MAKALAH

KESEHATAN IBU DAN ANAK TENTANG IMUNISASI DASAR

DI SUSUN OLEH:
SOFIANTO BACHTIAR (14120903490) FIRDAUS (1412090273) SUMARLIN (1412090408) RABBUL SULAIMAN (1412090392) RENDI (1412090369) HAERIL ANWAR (1412090471) MUH.FAJRIN (1412090458)

1

BAB I
PENDAHULUAN Kata Pengantar
Tuhan menciptakan setiap makhluk hidup dengan kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar dirinya. Salah satu ancaman terhadap manusia adalah penyakit, terutama penyakit infeksi yang dibawa oleh berbagai macam mikroba seperti virus, bakteri, parasit, jamur. Tubuh mempunyai cara dan alat untuk mengatasi penyakit sampai batas tertentu. Beberapa jenis penyakit seperti pilek, batuk, dan cacar air dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Dalam hal ini dikatakan bahwa sistem pertahanan tubuh (sistem imun) orang tersebut cukup baik untuk mengatasi dan mengalahkan kuman-kuman penyakit itu. Tetapi bila kuman penyakit itu ganas, sistem pertahanan tubuh (terutama pada anak-anak atau pada orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah) tidak mampu mencegah kuman itu berkembang biak, sehingga dapat mengakibatkan penyakit berat yang membawa kepada cacat atau kematian. Apakah yang dimaksudkan dengan sistem imun? Kata imun berasal dari bahasa Latin ‘immunitas’ yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh. Kuman disebut antigen. Pada saat pertama kali antigen masuk ke dalam tubuh, maka sebagai reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi.

2

Pada umumnya, reaksi pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai "pengalaman." Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal. Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi polio atau campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap campak.

PEMBAHASAN MASALAH :
1. Pengertian Imunisasi 2. Penyakit – Penyakit Yang Ditimbulkan Pada Anak Yang Tidak Di Imunisasi 3. Imuniasi Mmr 4. Penyakit – Penyakit Yang Kemungkinan Akan Di Alami Bila Tidak Mendapat Imunisasi Mmr. 5. Jadwal Pemberian Imunisasi

3

BAB II PEMBAHASAN Pengertian Imunisasi Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Campak 4 . DTP 5. campak. Polio 4. Tujuan Pemberian Imunisasi Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B. BCG 2. sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya. batuk rejan. difteri. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali. tetanus. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Hepatitis B 3. Jenis – Jenis Imunisasi 1. cacar air. Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa. polio. tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak. tbc. gondongan. dan lain sebagainya.

tetapi data ini tidak konsisten. Dan tidak ada pemerikasaan laboratorium yang bisa menilai kekebalan seseorang pada penyakit TBC setelah diimunisasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan proteksi BCG berkurang jika telah ada sensitisasi dengan mikobakteria lingkungan sebelumnya. kita bisa memeriksa titer anti-HBsAg pada laboratotrium. BCG adalah vaksin untuk mencegah penyakit TBC. tetapi perkiraan derajat proteksinya sangat bervariasi dan belum ada penanda imunologis terhadap tuberculosis yang dapat dipercaya. Meskipun BCG merupakan vaksin yang paling banyak di gunakan di dunia (85% bayi menerima 1 dosis BCG pada tahun 1993). kalau sih anak sudah kemasukkan kuman TBC sebelum diimunisasi. bila hasilnya > 10 μg dianggap memiliki kekebalan yang cukup terhadap hepatitis B. proses pembentukan antibbodi setelah diimunisasi kurang memuaskan. Disuntikkan secara intrakutan. Jadi tidak benar kalau parutnya kecil atau tidak tampak maka imunisasinya dianggap gagal. Karena itu.1. kekebalan untuk penyakit TBC tidak diturunkan dari ibu ke anak (imunitas seluler). Imunsasi BCG diberikan dengan dosis 0.05 ml pada bayi kurang dari 1 tahun. Bacillus Calmette-Guerin. Berbeda dengan imunisasi hepatitis B. Royan said : maksudnya. Imunisasi BCG Kepanjangan BCG ? Mungkin karena susah mengucapkannya makanya jarang yang hafal kepanjangannya. BCG dianjurkan diberikan umur 2-3 bulan) atau dilakukan uji tuberkulin dulu (bila usia anak lebih dari 3 bulan. Perlu diketahui juga.1 ml pada anak.IDAI) untuk mengetahui apakah anak telah terinfeksi TBC atau belum (lihat jadwal imunisasi) Dan lagi. orang bilang flek paru. dan 0. kekebalan yang dihasilkan dari imunisasi BCG ini bervariasi. Makanya ibu-ibu harus segera memberikan imunisasi BCG buat anaknya. 5 . Royan said : maksudnya. derajat proteksi imunisasi BCG tidak ada hubungannya dengan hasil tes tuberkulin sesudah imunisasi dan ukuran parut (bekas luka suntikan) dilengan. karena itu anak baru lahir tidak punya kekebalan terhadap TBC.

tak ada gejala khas yang tampak secara kasat mata.dr. Bisa juga melali alat-alat medis yang sebelumnya telah terkontaminasi darah dari penderita hepatitis B. Cara lain melalui kontak dengan darah penderita.imunisasi. Jika menyerang anak. Bila penyuntikan benar. Yang potemsial melalui jalan lahir. (Sumber : system imun. imunisasi merupakan langkah efektif untuk mencegah masuknya virus hepatitis B. Upaya pencegahan adalah langkah terbaik. BCG tidak dapat diberikan pada penderita dengan gangguan kekebalan seperti pada penderita lekemia (kanker darah). Prof. anak dengan pengobatan obat steroid jangka panjang dan penderita infeksi HIV. Imunisasi Hepatitis B Imunisasi hepatitis B ini juga merupakan imunisasi yang diwajibkan.Royan said : maksudnya disuntikkan ke dalam lapisan kulit (bukan di otot). Malangnya. nafsu makan baik. A. penyakit yang disebabkan virus ini sulit disembuhkan. seperti jarum suntik yang tidak steril atau peralatan yang ada di klinik gigi.dan penyakit imun. Fungsi hati kadang tak terganggu meski sudah mengalami sirosis. lebih dari 100 negara memasukkan vaksinasi ini dalam program nasionalnya. Bahkan juga bisa lewat sikat gigi atau sisir rambut yang digunakan antar anggota keluarga. 6 . Banyak jalan masuk virus hepatitis B ke tubuh si kecil. Sangat mungkin terjadi sirosis atau pengerutan hati. semisal transfusi darah. Anak juga terlihat sehat. biasanya dilakukan screening terhadap anak-anaknya untuk mengetahui apakah membawa virus atau tidak. Penyakit baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan darah. akan ditandai kulit yang menggelembung. Samik Wahab. Jika ada salah satu anggota keluarga dicurigai kena Virus Hepatitis B.Dr. Bahkan oleh dokter sekalipun. Spa(K). Bila sejak lahir telah terinfeksi virud hepatitis B (VHB) dapat menyebabkan kelainan-kelainan yang dibawanya terus hingga dewasa. berat badan juga normal. Widya Medika) 2. Selain itu. BCG ulang tidak dianjurkan karena manfaatnya diragukan.

Jumlah Pemberian: Sebanyak 3 kali. Umumnya setelah 3 kali suntikan. maka dalam setahun akan hilang. Kalo yang tetes mudah diberikan. Tingkat Kekebalan: Cukup tinggi. Lokasi Penyuntikan: Pada anak di lengan dengan cara intramuskuler. yang pertama oral polio vaccine atau yang sering dilihat dimana mana yaitu vaksin tetes mulut. Polio Imunisasi polio ada 2 macam. Indikator Kontra: Tak dapat diberikan pada anak yang sakit berat 3. selain imunisasi tsb dilakukan tambahan dengan imunoglobulin antihepatitis B dalam waktu sebelum usia 24 jam. Sedangkan pada bayi di paha lewat anterolateral (antero= otot-otot bagian depan. lateral= otot bagian luar). Tanda Keberhasilan: Tak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua. Dengan syarat. diatas 200 tahan 3 tahun. murah dan mendekati rute penyakit aslinya. berarti daya tahanya 8 tahun. Bila kadarnya di atas 1000. tahan 5 tahun. Dilanjutkan pada usia 1 bulan. Kalo yang injeksi efek proteksi lebih baik tapi mahal dan tidak punya efek epidemiologis. Namun dapat dilakukan pengukuran keberhasilan melalui pemeriksaan darah dengan mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak berusia setahun. Penyuntikan di bokong tidak dianjurkan karena bisa mengurangi efektivitas vaksin. diatas 500. ini yang disuntikkan. lbih dari 95% bayi mengalami respons imun yang cukup. Sementara bila angkanya 0 berarti si bayi harus disuntik ulang 3 kali lagi. tak ada gangguan pada paru-paru dan jantung. Tetapi kalau angkanya cuma 100. Selain itu saat ini MUI telah mengeluarkan fatwa agar pemakaian vaksin polio injeksi hanya ditujukan pada penderita yang tidak boleh mendapat vaksin polio tetes karena daya tahan tubuhnya lemah 7 . Usia Pemberian Sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir. dan usia 3-6 bulan. antara 94-96%. Khusus bayi yang lahir dari ibu pengidap VHB. kondisi bayi stabil. Sedangkan yang kedua inactivated polio vaccine. sehingga banyak digunakan. kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga.

Sejumlah besar penderita meninggal karena tidak dapat menggerakkan otot pernapasan. Indikasi Untuk Imunisasi secara simultan terhadap difteri. Ketika polio menyerang Amerika selama dasawarsa seusai Perang Dunia II. merusak sistem saraf menimbulkan kelumpuhan permanen. Di wikipedia dijelaskan bahwa Polio sudah dikenal sejak zaman pra-sejarah. Pencegahannya dengan dilakukan menelan vaksin polio 2 (dua) tetes setiap kali sesuai dengan jadwal imunisasi. Virus polio menyerang tanpa peringatan. Lukisan dinding di kuil-kuil Mesir kuno menggambarkan orang-orang sehat dengan kaki layu yang berjalan dengan tongkat. Kaisar Romawi Claudius terserang polio ketika masih kanak-kanak dan menjadi pincang seumur hidupnya. sekolah dan bahkan gereja tutup. biasanya pada kaki. 8 . karena menjangkiti anak-anak terutama yang berumur di bawah lima tahun. Walaupun dapat sembuh. penyakit itu disebut ‘momok semua orang tua’. Thimerosal 0. DTP Deskripsi Vaksin Jerap DTP adalah vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan tetanus yang dimurnikan. 30 IU difteri dan 60 IU tetanus. 4. serta bakteri pertusis yang telah diinaktivasi yang teradsorbsi ke dalam 3 mg / ml Aluminium fosfat. penderita akan pincang seumur hidup karena virus ini membuat otot-otot lumpuh dan tetap kecil.1 mg/ml digunakan sebagai pengawet. Di sana para orang tua tidak membiarkan anak mereka keluar rumah.Polio atau lengkapnya poliomelitis adalah suatu penyakit radang yang menyerang saraf dan dapat menyebabkan lumpuh pada kedua kaki. tetanus dan batuk rejan. kolam renang. Potensi vaksin per dosis tunggal sedikitnya 4 IU pertussis. Virus polio menular secara langsung melalui percikan ludah penderita atau makanan dan minuan yang dicemari. gedung-gedung bioskop dikunci.

Vaksin DTP dapat diberikan secara aman dan efektif pada waktu yang bersamaan dengan vaksinasi BCG. Vaksin harus disuntikkan secara intramuskuler atau secara subkutan yang dalam. Satu dosis adalah 0. Tidak boleh disuntikkan pada kulit karena dapat menimbulkan reaksi lokal.1 mg Dosis dan Cara Pemberian Vaksin harus dikocok dulu untuk menghomogenkan suspensi. Imunisasi DTP kedua tidak boleh diberikan kepada anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama DTP. imunisasi DTP harus dimulai sesegera mungkin dengan dosis pertama diberikan pada usia 6 minggu dan 2 dosis berikutnya diberikan dengan interval masing-masing 4 minggu. Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala-gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi dari komponen pertussis.5 ml. dan vaksin Yellow Fever. dan hanya dengan diberi DT untuk meneruskan imunisasi ini. Hib. Di negara-negara dimana pertussis merupakan ancaman bagi bayi muda. Kontraindikasi Terdapat beberapa kontraindikasi yang berkaitan dengan suntikan pertama DTP. Pada setiap penyuntikan harus digunakan jarum suntik dan syringe yang steril.Komposisi Tiap ml mengandung : Toksoid difteri yang dimurnikan 40 Lf Toksoid tetanus yang dimurnikan 15 Lf B. Bagian anterolateral paha atas merupakan bagian yang direkomendasikan untuk tempat penyuntikkan. (Penyuntikan di bagian pantat pada anak-anak tidak direkomendasikan karena dapat mencederai syaraf pinggul). 9 . Campak. Hepatitis B. pertussis yang diinaktivasi 24 OU Aluminium fosfat 3 mg Thimerosal 0. Untuk individu penderita virus human immunodefficiency (HIV) baik dengan gejala maupun tanpa gejala harus diberi imunisasi DTP sesuai dengan standar jadual tertentu. Polio (OPV dan IPV). Komponen pertussis harus dihindarkan.

bercak-bercak merah ini hanya di beberapa bagian tibih saja dan tidak banyak. dada. dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan virus Morbili ini. Dalam kondisi ini tetaplah meminum obat yang sudah diberikan dokter.5 derajat celcius. sebenarnya bayi sudah mendapatkan kekebalan campak dari ibunya. antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. Umumnya dibutuhkan waktu hingga 2 minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak. Setelah itu barulah muncul gejala flu (batuk. Hingga saat ini. gejalanya sulit dideteksi. Bisa terjadi komplikasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya. Beberapa anak juga mengalami diare. Jaga stamina dan konsumsi makanan bergizi. Awalnya haya muncul di beberapa bagian tubuh saja seperti kuping. satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik. pilek. tapi juga tidak terlalu kecil.5. Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah (droplet) penderita yang terhirup melalui hidung atau mulut. berkisar 38-40. Apalagi penyakit campak mudah menular. umumnya demam akan turun dengan sendirinya. selain 10 . disebut hiperpigmentasi. si kecilpun merasa silau saat melihat cahaya. muka. Jika tak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya. yaitu mengobati berdasarkan gejala yang muncul. terutama pada campak yang berat. Bercak merah pun akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik. Dalam waktu 1 minggu. Ciri-ciri campak berat. mata kemerahabn dan berair. Untungnya campak hanya diderita sekali seumur hidup. Kemudian. Jika bercak merah sudah keluar. Pada masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari. Namun seiring bertambahnya usia. belum ditemukan obat yang efektif mengatasi virus campak. Pengobatannya bersifat simptomatis. Campak Imunisasi campak. tangan dan kaki. leher. Ukurannya tidak terlalu besar. Jadi. setelah itu biasanya tak akan terkena lagi. demam). sekali terkena campak. Seiring dengan itu barulah muncul bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas penyakit ini. disebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari.

Komplikasi yang terjadi biasanya berupa radang paru-paru dan radang otak. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan. pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi. Dengan imunisasi. bahkan berujung kematian. Usia dan Jumlah Pemberian Sebanyak 2 kali. orangtua masa kini seharusnya lebih kritis terhadap efek samping imunisasi yang mungkin menimpa Si Kecil. misalnya. baik wajib maupun lanjutan. gejalanya tidak membaik setelah diobati 1-2 hari. Di lain pihak. menurut Departemen Kesehatan RI disebut "Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi"(KIPI). dianggap penting bagi mereka untuk membangun pertahanan tubuh. Efek Imunisasi . Komplikasi ini yang umumnya paing sering menimbulkan kematian pada anak. 11 . Namun. efek samping ini sebenarnya pertanda baik. Dianjurkan. diharapkan anak terhindar dari berbagai penyakit yang membahayakan jiwanya. pemberian imunisasi kadang menimbukan efek samping. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak. karena membuktikan vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh tengah bekerja. kita pun tidak boleh menutup mata terhadap fakta adakalanya efek imunisasi ini bisa sangat berat. kerap membuat orangtua was-was. Realita ini. Pertahanan tubuh bayi dan balita belum sempurna. Itulah sebabnya pemberian imunisasi.bercaknya di sekujur tubuh. maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella). 1 kali di usia 9 bulan. Demam tinggi pasca-imunisasi DPT. Padahal. 1 kali di usia 6 tahun. penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan (KN PP) KIPI.Efek Imunisasi Imunisasi memang penting untuk membangun pertahanan tubuh bayi. Tetapi.

Reaksi juga bisa diakibatkan reaksi simpang (adverse events) terhadap obat atau vaksin. Penelitian Vaccine Safety Committee. DR. "Pengamatan juga ditujukan untuk efek samping yang timbul akibat kesalahan teknik pembuatan. serta reaksi lainnya. Sri Rejeki Hadinegoro SpA.Tidak Ada yang Bebas Efek Samping Menurut Komite KIPI. pengadaan." tukas dokter yang berpraktek di RSUPN Cipto Mangunkusumo ini. Kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi. Stephanie Cave MD.(K). semakin cepat KIPI terjadi.. bahkan 42 hari (pasca-vaksinasi campak dan polio). menurut Prof. Institute of Medicine (IOM). peluang terjadinya efek samping vaksin pada bayi dan anak-anak adalah karena mereka dijadikan target imunisasi massal oleh 12 . untuk menghindari adanya kerancuan antara penyakit akibat imunisasi dengan yang bukan. ahli medis yang menulis "Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi Pada Anak" menyebutkan. atau kejadian lain yang bukan akibat efek langsung vaksin. reaksi susunan saraf pusat. distribusi serta penyimpanan vaksin. Pada umumnya. atau semata-mata kejadian yang timbul kebetulan. sistemik. AS. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (pascavaksinasi rubella). misalnya alergi. melaporkan. sampai dipastikan tidak terjadi adanya KIPI (reaksi cepat). setelah seorang bayi diimunisasi. Selain itu. dapat dibagi menjadi gejala lokal. sebagian besar KIPI terjadi karena faktor kebetulan. "Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan atau pragmatic errors). maka gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu." terang Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini. "Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat. Oleh karena itu." demikian Sri. sebenarnya tidak ada satu pun jenis vaksin imunisasi yang aman tanpa efek samping. ia harus diobservasi terlebih dahulu setidaknya 15 menit. Dr. Dilihat dari gejalanya pun. semakin cepat gejalanya.

keracunan). hingga resiko kematian." demikian Cave. pusing. Reaksi vaksin Gejala KIPI yang disebabkan masuknya vaksin ke dalam tubuh umumnya sudah diprediksi terlebih dahulu karena umumnya "ringan". . keluarga dan pribadi yang unik. riwayat kesehatan. mual. 2. Untuk lebih jelasnya. bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan. kesulitan memusatkan perhatian. yang bisa berefek terhadap cara mereka bereaksi terhadap suatu vaksin. dengan bangun genetika. Misal. imunisasi massal yang memiliki sikap "satu ukuran untuk semua orang" ini sangat berbahaya. pabrik vaksin. nasalah perilaku seperti autisme.pemerintah. tidak semua KIPI disebabkan oleh imunisasi. Reaksi suntikan Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusukan jarum suntik. Sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut. berikut ini beberapa faktor KIPI yang bisa terjadi pasca-imunisasi: 1. baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. sampai sinkope atau pingsan. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit. Karena. Sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. maupun dokter. Meski demikian. "Setiap anak adalah pribadi tersendiri. lingkungan sosial. Padahal. yang mungkin menyebabkan masalah persarafan. demam pascaimunisasi DPT yang dapat diantisipasi dengan obat penurun panas. bisa juga reaksi induksi vaksin berakibat parah karena adanya reaksi simpang di dalam tubuh (misal.Beberapa Kejadian Pasca-Imunisasi Secara garis besar. 13 .

hingga kini banyak yang tidak diketahui para ilmuwan tentang cara kerja imunisasi di dalam tubuh pada tingkat sel dan molekul. sejak akhir tahun 1950-an. Jadi realitanya. ketika imunisasi massal mulai diwajibkan di Amerika Serikat. Biasanya. sindroma 14 . imunisasi (dan antibiotik) bertanggung jawab untuk sebagian besar reaksi negatif dibanding obatobat resep lainnya. telah terjadi peningkatan kasus kelainan sistem imun dan persarafan. adalah pengertian tentang efek jangka panjang dari imunisasi massal bagi bayi dan anak-anak. autisme. Tes yang memadai untuk imunisasi juga tidak ada. bukan hipotesa. dengan kelengkapan informasi akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI. termasuk kesulitan memusatkan perhatian. Keamanan imunisasi seharusnya berlandaskan pada ilmu pengetahuan yang baik. keyakinan perorangan. dan puluhan ribu lainnya yang tidak dilaporkan. Yang diketahui adalah. Yang juga kurang. beberapa obat lebih berbahaya daripada beberapa obat lainnya. dengan karakterisitik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi. atau pengamatan. Imunisasi itu Aman' Ilmu Pengetahuan atau Fiksi Keraguan tentang aman-tidaknya imunisasi bukan sesuatu yang mengada-ada. maka untuk sementara dimasukkan ke kelompok "penyebab tidak diketahui" sambil menunggu informasi lebih lanjut. 4. asma.3. diabetes anak-anak. Petunjuk "faktor kebetulan" ditandai dengan ditemukannya kejadian sama di saat bersamaan pada kelompok populasi setempat. ada juga kejadian yang timbul secara kebetulan setelah bayi diimunisasi. Saat ini sudah ada puluhan ribu kejadian buruk akibat imunisasi yang dilaporkan. Pada anak-anak. pendapat. Dan. tidak ada obat yang aman untuk setiap anak. Penyebab tidak diketahui Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab. Faktor kebetulan Seperti disebut di atas. Namun faktanya.

kemerahan atau bengkak di tempat suntikan. 2. CAMPAK : Anak mungkin panas. HEPATITIS : Belum pernah dilaporkan adanya efek samping. kesulitan belajar.keletihan menahun. Perlu diingat efek samping imunisasi jauh lebih ringan daripada efek penyakit bila bayi tidak diimunisasi. DPT: Kebanyakan bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi DPT. kadang disertai dengan kemerahan 4–10 hari sesudah penyuntikan. multipel sklerosis. POLIO : Jarang timbuk efek samping. rematoid artritis. Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan luka parut yang kecil. sakit. 15 . adanya peningkatan besar jumlah masalah medis yang terkait dengan imunisasi yang dilaporkan orangtua dan profesional kedokteran. 3. telah mencetuskan suatu gerakan yang menuntut dilakukannya lebih banyak kajian yang lebih baik tentang potensi efek buruk jangka panjang atau menahun dari imunisasi. Imunisasi kadang dapat mengakibatkan efek samping. Setelah 2–3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah ±10 mm. Sebagian besar merasa nyeri. dan masalah kesehatan yang menahun lainnya. 5. akan sembuh sendiri. Ini adalah tanda baik yang membuktikan bahwa vaksin betuk-betul bekerja secara tepat. BCG: Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan.Bila gejala diatas tidak timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan dan Imunisasi tidak perlu diulang. tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Efek samping yang biasa terjadi adalah sebaagai berikut: 1. 4. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus. Di Amerika Serikat dan tempat-tempat lain di dunia.

Resiko Infeksi TB Faktor resiko terjadinya infeksi TB antara lain adalah : anak yang memiliki kontak dengan orang dewasa dengan TB aktif. tak hanya menjaga agar anak tetap sehat. tapi juga ampuh untuk mencegah dan menangkal timbulnya penyakit serta kematian pada anak-anak. 2. 5 Diantaranya merupakan imunisasi yang wajib diberikan sebab fungsinya adalah untuk mencegah anak dari serangan penyakit – penyakit seperti : 1. daerah endemis. Pemerintah Indonesia menetapkan ada 12 imunisasi yang harus diberikan kepada anak-anak. baik di negara berkembang maupun di negara maju faktor resiko infeksi dan faktor resiko progresi infeksi menjadi penyakit ( resiko penyakit ). "Oleh karena itu. kemiskinan. Tuberkulosis tetap merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian. serta lingkungan yang tidak sehat. Tuberkulosis (TBC) Tuberkulosis. Hepatitis B yang disebabkan virus hepatitis B yang berakibat pada hati Penyakit hepatitis B pada bayi menjadi kronik jauh lebih besar (lebih dari 90 persen) dibandingkan kemungkinan pada orang dewasa.Penyakit – Penyakit Yang Ditimbulkan Pada Anak Yang Tidak Di Imunisasi Imunisasi. merupakan masalah yang timbul tidak hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Lalu mengapa kadangkala orangtua kerap mengabaikan tindakan penting tersebut? Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Sesuai dengan yang diprogramkan oleh organisasi kesehatan dunia WHO (Badan Kesehatan Dunia). penggunaan obat-obat intravena. bagi bayi vaksin hepatitis B mutlak perlu. terutama TB paru. 16 .

Virus itu menyerang hati dan merusak organ tubuh secara tak langsung melalui gangguan sistem kekebalan. dari πολιός "abu-abu" dan μυελός "bercak". Virus hepatitis B diketahui sebagai salah satu virus yang paling mudah menular. adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini. jika penyakit berkembang lebih berat maka ia akan mencapai tahap hepatitis akut. Single RNA ini membentuk hampir 30 persen dari virion dan sisanya terdiri dari 4 protein besar (VP1-4) dan satu protein kecil (Vpg). bahkan sudah menularkannya kepada orang lain. Poliomyelitis atau Polio. atau bentuknya yang lebih mutakhir πολιομυελίτιδα.Ciri-ciri penderita hepatitis B umumnya tak diketahui secara jelas karena penderita seperti orang sehat. 3. mereka yang memiliki gejala kuning pada mata. Namun. Virus Polio termasuk genus enteroviorus. Penyakit ini disebabkan virus. famili Picornavirus. dan diperkirakan menginfeksi 10 kali lebih banyak daripada HIV. penularan virus ini 100 kali lebih menular daripada HIV (virus penyebab AIDS). Bahkan. Pada serangan tahap awal masih bisa disembuhkan jika segera diobati. "Sebaiknya. lesu. sirosis (pengerasan hati). Polio adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit peradaban. tak memiliki nafsu makan serta sakit lambung-seperti maag yang tak sembuh dalam tempo enam bulan-segera periksa ke dokter. Anak yang terkena polio dapat menjadi lumpuh layuh. mengifeksi saluran usus. Kata Polio sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu πολιομυελίτις. Penyakit polio. sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV). kulit. masuk ke tubuh melalui mulut. Akibatnya ia tak segera menyadari dirinya telah tertular virus hepatitis B. sampai kemudian mengakibatkan munculnya kanker hati. Polio menular melalui kontak 17 . menyebar melalui tinja/kotoran orang yang terinfeksi. Bentuknya adalah ikosahedral tanpa sampul dengan genome RNA single stranded messenger molecule. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan.

Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat menye- 18 . Seiring dengan berkembang biaknya virus dalam sistem saraf pusat.antarmanusia. virus akan menghancurkan neuron motor. Virus akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. dan Polio bulbar. otot terasa lembek jika disentuh. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Strain ini sering ditemukan di Sukabumi. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Neuron motor tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat. Penyebab penyakit polio terdiri atas tiga strain yaitu strain 1 (brunhilde) strain 2 (lanzig). lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Infeksi ini akan mempengaruhi sistem saraf pusat menyebar sepanjang serabut saraf. Setelah poliovirus menyerang usus. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki. -Polio Paralisis Spinal Jenis Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang. pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi. Polio paralisis spinal. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas -. kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. Terjadi kram otot pada leher dan punggung. sakit perut. lesu. Sedangkan Strain 2 adalah yang paling jinak. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun. virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak. virus ini akan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus dan diangkut seluruh tubuh. dan strain 3 (Leon). Polio menyerang tanpa mengenal usia. Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain berbeda dan amat menular. Penyakit Polio terbagi atas tiga jenis yaitu Polio non-paralisis. -Polio nonparalisis menyebabkan demam. dan sensitif. Poliovirus menyerang saraf tulang belakang dan neuron motor -.kondisi ini disebut acute flaccid paralysis (AFP). muntah. Strain 1 adalah yang paling paralitogenik atau yang paling ganas dan sering kali menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah.yang mengontrol gerak fisik.

Alat ini membantu paru-paru yang lemah dengan cara menambah dan mengurangi tekanan udara di dalam tabung. polio bulbar dapat menyebabkan kematian. paru-paru akan mengempis. yang mengirim sinyal ke berbagai otot yang mengontrol pergerakan bola mata. usus. saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbgai fungsi di kerongkongan. dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher. Penyakit Polio dapat ditularkan oleh infeksi droplet dari oro-faring (mulut dan tenggorokan) atau dari tinja penderita yang telah terinfeksi selain itu juga dapat menular melalui oro-fecal (makanan dan minuman) dan melalui percikan ludah yang kemudian virus ini akan berkembangbiak di tengorokan dan usus lalu kemudian menyebar ke kelenjar getah bening. gusi. pergerakan lidah dan rasa. Lima hingga sepuluh persen penderta yang menderita polio bulbar akan meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Batang otak mengandung neuron motor yang mengatur pernapasan dan saraf kranial. disebut quadriplegia. Penderita juga dapat meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan. paru-paru. paru-paru akan mengembang. 19 . Dengan demikian udara terpompa keluar masuk paruparu. saraf auditori yang mengatur pendengaran. Kalau tekanan udara ditambah. Kematian biasanya terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf kranial yang bertugas mengirim ''perintah bernapas'' ke paru-paru. Tanpa alat bantu pernapasan. -Polio Bulbar Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita telah menggunakan ''paru-paru besi'' (iron lung). masuk ke dalam darah serta menyebar ke seluruh tubuh. kalau tekanan udara dikurangi. dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung. Infeksi yang jauh lebih parah pada otak dapat menyebabkan koma dan kematian. kelenjar air mata. korban dapat ''tenggelam'' dalam sekresinya sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru. dan otot muka.babkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada toraks (dada) dan abdomen (perut). saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi.

bayi berumur lebih dari 1 tahun . Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi.bayi yang tidak mendapatkan imunisasi . mulut maupun tenggorokan penderita campak (air borne disease ). yang ditandai dengan demam. batuk. Suhu yang tinggi dapat cepat mematikan virus tetapi pada keadaan beku dapat bertahun-tahun masa hidupnya.Penularan terutama sering terjadi langsung dari manusia ke manusia melalui fekal-oral (dari tinja ke mulut) atau yang agak jarang terjadi melalui oral-oral (mulut ke mulut). Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada. 4. yaitu kurang lebih 4 hari pertama sejak munculnya ruam. Penyakit campak (tampek) Penyakit Campak (Rubeola.remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua. Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul. Virus Polio sangat tahan terhadap alkohol dan lisol. Penularan terutama terjadi akibat tercemarnya lingkungan leh virus polio dari penderita yang telah terinfeksi. 20 . Campak 9 hari. namun peka terhadap formaldehide dan larutan klor. rubeola. Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah: . Campak disebabkan oleh paramiksovirus ( virus campak). Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. namun virus ini hidup di lingkungan terbatas. Virus Polio dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan. Penyebab Campak. konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus. Penularan terjadi melalui percikan ludah dari hidung. infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun). bahkan dapat sampai berkilo-kilometer dari sumber penularannya. measles) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular. atau measles Adalah penyakit infeksi yang sangat mudah menular atau infeksius sejak awal masa prodromal.

lengan dan tungkai.Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi. penderita merasa sangat sakit. pilek. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. Gejala utama dari penyakit difteri yaitu adanya bentukan pseudomembran yang merupakan hasil kerja dari kuman ini.Bercak Koplik .batuk ( Cough ) .nyeri otot . Dalam waktu 1-2 hari. kecapaian. ruam menyebar ke batang tubuh. tidak bergerak dan tidak membentuk spora. pertusis dan tetanus. Selain itu penyakit ini bisa juga ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi. Penularan biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat. Difteri. Demam. sedangkan ruam di wajah mulai memudar. Penyakit ini mudah menular dan menyerang terutama daerah saluran pernafasan bagian atas. Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala diatas. Pada awalnya ruam tampak di wajah. Pseudomembran sendiri merupakan lapisan tipis berwarna putih keabu abuan yang timbul terutama di daerah mukosa hidung. suatu bakteri gram positif yang berbentuk polimorf. Difteri disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun. Difteri disebabkan bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Difteri merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya pada anak anak.nyeri tenggorokan . 21 . penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang. 5. yaitu berupa: Panas badan . yaitu di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping.hidung meler ( Coryza ) . Pada puncak penyakit. batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari.mata merah ( conjuctivitis ) 2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik).

Bakteri ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka yang tercemar kotoran.warmasif. 60 % menyerang anak-anak yang berumur kurang dari 5 tahun. di seluruh dunia dilaporkan 30. kejang dan spasme dan paralisis pernapasan (wikipedia. melengkungnya punggung (opistotonus). ginjal dan jaringan syaraf (www. spasme glotal. Penyakit tetanus disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani yang terdapat di tanah. Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi bakterial yang menyerang sistem pernapasan yang melibatkan pita suara (larinks).000 orang diantaranya meninggal karena penyakit ini Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari teinein yang berarti menegang. Infeksi ini menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan sehingga menyebabkan serangan batuk yang parah. debu. Pertusis dapat menyerang segala umur. Penyakit ini akan menjadi serius jika menyerang bayi berumur kurang dari 1 tahun. Pada tahun 2000. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis yang bersarang di saluran pernapasan dan sangat mudah tertular (www. trakea dan bronkial. Penyakit ini adalah penyakit infeksi di mana spasme otot tonik dan hiperrefleksia menyebabkan trismus (lockjaw).net).mulut sampai tenggorokan. Di dalam luka bakteri ini akan berkembang biak dan membentuk toksin (racun) yang menyerang saraf. mereka juga beresiko ketika alat-alat yang tidak bersih digunakan untuk memotong tali pusar dan olesan-olesan tradisional atau abu digunakan untuk menutup luka bekas potongan (www. Biasanya pada bayi yang baru lahir dan keadaannya 22 . dan sebagainya. Angka kematian yang diakibatkan oleh tetanus berkisar antara 15-25%. spasme otot umum. kotoran hewan. Difteri dapat menyerang seluruh lapisan usia tapi paling sering menyerang anak-anak yang belum diimunisasi. UNICEF (United Nations Children’s Fund/Dana PBB untuk Anak-Anak) menyebutkan dalam situsnya bahwa tetanus sangat berisiko terkena pada bayi-bayi yang dilahirkan dengan bantuan dukun bayi di rumah dengan peralatan yang tidak steril.000 kasus dan 3.co. Disamping menghasilkan pseudomembran.id).org).unicef.org). kuman ini juga menghasilkan sebuah racun yang disebut eksotoxin yang sangat berbahaya karena menyerang otot jantung.blogdokter.

tetapi dalam beberapa tahun kemudian digabung menjadi vaksin kombinasi. Pencegahan sindrom rubela congenital merupakan tujuan pemberian imunisasi rubela. Kombinasi tersebut terdiri dari virus hidup Campak galur Edmonton atau Schwarz yang telah dilemahkan. Tujan Tujuan diberikannya imunisasi MMR ini adalah untuk mencegah atau mengurangi terjadinya infeksi pada anak yang disebabkan penyakit-penyakit. Vaksin ini adalah gabungan vaksin hidup yang dilemahkan. Componen Antigen Rubella dari virus hidup Wistar RA 27/3 yang dilemahkan dan Antigen gondongen dari virus hidup galur Jerry Lynn atau Urabe AM-9. MMR tetap aman untuk diberikan pada anak mengingat pentingnya imunisasi ini terhadap perlindungan anak.menjadi lebih parah. dapat memberikan autisme yang disebabkan pelarut MMR mengandung Tiomersal. “Itulah sebabnya hingga sekarang. Imuisasi MMR Defenisi Imunisasi MMR adalah imunisasi kombinasi untuk mencegah penyakit Campak. Campak Jerman dan Penyakit Gondong. gondongan dan rubela. Pada tahun 2000 diperkirakan 39 juta kasus terjadi dan 297. Efek Samping Beberapa ahli memang ada yang mengkhawatirkan dengan pemberian MMR ini. Semula vaksin ini ditemukan secara terpisah. Rubela adalah penyakit yang cukup berbahaya apabila terjadi diawal 23 . Pemberian vaksin MMR biasanya diberikan pada usia anak 16 bulan.” ungkapnya.000 kematian terjadi didunia yang diakibatkan oleh pertusis. MMR tidak terbukti menyebabkan autisme karena sampel yang diteliti hanya pada 12 pasien. tetapi dugaan tersebut tidak terbukti. Seperti yang dikemukakan Andrew Wakefield tahun 1998.

berbeda dari campak Jerman atau rubela. Apabila cacat dari lahir. Bedanya campak biasa dan campak jerman itu apa? Campak biasa. kelainan mata. umumnya nafsu makan anak akan menurun karena terjadi pembengkakan pada limpa. karena dapat menimbulkan kelainan jiwa. Bila janin tertular maka anak yang dilahirkan akan mengalami sindrom rubela kongenital dengan kelainan-kelainan. tuli. tidak bisa mendengar. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya rubela serta melindungi janin yang dikandungnya kelak. Memang gejalanya hampir sama dengan campak biasa. gondongan. kelahiran prematur. Campak Jerman umumnya memiliki dampak lebih ringan dan tidak fatal. Penyakit Yang Kemungkinan Akan Ada Bila Tidak Mendapat Imunisasi MMR Vaksin MMR merupakan vaksin yang diberikan kepada anak untuk mencegah penyakit campak. kelainan saraf. sehingga diharapkan penyakit tersebut tidak akan terjadi pada bayi yang akan dilahirkan. Gejala lain. mikrosefali. ibu-ibu harus memiliki kekebalan rubela sejak kecil. pilek dan demam tinggi. terjadi pengapuran di otak. kalainan jantung. batuk. misalnya mata bayi mengalami katarak. Yang membedakan. Umumnya pun terjadi pada anak usia 5 sampai 14 tahun. Setiap anak perempuan harus mendapat vaksinasi rubela. dan cacat bawaan. 24 . bayi dapat mengalami cacat dalam bentuk. juga banyak terjadi anak-anak tumbuh dengan keterbelakangan perkembangan. dan campak Jerman. Justru kita harus lebih khawatir bila rubela menyerang wanita hamil karena virusnya bisa menular pada janin melalui plasenta.kehamilan. bercak merah pada rubela tidak timbul terlalu banyak dan tidak separah campak biasa. dan retardasi mental. “Untuk menghindar penyakit ini. seperti flu. juga cepat menghilang dalam waktu 3 hari.

Gunanya mencegah agar tidak terserang rubela dan menulari sang istri yang mungkin tengah hamil nanti.Tak hanya pada perempuan. dan mutu vaksin oleh Komite Nasional Penilai 25 . Vaksin MMR merupakan vaksin yang diberikan kepada anak dengan maksud untuk mencegah penyakit campak. keamanan. vaksinasi rubela pun penting bagi kaum pria. komunikasi. Mumps. Imunisasi adalah pemberian vaksin pada tubuh seseorang dengan tujuan untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit infeksi tertentu. Pemerintah telah melaksanakan Program Imunisasi sejak lebih dari 30 tahun yang lalu dan telah berhasil menurunkan angka kesakitan dan angka kematian dari berbagai penyakit menular. Tidak Adanya Hubungan Antara Terjadinya Autisme Dengan Imunisasi Mmr 1. Di Indonesia. Autisme adalah gangguan petumbuhan anak yang kronik dengan gejala utama gangguan interaksi sosial. walaupun belum termasuk dalam jenis vaksin yang digunakan dalam Program Imunisasi Nasional. biasanya terjadi pada usia di bawah 3 tahun. batuk rejan. dan hepatitis B (vaksin Hepatitis B). Rubella). poliomyelitis (vaksin Polio). vaksin MMR telah digunakan untuk imunisasi anak di berbagai rumah sakit dan klinik. gondongan dan campak Jerman (German measles). difteria . 2. Vaksin MMR yang dipasarkan di Indonesia telah mendapat izin edar setelah dilakukan evaluasi terhadap efektifitas. dan tetanus (vaksin DPT). campak (vaksin Campak). 4. serta keterbatasan perhatian dan aktifitas. Akhir-akhir ini pada sebagian masyarakat tersebar informasi tentang dugaan adanya hubungan antara autisme dengan imunisasiMMR (Measles. Program Imunisasi di Indonesia mencakup antara lain pemberian vaksin untuk meningkatkan kekebalan bayi terhadap penyakit tuberkolosa (vaksin BCG). Program Imunisasi juga mencakup pemberian vaksin untuk meningkatkan kekebalan ibu dan bayi terhadap penyakit tetanus (vaksin TT) dan peningkatan kekebalan anak sekolah dasar terhadap penyakit difteri dan tetanus (vaksin DT). 3.

vaksin MMR digunakan secara luas untuk imunisasi anak. Australia. Pemantauan dilakukan terhadap semua kejadian serius setelah imunisasi dan hasilnya menunjukkan tidak ada laporan kasus autisme yang berhubungan dengan penggunaan vaksin MMR. Autis seolah-olah mewabah ke berbagai belahan dunia. dan Ikatan Dokter Anak Indonesia akan terus memantau dan mengkaji efektifitas serta keamanan semua vaksin yang digunakan di Indonesia. Badan Pengawas Obat Dan Makanan. Di beberapa negara terdapat kenaikan angka kejadian penderita Autisme yang cukup tajam.8 juta anak yang menggunakan 3 juta dosis vaksin MMR. Di negara-negara maju. Laporan terakhir mengenai keamanan vaksin telah pula dilakukan di Finlandia sejak tahun 1982 selama 14 tahun. termasuk vaksin MMR. Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Penelitian yang dilakukan mencakup pengamatan pasca pemasaran (post marketing surveillance) selama 30 tahun terhadap 250 juta dosis vaksin MMR di lebih dari 40 negara di Eropa. 5. Masyarakat dan segenap tenaga kesehatan di Indonesia diharapkan tidak perlu khawatir mengenai keamanan vaksin MMR. Studi tersebut dilakukan pada 1. dan Asia. dan Ikatan Dokter Anak Indonesia mengambil kesimpulan bahwa tidak ada kaitan antara kejadian autisme pada anak dengan imunisasi MMR.Obat Jadi (KOMNAS POJ). Imunisasi Penyebab Autis ? Kekawatiran Terhadap Thimerosal Dan Autis “Dr Widodo Judarwanto SpA” Dari waktu ke waktu jumlah penyandang spektrum Autis tampaknya semakin meningkat pesat. Amerika Utara. Hasil tersebut sesuai dengan Specific hypothesis driven studies yang pernah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan kajian tersebut diatas. Keamanan vaksin MMR telah dibuktikan dengan berbagai penelitian di luar negeri. Autis 26 . Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial.

bahasa. Penyakit tersebut adalah hepatitis B. thimerosal juga digunakan sebagai agen inaktivasi pada pembuatan beberapa vaksin. Thimerosal atau Thiomersal adalah senyawa merkuri organik atau dikenal sebagai sodium etilmerkuri thiosalisilat. Selain sebagai bahan pengawet. Difteri. Pada dosis tinggi. yang mengandung 49. Kontroversi yang terjadi akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan hubungan Autis dengan imunisasi anak.000 – 15. perilaku. dan dapat merusak otak. seperti pertusis aseluler atau pertusis ”whole-cell”.6% merkuri. Tetanus. Senyawa merkuri ini mudah sekali menembus sawar darah otak. Memang terdapat teori atau kesaksian yang menunjukkan bahwa Autis dan berhubungan dengan thimerosal. FDA (Food and Drug Administration).000 orang. komunikasi dan interaksi sosial. EPA (US Enviromental Protection Agency). Akibatnya. anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk menghindari penyakit-penyakit justru yang lebih berbahaya. dan ATSDR Amerika Serikat (Agency 27 . Food and Drug Administration (FDA) menetapkan peraturan penggunaan thimerosal sebagai bahan pengawet vaksin yang multidosis untuk mencegah bakteri dan jamur. WHO (Worls Health Organization). Banyak orang tua menolak imunisasi karena mendapatkan informasi bahwa beberapa jenis imunisasi khususnya kandungan Thimerosal dapat mengakibatkan Autis.000 anak dibawah 15 tahun. Thimerosal yang merupakan derivat dari etilmerkuri. produk biologis atau produk farmasi lainnya. sangat efektif dalam membunuh bakteri dan jamur dan mencegah kontaminasi bakteri terutama pada kemasan vaksin multidosis yang telah terbuka. merkuri dan metabolitnya seperti etilmerkuri dan metilmerkuri bersifat nefrotoksis dan neurutoksis. Kepustakaan lain menyebutkan angka kejadian autis 10-20 kasus dalam 10.adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif. Bahan ini digunakan sejak tahun 1930. Di Amerika Serikat disebutkan Autis terjadi pada 60. Banyak penelitian yang dilakukan secara luas ternyata membuktikan bahwa Autis tidak berkaitan dengan thimerosal. Vaksin tunggal tidak memerlukan bahan pengawet. pertusis. TBC dan sebagainya. sebagai bahan pengawet dan stabilizer dalam vaksin.

Penelitian pada binatang ditemukan efek neurotoksik etilmerkuri dan metil merkuri. National Centre for Register-Based Research. Department of Psychiatric Demography.Denmark. Pendapat yang mendukung Autis berkaitan dengan Thimerosal : Terdapat beberapa teori. Sedangkan metilmerkuri lebih lama berada di dalam tubuh.47 ug/kg berat badan/hari. berkesaksian bahwa anaknya terkena autis setelah diberi imunisasi Penelitian dan rekomendasi yang menentang Thimerosal menyebabkan Autis Sedangkan penelitian yang mengungkapkan bahwa Thimerosal tidak mengakibatkan Autis juga lebih banyak lagi. penelitian dan kesaksian yang mengungkapkan Autisme mungkin berhubungan dengan imunisasi yang mengandung Thimerosal.1 – 0. Copenhagen. Aarhus. Beberapa orang tua penderita Autis di Indonesiapun. Saline Bernard adalah perawat dan juga orang tua dari seorang penderita Autisme bersama beberapa orang tua penderita Autis lainnya melakukan pengamatan terhadap imunisasi merkuri. Etilmerkuri hanya mempunyai paruh waktu singkat di dalam tubuh. University of Aarhus. sehingga kadar merkuri yang dikandung ikan laut tersebut mencapai 11 mcg/kg dan kerang 36 mcg/kg (batas toleransi kontaminasi sekitar 1 mcg/kg). Department of Epidemiology and Social Medicine. Toksisitas merkuri pertama kali dilaporkan tahun 1960 di Minamata Jepang. 28 . University of Aarhus.for Toxis Substances and Disease Registry) mengeluarkan rekomendasi tentang batasan paparan etilmerkuri yang masih bisa ditoleransi antara 0. Denmark Institute for Basic Psychiatric Research. State Serum Institute.5 jam. Mereka bersaksi di depan US House of Representatif (MPR Amerika) bahwa gejala yang diperlihatkan anak Autis hampir sama dengan gejala keracunan merkuri. Hal ini menunjukkan bahwa merkuri dapat menembus sawar darah otak. Madsen dkk dari berbagai intitusi di denmark seperti Danish Epidemiology Science Centre. Kandungan yang ada di dalam vaksin adalah etilmerkuri bukan metilmerkuri. Konsumsi ikan laut yang tercemari limbah industri. Risskov. sekitar 1. Department of Medicine. Kreesten M. Psychiatric Hospital in Aarhus. selanjutnya akan dibuang melalui saluran cerna. Ditemukan kadarnya di dalam otak cukup tinggi pada metil merkuri.

Swedia. Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003. Seattle. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian Thimerazol dengan Autis. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita Autis malah meningkat drastis. University of Washington. dalam penelitiannya menyimpulkan tidak terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut. urin dan darah anak Autis. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitis secara bermakna. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autisme di California. WA. menunjukkan manifestasi klinis autis sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Department of Epidemiology. dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi Thimerosal. Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan). Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. menungkapkan bahwa Thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Sedangkan Aschner. Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2 986 654 anak pertahun didapatkan 440 kasus autis. Menurut penelitian Eto. Disimpulkan bahwa pemberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autis. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2000 anak dengan autis. Pichichero melakukan penelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksin yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi 29 . School of Public Health and Community Medicine.Denmark mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Melalui forum National Academic Press tahun 2001. Stehr-Green P dkk. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian Thimerosal pada Autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.

Pada penderita Autis tampaknya didapatkan adanya gangguan metabolisme metalotionin. Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentang Thimerosal tidak mengakibatkan Autis secara epidemiologis lebih bisa dipercaya untuk menunjukkan sebab akibat. salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja. Melalui metabolisme metalotionin pada tubuh anak. Walaupun paparan merkuri terjadi pada setiap anak. yaitu thimerosal tidak mengakibatkan Autis. Hal ini juga menambah keyakinan bahwa memang Thimerosal dalam vaksin memang benar aman. Hanya menunjukan kemungkinan hubungan tidak menunjukkan sebab akibat. tidak mengakibatkan gangguan. Selain itu masih banyak lagi peneliti melaporkan hasil yang sama. meskipun anak tersebut menerima merkuri dalam batas yang masih ditoleransi. Beberapa institusi atau badan kesehatan dunia yang bergengsi pun telah mengeluarkan rekomendasi untuk tetap meneruskan pemberian imunisasi MMR. Bagaimana sikap kita sebaiknya ? Bila menyimak dan mengetahu kontroversi tersebut tanpa memahami dengan jelas. Bila terpengaruh oleh pendapat yang mendukung keterkaitan Autis dan imunisasi tanpa melihat fakta penelitian lainnya yang lebih jelas. Setelah itu dilakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Laporan beberapa penelitian dan kasus jumlahnya relatif tidak bermakna dan dalam populasi yang kecil. Peristiwa tersebut mungkin berkaitan dengan teori genetik. maka masyarakat awam bahkan beberapa klinisipun jadi bingung. Gangguan itu mengakibatkan peningkatan logam berat dalam tubuh yang dapat mengganggu otak. Maka. logam 30 .thimerosal. kaya sistein dan memiliki kemampuan untuk mengikat logam. Gangguan metabolisme tersebut dapat mengakibatkan gangguan ekskresi (pengeluaran) logam berat (merkuri dll) dari tubuh anak autis. akan mengabaikan imunisasi dengan segala akibatnya yang jauh lebih berbahaya pada anak. namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala Autis. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah. Pada anak sehat bila menerima merkuri dalam batas toleransi. Metalothionein merupakan suatu rantai polipeptida liner tediri dari 61-68 asam amino.

Dalam hal seperti ini. tetapi tidak perlu dikawatirkan pada anak normal lainnya. Penelitian atau pendapat beberapa kasus yang mendukung keterkaitan Autisme dengan imunisasi. maka yang kedua diberikan antara bulan ketiga dan keempat. yang kedua diberikan antara bulan pertama dan kedua. • Kedua : Kalau yang pertama diberikan segera setelah lahir. Dengan menghindari imunisasi. tanda dan gejala autis sejak dini. Bila anak terkena infeksi yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi. Bila anak tidak beresiko atau tidak menunjukkan tanda tanda dini terjadinya Autis maka tidak perlu kawatir untuk mendapatkan imunisasi tersebut. harus dipahami dengan baik resiko. akan menimbulkan permasalahan kesehatan yang baru pada anak kita. Sangatlah bijaksana untuk lebih waspada. Tetapi pada anak Autis terjadi gangguan metabolisme metalotionin. Tetapi bila ibu bukan pembawa virus. beresiko terjadi akibat berbahaya dan dapat mengancam jiwa.Kejadian itulah yang menunjukkan bahwa imunisasi yang mengandung thimerosal harus diwaspadai pada anak yang beresiko Autis. bila anak sudah mulai tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau perilaku sejak dini. Bila yang pertama diberikan setelah sebulan. Dalam kasus tersebut untuk mendapatkan imunisasi yang mengandung Thimerosal harus berkonsutlasi dahulu dengan dokter anak. Kekawatiran terhadap imunisasi tanpa didasari pemahaman yang baik.berat tersebut dapat dikeluarkan oleh tubuh. tidak boleh diabaikan bergitu saja. bisa diberikan pada kontrol di bulan pertama atau kedua. 31 . Jadwal Pemberian Imunisasi 1. maka vaksin harus diberikan paling lama 12 jam setelah lahir. • Pertama : Bila ibu adalah pembawa virus dalam darahnya. Mungkin harus menunda dahulu imunisasi yang mengandung thimerosal sebelum dipastikan diagnosis Autis dapat disingkirkan. Jadwal pemberian Vaksin Hepatitis B diberikan dalam satu seri yang terdiri dari 3 kali suntik.

• Resiko yang mungkin timbul Seringkali pemberian vaksin ini menimbulkan panas badan ringan atau panas di sekitar bekas suntikan yang diakibatkan oleh komponen pertussis dalam vaksin. Jadwal pemberian Diberikan sebagai satu seri yang terdiri dari 5 kali suntik. komponen pertussis dari vaksin dianjurkan untuk tidak diberikan danhanya DT (difteri & tetanus) saja. Bila setelah mendapatkan vaksin DTP (DTaP) timbul gejala seperti dibawah konsultasikan dengan dokter anak sebelum mendapatkan vaksin lainnya : kejang-kejang dalam 3 s/d 7 hari setelah imunisasi kejangkejang yang makin memburuk dibanding sebelumnya apabila pernah 32 . Untuk itu anda bisa memakai obat penurun panas (Tempra. • • Menunda pemberian Bila anak sakit lebih dari sekedar panas badan ringan. 15 s/d 18 bulan dan terakhir saat sebelum masuk sekolah (4 s/d 6 tahun). • Menunda pemberian : Bila anak sakit lebih dari sekedar panas badan ringan. Biasanya efek samping hanya bagian bekas suntik menjadi kemerah-merahan. Setelah itu direkomendasikan untuk mendapatkan Td setiap 10 tahun. • Resiko yang mungkin timbul Resiko serius yang berkaitan dengan pemberian vaksin HBV sangat jarang terjadi. Untuk yang mendapatkan vaksin pertama setelah usia 1 bulan. Sanmol. 6 bulan. diberikan pada usia antara 6 s/d 18 bulan. Bila anak memiliki kelainan syaraf atau tidak tidak tumbuh secara normal. dll). Setelah pemberian Setelah vaksinasi panas badan anak mungkin naik. dan kompres dengan air hangat bagian bekas suntikan. dan juga daerah sekitar bekas suntikan menjadi merah. Dianjurkan untuk mendapatkan vaksin Td (penguat terhadap difteri dan tetanus) pada usia 11 s/d 12 tahun atau paling lambat 5 tahun setelah imunisasi DTP terakhir. 4 bulan. Bila ada reaksi alergi serius terhadap suntikan vaksin. Yaitu pada usia 2 bulan. 2.• Ketiga : Diberikan pada usia 6 bulan untuk yang mendapatkan vaksin pertama sebelum usia 1 bulan.

POLIO Jadwal pemberian Diberikan pada usia 3 bulan. HIB (Haemophilus Influenza Tipe B) Jadwal pemberian Diberikan pada usia 2 bulan. 5 bulan. 4. maka pemberian vaksin Hib berikutnya harus dihentikan. tenggorokan atau muka panas badan lebih dari 40 derajat Celcius (105 derajat Fahrenheit) pingsan dalam 2 hari pertama setelah imunisasi terus menangis lebih dari 3 jam di 2 hari pertama setelah imunisasi • Setelah pemberian : Anak mungkin mengalami panas badan ringan dan atau kemerah-merahan di sekitar bekas suntikan. • Setelah pemberian Persiapkan obat-obatan untuk penurun panas badan ringan. Imunisasi pertama dan kedua adalah IPV sedang dua terakhir dengan OPV. • Resiko yang mungkin timbul Sangat sedikit sekali efek sampingan yang pernah ditemukan. 4 bulan. 12 s/d 18 bulan dan saat sebelum masuk sekolah (4 s/d 6 tahun). Segera hubungi dokter anak anda apabila timbul gejalagejala seperti diatas. kecuali kemerah-merahan dan nyeri pada bagian bekas suntikan atau panas badan ringan. Untuk itu konsultasikan dengan dokter anak anda mana yang terbaik untuk kasus anak anda. Setelah itu diberikan sebagai penguat pada usia 12 s/d 15 bulan. 33 . Untuk mencegah panas badan kadangkala dokter anak memberikan resep obat sebelum imunisasi. 4 bulan dan sekitar 6 bulan. 3. Bila ada reaksi alergi setelah imunisasi.mengalaminya reaksi alergi kesulitan makan atau gangguan pada mulut. Namun apabila tidak ada gangguan dianjurkan untuk mendapatkan vaksin semuanya secara IPV. • Menunda pemberian Bila anak sakit lebih dari sekedar panas badan ringan.

• Setelah pemberian Untuk IPV. BCG Jadwal pemberian Diberikan satu kali pada usia 2 bulan. apabila tidak ada gejala lain yang serius. • Menunda pemberian Apabila anak memiliki gangguan kekebalan tubuh. 34 . • • • Resiko yang mungkin timbul Jarang ditemui adanya reaksi berlebihan terhadap vaksin ini. 5. untuk anak-anak tipe ini harus dihindari kontak dengan anak lain yang baru saja menerima vaksin OPV sampai sekitar 2 minggu setelah vaksinasi. sering menimbulkan panas badan ringan dan nyeri atau kemerah-merahan di sekitar bekas suntikan. Ini untuk mencegah penularan virus polio hidup yang terkandung dalam vaksin OPV ke anda. Setelah pemberian Seperti vaksin lainnya cukup siapkan obat penurun panas. vaksin IPV lebih baik daripada OPV. 6. Untuk OPV tidak ada gejala pasca imunisasi apapun. Sebagai catatan.• Resiko yang mungkin timbul Bagi anda yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio pada saat balita dianjurkan untuk imunisasi dengan IPV sebelum anak anda mendapatkan vaksin polio secara OPV. Untuk itu sebaiknya diberikan vaksin tipe OPV. Vaksin IPV tidak boleh diberikan kepada anak yang memiliki alergi serius terhadap antibiotika neomycin atau streptomycin. • Resiko yang mungkin timbul Jarang sekali timbul masalah serius akibat vaksin ini. Menunda pemberian Bila anak sakit lebih dari sekedar panas badan ringan. MMR / CAMPAK Jadwal pemberian Diberikan sebagai satu seri yang terdiri dari dua kali pemberian. Yaitu pada usia 12 s/d 15 bulan dan saat sebelum masuk sekolah (4 s/d 6 tahun) atau pada usia 11 s/d 12 tahun.

HEPATITIS B (DOSIS I) HEPATITIS B (DOSIS II) DPT dan POLIO (DOSIS I) DPT dan POLIO (DOSIS II) DPT dan POLIO (DOSIS III) POLIO (DOSIS IV) HEPATITIS (DOSIS III) CAMPAK MMR DPT (DOSIS IV). Bila memiliki alergi terhadap telur atau antibiotika neomycin.• Menunda pemberian Bila anak sakit lebih dari sekedar panas badan ringan. Bila memiliki gangguan kekebalan tubuh akibat kanker atau sedang menjalani terapi kemo atau radiasi. Tabel jadwal imunisasi umum JADWAL PEMBERIAN Waktu Lahir Umur 1 bulan Umur 2 bulan Umur 3 bulan Umur 4 bulan Umur 5 bulan Umur 6 bulan Umur 9 bulan Umur 15 bulan Umur 18 bulan Kelas 1 SD JENIS VAKSIN BCG. apabila tidak ada gejala lain yang serius. Bila menerima gamma globulin dalam selang waktu 3 bulan sebelum imunisasi. • Setelah pemberian Seperti vaksin lainnya cukup siapkan obat penurun panas. POLIO (DOSIS V) DT (DOSIS I dan II) 35 .

Kesimpulan Imunisasi bertujuan untuk merangsang system imunologi tubuh untuk membentuk antibody spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. tetanus. Berdasarkan hasil penelitian Ibrahim (1991). difteri dan pertusis (batuk rejan). menyatakan bahwa bila imunisasi dasar dilaksanakan dengan lengkap dan teratur. Sedangkan anak yang sama sekali tidak diimunisasi tentu tingkat kekebalannya lebih rendah lagi. Tanpa pemberian vaksin. campak Jerman. DPT 3 kali. maksimal hanya dapat memberikan perlindungan 25-40%. maka imunisasi dapat menguragi angka kesakitan dan kematian balita sekitar 80-95%. (Musa. Polio 4 kali dan Campak 1 kali) pada waktu anak berusia kurang dari 11 bulan. Imunisasi terhadap difteri dan pertusis dimulai 36 . Imunisasi dasar yang tidak lengkap. Pengertian teratur dalam hal ini adalah teratur dalam mentaati jadwal dan jumlah frekuensi imunisasi. campak. Walaupun cakupan imunisasi tidak sama dengan 100% tetapi sudah mencapai 70% maka anal-anak yang tidak mendapatkan imunisasi pun akan terlindungi oleh adanya suatu “herd immunity”. Pemberian tetanus toksoid pada ibu hamil dapat mencegah terjadinya tetanus neonatorum pada bayi baru lahir yang ditolong dengan tidak steril dan pemotongan tali pusat memakai alat tidak steril. jumlah kematian anak-anak yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut meningkat dan banyak orang yang mengalami komplikasi kronik setelah menderita penyakit tersebut. influenza.BAB III PENUTUP Imunisasi merupakan hal yang terpenting dalam usaha melindungi kesehatan anak anda. Imunisasi bekerja dengan cara merangsang timbulmya kekebalan tubuh yang akan melindungi anak anda dari penyakit-penyakit sebagai berikut: polio. sedangkan yang dimaksud imunisasi dasar lengkap adalah telah mendapat semua jenis imunisasi dasar (BCG 1 kali. 1985). gondongan.

Penyebab kejadian ikutan pasca imunisasi terbagi atas empat macam. Imunisasi campak diberikan 1 kali akan memberikan perlindungan seumur hidup. Saran 1. nodelle/ pembengkakan dan indurasi pada lokasi suntikan. gejala gangguan pencernaan. Gejala sistemik antara lain panas. Tingkat pendidikan ibu tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada bayi. 1991). Gejala klinis KIPI dapat dibagi menjadi dua yaitu gejala lokal dan sistemik. 4. Imunisasi poliomyelitis dapat memberikan perlindungan seumur hidup apabila telah diberikan 4 kali. 3. Yang berarti bahwa semakin baik motivasi ibu akan berpengaruh meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi. Motivasi ibu mempunyai pengaruh positip terhadap kelengkapan imunisasi dasar. Jarak rumah ke Puskesamas tidak mempunyai pengaruh terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada bayi. yaitu kesalahan program/tehnik pelaksanaan imunisasi. Gejala lokal seperti nyeri. induksi vaksin. (Ibrahim. kemerahan. 37 .sejak umur 2-3 bulan dengan selang 4-8 minggu sebanyak 3 kali akan memberikan perlindungan mendekati 100% sampai anak berusia 1 tahun. Vaksin sebagai suatu produk biologis dapat memberikan efek samping yang tidak diperkirakan sebelumnya dan tidak selalu sama reaksinya antara penerima yang satu dengan penerima lainnya. rewel dan menangis yang berkepanjangan. Efek samping imunisasi yang dikenal sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau Adverse Events Following Immunization (AEFI) adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga berhubungan dengan imunisasi. yang berarti bahwa semakin baik pengetahuan ibu tentang manfaat imunisasi akan berpengaruh meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi. 2. faktor kebetulan dan penyebab tidak diketahui. lemas. Pengetahuan ibu mempunyai pengaruh positip terhadap kelengkapan imunisasi dasar.

meneliti dengan variabel bebas yang baru.5. lebih mespesifikkan jenis imunisasi. Peneliti selanjutnya Diharapkan dapat menambah jumlah responden. Diharapkan peneliti selanjutnya agar meneliti dengan menggunakan metode eksperimen dalam bentuk penyuluhan kesehatan. Berupaya untuk meningkatan motivasi ibu dengan memberikan informasi tentang imunisasi dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan bayi dan meningkatkan kelengkapan imunisasi bayi. Agar mempunyai motivasi yang besar dalam meningkatkan kesehatan bayi dan keluarganya 8. Ibu yang mempunyai bayi Agar lebih meningkatkan pengetahuan tentang manfaat imunisasi bagi anaknya. 7. 6. 9. 10. Dapat menjadi informasi dan data sekunder dalam pengembangan penelitian selanjutnya. 38 . dsb. Tenaga Kesehatan Berupaya untuk meningkatan pengetahuan ibu tentang manfaat imunisasi dasar bagi bayi sehingga ibu yang mempunyai bayi berusaha meningkatkan kelengkapan imunisasi bayi melalui penyuluhanpenyuluhan di masyarakat.

wordpress.pdf 3.com/2008/05/12/imunisasi-dan-faktor-yangmempengaruhinya/ 5.net/kesehatan/C5_1. Agung.com/articles.infeksi.go.2/imuni sasi. http://m. 2. http://www. http://vinadanvani.id/888/1/2008v1n1-02. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa.google.litbang. http://www. Statistika Analisis Hubungan Kausal Berdasarkan Data Kategorik. I Gusti Ngurah.ac.depkes. 2001.com/articles.wordpress.htm 6.com/2008/02/20/jenis-imunisasi-yangdiawajibkan-dan-dianjurkan/ 7. http://eprints.php?lng=in&pg=15&id=4 4.com 39 .32_No.ums.infeksi.ictjogja. www.id/~djunaedi/documentation/vol. http://syehaceh.php?lng=en&pg=15&id=13 8. http://www.DAFTAR PUSTAKA 1.pdf 9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful