MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA DENGAN JUDUL :DEFINISI AGAMA , TUHAN, SPIRITUAL, KEPERCAYAAN

BAB 1 PENDAHULUAN Manusia adalah suatu mahluk somato-psiko-sosial dan karena itu maka suatu pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur somatiK, psikologik, dan social. Psikologi secara etimologi memiliki arti ³ilmu tentang jiwa´. Dalam Islam, istilah ³jiwa´ dapat disamakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya daripada istilah al-nafs. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masingmasing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda. Psikologi menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.Menurut Wilhem Wundt (tokoh eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia , seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya. Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak , apakah ketidak percayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan hidup, dan pengalaman hidupnya. A. Latar belakang masalah

Agama adalah juga fenomena sosial. Agama juga tak hanya ritual, menyangkut hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya belaka, tapi juga fenomena di luar kategori pengetahuan akademis. Sebagian manusia mempercayai agama, namun tidak pernah melakukan ritual. Yang lain mengaku tidak beragama, namun percaya sepenuhnya terhadap Tuhannya. Di luar itu semua, kita sering menyaksikan, dalam kondisi tertentu --semisal kesulitan hidup atau tertimpa musibah-- manusia cenderung berlari kepada agama. Sebaliknya, pada saat dirinya hidup dalam kondisi normal, mereka seringkali tidak peduli terhadap agama, bahkan mengingkari eksistensi Tuhannya. Berangkat dari fenomena demikian, psikologi agama merupakan salah satu cara bagaimana melihat praktek-praktek keagamaan. Sebagai gejala psikologi, agama rupanya cukup memberi pengertian tentang perlu atau tidaknya manusia beragama. Bahkan bila dicermati lebih jauh, ketika agama betul-betul tak sanggup lagi memberi pedoman bagi masa depan kehidupan manusia, kita bisa saja terinspirasi untuk menciptakan agama baru, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen baru sebagai jalan keluar dari berbagai problem yang menghimpit kehidupan. B. Perumusan masalah Adapun masalah yang akan dibahas didalam ini adalah tentang definisi-definisi dan arti-arti dari psikologi agama, juga bagaimana psikologi agama berperan dalam kehidupan, Juga bagaimana Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang BAB II PEMBAHASAN DEFINISI AGAMA , TUHAN, SPIRITUAL, KEPERCAYAAN

A. AGAMA dan PSIKOLOGI AGAMA Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau) Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird) Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley) Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang keTuhanan disertai keimanan dan peribadatan Jadi agama pertama-tama harus dipandang sebagai pengalaman dunia dalam individu yang mengsugestit esensi pengalaman semacam kesufian, karena kata Tuhan berarti sesuatu yang dirasakan sebagai supernatural, supersensible atau kekuatan diatas manusia. Hal ini lebih bersifat personal/pribadi yang merupakan proses psikologis seseorang Yang kedua adalah adanya keimanan, yang sebenarnya intrinsik ada pada pengalaman dunia dalam seseorang. Kemudian efek dari adanya keimanan dan pengalaman dunia yaitu peribadatan. Tidak ada satupun definisi tentang agama (religion) yang dapat diterima secara umum, karena para filsuf, sosiolog, psikolog merumuskan agama menurut caranya masing-masing, menurut sebagian filsuf religion adalah ´Supertitious structure of incoheren metaphisical notion. Sebagian ahli sosiolog lebih senang menyebut religion sebagai ´collective expression of human values´. Para pengikut Karl Marx mendifinisikan Religion sebagai ³the opiate of people´. Sebagian Psikolog menyimpulkan religion adalah mystical complex surrounding a projected superego´ disini menjadi jelas bahwa tidak ada batasa tegas mengenai agama/religion yang mencakup berbagai fenomena religion.

Agama sendiri menurut bahasa latin berasal dari kata religio. tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu . Sebagai demikian. psikologi dapat dibagi menjadi beberapa cabang Kepercayaan dan pengamalannya sangat beragam antara tradisi yang utama dan usaha dalam mendifinisikan agama itu sendiri secara keseluruhan yang sempurna. and especially of a personal God or Gods entitle to obedience and worship. sesuai dengan banyaknya dimensi kehidupan insani . yang dapat di artikan sebagai kewajiban atau ikatan Menurut Oxford English Dictionary. ilmu pengetahuan dan tehnik yang hidup bermoral dan beragama.Menurut Einstein . artinya dapat dipahami akal. manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan alamiah yang ada padanya. person yang sedang berkembang . pada pidato tahun 1939 di depan Princeton Theological seminar. ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh. termasuk didalamnya keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional. agama menghadirkan µ manusia yang kehidupannya di kontrol oleh sebuah kekuatan yang disebut Tuhan atau para dewa-dewa untuk patuh dan menyembahnya. tetapi sumber perasaan itu berasal dari tataran agama. yang menjalin hubungan dengan sesamanya manusia yang membangun tata ekonomi dan politik yang menciptakan kesenian. ´ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman. religion represent the human recognition of super human controlling power. agama tanpa ilmu pengetahuan buta Beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian vital betapapun tentative dan tidak lengkap pada apapun yang ditanggapi atau yang secara implicit atau eksplisit dianggap layak diperhatikan secara serius dan sungguh-sungguh (Vergulius Ferm) Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. . manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu.

sehingga ia berbeda dari cabang psikologi lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan pendirian dan perbuatan yang disebut agama. Psikologi agama sebagai ilmu pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang. hukum-hukum umum tetang terjadinya keimanan. karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi Psikologi agama tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama. dengan demikian psikologi agama mencakup 2 bidang kajian yang sama sekali berlainan . dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan . atau pengalaman keagamaan .Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama. manusia berTuhan karena manusia menggunakan kemapuan berfikirnya. Pandangan . Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman individu. karena cara seseorang berpikir. Dr. tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan ketidak-adaan Tuhan. atau lebih tepatnya hidup keagamaan B. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berfikir manusia itu sendiri. tingkah laku keagamaan. Menurut Prof. karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik sekarang atau masa depan. pengalaman keagamaan. Tuhan/ God/Allah Menurut Carl Jung (1955) Tuhan adalah sesuatu kekuatan yang berpengaruh besar yang alami dan pengaruhnya tidak dapat di bendung : Very personal nature and an irresistible influence. bersikap. proses timbulnya kesadaran beragama dan persoalan empiris lainnya. bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya. karena tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya gejala yang tidak empiris. I call it God Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah berfikir .

tidak percaya adanya Tuhan. kesan tidak berdaya yang menakutkan pada masa anak-anak membangkitkan kebutuhan akan perlindungan melalui cinta yang diberikan oleh sang Bapa jadi peraturan Tuhan yang maha kuasa dan Maha pengasih menentramkan ketakutan kira akan bahaya kehidupan.melainkan fakto psikologis yang tidak anda sadari. ketika posisi anak tidak berdaya. dan yang paling penting seperti yang kita ketahui. yakni dari desakan untuk mempertahankan diri melawan kekuatan alam yang lebih perkasa dan menaklukkan (kepercayaan agama hanyalah) ilusi. setelah dewasa ketika manusia berhadap dengan kekuatan yang maha perkasa. Secara singkat pada waktu kecil anak mengidola ayahnya sebagai pelindung dan pemelihara . anda menolak agama bukan karena anda alas an rasional . maka Freud menulis dalam future of an Illusion bahwa gagasan-gagasan agama muncul dari kebutuhan yang sama seperti yang memunculkan pencapaian peradaban lainnya . Nietsche menolak Tuhan seperti yang diakuinya bukan karena pemikiran tapi karena naluri. ia kembali ingat kepada ayahnya. paling kuat. berdasarkan rasa ketergantungan ini timbullah konsep tentang Tuhan. Paul Vitz yang menceritakan kisah Nietscshe menyampaikan teori kekafiran Nietsche (theory of unbelief) bukan karena perenungan dan penelitian yang sadar . kelemahan ini menyebabkan manusia selalu tergantung hidupnya dengan suatu kekuasaan yang berada diluar dirinya. Kematian ayah nya diusia 36 tahun membawa kesedihan yang mendalam pada diri Niersche Tidak berbeda dengan Nietsche . lalu ia berilusi tentang Tuhan yang seperti . Mengapa manusia ada yang bersifat Atheis . ucapan terkenal sepanjang masa adalah dari seorang yang bernama Nietscshe yang mengatakan ³Gott ist Gestorben´ Tuhan sudah mati. anda tidak percaya kepada agama bukan karena secara ilmah anda menemukan agma itu hanya sekumpulan tahayul. Dengan adanya rasa ketergantungan yang mutlak ini manusia merasakan dirinya lemah.semacam ini masih tetap mendapatkan tempatnya hingga sekarang ini dimana para ahli mendewakan ratio sebagai satu-satunya motif yang menjadi sumber agama Fredrick Schleimacher berpendapat bahwa yang menjadi sumber keagamaan itu adalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend). pemuasan dari keinginan manusia yang paling tua.

manusia diciptakan tidak berdasar citra Tuhan . untuk memenuhi kebutuhan seorang ayah ia menciptakan Tuhan Bapak. biarpun orang tua tidak ada lagi disampingnya. rasionalisasi dan lain-lain.ayahnya . pengecut dan berprilaku sexual yang menyimpang . hatinurani. Sigmund freud yakin akan kebenaran pendapatnya itu berdasarkan kebencian setiap agama terhadap dosa Seperti Nietscshe . tetapi Tuhan diciptakan berdasar citra manusia. Superego yang mulai terbentuk umur 5 ± 6 tahun membantu ego dalam pengawasan dan pelepasan impuls id. salah pindah. Ego mulai terbentuk ketika anak berumur 1 tahun. . id bekerja sesuai prinsip kesenangan. dimasukan kedalam superego (internalisasi) yang selanjutnya menilai dam membimbing prilakunya dari dalam. rasa salah. respons pada situasi yang tak terduga dan pemuasan keinginan kekanak-kanakan Freud membagi jiwa dalam 3 bagian yang semuanya punya fungsi sendiri-sendiri: Id adalah tempat dorongan naluri (instinct) dan berada dibawah pengawasan proses primer. sehingga setelah membunuh ayah timbul rasa bersalah (sense of guilt) pada diri anak-anak itu. Psikoanalis akhirnya membuang Tuhan sebagai sekadar ilusi kekanak-kanakan. SuperEgo ajaran dan hukuman yang diletakkan kepadanya oleh orang tua dari luar. Realisasi dari pembawaan itulah menurutnya sebagai asal upacara keagamaan. bagi freud agama adalah irasional dan patologi. maka Oedipus membunuh ayahnya. mengadung moral. Bagaimana Freud seorang psikoterapi dan seorang atheis berpendapat unsur kejiwaan yang menjadi sumber keagamaan ialah sexual (naluri seksual). Ego (pribadi) tugasnya menghindari ketidak senangan dan rasa nyeri dengan melawan atau mengatur pelepasan dorongan nalurinya agar sesuai dengan tuntutan dunia luar. upacara keagamaan setelah melalui proses Oedipus Complex (sebuah mythos Yunani yang menceritakan bahwa karena perasaan cinta kepada ibunya. Father Image (citra bapak) setelah membunuh timbul rasa bersalah yang kemudian perasaan itu menimbulkan ide membuat suatu cara penebusan dengan memuja arwah ayah yang telah mereka bunuh. Ego bekerja sesuai dengan prinsip kenyataan dan mempunyai mekanisme pembelaan seperti represi. Ia membenci ayahnya dan selanjutnya membenci Tuhan yang tercipta berdasarkan citra ayahnya. Berdasarkan libido ini timbullah idea tentang ketuhanan. Freud memandang ayahnya sebagai bapak yang lemah. prilaku yang diperteguh .

pertama proses keatas yang merupakan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan . Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang. kebanyakan spirit selalu dihubungkan sebagai factor kepribadian. Spiritual merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup. dan memiliki nafas artinya memiliki spirit. Didalamnya mungkin terdapat kepercayaan terhadap kekuatan supernatural seperti dalam agama . Spiritual dalam pengertian luas merupakan hal yang berhubungan dengan spirit . dan pikiran. kedua proses kebawah yang ditandai dengan peningkatan realitas fisik seseorang akibat perubahan internal. dimana nilai-nilai ketuhanan didalam akan termanifestasi keluar melalui pengalaman dan kemajuan diri. Melihat asal katanya . yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan dan kekuatan berkehendak dari seseorang. Secara pokok spirit merupakan energi baik secara fisik dan psikologi. perasaan. pada dasarnya spitual mempunyai beberapa arti. dibanding dengan kata religion. Salah satu aspek dari menjadi spiritual adlah memiliki arah tujuan. Konotasi lain perubahan akan timbul pada diri seseorang dengan meningkatnya kesadaran diri. .dan lebih dari pada hal yang bersifat indrawi. Spiritual dapat merupakan eksperesi dari kehidupan yang dipersepsikan lebih tinggi. tetapi memiliki penekanan terhadap pengalaman pribadi. untuk hidup adalah untuk bernafas. mencapai hubungan yang lebih dekat dengan ketuhanan dan alam semesta dan menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari alat indra . sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran yang abadi yang berhubungan dengan tujuan hidup manusia.Spiritual Definisi spiritual lebih sulit dibandingkan mendifinisikan agama/religion. dan sementara. lebih kompleks atau lebih terintegrasi dalam pandangan hidup seseorang. kita berbicara masalah orang dengan spirit atau menunjukan spirit tingkah laku . Pihak lain mengatakan bahwa aspek spiritual memiliki dua proses . Menjadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material.C. diluar dari konsep agama. para psikolog membuat beberapa definisi spiritual. Menurut kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin µSpiritus´ yang berarti nafas (breath) dan kata kerja ³Spirare´ yang berarti bernafas. sering dibandingkan dengan Sesuatu yang bersifat duniawi.

gagasan-gagasan atau ide-ide mengenai Tuhan melainkan Tuhan sendiri. tapi juga mengandung kesetiaan . seorang manusia berkeyakinan bahwa ia berhubungan dengan Allah sendiri. Tuhanlah yang dipercayai manusia.Apakah ada perbedaan antara spiritual dan religius. . Agama ádalah kebenaran mutlak dari kehidupan yang memiliki manifestasi fisik diatas dunia. tetapi juga sekaligus penolong yang diandalkannya dalam mengejar kesempurnaan eksistensinya. kecintaan sebagai implikasi kewajiban kepada si muknin. kepercayaan ini tidak selalu disertai adanya kewajiban terhadap kepercayaan itu Lin dengan iman yang bersikap dinamis . namun belum tentu mereka memiliki jalan atau tingkat spiritualitas yang sama. kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusan-keharusan atau kewajibankewajiban sebagai akibat adanya keimanan. Didalamnya terdapat keyakinan intelektual. Misalnya anda iman kepada Allah ini berarti bukan hanya percaya secara lisan kepadaNya. Agama memiliki kesaksian iman . komunitas dan kode etik. Orang ± orang dapat menganut agama yang sama. Tuhan dalam kepribadian dan dalam manifestasi-manifestasi-Nya. ketaatan yang taqwa dan hubungan cinta kasih. bagi orang beriman. spiritualitas ádalah kesadaran diri dan kesadaran individu tentang asal . Oleh karena itu tindakan ³percaya ³merupakan kenyataan yang kompleks. Tuhan menjadi tujuan hasrat-hasratnya yang intim . Misalnya kita percaya besok akan hujan. Kepercayaan bisa menjadi keimanan melalui . namun memiliki spiritualitas . Kata percaya lebih statis dan tidak menunjukan adanya sikap emosi yang positif terhadap obyek atau ide yang dipercayainya itu. Seseorang bisa saja mengikuti agama tertentu . tujuan dan nasib. Agama merupakan praktek prilaku tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya. FAITH AND BELIEF Dalam iman . Antara orang yang beriman dengan Tuhan terdapat hubungan pribadi. Maka dari itu obyek iman bukanlah pengertianpengertian. D. dengan kata lain spiritual memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu (keberadaan dan kesadaran) . Tuhan sendiri tujuan dan isi iman kepercayaan. Kompleksitas ini bersesuaian dengan majemuknya faham kebapa ilahi Secara Pskologis kita harus membedakan arti kata iman dan percaya. sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang (prilaku atau tindakan).

kepercayaan yang hanya dibibir akan dikembangkan oleh anak dengan memasukkan kepercayaan itu dalam dirinya. Clark membagi taraf perkembangan keimanan seseorang kedalam 4 level: 1. Dalam perkembangan ini berperan pengarug orang tua dan lingkungannya. Stimulus response verbalism. pada level ini keimanan hanyalah di bibir (anak-anak). kata-kata yang menimbulkan rasa aman akan diulang-ulang oleh si anak.perkembangan sedikit demi sedikit . pikirna dan logika berperan dalam setiap proses keimanan. behavior demonstraton contoh nya pada sufi/mistikus yang teguh imannya 4. dengan demikian timbul rasa aman. timbul kebimbangan. Behavioral demonstration Pada level ini sebagai akibat kepercayaan yang kuat akan keimanan seorang terlihat dalam timdakannya. kemudian proses berfikir timbul kepercayaan yang baru atau insight baru sebagai sintesa dari kepercayaan yang ada dan kebimbangan 3. lebih memerlukan intelek dan adanya proses kreatif yang lebih kmpleks dari pada respons bersyarat saja. jiwa mula-mula percaya. Tingkah laku lebih menunjukan kesungguhan adanya keimanan daripada sekedar ucapan-ucapan saja. dan ini sangat pendtin untuk menjadi dasar dan sikapnya dan menjadi pegangan hidup. 2.H. mereka mengulang-ulang perbuatan yang mendapat hadiah dan menghilangkan kata atau perbuatan yang tercela. Keimananpun berkembang pula Keimanan W. Disamping tiu yang lebih dalam ialah yang mencakup ketiga-tiganya menjadi satu . Comprehensive integration Hal-hal yang termasuk ketiga level diatas merupakan penampilan aspek-aspek saja dari pada kepercayaan . Intelectual comprehension Terlihat pada masa remaja. mekanismenya disini seperti orang yang belajar.

karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar. dan memiliki nafas artinya memiliki spirit. yang dapat berarti obligation/kewajiban Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup. untuk hidup adalah untuk bernafas. I call it God Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah berfikir . bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya Agama berasal dari kata latin religio. yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau) Menurut Carl Jung (1955) Tuhan adalah sesuatu kekuatan yang berpengaruh besar yang alami dan pengaruhnya tidak dapat di bendung : Very personal nature and an irresistible influence. baik kata-kata . bersikap.kesatuan. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang. Pandangan semacam ini masih tetap mendapatkan tempatnya hingga sekarang ini dimana para ahli mendewakan ratio sebagai satu-satunya motif yang menjadi sumber agamaMenurut kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin µSpiritus´ yang berarti nafas (breath) dan kata kerja ³Spirare´ yang berarti bernafas. tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya . Dr. pemikiran dan juga perbuatan di integrasikan untuk mebentuk satu kesatuan dalam diri individu BAB III KESIMPULAN Menurut Prof. karena cara seseorang berpikir. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berfikir manusia itu sendiri. Menjadi spiritual berarti mempunyai . bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya. manusia berTuhan karena manusia menggunakan kemapuan berfikirnya. Melihat asal katanya .

Psikologi Agama. Aliah B. Psikologi Umum Pustaka setia Bandung. 1980. Psikologi Agama. Spiritual merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup. Davic Fontana. Psikologi Agama sebuah pengatar. Psychology . Maramis . Mertiana Bandung 8. Mizan 2004 hal50 Ibid hal 51 Ibid hal 50 . Jakarta W F. Religion and spirituality. Prof Dr. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang Kata percaya lebih statis dan tidak menunjukan adanya sikap emosi yang positif terhadap obyek atau ide yang dipercayainya itu. Bps Blackwell. A. Ilmu kedokteran Jiwa. Psikologi Agama . 2003 5. Purwakanta Hasan. Kalam Mulia 2004 7. Psikologi Perkembangan Islami. Ahmad Fauzi . H. Drs. 2004 2. Iman yang bersikap dinamis . Nico Syukur Dister. kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusan-keharusan atau kewajiban-kewajiban sebagai akibat adanya keimanan. penerbit Kanisius. Psikologi Umum Pustaka setia Bandung. Mizan 2004 3. PT Raja Grafindo Persada. 2004 hal 9 Jalaluddin Rakhmat . hal 88 Drs H. DAFTAR PUSTAKA 1. Endang Saifuddun Anshari M. 4.ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Aziz Ahyadi . Psikologi Agama sebuah pengatar. Drs H. Dr. Penerbit Bina Ilmu 1979 6. H. Jalaluddin Rakhmat . Airlangga university Press. Ilmu . Ahmad Fauzi . Filsafat dan Agama. Ramayulis.

Bps Blackwell.A. Psikologi Agama. H Ramayulis . Aziz Ahyadi . Penerbit Bina Ilmu 1979. Ramayulis. Hal 111 Ibid hal 53 Ibid hal 51 Dr. Op cit hal 26 Jalaluddin Rakhmat op cit hal 149 Ibid hal 149 . Jakarta. A. H. 1980 hal 37 David Fontana op cit hal 11 Aliah B. hal 288 Ibid ha. penerbit Kanisius. Endang Saifuddun Anshari M. pnerbit Martiana Bandung. Psy H. Kalam Mulia 2004 hal1 Ibid hal 5 Drs. Purwakanta Hasan. H. Psikologi Agama. Religion and spirituality. 2003. Psychology . hal 9 Davic Fontana. Nico Syukur Dister. Aziz Ahyadi . Filsafat dan Agama. hal 6 Prof Dr. Mertiana Bandung hal 9 . Ilmu Kedoteran Jiwa. Psikologi Agama .10 Prof Dr.150 Ibid hal 28 Jalaluddin Rahmat op cit Hal 152 WE Maramis. Airlangga University Press. A Aziz Ahyadi op cit hal 21 . PT Raja Grafindo Persada.l 290 Prof Nico Syukur Dister op cit Hal 126 H. Psikologi Agama. hal 17 ibid ibid H.Drs. Psikologi Perkembangan Islami. Ilmu .

dan 2. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan. memelihara ketertiban dan keamanan. Perkembangan Moral Remaja Istilah moral berasal dari kata Latin "mos" (Moris). BAB II PEMBAHASAN A. perumusan masalah. kebiasaan. apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilainilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya. B. Latar Belakang Masalah Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok dari padanya dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapam social tanpa terus dibimbing.Ibid hal58 . Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting. yaitu pertama pendahuluan meliputi latar belakang masalah. peraturan/niali-nilai atau tata cara kehidupan. yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu berproduksi.59 http://dheo-education.blogspot. memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain. minat-minat seksual. Bagaimana pula perkembangan keagamaan remaja? C. Salzman mengemukakan. seperti: 1.diawasi didororng dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak. Seruan untuk berbuat baik kepada orang lain. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi perkembangan moral remaja? 3). Sehingga tugas penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok daripadanya dan .com/2008/05/makalah-psikologi-agama-dengan-judul. yang berarti adat istiadat. berzina. bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence). Bagaimana perkembangan moral remaja? 2). dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral. nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Seseorang dapat dikatakan bermoral. meminum-minumanan keras dan berjudi.html MAKALAH PSIKOLOGI TENTANG MORAL DAN AGAMA REMAJA MORAL DAN AGAMA REMAJA BAB I PENDAHULUAN A. Nilai-nilai moral itu. perenungan diri. proses pemecahan masalah dan sistematika pembahasan itu sendiri. membunuh. Sistematika pembahasan Makalah ini terdiri dari tiga bab. Prosedur Pemecahan Masalah Pemecahan masalah yaitu langkah-langkah yang ditempuh dengan pendekatan Metode Library Research (kepustakaan) yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas. maka masalah "Perkembangan Moral dan Keagamaan Remaja" dapat dirumuskan sebagai berikut: 1). Larangan mencuri.

Perkembangan moral (moral development) berhubungan dengan peraturan-peraturan dan nilainilai mengenai apa yang harus dilakukan seseorang dalam interaksinya dengan orang lain. 5). Hal penting lain dari teori perkembangan moral Kohlberg adalah orientasinya untuk . Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Teori Psikoanalisis tentang perkembangan moral menggambarkan perkembangan moral. Anakanak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral). Pandangan moral individu semakin lama semakin menjadi lebih abstrak dan kurang konkret.kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa terus dibimbing. Tidak kalah pentingnya. Kini kebanyakan orang memiliki pendapat yang kuat mengenai tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak dapat di terima. ego. Superego adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek social yang berisikan system nilai dan moral.tahap ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip dan terdiri dari dua tahap. 2). moral moralitas pascakonvensional harus dicapai selama masa remaja. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominant. yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk. laki-laki dan perempuan telah mencapai apa yang oleh Piaget disebut tahap pelaksanaan formal dalam kemampuan kognitif. dan superego. yaitu: 1). Ada tiga tugas pokok remaja dalam mencapai moralitas remaja dewasa. Dalam tahap ini. Melakukan pengendalian terhadap perilaku sendiri. diawasi. Menurut Kohlberg. Dalam tahap pertama individu yakin bahwa harus ada kelenturan dalam keyakinan moral sehingga dimungkinkan adanya perbaikan dan perubahan standar apabila hal ini menguntungkan anggota-anggota kelompok secara keseluruhan. 2). Karena itu. Pada masa remaja. yaitu id. Id adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek biologis yang irasional dan tidak disadari. namun tidak memiliki moralitas. yang tidak boleh dikerjakan. Dalam tahap kedua individu menyesuaikan dengan standar sosial dan ideal yang di internalisasi lebih untuk menghindari hukuman terhadap diri sendiri daripada sensor sosial. teori psikoanalisa dengan pembagian struktur kepribadian manusia menjadi tiga. Mitchell telah meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja yaitu: 1). dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak. tingkah laku etis dan tidak etis. Ia mendorong remaja lebih berani menganalisis kode social dan kode pribadi dari pada masa anak-anak dan berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya. 3). melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain (dengan orang tua. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan psikologis. moralitas didasarkan pada rasa hormat kepada orang-orang lain dan bukan pada keinginan yang bersifat pribadi. Penilaian moral menjadi kurang egosentris. Merumuskan konsep moral yang baru dikembangkan ke dalam kode moral sebagai kode prilaku. Ego adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek psikologis. yang benarbenar memperhitungkan "benar" atau "salahnya" sesuatu. anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik. tahap perkembangan moral ketiga. Jadi ia dapat memandang masalahnya dari berbagai sisi dan menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai dasar pertimbangan. Penilaian moral menjadi semakin kognitif. sekarang remaja harus mengendalikan perilakunya sendiri. dan cara-cara yang harus dilakukan untuk mengajarkan tingkah laku yang dapat diterima dan etis kepada remaja. Perkembangan moral adalah salah satu topic tertua yang menarik minat mereka yang ingin tahu mengenai sifat dasar manusia. Tetapi dalam dirinya terdapat potensi yang siap untuk dikembangkan. Sekarang remaja mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggungjawabkannya berdasarkan suatu hipotesis atau proporsi. saudara dan teman sebaya). 3). Mengganti konsep moral khusus dengan konsep moral umum. yaitu subsistem ego yang rasional dan disadari. didorong. 4). Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya. yang sebelumnya menjadi tanggung jawab orang tua dan guru.

Semakin tinggi tahap perkembangan moral sesorang. Sehubungan dengan pengaruh perekembangan kognitif terhadap perkembangan agama selama masa remaja ini. agama merupakan jawaban terhadap kehausannya akan kepastian. keyakinan agama remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. namun pada akhirnya kembali lagi kepada kepercayaan tersebut. terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya. Banyak orang yang pada usia dua puluhan dan awal tiga puluhan. maka pada masa remajamereka mungkin berusaha mencari sebuah konsep yang lebih mendalam tentang Tuhan dan eksistensi. James Fowler (1976) mengajukan pandangan lain dalam perkembangan konsep religius. terdiri atas suatu sistem tentang keyakinan-keyakinan. sebagaiman dijelaskan oleh Adams & Gullotta (1983). pada umumnya berpusat sekitar pemujaan. Perkembangan pemahaman remaja terhadap keyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya. Agama. namun karena pada masa remaja mereka mengalami kemajuann dalam perkembangan kognitif. yaitu formal operational religious thought. bahwa sekalipun pada masa remaja banyak mempertanyakan kepercayaan-kepercayaan keagamaan mereka. Agama memberikan perlindungan rasa aman. seseorang berusaha melalui agamanya untuk memasuki hubungan-hubungan bermakna dengan orang lain. Oleh karena itu meskipun pada masa awal anak-anak ia telah diajarkan agama oleh orang tua mereka. 1998) misalnya menemukan bahwa remaja usia sekitar 17 atau 18 tahun makin meningkat ulasannya tentang kebebasan. akan semakin terlihat moralitas yang lebih mantap dan bertanggung jawabdari perbuatanperbuatannya. sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. pemahaman. agama merupakan dasar terhadap falsafah hidupnya. Latar belakang kehidupan keagamaan remaja dan ajaran agamanya berkenaan dengan hakekat dan nasib manusia. Oser & Gmunder. seperti yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. tatkala mereka sudah menjadi orang tua. Peneliti lain juga menemukan perubahan perkembangan yang sama. agama adalah sesuatu yang menjadi urusan terakhir baginya. dan akan menjadi apa dia. Artinya bagi kebanyakan orang. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bias memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. memainkan peranan penting dalam menentukan konsepsinya tentang apa dan siapa dia. B. dan keyakinan tempat mereka melekatkan dirinya dan untuk menopang harapan-harapannya. Dalam suatu studi yang dilakukan Goldman (1962) tentang perkembangan pemahaman agama anak-anak dan remaja dengan latar belakang teori perkembangan kognitif Piaget.mengungkapkan moral yang hanya ada dalam pikiran dan yang dibedakan dengan tingkah laku moral dalam arti perbuatan nyata. Tuhan dibayangkan sebagai person yang berada diawan. dan pengharapan konsep-konsep abstrak ketika membuat pertimbangan tentang agama. Kalau pada masa awal anak-anak ketika mereka baru memiliki kemampuan berpikir simbolik. 1943). mereka mungkin mempertanyakan tentang kebenaran keyakinan agama mereka sendiri. Penemuan lain menunjukkan. Indiduating-reflexive faith adalah tahap yang dikemukakan Fawler. di mana remaja memperlihatkann pemahaman agama yang lebih abstrak dan hipotesis. Bahkan.bagi kebanyakan orang. Apa yang dikemukakan tentang perkembangan dalam masa remaja ini hanya merupakan cirriciri pokoknya saja. muncul pada masa remaja . kembali melakukan praktek-praktek yang sebelumnya mereka abaikan (Bossard dan Boll. 1991 (dalam Santrock. Perkembangan Keagamaan Remaja. sikap-sikap danpraktek-praktek yang kita anut. agama memberikan sebuah kerangka moral. ditemukan bahwa perkembangan pemahaman agama remaja berada pada tahap 3. Dari sudut pandangan individu yang beragama. agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bagi remaja. mencapai komitmen yang ia pegang bersama dengan orang lain dalam ketaatan yang umum terhadapnya. Dari sudut pandangan social. Dibandingkan dengan masa awal anak-anak misalnya. jaminan. pada anak-anak dan remaja.

Salah satu area dari pengaruh agama terhadap perkembangan remaja adalah kegiatan seksual. b) Pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya. melainkan karena ingin menerima agama sebagai sesuatu yang bermakna berdasarkan keinginan mereka untuk mandiri dan bebas menentukan keputusan-keputusan mereka sendiri. Sejalan dengan perkembangan kesadaran moralitas. 2). Oleh karena itu. Masa awal remaja (12-18 tahun) dapat dibagi ke dalam dua sub tahapan sebagai berikut: a) Sikap negative (meskipun tidak selalu terang-terangan) disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama secara hipocrit (pura-pura) yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu selaras dengan perbuatannya. tetapi sebagian besar agama tidak mendukung seks pranikah. c) Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptic(diliputi kewas-wasan) sehingga banyak yang enggan melakukan berbagai kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan kepatuhan. apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilainilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya. Para ahli umumnya (Zakiah Daradjat. Remaja masa kini menaruh minat pada agama dan menganggap bahwa agama berperan penting dalam kehidupan. Sehingga tugas penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompoknya.akhir yang merupakan masa yang penting dalam perkembangan identitas keagamaan. tingkat keterlibatan remaja dalam organisai keagamaan mungkin lebih penting dari pada sekedar keanggotaan mereka dalam menentukan sikap dan tingkah laku seks pranikah mereka. Sebelumnya mereka mengandalkan semuanya pada keyakinan orang tuanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka. Remaja yang sering menghadiri ibadat keagamaan dapat mendengarkan pesan-pesan untuk menjauhkan diri dari seks. William James) sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan itu dapat di bagi dalam tiga tahapan yang secara kulitatif menunjukkan karakteristik yang berbeda. c) Penghayatan rohaniahnya kembali tenanh setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya. yang erat hubungannya dengan perkembangan intelektual disamping emosional dan volisional (konatif) mengalami perkembangan. Ada tiga tugas pokok remaja dalam mencapai moralitas remaja dewasa. Walaupun keanakaragaman dan perubahan dalam pengajaran menyulitkan kita untuk menentukan karakteristik doktrin keagamaan. b) Pandangan dalam hal ke-Tuhanannya menjadi kacau karena ia banyak membaca atau mendengar berbagai konsep dan pemikiran atau aliran paham banyak yang tidak cocok atau bertentangan satu sama lain. Mengganti konsep moral khusus dengan konsep moral umum. individu memiliki tanggung jawab penuh atas keyakinan religius mereka. pada umumnya. mengikuti pelajaran-pelajaran agama di sekolah dan perguruan tinggi. Adapun penghayatan keagamaan remaja adalah sebagai berikut: 1). yang baik shalih) dari yang tidak. bahkan agama dapat menjadi pegangan hidupnya menjelanh dewasa. Minat pada agama antara lain tampak dengan dengan membahas masalah agama. mengunjungi tempat ibadah dan mengikuti berbagai upacara agama. Masa remaja akhir yang ditandai antara lain oleh hal-hal berikyut ini: a) Sikap kembali. BAB III KESIMPULAN Seseorang dapat dikatakan bermoral. . Menurut Wagner (1970) banyak remaja menyelidiki agama sebagai suatu sumber dari rangsangan emosial dan intelektual. Para pemuda ingin mempelajari agama berdasarkan pengertian intelektual dan tidak ingin menerimanya secara begitu saja. Mereka meragukan agama bukan karena ingin manjadi agnostik atau atheis. Ia juga memahami bahwa terdapat berbagai aliran paham dan jenis keagamaan yang penuh toleransi seyogyanya diterima sebagai kenyataan yang hidup didunia ini. Starbuch. kearah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual. yaitu: 1. perkembangan penghayatan keagamaan.

Inc. peraturan/nilai-nilai. The University of at Dallas: Times Mirror higher Education Santrock. 2006.2. 1996. Bandung : Pustaka Setia Hamalik Oemar. memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain. Juntika. 1995. Psikologi Perkembangan. Panut. larangan berjudi. 2007.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-moral-dan. Perkembangan Peserta Didik. 2006. Psikologi Remaja (dimensi-dimensi perkembangan). Syamsu. Adolescence (Perkembangan Remaja). pembenaran atau persetujuan. Dalam penulisan makalah ini akan dibahas bagaimana tahap dan tingkat perkembangan . Bandung: Maju Mundur Hartati Netty. DAFTAR PUSTAKA Cahyadi. John W. memelihara ketertiban dan keamanan. Nurihsan. Bandung : Rosda Karya Fatimah Enung. harus atau terlarang untuk melakukannya. yang berarti adat istiadat. 2007. Psikologi Perkembangan. mencuri. perkembangan moral keagamaan mulai disadari bahwa terdapat aturan-aturan perilaku yang boleh. Ani.html MAKALAH PSIKOLOGI TENTANG MORAL DAN AGAMA ANAK MORAL DAN AGAMA ANAK BAB I PENDAHULUAN A. 3). 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Sejalan dengan perkembangan social. Merumuskan konsep moral yang baru dikembangkan ke dalam kode moral sebagai kode prilaku. Psikoilogi Perkembangan. Latar Belakang Masalah Moral berasal dari kata Latin mos (moris). apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya. Melakukan pengendalian terhadap perilaku sendiri. membunuh dan meminum khamar. nilai-nilai dan prinsip moral. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya Santrock. berzina. kebiasaan. New York: McGraw-Hill.. Elizabeth B. Proses penyadaran moral tersebut berangsur tumbuh melalui interaksi dari lingkungannya di mana ia mungkin mendapat larangan. Seseorang dapat dikatakan bermoral. Bandung: Rosda Karya http://www. Aturanaturan perilaku yang boleh atau tidak boleh disebut moral. 1999. 2007. Jakarta: Raja Grafindo Persada Hurlock. kecaman atau atau celaan. John W. Bandung : Sekolah Pasca Sarjana UPI Panuju. atau merasakan akibat-akibat tertentu yang mungkin menyenangkan atau memuaskan mungkin pula mengecewakan dari perbuatan-perbuatan yang dilakukannya. University of Texas at Dallas: Brown and Bench-mark Yusuf. Psikologi Remaja. 1983. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan. Psikologi Perkembangan. Nilai-nilai moral itu seperti seruan untuk berbuat baik kepada orang lain. 1980. suruhan. Islam dan Psikologi.anakciremai. Life-Span Development (Perkembangan Masa Hidup). atau tata cara kehidupan. Ciputat : Press Group Desmita.

karena itu. Sistematika Uraian Sistematika uraian makalah ini terdiri dari empat bagian. B. tidak bermoral maupun tidak amoral. 1980) disebut moralitas dengan paksaan (preconventional level) yang merupakan tahap pertama dari tiga tahapan perkembangan moral. Bagaimana proses pertumbuhan pengahayatan keagamaan pada anak? C. Tahap ini berakhir sampai usia tujuh sampai delapan tahun dan ditandai oleh kepatuhan otomatis kepada kepatuhan otomatis kepada aturan-aturan tanpa penalaran atau penilaian. Misalnya bagi anak lima tahun. Kohlberg memperluas teori Piaget dan menamakan tingkat kedua dari perkembangan moral akhir masa kanak-kanak sebagai tingkat moralitas konvensional (conventional level) atau moralitas dari aturan-aturan dan penyesuaian konvensional. Tingkat dan Tahapan Perkembangan Moralitas Bayi tidak memiliki hirarki nilai dan suara hati. Bayi berada dalam tahap perkembangan moral yang oleh Piaget (Hurlock. Kedua. Jadi menurut Piaget. Bayi tidak merasa bersalah kalau mengambil benda-benda milik orang lain karena tidak memiliki konsep tentang hak milik pribadi. yang dipelajari dari orang tua. prosedur pemecahan masalah dan sistematika uraian. Pengertian yang kaku dan keras tentang benar dan salah. Pengetahuan ini kemudian digabungkan dalam konsep moral Menurut Piaget. lebih daripada hanya situasi khusus. Di samping itu. hubungan antara perkembangan moral dan intelektual anak. Tetapi dasar-dasarnya diletakkan dalam masa bayi dan berdasarkan dasar-dasar inilah bayi membangun kode moral moral yang membimbing perilakunya bila telah menjadi besar nantinya. Bayi tidak memiliki rasa bersalah karena kurang memiliki norma yang pasti tentang benar dan salah. anak yang lebih besar menemukan bahwa kelompok sosial terlibat dalam berbagai tingkat kesungguhan pada pelbagai macam perbuatan. kesimpulan dan implikasinya terhadap pendidikan BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PEMBAHASAN A. Belajar berperilaku moral yang diterima oleh sekitarnya merupakan proses yang lama dan lambat. relativisme moral menggantikan moral yang kaku. antara usia lima dan dua belas tahun konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. serta proses penghayatan keagamaan anak. Bayi tergolong nonmoral. dan oleh karena itu. Lambat laun ia akan mempelajari kode moral dari orang tua dan kemudian dari guru-guru dan teman-teman bermain dan juga ia belajar pentingnya mengikuti kode-kode moral. sedangkan anak yang lebih besar bahwa dalam beberapa situasi. yaitu pertama. reduksi data dan menyimpulkan data. bayi menilai besar atau salahnya suatu tindakan menurut kesenangan atau kesakitan yang ditimbulkannya dan bukan menurut baik dan buruknya efek suatu tindakan terhadap orang lain. anak yang lebih besar lambat laun memperluas konsep social sehingga mencakup situasi apa saja. perkembangan keagamaan anak. Bagaimana tahapan perkembangan penghayatan keagamaan anak? 4. Bagaimana hubungan antara perkembangan moral dan intelektual pada anak? 3. Apabila awal masa kanak-kanak akan berakhir. isi atau kajian teori dari perkembangan sosial anak berdasarkan beberapa buku sumber. Karena keterbatasan kecerdasannya. pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah. Bagaimanakah tingkat dan tahapan perkembangan moralitas anak? 2. berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan-keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral. D. rumusan masalah.moralitas anak. berbohong selalu buruk. konsep moral anak tidak lagi sesempit dan sekhusus sebelumnya. Rumusan Masalah 1. Ketiga. Prosedur Pemecahan Masalah Pemecahan masalah dalam makalah ini menggunakan prosedur sebagai berikut: mengumpulkan data tertulis dari sumber-sumber dan pendapat para tokoh untuk menjawab rumusan masalah. dalam artian bahwa perilakunya tidak dibimbing nilai-nilai moral. bayi menganggap suatu tindakan salah hanya bila ia merasakan sendiri akibat buruknya. berbohong tidak selalu buruk. Dalam tahap pertama dari tingkat ini yang disebutkan Kohlberg moralitas anak baik. anak mengikuti peraturan untuk mengambil . berbohong dibenarkan.

A. Menurut Conger. perkembangan penghayatan keagamaan. Dan karena ingatan anak-anak. terdapat hubungan yang sangat erat antara perkembangan kesadaran moralitas dengan perkembangan intelektual. Penghayatan seperti itulah oleh William James (Gardner Murphy. Karena memiliki fitrah ini. Hal ini disebabkan karena perkembangan intelektual anak-anak belum mencapai titik dimana ia dapat mempelajari atau menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang yang benar dan salah.1967) disebut sebagai pengalaman religi atau keagamaan (the existence of great power) melainkan juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata hidup manusia dan alam semesta raya ini. adalah dia dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal Allah dan melakukan ajaran-Nya. Selanjutnya Hurlock menjelaskan bahwa anak yang mempunyai IQ tinggi cenderung lebih matang dalam penilaian moral daripada anak yang tingkat kecerdasannya lebih rendah. Dalam tahap kedua. C. baik secara simbolik maupun dalam bentuk nyata dalam hidup sehari-hari. Dengan kehalusan dan fitrah tadi. Karena tidak mampu mengerti masalah standar moral. Tahap perkembangan ketiga. Tahapan Perkembangan Penghayatan Keagamaan Sejalan dengan perkembangan kesadaran moralitas. (4) Hal ke-Tuhanan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) sesuai dengan taraf kemampuan kognitifnya yang masih bersifat egosentric (memandang segala sesuatu dari sudut . ia harus menyesuaikan diri dengan peraturan untuk menghindari penolakan kelompok dan celaan. bahwa di luar dirinya ada suatu kekuatan yang Maha Agung yang melebihi apapun termasuk dirinya. mengalami perkembangan. Hubungan Perkembangan Moralitas dengan Intelektual Perkembangan moral pada awal masa kanak-kanak masih dalam tingkat yang rendah. B. Karenanya. Dalam tahap ini. Masa Kanak-kanak (sampai tujuh tahun). manusia memenuhi aturan itu dengan penuh kesadaran. tetapi pada keesokan harinya atau dua hari sesudahnya mungkin ia lupa. manusia dijuluki sebagai Homo Devinans dan Homo religious yaitu makhluk yang bertuhan dan beragama. moralitas didasarkan pada rasa hormat kepada orang lain dan bukan pada keinginan yang bersifat pribadi. maka belajar bagaimana berperilaku social yang baik merupakan proses yang panjang dan sulit. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah Swt.hati orang lain dan untuk mempertahankan hubungan-hubungan yang baik. dan anak perempuan cenderung membentuk penilaian moral yang lebih matang daripada anak lakilaki. Dengan kata lain. mempercayai bahkan meyakini dan menerimanya tanpa keraguan. moralitas pasca konvensional (postconventional). sekalipun anak-anak sangat cerdas. Ia hanya belajar bagaimana bertindak tanpa mengetahui mengapa. Tahapannya adalah sebagai berikut : a. Kohlberg mengatakan bahwa kalau kelompok social menerima peraturan-peraturan yang sesuai bagi semua anggota kelompok. anak-anak harus belajar berperilaku moral dalam berbagai situasi yang khusus. yang erat hubungannya dengan perkembangan intelektual di samping emosional dan volisional (konatif). manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama). Anak-anak dilarang melakukan sesuatu pada suatu hari. Ia menunjukkan bahwa tiga level perkembangan kesadaran moral itu sejalan dengan periode perkembangan kognitif dari Piaget. Jadi anggapan orang dewasa sebagai tindakan tidak patuh seringkali hanyalah merupakan masalah lupa. Ia juga tidak mempunyai dorongan untuk mengikuti peraturan-peraturan karena tidak mengerti manfaatnya sebagai anggota kelompok social. pada saat tertentu. Para ahli sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan dapat dibagi dalam tiga tahapan yang secara kualitatif menunjukkan karakteristik yang berbeda. Pertama. ikhlas disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual baik secara ritual maupun kolektif. sesorang setidak-tidaknya pasti mengalami. Tanda-tandanya sebagai berikut : (1) Sikap keagaman reseptif meskipun banyak bertanya (2) Pandangan ke-Tuhanan yang anthromorph (dipersonifikasikan) (3) Penghayatan secara rohaniah masih superficial (belum mendalam) meskipun mereka telah melakukan atau partisipasi dalam berbagai kegiatan ritual. cenderung kurang baik.

(a) sikap kembali. anak mengikuti peraturan untuk mengambil hati orang lain dan untuk mempertahankan hubungan-hubungan yang baik. pada umumnya. maka keluarganyalah yang akan mewarnai perkembangan agamanya itu. adalah sebagai berikut : (1) Masa remaja awal dengan tanda antara lain sebagai berikut : (a) Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama secara hypocrit yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu sama dengan perbuatannya. c. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral. perkembangan penghayatan keagamaan dapat dibagi dalam tiga tahapan yang secara kualitatif menunjukkan karakteristik yang berbeda. Keluarga hendaknya menciptakan lingkungan psikologis yang mendukung pembentukan karakter anak dalam menjalankan ajaran agamanya. (c) Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya. Kohlberg memperluas teori Piaget dan menamakan tingkat kedua dari perkembangan moral akhir masa kanak-kanak sebagai tingkat moralitas konvensional (conventional level) atau moralitas dari aturan-aturan dan penyesuaian konvensional. (c) Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik (diliputi kewas-wasan) sehingga banyak yang enggan melakukan berbagai kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan. B. bahkan agama dapat menjadi pegangan hidupnya menjelang dewasa. (b) Pandangan dalam hal ke-Tuhanannya dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya. Masa Anak Sekolah (1) Sikap keagamaan bersifat reseptif tetapi disertai pengertian (2) Pandangan dan faham ke-Tuhanan diterangkan secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang bersumber pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari eksistensi dan keagungan-Nya. kearah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual. moralitas didasarkan pada rasa hormat kepada orang lain dan bukan pada keinginan yang bersifat pribadi. Masa remaja (12-18 tahun) yang dapat dibagi ke dalam dua sub tahapan. pada tingkat individual maupun tingkat kelompok tertentu. namun terdapat variasi yang luas. (b) pandangan dalam hal ke-Tuhanannya menjadi kacau karena ia banyak membaca atau mendengar berbagai konsep dan pemikiran atau aliran paham banyak yang tidak cocok atau bertentangan satu sama lain. (3) Penghayatan secara rohaniah makin mendalam. Proses Pertumbuhan Penghayatan Keagamaan Para ahli juga sependapat bahwa meskipun tahapan proses perkembangan seperti di atas juga merupakan gejala yang universal. yang baik dari yang tidak baik. (2) Masa remaja akhir yang ditandai antara lain . BAB III PENUTUP A. Dalam tahap ini. Tahapannya adalah sebagai berikut : . moralitas pasca konvensional (postconventional). Peranan lingkungan sangat penting dalam pembinaan penghayatan keagamaan ini. Dalam ajaran agama dijelaskan bahwa pada dasarnya manusia itu baik dan memiliki potensi beragama.dirinya) b. Ketiga. Ia juga memahami bahwa terdapat berbagai aliran paham dan jenis keagamaan yang penuh toleransi seyogyanya diterima sebagai kenyataan yang hidup di dunia ini. 1980) disebut moralitas dengan paksaan (preconventional level) yang merupakan tahap pertama dari tiga tahapan perkembangan moral. Kesimpulan Bayi berada dalam tahap perkembangan moral yang oleh Piaget (Hurlock. Dalam tahap pertama dari tingkat ini yang disebutkan Kohlberg moralitas anak baik. Kedua. Tahap perkembangan ketiga.

J. Landasan Bimbingan dan Konseling. kearah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual. Syamsu dan Nurihsan. (2005). maka akan semakin baik kita membimbing moral dan keagamaan anak. Abin M. yang baik dari yang tidak baik. Hartono. R. Elizabeth. Jakarta : PT. Bandung: Rosda Karya. DAFTAR PUSTAKA Havighurst. ( 1996 ). Bandung : Remaja Rosdakarya. (2005). Sunarto & Agung. (2002).html . (c) Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik (diliputi kewas-wasan) sehingga banyak yang enggan melakukan berbagai kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan. (2) Masa remaja akhir yang ditandai antara lain . adalah sebagai berikut : (1) Masa remaja awal dengan tanda antara lain sebagai berikut : (a) Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama secara hypocrit yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu sama dengan perbuatannya. (1972). Tanda-tandanya sebagai berikut : (1) Sikap keagaman reseptif meskipun banyak bertanya (2) Pandangan ke-Tuhanan yang anthromorph (dipersonifikasikan) (3) Penghayatan secara rohaniah masih superficial (belum mendalam) (4) Hal ke-Tuhanan secara ideosyncritic yang masih bersifat egosentric (memandang segala sesuatu dari sudut dirinya) b. Ketiga.anakciremai. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (c) Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya. Yusuf.b. semakin banyak pengetahuan tentang moral keagamaan anak. B. (b) Pandangan dalam hal ke-Tuhanannya dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya. Looking Forward Through The Lifespan. Pertama. Jakarta: Erlangga Peterson. c. (2000). Masa remaja (12-18 tahun) yang dapat dibagi ke dalam dua sub tahapan. Rineka Cipta Syamsudin. Karena. Australia : Prentice Hall. Masa Kanak-kanak (sampai tujuh tahun). (a) sikap kembali. Psikologi Kependidikan. Perkembangan Peserta Didik. Implikasi Terhadap Pendidikan Dengan memahami perkembangan moral keagamaan anak diharapkan bagi para pendidik untuk dapat berupaya secara optimal membantu mengembangkan potensi moral dan keagamaan anak. Kedua. Bandung : Rosda Karya. bahkan agama dapat menjadi pegangan hidupnya menjelang dewasa. http://www. Developmental Tasks and Education. Masa Anak Sekolah (1) Sikap keagamaan bersifat reseptif tetapi disertai pengertian (2) Pandangan dan faham ke-Tuhanan diterangkan secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang bersumber pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari eksistensi dan keagungan-Nya.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-moral-dan_02. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral. Developmental Psychology. Ia juga memahami bahwa terdapat berbagai aliran paham dan jenis keagamaan yang penuh toleransi seyogyanya diterima sebagai kenyataan yang hidup di dunia ini. Psikologi Perkembangan . pada umumnya. Juntika. Syamsu. (3) Penghayatan secara rohaniah makin mendalam. Mac kay Hurlock. New York. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (b) pandangan dalam hal ke-Tuhanannya menjadi kacau karena ia banyak membaca atau mendengar berbagai konsep dan pemikiran atau aliran paham banyak yang tidak cocok atau bertentangan satu sama lain. Candida. (2002). Yusuf.

³Dengan adanya rasa agama seperti yang di ketahui setiap manusia. sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika. H. Manusia dengan berbagai potensi tersebut membutuhkan suatu proses pendidikan. BAB II Mengapa psikologi agama perlu PAI Pengertian pendidikan PAI sendiri adalah kegiatan atau usaha yang sadar atau pengertian sistematis dan berkesinambungan untuk mengembangkan potensi agama manusia memberi sifat keislaman .BAB I PENDAHULUAN Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki persepektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Kesetabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang. sehingga akan timbul rasa saling . Dengan demikian. M. satu sama lain saling menunjang. mampu mengabdikan segala amal perbuatannya untuk mencari keridhaan Allah SWT. pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. mengatakan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk mewujudkan manusia yang berkepribadian muslim baik secara lahir maupun batin. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. kebutuaan akan beragama tertanam dalam dirinya. adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran. sehingga apa yang akan diembannya dapat terwujud. serta kecakapan sesuai dengan pendidikan. dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam. hakikat cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan. bukanlah kesetabilan yang statis. maka akan timbul perasaan saling menghargai dengan sesama individu lainya. Arifin. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama.

Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadapsikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang. masih banyak lagi yang menjadi kendala kesempurnaan orang dewasa dalam beragama. bersikap. apakah ketidak percayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan hidup. bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya. Bila para dakwah ingin mengajak umat hidup sesuai dengan ketentuan agama. lalu menunjukkan betapa pentingnya ajaran agama dalam kehidupan manusia. karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar ikut-ikutan. apabila si ibubapa ingin mendidik anaknya agar kelak menjadi seorang yang taat beragama. tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya . kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya. dia dapat menggunakan pengetahuannya terhadap Psikologi Agama. karena cara seseorang berpikir. dan pengalaman hidupnya. Dr. Oleh kerana itu semua orang berkepentingan dengan Psikologi Agama dan dapat memanfaatkannya sesuai dengan kepentingannya masing-masing.toleransi kepada umat manusia beragama. Untuk itu dia dapat membaca buku tentang psikologi anak dan psikologi remaja. Bidang pendidikan anak misalnya. disamping mengetahui sekedarnya tentang perkembangan jiwa anak pada umur tertentu dan perkembangan ciri remaja. berakhlaq terpuji. taat melaksanakan agama dalam kehidupan mereka. . Menurut Prof. maka dia dapat menggunakan Psikologi Agama dengan lebih dahulu mengatahui latar belakang kehidupan mereka. bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya.Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak . dengan adanya sifat tersebut manusia dapat menjaga diri pada hal-hal yang di larang dan di anjurkan agama. berguna bagi masyarakat dan negaranya. Namun.

zakat dan haji bagi penyembuhan jiwa yang gelisah (fungsi kuratif) dan bagaimana pula manfaatnya bagi pencegahan gangguan jiwa (fungsi preventif) dan selanjutnya pentingnya iman dan ibadah tersebut bagi pembinaan dan pengembangan kesihatan jiwa (fungsi konstruktif). serta keadaaan hidup pada umumnya. 2004: 15) Berkaitan dengan ruang lingkup dari psikologi agama. menunjukkan pula bagaimana pembahasan keyakinan (konversi) agama terjadi pada seseorang. agama berasal dari kata Al Din yang berarti undang-undang atau hukum. Dan Psikologi Agama juga menjelaskan betapa seseorang mencari agama dan benar-benar mencintainya dalam bentuk mistik. Sedangkan agama memiliki sangkut paut dengan kehidupan batin manusia. yakni psikologi dan agama. manfaat iman bagi ketenteraman batin. (Jalaluddin. manfaat solat. Psikologi Agama dan pendidikan A. dewasa dan beradab. Psikologi Agama memberi gambaran tentang perkembangan jiwa agama pada seseorang. maka ruang kajiannya adalah mencakup kesadaran agama yang berarti bagian/ segi agama yang hadir dalam pikiran. ³gama´. Kemudian religare berarti mengikat. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal.Misalnya. pergi yang berarti tetap ditempat atau diwarisi turun menurun . Dari definisi tersebut. Kedua kata ini mempunyai makna yang berbeda. serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut (Zakiyah darajat dikutip oleh Jalaluddin. puasa. Menurut Harun Nasution. (Jalaluddin. religi (latin) atau relegere berarti mengumpulkan dan membaca. dan pengalaman agama berarti unsur perasaan dalam kesadaran beragama yakni perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah) dengan kata lain bahwa psikologi agama mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindakan agama orang itu dalam hidupnya. psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku. 1979: 77). selain itu juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang. Pengertian dan Ruang Lingkup Psikologi Agama Psikologi agama terdiri dari dua paduan kata. yang merupakan aspek mental dari aktivitas agama. 2004: 17) . Dan kata agama terdiri dari tidak.

Banyak ayat-ayat al-Qur¶an yang menganjurkan untuk melaksanakan pendidikan dan pengajaran itu: misalnya firman Allah. akalnya dan akhlaqnya. Adz-riyat: 21) C. B.´ Al-Qur¶an menjamin kesuksesan bangsa mana pun yang menempuh cara/ jalan-jalan yang telah ditetapkan oleh Al-Qur¶an itu. Sedang menurut Aristoteles (Filosof terbesar dari Yunani. yang dilahirkan pada tahun 384 sebelum Masehi) mengatakan bahwa: Pendidikan itu ialah menyiapkan akal untuk pengajaran. yaitu pemikiran kemanusiaannya dan syahwat hewaniyahnya. sebagai warga negara dalam kerajaannya yang mikro. Pengertian dan Ruang Lingkup Pendidikan Pendidikan secara umum adalah setiap sesuatu yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan jasmani seseorang. sejak dilahirkan hingga dia mati. 2002). perusahaan. Hubungan Psikologi Agama dengan Dunia Pendidikan Pandangan agama dan psikologi berjumpa pada diri manusia sendiri sebagai salah satu fenomena ciptaan Tuhan dengan segala karakter kemanusiaannya. Begitu juga dengan pendidikan yang menjadikannya manusia sebagai objek sekaligus sebjek penentu dari suatu keberhasilan system pendidikan dan tujuan pendidikan secara umu.2 Pendidikan ini juga diatur dalam syari¶at Islam dalam surat Al-Qashas:77 yang artinya sebagai berikut: ³Carilah apa yang dianugerahkan oleh Allah padamu dari kebahagiaan akhirat dan jangan kamu melupakan bahagiamu dari kebahagiaan Dunia. Menurut Al Attas tujuan pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai kebaikan dan keadilan dalam diri seseorang baik sebagai manusia atau individu. pengobatan. Dengan demikian yang perlu ditekankan dalam pendidikan adalah nilai manusia sejati. misalnya dalam bidang pendidikan. Pendidikan itu adalah alat (media) yang dapat membantu kekuatan pertama untuk mengalahkan kekuatan yang kedua. guru Iskandar Makedoni.bidang lainnya. yang artinya: Dan tentang dirimu apakah tidak memikirkannya? (S.Dalam hal ini psikologi agama telah dimanfaatkan dalam berbagai ruang kehidupan. Dia mengatakan bahwa di dalam diri manusia itu ada dua kekuatan. Atau usaha sadar seorang pendidik kepada peserta didik dalam melatih. . mengajar berbagai ilmu pengetahuan (Civic Education Society. penyuluhan narapidana di LP dan pada bidang. sebagaimana disiapkan tanah tempat persemaian benih. sebagai sesuatu yang bersifat spiritual.

diantaranya adalah: Stadium 1: Menurut aturan untuk menghindari hukum. karena nilai moral yang bersumber dari agama bersifat tetap dalam setiap dimensi waktu dan tempat. Pada saat menanamkan nilai-nilai moral dan agama seorang pendidik harus memperhatikan 6 stadium tersebut sebgai acuan dalam menentukan materi dan metode yang sesuai bagi peserta didiknya. Dengan demikian nyatalah betapa pentinganya psikologi agama bagi duniawi pendidikan. Berbeda dengan nilai social kemasyarakatan yang bersifat relatif tergantung dari kondisi masyarakat sekitar. dalam dunia pendidikan dan psikologi kontemporer banyak . dimana suatu perbuatan dianggap baik atau sopan di suatu daerah namun di tempat lain pandangan itu dapat berubah menjadi tidak baik atau tidak sopan. Seseorang pendidik juga harus mempelajari dan memahami dinamika dan perkembangan moral. Hal ini bertujuan untuk membina sikap positif dalam pembentukan pribadi anak dengan berbagai pengalaman keagamaan. supaya dapat memahami bagaimana peranan agama dala moral bagi anak didik. Stadium 3: Bersikap konformis untuk menhindari celaan orang lain. Stadium 2: Bersikap konformis (mengikuti nilai yang berlaku) untuk memperoleh hadiah agar dipandang sebagai orang baik. seorang pendidik harus memperhatikan perkembangan keberagamaan seseorang. melainkan karena keyakinan sendiri untuk melakukannya. Dalam hal yang berkaitan dengan ketaatan dan kepatuhan dalam hal yang berkaitan dengan nilai-nilai seseorang terhadap suatu system nilai termasuk nilai keagamaan. sehingga ketika dewasa mereka tak cenderung bersikap negatif kepada agama. Stadium 4: Bersikap konformis untuk menghindari hukum yang diberikan agar beberapa tingkah laku tertentu dalam kehidupan bersama. Stadium 6 : Melakukan konformitas tidak karena perintah atau norma dari luar. Dalam pembianaan moral agama memiliki peranan yang sangat penting. Pembinaan moral terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan pembiasaan yang diperoleh sejak kecil. Untuk meraih kualitas insane paripurna. Kebiasaan itu tertanam berangsur sesuai dengan kecerdasan seseorang. secara teoristis mengemukakan bahwa seseorang dalam mengikuti tata nilai agar menjadi insane kamil itu melalui tingkatan atau stadium. Stadium 5: Konformitas dilakukan karena membutuhkan kehidupan bersama yang diatur. L Kohlberg.Dalam menamkan nilai-nilai kebaikan khususnya nilai agama.

Dalam pelatihan yang bercorak psiko-educatif diharapkan para peserta didik sadar diri. Sedang jiwa keagamaan yang tanpa melalui menegemant pendidikan yang baik. pemeliharaan dan pengaruh kedua orang tua mereka. menemukan arti dan tujuan hidupnya serta menyadari dan menghayati intensitas ibadah. melalui fungsi-fungsi jiwa yang masih sangat sederhana tersebut. Oleh karena itu. Dengan pelatihan semacam ini ungkapan ³The man behind the system´ ditingkatkan menjadi ³The spirit of the man behind the system´ yang berarti adanya peningkatan mental spiritual pada manusia penerap system. namun bentuk keyakinan agama yang akan dianut anak sepenuhnya tergantung dari bimbingan. b. Sekolah. setiap bayi yang dilahirkan sudah memiliki potensi untuk beragama. Pendidikan Kelembagaan Pendidikan agama di lembaga pendidikan bagaimanapun akan memberi pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan pada anak.H. a. 1964: 4). Namun demikian. pendidikan agama pada hakikatnya merupakan pendidikan nilai. Menurut Rosul Allah swt.sekali dikembanghkan program pelatihan pengembangan diri pribadi. Sebab. Fungsi sekolah dalam kaitannya dengan pembentukan jiwa keagamaan .H. mampu beradaptasi. agama terjalin dan terlibat didalamnya. Clark. fungsi dan peran orang tua bahkan mampu untuk membentuk arah keyakinan anak-anak mereka. Clark.´ D. Namun demikian. berjalin dengan unsur-unsur kejiwaan sehingga sulit untuk diidentifikasikan secara jelas. dan Masyarakat). Menurut beliau. Urgensi Psikologi Agama dalam Pendidikan (keluarga. pendidikan agama lebih dititik beratkan pada bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama. Pendidikan Keluarga Perkembangan agama menurut W. besar kecilnya pengaruh tersebut sangat tergantung pada berbgai faktor yang dapat memotivasi nak untuk memahami nilai-nilai agama. pendidikan dinilai memiliki peran penting dalam upaya menanamkan rasa keagamaan pada seseorang. Dengan kata lain. manusia demikian rumit dan kompleksnya. karena pendidikan tanpa agama ibaratnya bagi manusia akan pincang. Semuanya bertujuan untuk meningkatkan aspek psikososial yang positif dan mengurangi aspek negatif. maka juga akan percuma. karenaa masalah yang menyangkut kejiwaan. Education (pendidikan) dan jiwa keagamaaan sangat terkait. Melalui jalinan unsur-unsur dan tenaga kejiwaan ini pulalah agama itu bekembang (W.

kedua. c. Dalam konteks ini guru agama harus mampu mengubah sikap anak didiknya agar menerima pendidikan agama yang diberikannya. Sehingga sangat besarnya pengaruh masyarakat terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan sebagai bagian dari aspek kepribadian yang terintegrasi dalam pertumbuhan psikis. Pertama. para guru agama harus mampu memberikan pemahaman kepada anak didik tentang materi pendidikan yang diberikannya.Kedua. adanya penerimaa. antara lain memiliki keahlian dalam bidang agama dan memiliki sifat-sifat yang sejalan dengan ajaran agama seperti jujur dan dapat dipercaya. metode serta alat-alat bantu yang memungkinkan anak-anak memberikan perhatiannya. Kedua sikap ini akan sangat menentukan dalam mengubah sikap para anak didik. Pemahaman ini akan lebih mudah diserap jika pendidikan agama yang diberikan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. maka guru agama harus dapat merencanakan materi. pengaruh kelembagaan pendidikan dalam pembentukan jiwa keagamaan pada anak sangat tergantung dari kemampuan para pendidik untuk menimbulkan ketiga proses itu. Menurut Mc Guire. Ketiga. adanya pemahaman. Dengan demikian. tidak terbatas pada kegiatan yang bersifat hapalan semata. Untuk menopang pencapaian itu. antara lain sebagai pelanjut pendidikan agama di lingkungan keluarga atau membentuk jiwa keagamaan pada diri anak yang tidak menerima pendidikan agama dalam keluarga. proses perubahan sikap dari tidak menerima kesikap menerima berlangsung melalui tiga tahap perubahan sikap. Jadi.Pertama adalah adanya perhatian. Yang mana pertumbuhan psikis akan berlangsung seumur hidup.pada anak. Pendidikan Masyarakat Masyarakat merupakan lapangan pendidikan yang ketiga. pendidikan agama yang diberikan harus dapat menarik perhatian peserta didik. . penerimaan siswa terhadap materi pendidikan agama yang diberikan. Proses: . . Peran psikologi agama dalam lembaga ini adalah memupuk jiwa keagamaan karenma masyarakat akan memberi dampak dalam pembentukan pertumbuhan baik fidik maupub psikis. dan ketiga. Penerimaan ini sangat tergantung dengan hubungan antara materi dengan kebutuhan dan nilai bagi kehidupan anak didik. Dan sikap menerima tersebut pada garis besarnya banyak ditentukan oleh sikap pendidk itu sendiri.

³gam. Pertama yaitu rasa bertuhan. Kemudian religare berarti mengikat. tujuan pendidikan al Qur`an (Islam) adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifahNya. Atau dengan kata yang lebih singkat dan sering digunakan oleh al Qur`an. Dengan demikian pendidikan harus mampu membina.´ pergi yang berarti tetap di tempat dan diwarisi turun menurun. mengarahkan dan melatih potensi jasmani.Hati yang bersih dan sehat adalah cahaya yang seseorang pada langkah-langkah kehidupan yang benar. oleh karena itu pendidikan agama islam adalah sebuah upaya nyata yang akan mengantarkan umat islam kepada perkembangan rasa agama. Menurut Quraish Shihab. Umar bin Khattab r. Dari pengertian tersebut dapat dirumuskan pengertian psikologi agama adalah. dan yang memberikan rasa ketenangan dan kepuasan pada jiwa. jiwa. dewasa dan beradab. Sedangkan agama memiliki sangkut paut dengan kehidupan batin manusia. kedua-duanya mempunyai makna yang berbeda. artinya kita telah menegakkan pilar-pilar pendidikan yang sangat kokoh. Menurut Harun Nasution. maka peraturan atau undang-undang apapun yang ada dimuka bumi ini juga tidak akan ada pengaruhnya Hubungan psikologi agama dengan pendidikan adalah. Apabila kita mendapat pendidikan dan kesadaran hati pada waktu kecil. rasa bertuhan ini meliputi merasa ada sesuatu . Umat islam akan lebih memahami dan terinternalisasi esensi rasa agama itu sendiri. kontrol hati tidak ada pengaruhnya. Berangkat dari sinilah. untuk bertaqwa kepada-Nya. Artinya jka kekuatan rasa beragama atau pengawasan jiwa. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa amnesia yang normal. religi (latin) atau relege berarti mengumpulkan dan membaca.a menyatakan ³Barang siapa yang kebal dididik oleh syari¶at. suatu ilmu yang mempelajari kepercayaan jiwa manusia secara keseluruhan baik dari sisi jasmani maupun rohani manusia. kita wajib memberikan perhatian penuh utuk menghidupkan kontrol agama pada jiwa seseorang dan kita jadikan hal itu sebagai sarana untuk menjaga nilai-nilai akhlak yang ada padanya. Pendidikan memang mempunyai peranan yang sangat penting bagi manusia. tidak. agama berasal darikata Al-Din yang berarti undang-undang/ hokum. akal dan fisik manusia seoptimal mungkin agar dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Dan kata Agama terdiri dari kata akronim dari ³a´ . maka Allah pun enggan menaikkanny. guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah.

bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya. Di sampinga itu. Agama berasal dari kata latin religio. serta faktor-faktor yang mem pengaruhi kenyakinan tersebut. berpendapat bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan megaplikasikanprinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan . rasa taat ini meliputi ada rasa ingin mengarahkan diri pada kehendak-Nya dan ada rasa ingin mengikuti aturan-aturan-Nya. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang. Semakin suasana pendidikan agama membuat betah maka perkembangan jiwa keagamaan akan dapat tumbuh dengan optimal. Remaja adalah cikal bakal calon pemimpin Negara. karena itu maksimal dan tidaknya pendidikan agama tergantung dari faktor yang dapat memotivasi untuk memahami nilai agama. . kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusankeharusan atau kewajiban-kewajiban sebagai akibat adanya keimanan. ada rasa ikatan dengan sesuatu tersebut. Taules . bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya. yang dapat berarti obligation/kewajiban. Sedangkan menurut Zakiah Darajat. karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar. Pendidikan agama adalah bentuk pendidikan nilai. Iman yang bersikap dinamis . psikologi agama adalah meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang yang mempelajari berapa besar pengaruh kenyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. rasa kagum dan lain-lain. bersikap.lah tumbuh maka akan terbentuk sikap keagamaan yang termanifestasikan dalam kehidupan sehari-harinya Menurut Prof. rasa dekat. Dr. karena cara seseorang berpikir.yang maha besar yang berkuasa atas dirinya dan alam semesta. psikologi agama jua mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang. membentuk psikologi yang benar pada remaja telah di atur di dalam Islam sebagai agama yang satu-satunya Haq. Kedua yaitu rasa taat. Apabila jiwa keagamaan te. rasa rindu. Jiwa keagamaan ini akan tumbuh bersama dengan suasana lingkungan sekitarnya. tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya .

BAB III PENUTUP Psikologi agama yang memepelajari rasa agama dan perkembangannya mempunyai peranan yang saling korelatif dalam pendidikan agama islam. Pertumbuhan rasa agama akan semakin meningkat dan juga bisa dihubungkan dengan kondisi di sekitarnya. dewasa dan beradap. Dimana Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajarigejala jiwa manusia yang normal. Gema Insani Press: Jakarta. 1995.ekonomi. Perkembangan kejiwaan seseorang adalah sebuah bentuk kewajaran dan pasti terjadi dalam diri seseorang. Proses penyadaran dan perubahan untuk meningkatkan nilai jiwa keagamaan pun akan mudah di kembangkan. 2003. Penerbit Putra Utama: Jakarta. Jakarta. Jaudah Muhammad. 1981. baik sosial. . Agama tidak dipandang hanya sebagi kebutuhan orang-orang tertentu. politik hukum dan sebagainya. tentu akan mempengaruhi bagi pembentukan jiwa keagamaan. Jiwa keagamaan ini perlu ditanamkan pada anak sejak usia dini. Peran psikologi agama dalam pendidikan islam lebih memudahkan pemahaman masyarakat dalam menelaah agama secara komprehensif. Oleh karena itu pendidikan merupakan suatu keniscayaan dalam mengarahkan proses perkembangan kejiwaan. Pedoman Pendidikan dan Pengajaran. Muhammad.Sehubugan dengan psikologi agama Jalaludin berpendapat bahwa Psikologi Agama menggunakan dua kata yaitu Psikologi dan Agama. Mendidik Anak Secara Islam. tapi agama memang menjadi kebutuhan stiap pribadi seseorang yang menjadikan perkembangan pribadi secara psikisnya. Psikologi Agama. Penerbit: Mizan media buku utama.  Rahmad.  Abu Bakar. Pendidikan islam sebagi sebuah upaya penyadaran terhadap umat islam akan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Psikologi Agama (sebuah pengantar).  Awwad. Jalaludin. Terlebih lagi dalam lembaga pendidikan islam. kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Usaha Nasional: Surabaya. (Edisi Revisi). 1996. DAFTAR PUSTAKA  Rahmad. Jalaluddin.

html . Quraish Shihab.com/2010/03/makalah-psikologi-agama. Membumikan al Qur`an Bandung: Mizan. 1992. Jalaludin. Jakarta: PT. Psikologi Agama.Ag. Dr. H.blogspot. M. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2004  [3]Prof. 2007 http://pujanggawati. Raja Grafindo Persada.  Sururin. Ilmu Jiwa Agama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful