LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTIK KEPERAWATAN DEwAsa I Pemberian Medikasi Oleh: Hesi Oktamiati, 0906629391

1.

Pengertian Tindakan Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting perawat. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki masalah kesehatan. Suatu obat, atau medikasi adalah zat yang digunakan dalam diagnosis, terapi, peyembuhan, penurunan, atau pencegahan penyakit. a. Pulvis (Serbuk) merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. b. Pulveres merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. c. Tablet (Compressi) merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. d. Pilulae (PIL) merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu. e. Kapsulae (Kapsul) merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. f. Solutiones (Larutan) merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahanbahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).

atau suspensi. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Kesalahan identifikasi klien dapat terjadi jika terdapat 2 orang klien dengan nama yang sama atau mirip berada pada . umumnya meleleh. vagina atau uretra. agar pasien dapat mempertahankan status kesehatannya atau memulihan status kesehatan klien. Suppositoria merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. emulsi. 3. digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Tujuan Tindakan Untuk memberikan pengobatan kepada pasien. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Guttae Nasales (tetes hidung). Kompetensi Dasar yang harus Dimiliki untuk Melakukan Tindakan Kompetensi yang harus dimiliki perawat adalah perawat harus memahami prinsip enam benar pemberian obat. berarti bahwa obat yang diberikan memang benar dan sudah dipastikan harus diberikan kepada klien yang bersangkutan. i. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi g. k. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut 2. Unguenta (Salep) merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Guttae Ophtalmicae (tetes mata). melunak atau melarut pada suhu tubuh. Injectiones (Injeksi) merupakan sediaan steril berupa larutan. h. Benar Klien. Guttae Auriculares (tetes telinga). 1. Guttae (Obat Tetes) merupakan sediaan cairan berupa larutan. yang diberikan melalui rektal. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam). dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar. Guttae Oris (tets mulut). j.

cocokkan selalu nama klien pada papan nama di tempat tidur klien dengan catatan rekam medik a 2. berarti obat yang diberikan adalah obat yang memeng diminta untuk diberikan kepada klien tersebut sesuai dengan dosis yang diinginkan tim medis. Untuk menghindari kesalahan pemberian. Benar Obat. Kesalahan dosis obat dapat terjadi bila tim medis memberikan obat yang tidak sesuai dengan klien. Perawat salah mengidentifikasi obat Untuk mengurangi kesalahan pemberian obat dapat digunakan sistem ³dosis obat per unit´. memeriksa kembali label obat yang akan diberikan dengan catatan pemberian obat. apoteker salah mengeluarkan jumlah obat. Farmasist atau apoteker salah memberikan obat dengan obat yang hamper sama dengan obat yang dipesankan b. mengetahui nama generic atau merk dagang obat serta manfaat obat tersebut diberikan kepada klien. dan mendengarkan dengan teliti komentar klien tentang obat yang diberikan. Apoteker atau perawat salah memberikan obat yang mempunyai nama / merk sama dengan obat yang dimaksud c. Dosis obat yang diinginkan dalam jumlah yang besar . berarti obat yang diberikan memang dosis yang diinginkan oleh tim medis dan dosis tersebut telah sesuai untuk klien.´ Bila mendengar hal demikian.Kesalahan pemberian dosis obat dapat dihindari bila baik perawat dan apoteker sama-sama mengetahui dosis yang diberikan. Perawat memberikan obat yang tidak dipersiapkan oleh perawat sendiri e.. perawat atau asisten perawat salah menuliskan kembali obat-obatan yang diresepkan oleh tim medis. 3.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi satu ruangan atau unit. Beberapa obat harus diberikan dalam waktu yang bersamaan c. Tim medis atau pemberi resep salah menuliskan obat atau obat tersebut tidak sesuai dengan klien d. Perawat dapat melakukan pengecekkan ulang dengan tim medis bila terdapat keraguan dengan kesesuaian dosis obat. Lakukan pengecekkan ulang terhadap dosis obat yang diberikan bila: a. segera tarik obat yang akan diberikan dan cocokkan dengan catatan pemberian obat atau order obat. perawat salah memberikan dosis obat. Klien mengatakan bahwa dosis obat berubah dari biasanya b. yaitu pemberian obat yang telah dipersiapkan dan diberikan label oleh perawat atau apoteker yang bersangkutan. misalnya ³ ini tidak seperti obat yang kemarin saya minum. Benar Dosis Obat. Kesalahan pemberian obat dapat terjadi ketika dalam situasi : a.

atau IM). Kapas aseptik 4. 1. Lakukan validasi ulang terhadap obat sebelum melakukan pemberian obat. dan area pemberian (intradermal. artinya adalah memberikan obat sesuai dengan frekuensi dan waktu yang sudah ditetapkan. cara. harus tercantum alasan mengapa perawat tidak memberikan obat dengan cara semestinya. 5. Dokumentasi yang detail dibutuhkan bila ternyata perawat tidak memberikan obat tersebut pada waktu seperti biasanya. Alat dan Bahan a. Jika pemberian obat dilakukan dengan cara injeksi. Obat-obatan yang diperlukan (ampul atau vial) 2. Untuk memastikan obat diberikan melalui cara yang sesuai. Gunting 9. Bengkok 3. Perlak dan alasnya 8. Jumlah sediaan obat yang tersedia dari apoteker tidak sesuai dengan dosis obat yang harus diberikan kepada klien 4. segera lakukan klarifikasi dengan tim medis atau pemberi instruksi tersebut. Masalah ketepatan waktu juga sangat berbeda pada beberapa institusi. artinya adalah memberikan obat sesuai dengan pesanan medis dan cara tersebut aman dan sesuai untuk klien. perawat harus mengetahui cara pemberian obat yang biasa digunakan dan cara pemberian obat yang aman bila harus sesuai dengan instruksi yang diberikan. Bak spoit steril 5. Benar Waktu Pemberian. Benar Cara Pemberian. Turnikel 6. Tempat untuk menampung kotoran 7. Bila cara pemberian dinilai kurang tidak atau kurang cocok dengan kondisi klien. dosis. SC. Plester 10. Baskom berisi larutan desinfektan untuk mencuci tangan . Tim medis dalam menuliskan resep atau instruksi harus menjelaskan cara pemberian obat dengan spesifik. misalnya ada institusi yang menganggap pemberian obat setengah jam sampai 1 jam sebelum atau sesudah waktu yang seharusnya sebagai ³tepat waktu´. 4. Dokumentasikan pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit adalah waktu. 6.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi d.

Misal obat asma. serta umumnya paling aman. Kerugiannya timbul efek lambat. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. e. Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki. praktis. d. Sublingual Cara penggunaannya. insulin). Keuntungannya relatif aman. koma. . Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 11. tidak sadar. Misal pada kasus pasien jantung. penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah. Anatomi Target Tindakan a. obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta) c. penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai. dimasukkan ke vagina. langsung ke pusat sasar. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Oral Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Inhalasi Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). obat ditaruh dibawah lidah. dapat diberikan langsung pada bronkus. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen. Handuk dan handscoen 5. Pervaginam Bentuknya hampir sama dengan obat rektal. kadar obat dapat dikontrol. Pada keadaan pasien muntah muntah. obat absorpsi tidak teratur. ekonomis. b. Dalam inhalasi. tidak kooperatif. obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paruparu dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan. untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas. Rektal Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah. terhindar dari efek lintas pertama. atau dikehendaki onset yang cepat. diare.

paha. Dilakukan pada otot vastus lateraris. lengan atas sisi lateral. (900 ) y Injeksi intradermal. dilakukan untuk uji kulit. Suntikan Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat. Tempatnya didalam dermis. dilakukan dengan menempatkan obat ke dalam jaringan ikat longgar dibawah dermis. dan sisi lateral. klavikula pada dada. atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. Eg: vena sefalika atau kubiti dari lengan. otot ventroluteal. atau lengan bagian bawah. dan intra kutan a.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi f. Pada bayi baru lahir: venavena pada kaki. Daerah-daerah untuk obat jenis ini adalah: y Injeksi subkutan (SC). sering sekali perawat tanpa sengaja menusuk dirinya dengan jarum suntik klien. (450) y Injeksi intramuscular. vena dorsalis. Misal tetes mata. Perawat beresiko terajangkitnya sekurang-kurangnya 20 pathogen petensial. paha atas. dan kepala dapat digunakan bila tempat-tempat di atas telah digunakan. h. punggung bagian atas. tungkai bawah. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketka obat memasuki otot yang dalam. g. 6. daerah skpula dan permukaan medial paha (150) y Injeksi Intravena. dapat dilakukan di Vena perifer lebih mudah dicapai. 7. Parentral Digunakan tanpa melalui mulut. otot deltoid. punggung bagian atas permukaan ventral lengan bawah. IM. Yaitu: abdomen. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. Sub kutan. tetes telinga. salep. Topikal/lokal Obat yang sifatnya lokal. Aspek Keamanan dan Keselamatan Perawat harus bisa menjaga dirinya ketika memberikan obat injeksi. Protokol atau Prosedur Tindakan y Cara pemberian obat melalui IV. otot dorsogluteus. Pemberian obat melalui intravena (IV) . pada injeksi jenis ini memungkinkan absorpsi yang lenih cepat daripada SC karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Maka dari itu perawat harus melindungi diri dengan universal precaution.

volume besar atau infus cepat 1. Pelan tusukkan jarum kedalam vena dangan posisi jarum sejajar dengan vena dan lubang jarum menghadap keatas. Lakukan aspirasi dengan cara menarik pengokang spoit. Yakinkan bahwa pasien benar. maka udara harus dikeluarkan 9. 20 ± 21 atau 1 ± 1. darah penuh (whole blood) atau fraksi darah. Pemberian obat melalui sub cutan (SC) . 22 atau 1 inci (anak-anak) dan lubang yang lebih besar untuk obat yang kental. Observasi keadaan pasien dan catat semua tindakan anda kemudian tanda tangan (nama terang) b. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 13. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 5. segera cabut spuit dan buang ditempat pembuangan sesuai prosedur. Setelah obat masuk semua. kemudian bantu mengatur posisi yang enak. Pastikan adanya order pengobatan 2. Bila sudah didalam vena maka lepaskan turnikel dan masukkan obat perlahan-lahan sampai habis. Lakukan skin test jika ada alergi terhadap pasien maka batalkan pemberian obat tetapi.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Menggunakkam jarum: No.5 inci. 11. Siapkan spoit yang sudah berisi obat. jika tidak ada alergi maka bisa dilanjutkan 6. 12. Tentukan dan cari vena yang akan ditusuk 7. no. Bila vena sudah ditemukan misalnya basilika. jika tidak terisap/keluar darah berarti belum didalam vena. 24 atau 1 inci (bayi). Untuk mencegah vena tidak bergeser tangan yang tidak memegang spoit dapat digunakan untuk menaan vena sampai jarum masuk vena 10. 4. no. Bila dalam tabung masih terdapat udara. Bila terisap darah berarti sudah didalam vena. Peralatan disiapkan 3. memberikan HE (healt education) dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan. atur lengan lurus dan pasang turnikel sampai vena benar-benar dapat dilihat dan diraba kemudian desinfeksi dengan menggunakan kapas alkohol 8.

maka segera cabut spoit untuk dibuang dan diganti dangan apoit yang baru pula. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 2.5 ml. dengan telapak tangan menghadap kearah samping atau keatas untuk kemiringan 45 derajat. 11. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda 16.5/8 inci. tabung suntik: 1 ±3 ml.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Jarum: No. Cabut spoit lalu usap dan massage pada area injeksi. Peralatan disiapkan 3. bereskan peralatan 13. Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan dan atur dalam posisi yang nyaman (jangan keliru pasien.5 ± 1. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 14. 9. Bila tidak muncul darah. Pilih area tubuh yang akan disuntik. maka pelanpelan dorong obat kedalam jaringan. Siapkan spuit. Gunakan tangan yang tidak memegang spoit untuk menghangkat dan merentangkan kulit. kemudian Bersihkan kulit dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar 6. Masukkan obat dari vial atau ampul kedalam tabung spuit dengan cara yang benar 4. lepaskan penutup secara tegak lurus sambil dan keluarkan udara dari spuit 7. Lakukan aspirasi. 12. atau yang digunakan injeksi dapat rileks) 5. Kaji keefektifan obat. Pegang spoit dengan salah astu tangan antara jempol dan jari-jari pada area injeksi 8. c.25 ± 27 atau ½ . Biasanya disuntikkan 0. bila muncul darah. kaki. lalu secara hati-hati dan mantap tangan yang lain menusukkan jarum. Cuci tangan 15. 10. Tabung suntik insulin yang memakai ukuran dalam unit hanya dipakai untuk insulin. 1. Pemberian obat melalui intra cutan . bantu pasien pada posisi yang mana lengan. Bila tempat penusukan mengeluarkan darah maka tekan area tusukan dengan kasa steril kering sampai perdarahan berhenti.

26-27. Pegang erat lengan pasien dengan tangan kiri anda dan tangan yang satunya memegang spoit kearah klien 7. Pilih area tubuh yang akan disuntik. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. Tabung suntik: kalibrasi 1 ml dalam inkremen 0. Bersihkan kulit dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar .1 ml. Tentukan lokasi penyuntikan. bengkak dan radang. Pemberian obat melalui intramuskuler (IM) 1. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 2. Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan 4. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 11. Peralatan disiapkan 3. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 6. Tusukkan spoit dengan sudut 15 derajat pada epidermis kemudian teruskan sampai dermis lalu dorong cairan obatnya. Obat ini akan menimbulkan tonjolan dibawah permukaan kulit 8. Biasanya disuntikkan 0.01ml. Peralatan disiapkan 3. usaplah pelan-pelan arwa penyuntikan dengan kapas antiseptik tanpa memberikan massage(massage dapat menyebabkan oabt masuk kejaringan atau keluar melalui lubang bekas tusukan) 9. Periksa urutan medikasi terhadap rute. Cuci tangan 12. Yakinkan bahwa pasien benar. dosis dan waktu pemberian 4.misalnya lengan kanan dan lakukan desinfeksi 5. Siapkan obat dengan mengambil obat dari ampul atau vial. bereskan peralatan 10. dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar 6. Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda d. Cabut spoit. 5. kemudian bantu mengatur posisi yang enak. nyri tekan. memberikan HE (healt education) dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan. 1.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Jarum: No.01 ± 0. pilih area yang bebas dari lesi. Pastikan adanya order pengobatan 2.

Jelaskan prosedur pada klien dan jaga privacy klien. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 12. 9. buka penutup jarumnya dengan hati-hati. 5. 7. maka segera cabut spuit. Supositoria cenderung menjadi lunak pada suhu kamar. Gunakan sarung tangan sewaktu memasukkan obat. Gunakan tangan yang tidak memegang spuit untuk membentangkan kulit pada area yang akan ditusuk. simpan dalam lemari es sebelum/ setelah digunakan. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. Bila obat sudah masuk semua. untuk efektifitasnya. ajar klien untuk memakaki 9. ingatkan klien untuk menahan obat dan angan mengeluarkannya. bereskan peralatan 13.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 7. dan keluarkan udara dalam spoit 8. 6. Lakukan aspirasi untuk mengecek apakah jarum tidak mengenai pembuluh darah dengan cara menarik pengokang. Bila terisap darah. Bubuhkan sedikit pelumas yang larut dalam air di ujung supositoria yang telah dibuka bungkusnya dan dengan perlahan masukkan supositoria melewati sfingter anus. 2. supositoria sendiri dan perhatikan demostrasi ulang 10. Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda y Obat Jenis Suposutoria Rektal 1. maka akan segera cabut spuit dan dan lakukan masage pada area penusukan 11. buamg dan ganti yang baru. Jika memberikan obat-obat seperti antipiretik dan bronkodilator. 4. . Bila tidak terisap darah. Siapkan spoit yang sudah berisi obat. 8. Minta klien mengatur posisi yang nyaman dan anjurkan klien untuk relaksasi nafas dalam untuk melemaskan spinkter anus. maka perlahanlahan masukkan obat dengan cara mendorong pengokang spuit 10. Jika merupakan indikasi. pegang spoit antara jempol dan jari-jari kemudian tusukkan jarum secara tegak lurus pada sudut 90 derajat. 3. a. Minta klien untuk tetap berada di tempatnya selama 20 menit setelah dimasukkan.

yang dilakukan. b. Catat semua alat yang digunakan. a. baik jenisnya. Ajarkan klien untuk menggunakan alat dengan benar. pertanggungjawaban adiministrasi pengobatan pada pihak R. 8. lepaskan klem. jumlahnya maupun dosisnya. perawat harus membuat perdokumentasian khusus untuk pelaksanaan penyuluhan 3. Jika hasil pengkajian menunjukkan bahwa perlu dilakukan pendidikan kesehatn maka 2. Vaginal Prinsipnya mirip dengan supositoria rektal. 7.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi b. Hal-Hal yang Harus Diperhartikan Kebersihan alat yang digunakan dan aspek keamanan klien serta perawat 9. 2. 4. Umumnya obat dimasukkan ke dalam vagina dengan aplikator.S . sebagai 8. Hal-Hal Penting yang Harus Dicatat 1. kesehatan pada klien dan keluarganya. Periksa penempatan selang apakah pada tempatnya. (informedcontent) sebagai aspek legilitas dalam perlindungan hukum bagi perawat. Bilas selang dengan 50 ml air (lihat pada aturan yang tersedia untuk jumlah yang tepat). Nebulizer dan alat ukuran dosis yang dapat dipegang oleh tangan. Klem tabung dan angkat jarum suntik. Lebih baik klien dalam posisi semi fowler atau fowler tinggi. dan biarkan obat mengalir masuk sebagaimana mestinya. 4. 3. y Selang Nasogatrik dan gastronomi Selang nasogastrik dan gastrostomi 1.maka perawat segera membuat urat persetujuan tindakan medik 6. Pada saat klien telah diberikan informasi tentang mamfaat / fungsi dari pemberian obat 5. 3. Aerosol (Inhalasi) 1. Tuang obat ke dalam tabung suntik tanpa pendorong. 2.

www. Catat kapan pemberian obat dan obat oapa yang telah diberikan serta Catat perubahan 11. Ed.scrib. and practice. yang dirasakan oleh pasien setelah pemberian obat tersebut. A.com . Fundamentals of nursing: concept. process. Dokumentasi harus segera dilakukan pada setiap pelaksanaan pemberian obat 13. (2009).00 WIB) Potter. Cara Pemberian Obat.com.scrib.30 WIB) .. Pastikan kebenaran akan setiap pencatatan yang dilakukan 14. P.scrib. pukul 13. R. (diunduh pada tanggal 7 April 2011. (2005). (diunduh pada tanggal 7 April 2011. Obat (Biomedik Farmakologi). (Terj. Bentuk dan Rute Obat. P. Jakarta: EGC Sanjoyo. (diunduh pada tanggal 7 April 2011. Buat laporan dengan mencatat langkah-langkah prosedur pemberian obat 10. Mencatat nama perawat yang melakukan penyuntuikan serta tanda tangan Daftar Pustaka Anonymous. Style Sheet. A. Style Sheet. pukul 12. G. et al). www. 12. dan Perry.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 9.00 WIB) Setyawati.com. www. 4. pada pukul 13. Yasmin Asih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful