P. 1
Asuhan Keperawatan Dengan Fraktur Vertebra

Asuhan Keperawatan Dengan Fraktur Vertebra

|Views: 717|Likes:
Published by Intan Firmallah

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Intan Firmallah on Apr 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN ‘FRAKTUR VERTEBRA (LUMBAL)’ A.

Pengertian Fraktur tulang adalah stress terputusnya yang lebih kontinuitas besar dari tulang yang dan dapat

ditentukan sesuai dengan jenis dan luasnya. Faktur terjadi jika dikenai diabsorbsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan putir, mendadak bahkan kontraksi otot ekstrem. Meskipun tulang patah, jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh, mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, rupture tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. (Brunner and Suddarth, 2001). Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Gejala – gejala fraktur tergantung pada sisi, beratnya dan jumlah kerusakan pada struktur lain, biasanya terjadi pada orang dewasa laki-laki yang disebabkan oleh kecelakaan, jatuh, dan perilaku kekerasan. (Marilyn, E. Doengoes, 1999). Fraktur adalah deformasi atau dekontinuitas dari tulang oleh tenaga yang melebihi kekuatan tulang (http://www.medicastore.com/med/detail=patah;tulang/). Dari ketiga pengertian diatas penulis menyimpulkan fraktur lumbal adalah kerusakan pada tulang belakang berakibat trauma, biasanya terjadi pada orang dewasa laki-laki yang disebabkan oleh kecelakaan, jatuh, dan perilaku kekerasan. B. Etiologi

Adapun penyebab dari fraktur menurut Brunner and Suddart, 2001 adalah sebagai berikut : 1. Trauma langsung merupakan utama yang sering

menyebabkan fraktur. Fraktur tersebut terjadi pada saat benturan dengan benda keras. 2. Putaran dengan kekuatan yang berlebihan (hiperfleksi) pada tulang akan dapat mengakibatkan dislokasi atau fraktur. 3. Kompresi atau tekanan pada tulang belakang akibat jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas dan sebagainya. 4. Gangguan spinal bawaan atau cacat sejak kecil atau kondisi patologis yang menimbulkan penyakit tulang atau melemahnya tulang. 5. Postur Tubuh (obesitas atau kegemukan) dan “Body Mekanik” yang salah seperti mengangkat benda berat. C. Patofisiologi 1. Perjalanan Penyakit Kolumna vertebralis tersusun atas seperangkat sendi antara korpus vertebra yang saling berdekatan. Diantaranya korpus vertebra mulai dari vertebra sevikalis kedua sampai vertebra sakralis terdapat discus intervertebralis. Discus-discus ini membentuk sendi fibrokartilago yang lentur antara korpus pulposus ditengah dan annulus fibrosus di sekelilingnya. Nucleus pulposus merupakan rongga intervertebralis yang terdiri dari lapisan tulang rawan dalam sifatnya semigelatin, mengandung berkas-berkas serabut kolagen, sel – sel jaringan penyambung dan sel-sel tulang rawan.

Zat-zat ini berfungsi sebagai peredam benturan antara korpus vertebra yang berdekatan, selain itu juga memainkan peranan penting dalam pertukaran cairan antara discus dan pembuluhpembuluh kapiler. Apabila kontuinitas tulang terputus, hal tersebut yang akan ada

mempengaruhi

berbagai

bagian

struktur

disekelilingnya seperti otot dan pembuluh darah. Akibat yang terjadi sangat tergantung pada berat ringannya fraktur, tipe, dan luas fraktur. Pada umumnya terjadi edema pada jaringan lunak, terjadi perdarahan pada otot dan persendian, ada dislokasi atau pergeseran tulang, ruptur tendon, putus persyarafan, kerusakan pembuluh darah dan perubahan bentuk tulang dan deformitas. Bila terjadi patah tulang, maka sel – sel tulang mati. Perdarahan biasanya terjadi disekitar tempat patah dan kedalaman jaringan lunak disekitar tulang tersebut dan biasanya juga mengalami kerusakan. Reaksi peradangan hebat timbul setelah fraktur. 2. Manifestasi Klinik Manifestasi klinik fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekkan deformitas, krepitus, pembengkakan lokal dan perubahan warna.
a.

Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai

fragmen tulang diimobilasi. Spasme otot yang menyertai fraktur yang merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
b.

Setelah terjadi fraktur, bagian – bagian tak dapat fragmen pada fraktur lengan atau tungkai

digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah. Pergeseran

menyebabkan c. d.

deformitas

yang

bisa

diketahui

dengan

ekstermitas normal. Terjadi pemendekan tulang karena kontraksi otot yang Saat ekstermitas diperiksa teraba adanya derik tulang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. dinamakan krepitus akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya. e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit yang terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. 3. Proses Penyembuhan Tulang a. Tahap Hematoma, Pada tahap terjadi fraktur, terjadi

kerusakan pada kanalis Havers sehingga masuk ke area fraktur setelah 24 jam terbenutk bekuan darah dan fibrin yang masuk ke area fraktur, terbenuklah hematoma kemudian berkembang menjadi jaringan granulasi. b. Tahap Poliferasi, Pada aerea fraktur periosteum, endosteum dan sumsum mensuplai sel yang berubah menjadi fibrin kartilago, kartilago hialin dan jaringan panjang. c. Tahap Formiasi Kalus atau Prakalus, Jaringan granulasi berubah menjadi prakalus. Prakalus mencapai ukuran maksimal pada 14 sampai 21 hari setelah injuri. d. Tahap Osifikasi kalus, Pemberian osifikasi kalus eksternal (antara periosteum dan korteks), kalus internal (medulla) dan kalus intermediet pada minggu ke-3 sampai dengan minggu ke-10 kalus menutupi lubang. e. Tahap consolidasi, Dengan aktivitas osteoblasi dan osteoklas, kalus mengalami proses tulang sesuai dengan hasilnya.

Faktor – faktor yang mempengaruhi proses pemulihan : a. Usia klien b. Immobilisasi c. Tipe fraktur dan area fraktur d. Tipe tulang yang fraktur, tulang spongiosa lebih cepat sembuh dibandingkan dengan tulang kompak. e. Keadaan gizi klien f. Asupan darah dan hormon – hormon pertumbuhan yang memadai g. Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang h. Komplikasi atau tidak misalnya infeksi biasa menyebabkan penyembuhan lebih lama. i. Keganasan kortikosteroid. 4. Komplikasi a. Syok Syok hipovolemik akibat perdarahan dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak sehingga terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar akibat trauma. b. Mal union, gerakan ujung patahan akibat imobilisasi yang jelek menyebabkan mal union, sebab-sebab lainnya adalah infeksi dari jaringan lunak yang terjepit diantara fragmen tulang, akhirnya ujung patahan dapat saling beradaptasi dan membentuk sendi palsu dengan sedikit gerakan (non union).
c. Non union

lokal,

penyakit

tulang

metabolik

dan

Non union adalah jika tulang tidak menyambung dalam waktu 20 minggu. Hal ini diakibatkan oleh reduksi yang kurang memadai.
d. Delayed union

Delayed union adalah penyembuhan fraktur yang terus berlangsung dalam waktu lama dari proses penyembuhan fraktur. e. Tromboemboli, infeksi, kaogulopati intravaskuler diseminata (KID). Infeksi terjadi karena adanya kontaminasi kuman pada fraktur terbuka atau pada saat pembedahan dan mungkin pula disebabkan oleh pemasangan alat seperti plate, paku pada fraktur. f. Emboli lemak Saat fraktur, globula lemak masuk ke dalam darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler. Globula lemak akan bergabung dengan trombosit dan membentuk emboli yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil, yang memsaok ke otak, paru, ginjal, dan organ lain. g. Sindrom Kompartemen Masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Berakibat

kehilangan fungsi ekstermitas permanen jika tidak ditangani segera. h. Cedera vascular dan kerusakan syaraf yang dapat

menimbulkan iskemia, dan gangguan syaraf. Keadaan ini diakibatkan oleh adanya injuri atau keadaan penekanan syaraf karena pemasangan gips, balutan atau pemasangan traksi.

C. Jenis Fraktur Adapun klasifikasi menurut Brunner and Suddarth, 2001 adalah sebagai berikut :
1) Berdasarkan garis patah yang terdapat pada tulang, fraktur

dibedakan menjadi dua, yaitu ; a. Fraktur komplet adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. b. Fraktur tidak komplet adalah patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. 2) Berdasarkan robekan yang terdapat pada kulit, fraktur dibedakan menjadi dua, yaitu : a. Fraktur tertutup (fraktur simple) adalah fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit.

b. Fraktur terbuka (fraktur komplikata/ kompleks) adalah fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai patahan tulang. 3) Berdasarkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang dibedakan bergeser. 4) Berbagai jenis khusus fraktur adalah sebagai berikut : a. Greenstick adalah fraktur di mana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok. b. Transversal adalah fraktur sepanjang garis tengah tulang. c. Oblik adalah fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang. d. Spiral adalah fraktur memuntir seputar batang tulang. e. Kominutif adalah fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen. f. Depresi adalah fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam. g. Kompresi adalah fraktur di mana tulang mengalami kompresi. h. Patologik adalah fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit. i. Avulsi adalah tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendo pada perlekatannya. menjadi tulang bergeser dan fraktur tidak

D. Penatalaksanaan Medis 1. Pengobatan dan Terapi Medis a. Pemberian anti obat antiinflamasi seperti ibuprofen atau prednisone b. Obat-obatan narkose mungkin diperlukan setelah fase akut c. Obat-obat relaksan untuk mengatasi spasme otot d. Bedrest, Fisioterapi 2. Konservatif Pembedahan dapat mempermudah perawatan dan fisioterapi agar mobilisasi dapat berlangsung lebih cepat. Pembedahan yang sering dilakukan seperti disektomi dengan peleburan yang digunakan untuk menyatukan prosessus spinosus vertebra; tujuan peleburan spinal adalah untuk menjembatani discus detektif, menstabilkan tulang belakang dan mengurangi angka kekambuhan. memanjakan atau Laminectomy elemen mengangkat pada untuk lamina kanalis untuk spinalis, neural diskectomy

menghilangkan kompresi medulla dan radiks. Microdiskectomy percutaeneus menggambarkan penggunaan operasi dengan mikroskop, melihat potongan yang mengganggu dan menekan akar syaraf. E. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Fraktur 1. Pengkajian Keperawatan

Merupakan

tahap

awal

dari

pendekatan

proses

keperawatan dan dilakukan secara sistematika mencakup aspek bio, psiko, sosio, dan spiritual. Langkah awal dari pengkajian ini adalah pengumpuln data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan klien dan keluarga, observasi pemeriksaan fisik, konsultasi dengan anggota tim kesehatan lainnya dan meninjau kembali catatan medis ataupun catatan keperawatan. Pengkajian fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Adapun lingkup pengkajian yang dilakukan pada klien fraktur menurut Brunner and Suddarth, 2002 adalah sebagai berikut : a. Data demografi/ identitas klien Antara lain nama, umur, jenis kelamin, agama, tempat tinggal, pekerjaan, dan alamat klien. b. Keluhan utama Adanya nyeri dan sakit pada daerah punggung c. Riwayat kesehatan keluarga Untuk menentukan hubungan genetik perlu diidentifikasi misalnya adanya predisposisi seperti arthritis, spondilitis ankilosis, gout/ pirai (terdapat pada fraktur psikologis).

d. Riwayat spiritual Apakah agama yang dianut, nilai-nilai spiritual dalam keluarga dan bagaimana dalam menjalankannya. e. Aktivitas kegiatan sehari-hari Identifikasi pekerjaan klien dan aktivitasnya sehari-hari, kebiasaan membawa benda-benda berat yang dapat menimbulkan strain otot dan jenis utama lainnya. Orang yang kurang aktivitas mengakibatkan tonus otot menurun. Fraktur atau trauma dapat timbul pada orang yang suka berolah raga dan hockey dapat menimbulkan nyeri sendi pada tangan. f. Pemeriksaan fisik 1) Pengukuran tinggi badan 2) Pengukuran tanda-tanda vital 3) Integritas tulang, deformitas tulang belakang 4) Kelainan bentuk pada dada 5) Adakah kelainan bunyi pada paru-paru, seperti ronkhi basah atau kering, sonor atau vesikuler, apakah ada dahak atau tidak, bila ada bagaimana warna dan produktivitasnya. 6) Kardiovaskuler: sirkulasi perifer yaitu frekuensi nadi, tekanan darah, pengisian kapiler, warna kulit dan temperatur kulit. 7) Abdomen tegang atau lemas, turgor kulit, bising usus, pembesaran hati atau tidak, apakah limpa membesar atau tidak. 8) Eliminasi: terjadinya perubahan eliminasi fekal dan pola berkemih karena adanya immobilisasi. 9) Aktivitas adanya keterbatasan gerak pada daerah fraktur

10)

Apakah ada nyeri, kaji kekuatan otot, apakah ada

kelainan bentuk tulang dan keadaan tonus otot. g. Tes Diagnostik Pada klien dengan trauma tulang belakang, biasanya dilakukan beberapa tes diagnostik untuk menunjang diagnosa medis, yaitu : 1) Foto Rontgen Spinal, yang memperlihatkan adanya perubahan degeneratif pada tulang belakang, atau tulang intervetebralis atau mengesampingkan kecurigaan patologis lain seperti tumor, osteomielitis. 2) Elektromiografi, untuk melokalisasi lesi pada tingkat akar syaraf spinal utama yang terkena. 3) Venogram Epidural, yang dapat dilakukan di mana keakuratan dan miogram terbatas. 4) Fungsi Lumbal, yang dapat mengkesampingkan kondisi yang berhubungan, infeksi adanya darah. 5) Tanda Le Seque (tes dengan mengangkat kaki lurus ke atas) untuk mendukung diagnosa awal dari herniasi discus intervertebralis ketika muncul nyeri pada kaki posterior. 6) CT - Scan yang dapat menunjukkan kanal spinal yang mengecil, adanya protrusi discus intervetebralis. 7) MRI, termasuk pemeriksaan non invasif yang dapat menunjukkan adanya perubahan tulang dan jaringan lunak dan dapat memperkuat adanya herniasi discus. 8) Mielogram, memperlihatkan hasilnya mungkin dari normal ruang atau discus, “penyempitan”

menentukan lokasi dan ukuran herniasi secara spesifik.

2. Diagnosa keperawatan Diagnosa Doengoes, belakang, yaitu : 1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan agen pencedera fisik kompresi saraf: spasme otomatis. 2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri: ketidaknyamanan; spasme otot; kerusakan neuromuscular. 3. Anxietas/ koping individu tidak efektif berhubungan dengan krisis situasi; perubahan status kesehatan; ketidakadekuatan mekanisme koping. 4. Immobilisasi berhubungan dengan ketidakmampuan berjalan keperawatan untuk klien secara dengan teoritis menurut tulang

2000

gangguan

3. Perencanaan keperawatan Perencanaan keperawatan secara teoritis menurut

Doengoes, 2000 adalah sebagai berikut : Diagnosa keperawatan I : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan agen pencedera fisik kompresi saraf: spasme otomatis. Tujuan : Nyeri hilang atau terkonrol Kriteria hasil :

1. Klien melaporkan nyeri hilang atau terkontrol 2. Klien dapat mengungkapkan yang dapat menghilangkan 3. Klien dapat mendomenstrasikan penggunaan intervensi terapeutik seperti keterampilan relaksasi, modifikasi perilaku untuk menghilangkan nyeri. Rencana tindakan : 1. Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi, lama serangan, faktor pencetus atau memperberat. Minta klien untuk mendapatkan skala nyeri 1 – 10.Rasional : Membantu menentukan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi.
2. Pertahankan tirah baring selama fase akut. Letakkan

klien dalam posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi; posisi telentang dengan atau tanpa meninggikan kepala 10° - 30° atau pada posisi lateral. Rasional : Tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan klien untuk menurunkan penekanan pada bagian tubuh tertentu dan intervertebralis.
3. Batasi aktivitas selama fase akut sesuai kebutuhan.

Rasional : Menurunkan gaya gravitasi dan gerak yang dapat edema menghilangkan dan tekanan spasme pada otot dan menurunkan discus struktur sekitar

intervertebralis yang terkena.
4. Letakkan

semua kebutuhan, termasuk bel panggil

dalam batas yang mudah dijangkau atau diraih klien. Rasional : Menurunkan resiko peregangan saat meraih

5. Ajarkan

teknik

distraksi

dan

relaksasi.

Rasional

:

Memfokuskan perhatian klien dan membantu menurunkan tegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan.
6. Instruksikan

atau anjurkan klien untuk melakukan

mekanisme tubuh atau gerakan yang tepat. Rasional : Menghilangkan stress pada otot dan mencegah trauma lebih lanjut.
7. Berikan

kesempatan

untuk

berbicara

atau

mendengarkan masalah klien. Rasional : Berbicara dapat menurunkan strees atau rasa takut selama dalam keadaan sakit dan dirawat.
8. Berikan tempat tidur ortopedik atau letakan papan

dibawah spasme.

kasur

atau

matras.

Rasional

:

Memberikan

sokongan dan menurunkan fleksi spinal yang menurunkan
9. Berikan obat sesuai kebutuhan: relakskan otot seperti

Diazepam (Valium) Rasional : Merelaksasikan otot dan menurunkan nyeri

Diagnosa

Keperawatan

II

:

Kerusakan

mobilitas

fisik

berhubungan dengan nyeri: ketidaknyamanan; spasme otot; kerusakan neuromuscular. Tujuan : Kerusakan mobilitas fisik tidak terjadi Kriteria hasil : 1. Klien mengungkapkan pemahaman tentang situasi atau faktor resiko dan aturan pengobatan individu.

2. Mendemonstrasikan teknik atau perilaku yang mungkin 3. Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit atau kompensasi. Rencana tindakan :
1. Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi dengan

situasi yang spesifik.. Rasional : Tergantung pada bagian tubuh yang terkena atau jenis prosedur, aktivitas yang kurang berhati-hati akan meningkatkan kerusakan spinal.
2. Catat

respon-respon

emosi

atau

perilaku

pada

immobilisasi, berikan aktivitas yang disesuaikan dengan klien. Rasional : Immobilisasi yang dipaksakan dapat memperbesar kegelisahan, peka rangsangan. Aktivitas pengalihan tersebut.
3. Bantu klien untuk melaksanakan latihan rentang gerak

dapat

membantu

dalam

memfokuskan

perhatian dan meningkatkan koping dengan batasan

aktif dan pasif. Rasional : Memperkuat otot abdomen dan fleksor tulang belakang, memperbaiki mekanika tubuh.
4. Anjurkan klien untuk melatih kaki bagian bawah dan

lutut. Rasional : Stimulasi sir vena atau arus balik vena menurunkan keadaan vena yang statis dan kemungkinan terbentuknya trombus.
5. Bantu

klien

dalam

melakukan

ambulasi

progresif.

Rasional : Keterbatasan aktivitas tergantung pada kondisi yang khusus, tapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai toleransi.

Diagnosa Keperawatan III : Anxietas/ koping individu tidak efektif berhubungan dengan krisis situasi; perubahan status kesehatan; ketidakadekuatan mekanisme koping. Tujuan : Adaptasi klien efektif Kriteria hasil : 1. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang pada tingkat dapat diatasi. 2. Mengidentifikasi ketidakefektifan perilaku koping 3. Mendemonstrasikan pemecahan masalah Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat anxietas pasien. Rasional : Membantu

mengidentifikasi dalam keadaan sekarang
2. Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur.

Rasional

:

Memungkinkan

pasien

untuk

membuat

keputusan yang didasarkan atas pengetahuan.
3. Berikan pasien untuk mengungkapkan masalah yang

dihadapinya. Rasional : Meningkatkan koping yang sedang dihadapi
4. Kaji

adanya

masalah

sekunder

yang

mungkin :

merintangi

keinginan

untuk

sembuh.

Rasional

Memberikan perhatian terhadap klien, tanggung jawab untuk meningkatkan penyembuhan.
5. Cara perilaku dari orang terdekat atau keluarga yang

meningkatkan peran sakit. Rasional : Orang terdekat keluarga secara tanpa sadar memungkinkan untuk mempertahankan sesuatu yang dapat klien lakukan.

6. Rujuk

pada

kelompok dan

pelayanan

sosial,

konselor :

finansial,

psikoterapi

sebagainya.

Rasional

Memberikan dukungan untuk beradaptasi pada perubahan dan memberikan sumber – sumber untuk mengatasi masalah. Diagnosa Keperawatan IV : Immobilisasi berhubungan dengan ketidakmampuan berjalan Tujuan : Kerusakan mobilitas fisik dapat teratasi Kriteria hasil : 1. Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi 2. Mempertahankan posisi fungsional 3. Meningkatkan kekuatan fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh. 4. Menunjukan teknik aktivitas Rencana tindakan :
1. Kaji derajat mobilitas yang dihasilkan oleh cedera dan

perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi. Rasional : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan dari persepsi diri tentang keterbatasan fungsi actual, memerlukan informasi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.
2. Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik/ rekreasi.

Rasional : Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian dan membantu menurunkan isolasi sosial.

3. Intruksikan pasien untuk dibantu dalam rentang gerak

aktif dan pasif pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit. Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot.
4. Dorong penggunaan latihan isometik tanpa menekuk

sendi atau menggerakan tungkai, dan mempertahankan masa otot. Rasional : Kontraksi otot isometik tanpa menekuk sendi membantu kekuatan otot.
5. Konsul dengan ahli terapi fisik/ okupais, rehabilitasi

special. Rasional : Berguna dalam membuat akktifitas individual latihan.

DAFTAR ISI http://fielope-nursing.blogspot.com/2009/03/asuhan-keperawatandengan-fraktur.html http://www.zimbio.com/member/bedahumum/articles/5089347/PEN ANGANAN+KONSERVATIF+FRAKTUR+KOMPRESI+VERTEBRA http://www.scribd.com/doc/12748213/Fraktur-Vertebra http://www.scribd.com/doc/33615745/fraktur-torakolumbal

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->