Mata Kuliah Ekologi Pangan dan Gizi

Jum’at, 26 Maret 2011

EKOSISTEM AKUATIK (RAWA) SEBAGAI SUMBER DAYA PANGAN IKAN PROTEIN HEWANI

Kelompok 10: Irani Rachmawati Anna Febritta Intan Sari Maharani Julfrina Rahma I14104012 I14104023 I14104035

Asisten Praktikum: A’immatul Fauziyah Yulia Puspita Penanggung Jawab Praktikum: Dr. Ir. Yayuk F.Baliwati, MS

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Ekosistem merupakan tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas. rawa berperan sebagai sumber cadangan air. sumber energi. Rawa memiliki berbagai macam peran dan manfaat. Status ketahanan pangan juga sering dipakai sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. siklus oksigen. dan produktivitas lingkungan hidup. dan siklus sulfur (Irwan 1997). atau merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi antar hubungan. Untuk pemenuhan ketahanan pangan tersebut dapat dilakukan dengan membangun suatu kawasan yang bertujuan menciptakan atau meningkatkan daya guna kawasan tersebut secara berkelanjutan. siklus nitrogen. contohnya dengan mengembangkan rawa lebak dan rawa pening untuk usaha perikanan budidaya dan tangkap (Muthmainah 2009). menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering. Zat-zat anorganik dalam suatu ekosistem tetap konstan atau seimbang karena unsur-unsur kimia esensial pembentuk protoplasma beredar dalam biosfer melalui siklus biogeokimiawi. No 23 Tahun 1997) ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan. Sebaiknya dengan mempertahankan fungsi ekologis kawasan tersebut dalam 2011 . Rawa adalah perairan yang cukup luas terdapat di dataran rendah dengan sumber air berasal dari air hujan atau air laut dan berhubungan atau tidak berhubungan dengan sungai. Jumlah rawa di Indonesia luasnya sekitar 34 juta ha. stabilitas. terdapat vegetasi baik yang mengapung atau mencuat maupun tenggelam. Menurut Undang-undang Lingkungan Hidup (UULH. siklus fosfor. relatif tidak dalam. dari jumlah tersebut yang berpotensi sebesar 60 persen. dan sumber makanan nabati maupun hewani (Susanto 2000). mempunyai dasar lumpur atau tumbuhan membusuk. mencegah terjadinya banjir. Contoh siklus biogeokimiawi adalah siklus carbon. Pemahaman dalam mengelola rawa sangatlah penting.PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah ketahanan pangan telah dijadikan agenda penting dalam pembangunan ekonomi bangsa. Ditinjau dari aspek ekologi. Menciptakan dayaguna dapat dilakukan pada kawasan alami.

penggunaannya untuk keperluan kehidupan seperti pemukiman. b. perikanan dan lain-lain. . Saat ini perikanan Indonesia dalam waktu yang relatif singkat telah mampu memberikan sumbangan yang substansial dalam pembangunan perekonomian. dan pengawasan yang ketat dari pihak pemerintah dapat ditentukan mana kawasan rawa yang dapat dikelola dan yang harus dipertahankan fungsi ekologisnya. Menjelaskan fungsi ekologi ekosistem rawa. Menjelaskan tentang ciri-ciri ekosistem air tawar. c. d. Menjelaskan tentang komponen dari ekosistem rawa. pertanian. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : a. perikanan mempunyai peranan dan posisi vital dalam pemenuhan kebutuhan gizi protein. kesempatan kerja. Menjelaskan potensi pangan yang terdapat pada ekosistem rawa. Secara keseluruhan. Pengelolaan yang bijaksana dengan melakukan penataan ruang. penerimaan devisa dan pengembangan wilayah (Baharsyah 1990). yaitu rawa.

Rawa lebak di Sumatera Selatan yang dibudidayakan untuk pengembangan pertanian. Rawa pening merupakan salah satu rawa yang ada di wilayah Kabupaten Semarang dengan luas genangan kurang lebih 2020 ha. terdiri dari lebak pematang. . lebak dalam dan lebak lebung. Rawapening terletak pada ketinggian kurang lebih 463 meter dpl. lebak tengahan. maka rawa cenderung untuk ditumbuhi vegetasi berkayu. Ekosistem yang ada di rawa condong ke arah ekosistem yang subur. dan berada di antara wilayah Kecamatan Banyubiru. Tinggi genangan rata-rata kurang dari 50 cm. dan memiliki tumbuhan tumbuhan tingkat tinggi (dikotil dan monokotil). tumbuhan tingkat rendah (alga. serta memiliki ikan air tawar yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan protein hewani (Irwan 1997).HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri-ciri Ekosistem Rawa Terhadap Pangan Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi air tawar yang kaya akan mineral dengan pH sekitar 6. Oleh karena itu peranan manusia penting didalam mengendalikan pendangkalan rawa (Arika 2005). ganggang hijau) yang berfungsi sebagai produsen. Lama genangan umumnya kurang dari 1-3 bulan dalam setahun. fluktuasi ketinggian air dapat menjaga stabilitas dan fertilitas air. kondisi permukaan air tidak selalu tetap. Ekosistem rawa ini termasuk ekosistem air tenang (letik) berbeda dengan hutan rawa gambut. Luas rawa lebak yang digunakan untuk perikanan yaitu 92171 ha. Ambarawa. juga untuk kegiatan irigasi. kadar garam rendah. jamur. Bawen dan Tuntang. termasuk perikanan. Ekosistem air tawar berupa rawa memiliki habitat dengan ciri-cirinya adalah variasi temperatur atau suhu rendah. gulma. Lebak pematang yaitu berupa sawah di belakang perkampungan yang merupakan sebagian dari wilayah tanggul sungai dan wilayah dataran rawa belakang. Pemanfaatan Rawa pening selain untuk perikanan. Lebak tengahan adalah sawah yang lebih jauh lagi dari perkampungan yang memiliki genangannya lebih dalam antara 50-100 cm selama 3-6 bulan (Muthmainnah 2009). dipengaruhi iklim dan cuaca di sekitar. penetrasi cahaya yang kurang. wisata dan pembangkit tenaga listrik. Nutrisi yang terlarut dalam air meningkatkan produktivitas. yaitu tidak terdapatnya kandungan gambut yang tebal dan sumber airnya berasal dari air hujan dan air sungai. Bila terjadi pendangkalan.

hewan. Heterotrof adalah komponen yang terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan–bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. yaitu autotrof. heterotrof. Rawa lebak yang airnya sukar mengering kecuali pada musim kemarau panjang dan disebut juga lebak lebung. tanah dan batu. Autotrof merupakan komponen produsen yang terdiri dari organisme yang dapat membuat makanannya sendiri dari bahan organik dengan bantuan energi seperti sinar matahari dan bahan kimia. karena bentuknya mirip suatu cekungan dan kondisi airnya relatif masih tetap dalam walaupun di musim kemarau. Dekomposer atau disebut juga pengurai adalah organisme yang . dan berbagai jenis vegetasi air dari familia Graminae dan berbagai jenis pepohonan besar yang merupakan sumberdaya hayati yang sangat menentukan kehidupan hewan-hewan air (Irwan 1997). belut (Monopterus albus). dan decomposer. Misalnya pada perairan rawa lebak lebung di Sumatera Selatan terdapat ikan nila (Oreochromis niloticus). Komponen abiotik dapat berupa suhu. ikan lele (Clarias spp). jamur dan mikroba.Bagian rawa lebak yang berpotensi di dunia perikanan adalah lebak dalam. Golongan heterotrof adalah manusia. makhluk hidup dalam ekosistem air tawar ini dibedakan menjadi tiga macam. Pada ekositem rawa ini yang tergolong autotrof adalah tumbuhan berklorofil seperti gulma dan eceng gondok. Berdasarkan. Komponen biotik atau disebut dengan komponen hidup adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). garam. Hal ini sesuai untuk budidaya perikanan air tawar. air. Sedangkan lebak dangkal dan lebak tengahan hanya sesuai untuk pertanian tanaman pangan. Tinggi air genangan umumnya lebih dari 100 cm selama 3-6 bulan atau lebih dari 6 bulan (Muthmainnah 2009). cahaya matahari. gabus (Channa striata). Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang berupa medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan atau lingkungan tempat hidup. Komponen Ekosistem Rawa Komponen pembentuk ekosistem rawa ini terdiri dari abiotik dan biotik. sepat siam (Trichogaster pectoralis). betok (Anabas testudineus). serta iklim. Biasanya dijadikan tempat memelihara ikan yang tertangkap. peran dan fungsinya. Autotrof berperan sebagai produsen.

kandungan hara dan faktor biologi yang berpengaruh adalah komposisi biotik jenis hewan dalam perairan diantaranya adalah produsen yang merupakan sumber makanan bagi hewan bentos dan hewan predator yang akan mempengaruhi kelimpahan bentos penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos ditentukan oleh sifat fisika. Komponen heterotrof yang mati diuraikan oleh dekomposer yang ada di air tawar berupa cacing dengan bantuan sinar matahari membentuk komponen baru autotrof berupa gulma. kekeruhan atau kecerahan dan suhu air. dan bentos (Arika 2005) Pada ekosistem ini. Pakan Alami dapat mempercepat pertumbuhan ikan nila. seperti pitoplankton dan zooplankton. Dalam rantai makanan ada makhluk hidup yang berperan sebagai konsumen. maka terbentuklah suatu rantai makanan. Selain itu ikan nila adalah jenis ikan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivore). perifiton. warna. Sifat kimia perairan antara lain. bahan organik. Menurut penelitian tentang plankton di Rawa pening menyebutkan bahwa fitoplankton lebih banyak ditemukan di bagian permukan dan tengah . kimia dan biologi perairan (Irwan 1997). Rantai makanan ini dimulai dari gulma atau lumut sebagai peghasil atau produsen yang dapat dimakan oleh komponen heterotrof berupa ikan nila. hewan atau . kedalaman. hal ini karena fitoplankton suka terhadap cahaya untuk proses fotosintesis. kecepatan arus. Pertumbuhan ikan misalnya sangat tergantung pada ketersediaan khususnya pakan alami. Organisme di Rawa pakannya pening misalnya Caridina laevis Heller (Udang air tawar) dan ikan nila. zooplankton. karena mereka memiliki kemampuan untuk bergerak.menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. dan produsen. Pakan alami merupakan pakan hidup bagi larva ikan yang mencakup fitoplankton. Sedangkan zooplankton lebih banyak ditemukan pada semua kedalaman air. kandungan gas terlarut. pH. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahanbahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Keberadaan dekomposer sangat penting dalam ekosistem. Penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos tidak jauh berbeda dengan komponen biotik lainnya yaitu ditentukan oleh sifat fisika. Sifat fisik perairan seperti pasang surut. kimia dan biologi perairan. Golongan pengurai pada ekosistem ini adalah bentos yang berupa cacing darah atau larva chironomid (Susanto 2000). Oleh dekomposer. Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antara makhluk hidup dengan urutan tertentu.

Aktivitas pengurai juga menghasilkan gas karbondioksida yang penting bagi fotosintesis. terjadi pembagian wilayah (zonasi). Gambar 1 Rawa Pening. Berikut ini merupakan gambar Rawa pening dapat dilihat pada Gambar 1.5 persen atau 613 hektar ditumbuhi eceng gondok dan gulma lainnya. Fungsi Ekologi Ekosistem Rawa Pengelolaan sumber daya di Rawa pening. Akan tetapi. Apabila salah satu komponen didalamnya tidak ada maka akan terjadi ketimpangan dalam urutan makan dan dimakan dalam rantai makanan tersebut (Susanto 2000). Semarang Luas genangan Rawapening sekitar 24. Luasan tutupan eceng gondok ini lebih luas lagi karena kemampuan berkembangnya 2. Penetrasi cahaya ke perairan terhambat dan populasi ikan menjadi menurun karena konsentrasi oksigen menurun.6 kali lipat lebih cepat di perairan bebas. hal ini menyebabkan nelayan semakin sulit mencari ikan karena laju perahu terhambat eceng gondok. pembagian wilayah bertujuan agar semua kegiatan pemanfaatan sumber daya tidak merusak kelestarian dan tidak merugikan karena berbagai kepentingan. yang semula merupakan rawa gambut tetapi dibendung pada tahun 1916 dan setelah diperbesar pada tahun 1930 dibendung sekali lagi (Arika 2005). Akan .tumbuhan yang mati akan diuraikan dan dikembalikan ke tanah menjadi unsur hara (zat anorganik) yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan. Rawa pening merupakan waduk tertua di Indonesia. Proses rantai makanan ini selalu berjalan untuk mempertahankan kehidupan pada ekositem air rawa. siklus dalam rantai makanan dapat berjalan seimbang apabila semua komponen tersedia.

Di dalam talang rawang dan lebak kumpai terdapat lagi tipe habitat yang disebut lebung. . Gulma air secara ekologis berperan sebagi tempat berlindung dari faunafauna dibawahnya dan sebagai penyerap logam berat sehingga ekosistem rawa tersebut dapat mengurangi bahan pencemar (Arika.tetapi sedimentasi akibat gulma air bisa dijadikan pupuk yang diambil dari dasar danau. Sumberdaya hayati dalam ekosistem perairan lebak merupakan sumberdaya terbaru. Perubahan musim hujan dan musim kemarau yang terjadi sepanjang tahun mengakibatkan perairan rawa lebak terdapat beberapa tipe sub habitat penting antara lain talang rawang dan lebak kumpai. Dengan pendauran itu menjadikan proses pemurnian diri lingkungan karena bahan sisa dari suatu proses akan digunakan sebagai bahan baku untuk proses yang lain yang menghasilkan zat yang berguna bagi organism yang bersangkutan. dimana dalam proses pembaruan diri materi mengalami daur ulang.sama seperti fungsi hutan di daerah pegunungan. Fungsi regulator kontuinitas aliran air ini sangat penting bagi makhluk hidup termasuk manusia yang berdiam di hilir rawa (Arika 2005). Dalam proses fotosintesa dihasilkan oksigen untuk pernafasan hewani yang hidup dalam ekosistem tersebut. Rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki berbagai jenis vegetasi air Vegetasi air ini melalui proses fotosintesis merupakan penghasil energi untuk metabolisme dalam kehidupan sehari-hari serta merupakan sumber energi untuk produksi sekunder. Apabila dinamika ini terjaga dengan baik akan selalu menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan dan kelestarian sumberdaya perikanan sepanjang tahun (Gaffar 1998). Lebung merupakan sub habitat penting karena merupakan tempat perlindungan dan penyelamatan ikan-ikan ekonomis penting tertentu pada saat datangnya musim kemarau (Gaffar 1998). Perairan Rawa pening mempunyai fungsi hidrologis sebagai kawasan penyangga untuk menampung air dalam jumlah besar yang berasal dari curahan hujan lebat agar tidak langsung membanjiri daratan rendah di hilir rawa. Dalam hal ini rawa berfungsi untuk mengurangi besarnya fluktuasi aliran air yang mengalir di perairan. 2005). rawa adalah regulator aliran air tetapi daya tampung rawa jauh lebih besar.

isobutilamin. Kandungan zat gizi ikan nila dalam 100 gram menghasilkan energi 113 Kal. Berikut ini merupakan gambar ikan nila dapat dilihat pada Gambar 2. kadaverin sehingga menyebabkan timbulnya bau tidak sedap atau tengik. warna agak putih kehitaman. Ikan nila termasuk kedalam Eurihaline yaitu ikan yang mampu hidup dalam kisaran salinitas yang luas antara 5-45 ppm dan mempunyai alat pernapasan tambahan (abyrinthichi) berfungsi untuk mempertahankan diri untuk hidup didalam air yang kandungan oksigennya rendah. Ikan nila juga mempunyai kelebihan antara lain mudah berkembang biak. lemak 4. Bentuk tubuh ikan nila secara umum adalah memanjang dan pipih kesamping. semakin kebagian ventral atau perut makin terang. terutama berkaitan dengan usaha peningkatan gizi masyarakat dinegara-negara yang sedang berkembang. dan pemakan segala (Omnivora) sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pengendali gulma air (Afliyah 1993). Ikan nila adalah salah satu komoditas perikanan yang sangat popular dimasyarakat. juga budidaya perikanan karena dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan daya jual yang bernilai tinggi. Perairan rawa lebak dimanfaatkan selain untuk bidang pertanian.5 gram dan vitamin A 150 SI. Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memperoleh perhatian cukup besar dari pemerintah dan pemerhati masalah perikanan didunia. Asam lemak tidak jenuh ganda pada ikan nila menyebabkan ikan menjadi sangat mudah mengalami proses oksidasi atau hidrolisis dan enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin. karena harganya murah rasanya enak dan kandungan proteinnya cukup tinggi. protein 17 gram. . Pengelolaan perikanan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembinaan dan melindungi sumberdaya untuk kebutuhan generasi mendatang. mempunyai tingkat toleransi terhadap lingkungan sangat tinggi sehingga tahan terhadap perubahan lingkungan dan serangan penyakit. Jenis ikan yang dapat dibudidayakan pada ekosistem ini adalah ikan nila (Gaffar 1998).Perikanan sebagai Sumber Daya Pangan Perikanan perairan rawa lebak sebagai suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam yang bersifat terbuka dapat dimanfaatkan oleh masyarakat baik sebagai produsen mapun sebagai konsumen sebagai sumber pangan protein hewani.

Daya dukung ekosistem rawa lebak di Sumatera Selatan tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki daya dukung ekosistem sebesar 193 persen. Kandungan energi dan protein ikan nila dalam ekosistem rawa lebak di Sumatera Selatan sebagai sumber daya pangan dapat dilihat pada Tabel 1. sehingga hasil produksi sehari diperoleh 192000 kg atau 549 ekor ikan nila. Ini menunjukkan bahwa ekosistem rawa tersebut memiliki potensi pangan bagi masyarakat sekitar rawa lebak bagi sumber daya pangan protein hewani. kandungan energi per kapita per hari adalah 475 kalori dan kandungan protein per kapita per hari adalah 71 gram. Jumlah masyarakat sekitar rawa lebak di Sumatera Selatan adalah 365.333 0.Gambar 2 Ikan Nila Betina Menurut Badan Pusat Statistika Sumatera Selatan (2008).333 orang. .80 113 17 475 71 Nila Berdasarkan hasil tabel 1. Hasil produksi ikan nila yang dihasilkan setiap 3 bulan sekali dengan berat berkisar 23043 ton (@350 gram) yaitu jumlah panen dibagi jumlah waktu panen dan dikalikan 30 per hari. Tabel 1 Kandungan Energi dan Protein Ikan Nila Per Kapita Per Hari Energi & Energi Kap/ Hari Produksi Jumlah BDD Protein /100g Pangan sehari orang % E P (g) (Kg) E (Kal) P (g) (Kal) Ikan 192000 365. Berdasarkan hasil perhitungan.

Komponen abiotik dapat berupa suhu. eceng gondok. lemak 4. kandungan energi per kapita per hari adalah 475 kalori dan kandungan protein per kapita per hari adalah 71 gram. Perubahan musim di Rawa Lebak menyebabkan ada bagian tipe habitat yaitu lebung yang digunakan sebagai tempat perlindungan ikan. Ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam ekosistem rawa lebak digunakan sebagai sumber pangan dalam ekosistem rawa yaitu dalam 100 gram menghasilkan energi 113 Kal.5 gram dan vitamin A 150 SI. . kadar garam rendah. dipengaruhi iklim dan cuaca di sekitar. protein 17 gram. mikroorganisme pengurai. Peningkatan jumlah gulma seperti eceng gondok di rawa pening menyebabkan penurunan jumlah ikan air tawar. serta memiliki ikan air tawar yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan protein hewani. tanah dan batu. sehingga sangat penting bagi makhluk hidup termasuk manusia yang berdiam di hilir rawa. Gulma air secara ekologis berperan mengurangi bahan pencemar.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Ekosistem rawa memiliki ciri-ciri antara lain suhu rendah. Saran Jumlah eceng gondok yang meningkat di ekosistem rawa pening yang menggangu keseimbangan ekosistem sehingga perlu adanya penanganan seperti konservasi rawa atau memberi kontrol biologis seperti memberi ikan grass capr yang memakan eceng gondok. penetrasi cahaya yang kurang. serta iklim. cahaya matahari. Setiap komponen tersebut membentuk suatu rantai makanan. garam. udang dan ikan nila. Komponen biotik seperti gulma. Rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki potensi pangan bagi masyarakat sekitar rawa lebak karena daya dukung ekosistemnya sebesar 193 persen. dan memiliki tumbuhan seperti jamur. Komponen pembentuk ekosistem rawa terdiri dari abiotik dan biotik. air. Akan tetapi. gulma. Rawa pening dan lebak tergolong ekosistem air tenang (letik) dan sumber airnya berasal dari air hujan dan air sungai. alga yang berfungsi sebagai produsen. Fungsi regulator untuk kontuinitas aliran air. Rawa pening sebagai kawasan penyangga untuk menampung air dalam jumlah besar yang berasal dari curahan hujan lebat dan sebagai regulator aliran air tetapi daya tampung rawa jauh lebih besar.

Pengelolaan Perikanan Perairan Umum. [27 Maret 2011]. Sumatera Selatan dalam Angka 2008. Jakarta: Bumi Aksara. Irwan D. Pidato Pengarahan Menteri Muda Pertanian dalam Forum I Perikanan. Palembang.html. Badan Litbang PertanianPuslitbangkan-USAID/FRDP. Gaffar AK. Rawapening dan Berubahnya Ekosistem. 1997. 2009. Makalah disampaikan pada Seminar Sehari Pengelolaan Lebak Lebung Berbasis Komunitas. Y. 2000.com/2009/12/pendekatan-holistik-dalam-pencegahan. BPS Sumatera Selatan. Com/kompas-cetak/0505/27/tanah air/1767459. Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Selatan. Pengantar Ekologi Hewan. Http://dinamuthmainah. 1993. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem & Komunitas Lingkungan. 1990. Kompas. blogspot. http://www.html. Sukabumi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. BPS Provinsi Sumatera Selatan. Palembang. 10 hal. 2008. Laporan Tahunan Perikanan Tahun 1992. 19-20 Juli 1990. Pendekatan Holistik dalam Pencegahan dan Pengendalian Pencemaran Pada Perikanan Rawa Lebak. . Muthmainah D. Susanto P. 2005.DAFTAR PUSTAKA Afliyah S. 1998. Arika. [27 Maret 2011] Baharsyah S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful