P. 1
Demokrasi Di Negara-Negara Muslim

Demokrasi Di Negara-Negara Muslim

|Views: 857|Likes:

More info:

Published by: Riri Malikah Nasution on Apr 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

DEMOKRASI DI NEGARA-NEGARA ISLAM

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas: Islam dalam Politik Internasional

Dosen Pengajar: Khairul Muqtafa

Oleh: Orryzaid 202000039

Shintia Pramita Dewi 209000060 Siti Octrina Malikah 209000061 Nargis Nafitry Daulay 209000171 209000301

FAKULTAS FALSAFAH DAN PERADABAN PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

UNIVERSITAS PARAMADINA

Memaknai Wacana Demokrasi Apakah arti dari ³demokrasi´? Istilah ini memiliki daya tarik yang sangat luar biasa. Semakin banyak dibicarakan, semakin menarik dan tak ada habis-habisnya. Sepintas ia bersifat elitis, tapi semakin kita menyelami semakin kita tahu bahwa ia adalah kehidupan kita sendiri. Itulah yang kita kenal sekarang sebagai ³living democracy´. Walaupun demikian, tak mudah untuk memaknai demokrasi secara memuaskan. Jika kita mengambil dan memaknainya hanya dalam satu arti, berarti kita terjebak dalam satu arus pemikiran. Oleh karena itulah, diperlukan pemahaman substansif agar demokrasi bisa diterima sebagai suatu keniscayaan, untuk kemudian diperjuangkan dan dipertahankan. Bagaimanakah demokrasi ini diperbincangkan secara hangat oleh sarjana-sarjana muslim? Bagaimana wujud demokrasi dalam Islam di zaman dahulu? Apakah ada perbedaan antara pengalaman demokrasi Islam di awal dengan pengalaman demokrasi Barat di awal? Demokrasi adalah kedaulatan rakyat, apakah hal itu bertentangan dengan prinsip kedaulatan Tuhan yang dipahami oleh sebagian kaum Muslim?

Definisi Demokrasi Sejumlah Tokoh Di dalam bab ini, dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh sejumlah tokoh yang terlibat dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Center for the Study of Islam and Democracy (CSID). Oleh Dr. Ali Nawaz Memon mengemukakan definisi demokrasi ialah suatu bentuk pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, dilaksanakan secara langsung oleh mereka, atau oleh wakil terpilih dalam sistem pemilu yang bebas. Beberapa kelompok tradisionalis keberatan dengan definisi yang dikemukakan ini karena dikhawatirkan akan merampas kekuasaan absolut Tuhan. Namun, bahwasanya, harus ada orang yang

mengimplementasikan hukum-hukum Tuhan. Sarjana muslim terkemuka lainnya mengungkapkan bahwasanya untuk menjalankan hukum-hukum Tuhan di dunia, diperlukan adanya pemimpin. Dr.Umar Chapra, menyebutkan

empat kriteria dasar bagi pemerintahan yang abash dalam Islam. Pertama, pemerintah harus bertanggungjawab kepada Allah dan syariah-Nya. Kedua, pemerintah dipercaya dan bertanggungjawab kepada rakyat dengan memenuhi kepercayaan yang telah mereka berikan. Ketiga, harus ada musyawarah dengan melibatkan partisipasi masyarakat seluas mungkin, baik secara langsung maupun tidak. Keempat, harus ada keadilan dan persamaan bagi semua kalangan di hadapan hukum.

Histori di Masa Lalu Ada suatu kekhawatiran, ketika Nabi Muhammad SAW terbaring sakit. Banyak kaum muslim yang khawatir akan timbulnya perpecahan dan akhirnya meminta Muhammad untuk mengangkat penggantinya. Namun, Muhammad menolaknya seraya menjelaskan bahwa tugasnya sebagai Nabi telah selesai. Kebijakan Muhammad SAW saat itu memberikan dua poin yang penting, pertama apabila Muhammad menunjuk penggantinya, maka orang tersebut akan mengklaim dirinya tidak bisa berbuat salah dan akan gampang menyalahgunakan kekuasaan. Dengan demikian akan sangat sulit, kalau tidak boleh dikatakan mustahil, untuk dapat menghentikannya. Kedua, sistem politik sekarang ini semakin berkembang, apabila Nabi Muhammad SAW telah menetapkan satu format tertentu sebelum beliau meninggal, maka akan merugikan bagi masa depan generasi muslim. Para sahabat memutuskan untuk mencari tokoh yang dapat memimpin umat Islam. Suksesi kepemimpinan pada waktu itu dilakukan para sahabat dengan musyawarah (syura) dan pemilihan. Masyarakat Islam dengan sukarela dan tanpa paksaan mengakui dan menyetujui empat sahabat Rasulullah, secara berurutan, Abu Bakar as-Siddiq, Umat bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, menjadi Khulafa' ar-Rasyidin (para pengganti yang memberi bimbingan). Pemilihan dan musyawarah dilakukan sesuai dengan kondisi saat itu. Sejak saat itulah, kemudian muncul istilah syura dalam kehidupan politik, sosial, dan kemasyarakatan umat Islam. Syura berarti permusyawaratan, hal bermusyawarah atau konsultasi.

Dalam surat Ali Imran ayat 159 Allah SWT berfirman, ''Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan bermusyawarlah (syawir) dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian apabila telah berbulat tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang betawakal kepada-Nya.'' Dengan ayat itu, Islam menjadikan syura sebagai prinsip utama dalam menyelesaikan masala-masalah sosial, politik dan pemerintahan. Syura merupakan suatu sarana dan cara memberi kesempatan kepada anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan yang mengikat, baik dalam bentuk peraturan hukum maupun kebijaksanaan politik. Hasil yang didapat saat itu ialah, Abu Bakar sebagai khalifah merupakan kehendak mayoritas, walaupun ada sebagian orang yang tidak setuju. Muncul bentuk oposisi politik saat itu juga, ketika sebagian pemimpin muslim lainnya termasuk Ali bin Abi Thalib tidak setuju dengan keputusan itu. Sayangnya, kepemimpinan telah terpilih dan para pemimpin muslim saat itu tidak melihat jauh ke depan akan bahaya konflik dan pertumpahan darah yang terjadi karena mereka tidak mengembangkan sistem check and balance yang bisa menjamin bahwa seorang penguasa tidak memiliki kekuasaan yang berlebihan atau tidak terlalu melenceng jauh dari aspirasi mayoritas. Mereka mempercayai bahwa Abu Bakar memiliki pengetahuan, keahlian, dan kebijaksanaan untuk tidak keluar dari ajaran Allah dan Rasul-Nya. Tidak berapa lama, Abu Bakar meninggal karena sakit dan kembali bermusyawarah untuk menentukan pemimpin. Saat itu yang terpilih ialah sahabat nabi, Umar bin Khattab namun lagi-lagi tidak terdapat kesepakatan bulat dan mengancam terbukanya oposisi. Para pioneer muslim saat itu, lagi-lagi tidak menyadari bahwa adanya ketidaksepakatan politik akan mengancam apabila tidak secepatnya diorganisir atau diberi saluran politik sesuai dengan institusi politik dengan petunjuk dan sasaran yang jelas. Akhirnya, dalam sejarah yang terjadi adalah Umar dibunuh. Beberapa pemimpin saat itu setelah Umar juga dibunuh. Sejak saat itu, sejarah Islam terajut dengan kebebasan, kediktatoran, kerusuhan, dan persatuan. Apabila ada satu orang atau kelompok kecil masyarakat mempunyai

monopoli terhadap kekuasaan politik, selalu berakibat ketakutan, intimidasi, dan tirani. Dengan sedikit pengecualian, kaum Muslim diperintah oleh para diktator dan tiran yang memerintah dengan ancaman pedang. Satu-satunya cara melawan mereka adalah dengan revolusi. Kaum muslim belajar bersikap toleran terhadap sedikit penyalahgunaan kekuasaan oleh para penguasa selama para penguasa itu tidak terlalu jauh. Politik menjadi urusan elite. Setelah berabad-abad dalam keagungan peradaban dan perkembangan, kaum Muslim mulai mundur pada hampir semua level pada abad ke-15, bersamaan dengan kebangkitan Eropa. Sebagian besar negara-negara Eropa dan Kristen telah lelah terhadap penguasa mereka yang terlalu dekat dan terikat dengan gereja. Di dunia muslim, para penguasa dan ulama-ulama umumnya adalah berbeda yang beroperasi secara independen satu sama lain. Masjid dijalankan melalui yayasan dan mendapat dukungan dan bantuan dari penguasa. Orang-orang Eropa mengadaptasi hal tersebut terhadap raja-raja mereka dan ingin agar hal itu dapat pula

direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pertanggungjawaban pemerintahan.

Sumber: Lewis,Bernard. ISLAM LIBERALISME DEMOKRASI Membangun Sinerji Warisan Sejarah,Doktrin dan Konteks Global. Jakarta: Paramadina. 2002.

ISLAM DAN DEMOKRASI
Kebangkitan agama dan demokratisasi merupakan dua hal yang paling penting di penghujung abad ke 20. Di beberapa wilayah, pergerakan kebangkitan agama bertepatan dan bahkan terkadang memperkuat sistem politik demokratis namun di beberapa wilayah lainnya kedua dinamika ini mengalami konflik. Revolusi Islam yang menjatuhkan monarki Iran pada tahun 1979 merupakan revolusi Islam pertama yang sangat terkenal melawan sistem politik otoriter modern di kuarter akhir abad ke 20. Di awal 1990an, pergerakan Islam yang lain, Islamic Salvation Front (FIS), ditekan setelah tindakan menantangnya terhadap rezim otoriter yang berkuasa yaitu Front de Liberation Nationale (FLN) di Algeria di mana ia memaksa FLN untuk memperbolehkan pemilihan umum terbuka. Di banyak wilayah dunia Muslim, salah satu isu paling krusial untuk memproyeksi masa depan politik adalah hubungan antara kebangkitan Islam dan pembangunan sistem politik demokratis.

Jika kita mengulas sedikit mengenai Islam dan politik maka akan ditemukan banyak jenis sistem politik yang ada di dunia Muslim di awal zaman modern ini. Beberapa bangsa yang besar dipimpin oleh Sultan, seperti Kerajaan Ottoman di Eropa dan Timur Tengah dan Kerajaan Moghul di India. Di Iran, kepemimpinan berada di tangan Shah. Bahkan di beberapa negara Muslim lain pemerintahan dipimpin oleh Imam, seperti di Yaman, ataupun chieftains di negaranegara Teluk Persia. Semua bentuk negara-negara menghadapi perubahan sosiopolitik dari tranformasi yang terjadi di dunia modern ini. Evolusi struktural negara-negara di dunia Muslim mencakup keduanya, baik Islam maupun politik. Sistem politik ditranformasikan oleh pemimpin-pemimpin besar yang membawa perubahan misalnya seperti Muhammad Ali di Mesir pada awal abad 19 dan Mustafa Kemal Ataturk di Turki paska Perang Dunia II. Hubungan antara Islam dan politik telah menjadi tema besar segala perubahan ini dalam dua setengah abad terakhir. Pada abad 20, penegasan dan penguatan kembali terhadap pergerakan baru Islam mulai bermunculan. Ada perbedaan struktur dan pendekatan dari pergerakan Islam terdahulu dan kemunculan organisasi Islam gaya baru. Ikhwanul Muslimin, didirikan oleh Hasan al-Banna di mesir pada tahun 1928, dan Jamaat-I islami, didirikan oleh Abu al-Ala Mawdudi di Asia Selatan pada tahun 1941, adalah dua contoh utama dari pergerakan Islam yang baru ini. Kedua kelompok ini bukan memperoleh dukungan dari elemen konservatif di masyarakat melainkan mereka mendapat dukungan terbesar dari elemen modern di lingkungan mereka. Program-program mereka ditujukan untuk pembentukan struktur yang bisa berfungsi dalam cara Islam yang secara otentik merupakan konteks modernitas. Pada pertengahan abad 20, pergerakan Islam gaya baru seperti brotherhood dan jama¶at sudah cukup terlihat meskipun belum begitu kuat. Konsep utama dari pemikiran dan tindakan politik berada pada pengarahan untuk meningkatkan program dan perspektif sekularisme. Dasar dari transformasi yang luar biasa ini adalah isu-isu yang bermula pada pola adaptasi konsepkonsep islam menjadi modern, realita sosiopolitik yang dipengaruhi Barat. Dalam tradisi Barat, demokrasi didasarkan pada penekanan bahwa rakyat seharusnya menjadi ³pemerintah´ bagi dirinya sendiri, dan wakil rakyat seharusnya menjadi pengendali yang bertanggung jawab atas tugasnya. Karena alasan inilah maka lembaga legislatif di dunia

Barat dianggap sebagai pioner dan garda depan demokrasi. Lembaga legislatif benar-benar menjadi wakil rakyat dan berfungsi sebagai agen rakyat yang aspiratif dan distributif. Keberadaan wakil rakyat didasarkan atas pertimbangan, bahwa tidak mungkin semua rakyat dalam suatu negara mengambil keputusan karena jumlahnya yang terlalu besar. Oleh sebab itu kemudian dibentuk dewan perwakilan. Di sini lantas prinsip amanah dan tanggung jawab (credible and accountable) menjadi keharusan bagi setiap anggota dewan. Sehingga jika ada tindakan pemerintah yang cenderung mengabaikan hak-hak sipil dan hak politik rakyat, maka harus segera ditegur. Itulah perlunya perwakilan rakyat yang kuat untuk menjadi penyeimbang dan kontrol pemerintah. Secara normatif, Islam menekankan pentingnya ditegakkan amar ma¶ruf nahi munkar bagi semua orang, baik sebagai individu, anggota masyarakat maupun sebagai pemimpin negara. Doktrin tersebut merupakan prinsip Islam yang harus ditegakkan dimana pun dan kapan saja, supaya terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera. Nah, bagaimanakah konsep demokrasi Islam itu sesungguhnya? Jika secara normatif Islam memiliki konsep demokrasi yang tercermin dalam prinsip dan idiom-idiom demokrasi, bagaimana realitas empirik politik Islam di negara-negara Muslim? Bagaimana dengan pengalaman demokrasi di negara-negara Islam? Benarkah Samuel Huntington dan F. Fukuyama, yang menyatakan bahwa realitas empirik masyarakat Islam tidak kompatibel dengan demokrasi? Tulisan ini ingin mengkaji demokrasi dalam perspektif Islam dari aspek elemen-elemen pokok yang dikategorikan sebagai bagian terpenting dalam penegakan demokrasi, dan hubungannya dengan realitas demokrasi dalam negara yang berbasis mayoritas Islam. Jika dilihat basis empiriknya, menurut Aswab Mahasin (1993:30), agama dan demokrasi memang berbeda. Agama berasal dari wahyu sementara demokrasi berasal dari pergumulan pemikiran manusia. Dengan demikian agama memiliki dialektikanya sendiri. Namun begitu menurut Mahasin, tidak ada halangan bagi agama untuk berdampingan dengan demokrasi. Dalam perspektif Islam elemen-elemen demokrasi meliputi: syura, musawah, adalah, amanah, masuliyyah dan hurriyyah, bagimana makna masing-masing elemen tersebut?

Pertama, Syura merupakan suatu prinsip tentang cara pengambilan keputusan yang secara eksplisit ditegaskan dalam al-Qur¶an. Misalnya saja disebut dalam QS. As-Syura:38 dan Ali Imran:159 Dalam praktik kehidupan umat Islam, lembaga yang paling dikenal sebagai pelaksana syura adalah ahl halli wa-lµaqdi pada zaman khulafaurrasyidin. Lembaga ini lebih menyerupai tim formatur yang bertugas memilih kepala negara atau khalifah (Madani, 1999: 12). Jelas bahwa musyawarah sangat diperlukan sebagai bahan pertimbangan dan tanggung jawab bersama di dalam setiap mengeluarkan sebuah keputusan. Dengan begitu, maka setiap keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah akan menjadi tanggung jawab bersama. Sikap musyawarah juga merupakan bentuk dari pemberian penghargaan terhadap orang lain karena pendapat-pendapat yang disampaikan menjadi pertimbangan bersama. Kedua, al-µadalah adalah keadilan, artinya dalam menegakkan hukum termasuk rekrutmen dalam berbagai jabatan pemerintahan harus dilakukan secara adil dan bijaksana. Tidak boleh kolusi dan nepotis. Arti pentingnya penegakan keadilan dalam sebuah pemerintahan ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam beberapa ayat-Nya, antara lain dalam surat an-Nahl:90; QS. as-Syura:15; al-Maidah:8; An-Nisa¶:58 dst. Betapa prinsip keadilan dalam sebuah negara sangat diperlukan, sehingga ada ungkapan yang ³ekstrim´ berbunyi: ³Negara yang berkeadilan akan lestari kendati ia negara kafir, sebaliknya negara yang zalim akan hancur meski ia negara (yang mengatasnamakan) Islam´. (lihat Madani, 1999:14). Ketiga, al-Musawah adalah kesejajaran, artinya tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari yang lain sehingga dapat memaksakan kehendaknya. Penguasa tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap rakyat, berlaku otoriter dan eksploitatif. Kesejajaran ini penting dalam suatu pemerintahan demi menghindari dari hegemoni penguasa atas rakyat. Dalam perspektif Islam, pemerintah adalah orang atau institusi yang diberi wewenang dan kepercayaan oleh rakyat melalui pemilihan yang jujur dan adil untuk melaksanakan dan menegakkan peraturan dan undang-undang yang telah dibuat. Oleh sebab itu pemerintah memiliki tanggung jawab besar di hadapan rakyat demikian juga kepada Tuhan. Dengan begitu pemerintah harus amanah, memiliki sikap dan perilaku yang dapat dipercaya, jujur dan adil. Sebagian ulama¶ memahami al-musawah ini sebagai konsekuensi logis dari prinsip al-syura dan

al-µadalah. Diantara dalil al-Qur¶an yang sering digunakan dalam hal ini adalah surat alHujurat:13, sementara dalil sunnah-nya cukup banyak antara lain tercakup dalam khutbah wada¶ dan sabda Nabi kepada keluarga Bani Hasyim (Tolchah, 199:26). Keempat, al-Amanah adalah sikap pemenuhan kepercayaan yang diberikan seseorang kepada orang lain. Oleh sebab itu kepercayaan atau amanah tersebut harus dijaga dengan baik. Dalam konteks kenegaraan, pemimpin atau pemerintah yang diberikan kepercayaan oleh rakyat harus mampu melaksanakan kepercayaan tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab. Persoalan amanah ini terkait dengan sikap adil seperti ditegaskan Allah SWT dalam surat an-Nisa¶:58. Karena jabatan pemerintahan adalah amanah, maka jabatan tersebut tidak bisa diminta, dan orang yang menerima jabatan seharusnya merasa prihatin bukan malah bersyukur atas jabatan tersebut. Inilah etika Islam. Kelima, al-Masuliyyah adalah tanggung jawab. Sebagaimana kita ketahui bahwa, kekuasaan dan jabatan itu adalah amanah yang harus diwaspadai, bukan nikmat yang harus disyukuri, maka rasa tanggung jawab bagi seorang pemimpin atau penguasa harus dipenuhi. Dan kekuasaan sebagai amanah ini memiliki dua pengertian, yaitu amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan rakyat dan juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan Tuhan. Seperti yang dikatakan oleh Ibn Taimiyyah (Madani, 1999:13), bahwa penguasa merupakan wakil Tuhan dalam mengurus umat manusia dan sekaligus wakil umat manusia dalam mengatur dirinya. Dengan dihayatinya prinsip pertanggung jawaban (al-masuliyyah) ini diharapkan masing-masing orang berusaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi masyarakat luas. Dengan demikian, pemimpin/penguasa tidak ditempatkan pada posisi sebagai sayyid al-ummah (penguasa umat), melainkan sebagai khadim al-ummah (pelayan umat). Maka dengan demikian, kemaslahatan umat wajib senantiasa menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan oleh para penguasa, bukan sebaliknya rakyat atau umat ditinggalkan. Keenam, al-Hurriyyah adalah kebebasan, artinya bahwa setiap orang, setiap warga masyarakat diberi hak dan kebebasan untuk mengekspresikan pendapatnya. Sepanjang hal itu dilakukan dengan cara yang bijak dan memperhatikan al-akhlaq al-karimah dan dalam rangka al-

amr bi-µl-ma¶ruf wa an-nahy µan al-µmunkar, maka tidak ada alasan bagi penguasa untuk mencegahnya. Bahkan yang harus diwaspadai adalah adanya kemungkinan tidak adanya lagi pihak yang berani melakukan kritik dan kontrol sosial bagi tegaknya keadilan. Jika sudah tidak ada lagi kontrol dalam suatu masyarakat, maka kezaliman akan semakin merajalela. Jika suatu negara konsisten dengan penegakan prinsip-prinsip atau elemen-elemen demokrasi di atas, maka pemerintahan akan mendapat legitimasi dari rakyat. Dengan demikian maka roda pemerintahan akan berjalan dengan stabil. Watak ajaran Islam sebagaimana banyak dipahami orang adalah inklusif dan demokratis. Oleh sebab itu doktrin ajaran ini memerlukan aktualisasi dalam kehidupan kongkret di masyarakat. Pertanyaannya kemudian, bagaimana realitas demokrasi di dunia Islam dalam sejarahnya? Dalam realitas sejarah Islam memang ada pemerintahan otoriter yang dibungkus dengan baju Islam seperti pada praktek-praktek yang dilakukan oleh sebagian penguasa Bani µAbbasiyyah dan Umayyah. Tetapi itu bukan alasan untuk melegitimasi bahwa Islam agama yang tidak demokratis. Karena sebelum itu juga ada eksperimen demokratisasi dalam sejarah Islam, yaitu pada masa Nabi dan khulafaurrasyidin (lihat Mahasin, 1999:31). Memang harus diakui, karena kepentingan dan untuk melanggengkan status quo raja-raja Islam, demokrasi sering dijadikan tumbal. Seperti pengamatan Mahasin (1999:31), bahwa di beberapa bagian negara Arab misalnya, Islam seolah-olah mengesankan pemerintahan raja-raja yang korup dan otoriter. Tetapi realitas seperti itu ternyata juga dialami oleh pemeluk agama lain. Gereja Katolik misalnya , bersikap acuh-tak acuh ketika terjadi revolusi Perancis. Karena sikap tersebut kemudian Katolik disebut sebagai tidak demokratis. Hal yang sama ternyata juga dialami oleh agama Kristen Protestan, dimana pada awal munculnya, dengan reformasi Martin Luther Kristen memihak elit ekonomi, sehingga merugikan posisi kaum tani dan buruh. Tak mengherankan kalau Kristen pun disebut tidak demokratis. Melihat kenyataan sejarah yang dialami oleh elit agama-agama di atas, maka tesis Huntington dan Fukuyama yang mengatakan, ³bahwa realitas empirik masyarakat Islam tidak kompatibel dengan demokrasi´ adalah tidak benar. Bahkan Huntington mengidentikkan

demokrasi dengan the Western Christian Connection (lihat Imam, 1999:x-xi, Hefner, 2000:4-5). Inilah memang, betapa sulitnya menegakkan demokrasi, yang di dalamnya menyangkut soal: persamaan hak, pemberian kebebasan bersuara, penegakan musyawarah, keadilan, amanah dan tanggung jawab. Sulitnya menegakkan praktik demokratisasi dalam suatu negara oleh penguasa di atas, seiring dengan kompleksitas problem dan tantangan yang dihadapinya, dan lebih dari itu adalah menyangkut komitmen dan moralitas sang penguasa itu sendiri. Dengan demikian, meperhatikan relasi antara agama dan demokrasi dalam sebuah komunitas sosial menyangkut banyak variabel, termasuk variabel independen non-agama. [1]

Kebebasan Beragama dalam Negara-Negara Muslim Demokrasi Prinsip demokrasi mengandung nilai-nilai yang bersifat universal dan tidak

mengatasnamakan salah satu agama. Maka dari itu, demokrasi seringkali dianggap tidak beragama dan sekular. Orang-orang Islam ekstrimis seringkali tidak menerima konsep demokrasi karena dianggap tidak sesuai dengan Islam dan berasal dari Barat. Hal ini menimbulkan pemahaman dari Barat pula bahwa Islam tidak sejalan dengan Demokrasi. Dari konsep Demokrasi dalam Islam yang dijelaskan dalam makalah ini sebelumnya, dapat dilihat bahwa Islam memiliki konsep demokrasi dan sejalan dengan konsep demokrasi secara umum. Kebebasan beragama merupakan salah satu yang dijunjung oleh demokrasi yaitu persamaan bagi setiap orang untuk meyakini suatu agama tertentu. Bahkan Negara Amerika Serikat sebagai negara pelopor demokrasi menuliskan kebebasan beragama dalam amandemen pertama dalam Bill of Rights-nya. Negara-negara Islam yang memiliki pemerintahan monarki dan penduduk yang menganut pemahaman Islam yang ekstrim sangat menolak persamaan ini. Mereka meyakini bahwa satusatunya agama yang benar dan harus diikuti adalah Islam. Mereka menggunakan dalih Alquran dan hadits untuk membenarkan pemahamannya. Namun di beberapa negara lain dengan mayoritas penduduk muslim, demokrasi akhirnya dapat masuk dan diterima oleh masyarakatnya walaupun diawali dengan revolusi yang berdarah-darah. Contoh negara-negara tersebut diantaranya adalah Turki dan Indonesia.

1. Turki Sebelum menganut demokrasi, Turki berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ustmaniyah (1299-1923). Dalam kejayaan kekuasaannya ia menjangkau tiga benua Eropa bagian tenggara, Asia Barat dan Afrika Utara. Namun ia berakhir sebagai rezim monarki imperial pada tanggal 1 November 1922 dan secara de jure pada tanggal 24 Juli 1923 di bawah Treaty of Lausanne yang kemudian dilanjutkan dengan proklamasi kemerdekaan Turki pada tanggal 29 Oktober 1923.1 Ada banyak kemungkinan yang dapat diambil dalam menyimpulkan penyebab keruntuhan rezim otoriter Kesultanan Utsmaniyah. Namun, kemungkinan terbesarnya adalah karena permasalahan bentuk pemerintahannya sendiri yang membuatnya mengalami stagnasi dalam perkembangan. Sedangkan negara-negara tetangga berkembang menjadi semakin kuat dari abad ke abad. Mereka juga berkembang menjadi lebih modern dan dapat menahan ancaman yang memaksa. Ketika Negara-Negara tetangga berkembang menjadi lebih kuat dan menjadi lebih dewasa, Kesultanan Ustmaniyah tidak. Selain itu, ia memiliki kekuasaan yang terlalu besar dalam waktu yang terlalu singkat. Hal itu membuatnya sulit untuk mengkontrol wilayah kekuasaannya dan dengan mudahnya diruntuhkan. 2 Permasalahan yang didera oleh Kesultanan Utsmaniyah salah satunya adalah perbedaan hak diantara masyarakat. Pada abad ke 16, institusi pemerintah dan masyarakat yang berevolusi selama dua abad kekuasaan Ustmaniyah akhirnya mencapai bentuk klasik dan pola yang akan bertahan hingga ke masa modern. Divisi dasar dalam Masyarakat Ustmaniyah adalah perbedaan tradisional timur tengah antara kelas pemerintah Ustmaniyah yang sedikit jumlahnya dan kelas warganegara yang besar jumlahnya. Ada tiga kedudukan yang esensial untuk keanggotaan kelas pemerintah : profesi kesetiaan kepada sultan dan negaranya; penerimaan dan praktek Islam dan dasar pemikiran dan tindakannya; dan pengetahuan dan praktek sistem adat, adab, dan bahasa yang dikenal dengan cara Ustmaniyah. Mereka yang tidak memiliki salah satu diantaranya maka akan dianggap sebagai kelas warganegara. 1 Berdasarkan paparan di atas maka jelas bahwa tidak ada demokrasi dalam Kesultanan Ustmaniyah. Keadaan seperti itulah yang akhirnya membuat kelas pemerintah berbuat sewenang
1 2

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/434996/Ottoman-Empire http://www.hilalplaza.com/fall-of-ottoman-empire.html

±wenang terhadap kelas warganegara. Kelas warganegara tidak diberi ruang untuk bebas berpikir, berpendapat, dan bertindak sesuai dengan keinginannya tetapi harus menuruti apa yang sudah digariskan oleh kelas pemerintah. Dengan teori itu pula kedaulatan Sultan menjadi hak untuk memiliki dan mengeksploitasi seluruh sumber daya dan kekayaan di dalam kerajaannya.2 Ia tidak mengenal konsep dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Kelas pemerintah juga melakukan korupsi dan nepotisme dari generasi ke generasi. Sehingga pada akhirnya kesultanan yang mengatasnamakan dirinya Islam ini sudah tidak diterima lagi oleh masyarakat luas termasuk masyarakat muslim sendiri, terutama dari kelas warganegara yang telah banyak dizalimi oleh sistem, hukum, dan kebijakan-kebijakan Ustmaniyah. Hal-hal inilah yang menjadi faktor pendorong masyarakat Turki dalam menerima demokrasi diterapkan di negaranya. Enam abad di bawah pemerintahan Utsmaniyah yang otoriter dan penuh kezaliman mengubah evolusi berkala dalam kerajaan tersebut menjadi revolusi yang meruntuhkan Utsmaniyah dan merubahnya menjadi negara republik yang modern dan menganut demokrasi serta yang terpenting adalah menjamin hak-hak tiap individu untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Mustafa Kemal Ataturk adalah tokoh yang mempelopori Revolusi di Turki. Ia adalah pendiri Republik Turki dan presiden pertama Turki. Ia bukan orang yang relijius namun ia mempelajari sejarah Islam dan sejarah peradaban Islam. Ethem Ruhi F lal dalam bukunya "Atatürk And The Religion Of Islam´ menyatakan bahwa pandangan Ataturk terhadap agama adalah positif. Tidak pernah ada jejak dari pidato-pidato dan pernyataannya di tengah-tengah publik yang menunjukkan permusuhan atau sikap acuh terhadap suatu ideologi relijius. Hal ini menandakan bahwa tidak ada hubungannya penentangan Ataturk terhadap Kesultanan Ustmaniyah dengan agama yang dibawa oleh kesultanan tersebut melainkan praktek-praktek kezaliman yang sudah melanggar hak-hak dasar warganegara di dalam wilayahnya. Meskipun sebagian besar penduduknya adalah muslim, namun seperti yang tertulis pada pasal 24 dalam Konstitusi Turki, Turki adalah negara sekuler. Hal itu mengakibatkan kebebasan beragama di Turki di masa sekarang banyak mengalami pengekangan. Institusi negara melarang

pekerjanya memakai simbol-simbol agama seperti jilbab bagi wanita Islam, kalung salib, dan sebagainya karena hal ini dianggap berpotensi untuk menimbulkan diskriminasi dan prasangka antar agama.3 2. Indonesia Memasuki era orde baru, Indonesia yang awalnya oleh pemerintahan Soekarno akan dibawa ke arah demokrasi terpimpin menjadi berubah haluan. Dengan mengatasnamakan Demokrasi Pancasila, Indonesia malah menjadi negara dengan gaya kepemimpinan otoriter di bawah pemerintahan Soeharto. Memang pemilu diadakan setiap lima tahun, namun hasilnya selalu sama karena Soeharto memberlakukan kebijakan-kebijakan otoriter yang memaksa untuk mempengaruhi sistem pemilu yang akhirnya menimbulkan kepastian terpilihnya Soeharto kembali. Selain itu, orang-orang tidak bebas mengeluarkan pendapatnya terutama segala hal yang berkaitan dengan Soeharto dan keluarga Cendana. Sehingga Soeharto dapat melakukan KKN yang berkelanjutan tanpa diketahui orang banyak. Hingga sekarang telah terbukti bahwa gaya kepemimpinan otoriter yang ditampilkan oleh Soeharto tidak akan cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia begitu pula dengan Islam yang berkembang di Indonesia. Islam di Indonesia memiliki berbagai macam aliran. Bukan hanya yang berasal dari dua organisasi besar seperti Muhammadiyah dan NU tetapi juga dari tarekattarekat di daerah-daerah yang ajarannya telah masuk ke Indonesia sekian tahun lamanya dan turun temurun dipertahankan sampai sekarang. Pada masa orde baru, berbagai macam aliran Islam tersebut dipaksa untuk bergabung dalam satu partai oleh Soeharto yaitu PPP. Hal itu dilakukan oleh Soeharto untuk mencapai suatu kepentingan politik tertentu. Hal itu menjadi salah satu penyebab tidak harmoninya hubungan masyarakat islam di Indonesia dengan kepemimpinan Soeharto dan ini menunjukkan bahwa bukan gaya kepemimpinan otoriter yang sesuai dengan komunitas Islam di Indonesia. Bukan bentuk pemerintahan yang rentan dengan terjadinya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme tentunya. Lalu gaya kepemimpinan yang seperti apa? Dan sistem pemerintahan yang seperti apa? Setelah tiga puluh dua tahun lamanya Indonesia di bawah kepemimpinan otoriter pada akhirnya muncullah era reformasi pada tahun 1998 yang merubah bentuk pemerintahan
3

http://www.state.gov/g/drl/rls/irf/2007/90204.htm

Indonesia menjadi demokrasi. Reformasi ini dipimpin oleh Amien Rais sehingga membuatnya mendapatkan julukan ³Bapak Reformasi´. Setelah reformasi, citra demokrasi di indonesia mulai terlihat. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden Indonesia keempat, merupakan sosok Muslim yang sampai akhir hayatnya memperjuangkan demokrasi dalam ranah publik untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik. Toleransi, inklusivisme, dan nonsektarianisme merupakan visi besar sekaligus obsesi yang senantiasa diperjuangkan dalam upaya pembelaan terhadap kemanusiaan serta perlindungannya terhadap kelompok minoritas. Itulah yang diperlukan Indonesia pasca otoritarianisme Orde Baru.4 Keadaan sosial yang mengedepankan kebebasan hak-hak asasi manusia dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara sebagai esensi dari demokrasi di Indonesia. Namun, apabila melihat realitanya maka masih sangat banyak hal yang harus diperbaiki dalam berdemokrasi di Indonesia. Akan tetapi, sudah jelas jika dilihat dari dasar konsep yang ditawarkan, demokrasi sejalan dengan ketentuan-ketentuan politik yang diajarkan oleh Islam. Maka dari itulah konsep demokrasi mudah diterima oleh mayoritas muslim di Indonesia.

ALJAZAIR DAN DEMOKRASI Aljazair, negeri yang terletak di kawasan Afrika Utara ini, merupakan salah satu negeri Islam yang penuh konflik. Perjuangan umat Islam di Afrika hingga saat ini masih belum berhenti. Negeri ini juga menjadi contoh bagaimana sistem demokrasi menampakkan kebusukannya. Demokrasi yang diagung - agungkan sebagai sistem terbaik, ternyata hanya omong kosong belaka. Negeri ini merupakan contoh bagaimana rekayasa kekerasan terus berlangsung hingga kini untuk menyudutkan perjuangan umat Islam. Negeri ini juga menjadi saksi, bagaimana wajah ketakutan bangsa Barat melihat kemenangan perjuangan Islam. Aljazair, yang sering pula disebut dengan nama Al-Jumhuriya Al-Jaza'iriya adDimuqratiya asy - Sya'biya, memakai bahasa Arab sebagai bahasa resmi, di samping bahasa Prancis dialek Barbar. Secara historis, Aljazair memiliki sejarah yang cukup panjang, dan
4

http://www.thereadinggroup.sg/Articles/Gus%20Dur%20%20Muslim%20Humanis,%20Pejuang%20Demokrasi.pdf

mengalami pasang surut peradaban. Sejak 40 SM, daerah ini telah diperintah oleh Bangsa Romawi, tahun 429 ± 534 dikuasai oleh Vandals dan tahun 534 ± 690 di bawah kekuasaan Bizantium (Romawi Timur) yang beragama Nasrani. Islam masuk ke negeri ini pada akhir abad ke - 7 M, pada saat Daulah Khilafah Bani Umayah sekitar abad 682 M. Diawali dari Tunisia, tentara Islam terus berdakwah dan berjihad, bergerak ke arah Barat. Mereka membebaskan sejumlah bangsa Barbar seperti Aljazair, Maroko, Libya, Maroko wilayah Magribi dari penjajahan bangsa Romawi, dan hidup dalam naungan Islam yang damai. Bersamaan dengan kemunduran Dunia Islam, penjajah Prancis masuk ke wilayah ini. Genderang jihad pun diserukan untuk mengusir penjajah. Perlawanan demi perlawanan terus berlanjut sampai kemudian Prancis harus mengakui kemerdekaan Aljazair pada tahun 1962. Namun, seperti pada negeri - negeri Islam lain, kemerdekaan ini menjadi semu, karena kemudian yang berkuasa di Aljazair adalah agen - agen Prancis sendiri. Aljazair kemudian menjadi negara sekuler dengan sistem republik yang dipimpin oleh boneka dan kader kader binaan Prancis. Dengan menjadi negara sekuler, Aljazair menjadi negara yang sangat bergantung pada Prancis. Terjerat dalam sistem sekuler yang hanya menguntungkan negara asing dan para penguasa sekuler. Kondisi menyedihkan akibat sistem sekuler ini mendorong munculnya gerakan - gerakan Islam yang menyerukan kembali ke jalan Islam. Sistem sekuler dianggap telah gagal dan jalan yang menyelamatkan hanyalah Islam. ³Islam adalah Solusi.´ demikian opini dibangun oleh gerakan - gerakan Islam di Aljazair. Aljazair adalah negara yang termasuk paling lama dalam menganut paham sosialisme di lingkungan Dunia Ketiga, apalagi di benua hitam Afrika. Melalui perjuangan kemerdekaan berdarah untuk jangka waktu yang lama, Aljazair membentuk sebuah negara merdeka yang sosialistis. Para pejuang kemerdekaan mendirikan negara maju itu atas dasar pemerintahan sebuah partai belaka. Front Pembebeasan Nasional (FLN, Front Liberienne Nationale) adalah partai tunggal yang langsung mencanangkan perjuangan politik dan ekonomi serta kebudayaan untuk menentang imperialisme dan kapitalisme. Ekonomi sosialistisnya dikelola secara sentral, dan dengan demikian menjadi sangat birokratis. Dalam waktu beberapa tahun saja, tekanan kepada kehidupan politik yang serba revolusioner membuahkan sebuah pertentangan mendasar di kalangan elite politik. ´Petualangan Politik´ untuk mengembangkan paham Nasionalisme Arab yang dikembangkan. Presiden Ahmad Ben Bella menghasilkan sebuah reaksi keras. Ia

dipaksa turun dari kepemimpinan negara dan hidup dalam tahanan, kemudian pengasingan. Penggantinya, Hawari Boumedienne adalah perwira militer yang menginginkan pemerintahan dengan politik lebih pragmatis. Diharapkan, pemerintahan yang pragmatis itu akan membawa kemakmuran dalam waktu dekat. Apabila sumber ± sumber daya ekonomi yang digunakan untuk pembangunan ekonomi, dan bukannya dihabiskan untuk kegiatan politik revolusioner di dalam dan luar negeri, tentu tingkat kehidupan (living standard) bangsa Aljazair akan segera naik. Kemajuan ilmu pengetahun akan cepat digapai, dan kemajuan yang akan dicapai itu akan berarti ketentraman hidup seluruh bangsa Aljazair. Ternyata, halnya tidaklah demikian. Kemajuan ekonomi berjalan sangat lambat. Gairah untuk membangun bangsa Aljazair tidak muncul. Pertumbuhan penduduk melahap pertumbuhan ekonomi yang dicapai, dan dengan demikian dalam fakta menyeret bangsa Aljazairke tingkat ekonomi yang praktis tetap saja rendah. Sementara itu, demokrasi politik atas gerakan Pan Arabik memaksakan orientasi politik yang tetap revolusioner atas Aljazair. Negeri itu, akhirnya memperoleh yang terburuk dari dua hal : stagnasi ekonomi dan keterasingan politik. Hal tersebut terjadi karena pragmatisme ekonomi yang ditempuh tidak dibarengi dengan sistem politik, dan transformasi di bidang apa pun tidak berhasil dilakukan. Para pemimpin FLN tetap saja berperilaku politik yang sama : bertengkar antar sesama mereka, dan tidak mengembangkan pelembagaan cara ± cara mempertanggungjawakan segala kebijakan pemerintah kepada rakyat. Keadaan terus memburuk. Dalam artian, pemerintah Aljazair tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang memadai bagi kebutuhan akan lapangan kerja untuk warga masyarakat. Urbanisme yang berlangsung deras dari kawasan pedalaman ke kota ± kota besar Aljazair, terutama ke ibukota Aljir, sama sekali tidak dapat dibendung. Ketidaksenangan rakyat kepada pemerintahan Hawari Boudienne akhirnya menjadi kekuatan yang tidak terbendung juga. Namun, pemecahan masalahnya lagi ± lagi tidak bersifat tuntas. Dilakukan kudeta oleh serombongan perwira lebih muda, menghasilkan pemerintahan Chadli Bendjedid. Politik yang ditempuh, terutama politik luar negerinya jauh lebih moderat lagi. Tetapi tuntutan akan pemerintahan yang bertanggung jawab kepada rakyat, bukannya yang

saling melemparkan kesalahan di lingkungan intern FLN saja, tetap saja tidak terbendung. Mau tidak mau, Bendjedid harus memperkirakan berdirinya partai ± partai politik di luar FLN. Dalam pemilihan umum di tingkat daerah, Front Kemenangan Islam (Front Isla-mique de Salut atau FIS) meraih kemenangan yang mencolok. Kekhawatiran bahwa mereka juga akan memenangkan pemilihan umum di seluruh negeri, akhirnya menjadi kenyataan. FIS berhasil memenangkan secara mutlak babak pertama pemilu Aljazair. Kemenangan FIS ini tentu saja disambut sukacita oleh banyak kaum Muslim, terutama yang selama ini percaya pada jalan demokrasi untuk meraih kekuasaan. Presiden Bendjedid dipaksa mundur, dan digantikan oleh tokoh ± tokoh garis keras terhadap FIS. Pemerintah Benjedid akhir tahun 1980-an menjanjikan kebebasan politik untuk menanggapi ketidakpuasan rakyat. Beberapa reformasi politik yang dilakukan oleh Benjedid antara lain referendum nasional, revisi konstitusi pada tahun 1989 yang menghapuskan sosialisme Aljazair, mengakhiri monopoli FLN sebagai partai tunggal, dan menawarkan sistem multipartai. Kemenangan mutlak FIS yang diimbangi dengan sikap enggan angkatan bersenjata untuk sepenuh hati menerima legitimasi pemerintahannya, tetap saja akan merupakan hambatan terbesar bagi perbaikan keadaan ekonomi Aljazair. Demikian juga sebaliknya, yaitu kalau pihak militer memberlakukan pemerintahan satu partai saja, seperti masa lampau. Demikian pula, para penguasa dengan pembubaran pemerintahan Bendjedid tidak langsung membubarkan semua partai, dan menunjukkan keengganannya untuk kembali kepada pola partai tunggal. Tampaknya masih dicoba untuk menemukan sebuah formula baru di bidang politik. Karena, memang pencarian format baru yang dapat diterima semua pihak inilah yang diperlukan Aljazair Para penganut sosialisme di satu pihak, walaupun sudah terdiskreditkan secara parah, masih mampu menampilkan tuntutan akan pemerintah demokratis. Qua ideologi yang dituntut adalah partisipasi masyarakat yang dalam kehidupan politik secara nyata, bukan hanya secara semu belaka. Pihak ini tentu tidak dapat menerima sebuah pemerintahan Islam, yang ditakutkan justru akan membungkam demokrasi melalui pemerintahan otoriter konstitusional, konstitusi yang hanya akan menjamin kekuasaan FIS belaka di kemudian hari. Pihak ini juga menolak pemerintahan militer atau semimiliter yang tidak memberikan hak ± hak dasar kepada rakyat untuk berdaulat secara nyata melalui lembaga perwakilan rakyat yang tidak tunduk kepada penguasa manapun.

FIS, di pihak lain menolak orientasi sekuler dari pihak kaum sosialis dan militer. Bagi FIS, hanya pelaksanaan hukum Islam dalam kehidupan bernegara sajalan yang sah, karena memiliki kebenaran abadi. FIS menolak wewenang pihak militer untuk berkuasam karena sistem kekuasaan yang dibangun itu tidak mencerminkan aspirasi politik Islam. Jadi, perbedaan antara FIS dan pihak ± pihak lain di luarnya bersifat sangat mendasar : hanya nilai ± nilai keislaman sajakah yang dapat dberlakukan di Aljazair di masa depan, ataukah nilai ± nilai lain dapat tumbuh ? Pihak ketiga, para penguasa militer juga belum dapat diketahui keamanan mereka. Apakah akan tetap memaksakan pemerintahan otoriter bagi Aljazair, ataukah dapat menerima kehadiran demokrasi ? apalagi sekarang, setelah ternyata demokrasi itu sendiri membawa masalah berupa munculnya FIS ke panggung pemerintahan tingkat nasional. Jadi sebenarnya, yang terjadi adalah proses saling tidak mempercayai itikad baik dari berbagai pihak itu satu sama lain. Pihak FIS menganggap haknya untuk memerintah dihalangi, hanya karena mereka ingin melaksanakan ajaran Islam. Pihak sipil di luar FIS takut akan terulang pemerintah otoriter yang ditumbuhkan FIS secara konstitusional. Pihak militer, di samping penolakannya kepada gagasan negara Islam juga takut perbenturan antara FIS dan pihak ± pihak ideologis non Islam di kalangan sipil akan menjurus kepada anarki. Dunia barat menganggap kemenangan FIS akan mengancam sistem sekuler yang ada. Maka, mereka menuduh FIS telah membajak demokrasi untuk membangun pemerintahan fundalmentalis Islam yang anti demokrasi. Untuk mencegah kemenangan FIS, militer kemudian turut campur tangan, dengan mengambil alih kekuasaan dan menurunkan Presiden Benjedid. Meskipun FIS menang secara demokratis, bagi Bangsa Barat demokrasi hanya berlaku kalau menguntungkan kepentingan mereka saja. Sebaliknya, kalau sekiranya mengancam, demokrasi harus diberanguskan. Tidak hanya itu, pemerintah otoriter dan diktator akan didukung habis - habisan asalkan bisa mencegah kemenangan atas Islam. Hal ini merupakan bukti nyata kebohongan demokrasi yang dikampanyekan oleh Bangsa Barat. Kebebasan yang diberikan oleh demokrasi tetap memiliki syarat tunggal, yakni tidak menghancurkan sistem demokrasi dan kepentingan Bangsa Barat.

Masalah utama yang dihadapi Aljazair dengan demikian menjadi jelas. Sampai dimanakah demokrasi harus diperbolehkan berjalan ? dapatkah sampai ke taraf memaksakan seperangkat nilai yang ditolak oleh pihak lain, walaupun pemaksaan itu dilakukan secara konstitusional dan demokratis pula ? apakah jaminan bahwa penumbuhan konstitusi yang memberlakukan perangkat bila secara sepihak itu akan dapat dikoreksi di kemudian hari ? kalau tidak, apakah lalu tidak berarti pemberlakuandemokrasi untuk kepentingan satu piak saja seperti itu merupakan pembunuhan atas gagasan demokrasi itu sendiri, walaupun hal itu dilakukan secara konstitusional ? Banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan negeri Islam Aljazair ini. Pertama, negeri ini telah menunjukkan kepalsuan sistem demokrasi, yang katanya memberikan kedaulatan kepada suara mayoritas. Sebesar apa pun kebebasan yang diberikan demokrasi tidak akan memberikan peluang bagi Islam yang kaffah, ideologis, dan politis untuk berkuasa. Hal ini didukung oleh negara - negara Barat yang katanya kampiun demokrasi. Kedua, jalan demokrasi terbukti berdasarkan fakta, tidak bisa digunakan oleh umat Islam dalam perjuangannya. Sebab bagaimanapun, pihak penguasa status quo tidak akan pernah memberikan kemenangan kepada kelompok Islam. Solusi untuk menyelesaikan permasalahan demokrasi tidak lain adalah menjadikan hukum dan syariat Islam sebagai ideologi dan sistem kehidupan dengan bergabung dalam negara Khilafah Islam.

DAFTAR PUSTAKA y Lewis,Bernard. ISLAM LIBERALISME DEMOKRASI Membangun Sinerji Warisan Sejarah,Doktrin dan Konteks Global. Jakarta: Paramadina. 2002.
y y http://www.britannica.com/EBchecked/topic/434996/Ottoman-Empire http://www.hilalplaza.com/fall-of-ottoman-empire.html

y

http://www.state.gov/g/drl/rls/irf/2007/90204.htm

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->