P. 1
Pengertian perilaku menurut Sarwono

Pengertian perilaku menurut Sarwono

|Views: 769|Likes:
Published by Rininta Utami

More info:

Published by: Rininta Utami on Apr 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2011

pdf

text

original

Pengertian perilaku menurut Sarwono (1992, h.

16) adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh satu individu dengan individu lainnya dan bersifat nyata. Perilaku mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian secara luas dan pengertian secara sempit (Chaplin, 1997, h.53). Pengertian perilaku secara luas mencakup segala sesuatu yang dilakukan atau dialami seseorang, sedangkan dalam arti sempit perilaku mencakup semua reaksi yang dapat diamati. Pengertian konsumsi menurut Zain dan Badudu (1994, h.714) adalah pemakaian barang barang hasil industri, barang -barang keperluan sehari -hari. Menurut Barnhart dan Williams (Falk, 1994, h.6) istilah konsumsi berasal dari bahasa latin yaitu consumere dan consummare. Consumere mempunyai arti menggunakan sepenuhnya atau seluruhnya. Adapun consummare mengandung arti menghimpun, menjumlahkan, atau melengkapi. Pembahasan tentang perilaku konsumsi terkait dengan konsumen dan perilakunya. Menurut Schiffman dan Lazar (1987, h.704) konsumen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konsumen perseorangan dan konsumen organisasi. Konsumen perseorangan yaitu seseorang yang membeli barang dan menggunakan jasa untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, sedangkan konsumen organisasi yaitu seseorang yang membeli produk, perlengkapan, dan jasa untu k menjalankan suatu perusahaan. Menurut Walters (1970, h.14) konsumen adalah individu yang membeli atau mempunyai kapasitas untuk melakukan pembelian terhadap barang dan jasa yang ditawarkan oleh pihak institusi pemasaran dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan memuaskan keinginannya. Berdasarkan pengertian konsumen dan perilaku diatas dapat dijelaskan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan -tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh barang -barang jasa ekonomis termasuk proses pen gambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan -tindakan tersebut (Engel, 1995, h.8). Engel menambahkan bahwa perilaku konsumen tidak hanya melibatkan apa yang dikonsumsi seseorang tetapi juga menyangkut dimana, seberapa sering, dan dalam kondis i seperti apa barang dan jasa tersebut dikonsumsi. Falk (1994, h.9) menyatakan bahwa masalah yang selalu menjadi teka teki yang berkepanjangan dalam kaitannya dengan konsumsi dan perilaku konsumen adalah pertanyaan yang berkaitan dengan: a. Ketentuan batas -batas keinginan yang melampaui batas kebutuhan yang dianggap perlu. b. Kenyataan bahwa keinginan manusia tidak ada batasnya. c. Hadirnya sesuatu yang dianggap baru tidak pernah berakhir. Permasalahan ini mencerminkan bahwa perilaku konsumsi individu tidak selalu untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi sebagian besar perilaku konsumsi didasarkan pada keinginan-keinginannya. Menurut Peter dan Olson (1995, h.115) kepercayaan, sikap, dan keinginan yang tidak terkontrol dan terbentuk dalam diri konsumen disebut dengan perilaku konsumtif. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (Al-Ghifari, 2003, h.144) memberikan batasan perilaku konsumtif sebagai kecenderungan konsumsi tiada batas dan lebih mementingkan

Belanja juga punya arti tersendiri bagi remaja. dengan pertim bangan harga bukan karena manfaat dan 5. adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam konteks perekonomian. Membeli produk untuk menjaga status. 3. . 7. Dahlan (Al-Ghifari. penggunaan segala hal yang dianggap paling mahal dan memberikan kepuasaan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan da n didorong oleh suatu keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata -mata. baik di dunia usaha maupun di dalam rumah tangga. penampilan. Pola Hidup Konsumtif Kata ´konsumtifµ (sebagai kata sifat. 4. Manusia lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan pada saat memiliki uang lebih dan biasanya menyebabkan orang melakukan pengeluaran untuk bermacam -macam keinginan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pokoknya sendiri. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. dan gengsi. Remaja dan Perilaku Konsumtif Belanja.144) menyatakan bahwa perilaku k onsumtif merupakan suatu perilaku yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan. Menurut Sumartono (Al -Ghifari. h.142) seseorang yang konsumtif mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1. 2003. Membeli produk kegunaannya. Mencoba produk sejenis dengan dua merk yang berbeda. 2003. Namun kata yang sama telah berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. 6. 2.faktor keinginan daripada kebutuhan. Membeli karena kemasan produk yang menarik. h. Adanya penilaian bahwa dengan memakai atau membeli produk dengan harga yang mahal akan menimbulkan rasa percaya diri. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilak u konsumtif merupakan suatu perilaku membeli barang -barang dan jasa yang sifatnya kurang diperlukan dan hanya mementingkan faktor keinginan dan kesenangan dibandingkan dengan faktor kebutuhan. Membeli produk karena iming -iming hadiah. lihat akhiran ²if) sering diartikan sama dengan kata ´konsumerismeµ. Memakai sebuah produk karena adanya unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan produk tersebut.

Dalam hal ini orang tadi belum disebut berperilaku konsumtif. Selain itu. Padahal mode itu sendiri selalu berubahsehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada. penelitian-penelitian yang telah dilakukan belum mendapatkan hasil yang konsisten apakah remaja pria atau waniata yang lebih banyak membelanjakan uangnya. tidak realistis. sedang sisanya digunakan untk menambah modalnya dalamusaha. Misalnya sebagai ilustrasi. Ia membelanjakan 400 ribu rupiah dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. suka ikut-ikutan teman. Tapi apabila ia belanjakan untuk sepatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan (apalagi ia membeli sepatu 200 ribu dengan kartu kredit). 3. Alhasil. maka ia dapat disebut berperilaku konsumtif. Di samping itu. Apakah ia dapat digolongkan berperilaku konsumtif? Perilaku Konsumtif Remaja Bagi produsen. mudah terpengaruh bujukan penjual 2. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. ada perbedaan dalam pola konsumsi antara pria dan wanita. Daftar ini masih dapat dipertanyakan apakan memang benar ada gaya yang berbeda dalam membeli antara pria dan wanita. Juga terdapat sifat yang berbeda antara pria dan wanita dalam perilaku membeli. 4. terutama di kota-kota besar. mempunyai perasaan kurang enak bila 4. Contoh ini relatif mudah untuk menentukan apakah seseorang telah berperila konsumtif atau ku tidak. lebih tertarik pada warna dan bentuk. tidak membeli sesuatu setelah memasuki toko kurang menikmati kegiatran berbelanja sehingga sering terburuburu mengambil keputusan membeli. untuk memenuhi kebutuhan pokoknya 400 ribu. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Sisa 100 ribu ia belanjakan sepasang sepatu karena sepatu yang dimilikinya untuk bekerja sudah rusak. 3. Namun konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. dan 300 ribu digunakan untuk membeli barang yang tidak dia butuhkan. mall sudah menjadi rumah kedua. sering tertipu karena tidak sabaran dalam memilih barang 1. Perbedaan tersebut adalah: Pria: Wanita: 1. muncullah perilaku yang konsumtif.Memang belum ada definisi yang memuaskan tentang kata konsumtif ini. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. bukan pada hal teknis dan kegunaannya tidak mudah terbawa arus bujukan penjual menyenangi hal-hal yang romantis daripada obyektif cepat merasakan suasana toko senang melakukan kegiatan berbelanja walau hanya window shopping (melihat-lihat saja tapi tidak membeli). Tapi coba bayangkan seseorang yang memiliki penghasilan 1 juta. 2. seseorang memiliki penghasilan 500 ribu rupiah. Dari sejumlah hasil penelitian. remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan. 5. .

tapi juga dampak psikologis. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana. Pepatah ´lebih besar pasak daripada tiangµ berlaku di sini. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. sosial bahkan etika. mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya. Dalam hal ini. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. (rt) . Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Apa yang dikenakanoleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi. Dalam perkembangannya. Menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya waja pada remaja ini dilakukan secara r berlebihan.Apakah Konsumtif Berbahaya? Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->