P. 1
Manajemen Resiko Pada Bank Umum

Manajemen Resiko Pada Bank Umum

|Views: 20,361|Likes:
Published by tintonahmad

More info:

Published by: tintonahmad on Apr 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2015

pdf

text

original

Sections

Lampiran SE No.5/21/DPNP tanggal 29 September 2003

DirektoratPenelitiandanPengaturanPerbankan

PedomanStandar

PenerapanManajemenRisiko

bagiBank Umum

Lampiran1

1

I. LATAR BELAKANG

1. Situasi lingkungan eksternal dan internal perbankan mengalami perkembangan
pesat yang diikuti dengan semakin kompleksnya risiko kegiatan usaha
perbankan sehingga meningkatkan kebutuhan praktek tata kelola Bank yang
sehat (good corporate governance) dan penerapan manajemen risiko yang
meliputi pengawasan aktif pengurus Bank, kebijakan, prosedur dan penetapan
limit risiko, proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, sistem informasi, dan
pengendalian risiko, serta sistem pengendalian intern.

2. Penerapan manajemen risiko tersebut akan memberikan manfaat, baik kepada
perbankan maupun otoritas pengawasan Bank. Bagi perbankan, penerapan
manajemen risiko dapat meningkatkan shareholder value, memberikan
gambaran kepada pengelola Bank mengenai kemungkinan kerugian Bank di
masa datang, meningkatkan metode dan proses pengambilan keputusan yang
sistematis yang didasarkan atas ketersediaan informasi, digunakan sebagai
dasar pengukuran yang lebih akurat mengenai kinerja Bank, digunakan untuk
menilai risiko yang melekat pada instrumen atau kegiatan usaha Bank yang
relatif kompleks serta menciptakan infrastruktur manajemen risiko yang kokoh
dalam rangka meningkatkan daya saing Bank. Bagi otoritas pengawasan Bank,
penerapan manajemen risiko akan mempermudah penilaian terhadap
kemungkinan kerugian yang dihadapi Bank yang dapat mempengaruhi
permodalan Bank dan sebagai salah satu dasar penilaian dalam menetapkan
strategi dan fokus pengawasan Bank.

3. Esensi dari penerapan manajemen risiko adalah kecukupan prosedur dan
metodologi pengelolaan risiko sehingga kegiatan usaha Bank tetap dapat
terkendali (manageable) pada batas/limit yang dapat diterima serta
menguntungkan Bank. Namun demikian mengingat perbedaan kondisi pasar
dan struktur, ukuran serta kompleksitas usaha Bank, maka tidak terdapat satu
sistem manajemen risiko yang universal untuk seluruh Bank sehingga setiap
Bank harus membangun sistem manajemen risiko sesuai dengan fungsi dan
organisasi manajemen risiko pada Bank.

4. Risiko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik
yang dapat diperkirakan (anticipated) maupun yang tidak diperkirakan
(unanticipated) yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan
Bank. Untuk dapat menerapkan proses manajemen risiko, maka pada tahap
awal Bank harus secara tepat mengidentifikasi risiko dengan cara mengenal
dan memahami seluruh risiko yang sudah ada (inherent risks) maupun yang
mungkin timbul dari suatu bisnis baru Bank, termasuk risiko yang bersumber
dari perusahaan terkait dan afiliasi lainnya.

5. Setelah dilakukan identifikasi risiko secara akurat, selanjutnya secara berturut-
turut Bank perlu melakukan pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko.
Pengukuran risiko tersebut dimaksudkan agar Bank mampu mengkalkulasi
eksposur risiko yang melekat pada kegiatan usahanya sehingga Bank dapat
memperkirakan dampaknya terhadap permodalan yang seharusnya dipelihara
dalam rangka mendukung kegiatan usaha dimaksud. Sementara itu, dalam
rangka melaksanakan pemantauan risiko, Bank harus melakukan evaluasi
terhadap eksposur risiko, terutama yang bersifat material dan atau yang
berdampak pada permodalan Bank.

2

Hasil pemantauan yang mencakup evaluasi terhadap eksposur risiko tersebut
dilaporkan secara tepat waktu, akurat dan informatif yang akan digunakan oleh
pihak pengambilan keputusan dalam suatu Bank, termasuk tindak lanjut yang
diperlukan. Selanjutnya berdasarkan hasil pemantauan tersebut, Bank
melakukan pengendalian risiko antara lain dengan cara penambahan modal,
lindung nilai, dan teknik mitigasi risiko lainnya.

II. PEDOMAN UMUM PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO

1. Pengawasan Aktif Komisaris dan Direksi

a. Kewenangan dan Tanggung Jawab Pengurus Bank

1) Bank wajib menetapkan wewenang dan tanggung jawab yang jelas
pada setiap jenjang jabatan yang terkait dengan penerapan manajemen
risiko.

2) Wewenang dan tanggung jawab Komisaris, sekurang-kurangnya

meliputi:

a) menyetujui dan mengevaluasi kebijakan manajemen risiko yang
dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun atau
dalam frekuensi yang lebih tinggi dalam hal terdapat perubahan
faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan usaha Bank secara
signifikan;

b) mengevaluasi pertanggungjawaban Direksi atas pelaksanaan
kebijakan manajemen risiko tersebut di atas, yang dilakukan
sekurang-kurangnya secara triwulanan;

c) mengevaluasi dan memutuskan permohonan atau usulan Direksi
yang berkaitan dengan transaksi atau kegiatan usaha yang
melampaui kewenangan Direksi untuk memutuskan sehingga
memerlukan persetujuan dewan Komisaris.

3) Wewenang dan tanggung jawab Direksi, sekurang-kurangnya meliputi:

a) menyusun kebijakan dan strategi manajemen risiko secara tertulis
dan komprehensif termasuk penetapan dan persetujuan limit risiko
secara keseluruhan, per jenis risiko, dan per aktivitas fungsional
(kegiatan usaha) Bank. Penyusunan kebijakan dan strategi
manajemen risiko dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam
satu tahun atau dalam frekuensi yang lebih tinggi dalam hal terdapat
perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan usaha Bank
secara signifikan;

b) bertanggungjawab atas pelaksanaan kebijakan manajemen risiko
dan eksposur risiko yang diambil oleh Bank secara keseluruhan,
termasuk mengevaluasi dan memberikan arahan strategi
manajemen risiko berdasarkan laporan yang disampaikan oleh
Satuan Kerja Manajemen Risiko dan penyampaian laporan
pertanggungjawaban kepada dewan Komisaris secara triwulanan;

c) mengevaluasi dan memutuskan transaksi yang melampaui
kewenangan pejabat Bank satu tingkat di bawah Direksi atau

3

transaksi yang memerlukan persetujuan sesuai dengan kebijakan
dan prosedur intern yang berlaku;

d) mengembangkan budaya manajemen risiko pada seluruh jenjang
organisasi, antara lain meliputi komunikasi yang memadai kepada
seluruh jenjang organisasi tentang pentingnya pengendalian intern
yang efektif;

e) memastikan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia yang
terkait dengan penerapan manajemen risiko, antara lain dengan cara
program pendidikan dan latihan yang berkesinambungan terutama
yang berkaitan dengan sistem dan proses manajemen risiko;

f) memastikan bahwa fungsi manajemen risiko telah diterapkan secara
independen yang dicerminkan antara lain adanya pemisahan fungsi
antara Satuan Kerja Manajemen Risiko yang melakukan identifikasi,
pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko dengan satuan
kerja yang melakukan dan menyelesaikan transaksi;

g) melaksanakan kaji ulang secara berkala dengan frekuensi yang
disesuaikan kebutuhan Bank, untuk memastikan:

(1) keakuratan metodologi penilaian risiko;

(2) kecukupan implementasi sistem informasi manajemen risiko; dan

(3) ketepatan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit risiko.

b. Sumber Daya Manusia (SDM)

1) Bank harus menetapkan kualifikasi SDM yang jelas untuk setiap jenjang
jabatan yang terkait dengan penerapan manajemen risiko;

2) Untuk menjamin pelaksanaan proses manajemen risiko yang
berlandaskan prinsip kehati-hatian, maka Bank harus meningkatkan tingkat
kompetensi dan integritas pejabat terutama pimpinan satuan kerja
operasional dan Satuan Kerja Manajemen Risiko, dengan
memperhatikan faktor-faktor seperti pengetahuan, pengalaman (track
record), kemampuan, serta pendidikan yang memadai di bidang
manajemen risiko;

3) Bank harus mengembangkan sistem penerimaan pegawai,
pengembangan dan pelatihan pegawai, serta remunerasi yang memadai
untuk memastikan tersedianya pegawai yang kompeten di bidang
manajemen risiko;

4) Bank harus menempatkan pejabat dan staf yang kompeten pada Satuan
Kerja Manajemen Risiko (Risk Management Unit) sesuai dengan sifat,
jumlah, dan kompleksitas usaha Bank;

5) Pejabat dan staf yang ditempatkan di Satuan Kerja Manajemen Risiko
tersebut harus memiliki:

a) pemahaman mengenai risiko yang melekat pada setiap
produk/aktivitas fungsional Bank;

4

b) pemahaman mengenai faktor-faktor risiko yang relevan dan kondisi
pasar yang mempengaruhi produk/aktivitas fungsional Bank, serta
mampu mengestimasi dampak dari perubahan faktor-faktor
tersebut terhadap kelangsungan usaha Bank;

c) pengalaman dan kemampuan untuk memahami dan
mengkomunikasikan implikasi eksposur risiko Bank kepada Direksi
dan komite manajemen risiko secara tepat waktu.

2. Organisasi dan Fungsi Manajemen Risiko

a. Umum

1) Dalam rangka penerapan manajemen risiko yang efektif, Bank harus
menyusun struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan dan kebijakan
usaha, ukuran dan kompleksitas serta kemampuan Bank.

2) Struktur organisasi suatu Bank harus dirancang untuk memastikan
bahwa satuan kerja yang berfungsi melakukan suatu transaksi (risk
taking unit) adalah independen terhadap satuan kerja yang melakukan
fungsi pengendalian intern (satuan kerja audit intern), serta independen
pula terhadap Satuan Kerja Manajemen Risiko.

3) Dalam kaitan dengan pengembangan struktur organisasi yang ada,
Bank wajib membentuk Komite Manajemen Risiko (Risk Management
Committee) dan Satuan Kerja Manajemen Risiko (Risk Management
Unit).

b. Komite Manajemen Risiko (Risk Management Committee)

1) Keanggotaan Komite Manajemen Risiko dapat bersifat keanggotaan
tetap dan tidak tetap sesuai dengan kebutuhan Bank;

2) Keanggotaan Komite Manajemen Risiko sekurang-kurangnya terdiri dari
mayoritas Direksi dan pejabat eksekutif terkait.

a) Bagi Bank yang memiliki 3 (tiga) orang Direksi sebagaimana
persyaratan minimum yang diatur dalam ketentuan yang berlaku,
maka pengertian mayoritas Direksi dapat berarti Direktur Utama
dengan Direktur Kepatuhan (Compliance Director) atau Direktur
Bidang (Credit & Marketing, Operation, atau Direktur lain dengan
istilah sejenis) dengan Direktur Kepatuhan.

b) Bank wajib menunjuk Direktur Kepatuhan sebagai anggota tetap
Komite Manajemen Risiko dan dapat menugaskan secara khusus
kepada Direktur yang membidangi penerapan Manajemen Risiko
(Risk Management Director).

c) Rekomendasi yang diberikan oleh Komite Manajemen Risiko harus
mencerminkan suatu kesepakatan diantara para anggota Komite.

d) Pejabat eksekutif terkait merupakan pejabat satu tingkat di bawah
Direksi yang memimpin satuan kerja operasional dan pejabat yang
memimpin Satuan Kerja Manajemen Risiko.

e) Keanggotaan pejabat eksekutif dalam Komite Manajemen Risiko

5

disesuaikan dengan permasalahan yang dibahas dalam Komite
Manajemen Risiko seperti Tresuri dan Investasi, Kredit dan
Operasional, sesuai kebutuhan Bank.

3) Wewenang dan tanggung jawab Komite Manajemen Risiko adalah
memberikan rekomendasi kepada Direktur Utama yang sekurang-
kurangnya meliputi:

a) penyusunan kebijakan Manajemen Risiko serta perubahannya,
termasuk strategi manajemen risiko dan contingency plan apabila
kondisi eksternal tidak normal terjadi. Penyusunan dimaksud
dilakukan bersama-sama dengan pimpinan satuan kerja operasional
dan pimpinan Satuan Kerja Manajemen Risiko;

b) perbaikan atau penyempurnaan penerapan Manajemen Risiko yang
dilakukan secara berkala maupun bersifat insidentil sebagai akibat
dari suatu perubahan kondisi eksternal dan internal Bank yang
mempengaruhi kecukupan permodalan dan profil risiko Bank dan
hasil evaluasi terhadap efektivitas penerapan tersebut;

c) penetapan (justification) atas hal-hal yang terkait dengan keputusan-
keputusan bisnis yang menyimpang dari prosedur normal
(irregularities), seperti keputusan pelampauan ekspansi usaha yang
signifikan dibandingkan dengan rencana bisnis Bank yang telah
ditetapkan sebelumnya atau pengambilan posisi/eksposur risiko
yang melampaui limit yang telah ditetapkan. Justifikasi ini
disampaikan dalam bentuk rekomendasi kepada Direktur Utama
berdasarkan suatu pertimbangan bisnis dan hasil analisis yang
terkait dengan transaksi atau kegiatan usaha Bank tertentu sehingga
memerlukan adanya penyimpangan terhadap prosedur yang telah
ditetapkan oleh Bank.

c. Satuan Kerja Manajemen Risiko

1) Struktur organisasi Satuan Kerja Manajemen Risiko disesuaikan dengan
ukuran dan kompleksitas usaha Bank serta risiko yang melekat pada
Bank. Hal ini berarti setiap Bank dapat menentukan struktur organisasi
yang tepat dan sesuai dengan kondisinya, termasuk kemampuan
keuangan dan sumberdaya manusianya.

2) Bagi Bank yang relatif besar dari sisi total aset dan memiliki tingkat
kompleksitas usaha yang tinggi maka struktur organisasi Satuan Kerja
Manajemen Risiko harus mencerminkan karakteristik usaha Bank
dimaksud. Bagi Bank yang relatif kecil dari sisi total aset dan memiliki
tingkat kompleksitas usaha yang rendah maka Bank dapat menunjuk
sekelompok petugas dalam suatu unit/grup yang melaksanakan fungsi
Satuan Kerja Manajemen Risiko.

3) Sesuai dengan ukuran dan kompleksitas usaha Bank maka posisi
pejabat yang memimpin Satuan Kerja Manajemen Risiko dapat
setingkat atau tidak setingkat dengan posisi pimpinan satuan kerja
operasional. Namun yang bersangkutan tetap bertanggungjawab
langsung kepada Direktur Utama atau Direktur yang ditugaskan khusus.

6

4) Satuan Kerja Manajemen Risiko harus independen terhadap satuan
kerja operasional (risk-taking unit) seperti tresuri dan investasi, kredit,
pendanaan, akunting, dan terhadap satuan kerja yang melaksanakan
fungsi pengendalian intern (satuan kerja audit intern/SKAI).

5) Satuan Kerja Manajemen Risiko bertanggungjawab langsung kepada
Direktur Utama atau kepada Direktur yang ditugaskan secara khusus
seperti Direktur Kepatuhan atau Direktur Manajemen Risiko.

6) Wewenang dan tanggung jawab Satuan Kerja Manajemen Risiko

meliputi:

a) pemantauan terhadap implementasi strategi manajemen risiko yang
direkomendasikan oleh Komite Manajemen Risiko dan yang telah
disetujui oleh Direksi;

b) pemantauan posisi/eksposur risiko secara keseluruhan, per jenis
risiko maupun per aktvitas fungsional;

c) penerapan stress testing guna mengetahui dampak dari
implementasi kebijakan dan strategi manajemen risiko terhadap
kinerja masing-masing satuan kerja operasional;

d) pengkajian terhadap usulan aktivitas dan/atau produk baru yang
diajukan atau dikembangkan oleh suatu unit tertentu yang ada pada
Bank. Pengkajian difokuskan terutama pada aspek kemampuan
Bank untuk melakukan aktivitas dan atau produk baru termasuk
sistem dan prosedur yang digunakan serta dampaknya terhadap
eksposur risiko Bank secara keseluruhan;

e) rekomendasi mengenai besaran atau maksimum eksposur risiko
yang wajib dipelihara Bank kepada satuan kerja operasional dan
kepada Komite Manajemen Risiko, sesuai dengan kewenangan yang
dimiliki Satuan Kerja Manajemen Risiko;

f) evaluasi terhadap akurasi dan validitas data yang digunakan oleh
Bank untuk mengukur risiko bagi Bank yang menggunakan model
untuk keperluan intern;

g) penyusunan dan penyampaian laporan profil risiko kepada Direktur
Utama dan Komite Manajemen Risiko secara berkala atau sekurang-
kurangnya secara triwulanan. Apabila kondisi pasar berubah dengan
cepat maka frekuensi laporan harus ditingkatkan. Sedangkan untuk
eksposur risiko yang relatif lambat seperti risiko kredit, frekuensi
laporan disampaikan sekurang-kurangnya secara triwulanan.

7) Satuan kerja operasional wajib menginformasikan eksposur risiko yang
melekat pada satuan kerja yang bersangkutan kepada Satuan Kerja
Manajemen Risiko secara berkala.

3. Kebijakan, Prosedur dan Penetapan Limit

a. Kebijakan Manajemen Risiko merupakan arahan tertulis dalam menerapkan
manajemen risiko dan harus sejalan dengan visi, misi, dan rencana
strategik Bank serta lebih terfokus pada risiko yang relevan pada aktivitas

7

fungsional Bank.

b. Penetapan Kebijakan Manajemen Risiko antara lain dengan cara menyusun
Strategi Manajemen Risiko, yang memastikan bahwa:

1) Bank tetap mempertahankan eksposur risiko yang sesuai dengan
kebijakan, prosedur intern Bank, peraturan perundang-undangan dan
ketentuan lain yang berlaku;

2) Bank dikelola oleh sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan,
pengalaman, dan keahlian di bidang manajemen risiko, sesuai dengan
kompleksitas dan kemampuan usaha Bank.

c. Kebijakan Manajemen Risiko sekurang-kurangnya memuat:

1) penetapan risiko yang terkait dengan produk dan transaksi perbankan
yang didasarkan atas hasil analisis Bank terhadap risiko yang melekat
pada setiap produk dan transaksi perbankan yang telah dan akan
dilakukan sesuai dengan nature dan kompleksitas usaha Bank;

2) penetapan penggunaan metode pengukuran dan sistem informasi
manajemen risiko dalam rangka mengkalkulasi secara tepat eksposur
risiko pada setiap produk dan transaksi perbankan serta aktivitas
fungsional Bank, dan penetapan pelaporan data dan informasi yang
terkait dengan eksposur risiko sebagai input untuk pengambilan
keputusan bisnis yang menguntungkan dengan tetap memperhatikan
prinsip kehati-hatian Bank;

3) penentuan limit dan penetapan toleransi risiko yang merupakan batasan
potensi kerugian yang mampu diserap oleh kemampuan permodalan
Bank dan sarana pemantauan terhadap perkembangan eksposur risiko
Bank;

4) penetapan sistem pengendalian intern dalam penerapan manajemen
risiko guna memastikan kepatuhan terhadap ketentuan ekstern dan
intern yang berlaku (compliance risks), tersedianya informasi
manajemen dan keuangan, efektivitas dan efisiensi kegiatan operasional
Bank, serta efektivitas budaya risiko pada setiap jenjang organisasi
Bank;

5) penetapan penilaian peringkat risiko sebagai dasar bagi Bank untuk
menentukan langkah-langkah perbaikan terhadap produk, transaksi
perbankan, dan area aktivitas fungsional tertentu dan mengevaluasi
hasil pelaksanaan kebijakan dan strategi manajemen risiko;

6) penyusunan rencana darurat atas kemungkinan kondisi eksternal dan
internal terburuk, sehingga kelangsungan usaha Bank dapat
dipertahankan.

d. Penetapan strategi manajemen risiko juga harus mempertimbangkan
kondisi keuangan Bank, organisasi Bank, dan risiko yang timbul sebagai
akibat perubahan faktor eksternal dan faktor internal.

e. Dalam menyusun prosedur dan penetapan limit risiko, Bank wajib
memperhatikan risk appetite berdasarkan pengalaman yang dimiliki Bank
dalam mengelola Risiko.

8

f. Prosedur dan penetapan limit risiko sekurang-kurangnya mencakup:

1) akuntabilitas dan jenjang delegasi wewenang yang jelas;

2) dokumentasi prosedur dan penetapan limit secara memadai untuk
memudahkan pelaksanaan kaji ulang dan jejak audit; dan

3) pelaksanaan kaji ulang terhadap prosedur dan penetapan limit secara
berkala sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun atau frekuensi
yang lebih sering, sesuai dengan jenis risiko, kebutuhan dan
perkembangan Bank.

g. penetapan limit yang didasarkan atas limit secara keseluruhan, limit per
jenis risiko, dan limit per aktivitas fungsional tertentu yang memiliki
eksposur risiko.

4. Proses Penerapan Manajemen Risiko

a. Identifikasi Risiko

Tujuan dilakukannya identifikasi risiko adalah untuk mengidentifikasi
seluruh jenis risiko yang melekat pada setiap aktivitas fungsional yang
berpotensi merugikan Bank. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menerapkan identifikasi risiko antara lain:

1) bersifat proaktif (anticipative) dan bukan reaktif;

2) mencakup seluruh aktivitas fungsional (kegiatan operasional);

3) menggabungkan dan menganalisa informasi risiko dari seluruh sumber
informasi yang tersedia;

4) menganalisa probabilitas timbulnya risiko serta konsekuensinya.

b. Pengukuran Risiko

1) Pendekatan pengukuran risiko digunakan untuk mengukur profil risiko
Bank guna memperoleh gambaran efektifitas penerapan manajemen
risiko.

2) Pendekatan tersebut harus dapat mengukur:

a) sensitivitas produk/aktivitas terhadap perubahan faktor-faktor yang
mempengaruhinya, baik dalam kondisi normal maupun tidak
normal;

b) kecenderungan perubahan faktor-faktor dimaksud berdasarkan
fluktuasi perubahan yang terjadi di masa lalu dan korelasinya;

c) faktor risiko (risk factors) secara individual;

d) eksposur risiko secara keseluruhan (aggregate), dengan
mempertimbangkan risk correlation;

e) seluruh risiko yang melekat pada seluruh transaksi serta produk
perbankan dan dapat diintegrasikan dalam sistem informasi
manajemen Bank.

9

3) Metode pengukuran risiko dapat dilakukan secara kuantitatif maupun
kualitatif. Secara umum pendekatan yang paling sederhana dalam
pengukuran risiko adalah yang direkomendasikan oleh Bank for
International Settlements atau pendekatan metode standard,
sedangkan pendekatan oleh para praktisi disebut metode alternatif
(alternative model). Penerapan metode alternatif memerlukan berbagai
persyaratan kuantitatif maupun kualitatif untuk menjamin keakuratan
model yang dipergunakan;

4) Bagi Bank yang memiliki ukuran dan kompleksitas usaha yang tinggi
dapat mengembangkan dan menggunakan metode internal (internal
model). Namun penggunaan internal model tersebut hanya ditujukan
untuk keperluan intern yang disesuaikan dengan kebutuhan Bank serta
untuk mengantisipasi kebijakan perbankan di masa yang akan datang.

5) Metode yang digunakan dalam pengukuran risiko harus dikaitkan
dengan jenis, skala, dan kompleksitas kegiatan usaha, kemampuan
sistem pengumpulan data, serta kemampuan Direksi dan pejabat
eksekutif terkait memahami keterbatasan dari hasil akhir sistem
pengukuran risiko yang digunakan;

6) Metode pengukuran risiko harus dipahami secara jelas oleh pegawai
yang terkait dalam pengendalian risiko, antara lain treasury manager,
chief dealer, Komite Manajemen Risiko, Satuan Kerja Manajemen Risiko,
dan Direktur bidang terkait.

c. Pemantauan dan Limit Risiko

1) Sebagai bagian dari penerapan pemantauan risiko maka limit risiko
sekurang-kurangnya:

a) tersedianya limit secara individual dan keseluruhan/konsolidasi;

b) memperhatikan kemampuan modal Bank untuk dapat menyerap
eksposur risiko atau kerugian yang timbul, dan tinggi rendahnya
eksposur Bank;

c) mempertimbangkan pengalaman kerugian di masa lalu dan
kemampuan sumberdaya manusia;

d) memastikan bahwa posisi yang melampaui limit yang telah ditetapkan
mendapat perhatian Satuan Kerja Manajemen Risiko, komite
manajemen risiko dan Direksi.

2) Penetapan jenis limit meliputi:

a) transaksi (transaction/product limit);

b) mata uang (currency limit);

c) volume transaksi (turnover limit);

d) posisi terbuka (open position limit);

e) kerugian (cut loss limit);

f) intra hari (intraday limit);

g) nasabah dan counterparty (individual borrower and counterparty limit);

10

h) pihak terkait (connected parties limit);

i) industri/sektor ekonomi dan wilayah (industry/economic sector and
geographic limit).

3) Penetapan limit dilakukan oleh satuan kerja operasional terkait, yang
selanjutnya direkomendasikan kepada Satuan Kerja Manajemen Risiko
untuk mendapat persetujuan Direksi melalui Komite Manajemen Risiko
atau Direksi sesuai dengan kewenangannya masing-masing.

4) Penetapan limit dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan Bank
Indonesia yang berlaku, antara lain ketentuan tentang Kecukupan
Pemenuhan Modal Minimum (KPMM), Batas Maksimum Pemberian
Kredit (BMPK) dan Posisi Devisa Neto (PDN).

5) Dalam hal terjadi pelampauan limit, maka Bank harus segera melakukan
penyesuaian dan mengantisipasi pelampauan tersebut sehingga tidak
mempengaruhi jumlah alokasi modal atas risiko yang telah ditetapkan
sebelumnya.

6) Setiap pelampauan limit harus dapat diidentifikasi dengan segera dan
ditindaklanjuti oleh Direksi dan pelampauan limit hanya dapat
dilakukan apabila mendapat otorisasi dari Direksi atau pejabat yang
berwenang, sesuai ketentuan dan prosedur intern Bank.

7) Bank harus menyiapkan suatu sistem back-up dan prosedur yang efektif
untuk mencegah terjadinya gangguan (disruptions) dalam proses
pemantauan risiko, dan melakukan pengecekan serta penilaian kembali
secara berkala terhadap sistem back-up tersebut.

d. Sistem Informasi Manajemen Risiko

1) Sistem informasi manajemen risiko merupakan bagian dari sistem
informasi manajemen yang harus dimiliki dan dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan Bank, dalam rangka penerapan manajemen risiko
yang efektif.

2) Sebagai bagian dari proses manajemen risiko, Bank harus memiliki
sistem informasi manajemen risiko yang dapat memastikan:

a) terukurnya eksposur risiko secara akurat, informatif, dan tepat waktu,
baik eksposur risiko secara keseluruhan/komposit maupun eksposur
per jenis risiko yang melekat pada kegiatan usaha Bank, maupun
eksposur risiko per jenis aktivitas fungsional Bank;

b) dipatuhinya penerapan manajemen risiko terhadap kebijakan,
prosedur dan penetapan limit Risiko;

c) tersedianya hasil (realisasi) penerapan manajemen risiko
dibandingkan dengan target yang ditetapkan oleh Bank sesuai
dengan kebijakan dan strategi penerapan manajemen risiko.

3) Sebagai salah satu output sistem informasi manajemen risiko, laporan
eksposur risiko disusun secara berkala oleh Satuan Kerja Manajemen
Risiko atau sekelompok petugas yang diberikan wewenang dan bersifat

11

independen terhadap unit kerja yang melakukan kegiatan operasional.
Frekuensi penyampaian laporan kepada Direksi terkait dan Komite
Manajemen Risiko harus ditingkatkan apabila kondisi pasar berubah
dengan cepat.

4) Laporan ke tingkat manajemen di luar Direksi terkait dan Komite
Manajemen Risiko dapat disampaikan dengan frekuensi yang lebih lama,
namun tetap harus mampu memberikan informasi yang memadai
bagi pihak-pihak tersebut untuk dapat melakukan penilaian terhadap
perubahan profil risiko Bank.

5) Sistem informasi manajemen risiko harus dapat menerjemahkan risiko
yang diukur dengan format teknis kuantitatif sehingga menjadi
format kualitatif yang mudah dipahami oleh Direksi dan pejabat Bank.

6) Dalam mengembangkan teknologi sistem informasi dan software baru,
Bank harus memastikan bahwa penerapan sistem informasi dan
teknologi baru tersebut tidak akan menimbulkan gangguan.

7) Apabila Bank memutuskan untuk menugaskan pihak ketiga
(outsourcing) dalam pengembangan software dan penyempurnaan
sistem, Bank harus memastikan bahwa keputusan penunjukan pihak
ketiga tersebut dilakukan secara obyektif dan independen. Dalam
perjanjian/kontrak outsourcing harus mencantumkan kIausul (terms and
conditions) mengenai pemeliharaan dan upgrade serta langkah
antisipati guna mencegah gangguan yang mungkin terjadi dalam
pengoperasiannya.

8) Sebelum penerapan sistem informasi manajemen yang baru, Bank
harus melakukan pengujian untuk memastikan bahwa proses dan output
yang dihasilkan telah melalui proses pengembangan, pengujian dan
penilaian kembali secara efektif dan akurat, serta Bank harus
memastikan bahwa data historis akuntansi dan manajemen dapat
diakses oleh sistem/software baru tersebut dengan baik.

9) Dalam hal Bank mengembangkan suatu sistem/software baru, sistem
tersebut harus berfungsi dan dirancang sehingga secara otomatis dan
efektif dapat memenuhi keperluan pelaporan yang diwajibkan oleh
otoritas berwenang.

10) Bank harus menatausahakan dan mengkinikan dokumentasi sistem,
yang memuat perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software),
data base, parameter, tahapan proses, asumsi yang digunakan, sumber
data, dan output yang dihasilkan sehingga memudahkan pengendalian
melekat (built-in controls) dan pelaksanaan jejak audit (audit trail).

e. Pengendalian Risiko

1) Pelaksanaan proses pengendalian risiko harus digunakan Bank untuk
mengelola risiko tertentu, terutama yang dapat membahayakan
kelangsungan usaha Bank.

2) Pengendalian risiko dapat dilakukan oleh Bank, antara lain dengan cara

12

hedging, dan metode mitigasi risiko lainnya seperti penerbitan garansi,
sekuritisasi aset dan credit derivatives, serta penambahan modal Bank
untuk menyerap potensi kerugian.

f. Pengelolaan Assets and Liabilities Management (ALMA)

1) Dalam melaksanakan fungsi pengendalian risiko suku bunga, risiko nilai
tukar, dan risiko likuiditas, Bank sekurang-kurangnya menerapkan
ALMA. Untuk mendukung efektivitas pelaksanaan ALMA, Bank
membentuk Assets and Libilities Committee (ALCO), yang besaran
organisasi komite dimaksud disesuaikan dengan volume dan
kompleksitas transaksi perbankan yang terkait dengan pelaksanaan
ALMA. Anggota ALCO terdiri dari pejabat atau staf dari bidang
perkreditan, tresuri, pendanaan yang diberi wewenang serta Direksi
terkait.

2) Bank harus menyusun dan mendokumentasikan kebijakan, prosedur,
dan penetapan limit yang mempengaruhi kinerja ALMA Bank. Kebijakan
ALMA harus menggambarkan secara jelas mengenai tanggung jawab
dan kewenangan dalam:

a) identifikasi risiko suku bunga yang berasal dari transaksi dan produk

Bank;

b) penetapan sistem pengukuran risiko suku bunga;

c) formulasi dan eksekusi strategi pengelolaan eksposur risiko suku

bunga;

d) otorisasi dan mekanisme pengecualian kebijakan.

3) Cakupan kebijakan ALCO meliputi:

a) uraian tentang tanggung jawab, frekuensi ALCO meetings, dan
keanggotaan ALCO;

b) uraian tentang jalur pelaporan antara ALCO dan Direksi;

c) uraian tentang strategi penanaman dana;

d) strategi hedging;

e) strategi pendanaan;

f) strategi penetapan harga;

g) pengelolaan risiko suku bunga, yaitu:

(1) penetapan limit terhadap eksposur tertentu;

(2) pengukuran risiko dengan menggunakan Gap Analysis, Duration
Analysis, atau Simulation Model.

4) Tanggung jawab ALCO antara lain mencakup:

a) pengembangan, kaji ulang dan modifikasi strategi ALMA;

b) evaluasi posisi risiko suku bunga Bank dan strategi ALMA guna
memastikan bahwa hasil risk taking position Bank telah konsisten
dengan tujuan pengelolaan risiko suku bunga;

13

c) kaji ulang penetapan harga (pricing) aktiva dan pasiva untuk
memastikan bahwa pricing tersebut dapat mengoptimalkan hasil
penanaman dana, meminimumkan biaya dana, dan memelihara
struktur neraca Bank, sesuai dengan strategi ALMA Bank;

d) kaji ulang deviasi antara hasil actual dengan proyeksi anggaran dan
rencana bisnis Bank; dan

e) penyampaian informasi kepada Direksi mengenai setiap
perkembangan ketentuan dan peraturan terkait yang mempengaruhi
strategi dan kebijakan ALMA.

5) Frekuensi ALCO meetings dapat dilakukan secara bulanan atau
triwulanan, sesuai dengan perubahan perekonomian, kondisi Bank, dan
profil risiko suku bunga dan risiko likuditas. Dalam hal Bank mengelola
risiko suku bunga dengan menggunakan strategi hedging, dan secara
konsisten menyesuaikan strategi penanaman dana dan likuiditasnya
maka frekuensi meetings dilakukan secara bulanan.

a) ALCO meetings bulanan harus mengkaji ulang keputusan
penanaman dana (jangka pendek), penetapan harga dan keputusan
pendanaan lainnya, trend perkembangan dana dan pinjaman (loan
mix), serta realisasi dan rencana anggaran. Apabila perlu, strategi
ALMA disesuaikan dengan perkembangan terkini. ALCO juga
mengembangkan strategi hedging tanpa mengabaikan fleksibilitas
keputusan ALMA harian yang dibuat oleh pejabat/staf. ALCO
meetings umumnya lebih rinci dan menyediakan analisis implikasi
risiko suku bunga terhadap aktiva dan pasiva Bank. Hasil dari ALCO

meetings

tersebut

selanjutnya

didokumentasikan

serta

direkomendasikan kepada Direksi.

b) ALCO meetings triwulanan sekurang-kurangnya mengkaji ulang
analisis risiko suku bunga secara lengkap, penyesuaian strategi
manajemen risiko suku bunga, dan menerapkan perubahan strategi
serta menyediakan arah (policy direction) mengenai penanaman
dana kepada ALCO.

6) Seluruh laporan yang disampaikan kepada Direksi harus focused dan
didokumentasikan secara memadai guna memudahkan Direksi untuk
menilai kepatuhan terhadap limit yang telah ditetapkan. Laporan ALCO
antara lain meliputi:

a) ALCO minutes, termasuk minutes periode sebelumnya;

b) laporan rugi laba, yang menyajikan data perbandingan periode satu
tahun sebelumnya;

c) neraca, yang menyajikan data perbandingan periode sebelumnya;

d) proyeksi anggaran;

e) laporan kredit baru;

14

f) laporan margin analysis;

g) daftar portofolio surat berharga, dilengkapi dengan transaksi yang
dilakukan pada satu bulan atau triwulanan terakhir;

h) laporan analisis likuiditas, terutama analisis sumber dan penggunaan

dana;

i) analisis dana pihak ketiga (DPK) yang menggambarkan trends
berbagai produk DPK tersebut;

j) laporan data penetapan harga (pricing) yang merefleksikan harga
atau biaya dari suatu produk;

k) laporan model simulasi (apabila Bank menggunakan model tersebut)
atau gap untuk menggambarkan profil risiko suku bunga;

l) laporan hedging, apabila Bank melakukan strategi hedging.

7) Sistem, skenario dan asumsi yang mendasari kebijakan dan keputusan
ALCO harus dikaji ulang secara berkala, khususnya terhadap
perubahan eksternal seperti ketentuan yang berlaku, kondisi pasar, dan
perilaku nasabah (consumer behaviour);

g. Penggunaan Model Pengukuran Risiko

1) Jenis model pengukuran risiko utama Bank seperti risiko kredit, risiko
pasar, dan risiko operasional yang digunakan oleh Bank harus
disesuaikan dengan kebutuhan Bank, ukuran dan kompleksitas usaha
Bank, serta manfaat yang diperoleh Bank yang menggunakan model
tersebut untuk proyeksi potential loss dari masing-masing risiko.

2) Apabila Bank melakukan back-testing terhadap model internal seperti
Credit Scoring Tools, Value at Risk (VAR), dan stress testing untuk
eksposur yang mengandung risiko tertentu, Bank harus menggunakan
data historis/parameters series dan asumsi yang disusun oleh Bank
sendiri dan atau asumsi yang diminta oleh Bank Indonesia.

3) Dalam hal model tersebut diaplikasikan maka keperluan data terkait
harus disesuaikan pula dengan sistem pelaporan data yang diwajibkan
oleh Bank Indonesia.

4) Bagi Bank yang menggunakan model internal (internal model) dalam
pengukuran risiko sekurang-kurangnya mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut:

a) isi dan kualitas data yang dibuat atau dipelihara harus sesuai dengan
standar umum yang berlaku sehingga memungkinkan hasil statistik
yang reliable;

b) tersedianya sistem informasi manajemen yang memungkinkan
sistem tersebut mengambil (retrieve) data dan informasi yang layak
dan akurat pada saat yang tepat;

c) tersedianya sistem yang dapat mengcapture data risiko (terutama
risiko pasar) pada seluruh posisi Bank;

15

d) tersedianya dokumentasi dari sumber data yang digunakan untuk
keperluan proses pengukuran risiko;

e) data base dan proses penyimpanan data harus merupakan bagian
dari rancangan sistem guna mencegah terputusnya series data
statistik.

5) Dalam rangka mengatasi kelemahan yang dapat timbul atas
penggunaan model pengukuran risiko tertentu maka Bank harus
melakukan validasi model tersebut, yang dilakukan oleh pihak internal
maupun eksternal yang independen terhadap satuan kerja yang
mengaplikasikan model tersebut. Apabila diperlukan, validasi tersebut
dilakukan atau dilengkapi dengan hasil review yang dilakukan pihak
eksternal yang memiliki kompetensi dan keahlian teknis dalam
pengembangan model pengukuran risiko.

6) Validasi model merupakan suatu proses:

a) evaluasi terhadap internal logic suatu model tertentu dengan cara
verifikasi keakurasian matematikal;

b) membandingkan prediksi model dengan peristiwa setelah tanggal
posisi tertentu (subsequent events);

c) membandingkan model satu dengan model lain yang ada, baik
internal maupun eksternal, apabila tersedia.

7) Validasi juga harus dilakukan terhadap model baru, baik yang
dikembangkan sendiri oleh Bank maupun yang dibeli dari vendor. Model
yang dikembangkan oleh Bank harus dilakukan evaluasi yang lebih
intensif, terutama dalam hal terjadi perubahan kondisi pasar yang
signifikan.

8) Proses pengukuran risiko harus secara jelas memuat proses validasi,
frekuensi validasi, persyaratan dokumentasi data dan informasi,
persyaratan evaluasi terhadap asumsi-asumsi yang digunakan, sebelum
suatu model diaplikasikan oleh Bank.

h. Stress Testing

1) Stress Testing dirancang untuk melengkapi penerapan pengukuran
risiko (suku bunga) dengan cara mengestimasi potensi kerugian
ekonomis Bank pada kondisi pasar yang tidak normal guna melihat
sensitivitas kinerja Bank terhadap perubahan faktor risiko dan
mengidentifikasi pengaruh yang berdampak signifikan terhadap
portofolio Bank.

2) Dalam melakukan Stress Testing, sistem pengukuran risiko harus cukup
fleksibel untuk memfasilitasi berbagai macam scenario yang dijalankan.
Asumsi yang digunakan dalam Stress Testing harus secara cermat
dikembangkan untuk menguji kecenderungan kondisi portofolio Bank.
Bank perlu melakukan Stress Testing berdasarkan pengalaman
kerugian terbesar yang dialami pada masa lalu (large historical market
moves).

3) Analisis Stress Testing harus dapat mengkuantifikasi besarnya potensi

16

kerugian sehingga memungkinkan Bank untuk melihat dampak terburuk
dari berbagai perubahan yang terjadi terhadap pendapatan dan
permodalan Bank. Hasil Stress Testing termasuk penggunaan asumsi
yang dilakukan oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko harus disampaikan
kepada Direksi secara berkala.

4) Dalam Stress Testing ini, harus dilakukan pula analisis kualitatif
mengenai tindakan dan keputusan yang akan diambil oleh Direksi atau
pejabat terkait guna mengantisipasi kemungkinan yang terburuk (worst
case scenario).

5. Pengendalian Intern dalam Penerapan Manajemen Risiko

a. Cakupan

Sistem pengendalian intern dalam penerapan manajemen risiko sekurang-
kurangnya mencakup:

1) kesesuaian antara sistem pengendalian intern dengan jenis dan tingkat
risiko yang melekat pada kegiatan usaha Bank;

2) penetapan wewenang dan tanggung jawab untuk pemantauan
kepatuhan kebijakan, prosedur dan limit;

3) penetapan jalur pelaporan dan pemisahan fungsi yang jelas dari satuan
kerja operasional kepada satuan kerja yang melaksanakan fungsi
pengendalian;

4) struktur organisasi yang menggambarkan secara jelas kegiatan usaha

Bank;

5) pelaporan keuangan dan kegiatan operasional yang akurat dan tepat

waktu;

6) kecukupan prosedur untuk memastikan kepatuhan Bank terhadap
ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku;

7) review yang efektif, independen dan obyektif terhadap prosedur
penilaian kegiatan operasional Bank;

8) pengujian dan review yang memadai terhadap sistem informasi
manajemen;

9) dokumentasi secara lengkap dan memadai terhadap cakupan, prosedur-
prosedur operasional, temuan audit, serta tanggapan pengurus Bank
berdasarkan hasil audit;

10) verifikasi dan review secara berkala dan berkesinambungan terhadap
penanganan kelemahan-kelemahan Bank yang bersifat material dan
tindakan pengurus Bank untuk memperbaiki penyimpangan-
penyimpangan yang terjadi.

b. Kaji Ulang Penerapan Manajemen Risiko

Pelaksanaan kaji ulang terhadap penerapan manajemen risiko sekurang-
kurangnya meliputi:

1) penerapan manajemen risiko harus dikaji dan dievaluasi secara berkala
sekurang-kurangnya setiap tahun oleh Risk Manager atau petugas pada

17

Satuan Kerja Manajemen Risiko dan Internal Auditor pada satuan kerja
audit intern (SKAI);

2) frekuensi dan cakupan kaji ulang dan evaluasi dapat ditingkatkan
intensitasnya, berdasarkan perkembangan eksposur risiko Bank,
perubahan pasar, dan metode pengukuran dan pengelolaan risiko;

3) kaji ulang juga dilakukan oleh auditor eksternal atau pihak lain yang
memiliki kualifikasi dan memahami teknik manajemen risiko;

4) khusus untuk kaji ulang dan evaluasi terhadap pengukuran risiko
sekurang-kurangnya mencakup:

a) metode, asumsi, dan variabel yang digunakan untuk mengukur risiko
dan menetapkan limit eksposur risiko;

b) perbandingan antara hasil dari metode pengukuran risiko yang
menggunakan simulasi atau proyeksi di masa datang dengan hasil
aktual;

c) perbandingan antara asumsi yang digunakan dalam metode
dimaksud dengan kondisi yang sebenarnya/aktual;

d) perbandingan antara limit yang ditetapkan dengan eksposur yang
sebenarnya/aktual;

e) penentuan kesesuaian antara pengukuran dan limit eksposur risiko
dengan kinerja di masa lalu dan posisi permodalan Bank saat ini.

6. Hal-hal Lain

a. Pengelolaan Risiko Produk dan Aktivitas Baru

1) Dalam rangka pengelolaan risiko yang melekat pada produk dan
aktivitas baru, Bank wajib memiliki kebijakan dan prosedur secara
tertulis.

2) Kebijakan dan prosedur pengelolaan risiko produk dan aktivitas baru
sekurang-kurangnya memuat:

a) sistem dan prosedur (standard operating procedure) serta
kewenangan dalam pengelolaan produk dan aktivitas baru;

b) identifikasi seluruh risiko yang melekat pada produk dan aktivitas

baru;

c) masa uji coba metode pengukuran dan pemantauan risiko yang
melekat pada produk dan aktivitas baru dalam rangka memastikan
bahwa metode tersebut telah teruji dari aspek kehati-hatian dan
aspek lainnya;

d) sistem informasi akuntansi untuk produk dan aktivitas baru, yang
sekurang-kurangnya menggambarkan secara akurat tentang profil
risiko, tingkat keuntungan atau kerugian sehubungan dengan produk
dan aktivitas baru dimaksud;

18

e) analisa aspek hukum produk dan aktivitas baru, yang mencakup
kemungkinan adanya risiko hukum yang akan ditimbulkan serta
analisa kepatuhan (compliance analysis) produk dan aktivitas baru
terhadap ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku;

f) Bank wajib mengungkapkan risiko yang melekat pada produk dan
aktivitas baru kepada nasabah secara transparan, baik secara
tertulis melalui uraian dalam penawaran produk maupun secara lisan
melalui komunikasi yang efektif, dalam rangka menginformasikan
potensi kerugian atas penggunaan produk dan aktivitas baru
dimaksud.

b. Penerapan Manajemen Risiko Transaksi Derivatif

Dalam penerapan manajemen risiko yang terkait dengan kegiatan
Transaksi Derivatif maka selain mengacu kepada Pedoman ini, Bank
sekurang-kurangnya berpedoman kepada:

1) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 28/119/KEP/DIR
tanggal 29 Desember 1995 tentang Transaksi Derivatif, termasuk
Pedoman Penyusunan Kebijaksanaan dan Prosedur Kegiatan Transaksi
Derivatif; dan

2) Surat Edaran Nomor 28/13/UD tanggal 29 Desember 1995 tentang
Transaksi Derivatif.

c. Transaksi Internal dan Kelompok Usaha

1) Dalam hal Bank tergabung dalam suatu kelompok usaha, khususnya
keuangan (financial group), dimana proses manajemen risiko dilakukan
secara tersentralisasi, maka Bank harus memastikan bahwa teknik
pengukuran dan eksposur risiko dapat dikonsolidasikan secara akurat.

Proses pemantauan dan pengukuran risiko yang dilakukan secara
konsolidasi tersebut, harus menetapkan limit yang jelas dan memenuhi
setiap tingkatan konsolidasi.

2) Dalam hal terdapat transaksi antar unit kerja (aktivitas fungsional)
maupun kantor cabang yang menghasilkan posisi risiko tertentu maka
Bank harus:

a) mengidentifikasi transaksi internal (internal deals) secara jelas;

b) merekonsiliasi transaksi internal dalam suatu proses akuntansi yang
bertujuan untuk menyusun laporan keuangan konsolidasi;

c) memastikan bahwa posisi risiko yang timbul dari transaksi internal
dapat diukur, dipantau dan dikendalikan oleh Satuan Kerja
Manajemen Risiko;

d) memastikan bahwa limit telah ditetapkan secara konsisten;

3) Bank harus melakukan rekonsiliasi secara berkala, sekurang-kurangnya
setiap bulan mengenai perbedaan antara laba rugi dan internal deals
yang terjadi karena perbedaan standar akuntansi yang digunakan, serta
segera melakukan penelitian dan koreksi atas perbedaan dimaksud.

19

4) Bank harus memastikan bahwa internal deals telah secara komprehensif
tercakup dalam sistem sehingga keuntungan dan kerugian yang terjadi
telah menggambarkan secara wajar, tentang:

a) kondisi pasar pada saat transaksi internal dilaksanakan;

b) risiko dan laba rugi untuk tujuan pengendalian intern; dan

c) laba rugi Bank secara efektif yang dihasilkan dari transaksi antara
nasabah dengan counterparties.

5) Dalam hal transaksi antar perusahaan dalam kelompok usaha
dilakukan, Bank juga harus memastikan bahwa transaksi tersebut telah
dicatat secara benar sehingga posisi rekening kelompok usaha telah
tergambar secara akurat pada laporan keuangan Bank.

6) Untuk tujuan rekonsiliasi, Bank harus menginformasikan transaksi
tersebut secara berkala dan memperoleh konfirmasi tertulis dari anggota
kelompok usaha Bank. Konfirmasi tertulis tersebut harus dilakukan
sekurang-kurangnya secara bulanan dan didokumentasikan pada arsip
khusus.

III. PROSES PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->