Profesi dan Profesionalisasi Keguruan

Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si Wednesday, 14 April 2010 23:55 (tulisan ini adalah kelanjutan dari artikel yang berjudul ”Pengembangan Profesionalisme Guru” atau dapat anda lihat di link ini: www.mudjiarahardjo.com) Secara logik, setiap usaha pengembangan profesi (professionalization) harus bertolak dari konstruk profesi, untuk kemudian bergerak ke arah substansi spesifik bidangnya. Diletakkan dalam konteks pengembangan profesionalisme keguruan, maka setiap pembahasan konstruk profesi harus diikuti dengan penemukenalan muatan spesifik bidang keguruan. Lebih khusus lagi, penemukenalan muatan didasarkan pada khalayak sasaran profesi tersebut. Karena itu, pengembangan profesionalisme guru sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah akan menyentuh persoalan: (1) sosok profesional secara umum, (2) sosok profesional guru secara umum, dan (3) sosok profesional guru sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.[1] Bagaimana dengan pekerjaan keguruan? Tak diragukan, guru merupakan pekerjaan dan sudah menjadi sumber penghasilan bagi begitu banyak orang, serta memerlukan keahlian berstandar mutu atau norma tertentu. Secara teoretik, ini sejalan dengan syarat pertama profesi menurut Ritzer (1972), yakni pengetahuan teoretik (theoretical knowledge). Guru memang bukan sekedar pekerjaan atau mata pencaharian yang membutuhkan ketrampilan teknis, tetapi juga pengetahuan teoretik.[2] Sekedar contoh, siapa pun bisa trampil melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK), tetapi hanya seorang dokter yang bisa mengakui dan diakui memiliki pemahaman teoretik tentang kesehatan dan penyakit manusia. Pun demikian dengan pekerjaan keguruan. Siapa saja bisa trampil mengajar orang lain, tetapi hanya mereka yang berbekal pendidikan profesional keguruan yang bisa menegaskan dirinya memiliki pemahaman teoretik bidang keahlian kependidikan. Kualifikasi pendidikan ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan formal bidang dan jenjang tertentu.[3] Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi pedagogik menunjuk pada kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi kepribadian menunjuk pada kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Kompetensi profesional menunjuk pada kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi sosial menunjuk kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.[4] Tampaknya, Kendati syarat kualifikasi pendidikan terpenuhi, tak berarti dengan sendirinya

Dekan. Tak sesiapa pun. Gelar formal dan berbagai bentuk sertifikasi dipersyaratkan untuk berpraktik profesional. misalnya. Prinsip pembeli adalah raja. Itu jelas.seseorang bisa bekerja profesional. Dengan sistem kredit semester. jelas kemantapan guru sebagai profesi belum sampai tahapan ini. Tak jarang. Guru profesional tidak boleh terombang-ambing oleh selera masyarakat. Sistem konvensional teramat jelas tidak mendukung pemantapan profesi keguruan. masih ada rapat dewan guru. tidak berlaku dalam pekerjaan profesional keguruan. Guru bukan pedagang. pada sejumlah profesi yang cukup mapan. Seperti seorang dokter yang tidak bisa didikte oleh seorang pasien untuk memberikan jenis perlakuan dan obat apa. juga dituntut adanya tanggung-jawab dan keberanian moral seorang tenaga profesional. yang bahkan cenderung bekerja secara mandiri. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu. tampak berbeda antara otonomi profesi dosen dengan otonomi profesi guru. Karena memiliki pendidikan formal dan nonformal ekstensif. dan bahkan Rektor. belakangan ditetapkan bahwa sertifikasi pendidik merupakan pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Tentu saja. tak demikian dengan profesi. Sejumlah pelatihan profesional masih diperlukan dan diselenggarakan oleh asosiasi profesi. lobi-lobi politik asosiasi profesi ini bisa memberikan saksi hukum terhadap mereka yang melakukan praktik tanpa sertifikasi terkait. kemahiran. metode dan penilaian seorang guru. seorang guru bidang studi harus “mengubah” nilai yang telah ditetapkan agar sesuai dengan keputusan rapat dewan guru. hingga pengambilan tindakan yang diperlukan beserta tanggung-jawab moral dan hukumnya. Keputusan seorang dosen profesional memiliki bobot mengikat sebagaimana keputusan seorang dokter untuk memberikan atau tidak memberikan obat tertentu. yaitu: kewenangan atas klien (authority over clients). karena tugas guru . yang bisa melakukan intervensi langsung terhadap penilaian yang telah dilakukan oleh seorang dosen terhadap mahasiswanya. diagnosis masalah. Syarat kedua profesi adalah pemberlakuan pelatihan dan praktik yang diatur secara mandiri (selfregulated training and practice). Pekerjaan profesional menikmati derajat otonomi tinggi. Ini terkait dengan syarat profesi ketiga. Keputusan penilaian seorang guru bidang studi. yaitu memuaskan pelanggan agar mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Karena pengakuan demikian. Kalau kebanyakan orang bekerja di bawah pengawasan ketat atasan. seorang dosen bisa membuat keputusan profesional secara mandiri dan bertanggung-jawab. demikian pula tak seorang peserta didik atau bahkan orangtua mereka yang berhak mendikte materi. karena seorang pedagang yang baik hanya punya satu dorongan. Pun nyaris tanpa sanksi bagi siapa saja yang berpraktik keguruan meskipun tanpa sertifikasi kependidikan. dalam rapat demikian. para profesional mengakui dan diakui memilik pengetahuan yang tak sesiapa pun di luar profesi yang bersangkutan dapat memahami secara penuh pengetahuan tersebut. Bila tolak-ukur ini dikenakan pada pekerjaan keguruan. sama sekali tidak bersifat final karena untuk menentukan kelulusan. maka seorang profesional melakukan sendiri proses asesmen kebutuhan. Dalam konteks otoritas profesional tersebut. di balik otoritas demikian. atau kenaikan kelas. Bahkan. Karena itu. Banyak guru masih bekerja dalam pengawasan ketat para atasan serta tidak memiliki derajat otonomi dan kemandirian sebagaimana layaknya profesi. termasuk Ketua Jurusan. sebab juga harus ada cukup bukti bahwa dia memiliki keahlian.

Selain keharusan untuk menuntaskan persyaratan kualifikasi. telah dikenal karakteristik profesional minimum seorang guru. sedangkan aspekaspek lain dari penguatan profesi belum cukup tampak dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan ini. memang masih cukup panjang dan berliku jalan untuk menegakkan profesi keguruan. (2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Namun demikian. Mencermati sejumlah materi sajian dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan guru dalam jabatan ini. juga bergeser dari ranah politik pemerintah ke ranah profesi keguruan. Kalau transformasi organisasi profesi berhasil dilakukan. dan intelektual. (3) bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi. tetap harus diingat bahwa tugas profesional seorang pendidik adalah membantu peserta didik belajar (to help the others learn). (4) menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik. Pekerjaan profesional juga dicirikan oleh semangat pengutamaan orang lain (altruism) dan kemanfaatan bagi seluruh masyarakat ketimbang dorongan untuk memperkaya diri pribadi. (2) menguasai secara mendalam bahan belajar atau mata pelajaran serta cara pembelajarannya. kompetensi dan sertifikasi. dan (5) menjadi partisipan aktif masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. Karena itu. Walaupun secara praktik boleh saja menikmati penghasilan tinggi. pekerjaan profesional juga ditandai oleh orientasinya yang lebih kepada masyarakat daripada kepada pamrih pribadi (community rather than self-interest orientation). Akhirnya. kultural. emosional. seorang guru atau dosen memang tidak diharamkan untuk menyenangkan peserta didik dan mungkin orangtua mereka. dan (6) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. satu atau dua langkah sudah berhasil dilakukan. yaitu: (1) mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. masih ada tantangan yang lebih berdimensi legal dan moral. yang bahkan terlepas dari persoalan apakah mereka suka atau tidak suka.[5] Secara substantif. berdasarkan sintesis temuan-temuan penelitian. Syarat terakhir. Adapun karakteristik profesional minimum guru. (3) mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu. Kalau dari perspektif kemauan politik sudah pengakuan terhadap profesi guru dan dosen sudah diundangkan. evaluasi dan pemberian sanksi. Namun demikian. (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik. bobot cinta altruistik profesi memungkinkan diperolehnya pula prestise sosial tinggi. saya berharap agar sejumlah aspek yang masih tercecer bisa diagendakan di luar kurikulum tertulis (written curriculum). sejumlah karakteristik tersebut sudah terakomodasi dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. maka dari perspektif guru sendiri juga harus ada usaha untuk senantiasa memantapkan profesinya. Beberapa di antaranya adalah: (1) menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. Perlu diingat. Karena pergeseran letak kendali dari . maka letak kendali (locus of control) profesi keguruan. agar sosok profesional guru madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar yang dihasilkan merupakan sosok profesional yang utuh. moral. tampak jelas bahwa penekanan yang diberikan pada aspek kompetensi. (4) mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya. seperti kewenangan sertifikasi. sosial.membantu dan membuat peserta didik belajar.

akreditasi. bisakah watak birokrasi pendidikan kita yang senantiasa ingin memusatkan kekuasaan pada sekelompok kecil orang. 2010. Berwibawa 5. Pemanfaatan teknologi pembelajaran 7. Sudah saatnya organisasi profesi keguruan melakukan sertifikasi profesi keguruan. diubah agar terjadi redistribusi kekuasaan kepada masyarakat sipil seperti organisasi profesi keguruan? Dari perspektif kultur masyarakat. Evaluasi hasil belajar 8. Sudah saatnya pula pelaksanaan dan keputusan hasil evaluasi peserta didik dilakukan oleh para pendidik profesional. merelakan terjadinya redefinisi kekuasaan menjadi lebih terbatas? Atau. Perancangan pembdajaran 5. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan 2. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya Kompetensi Kepribadian 1. akreditasi. Dari perspektif struktur kekuasaan. Pengembangan kurikulum/silabus 4. 9:09 am Guru Profesional adalah guru yang memiliki 4 STANDAR KOMPETENSI GURU yaitu: Kompetensi Pedagogik 1. 9:09 am Guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian profesional dalam bidangnya masingmasing. mungkinkah para pejabat birokrasi pendidikan yang masih berkecenderungan senantiasa memperluas bidang kekuasaan. maka sudah saatnya kita menyiapkan kata perpisahan kepada sertifikasi. bisakah kita mengubah mentalitas masyarakat berorientasi serba-negara (state-oriented society) ini menjadi masyarakat yang berorientasi pada jasa nyata dan prestasi (merit and achievement-oriented society)? Beranikah para guru mengambil-alih kembali (reclaiming) sebagian kewenangan yang sudah cukup lama kita serahkan kepada negara dan atau pemerintah? Bila jawaban positif kita berikan. Pelaksanaan pembelajarari yang mendidik dan dialogis 6.pemerintah ke organisasi profesi menyangkut kewenangan dan sumberdaya untuk sertifikasi. dan evaluasi oleh pemerintah. Dengan keahlian tersebut guru diharapkan mampu mengemban tugasnya sebagai seorang pendidik dengan baik MadeLast replied to at November 5. Stabil 6. 2010. Dewasa 7. Jujur 8. Last replied to at November 5. Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat . dan evaluasi. Mantap 2. Arifdanbijaksana 4. Pemahaman terhadap peserta didik 3. Sudah saatnya akreditasi sekolah dan perguruan tinggi dilakukan oleh lembaga independen. Berakhlak mulia 3. maka persoalan menjadi sangat berdimensi politik serta sarat dengan konflik kepentingan.

Secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri 10. teknologi. Menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan Kompetensi Profesional Kemampuan guru dalam pengetahuan isi (content knowledge)’ penguasaan: 1. atau kelompok mata pelajaran yang diampu 2. 9:09 am Guru yang mau dan mampu melaksanakan tugas sesuai tupoksi dan selalu berusaha melakukan kegiatan inovatif dalam menyikapi perkembangan zaman . pimpinan satuan pendidikan. Bergaul secara efektif dengan peserta didik. Berkomunikasi lisan. Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional 3. Mengembangkan din secara mandiri dan berkelanjutan Kompetensi Sosial 1. disiplin dan bertanggung jawab sumiati sman 2 negaraLast replied to at November 5. 2010. mata petajaran. yang secara konsep menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan. atau seni yang relevan. mata pelajaran. 2010. Maten pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan. tulisan. isyarat 2. enaga kependidikan. 9:09 am Guru profesional adalah jujur. atau kelompok mata pelajaran yang diampu utamiLast replied to at November 5. sesama pendidik.9. Konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan. orang tualwali peserta didik 4. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful