EPISTEMOLOGI ILMU KALAM

Makalah Disampaikan pada Seminar Kelas untuk Mata Kuliah Filsafat Ilmu Bersama Mohammad Muslih, MA

Oleh : Anwar Ma’rufi NIM: 31.21.028

PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT STUDI ISLAM DARUSSALAM (ISID) PONDOK MODERN GONTOR 2011

Karenanya menarik untuk dibahas dari sisi bangunan epistemologinya. Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunanu. ilmu kalam merupakan kajian yang pokok dan sentral. sebelum membahas lebih jauh akan penulis ulas tentang definisi ilmu kalam terlebih dahulu. iman kepada hari kebangkitan dll. yang terdiri dari dua kata. 37 1 . Definisi Ilmu Kalam Ilmu kalam bisa disebut dengan beberapa nama. Pengantar Filsafat. Disebut ilmu tauhid karena ilmu ini membahas keesaan Allah. hal. secara umum akan ditemukan tiga persoalan pokok. ilmu tauhid. filsafah Islam dan lain sebagainya. Jan Hendrik Rapar. sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Namun. tafsir.EPISTEMOLOGI ILMU KALAM A. atau fiqh al-Akbar. (Yogyakarta: Kanisius. Meski disiplin ini banyak menuai kritik dari ulama klasik. ilmu akidah.1 Melihat ilmu kalam dari sisi epistemologi. Dinamakan Epistemologi adalah suatu cabangn filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. lihat. iman kepada wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Bahkan terlihat lebih kokoh dari sebelumnya. yaitu (1) apa sumber-sumber ilmu kalam itu? (2) bagaimana pengetahuan itu dapat diketahui? (3) dan apa ukurannya bahwa pengetahuan itu disebut benar (valid)? Tiga pertanyaan ini yang akan memandu uraian dan ulasan penulis berikut ini. atau ilmu). percakapan. Karena begitu sentralnya kedudukan ilmu kalam dalam Dirasat Islamiyah mampu mewarnai bahkan dalam taraf tertentu ‘mendominasi’ corak muatan materi kajian-kajian keislaman yang lain. seperti fikih. Disebut ilmu ushuludin karena ilmu ini membahas pokok-pokok agama semisal iman kepada Allah swt. pikiran. antara lain ilmu ushuluddin. 1996). yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (kata. namun ia masih tetap kokoh dan eksis sampai sekarang. Pendahuluan Dalam Dirasat Islamiyah. B.

Sedangkan dalam literature Islam. membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah muamalah.ilmu akidah karena ia banyak membahas tentang ilmu-ilmu akidah agama Islam atau membahas hukum-hukum akidah yang berkaitan dengan iman. Ilmu Kalam. ia berasal dari bahasa Yunani kuno ‘theos’ (dewa. fiqh al-ashghar. dalam Islamia.5 Sementara menurut al-Iji ilmu kalam adalah ilmu yang mampu mengukuhkan akidah Islam dengan memaparkan argumentasi-argumentasi dan menyanggah atas beberapa kekeliruan dan keraguan. Resse yang mendefinisikan dengan “discourse or reason concerning God” (diskursus atau pemikiran tentang Tuhan). mulai yang berkenaan dengan . Seperti William L. 11-12 :‫، )ا ھرة‬ ‫: د ل ودر‬ ‫ا‬ 5 ‫د ا ح ا ر ، ا رق ا‬ . tt). bukan pokokpokok agama melainkan cabang (furu’) saja. (Bandung: Pustaka Setia. sebenarnya penyamaan ini juga tidak terlalu tepat. Orientalis dan Teologi Islam: Sketsa Awal. Desember 2005. hal.‫وھ . Dan menurut alFarabi. 3. 3 4 ‫ها‬ ‫و‬ ‫ا ذاھب ا‬ ‫. Kedua. ٦٠٠٢(. Vol II No.3 Banyak kalangan orientalis yang menyamakan ilmu kalam dengan istilah teologi. Tuhan) dan ‘logos’ (wacana. Sesuai dengan asal katanya. Namun. م ا م: ر‬ ‫زر‬ ٢ . hal.‫دار ا م. 13 Syamsudin Arif. perbincangan). Alasannya karena istilah teologi berarti hanya diskursus mengenai Tuhan saja. ۵٩٩١(، ص‬ .4 Ibnu Khaldun mendefinisikan ilmu kalam sebagai disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang iman yang diperkuat dengan dalildalil rasional. Ia mencakup prinsip-prinsip keimanan dan pokok-pokok ajaran agama berdasarkan dalil-dalil naqli (wahyu) maupun ‘aqli (rasio logika).2 Fiqh al-Akbar sendiri adalah istilah khusus yang dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah. ص‬ ‫2أ ل‬ :‫) و ورو و‬ Rosihon Anwar dan Abdul Rozak. Pertama fiqh al-akbar yang membahas keyakinan atau pokok-pokok agama atau ilmu tauhid. menurutnya hukum Islam yang dikenal dengan istilah fiqh terbagi atas dua bagian. Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam. ilmu kalam tidak sesederhana sebagaimana definisi orientalis. ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang membahas Dzat dan sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin.

masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan ajaran Islam.‫ص‬ Tim Saluran Teologi Lirboyo 2005. ilmu kalam masih dalam rumpun kajian fiqih. Momen ini terjadi pada masa Khalifah al-Ma’mun (w. 2008). Akidah Kaum Sarungan: Refleksi Mengais Keheningan Tauhid. Contoh untuk yang muhkam adalah ayat-ayat tentang halal. dan tujuan akhirnya adalah memproduksi ilmu ketuhanan secara filosofis. ،(١٩٩١ ، ‫وھ‬ 7 :‫م، )ا ھرة‬ ‫ما‬ ‫درا‬ ‫،ا د لإ‬ ‫ود ا‬ ‫ن‬ 6 ١٨-١٧ . Kitab Fihrits. 164 8 Hamid Fahmy Zarkasyi. istilah kalam yang merujuk kepada disiplin ilmu pemikiran spekulatif muncul pada akhir abad ke-4 Hijriyah. dalam ISLAMIA Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam.9 Untuk kasus pertama sering diistilahkan dengan muhkam sedang yang kedua dinamakan dengan mutasyabih. baik secara langsung maupun tidak langsung. 8 Sebelum menjadi disiplin ilmu yang mandiri. hal. Sumber Pengetahuan Ilmu Kalam Semua aliran dalam pemikiran kalam berpegang kepada wahyu (alQur’an dan Hadits) sebagai sumber pokok. Imam Abu Hanifah menamainya dengan fiqh al-Akbar. haram. Khudori Soleh. Namun. secara tidak langsung berarti memahami wahyu sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran dengan merujuk kepada ayat-ayat yang lain. hal. janji dan ancaman. kewajiban./845 M. 233 . dalam Buku Pemikiran Islam Kontemporer. hudud. Tahun II No. (Yogyakarta: Penerbit Jendela. C. Abid al-Jabiri: Model Epistemologi Islam. hal.).6 Ilmu kalam baru menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri setelah tokoh-tokoh Mu’tazilah mempelajari buku-buku filsafat yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab yang selanjutnya disinergikan dengan nalar keislaman. 2003). 20 9 A. 7 Tahap penamaan Kalam sebagai ilmu dapat juga dirujuk dari fakta sejarah ketika Ibnu Sa’ad (288 H. di dalam karya Ibnu Nadim. 218 H. Secara langsung artinya memahami wahyu sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikannya tanpa perlu pemikiran.) menggunakan istilah mutakallimun untuk mereka yang terlibat dalam diskusi pelaku dosa besar yang diangkat oleh kaum Murjiah. M. Worldview Sebagai Asas Epistemologi Islam. 5/April-Juni 2005. (Lirboyo: Tamatan Aliyah Lirboyo Angkatan 2005.

mereka berselisih pendapat dalam mengamalkan Hadits ahad. Ahlus-sunnah wal Jama’ah: Keimanan. hal. hal. hal. sebab akidah adalah berkenaan dengan keyakinan.13 Namun. 10 Kenyataan adanya ayat muhkam dan mutasyabih ini memberikan pengertian bahwa meski al-Qur’an sebagai sumber utama. 234 12 Muhammad Idrus Ramli. 183-184 13 Hadits mutawatir adalah Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi sehingga tidak mungkin seluruhnya sepakat untuk berdusta. Abid al-Jabiri: Model Epistemologi Islam. Madzhab Al-Asy’ari. dan Kualitasnya. M. 2009). (Jakarta: Gema Insani Press. (Yogyakarta: Penerbit Jendela. 103 .16 Sementara ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membedakan antara masalah akidah dengan masalah lainnya. hal. alib bahasa: Nabhani Idris dan Saefudin Zuhri. Menurut Imam Ibnul Qayyim. hal. Sedangkan Hadits menempati urutan kedua. Sedangkan Hadits ahad adalah Hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang jumlahnya tidak mencapai derajat mutawatir. 14 Alasan yang menolak Hadits ahad sebagai rujukan akidah. Jadi menurut mereka. 2003). Lihat Kamarudin Amin. (Bogor: Pustaka Lentera AntarNusa.12 Semua aliran kalam sepakat untuk mengamalkan Hadits mutawatir. walaupun Hadits ahad tidak 10 Manna’ Khalil al-Qattan. serta mereka mengharamkan untuk menyalahinya. 2009). 306 11 A. hal. (Surabaya: Khalista. alih bahasa: Mudzakir AS. Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits.11 Secara hirarkis. hal-hal yang berkenaan dengan akidah haruslah berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan atau Hadits mutawatir. dan apa yang berhubungan dengan keyakinan haruslah dalil yang bersetatus qath’i. Syuhudi Ismail. Setiap Hadits shahih yang datang dari Nabi saw mereka terima dan pakai. Manhaj ‘Aqidah Imam asy-Syafi’i Rahimahullah. tt). alih bahasa: Ummu Fauzi. dalam Buku Pemikiran Islam Kontemporer. 95 16 Omar Bakri Muhammad. hal. W. Sifat. 140 15 M. 2005). (Jakarta: Hikmah. 35 14 Muhammda bin A. 1995). tetapi ia tidak selalu memberikan ketentuan pasti. (Jakarta: Gema Insani Press. Namun tidak semua Hadits dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah. al-Qur’an merupakan sumber rujukan utama dari semua argumentasi dan dalil.15 Mereka itu adalah ulama dari kalangan Mu’tazilah. Khudori Soleh. Benarkah Ahlussunnah WalJama’ah?: Jawaban terhadap Aliran Salafi. Studi Ilmu-ilmu Qur’an. Al-‘Aqil.Sementara untuk yang mutasyabih contohnya adalah ayat-ayat tentang Asma’ Allah dan sifat-sifatnya. (Tangerang: Pustaka Imam Syafi’i. Al-Qur’an adalah dalil yang membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad saw dan dalil yang membuktikan benar dan tidaknya suatu ajaran. Hadits Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan Pemalsunya. 2009).

3-4 21 Afrizal M. Ulama dan Cendekiawan Muslim Ibnu Rusyd: Tujuh Perdebatan Utama dalam Teologi Islam. pada akhirnya memberi corak dan warna yang berbeda dan perbedaan itu semakin kokoh dalam bentuk aliran-aliran kalam. (Tiga Serangkai). Menurutnya akal memiliki kedudukan tinggi bagi manusia. Mazhab kalam yang mengedepankan akal atau rasional dalam menjelaskan berbagai persoalan akidah Islam banyak menggunakan pendekatan filsafat meski tidak serta merta mengabaikan wahyu. (Tangerang: Pustaka Imam Syafi’i. (Jakarta: Erlangga. Qadri Abdillah Azizy.. tt). Ulama….20 Kelompok ini diwakili oleh ulama Mu’tazilah. memilah baik dan buruk. hal. namun ia menunjukan kepada zhann ghalib (dugaan kuat) sehingga boleh bagi kita untuk menetapkan asma dan sifat-sifat Allah dengannya. baik yang mempunyai corak rasional dan semi liberal maupun yang bercorak hadisi (tradisional) menggunakan akal sebagai sarana menyelesaikan persoalan kalam. Manhaj ‘Aqidah Imam asy-Syafi’i Rahimahullah. dan mengetahui wajibnya berbuat baik dan menjauhi larangan hanya dapat diketahui berdasarkan wahyu. Dimensi Praktis Ilmu Ushuluddin: Sebuah Alternatif Pengembangan Ilmu Ushuluddin. (Jakarta: Erlangga. dan mengakui wajibnya berbuat baik dan menjauhi yang jahat. Karena tingginya kedudukan akal itu. Mu’tazilah berpendapat bahwa akal mampu mengenal Tuhan. 141 18 Tsuroya Kiswati. 21 Terkait dengan persoalan akidah. alib bahasa: Nabhani Idris dan Saefudin Zuhri. hal. 5 17 . mereka (khususnya kelompok Asy’ari dan salaf) lebih mengutamakan teks alMuhammda bin A.18 Selanjutnya perbedaan yang muncul adalah sejauh manakah posisi akal diperhatikan sebagai sumber pengetahuan untuk merumuskan akidah Islam. hal. 12 19 A. memilih perbuatan baik dan buruk. hal.17 Seluruh aliran kalam. terdapat golongan yang menentang kaum rasionalis Mu’tazilah. 59 20 Afrizal M. dalam Buku Teologi Islam Terapan: Upaya Antisipasif terhada Hedonisme dan Kehidupan Modern.menunjukan kepada ilmu yakin. Kelompok ini ada yang menamainya dengan ulama tradisionalis atau ulama salaf shalih. Adapun kewajiban mengenal Tuhan. 2006).. Al-Juwaini: Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam. tt). mengetahui wajibnya mengenal Tuhan. 19 Perbedaan ini. Al-‘Aqil. hal. Menurut mereka akal hanya mampu mengenal bukti keberadaan Tuhan. W. Di lain pihak.

serta ketidakharusan bagi syariat bersesuaian dengan penilaian akal.). sambil tetap berpegang teguh dengan wahyu. 2006). ulama Mu’tazilah.” Menurut defines Badzawi (427-493 H. Hakikat Ilmu dan Metodologi Pencapaian Ilmu Sebagaimana yang dilaporkan oleh Saiful Anwar dalam sebuah desertasinya. manusia mampu menangkap mana yang baik dan mana yang buruk. dengan anugrah akal yang khas itu.23 Dari paparan di atas mengenai posisi akal. alih bahasa: Agus Efendi. NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal. Imam Maturidi sepakat dengan Imam Asy’ari tentang sumber penngetahuan al-Qur’an dan Hadits. Dan di sisi lain terjadi silang pendapat dalam menetapkan akal sebagai sumber pengetahuan. Oleh karenanya mereka menyebut dirinya sebagai kelmpok ahlusunnah wal jama’ah.) dan Baqilani (338-403 22 Murtadha Muthahhari. Dan bertentangan perihal ketentuan baik dan buruk dengan Imam Asy’ari. Maksudnya akal harus tunduk kepada ketentuan al-Qur’an dan Sunnah. Imam al-Maturidi lebih mengacu pada pendekatan yang moderat antara penafsiran rasional model Mu’tazilah dan penafsiran harfiah model salaf (Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyah) dan Imam Asy’ari. 2009). yang juga termasuk pembela ahlu sunnah. nampaknya menangkap kekurangan Imam Asy’ari dan Imam Ahmad bin Hanbal yang terlalu tekstual. 19 23 Ahmad Baso. Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam. hal.Qur’an dan Sunnah (naql) daripada akal (‘aql). ulama kalangan Maturidiyah: “Ilmu adalah menangkap objek ilmu sesuai kenyataannya. dapat dipahami bahwa Imam al-Maturidi sepakat dengan Mu’tazilah dalam hal baik dan buruk dapat ditemukan oleh akal berdasarkan implikasi bahaya atau manfaat yang ditimbulkan. hal. terdapat perbedaan persepsi di kalangan ulama ahli kalam mengenai definisi ilmu.” Sedang menurut Juwaini (419-478 H. Menurut Qadli ‘Abd al-Jabbar (325-415 H. 324 . menurut Imam Maturidi.). kesejukan dada. (Erlangga.22 Abu Manshur al-Maturidi. dan ketentraman hati. ilmu adalah “Apa yang menghasilkan ketenangan jiwa. (Jakarta: Mizan. D. Di lain pihak. Bagaimanapun juga.

132 24 . Pengantar Ilmu Tauhid. 177 26 Tsuroya Kiswati. hal. tt). maka ilmu adalah tibanya (wusul) diri (jiwa) kepada makna sesuatu hal atau objek ilmu. hal.26 Ilmu dharuri adalah ilmu yang cara perolehannya tidak perlu untuk dipikirkan secara mendalam seperti satu itu adalah setengah dari dua. serta tercetaknya gambar-gambar itu pada akal.25 Secara prinsipil. Maka definisi yang tepat untuk hakikat ilmu dengan Allah sebagai sumbernya.27 Saeful Anwar. mereka membagi ilmu pengetahuan menjadi dua yakin ilmu Allah yang qadim dan ilmu manusia yang hadits (baharu). sesuai dengan prinsip mereka yang tidak mengakui adanya sifat bagi Allah. (Bandung: Pustaka Setia.” Lebih lengkapnya seperti yang didefiniskan oleh Imam al-Ghazali (Ulama dari kalangan Asy’ariyah): “Maka ilmu adalah rumusan tentang pengambilan akal terhadap gambar-gambar objek akal dan kenyataannya pada dirinya. hal. Sedangkan ilmu nadzari adalah jenis ilmu yang cara perolehannya memerlukan pikiran dan penalaran yang sungguh-sungguh seperti air itu terdiri dari dua molekul hidrogen dan satu molekul oksigen. (Kuala Lumpur: Utusan Publication dan Distributors Sdn Bhd. ialah tibanya (husul) makna (ma’na) sesuatu benda atau objek ilmu ke dalam jiwa. Al-Juwaini: Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam. (New York: 950 University Avenue. Dengan memandang jiwa sebagai penafsir. hal. pembagian ilmu menurut para mutakalimin tidak berbeda satu sama lain.”24 Meski terdapat perbedaan persepsi mengenai ilmu.H. yaitu ilmu yang bersifat dharuri dan ilmu yang bersifat nadzari (penalaran). 2008).) keduanya dari kalangan ulama Asy’ariyah: “Ilmu adalah mengetahi objek ilmu sesuai realitasnya. 2007). tapi pada dasarnya semua ilmu itu datangnya dari Allah dan ditafsirkan oleh jiwa melalui saranasarana yang dianugrahkan oleh-Nya. Islam. 90 dan 103 25 Syed Muhammad Naquib al-Attas. (Jakarta: Erlangga. Hanya Mu’tazilah yang tidak mengakui adanya ilmu Allah yang qadim. Filsafat Ilmu Al-Ghazali: Dimensi Ontologi dan Aksiologi. 1985). 47 27 Kamarul Shukri Mohd The. Secularism and the Philosophy of the Future. Sebagian besar. Dan ilmu hadits (baharu) ini dibagi menjadi dua.

Untuk itu mereka menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat.30 Demikian juga ulama kalangan Maturidiyah. Kami mendukung semua itu. menolak Hadits-hadits yang tidak diakui oleh akal. mereka meyakini sepenuhnya kemampuan akal. mengangkat drajatnya dan meneguhkan kedudukannya. Bahkan sebaliknya mereka secara umum berprinsip bahwa naql menempati posisi teratas. hal. karena bagaimana mereka menolak akal padahal Allah menganjurkan agar umat Islam melakukan kajian rasional. sehingga mereka tidak memenangkan dan menempatkan akal di atas naql. Akal dan naql saling membutuhkan. mereka tidak memberikan kebebasan sepenuhnya kepada akal seperti yang dilakukan oleh kaum Mu’tazilah.Perbedaan posisi akal sebagai sumber ilmu merupakan faktor kesulitasn tersendiri untuk mengungkap metode pencapaian ilmu. Mereka berpendapat bahwa alam alam punya hukum kokoh yang tunduk kepada akal. Alilran….”29 Kaum Asy’ariyah juga tidak menolak akal. Secara umum. hal. al-Asy’ari berkata: “Pendapat yang kami ketengahkan dan akidah yang kami pegangi adalah sikap berpegang teguh kepada Kitab Allah. Mereka tidak mengingkari naql (teks al-Qur’an dan Hadits). Alilran…. Alilran….28 Berbeda dengan rivalnya. Akal digunakan untuk meneguhkan naql dan membela agama. Mereka amat teguh memegangi al-Ma’tsur. Sebaliknya kami menjauhi orang-orang yang menyalahi pendapatnya. tetapi tanpa ragu-ragu mereka menundukkan naql kepada hukum akal (taqdim al-‘aql ‘ala naql). 48 Ibrahim Madkour. Pada prinsipnya. 28 29 Ibrahim Madkour. Di dalam kitab alIbanah sebagaimana yang dikutip oleh Ibrahim Madkour. Tabi’in dan Imam-imam Hadits. Prinsip ini mereka pergunakan untuk menghukumi berbagai hal dan berjalan begitu jauh. Naql bagaikan matahari yang bersinar sedangkan akal laksana mata yang sehat. hal. Sunnah Nabi SAW dan apa yang diriwayatkan dari sahabat. 67-68 . kami mendukung pendapat Ahmad bin Hanbal. 66 30 Ibrahim Madkour. Bagi pendukung akal (Mu’tazilah). Mazhab Asy’ariyah bertumpu pada al-Qur’an dan Hadits. Akal mereka anggap sebagai pelayan bagi naql. mereka menghindari Hadits ahad.

Sejarah dan Perkembangan Ilmu Mantiq.Meskipun mereka berbeda pendapat dalam memposisikan akal. hal.32 Penggunaan logika Yunani atau mantiq yang sudah disinergikan dengan nalar keislaman tidaklah berjalan mulus tanpa kecaman. Imam asy-Syafi’i. Sebaliknya. hal. seperti yang dilaporkan oleh Abid al-Jabiri dan yang dikutip oleh Mohammad Muslih adalah persoalan makna dan lafadz. Para ahli pikir Mu’tazilah sepakat bahwa makna itu berdasar konteks. peletak dasar mazhab Syafi’i. persoalan berikutnya adalah apakah makna ditentukan oleh kebudayaan Arab atau menggunakan pendekatan lain. kedua. serta mengungkap sebuah kebenaran. 13 32 Mohammad Muslih. Lihat Jim dan Zam.31 Bedanya. 187-188 31 . Perbedaan di atas. khususnya nahwu yang menjaga dari kemungkinan terjadinya penyimpangan makna. karena al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab maka makna lafadz ditentukan oleh pengertian dan kebudayaan Arab. namun sebagian besar dari ulama tradisional juga menggunakan logika atau mantiq sebagaimana ulama Mu’tazilah. yang menurut perkembangannya merupakan adopsi dari filsafat Yunani. (Yogyakarta: Belukar. membolehkan memaknai lafadz dengan ta’wil sebagaimana dipegangi oleh Mu’tazilah. dalam mengeksploralis ilmu logika Mu’tazilah lebih berani menundukkan naql di atas akal. kalangan Asy’ariyah. khususnya logika Aristoteles. Adanya kenyataan bahwa syariah diturunkan dalam Bahasa Arab. maturidiyah atau Hanabilah lebih banyak menggunakan logika yang berpegang pada makna teks atau rasional-deduktif. Dari sinilah kemudian lahirlah ilmu bahasa. Karenanya mereka banyak melakukan pendekatan ta’wil atau interpretasi metaforis terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Dalam kasus ini terdapat dua pendapat. makalah tidak diterbitkan. pertama. Pandangan Asy’ariyah ini kemudian berkonsekuensi. dikenal sebagai penentang logika Aristoteles Perumusan logika aristoteles dan dijadikannya sebagai dasar ilmu pengetahuan secara epistemology bertujuan untuk mengetahui dan mengenal cara manusia mencapai pengetahuan tentang kenyataan semesta baik sepenuhnya atau tidak. 2008). Sedangkan kalangan Asy’ariyah berpendapat bahwa makna lafadz itu berdasarkan tauqifi. bahwa makna yang dimaksud dari teks itu perlu dijaga. Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigam dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan.

24 NO. (Ponorogo: CIOS. yakni dengan membandingkan atau menyamakan dengan realitas. dalam persoalan filsafat ilmu dikenal tiga teori klasik tentang kebenaran.. model pengetahuan rasionalitas seperti itu banyak terjadi kelemahan. maksudnya ialah kesesuaian atau kesepadanan antara pernyataan (ide) dengan kenyataan (realitas). Ciri paling menonjol dari model pengetahuan ini adalah kebenaran silogisme. dan problem definisi. Teori ini menekankan bahwa kebenaran ialah saling kesesuaian antara ide atau kepercayaan dengan realitas atau fakta. Imam asy-Syafi’i juga berpendapat bahwa umat Islam tidak boleh menafsirkan teks-teks berbahasa Arab menurut bahasa orang-orang Yunani dan menurut logika Aristoteles yang memiliki sistem bahasa dan logika yang berbeda dengan sistem Bahasa Arab. Validitas Pengetahuan dalam Studi Ilmu Kalam Secara umum.” Bagi Suhrawardi.33 Suhrawardi (549-587 H. bukan realitas Mufti Ali. 19 33 . karena suatu ide dianggap benar jika ia cocok dengan realitas. hal. Teori ini bersifat empiris.ini.35 E. Bagi Suhrawardi problem yang mendasar di dalam logika Paripatetik adalah soal “validitas pengetahuan”. proposisi. Kritik Imam asy-Syafi’i sebagaimana yang sering dikutip oleh para pengikutnya adalah ungkapan kebodohan dan diskusi kontroversial di antara mereka hanyalah disebabkan oleh karena mereka tidak mendalami Bahasa Arab dan karena kecenderungan mereka untuk memperlajari Bahasa Aristoteles. teori kebenaran korespondensi. Lihat Mohammad Muslih. Mediterania Kuno. di mana pemegang otoritas satu-satunya saat itu adalah logika Paripatetik ini. lahir di Suhraward. 3 (September-Desember) 2007. Pertama. hal. Pengetahuan Intuitif Model Husserl dan Suhrawardi. Makanya pengetahuan itu dapat dicari meski terkait “objek yang tidak dapat dicerap.) 34 juga tercatat sebagai penentang logika Paripatetik atau Aristoteles. vol. Aristotelianisme dalam Kacamata Para Tokoh Abad Tengah Penentang Logika. 2010). 12 35 Ibid. Iran Barat Laut. hal. dalam jurnal Al-Qalam. konsep. 319-320 34 Nama lengkapnya adalah Syihab ad-Din Yahya bin Habasy bin Amirak.

Pengetahuan ini menekankan pada ketepatan berpikir. 10 . (Ponorogo: Darussalam Unniversity Press. Pengantar Ilmu Filsafat. hal. konsep. hal. dalam hukum akal tidak boleh ada perberbedaan pendapat.melakukan sesuatu secara paling berhasil atau tepat guna. dengan kontradiksinya sekiranya dipertentangkan dengan yang lainnya melalui dalil yang berbeda pada saat ditetapkan. 39 Dengan kata lain pengetahuan dianggap benar jika bernilai praktis.38 Yang ketiga adalah teori kebenaran pragmatisme. 2008). Jadi. Ilmu Kalam sering menggunakan teori kebenaran koherensi.36 Teori ini juga telah lama diperkenalkan oleh Ibnu Sina. hal. pernyataan. karenanya tidak terjadi tumpang tindih dan inkonsistensi. seperti Charles S. Bagi mereka. Wacana Falsafah Ilmu: Analisis Konsep-Konsep Asas Filsafah. atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. hal. Teori ini dikembangkan dan dianut oleh filsuf-filsuf pragmatisme dari Amerika. teori kebenaran koherensi. 66 36 ٤٨ . menurutnya. suatu perkataan dianggap benar jika perkataan dan keyakinan itu sesuai dengan kenyataannya. juga tidak bertentangan dengan pengetahuan terdahulu. (Ponorogo: Darussalam Unniversity Press.37 Kedua. Pengetahuan yang memiliki kebenaran koherensi adalah pengetahuan yang diperoleh dengan mengikuti hukum-hukum logika. 2001). ide. Pengetahuan ini tidak terdapat pertentangan dalam dirinya (contradiction in terminis). Sonny Keraf dan Michael Dua. 2008). (Yogyakarta: Kanisius. Peirce dan William James. Jika tidak dilakukan demikian maka akan terjadi keseimbangan antara kebenaran dan kesalahan.40 Dari tiga macam teori klasik tentang kebenaran di atas. Bagi kalangan rasionalis. 2005). 9 39 A. kebenaran sama artinya dengan kegunaan.yang harus sesuai dengan ide. yang benar dan yang salah sama. nafi dan istbat. Sebagian besar ulama ahli kalam berpendapat bahwa akidah dan hukum akal harus meyakinkan dan bersifat qath’i. Pengantar Ilmu Filsafat. 71 40 Mohammad Muslih. Sementara Abdul Rahman Haji Abdullah. Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan sesorang -berdasarkan ide itu.‫ت، )ا ھرة: دون ط ، ٠٦٩١(، ص‬ 38 ‫ا‬ :‫ء‬ ‫،ا‬ ‫73 إ ن‬ Mohammad Muslih. (Kuala Lumpur: Sanon Printing Corporation SDN BHD.

(c) Jadi perbuatan ini adalah jahat (konklusi). 2003). problematika kebebasan kehendak menurut aliran Mu’tazilah berkaitan erat dengan prinsip keadilan Tuhan yang mereka kembangkan.” Kedua pernyataan tersebut tidak mungkin benar semua. Asy-Syahrastani. 70 43 Ibrahim Madkour. 161-162 41 . Karena tanpa adanya kebebasan ini. 43 Dan lain lagi dengan kalangan Asy’ariyah yang menekankan kekuasaan mutlak Tuhan. (b) Perbuatan ini adalah dzalim (premis minor). (Surabaya: Bina Ilmu. Keadilan Allah menuntut bahwa manusia harus bebas berkehendak. 41 Seperti ucapan seseorang. 1995). Mereka memandang bahwa keadilan Tuhan menjadi hilang jika seseorang dituntut harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak ia kerjakan.42 Menurut teori ini kebenaran suatu proposisi hanya dapat diterima jika sesuai dengan proposisi sebelumnya yang sudah diterima kebenarannya. Contohnya: (a) Berbuat dzalim adalah jahat (premis mayor). alih bahasa: Asywadie Syukur. tidak ada dasar bagi syari’ah atau taklif bahkan untuk apa pengutusan para Rasul kepada orang yang tidak mempunyai kebebasan dalam mengikuti dan mendengarkan dakwah mereka. (Yogyakarta: LKiS. dan konklusi (ta’amul). Kebenaran koherensi ini mengharuskan adanya konsistensi berpikir logik. Ia memiliki system berpikir logika yang sangat ketat. 183 42 Wardani. Alilran dan Teori Filsafat Islam. 2003).” Kemudian ada orang lagi yang berkata. “Ahmad ada di dalam rumah pada jam tujuh pagi. premis minor (mufashshal). hal. “Ahmad tidak ada di dalam rumah pada jam tujuh pagi. hal. Epistemologi Kalam Abad Pertengahan. alih bahasa: Yudian Wahyudi Asmin. hal. atau ia dihisab tentang perbuatan yang tidak ia kehendaki. (Jakarta: Bumi Aksara. Teori koherensi ini menjadi alur yang cukup kuat dalam sistem berpikir kaum Mu’tazilah.masalah yang diperselisihkan tidak mungkin mengandung kebenaran dan kesalahan secara bersamaan. Al-Milal wa al-Nihal: Aliran-aliran Teologi dalam Sejarah Umat Manusia. Seperti ‘Abd al-Jabar dengan penekanannya pada konsistensi antara premis mayor (mujmal). kenabian dan risalahnya tidak ada artinya. Sebagai contoh.

baik dari isi ataupun sanadnya. Disebutkan oleh Syahrastani.. Hadits. beliau menyatakan setiap mujtahid yang meneliti masalah akidah memperoleh pahala karena ia telah mengarahkan daya pikirnya terhadap apa yang ditelitinya. Kritik terhadap Epistemologi Ilmu Kalam Dewasa ini. 181-182 44 . logika ilmiah dan empat sumber syariat yakni al-Qur’an. mujtahid adalah orang yang mempunyai ilmu pengetahuan cukup dalam bidang Bahasa Arab yang memungkinkannya dapat memahami nash secara baik. Ketiga.44 Karenanya. Mereka beranggapan bahwa bangunan Menurut Ali Syari’ati mujtahid adalah seorang yang ‘tercerahkan’ dan ‘peneliti bebas’ yang mencari jawaban-jawaban baru berdasarkan ‘semangat dan orientasi agama. maka para ulama memberikan syarat-syarat yang ketat bagi seorang mujtahid.46 F.45 Karena kebenaran diasumsikan milik mujtahid. langsung kepada epistemologi studi ilmu kalam. pengetahuannya tentang ijmak sahabat. seorang ulama Asy’ariyah. menurut Abu al-Hasan al-Anbari sebagaimana yang dikutip oleh asy-Syahrastani. Ali Syari’ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner. Keempat. syarat-syarat seorang mujtahid ada lima perkara: Pertama. baik dari sisi sikap adil dapat dipercaya. Al-Milal…. seorang mujtahid harus memiliki pengetahuan tentang al-Qur’an dan tafsirnya. (Jakarta: Erlangga. ijmak (kesepakatan) dan akal. Dan yang terakhir adalah memiliki pengetahuan tentang qiyas. 184 46 Ibid. hal. kritik dan penolakannya. Kritik mereka sangat mendasar. 465 45 Asy-Syahrastani. memiliki pengetahuan tentang Sunnah. pengetahuan tentang keadaan para perawinya. banyak terjadi kegelisahan akademik yang menimpa para pemikir muslim kontemporer.Jika demikian kebenaran hanya milik mujtahid. 2002). Kedua. Lihat Ali Rahnema. khususnya berkaitan dengan studi ilmu kalam berikut metodologinya. hal. sekalipun hasil penelitiannya itu masih mengandung kemungkinan benar atau salah. tabi’in dan tabi’i tabi’in agar jangan sampai terjadi pertentangan antara ijtihadnya dengan ijtihad orang terdahulu. Dari sisi ijtihad mereka memperoleh pahala dan semua ini berlaku untuk kalangan umat Islam.

yang disusun oleh ulama dan kaum cerdik cendekia terdahulu. barangkali. ekonomi. disiplin ilmu filsafat dan pendekatan filosofis pada umumnya sangat membantu untuk menerobos kemacetan.48 Untuk keperluan itu. sekarang maupun yang akan datang? Apakah akidah Islamiyah. salah satu penyebab tidak berkembangnya disiplin keilmuan kalam khususnya atau studi-studi keislaman pada umumnya. diantaranya: “Apakah mungkin mengawinkan atau setidaknya mendialogkan disiplin dan metodologi “filsafat” dan “kalam” dalam pemikiran Islam kontemporer.info/fdak/index. apakah disiplin ilmu kalam. khususnya yang dirumuskan dan diteorisasikan oleh ulama kalam klasik. lebih dari segi materi maupun metodologi. budaya. adalah dipisahkannya dan dihindarinya pendekatan dan pemahaman filosofis dalam batang tubuh kerangka keilmuan kalam. sebagai body of knowledge. lihat http://uinsuka. Kajian Ilmu Kalam di UIN. yang selama berabad-diupayakan namun selalu gagal? Jika memang begitu kenyataannya. bersentuhan. diambil pada 23 Januari 2011 48 Ibid 47 . tengah dan modern tidak boleh diubah sistematika.php?option=com_content&task=view&id=152. metodologi dan konteknya sesuai dengan pergumulan dan perubahan zaman serta perkembangan metodologi keilmuan yang mengitarinya? Bolehkah rumusan dan adagium-adagium ilmu kalam disusun ulang sesuai dengan tuntutan dan tantangan sosial-keagamaan serta perkembangan ilmu pengetahuan yang mengitarinya?” Dapatkah dominasi pendekatan tekstual dan kontektual bergulir ke arah kontektual dan praksis sosial yang aktual dalam kehidupan kongkrit sehari-hari? Puncak pertanyaannya.keilmuan kalam tidak cukup kokoh untuk menyediakan seperangkat teori dan metodologi yang banyak menjelaskan bagaiamana seorang agamawan yang baik harus berhadapan. dapat begitu saja terlepas dari pengaruh dan campur tangan dimensi ruang dan waktu ketika ia dirumuskan baik dahulu. dan politik. adalah sebagai berikut: bolehkah apa yang biasa dan selama Amin Abdullah. berhubungan dengan penganut agama-agama yang lain dalam alam praksis sosial. bergaul.47 Sebagaimana yang dikutip oleh Amin Abdullah. berdasarkan pengamatan dalam penelitian Fazlur Rahman. bahkan jalan buntu yang dihadapi oleh ilmu-ilmu apapun. Menurutnya. Amin Abdullah mengemukakan beberapa pertanyaan yang mendasar. dalam sebuah artikelnya.

. Terlepas dari keabsahan epistemologi masing-masing aliran ilmu kalam. usuliyyun. sebagai ganti dari teori kebenaran koherensi. mutakallimun. dalam artian menurut bahasa Hasan Hanafi. Dari perbedaan epistemologi di atas. Meski demikian. meski mereka terlalu ekstrim dalam menggunakan akal. asy’ariyah dan maturidiyah) yang masih kuat berpegang kepada wasiat Nabi saw untuk senantiasa berpedoman dengan al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan berpikir dan beramal. Dan dapat ditebak. karena adanya unsur campur tangan dan intervensi manusia Muslim (nabi. Lain halnya dengan Mu’tazilah. penulis beranggapan bahwa perbedaan pendapat mengenai persoalan akidah merupakan suatu keniscaayaan. sebagai pemeharti keilmuwan. Penutup Membaca Ilmu Kalam dari sisi epistemologi merupakan aktifitas yang menjadikan seseorang akan lebih arif dalam melihat perbedaan. fuqaha. G. “dogma” atau “akidah” digagas sebagai teori” keilmuan kalam. nampaknya kalangan ulama ahlusunnah wal jama’ah (salafi. namun mereka banyak menolong agama Islam dari serangan-serangan pemikiran agama lain dan kaum atheis. ulama.ini disebut-sebut sebagai “doktrin”. mereka menghendaki untuk beralih kepada teori kebenaran pragmatisme yang diimpor dari Amerika. yaitu paradigma materialistis sebagaimana telah diperkenalkan oleh kaum Marxis. sahabat. Ilmu Kalam adalah milik kaum elit intelektual yang tidak banyak bermanfaat untuk kalangan bawah. kajian kritis mereka terhadap metodologi ilmu kalam perlu diapresiasi dan dipertimbangkan sekaligus dianalisa secara mendalam untuk kemashlahatan Islam di dunia dan akherat. cerdik cendekia) dalam merumuskan dan mensistematisasikannya?” Mereka mengkritik betapa studi ilmu kalam itu sangat melangit dan tidak membumi. Pandangan demikian sekaligus mencerminkan paradigma yang ada dalam benak mereka. bukan di dunia semata.

(Surabaya: Bina Ilmu. Dimensi Praktis Ilmu Ushuluddin: Sebuah Alternatif Pengembangan Ilmu Ushuluddin. 2002) Amin Abdullah. Abid al-Jabiri: Model Epistemologi Islam. (Jakarta: Erlangga. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. Asy-Syahrastani. (Erlangga. Sonny Keraf dan Michael Dua. 2001) Abdul Rahman Haji Abdullah. 2006) Ali Rahnema. 2003) Hamid Fahmy Zarkasyi. Wacana Falsafah Ilmu: Analisis KonsepKonsep Asas Filsafah. M.. (Yogyakarta: Penerbit Jendela. dalam ISLAMIA Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam. dalam Buku Pemikiran Islam Kontemporer. 2006) Ahmad Baso. Qadri Abdillah Azizy. Khudori Soleh. lihat http://uinsuka. (Tiga Serangkai) A. Kajian Ilmu Kalam di UIN. Worldview Sebagai Asas Epistemologi Islam. (Yogyakarta: Kanisius.info/fdak/index. Ulama dan Cendekiawan Muslim Ibnu Rusyd: Tujuh Perdebatan Utama dalam Teologi Islam. 2005) Afrizal M. Ali Syari’ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner.DAFTAR PUSTAKA 1. 5/April-Juni 2005 . Tahun II No. Al-Milal wa al-Nihal: Aliran-aliran Teologi dalam Sejarah Umat Manusia. alih bahasa: Asywadie Syukur. (Kuala Lumpur: Sanon Printing Corporation SDN BHD. (Jakarta: Erlangga. Bahasa Indonesia A.php?option=com_content&task=view&id=1 52. 2003) A. NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal. dalam Buku Teologi Islam Terapan: Upaya Antisipasif terhada Hedonisme dan Kehidupan Modern.

(Bogor: Pustaka Lentera AntarNusa. W. 1995) Manna’ Khalil al-Qattan. (Tangerang: Pustaka Imam Syafi’i) Murtadha Muthahhari. (Jakarta: Hikmah. 3 (September-Desember) 2007 Muhammad Idrus Ramli. Hadits Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan Pemalsunya. Al-‘Aqil. alib bahasa: Nabhani Idris dan Saefudin Zuhri. (Jakarta: Mizan. alih bahasa: Mudzakir AS. alih bahasa: Agus Efendi. (Ponorogo: Darussalam Unniversity Press. Syuhudi Ismail. (Surabaya: Khalista. 1995) Jan Hendrik Rapar. (Yogyakarta: Kanisius. (Kuala Lumpur: Utusan Publication dan Distributors Sdn Bhd. 24 NO. (Jakarta: Bumi Aksara. 2009) Mohammad Muslih. Studi Ilmu-ilmu Qur’an. Manhaj ‘Aqidah Imam asy-Syafi’i Rahimahullah. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Mantiq. 2008) M. Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah? : Jawaban terhadap Aliran Salafi. 2009) Kamarul Shukri Mohd The. 1996) Jim dan Zam. makalah tidak diterbitkan Kamarudin Amin. Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits. (Ponorogo: CIOS. alih bahasa: Yudian Wahyudi Asmin. 2008) --------------. 2009) Muhammda bin A. Pengetahuan Intuitif Model Husserl dan Suhrawardi. Pengantar Ilmu Tauhid.Ibrahim Madkour. vol. Madzhab Al-Asy’ari. (Jakarta: Gema Insani Press. Aristotelianisme dalam Kacamata Para Tokoh Abad Tengah Penentang Logika. Pengantar Ilmu Filsafat. 2008) --------------. Pengantar Filsafat. 2010) Mufti Ali. Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam. Alilran dan Teori Filsafat Islam. 2009) . Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigam dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta: Belukar. dalam jurnal Al-Qalam.

(Jakarta: Gema Insani Press. (Bandung: Pustaka Setia. Epistemologi Kalam Abad Pertengahan. ) و ورو و‬ ‫ا‬ ‫، ا د ل إ‬ ‫ود ا‬ (١٩٩١، ‫وھ‬ ‫ا‬ :‫ء‬ ‫،ا‬ ‫أل‬ ‫ن‬ ‫إن‬ ‫ر ا ذاھب ا‬ (٢٠٠٦ . Bahasa Arab ، ‫ه‬ ‫: د ل ودر‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫د ا ح ا ر ، ا رق ا‬ (١٩٩۵ . dalam Islamia. Vol II No. (Yogyakarta: LKiS. (Lirboyo: Tamatan Aliyah Lirboyo Angkatan 2005. Ilmu Kalam.‫دار ا م‬ ‫م ا‬ ‫درا‬ :‫م، )ا ھرة‬ (١٩٦٠ ، ‫ت، )ا ھرة: دون ط‬ . 2008) Tsuroya Kiswati. (Bandung: Pustaka Setia. Ahlus-sunnah wal Jama’ah: Keimanan. Akidah Kaum Sarungan: Refleksi Mengais Keheningan Tauhid. dan Kualitasnya. 1985) Tim Saluran Teologi Lirboyo 2005. Sifat. tt) Wardani. 2007) Syamsudin Arif. 3. ‫وھ‬ :‫)ا ھرة‬ :‫م‬ ‫. 2003) 2. alih bahasa: Ummu Fauzi. Filsafat Ilmu Al-Ghazali: Dimensi Ontologi dan Aksiologi. Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam.Omar Bakri Muhammad. Al-Juwaini: Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam. tt) Saeful Anwar. Orientalis dan Teologi Islam: Sketsa Awal. 2005) Rosihon Anwar dan Abdul Rozak. Islam. (New York: 950 University Avenue. (Jakarta: Erlangga. م ا‬ ‫زر‬ :‫. Desember 2005 Syed Muhammad Naquib al-Attas. Secularism and the Philosophy of the Future.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful