P. 1
teratologi

teratologi

|Views: 665|Likes:
Published by Timothy Laning

More info:

Published by: Timothy Laning on Apr 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Sinar X sebagai radiasi pengion telah diketahui mempunyai efek teratogenik terhadap mahluk hidup. Masa janin intrauterine dimana terdapat sel-sel dalam stadium transformasi dari sel embrional menjadi sel dewasa; merupakan saat yang paling sensitive. Efek terhadap radiasi adalah kerusakan dan kematian sel, sehinnga apabila tidak terjadi perbaikan, mengakibatkan gangguan pertumbuhan(malformasi) ditempat sel yang mati. Malformasi dapat mengenai organ, jaringan dan susunan saraf dan menggangu fungsi optimal organ. Bentuk kelainan yang mungkin terjadi terutama tergantung pada umur janin pada saat menerima reaksi pengion, sedangkan intensitas radiasi pengaruhnya lebih kecil. Dengan teratogenik dimaksud kemampuan membuat deformitas atau cacat pada janin. Disamping itu sinar X dapat juga karsinogenik, memungkinkan terjadinya neoplasma pada suatu waktu. Efek genetic tidak mudah terlihat jika dibandingkan dengan deformotas fisis, bahkan mungkin terlihat pada generasi berikutnya. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana pengaruh teratogenik sinar-X pada tahap organogenesis? 1.3 Tujuan Untuk mengetahui pengaruh teratogenik sinar-X pada tahap organogenesis 1.4 Manfaat Menjadi kasanah ilmu pengetahuan pada umumnya dan memperluas pandangan masyarakat tentang pengaruh teratogenik sinar X pada tahap organogenesis khususnya.

radiasi akan mengakibatkan kematian pada prenatal yang tinggi dan jumlah anak yang dilahirkan menurun. Fetus: waktu dimulai pada kehamilan lebih dari 14 hari pada tikus atau lebih dari 6 minggu pada manusia Dalam masa preimplantasi. Pada manusia jangka waktu tersebut berada sekitar hari ke-25 sampai 37 (Hall. Abnormalitas jarang terjadi. dimulai har ke-6 sampai 13 pada tikus atau hari ke-10 sampai 41 pasca konsepsi pada manusia. dapat dapat menyebabkan timbulnya kelainan kongenital. bahkan juga bersifat letal. kematian prenatal jauh lebih sedikit.BAB II PEMBAHASAN Pertumbuhan embrio dan fetus mamalia secara garis besar melalui studium yang sama. 1973). Preimplantasi: dari fertilisasi sampai embrio bernidasi pada . Stadium organogenesis merupakan tahap yang sangat penting dalam pertumbuhan janin. Kematian neonatos kemungkinan disebabkan adanya beberapa keadaaan abnormal yang hebat pada fetus. tetapi terjadinya anomali kongenital lebih banyak. sehingga ia tidak mampu untuk berkembang lebih jauh. Pada tikus. Selama stadium organogenesis kebanyakan sel embrional dalam bentuk ”blast” atau stadium differensiasi dan sel-sel tersebut sangat sensitif. Kematian neonatus akibat radiasi selama organogenesis mencapai 70% pada tikus yang menerima dosis 200R pada hari ke-10 pascakonsepsi. Hall (1973)menyimpulkan dari Russel & Russel bahwa pertumbuhan intrauterin dibagi 3 stadium: a. Organogenesis: waktu terjadinya pmbentukan organ-organ utama. dinding uterus b. Radiasi pengion dosis sedang berpengaruh buruk terhadap perkembangan embriodan fetus. hanya jangka waktu setiap stadium berbeda. bila saat itu janin terkena sejumlah dosis tertentu. bila ditinjau dari sudut teratogenesis. kecuali kataraktogenis. hari ke-9 dan 12 merupakan waktu akan terjadi abnormalitas kongenital yang hebat. c. Radiasi mengenai janin saat ini.

Menurut Mole (1979) catatan di United Kingdom sekitar 25% dari lahir dan mati dan dari seluruh kematian minggu pertama postpartum disebabkan kelainan kongenital. Dosis radiasi yang mereka terima termasuk dalam batas radioterapi. hanya neuroblast yang paling sensitif. Mekanisme kerusakan tersebut menurut Merz (1976) adalah perubahan-perubahan pada gena. Neuron matur Dari empat jenis sel tadi. Berdasarkan data tersebut disimpulkan: . Neuroblast 3. Neuroepitelium germinal primitif atau neuroektoderm 2. Pada stadium fetus. Malformasi karena radiasi disebabkan kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki lagi. Neuruloblast adalah kelompok sel yang paling sensitif terhadap radiasi pengion pada sejumlah spesies termasuk manusia. Setiap organ yang sedang tumbuh. Neurektoderm menetap pada bagian kehidupan embrio. Radiasi pada embrio dan fetus tikus dalam tahap pertumbuhan tertentu menimbulkan akibat yang hampir sama pada janin manusia dalam tahap pertumbuhan yang sama. Kerusakan neuroblast menimbulkan nekrosis yang cepat dan beberapa jam kemudian telah difagositose. hanya 26 kasus yang memenuhi syarat untuk diteliti. 1953) Hicks juga menyebutkan bahwa perkembangan sel saraf melalui 4 tingkatan: 1. perubahan-perubahan kariotipik dan mungkin terjadi karena penempatan virus. terutama tikus dan mamalia lain. perubahan-perubahan pada kromosom. Dari 200 kasus yang tercatat dalam litelatur. Neuron immature 4. tetapi juga terhadap bahan-bahan tertentu (Hicks. Destruksi neuroblast menghentikan pertumbuhan bagian susunan saraf ditempat kerusakan.Efek sinar pada janin manusia berdasarkan data binatang pecobaan. yaitu pada proses sedang terbentuknya organ. radiasi pengion yang mengenai fetus lebih banyak menyebabkan ganguan fungsi organ daripada terjadinya kelainan kongenital. diketahui ada ”masa kritis”nya . Sensitivitas tersebut tidak hanya terhadap radiasi. neuroblas melanjutkan differensiasi sampai kedalam kehidupan neonatus. Dekaban (1968) telah melakukan pengamatan terhadap wanita hamil yang mendapat radiasi di daerah pelvis.

Pada beberapa anak masih ditemukan eriterna kulit. mikrosefali dan reterdasi mental. 4. jaring limfatika. Menurut Hobbs (1950) faktor-faktor barikut dapat menyebabkan kerusakan pada fetus manusia : a. tanpa menimbulkan rintangan pada awal kehidupan. . 5. Banyak hipotesa yang masih perlu dibuktikan kebenarannya tenteng mekanisme kematian fetus intrauterin. reterdasi mental dan mikrosefali ringan. pigmentasi kulit. Malformasi pada bayi yang dilahirkan. 2. Radiasi antara 16-20 minggu jumlah dosis yang sama menimbulkan gangguan pertumbuhan. Bertambahnya frekuensi malignitas pada anak-anak. Dosis tinggi sedang radiasi pengion (lebih dari 250) pada janin sebelum kehamilan 2-3 minggu tidak mengakibatkan abnormalitas berat pada anak yang dilahirkan. Dapat diperkirakan sebagian embrio mengalami resorpsi atau abortus. Bahaya lebih besar pada embrio di minggu-minggu pertama. Radiasi dosis serupa pada kehamilan 11-16 minggu berakbat tidak terbentuknya mata mikroftalmia. Malformasi otak paling sering dan paling penting pada manusia. Radiasi pada kehamilan di atas 2 minggu tidak menyebabkan abnormalitas yang nyata. 2. Dosis letal makin tinggi pada kehamilan selanjutnya. Menurut Mole (1979) efek radiasi pada 4 bulan pertama kehamilan adalah : 1. Akibat langsung terhadap organ-organ pembentuk darah (blood forming organs). Kemungkinan terjadinya keganasan pada anak yang mendapat radiasi pada trimester pertama adalah 1 dalam 1000per rad. 3. Radiasi dosis terapeutik terhadap janin usia 4-11 minggu menyebabkan abnormalitas berat (terutama terjadi malformasi) di banyak organ pada sebagian besar atau sebagian anak yang dilahirkan. Angka ini 5 kali lebih tinggi daripada trimester 2 dan 3. abnormalitas skeletal dan organ genital. 3. Kematian embrio yang sedang tumbuh dalam waktu setelah radiasi. sistem endrokinon dan sistem saraf pusat fetus.1. Sensivitas berhubungan dengan organogénesis tertentu. Tetapi juga sering ditemukan ganguan pertumbuhan. difisiensi sistem hemopoietika dan epilasi.

Hicks (1958) melakukan percobaan pada tikus. : terjadi anensefali. Akibat tidak langsung terhadap miometrium dan endometrium. Hasil penelitian Hicks terhadap terjadinya malformasi susunan saraf pusat disusun berdasarkan jadwal sebagai berikut : 0-8 hari kehamilan 9 hari kehamilan 10 hari kehamilan : tidak terdapat abnormalitas. yang ibunya mendapat radiasi dosis besar(salah seorang menerima pada midpelvis 1275 R) pada umur kehamilan 5 bulan. Tikus-tikus dengan umur kehamilan bertingkat diberi radiasi diberikan radiasi antara 100-400 R. defek kraniocerebral. hipokampus dan serebeller. Kerusakan serrebelum meningkat bila radiasi diberikan mendekati akhir kehamilan. Anak lain belum diketahui status mentalnya itu. kepala deformitas hebat. Gangguan perkembangan merupakan efek langsung radiasi terhadap janin.b. d. Akibat tidak langsung terhadap ovarium ibu. c. 17-18 hari kehamilan : melformasi striantum. dan tidak ditemukan kelainan kecerdasan. 11-12 hari kehamilan : hidrosefalus. Efek radiasi terhadap pertumbuhan skeletal terletak pada stdium blastema skeletal prokartilaginos dan kartilago embrional yang lebih berdeferensiasi. . Kenyataan membuktikan bahwa dosis radiasi yag diberikan secara fraksi mengakibatkan lebih banyak organ yang mengalami abnormalitas. penyempitan aqueduktus. khusus ditekan pada efek radiasi terhadap susunan saraf. Seperti diketahui susunan saraf paling sering mengalami akibat radiasi pada janin intrauterin. Tidak pula ditemukan kerusakan pada plasenta. 15-16 hari kehamilan : defek korteks dan kallosum. : ensefaloken. defek berat otak depan. Akibat tidak langsung pada fetus oleh likotoksin karena radiasi. Salah seorang anak telah merayakan hari ulang tahun ke 4. walaupun mendapat dosis 400 R. Lahirnya anak-anak normal setelah mendapat dosis 300400 R pada minggu pertama kehamilan karena waktu itu embrio sedang radioresisten. 13-14 hari kehamilan : porensefali. Hobbs juga melaporkan 2 kasus yang yang dilahirkan cacat fisik.

radiasi menyebabkan kerusakan dan kematian spermatogonia. radiasi akan mengurangi jumlah ovulasi. akibat yang ditimbulkan tergantung dari umur kehamilan. Radiasi sinar X pada janin intrauterin. tapi masih mungkin dilahirkan anak-anak normal dari hasil fertilisasi. . Pada ovarium. sinar X juga mempunyai efek yang merugikan pada mahluk hidup. Disamping manfaat yang tidak kecil. sedangkan intensitas cahaya juga berpengaruh. Produksi horman seksual tidak dihentikan sama sekali. Terjadinya kelainan kongenital setelah radiasi prekonsepsi pada binatang percobaan dapat juga terjadi kematian janin.1 Kesimpulan. Spermatid dan spermatozoa relatif lebih resisten.BAB III PENUTUP 3. Terhadap testis.

Berkala Ilmu Kedokteran. Jogyakarta . Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Arif. 1981.Daftar Pustaka Faisal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->