P. 1
Teori belajar kognitif

Teori belajar kognitif

|Views: 322|Likes:
Published by Deetz Buangetz

More info:

Published by: Deetz Buangetz on Apr 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2013

pdf

text

original

1.

Teori belajar kognitif

Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap,dan ketrampilan. Pada dasarnya terdapat dua pend apat tentang teori belajar yaitu teori belajar aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. Teori belajar behavioristik menekankan pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku, sehingga hasil belajar adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsung tertuangkan dalam tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya´. Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa ³Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas´. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Sesuai dengan karakteristik matematika maka belajar matematika lebih cenderung termasuk ke dalam aliran belajar kognitif yang proses dan hasil nya tidak dapat dilihat langsung dalam konteks perubahan tingkah laku. Berikut adalah beberapa teori belajar kognitif menurut beberapa pakar teori belajar kognitif: Teori Belajar Piaget Jean Piaget adalah seorang ilmuwan perilaku dari Swiss, ilmuwan yang sangat terkenal dalam penelitian mengenai perkembangan berpikir khususnya proses berpikir pada anak. Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya. Adapun tahapan -tahapan tersebut adalah: a. Tahap Sensori Motor(dari lahir sampai kurang lebih umur 2 tahun)

b. Dalam upaya mengerti tentang alam sekelilingn ya mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada informasi yang datang dari pancaindra.Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini. Taxonomy SOLO Teori belajar Piaget memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan teori pembelajaran kognitif. mencium dan menggerakan. Intelek anak dibatasi oleh eg osentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya. Imp likasi dari hal ini adalah ketika seorang anak sudah dapat mengawetkan besaran suatu unsur dengan mengenali bahwa besaran dari benda tersebut sama terlepas dari bentuknya anak secara rasional dapat diduga akan mengawetkan konsep berat. Mereka dapat mengembangkan hukum hukum yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. Hal ini dianggap sebagai . Dengan adanya perkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. Ternyata bersadar pada studi eksperimental yang dilakukan oleh para peneliti hal ini tidak sepenuhnya benar. salah satu kritik yang cukup tajam terhadap teori Piaget adalah berkenaan dengan asumsi bahwa pengertian akan suatu struktur yang sama akan diperoleh pada usia yang sama dalam berbagai domain intelektual. Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Anak dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah. Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur 2 tahun hingga 7 tahun) Dalam tahap ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak -anak itu untuk selalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya. Hal ini terbukti dengan banyaknya peneliti yang tertarik mela kukan analisis serta memperluas teori tersebut. mereka dapat membuat hipotesis dan membuat kaidah mengenai hal -hal yang bersifat abstrak. Tahap Operasi Konkrit (kurang lebih 7 sampai 11 tahun) Dalam tahap ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. d. dapat saja berbeda tanpa harus mempengaruhi misalnya kuantitas. dia dapat se dikit memahami lingkungannya dengan jalan melihat. Anak -anak sering kali dapat mengikuti logika atau penalaran. Misalnya dengan menendang -nendang dia tahu bahwa selimutnya akan bergeser darinya. tetapi jarang mengetahui bila membuat kesalahan. Piaget membagi tahapan perkembangan kemampuan kognitif anak menjadi empat tahap yang didasarkan pada usia anak tesebut. mengecap. Tahap Operasi Formal (kurang lebih umur 11 tahun sampai 15 t ahun) Selama tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikir mengenai gagasan. karena struktur anta ra konsep besaran dan berat sama. c. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. Anak -anak yang sudah mampu berpikir secara operasi konkrit sudah menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwa ciri yang ditangkap oleh pancaindra seperti besar d an bentuk sesuatu. meraba atau memegang. Pemikirannya tidak jauh karena selalu terikat kepada hal-hal yang besifat konkrit. Berdasarkan uraian diatas.

Hasil observasi seperti ini tidak dapat mengindikasikan terdapatnya ³pertukaran´ dalam perkembangan kognitif yang berlangsung. Teori mereka dikenal dengan Structure of Observed Learning Outcomes (SOLO). Penekan pada suatu tugas tertentu sangat penting seperti yang diasumsikan dalam taksonomi SOLO bahwa penampilan seseorang sangatlah beragam dalam menyelesaikan satu tugas dengan tugas lainnya. ini tidak akan menggantikan level yang lama begitu saja melainkan dapat berkembang bersamaan. Mereka menerima kebeadaan konsep struktur kognitif umum namun mereka menyakini bahwa hal tersebut tidak dapat diukur langsung sehingga perlu mengacu pada sebuah ³hypothesized cognitive structure´ (HCS) atau struktur kognitif hipotesis. pembelajaran. Dan butir-butir rangsangan dalam konteks ini tidak difokuskan untuk melihat kebenaran dari jawaban saja melainkan lebih pada melihat struktur alamiah dari respon siswa dan perubahannya dari waktu ke waktu. . Biggs & Collis (1991: 60)menyediakan suatu level tersendiri yang diberi nama ³ post formal mode´. Oleh karena itu mode-model tersebut tumbuh sejak lahir hingga dewasa. Menurut mereka HCS ini relative lebih stabil dari waktu ke waktu serta bebas dari pengaruh pembelajaran disaat anak diukur menggunakan taxonomi SOLO dalam menyelesaikan suatu tugas tertentu. Secara khusus. Dari beberapa hasil pengembangan penelitian dalam teori ini ternyata penyimpangan ini lazim terjadi sebagaimana diungkapkan oleh Biggs dan Collis (1982). Biggs & Collis (1991:60) Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa teori tersebut lebih menekankan pada analisis terhadap kualitas respon anak. Salah satu isu utama yang dikaji oleh kedua peneliti ini berkaitan dengan struktur kognitif. penampilan atau motivasi. hal ini berkaitan erat dengan logika yang mendasarinya. Biggs dan Collis (1982: 22) membedakan antara ³generalized cognitive structure´ atau struktur kognitif umum anak dengan ³actual respon´ atau respon langsung anak ketika diberikan perintah -perintah. Untuk menjelaskan konsep ³pertukaran´ yang terjadi dalam pertumbuhan kognitif yang tidak biasa diantara anak-anak sekolah. ketika semakin banyak mode yang memungkinkan maka multi-modal fungsioning menjadi normanya. atau bahkan dapat terjadi. Bagaimanapun juga terdapat satu perbedaan penting dari teori yang dikemukakan Piaget yaitu ketika mode atau level baru mulai muncul. suatu hari siswa berada pada level formal di matematika namun dilain hari dia masih berada pada level yang konkrit pada topik yyang berbeda. tetapi sedikit pertukaran terjadi pada konstruksi yang lebih proximal . Fakta ini memicu sebuah pengembangan teori dari teori Piaget yang dikenal dengan neoPiagetian theories. Level terakhir adalah batas tertinggi dari proses abstraksi yang dapat ditunju kkan anak. Biggs dan Collis adalah peneliti yang turut melakukan dan analisis teori belajar Piaget. selanjutnya asumsi ini juga meliputi penyimpangan yang dalam model ini dikatakan: Siswa dapat saja berada pada awal level formal dalam matematika namun berada pada level awal konkrit dalam sejarah. Penyimpangan yang dimaksud adalah terjadinya perbedaan cara dalam memperoleh sebuah struktur yang sama oleh seorang individu. Untuk melihat respon anak diperlukan butir-butir rangsangan. bukan seluruh penampilan yang harus menyesuaikan dengan level -nya.sebuah penyimpangan.

Kemampuan berpikir pada tahap ini meliputi membuat formula hipotesis dan mem buat penalaran yang proporsional. . Cirri-ciri dari anak yang berada pada mode ini antara lain sering menggunakan strategi menebak. 5. yaitu sebuah system symbol yang akan mereka gunakan dalam kehidupannya di dunia. Sistem symbol yang digunakan di sekolah antara lain adalah matematika dan bahasa. Mode Sensorimotor Focus perhatian pada mode ini adalah lingkungan fisik sekitar anak. Mode sensorimotor dan iconic adalah mode -mode alamiah dari seorang manusia yang berkembang secara alamiah juga. Karena dalam matematika anak menggambarkan dan mengoperasikan objek-objek yang berada di sekitarnya. 4. Karakteristik terpenting dari mode ini adalah kemampuan untuk bertanya tentang prinsip -prinsip mendasar dari sesuatu hal. Anak membangun kemampuan untuk melakukan koordinasi dan mengatur interaksinya dengan lingkungan sekitar. Taksonomi SOLO ini terdiri dari lima tahap yang dapat menggambarkan perkembangan kemampuan berpikir kompleks pada siswa dan dapat diterapkan di berbagai bidang. Oleh karena itu kemampuan ini dituntut pada mahasiswa -mahasiswa di Perguruan Tinggi. Sebuah system symbol memiliki tingkatan dan logika internal yang dapat memfasilitasi sebuah hubungan antara sistem simbol dan li ngkungan fisik di sekitarnya. senang menggunakan alat peraga dan senang membuat gambaran-gambaran mental. 3. Mode concrete symbolic adalah mode terbesar sebagai target dari matematika sekolah. Mode Iconic Pada mode ini symbol-simbol dan gambar digunakan untuk merepresentasikan elemen-elemen yang diperolehnya pada mode sensorimotor. Tanda-tanda tersebut digunakan sebagai peran pengganti dari komunikasi oral. Sedangkan target pertama dari sekolah formal ada pada mode concrete symbolic. Perkembangan yang berkelanjutan pada mode ini ditunjukkan oleh kegiatan -kegiatan fisik ketika diperolehnya tacit knowledge. Mode Concrete Symbolic Pada mode ini anak mengalami ³pertukaran´ dalam proses abstraksi.Berikut adalah 5 mode yang diutarakan oleh Biggs dan Collis: 1. 2. Mode Formal Pada mode ini titik berat kemampuan sesorang adalah pada kemampuan mengkonstruksi teori tanpa bantuan contoh benda konkrit. Mode Post Formal Keberadaan mode ini lebih menekankan pada pembuatan hipotesis secara deduktif dari pada penyusunan teori berdasarkan bukti-bukti empiris. Mereka mulai merepresentasikan dunia fisik melalui bahasa oral ke dalam bentuk tulisan.

menjelaskan. menggabungkan dan melakukan algoritma. Adapun kata kerja yang mengidikasikan kemampuan pada tahap ini antara lain. Pada tahap ini siswa dapat menunjukan pemahaman beberapa komponen dari satu kesatuan konsep. Pada tahap ini terlihat adanya hubungan yang jelas dan sederhana antara satu konsep dengan konsep lainnya tetapi inti konsep tersebut secara luas belu m dipahami. mengindentifikasikan. mengingat dan melakukan prosedur sederhana. membuat suatu teori. 5. sehingga tida k membentuk sebuah kesatuan konsep sama sekali dan tidak mempunyai makna apapun. menjelaskan hubungan sebab akibat. menggabungkan. 1. Tahap Uni-Structural. Tahap Pre-Structural. Hasil penelitiannya . menganalisis. Beberapa koneksi sederhana sudah terbentuk namun demikian kemampuan meta-kognisi belum tampak pada tahap ini.Berikut adalah tahapan respon berpikir berdasar taksonomi SOLO. mengaplikasikan. Beberapa kata kerja yang dapat mengindikasi aktivitas pada tahap ini adalah. mengurutkan. Teori Belajar Van Hiele Dalam belajar pengajaran geometri terdapat teori belajar yang dikemukakan oleh Van Hiele (1954). membuat generalisasi. menghubungkan. membuat hipotesis. 3. melakukan refleksi serta membangun suatu konsep. memahami peran bagian -bagian bagi keseluruhan serta telah dapat mengaplikasikan sebuah konsep pada keadaan keadaan yang serupa. Tahap relational. Tahap Extended Abstract Pada tahap ini siswa melakukan koneksi tidak hanya sebatas pada konsepkonsep yang sudah diberikan saja melainkan dengan konsep -konsep diluar itu. 4. Tahap Multi-Structural. yang menguraikan tahap -tahap perkembangan mental anak dalam belajar geometri. Adapun beberapa kata kerja yang mendeskripsikan kemampuan siswa pada tahap ini antara lain. Van Hiele adalah seorang guru bangsa Belanda yang mengadakan penelitian dalam peg ajaran geometri. 2. mengklasifikasikan. Pada tahap ini siswa sudah memahami beberapa komponen namun hal ini masih bersifat terpisah satu sama lain sehingga belum membentuk pemahaman secara komprehensif. Pada tahap ini siswa dapat menghubungkan antara fakta dengan teori serta tindakan dan tujuan. membilang atau mencacah. Dapat membuat generalisasi serta dapat melakukan sebuah perumpamaan-perumpamaan pada situasi-situasi spesifik. membuat daftar. membandingkan. Pada tahap ini siswa hanya memiliki sangat sedikit sekali informasi yang bahkan tidak saling berhubungan. Kata-kerja yang merefleksikan kemampuan pada tahap ini antara lain. membedakan.

anak belum mengetahui bahwa bujur sangkar adalah persegi panjang. dengan keistimewaannya. d. Misalnya disaat dia mengamati persegi panjang. tiga unsur utama dalam pengajaran geometri yaitu waktu. yang dikenal dengan sebutan berpikir deduktif. yaitu bahwa semua sisinya berben tuk bujursangkar. Menurut Van Hiele. Mereka juga telah mengerti peranan unsur -unsur yang tidak didefinisikan. diperoleh dari kegiatan tanya jawab dan pengamatan.Tahap Pengenalan Dalam tahap ini anak mu lai belajar mengenali suatu bentuk geometri secara keseluruhan. bahwa sisinya ada 6 buah. pada tahap ini anak telah mampu menggunakan postulat atau aksioma yang digunakan dalam pembuktian. yakni penarikan kesimpulan dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang bersifat khusus. anak-anak memahami bahwa kubus adalah balok juga. bahwa belah ketupat adalah layang -layang. jika ditata secara terpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak kepada tingkatan berpikir yang lebih tinggi. b. Misalnya. a. Pada tahap ini anak telah mulai mampu mengurutkan. Pola pikir anak pada tahap ini masih belum mampu menerangkan mengapa diagonal suatu persegi panjang itu sama panjang. Ia belum menyadari bahwa kubus mempunyai sisi -sisi yang berupa bujur sangkar. Sebagai contoh jika kepada seorang anak diperlihatkan sebuah kubus. c. yang dirumuskan dalam disertasinya. dan kedua pasang sisi tersebut saling sejaja r. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapat pada benda geometri tersebut.Tahap Analisis Pada tahap ini anak sudah mulai dapat mengenal sifat -sifat yang dimiliki benda geomeri yang diamatinya. bahwa bujur sangkar adalah belah ketupat dan sebagai nya.Tahap Deduksi Dalam tahap ini anak sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif. Selain itu. namun belum mampu mengetahui adanya sifat -sifat dari bentuk geometri yang dilihatnya itu. ia telah mengetahui bahwa terdapat dua pasang sisi yang berhadapan. Anak mungkin belum memahami bahwa belah ketupat dapat dibentuk dari dua segitiga yang kongruen. Demikian pula dalam pengenalan benda -benda ruang. namun kemapuan ini belum berkembang secara penuh. Misalnya anak telah mampu memahami dalil. Misalnya ia sudah mulai mengenali bahwa bujur sangkar adalah jajargenjang.itu. ia belum mengetahui sifat-sifat atau keteraturan yang dimiliki oleh kubus itu. di samping unsur-unsur yang telah didefinisiskan. .Tahap Pengurutan Pada tahap ini anak telah mampu melaksanakan penarikan kesimpulan. Van Hiele menyatakan bahwa terdapat lima tahapan berpikir dalam belajar geometri yaitu. materi pengajaran dan metode pengajaran yang ditera pkan. Dalam tahap ini anak belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu benda geometri dengan benda geometri lainnya.

mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan Implikasi dalam belajar y Bahasa dan cara berfikir siswa berbeda dengan orang dewasa. sisi-sisi-sisi atau sudut-sisi-sudut.Postulat dalam pembuktian segitiga yang sama dan sebangun. Aplikasi Teori Belajar Kognitif Teori belajar kognitif bisa di aplikasikan kedalam konsentrasi belajar apa saja karena sebenarnya dasar dari teori tersebut ada 3 hal yaitu : y Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik y Peserta didik hendaknya di beri kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik.Tahap Akurasi Dalam tahap ini anak telah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Freudenthal dan lain -lain. meskipun sudah duduk dibangku sekolah lanjutan atas. dapat dipahaminya. Guru harus membantu siswa agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik baiknya y Bahan yang harus dipalajari siswa hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing . rumit dan kompleks. masih belum sampai pada tahap berpikir ini. Bloom. namun belum mengerti mengapa postulat tersebut benar dan mengapa dapat dijadikan sebagai postulat dalam cara -cara pebuktian dua segitiga yang sama dan sebangun(kongruen). Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir siswa y Siswa ± siswa akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan yang baik. Misalnya ia mengetahui pentingnya aksioma -aksioma atau postulat-postulat dari geometri Euclid. seperti postulat sudut-sudut-sudut. e. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyakan tilikan dari guru y Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada perserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. Tahap akurasi merupakan tahap berpikir yang tinggi. Paparan di atas baru beberapa teori pembelajaran kognitif. Oleh karena itu tidak mengherankan jika tidak semua anak. selai n itu masih banyak teori belajar konitif yang diungkapkan oleh beberapa pakar seperti Bruner.

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar. sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.y y Berikan peluang agar siswa belajar sesuai bertahap Di dalam kelas. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Teori ini mengutamakan pengukuran. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin. 2000:143). Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif . Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon. sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhada p stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.Teori belajar behavioristik Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh gage dan berlier tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). oleh karena itu apa yang diberik an oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon . siswa hendaknya diberi pelua ng untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman ± temanya 2. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

dan Skinner. 1984). Berliner. atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran. Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal -hal tertentu dapat memperkuat resp on Aplikasi teori belajar behaviouristik . Begitu pula bila respon dikur angi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat. 1991). tetapi tidak dapat menjela skan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. (4) Contingency Management. Ada tiga hukum belajar yang utama. (2) Primary and Secondary Reinforcement. menurut Thorndike yakni (1) hukum efek. meliputi: (1) Reinforcement and Punishment. belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Menurut Thorndike. Gredler. Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin. yaitu yang dapat diamati. atau ge rakan/tindakan. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran. (3) Schedules of Reinforcement. (5) Stimulus Control in Operant Learning. Edwin Guthrie. yang dapat pula berupa pikiran. Clark Hull.akan semakin kuat. Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike. Watson. (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell. perasaan. 2000). perasaan. (6) The Elimination of Responses (Gage.

Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah. 2. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. 5. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakangagasan yang baru. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. 3. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri -ciri tertentu dalam . Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti: 1. apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman.3. 6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik m iknat pelajar. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Dalam konteks pembelajaran. Dasar Teori Konstruktivisme Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif. pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka. 4. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama.

Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. namun tugas tersebut masih dalam jangkauan anak yang disebut dengan zone of proximal development (daerah tingkat perkembangan sedikit di atas aerah perkembangan seseorang sendiri. pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan. Beliau juga menekankan kepentingan penyertaan murid di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran. Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahawa murid mempunyai ide mereka sendiri tentang semua hal. John Dewey menguatkan lagi teori konstruktivisme ini dengan mengatakan bahawa pendidik yang cakap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman secara lanjut/kontinyu. Jika pemahaman dan miskonsepsi ini diabaikan atau tidak di tangani dengan baik. di mana ada yang betul dan ada yang salah. Menurutnya. bahwa tiap siswa membentuk pengetahuan sebagai hasil dari pemikiran dan kegiatan siswa itu sen diri melalui bahasa. Vygotsky berpendapat tidak jauh dengan Piaget. Sedangkan. Piaget menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan dan kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap dalam individu tersebut. Misalnya. . proses pembelajaran akan terjadi bila anak beekrja atau menangani tugas yang belum dipelajari. akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. sehingga informasi tersebut mempunyai tempat atau ruang. Teori Vygotsky lebih menekankan pada aspek social dari pembelajaran. pemahaman atau kepercayaan asal mereka itu akan tetap kekal walaupun dalam pemeriksaan mereka mungkin memberi jawapan seperti yang dikehendaki oleh guru. Selanjutnya. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.mengkonstruksi ilmu pengetahuan.

fungsi.Guru menyimpulkan hasil pengamatan siswa. guru menegaskan dasar pengertian hambatan. kemudian siswa disuruh merangkum hasil pembelajaran materi tersebut sesuai yang dipahaminya. seorang guru ha rus memahami maksud dan tujuan siswa belajar.Siswa diajak kembali ke kelas dan disuruh membacakan hasil pemikirannya satu per satu mengenai solusi panas dan mengintruksikan agar siswa lain mencatat solusi yang belum ditulisnya (Asimilasi).Dari pengertian di atas. Aplikasi tentang teor i belajar kontruktifisme Guru menyampaikan pengantar materi pada siswa di dalam kelas. Oleh karenanya. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. 4. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. guru mengajak siswa untuk keluar kelas dan menuju lab sekolah.Teori belajar humanistik Menurut Teori humanistik.Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menanyakan s ecara kritis berkenaan dengan hasil pengamatannya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya. tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.Pada kegiatan penutup guru mengintruksikan agar setiap siswa mendemonstrasikan hasil penelitian tadi kepada warga sekitar dan mencatat respon warga tersebut sebagai tugas di rumah (Akomodasi). Guru selanjutnya menyuruh siswa untuk tetap berada di lab dan mengintruksikan agar siswa mencari solusi apa saja yang dapat mencegah panasnya hambatan (resistor) seperti yang mereka rasakan di lapangan (Discovery). selanjutnya guru juga mampu mengarahkan siswa untuk memfungsikan hasil pengetahuan yang diperolehnya. .Di dalam lab. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. dan berbagai penjelasan tentang hambatan. \proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Di dalam menanggapi ungkapan -ungkapan di dalam kelompok kelas. situasi kelompok. seorang . yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Personalia informasi ini pada individu. 5. Guru Sebagai Fasilitator Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kem udahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing -masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya. fasilitator berangsur -sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi. yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi. ialah : 1. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan -tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan -tujuan kelompok yang bersifat umum. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap.Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok. 6. sebaga i kekuatan pendorong. dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap -sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk): 1. baik bagi individual ataupun bagi kelompok 7. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber -sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka. 3. 2. Implikasi Teori Belajar Humanistik a. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar. Proses pemerolehan informasi baru. atau pengalaman kelas 2. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal. 4.

seperti siswa yang lain. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah : 1. jujur dan positif. pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan -keterbatasannya sendiri. memaknai proses pembelajaran secara mandiri . Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator.anggota kelompok. dan turut menyatakan pendangann ya sebagai seorang individu. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. 8. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok. mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunak an atau ditolak oleh siswa 9. perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas . kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi. Merumuskan tujuan belajar yang jelas 2. 3. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri 4. Diharapkan siswa memahami potensi diri . Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode -metode yang diterapkan. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan -ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar 10.

berusaha memahami jalan pikiran siswa. tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan . perubahan sikap. melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan. disiplin atau etika yang berlaku. perilaku d an sikap atas kemauan sendiri. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya 8. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas. hati nurani. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat. berani. norma . . tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.5. 7. berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah. 6. memilih pilihannya sendiri. Guru menerima siswa apa adanya. dan analisis terhadap fenomena sosial.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->