P. 1
Penyakit menular

Penyakit menular

|Views: 5,041|Likes:
Published by Faisal Rizza
Penyakit menular
Penyakit menular

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Faisal Rizza on Apr 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2015

pdf

text

original

Aspek sentral penyebaran penyakit menular dalam masyarakat adalah mekanisie
penularan (mode of transmissions) yakni berbagai mekanisme di mana unsur penyebab
penyakit dapat mencapai manusia sebagai pejamu yang potensial. Mekanisme tersebut
meliputi cara unsur penyebab (agent) meninggalkan reservoir, cara penularan untuk mencapai
pejamu petensial, serta cara masuknya ke pejamu potensial tersebut. Scseorang yang sehat
sebagai salah seorang pejamu potensial dalam masyarakat, mungkin akan ketularan suatu
penyakit menular tertentu sesuai dengan posisinya dalam masyarakat serta pengaruh berbagai
reservoir yang ada di sekitamya. Kemungkinan tersebut sangat dipengaruhi pula oleh berbagai
faktor antara lain: (1) Faktor lingkungan fisik sekitamya yang menipakan media yang ikut
mempengaruhi kualitas maupun kuantitas unsur penyebab: (2) faktor lingkungan biologis
yang menentukan jenis vektor dan reservoir penyakit serta unsur biologis yang hidup dan
berada di sekitar manusia; dan (3) faktor lingkungan sosial yakni kedudukan setiap orang dalam
masyarakat, termasuk kebiasaan hidup serta kegiatanr sehari-hari, dan lain sebagainya.
1.Cara Unsur Penyebab Keluar dari Pejamu (Reservoir)
Pada umumnya selama unsur penyebab atau mikro-organisme penyebab masih
mempunyai kesempatan untuk hidup dan berkembang biak dalam tubuh pejamu, maka ia
akan tetap tinggal di tempat yang potensial tersebut. Namun di lain pihak, tiap individu
pejamu memiliki usaha perlawanan terhadap setiap unsur penyebab patogen yang
mengganggu dan mencoba merusak keadaan keseimbangan dalam tubuh pejamu.
Unsur penyebab yang akan meninggalkan pejamu di mana ia berada dan
berkembang biak, biasanya keluar dengan cara tersendiri yang cukup beraneka ragam
sesuai dengan jenis dan sifat masing-masing. Secara garis besarnya, maka cara ke luar
unsur penyebab dan tubuh pejamu dapat dibagi dalam beberapa bentuk, walaupun ada di
antara unsur penyebab yang dapat menggunakan lebih dan satu cara.
1.Melalui conyunctive yang biasanya hanya dijumpai pada beberapa penyakit
mata tertentu seperti trakom dan lainnya.
2.Melalui saluran napas (hidung dan tenggorokan) dalam bentuk droplet
sewaktu reservoir/penderita bicara, bersin atau batuk, atau melalui udara pernapasan.
Cara ini sering dijumpai pada penyakit-penyakit TBC, dipteria, influensa, campak dan

lain sebagainya.

3.Melalui pencernaan, baik bersama ludah, muntah maupun bersama dengan tinja
umpamanya pada penyakit kolera, tifus abdominalis pada beberapa jenis cacing dan
lain-lain.
4.Melalui saluran urogenitalia yang biasanya bersama-sama dengan urine, atau zat
lain yang keluar melalui saluran tersebut umpamanya pada penyakit hepatitis.
5.Melalui luka pada kulit ataupun mukosa seperti pada penyakit sifilis, frambusia dan

lainnya.

6.Secara mekanik, seperti suntikan atau gigitan pada beberapa penyakit tertentu
antara lain malaria, filariasis, hepatitis serum dan lain sebagainya.

Peristiwa keluarnya unsur penyebab penyakit dan pejamu tidak semudah dan
sesederhana seperti apa yang sering diperkirakan orang pada umumnya. Sebagai contoh pada
penyakit sifilis, spirochaeta pada umumnya keluar melalui alat kelamin hanya pada saat
kontak langsung, kecuali bila terjadi proses biologis tertentu. Demikian pula unsur
penyebab lainnya, hanya mampu keluar dan pejamu potensial sangat erat
hubungannya dengan cara penularan yang terjadi, walaupun pada sejumlah
penyakit menular tertentu, menggunakan cara yang sama dengan cara keluarnya
dari pejamu.

1.Cara Penularan (Mode of Transmission)
Setelah unsur penyebab telah meninggalkan reservoir maka untuk mendapatkan
potensial yang baru, harus berjalan melalui suatu lingkaran perjalanan khusus atau
suatu jalur khusus yang disebut jalur penularan. Tiap kelompok penyakit memiliki
jalur penularan tersendiri dan pada garis besarnya dapat dibagi dalam dua bagian
utama yakni: (1) penularan langsung yakni penularan penyakit terjadi secara
langsung dan penderita atau reservoir, langsung ke pejamu potensial yang baru; (2)
penularan tidak langsung yakni penularan penyakit terjadi dengan melalui media
tertentu seperti melalui udara (air borne) dalam bentuk droplet dan dust, melalui
benda tertentu (vechicle borne), dan melalui vector (vector borne).

a.Penularan Langsung (Direct Transmission)

Penularan langsung yakni perpindahan sejumlah unsur penyebab dan
reservoir langsung ke pejamu potensial melalui pintu masuk (portal of entry) yang
sesuai. Dalam pengertian penularan langsung ini tidaklah berarti bahwa harus
terjadi persentuhan antara sumber dengan pejamu, potensial tetapi dapat saja
dalam bentuk berada pada jarak yang dekat umpamanya pada penularan
dengan droplet nuklei, atau juga pada persentuhan dengan sumber penularan
seperti tanah pada cacing tambang, atau pada berbagai spora dan jamur pada
benda maupun pada tumbuhan.

Penyakit-penyakit yang dikategorikan dalam penularan langsung dapat
terjadi karena bersentuhan langsung dengan penderita sebagai reservoir
(manusia maupun hewan), dengan tumbuhan atau benda lain yang mengalami
kontaminasi, serta melalui droplet nuklei. Adapun penularan langsung tersebut
dapat dikelompokkan dalam beberapa kelompok tertentu.

1.Penularan langsung dari orang ke orang

Dalam kelompok ini termasuk semua penyakit yang hanya dapat menyerang
manusia di mana reservoir satu-satunya adalah manusia semata. Kelompok
terbesar dalam penularan langsung dari orang ke orang, adalah berbagai
penyakit kelamin yang ditularkan secara seksual. Dalam kelompok ini,
selain penyakit kelamin tradisional seperti sifilis , gonorrhoe,
lymphogranuloma venerum, chancroid
dan granuloma inguinale, dikenal pula
sejumlah penyakit kelamin bentuk baru seperti chlamydia trachomatis,
trichomonas vaginalis, herpes
simplex tipe I dan II.

Di samping itu dengan semakin berkembangnya praktek seksual yang
abnormal seperti kontak oral-genilatil serta anal-intercost disertai dengan
kehidupan kebebasan seksual dan kebebasan pasangan seks telah mendukung
peningkatan penularan secara seksual dari penyakit hepatitis B, herpes
simplex tipe II, giardiasis, amubiasis dan salmonellosis serta shigellosis.
Adapun penyakit AIDS kemungkinan besar termasuk dalam kategori ini, di
mana pada masyarakat tertentu menunjukkan bahwa kelompok lelaki
homoseks menunjukkan adanya risiko tinggi yang khusus terhadap
penyakit ini.

Risiko AIDS yang tinggi pada pria homoseks, mungkin sekali karena
seringnya hubungan seksual dengan berbagai pasangan yang berbeda-beda.

Namun demikian, penyakit ini tidak terbatas hanya pada pria yang
homoseks tetapi juga pada mereka yang heteroseks, termasuk wanita dan
anak-anak. Adapun faktor risiko tambahan untuk penyakit AIDS termasuk
pemberian obat intravenous, transfusi darah serta berbagai faktor tambahan
lainnya. Sedang anak-anak yang terserang penyakit ini pada umumnya dari
orang tua dengan risiko tinggi. Sampai saat ini belum dijumpai pengobatan
yang memuaskan terhadap AIDS, sedangkan pencegahan hanya dengan
menghindari kontak maupun menghindari hubungan seksual yang multipamer.
Selain itu usaha pengurangan risiko termasuk berhati-hati dalam
menggunakan obat intravenous, mencegah kelompok risiko tinggi untuk
menjadi donor darah serta mendorong usaha untuk penyaringan (screening)
yang lebih sering dan terarah untuk mendeteksi penyakit tersebut dalam
masyarakat.

2.Penularan langsung dari binatang ke orang

Penyakit yang dapat menular langsung dari binatang ke orang dalam
kelompok ini dimaksudkan penyakit yang pada umumnya hanya dijumpai
pada binatang tetapi dapat menular dan menjangkit orang lain secara langsung.
Penyakit kelompok ini terutama yang termasuk kelompok penyakit zoonosis. Cara
penularan langsung dalam hal ini dimaksudkan secara bersentuhan melalui dua cara:
(1) karena bersentuhan langsung dengan binatang yang menderita, termasuk
melalui gigitan, atau bagian-bagian binatang yang mati karena penyakit
terscbut (contoh rabies, brucellosis); dan (2) sumber penyakit dari binatang
yang menderita atau pembawa kuman, tetapi cara penularannya melalui benda
lain ataupun alat perantara lain yang terkontaminasi (contoh antrax).

3.Penularan dari tumbuhan ke orang

Dalam kelompok ini termasuk penyakit yang disebabkan oleh jamur, yang
selain penularannya dapat melalui kontak langsung dengan tumbuhan maupun
dengan tanah yang mengandung jamur, juga ada yang menular melalui udara.
Juga dapat terjadi dan orang ke orang.

4.

Penularan dari orang ke orang melalui kontak benda lain

Penularan ini lebih bersifat kontak dengan benda yang terkontaminasi

seperti tanah maupun benda lainnya seperti penyakit cacing tambang
(ancylostomiasis), cacing kremi (trichuris) dan berbagai penyakit lainnya.
Jenis penyakit lain yang penularannya melalui kontak dengan air dan
masuk melalui kulit adalah penyakit schistosomiasis yang penularannya sangat
kompleks, baik sumber manusia maupun sumber binatang dengan proses
pendewasaan melalui vektor (dapat pula digolongkan dalam penularan melalui
vektor).

a.Penularan Melaka Udara (Air Borne)

Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara penularan yang
terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda yang terkontaminasi.
Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui kontak langsung,
namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar penularannya adalah karena mengisap
udara yang mengandung unsur penyebab/ mikro-organisme penyebab.
Penularan penyakit melalui udara dapat terjadi dalam bentuk droplet \
nuklei maupun dalam bentuk dust (lihat definisi). Droplet nuklei yang keluar
melalui mulut atau hidung baik waktu batuk atau bersin maupun waktu bicara
atau bernapas, mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Droplet nuklei merupakan
partikel yang sangat kecil sebagai sisa droplet yang mengering. Pembentukannya
dapat melalui berbagai cara, antara lain dengan melalui evaporasi droplet yang
dibatukkan atau yang dibersihkan ke udara. Droplet nuklei juga dapat terbentuk
dan aerolisasi materi-materi penyebab infeksi di dalam laboratorium. Karena
ukurannya yang sangat kecil, bentuk ini dapat tetap berada di udara untuk waktu yang
cukup lama dan dapat diisap pada waktu bernapas dan masuk ke alat pernapasan.
Dust adalah bentuk partikel dengan berbagai ukuran sebagai hasil dan
resuspensi partikel yang terletak di lantai, di tempat tidur serta yang tertiup angin
bersama debu lantai/tanah. Ukuran besarnya droplet nuklei maupun dust yang
sangat menentukan kemungkinan terjadinya penularan atau tidak. Pada droplet
nuklei dengan ukuran yang besar, akan tersangkut pada jalan napas dan dapat
dibuang ke luar oleh mekanisme yang terjadi dalam saluran napas.
Penularan melalui udara (air borne) memegang peranan yang cukup
penting pada beberapa penyakit menular tertentu. Umpamanya batuk dan seseorang
penderita penyakit tuberkulosis terbuka akan menghasilkan formasi droplet yang dapat
berpindah kepada prang lain yang rentan (pejainu potensial) dalam jarak dekat,

sehingga dapat bersifat penularan kontak langsung., Namun demikian, droplet
tersebut mungkin jatuh ke lantai dalam bentuk droplet nuklei dan kemudian
terisap orang lain bersama debu dan terjadi penularan. Dari kedua bentuk
tersebut di atas diperkirakan penyakit TBC dapat menular dalam masyarakat.
Perbedaan antara penyebaran langsung dengan penyebaran melalui udara sangat
penting artinya dalam usaha penanggulangan penyakit menular tertentu. Dalam
hal penyakit ditularkan secara langsung/kontak langsung, maka usaha
penanggulangannnya tergantung pada ketepatan penanganan sumber penularan.
Penanganannya harus diarahkan pada upaya menghilangkan semua sumber
penularan yang ada (umpamanya pengobatan penderita) atau usaha lain mencegah
proses penularan. Sedangkan untuk penyakit yang penularannya melalui udara,
peranan konstruksi bangunan terutama ventilasi dan pertukaran udara sangat
penting.

Kedua bentuk penularan melalui udara hanya mungkin pada unsur
penyebab penyakit yang mempunyai daya tahan yang kuat terhadap
lingkungan dan kekeringan, seperti pada basil tuberkulosis, virus smallpox,
streptococcus hemoliticus, diptheria
dan lain sebagainya. Penularan melalui udara
pada umumnya terjadi di dalam ruangan yang tertutup seperti pada gedung,
rumah sakit atau pada laboratorium.

b.Penularan Melalui Makanan/Minuman dan Benda Lain

Penularan penyakit melalui makanan, minuman dan benda lainnya

(vechicle borne)

adalah penularan kontak tidak langsung melalui benda mati (fornites)
seperti makanan, minuman, susu, perlengkapan dapur, perlengkapan bedah, mainan
anak-anak dan lain sebagainya. Dalam hal ini maka penyakit-penyakit saluran
pencernaan, termasuk penyakit di mana penularannya kebanyakan melalui cara
ini. Perlu diperhatikan bahwa benda-benda yang mengandung unsur penyebab
dan berfungsi sebagai penyalur dalam proses penularan ini tidak dapat disebut
terinfeksi (karena tidak mengalami proses infeksi) dan hanya terkontaminasi.
Pada waktu yang lalu, banyak pendapat yang menganggap bahwa benda-
benda yang mengalami kontaminasi merupakan alat penularan yang paling baik.
Tetapi khusus benda-benda yang bersifat alat seperti pakaian, tempat tidur, alat-
alat dapur dan alat-alat makan tidaklah besar peranannya karena banyak di
antara mikro-organisme penyebab tidak dapat bertahan lama pada keadaan kering.

Dilain pihak, semua benda-benda seperti air, makanan/minuman, susu dan
tumbuhan merupakan media yang cukup berperanan di dalam penularan penyakit
karena berbagai mikro-organisme dapat bertahan lama dalam media ini.
Penularan penyakit melalui makanan, minuman serta benda-benda
lainnya, dapat bersumber dari manusia, tetapi dapat pula bersumber dan
binatang atau sumber lain, tetapi pada umumnya termasuk dalam golongan
penyakit menular yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut.
Berdasarkan media utama penularan, maka kelompok penyakit ini dapat
kita bagi dalam beberapa kelompok utama.

1.Melalui air (water borne disease)

Penyakit yang penularannya melalui air pada umumnya masuk ke dalam
tubuh melalui mulut (oral penetration), tetapi ada pula di antaranya yang
masuk ke dalam tubuh melalui kulit (contact penetration)seperti
schistosomiasis yang dapat pula digolongkan dalarn penyakit kontak langsung
Adapun penyakit yang penularannya terutama melalui air, dan masuk ke
dalam tubuh melalui mulut, merupakan golongan penyakit yang cukup
penting karena masih seringnya dijumpai kejadian dalam masyarakat, bahkan
beberapa di antaranya dapat mewabah (water borne epidemics). Penyakit
kelompok ini masih cukup banyak memakan korban jiwa dan harta,
terutama pada daerah dengan sumber air minum yang tidak memenuhi syarat-
syarat kesehatan serta keadaan sanitasi lingkungan yang masih jelek.
Keadaan ini lebih sering dijumpai pada negara-negara yang sedang
berkembang, sedangkan pada negara maju, masalah kelompok penyakit ini
sudah tidak merupakan masalah kesehatan masyarakat.
Beberapa penyakit utama yang termasuk di dalam kelompok ini antara lain:
kolera dan parakholera eltor, tifus abdorniralis, disentri amuba dan basiler, infeksi
hepatitis, beberapa jenis infeksi virus lainnya, dan lain-lain.

2.Melalui makanan (food borne disease)

Sebenarnya kelompok ini tidak jauh berbeda dengan yang pertama di atas
(melalui air), hanya ada di antaranya yang secara langsung berada dalam zat
makanan atau unsur makanan yang dimakan. Adapun penyakit-penyakit
yang berasal dari manusia dan penularannya dapat terjadi melalui makanan
antara lain: (1) organisme usus (enteric organisms) yang meliputi tifus
abdominalis (tyhoid), salmonellosis, disentri, koleralparakolera, diare pada
bayi (infant); (2) organisme yang masuk ke dalam makanan melalui droplet

nuklei, seperti pada penyakit tuberkulosis dan streptococcus; (3) berbagai jenis
infeksi pada kulit oleh streptococcus maupun staphilococcus yang dapat
menimbulkan keracunan makanan, dan (4) beberapa jenis parasit seperti
askaries, amubiasis dan lain-lain.
Selain itu, sejumlah penyakit menular tertentu yang berasal dan binatang ke
manusia dengan jalur makanan atau bahan makanan antara lain: (1) melalui
daging hewan seperti trichinosis dan taenia solium (daging babi), taenia
saginata,
(sapi) dan diphilobothriunz (ikan); (2) melalui telur/pada peternakan
unggas seperti salmonellosis; (3) melalui kontaminasi pada makanan dengan
binatang tertentu seperti leptospirosis (tikus), echinococcosisihidatidosis
(anjing) dan salmonellosis (tikus dan anjing).

3.Melalui susu (milk borne disease)

Susu sebagai salah satu bahan makanan merupakan media yang cukup baik
untuk penularan penyakit tertentu karena sifat susu itu sendiri. Susu
merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan
mikro-organisme penyebab. Juga susu sering diminum dalam keadaan segar
tanpa dimasak atau dipasturisasi, sedangkan susu yang mengalami
kontaminasi oleh bakteri tidak memperlihatkan tanda-tanda tertentu, ataupun
gejala yang berbahaya. Juga mengingat bahwa susu merupakan minuman bagi
bayi dan anak usia muda, yang pada umumnya memiliki tingkat resistensi
yang masih rendah.
Cukup banyak jenis penyakit yang dapat ditularkan melalui media susu,
walaupun berbagai penyakit tersebut penularannya dapat melalui cara lain
yang mungkin lebih sering.
1.Penyakit yang berasal dari manusia dan yang dapat menular melalui
susu, meliputi penyakit kelompok droplet nuklei, kelompok penyakit yang
menular melalui makanan dan minuman seperti tuberculosis, dipteria,
disentri, enteric fever, scarlet fever, streptococcal sorethroat, staphilococcus
food poisoning, salmonellosis, infant diarre oleh E. coli, polio dan
hepatitis (yang dua terakhir agak jarang).
2.Penyakit yang berasal dari sapi dan dapat menular kepada manusia
melalui susu antara lain: tuberkulosis (bovine), brucellosis, streptococcus
(bovine), Q-fever
serta penyakit mulut dan kuku. Di samping itu dikenal
pula penyakit menular tertentu yang berasal dari manusia ke sapi, dan

kemudian menular ke manusia melalui susu, umpamanya pada penyakit
streptococcus dan staphilococcus mastitis pada sapi, walaupun bentuk
ini jarang dijumpai.
Melihat berbagai bentuk penularan melalui minuman dan makanan
yang mencakup banyak jenis penyakit menular, maka bentuk
penularan ini sangat penting dalam usaha pencegahan dan
penanggulangan serta sangat erat hubungannya dengan keadaan
sanitasi iingkungan, maupun higiene perorangan.

a.Penularan Melalui Vektor (Vector Borne Disease)

Perkataan vektor berasal dari bahasa Latin yang berarti si pembawa
(one she carries). Pengertian vektor yang sebenamya ialah golongan arthrophoda atau
binatang yang tidak bertulang belakang lainnya (avertebrata) yang dapat
memindahkan penyakit dari satu sumber/reservoir ke pejamu potensial.
Dalam hal ini maka vektor mungkin hanya membawa unsur penyebab secara
mekanik dengan cara menempatkan mikroorganisme penyebab pada kaki atau
bagian badan lainnya, sehingga unsur penyebab tidak mengalami perubahan
selama berada pada vektor (vektor mekanik). Di samping itu, yang sangat
penting adalah keadaan di mana vektor membawa unsur penyebab secara
biologis, di mana unsur penyebab tadi mengalami perubahan atau
berkembang biak dalam tubuh vektor sebelum dipindahkan ke pejamu yang
potensial.

Pada penularan penyakit melalui vektor secara mekanik, maka unsur
penyebab penyakit yang mungkin berasal dari tinja, urine maupun sputum
penderita, hanya melekat pada bagian tubuh vektor dan kemudian dapat
dipindahkan pada makanan maupun minuman pada waktu hinggap/menyerap pada
makanan tersebut.

Yang cukup menarik adalah penularan penyakit melalui vektor secara
biologis karena unsur penyebab harus masuk ke dalam tubuh vektor melalui gigitan
ataupun melalui keturunannya. Selama dalam tubuh vektor, unsur penyebab
berkembang biak atau hanya mengalami perubahan morfologis saja, sampai pada
akhimya menjadi bentuk yang invektif terhadap pejamu potensial. Keadaan
unsur penyebab dalam tubuh vektor dipengaruhi oleh hubungan antara vektor

dengan unsur penyebab serta pengaruh lingkungan terhadap vektor maupun terhadap
unsur penyebab itu sendiri. Selanjutnya, setelah mencapai bentuk yang invektif,
unsur penyebab penyakit keluar dari vektor melalui gigitan, tinja atau cara lain
untuk berpindah ke pejamu potensial.

Penyakit menular yang penularannya terutarna oleh vektor dapat

dibagi menurut jenis vektomya.

1.Vektor nyamuk (mosquito borne diseases)

antara lain: malaria, filariasis, dan
beberapa jenis virus encephalitis, demam virus seperti demam dengue, virus
hemorrhagic seperti dengue hemorrhagic fever serta yellow fever.
2.vektor kutu louse (louse borne disease) antara lain: epidemic tifus fever
dan epidemic relapsing fever.
3.Vektor kutu flea (flea borne disease) pada penyakit pes, dan tifus murin.
4.Vektor kutu mite (mite borne disease) antara lain: scrub tifus
(tsutsugamushi) dan vesicular ricketsiosis.
5.Vektor kutu jenis tick (rick borne disease) antara lain: spotted fever,
epidemic relapsing fever dan lain-lain.
6.Penyakit oleh serangga lainnya seperti sunfly fever, lesmaniasis,
barthcnellosis oleh lalat phlebotonus, onchocerciasis oleh blackflies
genus simulium, serta trypanosomiasis di Afrika oleh lalat tsetse, dan
juga di Amerika oleh kotoran kutu triatomid.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->