P. 1
tugas etika komunikasi

tugas etika komunikasi

|Views: 674|Likes:
Published by Ahmad Safiq

More info:

Published by: Ahmad Safiq on Apr 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

pdf

text

original

2 Pengertian etika Etika dan moral Amoral dan immoral Etika dan etiket

Kelompok: 3 Moralitas: cirri khas manusia Etika : ilmu tentang moralitas Hakekat etika filosofis 4 Etika deskriptif Etika normative Mataetika ….. 5 Peranan etika dalam dunia modrn 6 Etika kewajiban dan keutamaan 7 Hedonism Eudemonisme Utilitarisme ….. sma mahasiswa 9-11

Teleology dan deontology 12-15 Contoh2 kasus etika dalam praktek komunikasi saat ini

5/24/2009 2:14:34 PM domba jantan Secara umum istilah gender digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya. Secara umum, istilah sex mengacu pada alat kelamin laki-laki dan perempuan. Berikut adalah konsep Gender yang dirumuskan oleh para penulis Konsep Gender Istilah gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti "jenis kelamin". Dalam Webster's New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang kentara antara laki-laki dan perempuan bila dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Dalam Women's Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Sedangkan Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender: an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap lakilaki dan perempuan (cultural expectations for women and men). Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaum feminis, seperti Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender atau sering disebut juga dengan What a given society defines as masculine or feminin is a component of gender. Sedangkan H. T. Wilson dalam Sex and Gender mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-laki dan perempuan. Agak sejalan dengan pendapat yang dikutip Showalter yang mengartikan gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa dimana kita dapat menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu atau istilah lain Gender is an analityc concept whose meanings we work to elucidate, and a subject matter we proceed to study as we try to define it ( Juliet Mitchell,1971:11). Secara umum istilah gender digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, maka istilah sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex ini lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya. Sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya. Pengertian gender lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) atau feminitas (femininity) seseorang. Berbeda dengan pengertian sex

yang lebih menekankan kepada aspek anatomi biologi dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness) dan perempuan (femaleness). Proses pertumbuhan anak (child) menjadi seorang laki-laki (being a man) atau menjadi seorang perempuan (being a woman), lebih banyak digunakan istilah gender daripada istilah sex. Istilah sex umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktivitas seksual (love-making activities), selebihnya digunakan istilah gender (Floyd T.Cullop, 1969:87). Konsep-konsep yang telah dijabarkan di atas kurang lebih sudah menjelaskan pengertian Gender dan Sex secara umum. Dengan demikian kita dapat membedakan mana yang termasuk dalam konteks Gender mau pun Sex dalam tataran konkretnya. Sex dalam arti ini adalah mengenai penis, hormon testosterone, testis dan lain sebagainya pada laki-laki dan vagina, hormon estrogen, ovarium dan lain sebagainya pada perempuan. Gender mengacu pada pandangan, penilaian, dan stereotype yang dikenakan pada laki-laki mau pun perempuan. Dari segi peran; laki-laki itu menjadi tulang punggung ekonomi keluarga sedangkan perempuan mengurus anak di rumah, pekerjaan kasar (berat) adalah pekerjaan laki-laki dan pekerjaan perempuan adalah pekerjaan ringan. Dalam pandangan masyarakat Jawa pada zaman dahulu, perempuan lebih dipandang dalam tiga peran yaitu, macak (berdandan), masak (memasak), dan manak (melahirkan). Karena pandangan tersebut, maka tidaklah mengherankan jika perempuan dipandang tidak perlu mengenyam pendidikan. Dari segi perilaku; perempuan dianggap lebih lembut dibandingkan dengan laki-laki yang kasar. Perempuan itu lebih teliti dan laki-laki itu ceroboh. Laki-laki lebih menggunakan rasio dan perempuan lebih menggunakan perasaan dalam menghadapi persoalan. Dari segi Mentalitas; perempuan itu dianggap lemah dan lelaki itu kuat. Dari karakteristik emosional; perempuan itu mudah menangis dan lelaki itu tegar. Semua pandangan yang bias gender tersebut dapat berubah tergantung dalam proses yang terjadi dalam masyarakat. Berkaitan dengan peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan senantiasa dapat berubah. Ini bukanlah hal yang kodrati. Ada perempuan yang kuat dan laki-laki yang lemah dan ada pula laki-laki yang sabar dan teliti dalam bekerja. Semuanya dapat dipelajari dan dapat diubah. Sex adalah hal kodrati (yang tidak dapat diubah). Transplantasi organ tidaklah mengubah orang secara esensial meskipun bentuk tubuhnya berubah. Laki-laki yang transplantasi organ menjadi perempuan tetap tidak dapat melahirkan karena tidak memiliki rahim. Perilaku yang bias gender ( dalam hal ini tindakan diskriminasi) dapat merugikan pihak perempuan atau pun laki-laki dalam bermasyarakat. Berkaitan dengan peran, umumnya pekerjaan kasar dilakukan oleh laki-laki meskipun perempuan juga dapat mengerjakannya. Yang paling membahayakan adalah ketika perlakukan diskriminatif yang bias gender itu masuk dalam tataran Undang-Undang seperti Undang-Undang Ketenagakerjaan yang memberikan gaji lebih rendah kepada perempuan dibanding laki-laki dalam peran yang sama. diskriminasi

adaada aja. Bola akan gampang ditangkap oleh kiper lawan atau meleset ke kanan kiri gawang. tendangannya pun nggak akan maksimal. Perasaan sama (dengan kelompoknya sendiri). “Ah. aliran politik.5/24/2009 2:13:15 PM domba jantan Diskriminasi merujuk kepada pelayanan (perlakukan dan tindakan) yang tidak adil (dalam arti membeda-bedakan) terhadap individu tertentu. Ya saat itu. kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminatif.” Ya sangat-sangat bisa “bolong. superior dan lain sebagainya menjadi bibit tindak diskriminatif bagi orang lain yang dianggap berbeda. seperti jenis kelamin. Ketika otak sudah telalu lelah untuk mikir maka daya kerjanya pun semakin turun. takut. agama dan kepercayaan. Kelelahan fisik pun bisa mempengaruhi kerja otak. paling nggak ketika kita lelah. gw berpikir bahwa peristiwa “bolong” yang dialami oleh teman gw adalah hal yang dibuat-buat.” Kok bisa ya? Ternyata sebenarnya hal ini logis juga lho. “Waduh Lagi Bolong Nih” 3/19/2009 11:53:40 AM domba jantan Begitulah kata teman gw saat belajar bareng di kelas 2 SMA Seminari Mertoyudan. Red-). ras. mengancam dan lain sebagainya.” Katanya sambil menggerutu. kuat. –ini mah kipernya geblek. Masakan ada otak yang nggak bisa mikir dan nyerap pelajaran saat belajar. di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik (ciri-ciri atau kekhasan) yang diwakili oleh individu tersebut. Kecenderungan itu berasal dari perasaan atau emosional pribadi atau kelompok. merugikan. “Apa? Bolong. Diskriminasi tidak langsung. dan sebagainya.. Layaknya seorang Del Piero yang jago main bola sekalipun. peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu. otak pun nggak akan bekerja maksimal. pengalaman “bolong” ada benarnya juga.” Pikir gw dalam ati. Setiap saat kita bisa ngendaliin pikiran dan gw ngerasa bahwa otak gw bisa nyerep apa yang gw pelajari. Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik kelamin. Diskriminasi langsung. Ya. Ibaratnya kayak komputer yang lagi diisi . Diskriminasi ini disebabkan karena kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain. Tetapi dalam perjalanan waktu. terjadi saat hukum. dan menghambat adanya peluang yang sama. besok ada dua ulangan lagi. ras. terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan. Apanya yang bolong? Ndasmu (kepalamu) ya?” Canda gw ketika itu. Orang bisa “bolong. Waduh bingung aku. Tapi penyebab lain juga berkaitan dengan kemampuan otak nyerap sesuatu. (kecuali kipernya lagi bengong trus bolanya malah masuk ke gawangnya. lemah. iri. “Wooo gak paham ya? Bolong itu kalo lagi belajar tapi ndak masuk-masuk. kalau dia sedang lelah banget.

Ketauan banget kalo gw Katolik hahaha…).dengan berpuluh-puluh giga data dalam waktu yang sama. Jangan mimpi kayak Chairil Anwar yang pengen hidup seribu tahun lagi. hiperbola (eh salah) sampe akhirnya orang BUNUH DIRI karena gak bisa nikmatin hidupnya. butuh yang namanya rileks…santai cuy!!! Kalo serius mulu. butuh yang namanya keseriusan. Kok bisa ya? Ya iyalah…masa ya iya dong. pasti nggak jauh-jauh dari yang namanya manajemen waktu belajar. lebai nggak ya?).” Yah. ini kalo ada temennya ya). Sekarang tuh banyak orang stress. Santai Bro…… Santai Coy. gw mesti berpikir gimana caranya biar kagak ngalamin yang namanya “BOLONG. Kalo belajar ya mesti setiap hari dan nggak cuma saat mau ulangan. Jadi NOTHING deh. Kamu bisa juga pergi ke taman menikmati indahnya bungabunga dan warna rumput yang segar. kalo begitu. Orang yang terlalu santai .. (Hati-hati banyak semut!!!) Banyak cara deh buat nikmatin hidup…. di jalan dan juga di rumah.SADAR!!! HIdup tuh cuma sebentar. jadi cara loadingnya juga beda-beda. Nah. Cay… Coy….Cuy………. Pokoknya dikit-dikitlah. Orang yang terlalu serius. menunda pekerjaan. Nggak kebayang deh kalo pas minggu atau hari ulangan. Sayang banget waktu yang dikasi Tuhan cuma dipake buat hal-hal yang gak bermakna. Orang gak tahan sama masalah hidup jadi stress dan bunuh diri. Kemampuan orang kan beda-beda. Bab berapa ya?…mmm. Dan banyak juga efek yang diakibatin sama kata ini. Padahal banyak banget karya Tuhan yang begitu bagus untuk kita rasain. apalagi kalo sampe mati. meremehkan segala hal dan kurang fokus dalam belajar ama kerjaan. Gila Man.” Bisa-bisa kita hanya ndomblong (bengong sambil mangap).dan kamu tahu ke mana kamu harus pergi… Orang yang terlalu santai. (hehehe…kata Mazmur dalam Kitab Suci. hipertensi. (berpuluh-puluh giga. masuk angin dan akhirnya error. otak kita malah “bolong. fisik serta banyaknya data yang dipaksa masuk saat bersamaan yang melebihi kemampuan otak. “strik”. Stress sama kerjaan jadi bikin hipertensi dan akhirnya stroke.kira-kira gw udah manage waktu belajar belom ya? Merenunglah!!! Santai Coy!!! 3/18/2009 11:52:54 AM domba jantan Santai Coy!!! Santai aje Man……. tegang. stroke. Ada yang positif dan ada yang negative. pasti kita udah pernah denger kata itu. “saklek” de el el perkedel. hidup tuh cuma 70 atau 80 tahun jika kuat. Di sekolah. maka komputer itu bisabisa muntah. Cuy… Udah biasa banget kita denger kata ini. di kantor. Mmmmmmm………Sayang banget kan kalo hidup gak bisa dinikmatin. orang gak bisa nikmatin lagi yang namanya idup. Buat orang yang kerja mulu dari pagi sampe malem…saatnya bilang STOP dan santailah sebentar. Ada yang langsung tapi ada yang bertahap. So. Heheheee…. Pergilah dan lihatlah ke lapangan futsal dan bermainlah (inget. masalahnya terletak pada kelelahan otak.

di kebon dan sebuagainya…. Pada saat ini. Misalnya. mengambil tuhan lain dan menyembah pujaannya atau patung. Di setiap masa. 6. Akan tetapi. Buat mereka yang tidur mulu sepanjang hari. kayu atau bahan baku yang lainnya. Kira-kira gw diposisi mana ya? Merenunglah!!!!!!!! Berhala 3/18/2009 10:37:01 AM domba jantan Berhala adalah patung yang berbentuk makhluk hidup atau benda yg didewakan. sebagai simbol. lebih takut kepada seseorang/benda dibanding rasa takut kepada Allah. selalu ada manusia yang meduakan Allah. Dipecat deh. bahkan hanya sekedar untuk dipajang sebagai barang koleksi. bisa pula dijadikan menjadi kata kerja yang artinya berbeda lagi. (Sumber Wikipedia) Berhala-berhala di zaman ini 1. Harta yang dianggap sebagai segala-galanya... disembah dan dipuja. berhala juga termasuk mahkluk hidup yang disembah. Orang Kristen tetap bekerja di Hari Minggu sehingga seakanakan tidak ada lagi waktu untuk mengikuti misa atau kebaktian. Sekarang saatnya kita bertanya sama diri sendiri. Dibuat oleh tangan manusia terbuat dari batu. Uang.akhirnya gak beres kerjaannya. Pada dasarnya. masih ada pula sebagian etnis yang membuat berhala untuk disembah. kata kerja dari memberhalakan berarti memuja dan mendewakan. seperti memberhalakan sesuatu tidak selalu berarti bahwa pemujanya mengatakan “inilah tuhan yang harus disembah”. menyembah berhala dapat berarti rasa suka seseorang terhadap sesuatu melebihi rasa sukanya kepada Allah. di kelas.. yang bukan atas perintah Tuhan. di kantor. Tidak juga berarti bahwa ia mesti bersujud dihadapannya. Sinchan dan lain-lain di pagi hari yang membuat anak-anak enggan ke gereja). atau lebih mencintai seseorang/benda dibanding cintanya kepada Allah.bunuh diri deh. Orang terlalu santai akhirnya gak lulus ujian.Truzzz ngapainzzz? Ya belajar atau kerjalah. Sedih amat! Jadi NOTHING juga. Wuihhh uda berbusa ni mulut. di rumah. Orang mencari uang terus-menerus dalam seluruh waktu hidupnya dan melupakan Tuhan. Belajar dan kerja buat memuji dan memuliakan Tuhan. Acara televisi (Doraemon. 2. Pada zaman ini. Dalam hal ini termasuk karier yang diagung-agungkan. Idola-idola (gara-gara nonton Peterpan di hari Minggu. Buat orang yang seharian di depan komputer buat nge game doang…. Tentunya acara televisi lain yang membuat orang lupa akan Tuhannya. emas. 4. Game dan internet yang membuat orang lupa akan segalanya sehingga anak-anak dapat . 3. Eh gak lulus juga…jadi stress dan…. didewakan dan dipuja bukan atas perintah Tuhan. orang menjadi malas ke Gereja) 5..BANGUN. Ambil Paket C deh.Saatnya untuk berhenti maen dan SHUT DOWN komputernya…. Pekerjaan yang berlebihan (workaholic) yang menyebabkan dia lupa akan kewajibannya sebagai orang beriman.

. Peraturan menjamin kebebasan yang bertanggungjawab. sehingga dimungkinkan kehidupan bersama yang lebih tertib. Ia menjamin keadilan sehingga dengan demikian terciptalah suasana yang lapang dan bebas. Karena dengan kebebasan ini manusia bisa mengarahkan kepada kesempurnaan.menghabiskan waktu sehari penuh di depan layar computer. kewajiban.) Peraturan berfungsi untuk menjamin ketertiban dalam kebebasan. Anda dapat mencarinya sendiri…. Contoh : bagaimana kita dapat belajar kalau suasana sekolah ramai dan tidak teratur. Keinginan dan cita-cita tidak akan tersalur kalau kita tidak merasa bebas. Akan tetapi kebebasan sering disalahartikan dengan bebas berbuat apa saja sekehendak hatinya sehingga adanya peraturan dan kehadiran seseorang yang berwenang dipandang sebagai penghalang atau penghambat bagi kebebasannya. Apa yang akan terjadi. Ia menjamin kepentingan atau kesejahteraan setiap orang dan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara adil.) Peraturan berfungsi menyalurkan kuasa atau wewenang untuk mengatur tingkah laku manusia. tenggang rasa. d.Kebebasan pribadi juga tidak akan terjamin kalau dalam masyarakat tidak ada peraturan. Kita menjumpai bahwa justru mereka yang mampu memilih untuk mengikatkan diri pada peraturan. Contoh : bayangkan kalau tidak ada peraturan lalu lintas. Kebebasan dan Peraturan 3/16/2009 8:26:42 AM domba jantan Kebebasan pada zaman ini menjadi harapan bagi banyak orang. Peraturan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan . Bagaimana bisa menjadi orang yang disiplin kalau kita di sekolah tidak punya peraturan yang mendidik orang menjadi pribadi yang disiplin. merekalah yang sungguh-sungguh memiliki kebebasan itu. (tuh moderator penting kan) 2. Kebebasan yang bertenggang rasa dengan kepentingan orang lain.Kebebasan masyarakat sungguh terjamin kalau setiap orang mengikuti peraturan yang ada. kalau tidak maka akan terjadi kekacauan dan kalau terjadi kekacauan maka kebebasan dalam masyarakat tidak terjamin lagi.) Peraturan bukan hanya menjamin kebebasan tetapi juga mengembangkan dan mematangkan kebebasan. tugas dan orang lain.) Peraturan menjamin kebebasan yang tertib Dalam arti ini ingin dijelaskan bahwa kebebasan benar-benar berkembang hanya berkat adanya peraturan. • Hubungan antara kebebasan dan peraturan 1.) Peraturan dapat membangun kepribadian seseorang dalam soal kedisiplinan. Dll. tahu menahan diri. bersikap sosial dan lain sebagainya. Karena kalau orang boleh berbuat apa saja pasti akan mengganggu kebebasan orang lain. salah satunya adalah melindungi kebebasan seseorang dari tindakan sewenang-wenang orang lain. c. Secara singkat fungsi peraturan dapat dijelaskan sebagai berikut: a.) Peraturan berfungsi menjamin kebebasan yang tertib. . b.

Peraturan kadang kala tidak dapat diterapkan secara sama begitu saja di mana-mana dan bagi segala orang. Manusia dikaruniai kebebasan sebagai anugrah yang luar biasa dari Tuhan selain akal budi. manusia mengarahkan kepada kesempurnaan. sekurang-kurangnya oleh ruang gerak bebas yang menjadi hak sesama manusia. I. Arti dan Fungsi Kebebasan • Arti Kebebasan Sudah dikatakan di atas bahwa kebebasan dapat dimengerti sebagai kemampuan untuk bertindak dengan tanpa paksaan.Kita perlu kristis terhadap kebebasan sebab kebebasan sering disalahartikan dan disalahtafsirkan. kebebasan manusia terbatas juga. Dengan kebebasan inilah. Anugerah-anugerah ini sungguh sangat meninggikan martabat manusia. Oleh karena itu.Kita perlu kritis terhadap peraturan sebab banyak peraturan yang tidak sah dan tidak adil. kita perlu mempunyai daya kritis terhadap peraturan dan kebebasan. Akhirnya perlu disadari bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas jasmani-rohani dan sosial. Tujuannya adalah bahwa sesama berhak mengecapi kebebasan yang sama seperti dia dan bermartabat seperti dia. Secara singkat alasan mengapa kita harus mempunyai daya kritis terhadap peraturan dan kebebasan adalah sebagai berikut: . Bukan karena terpaksa tetapi karena rela dan sadar. Kiranya penting bagi kita untuk menyadari dan mendalami kebebasan sejati dalam arti yang sesungguhnya. Hanya penguasaan dirilah yang membuat kita menjadi manusia yang bebas. segala pembatasan yang tidak wajar dan tidak perlu seharusnya ditentang.peraturan orang dapat menghayati kebebasan yang lebih bertanggung jawab yang dengan begitu kebebasan menjadi lebih dewasa. Selanjutnya. . Kebebasan baik orang perseorangan maupun bangsa merupakan nilai yang sangat luhur. • Sikap kritis terhadap peraturan dan kebebasan Untuk sampai pada kebebasan dan peraturan yang sejati dan tidak terjerumus dalam kebebasan yang disalahartikan. menjadi tanggung jawab orang itu dan masyarakat atau kelompok yang bersangkutan. . Menggunakan kebebasan secara salah atau tidak menggunakannya. . akal budi yang sehat menuntut setiap orang supaya tunduk kepada hukum susila dan hukum pergaulan. orang yang matang dalam kebebasan justru menciptakan banyak peraturan untuk dirinya sendiri. Kebebasan 3/16/2009 8:25:56 AM domba jantan Setiap manusia pada dasarnya menginginkan adanya suatu kebebasan dalam dirinya. Oleh karena itu. Kebebasan adalah salah satu ciri khas dari manusia. bahwa ia mengakui Yang Maha Tinggi sebagai pencipta. Itu berarti bahwa . Bahkan.Kebebasan tidak dapat diterapkan secara sama di mana-mana. kebebasan tidak dipisahkan dari tanggung jawab. Tetapi di lain pihak. Kebebasan tidak dimengerti hanya sebagai sebuah situasi atau suasana di mana manusia dengan leluasa melakukan sesuatu tetapi dipahami sebagai sebuah kemampuan.

kebebasan dapat dirumuskan sebagai kemampuan manusia untuk mengatur perilaku dan kehidupannya menurut kehendaknya sendiri tanpa dibatasi atau dihalangi oleh kemampuan intern (psikis) atau pun oleh hambatan ekstern (paksaan dari pihak luar) yang dapat bersifat sah dan wajar. misalnya bebas dari suatu ikatan atau paksaan untuk menjalankan sesuatu.) Kebebasan dalam arti negatif berarti bebas dari. larangan dan desakan yang tidak sampai kepada paksaan fisik. # Kebebasan Moral artinya bebas dari ikatan atau tindakan yang berupa ancaman-ancaman. Kebebasan berfungsi untuk memupuk kesadaran moral manusia. a.yang namanya kebebasan sudah ada dalam diri manusia secara hakiki. sekaligus dapat kita lihat orang macam apakah kita ini. Suasana bebas meninggikan rasa tanggung jawab. Karena kebebasan merupakan kemampuan untuk menentukan diri kita sendiri. dengan kesadarannya bahwa hanya sayalah yang berhak menentukan tindakan ini akan saya lakukan atau tidak. Maka kebebasan untuk berbuat sesuai dengan keyakinan mengenai yang baik dan yang buruk adalah suatu hak asasi manusia (kebebasan untuk mengikuti suara hati) yang tidak dapat diberi atau diminta orang lain. penjara dll. # Tidak dipaksa/terikat untuk membuat sesuatu yang tidak dipilihnya sendiri atau pun dicegah untuk melakukan apa yang dipilihnya sendiri oleh kehendak orang lain. Karena . b.) Kebebasan dalam arti positif berarti bebas untuk berbuat sesuatu. Jangkauan kebebasan kehendak adalah sejauh jangkauan kemungkinan untuk berpikir. Seseorang yang memiliki kebebasan yang sejati akan melihat setiap kewajiban moral sebagai sesuatu yang sangat berguna bagi dirinya dan dikehendaki untuk dilakukan. Bahkan negara pun tidak punya hak untuk mencabut hak ini. • Fungsi Kebebasan 1. # Kebebasan Kehendak artinya kebebasan untuk menghendaki sesuatu. sebaliknya kalau tidak ada kebebasan. 3. tetapi juga dapat bersifat tidak sah dan jahat. # Ia bebas untuk memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang tersedia baginya. Dengan maksud dan tujuan tertentu. maka rasa dan kemampuan bertanggungjawab pun akan menyurut. Inilah arti hidup manusia. 2. Sehingga kebebasan itu dapat berbentuk: # Kebebasan Jasmaniah (fisik) artinya bebas dari suatu ikatan atau paksaan yang bersifat lahiriah seperti : belenggu. Singkatnya kebebasan adalah suatu kemampuan positif sehingga manusia dengan berbuat baik (atau sekurang-kurangnya dengan tidak berbuat jahat). Sebaliknya. • Kebebasan dapat dilihat dalam arti negatif mau pun positif. Inilah tanggung jawab dan tugas manusia yang pokok dan utama. Mentaati hukum moral secara otonom (tanpa dipaksa atau disuruh) sedikitpun tidak merendahkan martabat yang dimiliki oleh manusia. Dengan kata lain. maka kita pun terbentuk dalam tindakan yang bebas. hanya kalau manusia berhadapan dengan kewajiban moral manusia dapat menghayati kebebasannya dengan penuh. Kebebasan memungkinkan manusia bertindak dan melakukan sesuatu dengan sengaja. merealisasikan dirinya menjadi orang yang baik. Seseorang dikatakan bebas kalau: # Ia bebas untuk menentukan sendiri tujuantujuan dan apa yang mau dilakukannya. Karena manusia memikirkan apa saja. khususnya bebas untuk berbuat baik. Mentaati hukum moral berarti mentaati dirinya sendiri. Dengan melihat bagaimana kita bersikap terhadap kewajiban moral. Kebebasan mempertebal rasa tanggung jawab manusia. ia dapat juga menghendaki apa saja.

. Suara Hati 3/16/2009 8:24:08 AM domba jantan . b. Oleh karena itu. Tidak mungkin ada tanggung jawab tanpa ada kebebasan dan baru dalam sikap yang bertanggung jawab kebebasan mencapai pelaksanaannya yang menyeluruh. Oleh karena itu. Dengan kata lain sikap moral yang dewasa adalah sikap yang bertanggung jawab. Dengan demikian mereka menemukan kebebasan dan keinginan pribadi dalam kepentingan bersama. • Perlunya pengarahan dan pembinaan kebebasan Kebebasan perlu dibina dan diarahkan karena: a. adanya kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan sesuatu dengan sadar. Bila kita bandingkan dengan makhluk lain (misalnya hewan). maka kebebasan itu perlu dipelajari. Karena perlunya kebebasan bagi perkembangan hidup manusia maka kebebasan perlu dibina dan diarahkan dengan cara konkret. akal budi dan kebebasan adalah ciri khas manusia.melakukan kewajiban seharusnya tidak hanya disadari oleh susuatu yang diwajibkan (harus dilakukan) melainkan dengan sadar bahwa saya melakukan ini demi suatu kebaikan yang mau dijamin oleh kewajiban itu. • Kebebasan sebagai unsur khas manusiawi. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ternyata kebebasan sesungguhnya dapat memanusiakan manusia itu. ditafsirkan dan dihayati secara baru sesuai zaman dan lingkungan.menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan orang banyak sehingga mereka dapat belajar bertenggang rasa dengan orang lain.) Kebebasan masih sering disalah-artikan dan disalah-gunakan. padahal kebebasan sangat penting dan berarti dalam perkembangan manusia. ia hanya mempunyai naluri. kebebasan mampu memperkaya kepribadian seseorang dengan kesadaran moral dan tanggung jawab yang tinggi. Oleh karena itu. Kecuali itu. Hewan juga tidak pernah bisa bertanggung jawab. kebebasan sangat erat hubungannya dengan tanggung jawab. bisa memupuk kesadaran moral dan mempertebal rasa tanggung jawab. pengertian dan penghayatan yang keliru mengenai kebebasan itu perlu diluruskan dengan pengarahan-pengarahan dan pembinaan-pembinaan yang baik. Oleh sebab itu.Mengikutsertakan sebanyak mungkin orang dalam menyusun suatu peraturan sehingga semua orang merasa bertanggung jawab dan juga gembira mentaatinya tanpa merasakan bahwa kebebasannya dibatasi. Bertanggung jawab agar kita sedapat mungkin mencapai yang baik dan bernilai untuk diri kita sendiri dan orang lain. Singkatnya bahwa hewan itu tidak akan pernah bisa maju. Sudah kita bahas bersama bahwa seorang manusia dikaruniai Tuhan dengan dua anugerah istimewa yaitu akal budi dan kebebasan. hewan tidak pernah merasa tahu apakah ia bertindak benar atau salah.) Pengaruh lingkungan dan pengaruh zaman dapat mengaburkan pandangan yang tepat mengenai kebebasan. Sebab. misalnya: .

Suara Hati I. penilaian kita perlu terbuka terhadap sangkalan dan tantangan. Maka. wajib kita tolak. 2. Kekuatannya terletak pada pegangannya terhadap hati dan akal kita. Tuhan tidak dapat salah. (dalam hal ini nilai-nilai agama juga termasuk di dalamnya). suara hati bukan merupakan suara Tuhan karena suara hati itu dapat salah. Namun. tetapi tidak dengan hati kita. Akan tetapi manusia tidaklah mutlak. II. Suara hati membuat kita sadar bahwa kita selalu berhak untuk mengambil sikap sendiri. sedangkan perasaan adalah urusan masing-masing orang. • Apakah suara hati sama dengan perasaan? Suara hati bukanlah perasaan. ateisme . Suara hati adalah kewajiban mutlak yang harus kita lakukan. bertanya kepada orang yang lebih banyak pengalaman (bimbingan rohani) dan lain sebagainya. Superego menyatakan diri dalam perasaan malu dan bersalah yang muncul secara otomatis dalam diri kita apabila melanggar norma-norma yang telah dibatinkan. 3. • Apakah suara hati sama dengan suara Tuhan? Suara hati disebut sebagai suara Tuhan karena kemutlakannya. suara hati bukanlah suara Tuhan. Dalam mengambil keputusan pun. Oleh karena itu. Suara hati harus selalu ditaati. suara hati masih dapat diperdebatkan. (berasal dari nilai-nilai yang diberikan keluarga. Kita tidak dapat menolak adanya suara dalam hati kita yang berbicara. negara) Kita belajar dari keluarga. belajar dari pengalaman. terbuka terhadap pihak lain dan menanggapinya. Dengan suarah hati. manusia tidak diizinkan untuk menjadi pembeo atau kerbau yang mudah digiring menurut pendapat orang lain. Kesadaran akan yang baik dan yang buruk dalam situasi nyata yaitu situasi seseorang berhadapan dengan pilihan-pilihan. Tandanya adalah bahwa kita merasa bersalah apabila kita mengelak dari suara hati meskipun suara hati masih dapat keliru. Sedangkan perasaan adalah penilaian subjektif seseorang terhadap kenyataan tertentu. Tiga Lembaga Normatif 1. Ideologi Ideologi adalah segala macam ajaran tentang makna kehidupan. Suara hati menuntut pertanggungjawaban rasional. Institusi Masyarakat (keluarga. sekolah. toh suara hati kita akan berbicara saat kita berada pada suatu pilihan. Nilai-nilai ini dibatinkan dalam diri kita dan dikenal dengan superego. suatu perintah melawan suarah hati. Superego Superego (yang merupakan teori dari Sigmund Freud) adalah perasaan moral spontan di dalam batin kita. sebaiknya kita tidak berpedoman atas dasar pendapat kita saja saat itu. sekolah dan sebagainya yang dibatinkan). hanya Tuhan yang mutlak. Suara hati adalah pusat kemandirian manusia. Dan suara hati itu mengarah kepada sesuatu yang baik. melainkan harus mencari informasi dan pertimbangan yang relevan. tentang nilai-nilai dasar dan tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak. sekolah. • Bagaimana mendidik suara hati? Mendidik suara hati itu dengan membaca banyak buku. negara dan sebagainya tentang apa yang baik dan yang buruk serta nilai-nilai lain. Senang atau tidak. Suara Hati Suara hati adalah kesadaran moral dalam situasi konkret. dari mana pun datangnya. Tuntutan lembaga-lembaga normatif bisa saja membelenggu fisik kita. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Suara hati bersifat objektif dan selalu memiliki alasan masuk akal mengapa kita mengikutinya.

baik dan tahu. Agama bagi Feuerbah mempunyai nilai positif karena merupakan proyeksi hakekat manusia. akan tetapi dengan kemandiriannya itu Allah menyatakan kehendaknya. Ia menyembah Allah agar Allah memberikan kesempurnaan itu. misalkan bahwa dia itu kuasa. Secara sederhana. Seakan-akan kita ini wayang. Maka manusia menyembah Allah agar mendapat berkah kesempurnaan darinya. Ia harus menolak kepercayaan kepada Allah yang mahakuat. manusia. Maksudnya begini (dalam kaca mata tafsiran Feuerbach). Allah mengungkapkan diri. sedangkan Allah berada sebagai objek pikiran manusia. hal itu dapat menghalangi manusia untuk bertindak social. Menurut Feuerbach. pengalaman yang tidak terbantahkan adalah pengalaman inderawi dan bukan pikiran spekulatif. mahaadil. pengertian dan kemauan sendiri. Apakah benar bahwa agama tidak lebih dari pada . Manusia hendaknya berusaha keras dalam mencapai kesempurnaan itu. Menurut Hegel (1770-1831) dalam kesadaran manusia. kita merasa berpikir dan bertindak menurut kehendak atau selera kita tetapi di belakangnya Allah mencapai tujuannya. manusia dapat melihat siapa dia. berbelaskasihan dan lain sebagainya. manusia mengharapkan akan menerima keutuhannya dari Allah dan kesempurnaannya di surga. Kepastian inderawi adalah satu-satunya penjelasan yang tidak terbantahkan. dari pada berusaha untuk menjadi seutuh dan sesempurna mungkin. oleh karena itu tidak heran jika manusia beragama sering tampak intoleran dan fanatik. Meskipun di tingkatannya sendiri manusia bebas dan mandiri. Ia begitu terkesan dengan proyeksi itu sehingga menganggapnya sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya. tidak sadar bahwa mereka di dalangi olehNya. Proyeksi itu hakekatnya sangat sempurna (karena manusia selalu mencitacitakan diri secara sempurna). adil. namun yang sebenarnya tetap di tangan Allah. Hegel seakan-akan memutarbalikan fakta bahwa yang nyata adalah Allah (yang tidak kelihatan) dan manusia (yang kelihatan) adalah wayangnya. Karena merasa tidak mampu dan ingin mengharapkan kesempurnaan akhirnya manusia melekatkan diri ideal itu pada sesuatu yang disebut “Allah”. Para pelaku. Bukan Allah yang menciptakan manusia melainkan manusialah yang menciptakan Allah. Sang Dalang.3/13/2009 11:25:46 AM domba jantan Kritik Agama Ludwig Feuerbach (1804-1872) Feuerbach mendasarkan pemikirannya berdasarkan kritiknya atas pemikiran seorang filsuf bernama Hegel. dan mahatahu supaya ia sendiri kuat. Allahlah ciptaan angan-angan manusia. Dalam agama. baik. kreatif. Padahal yang nyata adalah manusia. Agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. mahabaik. Namun sayangnya manusia tidak sadar bahwa proyeksi itu adalah diri sendiri. Jadi Allahlah pelaku sejarah yang sebenarnya tetapi seakan-akan ada di belakang layer. wayang-wayang yang memang dengan kesadaran. Tanggapan atas kritik Feuerbach. Oleh karena itu. Feuerbach mengkritik pemikiran inti Hegel ini. Feuerbah berpendapat bahwa manusia hanya dapat mengakhiri keterasingannya dan menjadi diri sendiri apabila ia meniadakan agama. Menurut Feuerbach.

Andaikan Allah ada. prasangka. Agama Candu Rakyat : Karl Marx Marx setuju dengan Feuerbach. tidak berarti bahwa agama tidak lebih dari pada sebuah proyeksi. Allah Telah Mati : Friedrich Nietzche “Allah telah mati dan kamilah pembunuhnya. Nietzche tidak . Banyak institusionalisasi dalam agama-agama berkembang di kemudian hari..Penderitaan religius adalah ekspresi penderita nyata dan sekaligus protes terhadap penderita nyata. Bahwa dalam agama-agama ada proyeksi manusia. Jadi agama adalah protes manusia terhadap keadaannya yang terhina dan tertindas. Dengan penindasan. Tetapi masalahnya apakah agama itu tidak lebih dari proyeksi manusia? Itulah yang tidak pernah dibuktikan oleh Feuerbach. Agama adalah ilusi manusia tentang keadaannya. “Agama adalah realisasi dari hakikat manusia dalam anganangan karena hakikat manusia tidak mempunyai realitas yang sungguhsungguh…. soalnya dirinya sendiri berdasarkan pada Allah. Jadi Feuerbach ada benarnya. Oleh karena itu. sangatlah rasional jika manusia menyembah. Hanya saja menurutnya. Manusia lari dari kehidupan nyata karena struktur kekuasaan masyarakat tidak mengijinkan manusia untuk mewujudkan kekayaan hakikatnya. memuji serta mohon bantuan Allah.sebuah proyeksi manusia? Ada benarnya karena dalam agama-agama mudah ditemukan banyak unsur yang mencerminkan cita-cita. Banyak kenyataan dalam hidup umat beragama tidak berdasarkan wahyu dari Allah. Agama adalah keluhan makhluk terdesak. kritik tidak hanya berhenti pada agama melainkan pada keadaan sosial politik yang mendorong manusia kepada agama. Kemudian. melainkan merupakan hasil kreatifitas maupun kepicikan umat yang bersangkutan sendiri. agama seakan-akan melumpuhkan semangat melawan dari kelas-kelas tertindas kepada kelas-kelas atas. Pengalaman inderawi bukan segala-galanya. Manusia melarikan diri ke dunia khayalan karena dunia nyata menindasnya.” Mengapa Allah harus dibunuh dan bagaimana pembunuhan Allah dilakukan. Pertanyaan yang tidak diajukan Feuerbach “Apakah ada Allah atau tidak?” Feuerbach belum menyentuh pertanyaan ini. maka menghormati dan menyembah Allah tidaklah menjauhkan manusia dari dirinya sendiri. Banyak hal yang dipercayai dan dilakukan atas nama agama yang sebenarnya tidak ditemukan dalam wahyu aseli agama yang bersangkutan. Ia tidak membuktikan akan ketiadaannya Allah. Feuerbach berhenti di tengah jalan. Jika memang Allah ada. tentulah Allah yang mencipta segalanya. melainkan interpretasi yang miring atau tambahan kontektual kemudian. Ia akan menemukan diri sendiri jika ia menemukan Allah. Jika demikian. hati dunia tanpa hati. Ia masih belum menyentuh pada pertanyaan apakah Allah itu ada atau tidak. sebagaimana dia adalah roh keadaan yang tanpa roh. tidak semua orang beragama menjadikan agama sebagai pelarian dari situasi sosial politik. Allah sebenarnya tidak dibunuh.” Kritik agama tidaklah bermanfaat dan yang diperlukan untuk mengubah dunia adalah mengubah keadaan masyarakat yang membuat manusia lari ke agama. Agama adalah candu rakyat. Maka pernyatan Feuerbach tidak dapat dipertahankan dan dianggap sebagai pernyataan yang sewenang-wenang. Tanggapan atas kritik Karl Marx. Betul bahwa agama hanyalah khayalan manusia tetapi Marx menjelaskan mengapa manusia melarikan diri ke dalam khayalan tersebut. Semua unsur manusiawi itu memang proyeksi manusia. emosi manusia.

manusia mencari keselamatan dari “Tuhan” yang tidak kelihatan dan tidak nyata. atau bahkan agama menjadi saluran kebencian kerdil. bersedia berkurban dengan tidak menggerutu atau minta belas kasihan. kemalasannya. Maka bagi Nietzche. Agama adalah ciptaan mereka yang kalah. Ateisme Sigmund Freud Freud mengkritik bahwa agama adalah pelarian neurotis dan infantil dari realitas. picik. Nietzche berpendapat bahwa yang menciptakan Allah adalah manusia. ribuan dan bahkan tak terhitung banyaknya orang yang percaya pada Tuhan karena merasa didukung olehNya lalu berani menjadi manusia bagi orang lain dengan gembira. Tanggapan atas Kritik Nietzche Struktur kritik Nietzche searah dengan kritik agama Feuerbach dan Karl Marx dan ia tetap tidak dapat menunjukkan atau membuktikan tidak adanya Allah. Moralitas itu kemenangan sentimen mereka yang diperbudak atas para tuan mereka karena nilainya justru menjunjung tinggi sifatsifat para budak (berbahagialah orang miskin dsb). semua pelarian dan kelelahan jiwa. Oleh karena itu jika manusia mau jujur. yang tidak berani melawan. Semuanya itu harus ditolak dengan penuh kejijikan oleh semua orang yang masih memiliki harga diri. Allah membuat manusia menjadi kerdil dan mengkorupsikan moralitasnya. Namun apakah kepercayaan kepada Allah hanya itu saja yang berisi tentang pelarian dan kebohongan? Bukankah ada ratusan. Penuh . Moralitas ini meluhurkan mereka yang sakit. dogmatis. Ia mengatakan bahwa Allah telah mati bukan karena memang Dia pernah ada. kelemahannya untuk berusaha berkembang. dan tidak berani berkuasa. Allah pada akhirnya tetap dan harus dibunuh karena sesudah Allah diciptakan manusia. Bukankah agama telah membebaskan tak terhitung banyaknya manusia untuk membuka hati untuk menghadapi realitas hidup dengan segala risiko dan tantangannya tanpa harus menghindar bahaya atau membuat suatu dendam atau kebencian pada orang lain. agama dan moralitasnya adalah sosok buruk yang membenarkan semua naluri dekaden (penurunan). Namun menurutnya. kesediaan untuk tidak membalas. Ia menguasai manusia dan mengasingkannya dari diri sendiri dan dari dunianya.pernah mau mengatakan bahwa Allah itu ada. tetapi karena diciptakan oleh manusia. untuk membuka diri. ia harus menolak kepercayaan akan Allah. Dari pada berani menghadapi dunia nyata dengan segala tantangannya. Ada benarnya bahwa dalam sejarah hidupnya manusia menjadikan Allah atau agama sebagai tameng dari perasaan-perasaannya seperti rasa takut. Penilaian Nietzche begitu keras karena baginya agama tak lain adalah pelarian dari dunia yang seharusnya dihadapi (jika ia mau jujur). menerima. lumpuh dan kaum gagal. menawarkan “pipi kiri” jika ditampar “pipi kanan” dan lain sebagainya. Agama itu berkaitan erat dengan moralitas 2000 tahun terakhir yang dicirikannya sebagai moralitas budak seperti kerendahan hati. Manusia beragama seperti itu apakah berhati budak. Hal itu semua tidak perlu disangkal. kekejaman dan kebengisan atau sebagai dalih yang paling mudah untuk bersikap sok tahu. tidak toleran serta lari dari otentisitas diri dan lain sebagainya. Agama menurutnya adalah sentiment mereka yang dalam hidup nyata itu kalah sehingga mengharapkan bahwa sesudah hidup ini mereka akan dimenangkan oleh kekuatan di alam baka. Allah itu dianggap sebagai kebenaran sehingga manusia hidup dalam kebohongan. kecurigaannya. sikap rela. kecenderungan untuk lari dari tanggung jawab.

Tidak. saingannya itu sekaligus dikagumi keperkasaannya. ia waktu itu langsung menyingkirkan kejadian itu dari ingatannya. terus menerus mencuci tangan dan lain sebagainya. Menurut Freud. Jadi melalui agama. ada anak diperkosa. Ada orang beragama yang berusaha dalam hidupnya untuk meraih mimpi-mimpinya. Ia menjadi pasif dengan mengharapkan keselamatan dari Tuhan dari pada mencari jalan untuk mengusahakan sendiri dan mengembangkannya sendiri. takut tanpa alasan. neurosis itu berkaitan dengan superego. Neurosis itu menyebabkan ia tidak dapat mengembangkan diri secara dewasa (berpikir rasional terhadap masalah). Ilusi itu infantile (kekanak-kanakan) karena mengharapkan apa yang diinginkan sungguh-sungguh akan terpenuhi adalah ciri khas anak kecil. bukan karena kenyataan mendukung harapan itu melainkan karena orang menginginkannya. manusia mau melindungi diri terhadap segala macam ancaman dan penderitaan. tetapi tidak semua orang. Dewa-dewa bukannya sungguh-sungguh melindungi manusia melainkan hanya diinginkan agar melindunginya. Penyebab neurosis yang paling penting adalah Kompleks Oedipus yaitu anak kecil laki-laki ingin kawin dengan ibunya. Karena merasa amat malu. Pengangkalan itulah yang dapat menghasilkan neurosis. Ada orang yang dengan beragama dan beriman pada Tuhan semakin bertindak secara rasional dalam menghadapi permasalahan. membuat orang menerima kekejaman nasibnya dan menjanjikan ganjaran atas penderitaan dan frustrasi yang dituntut dari manusia. maka ia ingin membunuh ayahnya. agama melumpuhkan manusia. Namun karena keinginan itu ditegur keras oleh superego sebagai buruk dan memalukan. Freud bertolak dari fungsi agama. Ada orang religious yang tidak menunjukkan tanda-tanda neurotik sama sekali. Tetapi rasa malu yang tertekan seakan-akan ribut terus dalam bagian jiwa tak sadar dan sesudah waktu tertentu akan muncul kembali ke permukaan kesadaran sebagai suatu kelakuan yang aneh. Misalnya. bahagia dan terbuka karena beriman. melainkan menyangkalnya. Mereka gembira. Superego membonceng suara hati. Superego itu berasal dari apa yang diterima dari norma orang tua dan masyarakat. Agama membawa orang pada sikap infantil dimana mereka menghadapi permasalahan nyata dengan wishful thinking. Namun perlindungan itu hanyalah ilusi. orang tidak dapat berkomunikasi dengan normal. Freud pun tidak dapat menunjukkan tidak adanya Allah. Tanggapan Apakah semua orang neurosis. tetapi tidak bisa karena ibu sudah memiliki ayahnya. Misalnya. Oleh karena itu. Itulah ilusi dimana ada keyakinan bahwa suatu harapan akan terpenuhi. neurosis dapat terjadi apabila orang bereaksi tidak benar atas suatu pengalaman yang amat emosional dan memalukan. Dalam dunia nyata. yang tidak dapat diatasinya. Agama membuat manusia percaya akan adanya dewa-dewa yang mengatasi ancaman-ancaman alam. seakan-akan tidak ada yang terjadi. Superego muncul untuk memberi penilaian dan orang tidak lagi melihat permasalahan secara rasional dan aktual. Menurut Freud. ia tidak menanggapinya. Sumber "menalar tuhan" Franz Magnis_Suseno <No Title> .ketakutan manusia tunduk terhadap sesuatu yang ada kaitannya dengan dunia nyata dan tantangannya. sifat infantil memang ada.

" Dari definisi ini ada dua unsur yang penting. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural. ketika salah satu unsur tersebut . Definisi Agama Menurut Durkheim Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu "sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudusÉ kepercayaankepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal. yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama. tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas. yaitu "sifat kudus" dari agama dan "praktek-praktek ritual" dari agama.3/6/2009 9:54:09 AM domba jantan Selamat dating Sosiologi Agama Durkheim oleh Mohamad Zaki Hussein Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota A. karena ia akan menjadi bukan agama lagi.

dan disebut sebagai mana. dan hal ini akan dibahas nanti. B. sehingga memiliki tempat tertentu di dalam organisasi masyarakat. "kekudusan"-pun merupakan prasyarat bagi suatu aturan moral untuk dapat hidup di masyarakat. kekuatan kudus itu jelas terlihat berbeda dari obyek-obyek totemnya. ada tiga obyek yang dianggap kudus. lambang totem dan para anggota suku itu sendiri. tetap terdapat pada moralitas rasional. Sifat Kudus Dari Agama Sifat kudus yang dimaksud Durkheim dalam kaitannya dengan pembahasan agama bukanlah dalam artian yang teologis. Di dalam totemisme." Sifat kudus ini dibayangkan sebagai suatu kesatuan yang berada di atas segala-galanya. yaitu kekudusan. Pada totemisme Australia. Ciri khas yang sama. dan memiliki sifat yang historis. melainkan sosiologis. yang memaksakan pemisahan radikal dari yang duniawi. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya. Dengen demikian. Sifat kudus itu dapat diartikan bahwa sesuatu yang "kudus" itu "dikelilingi oleh ketentuan-ketentuan tata cara keagamaan dan larangan-larangan. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya. Tetapi di Amerika Utara dan Melanesia. Ini terlihat dari rasa hormat dan perasaan tidak bisa diganggu-gugat yang diberikan oleh masyarakat kepada moralitas rasional tersebut. yang melibatkan dua ciri tadi. yaitu totem. Dunia modern dengan moralitas rasionalnya juga tidak menghilangkan sifat kudus daripada moralitasnya sendiri.terlepas. Ini menunjukkan bahwa "kekudusan" suatu obyek itu tidak tergantung dari sifat-sifat obyek itu an sich tetapi tergantung dari pemberian sifat "kudus" itu oleh masyarakatnya. Durkheim menyambungkan lahirnya pengkudusan ini dengan perkembangan masyarakat. Karena itu semua benda di dalam totemisme Australia memiliki sifat yang kudus. Pada totemisme Australia ini tidak ada pemisahan yang jelas antara obyek-obyek totem dengan kekuatan kudusnya. sehingga setiap upaya untuk menghilangkan sifat "kudus" dari moralitas akan menjurus kepada penolakan dari setiap bentuk moral. benda-benda yang berada di dalam alam semesta dianggap sebagai bagian dari kelompok totem tertentu. Ritual Agama . C. Sebuah aturan moral hanya bisa hidup apabila ia memiliki sifa "kudus" seperti di atas.

Menurut Durkheim ide tentang "klasifikasi yang hierarkis" muncul sebagai akibat dari adanya pembagian masyarakat menjadi suku-suku dan kelompok-kelompok analog. dll. yaitu yang "kudus" dengan yang "profan" tidak saling mengganggu.Selain daripada melibatkan sifat "kudus". dan pemisahan ini justru adalah dasar dari eksistensi "kekudusan" itu. Di dalam hal ini agama menurut Durkheim adalah sebuah fakta sosial yang penjelasannya memang harus diterangkan oleh fakta-fakta sosial lainnya. Praktek ini menjamin agar kedua dunia. sehingga berfungsi untuk memperbaharui tanggung-jawab seseorang terhadap ideal-ideal keagamaan. Orang yang taat terhadap praktek negatif ini berarti telah menyucikan dan mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam lingkungan yang kudus. Praktek ritual ini ditentukan oleh suatu bentuk lembaga yang pasti. praktek ritual yang negatif. Praktek-praktek ritual yang negatif itu memiliki fungsi untuk tetap membatasi antara yang kudus dan yang duniawi. yang berwujud dalam bentuk pantangan-pantangan atau larangan-larangan dalam suatu upacara keagamaan. Menurut Durkheim totemisme mengimplikasikan adanya pengklasifikasian terhadap alam yang bersifat hierarkis." Tetapi hal itu mencerminkan bahwa agama adalah merupakan implikasi dari perkembangan masyarakat. yang adalah upacara keagamaan itu sendiri. Hal ini misalnya ditunjukkan oleh penjelasan Durkheim yang menyatakan bahwa konsep-konsep dan kategorisasi hierarkis terhadap konsep-konsep itu merupakan produk sosial. yang berwujud dalam bentuk upacara-upacara keagamaan itu sendiri dan merupakan intinya. Tetapi ide mengenai "klasifikasi" itu sendiri tidak merupakan hasil dari pengamatan panca-indera secara langsung. suatu agama itu juga selalu melibatkan ritual tertentu.. itu memang timbul secara langsung dari pengamatan panca-indera. . D. Adapun praktek-praktek ritual yang positif. Ada dua jenis praktek ritual yang terjalin dengan sangat erat yaitu pertama. begitu pula dengan pemasukkan suatu obyek ke dalam bagian klasifikasi tertentu. berupaya menyatukan diri dengan keimanan secara lebih khusyu. "burung kakatua". serta praktek ritual yang positif. Obyek dari klasifikasi seperti "matahari". Di sini perlu diketahui bahwa itu tidak mengimplikasikan pengertian bahwa "agama menciptakan masyarakat. Contoh dari praktek negatif ini misalnya adalah dihentikannya semua pekerjaan ketika sedang berlangsung upacara keagamaan. Hubungan Antara Agama Dengan Kondisi Masyarakat Di atas tadi sudah dijelaskan bahwa agama dan masyarakat memiliki hubungan yang erat.

memiliki suatu fungsi untuk tetap mereproduksi kesadaran ini dalam masyarakat. yang merupakan obyek kudus. Dengan demikian. individu dibawa ke suatu alam yang baginya nampak berbeda dengan dunia sehari-hari. Hubungan antara agama dengan masyarakat juga terlihat di dalam masalah ritual. maka Durkheim berpendapat bahwa sebenarnya totem itu. Di dalam totemisme juga. Di sini agama nampak sebagai alat integrasi masyarakat. yang memiliki ciri-ciri dan memainkan peran yang sama seperti agama. di atas mana solidaritas mekanis itu bergantung. dilahirkan dari keadaan kolektif yang bergejolak. Menurut Durkheim totemisme adalah agama yang paling tua yang di kemudian hari menjadi sumber dari bentuk-bentuk agama lainnya. Ritual. beserta pemisahannya dengan dunia sehari-hari. Di dalam suatu upacara. Kemudian perubahan-perubahan sosial di masyarakat juga dapat merubah bentukbentuk gagasan di dalam sistem-sistem kepercayaan. Moralitas Individual Modern . melambangkan kelebihan daripada masyarakat dibandingkan dengan individu-individu. tetapi dapat kita lihat bahwa kesadaran akan yang kudus itu. menurut Durkheim dari pengatamannya terhadap totemisme. Konsep "kudus" seperti yang sudah dibicarakan di atas tidak muncul karena sifat-sifat dari obyek yang dikuduskan itu. E. di mana totem pada saat yang sama merupakan lambang dari Tuhan dan masyarakat. Masyarakat menjadi "masyarakat" karena fakta bahwa para anggotanya taat kepada kepercayaan dan pendapat bersama.Hal yang sama juga terjadi pada konsep "kudus". Kesatuan masyarakat pada masyarakat tradisional itu sangat tergantung kepada conscience collective (hati nurani kolektif). yang terwujud dalam pengumpulan orang dalam upacara keagamaan. Upacaraupacara keagamaan. dengan demikian. Ini terlihat dalam transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. di mana diikuti perubahan dari "agama" ke moralitas rasional individual. dan agama nampak memainkan peran ini. Seperti misalnya konsep kekuatan kekudusan pada totem itu jugalah yang di kemudian hari berkembang menjadi konsep dewa-dewa. yang dengan begitu turut serta di dalam memainkan fungsi penguatan solidaritas. dsb. walaupun di dalam buku Giddens tidak dijelaskan penjelasan Durkheim secara rinci mengenai asal-usul sosial dari konsep "kekudusan'. atau dengan kata lain sifat-sifat daripada obyek tersebut tidak mungkin bisa menimbulkan perasaan kekeramatan masyarakat terhadap obyek itu sendiri. Agama juga memiliki sifatnya yang historis. dan praktek ritual secara terus menerus menekankan ketaatan manusia terhadap agama. menekankan lagi kepercayaan mereka atas orde moral yang ada.

Bagaimanakah dengan sisi egoistis manusia yang tidak bisa dilepaskan dari diri manusia yang diakui oleh Durkheim sendiri? Setiap manusia memang memulai kehidupannya dengan dikuasai oleh kebutuhan akan rasa yang memiliki kecenderungan egoistis. yang tidak memungkinkan bentuk solidaritas apapun. merupakan komponen yang penting di dalam semua peraturan moral. seperti rasa hormat terhadap pendapat-pendapat orang lain dan publikasi hasil-hasil penelitian serta tukar menukar informasi. Contoh konkrit dari hal ini adalah dalam bidang ilmu pengetahuan. Demikian pula Revolusi Perancis telah mendorong tumbuhnya moralitas individual itu. yang berarti juga mengimplikasikan subordinasi dirinya oleh otoritas moral. yang menekankan "kultus individu" tidak muncul dari egoisme. tidak ada masyarakat yang bisa hidup tanpa aturan yang tetap. Tetapi egoisme yang menjadi permasalahan kebanyakan . Walaupun begitu. melalui keanggotaannya dalam masyarakat. seperti yang juga telah disebutkan di atas. melalui perlindungan masyarakat. melalui pengambilan keuntungan dari masyarakatnya. Di dalam hal ini.seperti yang telah disebutkan di atas melibatkan adanya perubahan otoritas moral dari agama ke moralitas individual yang rasional. tetapi ia tidak mengikutsertakan suatu bentuk anarki. Di sini perlu ditekankan bahwa moralitas individual tidak sama dengan egoisme. suatu penelitian ilmiah dengan kebebasan penelitiannya justru hanya bisa berlangsung dalam kerangka peraturan-peraturan moral. Dan ini merupakan suatu bentuk "kekudusan" yang dinisbahkan oleh masyarakat kepada moralitas individual tersebut. Adanya anggapan bahwa moralitas individual itu berada di atas individu itu sendiri. moralitas individual itu. sehingga pantas untuk ditaati (sifat kudus dari moralitas individual).Transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern --yang melibatkan pembagian kerja yang semakin kompleks-. menyimpan satu ciri khas dari agama yaitu "kekudusan". Durkheim menyebutkan bahwa sumber dari moralitas individual yang modern ini adalah agama Protestan. hanya bisa mendapatkan kebebasannya melalui masyarakat. Moralitas individual. otoritas moral dan kebebasan individual sebenarnya bukanlah dua hal yang saling berkontradiksi. karena moralitas itu hanya bisa hidup apabila orang memberikan rasa hormat kepadanya dan menganggap bahwa hal itu tidak bisa diganggu-gugat. disiplin atau penguasaan gerak hati. Ilmu pengetahuan menekankan penelitian bebas yang merupakan salah satu bagian dari moralitas individual. Moralitas individual itu memiliki sifat kudus. Seseorang. Dengan demikian. menunjukkan perbedaan antara moralitas individual dengan egoisme. sehingga peraturan moral adalah syarat bagi adanya suatu kehidupan sosial. Menurut Durkheim. yang pada hakekatnya adalah juga mahluk sosial.

melalui bentuk otoritas moral yang sesuai dengan individualisme itu sendiri. diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata. Dalam karyanya. Bryan S Turner adalah sarjana Barat pertama yang studi sistematis. yakni hukum rasional. Weber keburu meninggal dunia. dan Katolik abad pertengahan. Turner berargumen bahwa bagi Weber "ini adalah sifat alami institusi politik Muslim yang patrimonial. Kristen periode awal. ITU sebabnya. 'ekonomi . Weber and Islam. sampai Buddha jauh lebih sempurna dan sistematis. Jakarta: UI-Press. Padahal.adalah bukan egoisme jenis ini. yang dihasilkan oleh masyarakat. yaitu moralitas individual. melainkan adalah keinginan-keinginan egoistis yang merupakan produk sosial. Kapitalisme dan teori sosial modern: suatu analisis karya-tulis Marx. ia merencanakan studi perbandingan antara Islam. Hindu. Hal ini dapat diselesaikan dengan konsolidasi moral dari pembagian kerja. Subject: [is-lam] Sosiologi Agama Durkheim Date: Fri. Kristen. 01 Dec 2000 11:08:59 +0700 From: Mohamad Zaki Hussein zaki@centrin. yang menghalangi munculnya prakondisi kapitalisme. kota yang otonom.id Etika Protestan Muslim Puritan Muhammadiyah sebagai Reformasi Islam Model Protestan Sukidi LEBIH pendek dan berserakan. Durkheim dan Max Weber. Studi Weber tentang agama-agama dunia. mulai dari Yahudi kuno. 1986. (1964). pada tingkat tertentu merangsang keinginan-keinginan egoistis tertentu dan juga merangsang anomi. (1974:2). Itulah komentar akademikus Barat atas catatan Max Weber (1864-1920) tentang Islam.net. sebagai hasil perkembangan sosial. pasar kerja bebas. menurut Talcott Parsons. Individualisme masyarakat modern. Sumber Acuan: Anthony Giddens. Dari sini dapat dikatakan bahwa moralitas individual yang rasional itu dapat dijadikan sebagai otoritas pengganti agama pada masyarakat modern. riset akademis tema ini masih relatif langka.

Peters. dan SN Eisenstadt-. yang sekaligus menjadi fokus tulisan ini: Pertama. dan keterkaitan antara tatanan-tatanan itu dengan kekuasan-sentralisme. dan konsep rasionalisasi. model dominasi politik-feudalisme prebendel dunia Timur. dan kelas borjuis. . pencarian keselamatan. Namun. Tahun 1987. Kedua. Eaton. yang kini tersedia dalam edisi Inggris. tulisan ini menguji sejauh mana muncul Muslim Puritan Muhammadiyah mirip dengan Protestan asketis. tak satu pun di antara mereka yang fokus pada dua hal berikut. model kota-anarki urban dunia Timur.diundang mempresentasikan tafsiran dan kritik mereka terhadap Weber dan Islam. Schluchter merekonstruksi catatan Weber tentang Islam yang berserakan melalui empat model perbandingan: model etika agama-penguasaan dunia sebagai penaklukan dan penyesuaian dunia. Wolfgang Schluchter di Universitas Heidelberg. Crone. Calvinisme dan Islam dalam Pemikiran Weber Catatan Weber tentang Islam akan dibandingkan dengan Calvinisme melalui empat kerangka pemikiran: doktrin predestinasi. Interpretation und Kritik. Levtzion. Hardy. asketisisme dunia-sini. tidaklah muncul di masyarakat Islam Timur Tengah. Max Weber & Islam. Metcalf. Sejumlah sarjana keislaman--mulai Lapidus. (1999). Doktrin Predestinasi Dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (selanjutnya disingkat The Protestant Ethic).uang'. Weber melihat doktrin predestinasi sebagai argumen utama dalam menjelaskan keterkaitan antara suatu bentuk etika agama dan spirit kapiralisme di Barat. model hukum-hakim teokratik dan patrimonial. Buku ini hasil konferensi tahun 1984 tentang sosiologi Islam Weber. Robinson. faktanya. Cook. Calvinisme dan Islam menjadi perumpamaan predestinasi yang berlawanan. Jerman menyunting buku Max Webers Sicht des Islams. catatan Weber tentang Islam dibandingkan langsung dengan Calvinisme. terutama Calvinis." Semua prakondisi kapitalisme rasional-modern di Barat ini.

. apa pun bentuknya. Ide utamanya terletak pada: bagaimana para Calvinis yakin bahwa mereka termasuk di antara orang-orang terpilih? Dalam teologi Calvinis. yang menjadi karakteristik utama Calvinis. Agama-agama ini punya cara pandang yang berbeda terhadap dunia. Jika doktrin predestinasi diyakini Calvinis untuk memotivasi etos kerja keras. Akibatnya. Malahan. Islam memiliki keyakinan pada predeterminasi. Islam. berlawanan dengan Calvinisme. Malahan. dan berlaku pada nasib seorang Muslim di dunia ini. Islam. menurut Weber. Ketertarikan Weber lebih terletak pada sejauh mana usaha manusia mencari keselamatan itu berdampak langsung terhadap suatu perilaku hidup tertentu di dunia ini. Namun. terdapat predestinasi ganda yang membuat para Calvinis tidak tahu secara pasti apakah mereka termasuk orang terpilih atau terkutuk? Karena Tuhan Calvinis adalah begitu transenden. bukan predestinasi. Dalam Economy and Society (1978) Weber berpendapat "perhatian kita pada dasarnya adalah pada usaha pencarian keselamatan. Pencarian Keselamatan Ada sejumlah agama yang dikategorikan Weber sebagai agama keselamatan. Bagi para Calvinis. 1978:527). menurutnya.Dalam The Protestant Ethic (2005:56). Situasi ini memaksa para Calvinis mencari certitudo salutis. lanjut Weber. Pencarian individu pada keselamatan inilah. mulai dari Yahudi. maka mereka menghadapi masalah serius tentang ketidakpastian keagamaan. bukan di akhirat kelak. perilaku asketis dan kerja etos kerja keras dipandang sebagai sebuah tanda keselamatan di dunia kelak. Weber menekankan betapa penting predestinasi dalam keyakinan Calvinis. sejauh hal itu menciptakan konsekuensi tertentu pada perilaku praktis di dunia". Muslim bersikap kurang positif terhadap aktivitas di dunia-sini dan pada akhirnya terjatuh pada sikap fatalistik. Hindu. doktrin predestinasi tidak memainkan peran dalam Islam. semuanya dipakai sebagai jalan pembebas dari penderitaan dan sebagai respons terhadap ketegangan yang terus berlangsung antara dunia dan agama (Weber. atau dalam istilah Weber "suatu tanda keberkahan Tuhan". yang didefinisikan Weber (1978:1198-99) sebagai suatu indikasi bahwa mereka termasuk orang terpilih yang selamat ke surga. Tidak ada predestinasi ganda dalam Islam. sukses di dunia bisnis dan pengumpulan harta kekayaan demi pemuliaan Tuhan diyakini sebagai "tanda" atau "konfirmasi" bahwa mereka termasuk di antara orangorang terpilih. hal demikian tidak terjadi pada Muslim. Kristen. Karena itu. menurut Weber (2005:185). dan seterusnya.

yang memakai metode asketik untuk mengubah dunia. etika konsep keselamatan benar-benar tak dikenal dalam Islam. Namun." Sebagaimana sekte-sekte dalam Protestan. mereka tidak dapat dikategorikan . Parsons menerjemahkan innerweltliche Askese sebagai asketisisme yang dipraktikkan dalam dunia ini. menurut Weber (1965:263). terdapat "afinitas elektif" antara asketisisme dan sikap disiplin-diri. "Islam sesungguhnya tidak pernah menjadi agama keselamatan. "Islam berkembang ke orientasi untuk memisahkan diri dari dunia. terbagi dua: asketisisme dunia-sini (innerweltliche Askese) dan asketisisme dunia-sana (ausserweltliche Askese). Karena itu. Kata Weber. Pada periode Mekah. Dengan asketisisme dunia-sini. sebagai lawan terhadap ausserweltliche Askese. Malahan. Calvinis berperan penting dalam asal-mula munculnya kapitalisme modern sejak akhir abad ke-16 dan sesudahnya. Absennya upaya pencarian keselamatan di kalangan Muslim ini berpengaruh terhadap metode dan perilaku hidup yang sistematis di dunia ini. menurut Weber (2005:140). Tidak terdapat asketisisme duniasini dalam Islam. menurut Weber.Islam. Namun. Islam segera menjadi agama penakluk dan agama pejuang nasional Arab pada periode Madinah. Sementara asketisisme dunia-sana menjadi karakteristik utama kehidupan monastik dan meditasi Yoga India. Usaha pencarian keselamatan benar-benar asing dalam Islam. berlawanan dengan Calvinisme. Islam. sikap asketisisme dunia-sini secara kuat memotivasi Calvinis untuk bekerja keras. menabung apa yang diperoleh dan menginvestasikan lagi nilai keuntungannya untuk keuntungan yang lebih besar. berlawanan dengan Calvinisme. menurut Weber (1978:624). Asketisisme dunia-sini menjadi karakteristik Calvinis." Asketisisme Dunia-Sini Asketisisme. Islam mendukung etika prajurit dan pejuang di dunia-sini di bawah panji jihâd melalui pembagian klasik antara 'wilayah Islam' (dâr al-Islâm) dan 'wilayah yang diperangi' (dâr al-Harb). yang sama-sama memakai cara asketik. tapi tidak untuk mengubah dunia. yang menarik diri dari kehidupan dunia. Weber mengakui munculnya sektesekte asketis dalam sejarah Islam. Islam tidak pernah menjadikan akumulasi harta kekayaan sebagai tanda keselamatan. lagi-lagi. mencari uang. Karena itu.

individualisme. berkurangnya sakramen secara drastis. "Tuhan Calvinis menuntut penganutnya bukan semata-mata dengan kerja baik. Rasionalisasi Weber memakai konsep rasionalisasi dalam beragam makna dan cakupan. Weber berpendapat. seseorang dapat menguasai segala sesuatu melalui kalkulasi rasional". bukannya ke arah sistematisasi perilaku hidup asketis pada kelas menengah Muslim. Menurut Weber (1958:139). Kedua. terutama Calvinis. dan dipraktikkan secara sistematik. "pada prinsipnya. secara teoretis. sekte-sekte asketik dalam Islam tidaklah menghasilkan sistem perilaku hidup yang sistematis dan terkontrol.sebagai Muslim asketis yang memakai cara-cara asketik untuk mengubah dunia. Inilah yang oleh Weber disebut Entzauberung der Welt: yakni demagifikasi atau demistifikasi dunia. Hilangnya elemen magis yang berpuncak pada doktrin dan perilaku Calvinis ditandai. tapi kerja baik yang dikombinasikan dengan suatu sistem terpadu. Pertama. Calvinis merasionalisasikan perilaku hidup melalui disiplin-diri. kalkulasi rasional. terutama Calvinis. Dalam Protestant Ethic (2005:71). dan hilangnya sistem perantara yang memediasi hubungan Calvinis dan Tuhan. Di sini rasionalisasi dipakai untuk merujuk dua tipe: rasionalisasi doktrin dan perilaku hidup. Malah." . dengan tidak adanya sistem Imamat. kelompok prajurit dan pejuang Muslim berhasil menarik Islam ke arah apa yang disebut Weber "asketisisme militer". Rasionalisasi doktrin Calvinisme dapat dilihat pada upaya menghilangkan unsur magis dari dunia modern. Calvinis menunjukkan sikap anti-magis dengan memilih kalkulasi rasional dalam hidup. Dua tipe ini dipakai Weber untuk menjelaskan Protestan asketis. para Calvinis merasionalisasikan doktrinnya untuk mengatasi problem makna mendasar: akankah mereka diselamatkan ke surga? Tuhan Calvinis menetapkan predestinasi ganda pada setiap orang: sebagai yang terpilih atau terkutuk? Para Calvinis mulai meyakinkan diri bahwa mereka termasuk di antara orang-orang terpilih yang terselamatkan ke surga." Berbeda dengan Protestan asketis.

magis". Weber memakai doktrin predestinasi sebagai konsep kunci untuk menjelaskan rasionalisasi doktrin dan perilaku hidup. Doktrin Islam tentang predestinasi. doktrin predestinasi mengarahkan umat Islam ke arah perilaku hidup yang nonrasional dan fatalistik. "sering menghasilkan kelalaian penuh terhadap diri (seorang Muslim) demi memenuhi kewajiban jihad untuk penaklukan dunia". pada gilirannya. bukan dalam pengertian Luther yang tradisionalistik). "Islam. Rasionalisasi doktrin dan perilaku hidup benar-benar asing dalam Islam. Calvinis bukanlah tipe orang yang boros dan suka berpesta-pora. Weber memilih "Nasihat kepada Saudagar Muda" yang disampaikan salah satu Bapak Amerika. Inilah asal-mula munculnya spirit kapitalisme rasional modern di Barat." Dan Franklin dijadikan Weber sebagai personifikasi ideal etika Protestan itu sendiri. Hal ini akibat dominannya peran pejuang Muslim dalam penyebaran Islam di Timur Tengah. memandang akumulasi harta kekayaan sebagai suatu tanda diberkati Tuhan. hal demikian tidak terjadi di Islam. "justru dialihkan sepenuhnya dari perilaku hidup yang rasional dengan munculnya pemujaan terhadap orang-orang suci." demikian nasihat Franklin. terutama Calvinis. keyakinan pada predestinasi berhasil membangkitkan etika kerja dan perilaku hidup yang legal-rasional. yang berakar kuat pada Protestan asketis. Benjamin Franklin. Islam. kredit adalah uang. kata Weber. menabung hasil. Inilah yang memberi inspirasi kepada Weber (2005:19) untuk berkesimpulan bahwa "kebajikan dan kecakapan" dalam mencari dan menabung uang sebagai panggilan hidup adalah benar-benar bentuk Alpa dan Omega dari etika Franklin." lanjut Weber (1978:575). Dan perilaku hidup rasional dalam kerja profesional dan keseharian. Keyakinan Islam atas predestinasi tidaklah menghasilkan rasionalisasi doktrin dan perilaku hidup. sebagai fondasi keagamaan untuk perilaku hidup rasional. menurut Weber (1978:573). Malahan. Karena itu. Sebaliknya. kata Weber. 29).Pada bagian awal The Protestant Ethic. dan kejujuran bermanfaat dalam bisnis." Inti pesan Franklin adalah menghasilkan uang-melalui etos kerja keras dalam bisnis. "Ingat. dan menginvestasikannya demi keuntungan yang lebih besar-dimaknai sebagai panggilan hidup (Beruf. Mereka tidak memberlakukan perilaku hidup asketis dan rasional. Mereka ini. . Calvinis yakin bahwa motivasi moral-keagamaan untuk bekerja keras dan menghasilkan uang adalah benar-benar diberkati Tuhan. Kelompok ini telah menggeser Islam ke arah etika militeristik untuk penaklukan dunia. menghasilkan kelebihan produksi atas konsumsi. hidup dengan sikap hura-hura dinilai berdosa. Perlu diingat. misalnya. berlawanan dengan Calvinisme. Namun. Franklin menyandarkan rujukan teologis: "Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam bisnisnya? Dia akan berdiri di hadapan raja-rajanya" (Prov xxii. dan akhirnya. Di Calvinisme. "waktu adalah uang.

Kedua. Inilah doktrin sola scriptura. Tidak ada lagi perantara antara Tuhan dan Calvinis. deligitimasi radikal atas sistem Imamat. kini Muhammadiyah hampir berusia satu abad. Karena Muslim puritan muncul di lingkungan Jawa yang sinkretik. perkenankan saya membawa arah baru studi Muhammadiyah dalam cahaya Reformasi Protestan. Argumen utamanya adalah prinsip-prinsip dasar gerakan reformasi Islam Muhammadiyah. Karena itu. maka karakter reformasi-puritannya dapat dilihat pada usaha purifikasi Islam dari unsur magis dan aspek sinkretik lainnya. baik Calvinis maupun Muslim puritan Muhammadiyah sama-sama mengajarkan skripturalisme: bersandarkan semata-mata pada kitab suci (Bibel dan Alquran). Muhammadiyah pantas disebut sebagai Reformasi Islam model Protestan. beriman kepada Allah juga disertai etos kerja keras di dunia ini. sebagai konsekuensi atas slogan "Kembali pada Kitab Suci". "ingin selamat melalui pembenaran hanya dengan Iman". Calvinis sepenuhnya menyandarkan diri pada pembacaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. sementara Muslim puritan Muhammadiyah kembali dan bersandar pada sumber asli Islam. baik Calvinis maupun Muslim Puritan berdiri di hadapan Tuhan.Muhammadiyah sebagai Reformasi Islam Model Protestan Mirip Reformasi Protestan di Eropa. pada tingkat tertentu. "Para Calvinis. yakni Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad. Inilah doktrin sola fide. Bibel dan Alquran diletakkan sebagai sumber utama otoritas dan legitimasi. Didirikan tahun 1912 oleh Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Absennya perantara keagamaan ini dapat disimak pada: minimalisasi unsur sakramen. mirip dengan Reformasi Protestan Calvinis. terutama pada Calvinis. "Kembali pada Kitab Suci" sama-sama dipakai dalam gerakan reformasi Protestan dan Muhammadiyah. Tidak ada sistem perantara keagamaan yang memediasi hubungan Muslim dengan Allah. dan penolakan terhadap gereja yang hierarkis dan korup. Sebagai sebuah kado pemikiran kader muda Muhammadiyah untuk Muktamar ke-45 di Malang. . Pertama-tama. Muslim puritan Muhammadiyah berbagi prinsip dasar dengan Calvinis. dengan argumen berikut. Muslim puritan berdiri dan bertanggung jawab langsung kehadirat Allah." kata Weber (2005:68). Seperti apa yang dilakukan Calvinis. Muhammadiyah dinilai sarjana dalam dan luar negeri sebagai model gerakan reformasi keagamaan dalam konteks Islam Indonesia.

maka Muhammadiyah mungkin sebagai organisasi sosial Islam terkaya di dunia saat ini. Muslim puritan berjuang pada dua hal: eksklusi unsur-unsur magis dari Islam dan demistifikasi konsepsi keduniaan dengan mendasarkan diri pada kalkulasi rasional dan perilaku hidup asketis di dunia modern. baik Calvinis maupun Muslim puritan mengadopsi apa yang oleh Weber disebut "innerworldy asceticism". Keempat. Semua elemen magis ini adalah nonrasional. Jadi. Kebangkitan Muslim puritan Muhammadiyah pada dasarnya sebagai respons langsung terhadap takhayul. Spirit rasional ini diyakini sebagai sumber kemajuan umat Islam dalam memasuki dunia modern. bid'ah. Muslim puritan pun menganut asketisisme dunia-sini melalui tasawuf modern tanpa melarikan diri dari kehidupan duniawi.Ketiga. rasionalisasi organisasi Muhammadiyah dapat disimak gerakan yang terorganisasi secara sistematik dan melalui birokrasi modern. Semua ini. Dan taklid harus diganti dengan tradisi pemikiran rasional dan independen (ijtihâd). menurut Kemper Fullerton (1928). Spirit kapiralisme muncul dari proses yang disebut "afinitas elektif" antara asketisisme dan disiplin diri di kalangan Calvinis. memakai metode asketis untuk mengubah dunia. Muslim puritan mirip Calvinis dalam hal rasionalisasi. Protestan asketis. dipandang sebagai sumber konservatisme dan stagnasi dalam Islam. harus dibersihkan dari praktik Islam puritan dan konsepsi keduniaan. Mirip Calvinisme. terutama Calvinis. Sementara Calvinisme. rasionalisasi perilaku hidup dapat disimak pada upaya reinterpretasi doktrin keislaman agar sejalan dengan aspirasi dunia modern yang bernafaskan pada rasionalitas dan kemajuan. telah menunjukkan pencapaian secara lebih jenius untuk organisasi sosial dibandingkan Lutheran. Menurut Weber. sebagai konsekuensi atas konsep "disenchantment of the world". taqlîd. Proses ini berpuncak pada teologi dan praktik Calvinis dengan menolak semua piranti magis dalam pencarian keselamatan. dan. mengikuti tesis Weber. Sebagai organisasi modernis-reformis. Kelima. dan khurafat. Sikap tak kritis dalam memeluk Islam. tentunya. Muslim puritan merasionalisasikan doktrin keislaman melalui purifikasi iman dari unsur mistik dan Islam-Jawa-Hindu. proses ini dimulai dalam tradisi Yahudi Kuno yang sejalan dengan pemikiran dan gerakan ilmiah Yunani. baik Calvinis maupun Muslim puritan mengikuti apa yang diteoritisasikan Weber sebagai "disenchantment of the world". Islam dan kemajuan direkonsiliasikan. sejalan dengan kebutuhan efisiensi dan administrasi dunia modern. .

Etika Protestan di Kalangan Muslim Puritan Dalam The Protestant Ethic. Nama Karl Marx tentu ada dalam pikiran Weber. Fakta-fakta ini menginspirasi Weber menarik kesimpulan adanya "afinitas elektif" antara Protestan asketis. tembakau. dan sekte Baptis) menjadi kekuatankekuatan efektif dalam menumbuhkan spirit kapitalisme rasional modern di Barat. yang melihat ekonomi sebagai faktor determinan dalam perubahan sejarah. ternyata jumlahnya jauh lebih besar Protestan ketimbang Katolik. "bahwasanya para pemimpin komunitas bisnis di Mojokuto adalah sebagian besar Muslim reformis". terbit pertama kalinya tahun 1904-1905. Weber hadir dengan tesis baru: bagaimana ide dan keyakinan di antara protestan asketis (Calvinis. Dengan alasan demikian. Ia lagi-lagi dibayangi tesis Weber. Belanda. Dalam Peddlers and Princes. (1963). Geertz studi perbandingan dua kota: Mojokuto di Jawa Timur dan Tabanan di Bali. Jika demikian. pengusaha. dan spirit kapitalisme. Pietis. Tingginya pertumbuhan aktivitas kapitalisme juga lazim terjadi di antara gereja protestan dan Calvinis Perancis. Geertz pun terbayang-bayangi tesis Weber untuk studi agama Jawa. Suatu kesimpulan yang mirip antara pertumbuhan kapitalisme dengan Reformasi Protestan di kalangan Calvinis. Ia datang ke Mojokuto awal 1950-an dengan kesimpulan: "pertumbuhan ekonomi dan pembaharuan Islam berjalan secara beriringan"." demikian laporan Geertz (1963:49). ahli keuangan. Seperti halnya Robert N Bellah yang datang ke Jepang untuk studi agama Tokugawa. terutama Calvinis. Dan Weber tampak sengaja ingin meletakkan "kekuatan ide" sebagai wacana tandingan atas doktrin materialisme sejarah Marx. Weber (2005:3) lalu menunjuk fakta empiris: mereka yang menjadi industriwan. "Dalam kerangka teori Max Weber tentang peran Protestanisme dalam menstimulasi pertumbuhan komunitas bisnis di Barat. Weber meletakkan Protestan asketis sebagai "suatu kontribusi terhadap pemahaman atas masalah-masalah umum di mana ide menjadi kekuatan efektif dalam sejarah". dan tenaga kerja yang cakap di bidang industri lainnya. Methodis. Ia memang menemukan sebagian besar pemimpin usaha bisnis tekstil. serta sejumlah toko dan perusahaan justru didominasi Muslim . Yang terakhir ini malah sering diasosiasikan dengan pekerja kasar dan bawahan. antropolog Amerika terkemuka di Universitas Princeton. dan puritan Inggris. tesis Weber dapat dipakai sebagai model: adakah "afinitas elektif" antara etika/keyakinan Islam dan perilaku ekonomi di kalangan Muslim puritan? "Ya" jawab Clifford Geertz.

Dahlan lahir di tengah keluarga beragama dan sikap hidup asketis mewarnai hidupnya. namun beda dalam studi kasus. Ini memperkuat asumsi bahwa nilai simbolis haji menjadi kekuatan penggerak Dahlan menumbuhkan kebajikan dan etos kerja keras dalam aktivitas bisnis. Kepergian Dahlan untuk haji ke Mekkah ternyata sangat menentukan tahap penting dalam hidupnya. Ahmad Dahlan (1868-1923). pendiri Muhammadiyah. yang "rajin. seperti Risalât al-Tawhîd. Rinkes. Etika kerja ini telah terefleksikan dalam perilaku hidup Dahlan. pejabat Belanda yang bertugas di Indonesia waktu itu. Barangkali terinspirasi Abduh. berpuasa Senin dan Kamis. 1963:6). Dengan telah meletakkan kerangka pemikiran Muhammadiyah sebagai reformasi Islam model Protestan. Tulisan ini memang mengikuti tesis Geertz. serta kontekstualisasi ajaran Islam yang selaras dengan tuntutan dunia modern. dalam bentuknya Muslim puritan. rajin salat lima waktu. "enam di antaranya dijalankan oleh Muslim reformis-puritan. pada tahun 1913. 1963:150). suka membantu" dan "luar biasa cerdas dan tekunnya" (Peacock. Pertama. penalaran rasional. adalah doktrin majoritas para saudagar" (Geertz. Sesudah haji. bidah dan khurafat. jujur. militan. penolakan takhayul. al-Islâm wa al-Nasranîyah. ia pulang ke tanah air dan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 untuk mengemban misi pembaharuan Islam. "Tujuh dari pertokoan modern yang berdiri kokoh di Mojokuto. dan naik haji ke Mekkah. Bahkan. minat keilmuan Dahlan. dan Tafsîr al-Manâr (Solichin. Nilai kebajikan kerja keras dan kejujuran dalam bisnis telah mengantarkan Dahlan dalam kemiripan dengan etika Calvinis. purifikasi Islam. Ia berpendidikan di sekolah Islam. bahwasanya masyarakat Jawa yang telah menunaikan ibadah haji lebih memiliki modal dan jiwa berwirausaha ketimbang rekan-rekan mereka di pedesaan." lanjut Geertz. dengan mengejutkan menilai Dahlan sebagai "prototipe warga Indonesia yang memiliki etika Calvinis: tekun. Mojokuto bagi Geertz dan Yogyakarta bagi saya. Dahlan menjalani hidup sebagai sebuah panggilan: sebagai khatib di Kraton Yogyakarta dengan gaji 7 gulden per bulan sekaligus sebagai saudagar batik. Selama di Mekkah tahun 1890 dan 1903. Asketisisme dan disiplin-diri dipadukan secara sistematis. 1978:34). pada tulisan-tulisan Muslim reformis Mesir Muhammad 'Abduh (1849-1905).reformis-puritan. Tafsîr Juz’ ‘Amma. maka tulisan ini diakhiri dengan adanya beberapa elemen mendasar Etika Protestan yang berakar kuat dalam Muslim puritan Muhammadiyah. dikenal sebagai Muslim reformis-puritan yang asketis sekaligus seorang saudagar. antara lain. seperti pentingnya kembali kepada Alquran dan Sunnah. Meminjam tesis Geertz (1963:56). dan ." Ia lalu berkesimpulan "Reformisme Islam.

meminjam tesis W. menasihati Dahlan beristirahat. "Seorang Muhammadiyah. Ia jawab: "saya harus bekerja keras sebagai upaya meletakkan batu pertama dalam gerakan mulia ini. Saya sudah merasa bahwa waktuku sudah hampir lewat. "afinitas elektif" Weber antara Protestanisme asketis dengan spirit kapitalisme memiliki kemiripan antara Muslim puritan Muhammadiyah dan keterlibatan ekonomi secara aktif pada usaha pabrik Batik di Yogyakarta. Di usia senjanya. yang meniti karir sebagai khatib asketis dan saudagar batik. dengan harta kekayaan yang diperolehnya sendiri. Wertheim (1969:212). Seperti Calvinis. SUKIDI Mahasiswa Teologi di Fakultas Teologi." kata Wertheim. Kedua. "didorong ke arah hidup sederhana dan etos kerja yang saleh-asketis.cerdas". Universitas Harvard. istrinya. Muslim reformis-puritan dapat digambarkan. Siti Walidah. Hawkins (1961:12-52) menggelar survei terhadap perusahaan batik tahun 1960 dengan kesimpulan yang mengejutkan: semua perusahaan batik di Yogyakarta mayoritas dimiliki dan dijalankan oleh Muslim puritan Muhammadiyah. Terakhir. sebagai "saudagar urban pada tahun-tahun awal abad sekarang". apa yang tersisa dapat disempurnakan oleh yang lain" (Peacock. Pendiri Pusat Studi Agama dan Peradaban [PSAP] Muhammadiyah Sosiologi Agama Durkheim oleh Mohamad Zaki Hussein Indeks Islam | Indeks Artikel . Yogyakarta perlu dingat karena kota kelahiran Muhammadiyah dan Dahlan. Mereka ini sering pula disebut Muslim borjuis. Amerika Serikat. maka tak seorang pun yang akan membangun fondasi ini.F." Mereka menjadi Muslim puritan yang asketis dengan mengabdikan dirinya secara rajin dan jujur pada aktivitas bisnis dan sosialkeagamaan sekaligus. Jika saya terlambat atau berhenti. 1978:38-9). karenanya. jika saya bekerja secepat mungkin. Cambridge. akibat sakit. etika kerja dan sikap Muslim asketis mengindikasikan model etika kaum borjuis yang individualis dan rasional.

dan disebut sebagai mana. B. Definisi Agama Menurut Durkheim Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu "sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudusÉ kepercayaankepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal. benda-benda yang berada di dalam alam semesta dianggap sebagai bagian dari kelompok totem tertentu. yang memaksakan pemisahan radikal dari yang duniawi. melainkan sosiologis." Sifat kudus ini dibayangkan sebagai suatu kesatuan yang berada di atas segala-galanya. Pada totemisme Australia. Pada totemisme Australia ini tidak ada pemisahan yang jelas antara obyek-obyek totem dengan kekuatan kudusnya. Karena itu semua benda di dalam totemisme Australia memiliki sifat yang kudus." Dari definisi ini ada dua unsur yang penting. Sifat kudus itu dapat diartikan bahwa sesuatu yang "kudus" itu "dikelilingi oleh ketentuan-ketentuan tata cara keagamaan dan larangan-larangan. ada tiga obyek yang dianggap kudus. yaitu "sifat kudus" dari agama dan "praktek-praktek ritual" dari agama. kekuatan kudus itu jelas terlihat berbeda dari obyek-obyek totemnya. . sehingga memiliki tempat tertentu di dalam organisasi masyarakat. karena ia akan menjadi bukan agama lagi. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya. ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural. Di dalam totemisme. tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas. Durkheim menyambungkan lahirnya pengkudusan ini dengan perkembangan masyarakat. Sifat Kudus Dari Agama Sifat kudus yang dimaksud Durkheim dalam kaitannya dengan pembahasan agama bukanlah dalam artian yang teologis.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota A. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya. dan memiliki sifat yang historis. dan hal ini akan dibahas nanti. yang melibatkan dua ciri tadi. yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama. lambang totem dan para anggota suku itu sendiri. Tetapi di Amerika Utara dan Melanesia. yaitu totem.

tetap terdapat pada moralitas rasional. Di sini perlu diketahui bahwa itu tidak mengimplikasikan pengertian bahwa "agama menciptakan masyarakat. yaitu kekudusan. D. Praktek ini menjamin agar kedua dunia. Ini menunjukkan bahwa "kekudusan" suatu obyek itu tidak tergantung dari sifat-sifat obyek itu an sich tetapi tergantung dari pemberian sifat "kudus" itu oleh masyarakatnya. sehingga berfungsi untuk memperbaharui tanggung-jawab seseorang terhadap ideal-ideal keagamaan. Sebuah aturan moral hanya bisa hidup apabila ia memiliki sifa "kudus" seperti di atas. praktek ritual yang negatif. Praktek ritual ini ditentukan oleh suatu bentuk lembaga yang pasti. Hubungan Antara Agama Dengan Kondisi Masyarakat Di atas tadi sudah dijelaskan bahwa agama dan masyarakat memiliki hubungan yang erat. Contoh dari praktek negatif ini misalnya adalah dihentikannya semua pekerjaan ketika sedang berlangsung upacara keagamaan. yang berwujud dalam bentuk upacara-upacara keagamaan itu sendiri dan merupakan intinya.Dunia modern dengan moralitas rasionalnya juga tidak menghilangkan sifat kudus daripada moralitasnya sendiri. dan pemisahan ini justru adalah dasar dari eksistensi "kekudusan" itu. serta praktek ritual yang positif. Ritual Agama Selain daripada melibatkan sifat "kudus". Dengen demikian. yang berwujud dalam bentuk pantangan-pantangan atau larangan-larangan dalam suatu upacara keagamaan. Adapun praktek-praktek ritual yang positif. Ciri khas yang sama. suatu agama itu juga selalu melibatkan ritual tertentu. Di dalam hal . Orang yang taat terhadap praktek negatif ini berarti telah menyucikan dan mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam lingkungan yang kudus. Ada dua jenis praktek ritual yang terjalin dengan sangat erat yaitu pertama. berupaya menyatukan diri dengan keimanan secara lebih khusyu. sehingga setiap upaya untuk menghilangkan sifat "kudus" dari moralitas akan menjurus kepada penolakan dari setiap bentuk moral. yaitu yang "kudus" dengan yang "profan" tidak saling mengganggu. "kekudusan"-pun merupakan prasyarat bagi suatu aturan moral untuk dapat hidup di masyarakat." Tetapi hal itu mencerminkan bahwa agama adalah merupakan implikasi dari perkembangan masyarakat. Ini terlihat dari rasa hormat dan perasaan tidak bisa diganggu-gugat yang diberikan oleh masyarakat kepada moralitas rasional tersebut. Praktek-praktek ritual yang negatif itu memiliki fungsi untuk tetap membatasi antara yang kudus dan yang duniawi. C. yang adalah upacara keagamaan itu sendiri.

ini agama menurut Durkheim adalah sebuah fakta sosial yang penjelasannya memang harus diterangkan oleh fakta-fakta sosial lainnya. menekankan lagi kepercayaan mereka atas orde moral yang ada. itu memang timbul secara langsung dari pengamatan panca-indera. Upacaraupacara keagamaan. dan agama nampak memainkan peran ini. Obyek dari klasifikasi seperti "matahari". menurut Durkheim dari pengatamannya terhadap totemisme. di atas mana solidaritas mekanis itu bergantung. Di dalam suatu upacara. di mana totem pada saat yang sama merupakan lambang dari Tuhan dan masyarakat. Menurut Durkheim ide tentang "klasifikasi yang hierarkis" muncul sebagai akibat dari adanya pembagian masyarakat menjadi suku-suku dan kelompok-kelompok analog. memiliki suatu fungsi untuk tetap mereproduksi kesadaran ini dalam masyarakat. Dengan demikian. Hal ini misalnya ditunjukkan oleh penjelasan Durkheim yang menyatakan bahwa konsep-konsep dan kategorisasi hierarkis terhadap konsep-konsep itu merupakan produk sosial. Hubungan antara agama dengan masyarakat juga terlihat di dalam masalah ritual. individu dibawa ke suatu alam yang baginya nampak berbeda dengan dunia sehari-hari. Kesatuan masyarakat pada masyarakat tradisional itu sangat tergantung kepada conscience collective (hati nurani kolektif). Di dalam totemisme juga. tetapi dapat kita lihat bahwa kesadaran akan yang kudus itu. "burung kakatua". maka Durkheim berpendapat bahwa sebenarnya totem itu. yang terwujud dalam pengumpulan orang dalam upacara keagamaan. dilahirkan dari keadaan kolektif yang bergejolak. melambangkan kelebihan daripada masyarakat dibandingkan dengan individu-individu. Konsep "kudus" seperti yang sudah dibicarakan di atas tidak muncul karena sifat-sifat dari obyek yang dikuduskan itu. Ritual. begitu pula dengan pemasukkan suatu obyek ke dalam bagian klasifikasi tertentu. Menurut Durkheim totemisme mengimplikasikan adanya pengklasifikasian terhadap alam yang bersifat hierarkis. atau dengan kata lain sifat-sifat daripada obyek tersebut tidak mungkin bisa menimbulkan perasaan kekeramatan masyarakat terhadap obyek itu sendiri. Hal yang sama juga terjadi pada konsep "kudus". dll.. walaupun di dalam buku Giddens tidak dijelaskan penjelasan Durkheim secara rinci mengenai asal-usul sosial dari konsep "kekudusan'. Tetapi ide mengenai "klasifikasi" itu sendiri tidak merupakan hasil dari pengamatan panca-indera secara langsung. dan praktek ritual secara . dengan demikian. Masyarakat menjadi "masyarakat" karena fakta bahwa para anggotanya taat kepada kepercayaan dan pendapat bersama. Di sini agama nampak sebagai alat integrasi masyarakat. beserta pemisahannya dengan dunia sehari-hari. yang merupakan obyek kudus.

sehingga pantas untuk ditaati (sifat kudus dari moralitas individual). Durkheim menyebutkan bahwa sumber dari moralitas individual yang modern ini adalah agama Protestan. dsb.seperti yang telah disebutkan di atas melibatkan adanya perubahan otoritas moral dari agama ke moralitas individual yang rasional. Contoh konkrit dari hal ini adalah dalam bidang ilmu pengetahuan. menyimpan satu ciri khas dari agama yaitu "kekudusan". moralitas individual itu. E. karena moralitas itu hanya bisa hidup apabila orang memberikan rasa hormat kepadanya dan menganggap bahwa hal itu tidak bisa diganggu-gugat. seperti rasa hormat terhadap pendapat-pendapat orang lain dan publikasi hasil-hasil penelitian serta tukar menukar informasi. yang tidak memungkinkan bentuk solidaritas apapun. tetapi ia tidak mengikutsertakan suatu bentuk anarki.terus menerus menekankan ketaatan manusia terhadap agama. Walaupun begitu. Ilmu pengetahuan menekankan penelitian bebas yang merupakan salah satu bagian dari moralitas individual. Menurut Durkheim totemisme adalah agama yang paling tua yang di kemudian hari menjadi sumber dari bentuk-bentuk agama lainnya. Demikian pula Revolusi Perancis telah mendorong tumbuhnya moralitas individual itu. di mana diikuti perubahan dari "agama" ke moralitas rasional individual. . menunjukkan perbedaan antara moralitas individual dengan egoisme. seperti yang juga telah disebutkan di atas. Agama juga memiliki sifatnya yang historis. Moralitas Individual Modern Transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern --yang melibatkan pembagian kerja yang semakin kompleks-. Di sini perlu ditekankan bahwa moralitas individual tidak sama dengan egoisme. Kemudian perubahan-perubahan sosial di masyarakat juga dapat merubah bentukbentuk gagasan di dalam sistem-sistem kepercayaan. Moralitas individual itu memiliki sifat kudus. yang dengan begitu turut serta di dalam memainkan fungsi penguatan solidaritas. yang menekankan "kultus individu" tidak muncul dari egoisme. Dan ini merupakan suatu bentuk "kekudusan" yang dinisbahkan oleh masyarakat kepada moralitas individual tersebut. Moralitas individual. Ini terlihat dalam transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. yang memiliki ciri-ciri dan memainkan peran yang sama seperti agama. Seperti misalnya konsep kekuatan kekudusan pada totem itu jugalah yang di kemudian hari berkembang menjadi konsep dewa-dewa. suatu penelitian ilmiah dengan kebebasan penelitiannya justru hanya bisa berlangsung dalam kerangka peraturan-peraturan moral. Adanya anggapan bahwa moralitas individual itu berada di atas individu itu sendiri.

merupakan komponen yang penting di dalam semua peraturan moral. Sumber Acuan: Anthony Giddens. otoritas moral dan kebebasan individual sebenarnya bukanlah dua hal yang saling berkontradiksi.Dengan demikian. Dari sini dapat dikatakan bahwa moralitas individual yang rasional itu dapat dijadikan sebagai otoritas pengganti agama pada masyarakat modern. September 2003 International Institute of Islamic Thought Indonesia Membongkar Hegemoni Wacana Sosiologi Barat . Hal ini dapat diselesaikan dengan konsolidasi moral dari pembagian kerja. melainkan adalah keinginan-keinginan egoistis yang merupakan produk sosial. hanya bisa mendapatkan kebebasannya melalui masyarakat. yang berarti juga mengimplikasikan subordinasi dirinya oleh otoritas moral. sebagai hasil perkembangan sosial. Seseorang. diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata. Kapitalisme dan teori sosial modern: suatu analisis karya-tulis Marx. disiplin atau penguasaan gerak hati. melalui keanggotaannya dalam masyarakat. Durkheim dan Max Weber. sehingga peraturan moral adalah syarat bagi adanya suatu kehidupan sosial. 1986.3. Tetapi egoisme yang menjadi permasalahan kebanyakan adalah bukan egoisme jenis ini. tidak ada masyarakat yang bisa hidup tanpa aturan yang tetap.1. Jakarta: UI-Press. Bagaimanakah dengan sisi egoistis manusia yang tidak bisa dilepaskan dari diri manusia yang diakui oleh Durkheim sendiri? Setiap manusia memang memulai kehidupannya dengan dikuasai oleh kebutuhan akan rasa yang memiliki kecenderungan egoistis. yang dihasilkan oleh masyarakat. melalui bentuk otoritas moral yang sesuai dengan individualisme itu sendiri. Individualisme masyarakat modern. melalui pengambilan keuntungan dari masyarakatnya. Menurut Durkheim. No. yang pada hakekatnya adalah juga mahluk sosial. © Jurnal Pemikiran Islam Vol. yaitu moralitas individual. pada tingkat tertentu merangsang keinginan-keinginan egoistis tertentu dan juga merangsang anomi. Di dalam hal ini. melalui perlindungan masyarakat.

Islam) sebagai “barang rendahan”. jika kata-kata ini penulis kemukakan dalam tulisan ini karena memang demikianlah apa yang menjadi realitas saat ini. Apa yang kita terima dalam berbagai literatur dari wacana mereka adalah sebuah bentuk “kolonialisme” wacana. bahwa mereka belum tentu diklaim sebagai satu-satunya kebenaran. Orientalism. adalah kata-kata yang pas untuk kita alamatkan kepada wacana. Apalagi. pendapat. universal. dan independen. hegemonisasi kultural. dan “klaim universalitas”. Agama Kristen telah melakukan perombakan total dengan jalan sekularisasi general yang memadukan apa yang telah menjadi komitmen dan keyakinan religiusitas sebagai bagian kebudayaan Barat. dan Globalisme. bisa diamati dari berbagai analisis akademik kaum orientalis yang mencibir kebudayaan non-Barat. The Protestant Ethic and . and Globalism. tidak demokratis. membongkar universalitas sosiologi Barat ini dalam bukunya yang versi aslinya berjudul. Postmodernisme. Turner. “Keangkuhan”. untuk konteks “Islamisasi” ilmu-ilmu sosial dalam “garapan besar” The International Institute of Islamic Thought (IIIT). Penerbit : Ar-Ruzz Press Yogyakarta. Soal keangkuhan Barat dalam menilai Timur dan Islam. Penulis : Bryan S. Maaf. Tebal : 453 halaman. Orientalisme. dan menganggap Timur adalah irrasional. langkah strategisnya adalah—seperti apa yang dilakukan Turner ini—yaitu membongkar superiority Barat dalam kajian akademis dan keilmuan. Turner mencoba menunjukkan bahwa “sikap manis” Barat itu sesungguhnya memendam kelemahan. Postmodernism. Gejala modernitas dan kapitalisme global telah mengeruskan kekuatan religiusitas yang dilakukan agama-agama selama ini. sosiolog kondang kenamaan abad ini. Turner. dan analisis dalam sosiologi Barat selama ini. dan sangat mistik. Hal demikian pernah dianalisis Max Weber dalam bukunya. Timur. Bongkar Wacana atas Islam vis a vis Barat. Keangkuhan Barat mesti kita “lawan” (lewat wacana) karena jika tidak maka mustahil kita mampu memberikan alternatif bagi kemunculan keilmuan yang lebih memihak pada obyektivitas dan kemanusiaan. Penerjemah : Sirojuddin Arif. Cetakan I Tahun : Agustus 2002. Inyiak Ridwan Muzir. dan “pemaksaan” pendapat yang menganggap “yang lain” (otherness. “merasa paling benar”.Happy Susanto Judul Buku : Runtuhnya Universalitas Sosiologi Barat. Bryan S. sehingga memunculkan laju pertumbuhan masyarakat industri dan urban. dan Muhammad Syukri.

Banyak kritikan tajam diarahkan pada kalangan akademik Barat yang memahami non-Barat dengan pandangan sebelah mata bahwa mereka (Timur. terlepas beberapa ketidaksetujuan kita kepadanya. seperti dirasakan Said. mulai tumbuh menjadi kekuatan dominan dalam bidang politik dan kebudayaan. Orientalisme. arti orientalisme terkait dengan tiga fenomena yang melatarbelakanginya. Said mengemukakan sebuah kritik pedas terhadap konsep-konsep Barat tentang masyarakat Timur dan terhadap bagaimana wacana orientalisme mengukuhkan proses kolonialisme dan supremasi politik dunia Barat. seperti diklaim Turner. Kemunculan karya Edward Said. dan Globalisme Pada tahun 1970-an. Orientalisme lebih mengacu pada wacana-wacana khusus dalam mengkonseptualisasikan Timur sehingga menyebabkan Timur mudah untuk dikendalikan. baik orang yang bersangkutan adalah seorang ahli antropologi. Pertama. baik karena terlalu samar-samar. Dalam wacana orientalisme termuat nilai-nilai kekuasaan. Bersamaan dengan hegemonisasi pandangan ini. dan lebih mengurusi hal-hal yang berbau spiritual. sejarah. Islam) menafikan rasionalitas modernisasi. suatu gaya berfikir yang . dan hasil analisisnya menjadi universal. tidak hanya di Timur tapi juga pada kebudayaan Barat. maupun disebabkan oleh konotasi sikap eksekutif yang congkak dari kolonialisme. Istilah “orientalisme”. Perlu diingat bahwa rasionalisme instrumental Barat telah menancap kuat pada ingatan akademisi manapun disebabkan karena kuatnya arus globalisme (juga dalam hal pemikiran) yang membantu angapan-anggapan orientalisme. kurang begitu disukai oleh para spesialis di masa sekarang ini. sosiologi. Kajian orientalisme juga mulai dipertanyakan. maupun filologi. Postmodernisme. Anggapan demikian ternyata masuk pada mayoritas kajian sosiologis mereka. para akademisi tertarik untuk menyoroti tentang bagaimana masyarakat-masyarakat Barat memahami dan menafsirkan masyarakat-masyarakat Timur selama masa kolonialisme dan ekspansi kekuasaan kolonial Barat. telah menggoncangkan dunia. ternyata Islam. Di sisi lain. dengan mengklaim bahwa dirinya memiliki pengetahuan dan memahami kebutuhan-kebutuhan Timur. Menurut Edward Said.. di samping ada nilai emansipasinya juga. Postmodernisme ingin mendekonstruksi “narasi besar” (grand narrative) ini dengan mengajukan pluralitas pemikiran dan kebudayaan. atau meneliti Timur. Kedua. kemunculan Postmodernisme menjadi menarik untuk diapresiasi. menulis tentang.The Spirit of Capitalism (1958). Orientalism : Western Conceptions of the Orient (1979). baik dari segi umum maupun khususnya. Dalam buku ini. seorang orientalis adalah orang yang mengajarkan.

Penyatuan ini kemudian memproduksi serangkaian obyek analisis yang terus menerus mempengaruhi kesarjanaan sekarang ini tanpa bisa diamati dan diantisipasi. melalui sejumlah wacana. memposisikannya. Menurut Turner. Pendeknya orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi. dan dia pun mampu menunjukkan bagaimana wacana-wacana.berdasarkan pembedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara ‘Timur” (the Orient) dan (hampir selalu) “Barat” (the Occident). Kiernan. Menurut Turner. Karya Said ini amat menarik sekali karena dia mampu menghadirkan cara pandang baru dalam menganalisis sejarah dan fenomena sosial. yang disayangkan dari Said adalah kritik-kritiknya terasa lemah bagi orientalisme Jerman dan Inggris. Hal ini pernah dikritik V. menguasainya. dan yang paling signifikan bagi Said : Orientalisme dapat didiskusikan dan dianalisis sebagai institusi yang berbadan hukum untuk menghadapi Timur. namun secara praksis dia dikenal sebagai tokoh garis depan dalam perjuangan politik Palestina dan Timur Tengah. dalam bukunya Lords of Human Kind (1972). Pada tahun 1970-an ini. dan pola-pola pengetahuan telah membentuk “fakta-fakta” yang akan dipelajari oleh para sarjanawan sebagai sesuatu yang independen. nilai-nilai. termasuk orientalime.G. merestrukturasi dan menguasai Timur. yang karya-karyanya menjadi sumber penting bagi penelitian humaniora dan ilmu-ilmu sosial. Said berupaya mengetengahkan kritik-kritik yang sangat tajam terhadap liberalisme. dengan mengajarkannya. dan memaparkan secara gamblang kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan yang menyatu padu. Kritik lain Turner terhadap Said adalah . dengan alasan bahwa Said menggunakan metode “dekonstruksionime” (deconstructionism). Ketiga. “metodologi teks” adalah tantangan yang menarik dan penting dari karya Said. membenarkan pandangan-pandangan tentang Timur. Pendekatan Said dikatakan menarik karena dia mampu menghadirkan dirinya sebagai sosok intellectual hero (seorang pahlawan intelektual –istilah yang diberikan Turner sendiri). bahkan di Indonesia sudah banyak bukunya yang telah diterjemahkan. artinya dia tidak hanya berada pada studi sastra dan penelitian analitis. yang berkepentingan membuat pernyataan tentang Timur. pemikiran Said sangat memukau . mendeskripsikannya. dengan gaya pemikiran Anglo-Saxon dia memperkenalkan kita pemikiran yang mengagumkan dari Michel Foucault. Dengan mengadopsi pemikiran Foucault.

Orientalism (hal. Yang ingin ditantang oleh Foucault adalah klaim pengetahuan yang absolut dan bisa diterapkan secara universal sebagai landasan aksi politik seutuhnya. yang sangat tercermin dalam sejarah orientalisme. totaliter dan teroris. karena dorongan rasa kemanusiaan. dan pengaruh terhadap penduduk-penduduk Yahudi Amerika maupun terhadap budaya liberal dan penduduk pada umumnya. Yang melatarbelakangi aksi praksis Said adalah karena pembentukan persepsi Barat terhadap bangsa Arab dan Islam menjadi masalah yang sangat politis dan keras. Covering Islam. mengadopsi pemikiran “epistemologi realis”. 34). Pertama. Said. Orang Arab menjadi dirugikan karena stereotip negatif yang melekat padanya. Ketiga. Padahal penilaian Foucault terhadap cita-cita abad pencerahan adalah untuk menciptakan pengetahuan pokok tentang kebenaran yang obyektif dan menghalangi kemungkinan wacana universal yang mampu menggulingkan kekuatan opresif. karena Foucault tidak berangkat dari epistemologi. yang menghubungkan anpengetahuan dan sikap politik yang merupakan buah dari pemikirannya. Kedua. ekonomi minyak. tapi menganalisis arkeologi sebuah pengetahuan secara kritis dan obyektif.berkaitan dengan masalah hubungan Michel Foucault dan politik. pergulatan antara orang-orang Arab dan Zionisme Israel. ingin membela sebuah kasus demi orang-orang yang dicabut hak miliknya oleh wacana-wacana kolonialis. dan ini terjadi pada Said. ditambah dengan analisanya yang tajam terhadap kerancuan- . yang sesungguhnya sangat tidak sesuai dengan karya Faucault sendiri. dan perbedaan antara Israel yang dianggap demokratis dan cinta damai dan orangorang Arab yang biadab. sejarah prasangka antiArab atau anti-Islam yang populer di kalangan akademik dan pengambil kebijakan Barat. dan terjadi ambivalensi antara kritik yang radikal dan Faucaudian terhadap representasi dan pendirian humanistik. Tulisan Foucault tentang psikiatri di Soviet dan analisisnya tentang tradisi hukuman di Perancis memungkinkan orang untuk beralih dari pemikiran analitis kepada sebuah posisi politis. Said memang berbeda dengan Foucault. seperti dalam bukunya. Dalam hal ini terasa sulit untuk menghubungkan antara sikap politik Said terhadap Palestina dengan posisi epistemologi bukunya. Said berpendirian bahwa dirinya. Ambivalensi dalam karya Said telah dianggap oleh sejumlah peresensi buku Orientalism dalam kalangan post-strukturalis sebagai sebuah gerakan catechrestic yang telah menggoncangkan bangunan-bangunan rezim pengetahuan kolonial dan neo-kolonial. Dan berdasarkan pengalaman yang dialami Said. Penggunaan metode Foucault menyebabkan Said tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan terhadap kekuatan kolonialis. tidak adanya posisi budaya yang memungkinkan Arab untuk mengidentifikasikan dirinya dengan baik karena Timur Tengah kini telah begitu diidentikkan dengan politik negara-negara adikuasa.

Said juga mengadopsi pemikiran Heidegger. menyatakan bahwa dalam oksidentalisme yang menjadi persoalan adalah problem identitas. jawabannya adalah antimodernis. yang sesungguhnya masih kabur. Perlu ada penegasan identitas. dan di dalamnya tentu memuat nilai-nilai Barat yang mesti diadopsi pula. 35). Dalam buku yang kita bedah ini. Kemunculan orientalisme menyebabkan kemunculan wacana baru sebagai tandingannya. Jika boleh berpendapat. Sebaliknya. penegasan eksistensi ego (Islam.buta yang tidak dapat membedakan mana tulisan yang bersifat rekaan dan mana yang memang sebuah rekaman atas kenyataan sosial nyata (hal. Tekstualisme menyebabkan solipsisme—yaitu teori yang mengatakan bahwa satu-satunya pengetahuan yang mungkin adalah pengetahuan diri sendiri-. oksidentalisme berisikan penolakan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Barat dan penolakan tak langsung terhadap warisan modernisasi.36). Hassan Hanafi. Turner juga mengkaitkan pemikiran Said antara fasisisme dan dekonstruksionisme. khususnya kritik filsafat metafisiknya. dengan mengajukan sebuah pertanyaan penting : apakah klaim fundamentalis terhadap islamisasi pengetahuan bersifat modernis atau anti-modernis? (hal 37). yang memiliki kaitan erat dengan fasisme (hal. Kritik lain yang dikemukakan Turner terhadap pendekatan sejarah Said adalah konsentrasinya terhadap “tekstualitas” dan “tektualisme”. Di samping melandaskan konsepnya pada Foucault. secara real kekuatan yang sangat bernilai strategis apabila gerakan islamisasi ilmu pengetahun diproyeksikan untuk melawan hegemonisasi pengetahuan Barat yang mengklaim sebagai universalis dan instrumentalis. Bukan justru berkehendak untuk menampilkan sisi normativitas Islam. Jika. maka apakah mungkin melakukan islamisasi pengetahuan tanpa menggunakan perangkat teknologi yang telah lama diproduksi oleh Barat. kemudian hal ini mendorong dia untuk berjuang melawan kolonialisme Barat --bahkan menjadi tokoh garis depan. yaitu oksidentalisme.kerancuan orientalisme. Sikap penolakan anti Barat ini sejalan dengan kemunculan gagasan “indigenisasi” (indigenization) pengetahuan yang tumbuh dan berkembang pada “masyarakat dunia-ketiga” (the third-world society) akhir-akhir ini. untuk dianggap sebagai sebuah ilmu yang mandiri dan independen. Oksedentalisme menjadi menarik dikaji bersamaan dengan maraknya perbncangan tentang “islamisasi ilmu pengetahuan” (islamization of knowledge). Timur) dalam menghadapi the other (Barat). apabila bersifat modernis maka sesungguhnya gerakan islamisasi pengetahuan berbeda dengan gerakan oksidentalisme. penulis buku Muqaddimah fi Ilm al-Istighrab (Oksidentalisme). dan . Menurut Turner. sebenarnya Turner juga melancarkan kritiknya terhadap gerakan islamisasi ilmu pengetahuan.

Akan menarik apabila wacana orientalisme yang menuju globalisasi ini dihubungkan dengan perbincangan mengenai postmodernisme. kemajuan. dan revolusi kehidupan terus. postmodernisme itu sepertinya adalah sebuah “intensifikasi dinamisme”. emansipasi kaum proletar. munculnya globalisasi akan menyulitkan pemahaman kita tentang istilah ini apabila masih membicarakan kebudayaan-kebudayaan Timur dan Barat yang terpisah. Kenapa? Karena. dalam bidang filsafat postmodernisme diartikan sebagai “segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya”. Singkatnya. Lyotard adalah filosof yang memperkenalkan istilah postmodernisme ke dalam bidang filsafat. Apa itu “postmodernisme”? J. upaya tak henti-hentinya untuk mencari kebaruan. Bambang Sugiharto. Lyotard dalam bukunya La Condition Postmoderne (1979). Perdebatan-perdebatan postmodern menekankan pentingnya perbedaan dan “ke-yanglain-an” (otherness). epistemologi dan ideologi-ideologi modern. dan menjadi dasar kritikannya terhadap Ernest Gellner yang meyamakan kedua arti tersebut. atau independen (hal 40). Terkadang orang menyamakan postmodernisme dengan postmodernitas. usangnya negara bangsa dan penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi. . Banyak orang menyederhankan pengertian globalisasi (globalization) dengan westernisasi (westernization). fragmentasi gaya hidup. Apakah islamisasi pengetahuan berupaya untuk meneguhkan identitas? Jika iya. Bagi dia. bagaimana mungkin melepaskan secara penuh dari pengaruh-pengaruh Barat? Kelemahan yang terasa dalam wacana orientalisme menyebabkan para pengkaji dari barat untuk menggiring wacana itu kepada globalisasi atau disebut dengan sosiologi global. Sedangkan yang kedua merupakan situasi dan tata sosial produk teknologi informasi. Apa yang membedakan keduanya? Menurut I. misalnya : kebebasan.penegasan orisionalitas dalam menghadap modernisasi dan alienasi yag terkait dengan westernisasi. Dengan kata lain. F. Metanarasi yang dimaksud. mengartikan postmodernisme secara sederhana sebagai “incredulity towards metanarratives” (ketidakpercayaan terhadap matanarasi). konsumerisme yang berlebihan. dan postmodernitas adalah realitas yang merupakan hasil dari pemikiran yang diproduksi. deregulasi pasar uang dan sarana publik. yang menjadi media bagi perlawanan dan perubahan. Pengertian ini juga yang dimaksud Turner. postmodernisme bermakna pemikiran filosofis yang menyerang modernisme. otonom. Menurut Turner. eksperimentasi. globalisasi. postmodernisme menunjuk pada kritik-kritik filosofis atas gambaran dunia (world view). perbincangan terakhir itu telah ditinggalkan oleh wacana orientalisme yang sudah ketinggalan zaman dan melangkah pada sosiologi global. dan sebagainya.

dan sama-sama dianggap sebagai “narasi-narasi besar” (grand narrative) yang menyebabkan kegersangan bagi dunia sosial modern. dan asketis. Menyoal Hubungan antara Islam dan Barat Kajian mengenai orientalisme tidak terlepas dari wacana hubungan Islam dan Barat. Menurut Turner. Secara bersamaan. dengan catatan bahwa perlu ada reformasi di dalam tubuh Islam dengan menghilangkan kecenderungan mengarah pada “narasi besar” yang disebabkan dari citra keseragaman dan ortodoksi keagamaan yang secara fundamental memegang teguh gagasan rasionalisme universal.Upaya yang dilakukan postmodernisme adalah membongkar dan menghancurkan meta. Umumnya. Buku ini menjelaskan bagaimana Barat dan non-Barat (Timur) adalah dua wilayah yang saling berbenturan. Cita-cita yang ingin diusung oleh postmodernisme adalah terjalinnya kehidupan yang plural. dan menjamin bagi emansipasi sebuah ideologi tanpa memasung rasa kemanusiaan. cenderung menyudutkan pihak yang kedua. Dalam buku ini. Menurut Huntington. disiplin. dipahami bahwa kalangan orientalis (yang dianggap pihak Barat) memahami Timur (mayoritas adalah Islam) sebagai suatu pemahaman dan analisa yang tidak berimbang. Konflik yang terjadi lebih pada kebudayaan yang berbeda antar keduanya. Lebih lanjut Huntington menyatakan : .narasi yang dihasilkan dari sebuah ideologi dan pemikiran mainstream yang hegemonik dan menguasai kultur pengetahuan masyarakat. Orientalisme yang merupakan bagian dari meta-narasi menjadi memungkinkan untuk dilawan bagi kalangan postmodern. adalah memungkinkan bagi Islam untuk “bergandengan tangan” dengan postmodernisme. pasca runtuhnya Komunisme maka Islam memiliki peluang untuk berbenturan dengan Barat. demokratis. Turner mencoba menjelaskan di mana letak ambiguisitas antara keduanya (Islam dan Barat). Menurut Turner. filsafat postmodern menyalahkan kapitalisme yang eksploitatif dan sosialisme yang birokratik. yang berjudul The Clash of Civilization and the Remaking of world Order. perkembangan-perkembangan politik dan intelektual dalam postmodernisme menjadi tantangan besar bagi orientalisme (hal 46). mana yang menjadi persamaan dan perbedaannya. egaliter. membuat posisi global Islam menjadi kembali diperhitungkan. Kita pernah diguncangkan oleh bukunya Samul Huntington. Pasca runtuhnya Komunisme Soviet (yang menurunkan citra sosialisme dan tumbuhnya pengaruh postmodernisme).

timbul pertanyaan selanjutnya : apakah kemudian pemikiran Karl Marx menyiratkan sebuah pemihakan terhadap budaya dan masyarakat Timur? Pertanyaan ini dijawab oleh Turner bahwa keduanya (Weber dan Marx) sama-sama menganut pola-pola penjelasan yang agak mirip dalam menjelaskan keberadaan sejarah dalam masyarakat-masyarakat Barat dan ketiadaannya (sejarah) dalam masyarakat Timur (hal 104). asketisme Protestan secara khusus memainkan peran yang sangat penting bagi pertumbuhan rasionalitas Barat. sebagai ciri-ciri pada masyarakat Barat. tapi konflik antara orang-orang yang memiliki entitasentitas budaya yang berbeda-beda”. sistem yang berbentuk “hukum dan ad hoc” (ad hoc law). Weber membandingkan dunia Timur dan Barat dengan sistem penjelasan yang menggunakan “hukum rasional” (rational law). Bagi Weber. Sebaliknya. istilah orientalisme muncul. konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial. “pedagang yang dikontrol negara” (state-controled merchants). Sebuah perbandingan sosiologis yang dilakukan melalui fakta yang tidak berimbang. “kota-kota bebas” (free cities). atau antara kelompok-kelompok (kekuatan) ekonomi lainnya. Weber dikenal sebagai pencetus “rasionalisme instrumental” sehingga metode pemikiran sosiologinya menjadi begitu dominan bagi masyarakat Barat sampai saat ini. Orientalisme berhak kita “gugat” karena meta-wacana ini telah menyebabkan pembedaan yang sangat timpang antara Timur dan Barat. antara golongan kaya dengan golongan miskin. Masyarakat Timur didefinisikan sebagai sebuah sistem ketiadaan --tidak ada kota. apa yang membedakan antara Barat (West) dan Timur (East)? Keduanya merupakan konsep yang tidak jelas dan sering terjadi pertukaran makna. tidak ada kelas menengah. Berbeda dengan Islam. tidak ada lembaga-lembaga perkotaan yang otonom. Dalam sosiologi Weberian. dan asketik. profetik. Sebenarnya. dan “negara modern” (modern state). fakta Islam yang direkam adalah monotheistik. dan tidak ada hak milik (hal 101). “kamp-kamp militer” (military camps). Penjelasan Weber dan Marx adalah bentuk lain dari .“Dalam dunia baru tersebut. masyarakat Timur digambarkan secara sederhana sebagai masyarakat yang tidak memiliki unsur-unsur positif rasionalitas Barat. sebagai ciri-ciri dalam masyarakat Timur. “borjuis perkotaan” (urban bourgeoisie). Pandangan sosiologi Barat menggambarkan sebuah bentuk idealisme subyektif yang tanpa disadarinya telah mereproduksi unsur-unsur pemikiran borjuis. dan “negara patrimonial” (patrimonial state). Sejak dibukanya sejumlah jabatan untuk mengembangkan pemahaman tentang bahasa-bahasa dan kebudayaan Timur oleh Dewan Gereja Wina (Church Council of Vienna). Orang sering menganggap Islam itu identik dengan Timur. Lalu.

Sisilia. “Mengkategorikan Islam dengan Timur (oriental religion) akan meinmbulkan kesulitan-kesulitan besar dalam wacana orientalis”. Hal ini disebabkan karena wacana orientalisme yang membuat jurang pembedaan yang besat antara keduanya. Dengan meminjam kerangka analisis Foucault. Sementara Islam yang menjadi bagian penting dari kebudayaan Spanyol. Turner mengklaim bahwa Islam memiliki ikatan keagamaan yang kuat dengan Yahudi dan Kristen. Akhirnya. Jadi. Menurut Turner. bisa mengarah pada universalitas pandangan orientalis. Islam tidak selamanya Timur. Pembedaan antara Islam dan Barat sangat ditentukan oleh keberhasilan orientalisme dalam menancapkan wacana hegemoniknya pada masyarakat Barat. seperti diadopsi Said. pengertian Barat-Islam terasa ambigu sekali. sebaliknya dapat dipandang sebagai agama Barat (hal 66). dan mengotrol dunia. dengan pijakan rasionalisme instrumentalnya. Dan dengan jelas sekali orientalisme mengungkapkan ciri-ciri progresif Barat dan menunjukkan kemandekan sosial masyarakat Timur. sebagai kepercayaan Smitik yang berakar pada agama Abrahamik. Politik penjajahan yang dilakukan Barat sangat berpengaruh kuat dalam membentuk citra Barat tentang Islam dan analitis mereka tentang masyarakatmasyarakat ketimuran atau oriental society. Apa alasan Turner? Ia melihatnya secara geografis dan kultural bahwa Kristen. tidak seperti Hinduisme dan Konfusianisme. kata Turner. . Kristen pun sebenarnya tidak bisa dikategorikan begitu saja sebagai agama Barat. Ada sebuah paradoks membuat perbedaan antara Islam dan Barat. Dan Said berhasil menunjukkan bahwa sebagai sebuah wacana. Islam meberikan sumbangan kultural yang berharga bagi Barat dan menjadi kebudayaan dominan di beberapa masyarakat Mediteranian. Dan juga disebabkan karena analisa Weber yang menyebut Timur serba keterblakangan dan Barat serba rasional. dan Eropa Timur. kekuasaan dan pengetahuan ternyata saling mempengaruhi satu sama lain. penjelasan sosiologi weberian dan Marxisme strukturalis tidak mengembangkan tanggapan-tanggapan yang memuaskan terhadap prosedur-prosedur penjelasan mengenai orientalisme. dikotomi Timur/Barat yang secara sekilas tampak netral sebenarnya merupakan ekspresi dari suatu relasi kekuasaan tertentu (hal 64).“despotisme Timur” karena keduanya sama-sama menganut pandangan bahwa politik negara di Timur bersewenang-sewenang dan tidak menentu. Kekuasaan sebenarnya melekat dalam bahasa dan institusi yang kita gunakan untuk mendeskripsikan. bisa dipandang sebagai agama Timur. memahami.

bukan masyarakat. pandangan orientalis yang menganggap tidak adanya masyarakat sipil dalam Islam sesungguhnya merupakan refleksi dari kegelisahan-kegelisahan politik yang mendasar tentang kondisi kebabasan politik di Barat (hal 90). yaitu asosiasi-asosiasi sukarela (masyarakat sipil itu sendiri) yang kuat yang menjaga individu dari kontrol mayoritas dan memelihara keanekaragaman kepentingan dan kebudayaan. Hati nurani dianggap sebagai sebuah aktivitas kreatif paling kecil bagi seorang muslim ketika menghadapi realitas di luarnya. “despotisme Timur sesungguhnya hanyalah penulisan ulang besar-besaran tentang monarkhi Barat”. ekonomis. Menurut Turner. sebagai agama maupun sistem sosial. Turner kembali menegaskan bahwa persoalan orientalisme sesungguhnya bukan persoalan Timur. Bagi Hodgson. siapa saja . Ia membedakan Islam sebagai ajaran (iman) dengan Islam sebagai sebuah konteks sejarah. kebutuhan untuk membedakan antara keduanya cukup mendesak karena. melainkan persoalan masyarakat Barat sendiri. Dalam pandangan Hodgson. Hodgson membedakan antara kajian-kajian tentang Islam an sich dan kajian-kajian tentang dunia Islam (Islamdom). menurutnya. diperlakukan sebagai perjalanan kesadaran nurani personal yang bersifat batin dalam menciptakan peradaban yang impersonal dan lahiriah. Sebuah kajian sejarah tentang Islam yang sangat lengkap. Beberapa Pandangan Orientalis Mengenai Islam Dalam tulisannya. yang pendangannya “dilempar” ke dalam Islam. Kata Turner. dan geografis yang melingkupinya. Entah. apa sebenarnya penjelasan kritis Turner mengenai hal ini. konsep “masyarakat sipil” selama ini telah digunakan sebagai dasar pemikiran bahwa Timur sesungguhnya adalah negara. Hodgson berusaha melampaui pendekatan-pendekatan filosofis tradisional terhadap Islam dengan memberikan perhatian penuh terhadap sejumlah daerah yang di dalamnya Islam ditentukan oleh faktor-faktor sosiologis. Islam. namun juga dengan despotisme politik (hal 82). dan lemahnya kebudayaan borjuis dalam kaitannya dengan keterbelakangan ekonomi.Turner juga mencatat tentang problematika orientalisme yang menganggap ketiadaan masyarakat sipil (civil society) pada Islam. Kita mengenal Marshal Hodgson melalui karya monumentalnya tiga jilid berjudul The Venture of Islam (1974). Menurut Turner. Konsep dalam masyarakat sipil mengandung pengertian bahwa individualitas dan hak-hak individu menjadi penyeimbang bagi kekuasaan despotisme mayoritas. pendekatan Turner ternyata masih gagal untuk melepaskan dirinya secara total dari asumsi-asumsi asosiologis orientalisme tradisional. Dalam ungkapan yang sederhana. Turner membedah beberapa orientalis yang mengkaji tentang masalah Islam. Dalam buku itu.

karena jawabannya tidak meyakinkan (hal 135). kesalehan spiritual (ketaatan spiritual seseorang) adalah “cara seseorang merespon ilahi”. Kritik minor terhadap Hodgson adalah bahwa dia tidak mengemukakan komitmennya sendiri secara tepat dan sistematik. dan secara sekunder saja kita kita berpartisipasi dalam tradisi ini atau tradisi itu”. menurut Turner. kekakuan hukum dan gap atau ruang kosong antara ideal keagamaan (secara normatif) dan praktik politik kekuasaan (secara empirik) dalam Islam. Menurut Turner. Baginya. karena Hodgson sendiri adalah pemeluk Kristen yang kuat sehingga dia menolak setiap usaha untuk memilih elemen tertentu dari Kristen dan Islam yang dapat dianggap sama dan dapat diperbandingkan. Islam gagal disebabkan karena konservatisme dan tidak adanya integrasi kultural. agama adalah kulit luar yang dapat dijelaskan secara sosiologis. kemunduran Islam dari perwujudan kebajikan agama yang ideal diperparah dengan masalah-masalah yang ada dalam tradisi hukum sucinya yang tidak dapat dikembangkan untuk memberikan kondisi baru bagi perkembangan sosial (hal 163). setiap usaha ke arah sinkretis. Istilah “Islamdom” dapat saja diperbandingkan dengan “Christendom”. Jadi. dan menjadi sangat penting pada beberapa arti untuk membentuk kebudayaan bersama. Dalam pandangan Hodgson. penjelasan Hodgson terhadap bagaimana memahami sistem kepercayaan asing tampak tidak memuaskan. Setelah membedah Hodgson. atau bisa . Menurut Hodgson. menunjukkan kegagalan teologis Islam. Seperti kata Hodgson : “Pada akhirnya seluruh kepercayaan adalah hal privat…Kita terutama adalah anak manusia. sedangkan kesalehan adalah bagian dalam. tapi dalam analisis sejarah kegamaan banyak berhutang budi pada Rudolf Otto dan Mircea Eliade. Dia memandang bahwa umat Islam hanya melakukan pengulangan sejarah. Alasannya. inti yang tak dapat dijelaskan secara sosiologis. sedangkan agama mencangkup “percabangan yang bermacam-macam dari tradisi-tradisi yang dimaksudkan untuk mewadahi respon-respon semacam itu”. Pendapat Hodgson memisahkan mana yang merupakan ruang privat (keimanan) dan mana ruang publik (agama yang membudaya dalam konteks sosial). Tapi.sering terjebak untuk menyamakan antara Islam sebagai agama dan sebagai budaya. Menurut Von Grunebaum. Dia adalah penganut Kristen yang yakin dan mengikuti ajakan Quaker. “Islamdom” adalah masyarakat di mana kaum muslimin dan kepercayaan yang diakuinya sebagai yang berlaku umum dan dominan secara sosial. seorang sejarahwan tentang dekadensi dan kemunduran Islam. atau setiap pandangan yang menganggap bahwa semua agama adalah sama karena semuanya berpijak pada suatu respon kemanusiaan terhadap yang ilahi ditolak oleh Hodgson. Turner menyimpulkan pendekatan Hodgson terhadap kesalehan/agama memunculkan apa yang disebut “kekebalan” (imunitas) sosiologis bagi keimanan. Turner kemudian mengkaji pemikiran Von Grunebaum.

soal pernyatan Grunebaum tentang romantisme atau pengulangan sejarah dalam Islam. sedangkan di Barat. Pertama. Dengan mengutip Edward Said. yang seharusnya mendapat sorotan pula. Grunebaum memberikan kepada kita sebuah tesis bahwa kegagalan Islam pada akhirnya adalah kegagalan pemikiran dan keinginan. Wacana yang dikemukan dibumbui dengan keanehan literatur. Kedua. Bagi Grunebaum. Ia juga melakukan pengulangan dengan mereproduksi seluruh tema mimetik orientalisme. munculnya dunia modern ditandai dengan deklarasi tentang pikiran aktif mencari. Turner menganggap Grunebaum mengkaji Islam dari luar dan benar-benar menganggapnya sebagai tugas akademik untuk ikut memberikan penilaian atas Islam. Hampir secara keseluruhan masyarakat Islam dianggap tidak kreatif dan tidak memiliki pengaruh sama sekali. Pernyataannya tentang gap antara cita dan realitas dalam Islam tidak berimbang dengan yang terjadi Kristen. Jika di Islam sikap kesalehan ritual diorientasikan untuk mencari kehidupan yang damai dan tenang sehingga meminimalisir kegiatan berfikir dan etos kerja. Sebagai catatan akhir untuk mengakhiri tulisan ini. Fenomena modernitas juga pernah ditunjukkan oleh Weber tentang etos kapitalisme Barat yang berasal dari doktrin Protestanisme. dia sekali lagi menuduh bahwa Islam itu gersang. therefore I am (aku berfikir maka aku ada). sederhana. tidak bisa lagi dianggap sebagai sebuah pengamatan yang final. dan dari teknologi Cina. sehingga hakikat realitas Islam adalah tidak berubah. baik di Timur maupun Barat. dari logika Hellenistik. dari teologi monotheistik Yahudi-Kristen. dapat penulis kemukakan bahwa sudah saatnya sosiologi menjadi sebuah kajian yang terbuka bagi keseragaman pandangan dalam menilai masyarakat-masyarakat. Secara singkat. di mana ia menggambungkan antara antropologi dan filologi. Filsafat Cartesian membuka jalan bagi modernisasi yang didasarkan pada nilai-nilai pencapaian dan tindakan. misalnya tentang orientalisme. dan aturanaturan komposisi puisi Arab dianggap hanya membuat pengulangan-pengulangan dan tidak adanya penemuan baru (hal 164). yakni I think. Di zaman postmodern ini maka kajian mengenai sebuah persoalan.disebut dengan “romantisme historis”. Turner kemudian mengkritik pendapat Grunebaum dengan dua catatan. sifat terus-menerus mengulang dari sejarah Islam menunjukkan sisi lebih lanjut dari daya memiliki kultural dan imitasi sosial Islam (cultural mimicry social imitation). Islam kemudian dipandang sebagai barang pinjaman yang tak ada habisnya dari masa lalu pagan Arab. dan secara emosional tidak memuaskan. . Ketika Grunebaum beralih kepada permasalahan-permasalahan tentang kepercayaan dan praktik peribadatan dalam Islam. Turner menganggap bahwa pespektif Grunebaum penuh dengan “sikap tidak suka yang jahat terhadap Islam” (hal 169).

Kemunculan oksidentalisme menjadi penting untuk dihadirkan. Orientalisme. 1996). hal. berguna sekali untuk mengindentifikasi orientalisme. buku ini adalah sebuah “karya agung” untuk memunculkan bagi kajian sosiologi alternatif yang bisa mengajukan analisa-analisa baru secara obyektif. Asep Hikmat. hal. hampir mirip dengan gagasannya George Ritzer yang menulis buku Sociology : A Multiple Paradigm Science (1980) --walaupun dalam buku ini Turner tidak menyebut satupun nama Ritzer. Dalam buku ini Turner mengajukan sebuah pandaagan sosiologi yang multi-paradigmatik. Buku ini terasa sulit untuk dibaca secara lengkap dan tuntas karena kerumitan yang suguhkan oleh Turner sendiri.2-4. Turner cukup berhasil dalam menghadirkan analisa Foucault dan Edward Said untuk “menghabisi” kerancuankerancuan kalangan orientalis yang memahami Timur dan Islam secara tidak adil. sebagaimana dijelaskan dalam The Archeology of Knowlodge dan dalam Discipline and Punish. plural. dan penuh keterbukaan. Hanya saja. Turner kurang mampu membuat tulisannya itu secara sistematis untuk membidik mana saja persoalan yang layak dikritisi. Said mengakui bahwa penggunaan wacana (discourse) dari Foucault. Sikap kritisnya pun belum begitu mampu menjatuhkan analisa-analisa dari obyek kritikannya. Ibid. Apapun yang dilakukannya. iii. 2-3. Kata Said : “tanpa memeriksa . Tapi. Dengan keluasan wawasan dan literatur yang sangat dalam. di samping kurang halusnya bahasa terjemahannya. Catatan: Disampaikan pada diskusi rutin internal IIIT Indonesia pada Hari Senin. Wacana orientalisme yang telah mengakar kuat pada masyarakat Barat menjadi kajian sosiologi yang sangat hegemonik. dan menjadi satu-satunya kebenaran. terj. Said. dalam persoalan orientalisme. Edward W. dan kini layak untuk “dibongkar” kembali untuk mebuat keseimbangan pandangan tentang Islam dan Barat yang obyektif. (Bandung : Pustaka. 10 Maret 2003. cet.universal. Turner berupaya mengkaji secara kritis beberapa pemikir ilmu-ilmu sosial modern dengan amat komprehensif dan berimbang.

orientalisme sebagai suatu discourse, kita tidak akan mungkin bisa memahami disiplin yang snagat sistematis ini, dengan mana budaya Barat mampu mengatur --bahkan menciptakan-- dunia Timur secara politis, sosiologis, militer, ideologis, saintifik, dan imajinatif selama masa pasca-Pencerahan”. Ibid, hal. 4

Richard King, Agama, Orientalisme, dan Postkolonialisme, terj. Agung Prihantoro (Yogyakarta : Qalam, 2001), hal. 164-5.

Ibid, hal. 166.

Edward Said, op.cit. hal. 34-5.

Lihat Hassan Hanafi, Oksidentalisme, Sikap Kita terhadap Barat, terj. M. Najib Buchori (Jakarta : Paramadina, 2000), hal. 20.

I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme, Tantangan Bagi Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 1996), hal. 27-8.

Ibid, hal. 24.

Samuel P. Huntington, Benturan antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, terj. M. Sadat Ismail (Yogyakarta : Qalam, 2000), hal. 9.

Lihat Marshal G.S. Hodgson, The Venture of Islam, Iman dan Sejarah dalam Peradaban Islam, terj. Mulyadi Kartanegara, (Jakarta : Paramadina, 1999), hal. 81.

Happy Susanto, lahir di Jakarta, 3 April 1980, tercatat sebagai mahasiswa akhir Jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Islam ’45 (UNISMA) Bekasi. Pernah belajar Bahasa Arab (I’dad Lughawy) di Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta (1998-2000). Kini aktif sebagai peneliti Bidang Sosiologi pada International Institute of Islamic Thought (IIIT) Indonesia, Jakarta, dan menjadi Ketua

Bidang Komunikasi Umat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bekasi, dan pengurus di Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar Jakarta

© Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.3, September 2003

International Institute of Islamic Thought Indonesia

© Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.2, Juni 2003

International Institute of Islamic Thought Indonesia

Menggagas “Sosiologi Profetik”:

Sebuah Tinjauan Awal

Happy Susanto Abstract

Prophetic sociology is academic study in sociology that tries to explore prophetic idea into observation or social research. By exploring history of prophets critically, scientific idea of prophecy included in sociological studies. Basic principle of the study is its character that is not-value-free and based on interdisciplinary sociology, as well as having multi-paradigms. Reflecting on realities those are showed by prophets, sociologist should involved in “historical activism” to create valuable social change. Three main principles of this project are: liberation, emancipation, and transcendence. The principles are being integral part of prophet process in reflecting social realities they faced. Henceforth, disenchantment of meaningful life to be explored critically through prophetic sociology

Keywords: prophetic sociology, value-free, multi-disciplines, liberation, emancipation, transcendence, activism, history, consciousness, paradigm

“Kenekadan”, adalah sebuah ungkapan yang akan terlontar dari beberapa orang ketika mendengar istilah “Sosiologi” disandingkan dengan kata “Profetik”. Adalah sebuah “omong kosong” manakala sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu sosial yang ilmiah, obyektif, dan rasional diletakkan “bermesraan” dengan sebuah term yang memang masih bersifat teologis-keagamaan –begitulah tanggapan dari beberapa orang bila mendengar istilah “baru” ini. Sebenarnya, tulisan ini merupakan sambungan dari wacana yang sedang berkembang dalam sebuah milis (www.groups.yahoo.com/group/sosiologi_profetik), yang telah beberapa bulan ini penulis gagas. Tapi, pencetus awal ide seperti ini adalah Pak Kuntowijoyo, sejarawah dan budayawan dari Yogya, lewat gagasan “Ilmu Sosial Profetik” (ISP) yang pernah mencuat dan dilontarkannya pada tahun 1997-an.

Berangkat dari gagasan awal Pak Kunto itulah penulis mencoba menariknya secara lebih spesifik pada bidang sosiologi. Pak Kunto sendiri baru melontarkan gagasan ISP-nya melalui sebuah artikel beruntun dalam Harian Republika pada tanggal 7-9 Agustus 1997, dengan judul “Menuju Ilmu Sosial Profetik”. Tapi, embrio dari wacana ISP yang digagas Pak Kunto ini sebenarnya pernah mencuat lama sekali dalam buku magnum opus-nya, Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991). Yang menarik dalam gagasan Pak Kunto adalah beliau memandang bahwa sesungguhnya substansi ajaran universal agama (profetika --sebagai adjective dari agama) bisa menjadi ilmiah dan dipakai sebagai pisau analisa dan paradigma keilmuan apabila memulainya melalui proses “obyektivikasi” berserta ilmu-ilmu modern lainnya. Dalam profetika terjadi --katakalah-- “melampaui teologi” (beyond theological) dan bernuansa transformatif dalam ranah keilmuan yang obyektif, tidak lagi bernuansa normatif, melulu persoalan teologis. Penamaan dengan “ilmu sosial” akan lebih efektif dibandingkan dengan “teologi sosial”. Makanya, Pak Kunto tidak sepakat dengan penamaan “Teologi Islam Transformatif”. Ia berbeda pendapat dengan Dawam Rahardjo dan Moeslim Abdurrahman.

Apa sih yang digagas Pak Kunto melalui ISP-nya? Beliau memandang bahwa paradigma yang dipakai dalam ilmu-ilmu sosial selama ini tidak efektif karena tidak ada muatan transformatif keilmuannya. Sebuah ilmu (sosial) hanya bersikap diam dan observatif ketika diperhadapkan dengan realitas obyek penelitiannya. Prinsipprinsip yang dibangun dalam paradigma Ilmu Sosial Profetik berangkat dari penterjemahan secara ilmiah terhadap bunyi sebuah teks ayat Al-Qur’an, yang berbunyi: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imron, 3 : 110). Ada beberapa term filosofis yang terkandung pada ayat ini, yaitu “masyarakat utama” (khairu ummah), “kesadaran sejarah” (ukhrijat linnas),

dan Yudaisme Kuno. Karyanya tentang agama-agama lain terhenti oleh kematiannya yang mendadak pada 1920. sistematisasi terhadap administrasi pemerintahan dan usaha ekonomi. Karya Weber dalam sosiologi agama bermula dari esai Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme dan berlanjut dengan analisis Agama Tiongkok: Konfusianisme dan Taoisme. Kekristenan dan Islam perdana. dan “transendensi” (al-iman billah). Kitab Yakub. studi tentang sosiologi agama. menurut Weber. ilmu tentang pembelajaran dan yurisprudensi. tapi juga mencatat bahwa hal-hal tersebut bukan satu-satunya faktor dalam perkembangan tersebut. [sunting] Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme . dan pembedaan karakteristik budaya Barat. Kristen) memiliki dampak besar dalam perkembangan sistem ekonomi Eropa dan Amerika Serikat.“liberasi” (amr ma’ruf). Dalam analisis terhadap temuannya. Tujuannya adalah untuk menemukan alasan-alasan mengapa budaya Barat dan Timur berkembang mengikuti jalur yang berbeda. hubungan antara stratifikasi sosial dan pemikiran agama. menggabungkan pengamatan dengan matematika. Tiga tema utamanya adalah efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi. semata-mata hanyalah meneliti meneliti satu fase emansipasi dari magi. Faktor-faktor penting lain yang dicatat oleh Weber termasuk rasionalisme terhadap upaya ilmiah. Yahudi Talmudi. yakni "pembebasan dunia dari pesona" ("disenchanment of the world") yang dianggapnya sebagai aspek pembeda yang penting dari budaya Barat. Pada akhirnya. Agama India: Sosiologi Hindu dan Buddha. hingga ia tidak dapat melanjutkan penelitiannya tentang Yudaisme Kuno dengan penelitian-penelitian tentang Mazmur. Adalah “keberanian” Pak Kunto yang telah mampu menterjemahkan proposisi pada makna teks ayat disesuaikan dengan konteks keilmiahan. Weber berpendapat bahwa pemikiran agama Puritan (dan lebih luas lagi. “emansipasi” (nahy munkar).

Sampul salah satu edisi The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.

Esai Weber Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (Die protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus) adalah karyanya yang paling terkenal. Dikatakan bahwa tulisannya ini tidak boleh dipandang sebagai sebuah penelitian mendetail terhadap Protestanisme, melainkan lebih sebagai perkenalan terhadap karya-karya Weber selanjutnya, terutama penelitiannya tentang interaksi antara berbagai gagasan agama dan perilaku ekonomi.

Dalam Etika Protestan dan Semangant Kapitalisme, Weber mengajukan tesis bahwa etika dan pemikiran Puritan mempengaruhi perkembangan kapitalisme. Bakti keagamaan biasanya disertai dengan penolakan terhadap urusan duniawi, termasuk pengejaran ekonomi. Mengapa hal ini tidak terjadi dalam Protestanisme? Weber menjelaskan paradoks tersebut dalam esainya.

Ia mendefinisikan "semangat kapitalisme" sebagai gagasan dan kebiasaan yang mendukung pengejaran yang rasional terhadap keuntungan ekonomi. Weber menunjukkan bahwa semangat seperti itu tidak terbatas pada budaya Barat, apabila dipertimbangkan sebagai sikap individual, tetapi bahwa individu-individu seperti itu -- para wiraswasta yang heroik, begitu Weber menyebut mereka -- tidak dapat dengan sendirinya membangun sebuah tatanan ekonomi yang baru (kapitalisme). Di antara kecenderungan-kecenderungan yang diidentifikasikan oleh Weber adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimum, gagasan bahwa kerja adalah kutuk dan beban yang harus dihindari, khususnya apabila hal itu melampaui apa yang secukupnya dibutuhkan untuk hidup yang sederhana. "Agar suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik dengan ciri-ciri khusus kapitalisme," demikian Weber menulis, "dapat mendominasi yang lainnya, hidup itu harus dimulai di suatu tempat, dan bukan dalam diri individu yang terisolasi semata, melainkan sebagai suatu cara hidup yang lazim bagi keseluruhan kelompok manusia."

Setelah mendefinisikan semangat kapitalisme, Weber berpendapat bahwa ada banyak alasan untuk mencari asal-usulnya di dalam gagasan-gagasan keagamaan dari Reformasi. Banyak pengamat seperti William Petty, Montesquieu, Henry Thomas Buckle, John Keats, dan lain-lainnya yang telah berkomentar tentang hubungan yang dekat antara Protestanisme dengan perkembangan semangat perdagangan.

Weber menunjukkan bahwa tipe-tipe Protestanisme tertentu mendukung pengejaran rasional akan keuntungan ekonomi dan aktivitas duniawi yang telah diberikan arti rohani dan moral yang positif. Ini bukanlah tujuan dari ide-ide keagamaan, melainkan lebih merupakan sebuah produk sampingan – logika turunan dari doktrin-doktrin tersebut dan saran yang didasarkan pada pemikiran mereka yang secara langsung dan tidak langsung mendorong perencanaan dan penyangkalan-diri dalam pengejaran keuntungan ekonomi.

Weber menyatakan dia menghentikan riset tentang Protestanisme karena koleganya Ernst Troeltsch, seorang teolog profesional, telah memulai penulisan buku The Social Teachings of the Christian Churches and Sects. Alasan lainnya adalah esai tersebut telah menyediakan perspektif untuk perbandingan yang luas bagi agama dan masyarakat, yang dilanjutkannya kelak dalam karya-karyanya berikutnya.

Frase "etika kerja" yang digunakan dalam komentar modern adalah turunan dari "etika Protestan" yang dibahas oleh Weber. Istilah ini diambil ketika gagasan tentang etika Protestan digeneralisasikan terhadap orang Jepang, orang Yahudi, dan orang-orang non-Kristen. [sunting] Agama Tiongkok: Konfusianisme dan Taoisme

Agama Tiongkok: Konfusianisme dan Taoisme adalah karya besar Weber yang kedua dalam sosiologi agama. Weber memusatkan perhatian pada aspek-aspek dari masyarakat Tiongkok yang berbeda dengan masyarakat Eropa Barat dan khususnya dikontraskan dengan Puritanisme. Weber melontarkan pertanyaan, mengapa kapitalisme tidak berkembang di tiongkok. Dalam Seratus Aliran Pemikiran Masa Peperangan Antar-Negara, ia memusatkan pengkajiannya pada tahap awal sejarah Tiongkok. Pada masa itu aliran-aliran pemikiran Tiongkok yang besar (Konfusianisme dan Taoisme) mengemuka.

Pada tahun 200 SM, negara Tiongkok telah berkembang dari suatu federasi yang kendur dari negara-negara feodal menjadi suatu kekaisaran yang bersatu dengan pemerintahan Patrimonial, sebagaimana digambarkan dalam Masa Peperangan Antar-Negara.

Seperti di Eropa, kota-kota di Tiongkok dibangun sebagai benteng atau tempat tinggal para pemimpinnya, dan merupakan pusat perdagangan dan kerajinan. Namun, mereka tidak pernah mendapatkan otonomi politik, dan para warganya tidak mempunyai hak-hak politik khusus. Ini disebabkan oleh kekuatan ikatanikatan kekerabatan, yang muncul dari keyakinan keagamaan terhadap roh-roh leluhur. Selain itu, gilda-gilda saling bersaing memperebutkan perkenan Kaisar, tidak pernah bersatu untuk memperjuangkan lebih banyak haknya. Karenanya, para warga kota-kota di Tiongkok tidak pernah menjadi suatu kelas status terpisah seperti para warga kota Eropa.

Weber membahas pengorganisasian konfederasi awal, sifat-sifat yang unik dari hubungan umat Israel dengan Yahweh, pengaruh agama-agama asing, tipe-tipe ekstasi keagamaan, dan perjuangan para nabi dalam melawan ekstasi dan penyembahan berhala. Ia kemudian menggambarkan masa-masa perpecahan Kerajaan Israel, aspek-aspek sosial dari kenabian di zaman Alkitab, orientasi sosial para nabi, para pemimpin yang sesat dan penganjur perlawanan, ekstasi dan politik, dan etika serta teodisitas (ajaran tentang kebaikan Allah di tengah penderitaan) dari para nabi.

Weber mencatat bahwa Yudaisme tidak hanya melahirkan agama Kristen dan Islam, tetapi juga memainkan peranan penting dalam bangkitnya negara Barat modern, karena pengaruhnya sama pentingnya dengan pengaruh yang diberikan oleh budaya-budaya Helenistik dan Romawi.

Reinhard Bendix, yang meringkas Yudaisme Kuno, menulis bahwa "bebas dari spekulasi magis dan esoterik, diabdikan kepada pengkajian hukum, gigih dalam upaya melakukan apa yang benar di mata Tuhan dalam pengharapan akan masa depan yang lebih baik, para nabi membangun sebuah agama iman yang menempatkan kehidupan sehari-hari manusia di bawah kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh hukum moral yang telah diberikan Tuhan. Dengan cara ini, Yudaisme kuno ikut membentuk rasionalisme moral dari peradaban Barat." [sunting] Referensi

Karya Weber pada umumnya dikutip menurut Gesamtausgabe kritis (edisi kumpulan tulisan), yang diterbitkan oleh Mohr Siebeck di Tübingen, Jerman.

Max Weber and the Idea of Economic Sociology. ISBN 052003194 Kaesler.Bendix. Radkau. Wolfgang (1959/1974). J. 1890-1920. Doubleday. Max Weber: A Biography. Princeton: Princeton University Press. Moscow: URSS. American Journal of Economics and Sociology Richard Swedberg. ISBN 0226533999 Roth. Dirk (1989). University of Chicago Press.B. Guenther (2001). aturday. Max Webers deutsch-englische Familiengeschichte. pakan jawaban terhadap krisis epistemologis yang melanda bukan hanya dunia Islam tapi juga budaya dan peradaban Barat. Max Weber: An Introduction to His Life and Work.C. New Brunswick: Transaction Books. Max Weber and German Politics. Malkov A. 20 Juli 2007] Ahmad SahidahKandidat . Khaltourina D. ISBN 0226425606 Mommsen.B. J.. ISBN 0471923338 Richard Swedberg "Max Weber as an Economist and as a Sociologist". ISBN 3161475577 Weber. Mohr (Paul Siebeck). 2007 Mengenang Pemikir Pejuang [Sumber Republika. Marianne (1926/1988).. Introduction to Social Macrodynamics. July 21. Mohr (Paul Siebeck). Max Weber The most important Weber-biography on Max Weber's life and torments since Marianne Weber. Max Weber: An Intellectual Portrait. ISBN 069107013X Korotayev A. Joachim (2005).C. ISBN 5-484-00414-4 [1] (Chapter 6: Reconsidering Weber: Literacy and "the Spirit of Capitalism"). Reinhard (1960). 2006.

jurnal Progressive Islam yang dirintis oleh Alatas di Belanda mendapat bantuan keuangan dari Natsir. korupsi. kapitalisme kolonial. dan teori sosial. Bahkan. beliau menyatakan mempunyai ikatan spiritual dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Natsir. peran intelektual. tetapi juga sebuah karyanya Sosiologi Korupsi (terjemahan LP3ES. Tentu saja. kalangan pegiat dan akademisi di Indonesia seyogianya turut merasakan kehilangan. yang pada masa itu menjadi perdana menteri. ideologi. Namun demikian. pembangunan. tulisan beliau memberikan perhatian pada persoalan agama. Karya-karya penting Dengan komitmennya yang tinggi. bekas perdana menteri. terutama kalangan intelektual. Beliau adalah segelintir intelektual Asia Tenggara yang dikenal di dunia internasional. Kepergiannya (23/1/07) telah meninggalkan banyak kenangan bagi rakyat Malaysia. Lebih-lebih.Doktor Kajian Peradaban Islam dan Graduate Research Assistant di Universitas Sains Malaysia Pada 30 Juli 2007 Universitas Sains Malaysia akan menggelar seminar bertema 'Mitos Pribumi Malas' sebagai penghormatan terhadap sepak terjang dan pemikiran Profesor Syed Hussein Alatas di Asia Tenggara. Selain itu. Jawa Barat. Tema tersebut adalah judul karya cemerlang sarjana keturunan Arab ini yang menjadi ilham bagi lahirnya disiplin orientalisme. Tak pelak lagi. turut hadir dalam upacara pemakaman. Sebagian besar karya ini ditulis dalam bahasa Inggris. . saya tidak melihat pemerintah memberikan penghormatan yang layak bagi seorang intelektual sekaliber beliau. kiprah intelektualnya bisa dikenal di kancah internasional. 1982) telah banyak diapresiasi dan mempengaruhi para aktivis pada tahun 1980-an tentang bahaya penyalahgunaan kekuasaan. meskipun keduanya pernah berbeda pendapat mengenai hubungan genetik dan kemunduran kaum Melayu pada tahun 1970-an. pluralisme. Tidak saja karena beliau dilahirkan di Bogor. Prestasi ini tak bisa dilepaskan dari latar belakang pendidikan doktornya dalam bidang ilmu sosial dan politik di Belanda serta kegiatan organisasi keislaman di negeri ini. Tun Mahathir Mohammad.

kolonialis juga memberikan makanan buruk dan opium. Hang Tuah. Sebagai intelektual. adalah sebuah karangan yang berusaha mementahkan 'mitos pribumi malas' dan sekaligus mengritik warisan feodalisme yang menghinggapi masyarakat Melayu. dan Indonesia. Mitos Pribumi Malas adalah sebuah kritik terhadap pandangan bias Barat terhadap Timur sebelum Edward Said menulis Orientalism: Western Conception of the Orient (1978). Filipina. tentang islamisasi pengetahuan. tetapi sekaligus menempatkan metodologi Barat sebagai cara mengritik bangsanya dan sekaligus mitos yang diciptakan 'penjajah'. pahlawan yang acapkali dijadikan rujukan. ketaatan. Syed Naquib Al Attas. Selain buku. Said menyebut karya Alatas sebagai startingly original dan di dalam buku ini juga Said banyak merujuk kepada pemikirannya. Ironisnya. bagi Alatas. Lebih parah lagi. termasuk islamisasi sosiologi. dan penghormatan terhadap penguasa. Sebuah bukti lain tentang kepeduliannya untuk menunjukkan bagaimana bangsa-bangsa Asia Tenggara tidak lagi hanya dijadikan sebagai objek kajian. Karya lain. dan pemisahan dari lingkungan alamiahnya agar pribumi merada rendah diri dan tidak cukup sehat untuk menjadi manusia. Justru sikap ini diambil ketika yang terakhir didukung oleh pemerintah melalui Anwar Ibrahim. Alatas memberikan pandangannya yang sejalan dengan kondisi Malaysia yang terdiri dari masyarakat multikultur.Sebagai salah satu perintis penyelidikan sosiologi di Asia Tenggara paling utama. cendekiawan Muslim ternama. Keteguhan pendapatnya diperlihatkan ketika beliau harus berseberangan dengan saudaranya sendiri. beliau menulis kurang lebih 14 buku. . Tokyo. dan Amerika. Religion and Modernization in Southeast Asia. ia membunuh kawannya sendiri secara tidak jantan karena ingin memenangkan sebuah pertarungan. beliau juga menulis artikel di pelbagai jurnal internasional yang diterbitkan di Jerman. Bahkan dalam bukunya Culture and Imperialism (1993). Buku tersebut berusaha menganalisis asal-usul dan fungsi 'mitos pribumi malas' dari abad ke-16 hingga ke-20 di Malaysia. Sikap ini bisa dipahami karena meskipun Syed Hussein pernah tertarik dengan gagasan fundamentalisme Hassan al-Banna. tidak lebih dari pahlawan Melayu feodal dan berani berbuat apa saja demi kesetiaan. Prancis. Pelekatan sifat tidak beradab ini tidak bisa dilepaskan dari upaya ideologi kapitalisme Barat yang berusaha untuk mencari pembenaran dalam memajukan dan mengadabkan bangsa jajahan.

Sayangnya. Langkah kontroversi lain yang dilakukan semasa beliau menjadi 'rektor' Universitas Malaya adalah kebijakan bahwa prestasi seharusnya dijadikan ukuran dalam penentuan jabatan struktural di universitas. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di sebuah negara yang mencanangkan negara maju pada LAKUM DINUKUM WA LIYA DINI Nuansa Dasariah Buku Islamku Islam Anda Islam Kita: Sebuah Tinjauan Teologis. Bahkan.beliau adalah seorang pemikir sekuler yang memisahkan peran agama dan negara dalam kehidupan masyarakat. Shaharom TM Sulaiman (Utusan. Dr. Hebatnya lagi. Gagasannya diwujudkan dalam sebuah partai politik Pekemas (Partai Keadilan Malaysia). beliau juga pernah menjadi anggota parlemen mewakili partai ini. beliau rela berhenti sebagai 'orang nomor satu' di Universitas Malaya karena tidak mau tunduk terhadap tekanan. Sosiologis dan Antropologis1 Oleh P. Philipus Tule. beliau juga sekaligus pegiat praksis dunia politik. Pendek kata. beliau merasa kecewa karena tidak mendapatkan kemudahan akses dan hambatan dari perpustakaan. SVD Pendahuluan . Bahkan. Hal ini ditunjukkan dengan pengangkatan dekan berkebangsaan India dan Cina. di usia senja beliau masih menunjukkan kepeduliannya untuk melahirkan sebuah karya tentang kaitan perpustakaan dan tradisi kesarjanaan dalam sejarah dan peradaban manusia. 29/1/07). sebagaimana diungkapkan oleh koleganya. yang menimbulkan kemarahan orang-orang Melayu. beliau adalah pemikir sekaligus aktivis. Tidak hanya bergulat dengan wacana ilmiah.

telah mendorong pemerintah.dan antropologis. menghimpun para alim ulama dan cendekiawan. Saya menawarkan sebuah judul sebagaimana tertera diatas. Demi memperkaya telaah sosial. serta menambah secercah sinar pada makalah Pembahas Pertama (bpk Dr. tentram dan sejahtera (dkl maslahah ’ammah atau bonum commune). karena kebanggaan akan profesi saya sebagai seorang pastor Katolik yang sambil menekuni studi Islamologi dan Antropologi Agama-Agama. cendekiawan dan aneka LSM di Indonesia untuk mencarikan solusi. Acara bedah buku karya KH Abdurrahman Wahid. politik dan agama yang telah dirajut oleh Bapak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam bukunya. data sosiologis agama-agama di dunia (internasional dan nasional). Syafi’i Anwar). sosiologis.inklusif dari KH Abdurrahman Wahid. tentu saja tidak menggiring aku kepada posisi merelativisir ataupun mengabsolutir dimensi tertentu. saya pun tetap setia pada iman dan keyakinanku pada aspek teologis dari agama wahyu (Agama Revelasi seperti Kristen dan Islam). dan beberapa kesimpulan praktis untuk konteks kehidupan beragama dan bermasyarakat di Indonesia. tokoh agama. Lalu disusul dengan pembahasan mengenai arti agama dan masyarakat. Makalah ini dikemas dalam kerangka pikir sebagai berikut: pendahuluan. teori-teori sosiologi agama. yang diprakarsai oleh PADMA Indonesia dan The Wahid Institute ini merupakan inisiatif positif untuk mensosialisasikan karya monumental seorang Kiyai Intelektual dan Negarawan berwawasan kosmopolitan itu. baik secara preventif maupun kuratif. Pergumulan akademis seperti itu.Pengalaman konflik antaragama yang sering dialami di persada nusantara ini. Selanjutnya. untuk bersama-sama mendiagnosis situasi nasional dan umat masa kini yang ditandai oleh aneka bentuk konflik bernuansa SARA. bersama-sama memprognosis masa depan kehidupan bermasyarakat dan beragama yang lebih kondusif serta memungkinkan kita membuat pilihan tepat dalam menata kehidupan yang aman. mosaik pemikiran toleran . Data Sosiologis Agama-Agama . M. saya coba menyoroti eksistensi agama dalam masyarakat dari perspektif teologis. tapi justeru membimbing aku kepada sikap yang lebih seimbang dalam memahami dan menghayati kehidupan keagamaan sebagai yang berdimensi wahyu (revelasi) dan yang berdimensi sosial (masyarakat) dan budaya (kultural) sebagaimana juga dilakukan oleh Gus Dur.

Masalah perbedaan agama. Menurut sensus Badan Pusat Statistik tahun 2000.00 %.7 persen dari populasi 3. Kalimantan Barat dan Sumatra Utara. Islam: 21.000.22 % dari total 210 jiwa (BPS. Timor. Sumba dan kawasan Indonesia Timur lainnya. konservatif ataupun modern). Evi N. sebuah suratkabar di Manado. jumlah pemeluk Hindu sekitar 87.185. Flores. isu yang mencemaskan adalah “Islamisasi. telah menimbulkan dampak samping dalam kehidupan bermasyarakat dalam bentuk konflik dan mencemarkan nama baik bangsa Indonesia yang secara historis berkarakter toleran dan damai. sbagaimana di beberapa kawasan Indonesia lainnya. Maluku. Jikalau di pulau Jawa dan Sumatra. Jumlah orang Kristen juga besar di Sulawesi Utara. Sikh: 00. Muslim justru minoritas hanya 9. Data Statistik Agama di Indonesia (Nasional) . Di Bali.00 %.” Isue agama yang sering dipolitisasi seperti itu. Agama Asli: 06. Bali. orang sering dicemaskan oleh isue “Kristenisasi”. ribut-ribut RUU Pornografi. maka di Minahasa. Arifin dan Aris Ananta.00 %. Di Bali misalnya.8 Juta (BPS 2000). Ini juga terjadi di Poso. Buddha : 06. menulis dalam lembaran editorialnya bahwa kalau “daerah lain” bisa menjalankan syariat Islam maka Minahasa seharusnya juga boleh “merdeka.00 %. jumlah penduduk beragama Katolik dan Protestan sebesar 89.07 %. NTT. sering berdampak pada munculnya sikap-sikap emosional dan primordial.42 %. Lebih dari 10. Yudaisme : 00. Papua. baik secara kwantitatif (minoritas ataupun mayoritas) maupun kwalitatif (toleran ataupun fanatik/radikal. 2004).” Data Statistik Agama di Dunia Kristen : 33.22 %.00 %.4 persen dari total penduduk 3.000 orang mati dalam sengketa sektarian di Maluku sejak 1999.36 %. mendorong tokoh dan organisasi di pulau Dewata itu melontarkan ide “merdeka dari Indonesia.000]. Hindu: 13. [ Total Penduduk dunia: 6.” Harian Komentar. yang dianalisis dalam buku “ Indonesia’s Population” oleh Leo Surjadinata.1 juta sedangkan Muslim hanya 10. Tak Beragama: 14. Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi paling tinggi persentase orang Kristen di Indonesia. Tao : 06.Indonesia adalah negara dengan konsentrasi penduduk Islam terbesar di dunia yakni 88.3 persen. Papua.00 %.

46%. 4 Dalam artian sosiologis. Lain-lain: 0.81 %. haruslah ditinggalkan demi Yang Suci itu sendiri. teologi menjadi mitra perbincangan utama bagi sosiologi agama karena keduanya dibutuhkan dalam pengembangan civil society (masyarakat berkebudayaan) di masa depan. 2000)] Masyarakat Beragama: Tinjauan Teologis dan Sosiologis Sebelum kita menggumuli makna sosiologisnya. Kata masyarakat itu berkaitan erat dengan kata bahasa Arab MUSYAARAKAT yang berarti kemitraan. 2 Teologi itu menafsir agama-agama dan keseluruhan peradaban ataupun kultur yang dipengaruhinya dalam standar etis.8 juta (Sumber BPS. Jihad dan kemartiran dalam abad pertengahan) ataupun genocide sebagai usaha pemusnahan secara sistematis dan teratur terhadap suatu kelompok masyarakat atas nama agama dengan penindasan serta korban-korban dehumanisasi ataupun aktivitas yang menuntut kita berbohong kepada diri sendiri ataupun sesama demi agama. baiklah kita menyimak refleksi teologis tentang konsep atau nuansa kata masyarakat itu. God. kolaborasi. Oleh karena itu term MUSYARAKAT (SOCIETY) diartikan sebagai suatu persekutuan sosial. Kata masyarakat (bhs Indonesia) merupakan terjemahan dari kata society (bhs Inggeris). sahabat. sekutu dan teman. Ngga’e Ndewa) dinamakan Teologi.88% [Total penduduk NTT: 3. Budha: 0. Hindu: 1.2 % [ Total Penduduk Indonesia: 210 juta pada 2004] Data Statistik Agama di NTT Catholic 55.Islam : 88. persekutuan dari insan-insan yang bersahabat (Socius) dan yang berakal budi (LOGICUS). Protestan: 5. Muslim 9. Protestant 34. Terluas dan Terdalam (yang disebut ALLAH. Pelbagai orientasi keagamaan yang cenderung melahirkan perang suci dalam artian harafiah (mis. yang berkaitan erat dengan kata socius (bhs Latin) yang berarti kawan. Disiplin ilmu yang secara khusus ditata untuk menafsir apakah agama itu rasional atau irasional dan apakah agama itu mengatasi pelbagai ujian inkoherensi dan sesuai dengan Realitas Tertinggi. komunitas. Other 0.87 %.49%.07%. Katolik: 3. kooperasi. 3 Dewasa ini.05 %. Selanjutnya arti kata masyarakat baik secara etimologis maupun terminologis kiranya membantu kita memahami secara lebih baik karakter teologisnya dalam aktivitas pembangunan.84 %.22 %. term bahasa Arab MUSYAARAKAT itu berkaitan erat dengan kata MA (yang berarti YANG) dan SYARIKA (yang berarti BERSEKUTU). Tetapi suatu perkembangan baru dalam filsafat .

kebiasaan. dan yang ditautkan dengan SYARIKA (mempersekutukan. patuh. Dalam bahasa Arab. Kelompok pertama mengatakan bahwa agama berasal dari a (tidak) dan gam (kacau). balasan. Malahan implikasi teologis itu lebih jelas bila dipahami kata MA sebagai sinonim dengan LA yang berarti TIDAK. Pandangan kedua mengatakan bahwa a (tidak) dan gam (pergi). yakni nama bagi perarturan-peraturan dan hukum-hukum yang telah disyariatkan Allah selengkapnya (ataupun prinsipprinsip saja) dan diwajibkan kepada umat Islam untuk melaksanakannya. nilai-nilai keagamaan. utang. Bila kata din dihubungkan dengan kata Allah jadi din Allah (agama dari Allah). kata din mengandung arti menguasai.manusia menggaris-bawahi bahwa manusia itu bukan saja merupakan ens rationale (atau ens logicus). membagi. Yang lain mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. karena agama biasanya mempunyai Kitab Suci. Agama berarti tidak pergi. tapi juga ens sociale dan ens teologicus. Ad-Din juga berarti millah. sedari kodratnya isi konsep MASYARAKAT (persekutuan sosiologis) senantiasa berimplikasi teologis. Dengan kata lain. atau mengikat yakni mengikat dan memepersatukan segenap pemeluknya dalam satu ikatan yang erat (ummat) dan juga dengan Allah mereka. term SYARIKA senantiasa dihubungkan dengan ide teologis tidak mempersekutukan Allah Esa (TAWHID) dengan dewa/i lainnya. . Ad-Din juga berarti syariah. Secara terminologis agama juga didefinisikan sbb: Agama sebagai ad-Din: Din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. mendudukkan. yang mengikat hubungan mereka dengan Allah dan sesamanya. 5 Aneka Definisi Agama Kata agama berasal dari bahasa Sanskerta yang ternyata mempunyai beberapa arti. Masyarakat adalah persekutuan insan-insan beragama. Dalam arti itulah masyarakat mengandung konsep persekutuan insan-insan rasional yang percaya akan Allah Esa. berpartisipasi). Agama dan nilainilainya harus menjadi sumbangan bagi pembangunan masyarakat bangsa umumnya dan pelestarian alam dan lingkungan hidup khususnya. din Nabi (agama dari Nabi). Karena itu. Oleh sebab itu. Dalam Islam. diwarisi turun temurun. tetap di tempat. Manusia adalah insaninsan sosial yang menyadari keterbatasan dirinya sendiri serta membutuhkan sesama dan kekuatan supranatural yaitu ALLAH. nilainilai iman harus dihayati dan diamalkan dalam kebersamaan. Agama berarti tidak kacau. dinul-ummah (agama yang diwajibkan agar umat manusia memeluknya). agama itu berdampak sosial.

Emosi keagamaan yang menyebabkan manusia menjadi religius. yang mencakup kenyataan bahwa semua agama punya harapan yang standard (umum) namun setiap pribadi penganutnya bisa memperoleh suatu pengalaman langsung dan pribadi (subyektif) dalam berkomunikasi dengan realitas ultimate (supranatural) itu. (3). serta wujud dari alam gaib (supranatural). etika dan moralitas. Sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan serta bayangan-bayangan manusia tentang sifat-sifat Tuhan. yang mencakup ekspektasi (harapan) bahwa seorang penganut agama menganut dan memahami suatu pandangan teologis yang menyebabkan dia mengakui dan menerima kebenaran agama tertentu. Sistem upacara religius yang bertujuan mencari hubungan manusia dengan Tuhan. Kelima dimensi komitmen keagamaan (dimensions of religious commitment) itu adalah sbb: Dimensi iman (belief dimension). (bdk. Diantara para penulis Romawi. Glock dan Stark 8 mengemukakan bahwa betapa sulit mengukur religiositas seseorang ataupun komunitas (umat) karena setiap agama bisa mengukurnya dengan rujukan pada hal-hal seperti: keanggotaan. dewadewi atau makhluk halus yang mendiami alam gaib. Kelompok-kelompok religius atau kesatuan-kesatuan sosial yang menganut sistem kepercayaan tersebut dan yang melakukan sistem upacara-upacara. .Agama juga didefinisi sebagai Religi: dari bahasa Latin (religio). Dimensi praktis keagamaan (religious practice). yang mencakup ibadat (rituals) dan devosi. memperhatikan tanda-tanda tentang suatu hubungandengan ketuhanan atau membaca alamat. (4). menghitung atau memperhatikan sebagai contoh.6 Bertolak dari konsep literer itu. Emile Durkheim dari Perancis memberikan definisi sbb: Religion is an interdependent whole composed of beliefs and rites (faith and practices) related to sacred things. Cicero yang berpendapat bahwa religion (religio) berasal dari kata legare yang berarti mengambil (menjemput). unites adherents in a single community known as a church. Namun para pakar masih berbeda pendapat tentang asal dan akar katanya yang asali serta artinya. Dalam Islam dan Katolik…… contoh konkrit) Dimensi pengalaman keagamaan (the experience dimension or religious experience). dll. pandangan dan cara hidup. 7 Dari definisi tersebut terungkaplah empat komponen berikut: (1). mengumpulkan. (2). Namun hampir semua pakar agama mengemukakan bahwa ada lima dimensi dasar yang paling menonjol dalam setiap agama dan dapat dipakai untuk mengukur atau menguji kadar/mutu keagamaan (religiositas) seseorang. yang menjadi kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap penganut agama. kepercayaan pada doktrin agama.

” 12 Pandangan Durkheim tersebut tercermin pula dalam teori R. ritus. agama itu terpengaruh oleh proses sosial itu sendiri. yang tampak dalam dokumen-dokumen berdirinya Negara Amerika Serikat. Bagi Bellah. 14 . agama adalah cara khas berpikir tentang eksistensi kolektif. Dimensi ini mengidentifikasi efek dari keempat dimensi diatas dalam praktek. menjadikan agama sebagai suatu yang sentral dalam teori sosial. seperti upacara-upacara dalam pengukuhan jabatan-jabatan kenegaraan dan hari-hari pesta yang memperingati peristiwa-peristiwa penting yang memupuk America’s national self understanding. di Amerika ada gejala yang disebutnya civilreligion. yang mempengaruhi sikap hidup dalam penghayatan agamanya setiap hari. Dimensi iman dan pengetahuan memiliki hubungan timbal balik. Sejauh masyarakat masih ada dan berlangsung. menegaskan dan meneguhkan perasaan dan gagasan kolektifnya yang menciptakan kesatuan dan kepribadiannya. Aneka Teori Sosiologi Agama 9 Salah satu aliran sosiologi yang berbicara mengenai prospek agama-agama adalah sosiologi fungsional. Bellah mengenai agama sipil (civil religion). Kitab Suci dan tradisi. pengalaman serta kehidupan sehari-hari. Setiap masyarakat dalam proses menghayati cita-citanya yang tertinggi akan menumbuhkan ”kebaktian” pada representasi-diri simboliknya. yang merujuk pada ekspektasi bahwa penganut agama tertentu hendaknya memiliki pengatahuan minimum mengenai hal-hal pokok dalam agama: iman. civil religion adalah subordinasi bangsa pada prinsip-prinsip etis yang mengatasi bangsa itu sendiri dan atas dasar prinsip itu martabat bangsa dinilai. 10 Aliran sosiologi modern sebagaimana dipelopori oleh E. Dimensi konsekwensi sosial (the consequences dimension). Agama merupakan suatu sistem interpretasi-diri kolektif. agama adalah proyeksi masyarakat sendiri dalam kesadaran manusiawi para anggotanya. yaitu suatu unsur penting yang menciptakan stabilitas serta perubahan sosial.Dimensi pengetahuan (the knowledge dimension). Durkheim dan Max Weber. Aliran ini memandang agama sebagai realitas sosial.” 11 Dengan kata lain. agama pun akan tetap lestari. suatu konsep yang berasal dari Rousseau. Durkheim memusatkan telaahnya pada pertanyaan dasar: bagaimana masyarakat dapat menghasilkan dan mempertahankan kohesi sosialnya? Bagi Durkheim. 13 Menurut pengamatan Bellah. agama menjadi faktor esensial bagi identitas dan integrasi masyarakat. Sebagai “realitas intra-sosial”.

ruang di mana ia ada. Agama secara historis merupakan alat legitimasi institusí sosial paling efektif dengan memberikan status ontologis padanya.” 15 Kendatipun Weber tidak memberikan definisi eksplisit mengenai agama. yang berpuncak pada kematian. waktu yang mengatur hidupnya dan masa depannya. Marx menekankan peranan institusi (ekonomi dan sosial) dalam membentuk kesadaran. Pada kesimpulannya Berger mengingatkan pengertian agama dalam uraiannya sebagai: “the establishment through human activity. tetapi dari tulisannya dapat dibaca bahwa baginya agama memberikan ”kerangka makna” pada dunia dan perilaku manusia. setiap tradisi religius membutuhkan komunitas religius untuk dapat mempertahankan kredibilitasnya: jemaah. that is. Parsons. dengan menempatkannya dalam suatu kerangka sacral dan kosmis. suatu perspektif dengan mana manusia memahami dunia. lewat pengingatan kembali (perayaan) dan legitimasi religius sehingga dapat berinteraksi dengan perbuatan manusia seharihari. Ia justeru menemukan bahwa agama merupakan faktor penggerak perubahan sosial. Berger melihat kecemasan manusia ketika menghadapi maut yang merupakan ciri ”eksistensialis”-nya. Selanjutnya bagi Peter Berger. kegiatannya. Menurut T. Kekuatan yang dapat meredakan kecemasan ini adalah agama. Untuk tujuan itu. ”Perhatian utama Weber adalah agama sebagai sumber dinamika perubahan social dan bukan sebagai instrumen peneguhan struktur masyarakat. of an all embracing sacred order.Max Weber memusatkan perhatiannya pada masalah bagaimana masyarakat berubah dan mengalami kemajuan. Seperti Heidegger. 18 Kritik terhadap Agama Pembicaraan mengenai sosiologi agama serta prospek agama-agama tidak akan lengkap bila kita mengabaikan kritik atas agama oleh Marxisme. Kesadaran tidak dapat lain daripada eksistensi yang sadar dan eksistensi manusia adalah . termasuk kematiannya. of a sacred that will be capable of maintaining itself in the ever present face of chaos”. Ia menelaah agama dari segi dampaknya terhadap masyarakat. sangha dan lain-lain. tetapi juga dalam proses melestarikannya. 17 Agama tidak hanya penting dalam proses konstruksi dunia manusiawi. ummat. agama merupakan langit-langit sakral (the Sacred Canopy) yang terbentang di atas kerapuhan (vulnerabilitas) eksistensi manusia. Bukunya The Protestan Ethics and the Spirit of Capitalism 16 merupakan rintisan penelitian dan pendekatan baru dalam abad XX mengenai peranan kreatif agama dalam pembentukan kebudayaan. Agama juga berpautan dengan penciptaan budaya. Ritus keagamaan pun berfungsi meningkatkan terus menerus.

. Demokrasi (Wahid. lingkungan artifisial yang diciptakan bangsa manusia lewat penerapan ilmu pada teknologi untuk memuaskan keserakahan. terkadang sarkastis dan heroik (pemberani) mosaik ide brilian seputar ISLAM dalam tautannya dengan masyarakat. Negara. 21 Dalam gaya bahasanya yang plastis. 2006: 66-ss)..proses hidup yang aktual . secara sosial.. Mosaik Pemikiran Agama yang toleran – inklusif dari KH Abdurrahman Wahid: Lakum Dinukum wa Liya Dini Melengkapi aneka pandangan para pakar sosiologi dan sejarahwan tersebut. Masyarakat. perang dan ketidakadilan sosial. tapi kesadaran ditentukan oleh kehidupan. Manakala manusia dibebaskan dari penindasan ekonomis dan dari konsekwensi dehumanisasinya.. tampil dengan wawasan religius yang ”Kosmopolitan yang menyejarah (historis). KH Abdurrahman Wahid).. toleran.. Mosaik pemikiran religius yang kontekstual.. plural dan inklusif serta menawarkan kesejukan. ISLAM KITA: Agama. plural dan inklusif itu terungkap baik secara eksplisit maupun implisit dalam artikelnya berjudul ISLAMKU. sebagai kesadaran palsu yang mencerminkan dan melindungi ketidakadilan tatanan sosial. ISLAM ANDA. . 19 Marx memandang agama sebagai proyeksi diri masyarakat dalam kesadaran. Hal ini dapat merupakan versi baru dari agama lama. kehidupan tidak ditentukan oleh kesadaran. Tetapi bila agama lama harus dihidupkan dalam suatu bentuk yang mampu menjawab kebutuhan baru bangsa manusia.. yang sekaligus menjadi judul bukunya ISLAMKU.. karena semua agama yang ada sekarang terbukti tidak memuaskan. 20 Toynbee mengharapkan bahwa agama yang baru itu adalah agama yang memungkinkan bangsa manusia mengatasi kejahatan yang paling mengerikan dan mengancam kelestarian bangsa manusia seperti keserakahan. kenyamanan dan kedamaian”. Toynbee dalam dialog dengan Ikeda sampai pada kesimpulan bahwa ”bangsa manusia telah disatukan. agama. Masalah masa depan agama muncul.q. ISLAM KITA yang dimuat dalam koran Kedaulatan Rakyat 29 April 2003).. kesadaran dari awal adalah produk sosial dan akan tetap begitu selama manusia masih ada. kiranya mungkin bahwa agama itu ditransformasikan sedemikian radikal sehingga hampir tak dikenal lagi.. ISLAM ANDA. untuk pertama kalinya dalam sejarah oleh penyebaran secara mondial peradaban modern. agama akan digantikan oleh pemahaman yang realistik tentang kehidupan sosial. kontekstual. Agama di masa depan tidak harus merupakan agama yang sama sekali baru. Kiyai dan Cendekiawan (c.

ataupun yang telah dipaparkan oleh Pemakalah Pertama (Bpk Dr. Islam Negara dan Kepemimpinan Umat (Bab II). saya ingin menggaris-bawahi beberapa pokok pikiran berikut ini. dan Islam Perdamaian dan Masalah Internasional (Bab VII). Islam Pendidikan dan Masalah Sosial Budaya (Bab V). yang sering berdampak pada pembentukan sikap fanatisme atau radikalisme yang terwujud dalam aneka bentuk . termasuk saling belajar dan saling mengambil berbagai ideologi non-agama serta agama-agama lain (Wahid. Penguatan ISLAMKU Mengantisipasi Pendangkalan Agama Pada penghujung pengembaraan intelektual dan imannya.politik dan kebudayaan dikemasnya menjadi 7 (tujuh) bab sebagai berikut: Islam dalam Diskursus Ideologi. dapatlah diyakini kemampuan untuk mengatasi pendangkalan pemahaman keagamaan. maupun secara intelektual telah membuktikan kepiwaiannya untuk belajar tanpa kenal batas waktu. dan meyakini kebenaran itu darimana pun asalnya. Islam Tentang Kekerasan dan Terorisme (Bab VI). Syafi’i Anwar. 24 Dengan wawasan demikian. baik secara geografis spasial sejak dari tahun 1950-an di Jombang. Pengembaraan individualnya ini. Itulah yang dinamakannya ISLAMKU. Islam dan Ekonomi Kerakyatan (Bab IV). Gus Dur sampai pada suatu titik kesadaran akan watak kosmopolitannya.. 22 batas wilayah dan agama 23 serta ideologi.. hingga tahun 1960-an di Mesir dan Baghdad. sekalipun dari bangsa-bangsa lain yang menjadi saingan kita”. Sikap demikian mengisyaratkan apa yang telah dicanangkan filsuf kondang Al-Kindi (800 – 870M) dari Kufa (Arab) bahwa ”kita patut bersyukur kepada usaha atau jasa para filsuf yang telah berhasil mengembangkan pengetahuan yang benar. baik dalam Kata Pengantar Buku maupun dalam paparan lisan hari ini)... M.. Sepantasnyalah kita tidak malumalu lagi untuk menerapkan suatu kebenaran (al-haqq) dalam kebijaksanaan legal (istihsan). Tanpa mengelaborasi semua pemikiran positif dan universal sebagaimana terkandung dalam karya monumental itu. 2006: 66). Kultural dan Gerakan (Bab I). Islam Keadilan dan Hak Asasi Manusia (Bab III). dengan pemikirannya yang khas dan berbeda dari orang-orang lain.

2006: 99). 4. Sikap inilah yang bakal menjadi buaian bagi toleransi dan pengakuan akan pluralitas Islam itu sendiri dan pluralitas agama serta kepercayaan lainnya didalam masyarakat dunia dewasa ini.tindak kekerasan di pelbagai tempat seperti di Maluku. Menurut pengamatanku.56). baik religius maupun sosial dan budaya yang unik. maupun karena Mukhtamar NU 1935 di Banjarmasin menegaskan hal itu. 107: ”Tiadalah Ku-utus engkau kecuali sebagai penyambung tali persaudaraan dengan sesama umat manusia // wa maa arsalnaaka illaa rahmatan li al-’aalamiin” (Wahid. dalam pandangan Islam tidak diwajibkan adanya suatu sistem Islam. 28.21. baik karena tidak adanya pengaturan yang jelas dalam Quran tentang sistem Islam itu (Wahid. yang berbeda dari penghayatan Islam pribadinya. sebagaimana diamanatkan dalam beberapa ayat Quran: Lakum dinukum wa liya dini // bagimu agamamu. 14. karena NU sejak semula telah menerima kehadiran upaya berbeda-beda dalam sebuah negara atau kehidupan sebuah bangsa dan tidak mau terjebak dalam . 2006: 78). 256. Penghargaan akan ISLAM ANDA Menjadi Buaian Toleransi dan Pengakuan Akan Pluralitas Gus Dur menyadari bahwa Islam sebagai agama Wahyu itu dihayati dalam konteks pribadi. Bali dan Jakarta (Wahid. 2006: 299). Menurut Gus Dur. Aceh dan Sampit. Kadar penghormatan terhadap Islam seperti ini ditentukan oleh banyaknya orang yang melakukannya sebagai keharusan dan kebenaran (Wahid. apresiasi Gus Dur terhadap pluralitas pemahaman dan penghayatan Islam itu telah menjadi sumber inspirasinya juga untuk mengapresiasi pluralitas agama-agama dunia serta respeknya terhadap kebebasan beragama. Sebagai tokoh agama dan negararawan. toleransi dan respek terhadap kebebasan beragama itu merupakan salah satu amanat dasar dalam Quran. Q. Gus Dur sangat menghargai penghayatan Islam sesamanya yang lain. 8. sebagai kebenaran religius yang diperoleh atas dasar keyakinan. 29. bagiku agamaku (bdk. Poso. dan bukan pengalaman. 25 Penolakan terhadap Negara Agama dan Terorisme Agama Secara tegas dan explisit Gus Dur menyatakan bahwa dia menolak ’ide pembentukan sebuah negara agama’ dan ’aneka bentuk terorisme atas nama agama’.2. tambahan pula karena ketika NU mendeklarasikan berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak disebutkan bahwa partai itu adalah Partai Islam. Fenomena Islam yang demikianlah yang dinamakannya ISLAM ANDA. Hal itu berarti tidak ada keharusan untuk mendirikan sebuah negara Islam. Baginya. 2006: 67-68). sebagaimana ditegaskan pula dalam Q.

Dengan kata lain... yang terkait langsung dengan kepentingan orang banyak. 12 April 2003). Islam lebih mementingkan masyarakat adil dan makmur. Oleh karena itu. Mengupayakan AGAMA KITA sebagai Sarana Kemasyarakatan. Penegakan HAM. 2006: 32 . 106 – 110. 100-102. dialog terus menerus tentang penegakan hukum dan keadilan. Sebagaimana terungkap dalam artikelnya berjudul ”NU dan Terorisme Berkedok Islam” (Duta Masyarakat.. Sebagaimana halnya Gus Dur menolak tindakan kekerasan di Irlandia Utara antara penganut Protestan dan Katolik... teristimewa dalam zaman dimana korupsi. yang lebih mementingkan fungsi pertolongan kepada kaum miskin dan menderita (Wahid.. 26 Di hadapan konsep pembentukan Negara Islam dan penolakannya baik oleh sekelompok Muslim sendiri maupun oleh Pemerintah dan warga minoritas. maka politik akan menjadi panglima bagi gerakan-gerakan Islam dan terkait dengan institusi yang bernama kekuasaan. Gus Dur menulis bahwa dalam jenis-jenis tindakan teroristik itu.33). Kalau hal ini tidak disadari. Islam menjadi sarana kemasyarakatan. 2006: 5-7. Keadilan dan Perdamaian Dunia Bagi Gus Dur. pelanggaran hukum. Bahkan dapat dikatakan bahwa porsi politik dalam ajaran Islam itu sangatlah kecil. perusakan Mesjid Babri oleh warga Hindu di India.. Para pelaksana kegiatan teror itu menganggap diri mereka bertindak atas nama Islam (Wahid. penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). di Paris pada Mei 2003. serta sharing spiritualitas baru . Oleh karena itu. 2006: 304). Perjuangan penegakan hukum dan keadilan harus menjadi agenda utama dari semua agama dan pemerintahan.tasyis an-nushush al-muqaddasah atau politisasi terhadap teks keagamaan (Wahid. Keadilan dan Perdamaian Dunia juga ditegaskan oleh Gus Dur pada kesempatan menjadi Keynote Speaker dalam sebuah konferensi mengenai Good Governance and Global Ethics. 2006: 304).. maka dia dengan tegas membela kaum minoritas dan menolak semua tindakan terorisme yang mengatasnamai Islam mayoritas. 84. masyarakat sejahtera. karena mayoritas Muslim di berbagai negeri tidak terlibat dalam pertikaian dengan tindakan kekerasan seperti itu (Wahid. 307-308). peremehan nilai-nilai religius merajalela di dunia. Kesadaran akan fungsi agama Islam dan semua agama lainnya dalam penegakan HAM.. agama Islam sebagai AGAMA KITA bukanlah sebuah agama politik semata-mata.. terjadilah aneka bentuk terorisme yang mengatas-namai agama Islam. keadilan dan Perdamaian Dunia menjadi opsinya yang fundamental dari agama Islam. para pemuda muslim jelas-jelas terlibat dalam terorisme yang dipersiapkan.

antara para tokoh dan pemeluk berbagai agama sangatlah bermanfaat (Wahid. 355-359). tetapi yang belum tentu terwujud dalam tingkah laku sosial politik umat Islam sehari-hari. 391). Sealur dengan pandangan Gus Dur itulah. Islam normatif adalah Islam ideal atau Islam yang dicita-citakan sebagaimana tersurat dan tersirat dalam kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah yang autentik. Sedangkan sebagai cendekiawan. 29 Siegel (1969). politik. Dalam Islam normatif itu termuat segala ketentuan. studi kawasan Islam atau Islamic Area Studies sangat dibutuhkan dan mendesak (Wahid. Sedangkan Islam aktual adalah Islam historis atau sejarah sebagaimana yang telah dipahami dan diterjemahkan kedalam konteks sejarah oleh umat Islam dalam menjawabi aneka tantangan yang kompleks dalam bidang sosial. studi tentang ajaran (doktrin) Islam yang universal hendaknya senantiasa dibarengi dengan usaha memahami aneka pola penghayatan iman di pelbagai komunitas muslim lokal yang diharapkan mampu menjelaskan pelbagai cita-cita dan praktik ke-Islaman yang beraneka ragam (pluralitas). suatu distingsi jelas hendaknya dibuat antara Islam normatif dan Islam aktual. 2006: 22-23. norma-norma dan nilai-nilai yang diterima umat Islam sebagai perwujudan wahyu ilahi. Memperkaya Wawasan Keagamaan dengan Pendekatan Akademis dan Kultural Tak dapat disangkal bahwa para kerabat yang beriman Muslim senantiasa memandang agama Islam sebagai norma dan ideal. 28 Geertz (1960). Dari sudut pandangan ilmiah (akademis) dengan pendekatan kultural ini. 33 Tule (2004) 34 dan lain-lain merupakan . baik Muslim maupun non-Muslim bisa memandang Islam sebagai suatu objek studi dan sasaran penelitian. Di dalam Islam aktual itulah tercakup aneka gerakan. 2006: 280 – 283. 30 Bowen (1993). 27 Gus Dur menyadari hal itu sehingga dia menandaskan bahwa kendati pun Islam diterima sebagai kebenaran abadi yang bersifat universal dan berlaku di segala tempat dan zaman. 32 Barnes (1995. kita tak beralasan untuk mengatakan bahwa suatu masyarakat Islam tertentu dapat mewakili Islam normatif ataupun Islam ideal lebih baik daripada masyarakat Islam lainnya. namun cita-cita dan praktiknya harus dipelajari sebagaimana ‘adanya’ pada tempat dan zaman yang berbeda-beda sesuai komunikasi kultural timbal balik yang terjadi antara budaya Islam dengan budaya lokal dalam nuansa akomodatif. praktik dan cita-cita yang ada dalam masyarakat Islam di pelbagai zaman dan tempat. Dengan demikian. Dalam kaitan dengan ‘norma’. 31 Heffner (1985). ekonomi dan budayanya. 1996). Oleh karena itu. maka studi antropologi Islam sebagaimana dirintis oleh Evans-Pritchard (1949). termasuk Indonesia.

hak-hak asasi dan lain sebagainya. Dalam rangka ini pula menjadi penting peranan para pemikir agama. yang sama dan konstan. reformulasi visi keagamaan dan berbagai gerakan reformasi agamaagama termasuk apa yang dilakukan oleh para pakar Indonesia (semisal bapak KH Abdurrahman Wahid) mempunyai pengaruh terhadap masa depan agama. 35 Dalam konteks global setiap agama memiliki dimensi yang normatif-ideal. Faktor lain yang perlu diperhitungkan juga ialah persepsi insan beragama itu sendiri mengenai dirinya dalam proses sosio-kulturalnya: bagaimana ia mendefenisikan dirinya. baik dalam tataran nasional maupun mondial. dari pengamatan sosiologis makro atau mikro dapat ditunjuk faktor-faktor utama perubahan struktur dan perilaku agama manusia zaman sekarang.sumbangan besar demi memperkaya pemahaman agama Islam yang lebih kontekstual dan kultural. Budaya reflektif ini lebih mendesak lagi dalam dunia dan masyarakat yang sedang mengalami perubahan pesat dan mendalam dalam agama. yang sedang menghadapi tantangan ateisme. terutama para teolog (alim ulama) dan para mahasiswa/i dari aneka agama di Indonesia. seperti kemandirian. Meskipun demikian. Berbagai macam usaha pembaharuan. yang riil dan partikular. sosiologi dan antropologi agama. namun selalu ada dimensi yang dinamis dan berubah. kebebasan. radikalisme atau fanatisme sempit. politik dan ekonomi itu. Praksis dalam arti perlunya selalu memuat refleksi atau kajian yang memungkinkan perkembangan dan kreativitas. tugasnya dan sikap imannya terhadap perkembangan situasi sosial-budaya. Maka dapat dikatakan bahwa masa depan agama dan masyarakatnya dalam arti tertentu tergantung pada pengembangan wawasan falsafah dan teologinya yang kontekstual. Penilaian mengenai agama-agama harus ditempatkan dalam konteksnya yang spesifik. dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut : Masa depan agama-agama di dunia ini tidak lagi ditentukan hanya oleh wahyu (revelasi) dan instrumen legitimasi (seperti institusionalisasi teologis) serta fenomena sosial kwantitatif (minoritas-mayoritas) sebagaimana diwacanakan para sosiolog dan teolog. antara lain : Penghargaan akan nilai-nilai duniawi serta otonomi manusia dan nilai-nilai yang berkaitan dengannya. Kesimpulan Dari khasanah pemikiran Gus Dur sebagaimana terungkap dalam karya monumentalnya itu serta berdasarkan analisis yang dikedepankan dari perspektif teologi. Tendensi agama masa depan hendaknya lebih memberi tekanan pada orthopraksis daripada orthodoksi. jahiliyah modern. .

Akhirnya kemampuan agama untuk memberikan makna pada hidup manusia dan kemampuan untuk bersama-sama memecahkan masalah-masalah kemanusiaan zaman sekarang dalam semangat CINTA SEJATI dan dengan SPIRITUALITAS BARU akan merubah masa depan Indonesia. Hanya dengan modal ’spiritualitas baru’ itu. pelbagai pendekatan interdisipliner (politis. Untuk itu. Islam Anda. dibutuhkan suatu ’spiritualitas baru’ (religiositas universal atau perennial) yang harus dihayati oleh semua umat beriman. khususnya para pemimpin agama (Wahid.[] tahun 2020. Perjumpaan antaragama dan antarpenganut agama dengan latar kebudayaan beraneka seperti di Indonesia merupakan kesempatan akulturasi yang luas dan membuka kemungkinan pembaruan. perilaku serta orientasi pada nilai baru dari kebanyakan insan beragama. teologis. Dibutuhkan spiritualitas baru. Etika Deskriptif. antropologis-kultural) terhadap dialog antaragama dapat berjalan dengan spirit atau jiwa yang menghidupkan. Tapi lebih lanjut setiap warga pun akan dapat berkata dan lebih memahami apa artinya LAKUM DINUKUM WA LIYA DINI (Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku). Manusia merupakan makhluk yang terus menerus menafsirkan situasinya. Islam Kita. Setiap warganya yang beragama akan dapat berkata: Islamku.Pandangan yang ”pluralistik”. Migrasi dan urbanisasi manusia serta konsentrasi penduduk pada pusat-pusat produksi serta kota-kota besar telah melahirkan perubahan struktur sosial. Etika normative Pertama. Ini berkaitan dengan semakin berkembangnya sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi. . yang membawa kepada pemahaman baru baik mengenai agamanya sendiri maupun agama serta budaya yang lain dan yang ikut menentukan corak penghayatan keagamaan yang terbuka dan inklusif di masa depan. munculnya aneka stratifikasi sosial sebagai akibat proses modernisasi. 2006: 280). Perjumpaan antarbudaya dan antaragama selalu memuat proses hermeneutik.

Bedanya dari kedua macam etika : Etika Deskriptif memberi fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku atau sikap yang mau diambil. Kedua. tanpa menilai. . Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya. tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini. dan tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis.Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia. yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Ia berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai. dalam suatu masyarakat. serta memberi penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma. atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia. Ia menghimbau manusia untuk bertindak yang baik dan menghindari yang jelek. Etika Normatif berbicara mengenai norma-norma yang menuntun tingkah laku manusia. Etika Normatif. Sedangkan Etika Normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan. dan apa tindakan yang seharusnya diambil untuk mencapai apa yang bernilai dalam hidup ini.

Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. pilihan nilai yang terjelma dalam sikap dan perilaku kita yang sangat mewarnai dan menentukan makna kehidupan kita. Pimpinan STIKOM Wangsa Jaya Banten. Etika membantu kita untuk membuat pilihan. diposkan oleh Herry Erlangga pada 19:39 3 Komentar Mengenai Saya Herry Erlangga Indonesia Dosen. Lihat profil lengkapku Link Google News Prilaku Konsumen Tutorial Blog Wirsausaha Studi Kelayakan Bisnis Posting Sebelumnya .Jadi dapat dikatakan bahwa etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang mau kita lakukan dalam situasi tertentu dalam hidup kita sehari-hari.

sedangkan meta-etika mengkaji erti bahasa moral dan metafizik fakta moral. sementara etika normatif berkenaan sama ada ia adalah betul bagi memegang kepercayaan sedemikian.PEMIKIRAN-PEMIKIRAN FILSAFAT KOMUNIKASI Evasi Komunikasi Faktor-Faktor Penunjang Komunikasi Efektif Proses Komunikasi Komunikasi. . Bagaimanapun. Nilai dan Norma Pengantar dan Pengertian Etika Etika normatif Daripada Wikipedia. pada versi tertentu padangan meta-etika yang dipanggil realisme moral. secara moral?" Etika normatif berbeza dengan meta-etika kerana ia menyiasat piawaian bagi tindakan salah atau betul. etika normatif kadang kala dikatakan bersifat preskriptif. ensiklopedia bebas. etika normatif boleh dibahagi kepada lapangan-kecil teori moral dan etika diguna (applied ethics). Secara umum. bukannya deskriptif.Pengertian dan Hakikatnya Hakikat Filsafat Komunikasi Etika. Etika normatif ialah satu cabang etika falsafah yang menyiasat persoalan yang timbul apabila kita memikirkan mengenai soalan "bagaimana seseorang patut bertindak. etika perihalan adalah berkenaan menentukan berapa bahagian orang yang percaya membunuh sentiasa salah. Dengan kata lain.. Pada tahun kebelakangan. fakta moral adalah kedua-dua preskriptif dan deskriptif pada masa yang sama. yang merupakan penyiasatan empirik berkenaan kepercayaan etika manusia. sempadan antara displin-disiplin kecil ini semakin kabur apabila ahli teori moral menjadi lebih berminat dalam masaalah kegunaan (applied problem) dan etika diguna menjadi semakin berpengaruh. Etika normatif juga berbeza dari etika perihalan (descriptive ethics). Dengan itu.

Selajutnya. Fokus kepada meta-etika ini sebahagiannya disebabkan oleh pusingan linguistik kuat dalam falsafah analitik dan sebahagian lagi disebabkan adjmerebaknya positivisme logis. sementara yang lain mempertahankan teori berdasarkan bahawa ia tidak perlu sempurna bagi merangkumi kesedaran moral penting. Pada pertengahan abad terdapat kerumpangan lama dalam pembagunan etika normatif semasa di mana ahli falsafah sebahagian besarnya mengalih dari soalan normatif kepada meta-etika. Teori klasik dalam aliran ini termasuk utilitarianisme. M. bidang teah melihat pembaharuan luar biasa yang kekal hingga ke hari ini. Hare. cuba untuk tiba kepada kesimpulan normatif melalui renungan meta-etika. tetapi berminat dengan pelbagai jenis status moral. teori moral menjadi semakin rumit dan tidak lagi hanya berkenaan betul atau salah. Ekoran daripada A Theory of Justice dan karya utma lain teori normatif yang diteritkan pada 1970-an. Karya ini sungguh revolusioner. Kantianisme. dan sesetengah bentuk kontraktarianisme. The Right and the Good. Teori-teori ini menawarkan prinsip moral melampaucapai (overarching) yang seseorang boleh pertimbangkan bagi menyelesaikan keputusan moral yang sukar. dan sesetengah ahli falsafah mendesak agar menjauhi dari membuat teori umum sama sekali. Malah ahli falsafah semasa zaman ini yang mengekalkan minat terhadap moral prescriptif. Pada 1971. . kesetiaan. ahli falsafah telah mempersoalkan sama ada tugas prima facie juga boleh dijelaskan pada tahap teori. D.Teori moral tradisi menumpu kepada mencari prinsip moral yang membenarkan seseorang menentukan sama ada sesuatu tindakan adalah betul ataupun salah. Menjelang abad ke-20. atau keadilan (dia menggelarnya sebagai tugas prima facie separa betul). sebahagiannya kerana ia hampir tidak kisah langsung akan meta-etika dan sebaliknya memburu hujah moral secara langsung. Ross dalam bukunya. John Rawls menentang aliran toeri normatif dengan menerbitkan A Theory of Justice. Di sini Ross menegaskan bahawa teori moral tidak boleh mengatakan secara umum sama ada sesuatu tindakan adalah salah atau betul tetapi hanya sama ada ia cenderung kepada betul atau salah menurut jenis tugas moral tertentu seperti kebergantungan kedermawanan. seperti R. Gaya ini mungkin bermula pada 1930 dengan W.

Dengan menggunakan pelbagai teori perlakuan manusia dan sistem sosial. kerja sosial terlibat pada pelbagai tahap interaksi manusia dengan persekitaran kehidupan. kumpulan (terutamanya keluarga) dan juga masalah-masalah komuniti (Farley & Etc. 2010 Pengenalan Kepada Kerja Sosial 1. sains. Umumnya. Kerja sosial menjalankan praktis dalam 5 konteks. iaitu politik. geografi. Permulaan praktis kerja sosial berfokus untuk mencapai keperluan manusia dan mengembangkan potensi dan sumber-sumbernya. Kategori: Etika | Etika normatif | Falsafah kehidupan Mata etika Saturday.Untuk lebih terperinci berkenaan dengan topik ini. 2006). all. sosioekonomi. dan sebagai satu profesion yang menolong manusia untuk menyelesaikan masalah mereka sama ada secara personal. Kerja sosial boleh di definisikan sebagai satu seni (art).0 PENGENALAN Kerja sosial Ia merupakan satu bidang yang mempunyai keistimewaannya tersendiri dari segi tugas dan tanggungjawab mereka terhadap pelbagai pihak yang memerlukan. January 2. budaya dan . kerja sosial adalah satu profesion yang ingin membawa perubahan sosial kepada masyarakat secara umum pada peringkat pembentukan perkembangan individu. Ianya bukan sesuatu yang baru dan tidak mungkin pupus oleh kerana profesion ini berteraskan prinsip dan falsafah kemanusiaan sejagat yang diperkukuhkan dengan ikatan ilmu hasil daripada penyelidikan dan pemerhatian yang saintifik dan empirikal dan seterusnya wujud dalam kerangka amalan kerja yang mantap. sila lihat [[{{{1}}}]].

"Apakah kebenaran?”. Sesuatu soalan itu akan menjadi persoalan falsafah apabila soalan itu tidak dapat diselesaikan melalui kaedah saintifik. July 2000). bidang ini menitikberatkan hak asasi yang dimiliki oleh setiap individu yang patut dijaga dan dipertahankan tanpa mengira status. Ia boleh diibaratkan sebagai isi dalam falsafah. ideologi serta perkara-perkara yang abstrak. "Apakah ilmu pengetahuan?". falsafah merupakan pengetahuan tentang pengertian yang dianggap sebagai ilmu yang tertinggi yang menjadi dasar ilmu-ilmu lain. darjat. Prinsip etika kerja sosial juga adalah sesuatu yang begitu penting yang perlu diamalkan oleh pekerja sosial dalam menjamin kejayaan terhadap praktis serta profesion kerja sosial itu sendiri. Persoalan falsafah sentiasa disifatkan sebagai soalan yang sangat rumit. usia. pangkat dan warna kulit. dan ia memerlukan pemikiran yang bersungguh-sungguh. Ia juga berlandaskan etika kerja sosial yang menjadi garis panduan dalam melaksanakan profesion ini. nilai. "Apakah Kehidupan?" dan sebagainya. Biasanya. Persoalan falsafah ataupun masalah falsafah ialah topik yang dibincangkan dalam bidang falsafah. persoalan falsafah akan melibatkan persoalan tentang konsep. “Apakah Pemikiran?". Prinsip asas kerja sosial adalah prinsip kemanusiaan dan keadilan sejagat (definisi yang diterima pakai IFSW General Meeting in Montreal Canada. . prinsip etika dan praktis yang dipegang oleh profesion tersebut.1 FALSAFAH KERJA SOSIAL Berdasarkan Kamus Dewan. Profesion kerja sosial mempunyai falsafah yang tersendiri yang merangkumi pelbagai pengertian ilmu. sikap. Falsafah merangkumi gugusan kepercayaan.0 FALSAFAH. Contoh-contoh persoalan falsafah adalah seperti. ETIKA DAN HAK ASASI MANUSIA DI DALAM KERJA SOSIAL 2. Di samping itu. 2.spiritual. Kelima-lima konteks ini mampu memberikan matlamat yang terarah dalam praktis kerja sosial.

manusia dan ketuhanan. serta tindakan yang betul dan salah. Sebagai contoh. c) Etika – Bidang falsafah yang memikirkan tentang persoalan moral pada manusia seperti tindakan yang dilakukan. perbezaan tindakan moral dan tidak bermoral. iaitu soalan yang mempunyai nilai falsafah. e) Estetika – Bidang falsafah yang memikirkan tentang keindahan.Bidang falsafah memberikan nilai yang tinggi kepada persoalan yang baik. d) Logik – Bidang falsafah yang mengkaji penaakulan manusia. persoalan epistemologi yang ditanyakan pada zaman dahulu seperti "apakah kebenaran?”. Falsafah kerja sosial amat berkait rapat dengan pegangan nilai. .Bidang falsafah yang memikirkan tentang ilmu pengetahuan. b) Epistemologi . Ini adalah kerana soalan yang baik menjanjikan penghuraian yang baik. Terdapat 8 nilai falsafah yang menjadi prinsip utama. Bidang falsafah boleh dikategorikan kepada 5 cabang yang berlainan berdasarkan persoalan-persoalan tertentu iaitu: a) Metafizik – Bidang falsafah yang memikirkan tentang sesuatu kewujudan di dunia ini meliputi aspek semula jadi. “apakah ilmu pengetahuan?" sebenarnya telah memajukan sains dan teknologi manusia pada hari ini.

2003). Pegangan nilai kedua ialah mempercayai setiap individu mempunyai keunikannya tersendiri. Pegangan nilai ketiga ialah individu mempunyai keupayaan. . Semua individu cuba untuk memajukan diri dan melakukan dalam dunianya hasil dari penglihatannya sebagai kelakuan yang mulia. Pekerja sosial seharusnya menghormati klien dari segi pandangan dan perasaan klien tanpa mengira sebarang aspek dengan menunjukkan bagaimana kita menerimanya. Pegangan nilai keempat merupakan aspek berkaitan perubahan adalah ditentukan oleh diri individu. klien mungkin berasa dirinya tidak diterima. tidak bernilai dan membuatkan dia sukar untuk mencapai kefungsian sosial mereka. Hal ini memerlukan klien mengetahui kualiti yang unik tentang klien yang boleh dimanfaatkan dalam proses intervensi. Pekerja sosial perlu menanamkan kepercayaan bahawa klien mempunyai keupayaan untuk berkembang dan berubah dan membuat penyelesaian terhadap permasalahan yang dihadapi. Klien ada hak untuk menentukan perubahan. oleh itu. Setiap klien ada hak dan keperluan. Setiap klien mampu untuk berubah ke arah positif. pekerja sosial perlu membantu klien mengenali dan menerima kebolehan yang ada pada diri klien itu sendiri agar keunikan klien dapat dijadikan sebagai panduan untuk memberikannya sumber-sumber yang bersesuaian. Pekerja sosial seharusnya mengetahui potensi-potensi yang dimiliki oleh klien.Pegangan nilai pertama ialah menghormati individu. ruang kepada klien untuk berubah perlu diberikan. pekerja sosial tidak seharusnya melabelkan klien mahupun memandang prejudis kerana rasa hormat ini mampu memberi implikasi terhadap khidmat kerja sosial yang diberikan. (Capuzzi & Gross. ia boleh digunakan untuk perkembangan dan perubahan diri klien itu sendiri. Pekerja sosial perlu mengetahui bahawa setiap orang adalah unik dan mempunyai keupayaan yang berbeza. Tanpa prinsip ini. Dalam hal ini.

peguam. doktor. Setiap individu mempunyai hak dan maruah tanpa mengira darjat. pekerja sosial perlu memperjuangkan keadilan tersebut melalui sumber-sumber dari pelbagai pihak. . Sekiranya berlaku ketidakadilan. status mahupun warna kulit. 2. seterusnya menyarankan dan dalam keadaan tertentu mempertahankan konsep-konsep yang dibina tentang perlakuan baik dan buruk. Melalui prinsip etika yang ditekankan. Etika merujuk kepada apa yang dilihat oleh manusia sama ada betul mahupun salah. Etika begitu diutamakan dalam sesebuah profesion seperti kerja sosial. Bidang etika berperanan membahaskan secara sistematik. Pegangan nilai keenam menekankan kepada keadilan sosial. Keadilan sosial perlu dilakukan dan diterima oleh masyarakat. Etika amat berkait rapat dengan falsafah kerja sosial dan nilai.Pegangan nilai kelima berkaitan prinsip hak kemanusiaan. Ia boleh ditakrifkan sebagai suatu tatacara atau garis panduan yang telah ditetapkan pada sesuatu unit. polis dan sebagainya. tugas dan tanggungjawab akan lebih mudah dipikul dan dilaksanakan. kaunseling.2 ETIKA KERJA SOSIAL Etika merupakan satu disiplin ilmu dan sains yang membicarakan apakah baik dan buruk. Hak kemanusiaan ini adalah berasaskan kepada tuntutan manusia untuk berkembang dan hidup seterusnya menggunakan kualiti yang ada pada diri mereka. guru. salah dan benar serta apa yang dikehendaki dengan tanggungjawab dan kewajipan.

. mezzo dan makro. Etika dalam kerja sosial merangkumi etika terhadap profesion. Etika boleh diketengahkan sebagai garis panduan yang perlu diikuti bagi setiap individu dalam melakukan sesuatu tugasan. organisasi serta klien yang meliputi individu.Etika juga merujuk kepada apa yang dilihat sebagai satu tindakan yang betul atau salah. etika normatif dan etika gunaan. antaranya pegangan etika memberi perlindungan kepada pekerja sosial sebagai pemberi perkhidmatan dan klien sebagai penerima perkhidmatan. namun etika gunaan sering menimbulkan kontroversi atau konflik dalam membuat sesuatu keputusan. Sesuatu tindakan itu sama ada diterima atau tidak oleh masyarakat.Pekerja sosial perlu bersedia untuk melaksanakan proses menolong mikro. diri sendiri. mereka tetap menghadapi situasi tersebut walaupun rumit tetapi cuba untuk menyelesaikannya melalui etika yang terdapat dalam kerja sosial. Sekiranya pekerja sosial sudah memegang sesuatu kes. etika sentiasa dititikberatkan. kumpulan dan komuniti. Di dalam profesion kerja sosial. pekerja sosial tidak akan menentukan apa masalah dan isu yang mereka ingin tumpukan. Etika normatif pula bersifat normal seperti yang diamalkan dalam norma-norma masyarakat. Etika juga memastikan pekerja sosial mengutamakan tanggung jawab moral sekali gus melindungi klien daripada ketidakfungsian. pekerja sosial perlu melaksanakannya dengan bersungguh dan mereka perlu bertanggungjawab terhadap etika kerja sosial yang dipegang. dalam menghadapi sesuatu kes. Manakala etika gunaan merujuk kepada sesuatu keadaan atau perbuatan tertentu yang dilakukan pada waktu dan tempat tertentu. Pelbagai tujuan etika yang terdapat dalam profesion kerja sosial.Mataetika merujuk kepada dari mana datangnya sumbersumber dan prinsip etika sebagai rujukan sama ada benar atau salah. Sebagai contoh. Terdapat tiga cabang asas dalam perbincangan etika iaitu etika mataetika. Ia penting agar tidak berlaku sebarang penyelewengan dan penyalahgunaan kuasa atau kepentingan yang dimiliki pekerja sosial serta membantu dalam menjamin keberkesanan tugas yang dilaksanakan dalam sebarang situasi yang dihadapi sama ada mudah mahupun sukar. rakan setugas.

Berdasarkan kamus dewan. keganasan mahupun konflik dalam masyarakat yang meliputi rusuhan. Apabila hak asasi seseorang individu itu dimiliki. Contohnya. mungkin akan membawa kepada tindakan undang-undang yang sewajarnya. ekonomi dan sosial.3 HAK ASASI MANUSIA Hak asasi merupakan hak-hak yang semula jadi yang ada pada diri setiap individu tanpa mengira sebarang perbezaan. penghormatan kepada hak dan maruah manusia merupakan asas kebebasan. ianya boleh mendatangkan kemurungan. iaitu dari segi perundangan dan juga dari segi moral. Mengikut perundangan. mogok dan sebagainya. hak asasi manusia merupakan satu bentuk hak yang dinikmati oleh seorang warganegara seperti apa yang telah termaktub dalam undang-undang negara berkenaan. Pencabulan hak kemanusiaan yang berkenaan. malah mendatangkan ketidakselesaan terhadap politik. Dari satu segi moral. Sebagai contoh. hak asasi manusia bersifat universal dan dimiliki oleh semua orang tanpa diskriminasi. Hak asasi manusia dan kebebasan merupakan asas yang membenarkan setiap individu untuk berkembang dan membangun serta menggunakan kualiti diri sebagai manusia. Hak asasi manusia ini wujud berasaskan tuntutan manusia dalam kehidupan mereka untuk membantu manusia berkembang dan terus hidup. bergerak. hak asasi merupakan hak yang dasar seperti hak kebebasan dalam menyuarakan pendapat. Hak asasi manusia boleh difahamkan dari dua segi. Penafian tentang hak asasi manusia bukan sahaja sebagai satu tragedi kepada manusia. hidup dan sebagainya. Walau bagaimanapun. ianya boleh mendatangkan kepuasan dan ketenangan dalam dirinya.2. . kebuntuan dan perasaan merontaronta dalam dirinya. Hak Kemanusiaan merupakan satu tanggapan moral yang didukung oleh anggota masyarakat. Sekiranya ianya tidak dipenuhi. Pentakrifan hak asasi manusia dari segi undang-undang adalah berbeza mengikut negara masing-masing. adanya kebebasan maka adanya hak asasi manusia. hak asasi ini mempunyai batas tersendiri yang perlu dipatuhi. dalam perlembagaan Malaysia terdapat penerangan mengenai hak asasi manusia yang terlindung di bawah perlembagaan.

Sebagai contoh di dalam Hak Asasi Manusia Sejagat. rumah tangga atau surat-menyuratnya. Sosial Dan Budaya (ICESCR) 1966 dan sebagainya. adalah menjadi tanggungjawab pekerja sosial melaksanakan perkhidmatan mereka dengan memperjuangkan hak asasi manusia. Setiap orang berhak kepada perlindungan undangundang terhadap gangguan atau percerobohan sedemikian. Ketiga-tiga unsur tersebut kemudiannya disatukan dalam satu dasar hak yang kemudiannya menjelaskan hak sebagai satu unsur normatif yang ada pada diri manusia yang dalam penerapannya berada dalam ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan. Konvensyen Antarabangsa Hak-hak Ekonomi. James W. Pelbagai dokumen yang telah menggariskan hak asasi manusia di peringkat antarabangsa. Kesemua dokumen tersebut melindungi hak manusia daripada dicerobohi. Maka anggota-anggota masyarakat berkenaan akan cuba mengelakkan diri daripada mencabuli hak masing-masing dengan penuh perasaan moral. 3. Konvensyen Antarabangsa Hak Politik dan Sivil (ICCPR) 1966. dengan adanya hak asasi ini akan mampu untuk membangunkan kefungsiaan dan kecekapan individu. Sebagai mana yang telah dinyatakan. iaitu pemilik hak. Oleh yang demikian. Tiada sesiapa pun yang boleh dikenakan kepada sebarang gangguan sewenang-wenangnya terhadap keadaan peribadi. antaranya Hak Asasi Manusia Sejagat PBB 1948. kumpulan dan komuniti dari pelbagai aspek. atau percerobohan ke atas maruah dan nama baiknya. anggota masyarakat akan mengakui wujudnya hak tertentu yang harus dinikmati oleh setiap individu. Nickel telah mengemukakan beberapa unsur hak. dimiliki dan dinikmati atau sudah dilakukan.Sehubungan dengan perkara ini. keluarga. ruang lingkup penerapan hak dan pihak yang bersedia dalam penerapan hak. Terdapat juga teori yang dikemukakan berkaitan hak asasi manusia iaitu teori Mc Closkey yang menerangkan bahawa pemberian hak adalah untuk dilakukan.0 PRINSIP ETIKA KERJA SOSIAL . Perkara 12 menerangkan.

Etika adalah nilai dalam tindakan kita (Levy. Terdapat dua nilai yang sering dilakukan oleh manusia iaitu nilai normatif (peraturan) dan nilai non-normatif (bukan bersifat peraturan). Pemberian perkhidmatan oleh pekerja sosial bermatlamatkan untuk menolong manusia dengan telus. antara aspek yang perlu diambil kira ialah keadilan dari segi perundangan. pekerja sosial mesti menggunakan segala pengetahuan. Dalam prinsip ini juga. nilai dan kemahiran yang ada untuk membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan dan kekurangan yang dihadapi. Pekerja sosial memindahkan nilai ke dalam tindakan konkrit dalam situasi tertentu yang disebut sebagai prinsip etika kerja sosial. tetapi etika berlaku dalam hubungan. Nilai mungkin berlaku dalam hubungan dan juga tidak berlaku dalam hubungan. Pekerja sosial perlu sentiasa bersedia dalam memberikan perkhidmatan selagi mana diperlukan. Prinsip Etika NASW pertama ialah perkhidmatan (service). pekerja sosial perlu menghubungkan klien dengan sumber-sumber yang dapat membantu mereka. Prinsip etika kedua ialah keadilan sosial (social justice). 1979). Selain itu.Prinsip etika dalam kerja sosial merupakan suatu prinsip yang amat mementingkan nilai untuk memandu pekerja sosial bertindak dalam proses menolong klien. Keadilan sosial ini mungkin boleh menjadi suatu cabaran yang besar kepada . ekonomi dan sosial. Terdapat 6 prinsip etika di dalam kerja sosial yang di kemukakan oleh National Association of Social Work (NASW). Perkhidmatan yang diberikan juga tidak seharusnya mengharapkan balasan atau menyimpan motif tertentu kerana ia boleh mempengaruhi dari segi tanggungjawab yang dilaksanakan. ia memerlukan tugas sesuatu pihak untuk bertindak secara beretika terhadap individu lain yang boleh dikatakan sebagai tanggungjawab etika di dalam peranan sosial termasuklah hubungan pekerja sosial dengan klien. Sekiranya sesuatu hubungan itu ada nilainya.

pekerja sosial kerana mereka terpaksa berhadapan dengan pelbagai situasi yang bertentangan dengan ketidakadilan dalam pelbagai situasi. Prinsip etika yang keempat ialah kepentingan perhubungan kemanusiaan (importance of human relationships). Pekerja sosial seharusnya berusaha menegakkan keadilan dan bersikap adil. usia. Di samping itu. Pekerja sosial perlu mengetengahkan isu klien dalam menyuarakan ketidakadilan sosial yang berlaku kerana ia termaktub di dalam hak asasi manusia yang dimiliki oleh setiap orang. diskriminasi. Perhubungan kemanusiaan meliputi perhubungan antara manusia di dalam pelbagai peringkat seperti peringkat individu. pekerja sosial perlu bangun untuk membantu yang memerlukan dengan memberikan perlindungan dan menghubungkan klien dengan sumber-sumber yang dapat membantu. kemiskinan dan sebagainya. etnik. Pekerja sosial juga perlu memfokuskan isu yang menjadi ancaman keadilan sosial ini seperti isu gender. Semua manusia mempunyai maruah dan harga diri. Pekerja sosial perlu menerima klien seadanya. oleh itu. Pekerja sosial perlu menganggap proses menolong klien sebagai misi utama yang perlu dititikberatkan dan bernilai. Sekiranya individu. Apabila klien merasakan pekerja sosial dipercayai. Permasalahan dan hak mereka perlu diselesaikan tanpa mengira siapa pun diri klien kerana setiap klien mempunyai maruah dan hak tanpa mengira pangkat. warna kulit mahupun gender. pekerja sosial seharusnya sentiasa bersedia dengan ilmu pengetahuan yang banyak tentang pelbagai isu di dalam keadilan sosial. menerima dan merawat klien dengan penuh kemanusiaan dan pertimbangan serta memperjuangkan maruah dan harga diri klien. perhubungan pekerja sosial dengan klien seharusnya berlaku dengan baik agar klien dapat merasakan pekerja sosial dapat dipercayai dan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Prinsip etika ketiga ialah menghormati maruah dan harga diri individu (dignity and worth of the person). agama. pandangan dan keputusan yang dibuat adalah hak mereka dan ia perlu dihormati. Perhubungan ini perlu difahami oleh pekerja sosial dalam proses menolong klien. kelompok dan komuniti. klien akan memberikan kerjasama yang sepenuhnya dan meluahkan konflik yang dihadapi dengan baik seterusnya kepada . budaya. ras. kumpulan mahupun komuniti menghadapi penindasan atau penganiayaan. Sikap prejudis dan menghakimi klien harus dielakkan.

prinsip etika. Secara keseluruhannya. Perhubungan kemanusiaan yang harmonis membantu kejayaan perkhidmatan di dalam kerja sosial. Sekiranya pekerja sosial mempunyai kecekapan dalam melaksanakan praktis. Pekerja sosial jua perlu sentiasa bertindak jujur dan mengamalkan etika sebagaimana yang telah digariskan.penyelesaian permasalahan yang dihadapi. Pekerja sosial perlu berusaha meningkatkan pengetahuan dan kemahiran di dalam profesion dari semasa ke semasa dan seterusnya mengaplikasikannya ke dalam praktis untuk menampakkan kecekapan pekerja sosial itu sendiri. Selain itu. meningkatkan pengetahuan. prinsip etika kerja sosial sebagaimana yang digariskan oleh NASW sememangnya begitu penting untuk diikuti sebagai panduan dalam menjalankan praktis. Prinsip etika yang kelima dalam kerja sosial ialah kejujuran dan integriti (integrity). meningkatkan profesion serta membantu klien. piawaian etika dan praktis profesion dalam cara yang bersesuaian dengan mereka. Prinsip etika yang keenam dan terakhir dalam kerja sosial ialah kecekapan (competence). nilai. Sekiranya kesemua prinsip . klien akan dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dan berupaya untuk berkembang ke arah positif dengan bantuan pekerja sosial tersebut. kecekapan yang dituntut dapat membantu pekerja sosial bertindak lebih bijak untuk melakukan apa yang perlu dan menghindarkan diri daripada perkara-perkara yang melanggarkan perundangan profesion. Prinsip ini menekankan kepada sikap jujur dan amanah pekerja sosial dalam melaksanakan proses menolong. Kecekapan yang dimaksudkan adalah kecekapan dalam melaksanakan tanggungjawab yang dipegang. Pekerja sosial secara terusmenerus perlu menyedari tentang misi profesion. Klien perlu diberikan maklumat yang betul sebagaimana yang sepatutnya tanpa melakukan sebarang penyelewengan agar klien dapat membangun dan mengalami perubahan yang positif berdasarkan suber-sumber yang diberikan.

Oleh itu. Ethical decision making in social work: London.org http://www.etika ini diamalkan dan difahami.wikipedia. W. Kerja sosial adalah suatu bidang profesional dalam membantu pelbagai klien di peringkat mikro.dbp. RUJUKAN Clark. Tanggungjawab yang dipikul bukanlah semudah yang disangka. mezzo dan makro. (2000). S.my http://www..C.ifsw.wikipedia. Social work and social philosophy: A guide for practice.gov.org/wiki/Hak_asasi_manusia http://www. http://ms. & Reeser. masyarakat perlu menghargai profesion kerja sosial sebagai suatu profesion yang mulia dan sentiasa menjaga kepentingan individu.org/wiki/Falsafah http://ms. C. & Asquith. pelbagai aspek yang telah dibincangkan di atas meliputi falsafah. terdapat juga yang tidak menyedari akan peranan yang telah dimainkan oleh pekerja sosial.0 PENUTUP Kesimpulannya. kumpulan dan komuniti. Setiap penyelesaian sesuatu masalah akan menggunakan perancangan yang sistematik. Selain itu juga. 4. emosi dan fizikal.. berkesan dan mementingkan “win-win situation” di samping penggunaan teori untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di dalam praktis dalam situasi yang berbeza. L. prinsip etika yang dikemukakan sememangnya berupaya membangunkan pekerja sosial. Robinson.org Posted by wanie at 11:21 AM 0 comments Home .socialworkers. Ia memerlukan satu pengorbanan yang besar dari segi mental. Routledge & Kegan Paul: London. profesion dan klien. L. Namun begitu. sudah tentu profesion kerja sosial terus maju ke hadapan dan membantu masyarakat. etika dan hak asasi manusia dalam kerja sosial yang dapat memberi kefahaman asas tentang profesion ini.

Subscribe to: Posts (Atom) .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->