Mata Kuliah Ekologi Pangan dan Gizi

Jum’at, 26 Maret 2011

EKOSISTEM AKUATIK (RAWA) SEBAGAI SUMBER DAYA PANGAN IKAN PROTEIN HEWANI

Kelompok 10: Irani Rachmawati Anna Febritta Intan Sari Maharani Julfrina Rahma I14104012 I14104023 I14104035

Asisten Praktikum: A’immatul Fauziyah Yulia Puspita Penanggung Jawab Praktikum: Dr. Ir. Yayuk F.Baliwati, MS

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

atau merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi antar hubungan. stabilitas. dan siklus sulfur (Irwan 1997). dan sumber makanan nabati maupun hewani (Susanto 2000). dari jumlah tersebut yang berpotensi sebesar 60 persen. Menciptakan dayaguna dapat dilakukan pada kawasan alami. Menurut Undang-undang Lingkungan Hidup (UULH. terdapat vegetasi baik yang mengapung atau mencuat maupun tenggelam. Untuk pemenuhan ketahanan pangan tersebut dapat dilakukan dengan membangun suatu kawasan yang bertujuan menciptakan atau meningkatkan daya guna kawasan tersebut secara berkelanjutan. Zat-zat anorganik dalam suatu ekosistem tetap konstan atau seimbang karena unsur-unsur kimia esensial pembentuk protoplasma beredar dalam biosfer melalui siklus biogeokimiawi. siklus oksigen. rawa berperan sebagai sumber cadangan air. siklus nitrogen. Pemahaman dalam mengelola rawa sangatlah penting. Contoh siklus biogeokimiawi adalah siklus carbon. mempunyai dasar lumpur atau tumbuhan membusuk. Rawa adalah perairan yang cukup luas terdapat di dataran rendah dengan sumber air berasal dari air hujan atau air laut dan berhubungan atau tidak berhubungan dengan sungai. Status ketahanan pangan juga sering dipakai sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat.PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah ketahanan pangan telah dijadikan agenda penting dalam pembangunan ekonomi bangsa. No 23 Tahun 1997) ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan. dan produktivitas lingkungan hidup. Rawa memiliki berbagai macam peran dan manfaat. Sebaiknya dengan mempertahankan fungsi ekologis kawasan tersebut dalam 2011 . menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering. contohnya dengan mengembangkan rawa lebak dan rawa pening untuk usaha perikanan budidaya dan tangkap (Muthmainah 2009). sumber energi. relatif tidak dalam. mencegah terjadinya banjir. Ditinjau dari aspek ekologi. Ekosistem merupakan tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas. siklus fosfor. Jumlah rawa di Indonesia luasnya sekitar 34 juta ha.

penerimaan devisa dan pengembangan wilayah (Baharsyah 1990). c. Secara keseluruhan. perikanan mempunyai peranan dan posisi vital dalam pemenuhan kebutuhan gizi protein. kesempatan kerja. Menjelaskan potensi pangan yang terdapat pada ekosistem rawa. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : a. b. dan pengawasan yang ketat dari pihak pemerintah dapat ditentukan mana kawasan rawa yang dapat dikelola dan yang harus dipertahankan fungsi ekologisnya. Menjelaskan fungsi ekologi ekosistem rawa.penggunaannya untuk keperluan kehidupan seperti pemukiman. Pengelolaan yang bijaksana dengan melakukan penataan ruang. perikanan dan lain-lain. . Menjelaskan tentang komponen dari ekosistem rawa. Saat ini perikanan Indonesia dalam waktu yang relatif singkat telah mampu memberikan sumbangan yang substansial dalam pembangunan perekonomian. yaitu rawa. d. pertanian. Menjelaskan tentang ciri-ciri ekosistem air tawar.

ganggang hijau) yang berfungsi sebagai produsen. Lebak tengahan adalah sawah yang lebih jauh lagi dari perkampungan yang memiliki genangannya lebih dalam antara 50-100 cm selama 3-6 bulan (Muthmainnah 2009). Rawapening terletak pada ketinggian kurang lebih 463 meter dpl. lebak dalam dan lebak lebung. Nutrisi yang terlarut dalam air meningkatkan produktivitas. termasuk perikanan. serta memiliki ikan air tawar yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan protein hewani (Irwan 1997). dan memiliki tumbuhan tumbuhan tingkat tinggi (dikotil dan monokotil). Ambarawa. gulma. Tinggi genangan rata-rata kurang dari 50 cm. kadar garam rendah. Ekosistem air tawar berupa rawa memiliki habitat dengan ciri-cirinya adalah variasi temperatur atau suhu rendah. Bila terjadi pendangkalan. fluktuasi ketinggian air dapat menjaga stabilitas dan fertilitas air. Rawa pening merupakan salah satu rawa yang ada di wilayah Kabupaten Semarang dengan luas genangan kurang lebih 2020 ha. dan berada di antara wilayah Kecamatan Banyubiru. dipengaruhi iklim dan cuaca di sekitar. lebak tengahan. penetrasi cahaya yang kurang. juga untuk kegiatan irigasi. yaitu tidak terdapatnya kandungan gambut yang tebal dan sumber airnya berasal dari air hujan dan air sungai. terdiri dari lebak pematang. . wisata dan pembangkit tenaga listrik. jamur. Ekosistem yang ada di rawa condong ke arah ekosistem yang subur. maka rawa cenderung untuk ditumbuhi vegetasi berkayu.HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri-ciri Ekosistem Rawa Terhadap Pangan Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi air tawar yang kaya akan mineral dengan pH sekitar 6. Pemanfaatan Rawa pening selain untuk perikanan. Bawen dan Tuntang. Lebak pematang yaitu berupa sawah di belakang perkampungan yang merupakan sebagian dari wilayah tanggul sungai dan wilayah dataran rawa belakang. tumbuhan tingkat rendah (alga. Lama genangan umumnya kurang dari 1-3 bulan dalam setahun. kondisi permukaan air tidak selalu tetap. Luas rawa lebak yang digunakan untuk perikanan yaitu 92171 ha. Rawa lebak di Sumatera Selatan yang dibudidayakan untuk pengembangan pertanian. Oleh karena itu peranan manusia penting didalam mengendalikan pendangkalan rawa (Arika 2005). Ekosistem rawa ini termasuk ekosistem air tenang (letik) berbeda dengan hutan rawa gambut.

Bagian rawa lebak yang berpotensi di dunia perikanan adalah lebak dalam. garam. betok (Anabas testudineus). Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Tinggi air genangan umumnya lebih dari 100 cm selama 3-6 bulan atau lebih dari 6 bulan (Muthmainnah 2009). jamur dan mikroba. Komponen abiotik dapat berupa suhu. serta iklim. ikan lele (Clarias spp). belut (Monopterus albus). air. Rawa lebak yang airnya sukar mengering kecuali pada musim kemarau panjang dan disebut juga lebak lebung. cahaya matahari. hewan. Dekomposer atau disebut juga pengurai adalah organisme yang . Heterotrof adalah komponen yang terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan–bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. heterotrof. Autotrof berperan sebagai produsen. dan decomposer. Berdasarkan. makhluk hidup dalam ekosistem air tawar ini dibedakan menjadi tiga macam. dan berbagai jenis vegetasi air dari familia Graminae dan berbagai jenis pepohonan besar yang merupakan sumberdaya hayati yang sangat menentukan kehidupan hewan-hewan air (Irwan 1997). Komponen Ekosistem Rawa Komponen pembentuk ekosistem rawa ini terdiri dari abiotik dan biotik. peran dan fungsinya. yaitu autotrof. Golongan heterotrof adalah manusia. sepat siam (Trichogaster pectoralis). Autotrof merupakan komponen produsen yang terdiri dari organisme yang dapat membuat makanannya sendiri dari bahan organik dengan bantuan energi seperti sinar matahari dan bahan kimia. tanah dan batu. Hal ini sesuai untuk budidaya perikanan air tawar. Biasanya dijadikan tempat memelihara ikan yang tertangkap. karena bentuknya mirip suatu cekungan dan kondisi airnya relatif masih tetap dalam walaupun di musim kemarau. Komponen biotik atau disebut dengan komponen hidup adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang berupa medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan atau lingkungan tempat hidup. Sedangkan lebak dangkal dan lebak tengahan hanya sesuai untuk pertanian tanaman pangan. Pada ekositem rawa ini yang tergolong autotrof adalah tumbuhan berklorofil seperti gulma dan eceng gondok. Misalnya pada perairan rawa lebak lebung di Sumatera Selatan terdapat ikan nila (Oreochromis niloticus). gabus (Channa striata).

Dalam rantai makanan ada makhluk hidup yang berperan sebagai konsumen. kedalaman. Organisme di Rawa pakannya pening misalnya Caridina laevis Heller (Udang air tawar) dan ikan nila. Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antara makhluk hidup dengan urutan tertentu. zooplankton. pH. kimia dan biologi perairan. Pertumbuhan ikan misalnya sangat tergantung pada ketersediaan khususnya pakan alami. Sifat fisik perairan seperti pasang surut. Penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos tidak jauh berbeda dengan komponen biotik lainnya yaitu ditentukan oleh sifat fisika. hal ini karena fitoplankton suka terhadap cahaya untuk proses fotosintesis. bahan organik. dan produsen. kimia dan biologi perairan (Irwan 1997).menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. seperti pitoplankton dan zooplankton. Rantai makanan ini dimulai dari gulma atau lumut sebagai peghasil atau produsen yang dapat dimakan oleh komponen heterotrof berupa ikan nila. Golongan pengurai pada ekosistem ini adalah bentos yang berupa cacing darah atau larva chironomid (Susanto 2000). perifiton. dan bentos (Arika 2005) Pada ekosistem ini. Keberadaan dekomposer sangat penting dalam ekosistem. kecepatan arus. maka terbentuklah suatu rantai makanan. kekeruhan atau kecerahan dan suhu air. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahanbahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Pakan alami merupakan pakan hidup bagi larva ikan yang mencakup fitoplankton. kandungan gas terlarut. Oleh dekomposer. kandungan hara dan faktor biologi yang berpengaruh adalah komposisi biotik jenis hewan dalam perairan diantaranya adalah produsen yang merupakan sumber makanan bagi hewan bentos dan hewan predator yang akan mempengaruhi kelimpahan bentos penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos ditentukan oleh sifat fisika. Menurut penelitian tentang plankton di Rawa pening menyebutkan bahwa fitoplankton lebih banyak ditemukan di bagian permukan dan tengah . hewan atau . Pakan Alami dapat mempercepat pertumbuhan ikan nila. Sedangkan zooplankton lebih banyak ditemukan pada semua kedalaman air. Komponen heterotrof yang mati diuraikan oleh dekomposer yang ada di air tawar berupa cacing dengan bantuan sinar matahari membentuk komponen baru autotrof berupa gulma. warna. karena mereka memiliki kemampuan untuk bergerak. Selain itu ikan nila adalah jenis ikan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivore). Sifat kimia perairan antara lain.

Berikut ini merupakan gambar Rawa pening dapat dilihat pada Gambar 1. pembagian wilayah bertujuan agar semua kegiatan pemanfaatan sumber daya tidak merusak kelestarian dan tidak merugikan karena berbagai kepentingan. Gambar 1 Rawa Pening. Fungsi Ekologi Ekosistem Rawa Pengelolaan sumber daya di Rawa pening.tumbuhan yang mati akan diuraikan dan dikembalikan ke tanah menjadi unsur hara (zat anorganik) yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan. Penetrasi cahaya ke perairan terhambat dan populasi ikan menjadi menurun karena konsentrasi oksigen menurun. Semarang Luas genangan Rawapening sekitar 24. hal ini menyebabkan nelayan semakin sulit mencari ikan karena laju perahu terhambat eceng gondok.5 persen atau 613 hektar ditumbuhi eceng gondok dan gulma lainnya. Luasan tutupan eceng gondok ini lebih luas lagi karena kemampuan berkembangnya 2. siklus dalam rantai makanan dapat berjalan seimbang apabila semua komponen tersedia. Proses rantai makanan ini selalu berjalan untuk mempertahankan kehidupan pada ekositem air rawa. terjadi pembagian wilayah (zonasi). Akan tetapi. Aktivitas pengurai juga menghasilkan gas karbondioksida yang penting bagi fotosintesis. yang semula merupakan rawa gambut tetapi dibendung pada tahun 1916 dan setelah diperbesar pada tahun 1930 dibendung sekali lagi (Arika 2005). Akan . Apabila salah satu komponen didalamnya tidak ada maka akan terjadi ketimpangan dalam urutan makan dan dimakan dalam rantai makanan tersebut (Susanto 2000).6 kali lipat lebih cepat di perairan bebas. Rawa pening merupakan waduk tertua di Indonesia.

Gulma air secara ekologis berperan sebagi tempat berlindung dari faunafauna dibawahnya dan sebagai penyerap logam berat sehingga ekosistem rawa tersebut dapat mengurangi bahan pencemar (Arika. Sumberdaya hayati dalam ekosistem perairan lebak merupakan sumberdaya terbaru. Perubahan musim hujan dan musim kemarau yang terjadi sepanjang tahun mengakibatkan perairan rawa lebak terdapat beberapa tipe sub habitat penting antara lain talang rawang dan lebak kumpai.sama seperti fungsi hutan di daerah pegunungan. Apabila dinamika ini terjaga dengan baik akan selalu menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan dan kelestarian sumberdaya perikanan sepanjang tahun (Gaffar 1998). Fungsi regulator kontuinitas aliran air ini sangat penting bagi makhluk hidup termasuk manusia yang berdiam di hilir rawa (Arika 2005). 2005). dimana dalam proses pembaruan diri materi mengalami daur ulang. Dengan pendauran itu menjadikan proses pemurnian diri lingkungan karena bahan sisa dari suatu proses akan digunakan sebagai bahan baku untuk proses yang lain yang menghasilkan zat yang berguna bagi organism yang bersangkutan. Rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki berbagai jenis vegetasi air Vegetasi air ini melalui proses fotosintesis merupakan penghasil energi untuk metabolisme dalam kehidupan sehari-hari serta merupakan sumber energi untuk produksi sekunder. Dalam hal ini rawa berfungsi untuk mengurangi besarnya fluktuasi aliran air yang mengalir di perairan.tetapi sedimentasi akibat gulma air bisa dijadikan pupuk yang diambil dari dasar danau. Di dalam talang rawang dan lebak kumpai terdapat lagi tipe habitat yang disebut lebung. . rawa adalah regulator aliran air tetapi daya tampung rawa jauh lebih besar. Perairan Rawa pening mempunyai fungsi hidrologis sebagai kawasan penyangga untuk menampung air dalam jumlah besar yang berasal dari curahan hujan lebat agar tidak langsung membanjiri daratan rendah di hilir rawa. Dalam proses fotosintesa dihasilkan oksigen untuk pernafasan hewani yang hidup dalam ekosistem tersebut. Lebung merupakan sub habitat penting karena merupakan tempat perlindungan dan penyelamatan ikan-ikan ekonomis penting tertentu pada saat datangnya musim kemarau (Gaffar 1998).

kadaverin sehingga menyebabkan timbulnya bau tidak sedap atau tengik. isobutilamin. karena harganya murah rasanya enak dan kandungan proteinnya cukup tinggi. warna agak putih kehitaman. Jenis ikan yang dapat dibudidayakan pada ekosistem ini adalah ikan nila (Gaffar 1998). . terutama berkaitan dengan usaha peningkatan gizi masyarakat dinegara-negara yang sedang berkembang. Kandungan zat gizi ikan nila dalam 100 gram menghasilkan energi 113 Kal. Perairan rawa lebak dimanfaatkan selain untuk bidang pertanian. Bentuk tubuh ikan nila secara umum adalah memanjang dan pipih kesamping. lemak 4. Pengelolaan perikanan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembinaan dan melindungi sumberdaya untuk kebutuhan generasi mendatang. Ikan nila adalah salah satu komoditas perikanan yang sangat popular dimasyarakat. juga budidaya perikanan karena dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan daya jual yang bernilai tinggi. protein 17 gram. Ikan nila juga mempunyai kelebihan antara lain mudah berkembang biak. Berikut ini merupakan gambar ikan nila dapat dilihat pada Gambar 2. mempunyai tingkat toleransi terhadap lingkungan sangat tinggi sehingga tahan terhadap perubahan lingkungan dan serangan penyakit. semakin kebagian ventral atau perut makin terang. Ikan nila termasuk kedalam Eurihaline yaitu ikan yang mampu hidup dalam kisaran salinitas yang luas antara 5-45 ppm dan mempunyai alat pernapasan tambahan (abyrinthichi) berfungsi untuk mempertahankan diri untuk hidup didalam air yang kandungan oksigennya rendah.5 gram dan vitamin A 150 SI.Perikanan sebagai Sumber Daya Pangan Perikanan perairan rawa lebak sebagai suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam yang bersifat terbuka dapat dimanfaatkan oleh masyarakat baik sebagai produsen mapun sebagai konsumen sebagai sumber pangan protein hewani. Asam lemak tidak jenuh ganda pada ikan nila menyebabkan ikan menjadi sangat mudah mengalami proses oksidasi atau hidrolisis dan enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin. dan pemakan segala (Omnivora) sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pengendali gulma air (Afliyah 1993). Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memperoleh perhatian cukup besar dari pemerintah dan pemerhati masalah perikanan didunia.

Gambar 2 Ikan Nila Betina Menurut Badan Pusat Statistika Sumatera Selatan (2008). Tabel 1 Kandungan Energi dan Protein Ikan Nila Per Kapita Per Hari Energi & Energi Kap/ Hari Produksi Jumlah BDD Protein /100g Pangan sehari orang % E P (g) (Kg) E (Kal) P (g) (Kal) Ikan 192000 365. kandungan energi per kapita per hari adalah 475 kalori dan kandungan protein per kapita per hari adalah 71 gram. Jumlah masyarakat sekitar rawa lebak di Sumatera Selatan adalah 365.80 113 17 475 71 Nila Berdasarkan hasil tabel 1. Hasil produksi ikan nila yang dihasilkan setiap 3 bulan sekali dengan berat berkisar 23043 ton (@350 gram) yaitu jumlah panen dibagi jumlah waktu panen dan dikalikan 30 per hari. Kandungan energi dan protein ikan nila dalam ekosistem rawa lebak di Sumatera Selatan sebagai sumber daya pangan dapat dilihat pada Tabel 1.333 0. Ini menunjukkan bahwa ekosistem rawa tersebut memiliki potensi pangan bagi masyarakat sekitar rawa lebak bagi sumber daya pangan protein hewani. rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki daya dukung ekosistem sebesar 193 persen.333 orang. . sehingga hasil produksi sehari diperoleh 192000 kg atau 549 ekor ikan nila. Daya dukung ekosistem rawa lebak di Sumatera Selatan tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. Berdasarkan hasil perhitungan.

Peningkatan jumlah gulma seperti eceng gondok di rawa pening menyebabkan penurunan jumlah ikan air tawar. gulma. dan memiliki tumbuhan seperti jamur. . udang dan ikan nila. serta memiliki ikan air tawar yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan protein hewani. Komponen biotik seperti gulma. cahaya matahari. eceng gondok. kadar garam rendah. alga yang berfungsi sebagai produsen. Perubahan musim di Rawa Lebak menyebabkan ada bagian tipe habitat yaitu lebung yang digunakan sebagai tempat perlindungan ikan. Saran Jumlah eceng gondok yang meningkat di ekosistem rawa pening yang menggangu keseimbangan ekosistem sehingga perlu adanya penanganan seperti konservasi rawa atau memberi kontrol biologis seperti memberi ikan grass capr yang memakan eceng gondok. Komponen pembentuk ekosistem rawa terdiri dari abiotik dan biotik. penetrasi cahaya yang kurang. Ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam ekosistem rawa lebak digunakan sebagai sumber pangan dalam ekosistem rawa yaitu dalam 100 gram menghasilkan energi 113 Kal. Rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki potensi pangan bagi masyarakat sekitar rawa lebak karena daya dukung ekosistemnya sebesar 193 persen.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Ekosistem rawa memiliki ciri-ciri antara lain suhu rendah. tanah dan batu. Setiap komponen tersebut membentuk suatu rantai makanan. mikroorganisme pengurai. lemak 4. dipengaruhi iklim dan cuaca di sekitar. Gulma air secara ekologis berperan mengurangi bahan pencemar. Akan tetapi. Komponen abiotik dapat berupa suhu. protein 17 gram. serta iklim. sehingga sangat penting bagi makhluk hidup termasuk manusia yang berdiam di hilir rawa. air.5 gram dan vitamin A 150 SI. Rawa pening dan lebak tergolong ekosistem air tenang (letik) dan sumber airnya berasal dari air hujan dan air sungai. kandungan energi per kapita per hari adalah 475 kalori dan kandungan protein per kapita per hari adalah 71 gram. Rawa pening sebagai kawasan penyangga untuk menampung air dalam jumlah besar yang berasal dari curahan hujan lebat dan sebagai regulator aliran air tetapi daya tampung rawa jauh lebih besar. garam. Fungsi regulator untuk kontuinitas aliran air.

Arika.DAFTAR PUSTAKA Afliyah S. Rawapening dan Berubahnya Ekosistem. Com/kompas-cetak/0505/27/tanah air/1767459. Pengelolaan Perikanan Perairan Umum. 1998. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem & Komunitas Lingkungan. Muthmainah D. Sumatera Selatan dalam Angka 2008. Kompas. BPS Provinsi Sumatera Selatan. 10 hal. Jakarta: Bumi Aksara. . 1993. 2000. Pidato Pengarahan Menteri Muda Pertanian dalam Forum I Perikanan. Badan Litbang PertanianPuslitbangkan-USAID/FRDP. Makalah disampaikan pada Seminar Sehari Pengelolaan Lebak Lebung Berbasis Komunitas. [27 Maret 2011] Baharsyah S. [27 Maret 2011]. 2008. 2009. Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Selatan. Palembang.com/2009/12/pendekatan-holistik-dalam-pencegahan.html. 1997. Y.html. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Pengantar Ekologi Hewan. BPS Sumatera Selatan. Susanto P. Laporan Tahunan Perikanan Tahun 1992. Gaffar AK. blogspot. 19-20 Juli 1990. http://www. Irwan D. Http://dinamuthmainah. Pendekatan Holistik dalam Pencegahan dan Pengendalian Pencemaran Pada Perikanan Rawa Lebak. 1990. Palembang. Sukabumi. 2005.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful