RESUSITASI BAYI BARU LAHIR

17:31 Diposkan oleh Bidan Febri

Persiapan Resusitasi Bayi Baru Lahir Di dalam setiap persalinan, penolong harus selalu siap melakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir. Kesiapan untuk bertindak dapat menghindarkan kehilangan waktu yang sangat berharga bagi upaya pertolongan. Walaupun hanya beberapa menit tidak bernapas, bayi baru lahir dapat mengalami kerusakan otak yang berat atau meninggal. Persiapan Keluarga Sebelum menolong persalinan, bicarakan dengan keluarga mengenai kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu dan bayinya serta persiapan yang dilakukan oleh penolong untuk membantu kelancaran persalinan dan melakukan tindakan yang diperlukan. Persiapan Tempat Resusitasi Persiapan yang diperlukan meliputi ruang bersalin dan tempat resusitasi. Gunakan ruangan yang hangat dan terang. Tempat resusitasi hendaknya rata, keras, bersih dan kering, misalnya meja, dipan atau di atas lantai beralas tikar. Kondisi yang rata diperlukan untuk mengatur posisi kepala bayi. Tempat resusitasi sebaiknya di dekat sumber pemanas (misalnya; lampu sorot) dan tidak banyak tiupan angin (jendela atau pintu yang terbuka). Biasanya digunakan lampu sorot atau bohlam berdaya 60 watt atau lampu gas minyak bumi (petromax). Nyalakan lampu menjelang kelahiran bayi. Persiapan Alat Resusitasi Sebelum menolong persalinan, selain peralatan persalinan, siapkan juga alat-alat resusitasi dalam keadaan siap pakai, yaitu: 1. 2 helai kain/handuk 2. Bahan ganjal bahu bayi. Bahan ganjal dapat berupa kain, kaos, selendang, handuk kecil, digulung setinggi 5 cm dan mudah disesuaikan untuk mengatur posisi kepala bayi. 3. Alat pengisap lendir DeLee atau bola karet 4. Tabung dan sungkup atau balon dan sungkup neonatal 5. Kotak alat resusitasi. 6. Jam atau pencatat waktu. Penilaian Segera Segera setelah lahir, letakkan bayi di perut bawah ibu atau dekat perineum (harus bersih dan kering). Cegah kehilangan panas dengan menutupi tubuh bayi dengan kain/handuk yang telah disiapkan sambil melakukan penilaian dengan menjawab 2 pertanyaan: 1. Apakah bayi menangis kuat, tidak bernapas atau megap-megap? 2. Apakah bayi lemas?

Langkah awal Sambil melakukan langkah awal: 1. 6 langkah awal di bawah ini cukup untuk merangsang bayi baru lahir untuk bernapas spontan dan teratur. Keringkan dan Rangsang taktil. Jepit dan potong tali pusat dan pindahkan bayi ke tempat resusitasi yang telah disediakan. sesudah ketuban pecah: Apakah air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan) pada presentasi kepala. Lanjutkan dengan langkah awal resusitasi. Atur posisi bayi. 3. Reposisi. Langkah-langkah Resusitasi BBL Resusitasi BBL bertujuan untuk memulihkan fungsi pernapasan bayi baru lahir yang mengalami asfiksia dan terselamatkan hidupnya tanpa gejala sisa di kemudian hari. Penundaan pertolongan dapat membahayakan keselamatan bayi. Kondisi ini merupakan dilema bagi penolong tunggal persalinan karena disamping menangani ibu bersalin. 2. Secara umum. langkah awal dan ventilasi untuk inisiasi dan pemulihan pernapasan. Air ketuban bercampur mekonium. bernapas megap-megap atau tidak bernapas Apakah bayi lemas atau lunglai KEPUTUSAN Putuskan perlu dilakukan tindakan resusitasi apabila: 1. 5. 2. 4. Jaga bayi tetap hangat. ia juga harus menyelamatkan bayi yang mengalami asfiksia. Langkah awal perlu dilakukan secara cepat (dalam waktu 30 detik). bernapas spontan dan tertatur. PENILAIAN Sebelum bayi lahir. Beritahu ibu dan keluarganya bahwa bayinya memerlukan bantuan untuk memulai bernapas. segera lakukan tindakan yang diperlukan. . 2. Resusitasi BBL pada APN ini dibatasi pada langkah-langkah penilaian. Bayi tidak bernapas atau bernapas megap-megap. Segera setelah bayi lahir: Apakah bayi menangis. Isap lendir. Bayi lemas atau lunglai TINDAKAN Segera lakukan tindakan apabila: Bayi tidak bernapas atau megap-megap atau lemas: Lakukan langkah-langkah resusitasi BBL. LANGKAH AWAL (dilakukan dalam 30 detik): 1. Minta keluarga mendampingi ibu (memberi dukungan moral. menjaga dan melaporkan kepada penolong apabila terjadi perdarahan). 3.Setelah melakukan penilaian dan memutuskan bahwa bayi baru lahir perlu resusitasi.

Jaga bayi tetap hangat: 1. Letakkan bayi di atas kain yang ada di atas perut ibu atau dekat perineum 2. 4. 1.6. 1. potong tali pusat. Keringkan bayi mulai dari muka. Ganti kain yang telah basah dengan kain bersih dan kering yang baru (disiapkan). 2. 3. jangan memasukkan ujung pengisap terlalu dalam (lebih dari 5 cm ke dalam mulut atau lebih dari 3 cm ke dalam hidung) karena dapat menyebabkan denyut jantung bayi melambat atau henti napas bayi. Hisap lendir sambil menarik keluar pengisap (bukan pada saat memasukkan). Atur posisi bayi Baringkan bayi terlentang dengan kepala di dekat penolong. 2. Selimuti bayi dengan kain tersebut. Keringkan dan rangsang bayi 1. Isap lendir Gunakan alat pengisap lendir DeLee atau bola karet. Atur kembali posisi terbaik kepala bayi (sedikit ekstensi). Rangsangan ini dapat memulai pernapasan bayi atau bernapas lebih baik. megap-megap atau tidak bernapas. dada atau tungkai bayi dengan telapak tangan Berbagai bentuk rangsangan taktil yang dulu pernah dilakukan. 3. Pertama. Ventilasi Ventilasi adalah bagian dari tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah udara ke dalam . 5. Atur kembali posisi kepala dan selimuti bayi. Ganjal bahu agar kepala sedikit ekstensi. Selimuti bayi dengan kain tersebut. Menepuk atau menyentil telapak kaki. 6. o Anjurkan ibu untuk menyusukan bayi sambil membelainya. Bila menggunakan pengisap lendir DeLee. sebagian besar tak dilakukan lagi karena membahayakan kondisi bayi baru lahir (lihat tabel). tidak akan banyak menolong dan malahan dapat membahayakan bayi. Menggosok punggung. Lakukan penilaian bayi. Bila bayi bernapas normal. 2. ‡ Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal. 2. Lakukan rangsangan taktil dengan beberapa cara di bawah ini: 1. keras atau terus menerus. berikan pada ibunya: o Letakkan bayi di atas dada ibu dan selimuti keduanya untuk menjaga kehangatan tubuh bayi melalui persentuhan kulit ibu-bayi. Bila bayi tak bernapas atau megap-megap: segera lakukan tindakan ventilasi. kepala dan bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan. jangan tutupi bagian muka dan dada agar pemantauan pernapasan bayi dapat diteruskan. 3. Penilaian apakah bayi menangis atau bernapas spontan dan teratur 1. 2. isap lendir di dalam mulut. perut. Pindahkan bayi ke atas kain ke tempat resusitasi. Rangsangan yang kasar. kemudian baru isap lendir di hidung. 3.

Bila dada mengembang. Ventilasi definitif (20 kali dalam 30 detik). 4. 2. o Bila bayi sudah mulai bernapas normal. 3. Evaluasi hasil ventilasi setiap 30 detik. Lakukan penilaian Bila bayi sudah bernapas normal. 1. Teruskan resusitasi sementara persiapan rujukan dilakukan. Lakukan tiupan dengan tekanan 20 cm air. tidak bernapas atau megap-megap. 1. Penilaian apakah bayi menangis atau bernapas spontan dan teratur? 1. berikan asuhan pascaresusitasi. 2. hentikan ventilasi dan pantau bayi. Ventilasi 2 kali dengan tekanan 30 cm air. 2. Bila bayi belum bernapas atau megap-megap. Periksa posisi kepala. Pemasangan sungkup Pasang dan pegang sungkup agar menutupi mulut dan hidung bayi. Pasang sungkup. lakukan tahap berikutnya. perhatikan lekatan. lanjutkan ventilasi. 3. Bila bayi tidak bisa dirujuk. pastikan posisinya sudah benar. 2. 20 kali dalam 30 detik. 3. Siapkan rujukan bila bayi belum bernapas normal sesudah 2 menit diventilasi. Bayi diberikan asuhan pasca resusitasi. . Lakukan penilaian bayi apakah bernapas. amati gerakan dada bayi. 1. 20x untuk 30 detik berikutnya dan nilai hasilnya setiap 30 detik. Bila dada bayi mengembang. 2. Lanjutkan ventilasi dengan tekanan 20 cm air. Pastikan udara masuk (dada mengembang) dalam 30 detik tindakan 4. 2. teruskan ventilasi dengan tekanan 20 cm air. Lanjutkan ventilasi sampai 20 menit 2. Periksa pemasangan sungkup dan pastikan tidak terjadi kebocoran. upaya ventilasi tidak berhasil. hentikan ventilasi dan pantau bayi dengan seksama. Periksa ulang apakah jalan napas tersumbat cairan atau lendir (isap kembali). 20x untuk 30 detik berikutnya. Pertimbangkan untuk menghentikan tindakan resusitasi jika setelah 20 menit. 3. Ventilasi percobaan (2 kali) Lakukan tiupan udara dengan tekanan 30 cm air Tiupan awal ini sangat penting untuk membuka alveloli paru agar bayi bisa mulai bernapas dan sekaligus menguji apakah jalan napas terbuka atau bebas. lakukan ventilasi 20 kali dengan tekanan 20 cm air dalam 30 detik. o Bila bayi tidak bernapas atau megap-megap. 1.paru dengan tekanan positip yang memadai untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernapas spontan dan teratur. Mintalah keluarga membantu persiapan rujukan. Lihat apakah dada bayi mengembang Bila tidak mengembang 1. 1.

Perlu pemantauan dan dukungan. Pemberian ASI segera. Anjurkan ibu untuk menjaga kehangatan tubuh bayi (asuhan dengan metode Kangguru). dapat memasok energi yang dibutuhkan. 2. Anjurkan ibu menyusukan sambil membelai bayinya 2. Anjurkan ibu segera memberi ASI kepada bayinya. Resusitasi berhasil Resusitasi berhasil bila pernapasan bayi teratur. 2. imunisasi hepatitis B Lakukan pemantuan seksama terhadap bayi pasca resusitasi selama 2 jam pertama: Perhatikan tanda-tanda kesulitan bernapas pada bayi : 1. Bayi perlu rujukan Bila bayi pascaresusitasi kondisinya memburuk. Jelaskan pada ibu dan keluarganya untuk mengenali tanda-tanda bahaya bayi baru lahir dan bagaimana memperoleh pertolongan segera bila terlihat tanda-tanda tersebut pada bayi. 2. 1. bayi gagal bernapas. Berikan Vitamin K. Lanjutkan dengan asuhan berikutnya. 3. Bila ditemukan kelainan. Bayi lemas. antibiotik salep mata. Konseling: 1. Lakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk: 1. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan. Tarikan interkostal. segera hubungi penolong. Ajarkan ibu cara menilai pernapasan dan menjaga kehangatan tubuh bayi. Asuhan Pascaresusitasi Asuhan pascaresusitasi diberikan sesuai dengan keadaan bayi setelah menerima tindakan resusitasi. bayi perlu rujukan yaitu sesudah ventilasi 2 menit belum bernapas atau bayi sudah bernapas tetapi masih megap-megap atau pada pemantauan ternyata kondisinya makin memburuk 3.Bayi yang tidak bernapas normal setelah 20 menit diresusitasi akan mengalami kerusakan otak sehingga bayi akan menderita kecacatan yang berat atau meninggal. Bayi dengan gangguan pernapasan perlu banyak energi. Pantau juga bayi yang tampak pucat walaupun tampak bernapas normal. Tanda-tanda Bayi yang memerlukan rujukan sesudah resusitasi . frekuensi napas <> 60 x per menit. Resusitasi gagal: setelah 20 menit di ventilasi. Jagalah agar bayi tetap hangat dan kering. segera rujuk ke fasilitas rujukan. 2. 5. 4. Tunda memandikan bayi hingga 6 ± 24 jam setelah lahir (perhatikan temperatur tubuh telah normal dan stabil). Asuhan pascaresusitasi dilakukan pada keadaan: 1. Bayi kebiruan atau pucat. Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang hasil resusitasi yang telah dilakukan. warna kulitnya kembali normal yang kemudian diikuti dengan perbaikan tonus otot atau bergerak aktif. Resusitasi Berhasil: bayi menangis dan bernapas normal sesudah langkah awal atau sesudah ventilasi. napas megap-megap. Resusitasi tidak/kurang berhasil. 3.

tutup kepala bayi dan bayi dalam posisi ³Metode Kangguru´ dengan ibunya.1. Suami atau salah seorang anggota keluarga juga diminta untuk menemani ibu dan bayi selama perjalanan rujukan. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan ibu atau keluarganya. Resusitasi tidak berhasil Bila bayi gagal bernapas setelah 20 menit tindakan resusitasi dilakukan maka hentikan upaya tersebut. Jaga bayi tetap hangat selama perjalanan. Lindungi bayi dari sinar matahari. Bayi dirujuk bersama ibunya dan didampingi oleh bidan. Bawa peralatan resusitasi dan perlengkapan lain yang diperlukan selama perjalan ke tempat rujukan. Minta keluarga untuk menyiapkan sarana transportasi secepatnya. Tunjukkan kepedulian atas kebutuhan mereka. 2. minta agar ibu dan keluarga untuk tabah dan memikirkan pemulihan kondisi ibu. 3. Selimuti ibu bersama bayi dalam satu selimut. Periksa keadaan bayi selama perjalanan (pernapasan. Biasanya bayi akan mengalami gangguan yang berat pada susunan syaraf pusat dan kemudian meninggal. warna kulit. Adanya retraksi (tarikan) interkostal 3. Berikan jawaban yang memuaskan terhadap setiap pertanyaan yang diajukan ibu dan keluarganya. Minta keluarga ikut membantu pemberian asuhan lanjutan bagi ibu dengan memperhatikan nilai budaya dan kebiasaan setempat. Asuhan bayi baru lahir yang dirujuk 1. 3. Bayi lemas Konseling 1. Jelaskan pada ibu dan keluarga bahwa bayinya perlu dirujuk. seluruh kemampuan dan upaya dari penolong (dan fasilitas rujukan) telah diberikan dan hasil yang buruk juga sangat disesalkan bersama. ajak ibu dan keluarga untuk memahami masalah dan musibah yang terjadi serta berikan dukungan moral sesuai adat dan budaya setempat. suhu tubuh) dan catatan medik. Bayi merintih (bising napas ekspirasi) atau megap. 4. Frekuensi pernapasan kurang dari 30 kali per menit atau lebih dari 60 kali per menit 2. Beritahukan (bila mungkin) ke tempat rujukan yang dituju tentang kondisi bayi dan perkiraan waktu tiba.megap (bising napas inspirasi) 4. Bicarakan apa yang selanjutnya dapat dilakukan . Ibu dan keluarga memerlukan dukungan moral yang adekuat Secara hatihati dan bijaksana. Dukungan moral Bicaralah dengan ibu dan keluarganya bahwa tindakan resusitasi dan rencana rujukan yang telah didiskusikan sebelumnya ternyata belum memberi hasil seperti yang diharapkan. Jelaskan kepada ibu bahwa sebaiknya memberi ASI segera kepada bayinya. 3. 2. Tubuh bayi pucat atau kebiruan 5. kecuali pada keadaan gangguan napas. Beritahukan juga ibu baru melahirkan bayi yang sedang dirujuk. Minta mereka untuk tidak larut dalam kesedihan. 4. dan kontraindikasi lainnya Asuhan lanjutan Merencanakan asuhan lanjutan sesudah bayi pulang dari tempat rujukkan akan sangat membantu pelaksanaan asuhan yang diperlukan oleh ibu dan bayinya sehingga apabila kemudian timbul masalah maka hal tersebut dapat dikenali sejak dini dan kesehatan bayi tetap terjaga.

Bila mungkin. Sebaiknya ibu tidak mulai bekerja kembali dalam waktu dekat. Bila termasuk klasifikasi kuning. Perubahan hormon saat pascapersalinan dapat menyebabkan perasaan ibu menjadi sangat sensitif. Biasanya BBL mengeluarkan mekonium pertama kali pada 12-24 jam pertama. Catat seluruh langkah ke dalam formulir tata laksana bayi muda 1 hari ± 2 bulan. Asuhan tindak lanjut pascaresusitasi Sesudah resusitasi. Asuhan lanjutan bagi ibu Payudara ibu akan mengalami pembengkakan dalam 2-3 hari. Kunjungan rumah (kunjungan neonatus 0 ± 7 hari) dilakukan sehari setelah bayi lahir. Gunakan BH yang ketat atau balut payudara dengan sedikit tekanan menggunakan selendang /kemben/kain sehingga ASI tidak keluar. 1. dukungan moral dan makanan bergizi. Untuk kunjungan rumah berikutnya (kunjungan neonatus 8 ± 28 hari). membuat klasifikasi. Jangan memerah ASI atau merangsang payudara. minta ia berbicara dengan orang paling dekat atau penolong. Mekonium kental pekat dan berwarna hijau tua atau kehitaman. mekonium dikeluarkan bersamaan dengan cairan ketuban beberapa . Gunakan algoritma Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) untuk melakukan penilaian. 3. Asuhan tindak lanjut: kunjungan ibu nifas Anjurkan ibu untuk kontrol nifas dan ikut KB secepatnya (dalam waktu 2 minggu). Bayi Aman bila IBU nya: TAK MEMILIKI KEKHAWATIRAN MENGENAI PERILAKU BAYINYA MEMEGANG DAN BERBICARA DENGAN BAYI DENGAN PENUH KASIH SAYANG MENGETAHUI TANDA-TANDA BAHAYA DAN UPAYA APA YANG HARUS DILAKUKAN Langkah-langkah Resusitasi Bayi Baru Lahir dengan Air Ketuban Bercampur Mekonium Mekonium merupakan tinja pertama dari BBL. 2. menentukan tindakan dan pengobatan serta tindak lanjut. bayi masih perlu asuhan lanjut yang diberikan melalui kunjungan rumah.terhadap bayi yang telah meninggal. Mungkin juga timbul rasa demam selama 1 atau 2 hari. Bila ibu ingin mengungkapkan perasaannya. 2. bayi harus dikunjungi kembali pada hari ke 2. terutama jika bayinya meninggal. lakukan asuhan pascapersalinan di rumah ibu. Ibu mungkin merasa sedih atau bahkan menangis. Tujuan asuhan lanjut adalah untuk memantau kondisi kesehatan bayi setelah tindakan resusitasi. berikan nasihat untuk perawatan bayi baru lahir di rumah. Banyak ibu yang tidak menyusui akan mengalami ovulasi kembali setelah 3 minggu pasca persalinan. Ovulasi bisa cepat kembali terjadi karena ibu tidak menyusukan bayi. Jelaskan pada ibu dan keluarganya bahwa ibu perlu beristirahat. Bila pada kunjungan rumah (hari ke 1) ternyata bayi termasuk dalam klasifikasi merah maka bayi harus segera dirujuk. Kira-kira pada 15% kasus. gunakan juga algoritma MTBM. Bila termasuk klasifikasi hijau. Ibu dapat mengatasi pembengkakan payudara dengan cara sebagai berikut: 1.

Kecil untuk Masa Kehamilan/KMK atau Hamil Lewat Waktu) ternyata air ketubannya lebih banyak tercampur oleh mekonium (warna kehijauan) dibandingkan dengan air ketuban pada kehamilan normal. Masuknya mekonium ke jaringan paru bayi dapat menyebabkan pneumonia dan mungkin kematian. Bayi-bayi dengan risiko tinggi gawat janin (misal. Hipoksia kan meningkatkan peristaltik usus dan relaksasi sfingter ani sehingga isi rektum (mekoneum) diekskresikan. Kadang-kadang hal ini terkait dengan kurangnya pasokan oksigen (hipoksia). lakukan pemantauan ketat karena hal ini merupakan tanda bahaya Penyebab janin mengeluarkan mekonium sebelum persalinan Tidak selalu jelas mengapa mekonium dikeluarkan sebelum persalinan. 2007 . Hal ini menyebabkan warna kehijauan pada cairan ketuban.saat sebelum persalinan. Risiko air ketuban bercampur mekonium terhadap bayi Hipoksia dapat menimbulkan refleks respirasi bayi di dalam rahim sehingga mekonium yang tercampur dalam air ketuban dapat terdeposit di jaringan paru bayi. sumber: Modul APN. Mekonium dapat juga masuk ke paru jika bayi tersedak saat lahir. Bila mekonium terlihat sebelum persalinan bayi dengan presentasi kepala. Mekonium jarang dikeluarkan sebelum 34 minggu kehamilan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful