P. 1
SOP APotek

SOP APotek

|Views: 1,328|Likes:
Published by Neni Sri Gunarti

More info:

Published by: Neni Sri Gunarti on Apr 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/24/2013

pdf

text

original

GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN LAWEYAN KOTA SOLO TAHUN 2007

SKRIPSI

Oleh:

ROSY MELLISSA K.100.050.150

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2008

Apoteker harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalam proses pelayanan.BAB I PENDAHULUAN A. Untuk menunjang fungsi tersebut apotek dituntut menyelenggarakan pelayanan farmasi yang berkualitas (Hartini dan Sulasmono. Oleh sebab itu apoteker dalam menjalankan praktek harus sesuai standar yang ada untuk menghindari terjadinya hal tersebut. Latar Belakang Apotek merupakan tempat pengabdian dan praktek profesi apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian untuk membantu mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Apoteker harus mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan 1 . Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah melaksanakan pemberian informasi. monitoring penggunaan obat dan mengetahui tujuan akhirnya sesuai harapan dan terdokumentasi dengan baik. ketrampilan dan perilaku untuk dapat melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut. 2006). apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan. 2004). Kegiatan pelayanan kefarmasiaan yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien (Depkes. Pelayanan farmasi pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien yang mengacu kepada pelayanan kefarmasian (pharmaceutical).

pengelolaan sumber daya dan pelayanan? C. 2004).. apoteker. tanggal 15 September 2004 ditinjau dari kondisi apotek. . 2004). 2004).2 lainnya dalam menetapkan terapi untuk mendukung penggunaan obat yang rasional (Depkes.84 (buruk) (Purwanti et al. B. Gambaran tersebut perlu diperluas untuk memperoleh informasi tentang standar penyelenggaraan pelayanan farmasi di Kota Surakarta khususnya di Wilayah Kecamatan Laweyan. Perumusan Masalah Penelitian ini secara spesifik dilakukan untuk memperoleh deskripsi : apakah apotek di wilayah Kecamatan Laweyan Kota Solo sudah melaksanakan standar pelayanan kefarmasian menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004. Standar tersebut mencakup aspek pengelolaan sumber daya dan pelayanan (Depkes. Untuk meningkatkan kualitas layanan farmasi di apotek Pemerintah telah menetapkan standar pelayanan kefarmasian yang berasas Pharmaceutical Care (Kepmenkes 1027/Menkes/Sk/IX/2004). Salah satu hasil penelitian di Jakarta tentang standar pelayanan kefarmasian menunjukkan rerata skor dari pelayanan kefarmasian adalah 31. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pengelolaan apotek di wilayah Kecamatan Laweyan apakah sudah memenuhi standar pelayanan kefarmasian menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004.

Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan. Apotek dan Standar Pelayanan Kefarmasian. b). termasuk perpajakan. Perundang-undangan farmasi dan ketentuan lainnya. . Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan. f). Administrasi. 2006). d). b). 2). Penjualan. 2004). Ketentuan-ketentuan yang menyertai a). Definisi Apotek adalah tempat tertentu. c). g). 3). Lokasi. tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi. menyangkut pula laporan-laporan. Apotek 1). Pembelian. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata (Hartini dan Sulasmono. pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat.3 D. perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat (Anonim. Keuangan. a. pengubahan bentuk. Penyimpanan barang/pergudangan. yang terpenting ialah kalkulasi harga atas resep dokter. Tinjauan Pustaka 1. Cakupan pekerjaan a). e). c).

4 h). i). Standarisasi Pelayanan kefarmasian Berdasar Kepmenkes mencakup aspek : 1). tempat informasi. ruangan untuk konseling pasien. apotek harus mudah diakses oleh anggota masyarakat (b). apotek berlokasi pada daerah yang mudah dikenali masyarakat. kumpulan perundangan yang berlaku. b. 1998). Farmakope Indonesia. . belajar sepanjang karier. kemampuan berkomunikasi antar profesi. mengelola SDM secara efektif. pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek. Fisik Dari aspek fisik meliputi : (a). sanitasi yang baik. Kenyamanan pasien yang meliputi penerangan yang cukup. Sumber Daya Manusia Untuk pengelolaan sumber daya dan pelayanan kefarmasian tanggung jawab pada apoteker yang profesional yang mempunyai kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik. 2004). Evaluasi apotek pada akhir tahun (Anief. Manajemen personalia. menempatkan pimpinan dalam situasi multidislipiner. 2). mengambil keputusan yang tepat. ruang administrasi dan kerja apoteker. ruang tunggu yang nyaman. sumber air. Kenyamanan apoteker yang meliputi ruang peracikan dan penyerahan resep. membantu pendidikan dan memberi peluang untuk meningkatkan pendidikan (Depkes.

Manajemen meliputi hal-hal sebagai berikut : a) Pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya. Perencanaan Perencanaan merupakan kegiatan dalam pemilihan jenis. lengkap dengan rak-rak penyimpanan obat dan barang-barang yang tersusun rapi. kontrol mutu dan jumlah obat secara berkala. perlengkapan dan alat penyimpanan sediaan farmasi dan alat-alat kesehatan lainnya. kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan dengan temperatur yang telah ditetapkan. Kenyamanan pelayanan yang meliputi alat pembuatan. pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat terpisah dari aktifitas pelayanan dan penjualan produk lainnya. Untuk perencanaan diperlukan buku defekta. 3). Manajemen Manajemen merupakan usaha atau kegiatan yang dilaksanakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan oran lain (Anief. 1998). pemadam kebakaran. Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya dilakukan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku meliputi : (1).5 (c). kelengkapan bangunan. jumlah dan harga dalam rangka pengadaan dengan tujuan mendapatkan jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran serta menghindari kekosongan obat. buku pesanan. alat dan perlengkapan untuk pengujian sederhana. pengolahan. kartu stok. perabotan apotek harus tertata rapi. memiliki tempat penyimpanan narkotik. . terlindung dari debu. dan peracikan.

Penyimpanan Penyimpanan obat harus dikelompokkan berdasar bentuk sediaan. Hal ini untuk menjamin kualitas pelayanan farmasi. nama obat.sesuai kondisi yang dipersyaratkan. . alamat pasien.6 (2). catatan obat psikotropika. Pelayanan Bidang pelayanan meliputi beberapa hal yang meliputi : (1). catatan obat narkotika. sistem FEFO (First Expired First Out). (3). berat badan pasien. perlu dilaksanakan kegiatan administrasi yang meliputi: (1). SIP dokter. jenis kelamin pasien . pengarsipan catatan pengobatan pasien. Administrasi umum: penyimpanan faktur. pencatatan mengenai masa kadaluarsa. Apoteker melakukan skrining resep meliputi (a). alamat dokter. nama pasien. pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat (Anonim. tanda tangan/paraf dokter penulis resep. Skrining resep. tanggal penulisan resep. 2004). (2). umur pasien. resep disimpan sesuai ketentuan. sistem FIFO (First In First Out). Pengadaan Pengadaan barang dilakukan dengan membeli obat dari sumber resmi. Persyaratan administratif : nama dokter. Administrasi pelayanan: pengarsipan resep. b). Administrasi Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek. obat narkotika dan psikotropika pada lemari tersendiri. c).

Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan. Apoteker melakukan pemantauan penggunaan obat pada pasien. durasi. dosis. a. efek samping. . memberikan pelayanan kunjungan rumah. (4). (c). 2. jumlah obat yang diminta. dosis. Apotek mempunyai SOP/Protab mengenai peracikan dan standar waktu lama pelayanan resep. interaksi. potensi. kesesuaian (dosis. membuat leaflet tentang obat. Prinsip Pharmaceutical Care. melakukan survei tingkat kepuasan pasien (Depkes. b. (3). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan (Depkes. Pertimbangan klinis : adanya alergi. Penyerahan obat dilakukan apoteker dan harus selalu berada di apotek apabila berhalangan digantikan apoteker pendamping. Pharmaceutical Care sebagai asas pelayanan kefarmasian. 2004).7 potensi. (2). cara pemakaian yang jelas. 2004). inkompatibilitas. cara dan lama pemberian. memberikan penyuluhan kesehatan di lingkungan apotek. stabilitas. jumlah obat dan lain-lain). Definisi Pelayanan kefarmasian (pharmaceutical Care) adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. informasi lainnya (b).

c) Kesehatan pasien adalah yang terpenting. d). rute. Pelayanan langsung a) Inti konsep pelayanan adalah kepedulian. Pertimbangan pemilihan obat. Hasil terapi pada akhirnya melibatkan tiga fungsi utama : a). . b) Ada hubungan langsung antara pelaku pelayanan dan seorang pasien. perhatian pribadi terhadap Kesehatan orang lain. pelayanan Informasi yang berkaitan dengan obat. Pencegahan masalah. Dosis. c). Berkaitan dengan obat : a).8 Prinsip-prinsip Pharmaceutical Care meliputi : 1). Terapi obat. Hasil terapi a) Kesembuhan penyakit. 2). b) Peniadaan atau pengurangan gejala. apoteker mengadakan Keterikatan pelayanan langsung. Bila perlu mencakup keputusan tidak menggunakan terapi obat tertentu. c). metode pemberian pemantauan terapi obat. c) Menghentikan atau memperlambat proses penyakit. Keputusan tentang penggunaan obat untuk pasien individu. b). 3). Memberikan solusi pada masalah. b). Mengidentifikasi masalah nyata yang mungkin berkaitan dengan obat. d) Pencegahan penyakit atau gejala.

Ketiga tahap proses ini terjadi secara terus menerus bagi setiap pasien. pasien dan praktisi membuat suatu perencanaan untuk menyelesaikan dan mencegah masalah terapi obat dan untuk mencapai tujuan terapi. bebas dari kesakitan. untuk mengkaji perkembangan dalam pencapaian tujuan terapi dan menilai kembali munculnya masalah baru. mampu memelihara diri sendiri. Mutu kehidupan Sasaran mutu kehidupan adalah mobilitas fisik. Tujuan ini didesain untuk : a) Menyelesaikan setiap masalah terapi yang muncul b) Mencapai tujuan terapi individual c) Mencegah masalah terapi obat yang potensial terjadi kemudian 3) Evaluasi: mencatat hasil terapi. Meskipun definisi pelayanan kefarmasian telah diterapkan secara berbeda. 2) Pengembangan perencanaan perawatan (Development of a care plan): secara bersama-sama.9 4). c. aman dan sesuai serta untuk mengidentifikasi setiap masalah terapi obat yang muncul atau memerlukan pencegahan dini. berkhasiat. gagasan dasar adalah farmasis bertanggung jawab terhadap hasil penggunaan obat . Langkah-langkah untuk implementasi Pharmaceutical Care Ada 3 tahap proses yang meliputi : 1) Penilaian (assessment): untuk menjamin bahwa semua obat yang diberikan kepada pasien terindikasikan.. Konsep perencanaan pelayanan kefarmasian telah dirangkai oleh banyak praktisi farmasi klinis. 1998). mampu ikut serta alam interaksi sosial yang normal (Cipolle et al.

Dengan kata lain. praktek ini berorientasi pada pelayanan yang terpusat kepada pasien dan tanggung jawab farmasis terhadap morbiditas dan mortalitas yang berkaitan dengan obat (Anonim. . 2003).10 oleh / untuk pasien sama seperti dokter atau perawat bertanggung jawab terhadap pelayanan medis dan keperawatan yang mereka berikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->