P. 1
Kromium

Kromium

|Views: 833|Likes:
Published by Hasyim Abdul Jabbar

More info:

Published by: Hasyim Abdul Jabbar on Apr 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2013

pdf

text

original

Defisiensi Kromium

Defiensi krom diaplikasikan dalam beberapa bentuk diabetes telah ditunjukkan dalam studi-studi kasus alimentasi parental. Penurunan kandungan krom jaringan dengan umur dapat mencerminkan sekurang-kurangnya untuk sebagian, adanya defisiensi krom di dalam makanan di Amerika Serikat dan di masyarakat lain yang teknologinya sudah maju. (Schoeder et al) Mengkorelasikan nilai-nilai kandungan krom jaringan dengan nilai dugaan konsumsi krom dalam makanan berbagai populasi dan menemukan konsumsi krom dalam makanan di Amerika Serikat berkisar antara 5 sampai 150 per hari dengann rata-rata 60 , jauh lebih rendah daripada konsumsi-konsumsi yang dilaporkan dari berbagai wilayah di seluruh dunia. Kandungan krom yang lebih rendah diduga terjadi akibat pengolahan dan pemurnian pangan, dengan kehilangan krom diperkirakan sampai 80 persen untuk jenis bahan pangan, karena ada kecenderungan orang lebih menyukai serealia, biji-bijian, lemak dan gula yang telah dimurnikan dan diolah lebih lanjut, dan mengingat bahwa dalam bentuknya yang dimurnikan bahan-bahan itu adalah sumber krom. Amerika Serikat agaknya terdapat konsumsi krom yang sangat marginal. Penelitian-penelitian tentang suplementasi Cr3+ pada subjek manula memberikan dugaan adanya defisiensi krom dalam kelompok indian memperkuat proporsi bahwa konsumsi krom dalam makanan Amerika Serikat mungkin tidak cukup untuk memelihara kandungan krom jaringan sepanjang hayat. Ketidakcukupan konsumsi krom dapat bertanggung jawab sekurang-kurangnya atas beberapa kasus peningkatan ketidaktoleran glukosa dengan meningkatnya usia. Masalah analitik dan intrumental menghambat suatu usaha pembuktian adanya hubungan langsung seperti itu pada manusia. Di dalam tubuh manusia dewasa pada umumnya mengandung 0,4 mg hingga 6 mg Chromium, dengan kadar yang lebih rendah umumnya dimiliki oleh individu yang berusia lanjut. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa perean trace element chromium penting bagi tubuh karena chromium sangat membantu melindungi tubuh terhadap resiko diabetes. Namun, elemen chromium ini sukar diserap usus dan dibuang lewat usus dan ginjal. Semakin bertambah usia, semakin buruk pula penyerapan chromium oleh usus. Selain itu, pada kenyataannya, mereka yang berusia lanjut ternyata berisiko kekurangan chromium di dalam tubuh, seperti tercantum pada The British Journal of Nutrition. Hal ini disebabkan karena mereka yang berusia lanjut lebih banyak mengalami kehilangan chromium melalui urine. Kehilangan chromium ini sendiri berhubungan dengan meningkatnya pengeluaran chromium seiring dengan bertambahnya usia dan asupan chromium pada mereka yang berusia lanjut juga diketahui lebih rendah. Padahal, kekurangan chromium dapat mengganggu metabolisme glukosa, metabolisme lemak, dan kerja hormon insulin seperti tercantum pada jurnal Metabolism: Clinical and Experimental. Akibatnya, tingkat risiko penyakit diabetes dan penyakit jantung pun meningkat.

Dalam beberapa studi kesehatan berdasarkan variasi geografis (tempat tinggal), ditemukan adanya hubungan yang kuat antara asupan gizi Chromium dengan penyakit diabetes dan jantung. Di tempat yang masyarakatnya mengkonsumsi cukup Chromium, jumlah penderita diabetes dan jantung jauh lebih sedikit daripada tempat yang masyarakatnya tidak mengkonsumsikan cukup Chromium. Kebutuhan nutrien yang tergolong essential trace mineral (mineral penting yang dibutuhkan dalam jumlah kecil) ini sangat sedikit hingga sering tak diperhitungkan padahal zat ini sangat diperlukan bagi hampir semua jaringan tubuh manusia, termasuk kulit, otak, otot, limpa, ginjal dan testis. Kromium berasal dari bebatuan dalam perut bumi dan hanya tumbuh-tumbuhan yang bisa langsung menyerap mineral dari tanah. Kandungan kromimum dalam tanaman bergantung pada jenis tanaman, kandungan kromium tanah dan musim. Cukup konsumsi ³makanan hidup´ seperti buah-buahan segar dan sayuran dan makanan alami lainnya setiap hari dapat menghindari resiko kekurangan kromium. Tetapi karena banyaknya penggunaan zat-zat kimia dan pengoalahan yang berlebihan menyebabkan jumlah kromium berkurang. Kekurangan kromium dapat menyebabkan kelelahan, kegelisahan, diabetes, gangguan metabolisme asam amino dan meningkatkan resiko aterosklerosis. Salah satu faktor yang ³disalahkan´ adalah pola diet tinggi karbohidrat yang diolah (refined) seperti kue, es krim, sirop kaya sukrosa, karena makanan sejenis itu selain miskin krom, juga menguras kandungan krom tubuh. Dari berbagai penelitian di banyak negara pada dekade terakhir, asupan dietetik krom jauh di bawah anjuran (Mervyn L,1980). Sehingga penyakit defisiensi krom sering terjadi. Patogenesis defisiensi krom Pada pasien defisiensi krom, lebih dari 90% asupan krom di bawah dosis yang dianjurkan (Anderson RA, Kozlovsky AS, 1985). Pada karbohidrat yang diolah (refined), elemen nutriennya telah banyak hilang sehingga dapat menguras krom tubuh (WHO,1973)Lazimnya dibutuhkan bertahun-tahun sebelum muncul tanda kekurangan kromium (Richard A).

Menurut penelitian, kromium dibutuhkan untuk pengobatan penderita diabetes. Sebab:
y Kadar kromium menjadi faktor penentu utama dalam sensitivitas insulin, sebagai pengatur transportasi gula di dalam tubuh.Kromium berperan untuk mengendalikan metabolisme insulin dalam tubuh, sehingga disebut faktor pengendali kadar gula darah (glucose tolerance factor / GTF). y Kromium terlibat dalam pengaturan gula darah, baik ketika kekurangan maupun kelebihan gula di dalam tubuh. Percobaan pada hewan menunjukan bahwa kekurangan krom dapat menyebabkan gangguan toleransi terhadap glukosa, walaupun konsentrasi insulin normal. Dalam keadaan berat defisiensi krom dapat menunjukkan sindroma mirip diabetes.

y Insulin bertindak seperti usher, berfungsi membuka pintu agar glukosa dapat masuk ke dalam sel. Dan sel membutuhkan glukosa untuk memproduksi energi. Namun, pada penderita diabetes proses metabolismenya kolaps, gula darah banyak terdapat di dalam darah. Karena terlalu tingginya sehingga glukosa berlebihan dan dilepaskan melalui urine. Gula yang banyak terdapat di dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga sel meminta gula. Hormon insulin yang bisa membukakan pintu agar gula dapat masuk tidak bekerja sebagaimana seharusnya. y Krom bekerja sama dengan pelepasan dalam memudahkan masuknya glukosa ke dalam sel-sel, dengan demikian dalam pelepasan energi. Krom diduga merupakan bagian dari ikatan organik faktor toleransi terhadap glukosa (glucose tolerance factor) bersama asam nikotinat dan glutation. y Konsentrasi krom di dalam jaringan tubuh menurun dengan umur, kecuali pada jaringan paru-paru yang justru meningkat. Dengan adanya kromium ini pemanfaatan insulin tubuh lebih efisien dan keseimbangan kadar gula darah terjaga. Kromium juga membantu proses pencernaan protein dan lemak. y Penelitian membuktikan bahwa kromium dapat menurunkan kadar trigliserid dan kelebihan total kolesterol darah, sekaligus memperbaiki rasio LDL (kolesterol µjahat¶) dan HDL (kolesterol µbaik¶). y Penyerapan kromium oleh tubuh cenderung lamban, tetapi keluarnya dari tubuh malah sebaliknya, sangat mudah. Karena itu resiko kelebihan atau keracunan jarang terjadi.walaupun belum ada angka resmi kecukupan kromium, tetapi kemampuan tubuh menyerap kromium hanya 2 % sehingga sedikitnya diperlukan 100-200 mcg kromium per hari dari makanan.

Kromium dalam Metabolisme Tubuh Kromium termasuk logam mineral yang jumlahnya sedikit, baik dalam makanan maupun pada tubuh manusia, tetapi sangat penting bagi kesehatan. Nutrien ini tergolong essential trace mineral ( mineral penting yang dibutuhkan dalam jumlah kecil ) karena tidak dapat diproduksi oleh tubuh sehingga harus dipasok dari makanan sehari-hari. Semakin sedikit kebutuhannya, keberadaan mineral ini sering tak diperhitungkan oleh para ahli gizi. Kromium diperlukan oleh hampir semua jaringan tubuh manusia, termasuk kulit, otak, otot, limpa, ginjal dan testis.Di dalam tubuh, kromium berfungsi membantu proses metabolisme karbohidrat, lemak dan protein.

Fungsi Kromium secara umum dalam tubuh adalah : a. Menjaga keseimbangan kadar gula darah dan meningkatkan efisiensi kerja insulin. b. Chromium sering disebut sebagai ³Glucose Tolerance Factor´ (faktor pengendali kadar gula darah) dibutuhkan pada proses pengolahan glukosa menjadi energi. c. Membantu menurunkan berat badan dengan cara membakar lemak menjadi energi. d. Menurunkan kolesterol dan trigliserid sehingga dapat menjaga kesehatan jantung. e. Meningkatkan massa otot sehingga dapat membentuk otot yang ideal. f. Membantu sintesa kolesterol, lemak dan protein serta meningkatkan jaringan otot. Kromium dapat menurunkan kolesterol dengan menurunkan kadar trigliserid dan kelebihan total kolesterol darah, sekaligus memperbaiki rasio LDL (kolesterol jahat) dan HDL (kolesterol baik). Selain itu, kromium termasuk salah satu mineral yang berperan mengendalikan metabolisme insulin dalam tubuh sehingga dianggap sebagai faktor pengendali kadar gula darah ( glucose tolerance factor / GTF ). Krom bekerja sama dengan insulin dalam memudahkan masuknya glukosa ke dalam sel-sel, dengan demikian pelepasan energi dapat berlangsung. Krom diduga merupakan bagian dari ikatan organik faktor toleransi terhadap glukosa (glucose tolerance factor) bersama asam nikotinat dan glutation. Dengan kecukupan kromium dalam tubuh akan lebih efisien memanfaatkan insulin dan keseimbangan kadar gula darah dapat terjaga. Kromium juga dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, bahkan membantu menurunkan berat badan. Pencernaan dan Penyerapan: Krom dalam bentuk Cr+++ diabsorbsi sebanyak 10% hingga 25%. Bentuk lain krom hanya diabsorbsi sebanyak 1%. Mekanisme absorbsi belum diketahui dengan pasti. Absorbsi dibantu oleh asam-asam amino yang mencegah krom mengendap dalam media alkali usus halus. Jumlah yang diabsorbsi tetap hingga konsumsi sebanyak 49 ug, setelah itu ekskresi melalui urin meningkat. Ekskresi melalui urin meningkat akibat oleh konsumsi gula sederhana yang tinggi, aktivitas fisik berat atau trauma fisik

Penyerapan kromium oleh tubuh cenderung lamban, tetapi keluarnya dari tubuh malah sebaliknya, sangat mudah. Karena itu resiko kelebihan atau keracunan jarang

terjadi.walaupun belum ada angka resmi kecukupan kromium, tetapi kemampuan tubuh menyerap kromium hanya 2 % sehingga sedikitnya diperlukan 100-200 mcg kromium per hari dari makanan. Metabolisme: Seperti halnya besi, krom diangkut oleh transferin yang terdapat pada mitokondria hati, mikrosom, dan sinositol. Bila tingkat kejenuhan transferin tinggi, krom dapat diangkut oleh albumin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->