Mata Kuliah Ekologi Pangan dan Gizi

Jum’at, 26 Maret 2011

EKOSISTEM AKUATIK (RAWA) SEBAGAI SUMBER DAYA PANGAN IKAN PROTEIN HEWANI

Kelompok 10: Irani Rachmawati Anna Febritta Intan Sari Maharani Julfrina Rahma I14104012 I14104023 I14104035

Asisten Praktikum: A’immatul Fauziyah Yulia Puspita Penanggung Jawab Praktikum: Dr. Ir. Yayuk F.Baliwati, MS

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Rawa memiliki berbagai macam peran dan manfaat. Ekosistem merupakan tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas. Menciptakan dayaguna dapat dilakukan pada kawasan alami. Zat-zat anorganik dalam suatu ekosistem tetap konstan atau seimbang karena unsur-unsur kimia esensial pembentuk protoplasma beredar dalam biosfer melalui siklus biogeokimiawi. contohnya dengan mengembangkan rawa lebak dan rawa pening untuk usaha perikanan budidaya dan tangkap (Muthmainah 2009). dan siklus sulfur (Irwan 1997). siklus nitrogen. dan produktivitas lingkungan hidup. Pemahaman dalam mengelola rawa sangatlah penting. sumber energi. mencegah terjadinya banjir. atau merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi antar hubungan. Contoh siklus biogeokimiawi adalah siklus carbon. Untuk pemenuhan ketahanan pangan tersebut dapat dilakukan dengan membangun suatu kawasan yang bertujuan menciptakan atau meningkatkan daya guna kawasan tersebut secara berkelanjutan. relatif tidak dalam. siklus fosfor. Sebaiknya dengan mempertahankan fungsi ekologis kawasan tersebut dalam 2011 . dari jumlah tersebut yang berpotensi sebesar 60 persen. Status ketahanan pangan juga sering dipakai sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Rawa adalah perairan yang cukup luas terdapat di dataran rendah dengan sumber air berasal dari air hujan atau air laut dan berhubungan atau tidak berhubungan dengan sungai. stabilitas. Jumlah rawa di Indonesia luasnya sekitar 34 juta ha. rawa berperan sebagai sumber cadangan air. Menurut Undang-undang Lingkungan Hidup (UULH. siklus oksigen. mempunyai dasar lumpur atau tumbuhan membusuk. Ditinjau dari aspek ekologi.PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah ketahanan pangan telah dijadikan agenda penting dalam pembangunan ekonomi bangsa. terdapat vegetasi baik yang mengapung atau mencuat maupun tenggelam. menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering. dan sumber makanan nabati maupun hewani (Susanto 2000). No 23 Tahun 1997) ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan.

penerimaan devisa dan pengembangan wilayah (Baharsyah 1990). d. Menjelaskan tentang komponen dari ekosistem rawa. Secara keseluruhan. b. yaitu rawa. pertanian. . dan pengawasan yang ketat dari pihak pemerintah dapat ditentukan mana kawasan rawa yang dapat dikelola dan yang harus dipertahankan fungsi ekologisnya. Saat ini perikanan Indonesia dalam waktu yang relatif singkat telah mampu memberikan sumbangan yang substansial dalam pembangunan perekonomian. perikanan mempunyai peranan dan posisi vital dalam pemenuhan kebutuhan gizi protein. c. perikanan dan lain-lain. Menjelaskan fungsi ekologi ekosistem rawa. kesempatan kerja. Menjelaskan potensi pangan yang terdapat pada ekosistem rawa. Pengelolaan yang bijaksana dengan melakukan penataan ruang. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : a. Menjelaskan tentang ciri-ciri ekosistem air tawar.penggunaannya untuk keperluan kehidupan seperti pemukiman.

Rawa pening merupakan salah satu rawa yang ada di wilayah Kabupaten Semarang dengan luas genangan kurang lebih 2020 ha. Bila terjadi pendangkalan. juga untuk kegiatan irigasi. Rawa lebak di Sumatera Selatan yang dibudidayakan untuk pengembangan pertanian. gulma. terdiri dari lebak pematang. Rawapening terletak pada ketinggian kurang lebih 463 meter dpl. Ambarawa. Luas rawa lebak yang digunakan untuk perikanan yaitu 92171 ha. yaitu tidak terdapatnya kandungan gambut yang tebal dan sumber airnya berasal dari air hujan dan air sungai. . Oleh karena itu peranan manusia penting didalam mengendalikan pendangkalan rawa (Arika 2005).HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri-ciri Ekosistem Rawa Terhadap Pangan Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi air tawar yang kaya akan mineral dengan pH sekitar 6. termasuk perikanan. Nutrisi yang terlarut dalam air meningkatkan produktivitas. kondisi permukaan air tidak selalu tetap. serta memiliki ikan air tawar yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan protein hewani (Irwan 1997). jamur. Pemanfaatan Rawa pening selain untuk perikanan. dipengaruhi iklim dan cuaca di sekitar. lebak dalam dan lebak lebung. Lama genangan umumnya kurang dari 1-3 bulan dalam setahun. dan memiliki tumbuhan tumbuhan tingkat tinggi (dikotil dan monokotil). wisata dan pembangkit tenaga listrik. Tinggi genangan rata-rata kurang dari 50 cm. penetrasi cahaya yang kurang. fluktuasi ketinggian air dapat menjaga stabilitas dan fertilitas air. Bawen dan Tuntang. Lebak pematang yaitu berupa sawah di belakang perkampungan yang merupakan sebagian dari wilayah tanggul sungai dan wilayah dataran rawa belakang. Ekosistem yang ada di rawa condong ke arah ekosistem yang subur. Ekosistem air tawar berupa rawa memiliki habitat dengan ciri-cirinya adalah variasi temperatur atau suhu rendah. ganggang hijau) yang berfungsi sebagai produsen. Ekosistem rawa ini termasuk ekosistem air tenang (letik) berbeda dengan hutan rawa gambut. Lebak tengahan adalah sawah yang lebih jauh lagi dari perkampungan yang memiliki genangannya lebih dalam antara 50-100 cm selama 3-6 bulan (Muthmainnah 2009). maka rawa cenderung untuk ditumbuhi vegetasi berkayu. dan berada di antara wilayah Kecamatan Banyubiru. kadar garam rendah. tumbuhan tingkat rendah (alga. lebak tengahan.

Sedangkan lebak dangkal dan lebak tengahan hanya sesuai untuk pertanian tanaman pangan. yaitu autotrof. Hal ini sesuai untuk budidaya perikanan air tawar. heterotrof. dan berbagai jenis vegetasi air dari familia Graminae dan berbagai jenis pepohonan besar yang merupakan sumberdaya hayati yang sangat menentukan kehidupan hewan-hewan air (Irwan 1997). Komponen Ekosistem Rawa Komponen pembentuk ekosistem rawa ini terdiri dari abiotik dan biotik. Komponen biotik atau disebut dengan komponen hidup adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. karena bentuknya mirip suatu cekungan dan kondisi airnya relatif masih tetap dalam walaupun di musim kemarau. Pada ekositem rawa ini yang tergolong autotrof adalah tumbuhan berklorofil seperti gulma dan eceng gondok. ikan lele (Clarias spp). Berdasarkan. makhluk hidup dalam ekosistem air tawar ini dibedakan menjadi tiga macam. air. sepat siam (Trichogaster pectoralis). peran dan fungsinya. Misalnya pada perairan rawa lebak lebung di Sumatera Selatan terdapat ikan nila (Oreochromis niloticus). Tinggi air genangan umumnya lebih dari 100 cm selama 3-6 bulan atau lebih dari 6 bulan (Muthmainnah 2009). belut (Monopterus albus). cahaya matahari. Rawa lebak yang airnya sukar mengering kecuali pada musim kemarau panjang dan disebut juga lebak lebung. hewan. garam. dan decomposer. Autotrof merupakan komponen produsen yang terdiri dari organisme yang dapat membuat makanannya sendiri dari bahan organik dengan bantuan energi seperti sinar matahari dan bahan kimia. Biasanya dijadikan tempat memelihara ikan yang tertangkap. betok (Anabas testudineus). jamur dan mikroba. Dekomposer atau disebut juga pengurai adalah organisme yang . Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang berupa medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan atau lingkungan tempat hidup. Autotrof berperan sebagai produsen. Golongan heterotrof adalah manusia. Komponen abiotik dapat berupa suhu.Bagian rawa lebak yang berpotensi di dunia perikanan adalah lebak dalam. tanah dan batu. serta iklim. Heterotrof adalah komponen yang terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan–bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. gabus (Channa striata).

Dalam rantai makanan ada makhluk hidup yang berperan sebagai konsumen. kimia dan biologi perairan. Penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos tidak jauh berbeda dengan komponen biotik lainnya yaitu ditentukan oleh sifat fisika. warna. bahan organik. hal ini karena fitoplankton suka terhadap cahaya untuk proses fotosintesis. Selain itu ikan nila adalah jenis ikan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivore). Sifat fisik perairan seperti pasang surut. Sedangkan zooplankton lebih banyak ditemukan pada semua kedalaman air. kandungan hara dan faktor biologi yang berpengaruh adalah komposisi biotik jenis hewan dalam perairan diantaranya adalah produsen yang merupakan sumber makanan bagi hewan bentos dan hewan predator yang akan mempengaruhi kelimpahan bentos penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos ditentukan oleh sifat fisika. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahanbahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Pakan Alami dapat mempercepat pertumbuhan ikan nila. hewan atau . Menurut penelitian tentang plankton di Rawa pening menyebutkan bahwa fitoplankton lebih banyak ditemukan di bagian permukan dan tengah . dan bentos (Arika 2005) Pada ekosistem ini. kandungan gas terlarut. kedalaman. Golongan pengurai pada ekosistem ini adalah bentos yang berupa cacing darah atau larva chironomid (Susanto 2000). Sifat kimia perairan antara lain. Organisme di Rawa pakannya pening misalnya Caridina laevis Heller (Udang air tawar) dan ikan nila. dan produsen.menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Rantai makanan ini dimulai dari gulma atau lumut sebagai peghasil atau produsen yang dapat dimakan oleh komponen heterotrof berupa ikan nila. Pakan alami merupakan pakan hidup bagi larva ikan yang mencakup fitoplankton. Pertumbuhan ikan misalnya sangat tergantung pada ketersediaan khususnya pakan alami. Oleh dekomposer. zooplankton. maka terbentuklah suatu rantai makanan. seperti pitoplankton dan zooplankton. karena mereka memiliki kemampuan untuk bergerak. perifiton. kekeruhan atau kecerahan dan suhu air. Keberadaan dekomposer sangat penting dalam ekosistem. pH. kecepatan arus. kimia dan biologi perairan (Irwan 1997). Komponen heterotrof yang mati diuraikan oleh dekomposer yang ada di air tawar berupa cacing dengan bantuan sinar matahari membentuk komponen baru autotrof berupa gulma. Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antara makhluk hidup dengan urutan tertentu.

Proses rantai makanan ini selalu berjalan untuk mempertahankan kehidupan pada ekositem air rawa. yang semula merupakan rawa gambut tetapi dibendung pada tahun 1916 dan setelah diperbesar pada tahun 1930 dibendung sekali lagi (Arika 2005). hal ini menyebabkan nelayan semakin sulit mencari ikan karena laju perahu terhambat eceng gondok. Rawa pening merupakan waduk tertua di Indonesia.6 kali lipat lebih cepat di perairan bebas. Penetrasi cahaya ke perairan terhambat dan populasi ikan menjadi menurun karena konsentrasi oksigen menurun.5 persen atau 613 hektar ditumbuhi eceng gondok dan gulma lainnya. Semarang Luas genangan Rawapening sekitar 24. Gambar 1 Rawa Pening. siklus dalam rantai makanan dapat berjalan seimbang apabila semua komponen tersedia. pembagian wilayah bertujuan agar semua kegiatan pemanfaatan sumber daya tidak merusak kelestarian dan tidak merugikan karena berbagai kepentingan. Fungsi Ekologi Ekosistem Rawa Pengelolaan sumber daya di Rawa pening. terjadi pembagian wilayah (zonasi). Akan . Aktivitas pengurai juga menghasilkan gas karbondioksida yang penting bagi fotosintesis. Berikut ini merupakan gambar Rawa pening dapat dilihat pada Gambar 1. Luasan tutupan eceng gondok ini lebih luas lagi karena kemampuan berkembangnya 2. Apabila salah satu komponen didalamnya tidak ada maka akan terjadi ketimpangan dalam urutan makan dan dimakan dalam rantai makanan tersebut (Susanto 2000). Akan tetapi.tumbuhan yang mati akan diuraikan dan dikembalikan ke tanah menjadi unsur hara (zat anorganik) yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan.

tetapi sedimentasi akibat gulma air bisa dijadikan pupuk yang diambil dari dasar danau. Fungsi regulator kontuinitas aliran air ini sangat penting bagi makhluk hidup termasuk manusia yang berdiam di hilir rawa (Arika 2005). Apabila dinamika ini terjaga dengan baik akan selalu menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan dan kelestarian sumberdaya perikanan sepanjang tahun (Gaffar 1998). rawa adalah regulator aliran air tetapi daya tampung rawa jauh lebih besar. Sumberdaya hayati dalam ekosistem perairan lebak merupakan sumberdaya terbaru. Dalam hal ini rawa berfungsi untuk mengurangi besarnya fluktuasi aliran air yang mengalir di perairan. . Dalam proses fotosintesa dihasilkan oksigen untuk pernafasan hewani yang hidup dalam ekosistem tersebut. Lebung merupakan sub habitat penting karena merupakan tempat perlindungan dan penyelamatan ikan-ikan ekonomis penting tertentu pada saat datangnya musim kemarau (Gaffar 1998). dimana dalam proses pembaruan diri materi mengalami daur ulang. Di dalam talang rawang dan lebak kumpai terdapat lagi tipe habitat yang disebut lebung. Gulma air secara ekologis berperan sebagi tempat berlindung dari faunafauna dibawahnya dan sebagai penyerap logam berat sehingga ekosistem rawa tersebut dapat mengurangi bahan pencemar (Arika. Perubahan musim hujan dan musim kemarau yang terjadi sepanjang tahun mengakibatkan perairan rawa lebak terdapat beberapa tipe sub habitat penting antara lain talang rawang dan lebak kumpai. Dengan pendauran itu menjadikan proses pemurnian diri lingkungan karena bahan sisa dari suatu proses akan digunakan sebagai bahan baku untuk proses yang lain yang menghasilkan zat yang berguna bagi organism yang bersangkutan. 2005).sama seperti fungsi hutan di daerah pegunungan. Perairan Rawa pening mempunyai fungsi hidrologis sebagai kawasan penyangga untuk menampung air dalam jumlah besar yang berasal dari curahan hujan lebat agar tidak langsung membanjiri daratan rendah di hilir rawa. Rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki berbagai jenis vegetasi air Vegetasi air ini melalui proses fotosintesis merupakan penghasil energi untuk metabolisme dalam kehidupan sehari-hari serta merupakan sumber energi untuk produksi sekunder.

terutama berkaitan dengan usaha peningkatan gizi masyarakat dinegara-negara yang sedang berkembang. mempunyai tingkat toleransi terhadap lingkungan sangat tinggi sehingga tahan terhadap perubahan lingkungan dan serangan penyakit. karena harganya murah rasanya enak dan kandungan proteinnya cukup tinggi. lemak 4. Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memperoleh perhatian cukup besar dari pemerintah dan pemerhati masalah perikanan didunia. warna agak putih kehitaman. Ikan nila termasuk kedalam Eurihaline yaitu ikan yang mampu hidup dalam kisaran salinitas yang luas antara 5-45 ppm dan mempunyai alat pernapasan tambahan (abyrinthichi) berfungsi untuk mempertahankan diri untuk hidup didalam air yang kandungan oksigennya rendah. Bentuk tubuh ikan nila secara umum adalah memanjang dan pipih kesamping.5 gram dan vitamin A 150 SI. Jenis ikan yang dapat dibudidayakan pada ekosistem ini adalah ikan nila (Gaffar 1998). Perairan rawa lebak dimanfaatkan selain untuk bidang pertanian. . Ikan nila juga mempunyai kelebihan antara lain mudah berkembang biak. Kandungan zat gizi ikan nila dalam 100 gram menghasilkan energi 113 Kal. protein 17 gram. kadaverin sehingga menyebabkan timbulnya bau tidak sedap atau tengik. juga budidaya perikanan karena dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan daya jual yang bernilai tinggi. isobutilamin. dan pemakan segala (Omnivora) sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pengendali gulma air (Afliyah 1993).Perikanan sebagai Sumber Daya Pangan Perikanan perairan rawa lebak sebagai suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam yang bersifat terbuka dapat dimanfaatkan oleh masyarakat baik sebagai produsen mapun sebagai konsumen sebagai sumber pangan protein hewani. Berikut ini merupakan gambar ikan nila dapat dilihat pada Gambar 2. semakin kebagian ventral atau perut makin terang. Pengelolaan perikanan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembinaan dan melindungi sumberdaya untuk kebutuhan generasi mendatang. Ikan nila adalah salah satu komoditas perikanan yang sangat popular dimasyarakat. Asam lemak tidak jenuh ganda pada ikan nila menyebabkan ikan menjadi sangat mudah mengalami proses oksidasi atau hidrolisis dan enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin.

rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki daya dukung ekosistem sebesar 193 persen. Daya dukung ekosistem rawa lebak di Sumatera Selatan tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. Jumlah masyarakat sekitar rawa lebak di Sumatera Selatan adalah 365. Ini menunjukkan bahwa ekosistem rawa tersebut memiliki potensi pangan bagi masyarakat sekitar rawa lebak bagi sumber daya pangan protein hewani.333 orang. Berdasarkan hasil perhitungan. Kandungan energi dan protein ikan nila dalam ekosistem rawa lebak di Sumatera Selatan sebagai sumber daya pangan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Kandungan Energi dan Protein Ikan Nila Per Kapita Per Hari Energi & Energi Kap/ Hari Produksi Jumlah BDD Protein /100g Pangan sehari orang % E P (g) (Kg) E (Kal) P (g) (Kal) Ikan 192000 365. kandungan energi per kapita per hari adalah 475 kalori dan kandungan protein per kapita per hari adalah 71 gram.80 113 17 475 71 Nila Berdasarkan hasil tabel 1.Gambar 2 Ikan Nila Betina Menurut Badan Pusat Statistika Sumatera Selatan (2008). .333 0. sehingga hasil produksi sehari diperoleh 192000 kg atau 549 ekor ikan nila. Hasil produksi ikan nila yang dihasilkan setiap 3 bulan sekali dengan berat berkisar 23043 ton (@350 gram) yaitu jumlah panen dibagi jumlah waktu panen dan dikalikan 30 per hari.

Rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki potensi pangan bagi masyarakat sekitar rawa lebak karena daya dukung ekosistemnya sebesar 193 persen. serta iklim. Komponen biotik seperti gulma. Peningkatan jumlah gulma seperti eceng gondok di rawa pening menyebabkan penurunan jumlah ikan air tawar. dipengaruhi iklim dan cuaca di sekitar. Komponen pembentuk ekosistem rawa terdiri dari abiotik dan biotik.5 gram dan vitamin A 150 SI. . gulma. cahaya matahari. Akan tetapi. garam. protein 17 gram. mikroorganisme pengurai. dan memiliki tumbuhan seperti jamur.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Ekosistem rawa memiliki ciri-ciri antara lain suhu rendah. Saran Jumlah eceng gondok yang meningkat di ekosistem rawa pening yang menggangu keseimbangan ekosistem sehingga perlu adanya penanganan seperti konservasi rawa atau memberi kontrol biologis seperti memberi ikan grass capr yang memakan eceng gondok. kandungan energi per kapita per hari adalah 475 kalori dan kandungan protein per kapita per hari adalah 71 gram. udang dan ikan nila. Ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam ekosistem rawa lebak digunakan sebagai sumber pangan dalam ekosistem rawa yaitu dalam 100 gram menghasilkan energi 113 Kal. eceng gondok. Perubahan musim di Rawa Lebak menyebabkan ada bagian tipe habitat yaitu lebung yang digunakan sebagai tempat perlindungan ikan. tanah dan batu. Gulma air secara ekologis berperan mengurangi bahan pencemar. penetrasi cahaya yang kurang. kadar garam rendah. Komponen abiotik dapat berupa suhu. Setiap komponen tersebut membentuk suatu rantai makanan. Rawa pening sebagai kawasan penyangga untuk menampung air dalam jumlah besar yang berasal dari curahan hujan lebat dan sebagai regulator aliran air tetapi daya tampung rawa jauh lebih besar. serta memiliki ikan air tawar yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan protein hewani. Rawa pening dan lebak tergolong ekosistem air tenang (letik) dan sumber airnya berasal dari air hujan dan air sungai. Fungsi regulator untuk kontuinitas aliran air. lemak 4. air. alga yang berfungsi sebagai produsen. sehingga sangat penting bagi makhluk hidup termasuk manusia yang berdiam di hilir rawa.

Sumatera Selatan dalam Angka 2008. Pendekatan Holistik dalam Pencegahan dan Pengendalian Pencemaran Pada Perikanan Rawa Lebak. 10 hal.html. [27 Maret 2011] Baharsyah S. Sukabumi. Laporan Tahunan Perikanan Tahun 1992. 2005. Kompas. Y. http://www. Rawapening dan Berubahnya Ekosistem. Com/kompas-cetak/0505/27/tanah air/1767459. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 1990. Makalah disampaikan pada Seminar Sehari Pengelolaan Lebak Lebung Berbasis Komunitas. Palembang. Http://dinamuthmainah. Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Selatan. blogspot. Pengelolaan Perikanan Perairan Umum. Gaffar AK. BPS Provinsi Sumatera Selatan. Palembang.html. Jakarta: Bumi Aksara. Susanto P. Muthmainah D. 19-20 Juli 1990. Badan Litbang PertanianPuslitbangkan-USAID/FRDP. . 1997. Irwan D. Arika.com/2009/12/pendekatan-holistik-dalam-pencegahan. Pidato Pengarahan Menteri Muda Pertanian dalam Forum I Perikanan. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem & Komunitas Lingkungan. [27 Maret 2011]. 2008. Pengantar Ekologi Hewan. 2009.DAFTAR PUSTAKA Afliyah S. 1998. 1993. 2000. BPS Sumatera Selatan.