PERSAMAAN DAN PERBEDAAN KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI PERSAMAAN o Sama

-sama masih terdapat ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan Setelah Indonesia Merdeka, ketimpangan ekonomi tidak separah ketika zaman penjajahan namun tetap saja ada terjadi ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Dalam 26 tahun masa orde baru (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006). Sehingga dapat dikatakan bahwa kaum kaya memperoleh manfaat terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup tinggi, namun pada kenyataanya tidak merata terhadap masyarakat. o Adanya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) Orde Lama: Walaupun kecil, korupsi sudah ada. Orde Baru: Hampir semua jajaran pemerintah koruptor (KKN). Reformasi: Walaupun sudah dibongkar dan dipublikasi di mana-mana dari media massa,media elektronik,dll tetap saja membantah melakukan korupsi. Hal ini menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat yang sulit untuk disembuhkan akibat praktik-pratik pemerintahan yang manipulatif dan tidak terkontrol. o Kebijakan Pemerintah Sejak pemerintahan orde lama hingga orde reformasi kini, kewenangan menjalankan anggaran negara tetap ada pada Presiden (masing-masing melahirkan individu atau pemimpin yang sangat kuat dalam setiap periode pemerintahan sehingga menjadikan mereka seperti ³manusia setengah dewa´). Namun tiap-tiap masa pemerintahan mempunyai cirinya masingmasing dalam menjalankan arah kebijakan anggaran negara. Hal ini dikarenakan untuk disesuaikan dengan kondisi: stabilitas politik, tingkat ekonomi masyarakat, serta keamanan dan ketertiban. Kebijakan anggaran negara yang diterapkan pemerintah selama ini sepertinya berorientasi pada ekonomi masyarakat. Padahal kenyataannya kebijakan yang ada biasanya hanya untuk segelintir orang dan bahkan lebih banyak menyengsarakan rakyat. Belum lagi kebijakankebijakan yang tidak tepat sasaran, yang hanya menambah beban APBN. Bila diteliti lebih mendalam kebijakan-kebijakan sejak Orde Baru hingga sekarang hanya bersifat jangka pendek. Dalam arti kebijakan yang ditempuh bukan untuk perencanaan ke masa yang akan datang, namun biasanya cenderung untuk mengatur hal-hal yang sedang dibutuhkan saat ini.

PERBEDAAN : - Orde lama (Demokrasi Terpimpin) 1. Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950) Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain disebabkan oleh : a. Inflasi yang sangat tinggi, disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat harga. b. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negeri RI. c. Kas negara kosong. d. Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain : a.Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir. Surachman dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli 1946. b.Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India, mangadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia. c.Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi perkebunanperkebunan. d.Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947 Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948, mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif. e.Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan membaik (mengikuti Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber kekayaan). 2. Masa Demokrasi Liberal (1950-1957) Masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal. Perekonomian diserahkan pada pasar sesuai teori-teori mazhab klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Padahal pengusaha pribumi

sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. dan pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional.000 dibekukan. Akan tetapi. Namun usaha ini gagal.dan ekonomi (mengikuti Mazhab Sosialisme). Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka. yaitu upaya menumbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional.masih lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi. Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-pengusaha pribumi belum bisa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967) Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959. d)Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo. kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia. untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun. maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segalagalanya diatur oleh pemerintah). antara lain : a)Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50. b)Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. 3. Program ini tidak berjalan dengan baik. uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100. Dengan sistem ini. yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret 1950. c)Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no. . termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda. diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial. terutama pengusaha Cina. antara lain : a)Gunting Syarifuddin. b)Program Benteng (Kabinet Natsir). Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi. politik. yaitu penggalangan kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi. e)Pembatalan sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar. karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi. karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman. dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.

harga ekspor minyak mentah Indonesia. Yaitu laju pertumbuhan ekonomi. Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. tingkat resiko yang tinggi. dan juga sebagai akibat politik konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat. pemerintahan mengalami stabilitas politik sehingga menunjang stabilitas ekonomi. yaitu stabilitas politik. Oleh karena itu pemerintah selalu dihadapkan pada kritikan yang menyatakan bahwa penetapan asumsi APBN tersebut tidaklah realistis sesuai keadaan yang terjadi. yang pada akhirnya selalu disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disahkan menjadi APBN. kebijakan ekonominya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi. Pada masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah. pemerintah menjalankan kebijakan yang tidak mengalami perubahan terlalu signifikan selama 32 tahun. Pada masa pemerintahan orde baru. Hal ini berhasil karena selama lebih dari 30 tahun. Kebijakan ekonomi tersebut didukung oleh kestabilan politik yang dijalankan oleh pemerintah. Karena hal itulah maka pemerintah jarang sekali melakukan perubahan-perubahan kebijakan terutama dalam hal anggaran negara. eonomi. . tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi.Orde Baru/ Orba (Demokrasi Pancasila) Pada masa orde baru. Sekali lagi. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama. APBN pada masa pemerintahan Orde Baru. Dikarenakan pada masa itu pemerintah sukses menghadirkan suatu stablilitas politik sehingga mendukung terjadinya stabilitas ekonomi. dan pemerataan pembangunan.c)Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. serta nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. fundamental ekonomi nasional tidak didasarkan pada perhitungan hal-hal makro. tingkat inflasi. maupun bidang-bidang lain. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi. hingga penerapan dunia swasta dan BUMN yang baik dan bersih. Misalnya. ini juga salah satu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik. Padahal sesungguhnya. disusun berdasarkan asumsi-asumsi perhitungan dasar. pertumbuhan ekonomi yang stabil. lebih kearah yang bersifat mikro-ekonomi. Kebijakan-kebijakan ekonomi pada masa itu dituangkan pada Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). masalah-masalah dalam dunia usaha. Asumsi-asumsi dasar tersebut dijadikan sebagai ukuran fundamental ekonomi nasional. Hal tersebut dituangkan ke dalam jargon kebijakan ekonomi yang disebut dengan Trilogi Pembangungan. . Akan tetapi.

karena pinjaman yang digunakan akan membuahkan hasil yang nyata. Penerapan kebijakan tersebut menimbulkan banyak kritik. Prinsip ini merupakan pengaturan atas fungsi anggaran pembangunan dimana pinjaman luar negeri hanya digunakan untuk membiayai anggaran belanja pembangunan. dan merupakan beban pengeluaran di masa yang akan datang. APBN pada masa itu diberlakukan atas dasar kebijakan prinsip berimbang. Namun prinsip berimbang ini merupakan kunci sukses pemerintah pada masa itu untuk mempertahankan stabilitas. Oleh karena itu. karena anggaran defisit negara ditutup dengan pinjaman luar negeri. Sehingga antara penerimaan dan pengeluaran dapat berimbang. sehingga menimbulkan kesan bahwa kebijakan ekonomi nasional memperhatikan petani. Dalam Keterangan Pemerintah tentang . Ini artinya pinjaman-pinjaman luar negeri tersebut ditempatkan pada anggaran penerimaan. konsep yang benar adalah pengeluaran pemerintah dapat ditutup dengan penerimaan pajak dalam negeri. Permasalahannya. Padahal seharusnya pinjaman-pinjaman tersebut adalah utang yang harus dikembalikan. Pada dasarnya kebijakan ini sangat bagus. pada masa itu penerimaan pajak saat minim sehingga tidak dapat menutup defisit anggaran. Prinsip lain yang diterapkan pemerintah Orde Baru adalah prinsip fungsional. yang sumber pokoknya karena terjadi anggaran yang defisit. Karena menurut pemerintah.Format APBN pada masa Orde baru dibedakan dalam penerimaan dan pengeluaran. Akan tetapi. pembangunan memerlukan dana investasi yang besar dan tidak dapat seluruhnya dibiayai oleh sumber dana dalam negeri. Padahal. Sehingga pembangunanpun terus dapat berjalan. Karena pemerintah dapat menghindari terjadinya inflasi. Penerimaan terdiri dari penerimaan rutin dan penerimaan pembangunan serta pengeluaran terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pinjaman-pinjaman luar negeri inilah yang digunakan pemerintah untuk menutup anggaran yang defisit. dalam APBN tiap tahunnya cantuman angka pinjaman luar negeri selalu meningkat. khususnya di bidang ekonomi. yaitu anggaran penerimaan yang disesuaikan dengan anggaran pengeluaran sehingga terdapat jumlah yang sama antara penerimaan dan pengeluaran. Kebijakan yang disebut tahun fiskal ini diterapkan seseuai dengan masa panen petani. Hal ini bertentangan dengan keinginan pemerintah untuk selalu meningkatkan penerimaan dalam negeri. pada dasarnya APBN pada masa itu selalu mengalami defisit anggaran. Hal perimbangan tersebut sebetulnya sangat tidak mungkin. karena pada masa itu pinjaman luar negeri selalu mengalir. Sirkulasi anggaran dimulai pada 1 April dan berakhir pada 31 Maret tahun berikutnya.

Hal ini jelas menggambarkan betapa APBN pada masa pemerintahan Orde Baru sangat bergantung pada pinjaman luar negeri. . belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal disaat yang bersamaan persentase pengeluaran rutin untuk membayar pinjaman luar negeri terus meningkat. antara lain masalah KKN (Korupsi.Masa Reformasi (Demokrasi Liberal) Pada masa krisis ekonomi. Akibatnya.Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan manuver-manuver yang cukup tajam dalam bidang ekonomi. Sehingga yang terjadi hanya perbedaan penghasilan. Dalam hal ini pemerintah akan berupaya untuk mendapatkan kelebihan pendapatan yang telah dikurangi dengan pengeluaran rutin. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan stabilitas politik. Kolusi dan Nepotisme). Selain itu pinjaman luar negeri yang banyak akan menimbulkan resiko kebocoran. agar dapat dijadikan tabungan pemerintah. kebijakan untuk mengurangi bantuan luar negeri tidak dapat terjadi karena jumlah pinjaman luar negeri terus meningkat. korupsi. dan penyalahgunaan. Kebijakan pemerintah ini dilakukan dengan dua cara. Prinsip ketiga yang diterapakan oleh pemerintahan Orde Baru dalam APBN adalah. . Pada masa ini tidak hanya hal ketatanegaraan yang mengalami perubahan. dinamis yang berarti peningkatan tabungan pemerintah untuk membiayai pembangunan. Hal lain yang dapat terjadi adalah pemerataan ekonomi tidak akan terwujud. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat. Pemerintahan presiden BJ. Dan lebih parahnya lagi ketergantungan tersebut akan menyebabkan negara menjadi malas untuk berusaha meningkatkan penerimaan dalam negeri. ketergantungan yang besar terhadap pinjaman luar negeri akan menimbulkan akibat-akibat. dan mempertahankan kurs rupiah. Sehingga apa yang telah stabil dijalankan selama 32 tahun. yaitu derelgulasi perbankan dan reformasi perpajakan. kinerja BUMN. Padahal. Akan tetapi. namun juga kebijakan ekonomi. Presiden menyatakan bahwa dana-dana pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri harus meningkat.ditandai dengan tumbangnya pemerintahan Orde Baru kemudian disusul dengan era reformasi yang dimulai oleh pemerintahan Presiden Habibie.RAPBN tahun 1977. Oleh karena itu. Sehingga pada akhirnya berakibat tidak dapat terpenuhinya keinginan pemerintah untuk meningkatkan tabungannya. Diantaranya akan menyebabkan berkurangnya pertumbuhan ekonomi. ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi. kebijakan demikian membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama. pengendalian inflasi. pemulihan ekonomi. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun. pemerintah dapat memanfaatkan tabungan tersebut untuk berinvestasi dalam pembangunan. terpaksa mengalami perubahan guna menyesuaikan dengan keadaan. Padahal.

Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia. diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah. yang salah satunya adalah revisi undangundang ketenagakerjaan. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat.Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi.Akibatnya. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4. Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri mengalami masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua. serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. dan jumlah penduduk .8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116. yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia. dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain : a)Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5.3 triliun. dan mengganggu jalannya pembangunan nasional. investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri. karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing. tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi.2 miliar dolar AS.1 %. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi. terutama investor asing. Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu. Pada pertengahan bulan Oktober 2006 . atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor. setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak. Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM. Dengan ini. kedudukannya digantikan oleh presiden Megawati. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatankekuatan politik dan mengurangi beban negara. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. b)Kebijakan privatisasi BUMN. Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Menurut Keynes.

digadaikan. Jika ada orang mempertanyakan. tapi di lain pihak.miskin meningkat dari 35.10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39.05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. Yang penting bisa selalu makan enak dan hidup wah.Sekarang kita mewarisi hutan yang sudah rusak parah.000 per dollar terjadi masih pada masa Orde Baru. karena inefisiensi pengelolaan anggaran. termasuk beras. Pada masa Orde Baru konsepnya bertolak belakang dengan orde lama. meski RI hidup miskin. menjadi muara dari illegal logging. sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Selain itu. Kekayaan alam itu akan menjadi tabungan anak cucu di masa depan. Masa Reformasi krisis ekonomi parah sudah terjadi. diancam tuduhan subversif. industri kayu yang sudah terbentuk dimana-mana akibat dari berbagai HPH . Rakyat menikmati kebebasan (namun sepertinya terlalu ³bebas´). Beras murah. Utang LN tetap harus dibayar. Jika Bangsa Indonesia belum mampu atau belum punya iptek untuk menambang minyak bumi dsb biarlah SDA tetap berada di dalam perut bumi Indonesia. antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI). Jadi saat dipimpin Bung Karno. Jadi. meski pada masa Presiden SBY pemberantasan korupsi mulai kelihatan wujudnya. Rakyat pun merasa hidup berkecukupan pada masa Orba. Penebangan hutan pada masa Bung Karno juga amat minim. Pada masa orde lama : Konsep Bung Karno tentang kekayaan alam sangat jelas. sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap.. . dibagi menjadi kapling-kapling HPH. kedelai dsb. Hal ini disebabkan karena beberapa hal. o Masalah pemanfaatan kekayaan alam. Hutan dijadikan sumber duit. Semua serba tertutup dan tidak tranparan. Budaya korupsi yang sudah menggurita sulit dihilangkan. dibagi-bagi ke orang-orang tertentu (kroni) secara tidak transparan. di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri. padahal sebagian adalah beras impor. Biarlah anak cucu yang menikmati jika mereka sudah mampu dan bisa. Beberapa gelintir orang mendapat rente ekonomi yang luar biasa dari berbagai jenis monopoli impor komoditi bahan pokok. Ingat fakta sejarah: Orde Baru tumbang akibat demo mahasiswa yang memprotes pemerintah Orba yang bergelimang KKN. Jangan dilupakan pula bahwa ekonomi RI ambruk parah ditandai Rupiah terjun bebas ke Rp 16. Yang memimpikan kembalinya rezim totaliter mungkin hanyalah sekelompok orang yang dulu amat menikmati previlege dan romantisme kenikmatan duniawi di zaman Orba. kondisi dalam negeri masih kurang kondusif. birokrasi pemerintahan terlalu kental. Kalo bisa ngutang ya ngutang. terigu.Apa yang bisa digadaikan. Media masa menjadi terbuka. tapi Bung Karno tidak pernah menggadaikan (konsesi) tambang-tambang milik bangsa ke perusahaan asing.

com/question/index?qid=20090126174820AAFGt08 http://yunaniabiyoso. Tonggak awal reformasi 11 tahun lalu yang diharapkan bisa menarik garis demarkasi kekuatan lama yang korup dan otoriter dengan kekuatan baru yang ingin melakukan perubahan justru ³terbelenggu´ oleh faktor kekuasaan. bangsa ini tidak pernah membuat garis demarkasi yang jelas terhadap Orde Baru. Potret Kebijakan Moneter Indonesia. Betulkah Orde Baru telah berakhir? Kita masih menyaksikan praktik-praktik nilai Orde Baru hari ini masih menjadi karakter dan tabiat politik di negeri ini.answers. namun sektor ekonomi sudah diserahkan ke swasta/asing. pemerintahan lemah. Jakarta : PT. sentralistik. Soekarno membubarkan Konstituante yang bertugas merancang UUD baru bagi Indonesia. Yustika. Soeharto dan Orde Baru tidak bisa dipisahkan. berorientasi pada politik. tidak jelas apa orientasinya dan mau dibawa kemana bangsa ini.semua proyek diserahkan kepada pemerintah. DENGAN Dekrit 5 Juli 1959. Mengapa semua ini terjadi? Salah satu jawabannya.o Sistem pemerintahan Orde lama : kebijakan pada pemerintah. pembatasan partai poltik.yahoo. fokus pada pembangunan ekonomi. serta memulai periode yang dalam sejarah politik kita . kekuasaan militer untuk memasuki wilayah-wilayah sipil. dan muncul otonomi daerah yang kebablasan. Kita masih menyaksikan koruptor masih bercokol di negeri ini. Memetakan Perekonomian Indonesia. Orde reformasi : pemerintahan tidak punya kebijakan (menuruti alur parpol di DPR). Sebab. sekularisme.wordpress.Sistem politik otoriter (partisipasi masyarakat sangat minimal) pada masa orba terdapat instrumen-instrumen pengendali seperti pembatasan ruang gerak pers. Soeharto melahirkan Orde Baru dan Orde Baru merupakan sistem kekuasaan yang menopang pemerintahan Soeharto selama lebih dari tiga dekade.com/2008/11/07/sejarah-perekonomian-indonesia/ http://www. Grasindo.blogspot. Ahmad Erani.demokrasi Terpimpin.com/2008/04/perbedaan-determinasi-kebijakan. sentralistik. pewadahunggalan organisasi profesi. Orde baru : kebijakan masih pada pemerintah.Jakarta:Rajawali pers. Referensi : http://id.html http://labtani. 2008. 2002. demokrasi Pancasila.mudrajad. kapitalisme.com/upload/Reformasi%20di%20Persimpangan%20Jalan. Aulia.pdf Pohan. Perbedaan Orde Baru dan Orde Reformasi secara kultural dan substansi semakin kabur. dll. Pembangunan dan Krisis. demokrasi Liberal (neoliberaliseme).

yakni Golkar. setelah sempat hendak diputus oleh pendahulunya. dua-duanya sangat anti terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan disintegrasi teritorial Indonesia. Dengan demikian. baik Soekarno maupun Soeharto amat mementingkan retorika ³persatuan´ dan ³kesatuan´. neokolonialisme dan imperialisme. Pertama. Sebenarnya. tetapi juga tindakan Soekarno tersebut memberikan landasan awal bagi sistem politik yang justru kemudian dibangun dan dikembangkan pada masa Orde Baru. sejak 1956. Dalam retorika. Soeharto juga beranggapan bahwa sistem politik yang didukungnya adalah yang paling ³cocok´ dengan ³kepribadian´ dan ³budaya´ khas bangsa Indonesia yang konon mementingkan kerja sama. korupsi dan nepotisme (KKN)memimpin proses bergabung kembalinya Indonesia dengan sistem kapitalisme internasional. Peristiwa ini sangat penting. Presiden kedua RI sama sekali bukan orator. Soekarno menganggap bahwa bangsa Indonesia dapat kembali kepada ³rel´ revolusi yang sejati dengan semangat persatuan.disebut sebagai ³Demokrasi Terpimpin´. Dengan mengubur partai politik. Bahkan. walau keinginannya tidak pernah menjadi kenyataan di masa kekuasaannya. Namun. Soeharto bahkan dikenal lebih antipartai politik. sedangkan Soeharto justru . yang dapat berpidato secara amat berapi-api tentang revolusi nasional. Tapi bukankah Soekarno amat berbeda dari Soeharto. gotong-royong. di balik kesan kuat adanya keterputusan antara ³Orde Lama´ dan ³Orde Baru´. Soekarno sudah menuduh partai politik di Indonesia pada waktu itu sebagai biang keladi terpecah-belahnya bangsa. dan ini terutama dicerminkan oleh pertarungan antar-partai. Individualisme itu melahirkan egoisme. kekuatan rakyat. serta dikenal sebagai orang yang-meskipun pemerintahannya penuh dengan kasus kolusi. Ia juga amat percaya pada kekuatan massa. terdapat pula beberapa kontinuitas yang cukup penting. pendiri Orde Baru yang menggantikannya lewat serangkaian manuver politik sejak tahun 1965 yang hingga kini masih banyak diselimuti misteri?Tentu banyak perbedaan antara Soekarno dan Soeharto yang amat gamblang. keduanya mengecam ³individualisme´ yang katanya lahir dari liberalisme Barat. Ia juga terkesan curiga dengan kekuatan rakyat: kebijaksanaan ³massa mengambang´ Orde Baru didasari premis bahwa rakyat harus dipisahkan dari politik. SEPERTI Soekarno. bukan saja karena menandai berakhirnya eksperimen bangsa Indonesia dengan sistem demokrasi yang liberal. didirikannya satu ³partai negara´ atau ³pelopor´ adalah ide yang juga lama digandrungi oleh Soekarno. jauh lebih tertutup. Presiden pertama RI dikenal sebagai orator yang ulung. dan sempat mengajak rakyat untuk ³mengubur´ partai-partai tersebut dalam sebuah pidato yang amat terkenal. dengan perbedaan bahwa Soekarno mementingkan politik mobilisasi massa. Pada akhirnya. dengan merekayasa sebuah sistem yang pada dasarnya didominasi oleh satu ³partai negara´. tidaklah terlalu sulit untuk menemukan banyak kontinuitas antara ³Demokrasi Terpimpin´-nya Soekarno dan ³Demokrasi Pancasila´-nya Soeharto. dua-duanya dapat dikatakan sangat ³nasionalis´ dalam hal itu. dan dua partai ³pajangan´. dan keselarasan.

mencanangkan sistem politik yang berwatak anti-liberal dan curiga pada pluralisme politik. Tapi dua-duanya. Partai Nasional Indonesia (PNI). UUD µ45 diciptakan dalam keadaan darurat. sedangkan Soeharto. dan didominasi oleh partai-partai politik yang menguasai parlemen. Dua-duanya mementingkan ³persatuan´-yang satu demi ³revolusi´ dan yang lainnya demi ³pembangunan´. di masa kekuasaannya. Dalam versi sejarah yang dibaca di sekolah. selalu bersikeras tentang sifat ³sakral´ konstitusi. dan justru telah menutup arena politik untuk kekuatan komunisme. penerimaannya pada Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai aktor politik yang sah. ternyata ada banyak sekali ³utang´ Orde Baru pada Orde Lama. jadi sama sekali bukan sesuatu yang ³suci´. dan beberapa aktor politik lebih kontemporer. membuka jalan. dan sebagainya. Bahwa kabinet sering jatuh bangun pada waktu itu adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. tahun 1950-an di Indonesia ditandai oleh ketidakstabilan politik yang disebabkan oleh sistem demokrasi parlementer yang berlaku pada waktu itu. Sikap menomorsatukan UUD 1945 bukanlah hanya mencerminkan masalah ideologis atau filosofis yang abstrak. Dalam pengamatan yang lebih seksama. yakni DI/TI. Soeharto sendiri menjalankan pembangunan bercorak kapitalis. Toh Pemilu 1955-yang dimenangkan empat kekuatan besar. dengan caranya masing-masing. Untuk menjelaskan hal ini. yang tidak boleh diamandemen.sebaliknya. Nahdlatul Ulama (NU) serta PKI-kini masih dianggap sebagai pemilu paling bebas dan bersih yang pernah dilaksanakan sepanjang sejarah Indonesia. PRRI/Permesta. bagi Orde Baru dan ³Demokrasi Pancasila´ versi Soeharto. sejarah yang kita baca di sekolah akan menekankan pula bahwa integritas nasional terus-menerus diancam oleh berbagai gerakan separatis. mungkin ada baiknya kita kembali dulu kepada latar belakang pembubaran Konstituante oleh Soekarno serta kembalinya Indonesia kepada UUD 1945. Sistem ini bersifat sangat liberal. Sebab. Hal yang menarik adalah justru pada tahun 1945 Soekarno pernah berucap bahwa konstitusi itu hanya bersifat sementara. bahkan Soekarno makin curiga pada partai politik karena dia menganggap . Boleh dikatakan bahwa Orde Lama serta Demokrasi Terpimpin telah pave the way. Baik Soekarno maupun Soeharto amat mengerti bahwa UUD µ45 memusatkan kekuasaan pada lembaga kepresidenan. Selain itu. suatu hal yang hari ini justru menjadi masalah dengan adanya tarik-menarik antara Presiden dan DPR. Tidak mengherankan bahwa Soekarno telah mengawali Demokrasi Terpimpinnya dengan kembali pada Undang-Undang Dasar 1945. Masyumi. Bahwa beberapa gerakan separatis muncul sepanjang tahun 1950-an juga adalah kenyataan. sebagaimana diklaim oleh Soeharto. sisi lain dari sistem parlemen yang dikuasai partai ini adalah sering jatuh bangunnya kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri. Namun. termasuk dengan merangkul kekuatan-kekuatan kapitalisme terdepan di dunia. Perbedaan kedua adalah simpati Soekarno pada gerakan-gerakan antiimperialisme. tetapi masalah kekuasaan yang konkret. dan mungkin sebagai salah satu konsekuensi.

keluarga. penaklukan terhadap pemberontakan daerah telah . terlibat dalam beberapa pemberontakan daerah. Mengapa Angkatan Darat mendukung upaya Soekarno? Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Bahkan ³oposisi´ menjadi kata yang kotor. baik Soekarno dan Angkatan Darat mempunyai kepentingan nyata untuk membangun suatu sistem politik baru yang memberikan mereka kekuasaan yang lebih langsung. Dengan kata lain. Pada saat yang sama. dan segala unsur dalam masyarakat yang menentangnya dinyatakan sebagai pengkhianat. Negara-dalam hal ini hampir tidak bisa dibedakan dari Soeharto. atau DPR. Soekarno mendekritkan kembalinya Indonesia pada UUD 1945 karena kegagalan Konstituante untuk memutuskan UUD baru untuk Indonesia. yakni keduanya tidak mempunyai akses yang langsung terhadap jalannya roda pemerintahan. Perlu diingat pula bahwa. bentuk parlemen pun diubah dengan dicanangkannya suatu lembaga yang pada dasarnya memberikan tempat yang lebih besar untuk golongan-golongan ³fungsional´ dalam masyarakat. salah satu aspek yang penting dari Demokrasi Terpimpin adalah berpusatnya kekuasaan di tangan eksekutif (presiden) dan berkurangnya kekuasaan lembaga legislatif. untuk sebagian. dan juga PSI. dengan sistem kekuasaan yang jauh lebih terpusat dibandingkan pada masa Soekarno. ADALAH penting juga untuk dicatat bahwa salah satu kekuatan pendukung utama upaya Soekarno untuk memberlakukan Demokrasi Terpimpin adalah Angkatan Darat. meskipun ia senang memandang dirinya sebagai ³penyambung lidah rakyat´ berada ³di atas´ konflik-konflik kepentingan yang sempit. kepentingan nasional menjadi identik dengan kepentingan segelintir penguasa politik dan ekonomi. sedangkan Angkatan Darat telah berkembang menjadi kekuatan yang juga tidak puas dalam peranan hanya sebagai penjaga pertahanan dan keamanan belaka.Masyumi. sekutu serta kroninya. Mungkin terjadinya hal seperti itu akan sukar dibayangkan oleh Soekarno sendiri. Di masa Orde Baru. Bisa dikatakan Soekarno tidak puas sebagai presiden yang hanya bersifat figure-head.mengambil-alih seluruh hak untuk mendefinisikan ³kepentingan nasional´ tersebut. tempat partai di dalam parlemen juga dibatasi-sebab menurut Soekarno-politisi partai hanya mewakili kepentingan partainya. di luar jatuh bangunnya kabinet dalam sistem liberal tahun 1950-an serta pemberontakan-pemberontakan di daerah. hal ini kemudian menjadi masalah yang amat besar. akibat perdebatan berlarut-larut. Hal ini telah difasilitasi dengan kembalinya Indonesia kepada UUD µ45. Pembahasan terhadap kepentingan-kepentingan konkret seperti ini tidak lazim ditemukan dalam pelajaran sejarah di sekolah pada tahun 1950-an. terutama antara kekuatan nasionalis sekuler dan kekuatan Islam mengenai dasar negara. yang kemudian dikenal sebagai golongan ³karya´. Bahkan. Ada persamaan nasib antara Soekarno dan tentara di dalam sistem demokrasi liberal yang mementingkan peranan partai dan parlemen. dan yang diperlukan adalah individu-individu yang dapat mewakili kepentingan ³rakyat´ atau yang depat menyuarakan ³kepentingan nasional´ yang sebenarnya. Seperti diketahui. Lebih jauh lagi. Akibatnya.

Nasution telah memberikan landasan awal bagi peranan militer di dalamnya. Jenderal Abdul Haris Nasution telah tampil sebagai pimpinan yang mampu untuk meredam tantangan yang diajukan oleh komandan-komandan lokal yang memberontak karena tidak senang dengan dominasi Jakarta/Jawa. Di samping itu. namun juga tidak akan tinggal diam sebagai penonton arena politik. Khususnya.menghasilkan suatu pimpinan Angkatan Darat yang jauh lebih bersatu dibandingkan sebelumnya. Bisa dikatakan bahwa Soeharto tidak mungkin ³ada´ secara politik tanpa manuver kedua pendahulunya itu. dalam ide ini kita melihat cikal-bakal dari ³dwifungsi´ ABRI yang dipraktikkan Orde Baru. militer amat tidak senang dengan upaya Soekarno untuk mengikutsertakan PKI dalam pemerintahan. Dengan posisi politik dan ekonomi yang kuat seperti ini. masing-masing sebagai pimpinan negara dan tentara. ³Demokrasi Terpimpin´-nya Soekarno memberikan peluang. Soekarno dan Nasution pada waktu itu berada dalam situasi yang ditandai oleh keharusan untuk bernegosiasi dan bekerja sama. tampaknya militer tergiur untuk mempunyai peranan yang langsung di dalam sistem politik. Tentunya. kondisi darurat yang dicanangkan untuk menghadapi pemberontakan daerah telah menempatkan banyak perwira militer sebagai administrator roda pemerintahan. seperti juga PNI dan NU (dua . sebagaimana di negeri-negeri Barat. Lebih jauh lagi. Nasution pulalah yang pertama mengusulkan bahwa hak pilih tentara dan polisi dicabut dan diganti oleh hak otomatis memperoleh perwakilan di badan legislatif. otoriter dan ekslusioner pada masa Orde Baru. Dalam konsepsi ini. Jadi. Oleh karena itu. militer Indonesia tidak akan bersifat intervensionis-dan terlibat dalam kudeta demi kudetasebagaimana di Amerika Latin. Dalam pikiran Soekarno. Orde Baru dapat dipandang sampai tingkat tertentu sebagai hasil yang tidak disengaja (unintended consequence) dari manuver-manuver politik Soekarno dan Nasution di tahun 1950-an. Di antara golongan ³fungsional´ atau ³karya´ yang boleh duduk dalam parlemen adalah tentara. Di antaranya adalah Ibnu Sutowo yang kemudian mengembangkan Pertamina. Ternyata-walaupun cukup ³sukses´ dalam pemilu nasional dan lokal sebelumnya-PKI mampu beradaptasi dengan lingkungan politik baru setelah berakhirnya masa demokrasi parlementer. bila Soekarno telah memberikan dasar dari konsepsi sistem politik yang akan dikembangkan dalam versi yang lebih birokratis. sedangkan Soekarno semakin mengandalkan PKI sebagai satu-satunya kekuatan politik di awal tahun 1960-an yang dapat mengimbangi Angkatan Darat. kita perlu mengingat pula bahwa Jenderal Nasution telah mengajukan apa yang disebut sebagai ³jalan tengah´ untuk militer Indonesia. nasionalisasi perusahaanperusahaan asing di tahun 1957-yang sebenarnya dipelopori oleh serikat buruh-telah menempatkan banyak perwira militer di pucuk pimpinan perusahaan-perusahaan negara yang terbesar. Walaupun sering dikatakan bahwa maksud awal Nasution telah dipelesetkan oleh Soeharto. Dalam konteks ini. PKI adalah bagian tak terpisahkan dari ³front´ nasional menentang imperialisme dan untuk memajukan revolusi nasional. tetapi juga tidak jarang oleh konflik.

walau dalam versi tentara. konflik militer dan PKI itu akhirnya berkulminasi dengan peristiwa 1965 yang hingga kini masih misterius. termasuk para intelektual dan mahasiswa) tentang peranan partai politik yang wajar di Indonesia. dan diperburuk sejak tentara semakin aktif mengembangkan ormas untuk melawan dominasi PKI terutama di bidang organisasi buruh dan tani. Akhirnya. Setelah Soekarno memperjuangkan konsep perwakilan politik berdasarkan ³fungsi´ dalam masyarakat. Pada dasarnya. Golkar dikembangkan di masa Soeharto sebagai salah satu pilar utama Orde Baru. Perdebatan di antara para pendiri atau pendukung Orde Baru berkisar sejauh dan secepat manakah partai politik perlu di-¶kubur¶. Sebagaimana diketahui. dan bercorak anti-komunis. yakni sebagai wadah untuk melegitimasikan kekuasaan lewat sejumlah pemilu yang jauh dari prinsip bebas dan bersih.elemen lain dari Nasakom-nya Soekarno). Adalah dalam konteks konflik militer dengan PKI ini jugalah lahir ³bayi´ yang kemudian menjadi entitas politik bernama Golkar. militerlah yang kemudian menjadi ahli waris langsung dari konsep golongan karya yang awalnya diperjuangkan oleh Soekarno. dan naiknya Jenderal Soeharto ke pucuk pimpinan negara. konsep ini bermutasi menjadi lebih anti-partai. Dalam perjalanan sejarah. Konflik militer-PKI sendiri setidaknya sudah berawal pada peristiwa Madiun. Tentu dia tidak sendiri. Apalagi tentara sejak 1957 berhadapan langung dengan SOBSI-serikat buruh yang dekat dengan PKI-di perusahaan nasional yang dikelola militer. Seperti diketahui. ADALAH menarik bahwa pada masa awal Orde Baru. terjadi pula perdebatan di antara para pendukungnya sendiri (ketika itu. karena pandangan ini dikumandangkan juga oleh banyak intelektual lain-termasuk yang kemudian menjadi lawan Soeharto yang gigih dan tokoh gerakan demokrasi-serta sejumlah jenderal. yang katanya menghambat pembangunan. Peranannya menonjol baik sebagai ideolog maupun sebagai . setelah proses perdebatan dan intrik yang panjang. Dalam hal-hal macam ini pulalah kita bisa melihat satu lagi ³utang´ Orde Baru-nya Soeharto pada ³Orde Lama´-nya Soekarno. ideolog militer macam Jenderal Soehardiman juga mengembangkan konsep ³karyawan´ di bidang perburuhan dengan mendirikan SOKSI (terutama berbasis pada perusahaan negara yang dikuasai militer). Sekretariat Bersama Golkar (Sekber Golkar) didirikan oleh tentara untuk menghimpun kekuatan-kekuatan keormasan dan politik yang berseberangan dengan kekuatan komunis. Salah satu tokoh yang paling penting dalam proses perekayasaan sistem politik Orde Baru adalah Jenderal Ali Moertopo. partainya golongan karya. akhirnya semua partai ³sisa´ Orde Lama memang difusikan menjadi Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia di tahun 1973. disertai oleh Golkar. Intelektual macam Mochtar Lubis pun menulis di koran Indonesia Raya tentang perlunya lapangan politik dibersihkan dari partai politik yang identik dengan Orde Lama.

Salah satu ³pertemuan´ itu adalah dalam penempatan ³negara´ sebagai suatu entitas yang diidealisasikan berada di atas konflik dan perbedaan dalam masyarakat. Moertopo bukan seorang Soekarnois. seperti karya Samuel Huntington yang tersohor. Di masa Orde Baru. Menurut David Bourchier (seorang pengamat politik Indonesia berasal dari Australia). sedangkan strategi politik Moertopo dicurahkan terutama untuk menjamin bahwa tidak ada kekuatan dalam masyarakat yang mampu untuk menentang kemauan negara sebagai pengejewantahan dari kepentingan bersama. tetapi semua suara oposisi dengan dalih ancaman terhadap persatuan nasional dan sebagainya. Setidak-tidaknya retorika Orde Baru di masa awal dibumbui dengan jargon-jargon teori modernisasi yang dipinjam dari kepustakaan ilmu sosial Barat. walaupun lebih menurut aliran politik atau sentimen kedaerahan. Moertopo mungkin memperoleh gagasan ini dari intelektual Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang sempat menjadi dapur pemikirannya. Ironisnya. Seperti dikemukakan sebelumnya. Sebaliknya. protes daerah-daerah tertentu mengenai berbagai kebijakan pemerintah pusat dijawab dengan pengiriman tentara demi menjamin lestarinya persatuan nasional. yang juga mengajukan konsep adanya pertalian yang erat. Soekarno pun mengkhawatirkan proses fragmentasi di Indonesia. hubungan organik. politik Orde Baru. retorika Soekarno seperti biasa dibumbui oleh jargon-jargon revolusioner yang cenderung romantis dan yang menekankan bersatunya pemimpin dengan rakyat TULISAN ini telah memusatkan perhatian pada beberapa kontinuitas-mungkin terasa agak ironis-antara Orla dan Orba. atau hal lain-digabungkan dengan praktik-praktik politik represif yang membungkam bukan hanya partai. blueprint. pemikiran Moertopo banyak dipengaruhi oleh pemikiran Gereja Katolik Eropa awal abad ke20. Pemikiran ini aslinya dikembangkan di Eropa sebagai respons terhadap bahaya ³fragmentasi´ masyarakat yang disebabkan oleh kemunculan politik perjuangan kelas yang dimotori oleh kaum sosialis. agama. antara negara dan masyarakat. hal ini terjadi meskipun sistem politik yang hendak dibangun di Indonesia adalah yang diklaim bercorak kepribadian nasional yang khas. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan betapa relevannya pemikiran dan tindakan Soekarno pada . ketakutan akan fragmentasi-atas dasar kelas. Political Order in Changing Societies. tentu ada perbedaan-perbedaan yang penting antara ³visi´ Orde Baru dan visi ³Demokrasi Terpimpinnya Soekarno´. Sekali lagi. tapi saya kira ada beberapa aspek dari pemikirannya-yang meskipun mungkin ³dipinjam´ dari tempat lain³bertemu´ secara tidak langsung dengan ide-ide yang sempat diperjuangkan oleh Soekarno di tahun 1950-an. Jenderal Moertopo menerbitkan beberapa karya yang amat gamblang menggambarkan dasar-dasar pemikiran.operator politik utama Soeharto di awal Orde Baru (dengan Aspri dan Opsus-nya). meskipun ada banyak perbedaan di tingkat permukaan. Bahkan. Soekarno menyatakan bahwa negara atau bangsa adalah suatu organisme yang tidak bisa dipilah-pilah. Menurut Bourchier. Dalam pidato kenegaraan di tahun 1956.

dan bercokolnya Orde Baru.masa yang jauh melampaui kurun waktu kehidupannya sendiri-walaupun dalam bentuk unintended consequence-yakni berdiri. Ledakan ini terjadi dalam bentuk yang beragam. dan bercokolnya rezim yang otoriter untuk waktu yang lama. perilaku partai politik yang dianggap mementingkan diri sendiri juga telah menyebabkan banyak orang menjadi sinis terhadapnya. ledakan partisipasi politik banyak mengambil bentuk huru-hara. amuk massa. Ketika Orde Baru tumbang. Pasca runtuhnya rezim politik Orde Baru-nya Suharto yang otoriter di tahun 1998. Liberalisasi politik awal pasca Orde Baru ditandai antara lain terjadinya redefinisi hak-hak politik rakyat. . Apakah sejarah akan berulang dan partai politik kembali dicap sebagai biang keladi fragmentasi bangsa. Pada tataran akar rumput (grass root). Mudah-mudahan sejarah tidak berulang dengan naiknya tentara sebagai panglima politik. kontinuitas adalah tema yang masih amat relevan dibicarakan di Indonesia. Seperti di tahun 1950-an dan 1960-an. berkembang. kepentingankepentingan ini bukan lagi dilindungi oleh negara yang otoriter tetapi justru oleh partai-partai yang tumbuh relatif bebas dalam alam demokratisasi. Orde Reformasi dicirikan dengan terjadinya apa yang oleh O¶Donnell dan Schmitter disebutnya fase ³liberalisasi politik´. yang lantas disebut juga ³Orde Reformasi´.Pada dasarnya. kekerasan massa. Liberalisasi merupakan proses mengefektifkan hak-hak yang melindungi individu dan kelompok-kelompok sosial dari tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh negara. Apa yang disebut liberalisasi adalah proses pendefinisian ulang dan perluasan hak-hak. Konsekuensi dari liberalisasi politik ditandai dengan terjadinya ledakan partisipasi politik. kemudian memasuki masa Reformasi. sebagaimana pernah dituduhkan Soekarno? Mudah-mudahan saja solusi politik yang akhirnya ditemukan oleh bangsa Indonesia akan sangat berbeda dari solusi yang pernah muncul sebelumnya. atau praktek penjarahan kolektif. Fase ini secara teoritis sebagai fase transisi dari otoritarianisme entah menuju kemana´. Bedanya. setiap kalangan menuntut kembali hak-hak politiknya yang selama bertahun-tahun dikerangkeng oleh negara. Indonesia. bahkan dewasa ini karena masih eratnya kaitan antara aktor-aktor politik di masa reformasi ini dengan berbagai kepentingan yang menonjol di masa Orde Baru.

atau doa-doa tidak berakomodasi sepenuhnya. Klimaks dari pendirian partai politik adalah diselenggarakannya pemilu di tahun 1999. sehingga jumlah partai politik banyak. Sebagai orde transisi politik di Indonesia. guna terciptanya sebuah sistem yang sehat seperti yang digambarkan oleh David Easton. maka sistem politik Indonesia di masa reformasi dianggap sebagai sistem politik yang juga bersifat transisi. . Pertanyaan mendasar kemudian adalah. di mana terdiri atas sub-sub sistem. Sebuah sistem merupakan sebuah keseluruhan yang saling berinteraksi di dalamnya. para elit politik berlomba-lomba mendirikan kembali partai politik. Sebuah sistem politik yang sangat akut ini sedang mencari format terbaik. sistem politik Indonesia perlu adanya sebuah evaluasi ulang atas fungsi-fungsi lembaga berdasarkan aturan yang telah ada. karena banyak kalangan yang telah memperhitungkan sebelumnya.Sementara ledakan partisipasi politik di kalangan elit politik ditandai dengan maraknya pendirian partai politik. sampai kapan sistem politik Indonesia berkutat pada tataran transisi? Kran demokrasi yang tertutup rapat selama 32 tahun. Ini bukanlah hal yang mengejutkan. yang oleh para pengamat asing disebut sebagai pemilu paling bersih. berimbas pada meledaknya partisipasi politik. Jadi sebagai sebuah keseluruhan. Sehingga proses yang berjalan merupakan transformasi nilai-nilai kemanusiaan. Inilah pemilu pertama pasca Orde Baru dan pemilu kedua setelah pemilu 1955. Sebagai perwujudan dari ledakan partisipasi politik itu. Proses input sebuah kebijakan haruslah kebutuhan mendasar sebuah masyarakat yang ditafsirkan sebagai doa-doa makhluk terhadap Tuhannya. ibarat sebuah harapan. akibat begitu banyaknya masyarakat Indonesia yang menjadi pengemis akibat keganasan sebuah rezim yang µmenyulam¶ lidah-lidah rakyat dengan benang sutra. Pemilu 1999 juga dijadikan tonggak awal Orde Reformasi. Bukan berarti menafikan bahwa akan ada benturan kepentingan di dalamnya.

Perubahan yang terlihat hanyalah pada kuantitas partai. reformasi yang terjadi juga sebuah keniscayaan yang tidak pernah diharapkan akan seperti ini. Jika mencoba membawanya pada realitas politik. karena partisipasi politik masyarakat belumlah cukup. masyarakat pun kecewa dengan hal ini dan merasa sakit. tapi masih menggunakan pola lama. maka haru ada sebuah kedinamisan dan keadilan pengetahuan atau yang dibahasakan oleh Muhammad Hatta pendidikan politik. Untuk itu dibutuhkan teropong yang lebih besar buat melihat masalah yang hadir.Reformasi yang terjadi pun adalah sebuah negosiasi kekuasaan elit lama yang merasa kecewa atas seniornya. Pasca reformasi yang harapannya akan ada format baru bagi dunia politik ternyata mengalami kebuntuan. rezim yang hadir pun hanya menjadikannya tiket menuju kelas yang lebih tinggi. maka diperlukan seorang dokter dengan jarum suntik di tangannya untuk menyembuhkan bangsa ini. yaitu politisi sebagai pelayan bagi umatnya. setelah sampai ditujukan . Sebagai salah satu bagian dari sebuah sistem politik maka yang hadir adalah sebuah sistem politik yang tidak lagi menarik. sehingga hal ini berimbas pada sektor yang lain. Seperti sebuah virus yang menjangkiti sebuah bangsa. karena tampil sebagai topeng. yaitu filsafat politik. belum mampu untuk menjalankan fungsinya dengan baik. Politisi terperangkap pada keistimewaan akan dirinya sehingga tidak lagi menganggap rakyat adalah bagian dari dunianya. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. sehingga regulasi yang berjalan harus dibayar dengan kelaparan di berbagai daerah. yang membawa kita pada kemakmuran bersama. Masa sekarang ini pun sistem politik Indonesia masih mengalami krisis yang memprihatinkan. Legitimasi yang hadir saat ini adalah semu. Transformasi nilai yang saya maksud di atas tadi adalah puncak tertinggi nilai-nilai universal. Sistem politik ini merupakan bagian dari sebuah sistem yang besar. Filsafat politik sebagai nilai-nilai universal adalah konstitusi tertinggi kemanusiaan. artinya belum ada perubahan yang mendasar dari reformasi yang dicita-citakan. Hal ini dapat dilihat dari partai politik yang menjadi bangunan dasar demokrasi. Jarum suntik ini adalah pendidikan politik yang merata. atau biasa disebut oleh kalangan agamawan sebagai sosok nabi. guna pencapaian cita-cita filsafat politik.

Keberagaman budaya yang ada pada bangsa kita sangat berpengaruh pada perangkat politik yang ada pula. Kondisi yang seperti ini terjadi tidak lain akibat pengetahuan masyarakat yang masih kurang terhadap politik. Oleh karena itu dibutuhkan partai yang modern pula mengingat kebutuhan manusia yang semakin kompleks. sementara ilmu politik begitu dinamis dan terus berkolaborasi dengan konteks budaya yang ada. dan sebagai sebuah sub-sistem dari sistem yang lebih besar. Bukan hanya itu partai pulalah yang harus menggantikan tanggung jawab negara untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat luas. maka komponen-komponen tersebut harus menjalankan fungsinya dengan baik.dengan mudah untuk membuangnya ke dalam keranjang sampah. dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menuju kemakmuran bersama. Oleh karena dibutuhkan kedinamisan maupun keseimbangan komponenkomponen yang ada dalam sebuah sistem. Logika politik luar negeri yang ada pun membenarkan asumsi tersebut. Sudah saatnya partai politik menebus budi atas suara yang telah diberikan padanya oleh rakyat. seharusnya partai politik memperlihatkan eksistensinya pada rakyat. perangkat politik yang sangat penting saya kira adalah partai politik yang melakukan adaptasi sebagai jawaban atas tantangan modernitas. Dari sini dapat dikatakan bahwa partai politik belum mampu menjalankan fungsinya di dalam masyarakat. mengingat kondisi bangsa yang carut-marut. Pemahaman atas politik masih jauh dari harapan para filosof. partai politik harus belajar untuk mandiri dalam banyak hal. bukan hanya pada momen tertentu saja. Kemudian tantangan yang kedua adalah. Untuk pembiayaan kampanye saja negara masih harus menanggungnya. di mana politik luar negeri merupakan cerminan politik dalam negeri. Sehingga dibutuhkan kondisi politik yang kuat untuk dapat menunjukkan eksistensi bangsa pada lingkup global. yaitu dunia politik yang humanis telah menjadi kebutuhan yang meniscayakan sebuah bangsa yang kuat. Pendidikan politik yang adil serta memanusiakan manusia adalah cita-cita kemakmuran itu. Banyaknya bencana kemanusiaan yang melanda bangsa ini. Sistem ini pun tidak terlepas dari pengaruh yang hadir dari luar. ini memperlihatkan bahwa partai politik masih sangat dimanjakan. .

Kedua. Proses ini tidak lahir begitu saja. Adapun setelah terjadinya proses konversi dari kedua variabel input tersebut. Ambillah contoh kasus terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (disingkat: BBM). yakni dukungan dan tuntutan (suplay and demand). Mulai dari aksi demonstrasi menolak kenaikannya sampai kemudian persetujuan bahwa kenaikan harga BBM tak mungkin lagi kita tolak atau tahan. Hal ini menjadi sangat penting melihat realitas politik yang ada di Indonesia bahwa elit yang hadir bukanlah orangorang yang begitu paham dengan politik. Jadi sistem politik Indonesia harus dilihat sebagai sebuah keseluruhan yang saling mempengaruhi. Keluaran dari sebuah sistem politik dengan demikian disebut sebagai hasil kebijakan atau kebijaksanaan. Sehingga kebijakan yang lahir pun tidak lagi menjadi alat untuk mensejahterakan rakyat. yakni proses input atau masukan. Proses input ini terdiri dari setidaknya dua variabel. tapi juga bagi elit politik sebagai pemegang peran penting dalam sebuah kebijakan. yakni orang-orang kaya. Pertama. bahwa proses politik dari sebuah sistem politik tidak akan pernah berakhir karena adanya proses feed-back tersebut. Ada sebuah proses yang mendahuluinya. . Kebijakan atau kebijaksanaan yang dilahirkan dari sebuah proses konversi dari sebuah sistem politik tidak dengan sendirinya berakhir. karena harga minyak dunia sementara melonjak. dengan dua alasan mendasar. Naiknya harga BBM di awal Maret 2005 lalu. tak luput dari beragam penilaian. Studi Kasus Sistem politik digambarkan secara sederhana oleh David Easton sebagai sebuah proses pembuatan kebijakan (konversi). Demikian seterusnya. bukan ditafsirkan secara sempit sebagai sebuah kesalahan sebuah rezim atau kejahatan elit politik semata. 2. untuk mengurangi pembiayaan negara (subsidi) atas sebagian besar masyarakat yang seharusnya tidak layak untuk disubsidi. maka proses itu lantas disebut keluaran atau output.Perlu diingat bahwa pendidikan politik itu bukan hanya pada masyarakat saja. melainkan terus berproses dalam bentuk umpan balik (feed-back). tapi sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan dan menjadi budak nafsu keserakahan binatang.

Antara partai politik yang mendukung dan tidak mendukung naiknya harga BBM. Jelaslah bahwa hingga saat ini. disingkat: BLT) bagi masyarakat kecil yang terimbas dengan keluarnya kebijakan menaikkan BBM. ada sebuah kebijakan yang juga lahir di samping kebijakan naiknya harga BBM. kebijakan naiknya harga BBM tidak dapat diubah lagi. Kebijakan BLT ternyata tetap disalahgunakan oleh aparat pemerintah di tingkatan bawah. demikian alot dan keras. pada awalnya. Partai-partai politik yang anti kenaikan BBM kelihatan sangat bersungguh-sungguh untuk tetap sejalan dengan sebagian masyarakat untuk menolak naiknya harga BBM. yang menurut pemerintah mereka-mereka inilah yang seharusnya mendapatkannya. Apalagi ternyata. yakni kebijakan kompensasi (bantuan langsung tunai. Terjadi proses tarik-menarik kepentingan di dalam parlemen Indonesia (DPR). Kebijakan itu dengan sendirinya menjadi output dari pemerintahan SBY-Kalla. Kelompok yang mendukung ini dapat dibagi dua. Proses politik yang terjadi. Kelompok kedua adalah mereka yang mendukung kenaikan harga BBM. yang mendapatkan BLT tidak semuanya berkategori miskin. Pada tataran feed-back atau umpan balik. kelompok yang melihatnya sebagai bagian dari penyelamatan ekonomi negara (anti subsidi) dan kelompok yang secara langsung dan tak langsung justru diuntungkan dengan naiknya harga BBM (para pendukung neo-liberalis). . Tetapi karena kuatnya kekuatan kelompok yang mendukung naiknya harga BBM di DPR. yakni bagaimana seharusnya BBM itu dikelola. Adapun kebijakan BLT pada kenyataannya tidak mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat menghadapi kenaikan harga sembako. Ketika dikonversi untuk dijadikan sebagai sebuah kebijakan. sebagian masyarakat masih tetap menolak kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan yang ada.Proses inputnya terdiri dari dua. Tetapi meski demikian. kelompok yang menolak naiknya harga BBM yang diwakili secara pas oleh kelompok mahasiswa dan para aktivis buruh yang memang secara nyata paling rentan terancam dengan kebijakan tersebut. Akibat yang terjadi kemudian adalah terjadinya pemiskinan secara terstruktur oleh negara terhadap masyarakatnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful