P. 1
Ilmu Rijal Al

Ilmu Rijal Al

|Views: 218|Likes:
Published by ferry_fasya5497

More info:

Published by: ferry_fasya5497 on Apr 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2014

pdf

text

original

"Ilmu Rijal Al- Hadits

"
Bismillah.... Ilmu Rijalul Hadits merupakan salah satu ilmu yang paling penting dalam ilmu Hadits dan menjadi salah satu ilmu yang diutamakan oleh para ulama hadits. Yang menjadi pokok pembicaraan dalam ilmu Rijalul Hadits ini adalah orang2 yang berada pada sanad hadits, yaitu para perawi hadits. Ilmu ini terbagi kedalam dua bagian besar, yaitu : 1. Tarikh ar-Ruwah yaitu ilmu tentang sejarah para perawi hadits 2. Jarh wa Ta’dil yaitu ilmu yang menerangkan adil dan tidaknya seorang perawi hadits. Insya Allah, kita coba bahas sedikit satu persatu dari kedua bagian ilmu Rijal Al-Hadits ini. Yang pertama : Ilmu Tarik ar-Ruwah. Secara umum, ilmu Tarikh ar-Ruwah bisa didefinisikan sebagai berikut : “Ilmu yang menerangkan keadaan2 perawi hadits dari hal hari kelahiran dan kewafatannya, nama aslinya, kunyahnya, nasabnya, guru-gurunya, masa mulai mendengar hadits, orang2 yang meriwayatkan darinya, negerinya, tempat tinggalnya, rihlahnya, sejarah kedatangannya ke suatu negeri dan segala hal yang berhubungan antara perawi2 tersebut dengan hadits.” Ilmu ini lahir bersamaan dengan lahirnya sejarah periwayatan hadits di dalam Islam dan para ulama hadits sangat mementingkan ilmu ini supaya diketahui keadaan perawi2 dalam sanad suatu hadits agar diketahui ke-mutashil dan ke-munqathi-annya (bersambung dan tidaknya suatu sanad), tentang ke-marfu’-an dan ke-mauquf-annya (sampai dan tidaknya suatu hadits kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam) dan sebagainya, sehingga nantinya dapat diketahui apakah hadits itu shahih, dha’if atau bahkan maudhu’. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata :

‫لما استعمل الرواة الكذب استعملنا لهم التاريخ‬
“Tatkala para perawi telah menggunakan kedustaan, kamipun menggunakan sejarah.” Diantara usaha para ulama untuk mengetahui sejarah para perawi ini adalah dengan cara berinteraksi langsung dengan para perawi yang semasa dengan beliau semua sehingga para ulama tersebut betul2 mengetahui dengan pasti hal ihwal tentang seorang perawi dan semua itu mereka hafal, catat dan kumpulkan di dalam kitab2 karya mereka yang selanjutnya menjadi rujukan dari para ulama setelahnya. Ada satu contoh kecil dan menarik tentang masalah ini... Dari Ibrahim Ath-Thaalaqaaniy, ia berkata :

." (Maksudnya bahwa Al-Hajjaj bin Dinar telah diketahui bukanlah seorang dari kalangan sahabat rasulullah dan tidak pernah bertemu dengan rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sehingga jika ia berkata :"Dari rasulullah. lalu dari siapa ?". Aku berkata : "‘Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam". Ada ulama yang dalam kitabnya hanya khusus menerangkan tentang nama dan kunyah dari para perawi. maka –alhamdulillah.))اختلف‬ “Aku pernah berkata kepada ‘Abdullah bin Al-Mubarak : "Wahai Abu ‘Abdirrahman. Ia berkata : "Tsiqah. Diantara kitab2 yang paling masyhur yang menerangkan sejarah para perawi ini ialah : . Dan lain sebagainya." tanpa menyebutkan perawi diantara ia dengan rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam maka dapat dipastikan bahwa sanad hadits itu terputus. dan engkau puasa untuk keduanya bersama puasamu". Ada yang khusus menerangkan tentang nama2 yang hampir sama.) Alhamdulillah usaha ini diteruskan dan senantiasa dipelihara oleh para ulama dari masa ke masa dan atas kesungguhan dan ketelitian para ulama hadits dalam menyelidiki dan mengumpulkan sejarah para perawi ini.‫قلت لعبد الله بن المبارك : يا أبا عبد الرحمان الحديث الذي‬ ‫جاء : إن البر بعد البر أن تصلي لبويك مع صلتك وتصوم لهما مع‬ ‫صومك؛ قال فقال عبد الله : يا أبا إسحاق عمن هذا ؟ قال قلت‬ ‫له : هذا من حديث شهاب بن خراش؛ فقال : ثقة عمن ؟ قال‬ ‫قلت : عن الحجاج بن دينار؛ قال : ثقة عمن ؟ قال قلت : قال‬ ‫رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم. ‘Abdullah berkata : "Wahai Abu Ishaq." atau "Telah bersabda rasulullah. dari siapa hadits ini ?". hadits yang berbunyi : "Sesungguhnya kebajikan setelah kebajikan adalah engkau shalat untuk kedua orang tuamu bersama shalatmu. sesungguhnya antara Al-Hajjaj bin Dinar dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa wa sallam terbentang padang sahara luas yang dapat memutuskan leher orang yang menyeberanginya. Ada yang menerangkan khusus para perawi dari kalangan sahabat2 rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata : "Wahai Abu Ishaq. Ia berkata : "Tsiqah. قال : ))يا أبا إسحاق‬ ‫إن بين الحجاج بن دينار وبين النبي صلى الله عليه وعلى آله‬ ‫وسلم مفاوز تنقطع فيها أعناق المطي ولكن ليس في الصدقة‬ ‫. Aku menjawab :"Ini berasal dari hadits Syihab bin Kharasy". lalu dari siapa ?".. Ada yang khusus menerangkan tentang silsilah keturunan para perawi.dengan se-izin Allah terkumpullah suatu perbendaharaan besar yang menerangkan sejarah para perawi hadits dengan selengkaplengkapnya dan semua itu kemudian para ulama simpan dalam kitab2 karya mereka. Aku menjawab : "Dari Al-Hajjaaj bin Dinar"..

3. Al-Ansab karya Ibnu Muhammad as-San’ani rahimahullah (lahir 506 H – wafat 562 H). At-Tarikhul Kabir karya imam Bukhari rahimahullah (lahir 194 H – wafat 256 H). Kitab ini khusus menerangkan tentang nama dan kunyah dari para perawi. Tahdzib Al-Kamal Fii Asma Ar-Rijal karya Al-Hafizh al-Mizzi rahimahullah (lahir 654 H – wafat 742 H) 9. Al-Isti’ab Fii Ma’rifat al-Ashab karya Ibnu Abdil Barr rahimahullah (lahir 368 H – wafat 463 H). Definisi Lafadz “jarh”. Di dalamnya diterangkan kurang lebih 4225 sahabat rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan laki2 dan wanita. Yang paling pertama kali harus kita kenal dan ketahui serta menjadi pembahasan pertama dalam bagian ini tentu saja adalah para perawi yang menerima hadits secara langsung dari Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam kitab ini diterangkan kurang lebih sejumlah 7. Tarikh Baghdad karya Al-Khatib al-Baghdadi (lahir 392 H – wafat 463 H). 4. 10.831 biografi para perawi. Di dalam kitab ini diterangkan nama2 dari para perawi yang mirip.000 biografi perawi2 dari kalangan laki2 dan wanita. 7. Al-Asma’ wa al-Kuna karya Ali ibnu Abdullah al-Madani rahimahullah (lahir 161 H – wafat 234 H). Tahdzib at-Tahdzib karya Al-Hafizh ibnu Hajar al-Asqalani (lahir 773 H – wafat 853 H) 11. Dan banyak lagi kitab2 lainnya. JARH WA TA'DIL (Men-cacat-kan dan meng-adil-kan rawi) ILMU JARH WA TA’DIL (Mencatat dan mengadilkan rawi) A. Di dalam kitab ini diterangkan kurang lebih sejumlah 40.1. 6. 8. yaitu dari kalangan sahabat2 beliau radhiyallaahu ‘anhum. menurut muhadditsin ialah sifat seorang rawi yang dapat mencacatkan keadilan dan kedhabitanya. Di dalam kitab ini diterangkan tentang silsilah keturunan para perawi. .wafat 230 H). Al-Musytabah Fii Asma ar-Rijal karya imam Adz-Dzahabi rahimahullah (lahir 673 H – wafat 784 H). 2. Thabaqat Al-Kubra karya Muhammad ibnu Sa’ad rahimahullah (lahir 168 H. Men-jarh atau men-tajrih seorang rawi berarti menyifati seorang rawi dengan sifat-sifat yang dapat menyebabkan kelemahan atau tertolak apa yang diriwayatkan nya. Tarikh Naisabur karya imam Al-Hakim (lahir 321 H – wafat 405 H) 5.

Mereka yang dianggap kafir adalah golongan Rafidhah yang mempercayai bahwa Tuhan itu menyusup (bersatu) pada sayyidina ‘Ali dan pada imam-imam yang lain . maka periwayatannya harus ditolak dan apabila seorang rawi dipuji sebagai seorang yang adil. Apabila seorang rawi dijarh oleh para ahli sebagai seorang rawi yang cacat. 'Ajjaj al-Khathib mendefinisikannya sebagai berikut : Adalah suatu ilmu yang membahas perihal para rawi dari segi-segi diterima atau ditolak periwayatannya ‫هُوَ ال ْعِل ْم ال ّذِيْ ي َب ْحث في أ َحوال الرواةِ من حي ْث قَب ُوْل رِواي َت ِهِم أ َوْ رد ّها‬ َ َ ُ َ ْ ِ ِ ُ َ ْ ُ َ ِ َ ّ ِ َ ْ B. Mukhalafah (meriwayatkan hadits yang berbeda dengan periwayatan rawi yang lebih tsiqah). dan mempercayai bahwa Ali akan kembali lagi ke dunia sebelum hari kiamat. 2. maka periwayatannya diterima selama syarat-syarat yang lain untuk menerima hadits dipenuhi. Akan tetapi umumnya berkisar pada 5 macam. . Ilmu jarh wa ta’dil berarti ilmu yang membahas tentang kritik adanya aib (cacat) atau memberikan pujian pujian adil kepda seorang rawi. Faidah Ilmu Jarh wa Ta’dil Faedah mengetahui ilmu Jarh wa Ta’dil ialah untuk menetapkan apakah periwayatan seorang rawi itu dapat diterima atau harus ditolak sama sekali. yaitu : 1. diluar ketentuan Syara’) Rawi yang disifati dengan bid’ah adakalanya tergolong orang-orang yang di anggap kafir dan adakalanya tergolong orang yang difasikan. Apabilah seorang rawi sudah di tarjih sebagai rawi yang cacat maka periwayatanya ditolak dan apabilah seorang rawi dita’dil sebagi orang yang adil maka periwayatanya diterima.Macam-macam kecacatan Rawi Cacat (keaiban) rawi itu banyak. Dr. Rawi yang dikatakan adil adalah orang yang dapat mengendalikan sifat-sifat yang dapat menodai agama dan keperwiraannya. . Sedangkan orang-orang yang dianggap fasiq ialah orang yang mempunyai I’tikad bertentangan dengan dasar syari’at.Men-ta’dil seorang rawi berarti memberikan sifat-sifat terpuji kepada seorang rawi hingga apa yang diriwayatkanya dapat diterima . selama memenuhi syarat-syarat yang lain untuk menerima hadits dipenuhi. Bid’ah (melakukan tindakan tercela.

Jalan-jalan untuk mengetahui keadilan dan kecacatan rawi dan masalah-masalahnya Keadilan seorang rawi daat diketahui dengan salah satu dari dua ketetapan berikut : a. 4. Ahmad dan lain sebagainya. yang kedua periwayatan tersebut tidak dapat disatukan/digabungkan maknanya. Yaitu ditetapkan sebagai rawi yang adil oleh orang yang adil. akan tetapi jika periwayatnya tadi juga terdapat dalam periwatan rawi yang disifati dengan ghalath. Syu’bah bin Al-Hajjaj. Ghalath (banyak kekeliruan dalam periwayatannya) Ghalath (slaah) itu kadang-kadnag banyak dan kadang-kadnag sedikit. Seorang rawi yang disifati banyak kesalahan dalam riwayatanya maka hendaknya diadakan peninjauan kembali terhadap hadits-hadits yang telah diriwayatkannya. yang semula rawi yang dita'dilkan itu belum dikenal sebagai rawi yang adil.Apabila rawi yang bagus ingatannya dan jujur meriwayatkan suatu hadits yang berlawanan maknanya dengan orang yang lebih kuat ingatannya atau berlawanan dengan kebanyakan orang. Seperti: Anas bin Malik. maka mereka tidak perlu lagi untuk diperbincangkan keadilannya. Begitupun kebalikannya dengan jarh. Periwayatan demikian disebut "Syadz". selama belum jelas identitas rawinya. b. Jahalatul hal (tidak dikenal identitasnya) Jahalatul hal merupakan pantangan untuk diterimanya haditsnya. dan kalau perlawanan itu berkesangatan atau rawinya lemah sekali hapalannya. maka haditsnya tsb dapat di pakai melalui sanad hadits kedua ini tapi apabila tidak ada maka haditsnya di tawaqufkan. . 5. Da’wal inqitha’ (diduga keras sanadnya terputus) Misalnya menuduh rawi men-tadlis-kan atau meng-irsal-kan suatu hadits. dalam hal ini didahulukan penetapan orang yang telah mengenalnya. Apabila sebagian orang telah mengenal identitasnya dengan baik. periwayatannya disebut "Munkar". Mereka yang sudah terkenal sebagai orang yang adil di kalangan para ahli ilmu. karena kepopulerannya di kalangan ahli ilmu bahwa dia terkenal sebagai orang yang adil. sebab tentu ia lebih tahu dari orang yang mengingkarinya. Sufyan Ats-Tsauri. Bi-Syuhrah. Asy-Syafi’I. kemudian ada yang mengingkarinya. [b]Pujian dari seseorang yang adil (tazkiyah). 3. .

1. Ta’dil harus didahulukan dari jarh . baik dalam soal riwayah maupun dalam soal syahadah. Dapatkan pen-ta’dil-an dan pen-tajrih-an seseorang tanpa menyebutkan sebabsebabnya Disini terdapat perselisihan pendapat tapi yang dianut oleh para muhadditsin seperti Bukhari Muslim. c) Cukup 1 orang saja. Jarhi harus didahulukan secara mutlak walau jumlah mu’addil lebih banyak dari pada jarhnya. 4. Jumlah orang yang di pandang cukup untuk menta’dil dan mentarjih rawi-rawi Dalam hal ini terdapat perselisihan pendapat : a) Pedapat fuqoha’ Madinah minimal 2 orang baik dalam syahadah maupun riwayah b) Cukup 1 orang dalam riwayah dan bukan dalam soal syahadah. dimana sebagian ulama’ menta’dil dan sebagian yang lain mentakhrij maka dalam hal ini terdapat ada 4 pendapat : i. ii. dll adalah bahwa Menta’dil tanpa menyebutkan sebab-sebabnya itu boleh karena sebab-sebanya itu banyak sekali dan jika disebutkan bisa menyibukkan kerja saja tapi kalau dalam hal tajrih tidak boleh kerena setiap pentarjih mempunyai sebab-sebab yang berbedabeda. maka perlu diterangkan cacat seorang rawi. Pendapat ini dianut oleh Jumhur 'ulama. Sebab bagi rajih tentu lebih mengetahui tentang sisi batin dari rawi daripada mu’addil. 3. Pertentangan antara Jarh dan Ta’dil Apabila terjadi pertentangan antara jarh dan ta'dil pada seraong rawi. padahal jarh dapat berhasil dengan satu sebab. Syarat-syarat bagi penta’dil (mu’addil) dan pentarjih (jarih) a) Berilmu pengetahuan b) Takwa c) Wara’ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat. Abu Dawud. doea kecil. (Mufassar) 2. sebab bilangan tidak jadi syarat dalam penerimaan hadits. dan makruhat) d) Jujur e) Menjauhi fanatik glongan f) Mengetahui sebab-sebab menta’dil dan dan mentajrih. syubhat.

Masih tetap dalam pertentangan selama belum ditentukan yang menjarhnya. maka didaulukan jarh. yaitu 1) Berbentuk af’alut tafdhil atau ungkapan lain yang setara maknanya dengan af’alut tafdhil. Contoh : ‫( أوثق الناس‬Orang yang paling tsiqah) ‫( أثبت الناس حفظا وعدالة‬orang yang paling mantap hafalan dan keadilanya) ‫( إليه المنتهي فى الثبت‬orang yang paling top keteguhan hati dan lidahnya) ‫( ثقة فوق الثقة‬orang yang tsiqoh melebihi orang yang tsiqoh) 2) Berbentuk pengulangan lafadz yang sama atau dalam maknanya saja Contoh: ‫( ثبت ثبت‬Orang yang teguh lagi teguh) ‫( ثقة ثقة‬orang yang tsiqah lagi tsiqah) . Pengarang at-Taqrib mengemukakan sebab timbulnya khilaf ini ialah jika jumlah mu'adiil lebih banyak dari jarih. Bila jumlah mu’addilnya lebih banyak dari rajih maka didahulukan ta’dil Karena jumlah yang banyak memperkuat kedudukan mereka iv. 5.Karena jarihh bisa salah dalam mencacatkan rawi apalagi kalau ada rasa benci maka pasti sebab pentarjihanya bersifat subyektif berbeda dengan mu’addil dalam menilai rawi mereka lebih mendahulukan kelogisan atau obyektif iii. tetapi kalau jumlahnya seimbang atau lebih sedikit antara mu'addil dan jarih. Susunan lafadz-lafadz untuk menta’dil dan mentarjih rawi Ibnu Hajar menyusun ke dalam 6 tingkatan. dan ini merupaka putusan 'ijma.

‫( حجة حجة‬orang yang ahli lagi petah lidahnya) ‫( ثبة ثقة‬orang yang teguh lagi tsiqah) ‫( حافظ حجة‬orang yang hafidz lagi petah lidahnya) ‫( ضابط متقن‬orang yang kuat ingatan lagi meyakinkan ilmunya ) 3) Menggunakan Lafadz yang mengandung arti kuat ingatan Contoh: ‫( ثبت‬orang yang teguh hati dan lidahnya ) ‫( متقن‬orang yang meyakinkan ilmunya) ‫( ثقة‬orang yang tsiqoh) ‫( حافظ‬orang yang kuat hafalanya) ‫( حجة‬orang yang petah lidahnya) 4) Menggunakan Lafadz yang tidak menggunakan arti kuat ingatan dan adil Contoh: ‫( صدوق‬orang yang sangat jujur) ‫( مأمون‬orang yang dapat memegang amanat) ‫( لبأس به‬orang yang tidak cacat) 5) Menggunakan lafadz yang menunjukkan kejujuran rawi tanpa ada kedhabitn Contoh: ‫( محله الصدق‬orang yang berstatus jujur) .

atau lafadz tersebut dikaitkan dengan pengharapan . Contoh: ‫( أوضع الناس‬orang yang paling dusta) ‫( أكذب الناس‬orang yang paling bohong) ‫( إليه المنتهى فى الوضع‬orang yang paling top kebohonganya) 2) Menggunakan lafadz –lafadz sighot mubalaghoh menunjukkan amat cacatnya rawi. .‫( جيد الحديث‬orang yang baik haditsnya) ‫( حسن الحديث‬orang yang bagus haditsnya) ‫( مقارب الحديث‬orang yang haditsnya berdekatan dengan hadits-hadits orang lain yang tsiqoh) 6) Menggunakan lafadz yang menunjukkan arti mendekati cacat. jika Allah menghendaki) ‫( فلن أرجوا بأن لبأس به‬orang yang diharapkan tsiqah) ‫( فلن صويلح‬orang yang shalih) ‫( فلن مقبول حديثه‬orang yang diterima haditsnya) Untuk mentajrih hadits ada 6 tingkatan lafadz yang digunakan : 1) Menggunakan lafadz –lafadz af’alut tafdhil atau ungkapan-ungkapan lain yang serupa denganya menunjukkan amat cacatnya rawi. Contoh: ‫( صدوق إن شاءالله‬orang yang jujur. atau ditashghitkan. Seperti sifat-sifat diatas yang diikuti kafadz “inssaAllah”.

bohong atau yang lainya Contoh: ‫( فلن متهم بالكذل‬orang yang dituduh bohong) ‫( أو متهم بالوضع‬orang yang dituduh dusta) ‫( فلن فيه النظر‬orang yang perlu diteliti) ‫( فلن ساقط‬orang yang gugur) ‫( فلن ذاهب الحديث‬orang yang hadtsnya telah hilang) ‫( فلن متروك الحديث‬orang yang ditinggal haditsnya) 4) Menunjukkan amat lemahnya rowi Contoh: ‫( مطرح الحديث‬orang yang dilempar haditsnya) ‫( فلن ضعيف‬orang yang lemah) ‫( فلن مردود الحديث‬orang yang ditolak hadtsnya) 5) Menunjukkan kacaunya hafalan rawi .Contoh: ‫( كذاب‬orang yang pembohong) ‫( وضاع‬orang yang pendusta) ‫( دجال‬orang yang penipu) 3) Menunjukkan tuduhan dusta.

Dicetak di Hindia tahun 320 H 3. karya Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhpri . karya Yahya Ibni Ma’in. At-Tsiqat. Ad-Dhu’afa’. Ingat bahwa beliau ini . Contoh: ‫( ضعف حديثه‬orang yang didho’ifkan haditsnya) ‫( فلن مقال فيه‬orang yang diperbincangkan) ‫( فلن فيه خلف‬orang yang disingkiri) ‫( فلن لين‬orang yang lunak) ‫( فلن ليس با لحجة‬orang yang tidak dapat digunakan hujjah haditsnya) [size]‫/[فلن ليس با لقوى‬size] (orang yang tidak kuat) C. Ma’rifatur rijal. juz I buku tersebut berupa manuskrip ( tulisan tangan) berada di Darul Kutub Adh-Dhahiriyah 2. karya Abu Hatim bin Hibban Al-Busty (wafat tahun 304 H). merupakan kitab pertama yang sampai pada kita. Kitab-kitab ilmu Jarh wa Ta’dil 1.Contoh: ‫( فلن ليحتج به‬orang yang tidak dapat dibuat hujjah hadtsnya) ‫( فلن مجهول‬orang yang tidak dikenal identitasnya) ‫( فلن منكر الحديث‬orang yang munkar haditsnya) ‫( فلن مضطرب الحديث‬orang yang kacau haditsnya) ‫( فلن واه‬orang yang banyak menduga-duga) 6) Menggunakan lafadz-lafadz yang dekat dengan sifat adil tapi menunjukkan kelemahanya.

Lisanul Mizan. karya Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razy (240-326 H). Fatchur Rahman. Bab IV. AlMa'arif Bandung".907oran rijalus sanad. terdi dari 3 jilid. kitab ini merupakan kitab yang terbesar dan mempunyai banyak faidah bagi kita. Drs. hal.343 rijalus sanad. Mizanul I’tidad. 6. dicetak di India pada th 1329-1331 dalam 6 jilid. 4. Ia sudah tidak ada lagi sekarang. Demikian adalah pendapat para ulama tentang al-jarh wat ta’dil : Ø Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan berkata. “Al-Jarh wat ta’dil telah habis masanya. "PT. sudah dicetak berkali-kali dan terakhir dicetak di Mesir tahun 1325 H mencakup 10. Ia sama sekali tidak bisa diterapkan pada seorang muslim yang bukan perawi.sangat muda menta’dil rawi jadi hati-hati atas pendapatnya. 1 jilid I dijadikan mukaddimah dan jilid yang lainya dijadikan 2. -------Dikutip dari : Ikhtisar Mushthalahul Hadits. apalagi diterapkan terhadap para ulama dan syuhada yang sangat dimuliakan Allah dan dicintai oleh kaum muslimin.”1 . Terdiri dari 4 jilid yang memuat 18. Dan apa yang dipraktikkan oleh para ulama salaf dalam hal ini sama sekali bukan ghibah. 5.055 rawi. karya Imam Syamsuddin Muhammad Ad-Dzahabi (673-748). Al-Jarh wat Ta’dil Khusus untuk Para Perawi Hadits Sesungguhnya ilmu al-jarh wat ta’dil adalah khusus untuk para perawi yang bermasalah dalam periwayatan haditsnya. sering di setak berkali-kali dan terakhir dicetak di India pada tahun 1373 H menjadi 9 jilid. Ketika hadits-hadits telah dibukukan dan masa para perawi telah berlalu. karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalany (773-852 H) memuat 14. Al-jarhu wa ta’dil. maka selesailah sudah al-jarh wat ta’dil. Naskah asli kitab ini ditemukan di Darul Kutub Al-Mishriyah dengan tidak lengkap. 307 dengan peringkasan.

sunan.”3 Ø Syaikh Ridha Ahmad Shamadi berkata. Seperti orang yang mengatakan. “Tidak usah dijarh orang yang tidak perlu dijarh.”2 Ø Syaikh Hasan bin Falah Al-Qahthani berkata. Dan.”8 Dan yang lebih luar biasa lagi adalah pendapat Syaikh yang sangat mereka banggakan [terlebih diriku: peny.Ø Syaikh Abdul Aziz bin Abdilah Ar-Rajihi berkata. karena ia sekarang telah terbukukan rapi dalam berbagai kitab. terjadi dialog tanya jawab antara Syaikh Dr. Begitu pula dengan hadits-hadits Nabi. 485 H) berkata.”4 Ø Ibnul Murabith (w.7 atau si fulan sifatnya begini… Sebab.] yaitu Syaikh Shalih Fauzan. ia telah terbukukan dalam berbagai kitab shahih. maka aku cukupkan saja dengan pendapat Syaikh Shalih Fauzan berikut ini: Syaikh Shalih Fauzan: Tidak Ada Ulama Al-Jarh wat Ta’dil Pada Masa Ini Dalam satu kesempatan. “Ilmu al-jarh wat ta’dil suah selesai. Tapi karena beliau sangat dibenci oleh orang-orang ‘Salafi Ekstrim’.6 “… Dan tidak termasuk dalam hal itu apa yang disebut al-jarh wat ta’dil. Sebenarnya aku juga mau menampilkan pendapat Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq. “Besar sekali bedanya antara ilmu al-jarh wat ta’dil yang dipraktikkan oleh para ulama salaf dalam kitab-kitab dan karya-karya mereka. si fulan mudallis. agar mereka berhati-hati terhadap hadits-hadits yang diriwayatkannya. Al-Alamah Shalih bin Fauzan hafizhahullah dengan seorang thalibul ilmi (Pelajar/Penuntut ilmu) : .”5 Ø Syaikh Athiyah bin Muhammad Salim berkata. seperti para ulama yang periwayatan hadits mereka tidak dibutuhkan. dengan pelecehan terhadap para ulama dan da’I. yang semacam ini terdapat faedah di dalamnya bagi kaum muslimin. pencemaran nama baik. aljarh wat ta’dil itu memang khusus untuk para ahli hadits. dan mu’jam…sehingga sekarang tidak ada lagi al-jarh wa ta’dil. musnad. “Hadits-hadits telah dibukukan dan tajrih pun sudah tidak ada faedahnya lagi. dan penyebaran aib serta kesalahan seseorang dengan mengatasnamakan al-jarh wat ta’dil yang terjadi sekarang ini.

[4] Lihat artikel. Kami tidak mengetahui seorang pun sekarang! Ya’ inilah dia yang dimaksud dengan aljarh wat ta’dil. Sekarang ini para ulama al-jarh wat ta’dil telah berada di dalam kubur.Penanya: Syaikh yang mulia. Al-jarh wat Ta’dil itu hanya ada dalam ilmu sanad dan riwayat hadits. aljarh wat ta’dil itu adalah bagian dari ilmu isnad dalam hadits.almanhaj.net/vb/showthead.php?p=34223 [2] Ibid. [3] An-Naqd. Dan. siapakah yang dimaksud dengan ulama al-jarh wat ta’dil pada masa kita sekarang ini? Syaikh: Demi Allah.9 khususnya di sebagian kalangan penuntut ilmu. Dan itu bukan al-jarh wat ta’dil. kitab al-jarh wat ta’dil. kami tidak tahu siapa yang termasuk ulama al-jarh wat ta’dil sekarang ini. hal ini akan membuat sebagian orang memahami Anda tidak memandang perlunya membantah ahlu bid’ah dan para penyeleweng agama? Syaikh: Al-jarh wat ta’dil itu bukan ghibah dan namimah seperti yang banyak terjadi sekarang ini. dan ini adalah spesialisasi para imam dan ahli hadits.”10 Footnote: [1] Http://www. . Wahai saudaraku. Al-Jarh wat Ta’dil ‘Indal Muhadditsin/Syaikh Ridha Ahmad Shamadi. Riyadh/Cetakan pertama/1993m-1414H. kami tidak mengetahui seorang pun ulama al-jarh wat ta’dil pada saat ini. perkataan mereka tetap ada di dalam kitab-kitab mereka. Dan mencela manusia serta menjatuhkannya bukanlah bagian dari ilmu aljarh wat ta’dil. Akan tetapi. dimana ulama tersebut menguasai sanadsanad hadits dan mampu memilah mana yang shahih dan mana yang dha’if. Adabuhu wa Dawafi’uh/Syaikh Hasan bin Falah Al-Qahthani/Hlm 34/Penerbit Dar Al-Humaidhi. Mengatakan si fulan begini… si fulan begitu… memuji sebagian orang dan mencela sebagian yang lain adalah ghibah dan namimah. Penanya: Anda mengatakan bahwa al-jarh wat ta’dil pada zaman ini sudah tidak ada lagi.

tetapi mayoritas imam hadits mengatakan bahwa hal ini tidak bisa diterima. Meski banyak ulama tsiqah yang melakukan tadlis. Imam Asy-Syafi’I mengatakan. namun dia menyebutkan perawi (syaikh) yang di atasnya sehingga mengesankan dia mendengar langsung dari syaikh tersebut.net. “Tadlis adalah saudaranya dusta. [7] Mudallis.php?p=34223 . Tadbir ArRawi/Imam As-Suyuthi.islamweb.” (Lihat lebih rinci tentang tadlis. Al-Baits Al-Hatsits fi Ikhtishar ‘Ulum Al-Hadits/Ibnu Katsir. [6] Beliau menyampaikan ini ketika membahas masalah ghibah terhadap orang yang sudah meninggal. Al-Muqizhah fi ‘Ilmi Mushthalah Al-Hadits/Imam Adz-Dzahabi. Buku ini juga bisa didownload di http://www.net/vb/showthread.php?cat=12&book=623 atau http://www. Kitab yang bersumber dari ceramah hadits ini terdapat dalam Program Al-Maktabah Asy-Syamilah. tetapi dia itu semacam perkataan yang mengesankan sesuatu dengan lafal yang tidak tegas. Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah/Al-Khathib Al-Baghdadi. sesungguhnya ghibah yang banyak terjadi sekarang ini memang tidak termasuk dalam al-jarh wat ta’dil. “Tadlis itu bukan dusta.net/books/open.almeshkat.php?cat=9&book=1415 dan beberapa situs lain. [10] http://www.doc [5] Ibid. dan dua macam tadlis di: Muqaddimah Ibnu As-Shalah. mudalis.almanhaj. [9] Syaikh Shalih Fauzan benar.com/open.” Adapun Al-Hafizh Ibnu Ash-Shalah berkata. Sumber: http://www. yaitu: Seorang perawi yang tidak menyebutkan dari siapa dia mendengar hadits yang diriwayatkannya. Al-Mukhtashar fi Ushul Al-Hadits/As-Syarif AlJurjuni. dan kitab-kitab lain yang sejenis. Menukil dari. Ar-Raf’u wat Takmil fil Jarhi wat Ta’dil/Syaikh Abdul Hayy AlLaknawi/Tahqiq:Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah/Hlm 50.waqfeya.di http://saaid. [8] Syarh Bulugh Al-Maram/Syaikh Atihyah bin Muhammad Salim/Pelajaran nomor 123.net/doat/rida-samadi/5.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->