P. 1
Gumi Sasak Dalam Sejarah

Gumi Sasak Dalam Sejarah

|Views: 16,642|Likes:
Published by emperor_design

More info:

Published by: emperor_design on Apr 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2014

pdf

text

original

Bangunan

masjid

kuno ini terletak di sebuah

bukit (Gunung Pujut) di desa

Sengkol, kecamatan pujut,

kabupaten Lombok Tengah.

Masjid

Gunung

pujut

berukuran 8,6 x 8,6 m,

terbuat dari bambu (bedeg)

atapnya terbuat dari alang-

alang. Tiang penyangga

utama (saka guru) ada empat

buah, didukung oleh tiang

keliling sebanyak 28 buah yang sekaligus berfungsi sebagai tempat

menempelnya dinding (bedeg bambu).

Kompleks bangunan masjid Pujut termasuk pedewa sebagai

sarana kegiatan ritual bagi penganut ajaran Wetu telu sendiri secara

formal sudah tidak ada karena aktivitas ritualnya sudah tidak ada lagi

sehingga pedewa tersebut sudah tidak difungsikan lagi dan

diklasifikasikan sebagai monumen mati disebut Dead Monument.

Gumi Sasak Dalam Sejarah

136

Bangunan Masjid atau Pedewa yang didirikan di atas

perbukitan merupakan bangunan yang bernilai sakral tradisi zaman

prasejarah (tradisi megalit) yang kemudian berlanjut ke zaman Hindu

dan Islam. Masjid tersebut digunakan oleh sekelompok penganut

Islam Wetu Telu. Upacara-upacara yang berkaitan dengan pemujaan

roh nenek moyang seperti ³nyelamat desa´ dan ³nyaur sesangi´

bertempat di pedewa dipimpin oleh pemangku. Pemangku dipercaya

mampu bertindak sebagai medium penghubung antara manusia

dengan roh nenek moyang sekaligus memimpin upacara yang

berkenaan dengan hal tersebut. Pemangku mengucapkan lafal-lafal

kalimat mantera, menyebut nama roh-roh yang dimintai pertolongan,

juga menyebut nama dewa-dewa yang dikenal dalam agama Hindu

yaitu Batara Wisnu dan Batara Guru. Upacara yang berhubungan

dengan agama Islam bertempat di masjid dipimpin oleh Kyai. Oleh

sebab itu, dilihat dari sudut ajarannya, maka Wetu Telu adalah

perpaduan antara sistem kepercayaan animisme, dinamisme, Hindu

dan Islam.

Adanya sinkretisme ini, tampak pada tradisi masyarakat Pujut

tentang asal-usul nenek moyangnya yang dikatakan berasal dari

Majapahit, tepatnya dari Mas Mulia. Di Klungkung Bali, Mas Mulia

kawin dengan Putri Dewa Agung Putu Alit bernama Dewi Mas Ayu

Supraba. Dari Bali, Mas Mulia disertai 17 keluarga berangkat

menuju Lombok dan menetap di Pujut. Mereka inilah yang kemudian

menjadi cikal bakal penduduk asli desa Pujut sekarang.

Masjid Pujut adalah prototipe masjid kuno di Lombok.

Bentuk masjid seperti ini berasal dari masa awal berkembangnya

agama Islam di Lombok, diperkirakan awal abad ke 17 M.

Gumi Sasak Dalam Sejarah

137

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->