PERSAMAAN DAN PERBEDAAN KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI PERSAMAAN o Sama

-sama masih terdapat ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan Setelah Indonesia Merdeka, ketimpangan ekonomi tidak separah ketika zaman penjajahan namun tetap saja ada terjadi ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Dalam 26 tahun masa orde baru (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006). Sehingga dapat dikatakan bahwa kaum kaya memperoleh manfaat terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup tinggi, namun pada kenyataanya tidak merata terhadap masyarakat. o Adanya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) Orde Lama: Walaupun kecil, korupsi sudah ada. Orde Baru: Hampir semua jajaran pemerintah koruptor (KKN). Reformasi: Walaupun sudah dibongkar dan dipublikasi di mana-mana dari media massa,media elektronik,dll tetap saja membantah melakukan korupsi. Hal ini menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat yang sulit untuk disembuhkan akibat praktik-pratik pemerintahan yang manipulatif dan tidak terkontrol. o Kebijakan Pemerintah Sejak pemerintahan orde lama hingga orde reformasi kini, kewenangan menjalankan anggaran negara tetap ada pada Presiden (masing-masing melahirkan individu atau pemimpin yang sangat kuat dalam setiap periode pemerintahan sehingga menjadikan mereka seperti ³manusia setengah dewa´). Namun tiap-tiap masa pemerintahan mempunyai cirinya masingmasing dalam menjalankan arah kebijakan anggaran negara. Hal ini dikarenakan untuk disesuaikan dengan kondisi: stabilitas politik, tingkat ekonomi masyarakat, serta keamanan dan ketertiban. Kebijakan anggaran negara yang diterapkan pemerintah selama ini sepertinya berorientasi pada ekonomi masyarakat. Padahal kenyataannya kebijakan yang ada biasanya hanya untuk segelintir orang dan bahkan lebih banyak menyengsarakan rakyat. Belum lagi kebijakankebijakan yang tidak tepat sasaran, yang hanya menambah beban APBN. Bila diteliti lebih mendalam kebijakan-kebijakan sejak Orde Baru hingga sekarang hanya bersifat jangka pendek. Dalam arti kebijakan yang ditempuh bukan untuk perencanaan ke masa yang akan datang, namun biasanya cenderung untuk mengatur hal-hal yang sedang dibutuhkan saat ini.

PERBEDAAN : - Orde lama (Demokrasi Terpimpin) 1. Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950) Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain disebabkan oleh : a. Inflasi yang sangat tinggi, disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat harga. b. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negeri RI. c. Kas negara kosong. d. Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain : a.Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir. Surachman dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli 1946. b.Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India, mangadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia. c.Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi perkebunanperkebunan. d.Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947 Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948, mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif. e.Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan membaik (mengikuti Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber kekayaan). 2. Masa Demokrasi Liberal (1950-1957) Masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal. Perekonomian diserahkan pada pasar sesuai teori-teori mazhab klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Padahal pengusaha pribumi

c)Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no. karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi. sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. yaitu penggalangan kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. Program ini tidak berjalan dengan baik. terutama pengusaha Cina. Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-pengusaha pribumi belum bisa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut. e)Pembatalan sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar. d)Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo. antara lain : a)Gunting Syarifuddin. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%. termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda. antara lain : a)Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50. uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100. kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia. b)Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967) Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959. dan semua simpanan di bank yang melebihi 25. Namun usaha ini gagal.dan ekonomi (mengikuti Mazhab Sosialisme). diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial. . politik.000 dibekukan. dan pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segalagalanya diatur oleh pemerintah). yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret 1950. untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun. 3. Akan tetapi. karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman. yaitu upaya menumbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. b)Program Benteng (Kabinet Natsir).masih lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi. Dengan sistem ini.

dan pemerataan pembangunan. hingga penerapan dunia swasta dan BUMN yang baik dan bersih. Karena hal itulah maka pemerintah jarang sekali melakukan perubahan-perubahan kebijakan terutama dalam hal anggaran negara. tingkat inflasi. Kebijakan ekonomi tersebut didukung oleh kestabilan politik yang dijalankan oleh pemerintah. .Orde Baru/ Orba (Demokrasi Pancasila) Pada masa orde baru. lebih kearah yang bersifat mikro-ekonomi. kebijakan ekonominya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi. APBN pada masa pemerintahan Orde Baru. maupun bidang-bidang lain. Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. yaitu stabilitas politik. disusun berdasarkan asumsi-asumsi perhitungan dasar. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi. tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Asumsi-asumsi dasar tersebut dijadikan sebagai ukuran fundamental ekonomi nasional. serta nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Oleh karena itu pemerintah selalu dihadapkan pada kritikan yang menyatakan bahwa penetapan asumsi APBN tersebut tidaklah realistis sesuai keadaan yang terjadi. Padahal sesungguhnya. Yaitu laju pertumbuhan ekonomi.c)Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Hal ini berhasil karena selama lebih dari 30 tahun. ini juga salah satu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik. Hal tersebut dituangkan ke dalam jargon kebijakan ekonomi yang disebut dengan Trilogi Pembangungan. pemerintahan mengalami stabilitas politik sehingga menunjang stabilitas ekonomi. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama. dan juga sebagai akibat politik konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat. Sekali lagi. Misalnya. pemerintah menjalankan kebijakan yang tidak mengalami perubahan terlalu signifikan selama 32 tahun. masalah-masalah dalam dunia usaha. Dikarenakan pada masa itu pemerintah sukses menghadirkan suatu stablilitas politik sehingga mendukung terjadinya stabilitas ekonomi. Pada masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah. Pada masa pemerintahan orde baru. tingkat resiko yang tinggi. fundamental ekonomi nasional tidak didasarkan pada perhitungan hal-hal makro. Akan tetapi. . yang pada akhirnya selalu disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disahkan menjadi APBN. eonomi. harga ekspor minyak mentah Indonesia. pertumbuhan ekonomi yang stabil. Kebijakan-kebijakan ekonomi pada masa itu dituangkan pada Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN).

khususnya di bidang ekonomi. konsep yang benar adalah pengeluaran pemerintah dapat ditutup dengan penerimaan pajak dalam negeri. Sehingga pembangunanpun terus dapat berjalan.Format APBN pada masa Orde baru dibedakan dalam penerimaan dan pengeluaran. Sehingga antara penerimaan dan pengeluaran dapat berimbang. pada masa itu penerimaan pajak saat minim sehingga tidak dapat menutup defisit anggaran. karena pinjaman yang digunakan akan membuahkan hasil yang nyata. Dalam Keterangan Pemerintah tentang . APBN pada masa itu diberlakukan atas dasar kebijakan prinsip berimbang. Oleh karena itu. Namun prinsip berimbang ini merupakan kunci sukses pemerintah pada masa itu untuk mempertahankan stabilitas. Pinjaman-pinjaman luar negeri inilah yang digunakan pemerintah untuk menutup anggaran yang defisit. Penerapan kebijakan tersebut menimbulkan banyak kritik. dan merupakan beban pengeluaran di masa yang akan datang. Karena menurut pemerintah. Hal perimbangan tersebut sebetulnya sangat tidak mungkin. Padahal seharusnya pinjaman-pinjaman tersebut adalah utang yang harus dikembalikan. karena pada masa itu pinjaman luar negeri selalu mengalir. dalam APBN tiap tahunnya cantuman angka pinjaman luar negeri selalu meningkat. Prinsip lain yang diterapkan pemerintah Orde Baru adalah prinsip fungsional. Prinsip ini merupakan pengaturan atas fungsi anggaran pembangunan dimana pinjaman luar negeri hanya digunakan untuk membiayai anggaran belanja pembangunan. yaitu anggaran penerimaan yang disesuaikan dengan anggaran pengeluaran sehingga terdapat jumlah yang sama antara penerimaan dan pengeluaran. Pada dasarnya kebijakan ini sangat bagus. Karena pemerintah dapat menghindari terjadinya inflasi. pada dasarnya APBN pada masa itu selalu mengalami defisit anggaran. Kebijakan yang disebut tahun fiskal ini diterapkan seseuai dengan masa panen petani. Akan tetapi. karena anggaran defisit negara ditutup dengan pinjaman luar negeri. Permasalahannya. sehingga menimbulkan kesan bahwa kebijakan ekonomi nasional memperhatikan petani. Padahal. Sirkulasi anggaran dimulai pada 1 April dan berakhir pada 31 Maret tahun berikutnya. yang sumber pokoknya karena terjadi anggaran yang defisit. Hal ini bertentangan dengan keinginan pemerintah untuk selalu meningkatkan penerimaan dalam negeri. pembangunan memerlukan dana investasi yang besar dan tidak dapat seluruhnya dibiayai oleh sumber dana dalam negeri. Ini artinya pinjaman-pinjaman luar negeri tersebut ditempatkan pada anggaran penerimaan. Penerimaan terdiri dari penerimaan rutin dan penerimaan pembangunan serta pengeluaran terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.

antara lain masalah KKN (Korupsi. Sehingga apa yang telah stabil dijalankan selama 32 tahun. Hal ini jelas menggambarkan betapa APBN pada masa pemerintahan Orde Baru sangat bergantung pada pinjaman luar negeri. pengendalian inflasi. Prinsip ketiga yang diterapakan oleh pemerintahan Orde Baru dalam APBN adalah. dan mempertahankan kurs rupiah. . Diantaranya akan menyebabkan berkurangnya pertumbuhan ekonomi. kebijakan demikian membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama. Akan tetapi. Sehingga pada akhirnya berakibat tidak dapat terpenuhinya keinginan pemerintah untuk meningkatkan tabungannya. namun juga kebijakan ekonomi. pemerintah dapat memanfaatkan tabungan tersebut untuk berinvestasi dalam pembangunan. Dalam hal ini pemerintah akan berupaya untuk mendapatkan kelebihan pendapatan yang telah dikurangi dengan pengeluaran rutin. kebijakan untuk mengurangi bantuan luar negeri tidak dapat terjadi karena jumlah pinjaman luar negeri terus meningkat. kinerja BUMN. Pemerintahan presiden BJ. Padahal. dan penyalahgunaan. Hal lain yang dapat terjadi adalah pemerataan ekonomi tidak akan terwujud.Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan manuver-manuver yang cukup tajam dalam bidang ekonomi.RAPBN tahun 1977. Pada masa ini tidak hanya hal ketatanegaraan yang mengalami perubahan. terpaksa mengalami perubahan guna menyesuaikan dengan keadaan. belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. agar dapat dijadikan tabungan pemerintah. dinamis yang berarti peningkatan tabungan pemerintah untuk membiayai pembangunan. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan stabilitas politik. Selain itu pinjaman luar negeri yang banyak akan menimbulkan resiko kebocoran. Sehingga yang terjadi hanya perbedaan penghasilan. pemulihan ekonomi. Oleh karena itu. Akibatnya. korupsi. Padahal. ketergantungan yang besar terhadap pinjaman luar negeri akan menimbulkan akibat-akibat. Dan lebih parahnya lagi ketergantungan tersebut akan menyebabkan negara menjadi malas untuk berusaha meningkatkan penerimaan dalam negeri. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun. Padahal disaat yang bersamaan persentase pengeluaran rutin untuk membayar pinjaman luar negeri terus meningkat. .ditandai dengan tumbangnya pemerintahan Orde Baru kemudian disusul dengan era reformasi yang dimulai oleh pemerintahan Presiden Habibie. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat. Presiden menyatakan bahwa dana-dana pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri harus meningkat. Kebijakan pemerintah ini dilakukan dengan dua cara. Kolusi dan Nepotisme). ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi.Masa Reformasi (Demokrasi Liberal) Pada masa krisis ekonomi. yaitu derelgulasi perbankan dan reformasi perpajakan.

dan mengganggu jalannya pembangunan nasional. atau dengan kata lain menaikkan harga BBM.Akibatnya. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat. terutama investor asing. karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing. Menurut Keynes. serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatankekuatan politik dan mengurangi beban negara.8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116. dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial. Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM. investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain : a)Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia.Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam. kedudukannya digantikan oleh presiden Megawati.2 miliar dolar AS. diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu. yang salah satunya adalah revisi undangundang ketenagakerjaan. Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri mengalami masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri. Pada pertengahan bulan Oktober 2006 . yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan. dan jumlah penduduk . Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Dengan ini. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak. Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua. Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4.3 triliun. yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah. b)Kebijakan privatisasi BUMN. tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi.1 %.

termasuk beras. Hutan dijadikan sumber duit. Rakyat pun merasa hidup berkecukupan pada masa Orba.Apa yang bisa digadaikan.10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39. tapi di lain pihak. Beberapa gelintir orang mendapat rente ekonomi yang luar biasa dari berbagai jenis monopoli impor komoditi bahan pokok. Jadi saat dipimpin Bung Karno. Jadi. Kalo bisa ngutang ya ngutang. kondisi dalam negeri masih kurang kondusif. Biarlah anak cucu yang menikmati jika mereka sudah mampu dan bisa. padahal sebagian adalah beras impor. karena inefisiensi pengelolaan anggaran. terigu. meski pada masa Presiden SBY pemberantasan korupsi mulai kelihatan wujudnya. meski RI hidup miskin. Rakyat menikmati kebebasan (namun sepertinya terlalu ³bebas´).. Budaya korupsi yang sudah menggurita sulit dihilangkan. Yang memimpikan kembalinya rezim totaliter mungkin hanyalah sekelompok orang yang dulu amat menikmati previlege dan romantisme kenikmatan duniawi di zaman Orba. Penebangan hutan pada masa Bung Karno juga amat minim. o Masalah pemanfaatan kekayaan alam.Sekarang kita mewarisi hutan yang sudah rusak parah. . sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Jangan dilupakan pula bahwa ekonomi RI ambruk parah ditandai Rupiah terjun bebas ke Rp 16. Pada masa orde lama : Konsep Bung Karno tentang kekayaan alam sangat jelas. kedelai dsb. Kekayaan alam itu akan menjadi tabungan anak cucu di masa depan. Masa Reformasi krisis ekonomi parah sudah terjadi.000 per dollar terjadi masih pada masa Orde Baru. Hal ini disebabkan karena beberapa hal. dibagi-bagi ke orang-orang tertentu (kroni) secara tidak transparan. di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri. birokrasi pemerintahan terlalu kental. Yang penting bisa selalu makan enak dan hidup wah.05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. diancam tuduhan subversif. Beras murah. Media masa menjadi terbuka. digadaikan. tapi Bung Karno tidak pernah menggadaikan (konsesi) tambang-tambang milik bangsa ke perusahaan asing. Pada masa Orde Baru konsepnya bertolak belakang dengan orde lama. Semua serba tertutup dan tidak tranparan. sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap. Selain itu. antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI). Jika Bangsa Indonesia belum mampu atau belum punya iptek untuk menambang minyak bumi dsb biarlah SDA tetap berada di dalam perut bumi Indonesia. industri kayu yang sudah terbentuk dimana-mana akibat dari berbagai HPH . dibagi menjadi kapling-kapling HPH. Ingat fakta sejarah: Orde Baru tumbang akibat demo mahasiswa yang memprotes pemerintah Orba yang bergelimang KKN.miskin meningkat dari 35. menjadi muara dari illegal logging. Jika ada orang mempertanyakan. Utang LN tetap harus dibayar.

wordpress. kapitalisme. Sebab. serta memulai periode yang dalam sejarah politik kita .answers.com/question/index?qid=20090126174820AAFGt08 http://yunaniabiyoso. Yustika.Sistem politik otoriter (partisipasi masyarakat sangat minimal) pada masa orba terdapat instrumen-instrumen pengendali seperti pembatasan ruang gerak pers. demokrasi Pancasila. Soeharto melahirkan Orde Baru dan Orde Baru merupakan sistem kekuasaan yang menopang pemerintahan Soeharto selama lebih dari tiga dekade. Kita masih menyaksikan koruptor masih bercokol di negeri ini.com/upload/Reformasi%20di%20Persimpangan%20Jalan. sekularisme. Mengapa semua ini terjadi? Salah satu jawabannya. berorientasi pada politik. Potret Kebijakan Moneter Indonesia. Soeharto dan Orde Baru tidak bisa dipisahkan. pewadahunggalan organisasi profesi. Referensi : http://id. Grasindo. pemerintahan lemah. Orde reformasi : pemerintahan tidak punya kebijakan (menuruti alur parpol di DPR).yahoo. dan muncul otonomi daerah yang kebablasan.mudrajad. kekuasaan militer untuk memasuki wilayah-wilayah sipil. demokrasi Liberal (neoliberaliseme).html http://labtani. sentralistik.Jakarta:Rajawali pers. Betulkah Orde Baru telah berakhir? Kita masih menyaksikan praktik-praktik nilai Orde Baru hari ini masih menjadi karakter dan tabiat politik di negeri ini. namun sektor ekonomi sudah diserahkan ke swasta/asing. Ahmad Erani. Tonggak awal reformasi 11 tahun lalu yang diharapkan bisa menarik garis demarkasi kekuatan lama yang korup dan otoriter dengan kekuatan baru yang ingin melakukan perubahan justru ³terbelenggu´ oleh faktor kekuasaan. Pembangunan dan Krisis.demokrasi Terpimpin. Soekarno membubarkan Konstituante yang bertugas merancang UUD baru bagi Indonesia. bangsa ini tidak pernah membuat garis demarkasi yang jelas terhadap Orde Baru. sentralistik. Jakarta : PT. Memetakan Perekonomian Indonesia. tidak jelas apa orientasinya dan mau dibawa kemana bangsa ini. dll.com/2008/11/07/sejarah-perekonomian-indonesia/ http://www.com/2008/04/perbedaan-determinasi-kebijakan.pdf Pohan. fokus pada pembangunan ekonomi.blogspot. 2002.semua proyek diserahkan kepada pemerintah.o Sistem pemerintahan Orde lama : kebijakan pada pemerintah. pembatasan partai poltik. Perbedaan Orde Baru dan Orde Reformasi secara kultural dan substansi semakin kabur. DENGAN Dekrit 5 Juli 1959. 2008. Aulia. Orde baru : kebijakan masih pada pemerintah.

Soekarno menganggap bahwa bangsa Indonesia dapat kembali kepada ³rel´ revolusi yang sejati dengan semangat persatuan. serta dikenal sebagai orang yang-meskipun pemerintahannya penuh dengan kasus kolusi. yang dapat berpidato secara amat berapi-api tentang revolusi nasional. dengan merekayasa sebuah sistem yang pada dasarnya didominasi oleh satu ³partai negara´. dan keselarasan. neokolonialisme dan imperialisme. dua-duanya dapat dikatakan sangat ³nasionalis´ dalam hal itu. Soeharto bahkan dikenal lebih antipartai politik. Dengan demikian. sejak 1956. SEPERTI Soekarno. korupsi dan nepotisme (KKN)memimpin proses bergabung kembalinya Indonesia dengan sistem kapitalisme internasional. gotong-royong. Soekarno sudah menuduh partai politik di Indonesia pada waktu itu sebagai biang keladi terpecah-belahnya bangsa. dan dua partai ³pajangan´. sedangkan Soeharto justru . baik Soekarno maupun Soeharto amat mementingkan retorika ³persatuan´ dan ³kesatuan´. Individualisme itu melahirkan egoisme. Peristiwa ini sangat penting. terdapat pula beberapa kontinuitas yang cukup penting. Presiden kedua RI sama sekali bukan orator. yakni Golkar. walau keinginannya tidak pernah menjadi kenyataan di masa kekuasaannya. Ia juga terkesan curiga dengan kekuatan rakyat: kebijaksanaan ³massa mengambang´ Orde Baru didasari premis bahwa rakyat harus dipisahkan dari politik. bukan saja karena menandai berakhirnya eksperimen bangsa Indonesia dengan sistem demokrasi yang liberal. pendiri Orde Baru yang menggantikannya lewat serangkaian manuver politik sejak tahun 1965 yang hingga kini masih banyak diselimuti misteri?Tentu banyak perbedaan antara Soekarno dan Soeharto yang amat gamblang. Pada akhirnya. tetapi juga tindakan Soekarno tersebut memberikan landasan awal bagi sistem politik yang justru kemudian dibangun dan dikembangkan pada masa Orde Baru. Tapi bukankah Soekarno amat berbeda dari Soeharto. jauh lebih tertutup. Dengan mengubur partai politik. Presiden pertama RI dikenal sebagai orator yang ulung. dan sempat mengajak rakyat untuk ³mengubur´ partai-partai tersebut dalam sebuah pidato yang amat terkenal. tidaklah terlalu sulit untuk menemukan banyak kontinuitas antara ³Demokrasi Terpimpin´-nya Soekarno dan ³Demokrasi Pancasila´-nya Soeharto. di balik kesan kuat adanya keterputusan antara ³Orde Lama´ dan ³Orde Baru´.disebut sebagai ³Demokrasi Terpimpin´. setelah sempat hendak diputus oleh pendahulunya. keduanya mengecam ³individualisme´ yang katanya lahir dari liberalisme Barat. didirikannya satu ³partai negara´ atau ³pelopor´ adalah ide yang juga lama digandrungi oleh Soekarno. Ia juga amat percaya pada kekuatan massa. dan ini terutama dicerminkan oleh pertarungan antar-partai. dengan perbedaan bahwa Soekarno mementingkan politik mobilisasi massa. Namun. Dalam retorika. kekuatan rakyat. Pertama. Bahkan. Soeharto juga beranggapan bahwa sistem politik yang didukungnya adalah yang paling ³cocok´ dengan ³kepribadian´ dan ³budaya´ khas bangsa Indonesia yang konon mementingkan kerja sama. Sebenarnya. dua-duanya sangat anti terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan disintegrasi teritorial Indonesia.

Selain itu. dan sebagainya. Soeharto sendiri menjalankan pembangunan bercorak kapitalis. termasuk dengan merangkul kekuatan-kekuatan kapitalisme terdepan di dunia. Perbedaan kedua adalah simpati Soekarno pada gerakan-gerakan antiimperialisme. Tapi dua-duanya. mungkin ada baiknya kita kembali dulu kepada latar belakang pembubaran Konstituante oleh Soekarno serta kembalinya Indonesia kepada UUD 1945. Dalam pengamatan yang lebih seksama. Bahwa kabinet sering jatuh bangun pada waktu itu adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. membuka jalan. UUD µ45 diciptakan dalam keadaan darurat. mencanangkan sistem politik yang berwatak anti-liberal dan curiga pada pluralisme politik. Untuk menjelaskan hal ini. dan justru telah menutup arena politik untuk kekuatan komunisme.sebaliknya. Sebab. Baik Soekarno maupun Soeharto amat mengerti bahwa UUD µ45 memusatkan kekuasaan pada lembaga kepresidenan. Boleh dikatakan bahwa Orde Lama serta Demokrasi Terpimpin telah pave the way. PRRI/Permesta. Nahdlatul Ulama (NU) serta PKI-kini masih dianggap sebagai pemilu paling bebas dan bersih yang pernah dilaksanakan sepanjang sejarah Indonesia. Tidak mengherankan bahwa Soekarno telah mengawali Demokrasi Terpimpinnya dengan kembali pada Undang-Undang Dasar 1945. tetapi masalah kekuasaan yang konkret. sejarah yang kita baca di sekolah akan menekankan pula bahwa integritas nasional terus-menerus diancam oleh berbagai gerakan separatis. bahkan Soekarno makin curiga pada partai politik karena dia menganggap . tahun 1950-an di Indonesia ditandai oleh ketidakstabilan politik yang disebabkan oleh sistem demokrasi parlementer yang berlaku pada waktu itu. sebagaimana diklaim oleh Soeharto. Bahwa beberapa gerakan separatis muncul sepanjang tahun 1950-an juga adalah kenyataan. penerimaannya pada Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai aktor politik yang sah. Toh Pemilu 1955-yang dimenangkan empat kekuatan besar. ternyata ada banyak sekali ³utang´ Orde Baru pada Orde Lama. Partai Nasional Indonesia (PNI). Dalam versi sejarah yang dibaca di sekolah. Dua-duanya mementingkan ³persatuan´-yang satu demi ³revolusi´ dan yang lainnya demi ³pembangunan´. Sikap menomorsatukan UUD 1945 bukanlah hanya mencerminkan masalah ideologis atau filosofis yang abstrak. Namun. Sistem ini bersifat sangat liberal. dan mungkin sebagai salah satu konsekuensi. Hal yang menarik adalah justru pada tahun 1945 Soekarno pernah berucap bahwa konstitusi itu hanya bersifat sementara. di masa kekuasaannya. dengan caranya masing-masing. jadi sama sekali bukan sesuatu yang ³suci´. dan beberapa aktor politik lebih kontemporer. suatu hal yang hari ini justru menjadi masalah dengan adanya tarik-menarik antara Presiden dan DPR. yang tidak boleh diamandemen. yakni DI/TI. Masyumi. sisi lain dari sistem parlemen yang dikuasai partai ini adalah sering jatuh bangunnya kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri. selalu bersikeras tentang sifat ³sakral´ konstitusi. bagi Orde Baru dan ³Demokrasi Pancasila´ versi Soeharto. dan didominasi oleh partai-partai politik yang menguasai parlemen. sedangkan Soeharto.

sedangkan Angkatan Darat telah berkembang menjadi kekuatan yang juga tidak puas dalam peranan hanya sebagai penjaga pertahanan dan keamanan belaka. Negara-dalam hal ini hampir tidak bisa dibedakan dari Soeharto. Bahkan ³oposisi´ menjadi kata yang kotor. Mengapa Angkatan Darat mendukung upaya Soekarno? Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. sekutu serta kroninya. dan juga PSI. terutama antara kekuatan nasionalis sekuler dan kekuatan Islam mengenai dasar negara. baik Soekarno dan Angkatan Darat mempunyai kepentingan nyata untuk membangun suatu sistem politik baru yang memberikan mereka kekuasaan yang lebih langsung. di luar jatuh bangunnya kabinet dalam sistem liberal tahun 1950-an serta pemberontakan-pemberontakan di daerah. Ada persamaan nasib antara Soekarno dan tentara di dalam sistem demokrasi liberal yang mementingkan peranan partai dan parlemen. yakni keduanya tidak mempunyai akses yang langsung terhadap jalannya roda pemerintahan. meskipun ia senang memandang dirinya sebagai ³penyambung lidah rakyat´ berada ³di atas´ konflik-konflik kepentingan yang sempit. Pembahasan terhadap kepentingan-kepentingan konkret seperti ini tidak lazim ditemukan dalam pelajaran sejarah di sekolah pada tahun 1950-an. atau DPR. Bisa dikatakan Soekarno tidak puas sebagai presiden yang hanya bersifat figure-head. salah satu aspek yang penting dari Demokrasi Terpimpin adalah berpusatnya kekuasaan di tangan eksekutif (presiden) dan berkurangnya kekuasaan lembaga legislatif. tempat partai di dalam parlemen juga dibatasi-sebab menurut Soekarno-politisi partai hanya mewakili kepentingan partainya. Dengan kata lain. hal ini kemudian menjadi masalah yang amat besar. untuk sebagian. kepentingan nasional menjadi identik dengan kepentingan segelintir penguasa politik dan ekonomi. dan segala unsur dalam masyarakat yang menentangnya dinyatakan sebagai pengkhianat. Pada saat yang sama. keluarga. Seperti diketahui. Mungkin terjadinya hal seperti itu akan sukar dibayangkan oleh Soekarno sendiri.Masyumi. dengan sistem kekuasaan yang jauh lebih terpusat dibandingkan pada masa Soekarno. penaklukan terhadap pemberontakan daerah telah . bentuk parlemen pun diubah dengan dicanangkannya suatu lembaga yang pada dasarnya memberikan tempat yang lebih besar untuk golongan-golongan ³fungsional´ dalam masyarakat. Soekarno mendekritkan kembalinya Indonesia pada UUD 1945 karena kegagalan Konstituante untuk memutuskan UUD baru untuk Indonesia. Di masa Orde Baru. Hal ini telah difasilitasi dengan kembalinya Indonesia kepada UUD µ45.mengambil-alih seluruh hak untuk mendefinisikan ³kepentingan nasional´ tersebut. Akibatnya. Bahkan. Lebih jauh lagi. dan yang diperlukan adalah individu-individu yang dapat mewakili kepentingan ³rakyat´ atau yang depat menyuarakan ³kepentingan nasional´ yang sebenarnya. akibat perdebatan berlarut-larut. ADALAH penting juga untuk dicatat bahwa salah satu kekuatan pendukung utama upaya Soekarno untuk memberlakukan Demokrasi Terpimpin adalah Angkatan Darat. Perlu diingat pula bahwa. terlibat dalam beberapa pemberontakan daerah. yang kemudian dikenal sebagai golongan ³karya´.

Tentunya. Di samping itu. nasionalisasi perusahaanperusahaan asing di tahun 1957-yang sebenarnya dipelopori oleh serikat buruh-telah menempatkan banyak perwira militer di pucuk pimpinan perusahaan-perusahaan negara yang terbesar. Soekarno dan Nasution pada waktu itu berada dalam situasi yang ditandai oleh keharusan untuk bernegosiasi dan bekerja sama. Lebih jauh lagi. tampaknya militer tergiur untuk mempunyai peranan yang langsung di dalam sistem politik. Di antara golongan ³fungsional´ atau ³karya´ yang boleh duduk dalam parlemen adalah tentara. Dengan posisi politik dan ekonomi yang kuat seperti ini. Dalam pikiran Soekarno. Walaupun sering dikatakan bahwa maksud awal Nasution telah dipelesetkan oleh Soeharto. masing-masing sebagai pimpinan negara dan tentara. bila Soekarno telah memberikan dasar dari konsepsi sistem politik yang akan dikembangkan dalam versi yang lebih birokratis. kita perlu mengingat pula bahwa Jenderal Nasution telah mengajukan apa yang disebut sebagai ³jalan tengah´ untuk militer Indonesia. Dalam konsepsi ini. Nasution telah memberikan landasan awal bagi peranan militer di dalamnya. sedangkan Soekarno semakin mengandalkan PKI sebagai satu-satunya kekuatan politik di awal tahun 1960-an yang dapat mengimbangi Angkatan Darat. Di antaranya adalah Ibnu Sutowo yang kemudian mengembangkan Pertamina. Nasution pulalah yang pertama mengusulkan bahwa hak pilih tentara dan polisi dicabut dan diganti oleh hak otomatis memperoleh perwakilan di badan legislatif.menghasilkan suatu pimpinan Angkatan Darat yang jauh lebih bersatu dibandingkan sebelumnya. kondisi darurat yang dicanangkan untuk menghadapi pemberontakan daerah telah menempatkan banyak perwira militer sebagai administrator roda pemerintahan. Jenderal Abdul Haris Nasution telah tampil sebagai pimpinan yang mampu untuk meredam tantangan yang diajukan oleh komandan-komandan lokal yang memberontak karena tidak senang dengan dominasi Jakarta/Jawa. tetapi juga tidak jarang oleh konflik. sebagaimana di negeri-negeri Barat. seperti juga PNI dan NU (dua . militer amat tidak senang dengan upaya Soekarno untuk mengikutsertakan PKI dalam pemerintahan. PKI adalah bagian tak terpisahkan dari ³front´ nasional menentang imperialisme dan untuk memajukan revolusi nasional. otoriter dan ekslusioner pada masa Orde Baru. Ternyata-walaupun cukup ³sukses´ dalam pemilu nasional dan lokal sebelumnya-PKI mampu beradaptasi dengan lingkungan politik baru setelah berakhirnya masa demokrasi parlementer. dalam ide ini kita melihat cikal-bakal dari ³dwifungsi´ ABRI yang dipraktikkan Orde Baru. Jadi. Orde Baru dapat dipandang sampai tingkat tertentu sebagai hasil yang tidak disengaja (unintended consequence) dari manuver-manuver politik Soekarno dan Nasution di tahun 1950-an. Khususnya. namun juga tidak akan tinggal diam sebagai penonton arena politik. Oleh karena itu. ³Demokrasi Terpimpin´-nya Soekarno memberikan peluang. Bisa dikatakan bahwa Soeharto tidak mungkin ³ada´ secara politik tanpa manuver kedua pendahulunya itu. Dalam konteks ini. militer Indonesia tidak akan bersifat intervensionis-dan terlibat dalam kudeta demi kudetasebagaimana di Amerika Latin.

partainya golongan karya. Adalah dalam konteks konflik militer dengan PKI ini jugalah lahir ³bayi´ yang kemudian menjadi entitas politik bernama Golkar. walau dalam versi tentara. Apalagi tentara sejak 1957 berhadapan langung dengan SOBSI-serikat buruh yang dekat dengan PKI-di perusahaan nasional yang dikelola militer. Akhirnya. Dalam hal-hal macam ini pulalah kita bisa melihat satu lagi ³utang´ Orde Baru-nya Soeharto pada ³Orde Lama´-nya Soekarno. Sekretariat Bersama Golkar (Sekber Golkar) didirikan oleh tentara untuk menghimpun kekuatan-kekuatan keormasan dan politik yang berseberangan dengan kekuatan komunis. dan naiknya Jenderal Soeharto ke pucuk pimpinan negara.elemen lain dari Nasakom-nya Soekarno). Konflik militer-PKI sendiri setidaknya sudah berawal pada peristiwa Madiun. akhirnya semua partai ³sisa´ Orde Lama memang difusikan menjadi Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia di tahun 1973. ADALAH menarik bahwa pada masa awal Orde Baru. Golkar dikembangkan di masa Soeharto sebagai salah satu pilar utama Orde Baru. ideolog militer macam Jenderal Soehardiman juga mengembangkan konsep ³karyawan´ di bidang perburuhan dengan mendirikan SOKSI (terutama berbasis pada perusahaan negara yang dikuasai militer). Perdebatan di antara para pendiri atau pendukung Orde Baru berkisar sejauh dan secepat manakah partai politik perlu di-¶kubur¶. Salah satu tokoh yang paling penting dalam proses perekayasaan sistem politik Orde Baru adalah Jenderal Ali Moertopo. Seperti diketahui. Tentu dia tidak sendiri. termasuk para intelektual dan mahasiswa) tentang peranan partai politik yang wajar di Indonesia. disertai oleh Golkar. yang katanya menghambat pembangunan. Intelektual macam Mochtar Lubis pun menulis di koran Indonesia Raya tentang perlunya lapangan politik dibersihkan dari partai politik yang identik dengan Orde Lama. militerlah yang kemudian menjadi ahli waris langsung dari konsep golongan karya yang awalnya diperjuangkan oleh Soekarno. konflik militer dan PKI itu akhirnya berkulminasi dengan peristiwa 1965 yang hingga kini masih misterius. Sebagaimana diketahui. dan bercorak anti-komunis. yakni sebagai wadah untuk melegitimasikan kekuasaan lewat sejumlah pemilu yang jauh dari prinsip bebas dan bersih. dan diperburuk sejak tentara semakin aktif mengembangkan ormas untuk melawan dominasi PKI terutama di bidang organisasi buruh dan tani. karena pandangan ini dikumandangkan juga oleh banyak intelektual lain-termasuk yang kemudian menjadi lawan Soeharto yang gigih dan tokoh gerakan demokrasi-serta sejumlah jenderal. setelah proses perdebatan dan intrik yang panjang. Peranannya menonjol baik sebagai ideolog maupun sebagai . Setelah Soekarno memperjuangkan konsep perwakilan politik berdasarkan ³fungsi´ dalam masyarakat. terjadi pula perdebatan di antara para pendukungnya sendiri (ketika itu. Dalam perjalanan sejarah. konsep ini bermutasi menjadi lebih anti-partai. Pada dasarnya.

Hal ini dilakukan untuk menunjukkan betapa relevannya pemikiran dan tindakan Soekarno pada . hal ini terjadi meskipun sistem politik yang hendak dibangun di Indonesia adalah yang diklaim bercorak kepribadian nasional yang khas. Political Order in Changing Societies. Ironisnya. Moertopo mungkin memperoleh gagasan ini dari intelektual Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang sempat menjadi dapur pemikirannya. politik Orde Baru. yang juga mengajukan konsep adanya pertalian yang erat. Bahkan. Setidak-tidaknya retorika Orde Baru di masa awal dibumbui dengan jargon-jargon teori modernisasi yang dipinjam dari kepustakaan ilmu sosial Barat. protes daerah-daerah tertentu mengenai berbagai kebijakan pemerintah pusat dijawab dengan pengiriman tentara demi menjamin lestarinya persatuan nasional. walaupun lebih menurut aliran politik atau sentimen kedaerahan. Seperti dikemukakan sebelumnya. pemikiran Moertopo banyak dipengaruhi oleh pemikiran Gereja Katolik Eropa awal abad ke20. ketakutan akan fragmentasi-atas dasar kelas. retorika Soekarno seperti biasa dibumbui oleh jargon-jargon revolusioner yang cenderung romantis dan yang menekankan bersatunya pemimpin dengan rakyat TULISAN ini telah memusatkan perhatian pada beberapa kontinuitas-mungkin terasa agak ironis-antara Orla dan Orba. meskipun ada banyak perbedaan di tingkat permukaan. tentu ada perbedaan-perbedaan yang penting antara ³visi´ Orde Baru dan visi ³Demokrasi Terpimpinnya Soekarno´. Jenderal Moertopo menerbitkan beberapa karya yang amat gamblang menggambarkan dasar-dasar pemikiran. blueprint. Sebaliknya. tapi saya kira ada beberapa aspek dari pemikirannya-yang meskipun mungkin ³dipinjam´ dari tempat lain³bertemu´ secara tidak langsung dengan ide-ide yang sempat diperjuangkan oleh Soekarno di tahun 1950-an. agama. sedangkan strategi politik Moertopo dicurahkan terutama untuk menjamin bahwa tidak ada kekuatan dalam masyarakat yang mampu untuk menentang kemauan negara sebagai pengejewantahan dari kepentingan bersama. Moertopo bukan seorang Soekarnois. hubungan organik.operator politik utama Soeharto di awal Orde Baru (dengan Aspri dan Opsus-nya). antara negara dan masyarakat. atau hal lain-digabungkan dengan praktik-praktik politik represif yang membungkam bukan hanya partai. Dalam pidato kenegaraan di tahun 1956. Soekarno pun mengkhawatirkan proses fragmentasi di Indonesia. Salah satu ³pertemuan´ itu adalah dalam penempatan ³negara´ sebagai suatu entitas yang diidealisasikan berada di atas konflik dan perbedaan dalam masyarakat. Sekali lagi. tetapi semua suara oposisi dengan dalih ancaman terhadap persatuan nasional dan sebagainya. seperti karya Samuel Huntington yang tersohor. Menurut Bourchier. Di masa Orde Baru. Menurut David Bourchier (seorang pengamat politik Indonesia berasal dari Australia). Soekarno menyatakan bahwa negara atau bangsa adalah suatu organisme yang tidak bisa dipilah-pilah. Pemikiran ini aslinya dikembangkan di Eropa sebagai respons terhadap bahaya ³fragmentasi´ masyarakat yang disebabkan oleh kemunculan politik perjuangan kelas yang dimotori oleh kaum sosialis.

kemudian memasuki masa Reformasi. kepentingankepentingan ini bukan lagi dilindungi oleh negara yang otoriter tetapi justru oleh partai-partai yang tumbuh relatif bebas dalam alam demokratisasi. Apakah sejarah akan berulang dan partai politik kembali dicap sebagai biang keladi fragmentasi bangsa. . atau praktek penjarahan kolektif. Liberalisasi merupakan proses mengefektifkan hak-hak yang melindungi individu dan kelompok-kelompok sosial dari tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh negara. perilaku partai politik yang dianggap mementingkan diri sendiri juga telah menyebabkan banyak orang menjadi sinis terhadapnya. Ledakan ini terjadi dalam bentuk yang beragam.Pada dasarnya. Pada tataran akar rumput (grass root). Konsekuensi dari liberalisasi politik ditandai dengan terjadinya ledakan partisipasi politik. Bedanya. Seperti di tahun 1950-an dan 1960-an. dan bercokolnya Orde Baru. dan bercokolnya rezim yang otoriter untuk waktu yang lama.masa yang jauh melampaui kurun waktu kehidupannya sendiri-walaupun dalam bentuk unintended consequence-yakni berdiri. sebagaimana pernah dituduhkan Soekarno? Mudah-mudahan saja solusi politik yang akhirnya ditemukan oleh bangsa Indonesia akan sangat berbeda dari solusi yang pernah muncul sebelumnya. kontinuitas adalah tema yang masih amat relevan dibicarakan di Indonesia. ledakan partisipasi politik banyak mengambil bentuk huru-hara. berkembang. Liberalisasi politik awal pasca Orde Baru ditandai antara lain terjadinya redefinisi hak-hak politik rakyat. Orde Reformasi dicirikan dengan terjadinya apa yang oleh O¶Donnell dan Schmitter disebutnya fase ³liberalisasi politik´. Ketika Orde Baru tumbang. Indonesia. kekerasan massa. yang lantas disebut juga ³Orde Reformasi´. Pasca runtuhnya rezim politik Orde Baru-nya Suharto yang otoriter di tahun 1998. bahkan dewasa ini karena masih eratnya kaitan antara aktor-aktor politik di masa reformasi ini dengan berbagai kepentingan yang menonjol di masa Orde Baru. Mudah-mudahan sejarah tidak berulang dengan naiknya tentara sebagai panglima politik. amuk massa. setiap kalangan menuntut kembali hak-hak politiknya yang selama bertahun-tahun dikerangkeng oleh negara. Apa yang disebut liberalisasi adalah proses pendefinisian ulang dan perluasan hak-hak. Fase ini secara teoritis sebagai fase transisi dari otoritarianisme entah menuju kemana´.

akibat begitu banyaknya masyarakat Indonesia yang menjadi pengemis akibat keganasan sebuah rezim yang µmenyulam¶ lidah-lidah rakyat dengan benang sutra. para elit politik berlomba-lomba mendirikan kembali partai politik. Pemilu 1999 juga dijadikan tonggak awal Orde Reformasi.Sementara ledakan partisipasi politik di kalangan elit politik ditandai dengan maraknya pendirian partai politik. sehingga jumlah partai politik banyak. Pertanyaan mendasar kemudian adalah. maka sistem politik Indonesia di masa reformasi dianggap sebagai sistem politik yang juga bersifat transisi. Sebuah sistem merupakan sebuah keseluruhan yang saling berinteraksi di dalamnya. ibarat sebuah harapan. Sebuah sistem politik yang sangat akut ini sedang mencari format terbaik. Bukan berarti menafikan bahwa akan ada benturan kepentingan di dalamnya. di mana terdiri atas sub-sub sistem. Sehingga proses yang berjalan merupakan transformasi nilai-nilai kemanusiaan. guna terciptanya sebuah sistem yang sehat seperti yang digambarkan oleh David Easton. karena banyak kalangan yang telah memperhitungkan sebelumnya. berimbas pada meledaknya partisipasi politik. Inilah pemilu pertama pasca Orde Baru dan pemilu kedua setelah pemilu 1955. Proses input sebuah kebijakan haruslah kebutuhan mendasar sebuah masyarakat yang ditafsirkan sebagai doa-doa makhluk terhadap Tuhannya. sampai kapan sistem politik Indonesia berkutat pada tataran transisi? Kran demokrasi yang tertutup rapat selama 32 tahun. Sebagai orde transisi politik di Indonesia. Jadi sebagai sebuah keseluruhan. Klimaks dari pendirian partai politik adalah diselenggarakannya pemilu di tahun 1999. atau doa-doa tidak berakomodasi sepenuhnya. sistem politik Indonesia perlu adanya sebuah evaluasi ulang atas fungsi-fungsi lembaga berdasarkan aturan yang telah ada. Sebagai perwujudan dari ledakan partisipasi politik itu. Ini bukanlah hal yang mengejutkan. yang oleh para pengamat asing disebut sebagai pemilu paling bersih. .

artinya belum ada perubahan yang mendasar dari reformasi yang dicita-citakan. Filsafat politik sebagai nilai-nilai universal adalah konstitusi tertinggi kemanusiaan. guna pencapaian cita-cita filsafat politik. belum mampu untuk menjalankan fungsinya dengan baik. Sebagai salah satu bagian dari sebuah sistem politik maka yang hadir adalah sebuah sistem politik yang tidak lagi menarik. setelah sampai ditujukan . Perubahan yang terlihat hanyalah pada kuantitas partai. karena partisipasi politik masyarakat belumlah cukup. yaitu politisi sebagai pelayan bagi umatnya. Pasca reformasi yang harapannya akan ada format baru bagi dunia politik ternyata mengalami kebuntuan.Reformasi yang terjadi pun adalah sebuah negosiasi kekuasaan elit lama yang merasa kecewa atas seniornya. reformasi yang terjadi juga sebuah keniscayaan yang tidak pernah diharapkan akan seperti ini. yang membawa kita pada kemakmuran bersama. tapi masih menggunakan pola lama. sehingga hal ini berimbas pada sektor yang lain. maka diperlukan seorang dokter dengan jarum suntik di tangannya untuk menyembuhkan bangsa ini. Hal ini dapat dilihat dari partai politik yang menjadi bangunan dasar demokrasi. karena tampil sebagai topeng. Sistem politik ini merupakan bagian dari sebuah sistem yang besar. Untuk itu dibutuhkan teropong yang lebih besar buat melihat masalah yang hadir. atau biasa disebut oleh kalangan agamawan sebagai sosok nabi. Politisi terperangkap pada keistimewaan akan dirinya sehingga tidak lagi menganggap rakyat adalah bagian dari dunianya. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Transformasi nilai yang saya maksud di atas tadi adalah puncak tertinggi nilai-nilai universal. rezim yang hadir pun hanya menjadikannya tiket menuju kelas yang lebih tinggi. maka haru ada sebuah kedinamisan dan keadilan pengetahuan atau yang dibahasakan oleh Muhammad Hatta pendidikan politik. sehingga regulasi yang berjalan harus dibayar dengan kelaparan di berbagai daerah. Seperti sebuah virus yang menjangkiti sebuah bangsa. Jarum suntik ini adalah pendidikan politik yang merata. Masa sekarang ini pun sistem politik Indonesia masih mengalami krisis yang memprihatinkan. yaitu filsafat politik. Jika mencoba membawanya pada realitas politik. masyarakat pun kecewa dengan hal ini dan merasa sakit. Legitimasi yang hadir saat ini adalah semu.

di mana politik luar negeri merupakan cerminan politik dalam negeri. Sudah saatnya partai politik menebus budi atas suara yang telah diberikan padanya oleh rakyat. Banyaknya bencana kemanusiaan yang melanda bangsa ini. maka komponen-komponen tersebut harus menjalankan fungsinya dengan baik. Keberagaman budaya yang ada pada bangsa kita sangat berpengaruh pada perangkat politik yang ada pula. Dari sini dapat dikatakan bahwa partai politik belum mampu menjalankan fungsinya di dalam masyarakat. ini memperlihatkan bahwa partai politik masih sangat dimanjakan. Oleh karena itu dibutuhkan partai yang modern pula mengingat kebutuhan manusia yang semakin kompleks.dengan mudah untuk membuangnya ke dalam keranjang sampah. Sistem ini pun tidak terlepas dari pengaruh yang hadir dari luar. Logika politik luar negeri yang ada pun membenarkan asumsi tersebut. perangkat politik yang sangat penting saya kira adalah partai politik yang melakukan adaptasi sebagai jawaban atas tantangan modernitas. bukan hanya pada momen tertentu saja. sementara ilmu politik begitu dinamis dan terus berkolaborasi dengan konteks budaya yang ada. partai politik harus belajar untuk mandiri dalam banyak hal. dan sebagai sebuah sub-sistem dari sistem yang lebih besar. . seharusnya partai politik memperlihatkan eksistensinya pada rakyat. Kondisi yang seperti ini terjadi tidak lain akibat pengetahuan masyarakat yang masih kurang terhadap politik. Oleh karena dibutuhkan kedinamisan maupun keseimbangan komponenkomponen yang ada dalam sebuah sistem. dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menuju kemakmuran bersama. Kemudian tantangan yang kedua adalah. Sehingga dibutuhkan kondisi politik yang kuat untuk dapat menunjukkan eksistensi bangsa pada lingkup global. Bukan hanya itu partai pulalah yang harus menggantikan tanggung jawab negara untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat luas. Pemahaman atas politik masih jauh dari harapan para filosof. mengingat kondisi bangsa yang carut-marut. yaitu dunia politik yang humanis telah menjadi kebutuhan yang meniscayakan sebuah bangsa yang kuat. Untuk pembiayaan kampanye saja negara masih harus menanggungnya. Pendidikan politik yang adil serta memanusiakan manusia adalah cita-cita kemakmuran itu.

tapi sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan dan menjadi budak nafsu keserakahan binatang. Pertama. Mulai dari aksi demonstrasi menolak kenaikannya sampai kemudian persetujuan bahwa kenaikan harga BBM tak mungkin lagi kita tolak atau tahan. Ada sebuah proses yang mendahuluinya. Proses input ini terdiri dari setidaknya dua variabel. dengan dua alasan mendasar. tapi juga bagi elit politik sebagai pemegang peran penting dalam sebuah kebijakan. Kebijakan atau kebijaksanaan yang dilahirkan dari sebuah proses konversi dari sebuah sistem politik tidak dengan sendirinya berakhir. Studi Kasus Sistem politik digambarkan secara sederhana oleh David Easton sebagai sebuah proses pembuatan kebijakan (konversi). Kedua. untuk mengurangi pembiayaan negara (subsidi) atas sebagian besar masyarakat yang seharusnya tidak layak untuk disubsidi. melainkan terus berproses dalam bentuk umpan balik (feed-back). Jadi sistem politik Indonesia harus dilihat sebagai sebuah keseluruhan yang saling mempengaruhi. Demikian seterusnya. Proses ini tidak lahir begitu saja. yakni proses input atau masukan. Sehingga kebijakan yang lahir pun tidak lagi menjadi alat untuk mensejahterakan rakyat. 2.Perlu diingat bahwa pendidikan politik itu bukan hanya pada masyarakat saja. Ambillah contoh kasus terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (disingkat: BBM). maka proses itu lantas disebut keluaran atau output. bukan ditafsirkan secara sempit sebagai sebuah kesalahan sebuah rezim atau kejahatan elit politik semata. Adapun setelah terjadinya proses konversi dari kedua variabel input tersebut. karena harga minyak dunia sementara melonjak. tak luput dari beragam penilaian. Naiknya harga BBM di awal Maret 2005 lalu. Keluaran dari sebuah sistem politik dengan demikian disebut sebagai hasil kebijakan atau kebijaksanaan. bahwa proses politik dari sebuah sistem politik tidak akan pernah berakhir karena adanya proses feed-back tersebut. Hal ini menjadi sangat penting melihat realitas politik yang ada di Indonesia bahwa elit yang hadir bukanlah orangorang yang begitu paham dengan politik. yakni dukungan dan tuntutan (suplay and demand). . yakni orang-orang kaya.

disingkat: BLT) bagi masyarakat kecil yang terimbas dengan keluarnya kebijakan menaikkan BBM. Proses politik yang terjadi. yakni kebijakan kompensasi (bantuan langsung tunai. Adapun kebijakan BLT pada kenyataannya tidak mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat menghadapi kenaikan harga sembako. kelompok yang menolak naiknya harga BBM yang diwakili secara pas oleh kelompok mahasiswa dan para aktivis buruh yang memang secara nyata paling rentan terancam dengan kebijakan tersebut. . yang menurut pemerintah mereka-mereka inilah yang seharusnya mendapatkannya. Kebijakan itu dengan sendirinya menjadi output dari pemerintahan SBY-Kalla.Proses inputnya terdiri dari dua. pada awalnya. Kebijakan BLT ternyata tetap disalahgunakan oleh aparat pemerintah di tingkatan bawah. kebijakan naiknya harga BBM tidak dapat diubah lagi. kelompok yang melihatnya sebagai bagian dari penyelamatan ekonomi negara (anti subsidi) dan kelompok yang secara langsung dan tak langsung justru diuntungkan dengan naiknya harga BBM (para pendukung neo-liberalis). Kelompok kedua adalah mereka yang mendukung kenaikan harga BBM. Tetapi karena kuatnya kekuatan kelompok yang mendukung naiknya harga BBM di DPR. ada sebuah kebijakan yang juga lahir di samping kebijakan naiknya harga BBM. sebagian masyarakat masih tetap menolak kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan yang ada. Akibat yang terjadi kemudian adalah terjadinya pemiskinan secara terstruktur oleh negara terhadap masyarakatnya. demikian alot dan keras. Antara partai politik yang mendukung dan tidak mendukung naiknya harga BBM. yakni bagaimana seharusnya BBM itu dikelola. Jelaslah bahwa hingga saat ini. Tetapi meski demikian. yang mendapatkan BLT tidak semuanya berkategori miskin. Apalagi ternyata. Terjadi proses tarik-menarik kepentingan di dalam parlemen Indonesia (DPR). Kelompok yang mendukung ini dapat dibagi dua. Ketika dikonversi untuk dijadikan sebagai sebuah kebijakan. Partai-partai politik yang anti kenaikan BBM kelihatan sangat bersungguh-sungguh untuk tetap sejalan dengan sebagian masyarakat untuk menolak naiknya harga BBM. Pada tataran feed-back atau umpan balik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful