LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTIK KEPERAWATAN DEwAsa I Pemberian Medikasi Oleh: Hesi Oktamiati, 0906629391

1.

Pengertian Tindakan Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting perawat. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki masalah kesehatan. Suatu obat, atau medikasi adalah zat yang digunakan dalam diagnosis, terapi, peyembuhan, penurunan, atau pencegahan penyakit. a. Pulvis (Serbuk) merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. b. Pulveres merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. c. Tablet (Compressi) merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. d. Pilulae (PIL) merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu. e. Kapsulae (Kapsul) merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. f. Solutiones (Larutan) merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahanbahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).

Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam). emulsi. Guttae Oris (tets mulut). h.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi g. Injectiones (Injeksi) merupakan sediaan steril berupa larutan. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. j. k. yang diberikan melalui rektal. emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Suppositoria merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. Guttae Ophtalmicae (tetes mata). Unguenta (Salep) merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. 1. Benar Klien. Kesalahan identifikasi klien dapat terjadi jika terdapat 2 orang klien dengan nama yang sama atau mirip berada pada . atau suspensi. dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar. digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Guttae Nasales (tetes hidung). melunak atau melarut pada suhu tubuh. i. Guttae (Obat Tetes) merupakan sediaan cairan berupa larutan. Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Guttae Auriculares (tetes telinga). Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. 3. berarti bahwa obat yang diberikan memang benar dan sudah dipastikan harus diberikan kepada klien yang bersangkutan. umumnya meleleh. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut 2. Kompetensi Dasar yang harus Dimiliki untuk Melakukan Tindakan Kompetensi yang harus dimiliki perawat adalah perawat harus memahami prinsip enam benar pemberian obat. vagina atau uretra. Tujuan Tindakan Untuk memberikan pengobatan kepada pasien. agar pasien dapat mempertahankan status kesehatannya atau memulihan status kesehatan klien.

misalnya ³ ini tidak seperti obat yang kemarin saya minum. Perawat memberikan obat yang tidak dipersiapkan oleh perawat sendiri e. Benar Dosis Obat. Untuk menghindari kesalahan pemberian. mengetahui nama generic atau merk dagang obat serta manfaat obat tersebut diberikan kepada klien. yaitu pemberian obat yang telah dipersiapkan dan diberikan label oleh perawat atau apoteker yang bersangkutan. Perawat salah mengidentifikasi obat Untuk mengurangi kesalahan pemberian obat dapat digunakan sistem ³dosis obat per unit´. memeriksa kembali label obat yang akan diberikan dengan catatan pemberian obat. Kesalahan pemberian obat dapat terjadi ketika dalam situasi : a.Kesalahan pemberian dosis obat dapat dihindari bila baik perawat dan apoteker sama-sama mengetahui dosis yang diberikan. Tim medis atau pemberi resep salah menuliskan obat atau obat tersebut tidak sesuai dengan klien d. Klien mengatakan bahwa dosis obat berubah dari biasanya b.. Benar Obat.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi satu ruangan atau unit. apoteker salah mengeluarkan jumlah obat. segera tarik obat yang akan diberikan dan cocokkan dengan catatan pemberian obat atau order obat. Lakukan pengecekkan ulang terhadap dosis obat yang diberikan bila: a. cocokkan selalu nama klien pada papan nama di tempat tidur klien dengan catatan rekam medik a 2. perawat atau asisten perawat salah menuliskan kembali obat-obatan yang diresepkan oleh tim medis. berarti obat yang diberikan memang dosis yang diinginkan oleh tim medis dan dosis tersebut telah sesuai untuk klien. Beberapa obat harus diberikan dalam waktu yang bersamaan c. Dosis obat yang diinginkan dalam jumlah yang besar . Farmasist atau apoteker salah memberikan obat dengan obat yang hamper sama dengan obat yang dipesankan b. perawat salah memberikan dosis obat. Kesalahan dosis obat dapat terjadi bila tim medis memberikan obat yang tidak sesuai dengan klien. Perawat dapat melakukan pengecekkan ulang dengan tim medis bila terdapat keraguan dengan kesesuaian dosis obat. dan mendengarkan dengan teliti komentar klien tentang obat yang diberikan.´ Bila mendengar hal demikian. Apoteker atau perawat salah memberikan obat yang mempunyai nama / merk sama dengan obat yang dimaksud c. 3. berarti obat yang diberikan adalah obat yang memeng diminta untuk diberikan kepada klien tersebut sesuai dengan dosis yang diinginkan tim medis.

artinya adalah memberikan obat sesuai dengan pesanan medis dan cara tersebut aman dan sesuai untuk klien. perawat harus mengetahui cara pemberian obat yang biasa digunakan dan cara pemberian obat yang aman bila harus sesuai dengan instruksi yang diberikan. 5. Dokumentasi yang detail dibutuhkan bila ternyata perawat tidak memberikan obat tersebut pada waktu seperti biasanya. dosis. Plester 10. Kapas aseptik 4. Tempat untuk menampung kotoran 7. Benar Waktu Pemberian. Obat-obatan yang diperlukan (ampul atau vial) 2. Bila cara pemberian dinilai kurang tidak atau kurang cocok dengan kondisi klien. Jumlah sediaan obat yang tersedia dari apoteker tidak sesuai dengan dosis obat yang harus diberikan kepada klien 4.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi d. cara. segera lakukan klarifikasi dengan tim medis atau pemberi instruksi tersebut. Perlak dan alasnya 8. Benar Cara Pemberian. SC. dan area pemberian (intradermal. Baskom berisi larutan desinfektan untuk mencuci tangan . Bak spoit steril 5. misalnya ada institusi yang menganggap pemberian obat setengah jam sampai 1 jam sebelum atau sesudah waktu yang seharusnya sebagai ³tepat waktu´. Jika pemberian obat dilakukan dengan cara injeksi. 4. Tim medis dalam menuliskan resep atau instruksi harus menjelaskan cara pemberian obat dengan spesifik. Masalah ketepatan waktu juga sangat berbeda pada beberapa institusi. 1. 6. atau IM). Bengkok 3. harus tercantum alasan mengapa perawat tidak memberikan obat dengan cara semestinya. Turnikel 6. Lakukan validasi ulang terhadap obat sebelum melakukan pemberian obat. artinya adalah memberikan obat sesuai dengan frekuensi dan waktu yang sudah ditetapkan. Untuk memastikan obat diberikan melalui cara yang sesuai. Gunting 9. Dokumentasikan pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit adalah waktu. Alat dan Bahan a.

koma. kadar obat dapat dikontrol. b.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 11. tidak sadar. Anatomi Target Tindakan a. Pada keadaan pasien muntah muntah. Inhalasi Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). Handuk dan handscoen 5. Keuntungannya relatif aman. obat ditaruh dibawah lidah. diare. insulin). Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik. tidak kooperatif. terhindar dari efek lintas pertama. obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paruparu dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan. Oral Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. dimasukkan ke vagina. obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G. tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah. Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. e. Sublingual Cara penggunaannya. Misal obat asma. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta) c. Pervaginam Bentuknya hampir sama dengan obat rektal. atau dikehendaki onset yang cepat. Misal pada kasus pasien jantung. dapat diberikan langsung pada bronkus. penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai. obat absorpsi tidak teratur. ekonomis. . langsung ke pusat sasar. serta umumnya paling aman. Rektal Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen. Dalam inhalasi. d. Kerugiannya timbul efek lambat. penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah. untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas. praktis.

g. punggung bagian atas permukaan ventral lengan bawah. h. punggung bagian atas. lengan atas sisi lateral. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. Misal tetes mata. atau lengan bagian bawah. Yaitu: abdomen. Pada bayi baru lahir: venavena pada kaki. atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. Eg: vena sefalika atau kubiti dari lengan. daerah skpula dan permukaan medial paha (150) y Injeksi Intravena.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi f. Topikal/lokal Obat yang sifatnya lokal. pada injeksi jenis ini memungkinkan absorpsi yang lenih cepat daripada SC karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Perawat beresiko terajangkitnya sekurang-kurangnya 20 pathogen petensial. tetes telinga. Aspek Keamanan dan Keselamatan Perawat harus bisa menjaga dirinya ketika memberikan obat injeksi. (900 ) y Injeksi intradermal. Suntikan Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat. Dilakukan pada otot vastus lateraris. vena dorsalis. paha. dilakukan dengan menempatkan obat ke dalam jaringan ikat longgar dibawah dermis. dan intra kutan a. 7. Sub kutan. Daerah-daerah untuk obat jenis ini adalah: y Injeksi subkutan (SC). klavikula pada dada. dapat dilakukan di Vena perifer lebih mudah dicapai. otot deltoid. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketka obat memasuki otot yang dalam. dilakukan untuk uji kulit. otot ventroluteal. Tempatnya didalam dermis. otot dorsogluteus. Protokol atau Prosedur Tindakan y Cara pemberian obat melalui IV. tungkai bawah. (450) y Injeksi intramuscular. IM. salep. dan kepala dapat digunakan bila tempat-tempat di atas telah digunakan. paha atas. Maka dari itu perawat harus melindungi diri dengan universal precaution. dan sisi lateral. sering sekali perawat tanpa sengaja menusuk dirinya dengan jarum suntik klien. Parentral Digunakan tanpa melalui mulut. 6. Pemberian obat melalui intravena (IV) .

Pastikan adanya order pengobatan 2. memberikan HE (healt education) dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan. volume besar atau infus cepat 1. segera cabut spuit dan buang ditempat pembuangan sesuai prosedur. Observasi keadaan pasien dan catat semua tindakan anda kemudian tanda tangan (nama terang) b. jika tidak terisap/keluar darah berarti belum didalam vena. 11. Lakukan skin test jika ada alergi terhadap pasien maka batalkan pemberian obat tetapi. Tentukan dan cari vena yang akan ditusuk 7. Peralatan disiapkan 3. Bila terisap darah berarti sudah didalam vena. Untuk mencegah vena tidak bergeser tangan yang tidak memegang spoit dapat digunakan untuk menaan vena sampai jarum masuk vena 10. Siapkan spoit yang sudah berisi obat. 4. darah penuh (whole blood) atau fraksi darah. 20 ± 21 atau 1 ± 1. kemudian bantu mengatur posisi yang enak. Lakukan aspirasi dengan cara menarik pengokang spoit. Bila dalam tabung masih terdapat udara. maka udara harus dikeluarkan 9. Setelah obat masuk semua.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Menggunakkam jarum: No. Yakinkan bahwa pasien benar. Bila vena sudah ditemukan misalnya basilika. jika tidak ada alergi maka bisa dilanjutkan 6. 22 atau 1 inci (anak-anak) dan lubang yang lebih besar untuk obat yang kental. 24 atau 1 inci (bayi). Pemberian obat melalui sub cutan (SC) . no. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 13. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 5. 12. atur lengan lurus dan pasang turnikel sampai vena benar-benar dapat dilihat dan diraba kemudian desinfeksi dengan menggunakan kapas alkohol 8. no. Bila sudah didalam vena maka lepaskan turnikel dan masukkan obat perlahan-lahan sampai habis.5 inci. Pelan tusukkan jarum kedalam vena dangan posisi jarum sejajar dengan vena dan lubang jarum menghadap keatas.

c. Masukkan obat dari vial atau ampul kedalam tabung spuit dengan cara yang benar 4. Lakukan aspirasi. Bila tidak muncul darah. Cuci tangan 15.5 ml. Peralatan disiapkan 3. bereskan peralatan 13.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Jarum: No.5/8 inci. Pemberian obat melalui intra cutan . Cabut spoit lalu usap dan massage pada area injeksi. Siapkan spuit.5 ± 1. lepaskan penutup secara tegak lurus sambil dan keluarkan udara dari spuit 7. Biasanya disuntikkan 0. kaki. lalu secara hati-hati dan mantap tangan yang lain menusukkan jarum. bantu pasien pada posisi yang mana lengan.25 ± 27 atau ½ . Pegang spoit dengan salah astu tangan antara jempol dan jari-jari pada area injeksi 8. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 2. Pilih area tubuh yang akan disuntik. Kaji keefektifan obat. 10. Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda 16. kemudian Bersihkan kulit dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar 6. 11. atau yang digunakan injeksi dapat rileks) 5. Gunakan tangan yang tidak memegang spoit untuk menghangkat dan merentangkan kulit. 12. 9. dengan telapak tangan menghadap kearah samping atau keatas untuk kemiringan 45 derajat. 1. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 14. Tabung suntik insulin yang memakai ukuran dalam unit hanya dipakai untuk insulin. maka segera cabut spoit untuk dibuang dan diganti dangan apoit yang baru pula. bila muncul darah. Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan dan atur dalam posisi yang nyaman (jangan keliru pasien. maka pelanpelan dorong obat kedalam jaringan. Bila tempat penusukan mengeluarkan darah maka tekan area tusukan dengan kasa steril kering sampai perdarahan berhenti. tabung suntik: 1 ±3 ml.

nyri tekan. Pegang erat lengan pasien dengan tangan kiri anda dan tangan yang satunya memegang spoit kearah klien 7. Siapkan obat dengan mengambil obat dari ampul atau vial. Pilih area tubuh yang akan disuntik. Obat ini akan menimbulkan tonjolan dibawah permukaan kulit 8. Periksa urutan medikasi terhadap rute. dosis dan waktu pemberian 4.1 ml. bereskan peralatan 10. kemudian bantu mengatur posisi yang enak. Yakinkan bahwa pasien benar. Pastikan adanya order pengobatan 2. memberikan HE (healt education) dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan. Bersihkan kulit dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar . Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda d. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 6.misalnya lengan kanan dan lakukan desinfeksi 5. Cuci tangan 12. 26-27. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 11. 1. Cabut spoit. Tusukkan spoit dengan sudut 15 derajat pada epidermis kemudian teruskan sampai dermis lalu dorong cairan obatnya. Peralatan disiapkan 3. Biasanya disuntikkan 0. usaplah pelan-pelan arwa penyuntikan dengan kapas antiseptik tanpa memberikan massage(massage dapat menyebabkan oabt masuk kejaringan atau keluar melalui lubang bekas tusukan) 9. Peralatan disiapkan 3.01 ± 0. Tabung suntik: kalibrasi 1 ml dalam inkremen 0. Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan 4.01ml. Tentukan lokasi penyuntikan. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 2.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Jarum: No. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. pilih area yang bebas dari lesi. Pemberian obat melalui intramuskuler (IM) 1. bengkak dan radang. 5. dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar 6.

Minta klien untuk tetap berada di tempatnya selama 20 menit setelah dimasukkan. simpan dalam lemari es sebelum/ setelah digunakan. 8. maka segera cabut spuit. buka penutup jarumnya dengan hati-hati. maka akan segera cabut spuit dan dan lakukan masage pada area penusukan 11. pegang spoit antara jempol dan jari-jari kemudian tusukkan jarum secara tegak lurus pada sudut 90 derajat. 4. Jelaskan prosedur pada klien dan jaga privacy klien. Supositoria cenderung menjadi lunak pada suhu kamar. Lakukan aspirasi untuk mengecek apakah jarum tidak mengenai pembuluh darah dengan cara menarik pengokang. untuk efektifitasnya. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda y Obat Jenis Suposutoria Rektal 1. . ajar klien untuk memakaki 9. Minta klien mengatur posisi yang nyaman dan anjurkan klien untuk relaksasi nafas dalam untuk melemaskan spinkter anus. Bubuhkan sedikit pelumas yang larut dalam air di ujung supositoria yang telah dibuka bungkusnya dan dengan perlahan masukkan supositoria melewati sfingter anus. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 12. 3. Jika merupakan indikasi. Siapkan spoit yang sudah berisi obat. 6. bereskan peralatan 13. Bila terisap darah. dan keluarkan udara dalam spoit 8. ingatkan klien untuk menahan obat dan angan mengeluarkannya. Gunakan tangan yang tidak memegang spuit untuk membentangkan kulit pada area yang akan ditusuk. supositoria sendiri dan perhatikan demostrasi ulang 10. 9. a. Bila obat sudah masuk semua. 2. 5. Jika memberikan obat-obat seperti antipiretik dan bronkodilator. Gunakan sarung tangan sewaktu memasukkan obat. buamg dan ganti yang baru. Bila tidak terisap darah. 7. maka perlahanlahan masukkan obat dengan cara mendorong pengokang spuit 10.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 7.

2. yang dilakukan. Vaginal Prinsipnya mirip dengan supositoria rektal. pertanggungjawaban adiministrasi pengobatan pada pihak R. Tuang obat ke dalam tabung suntik tanpa pendorong.maka perawat segera membuat urat persetujuan tindakan medik 6.S . 3. baik jenisnya. 8. a. Pada saat klien telah diberikan informasi tentang mamfaat / fungsi dari pemberian obat 5.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi b. Nebulizer dan alat ukuran dosis yang dapat dipegang oleh tangan. Bilas selang dengan 50 ml air (lihat pada aturan yang tersedia untuk jumlah yang tepat). Hal-Hal Penting yang Harus Dicatat 1. 4. Ajarkan klien untuk menggunakan alat dengan benar. dan biarkan obat mengalir masuk sebagaimana mestinya. Hal-Hal yang Harus Diperhartikan Kebersihan alat yang digunakan dan aspek keamanan klien serta perawat 9. y Selang Nasogatrik dan gastronomi Selang nasogastrik dan gastrostomi 1. Klem tabung dan angkat jarum suntik. Umumnya obat dimasukkan ke dalam vagina dengan aplikator. 7. lepaskan klem. jumlahnya maupun dosisnya. Periksa penempatan selang apakah pada tempatnya. 3. Catat semua alat yang digunakan. perawat harus membuat perdokumentasian khusus untuk pelaksanaan penyuluhan 3. Jika hasil pengkajian menunjukkan bahwa perlu dilakukan pendidikan kesehatn maka 2. 2. (informedcontent) sebagai aspek legilitas dalam perlindungan hukum bagi perawat. kesehatan pada klien dan keluarganya. Aerosol (Inhalasi) 1. b. sebagai 8. Lebih baik klien dalam posisi semi fowler atau fowler tinggi. 4.

00 WIB) Setyawati. Catat kapan pemberian obat dan obat oapa yang telah diberikan serta Catat perubahan 11. G. www.. pukul 13. (diunduh pada tanggal 7 April 2011. Dokumentasi harus segera dilakukan pada setiap pelaksanaan pemberian obat 13. A. Fundamentals of nursing: concept.scrib. yang dirasakan oleh pasien setelah pemberian obat tersebut. pukul 12. 12.00 WIB) Potter. Ed. process. P. dan Perry.com.scrib. (2005). www.com. Yasmin Asih. Obat (Biomedik Farmakologi). (2009). P. A. Jakarta: EGC Sanjoyo. Mencatat nama perawat yang melakukan penyuntuikan serta tanda tangan Daftar Pustaka Anonymous. Bentuk dan Rute Obat. Style Sheet. and practice.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 9.30 WIB) . Buat laporan dengan mencatat langkah-langkah prosedur pemberian obat 10. (Terj. 4. pada pukul 13.com . Pastikan kebenaran akan setiap pencatatan yang dilakukan 14. et al).scrib. Style Sheet. www. R. (diunduh pada tanggal 7 April 2011. Cara Pemberian Obat. (diunduh pada tanggal 7 April 2011.