009, utusan AS menyimpulkan bahwa ia mulai kehilangan dukungan politik. Kontroversi politik sejak akhir 2009 hingga 2010, membuat popularitas SBY jatuh, dan menurut Kedutaan AS, telah membuat Presiden makin lumpuh. “Karena tak ingin mengambil risiko dikucilkan dari parlemen, media, birokrasi dan masyarakat sipil, reformasi SBY menjadi lambat,” tulis Dorling berdasarkan laporan itu. Selain soal politik, bocoran kawat juga menyinggung soal ekonomi. Seperti dilansir The Age, dan situs asiasentinel.com, terungkap bahwa di sebuah pertemuan di tahun 2006 dengan Ketua Umum Partai Demokrat, SBY meratapi kegagalannya dalam berbisnis. Ia tampaknya merasa “harus mengejar ketinggalan (dan) ingin memastikan bahwa ia meninggalkan warisan yang cukup besar bagi anak-anaknya.” Untuk menyelidiki kepentingan pribadi, politik, dan bisnis SBY, diplomat AS mencatat hubungan SBY dan pengusaha Indonesia keturunan China, terutama Tomy Winata, yang ditengarai anggota “Geng Sembilan Naga”. Menurut kawat-kawat itu, pada 2006, Agung Laksono, kini Menkokesra, mengatakan kepada pejabat Kedutaan AS bahwa TB Silalahi, Penasihat Presiden di bidang politik, “berfungsi sebagai perantara, yang menyalurkan dana dari Tomy ke SBY, (dan) melindungi SBY dari potensi kewajiban yang bisa muncul bila SBY berurusan langsung dengan Tomy.” Tomy dilaporkan telah memanfaatkan pengusaha muda Muhammad Lutfi sebagai channel dana untuk SBY. SBY pun akhirnya menunjuk Lutfi sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM). Dalam kawat-kawat itu, pejabat senior BIN, Yahya Asagaf, juga mengatakan kepada Kedutaan AS bahwa Tomy sedang berusaha mengembangkan pengaruh dengan menggunakan pembantu senior presiden sebagai chanelnya ke istri Presiden, Kristiani Herawati. Tercoreng dan Terpukul

Bocornya berbagai aib dan informasi peka itu tentu saja mengundang reaksi. Presiden SBY jelas paling terpukul. Sebab, rangkaian tulisan di The Age dan di TSMH itu telah mencoreng wajah dan citranya sebagai politisi santun. Saking terpukulnya, sampai-sampai SBY tidak shalat Jum’at pada Jum’at siang itu. Dia dikabarkan hanya mengurung diri di Istana. “Pak SBY sedang kurang sehat,” kata Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. Padahal, Kamis Sore, 10 Maret, SBY sudah mendapat kabar via faksimili tentang rencana The Age dan TSMH menurunkan berita itu. Malam itu, pukul 21.00, SBY memanggil sejumlah menteri untuk membahasnya. Dua setengah jam kemudian, berita itu tayang di situs dua koran tadi. “Semalam Presiden sudah membaca berita yang dirilis dan diangkat kedua media,” kata Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, Jumat, 11 Maret 2011. Menurut Julian, Presiden sangat kaget dan menyesalkan ketidakvalidan data mereka. Namun, kata sumber Suara Islam (SI) di Istana Negara, malam itu raut muka SBY langsung kecut saat membaca tulisan-tulisan itu. Ia lalu membantah satu per satu. Sementara istrinya, Ani Yudhoyono, tampak murung dan berkali-kali mengurut dada. Esok harinya, Jumat 11 Maret, rapat kabinet digelar untuk membahas masalah ini. Hulu balang istana tentu membantah keras semua isi pemberitaan kedua koran itu. “Itu kami sesalkan, terutama yang dikatakan Ibu Negara adalah broker. Itu luar biasa menghina,” kata Sudi di Kantor Presiden, Jakarta. “Martabat negara kita betul-betul dilecehkan,” tambahnya. Menurut dia, Ibu Negara sampai menangis, sedih dan merasa terpukul oleh pemberitaan kedua media asing itu.

Bantahan juga dinyatakan Menkopolhukkam Djoko Suyanto. “Tuduhan bahwa Presiden SBY dan Ibu Ani korupsi, menyalahgunakan kekuasaan, mempengaruhi proses pengadilan adalah tidak benar,” ujarnya. Sementara, kata Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga, berita itu palsu. “Isinya penuh sensasi dan seronok, penuh bualan dan basi,” kata dia. Menurut Daniel, pemerintah sedang mengambil langkah untuk meluruskannya, antara lain meminta Kedubes AS dan TB Silalahi mengklarifikasi. Karena itu, Jumat pagi, Duta Besar AS Scot Marciel langsung dipanggil Menlu Marty Natalegawa. Pemerintah pun melayangkan nota protes ke Washington, dan mengirimkan surat protes ke kedua koran itu. Pemerintah AS lewat Kedubesnya di Jakarta pun meminta maaf. “Pengungkapan informasi ini benar-benar sangat tidak bertanggung jawab. Kami mengungkapkan penyesalan paling mendalam kepada Presiden Yudhoyono dan rakyat Indonesia,” demikian pernyataan resmi Kedutaan Besar AS di Jakarta. Tapi tunggu dulu. Dalam pernyataan resminya, Kedubes AS tak membantah isi kawat-kawat diplomatik itu. Sementara dalam jumpa pers janggal di Kemlu usai pertemuan Marty dan Marciel, Dubes AS itu menolak membenarkan atau menyangkal kebenaran kawat-kawat itu. Ia juga tak mau mengomentari berbagai tuduhan dalam kawat dipomatik itu. Belakangan ia kemudian kabur saat Marty masih melayani jumpa pers. Anehnya, Sudi menyatakan tak akan meminta keterangan TB Silalahi, yang disebut beberapa kali sebagai sumber informasi kawat diplomatik rahasia Kedubes AS yang disadap Wikileaks serta dimuat The Age dan TSMH itu. Padahal ia pun disebut sebagai informan politik terpenting bagi AS di Jakarta. “Biar yang bersangkutan saja (mengklarifikasi),” kata Sudi. TB Silalahi dan Perannya

Tentu saja TB Silalahi membantah semua berita itu. Menurut dia, peristiwa dirinya berkata kepada diplomat AS seputar intervensi SBY ke Kejaksaan Agung itu tak pernah ada. “Mungkin diplomat-diplomat muda ini ingin menunjukkan prestasi dengan mengarang apa saja, seakanakan menunjukkan bahwa mereka berhasil (mengumpulkan informasi),” ujarnya. TB Silalahi pun menyalahkan sebutan yang dipakai untuknya sebagai informan AS. “Apa Amerika itu intelnya goblok? Nama dan jabatan informannya disebut lengkap. Mana pernah ada di dunia intelijen, informan dibuka kedoknya,” ujarnya. Ia lalu menjelaskan bahwa dirinya memang kerap bertemu diplomat asing, tak hanya dari AS. “Tapi masa kita menjelekkan pemerintah kita sendiri?” katanya. Isi laporan itu, kata TB Silalahi, sangat tak masuk akal. Sebab, Desember 2004, Hendarman belum jadi Jampidsus. “Hendarman baru diangkat jadi Jaksa Agung Muda pada 21 April 2005, dan menjadi Ketua Timtastipikor pada 2 Mei 2005,” ujarnya. Jadi tidak logis jika pada Desember 2004 ia melaporkan bahwa SBY telah memerintahkan Hendarman sebagai Jaksa Agung Muda, unyuk menghentikan pemeriksaan Taufiq Kiemas. “Laporan itu jelas sekali bohong,” katanya. Tomy Winata, pengusaha yang disebut sebagai cukong SBY juga membantah berita itu “Andaikata saya harus jilat sepatu bapak-bapak (para wartawan) yang penuh dengan kotoran, harga diri saya itu tidak direndahkan oleh bapak-bapak. Demi 1 juta keluarga yang harus hidup bulan-bulan ke depan. Asal itu jangan jadi berita yang dipercaya,” kata bos Artha Graha itu heroik, di hotel miliknya, Hotel Borobudur. Hubungan TB Silalahi dengan Tomy memang sangat dekat. Kedekatan mereka terjalin saat TB Silalahi menjadi Ketua Yayasan Eka Paksi milik TNI AD, yang banyak bekerja sama dengan Grup Artha Graha milik Tomy. Tapi Tomy membantah tudingan WikiLeaks. “Hubungan saya dengan Presiden hanya hubungan warga negara dengan pemimpin pemerintahan,” ujarnya. Soal kedekatannya dengan TB Silalahi, ia mengaku hanya hubungan kerja biasa. Tapi, benarkah Hendarman Supandji baru menjabat sebagai Jaksa Agung Muda pada 21 April

2005? Ternyata, setelah ditelusuri via internet, diketahui bahwa Hendarman menjabat sebagai Jampidsus pada 25 April 2002 sampai 2004, bukan 25 April 2005, seperti kata TB Silalahi. Dari situs Kepustakaan Kepresidenan, situs Kejaksaan Agung, dan sebagainya, diperoleh data sama: Hendaraman diangkat menjadi Jaksa Agung Muda di masa Jaksa Agung Abdurrahman Saleh pada 2002-2004. Jadi tampak jelas siapa yang berkelit namun gagal. Sayang, gawatnya laporan TB Silalahi sebagai informan AS, tak dirasa penting oleh SBY dan hulu balangnya. Mereka merasa lebih penting membantah apa yang dilaporkan sebagai “laporan yang tidak benar tentang SBY”. Memang, di sebuah talkshow di Metro TV, Staf Khusus Presiden Daniel Sparingga, menyeru TB Silalahi agar mengklarifikasikan omongannya ke Kedubes AS. Daniel menyarankan kepada TB Silalahi agar jika bicara dengan diplomat asing, terutama AS, harus hati-hati. “Janganlah omongan, gosip kelas warungan, dibungkus menjadi seperti cerita yang benar, lalu diteruskan ke diplomat asing seperti dari AS,” ujarnya. Kata Daniel, itu sangat berbahaya karena mereka bisa menganggap serius, dijadikan data diplomatik dan dilaporkan ke pemerintah pusatnya. Padahal, kawat diplomatik bukanlah sekadar laporan biasa. Kawat diplomatik biasa ditulis para diplomat berdasarkan konversasi ataupun pengamatan di negara penempatan. Kredibilitas kawat itu sulit diragukan karena -seperti berita wartawan atau hasil riset peneliti– selalu dicek silang, dirapatkan, diperiksa atasan, dan diverifikasi sebagai dokumen negara. Karena itu, “TB Silalahi harus dipanggil dan ditanya,” kata bekas KSAD Tyasno Sudarto di Jakarta, Ahad (20/3/2011). Tangkap Antek Asing

Sementara itu, menurut Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia Prof. Dr. Hikmahanto Juwana, pemerintah harus membentuk tim investigasi yang independen dan kredibel untuk mengungkap para pejabat yang memberikan informasi kepada diplomat AS dan motivasi mereka. “Ini penting karena laporan diplomat AS ke Washington tak mungkin hasil rekayasa mereka sendiri,” ujarnya. Karena itu, jika isi kawat ini benar, apa yang dilakukan TB Silalahi adalah sebuah tindak pidana atas negara dan harus ditindaklanjuti dengan serius BIN. Menjadi informan pihak asing adalah perbuatan serius yang bisa digolongkan sebagai mata-mata asing. “Perbuatan ini adalah suatu pengkhianatan terhadap negara,” kata pengacara senior dan Direktur An-Nashr Institute Munarman SH. Hingga kini aparat kepolisian masih tenang-tenang saja. Padahal, kasus seperti ini bukanlah delik aduan. Dalam pasal 112 KUHP disebutkan bahwa, Barang siapa dengan sengaja mengumumkan surat-surat, berita-berita atau keterangan-keterangan yang diketahuinya bahwa harus dirahasiakan untuk kepentingan negara atau dengan sengaja memberitahukan atau memberikannya kepada negara asing, diancam penjara paling lama 7 tahun. “Polisi bisa langsung menyidik. Antek-antek asing seperti dia harus ditangkap,” kata Munarman. Memang, hingga kini belum jelas detail isi kawat diplomatik Kedubes AS di Jakarta, dan berbagai informasi yang dilaporkan TB Silalahi, kecuali yang sudah dimuat The Ages dan TSMH. Jadi belum diketahui apakah laporan-laporan itu menyangkut rahasia negara, atau justru hanya “sekadar” aib SBY. Sebab, jika baru sebatas laporan tentang penyalahgunaan kekuasaan SBY, laporan itu belum dapat digolongkan sebagai perbuatan kejahatan terhadap negara. Saat ini konon masih banyak bocoran kawat Kedubes AS di Indonesia yang dipegang WikiLeaks. Pembocoran kawat ini memang telah didengung-dengungkan sejak akhir tahun lalu. Menurut WikiLeaks, masih ada 3.059 kawat diplomatik dari Kedubes AS di Jakarta dan Konsulat Jenderal di Surabaya. Berarti siapapun harus siap menanti bocoran aib yang masih mengancam.

Abu Zahra (TSMH, The Age dan Berbagai Sumber)

Haru-biru SBY: Dari WikiLeaks Sampai Batalnya Rehsuffle dan Kenaikan BBM
Saturday, 19 March 2011 22:58 |

HM Aru Syeiff Assadullah Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Islam Dua minggu terakhir ini bangsa Indonesia dibuat pusing Tujuh Keliling diajak elite politik mengikuti geger isu rencana perombakan atau reshuffle Kabinet SBY Jilid II ditingkah dengan perdebatan rencana penghapusan subsidi BBM… Rakyat hampir tiap jam mengikuti perdebatan itu melalui tayangan TV yang kini bisa diikuti seluruh rakyat Indonesia secara bersamaan baik yang tinggal di ibukota Jakarta, sampai Merauke hingga ke pedalaman Aceh. Usul kenaikan BBM Premium Rp 500 atau penerapan pembatasan BBM bersubsidi---maknanya rakyat dipaksa membeli Pertamax yang harganya dua kali lipat premium---ujungnya, rencana ini dibatalkan, menyusul penolakan DPR melalui Fraksi PKS dan PDIP. Isu Resuffle pun dikabarkan dibatalkan pula. Apa pasal? Menurut Prof. Tjipta Lesmana, dirinya tetap yakin perombakan kabinet tetap akan dilaksanakan, alasannya pernyataan presiden SBY sendiri sudah mengisyaratkan dengan jelas. Hanya kata Tjipta muncul rumors yang membuat SBY menjadi ragu-ragu, yakni ancaman dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) jika kader PKS yang duduk di kabinet digeser, maka PKS akan mengambil posisi sebagai kelompok oposisi radikal dan bergabung bersama-sama ormasormas Islam militan untuk menggulirkan revolusi ala Tunisia, Mesir dan Timur Tengah yang kini tengah melanda negeri-negeri Islam itu. Rupanya SBY mempercayai rumors itu, kata Tjipta. Pemerintah melalui Mensesneg Sudi Silalahi pun mengumumkan kepastian tidak dilakukannya perombakan anggota kabinet dalam waktu dekat. Gerindra yang disebut-sebut akan masuk ke “pelukan” SBY dengan dijanjikan---konon--menteri pertanian dan Menteri BUMN, makin dijadikan sasaran olok-olok politik yang amat tidak sedap. Gerindra dianggap “kecelik”, salah duga dan terkecoh. Padahal sikap fraksi Gerindra di DPR yang mendukung Demokrat untuk mengganjal Angket Pajak, diyakini banyak pihak akan berbuah manis, segera menaikkan Prabowo Subianto ke jajaran Kabinetnya SBY. Dalih Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, dan Wakil Ketum Gerindra Fadli Zon yang berliku-liku ihwal Reshuffle ini, tak mengubah anggapan banyak pihak bahwa Gerindra telah terkecoh walau telah menjual prinsip dasar Gerindra hendak menghadang ekonomi liberal-kapitalistik yang dijalankan pemerintahan SBY, kini dengan suka-rela malah hendak menggabungkan diri bersama SBY asal diberi jatah kursi kabinet. Koran Rakyat Merdeka menulis besar : Gerindra ternyata Haus Kekuasaan Juga! Perdebatan Reshuffle di TV yang menampilkan sejumlah politisi terkait baik dari Gerindra, Golkar dan Demokrat serta PKS, diikuti secara sinis oleh rakyat terbukti ketika dibuka komentar terbuka via telepon. Apalagi perdebatan itu diselingi saling sindir antar politisi sesekali menyelipkan humor tidak lucu malah “cengengesan”, yang tentu saja tidak terkait dengan perbaikan nasib rakyat Indonesia. Lain halnya soal pembatalan kenaikan dan pembatasan BBM disambut lega rakyat luas. Berita kelangkaan BBM di Sumatera dan Kalimantan segera berakhir, yang mengisyaratkan kelangkaan BBM ini memang sebuah

Written by Shodiq Ramadhan |

skenario menyongsong program pembatasan dan kenaikan harga BBM. Pukulan Dahsyat WikiLeaks Muncul isu lanjutan, bahwa heboh Resuffle Kabinet sebenarnya dimaksudkan untuk mengalihkan konsentrasi kaum oposisi yang belakangan gencar mencari simpati untuk menjatuhkan rejim SBY. Isu Resuffle berhasil meredam konsentrasi itu. Tapi, tiba-tiba bersamaan kunjungan Wapres Boediono ke Australia, hari itu, Jum’at 11 Maret 2011, dua koran Australia : The Age dan The Sydney Morning Herald melansir berita menghebohkan yang berasal dari kawat-kawat diplomatik Kedubes AS di Jakarta ke Washington dan berhasil “diunduh” WikiLeaks” dan diberikan ke dua koran Australia. Beberapa judul berita di Korankoran itu, kabarnya membuat SBY terpukul telak, dan membuat isterinya Kristiani Herawati, menangis karena juga disebut-sebut dalam berita itu sebagai telah memperkaya diri keluarganya. Setidak-tidaknya ada tiga judul berita yang dimuat dan langsung menyerang pribadi dan karakter presiden SBY dan keluarganya, yaitu : The Age menulis : Yudhoyono ‘abused power’ dan rubrik Focus : Bambang thank-you ma’am. Sedangkan Sydney Morning Herald menulis : Coruption allegations against Yudhoyono... Inti pemberitaan koran-koran Australia itu menyebutkan keterlibatan Presiden SBY dalam korupsi besar-besaran dan penyalahgunaan kekuasaan, sehingga menghantam citra SBY sebagai politikus bersih dan reformis. SBY secara pribadi disebut mengintervensi dan mempengaruhi jaksa dan hakim untuk melindungi tokoh politik korup. Yakni dugaan korupsi yang dilakukan Taufiq Kiemas, antara lain proyek JORR senilai US$ 2,3 milyar, Proyek Rel Ganda Merak-Banyuwangi senilai US$ 2,4 milyar, Proyek Trans Kalimantan senilai US$ 2,3 milyar, dan proyek Trans Papua senilai US$ 1,7 milyar. Nama lain yang disebut dalam pemberitaan yang sangat sensasional itu antara lain Jusuf Kalla atau JK disebut menyuap anggota Golkar untuk memenangkan pemilihan Ketum Golkar. Yusril disebut saat bertugas rahasia ke Singapura justru dimata-matai Kepala BIN Syamsir Siregar. Wiranto pun kebagian diintip intelijen atas perintah SBY. Dan Nyonya Kristiani Herawati disebut sebagai anggota kabinet dan penasihat top presiden yang tidak terbantahkan, juga disebut-sebut memperkaya keluarga besarnya. Reaksi SBY dan jajaran pembantunya sungguh kalang-kabut. Seusai dirapatkan Jum’at siang itu juga sejumlah pembantu presiden secara ‘Spartan’ membela SBY dan sebaliknya menyerang dua koran Australia itu, antara lain. Staf Khusus Presiden Bidang Politik Daniel Sparinga, Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Deny Indrayana, Menkominfo Tifatul Sembiring, Menseneg Sudi Silalahi, Menlu Marty Natalegawa, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Menko Polhukam Djoko Suyanto dan Wapres Boediono yang justru tengah berkunjung ke Australia. Pembelaan yang habis-habisan dari pihak SBY ini menurut Tajuk Rencana Media Indonesia justru menimbulkan tanda-tanya. Jika pihak SBY merasa benar tentu tidak perlu merespons berlebihan malah disebut dilakukan para ‘pendekar mabuk’. Hal ini menurut koran milik Surya Paloh itu mengindikasikan tidak siapnya kalangan Istana oleh iklim pers yang bebas saat ini. Sejumlah tokoh yang disebut-sebut dalam pemberitaan itu seperti Wiranto berkomentar, berita itu harus dibantah SBY langsung, jika tidak akan dianggap sebagai kebenaran. Bantahan itu pun harus masuk akal. Jika berita itu ternyata benar, tentu sangat menyedihkan. Sementara Yusril Ihza Mahendra bekas menteri SBY, langsung mengontak Syamsir Siregar yang hanya menjawab sambil tertawa tidak jelas apakah membenarkan atau menolak. Yusril mengaku dirinya terus-menerus dipojokkan dan dicari kesalahan yang tidak dibuatnya. JK lain lagi komentarnya. Ia mengakui membagi-bagi duit ke masing-masing cabang Golkar tapi jumlahnya hanya sepersepuluh, kira-kira Rp 600 M, dari yang disebutkan WikiLeaks. Syafii Maarif juga dikutip pendapatnya oleh Media Indonesia, ”Saya baru baca selintas kalau sampai di sini saja itu benar, kacaulah pemerintah ini”, ujarnya sinis. Tak pelak hari-hari ini SBY mengidap haru-biru perasaannya. Bantahan para pembantunya itu dipastikan tidak mudah begitu saja dipercaya oleh rakyat yang mendengarkan. Selama ini sudah sering muncul pemberitaan ihwal akrabnya Taufiq Kiemas dengan SBY sehingga mengantarkan suami Megawati itu menduduki kursi MPR. Hal ini pun tidak disukai Megawati. Apalagi kabarnya, belakangan malah Kiemas justru memprakarsai putrinya Puan untuk masuk

ke kabinet SBY dan sangat ditentang Mega habis-habisan, seraya mengancam telak, jika memaksa masuk kabinet silakan keluar dari partai. Bukan mustahil hari-hari mendatang banyak demo yang mendesak agar KPK memeriksa presiden SBY. Mungkinkah? Penulis yang sempat bertemu penasihat KPK Ir. Abdullah Hehamahua, sempat berbincang kemungkinan seperti ini : KPK terus didesak oleh masyarakat agar memeriksa presiden SBY berkaitan kebenaran dokumen WikiLeaks itu. Jika hal itu terjadi Haru-Biru SBY menjadi berkepanjangan. Wallahu a’lam bishawab!

Jurus Kelit ala SBY
Monday, 14 March 2011 17:44 |

Lempar tanggung jawab. Keputusan Presiden (Keppres) Pembubaran Ahmadiyah yang dituntut umat Islam, justru Peraturan Gubernur, Bupati dan Walikota yang keluar.

Written by Shodiq Ramadhan |

Bubarkan Ahmadiyah atau Revolusi. Itulah dua opsi yang disampaikan umat Islam pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berlangsung Apel Siaga Pembubaran Ahmadiyah, Selasa (1/3/2011) lalu. Demo yang digelar pada hari kerja kedua itu diikuti 10 ribu umat Islam dari berbagai ormas Islam se-Jabodetabek. Ribuan massa memutihkan Bundaran HI dan jalanan menuju Istana. Pada aksi pembubaran Ahmadiyah sebelumnya (18/2), Forum Umat Islam (FUI) memang telah mengatakan akan menggelar aksi lagi pada 1 Maret 2011. Janji itu akhirnya terbukti. Dalam orasinya, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab menyatakan bahwa umat Islam tidak akan mundur dalam perjuangan membubarkan Ahmadiyah. “Kita tidak akan pernah kompromi. Pembubaran Ahmadiyah adalah harga mati. Karena Ahmadiyah telah menodai akidah Islam”, teriaknya lantang. Bahkan FPI menyatakan menolak meskipun Ahmadiyah dijadikan sebagai agama tersendiri. Alasannya, kasus Ahmadiyah adalah penodaan agama. Bila Ahmadiyah dijadikan agama sendiri, berarti penodaan agama dilegalisasikan. “Legalisasi penodaan agama merupakan pelanggaran HAM dan tidak akan pernah kita terima Jadi untuk Ahmadiyah hanya ada satu kata, bubarkan!”, kata Habib Rizieq. Habib Rizieq juga menyinggung pernyataan seorang tokoh nasional mantan Ketua Mahkamah Konstitusi. Sang mantan Ketua MK itu, dikatakan Habib Rizieq telah mengatakan biarkan Ahmadiyah menikmati kesesatannya jangan kita ganggu. “Kita mau jawab di tempat ini, sampaikan kepada sang tokoh kalau memang dia

mengatakan biarkan Ahmadiyah menikmati kesesatannya. Maka kita mengatakan kepada yang bersangkutan, kalau besok kau punya istri diperkosa oleh penjahat. Maka katakanlah biarkan penjahat menikmati kejahatannya. Jangan sembarangan bicara”, ingat Habib Rizieq. Menurut Habib Rizieq, Ahmadiyah adalah pemerkosaan terhadap akidah Islam. Maka dari itu ajaran sesat menyesatkan itu tidak boleh dibiarkan. “Harus dibubarkan”, ungkapnya. Sementara Sekjen FUI KH Muhammad Al Khaththath mengungkapkan bahwa kebohongan besar Ahmadiyah adalah ketika si nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad dalam kitab Tadzkiroh halaman 51, menyampaikan ‘wahyu’ berbunyi: “Ya Ahmad, yatimmu ismuka walaa yatimmu ismi” yang artinya, “Hai Ahmad, namamu sempurna sedangkan nama-Ku (Allah) tak sempurna”. Saat ini keberadaan kelompok sesat Ahmadiyah itu dinilai Al Khaththath makin agresif saja. Karena mereka merasa dibiarkan saja oleh pemerintah, bahkan dilindungi dari “gangguan” umat Islam. Aliran sesat itu juga mendapat dukungan dari Setara Institute dan kelompok-kelompok LSM liberal antek asing yang hidup dari kucuran dana luar negeri. Karena itu FUI menuntut agar SBY bertindak tegas dengan mengeluarkan Keppres Pelarangan dan Pembubaran Ahmadiyah. “Kami juga menuntut agar para pemimpin Ahmadiyah ditangkap dan diadili, sedang para anggota jemaah Ahmadiyah dibina dan dikembalikan kepada ajaran Islam yang benar (ruju’ ilal haq)”, kata Al Khaththath. Bila presiden tetap juga enggan membubarkan Ahmadiyah, FUI mengingatkan bahwa SBY akan berhadapan dengan Allah dan Rasul-Nya. “Juga berarti dia tak melaksanakan UU No. 1/PNPS/1965. Artinya, Presiden SBY telah melanggar sumpah jabatannya yang membuatnya layak dimakzulkan!”, tegas Al Khaththath. Setelah berorasi di Bundaran Hotel Indonesia ribuan massa itu kemudian berjalan ke depan Istana Negara dengan menyusuri Jalan MH Thamrin dan Jalan Medan Merdeka Barat. Empat ruas jalan, bahkan hingga jalur busway, dipadati para pendemo. Dalam setiap aksi yang mengerahkan massa dalam jumlah besar, biasanya di ujung Jalan Medan Merdeka Barat, tepat di depan Kantor Radio Republik Indonesia (RRI), polisi selalu menyiapkan pagar betis anggota Dalmas Polri dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan moncong watercanon dan panser siap menghadang massa. Kali ini lain. Tak ada pagar betis polisi, tak nampak pula moncong watercanon dan panser. Dua kendaraan itu ternyata cuma di parkir di depan Istana. Istana rupanya telah siap menyambut kedatangan para demonstran. Sebab jika diabaikan, massa FUI telah menyiapkan diri untuk menginap di depan Istana hingga Presiden mengeluarkan keputusan pembubaran Ahmadiyah. FUI diwakili oleh Ketua umum FPI Habib Rizieq Syihab, Sekjen FUI KH Muhammad Al Khaththath, Ketua Tim Advokasi

FUI Munarman, Sekjen HDI HM Mursalin, dan beberapa tokoh lainnya. Sementara SBY diwakili oleh Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Agama Suryadharma Ali dan disaksikan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Sutarman. Kepada pemerintah disampaikan tuntutan FUI tentang pembubaran Ahmadiyah dan surat FPI kepada SBY yang berisi bukti kesesatan Ahmadiyah. Dippo Alam bahkan terangukangguk menerima penjelasan tentang kesesatan Ahmadiyah. Tapi dia keberatan dengan isi Maklumat untuk Umat Islam yang dikeluarkan FUI yang menegaskan bahwa jika SBY tidak membubarkan Ahmadiyah, berarti melanggar konstitusi. Artinya SBY bisa dimakzulkan. “Kalau bisa dicoretlah kalimat ini”, kata Dipo. Dalam pertemuan itu, pemerintah menyatakan akan segera membahas Keppres Pembubaran Ahmadiyah. "Pemerintah cukup surprise dengan informasi dan data-data yang kita sampaikan tentang kesesatan Ahmadiyah", kata Al Khaththath dalam orasinya seusai keluar Istana. Dibubarkan, Banyak Masylahatnya

Keesokan harinya, Selasa (2/3/2011) sekitar dua puluh orang tokoh FUI diundang oleh Menteri Agama Suryadharma Ali untuk membicangkan soal Ahmadiyah di Kantor Kementerian Agama, Jl. Lapangan Banteng, Jakarta. Tokoh-tokoh FUI kembali bersuara tentang penting dan harusnya Ahmadiyah dilarang dan dibubarkan. Habib Rizieq bahkan menyampaikan sembilan konsekuensi antara pembiaran dan pembubaran Ahmadiyah. Kesembilan konsekuensi itu antara lain, pembiaran Ahmadiyah berarti penistaan terhadap Islam, pelecehan terhadap HAM umat Islam, pemeliharaan sumber konflik, perusakan tatanan kehidupan umat beragama, pelanggaran terhadap konstitusi dan perundang-undangan Indonesia, perusakan tatanan rumah tangga umat Islam, memberi peluang kepada Ahmadiyah masuk ke Tanah Suci, memelihara mata rantai Ahmadiyah dan mempersulit dakwah pengembalian warga Ahmadiyah kepada Islam. Sementara bila Ahmadiyah dibubarkan berarti menangkal penistaan dan penodaaan terhadap Islam, menjaga HAM umat Islam, menghilangkan sumber konflik dan menjaga harmonisasi kehidupan umat beragama, menaati konstitusi dan perundang-undangan Indonesia, menyelamatkan tatanan rumah tangga umat Islam secara nasional. Melindungi kesucian Haramain dari dimasuki orang kafir seperti Ahmadiyah, memutuskan mata rantai Ahmadiyah dan memudahkan dakwah pengembalian warga Ahmadiyah kepada Islam. Dalam pertemuan itu, Suryadharma menjelaskan posisi kementerian yang dipimpinnya dalam persoalan Ahmadiyah ini. Ketua umum PPP itu mengatakan bahwa lembaganya tidak memiliki kompetensi untuk membubarkan Ahmadiyah atau suatu organisasi. Menurutnya, secara konstitusional ada tiga lembaga yang bisa menangani kasus Ahmadiyah. Pertama, Kementerian Dalam Negeri memiliki wewenang membubarkan ormas. Kedua, Kementerian Hukum dan HAM berwenang mencabut Badan Hukum

organisasinya dan ketiga, Kejaksaan Agung yang berhak untuk melarang ajarannya. Diakui oleh Menteri Agama, bahwa Ahmadiyah memang telah menjadi persoalan yang menahun. Ahmadiyah telah ditolak umat Islam sejak kelahirannya di India dan ketika masuk ke Indonesia tahun 1925. Meski demikian, Ahmadiyah (JAI) sepertinya merasa tetap percaya diri. Sebab secara keorganisasian, sejak tahun 1953 mereka telah mendapatkan badan hukum berdasarkan SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 tanggal 13 Maret 1953. Diantara berbagai opsi yang ditawarkan, pembubaran Ahmadiyah dipandang Menag sebagai keputusan yang akan membawa kemasylahatan lebih banyak. Salah satunya, keputusan itu akan bisa melindungi akidah umat Islam yang mayoritas. Dalam pertemuan itu Suryadharma juga menegaskan keseriusan dirinya dalam proses membubarkan Ahmadiyah. Meskipun menurutnya yang ideal orang Ahmadiyah bertaubat kembali kepada Islam. “Kalau keseriusan Menteri Agama, jangan diragukan lagi”, ujarnya. SBY Lempar Tanggung Jawab

Berdasarkan Pasal 2 ayat 2 Penetapan Presiden (Penpres) No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, Presiden adalah pihak yang telah diberi kewenangan untuk membubarkan berbagai organisasi/aliran sesat. Bunyi pasal 2 ayat 2 yang dimaksud adalah “Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan oleh Organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan Organisasi itu dan menyatakan Organisasi atau aliran tersebut sebagai Organisasi/ aliran terlarang, satu dan lain setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.” Artinya, bola panas pembubaran Ahmadiyah saat ini telah berada di tangan Presiden SBY. Hanya SBY lah yang memiliki kewenangan membubarkan Ahmadiyah. Tetapi agaknya SBY tidak punya cukup nyali untuk melakukan itu. Intervensi dunia internasional membuat SBY tidak mau berpihak kepada umat Islam yang mayoritas di negeri ini. Apalagi dikabarkan pada Rabu (23/2/2011), dua anggota House Democracy Partnership (HDP) United States House of Representatives, semacam Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, yang dipimpin David Dreier dan David Price telah menemui SBY untuk mempertanyakan Kasus Ahmadiyah. SBYpun berkelit. Kesempatan emas untuk dekat dengan umat Islam ia lepaskan. Tanggung jawab yang berada dipundaknya, kini dilemparkan ke daerah-daerah. Para Gubernur dan Bupati ‘ditugaskan’ untuk mengeluarkan Peraturan Gubernur/Walikota/Bupati yang melarang aktifitas Ahmadiyah di masing-masing daerahnya. Padahal semua peraturan itu isinya kurang lebih mirip dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang larangan terhadap JAI. Sementara Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi bertugas menangkis serangan kaum liberal yang mengatakan bahwa aturan-aturan itu bertentangan dengan Hukum dan HAM. Menurut

sumber Suara Islam, SBY tengah memainkan Teori Revolusi Mao Ze Dong, “Desa Mengepung Kota”. Tercatat Gubernur di Indonesia yang telah mengeluarkan keputusan pelarangan aktivitas Ahmadiyah di wilayahnya antara lain: Pertama, Gubernur Sumatera Selatan melalui Keputusan Gubernur nomor 563/KPT/BAN.KESBANGPOL & LINMAS/2008, berlaku sejak 1 September 2008; Kedua, Gubernur Jawa Timur melalui Surat Keputusan (SK) bernomor 188/94/KPTS/013/2011, diumumkan pada hari Senin 28 Februari 2011; Ketiga, Gubernur Jawa Barat melalui Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 12 Tahun 2011, diumumkan Kamis 3 Maret 2011. Keempat, Gubernur Sulawesi Selatan melalui Surat bernomor 223.2/003/Kesbang tertanggal 19 Februari 2011, diumumkan pada pada Kamis 3 Maret 2011. Sedangkan kelima, Gubernur Provinsi Banten sejak 1 Maret 2011 juga telah memberlakukan Peraturan Gubernur Banten Nomor 5 Tahun 2011 tentang larangan aktivitas anggota jemaah Ahmadiyah di wilayah provinsi Banten. Sementara Walikota/Bupati yang telah mengeluarkan aturan larangan Ahmadiyah jumlahnya cukup banyak. Diantaranya Bupati Pandeglang, Walikota Samarinda, Walikota Bogor, Walikota Depok, Bupati Purwakarta, Bupati Garut, Bupati Cianjur dan Bupati Sukabumi. Jauh sebelumnya Bupati Lombok Timur juga telah mengeluarkan larangan terhadap aktivitas Ahmadiyah. DKI dan Yogya, Daerah Istimewa Ahmadiyah

Meski berbagai daerah telah mengeluarkan pelarangan terhadap Ahmadiyah, tetapi tidak bagi dua daerah Istimewa di Indonesia. Daerah Istimewa Yogyakarta dan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Rupanya dua daerah ini sekarang menjadi daerah istimewa bagi Ahmadiyah. Di tengah ramai-ramai terbitnya peraturan daerah yang melarang Ahmadiyah, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X justru menjamin tidak akan menerbitkan ketentuan serupa. "Saya tidak akan mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur tentang pelarangan Ahmadiyah. Yogyakarta saat ini damai sehingga tidak perlu ada provokasi," kata Sri Sultan HB X, saat berkunjung ke Bantul, Kamis (3/3/2011). Menurut Sultan, keberadaan Ahmadiyah di Yogyakarta tidak pernah menimbulkan masalah. "Bagi daerah yang mengeluarkan SK pelarangan Ahmadiyah, itu inisiatif mereka untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan." Sementara gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, mulanya memang berencana membuat aturan pelarangan Ahmadiyah. Tetapi niat itu dianulir sendiri olehnya. Sebelumnya, ketika menanggapi beberapa Provinsi yang telah mengeluarkan larangan terhadap Ahmadiyah, Foke mengaku tengah mengkaji untuk melakukan hal serupa. "Sekarang sedang dikaji Kepala Kesbangpol terkait SK gubernur Jawa Barat dan Jawa Timur. Kalau itu memang sejalan dengan semangat Pak SBY, saya rasa kami bisa saja bikin," ucap

Fauzi,

Jumat

(4/3/2011),

saat

dijumpai

di

Balai

Kota,

Jakarta.

Mantan Ketua PWNU DKI Jakarta yang kini jadi anggota Dewan Pembina Partai Demokrat itu bahkan menegaskan, apabila memang diperlukan produk hukum yang nantinya dikeluarkan bisa saja bukan SK Gubernur melainkan peraturan daerah (perda). "Kalau diperlukan bisa saja diberlakukan, bahkan di Jakarta kalau perlu lebih jauh lagi kami akan omongin lagi dengan DPRD untuk dibuat Perda," katanya. Belakangan Foke berubah sikap. Ia menganulir pernyataan sebelumnya. Menurut Foke, tidak boleh ada Perda atau Pergub yang melanggar konstitusi. DKI akan terus berkoordinasi, untuk menjamin keamanan, kerukunan, dan keharmonisan umat beragama. "Itu sudah ada dalam SKB 3 Menteri," ujar Fauzi Bowo di Balaikota DKI Jakarta, Senin (7/3/2011). Ditegaskannya, berkaitan dengan ketertiban, keamanan, kerukunan, dan keharmonisan kehidupan berbangsa, memang menjadi wewenang Pemprov DKI. Tapi, terkait kehidupan umat beragama tetap berada dalam wewenang pemerintah pusat. Ketua Tim Advokasi FUI, Munarman, mengaku tak heran dengan sikap kedua Gubernur itu. “Ya wajar saja, sebab Sultan itu kan memang turun temurun anggota freemasonry. Silahkan dicek di buku Tarekat Mason Bebas itu”, ujarnya. Apalagi, lanjut Munarman, istri Sultan (Ratu Hemas) juga merupakan anggota kelompok liberal yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Sementara soal perubahan sikap Fauzi Bowo, Munarman menengarai Foke telah dipengaruhi oleh Adnan Buyung Nasution. Buyung selama ini memang telah dikenal sebagai pembela Ahmadiyah. “Sepertinya Foke konsultasi dulu dengan Buyung”, kata Direktur An Nashr Institute itu. Padahal semalam ini Foke dikenal sebagai pejabat yang dekat dengan kalangan ulama Betawi. Bisa dipastikan kaum ulama kecewa berat dengan perubahan sikap Foke itu. Bisa Dimakzulkan

Desakan pembubaran Ahmadiyah memang berdasarkan alasan yang sangat kuat. Selain diwajibkan menurut syariat Islam, konstitusi negara ini juga membenarkan hal itu. Pembubaran aliran sesat Ahmadiyah adalah amanat konstitusi. "Kalau Ahmadiyah tidak dibubarkan berarti presiden tidak patuh terhadap konstitusi. Jangan sampai presiden tidak patuh terhadap undang-undang," ujar Ketua Fraksi PPP DPR, Hasrul Azwar. Kelanjutannya, bila presiden melanggar UU, menurut Hasrul, ada konsekuensi yang harus diterima. Dia menuturkan, bisa saja DPR memroses pemakzulan Presiden. "Jangan sampai PPP melihat presiden tidak patuh terhadap Undang-undang, ini bisa jadi upaya pemakzulan," papar mantan Ketua Komisi VIII itu.

Sementara menurut sejumlah ulama yang tercantum dalam ‘MAKLUMAT UNTUK UMAT ISLAM, Mengapa Ahmadiyah Harus Dibubarkan?’, bila Presiden tetap enggan membubarkan Ahmadiyah, berarti Presiden akan berhadapan dengan Allah dan RasulNya. Presiden juga dinilai tidak melaksanakan UU No. 1/PNPS/1965. Artinya, Presiden SBY telah melanggar sumpah jabatannya yang membuatnya layak dimakzulkan!. (shodiq ramadhan) Box:
Bung Karno: Saya Bukan Anggota Ahmadiyah

Aneh bila ada yang mengklaim sebagai pengikut Presiden Sukarno, apalagi mengatakan sebagai ‘anak ideologis’ proklamator RI itu ternyata dalam kasus Ahmadiyah mereka menjadi pembelanya. Pasalnya, Bung Karno sendiri terbukti orang yang anti Ahmadiyah. Bahkan, di masa pemerintahannyalah Penetapan Presiden No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama dikeluarkan. Pengakuan Bung Karno itu tertulis dalam bukunya, Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1, halaman 345 dengan judul: TIDAK PERCAYA BAHWA MIRZA GULAM AHMAD ADALAH NABI. Surat itu ditulis saat ia berada di Endeh tertanggal 23 Nopember 1936. Bung Karno membantah adanya kabar yang mengatakan bahwa dirinya adalah pengikut Ahmadiyah dan telah mendirikan cabang Ahmadiyah. Berikut beberapa cuplikannya: “Beberapa hari yang lalu saya mendapat surat “vlieg-post” Kupang, dari Kupang ke Endeh dengan kapal biasa dari seorang kawan di Bandung, bahwa “Pemandangan” telah memuat satu entrefilet bahwa saya telah mendirikan cabang Ahmadiyah dan menjadi propagandis Ahmadiyah bagian Celebes (Sulawesi, red). Walaupun “Pemandangan” yang memuat kabar itu belum tiba ditangan saya, dus belum saya baca sendiri – kapal dari Jawa tiga hari lagi baru datang – oleh karena orang yang mengasih kabar kepada saya itu saya percayai, segeralah saya minta kepadanya membantah labar dari tuan-tuan punya reporter itu.” “Saya bukan anggauta Ahmadiyah. Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandisnya. Apalagi “buat bagian Celebes”! Sedang pelesir kesebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh! .” Bung Karno juga menolak keyakinan yang menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad (MGA) adalah Nabi. “Saya tidak percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad seorang nabi dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujaddid.” Presiden pertama RI itu bahkan menolak ‘pengeramatan’ ahmadiyah terhadap MGA dan kecintaan mereka terhadap imperialisme Inggris. Di akhir tulisannya, Bung Karno mengatakan, “Moga-moga cukuplah keterangan yang singkat ini buat memberitahu kepada siapa yang belum tahu, bahwa saya bukan seorang “Ahmadiyah”. (shodiq ramadhan)

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2011-03-14 21:18:30 buan

Sering banyak kesempatan jika foke hadir di majlis taklim dia mengatakan dialah gubernur yang nomer satu yg menolak ahmadiyah,tapi nyata boong foke..foke ...farah kau foke

Habib Rizieq: Setelah Saya Renungkan, DRI Bagus Juga!
Sunday, 03 April 2011 20:42 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Jakarta (SI ONLINE)-Ketua umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab mengaku setelah merenung selama sepekan ia berkesimpulan bahwa Dewan Revolusi Islam (DRI) yang sempat menjadi isu panas beberapa waktu lalu, ada bagusnya juga. Meskipun ia mengaku tidak pernah tahu menahu dan tidak terlibat dalam penyusunan dewan itu.

Pengakuan Habib Rizieq itu disampaikan saat orasi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jumat lalu (1/3/2011), ketika Forum Umat Islam (FUI) menggelar demonstrasi mengutuk pembakaran Al Qur’an oleh Pendeta Terry Jones dan Wayne Sapp di Florida. “Saya ditanya wartawan soal Dewan Revolusi Islam. Saya jawab saya tidak tahu menahu, tidak mengerti dan tidak terlibat di dalamnya. Tetapi setelah selama seminggu saya renungkan di rumah, ternyata DRI ada bagusnya juga”, kata Habib Rizieq.

Dikatakannya, revolusi menjadi pilihan yang tepat bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak mau membubarkan Ahmadiyah. “Bila SBY tidak mau membubarkan Ahmadiyah, DRI bagus tidak?”, tanya Habib Rizieq pada ribuan massa yang kontan menjawab, bagus. “Bubarkan Ahmadiyah atau revolusi”, pekiknya. Pada kesempatan yang sama, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH Muhammad Al Khaththath mengatakan bila SBY tidak mau membubarkan Ahmadiyah, lebih baik mundur turun saja dari tahtanya. “Lebih baik SBY turun, pulang ke Pacitan dan angon wedus (menggembala kambing, red)”, katanya. Rep: Shodiq Ramadhan

Ahmadiyah Mengancam NKRI
Tuesday, 29 March 2011 10:54 |

Ahmadiyah telah mengadu domba pemerintah. Mereka juga mengundang pihak asing untuk intervensi kepada pemerintah berdaulat Republik Indonesia. Ahmadiyah ancaman bagi NKRI. Ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) selama ini selalu dialamatkan kepada gerakangerakan Islam yang memperjuangkan syariah dan khilafah. Kepala Badan Nasional Penganggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai misalnya, dalam berbagai kesempatan selalu menuding kelompok atau gerakan yang memperjuangkan syariah dan khilafah sebagai kambing hitam atas berbagai persoalan. Orang-orang semacam Ansyaad dan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) liberal tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya ada gerakan transnasional di negeri ini yang sebenarnya mengancam kedaulatan NKRI. Dialah Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), cabang dari gerakan Ahmadiyah internasional yang berpusat di Inggris. Ancaman Ahmadiyah terhadap NKRI setidaknya dapat diindikasikan pada dua hal. Pertama, mereka telah mengadu domba antara Kementerian Agama (Kemenag) dengan Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam). Kedua, kasus Ahmadiyah telah mengundang intervensi asing kepada pemerintahan berdaulat Republik Indonesia. Baik intervensi oleh Kongres AS maupun sejumlah LSM internasional. Ahmadiyah Adu Domba Pemerintah

Written by Shodiq Ramadhan |

Kemenag pada hari Selasa-Rabu (22-23/3/2011) mulai menggelar Dialog Nasional tentang Penyelesaian Kasus Ahmadiyah di Indonesia. Semua pihak yang berkepentingan telah diundang hadir. Baik pihak pemerintah, ormas Islam, para akademisi dan tentu saja pihak Ahmadiyah. JAI dan GAI (Gerakan Ahmadiyah Indonesia) turut pula diundang. Tapi, ternyata JAI menolak hadir. Mereka beralasan dialog nasional diselenggarakan Kemenag, yang dituduh mereka sebagai institusi yang tidak netral.

"JAI menolak menghadiri dialog nasional mengenai Ahmadiyah karena diselenggarakan Kementerian Agama yang menterinya, Suryadharma Ali, anti Ahmadiyah," ujar juru bicara JAI Zafrulah A. Pontoh melalui SMS yang diterima para wartawan, Selasa (22/3/2011). Rupanya penolakan hadir dalam dialog itu bukan hanya disebar melalui sms. Secara resmi JAI juga telah malayangkan surat kepada Menteri Agama Suryadharma Ali. Amir JAI Abdul Basit melalui surat tertanggal 21 Maret 2011 bernomor 040/AMIR/III/2011 perihal Jawaban Surat Undangan Dialog dan Dengar Pendapat dalam poin ketiga menyatakan, ”menurut hemat kami dialog semacam ini selayaknya diselenggarakan oleh institusi yang netral seperti Kemenko Polhukam, Komnas HAM atau UIN.” Selain itu mereka juga meminta agar dialog antara pemerintah dengan Ahmadiyah mengundang pihak yang netral seperti Adnan Buyung Nasution. Tempat dialog juga diminta di tempat yang netral, terbuka dan bisa diliput semua media. Penolakan ini setidaknya telah membuktikan dua hal. Pertama, JAI adalah pihak yang anti dialog atau bahkan takut dialog. Sikap ini tentu bertentangan dengan ucapan mereka selama ini yang menyatakan bahwa pihak JAI tidak pernah diajak berdialog. Sekarang, mereka diajak berdialog, tetapi ternyata tidak mau juga. Padahal menurut Suryadharma, kehadiran JAI dalam forum dialog itu dinilai sangat penting karena dapat memberikan penjelasan ajaran yang sesungguhnya. Kedua, JAI telah mengadu domba antar-kementerian. Pernyataan JAI bahwa Kemenag adalah institusi yang tidak netral, sedangkan institusi yang netral adalah Kemenko Polhukam, adalah pernyataan yang mengadu domba pemerintah. "Ini kan mengadu domba sesama pemerintah. Kita jadi tahulah watak dan akhlak Ahmadiyah seperti apa", kata Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI), Munarman. Padahal selama ini, lanjut Munarman, pemerintah dilihatnya telah banyak mengalah jauh sekali. “Karena proses dialog dengan Ahmadiyah telah dimulai sejak sebelum 2008. Demikian pula yang telah dilakukan oleh MUI”, ungkap Direktur An Nashr Institute itu. Sementara, menanggapi permintaan Ahmadiyah agar pemerintah turut mengundang Adnan Buyung Nasution, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama (Kapus KUB Kemenag) Abdul Fatah menjawab bahwa pihak Kementerian Agama telah melayangkan undangan kepada Buyung melalui Constitution Centre Adnan Buyung Nasution (CONCERN ABN). "Ternyata Adnan Buyung juga tidak datang", kata Abdul Fatah. Alasan ketidakhadiran kuasa hukum JAI itu juga tidak diketahui. Padahal dalam rangkaian kegiatan dialog dan dengar pendapat yang dibagikan Kemenag kepada para wartawan, CONCERN ABN telah dijadualkan menjadi pembicara pada haris Selasa (22/3/2011) sesi kedua, pukul 13.30-17.00 WIB. Apakah ABN benar merupakan pihak yang netral dalam kasus Ahmadiyah?. Ternyata tidak. Buktinya, surat yang dikirimkan JAI kepada Kemenag ternyata dikirimkan pula kepada ABN. Disana ditulis secara terang bahwa ABN adalah kuasa hukum mereka. Artinya, pihak netral menurut JAI ternyata adalah pihak yang pro terhadap mereka. Ahmadiyah Ancam Kedaulatan

Kasus Ahmadiyah telah mengundang masuknya intervensi asing. Hal ini nampak dari turut campurnya Kongres Amerika Serikat. Intervensi itu dilakukan pada 15 Maret 2011 lalu ketika 27 anggota Kongres AS berkirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam surat tersebut disebutkan secara jelas, Kongres AS meminta SBY agar mencabut SKB 3 Menteri tentang Larangan Aktivitas JAI dan Penpres No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama. “Kami menulis hari ini untuk mengungkapkan ekspresi atas kecemasan kami yang mendalam, mengenai isu keputusan daerah di Jawa Timur dan Jawa Barat, yang membuat pelarangan kelompok minoritas Muslim Ahmadiyah di beberapa provinsi. Kami juga meminta Anda segera mencabut Keputusan 2008 tentang pelarangan aktivitas Ahmadiyah di negara ini dan undang-

undang lama tentang penodaan agama yang digunakan sebagai (dasar hukum) untuk menuntut penerapan/pelaksanaan kegiatan agama minoritas sebagai (wujud) kebebasan beragama.” Kira-kira begitulah terjemahan bebas dari paragraf pertama surat Kongres AS itu. Bukan kali ini saja intervensi itu terjadi. Sebelum 27 anggota Kongres AS berkirim surat, Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF) telah mengeluarkan pernyataan berjudul Indonesia: USCIRF Urges Protection of the Ahmadiyah yang mendesak Presiden Barack Obama untuk menekan dan melakukan intervensi terhadap Indonesia agar mencabut SKB tiga menteri dan berbagai peraturan daerah yang melarang penyebaran pemahaman sesat Ahmadiyah. Sebelumnya dua anggota delegasi House Democracy Partnership United States House of Representatives, semacam Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, yang dipimpin David Dreier dan David Price juga telah menemui SBY di Istana Negara membahas soal Ahmadiyah. Bukan hanya Amerika, intervensi terhadap Indonesia juga melibatkan sejumlah LSM liberal lokal dan LSM Internasional. LSM lokal semacam Human Right Working Group (HRWG) bertugas untuk ‘membawa’ kasus Ahmadiyah ke kancah Internasional, sedangkan LSM Internasional seperti Human Rights Watch (HRW), bertugas melakukan advokasi dukungan dari kongres AS untuk pencabutan SKB. Pasca Kasus Cikeusik, Amnesti Internasional juga terang-terangan meminta pemerintah Indonesia untuk membatalkan semua hukum dan peraturan yang membatasi hak untuk kebebasan beragama. Mereka menyebutkan bahwa pelecehan dan serangan terhadap komunitas Ahmadiyah didorong oleh SKB tiga menteri. Deputi Direktur Asia-Pasifik Amnesti Internasional, Donna Guest, juga menuduh pemerintah Indonesia telah gagal melindungi penganut agama minoritas. Tolak Intervensi Asing

Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi sepakat bahwa semua bentuk tindakan Kongres AS dan LSM tersebut adalah wujud intervensi asing terhadap Indonesia. Bahkan Kiyai Hasyim menilai, intervensi itu malah akan menyulitkan posisi Ahmadiyah. “Karena dengan intervensi asing ini, umat Islam dan masyarakat Indonesia menjadi sadar bahwa ada kepentingan asing dalam kasus Ahmadiyah,” kata Hasyim di Jakarta, Selasa (22/3/2011). Karena itu Hasyim menolak segala bentuk intervensi itu. “Permintaan untuk mencabut SKB secara diplomatik sesungguhnya tidak relevan karena SKB dibuat secara induktif bersamasama dengan tokoh lintas agama di Indonesia, dan Kongres Amerika tidaklah mengurusi agama-agama,” katanya. Atas intervensi terhadap negara berdaulat Indonesia, Ketua Umum FPI, Habib Rizieq Syihab meminta kepada Presiden SBY agar maju terus dan segera membubarkan Ahmadiyah. "Jangan takut dengan Kongres AS. Rakyat di belakang SBY untuk melawan segala bentuk intervensi asing. SBY harus membela Islam dan membubarkan Ahmadiyah, niscaya Allah SWT akan membela SBY. Hidup Indonesia, hancur AS !," tegasnya. Jadi, siapa sebenarnya yang jadi ancaman bagi NKRI?. Umat Islam dan ormas-ormas Islam yang terus menjaga kemandirian dan kedaulatan negara dari berbagai bentuk penjajahan atau Ahmadiyah dan LSM-LSM liberal yang mengundang intervensi dan penjajah asing masuk?. (shodiq ramadhan)

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2011-03-29 12:38:10 bumi

PRESIDEN SBY TIDAK ASPIRATIF TERHADAP KEHENDAK RAKYATNYA MAYORITAS , INILAH CIRI DEMOKRASI YG TERJADI DI NEGARA INDONESIA, DIMANA PEMIMPIN TIDAK MENGAKOMODASI KEHENDAK RAKYATNYA MAYORITAS...YAH INILAH DEMOKRASI INDONESIA...JADI BAGUSKAH NEGARA DEMOKRASI INI.... KEDEPANNYA JIKA AHMADIYAH TIDAK DIBUBARKAN, MK KELOMPOK2 YG SESAT LAINNYA, SEPERTI SELAMA INI TERJADI, AKAN BANYAK BERMUNCULAN NABI2 BARU DAN KITAB BARU, JG DG AJARAN ISLAM YG SEENAKNYA DITAFSIR SESUAI PEMIKIRANNYA...NAH MNGPA MREKA BERANI MELAKUKANNYA, KARENA NANTI MEREKA AKAN MERUJUK PD KASUS AHMADIYAH INI, DAN MRK AKAN BERKATA “JK AHAMDIYAH SAJA BOLEH MEMBUAT NABI BARU DAN KITAB BARU, KENAPA KAMI TIDAK BOLEH"...DAN SELANJUTNYA AKAN KACAU BALAU LAH AGAMA ISLAM INI... JADI INIKAH CIRI2 NEGARA DEMOKRASI, DIMANA NEGARA TIDAK BISA MENJAMIN ASPIRASI RAKYATNYA MAYORITAS UNTUK DIAKOMODASI....JADI BAGUSKAH SISTEM NEGARA DEMOKRASI INI...............
o o

0 0

Quote

Debat Majelis Mujahidin Versus GAI
Saturday, 05 March 2011 11:03 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Yogyakarta (SI ONLINE)-Menanggapi polemik kekerasan Ahmadiyah belakangan ini, Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (PPUII) melalui Organisasi Pondok Pesantren UII (OSPP UII), Sabtu 26 Februari 2011, mengadakan acara Diskusi Publik yang dibuka untuk umum.

Tema diskusi "Menelaah Kasus Ahmadiyah dari Multiperspektif," itu dibuka secara resmi oleh Pengasuh PPUII Ust. Dr. Muhammad Roy, MA. Dalam sambutannya, Ust. Roy mengatakan, kekerasan antar agama sudah berlangsung lama. Katanya, jika tidak diselesaikan akan berakibat perpecahan diantara masyarakat dan menjadikan negara Indonesia dilanda krisis iman dan moral karena mengedepankan kekerasan bukan fikiran. Acara yang dimulai tepat pukul 09.15 wib itu menghadirkan tiga narasumber: Simon Ali Yaser, petinggi Ahmadiyah Lahore, Ust. Irfan S. Awwas, Ketua Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Dr. Yusdani, M.Ag, pakar hukum Islam dan pemikir liberal. Sementara yang bertindak sebagai moderator adalah Ari Wibowo, SH.,SH.I, alumni PPUII dan juga mahasiswa pascasarjana Hukum Islam UII. Tiga Perspektif

Bertempat di aula utama PPUII Condongcatur, Narasumber pertama, Simon Ali Yaser dalam uraiannya mengatakan, Ahmadiyah di Indonesia terbagi menjadi dua: Lahore dan Qodliyan. "Untuk Lahore, itu tidak menganggap bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan mujadid. Sementara yang Qodliyan, menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi yang tidak membawa syariat," katanya. Yusdani, narasumber kedua yang cenderung memposisikan dirinya sebagai peneliti; pengamat dalam kasus Ahmadiyah mengatakan, kasus Ahmadiyah ini sebenarnya sudah lama muncul. "Namun, yang menjadi pertanyaan saya 'kok kasus Ahmadiyah ini selalu muncul, ini ada apa?'." Menurutnya, kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah ini muncul karena negara absen dalam mengayomi masyarakatnya. "Inilah fakta kegagalan negara. Negara gagal dalam dua hal, melindungi kelompok mayoritas karena telah terusik dengan adanya Ahmadiyah dan gagal melindungi kelompok minoritas untuk menjalankan keyakinan masing-masing." Kubu Majelis Mujahidin Indonesia, Ust. Irfan S. Awwas, dalam uraiannya lebih menekankan bahwa kasus Ahmdiyah ini bukan persoalan absennya negara dalam melindungi warganya; bukan pula masalah kebebasan atau perbedaan perspektif. Ia lebih menyoroti bahwa adanya kekerasan Ahmadiyah ini bisa muncul karena jemaat Ahmadiyah mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW. "Disatu sisi mengklaim diri sebagai bagian dari umat Islam, tapi mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Ini jelas penistaan, bukan perbedaan pendapat." “Di negeri ini orang bebas berkeyakinan, bahkan meyakini Tuhan ada tiga, termasuk penyembah berhala, eksistensinya tidak terancam,” tegas Irfan S Awwas. Kaedah Al-Qur’an menyatakan: Lakum dinukum waliyadin (untukmu agamamu dan untuk kami agama kami), atau lana a’maluna walakum a’malakum (untukmu amalmu dan untuk kami amal kami).

Sementara itu, acara diskusi yang selesai pukul 12.10 wib itu juga mendapat antusias dari para peserta. Terbukti dengan banyaknya peserta yang bertanya dari berbagai kalangan seperti, mahasiswa S1 UIN Sunan Kalijaga, UGM, dan UII sendiri. Tidak ketinggalan mahasiswa S2, dosen dan delegasi-delegasi dari lembaga dakwah kampus pun ikut hadir pada diskusi siang itu. "Kami menarget 70 orang peserta, namun alhamdulillah bisa lebih dari itu yang datang," kata Jauhar, ketua penyelenggara acara diskusi. Lebih lanjut, Jauhar juga mengatakan, acara ini diadakan sebagai wujud kepedulian santri PPUII atas kasus Ahmadiyah yang menjadi bulan-bulanan kelompok mayoritas karena di anggap 'sesat.' "Dari diskusi ini diharapkan, bisa muncul pemahaman-pemahaman terkait aliranaliran yang sesat sehingga kita tidak terjerumus ke dalamnya," kata Jauhar penutup sambutannya. Sesi Debat Simon Ali Yasir dan Irfan S Awwas

Setelah masing-masing pembicara usai berorasi, diadakan sesi dialog yang ternyata berubah jadi debat terbuka antara dua nara sumber. Sekalipun Simon menyatakan Ahmadiyah Lahore tidak mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya mujaddid saja. Namun, Ketua MMI Irfan S Awwas, agaknya tidak begitu saja percaya, dan sengaja menggiring Simon dalam suatu debat terbuka. Irfan : Pada 14 Januari 2008, Jemaat Ahmadiyah mengeluarkan 12 butir pernyataan sebagai hasil rentetan dialog dengan Departemen Agama. Pernyataan itu terkait dengan rapat Pakem yang akhirnya menetapkan bahwa negara tak melarang Jemaat Ahmadiyah, asalkan memenuhi SKB Menteri. Dalam butir kedua dan ketiga dari pernyataan yang ditandatangani Ketuanya Abdul Basith, dinyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan Mirza Ghulam Ahmad hanyalah ulama atau guru atau mursyid, bukan nabi. Selain itu juga tidak ada wahyu yang turun setelah Al Qur`anul Karim, dan Kitab Tadzkirah yang digunakan Ahmadiyah bukanlah kitab suci tetapi hanya catatan pengalaman rohani Mirza Ghulam Ahmad. “Sejak semula kami warga Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup). Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW,” bunyi pernyataan tersebut. Akan tetapi, dalam setiap acara talk shaw televisi, jubir Ahmadiyah Zafrullah Ahmad Pontoh terus menerus menekankan bahwa Mirza Ghulam sebagai nabi yang tidak membawa syariat. Bukankah ini pembohongan publik? Pertanyaannya, selain mengimani kenabian Mirza Ghulam, apakah Ahmadiyah juga menerima pernyataan kenabian tokoh selain Mirza, seperti Musailamah alkadzab mengaku nabi, dan diperangi oleh umat Islam. Nabi-nabi palsu seperti Pimpinan Baha’i, Bahaudin, juga Kelompok Druz di Libanon, termasuk Ahmad Musadeg di Indonesia,

mengaku sebagai nabi, apakah Ahmadiyah mengakui kenabian mereka? Jika tidak berarti diskriminatif Simon : Kami adalah Ahmadiyah Lahore, yaitu GAI (Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia), berbeda dengan Ahmadiyah Qadiyan -JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia). Kami tidak menganggap Hadhrat Mirza Ghulam sebagai nabi, melainkan pembaharu. Irfan : Tapi anda percaya Mirza menerima wahyu dari Tuhan?

Simon : Ya, percaya dia menerima wahyu sebagaimana nabi Isa atau para sahabat nabi sendiri. Irfan : Jika anda mempercayai Mirza menerima wahyu, sehingga dia mengklaim diri sebagai nabi. Bukankah hewan juga menerima wahyu dari Allah? Dalam Qur’an surat An-Nahl, ayat 68 : “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.” Tapi, berbeda dengan Mirza Ghulam, lebah tidak sombong, dan tidak mengaku sebagai nabi. Para shahabat yang anda katakan menerima wahyu, juga tidak ada yang mengklaim diri sebagai nabi. Logikanya, lebah lebih mulia dibanding Mirza! Anda mengaku sebagai pengikut Ahmadiyah Lahore yang menolak kenabian Mirza Ghulam. Siapa yang membuat kategorisasi dua Ahmadiyah, Mirza Ghulam atau pengikutnya? Simon : Ahmadiyah Lahore lahir setelah enam tahun wafatnya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Setelah beliau menyuruh menghapus seluruh istilah nabi yang dikaitkan dengan namanya, dalam pernyataan yang ditandatangani di sebuah masjid di Lahore. Irfan : Mirza Ghulam pernah mengaku dirinya sebagai nabi, lalu disuruh hapus? Artinya, Ahmadiyah Qadiyan mengimani Mirza sebagai nabi sebelum jabatannya itu dimansuh/dihapus sendiri, dan Ahmadiyah Lahore mengimaninya pasca penghapusan. Bagaimana mungkin seorang nabi menghapus jabatan kenabiannya sendiri, sementara buku-buku karangannya atau pernyataan kenabiannya tetap beredar dan dicetak ulang, baik oleh Ahmadiyah Qadiyan maupun Lahore? Simon : Dari tadi anda bilang nabi-nabi terus. Kondisi dunia sedang rusak maka perlu diperbaiki untuk memperoleh kemenangan. Kedatangan Mirza Ghulam untuk memperbaiki keadaan itu dan telah diisyaratkan nabi Isa dalam Qur’an surat Shaf, 61:6 Irfan : ‘Jabatan’ kenabian diperoleh bukan berdasarkan klaim, melainkan murni hak prerogatif Allah. Apa kehebatan Mirza Ghulam Ahmad, sehingga merasa dialah yang direkomendasikan oleh nabi Isa sebagai penerusnya? Mirza Ghulam hanya GR (ge er) saja, jika menganggap dirinyalah yang dimaksudkan utusan yang bernama Ahmad. Bukankah jauh sebelum maupun sesudah Mirza Ghulam lahir sudah banyak orang bernama Ahmad, tapi tidak ge er.

Anda tadi bilang, sebutan nabi sudah dihapus dari nama Mirza Ghulam. Selain menghapus jabatan kenabiannya, apakah Mirza juga menghapus pernyataannya, baik yang ditulis sendiri maupun yang ditulis pengikutnya seperti Kitab Tadzkirah? Misalnya, Mirza berkata dalam Mawahibur-Rahman 3, “Tiap-tiap yang aku katakan, adalah wahyu dari Allah. Aku tidak berbuat satupun perkara yang tidak diperintahkan oleh Allah.” Pada kitab berjudul Nurul Haq 1, 26-33, Mirza mengatakan antara lain : “Aku berhak mengaku, bahwa aku ini orang yang tidak ada bandingannya tentang memperhambakan diri pada Inggris, dan berhak mengaku, bahwa akulah seorang yang tunggal dalam hal menolong kerajaan Inggris, dan aku berhak mengaku, bahwa aku ini satu benteng yang bisa menjaga Inggris dari bahaya-bahaya, dan Allah telah beri wahyu kepadaku, kataNya, “Allah tidak akan menyiksa kaum Inggris selama engkau Mirza ada di antara mereka itu.” Simon : Mungkin pernyataan itu tidak dihapus, tapi saya belum bisa menjawab karena belum mengetahui kitab itu. Saya tangguhkan dulu. Ini PR buat saya! Di dalam Qur’an surat An-Nisa’ ayat 59, Allah berfirman : “Hai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan ulil amri diantara kamu….” Ahmadiyah memahami ulil amri adalah semua penguasa di dunia ini, dimanapun kita berada wajib ditaati. Sekalipun kita berada di Rusia, penguasanya komunis, sebagai warga negara kita wajib taat.” Irfan : Na’udzubillahimin dzalik.

Menurut Mirza Ghulam, Tuhan mewahyukan kepadanya untuk mentaati penguasa kafir dimanapun berada. Orang ini bersama pengikutnya memahami Qur’an menggunakan akal sesat, bukan akal sehat. Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan untuk menaati penguasa kafir Romawi, Persia, ataupun musyrik Quraisy, malah memerangi mereka. Apa yang membuat orang Ahmadiyah nekad dengan pendiriannya yang menista Islam? Benar juga, Ahmadiyah Qadiyan iblisnya, Ahmadiyah Lahore syetannya. Bangsa Indonesia harus mewaspadai ancaman ideologi sesat transnasional ini, yang membonceng kepentingan imprialisme Inggris, dan mengadu domba umat Islam. Red: Shodiq Ramadhan
Rep: Bang Zaky

• • •

Add New Search RSS

Comments (4)

|2011-03-06 05:48:26 Aburizky Akbar - JAI antek-antek Iblis Laknattullah

Subhanallah...., ustad Irfan S Awwas memang piawai dalam berdebat untuk penegakan kebenaran,kesucian dan syariat Islam. Semoga Allah segera menghancurkan jamaah Ahmadiyah kafir ini seperti pasukan gajah abrahah yang dihancurkan dengan batu dari burung ababil....amin ya Raab....
o o

0 0

Quote

|2011-03-15 15:54:08 basyarat - tanggapan atas berita

Tulisan Shodiq Ramadhan bertajuk “Debat Majelis Mujahidin versus GAI” dalam Suara Islam Online, perlu saya beri catatan agar pembaca mendapat gambaran lebih utuh, karena tulisan Shodiq saya nilai tendensius. selanjutnya baca di http://samianyasir.wordpress.com/2011/03/15/138/
o o

0 0

Quote

|2011-03-16 08:34:58 yunus - tanggapan yang janggal

tanggapan yang berlainan dengan kenyataan
o o

0 0

Quote

|2011-03-24 16:00:46 muhnan rais - antara haq dan bathil

Dan Katakanlah: "Yang benar (islam) Telah datang dan yang batil Telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Umat Islam pasti yakin agamanyalah yang benar, yang lain batil. dalam qs. al israa : 81 diatas dinyatakan bahwa yang batil pasti lenyap. anehnya, agama-agama baheula, ribuan tahun sebelum islam lahir, kok hingga kini gak lenyap-lenyap. bahkan terkesan enjoy. pintar-pintar lagi orangnya. arab saudi yang 100% menjalankan syariat kok gitu-gitu aja, sama sekali tidak ada sumbangsihnya terhadap peradaban dunia.

Surat Kongres AS yang Menekan SBY Agar Mencabut SKB dan UU Penodaan Agama
Saturday, 19 March 2011 21:30 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Jakarta (SI ONLINE)-Berikut ini adalah terjemah dari surat yang dikirimkan 27 anggota Kongres Amerika Serikat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Scan surat asli itu berasal dari Kantor Human Rights Watch (HRW) di Washington, yang dikatakan sebagai lembaga yang melakukan advokasi dukungan dari kongres AS untuk pencabutan SKB.

HRW lantas mengirimkan surat tersebut melalui e-mail kepada Indria Fernida A, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), yang beralamat di Jl. Borobudur No. 14 Menteng, Jakarta Pusat. Dalam pengantarnya, Fernida menulis, "Mereka prihatin melihat kekerasan meningkat terhadap anggota Ahmadiyah. Mereka menulis bahwa sumber dari berbagai kekerasan di provinsi-provinsi adalah SKB 2008. Mereka minta Presiden SBY bekerja melindungi kebebasan beragama di Indonesia dgn mencabut SKB tersebut." Surat itu lantas diforward ke pengurus JAI dan puluhan aktivis liberal di Indonesia serta para wartawan. Dalam surat ini jelas bisa dibaca bahwa anggota Kongres AS telah melakukan intervensi terhadap pemerintah berdaulat di Indonesia. Mereka dengan sekehendak hatinya meminta agar SBY mencabut Surat Keputusan Bersama 3 Menteri tantang Pelarangan Aktivitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan juga UU Penodaan Agama. Berikut isi surat tertanggal 15 Maret 2011 itu selengkapnya: KONGRES WASHINGTON 15 AMERIKA DC Maret Bambang Republik Ave SERIKAT 20515 2011 Yudhoyono Indonesia Indonesia NW 20036 Presiden,

Yang Terhormat H. Susilo Presiden Republik c/o Kedutaan Besar 2020 Massachusetts Washington DC Tuan

Kami menulis hari ini untuk mengungkapkan ekspresi atas kecemasan kami yang mendalam, mengenai isu keputusan daerah (SK-Gubernur) di Jawa Timur dan Jawa Barat, yang membuat pelarangan kelompok minoritas Muslim Ahmadiyah di beberapa provinsi. Kami juga meminta Anda segera mencabut Keputusan 2008 tentang pelarangan aktivitas Ahmadiyah di negara ini (SKB Tiga Menteri, red), dan undang-undang lama tentang penodaan agama (Penpres No. 1/PNPS/1965, red) yang digunakan sebagai (dasar hukum) untuk menuntut penerapan/ pelaksanaan kegiatan agama minoritas sebagai (wujud) kebebasan beragama. Pada 6 Februari, ratusan warga menyerang 25 anggota Ahmadiyah di Cikeusik, Propinsi Banten, di Jawa bagian Barat. Tragisnya, sekitar 30 anggota polisi hanya melakukan upaya minim untuk menggagalkan serangan. Tiga orang meninggal dan enam orang lukaluka setelah mereka secara brutal dipukuli oleh massa menggunakan tongkat kayu,

cangkul

dan

parang.

Sejak adanya Keputusan 2008 (SKB) tentang pelarangan aktivitas Ahmadiyah, kerusuhan menentang agama minoritas terus meningkat. Bukan hanya keputusan yang dikeluarkan di Jawa Timur dan Jawa Barat itu bertentangan dengan prinsip hak asasi internasional, tetapi, jami juga takut bahwa mereka akan memberikan keberanian kepada ekstrimis dan memperburuk kekerasan terhadap Ahmadiyah. Sekali lagi, dengan segala hormat kami meminta, bahwa keputusan pelarangan aktivitas Ahmadiyah dicabut, dan undang-undang penodaan agama dibatalkan. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap hal yang penting ini, dan kami menunggu respon Anda. Hormat Frank Maurice Madeleine Dan Joseph Michael James Daniel Sheila Zou Lloyd Jackie Janice Barney Gregorio Trent Edward David Keith Christopher John Roscoe Thomas Gary David Chethe Jim R D Wolf Hinchey Bordalo kami, (Anggota (Anggota Z (Anggota Burton (Anggota R Pitts (Anggota M. Honda (Anggota P Mc Govern (Anggota E Lungren (Anggota Jackson Lee (Anggota Lofgren (Anggota Doggett (Anggota Spejer (Anggota D Schakowsky (Anggota Frank (Anggota Kilili Camacho Sablan (Anggota Franks (Anggota J. Markey (Anggota Wu (Anggota Ellison (Anggota H Smith (Anggota F Tierney (Anggota G Bartlett (Anggota E Petri (Anggota C Peters (Anggota N. Cicilline (Anggota Pingre (Anggota McDermott (Anggota
M Syah

Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres) Kongres)
Agusdin

Rep: Red: Shodiq Ramadhan

• • •

Add New Search RSS

Comments (6)

|2011-03-19 22:35:14 pejuang kebenaran

persetan dg amerika (emang amerika setan) tapi percuma berharap sama dby, soalnya presiden kita kan cuma jongos nya amerika
o o

3 0

Quote

|2011-03-20 10:28:26 imastis - Go to hell USA!

AS adalah negara paling munafik di dunia. Mereka selalu berdalih dengan isue HAM dan kebebasan berkeyakinan. Mereka dg disponsori Zionis Yahudi melalui gerakan Fremasonry selalu berupaya melemahkan aqidah umat Islam dgn mengusung jargon HAM, Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme. Mereka jg berupaya melalui jalur diplomatik antar negara menekan negara2 Islam untuk megikuti kemauan mereka. Mereka berteriak tentang HAM padahal mereka adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Lihatlah bagaimana mereka membunuh ribuan muslim di Irak & Afghanistan. Mereka jg menutup mata atas kebengisan Israel atas Palestina, bahkan secara membabi buta mereka mendukung penjajahn Israel atas Palestina. Go to hell USA!
o o

3 0

Quote

|2011-03-20 10:31:10 imastis

AS adalah negara paling munafik di dunia. Mereka selalu berdalih dengan isue HAM dan kebebasan berkeyakinan. Mereka dg disponsori Zionis Yahudi melalui gerakan Fremasonry selalu berupaya melemahkan aqidah umat Islam dgn mengusung jargon HAM, Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme. Mereka jg berupaya melalui jalur diplomatik antar negara menekan negara2 Islam untuk megikuti kemauan mereka. Mereka berteriak tentang HAM padahal mereka adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Lihatlah bagaimana mereka membunuh ribuan muslim di Irak & Afghanistan. Mereka jg menutup mata atas kebengisan Israel atas Palestina, bahkan secara membabi buta mereka mendukung penjajahn Israel atas Palestina. Go to hell USA!
o o

1 0

Quote

|2011-03-21 00:47:41 Anonymous

AMERIKA DAN SEKUTUNYA LAKNATULLAH ALAIHIM.
o o

0 0

Quote

|2011-03-22 05:13:04 \m/

Ahmadiyah itu emang orng2nya amerika,amerika ada dibalik ahmadiyah.. itu cara amerika merusak islam dengan membentuk & mendukung ahmadiyah,karena itu amerika membela ahmadiyah.. toh selama ini amerika benci banget sama islam tapi kenapa ahmadiyah yg ngakunya "islam" juga malah dibela amerika?? ada udang dibalik batu,, byar ancur amerika di laknat sama ALLAH SWT. AMERIKA TAE ASUU!!
o o

0 0

Quote

|2011-03-22 11:37:40 asif - ok

iman itu kan terbukti bukan hanya diyakini dengan hati dan diucapkan dengan lisan tapi juga diamalkan dengan perbuatan. bagaimanapun juga tindakan kekerasan, penganiayaan bahkan pembunuhan atas nama apapun itu dikembalikan kepada amalan dari iman seseorang. dan praktek dari pada iman seseorang itu tidak bertentangan dengan hati nurani setiap manusia. oleh karena itu apabila kekerasan atau penganiayaan semacam itu terjadi kepada orang2 ahmadiyah, wajar kalau orang2 amerika, inggris, atau yang lainnya mau melihat dengan hati nurani mereka...........

Peta Pembela Ahmadiyah
Friday, 18 March 2011 15:22 |

Profil Lembaga Masyarakat) (Lembaga Swadaya

Written by Shodiq Ramadhan |

YLBHI : didirikan oleh beberapa aktivis IKADIN (Ikatan Advokat Indonesia), termasuk Adnan Buyung Nasution, yang sering kali mengklaim Yayasan ini milik pribadinya. Pada awalnya adalah LBH Jakarta yang merupakan program bantuan hukum yang bersifat sosial dari IKADIN. Yaitu hanya memberikan bantuan hukum gratis bagi orang-orang miskin yang tak mampu bayar pengacara. Namun karena pada awal tahun 80an, Negara-negara barat memerlukan kaki tangan

untuk memonitor bantuan dan hutang yang mereka berikan kepada pemerintah Indonesia, maka didirikanlah YLBHI, yaitu yayasan yang menaungi LBH-LBH yang ada diseluruh Indonesia yang didirikan oleh IKADIN tersebut. Sejak itu, yayasan ini menjadi antek dan kaki tangan bagi penyebaran ide-ide liberalisme. Sumber keuangan YLBHI ini pada masa-masa awal berdirinya hingga tahun 2004 sebagaian besar berasal dari Belanda, Swedia, Belgia, Amerika Serikat, Kanada dan Australia, dalam jumlah ratusan juta hingga milyar rupiah, tergantung proyek dan agenda yang sedang dikerjakan oleh Negara-negara Barat tersebut. Pada saat Negara-negara barat berkeinginan menumbangkan Soeharto dari kekuasaannya, maka bantuan dalam milyar rupiah digelontorkan kepada Yayasan ini. Dalam jumlah yang tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp.50 juta / bulan Pemprov DKI Jakarta sejak 2004 memberikan bantuan keuangan. Dan juga pada tahun anggaran 2006-2007, Pemprov DKI Jakarta memberika bantuan berupa uang sebesar Rp. 8 Milyar, untuk pembangunan gedung YLBHI. Tidak diketahui apakah dana bantuan ini di audit dan dipertangungjawabkan kepada rakyat, karena dana bantuan dari Pemrov DKI tersebut berasal dari APBD. KONTRAS : pada awalnya adalah program kerja dari YLBHI, yang dijalankan oleh almarhum Munir. Dalam perjalanannya kemudian dikendalikan oleh para kontraktor LSM, seperti Asmara Nababan dan MM Billah. Lembaga ini memfokuskan diri pada aktivitas HAM dan seringkali menjadi mitra Negara-negara barat dalam berbagai bentuk program. Sumber keuangan lembaga ini sepenuhnya berasal Amerika Serikat, Belanda, Swedia, Kanada, Australia dan Norwegia dan sebuah lembaga penyalur dana milik George Soros yaitu yaysan TIFA. WAHID Institute adalah yayasan yang didirikan oleh Abdurrahman Wahid, sebagai pangkalan untuk penyebar ide-ide liberalism terutama yang ditujukan kepada organisasi Islam, lebih khusus lagi adalah upaya liberalisasi NU. Lembaga ini memfokuskan pada ide-ide pluralism, dimana mereka berupaya keras menanamkan pemikiran bahwa semua agama adalah benar. Pemikiran ini terutama disebarkan dikalangan NU. Sumber keuangan lembaga ini juga sebagian besar berasal dari : Amerika Serikat, Yayasan TIFA (milik yahudi George Soros), Australia, Belanda. SETARA Institute : setali tiga uang dengan LSM lainnya yang mempromosikan semua agama benar. Ide dasar dari berdirinya LSM ini adalah untuk menjadikan kaum minoritas dapat mengendalikan kekuasaan dan ekonomi. Setelah Hendardi berhenti dari PBHI, dicarikan tempat oleh para broker uang Negara-negara barat. Pada awalnya hanya agar Hendardi tetap bias eksis dudunia LSM. Bersama para aktivis yang ikur memisahkan Timor Timur dari Indonesia, Bonar Tigor Naipospos, mereka mulai menjual ide kesetraaan sebagai cara mendapatkan bantuan dana dari barat. Sumber dana mereka ini sebagian besar juga berasal dari : Amerika Serikat melalui The Asia Foundation, Yayasan TIFA (milik yahudi George Soros), Australia, Belanda. MAARIF Institute adalah lembaga yang didirikan dengan menggunakan nama besar mantan aktivis Islam Syafii Maarif. Tujuan utama lembaga ini adalah sama seperti Wahid Institute, namun lebih dikhususkan untuk membangun jaringan liberal di tubuh Muhammadiyah. Sumber dana lembaga ini juga sebagian besar juga berasal dari : Amerika Serikat melalui The Asia Foundation, Yayasan TIFA (milik yahudi George Soros), Australia, Belanda. JARINGAN ISLAM LIBERAL (JIL) adalah lembaga yang terang-terangan mengusung liberalism sebagai ideologinya. Awalnya lembaga ini didirikan oleh anak-anak muda pengangguran jebolan pesantren yang kemudian ditampung oleh Goenawan Mohamad sebagai pekerja di lingkungan utan kayu, tempat radio 68H milik Goenawan bermarkas. Awalnya lembaga ini berasal dari kegiatan kongkow-kongkow anak muda yang berfaham liberal, yang kemudian oleh Goenawan difasilitasi dan dikembangkan sebagai jaringan untuk menyusup kedalam organisasi Islam seperti NU dan lainnya. Sepertinya misi mereka ini setengah gagal, setelah aktivis JIL banyak yang loncat pagar dan sebagian bahkan benar-

benar

bekerja

pada

perusahaan

milik

goenawan.

Sumber dana lembaga ini juga sebagian besar juga berasal dari : Amerika Serikat melalui The Asia Foundation, Yayasan TIFA (milik yahudi George Soros), Australia, Belanda. MODERATE MUSLIM SOCIETY (MMS) ini adalah lembaga yang didirikan mantan aktivis JIL, setelah di kader didalam JIL Zuhairi Misrawi mendirikan Moderate Muslim Sociaty. Tujuan utamanya adalah menjadikan umat Islam bersikap lemah terhadap kekufuran. Dari nama lembaganya jelas sekali bahwa ini adalah perpanjangan tangan dari agenda RAND Corp, sebuah lembaga milik zionis internasional yang bermarkas di Amerika Serikat. Sumber dana lembaga ini juga sebagian besar juga ditopang dari : Amerika Serikat melalui The Asia Foundation, Yayasan TIFA (milik yahudi George Soros), Australia, Belanda. IMPARSIAL adalah LSM yang didirikan oleh aktivis gereja Asmara Nababan bersama almarhum Munir. Awalnya adalah untuk menampung almarhum Munir yang keluar dari YLBHI karena bertentangan dengan Adnan Buyung Nasution. Sebagai atktivis senior, Asmara Nababan yang telah meninggal ini, tahu betul manfaat dari almarhum Munir yang punya popularitas di dunia LSM. Dengan issu HAM sebagai jualan utamanya, lembaga ini berusaha untuk eksis ditengah-tengah ribuan LSM lainnya. Hanya karena jaringan dengan lembaga penyandang dana yang dimiliki oleh Asmara Nababan saja lebaga ini dapat eksis, entah bagaimana nasibnya setelah ditinggal oleh para aktivisnya, seperti Munir, Asmara Nababan yang meninggal dunia, dan aktivis lainnya yang loncat ke Patai demokrat. Sumber dana lembaga ini juga sebagian besar juga ditopang dari : Amerika Serikat melalui The Asia Foundation, Yayasan TIFA (milik yahudi George Soros), Australia, Belanda, Swedia dan Norwegia. HRWG (Human Right Working Group) didirikan oleh aktivis yang selama ini tinggal di Belanda yaitu Rafendi Jamin, mantan aktivis di UI tahun 80-an. Awalnya adalah sebagai sarana bagi para LSM Indonesia yang ingin jalan-jalan ke Geneva dengan kedok lobby kepada Dewan HAM PBB yang bersidang setiap tahun di bulan Maret hingga April. Lembaga ini menjadi Fasilitator bagi para aktivis tersebut. Di Genewa, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menjual informasi kepada delegasi dari Negara-negara seperti Amerika Serikat, Belanda, Inggris dan beberapa Negara pemberi dana lainnya. Inilah yang mereka sebut sebagai membawa persoalan HAM di Indonesia kepada Dewan HAM PBB. Melalui HRWG ini mereka menjadi panitia seleksi bagi para aktivis LSM yang hendak jalan-jalan ke Swiss. Sumber dana lembaga ini juga sebagian besar juga ditopang dari : Amerika Serikat melalui The Asia Foundation, Yayasan TIFA (milik yahudi George Soros), Australia, Belanda, Swedia dan Norwegia. Profil Individu (Para Antek Ahmadiyah)

Ulil Abshar Abdalla adalah seorang lulusan pesantren yang mencoba peruntungannya dengan sekolah di berbagai tempat. Di LPIA, sebuah lembaga pendidikan milik kerajaan Saudi, dia tidak menyelesaikan hingga tamat, begitu juga ketika diberi kesempatan sekolah di sebuah universitas di Amerika Serikat, lagi-lagi Ulil harus Drop Out, Karena tidak bisa menyelesaikan tepat waktu. Ulil mencoba melobby untuk sekolah ke Australia, dan ternyata dia pun tidak mampu untuk memenuhi syarat sebagai penerima bea siswa. Hendardi adalah mantan aktivis di ITB sekitar tahun 80-an yang tidak sempat menyelesaikan pendidikannya di ITB. Lalu kemudian dibesarkan oleh Buyung Nasution di YLBHI, dan kemudian mendirikan PBHI setelah konflik hingga menggunakan kekerasan lawan buyung Nasution dan almarhum Ali Sadikin. Setelah selesai dari PBHI yang juga banyak meninggalkan konflik didalamnya, dia kemudia mendirikan Setara Institute bersama aktivis pro kemerdekaan Timor Timur, Bonar Tigor Naipospos.

Beberapa kali Hendardi sempat mencoba untuk kuliah hukum di perguruan tinggi yang tak dikenal, namun tidak diketahui apakah menyelesaikan sarjana hukumnya atau tidak. Goenawan Mohammad adalah seorang liberalis sejati. Sejak lama menjadi kaki tangan Amerika Serikat dalam penyebaran faham liberal. Bahkan majalah Tempo yang dia dirikan awalnya adalah perpanjangan tangan dari program yang dijalankan oleh United State Information Agency, yang merupakan lembaga rahasia yang ditugaskan untuk mempropagandakan faham Amerika ke seluruh dunia. Pada saat majalah Tempo di breidel, Goen, demikian dia biasa dipanggil, berhubungan erat dengan aktivis PRD. Bahkan diduga kuat mengetahui dan mendorong aktivis PRD untuk melakukan perlawanan keras terhadap Soeharto, yang berujung pada meledaknya Bom di rumah susun Tanah Tinggi pada tahun 1996. Peristiwa bom Tanah Tinggi di kawasan Senen Jakarta ini, adalah peristiwa teror yang terjadi pada masa Soeharto yang didukung sepenuhnya oleh aktivis pro demokrasi, dengan ikut menyembunyikan dan melindungi para perakit bom. (Ibnu Hamid)

Doktrin Pluralisme Agama JIL dan Theosofi (Bag. 1)
Sunday, 20 March 2011 20:06 |

Artawijaya Kontributor Suara Islam Online

Written by Shodiq Ramadhan |

Doktrin pluralisme agama yang diasong oleh kelompok liberal di Indonesia sejatinya adalah dagangan usang yang sudah sejak lama dipasarkan kelompok kebatinan Yahudi: Theosofi! Sebelum menjelaskan mengenai maksud tulisan ini, ada baiknya dijelaskan sedikit tentang apa itu Theosofi. Pendiri Theosofi, Helena Petrovna Blavatsky dalam buku the Key to Theosophy menyatakan, “Theosofi adalah the wisdom religion (Agama Kearifan) yang berusaha mempersatukan agama-agama yang ada dalam sebuah “kesatuan hidup” yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.” Agama menurut Blavatsky, adalah tunas-tunas dari batang pohon yang sama, yaitu the wisdom religion. Dalam buku “Gerakan Theosofi di Indonesia” penulis secara ringkas menjelaskan Theosofi sebagai aliran kebatinan Yahudi yang bertujuan merusak semua agama-agama dengan doktrin-doktrin halus tentang persaudaraan universal dan persamaan semua agama-agama. Theosofi mempunyai mantra halus, menyatukan semua agama-agama dalam suatu “kesatuan hidup” yang ujungnya adalah menciptakan agama baru: Agama kemanusiaan! Inilah sesembahan utama organisasi-organisasi bentukan Yahudi yang menginduk pada ajaran kuno Kabbalah. Dr Annie Besant, salah seorang tokoh Theosofi mengatakan, “Kami berseru kepada kamu semua: ‘Marilah kita bekerja secara bersama-sama untuk agama ketentraman, agama kenyataan, agama kemerdekaan di dunia dari kerajaan surga yang sejati. Inilah kita punya haluan.” Sedangkan Presiden Masyarakat Theosofi Internasional N. Sri Ram dalam pidato di Bandung pada tahun 1953 mengatakan, “Semua agama baik dan berguna, dan tujuannya adalah sama, yaitu kesempurnaan.” Karena itulah, sebagai organisasi yang mengabdi kepada kemanusiaan dan bertujuan merusak keyakinan semua agama-agama dengan doktrin pluralisme, Theosofi mempunyai motto:

“Tidak ada agama yang lebih tinggi daripada kebenaran.” Artinya, agama apapun, selama menjalankan kebenaran, menyampaikan kebaikan, menebar kasih sayang, maka pada hakekatnya adalah sama. Bagi JIL, mereka semua juga akan mendapat balasan surga. Inilah yang juga menjadi keyakinan kelompok liberal di Indonesia. Dalam buku “Lubang Hitam Agama”, Sumanto Al-Qurtubi, aktivis liberal yang saat ini bermukim di Amerika dengan sinis mengatakan, bahwa suatu saat kita jangan terkaget-kaget jika di surga nanti kita juga akan menjumpai, Bunda Theresa, Mahatma Ghandi, Martin Luther King, dan lain-lain. Karena bagi Sumanto dan aktivis liberal lainnya, Bunda Theresa, Ghandi, dan tokoh-tokoh kafir lainnya, juga akan mendapatkan balasan yang sama sebagaimana umat Islam yang menebarkan kebaikan dan kasih sayang. Keyakinan tersebut juga dipertegas oleh Ulil Abshar Abdalla, pentolan kelompok liberal yang saat ini aktif sebagai fungsionaris Partai Demokrat. Dalam buku “Bunga Rampai Surat-Surat Tersiar” Ulil menyatakan, “Saya sangat mencintai Islam karena itulah agama yang “membuka” mata saya pada dunia. Itulah agama yang mengajarkan tentang baik dan buruk, tentang keadilan, tentang cinta, tentang hormat, tentang do unto others what you wish others do unto you, ajaran yang baru saya ketahui ternyata ada dalam semua agama, dan karena itu Bung, kemudian saya berpandangan, bahwa pada intinya semua agama sama (sekali lagi pada intinya, bukan pernak-perniknya)”—kalimat dalam kurung asli dari tulisan Ulil. Ulil kemudian menambahkan, “Islam tidak pernah membatalkan kebenaran agama lain, entah agama yang berada di lingkungan agama semitik, atau di luarnya. Islam memandang dirinya sebagai bagian dari keluarga besar “wahyu ketuhanan” yang turun kepada semua agama di muka bumi. Dalam wawasan semacam ini, saya hendak menempatkan Islam sebagai agama yang benar, diantara agama-agama lain yang juga benar…” Tokoh liberal lainnya, Budhy Munawar Rahman, dosen Universitas Paramadina, dalam sebuah tulisan berjudul, “Basis Theologi Persaudaraan Antar Agama” menyatakan, “Pemeluk agama apapun layak disebut sebagai “orang beriman”, dengan makna “orang percaya dan menaruh percaya kepada Tuhan”. Karena itu sesuai dengan QS.49:10-12, mereka semua adalah bersaudara dalam iman. Karenanya, yang diperlukan sekarang ini dalam penghayatan pluralisme antar agama, yakni pandangan bahwa siapapun yang beriman—tanpa harus melihat agamanya apa—adalah sama di hadapan Allah. Karena Tuhan kita semua, adalah Tuhan Yang Satu.” Budhy Munawar Rahman menambahkan, agama yang benar adalah agama yang membawa sikap pasrah kepada Tuhan, apapun namanya. Inilah yang disebut sebagai inklusifisme dalam beragama. Jadi Islam yang pasrah kepada Tuhan sama dengan Kristen yang pasrah kepada Tuhan. Budha yang pasrah pada Tuhan, sama dengan Katolik yang pasrah pada Tuhan. Keyakinan serupa juga ditulis oleh Sukidi, aktivis liberal yang berasal dari lingkungan Muhammadiyah, “Sikap pasrah menjadi kualifikasi signifikan dari theology inklusif Cak Nur (Nurcholis Madjid, red). Bukan saja kualifikasi seorang yang beragama Islam, tetapi ‘muslim’ itu sendiri (secara generik) juga dapat menjadi kualifikasi penganut agama lain, khususnya para penganut kitab suci, baik Yahudi maupun Kristen. Maka konsekuensi secara teologis bahwa siapapun diantara kita—baik sebagai seorang Islam, Yahudi, Kristen maupun shabi’in— yang benar-benar beriman kepada Tuhan dan Hari Kemudian, serta berbuat kebaikan, maka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhan…” Inilah keyakinan soal pluarlisme agama para aktivis liberal, yang sejalan sebangun dengan kelompok Theosofi. Agama bagi mereka semua sama, selama menyerahkan kepasarahannya kepada Tuhan. Anehnya, Budhy Munawar Rahman, Ulil Abshar Abdalla, Sukidi, dan aktivis liberal lainnya, tidak pernah menjalankan kepasrahannya kepada Tuhan dengan beribadah di klenteng, gereja, ataupun pura. Toh, semua agama bagi meraka sama, yang penting bersikap pasrah sama Tuhan!

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2011-03-21 10:41:21 KYBSA

BEGINILAH JADINYA BILA SESEORANG TIDAK DILANDASI DG IMAN, ILMU DAN ACHLAK/PIKIRAN NYA JADI NGAWUR (RELA MENJUAL AGAMA NYA DEMI BEBERAPA LEMBAR USD NAUZUBILLAH MIN ZHALIK (AHLI NAAR, INSYA ALLAH).
Bagi JIL dan Theosofi, perbedaan antara Islam dan agama-agama lainnya hanya pada aspek lahiriah saja (eksoteris), namun sama dalam aspek batiniah (esoteris). Jika Islam beribadah dengan shalat ke masjid setiap hari, maka Kristen beribadah ke gereja seminggu sekali.Perbedaannya hanya pada aspek itu saja. Mereka mengatakan, “banyak jalan” menuju Tuhan. Pada tulisan sebelumnya dijelaskan bahwa Theosofi adalah organisasi kebatinan yang didirikan oleh para Yahudi dan aktivis Freemasonry, yaitu: Helena Petrovna Blvatsky, Henry Steel Olcott, William Quan Judge, Dr Annie Besant, dan Charles Webster Leadbeater. Mereka adalah orang-orang yang bergiat dalam diskusi-diskusi mengenai okultisme, ancient wisdom (kearifan kuno), dan doktin-doktrin kabbalah. Mereka kemudian mendirikan the Theosophical Society (Masyarakat Theosofi) pada tahun 1875 di New York, Amerika Serikat. Apa itu organisasi Theosofi? Dalam situs www.theosofi-indonesia.com, dijelaskan, “Theosofi adalah sebuah badan kebenaran yang merupakan dasar dari semua agama, yang tidak dapat dimiliki dan dimonopoli oleh agama atau kepercayaan manapun. Theosofi menawarkan sebuah filsafat yang membuat kehidupan menjadi dapat dimengerti, dan Theosofi menunjukkan bahwa keadilan dan cinta-kasihlah yang membimbing evolusi kehidupan.” Dari penjelasan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa, Theosofi menganggap bahwa kebenaran adalah dasar semua agama yang tidak bisa dimonopoli oleh agama atau kepercayaan apapun. Dengan kata lain, tidak boleh ada satu agama manapun yang merasa keyakinannya paling benar. Semua agama, selama membawa kebenaran dan kebaikan, menurut Theosofi pada hakikatnya sama. Kebenaran yang dimaksud oleh Theosofi adalah kesatuan hidup menuju pada Yang Satu, sedangkan kebaikan adalah wujud dari pengabdian kepada kemanusiaan. Theosofi berkeyakinan, “There is no religion higher than truth” (Tidak ada agama yang lebih tinggi daripada kebenaran). Pada Midden Java Congress, 26 Desember 1929, tokoh Theosofi Go Yau Tjioe berpidato menjelaskan tentang kewajiban dan pokok-pokok ajaran Theosofi. Ada tiga pokok ajaran

Theosofi yang disampaikan dalam kongres tersebut, yaitu:Pertama, Theosofi meneguhkan persaudaraan umat manusia, zonder (tanpa) membandingkan agama-agama, bangsa, warna kulit, dan jenis laki-laki atau perempuann. Kedua, Theosofi membandingkan agama-agama dan menjaring segala agama-agama. Ketiga, Theosofi mencari gaibnya Tuhan di dalam manusia. Majalah PTTI (Pengurus Theosofi Tjabang Indonesia) yang terbit di Blavatsky Park, Batavia, No.26, Desember-Januari 1954 menegaskan, “Theosofi berusaha memajukan persaudaraan dan mengabdi kepada kemanusiaan.” Sebelumnya, Majalah Theosofi Boeat Indonesia, No.2 Februari 1930, propaganda doktrin Theosofi mengenai pluralisme juga sangat jelas diungkapkan. Majalah itu menulis, “Semua (umat beragama) itu “ingsun kita”, semua perbuatan baik datangnya ke SATU TEMPAT…yang menciptakan barang yang ada itu dinamakan Allah, Tuhan, dan ada lagi nama-nama apa saja yang orang mau sebutkan.” (hal.22 dan 34). Dr Annie Besant, tokoh Theosofi dan anggota Order the East Star (Ordo Bintang Timur) menyatakan,”Dasar persaudaraan yang universal adalah kasih sayang. Kita adalah “sedulur tunggal Bapa” Bapa kita adalah Tuhan yang Satu, dan Tuhan adalah kasih. Tuhan tidak berhingga.” Bagaimana dengan Jaringan Islam Liberal (JIL), lembaga yang sering disebut sebagai “peneror” akidah umat Islam? Dalam sebuah wawancara dengan Ulil Abshar Abdalla, yang kemudian dimuat di Harian Jawa Pos, 11 Mei 2003, Budhy Munawar Rahman, tokoh JIL yang juga dosen Universitas Paramadina mengatakan,”…inti keberagamaan itu kan kesadaran Tuhan. Kosa kata “din” dalam bahasa Arab itu sendiri berarti ketundukan dan keterikatan kepada Tuhan. Kata Islam juga bisa dikembalikan kepada maknanya yang generik, yang asal, artinya, kepasrahan dan ketundukan…” demikian papar Budhy, menjelaskan makna ayat “Inna addiina indallahi al-Islam”. Jadi, ayat tersebut menurut kelompok liberal, tidak bisa diartikan sebagai “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam.” Melainkan mereka mengartikan sendiri dengan, “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah kepasrahan, ketundukan.” Sukidi, aktivis liberal lainnya yang mendapat beasiswa di Harvard University, Amerika Serikat, dalam wawancara dengan Ulil Abshar Abdalla, sebagaimana dimuat pada situs www.islamlib.com, 10 Juni 2005, mengatakan,”Terus terang, saya memeluk Islam bukan didasari doktrin bahwa Islam pasti yang paling benar, tapi karena argumen bahwa Islam juga menyediakan sumber jalan yang sama untuk menuju Tuhan. Jadi, Islam menjadi sumber yang equal dengan agama-agama lain dalam menunjukkan jalan kepada Tuhan. Dengan premis itu, kita bisa respek pada proses pencarian kebenaran dari berbagai tradisi agama lain,” ujarnya. Sukidi menegaskan, “Karena itu, jangan sekali-kali mengklaim bahwa Islam adalah satusatunya jalan menuju Tuhan. Islam hanyalah satu di antara sekian banyak jalan menuju Tuhan. Jangan pula kita tertipu oleh nama Tuhan itu sendiri, karena nama adalah simbol, sekadar alat bantu untuk menuju Yang Esensial itu sendiri, “tegasnya. Sukidi, Ulil Abshar Abdalla, dan para aktivis liberal lainnya sejatinya adalah corong penyambung lidah dan pemikiran para penganut pluralisme agama pada masa lalu, yang mempunyai gagasan tentang transcendent unity of religion (Kesatuan Transenden Agamaagama). Jika para aktivis JIL berkeyakinan semua agama sama, menuju pada Tuhan yang sama, beranikah mereka, jika meninggal kelak, jasad mereka disemayamkan di gereja, dikremasi cara Hindu, dan ditanam di pekuburan Cina? Jika berani, dari sekarang mereka harus sudah menulis surat wasiat buat keluarga dan anak cucunya, agar kelak, keberaniannya itu bisa terwujud.

• • •

Add New Search RSS

Comments (2)

|2011-04-04 14:56:56 KYBSA

didalam ISLAM tidak ada golongan LIBERAL, jadi JIL sudah termasuk KAFIR HARBI yang menyebabkan gugur nya HAK orang muslim (tidak perlu dikenal, dibantu dan di sholatkan bila mereka MATI)
o o

1 0

Quote

|2011-04-04 23:43:57 Muslim - Semua agama sama? Sableng!

Kalau argumen mrk benar bahwa semua agama sama, ngapain ada macam2 agama di dunia ini? Cukup satu saja, misalnya agama gondal-gandil yg jadi anutan mrk! Gak usah ngaku Islam! Dasar org2 jil itu sableng, otak udang! Yg kelihatan di mata mrk cuma dollar, dollar, dollar!
o o

0 0

Quote Munarman: Rekayasa Bom Agar Dana Asing Mengucur
Tuesday, 15 March 2011 17:32 |

Jakarta (SI ONLINE)- Mantan Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Munarman, menengarai bahwa bom skala kecil yang meledak di Markas Jaringan Islam Liberal (JIL), Jl Utan Kayu Raya No. 68H, Jakarta Timur adalah permainan khas gaya intelijen Zionis.

Written by Shodiq Ramadhan |

Menurut Munarman bom rekayasa itu dilakukan agar dana operasional JIL yang selama ini sudah tersendat kembali mengucur deras. "JIL itu sudah hampir bubar karena kehabisan dana. Begitu juga Kantor Berita 68H adalah perusahaan rugi milik si Goen (Gunawan Mohammad, red)" katanya melalui pesan singkat, Selasa (15/3/2011) Seperti diketahui seluruh pendanaan JIL selama ini berasal dari asing, khususnya Amerika, melalui The Asia Foundation, USAID dan George Soros melalui Yayasan Tifa. "Biaya kuliah Ulil ke Amerika juga atas dana asing. Dana asing itu digunakan untuk subversive politik dan agama, artinya mereka telah meresahkan masyarakat.", kata Direktur An Nashr Institute itu. Rep: Shodiq Ramadhan

• • •

Add New Search RSS

Comments (3)

|2011-03-16 12:02:30 DUR-SASONO

NAUZUBILLAH MIN ZHALIK, INSYA ALLAH MEREKA SEMUA AKAN MENDAPATKAN ' NAARUN HAWIYAH AWARD ' ( JIL DAN KRONI2 NYA YANG RELA MENJUAL AGAMA NYA, DEMI DOLLAR ), BEGITULAH CARA2 ZIONIS SDH MEREKA TIRU MENGHALAL KAN SEGALA CARA UNTUK MECAPAI TUJUAN !
o o

0 1

Quote

|2011-03-18 15:19:20 ardana - KETAKUTAN LUAR BIASA

PADA MALAM HARINYA DI SALAH SATU tv LANGSUNG MENGADIRKAN AM HENDROPRIYONO (MANTAN BIN) DAN BERKATA "INI PELAKUNYA ADALAH KELOMPOK ABUBAKAR

BAASYIR DAN...." BAGI SAYA UST ABU ADALAH PENDULU SURGA. BELIAULAH YANG SUDAH MENDERITA OLEH BERBAGAI FITNAH DUNIA. JUGA LEBIH PAHAM DARI PADA SEORANG AM HENDROPRIYONO. SEDIH DAN PRIHATIN. SEORANG ISLAM BERPENDAPAT BUKAN DARI ISLAM JUSTRU MENOHOK ISLAM. KITA BELUM TAHUN SIAPA PELAKUNYA. APAKAH BUKAN REKAYASA PARA INTEL ATAS PERINTAH-PERINTAH KHUSUS UNTUK MEMOJOKKAN (UMAT) ISLAM YANG KONSEN, KARENA ATAS DESAKANNYA PEMBUBARAN AHMADIYAH???? BAGAIMANA AKAN MENJADI SEJAHTERA KALAU PENUH REKAYASA DAN INTRIK???
o o

0 0

Quote

|2011-03-19 23:06:36 abu.icanimovic - Fitnah memang biasa di negara thagut..

fitnah memang biasa, terlalu ngawur utk mengatakan kelompok mujahid di belakang aksi ini..Itu sih memang makar mereka (musuh islam), tapi tenang, Allah maha pembuat makar! Allah akan balas makar mereka! Kenali musuh kita, serta prioritas dakwah & jihad kita : http://abuicanimovic.blogspot.com/2011/03/hakadza-naral-jihad-bagian-2 .htm

Serang Libya = Perang Salib Baru
Wednesday, 06 April 2011 11:28 |

Tripoli (SI ONLINE)-Serangan Barat terhadap Libya meluncurkan Perang Salib terhadap negara Islam dengan dalih melindungi rakyatnya. Paus Urbanus II akan senang mengetahui bahwa murid-muridnya masih berbaris pada "tentara Kristen" terhadap kelompok lain di dunia Muslim hampir seribu tahun setelah khotbahnya di Gunung Clermont.

Written by Shodiq Ramadhan |

Menariknya, juga, Dewan Keamanan PBB ditekan menjadi pelayanan untuk meloloskan resolusi 1973, memaksakan sebuah "no fly zone" di atas Libya pada tanggal 17 Maret, seolaholah untuk "melindungi" orang-orang Libya. Dua puluh tahun yang lalu, zona larangan terbang serupa juga dikenakan pada Irak namun bahkan tanpa formalitas melalui gerakan resolusi Dewan Keamanan. Sekitar 1,5 juta warga Irak tewas akibat sanksi dan Barat tidak dikenakan zona larangan terbang. Pada tanggal 12 Mei, 1996 saat Leslie Stahl dari Program CBS 60 Menit bertanya Madeleine Albright, duta besar AS untuk PBB, apakah kematian 560.000 anak-anak Irak adalah senilai harganya untuk mengusir Saddam dari kekuasaan?. Tanpa ragu-ragu, Albright ya ! Apakah harus ada perbedaan di Libya? Mari kita lihat susunan negara yang menyerang Libya: AS, Inggris, Perancis, Italia dan Kanada. Italia menolak perjanjian persahabatan dengan Libya dan Presiden AS Barack Obama mengatakan Khaddafi telah kehilangan legitimasinya. Apakah Khaddafi pernah memiliki legitimasi, jika ya, kapan dan bagaimana legitimasinya bisa hilang begitu saja? Jika tidak, mengapa kekuatan Barat yang sama ingin berurusan dengan dia sebelum masalah baru-baru ini? Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair telah mengunjungi Khaddafi dalam kemahnya pada Maret 2004. Diktator Libya juga menerima mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice pada tahun 2008. Khaddafi terkenal menyebut dia ‘Wanita Hitam’. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menerima Khaddafi di ibukota mereka beberapa bulan sebelum pemberontakan dimulai di Timur Tengah. Jadi apa yang telah membuat Khaddafi menjadi anak nakal dari Timur Tengah lagi begitu cepat di mata Barat? Benar, seperti Saddam, Qaddafi telah memiliki hubungan keras dengan Barat. Dari menjadi ‘Sayang Barat’ sampai menjadi ‘anjing gila’, dan kemudian kembali bolak-nalik. Khaddafi telah melalui banyak up and down, pasang-surut. Sstatus ‘paria’ Khaddafi tidak ada hubungannya dengan argumen Barat tentang "intervensi kemanusiaan" untuk menyelamatkan nyawa Libya. Sejak kapan para penguasa Barat menjadi prihatin dengan nasib warga Libya atau Muslim? Jika mereka tidak peduli dengan kehidupan teman-teman mereka sendiri melihat bagaimana anak-anak dari keluarga miskin yang sedang dikorbankan di Afghanistan dan Irak mengapa mereka harus peduli terhadap warga Libya? Kita perlu memahami apa yang sedang terjadi di Libya. Meskipun mengklaim sebaliknya, tentara Barat sudah beroperasi di lapangan di Libya dengan ‘cober’ "melindungi" diplomat Barat, tetapi sebenarnya memberikan pelatihan kepada para pemberontak. Bahkan dengan resolusi no fly sangat cacat, yang tidak mengizinkan serangan terhadap pasukan darat Libya atau kolom berlapis baja seperti tank, itulah yang pembom Barat lakukan. Hal ini merupakan pendudukan Libya -- sebagai perhatian dunia dialihkan ke bencana nuklir di Jepang--. Apa yang mungkin menjadi alasan untuk perang salib Barat terbaru? Minyak Libya, banyak didambakan oleh Barat karena kandungan sulfurnya yang rendah. Demikian pula, AS telah membekukan sekitar $ 32 miliar aset Libya di bawah Executive Order 13566. Aset beku Libya merupakan bagian yang signifikan dari kekayaan, menurut Washington Post (23 Maret 2011). "Pada tahun 2009, Libya memiliki produk domestik bruto sebesar A $ 62 milyar; dana ‘sovereign wealth’ diperkirakan sebesar $ 40 miliar dan cadangan bank sentral di $ 110 miliar. Uni Eropa telah menambahkan bank sentral, dana kekayaan dan tiga lembaga Libya lainnya untuk sanksi nya - dua minggu setelah tindakan AS [Februari 25], "menurut Washington Post. Inggris, tidak ketinggalan, telah menyita lebih dari $ 19 milyar pada aset Libya". Penjarahan atas Libya telah dimulai dengan baiknya oleh para pencuri yang telah mengasah keterampilan mereka merampok selama berabad-abad.. Baik Khaddafi maupun rezim penerus - apa pun bentuk atau warnanya – tidak akan pernah melihat uang itu lagi. Amerika memiliki kebiasaan mencuri kekayaan orang lain, apakah dengan membekukan aset mereka atau merampok mereka melalui invasi langsung dan pendudukan. Membekukan US $ 40 miliar aset Iran di tahun 1980 dan beberapa juta telah dirampas. Saudi telah menginvestasikan lebih dari satu triliun dolar dalam perekonomian AS. Mereka juga tidak mungkin untuk melihat semua ini, terutama mengingat keadaan genting ekonomi AS.

Tapi perang salib Barat telah mempunyai tujuan lain yang lebih jahat. Libya akan bertindak sebagai kepala-pantai untuk penetrasi Barat ke dalam sub-Sahara Afrika yang kaya akan mineral. Chad, Niger dan Sudan memiliki kandungan mineral yang luas yang diinginkan Barat. Ini juga cocok atas pemilihan Obama sebagai presiden Amerika Serikat pada 2008. Dengan pria kulit hitam di rumah kulit putih, orang Afrika serta Amerika Afrika tidak akan terlalu peduli jika Amerika menyerang dan menduduki bagian Afrika. Setelah semua, tidak ada yang akan menuduh Obama rasisme. Pembentukan Amerika telah memiliki segalanya serba rapi. Sebuah petunjuk untuk keabadian dari intervensi militer Barat diberikan oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates ketika dia mengatakan tidak ada jawaban yang pasti tentang durasi kampanye Libya. Tapi dia mengungkapkan apa yang sedang terjadi. "Mari kita sebut saja sekop sekop," katanya dalam mengomentari zona larangan terbang di atas Libya. "Sebuah zona larangan terbang dimulai dengan serangan terhadap Libya untuk menghancurkan pertahanan udara. Itulah cara Anda melakukan zona larangan terbang "Seolah Gates mau mengatakan bahwa tidak ada akhir di depan mata..” Mari kita juga mengingat kembali pernyataan Dick Cheney, mantan wakil presiden AS tentang "perang melawan teror". Dia mengatakan itu dapat berlangsung 50 hingga 100 tahun. Kita sekarang dapat mulai mendapatkan gambaran sekilas tentang pemikiran dari para pembuat kebijakan Barat. Perang selalu menciptakan krisis kemanusiaan. Ada yang sudah hampir 100.000 pengungsi berusaha melarikan diri Libya. Ini termasuk Mesir, Tunisia, Aljazair dan warga negara Afrika sub-Sahara dan juga masyarakat miskin Bangladesh, India dan Pakistan. Barat akan menggunakan penderitaan mereka sebagai alasan untuk mengirimkan bantuan "kemanusiaan" dan para pekerjanya. Lalu "perlindungan" mereka akan digunakan sebagai alasan untuk mengirim dalam jumlah besar pasukan darat. Libya akan sekali lagi dijajah secara langsung. Kita bisa lihat juga bahwa sementara resolusi zona larangan terbang-diberi wewenang oleh Dewan Keamanan PBB, operasi militer telah diambil alih oleh Perancis dan Inggris dan ditempatkan di bawah komando NATO. Dengan demikian, kekuatan NATO telah, sekali lagi, menempatkan diri mereka sebagai "hakim otoritatif dunia bagi kebaikan bersama." Warga Libya berteriak-teriak untuk dukungan Barat agar membantu mereka menggulingkan Khaddafi. Tetapi ketika mereka bangun, intervensi asing tidak pernah membawa pembebasan kepada orang-orang. Horace Campbell, Profesor studi Amerika Afrika dan ilmu politik di Universitas Syracuse dan saat ini bekerja pada sebuah penerbitan buku tentang AFRICOM, mengatakan, " Keterlibatan Amerika dalam pemboman Libya sedang berubah menjadi cara ‘public relations’ untuk AFRICOM (US Afrika Command). AFRICOM pada dasarnya merupakan lembaga ujung tombak di garis depan untuk memuluskan kontraktor militer AS, seperti DynCorp, MPRI dan operasi KBR di Afrika. Perencana militer AS yang diuntungkan dari pintu putar privatisasi perang, sangat senang dengan kesempatan untuk memberikan kredibilitas AFRICOM pada intervensi Libya. Tidak ada negara Afrika telah setuju untuk membiarkan AFRICOM ke benua hitam ini. AFRICOM memiliki 1.500 orang beroperasi dari Stuttgart, Jerman. Jika Libya memang dipartisi, bahwa negara baru bisa memberikan dasar untuk AFRICOM." Libya harus bangun sebelum mereka akhirnya menerima bentuk yang lebih buruk daripada mereka berada di bawah Khaddafi. Ada cara yang lebih baik untuk mencari pembebasan dari bantuan asing. Ia selalu datang dengan string dan ‘taring’ panjang yang melekat dan akhirnya memperbudak daripada membebaskan orang. Rep: M Sumber: Zafar Bangas, Crescent International Syah Agusdin

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2011-04-06 13:42:30 Z

Perampokan teroganisir,dan dunia tak bisa berbuat apa2. La Hawla Wala Kuwata Ila Billah!!

Abdullah Sunata: “Saya Tidak Pernah Survei Ke Aceh Untuk Pelatihan Militer"
Friday, 08 April 2011 07:01 | Ramadhan |

Jakarta (SI ONLINE) – Banyak hal yang diluruskan terdakwa Ustadz Abdullah terhadap Surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menjerat dirinya melakukan tindakan terorisme. Dalam Pledoinya yang dibacakan Ustadz Nata di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Rabu (6 April 2011) lalu, menyatakan bahwa ia tidak pernah melakukan survei dan datang ke lokasi Pelatihan Militer di Gunung Jalin Jantho. Kedatangan Ustadz Nata ke Aceh karena diajak oleh Sofyan Tsauri pasca melatih laskar FPI dalam mensikapi pembataian umat Islam oleh Israel di Gaza-Palestina. Kedatangan ini untuk follow up pelatihan militer laskar FPI. Maka agenda ke Aceh yang utama adalah bertemu Tengku Muslim sebagai Ketua FPI Aceh. “Kedatangan saya ini, termasuk ke Payang Bakong tempat yang diminta Tengku Muslim adalah dalam rangka follow up program laskar FPI Aceh. Namun dalam BAP dipaksakan seluruh kegiatan ini terkait kegiatan di Jalin Jantho, padahal tidak ada sama kaitan sama sekali,” kata Nata membela diri. Lebih jauh, Ustadz Nata menjelaskan, dalam menghadapi situasi seperti yang terjadi di Gaza, Irak, Bosnia, Ambon, Poso dan Afghanistan, maka umat Islam dibolehkan oleh syari’at untuk melaksanakan ‘idad (persiapan). Ini sesuai perintah Al Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Berdosa hukumnya bagi Muslim yang meninggalkan dan menghalang-halangi ibadah ini. ‘Idad itu sendiri adalah bentuk antisipasi dan pembelaan, sesuai tuntunan syariat Islam untuk umatnya, agar jangan sampai dibantai dan dizalimi sebagaimana dialami oleh umat Islam di Ambon dan Poso. “Maka apakah karena kami melaksanakan syari’at Islam, lalu kami disebut ‘teroris’ dan harus dihukum?” tukas Nata mempertanyakan.

Written by Shodiq

Soal tuduhan dirinya mengantar beberapa orang yang disangka peserta latihan di Aceh, Sunata membantahnya. Ia baru mengetahui ini setelah di penyidik. Ketika ia diperiksa dari jam 12 siang hingga 00.00 wib, semua saksi menolak untuk dimintai keterangannya, bahkan mengaku tidak mengenal Nata. Begitu pula sebaliknya, Sunata tidak mengenal saksi yang diperiksa. Namun pada malam harinya, salah seorang saksi bernama Zuhair alias Zubair mengaku kenal dengan Nata, kemudian ia ditekan untuk mengakui isi BAP sesuai pengakuan Zubair. Mengenai tiga pucuk senjata M16, kata Nata, semuanya berawal dari komunikasi antara Maulana dengan Yahya, Tongji dan Abu Tholut pada waktu berbeda. Kemudian Maulana minta tolong Sunata untuk mengambil uangnya dan membantu mengantar senjata tersebut. Nata sendiri tidak mengetahui dan tidak pernah melihat senjata tersebut. Ia sendiri tidak tahu senjata itu untuk kemana dan dipergunakan untuk apa? “Setelah dipenyidik, saya baru tahu senjata masih ada di tangan Abu Tholut, sedangkan yang di Tongji akan dikirim ke Poso, bukan ke Aceh sebagai persiapan bagi kaum Muslimin Poso jika diserang kembali oleh Laskar Kristen seperti terjadi sebelumnya.” Adapun senjata revolver kaliber plus peluru sebanyak 40 butir yang ada ditangan Sunata adalah hasil pemberian Yuli. Pemberian senjata itu karena nama Sunata diopinikan oleh kepolisian dan media sebagai “teroris” nomor wahid yang sangat berbahaya. Lalu pada saat yang sama juga terjadi penembakan secara serampangan oleh polisi kepada mereka yang dituduh sebagai ‘teroris’. “Kebetulan saat itu terjadi peristiwa penembakan di Cawang, tanpa ada perlawanan dan baku tembak. Tiga orang yang dituduh teroris ditembak dari belakang ketika naik motor. Begitu dikubur, dua orang yang ditembak itu tidak diketahui identitasnya. Karena alasan inilah Yuli memberikan hadiah senjata kepada saya. Tidak sampai sebulan, saya kemudian ditangkap, ” demikian nota pembelaan (pledoi) Ustadz Nata yang beristri dua dan dikaruniai tujuh anak ini tegar.

Rekayasa Terorisme: Komnas HAM Mendahului Komisi III
Friday, 22 October 2010 14:36 |

Pada 31 Agustus lalu, sebanyak 50 ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) yang dipimpin KH. Muhammad Al Khaththath, mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR yang dipimpin Wakil Ketua Komisi III, Fahri Hamzah dan Aziz Syamsuddin. Waktu itu Komisi III mendapat laporan dari FUI mengenai kebiadaban aparat Densus 88 Mabes Polri dalam menyiksa para tersangka terorisme saat interogasi dalam tahanan dan proses penangkapan sewenang-wenang terhadap Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Setelah mendapat laporan tersebut, akhirnya Komisi III sepakat akan membentuk Panitia Kerja (Panja) Pencari Fakta Pemberantasan Terorisme.

Written by Jaka |

"Saya kira apa yang selama ini dilakukan Densus 88 dalam menginterogasi dengan cara menyiksa secara keji para tersangka teroris sebelum diadili, merupakan pelanggaran HAM berat dan prinsip-prinsip kemanusiaan. Ini tidak bisa lagi ditoleransi, sebab bangsa Indonesia adalah bangsa merdeka yang menjunjung tinggi HAM. Kita harus hapuskan kekejian semacam ini. Saya mengusulkan agar dibentuk Panja untuk menyelesaikannya," tegas anggota Komisi III dari FPP, Ahmad Yani, yang akhirnya disetujui seluruh unsur pimpinan dan anggota Komisi III DPR yang hadir dalam pertemuan tersebut. Sedangkan Wakil Ketua Komisi III Fahri Hamzah dari PKS dengan semangat waktu itu sampai mengatakan : “Panja Pencari Fakta Pemberantasan Terorisme harus sudah terbentuk sebelum Lebaran. Mereka nanti akan melakukan tugas klarifikasi dengan Kapolri seperti kasus yang dilaporkan FUI dan akan meninjau para tersangka teroris di tahanan untuk akhirnya dijadikan laporan kepada pimpinan DPR”. Namun setelah hampir dua bulan RDP dengan Komisi III itu berlangsung, ternyata janji tinggal janji dan hingga sekarang para wakil rakyat itu sama sekali belum membentuk Panja Pencari Fakta Pemberantasan Terorisme. Kasus terorisme di Indonesia sesungguhnya penuh dengan rekayasa dan skenario dari Kapolri Jenderal (Pol) BHD dengan operator lapangannya Tim Cobra atau Satgas Anti Bom dibawah Gories Mere dan Tim Densus 88. Meski FUI hanya mendapat janji gombal dari Komisi III DPR untuk membentuk Panja, namun ternyata Komnas HAM justru bergerak lebih cepat dengan membentuk Tim Investigasi Masalah Terorisme. Hal itu terungkap dari Pertemuan antara Komnas HAM yang diwakili komisioner Saharuddin Daming dengan Tim Investigasi Masalah Terorisme Forum Umat Islam (FUI) yang dipimpin Sekjen Ustad Muhammad Al Khaththath di Komnas HAM, Kamis (21/10) kemarin. Dari FUI hadir Munarman (Ketua Tim Advokasi FUI) dan Ustad Abu Jibril (korban dan keluarga korban Densus). Dalam pertemuan itu, Wakil Ketua Majelis Mujahiddin (MI) Ustad Abu Jibril menjelaskan, selain anaknya Muhammad Jibril menjadi korban penyiksaan biadab Densus, dirinya sendiri juga menjadi korban fitnah terorisme. Dirinya pernah ditahan di Malaysia selama 3 tahun, dimana selama 2 tahun dengan dasar ISA (Internal Security Act) dan 1 tahun dianggap sebagai pendatang haram di negara jiran tersebut. Namun setelah dirinya dibebaskan dan dideportasi ke Indonesia (2004), aparat keamanan sudah menunggu dan langsung menahannya tanpa tuduhan apapun selain didakwa masalah imigrasi. “Setelah saya dibebaskan pemerintah Indonesia (2005), saya kembali dituduh menyimpan dan membuat bom didalam rumah ketika rumah saya diledakkan orang tidak dikenal pada malam hari. Jadi rumah saya sudah diledakkan dan masih dituduh menyimpan bom, sehingga kembali ditangkap. Hal itu terjadi pada awal pemerintahan SBY dan Kapolrinya Da’i Bachtiar”, ungkap Abu Jibril. Sementara itu Sekjen FUI Ustad Muhammad Al Khaththath menegaskan, ternyata Komnas HAM justru mendahului Komisi III DPR yang hingga sekarang belum membentuk Panja Pencari Fakta Pemberantasan Terorisme. “Kita menyambut langkah positif dari Komnas HAM dengan membentuk Tim Investigasi Masalah Terorieme. Ternyata Komnas HAM telah mendahului Komisi III DPR yang sudah menjanjikan akan membentuk Panja. Selanjutnya kami berharap Komnas HAM bisa mengungkap apa latar belakang masalah terorisme ini yang sebenarnya banyak rekayasa yang terjadi didalamnya untuk mendiskreditkan umat Islam Indonesia,” tegas Ustad Muhammad Al Khaththath. (Lim)

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2010-10-23 14:41:49 budiman - DPR = wakil rakyat mana?

hal ini semakin menunjukkan bahwa DPR memang wakil rakyat, tapi wakil rakyat mana? mudah2an bencana alam semakin sering menghancurkan negeri para munafik.
o o

0 0

Quote

Bom Utan Kayu = Bom Rumah Susun Tanah Tinggi ?
Tuesday, 15 March 2011 16:54 | Ramadhan |

Written by Shodiq

Jakarta (SI ONLINE)-Bom dalam skala kecil meledak di Kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) yang sekaligus Kantor Radio 68H, di Jl Utan Kayu Raya No. 68H, Jakarta Timur. Menurut berita yang beredar, bom itu meledak pada Selasa (15/3/2011) sekitar pukul 16.05 WIB saat diperiksa polisi. Bom yang akhirnya meledak itu adalah paket buku yang dikirimkan untuk tokoh JIL Ulil Abshar Abdalla. Bom itu meledak dan melukai seorang polisi, yang diketahui adalah Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan, demikian dilaporkan sejumlah media online dan televisi. Beberapa pengamat mengatakan harus mewaspadai pengalihan isu yang sedang dimainkan. Bahkan menurut sumber suara Islam diduga kuat yang memiliki keterkaitan dan yang biasa memainkan bom skala kecil seperti itu justru adalah Gunawan Muhammad yang berhubungan erat dengan aktivis PRD. Bahkan diduga kuat Gunawan

mengetahui dan mendorong aktivis PRD untuk melakukan perlawanan keras terhadap Soeharto, yang berujung pada meledaknya Bom di rumah susun Tanah Tinggi pada tahun 1998.
Rep: Shodiq Ramadhan

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2011-03-16 07:59:02 Z

Ujung2nya mengarah ke 2 hal: Pembubaran Ormas Islam & Penyelamatan Ahmadiyah. Umat Islam harus HATI-HATI. Bisa jadi mereka yg melakukannya sendiri,supaya mereka tampak seperti korban. Mereka sedang panik karena sepertinya hampir final Ahmadiyah akan dilarang. Ini adalah Desperate Action... Semoga Allah segera meembuka topeng mereka.
o o

0 0

Quote

Ketua MUI Menilai Film " ?" Sesat Menyesatkan
Thursday, 07 April 2011 14:55 |

Jakarta (SI ONLINE) - Usai menyaksikan launching film ’?’ (tanda tanya) garapan sutradara liberal Hanung Bramantyo, Rabu (6/4/2011l) malam di Bioskop Jakarta Theatre, Ketua MUI KH. A Cholil Ridwan dan Direktur Insist Adian Husaini yang diundang menonton film tersebut menyatakan kekecewaannya.

Written by Shodiq Ramadhan |

Dalam pandangan Kiyai Cholil, film ini sangat berbahaya. ”Sebagai Ketua MUI bidang budaya, saya menganjurkan agar umat Islam tidak menonton film ” ? ” ini, karena dikhawatirkan umat Islam bisa tersesatkan,” himbaunya. Jika film ini berjudul “?” (tanda tanya), maka Kiyai Cholil juga ingin bertanya, mau dibawa kemana penonton ini. Apakah orang yang tidak punya agama sekalipun bisa dibenarkan. Pluralisme agama inilah yang dikampanyekan oleh Hanung. Sangat disayangkan, jika film pluralisme ini terbungkus toleransi agama. Ini paham yang keliru. Karena toleransi beraama tidak sampai mengorbankan keyakinannya. Nabi Muhammad saw saja tidak pernah membenarkan secara akidah agama Yahudi dan Nasrani. QS Al Kafirun sudah menjelaskan. Bahkan di QS al Bayyinah, Alloh swt menegaskan, bahwa orang kafir kelak akan masuk ke dalam neraka Jahannam. Pengaasuh Pondok Pesantren Husanayain itu heran, kenapa banyak penonton yang tepuk tangan, padahal jelas-jelas film itu sangat melukai umat Islam. ”Sekali lagi, saya tegaskan, film ini lebih berbahaya dari Perempuan Berkalung Surban. Ini arahnya pluralisme agama, yang ujung-ujung nanti, tidak beragama pun dianggap sah-sah saja.” Setelah menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, kata Cholil, ia mendapatkan kesan, aroma pluraslisme agama yang sangat menyengat dalam film ini. Padahal pluraslime agama yang dipesankan dalam film itu, ungkap Cholil, adalah pluralisme teologi yang sudah difatwakan oleh MUI sebagai paham yang haram. Bila umat Islam mengikuti paham itu, maka menjadi murtad atau keluar dari Islam, dan statusnya menjadi kafir. Menurut Cholil, pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya. ”Jadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan keyakinanya,” tukas Kiai Cholil mengingatkan. Dalam ajaran Islam ada prinsip, kerukunan itu berjalan tapi keimanan terjamin. ”Saya menilai, film ini sangat vulgar, sangat kasar, dan sangat melukai hati umat Islam yang menontonnya, terutama yang memiliki akidah tauhid yang benar. Film ini jelas sangat sesat menyesatkan umat,” tandasnya. Lebih jauh, yang dimaksud Cholil Ridwan sesat menyesatkan itu adalah pada saat digambarkan seorang yang beragama Islam itu menganggap wajar ketika harus murtad atau memilih agama lain. Ada ungkapan dalam film itu: “Saya tidak mengkhinati Tuhan. Saya keluar dari agama bukan berarti membenci Tuhan.” Pokoknya ini ajaran pluralisme yang menyamakan semua agama. Dalam paham pluralisme, ada keyakinan, bahwa di ahirat nanti, semua orang yang beragama akan masuk surga. Di surga nanti telah disediakan kamar-kamarnya. Jelas, ini pemahaman agama yang sesat dan menyesatkan.

Hanung, Kau Keterlaluan: Pesantren dan Kiyai Begitu Kau Burukkan
Monday, 28 June 2010 16:44 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Wawancara dengan tokoh sastrawan Taufik Ismail.

Tampaknya bangsa ini tidak kapok-kapok dengan sepak terjang kaum Komunis yang telah membunuh 100 juta manusia di 76 negara seluruh dunia selama 74 tahun kekuasaannya (1917-1991), atau 1,350 juta orang pertahun atau 3.702 orang perhari, sebagaimana disebutkan Taufiq Ismail dalam bukunya “Katastrofi Mendunia, Marxisma, Leninisma, Stalinisma, Maoisma dan Narkoba”. Sementara di Indonesia kaum Komunis telah dua kali menggerakkan kudeta (1948 dan 1965) yang akhirnya gagal total. Meski tindakannya selalu brutal dan menghalalkan segala cara, ternyata masih ada manusia Indonesia yang menjadi pengagum Komunisme bahkan berusaha memperjuangkannya melalui film-film yang selama ini dibuatnya, seperti yang dilakukan sutradara muda, Hanung Bramantyo, suami aktris Zaskia Adya Mecca, yang merupakan istri keduanya setelah ribut di Pengadilan Agama dengan istri pertama. Adapun film garapan Hanung yang sangat kental bau Komunisnya sekaligus Sepilis (Sekularis, Pluralis dan Liberalis) serta menghina Islam adalah Perempuan Berkalung Sorban (PBS). Saking kagumnya dengan Komunis, sampai-sampai ringtone hand phone Hanung bernada lagu khas Gerwani PKI, Genjer-Genjer. Hanung juga pernah membuat film yang sangat kental bau komunisnya, Lentera Merah, kalau diplesetkan menjadi Tentara Merah. Film yang dibintangi aktris Revalina S Temat (Annisa) tersebut diambil dari Novel PBS karya Abidah El Khaleqy. Novel PBS sebelumnya mendapat penghargaan dari The Ford Foundation, sebuah NGO yang memperjuangkan faham Sepilis dan dikendalikan kaum Zionis Yahudi AS. Film tersebut mengisahkan kebobrokan pesantren dan kiyainya. Pesantren dan kiyainya dicitrakan kotor, sumber penyakit, sangat bengis, mudah main pukul, mengekang perempuan, mengekang hak berpendapat, menempatkan perempuan pada martabat yang rendah, suka main bakar buku-buku komunisme, suka main hukuman rajam secara serampangan dan sebagainya. Dikisahkan, seorang santriwati yang juga putri kiyai pesantren, Annisa, dan tinggal di kompleks pesantren, frustasi karena ulah suaminya yang juga anak seorang kiyai yang sering melakukan kekerasan, akhirnya memutuskan untuk kembali dalam pelukan mantan pacarnya, Khudori, seorang alumnus sebuah perguruan tinggi di Kairo, Mesir. Bahkan Annisa yang sudah kebelet, mengajak Khudori untuk melakukan adegan ranjang di sebuah kandang kuda di pesantren tersebut, padahal kandang itu penuh dengan kotoran kuda. “Zinahi aku…Zinahi aku…!”, desak Annisa kepada Khudori sambil melepaskan jilbab dan pakaiannya satu persatu.

Ketika kedua insan lain jenis dan bukan suami istri tersebut sedang melakukan perzinahan, akhirnya datang rombongan santri dan suami Annisa mengerebeknya. Lalu keduanya mendapat hukuman rajam dengan dilempari batu oleh para santri. Lemparan batu baru berhenti setelah ibu Annisa berteriak sambil mengatakan, “ yang boleh melempar batu hanya orang yang tidak pernah melakukan dosa!”, padahal tidak ada orang yang tidak pernah melakukan dosa. Kata-kata dari ibu Annisa ini jelas mengutip dari cerita Kristen dari Kitab Injil, dimana dikisahkan seorang pelacur, Magdalena, dihukum rajam dengan dilempari batu. Kemudian datang Nabi Isa (Yesus) untuk menyelamatkannya dengan mengatakan, “yang boleh merajam hanya yang tidak punya dosa”. Jadi selain berbau Sepilis dan Komunis, film PBS juga beraroma Kristiani dan berusaha menghancurkan Islam lewat pintu budaya melalui film. Jelas dengan menampilkan hukuman rajam yang sebenarnya tidak ada dalam novel aslinya, Karl “Hanung” Mark ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk membenci syariat Islam dan pesantren, sebab sejak dulu pesantren merupakan basis terkemuka dalam melawan gerakan PKI di Indonesia. Padahal itu hanya utopia dirinya sendiri, sebab selama ini belum pernah ada satupun pesantren di Indonesia yang melakukan hukuman rajam kepada santrinya yang melakukan perzinahan. Seolah-olah pesantren merupakan negara dalam negara dengan menegakkan hukumnya sendiri. Jelas ini merupakan distorsi terhadap hukum Islam dan upaya mengadu domba umat Islam dengan pemerintah. Dengan membuat film PBS, sesungguhnya Karl “Hanung” Mark telah melakukan anarkhisme psikis, yakni melakukan penyerangan secara psikis terhadap umat Islam dan pesantren sebagai salah satu simbol Islam di Indonesia. Karena dendam terhadap pesantren yang telah berjasa menghancurkan PKI, maka Hanung menyalurkan perlawanannya lewat film PBS. Hanung dengan sengaja telah menebar virus ganas Sepilis dalam film, tujuannya untuk menimbulkan citra buruk terhadap Islam dan umatnya sambil menebalkan kantong koceknya. Sebagaimana dalam film Lentera Merah, dalam film PBS Karl “Hanung” Mark all-out mendukung Komunisme alias PKI isme. Terbukti dalam film PBS ada adegan pembakaran buku-buku karya Karl Mark dan sastrawan kiri Pramoedya Ananta Toer seperti Bumi Manusia, oleh para santri di lingkungan pesantren. Padahal dalam novel aslinya, jalan cerita tersebut tidak ada sama sekali. Bahkan buku-buku karangan Pramoedya seperti Bumi Manusia dan Anak Segala Bangsa sepertinya dijadikan bacaan wajib bagi Annisa dan para santri lainnya. Hal ini menunjukkan Hanung selain pengagum Karl Mark juga pengagum Pramoedya. Padahal banyak sastrawan sekaliber Pramoedya dan karya-karyanya malah lebih bermutu seperti Buya Hamka. Mengapa Hanung tidak menjadikan buku-buku Buya Hamba sebagai bacaan wajib bagi Annisa dan para santri lainnya, justru buku sastrawan yang pernah menghuni penjara di Pulau Buru itu dijadikan bacaan wajib. Dengan demikian, sudah sangat jelas dalam film PBS terdapat motif ideologi Komunis yang dimaksudkan untuk memperjuangkan kembali tegaknya Komunisme di Indonesia meski dalam bentuk lain. Hanung mafhum betul bahwa satu-satunya jalan untuk mengembalikan ajaran Komunisme di Indonesia adalah mendiskreditkan ajaran Islam dan umatnya, dimana sasaran pertamanya adalah pondok pesantren yang selama ini

menjadi basis kaum Nahdhiyyin dengan memojokkan para kiyai NU. Adapun sasaran berikutnya adalah mendiskreditkan para pemimpin Islam di Muhammadiyah. Sebab kedua Ormas Islam ini mempunyai pengikut terbesar di Indonesia. Maka tidaklah mengherankan jika Hanung akan meluncurkan film KH Ahmad Dahlan “Sang Pencerah” tepat pada pelaksaan Muktamar Muhammadiyah ke 46 di Jogjakarta 2-8 Juli ini. Namun anehnya justru para pemimpin Muhammadiyah tidak curiga sama sekali akan sepak terjang Hanung selama ini yang selalu mendiskreditkan Islam dan para pemimpin Islam seperti dalam film PBS. Sekarang sudah terbukti, pemeran utama sebagai KH Ahmad Dahlan dalam film “Sang Pencerah” adalah Lukman Sardi, putra seorang komponis muslim dan pemain biola kawakan Idris Sardi namun sekarang telah murtad dari Islam dan menjadi Kristen. Bayangkan, seorang ulama besar pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan kok diperankan oleh seorang murtad, jelas ini suatu penghinaan terang-terangan terhadap Islam dan Muhammadiyah itu sendiri. Apa Ketua Umum dan 12 Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang terpilih dalam Muktamar nanti tidak malu ketika melihat pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dilecehkan dan direndahkan pribadi dan martabatnya oleh Karl “Hanung” Mark ? Berikut ini wawancara Tabloid Suara Islam dengan sastrawan, budayawan dan penyair kawakan yang telah melahirkan banyak karya lagu Islami dari Bimbo serta putra seorang ulama besar dari Pekalongan KH Ghofar Ismail, Taufiq Ismail, seputar film Perempuan Berkalung Sorban (PBS). Pak Taufiq, anda sudah menonton film Perempuan Berkalung Sorban ? Saya sudah nonton PBS. Bagaimana kesan Pak Taufiq ? Belum pernah selama saya ini menonton film, berapa puluh tahun lamanya, berapa ratus judul banyaknya, kalau dihitung-hitung sejak masa kanak-kanak dulu, berapa ya, sejak 63, 64 tahun lebih yang silam, belum pernah saya merasa dihina dan dilecehkan seperti sesudah menonton film Hanung ini. Lho, kok sampai begitu, ya Pak ? Dihina ? Ya ! Di dalam film itu, semua pesantren dan semua Kiyai jelek. Situasi pesantren kumuh, Kiyai-kiyai dengan keluarga digambarkan buruk. Kelakuan tak terpuji. Terasa fikiran utama yang mendasari pembuat film ini adalah spirit mencari cacat, membuka noda, memberi tahu penonton, ini lho yang reyot-reyot, yang sakit-sakit, yang pincang-pincang dari ummat Islam, tontonlah. Begitu. Apakah ini film pertama yang Pak Taufiq tonton, yang terkesan menghina Islam ? Tentu saja bukan yang pertama. Banyak film yang melecehkan ummat Islam, langsung tidak langsung, kentara dan tidak kentara. Tapi film-film itu dibuat di negeri lain, oleh

orang-orang bukan Islam, dan memang dengan niat culas. Nah, PBS ini dibuat di dalam negeri, oleh sutradara bangsa sendiri. Ternyata niatnya sama juga. Culas. Bagaimana kita bisa tahu bahwa niatnya culas ? Kalau niat Hanung baik, misalkan terhadap yang buruk-buruk itu dia mau mengeritik secara konstruktif, maka dia akan berikan perbandingan pesantren yang rapi indah, tidak kumuh dan dia tonjolkan tokoh Kiyai yang berwibawa, yang memancarkan sinar seperti lambang Muhammadiyah. Itu tak dilakukannya. Pak Taufiq, bagaimana jalan cerita film Perempuan Berkalung Sorban itu, yang novel aslinya ditulis Abidah El Khaliqy ? Wah, saya tidak mau jadi petugas humas Hanung itu, menjelas-jelaskan jalan cerita filmnya untuk pembaca. Buat apa? Itu bukan kerja saya. Anda sebagai wartawan, tuliskan sendiri ringkasan ceritanya. Itu tugas anda. Mengingatnya saja sudah muak saya. Sudah sedemikian tidak nyamannya perasaan Pak Taufiq ? Bukan saja tak nyaman. Muak. Mual. Anak muda ini mau menunjukkan dirinya kreatif, super-liberal, berfikiran luas, tapi dengan mendedahkan kekurangan-kekurangan dan cacat-cela ummat, yang dilakukannya dengan senang hati. Bahkan mengarang-ngarang hal yang tidak ada. Misalnya bagaimana ? Misalnya diada-adakannya adegan rajam. Di pesantren tidak ada hukuman rajam terhadap pelaku zina seperti fantasi dalam kepala Hanung itu. Kemudian tokoh Nyai, isteri Kiyai lewat dialog memberi komentar tentang hal itu dengan mengutip Injil tentang Maria Magdalena. Apa hubungannya itu? Kenapa harus diambil dari khazanah Kristen? Pengambilan khazanah Kristen bisa saja, tapi baru masuk akal kalau sebelumnya ada pendahuluan reasoning, ada pemaparan logikanya. Ini tidak ada. Mendadak saja, ujugujug, kata orang Pekalongan. Kentara betul Hanung mau tampak hebat, memperagakan luas horison pandangannya. Sok betul. Sombong. Apakah di novel aslinya ada adegan rajam itu ? Mboten wonten, Mas. Tidak ada. Di sini terjadi improvisasi sutradara. Dan ini improvisasi yang kurang ajar. Maaf keras betul kalimat saya. Maaf. Di bagian ini Hanung tidak minta permisi pada novelis Abidah El Khaliqy, tidak amit-amit. Dia main terjang saja. Dia tidak kenal etik. Apakah penambahan jalan cerita atau improvisasi harus izin novelisnya ? Tidak harus begitu. Tergantung bentuk kontrak juga. Tapi sebagai sesama seniman dalam kreasi karya bersama begini, paling tidak harus ada diskusi. Diskusi tersebut dalam hal

ini tidak ada. Tidak ada ? Bagaimana Pak Taufiq tahu ? Saya pernah tanya Abidah. Mereka pernah ada diskusi tentang esensi cerita, mengenai feminisme, tentang kehidupan pesantren, tetapi mengenai rajam tidak ada. Lalu… Lalu bagaimana, Pak Taufiq ? Lalu dia tabrak saja, jebret, bikin adegan rajam. Lantas fantasi dusta berikutnya yang menyolok adalah adegan pembakaran buku di pesantren itu. Di novel Abidah tak ada adegan pembakaran buku. Abidah lebih logis dan tidak sok seperti Hanung. Seingat saya pembakaran buku pengarang-pengarang anti komunis dilakukan PKI dan ormas-ormasnya di tahun 1964 atau 1965, betul Pak ? Betul sekali. Nah, di pesantren itu, di kelompok santri, ada diskusi buku. Dibicarakan tentang pengarang yang tertindas, ditahan tanpa diadili, tapi tetap kreatif, tetap menulis buku. Yang dimaksud adalah Pramudya Ananta Tur. Diperlihatkan kulit buku novel Bumi Manusia, yang dilemparkan ke dalam unggun. Adegan ini dibikin-bikin, dan bodoh betul. Maksudnya ? Pertama, adegan ini dalam novel tak ada. Jadi ini keluar dari otak Hanung sendiri, tanpa permisi novelisnya. Kedua, kalau dia betul-betul anak Muhammadiyah, maka pengarang yang tertindas, ditahan tanpa diadili 2,5 tahun, tapi tetap kreatif, menulis buku, maka pengarang itu adalah Buya Hamka. Bukan Pramudya. Yang wajib disebut adalah Buya Hamka. Hanung ini, yang mengaku-ngaku anak Muhammadiyah, ternyata buta sejarah perjuangan tokoh besar Muhammadiyah ini. Karya luar biasa Buya Hamka tersebut adalah Tafsir Al Qur’an Al-Azhar, yang dirampungkannya dalam tahanan, selesai 30 juz, dikagumi seluruh dunia Islam. Kalau begitu Hanung keliru besar, menokohkan Pram dalam hal ini ? Sangat keliru ! Tapi memang pada dasarnya dia kekiri-kirian, mode anak muda zaman kini, tidak sadar mengangkat diri sendiri jadi agen muda Palu Arit. Lagi-lagi Hanung rabun sastra: Pramudya tahun 50-an 60-an dalam karya-karyanya sinis terhadap orang sholat, benci kepada haji. Tokoh-tokoh haji dalam novel-novelnya buruk semua: mindring, kaya, bakhil, membungakan uang. Tapi di luar ini semua, menjelang meninggalnya, tanda-tanda menunjukkan Pramudya khusnul khatimah. Alhamdulillah. Mudah-mudahanlah Pram beroleh hidayah. Allah berbuat sekehendak-Nya. Kembali kepada rasa tidak nyaman Pak Taufiq tadi… Lebih dari tidak nyaman. Muak. Mual.

Silakan kalimat penutup, Pak. Saya merasa dihina dan dilecehkan oleh film Perempuan Berkalung Sorban, disutradarai Hanung Bramantyo, yang menistakan lembaga pesantren dan tokoh Kyai, waratsatul anbiya, berlindung di balik topeng kebebasan kreasi dengan sejumlah improvisasi yang bodoh dalam semangat super-liberal. Para aktivis seni Marxis-Leninis-Stalinis-Maois saja di tahun 50-an 60-an tidak ada yang bisa membuat film pelecehan pesantren dan Kiyai seperti yang dilakukan Hanung di abad 21 ini. Kalau dia sudah beredar lima dasawarsa yang lalu, maka Hanung Bramantyo bagus diusulkan mendapat Bintang Joseph Stalin atau Anugerah Dipa Nusantara Aidit.***

• • •

Add New Search RSS

Comments (55)

|2010-06-29 11:20:03 ANU

SANGAT DI SAYANGKAN SIKAP HANUNG, TAPI PARA KYAI KITI TIDAK JUGA SE ISTIMEWA ZAMAN THN 50 AN PAK TUOPIK. KINI KYAH BYK MERUSAK ISLAM, MUNKIN KRN HANUNG LAHIR KEMAREN SORE WAJAR YG TERBACA KYAI ZAMAN SEKARANG. SANGAT DI SAYAKAN MEDIA INI MENGOBAR KEBENCIAN LAGI DAN PAK TOPIK ORANG TAHON 50AN MAU SAJA.
o o

7 6

Quote

|2010-06-29 11:31:35 ANU

wartawan Media ini ada ada saja. model wawancaranya kurang bermutu, Iklan di bayar agen tertentu ya??? kasak masalah isi nover berubah diwawancarakan gak mutu! satu lagi pembakaran buku di pesatren biasa saja bila kyai lihat buku berbahaya, jd siapa yg gak tahu ttg pesatren, jgn2 mbah topik gak pernah nyantri ya? hahahahaha, mbah topik beri komentar anantatur dapa hidayah, komentarnya sembarangan saja. komentar ini yg berbahaya yang menjadikan orang semakin tertarik membaba novel2 anantatur yg memang luar biasa enak dan indahnya tidak terasa terbawa arus tulisan nya. karuan saja wawancara ini.. media online Islam gak punya isu lagi ya yg mau di kritik ??? bgai mana tulisan anda ttg Gaza dll gak punya lanjutan. lihat tuh HARIAN REPUBLIKA LEBIH BERKWALITAS DAN TERAGENDA, MEMDIDIK LAGI. . media yg bau mana islam ini bikin pusing saja!!! manset wartawan zaman dulu harus di ap date!!
o o

1 14

Quote

|2010-06-30 14:32:35 ibnu ali - ribet

ANU : apa iya... kamu kali ya yang gak pernah nyantri..
o o

1 3

Quote

|2010-06-30 16:45:08 iwan

pikiran anu betul, seperti gak ingat aja kita berita kyai DUSDUR, obok2 ajaran Gusti Allah. JD KYAI ADA YG MERUSAK ISLAM SELAIN KYAI PUJI sopo maneh?? oya pesantren larang buku aniaraw/ stensil pornoh kalau ke temu wes di bakar karo kyai eeee. jd buku bacaan berbauk PKI juga dibakar kalau santine mboco. iku pondok sing benar. biasa aja guru bakare buku santi si bandel. aku dulu sering bukuku dibakar karo guruku...hihihihihih
o o

0 3

Quote

|2010-06-30 17:55:32 abu icanimovic - Bagus Pak

Film kaya gitu disebut karya? Karya dari syetan iya.. Pak Taufik teruslah berkarya. www.abuicanimovic.blogspot.com
o o

6 0

Quote

|2010-07-02 17:21:04 kosasih

film itu memprofokasi umat islam...buktinya anu sama iwan saja sudah terprofokasi...mereka yang membuat film hebat yah menanamkan permusuhan kepada umat islam....maju tersu para penda'wah islam..yang tengah berhianat terhadap islam terang terangan membuka topengnya...biarlah saja Allah yang menghukumnya..Allahuakbar...
o o

2 0

Quote

|2010-07-03 05:40:18 aqse - Tangkap dan Ganyang Liberal-Komunis

Komunisme dan Liberalisme hanya cocok dinegara tak beragama. Indonesia negara beragama. Ganyang habis dan bersihkan antek2 liberal dan komunis di Indonesia atau sejarah buruk akan terulang !!
o o

1 0

Quote

|2010-07-03 05:44:02 aqse - Meja Ijo-kan si Hanung

hanung harus mempertanggung jawabkan pelecehan lewat filmnya ini. Seret hanung ke meja ijo !!
o o

1 0

Quote

|2010-07-03 08:04:51 Anonymous - re:

ANU wrote: SANGAT DI SAYANGKAN SIKAP HANUNG, TAPI PARA KYAI KITI TIDAK JUGA SE ISTIMEWA ZAMAN THN 50 AN PAK TUOPIK. KINI KYAH BYK MERUSAK ISLAM, MUNKIN KRN HANUNG LAHIR KEMAREN SORE WAJAR YG TERBACA KYAI ZAMAN SEKARANG. SANGAT DI SAYAKAN MEDIA INI

MENGOBAR KEBENCIAN LAGI DAN PAK TOPIK ORANG TAHON 50AN MAU SAJA.

SAYA JUGA TERLAHIR KEMAREN SORE,TAPI SAYA SENANG ATAS ULASAN PA TAUPIK.SAYA SETUJU ATAS ULASAN BELIAU,SUPAYA KITA TAU MANA ORANG YG PEDULI PADA ISLAM DAN MANA HANYA SEBATAS TOPENG /KTP
o o

1 5

Quote

|2010-07-08 10:35:55 Fadly - Setuju ama Pak Taufik.

Ane Setuju dengan Pak Taufik, walau pun blm Nonton & Gak akan Pernah Nonton FIlm PBS ini. Miris bgt membaca keterangan & Kebenaran dari Pak Taufik ttg Penggambaran ajaran Islam yg di Tuangkan KeFIlm Ini Oleh Seorang yg Mengaku Beragama Islam tapi Malah menyerang Islam. Nung Koreksi diri tuh, kyknya ada yg salah ttg pemahaman agama lu. Hilangkan SIfat TaKaBuR yg akan menghalangi Hidayah 4JJl..!!
o o

1 0

Quote

|2010-09-21 01:36:52 onge sinaiya

Jangan membiasakan diri menggunakan 4JJI karena itu karena banyak multi tafsir yg negatif...silahkan googling untuk mencari artikel2nya
o o

2 0

Quote

|2010-07-09 08:36:30 Djati - Terlalu banyak musuh Islam

Teruskan pak Taufik, sebagai orang sepuh wajib mengingatkan karena liciknya musuh2 islam hingga banyak sekali yg tidak pernah menyadari tapi malah mendukungnya. ANU itu pasti bagian dari yang harus kita waspadai sepertinya. Sepak terjangnya di duniamaya saya sudah hafal.
o o

0 0

Quote

|2010-07-09 09:47:17 wafa - adili hanung!!!!

bener banget...!! saya juga ga bakal mau nonton film2 yang disutradarai Hanung komunis!!! saya fikir semenjak naiknya namanya sebagai sutradara AAC dlu, dia adalah orang yang cukup agamis...tapi langsung saya benci ketika muncul cuplikan PBS di TV...apa2an niy film?? ga mutu.. dan sangat tak mendidik!!!! harus ada tindakan tegas kita terhadap Hanung!!!
o o

0 0

Quote

|2010-07-09 19:21:37 Yosep - Kehidupan Ini Adalah Pengulangan Sejarah

Kehidupan ini tidak lain adalah pengulangan dari sejarah masa lalu. Tidak heran kalau di zaman ini banyak orang yang mengaku mengerti (seolah-olah mengerti), tapi justru ucapan dan tindakannya tidak mencerminkan seorang teladan. Kini banyak tontonan atau pun tulisan yang justru isinya tidak berbobot dan bahkan menunjukkan suatu kebodohan, semua itu tidak lepas dari rencana kaum yang tidak menyukai Islam. Tapi saya yakin orang Islam yang sebenarnya tidak akan terpengaruh/terpropokasi oleh hal-hal murahan. Allah menjaga Islam. Allahu Akbar.
o o

0 0

Quote

|2010-07-09 20:09:08 hanung goblok

hanung otaknya kerdil dan gak tahu apa2,,,,
o o

0 0

Quote

|2010-07-10 20:06:39 dasar.....

terimakasih banyak pak taopik.......
o o

0 0

Quote

|2010-09-16 10:58:35 sulistyawan - berkaca dari kesalahan..

kalau saya mungkin beda dengan yang lain. saya justru merasa PBS sbagai film dakwah yang menarik. penuh kritik tentang ajaran islam (kolot) dan dibikin dengan sangat sempurna. dia memotret islam apa adanya, buat bahan renungan perbaikan, agar islam bisa tampil cantik. kalau kita disanjung melulu, kapan kita maju ?
o o

2 3

Quote

|2010-09-19 20:34:29 andy - Ambil Hikmahnya..

Film termasuk media yg cepat mempengaruhi cara berfikir masyarakat. Buatlah film yang mendidik dan sebaliknya.
o o

0 0

Quote

|2010-09-19 20:36:12 andy - Stuju...

Pendapat Pak Taufik sngat penting untuk direnungkan,
o o

1 0

Quote

|2010-09-20 16:19:22 prihandini

ulasan PBS nya berlebihan ah, Khudari itu pakdhenya koq bukan pacarnya. Waktu di kandang juga mereka ga sampai berzina, Annisa juga ga sampai buka pakaiannya satu persatu.
o o

2 3

Quote

|2010-09-22 13:30:08 Vian Jamal

saya setuju dengan pandangan Pa Taufik,... PBS... Perempuan Berjubah Setan....
o o

0 0

Quote

|2010-09-22 13:49:27 elfan - Penghinaan terhadap Islam.

Kini, disalah satu stasiun tv swasta sudah ditayangkan sinetron komedi ISLAM KTP, tapi kok Pak Taufik Ismail tidak protes ya??? Masak nama identitas suatua agama, yakni ISLAM ditambah dengan KTP. Apa benar ada Islam KTP? apa iya ada Islam Liberal dsb. Kalaulah mereka menggunakan Muslim KTP ya itu wajar adanya.
o

0

o

2

Quote

|2010-09-22 19:02:21 tobat_ap_susah_nya_sich_nung - bah =))

sotoy si hanung... kapan di pesantren mengadili kasus zina??? sampe di rajam sgala... wkwkwk dasar hanung pendusta besar... haram duit penghasilan kau pak... XD wkwkw =))
o o

0 1

Quote

|2010-09-23 10:29:35 Hamba ALLAH

@elfan yang dimaksud dalam film itu adalah kehidupan orang-orang yang beragama Islam, namun meninggalkan ajaran2 Islam.. seperti tidak solat, sombong, dll Lain halnya dengan JIL dan Islam2 yang lain, mereka2 itu menafsirkan Islam sesuai kehendaknya saja
o o

1 0

Quote

|2010-09-23 10:56:14 izzam - Izin Share yah...

dah lama saya gemes pengen ngomentari film busuk ini (PBS)sama dengan pak Taufik Ismail saya mual jijik n saya pribadi pengen mukul si Hanung sorry klo emosi habis syetan banget sih tuh manusia.
o o

0 0

Quote

|2010-09-23 14:32:29 brandal lokajaya - hati-hati dalam berkomentar

Anu:media online Islam gak punya isu lagi ya yg mau di kritik ??? Berhati-hatilah dalam berkomentar... Lebih bijak dan alim serta santun...
o o

0 0

Quote

|2010-09-25 23:54:25 ndut

Alhamdulillah saya belum menonton film ini...alhamdulillahnya lagi saya urung terus menonton film sang pencerah...
o o

0 0

Quote

|2010-09-26 00:01:40 M. DianKafrowi Rahim - Tes

Betul tuh Pak Taufik... saya aja nonton pada CD pertamanya aja udah gak suka... keliatan banged menyudutkan islam..
o o

0 0

Quote

|2010-09-26 00:04:21 M. DianKafrowi Rahim

betul Tuh Pak Taufik.. saya aja pertama nonton pada CD pertmanya aja udah gak asyik, kliatan banged menyudutkan Islam.. Semangat Pak..
o o

0 0

Quote

|2010-09-26 01:11:19 Kezzam - Hanung, ning-nang-ning-klung...

Hanung... hanung... Males banget denger nama bocah yg satu ini. Sekedar saran saja nih, buat yg ngebaca artikel ini. Coba di cross-check dulu dgn Bpk Taufik Ismail, apakah benar beliau pernah diwawancara oleh media SUARA ISLAM mengenai masalah ini, lengkap dgn isi transkrip pembicaraan yg spt tertulis diatas. Bukan apa2, tp ini utk mencegah kita memakan fitnah keji segelintir orang.

Terus terang saya bkn penggemar film si Hanung ning-nang-ning-klung ini, tapi justifikasi saya selalu berdasar pada bukti otentik, bukan pembicaraan orang selewat saja yg berpotensi tendensius dan mengarah ke fitnah.
o o

1 1

Quote

|2010-10-02 19:52:24 hzm - hzm

dari judul terkesan feminisme
o o

0 0

Quote

|2010-10-05 07:29:08 ahmad abdurrohman

sy yg pernah jadi santri mangkel banget pas liat cdnya. kurang ajar sekali ni orang lecehkan ulama dan dunia pesantren. pas ada yg tanya sdh liat Sang Pencerah? kujawab aku tdk suka sama hanung. enaknya hanung memang dipecel.
o o

1 0

Quote

|2010-10-05 13:23:50 satria248 - Hmm Jadilah Jurnalis yang Baik

Sebagai Jurnalis, harusnya tulisan ini ditulis dengan "nada" NETRAL. Membaca tulisan ini saya merasakan betapa bencinya penulis pada sosok Hanung Brmantyo. Saya pribadi tidak mendukung beliau, bahkan mengkritik film Perempuan Berkalung Sorban yang memang kelewat "liberal". ...."sutradara muda, Hanung Bramantyo, suami aktris Zaskia Adya Mecca, yang merupakan istri keduanya setelah ribut di Pengadilan Agama dengan istri pertama"... Apakah tidak ada bahasa yang lebih halus dari Kata "Ribut". Sudahkah penulis mengkonfirmasi atau hanya melihat tayangan infotainment? ..."Lukman Sardi, putra seorang komponis muslim dan pemain biola kawakan Idris Sardi namun sekarang telah murtad dari Islam dan menjadi Kristen"... Bahkan di media lain pun tidak jelas Apakah Lukman Sardi benar2 pengikut nasrani. Mengapa Penulis dengan gampangnya Men'Judge' seperti itu .. "Dan Janganlah Kebencian membuat Kamu tidak Adil terhadap sesuatu"
o o

0 3

Quote

|2010-10-06 15:58:04 abu bakar - MH

Yang pasti Musik dan sejenis apa lagi film...HARAM TITIK
o o

0 0

Quote

|2010-10-06 21:00:40 opit al faani - jgn su'udzon

beginilah org islam ndak akan maju2, mbok ya musyawarah, tdk saling menghardik & melecehkan, Islam menghendaki untuk menegakkan masyarakatnya dengan penuh kejernihan hati dan rasa percaya yang timbal balik; bukan penuh ragu dan bimbang, menuduh dan bersangka-sangka, Untuk itu, maka datanglah ayat al-Quran membawakan keempat sikap yang diharamkan ini, demi melindungi kehormatan orang lain. Maka berfirmanlah Allah: "Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak menyangka, karena sesungguhnya sebagian sangkaan itu berdosa." (al-Hujurat: 12) Sangkaan yang berdosa, yaitu sangkaan yang buruk. Oleh karena itu tidak halal seorang muslim berburuk sangka terhadap saudaranya, tanpa suatu alasan dan bukti yang jelas. Sebab manusia secara umum pada asalnya bersih. Oleh karena itu prasangka-prasangka tidak layak diketengahkan dalam arena kebersihan ini justru untuk menuduh. Sabda Nabi: "Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta omongan.&...
o o

0 0

Quote

|2010-10-06 21:01:35 opit al faani

Islam menghendaki untuk menegakkan masyarakatnya dengan penuh kejernihan hati dan rasa percaya yang timbal balik; bukan penuh ragu dan bimbang, menuduh dan bersangkasangka, Untuk itu, maka datanglah ayat al-Quran membawakan keempat sikap yang diharamkan ini, demi melindungi kehormatan orang lain. Maka berfirmanlah Allah:

"Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak menyangka, karena sesungguhnya sebagian sangkaan itu berdosa." (al-Hujurat: 12) Sangkaan yang berdosa, yaitu sangkaan yang buruk. Oleh karena itu tidak halal seorang muslim berburuk sangka terhadap saudaranya, tanpa suatu alasan dan bukti yang jelas. Sebab manusia secara umum pada asalnya bersih. Oleh karena itu prasangka-prasangka tidak layak diketengahkan dalam arena kebersihan ini justru untuk menuduh. Sabda Nabi: "Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta omongan." (Riwayat Bukhari) Manusia karena kelemahan sifat kemanusiaannya, tidak dapat menerima pr...
o o

0 0

Quote

|2010-10-08 20:07:59 agus anton

benar memang salah, tp jangan hiperbol ah.
o o

0 0

Quote

|2010-10-10 02:34:12 mizziy

Nuhun pisan kango Pak Taufik Ismail kana informasina. Jazakalloh. Abdi percanten kana tulisan di luhur kumargi abdi percanten kana akhlaq sareng integritas Pak Taufik nu parantos kauji sajarah. (terima kasih Pak Taufik Ismail buat informasinya. Jazakalloh. Saya percaya isi tulisan di

atas, karena saya percaya akhlak dan integritas Pak Taufik yang sudah terbukti dalam sejarah)
o o

0 0

Quote

|2010-10-21 19:57:46 cecep

Assalamu 'alaikum Saya percaya sama Pal Taufik Ismail dan terkutuklah Hanung semoga kau dilempar ke jurang neraka terdalam....
o o

1 0

Quote

|2010-11-05 15:28:26 chaerudin

ini kah wjh islam?? yg anti kritik?? mrs plng benar?? mrs surga milik mrk?.. hanung sy tak knl anda, tp sy mnonton film anda, mnrt sy film yg anda buat mencerahkn, anda lah sang pencerah..!! 6 thn sy hdp d dunia pesantrn mbuat sy tau n mngerti wjh pesantren, jgn hiraukn mrk yg apatis, itu adlh org2 brakal kerdil n tak punya rasa empati...!! mrk tak ta tp sok tau, tak mngerti tp sok ngerti...!!
o o

1 4

Quote

|2010-11-11 15:06:11 momod

Justru ini wawancara yang sangat bermutu. kalau ada yang bilang wawancara dengan Bapak Taufik ini tidak bermutu, jelas dia (yang mengatakan tidak bermutu itu) kurang membaca dan tidak bisa menilai sebuah wacana. SAYA SANGAT SUKA SEKALI DENGAN KARYA-KARYA TAUFIK ISMAIL INI. YANG PALING SAYA SUKA ADALAH PUISINYA BERJUDUL "TIRANI". SAYA SETUJU DENGAN PANDANGAN PAK TAUFIK ISMAIL.
o o

1 1

Quote

|2010-11-12 16:55:22 pembela Muslim

Untung aku ngga suka filmnya hanung, paling bajakan nontonnya. Udah ah mo ngebajak lagi........
o o

1 0

Quote

|2010-12-17 18:28:32 JESUS BUGIL

Di Indonesia mencari orang menjelekan agama islam udah biasa, tapi buat saudara Hanung berani gak anda membuat film Kebusukan agama kristen di Indonesia.Saya tunggu tapi saya yakin anda tidak berani takut sama Uncle Tom ya.Tapi buat saudara

haung tunggu saja karya saya pula yang kan mengungkap kebusukan2 pihak kristen. Anda tak pantas mengaku warga Muhamadiyah.
o o

1 0

Quote

|2010-12-21 14:29:27 gth

inilah klau orang tak berilmu berkarya ,, nyantri dulu baru buat film ...
o o

1 0

Quote

|2010-12-21 21:05:44 anti penjajah - nggak sreg nontonya

saya juga nonton film itu nggak sreg di hati, kurang menyejukkan,sebagai film islam, kenapa ya.......
o o

0 0

Quote

|2011-01-24 19:24:42 Yeyep Elbani

Seorang Muslim Asli harus berhadapan dengan musuh lima yakni atheis/kominis,yahudi dan nasoro,teman kita sendiri/munafik,hawa nafsu yang menjurus kepada kedurhakaan,setan.diantara lima musuh tadi yang paling berbahaya yakni saudara kita yang mengaku islam padahal menghancurkannya dari dalam secara halus,kalo yang lainya berbahaya juga tapi gerakan dan secara prilakunya mudah kita lihat maka hendaknya kita Waspadalah!waspadalah!......
o o

2 0

Quote

|2011-01-28 12:28:46 Fadly

Semoga Karl "Hanung" Mark DILAKNAT ALLAH SWT dunia akhirat kalau tidak bertobat. Biarlah dia mendapat bagiannya di akhirat. Upaya yang dapat kita lakukan yaitu memberitahukan kpd teman2 kita, saudara2 kita betapa pro-komunis nya Karl "Hanung" Mark ini. JANGAN TONTON FILM2 KOMUNISNYA ITU..!!! ALLAHU AKBAR. ALLAHU AKBAR.
o o

0 0

Quote

|2011-02-12 13:44:15 Azzam - buka cakrawala

Maaf, saya setuju dengan uraian Bp. Taufik. apa yang beliau sampaikan memang bekitu adanya. saya awam akan hal ini, saat pertama kali muncul penggalan Flm ini. saya cukup kaget dan anehnya banyak orang tertarik. dari cuplikan film tadi sudah cukup membuat

ku berfikir, buat film islami apa merusak islam. saya sempat nonton filmnya dirumah dan makin menambah apa yang dari awal aku rasakan. jelek abis. ku bukan santri tapi ku tinggal dan dibesarkan dilingkungan santri tapi besar dalam pendidikan Muhammadiyah. kedua ormas ini mestinya waspada akan serangan dari orang2 yg tidak menyukai kedua ormas ini bersatu. semoga Allah membuka hasanah dan wawasan kita, sehingga tidak mudah terbawa pemikir dan perusak Islam. Allah Akbar.
o o

1 0

Quote

|2011-02-14 22:09:33 arief

jgn heran,bila film dan media,lain,yg merusak,keluhuran ahlaq,,dan bertentangan dengan dienul islam akan terus ada di negara ini,,, mengapa, karena majlis ulama indonesia tidak di berikan mandat yg luas,seperti,mandat yg di berikan pada KPK , MK atau komponen hukum yg lain,yg dapat mengambil tindakan hukum negara ini mayoritas islam sangat bijaksana bila ada komponen hukum yg melindungi agama islam dan umat islam itu sendiri, agar kelak tidak terjadi lagi,ada org yg mengaku nabi dan rosul,,,atau agama sesat yg menyatakan islam,tetapi yg di ajarkan penuh kesesatan,,,dan bertolak belakang dari agama islam itu sendiri,,,dan juga media busuk,,yg merusak ahlaq dan moral anak dan cucu kita ini lah PR kita sebagai umat islam di negara tercinta ini,,,,,,,,tolong renungkan
o o

1 2

Quote

|2011-02-28 11:22:39 syetan dari syetan

gimana mo maju bangsa ini, klo buat film aja yg ditonjolkan sisi buruknya,,, Tapi klo mo ikut aku jd syetan ya,,buat aja film yg menceritakan kejelekan seseorng (umat islam. Pasti dijamin ikut aku dech...neraka jahanam
o o

1 0

Quote

|2011-02-28 18:21:29 kalung setan

Yang belain Hanung dan geram sama P'Taufiq cuma "PENGGILA FILM (BIOSKOP)", tidak lebih.
o o

0 0

Quote

|2011-03-03 09:44:49 rembulan bersinar - hati dengan orang yang mengaku ilam tyapi hatinya

saya menghargai semua pendapat yang dikemukan oleh orang orang baik yang setuju maupun yang tidak setuju dengn pak taupik ismail, bagi yang setuju jelas anda telah berpikir dengn hatinurani telah mempu membedakan mana hak dan mana yang batil. Bagi yang tidak sepaham dengan pak taupiik ismail sebaiknya banyak berdzikir agar hati nurani anda tidak ditutupi oleh kegelapan sehingga bisikan setan memenuhi hati anda....

o o

0 0

Quote

|2011-03-13 20:26:02 yayas - hmm

"Lukman Sardi, putra seorang komponis muslim dan pemain biola kawakan Idris Sardi namun sekarang telah murtad dari Islam dan menjadi Kristen. Bayangkan, seorang ulama besar pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan kok diperankan oleh seorang murtad" ..yang murtad kan bapaknya,, bukan anaknya (pemeran Ahmad Dahlan). kok kesannya mengeneralisir sekali..
o o

0 0

Quote

|2011-03-14 07:39:24 abduh

@yayas : Ya elah kirain lo ngerti...lukman sardi nya yg murtad.... die tuh kawin ama orang kafir...jadi deh die murtad...bukan idris sardi nya....coba baca lagi tuh kalimatnya... jgn sampe bodo dipiara...
o o

0 0

Quote

|2011-03-22 15:46:05 omysriyumiawatiridwan

Pak Taufik....terimakasih banyak penjelasan,komentar, ulasan akan menjadi sebuah renungan,ilmu utk saya, anak2saya kedepan untuk menjadi selektif dalam membaca atau menonton tulisan,flm yang slalu mencerminkan kehidupan muslim......padahal..ternyata pembodohan.....

Film "Tanda Tanya" Hanung Sangat Melukai Hati Umat Islam
Thursday, 07 April 2011 14:46 |

Jakarta – Film "?" (tanda tanya) garapan sutradara liberal Hanung Bramantyo dinilai sebagai film yang melukai hati umat Islam. Demikian kesimpulan dari pakar aliran Sepilis (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme), Adian Husaini terhadap film produksi Mahaka Pictures itu.

Written by Shodiq Ramadhan |

”Setelah saya melihat triller film ini yang lebih dulu disebarkan di You Tube, hingga menonton langsung filmnya malam ini, jelas sekali, film ini sangat merusak, berlebihan, dan melampaui batas. Hanung ingin menggambarkan kerukunan, tapi justru memberi stereotype yang buruk tentang Islam,” kata Adian. Sebagai contoh, kata Adian, di babak awal film ini, ada adegan penusukan terhadap seorang pendeta yang tidak jelas motifnya. Belum lagi adegan pengeboman gereja. Kasus-kasus itu diangkat, untuk memberi steroetype orang Islam yang diperankan secara buruk. Begitu juga, seorang muslim yang murtad dari Islam diangap wajar saja. Kemudian semua agama digambarkan menuju satu tujuan dan tuhan yang sama. Menurut Adian, ide-de pluralisme itu sendiri sudah lama ditentang oleh Islam. Karena kerukunan itu bisa diwujudkan tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing. Adian menilai, film Hanung terkesan lebay alias berlebihan. Film ini ingin menciptakan kerukunan, tapi malah merusak konsep keyakinan pada masing-masing agama, terutama agama slam. ”Sangat disayangkan film ini telah sebarluaskan. Ini bukan menciptakan kerukunan, tapi justru bisa merusak kerukunan itu

sendiri. Kalau konsep kebenaran pada setiap agama dihilangkan atas nama pluralisme, justru ini sangat berbahaya,” tukas Adian kesal. Dikatakan Adian, tidak mungkin setiap agama menghilangkan klaim pada keyakinannya. Selama ini tidak ada masalah. Tidak bisa seorang muslim seenaknya, di masjid melafalkan QS Al Ikhlas, tapi disisi lain memerankan Yesus di sebuah gereja pada hari Pasca dan kegiatan kebaktian agama Nasrani lainnya. Toleransi sebetulnya cukup dengan menghormati orang lain, bukan mencampuradukkan keyakinan. “Jelas sekali dalam ajaran islam, ada tauhid ada syirik, ada iman ada kufir. Nah, batas-batas itulah yang seharusnya dipegang. Jika produser, penulis, sutradara, pemain itu seorang muslim, seharusnya dia menjaga batas-batas keimanan dan akidahnya, yakni kapan dia mempertahankan konsep keyakinannya dan kapan rukun dengan orang lain yang tidak seagama. Film ini jelas Ini melampaui batas, ini merugikan kerukunan umat beragama itu sendiri,” paparnya. Ketika ditanya, apakah sebaiknya ada seruan untuk memboikot film ini? Adian sendiri tidak menganjurkan agar film ini diboikot. Ia beralasan, sekarang ini era kebebasan, eranya orang boleh menyebarkan apa saja. Terpenting, kata Adian, setiap muslim wajib mempertahankan keimanannya, sehingga tidak tergoda, tidak terjebak, tidak terpesona serta tidak terpeleset. Di era keterbukaan ini, siapa yang bisa melarang untuk memboikot. Yang pasti tokoh agama harus menjelaskan kepada umat akan bahaya film pluralisme agama yang jelas menyesatkan. Bagi Adian, yang penting masing-masing orang tahu, mana tauhid mana syirik, mana iman mana kufur, mana sunnah mana bidah, mana halal dan mana haram, ”Kadangkala tontonan yang menyesatkan itu dibungkus dengan humor dan gambaran-gambaran sinematografi yang memancing tawa. Sehingga orang lupa dibalik canda dan tanda itu ada sesuatu yang serius. Muslim di era globalisasi adalah menjaga diri dan keluarganya dari api neraka,” tandas Adian. Mengutip QS Al An'am: 112, musuh para Nabi itu selalu mengungkapkan kata-kata yang indah dengan tujuan menyesatkan manusia. “Mudah-mudahan Hanung tidak sadar, keliru, dan segera bertobat. Itu lebih baik, daripada mempertahankan hal yang salah. Kita kan hanya bisa menghimbau. Terserah produser dan sutradaranya masing-masing.”

Menjadi aneh, seorang muslimah berkerudung tapi merasa nyaman bekerja di sebuah restoran yang menjual daging babi. Mungkin saja ada kasus itu, tapi apakah itu menjadi contoh ideal dari sebuah toleransi? Jelas itu contoh yang tidak baik. Adian juga menyesalkan adegan seorang muslim memerangkan adegan Yesus, lalu sebagai sesuatu yang wajar. ”Ini bukan wilayah sosiologis dan toleransi lagi, tapi wilayah teologis, yang masing-agama punya konsep yang eksklusif dan khas. Ini salah pandang, dikira kerukunan bisa dibangun dengan menghilangkan klaim kebenaran (truth claim). Jelas ini konsep yang keliru dari sebuah pluralisme.” Jika pluralisme itu dimaknai semua agama benar, ujung-ujung adalah orang tidak beragama pun boleh. Orang yang ateis dan pluralisme itu sangat dekat. Ketika semua agama dianggap benar, tidak beragama juga tidak apa-apa. Yang penting, baik kepada sesama manusia. Aneh.
Rep: Dez Hamzah

• • •

Add New Search RSS

Comments (2)

|2011-04-07 16:34:23 Sabar Sitanggang

Memang yng sulit menjga batas, Pak Kiyai!
o o

0 0

Quote

|2011-04-07 20:25:36 M. Sejuki

@Sabar Sitanggang Menjaga batas sulit? Ah yang benar aja. Tidak sulit kok sepanjang memahami aturan agama yang dianut (khususnya Islam) secara utuh. Di mana sulitnya? Akan sulit memang, jika tidak faham agama. Dan akan sulit pula (meski sudah faham agama) adalah melawan hawa nafsu untuk mematuhi atau melanggar aturan yang sudah digariskan Allah dan Rasul-Nya. Itu yang sulit Mas.

Politik Dasa Muka SBY
Monday, 14 March 2011 17:29 |

Pemerintah SBY sering menampilkan wajah berbedabeda dalam berbagai kebijakan. Dalam kasus Ahmadiyah, pemerintah lebih suka memakai teori Desa Mengepung Kota. Konon Indonesia bukan negara sosialis. Ideologi negara ini juga bukan komunisme. Tapi ide-ide kaum sosialis-komunis sering diterapkan untuk memuluskan langkah elit politik. Salah satunya teori Desa Mengepung Kota. Bedanya, jika Ketua Partai Komunis China, Mao Tse Tung mencetuskan teori ini tahun 1927 untuk menumbangkan rezim Jenderal Chiang Kai Sek, kini teori itu dipakai untuk memperkuat rezim yang kikuk melangkah. Hal itulah yang terjadi dalam ribut-ribut kasus pelarangan faham Ahmadiyah di Indonesia belakangan ini. Sebab, ketika dituntut untuk tegas bertindak terhadap jamaah Ahmadiyah yang telah menyimpang dari ajaran Islam, pemerintah pusat justru mengambil jalan belakang, dan main sembunyi-sembunyi karena tak mau dianggap anti demokrasi. Keresahan terhadap aktifitas Ahmadiyah sudah mulai marak pasca Orde Baru jatuh. Sebab, jika selama ini Ahmadiyah tak berani bergerak karena tekanan penguasa, musim reformasi menjanjikan kebebasan. Mereka pun menyebarluaskan ajaran Mirza Ghulam Ahmad. Namun masyarakat yang memahami bahwa Ahmadiyah adalah faham menyimpang dari ajaran Islam pun merasa resah. Beberapa gesekan antara kelompok Ahmadiyah dengan masyarakat muslim mulai marak sejak lima tahun terakhir. Beberapa benturan terjadi misalnya di desa Manis Lor, Kuningan dan di Parung, Jawa Barat, serta di Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Desakan pembubaran Ahmadiyah akhirnya memuncak tahun 2008 setelah AKKBB (Aliansi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) memprovokasi kelompok Islam hingga terjadi Bentrokan Monas pada 1 Juni 2008. Anehnya, saat itu SBY terkesan membela Ahmadiyah seperti kampanye kelompok liberal, dan

Written by Shodiq Ramadhan |

menyalahkan kelompok Islam. “Negara tidak boleh kalah,” kata SBY ketika itu. Akhirnya aparat bertindak keras. Polisi mengerahkan ribuan anggota untuk menangkap Ketua Umum Front Pembela Islam Habib Riziq Shihab, sementara Ketua Laskar Pembela Islam Munarman menyerahkan diri setelah buron. Kedua tokoh ummat itu akhirnya divonis penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Meski ancaman penjara menanti, desakan pembubaran Ahmadiyah tak kendur. Unjuk rasa terus terjadi. Akhirnya pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri pada 9 Juni 2008 untuk mengatur Ahmadiyah. SKB itu diteken Menteri Agama Maftuh Basyuni, Mendagri Mardiyanto dan Jaksa Agung Hendarman Supandji. “Kita akan berusaha mengatur masalah ini dengan baik,” kata Maftuch saat itu. Meski telah dikeluarkan SKB yang melarang aktifitas mereka, Ahmadiyah tetap membandel. Di beberapa tempat mereka tetap aktif menyebarkan ajaran. Karena itu gesekan kembali terjadi. Di Cisalada, Bogor, bentrokan terjadi setelah seorang warga ditusuk orang Ahmadiyah. Belakangan, penyerbuan berbau rekayasa terjadi saat warga menyerbu rumah warga Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Jawa Barat. Maka, demo menuntut pemerintah lebih tegas kepada Ahmadiyah marak lagi. Bahkan berbagai kelompok yang tergabung FUI seperti FPI, GARIS, dan sebagainya meminta SBY membubarkan kelompok pemecah belah ummat bikinan Inggris itu. “Bubarkan Ahmadiyah atau revolusi,” kata Munarman. Habib Rizieq dan Sekjen FUI Ustadz Muhammad Al Khathtath pun menyerukan hal senada. Rupanya, tekad ummat untuk menuntut bubarnya Ahmadiyah membuat ngeper pemerintah. Sehari setelah demo, 16 Februari lalu Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengajak FUI audiensi. Rupanya pemerintah mengira, audiensi bisa meredakan semangat ummat menuntut bubarnya Ahmadiyah. Tapi mereka keliru. Karena tak juga ada tindakan tegas, elemen ummat yang tergabung dalam FUI kembali turun ke jalan dengan jumlah yang lebih besar dan mengancam akan kemping di depan Istana. Rupanya pemerintah grogi. Kini giliran Sekretaris Kabinet Dipo Alam dan Menteri Agama Suryadharma Ali yang diutus SBY untuk membujuk elemen ummat Islam. “Keppres sedang kita rancang,” kata Dipo. Namun isi Keppres seperti apa tetap tak jelas. Pemerintah SBY memang penuh ambigu dalam menyelesaikan kasus Ahmadiyah. Di satu sisi mereka ingin tampak mengakomodasi aspirasi ummat dengan menindak tegas Ahmadiyah, tapi di sisi lain pemerintah tak ingin tampak anti demokrasi. Apalagi, kasus ini tak hanya disorot dari dalam negeri. Beberapa utusan pemerintah asing seperti dari Amerika Serikat dan Inggris pun aktif melobi pemerintah agar tidak membubarkan Ahmadiyah. Maka dirancanglah langkah melingkar ala Ketua Mao, Desa Mengepung Kota. Dalam sebuah pertemuan tertutup dengan beberapa Kepala Daerah, menurut sebuah sumber Suara Islam di Departemen Agama, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama memberi kesempatan daerah untuk membuat peraturan untuk melarang Ahmadiyah. “Biar daerah-daerah dulu yang mengeluarkan aturan, baru kemudian pemerintah pusat,” kata sang sumber. Kementrian Agama dan Kementrian Dalam Negeri pun aktif melobby Majelis Ulama Indonesia untuk bekerjasama dengan pemerintah daerah menyiapkan aturan-aturan tentang Ahmadiyah di daerah masing-masing. “Intinya, agar pemerintah punya alasan untuk mengeluarkan Keppres yang lebih tegas tentang Ahmadiyah,” kata seorang pengurus pusat Muhammadiyah. Maka pasca Cikuesik, beberapa pimpinan daerah telah menerbitkan keputusan melarang Ahmadiyah. Mereka adalah Gubernur Sumatera Selatan, Bupati Pandeglang, Banten, Walikota Samarinda, Gubernur Jawa Timur, Gubernur Jawa Barat, dan Walikota Bogor, Jawa Barat. “Aturan ini demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat; termasuk larangan menyerang dan menyakiti warga Ahmadiyah,” kata Heryawan. Sementara itu, sejumlah daerah telah lebih dulu melarang Ahmadiyah, yakni Kabupaten Lombok Timur di NTB, Kuningan, Garut, Cianjur, dan Sukabumi di Jawa Barat. Tapi Daerah Istimewa Yogyakarta menolak melarang Ahmadiyah. “Yogyakarta damai, jadi tak perlu

provokasi,” kata Sri Sultan Hamengku Buwono X. "Daerah yang mengeluarkan SK pelarangan Ahmadiyah, itu inisiatif mereka untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan." Langkah melingkar pemerintah itu tampak jelas dari statement Menteri Dalam negeri, dan Jaksa Agung yang menyambut positif pelarangan itu. “Sampai saat ini pelarangan itu tidak menyalahi SKB tiga menteri,” kata Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. “Tentu kita mendukung, karena mereka (daerah) yang memiliki wilayah, mengatakan seperti itu,” kata Jaksa Agung Basrief Arief. Memang langkah awal teori Desa Mengepung Kota sudah mulai dilaksanakan. Tapi hal ini bukan sebuah kepastian bahwa pemerintah SBY akan mengeluarkan Keppres maupun beleid lain yang lebih tegas untuk melarang Ahmadiyah. Maklumlah, Presiden SBY adalah tipe pemimpin yang memiliki berbagai wajah dan sikap dalam menghadapi masalah nasional yang sedang dihadapinya. Banyak contoh yang terjadi. Misalnya, SBY pernah menawarkan posisi kepada beberapa orang tokoh tapi ia kemudian membatalkannya sendiri. Jenderal Ryamizard Ryacudu telah dijanjikan posisi Panglima TNI, tapi kemudian orang lain yang diangkat. Letjen Sjafrie Sjamsoeddin ditawari kursi Sekretaris Kabinet, tapi kemudian yang diangkat Dipo Alam. “Kepada Sjafrie malah sudah sempat diperlihatkan SK-nya,” kata seorang kolega Sjafrie. Tak hanya mereka, beberapa menteri SBY di periode pertama kepresidenannya juga dijanjikan untuk kembali menjabat, tapi kemudian dicampakkan begitu saja. Hal itulah yang dialami Mantan Menteri Kehutanan MS Kaban, Mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, maupun Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadhillah Supari. “Sampai last minute Bapake masih janjiin saya jadi menteri lagi,” kata Siti Fadhillah yang ditirukan koleganya. Jadi ummat harus tetap waspada akan politik Seribu Wajah SBY yang tengah menerapkan strategi Desa Mengepung Kota ini. Abu Nadia

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2011-03-21 22:42:18 dian - Tolak SBY

Dalam acara keagamaan islam jangan berikan Sby untuk memberikan ceramah karena dia cuma islam-islaman doang, orang islam tulen akan membela agamanya dari serangan luar. Dia malah membiarkan agar agama islam di rusak. Intinya dia tidak pantas memberikan ceramah.

o o

1 0

Quote

Apel Siaga Menjemput Keppres !
Monday, 14 March 2011 19:37 |

Apel Siaga Umat Bubarkan Ahmadiyah 1 Maret 2011, Longmarch dari Bunderan HI ke depan istana alhamdulillah dengan izin dan pertolongan Allah bisa diselenggarakan dengan sebaikbaiknya.

Written by Shodiq Ramadhan |

lagi

kami

mencium

bau

aktivitas

Hingga menjelang para delegasi masuk istana ikhwan-ikhwan dari sekretariat FUI yang mengorganisir apel tersebut cukup tegang. Mengingat persiapan dari acara tersebut masih jauh dari sempurna, ketersediaan personil dan logistik patungan dari berbagai ormas yang mengikuti apel tersebut sangat terbatas. Terlebih intelijen yang berusaha menggagalkannya.

Namun tekad untuk melakukan apel bahkan untuk menginap sekalipun sudah membaja. Bahkan kami sudah siap dengan resiko terburuk, yakni harus bentrok dengan aparat keamanan atau diinapkan di Polda. Namun catatan Allah SWT di Lauhil Mahfuzh ternyata mengijinkan apel berlangsung dengan tertib dan lancar. Bahkan terkesan sangat lancar. Jumlah massa lebih dari 10 ribu orang di hari Selasa itu sangat membesarkan hati panitia. Dan semakin mengembang dengan penerimaan pihak istana yang diwakili Mensekab Dipo Alam yang bersama Menteri Agama Suryadarma Ali dan Kapolda Metro Jaya serta sejumlah pejabat istana menerima 15 delegasi FUI dan mendengarkan seluruh pernyataan delegasi, baik ‘Maklumat Untuk Umat Islam : Mengapa Ahmadiyah Harus Dibubarkan!’, maupun surat DPP FPI kepada Presiden tentang bukti-bukti kekafiran Ahmadiyah yang disampaikan oleh langsung oleh Ketum DPP FPI Habib M Rizieq Shihab kepada Mensekkab. Poin yang menarik adalah begitu rincinya Surat DPP FPI, sehingga Mensekkab Dipo Alam menyatakan bahwa baru mengetahui kejelasan kesesatan dan kekufuran. Beliau berjanji akan mempelajari surat tersebut dan menyampaikan kepada Presiden. Beliau juga mengatakan bahwa beliaulah yang bertanggung jawab untuk membuatkan Keppresnya. Oleh karena itu, kami harus mengalah untuk tidak jadi menginap. Alhamdulillah, setelah Apel Siaga 1 Maret tersebut, secara beruntun terbit surat-surat keputusan pelarangan di daerah, yakni dari Gubernur Jawa Timur, Gubernur Jawa Barat, dan Walikota Bogor. Berbagai kepala daerah di kabupaten, kota, dan provinsi lainnya kelihatannya sudah ancang-ancang. Kecauli Yogya yang tegas-tegas menolak mengeluarkan surat pelarangan Ahmadiyah. Namun orang maklum karena, Ratu Hemas, istri Sultan Yogya, adalah anggota AKKBB yang getol membela Ahmadiyah. Perkembangan pelarangan di daerah ini cukup menarik, walau secara substantif boleh dikatakan masih sama dengan SKB yang kerap dilanggar oleh gerombolan Ahmadiyah sejak terbitnya pada Juni 2008. Penolakan Ahmadiyah terhadap Ketua MUI Bandung untuk

memberikan menunjukkan menunjukkan mengklaim

khutbah Jumat di Masjid Ahmadiyah di Bandung dengan alasan apapun ketidak siapan Ahmadiyah untuk dinasehati oleh Ketua MUI. Ini sekaligus bukti kebohongan Ahmadiyah dan para pendukungnya yang selama ini bahwa Ahmadiyah itu sama dengan umat Islam yang lain.

Oleh karenanya, pemerintah, para ulama, dan para pimpinan ormas Islam tidak usah ragu lagi bahwa Ahmadiyah ini memang harus dibubarkan, para pemimpinnya ditangkapi dan dijebloskan ke dalam penjara, sedangkan para jamaah pengikutnya dibina oleh pemerintah dengan bantuan para ulama dan pimpinan ormas Islam. Pemerintah juga tidak perlu takut dengan tekanan Komnas HAM yang selama ini cenderung membela Ahmadiyah dan memojokkan umat Islam. FUI sudah mengingatkan Komnas HAM pada aksi 18 Februari lalu bahwa gerombolan Ahmadiyah telah memalsu dan membajak agama Islam, sehingga justru umat Islam adalah korban pelanggaran HAM oleh Ahmadiyah. Kita yakin semua anggota Komnas HAM tahu bahwa Dewan HAM pada tahun 2009 telah menetapkan bahwa penistaan agama itu termasuk melanggar HAM. Defamation of religion is violating human rights! Ahmadiyah telah menodai ajaran Islam sebagaimana yang tertulis di dalam kitab Tadzkiroh halaman 51 dimana Mirza Ghulam Ahmad mengaku mendapatkan wahyu yang berbunyi: Ya Ahmad, yatimmu ismuka walaa yatimmu ismi yang artinya hai Mirza Ghulam Ahmad, namamu sempurna sedangkan namu-Ku (Allah) tidak sempurna! Belum lagi yang lain-lain termasuk menganggap bahwa yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad akan mendapatkan laknat Allah dan mereka yang tidak termasuk kelompok Ahmadiyah boleh diculik dan dibunuh secara sadis! Jelaslah Ahmadiyah sudah melanggar Pasal 1 UU No1/PNPS/1965 dan menurut Pasal 2 UU/PNPS/1965 tugas presiden untuk membubarkannya dan menurut pasal 3 UU/PNPS/1965 para pemimpin Ahmadiyah harus ditangkap dan diadili dan dihukum 5 tahun penjara. Musadiq dan Lia Eden sudah ditangkap, diadili, dan dipenjara, kenapa para pemimpin Ahmadiyah yang sudah berpuluh-puluh tahun melanggar UU di atas kok tidak ditangkap dan organisasinya yang menginduk ke Inggris tidak dibubarkan?. Ini tidak adil! Oleh karena itu, jika dalam bulan Maret ini SBY tidak juga mengeluarkan Keprres pembubaran Ahmadiyah, maka umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia hendaknya pada 1 April berbondong-bondong mendatangi istana untuk menjemput Keppres tersebut! Allahu Akbar!3x

Bubarkan Ahmadiyah atau Revolusi
Friday, 04 March 2011 10:15 |

Bubarkan Ahmadiyah. Titik. Itu adalah tuntutan yang sudah menjadi opini umum mayoritas kaum muslimin kalau tidak dikatakan merupakan tuntutan semua kaum muslimin di negeri ini hari ini. Sudah lama Menteri Agama Surya Dharma Ali berbicara di depan public bahwa Ahmadiyah harus dibubarkan. Ini melanjutkan pernyataan Menteri Agama sebelumnya Maftuh Basyuni. Maftuh sempat disomasi kelompok LSM liberal. Dan Surya yang juga Ketua Umum PPP itu pun tatkala meledak kasus Cikeusik Pandeglang sudah diusulkan oleh Ketua Setara Institute, Hendardi, agar direshuffle oleh Presiden. Namun Menag yang pernah menyampaikan empat opsi untuk Ahmadiyah itu tetap teguh pendiriannya, bahwa secara pribadi beliau tetap

Written by Shodiq Ramadhan |

menginginkan

pembubaran

Ahmadiyah.

Kasus Cikeusik (6/2) yang dipicu oleh penyebaran ajaran Ahmadiyah yang memalsukan aqidah Islam yang meresahkan warga dan telah mencuat menjadi masalah nasional, apalagi ketika Presiden SBY terprovokasi media massa hingga mengeluarkan pernyataan akan membubarkan ormas “anarkis”, telah membangkitkan kesadaran umat Islamterhadap sosok Ahmadiyah yang tidka lebih adalah agama palsu yang merupakan buatan nabi palsu bernama Mirza Ghulam Ahmad (MGA). Tentang keberadaan Ahmadiyah yang mengakui kenabian MGA ini di luar Islam sudah ditegaskan dalam fatwa MUI 2005 dan hasil Muktamar OKI 1985. MGA ini dalam kumpulan wahyu palsunya yang diberi nama “Tadzkiroh” di halaman 51 menyatakan bahwa Allah berfirman: “Ya Ahmadu, yatimmu ismuka walaa yatimmu ismi” yang artinya, “Hai Ahmad (MGA) namamu sempurna, sedangkan nama-Ku (Allah) tidak sempurna!”. Bagaimana wahyu palsu seperti itu diakui sebagai wahyun muqaddas (wahyu yang suci). Tidak masuk akal! Maka ketika JAI mengatakan dalam AD/ART-nya bahwa tujuan mereka adalah menyebarkan islam menurut ajaran MGA. Maka itu berarti mereka telah memalsukan Islam dan melanggar UU No1/PNPS 1965. Dan penodaan terhadap ajaran Islam serta pelanggaran UU tersebut berarti telah berlangsung lebih dari 45 tahun. Selama itu JAI dibiarkan oleh pemerintah memalsukan Islam bahkan dilindungi dari kemarahan warga masyarakat muslim yang marah akibat aqidah Islamnya yang asli telah dipalsu oleh ajaran MGA. Alhamdulillah, pemerintah Pandeglang telah mengeluarkan SK Pelarangan Ahmadiyah di Pandeglang pasca kasus Cikeusik. Disusul kemudian oleh pemerintah kota Samarinda, Gorontalo , dan terakhir Gubernur Jawa Timur (28/2). Pemerintah kota Bogor kabarnya juga sudah siap melahirkan SK Pelarangan Ahmadiyah. Mendagri (28/2) pun mempersilakan daerah membuat larangan terhadap Ahmadiyah. Di sisi lain MUI Jawa Barat menegaskan tuntutan pembubaran Ahmadiyah yang sebelumnya dikumandangkan MUI Pusat, para ulama NTB, dan ulama Jawa Timur. Dan secara perorangan Mantan Ketua PBNU KH. Hasyim Muzadi pun juga menuntut pembubaran Ahmadiyah (22/2). Demikian juga KH. Idris Marzuki Lirboyo (10/2) yang pada tahun 2005 mendukung fatwa MUI untuk pembubaran Ahmadiyah bersama almarhum KH. Yusuf Hasyim Tebuireng dan KH. Abdullah Faqih Langitan. Tuntutan pembubaran yang beruntun laksana beruntunnya gonjang-ganjing rezim-rezim di Timur Tengah pasca runtuhnya rezim Mubarak dan ben Ali terjadi dalam situasi umat Islam dan ormas-ormas Islam di-kuyo-kuyo oleh media massa pasca kasus Cikeusik. Maka APEL SIAGA UMAT ISLAM untuk bubarkan Ahmadiyah 1 Maret di depan Istana Negara, dan seruan Bubarkan Ahmadiyah atau Revolusi/ SBY turun, bukanlah hal yang mengada-ada. Sebab, suasana kesengsaraan rakyat hari ini semakin memuncak. Di benak rakyat ada 9 alasan SBY harus turun : (1) Melindungi Ahmadiyah, (2) Menzalimi Ulama, (3) Korupsi Merajalela dari Gayus sampai Aulia Pohan, (4) Mencabut subsidi BBM, (5) Menaikkan tarif listrik, (6) Menaikkan harga beras, (7) Menjual BUMN strategis, (8) Melindungi bandit-bandit Bank Century, (9) Antek neolib/Amerika Serikat. Oleh karena itu, dalam FKSK (24/2) yang mengkaji akankah Revolusi Mesir sampai ke Inodnesia, saya sampaikan bahwa SBY harus ekstra hati-hati, terutama tuntutan rakyat poin 1 dan 2 di atas karena secara nyata berkaitan dengan aqidah umat. Saya katakan, kalau SBY segera membubarkan Ahmadiyah dan LSM-LSM pendukungnya, membebaskan ulama yang terzalimi seperti Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, dan membentuk Dewan Kesatuan Ulama untuk mempersiapkan system syariah dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial, ekonomi, politik, dan hukum insyaallah akan husnul khatimah dan umat Islam akan memberikan pembelaan kepada SBY dari serangan lawan-lawan politiknya, termasuk dari tekanan AS, Ingris, dan negara-negara asing imperialis lainnya. Tapi kalau kalau SBY enggan membubarkan Ahmadiyah, maka ditambah dengan 8 poin di atas, SBY akan mendapatkan gelombang protes dan demonstrasi yang tidak henti-hentinya

sampai habis masa jabatannya atau dipaksa turun di tengah jalan. Memang terserah SBY : Bubarkan Ahmadiyah atau Revolusi ! SBY dan umat ini perlu membaca tafsir Ad Durrul Mantsur (Imam Suyuthi) atas firman Allah SWT : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu mengubah nasibnya sendiri (QS. Ar Ra’d 11) Wallahua’lam !

Siapa Makar?
Friday, 18 February 2011 11:11 |

Written by Shodiq Ramadhan |

KH. M. Al Sekjen Forum Umat Islam

Khaththath

Serangan media massa pengidap Islamophobia sungguh keterlaluan. Begitu meledak peristiwa Cikeusik Pandeglang (6/2) dan Temanggung (8/2), mereka langsung mengarahkan opini public kepada pembubaran ormas Islam, khususnya FPI, dengan tuduhan sebagai ormas anarkis. Padahal peristiwa di kedua tempat tersebut adalah bentrokan di masyarakat. Apalagi ditengarai bahwa baik peristiwa Cikeusik maupun Temanggung sarat aroma rekayasa. Buku putih FUIB menerangkan aroma rekayasa kasus Temanggung. Kabarnya Tim Buser Bareskrim Mabes Polri yang ditugasi mengejar tersangka kasus Cikeusik bingung karena rumah yang diintai sebagai rumah tempat perencanaan perusuh adalah safehouse polisi Pandeglang. Genderang opini media yang bertalu-talu tampaknya mendorong presiden SBY mengeluarkan pernyataan –untuk pertama kalinya-- mau membubarkan ormas yang dianggap anarkis. Tentu saja pernyataan SBY di hadapan pimpinan media massa ini dimakan media. Mereka semakin memojokkan FPI dan ormas Islam lainnya yang sudah bertahun-tahun mereka cap sebagai anarkis. Ini tentu saja menjadi aneh. Sebab kasus Cikeusik dan Pandeglang bukanlah dosa FPI atau ormas Islam lainnya. Kenapa FPI dan ormas Islam lainnya dijadikan keranjang sampah ? Bukankah ini makar terhadap FPI dan ormas Islam? Lucunya , kelompok agama palsu Ahmadiyah yang sudah sekian lama meresahkan umat Islam karena mereka membajak agama Islam, justru tidak pernah diancam oleh SBY akan dibubarkan. Padahal seharusnya SBY sudah mengeluarkan Keppres Pembubaran Ahmadiyah. Sebab, pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad dari India itu jelas-jelas

melanggar UU no 1/PNPS/1965 dan SKB. Dan menurut UU No 1/PNPS/1965 pasal 2 ayat 2 kelompok agama palsu Ahmadiyah yang sudah melanggar SKB itu haru s dibubarkan . Para pemimpinnya pun seharusnya sudah ditangkap dan diadili dengan ancaman hukum an 5 tahun berdasarkan Pasal 3 UU No1/PNPS/1965. Tapi kenapa presiden SBY belum juga membubarkan Ahmadiyah dan tidak menangkap para pemimpinnya serta menutup tempat kegiatannya sesuai fatwa MUI tahun 2005? Padahal dalam pembukaan rapat kerja MUI di istana tahun 2007 Presiden SBY mengatakan akan merujuk kepada MUI dalam masalah aliran sesat. Kenapa SBY ragu melaksanakan wewenangnya berdasarkan UU No 1/PNPS/1965 untuk membubarkan Ahmadiyah? Padahal dengan tidak dibubarkannya Ahmadiyah berarti SBY melakukan pembiaran terhadap kelompok pemalsu agama Islam tersebut yang menjadi pangkal masalah bentrok horisontal? Apalagi kelompok agama palsu Ahmadiyah itu semakin berlagak setelah mendapat dukungan dari LSM-LSM dan pers liberal yang menjadi tirani minoritas terhadap kaum muslimin yang mayoritas? Bukankah dengan tidak menjalankan UU No 1/PNPS/1965 berarti presiden SBY telah melanggar sumpah jabatannya? Oleh karena itu, saya menanggapi pidato itu di TVOne (9/2): Jika SBY benar-benar akan membubarkan ormas Islam, maka saya katakan ormas-ormas Islam siap untuk berkumpul di Monas untuk menuntut pembubaran Ahmadiyah dan penangkapan para pemimpinnya atau kalau tidak SBY mundur saja. Saya juga katakan bahwa SBY jangan menambah musuh dengan mengancam akan membubarkan ormas Islam. Banyak jenderal yang sudah dongkol yang ingin SBY turun. Respon positif dan dukungan dari berbagai pihak mengalir melalui sms, telpon, maupun pembicaraan langsung. Namun media massa tampaknya hanya menyajikan respon yang menentang pernyataan saya dan memprovokasi SBY untuk mengambil tindakan. Mereka mencap lontaran saya sebagai makar. Boleh saja mencap begitu. Tapi apa sih arti istilah makar itu sebenarnya? Dan siapa yang makar? Makar adalah istilah bahasa Indonesia yang diserap dari istilah bahasa Arab. Ketika nenek moyang kita menerima ajaran Islam sebagai pedoman hidup penduduk Nusantara, mereka menyerap banyak sekali kata atau kalimat yang berasal dari bahasa Arab. Di antaranya adalah kata “makar”. Kata makar dilansir pertama kali 15 abad lalu dalam Al Quran. Di QS. Ibrahim 46 kata makar di artikan rencana jahat orang-orang kafir. Allah berfirman: “Dan Sesungguhnya mereka Telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya”.

Maksudnya: orang-orang kafir itu membuat rencana jahat untuk mematahkan kebenaran Islam dan mereka berusaha menegakkan kebathilan, tetapi mereka itu tidak menyadari bahwa makar (rencana jahat)mereka itu digagalkan oleh Allah SWT. Dalam tafsir Jalalain diterangkan bahwa makar jahat (makarus sayyiaat) dalam QS. An Nahl 45 adalah rencana jahat kaum kafir Quraisy kepada Nabi saw. di Darun Nadwah, yaitu akan membatasi, membunuh atau mengusir Nabi saw. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata makar diartikan sebagai tipu muslihat, perbuatan hendak membunuh orang, dan perbuatan hendak menjatuhkan pemerintah yang sah. Kalau makar di artikan sebagai hendak menjatuhkan pemerintahan yang sah, maka pemerintahan yang sah itu menurut konsep Al Quran dan Sunnah Nabi saw. bagaimana? Apakah pemerintahan SBY sudah sesuai dengan petunjuk Al Quran dan As Sunnah?. Lagian kalau SBY tidak mau atau tidak mampu mengambil tindakan tegas kepada Ahmadiyah berdasarkan UU yang dia disumpah untuk melaksanakannya, apa sebutan baginya? Jadi kalau begitu siapa yang layak disebut makar?

• • •

Add New Search RSS

Comments (4)

|2011-02-18 16:17:35 Pro Syariah - Jangan berharap pada SBY!

Jangan bermimpi SBY akan membubarkan Ahmadiyah! Karena: 1. SBY ditekan oleh Barat (khususnya amrik) untuk membiarkan Ahmadiyah tetap hidup di Indonesia. Kalau dia berani menentang kemauan barat dg membubarkan Ahmadiyah, nasibnya akan = Soeharto, yaitu dijatuhkan oleh Barat lewat antek2nya di Indonesia spt media elektronik (khususnya MetroTV), LSM2 penjilat dan antek barat dan media cetak spt Kompas, Tempo, dan lainnya. Bukankah as itu negara kedua SBY spt diakuinya sendiri? So, dia tunduk pada kemauan as! 2. Kalau Ahmadiyah dibubarkan, misi barat utk merusak Islam semakin lemah. Dulu Ahmadiyah dibuat oleh inggris utk melemahkan perlawanan Jihad umat Islam melawan

penjajah inggris di India. Sekarang misinya utk merusak Islam dari dalam! Ahmadiyah bubar = misi gagal! 3. Ahmadiyah ngotot tdk mau keluar dari Islam! Krn mrk org bayaran alias preman! Ada yg dpt 10juta/bln, ada yg lima juta! Kalau keluar dari Islam, mrk gak dapat uang lagi, dong! Makanya ngotot!
o o

0 0

Quote

|2011-02-18 17:52:47 Jundullah

Di gulingkan juga gak masalah karena NKRI gak sah secara syar'i coba simak AnNisa:59.Wassalam
o o

0 0

Quote

|2011-02-19 06:20:56 adang - Sabar

Assalammualaikum Wr Wb, Pak Ustadz sy tahu Bapak ditekan, tapi mohon agar kita tetap melawan dengan kesabaran dan penuh keikhlasan, mohon maaf kita jangan terbawa emosi, tapi kita juga jangan bersantai-santi ria. Sy bukan anggota FPI maupun organisasi semacam itu, tapi terus terang saya sangat simpatik dan sangat menghargai usaha, kerja keras, dan kegigihan untuk menjaga aqidah saudara-saudara kita. Pak Ustadz kalo sy boleh usul untuk melawan pemurtadan terutama yang dilakukan kaum kufar selain memperkuat aqidah (ini yang utama) bagimana kalo FPI dan organisasi lain membuat proyek ketahanan ekonomi ummat Islam, entah itu dengan pemberdayaan atau

apa saja yang penting jalannya halal, dan hasilnya juga halal. Karena sisi ini yang menjadi kelemahan kita. Wallohu a'lam Wassalammulaikum Wr Wb
o o

0 0

Quote

|2011-02-21 19:17:23 radix

bubarkan atau revolusi

Revolusi Saatnya Tiba?
Monday, 07 March 2011 14:43 |

H.M Pemimpin Aru Redaksi Syeiff Tabloid Assadullah Suara Islam

Written by Shodiq Ramadhan |

Ungkapan satu ini : Revolusi, tiba-tiba bergentayangan di kalangan elite politik negeri ini. Bagi penguasa rejim SBY tentu saja rumors itu dibantah habis-habisan. Situasi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan, dianggap berjalan biasa-biasa saja. Rumors datangnya Revolusi ini hanya dianggap sebagai latah akibat gelombang revolusi yang kini melanda Timur-Tengah. Isu revolusi hanya mimpi di siang bolong. Sebaliknya bagi kalangan oposisi kritis dan pelawan establishment, justru meyakini rejim SBY niscaya akan jatuh hanya menunggu bilangan bulan saja. Mungkin prediksi ini berlebihan, jika ditilik dari tanda-tanda yang selalu mengiringi terjadinya perubahan politik dramatis. Saat ini tidak terjadi seperti pengalaman menjelang jatuhnya rejim orde lama pada 1965 dan dan rejim orde baru 1998. Jatuhnya dua rejim (1965 dan 1998) itu diiringi suasana chaos, kemrungsung, bahkan perasaan apatis di tengah masyarakat, di kota-kota besar, khususnya di dekat pusat kekuasaan di ibukota. Suasana seperti ini malah didukung pula oleh kelas menengah yang juga menghendaki penjatuhan rejim yang berkuasa. Itulah yang terjadi (khususnya) menjelang Mei 1998 saat rejim Soeharto dijatuhkan.

Kaum oposisi dan pelawan saat ini terdiri dua kelompok yakni yang berada di dalam sistem terdiri partai-partai yang tercermin pada sikap politik PDIP, Hanura, dan Gerindra— yang terakhir ini sekarang justru merapat ke Demokrat partai Presiden SBY—dan kelompok di luar sistem antara lain para politisi bebas, LSM, ormas-ormas, ekonom, budayawan, agamawan, purnawirawan dan lain-lain. Dalih kelompok oposisi di luar sistem ini, niscaya perubahan, revolusi tak terbendung dan rejim SBY harus diubah, dan diganti. Alasan klassik dan standar, pemerintahan SBY dianggap membawa Indonesia diambang Negara Gagal, ditandai sejumlah fakta : ekonomi morat-marit dan dalam tekanan serta didikte Barat, kehidupan rakyat makin tercekik dalam kemelaratan. Sikap SBY yang peragu menjadi alasan lain harus diganti, selain KKN kini dianggap makin menggurita. Kendati pemerintahan SBY acapkali mengklaim berbagai sukses ekonomi bahkan sukses di segala bidang, namun catatan faktual yang acapkali disodorkan para ekonom kritis niscaya diagonal terbalik tak terbantahkan. Antara lain Eksploitasi kekayaan alam bangsa Indonesia kini makin dihisap oleh asing, seperti Migas dihisap 85%, Batubara 75%, dan perkebunan, hutan 50% dikuasai modal asing yang hasilnya 90% dikirim ke luar negeri.. Sebagai negeri kaya raya sumber alam, tapi di tangan SBY, NKRI makin bergantung kepada negara lain dan makin jauh dari kemandirian. Indonesia saat ini mengimpor per tahun gula 1,6 juta ton (padahal di zaman Hindia Belanda Indonesia adalah penghasil gula nomor satu di dunia); Impor kedelai 1,8 juta ton, beras 2 juta ton, kacang tanah 100.000 ton, bungkil makanan ternak 1 juta ton, dan garam 1,5 juta ton (Padahal negeri ini mempunyai teritorial paling panjang dan paling luas di dunia yang berhadapan dengan lautan, sungguh ironisme paling menyakitkan). Ekonom Kwiek Kian Gie mempunyai hitungan, jika minyak mentah dari perut bumi NKRI itu diolah sendiri (tidak dijual) untuk mencukupi BBM dalam negeri, niscaya rakyat menikmati harga premium Rp 600/liter. Betapa bahagia rakyat membeli bensin semurah itu, seperti di Saudi Arabia. Niscaya peta nasib bangsa akan berubah total jika harga bensin semurah itu. Selama ini terjadi permainan ekspor-impor minyak mentah oleh pelaku/pemburu rente Migas yang “terpelihara” bagai abadi, sehingga NKRI dirugikan Rp 4 Trilyun/tahun dan menguntungkan oknum yang dikenal sebagai “Mr. Two Dollar” itu, karena mengutip dua dollar AS/barel, dan berlangsung puluhan tahun terakhir ini, dari rejim ke rejim tak bisa dihentikan. Contoh kecil belum lama berselang adalah ekspor gas (LNG) ke luar negeri dengan harga ditetapkan antara 3 sampai 4 dollar AS/MMBTU, padahal saat kontrak itu diteken harga di pasar internasional 9 dollar AS/MMBTU. Uang milyaran dollar amblas sekadar diganti uang suap, buat Sang Koruptor tak seberapa . Sudah minyak mentah dan gasnya dirampok habishabisan, rakyat pun dilarang diberi subsidi BBM. Pemerintah SBY pun dalam pengelolaan Migas ini justru berpihak ke asing daripada ke Pertamina. Contohnya kasus kontrak Blok Cepu yang justru diberikan ke Exxone Mobile setelah Menteri Luar Negeri AS Condoliza Rise berkunjung ke Cepu beberapa tahun lalu. Pertamina dan rakyat Indonesia hanya bisa gigit jari. Kasus serupa, pemerintah SBY memutuskan menjual gas Donggi Senoro ke pihak Mitsubishi daripada menyerahkan pengelolaannya kepada Pertamina. Hal ini menyebabkan hilang kesempatan laba pemerintah sebesar Rp 4,5 Trilyun/tahun. Padahal Pertamina dipastikan lebih berpengalaman dibandingkan Mitsubishi, khususnya dalam hal membangun dan menjual LNG. Kenapa asset negara yang strategis itu dilepas ke asing begitu saja? Sementara rakyat kini harus membeli gas dengan “harga dunia” yang 5x lebih mahal. Soal penegelolaan Migas ini, contoh menyolok adalah sukses Petronas yang akhir 1969 belajar managemen minyak ke Pertamina kini asset perusahaan minyak negara Malaysia ini 5x lebih besar dari Pertamina. Hutang Negara dan Kemiskinan

Ratusan data yang amat musykil bahkan mengerikan seperti kita rinci di atas bisa saja kita deretkan lagi lebih panjang, misalnya kini air saja mulai dikuasai asing (Danone Prancis). Yang belum dikuasai asing jangan-jangan tinggal udara saja yang rakyat Indonesia masih boleh sementara ini menghirup dengan gratis. Yang nyata makin mengkhawatirkan niscaya soal hutang negara yang kian membengkak di tangan rejim SBY. Angka kemiskinan juga makin menggelembung walau catatan pemerintah SBY terus menurun, karena dicatat tidak fair, dan bukan angka yang sebebar-benarnya ada. Pemerintah SBY yang menganut paham kapitalisliberal ini terbukti justru memerosotkan nasib bangsa Indonesia ke titik Nadir. Sekadar menyegarkan ingatan. Hutang luar negeri NKRI saat ini (pemerintah dan swasta)

sebesar : Dua ribu lima ratus trilyun Rupiah (2.500.000.000.000,00) di antaranya dibuat selama 5 tahun pemerintahan SBY sebesar Rp 300-an Trilyun. Bunga dan cicilan pokok Rp 450 Trilyun. Pertumbuhan ekonomi 4-6% pertahun hanya untuk biaya bunga dan cicilan pokok hutang luar negeri. Sebenarnya NKRI telah bangkrut secara akuntansi karena hutang lebih besar dari asset. Kekuatan ekonomi bangsa telah terjebak hutang berkepanjangan (debt trap) hingga tak ada jalan keluar dan akan terus tergantung pada hutang. Angka kemiskinan diklaim pemerintah SBY kini tinggal 31 juta jiwa saja, dengan standard kemiskinan dengan penghasilan Rp 211.726/bulan atau Rp 7057/hari, artinya cukup hanya makan sekali sehari nasi bungkus dengan lauk sangat sederhana. Jika dihitung makan tiga kali, biaya perumahan, kesehatan dan pendidikan, niscaya jumlah orang miskin naik menjadi tiga kali lipat (ini jika dihitung dengan standard internasional yakni Rp 18.000/hari atau 2 dollar AS/hari). Angka kemiskinan ini dipastikan makin membengkak setahun terakhir ini, bersamaan kenaikan harga pangan dan jasa yang melejit luar biasa. Ekonom senior mantan Menko Perekonomian Dr. Rizal Ramli dalam ceramahnya di manamana, terakhir di Forum Diskusi Ahmad Sumargono (20/2) bahkan menyebut sembilan alasan menjadi faktor obyektif mendukung perubahan (revolusi), yakni : Kini mayoritas kalangan intelektual tidak ada lagi yang mau membela pemerintah SBY-Boed secara terbuka, kecuali intelektual Istana. Media massa, termasuk internet, sangat kritis dan skeptis terhadap ketulusan kinerja pemerintahan SBY-Boed; Para aktifis demokrasi seluruh Indonesia menilai pemerintahan SBY-Boed tidak berpihak kepada kepentingan rakyat, dan hanya patuh pada kepentingan global dan pemodal besar. Setahun terakhir tiap kunjungan SBY kemanapun selalu disambut demonstrasi. Tokoh senior, pejuang kemerdekaan dan purnawirawan TNI menilai penggantian SBY-Boed lebih cepat lebih baik untuk kepentingan nasional karena alasan kepemimpinan dan karakter yang lemah. Para tokoh agama menilai SBY telah melakukan kebohongan, dan mengingkari konstitusi. Makin membengkaknya jumlah rakyat yang makin miskin dan menganggur. Ada lagi penerapan liberalisasi di bidang pendidikan, sehingga akses rakyat kepada pendidikan makin jauh, sehingga membesar jumlah remaja putus sekolah. Walau ada Wajib Belajar tapi anak putus sekolah dasar mencapai 1,7%, anak putus sekolah menengah mencapai 4,89% juta anak atau 18,4% . Yang paling berbahaya kini SBY-Boed mengalami krisis kepercayaan, disebabkan terbongkar kebohongannya antara perkataan dan tindakan, rekayasa statistik dan kinerja kepemimpinan yang sangat lemah dan keberpihakan pada rakyat sangat lemah. (Lebih lengkap baca kolom Rizal Ramli : Perubahan Sekarang juga hal : 21) Betulkah revolusi akan pecah di Indonesia ? Habib Rizieq memulai rumors revolusi ini tatkala ia menggelar Maulid Nabi Muhammad Saw bulan lalu, dengan memampang banner : Bubarkan Ahmadiyah Atau Revolusi. Sebelumnya dua tokoh muda Islam Muhammad Al Khathath dan Munarman SH pun juga mengultimatum dalam wawancara di TV One, jika SBY tidak membubarkan Ahmadiyah dan sebaliknya justru membubarkan ormas-ormas Islam maka kedua tokoh ini siap mengerahkan umat Islam dan menggalang demo besar-besaran. Sebenarnya ada solusi sangat sederhana bagi rejim SBY jika ingin keluar dari ancaman revolusi. Yakni SBY mengantisipasi dengan mengakomodasi aspirasi Islam. Aspirasi Islam sangat luas, tapi bisa dimulai dengan pengumumannya yang tegas membubarkan Ahmadiyah. Dijamin serta-merta umat Islam akan mendukungnya. Apalagi jika ia segera mengubah haluan pemerintahannya yang kini pro Islam, yang artinya niscaya menghapus kebijakan dan gaya pemerintahan yang Kapitalistik-Liberalistik itu, dengan side-effects lanjutan seluruh faktor yang diuraikan di atas dicarikan solusi pemecahannya dengan kerja keras. Pro kepada politik Islam dan pro demokrasi saat ini ternyata menjadi pilihan di sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika sehingga kini mereka dilanda revolusi. Penelitian lembaga Riset yang amat berpengaruh dari Washington, Amerika Serikat : PEW Research Center, kini di sejumlah negara seperti di Timur Tengah dan Afrika yang mayoritas berpenduduk Muslim, termasuk di Pakistan dan Indonesia, menghendaki trend politik Islam dan Demokrasi. Dijamin lembaga peneliti ini lebih kredibel dibandingkan lembaga riset dari Indonesia. Jika tak ingin terlibas revolusi yang menyakitkan, lebih baik baca penelitian PEW Riset. Monggo !!

Wajah Hukum 2010 dan Prospek Hukum 2011

Tuesday, 04 January 2011 14:21 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Wirawan Adnan Advokat, Pendiri dan Dewan Pembina TPM

Di bidang penegakan hukum, tahun 2010 adalah tahun yang suram bagi Indonesia sementara tahun 2011 adalah tahun yang sedikit memberi harapan, namun dengan prediksi hasil kerja yang “TIDAK AKAN” lebih baik dari tahun sebelumnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin, setelah membuka Musyawarah Wilayah XIII Muhammadiyah Kalimantan Barat di Pontianak, Jumat 31 Desember, kinerja pemerintah sepanjang 2010 masih buram dan lebih mementingkan politik pencitraan. Politik pencitraan tersebut dapat kita rujuk ketika presiden SBY di akhir tahun 2009 memproklimirkan genderang perang melawan mafia hukum dengan membentuk Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. Satgas PMH yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden ini ternyata tidak segalak namanya. Wewenangnya hanya sebatas kordinasi, padahal genderang yang dicitrakan seolah merupakan solusi nyata atas mafia hukum yang marak terjadi. Sepanjang tahun 2010 pekerjaannya lebih banyak menerima laporan/pengaduan saja. Sepanjang tahun 2010 terdapat kurang lebih 3500 pengaduan pada sekurangnya 34 lembaga atau instansi pemerintahan termasuk advokat/notaris. Dari 34 lembaga yang diadukan oleh masyarakat tersebut sebagaian besar ( 70%) justru berada pada lembaga penegak hukum itu sendiri yaitu kepolisian (28%), pengadilan (27%), dan kejaksaan (15%). Meskipun prosentasinya kecil (1%) namun lembaga KPK termasuk lembaga yang tidak luput dari pengaduan sehingga tidak dapat dikatakan bahwa lembaga pembrantas korupsi yang banyak dielu-elukan masyarakat ini adalah lembaga yang steril dari adanya mafia hukum. Kembali pada politik pencitraan yang diperankan oleh Satgas PMH, maka kita bisa memakluminya jika tidak terlihat adanya progress apalagi hasil kerja yang nyata. Sebab indikasi yang ada memang tidak dimaksudkan untuk memperoleh hasil nyata selain maksud untuk memperoleh pencitraan bagi pemerintahannya SBY. Dari 3500 pengaduan yang telah dilaporkan ke Satgas PMH tidak ada laporan tentang berapa diantaranya yang sudah ditindak lanjuti. Di website-nya Satgas PMH hanya ada laporan triwulan pertama di tahun 2010, namun laporan serupa untuk triwulan berikutnya tidak ada. Satu-satunya produk Satgas PMH tyang dapat dianggap sebagai laporan adalah Siaran Persnya yang berjudul: Catatan Akhir Tahun 2010 Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Dalam siaran persnya ini tidak ada catatan yang pantas untuk diketahui publik sebagai sesuatu yang gemilang. Satgas PMH sendiri dalam siaran persnya ini hanya mengatakan tahun 2010 ini merupakan tahun awal pemberantasan mafia hukum sekaligus sebagai tahun yang ditandai dengan perlawanan (fight back) dan resistensi dari kekuatan-kekuatan pro mafia hukum yang masih sangat kuat keberadaannya di segala lapisan masyarakat maupun cabangcabang kekuasaan Negara: eksekutif, legislatif maupun yudikatif. MasyaAllah ! Ini bukan laporan yang kita harapkan karena bukan laporan kemajuan namun hanyalah suatu laporan tentang keadaan yang publik sudah mengetahuinya. Beralih kembali ke wajah hukum di Indonesia di tahun 2010 ini adalah wajah yang tercermin dari mundurnya Sri Mulyani Indrawati untuk pindah bekerja dari jabatannya sebagai mentri Keuangan Republik Indonesia menjadi hanya sebagai Managing Director di Bank Dunia. Bukan

hanya pindah pekerjaan dan jabatan namun memindahkan juga kependudukannya dari Indonesia ke Amerika. Dari aspek karir adalah tidak masuk akal seorang Sri Mulyani bersedia menukar pekerjaannya sebagai mentri dengan hanya menjadi pegawai Bank, meskipun itu Bank Dunia. Sri Mulyani adalah saksi kunci dalam dalam kasus suntikan modal (bail out) ke Bank Century Kasus bailout oleh Lembaga Penjamin Simpanan kepada Bank Century hingga Rp 6,7 triliun pada bulan Maret 2010 telah dinyatakan oleh Pansus DPR sebagai penyimpangan yang bersifat tindak pidana. Sri Mulyani adalah saksi kunci dalam kasus tersebut. Kepergian Sri Mulyani ke luar Negeri menjadikan kasus hukum terhadap Bank Century menjadi sirna. Salah seorang ekonom Ibukota, Hendri Saparini, disuatu harian di Ibukota mengatakan kepergian Mulyani sebagai suatu “Exit Strategy” yang jitu. Tanpa kesaksiannya Sri Mulyani maka kita tidak akan pernah bisa mengetahui secara hukum apakah dana 6.7 triliun itu mengalir ke partai politik tertentu atau tidak. Tidak bisa dipungkiri kasus Bank Century merupakan cerminan bahwa hukum tidak bisa bekerja. Hukum tidak mampu mencegah kepergian Sri Mulyani keluar negeri. Adalah kepentingan politik yang sedang berkuasa yang telah mengetrapkan “exit strategy” bagi Sri Mulyan. Membiarkan Sri Mulyani pergi merupakan politik perlindungan yang memperdaya kekuatan hukum. Tidak ada penegakan hukum disini, yang ada adalah penegakan pesan politik untuk menyelamatkan kepentingan petinggi politik diatas Sri Mulyani. Kasus Antasari, Susno Duaji, dan di copotnya Jaksa Agung Hendarman oleh Mahkamah Konstitusi ikut mewarnai citra buruk penegakan hukum sepanjang tahun 2010. Namun yang menyedihkan adalah isu suap di Mahkamah Konstitusi yang telah dikenal oleh masyarakat sebagai satu-satunya lembaga penegakan hukum yang masih suci. Selama ini pencari keadilan senantiasa dibuat nyaman oleh pelayanan administrasi maupun pelayanan keadilan yang ditegakkan oleh Mahkamah Konstitusi. Tidak pernah menjadi kekhawatiran bagi kami selama ini, sebagai advokat yang beracara di MK, akan dibuat gerah dengan berbagai pungutan liar yang lazim kami alami di badan peradilan umum. Bahkan banyak diantara advokat yang berpendapat bahwa hanya di MK saja tidak ada mafia hukum. Barometer kesuksesan pembrantasan mafia hukum adalah jika lembaga penegakan hukum bisa seperti MK. Adanya faktor Refly Harun, sebetulnya bukan meruntuhkan citra MK, justru sebaliknya karena isu suap ditanggapi secara serius oleh MK. Terbukti justru MK membentuk Tim Investigasi yang dipimpin oleh Refly sendiri. Berita mundurnya hakim konstitusi Arsyad Sanusi justru memperkuat citra MK. Tidak perlu ada pembuktian pelanggaran hukum, adanya sidang kode etik hakim saja sudah cukup membuat seorang hakim konstitusi mengundurkan diri. Kalangan praktisi hukum menilai sikap hakim Arsyad ini sebagai sikap terpuji, yang telah mementingkan kepentingan untuk mempertahankan kesucian MK diatas kepentingan karir pribadinya. Dengan maksud lain, untung ada wajah MK yang sedikit banyak merupakan pelipur lara bagi citra hukum di Indonesia. Namun pelipur lara oleh MK kembali menjadi tidak berarti kalau diingat adanya peristiwa yang fenomenal, yaitu berita tentang kaburnya Gayus, kasus markus pajak pemilik rekening 28 milyar. Dari media kita mengetahui kaburnya Gayus dari penjara hanyalah untuk masalah yang sepele, yaitu karena yang bersangkutan ingin menonton turnamen tenis internasional di Bali. Jika ada “award” untuk tahanan yang paling bandel di tahun 2010 maka Gayus adalah sudah barang tentu akan terpilih sebagai penerima award. Keberhasilannya untuk bisa kabur dari penjara telah meyakinkan kita semua bahwa hukum tidak ada artinya dan bahwa dibelakang Gayus tersembunyi penjahat yang sebenarnya. Bagaimanakah prospek penegakan Hukum di tahun 2011? Syukurlah Busyro Muqoddas baru saja terpilih untuk memimpin lembaga pembrantasan korupsi, yang disebut KPK. Kepada Busyro hanya diberikan waktu satu tahun untuk menjalankan tugasnya, yang berarti praktis hanya selama tahun 2011 saja. Profil Busyro dan rekaman jejak yang ada padanya, sedikit banyak memberikan harapan akan adanya pemerintahan yang bersih dari korupsi. Namun Busyro hanyalah seorang diri. Waktu satu tahun adalah waktu yang terlalu singkat untuk dapat memenuhi harapan rakyat jika hanya mengandalkan kebersihan diri.

Dari sisi lain kita bisa melihat bahwa hanya pada level pimpinan KPK saja yang merupakan hasil seleksi ketat. Para deputinya, direkturnya, serta staf-staf operasionalnya termasuk para penyidik dan para jaksa (penutut umum) nya adalah personil-personil yang sebetulnya lebih mewarnai kinerja dan “corporate Culture” di KPK. Mereka inilah yang merupakan cerminan KPK yang sesungguhnya , yang pada hakekatnya merupakan hasil bedol desa dari instansi kepolisian dan kejaksaan, yang sesungguhnya merupakan alasan utama mengapa KPK diadakan.Yaitu karena ketidak percayaan pada kedua lembaga tersebut untuk bisa secara efektif membrantas korupsi. Tidaklah berlebihan jika kita berpendapat tugas Busyro Muqoddas adalah suatu “mission impossible”. Diperlukan tindakan drastis secara internal dan eksternal untuk dapat menjadikan misinya menjadi “possible”. Pertama, melakukan penggantian menyeluruh atas semua personil KPK dibawah level pimpinan, menciptakan kultur kerja baru di KPK. Kedua, menghidupkan kembali kasus Century dan terus mengusut kasusnya Gayus. Sangat disayangkan jika Busyro menjadi ketua KPK hanya akan berakhir dengan hasil memperindah CV nya saja.

Kritik Terhadap Studi Al-Qur'an Kaum Liberal
Friday, 11 March 2011 17:42 |

Fahmi Salim, MA Peneliti INSIST dan Direktur LemKIA UIA Jakarta Judul diatas adalah judul yang sama untuk buku yang, pada awalnya, saya tulis untuk meraih gelar Magister dari Fakultas Ushuludin Jurusan Tafsir, Universitas Al-Azhar Kairo pada Desember tahun 2007 silam. Syukur Alhamdulillah, buku tersebut menjadi salah satu nominator terbaik dalam IBF Award tahun 2011 ini yang diberikan bersamaan dengan penyelenggaraan IBF ke-10 dengan tema besar, “Khazanah Islam untuk Peradaban Bangsa”. Fokus utama buku itu adalah mengkritisi metode hermeneutika yang digadang gadang kelompok liberal sebagai metode paling pas dalam memahami Al-Qur’an saat ini. Mengapa dan ada apa dengan 'Hermeneutika'? Setelah ditelusuri, ternyata filsafat pemahaman teks ala Barat inilah yang menjadi "alat buldoser" paling efektif yang berada di belakang upaya sekularisasi dan liberalisasi pemahaman Al-Qur’an yang terjadi secara massif. Di tangan para pengasong sekularisme dan liberalisme, metode hermeneutika untuk mengkaji Al-Qur'an ini ingin menggusur dan mengkooptasi ajaran-ajaran Islam yang baku dan permanen (tsawabit), agar compatible dengan pandangan hidup (worldview) dan nilai-nilai modernitas Barat sekuler yang ingin disemaikan ke tengah-tengah umat Islam. Tema ini telah menarik perhatian penulis semenjak digelindingkannya suatu upaya sistematis untuk meliberalkan kurikulum 'Islamic Studies' di perguruan perguruan tinggi Islam di Indonesia. Semenjak langkah strategis itu diluncurkan di era kepemimpinan Munawir Syadzali di Departemen Agama dan Harun Nasution di IAIN Jakarta tahun 1980-an, sederet nama para penganjur dan pengaplikasi hermeneutika untuk studi Islam tiba-tiba menjadi super stars dalam kajian Islam di Perguruan Tinggi Islam Indonesia. Sebut saja misalnya: Hassan Hanafi (hermeneutika-fenomenologi), Nasr Hamid Abu Zayd (hermeneutika sastra kritis), Mohammad Arkoun (hermeneutika-antropologi nalar Islam), Fazlur Rahman (hermeneutika double movement), Fatima Mernissi-Riffat Hassan-Amina A. Wadud (hermeneutika gender), Muhammad Syahrur (hermeneutika linguistik fiqih perempuan), dan lain-lain yang cukup sukses membius mahasiswa dan para dosen di lingkungan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia baik negeri maupun swasta, hingga kini.

Written by Shodiq Ramadhan |

Bahkan beberapa tahun silam dengan munculnya Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam oleh Tim Pengarusutamaan Gender Depag RI, yang merombak dan melucuti banyak hal aspek-aspek yang qath'i dalam sistem hukum Islam, meski telah ditolak dan digagalkan, telah mengindikasikan suatu upaya serius untuk menjadikan produk tafsir hukum ala hermeneutika ini sebagai produk hukum Islam positif yang mengikat seluruh umat Islam di tanah air. Itulah salah satu dampak terburuk dari tafsir model hermeneutika ini yang berkaitan dengan hajat hidup umat Islam Indonesia dalam soal pernikahan, perceraian, pembagian harta waris, dan lain-lain. Hermeneutika itu apaan sih? Mungkin banyak umat yang belum faham maksudnya sehingga tidak ‘melek’ akan bahayanya jika diterapkan untuk Al-Qur’an. Membaca dan memahami kitab suci dengan cara menundukkannya dalam ruang SEJARAH, BAHASA dan BUDAYA yang terbatas, adalah watak dasar hermeneutika yang dikembangkan oleh peradaban Barat sekuler yang tidak sejalan dengan konsep tafsir atau takwil dalam khazanah Islam. Metode hermeneutik ini secara ‘ijma’ oleh kelompok liberal di Indonesia bahkan di dunia ditahbiskan sebagai metode baku dalam memahami ajaran Islam baik dalam Qur’an maupun Sunnah. Dalam buku yang ditulis tokoh Paramadina untuk mengenang 40 tahun pidato pembaruan Cak Nur disebutkan, “Islam ingin ditafsirkan dan dihadirkan secara liberal-progresif dengan metode ‘HERMENEUTIK’, yakni metode penafsiran dan interpretasi terhadap teks, konteks dan realitas. Pilihan terhadap metode ini merupakan pilihan sadar yang secara instrinsik built-in di kalangan Islam Liberal sebagai metode untuk membantu usaha penafsiran dan interpretasi.“ (Budhi Munawar Rachman: Reorientasi Pembaruan Islam, hlm. 388) Selain itu, penggunaan hermeneutika untuk menafsirkan Qur’an ini berangkat dari dekonstruksi konsep wahyu yang diistilahkan TANZIL oleh Al-Qur’an (Fusshilat: 42; As-Syu’ara: 192-195). Menurut Prof. M. Naquib Al-Attas, pendiri ISTAC Malaysia, konsep TANZIL itu memiliki 2 kekhasan yang tak dapat dicari tandingannya dalam konsep kitab suci manapun dalam agama lain. Kedua ciri khas itu adalah, wahyu Islam diperuntukkan untuk umat manusia secara keseluruhan (tanpa membedakan waktu dan tempat) dan hukum-hukum suci yang terkandung dalam wahyu itu tidak memerlukan ‘pengembangan’ lebih lanjut dalam agama itu sendiri. (SMN. Al-Attas, Islam and Secularism, Kuala Lumpur: ISTAC, 1993, hlm 31-32) Bertolak belakang dengan konsep TANZIL itu, kaum liberal malah memuji konsep wahyu dalam pengertian Kristen yg dikemukakan oleh L.S. Thornton sebagai “a made of divine activity by wich the Creator communicates himself to man and, by so doing, evokes man’s response and cooperation”. (sebuah aktifitas ketuhanan yang mana Pencipta mengkomunikasikan kehendaknya kepada manusia, yang menyulut dan akhirnya melibatkan respon dan kerjasama manusia dalam proses pewahyuan itu, lihat Montgomery Watt dalam Islamic Revelation in the Modern World, hlm. 6). Konsep wahyu ala Kristen ini lah yang ingin mereka paksakan untuk memahami ulang konsep Al-Qur’an (Ulil Absar dkk, Metodologi Studi Al-Qur’an, Jakarta: Gramedia, hlm.57). Dari konsep wahyu Al-Qur’an yang disamakan dengan Kristen ini, maka kaumliberal mengajukan modifikasi metode tafsir agar sesuai dengan zaman sekarang. “Modifikasi ini terasa sangat dibutuhkan ketika berhadapan dengan ayat-ayat partikular, seperti ayat-ayat uqubat, hudud, qishash, waris dsb. Ayat-ayat tersebut dalam konteks sekarang, alih-alih bisa menyelesaikan problem-problem kemanusiaan, yang terjadi bisa-bisa merupakan bagian dari masalah yg harus dipecahkan melalui prosedur tanqih” (Metodologi Studi Al-Qur’an, hlm.166-167). Di bagian lain buku itu dengan lugasnya Ulil dkk menyatakan bahwa, “Ayat-ayat semacam itu disebut fiqih (?!) Al-Qur’an. Sebagai sebuah fiqih, ayat-ayat itu sepenuhnya merupakan respon Al-Qur’an terhadap kasus-kasus tertentu yang berlangsung dalam lokus tertentu, masyarakat Arab. Dengan demikian, kebenaran ayat-ayat tersebut bersifat relatif dan tentatif sehingga memerlukan penyempurnaan, pembaharuan & penyulingan. Membiarkan fiqih Al-Qur’an sama persis dengan bunyi harfiahnya hanya akan mengantarkan Al-Qur’an pada perangkap yang mematikan spirit dan elan vital Al-Qur’an” (Metodologi Studi Al-Qur’an, hlm.167).

Dewasa ini, gagasan dan tuntutan untuk melakukan pembacaan sekaligus pemaknaan ulang teks-teks primer agama Islam disuarakan dengan lantang. Tujuannya adalah agar teks-teks primer Islam, yang telah menjadi pedoman dan panduan lebih dari1 milyar umat Islam, dapat ditundukkan untuk mengikuti irama nilai-nilai modernitas sekuler yang didiktekan dalam berbagai bidang. Seruan itu disuarakan serempak oleh para pemikir modernis muslim baik di Timur-Tengah maupun di belahan lain dunia Islam, termasuk Indonesia. Berbagai seminar, workshop dan penerbitan buku hasil kajian dan penelitian digiatkan secara efektif untuk mengkampanyekan betapa mendesaknya "pembacaan kritis" dan "pemaknaan baru" teks-teks Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Berbagai produk olahan isu-isu pemikiran yang diimpor dari Barat seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme agama, dan pengarusutamaan gender telah menjadi menu sajian yang lezat untuk dihidangkan kepada komunitas muslim. Kita patut curiga dan bertanya: apakah tidak sebaiknya upaya pembacaan dan pemaknaan ulang wacana agama itu diarahkan sebagai pembaruan metode dakwah Islam dan revitalisasi sarana-sarana pendukungnya di era kontemporer ini, sesuai dengan perkembangan zaman? Kita sangat memerlukan pemikiran segar dan cemerlang untuk mendakwahkan prinsip-prinsip dan pandangan hidup Islam dengan metode yang cocok dengan kemajuan zaman. Jika ini yang terjadi, maka kita dengan senang hati menyambut seruan itu. Namun jika yang terjadi adalah mengkaji ulang bahkan sampai pada taraf mengubah prinsip dan pokok-pokok agama dengan dalih keluar dari kungkungan ideologis nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah, membatalkan absolusitas nash Al-Qur'an dengan analisa historisitas teks atau relativisme teks, juga dibagian lain ingin melakukan studi kritik literatur dan sejarah seperti yang dipraktekkan kalangan liberal Yahudi dan Kristen atas Bible sejak 3 abad silam, atau bahkan dengan memunculkan pandangan bahwa nash Al-Qur'an dan Sunnah telah out of date dan hanya menghalangi proses integrasi umat Islam dengan nilai-nilai globalisasi kontemporer. Jika benar ini yang terjadi di lapangan pemikiran, maka logika semacam ini ditolak mentah-mentah, baik keseluruhan maupun rinciannya.Terdapat sekian banyak bahaya tersembunyi di balik seruan di atas. Yangpenting di antaranya berujung kepada pelumeran dan peluruhan inti dan pokok dinulIslam serta melarikan diri dari kewajiban-kewajibannya. Padahal salah satu tujuan Islam yang mulia adalah terbentuknya umat yang kokoh kuat dalam setiap segi kehidupannya, terutama dalam bidang pandangan hidup yang pasti, barometer akidah, syariah, dan akhlaq yang jelas dan tidak tergerus oleh perubahan zaman yang silih berganti. Beberapa faktor diatas itulah yang telah mendorong penulis untuk mengkaji dasar-dasarnya, menelusuri akar sejarah hermeneutika hingga diterapkan untuk mengganti metodologi tafsir dan takwil Al-Qur'an yang khas dalam tradisi keilmuan Islam. Selain tentu saja menilisik isu-isu paling mendasar dan krusial secara analitis-kritis di dalam buku ini. Penulis juga memandang suatu agenda yang mendesak di kalangan cendekiawan muslim, agar mengkaji secara kritis asal-usul dan perkembangan metodologi pemahaman terhadap sumber-sumber agama Islam yang kini dipaksakan oleh Barat untuk suatu proyek hegemoni dan kolonialisme pemikiran di dunia Islam. Imbasnya tentu saja akan merasuki pendidikan tinggi Islam, sebagai center of exellence, yang diproyeksikan untuk melahirkan sarjana-sarjana agama Islam, namun minus kebanggaan dan penguasaan terhadap perbendaharaan intelektual yang telah mengakar sepanjang kurun perjalanan Islam sebagai agama sekaligus peradaban. Memang di lingkungan Universitas al-Azhar Mesir, sebagai kiblat ilmu-ilmu keislaman di dunia, tradisi tahkik (studi editing-filologi naskah klasik) dan penelitian tentang studi kritik tafsir AlQur'an (ad-Dakhil fi al-Tafsir) -terutama naskah-naskah tafsir klasik yang tak jarang terdapat dampak Israiliyyat dan pendapat-pendapat aneh yang menyalahi kode etik ilmiah, kebahasaan, maupun riwayat hadis dla'if dan palsu-, telah tumbuh subur dan mengesankan. Namun penelitian tentang tantangan-tantangan keilmuan Barat kontemporer terhadap khazanah tafsir Al-Qur'an dan juga metodologi studi Al-Qur'an yang kini gencar diupayakan berorientasi sekuler-liberal, belum banyak yang melakukannya. Harapan penulis, buku ini dapat memenuhi hasrat keilmuan tersebut dan mampu menjadi karya pionir untuk menjawab tantangan paradigma sekuler-liberal dalam kajian-kajian Al-Qur'an. Untuk tujuan penelitian secara sistematis dan tepat guna, maka penulis menyusun langkah

pembahasan thesis ini dalam kerangka sebagai berikut: I. MUKADDIMAH. II.PASAL 1: STUDI KOMPARATIF KONSEP TAKWIL DAN HERMENEUTIKA. Mencakup 3 pembahasan: 12Konsep Takwil dalam Istilah Peradaban Islam Konsep Hermeneutika dalam Istilah Peradaban Barat

3Sejarah Pertumbuhan Tafsir dan Perkembangannya dalam Islam; telaah masuknya metode Barat dalam kajian tafsir Al-Qur'an. III. PASAL 2: HERMENEUTIKA SEBAGAI ALAT PENAFSIRAN TEKS. Mencakup 3 pembahasan: 12Historiografi hermeneutika; latar sejarah, perkembangan dan aliran-alirannya. Metode hermeneutika dan kritik Biblikal.

3Upaya penerapan hermeneutika dalam lapangan Qur'anic Studies. Menyoroti peran orientalis Barat, para penulis prolifik modernis di dunia Islam, dan keterpengaruhan tulisan kaum modernis oleh pola pandang orientalisme. IV. PASAL 3: TELAAH KRITIS – ANALITIS TERHADAP ISU-ISU UTAMA PENDEKATAN HERMENEUTIKA TERHADAP AL-QUR'AN AL-KARIM. Mencakup 3 pembahasan: 1Isu historisitas teks Al-Qur'an; menelaah pandangan dan lontaran ide para hermeneut seperti: Husain Muruwwah (klaim historisitas Al-Qur'an dan dampaknya terhadap konsep i'jaz Al-Qur'an), Muhammad Arkoun (dampaknya terhadap sejarah kodifikasi Al-Qur'an) dan Nasr Hamid Abu Zayd (dampaknya terhadap pentakwilan beberapa konsep Al-Qur'an). 2Isu kritik literatur dan historis untuk teks Al-Qur'an; menelaah pandangan dan lontaran ide para hermeneut seperti: Amin al-Khuly dan M.A. Khalfallah (dampaknya terhadap penafsiran kisah Al-Qur'an), Muhammad Arkoun (antropologi wahyu dan dampaknya terhadap kisah Al-Qur'an), Nasr Hamid Abu Zayd (dampak penerapan semiotika atas konsep Al-Qur'an). 3Isu kritik dialektis-materialis antara teks Al-Qur'an dengan realitas manusia; menelaah dan mengkritisi klaim superioritas realita manusia atas nash Al-Qur'an (dampaknya terhadap konsep Asbab Nuzul dan kaidah al-'Ibrah bi 'Umumi al-Lafzh), menepis asumsi Nasr Hamid tentang orisinalitas realita manusia di hadapan nash Al-Qur'an, dan dampak isu ini kepada upaya merubah hukum-hukum qath'iy di dalam Al-Qur'an dengan asumsi pergerakan realitas manusia yang terus berubah. V. PENUTUP;yang berisi telaah singkat kesia-siaan dan kegagalan metodologi humaniora kontemporer untuk tujuan pembacaan dan pemaknaan ulang Al-Qur'an Al-Karim. Penulis berhasil mengidentifikasi beberapa visi dan landasan berfikir yang mendasari fenomena pembacaan hermeneutis atas kitab suci Al-Qur'an. Prioritas tujuan dari riset ini adalah munculnya fakta pengaruh ideologi para penganjur hermeneutika untuk Al-Qur'an di balik gerakan sistematis ini. Sehingga, hemat penulis, persoalan ini tidak lah relevan bila dikaitkan dengan urusan metodologi yang digunakan mereka. Karena letak persoalan serius justru karena ideologi sekulerisme yang diinfiltrasikan ke dalam Islam dan alam pandangan hidup umat Islam, dengan satu tujuan besar yaitu pengosongan Islam dari ajaran-ajarannya yang luhur dan melumpuhkannya agar tidak berlaku efektif dalam kehidupan umat. Kesadaran palsu para penganjur sekularisasi teks Al-Qur'an dan ilmu-ilmu Al-Qur'an telah mendorong mereka untuk menyederhanakan persoalan seakan hal ini berkaitan erat dengan problematika metodologi yang digunakan untuk menganalisis Al-Qur'an. Padahal target mereka tak lain adalah untuk mengimpor 'sisa-sisa limbah' metodologi yang telah menyesaki

ilmu humaniora peradaban Barat, yang mana hal itu belum tentu cocok dengan prinsip-prinsip Islam dan rincian-rincian ajarannya. Limbah metodologi Barat itu diproyeksikan untuk menyerang dan melumpuhkan Islam yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. Tujuan riset yang telah kami tulis terkait dengan tema ini di dalam 3 pasal secara berurutan adalah sebagai berikut: 1) Riset ini telah menjelaskan betapa jauhnya berbagai pendekatan metode yang diimpor dari Barat itu dengan spirit nilai-nilai Al-Qur'an, karena berbenturan keras dengan hal-hal aksioma di dalam Islam. 2) Riset ini berhasil menunjukkan ketidakmampuan metode-metode humaniora Barat untuk sampai kepada hasil apa pun. Karena memang metode humaniora tersebut lahir sesuai dengan setting pemikiran Barat dan untuk melayani kepentingan analisis karya-karya sastra yang ditulis oleh manusia, bukannya untuk menafsiri risalah Allah swt. Dan masih tersisa lagi satu persoalan dasar bahwa ilmu-ilmu humaniora tersebut tidak pernah berhasil untuk menjadi hakim dan kata putus dalam studi-studi Al-Qur'an. Alasannya sederhana, bahwa secara logis amat mustahil sesuatu yang relatif dapat mengatur dan menentukan nilai yang absolut. Fakta keilmuan inilah yang selalu diperhatikan oleh para pakar ilmu syariah dalam seluruh rentang sejarah peradaban Islam. Ilmu-ilmu humaniora Barat tidak dapat menjadi wasit bagi nash Al-Qur'an. Logikanya adalah mustahil menengahi Al-Qur'an dengan teori-teori yang sangat spekulatif dan relatif. Ilmu-ilmu humaniora Barat dibangun untuk memenuhi tujuan tertentu jadi sudah tidak objektif lagi, seperti diungkap oleh Jabir al-Haditsi dalam artikelnya yang berjudul "Azmat al-'Ulum alInsaniyyah" (Krisis Ilmu Humaniora) di dalam jurnal al-Fikr al'Arabi edisi 37. Objektifitas ilmiah yang diklaim ada dalam kajian humaniora Barat adalah "hipokrasi" intelektual yang mesti diungkap sebagai skandal. Krisis internal dalam kajian humaniora ini sebenarnya berdimensi ideologis, sehingga tidak pernah melahirkan kesepakatan di antara golongan intelektual Barat yang bergelut di dalamnya. Selain itu aspek teknis dari krisis internal itu tercermin dalam tidak adanya teori tafsir yang utuh dan komprehensif dalam ilmu humaniora Barat, seperti diungkap oleh Michele Foucoult. Hal ini bisa dibuktikan bahwa teori interpretasi sejak Marx, Freud, Nitsche adalah tidak berkesudahan. Sebab bagi mereka bahaya paling besar adalah kepercayaan terhadap suatu tanda-tanda yang memiliki wujud asli dan bersifat final. Guna menetapkan teori interpretasi, berbagai pendekatan dilakukan, tetapi suatu hal yang pasti bahwa setiap takwil dipaksa untuk mentakwilkan (reinterpretasi) dirinya sendiri. Tidak ada lagi kerangka acuan bagi proses interpretasi. Michele Foucault mengakui hal itu dengan mengatakan hampir mustahil membuat ensiklopedi bagi seluruh tehnik interpretasi dalam ilmu humaniora Barat, bahkan sangat sedikit sekali yang ditulis untuk tujuan ini. Dari ulasan di atas, terbukti bahwa fenomena pembacaan hermeneutik atas Al Qur'an yang didasari oleh perkembangan ilmu humaniora Barat tak lain untuk meliberalkan tafsir Al-Qur'an dari kaidah-kaidah metodologis yang pasti. Dalam konteks inilah, maka mereka dimungkinkan untuk bisa melontarkan apa saja tanpa ada rasa malu untuk mempertanyakan legitimasi dan akar justifikasi pemikiran-pemikiran mereka. Jika demikian, tak ada gunanya bagi kita untuk menerima metode pembacaan teks yang sekuler untuk diterapkan bagi nash Al-Qur'an. Bahkan, sudah seharusnya kita membendung dan memerangi program liberalisasi dan sekularisasi studi Al-Qur'an karena jelas-jelas akan membahayakan visi misi Al-Qur'an seperti yang ditanzilkan oleh Allah swt. Wallahu A’lam bis-Shawab.

Runtuhnya Demokrasi
Friday, 04 March 2011 10:29 | Written by Shodiq Ramadhan |


Habib Rizieq Syihab Ketua Umum DPP Front Pembela Islam Keruntuhan Demokrasi sudah di ambang pintu. Hal itu ditandai dengan Revolusi Tunisia yang berhasil mengusir diktator demokrasi Ben Ali, yang kemudian berlanjut dengan Revolusi Mesir yang berhasil menggulingkan diktator demokrasi Husni Mubarok. Angin revolusi mulai berhembus ke sejumlah Negara Demokrasi Arab seperti AlJazair, Yaman, Lybia dan Syria. Bahkan negara-negara Demokrasi Monarki Arab pun mulai terusik, seperti Maroko, Yordania, Saudi, dan negara-negara Teluk. Selama ini Sistem Demokrasi hanya melahirkan diktator-diktator dunia, dan menghasilkan koruptor kelas kakap, bahkan menciptakan kapitalis-kapitalis internasional yang rakus dan serakah. Sistem Demokrasi adalah sumber problem yang banyak melahirkan gerombolan mafioso dan generasi oportunis, sekaligus merupakan wadah tempat bersemayamnya anjinganjing penjilat kekuasaan. Hal tersebut karena Sistem Demokrasi merupakan pintu masuk kaum Kapitalis untuk meraih kekuasaan. One man one vote dalam Sistem Demokrasi telah memberi peluang kepada kaum borjuis untuk membeli suara rakyat, sehingga saat berkuasa mereka berlomba mengeruk kekayaan untuk mengembalikan modal beli suara, sekaligus mengais keuntungan sebesar-besarnya. Sistem Demokrasi merupakan sumber malapetaka dan kehancuran. Sistem Demokrasi penuh intrik dan tipu muslihat, karena sistem ini selalu bertopeng kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, musyawarah dan mufakat. Padahal, justru sistem ini yang paling tidak berperikemanusiaan, lihat saja bagaimana negara-negara sekutu atas nama Demokrasi memporak-porandakan Iraq dan Afghanistan. Justru sistem ini yang paling tidak menghargai kesetaraan, buktinya kulit berwarna masih menjadi warga kelas dua di negaranegara Barat yang menganut demokrasi. Justru sistem ini yang paling tidak adil, buktinya secara terang-terangan mereka melarang warga muslimah di negeri mereka untuk berjilbab. Soal musyawarah mufakat dalam Sistem Demokrasi hanya omong kosong. Inti Demokrasi adalah suara terbanyak, bukan musyawarah mufakat. Selain itu musyawarah dalam Demokrasi bisa menghalalkan yang haram, dan bisa pula mengharamkan yang halal. Yang penting tergantung suara terbanyak. Buktinya, Sistem Demokrasi dengan suara terbanyak bisa membolehkan perkawinan sejenis (Homo dan Lesbi), lokalisasi pelacuran, legalisasi perjudian, legitimasi aliran sesat, formalisasi korupsi dan halalisasi segala keharaman. Dan sebaliknya, Sistem Demokrasi dengan suara terbanyak juga bisa melarang jilbab, cadar, tabligh, da'wah, hisbah, pembangunan masjid, madrasah dan pesantren. ISLAM vs DEMOKRASI Antara Sistem Islam dan Sistem Demokrasi memiliki perbedaan yang sangat besar dan mendasar serta fundamental, sehingga keduanya mustahil disatukan. Islam dan Demokrasi bagaikan langit dan bumi, umpama matahari dan bulan, seperti lautan dan selokan. Dalam rangka membuka Topeng Demokrasi, maka perlu diuraikan beberapa perbedaan yang sangat prinsip dan fundamental antara Sistem Islam dan Sistem Demokrasi. Pertama, Sistem Islam berasal dari sumber ilahi karena datang dari wahyu Allah Yang Maha Agung dan Maha Suci, sehingga bersifat sangat sempurna. Sedang Sistem Demokrasi berasal dari sumber insani karena datang dari akal manusia yang lemah dan penuh kekurangan, sehingga sangat tidak sempurna. Karenanya, dalam Sistem Islam hukum dari Allah SWT untuk manusia, sedang dalam Sistem Demokrasi hukum dari manusia untuk manusia.

Kedua, dalam Sistem Islam wajib digunakan Hukum Allah SWT, sedang dalam Sistem Demokrasi wajib digunakan keputusan suara terbanyak. Karenanya, Sistem Islam tunduk kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, sedang Sistem Demokrasi tidak tunduk kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ketiga, dalam Sistem Islam tidak dipisahkan antara agama dan negara, sedang dalam Sistem Demokrasi dipisahkan antara agama dan negara. Karenanya, Islam menolak pemahaman sekuler dan segala bentuk sekularisasi dalam berbangsa dan bernegara. Sedang Demokrasi memang lahir dari penentangan terhadap agama, sehingga Demokrasi selalu mengusung sekularisasi dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, dalam Sistem Islam standar kebenaran adalah akal sehat yang berlandaskan Syariat, sedang dalam Sistem Demokrasi standar kebenaran adalah akal sakit yang berlandaskan hawa nafsu kelompok terbanyak. Karenanya, dalam Sistem Islam baik buruknya sesuatu ditentukan oleh Syariat, dan wajib diterima oleh akal sehat. Sedang dalam Sistem Demokrasi baik buruknya sesuatu tergantung hawa nafsu orang banyak, walau pun tidak sesuai Syariat atau pun tak masuk akal sehat. Kelima, dalam Sistem Islam tidak sama antara suara Ulama dengan suara Awam, antara suara orang Sholeh dengan suara orang jahat. Sedang dalam Sistem Demokrasi suara semua orang sama : Ulama dan Koruptor, Guru dan Pelacur, Santri dan Penjahat, Pejuang dan Pecundang, Pahlawan dan Bajingan, tidak ada beda nilai suaranya. Karenanya, dalam Sistem Islam hanya orang baik yang diminta pendapatnya dan dinilai suaranya, itu pun suara mereka tetap disebut sebagai suara manusia. Sedang dalam Sistem Demokrasi semua orang baik dan buruk disamakan, bahkan suara mereka semua disebut sebagai suara Tuhan. Keenam, musyawarah dalam Sistem Islam hanya menghaqkan yang haq dan membathilkan yang bathil, sedang dalam Sistem Demokrasi boleh menghaqkan yang bathil dan membathilkan yang haq. Karenanya, dalam Sistem Islam tidak ada Halalisasi yang haram atau haramisasi yang halal, apalagi haramisasi yang wajib, sedang dalam Sistem Demokrasi ada halalisasi yang haram, dan haramisasi yang halal, bahkan haramisasi yang wajib. Ketujuh, asal-usul Sistem Islam sudah dimulai sejak zaman Nabi Adam AS, karena sejak Allah SWT menciptakan Adam AS sudah dinyatakan sebagai Khalifah di atas muka bumi sebagaimana firman-Nya dalam QS.2.Al-Baqarah : 30. Dan Sistem Islam tersebut sempurna di zaman Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kaidah dan tatanan kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang beliau praktekkan bersama para Sahabat yang mulia. Allah SWT menyatakan kesempurnaan Islam dalam QS.5.Al-Maidah : 3. Sedang Sistem Demokrasi konon katanya sudah ada sejak zaman Yunani kuno, tapi yang jelas baru muncul pasca Revolusi Kebudayaan Perancis pd Th.1789 M, yang kemudian lahir Teori Trias Politika karya Rossou, yang kemudian terus dikembangkan dengan berbagai variasi dan aksesoris, dan hingga saat ini tidak pernah sempurna, bahkan makin hari makin tampak bobrok dan busuknya. Kedelapan, rentang waktu antara sempurnanya Sistem Islam di abad ke-7 pada zaman Nabi SAW (571 - 632 M) dan munculnya Sistem Demokrasi di abad ke 18 pasca Revolusi Kebudayaan Perancis Th.1789 M, menunjukkan bahwa Sistem Islam sekurangnya lebih dulu 11 abad dari pada Sistem Demokrasi. Karenanya, jika ada persamaan antara Sistem Islam dan Sistem Demokrasi, maka bisa dipastikan bahwa Sistem Demokrasi yang menyontek dan menjiplak Sistem Islam, mustahil sebaliknya. Kesembilan, Sistem Islam telah membuktikan diri sebagai sistem terbaik yang adil, jujur dan amanah sepanjang kepemimpinan Rasulullah SAW dan Khulafa' Rasyidin, serta berhasil mengantarkan umat Islam menjadi umat yang terbaik, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.3. Ali-'Imran : 110. Sedang Sistem Demokrasi sejak kelahirannya hingga kini tak pernah berhasil membuktikan diri sebagai sistem terbaik, bahkan sebaliknya, makin hari makin terkuak bobrok dan rusaknya. Kesepuluh, Sistem Islam adalah bagian dari kewajiban agama, sehingga penerapannya mendatangkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Sedang Sistem Demokrasi bukan

bagian dari kewajiban agama, bahkan merupakan penentangan terhadap agama, sehinggga penerapannya hanya akan mendatangkan dosa dan malapetaka. ISLAM YES DEMOKRASI NO ! Dengan uraian di atas, jelas sekali bahwa Sistem Islam mengungguli Sistem Demokrasi dalam semua hal. Mulai dari keautentikan sumber dan kesempurnaannya, lalu kepatuhan kepada Syariat dan kesehatan akalnya, kemudian keaslian musyawarah dalam makna yang sebenarnya, dan kemurnian asal-usul sejarah serta keindahan peradabannya, hingga keberhasilan pembuktiannya sebagai sistem terbaik yang mendatangkan pahala dan keberkahan ilahi. Itulah karenanya, para pemuja Demokrasi iri dan dengki terhadap Sistem Islam, dan mereka tidak rela Sistem Islam bangkit dan berjaya kembali. Dalam dunia informasi, tiada hari tanpa propaganda media yang selalu menyudutkan Sistem Islam. Berbagai ucapan, perkataan dan pernyataan terus-menerus dilontarkan untuk memadamkan cahaya Islam. Namun demikian, cahaya Islam akan tetap bersinar, dan akan kembali memperoleh masa jayanya, sebagaimana Allah SWT firmankan dalam QS.61.Ash-Shaff : 8 - 9 dan QS.9.At-Taubah: 32 - 33. Akhirnya, kita harus berani mengatakan : Islam Yes Demokrasi No ! Hidup Islam Hancurlah Demokrasi ! Allahu Akbar !

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2011-03-04 17:26:59 jovan bimansyah -

dapat kita lihat wahai saudara2 seiman, begitu deras nya badai yg menerjang agama Allah ne, kaum2 yahudi bersembunyi dibalik jubah tahta yg ingin mencabik2 syari'at islam, namun jika kita terdiam dirahim kebenaran ne maka yg ada hanyalah luka akibat dari jajahan para musuh2 islam, bagaiman melawan nya,,,?????? kuatkan iman kita lafaz kan kebesaran Allah disetiap desahpan nafas kita krn kita berada difase ke 4 alam fana,,,!

Solusi Anarkhi Tanpa Kriminalisasi Agama
Sunday, 20 February 2011 04:16 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Irfan S Awwas Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Insiden kekerasan yang berulangkali terjadi, akibat konflik SARA di negeri ini, telah memunculkan ragam persepsi dan cara pandang yang salah terhadap agama dan gerakan keagamaan. Aksi anarkhi, seakan telah menjadi budaya dan gaya hidup sebagian masyarakat Indonesia, dalam mengatasi problem sosial dan politiknya. Sehingga, ikhtiyar pemerintah meredam kekerasan, menggunakan SKB tiga menteri, termasuk melakukan deradikalisasi agama untuk tujuan kerukunan, terbukti tidak efektif bahkan cenderung gagal. Budaya anarkhi menggunakan senjata pisik, berupa amuk massa, tindakan kekerasan, sudah sering kita dengar dan rasakan akibat buruknya. Implikasi kekerasan, bisa berimbas pada keresahan sosial, ekonomi, budaya, politik, juga agama. Selain keresahan sosial, kategori kekerasan juga bisa amat beragam, antara lain kekerasan sparatis, kekerasan negara terhadap rakyat, dan kekerasan antarumat beragama. Bentuk kekerasan lain, yang implikasi konfliknya lebih menyakitkan dari kekerasan fisik adalah kekerasan retorika (verbal). Yaitu, kekerasan yang diciptakan berdasarkan persepsi dengan manipulasi data dan fakta untuk kepentingan semu. Misalnya, menuding komunitas tertentu sebagai ektrimis, garis keras, radikal, preman berjubah, teroris, musuh negara, tanpa parameter yang jelas dan obyektif. Kenyataannya, labelalisasi verbal, malah lebih jahat dari kekerasan pisik. Apalagi, jika si penuding memosisikan diri berseberangan dengan yang dituding, dengan mengaku moderat, realistis agamis dsbnya. Bukan Kekerasan Agama Ironinya, dari seluruh kasus kategori kekerasan, yang paling banyak diprotes dan disalah pahami adalah kekerasan bernuansa agama, terutama dalam perspektif hubungan antaragama dan internal umat beragama. Padahal, tindak kekerasan yang mengatasnamakan demokrasi dan hak asasi manusia, lebih sering terjadi, baik yang dilakukan oleh orpol, LSM, maupun yang dilakukan penguasa diktator terhadap rakyatnya. Termasuk kekerasan ideologi yang ditimpakan negara-negara imprialis terhadap negara lain yang ingin ditaklukkan secara politis, ekonomi serta militer. Masalahnya, benarkah agama menjadi penyebab sebagian besar konflik antar umat beragama di Indonesia? Pertanyaan ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia kini, khususnya bila dikaitkan dengan dua peristiwa kekerasan SARA baru-baru ini yang meledak hampir bersamaan. Yaitu, peristiwa benterokan antara sekte Ahmadiyah dan warga masyarakat Cikeusik, Pandeglang, pada Minggu 6 Februari 2011. Kemudian, amuk massa di Temanggung terjadi pada Selasa 8 Februari 2011. Penyebabnya, adalah provokasi Antonius Richmond Bawengan, dengan menyebarkan selebaran yang menghina dan menista agama Islam, pada 3 Oktober 2010. Richmond pun, dihukum 5 tahun penjara karena dosanya itu. Relevansi pertanyaan di atas karena dua alasan. Pertama, pernyataan Presiden RI ke-6, Jenderal Doktor Haji Susilo Bambang Yudoyono, terkait kerusuhan di Pandegelang dan Temanggung, yang bersifat apologi dan terkesan mendiskreditkan tokoh lintas agama, karena beberapa waktu lalu menghujat pemerintahannya sebagai rezim pembohong. Nampaknya, pernyataan yang disampaikan dalam peringatan Hari Pers Nasional, Rabu 9 Februari 2011, di aula El Tari, kompleks Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur, Kupang, dinilai banyak pihak sebagai upaya mengalihkan kesalahan dan tanggungjawab pada pihak lain. Alihalih merasa bersalah dan melakukan ishlah, Presiden SBY justru menyoal peran para tokoh agama, agar tidak hanya mengeritik pemerintah, tapi juga tanggungjawab moral kaum agamawan untuk menciptakan kerukunan umat beragama.

“Jika kita semua peduli berkomitmen menjaga kerukunan dan toleransi bukan hanya di mulut, termasuk bimbingan pemuka agama dan tokoh masyarakat, kerusuhan bisa dihindari” tegasnya.” Alasan kedua, kriminalisasi agama yang dilakukan kaum sekuler dan liberal. Setiapkali terjadi konflik bernuansa agama, mereka selalu menuduh agama sebagai sumber konflik. Lalu, ujungujungnya menuntut moderasi ajaran agama, serta mengambangkan semua ajaran agama sebagaimana doktrin sekularisme, komunisme dan liberalisme. Dalam kasus sekte sesat Ahmadiyah, jelas telah melakukan penodaan Islam dan melanggar kesepakatan dengan pemerintah; mengapa justru mendapat pembelaan dari kaum liberal? Melestarikan keyakinan sesat, ibarat kata, madu yang diyakini lezat dan menyehatkan, di tangan kaum sekuler, bisa berubah seolah empedu yang pahit rasanya. Untuk kepentingan ini, kaum liberal memproduksi dan terus mereproduksi provokasi yang dapat merenggangkan hubungan antarumat beragama, dengan menonjolkan perbedaan masing-masing agama. Presiden SBY pun terjebak dalam provokasi kaum sekuler supaya membubarkan gerakan agama yang distigma anarkhis. Padahal, pembubaran ormas keagamaan, pastilah akan jadi bumerang bagi LSM sekuler, liberal, dan anti agama, yang selama ini menjadi antek asing di dalam negeri. Provokasi melalui SMS yang disebarkan oleh Ketua Yayasan Abad Demokrasi, Denny JA, dapat menunjukkan hal itu: “Negara terkesan tak berdaya di hadapan amuk massa yang membunuh dan membakar rumah ibadah. SBY harus sama-sama kita dorong agar lebih tegas dan berani menghancurkan organisasi yang melakukan kekerasan atas nama agama,” katanya. Menilik SMS yang dipublikasikan NUSAnews, 9/2/2011 jam 15:25, bukan mustahil kerusuhan antar umat beragama, disulut dan di rekayasa kaum liberalis dan sekuler. Sebab, dalam berbagai insiden kekerasan, perbedaan agama bukan menjadi penyebab konflik, melainkan akibat dari masalah-masalah politik, ekonomi, sosial, penodaan agama, pemurtadan, serta pembangunan rumah ibadah. Agama yang benar tidak diciptakan untuk menjadi alat permusuhan, melainkan untuk menuntun manusia ke jalan lurus yang diridhai Allah Swt. Ketika ajaran agama dipaksa tunduk pada kepentingan politik dan nafsu manusia, baik atasnama demokrasi maupun toleransi, maka pada saat itu agama telah diperalat sebagai senjata konflik. Bahayanya, manakala terjadi konflik antarumat beragama, lalu agama tidak diberi peluang memberi solusi untuk kepentingan bersama, niscaya akan menyulut konflik dan permusuhan yang sulit dibayangkan akibatnya. Solusi Negara dan Agama Kerusuhan merupakan bentuk frustrasi sosial masyarakat. Korban maupun yang dikorbankan sama-sama menjadi korban kekuasaan zalim dan korup. Maka jangan dikompori dengan kutukan. Apalagi ada komunitas tertentu yang tampil sok pahlawan kemanusiaan, membela aliran sesat, menjaga gereja dari amuk massa. Para tokoh agama sebaiknya menasihati umat agama masing-masing, jangan mengutuk tanpa pertimbangkan pemicunya. Itu kezaliman. Aparat keamanan supaya tidak diskriminatif, jangan bertindak menyenangkan minoritas atau pihak asing. Jangan pula, meneruskan kebiasaan jahat rezim orde baru, “sulut apinya, padamkan kemudian.” Mengatasi kekerasan SARA dengan mengutuk pelaku kekerasan, tanpa menghentikan pemicunya, adalah zalim dan sia-sia. Akan lebih baik, bila pemerintah menyelesaikannya secara konstitusional, sebagaimana tertera dalam UUD 1945 ps 29 ayat 1 dan 2, yang berbunyi : “(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Pertanyaannya, bagaimana implementasi UU tersebut dalam tatanan sosial kenegaraan? Sampai sekarang belum ada penjelasan pemerintah. Bahkan sepanjang sejarah kemerdekaan,

semua Presiden Indonesia mengkhianati UUD ’45 ps 29 ayat 1 dan 2 ini, dan belum pernah mengamalkannya secara konsekuen. Seorang mufassir Pancasila, Prof. Dr. Hazairin, SH dalam buku ‘Demokrasi Pancasila’, menafsirkan rumusan UUD 1945 pasal 29 ayat 1dan 2 itu sebagai berikut: Pertama, di negara RI yang berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa tidak boleh ada aturan yang bertentangan dengan agama. Kedua, negara RI wajib melaksanakan Syari’at Islam bagi umat Islam, Syari’at Nasrani bagi Nasrani dan seterusnya, sepanjang pelaksanaannya memerlukan bantuan kekuasaan negara. Ketiga, setiap pemeluk agama wajib menjalankan syari’at agamanya secara pribadi dalam hal-hal yang tidak memerlukan bantuan kekuasaan negara. Masalahnya sekarang, apakah para tokoh agama bersedia memelopori pelaksanaan UUD ’45 ini, yaitu membangun kehidupan berbangsa dan bernegara berbasis agama, sebagaimana tafsir Hazairin? Adapun solusi kasus Ahmadiyah, Menag menawarkan 4 opsi cukup obyektif: pertama, menjadi sekte atau agama tersendiri tanpa menggunakan atribut agama Islam, seperti masjid, Al Quran, dan Sunah Nabi Saw. Kedua, kembali menjadi umat Islam yang sesuai tuntunan Al Quran. Ketiga, Ahmadiyah dibiarkan saja dengan keyakinan sesatnya, sebagai bagian dari hak asasi manusia. Dan keempat, dibubarkan. Apabila semua opsi ditolak, maka Ahmadiyah jangan pengecut, harus berani mempertanggung jawabkan sikapnya melalui debat terbuka. Jika terbukti Ahmadiyah memiliki doktrin kemurtadan, mereka wajib melepaskan identitasnya sebagai bahagian dari umat Islam. Akan tetapi, bila dihakimi secara sepihak, Ahmadiyah akan merasa diperlakukan secara dzalim. Debat diperlukan, bukan untuk membenarkan Ahmadiyah yang memang sesat, tetapi antisipasi simpati dan pembelaan aliran sesat lainnya. Sekiranya Menag bersedia memfasilitasi debat terbuka, Majelis Mujahidin pendaftar pertama sebagai lawan debat Ahmadiyah. Insya Allah!

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2011-02-21 17:49:11 anonymous

menginfiltrasi pikiran demi mendangkalkan akhlak, lewat subliminal ditelevisi, misedukasi dan disinformasi literatur, dengan tujuan mencuri jiwa individu agar masuk neraka secara sembunyi sembunyi, adalah kekerasan yang lebih keras.
o o

0 0

Quote

Liberal, Musuh Besar Islam
Friday, 18 March 2011 15:31 |
• •
Habib Rizieq Syihab Ketua Umum DPP Front Pembela Islam ”Mereka ingin untuk memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan / pernyataan) mereka, dan Allah tetap menyempunakan cahayaNya meski pun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar (Islam) agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meski pun orangorang musyrik benci.” (Terjemah QS. Ash-Shaff [61]: 8–9). Kenalilah musuh Islam, tandai ciri-cirinya, agar kita tahu apa, siapa dan bagaimana mereka ?! LIBERAL adalah musuh besar Islam, karenanya sebut saja mereka dengan nama LIBERAL atau KAFIR LIBERAL, jangan sekali-kali menyebut mereka ISLAM LIBERAL, sebab Islam bukan LIBERAL, dan LIBERAL bukan Islam. LIBERAL adalah jenis kanker pemikiran yang paling berbahaya. LIBERAL merupakan komplikasi dari berbagai penyakit pemikiran yang disebabkan berbagai virus yang mematikan akal dan nalar serta membunuh iman, yaitu : Petama, RELATIVISME, yaitu VIRUS LIBERAL yang memandang semua kebenaran relative (tidak pasti), sehingga tidak ada kebenaran mutlak, termasuk kebenaran agama. Virus ini menimbulkan penyakit PLURALISME yang memandang semua agama sama dan benar, sehingga tidak boleh suatu umat beragama mengklaim agamanya saja yang paling benar, tapi juga harus mengakui kebenaran agama lain. Penyakit ini disebut juga INKLUSIVISME atau MULTIKULTURALISME. Ini adalah kanker pemikiran stadium satu. Kedua, SKEPTISISME, yaitu VIRUS LIBERAL yang meragukan kebenaran agama dan menolak universalitas dan komprehensivitas agama yang mencakup semua sektor kehidupan, sehingga agama hanya mengatur urusan ritual ibadah saja, tidak lebih. Virus ini menimbulkan penyakit SEKULARISME yang memisahkan urusan agama dari semua urusan Negara, baik yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, industri mau pun tekhnologi. Ini adalah kanker pemikiran stadium dua. Ketiga, AGNOSTISISME, yaitu VIRUS LIBERAL yang melepaskan diri dari kebenaran agama dan bersikap tidak tahu menahu tentang kebenaran agama, sehingga agama tidak lagi menjadi standar ukur kebenaran. Virus ini menimbulkan penyakit MATERIALISME yang mengukur segala sesuatu dengan materi, termasuk mengukur kebenaran agama. Ini adalah kanker pemikiran stadium tiga. Keempat, ATHEISME, yaitu VIRUS LIBERAL yang menolak semua kebenaran, khususnya kebenaran agama, dan memandang Tuhan hanya sebagai Faith Identity (Identitas Kepercayaan) yang menjadi Mitos (Takhayyul) suatu agama yang harus dirumus ulang berdasarkan Rasionalitas. Virus ini menimbulkan penyakit RASIONALISME yaitu segala sesuatu hanya diukur dengan akal semata, sehingga akal dipertuhankan. Ini adalah

Written by Shodiq Ramadhan |

kanker pemikiran stadium empat. Seorang LIBERAL adalah orang yang pemikirannya sudah terserang keempat virus di atas dan telah mengidap keempat penyakit kanker pemikiran tersebut. Itulah sebabnya, kaum LIBERAL di seluruh dunia dengan aneka sektenya memiliki karakter pemikiran yang sama, sehingga semua kelompok LIBERAL sepakat dan bersatu dalam aneka kesesatan, antara lain : Tuhan hanya Mitos (Takhayyul), Semua masalah Ghaib adalah Mitos, Agama hanya produk budaya dan sejarah, Semua Kitab Suci adalah buatan manusia, Semua agama sama dan benar, Iman dan Kafir hanya merupakan pilihan, Taat dan ma’siat harus sama diberi ruang, Manusia memiliki kebebasan mutlak, Hak Asasi Manusia di atas segalanya, Hak Asasi Manusia di atas segalanya, Aliran sesat hanya perbedaan penafsiran, Murtad adalah kebebasan beragama, Atheis adalah kebebasan berkeyakinan, Setiap orang bebas untuk mengaku Nabi, Polygami haram karena Syariat Syahwat, Homo Lesbi hanya orientasi seksual biasa, Perkawinan sejenis harus dilegalkan, Pria dan Wanita sama dalam segala hal, Syariat Islam bias gender, Syariat Islam pemasung kebebasan, Syariat Islam diskriminatif, Syariat Islam tidak relevan, Syariat Islam sudah kadaluwarsa, Syariat Islam harus dimodernkan, Penerapan Syariat Islam adalah ancaman, Agama harus dipisah dari urusan Negara, dll. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa LIBERAL adalah kelompok anarkis pemikiran, perusak agama dengan mengatas-namakan agama, musuh Syariat Islam, preman intelektual, koruptor dalil dan manipulator hujjah, serta tidak diragukan lagi sebagai antek IBLIS. Karena itulah, kelompok LIBERAL di Indonesia senantiasa menolak segala bentuk Formalisasi Syariat Islam, bahkan mereka selalu membela berbagai kebathilan dan kemunkaran, seperti : pornografi, pornoaksi, legalisasi judi, legitimasi minuman keras, lokalisasi pelacuran, sex bebas, perkawinan sejenis Homo dan Lesbi, Kafir Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya, perdukunan, penodaan agama dan pemurtadan. Kaum LIBERAL selalu memusuhi kelompok Islam yang secara istiqomah memperjuangkan penerapan Syariat Islam. Kaum LIBERAL memfitnah Gerakan Islam Istiqomah sebagai preman berjubah, anarkis, radikalis, ekstrimis dan teroris. Bahkan kaum LIBERAL selalu berusaha untuk membubarkan Ormas Islam Istiqomah dengan berbagai macam cara. Informasi paling aktual dan faktual di akhir tahun 2010 kemarin adalah bahwa SETARA INSTITUT sebagai salah satu sayap LIBERAL INDONESIA yang diketuai oleh Hendardi dengan Wakil Ketua Bonar Tigor Naipospos, membuat laporan tahunan yang direkomendasikan kepada pemerintah Republik Indonesia, dengan didanai oleh USAID yaitu sebuah lembaga donasi Amerika Serikat. Isi laporannya antara lain : Pemberantasan Aliran Sesat adalah intoleransi (hal.1), Al-Qur’an sbg pedoman adl fundamentalisme (hal.12), Tafsir Ulama Salaf penyebab kekerasan (hal.13), Totalitas dlm beragama adalah Puritanisme (hal.19), Kasus Maluku & Poso disebabkan Radikalisme Islam (hal.32), UU dan Perda Syariat lahir akibat Radikalisme Islam (hal.33), Penamaan organisasi dari Al-Qur’an adl radikal (hal.34), UU dan Perda Syariat Islam adl ancaman (hal.35), UU dan Perda Syariat Islam adl diskriminatif (hal.36), Masjid, Ponpes, Majlis Ta’lim Kyai dan Habaib adl basis radikalisme (hal.41), Anggota Ormas Islam adl pengangguran dan preman dibalut jubah (hal.41), Murtad dan Atheis adl kebebasan beragama (hal.52), Fatwa MUI ttg Ahmadiyah dan Sepilis adl intoleransi (hal.66), Penegakkan Syariat Islam adl penyebab Terorisme (hal.68), Terorisme dan Ormas Islam tujuannya sama (hal.69) dan Syariat Islam tdk boleh jadi sumber penyelenggaraan Negara (hal.70). Selain itu di halaman 90 s/d 97 disebutkan bahwa cirri Islam garis keras yaitu : Penegakan Syariat Islam, Pemberantasan Ma’siat, Pemberantasan Aliran Sesat dan Anti Pemurtadan. Itulah sebabnya, LIBERAL adalah musuh besar Islam, dan musuh besar paling berbahaya, jauh lebih berbahaya dari segala kemunkaran dan kesesatan yang ada. LIBERAL adalah antek IBLIS nomor satu, bahkan sering lebih Iblis dari pada Iblis itu sendiri, karena sesesat-sesatnya Iblis masih mengenal kebesaran dan keagungan Tuhan-nya, sedang LIBERAL sudah bisu, tuli dan buta dari pengenalan kebesaran dan keagungan Allah SWT.

Intinya, Islam akan selalu berhadap-hadapan dengan LIBERAL. Dan perang antara Islam vs LIBERAL adalah perang abadi, sebab perang antara Haq dan Bathil adalah Perang Abadi yang tidak akan pernah berhenti sampai Hari Akhir nanti. Sekali lagi, kenalilah musuh Islam, tandai ciri-cirinya ! Hasbunallahu wa Ni’mal Wakiil, Ni’mal Maulaa wa Ni’man Nashiir.

Comments (5)

|2011-03-18 16:24:15 BSA - AMAL MA'RUF NAHI MUNGKAR

FPI = Front Pembela Islam yang tidak mau dibela berarti bukan ISLAM......., FPI fadhol teruskan tegakkan AMAL MA'RUF NAHI MUNGKAR, insya ALLAH NUR ISLAM akan terang terus dibawah bendera nya ROSULALLAH dan pertolongan ALLAH pasti datang!! ALLAH huma sholli ala syaidina MUHAMMAD wa ala ali syaidina MUHAMMAD.ALLAH HU AKBAR 3X, amiin. insya ALLAH kaum LIBERAL dan pembela nya mendapat kan azab yang pedih dunia-akherat....qobul.
o o

0 1

Quote

|2011-03-22 11:48:55 Anonymous

wa kulil haqqu lillah: katakanlah bahwasanya kebenaran itu milik allah.... pada zaman ini kebenaran itu sudah merasa diakui dan dimiliki hanya oleh sekelompok orang. memang sulit untuk melihat mana yang benar dan salah yang ada adalah membesar2kan suara seolah2 dia yang paling benar.. apalagi sangat sulit mencari kebenaran kalau sudah 100% meyakini pintu wahyu sudah tertutup sehingga tidak bisa lagi bercakap2 dengan tuhan.

o o

0 1

Quote

|2011-03-22 14:08:36 Wal Suparmo - BUBARKAN ISLAM LIBERAL

SEGERA PERLU DIUSULKAN SUPAYA PEMERINTAH RI JUGA MEMBUBARKAN ISLAM LIBERAL SEPERTI AKHMADIAH!

|2011-03-25 20:37:15 muhnan rais - antar haq/benar dan batil

telah datang yang haq dan yang batil pasti lenyap. sesungguhnya yang batil pasti lenyap (qs. al israa 81). disini allah menegaskan bahwa segala yang batil pasti lenyap. tapi kenyataannya yang dianggap batil masih mentereng hingga kini. kok bisa ya? yang jelas kita sebagai manusia tidak bisa dengan pasti tahu siapa yang benar kecuali setelah dihisab yang kuasa.

|2011-03-31 17:49:18 Darna Rawa

tetap semangat untuk kebaikan,itu jadi ladang amal yang tak pernah putus,jadi manfaatkan untuk menyebar kebaikan dan haq sebanyak2nya secara damai dan berimbang.Dengan izin Allah semua niat ikhlas dan baik ini akan dimudahkan Allah.Get the win,Allahu Akbar

Jelang Sidang Ustadz Abu
Sunday, 06 February 2011 14:32 |

Fauzan Mantan Ketua Data dan Informasi Majelis Al-Anshari Mujahidin

Written by Shodiq Ramadhan |

Akhirnya ustad Abu (panggilan akrab Abu Bakar Ba’asyir) akan digelar Kamis (10/2) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Semula ada isu sidang akan digelar di kantor Kementrian Pertanian, tempat sidang ustad Abu pada kasus pertama tuduhan terlibat bom Bali. Pengalihan tempat persidangan ini nampaknya terpaksa diambil karena biaya operasional persidangan tidak lagi mendapat dukungan dana dari pihak asing karena Amerika dan sekutunya telah terkuras anggarannya gara-gara menginvasi Afghanistan dan Irak selama sepuluh tahun terakhir.

Sidang kali ini akan menurunkan 32 jaksa untuk menuntut ustad Abu supaya dihukum seberatberatnya, yakni hukuman mati atau seumur hidup. Paling ringan hukuman penjara antara 3 sampai 15 tahun. Jaksa Penuntut Umum akan dipimpin oleh Muhammad taufik. Kesalahan ustad Abu yang paling fatal menurut Iwan Setiawan, salah satu anggota JPU, adalah mengumpulkan dana untuk pelatihan militer di Aceh sekitar Rp 1,139 miliar yang dikumpulkan mulai bulan Februari 2009 hingga Januari 2010. Dana itu konon berasal dari pribadi, anggota Jamaah Ansharut Tauhid, baik yang di Lombok, Pandeglang, Jakarta, dan Bandung. Selain itu akan didatangkan juga barang bukti lain berupa 24 senjata api, minus bahan peledak. Adapun saksi yang akan dihadirkan mencapai 138 orang dengan tebal dakwaan 193 halaman. Saksi tersebut menurutnya berasal dari seluruh Indonesia. Ustadz Abu didakwa dengan pasal Pasal 14 jo Pasal 9, Pasal 14 jo Pasal 7, Pasal 14 jo Pasal 11 terkait dengan perencanaan penggerakan, Pasal 15 jo Pasal 9 tentang permufakatan jahat, Pasal 15 jo Pasal 7,Pasal 15 jo Pasal 11,Pasal 13 a UU No.15/2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Penanganan kasus ustad Abu kali ini tidak seramai kasus pertama yang diadakan begitu semarak dan terkesan hura-hura dengan pengerahan aparat keamanan yang berlebihan. Kasusnya pun segera disidangkan. Berbeda dengan kasus persidangan kedua kali ini yang nampak sekali penanganannya begitu lambat. Ustad Abu sudah ditahan 5 bulan sejak penangkapannya di depan kantor Polres Banjar Patroman. Kini persidangannya pun dilaksanakan pada masa ‘injury time’, yakni pada masa akhir penahanannya pada tanggal 10 Februari 2011. Padahal kalau memang JPU memiliki bukti kuat atas tuduhannya, mestinya ustad Abu lebih cepat disidangkan dan tidak perlu menahan beliau selama itu. Apalagi ustad Abu sudah uzur dan tidak mungkin lari ke Bali atau Macao seperti Gayus. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah persidangan ustad Abu kali ini akan segegap gempita seperti dulu? Apakah sidang beliau akan mampu mengalihkan opini publik yang kini tengah menanti-nanti akhir kisah petualangan Gayus atau mengalihkan berita ‘revolusi Mesir’? Rasanya persidangan kali ini akan sepi-sepi saja, kecuali ada bom meledak lagi dan kemudian dikaitkan dengan pembelaan terhadap ustad Abu yang tengah disidang. Namun, kemungkinan ada bom lagi yang dikaitkan juga tidak rasional, karena ustad Abu sejak awal menolak pengeboman di Indonesia karena bukan zona perang. Indonesia adalah zona dakwah untuk menyadarkan umat akan kewajiban menerapkan syariat Islam secara utuh di lembaga pemerintahan. Jadi kalau terpaksa ada ledakan bom, paling-paling digunakan untuk mengalihkan opini publik supaya masyarakat tidak fokus menyaksikan berita Gayus atau penangkapan sejumlah anggota parlemen yang dituding menerima suap terkait pemilihan Miranda Goeltom sebagai Deputy Gubernur BI. Kalau begitu dalam bentuk apa pembelaan yang akan diberikan oleh para pendukung ustad Abu? Seperti yang sudah-sudah, dukungan paling banter dilakukan dengan berdemo atau menghadiri persidangan secara rutin. Tidak akan lebih dari itu. Cuma ada tambahannya sekarang yakni pembelaan melalui situs internet. Namun pembelaan di dunia maya itu pun juga bersifat maya, karena pengunjung situs pendukung ustad Abu yang mencapai empat puluhan ribu tersebut belum pernah datang langsung membezuk ustad Abu di tahanan Mabes Polri atau melakukan demo bersama menuntut pembebasan beliau. Lalu ke mana perginya para pengunjung situs tersebut? Beda dengan penggalangan dukungan koin untuk Prita atau sejuta facebooker untuk Bibit-Candra yang real dan berdampak positif bagi terfitnah. Untuk itu perlu terobosan dalam sidang kali ini, yakni sebaiknya ustad Abu bersikap seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang berkata: “Sesungguhnya kami berlepas diri (baro’) dari kamu (Namrud) dan dari apa yang kamu sembah (taati) selain Allah (yakni sistem hukum Namrud), kami ingkari (kekafiran)mu (terhadap hukum Allah) dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS. Mumtahanah: 4). Ustad Abu telah diperlakukan sebagai musuh (Qs.Mumtahanah: 2) oleh para penangkapnya, maka sikap yang sama seharusnya ditunjukkan oleh beliau terhadap mereka, bukan menjadikan mereka sebagai ‘partner’ dalam penegakan hukum thaghut (Qs. Annisa: 60). Soal bentuk perlawanannya tidak harus dengan kekerasan fisik, melainkan tetap mencontoh suri teladan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yakni menolak diadili dengan hukum Namrud dan menolak pembelaan dari Malaikat Jibril, walaupun ancaman hukumnya adalah dipanggang di atas kayu bakar, karena cukuplah baginya Allah sebagai Pelindung (Qs. Al-Hajj: 78).

Jika terpaksa harus diadili juga maka sebaiknya ustad Abu minta diadili dengan hukum Islam melalui Mahkamah Syariah. Apalagi di Indonesia ini banyak sekali ulama yang paham syariat. Mereka bisa dipilih dan diuji kelayakannya (fit and propertest). Kemudian dibentuk lembaga independen mirip KPK atau Mahkamah Konstitusi yang berwenang menyidik dan mengadili para tersangka serta mengeksekusi vonis yang dijatuhkan. Apabila ustad Abu tetap mengikuti sistem hukum yang ada, maka dapat dipastikan beliau akan terjerat pasal-pasal berat yang menggiring beliau pada hukuman yang sangat berat, apalagi menggunakan UU anti Teror yang memang sudah didesain sedemikian rupa untuk menjerat orang-orang seperti beliau. Adapun jika yang mengadili adalah Mahkamah Syariah, maka penulis yakin bahwa apa yang beliau lakukan itu adalah perbuatan mulia yang memang diperintahkan oleh Al-Qur’an: “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka (musuh) kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (QS. Al-Anfal: 60). Pertanyaannya sekarang adalah, apakah ustad Abu mau dan berani mengambil resiko ini? Wallahu a’lam.

Politik Ekonomi 2011 Masih Menindas?
Tuesday, 04 January 2011 14:31 |

Hendri Saparini Ekonom, Deklarator Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Benarkah ekonomi 2011 kembali tidak berpihak pada rakyat bawah? Bila bercermin dari kebijakan tahun 2010, jawabannya sangat mungkin bila pemerintah SBYBoediono tidak melakukan perubahan kebijakan. Tahun lalu indikator ekonomi yang kinclong ternyata bukan pada indikator yang menunjukkan kegiatan ekonomi masyarakat bawah. Indikator keuangan misalnya, tahun 2010 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kenaikan indeks tertinggi di Asia Tenggara. Mampu mencetak rekor baru dengan lonjakan luar biasa dari 2,575 pada awal tahun, menembus 3.700 pada akhir tahun. Indikator keuangan lainnya, seperti cadangan devisa dan nilai tukar rupiah juga menunjukkan peningkatan luar biasa. Gelombang hot money telah menggelembungkan cadangan devisa dari hanya sekitar 51 miliar dollar AS menjadi lebih dari 90 miliar dolar AS pada akhir tahun 2010. Banjir hot money juga telah mendorong penguatan nilai tukar rupiah sebesar 19 persen, merupakan apresiasi tertinggi diantara negara-negara Asia. Sektor riil diabaikan Namun, harus dipahami bahwa angka-angka yang luar biasa tersebut sebenarnya tidak mewakili aktivitas ekonomi masyarakat bawah. Alasannya, pelaku bisnis di sektor keuangan

Written by Shodiq Ramadhan |

didominasi investor asing dan sekelompok kecil pemain domestik. Meskipun indeks harga saham meningkat dan memberikan banyak keuntungan (gain), tetapi yang menikmati keuntungan tentu saja hanya mereka yang terlibat di pasar saham. Sayangnya, hingga hari ini 65% perdagangan saham di BEI dikuasai pemain asing. Sedangkan investor domestik yang ikut terlibat di sektor ini tidak mencapai 400.000 orang atau kurang dari 2% penduduk. Sebaliknya, kebijakan yang sangat berpihak kepada sektor keuangan sehingga indikatorindikator finansial sangat luar biasa tersebut, justru sangat menekan kinerja ekonomi sektor riil. Menguatnya nilai tukar rupiah misalnya, akan melemahkan daya saing ekspor Indonesia karena barang ekspor kita menjadi terlihat mahal di negara importir. Apalagi sebagian besar ekspor Indonesia adalah bahan mentah yang harganya sangat ditentukan oleh pasar dunia. Menguatnya nilai tukar rupiah juga mendorong impor Indonesia. Barang-barang impor menjadi lebih murah bagi konsumen bila nilai tukar mata uang Indonesia menguat. Inilah yang menyebabkan tahun 2010 pertumbuhan impor Indonesia, terutama untuk barang-barang dari China, melaju sangat pesat. Masuknya produk murah ini memang dalam jangka pendek memang menguntungkan konsumen, akan tetapi akan semakin menyulitkan industri dalam negeri untuk bersaing dan bertahan. Dengan alasan menyelamatkan sektor riil inilah, banyak negara terutama Amerika Serikat dan China terus melancarkan perang mata uang. Saling berebut untuk membuat nilai tukarnya lebih lemah dibanding nilai tukar negara mitra dagangnya. Tujuan Amerika dan China dalam perang mata uang tentu saja agar ekspor mereka tidak terganggu dan pasar dalam negeri tidak direbut produk impor. China merupakan salah satu contoh negara yang gigih melakukan perlawanan atas tekanan AS dan negara-negara Eropa yang berkeinginan China mempercepat melakukan penguatan nilai tukar yuan. China melakukan berbagai maneuver untuk menghindari tekanan Barat karena bagi China strategi nilai tukar lemah merupakan benteng untuk mempertahankan daya saing industri pengolahannya. Apreasiasi yuan terhadap dollar AS tentu akan mengerek harga produk China di AS sehingga menekan permintaan terhadap produk ekspor China. Padahal bagi China, industri pengolahan sangat strategis karena menjadi andalan dalam menciptakan lapangan kerja. Menurunnya daya saing industri tentu akan membahayakan stabilitas sosial politik negara dengan penduduk lebih dari 1,3 milyar. Sayangnya pemerintah Indonesia justru memilih kebijakan yang berkebalikan. Meskipun berdampak negatif terhadap sektor riil namun bagi kabinet SBY-Boediono, rupiah yang menguat justru dinilai sebagai keberhasilan. Demikian juga melambungnya IHSG dianggap prestasi, padahal ada ancaman terjadinya gelembung finansial. Suku bunga tinggi dianggap sebuah keharusan agar dana asing masuk dan persediaan devisa untuk impor terpenuhi. Lalu bagaimana kebijakan sektor keuangan tahun 2011? Dipastikan kebijakan keuangan tahun 2010 akan berlanjut dan tidak akan ada perubahan kebijakan yang mendasar. Pemerintah dan Bank Indonesia tidak akan merubah kebijakan untuk mencegah banjirnya dana asing masuk ke Indonesia dengan berbagai kebijakan baik penurunan suku bunga, penerapan pajak, dll. Kebijakan keuangan yang longgar, bahkan cenderung membiarkan dan mendorong masuknya hot money, akan menjadikan Indonesia sebagai surga bagi investasi portfolio dunia. Intervensi dari negara-negara maju maupun lembaga multilateral agar Indonesia tetap mempertahankan kebijakan sektor keuangan yang sangat longgar, tentu akan terus terjadi lewat berbagai cara. Mengapa? Tentu karena Indonesia menjadi semakin penting bagi investor asing. Sebagaimana diketahui sejak awal 2010 banyak negara seperti Thailand, Korea Selatan dan Brasil, telah menerapkan berbagai kontrol devisa untuk membendung masuknya danadana jangka pendek. Pilihan Indonesia yang tidak berani melakukan kontrol devisa sangat disayangkan karena konsekwensinya kepemilikan asing di SUN, SBI dan saham akan terus menggelembung. Bila tahun 2008 total dana asing hanya sebesar Rp 548 triliun, telah menjadi sebesar Rp 1.374 triliun tahun ini dan pada tahun 2011 dipastikan akan jauh jauh lebih besar.

Tambahan lagi, kebijakan suku bunga SBI yang tinggi tentu ada konsekwensi mahalnya ongkos yang harus dibayar. Selain ancaman terjadi pembalikan modal, ongkos juga harus dibayar dengan modal Bank Indonesia yang akan terus tergerus karena harus membayarkan bunga bagi investor asing yang memborong SBI. Di sisi lain, para pengusaha juga harus membayar mahal suku bunga kredit dan harus memberikan keuntungan yang tinggi dari surat utang yang diterbitkannya. Tidak berani berubah Tahun 2011, dunia termasuk juga Indonesia, akan menghadapi krisis pangan dan energi. Perubahan iklim dan bencana akan menurunkan pasok pangan dunia terutama beras dan gandum. Menghadapi krisis tersebut seharusnya pemerintah SBY-Boediono berani melakukan koreksi kebijakan pangan dan energi. Fakta menunjukkan, sejak peran pemerintah dihilangkan sehingga harga pangan ditentukan oleh pasar, masyarakat bawah terus menghadapi beban gejolak kenaikan harga yang tidak sebanding dengan kenaikan pendapatannya. Demikian juga kenaikan harga energi terutama BBM dan juga TDL selama ini terbukti memberikan dampak negatif baik langsung maupun tidak terhadap ekonomi. Sayangnya SBY-Boediono tidak akan berani memerintahkan para menterinya untuk mengoreksi liberalisasi pangan dan pengebirian Bulog yang dilakukan tahun 1998 lewat letter of intent IMF. Bulog memang pernah jadi sumber korupsi, tetapi alasan korupsi untk menghilangkan peran penting pemerintah, termasuk dalam menstabilkan harga pangan adalah kebijakan yang menunjukkan tidak adanya keberpihakan pemerintah kepada rakyat kelompok bawah. Indonesia perlu badan stabilisasi harga pangan yang tidak hanya dikelola dengan bersih dan profesional, tetapi juga memiliki peran besar sebagaimana Bernas di Malaysia. Meski kini sebagain saham Bernas telah menjadi milik publik, tetapi perannya dalam menstabilkan harga pangan dalam negeri masih sangat besar. Belasan komoditas pangan, seperti susu, terigu, gula, dan minyak goreng, bahkan masih dikontrol dengan harga patokan tertinggi. Padahal, kesejahteraan masyarakat di Malaysia jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Sebanyak 62% keluarga di Malaysia memiliki pendapatan minimal lima juta rupiah per bulan. Sangat tidak pantas bila pemerintah memilih menghilangkan peran pemerintah untuk melakukan kontrol terhadap harga pangan, padahal di Indonesia 42% penduduk masih pada level sensisif terhadap kenaikan harga pangan pokok. Sayangnya, sangat sulit berharap SBY-Boediono melakukan perubahan orientasi kebijakan ekonomi agar lebih berpihak kepada masyarakat bawah. Untuk mengatasi krisis pangan, tidak mudah membayangkan SBY-Boediono mengembalikan peran negara dalam stabilisasi pangan dengan mengembalikan peran Bulog dan mewujudkan kedaulatan pangan dengan dukungan perubahan kebijakan komprehensif karena akan ditentang oleh IMF dan Bank Dunia yang pada tahun 1998 mengusulkan pelemahan Bulog. Apalagi untuk mewujudkan kedaulatan dan kemandirian pangan yang berarti SBY-Boediono juga harus memprioritaskan gas alam untuk pabrik pupuk milik negara. Menyediakan pembiayaan yang sesuai karakter pertanian dan menyusun kebijakan yang memberikan peluang pasar bagi produksi pangan dalam negeri. Selain itu, tidak akan mungkin berani mengalokasikan anggaran lebih besar pada APBN untuk menyerap produksi beras dalam negeri karena alokasi anggaran yang besar dinilai tidak menerapkan prinsip disiplin anggaran yang diajarkan dalam konsep Konsensus Washington. Terbukti, ditengah beban masyarakat yang semakin berat kenaikan harga pangan yang cukup tinggi selama tahun 2010, SBY-Boediono justru membiarkan para menterinya melakukan pengurangan subsidi BBM di tahun 2011. Padahal kebijakan tersebut akan beresiko karena belum ada persiapan matang. Penghematan anggaran yang diperoleh dari pengurangan subsidi ini tidak akan sebanding dengan ongkos yang akan ditanggung ekonomi lewat dampaknya terhadap daya beli masyarakat dan daya saing ekonomi.

Apalagi berharap SBY-Boediono melakukan pembatasan terhadap dana asing jangka pendek karena saat kampanye Boediono berjanji kepada investor asing bahwa tidak akan merubah kebijakan dan tidak akan mengganggu kepentingan mereka di sektor keuangan. Jadi jangan berharap tahun ini Boediono akan berubah untuk lebih memprioritaskan pembangunan sektorsektor ekonomi yang menyangkut kehidupan sebagian besar rakyat bawah yakni pertanian, industri dan perdagangan karena memang SBY-Boediono tidak pernah dijanjikan.

• • •

Add New Search RSS

Comments (2)

|2011-01-06 10:38:33 Anonymous

Sistem Jahiliyah yg penuh bug kini sedang men-terminate diri sendiri. Umat yg ada diharap melakukan inisialisasi Sistem Islam sbg pengganti. Jaga Tauhid & sambut INDONESIA GO KHILAFAH "Begin The Revolution with Basmallah"

|2011-01-27 00:57:27 Anonymous

Jurnal yang bagus! Kebetulan jurnal ini menjadi bahan soal kami untuk dianali

PLURALITAS YES! PLURALISME NO!
Wednesday, 15 December 2010 12:12 |

Habib Ketua Umum Rizieq DPP Front Syihab Pembela Islam

Written by Shodiq Ramadhan |

…dalam da'wah penyebaran Islam tidak boleh ada kekerasan, pemaksaan, pemerasan, penipuan, pembohongan, teror dan intimidasi, iming-iming dan bujuk rayu, apalagi cara-cara

keji seperti penculikan, hipnotis dan hamilisasi…. Firman Allah SWT dlm surat Hud ayat 118 :"Wa Lau Syaa-a Robbuka Laja'alan Naasa Ummatan Waahidah Wa Laa Yazaaluuna Mukhtalifiin". (Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka akan senantiasa berbeda). Ini adalah ayat Pluralitas yang menegaskan bahwa kebhinekaan dalam kehidupan umat manusia adalah suatu keniscayaan. Keragaman agama, adat istiadat, ras, suku bangsa dan bahasa merupakan Sunnatullah yang tak bisa dihindarkan. Dalam surat Al-Hujurat ayat 13, dengan tegas Allah SWT menyatakan bahwa penciptaan manusia yang terdiri dari pria dan wanita, serta kemajemukannya sebagai puak dan suku bangsa adalah untuk saling mengenal. Karenanya, Islam tidak pernah melarang umatnya berbuat baik dan bersikap adil kepada sesama umat manusia, apa pun agamanya, selama mereka tidak memerangi Islam dan umatnya, sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8 9. Islam adalah agama dakwah untuk semua umat manusia, sehingga harus disebarluaskan ke seluruh dunia. Namun demikian, Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan beragama. Dalam Islam tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Dengan tegas Allah SWT membuat aturan dalam surat Al-Baqarah ayat 256 bahwa tidak boleh ada seorang pun yang dipaksa untuk memeluk agama Islam. Karenanya, dalam da'wah penyebaran Islam tidak boleh ada kekerasan, pemaksaan, pemerasan, penipuan, pembohongan, teror dan intimidasi, imingiming dan bujuk rayu, apalagi cara-cara keji seperti penculikan, hipnotis dan hamilisasi. Islam adalah agama haq yang datang dari Allah SWT, sehingga harus menjadi pilihan setiap manusia dan wajib diikuti. Allah SWT mewajibkan setiap manusia untuk memilih iman dan menolak kekafiran. Namun demikian, kewajiban bukan paksaan, sehingga setiap orang bebas memilih iman atau kekafiran, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam surat AlKahfi ayat 28. Tentu saja dengan ketentuan, barangsiapa yang telah memilih iman, maka tidak ada jalan lagi baginya untuk melepaskannya. Itulah karenanya, Islam tidak mentoleransi murtad dan pemurtadan dari ajaran Islam. Mereka yang memilih iman berarti benar dan menang, sedang mereka yang memilih kekafiran berarti salah dan kalah. Islam adalah agama kebebasan yang hakiki. Dalam ajaran Islam, setiap orang bebas untuk meyakini kebenaran agamanya, sebagaimana ia bebas pula untuk menolak kebenaran agama lain yang tidak diyakininya. Islam melarang umatnya untuk memaksa penganut suatu agama untuk mengakui kebenaran agama lain yang tidak dianutnya. Namun demikian, tidak boleh menghina, mencerca dan mencaci-maki agama lain yang tidak diyakininya tersebut. Islam menolak segala bentuk penistaan, penodaan dan pelecehan suatu agama, apa pun agama tersebut. Allah SWT melarang keras umat Islam menghina atau mencerca agama lain beserta sesembahannya, sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-An'am ayat 108. Rasulullah SAW dan Pluralitas

Tuntunan Qur'ani tentang pluralitas sangat indah dan menakjubkan. Inilah yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya. Hubungan Nabi SAW dengan orang-orang di luar Islam sudah terjalin sejak lama. Pada awal beliau mendapat risalah, beliau sudah berkomunikasi dengan Waroqoh bin Naufal, seorang Pendeta Nashrani di Mekkah. Saat para shahabat mendapat tekanan keras dari kalangan Kafir Quraisy, Nabi SAW tidak sungkan mengirim mereka mendapatkan suaka dari seorang Raja Nashrani di Habasyah (Ethiopia). Dan beliau sendiri mendapat suaka dari seorang pemuka Kafir Musyrik Quraisy, Muth'i'm bin 'Adi, untuk masuk kembali ke kota Mekkah tatkala ditolak di Thaif. Dan saat beliau di Madinah, beliau sering berdialog dengan para pemuka Yahudi. Selain itu, dalam rangka menjaga hubungan antar umat beragama di Madinah, Nabi SAW pun membuat Piagam Madinah, yaitu suatu piagam yang berisikan nilai, norma, hukum dan aturan hidup dalam kebhinekaan dan kemajemukan masyarakat Madinah kala itu. Di Mekkah mau pun Madinah, Nabi SAW sudah terbiasa bermu'amalah dengan orang-orang di luar Islam. Bahkan suatu ketika Nabi SAW pernah bersabda : "Man Adzaa Dzimmiyyan Fa Ana Khoshmuhu, Khoosamtuhu Yaumal Qiyaamah" (Barangsiapa yg menyakiti / mengganggu Kafir Dzimmi, maka aku jadi musuhnya, niscaya aku musuhi dia di Hari Qiyamat). Subhanallah! Luar

Biasa! Seorang Nabi mengancam untuk memusuhi umatnya sendiri jika mengganggu umat agama lain tanpa haq! Ini merupakan puncak penghargaan Nabi SAW terhadap pluralitas. Jadi, soal penghargaan terhadap Pluralitas, Islam telah mendahului ajaran semua agama, sehingga umat Islam pun telah mendahului etika semua umat beragama di dunia. Pluralisme dan Multikulturalisme

Lain pluralitas, lain lagi pluralisme. Islam menerima pluralitas dengan segala keindahannya, tapi menolak keras pluralisme dengan segala kerusakannya. Pluralisme adalah suatu ajaran pemikiran yang meyakini bahwa semua agama sama, dan semuanya benar. Pluralisme menganut paham relativisme, sehingga menolak adanya kebenaran mutlak dalam keyakinan beragama. Pluralisme melarang penganut suatu agama mengklaim hanya agamanya yang benar. Pluralisme memaksa setiap penganut suatu agama untuk mengakui kebenaran agama lain yang tidak dianutnya. Bagi pluralisme, sempalan dalam suatu agama yang menistakan dan menodai agama tersebut sekali pun, tetap harus dikategorikan sebagai bagian dari kebebasan beragama. Jadi, pluralisme tidak lain dan tidak bukan hanya merupakan madzhab pembenaran semua agama dan pembenaran semua penyimpangan agama, serta pemerkosaan terhadap kebebasan umat manusia dalam membenarkan agamanya dan dalam menolak kebenaran agama lain yang tidak diyakininya. Ironisnya, pluralisme merusak agama dengan mengatasnamakan agama. Fakta membuktikan bahwa kaum pluralisme merupakan kelompok anarkis pemikiran yang selalu memaksakan pendapat dan kehendak. Jika ada kelompok lain yang tidak sependapat dengan mereka, maka akan mereka beri label, seperti : Preman Berjubah, Jama'ah Anarkis, Radikal Agama, Teroris Islam, Bahaya Latin Kanan, Fundamentalis Transnasional, Islam Kolot, Islam Puritan, dan sebagainya... Kini, setelah Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) sesat dan menyesatkan, maka kaum pluralisme berkamuflase dengan mengganti nama menjadi Multikulturalisme. Nama terdengar beda, tapi ternyata isinya sama. Bungkusan yang menarik, ibarat "kornet Babi cap Onta". Bungkusnya bagus menawan, isinya racun mematikan. Apa pun namanya, aliran pembenaran semua agama dan semua penyimpangan agama, merupakan aliran sesat yang harus diberantas hingga ke akar-akarnya. Indonesia dan Pluralitas

Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara Indonesia menjadi bukti bahwa negeri ini sangat menghargai pluralitas. Namun sayang, pengelola negeri ini tidak mampu membedakan antara pluralitas dan pluralisme, sehingga terbawa arus pencampur-adukkan aqidah dan pembenaran terhadap berbagai penyimpangan agama. Bukti pencampur-adukkan aqidah yang dilakukan negara adalah masih digelarnya Natal Bersama di berbagai instansi pemerintah, padahal MUI telah memfatwakan haram sejak tahun 1981. Sedang bukti pembenaran penyimpangan agama oleh negara adalah masih keras kepalanya Presiden RI untuk tidak menerbitkan Keppres Pembubaran Ahmadiyah, padahal MUI telah memfatwakan sesat menyesatkan sejak tahun 1980 yang kemudian dipertegas dengan fatwa tahun 2005, dan Bakorpakem telah merekomendasikan pembubarannya sejak 2005 yang kemudian dipertegas pada tahun 2008. Kebebasan beragama di Indonesia dijamin oleh UUD 1945 pasal 29 ayat 2. Dan agar supaya tiap-tiap umat beragama tidak menafsirkan sendiri-sendiri tentang kebebasan beragama yang dimaksud, maka telah dibuat berbagai perundang-undangan yang mengatur harmonisasi hubungan antar umat beragama. Misalnya, SKB tentang pendirian rumah ibadah dibuat agar tidak ada umat suatu agama seenak dan semaunya mendirikan rumah ibadah di wilayah pemukiman umat agama lain. Misal lain, UU Diknas yang mewajibkan sekolah umum disemua tingkatan untuk menyediakan guru pelajaran agama yang seagama dengan peserta didik, sehingga tidak ada peserta didik yang dipaksa untuk belajar agama yang tidak dianutnya.

Sedang penodaan agama di Indonesia dilarang oleh UU Penodaan Agama yang tertuang dalam Perpres No. 1 / PNPS / 1965 yang kemudian diundangkan oleh UU. No. 5 Th. 1969, dan KUHP pasal 156a. UU Penodaan agama ini berlaku untuk semua agama, sehingga tidak boleh ada umat agama apa pun yang menodai agama yang mana pun. Semua perundang-undangan tersebut sudah lumayan bagus, tapi masih saja ada pihak yang gemar melanggarnya, seperti bermunculan rumah-rumah ibadah liar suatu umat agama tertentu di wilayah pemukiman umat agama lain, atau peserta didik suatu sekolah umum dipaksa untuk belajar agama lain, atau aliran-aliran sesat yang tumbuh bak cendawan di musim hujan, sehingga menimbulkan keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat, bahkan tidak sedikit yang memicu konflik. Di Sampit, Ambon dan Poso misalnya, pada mulanya murni merupakan persoalan kriminal kemaksiatan, seperti minuman keras dan premanisme, lalu ditunggangi kepentingan politik yang juga memanfaatkan kesenjangan sosial ekonomi yang ada, kemudian akhirnya mengkristal menjadi konflik agama. Karenanya, semua pihak harus tunduk kepada hukum dan perundang-undangan yang mengatur hubungan antar umat beragama di Indonesia, agar kebhinekaan, keragaman dan kemajemukan menjadi indah tak ternodai. Pluralitas dan Pluralisme

Setelah uraian di atas, maka jelas sudah perbedaan antara Pluralitas dan Pluralisme. Ini memang hanya sebuah istilah, tapi istilah justru merupakan pintu masuk terminologi yang memfokuskan makna dan tujuan dari istilah itu sendiri. Karenanya, umat Islam harus waspada dan ekstra hati-hati dengan penggunaan istilah, karena ini merupakan bagian dari medan perang terminologi antara Islam dan Barat yang akan berimbas kepada peradaban. Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa pluralitas adalah suatu kebhinnekaan, keragaman dan kemajemukan, sedang pluralisme adalah suatu pemaksaan kehendak dan pencampur-adukkan aqidah. Pluralitas adalah suatu kebebasan, keindahan dan keniscayaan, sedang pluralisme adalah suatu kejahatan, pengkhianatan dan kesesatan. Akhirnya, penulis menegaskan : Pluralitas Yes! Pluralisme No! Allahu Akbar !!!

Comments (12)

|2010-12-15 12:44:17 hamba Allah - setuju

saya sangat setuju, memang saat ini orang2 telah diracuni, sehingga tidak bisa membedakan pluralitas dengan pluralisme, padahal itu adalah hal yang sangat berbeda..
o o

0 1

Quote

|2010-12-16 04:46:47 hamba ALLAH SWT

saya juga setuju,karena pluralisme hanya akan mengacaukan dan merusak aqidah umat Islam, penting bwt qt smua umat Islam tuk mengerti perbedaan istilah pluralisme dan pluralitas spy qt tdk terjebak or terperangkap ke dlm hasutan dan ajakan yg menyesatkan dgn bungkus "keberagaman", smuga ALLAH SWT senantiasa melindungi dan menunjukan kebenaranNYA atas umatNYA, amin.
o o

2 0

Quote

|2010-12-16 08:36:18 budiman

"penyebaran Islam tidak boleh ada kekerasan, pemaksaan, pemerasan, penipuan, pembohongan, teror dan intimidasi, iming-iming dan bujuk rayu, apalagi cara-cara keji seperti penculikan, hipnotis dan hamilisasi". Saya ingin tahu sikap Habib & FPI : Pertama,Jika ada orang yg mengaku Islam tapi melakukan tindakan tidak terpuji seperti diatas. Seperti nasib TKW Indonesia yg dianiaya (disiksa,diperkosa,dihamili) di negara negara Arab yg notabene negara muslim. Kedua, Apa yg telah dilakukan Habib & FPI utk menolong TKW Indonesia yg dianiaya di negara negara Arab. Ketiga, Jika FPI membela Islam, mengapa bertahun tahun sampai sekarang mendiamkan pusat DVD/VCD porno di Glodok.
o o

2 2

Quote

|2010-12-18 11:58:51 hamba ALLAH - @ budiman

1. itu Islam KTP mas.. lantas apakah disebut agama kasih, jika penyebaran agama melalui penjajahan seperti yang dilakukan oleh para penjajah Indonesia dengan membawa misi GOLD GLORY, GOSPEL?? 2. apa yang dilakukan oleh pemerintah (sebagai penanggung jawab utama) terhadap TKW yang mendapat siksa diluar negara2 Islam & sekuler??
o o

1 3

Quote
• |2010-12-21

14:50:01 budiman - Jawabannya tidak nyambung !

Maaf jawaban sdr hamba Allah tidak nyambung ya. Apa yg saya tanyakan malah jawabannya lari dari topik. Apakah ada yg bisa menjelaskan pertanyaan saya ?
o o

1 1

Quote

|2010-12-31 23:20:14 boris - itu semua sudah dilakukan bos

jawaban pertama: sudah jelas, sikap habib dan fpi tentang masalah ini,ialah beliau dan fpi pernah menyatakan di surat terbuka fpi dan anda bisa baca disini Jawaban kedua: anda juga bisa membacanya disini Jawaban ketiga: lagi-lagi hal itu sudah dilakukan juga bos, tetapi masalahnya hukum di Indonesia ini tidak tegas, pilih kasih. Mao sehebat apapun pemberantasan yang dilakukan FPI jika hukum di Indonesia ini tidak tegas ya percuma, yang terpenting Umat islam ataupun organisasi islam seperti FPi sudah melakukan kewajibannya yaitu dengan hadis di bawah ini: Abu Sa’id Al-Khudri r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Barang siapa diantaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya. Dan jika

tak sanggup juga, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” ~ H.R. Muslim Jadi kesimpulannya adalah, jika anda memang beragama islam marilah kita dukung apa-apa yan...
o o

1 1

Quote

|2011-01-01 16:16:18 BORIS - itu semua sudah dilakukan bos

[quote=boris]jawaban pertama: sudah jelas, sikap habib dan fpi tentang masalah ini,ialah beliau dan fpi pernah menyatakan di surat terbuka fpi dan anda bisa baca di; http://www.suara-islam.com/news/berita/nasional/1455-surat-terbuka-fpi -tentangpenyiksaan-tki-di-arab-saudi Jawaban kedua: anda juga bisa membacanya di http://kabarnet.wordpress.com/2010/11/23/fpi-kirim-tim-investigasi-ke- saudi-arabiaterkait-penyiksaan-tkw/ Jawaban ketiga: lagi-lagi hal itu sudah dilakukan juga bos, tetapi masalahnya hukum di Indonesia ini tidak tegas, pilih kasih. Mao sehebat apapun pemberantasan yang dilakukan FPI jika hukum di Indonesia ini tidak tegas ya percuma, yang terpenting Umat islam ataupun organisasi islam seperti FPi sudah melakukan kewajibannya yaitu dengan hadis di bawah ini: Abu Sa’id Al-Khudri r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Barang siapa diantaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tak sanggup, ma...
o o

0 1

Quote

|2010-12-18 12:02:02 hamba ALLAH - lanjutan

3. FPI sebagai pembela Islam, paling penting adalah meluruskan aqidah ummat, seperti yang dilakukan kepada ahmadiyah, lantas apa tanggapan masyarakat, serta orang2 kafir?? NEGATIF, itu karena masyarakat & orang2 kafir tidak tau & TIDAK MAU TAU apa yang dilakukan FPI sebelum melakukan "aksi"

untuk itu, sebelum menilai sesuatu, pelajarilah dengan detil.. pelajarilah FPI dengan detil sebelum menilai
o o

1 3

Quote

|2010-12-19 15:47:41 Endang_Lio Depok - Semoga Semangat habib Rizieg menular ke tokoh2 Isl

Luar Biasa deskripsi habib Rizieg tentang prularitas dan pluralisme, memang, da'i itu tidak hanya mampu dan berani untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, tetapi juga harus cerdas dan pintar dalam membaca indikator dan signal kerusakan ummat, baik physik maupun mental, habib Rizieg terkadang keras dalam setiap pidato dan ceramahnya, tapi tidak jarang juga beliau sangat lembut dan sangat menyentuh kalbu dalam setiap dakwahnya, beliau garang diatas mimbar tetapi juga cerdasdalam mengupas persoalan, semoga Allah selalu memberi perlindungan kepada beliau dan menjadikan semangat juang membela agama yang beliau miliki sebagai support signifikan untuk para tokoh islam yang lain, terus berjuang.. dan jangan pernah bosan dan lelah Allahu Akbar....
o o

3 1

Quote

|2010-12-23 10:25:33 Abu Lazuardi

Alhamdulillah, ana sangat setuju uraian habib tersebut dan menambah perbendahaan ilmu ana insya Allah. kepada semua yang membaca artikel ini terutama muslimin muslimat camkanlah supaya kita bisa melkukan embelaan atas akidah kita dari serangan kaum sepilis dan jaringan iblis laknatullah (JIL)
o o

2 0

Quote

|2011-02-22 23:01:02 Kamaluddin

saya sebagai seorang sangat mendukung apa yang telah di lakukan/aksi oleh fpi,karena sangat banyak pernyataan/aksi/tindakan yang menyudutkan/deskmns islam yang mengatasnamakan ham,dalam sepengetahuan saya bahwa dalam hak manusia itu selalu berimbang dan tidak ada deskmnsi
o o

2 0

Quote

|2011-02-22 23:02:14 Kamaluddin

semoga Allah SWT selalu memberkati setiap detik perjuangan kita amin

Minoritas Mengendalikan Negara, Mayoritas Ditindas
Friday, 18 March 2011 14:56 |
• •
Munarman, SH Direktur An Nashr Institute Meski penduduk Indonesia mayoritas mutlak umat Islam (88 persen), namun sesungguhnya yang berkuasa adalah kelompok minoritas, apakah itu etnis China (ekonomi), Kristen dan Katolik (politik dan media massa) atau pro Ahmadiyah (agama). Terbukti secara ekonomi, kondisi umat Islam masih bergelut dengan kemiskinan sementara etnis China yang hanya 3 persen menikmati keuntungan kue ekonomi sejak era Orbe Baru. Sementara kelompok Kristen dan Katolik menguasai panggung politik nasional dan media massa termasuk televisi hingga sekarang. Meski sudah sejak lama umat Islam menuntut pemerintah agar membubarkan aliran sesat Ahmadiyah, namun hingga sekarang pemerintahan Presiden SBY masih terus melindungi Ahmadiyah bahkan mengancam akan membubarkan ormas-ormas Islam yang menolak eksistensi Ahmadiyah di Indonesia. Hal ini menunjukkan di dalam lingkaran dalam pemerintahan Presiden SBY, terdapat anasir-anasir pendukung Ahmadiyah, sehingga Ahmadiyah tetap eksis hingga sekarang. Hal ini menunjukkan kelompok minoritas mengendalikan negara sedangkan mayoritas umat Islam justru ditindas. Berikut ini wawancara Suara Islam (SI) dengan Direktur An Nashr Institute dan Ketua Tim Advokasi FUI, Munarman SH, seputar kebijakan pemerintahan Presiden SBY terhadap umat Islam termasuk desakan untuk membubarkan Ahmadiyah yang hingga sekarang belum dikeluarkan Keppres. SI: Dalam sebuah makalahnya Rizal Ramli mengatakan secara obyektif sebenarnya kondisi Indonesia sudah matang untuk terjadinya perubahan (dalam arti penggantian sistem dan orang). Bagaimana pendapat anda ?

Written by Shodiq Ramadhan |

Munarman: Kondisi obyektif memang sejak lama sesungguhnya telah tersedia. Apa yang disebutkan oleh DR. Rizal tersebut, jauh-jauh hari, bahkan sudah sejak awal tahun 90-an sudah diungkap oleh beliau, yaitu berupa ketimpangan struktur ekonomi Indonesia, dimana segelintir kaum minoritas menguasai porsi dan kue ekonomi yang besar. Begitu juga di struktur politik, segelintir minoritas memiliki akses yang sangat luas terhadap kekuasaan. Mereka begitu leluasanya mengatur dan mengendalikan arah kebijakan Negara sesuai dengan kemauan mereka. Bahkan dalam sebuah acara Rapat kenegaraan di Bali beberapa waktu yang lalu, yang dipimpin langsung oleh Presiden dan dihadiri oleh semua Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota, ada seorang pengusaha dari kalangan minoritas, yang menjadi narasumber untuk mengarahkan arah kebijakan ekonomi Negara, sementara Menteri Keuangan saat itu hanya sebagai moderator. Kita bisa bayangkan, bagaimana kendali si pengusaha minoritas ini terhadap kebijakan ekonomi Negara ini. Sudah pasti dia akan mengarahkan kepada bisnis yang menguntungkan dirinya dan kelompoknya semata. SI: Korupsi merajalela dan lebih terbuka dan meluas dibanding zaman Orde Baru, mayoritas rakyat hidup miskin, keamanan memprihatinkan, di mana-mana rakyat tawuran termasuk karena faktor agama, seperti kasus Ahmadiyah. Juga kasus Ciketing yang disebabkan Kristenisasi yang agresif (lihat laporan International Crisis Group). Menurut Anda, adakah alternatif yang bisa ditempuh sebagai jalan keluar dari semua ini ? Bila tidak, apa yang harus dilakukan ? Munarman: Contoh-contoh yang anda sebutkan mengenai kondisi yang tengah terjadi di masyarakat kita ini adalah manifestasi dari ketimpangan ekonomi, ketimpangan politik dan ketimpangan sosial. Coba bayangkan, kelompok minoritas yang yang ada di Indonesia sekarang ini begitu leluasanya mengendalikan opini publik dengan menjadikan Islam dan Umat Islam sebagai “trouble maker”, padahal mereka semaumaunya melampiaskan hawa nafsu mereka dalam bidang ekonomi, politik, agama, dan informasi. Ini dalam jangka panjang tentu saja akan melahirkan rasa ketidak-adilan yang meluas. Terkait masalah solusi, menurut saya bukan sebagai alternatif, tapi sebagai suatu keharusan untuk memperbaiki kondisi masyarakat ini dengan jalan Islam. Dimana Islam tidak saja sekedar dijadikan ritual ibadah, akan tetapi, Islam harus menjadi jalan hidup untuk menyelesaikan masalah ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dan ini sekali lagi, bukan merupakan alternatif atau pilihan, tapi adalah sebuah kewajiban bagi seluruh umat Islam untuk mewujudkannya. SI: Mantan Wakasad Kiki Syahnakri dalam artikelnya di Kompas belum lama ini mensinyalir perubahan terhadap UUD 1945 yang kebablasan, menyebabkan kita kehilangan jatidiri, bebas tanpa kendali, menyebabkan terjadinya semua ini. Bagaimana menurut anda ? Munarman: Konstitusi merupakan instrumen bagi kelompok minoritas untuk bisa mengendalikan dan menguasai negara ini. Kalau kita lihat sejarah di benua Eropa, revolusi Perancis adalah hasil “provokasi” kelompok minoritas, para pedagang yang merupakan bani Israil, yang merupakan minoritas di Perancis, berhasil memprovokasi rakyat Perancis, yang sebagian besar petani pada waktu itu, karena bani Israil ini dalam struktur sosial masyarakat perancis pada waktu itu adalah warga kelas empat, lapisan pertama adalah keluarga kerajaan dan para bangsawan, lapisan kedua kaum rohaniawan kristen, lapisan ketiga adalah para petani yang merupakan mayoritas, baru lapisan ke-empat adalah orang-orang yahudi yang profesinya pedagang. Para pedagang ini tidak memiliki akses terhadap kekuasaan dan mereka tidak bisa memiliki properti berupa tanah untuk diolah sebagai ladang pertanian karena mereka adalah pendatang. Jadi orang-orang yahudi ini merasa ruang gerak mereka dibatasi, lalu dengan memanfaatkan para petani, kaum Yahudi ini meneriakkan slogan Liberte, egalite dan fraternite (kebebasan, persamaan dan persaudaraan). Maka lahirlah pemberontakan petani Perancis yang kita kenal kemudian dengan revolusi perancis, yang berakhir dengan dipancungnya kepala raja louis XVI. Setelah revolusi berakhir, kaum pedagang yang terdiri dari orang-orang yahudi, yang tadinya tidak memiliki akses terhadap kekuasaan dan secara ekonomi dibatasi propertinya, berhasil membangun sebuah konstruksi sosial, ekonomi dan politik yang baru. Dan akhirnya

menjadikan kaum pedagang yang terdiri dari orang-orang Yahudi, menjadi sebagai penguasa baru dengan sistem kapitalisme. Dan kita lihat saat ini, di Perancis, Presiden Perancis saat ini Sarkozi, adalah keturunan Yahudi. Kondisi seperti inilah yang terjadi dengan Indonesia, dimana segelintir kaum minoritas yang tersingkir dari kekuasaan dan panggung politik rezim Orde baru Soeharto, menunggangi kemarahan rakyat yang merasa diperlakukan tidak adil. Padahal hakekatnya ketidakadilan itu dihasilkan oleh kaum minoritas juga, yang pada masa awal Orde baru dan masa jayanya Orde Baru justru adalah kelompok yang sangat menikmati kondisi dan penyebab ketidakadilan itu sendiri. Hanya karena di penghujung Orde Baru saja mereka mulai tersingkir dari panggung kekuasaan Orde Baru, maka mereka mulai meneriakkan ketidakadilan, padahal mereka sendiri penyebab ketidakadilan tersebut. Setelah rezim Soeharto tumbang, mereka sudah siapkan konstitusi baru yang menjamin kemapanan mereka dibidang ekonomi, dan bahkan kemudian mereka berhasil menyusun konstruksi politik melalui konstitusi baru tersebut yang menjamin kontrol mereka atas kekuasaan. Inilah sesunghunya yang terjadi pada kita sekarang ini. Konstitusi yang menjamin kontrol minoritas atas mayoritas dengan menggunakan issue demokrasi dan HAM. SI: Sekarang sedang terjadi revolusi di negara-negara berpenduduk Muslim di Afrika Utara dan Timur Tengah, seperti Mesir, Tunisia, Libya, Yaman, Yordania, Bahrain, Kuwait dan lain-lain. Adapun ciri-ciri negara-negara itu adalah menindas demokrasi, terutama menindas gerakan Islam di negerinya karena pertemanan dengan Israel, dan menjadi antek Amerika Serikat. Sedangkan Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, tapi aspirasi mayoritas dilecehkan seperti kasus Ahmadiyah. Pemerintah lebih mendengar dan patuh kepada suara LSM yang sangat minoritas karena merupakan perwakilan dari penindas Zionis Amerika Serikat dan Israel. Apakah revolusi akan sampai ke sini ? Kapankah itu terjadi ? Munarman: Ada persamaan dan perbedaan mendasar antara kondisi Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah. Persamaannya memang dari segi penindasan oleh minoritas terhadap mayoritas. Namun perbedan mendasar adalah pada tujuan, pergolakan di negara-negara Timur Tengah saat ini, adalah bertujuan untuk meraih demokrasi, sementara di Indonesia, justru banyak pihak saat ini tidak menginginkan demokrasi seperti saat ini yang terjadi di Indonesia. Terutama umat Islam, di Indonesia justru umat Islam menginginkan diterapkannya sistem kehidupan Islam dalam mengelola negara. Jadi justru Indonesia akan mendahului perubahan menuju kepada sistem Islam. SI: Amerika Serikat dan Barat sudah terbukti hipokrit. Dalam kasus Ahmadiyah mereka menekan kita dengan isu kebebasan beragama. Padahal di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa tak ada kebebasan untuk orang Islam membangun rumah ibadah. Contoh konkret kasus pembangunan masjid di Ground Zero. Pembakaran dan pengrusakan masjid dan Islamic center di beberapa negara bagian AS, Jerman, Perancis dan Belanda. Di Jerman dan Inggris pemerintahnya mengatakan sistem multikulturisme sudah gagal. Artinya, tak ada tempat untuk Islam di sana. Bagaimana komentar anda ? Munarman: Yang dimaksud oleh Negara-negara barat tentang kebebasan beragama itu adalah kebebasan bagi orang-orang kafir untuk mengacak-acak Islam, kebebasan untuk menghina Islam dan kebebasan untuk membatasi perkembangan Islam. Lihatlah melalui contoh-contoh yang perlu ditambahkan dari apa yang anda tanyakan, pelarangan menggunakan cadar oleh negara-negara Eropa, pelarangan mendirikan menara Masjid di Swiis, pembatasan angka kelahiran muslim di Eropa dan bahkan demo yang mengusung issu untuk ditegakkannya syariat Islam di Eropa dan Amerika, dilarang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah di sana. Jadi sesungguhnya yang terjadi adalah mereka menempatkan islam sebagai mahasiswa pelonco yang selalu salah. Mereka berkeinginan membentuk Islam sesuai dengan apa yang mereka kehendaki.

SI: Apakah isu Ahmadiyah bisa menjadi pemicu untuk sebuah revolusi rakyat untuk mengganti rezim SBY dengan Pemerintahan Islam ? Munarman: Seharusnya masalah Ahmadiyah ini menjadi pemersatu umat Islam dalam menilai rezim yang berkuasa saat ini. Artinya, umat Islam tidak perlu ragu lagi, dalam memberikan penilaian bahwa pimpinan rezim saat ini, justru berpihak kepada kaum minoritas, dan menjadi representasi dari kekuatan jaringan Zionis Internasional. Lihat saja, ada rombongan kongres Amerika Serikat yang datang, khusus untuk melobby Presiden agar tidak membubarkan Ahmadiyah. Padahal kita ketahui bersama, bahwa di mata diplomat Amerika, SBY itu dilaporkan telah menyalahgunakan kekuasaan, dengan memata-matai lawan politiknya dan juga melindungi para koruptor. Dan laporan itu justru informasinya diberikan oleh lingkaran dalam SBY, yang juga adalah kaum minoritas di negeri ini. Jadi rezim ini sebetulnya tidak disukai oleh dunia barat dan kaum minoritas, sekaligus juga menindas umat Islam. Jadi ini rezim yang sangat lemah sesungguhnya. Hanya saja tokoh-tokoh dan pimpinan Umat Islam tidak bisa membaca tanda-tanda zaman. SI: Kalau SBY ternyata bersedia membubarkan Ahmadiyah, apakah nanti demo terhadap rezimnya segera berakhir?. Apakah tidak perlu diangkat isu lainnya sehingga demo berlajut hingga SBY jatuh dari kekuasaannya ? Munarman: Menurut perhitungan saya, SBY nggak akan berani membubarkan Ahmadiyah melalui Keppres, karena terlalu takut dengan negara-negara kafir barat. Jadi kita tak usah berandai-andai bahwa SBY akan membubarkan Ahmadiyah. SI: Seberapa kuatkah pengaruh barat terutama AS dan Inggris terhadap Presiden SBY, sehingga rasanya begitu berat untuk membubarkan Ahmadiyah ? Munarman: SBY ini seperti kebanyaka orang Indonesia lainnya, yang begitu terkagum-kagum dengan barat, sehingga menjadi pengikut setia barat dan terobsesi untuk menjadi bagian dari masyarakat barat. Padahal orang-orang barat sendiri, selalu bersikap merendahkan terhadap orang-orang dari under development country seperti Indonesia ini. Jadi karena kebodohan mereka sendiri lah yang mengakibatkan mereka, orang-orang seperti SBY ini, mau menjadi kaki tangan barat. SI: Kalau Mesir perlu 300 orang syahid dan 18 hari pergolakan sebelum Mubarak tumbang, sedangkan Tunisia perlu 68 orang syahid dan 11 hari pergolakan sebelum Ben Ali kabur. Kalau di Indonesia, menurut prediksi anda kira-kira perlu berapa orang syahid dan berapa hari pergolakan sehingga SBY tumbang dari kekuasaannya ? Munarman: Wah, susah untuk memprediksi dari segi jumlah martir ya…. Namun dari segi waktu, bila kita belajar dari pengalaman tahun 98, lebih kurang 2 bulan terus menerus, setiap hari, aksi dilakukan, dan pendudukan gedung DPR/MPR, yang akhirnya Soeharto menyatakan mundur. SI: Kalau SBY sampai jatuh dari kekuasaannya dan Indonesia menjadi Negara Islam. kira-kira model Pemerintahan Islam mana yang akan dipakai nantinya, apakah Iran dengan sistim Wilayatul Faqihnya, Arab Saudi dengan sistim Kerajaannya ataukah model Pemerintahan Emirat Islam Afghanistan pada era Taliban ? Munarman: Kalau bicara sistem pemerintahan maka yang perlu di contoh itu adalah pemerintahan ala minhaji nubuwah, yang menerapkan Islam dalam segala aspek kehidupan. SI: Jika tuntutan umat Islam untuk membubarkan Ahmadiyah tidak dipenuhi dan gagal menjatuhkan rezim, apakah Presiden SBY akan mengadakan gerakan sapu bersih untuk memberangus lawan-lawan politiknya seperti pernah terjadi di Mesir era Presiden Anwar Sadat ?

Munarman: Itu hanya bayangan ketakutan diri sendiri saja. Lebih baik kita tidak usah membayangkan hal-hal yang akan menularkan ketakutan diri sendiri kepada orang lain. SI: Bagaimana nasehat anda kepada Presiden SBY mengenai tuntutan umat Islam untuk membubarkan Ahmadiyah sehingga revolusi Mesir tidak perlu berpindah ke Indonesia ? Munarman: Sekali lagi perlu saya tegaskan, bukan revolusi Mesir yang berpindah ke Indonesia, justru kita akan memulai revolusi untuk menerapkan syariat Islam. Contoh dari Mesir dan Tunisia itu adalah sekedar untuk mengingatkan kita semua, bahwa penguasa yang sangat kuat pun apabila dikehendaki Allah dicabut kekuasaannya, maka dalam sekejab akan tumbang mereka itu dari kekuasaan. Jadi ini yang mesti kita jadikan pelajaran dari Mesir dan Tunisia. Sementara agenda perubahannya adalah penerapan Syariat Islam, walaupun banyak pihak yang menolak Syariat Islam ini. (Tim Suara Islam)

Comments (5)

|2011-03-18 15:54:02 Abdul mutholib - Hidup syariat Islam

Bismillah.kita sebagai umat mayoritas hendaknya tidak boleh diam diri terhadap perkembangan pemerintah sekarang ini yang sudah menjauh dari ajaran islam , untuk itu mari kita rapatkan barisan menuju kepada syariat islam yang denganya segala permasalahan baik politik, ekonomi, hukum bahkan masalah apapun yang di hadapi manusia dan lingkunganya dapat di selesaikan .
o o

0 0

Quote

|2011-03-21 15:29:26 Jundullah - Demokrasi anti Islam

Inilah buktinya demokrasi anti Islam, kalo memang demokrasi menghormati suara mayoritas kenapa suara umat islam yg mayoritas gak pernah menang, Demokrasi hanyalah alat untuk menjajah lihat HAMAS menang mutlak, FIS di Aljazair, dulu masyumi semua dikabiri karena gak pro penjajah
o o

0 0

Quote

|2011-03-26 19:09:58 Anonymous - Tegakkan kalimah Alloh SWT

66 tahun umat Islam indonesia di bawah Undang-undang Jahiliyah yang gagal mensejahterakan masyarakat Indonesia, tapi berhasil mensejahterakan para koruptor, berhasil menjadi negara eksportir TKW, berhasil menjadi negara yang mudah dihina sekalipun oleh negara sekecil Singapura, dsb.dsb. Sudah saatnya Kalimat Alloh SWT ditegakkan, sebab Dialah Pemilik negara ini, Dia yang menciptakannya, dan Dia pula yang paling berhak mengatur negara ini.

|2011-03-27 02:46:33 anonymous

Benar. Sangat sedikit manusia sadar yang tidak teriluminasi dapat melihat bahwa sesungguhnya Indonesia sudah termasuk Negara Katholik.

|2011-03-28 10:55:44 Muslim - Masyarakat Dibuat Bodoh

Benar. Bahkan utk membohongi masyarakat, mrk dibikin bodoh. Ada rencana pelajaran Geografi malah mau dihapus dari sekolah2. Shg ke depan generasi muda kita nantinya semakin tdk tahu kekayaan alam kita. Tujuannya jelas, supaya kekayaan alam Indonesia mudah dirampok oleh pejabat2 yg makin rusak moralnya dan dijarah habis2an oleh investor asing. Wallahu'alam.

Jangan Memonopoli dan Melanggengkan Kekuasaan
Tuesday, 01 February 2011 17:31 |

Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA. (Ketua Umum PP Muhammadiyah) Seorang pemimpin harus memiliki sifat jujur, adil dan amanah. Bagaimana jadinya sebuah negara besar yang dipimpin orang yang tidak memiliki ketiga sifat tersebut, maka negara akan dipenuhi para koruptor, pembohong, penipu dan pencuri. Akhirnya rakyatlah yang menjadi korban akibat dipimpin pemimpin yang memiliki akhlak dan moral buruk. Maka tidaklah mengherankan jika Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyerukan agar pemerintah tidak terus melakukan kebohongan publik yang sistematis kepada rakyat Indonesia. Sebab selama ini membohongi rakyat sudah dianggap sebagai rutinitas sehari-hari bahkan kebanggaan tersendiri. Berikut ini wawancara Suara Islam dengan Din Syamsuddin seputar banyaknya kebohongan

Written by Shodiq Ramadhan |

yang dilakukan rezim SBY selama tujuh tahun kekuasaannya ini. SUARA ISLAM: Presiden SBY selalu mengatakan dirinya tidak berbohong, bagaimana tanggapan Anda? Din Syamsuddin: Tidak apa-apa, kita serahkan kepada Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada rakyat Indonesia. Apa yang dimaksud dengan kebohongan publik adalah dalam pengertian terbatas, yaitu tidak klopnya antara ucapan dan perbuatan, antara pernyataan dan kenyataan. Semua kita serahkan saja, mau diterima atau tidak diterima. Adapun yang penting adalah substansinya atau isinya, apakah fakta yang dikemukakan benar atau tidak. Angka kemiskinan klaimnya hanya 31 juta orang, tetapi peserta raskin 70 juta orang dan Jamkesos 76,4 juta orang. Berarti jumlah rakyat miskin sebanyak itu. Kalau mengikuti pola PBB, maka kita mempunyai 90 juta rakyat miskin. SUARA ISLAM: Bagaimana gerakan anti kebohongan yang melibatkan tokoh lintas agama seperti yang Anda galang selama ini ? Din Syamsuddin: Dari gerakan lintas agama ini, adanya deviasi yang diletakkan para pendiri bangsa ini dalam kehidupan nasional. Sebagai contoh, dalam kehidupan ekonomi, sudah jelas dalam UUD 1945 adalah demokrasi ekonomi kerakyatan yang menegakkan keadilan. Tetapi apa yang terjadi adalah pemberlakuan sistem ekonomi Kapitalistik yang cenderung tidak hanya di berbagai kota besar tetapi juga kota kecil. Itulah yang menimbulkan kemiskinan dan kesenjangan. Kalau pemerintah mengklaim ada pertumbuhan ekonomi karena GNP meningkat, pertanyaannya sekarang siapa yang menikmati peningkatan GNP itu. Kalau ada pengurangan persentasi kemiskinan tidak begitu besar, pada saat yang sama kita menyaksikan realitas adanya rakyat yang meninggal dunia karena busung lapar dan sebagainya. Maka kita jangan lihat persentasi, ini dalam bidang ekonomi. Termasuk dalam bidang ekonomi lainnya adalah pemberantasan korupsi yang merupakan amanat reformasi dan jelas merupakan kejahatan terhadap negara. Bahkan Presiden pernah menyatakan akan memimpin sendiri secara langsung dengan jihad melawan korupsi bahkan door to door untuk melawan korupsi. SUARA ISLAM: Bagaimana penanganan pemerintah terhadap kasus korupsi Gayus? Din Syamsuddin: Kasus korupsi Gayus seperti bongkahan gunung es, kecil di atas tetapi besar di bawah. Pemerintah gagal menjadikannya sebagai entry point pintu masuk untuk memberantas korupsi. Menemukan atau mengungkap Gayus-Gayus lain atau yang lebih besar seperti kelas kakap bahkan hiu. Sementara Gayus baru terungkap kalau ada foto wartawan, ada surat pembaca di koran dan sebagainya. Ini jelas menunjukkan pada pembaca kita ketidakmampuan pemerintah dalam memberantas korupsi. Harus diakui merajalelanya korupsi mempunyai korelasi positif terhadap meningkatnya angka kemiskinan. Kalau dana Century digunakan untuk membangun Puskesmas atau sekolah, berapa ribu gedung bisa didirikan. Karena alam pikirannya Kapitalistik sementara konstitusinya demokrasi ekonomi, ini yang kita sebut deviasi dan distorsi. Saya tahu ada menteri yang membantah pernyataan saya di sebuah koran ibukota, yang mengatakan itu omong kosong. Mana ada deviasi dan distorsi, tidak mungkin. Apakah anda punya cukup kepekaan tinggi, cukup punya tidak kepedulian kepada masyarakat. Memang bagi orang yang rendah kepedulian dan kepekaan, tidak akan bisa melihat seperti ini. Sedangkan contoh kedua, distorsi deviasi itu dalam bidang penegakan hukum. Di negara hukum, hukum jadi panglima. Tetapi apa yang kita saksikan sekarang, hukum tidak berjalan bahkan aparat penegak hukum sendiri tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Fakta menyatakan ada segelintir orang berduit yang bisa menyetor dana untuk membeli hukum, ini berbahaya sebab bisa menjadi lowly society atau masyarakat tak ada hukum. Kita mengingatkan, ini pokoknya apa yang terjadi selama ini sebagai manifestasi tanggung jawab dan cinta kita kepada bangsa dan negara. SUARA ISLAM: Gerakan Anda ini biasa saja, tetapi mengapa pemerintah SBY

menanggapinya dengan luar biasa seperti ini? Din Syamsuddin: Harus tanya kepada pemerintah, saya tidak tahu jangan-jangan itu manifestasi dari budaya anti kritik, anti demokrasi dan itu adalah biang dari otoriterianisme. Termasuk yang mengalihkan isyu dari substansi ke non substansi. SUARA ISLAM: Ada yang mengatakan ini gerakan pemakzulan terhadap Presiden? Din Syamsuddin: Kalau tokoh agama kan tidak, itu bukan urusan tokoh agama. Kalau dikaitkan dengan gerakan politik, ini jelas bicara masalah politik. Masalah-masalah kebijakan itu politik. Berbicara masalah kebijakan itu politik, masak tokoh agama tidak boleh bicara politik, tetapi politik kebangsaan. Bahasa Islamnya politik dakwah, politik amar makruf nahi mungkar. Maka saya bilang seyogyanya disikapi secara arif, jangan dibelokkan secara personal apalagi menyangkut diri saya. Saya katakan, saya tidak punya waktu untuk meladeninya. Makin banyak yang menghujat, makin banyak menghina justru saya semakin banyak pahalanya. SUARA ISLAM: Apa Anda mempunyai keinginan politik untuk 2014? Din Syamsuddin: Gerakan moral dan kebenaran tidak akan terpengaruh dengan tuduhan seperti itu. Harus dipilah substansinya, kalau seandainya ada, apa yang salah. Saya kira itu hanya pengalihan itu dari realitas yang sesungguhnya. Pertama, saya tidak mau mengatakan punya keinginan apa tidak, jelas tidak relevan. Bagi yang meyakini ada keinginan, saya bilang tidak ada tidak akan percaya. Bagi yang meyakini tidak ada keinginan tetapi saya bilang ada jelas tidak percaya. Tetapi bisa dipilah, apakah isuisu ini mempunyai muatan moral apa tidak, benar apa tidak. Kalau ada katakanlah seandainya sekali lagi seandainya, ada yang punya keinginan untuk menjadi Capres, kenapa tidka boleh? Setiap warga negara kan mempunyai hak. Mohon maaf sekali lagi, seandainya masak tidak boleh. Tetapi kemudian jangan dituduh seperti itu, kita ada langkah-langkah proporsional, betul tidak apa yang disebut para tokoh lintas agama itu. Kedua, gerakan ini bukan gerakan individual tetapi gerakan kolektif secara bersama-sama. Apa kemudian semuanya dituduh mempunyai ambisi, maka jangan dialihkan. Saya tidak mau menjawab kaitannya dengan ambisi atau tidak, saya bilang tokoh agama yang dicalonkan masak tidak boleh, itu sikap anti demokrasi. Sikap yang mungkin mau memonopoli kekuasaan atau ingin melanggengkan kekuasaan. Maka sebenarnya saya tidak ingin terjebak untuk masuk wilayah pengalihan isu. Saya katakan ini sudah sebagian kita kerjakan. Ormas keagamaan seperti Muhammadiyah telah berbuat untuk bangsa dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Kita minta yang mempunyai aset nasional seperti negara ini untuk lebih meningkatan kinerjanya. SUARA ISLAM: Sebagai seorang tokoh sentral dalam gerakan moral anti kebohongan, Anda menjadi sasaran tembak. Apakah ini tidak merugikan Muhammadiyah? Din Syamsuddin: Saya kira tidak! Muhammadiyah sudah terbiasa seperti itu dan tidak terpengaruh. Saya juga tidak tahu, ini gerakan bersama tetapi mengapa yang jadi sasaran saya, padahal tokohnya bukan hanya saya. Bagi saya biasa-biasa saja. Sekali kita berniat untuk berdakwah dan berjuang, maka tidak boleh gentar, faidza azamta fatawakkal alallah. Maka saya merasa tidak terganggu dan tidak boleh terhalangi serta tidak boleh menyurutkan semangat kita untuk bangsa ini. (Abdul Halim)

Ternyata UU Terorisme Hanya Diberlakukan untuk Umat Islam
Monday, 04 April 2011 14:51 | Written by Shodiq Ramadhan |


Jakarta (SI ONLINE)-Ternyata Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme hanya dikenakankan pada umat Islam saja. Terbukti selama ini tidak ada satupun teroris yang ditangkap dari orang Kristen, Katolik atau Hindu. Padahal perilaku mereka sudah melebihi teroris dengan menakut-nakuti orang seperti yang dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM )di Papua, Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku dan para pecalang di Bali yang memaksakan pemberlakuan Nyepi kepada orang lain. “Memang selama ini UU Terorisme hanya dikenakan kepada orang Islam. Tidak pernah ada teroris bukan orang Islam. Bahkan tuduhan korupsi hanya dikenakan kepada umat Islam. Terbukti Miranda Gultom yang Nasrani, sampai sekarang tidak pernah terkena jeratan hukum,” ujar Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim, Mahendradatta, dalam dialog mengenai Dewan Revolusi Islam (DRI) yang diselenggarakan Persatuan Muslimin Indonesia (Parmusi) di Jakarta (1/4/2011). Dialog yang dimoderatori anggota Komisi I DPR dari PPP, Ahmad Yani itu juga turut menghadirkan Sekjen FUI Muhammad Al Khathath dan budayawan Parwan Parikesit. Selanjutnya Mahendradatta mempertanyakan, kekuatan siapa dibalik isu terorisme sekarang ini. Pasalnya setiap ada peristiwa besar akan selalu dimunculkan isu terorisme. Seperti pasca munculnya kasus WikiLeaks yang memojokkan Presiden SBY, kemudian disusul dengan munculnya bom buku sehingga menenggelamkan berita WikiLeaks. Menyinggung mengenai berdirinya Dewan Revolusi Islam, Mahendradatta menegaskan pengumuman terbentuknya DRI bukanlah perbuatan makar. Sebab suatu tindakan makar harus didahului dengan suatu perbuatan permulaan dengan tindakan melawan hukum. Kalau hanya pernyataan atau bicara saja, bukan suatu perbuatan makar. “Kalau tindakan itu tidak melawan hukum, maka bukan suatu perbuatan makar. Seperti sejumlah anggota DPR yang ingin menggulingkan Presiden SBY melalui impeachment, itu bukan suatu tidakan makar karena tidak melawan hukum dan diperbolehkan UU,” tegas Mehendradatta. Rep: Abdul Halim

Comments (5)

|2011-04-04 15:04:27 DUR-SASONO

SUDAH JELAS DAN TERANG SEMUA PETINGGI2 NEGARA KITA SEMUA NYA SEPILIS/KAFIR HARBI, TERBUKTI, Ternyata UU Terorisme Hanya Diberlakukan untuk Umat Islam, TUNGGU SAJA BENCANA2 BERIKUT NYA.....!!! NAUZUBILLAH MIN ZHALIK.
o o

2 0

Quote

|2011-04-04 19:01:23 M. Sejuki

Dari sejak awal dibuatnya UU Terorisme tsb memang ditujukan untuk ummat Islam kok. Baru tau ya? Kesimpulannya, Pemerintah tanpa dapat dipungkiri adalah MEMBENCI ISLAM. Shalat, puasa, zakat, haji hanyalah kamuflase belaka. Apa gunanya semua itu jika hukum-hukum Allah ditolak mentah-mentah baik oleh Pemerintah maupun DPR? Kalau kalian shalat woiii.... orang-orang yang anti syari'at Allah tapi menolak hukumhukum-Nya, lalu shalat kalian itu menyembah siapa?

|2011-04-04 19:12:45 Anonymous - re:

SUDAH JELAS DAN TERANG SEMUA PETINGGI2 NEGARA KITA SEMUA NYA SEPILIS/KAFIR HARBI, TERBUKTI, Ternyata UU Terorisme Hanya Diberlakukan untuk Umat Islam, TUNGGU SAJA BENCANA2 BERIKUT NYA.....!!! NAUZUBILLAH MIN ZHALIK. mahendrata itu goblokkk pemikirannya, siapa yang bilang uud itu utk islam kan goblokk namanya

|2011-04-05 14:29:50 Ibnu Ghifar

...mengapa aktivitas mereka disebut sebagai terorisme dan mereka dibombardir stempel teroris?... read more at: http://sharia4indonesia.com/2011/03/komando-perang-melawan-terorisme/
o o

0 0

Quote

|2011-04-08 09:22:21 HITLER - DENSUS NEO NAZI

Ternyata anggota Densus itu KTP nya beragama Katolik semua.

Jihad itu menuntut Kesabaran, dan Kesabaran itu menuntut Pengorbanan
Posted by abuqital1 under Rujukan NII [7] Comments 1 Vote

Kabar Gembira Bagi Orang-orang yang sabar. “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Al Baqoroh[2]:155) Kita yang mengaku seorang Mukmin yang Muballigh, Mujahid dan Muwahhid serta berada di dalam kehidupan Alam Jihad sudah semestinya paham bahwa dalam berjihad itu menuntut kesabaran yang menyeluruh. Alloh ‘Azza Wa Jalla akan mencukupkan pahala tanpa batas. Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Robbmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az Zumar[39]:10) Alloh ‘Azza Wa Jalla juga telah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar dalam .berjihad dengan Jannah

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushshilat[41):30) Dengan Sabar Kejayaan dapat diperoleh “Dan kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah kami beri berkah padanya. dan telah sempurnalah perkataan Robbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. dan kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang Telah dibangun mereka”. (Al A’raaf[7]:137) Ayat diatas menceritakan kesabaran Bani Israil. Dengan kesabaran mereka maka Alloh memberi kekuasaan kepada mereka diatas bumi, dan mewariskan kepada mereka negeri yang telah diberkahi-Nya, yakni Negeri Palestina. Setelah mereka memasuki negeri tersebut sepeninggal Nabi Musa ‘alaihis salam maka mereka memasukinya bersama Nabi Daud ‘alaihis salam dan memasukinya bersama Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Mereka memerintah Palestina dengan dasar tauhid, yakni dengan kalimat “Laa Ilaaha Illallah”. Dengan kalimat tauhid ini maka Bani Israil berhak mewarisi negeri Mesir, dan Firaun pantas ditenggelamkan karena menindas dan menzholimi Ahli Tauhid. Konon, apabila orang Qibthi (penduduk asli Mesir) hendak membawa barang bawaan, maka mereka memilih salah seorang diantara Bani Israil untuk mengangkatnya dan memikulnya, bukan mencari keledai atau kuda. Maka, setelah itu jadilah mereka sebagai bangsa yang mulia. Namun beberapa masa kemudian, Alloh ‘azza wa jalla merubah keadaan itu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya surat Al A’raaf ayat 137. Dengan sebab kesabaran Bani Israil untuk tetap melangkah diatas jalan Nabi mereka, dan bersabar atas siksaan musuh-musuh mereka dengan harapan besar, Alloh akan menurunkan kemenangan dan membuka jalan bagi mereka. Dan dengan kesabaran mereka untuk melaksanakan perintah Rabb mereka, maka akhirnya Alloh ‘azza wa Jalla memberikan kejayaan kepada mereka. JIHAD ITU MENUNTUT KESABARAN Tatkala kita diseru “Berangkatlah berperang!!!”, maka kitapun pergi berperang. Yang demikian ini memerlukan banyak kesabaran: 1) Sabar dalam melupakan kebiasaan kita. Kita harus sabar terhadap makanan lezat yang biasa dimakan, ranjang empuk yang biasa kita tiduri, kendaraan mewah, gedung

bertingkat, rumah idaman, pekerjaan yang menjadi rutinitas kita sehari-hari, berpisah dengan keluarga dan kerabat, melihat istri dan bercanda dengan anak dan lain seterusnya. Semuanya itu kita tinggalkan karena perintah Alloh dalam kalimat “Infiruu” (berangkatlah kalian berperang). 2) Sabar dalam menjauhi maksiat: Yang dimaksud maksiat disini adalah mundur setelah mendapatkan karunia, kembali ke belakang setelah mendapatkan nikmat Alloh dan mengganti nikmat Alloh menjadi kemurkaan-Nya apabila kita meninggaklan nikmat Alloh yang telah dianugerahkan kepada kita. “…dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, Maka Sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya”. (Al Baqoroh[2]:211) 3) Sabar dalam mentaati Alloh ‘Azza Wa Jalla, yakni dengan mentaati amir yang boleh jadi tingkat keilmuan atau kecerdasan, atau kekayaan atau status sosialnya dibawah tingkatan kita. Sabar dalam mentaati amir umum atau amir khemah, atau pelatih, semuanya adalah pemimpin. Taat kepada mereka semuanya adalah wajib (fardhu) sebagaimana mentaati Alloh, karena mentaati mereka juga sama dengan mentaati Alloh ‘Azza wa Jalla, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dalam hadits ini: “Barangsiapa taat kepadaku, maka sesungguhnya dia telah mentaati Alloh, barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sesungguhnya ia telah bermaksiat kepada Alloh. Dan barangsiapa mentaati amirku, maka sesungguhnya dia telah mentaatiku. Dan barangsiapa bermaksiat kepada amirku, maka sesungguhnya dia telah bermaksiat kepadaku”. (HR. Al Bukhari) 4) Sabar menghadapi cuaca dan iklim. Menghadapi hawa dingin, menghadapi kemelaratan, menghadapi segala aturan hidup yang keras bagaikan mata pedang yang tajam. Dirumah kita dahulu, tidur sekehendaknya, bangun semaunya, makan menurut selera kita. Tapi disini nanti di bumi ribath ataupun dalam tadrib asykari kita harus bangun sesuai aturan, tidur dengan aturan dan makan pun dengan aturan. Kita tidak boleh melanggar disiplin ataupun tidak patuh pada peraturan. 5) Sabar terhadap sesuatu yang disukai hati. Sabar terhadap hal ini yakni dengan cara: - tidak terlalu cenderung kepadanya - tidak terlalu berambisi dan bernafsu dalam mengumpulkannya, meskipun tergolong hal yang mubah - Menjaga dan memelihara hak-hak Alloh yang ada padanya - Menjauhi yang haram selama mencarinya.

Sabar terhadap sesuatu yang diinginkan hati adalah jauh lebih sulit daripada sabar terhadap apa yang dibenci/ tidak disukai hati. Sahabat Abdrurrahman bin ‘Auf rodhiyallohu ‘anhu pernah mengatakan: “Kami mampu bersabar tatkala diuji dengan kesempitan/ kesusahan. Namun kami tidak mampu bersabar tatkala diuji dengan kelapangan/ kesenangan”. 6) Sabar terhadap sesuatu yang dibenci. Dalam hal ini terbagi dua yakni Sabar Ikhtiyari dan Sabar Qohri. a. Sabar Ikhtiyari, yaitu sabar terhadap perintah Alloh dan larangan Alloh. Sabar terhadap perintah Alloh dengan cara menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan Sabar terhadap larangan Alloh dengan cara meninggalkan perbuatan maksiat. Dalam pelaksanaannya dituntut kesabaran sebelum memulainya, selama mengerjakannya dan setelah mengerjakannya. Sebelum memulainya, niatnya harus murni karena Alloh tujuan semata-mata. Selama mengerjakannya, jangan sampai hati lalai dari dzikrulloh. Setelah mengerjakannya, tidak merusak/menghilangkan pahalanya, tidak ujub dan tidak riya. b. Sabar Qohri, yaitu sabar dalam menghadapi musibah yang menimpa yang mesti dihadapi, merupakan ketentuan Alloh yang tidak mungkin bagi manusia untuk menolaknya. Dalam menghadapi musibah, manusia terbagi menjadi beberapa tingkatan: - Tingkatan Lemah, seperti menangis, mengeluh kepada manusia dan sebagainya. Dan ini hanya mungkin dikerjakan oleh orang-orang yang bodoh serta lemah fikirannya. - Tingkatan Sabar, artinya menahan hati dan rasa tidak puas terhadap Qadar Alloh dari mengadu/ mengeluh kepada manusia serta menahan anggota badan dari melampiaskan rasa kesedihan secara berlebihan. - Tingkatan Ridho, maksudnya ridho kepada Qodar Alloh. Ridho ada diatas tingkatan sabar. Jika sabar terhadap musibah adalah wajib maka para ulama berbeda pendapat tentang wajibnya ridho terhadap musibah, apakah ia hal yang wajib atau tidak. Ridho terhadap musibah tidak sama dengan sabar terhadap musibah. Dan maqam (kedudukan) ihsan yang tertinggi adalam maqam syukur. Maqam ini adalah kita memandang musibah yang menimpa diri kita sebagai nikmat dari Alloh lalu kita bersyukur kepada Alloh ‘Azza wa Jalla atasnya. Sekedar Seruan…!!! Kepada warga NII/ warga DI yang sudah bergabung kembali dalam pemerintahan NII yang konstitusional, marilah kita selalu meningkatkan ketaqwaan dan kesabaran kita khususnya dalam menjalankan program perjuangan NII yang sudah

ditetapkan oleh Pemerintah NII baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Kepada warga NII/ warga DI disetiap wadah jihadnya masing-masing, marilah kita perkuat ukhuwwah sehingga kedepan kami berharap adanya satu komando dalam melaksanakan agenda jihad kita yang bisa menambah barisan kekuatan Mujahidin Indonesia didalam satu wadah jihad yakni Negara Islam Indonesia. Marilah kita pahami lagi Surat Ali Imron ayat 112 Kepada masing-masing pimpinan Jihad yang ada di Indonesia, marilah kita kembali taat kepada Ulil Amri Islam yang sudah ada di Indonesia sejak 1949 hingga sekarang dengan langkah awal memahami kembali konstitusinya, jangan melihat person nya dan rendahkan sifat ananiyah. Suka Be the first to like this post.

7 Tanggapan to “Jihad itu menuntut Kesabaran, dan Kesabaran itu menuntut Pengorbanan”

1.

blackbalung Berkata:
Maret 29, 2011 at 4:44 am

‫الحمد ل رب العالمين‬ ّ segala puji bagi Alloh, Rabb semesta alam Balas

2.

arie Berkata:
Maret 29, 2011 at 6:45 am

Hatur nuhun Balas

3.

blackbalung Berkata:

Maret 31, 2011 at 2:14 am

“Barangsiapa melihat dari amirnya {kepala negara Islam} hal yang tidak ia senangi hendaknya ia bersabar karena siapa saja yang keluar dari jama’ah lalu mati maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” [Bukhari 7054 dan 7143, Muslim 1849] Balas

4.

foundering Berkata:
Maret 31, 2011 at 1:55 pm

apakah di wilayah nkri saat ini masih tegak darul Islam/ Negara islam indonesia/ daulah islamiyah? Balas

5.

abu rojjaz Berkata:

alhamduliilah,syukron atas tulisannya…smoga alloh memberikan kpd qta keistiqomahan di dlm din ini…dan qta dijauhkan dri sifat ta’ashub ya berkebihan…amin.

6.

Apkh taat dsni mmpunyai konsesus meninggalkan skp kritis positif sbg upya saubil haq?dan bdanya taat scra total dg taqlidul a'ma?dan bgmna mengthui fraksi NII yg sah?afwan wa sukron... Berkata:
April 6, 2011 at 11:28 am

http://m.facebook.com/profile.php?refid=7

Smoga Alloh melimpahkan segala ridho-Nya untuk para pembela risalah sehingga tegaklah kekuasaan Alloh dimuka bumi ini

Recent Posts
Khutbah Idul Adha 1431 H: Menolak Syari’ah Menuai Bencana
15/11/2010 Jundullah Oleh: Ustadz Irfan S. Awwas (Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin) Bismillahirrahmanirrahim… MENGAWALI khutbah ini, terlebih dahulu marilah kita memuji kebesaran Ilahy, yang telah menunjukkan jalan hidayah, sehingga kita menjadi orang-orang yang beriman. Kita bersyukur kepada Allah Swt yang telah mencukupkan segala kebutuhan makhluk-Nya. Allah Swt mengetahui, makhluk-Nya membutuhkan sinar mentari agar senantiasa menyinari bumi, dan malam untuk beristirahat, maka Allah tidak menghentikan peredaran matahari, dan tidak mencabut perputaran malam; walau sepanjang malam dan siang hari banyak manusia bergelimang dalam dosa, menolak perintah dan mengabaikan larangan-Nya. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, para shahabat, tabi’it-tabi’in serta seluruh kaum Muslimin yang setia mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat. Kemudian, sebagai khatib pada kesempatan khutbah Idul Adha 1431 H ini, kami mengingatkan diri pribadi dan segenap jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan taqwa, agar Allah Swt berkenan memberi solusi atas problem yang kita hadapi. Marilah peningkatan taqwa ini kita jadikan sebagai agenda hidup yang utama, agar menjadi manusia ideal menurut Islam, seperti firman-Nya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Sesung- guhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al-Hujurat, 49:13) Di zaman kita sekarang ini, sedikit orang yang menjadi kan taqwa sebagai pola hidupnya, yaitu menjalani hidup di bawah naungan syari’at Allah. Kebanyakan umat Islam adalah ‘Muslim Otodidak’ yang mengamalkan Islam menurut pemahaman dan penghayatan pribadinya, sehingga adakalanya benar dan lebih sering keliru mema hami dan mengamalkan perintah taqwallah. Sebagai manifestasi pola hidup taqwa, Islam mengajar- kan supaya manusia menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk Allah. Dan mengikuti petunjuk Allah berarti menjalani kehidupan ini sebagai hamba Allah, menyembah-Nya sesuai dengan yang diperintahkanNya, serta melaksa- nakan syari’at Islam agar tercapai missi rahmatan lil alamin.

Prinsip utama beragama Islam adalah memiliki aqidah yang lurus tanpa dicampuri kesyirikan, ibadah yang benar, akhlak yang terpuji, dan muamalah (hubungan sosial) yang baik. Adapun pilar-pilar aqidah meliputi iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitabkitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhirat, dan takdir, yang kita kenal dengan rukun iman. Ibadah yang benar adalah ibadah yang didasarkan atas perintah Allah, bukan karena bisikan jin atau berdasarkan wangsit juru kunci merapi. Sedangkan prinsip akhlak dan muamalah yang baik mengikuti tauladan rasulullah Saw. Beriman kepada rukun iman yang enam, menuntut pengakuan terhadap satu-satunya agama yang benar, adalah Islam. Oleh karena itu, dalam segala urusan, orang berimana tidak pantas mengikuti gaya hidup orang kafir, sekuler, liberal, yang tidak mengimani rukun iman itu. Tidak pantas bagi orang beriman mengikuti jalan hidup yang ditunjukkan oleh kaum sesat dan dimurkai Allah seperti Yahudi, Nasrani serta orang-orang musyrik. Lebih tidak pantas lagi, ketika rakyat Indonesia ditimpa musibah tsunami, gempa dan gunung berapi, anggota DPR RI malah ngelencer ke Belanda, belajar hukum kolonial pada mantan penjajah. Atau belajar etika dan moral, ke negeri Plato Yunani, sekadar menghabiskan anggaran belanja. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah ???? ???? ???? ???? ???? ????? Di hari Idul Adha yang penuh barakah ini, marilah kita memperbanyak istighfar, membasahi bibir dengan lantunan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai manifestasi rasa syukur kita kepada Allah swt. Pada hari Senin kemarin, 9 Dzulhijjah 1431 H, sekitar 3 juta orang dari 1,5 milliar umat Islam seluruh dunia, wukuf di Arafah, menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang ke lima. Sungguh menakjubkan, belum pernah ada seruan apapun di muka bumi ini selain dari seruan Allah yang mampu menghimpun manusia sebanyak itu di satu lokasi yang sama, pada waktu yang sama, untuk tujuan yang sama, dan mengenakan pakaian ihram yang sama. Wuquf di padang Arafah merupakan puncak ibadah haji. Seluruh jamaah berkumpul, mengenakan pakaian ihram. Mereka melepaskan segala pakaian kemewahan duniawi, segala kedudukan dan jabatan duniawi, mereka lupakan negeri asal mereka, bahkan harta kekayaan maupun jabatan duniawi tak lagi berarti. Pikiran dan hati hanya terfokus untuk menghadap Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengampun. Sementara, kita yang belum berkesempatan menunai- kan ibadah haji tahun ini, hari ini dalam suasana kepriha- tinan mendalam atas musibah merapi, kita berkumpul di tempat ini untuk beribadah kepada Allah, melaksanakan perintah agama: ‘Idul Qurban, sambil mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil. Inilah hari besar kemanusiaan dan keimanan, untuk mengenang peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim setelah beliau menerima wahyu Ilahy melalui mimpi, yang memerintahkan untuk menyembelih puteranya, Ismail As.

Sekiranya spirit kebersamaan dengan motivasi iman seperti ditunjukkan di padang Arafah itu, ditauladani dan menjadi inspirasi bagi pemerintah Indonesia khususnya dan pemerintah di negeri-negeri Muslim umumnya, tentulah perbedaan hari raya Idul Adha tidak perlu berulangkali terjadi. Mengapa harus ngotot dengan egoisme masing-masing, melestarikan perbedaan dengan dalih rukyah ataupun hisabiyah. Semestinya bangsa Indonesia dapat mempelopori persatuan kaum Muslimin, dengan saling merendahkan sayap sesama Muslim, agar tidak melestarikan perbedaan parsial. Bukankah ka’bah yang menjadi kiblat shalat kaum Muslim sedunia hanya ada di Makkah, sebagaimana padang Arafah tempat wukuf, tiada duanya di muka bumi ini, selain di Makah? Nuansa politisasi ibadah, masih kental dalam perbedaan hari Idul Adha ini. Dimasa rasulullah Saw dan khulafaur rasyidin, penentuan Idul Adha mengikuti penentuan hari wukuf Arafah. Tidak pernah ditentukan dengan cara lain, karena itu menyalahi cara ini berarti menyalahi cara Rasulullah Saw. Perbuatan demikian adalah bid’ah yang sesat dan menyesatkan. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah ???? ???? ???? ???? ???? ????? Sambil memuji dan membesarkan asma Allah, marilah kita merenungkan dan mengambil i’tibar dari berbagai musibah yang tak henti-hentinya menghempas kehidupan masyarakat dan bangsa kita. Situasi dan kondisi bangsa Indonesia hari ini, bagai berdiri ditepi jurang pada malam gelap gulita. Berbagai musibah alam dan kejadian memilukan, telah membuat rakyat negeri ini kebingungan menghadapi banyak persoal- an hidup, dan mengkhawatirkan persoalan-persoalan yang akan datang berikutnya. Barangkali benar, bangsa Indonesia tengah menuai akibat perbuatan mungkarat yang dilakukan manusia-manusia tidak bermoral, pejabat yang zalim, ingkar dan tidak tunduk pada aturan Allah dalam menyuburkan bumi dan mengelola negeri ini. Seakan tidak ada tempat tinggal yang aman dan nyaman untuk didiami. Menurut Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 83 persen wilayah Indonesia rawan bencana. Dalam kurun waktu 381 tahun sejak 1629 hingga 2010, tsunami sudah terjadi sebanyak 171 kali di Indonesia. Dan dalam sepuluh tahun terakhir, ada lebih dari enam ribu bencana terjadi di Indonesia. Ibarat kata, rakyat Indonesia terus menerus dikejar-kejar bencana, di dalam negeri hingga mancanegara. Lihatlah nasib TKI dan TKW, berapa banyak di antara mereka yang dianiaya atau diperkosa majikannya; bahkan nasib calon jamaah haji kita pun setiap tahun tak henti dirundung sial. Ada yang ditimpa kelaparan, juga kehilang- an barang bawaan di pemondokan; bahkan banyak yang tidak bisa berangkat ke tanah suci sekalipun sudah melunasi ONH dan memegang visa.

Pertanyaannya, mengapa negeri kita kian akrab dengan adzab dan kian jauh dari rahmat Allah? Alangkah bijaksana jika bangsa Indonesia merenungkan firman Allah dalam AlQur’an surat Al-A’raf ayat 97-99, sebagai jawaban atas pertanyaan ini. “Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari tatkala mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka diwaktu pagi ketika mereka sedang bermain-main? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf, 7:97-99) Perilaku umat yang kering dari ajaran agama akan menyuburkan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah. Seperti dikatakan seorang ulama, Hasan Albasri: “Seorang mukmin mengerjakan amal taat dengan hati dan perasaan yang senantiasa takut pada Allah, sedang orang yang durhaka berbuat maksiat dengan rasa aman.” MENYIKAPI MUSIBAH Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah Bangsa Indonesia patut berkabung, karena negeri kita tidak saja terancam bencana alam. Tapi yang lebih memprihatinkan, negeri kita juga terancam virus korupsi, dekadensi moral, kemiskinan, kerusuhan sosial antar warga, narkoba, aliran sesat, bahkan penculikan dan jual beli anak. Lebih memprihatinkan lagi, semakin sering musibah menimpa, masyarakat luas malah semakin berani dan terbuka berbuat dosa. Segala musibah ini, bukannya mendorong kita untuk taqarrub ilallah, menyadari dosa dan kesalahan, lalu memperbaiki diri dengan meningkatkan amal shalih. Tapi justru semakin ingkar dan memusuhi syari’at Allah. Di kalangan masyarakat, nampaknya belum juga menyadari, bahwa segala derita dan kesengsaraan yang kita alami, berkaitan erat dengan kemaksiatan dan dosa yang merajalela. Allah Swt berfirman: “Apakah belum jelas bagi mereka yang mewarisi suatu negeri sesudah lenyap penduduknya yang lama, bahwa jika Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga tidak dapat mendengar pelajaran lagi?” (Qs. Al-A’raf, 7:100) Ayat ini mempertanyakan cara kita menyikapi bencana yang datang bertubi-tubi silih berganti. Apakah belum cukup untuk menyadarkan kita, berapa banyak umat yang sebelum kita telah ditimpa bencana? Belumkah cukup untuk mengingatkan kita, segala peristiwa bencana mulai Tsunami Aceh Desember 2004, gempa bumi di jogjakarta (2006) hingga bencana dahsyat Gempa tektonik 30 September 2009 di Padang, Sumatera

Barat. Bahkan di atas puing-puing jenazah mereka kita berjalan, menjadi kan nya daerah wisata. Kini dan disini, sejak 26 Oktober lalu, kita diliputi awan panas gunung merapi. Sungguh pedih, menyaksikan korban anak-anak, orang tua dan wanita yang terpanggang bara lahar pijar, awan panas dan debu merapi. Perkam- pungan penduduk luluh lantak, sehingga memaksa lebih dari 100.000 orang dievakuasi, dan lebih dari 100 orang meninggal. Sebelumnya 25 Oktober, lebih dari 400 orang meninggal di Kepulauan Mentawai dan lebih dari 15.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat tsunami. Puluhan orang masih tidak ditemukan. Begitupun, banjir yang melanda Wasior di Papua Barat menyebabkan sedikitnya 148 orang meninggal. Subhanallah, apa dosa rakyat Indonesia, sehingga terus menerus digoncang fitnah dan dilanda musibah? Amirul Mukminin, Ali bin Thalib ra berkata: “Tidaklah turun bencana kecuali diundang oleh dosa. Dan tidak akan dicabut suatu bencana kecuali dengan tobat.” Dosa yang dilakukan secara individu maupun kolektif di negeri ini sungguh dahsyat. Di zaman orde lama, rakyat Indonesia digiring pada ideologi Nasakom, sehingga kaum anti tuhan PKI hidup subur. Di zaman orde baru, bangsa Indonesia ditaklukkan dengan asas tunggal pancasila, yang kemudian atas tuntutan reformasi dihapuskan oleh Presiden BJ Habibi. Pada saat ini, kezaliman dan korupsi merajalela. Dan di zaman reformasi ini, berkembang aliran sesat dan melakukan deradikalisasi Islam melalui terjemahan Alqur’an terbaru dengan misi liberalisme dan sekularisme. Semua perbuatan ini adalah terkutuk yang mengundang murka Allah. Para pemimpin formal maupun informal, seharus- nya menjadi contoh yang baik, bukan contoh yang buruk bagi rakyatnya. Sebab, para pemimpin menjadi simbol kebangkitan atau kehancuran suatu bangsa. Merekalah yang bertanggung jawab terhadap kerusakan dan penyelewengan-penyelewengan di penjuru negeri yang mengakibatkan lahirnya kemungkaran kolektif secara merata. Di dalam Qur’an disebut model kepemimpinan di duni ini ada dua, yaitu pemimpin yang mengajak kepada Nur dan pemimpin yang mengajak kepada Nar. Pemimpin yang mengajak pada Nur, digambarkan di dalam Al-Qur’an sebagai sosok yang memimpin rakyatnya ke jalan Allah. “Kami jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka menyembah.” (Qs. Al-Anbiya, 21:73) Ketika para pemimpin menyimpang dari petunjuk Allah dan meninggalkan syari’at Islam dalam menjalankan roda pemerintahan, mereka pasti membawa rakyatnya mengikuti jalan syetan yang akan menjerumuskan mereka pada malapetaka di dunia dan di akhirat. Karena itu, semestinya bangsa Indonesia tidak mempercayakan nasib dan masa depan negeri ini pada mereka yang akan mencelakakan rakyatnya:

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru manusia ke neraka dan di hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkanlah la’nat kepada mereka di dunia ini, dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orangyang dijauhkan dari rahmat Allah.” (Qs. Al-Qashas, 28:41-42) Oleh karena itu, seruan untuk menegakkan Syari’at Islam di lembaga negara, bukan saja untuk membebaskan manusia dari belenggu kemiskinan dan penindasan. Tetapi juga untuk membebaskan umat dari ancaman siksa Allah yang datang mungkin disaat kita sedang tidur, atau disaat kita sibuk bermain-main di pagi hari; atau disaat yang kita tidak sangka, yang tidak dapat dipantau sekalipun menggu- nakan teknologi canggih. Pada saat negeri kita diguncang bencana seperti sekarang, alangkah baiknya jika para pemimpin negeri ini belajar pada kebijakan khalifah Umar Ibnul Khathab, tatkala rakyat yang dipimpinnya mengalami pacekelik. Beliau yang bergelar Al-Faruq, telah meletakkan dasar-dasar semangat saling membantu dan meringankan beban sesama, tentang bagaimana seharusnya para pemimpin berbuat pada saat rakyatnya mengalami penderitaan? Pada masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab ra, pernah terjadi kemarau panjang, diikuti bencana alam, gempa bumi dan angin badai. Akibatnya, kelaparan merajalela, wabah penyakit melanda masyarakat dan hewan ternak. Demikian sedih menyaksikan kondisi rakyatnya, sehingga beliau bersumpah tidak akan makan daging dan minum susu sebelum bahan makanan tersebut dinikmati oleh semua penduduk. Umar yang Agung berusaha keras menundukkan ambisi pribadinya, mengendalikan kepentingan diri dan keluarganya, demi mengutamakan kepentingan rakyat yang lebih membutuhkan. Sehingga keluarlah ucapannya yang terkenal: “Bagaimana aku dapat memperhatikan keadaan rakyat, jika aku sendiri tidak merasakan apa yang mereka rasakan.” Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah ???? ???? ???? ???? ???? ????? Negeri ini sedang menantikan fajar menyingsing, sambil menelusuri jejak yang dapat membimbing ke jalan hidayah. Adakah solusi atau jalan keluar dari segala ancaman musibah ini? Al-Qur’an menjelaskan, manusia akan dapat terbebas dari murka Allah, asalkan mau mematuhi aturan-aturan Allah dalam bentuk ibadah, perilaku sosial, termasuk dalam sistem pemerintahan. Jaminan ini termaktub dalam Qs. Al A’raf ayat 96: “Sekiranya penduduk negeri-negeri di dunia ini beriman dan bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan membukakan pintu-pintu berkah dari langit dan dari bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya.”

Ayat ini menjelaskan, bahwa kunci pembuka rezki dan pembebas dari bencana adalah iman dan taqwa. Artinya, jika kita ingin menikmati indahnya Islam dan merasakan berbahagianya menjadi Muslim, kerjakanlah perintah dan jauhi larangan Allah, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram. Allah akan memberi berkah kepada rakyat yang beriman, taat dan menjauhi syirik. Sebaliknya akan mengazab rakyat yang berbuat syirik, maksiat dan mengingkari syari’at Allah. MUNAJAT Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah ???? ???? ???? ???? ???? ????? Mengakhiri khutbah ini, marilah kita berdo’a, dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan menjernihkan fikiran. Semoga Allah memperkenankan do’a hamba-Nya yang ikhlas, memperbaiki kehidupan kita, sehingga negeri ini menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur, negeri dengan predikat ‘gemah ripah loh jinawi’ dan mendapat ampunan Allah Swt. ??????????? ??????? ????? ???? ?????????? ??? ???????? ???? ????????? ???????? ?????? ?????? ? ?????? ????????? ??? ???????????? ???? ????????? ? ?????? ??????????? ??? ??? ?????? ???? ????????? ????????? ?????????? ? ??????????? ????????? ?????????????? ? ? ????????????? ? ????????????? ? ???????????????? ? ??????????? ?????????? ?????? ? ?? ??????? ????????? ????? ???? ????????? ? ???????????? ????? ???? ????????? ? ????? ??? ???? ????????????? ???? ????????? ? ????? ???????? ?????????? ???????? ???????? ? ??? ??????? ????????? ? ????? ????????? ????????? ???? ??? ??????????? ??????????? ?????? ? ?????? ??????????? ? ?????????? ????? ????????? ? ?????????? ?????? ?????????? ? ??? ??????? ???? ???????????? ????? ????????? ? ????????? ????? ???? ???????????? ? ????? ????????? ? ????????????? ? ?????????????? ? ???????????????? ? ?????? ????????? ???? ??? ?????? ??????????? ??????????? . ???????? ????? ????? ????????? ??????? ????? ?????????? ???????????? ? ??????????? ?? ?? ????? ?????????????? ? ??????????? ??????? ????? ???????????????? ????????????? ?? ??? ?????????? (??????????) ???????? ? ??????????? ??????????????? ???????????????? ??????????????? ?? ???????????????? ???????????? ???????? ?????????????? ? ??????????? ???????? ???? ?? ??? ?????????? ???????? ????? ?????????? ???????? ??????? ??????? ???????? ? ????? ??? ????? ????? ????????? ??????? ????? ?????????? ???????????? ? ????????? ??????? ? ???? ?????????? ?????? ????????? ? ????????? ????? ??????????????? ??????????? ?????? ? ????? ?????????????? Ya Allah, ya Rab kami, bagi-bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yang dapat kiranya menghalang antara kami dan ma’siat kepada-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu apa yang sekiranya dapat menyampaikan kami ke sorga-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu dan demi suatu keyakinan yang kiranya meringankan beban musibah dunia kami.

Ya Allah, ya Rab kami, senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan -penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembelaan kami (memukul) orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami dari menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau jadikan musibah kami mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, tidak juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami (HR. Tirmidzi dan ia berkata hadist ini hasan.) Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami dan perbaikilah keadaan kami dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan serta entaskanlah kami dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Dan jauhkanlah kami dari kejahatan yang tampak maupun tersembunyi dan berkatilah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, hati-hati kami dan isteri-isteri serta anak keturunan kami, dan ampunilah kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Shalawat atas Nabi Muhammad SAW dan ahli keluarga serta sahabat-sahabat beliau semuanya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. (Disampaikan di hadapan Jamaah Shalat ‘Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 H/ 16 November 2010 M, di Halaman Balai Kota, Jogjakarta)

Ustadz Amman bantah tuduhan Farihin di detik.com
By abah · 23 March 2011 · No comments Local News, News ·

Jakarta (Almuhajirun.net) – Ustadz Amman membantah tuduhan Farihin di detik.com, Minggu (20/3/2011). Farihin menuding pelaku bom buku adalah jaringan Cimanggis Depok. Berikut bantahan Ustadz Amman yang ditulisnya dari tahanan Polres Jakarta Barat. Bismilahirrohmanirrohim…….. Segala puji hanya milik Allah robul alamin, shalawat dan salam semoga di limpahkan kepada rosulnya wa badu… Setelah setengah tahun yang lalu Nasir Abas Al Kadhzzab menebarkan isu bohong dan fitnah terhadap kami di TV-one perihal perampokan BANK CIMB NIAGA MEDAN, kini giliran temanya Farihin yang memfitnah kami dalam kasus bom buku baru-baru ini. Saya telah mendapatkan surat dari seorang kawan yang mengantar makanan buat saya ke

tahanan polres Jakarta Barat yang memberi tahukan fitnah itu. Di mana Farihin berkata kepada detik.com pada hari Ahad 20 maret 2011 tentang BOM BUKU yang terjadi: “dulu thn 2004 ada bom di rumah salah satu kontrakan di cimanggis depok, dan orangorangnya itu di tangkap. Ya di duga jaringannya mereka itu” berkata lagi: “Metodenya itu mirip, kalo di tarik ada rangkaiannya ujarnya” berkata lagi: “Ya tujuannya mereka menebar teror saja ternyata di tanggapi ya sudah senang mereka. Bomnya juga mirip bom buku itu yg mereka rakit juga” tambahnya. Saya katakan subhanaka….ya Allah, ini adalah kebohongan besar dan fitnah yg nyata. Sebagaimana pejabat DENSUS 88 mengetahuinya kebohongan Nasir Abas dulu, maka saya yakin juga mereka mengetahui kepalsuan tuduhan Farihin ini. Tapi untuk apa keduanya melakukan fitnah ini terhadap kami, pasti ada tangan-tangan kotor yg bermain di belakang layar dan memanfaatkan dua orang ini. Tujuan tangan-tangan kotor ini adalah pembunuhan karakter, supaya masyarakat umum antipati dgn dakwah tauhid yg kami anut. Saat mereka tidak bisa melawan hujah dan dalil kebenaran tauhid, maka mereka beralih menggunakan fitnah dan kebohongan, oleh sebab itu saya himbau kepada kaum muslimin dan masyarakat umum lainnya agar tidak terpancing dengan fitnah yang tidak memiliki bukti, dan agar tidak mempercayai fitnah murahan Farihin yang di sebarkan media itu. Semoga Allah membimbing kita kepada jalan yg lurus, yaitu jalan islam yg hanif. Dan semoga Allah memberikan balasan setimpal kepada orang-orang yg memfitnah orang-orang muslim muwahhid demi kepentingan hamba-hamba thogut…………….. Abu Sulaiman Aman Abdurahman Tahanan polres Jakarta Barat. Tgl,16/04/1432 H / 22/03/2011 M

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->