P. 1
LP Askep Keluarga Dengan Ibu Hamil

LP Askep Keluarga Dengan Ibu Hamil

|Views: 1,487|Likes:
Published by mantri Sukenda

More info:

Published by: mantri Sukenda on Apr 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2015

pdf

text

original

Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___1

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA IBU HAMIL
DENGAN RESIKO TINGGI


A. Konsep Dasar Ibu HamiI
1. Pengertian
umil adalah suatu kondisi dimana seorang perempuan
mengalami kehamilan.
Kehamilan adalah suatu kondisi yang terjadi bila ada pertemuan
dan persenyawaan antara sel telur (ovum) dan sel mani (spermatozoa).
Kehamilan terbagi atas trimester Ì (1 ÷ 14 minggu), trimester ÌÌ (14 ÷ 28
minggu), trimester ÌÌÌ (28 ÷ 42 minggu).

2. Konsep Pertumbuhan / PerkembanganFisik
a. Perubahan/ Pertumbuhan Fisik
1) Perubahan Pada Kulit
Terjadi hiperpigmentasi yaitu kelebihan pigmen di tempat
tertentu. Pada wajah, pipi, dan hidung mengalami
hiperpigmentasi sehingga menyerupai topeng (topeng kehamilan
atau kloasma gravidarum). Pada areola mamae dan Puting susu,
daerah yang berwarna hitam di sekitar puting susu akan
menghitam. Sekitar areola yang biasanya tidak berwarna akan
berwarna hitam. Hal ini disebut areola mamae sekunder. Puting
susu menghitam dan membesar sehingga lebih menonjol. Pada
areola suprapubis, terdapat garis hitam yang memanjang dari
atas simfisis sampai pusat. Warnanya lebih hitam dibandingkan
sebelumnya, muncul garis baru yang memanjang ditengah atas
pusat (linea nigra). Pada perut, selain hiperpigmentasi terjadi
stria gravidarum yang merupakan garis pada kulit. Terdapat 2
jenis stria gravidarum yaitu stria livida (garis berwarna biru) dan
stria albikan (garis berwarna putih). Hal ini terjadi karena
pengaruh melanophore stimulating hormone lobus hipofisis
anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis.



Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___2

2) Perubahan kelenjar
Kelenjar gondok membesar sehingga leher ibu berbentuk
seperti leher pria. Perubahan ini tidak selalu terjadi pada wanita
hamil.
3) Perubahan payudara
Perubahan ini pasti terjadi pada wanita hamil karena
dengan semakin dekatnya persalinan, payudara menyiapkan diri
untuk memproduksi makanan pokok untuk bayi setelah lahir.
Perubahan yang terlihat pada payudara adalah:
a) Payudara membesar, tegang dan sakit
b) Vena di bawah kulit payudara membesar dan terlihat jelas
c) Hiperpigmentasi pada areola mamae dan puting susu serta
muncul areola mamae sekunder
d) Kelenjar Montgomery yang terletak di dalam areola mamae
membesar dan kelihatan dari luar. Kelenjar Montgomery
mengeluarkan lebih banyak cairan agar puting susu selalu
lembab dan lemas sehingga tidak menjadi tempat
berkembang biak bakteri.
e) Payudara ibu mengeluarkan cairan apabila dipijat. Mulai
kehamilan 16 minggu, cairan yang dikeluarkan jernih. Pada
kehamilan 16 minggu sampai 32 minggu, warna cairan agak
putih seperti air susu yang sangat encer. Dari kehamilan 32
minggu sampai anak lahir, cairan yang dikeluarkan lebih
kental, berwarna kuning, dan banyak mengandung lemak.
Cairan ini disebut kolostrum.
4) Perubahan Perut
Semakin mendekati masa persalinan, perut semakin
besar. iasanya hingga kehamilan 4 bulan, pembesaran perut
belum kelihatan. Setelah kehamilan 5 bulan, perut mulai
kelihatan membesar. Saat hamil tua, perut menjadi tegang dan
pusat menonjol ke luar. Timbul stria gravidarum dan
hiperpigmentasi pada linea alba serta linea nigra.



Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___3

5) Perubahan Alat Kelamin Luar
Alat kelamin luar ini tampak hitam kebiruan karena
adanya kongesti pada peredaran darah. Kongesti terjadi karena
pembuluh darah membesar, darah yang menuju uterus sangat
banyak, sesuai dengan kebutuhan uterus untuk membesarkan
dan memberi makan janin. Gambaran mukosa vagina yang
mengalami kongesti berwarna hitam kebiruan (tanda Chadwick).
6) Perubahan padaTungkai
Timbul varises pada sebelah atau kedua belah tungkai.
Pada hamil tua, sering terjadi edema pada salah satu tungkai.
Edema terjadi karena tekanan uterus yang membesar pada vena
femoralis sebelah kanan atau kiri.
7) Perubahan Sikap tubuh
Sikap tumbuh ibu menjadi lordosis karena perut yang
membesar.

b. Perkembangan/ Perubahan PsikoIogis
Menurut teori Rubin, perubahan psikologis yang terjadi pada:
1) Trimester Ì meliputi: ambivalen, takut, fantasi, dan khawatir.
2) Trimester ÌÌ meliputi: perasaan lebih nyaman serta kebutuhan
mempelajari perkembangan dan pertumbuhan janin meningkat.
Kadang tampak egosentris dan berpusat pada diri sendiri.
3) Trimester ÌÌÌ meliputi: memiliki perasaan aneh, sembrono, lebih
introvert, dan merefleksikan pengalaman masa lalu.

c. MasaIah yang Sering Terjadi
1) Respon Terhadap Perubahan Citra Tubuh
Perubahan fisiologis kehamilan menimbulkan perubahan
bentuk tubuh yang cepat dan nyata. Selama trimester Ì bentuk
tubuh sedikit berubah, tetapi pada trimester ÌÌ pembesaran
abdomen yang nyata, penebalan pinggang dan pembesaran
payudara memastikan status kehamilan. Wanita merasa seluruh
tubuhnya bertambah besar dan menyita ruang yang lebih luas.
Perasaan ini semakin kuat seiring bertambahnya usia kehamilan.
Secara bertahap terjadi kehilangan batasan÷batasan fisik secara
pasti, yang berfungsi memisahkan diri sendiri dari orang lain dan
memberi rasa aman.
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___4

Sikap wanita terhadap tubuhnya di duga dipengaruhi oleh
nilai ÷ nilai yang diyakininya dan sifat pribadinya. Sikap ini sering
berubah seiring kemajuan kehamilan. Sikap positif terhadap
tubuh biasanya terlihat selama trimester Ì. Namun, seiring
kemajuan kehamilan, perasaan tersebut menjadi lebih negatif.
Pada kebanyakan wanita perasaan suka atau tidak suka
terhadap tubuh mereka dalam keadaan hamil bersifat sementara
dan tidak menyebabkan perubahan persepsi yang permanen
tentang diri mereka.
2) Ambivalensi Selama Masa Hamil
Ambivalensi didefinisikan sebagai konflik perasaan yang
simultan, seperti cinta dan benci terhadap seseorang, sesuatu,
atau suatu keadaan. Ambivalensi adalah respon normal yang
dialami individu yang mempersiapkan diri untuk suatu peran
baru. Kebanyakan wanita memiliki sedikit perasaan ambivalen
selama hamil. ahkan wanita yang bahagia dengan
kehamilannya, dari waktu ke waktu dapat memiliki sikap
bermusuhan terhadap kehamilan atau janin. Pernyataan
pasangan tentang kecantikan seorang wanita yang tidak hamil
atau peristiwa promosi seorang kolega ketika keputusan untuk
memiliki seorang anak berarti melepaskan pekerjaan dapat
meningkatkan rasa ambivalen. Sensasi tubuh, perasaan
bergantung, dan kenyataan tanggung jawab dalam merawat
anak dapat memicu perasaan tersebut.
Perasaan ambivalen berat yang menetap sampai
trimester ÌÌÌ dapat mengindikasikan bahwa konflik peran sebagai
ibu belum diatasi (Lederman, 1984). Setelah kelahiran seorang
bayi yang sehat, kenangan akan perasaan ambivalen ini
biasanya lenyap. Apabila bayi yang lahir cacat, seorang wanita
kemungkinan akan mengingat kembali saat÷saat ia tidak
menginginkan anak tersebut dan merasa sangat bersalah. Tanpa
penyuluhan dan dukungan yang memadai, ia dapat menjadi
yakin bahwa perasaan ambivalennya telah menyebabkan
anaknya cacat.

Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___5

3) Hubungan Seksual
Ekspresi seksual selama masa hamil bersifat individual.
eberapa pasangan menyatakan puas dengan hubungan
seksual mereka, sedangkan yang lain mengatakan sebaliknya.
Perasaan yang berbeda÷beda ini dipengaruhi oleh faktor ÷ faktor
fisik, emosi, dan interaksi, termasuk takhayul tentang seks
selama masa hamil, masalah disfungsi seksual, dan perubahan
fisik pada wanita.
Dengan berlanjutnya kehamilan, perubahan bentuk
tubuh, citra tubuh, dan rasa tidak nyaman mempengaruhi
keinginan kedua belah pihak untuk menyatakan seksualitas
mereka. Selama trimester Ì seringkali keinginan seksual wanita
menurun, terutama jika ia merasa mual, letih, dan mengantuk.
Saat memasuki trimester ÌÌ kombinasi antara perasaan
sejahteranya dan kongesti pelvis yang meningkat dapat sangat
meningkatkan keinginannya untuk melampiaskan seksualitasnya.
Pada trimester ÌÌÌ peningkatan keluhan somatik (tubuh) dan
ukuran tubuh dapat menyebabkan kenikmatan dan rasa tertarik
terhadap seks menurun (Rynerson, Lowdermilk, 1993)
Pasangan tersebut perlu merasa bebas untuk membahas
hubungan seksual mereka selama masa hamil. Kepekaan
individu yang satu terhadap yang lain dan keinginan untuk
berbagi masalah dapat menguatkan hubungan seksual mereka.
Komunikasi antara pasangan merupakan hal yang penting.
Pasangan yang tidak memahami perubahan fisiologis dan emosi,
yang terjadi dengan cepat selama masa hamil, dapat menjadi
bingung saat melihat perilaku pasangannya. Dengan
membicarakan perubahan ÷ perubahan yang mereka alami,
pasangan dapat mendefinisikan masalah mereka dan
menawarkan dukungan yang diperlukan. Perawat dapat
memperlancar komunikasi antar pasangan dengan berbicara
kepada pasangan tentang perubahan perasaan dan perilaku
yang mungkin dialami wanita selama masa hamil (Rynerson,
Lowdermilk, 1993).

Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___6

4) Kekhawatiran terhadap Janin
Kekhawatiran orang tua terhadap kesehatan anak
berbeda÷beda selama masa hamil (Gaffney, 1988).
Kekhawatiran pertama timbul pada trimester Ì dan berkaitan
dengan kemungkinan terjadinya keguguran. anyak wanita yang
sengaja tidak mau memberitahukan kehamilannya kepada orang
lain sampai periode ini berlalu. Ketika janin menjadi semakin
jelas, yang terlihat dengan adanya gerakan dan denyut jantung,
Kecemasan orang tua yang terutama ialah kemungkinan cacat
pada anaknya. Orang tua mungkin akan membicarakan rasa
cemasnya ini secara terbuka dan berusaha untuk memperoleh
kepastian bahwa anaknya dalam keadaan sempurna. Pada
tahap lanjut kehamilan, rasa takut bahwa anaknya dapat
meninggal semakin melemah. Kemungkinan kematian ini terbukti
semakin tidak dipikirkan orang tua.

d. Tugas Perkembangan
1) Menerima Kehamilan
Langkah pertama dalam beradaptasi terhadap peran ibu
ialah menerima ide kehamilan dan mengasimilasi status hamil ke
dalam gaya hidup wanita tersebut (Lederman, 1984). Tingkat
penerimaan dicerminkan dalam kesiapan wanita dan respons
emosionalnya dalam menerima kehamilan.
a) Kesiapan menyambut kehamilan
Ketersediaan keluarga berencana mengandung
makna bahwa kehamilan bagi banyak wanita merupakan
suatu komitmen tanggung jawab bersama pasangan. Namun,
merencanakan suatu kehamilan tidak selalu berarti menerima
kehamilan (Entwistle, Doering, 1981).Wanita lain memandang
kehamilan sebagai suatu hasil alami hubungan perkawinan,
baik diinginkan maupun tidak diinginkan, bergantung pada
keadaan.
Wanita yang siap menerima suatu kehamilan akan
dipicu gejala - gejala awal untuk mencari validasi medis
tentang kehamilannya. eberapa wanita yang memiliki
perasaan kuat, seperti "tidak sekarang,¨ bukan saya,¨ dan "
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___7

tidak yakin,¨ mungkin menunda mencari pengawasan dan
perawatan (Rubin, 1970). Namun , beberapa wanita menunda
validasi medis karena akses keperawatan terbatas, merasa
malu, atau alasan budaya. Untuk orang lain, kehamilan
dipandang sebagai suatu peristiwa alami, sehingga tidak perlu
mencari validasi medis dini.
Setelah kehamilan dipastikan respon emosi wanita
dapat bervariasi, dari perasaan sangat gembira sampai syok,
tidak yakin, dan putus asa. Reaksi yang diperlihatkan banyak
wanita ialah respon¨ suatu hari nanti, tetapi tidak sekarang.¨
Wanita lain dengan sederhana menerima kehamilan sebagai
kehendak alam. anyak wanita mula- mula terkejut ketika
mendapatkan diri mereka hamil. Namun, seiring
meningkatnya penerimaan terhadap kehadiran seorang anak,
akhirnya mereka menerima kehamilan. Tidak menerima
kehamilan tidak dapat disamakan dengan menolak anak.
Seorang wanita mungkin tidak menyukai kenyataan dirinya
hamil, tetapi agar anak itu dilahirkan.
b) Respon Emosional
Wanita yang bahagia dan senang dengan
kehamilannya sering memandang hal tersebut sebagai
pemenuhan biologis dan merupakan bagian dari rencana
hidupnya. Mereka memiliki harga diri yang tinggi dan
cenderung percaya diri akan hasil akhir untuk dirinya sendiri,
untuk bayinya, dan untuk anggota keluarga yang lain.
Meskipun secara umum keadaan mereka baik, namun
kelabilan emosional yang terlihat pada perubahan mood yang
cepat untuk dijumpai pada wanita hamil.
Perubahan mood yang cepat dan peningkatan
sensitifitas terhadap orang lain ini membingungkan calon ibu
dan orang- orang di sekelilingnya. Peningkatan iritabilitas,
uraian air mata dan kemarahan serta perasaan suka cita,
serta kegembiraan yang luar biasa muncul silih berganti
hanya karena suatu provokasi kecil atau tanpa provokasi
sama sekali.
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___8

Perubahan hormonal yang merupakan bagian dari
respon ibu terhadap kehamilan, dapat menjadi penyebab
perubahan mood, hampir sama seperti saat akan menstruasi
atau selama menopause. Alasan lain, seperti masalah
seksual atau rasa takut terhadap nyeri selama melahirkan,
juga dijadikan penjelasan timbulnya perilaku yang tidak
menentu ini.
Seiring kemajuan kehamilan, wanita lebih menjadi
terbuka tentang terhadap diri sendiri dan orang lain. Ìa
bersedia membicarakan hal- hal yang tidak pernah dibahas
atau yang dibahas hanya dalam keluarga dan tampak yakin
bahwa pikiran- pikirannya dan gejala - gejala yang dialaminya
akan menarik untuk si pendengar yang dianggapnya protektif.
Keterbukaan ini, disertai kesiapan untuk belajar,
meningkatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan
wanita hamil dan meningkatkan kemungkinan
diselenggarakannya perawatan yang efektif dan terapeutik
untuk mendukung kehamilan.
Apabila anak tersebut diingingkan, rasa tidak nyaman
yang timbul akibat kehamilan cenderung dianggap sebagai
suatu iritasi dan upaya dilakukan untuk meredakan rasa
nyaman tersebut biasanya membawa keberhasilan. Rasa
senang yang timbul karena memikirkan anak yang akan lahir
dan perasaan dekat dengan anak membantu menyesuaikan
diri terhadap rasa tidak nyaman ini.
Pada beberapa keadaan wanita yang biasanya
mengeluhkan ketidak nyamanan fisik dapat mencari bantuan
untuk mengatasi konflik peran ibu dan tanggung jawabnya.
Pengkajian lebih lanjut tentang toleransi dan kemampuan
koping perlu dilakukan (Lederman, 1984)
2) Mengenal Peran Ìbu
Proses mengidentifikasi peran ibu dimulai pada awal
setiap kehidupan seorang wanita, yakni melalui memori - memori
ketika ia, sebagai seorang anak, diasuh oleh ibunya. Persepsi
kelompok sosialnya mengenai peran feminim juga membuatnya
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___9

condong memilih peran sebagai ibu atau wanita karir, menikah
atau tidak menikah, dan mandiri dari pada interdependen. Peran -
peran batu loncatan, seperti bermain dengan boneka, menjaga
bayi, dan merawat adik - adik, dapat meningkatkan pemahaman
tentang arti menjadi seorang ibu.
anyak wanita selalu menginginkan seorang bayi,
menyukai anak-anak, dan menanti untuk menjadi seorang ibu.
Mereka sangat dimotivasi untuk menjadi orang tua. Hal ini
mempengaruhi penerimaan mereka terhadap kehamilan dan
akhirnya terhadap adaptasi prenatal dan adaptasi menjadi orang
tua (Grossman, Eichler, Winckooff,1980 ;Lederman, 1984).
Wanita yang lain tidak mempertimbangkan dengan terinci arti
menjadi seorang ibu bagi diri mereka sendiri. Konflik selama
masa hamil, seperti tidak menginginkan kehamilan dan
keputusan - keputusan yang berkaitan denga karir dan anak
harus diselesaikan.
3) Hubungan Ìbu-Anak
Ìkatan emosional dengan anak mulai timbul pada periode
prenatal, yakni ketika wanita mulai membayangkan dan
melamunkan dirinya menjadi ibu (Rubin, 1975; Gaffney, 1988a).
Mereka mulai berpikir seakan-akan dirinya adalah seorang ibu
dan membayangkan kualitas ibu seperti apa yang mereka miliki.
Orang tua yang sedang menantikan bayi berkeinginan untuk
menjadi orang tua yang hangat, penuh cinta, dan dekat dengan
anaknya. Mereka mencoba untuk mengantisipasi perubahan -
perubahan yang mungkin terjadi pada kehidupannya akibat
kehadiran sang anak dan membayangkan apakah mereka bisa
tahan terhadap kebisingan, kekacauan, kurangnya kebebasan,
dan bentuk perawatan yang harus mereka berikan. Mereka
mempertanyakan kemampuan mereka untuk membagi kasih
mereka kepada anak yang belum dilahirkan ini. Rubin (1967)
menemukan bahwa wanita " menerapkan "dan menguji perannya
sebagai ibu dengan mengambil contoh ibunya sendiri atau wanita
lain pengganti ibu yang memberi pelayanan, dukungan, atau
berperan sebagai sumber informasi dan pengalaman.
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___10

Hubungan ibu - anak terus berlangsung sepanjang masa hamil
sebagai suatu proses perkembangan(Rubin, 1975)
anyak wanita khususnya Nulipara, secara aktif
mempersiapkan diri untuk menghadapi persalinan. Mereka
membaca buku, menghadiri kelas untuk orang tua, dan
berkomunikasi dengan wanita lain (ibu, saudara perempuan,
teman, orang yang tidak dikenal).Mereka akan mencari orang
terbaik untuk memberi nasihat, arahan, dan perawatan
(Patterson, Freese, Goldenberg, 1990). Rasa cemas dapat timbul
akibat kekhawatiran akan proses kelahiran yang aman untuk
dirinya dan anaknya (Rubin, 1975).
4) Hubungan Dengan Pasangan
Orang yang paling penting bagi seorang wanita hamil
biasanya ialah ayah sang anak (Richardson,1983). Semakin
banyak bukti menunjukkan bahwa wanita yang diperhatikan dan
dikasihi oleh pasangan prianya selama hamil akan menunjukkan
lebih sedikit gejala emosi dan fisik, lebih sedikit komplikasi
persalinan, dan lebih mudah melakukan penyesuaian selama
masa nifas (Grossman,Eichler,Winckoff,1980; May,1982). Ada 2
kebutuhan utama yang ditunjukkan wanita selama ia hamil
(Richardson,1983). Kebutuhan pertama ialah menerima tanda ÷
tanda bahwa ia dicintai dan dihargai. Kebutuhan kedua ialah
merasa yakin akan penerimaan pasangannya terhadap sang
anak dan mengasimilasi bayi tersebut ke dalam kelurga. Rubin
(1975) menyatakan bahwa wanita hamil harus "memastikan
tersedianya akomodasi sosial dan fisik dalam keluarga dan
rumah tangga untuk anggota baru tersebut.
Hubungan pernikahan tidak tetap, tetapi berubah dari
waktu ke waktu. ertambahnya seorang anak akan mengubah
sifat ikatan pasangan untuk selama÷lamanya. Lederman (1984)
melaporkan bahwa hubungan istri dan suami bertambah dekat
selama masa hamil. Dalam studinya, ia mengatakan bahwa
kehamilan berdampak mematangkan hubungan suami ÷ istri
akibat peran dan aspek ÷ aspek baru yang ditemukan dalam diri
masing ÷ masing pasangan.
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___11

5) Kesiapan Untuk Melahirkan
Menjelang akhir trimester ÌÌÌ, wanita akan mengalami
kesulitan napas dan gerakan janin menjadi cukup kuat sehingga
mengganggu tidur ibu. Nyeri pinggang, sering berkemih,
keinginan untuk berkemih, konstipasi, dan timbulnya varies dapat
sangat mengganggu. Ukuran tubuh yang besar dan rasa
canggung mengganggu kemampuannya melakukan pekerjaan
rumah tangga rutin, dan mengambil posisi yang nyaman untuk
tidur dan istirahat.
Pada saat ini kebanyakan wanita akan tidak sabar untuk
menjalani persalinan, apakah disertai rasa suka cita, rasa takut,
atau campuran keduanya. Keinginan yang kuat untuk melihat
hasil akhir kehamilannya dan untuk segera menyelesaikannya
membuat wanita siap masuk ke tahap persalinan.














































Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___12

B. KONSEP KEHAMILAN DENGAN RESIKO TINGGI
1. Pengertian
Kehamilan resiko tinggi adalah ibu hamil dengan berbagai faktor
resiko yang dapat mengganggu proses kehamilan sampai bersalin atau
mengancam jiwa ibu dan janin
Ìbu hamil dengan resiko tinggi adalah ibu hamil yang mengalami
risiko atau bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun
persalinan, bila dibandingkan dengan Ìbu Hamil yang normal.
a. Kriteria Ìbu Hamil dengan Faktor Resiko, yaitu :
1) Usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
2) Paritas primipara (kehamilan pertama) atau kehamilan telah lebih
dari empat.
3) Jarak persalinan terakhir kurang dari 2 tahun
4) Tinggi badan kurang dari 142 cm
5) Lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm pada trimester ÌÌÌ
b. Ìbu Hamil Yang Tergolong Resiko Tinggi yaitu :
1) Ìbu hamil yang sering pusing berat, penglihatan kabur, kaki
bengkak dan kenaikan tekanan darah
2) Ìbu hamil dengan kelainan letak (sungsang atau lintang
3) Ìbu hamil yang diperkirakan bayinya kembar
4) Riwayat kehamilan jelek
5) Ìbu dengan riwayat penyakit jantung, ginjal, TC, liver, hipertensi
dan penyakit berat lainnya.

2. MasaIah Yang sering Terjadi
Ada beberapa masalah yang sering ditemukan pada wanita hamil
dengan usia di atas 35 tahun, seperti diabetes gestational (diabetes
yang muncul pada saat kehamilan), tekanan darah tinggi dan juga
masalah-masalah pada janin. Wanita hamil dengan usia yang lebih tua
juga akan lebih sering mengalami masalah pada kandung kemih
dibandingkan wanita hamil dengan usia yang lebih muda. Resiko-resiko
lainnya adalah resiko keguguran lebih besar, lebih banyak yang
melahirkan melalui operasi Caesar karena kondisi yang tidak
memungkinkan untuk melahirkan secara normal, dan juga memiliki
resiko lebih tinggi melahirkan bayi cacat.
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___13

Saat berusia akhir 30-an, wanita cenderung mengalami kondisi-
kondisi medis berkaitan dengan sistem reproduksi, seperti fibroid uterine
dan tumor otot. Fibroid uterine adalah pertumbuhan sel otot atau
jaringan lain di dinding uterus, membentuk tumor. Fibroid uterine dan
tumor otot bisa menimbulkan rasa nyeri atau perdarahan vagina saat
kehamilan berkembang. Jika wanita tersebut hamil di atas usia 40
tahun, tingkat keparahannya bahkan lebih berat lagi. Problem-problem
tadi bisa bertambah dengan adanya hemoroid (wasir), inkontinensi
(kesulitan menahan keluarnya urin), varises, problem-problem pembuluh
darah, nyeri otot, nyeri punggung, dan juga proses melahirkan yang
lebih sulit dan lebih panjang.
Selain resiko melahirkan bayi dengan Sindroma Down, resiko
keguguran dan melahirkan dengan operasi Caesar, wanita hamil berusia
di atas 35 tahunan juga memiliki resiko bayi meninggal saat dalam rahim
atau saat proses melahirkan. Walaupun resiko ini ada di setiap usia
kehamilan, namun pada wanita dengan usia 35 tahun ke atas, resiko ini
lebih besar, yaitu 7 dari 1000 kehamilan.
Hal lain yang perlu diwaspadai pada kehamilan diusia 35 tahun
keatas aalah terjadinya pre-eklamsia. Gejala awalnya adalah tekanan
darah yang meningkat secara drastis hingga lebih dari 140/90 mmHg,
rin mengandung protein, terjadi pembengkakan pada pergelangn kaki,
tangan dan wajah. ila terdiagnosis pre-eklamsia harus diperiksa juga
fungsi organ-organ tubuh yang lain seperti ginjal, jantung, paru, mata,
otak dan sistem syaraf.
Melahirkan anak pada usia ibu yang muda atau terlalu tua
mengakibatkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan
merugikan kesehatan ibu. (aliwati, 2004 : 3). Karena pada ibu yang
terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan
antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan
dan adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan
(Soetjiningsih, 1995 : 96).
Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat
perubahan hormonal yang dapat menyebabkan "non dijunction¨ pada
kromosom. Perubahan endokrin seperti meningkatnya sekresi
androgen, menurunnya kadar hidroepiandrosteron, menurunnya
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___14

konsentrasi estradiolsistemik, perubahan konsentrasi reseptor hormon
danpeningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tiba sebelum dan
selama menopause. Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh.
Adapun bahaya yang dapat ditimbulkan akibat Ìbu hamil dengan
risiko tinggi adalah sebagai berikut :
a) ayi lahir belum cukup bulan.
b) ayi lahir dengan berat kahir rendah (LR).
c) Keguguran (abortus).
d) Persalinan tidak lancar / macet.
e) Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan.
f) Janin mati dalam kandungan.
g) Ìbu hamil / bersalin meninggal dunia.
h) Keracunan kehamilan / kejang-kejang.
. Pencegahan
Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah bila gejalanya ditemukan
sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikinya, yaitu
dengan cara :
a) Dengan memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur ke
Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit, paling sedikit 4 kali selama
masa kehamilan.
b) Dengan mendapatkan imunisasi TT sebanyak 2 kali.
c) ila ditemukan kelainan risiko tinggi pemeriksaan harus lebih sering
dan lebih intensif.
d) Makan makanan yang bergizi yaitu memenuhi 4 sehat 5 sempurna











Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___15

. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Proses pengkajian dilakukan selama periode prenatal yang
meliputi wawancara, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.
Data yang perlu dikumpulkan pada saat pengkajian adalah interpretasi
subyektif pasien tentang status kesehatan dan kehamilannya dan
observasi afek pasien, postur, bahasa tubuh, warna kulit, tanda fisik dan
keadaan emosional (Klien, 2000).
Saat wawancara tanyakan riwayat kesehatan komprehensif yang
menekankan pada :
a. Kehamilan saat ini: alasan mencari perawatan, keluhan utama atau
keluhan yang dirasakan selama hamil, hamil keberapa, usia
kehamilan sekarang, tanggal perkiraan melahirkan, kebutuhan
selama kehamilan, persiapan persalinan dan persiapan awal menjadi
ibu, harapan yang diinginkan tentang cara kelahiran, jenis kelamin
bayi, status nutrisi, pola berkemih.
b. Kehamilan sebelumnya: jumlah anak saat ini, riwayat kehamilan dan
pengalaman persalinan sebelumnya, riwayat kehilangan (abortus)
janin, dan riwayat medis yang meliputi: riwayat pembedahan,
penggunaan obat, penyakit yang menyertai, riwayat menstruasi.
c. Riwayat psikososial dan budaya: pekerjaan wanita dan pasangan,
pendidikan, status pekawinan, latar belakang budaya dan etnik,
status sosial ekonomi, persepsi tentang kehamilan saat ini (apakah
kehamilan ini diinginkan, direncanakan, apakah wanita dan pasangan
senang, apakah wanita menerima kehamilan), masalah yang timbul
akibat kehamilan (finansial, karier/pekerjaan, tempat tinggal),
perubahan pola seksual.
d. Keadaan keluarga: kaji sistem dukungan keluarga, hubungan ibu
hamil dengan suami, keluarga ayah, ibu, dan saudara, hubungan
dengan keluarga suami, riwayat cacat dan kelainan genetik Riwayat
keluarga memberi informasi tentang keluarga pasien, orang tua,
saudara kandung, anak, Hal ini membantu mengidentifikasi
gangguan genetik, familial dan kondisi yang dapat mempengaruhi
status kesehatan wanita atau janin.
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___16

e. Pengkajian fisik: pemeriksaan fisik difokuskan pada pemeriksaan
ginekologi, payudara, abdomen, pemeriksaan panggul, inspeksi luar,
pemeriksaan dalam, palpasi luar, dan pemeriksaan yang menyangkut
keluhan utama dan riwayat kesehatan atau penyakit yang pernah
diderita pasien.
f. Tes kesehatan atau laboratorium yang pernah dilakukan selama
hamil: pemeriksaan darah (kadar Hb, Ht, sel darah putih, glukosa,),
tekanan darah, tinggi badan, berat badan, urin (protein, sel darah
putih, pH), USG, VDRL, hepatitis, EKG, titer rubela, toxo, pap smear.
g. Pengkajian semua faktor resiko yang mungkin ada: Hipertensi,
jantung, diabetes, cacat bawaan.
Dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga perlu
dilakukan pengkajian yang berkaitan dengan tugas perawatan
kesehatan keluarga, yaitu:
a. Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah
kesehatan
Hal yang perlu dikaji Untuk mengetahui kemampuan keluarga
mengenal masalah kesehatan adalah
1) Pengetahuan pasien dan keluarga tentang fakta dari masalah
yang meliputi pengertian, tanda kehamilan, gejala kehamilan
normal dan penyimpangan dari normal,
2) Persepsi keluarga terhadap kehamilan
b. Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan
mengenai tindakan kesehatan yang tepat
Hal yang perlu dikaji Untuk mengetahui kemampuan
keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
yang tepat adalah :
1) Apakah kehamilan yang dialami dianggap suatu masalah
2) Apakah keluarga takut dengan akibat perubahan yang terjadi
akibat kehamilan
3) Apakah keluarga mempunyai sikap negatif terhadap anggota
keluarga yang sedang hamil dan kehamilannya
4) Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan
5) Apakah keluarga percaya terhadap petugas kesehatan
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___17

c. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga merawat
anggota keluarga yang sakit
Hal yang perlu dikaji Untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
adalah :
1) Sejauh mana keluarga mengetahui kehamilannya: kebutuhan,
perubahan dan perawatan
2) Sejauh mana keluarga mengetahui kebutuhan dan
perkembangan perawatan yang diperlukan
3) Sejauh mana keluarga mengetahui sumber sumber yang ada
dalam keluarga (penanggung jawab, sumber keuangan,
fasilitas fusik, psikososial, dukungan keluarga)
4) agaimana sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang
sedang hamil
d. Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga memelihara
lingkungan rumah yang sehat
Hal yang perlu dikaji Untuk mengetahui sejauhmana
kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat
adalah :
1) Sejauhmana keluarga mengetahui sumber sumber yang
dimiliki
2) Sejauhmana keluarga melihat keuntungan/manfaat
pemeliharaan lingkungan
3) Sejauhmana keluarga mengetahui pentingnya higiene sanitasi
4) Sejauhmana keluarga mengetahui upaya pencegahan
5) Sejauhmana kekompakan antar anggota keluarga
e. Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga
menggunakan fasilitas/pelayanan kesehatan di masyarakat.
Hal yang perlu dikaji Untuk mengetahui sejauhmana
kemampuan keluarga menggunakan fasilitas/pelayanan kesehatan
di masyarakat adalah :
1) Sejauh mana keluarga tahu keberadaan fasilitas kesehatan
yang dapat digunakan untuk perawatan wanita hamil
2) Sejauhmana keluarga mengetahui keuntungan yang dapat
diperoleh dari fasilitas kesehatan
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___18

3) Sejauhmana keluarga mempercayai petugas dan fasilitas
kesehatan
4) Apakah keluarga mempunyai pengalaman yang kurang baik
dengan petugas kesehatan
5) Apakah fasilitas kesehatan yang ada terjangkau oleh keluarga
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa ditegakkan berdasarkan data yang didapat selama
pengkajian. Diagnosa yang mungkin muncul adalah :
a. Ansietas yang berhubungan dengan Kekhawatiran terhadap diri
sendiri dan janin, Krisis situasional/maturasional, Perubahan fisik
selama hamil, Rasa tidak nyaman selama krhamilan, Ancaman
terhadap konsep diri, Stres, Perubahan status peran, status
kesehatan, pola peran, keadaan ekonomi
b. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan respon
keluarga terhadap diagnosa kehamilan
c. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman
terhadap penatalaksanaan kesehatan dan kehamilan
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan Morning sicknes atau Emesis gravidarum.
e. Perubahan pola seksual yang berhubungan dengan Rasa kurang
nyaman pada kehamilan, Rasa takut bahwa senggama akan
mencederai janin.
f. Konflik peran orang tua berhubungan dengan Ketidaktahuan peran
yang harus dijalankan, Perubahan status peran, perkawinan
g. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan Persepsi negatif
terhadap kehamilan, Psikososial, Perubahan fisik selama kehamilan.
Untuk diagnosa keperawatan keluarga etiologi berdasarkan hasil
pengkajian dari 5 tugas perawatan kesehatan keluarga.

3. Rencana Ìntervensi
Tujuan utama intervensi yang akan dilakukan pada asuhan keperawatan
yang diberikan pada masa kehamilan adalah :
a. Wanita akan menunjukan pengetahuan yang benar tentang adaptasi
yang dialami tubuh seorang ibu hamil terhadap perkembangan janin
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___19

sebagai dasar untuk memahami rasional dan pentingnya perawatan,
koping yang digunakan dan menjalankan perannya.
b. Wanita akan menggunakan pengetahuan tentang kebutuhan nutrisi,
kebutuhan seksual, aktivitas sehari hari, rasa tidak nyaman akibat
kehamilan, dan perawatan diri.
c. Wanita akan mengenali gejala gejala yang menunjukan
deviasi/penyimpangan dari kehamilan normal dan melaporkan hal hal
tersebutuntuk dapat segera diatasi.
d. Wanita dan keluarganya akan berpartisipasi secara aktifdalam
perawatannya selama kehamilan.
Dari beberapa masalah keperawatan yang muncul, perawat
dapat melakukan intervensi yang berkaitan dengan kebutuhan selama
kehamilan diantaranya adalah:
a. Ciptakan hubungan perawat-pasien-keluarga yang saling percaya.
Hal ini penting untuk menentukan intensitas, kualitas hubungan dan
keberhasilan intervensi yang direncanakan bersama
b. Kaji keluhan selama hamil: mual, muntah, pusing, perubahan pola
seksual, sering kencing dan pengalaman kehamilan dan persalinan
sebelumnya.
c. erikan informasi adequat tentang kehamilan: perubahan fisik,
perubahan emosi, psikologis dan perubahan peran serta tanda tanda
dari masalah kehamilan yang tidak normal.
d. eri kesempatan pasien, pasangan, anggota keluarga, atau anak
untuk mengutarakan perasaan terhadap kehamilan yang dijalani,
harapan dan masalah yang mungkin ada terkait kehamilan anggota
keluarganya.
e. Libatkan pasien, pasangan, anggota keluarga, atau anak dalam
kelompok yang sama untuk berbagi pengalaman, pendapat dan
perasaan
f. Diskusikan bersama pasien, pasangan atau anggota keluarga yang
lain tentang kebutuhan selama hamil, harapan terhadap kehamilan
sekarang, dan rencana persalinan.
g. Ajarkan teknik persiapan yang diperlukan untuk proses persalinan
dan persiapan menjadi ibu: latihan nafas, senam hamil, teknik
mengejan yang benar, cara perawatan payudara, cara menyusui.
Laporan Pendahuluan Asuhan keperawatan Keluarga Pada Ìbu Hamil Dengan Resiko Tinggi___20

h. erikan alternatif /pilihan penyelesain terhadap masalah yang
dirasakan
i. erikan dukungan secara adequat dan anjurkan pada keluarga untuk
melakukan hal yang sama terhadap perubahan yang tejadi selama
kehamilan
j. Jelaskan cara senggama yang aman untuk wanita hamil, perawatan
diri yang diperlukan terkait perubahan selama kehamilan (payudara,
personal higiene,kulit)
k. Anjurkan keluarga ikut berperan pada perawatan ibu
l. eri informasi pada pasien dan anggota keluarga untuk mengakses
sumber informasi terkait kehamilan: buku, internet, konsultasi dengan
dokter kandungan.
m. Motivasi pasien untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara
teratur termasuk pemeriksaan darah, dan ginekologi.
n. Diskusikan dengan ibu dan atau anggota keluarga yang lain tentang
jadwal kunjungan dan pemeriksaan kehamilan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->