LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTIK KEPERAWATAN DEwAsa I Pemberian Medikasi Oleh: Hesi Oktamiati, 0906629391

1.

Pengertian Tindakan Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting perawat. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki masalah kesehatan. Suatu obat, atau medikasi adalah zat yang digunakan dalam diagnosis, terapi, peyembuhan, penurunan, atau pencegahan penyakit. a. Pulvis (Serbuk) merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. b. Pulveres merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. c. Tablet (Compressi) merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. d. Pilulae (PIL) merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu. e. Kapsulae (Kapsul) merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. f. Solutiones (Larutan) merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahanbahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).

i. umumnya meleleh. 3. Benar Klien. atau suspensi. emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. agar pasien dapat mempertahankan status kesehatannya atau memulihan status kesehatan klien. Guttae Nasales (tetes hidung). emulsi. Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Guttae Ophtalmicae (tetes mata). dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi g. Suppositoria merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. Kompetensi Dasar yang harus Dimiliki untuk Melakukan Tindakan Kompetensi yang harus dimiliki perawat adalah perawat harus memahami prinsip enam benar pemberian obat. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut 2. yang diberikan melalui rektal. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam). Guttae (Obat Tetes) merupakan sediaan cairan berupa larutan. melunak atau melarut pada suhu tubuh. h. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. 1. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. j. Guttae Oris (tets mulut). berarti bahwa obat yang diberikan memang benar dan sudah dipastikan harus diberikan kepada klien yang bersangkutan. Kesalahan identifikasi klien dapat terjadi jika terdapat 2 orang klien dengan nama yang sama atau mirip berada pada . vagina atau uretra. k. Guttae Auriculares (tetes telinga). Unguenta (Salep) merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Injectiones (Injeksi) merupakan sediaan steril berupa larutan. Tujuan Tindakan Untuk memberikan pengobatan kepada pasien.

berarti obat yang diberikan adalah obat yang memeng diminta untuk diberikan kepada klien tersebut sesuai dengan dosis yang diinginkan tim medis. cocokkan selalu nama klien pada papan nama di tempat tidur klien dengan catatan rekam medik a 2. Dosis obat yang diinginkan dalam jumlah yang besar .. memeriksa kembali label obat yang akan diberikan dengan catatan pemberian obat. perawat salah memberikan dosis obat. berarti obat yang diberikan memang dosis yang diinginkan oleh tim medis dan dosis tersebut telah sesuai untuk klien. Lakukan pengecekkan ulang terhadap dosis obat yang diberikan bila: a.Kesalahan pemberian dosis obat dapat dihindari bila baik perawat dan apoteker sama-sama mengetahui dosis yang diberikan. Perawat salah mengidentifikasi obat Untuk mengurangi kesalahan pemberian obat dapat digunakan sistem ³dosis obat per unit´. Untuk menghindari kesalahan pemberian. yaitu pemberian obat yang telah dipersiapkan dan diberikan label oleh perawat atau apoteker yang bersangkutan. segera tarik obat yang akan diberikan dan cocokkan dengan catatan pemberian obat atau order obat. Benar Dosis Obat. Farmasist atau apoteker salah memberikan obat dengan obat yang hamper sama dengan obat yang dipesankan b. Tim medis atau pemberi resep salah menuliskan obat atau obat tersebut tidak sesuai dengan klien d. Benar Obat. dan mendengarkan dengan teliti komentar klien tentang obat yang diberikan. apoteker salah mengeluarkan jumlah obat. Kesalahan dosis obat dapat terjadi bila tim medis memberikan obat yang tidak sesuai dengan klien. misalnya ³ ini tidak seperti obat yang kemarin saya minum. 3. Klien mengatakan bahwa dosis obat berubah dari biasanya b. Kesalahan pemberian obat dapat terjadi ketika dalam situasi : a. Perawat dapat melakukan pengecekkan ulang dengan tim medis bila terdapat keraguan dengan kesesuaian dosis obat.´ Bila mendengar hal demikian. perawat atau asisten perawat salah menuliskan kembali obat-obatan yang diresepkan oleh tim medis. Perawat memberikan obat yang tidak dipersiapkan oleh perawat sendiri e. Beberapa obat harus diberikan dalam waktu yang bersamaan c.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi satu ruangan atau unit. mengetahui nama generic atau merk dagang obat serta manfaat obat tersebut diberikan kepada klien. Apoteker atau perawat salah memberikan obat yang mempunyai nama / merk sama dengan obat yang dimaksud c.

segera lakukan klarifikasi dengan tim medis atau pemberi instruksi tersebut. 5.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi d. Perlak dan alasnya 8. Kapas aseptik 4. cara. Obat-obatan yang diperlukan (ampul atau vial) 2. perawat harus mengetahui cara pemberian obat yang biasa digunakan dan cara pemberian obat yang aman bila harus sesuai dengan instruksi yang diberikan. Lakukan validasi ulang terhadap obat sebelum melakukan pemberian obat. Untuk memastikan obat diberikan melalui cara yang sesuai. artinya adalah memberikan obat sesuai dengan pesanan medis dan cara tersebut aman dan sesuai untuk klien. Bak spoit steril 5. Bengkok 3. Masalah ketepatan waktu juga sangat berbeda pada beberapa institusi. Alat dan Bahan a. harus tercantum alasan mengapa perawat tidak memberikan obat dengan cara semestinya. atau IM). misalnya ada institusi yang menganggap pemberian obat setengah jam sampai 1 jam sebelum atau sesudah waktu yang seharusnya sebagai ³tepat waktu´. Jumlah sediaan obat yang tersedia dari apoteker tidak sesuai dengan dosis obat yang harus diberikan kepada klien 4. Jika pemberian obat dilakukan dengan cara injeksi. Gunting 9. Dokumentasi yang detail dibutuhkan bila ternyata perawat tidak memberikan obat tersebut pada waktu seperti biasanya. dan area pemberian (intradermal. Plester 10. Tim medis dalam menuliskan resep atau instruksi harus menjelaskan cara pemberian obat dengan spesifik. 6. Tempat untuk menampung kotoran 7. Benar Cara Pemberian. Turnikel 6. artinya adalah memberikan obat sesuai dengan frekuensi dan waktu yang sudah ditetapkan. Dokumentasikan pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit adalah waktu. Baskom berisi larutan desinfektan untuk mencuci tangan . SC. 4. Benar Waktu Pemberian. 1. Bila cara pemberian dinilai kurang tidak atau kurang cocok dengan kondisi klien. dosis.

Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. langsung ke pusat sasar. obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G. Pervaginam Bentuknya hampir sama dengan obat rektal. penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah. diare. Dalam inhalasi. e. Handuk dan handscoen 5. tidak sadar. Misal obat asma. tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah. Keuntungannya relatif aman. terhindar dari efek lintas pertama. Rektal Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. koma. obat absorpsi tidak teratur. dapat diberikan langsung pada bronkus. Inhalasi Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). kadar obat dapat dikontrol. Anatomi Target Tindakan a. penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Kerugiannya timbul efek lambat. Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki. . obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paruparu dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan. Pada keadaan pasien muntah muntah. d. tidak kooperatif. ekonomis. serta umumnya paling aman. Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik. Sublingual Cara penggunaannya. insulin). obat ditaruh dibawah lidah. atau dikehendaki onset yang cepat. Misal pada kasus pasien jantung. b. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta) c. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen. dimasukkan ke vagina. untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas. praktis. Oral Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 11.

Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi f. h. Perawat beresiko terajangkitnya sekurang-kurangnya 20 pathogen petensial. dan sisi lateral. Misal tetes mata. IM. Topikal/lokal Obat yang sifatnya lokal. atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. daerah skpula dan permukaan medial paha (150) y Injeksi Intravena. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. Parentral Digunakan tanpa melalui mulut. dan intra kutan a. Eg: vena sefalika atau kubiti dari lengan. Yaitu: abdomen. dan kepala dapat digunakan bila tempat-tempat di atas telah digunakan. dilakukan dengan menempatkan obat ke dalam jaringan ikat longgar dibawah dermis. punggung bagian atas. lengan atas sisi lateral. vena dorsalis. Protokol atau Prosedur Tindakan y Cara pemberian obat melalui IV. klavikula pada dada. Tempatnya didalam dermis. 7. Maka dari itu perawat harus melindungi diri dengan universal precaution. tungkai bawah. atau lengan bagian bawah. otot deltoid. Pemberian obat melalui intravena (IV) . otot dorsogluteus. Pada bayi baru lahir: venavena pada kaki. Daerah-daerah untuk obat jenis ini adalah: y Injeksi subkutan (SC). paha. g. Dilakukan pada otot vastus lateraris. dilakukan untuk uji kulit. tetes telinga. Sub kutan. pada injeksi jenis ini memungkinkan absorpsi yang lenih cepat daripada SC karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. dapat dilakukan di Vena perifer lebih mudah dicapai. Aspek Keamanan dan Keselamatan Perawat harus bisa menjaga dirinya ketika memberikan obat injeksi. Suntikan Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat. salep. 6. (450) y Injeksi intramuscular. paha atas. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketka obat memasuki otot yang dalam. sering sekali perawat tanpa sengaja menusuk dirinya dengan jarum suntik klien. (900 ) y Injeksi intradermal. otot ventroluteal. punggung bagian atas permukaan ventral lengan bawah.

no. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 5. no. Setelah obat masuk semua. Yakinkan bahwa pasien benar. Peralatan disiapkan 3. volume besar atau infus cepat 1. darah penuh (whole blood) atau fraksi darah. segera cabut spuit dan buang ditempat pembuangan sesuai prosedur. memberikan HE (healt education) dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan. Bila terisap darah berarti sudah didalam vena. Siapkan spoit yang sudah berisi obat.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Menggunakkam jarum: No. 22 atau 1 inci (anak-anak) dan lubang yang lebih besar untuk obat yang kental. Pastikan adanya order pengobatan 2. Bila vena sudah ditemukan misalnya basilika. Bila dalam tabung masih terdapat udara. Tentukan dan cari vena yang akan ditusuk 7. 24 atau 1 inci (bayi).5 inci. Observasi keadaan pasien dan catat semua tindakan anda kemudian tanda tangan (nama terang) b. 12. kemudian bantu mengatur posisi yang enak. 11. Pemberian obat melalui sub cutan (SC) . atur lengan lurus dan pasang turnikel sampai vena benar-benar dapat dilihat dan diraba kemudian desinfeksi dengan menggunakan kapas alkohol 8. jika tidak terisap/keluar darah berarti belum didalam vena. jika tidak ada alergi maka bisa dilanjutkan 6. 20 ± 21 atau 1 ± 1. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 13. Bila sudah didalam vena maka lepaskan turnikel dan masukkan obat perlahan-lahan sampai habis. maka udara harus dikeluarkan 9. Pelan tusukkan jarum kedalam vena dangan posisi jarum sejajar dengan vena dan lubang jarum menghadap keatas. 4. Lakukan aspirasi dengan cara menarik pengokang spoit. Lakukan skin test jika ada alergi terhadap pasien maka batalkan pemberian obat tetapi. Untuk mencegah vena tidak bergeser tangan yang tidak memegang spoit dapat digunakan untuk menaan vena sampai jarum masuk vena 10.

Buang spuit pada tempat yang telah disediakan.5 ml. Pegang spoit dengan salah astu tangan antara jempol dan jari-jari pada area injeksi 8. Bila tidak muncul darah. Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan dan atur dalam posisi yang nyaman (jangan keliru pasien. 1. atau yang digunakan injeksi dapat rileks) 5. Cuci tangan 15. lepaskan penutup secara tegak lurus sambil dan keluarkan udara dari spuit 7.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Jarum: No. Siapkan spuit. 12. bereskan peralatan 13. Masukkan obat dari vial atau ampul kedalam tabung spuit dengan cara yang benar 4. Kaji keefektifan obat. Bila tempat penusukan mengeluarkan darah maka tekan area tusukan dengan kasa steril kering sampai perdarahan berhenti. kemudian Bersihkan kulit dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar 6. lalu secara hati-hati dan mantap tangan yang lain menusukkan jarum. maka segera cabut spoit untuk dibuang dan diganti dangan apoit yang baru pula. c. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 2. tabung suntik: 1 ±3 ml. bila muncul darah. 11. Cabut spoit lalu usap dan massage pada area injeksi. Lakukan aspirasi. maka pelanpelan dorong obat kedalam jaringan. bantu pasien pada posisi yang mana lengan. Peralatan disiapkan 3. Gunakan tangan yang tidak memegang spoit untuk menghangkat dan merentangkan kulit. Pilih area tubuh yang akan disuntik. kaki. dengan telapak tangan menghadap kearah samping atau keatas untuk kemiringan 45 derajat. Pemberian obat melalui intra cutan . 9.5 ± 1. Biasanya disuntikkan 0. 10. Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda 16. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 14.25 ± 27 atau ½ . Tabung suntik insulin yang memakai ukuran dalam unit hanya dipakai untuk insulin.5/8 inci.

Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 2. Peralatan disiapkan 3.01 ± 0. Pegang erat lengan pasien dengan tangan kiri anda dan tangan yang satunya memegang spoit kearah klien 7. 1. Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda d. memberikan HE (healt education) dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan. Biasanya disuntikkan 0. Pilih area tubuh yang akan disuntik. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. Peralatan disiapkan 3. Siapkan obat dengan mengambil obat dari ampul atau vial. Bersihkan kulit dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar .01ml. nyri tekan.1 ml. Pastikan adanya order pengobatan 2. pilih area yang bebas dari lesi.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi Jarum: No. Tusukkan spoit dengan sudut 15 derajat pada epidermis kemudian teruskan sampai dermis lalu dorong cairan obatnya. dosis dan waktu pemberian 4. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 11. 5. Tentukan lokasi penyuntikan. dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar 6. Yakinkan bahwa pasien benar. usaplah pelan-pelan arwa penyuntikan dengan kapas antiseptik tanpa memberikan massage(massage dapat menyebabkan oabt masuk kejaringan atau keluar melalui lubang bekas tusukan) 9. Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan 4. bengkak dan radang. bereskan peralatan 10. 26-27. Cabut spoit. Periksa urutan medikasi terhadap rute. Cuci tangan kemudian gunakan handscoen 6. kemudian bantu mengatur posisi yang enak. Tabung suntik: kalibrasi 1 ml dalam inkremen 0. Cuci tangan 12.misalnya lengan kanan dan lakukan desinfeksi 5. Obat ini akan menimbulkan tonjolan dibawah permukaan kulit 8. Pemberian obat melalui intramuskuler (IM) 1.

ingatkan klien untuk menahan obat dan angan mengeluarkannya. Supositoria cenderung menjadi lunak pada suhu kamar. Bila tidak terisap darah. Siapkan spoit yang sudah berisi obat. ajar klien untuk memakaki 9. Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak 12. buka penutup jarumnya dengan hati-hati.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 7. Jika merupakan indikasi. Lakukan aspirasi untuk mengecek apakah jarum tidak mengenai pembuluh darah dengan cara menarik pengokang. maka akan segera cabut spuit dan dan lakukan masage pada area penusukan 11. simpan dalam lemari es sebelum/ setelah digunakan. Jelaskan prosedur pada klien dan jaga privacy klien. 8. 6. maka perlahanlahan masukkan obat dengan cara mendorong pengokang spuit 10. 2. supositoria sendiri dan perhatikan demostrasi ulang 10. Buang spuit pada tempat yang telah disediakan. Gunakan tangan yang tidak memegang spuit untuk membentangkan kulit pada area yang akan ditusuk. 5. pegang spoit antara jempol dan jari-jari kemudian tusukkan jarum secara tegak lurus pada sudut 90 derajat. bereskan peralatan 13. Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda y Obat Jenis Suposutoria Rektal 1. a. . Bila obat sudah masuk semua. Jika memberikan obat-obat seperti antipiretik dan bronkodilator. dan keluarkan udara dalam spoit 8. 3. Minta klien mengatur posisi yang nyaman dan anjurkan klien untuk relaksasi nafas dalam untuk melemaskan spinkter anus. 4. buamg dan ganti yang baru. Minta klien untuk tetap berada di tempatnya selama 20 menit setelah dimasukkan. Gunakan sarung tangan sewaktu memasukkan obat. Bubuhkan sedikit pelumas yang larut dalam air di ujung supositoria yang telah dibuka bungkusnya dan dengan perlahan masukkan supositoria melewati sfingter anus. 7. maka segera cabut spuit. 9. untuk efektifitasnya. Bila terisap darah.

Lebih baik klien dalam posisi semi fowler atau fowler tinggi.Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi b. Jika hasil pengkajian menunjukkan bahwa perlu dilakukan pendidikan kesehatn maka 2. Ajarkan klien untuk menggunakan alat dengan benar. perawat harus membuat perdokumentasian khusus untuk pelaksanaan penyuluhan 3. 8. y Selang Nasogatrik dan gastronomi Selang nasogastrik dan gastrostomi 1. b. dan biarkan obat mengalir masuk sebagaimana mestinya. 4. pertanggungjawaban adiministrasi pengobatan pada pihak R. Vaginal Prinsipnya mirip dengan supositoria rektal. 3. Klem tabung dan angkat jarum suntik. (informedcontent) sebagai aspek legilitas dalam perlindungan hukum bagi perawat. Hal-Hal Penting yang Harus Dicatat 1. Aerosol (Inhalasi) 1. Pada saat klien telah diberikan informasi tentang mamfaat / fungsi dari pemberian obat 5. 7. Periksa penempatan selang apakah pada tempatnya. sebagai 8.maka perawat segera membuat urat persetujuan tindakan medik 6. a. baik jenisnya. Tuang obat ke dalam tabung suntik tanpa pendorong. 2. 3. Hal-Hal yang Harus Diperhartikan Kebersihan alat yang digunakan dan aspek keamanan klien serta perawat 9. yang dilakukan. lepaskan klem. Catat semua alat yang digunakan. 2. jumlahnya maupun dosisnya. Bilas selang dengan 50 ml air (lihat pada aturan yang tersedia untuk jumlah yang tepat). kesehatan pada klien dan keluarganya. Nebulizer dan alat ukuran dosis yang dapat dipegang oleh tangan. 4. Umumnya obat dimasukkan ke dalam vagina dengan aplikator.S .

Laporan Pendahuluan Pemberian Medikasi 9. Yasmin Asih. Buat laporan dengan mencatat langkah-langkah prosedur pemberian obat 10. Dokumentasi harus segera dilakukan pada setiap pelaksanaan pemberian obat 13. www. Bentuk dan Rute Obat.scrib.scrib.. A. Cara Pemberian Obat. P. and practice. Jakarta: EGC Sanjoyo. Pastikan kebenaran akan setiap pencatatan yang dilakukan 14. 4. www. (2009). et al). Mencatat nama perawat yang melakukan penyuntuikan serta tanda tangan Daftar Pustaka Anonymous. process. yang dirasakan oleh pasien setelah pemberian obat tersebut. (diunduh pada tanggal 7 April 2011. Style Sheet.com. (Terj. pada pukul 13. P. pukul 13. (diunduh pada tanggal 7 April 2011. dan Perry. www.scrib.30 WIB) .00 WIB) Potter. Style Sheet. pukul 12. (diunduh pada tanggal 7 April 2011. A. Obat (Biomedik Farmakologi). Ed. Fundamentals of nursing: concept.com. R. 12. Catat kapan pemberian obat dan obat oapa yang telah diberikan serta Catat perubahan 11.00 WIB) Setyawati. (2005). G.com .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful