P. 1
Konfigurasi Politik pada Era Orde Lama dan Orde Baru

Konfigurasi Politik pada Era Orde Lama dan Orde Baru

|Views: 1,146|Likes:
Published by Karin Mardianto

More info:

Published by: Karin Mardianto on Apr 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

Konfigurasi Politik pada Era Orde Lama dan Orde Baru: Suatu Telaahan dalam Partai Politik

Fri, 27/04/2007 - 14:35 | Yed Imran Oleh: Said Imran PENDAHULUAN Secara konseptual, komponen-komponen pokok yang ada di dalam pembangunan politik adalah bahwa pemerintah kita harus selalu mampu menanggapi setiap perubahan yang ada dalam masyarakat, sebab suprastruktur dan infrastruktur politik yang ada memang efektif dan berfungsi secara optimal, yang kesemuanya didukung oleh warganegara yang dinamis dan berada dalam naungan persamaan hukum dan perundang-undangan. Pencapaian hal-hal tersebut biasanya selalu akan menimbulkan permasalahan yang menyangkut identitas (jati diri) bangsa, legitimasi kekuasaan, partisipasi anggota masyarakat, serta menyangkut pemerataan hasil-hasil pembangunan melalui sistem yang efektif yang menjangkau keseluruh lapisan masyarakat. Setiap kali kita berhasil mengatasi suatu permasalahan tersebut maka berarti kita ³maju´ di dalam melakukan pembangunan politik di dalam mengembangkan sistem demokrasi. Sejak awal Indonesia berdiri, kehidupan politik dan hukum diwarnai begitu rupa, tidak dalam pengertian hingar bingarnya demokrasi, tetapi justru secara mencolok dapat dikatakan oleh sentralisasi kekuasaan pada satu tangan, meskipun sebenarnya konstitusi telah memberi peluang yang cukup besar kepada hukum.[1] Secara umum proses perjalanan bangsa dapat dibagi dalam dua bagian yaitu, periode Orde Lama dan periode Orde Baru. Orde Lama telah dikenal prestasinya dalam memberi identitas, kebanggaan nasional dan mempersatukan bangsa Indonesia. Namun demikian, Orde Lama pula yang memberikan peluang bagi kemungkinan kaburnya identitas tersebut (Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945). Beberapa peristiwa pada Orde Lama yang mengaburkan identitas nasional kita adalah; Pemberontakan PKI pada tahun 1948, Demokrasi Terpimpin, Pelaksanaan UUD Sementara 1950, Nasakom dan Pemberontakan PKI 1965. Namun sejarah juga menunjukkan rezim Orde Baru yang dianggap memberikan perbaikan dan menyelamatkan keadaan bangsa saat itu selama masa pemerintahannya melakukan pemasungan terhadap hak-hak politik warga negara, pembangunan memang dapat berjalan dengan cukup baik dimana tingkat pertumbuhan ekonomi bahkan pernah mencapai 7 % (tujuh persen) namun keberhasilan itu hanya bersifat semu karena semua pembangunan dibiayai dari hutang luar negeri yang berakibat timbulnya krisis moneter dan tumbuh sehatnya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.[2] PEMBAHASAN Sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia masuk dalam suatu babak kehidupan baru sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat penuh. Dalam perjalanan sejarahnya bangsa Indonesia mengalami berbagai perubahan asas, paham, ideologi dan doktrin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dan melalui berbagai hambatan dan ancaman yang membahayakan perjuangan bangsa indonesia dalam mempertahankan serta mengisi kemerdekaan. Wujud berbagai hambatan adalah disintegrasi dan instabilisasi nasional sejak periode orde lama yang berpuncak pada pemberontakan PKI 30 September 1945 sampai lahirlah Supersemar sebagai titik balik lahirnya tonggak pemerintahan era Orde Baru yang merupakan koreksi total terhadap budaya dan sistem politik Orde Lama dimana masih terlihat kentalnya mekanisme, fungsi dan struktur politik yang tradisional berlandaskan ideoligi sosialisme komunisme.[3]

maupun suatu kediktatoran terselubung (verkapte diktatuur) dengan menggunakan nama demokrasi yang dikualifikasi (gekwalificeerde democratie). Sedangkan dibawah kepemimpinan rezim Orde Baru yang mengakhiri tahapan tradisional tersebut pembangunan politik hukum memasuki era lepas landas lewat proses Rencana Pembangunan Lima Tahun yang berkesinambungan dengan pengharapan Indonesia dapat menuju tahap kedewasaan (maturing society) dan selanjutnya berkembang menuju bangsa yang adil dan makmur. Maka problema dalam kehidupan bermasyarakat. menurut Dr. diundangkan dengan resmi dalam Lembaran Negara tahun 1959 No. 69 berintikan penetapan berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950. A. Sistem ini yang mengungkapkan struktur.[4] Konfigurasi politik yang ada pada periode orde lama membawa bangsa Indonesia berada dalam suatu rezim pemerintahan yang otoriter dengan berbagai produk-produk hukum yang konservatif dan pergeseran struktur pemerintahan yang lebih sentralistik melalui ketatnya pengawasan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah.[6] Sistem ³Trial and Error´ telah membuahkan sistem multi ideologi dan multi partai politik yang pada akhirnya melahirkan multi mayoritas. yaitu konfigurasi politik demokratis dan konfigurasi politik otoriter. Dalam penulisan ini. Moh. 75. SH. Berbagai ³Experiment´ tersebut ternyata menimbulkan keadaan ³excessive´ (berlebihan) baik dalam bentuk ³Ultra Demokrasi´ (berdemokrasi secara berlebihan) seperti yang dialami antara tahun 1950-1959. mengandung arti sebagai susunan atau konstelasi kekuatan politik yang secara dikotomis dibagi atas dua konsep yang bertentangan secara diametral. Bahkan kemudian muncul penamaan sebagai suatu bentuk kualifikasi seperti ³Demokrasi Terpimpin´ dan ³Demokrasi Pancasila´. fungsi dan mekanisme. yang dilaksanakan ini berdasarkan pada sistem ³Trial and Error´ yang perwujudannya senantiasa dipengaruhi bahkan diwarnai oleh berbagai paham politik yang ada serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang cepat berkembang. Salah satu dasar pertimbangan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah gagalnya konstituante melaksanakan tugasnya. sebab menurut UUDS 1950 Presiden tidak berwenang ³memberlakukan´ atau ³tidak memberlakukan´ sebuah UUD. Tindakan Soekarno mengeluarkan Dekrit pada tanggal 5 Juli 1959 dipersoalkan keabsahannya dari sudut yuridis konstitusional. yakni Orde Lama dan Orde Baru.[5] Pada masa ini Soekarno memakai sistem demokrasi terpimpin. Mahfud MD. walaupun secara normatif ideal kurang atau tidak benar. keadaan ini terus berlangsung hingga pecahnya pemberontakan DI/TII yang berhaluan theokratisme Islam fundamental (1952-1962) dan . seperti yang dilakukan melalui dekrit. Pada masa ini pula politik kepartaian sangat mendominasi konfigurasi politik yang terlihat melalui revolusi fisik serta sistem yang otoriter sebagai esensi feodalisme. dan pembentukan MPRS dan DPAS. tetapi masalah-masalah praktis politik yang mengandung realitas-realitas objektif serta mengandung pula kemungkinan-kemungkinan untuk dipecahkan secara baik.Konfigurasi politik. Berita Negara 1959 No. berbangsa dan bernegara yang berkembang pada waktu itu bukan masalah-masalah yang bersifat ideologis politik yang penuh dengan norma-norma ideal yang benar. serta pemahaman terhadap partai politiknya. kami mencoba memberikan penjelasan singkat seputar konfigurasi politik yang dibatasi pada dua era. KONFIGURASI POLITIK ERA ORDE LAMA Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959 mengeluarkan Dekrit Presiden yang isinya pembubaran konstituante.

2. XX/1966. KONFIGURASI POLITIK ERA ORDE BARU Peristiwa yang lazim disebut Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) menandai pergantian orde dari Orde Lama ke Orde Baru. Ada dua macam konsensus nasional. Surat yang kemudian dikenal dengan sebutan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) itu diartikan sebagai media pemberian wewenang kepada Soeharto secara penuh. sebagian besar lainnya diasingkan ke pulau Buru. Sedangkan konsensus kedua adalah konsensus mengenai cara-cara melaksanakan konsensus utama. Gerakan separatis pada tahun 1957. Konsensus pertama ini disebut juga dengan konsensus utama. maka terjadilah Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959 dengan tujuan kembali ke UUD 1945 yang kemudian menjadi dialog Nasional yang seru antara yang Pro dan yang Kontra.[7] B. TNI dan beberapa organisasi massa. Konflik ideologi yang tajam yaitu antara Pancasila dan ideologi Islam. Akhirnya memang masalah Dekrit Presiden tersebut dapat diselesaikan oleh pemerintah Orde Baru.[9] Beberapa hasil konsensus tersebut antara lain penyederhanaan partai politik dan keikutsertaan TNI/Polri dalam keanggotaan MPR/DPR. yang sebenarnya juga merupakan prolog dari pemberontakan Gestapu/PKI pada tahun 1965. Oleh karena konflik antara Pancasila dengan theokratis Islam fundamentalis itu telah mengancam kelangsungan hidup Negara Pancasila 17 Agustus 1945. Selanjutnya pada perang revolusi yang berlangsung tahun 1960-1965. Pertama berwujud kebulatan tekad pemerintah dan masyarakat untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. (2). Orde Baru dikukuhkan dalam sebuah sidang MPRS yang berlangsung pada Juni-Juli 1966. Konsensus ini kemudian dituangkan kedalam TAP MPRS No. Sebagian diadili dan dieksekusi. Secara umum. sehingga Dekrit Presiden 5 Juli 1959 kelak dijadikan salah satu sumber hukum dalam kehidupan bermasyarakat. Artinya. yaitu : 1. Kenyataan ini berlangsung selama 10 tahun dan terpaksa harus kita bayar tingggi berupa: (1). Menyusul PKI sebagai partai terlarang. Pada tanggal 1 Maret 1966 Presiden Soekarno dituntut untuk menandatangani sebuah surat yang memerintahkan pada Jenderal Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang perlu untuk keselamatan negara dan melindungi Soekarno sebagai Presiden. sedangkan yang Kontra dari kacamata Yuridis Konstitusional. Yang Pro memandang dari kacamata politik.kemudian Pemilu 1955 melahirkan empat partai besar yaitu PNI. telah memberikan pelajaran-pelajaran politik yang sangat berharga walau harus kita bayar dengan biaya tinggi.[8] Pada masa Orde Baru pula pemerintahan menekankan stabilitas nasional dalam program politiknya dan untuk mencapai stabilitas nasional terlebih dahulu diawali dengan apa yang disebut dengan konsensus nasional. NU. Masyumi dan PKI yang secara perlahan terjadi pergeseran politik ke sistem catur mayoritas. . sehingga terjadi kemacetan total di bidang Dewan Konstituante pada tahun 1959. setiap orang yang pernah terlibat dalam aktivitas PKI ditahan. diantara ketetapan yang dihasilkan sidang tersebut adalah mengukuhkan Supersemar dan melarang PKI berikut ideologinya tubuh dan berkembang di Indonesia. sejak itu konsensus nasional memiliki kekuatan hukum yang mengikat bagi seluruh rakyat Indonesia. konsensus kedua lahir sebagai lanjutan dari konsensus utama dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan. elemen-elemen penting yang terlibat dalam perumusan konsensus nasional antara lain pemerintah. Konsensus kedua lahir antara pemerintah dan partaipartai politik dan masyarakat. berbangsa dan bernegara.

3/1975 tentang Partai Politik dan Golongan. 3. Pengatur konflik. partai politik berperan menyalurkan berbagai kepentingan yang berbeda-beda. pikiran. 1982. pandangan dan keyakinan kebebasan. MKGR dan lainnya sebagai ³Political Battle Unit ³ rezim orde baru. Pada umumnya para ilmuwan politik menggambarkan adanya empat fungsi partai politik. pemerintah memberi izin dengan dua syarat. Terkait sebagai sarana komunikasi politik. Sedangkan peran sebagai pengatur konflik. sebagai ekspresi ide. gagasan ini menimbulkan sikap Pro dan Kontra karena dianggap membatasi atau mengekang aspirasi politik dan membentuk partai-partai hanya kedalam golongan nasional. masyumi harus mengganti nama sehingga terkesan sebagai partai baru. menurut Miriam Budiardjo meliputi: 1. sehingga setelah mendapatkan kekuasaannya yang legitimate . KOSGORO. yang kemudian pula pada 20 Oktober 1984 mendirikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). spiritual dan karya. partai politik juga memiliki fungsi sebagai pembuat kebijaksanaan. Pada mulanya Golkar merupakan gabungan dari berbagai macam organisasi fungsional dan kekaryaan. [12] Keempat fungsi tersebut sama-sama terkait dimana partai politik berperan dalam upaya mengartikulasikan kepentingan (Interests Articulation) dimana berbagai ide-ide diserap dan diadvokasikan sehingga dapat mempengaruhi materi kebijakan kenegaraan. Kedua. Dalam pemilu kali ini didapati Golongan Karya (Golkar) menjadi peserta pemilu. 1992 dan 1997).[11] Pada tahun 1973 konsep penyederhanaan partai (Konsep Fusi) sudah dapat diterima oleh partaipartai yang ada dan dikukuhkan melalui Undang-Undang No. Sosialisasi politik. C. 4.[10] Pada Pemilu 1971 partai-partai politik disaring melalui verifikasi hingga tinggal sepuluh partai politik yang dinilai memenuhi syarat untuk menjadi peserta pemilu. PARTAI POLITIK Melihat sejarah sepanjang Orde Lama sampai Orde Baru partai politik mempunyai peran dan posisi yang sangat penting sebagai kendaraan politik sekelompok elite yang berkuasa. sistem fusi ini berlangsung hingga lima kali Pemilu selama pemerintahan orde baru (1977. 2. visi dan kebijakan strategis yang menjadi pilihan partai politik serta sebagai sarana rekruitmen kaderisasi pemimpin Negara. Disamping itu. Sarana komunikasi politik. tokoh-tokoh lama tidak boleh duduk dalam kepengurusan partai. Tujuannya antara lain memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok fungsional dan mengkoordinir mereka dalam front nasional. Terlebih kepada PNI yang nota bene partai besar dan dinilai memiliki kedekatan dengan rezim terdahulu.Berdasarkan semangat konsensus nasional itu pemerintah Orde Baru dapat melakukan tekanantekanan politik terhadap partai politik yang memiliki basis massa luas. Pasca pemilu 1971 muncul kembali ide-ide penyederhanaan partai yang dilandasi penilaian hal tersebut harus dilakukan karena partai politik selalu menjadi sumber yang mengganggu stabilitas. Sekber Golkar ini merupakan organisasi besar yang dikonsolidasikan dalam kelompok-kelompok induk organisasi seperti SOKSI. Sarana rekruitmen politik. Pertama. Satu contoh ketika para tokoh Masyumi ingin menghidupkan kembali partainya yang telah dibekukan pemerintah Orde Lama. 1987. partai politik juga berperan mensosialisasikan ide. Pemerintah orde baru juga melakukan tekanan terhadap partai-partai dengan basis massa Islam. dalam arti bahwa suatu partai politik akan berusaha untuk merebut kekuasaan secara konstitusional.

(c) untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat Indonesia. . antara lain adalah sebagai berikut: PNI. Mereka tidak dapat dipisahkan satu sama lain dikarenakan keduanya saling bergantungan dan mengisi. Sedangkan landasan (faham. Kemudian. Kemerdekaan di bidang politik. Menjelang Pemilihan Umum 1955 yang berdasarkan demokrasi liberal bahwa jumlah parpol meningkat hingga 29 parpol dan juga terdapat peserta perorangan. secara umum terdapat dua ciri utama yang mewarnai pendirian dan pergeseran masing-masing organisasi politik dan golongan fungsional yang ada. Selanjutnya. PARKINDO. 13 Tahun 1960 yang mengatur tentang pengakuan. Hal ini ditandai dengan Maklumat Wakil Presiden No.[15] Pada masa diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dalam proses pemilihan umum ini. b. Dari perjalanan sejarah kehidupan politik Indonesia tersebut.[13] Dengan demikian. (b) untuk mencerdaskan bangsa Indonesia. a. Menentukan Undang-Undang Dasar Negara yang memuat ketentuan-ketentuan dan normanorma yang sesuai dengan nilai-nilai sosialistis paternalistic yang agamais dan manusiawi. setidaknya terdapat 3 (tiga) tujuan pemilihan umum di Indonesia. Kesamaan Cara untuk melaksanakan gerak kehidupan politik. NU. Partai Katholik. PSI dan Masyumi dibubarkan. pengawasan dan pembubaran partai-partai. Partai Politik dalam Era Orde Lama Pada masa sesudah kemerdekaan. Untuk mewujudkan hal-hal tersebut ditempuh melalui prinsip adanya kedaulatan rakyat Indonesia.[16] Kemudian pada tanggal 14 April 1961 diumumkan hanya 10 partai yang mendapat pengakuan dari pemerintah. PERTI MURBA dan PARTINDO. 1. kemungkinan lembaga negara berfungsi sesuai dengan maksud UUD 1945. 7 Tahun 1959 dan Perpres No. fungsi partai politik secara garis besar adalah sebagai kendaraan untuk memenuhi aspirasi warga negara dalam mewujudkan hak memilih dan hak dipilihnya dalam kehidupan bernegara. keberadaan partai politik-partai politik ini sesungguhnya untuk meramaikan pesta demokrasi sebagai tanda adanya atau berlangsungnya proses pemilihan umum. Namun. antara lain: pertama. kedua. organisasi politik dan golongan fungsional. Dari sejarah tersebut dapai dilihat bahwa keberadaan kepartaian di Indonesia bertujuan untuk: (a) untuk menghapuskan penindasan dan pemerasan di Indonesia khususnya dan didunia pada umumnya (kolonialisme dan imperialisme). memungkinkan terjadinya pergantian pemerintah secara damai dan tertib.maka partai politik ini akan mempunyai dan memberikan pengaruhnya dalam membuat kebijaksanaan yang akan digunakan dalam suatu pemerintahan. Indonesia menganut sistem multi partai yang ditandai dengan hadirnya 25 partai politik. antara partai politik dengan pemilihan umum bagaikan dua sisi dalam mata uang yang sama. b. sejarah kepartaian di Indonesia merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan Indonesia. yaitu: a. sistem kepartaian Indonesia dilakukan penyederhanaan dengan Penpres No. PSII. [14] Dengan demikian. c. PKI. setahun sebelumnya pada tanggal 17 Agustus 1960. ekonomi dan budaya nusa dan bangsa. X tanggal 16 Oktober 1945 dan Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945. yaitu didasarkan pada persatuan dan kesatuan yang bersumber pada kepentingan nasional dan bermuara pada kepentingan internasional. untuk melaksanakan hak-hak asasi warga negara. Pemerintahan Negara yang demokratis. aliran atau ideologi) yang digunakan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan serta kedaulatan rakyat tersebut berbeda satu sama lain. Untuk melaksanakan tujuan utama diatas perlu ditentukan sasaran antara. dan ketiga. yaitu.

HMI. PENUTUP Dengan melihat keseluruhan materi pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa politik hukum pada era Orde Lama dan Orde Baru memiliki perbedaan. Serta ada suatu kelompok fungsional yang dimasukkan dalam salah satu kelompok tersendiri yang kemudian disebut Golongan Karya. sehingga pada akhirnya dalam Pemilihan Umum 1977 terdapat 3 kontestan.Dengan berkurangnya jumlah parpol dari 29 parpol menjadi 10 parpol tersebut. Golkar selalu memenangkan Pemilu. HSBI. 3 Tahun 1960. Pembaharuan susunan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penetapan Presiden No. A. 4. PARMUSI. PUI dan IPM. serta mengingat bahwa lembaga-lembaga Negara sebagaimana digariskan oleh UUD 1945 belum lengkap. 2 Tahun 1999 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). yakni 2 parpol dan 1 Golkar. Dan selama masa pemerintahan Orde Baru. Moh. Dengan pemberlakuan kembali UUD 1945. 2. PSII.[19] Hingga Pemilihan Umum 1977. pada masa ini peserta pemilu hanya terdiri sebagaimana disebutkan diatas. . Pada tanggal 20 Pebruari 1968 sebagai langkah peleburan dan penggabungan ormas-ormas Islam yang sudah ada tetapi belum tersalurkan aspirasinya maka didirikannyalah Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI) dengan massa pendukung dari Muhammadiyah. 3 Tahun 1959 tentang Dewan Pertimbangan Agung Sementara." [17] 2. maka Presiden Soekarno melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Dikeluarkannya Penetapan Presiden No. beranggapan bahwa dasar hukum dari dekrit ini berdasarkan doktrin staatsnoodrecht dan noodstaatsrechts yaitu hak darurat yang dimiliki penguasa untuk mengeluarkan produk hukum yang menyimpang dari asas perundang-undangan yang baik karena adanya keadaan yang memaksa dan membahayakan keselamatan Negara. terjadi pengelompokan partai dengan terbentuknya Kelompok Demokrasi Pembangunan yang terdiri dari PNI. Untuk mengatasi hal ini maka diselenggarakan pertemuan parpol di Bogor pada tanggal 12 Desember 1964 yang menghasilkan "Deklarasi Bogor. Partai Politik dalam Era Orde Baru Dalam masa Orde Baru yang ditandai dengan dibubarkannya PKI pada tanggal 12 Maret 1966 maka dimulai suatu usaha pembinaan terhadap partai-partai politik. PII. Yamin. Al Wasliyah. 4 Tahun 1960 sekaligus pemberhentian dengan hormat Dewan Perwakilan Rakyat.[18] Selanjutnya pada tanggal 9 Maret 1970. hal ini tidak berarti bahwa konflik ideologi dalam masyarakat umum dan dalam kehidupan politik dapat terkurangi. IPKI dan Murba. dan Perti. Ruslan Abdul Gani dan Wirjono Prodjodikoro. Dengan adanya pembinaan terhadap parpol-parpol dalam masa Orde Baru maka terjadilah perampingan parpol sebagai wadah aspirasi warga masyarakat kala itu. Nasution. Pada era Orde Lama sejak Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang membubarkan konstituante lewat rumusan sebuah panitia kecil yang terdiri dari: Djuanda.H. Kemudian tanggal 13 Maret 1970 terbentuk kelompok Persatuan Pembangunan yang terdiri atas NU. Penyusunan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) dengan Penetapan Presiden No. Partai Katholik. yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) serta satu Golongan Karya. Gasbindo. Parkindo. 3. Dikeluarkannya Penetapan Presiden No. Hal ini mengingat Golkar dijadikan mesin politik oleh penguasa saat itu.

Pergumulan Islam di Indonesia. Jatuhnya legitimasi Presiden Soekarno dalam memegang kekuasaan Negara ditandai oleh peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia hingga berakibat pembunuhan besarbesaran terhadap anggota Partai Komunis Indonesia di berbagai daerah serta dikeluarkannya Supersemar yang pada hakekatnya merupakan bentuk penyerahan kekuasaan kepada Soeharto. Budiardjo. DAFTAR PUSTAKA Asshiddiqie. Pemilu dan Partai Politik di Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit FHUI. Moh. 2000. M. 4 Tahun 1975 yang membatasi organisasi peserta Pemilu. Hukum Tata Negara RI: Era Reformasi. serta memberikan tekanan-tekanan politik terhadap partai politik yang memiliki basis massa luas sekaligus penyaringan partai politik melalui verifikasi hingga tinggal sepuluh partai politik yang dinilai memenuhi syarat untuk menjadi peserta pemilu pada tahun 1971 hingga partai-partai hanya terbagi kedalam golongan partai yang berbasis nasional. Tercapainya Konsensus Nasional 1966-1969. "Sistem Pemilihan Umum di Indonesia. Notosusanto. Willem. Miriam. Faith. Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Aksara Karunia. B." dalam Sistem-Sistem Pemilihan Umum: Suatu Himpunan Pemikiran.[20] Pada era Orde Baru dengan gagalnya Gerakan 30 September 1965 dan turunnya Soekarno dari kekuasaan menimbulkan suatu situasi baru (disebut Orde Baru). Jakarta: FH UI. spiritual dan karya. Teori dan Politik Konstitusi. The Indonesian Elections of 1955. 1999. __________. Bagir. 1998. Jakarta: KPG. 2004.5. Oltmans. Mahfud. Politik Hukum Diktat Program Pasca Sarjana UII Tahun 1998/1999. 2001 . Nugroho. Azed.J. 1985. Jakarta: Pusat Studi HTN FHUI. Abdul Bari. Morissan. Jimly. Yogyakarta: UII. Jakarta: Ramdina Prakarsa. Pengantar Ilmu Politik. 1998. Kusnardi. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Undang-Undang No. semboyan untuk melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen banyak dikemukakan pemerintah Orde Baru Pimpinan Soeharto yang lebih mengkonsentrasikan penyelenggaraan sistem pemerintahan dengan menitikberatkan pada aspek kestabilan politik dalam rangka menunjang pembangunan nasional. III Tahun 1963 yang jelas-jelas melanggar ketentuan pasal 7 UUD 1945. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Manan. Yogyakarta: FH UII PRESS. Jakarta: Konpress. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta: Grafiti Press. MPRS yang dibentuk oleh Soekarno kemudian menetapkan Soekarno sebagai Presiden seumur hidup melalui Ketetapan MPRS No. 12 Tahun 1960. 2005. Jakarta: Gramedia. Penyusunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dengan Penetapan Presiden No. ___________ dan Makmur Amir. Politik Hukum di Indonesia. 1983. Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati?. 1985. Selain itu pemerintahan Orde Baru berusaha menciptakan single majority lewat eksistensi partai Golongan Karya. 2000. MD. 2005. Boland. 2005. Herbert.[21] Pada era ini pula mulai memasukkan hak-hak politik warga Negara dan munculnya konsep penyederhanaan partai (Konsep Fusi) yang dikukuhkan melalui UndangUndang No.

Tercapainya Konsensus Nasional 1966-1969. Mahfud MD. Kegagalan Mendekatkan Jarak Ideologi Partai Politik..41. 2000). 50. (Jakarta: Balai Pustaka. hal. Atmadji. Jakarta: s. Pembangunan Politik Satu Abad. (Jakarta: Yayasan Lestari Budaya. Sumarkidjo. Pemaksaan dan Ketaatan serta Interprestasi Hukum di Indonesia: Jurnal Tata Negara. 2005). 7. 9. Soeharto hingga CIA. 2001). [12] Miriam Budiardjo. [6] Bagir Manan. [18] Ibid. (Jakarta: Gramedia. op. 2005). [10] Jimly Asshiddiqie. [2] Morrisan. 1999. [14] Abdul Bari Azed. (Jakarta: Aksara Karunia. Pengantar Ilmu Politik. Kegagalan Mendekatkan Jarak Ideologi Partai Politik. The Indonesian Elections of 1955. 1985). 2004). (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2003. [9] Nugroho Notosusanto.n. 148-150. Mahfud MD." dalam Sistem-Sistem Pemilihan Umum: Suatu Himpunan Pemikiran. [5] Moh. Menurut Atmadji Sumarkidjo dalam bukunya Mendung di Atas Istana Merdeka ( Jakarta: s. Syam. Politik Hukum di Indonesia. hal. [17] Ibid. Pemaksaan dan Ketaatan serta Interprestasi Hukum di Indonesia: Jurnal Tata Negara. (Yogyakarta: penerbit UII. 109. TNI-AD. CIA. Pemilu dan Partai Politik di Indonesia. Hukum Tata Negara RI Era Reformasi. Jakarta: Yayasan Lestari Budaya. 68 dan 102.cit. 24. Nur. hal. 84-85 [16] Abdul Bari Azed dan Makmur Amir. hal. *** [1] M. 190. 27-49. Teori dan Politik Konstitusi. (Jakarta: Grafiti Press. Politik Hukum Diktat Program Pasca Sarjana UII Tahun 1998/1999. (Jakarta: Ramdina Prakarsa. Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI. "Sistem Pemilihan Umum di Indonesia. [11] Nur Syam.n. Pengalaman Indonesia Orde Baru. hal. [21] M. 2000) terdapat enam versi utama mengenai dalang peristiwa tersebut mulai dari PKI. [15] Herbert Faith. Pergumulan Islam di Indonesia. (Jakarta: FH UI. 141. 163-164. Serbo. (Yogyakarta: FH UII PRESS. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia. [7] Sebagian pengamat sejarah asing berpendapat bahwa peristiwa Jakarta 1965 merupakan skenario hebat dari sebuah kup yang didalangi oleh Dinas Intelijen AS. hal. (Jakarta: Badan Penerbit FHUI. 133-134. hal. Hukum. [3] Suhardiman. hal. M. [8] BJ Boland. [13] Abdul Bari Azed dan Makmur Amir. Kusnardi. 1999). 1985). hal. 1998). hal 106. [19] Ibid. hal.Serbo. Soekarno. 2000. hal. (Jakarta: Konpress. 1998). (Jurnal IAIN Sunan Ampel Edisi XVII. Hukum. 1999). (Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI. 2003). Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati?. hal. Pengalaman Indonesia Orde Baru. Mendung di Atas Istana Merdeka. 2000). Jurnal IAIN Sunan Ampel Edisi XVII. hal. Lihat: Willem Oltmans. Pembangunan Politik Satu Abad. 25. . 1996). 2005). 96. (Jakarta: KPG. [20] Banyak ahli sejarah dan bahkan pelaku sejarah mencoba melakukan penelusuran kembali terhadap peristiwa besar ini. (Jakarta: Pusat Studi HTN FHUI. hal. Suhardiman. [4] Moh. 1996. hal. 1983).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->