LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTIK KEPERAWATAN DEwAsa I Pemberian Medikasi Oleh: Hesi Oktamiati, 0906629391

1.

Pengertian Tindakan Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting perawat. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki masalah kesehatan. Suatu obat, atau medikasi adalah zat yang digunakan dalam diagnosis, terapi, peyembuhan, penurunan, atau pencegahan penyakit. a. Pulvis (Serbuk) merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. b. Pulveres merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. c. Tablet (Compressi) merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. d. Pilulae (PIL) merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu. e. Kapsulae (Kapsul) merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. f. Solutiones (Larutan) merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahanbahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).

h. atau suspensi. digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam). Injectiones (Injeksi) merupakan sediaan steril berupa larutan. umumnya meleleh.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi g. agar pasien dapat mempertahankan status kesehatannya atau memulihan status kesehatan klien. Kesalahan identifikasi klien dapat terjadi jika terdapat 2 orang klien dengan nama yang sama atau mirip berada pada . 1. emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar. Kompetensi Dasar yang harus Dimiliki untuk Melakukan Tindakan Kompetensi yang harus dimiliki perawat adalah perawat harus memahami prinsip enam benar pemberian obat. k. Tujuan Tindakan Untuk memberikan pengobatan kepada pasien. Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut 2. j. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. Guttae Auriculares (tetes telinga). Suppositoria merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. Guttae Oris (tets mulut). Guttae Ophtalmicae (tetes mata). melunak atau melarut pada suhu tubuh. emulsi. i. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. berarti bahwa obat yang diberikan memang benar dan sudah dipastikan harus diberikan kepada klien yang bersangkutan. yang diberikan melalui rektal. vagina atau uretra. Benar Klien. Guttae (Obat Tetes) merupakan sediaan cairan berupa larutan. 3. Guttae Nasales (tetes hidung). Unguenta (Salep) merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir.

cocokkan selalu nama klien pada papan nama di tempat tidur klien dengan catatan rekam medik a 2. yaitu pemberian obat yang telah dipersiapkan dan diberikan label oleh perawat atau apoteker yang bersangkutan. Untuk menghindari kesalahan pemberian. segera tarik obat yang akan diberikan dan cocokkan dengan catatan pemberian obat atau order obat. Klien mengatakan bahwa dosis obat berubah dari biasanya b. Perawat dapat melakukan pengecekkan ulang dengan tim medis bila terdapat keraguan dengan kesesuaian dosis obat. Beberapa obat harus diberikan dalam waktu yang bersamaan c.´ Bila mendengar hal demikian. Farmasist atau apoteker salah memberikan obat dengan obat yang hamper sama dengan obat yang dipesankan b. Dosis obat yang diinginkan dalam jumlah yang besar . mengetahui nama generic atau merk dagang obat serta manfaat obat tersebut diberikan kepada klien. Kesalahan pemberian obat dapat terjadi ketika dalam situasi : a. Apoteker atau perawat salah memberikan obat yang mempunyai nama / merk sama dengan obat yang dimaksud c. dan mendengarkan dengan teliti komentar klien tentang obat yang diberikan.Kesalahan pemberian dosis obat dapat dihindari bila baik perawat dan apoteker sama-sama mengetahui dosis yang diberikan. berarti obat yang diberikan memang dosis yang diinginkan oleh tim medis dan dosis tersebut telah sesuai untuk klien.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi satu ruangan atau unit. misalnya ³ ini tidak seperti obat yang kemarin saya minum. Kesalahan dosis obat dapat terjadi bila tim medis memberikan obat yang tidak sesuai dengan klien. Lakukan pengecekkan ulang terhadap dosis obat yang diberikan bila: a. apoteker salah mengeluarkan jumlah obat. berarti obat yang diberikan adalah obat yang memeng diminta untuk diberikan kepada klien tersebut sesuai dengan dosis yang diinginkan tim medis. 3.. Perawat salah mengidentifikasi obat Untuk mengurangi kesalahan pemberian obat dapat digunakan sistem ³dosis obat per unit´. Tim medis atau pemberi resep salah menuliskan obat atau obat tersebut tidak sesuai dengan klien d. perawat salah memberikan dosis obat. Benar Obat. perawat atau asisten perawat salah menuliskan kembali obat-obatan yang diresepkan oleh tim medis. Benar Dosis Obat. Perawat memberikan obat yang tidak dipersiapkan oleh perawat sendiri e. memeriksa kembali label obat yang akan diberikan dengan catatan pemberian obat.

Turnikel 6. Perlak dan alasnya 8. SC. Alat dan Bahan a. Masalah ketepatan waktu juga sangat berbeda pada beberapa institusi. Jika pemberian obat dilakukan dengan cara injeksi. segera lakukan klarifikasi dengan tim medis atau pemberi instruksi tersebut. dan area pemberian (intradermal. artinya adalah memberikan obat sesuai dengan frekuensi dan waktu yang sudah ditetapkan. harus tercantum alasan mengapa perawat tidak memberikan obat dengan cara semestinya. Bila cara pemberian dinilai kurang tidak atau kurang cocok dengan kondisi klien. 4. Tempat untuk menampung kotoran 7. Benar Waktu Pemberian. Dokumentasi yang detail dibutuhkan bila ternyata perawat tidak memberikan obat tersebut pada waktu seperti biasanya. Bak spoit steril 5. atau IM). Benar Cara Pemberian. Gunting 9. 6. Obat-obatan yang diperlukan (ampul atau vial) 2. Baskom berisi larutan desinfektan untuk mencuci tangan . 5. Untuk memastikan obat diberikan melalui cara yang sesuai. perawat harus mengetahui cara pemberian obat yang biasa digunakan dan cara pemberian obat yang aman bila harus sesuai dengan instruksi yang diberikan. artinya adalah memberikan obat sesuai dengan pesanan medis dan cara tersebut aman dan sesuai untuk klien. Lakukan validasi ulang terhadap obat sebelum melakukan pemberian obat. Tim medis dalam menuliskan resep atau instruksi harus menjelaskan cara pemberian obat dengan spesifik. 1. cara. Plester 10. Bengkok 3.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi d. misalnya ada institusi yang menganggap pemberian obat setengah jam sampai 1 jam sebelum atau sesudah waktu yang seharusnya sebagai ³tepat waktu´. dosis. Jumlah sediaan obat yang tersedia dari apoteker tidak sesuai dengan dosis obat yang harus diberikan kepada klien 4. Kapas aseptik 4. Dokumentasikan pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit adalah waktu.

kadar obat dapat dikontrol. Inhalasi Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah. atau dikehendaki onset yang cepat. . koma. Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai. Misal pada kasus pasien jantung. insulin). diare. b. tidak kooperatif. obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paruparu dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen. untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas. dapat diberikan langsung pada bronkus. e. serta umumnya paling aman. Kerugiannya timbul efek lambat. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta) c. Sublingual Cara penggunaannya. tidak sadar. Pervaginam Bentuknya hampir sama dengan obat rektal. penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah. Keuntungannya relatif aman. terhindar dari efek lintas pertama. Anatomi Target Tindakan a. Rektal Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. langsung ke pusat sasar. Oral Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Dalam inhalasi. obat ditaruh dibawah lidah. Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki. Misal obat asma. obat absorpsi tidak teratur. praktis. dimasukkan ke vagina. d. ekonomis. Handuk dan handscoen 5. obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G. Pada keadaan pasien muntah muntah. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 11.

lengan atas sisi lateral. Maka dari itu perawat harus melindungi diri dengan universal precaution. otot ventroluteal. Yaitu: abdomen. IM. dilakukan untuk uji kulit. (450) y Injeksi intramuscular. atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. Dilakukan pada otot vastus lateraris. otot dorsogluteus. dan intra kutan a. tetes telinga. Tempatnya didalam dermis. Pemberian obat melalui intravena (IV) . 6. punggung bagian atas. Eg: vena sefalika atau kubiti dari lengan. Sub kutan. h. salep. Daerah-daerah untuk obat jenis ini adalah: y Injeksi subkutan (SC). dapat dilakukan di Vena perifer lebih mudah dicapai. Aspek Keamanan dan Keselamatan Perawat harus bisa menjaga dirinya ketika memberikan obat injeksi. paha. Topikal/lokal Obat yang sifatnya lokal.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi f. (900 ) y Injeksi intradermal. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. atau lengan bagian bawah. daerah skpula dan permukaan medial paha (150) y Injeksi Intravena. vena dorsalis. Suntikan Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat. 7. klavikula pada dada. Pada bayi baru lahir: venavena pada kaki. sering sekali perawat tanpa sengaja menusuk dirinya dengan jarum suntik klien. Misal tetes mata. Perawat beresiko terajangkitnya sekurang-kurangnya 20 pathogen petensial. pada injeksi jenis ini memungkinkan absorpsi yang lenih cepat daripada SC karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. dan sisi lateral. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketka obat memasuki otot yang dalam. Parentral Digunakan tanpa melalui mulut. otot deltoid. g. punggung bagian atas permukaan ventral lengan bawah. dan kepala dapat digunakan bila tempat-tempat di atas telah digunakan. Protokol atau Prosedur Tindakan y Cara pemberian obat melalui IV. tungkai bawah. dilakukan dengan menempatkan obat ke dalam jaringan ikat longgar dibawah dermis. paha atas.

Lakukan skin test jika ada alergi terhadap pasien maka batalkan pemberian obat tetapi. Peralatan disiapkan 3.5 inci. Pastikan adanya order pengobatan 2. 24 atau 1 inci (bayi). Tentukan dan cari vena yang akan ditusuk 7. Bila vena sudah ditemukan misalnya basilika. Setelah obat masuk semua. 11. Lakukan aspirasi dengan cara menarik pengokang spoit. 22 atau 1 inci (anak-anak) dan lubang yang lebih besar untuk obat yang kental. jika tidak terisap/keluar darah berarti belum didalam vena. Siapkan spoit yang sudah berisi obat. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 13. no. no. segera cabut spuit dan buang ditempat pembuangan sesuai prosedur. darah penuh (whole blood) atau fraksi darah. Untuk mencegah vena tidak bergeser tangan yang tidak memegang spoit dapat digunakan untuk menaan vena sampai jarum masuk vena 10. maka udara harus dikeluarkan 9. atur lengan lurus dan pasang turnikel sampai vena benar-benar dapat dilihat dan diraba kemudian desinfeksi dengan menggunakan kapas alkohol 8. Bila sudah didalam vena maka lepaskan turnikel dan masukkan obat perlahan-lahan sampai habis. jika tidak ada alergi maka bisa dilanjutkan 6. volume besar atau infus cepat 1. Bila terisap darah berarti sudah didalam vena. Pemberian obat melalui sub cutan (SC) . 12. 4. Observasi keadaan pasien dan catat semua tindakan anda kemudian tanda tangan (nama terang) b. memberikan HE (healt education) dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan. Pelan tusukkan jarum kedalam vena dangan posisi jarum sejajar dengan vena dan lubang jarum menghadap keatas. Bila dalam tabung masih terdapat udara. kemudian bantu mengatur posisi yang enak. Yakinkan bahwa pasien benar. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 5.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Menggunakkam jarum: No. 20 ± 21 atau 1 ± 1.

Masukkan obat dari vial atau ampul kedalam tabung spuit dengan cara yang benar 4. Bila tidak muncul darah. Cuci tangan 15. bantu pasien pada posisi yang mana lengan. Tabung suntik insulin yang memakai ukuran dalam unit hanya dipakai untuk insulin. lalu secara hati-hati dan mantap tangan yang lain menusukkan jarum. kaki. 10. Bila tempat penusukan mengeluarkan darah maka tekan area tusukan dengan kasa steril kering sampai perdarahan berhenti. Gunakan tangan yang tidak memegang spoit untuk menghangkat dan merentangkan kulit. Kaji keefektifan obat. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. bereskan peralatan 13. c. 9.5/8 inci. 1. Peralatan disiapkan 3. lepaskan penutup secara tegak lurus sambil dan keluarkan udara dari spuit 7.25 ± 27 atau ½ .5 ml. Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda 16. Pilih area tubuh yang akan disuntik. dengan telapak tangan menghadap kearah samping atau keatas untuk kemiringan 45 derajat. Cabut spoit lalu usap dan massage pada area injeksi.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Jarum: No. Lakukan aspirasi. Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan dan atur dalam posisi yang nyaman (jangan keliru pasien. Pemberian obat melalui intra cutan . Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 2. maka segera cabut spoit untuk dibuang dan diganti dangan apoit yang baru pula. 11. maka pelanpelan dorong obat kedalam jaringan. bila muncul darah. tabung suntik: 1 ±3 ml.5 ± 1. 12. Biasanya disuntikkan 0. Pegang spoit dengan salah astu tangan antara jempol dan jari-jari pada area injeksi 8. atau yang digunakan injeksi dapat rileks) 5. Siapkan spuit. kemudian Bersihkan kulit dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar 6. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 14.

Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda d. pilih area yang bebas dari lesi. Biasanya disuntikkan 0. dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar 6.misalnya lengan kanan dan lakukan desinfeksi 5. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. Peralatan disiapkan 3.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Jarum: No. 1. nyri tekan. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 11. usaplah pelan-pelan arwa penyuntikan dengan kapas antiseptik tanpa memberikan massage(massage dapat menyebabkan oabt masuk kejaringan atau keluar melalui lubang bekas tusukan) 9.01ml. memberikan HE (healt education) dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan. bengkak dan radang. Obat ini akan menimbulkan tonjolan dibawah permukaan kulit 8. Bersihkan kulit dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar . Siapkan obat dengan mengambil obat dari ampul atau vial. Tusukkan spoit dengan sudut 15 derajat pada epidermis kemudian teruskan sampai dermis lalu dorong cairan obatnya.01 ± 0. Tentukan lokasi penyuntikan. 5. dosis dan waktu pemberian 4. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 2. Pegang erat lengan pasien dengan tangan kiri anda dan tangan yang satunya memegang spoit kearah klien 7. Pemberian obat melalui intramuskuler (IM) 1. Pilih area tubuh yang akan disuntik. Peralatan disiapkan 3. Periksa urutan medikasi terhadap rute. Cuci tangan 12. bereskan peralatan 10. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 6.1 ml. Tabung suntik: kalibrasi 1 ml dalam inkremen 0. Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan 4. kemudian bantu mengatur posisi yang enak. Pastikan adanya order pengobatan 2. Yakinkan bahwa pasien benar. Cabut spoit. 26-27.

Supositoria cenderung menjadi lunak pada suhu kamar. 2. a. Gunakan tangan yang tidak memegang spuit untuk membentangkan kulit pada area yang akan ditusuk. 7. 8. untuk efektifitasnya. bereskan peralatan 13. Bila obat sudah masuk semua. maka perlahanlahan masukkan obat dengan cara mendorong pengokang spuit 10. 9. simpan dalam lemari es sebelum/ setelah digunakan. 5. Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda y Obat Jenis Suposutoria Rektal 1. Minta klien untuk tetap berada di tempatnya selama 20 menit setelah dimasukkan. buamg dan ganti yang baru. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 12. Jika memberikan obat-obat seperti antipiretik dan bronkodilator. Bubuhkan sedikit pelumas yang larut dalam air di ujung supositoria yang telah dibuka bungkusnya dan dengan perlahan masukkan supositoria melewati sfingter anus.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 7. maka akan segera cabut spuit dan dan lakukan masage pada area penusukan 11. 3. supositoria sendiri dan perhatikan demostrasi ulang 10. Jika merupakan indikasi. Lakukan aspirasi untuk mengecek apakah jarum tidak mengenai pembuluh darah dengan cara menarik pengokang. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. ingatkan klien untuk menahan obat dan angan mengeluarkannya. Bila terisap darah. maka segera cabut spuit. dan keluarkan udara dalam spoit 8. buka penutup jarumnya dengan hati-hati. Jelaskan prosedur pada klien dan jaga privacy klien. 4. Bila tidak terisap darah. Siapkan spoit yang sudah berisi obat. . ajar klien untuk memakaki 9. Minta klien mengatur posisi yang nyaman dan anjurkan klien untuk relaksasi nafas dalam untuk melemaskan spinkter anus. Gunakan sarung tangan sewaktu memasukkan obat. pegang spoit antara jempol dan jari-jari kemudian tusukkan jarum secara tegak lurus pada sudut 90 derajat. 6.

b. baik jenisnya. Pada saat klien telah diberikan informasi tentang mamfaat / fungsi dari pemberian obat 5. jumlahnya maupun dosisnya. Hal-Hal yang Harus Diperhartikan Kebersihan alat yang digunakan dan aspek keamanan klien serta perawat 9. Aerosol (Inhalasi) 1. a. Periksa penempatan selang apakah pada tempatnya. 4. 4. Ajarkan klien untuk menggunakan alat dengan benar. (informedcontent) sebagai aspek legilitas dalam perlindungan hukum bagi perawat. perawat harus membuat perdokumentasian khusus untuk pelaksanaan penyuluhan 3. Lebih baik klien dalam posisi semi fowler atau fowler tinggi. Hal-Hal Penting yang Harus Dicatat 1. kesehatan pada klien dan keluarganya. yang dilakukan. y Selang Nasogatrik dan gastronomi Selang nasogastrik dan gastrostomi 1. 3. Nebulizer dan alat ukuran dosis yang dapat dipegang oleh tangan. Umumnya obat dimasukkan ke dalam vagina dengan aplikator. 3. lepaskan klem. 2. 7. pertanggungjawaban adiministrasi pengobatan pada pihak R. 8. Tuang obat ke dalam tabung suntik tanpa pendorong. Catat semua alat yang digunakan.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi b. Jika hasil pengkajian menunjukkan bahwa perlu dilakukan pendidikan kesehatn maka 2. sebagai 8. 2.S .maka perawat segera membuat urat persetujuan tindakan medik 6. dan biarkan obat mengalir masuk sebagaimana mestinya. Klem tabung dan angkat jarum suntik. Bilas selang dengan 50 ml air (lihat pada aturan yang tersedia untuk jumlah yang tepat). Vaginal Prinsipnya mirip dengan supositoria rektal.

pada pukul 13. 12. www.com. Obat (Biomedik Farmakologi). www. A. Fundamentals of nursing: concept. and practice. Bentuk dan Rute Obat. process.scrib. pukul 12. Style Sheet. Pastikan kebenaran akan setiap pencatatan yang dilakukan 14. P.com . Yasmin Asih. Catat kapan pemberian obat dan obat oapa yang telah diberikan serta Catat perubahan 11.00 WIB) Setyawati. pukul 13.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 9. (diunduh pada tanggal 7 April 2011. (2005).30 WIB) . R. www. yang dirasakan oleh pasien setelah pemberian obat tersebut. Style Sheet.scrib. (2009). (Terj. 4. Ed. (diunduh pada tanggal 7 April 2011.scrib. et al)..com.00 WIB) Potter. Jakarta: EGC Sanjoyo. Cara Pemberian Obat. A. dan Perry. Dokumentasi harus segera dilakukan pada setiap pelaksanaan pemberian obat 13. (diunduh pada tanggal 7 April 2011. Mencatat nama perawat yang melakukan penyuntuikan serta tanda tangan Daftar Pustaka Anonymous. Buat laporan dengan mencatat langkah-langkah prosedur pemberian obat 10. P. G.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful