BAB I PENDAHULUAN Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang semakin meningkat, termasuk bidang kesehatan secara

umum. Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran telah mencapai taraf yang sangat memuaskan dalam hal mengatasi penderitaan dan kematian penyakit tertentu. Namun demikian, masalah kesehatan bagi masyarakat umum masih sangat rawan. Walaupun pada beberapa tahun terakhir ini sejumlah penyakit menular tertentu sudah dapat diatasi, tetapi di lain pihak timbul pula masalah baru dalam bidang kesehatan masyarakat, baik yang berhubungan dengan penyakit menular dan tidak menular, maupun yang erat hubungannya dengan gangguan kesehatan lainnya. Dewasa ini banyak penyakit menular yang telah mampu diatasi bahkan ada yang telah dapat dibasmi berkat kemajuan teknologi dalam mengatasi masalah lingkungan biologis yang erat hubungannya dengan penyakit menular. Akan tetapi masalah penyakit menular masih tetap dirasakan oleh sebagian besar penduduk negara sedang berkembang, di samping munculnya masalah baru pada negara yang sudah maju. Penguasaan teknologi terhadap pengaruh lingkungan biologi yang erat hubungannya dengan penyakit menular maka penguasaan terhadap lingkungan fisik sedang dikembangkan di berbagai negara dewasa ini yang sejalan dengan penguasaan terhadap lingkungan biologis. Di lain pihak, kemajuan ilmu dan teknologi juga ikut mempengaruhi lingkungan sosial budaya dan sangat erat hubungannya dengan pola tingkah laku masyarakat. Perubahan lingkungan sosial budaya tersebut memberikan dampak positif dan negatif terhadap pola penyakit yang ada dalam masyarakat, termasuk penyakit menular. Di lain pihak, dengan semakin meningkatnya kemajuan di bidang komunikasi perhubungan dan transportasi antarnegara dewasa ini, maka setiap kejadian penyakit menular pada suatu negara tertentu akan merupakan ancaman yang potensial untuk negara lainnya. Manusia sebagai makhluk sosial sangat dipengaruhi oleh ketiga faktor tersebut di atas dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam hal ini manusia harus selalu berusaha untuk mengatasi berbagai pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan oleh ketiga faktor tersebut dengan: (1) menyesuaikan kebutuhan hidupnya dengan keadaan lingkungan sekitamya, terutama terhadap keadaan lingkungan yang sulit diubah, atau (2) berusaha mengubah lingkungannya untuk disesuaikan dengan kebutuhannya, terutama keadaan lingkungan yang dapat mengganggu ketenteraman hidupnya. Dewasa ini berbagai jenis penyakit menular telah dapat diatasi terutama pada negara-

negara maju, tetapi sebagian besar penduduk dunia yang mendiami belahan dunia yang sedang berkembang, masih terancam dengan berbagai penyakit menular tertentu. Dalam hal ini maka penyakit menular dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok utama yakni:
1. Penyakit yang sangat berbahaya karena kematiannya cukup tinggi 2. Penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan kematian atau cacat, walaupun

akibatnya lebih ringan dibanding dengan yang pertama.
3. Penyakit menular yang jarang menimbulkan kematian atau cacad, tetapi dapat mewabah

sehingga dapat menimbulkan kerugian waktu maupun materi/biaya. Untuk dapat rnengambil tindakan yang berarti dalam usaha mengatasi serta menanggulangi berbagai penyakit menular tertentu, maka harus diketahui dengan pasti berbagai aspek epidemiologis penyakit menular secara umum.

B A B II B E B E R A P A D E F IN IS I

IST IL A H PE N T IN G D A L A M P E N Y A K IT M E N U L A R

1.

Carrier: Manusia (orang) atau hewan tempat berdiamnya agent menular spesifik dengan adanya penyakit yang secara klinis tidak terlihat nyata, tetapi dapat bertindak sebagai amber infeksi yang cukup penting. Kemampuan sebagai pembawa/carrier bisa terdapat pada seseorang dengan infeksi yang tidak tampak nyata sepanjang waktu tersebut (umumnya dikenal sebagai orang sehat atau pembawa yang tidak jelas gejalanya), atau berada dalam masa tunas (incubatory carrier), masa penyembuhan dan sesudah masa penyembuhan dari suatu penyakit infeksi tertentu (convalescent carrier). Pada kondisi tertentu maka kemampuan sebagai pembawa bisa berlaku dalam waktu singkat atau panjang (temporary carrier/ transient carrier, atau chronic carrier).

2.

Case Fatality Rate: Biasanya dinyatakan sebagai persentase dari jumlah orang yang didiagnosis menderita penyakit yang telah ditentukan dan meninggal karenanya. Istilah ini lebih sering dipergunakan untuk kejadian luar biasa (outbreak) penyakit akut di mana semua penderita setelah diikuti dengan periode waktu yang cukup untuk sampai mengakibatkan kematiannya. Angka kefatalan (fatality rate) harus dengan jelas dibedakan dan angka kematian (mortality rate). Sinonim: Angka kefatalan (fatality rate), Persentase kefatalan (Fatality percentage).

1.

Chemopraphilaxis: Pemberian bahan kimiawi termasuk antibiotika, untuk mencegah pertumbuhan atau perkembangan infeksi menjadi penyakit yang nyata. Selanjutnya chemoteraphy yang berkenaan dengan penggunaan bahan-bahan kimiawi untuk penyembuhan suatu penyakit yang secara klinis dapat diketahui, atau membatasi perkembangannya lebih jauh.

2.

Cleaning: pembersihan dengan menggosok dan mencuci, seperti dengan air panas, sabun atau deterjen yang sesuai, ataupun dengan menghisap debu maupun agent menular atau zat organik dan permukaan badan di mana agent menular tersebut dapat menemukan keadaan yang menguntungkan untuk bisa bertahan atau berkembang biak.

1.

Communicable disease: penyakit yang disebabkan oleh unsur/agent penyebab menular

tertentu atau hasil racunnya, yang terjadi karena perpindahan/penularan agent atau hasilnya dan orang yang terinfeksi, hewan, atau reservoir lainnya (benda lain) kepada pejamu yang rentan (potential host), baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pejamu perantara hewan (vektor), atau lingkungan yang tidak hidup (lihat transmission of infectious agent).
2.

Communicabel period: waktu atau selama waktu tertentu di mana agent menular dapat dipindahkan baik secara langsung maupun tidak langsung dan orang terinfeksi ke orang lain, dan hewan terinfeksi ke manusia atau dan orang terinfeksi ke hewan, termasuk arthropoda. Pada penyakit-penyakit seperti dipteria dan infeksi oleh streptococcus yang melibatkan selaput lendir sebagai pintu keluar masuknya penyakit, maka waktu periode penularannya adalah tanggal pada saat terjadi keterpaparan (eksposur) dengan sumber infeksi yang pertama kali sampai mikro-organisme yang dapat menularkan tidak lagi disebarkan dan selaput lendir yang terlibat. Beberapa penyakit lebih bersifat menular selama periode inkubasi dari pada selama masa klinis penyakitnya. Pada beberapa penyakit tertentu seperti tuberkulosis, lepra, sifilis, gonorrhea, dan beberapa bentuk salmonellosis, masa penularannya bisa berada dalam waktu yang lama dan kadangkala periode yang berselang bilamana luka-luka yang belum sembuh memberikan peluang masuknya kotoran/agent penyebab dan permukaan kulit atau juga melalui lubang-lubang tubuh yang manapun. Pada penyakit yang ditularkan oleh vektor arthropoda seperti malaria dan demam kuning/berdarah, periode penularannya (atau lebih tepatnya infektivitasnya) adalah selama agent menular terdapat dalam darah atau jaringan lain orang yang terinfeksi dalam jumlah yang cukup untuk dapat memberikan infeksi pada vektor. Juga periode penularan pada vektor arthropoda, yaitu pada saat agent berada dalam jaringan arthropoda (tahap infektif) untuk dapat dipindahkan ke pejamu potensial tertentu.

3.

Contact: orang atau hewan yang telah berhubungan/mengalami hubungan dengan orang atau hewan terinfeksi, atau lingkungan yang terkontaminasi sehingga dapat memberikan peluang untuk memperoleh agent penyakit menular.

4.

Contamination: adanya agent menular pada permukaan tubuh, pada atau dalarn pakaian, termasuk semua yang berkaitan dengan tempat tidur (bedding), mainan, alat-alat bedah atau baju operasi maupun benda/zat coati termasuk air dan makanan. Pollution (pencemaran) berbeda dengan kontaminasi dan secara langsung memperlihatkan adanya

perusakan pada lingkungan tetapi tidak harus menular. Kontaminasi pada permukaan tubuh tidak- bisa dianggap sebagai pembawa kuman (carrier).
5.

Desinfection: mematikan agent penyakit menular dengan bahan-bahan kimiawi atau alat/cara yang bersifat fisik yang mengena secara langsung agent penyakit menular di luar tubuh. Concurrent desinfection: penerapan usaha untuk mendesinfeksi secepatnya setelah pengeluaran bahan yang menular dan tubuh orang terinfeksi, atau setelah terjadi pengotoran benda-benda dengan kotoran-kotoran menular; semua hubungan perorangan dengan kotoran-kotoran atau benda-benda yang sebelumnya dianggap tidak perlu untuk didesinfeksi. Terminal desinfection: penerapan usaha untuk mendesinfeksi setelah penderita dipindahkan karena meninggal atau ke rumah sakit, atau setelah tidak lagi menjadi sumber infeksi, atau setelah isolasi rumah sakit maupun tindakan-tindakan lain yang sudah tidak dilakukan lagi. Tindakan ini jarang sekali dilakukan; pembersihan terakhir (terminal cleaning) umumnya sudah mencukupi (lihat cleaning) sejalan dengan mendinginkan dan memanaskan ruangan agar terkena matahari langsung, juga alat-alat rumah tangga dan semua yang berhubungan dengan tempat tidur. Disinfeksi hanya penting untuk penyakit-penyakit yang menyebar melalui hubungan langsung; dianjurkan melakukan usaha sterilisasi dengan uap panas, atau pembakaran semua yang berhubungan dengan tempat tidur (bedding) dan barangbarang lain setelah penyakit seperti lassa fever dan penyakit-penyakit lain yang sangat menular.

6.

Desinfestation: semua proses baik secara fisik maupun kimiawi untuk merusak/menghancurkan atau memusnahkan bentuk-bentuk hewan kecil yang tidak dikehendaki khususnya arthropoda atau rodent (binatang pengerat), yang ada pada orang, pakaian, atau dalam lingkungan seseorang, atau pada hewan-hewan peliharaan (insecticide dan rodenticide). Disinfestasi juga termasuk menghilangkan kutu-kutu untuk infestasi dengan kutu kepala (pediculus humanus), dan kutu-kutu pada tubuh. Sinonim: termasuk disinsektasi dan disinsektisasi akhir jika sasaran hanya pada insekta yang terlibat.

7.

Endemic: adanya penyakit atau agent menular yang tetap dalam suatu area geografis tertentu; dapat juga berkenaan dengan adanya penyakit yang secara normal biasa timbal dalam suatu area tertentu. Hyperendemic : Menyatakan suatu penularan hebat yang menetap (terus menerus).

Holoendernic

: Tingkat infeksi yang cukup tinggi sejak awal kehidupan dan dapat mempengaruhi hampir seluruh populasi; sebagai contoh: penyakit malaria pada beberapa daerah tertentu (lihat zoonosis).

8.

Epidemic: kejadian atau peristiwa dalam suatu masyarakat atau wilayah dari suatu kasus penyakit tertentu (atau suatu kasus kejadian yang luar biasa) yang secara nyata melebihi dari jumlah yang diperkirakan. Jumlah kasus menandakan adanya wabah yang akan berubah-ubah berdasarkan agent penularannya, jumlah dan jenis populasi yang terkena, adanya kejadian sebelumnya atau tidak adanya keterbukaan (kerentanan) terhadap penyakit, dan waktu serta tempat kejadian. Epidemicity: keadaan yang berkaitan dengan frekuensi penyakit yang sering dalam satu area yang sama, di antara populasi yang telah ditentukan, dalam satu musim tahun yang sama. Kasus tunggal suatu penyakit menular yang lama tidak terjadi dalam populasi tertentu, atau serangan pertama oleh suatu penyakit yang tidak dijumpai sebelumnya dalam area tersebut memerlukan laporan yang cepat dan penyidikan (investigast) epidemiologi; dua kasus penyakit tertentu yang berhubungan dalam waktu dan tempat tertentu adalah bukti transmisi yang cukup untuk dapat dianggap sebagai suatu wabah atau kejadian luar biasa (lihat report of a disease dan zoonosis).

9.

Fumigation: semua proses untuk mematikan bentuk-bentuk hewan khususnya arthropoda, rodent dan binatang kecil lainnya yang dilakukan dengan menggunakan gas (lihat Pada insecticide dan rodenticidel.

10.

Health education: adalah proses yang secara individu maupun secara berkelompok; orang-orang belajar untuk miningkatkan, memelihara maupun memulihkan derajat kesehatan. Pendidikan kesehatan ini dimulai dengan segala macam tujuan yang mereka inginkan dalam usaha memajukan taraf hidup mereka. Tujuannya adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri mereka untuk mencapai taraf hidup yang sehat, secara individu dan sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam penanggulangan penyakit menular, pendidikan kesehatan pada umumnya termasuk penilaian tentang apa yang dikenal oleh masyarakat mengenai suatu penyakit tertentu penilaian kebiasaan dan tingkah laku masyarakat yang berkenan dengan frekuensi serta penyebaran penyakit, maupun pengenalan cara/alat khusus untuk mengamati kekurangan dalam usaha pengobatan.

11.

Host (pejamu) : manusia atau hewan hidup, termasuk burung dan arthropoda, yang dapat memberikan kehidupan atau tempat tinggal untuk agent menular dalam kondisi

alam (lawan dan percobaan). Beberapa protozoa dan cacing melalui tahapan yang berturut-turut dalam pejamu pilihan (alternatif host) dan jenis yang berbeda. Pejamu di mana parasit mencapai kematangan/ pendewasaan atau melewati tahap seksual adalah pejamu definitife atau pejamu primer. Sedangkan parasit dalam tahap larva atau tahap aseksual adalah pejamu intermediate atau sekunder. Pejamu pembawa (transport host) adalah pembawa, di mana organisme tetap bertahan hidup tetapi tidak bekembang/ berubah.
12.

Imune individual: yaitu manusia atau hewan yang mempunyai perlindungan antibodi khusus atau kekebalan seluler sebagai hasil infeksi yang terjadi sebelumnya, atau hasil imunisasi, atau satu keadaan yang disebabkan kejadian khusus sebelumnya dan memberikan reaksi yang sama untuk mencegah penyakit dan/atau adanya gejala klinis penyakit tertentu setelah mengalami keterpaparan dengan agent penyakit menular tersebut. Kekebalan adalah keadaan yang tidak mutlak (relatin: suatu perlindungan efektif biasa, dapat melemah oleh dosis agent menular yang berlebihan atau oleh keterpaparan melalui pintu masuk yang tidak lazim. Juga bisa dirusak oleh terapi dengan obat yang menekan kekebalan, penyakit yang terjadi bersamaan, atau oleh proses ketuaan.

13.

Immunity: kekebalan yang biasanya dihubungkan dengan adanya antibodi atau hasil aksi sel-sel yang spesifik terhadap mikro-organisme penyebab atau racunnya, dan yang dapat menimbulkan penyakit menular tertentu. Passive humeral immunity adalah kekebalan yang didapat dengan pemindahan secara buatan melalui inokulasi antibodi pelindung yang spesifik (dari hewan yang dikebalkan, atau dengan serum seseorang yang baru sembuh dari sakit yang daya kekebalannya sangat tinggi atau dengan kekebalan serum dari sakit yang daya kekebalannya sangat tinggi atau dengan kekebalan serum globulin); dan yang berlangsung dengan durasi yang pendek (beberapa hari sampai beberapa bulan). Active Immoral immunity atau kekebalan yang biasanya dapat berlangsung lama sampai bertahun-tahun, didapat baik secara alamian melalui proses infeksi, dengan atau tanpa gejala klinis yang jelas, atau secara buatan dengan cara inokulasi agent penyebabnya itu sendiri yang telah dimatikan, atau telah dilemahkan, atau dari bagian protein maupun hasil produk agent penyebabnya. Kekebalan efektif tali bergantung pada kekebalan seluler yang diberikan oleh sel limfosit-T yang dibuat lebih peka dan humoral immunity yang berdasarkan atas reaksi respon limfosit-B.

14.

Inapparent infection: adanya infeksi pejamu tanpa adanya tanda-tanda klinis yang jelas atau yang dapat dikenal. Infeksi yang tidak nyata dapat diidentifikasi hanya secara

laboratorium, atau oleh timbulnya satu reaksi positif pada tes kulit yang spesifik. Sinonim: Asymptomatic, subclinical, occult-infection.
15.

Insidence rate: nilai suatu hasil bagi (angka), antara jumlah penderita baru suatu penyakit yang telah didiagnosis sebagai suatu penyakit khusus, atau dilaporkan dalam periode waktu yang telah ditentukan (sebagai pembilang), dan jumlah person dalam populasi yang telah ditentukan, di mana kasus tersebut terjadi (sebagai penyebut). Biasanya ini mencerminkan sebagian kasus per 1000 atau 100.000/tahun. Angka tersebut biasanya menggambarkan dalam bentuk umur atau jenis kelamin tertentu, atau khusus untuk sifat populasi yang lain atau sifat suatu subdivisi (lihat morbidity rate dan prevalence rate). Attack rate, or case rate: adalah angka kejadian yang sering digunakan untuk kelompok-kelompok khusus yang diamati untuk periode yang terbatas dan dalam keadaan khusus pula, seperti dalam suatu wabah, dan biasanya dinyatakan dalam nilai persen (kasus per 100). The secondary attack rate pada penyakit menular adalah jumlah kasus di antara keluarga atau hubungan institusional/ serumah yang terjadi di antara periode inkubasi setelah keterpaparan (eksposur) pada kasus utama dalam kaitannya pada keterpaparan secara umum; jika ditentukan hanya terbatas pada mereka yang rentan (risk group). Infection rate menyatakan kejadian dari semua infeksi, yang nyata maupun yang tidak nyata/tampak.

16.

Incubation periode: selang waktu antara terjadinya permulaan kontak dengan agent penyebab penyakit menular sampai timbulnya gejala yang pertama kali atau gejala penyakit yang dicurigai atau transmisi yang pertama kali pada vektor penyakit.

17.

Infected individual: Manusia atau hewan yang merupakan tempat berdiamnya suatu agent penyakit menular, yang dapat disertai dengan gejala penyakit yang nyata atau dalam bentuk infeksi yang tanpa gejala klinis (lihat carrier). Orang atau hewan yang dapat menularkan salah satu dari agent penyakit menular yang secara alami dapat diperoleh.

18.

Infection: masuknya, bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam tubuh manusia atau hewan. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular; akibatnya mungkin tidak kelihatan (lihat inapparent infection), atau nyata (lihat infectious disease). Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh, atau pada barang pakaian atau barang-barang lainnya, bukanlah infeksi, tetapi merupakan kontarninasi pada permukaan tubuh atau benda (lihat Contamination).

19.

Infectious agent: suatu organisme (virus, rickettsia, bakteri, jamur, protozoa dan casing) yang mampu menimbulkan infeksi atau penyakit menular.

20.

Infectious disease: penyakit yang secara klinis tampak nyata pada manusia atau hewan yang merupakan akibat suatu infeksi.

21.

Infestation: manusia atau hewan sebagai tempat menempelnya, berkembang biaknya arthropoda pada permukaan tubuh atau di dalam pakaian. Barang, benda atau tempattempat yang tertular adalah semua yang merupakan tempat berdiamnya atau memberi tempat untuk tinggal pada agent penyakit tersebut, khususnya arthropoda dan rodent.

22.

Insecticide: semua zat kimia yang digunakan untuk mematikan, menghancurkan / membasmi serangga, bisa berupa sebagai tepung, cairan, cairan yang disemprotkan, aerosol atau seperti cat semprot; lazim adanya residu (akibat sisa penggunaan zat tersebut). Pada istilah larvasida seringkali digunakan untuk menunjukkan pemakaian insektisida khususnya pemakan bentuk jentik sebelum tahap dewasa (tahap larva) dari arthropoda; adultisida atau imagosida menunjukkan pemakaian untuk merusak bentuk serangga yang dewasa. Istilah insektisida seringkali digunakan secara luas mencakup zat-zat untuk membasmi semua arthropoda, tetapi akarisida lebih tepat dipakai untuk agent pembunuh caplak dan kutu-kutu. Istilah-istilah yang lebih khusus, seperti lousisida (pembasmi belalang) dan mitisida (pembasmi rayap) kadang juga dipakai.

23.

Isolation: untuk penderita isolasi dilakukan dengan melakukan pemisahan, selama masa penularan terhadap orang atau hewan yang terinfeksi dari yang lain pada tempat tertentu, serta dalam kondisi tertentu, sebagai usaha untuk mencegah maupun membatasi penularan langsung dan tidak langsung terhadap agent menular dan mereka yang terinfeksi kepada mereka yang rentan atau mereka yang dapat menyebarkan agent tersebut kepada yang lain. Sebaliknya adalah karantina yang berarti mencegah semua hubungan mereka yang sehat dan suatu kasus menular. Rekomendasi yang dibuat untuk mengisolasi kasus-kasus adalah didasarkan pada metode-metode yang direkomendasikan oleh CDC (CDC Guideline for Isolation Precautions in Hospital) sebagai tindakan pencegahan isolasi kategori khusus. Kategori khusus tersebut dibedakan menjadi 7 hal tertentu, dan terdapat dua syarat umum untuk semua ketegori:
1. 1.

Tangan harus dicuci setelah kontak dengan penderita atau barang-barang yang sangat berpotensi untuk terkontaminasi dan sebelum merawat penderita lain. Semua barang yang terkontaminasi dengan bahan yang menular seharusnya

dibuang atau dibungkus dan diberi tanda sebelum dikirimkan untuk dilakukan dekontaminasi dan diproses kembali. Ke-7 kategori tersebutadalah
a.

Isolasi yang tegas/keras: kategori ini diciptakan untuk mencegah penularan penyakit yang sangat menular atau yang virulen, yang dapat disebarkan melalui udara dan hubungan kontak. Spesifikasinya, dan sebagai tambahan pengertian tersebut di atas, juga termasuk ruangan khusus dan pemakaian masker, baju pelindung dan sarung tangan untuk semua orang yang masuk ke dalam ruangan. Syarat-syarat ventilasi khusus dengan ruangan pada tekanan negatif untuk area sekitarnya sangat diperlukan.

b.

Isolasi kontak: untuk mengurangi infeksi yang sangat cepat menular atau serius, dan untuk penyakit atau kondisi yang terutama menyebar oleh hubungan yang dekat atau langsung. Sebagai tambahan untuk syarat-syarat pokok, disediakan adanya ruangan khusus, tetapi penderita yang terinfeksi dengan patogen yang sama, dapat ditempatkan dalam satu ruangan. Di anjurkan pemakaian masker untuk mereka yang mendekat pada penderita juga pemakaian baju pelindung jika kemungkinan keadaannya kotor dan sarung tangan dipergunakan untuk memegang benda/bahan yang menular.

c.

Isolasi pemapasan: untuk mencegah penularan penyakit menular dalam jarak dekat melalui udara, diusulkan adanya ruangan khusus, tetapi penderita yang terinfeksi dengan organisme yang sama dapat ditempatkan dalam satu ruangan. Sebagai tambahan untuk syarat-syarat pokok, maka masker di anjurkan bagi mereka yang datang mendekat pada penderita sedangkan baju pelindung dan sarung tangan tidak.

d.

Isolasi tuberkulosis (AFB isolation): untuk penderita TBC paru-paru yang positif terhadap ulasan sputum atau X -ray dada yang menunjukkan adanya TBC yang sangat aktif. Spesifikasinya termasuk menggunakan ruangan khusus dengan ventilasi khusus dan pintu yang tertutup. Sebagai tambahan untuk syarat-syarat pokok, masker digunakan hanya untuk penderita yang batuk, serta tidak dapat diandalkan untuk terus menerus menutup mulutnya. Baju pelindung digunakan untuk mencegah kontaminasi yang lebih besar pada pakaian.

e.

Tindakan pencegahan bagian dalam: untuk infeksi yang ditularkan melalui kontak langsung, atau tidak langsung dengan kotoran (feces). Sebagai tambahan untuk syarat-syarat pokok, spesifikasinya termasuk menggunakan ruangan khusus jika

kebersihan penderita amat jelek (jorok). Tidak dianjurkan pemakaian masker, dan baju pelindung seharusnya digunakan jika kemungkinan keadaannya kotor, begitu juga sarung tangan untuk memegang materi yang terkontaminasi.
f.

Tindakan pencegahan pembuangan: untuk mencegah infeksi yang ditularkan melalui kontak langsung dan tidak langsung dengan materi yang purulent atau pembuangan dan bagian tubuh yang terinfeksi. Tidak dianjurkan untuk menyediakan ruangan khusus dan penggunaan masker; dan sebagai tambahan syarat-syarat pokok, baju pelindung seharusnya digunakan, jika kemungkinan keadaannya kotor dan sarung tangan untuk memegang materi yang terkontaminasi.

g.

Tindakan pencegahan darah/cairan tubuh: untuk mencegah infeksi yang ditularkan oleh adanya kontak langsung atau tidak langsung dengan darah yang terinfeksi atau cairan tubuh. Sebagai tambahan syarat-syarat pokok, ruangan khusus dianjurkan jika kebersihan penderita jelek, sedang masker tidak dilanjutkan. Baju pelindung seharusnya digunakan jika kemungkinan terdapat pengotoran pakaian dengan darah atau cairan tubuh, begitu juga penggunaan sarung tangan jika memegang darah atau cairan tubuh.

1.

Molluscicide: zat kimia yang digunakan untuk membasmi bekicot (snails) atau molluska (binatang lunak) yang lain. Morbidity rate: angka kejadian insidensi yang digunakan dengan memasukkan semua orang dalam populasi tertentu yang diamati yang secara klinis menderita penyakit dalam satu batas waktu tertentu. Populasinya dapat dibatasi untuk jenis kelamin atau golongan umur tertentu, atau dengan sifat khusus yang lain.

2.

3.

Mortality rate: suatu angka yang dihitung dengan cara yang sama seperti pada perhitungan incidence rate dengan pembilang adalah jumlah orang yang meninggal dalam satu populasi selama periode waktu tertentu, biasanya 1 (satu) tahun. Angka kematian total atau perkiraan angka kematian kasar yang menggunakan kematian dari semua sebab, biasanya mencerminkan sebagai kematian per 1000 penduduk, sedangkan angka kematian penyakit khusus hanya meliputi kematian akibat satu penyakit tertentu dan biasanya dilaporkan berdasarkan pada kejadian per 100.000 penduduk. Dasar populasinya dapat ditentukan berdasarkan jenis kelamin, umur atau sifat-sifat lainnya. Angka kematian harus tidak dikacaukan dengan angka kematian karena penyakit tertentu (case fatality rate)

4.

Nosocomial infection: terjadinya infeksi pada penderita di rumah sakit atau pada

fasilitas pelayanan kesehatan yang lain dan pada siapa pun yang pada waktu masuk tidak terdapat tanda-tanda infeksi atau dalam masa inkubasi. Termasuk mendapatkan infeksi dan rumah sakit, tetapi muncul setelah ke luar dari rumah sakit, atau kejadian infeksi petugas maupun pengunjung fasilitas tersebut.
5.

Pathogenicity: kemampuan agent penyebab penyakit menular untuk menyebabkan penyakit pada pejamu (host) yang rentan. Patient or sick people: adalah orang yang secara jelas sakit Personal hygiene: tindakan pencegahan yang menyangkut tanggung jawab individu untuk meningkatkan kesehatan serta membatasi menyebamya penyakit menular, terutama yang ditularkan secara kontak langsung. Tindakan tersebut menyangkut:
a. Mencuci tangan dengan sabun dan menyiram dengan air segera setelah buang air

6. 7.

besar air kecil dan selalu sebelum menangani makanan atau makan.
b. Hindari memegang semua benda yang tidak bersih atau segala benda yang sudah

terpakai oleh orang lain untuk keperluan di kamar kecil (toilet), jauhkan dan mulut, hidung, mata, telinga, alat genitalia dan luka-luka.
c.

Hindarkan penggunaan secara umum atau peralatan makan yang tidak bersih, gelas minum, handuk, sapu tangan, sisir dan rambut serta pipa-pipa.

d.

Hindari adanya keterpaparan (eksposur) dari orang lain, karena semprotan dan hidung dan mulut seperti pada saat batuk, bersin, tertawa atau bicara.

e. f.
1.

Mencuci tangan seluruhnya setelah menangani penderita atau semua barang miliknya. Menjaga kebersihan tubuh dengan sering menyabun dan mandi.

Prevalence rate: suatu hasil bagi (angka) yang diperoleh dengan menggunakan pembilang sebagai jumlah orang yang sakit atau gambaran dari suatu keadaan yang sebenamya dalam suatu populasi tertentu pada satu waktu tertentu (point prevalence) atau selama jangka waktu tertentu (periode prevalence), tanpa memperhatikan kapan mereka mulai sakit atau mulai mengalami kondisi tersebut; dan sebagai penyebut adalah jumlah orang dalam populasi di mana kasus tersebut terjadi.

2.

Quarantine: larangan/pembatasan kegiatan orang atau hewan yang sehat yang telah mengalami kontak/terpapar dengan kasus penyakit menular selama periode penularan, untuk mencegah penularan penyakit selama periode inkubasi andai kata infeksi sudah terjadi.
a. Absolute or Complete Quarantine: pembatasan kebebasan bergerak bagi mereka

yang terpapar/kontak dengan kasus penyakit menular untuk periode waktu yang

tidak lebih dari waktu inkubasi terpanjang dan penyakit tersebut, sebagai usaha untuk mencegah hubungan dengan mereka yang tidak terpapar.
b. Mudifled Quarantine: suatu pilihan pembatasan sebagian dan kebebasan bergerak

terhadap mereka yang mengalami kontak, umumnya atas dasar diduga atau dicurigai memiliki tingkat kerentanan yang berbeda dan dihubungkan dengan bahaya terjadinya penularan penyakit. Hal semacam ini dilakukan pada keadaan yang khusus. Sebagai contoh: diberlakukannya larangan masuk sekolah bagi murid tertentu, pembebasan orang yang kebal dari perlengkapan yang khusus dapat dipakai untuk orang yang rentan, atau larangan bagi anggota mileter ke barak atau markasnya. Hal ini termasuk: pengawasan perorangan atau surveillans individu, yakni pengawasan langsung secara sederhana oleh dokter atau supervisor lainnya terhadap mereka yang mengalami kontak agar dapat dengan segera mengenal tiap kejadian penyakit infeksi atau penderita tanpa melakukan larangan yang ketat terhadap kebebasan bergerak; sedangkan segregation atau pemisahan adalah memisahkan sebagian dari anggota sekelompok orang atau hewan ternak dari yang lainnya, untuk suatu pertimbangan khusus, kontrol atau pengamatan/observasi adalah usaha pemindahan anak yang rentan ke rumah orang yang kebal, atau penentuan batas sehat atau batas lingkungan sehat untuk melindungi mereka yang tidak terinfeksi terhadap kelompok populasi yang terkena infeksi.
1.

Repellent: bahan kimia yang di aplikasikan pada kulit atau pakaian atau tempat lain untuk mengurangi:
a. Penyinaran dan penyerangan arthropoda secara individu.

b. Penusukan agent lain pada kulit seperti larva cacing.
1.

Report of a Disease : laporan resmi memberitahukan kepada pihak yang berwewenang atas terjadinya penularan tertentu atau penyakit menular yang lain pada manusia atau pada hewan. Penyakit pada manusia dilaporkan di Dinas Kesehatan setempat; sedang pada hewan, ke Dinas Kehewanan atau Dinas Pertanian atau Dinas Petemakan. Sebagian kecil penyakit pada yang menular ke manusia bisa dilaporkan ke dua dinas tersebut di atas. Setiap penegak hukum kesehatan dapat mengeluarkan daftar penyakit-penyakit yang wajib dilaporkan sesuai kebutuhan khusus. Laporan juga seharusnya mencatat daftar kasus-kasus penyakit tertentu yang dicurigai, untuk kepentingan kesehatan masyarakat, biasanya memerlukan investigasi epidemiologi atau permulaan tindakan pengawasan khusus. Jika seorang terkena infeksi dalam satu

yurisdiksi kesehatan dan kasus dilaporkan dan pihak lain, maka Dinas Kesehatan yang menerima laporan harus memberitahukan yurisdiksi yang lain, khususnya jika penyakit tersebut memerlukan pengujian kontak untuk infeksi, atau apabila makanan atau air atau wahana infeksi lain yang umum mungkin terlibat. Sebagai tambahan laporan rutin kasus penyakit tertentu, diperlukan pemberitahuan khusus dan semua wabah atau kejadian luar biasa (outbreak) penyakit, termasuk semua penyakit yang tidak didaftar sebagai penyakit yang harus dilaporkan.
2.

Reservoir of infectious agent: hewan, arthropoda, tanaman, tanah atau zat atau kombinasinya di mana agent yang menular dapat secara normal hidup dan berkembang. Pertama bergantung untuk bisa bertahan, kemudian bisa memproduksi diri sendiri (berbiak), dan pada kondisi tertentu akan bisa ditransmisikan ke pejamu yang rentan.

3.

Resistence: mekanisme tubuh yang secara keseluruhan membuat rintangan untuk berkembangnya penyerangan atau pembiakan agent menular atau kerusakan oleh racun yang dihasilkannya. Inherent resistence: kemampuan untuk melawan penyakit tidak bergantung kepada antibodi atau respon jaringan yang tumbuh secara khusus; umumnya terletak pada sifat-sifat anatomi atau faali yang khusus dan pejamu dan kemungkinan secara genetis atau diperoleh secara permanen atau sementara. Sinonim: Non Specific Immunity (kekebalan yang tidak khusus).

4. 5.

Rodenticide: bahan kimia yang digunakan untuk memusnahkan kelompok rodensia (binatang pengerat sebangsa tikus) umumnya melalui pencernaan (ingestion). Source of infection : manusia, hewan, objek atau zat lainnya, di mana suatu agent menular berada pada/di dalam tubuh pejamu (host). Sumber infeksi harus jelas dapat dibedakan dari sumber kontaminasi, seperti meluapnya bak penampung kotoran sehingga mencemari persediaan air bersih, atau tukang masak yang sedang terinfeksi mencemari masakan. (lihat “Reservoir").

6.

Surveillance of disease: berbeda dari pengawasan pada orang, maka pengawasan penyakit merupakan kelanjutan penelitian yang cermat dari segala aspek terjadinya dan penyebaran penyakit yang berhubungan dengan penanggulangan yang berlaku. Termasuk di dalamnya pengumpulan dan penilaian yang sistematik dari: a. Laporan-laporan morbiditas dan mortalitas.

b. Laporan khusus investigasi lapangan dari wabah dan kasus perorangan.

c.

Isolasi

dan

identifikasi

faktor

penyebab

penyakit

menular

melalui

pemeriksaan laboratorium.

d. Data tentang adanya, guna dan efek yang tidak menguntungkan dari vaksin dan toksoid, imun globulin, insektisida dan zat lain yang digunakan dalam kontrol. e. f. Informasi mengenai tingkat kekebalan dalam kelompok atau golongan dalam suatu populasi tertentu. Data epidemiologi lainnya yang berhubungan. Keseluruhan laporan dari data di atas harus disiapkan dan disebarkan kepada semua pihak yang bekerja sama dan pihak lain yang perlu mengetahui hasil kegiatan pengawasan. Tata cara ini berlaku untuk semua tingkat yurisdiksi kesehatan masyarakat dari tingkat lokal sampai ke tingkat internasional. Pengawasan serologi mengidentifikasi bentukbentuk infeksi sekarang ini dan sebelumnya dengan menggunakan tes serologi.
1.

Susceptible: orang atau hewan yang dianggap tidak mempunyai kekebalan (daya tahan) yang cukup untuk melawan agent patogen khusus untuk mencegah terjadinya infeksi atau penyakit jika mengalami keterpaparan pada agent (rentan).

2. 3.

Suspect case: orang yang mempunyai riwayat kesehatan dan tanda-tanda yang dianggap bahwa dia mungkin menderita atau sedang terjangkit penyakit yang menular. Transmission of infectious agent: segala cara atau mekanisme di mana agent menular menyebar dari sumber atau reservoir ke manusia. Mekanisme-mekanisme tersebut adalah:
a.

Direct transmission: penularan langsung yang pada dasarnya pemindahan yang cepat dari agent menular ke pintu masuk yang sesuai di mana akan menimbulkan infeksi pada manusia atau hewan. Hal ini bisa karena adanya kontak langsung seperti sentuhan, gigitan, ciuman atau hubungan kelamin, atau secara proyeksi langsung dan semprotan droplet pada conjunctiva atau pada selaput lendir mata, hidung atau mulut pada waktu bersin, batuk, meludah, bernyanyi atau berbicara (biasanya pada jarak sekitar 1 meter atau kurang).

b.

Indirect transmission:
1. Vehicle-Borne: bahan/benda mati yang terkontaminasi atau benda fomites

seperti mainan, sapu tangan, pakaian kotor, segala sesuatu yang ada hubungannya dengan tempat tidur, alat-alat masak dan makan, alat-alat bedah atau bajunya, air, makanan, susu, produk-produk biologi termasuk darah, serum, plasma, jaringan atau anggota tubuh atau semua bahan yang dapat dipakai sebagai media perantara di mana agent menular diangkut dan masuk ke dalam

pejamu (host) yang rentan melalui pintu masuk yang sesuai.
2. V e c t o r - B o r n e : a. Secara mekanis: termasuk mekanisme penularan yang sederhana di mana

serangga yang pada kakinya melekat berlumpur/kotoran, lalu hinggap dan merangkak atau berjalan atau dengan jalan organisme masuk ke dalam saluran pencernaan. Di sini organisme tersebut tidak memerlukan pembiakan pertumbuhan dalam tubuh vektor.
b. Secara biologis: perkembangbiakan, siklus maupun pertumbuhan atau

kombinasi dari keduanya diperlukan sebelum arthropoda dapat memindahkan bentuk infektif unsur penyebab ke manusia. Setelah terjadi infeksi diperlukan masa inkubasi sebelum arthropoda menjadi infektif. Unsur penyebab yang menular dapat dilewati secara vertikal untuk generasi berikutnya (penularan transovarium): menunjukkan adanya jalan pintas dari satu tahap siklus hidup ke yang lain, sebagaimana bentuk ke dewasa. Transmisi mungkin melalui injeksi cairan kelenjar saliva sewaktu penggigitan, atau dengan muntah atau endapan tinja pada kulit, atau bahan lain yang dapat menembus melalui luka gigitan ataupun masuk melalui area yang luka karena garukan atau gosokan. Penularan ini adalah oleh pejamu (host) invertebrata yang terinfeksi dan pemindahan terjadi melalui suatu mekanisme yang cukup kompleks oleh vektor sebagai penghubung. Walaupun arthropoda di sini pada setiap peranan, adalah sebagai vektor.
1. Air-Borne: penyebaran unsur penyebab secara aerosol ke pintu masuk yang

sesuai, biasanya saluran pernapasan. Unsur aerosol adalah pengandung partikelpartikel di udara yang terdiri dari sebagian, atau dapat seluruhnya jasad renik. Keberadaannya di udara dapat mencapai periode waktu yang lama, di mana sebagian kembali aktif dan lainnya kemudian menjadi tidak efektif dan tidak virulen. Partikel di antara diameter 1- 5 u dengan mudah masuk ke dalam alveolus paru-paru dan mungkin tertahan di sana. Yang tidak dianggap sebagai air-borne ialah droplet dan partikel besar yang lain.
a. Droplet nuclei: biasanya merupakan sisa/residu yang hanya sedikit, dihasilkan

dari penguapan cairan droplet yang dipancarkan oleh pejamu yang terinfeksi. Bentuk ini dapat juga diciptakan dengan sengaja oleh alat yang dapat mengubah cairan menjadi bagian yang sangat kecil atau dengan tidak sengaja seperti pada laboratorium mikrobiologi atau pada rumah potong

hewan, atau ruang autopsi. Biasanya mereka berada di udara dalam periode waktu yang lama.
b. Dust: partikel kecil yang ukurannya sangat bervariasi, bisa berasal dari

tanah (umpanianya spora jamur yang terpisah dan tanah kering karena angin), pakaian, segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat tidur dan lantai yang terkontaminasi.
1.

Virulence: adalah tingkat patogenitas suatu agent menular, yang dinyatakan oleh angka kefatalan kasus atau kemampuannya untuk menyerang dan merusak jaringan pada pejamu.

2.

Zoonosuis: adalah suatu infeksi atau penyakit menular yang secara alam dapat ditularkan dari hewan vertebrata ke pejamu manusia. Bisa enzootik atau epizootik (lihat "Endemic" dan "Epidemic").

BAB III MANIFESTASI KLINIK SECARA UMUM

1.

Spektrum Penyakit Menular Pada proses penyakit menular secara umum, maka dapat dijumpai berbagai manifestasi klinik sebagai hasil proses penyakit pada individu, mulai dari gejala klinik yang tidak tampak (inapparent infection) sampai pada keadaan yang berat disertai komplikasi dan berakhir cacat atau meninggal dunia. Akhir dari proses penyakit adalah sembuh atau meninggal dunia. Penyembuhan dapat lengkap atau dapat berlangsung jinak (mild) atau dapat pula dengan gejala sisa yang berat (severe sequele). Ada pula penyakit yang biasanya tidak tampak secara jelas tetapi dianggap sebagai kelompok penyakit berat karena mempunyai angka kematian (case fatality rate) yang tinggi atau angka manifestasi klinik berat yang cukup tinggi. Dalam hal ini harus diingat bahwa CFR merupakan jumlah kematian penyakit tertentu dibagi dengan jumlah penderita penyakit dengan gejala Minis jelas, sedangkan arteka kematian penyakit tertentu (mortality rate) adalah jumlah kematian penyakit tertentu dibagi dengan jumlah penduduk yang risk terhadap penyakit tersebut.

Suatu penyakit menular dianggap berat bila penyakit tersebut mempunyai CFR yang tinggi atau apabila sembuh maka sebagian besar penderita sembuh dengan disertai gejala sisa (neat). Dalam menilai berat ringannya penyakit dapat dilihat dari dua segi yakni dari segi perorangan/individual serta dari segi masyarakat yakni pengaruhnya terhadap kelompok populasi.

Gambar 1 Proses Kejadian Penyakit Meningal

Penyakit dengan insidensi rendah tetapi dengan CFR yang tinggi seperti rabies, merupakan penyakit yang berat secara perorangan, sedangkan penyakit dengan insidensi yang tinggi tetapi tidak berat (umpamanya diare) akan memberikan keadaan yang lebih serius sebagai masalah kesehatan masyarakat karena merupakan unsur yang menimbulkan peningkatan kematian populasi secara keseluruhan. Dalam hal ini maka yang dimaksud dengan peningkatan kematian dalam masyarakat adalah jumlah kematian di atas dan tingkat/batas normal yang telah diperkirakan pada suatu daerah tertentu dalam jangka waktu tertentu pula (di luar kejadian luar biasa/wabah). Adapun bentuk berat ringannya penyakit secara individu juga akan memberikan dampak terhadap status kesehatan masyarakat terutama yang berkaitan dengan sumber penularan baik sebagai penderita maupun sebagai pembawa kuman (karier). Manifestasi klinik penyakit menular pada penderita dapat dibagi dalam tiga kelompok utama. (lihat gambar 2) Gambar 2 Penyebaran Karakteristik Manifestasi Klinik dari Tiga Jenis Penyakit menular

I.

Lebih banyak dengan tanpa gejala klinik

Contoh : tuberk II. Lebih banyak dengan gejala klinik jelas

Contoh : campak III. Penyakit yang umumnya berakhir dengan kematian

Contoh : rabies
fatal Gejal Tanp a berat sedan ringa gejal g n a

1.

Kelompok pertama, yakni penyakit dengan keadaan lebih banyak penderita terselubung yakni penderita tanpa gejala atau hanya disertai gejala ringan saja, di mana penyakit tidak menampakkan diri pada berbagai tingkatan. Bentuk demikian ini mempunyai tingkat patogenitas yang rendah, di mana hanya sebagian kecil yang menampakkan diri secara klinis dan sangat sedikit yang menjadi berat atau meninggal dunia. Bentuk penyakit seperti ini dalam masyarakat disebut sebagai bentuk gunung es (iceberg), di mana yang tampak di permukaan hanya sebagian kecil saja dan keseluruhan.Contoh penyakit seperti ini umpamanya tuberkulosis, di mana jumlah penduduk dengan tes tuberkulosis cukup

tinggi berarti pernah terserang penyakit TBC pada waktu yang lampau, tetapi hanya sejumlah kecil anggota populasi yang dilaporkan menderita TBC selama ini. Contoh lain adalah poliomyelitis dalam masyarakat, hepatitis A pada anak serta infeksi lainnya.
2.

Kelompok kedua, adalah penyakit dengan bagian yang berselubung (tanpa gejala) relatif sudah kecil. Sebagian besar penderita tampak secara klinis dan dapat dengan mudah didiagnosis, karena umumnya penderita muncul dengan gejala klasik. Di antara mereka yang menderita, hanya sebagian kecil saja yang menjadi berat atau berakhir dengan kematian. Contoh penyakit kelompok ini antara lain penyakit campak (measles), penyakit cacar air (chickenpox)dan lainnya.

3.

Kelompok terakhir,adalah penyakit yang menunjukkan proses kejadian yang umumnya berakhir dengan kelainan atau berakhir dengan kematian. Kelompok penyakit ini secara klinik selalu disertai dengan gejala klinis berat, dan sebagian besar meninggal. Contoh yang paling klasik adalah penyakit rabies (gila anjing) dengan angka kematian (CFR) sangat tinggi. Selain itu dikenal pula penyakit tetanus bayi serta beberapa penyakit virus yang menyerang selaput otak dan lain-lain.

1.

Infeksi Terselubung (Tanpa Gejala Minis) Infeksi terselubung adalah keadaan suatu penyakit yang tidak menampakkan diri secara jelas dan nyata dalam bentuk gejala klinis yang jelas. Dengan demikian maka berbeda dengan penyakit yang jelas diagnosisnya, yang dapat diketahui dengan cara klinis raja, maka infeksi terselubung tidak dapat didiagnosis tanpa cara tertentu seperti tes tuberkulosis, kultur tenggorokan, pemeriksaan antibodi dalam tubuh dan bentuk lainnya. Penderita campak umpamanya sangat mudah dikenal berdasarkan gejala klinik, begitu pula penderita penyakit rabies. Sebaliknya, mereka yang ketularan polio umpamanya, sangat sulit untuk mendeteksi keseluruhannya, karena sebagian besar dan mereka tanpa gejala klinik atau dengan gejala klinik yang tidak jelas. Untuk mendapatkan perkiraan yang tepat tentang besamya clan luasnya kejadian infeksi terselubung penyakit tertentu dalam masyarakat, dibutuhkan pengamatan/survei epidemiologis di mana dilakukan tes tertentu pada semua populasi untuk mengetahui berapa besarnya penyebaran penyakit dalam masyarakat. Hasil survei ini sangat berguna untuk kepentingan pelaksanaan program, di samping sangat bernilai dalam memberikan keterangan untuk kepentingan pendidikan. Di samping itu, pemeriksaan

laboratorium juga memegang peranan untuk pengobatan berbagai penyakit dengan gejala yang bersifat umum selain untuk kepentingan epidemiologis. Peranan infeksi terselubung dalam usaha pencegahan serta penanggulangan penyakit menular tertentu sangat penting karena infeksi terselubung mempunyai potensi sebagai sumber penularan yang cukup berbahaya. Pada waktu yang lalu sebelum dikenal adanya infeksi terseluhung, maka usaha penanggulangan penyakit menular diarahkan pada kasus/penderita yang tampak jelas saja. Penekanan kegiatan lebih diarahkan pada isolasi penderita, membebas hamakan barang/alat, serta melakukan tindakan karantina terhadap mereka yang terpapar dan dicurigai sedang dalam masa tunas penyakit. Gambar 3 Hubungan Antara Keadaan Manifestasi Penyakit dengan Pencatatan dan pelaporan
Tanpa gejala klinik Fatal Ringan Sedang Berat

Dewasa ini walaupun isolasi penderita beberapa penyakit menular tertentu masih dilakukan demikian pula berbagai usaha membebas hamakan benda/alat, akan tetapi dalam usaha penanggulangan penyakit menular pada umumnya lebih diarahkan pada kemungkinan penyebaran organisme penyebab dalam masyarakat. Penderita tanpa gejala klinik memegang peranan penting karena mereka merupakan sumber utama penyebaran penyakit menular tertentu di masyarakat. Sebagai contoh adalah usaha penyembuhan dan pengobatan penderita penyakit gonorrhoe tanpa gejala (melalui usaha penyaringan kelompok dengan risiko yang tinggi) merupakan salah satu usaha penanggulangan penyakit tersebut dalam masyarakat. Dengan adanya perbedaan manifestasi klinik pada berbagai jenis penyakit menular maka tidak semua penderita/kejadian penyakit menular dalam masyarakat dapat tercatat dengan baik (gambar 3) oleh petugas kesehatan. Pada umumnya, hanya

penyakit dengan manifestasi penyakit yang berat yang akan tercatat sebagai penderita rawat nginap di rumah sakit. Sedangkan penderita dengan gejala klinik ringan atau sedang, mungkin sebagian besar akan pergi ke pusat pelayanan kesehatan atau ke dokter untuk berobat sehingga dapat tercatat pada laporan kejadian penyakit. Sedangkan penyakit tanpa gejala klinik umumnya tidak tercatat dan tidak dilaporkan. Oleh sebab itu, pada penyakit tertentu akan terjadi pelaporan peristiwa kejadian infeksi lebih rendah dan sebenamya, sedangkan untuk penyakit yang manifestasi klinik berat, akan menghasilkan angka kematian (CFR) lebih tinggi dari yang sebenamya. Dcngan demikian, maka pada analisis penyakit menular dalam masyarakat, harus ditetapkan pula kriteria diagnosis yang digunakan.

BAB IV KOMPONEN PROSES PENYAKIT MENULAR

1.

Faktor Penyebab Penyakit Menular Pada proses perjalanan penyakit menular di dalam masyarakat, maka dikenal adanya beberapa faktor yang memegang peranan penting antara lain adanya faktor penyebab (agent) yakni organisme penyebab penyakit, adanya sumber penularan (reservoir maupun resources), adanya cara penularan khusus (mode of transmission), adanya cara meninggalkan pejamu dan cara masuk ke pejamu lainnya, serta keadaan ketahanan pejamu itu sendiri. Yang merupakan penyebab kausal (agent) penyakit menular adalah unsur biologis, yang bervariasi mulai dari partikel virus yang paling sederhana sampai organisme multiselular yang cukup kompleks yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Unsur penyebab ini dapat dikelompokkan dalam beberapa kelompok yakni:
1.

Kelompok arthropoda (serangga), seperti pada penyakit scabies, pediculosis dan lain-lain; kelompok cacing/helminth baik cacing darah maupun cacing perut dan lain sebagainya; kelompok protozoa, seperti plasmodium, amuba dan lain-lain.. fungus atau jamur, baik uni maupun multiselular, bakteri termasuk spirochaeta maupun ricketsia yang memiliki sifat tersendiri; virus sebagai kelompok penyebab yang paling sederhana. Sebagai makhluk biologis yang sebagian besar adalah kelompok

2.
3.

4.
5. 6.

mikroorganisme, unsur penyebab penyakit menular tersebut juga mempunyai potensi untuk tetap berusaha untuk mempertahankan diri terhadap faktor lingkungan di mana ia berada dalam usaha mempertahankan hidupnya serta mengembangkan keturunannya. Adapun usaha tersebut yang meliputi berkembang biak pada lingkungan yang sesuai/menguntungkan, terutama pada host/pejamu di mana mikro-organisme tersebut berada, berpindah tempat dari satu pejamu ke pejamu lainnya yang lebih sesuai/menguntungkan, serta membentuk pertahanan khusus pada gituasi lingkungan

yang jelek seperti membentuk spora atau bentuk lainnya. Gambir 4 Proses penularan penyakit
Keadaan langsung Penderitaumum Kontak Kekebalan Pembawa kuman Melalui udara Status gizi Binatangmakanan Melalui sakit Keturunan Tumbuhan/benda dan minuman Melalui vektor Sumber Penularan Keadaan Pejamu Cara penularan

Cara keluar dari sumber dan cara masuk ke pejamu melalui : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mukosa/kulit Saluran pencernaan Saluran pernafasan Saluran urogenitalia Gigitan, suntikan, luka Placenta

Berbagai sifat karakteristik unsur penyebab ditentukan oleh unsur itu sendiri dan tidak tergantung pada interaksinya dengan pejamu. Sifat-sifat tersebut antara lain adalah morfologi/bentuk, sifat kimiawi, perubahan antigenik, kebutuhan akan pertumbuhan (suhu, makanan dan lainnya), kesanggupan hidup di luar tubuh pejamu pada berbagai perantara (seperti air, susu dan tanah), kesanggupan hidup di dalam berbagai keadaan suhu dan kelembaban, macamnya pejamu (binatang, manusia dan lainlain), kesanggupan menghasilkan toksin, kesanggupan untuk resisten terhadap antibiotik dan berbagai zat kimiawi lainnya, serta kesanggupan untuk mendapat informasi genetik yang baru dan plasmid atau partikel kehidupan lainnya. Pada

umumnya, semua penyebab penyakit infeksi/menular bervariasi nyata dalam sifatsifat intrinsik ini. Pengertian sifat intrinsik mungkin sangat esensial untuk memahami sifat epidemiologi dan faktor penyebab, termasuk di dalamnya cara penularan. Selain itu strain atau isolasi penyebab tertentu dan berbagai kejadian luar biasa serta dari berbagai daerah geografis dan pada berbagai waktu tertentu dapat memberikan perbedaan yang nyata dalam sifat-sifat yang ada. 1. Interaksi Penyebab dengan Pejamu Berbagai sifat yang sering dianggap berasal dan unsur penyebab tetapi temyata sesungguhnya bukanlah sifat intrinsik penyebab, melainkan merupakan sifat yang sangat tergantung/dipengaruhi oleh interaksi antara pejamu dengan penyebab tersebut. Termasuk dalam hal ini tingkat infeksivitas, patogenesis, virulensi, serta imunogenitis. Kondisi lingkungan, besamya dosis dan cara penularan tertentu dapat mengubah sifatsifat penyebab tersebut. Pada patogenitas yang sama tetapi berasal dan sumber yang berbeda akan berbeda pula dalam berbagai sifat tersebut di atas. Faktor pejamu seperti umur, ras, status gizi, dapat pula secara drastis mengubah kesanggupan penyebab dalam menimbulkan infeksi, atau menghasilkan penyakit dengan gejala sedang maupun berat, bahkan dapat meningkatkan kekebalan pejamu maupun kekebalan masyarakat secara umum. Infektivitas dapat diartikan sebagai kemampuan unsur penyebab (agent) untuk masuk dan berkembang biak (menghasilkan infeksi) dalam tubuh pejamu. Berdasarkan hasil percobaan maka infeksivitas dapat dianggap sebagai jumlah minimal dari unsur penyebab (mikroorganisme) yang dibutuhkan untuk menimbulkan infeksi terhadap 50% dari sekelompok pejamu pada spesies yang sama (LD50). Angka ini dapat bervariasi tergantung pada sifat penyebab, cara penularan, sumber penularan serta berbagai faktor yang berhubungan dengan pejamu seperti umur, jenis kelamin dan lain-lain. Contoh penyakit dengan derajat infektivitas yang tinggi adalah campak sedangkan yang infektivitasnya relatif rendah adalah lepra. Derajat infektivitas pada manusia tidak dapat dihitung melalui suatu percobaan karena hal ini melanggar etik. Beberapa teknik untuk menganalisis dan mempelajari besarnya infektivitas dengan melihat kemudahan dan kecepatan dari unsur penyebab menyebar dalam masyarakat, proporsi dan kontak langsung (kontak serumah) yang mengalami infeksi/ketularan (angka serangan sekunder) atau dengan melakukan survei sero-epidemiologis pada saat segera setelah epidemi berakhir untuk menentukan banyaknya anggota masyarakat yang ketularan/terkena infeksi. Patogenesis adalah kemampuan untuk menghasilkan penyakit dengan gejala

klinik yang jelas. Bila pada suatu populasi tertentu dilakukan penelitian laboratorium selama dan/atau mengikut suatu letusan (kejadian luar biasa) suatu penyakit tertentu dengan menggunakan cara diagnosis laboratorium yang tepat, cukup sensitif dan spesifik, maka patogenesis atau proporsi infeksi yang muncul dengan gejala klinik jelas dapat ditentukan/dihitung. Seperti halnya dengan derajat infektivitas, maka faktor pejamu dan faktor lingkungan, dosis penyebab, serta cara masuknya penyebab ke dalam pejamu serta bentuk sumber penularan mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi tingkat patogenesis penyebab atau penyakit menular tertentu. Sebagai contoh, staphilococcus tidak bersifat patogen bila berada dalam rektum, tetapi dengan organisme yang sama bila ditemukan di rongga peritoneum atau selaput otak, akan menimbulkan penyakit yang cukup serius. Bentuk ini merupakan penyakit infeksi dan bukan suatu bentuk penyakit menular. Beberapa mekanisme lain di mana satu penyebab patogen akan mengakibatkan kelainan yang sedang atau bcrat pada pejamu akan diterangkan tersendiri. Virulensi dapat diartikan sebagai nilai proporsi penderita dengan gejala klinis yang berat, terhadap seluruh penderita dengan gejala klinis jelas. Dalam hal ini maka Case Fatality Rate (CFR) dapat pula merupakan ukuran virulensi. Virulensi dapat tergantung pada dosis, cara masuknya faktor penyebab atau cara penularan, serta faktor pejamu sendiri seperti umur, jenis kelamin, ras dan lainnya. Contoh dapat kita lihat pada penyakit pes yang akan menjadi berat bila masuk melalui pernapasan ke paruparu (bubonik) dari pada masuk tubuh pejamu melalui gigitan kutu tikus (pes kelenjar). Begitu pula penyakit oleh bakteri Nisseria Meningitis akan sangat ringan bila hanya infeksi pada nasopharinx, tetapi dapat berat bahkan fatal bila terjadi meningitis. Pada penyakit poliomyelitis, kemungkinan akan lebih berat bila mengenai orang dewasa bila dibanding dengan infeksi pada anak. Sedangkan untuk penyakit tetanus, akan banyak dipengaruhi oleh cara masuknya ke dalam tubuh serta umur penderita di mana tetanus neonatorum biasanya lebih fatal dibanding tetanus pada orang dewasa. Imunogenisitas adalah kemampuan menghasilkan kekebalan atau imunitas. Tergantung pada jenis patogen penyebab, maka bentuk kekebalan dapat berupa kekebalan humoral primer, kekebalan selular atau campuran keduanya. Imunitas dapat dipengaruhi oleh faktor keadaan pejamu seperti umur, ras, status gizi, dan juga dapat oleh dosis dan virulensi daripada infeksi yang terjadi. Unsur penyebab yang berkembang biak pada tempat tertentu seperti pada saluran pernapasan, saluran genitalia serta permukaan/mukosa saluran pencemaan akan mungkin hanya menghasilkan imunitas lokal/ setempat dan bukan dalam bentuk sistemik. Di samping

itu berbagai unsur penyebab juga berbeda dalam kesanggupan intrinsiknya merangsang pembentukan dan kelangsungan imunitas. Umpamanya unsur penyebab penyakit campak dapat menghasilkan kekebalan seumur hidup, sedangkan di lain pihak, gonococcus tidak memiliki kemampuan semacam itu sehingga seseorang dapat terserang gonorrhoe beberapa kali. 2. Mekanisme Patogenesis Bila unsur penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh pejamu berbagai kemungkinan akan timbul. Kemungkinan pertama adalah tidak terjadi proses patogenesis seperti masuknya bakteri tetanus melalui makanan ke dalam rongga perut. Akibat lain adalah terjadinya proses patogenesis tetapi tidak menimbulkan gejala klinis, dan seterusnya berbagai kondisi tersebut telah diterangkan pada bab sebelumnya. Efek patogen yang dihasilkan oleh unsur penyebab penyakit menular/infeksi dapat terjadi karena berbagai mekanisme tertentu. Di antara mekanisme tersebut antara lain: invasi jaringan secara langsung, produksi toksin, rangsangan imunologis atau reaksi alergi yang menyebabkan kerusakan pada tubuh pejamu, infeksi yang menetap (infeksi laten), merangsang kerentanan pejamu terhadap obat dalam menetralisasi toksititas, serta ketidakmampuan membentuk daya tangkal (immuno supression). Dan berbagai mekanisme tersebut tidak jarang dijumpai lebih dari satu mekanisme terlibat secara bersamaan, atau dapat pula terjadi perbedaan manifestasi klinik karena perbedaan mekanisme yang terjadi walaupun oleh unsur penyebab patogen yang sama. Sejumlah besar unsur penyebab menimbulkan penyakit melalui mekanisme invasi langsung ke jaringan. Termasuk dalam kelompok ini sejumlah penyakit parasit seperti amubiasis, giardiasis, serta beberapa jenis cacing nematoda, cestoda serta nematoda. Juga beberapa jenis infeksi oleh bakteri seperti meninghitis bakteri, berbagai jenis infeksi saluran kemih, pharingitis dan lain sebagainya. Sedangkan infeksi virus dalam kelompok ini seperti infeksi virus saluran pernapasan atas, saluran pencemaan serta virus selaput otak (arbovirus encephalitis dan rabies). Sejumlah tertentu penyakit terjadi karena mekanisme produksi toksin oleh unsur penyebab. Berbagai penyakit dalam kelompok ini seperti tetanus, dipteria, serta infeksi oleh enterotoksin dan E. Coli. Di lain pihak, infeksi oleh Staphilococcus aureus yang termasuk dalam kelompok invasi langsung, dapat pula

menimbulkan penyakit karena produksi toksinnya seperti pada penyakit keracunan makanan (food poisoning). Pada beberapa penyakit lainnya, mekanisme imunologis termasuk alergis merupakan bagian dan mekanisme/proses patogen terjadinya penyakit. Di antara penyakit-penyakit yang mempunyai komponen imunologis yang penting adalah tuberkulosis, demam berdarah dengue dan berbagai penyakit lainnya. Infeksi oleh bakteri yang bersifat menahun atau mungkin tetap serta infeksi virus yang bersifat laten adalah bagian mekanisme patogenesis penting yang dapat menimbulkan berbagai penyakit tertentu. Bakteri mungkin tetap berada dengan keadaan tanpa gejala setelah mengalami infeksi penyakit tertentu seperti Hemophilus influensa, Neisseria meningitidis, streptococcus dan lain-lain pada saluran pernapasan bagian atas. Demikian pula di saluran empedu dengan Salmonella typhii, atau di bagian saluran pcncemaan lainnya pada beberapa spesies salmonela tertentu. Pada saluran kemih dapat terjadi mekanisme yang sama umpamanya pada infeksi oleh pseudonhonas, serratia dan lain-lain. Dalam bentuk tersebut di atas, semua bakteri dapat diperoleh pada daerah yang terinfeksi dan dapat dikultur. Dalam hal infeksi virus yang bersifat laten seperti herpes I dan II, Varicella zoster, enchepalitis, dan beberapa jenis virus lainnya, dijumpai bahwa asam nukleus dan virus tersebut menetap dalam sel tetapi mekanisme seluler mencegah terjadinya lingkaran replikasi virus dan tidak terjadi pembentukan virus baru. Pada suatu keadaan stres atau gangguan hormonal, maupun adanya faktor lingkungan yang mengubah pengaturan/hubungan sel pejamu (tempat virus menetap) maka pembentukan virus lengkap akan terjadi dan kemungkinan akan menghasilkan penyakit dengan gejala klinis jelas. Juga dijumpai suatu unsur penyebab yang dapat menimbulkan penyakit dengan gejala yang berat melalui mekanisme peningkatan kepekaan pejamu melawan obat yang relatip tidak toksis. Keadaan sepeni ini diperkirakan terjadi pada mekanisme patogenesis sindrom dari Reye (Reye's syndrom) di mana infeksi oleh sejenis virus variccella dan virus influenza B yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit dengan gejala yang berat (encephalopathy) jika penderita diobati dengan obat yang mengandung salisilat. Akhir-akhir ini, telah ditemukan suatu keadaan baru yang cukup mengkhawatirkan dalam biding penyakit menular dengan munculnya apa yang dikenal dengan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Penyakit ini diperkirakan

mempunyai CFR sebesar 70%. Pada kondisi penyakit AIDS ini maka berbagai organisme penyebab dapat menggunakan kesempatan, termasuk pneumocystic carinii, kelompok atypical mycoplasma, toxoplasma gondii serta inveksi cytomegalovinis, serta kanker kaposi's sarcoma pernah diketemukan. AIDS dapat dihubungkan dengan penekanan atau perubahan mekanisme imunoseluler yang timbul karena perubahan rasio T-cell helperlsuppressor serta tidak ada reaksi terhadap antigen pada tes kulit yang umum. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengisolasikan serta mengidentifikasi unsur penyebab yang dapat menimbulkan penekanan imunitas yang kemudian menyebabkan keganasan serta manifestasi penyakit infeksi. Gambar 5 Spektrum patogenesis antara penyebab dengan pejamu Jenis penyakit Botulismus Tetanus Diphtheria Stapyhyloccosis Pneumococcosis Streptococcosis Tuberculosis Invasi 0 + ++ +++ ++++ +++ +++ Produksi ++++ ++++ ++++ ++ 0 ++ 0 Hipertensi 0 0 0 +/++ ++++

3.

Sumber Penularan (Reservoir) Oleh karena unsur penyebab penyakit menular adalah unsur biologis yang merupakan unsur organisme hidup, maka unsur penyebab ini membutuhkan tempat yang sesuai untuk berkembang biak serta untuk mempertahankan kelanjutan hidupnya. Reservoir atau sumber penularan adalah organisme hidup atau barang mati (misalnya tanah ataupun air), di mana unsur penyebab penyakit menular hidup secara normal dan berkembang biak. Dengan demikian, maka reservoir penyakit menular dapat berupa manusia, binatang, tumbuhan serta sumber-sumber lingkungan lainnya. Konsep reservoir merupakan pusat penyakit menular karena reservoir adalah

komponen utama dari lingkaran penularan di mana unsur penyebab meneruskan dan mempertahankan hidupnya, dan juga sekaligus sebagai pusat/ sumber penularan dalam suatu lingkaran penularan. Reservoir khusus untuk unsur penyebab adalah mereka yang sesuai dengan lingkaran hidup unsur penyebab tersebut secara alamiah. a. Manusia Sebagai Reservoir Dari sekian banyak jenis dan kelompok penyakit menular, ada sebagian di antaranya yang hanya dijumpai atau lebih sering _hanya dijumpai pada manusia. Penyakit ini umumnya berpindah dari manusia ke manusia dan hanya dapat menimbulkan penyakit pada manusia saja. Dengan demikian reservoir satusatunya tentu hanya manusia saja. Suatu lingkaran penularan penyakit yang sangat sederhana dengan reservoir manusia serta penularan dan manusia ke manusia. Bentuk lingkaran penularan ini merupakan bentuk khusus dari berbagai penyakit tertentu di mana secara umum manusia merupakan subjek utamanya. Kebanyakan penyakit kelompok ini dijumpai pada penyakit saluran pernapasan oleh virus maupun bakteri seperti pada infeksi staphylooccus dan streptooccus, dipteria, nertusis, TBC influensa, pada beberapa penyakit kelamin seperti gonorrhoe dan sipilis, serta pada penyakit lepra dan penyakit kulit lainnya. Proses infeksi dikatakan terjadi bila unsur penyebab penyakit masuk dan berkembang biak dalam tubuh pejamu yang menimbulkan reaksi dari pejamu tersebut. Reaksi pejamu mungkin timbul dan tampak secara jelas, tetapi dapat pula hanya pada tingkat yang paling minimal di mana unsur penyebab hanya berada pada permukaan tubuh dan pada tingkat yang cukup untuk mempertahankan diri tanpa menghasilkan gejala yang dapat tampak sebagai reaksi dari pejamu. Keadaan seperti ini disebut kolonisasi sepeni beradanya Stophylococcus aureuspada mukosa hidung.

Tingkat selanjutnya adalah infeksi terselubung/tanpa gejala dan dalam bentuk subklinik. Pada tingkat ini, unsur penyebab tidak hanya berkembang biak dalam tubuh pejamu, tetapi juga menimbulkan reaksi yang dapat diukur,

walaupun secara klinik belum dapat ditentukan. Pada keadaan di mana infeksi telah mencapai tingkat gejala klinik yang jelas yang disertai dengan gejala dan kelainan fisik, maka keadaan pejamu disebut penderita klinik atau kasus penyakit infeksi. Dengan demikian, maka penularan penyakit ke pejamu potensial lainnya akin memberikan berbagai keadaan antara lain bentuk kolonisasi, infeksi terselubung (covert) serta kasus penderita (overt). Dengan demikian maka manusia sebagai reservoir dapat sebagai penderita dengan gejala klinis yang jelas tetapi dapat pula dalam bentuk pembawa kuman (carrier) dengan tanpa gejala klinis sama sekali. Carrier atau pembawa kuman adalah penderita/atau mereka yang sedang/pemah terinfeksi yang masih mengandung unsur penyebab penyakit menular tetapi tanpa gejala klinis. Dengan demikian pembawa kuman adalah reservoir yang punya potensi sebagai sumber penularan (lihat definisi carrier). Melihat perjalanan penyakit pada pejamu, bentuk pembawa kuman (carrier) dapat dibagi dalam beberapa jenis.
1. Healthy carrier (inapparent) adalah mereka yang dalam sejarahnya tidak

pernah menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi mengandung unsur penyebab yang dapat menular pada orang lain, seperti pada penyakit poliomyelitis, hepatitis B dan meninggococcus.
2. Incubatory carrier (masa tunas) ialah mereka yang masih aalam masa

tunas, tetapi telah mempunyai potensi untuk menularkan penyakit/sebagai sumber penularan, seperti pada penyakit cacar air (chickenpox), campak (measles) dan pada virus hepatitis.
3. Convalescent carrier (baru sembuh klinis) ialah mereka yang baru sembuh

dan penyakit menular tertentu, tetapi masih merupakan sumber penularan penyakit tersebut untuk masa tertentu, yang masa penularannya kemungkinan hanya sampai tiga bulan umpamanya kelompok salmonela, pada hepatitis B, dan pada dipteri.
4. Chronis carrier (menahun) merupakan sumber penularan yang cukup lama

seperti pada penyakit tifus abdominalis dan pada hepatitis B. Perlu diperhatikan di sini bahwa carrier/pembawa kuman hanya berlaku bagi mereka yang dapat menjadi sumber penularan, artinya sejumlah penyakit tertentu dengan infeksi tanpa gejala, berarti mengandung unsur penyebab tetapi tidak bersifat carrier karena tidak dapat menularkan unsur penyebab tersebut kepada

orang lain. Contohnya pada mereka dengan TBC primer atau dengan tes tuberkulin yang positif, tidak bersifat carrier. Jadi manusia dalam kedudukannya sebagai reservoir penyakit menular dapat dibagi dalam tiga kategori utama.
1. Reservoir yang umumnya selalu muncul sebagai penderita, umpamanya

pada penyakit cacar, campak maupun TBC dan lepra dapat pula digolongkan pada kelompok ini.
2. Reservoir yang dapat sebagai penderita maupun sebagai carrier seperti

pada dipteria, kolera, tifus abdominalis dan beberapa lagi lainnya.
3. Reservoir yang umumnya selalu bersifat penderita, akan tetapi tidak dapat

menularkan langsung penyakitnya ke pejamu potensial lainnya, tetapi harus melalui perantara hidup seperti vektor atau pejamu antara lain seperti pada malaria, filaria dan lain sebagainya. a. Reservoir Binatang atau Benda Lain Selain dan manusia sebagai reservoir, maka penyakit menular yang mengenai manusia dapat berasal dan binatang terutama yang termasuk dalam kelompok penyakit zoonosis seperti: brucellosis, antraks, TBC bovine, leptospirosis, rabies dan lain-lain. Penyakit zoonosis adalah penyakit yang secara alamiah dijumpai di kalangan hewan bertulang belakang (vertebrata), yang dapat juga menular ke manusia, walaupun reservoir utamanya adalah binatang. Beberapa penyakit zoonosis utama dan reservoir utamanya
1. Pes (plaque) 2. RABIES (penyakit gila anjing) 3. Bovine Tuberculosis 4. Thypus, Scrub & Murine 5. Leptospirosis 6. Virus Encephalitides 7. Trichinosis 8. Hidatosis 9. Brocellossis

Tikus Anjing Sapi Tikus Tikus Kuda Babi Anjing Sapi, Kambing

Pada umumnya penyakit tersebut di atas tidak menimbulkan pada manusia kedudukan sebagai reservoir. Tetapi pada beberapa penyakit virus tertentu seperti virus demam dengue, maka terjadi perubahan sirkulasi penularan dari binatangkebinatang/manusia, menjadi dari manusia ke manusia. Gambar 7

Di samping itu, pada berbagai penyakit ditandai dengan sifat-sifat yang lebih kompleks. Gambarannya mungkin melibatkan beberapa reservoir dan tingkat perkembangan unsur penyebab yang juga berbeda. Lingkaran penularannya mungkin melibatkan berbagai tuan rumah maupun pejamu tertentu yang juga berbeda sifatnya. Contoh beberapa lingkaran penularan yang cukup rumit seperti pada penyakit echinococus, schistosomiasis, malaria serta infeksi virus yang ditularkan melalui vektor.

BAB V M EKANISM E PENULARAN P E N Y A K IT

Aspek sentral penyebaran penyakit menular dalam masyarakat adalah mekanisie penularan (mode of transmissions)yakni berbagai mekanisme di mana unsur penyebab penyakit dapat mencapai manusia sebagai pejamu yang potensial. Mekanisme tersebut meliputi cara unsur penyebab (agent) meninggalkan reservoir, cara penularan untuk mencapai pejamu petensial, serta cara masuknya ke pejamu potensial tersebut. Scseorang yang sehat sebagai salah seorang pejamu potensial dalam masyarakat, mungkin akan ketularan suatu penyakit menular tertentu sesuai dengan posisinya dalam masyarakat serta pengaruh berbagai reservoir yang ada di sekitamya. Kemungkinan tersebut sangat dipengaruhi pula oleh berbagai faktor antara lain: (1) Faktor lingkungan fisik sekitamya yang menipakan media yang ikut mempengaruhi kualitas maupun kuantitas unsur penyebab: (2) faktor lingkungan biologis yang menentukan jenis vektor dan reservoir penyakit serta unsur biologis yang hidup dan berada di sekitar manusia; dan (3) faktor lingkungan sosial yakni kedudukan setiap orang dalam masyarakat, termasuk kebiasaan hidup serta kegiatanr sehari-hari, dan lain sebagainya.
1. Cara Unsur Penyebab Keluar dari Pejamu (Reservoir)

Pada umumnya selama unsur penyebab atau mikro-organisme penyebab masih mempunyai kesempatan untuk hidup dan berkembang biak dalam tubuh pejamu, maka ia akan tetap tinggal di tempat yang potensial tersebut. Namun di lain pihak, tiap individu pejamu memiliki usaha perlawanan terhadap setiap unsur penyebab patogen yang mengganggu dan mencoba merusak keadaan keseimbangan dalam tubuh pejamu. Unsur penyebab yang akan meninggalkan pejamu di mana ia berada dan berkembang biak, biasanya keluar dengan cara tersendiri yang cukup beraneka ragam sesuai dengan jenis dan sifat masing-masing. Secara garis besarnya, maka cara ke luar unsur penyebab dan tubuh pejamu dapat dibagi dalam beberapa bentuk, walaupun ada di antara unsur penyebab yang dapat menggunakan lebih dan satu cara.
1. Melalui conyunctive yang biasanya hanya dijumpai pada beberapa penyakit

mata tertentu seperti trakom dan lainnya.
2. Melalui saluran napas (hidung dan tenggorokan) dalam bentuk droplet

sewaktu reservoir/penderita bicara, bersin atau batuk, atau melalui udara pernapasan. Cara ini sering dijumpai pada penyakit-penyakit TBC, dipteria, influensa, campak dan l a i nsebagainya.

3. Melalui pencernaan, baik bersama ludah, muntah maupun bersama dengan tinja

umpamanya pada penyakit kolera, tifus abdominalis pada beberapa jenis cacing dan lain-lain.
4. Melalui saluran urogenitalia yang biasanya bersama-sama dengan urine, atau zat

lain yang keluar melalui saluran tersebut umpamanya pada penyakit hepatitis.
5. Melalui luka pada kulit ataupun mukosa seperti pada penyakit sifilis, frambusia dan

lainnya.
6. Secara mekanik, seperti suntikan atau gigitan pada beberapa penyakit tertentu

antara lain malaria, filariasis, hepatitis serum dan lain sebagainya. Peristiwa keluarnya unsur penyebab penyakit dan pejamu tidak semudah dan sesederhana seperti apa yang sering diperkirakan orang pada umumnya. Sebagai contoh pada penyakit sifilis, spirochaeta pada umumnya keluar melalui alat kelamin hanya pada saat kontak langsung, kecuali bila terjadi proses biologis tertentu. Demikian pula unsur penyebab lainnya, hanya mampu keluar dan pejamu potensial sangat erat hubungannya dengan cara penularan yang terjadi, walaupun pada sejumlah penyakit menular tertentu, menggunakan cara yang sama dengan cara keluarnya dari pejamu.
1. C ar a P enularan (Mode of Transmission)

Setelah unsur penyebab telah meninggalkan reservoir maka untuk mendapatkan potensial yang baru, harus berjalan melalui suatu lingkaran perjalanan khusus atau suatu jalur khusus yang disebut jalur penularan. Tiap kelompok penyakit memiliki jalur penularan tersendiri dan pada garis besarnya dapat dibagi dalam dua bagian utama yakni: (1) penularan langsung yakni penularan penyakit terjadi secara langsung dan penderita atau reservoir, langsung ke pejamu potensial yang baru; (2) penularan tidak langsung yakni penularan penyakit terjadi dengan melalui media tertentu seperti melalui udara (air borne) dalam bentuk droplet dan dust, melalui benda tertentu (vechicle borne), dan melalui vector (vector borne).

a.

Penularan Langsung (Direct Transmission)

Penularan langsung yakni perpindahan sejumlah unsur penyebab dan reservoir langsung ke pejamu potensial melalui pintu masuk (portal of entry) yang sesuai. Dalam pengertian penularan langsung ini tidaklah berarti bahwa harus terjadi persentuhan antara sumber dengan pejamu, potensial tetapi dapat saja dalam bentuk berada pada jarak yang dekat umpamanya pada penularan dengan droplet nuklei, atau juga pada persentuhan dengan sumber penularan seperti tanah pada cacing tambang, atau pada berbagai spora dan jamur pada benda maupun pada tumbuhan. Penyakit-penyakit yang dikategorikan dalam penularan langsung dapat terjadi karena bersentuhan langsung dengan penderita sebagai reservoir (manusia maupun hewan), dengan tumbuhan atau benda lain yang mengalami kontaminasi, serta melalui droplet nuklei. Adapun penularan langsung tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa kelompok tertentu. 1. Penularan langsung dari orang ke orang Dalam kelompok ini termasuk semua penyakit yang hanya dapat menyerang manusia di mana reservoir satu-satunya adalah manusia semata. Kelompok terbesar dalam penularan langsung dari orang ke orang, adalah berbagai penyakit kelamin yang ditularkan secara seksual. Dalam kelompok ini, selain penyakit kelamin tradisional seperti sifilis , gonorrhoe, lymphogranuloma venerum, chancroid dan granuloma inguinale, dikenal pula sejumlah penyakit kelamin bentuk baru seperti chlamydia trachomatis, trichomonas vaginalis, herpes simplex tipe I dan II. Di samping itu dengan semakin berkembangnya praktek seksual yang abnormal seperti kontak oral-genilatil serta anal-intercost disertai dengan kehidupan kebebasan seksual dan kebebasan pasangan seks telah mendukung peningkatan penularan secara seksual dari penyakit hepatitis B, herpes simplex tipe II, giardiasis, amubiasis dan salmonellosis serta shigellosis. Adapun penyakit AIDS kemungkinan besar termasuk dalam kategori ini, di mana pada masyarakat tertentu menunjukkan bahwa kelompok lelaki homoseks menunjukkan adanya risiko tinggi yang khusus terhadap penyakit ini. Risiko AIDS yang tinggi pada pria homoseks, mungkin sekali karena seringnya hubungan seksual dengan berbagai pasangan yang berbeda-beda.

Namun demikian, penyakit ini tidak terbatas hanya pada pria yang homoseks tetapi juga pada mereka yang heteroseks, termasuk wanita dan anak-anak. Adapun faktor risiko tambahan untuk penyakit AIDS termasuk pemberian obat intravenous, transfusi darah serta berbagai faktor tambahan lainnya. Sedang anak-anak yang terserang penyakit ini pada umumnya dari orang tua dengan risiko tinggi. Sampai saat ini belum dijumpai pengobatan yang memuaskan terhadap AIDS, sedangkan pencegahan hanya dengan menghindari kontak maupun menghindari hubungan seksual yang multipamer. Selain itu usaha pengurangan risiko termasuk berhati-hati dalam menggunakan obat intravenous, mencegah kelompok risiko tinggi untuk menjadi donor darah serta mendorong usaha untuk penyaringan (screening) yang lebih sering dan terarah untuk mendeteksi penyakit tersebut dalam masyarakat. 2. Penularan langsung dari binatang ke orang Penyakit yang dapat menular langsung dari binatang ke orang dalam kelompok ini dimaksudkan penyakit yang pada umumnya hanya dijumpai pada binatang tetapi dapat menular dan menjangkit orang lain secara langsung. Penyakit kelompok ini terutama yang termasuk kelompok penyakit zoonosis. Cara penularan langsung dalam hal ini dimaksudkan secara bersentuhan melalui dua cara: (1) karena bersentuhan langsung dengan binatang yang menderita, termasuk melalui gigitan, atau bagian-bagian binatang yang mati karena penyakit terscbut (contoh rabies, brucellosis); dan (2) sumber penyakit dari binatang yang menderita atau pembawa kuman, tetapi cara penularannya melalui benda lain ataupun alat perantara lain yang terkontaminasi (contoh antrax). 3. Penularan dari tumbuhan ke orang Dalam kelompok ini termasuk penyakit yang disebabkan oleh jamur, yang selain penularannya dapat melalui kontak langsung dengan tumbuhan maupun dengan tanah yang mengandung jamur, juga ada yang menular melalui udara. Juga dapat terjadi dan orang ke orang.

4.

Penularan dari orang ke orang melalui kontak benda lain Penularan ini lebih bersifat kontak dengan benda yang terkontaminasi

seperti tanah maupun benda lainnya seperti penyakit cacing tambang (ancylostomiasis), cacing kremi (trichuris) dan berbagai penyakit lainnya. Jenis penyakit lain yang penularannya melalui kontak dengan air dan masuk melalui kulit adalah penyakit schistosomiasis yang penularannya sangat kompleks, baik sumber manusia maupun sumber binatang dengan proses pendewasaan melalui vektor (dapat pula digolongkan dalam penularan melalui vektor).

a.

Penularan Melaka Udara (Air Borne) Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda yang terkontaminasi. Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui kontak langsung, namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar penularannya adalah karena mengisap udara yang mengandung unsur penyebab/ mikro-organisme penyebab. Penularan penyakit melalui udara dapat terjadi dalam bentuk droplet \ nuklei maupun dalam bentuk dust (lihat definisi). Droplet nuklei yang keluar melalui mulut atau hidung baik waktu batuk atau bersin maupun waktu bicara atau bernapas, mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Droplet nuklei merupakan partikel yang sangat kecil sebagai sisa droplet yang mengering. Pembentukannya dapat melalui berbagai cara, antara lain dengan melalui evaporasi droplet yang dibatukkan atau yang dibersihkan ke udara. Droplet nuklei juga dapat terbentuk dan aerolisasi materi-materi penyebab infeksi di dalam laboratorium. Karena ukurannya yang sangat kecil, bentuk ini dapat tetap berada di udara untuk waktu yang cukup lama dan dapat diisap pada waktu bernapas dan masuk ke alat pernapasan. Dust adalah bentuk partikel dengan berbagai ukuran sebagai hasil dan resuspensi partikel yang terletak di lantai, di tempat tidur serta yang tertiup angin bersama debu lantai/tanah. Ukuran besarnya droplet nuklei maupun dust yang sangat menentukan kemungkinan terjadinya penularan atau tidak. Pada droplet nuklei dengan ukuran yang besar, akan tersangkut pada jalan napas dan dapat dibuang ke luar oleh mekanisme yang terjadi dalam saluran napas. Penularan melalui udara (air borne) memegang peranan yang cukup penting pada beberapa penyakit menular tertentu. Umpamanya batuk dan seseorang penderita penyakit tuberkulosis terbuka akan menghasilkan formasi droplet yang dapat berpindah kepada prang lain yang rentan (pejainu potensial) dalam jarak dekat,

sehingga dapat bersifat penularan kontak langsung., Namun demikian, droplet tersebut mungkin jatuh ke lantai dalam bentuk droplet nuklei dan kemudian terisap orang lain bersama debu dan terjadi penularan. Dari kedua bentuk tersebut di atas diperkirakan penyakit TBC dapat menular dalam masyarakat. Perbedaan antara penyebaran langsung dengan penyebaran melalui udara sangat penting artinya dalam usaha penanggulangan penyakit menular tertentu. Dalam hal penyakit ditularkan secara langsung/kontak langsung, maka usaha penanggulangannnya tergantung pada ketepatan penanganan sumber penularan. Penanganannya harus diarahkan pada upaya menghilangkan semua sumber penularan yang ada (umpamanya pengobatan penderita) atau usaha lain mencegah proses penularan. Sedangkan untuk penyakit yang penularannya melalui udara, peranan konstruksi bangunan terutama ventilasi dan pertukaran udara sangat penting. Kedua bentuk penularan melalui udara hanya mungkin pada unsur penyebab penyakit yang mempunyai daya tahan yang kuat terhadap lingkungan dan kekeringan, seperti pada basil tuberkulosis, virus smallpox, streptococcus hemoliticus, diptheria dan lain sebagainya. Penularan melalui udara pada umumnya terjadi di dalam ruangan yang tertutup seperti pada gedung, rumah sakit atau pada laboratorium. b. Penularan Melalui Makanan/Minuman dan Benda Lain Penularan penyakit melalui makanan, minuman dan benda lainnya (vechicle borne) adalah penularan kontak tidak langsung melalui benda mati (fornites) seperti makanan, minuman, susu, perlengkapan dapur, perlengkapan bedah, mainan anak-anak dan lain sebagainya. Dalam hal ini maka penyakit-penyakit saluran pencernaan, termasuk penyakit di mana penularannya kebanyakan melalui cara ini. Perlu diperhatikan bahwa benda-benda yang mengandung unsur penyebab dan berfungsi sebagai penyalur dalam proses penularan ini tidak dapat disebut terinfeksi (karena tidak mengalami proses infeksi) dan hanya terkontaminasi. Pada waktu yang lalu, banyak pendapat yang menganggap bahwa bendabenda yang mengalami kontaminasi merupakan alat penularan yang paling baik. Tetapi khusus benda-benda yang bersifat alat seperti pakaian, tempat tidur, alatalat dapur dan alat-alat makan tidaklah besar peranannya karena banyak di antara mikro-organisme penyebab tidak dapat bertahan lama pada keadaan kering.

Dilain pihak, semua benda-benda seperti air, makanan/minuman, susu dan tumbuhan merupakan media yang cukup berperanan di dalam penularan penyakit karena berbagai mikro-organisme dapat bertahan lama dalam media ini. Penularan penyakit melalui makanan, minuman serta benda-benda lainnya, dapat bersumber dari manusia, tetapi dapat pula bersumber dan binatang atau sumber lain, tetapi pada umumnya termasuk dalam golongan penyakit menular yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut. Berdasarkan media utama penularan, maka kelompok penyakit ini dapat kita bagi dalam beberapa kelompok utama. 1. Melalui air (water borne disease) Penyakit yang penularannya melalui air pada umumnya masuk ke dalam tubuh melalui mulut (oral penetration), tetapi ada pula di antaranya yang masuk ke dalam tubuh melalui kulit (contact penetration)seperti schistosomiasis yang dapat pula digolongkan dalarn penyakit kontak langsung Adapun penyakit yang penularannya terutama melalui air, dan masuk ke dalam tubuh melalui mulut, merupakan golongan penyakit yang cukup penting karena masih seringnya dijumpai kejadian dalam masyarakat, bahkan beberapa di antaranya dapat mewabah (water borne epidemics). Penyakit kelompok ini masih cukup banyak memakan korban jiwa dan harta, terutama pada daerah dengan sumber air minum yang tidak memenuhi syaratsyarat kesehatan serta keadaan sanitasi lingkungan yang masih jelek. Keadaan ini lebih sering dijumpai pada negara-negara yang sedang berkembang, sedangkan pada negara maju, masalah kelompok penyakit ini sudah tidak merupakan masalah kesehatan masyarakat. Beberapa penyakit utama yang termasuk di dalam kelompok ini antara lain: kolera dan parakholera eltor, tifus abdorniralis, disentri amuba dan basiler, infeksi hepatitis, beberapa jenis infeksi virus lainnya, dan lain-lain. 2. Melalui makanan (food borne disease) Sebenarnya kelompok ini tidak jauh berbeda dengan yang pertama di atas (melalui air), hanya ada di antaranya yang secara langsung berada dalam zat makanan atau unsur makanan yang dimakan. Adapun penyakit-penyakit yang berasal dari manusia dan penularannya dapat terjadi melalui makanan antara lain: (1) organisme usus (enteric organisms) yang meliputi tifus abdominalis (tyhoid), salmonellosis, disentri, koleralparakolera, diare pada bayi (infant); (2) organisme yang masuk ke dalam makanan melalui droplet

nuklei, seperti pada penyakit tuberkulosis dan streptococcus; (3) berbagai jenis infeksi pada kulit oleh streptococcus maupun staphilococcus yang dapat menimbulkan keracunan makanan, dan (4) beberapa jenis parasit seperti askaries, amubiasis dan lain-lain. Selain itu, sejumlah penyakit menular tertentu yang berasal dan binatang ke manusia dengan jalur makanan atau bahan makanan antara lain: (1) melalui daging hewan seperti trichinosis dan taenia solium (daging babi), taenia saginata, (sapi) dan diphilobothriunz(ikan); (2) melalui telur/pada peternakan unggas seperti salmonellosis;(3) melalui kontaminasi pada makanan dengan binatang tertentu seperti leptospirosis (tikus), echinococcosisihidatidosis (anjing) dan salmonellosis (tikus dan anjing). 3. Melalui susu (milk borne disease) Susu sebagai salah satu bahan makanan merupakan media yang cukup baik untuk penularan penyakit tertentu karena sifat susu itu sendiri. Susu merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan mikro-organisme penyebab. Juga susu sering diminum dalam keadaan segar tanpa dimasak atau dipasturisasi, sedangkan susu yang mengalami kontaminasi oleh bakteri tidak memperlihatkan tanda-tanda tertentu, ataupun gejala yang berbahaya. Juga mengingat bahwa susu merupakan minuman bagi bayi dan anak usia muda, yang pada umumnya memiliki tingkat resistensi yang masih rendah. Cukup banyak jenis penyakit yang dapat ditularkan melalui media susu, walaupun berbagai penyakit tersebut penularannya dapat melalui cara lain yang mungkin lebih sering.
1. Penyakit yang berasal dari manusia dan yang dapat menular melalui

susu, meliputi penyakit kelompok droplet nuklei, kelompok penyakit yang menular melalui makanan dan minuman seperti tuberculosis, dipteria, disentri, enteric fever, scarlet fever, streptococcal sorethroat, staphilococcus food poisoning, salmonellosis, infant diarre oleh E. coli, polio dan hepatitis (yang dua terakhir agak jarang).
2. Penyakit yang berasal dari sapi dan dapat menular kepada manusia

melalui susu antara lain: tuberkulosis (bovine), brucellosis, streptococcus (bovine), Q-fever serta penyakit mulut dan kuku. Di samping itu dikenal pula penyakit menular tertentu yang berasal dari manusia ke sapi, dan

kemudian menular ke manusia melalui susu, umpamanya pada penyakit streptococcus dan staphilococcus mastitis pada sapi, walaupun bentuk ini jarang dijumpai. Melihat berbagai bentuk penularan melalui minuman dan makanan yang mencakup banyak jenis penyakit menular, maka bentuk penularan ini sangat penting dalam usaha pencegahan dan penanggulangan serta sangat erat hubungannya dengan keadaan sanitasi iingkungan, maupun higiene perorangan. a. Penularan Melalui Vektor (Vector Borne Disease) Perkataan vektor berasal dari bahasa Latin yang berarti si pembawa (one she carries). Pengertian vektor yang sebenamya ialah golongan arthrophoda atau binatang yang tidak bertulang belakang lainnya (avertebrata) yang dapat memindahkan penyakit dari satu sumber/reservoir ke pejamu potensial. Dalam hal ini maka vektor mungkin hanya membawa unsur penyebab secara mekanik dengan cara menempatkan mikroorganisme penyebab pada kaki atau bagian badan lainnya, sehingga unsur penyebab tidak mengalami perubahan selama berada pada vektor (vektor mekanik). Di samping itu, yang sangat penting adalah keadaan di mana vektor membawa unsur penyebab secara biologis, di mana unsur penyebab tadi mengalami perubahan atau berkembang biak dalam tubuh vektor sebelum dipindahkan ke pejamu yang potensial. Pada penularan penyakit melalui vektor secara mekanik, maka unsur penyebab penyakit yang mungkin berasal dari tinja, urine maupun sputum penderita, hanya melekat pada bagian tubuh vektor dan kemudian dapat dipindahkan pada makanan maupun minuman pada waktu hinggap/menyerap pada makanan tersebut. Yang cukup menarik adalah penularan penyakit melalui vektor secara biologis karena unsur penyebab harus masuk ke dalam tubuh vektor melalui gigitan ataupun melalui keturunannya. Selama dalam tubuh vektor, unsur penyebab berkembang biak atau hanya mengalami perubahan morfologis saja, sampai pada akhimya menjadi bentuk yang invektif terhadap pejamu potensial. Keadaan unsur penyebab dalam tubuh vektor dipengaruhi oleh hubungan antara vektor

dengan unsur penyebab serta pengaruh lingkungan terhadap vektor maupun terhadap unsur penyebab itu sendiri. Selanjutnya, setelah mencapai bentuk yang invektif, unsur penyebab penyakit keluar dari vektor melalui gigitan, tinja atau cara lain untuk berpindah ke pejamu potensial. Penyakit menular yang penularannya terutarna oleh vektor dapat dibagi menurut jenis vektomya.
1. Vektor nyamuk (m osquito borne diseases) antara lain: malaria, filariasis, dan

beberapa jenis virus encephalitis, demam virus seperti demam dengue, virus hemorrhagic seperti dengue hemorrhagic fever serta yellow fever.
2. vektor kutu louse (louse borne disease) antara lain: epidemic tifus fever

dan epidemic relapsing fever. 3. 4. 5. Vektor kutu flea (flea borne disease) pada penyakit pes, dan tifus murin. Vektor kutu mite (mite borne disease) antara lain: scrub tifus (tsutsugamushi) dan vesicular ricketsiosis. Vektor kutu jenis tick (rick borne disease) antara lain: spotted fever, epidemic relapsing fever dan lain-lain.
6. Penyakit oleh serangga lainnya seperti sunfly fever, lesmaniasis,

barthcnellosis oleh lalat phlebotonus, onchocerciasis oleh blackflies genus simulium, serta trypanosomiasis di Afrika oleh lalat tsetse, dan juga di Amerika oleh kotoran kutu triatomid.

BAB VI BEBERAPA ASPEK PENULARAN PENYAKIT DARI ORANGKE ORANG

Bila kita memperhatikan berbagai sifat penularan penyakit, maka bentuk penularan penyakit dari orang ke orang merupakan bentuk yang sangat penting karena sifat penyakit ini lebih sering mewabah dan lebih mudah menyebar dalam masyarakat. Melihat sifatnya, maka penyakit yang menular dari orang ke orang mempunyai 3 sifat utama yang perlu mendapatkan perhatian khusus meliputi waktu generasi, kekebalan masyarakat serta angka serangan sekunder.
1. Waktu Generasi (Generation Time)

Pada penyakit yang menular langsung dari orang ke orang maka jarak antara kasus yang satu ke kasus berikutnya ditentukan dengan waktu generasi (generation time), yakni masa antara masuknya penyakit pada pejamu tertentu sampai masa kemampuan maksimal pejamu tersebut untuk dapat menularkan penyakit. Sebenarnya waktu generasi ini pada beberapa penyakit tertentu sama dengan masa tunas penyakit tersebut, yakni waktu antara masuknya unsur penyebab ke dalam tubuh sampai timbulnya gejala klinik yang biasanya disertai dengan tingkat kemampuan penularan yang optimal. Namun demikian, pada berbagai penyakit tertentu lainnya, waktu penularan tidak bersamaan dengan waktu timbulnya gejala penyakit, kadang-kadang lebih awal atau agak terlambat dari akhir masa tunas. Waktu generasi ini walaupun kadang-kadang sama waktunya dengan masa tunas, tetapi keduanya harus dibedakan secara jelas. Masa tunas ditentukan oleh masuknya unsur penyebab sampai timbulnya gejala penyakit sehingga tidak dapat ditentukan pada penyakit yang tidak manifes atau yang terselubung. Sedangkan waktu generasi ditentukan antara masuknya unsur penyebab sampai timbulnya kemampuan untuk menularkan kepada pejamu lain walaupun tanpa gejala klinik atau terselubung. Jadi waktu generasi dapat terjadi. pada mereka dengan gejala klinis jelas maupun pada mereka dengan infeksi terselubung. Mengingat bahwa waktu generasi ini ditujukan kepada kemampuan penularan penyakit dalam kelompok penduduk tertentu, maka sangat penting peranannya dalam mempelajari proses penularan penyakit, karena tidak hanya terbatas pada penderita klinis saja, tetapi juga pada mereka dengan infeksi terselubung.

2. Kekebalan Kelompok (Herd Immunity)

Kekebalan kelompok atau herd immunity adalah istilah yang digunakan untuk mengemukakan keadaan kekebalan suatu kelompok penduduk tertentu. Yang dimaksud dengan kekebalan kelompok adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok penduduk tertentu terhadap serangan atau penyebaran penyebab penyakit menular tertentu berdasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut. Sebagai contoh dapat dilihat pada gambar 8. Pada gambar 8 penduduk kelompok A semuanya rentan terhadap suatu penyakit tertentu. Sehingga pada waktu P terjangkit penyakit tersebut, maka dengan mudah menular ke dua orang teman dekatnya yang kemudian menularkan masing-masing kepada 3 orang lainnya sehingga pada waktu epidemi, jumlah penderita seluruhnya sebesar 9 orang. Sedangkan pada penduduk kelompok B, terdapat individu X yang kebal terhadap penyakit tersebut. Akibatnya, hanya Y yang ketularan dan X tidak ketularan. Selanjutnya, Y menularkan lagi kepada 3 orang lainnya sehingga pada saat epidemi hanya ada 5 penderita sedangkan X tidak menularkan kepada 3 orang kontaknya, walaupun ketiga orang tersebut tidak kebal.

Gambar 8 Perbandingan tingkat kekebalan kelompok A dan B sebelum dan sesudah epidemiologi

Sebelum Epidemi Kelompok A (Semuanya Rentan)

Sesudah Epidemi

Dari keadaan tersebut di atas tampak bahwa pada waktu epidemi semua anggota kelompok A menderita sakit karena seluruhnya berada pada keadaan tidak kebal/rentan terhadap penyakit tersebut serta terjadi kontak antaranggota kelompok yang menyebabkan terjadinya proses penularan. Sedangkan pada kelompok B, dengan adanya anggota X yang kebal dan tidak ketularan, maka selama kontak dengan anggota lainnya tidak terjadi dengan penderita sebagai sumber penularan dan selama X dapat berfungsi sebagai barier, selama itu pula tidak akan terjadi penularan yang meluas. Jadi selama masa epidemi pada kelompok B, ketiga teman dekat X tidak akan ketularan kecuali bila terjadi kontak langsung dengan penderita. Dengan demikian, maka X telah berhasil melindungi teman dekatnya yang tidak kebal terhadap penyakit tersebut. Herd immunity dianggap sebagai faktor yang utama dalam proses kejadian wabah dalam masyarakat, serta kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu, seperti penyakit campak dan cacar air/ sang mewabah pada setiap periode tertentu sebelum adanya usaha imunisasi. Keadaan tersebut terjadi karena selama berlangsungnya wabah penyakit tertentu dalam masyarakat, maka sejumlah mereka yang rentan akan jatuh sakit dan merupakan sumber penularan untuk anggota kelompok lainnya yang tidak kebal. Akan tetapi karena setiap penderita akan membentuk kekebalan aktif dalam tubulmya, maka selama wabah berlangsung, banyak bekas penderita yang akan menjadi kebal, sehingga proporsi anggota masyarakat yang kebal menjadi

meningkat sehingga proses penularan menjadi lebih lambat. Namun demikian, dengan kelahiran bayi yang terus berlangsung dalam kelompok tersebut dengan kerentanan yang tinggi, maka pada kondisi proporsi anggota-kelompok yang rentan menjadi tinggi, mendorong terjadinya wabah berikutnya dalam kelompok tersebut. Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam menilai pengaruh herd immunity pada masyarakat secara umum ialah proporsi tingkat kekebalan suatu kelompok masyarakat yang dapat dianggap mempunyai cukup daya tangkal untuk mencegah terjadinya wabah. Secara teori, dapat dikatakan bahwa untuk suatu masyarakat tertentu maka tingkat kekebalan yang dibutuhkan secara merata adalah 70%-80% atau dengan kata lain tingkat kekebalan masyarakat tidak harus 100% untuk mencegah terjadinya wabah penyakit tertentu dalam masyarakat tersebut. Namun demikian Bari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk masyarakat yang berpenduduk padat proporsi tersebut tidak dapat menahan suatu wabah, demikian pula bila nilai proporsi tersebut tidak merata dalam masyarakat. Hal ini dapat kita lihat bahwa pada penyakit dipteri, tingkat kekebalan masyarakat harus lebih tinggi karena sebagian dari yang telah mendapatkan imunisasi dipteri masih mungkin mengandung bakteri tersebut dan merupakan sumber penularan bagi anggota masyarakat lain yang tidak kebal. Demikian pula halnya pada penyakit campak yang mewabah pada tahun 1986 di South Carolina USA timbul pada kelompok anak sekolah yang mayoritas kulit hitam, yang pada umumnya lolos dari imunisasi sebelumnya. Dalam hal ini, walaupun mereka tinggal menyebar dalam masyarakat tetapi karena berkumpul dalam satu sekolah menyebabkan mereka membentuk satu kelompok masyarakat dengan tingkat kekebalan yang rendah. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam hubungannya dengan herd immunity adalah kemungkinan terjadinya kantong-kantong kelompok kecil dalam masyarakat tanpa kekebalan, walaupun proporsi tingkat kekebalan masyarakat cukup tiaggi. Hal ini mungkin karena keadaan sosio-kultural dari kelompok tersebut yang berbeda dengan umumnya masyarakat di sekitamya, atau adanya faktor lain dalam kelompok tersebut yang menyebabkan tingkat kekebalannya lebih rendah. Pada negara maju umpamanya, masih ditemukan adanya letusan wabah polio maupun dipteri pada subkelompok masyarakat tertentu, walaupun tingkat kekebalan masyarakatnya secara umum sudah cukup tinggi. Pada kondisi yang demikian ini, umumnya terjadi pergeseran umur rata-rata penderita yang menjadi lebih tinggi. Hal ini dijumpai pada penyakit campak di beberapa subkelompok penduduk tertentu.

Pada dasarnya ada dua keadaan khusus yang dapat mempengaruhi perkembangan wabah dalam masyarakat. Pertama, keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi bila agent penyebab infeksi masuk ke dalarn suatu populasi yang tidak pemah terpapar oleh agent tersebut, atau kemasukan suatu agent penyakit menular yang sudah lama absen dari populasi bersangkutan (disebut populasi yang masih perawan). Kedua, bila suatu populasi yang tertutup seperti asrama, barak dan lain-lain, di mana keadaan kehidupan sangat padat dan mudah terjadi kontak langsung, kemasukan sejumlah orang-orang yang peka/rentan terhadap penyakit tertentu, maka penyebaran penyakit akan lebih mudah dan lebih cepat sehingga dapat mewabah/Keadaan seperti ini dapat terjadi pada kelompok tentara atau asrama mahasiswa untuk beberapa penyakit menular tertentu.
3. Angka Serangan (Attack Rate)

Aspek lain yang cukup penting dalam proses penularan penyakit adalah tatacara dan konsep kehidupan keluarga, sistem hubungan keluarga dalam masyarakat serta sistem hubungan antara individu dalam kehidupan sehari-hari pada kelompok populasi tertentu yang merupakan suatu unit epidemiologi di mana penyebaran penyakit dapat berlangsung. Kasus atau penderita penyakit menular tertentu yang timbul pada suatu keluarga atau kelompok penghuni tertentu yang menjadi titik perhatian petugas kesehatan masyarakat disebut index case. Penyebaran penyakit ke dalam suatu kelompok tertentu dapat diukur dengan angka serangan yang disebut secondary attack rate yakni jumlah kasus yang berkembang/muncul dalam satu satuan waktu tertentu di kalangan anggota kelompok yang mengalami kontak serta memiliki risiko (risk) atau kerentanan tertentu terhadap penyakit tersebut. Banyaknya kasus baru (tidak termasuk kasus pertama) S.A. Rate = dalam satu jangka waktu tertentu Banyaknya orang yang peka/risk dalam kelompok tersebut

Dengan menggunakan rumus di atas dalam perhitungan SAR maka kasus indeks yaitu kasus yang merupakan sumber penularan dalam kelompok/keluarga tidak lagi dimasukkan dalam perhitungan tersebut, baik pada pembilang maupun pada penyebut. Hal ini berlaku pula pada kasus yang mempunyai waktu ketularan yang

sama dengan kasus indeks (masih dalam batas kurang dan satu masa tunas) juga tidak dimasukkan dalam perhitungan karena dianggap kasus generasi pertama (satu generasi dengan kasus indeks). Dalam analisis tingkat penularan dan tingkat keterancaman dalam keluarga,maka anggota rumah tangga merupakan kelompok yang mengalami kontak dengan penderita cukup erat satu terhadap yang lain maka dalam hal ini cukup banyak kejadian atau sifat kejadian yang dapat dipelajari dari proses penularan antar keluarga. Nilai dari suatu perhitungan SAR dapat kita lihat pada apa yang digambarkan dari suatu hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 1979 oleh Ward dan kawan-kawannya.

BAB VII KEJADIAN LUAR BIASA: WABAH

Penularan penyakit dalam masyarakat umum biasanya berjalan sesuai dengan poly kejadian penyakit serta sifat penularannya secara umum. Mekanisme penularan penyakit dalam masyarakat dapat menyebabkan terjadinya tingkat kesakitan yang biasa (bersifat endemik) dan mungkin pula tingkat kesakitan lebih dari yang diharapkan (keadaan luar biasa atau wabah). Menurut sifatnya wabah dapat dibagi dalam dua bentuk utama yakni: bentuk common sourcedan bentuk propagated atau progressive.Secara umum, kedua bentuk wabah ini dapat dibedakan dengan membuat grafik penyebaran kasus/kejadian berdasarkan waktu mulainya sakit (waktu onset) yang biasanya disebut kurva epidemi. 1. Common Source Epidemic Keadaan wabah dengan bentuk common source (CSE) adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadinya dalam waktu yang relatif singkat (sangat mendadak). Jika keterpaparan kelompok serta penularan penyakit berlangsung sangat cepat dalam waktu yang sangat singkat (point of epidemic atau poit source ofepidemic), maka resultan dari semua kasus/kejadian berkembang hanya dalam satu masa tunas saja. Pada dasarnya dijumpai bahwa pada CSE kurva epidemi mengikuti suatu distribusi normal, sehingga dengan demikian bila proporsi kumulatif kasus digambarkan menurut lamanya kejadian sakit (onset) akan berbentuk suatu garis lurus. Median dari masa tunas dapat ditentukan secara mudah dengan membaca waktu dari setengah (50%) yang terjadi pada grafik. Dalam hal ini, pengetahuan tentang median dari masa tunas dapat menolong kita dalam mengidentifikasi agent penyebab, mengingat tiap jenis agent mempunyai masa tunas tertentu. Pada gambar berikut ini (gambar 9) memperlihatkan waktu onset penyakit dari suatu kejadian letusan wabah keracunan makanan (food intoxication) pada suatu asrama mahasiswa tunas belajar. Melihat cepatnya naik dan turun dari kurva epidemi tersebut tampaknya sangat sesuai dengan sifat dari suatu point source epidemic. Gambr 9 Gambaran kejadian letusan diare karena keracunan

Makanan di asrama mahasiswa

10 SEPTEMBER 11 SEPTEMBER Waktu terjadinya gejala pertama menurut jam

Jika bahan perantara (vehicle) atau sumber epidemi (termasuk makanan, air maupun udara) masih memungkinkan epidemi terus berlangsung, maka keadaan akan menjadi lebih kompleks. Mengingat bahwa kurva epidemi terbentuk dari keterpaparan berganda pada waktu yang berbeda dan disertai dengan masa tunas yang bervariasi, maka puncak kurva akan kurang memperlihatkan puncak yang tajam dan letusan penyakit akan berlangsung lebih lama. Gambar 9 tersebut di atas adalah kejadian letusan pada suatu asrama mahasiswa setelah mereka makan bersama pada suatu pesta wisuda yang dilakukan pada tanggal 10 September jam 19.00 malam. Dari lebih seratus hadirin yang ikut makan bersama, ternyata 78 orang mengalami keracunan makanan dengan gejala diare ringan dan sedang yang kejadiannya sangat singkat yakni sekitar 2 jam setelah pesta dimulai dan kasus terakhir adalah pada jam 15.00 keesokan harinya. Penyebaran insidens kasus pada gambar di atas menunjukkan gambaran dengan satu puncak epidemi. Sedang jarak kejadian antara kasus dengan kasus lainnya menunjukkan waktu yang sangat pendek hanya dalam jam. Dalam hal ini perbedaan jarak antara waktu keterpaparan (waktu pesta/waktu makan) dengan waktu timbulnya gejala pertama pada individu dapat disebabkan karena perbedaan daya tahan perorangan, tetapi dapat pula karena perbedaan dosis yang dimakan

terutama jenis makanan yang mengandung materi penyebab (bakteri atau terutama toksinnya). Gambar 9 di atas menunjukkan suatu keadaan letusan gastroenteritis yang disebabkan oleh Clostridium parfringensdengan masa tunas yang bervariasi antara 7 sampai 24 jam setelah keterpaparan dengan frekuensi tertinggi terjadi pada 12 jam setelah keterpaparan tersebut. Bentuk ini sangat spesifik untuk letusan yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut. Dari bentuk letusan yang terjadi biasanya dapat diterka faktor penyebabnya atau sekurang-kurangnya dan kelompok penyebab yang mana yang menimbulkan wabah tersebut. Salah satu contoh yang menarik adalah timbulnya letusan pada tahun 1976 di Philadelphia selama musim panas yakni sewaktu dilakukan suatu konvensi American Legion. Penelitian wabah yang dilakukan oleh tim ahli menemukan patogen penyebab yang sebelumnya belum dikenal yakni Legionella pneumophili. Tetapi setelah dipelajari dan dianalisis sifat epidemiologis wabah, maka dikemukakan bahwa penyakit seperti ini bukanlah sesuatu yang baru tetapi sebenarnya organisme ini telah menimbulkan beberapa wabah yang sama sebelumnya. Dengan demikian maka sejak terjadinya wabah di Philadelphia tahun 1976 tersebut dengan 221 penderita dan 34 orang meninggal, maka beberapa letusan lainnya dapat segera dikenal. Sejak adanya letusan penyakit tersebut di Philadelphia, maka secara epidemiologis telah ditemukan berbagai informasi tentang penyakit tersebut yang ternyata sudah sering terjadi letusan pada beberapa tempat walaupun dalam keadaan yang lebih ringan dengan angka kematian yang rendah sekali. Di samping itu, diketemukan pula berbagai gambaran sifat pidemiologis penyakit ini seperti angka insidensi lebih tinggi pada pria dari pada wanita, serta beberapa faktor lain ikut mempengaruhi kejadian penyakit ini. Point source epidemic dapat pula terjadi pada penyakit oleh aktor penyebab bukan infeksi yang menimbulkan keterpaparan umum seperti adanya zat beracun polusi zat kimia yang beracun udara terbuka.

2.

Propagated atau Progressive Epidemic Bentuk epidemi ini terjadi karena adanya penularan dari orang ke orang baik secara langsung maupun tidak langsung melalui udara, makanan maupun vektor.

Kejadian epidemi semacam ini relative waktunya sesuai dengan sifat penyakit serta lamanya masa tunas. Juga sangat dipengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masyarakat yang rental terhadap penyakit tersebut. Masa tunas penyakit tersebut di atas adalah sekitar satu bulan sehingga tampak bahwa masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan jumlah penderita dan waktu ke waktu sampai pada saat di mana jumlah anggota masyarakat yang rentan mencapai batas yang minimal. Pada saat sebagian besar anggota masyarakat sudah terserang penyakit maka jumlah yang rentan mencapai batas kritis, sehingga kurva epidemi mulai menurun sampai batas minimal. Bila kita membandingkan kedua bentuk epidemi tersebut di atas, maka jelas tampak perbedaan terutama dalam kurva epidemi menurut waktu. Pada letusan dengan bentuk common source epidemic, tampak kurva epidemi yang meningkat secara cepat dan juga menurun sangat cepat dalam batas satu masa tunas saja, sehingga angka serangan kedua (secundary attack rate) tidak dijumpai pada bentuk ini. Di lain pihak, bentuk kurva epidemi pada propagated epidemic berkembang lanjut dan melampaui satu masa tunas. Pada keadaan tertentu dengan sistem surveillans yang baik, kita dapat menentukan turunan dan setiap kasus pada angka serangan berikutnya. Namun demikian, kadang-kadang terjadi variasi masa tunas yang dapat mengaburkan pola epidemi yang terjadi. Selain dan kedua bentuk epidemi tersebut di atas, masih dikenal pula bentuk epidemi lain yang dihasilkan oleh penyakit menular yang penyebarannya melalui vektor (vector borne epidemics). Bentuk epidemi ini biasanya agak sama kecilnya dengan area dan common source epidemic, tetapi dalam lingkaran penularannya dapat dijumpai peranan zoonosis, manusia, atau campuran dan keduanya sebagai sumber penularan kepada vektor. Kebanyakan wabah vector baru mempunyai lingkaran penularan berganda antara vektor dan host sebelum cukup banyak kasus manusia yang terserang untuk dapat dinyatakan sebagai suatu wabah. Ada kemungkinan di mana kita sulit untuk menentukan keadaan dan sifat suatu epidemi dengan hanya berdasarkan pada kurva epidemi semata. Umpamanya suatu kurva yang khas sebagai bentuk point source/common source mungkin dipengaruhi oleh perkembangan terjadinya kasus sekunder, yang terjadi karena berlanjutnya kontaminasi dengan sumber penularan atau mungkin pula oleh karena lamanya dan adanya variasi dan masa tunas. Di lain pihak pada

penyakit influenza klasik, umpamanya yang bersifat propagated dengan masa tunas yang relatif pendek dan sifat infestisitas yang cukup tinggi, dapat menghasilkan kurva epidemi yang cepat naik dan cepat pula turun sehingga mirip dengan kurva common source epidemic. Namun demikian sifat penyebaran penyakit menurut tempat (penyebaran geografis) dapat membantu kita untuk membedakan kedua jenis epidemi tersebut. Dalam hal ini, bentuk propagated lebih cenderung memperlihatkan penyebaran geografis yang sesuai dengan urutan generasi kasus.

Gambar 10 Bentuk khusus dari suatu epidemi yang bersifat propagated di mana penularan terjadi melalui kontak langsung

X: 0:

penderita yang menulari orang berikutnya penderita yang berakhir tanpa menulari orang lain.

Sebenarnya bila kita menganalisis secara luas maka awal dari suatu wabah pada dasarnya lebih banyak ditentukan oleh perilaku pejamu, dibanding dengan sifat infeksi/penularan maupun sifat kimiawi dari produk mikro-organisme. Seperti halnya dengan agent infeksi, maka ide serta pola tingkah laku dapat pula disebarkan dari orang ke orang. Kemampuan penularan dari pola tingkah laku telah diamati sejak lama, mulai dari tartan kegilaan (dancing maniac) pada abad pertengahan sampai pada ledakan gejala histeris pada akhir-akhir ini yang memberikan suatu sifat yang mudah menular dalam masyarakat. Penyalahgunaan obat terlarang dewasa ini merupakan suatu fenomena tingkah laku dewasa ini dan dapat menyebarkan berbagai bentuk penyakit menular yang sebelumnya tidak diketahui cara penyebarannya. Sebagai contoh, penyakit hepatitis B dan malaria telah menyebar dan meluas melalui berbagai alat yang digunakan dalam penggunaan obat. Perkembangan kasus tidak hanya tergantung pada penularan dari orang ke orang, tetapi juga erat hubungannya dengan kuatnya ikatan atau kebersamaan dalam kelompok tertentu. Kebiasaan yang berkaitan erat dengan penggunaan obat melalui suntikan, atau merokok, adalah sama peranannya dengan efek pisiologis pada tingkat awal penyakit. Secara konseptual dan secara teoretis maka rantai peristiwa pada suatu letusan common source (common vehicle) epidemic relatif tampaknya sangat sederhana. Dengan melakukan pengamatan yang berkesinambungan terhadap keterpaparan umum, maka pada suatu saat sejumlah tertentu dari mereka yang terpapar tersebut akan menderita penyakit (tidak seluruhnya). Penderita yang muncul dari kelompok tersebut mempunyai waktu sakit (onset) yang berbeda-beda sesuai dengan rentangan masa tunas kejadian penyakit tersebut. Sedangkan pada epidemi bentuk propagated/progressif, upaya penentuannya akan lebih sulit. Hal ini terutama disebabkan karena tingkat penularan penyakit/infeksi dari orang ke orang yang potensial lainnya sangat tergantung kepada berbagai faktor, terutama jumlah orang yang kebal/rentan (peka) dalam populasi tersebut (keadaan herd immunity). Di samping itu, juga sangat dipengaruhi oleh kepadatan penduduk serta mobilitas penduduk setempat.

3.

Pelacakan Kejadian Luar Biasa
1.

Garis Besar Pelacakan Wabah/Kejadian Luar Biasa Usaha pelacakan kejadian luar biasa/wabah merupakan suatu kegiatan yang cukup menarik dalam bidang epidemiologi. Keberhasilan suatu kegiatan pelacakan wabah sangat ditentukan oleh berbagai kegiatan khusus. Pengumpulan data dan infonnasi secara saksama langsung di lapangan/tempat kejadian, yang disusul dengan analisis data yang teliti dengan ketajaman pemikiran merupakan landasan dari suatu keberhasilan pelacakan. Dengan demikian maka dalam usaha pelacakan suatu peristiwa luar biasa atau wabah, diperlukan adanya suatu garis besar tentang sistematika langkah-langkah yang pada dasamya harus ditempuh dan dikembangkan dalam setiap usaha pelacakan. Langkah-langkah ini hanya merupakan pedoman dasar yang kemudian harus dikembangkan sendiri oleh setiap investigator (pelacak) dalam menjawab setiap pertanyaan yang mungkin timbul dalam kegiatan pelacakan tersebut. Walaupun penentuan langkah-langkah tersebut sangat tergantung pada tim pelacak, namun beberapa hal yang bersifat prinsip dasar seperti penentuan diagnosis serta penentuan adanya wabah harus mendapatkan perhatian lebih awal dan harus ditetapkan sedini mungkin.

2.

Analisis Situasi Awal Pada tahap awal pelacakan suatu situasi yang diperkirakan bersifat wabah atau situasi luar biasa, diperlukan sekurang-kurangnya empat kegiatan awal yang bersifat dasar dari pelacakan.
a. Penentuan/penegakan diagnosis

Untuk kepentingan diagnosis maka diperlukan penelitian/pengamatan klinis dan pemeriksaan laboratorium. Harus diamati secara tuntas apakah laporan awal yang diperoleh sesuai dengan keadaan yang sebenamya (perhatikan tingkat kebenarannya). Umpamanya wabah penyakit "demam berdarah" harus jelas secara klinis maupun laboratorium. Hal ini mengingat bahwa gejala demam berdarah dapat didiagnosis secara tidak tepat. Di samping itu, pemeriksaan laboratorium kadang-kadang harus dilakukan lebih dan satu kali.

Dalam hal menegakkan diagnosis, harus pula ditetapkan kapan seseorang dapat dinyatakan sebagai kasus. Dalam hal ini sangat tergantung pada keadaan dan jenis masalah yang sedang dihadapi. Seseorang dapat dinyatakan kasus dapat dengan gejala klinis saja, atau dengan pemeriksa dan laboratorium saja atau keduanya. Umpamanya wabah diare, bila kita mengarah pada masalah diare secara umum, maka gejala klinis tertentu sudah cukup untuk menentukan kasus atau bukan kasus. Tetapi bila masalah diare lebih diarahkan khusus untuk kolera eltor, maka pemeriksaan laboratorium sangat menentukan di samping gejala klinis dan analisis epidemiologi. b. Penentuan adanya wabah Sesuai dengan definisi wabah dan kejadian luar biasa, maka untuk menentukan apakah situasi yang sedang dihadapi adalah wabah atau tidak, maka perlu diusahakan melakukan perbandingan keadaan jumlah kasus sebelumnya untuk melihat apakah terjadi kenaikan frekuensi yang istimewa atau tidak. c . U raia n k e ada an w a ba h Bila keadaan dinyatakan wabah, lakukan uraian keadaan wabah berdasarkan tiga unsur utama yakni waktu, tempat dan orang. Buatlah kurva epidemi dengan menggambarkan penyebaran kasus menurut waktu mulainya timbul gejala penyakit. Di samping itu, gambarkan penyebaran sifat epidemi berdasarkan penyebaran kasus menurut tempat (spot map epidemi). Lakukanlah berbagai perhitungan epidemiologi seperti perhitungan angka kejadian penyakit pada populasi dengan risiko menurut umur, jenis kelamin, pekerjaan, keterpaparan terhadap faktor tertentu (makanan, minuman atau faktor penyebab lainnya) serta berbagai sifat orang lainnya yang mungkin berguna dalam analisis. Juga hal yang sama untuk kasus yang mengalami kematian karena wabah. Dalam hal ini melakukan identhfikasi berbagai sifat yang mungkin berkaitan dengan timbulnya penyakit merupakan langkah yang sangat penting sekali dalam usaha memecahkan masalah wabah.

1.

Analisis Lanjutan

Setelah melakukan analisis awal dan menetapkan adanya situasi wabah, maka selain tindak pemadaman wabah, perlu dilakukan pelacakan lanjut serta analisis yang berkesinambungan. Ada beberapa hal pokok yang perlu mendapatkan perhatian pada tindak lanjut tersebut. a. Usaha penemuan kasus tambahan Untuk hal tersebut harus ditelusuri kemungkinan adanya kasus yang tidak dikenal dan kasus yang tidak dilaporkan melalui berbagai cara.
1) Adakan pelacakan ke rumah sakit dan ke dokter praktek umum setempat

untuk mencari kemungkinan mereka menemukan kasus penderita penyakit yang sedang diteliti dan belum termasuk dalam laporan yang ada.
2) Adakan pelacakan yang intehsif terhadap mereka yang tanpa gejala atau

mereka dengan gejala ringan/tidak spesifik tetapi mempunyai potensi menderita atau termasuk kontak dengan penderita. Keadaan ini sering dijumpai pada beberapa penyakit tertentu umpamanya pada penyakit hepatitis, mana yang selain hanya penderita mungkin dengan klinik jelas, juga kemungkinan adanya penderita gejala ringan tanpa gejala kuning, di diagnosis ditegakkan dengan melalui pemeriksaan laboratorium (tes fungsi hati). a. Analisis data Lakukan analisis data secara berkesinambungan sesuai dengan tambahan informasi yang didapatkan dan laporkan hasil interpretasi data tersebut.
b. Menegakkan hipotesis

Berdasarkan hasil analisis dan seluruh kegiatan, dibuat keputusan yang bersifat hipotesis tentang keadaan yang diperkirakan. Dalam hal ini harus diperhatikan bahwa kesimpulan dari semua fakta yang ditemukan dan diketahui harus sesuai dengan apa yang tercantum dalam hipotesis tersebut.

c. Tindakan pemadaman wabah dan tindak lanjut

Tindakan diambil berdasarkan hasil analisis dan sesuai dengan keadaan wabah yang terjadi. Harus diperhatikan bahwa setiap tindakan pemadaman wabah harus disertai dengan berbagai kegiatan tindak lanjut (follow up)sampai keadaan sudah normal kembali. Biasanya kegiatan tindak lanjut dan pengamatan dilakukan sekurang-kurangnya 2 kali masa tunas penyakit yang mewabah. Setelah keadaan normal, maka untuk beberapa penyakit tertentu yang mempunyai potensi dapat menimbulkan keadaan luar biasa, disusunkan suatu program pengamatan yang berkesinambungan dalam bentuk surveillans epidemiologi, terutama pada kelompok dengan risiko tinggi. Pada akhir dari setiap pelacakan harus dibuat laporan lengkap yang dikirim kepada semua instansi terkait. Laporan tersebut meliputi berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya wabah, analisis dan evaluasi upaya yang telah dilaksanakan serta saran-saran untuk mencegah berulangnya kejadian luar biasa untuk masa yang akan datang.

BAB VIII PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa proses kejadian penyakit menular dalam masyarakat ditentukan oleh tiga unsur utama yakni sumber penularan (reservoir), cara penularan dan keadaan pejamu yang potensial (Gambar 4, halaman 32). Sebagaimana diketahui bahwa epidemiologi merupakan ilmu dasar pencegahan dan penanggulangan penyakit serta masalah kesehatan lainnya dalam masyarakat. 1. Pencegahan Penyakit Menular Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah untuk pencegahan, haruslah didasarkan pada data/keterangan yang bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau hasil pengamatan/ penelitian epidemiologis. Pada dasamya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum yakni: pencegahan tingkat pertama (primary prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus, pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi diagnosis dini serta pengobatan yang tepat, dan pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) yang meliputi pencegahan terhadap cara dan rehabilitasi. Ketiga tingkat pencegahan tersebut saling berhubungan erat sehingga dalam pelaksanaannya sering dijumpai keadaan yang tumpang tindih. 1. Pencegahan Tingkat Pertama Sasaran pencegahan tingkat pertama dapat ditujukan pada faktor penyebab, lingkungan serta faktor pejamu.
a.

Sasaran yang ditujukan pada faktor penyebab yang bertujuan untuk mengurangi penyebab atau menurunkan pengaruh penyebab serendah mungkin dengan usaha antara lain: desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi, yang bertujuan untuk menghilangkan mikro-organisme penyebab penyakit, penyemprotan /insektisida dalam rangka menurunkan dan menghilangkan sumber penularan maupun memutuskan rantai penularan, di samping karantina dan isolasi yang juga dalam rangka memutuskan rantai penularan. Selain itu usaha untuk mengurangi/menghilangkan sumber penularan dapat dilakukan melalui pengobatan penderita serta pemusnahan sumber yang ada (biasanya pada

binatang yang menderita), serta mengurangi/menghindari perilaku yang dapat meningkatkan risiko perorangan dan masyarakat.
b. Mengatasi/modifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan fisik

seperti peningkatan air bersih, sanitasi lingkungan dan perumahan serta bentuk pemukiman lainnya, perbaikan dan peningkatan lingkungan biologis seperti pemberantasan serangga dan binatang pengerat, serta peningkatan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga, hubungan antar individu dan kehidupan sosial masyarakat.
c.

Meningkatkan daya tahan pejamu yang meliputi perbaikan status gizi, status kesehatan umum dan kualitas hidup penduduk, pemberian imunisasi serta berbagai bentuk pencegahan khusus lainnya, peningkatan status psikhologis, persiapan perkawinan seta usaha menghindari pengaruh faktor keturunan, dan peningkatan ketahanan fisik melalui peningkatan kualitas gizi, serta olah raga kesehatan.

1. Pencegahan Tingkat Kedua

Sasaran pencegahan ini terutama ditujukan pada mereka yang menderita atau dianggap menderita (suspek) atau yang terancam akan menderita (masa tunas). Adapun tujuan usaha pencegahan tingkat ke dua ini yang meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat agar dapat dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya wabah, serta untuk segera mencegah proses penyakit lebih lanjut serta mencegah terjadinya akibat samping atau komplikasi.
a.

Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui peningkatan usaha surveillans penyakit tertentu, pemeriksaan berkala serta pemeriksaan kelompok tertentu (calon pegawai, ABRI, mahasiswa dan lain sebagainya), penyaringan (screening) untuk penyakit tertentu secara umum dalam masyarakat, serta pengobatan dan perawatan yang efektif.

b. Pemberian chernoprophylaxis yang terutama bagi mereka yang dicurigai

berada pada proses prepatogenesis dan patogenesis penyakit tertentu. 1. Pencegahan Tinikat Ketiga Sasaran pencegahan tingkat ke tiga adalah penderita penyakit tertentu dengan tujuan mencegah jangan sampai mengalami cacat atau kelainan permanen,

mencegah bertambah parahnya suatu penyakit atau mencegah kematian akibat penyakit tersebut. Berbagai usaha dalam mencegah proses penyakit lebih lanjut seperti pada penderita diabetes militus (kencing manis), penderita tuberkulosis pare yang berat, penderita penyakit measles agar jangan terjadi komplikasi dan lain sebagainya. Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya akibat samping dan penyembuhan suatu penyakit tertentu. Rehabilitasi adalah usaha pengembalian fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin yang meliputi rehabilitasi fisik/medis, rahabilitasi mental/psikologis serta rehabilitasi sosial. 2. Strategi Pencegahan Penyakit Dalam usaha pencegahan penyakit secara umum dikenal berbagai strategi pelaksanaan yang tergantung pada jenis, sasaran serta tingkat pencegahan. Dalam strategi penerapan ilmu kesehatan masyarakat dengan prinsip tingkat pencegahan seperti tersebut di atas, sasaran kegiatan diutamakan pada peningkatan derajat kesehatan individu dan masyarakat, perlindungan terhadap ancaman dan gangguan kesehatan, pemeliharaan kesehatan, penanganan dan pengurangan gangguan serta masalah kesehatan, serta usaha rehabilitasi lingkungan.
a.

Sasaran yang bersifat umum yang ditujukan kepada individu maupun organisasi masyarakat, dilakukan dengan pendekatan melalui usaha setempat/mandiri yang sesuai dengan bentuk dan tatanan hidup masyarakat setempat (tradisional) maupun melalui berbagai program pelayanan kesehatan yang tersedia.

b. Usaha pencegahan melalui pelaksanaan yang berencana dan terprogram (bersifat

wajib maupun sukarela) seperti pemberian imunisasi dasar serta perbaikan sanitasi lingkungan dan pengadaan air bersih, peningkatan status gizi melalui pemberian makanan tambahan maupun berbagai usaha yang bertujuan untuk menghentikan/mengubah kebiasaan yang mengandung risiko tinggi atau yang dapat mempertinggi risiko penyakit tertentu.
c.

Usaha yang diarahkan pada peningkatan standar hidup dan lingkungan pemukiman seperti perbaikan perumahan dan pemukiman, perbaikan sistem pendidikan serta sosial ekonomi masyarakat, yang pada dasamya merupakan kegiatan di luar bidang kesehatan.

d. Usaha pencegahan dan penanggulangan keadaan luar biasa seperti kejadian

wabah, adanya bencana alam/situasi perang serta usaha penanggulangan melalui kegiatan rawat darurat. Dalam menilai derajat kesehatan termasuk situasi morbiditas dan mortalitas untuk kepentingan penyusunan program pencegahan dan penanggulangan penyakit, harus dipertimbangkan pula berbagai hal dalam masyarakat di luar bidang kesehatan seperti sistem produksi dan persediaan makanan, keadaan keamanan, sistem perekonomian penduduk termasuk keadaan lapangan kerja, kehidupan social dan adat kebiasaan masyarakat setempat serta kebijakan pemerintah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
1.

Penanggulangan Penyakit Menular Yang dimaksud dengan penanggulangan penyakit menular (kontrol) adalah upaya untuk menekan peristiwa penyakit menular dalam masyarakat serendah mungkin sehingga tidak merupakan gangguan kesehatan masyarakat tersebut. Seperti halnya pada upaya pencegahan penyakit, maka upaya penanggulangan penyakit menular dapat pula dikelompokkan pada tiga kelompok sesuai dengan sasaran utamanya yang meliputi: sasaran langsung melawan sumber penularan atau reservoir, sasaran ditujukan pada cara penularan penyakit, dan sasaran yang ditujukan terhadap pejamu dengan menurunkan kepekaan pejamu. 1. Sasaran Langsung pada Sumber Penularan Pejamu Keberadaan suatu sumber penularan (reservoir) dalam masyarakat merupakan faktor yang sangat penting dalam rantai penularan. Dengan demikian keberadaan sumber penularan tersebut memegang peranan yang cukup penting serta menentukan cara penanggulangan yang paling tepat dan tingkat keberhasilannya cukup tinggi. a. Sumber penularan adalah binatang Bila sumber penularan terdapat pada binatang peliharaan (domestik) maka upaya mengatasi penularan dengan sasaran sumber penularan lebih mudah dilakukan dengan memusnahkan binatang yang terinfeksi serta bagi

melindungi binatang lainnya dari penyakit tersebut (imunisasi dan pemeriksaan berkala). Tetapi bila sumber penyakit dijumpai pada binatang liar di samping binatang peliharaan, maka keadaanya akan lebih sulit. Penanganan penyakit rabies (gila anjing) umpamanya akan lebih mudah pada daerah perkotaan dengan hampir seluruh anjing yang ada merupakan anjing peliharaan. Sedangkan penanganan penyakit ini di daerah pedesaan di mana selain anjing juga adanya binatang liar yang dapat tertular, akan usaha penanggulangan seperti tersebut di atas lebih sulit dilaksanakan. Dalam keadaan yang demikian ini maka usaha penanggulangan dilakukan dengan kombinasi, cara lain, dengan kerja sama instansi lain yang terkait. b. Sumber penularan adalah manusia Apabila sumber penularan adalah manusia, maka cara pendekatannya sangat berbeda mengingat bahwa dalam keadaan ini tidak mungkin dilakukan pemusnahan sumber. Sasaran penanggulangan penyakit pada sumber penularan dapat dilakukan dengan isolasi dan karantina, pengobatan dalam berbagai bentuk umpamanya menghilangkan unsur penyebab (mikro-organisme) atau menghilangkan fokus infeksi yang ada pada sumber (bedah saluran empedu atau cholecystectomy) pada carrier typhoid menahun). Salah satu usaha penanggulangan yang sasarannya terpusat pada sumber penularan adalah isolasi penderita. Bentuk ini memang sangat bermanfaat pada situasi penyakit yang baru muncul dan punyai potensi mewabah. Sedang bentuk ini kurang bermanfaat pada penyakit yang telah menyebar dalam masyarakat terutama yang mempunyai bentuk infeksi terselubung atau iceberg phenomena, atau juga terhadap penderita yang telah mengalami infeksi yang mencapai puncaknya dan mungkin telah menularkan ke sekitarnya. Bentuk penanggulangan lainnya yang mirip dengan isolasi adalah karantina. Karantina adalah pembatasan gerak seseorang atau sekelompok orang sehat atau binatang yang dicurigai menderita atau akan menderita penyakit menular tertentu. Bentuk karantina biasanya dengan menempatkan orang, atau binatang tersebut pada lokasi tertentu dengan pengawasan yang ketat selama satu masa tunas tertinggi. Mengingat sulitnya dan mahalnya biaya karantina disertai dengan kemajuan alit komunikasi dewasa ini, maka bentuk karantina untuk beberapa penyakit menular tertentu pada manusia telah

dimodifikasi dalam bentuk surveillans individu, sedangkan bentuk binatang masih tetap. Surveillans individu dimaksudkan pengawasan dan pengamatan terus menerus secara ketat terhadap mereka yang kontak untuk menderita penyakit yang dapat menjadi sumber penularan, tanpa membatasi kebebasan bergeraknya. Pengawasan dan pengamatan dilakukan oleh petugas kesehatan setempat sampai satu masa tunas maksimal. Dalam hal ini individu yang berada di bawah surveillans diharuskan tetap melaporkan diri dan tetap berada di bawah pengawasan petugas kesehatan setempat di mana yang bersangkutan berada. 1. Sasaran Ditujukan pada Cara Penularan Sebagaimana diketahui bahwa cara penularan penyakit meliputi kontak langung, melalui udara, melalui makanan serta melalui vektor perantara. Upaya pencegahan penularan melalui kontak langsung biasanya dititik beratkan pada penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan bersama-sama dengan usaha menghilangkan sumber penularan. Usaha pencegahan ini sangat erat hubungannya dengan pola dan kebiasaan hidup sehari-hari, sistem sosial dan perilaku sehat anggota masyarakat. Upaya mencegah dan menurunkan penularan penyakit yang ditularkan melalui udara, terutama infeksi saluran pernapasan dilakukan desinfeksi udara dengan bahan kimia atau dengan sinar ultra violet, ternyata kurang berhasil. Sedangkan usaha lain dengan perbaikan sistem ventilasi serta aliran udara dalam ruangan tampaknya lebih bermanfaat. Mengingat bahwa sebagian besar penyakit yang ditularkan melalui udara pada umumnya membutuhkan kontak tidak langsung di samping itu sebagian penyakit tersebut dapat dicegah melalui imunisasi. Adapun upaya perbaikan dengan lingkungan dalam upaya mencegah dan menanggulangi penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman. dikembangkan memberantas bahan-bahan yang mengalami kontaminasi seperti penyehatan air minum, pasteurisasi susu, serta pengawasan terhadap semua pengobatan bahan makanan dan minuman. Usaha seperti ini biasanya dilakukan secara bersama antara petugas pengawasan bahan berbahaya dengan petugas kesehatan lingkungan. Pencegahan dan penanggulangan penyakit yang ditularkan oleh vektor terutama serangga dan binatang lainnya dilakukan melalui pemberantasan serangga

serta binatang perantara lainnya. Di samping itu, pengawasan terhadap berbagai penyakit zoonosis dilakukan dengan sasaran utama adalah binatang meningkatnya penularan berbagai penyakit melalui vektor oleh ulah manusia sendiri (man made disease), seperti penularan penyakit schistosomiasis melalui irigasi, peningkatan penularan penyakit malaria dan filariasis di daerah pemukiman baru, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi hal seperti ini perlu kerja sama instansi dalam setiap program pembangunan, terutama pembangunan yang dapat menimbulkan perubahan rekosistem setempat. 2. Sasaran Ditujukan pada Pejam u P otensial Sebagaimana diterangkan sebelumnya bahwa faktor yang berpengaruh pada pejamu potensial terutama tingkat kekebalan (imunitas) serta tingkat kerentanan/kepekaan yang dipengaruhi oleh status gizi, keadaan umum serta faktor genetika. a. Peningkatan kekebalan khusus (imunitas) Berbagai penyakit dewasa ini dapat dicegah melalui usaha imunisasi yakni peningkatan kekebalan aktif pada pejamu dengan pemberian vaksinasi. Pemberian imunisasi aktif untuk perlindungan terhadap penyakit dipteria, pertusis dan tetanus (DPT) merupakan pemberian imunisasi dasar kepada anak-anak sebagai bagian terpenting dalam program kegiatan kesehatan masyarakat. Di samping itu, juga termasuk imunisasi dasar yang diprogramkan pemerintah secara umum di Indonesia adalah BCG (Bacillus CalmetteGuerine) untuk mencegah penyakit tuberkulosis, vaksinasi campak (measles) serta vainasi poliomyelitis. Sedangkan vaksinasi yang ditujukan untuk perlindungan terhadap hepatitis belum diprogramkan secara umum. Selain pemberian imunisasi aktif tersebut di atas, juga dikenal adanya usaha perlindungan terhadap beberapa penyakit tertentu dengan pemberian antibodi pelindung yang berasal dan pejamu lain dalam bentuk serum antibodi yang memberikan perlindungan sementara dan disebut imunisasi pasif. Imunisasi pasif ini juga cukup berperan seperti pada pemberian tetanus toksoid pada ibu hamil untuk kemudian dapat memindahkan antibodi ibu kepada bayi melalui placenta. Juga pemberian antisera pada mereka yang dicurigai ketularan penyakit gila anjing (rabies)

serta pemberian serum globulin imun untuk pencegahan hepatitis dan pemberian antitoksin tetanus untuk luka berat (sudah jarang digunakan). Pemberian imunisasi dasar sebagai bagian dan program pembangunan kesehatan temyata cukup berhasil dalam usaha meningkatkan derajat kesehatan serta menurunkan angka kematian bayi dan balita. Demikian pula pemberian antisera terhadap rabies yang sudah tersedia pada hampir setiap Puskesmas telah mampu menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit rabies. b. Peningkatan kekebalan umum (resistensi) Berbagai usaha lainnya dalam meningkatkan daya tahan pejamu terhadap penyakit infeksi telah diprogramkan secara luas seperti perbaikan gizi keluarga, peningkatan gizi balita melalui program Kartu Menuju Sehat (KMS), peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta pelayanan kesehatan terpadu melalui Posyandu. Keseluruhan program ini bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh secara umum dalam usaha menangkal berbagai ancaman penyakit infeksi. 1. Surveillans Epidemiologi Surveillans epidemiologi adalah pengamatan secara teratur dan terus-menerus terhadap semua aspek penyakit tertentu. baik keadaan maupun penyebarannya dalam satu kelompok penduduk tertentu untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangan. Surveillans penyakit menular adalah suatu kegiatan pengumpulan data teratur, peringkasan dan analisis data kasus baru dari semua jenis penyakit infeksi dengan tujuan untuk identifikasi kelompok risiko tinggi dalam masyarakat, memahami cara penularan penyakit serta berusaha memutuskan rantai penularan. Dalam hal ini setiap kasus harus dilaporkan secara lengkap dan tepat. Keterangan mengenai tiap kasus meliputi diagnosis penyakit, tanggal mulainya timbul gejala, keterangan tentang orang yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat dan nomor telepon (bila ada), serta sumber rujukan bila penderita hasil rujukan (dokter, klinik, Puskesmas dan lain-lain). 1. Surveillans Epidemiologi dalam Masyarakat Dengan analisis secara teratur berkesinambungan terhadap data seperti tersebut di atas terhadap berbagai penyakit menular akan dapat memberikan kesempatan

lebih mengenal kecenderungan penyakit menurut musim atau periode waktu tertentu, mengetahui daerah, geografis di mana jumlah kasus/penularan meninggi atau menurun, serta berbagai kelompok risiko tinggi menurut umur, jenis kelamin, ras, agama, status sosial ekonomi serta pekerjaan (penyakit akibat kerja atau lingkungan kerja). Adapun data kejadian penyakit menular yang telah lampau yang terdapat pada suatu wilayah administrasi atau kelompok populasi tertentu biasa berasal dari kegiatan surveillans yang ada. Data seperti ini sangat penting untuk mengetahui berbagai keadaan ledakan berbagai penyakit waktu lampau serta berbagai bentuk dan sifat epidemiologisnya. Biasanya data yang demikian ini terdapat pada pusat pelayanan kesehatan atau pusat data dan informasi kesehatan serta pusat informasi data lainnya yang selain memiliki data kesehatan yang dikumpulkan secara sistematis, juga memiliki berbagai data informasi lainnya termasuk data demografi. Pelaksanaan surveillans dilakukan dengan dua cara yakni surveilans pasif dan aktif. Surveilans pasif atau disebut juga pengumpulan keterangan tentang kejadian penyakit dalam masyarakat yang dilakukan oleh unit surveillans mulai dari tingkat Puskesmas sampai ke tingkat nasional. Dalam hal ini sejumlah penyakit tertentu secara teratur dilaporkan baik melalui rumah sakit maupun melalui Puskesmas atau institusi pelayanan kesehatan lainnya. Data yang terkumpul dari program ini dianalisis dan disebarluaskan serta dilakukan pengamatan khusus bila ada kejadian yang bersifat luar biasa. Surveillans aktif merupakan pengumpulan data terhadap satu atau lebih penyakit tertentu pada suatu masa waktu tertentu yang ditakukan secara teratur oleh petugas kesehatan yang telah ditugaskan untuk hal tersebut. Secara teratur petugas kesehatan tertentu yang telah ditunjuk, dalam masa interval tertentu (biasanya mingguan) mengumpulkan keterangan tentang ada atau tidak adanya kasus batu penyakit tersebut (yang berada di bawah surveilans) serta mencatat data yang telah ditentukan (biasanya dengan menggunakan formulir khusus yang tclah tersedia) serta data tambahan lainnya yang dianggap perlu. Bentuk surveillans aktif ini biasanya dilakukan bila ada penyakit baru yang diketemukan, atau suatu bentuk penularan dalam masyarakat yang sedang dalam pengamatan, atau bila ada perkiraan peningkatan risiko penduduk karena peruhahan musim, begitu pula bila adanya penyakit yang baru muncul pada suatu daerah geografis tertentu atau pada suatu kelompok populasi tertentu. Juga

surveillans aktif seperti ini dilakukan pada masa transisi dari suatu penyakit yang baru saja dibasmi dari suatu wilayah data populasi tertentu, maupun penyakit yang sebelumnya sudah berada di bawah tingkat penanggulangan (under control) tetapi kemudian mulai memperlihatkan peningkatan jumlah kasus yang berarti atau insidensi yang meninggi. 2. Surveillans Epidemiologi di Rumali Sakit Dewasa ini perkembangan rumah sakit semakin maju dan sedang menghadapi masa transisi dari perawatan penyakit menular, sebagai tugas utama ke arah penyakit tidak menular termasuk kecelakaan: Namun demikian, penderita penyakit menular yang dirawat di rumah sakit masuk cukup besar. Suatu keadaan khusus di mana faktor lingkungan, secara bermakna dapat mendukung terjadinya risiko mendapatkan penyakit infeksi, sehingga teknik surveillans termasuk analisis data serta kontrol penyakit memerlukan perlakuan tersendiri adalah pada rumah sakit besar terutama rumah sakit regional dan rumah sakit daerah. Pada nimah sakit umum yang memberikan pclayanan kepada masyarakat dalam wilayah yang luas seperti rumah sakit rujukan pada tingkat provinsi dan regional terdapat beberapa penularan penyakit dan dapat menirnbulkan infeksi nosokomial. Masih tingginya angka penyakit menular dalam masyarakat sehingga penderita (penyakit menular maupun tidak menular) yang masuk ke rumah sakit kemungkinan besar akan membawa serta kuman patogen bersamanya. Di lain pihak, setiap penderita di rumah sakit akan menerima perawatan dan beberapa individu di mana salah seorang di antaranya mungkin akan berperan sebagai alas pengangkut kuman antar penderita atau antara perawat dengan penderita. Di samping itu penderita yang dirawat nginap di rumah sakit mengalami kepekaan terhadap berbagai jenis infeksi karena keadaannya/penyakitnya (umpamanya bayi lahir tidak cukup bulan atau prematur) maupun karena pengobatan/perawatannya (seperti imunostipresi, chernoterapi, pengobatan radiasi, transplantasi organ, hemodialisis, berbagai tindakan bedah), yang juga mengalami keterpaparan terhadap produksi/ sumber darah, cairan intravena, jarum, kateter serta berbagai alat medis lainnya. Dalam hal penggunaan alat, meskipun alat-alat tersebut (atau bagian tertentu alat tersebut) telah dibebaskumankan (desinfeksi) seperti respirator, berbagai alat kemih serta alat-alat sistem reproduksi, tetapi

pengulangan penggunaan alat-alat dapat menyebabkan timbulnya infeksi nosokomial. Selain itu, rumah sakit mungkin dapat menjadi tempat berkembang biaknya serta tumbuh suburnya berbagai jenis mikro-organime. Pemakaian secara luas berbagai jenis antibiotika dapat menimbulkan terjadinya resistensi dari komponan genetik seperti plastid, serta penggunaan alat-alat khusus pembantu resirkulasi cairan tubuh menghasilkan keadaan yang tidak biasa dan cukup baik untuk mikro-organisme patogen. Umpamanya terdapatnya pseudomonas pada alat respirasi dan hepatitis B pada alat dialisis. Juga ventilasi serta sistem pengudaraan yang terkontaminasi dapat menyebarkan agent penyakit kepada pejamu yang peka/potensial. Untuk mengatasi masalah penularan penyakit infeksi di rumah sakit maka telah dikembangkan sistem epidemiologi surveillans yang khusus dan cukup efektif untuk menanggulangi kemungkinan terjadinya penularan infeksi nosokomial di dalam lingkungan rumah sakit. Untuk pelaksanaan kegiatan tersebut oleh beberapa rumah sakit menyediakan tenaga khusus yang terlatih dalam epidemilogi surveillans rumah sakit. Dengan demikian dapat dilakukan surveillans yang teratur melalui pencatatan kejadian infeksi pada unit-unit tertentu seperti pada laboratorium, angka dan jenis infeksi di ruang-ruang perawat an , pada unit bedah, serta unit-unit lainnya seperti bagian persalinan dan ruang bayi, bagian anak dan lainnya. Dengan kegiatan pengamatan yang terus menerus disertai dengan analisis yang teratur serta pengamatan langsung terhadap kelompok-kelompok risiko tinggi dalam rumah sakit, dapat memungkinkan pengenalan awal, pelacakan serta penangkalan dan penanggulangan ledakan/kejadian luar biasa dalam rumah sakit. 1. Pemberantasan Penyakit Menular Konsep pemberantasan (eradication) penyakit menular yakni penghapusan total penyakit tersebut sampai ke akar-akarnya secara global (seluruh dunia) merupakan impian masa lalu yang kemudian dapat menjadi kenyataan pada suatu penyakit menular yang cukup berbahaya yakni penyakit cacar (smallpox). Penyakit cacar merupakan salah satu penyakit menular yang mempunyai potensi endemi di berbagai belahan dunia dan dapat mewabah dan meluas ke berbagai daerah yang potensial melalui penularan langsung. Dari pengalaman berbagai daerah yang

bebas cacar menunjukkan bahwa penyakit ini tidak mudah memasuki wilayah yang telah bebas cacar. Dari berbagai pengalaman oleh WHO diputuskan untuk memberantas penyakit ini sampai ke akar-akarnya secara global pada awal tahun 1960an. Adapun factor-faktor yang menjadi pertimbangan yang kuat dalam mengambil keputusan ini antara lain: (1) reservoir satu-satunya adalah manusia; (2) penyakit ini tidak memiliki infeksi berselubung artinya semua penderita muncul dengan gejala klinik yang sangat spesifik, sehingga surveillans mudah diterapkan; (3) adanya vaksin yang dapat memberikan perlindungan secara meyakinkan dan dapat berjalan seumur hidup; (4) cara pemberian imunisasi/vaksinasi relatif mudah dan dapat menjangkau penduduk yang terisolir sekalipun. Hasil yang diperoleh adalah berhasilnya diberantas penyakit tersebut secara total di seluruh dunia dan sejak tahun 1976 dinyatakan dunia bebas dan penyakit smallpox. Beberapa penyakit lainnya mempunyai potensi untuk dilakukan pemberantasan antara lain penyakit campak yang mempunyai sifat mirip dengan penyakit cacar. Pada berbagai negara maju, penyakit ini sudah dapat ditekan sampai ke prevalensi yang sangat rendah dan adanya kasus yang kadang-kadang mewabah sangat bersifat sporadis saja. Adapun penyakit menular lainnya seperti malaria, filaria dan berbagai penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, mempunyai potensi untuk dapat ditekan sampai batas tertentu melalui usaha penanggulangan penyakit tertentu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful