ANALISIS KARAKTERISTIK SISWA

1. Pengertian Karakteristik Karakteristik berasal dari kata karakter yang berarti tabiat watak, pembawaan, atau kebiasaan yang di miliki oleh individu yang relatif tetap (Pius Partanto, Dahlan, 1994) Karakteristik adalah mengacu kepada karakter dan gaya hidup seseorang serta nilai-nilai yang berkembang secara teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan mudah di perhatikan.(Moh. Uzer Usman,1989 Siswa atau anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan pendidikan. Anak didik adalah unsur penting dalam kegiatan interaksi edukatif karena sebagai pokok persoalan dalam semua aktifitas pembelajaran (Saiful Bahri Djamarah, 2000) B. Karakateristik siswa Keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya (Sudirman,1990) Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki (Hamzah. B Uno.2007) C. Manfaat Analisis Karakteristik Siswa
• • •

• •

Guru dapat memperoleh tentang kemampuan awal siswa sebagai landasan dalam memberikan materi baru dan lanjutan Guru dapat mengatahui tentang luas dan jenis pengalaman belajar siswa, hal ini berpengaruh terhadap daya serap siswa terhadap materi baru yang akan disampaikan Guru dapat mengetahui latar belakang sosial dan keluarga siswa. Meliputi tingkat pendidikan orang tua, sosial ekonomi, emosional dan mental sehingga guru dapat menajjikan bahan serta metode lebih serasi dan efisien Guru dapat Mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan dan aspirasi dan kebutuhan siswa Guru dapat Mengetahui tingkat penguasaan yang telah di peroleh siswa sebelumnya

D. Kalasifikasi Karakteristik Siswa
• •

Pribadi dan lingkungan yang terdiri dari umur, Jenis kelamin, keadaan ekonomi, orang tua, kemampuan pra sekolah, dan lingkungan tempat tinggal Psikis yang terdiri dari tingkat kecerdasan, perkembangan jiwa anak, modalitas belajar, motivasi, bakat dan minat

E. bentuk-bentuk karakteristik Siswa

Potensi Manusia

Aliran yang berkaitan dengan potensi manusia menerima pendidikan

Nativisme

Arthur Schopenhour dari Jerman (1788-1860) anak yang baru lahir membawa bakat kesanggupan dan sifat-sifat tertentu

Empirisme

Manusia itu dalam perkembangan pribadinya semata-mata ditentukan oleh dunia di luar dirinya. John Locke (1632-1704) dari Inggris dengan teorinya “Tabula Rasa”

Konvergensi

William Stern (1871-1938), yang mengatakan : “kemungkinan-kemungkinan yang dibawa lahir itu adalah petunjuk-petunjuk nasib dengan ruangan permainan. Dalam ruangan permainan itulah letaknya pendidikan dalam arti seluas-luasnya

Kecerdasan o Klasifikasi Kecerdasan = Genius

> 140

130 – 139 = Sangat Pandai 120 – 129 = Pandai 110 – 119 = Di atas Normal 90 –109 80 – 89 70 – 79 50 – 69 < 49

= Normal/Sedang = Di bawah Normal = Bodoh = Feeble Minded: Moron = Feeble Monded: Imbicile/Idiot

Inteligensi majemuk o Pelajar logis-matematis senang bereksperimen dan mengeksplorasi angka dan pola.

dll Siswa auditorial : o Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja o Mudah terganggu oleh keributan o Menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan di buku saat membaca o Merasa kesulitan untuk menulis. membandingkan. namun hebat dalam bercerita o Lebih suka gurauan lisan daripada komik o Berbicara dalam irama terpola o Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat o Suka berbicara. membangun. menciptakan karya yang unik dan orisinal. berolahraga. membuat prakarya. serta belajar dengan dan dari orang lain. memainkan alat musik. menulis. dan belajar melalui gerakan dan sentuhan Pelajar natural Kecerdasan ini cukup spesifik. irama dan nada suara. dan berkreasi. Orang yang peka terhadap lingkungan bisa dikategorikan memiliki kecerdasan ini. Pelajar linguistik senang bermain dengan kata-kata ketika ia membaca. Pelajar kinestetik senang bergerak. bekerja sama. Pelajar intrapersonal bekerja sendirian di tempatnya sendiri. • Modalitas Belajar: o Siswa Visual :  Rapi dan teratur  Berbicara dengan cepat  Mementingkan penampilan. suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu panjang lebar o Dapat menirukan warna. dll • • Siswa Kinestetik : o Berbicara dengan perlahan o Menanggapi perhatian fisik . bersentuhan. baik dlm pakaian maupun presentasi  Biasanya tidak terganggu oleh keributan  Lebih suka membaca daripada dibacakan  Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telpon/kuliah  Lebih suka demonstrasi daripada berpidato  Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat. menari. bergumam. dan umumnya bereaksi terhadap musik. dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya  Mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Pelajar spatial senang menggunakan visualisasi ketika menggambar. dan belajar diiringi musik. memiliki banyak teman.o o o o o o o Pelajar musikal bernyanyi. Pelajar interpersonal berbagi. ya/tidak!  Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis. dan berbicara. merancang.

terutama bila perancangannya atau dalm mendesain pembelajaranyya tidak begitu akurat. normative. Pertama adanya kenyataan/hasil yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. menganalisa tujuan dan ketiga kebutuhan pembelajaran (Needs Assessment/Analysis) masihkah sikap-sikap itu sesuai dengan tujuan yang relevan itu juga sesuai dengan kebutuhan itu sendiri? Kata Kunci: Pembelajaran. memilih. expressed. Kedua. desain Pendahuluan Mengapa pembelajaran? Ada beberapa alasan yang melatar belakanginya. adanya perubahan lingkungan/suasana kerja yang diakibatkan oleh modifikasi prosedur atau instalasi peralatan yang . autisipated and critical accident.o o o o o o o o o o Menyentuh orang untuk mendapat perhatian mereka Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak Menghafal dengan cara berjalan dan melihat Menggunakan jari sebagai petunjuk saat membaca Banyak menggunakan isyarat tubuh Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar Sulit mengingat peta kecuali jika dirinya pernah berada di tempat itu Kemungkinan tulisannya jelek Tidak dapat duduk diam untuk waktu lam ANALISIS KEBUTUHAN PEMBELAJARAN DAN ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM DESAIN SISTEM PEMBELAJARAN ABSTRAK Desain pembelajaran dimulai dengan identifikasi masalah pembelajaran. Analisa tujuan bisa menggunakan analisa kebutuhan maupun bantuan pembelajaran: proses analisa tujuan pertama mengidentifikasi tujuan dan menetapkan. comparative. Analisa kebutuhan adalah cara yang efektif untuk mengidentifiaski masalah-masalah yang muncul dalam sebuah organisasi pembelajaran. felt. Maka dalam permasalahan pembelajaran (Intructional Problem) paling tidak memperhatikan tiga hal yaitu pertama sikap yang diharapkan (Performance Assessment). membuat prioritas. Kedua. Analisa kebutuhan dapat mengidentifikasi enam jenis kebutuhan.

baru. Bila kesenjangan tersebut dan menimbulkan efek yang besar. Menganalisa kebutuhan pembelajaran dan analisis pembelajaran dalam desain sistem pembelajaran merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam kegiatan desain pembelajaran. ketika menghadapi masalah tentang pembelajaran. sehingga pembelajaran yang dilaksanakan merupakan solusi terbaik. maka perlu diprioritaskan dalam pengatasan masalah (Dick and Carey : 1990. Proses desain sebuah pembelajaran dimulai dengan identifikasi masalah atau kebutuhan pembelajaran dan analisis pembelajaran. A. perkembangan perusahaan atau industri yang begitu pesat sehingga SDM perlu ditingkatkan. Konsep Kebutuhan Pembelajaran Kesenjangan adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan karena itu kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang pembelajaran.15 . Analisa kebutuhan. Kedua kegiatan merupakan rangkaian erat yang secara berurutan dan bersamasama untuk dikerjakan sebelum pendesain merancang pembelajaran. Atwi Suparman (2001 : 63) kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang . sedang analisis pembelajaran bentuk penjabaran perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis. Ketiga. Analisa tujuan dan analisa proses/hasil/pelaksanaan Menganalisis Kebutuhan Pembelajaran.27 ). Ada tiga pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi masalahmasalah pembelajaran. mencampuradukkan antara kebutuhan dan keinginan diidentikkan adalah hal yang keliru sebab menurut M.

Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan. Apa kebutuhan yang dihadapi. (Morrison. 4. Morrison (2001: 27) membagi fungsi analisa kebutuhan sebagai berikut: 1.pertanyaan senada antara lain: 1. . mengatakan bahwa kebutuhan (need) diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya. Apa penyebabnya.berbeda tapi sama. 4. Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran. Apakah kebutuhan tersebut merupakan masalah. 2001: 27) Oleh karena itu Kaufman (1982) mengajak kita meyakini betul apa masalah yang kita hadapi (M. 2. Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial. Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran. Atwi Suparman: 2001-63). Sedangkan analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan yang tepat. Apakah pemberian pelajaran merupakan cara yang tepat untuk memecahkan masalah. 2. 3. keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan 3. keinginan adalah harapan ke depan atau cita-cita yang terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah. maka jika kita mengajar hendaknya kita mengajukan kepada diri kita suatu pertanyaan apakah pemberian pembelajaran itu dapat memecahkan masalah? Pertanyaan. Morrison (2001: 27).

Kebutuhan yang dirasakan. Ebtanas. 2001: 28-30). UMPTN. dan sebagainya. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview. 5. yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal. Kebutuhan Normatif Membandingkan peserta didik dengan standar nasional. Misal. bencana alam. 3. Kebutuhan yang diekspresikan. . hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B. Misal. 1. Misal.Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan (Morrison. 6. analisa data dan menyiapkan laporan akhir. 4. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Kebutuhan Insidentil yang mendesak. bencana nuklir. membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. yaitu hasrat atau kinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. B. Kebutuhan Komperatif. kesalahan medis. dan sebagainya. Kebutuhan Masa Depan. pengumpulan data. penerapan teknik pembelajaran yang baru. dan sebagainya. 2. Melakukan Analisis Kebutuhan Ada empat tahap dalam melakukan analisa kebutuhan yakni perencanaan. siswa yang mendaftar sebuah kursus. misal.

analisa hasil dengan table dan penjelasan singkat. 2001 : 32) Pengumpulan data : perlu mempertimbangkan besar kecilnya sampel dalam penyebarannya (distribusi) (Morrison. Analisa data : setelah data terkumpul kemudian data dianalisis dengan pertimbangan : ekonomi. 2001: 33-34). analisa proses. (Morrison. rangking. Strategi Penilaian Kebutuhan.2001 : 33). 2. C. la mengidentifikasi lima tipe pertanyaan yang berbeda-beda kelima pertanyaan tersebut: 1. Tipe pertanyaan yang menanyakan kepada siswa untuk mengungkapkan prioritas-prioritas diantara ketrampilan-ketrampilan . Rasset menekankan pentingnya pengumpulan informasi tentang penilaian kebutuhan secara langsung dari siswa baik orang dewasa maupun siswa umum. rekomendasi yang terkait dengan data.Perencanaan : yang perlu dilakukan. frequensi dan kebutuhan (ibid). analisa tujuan. Membicarakan tentang analisis tujuan tidak bisa dipisahkan dengan input yang terkait dengan masalah dan proses analisa kebutuhan. (Morrison. Tipe pertanyaan untuk mengidentifikasi masalah siswa atau ‘leaner’ tentang seperti masalah yang sedang dihadapi. siapa yang akan terlibat dalam kegiatan dan cara pengumpulannya. Untuk memahami suatu kebutuhan termasuk masalah atau perlu penilaian terlebih dahulu terhadap kebutuhan yang teridentifikasi yang disebut need assessment. membuat klasifikasi siswa. Membuat laporan akhir : dalam sebuah laporan analisa kebutuhan mencakup empat bagian.

pendidik. Contoh : tulislah pertanyaan dengan kalimat yang pendek 4.Tingkat signifikasi pengaruhnya. wawancara. Tipe pertanyaan yang memberikan kepada siswa untuk menentukan pemecahan sendiri secara baik. Atwi Suparman (2001 : 65-72) ada 8 langkah dalam mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran sebagai berikut: Langkah 1. ? Harles (1975) menggambarkan partisipasi pihak-pihak yang mempunyai hubungan kerja sama untuk mengidentifikasikan kebutuhan pembelajaran yaitu siswa. Untuk memperoleh data tersebut menggunakan cara . masyarakat dalam bentuk segitiga. Contoh : ketrampilan apa yang dibutuhkan ? 3. . kesenjangan tersebut harus dinilai terlebih dahulu dari segi: . Langkah 2. Sebelum mengambil tindakan pemecahan masalah.Luas ruang lingkup. .yang mungkin dapat dimasukkan dalam pelajaran. Contoh : apa yang paling baik dilakukan untuk . Contoh : apa yang menarik dari pelajaran tersebut ? 5. Tipe pertanyaan yang meminta kepada siswa untuk mendemonstrasikan ketrampilan tertentu. Mengidentifikasi kesenjangan hasil prestasi saat ini dengan yang diidealkan.. angket dan dokumen. Tipe pertanyaan mencoba untuk mengungkapkan perasaan dan kesan siswa tentang suatu pelajaran tertentu.. membaca laporan tertulis observasi.

Menganalisis kemungkinan penyebab kesenjangan melalui observasi. .Pentingnya peranan kesenjangan terhadap masa depan lembaga atau program. b.wawancara. Yang dilakukan dalam langkah ini: a. bagi yang sudah berpendidikan melanjutkan ke-langkah 5 dan bagi yang belum meneruskan ke-langkah 8. analisa logis.. ketrampilan dan sikap untuk diserahkan penyelesaiannya kepada pihak lain. Langkah 4. Langkah 3. Langkah 5 Bagi peserta yang sudah berpendidikan pada langkah ini dikelompokkan lagi mejadi peserta yang sering mengikuti pendidikan menuju ke-langkah 6 dan jarang mengikuti pendidikan melanjutkan ke-langkah 7. c. Langkah 6. Langkah 7. Memisahkan kemungkinan penyebab yang tidak berasal dari kekurangan pengetahuan. Kelompok yang sudah sering mendapat pendidikan diberi umpan balik atas kekurangannya dan diminta untuk mempraktekkan kembali sampai dapat melakukan tugasnya seperti yang diinginkan. Mengelompokkan kemungkinan penyebab yang berasal dari kekurangan pengetahuan ketrampilan dan sikap tertentu untuk diteruskan ke langkah 4. Menginterview siswa untuk memisahkan antara yang sudah pernah dan yang belum memperoleh pendidikan.

ini berarti pengajaran terhindar dari pemberian isi pelajaran yang tidak relevan dengan TPU (Tujuan Pembelajaran Umum) D. ini perlu disupervisi dari dekat agar mencapai hasil yang diinginkan.Bagi kelompok yang masih jarang mengikuti pendidikan diberi kesempatan lebih banyak untuk berlatih kembali. Mengidentifikasi hubungan antara subprilaku yang satu dengan yang lain. karena pengetahuan. Pengertian Analisis Pembelajaran Analisis pembelajaran merupakan proses penjabaran prilaku umum menuju ke prilaku khusus yang tersusun secara logis dan sisitematis. Setelah selesai pada tahapan ini dilanjutkan analisis pembelajaran. identifakasi perilaku dan karakteristik siswa. Konsep dan prosedur penjabaran prilaku yang ada dalam TPU(Tujuan Pembelajaran Umum) menjadi subprilaku yang lebih kecil. Langkah 8. Langkahlangkah untuk melakukan pembelajaran ada 3 yaitu : Analisis pembelajaran. . agar sistematis dan prosedural perlu diurutkan tujuan pembelajaran dari yang bersifat abstrak umum kepada tujuan yang kongkrit operasional. ketrampilan dan sikap yang harus diberikan lebih dulu dibanding yang lain. Ketrampilan melakukan analisis pembelajaran penting bagi kegiatan pembelajaran. Untuk kelompok peserta yang belum pernah memperoleh pendidikan perlu dibuatkan intruksional yang mencakup pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk diketahui peserta. Tulisan ini membahas: 1. 2.

E. Struktur Hirarkikal Yaitu kedudukan dua prilaku yang menunjukkan bahwa salah satu prilaku hanya dapat dilakukan bila telah dikuasai prilaku yang lain. Menurut Dick and Carey analisis pembelajaran adalah seperangkat prosedur yang bisa diterapkan dalam suatu tujuan pembelajaran menghasilkan identifikasi langkah-langkah yang relevan bagi penyelenggara suatu tujuan dan kemampuan-kemampuan subordinat yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mencapai tujuan.Dengan tersusunnya gambaran prilaku khusus dari yang paling awal hingga akhir. Contoh: Penguasaan komputer Menerapkan komputer lanjut Menerapkan komputer dasar 2. Macam Struktur Prilaku Apabila prilaku umum dijabarkan menjadi prilaku khusus akan terdapat 4 macam susunan prilaku yaitu: 1. Struktur Prosedural .

Contoh: Permainan kerambol. Memperkirakan seberapa besar master buah kerambol didorong dengan jari untuk dapat menyentuh buah kerambol lain yang diarah agar buah kerambol yang terkena bisa masuk lubang Menaksir jarak master buah kerambol yang akan didorong dengan jari tangan dengan bola yang disenggol oleh master buah kerambol dan lubang Memperkirakan titik senggol antara kedua bola . walaupun kedua prilaku khusus itu harus dilakukan berurutan untuk dapat melakukan suatu prilaku umum. meski semuanya berhubungan.Yaitu kedudukan beberapa prilaku yang menunjukkan satu seri urutan prilaku tetapi tadak ada yang menjadi prilaku prasyarat untuk yang lain. Menempatka n transparan Menyalakan OHP Mengatur fokus 3. Contoh: Penggunaan OHP. Struktur Pengelompokan Yaitu prilaku khusus yang tidak mempunyai ketergantungan antara satu dengan yang lain. Setiap prilaku itu dapat dipelajari secara terpisah.

Menuliskan prilaku umum yang ditulis dalam TPU untuk mata pelajaran yang sedang dikembangkan. . Langkah-langkah melakukan analisis pembelajaran. Merangkai tehnik operasional OHP Mempraktekkan OHP. Struktur kombinasi. Contoh: mengoperasikan OHP. prosedural dan pengelompokan.4. 1. Yaitu suatu prilaku umum bila diuraikan menjadi prilaku khusus sebagian besar a&ar terstruktur secara kombinasi antara struktur hirarki. Mempraktekkan/ Mengoperasikan Penggunaan OHP Pengaturan fokus Penjelasan tehnik operasionalkan/ menghidupkan OHP Menjelaskan tehnik penggunaan OHP Menjelaskan tehnik memfokuskan lensa F.

Letak prilaku digambarkan dalam bentuk kotak-kotak di atas kertas lebar sesuai dengan letak kartu yang telah disusun. 8. Memberi nomer urut pada setiap prilaku khusus dimulai dari yang terjauh hingga yang terdekat dari prilaku umum. Meneliti kemungkinan hubungan prilaku umum yang satu dengan yang lain atau prilaku khusus yang berada di bawah prilaku umum yang berbeda. Menambahkan prilaku khusus atau kalau perlu dikurangi 5. Setiap prilaku khusus ditulis dalam lembar kartu/ kertas ukuran 3x5 cm. Penomeran ini menunjukkan prilaku khusus yang terstruktur herarkhikal harus dilakukan dari bawah ke atas. Menuliskan setiap prilaku khusus yang merupakan bagian dari prilaku umum. bila sangat dibutuhkan dapat ditambah. 3. Hubungkan kotak-kotak yang telah digambar dengan garis-garis vertikal dan horisontal untuk menyatakan hirarkhikal. Prilaku khusus yang terdekat hubungannya dengan prilaku umum diteruskan mundur sampai prilaku yang sangat jauh dari prilaku umum. Kemudian kartu disusun dengan menempatkannya dalam struktur hirarkhis prosedural. . 9. 10. 7. Bila perlu ditambah dengan prilaku khusus lain atau dikurangi sesuai kedudukan masing-masing. 4. atau dikelompokkan menurut kedudukan masingmasing terhadap kartu lain. prosedural dan pengelompokkan. Membuat prilaku khusus kedalam daftar urutan yang logis dari prilaku umum. Jumlah prilaku khusus untuk setiap prilaku umum berkisar antara 5-10 buah. 6.2. Sedangkan pemberian nomer urut prilaku khusus yang terstruktur prosedural dapat berlainan dari urutannya dari yang lebih sederhana ke yang lebih kompleks.

(herarkhikal prosedural. Memperagakan alat pengaman kebakaran hotel Memilih/ mengikuti sistem pengamanan yang berlaku di hotel tersebut Menunjukkan petunjuk prosedural dari pengamanan Menunjukkan fasilitas darurat dalam kamar hotel Menunjukkan fasilitas darurat yang dekat kamar . b. Struktur hubungan prilaku-prilaku khusus tersebut. Mengkonsultasikan bagan yang telah dibuat dengan teman sejawat untuk mendapatkan masukan antara lain tentang: a. Logis-tidaknya urutan prilaku-prilaku khusus menuju prilaku umum.Pemberian nomer urut prilaku-prilaku khusus yang terstruktur pengelompokan dilakukan dengan cara yang sama dengan struktur prosedural. 11. Lengkap-tidaknya prilaku khusus sebagai penjabaran dari setiap prilaku umum. c. GOAL: Choose to maximize personal safety while staying in a hotel Goal analysis. pengelompokan atau kombinasi). Contoh: Type of learning : Attitude (Dick and Carey : Hal 40).

The Systematic Design of instruction 3rd Ed. Hal itu dimungkinkan bila minimal sebagai pendidik paham betul akan siswa dan keinginan secara individual maupun klasikal di desain secara proporsional. Steven M. inc printed in the USA 2001. Desain Instructional. DAFTARPUSTAKA Atwi Suparman. lebih penting lagi masalah bagaimana mendesain sebuah pembelajaran yang harmoni yaitu mendesain content atau materi pembelajaran yang aktual dan relevan dengan tuntutan atau kebutuhan life skill siswa dan sesuai zamanyya. 2001. regional ataupun nasional walaupun dengan ’setting’ local. mendesain learning objective sesuai dengan kebutuhan siswa dan tingkat kesulitannya. . Ross. Includes Bibliographical References. Third Edition John Wiley and Sons. Kesemuanya terencana berdasarkan apa yang mesti ada dan dihadirkan sesuai dengan kondisi siswa secara klasikal.Penutup Dari bahasan di atas dapat dipahami bahwa seorang pendidika yang profesional sudah seharusnya paham akan tuntutan profesi baik secara administrasi. Jerrold E Kemp : Designing Effective Instruction. Morrison. Gary. praktik. Walter and Carey Lou. akademis. USA. R. Walter Dick and Lou Carey 1990. fururistik/kedepan tidak menjadikan siswa ketinggalan zaman dengan komunitasnya. Dick. Proyek pengembangan Universitas Terbuka Ditjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional.

Charles K.Fleming. Langkah keenam. 8. Phillip M. 7. 5. jika kebutuhan bermasalah maka carilah penyebab kesenjangannya apakah pengetahuan. a991. Langkah kedelapan. Malcoln L. 3. Langkah kedua. tentukanlah kebutuhan pembelajaran 2. 4. Langkah pertama. atau sikap maka perlu dipisahkan antara mahasiswa yang pernah mempelajari dan yang belum pernah mempelajari.. University of Illinois at Urbana-Champaign Boston. Langkah keempat. Intructional Massage Design. Adapun tatacara melakukan identifikasi kebutuhan pembelajaran (Lihat Gambar 5) dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. bagi kelompok yang jarang mempelajari dan jarang latihan dalam pengetahuan.. pisahkanlah antara kelompok mahasiswa yang sering mempelajari dan kelompok yang jarang mempelajari. dan menentukan populasi sasaran yang dapat mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. merumuskan kompetensi dasar bagi kelompok mahasiswa yang tidak pernah mempelajari atau tidak mengikuti pelatihan yang relevan dengan studi yang diambilnya. West.. Educational Technology Publications.dapat melakukan tugasnya sesuai yang diharapkan. Tatacara Melakukan Identifikasi Kebutuhan Pembelajaran Menurut Atwi Suparman (1994:63) identifikasi kebutuhan pembelajaran merupakan suatu aktifitas menentukan kesenjangan penampilan mahasiswa yang disebabkan kekurangan kesempatan mendapatkan pendidikan dan pelatihan pada masa lalu. James A. Langkah ketujuh. ketrampilan. bagi kelompok yang sering mempelajari dan mendapatkan pendidikan maupun latihan berikanlah umpan balik atas kelemahannya dan diminta mempraktikkan lagi sampai . Langkah ketiga. maka pemecahan permasalahan tersebut diserahkan kepada pimpinan lembaga untuk segera ditindak lanjut. apabila kesenjangan bersumber dari pengetahuan. New Jersey.. Intructional design Allyn And Bacon. ketrampilan dan sikap yang relevan dengan profesinya maka berikanlah kesempatan lebih banyak untuk praktik dan mempelajarinya kembali dengan tetap disupervisi dari dekat sampai mereka mampu mencapai hasil kerja yang diharapkan. Langkah kelima. Englewood Cliffs. Farmer. 1981. 6. Kompetensi dasar tersebut . kemudian mengidentifikasi bentuk kegiatan pembelajaran yang paling tepat. Prosedur Identivikasi Kebutuhan Pembelajaran Rate This 1. ketrampilan. 1. Inc. Wolff. atau sikap mahasiswa? Jika bukan. abaikanlah kesenjangan tersebut jika kebutuhan tersebut kecil sehingga tidak menjadi masalah.

analisis. rumusan kompetensi dasar untuk mata kuliah yang sama dari lembaga lain juga dapat dijadikan informasi yang sama. Yamin (2007: 37) menjelaskannya secara lebih detail yakni sebagai tujuan yang berhubungan dengan perasaan. Dalam taksonomi tujuan pembelajaran. Uno (2008: 38-39) mengidentifikasi kebutuhan pada kawasan ini meliputi tujuh tingkat secara hierarkis.meliputi pengetahuan. kemauan menangapi. pimpinan lembaga pendidikan yang mewakili kelompok pendidik dan pimpinan lembaga pemerintahan serta perusahaan swasta yang relevan. dan sikap hati (attitude) yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. 1. ketrampilan. Di lain pihak. Menurut Uno (2008:37) secara hierarkis kebutuhan pada kawasan ini meliputi lima tingkat. penerapan. dan sikap yang belum pernah dipelajari oleh mahasiswa. emosi. 1. Secara hierarkis ada enam tingkat kemampuan yaitu pengetahuan. Kebutuhan Pembelajaran Bagi Mahasiswa Atwi Suparman (1994:62) mengungkapkan bahwa kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya. para ahli. yakni mencakup kemampuan intelektual yang sederhana. . seperti pengajar senior. sintesis. tidak semua kebutuhan dapat disebut sebagai kebutuhan pembelajaran karena belum tentu memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana telah dijelaskan di depan. Namun. sampai pada kemampuan memecahan masalah. 2. 1. Jika kesenjangan itu besar dan menimbulkan akibat lebih jauh maka kebutuhan itu adalah masalah. Bloom dan Krathwool sebagaimana dikutip Martinis Yamin (2007: 31) mengklasifikasikan tujuan pembelajaran menjadi tiga kelompok atau kawasan. Pertimbangan lainnya. Kawasan Psikomotor ( psychomotor domain) Kebutuhan pada kawasan ini adalah mencakup ketrampilan melakukan gerak fisik. 1. dapat dijadikan sumber informasi tentang kebutuhan pembelajaran untuk mata pelajaran tersebut. Selain itu. sistem nilai. pemahaman. dan sikap yang tidak pernah dipelajari atau belum dilakukan dengan baik oleh mahasiswa sehingga menjadi kebutuhan mereka. berkeyakinan. yang mewakili masyarakat yang akan menggunakan lulusan nanti. ketrampilan. Berdasarkan tiga kawasan tersebut dapat diidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang meliputi. pengembang kurikulum. dan evaluasi. yaitu kemauan menerima. Afektif Menurut Atwi Suparman (1995: 75) kebutuhan pembelajaran pada kawasan ini adalah berintikan kemampuan bersikap. Dari kegiatan mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran akan diperoleh jenis pengetahuan. penerapan karya. dan ketekunan serta ketelitian. Kognitif Yamin (2007:31) menjelaskan bahwa kebutuhan pembelajaran pada kawasan ini memiliki titik berat kemampuan berpikir.

masyarakat. sedangkan pada sisi alas yakni masyarakat. 2. dan pendidik merupakan pihak-pihak yang menjadi sumber informasi dalam mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran . dan afektif. respons terbimbing. Perlu dicermati pula bahwa informasi yang bermanfaat dalam pengembangan pembelajaran adalah informasi tentang kurangnya prestasi mahasiswa yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Rangkuman 1. yakni: 1. adaptasi. dan sikap yang menjadi kebutuhan pembelajaran bagi mahasiswa berada dalam tiga kawasan. psikomotor. kemahiran .Sumber Informasi dalam Menelusuri Kebutuhan Pembelajaran Menurut Kaufman dan English (1979). bukan yang disebabkan oleh kekurangan peralatan kerja. pengelola program pendidikan.yaitu persepsi. yakni kognitif. 3. dan organisasi. Mahasiswa. 4. Prosedur mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran adalah lebih singkat daripada educational needs. 2. Pada sisi kanan dan kiri segitiga menggambarkan mahasiswa dan sisi lainnya pendidik. Mahasiswa. terutama yang telah bekerja. Bentuk-bentuk pengetahuan. dan pendidik kemudian dirumuskan dan dioalh untuk menghasilkan rumusan kemampuan yang akan dicapai (tujuan). pihak yang menentukan ada tidaknya kebutuhan pembelajaran adalah pendidik. A. Sumber. mahasiswa. Ketiga sumber tersebut saling terhubung dan bersifat saling berkonsolidasi yang digambarkan dalam bentuk garis lancip yang saling terhubung pada unjungunjungnya sehingga membentuk segitiga. Pendidik. kesiapan melakukan suatu kegiatan. ketrampilan. needs assessment atau training needs assessment pada umumnya. termasuk pengajar dan pengelola program pendidikan. ketrampilan mahasiswa ataupun sikap. 1. Bahkan Dick dan Carey (1985) dan Rosset (1982) menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa (yang sudah matang) dalam proses identifikasi pembelajaran merupakan suatu keharusan. Masyarakat. mekanisme. 3. sikap atasan atau lingkungan kerja lainnya. Sedangkan dalam penjelasan Harles (1975) yang terlukiskan dalam bagan segitiga. termasuk orang tua dan orang yang akan menggunakan lulusan. Masukan informasi diperoleh dari masyarakat. Prosedur mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran pada model pengembangan pembelajaran ini berhenti setelah diperoleh perilaku umum yang perlu diajarkan kepada mahasiswa. Atwi Suparman (1994:64) mengidentifikasi ada tiga pihak yang dapat dijadikan sumber informasi dalam mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran. 1. orang tua atau masyarakat.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.