P. 1
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA ORDE LAMA

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA ORDE LAMA

|Views: 2,739|Likes:
Published by Wiezy Wie

More info:

Published by: Wiezy Wie on Apr 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI PERSAMAAN o Sama

-sama masih terdapat ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan Setelah Indonesia Merdeka, ketimpangan ekonomi tidak separah ketika zaman penjajahan namun tetap saja ada terjadi ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Dalam 26 tahun masa orde baru (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006). Sehingga dapat dikatakan bahwa kaum kaya memperoleh manfaat terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup tinggi, namun pada kenyataanya tidak merata terhadap masyarakat. o Adanya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) Orde Lama: Walaupun kecil, korupsi sudah ada. Orde Baru: Hampir semua jajaran pemerintah koruptor (KKN). Reformasi: Walaupun sudah dibongkar dan dipublikasi di mana-mana dari media massa,media elektronik,dll tetap saja membantah melakukan korupsi. Hal ini menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat yang sulit untuk disembuhkan akibat praktik-pratik pemerintahan yang manipulatif dan tidak terkontrol. o Kebijakan Pemerintah Sejak pemerintahan orde lama hingga orde reformasi kini, kewenangan menjalankan anggaran negara tetap ada pada Presiden (masing-masing melahirkan individu atau pemimpin yang sangat kuat dalam setiap periode pemerintahan sehingga menjadikan mereka seperti ³manusia setengah dewa´). Namun tiap-tiap masa pemerintahan mempunyai cirinya masingmasing dalam menjalankan arah kebijakan anggaran negara. Hal ini dikarenakan untuk disesuaikan dengan kondisi: stabilitas politik, tingkat ekonomi masyarakat, serta keamanan dan ketertiban. Kebijakan anggaran negara yang diterapkan pemerintah selama ini sepertinya berorientasi pada ekonomi masyarakat. Padahal kenyataannya kebijakan yang ada biasanya hanya untuk segelintir orang dan bahkan lebih banyak menyengsarakan rakyat. Belum lagi kebijakankebijakan yang tidak tepat sasaran, yang hanya menambah beban APBN. Bila diteliti lebih mendalam kebijakan-kebijakan sejak Orde Baru hingga sekarang hanya bersifat jangka pendek. Dalam arti kebijakan yang ditempuh bukan untuk perencanaan ke masa yang akan datang, namun biasanya cenderung untuk mengatur hal-hal yang sedang dibutuhkan saat ini.

PERBEDAAN : - Orde lama (Demokrasi Terpimpin) 1. Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950) Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain disebabkan oleh : a. Inflasi yang sangat tinggi, disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat harga. b. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negeri RI. c. Kas negara kosong. d. Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain : a.Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir. Surachman dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli 1946. b.Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India, mangadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia. c.Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi perkebunanperkebunan. d.Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947 Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948, mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif. e.Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan membaik (mengikuti Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber kekayaan). 2. Masa Demokrasi Liberal (1950-1957) Masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal. Perekonomian diserahkan pada pasar sesuai teori-teori mazhab klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Padahal pengusaha pribumi

. Program ini tidak berjalan dengan baik. dan semua simpanan di bank yang melebihi 25. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%. dan pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional.dan ekonomi (mengikuti Mazhab Sosialisme). kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia. maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segalagalanya diatur oleh pemerintah). Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi. Namun usaha ini gagal. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka. diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial. yaitu penggalangan kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi. b)Program Benteng (Kabinet Natsir). c)Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no. antara lain : a)Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50. d)Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo. sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. Akan tetapi. yaitu upaya menumbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. terutama pengusaha Cina.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman. uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100. yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret 1950. Dengan sistem ini. e)Pembatalan sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar. termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. politik. b)Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin.000 dibekukan. untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun.masih lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi. karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi. 3. Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-pengusaha pribumi belum bisa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut. antara lain : a)Gunting Syarifuddin. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967) Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959.

eonomi. yang pada akhirnya selalu disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disahkan menjadi APBN. . . pertumbuhan ekonomi yang stabil. Asumsi-asumsi dasar tersebut dijadikan sebagai ukuran fundamental ekonomi nasional.Orde Baru/ Orba (Demokrasi Pancasila) Pada masa orde baru. Kebijakan-kebijakan ekonomi pada masa itu dituangkan pada Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). pemerintah menjalankan kebijakan yang tidak mengalami perubahan terlalu signifikan selama 32 tahun. ini juga salah satu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik. disusun berdasarkan asumsi-asumsi perhitungan dasar. lebih kearah yang bersifat mikro-ekonomi. Misalnya. Hal tersebut dituangkan ke dalam jargon kebijakan ekonomi yang disebut dengan Trilogi Pembangungan. yaitu stabilitas politik. kebijakan ekonominya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi. serta nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. APBN pada masa pemerintahan Orde Baru. Sekali lagi. tingkat resiko yang tinggi.c)Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. masalah-masalah dalam dunia usaha. dan pemerataan pembangunan. Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Kebijakan ekonomi tersebut didukung oleh kestabilan politik yang dijalankan oleh pemerintah. Oleh karena itu pemerintah selalu dihadapkan pada kritikan yang menyatakan bahwa penetapan asumsi APBN tersebut tidaklah realistis sesuai keadaan yang terjadi. tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Pada masa pemerintahan orde baru. Padahal sesungguhnya. Akan tetapi. pemerintahan mengalami stabilitas politik sehingga menunjang stabilitas ekonomi. Hal ini berhasil karena selama lebih dari 30 tahun. Karena hal itulah maka pemerintah jarang sekali melakukan perubahan-perubahan kebijakan terutama dalam hal anggaran negara. Dikarenakan pada masa itu pemerintah sukses menghadirkan suatu stablilitas politik sehingga mendukung terjadinya stabilitas ekonomi. maupun bidang-bidang lain. dan juga sebagai akibat politik konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat. fundamental ekonomi nasional tidak didasarkan pada perhitungan hal-hal makro. harga ekspor minyak mentah Indonesia. hingga penerapan dunia swasta dan BUMN yang baik dan bersih. Yaitu laju pertumbuhan ekonomi. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi. Pada masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah. tingkat inflasi.

pembangunan memerlukan dana investasi yang besar dan tidak dapat seluruhnya dibiayai oleh sumber dana dalam negeri. Sehingga antara penerimaan dan pengeluaran dapat berimbang. Namun prinsip berimbang ini merupakan kunci sukses pemerintah pada masa itu untuk mempertahankan stabilitas. Penerapan kebijakan tersebut menimbulkan banyak kritik. Padahal. Hal perimbangan tersebut sebetulnya sangat tidak mungkin. Karena menurut pemerintah. pada masa itu penerimaan pajak saat minim sehingga tidak dapat menutup defisit anggaran. Dalam Keterangan Pemerintah tentang . Prinsip lain yang diterapkan pemerintah Orde Baru adalah prinsip fungsional. Kebijakan yang disebut tahun fiskal ini diterapkan seseuai dengan masa panen petani. khususnya di bidang ekonomi. pada dasarnya APBN pada masa itu selalu mengalami defisit anggaran. Pinjaman-pinjaman luar negeri inilah yang digunakan pemerintah untuk menutup anggaran yang defisit. konsep yang benar adalah pengeluaran pemerintah dapat ditutup dengan penerimaan pajak dalam negeri. Padahal seharusnya pinjaman-pinjaman tersebut adalah utang yang harus dikembalikan. karena pada masa itu pinjaman luar negeri selalu mengalir. Karena pemerintah dapat menghindari terjadinya inflasi. Ini artinya pinjaman-pinjaman luar negeri tersebut ditempatkan pada anggaran penerimaan. karena pinjaman yang digunakan akan membuahkan hasil yang nyata. Pada dasarnya kebijakan ini sangat bagus. dan merupakan beban pengeluaran di masa yang akan datang. Sirkulasi anggaran dimulai pada 1 April dan berakhir pada 31 Maret tahun berikutnya. APBN pada masa itu diberlakukan atas dasar kebijakan prinsip berimbang. yang sumber pokoknya karena terjadi anggaran yang defisit. karena anggaran defisit negara ditutup dengan pinjaman luar negeri.Format APBN pada masa Orde baru dibedakan dalam penerimaan dan pengeluaran. Oleh karena itu. Sehingga pembangunanpun terus dapat berjalan. dalam APBN tiap tahunnya cantuman angka pinjaman luar negeri selalu meningkat. Permasalahannya. Penerimaan terdiri dari penerimaan rutin dan penerimaan pembangunan serta pengeluaran terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. sehingga menimbulkan kesan bahwa kebijakan ekonomi nasional memperhatikan petani. Akan tetapi. Hal ini bertentangan dengan keinginan pemerintah untuk selalu meningkatkan penerimaan dalam negeri. yaitu anggaran penerimaan yang disesuaikan dengan anggaran pengeluaran sehingga terdapat jumlah yang sama antara penerimaan dan pengeluaran. Prinsip ini merupakan pengaturan atas fungsi anggaran pembangunan dimana pinjaman luar negeri hanya digunakan untuk membiayai anggaran belanja pembangunan.

Diantaranya akan menyebabkan berkurangnya pertumbuhan ekonomi. Hal ini jelas menggambarkan betapa APBN pada masa pemerintahan Orde Baru sangat bergantung pada pinjaman luar negeri. Sehingga yang terjadi hanya perbedaan penghasilan.ditandai dengan tumbangnya pemerintahan Orde Baru kemudian disusul dengan era reformasi yang dimulai oleh pemerintahan Presiden Habibie. pemerintah dapat memanfaatkan tabungan tersebut untuk berinvestasi dalam pembangunan. dinamis yang berarti peningkatan tabungan pemerintah untuk membiayai pembangunan. terpaksa mengalami perubahan guna menyesuaikan dengan keadaan. antara lain masalah KKN (Korupsi. Prinsip ketiga yang diterapakan oleh pemerintahan Orde Baru dalam APBN adalah. Selain itu pinjaman luar negeri yang banyak akan menimbulkan resiko kebocoran. Sehingga apa yang telah stabil dijalankan selama 32 tahun. ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi. dan penyalahgunaan. Padahal disaat yang bersamaan persentase pengeluaran rutin untuk membayar pinjaman luar negeri terus meningkat. Pada masa ini tidak hanya hal ketatanegaraan yang mengalami perubahan. namun juga kebijakan ekonomi. pemulihan ekonomi. ketergantungan yang besar terhadap pinjaman luar negeri akan menimbulkan akibat-akibat. agar dapat dijadikan tabungan pemerintah. Dalam hal ini pemerintah akan berupaya untuk mendapatkan kelebihan pendapatan yang telah dikurangi dengan pengeluaran rutin.Masa Reformasi (Demokrasi Liberal) Pada masa krisis ekonomi. Akan tetapi. yaitu derelgulasi perbankan dan reformasi perpajakan. kinerja BUMN.RAPBN tahun 1977. Hal lain yang dapat terjadi adalah pemerataan ekonomi tidak akan terwujud. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun. Akibatnya. Padahal. Padahal. korupsi. .Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan manuver-manuver yang cukup tajam dalam bidang ekonomi. Kolusi dan Nepotisme). Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat. pengendalian inflasi. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan stabilitas politik. Presiden menyatakan bahwa dana-dana pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri harus meningkat. dan mempertahankan kurs rupiah. Kebijakan pemerintah ini dilakukan dengan dua cara. . Sehingga pada akhirnya berakibat tidak dapat terpenuhinya keinginan pemerintah untuk meningkatkan tabungannya. kebijakan demikian membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama. Pemerintahan presiden BJ. Oleh karena itu. belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. kebijakan untuk mengurangi bantuan luar negeri tidak dapat terjadi karena jumlah pinjaman luar negeri terus meningkat. Dan lebih parahnya lagi ketergantungan tersebut akan menyebabkan negara menjadi malas untuk berusaha meningkatkan penerimaan dalam negeri.

Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM. b)Kebijakan privatisasi BUMN. Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3. serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan.8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116. maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri. atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor. yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah. terutama investor asing. dan mengganggu jalannya pembangunan nasional. Menurut Keynes. yang salah satunya adalah revisi undangundang ketenagakerjaan. diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatankekuatan politik dan mengurangi beban negara. Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri mengalami masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia.Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak.1 %. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain : a)Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi. dan jumlah penduduk . Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia.3 triliun. investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4. setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam. dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial.2 miliar dolar AS. yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin.Akibatnya. tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Dengan ini. Pada pertengahan bulan Oktober 2006 . kedudukannya digantikan oleh presiden Megawati.

Jangan dilupakan pula bahwa ekonomi RI ambruk parah ditandai Rupiah terjun bebas ke Rp 16. meski pada masa Presiden SBY pemberantasan korupsi mulai kelihatan wujudnya. kedelai dsb. sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Yang memimpikan kembalinya rezim totaliter mungkin hanyalah sekelompok orang yang dulu amat menikmati previlege dan romantisme kenikmatan duniawi di zaman Orba. di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri. dibagi-bagi ke orang-orang tertentu (kroni) secara tidak transparan. Hutan dijadikan sumber duit. Masa Reformasi krisis ekonomi parah sudah terjadi. kondisi dalam negeri masih kurang kondusif. Ingat fakta sejarah: Orde Baru tumbang akibat demo mahasiswa yang memprotes pemerintah Orba yang bergelimang KKN.Apa yang bisa digadaikan. Media masa menjadi terbuka. terigu. sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap. termasuk beras. Jadi. antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI). . Budaya korupsi yang sudah menggurita sulit dihilangkan. Pada masa Orde Baru konsepnya bertolak belakang dengan orde lama. meski RI hidup miskin. Beras murah. Kekayaan alam itu akan menjadi tabungan anak cucu di masa depan. Beberapa gelintir orang mendapat rente ekonomi yang luar biasa dari berbagai jenis monopoli impor komoditi bahan pokok. Yang penting bisa selalu makan enak dan hidup wah. Rakyat menikmati kebebasan (namun sepertinya terlalu ³bebas´). dibagi menjadi kapling-kapling HPH. Pada masa orde lama : Konsep Bung Karno tentang kekayaan alam sangat jelas. Jika ada orang mempertanyakan. Utang LN tetap harus dibayar. birokrasi pemerintahan terlalu kental. diancam tuduhan subversif. Jadi saat dipimpin Bung Karno. tapi di lain pihak.000 per dollar terjadi masih pada masa Orde Baru. Kalo bisa ngutang ya ngutang. Hal ini disebabkan karena beberapa hal. Penebangan hutan pada masa Bung Karno juga amat minim. industri kayu yang sudah terbentuk dimana-mana akibat dari berbagai HPH . menjadi muara dari illegal logging. digadaikan. padahal sebagian adalah beras impor. Jika Bangsa Indonesia belum mampu atau belum punya iptek untuk menambang minyak bumi dsb biarlah SDA tetap berada di dalam perut bumi Indonesia.Sekarang kita mewarisi hutan yang sudah rusak parah. karena inefisiensi pengelolaan anggaran. Semua serba tertutup dan tidak tranparan.05 juta jiwa pada bulan Maret 2006.. tapi Bung Karno tidak pernah menggadaikan (konsesi) tambang-tambang milik bangsa ke perusahaan asing.miskin meningkat dari 35. Rakyat pun merasa hidup berkecukupan pada masa Orba. o Masalah pemanfaatan kekayaan alam. Biarlah anak cucu yang menikmati jika mereka sudah mampu dan bisa.10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39. Selain itu.

pemerintahan lemah. Yustika. Soeharto dan Orde Baru tidak bisa dipisahkan. Potret Kebijakan Moneter Indonesia. berorientasi pada politik. Aulia. Orde baru : kebijakan masih pada pemerintah.answers.demokrasi Terpimpin. Soekarno membubarkan Konstituante yang bertugas merancang UUD baru bagi Indonesia. 2002. DENGAN Dekrit 5 Juli 1959. sekularisme.Sistem politik otoriter (partisipasi masyarakat sangat minimal) pada masa orba terdapat instrumen-instrumen pengendali seperti pembatasan ruang gerak pers. bangsa ini tidak pernah membuat garis demarkasi yang jelas terhadap Orde Baru. Kita masih menyaksikan koruptor masih bercokol di negeri ini. Soeharto melahirkan Orde Baru dan Orde Baru merupakan sistem kekuasaan yang menopang pemerintahan Soeharto selama lebih dari tiga dekade. Sebab. Ahmad Erani. Memetakan Perekonomian Indonesia. pembatasan partai poltik. Betulkah Orde Baru telah berakhir? Kita masih menyaksikan praktik-praktik nilai Orde Baru hari ini masih menjadi karakter dan tabiat politik di negeri ini. dll. fokus pada pembangunan ekonomi. tidak jelas apa orientasinya dan mau dibawa kemana bangsa ini. Jakarta : PT.com/upload/Reformasi%20di%20Persimpangan%20Jalan. kekuasaan militer untuk memasuki wilayah-wilayah sipil. namun sektor ekonomi sudah diserahkan ke swasta/asing.com/2008/11/07/sejarah-perekonomian-indonesia/ http://www.mudrajad.wordpress. Mengapa semua ini terjadi? Salah satu jawabannya. Orde reformasi : pemerintahan tidak punya kebijakan (menuruti alur parpol di DPR).com/question/index?qid=20090126174820AAFGt08 http://yunaniabiyoso.o Sistem pemerintahan Orde lama : kebijakan pada pemerintah. Grasindo. demokrasi Pancasila. pewadahunggalan organisasi profesi. Tonggak awal reformasi 11 tahun lalu yang diharapkan bisa menarik garis demarkasi kekuatan lama yang korup dan otoriter dengan kekuatan baru yang ingin melakukan perubahan justru ³terbelenggu´ oleh faktor kekuasaan. kapitalisme. Referensi : http://id.html http://labtani. Pembangunan dan Krisis.semua proyek diserahkan kepada pemerintah. 2008. sentralistik.pdf Pohan. demokrasi Liberal (neoliberaliseme). sentralistik.blogspot.Jakarta:Rajawali pers. dan muncul otonomi daerah yang kebablasan.com/2008/04/perbedaan-determinasi-kebijakan. serta memulai periode yang dalam sejarah politik kita . Perbedaan Orde Baru dan Orde Reformasi secara kultural dan substansi semakin kabur.yahoo.

dan ini terutama dicerminkan oleh pertarungan antar-partai. yakni Golkar. Sebenarnya. di balik kesan kuat adanya keterputusan antara ³Orde Lama´ dan ³Orde Baru´. tetapi juga tindakan Soekarno tersebut memberikan landasan awal bagi sistem politik yang justru kemudian dibangun dan dikembangkan pada masa Orde Baru.disebut sebagai ³Demokrasi Terpimpin´. dan keselarasan. tidaklah terlalu sulit untuk menemukan banyak kontinuitas antara ³Demokrasi Terpimpin´-nya Soekarno dan ³Demokrasi Pancasila´-nya Soeharto. Ia juga amat percaya pada kekuatan massa. Pada akhirnya. Ia juga terkesan curiga dengan kekuatan rakyat: kebijaksanaan ³massa mengambang´ Orde Baru didasari premis bahwa rakyat harus dipisahkan dari politik. Pertama. Peristiwa ini sangat penting. dua-duanya dapat dikatakan sangat ³nasionalis´ dalam hal itu. bukan saja karena menandai berakhirnya eksperimen bangsa Indonesia dengan sistem demokrasi yang liberal. didirikannya satu ³partai negara´ atau ³pelopor´ adalah ide yang juga lama digandrungi oleh Soekarno. dengan merekayasa sebuah sistem yang pada dasarnya didominasi oleh satu ³partai negara´. keduanya mengecam ³individualisme´ yang katanya lahir dari liberalisme Barat. setelah sempat hendak diputus oleh pendahulunya. Soekarno sudah menuduh partai politik di Indonesia pada waktu itu sebagai biang keladi terpecah-belahnya bangsa. baik Soekarno maupun Soeharto amat mementingkan retorika ³persatuan´ dan ³kesatuan´. sedangkan Soeharto justru . Dengan demikian. Tapi bukankah Soekarno amat berbeda dari Soeharto. Bahkan. dan sempat mengajak rakyat untuk ³mengubur´ partai-partai tersebut dalam sebuah pidato yang amat terkenal. terdapat pula beberapa kontinuitas yang cukup penting. Soeharto juga beranggapan bahwa sistem politik yang didukungnya adalah yang paling ³cocok´ dengan ³kepribadian´ dan ³budaya´ khas bangsa Indonesia yang konon mementingkan kerja sama. Soekarno menganggap bahwa bangsa Indonesia dapat kembali kepada ³rel´ revolusi yang sejati dengan semangat persatuan. Soeharto bahkan dikenal lebih antipartai politik. yang dapat berpidato secara amat berapi-api tentang revolusi nasional. Individualisme itu melahirkan egoisme. dua-duanya sangat anti terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan disintegrasi teritorial Indonesia. Presiden kedua RI sama sekali bukan orator. walau keinginannya tidak pernah menjadi kenyataan di masa kekuasaannya. neokolonialisme dan imperialisme. dengan perbedaan bahwa Soekarno mementingkan politik mobilisasi massa. gotong-royong. pendiri Orde Baru yang menggantikannya lewat serangkaian manuver politik sejak tahun 1965 yang hingga kini masih banyak diselimuti misteri?Tentu banyak perbedaan antara Soekarno dan Soeharto yang amat gamblang. serta dikenal sebagai orang yang-meskipun pemerintahannya penuh dengan kasus kolusi. kekuatan rakyat. SEPERTI Soekarno. sejak 1956. Dalam retorika. Namun. dan dua partai ³pajangan´. Dengan mengubur partai politik. Presiden pertama RI dikenal sebagai orator yang ulung. korupsi dan nepotisme (KKN)memimpin proses bergabung kembalinya Indonesia dengan sistem kapitalisme internasional. jauh lebih tertutup.

jadi sama sekali bukan sesuatu yang ³suci´. Partai Nasional Indonesia (PNI). Nahdlatul Ulama (NU) serta PKI-kini masih dianggap sebagai pemilu paling bebas dan bersih yang pernah dilaksanakan sepanjang sejarah Indonesia. PRRI/Permesta. Dalam pengamatan yang lebih seksama. Dalam versi sejarah yang dibaca di sekolah. dan didominasi oleh partai-partai politik yang menguasai parlemen. mungkin ada baiknya kita kembali dulu kepada latar belakang pembubaran Konstituante oleh Soekarno serta kembalinya Indonesia kepada UUD 1945. Boleh dikatakan bahwa Orde Lama serta Demokrasi Terpimpin telah pave the way. Sebab. sisi lain dari sistem parlemen yang dikuasai partai ini adalah sering jatuh bangunnya kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri. sedangkan Soeharto. Sikap menomorsatukan UUD 1945 bukanlah hanya mencerminkan masalah ideologis atau filosofis yang abstrak. yang tidak boleh diamandemen. Baik Soekarno maupun Soeharto amat mengerti bahwa UUD µ45 memusatkan kekuasaan pada lembaga kepresidenan. Hal yang menarik adalah justru pada tahun 1945 Soekarno pernah berucap bahwa konstitusi itu hanya bersifat sementara. Namun. Soeharto sendiri menjalankan pembangunan bercorak kapitalis. membuka jalan. dan sebagainya. suatu hal yang hari ini justru menjadi masalah dengan adanya tarik-menarik antara Presiden dan DPR. termasuk dengan merangkul kekuatan-kekuatan kapitalisme terdepan di dunia. dengan caranya masing-masing. di masa kekuasaannya. Selain itu. yakni DI/TI. bahkan Soekarno makin curiga pada partai politik karena dia menganggap . Perbedaan kedua adalah simpati Soekarno pada gerakan-gerakan antiimperialisme. sebagaimana diklaim oleh Soeharto. Tidak mengherankan bahwa Soekarno telah mengawali Demokrasi Terpimpinnya dengan kembali pada Undang-Undang Dasar 1945. dan mungkin sebagai salah satu konsekuensi. Bahwa beberapa gerakan separatis muncul sepanjang tahun 1950-an juga adalah kenyataan. Toh Pemilu 1955-yang dimenangkan empat kekuatan besar. tetapi masalah kekuasaan yang konkret. tahun 1950-an di Indonesia ditandai oleh ketidakstabilan politik yang disebabkan oleh sistem demokrasi parlementer yang berlaku pada waktu itu. sejarah yang kita baca di sekolah akan menekankan pula bahwa integritas nasional terus-menerus diancam oleh berbagai gerakan separatis. UUD µ45 diciptakan dalam keadaan darurat. Dua-duanya mementingkan ³persatuan´-yang satu demi ³revolusi´ dan yang lainnya demi ³pembangunan´. dan beberapa aktor politik lebih kontemporer. mencanangkan sistem politik yang berwatak anti-liberal dan curiga pada pluralisme politik. ternyata ada banyak sekali ³utang´ Orde Baru pada Orde Lama. selalu bersikeras tentang sifat ³sakral´ konstitusi. Sistem ini bersifat sangat liberal. Bahwa kabinet sering jatuh bangun pada waktu itu adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Untuk menjelaskan hal ini.sebaliknya. Masyumi. dan justru telah menutup arena politik untuk kekuatan komunisme. penerimaannya pada Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai aktor politik yang sah. bagi Orde Baru dan ³Demokrasi Pancasila´ versi Soeharto. Tapi dua-duanya.

Seperti diketahui. Dengan kata lain. Pembahasan terhadap kepentingan-kepentingan konkret seperti ini tidak lazim ditemukan dalam pelajaran sejarah di sekolah pada tahun 1950-an.mengambil-alih seluruh hak untuk mendefinisikan ³kepentingan nasional´ tersebut. Mengapa Angkatan Darat mendukung upaya Soekarno? Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. akibat perdebatan berlarut-larut. penaklukan terhadap pemberontakan daerah telah . Bisa dikatakan Soekarno tidak puas sebagai presiden yang hanya bersifat figure-head. Mungkin terjadinya hal seperti itu akan sukar dibayangkan oleh Soekarno sendiri. yang kemudian dikenal sebagai golongan ³karya´. Perlu diingat pula bahwa.Masyumi. Bahkan ³oposisi´ menjadi kata yang kotor. sekutu serta kroninya. dan yang diperlukan adalah individu-individu yang dapat mewakili kepentingan ³rakyat´ atau yang depat menyuarakan ³kepentingan nasional´ yang sebenarnya. dengan sistem kekuasaan yang jauh lebih terpusat dibandingkan pada masa Soekarno. terlibat dalam beberapa pemberontakan daerah. dan segala unsur dalam masyarakat yang menentangnya dinyatakan sebagai pengkhianat. hal ini kemudian menjadi masalah yang amat besar. terutama antara kekuatan nasionalis sekuler dan kekuatan Islam mengenai dasar negara. dan juga PSI. tempat partai di dalam parlemen juga dibatasi-sebab menurut Soekarno-politisi partai hanya mewakili kepentingan partainya. kepentingan nasional menjadi identik dengan kepentingan segelintir penguasa politik dan ekonomi. di luar jatuh bangunnya kabinet dalam sistem liberal tahun 1950-an serta pemberontakan-pemberontakan di daerah. ADALAH penting juga untuk dicatat bahwa salah satu kekuatan pendukung utama upaya Soekarno untuk memberlakukan Demokrasi Terpimpin adalah Angkatan Darat. atau DPR. sedangkan Angkatan Darat telah berkembang menjadi kekuatan yang juga tidak puas dalam peranan hanya sebagai penjaga pertahanan dan keamanan belaka. untuk sebagian. Ada persamaan nasib antara Soekarno dan tentara di dalam sistem demokrasi liberal yang mementingkan peranan partai dan parlemen. baik Soekarno dan Angkatan Darat mempunyai kepentingan nyata untuk membangun suatu sistem politik baru yang memberikan mereka kekuasaan yang lebih langsung. Negara-dalam hal ini hampir tidak bisa dibedakan dari Soeharto. Akibatnya. keluarga. Di masa Orde Baru. Hal ini telah difasilitasi dengan kembalinya Indonesia kepada UUD µ45. Bahkan. salah satu aspek yang penting dari Demokrasi Terpimpin adalah berpusatnya kekuasaan di tangan eksekutif (presiden) dan berkurangnya kekuasaan lembaga legislatif. Pada saat yang sama. yakni keduanya tidak mempunyai akses yang langsung terhadap jalannya roda pemerintahan. meskipun ia senang memandang dirinya sebagai ³penyambung lidah rakyat´ berada ³di atas´ konflik-konflik kepentingan yang sempit. bentuk parlemen pun diubah dengan dicanangkannya suatu lembaga yang pada dasarnya memberikan tempat yang lebih besar untuk golongan-golongan ³fungsional´ dalam masyarakat. Soekarno mendekritkan kembalinya Indonesia pada UUD 1945 karena kegagalan Konstituante untuk memutuskan UUD baru untuk Indonesia. Lebih jauh lagi.

kondisi darurat yang dicanangkan untuk menghadapi pemberontakan daerah telah menempatkan banyak perwira militer sebagai administrator roda pemerintahan. Nasution pulalah yang pertama mengusulkan bahwa hak pilih tentara dan polisi dicabut dan diganti oleh hak otomatis memperoleh perwakilan di badan legislatif. otoriter dan ekslusioner pada masa Orde Baru.menghasilkan suatu pimpinan Angkatan Darat yang jauh lebih bersatu dibandingkan sebelumnya. militer Indonesia tidak akan bersifat intervensionis-dan terlibat dalam kudeta demi kudetasebagaimana di Amerika Latin. Jenderal Abdul Haris Nasution telah tampil sebagai pimpinan yang mampu untuk meredam tantangan yang diajukan oleh komandan-komandan lokal yang memberontak karena tidak senang dengan dominasi Jakarta/Jawa. tampaknya militer tergiur untuk mempunyai peranan yang langsung di dalam sistem politik. namun juga tidak akan tinggal diam sebagai penonton arena politik. Lebih jauh lagi. Orde Baru dapat dipandang sampai tingkat tertentu sebagai hasil yang tidak disengaja (unintended consequence) dari manuver-manuver politik Soekarno dan Nasution di tahun 1950-an. ³Demokrasi Terpimpin´-nya Soekarno memberikan peluang. Di antaranya adalah Ibnu Sutowo yang kemudian mengembangkan Pertamina. Jadi. Dengan posisi politik dan ekonomi yang kuat seperti ini. militer amat tidak senang dengan upaya Soekarno untuk mengikutsertakan PKI dalam pemerintahan. Walaupun sering dikatakan bahwa maksud awal Nasution telah dipelesetkan oleh Soeharto. Dalam konteks ini. Khususnya. Di antara golongan ³fungsional´ atau ³karya´ yang boleh duduk dalam parlemen adalah tentara. Dalam konsepsi ini. Nasution telah memberikan landasan awal bagi peranan militer di dalamnya. masing-masing sebagai pimpinan negara dan tentara. Dalam pikiran Soekarno. Ternyata-walaupun cukup ³sukses´ dalam pemilu nasional dan lokal sebelumnya-PKI mampu beradaptasi dengan lingkungan politik baru setelah berakhirnya masa demokrasi parlementer. PKI adalah bagian tak terpisahkan dari ³front´ nasional menentang imperialisme dan untuk memajukan revolusi nasional. kita perlu mengingat pula bahwa Jenderal Nasution telah mengajukan apa yang disebut sebagai ³jalan tengah´ untuk militer Indonesia. Tentunya. seperti juga PNI dan NU (dua . bila Soekarno telah memberikan dasar dari konsepsi sistem politik yang akan dikembangkan dalam versi yang lebih birokratis. dalam ide ini kita melihat cikal-bakal dari ³dwifungsi´ ABRI yang dipraktikkan Orde Baru. sebagaimana di negeri-negeri Barat. Bisa dikatakan bahwa Soeharto tidak mungkin ³ada´ secara politik tanpa manuver kedua pendahulunya itu. Soekarno dan Nasution pada waktu itu berada dalam situasi yang ditandai oleh keharusan untuk bernegosiasi dan bekerja sama. tetapi juga tidak jarang oleh konflik. Di samping itu. nasionalisasi perusahaanperusahaan asing di tahun 1957-yang sebenarnya dipelopori oleh serikat buruh-telah menempatkan banyak perwira militer di pucuk pimpinan perusahaan-perusahaan negara yang terbesar. sedangkan Soekarno semakin mengandalkan PKI sebagai satu-satunya kekuatan politik di awal tahun 1960-an yang dapat mengimbangi Angkatan Darat. Oleh karena itu.

setelah proses perdebatan dan intrik yang panjang. yakni sebagai wadah untuk melegitimasikan kekuasaan lewat sejumlah pemilu yang jauh dari prinsip bebas dan bersih. Sebagaimana diketahui. karena pandangan ini dikumandangkan juga oleh banyak intelektual lain-termasuk yang kemudian menjadi lawan Soeharto yang gigih dan tokoh gerakan demokrasi-serta sejumlah jenderal. walau dalam versi tentara. partainya golongan karya. Tentu dia tidak sendiri. konflik militer dan PKI itu akhirnya berkulminasi dengan peristiwa 1965 yang hingga kini masih misterius. Setelah Soekarno memperjuangkan konsep perwakilan politik berdasarkan ³fungsi´ dalam masyarakat. yang katanya menghambat pembangunan. Adalah dalam konteks konflik militer dengan PKI ini jugalah lahir ³bayi´ yang kemudian menjadi entitas politik bernama Golkar. Akhirnya. disertai oleh Golkar. Pada dasarnya. Perdebatan di antara para pendiri atau pendukung Orde Baru berkisar sejauh dan secepat manakah partai politik perlu di-¶kubur¶. ADALAH menarik bahwa pada masa awal Orde Baru. terjadi pula perdebatan di antara para pendukungnya sendiri (ketika itu. dan bercorak anti-komunis. dan diperburuk sejak tentara semakin aktif mengembangkan ormas untuk melawan dominasi PKI terutama di bidang organisasi buruh dan tani. termasuk para intelektual dan mahasiswa) tentang peranan partai politik yang wajar di Indonesia. Golkar dikembangkan di masa Soeharto sebagai salah satu pilar utama Orde Baru. Konflik militer-PKI sendiri setidaknya sudah berawal pada peristiwa Madiun. Dalam hal-hal macam ini pulalah kita bisa melihat satu lagi ³utang´ Orde Baru-nya Soeharto pada ³Orde Lama´-nya Soekarno. militerlah yang kemudian menjadi ahli waris langsung dari konsep golongan karya yang awalnya diperjuangkan oleh Soekarno. Sekretariat Bersama Golkar (Sekber Golkar) didirikan oleh tentara untuk menghimpun kekuatan-kekuatan keormasan dan politik yang berseberangan dengan kekuatan komunis. konsep ini bermutasi menjadi lebih anti-partai. Seperti diketahui.elemen lain dari Nasakom-nya Soekarno). Intelektual macam Mochtar Lubis pun menulis di koran Indonesia Raya tentang perlunya lapangan politik dibersihkan dari partai politik yang identik dengan Orde Lama. Salah satu tokoh yang paling penting dalam proses perekayasaan sistem politik Orde Baru adalah Jenderal Ali Moertopo. ideolog militer macam Jenderal Soehardiman juga mengembangkan konsep ³karyawan´ di bidang perburuhan dengan mendirikan SOKSI (terutama berbasis pada perusahaan negara yang dikuasai militer). Peranannya menonjol baik sebagai ideolog maupun sebagai . dan naiknya Jenderal Soeharto ke pucuk pimpinan negara. Apalagi tentara sejak 1957 berhadapan langung dengan SOBSI-serikat buruh yang dekat dengan PKI-di perusahaan nasional yang dikelola militer. Dalam perjalanan sejarah. akhirnya semua partai ³sisa´ Orde Lama memang difusikan menjadi Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia di tahun 1973.

Sebaliknya. Seperti dikemukakan sebelumnya. Di masa Orde Baru. Pemikiran ini aslinya dikembangkan di Eropa sebagai respons terhadap bahaya ³fragmentasi´ masyarakat yang disebabkan oleh kemunculan politik perjuangan kelas yang dimotori oleh kaum sosialis. seperti karya Samuel Huntington yang tersohor. Jenderal Moertopo menerbitkan beberapa karya yang amat gamblang menggambarkan dasar-dasar pemikiran. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan betapa relevannya pemikiran dan tindakan Soekarno pada . protes daerah-daerah tertentu mengenai berbagai kebijakan pemerintah pusat dijawab dengan pengiriman tentara demi menjamin lestarinya persatuan nasional. pemikiran Moertopo banyak dipengaruhi oleh pemikiran Gereja Katolik Eropa awal abad ke20. hubungan organik. Menurut Bourchier. meskipun ada banyak perbedaan di tingkat permukaan. Soekarno pun mengkhawatirkan proses fragmentasi di Indonesia. Menurut David Bourchier (seorang pengamat politik Indonesia berasal dari Australia). retorika Soekarno seperti biasa dibumbui oleh jargon-jargon revolusioner yang cenderung romantis dan yang menekankan bersatunya pemimpin dengan rakyat TULISAN ini telah memusatkan perhatian pada beberapa kontinuitas-mungkin terasa agak ironis-antara Orla dan Orba. Sekali lagi. Moertopo bukan seorang Soekarnois. atau hal lain-digabungkan dengan praktik-praktik politik represif yang membungkam bukan hanya partai. Soekarno menyatakan bahwa negara atau bangsa adalah suatu organisme yang tidak bisa dipilah-pilah. hal ini terjadi meskipun sistem politik yang hendak dibangun di Indonesia adalah yang diklaim bercorak kepribadian nasional yang khas. Moertopo mungkin memperoleh gagasan ini dari intelektual Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang sempat menjadi dapur pemikirannya. tentu ada perbedaan-perbedaan yang penting antara ³visi´ Orde Baru dan visi ³Demokrasi Terpimpinnya Soekarno´. tapi saya kira ada beberapa aspek dari pemikirannya-yang meskipun mungkin ³dipinjam´ dari tempat lain³bertemu´ secara tidak langsung dengan ide-ide yang sempat diperjuangkan oleh Soekarno di tahun 1950-an. tetapi semua suara oposisi dengan dalih ancaman terhadap persatuan nasional dan sebagainya. Ironisnya. politik Orde Baru. agama.operator politik utama Soeharto di awal Orde Baru (dengan Aspri dan Opsus-nya). blueprint. Bahkan. Salah satu ³pertemuan´ itu adalah dalam penempatan ³negara´ sebagai suatu entitas yang diidealisasikan berada di atas konflik dan perbedaan dalam masyarakat. ketakutan akan fragmentasi-atas dasar kelas. Dalam pidato kenegaraan di tahun 1956. sedangkan strategi politik Moertopo dicurahkan terutama untuk menjamin bahwa tidak ada kekuatan dalam masyarakat yang mampu untuk menentang kemauan negara sebagai pengejewantahan dari kepentingan bersama. Setidak-tidaknya retorika Orde Baru di masa awal dibumbui dengan jargon-jargon teori modernisasi yang dipinjam dari kepustakaan ilmu sosial Barat. antara negara dan masyarakat. walaupun lebih menurut aliran politik atau sentimen kedaerahan. yang juga mengajukan konsep adanya pertalian yang erat. Political Order in Changing Societies.

masa yang jauh melampaui kurun waktu kehidupannya sendiri-walaupun dalam bentuk unintended consequence-yakni berdiri. kepentingankepentingan ini bukan lagi dilindungi oleh negara yang otoriter tetapi justru oleh partai-partai yang tumbuh relatif bebas dalam alam demokratisasi. Mudah-mudahan sejarah tidak berulang dengan naiknya tentara sebagai panglima politik. Ledakan ini terjadi dalam bentuk yang beragam. Fase ini secara teoritis sebagai fase transisi dari otoritarianisme entah menuju kemana´. amuk massa. setiap kalangan menuntut kembali hak-hak politiknya yang selama bertahun-tahun dikerangkeng oleh negara. yang lantas disebut juga ³Orde Reformasi´. bahkan dewasa ini karena masih eratnya kaitan antara aktor-aktor politik di masa reformasi ini dengan berbagai kepentingan yang menonjol di masa Orde Baru. sebagaimana pernah dituduhkan Soekarno? Mudah-mudahan saja solusi politik yang akhirnya ditemukan oleh bangsa Indonesia akan sangat berbeda dari solusi yang pernah muncul sebelumnya. Pada tataran akar rumput (grass root). Bedanya. Seperti di tahun 1950-an dan 1960-an. Ketika Orde Baru tumbang. berkembang. Apa yang disebut liberalisasi adalah proses pendefinisian ulang dan perluasan hak-hak.Pada dasarnya. Orde Reformasi dicirikan dengan terjadinya apa yang oleh O¶Donnell dan Schmitter disebutnya fase ³liberalisasi politik´. ledakan partisipasi politik banyak mengambil bentuk huru-hara. Apakah sejarah akan berulang dan partai politik kembali dicap sebagai biang keladi fragmentasi bangsa. dan bercokolnya Orde Baru. kontinuitas adalah tema yang masih amat relevan dibicarakan di Indonesia. kemudian memasuki masa Reformasi. atau praktek penjarahan kolektif. Pasca runtuhnya rezim politik Orde Baru-nya Suharto yang otoriter di tahun 1998. Liberalisasi politik awal pasca Orde Baru ditandai antara lain terjadinya redefinisi hak-hak politik rakyat. dan bercokolnya rezim yang otoriter untuk waktu yang lama. kekerasan massa. Indonesia. Liberalisasi merupakan proses mengefektifkan hak-hak yang melindungi individu dan kelompok-kelompok sosial dari tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh negara. perilaku partai politik yang dianggap mementingkan diri sendiri juga telah menyebabkan banyak orang menjadi sinis terhadapnya. Konsekuensi dari liberalisasi politik ditandai dengan terjadinya ledakan partisipasi politik. .

sistem politik Indonesia perlu adanya sebuah evaluasi ulang atas fungsi-fungsi lembaga berdasarkan aturan yang telah ada. di mana terdiri atas sub-sub sistem. berimbas pada meledaknya partisipasi politik. sampai kapan sistem politik Indonesia berkutat pada tataran transisi? Kran demokrasi yang tertutup rapat selama 32 tahun.Sementara ledakan partisipasi politik di kalangan elit politik ditandai dengan maraknya pendirian partai politik. Bukan berarti menafikan bahwa akan ada benturan kepentingan di dalamnya. maka sistem politik Indonesia di masa reformasi dianggap sebagai sistem politik yang juga bersifat transisi. Inilah pemilu pertama pasca Orde Baru dan pemilu kedua setelah pemilu 1955. Pertanyaan mendasar kemudian adalah. . Proses input sebuah kebijakan haruslah kebutuhan mendasar sebuah masyarakat yang ditafsirkan sebagai doa-doa makhluk terhadap Tuhannya. Pemilu 1999 juga dijadikan tonggak awal Orde Reformasi. Sehingga proses yang berjalan merupakan transformasi nilai-nilai kemanusiaan. yang oleh para pengamat asing disebut sebagai pemilu paling bersih. guna terciptanya sebuah sistem yang sehat seperti yang digambarkan oleh David Easton. atau doa-doa tidak berakomodasi sepenuhnya. sehingga jumlah partai politik banyak. Sebagai perwujudan dari ledakan partisipasi politik itu. Sebagai orde transisi politik di Indonesia. para elit politik berlomba-lomba mendirikan kembali partai politik. Sebuah sistem politik yang sangat akut ini sedang mencari format terbaik. ibarat sebuah harapan. akibat begitu banyaknya masyarakat Indonesia yang menjadi pengemis akibat keganasan sebuah rezim yang µmenyulam¶ lidah-lidah rakyat dengan benang sutra. Sebuah sistem merupakan sebuah keseluruhan yang saling berinteraksi di dalamnya. Klimaks dari pendirian partai politik adalah diselenggarakannya pemilu di tahun 1999. karena banyak kalangan yang telah memperhitungkan sebelumnya. Ini bukanlah hal yang mengejutkan. Jadi sebagai sebuah keseluruhan.

maka haru ada sebuah kedinamisan dan keadilan pengetahuan atau yang dibahasakan oleh Muhammad Hatta pendidikan politik. Masa sekarang ini pun sistem politik Indonesia masih mengalami krisis yang memprihatinkan. maka diperlukan seorang dokter dengan jarum suntik di tangannya untuk menyembuhkan bangsa ini. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. karena partisipasi politik masyarakat belumlah cukup. Sistem politik ini merupakan bagian dari sebuah sistem yang besar. artinya belum ada perubahan yang mendasar dari reformasi yang dicita-citakan. Transformasi nilai yang saya maksud di atas tadi adalah puncak tertinggi nilai-nilai universal. belum mampu untuk menjalankan fungsinya dengan baik. atau biasa disebut oleh kalangan agamawan sebagai sosok nabi. sehingga hal ini berimbas pada sektor yang lain. yaitu politisi sebagai pelayan bagi umatnya. rezim yang hadir pun hanya menjadikannya tiket menuju kelas yang lebih tinggi. Legitimasi yang hadir saat ini adalah semu. masyarakat pun kecewa dengan hal ini dan merasa sakit. Pasca reformasi yang harapannya akan ada format baru bagi dunia politik ternyata mengalami kebuntuan. Sebagai salah satu bagian dari sebuah sistem politik maka yang hadir adalah sebuah sistem politik yang tidak lagi menarik. karena tampil sebagai topeng. Perubahan yang terlihat hanyalah pada kuantitas partai. reformasi yang terjadi juga sebuah keniscayaan yang tidak pernah diharapkan akan seperti ini. Politisi terperangkap pada keistimewaan akan dirinya sehingga tidak lagi menganggap rakyat adalah bagian dari dunianya. sehingga regulasi yang berjalan harus dibayar dengan kelaparan di berbagai daerah. yang membawa kita pada kemakmuran bersama. yaitu filsafat politik. setelah sampai ditujukan . Untuk itu dibutuhkan teropong yang lebih besar buat melihat masalah yang hadir. Jarum suntik ini adalah pendidikan politik yang merata. Jika mencoba membawanya pada realitas politik. Seperti sebuah virus yang menjangkiti sebuah bangsa.Reformasi yang terjadi pun adalah sebuah negosiasi kekuasaan elit lama yang merasa kecewa atas seniornya. Filsafat politik sebagai nilai-nilai universal adalah konstitusi tertinggi kemanusiaan. Hal ini dapat dilihat dari partai politik yang menjadi bangunan dasar demokrasi. guna pencapaian cita-cita filsafat politik. tapi masih menggunakan pola lama.

bukan hanya pada momen tertentu saja. maka komponen-komponen tersebut harus menjalankan fungsinya dengan baik. Dari sini dapat dikatakan bahwa partai politik belum mampu menjalankan fungsinya di dalam masyarakat. partai politik harus belajar untuk mandiri dalam banyak hal. Bukan hanya itu partai pulalah yang harus menggantikan tanggung jawab negara untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat luas. mengingat kondisi bangsa yang carut-marut. Pemahaman atas politik masih jauh dari harapan para filosof. Logika politik luar negeri yang ada pun membenarkan asumsi tersebut. Kondisi yang seperti ini terjadi tidak lain akibat pengetahuan masyarakat yang masih kurang terhadap politik. Oleh karena dibutuhkan kedinamisan maupun keseimbangan komponenkomponen yang ada dalam sebuah sistem. sementara ilmu politik begitu dinamis dan terus berkolaborasi dengan konteks budaya yang ada. Untuk pembiayaan kampanye saja negara masih harus menanggungnya. ini memperlihatkan bahwa partai politik masih sangat dimanjakan. Sistem ini pun tidak terlepas dari pengaruh yang hadir dari luar. Keberagaman budaya yang ada pada bangsa kita sangat berpengaruh pada perangkat politik yang ada pula. . perangkat politik yang sangat penting saya kira adalah partai politik yang melakukan adaptasi sebagai jawaban atas tantangan modernitas. yaitu dunia politik yang humanis telah menjadi kebutuhan yang meniscayakan sebuah bangsa yang kuat.dengan mudah untuk membuangnya ke dalam keranjang sampah. seharusnya partai politik memperlihatkan eksistensinya pada rakyat. Sehingga dibutuhkan kondisi politik yang kuat untuk dapat menunjukkan eksistensi bangsa pada lingkup global. Oleh karena itu dibutuhkan partai yang modern pula mengingat kebutuhan manusia yang semakin kompleks. dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menuju kemakmuran bersama. dan sebagai sebuah sub-sistem dari sistem yang lebih besar. di mana politik luar negeri merupakan cerminan politik dalam negeri. Sudah saatnya partai politik menebus budi atas suara yang telah diberikan padanya oleh rakyat. Pendidikan politik yang adil serta memanusiakan manusia adalah cita-cita kemakmuran itu. Banyaknya bencana kemanusiaan yang melanda bangsa ini. Kemudian tantangan yang kedua adalah.

Kebijakan atau kebijaksanaan yang dilahirkan dari sebuah proses konversi dari sebuah sistem politik tidak dengan sendirinya berakhir. yakni orang-orang kaya. Proses ini tidak lahir begitu saja. yakni dukungan dan tuntutan (suplay and demand). Jadi sistem politik Indonesia harus dilihat sebagai sebuah keseluruhan yang saling mempengaruhi. Sehingga kebijakan yang lahir pun tidak lagi menjadi alat untuk mensejahterakan rakyat. Studi Kasus Sistem politik digambarkan secara sederhana oleh David Easton sebagai sebuah proses pembuatan kebijakan (konversi). Demikian seterusnya. bahwa proses politik dari sebuah sistem politik tidak akan pernah berakhir karena adanya proses feed-back tersebut. Adapun setelah terjadinya proses konversi dari kedua variabel input tersebut. karena harga minyak dunia sementara melonjak. Ada sebuah proses yang mendahuluinya. . melainkan terus berproses dalam bentuk umpan balik (feed-back). Naiknya harga BBM di awal Maret 2005 lalu. yakni proses input atau masukan. Pertama. maka proses itu lantas disebut keluaran atau output. Ambillah contoh kasus terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (disingkat: BBM). Proses input ini terdiri dari setidaknya dua variabel. Kedua. tapi sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan dan menjadi budak nafsu keserakahan binatang. 2.Perlu diingat bahwa pendidikan politik itu bukan hanya pada masyarakat saja. tapi juga bagi elit politik sebagai pemegang peran penting dalam sebuah kebijakan. untuk mengurangi pembiayaan negara (subsidi) atas sebagian besar masyarakat yang seharusnya tidak layak untuk disubsidi. dengan dua alasan mendasar. Hal ini menjadi sangat penting melihat realitas politik yang ada di Indonesia bahwa elit yang hadir bukanlah orangorang yang begitu paham dengan politik. bukan ditafsirkan secara sempit sebagai sebuah kesalahan sebuah rezim atau kejahatan elit politik semata. tak luput dari beragam penilaian. Keluaran dari sebuah sistem politik dengan demikian disebut sebagai hasil kebijakan atau kebijaksanaan. Mulai dari aksi demonstrasi menolak kenaikannya sampai kemudian persetujuan bahwa kenaikan harga BBM tak mungkin lagi kita tolak atau tahan.

pada awalnya. yang menurut pemerintah mereka-mereka inilah yang seharusnya mendapatkannya. kelompok yang melihatnya sebagai bagian dari penyelamatan ekonomi negara (anti subsidi) dan kelompok yang secara langsung dan tak langsung justru diuntungkan dengan naiknya harga BBM (para pendukung neo-liberalis). Kebijakan itu dengan sendirinya menjadi output dari pemerintahan SBY-Kalla. Terjadi proses tarik-menarik kepentingan di dalam parlemen Indonesia (DPR). Kelompok kedua adalah mereka yang mendukung kenaikan harga BBM. Tetapi karena kuatnya kekuatan kelompok yang mendukung naiknya harga BBM di DPR. Ketika dikonversi untuk dijadikan sebagai sebuah kebijakan. disingkat: BLT) bagi masyarakat kecil yang terimbas dengan keluarnya kebijakan menaikkan BBM. demikian alot dan keras. yakni bagaimana seharusnya BBM itu dikelola. Proses politik yang terjadi. Apalagi ternyata. Kebijakan BLT ternyata tetap disalahgunakan oleh aparat pemerintah di tingkatan bawah. sebagian masyarakat masih tetap menolak kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan yang ada. Partai-partai politik yang anti kenaikan BBM kelihatan sangat bersungguh-sungguh untuk tetap sejalan dengan sebagian masyarakat untuk menolak naiknya harga BBM. Pada tataran feed-back atau umpan balik. kelompok yang menolak naiknya harga BBM yang diwakili secara pas oleh kelompok mahasiswa dan para aktivis buruh yang memang secara nyata paling rentan terancam dengan kebijakan tersebut. Tetapi meski demikian. Antara partai politik yang mendukung dan tidak mendukung naiknya harga BBM. Adapun kebijakan BLT pada kenyataannya tidak mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat menghadapi kenaikan harga sembako. . ada sebuah kebijakan yang juga lahir di samping kebijakan naiknya harga BBM. yakni kebijakan kompensasi (bantuan langsung tunai. kebijakan naiknya harga BBM tidak dapat diubah lagi.Proses inputnya terdiri dari dua. yang mendapatkan BLT tidak semuanya berkategori miskin. Jelaslah bahwa hingga saat ini. Akibat yang terjadi kemudian adalah terjadinya pemiskinan secara terstruktur oleh negara terhadap masyarakatnya. Kelompok yang mendukung ini dapat dibagi dua.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->