PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BERBASIS KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PADA PELAJARAN AQIDAH

(Studi Kasus di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Tugas Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Jurusan Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah)

Oleh : MARLINA WULANSARI G 000 050 032

FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Era reformasi telah berlangsung sejak tahun 1998 memberikan keterlibatan langsung maupun tidak langsung dalam sektor pendidikan. Tampak bahwa sumber-sumber belajar di luar sekolah lebih banyak mewarnai perilaku peserta didik, karena itu, pelaku pendidikan perlu melakukan perubahan mendasar, baik pada proses maupun output pendidikan (Susilo, 2007: 1). Percepatan arus informasi dalam era globalisasi dewasa ini menuntut semua bidang kehidupan untuk menyesuaikan visi, misi, tujuan, dan strateginya agar sesuai dengan kebutuhan, dan tidak ketinggalan zaman. Penyesuaian tersebut secara langsung mengubah tatanan dalam sistem makro, meso, maupun mikro, demikian halnya dalam sistem pendidikan (Mulyasa, 2007: 4). Sistem pendidikan nasional senantiasa harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting, karena dengan pendidikan manusia akan mengetahui informasi apa saja yang ada di belahan dunia. Dalam Islam, pendidikan dikaitkan dengan menuntut ilmu, dan itu hukumnya wajib bagi setiap muslim. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, menuntut ilmu wajib hukumnya bagi muslim laki-laki maupun muslim perempuan (HR. Muslim dan Ibnu Majah ). Bahkan ayat yang pertama kali

1993: 11) kurikulum didefinisikan sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu. Oleh karena itu. sejak saat itu pula pemerintah menyusun kurikulum (Mulyasa. Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan tersebut adalah kurikulum. Oleh karena itu. Menurut . sejak Indonesia memiliki kebebasan untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak bangsanya. baik oleh pengelola maupun penyelenggara. karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.turun.F{$# y7š/u‘uρ ù&tø%$# (١-٥ : ‫÷ ∪∈∩ )ا‬Λs>÷ètƒ óΟs9 Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. ∩⊄∪ @. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS.n=tã ôÏΒ z≈|¡ΣM}$# t. Melalui ilmu. Al Alaq: 1-5). Ini menunjukkan bahwa Islam memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu. manusia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.n=y{ ∩⊇∪ t. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. khususnya oleh guru dan kepala sekolah.n=y{ “Ï%©!$# y7În/u‘ ÉΟó™$$Î/ ù&tø%$# $tΒ z≈|¡ΣM}$# zΟ=tæ ∩⊆∪ ÉΟn=s)ø9$$Î/ zΟ=tæ “Ï%©!$# ∩⊂∪ ãΠtø. berkenaan dengan mencari ilmu. pendidikan merupakan suatu sarana untuk menuntut ilmu. Islam telah mengajarkan itu semua sejak zaman dahulu. Menurut Winarno Surachmad (dalam Muhaimin. 2007: 4).

sarana dan prasarana. Klaster komponen-komponen pelaksana dan pendukung kurikulum. pola organisasi kurikulum. kurikulum mempunyai komponenkomponen atau bagian-bagian yang saling mendukung. mencakup materi pendidikan. sistem penyampaian (delivery system). 2007: 9) mengemukakan bahwa kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam sejumlah proses pendidikan. orientasi pendidikan. 3. mencakup pendidik. dan pemanfaatan lingkungan (sebagai sumber belajar). dan sistem evaluasi. adaptif. kriteria keberhasilan pendidikan. administrasi pendidikan. Klaster komponen-komponen pelaksanaan. Klaster komponen-komponen dasar. Untuk mencapai tujuan yang baik harus dipandu dengan kurikulum yang baik. dan mampu menghasilkan output yang siap menghadapi tantangan internal dan eksternal globalisasi. Klaster komponen usaha-usaha pengembangan. mencakup konsep dasar dan tujuan pendidikan. bimbingan dan konseling. proses pelaksanaan (belajar mengajar). sistem penjenjengan.David Pratt. sebagai suatu sistem. prinsip-prinsip kurikulum yang dianut. Sukmadinata (dalam Susilo. peserta didik. dan biaya pendidikan. Kurikulum . yakni usaha-usaha pengambangan terhadap ketiga klaster tersebut dengan berbagai komponen yang tercakup di dalamnya. 4. Menurut Muhaimin (1993: 11-12) beberapa komponen kurikulum dapat dikategorikan ke dalam empat klaster (kelompok). 2. yaitu : 1.

standar sarana dan prasarana. 1975. standar pengelolaan. Dengan kata lain. standar kompetensi lulusan. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). standar proses. dan sampai pada kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi (Balitbang Depdiknas. ketetapan. 2006: 8). Pendidikan di Indonesia telah mengalami perubahan kurikulum beberapa kali. memegang peranan penting dalam suatu sistem pendidikan. pemahaman. 1984. serta standar penilaian pendidikan (Mulyasa. bahwa kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu pembentukan manusia yang sesuai dengan falsafah hidup bangsa. 1999. berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. standar pembiayaan. 1994. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan. yaitu pada tahun 1968. 2003). kemampuan. yaitu standar isi. yaitu suatu kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar reformasi tertentu. standar pendidik dan tenaga kependidikan. Perubahan kurikulum memberikan dampak besar bagi proses pembelajaran yang berlangsung. antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan keberhasilan dengan penuh . Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan. sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik.mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuantujuan pendidikan. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan.

com/metropolis). yaitu sama-sama menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa.tanggung jawab (Mulyasa. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. hingga pengembangan silabusnya (Syihabuddin. Meskipun demikian. terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan kurikulum berbasis kompetensi sebelumnya (versi 2002 dan 2004) bahwa sekolah diberi kewenangan penuh menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang telah ditetapkan. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. pengelolaan. 2004: 39). Standar Nasional Pendidikan (SNP) digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. www. beban belajar. mulai tujuan. baik secara individual maupun klasikal. visi. tetapi juga sumber belajar lain yang memenuhi unsur edukatif. Sumber belajar bukan hanya guru. Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) selain mengacu pada SNP juga berpedoman pada Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diterbitkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). sarana dan prasarana. misi. KTSP memiliki kesamaan dengan KBK. dan pembiayaan. kalender pendidikan.jawapos. struktur dan muatan kurikulum. Berkaitan dengan perubahan kurikulum. tenaga kependidikan. pemerintah menganalisis dan melihat perlunya diterapkan KTSP yang dapat membekali pendidik dengan berbagai kreativitas untuk melaksanakan proses belajar mengajar dengan .

Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. potensi sekolah. Kurikulum ini menekankan pada satuan isi dan kompetensi yang dimiliki siswa pada pokok bahasan tertentu. banyak guru yang cenderung melanjutkan tersebut tanpa mempertimbangkan ketuntasan belajar sehingga siswa tidak memahami materi yang bersangkutan. Kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi . Artinya. sebelum siswa melangkah pada materi berikutnya. yang dijadikan sebagai pedoman pelaksanaan program sekolah berdasarkan karakteristik. dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan yang sudah siap dan mampu mengembangkannya dengan memperhatikan Undang-Undang No.mengembangkan acuan silabus yang telah ditetapkan pemerintah. dikembangkan. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). potensi daerah dan peserta didik. 2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversivikasi sesuai dengan satuan pendidikan. yaitu kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun. Namun kenyataannya. terlebih dahulu harus menuntaskan materi yang telah dipelajari sebelumnya sesuai standar yang telah ditetapkan. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 : 1. 3. dan lingkungan serta kebutuhan peserta didik di sekolah tersebut.

Dengan adanya perubahan kurikulum . dan mengembangkan model yang khas sesuai dengan karakteristik masyarakat. Untuk itu. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diharapkan dapat menampilkan kekhasan atau keunggulan masing-masing satuan pendidikan. Pelaksanaan kurikulum di sekolah mengatur kegiatan operasional dan hubungan kerja personil sekolah dalam upaya melayani siswa mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan.lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP (Mulyasa. peluang. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sangat potensial untuk mendukung paradigma baru manajemen berbasis sekolah dalam konteks otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan di Indonesia. dan tantangan yang dihadapi baik pada saat ini maupun masa datang. Sebagai produk dari masing-masing satuan pendidikan. sebelum menyusun dokumen-dokumen yang dibutuhkan. masing-masing satuan pendidikan terlebih dahulu perlu melakukan kajian atau analisis tentang potensi atau kekuatan. kemudian memodifikasi. misi. potensi dan kebutuhan peserta didik serta daerah sekitarnya. dalam pengembangannya Indonesia harus belajar banyak dari pengalaman-pengalaman pelaksanaan kurikulum di negara lain. dan program-program pembelajaran yang relevan dengan kondisi. 2007: 12). merumuskan. mengadaptasi. situasi dan kondisi aktual serta budaya sekolah yang multikultural. strategi. Meskipun demikian. Hasil analisis ini akan menjadi acuan dalam pengembangan visi. kelemahan.

Ternyata. Pembelajaran berbasis KTSP dapat didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide. Implementasi KTSP juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum operasional dalam bentuk pembelajaran (Mulyasa. konsep. Proses pembelajaran yang berlangsung.tersebut. sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. melaksanakan dan membuat penilaian hasil belajar siswa. Di mana seorang guru harus bisa merencanakan. guru cenderung memberikan pelajaran berdasarkan pada buku yang telah ada dan tidak memperhatikan kesempurnaan pembelajaran tidak terkecuali dengan mata pelajaran aqidah. Perubahan kurikulum juga menuntut guru untuk kreatif dalam menjabarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam proses pembelajaran. Akan tetapi. Ini dapat diketahui dari pelaksanaan pembelajaran yang cenderung kaku dan kurang memperhatikan kondisi peserta didik. dan . guru berpedoman pada silabus yang telah dibuat oleh tim dari Muhammadiyah. Letaknya sangat strategis dan mudah dijangkau oleh kendaraan umum. 2007: 246). di mana tidak semua guru mampu memahami hakikat pembelajaran berdasarkan KTSP. SMA Muhammadiyah 2 Surakarta merupakan salah satu amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan. kondisi ini juga terjadi di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta. sangat mempengaruhi proses pembelajaran di kelas. Sehingga dalam pembelajaran. dan kebijakan KTSP dalam suatu aktivitas pembelajaran. dalam pelaksanaannya tidak semua guru mampu untuk menerima perubahan itu.

guru bidang studi menjabarkannya dalam Rencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP). dan tarikh juga dibutuhkan proses pembelajaran yang baik. Pendidikan aqidah sebaiknya dilakukan sejak dini. untuk sekolah menengah atas (SMA) sejak masih kelas X harus sudah ditanamkan aqidah dengan benar. dalam pelaksanaannya. anak kurang minat untuk belajar dan anak sering melakukan aktivitas sendiri saat guru menerangkan. Guru sulit menjabarkan KTSP dalam proses pembelajaran. akhlak. Karena lurus atau tidaknya aqidah sangat menentukan kualitas agamanya. siswa juga akan mampu mengimplementasikan materi dalam kehidupan sehari-hari. karena . Oleh karena itu. fiqh ibadah. Dengan pembelajaran yang baik. Pendidikan Agama Islam yang meliputi aqidah. Dari beberapa mata pelajaran di atas. Akibatnya. hanya sekedar evaluasi dalam bentuk tes tertulis melalui ulangan. maka apa yang menjadi tujuan bisa tersampaikan. dibutuhkan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan untuk menyampaikan pesan tersebut. Akan tetapi. guru jarang membuat RPP karena belum paham tentang pelaksanaan pembelajaran berbasis KTSP. pelajaran aqidah merupakan pelajaran yang pokok dan dasar dari agama Islam. Evaluasi yang digunakan pun belum variatif. Jika guru bisa menyampaikan pelajaran dengan baik. Mereka cenderung menggunakan pembelajaran dengan menggunakan ceramah yang membosankan. Bahasa Arab. Pembelajaran yang disampaikan guru juga belum menggunakan strategi yang sesuai dengan kondisi peserta didik. Kondisi ini berlangsung cukup lama sehingga menjadi suatu kebiasaan dan sulit untuk diubah.

setiap pelajaran menuntut peserta didik mengalami perubahan tingkah laku sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Di mana tiap satuan pendidikan dituntut untuk kreatif mengembangkan kurikulum berdasarkan kondisi masing-masing satuan pendidikan. B. perubahan kurikulum perlu respon yang penuh bagi tiap satuan pendidikan. maka di sini perlu dikemukakan batasan dan penjelasan sebagai berikut : 1. Oleh karena itu. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan (Mulyasa. penelitian terhadap Problematika Pembelajaran Berbasis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Pelajaran Aqidah. Problematika Kata problematika berasal dari kata problem yang mempunyai arti persoalan atau permasalahan (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Studi Kasus di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009 yang ditekankan pada siswa kelas X menjadi sangat penting. 2. Penegasan Istilah Untuk menghindari adanya kemungkinan penafsiran yang salah tentang istilah yang digunakan. 1994: 38). 2007: 19). . Berdasarkan latar belakang tersebut.

mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik. Jadi. problematika pembelajaran berbasis KTSP pada mata pelajaran Aqidah adalah segala persoalan atau permasalahan dalam pembelajaran berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang meliputi perencanaan. Pelajaran Aqidah Pelajaran Aqidah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mata pelajaran aqidah yang merupakan bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Pembelajaran ialah proses komunikasi dua arah. 1994: 20). 4. Pembelajaran juga diartikan sebagai sebuah proses perubahan tingkah laku atau sikap yag disebabkan oleh pengalaman (KBBI. pelaksanaan. Rumusan Masalah Rumusan masalah merupakan pembatasan terhadap masalah agar penulisan tidak menyebar kemana-mana dan penulisan lebih terfokus pada . Pembelajaran Pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa-siswa belajar. C. sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.3. Konsep pembelajaran menurut Corey dalam Sagala (2006: 61) adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. dan evaluasi pada mata pelajaran Aqidah.

maka rumusan masalahnya adalah : 1. demikian juga penelitian ini. Untuk mengungkap tentang pelaksanaan dan problematika pembelajaran berbasis KTSP pada pelajaran Aqidah di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta. 3. Bagaimana perencaan dan problematika pembelajaran berbasis KTSP pada pelajaran Aqidah di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta ? 2. Tujuan Penelitian Setiap penelitian memiliki tujuan. Untuk mengungkap tentang perencanaan dan problematika pembelajaran berbasis KTSP pada pelajaran Aqidah di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta. Adapun tujuannnya adalah sebagai berikut : 1.masalah yang akan diteliti. Bagaimana pelaksanaan dan problematika pembelajaran berbasis KTSP pada pelajaran Aqidah di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta ? 3. . Setelah melihat latar belakang masalah tersebut. Bagaimana evaluasi dan problematika pembelajaran berbasis KTSP pada pelajaran Aqidah di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta ? D. Untuk mengungkap tentang evaluasi dan problematika pembelajaran berbasis KTSP pada pelajaran Aqidah di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta. 2.

Kajian Pustaka KTSP merupakan kurikulum baru yang menuai banyak pertanyaan. Kerten. Untuk memberikan gambaran bagi satuan pendidikan tentang problematika pembelajaran berbasis KTSP pada mata pelajaran Aqidah. Sebagai rujukan untuk penelitian selanjutnya. 2. Skripsinya Nurani Daruretno (FAI UMS. Studi kasus SDN Dukuhan. Ini menyebabkan banyak ahli pendidikan untuk menjabarkannya dalam proses pembelajaran. Manfaat Teoritis a. Manfaat Penelitian 1. Dalam penelitian ini. b. penulis mengacu pada beberapa penelitian yang sejenis. F.E. Memberikan kontribusi perupa penyajian informasi ilmiah untuk menyempurnakan pelaksanaan pembelajaran berbasis KTSP pada mata pelajaran Aqidah. 2007) yang berjudul Kesiapan Sekolah dalam Melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Surakarta Tahun Ajaran 2006/2007 menyimpulkan bahwa pelaksanaan KTSP di SDN Dukuhan . di antaranya adalah : 1. Untuk memberi masukan kepada pengelola SMA Muhammadiyah 2 Surakarta tentang bagaimana pelaksanaan pembelajaran berbasis KTSP yang tepat dan juga sekolah lain. Manfaat Praktis a. b.

. 2008) yang berjudul Faktor-faktor Strategik Pendorong dan Kendala Pengembangan Silabus Matematika KTSP SMA Muhammadiyah Surakarta. Skripsinya Astrid Widowati (UMS. keuangan dan pembiayaan dibantu oleh Badan Operasional Sekolah (BOS). sarana dan prasarana. siswa. Kesiapan SDN Dukuhan dalam melaksanakan kurikulum dan program pengajaran terlaksana dengan baik. stakeholder dan layanan khusus. Faktor-faktor strategik meliputi demografis.meliputi kurikulum dan program pengajaran. Kendala yang dialami dalam pengembangan silabus matematika KTSP di SMA Muhammadiyah 1. tenaga kependidikan. dan 3 Surakarta menyimpulkan bahwa : a. dan sebaiknya diadakan pengarahan mengenai KTSP. hubungan sekolah dengan orang tua dan masyarakat serta kondisi ekonomi mendukung pengembangan silabus matematika KTSP di SMA Muhammadiyah 1. b. 2. Sarana dan prasarana kurang memadai dan rusak. dan 3 Surakarta. stakeholder dan layanan khusus berjalan sesuai rencana. dan 3 Surakarta antara lain pemanfaatan sarana dan prasarana kurang maksimal sehingga harus lebih ditingkatkan serta kendala yang terjadi di lingkungan sekolah sebaiknya dapat dicegah lebih dulu. Studi Multi Kasus di SMA Muhammadiyah 1. keuangan dan pembiayaan. Ketidaksiapan SDN Dukuhan dalam pelaksanaan KTSP disebabkan karena tenaga kependidikan masih kurang memahami pelaksanaan KTSP. Siswa. 2. 2. 2.

2008) yang berjudul Perencanaan Pembelajaran Matematika KTSP SMA Muhammadiyah Surakarta (Studi Multi Kasus di SMA Muhammadiyah 1. Sedangkan kendala perencanaan pembelajaran yaitu keadaan perpustakaan yang kurang memadai. Guru membuat perencanaan program pembelajaran yang dibuat berdasarkan BSNP yang berisi: kompetensi dasar. skenario pembelajaran. kerja kelompok. Dari beberapa penelitian di atas. Skripsi dari Krisdiana Hidayati (UMS. materi. di antaranya ceramah. c. cerita.3. media. Faktor pendukung perencanaan matematika di ketiga tempat adalah karakteristik guru matematika dan MGMP. Media dan evaluasi meliputi aspek penilaian lisan. 4. dan 3 Surakarta) menyimpulkan bahwa langkah-langkah perencanaan pembelajaran di ketiga tempat sudah memenuhi prosedur. 2008) yang berjudul Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MIM Kebon Gede Juwiring Klaten Tahun 2007/2008 menyimpulkan bahwa : a. belum ada yang secara spesifik . dan evaluasi pembelajaran. dan buku paket. dan pemberian tugas. dan lembar portofolio. Skripsinya Birohmini (STAIN. tanya jawab. b. penilaian teori. standar kompetensi. guru menggunakan metode yang bervariasi. indikator. penilaian praktek. Dalam pelaksanaan pembelajaran. Adapun media dan sumber belajar yang digunakan guru adalah media gambar. peta LKS. 2.

Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta. yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan secara sistematis mengenai fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. 2. yang pada kenyataannya banyak sekali satuan pendidikan yang belum mampu mengimplementasikan secara penuh. Penentuan lokasi ini menggunakan teknik purposive untuk mengetahui problematika pembelajaran berbasis KTSP.meneliti tentang problematika pembelajaran berbasis KTSP. perlu digunakan suatu metode penelitian yang dapat menguntungkan serta sesuai dengan ruang lingkup permasalahan dari penelitian. penelitian ini memenuhi unsur kebaruan. lokasi atau institusi untuk mengamati atau mencatat perilaku dalam latar alamiahnya (Patilima. 3. bersifat . Metode Penelitian Untuk memperoleh data-data yang sesuai dengan masalah yang diteliti. G. Jadi. Penelitian yang melibatkan kerja di lapangan. 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini termasuk penelitian lapangan (Field Research) dengan pendekatan kualitatif. Peneliti secara fisik berhubungan dengan orang. 2005: 66). latar belakang.

. baik dengan berperan serta maupun sekedar mengamati. fenomena-fenomena. metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan pelaku yang diamati (Lexy J Moleong. dan bukan angka-angka. dilakukan pengamatan terhadap kondisi di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta dan waktu pelaksanaan pembelajaran aqidah. dan tidak berupa angka. dapat dipahami bahwa sumber data dalam penelitian ini terdiri dari : a. Dari keterangan di atas. wakil kepala sekolah. gambar. 1990: 3). 4. Adapun selebihnya. sumber data utama adalah kata-kata dan tindakan. seperti dokumen dan lain-lain adalah tambahan. Dalam hal ini. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengedepankan pengungkapan apa-apa yang dieksplorasikan atau diungkapkan oleh para responden dan data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Sumber Data Menurut Moleong (1990: 112) bahwa dalam penelitian kualitatif. dan guru bidang studi. Sumber data tindakan yaitu sumber data yang diperoleh melalui pengamatan. kalimat-kalimat. Dengan kata lain. Kata-kata dan tindakan Sumber data yang diperoleh dari kata-kata/lisan adalah sumber data yang diperoleh melalui wawancara dengan informan. Dalam hal ini dilakukan wawancara dengan kepala sekolah.verbal.

tempat. dan dokumen lain yang menunjang dalam pembelajaran.b. 1990: 161). pelaku. Jadi. bendabenda. Sumber data tertulis dapat berupa majalah. 2005: 69). peristiwa. dokumen. Walaupun demikian sumber data tertulis tidak bisa diabaikan. 5. bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai gambaran umum SMA Muhammadiyah 2 Surakarta. Observasi Observasi atau pengamatan adalah sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang. arsip. bentuk penilaian. Telaah Dokumen Menurut Guba dan Lincoln (dalam Moleong. b. ini seorang peneliti harus meminta sumber ini kepada pihak yang ingin diteliti. dan sejarah pendirian lembaga. dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik. tujuan. dan perasaan (Patilima. . Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah : a. Sumber data tertulis Sumber data tertulis yaitu sumber data selain kata-kata dan tindakan yang merupakan sumber data ketiga. waktu. kegiatan.

c. . yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong. Metode ini digunakan untuk memeperoleh data tentang pelaksanaan pembelajaran di kelas. Wawancara dilakukan kepada pihak kepala sekolah. sarana prasarana dan lain-lain. dan guru bidang studi. bangunan. Peneliti menggunakan daftar pertanyaan tersebut untuk melakukan wawancara agar percakapan dapat terfokus.Peneliti melakukan observasi di lingkungan SMA Muhammadiyah 2 Surakarta dalam proses pembelajaran. wakil kepala sekolah. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak. 6. keadaan kelas. dan evaluasi pembelajaran berbasis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan problematika yang dihadapinya. yaitu semua pertanyaan dirumuskan dengan cermat dan disiapkan secara tertulis (interview guide). 1990: 135). mengorganisasikan ke dalam suatu pola. Pelaksanaan. Metode Analisis Data Metode analisis data menurut Lexy Moleong (1990: 112) adalah proses mengatur urutan data. Wawancara Wawancara yaitu percakapan dengan maksud tertentu. Metode wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur. Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang gambaran umum tentang perencanaan.

tujuan penelitian. penegasan istilah. metode penelitian. akan dianalisa dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang terdiri dari tiga kegiatan. Data yang direduksi disajikan dalam bentuk narasi. Pengumpulan data sekaligus reduksi data. prinsip belajar.kategori. yaitu : a. rumusan masalah. kajian pustaka. dan ukuran dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja yang disarankan untuk menganalisis data. Sistematika Penulisan Skripsi BAB I Pendahuluan. yang meliputi pembelajaran. Data-data yang peneliti dapatkan. mengarahkan. berisi tentang pembelajaran berbasis KTSP. Penyajian data. Penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua (Milles dan Huberman. 1992: 16). Bagian kedua. c. yaitu menggolongkan. landasan pengembangan. manfaat penelitian. langkah pembelajaran. Setelah pengumpulan data selesai. Bagian pertama berisi tentang pengertian problematika. karakteristik. b. dan prinsip pelaksanaan. tujuan. BAB II Problematika Pembelajaran Berbasis KTSP pada Pelajaran Aqidah. hakikat KTSP yang berisi konsep dasar. dan pembelajaran berbasis KTSP berisi perencanaan. berisi pengertian. pelaksanaan. dan sistematika penulisan skripsi. lalu dilakukan reduksi data. H. Penarikan kesimpulan/verifikasi. dan evaluasi. Bagian ketiga . berisi tentang latar belakang masalah. dan membuang data yang tidak perlu. terdiri dari tiga bagian.

BAB III Gambaran Umum SMA Muhammadiyah 2 Sukararta dan Problematika Pembelajaran Berbasis KTSP.berisi tentang aqidah. struktur organisasi. dan peran. berisi tentang analisis problematika pembelajaran berbasis KTSP pada pelajaran Aqidah dengan teori yang berkembang saat ini. perencanaan dan problematika. letak geografis. pada bagian akhir penulisan laporan penelitian ini berisi tentang kesimpulan dan saran. kedudukan. Problematika pembelajaran berbasis KTSP meliputi. terdiri dari dua bagian. BAB V Penutup. BAB IV Analisis Data. serta evaluasi dan problematika pembelajaran. dan visi misi. . Bagian pertama Gambaran umum meliputi sejarah berdirinya. yang meliputi pengertian. pelaksanaan dan problematika.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful