P. 1
EMEW (Electro Metal Electro Winning) at Pt. Freeport

EMEW (Electro Metal Electro Winning) at Pt. Freeport

|Views: 788|Likes:
Published by inilahadanya

More info:

Published by: inilahadanya on Apr 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

~~~~~~~~~~II LIN G K·U N G A N II

Instalasi Pengolahan Air Asam dan Tambang PT. Freeport Indonesia

J.B. Hersubeno dan Haryo Kuncoko

Abstrak

Air asam tam bang atau air asam batuan merupakan masalah umum ynag dihadapt oleh industri pertambangan. Pengolahannya diperlukan agar Air Asam Tambang (AAT) tidak terbuang secara bebas ke lingkungan. Sasaran . utama pengolahan air asam tambang di PT. Freeport Indonesia di Irian Jaya adaloh pengendalian air asam tam bang agar tidak mencemari Iingkungan di samping itu ada keuntungan yang dapat diraih sekaligus yaitu untuk: mendapatkan oil' tambahan untuk. proses dan diperolehnya katoda tembaga dari hasil proses ini. PT. Freeport Indonesia telah memiliki Instalasi Pengo/ah AAT yang menerapkan 2 teknologi mutakhir dalam proses pemisahan yaitu menggunakan slstem pertukaran ion untuk pemekatan kadar tembaga menggunakan Molecular Recognition Technology (MR1) dan proses.Electrowinning dengan teknologi ElektroMetal-Electro Winning (EMEW). Teknologi MRT telah membukiikan kemampunannya dalam pengikatan temabaga dari ARD.hingga menyisakan tembaga do/am rafinatnya menjadi< J 0 ppm dan melepaskan kembali tembaga yang terikat di dalam resin me/alui elusi untuk: menghasllkan elekirolit kaya tembaga pada kisaran 3-5 giL. Kinerja sel EMEWyang telah menghasilkan katoda tembaga murni LME grade A(>99, 99%Cu) pada efesiensi arus >95% dan menghasilkan larutan miskin tembaga di bawah 400 pmm ada/ah sesuai dengan desain awal. Masth} dijumpai permasalahan yang

berkaitan dengan ketidak ajegan laju alir AAT di dalam kolom MRT. .

Acid rock drainage (ARD) or Acid Mine Drainage (AMD) issues are prevalent throughout worlds mining industry. Acid rock drainage mangement is is needed in order to prevent its entri 10 ecosystem. The main objective ofth« ARD treatment at PT. Freeport Indonesia is to control the ARD in order to prevent polution of the surounding. There are two immediate benefits from having this ARD treatment plant firstly large volume of treated water suitable for mill consumption and seconly the production 0/ copper cathode which can genarate revenue to mitigate the longterm.cost of ARD. Recenly PT. Freeport Irs commisioned it ARD treatment plant by combining two the latest technology in separation technique namely Molecular Recognition Tecgnology for extracting copper through ion exchange and ElectroMetal-Electro-Winning (EMEW) technology for recovering a salable pure copper inform oj cathode product. From a technical perspective, the capability of the MRT system to remove copper in solution from ARD to very low level «10 ppm Cu) and to release the copper into loade electrolyte at reasonable tenors (3-5g!1) has been demonstrated. Similarly, the permformance of the EMEW plant to produce LMA grade A (>99,99% Cu) cathode copper at a high current efficiencies (>95%), while producing an acceptable barren electrolyte «400 ppm) is as per design criteria. Unfortunately, there are significant on going problem in maintainaing design flow rates through the packed bed MRT columns.

I. Pendabuluao

. A. Air Asam Tambaog dan Permasalabaooya

Air Asam Tambang (Acid Mine Drainage) atau Air Asam Batuan (Acid Rock Drainage) sering dijumpai di daerah pertambangan. Air asam ini terkontaminasi oleh logam-logam terlarut sebagai hasil proses oksldasi mineral-mineral bijih pada lingkungan

lembab atau berair. Reaksi biologi dan kimia pada mineral-mineral bijih dari suatu batuan akan menghasilkan larutan asam, larutao asam terse but selanjutnya akan melarutkan sejumlah logam dari batuan bijih, batuan limbah dan atau pasir sisa (tailings). Di PT. Freeport Indonesia air asam batuan atau air as am tambaog yang dij umpai terutarna mengandung logam tembaga sebagai hasil proses pelindihanl

pelarutan mineral tembaga pada timbunan batuan limbah di daerah tambah. Bergantung kepada Iokasi timbunan batuan limbah, tipe bijih, kandungan suifida, derajad oksidasi dan tingkat pengenceran dari swnber luar, Air Asam Tambang dapat memiliki interval pH dad mendekati netral dengan kandungan logam beberapa miligram per liter hingga bersifat sangat asam dengan kandungan

ENERGJ No.10 November 2000 - Januari 2001

23

II LIN G K U N.G A N I~I ~~~~~~~~~~

logam ribuan miligram per liter. Sumber utama air asam tambang tersebut adaalh dari Aliran Timur dan Aliran Barat yang mengalir ke danau Wangon dengan debit sekitar 12.000 gpm dan Pintu Air dengan debit maksimum 5000 gpm. Dengan membiarkan al iran air asam tambang, yang memiliki pH rendah dan berwama hijau kebiruan, ini terbuang begitu saja ke alam, berarti membiarkan terjadinya peneemaran di daerah aliran sungai yang selanjutnya akan memperngaruhi kualitas air pennukaan di daerah terse but. Sesungguhnya air asam tambang merupakan salah satu sumber air potensiaI untuk memenuhi keb~tuhan air proses di pabrik pengolah biji ternbaga terutama di rnusirn kering dimana ketersediaan air merupakan faktor pembatas produksi yang penting. Hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan air asam batuan yang mengandung tembaga terlarut unutk air proses di pabrik pengolah bij i tembaga temyata menurunkan tingkat perolehan (recovery) Iogam di sel flotasi, Untuk itu, potensi air yang eukup melimpah ini harus diupayakan unutk dapat diolah agar dapat digunakan sebagai air proses pada pada pabrik pengolah bijih tembaga milik PT. Freeport Indonesia yang berlokasi di Irian 1 aya.

B. Keuntungan Pembangunan

Instalasi Pengolah Air Asam Tambang (AAT)

Pembangunan Instalasi Pengolah AAT didasarkan kepada komitmen lingkunganjangka panjang PT. FI yang tidak terpisahkan dari proses produksi. Bentuk kepedulian lingkunagn PT FI adalah dengan mengolah air asam tam bang yang ada didaerah kerjasebeJum dibuang ke Iingkungan bebas. Di samping itu, dengan pengolahan AAT ini sekaligus paling sedikit dapat ditarik dua keuntungan langsung, yaitu :

• Diperolehnya pasokan tambahan sejumlah air untuk proses di Pabrik Pengolah Bijih Tembaga

• Diperolehnya katoda tembaga kualitas murni

Disamping kedua keuntungan tersebut, Instlasi pengolah AAT ini dapat pula dipandang sebagai salah satu bentuk embrio kegiatan yang berkaitan

. dengan rencana penutupan tambang (Mine Closure Plan) PT. FI.

Pembangunan proyek Instalasi Pengolahan AAT ini telah dimulai sejak bulan Desember 1997, dan beroperasi sejak bulan Oktober 1998. Instalasi Pengolah AAT di PT. FI memnafaatkan gabungan 2 teknologi mutakhir yaitu MRT (Molecular Recognition Technology) dan EMEW (Electro-MetalElectro-Winning) untuk mengekstrak tembaga dari air.

II. Tinjauan Ekstraksi Logam

Sel Elektrokimia pada sistem Elektrowinning Konvensional. Pengambilan logam dari suatu Iarutan dengan elektrolisis atau elektrowinning merupakan teknik populer yang banyak dilakukan di berbagai industri. Hal yang menarik dari proses eJektroJisis adalah kesederhanaan prosesnya yakni dengan cara memberikan aliran elektrolisis adalah kesederhanaan prosesnya yakni dengan cara memberikan aliran listrik searah pada elelctroda-elektroda yang dicelupkan di dalam larutan elektrolit, dan mampu menghasilkan logam murni yang menempel pada pennukaan katoda.

OJ industri pertambangan proses elektrolisis banyak dipakai karena kesederhanaannya lebih-Iebih setelah berkembangnya teknik kombinasi Ekstaksi Peiarut1Electrowinning (SXEleetrowinning) .

Faktor yang mempengarubi Proses Elektrawinning

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas logam hasil electrowinning :

1. lumlah arus yang mengalir ke katoda akan mempengaruhi jumlah logam yang menempel di katoda sesuai dengan hukum Faraday

m=M.3600/ZQ

dengan m=berat logarn tertempel; M=massa Iogam; Z=konstanta Faraday=96480 . coulomb dan Qvrnuatan ion).

2. Kecepatan dan bentuk aliran fluida di dalam sel akan mempengaruhi kualitas serta morfologi lempengan logam pada katoda. Kecepatan aliran tidak hanya menentukan morfologi mendapat tetapi juga mempengaruhi pembentukan gas di dalam sel.

3. Tegangan sel optimum untuk setiap logam akan bergantung kepada konduktivitas larutan, arus yang diberikan dan jarak antarelektro- . danya. Di dalam suatu sel elektrokimia pemakaian volt ill Iuar rentang tegangan elektrokimia akan berpengaruh pada baik buruknya bentukan logam terendapkan.

Sel Electro-Metal Electro-Winning (EMEW)

Eleetrometal Mining Limited, Australia, telah mengembangkan teknik elektrowinniog logam yang unik sejak tahun 1994 yang kemudian disebut sebagai sel Elektro-Metal Elekto- Winning (EMEW). Seeara fisik sel EMEW mempunyai disain yang berbeda dengan sel elektrolisis konvensional yaitu berupa tabung, bukan berbentuk kotak bak besar dimana sejumlah elektroda disusun seperti pada umunya, Sel EMEW dibentuk oleh anoda yang berada di . tengah dan katoda sebagai batas bgian dalam tabungnya. Larutan yang dipompakan memasuki tabung dengan keeepatan tinggi, mengalir seeara melingkar di dalam tabung sedemikian rupa sehingga kontak antara ion-ion tembaga dengan permukaan dalam katoda seeara terus menerus diperbaharui dan keseimbangan antara pasokan (distribusi dan jumlah ion logam dalam larutan ) dengan permintaan (jumlah arus yang diberikan pada elektroda) Iebih bersifat

24

ENERGI No.10 November 2000 ~ Januari 2001

langsung dan lebih efektif daripada yang terjadi pada sel konvensional. Uj i operasional sel EMEW skala industri pertama kalai dilakukan tahun 1995 di Young, Australia dan telah menghasilkan 250 ton/tahun katoda tembaga dengan kernurnian 99,99% dari larutan tembaga berkonsentrasi rendah hasil pelindihan di area bebas pertambangan tembaga (heap leach). Hasil percobaan terse but menunjukkan bahwa effisiensi arus sel EMEW sangat

tinggi pada operasi

elektrowinning larutan

berkadar tembaga tinggi hasil ekstraksi pelarut. Hal ini terutama karen a efisiennya transport ion logam di dalam sel. Dengan demikiaan , penggunaan sel EMEW untuk pengambilan logam menjadi lebih produktif daripada cara yang diperoleh dengan cara konvensional. Berbeda dengan teknik electrowinning pada , umunya, sel EMEW menghasilkan katoda tembaga bentuk tubular yang kokoh, mampu bekerja pada larutan dengan tingkat kandungan tembaga rendah dan tingkat kemurnian katoda yang dihasilkan 99,99%. Berikut adalah perbandingan susunan sel antara sistem sel EMEW dengan sistem konvensional.

Teknologi MRT (Molecular Recognition Technology) ,

Sejak Pederson mernperoleh Nobel kimia tahun akhir 1960~an untuk penemuan senyawa makrosiklik, penelitian senyawa makrosiklik berkembang pesat.

'Dalam thesisnya Dr. Ron Bruening menunjukkan bahwa hanya ada satu cara unutk 'membuat ekstraksi larutan dengan senyawa makrosiklik tersebut dapat didaur ulang, yaitu dengaricara menempelkannya pada pdatan pendukung. Konsep inilah yang mendasari MRT yaitu dengan

menempelkan ligan-ligan yang didesain khusus memiliki selektivitas tinggi secara ikatan kovalenpada padatan pendukung yangstabil seperti silika gel atau polimer sehingga dapat mengikat ion-ion tertentu secara selektif. Teknologi MRT mampu memisahkan ion logam secara selektif dan efisien baik untuk pemisahan ion , dalam konsentrasi yang sangat rendah atau tinggi dalam volume besar. Ligan membentuk ikatan koordinasi dengan

Karena selektivitasnya yang tinggi, MRT mampu "megikat ionpada konsentrasi sangat rendah bahkan dengan adanya matriks pengganggu berkonsentrasi tinggi pada larutan asam atau basa sekalipun sera menghasilkan produk yang murni. ~BC Advanced TechnologyInc., sebagai perusahaan yang mengembangkan ligan MRT"telah berhasil membuat berbagai jenis ligan untuk. pengikatan kation dan anion. Karena karakteristiknya yang unik, MRT banyak digunkandi bidang hidrometalurgi untuk pemishan logam- logam seperti tembaga sengm nikel, emas, platina.

III. Proses Pengolahan AAT di PT. Freeport Indonesia

PT., Freeport Indonesia melakukan pengolahan air asam ,tam bang dengan memanfaatkan gabungan dua teknologi yaitu MRT (Molecular Recognition Technology Winning) dari Eletrometals Ltd. Australia. Teknologi tersebut merupakan teknologi terbaru di dunia, sehingga instalasipengolah AAT ini merupakan instalasi pertama sejenis di dunia. Keuntungan proses pengolahan air asam tambang dengan kedua metode tersebut adalah dihasilkannya katodatembaga ,murJli,

99,99% Cu, dengan tingkat perolehan logam hampir 100%.

Area pertambangan PT. Freeport Indonesia (dok.PFI)'

ion yang akan dipisahkan. Larutan pekat hasil pemisahan langsung dapat diolah untuk membuat produk akhir dengan dampak lingkunagn yang mini-

, mal. Material fasa pad at, ligan, yang terikat pada padatan pendukung tersebut membentuk partikel MRT yang disebut Superlig. Superlig . dapat diregenerasi ratusan bahkan ribuan kali bergantung kepada jenis larutan yang diproses. Selektivitas MRT dalam mengikoat iondidasarkan atas beberapa parameter seperti antara lain kepada ukuran ion, .sifat kirnia, dan gometri.

Sistem Pengaliran Air Asam Tambang ke Instalasi Pengolahan ,

Pada tahap awal operasi instalasi pengolahan AAT ini hanyadiolah AAT dari sumber air Pintu Air yang terletak pada elevasi 3751 m di atas pennukaan Iaut dengan debit maksimum 5000 GPM. Sumber air Pintu Air Berada di dekat puncak HEAT (Heavy Equipment Access Trail). Karena lokasi sumber air asam berada pada • daerah yang berlereng curam dan sifat airnya asam

ENERGI No.10 November 2000 - Januari 2001

25

maka dibuat perpiapan khusus agar tidak terjadi pengenceran dari air permukaan atau air hujan. Untuk mengalirkan AAT ini ke instalasi pengolahan AAT yang terletak di area pbrik pengolah bij ib mineral tembaga di Mil 74 telah digunakan pipa HDPE 18" sepanjang lebih kurang 2,2 km memotong dan menelusuri jalan HEAT dengan cara menggantungkannya pada kawat seling, kemudian masuk ke terowongan bawah tanah. Untuk mengurangi tekanan pada pipa akibat perbedaan elevasi yang cukup tajam, telah dipasang 3 buah "tank reducer" berikut valve pembebas tekanan (pressure release valve). Memasuki daerah tambang bawah tanah, AAT dialirkan melalui pipa HDPE" 24" yang tergantung di bagian atas terowongan hingga masuk daerah Mill melalui GRS 71 sepanjang lebih kurang 2 km. Sebelum AAT inemasuki instalasi pengolahan AAT, Air Asama Tambang tersebut terlebih dahulu ditampung di dalam tanki penampaungan AAT.

PROSES PENGOLAHAN AIR ASAM TAMBANG

A. Pemekatan "Kadar Tembaga.di dalam AAT

Secara umumproses pengolahan AAT di Instalsi Pengolahan AAT dimulai dengan proses pemekatan kadar tembaga di dalam larutan dengan mengalirkan ke dalam kolom MRT yang" berisi Superlig 132 yang dipasok oleh IBC Advanced Technology Inc., USA. SuperIig132 "ini memiliki selektivitas sangat tinggi terhadap tembaga. Logam-logam lain selain tembaga tidak akan terikat di kolom MRT" selama proses' berlangsung. Konsentrasi tembaga rata-rata dari AAT berasal dari Pintu Air sebelum memasuki kolom MRT berkisar dari 75-300 ppm setelah keluar dari kolom, sebagai rafinat,kandungan tembaganya kurang dari 10 ppm. Rafinat dapat dialirkan ke kolom pemekat pasir sisa melalui HPDE 24" untuk digunakan kembali sebagai air proses di pabrik

pengolah bijih mineral tembaga atau dibuang langsung ke sungai bercaropur dengan tailings dari pabrik pengolah bijih minerai tembaga.

Elusi dan Regenerasi Superlig132

Ion tembaga (II) yang terikat pada permukaan Superlig132 di dalam Kolom MRT diJepaskan kembali dari ikatannya dengan cara mengalirkan

" sejurnlah 16000 galon (2 catu) larutan H.S04 0.5 M ke dalam kolom MRT (elsusi). Dengan kandungan tembaga awal seperti di dalam AAT tipikal dati Pintu Air, garam tembaga sulfat (CuSO J yang di hasilkan dari proses elusi ini dpaat mencapai kadar total

" antara 3000 bingga 50000 ppm Cu atau 3-5 gil tembaga. Larutan elektrolit pekat kaya tembaga hasil elusi ini kemudian ditampung di dalam tangki khusus untuk yang selanjutnya akan diumpankan kepada sel EMEW. Setelah proses elusi, kolom MRT dicuci dengan air untuk mengembalikan Superlig1342 ke kondisi awal yang selanjutnya siap untuk menangkap kembali ion-ion tembaga yang terkandung di dalam AAT dari sumber air Pintu Air.

Sebelum elektrolit kaya tembaga ini dipompakan ke sel EMEW, hams dipastikan bahwa kandungan to-

" tal asam. bebasnya pada batas 50gll. Hal ini dimaksudkan agar konduktivitas larutan tetap terjaga selama proses electrowinning. Berikut ini salah satu contoh hasil elusi.

B. Proses Electrowlnnlng

Instalasi Pengelolah AAT di area Mill memiliki sebanyak 1200 sel EMEW terpasang, dengan ukuran tinggi masing-masing 1.2 meter dan diameter" 6", dari. 8 "bank" yaitu masing-masing merupakan kumpulan 150 sel EMEW yang dibentuk dad 5 "Casette" dengan 30 sel per casette nya. Dua buah "bank" membentuk satu "group" sebingga instalasi ini memiliki 4 grup, 8 bank, setiap bank memiliki 150 sel dan I sel merupakao set unit terkecil sel elektrowinning. Untuk

memasok arus searah kedalam sel tersedia 8 buah penyearah arus dengan kekuatan masing-masing 75 Volt, 1500 ampere. Sehingga tiap-tiap sel dapat menerima 150 Amp dengan tegangan 5 Volt. Dalam kondisi operasi arus dan tegangan maksimum yang dibolehkan " adalah 110 Amp dengan tegangan 3-4 Volt per sel. Pengesetan arus dapat dilakukan secara manualataupun otomatik melalui layar DCS. Elektrolit yang sudah diketahui kandungan tembaganya dipompakan dari tanki penampungan ke sel electrowinning, outlet tiap sel akan menjadi inlet sel yang lain sedemikian sehingga keseluruhan elektrolit yang disirkulasi ualng sampai kadar tembaga yang tinggal di dalam larutan sekitar 500 ppm. Larutan yang sudah miskin tembaga ini, "barren electrolyte", " dipompakan ke tangki khusus untuk digunakan kembali sebagai larutan pengelusi MRT. Pada kondisi operasi aktual katoda tembaga dipanen setiap 10 hari sekali dengan laju produksi sekitar 80-100 sel perhari dengan berat per katoda antara 23-25 kg dengan efesiensi arus > 95.8 % dan tingkat kemurnian katoda tembaga yang dihasilkan> 99.99 % tembaga.

c. Basil dan Permasalahannya

. Upaya telah dilakukan pada bulan Februari dam Maret 1999 untuk mengoperasikan Instalasi Pengolah AAT sesuai spesifikasi desain. Personal Electrometals Ltd. Dati Australia (pemasok sel) EMEW dan IBC dari USA (pemasok resin penukar ion) telah hadir pada bulan Maret" 1999 dalam rangka membantu upaya optimasi operasi dari instalasi terse but. "

Dari prespektif teknikal," kemampuan sistem MRT . untuk menarik tembaga dari larutan AAT (-200pmm) menjadikannya banya tinggal < 10 ppm pada rafinatnya serta melepaskan kembali tembaga yang terikat pada resin pada kolom MRT, rnelalui proses elusi, sebagai elektrolit kaya tembaga 'loaded electrilyte" dengan kadar antara 3-5 gil tembaga,

26

ENERGI No.10 November 2000 • Januari 2001

~~~~~~~~~~II LIN G K U N G A N II

maka sistem ini telah membuktikan kemampuannya. Hal yang sarna juga pada sistem elektrowining yang ditunjukkan oleb sel EMEW untuk mengbasilkan katoda kualitas LME grade A yaitu diatas 99.99% tembaga dengan efisiensi arus> 95.8 % dengan menghasilkan elektrolit miskin tembaga < 400 ppm adalah sesuai dengan kreteria desain. Hanya dalam tahap uji cob a ini masih dijumpai beberapa masalah yang cukup signifikan antara lain dalam mempertahankan laju alir AAT melalui Superpig132 di dalam kolom MRT.

Masalah laju alir tersebut terutarna disebabkan oleh kehadiran partikel-partikel koloidal hidroksida logam .terutama besi dan aluminium, dalamjumlah signifikan di dalam AAT. Partikel-partikel ini membentuk lapisan di perrnukaan kolorn : sehingga mengganggu laju alir AATsetelah beberapa waktu. Sampel Superlig 132 telah diambil dari bagian atas dan bawah kolom untuk dianalisa di bawah mikroskop. Hasilnya menunjukkan bahwa hainpir seluruh sampel terkontaminasi berat dengan kerak hidroksida dan partikulat. Selain itu ada indikasi babawa Superlig132 resin pecah menjadi bagian lebih kecildan ditemukan fraksi Superlig132 resin dengan ukuran dibawah . 500 mikrometer yaitu dibawah ukuran yang dikendakioleh spesifikasi. Sudah barang tentu halini akan memberi akibat yang signifikan dalam penurunan laju alir.

Lajualir sesuai desain, baru'dapat dicapai kembali setelah melakukan prosedur pencucian ulang resin (back flushing). Akan tetapisetelah beberapa jam beroperasi, fenomena panurunan laju alir mulai terjadi kembali. Perlu disampaikan di sini bahwa sistem MRT ini tidak didesain untuk melakukan pencucian ulang pada saatoperasi penangkapan ion tembaga berlangsung karena akan menyita waktu yang cukup signifikan untuk melakukan proses. ini. Karena kejadian ini, Superlig132 telah

dikeluarkan dari kolom MRT, dicuci . ulang, kemudian dimasukkan kembali ke dalam kolom. Saat ini sedang dipasang turbidimeter pada sistem pasokan aliran AAT untuk memonitor kondisi AAT. Strateginya yaitu AAT akan dialirkan langsung ke pipa pembuangan tanpa melalui kolom MRT pada saat kondidi turbiditas AAT tinggi.

D. Pemecaban Masalab dan

Rencana Peogembangan

Jangka panjang, perlu dipasang semacam sistem pre-filter yang memadai atau sistem penjemih AAT sebelum memasuki tangki penampung AAT atau sebelum memasuki kolom MRT agar MRT dapat beroperasi secara optimal sesuai dengan desain, Beberapa sampel AAT telah diambil dan dikirimkan ke berbagai laboratorium untuk dianalisis. Berdasarkan hasil analisis ini akan diambil langkah labih lanjut untuk menyiapkan desain sistem pre-filter y-ang sesuai.

Bersamaan dengan rencana di atas, kerjasama dengan Electrometal Ltd. Dari Australia untuk mengevaluasi mengenai kemungkinan melakukan proses electrowinning AAT secara langsung tanpa melalui tahapan pemekatan di dalam kolom MRT. Laporan hasil evaluasi telah disampaikan bulan Mei 1999 dan memberi harapan yang cukup posistif Prototipe dari proses electowinning AAT secara langsung akan segera dipasang pada triwulan IV tahun ini Jangsung di sumber AAT yang berasal dari Aliran Timur Grasberg yang memiliki kandungan tembaga sekitar 750· ppm. Berbeda dengan desain EMEW awal, desain EMEW pada pilot plant akan menghasilkan tembaga berupa serbuk, bukan dalam bentuk tubular. ApabiJa percobaan ini berhasil maka PT.FI akan menentukan langkah selanjutnya dalam rangka menangani AAT di daerah Kerja PTFI.

Daftar Pus taka

1. Bruening, RL, Dale, J.B Izatt, N.E. and Young, W. The application of MRT for removal Impurities and recovery of Metal in Copper Electrorefining and Electrowinning, Hidden weIth, Johannesburg, South African Institute of Mining Metalurgy, page 45-46, 1996.

2. Dale, J.B and Izatt, N.E. "The Use of Molecular Recognition Technology (MR1J for Treatment of Mining and Metallurgical Effluent Solutions", page 257-269.

3. Dale,JB, Neil E.Izatt, Bruening, RL., Reghezza I,A., Vergara Ch.,J and Matta V., J.A. "Recent Advance in Application of Molecular Recognation Technology (MRT) in the Copper Industry", Internal Report (1999).

4. Bruening, R.L, Izatt N.E., Young W., Soto. P, "Environmentally Clean Separations Technology/or the Mining Industry," Clean Technology for Mining Industry, Univercity of Conception, Conception, Chile, 1997.

5. Electrometals Mining Limited, " The EMEW CELL How it works."

6. Electrometal Mining Limited, Annual report 1996, page 4-7.

7. PT. Freeport Indonesia, ARD Operation Manual Book, page 2- 50;1998

8. Electrometals Mining Limited, "Grasberg 2.7 tpd Pilot Plant 'Operating and Maintenance Manual", page 3-43, June, 1998.

9; Tony treasure, Electrometals Mining Ltd., "EMEW- A contributor to Process EjJluentControl and Management".

10. Electrometals Mining Limited.

"Powder Engineering Review - April 1999 Report."

J.B. Hersubeno dan Haryo Kuncoko Mill Division P.T. Freeport Indonesia Makalah disampaikan pada seminar. Teknik Kimia Soehadi Reksowardojo, 1999 tang gal 19 - 20 Oktober 1999 di lnstitut Teknologi Bandung.

ENERGI No.10 November 2000 - Januari 2001

27

,I LENTERA. IPTEK I~I ~~~~~~~~~~

dihasilkan PV tersebut dalam sebari.

Adapun eara kerja dari sel surya itu adalah bila sinar matahari mengenai sela surya, maka fotonnya yang terdiri dari jutaan partikel berenergi tinggi akan mengenai silikon yang selanjutnya kan mendorong partikelpartikel elektron (-) keluar dari orbitnya dan melepaskan hole (+). Tapi karena silikon itu terdiri dari dua jenis yaitu

didefinisikan sebagai suatu perbandingan antara tegangan output dengan tegangan input inverter. Tegangan output yang harganya bervariasi bisa ditentukan dengan mengatur besaran tegangan input dan menjaga faktor penguatan inverter selalu konstan. Dengan baiknya mutu inverter serta beban yang menggunakan inverter diharapkan dapat menghemat

Baterei itu terdiri dari sejumlah sel elektronika yang direndam di dalam larutan kimia elektroda. Kemudian pada saat PLTS dioperasikan mal am hari, maka beterei akan meproduksi arus listrik DC yang selanjutnya arus listrik itu akan mengalir ke beban melalui inverter dan dua buah elektroda yang terdapat pada beterei. Sedang inverter dan elektroda dihubungkan oleh

.. l 1
1
V
1 I .

11

llPH

r--

l'

......

.'

...

jenis p danjenis n atau disebut pnjunetion, Akibatnya elektron dan hole yang mengalir searab dalam silikon (DC). Dari sini bisa disimpulkan bahwa besamya arus listrik yangdihasilkan PV sebanding dengan radiasi yang

. diterima di pennukaan sel surya dan berbanding eksponensial terhadap suhu sel, Sedangkan tegangan berbanding lurus dengan suhu sel surya. Dengan demikian arus listrik pada pv temyata lebih sensitif terhadap perubahan suhu sel. Sernentara beban yang akan digunakan umumnya memakai arus AC. Untuk itulah di~ inverter. karena alat ini berfungsi mengubah tegangan DC yang dihasilkan PV menjadi tegangan AC. Padainverter terdapat faktor penguat yang

Gambar 2. Rangkaian Listrik Sel Surya

energi dan memperpanjang usia beban ./ I peralatan. Sementara itu bila bebarr1 peralatan tegangannya berubah, maka tegangan input inverter-pun juga akan berubah, Hal ini tentunya bisa berakibat pada rusaknya inverter untuk. itu perlu dilakukan proteksi yaitu dengan eara menambah kapasitor pada input inverter.

Daterei dan Beban (lampu TL)

Apabila euaca buruk seperti langitberawan tebal, maka radiasi yang terjadi sangat keeil. Untuk itu baterei harus didesain dengan kapasitas tertentu sebingga sis tern PLTS tetap bekerja. Dengan dernikian baterei akan berfungsi sebagi penyimpan energi Iistrik seeara kimiawi di sinag hari.

kabel. Ada dari kabel itu yangberfungsi sebagai proteksi terhadap rangkaian terbuka sehingga arus yang akan mengalir ke inverter jauh lebih keeil dari kapasitas maksumumnya. Hal ini dirnaksudkan untuk rneneegah kerusakan komponen inverter akibat over heal. Selain dari itu baterei dilengkapi oleh Baterei Charge Unit (BCU) yaitu suatu alat yang.' rnempunyai dua fungsi. Pertama sebagai pengatur keluar masuknya energi listrik ke baterei. Ke dua mengkonversikan listrikAC pada PLTS rnenjadi DC disimpan pada baterei yang selanjutoya bisa digunakan pada malam hari untuk. penerangan. Dengan demikian baterei dan .PV bisa bekerja sama dalam memberikan energi listrik

30

ENERGI No.10 November 2000 • Januari 2001

(

~~~~~~~~~~II LENTERA IPTEK·II

ke beban khususnya pada cuaca gelap/ mendung.

Sedang dipilihnya lampu TL pada sistem PLTS, karena lampu itu menghasilkan fluks cahaya yang bersih dibandingkan lampu pijar untuk. daya yang sarna. Tegangan AC yang

cahaya. Intensitas cahaya optimal yang bisa dihasilkan adalah sebesar adalah sebesar 5 lux yang berarti sarna dengan lampu pijar dengan daya 25 watt. Bila PLTS mempunyai kapasitas daya terpasang sebesar 100 watt berarti bisa dipakai 4 lampu.

Februari 1982, Jakarta.

3. Deni Almanda, Prospek PLTS di Indonesia, Majalah elektro Indonesia, No. 18 Nov-Des 1997, Jakarta.

4. Hasll-hasil Seminar energi V, Komite Nasional Indonesia World

Tabel I. Jenis Sumber Cabaya Pada Beberapa Luminasi dan Effikasi

Lampu Pijar 60 w 730 12
Lampu TL 15 w 1000 66
Lampu TL 13 w 760 60
Lampu TL8w 410 51
Lampu TL6 w 270 45
Lampu TL4w 140 35
Petromaks 500 1,2
Lilin 12 0,2 Pa.n.l.

surya..

AloL .engQlur/ Xnv ... t.er

Gambar-3 : Rangkaian PLTS Dengan Empat Lampu

dihasilkan oleh inverter digonakan untuk membangkitkan loneatan elektron padaeleIctroda-elektroda pada ujung Jampu TL. Loncatan elektron itu akan menumbuk elektron gas neon kemudian bergerak melewati flouresense sehingga menimbulkan

Daftar Pustaka :

1. publikasi Ilmiah "Peranan energi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan", Direktorat teknologi energi BPPT, mei 1995, Jakarta.

2. Abdul Kadir, Energi, VI Press,

Energy Council, Jakarta, 1997.

5 .. Majalah Energi, Edisi No.4, MeiJUDi 1999, Yogyakarta

Penulis adalah dosen Teknik e/ektro Uw, pangkat lektormadya dan alumni Teknik E/ektro FT UGM

ENERGJ No;10 November 2000 - Januari 2001

31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->