P. 1
Gumi Sasak Dalam Sejarah

Gumi Sasak Dalam Sejarah

|Views: 16,642|Likes:
Published by emperor_design

More info:

Published by: emperor_design on Apr 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2014

pdf

text

original

Sementara itu di Lombok, kepala daerah Lombok dijabat oleh

Mamiq Mustiarep yang memang sejak pelantikannya beliau sudah

sakit-sakitan dan setelah meninggal dunia digantikan oleh Lalu

Abdurrahman. Pada tahun 1950, akibat dari pengumuman perdana

menteri Moh. Hatta dengan peraturan No. X yang memperbolehkan

pembentukkan partai-partai politik, maka di pulau Lombok berdiri

cabang-cabang partai-partai politik yang dimulai oleh partai PIR, lalu

PNI (Partai Nasional Indonesia), partai Masyumi dan lain-lain,

sehingga dalam waktu singkat telah terbentuk cabang-cabang dari

kurang lebih 33 buah partai politik atau sebanyak partai yang sudah

ada di pusat.

Rupanya karena rakyat belum mengerti benar tentang kerja

kepartaian, para pemimpin partai justru saling menghujat dan

memecah belah masyarakat. Apalagi dengan adanya partai PKI

(partai Komunis Indonesia) yang selalu menjadi biang keladi pemicu

terjadinya perpecahan tersebut.

Gumi Sasak Dalam Sejarah

126

Sesudah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Negara

Indonesia Serikat (NIS) dan terbentuknya Negara Kesatuan Republik

Indonesia, keadaan di Lombok belum stabil. Terjadi penculikan atas

diri seorang pemimpin partai politik umat Islam yaitu POIL (Partai

Oemat Islam Lombok) yang bernama Saleh Sungkar. Aparat

kemudian mencurigai keterlibatan beberapa pejabat daerah lainnya,

yang dianggap bertanggungjawab atas terjadinya pembunuhan itu.

Atas kejadian itu, ditangkaplah 5 orang pejabat yaitu (1) Lalu

Abdurrahman (pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Daerah

Lombok), (2) Lalu Darwisah, (3) Mamiq Fadelah, (4) Lalu Srinata,

dan (5) Lalu Miraja. Para tersangka diasingkan ke Bali dan

ditempatkan di tangsi polisi di Gianyar. Sementera itu, Lalu

Abdurrahman sebagai Kepala Daerah Lombok mendapat serangan

jantung kemudian meninggal dunia dan digantikan oleh Mamiq

Rifa'ah.

Pada tahun itu juga keempat tahanan yang masih ada di

Gianyar dinyatakan tidak bersalah, oleh pemerintah dipulangkan ke

Lombok. Pada hari kedatangan di pelabuhan Ampenan, mereka

disambut oleh puluhan ribu rakyat, yang rupanya lebih dahulu

mendengar akan kedatangan mereka. Melihat situasi yang demikian

pada waktu itu, maka oleh kepala daerah Lombok, Mamiq Rifa'ah

(dari partai Masyumi), mengirim surat kepada gubernur Sunda Kecil

di Singaraja untuk menerangkan bahwa dengan adanya sambutan

oleh rakyat tersebut dianggap sangat berbahaya bagi keamanan di

Lombok. Mamiq Rifa'ah meminta supaya keempat tahanan yang

sudah dibebaskan agar kembali ditahan. Beberapa hari kemudian

para bekas tahanan itu ditangkap kembali dan dibawa ke Singaraja.

Apa yang dilakukan pemerintah, Gubernur pada waktu itu

Sarmin Reksodipuro (Gubernur Sunda Kecil dengan Ibu kota

Singaraja), adalah penahanan politik bukan penahanan kriminal.

Berselang beberapa lama kemudian, tulang-belulang almarhum Saleh

Sungkar ditemukan terkubur di sebuah hutan di Lombok Timur, lalu

jenazah tersebut dipindahkan ke makam Bintaro Ampenan.

Kemudian terdengar berita bahwa yang melakukan penculikan dan

pembunuhan itu adalah oknum tentara, diantaranya seorang sersan

Gumi Sasak Dalam Sejarah

127

bernama Hasyim Tanaya dengan seorang kawannya. Diberitakan

juga bahwa peristiwa itu pernah diadili pada pengadilan Militer di

Bali.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->