P. 1
Penyakit menular

Penyakit menular

|Views: 5,035|Likes:
Published by Faisal Rizza
Penyakit menular
Penyakit menular

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Faisal Rizza on Apr 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2015

pdf

text

original

Sections

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang semakin meningkat,
termasuk bidang kesehatan secara umum. Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran telah
mencapai taraf yang sangat memuaskan dalam hal mengatasi penderitaan dan kematian penyakit
tertentu. Namun demikian, masalah kesehatan bagi masyarakat umum masih sangat rawan.
Walaupun pada beberapa tahun terakhir ini sejumlah penyakit menular tertentu sudah dapat
diatasi, tetapi di lain pihak timbul pula masalah baru dalam bidang kesehatan masyarakat,
baik yang berhubungan dengan penyakit menular dan tidak menular, maupun yang erat
hubungannya dengan gangguan kesehatan lainnya.
Dewasa ini banyak penyakit menular yang telah mampu diatasi bahkan ada
yang telah dapat dibasmi berkat kemajuan teknologi dalam mengatasi masalah lingkungan
biologis yang erat hubungannya dengan penyakit menular. Akan tetapi masalah penyakit
menular masih tetap dirasakan oleh sebagian besar penduduk negara sedang berkembang, di
samping munculnya masalah baru pada negara yang sudah maju. Penguasaan teknologi
terhadap pengaruh lingkungan biologi yang erat hubungannya dengan penyakit menular maka
penguasaan terhadap lingkungan fisik sedang dikembangkan di berbagai negara dewasa ini
yang sejalan dengan penguasaan terhadap lingkungan biologis. Di lain pihak, kemajuan
ilmu dan teknologi juga ikut mempengaruhi lingkungan sosial budaya dan sangat erat
hubungannya dengan pola tingkah laku masyarakat. Perubahan lingkungan sosial budaya
tersebut memberikan dampak positif dan negatif terhadap pola penyakit yang ada dalam
masyarakat, termasuk penyakit menular. Di lain pihak, dengan semakin meningkatnya kemajuan di
bidang komunikasi perhubungan dan transportasi antarnegara dewasa ini, maka setiap
kejadian penyakit menular pada suatu negara tertentu akan merupakan ancaman yang potensial
untuk negara lainnya.

Manusia sebagai makhluk sosial sangat dipengaruhi oleh ketiga faktor tersebut di
atas dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam hal ini manusia harus selalu
berusaha untuk mengatasi berbagai pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan oleh ketiga
faktor tersebut dengan: (1) menyesuaikan kebutuhan hidupnya dengan keadaan lingkungan
sekitamya, terutama terhadap keadaan lingkungan yang sulit diubah, atau (2) berusaha
mengubah lingkungannya untuk disesuaikan dengan kebutuhannya, terutama keadaan
lingkungan yang dapat mengganggu ketenteraman hidupnya.

Dewasa ini berbagai jenis penyakit menular telah dapat diatasi terutama pada negara-

negara maju, tetapi sebagian besar penduduk dunia yang mendiami belahan dunia yang sedang
berkembang, masih terancam dengan berbagai penyakit menular tertentu. Dalam hal ini maka
penyakit menular dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok utama yakni:
1.Penyakit yang sangat berbahaya karena kematiannya cukup tinggi
2.Penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan kematian atau cacat, walaupun
akibatnya lebih ringan dibanding dengan yang pertama.
3.Penyakit menular yang jarang menimbulkan kematian atau cacad, tetapi dapat mewabah
sehingga dapat menimbulkan kerugian waktu maupun materi/biaya.

Untuk dapat rnengambil tindakan yang berarti dalam usaha mengatasi serta
menanggulangi berbagai penyakit menular tertentu, maka harus diketahui dengan pasti berbagai
aspek epidemiologis penyakit menular secara umum.

BAB II
BEBERAPA DEFINISI

ISTILAH PENTING DALAM
PENYAKIT MENULAR

1.

Carrier: Manusia (orang) atau hewan tempat berdiamnya agent menular spesifik
dengan adanya penyakit yang secara klinis tidak terlihat nyata, tetapi dapat bertindak
sebagai amber infeksi yang cukup penting. Kemampuan sebagai pembawa/carrier bisa
terdapat pada seseorang dengan infeksi yang tidak tampak nyata sepanjang waktu tersebut
(umumnya dikenal sebagai orang sehat atau pembawa yang tidak jelas gejalanya), atau
berada dalam masa tunas (incubatory carrier), masa penyembuhan dan sesudah masa
penyembuhan dari suatu penyakit infeksi tertentu (convalescent carrier). Pada kondisi
tertentu maka kemampuan sebagai pembawa bisa berlaku dalam waktu singkat atau
panjang (temporary carrier/ transient carrier, atau chronic carrier).

2.

Case Fatality Rate: Biasanya dinyatakan sebagai persentase dari jumlah orang yang
didiagnosis menderita penyakit yang telah ditentukan dan meninggal karenanya. Istilah
ini lebih sering dipergunakan untuk kejadian luar biasa (outbreak) penyakit akut di
mana semua penderita setelah diikuti dengan periode waktu yang cukup untuk sampai
mengakibatkan kematiannya. Angka kefatalan (fatality rate) harus dengan jelas
dibedakan dan angka kematian (mortality rate). Sinonim: Angka kefatalan (fatality rate),
Persentase kefatalan (Fatality percentage).

1.

Chemopraphilaxis: Pemberian bahan kimiawi termasuk antibiotika, untuk
mencegah pertumbuhan atau perkembangan infeksi menjadi penyakit yang nyata.
Selanjutnya chemoteraphy yang berkenaan dengan penggunaan bahan-bahan kimiawi
untuk penyembuhan suatu penyakit yang secara klinis dapat diketahui, atau membatasi
perkembangannya lebih jauh.

2.

Cleaning: pembersihan dengan menggosok dan mencuci, seperti dengan air panas,
sabun atau deterjen yang sesuai, ataupun dengan menghisap debu maupun agent
menular atau zat organik dan permukaan badan di mana agent menular tersebut dapat
menemukan keadaan yang menguntungkan untuk bisa bertahan atau berkembang
biak.

1.

Communicable disease: penyakit yang disebabkan oleh unsur/agent penyebab menular

tertentu atau hasil racunnya, yang terjadi karena perpindahan/penularan agent atau
hasilnya dan orang yang terinfeksi, hewan, atau reservoir lainnya (benda lain) kepada
pejamu yang rentan (potential host), baik secara langsung maupun tidak langsung melalui
pejamu perantara hewan (vektor), atau lingkungan yang tidak hidup (lihat
transmission of infectious agent).

2.

Communicabel period: waktu atau selama waktu tertentu di mana agent menular dapat
dipindahkan baik secara langsung maupun tidak langsung dan orang terinfeksi ke orang
lain, dan hewan terinfeksi ke manusia atau dan orang terinfeksi ke hewan, termasuk
arthropoda. Pada penyakit-penyakit seperti dipteria dan infeksi oleh streptococcus yang
melibatkan selaput lendir sebagai pintu keluar masuknya penyakit, maka waktu periode
penularannya adalah tanggal pada saat terjadi keterpaparan (eksposur) dengan sumber
infeksi yang pertama kali sampai mikro-organisme yang dapat menularkan tidak lagi
disebarkan dan selaput lendir yang terlibat. Beberapa penyakit lebih bersifat menular
selama periode inkubasi dari pada selama masa klinis penyakitnya. Pada beberapa
penyakit tertentu seperti tuberkulosis, lepra, sifilis, gonorrhea, dan beberapa bentuk
salmonellosis, masa penularannya bisa berada dalam waktu yang lama dan kadangkala
periode yang berselang bilamana luka-luka yang belum sembuh memberikan peluang
masuknya kotoran/agent penyebab dan permukaan kulit atau juga melalui lubang-lubang
tubuh yang manapun. Pada penyakit yang ditularkan oleh vektor arthropoda seperti
malaria dan demam kuning/berdarah, periode penularannya (atau lebih tepatnya
infektivitasnya) adalah selama agent menular terdapat dalam darah atau jaringan lain
orang yang terinfeksi dalam jumlah yang cukup untuk dapat memberikan infeksi pada
vektor. Juga periode penularan pada vektor arthropoda, yaitu pada saat agent berada
dalam jaringan arthropoda (tahap infektif) untuk dapat dipindahkan ke pejamu potensial
tertentu.

3.

Contact: orang atau hewan yang telah berhubungan/mengalami hubungan dengan orang
atau hewan terinfeksi, atau lingkungan yang terkontaminasi sehingga dapat memberikan
peluang untuk memperoleh agent penyakit menular.

4.

Contamination: adanya agent menular pada permukaan tubuh, pada atau dalarn pakaian,
termasuk semua yang berkaitan dengan tempat tidur (bedding), mainan, alat-alat bedah
atau baju operasi maupun benda/zat coati termasuk air dan makanan. Pollution
(pencemaran) berbeda dengan kontaminasi dan secara langsung memperlihatkan adanya

perusakan pada lingkungan tetapi tidak harus menular. Kontaminasi pada permukaan
tubuh tidak- bisa dianggap sebagai pembawa kuman (carrier).

5.

Desinfection: mematikan agent penyakit menular dengan bahan-bahan kimiawi
atau alat/cara yang bersifat fisik yang mengena secara langsung agent penyakit
menular di luar tubuh. Concurrent desinfection: penerapan usaha untuk
mendesinfeksi secepatnya setelah pengeluaran bahan yang menular dan tubuh orang
terinfeksi, atau setelah terjadi pengotoran benda-benda dengan kotoran-kotoran
menular; semua hubungan perorangan dengan kotoran-kotoran atau benda-benda
yang sebelumnya dianggap tidak perlu untuk didesinfeksi. Terminal desinfection:
penerapan usaha untuk mendesinfeksi setelah penderita dipindahkan karena meninggal
atau ke rumah sakit, atau setelah tidak lagi menjadi sumber infeksi, atau setelah isolasi
rumah sakit maupun tindakan-tindakan lain yang sudah tidak dilakukan lagi. Tindakan
ini jarang sekali dilakukan; pembersihan terakhir (terminal cleaning) umumnya sudah
mencukupi (lihat cleaning) sejalan dengan mendinginkan dan memanaskan ruangan agar
terkena matahari langsung, juga alat-alat rumah tangga dan semua yang berhubungan
dengan tempat tidur. Disinfeksi hanya penting untuk penyakit-penyakit yang menyebar
melalui hubungan langsung; dianjurkan melakukan usaha sterilisasi dengan uap panas,
atau pembakaran semua yang berhubungan dengan tempat tidur (bedding) dan barang-
barang lain setelah penyakit seperti lassa fever dan penyakit-penyakit lain yang sangat
menular.

6.

Desinfestation: semua proses baik secara fisik maupun kimiawi untuk
merusak/menghancurkan atau memusnahkan bentuk-bentuk hewan kecil yang
tidak dikehendaki khususnya arthropoda atau rodent (binatang pengerat), yang ada
pada orang, pakaian, atau dalam lingkungan seseorang, atau pada hewan-hewan
peliharaan (insecticide dan rodenticide). Disinfestasi juga termasuk menghilangkan
kutu-kutu untuk infestasi dengan kutu kepala (pediculus humanus), dan kutu-kutu pada
tubuh. Sinonim: termasuk disinsektasi dan disinsektisasi akhir jika sasaran hanya pada
insekta yang terlibat.

7.

Endemic: adanya penyakit atau agent menular yang tetap dalam suatu area geografis
tertentu; dapat juga berkenaan dengan adanya penyakit yang secara normal biasa
timbal dalam suatu area tertentu.

Hyperendemic

: Menyatakan suatu penularan hebat yang menetap (terus
menerus).

Holoendernic

: Tingkat infeksi yang cukup tinggi sejak awal kehidupan dan
dapat mempengaruhi hampir seluruh populasi; sebagai contoh:
penyakit malaria pada beberapa daerah tertentu (lihat
zoonosis).

8.

Epidemic: kejadian atau peristiwa dalam suatu masyarakat atau wilayah dari suatu
kasus penyakit tertentu (atau suatu kasus kejadian yang luar biasa) yang secara nyata
melebihi dari jumlah yang diperkirakan. Jumlah kasus menandakan adanya wabah
yang akan berubah-ubah berdasarkan agent penularannya, jumlah dan jenis populasi
yang terkena, adanya kejadian sebelumnya atau tidak adanya keterbukaan (kerentanan)
terhadap penyakit, dan waktu serta tempat kejadian.
Epidemicity: keadaan yang berkaitan dengan frekuensi penyakit yang sering dalam
satu area yang sama, di antara populasi yang telah ditentukan, dalam satu musim tahun
yang sama. Kasus tunggal suatu penyakit menular yang lama tidak terjadi dalam populasi
tertentu, atau serangan pertama oleh suatu penyakit yang tidak dijumpai sebelumnya
dalam area tersebut memerlukan laporan yang cepat dan penyidikan (investigast)
epidemiologi; dua kasus penyakit tertentu yang berhubungan dalam waktu dan tempat
tertentu adalah bukti transmisi yang cukup untuk dapat dianggap sebagai suatu wabah
atau kejadian luar biasa (lihat report of a disease dan zoonosis).

9.

Fumigation: semua proses untuk mematikan bentuk-bentuk hewan khususnya
arthropoda, rodent dan binatang kecil lainnya yang dilakukan dengan menggunakan gas
(lihat Pada insecticide dan rodenticidel.

10.Health education: adalah proses yang secara individu maupun secara berkelompok;
orang-orang belajar untuk miningkatkan, memelihara maupun memulihkan derajat
kesehatan. Pendidikan kesehatan ini dimulai dengan segala macam tujuan yang mereka
inginkan dalam usaha memajukan taraf hidup mereka. Tujuannya adalah menumbuhkan
rasa tanggung jawab dalam diri mereka untuk mencapai taraf hidup yang sehat, secara
individu dan sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam penanggulangan penyakit
menular, pendidikan kesehatan pada umumnya termasuk penilaian tentang apa yang
dikenal oleh masyarakat mengenai suatu penyakit tertentu penilaian kebiasaan dan tingkah
laku masyarakat yang berkenan dengan frekuensi serta penyebaran penyakit, maupun
pengenalan cara/alat khusus untuk mengamati kekurangan dalam usaha pengobatan.

11.Host (pejamu) : manusia atau hewan hidup, termasuk burung dan arthropoda, yang
dapat memberikan kehidupan atau tempat tinggal untuk agent menular dalam kondisi

alam (lawan dan percobaan). Beberapa protozoa dan cacing melalui tahapan yang
berturut-turut dalam pejamu pilihan (alternatif host) dan jenis yang berbeda. Pejamu di
mana parasit mencapai kematangan/ pendewasaan atau melewati tahap seksual adalah
pejamu definitife atau pejamu primer. Sedangkan parasit dalam tahap larva atau tahap
aseksual adalah pejamu intermediate atau sekunder. Pejamu pembawa (transport host)
adalah pembawa, di mana organisme tetap bertahan hidup tetapi tidak bekembang/ berubah.

12.Imune individual: yaitu manusia atau hewan yang mempunyai perlindungan antibodi
khusus atau kekebalan seluler sebagai hasil infeksi yang terjadi sebelumnya, atau hasil
imunisasi, atau satu keadaan yang disebabkan kejadian khusus sebelumnya dan
memberikan reaksi yang sama untuk mencegah penyakit dan/atau adanya gejala klinis
penyakit tertentu setelah mengalami keterpaparan dengan agent penyakit menular
tersebut. Kekebalan adalah keadaan yang tidak mutlak (relatin: suatu perlindungan
efektif biasa, dapat melemah oleh dosis agent menular yang berlebihan atau oleh
keterpaparan melalui pintu masuk yang tidak lazim. Juga bisa dirusak oleh terapi
dengan obat yang menekan kekebalan, penyakit yang terjadi bersamaan, atau oleh
proses ketuaan.

13.Immunity: kekebalan yang biasanya dihubungkan dengan adanya antibodi atau hasil
aksi sel-sel yang spesifik terhadap mikro-organisme penyebab atau racunnya, dan yang
dapat menimbulkan penyakit menular tertentu. Passive humeral immunity adalah
kekebalan yang didapat dengan pemindahan secara buatan melalui inokulasi antibodi
pelindung yang spesifik (dari hewan yang dikebalkan, atau dengan serum seseorang
yang baru sembuh dari sakit yang daya kekebalannya sangat tinggi atau dengan kekebalan
serum dari sakit yang daya kekebalannya sangat tinggi atau dengan kekebalan serum
globulin); dan yang berlangsung dengan durasi yang pendek (beberapa hari sampai
beberapa bulan). Active Immoral immunity atau kekebalan yang biasanya dapat berlangsung
lama sampai bertahun-tahun, didapat baik secara alamian melalui proses infeksi, dengan
atau tanpa gejala klinis yang jelas, atau secara buatan dengan cara inokulasi agent
penyebabnya itu sendiri yang telah dimatikan, atau telah dilemahkan, atau dari bagian
protein maupun hasil produk agent penyebabnya. Kekebalan efektif tali bergantung pada
kekebalan seluler yang diberikan oleh sel limfosit-T yang dibuat lebih peka dan
humoral immunity yang berdasarkan atas reaksi respon limfosit-B.

14.Inapparent infection: adanya infeksi pejamu tanpa adanya tanda-tanda klinis yang jelas
atau yang dapat dikenal. Infeksi yang tidak nyata dapat diidentifikasi hanya secara

laboratorium, atau oleh timbulnya satu reaksi positif pada tes kulit yang spesifik.
Sinonim: Asymptomatic, subclinical, occult-infection.

15.Insidence rate: nilai suatu hasil bagi (angka), antara jumlah penderita baru suatu
penyakit yang telah didiagnosis sebagai suatu penyakit khusus, atau dilaporkan dalam
periode waktu yang telah ditentukan (sebagai pembilang), dan jumlah person dalam
populasi yang telah ditentukan, di mana kasus tersebut terjadi (sebagai penyebut). Biasanya
ini mencerminkan sebagian kasus per 1000 atau 100.000/tahun. Angka tersebut biasanya
menggambarkan dalam bentuk umur atau jenis kelamin tertentu, atau khusus untuk sifat
populasi yang lain atau sifat suatu subdivisi (lihat morbidity rate dan prevalence rate).
Attack rate, or case rate: adalah angka kejadian yang sering digunakan untuk
kelompok-kelompok khusus yang diamati untuk periode yang terbatas dan dalam keadaan
khusus pula, seperti dalam suatu wabah, dan biasanya dinyatakan dalam nilai persen
(kasus per 100).
The secondary attack rate pada penyakit menular adalah jumlah kasus di antara
keluarga atau hubungan institusional/ serumah yang terjadi di antara periode inkubasi
setelah keterpaparan (eksposur) pada kasus utama dalam kaitannya pada keterpaparan
secara umum; jika ditentukan hanya terbatas pada mereka yang rentan (risk group). Infection
rate
menyatakan kejadian dari semua infeksi, yang nyata maupun yang tidak
nyata/tampak.

16.Incubation periode: selang waktu antara terjadinya permulaan kontak dengan agent
penyebab penyakit menular sampai timbulnya gejala yang pertama kali atau gejala
penyakit yang dicurigai atau transmisi yang pertama kali pada vektor penyakit.

17.Infected individual: Manusia atau hewan yang merupakan tempat berdiamnya
suatu agent penyakit menular, yang dapat disertai dengan gejala penyakit yang nyata atau
dalam bentuk infeksi yang tanpa gejala klinis (lihat carrier). Orang atau hewan yang
dapat menularkan salah satu dari agent penyakit menular yang secara alami dapat
diperoleh.

18.Infection: masuknya, bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam
tubuh manusia atau hewan. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular; akibatnya
mungkin tidak kelihatan (lihat inapparent infection), atau nyata (lihat infectious
disease).
Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh, atau pada barang
pakaian atau barang-barang lainnya, bukanlah infeksi, tetapi merupakan kontarninasi pada
permukaan tubuh atau benda (lihat Contamination).

19.Infectious agent: suatu organisme (virus, rickettsia, bakteri, jamur, protozoa dan
casing)
yang mampu menimbulkan infeksi atau penyakit menular.

20.Infectious disease: penyakit yang secara klinis tampak nyata pada manusia atau
hewan yang merupakan akibat suatu infeksi.

21.Infestation: manusia atau hewan sebagai tempat menempelnya, berkembang biaknya
arthropoda pada permukaan tubuh atau di dalam pakaian. Barang, benda atau tempat-
tempat yang tertular adalah semua yang merupakan tempat berdiamnya atau memberi
tempat untuk tinggal pada agent penyakit tersebut, khususnya arthropoda dan rodent.
22.Insecticide: semua zat kimia yang digunakan untuk mematikan, menghancurkan /
membasmi serangga, bisa berupa sebagai tepung, cairan, cairan yang disemprotkan,
aerosol atau seperti cat semprot; lazim adanya residu (akibat sisa penggunaan zat
tersebut). Pada istilah larvasida seringkali digunakan untuk menunjukkan pemakaian
insektisida khususnya pemakan bentuk jentik sebelum tahap dewasa (tahap larva) dari
arthropoda; adultisida atau imagosida menunjukkan pemakaian untuk merusak
bentuk serangga yang dewasa. Istilah insektisida seringkali digunakan secara luas
mencakup zat-zat untuk membasmi semua arthropoda, tetapi akarisida lebih tepat
dipakai untuk agent pembunuh caplak dan kutu-kutu. Istilah-istilah yang lebih khusus,
seperti lousisida (pembasmi belalang) dan mitisida (pembasmi rayap) kadang juga
dipakai.
23.Isolation: untuk penderita isolasi dilakukan dengan melakukan pemisahan, selama
masa penularan terhadap orang atau hewan yang terinfeksi dari yang lain pada tempat
tertentu, serta dalam kondisi tertentu, sebagai usaha untuk mencegah maupun
membatasi penularan langsung dan tidak langsung terhadap agent menular dan
mereka yang terinfeksi kepada mereka yang rentan atau mereka yang dapat
menyebarkan agent tersebut kepada yang lain. Sebaliknya adalah karantina yang
berarti mencegah semua hubungan mereka yang sehat dan suatu kasus menular.
Rekomendasi yang dibuat untuk mengisolasi kasus-kasus adalah didasarkan pada
metode-metode yang direkomendasikan oleh CDC (CDC Guideline for Isolation
Precautions in Hospital)
sebagai tindakan pencegahan isolasi kategori khusus.
Kategori khusus tersebut dibedakan menjadi 7 hal tertentu, dan terdapat dua syarat
umum untuk semua ketegori:
1.Tangan harus dicuci setelah kontak dengan penderita atau barang-barang yang
sangat berpotensi untuk terkontaminasi dan sebelum merawat penderita lain.
1.Semua barang yang terkontaminasi dengan bahan yang menular seharusnya

dibuang atau dibungkus dan diberi tanda sebelum dikirimkan untuk dilakukan
dekontaminasi dan diproses kembali.

Ke-7 kategori tersebutadalah
a.Isolasi yang tegas/keras: kategori ini diciptakan untuk mencegah penularan
penyakit yang sangat menular atau yang virulen, yang dapat disebarkan
melalui udara dan hubungan kontak. Spesifikasinya, dan sebagai tambahan
pengertian tersebut di atas, juga termasuk ruangan khusus dan pemakaian
masker, baju pelindung dan sarung tangan untuk semua orang yang masuk ke dalam
ruangan. Syarat-syarat ventilasi khusus dengan ruangan pada tekanan negatif
untuk area sekitarnya sangat diperlukan.
b.Isolasi kontak: untuk mengurangi infeksi yang sangat cepat menular atau serius, dan
untuk penyakit atau kondisi yang terutama menyebar oleh hubungan yang dekat atau
langsung. Sebagai tambahan untuk syarat-syarat pokok, disediakan adanya ruangan
khusus, tetapi penderita yang terinfeksi dengan patogen yang sama, dapat
ditempatkan dalam satu ruangan. Di anjurkan pemakaian masker untuk mereka yang
mendekat pada penderita juga pemakaian baju pelindung jika kemungkinan
keadaannya kotor dan sarung tangan dipergunakan untuk memegang benda/bahan
yang menular.
c.Isolasi pemapasan: untuk mencegah penularan penyakit menular dalam jarak dekat
melalui udara, diusulkan adanya ruangan khusus, tetapi penderita yang terinfeksi
dengan organisme yang sama dapat ditempatkan dalam satu ruangan. Sebagai
tambahan untuk syarat-syarat pokok, maka masker di anjurkan bagi mereka yang
datang mendekat pada penderita sedangkan baju pelindung dan sarung tangan
tidak.

d.Isolasi tuberkulosis (AFB isolation): untuk penderita TBC paru-paru yang positif
terhadap ulasan sputum atau X -ray dada yang menunjukkan adanya TBC yang
sangat aktif. Spesifikasinya termasuk menggunakan ruangan khusus dengan
ventilasi khusus dan pintu yang tertutup. Sebagai tambahan untuk syarat-syarat
pokok, masker digunakan hanya untuk penderita yang batuk, serta tidak dapat
diandalkan untuk terus menerus menutup mulutnya. Baju pelindung digunakan
untuk mencegah kontaminasi yang lebih besar pada pakaian.
e.Tindakan pencegahan bagian dalam: untuk infeksi yang ditularkan melalui
kontak langsung, atau tidak langsung dengan kotoran (feces). Sebagai tambahan
untuk syarat-syarat pokok, spesifikasinya termasuk menggunakan ruangan khusus jika

kebersihan penderita amat jelek (jorok). Tidak dianjurkan pemakaian masker, dan baju
pelindung seharusnya digunakan jika kemungkinan keadaannya kotor, begitu juga
sarung tangan untuk memegang materi yang terkontaminasi.

f.

Tindakan pencegahan pembuangan: untuk mencegah infeksi yang ditularkan
melalui kontak langsung dan tidak langsung dengan materi yang purulent atau
pembuangan dan bagian tubuh yang terinfeksi. Tidak dianjurkan untuk
menyediakan ruangan khusus dan penggunaan masker; dan sebagai tambahan
syarat-syarat pokok, baju pelindung seharusnya digunakan, jika kemungkinan
keadaannya kotor dan sarung tangan untuk memegang materi yang
terkontaminasi.
g.Tindakan pencegahan darah/cairan tubuh: untuk mencegah infeksi yang
ditularkan oleh adanya kontak langsung atau tidak langsung dengan darah yang
terinfeksi atau cairan tubuh. Sebagai tambahan syarat-syarat pokok, ruangan
khusus dianjurkan jika kebersihan penderita jelek, sedang masker tidak
dilanjutkan. Baju pelindung seharusnya digunakan jika kemungkinan terdapat
pengotoran pakaian dengan darah atau cairan tubuh, begitu juga penggunaan
sarung tangan jika memegang darah atau cairan tubuh.

1.

Molluscicide: zat kimia yang digunakan untuk membasmi bekicot (snails) atau
molluska (binatang lunak) yang lain.

2.

Morbidity rate: angka kejadian insidensi yang digunakan dengan memasukkan
semua orang dalam populasi tertentu yang diamati yang secara klinis menderita penyakit
dalam satu batas waktu tertentu. Populasinya dapat dibatasi untuk jenis kelamin atau
golongan umur tertentu, atau dengan sifat khusus yang lain.

3.

Mortality rate: suatu angka yang dihitung dengan cara yang sama seperti pada
perhitungan incidence rate dengan pembilang adalah jumlah orang yang meninggal
dalam satu populasi selama periode waktu tertentu, biasanya 1 (satu) tahun. Angka
kematian total atau perkiraan angka kematian kasar yang menggunakan kematian
dari semua sebab, biasanya mencerminkan sebagai kematian per 1000 penduduk,
sedangkan angka kematian penyakit khusus hanya meliputi kematian akibat satu penyakit
tertentu dan biasanya dilaporkan berdasarkan pada kejadian per 100.000 penduduk. Dasar
populasinya dapat ditentukan berdasarkan jenis kelamin, umur atau sifat-sifat lainnya.
Angka kematian harus tidak dikacaukan dengan angka kematian karena penyakit tertentu

(case fatality rate)

4.

Nosocomial infection: terjadinya infeksi pada penderita di rumah sakit atau pada

fasilitas pelayanan kesehatan yang lain dan pada siapa pun yang pada waktu masuk
tidak terdapat tanda-tanda infeksi atau dalam masa inkubasi. Termasuk mendapatkan
infeksi dan rumah sakit, tetapi muncul setelah ke luar dari rumah sakit, atau kejadian
infeksi petugas maupun pengunjung fasilitas tersebut.

5.

Pathogenicity: kemampuan agent penyebab penyakit menular untuk menyebabkan
penyakit pada pejamu (host) yang rentan.

6.

Patient or sick people: adalah orang yang secara jelas sakit

7.

Personal hygiene: tindakan pencegahan yang menyangkut tanggung jawab individu
untuk meningkatkan kesehatan serta membatasi menyebamya penyakit menular,
terutama yang ditularkan secara kontak langsung. Tindakan tersebut menyangkut:

a.Mencuci tangan dengan sabun dan menyiram dengan air segera setelah buang air
besar air kecil dan selalu sebelum menangani makanan atau makan.

b.Hindari memegang semua benda yang tidak bersih atau segala benda yang sudah
terpakai oleh orang lain untuk keperluan di kamar kecil (toilet), jauhkan dan mulut,
hidung, mata, telinga, alat genitalia dan luka-luka.

c.Hindarkan penggunaan secara umum atau peralatan makan yang tidak bersih, gelas
minum, handuk, sapu tangan, sisir dan rambut serta pipa-pipa.

d.Hindari adanya keterpaparan (eksposur) dari orang lain, karena semprotan dan hidung
dan mulut seperti pada saat batuk, bersin, tertawa atau bicara.

e.Mencuci tangan seluruhnya setelah menangani penderita atau semua barang miliknya.

f.Menjaga kebersihan tubuh dengan sering menyabun dan mandi.

1.

Prevalence rate: suatu hasil bagi (angka) yang diperoleh dengan menggunakan
pembilang sebagai jumlah orang yang sakit atau gambaran dari suatu keadaan yang
sebenamya dalam suatu populasi tertentu pada satu waktu tertentu (point prevalence)
atau selama jangka waktu tertentu (periode prevalence), tanpa memperhatikan
kapan mereka mulai sakit atau mulai mengalami kondisi tersebut; dan sebagai penyebut
adalah jumlah orang dalam populasi di mana kasus tersebut terjadi.

2.

Quarantine: larangan/pembatasan kegiatan orang atau hewan yang sehat yang telah
mengalami kontak/terpapar dengan kasus penyakit menular selama periode
penularan, untuk mencegah penularan penyakit selama periode inkubasi andai kata
infeksi sudah terjadi.
a.Absolute or Complete Quarantine: pembatasan kebebasan bergerak bagi mereka
yang terpapar/kontak dengan kasus penyakit menular untuk periode waktu yang

tidak lebih dari waktu inkubasi terpanjang dan penyakit tersebut, sebagai usaha
untuk mencegah hubungan dengan mereka yang tidak terpapar.

b.Mudifled Quarantine: suatu pilihan pembatasan sebagian dan kebebasan bergerak
terhadap mereka yang mengalami kontak, umumnya atas dasar diduga atau dicurigai
memiliki tingkat kerentanan yang berbeda dan dihubungkan dengan bahaya
terjadinya penularan penyakit. Hal semacam ini dilakukan pada keadaan yang
khusus. Sebagai contoh: diberlakukannya larangan masuk sekolah bagi murid
tertentu, pembebasan orang yang kebal dari perlengkapan yang khusus dapat
dipakai untuk orang yang rentan, atau larangan bagi anggota mileter ke barak
atau markasnya. Hal ini termasuk: pengawasan perorangan atau surveillans
individu, yakni pengawasan langsung secara sederhana oleh dokter atau
supervisor lainnya terhadap mereka yang mengalami kontak agar dapat
dengan segera mengenal tiap kejadian penyakit infeksi atau penderita tanpa
melakukan larangan yang ketat terhadap kebebasan bergerak; sedangkan
segregation atau pemisahan adalah memisahkan sebagian dari anggota
sekelompok orang atau hewan ternak dari yang lainnya, untuk suatu
pertimbangan khusus, kontrol atau pengamatan/observasi adalah usaha
pemindahan anak yang rentan ke rumah orang yang kebal, atau penentuan
batas sehat atau batas lingkungan sehat untuk melindungi mereka yang tidak
terinfeksi terhadap kelompok populasi yang terkena infeksi.

1.

Repellent: bahan kimia yang di aplikasikan pada kulit atau pakaian atau tempat lain
untuk mengurangi:
a.Penyinaran dan penyerangan arthropoda secara individu.
b.Penusukan agent lain pada kulit seperti larva cacing.

1.

Report of a Disease : laporan resmi memberitahukan kepada pihak yang
berwewenang atas terjadinya penularan tertentu atau penyakit menular yang lain pada
manusia atau pada hewan. Penyakit pada manusia dilaporkan di Dinas Kesehatan
setempat; sedang pada hewan, ke Dinas Kehewanan atau Dinas Pertanian atau Dinas
Petemakan. Sebagian kecil penyakit pada yang menular ke manusia bisa dilaporkan ke dua
dinas tersebut di atas. Setiap penegak hukum kesehatan dapat mengeluarkan daftar
penyakit-penyakit yang wajib dilaporkan sesuai kebutuhan khusus. Laporan juga
seharusnya mencatat daftar kasus-kasus penyakit tertentu yang dicurigai, untuk
kepentingan kesehatan masyarakat, biasanya memerlukan investigasi epidemiologi
atau permulaan tindakan pengawasan khusus. Jika seorang terkena infeksi dalam satu

yurisdiksi kesehatan dan kasus dilaporkan dan pihak lain, maka Dinas Kesehatan yang
menerima laporan harus memberitahukan yurisdiksi yang lain, khususnya jika
penyakit tersebut memerlukan pengujian kontak untuk infeksi, atau apabila makanan
atau air atau wahana infeksi lain yang umum mungkin terlibat. Sebagai tambahan
laporan rutin kasus penyakit tertentu, diperlukan pemberitahuan khusus dan semua
wabah atau kejadian luar biasa (outbreak) penyakit, termasuk semua penyakit yang
tidak didaftar sebagai penyakit yang harus dilaporkan.

2.

Reservoir of infectious agent: hewan, arthropoda, tanaman, tanah atau zat atau
kombinasinya di mana agent yang menular dapat secara normal hidup dan
berkembang. Pertama bergantung untuk bisa bertahan, kemudian bisa memproduksi
diri sendiri (berbiak), dan pada kondisi tertentu akan bisa ditransmisikan ke pejamu
yang rentan.

3.

Resistence: mekanisme tubuh yang secara keseluruhan membuat rintangan untuk
berkembangnya penyerangan atau pembiakan agent menular atau kerusakan oleh racun
yang dihasilkannya.
Inherent resistence: kemampuan untuk melawan penyakit tidak bergantung kepada
antibodi atau respon jaringan yang tumbuh secara khusus; umumnya terletak pada
sifat-sifat anatomi atau faali yang khusus dan pejamu dan kemungkinan secara genetis
atau diperoleh secara permanen atau sementara. Sinonim: Non Specific Immunity
(kekebalan yang tidak khusus).

4.

Rodenticide: bahan kimia yang digunakan untuk memusnahkan kelompok rodensia
(binatang pengerat sebangsa tikus) umumnya melalui pencernaan (ingestion).

5.

Source of infection : manusia, hewan, objek atau zat lainnya, di mana suatu agent
menular berada pada/di dalam tubuh pejamu (host). Sumber infeksi harus jelas dapat
dibedakan dari sumber kontaminasi, seperti meluapnya bak penampung kotoran sehingga
mencemari persediaan air bersih, atau tukang masak yang sedang terinfeksi mencemari
masakan. (lihat “Reservoir").

6.

Surveillance of disease: berbeda dari pengawasan pada orang, maka pengawasan
penyakit merupakan kelanjutan penelitian yang cermat dari segala aspek terjadinya dan
penyebaran penyakit yang berhubungan dengan penanggulangan yang berlaku.
Termasuk di dalamnya pengumpulan dan penilaian yang sistematik dari:
a.Laporan-laporan morbiditas dan mortalitas.

b.Laporan khusus investigasi lapangan dari wabah dan kasus perorangan.
c.Isolasi dan identifikasi faktor penyebab penyakit menular melalui
pemeriksaan laboratorium.

d.Data tentang adanya, guna dan efek yang tidak menguntungkan dari vaksin
dan toksoid, imun globulin, insektisida dan zat lain yang digunakan dalam
kontrol.

e.Informasi mengenai tingkat kekebalan dalam kelompok atau golongan dalam
suatu populasi tertentu.
f.Data epidemiologi lainnya yang berhubungan. Keseluruhan laporan dari data
di atas harus disiapkan dan disebarkan kepada semua pihak yang bekerja
sama dan pihak lain yang perlu mengetahui hasil kegiatan pengawasan.

Tata cara ini berlaku untuk semua tingkat yurisdiksi kesehatan masyarakat dari tingkat
lokal sampai ke tingkat internasional. Pengawasan serologi mengidentifikasi bentuk-
bentuk infeksi sekarang ini dan sebelumnya dengan menggunakan tes serologi.

1.

Susceptible: orang atau hewan yang dianggap tidak mempunyai kekebalan (daya tahan)
yang cukup untuk melawan agent patogen khusus untuk mencegah terjadinya infeksi
atau penyakit jika mengalami keterpaparan pada agent (rentan).

2.

Suspect case: orang yang mempunyai riwayat kesehatan dan tanda-tanda yang dianggap
bahwa dia mungkin menderita atau sedang terjangkit penyakit yang menular.

3.

Transmission of infectious agent: segala cara atau mekanisme di mana agent menular
menyebar dari sumber atau reservoir ke manusia.
Mekanisme-mekanisme tersebut adalah:

a.Direct transmission: penularan langsung yang pada dasarnya pemindahan yang
cepat dari agent menular ke pintu masuk yang sesuai di mana akan menimbulkan
infeksi pada manusia atau hewan. Hal ini bisa karena adanya kontak langsung
seperti sentuhan, gigitan, ciuman atau hubungan kelamin, atau secara proyeksi
langsung dan semprotan droplet pada conjunctiva atau pada selaput lendir mata,
hidung atau mulut pada waktu bersin, batuk, meludah, bernyanyi atau berbicara
(biasanya pada jarak sekitar 1 meter atau kurang).

b.Indirect transmission:

1.Vehicle-Borne: bahan/benda mati yang terkontaminasi atau benda fomites
seperti mainan, sapu tangan, pakaian kotor, segala sesuatu yang ada
hubungannya dengan tempat tidur, alat-alat masak dan makan, alat-alat bedah
atau bajunya, air, makanan, susu, produk-produk biologi termasuk darah, serum,
plasma, jaringan atau anggota tubuh atau semua bahan yang dapat dipakai
sebagai media perantara di mana agent menular diangkut dan masuk ke dalam

pejamu (host) yang rentan melalui pintu masuk yang sesuai.

2.Vector-Borne:

a.Secara mekanis: termasuk mekanisme penularan yang sederhana di mana
serangga yang pada kakinya melekat berlumpur/kotoran, lalu hinggap dan
merangkak atau berjalan atau dengan jalan organisme masuk ke dalam
saluran pencernaan. Di sini organisme tersebut tidak memerlukan pembiakan
pertumbuhan dalam tubuh vektor.
b.Secara biologis: perkembangbiakan, siklus maupun pertumbuhan atau
kombinasi dari keduanya diperlukan sebelum arthropoda dapat memindahkan
bentuk infektif unsur penyebab ke manusia. Setelah terjadi infeksi diperlukan
masa inkubasi sebelum arthropoda menjadi infektif. Unsur penyebab yang
menular dapat dilewati secara vertikal untuk generasi berikutnya (penularan
transovarium): menunjukkan adanya jalan pintas dari satu tahap siklus hidup
ke yang lain, sebagaimana bentuk ke dewasa. Transmisi mungkin melalui
injeksi cairan kelenjar saliva sewaktu penggigitan, atau dengan muntah
atau endapan tinja pada kulit, atau bahan lain yang dapat menembus melalui
luka gigitan ataupun masuk melalui area yang luka karena garukan atau
gosokan. Penularan ini adalah oleh pejamu (host) invertebrata yang
terinfeksi dan pemindahan terjadi melalui suatu mekanisme yang cukup
kompleks oleh vektor sebagai penghubung. Walaupun arthropoda di sini pada
setiap peranan, adalah sebagai vektor.

1.Air-Borne: penyebaran unsur penyebab secara aerosol ke pintu masuk yang
sesuai, biasanya saluran pernapasan. Unsur aerosol adalah pengandung partikel-
partikel di udara yang terdiri dari sebagian, atau dapat seluruhnya jasad renik.
Keberadaannya di udara dapat mencapai periode waktu yang lama, di mana
sebagian kembali aktif dan lainnya kemudian menjadi tidak efektif dan tidak
virulen. Partikel di antara diameter 1- 5 u dengan mudah masuk ke dalam alveolus
paru-paru dan mungkin tertahan di sana. Yang tidak dianggap sebagai air-borne
ialah droplet dan partikel besar yang lain.
a.Droplet nuclei: biasanya merupakan sisa/residu yang hanya sedikit, dihasilkan
dari penguapan cairan droplet yang dipancarkan oleh pejamu yang terinfeksi.
Bentuk ini dapat juga diciptakan dengan sengaja oleh alat yang dapat
mengubah cairan menjadi bagian yang sangat kecil atau dengan tidak
sengaja seperti pada laboratorium mikrobiologi atau pada rumah potong

hewan, atau ruang autopsi. Biasanya mereka berada di udara dalam
periode waktu yang lama.
b.Dust: partikel kecil yang ukurannya sangat bervariasi, bisa berasal dari
tanah (umpanianya spora jamur yang terpisah dan tanah kering karena
angin), pakaian, segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat tidur
dan lantai yang terkontaminasi.

1.

Virulence: adalah tingkat patogenitas suatu agent menular, yang dinyatakan oleh angka
kefatalan kasus atau kemampuannya untuk menyerang dan merusak jaringan pada
pejamu.

2.

Zoonosuis: adalah suatu infeksi atau penyakit menular yang secara alam dapat
ditularkan dari hewan vertebrata ke pejamu manusia. Bisa enzootik atau epizootik (lihat
"Endemic" dan "Epidemic").

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->