P. 1
Laporan Kerja Lapangan (Reklamasi Bahan Galian C (Pasir) (Akbar A.F)

Laporan Kerja Lapangan (Reklamasi Bahan Galian C (Pasir) (Akbar A.F)

|Views: 3,141|Likes:
Published by Akbar Afdilla Fadli

More info:

Published by: Akbar Afdilla Fadli on Apr 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2015

pdf

text

original

Masalah yang dihadapi hampir diseluruh wilayah Indonesia akibat
meningkatnya jumlah penduduk adalah tingginya permintaan akan sumber alam.
Permintaan akan sumberdaya lahan digunakan untuk pertanian, perumahan,
pertambangan, perkebunan, industri maupun kegunaannya lainnya. Eksploitasi tanah
yang mengandung bahan tambang dan memiliki nilai ekonomi tinggi mengalami
peningkatan akhir-akhir ini.

Kegiatan atau penambangan bahan galian C terus meningkat seiring dengan
perkembangan pembangunan di segala sektor. Dilihat dari aspek penggunaan lahan
yang merupakan fungsi sosial mewajibkan penambang harus melakukan reklamasi
terhadap lahan bekas penambangannya, sehingga setelah kegiatan penambangan
tersebut selesai, lahan yang ditinggalkan tidak menjadi rusak sehingga dapat
dimanfaaatkan untuk keperluan sektor lain.
Kegiatan – kegiatan penambangan bahan galian golongan C umumnya banyak
dilakukan oleh penduduk sekitar lokasi namun ada juga yang dilakukan oleh para
investor yang sengaja setempat – setempat dan ladang berpindah – pindah (sporadis).
Hal ini mereka lakukan dengan pertimbangan kemudahan dalam mendapatkan bahan
galian secara cepat, mudah dan dapat menggunakan peralatan sederhana.
Masalah utama yang timbul pada wilayah bekas tambang adalah perubahan
lingkungan. Perubahan kimiawi terutama berdampak terhadap air tanah dan air
permukaan, berlanjut secara fisik perubahan morfologi dan topografi lahan.Lebih
jauh lagi adalah perubahan iklim mikro yang disebabkan perubahan kecepatan angin,
gangguan habitat biologi berupa flora dan fauna, serta penurunan produktivitas tanah
dengan akibat menjadi tandus atau gundul.
Reklamasi ialah mengembalikan fungsi lahan lebih baik, setelah endapan
bahan galiannya ditambang. Untuk memperbaiki dan memanfaatkan lingkungan yang
telah ditambang semaksimal mungkin, dapat dilakukan dengan cara menanami

2

kembali areal yang telah ditambang menjadi kawasan hijau dan menjadi lahan lain
yang lebih bermanfaat.

Kabupaten Sleman sebagai daerah tangkapan air hujan bagi pasokan air tanah
di Porpinsi DIY khususnya wilayah kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan
Kabupaten Bantul sampai saat ini luasan lahan yang mengalami kerusakan akibat
penambangan mencapai lebih kurang 200 hektar dan tersebar di berbagai lokasi.
Adapun penyebab kerusakan lahan akibat penambangan tersebut adalah keterbatasan
pengetahuan para penambang tentang teknik penambangan yang baik, pengetahuan
yang kurang tentang fungsi lingkungan serta keterbatasan peralatan penambangan
yang dimiliki.Lokasi bekas penambangan yang telah mengalami kerusakan terutama
terjadi di Dusun Tegalpanggung, Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten
Sleman.

1.2. Dasar teori

Tambang atau bahan galian golongan C merupakan bahan galian yang
dikategorikan sebagai bahan galian non strategis (tidak vital). Bahan galian golongan
C meliputi bahan galian industri dan bahan galian bangunan. Daerah bahan galian C
digunakan untuk mengeruk keperluan bangunan seperti pasir dan kerikil. Dibeberapa
tempat sudah terlihat hamparan danau mini yang terjadi akibat galian tersebut, dan
ditakutkan akan terjadi kerusakan ekosistem dan rawan longsor, bila unsur tanah
tidak lagi kuat atau labil (Anonim, 2010).
Kegiatan pertambangan merupakan kegiatan usaha yang kompleks dan rumit,
sarat resiko, merupakan kegiatan usaha jangka panjang, serta aturan regulasi yang
dikeluarkan dari beberapa sektor. Selain itu, kegiatan pertambangan mempunyai daya
ubah lingkungan yang besar, sehingga memerlukan perencanaan total yang matang
sejak tahap awal sampai pasca tambang. Pada saat membuka tambang, sudah harus
dipahami bagaimana menutup tambang. Rehabilitasi/reklamasi tambang bersifat
progresif, sesuai rencana tata guna lahan pasca tambang. Perencanaan tambang, sejak
awal sudah melakukan upaya yang sistematis untuk mengantisipasi perlindungan
lingkungan masyarakat sekitar tambang (Arif, 2007).

3

Penambangan bahan galian C merupakan kegiatan penambangan yang paling
sederhana dan karena itu dapat diusahakan secara perorangan dan keluarga.Kegiatan
penambangan berupa penggalian tanah untuk bahan mentah dalam pembuatan
genting, bata, dan barang tembikar, serta penggalian batu dan pasir untuk bangunan.
Meskipun tampak sederhana namun dampaknya atas lahan tidak dapat diabaikan
(Notohadiprawiro, 2006).

Operasional kegiatan pertambangan pada tahap penambangan dan pengolahan
umumnya tidak mendapatkan perolehan 100%, yang berarti masih ada bahan galian
yang tertinggal dalam kondisi in situ, sebagai waste atau pada tailing.Bahan galian
tertinggal pada wilayah bekas tambang tersebut pada beberapa kasus, kembali
ditambang, baik oleh pelaku usaha pertambangan atau oleh masyarakat (Suprapto,
2006).

Pola penambangan yang dilakukan oleh masyarakat pun mengalami
perubahan, begitu para pemodal besar masuk. Kegiatan penambangan mengalami
pergeseran sistem pengelolaan, dari masyarakat ke pengusaha modal besar, seiring
dengan terbitnya ijin dari Pemerintah kepada para pengusaha yang memiliki modal
besar untuk melakukan kegiatan usaha penambangan di daerah. Masuknya
perusahaan ke wilayah tersebut, tentu saja diiringi pula oleh masuknya alat - alat
berat,dan seperangkat alat modern lainnya. Cara penambanganpun berubah dan hasil
yang dikeruk semakin banyak. Kegiatannya bukan lagi menggunakan cangkul, sekop
dan linggis, tetapi sudah mempergunakan alat berat. Situasi ini semakin mempercepat
kerusakan lingkungan sekitarnya (Sudardja, 2007).
Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata
kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan agar
dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya. Reklamasi lahan bekas
tambang selain merupakan upaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan pasca
tambang, agar menghasilkan lingkungan ekosistem yang baik dan diupayakan
menjadi lebih baik dibandingkan rona awalnya, dilakukan dengan
mempertimbangkan potensi bahan galian yang masih tertinggal (Subeno, 2009).

4

Masalah utama yang timbul pada wilayah bekas tambang adalah perubahan
lingkungan. Perubahan kimiawi terutama berdampak terhadap air tanah dan air
permukaan, berlanjut secara fisik perubahan morfologi dan topografi lahan.Lebih
jauh lagi adalah perubahan iklim mikro yang disebabkan perubahan kecepatan angin,
gangguan habitat biologi berupa flora dan fauna, serta penurunan produktivitas tanah
dengan akibat menjadi tandus atau gundul.Mengacu kepada perubahan tersebut perlu
dilakukan upaya reklamasi. Selain bertujuan untuk mencegah erosi atau mengurangi
kecepatan aliran air limpasan, reklamasi dilakukan untuk menjaga lahan agar tidak
labil dan lebih produktif. Akhirnya reklamasi diharapkan untuk menghasilkan nilai
tambah bagi lingkungan dan menciptakan keadaan yang jauh lebih baik dibandingkan
dengan keadaan sebelumnya (Suprapto, 2008).
Kegiatan seperti pembukaan hutan, penambangan, pembukaan lahan pertanian
dan pemukiman, bertanggung jawab terhadap kerusakan ekosistem yang terjadi.
Akibat yang ditimbulkan antara lain kondisi fisik, kimia dan biologis tanah menjadi
buruk, seperti contohnya lapisan tanah tidak berprofil, terjadi kemampatan,
kekurangan unsur hara yang penting, pH rendah, pencemaran oleh logam-logam berat
pada lahan bekas tambang, serta penurunan populasi mikroba tanah. Untuk itu
diperlukan adanya suatu kegiatan sebagai upaya pelestarian lingkungan agar tidak
terjadi kerusakan lebih lanjut. Upaya tersebut dapat ditempuh dengan cara
merehabilitasi ekosistem yang rusak. Kegiatan rehabilitasi tersebut diharapkan akan
mampu memperbaiki ekosistem yang rusak sehingga dapat pulih, mendekati atau
bahkan lebih baik dibandingkan kondisi semula (Rahmawaty, 2002).

5

1.3. Tujuan

1.3.1.Tujuan umum

1) Menambah ilmu dan pengetahuan mengenai reklamasi suatu lahan.
2) Sinergitas dan penerapan antara ilmu (teori) dan aplikasi ilmu tanah di
lapangan terutama yang berkaitan dengan aspek reklamasi lahan.
3) Mahasiswa dapat lebih terampil dalam melakukan pengamatan,
pengumpulan, dan analisis data.

1.3.2.Tujuan khusus

1) Mengetahui dan mempelajari kegiatan reklamasi bahan galian C.
2) Mengetahui dan mempelajari kegiatan yang dilakukan Badan
Lingkungan Hidup DIY dalam reklamasi daerah penambangan galian C
di Kecamatan Turi Sleman.
3) Mengetahui dan mempelajari pengaruh dari kegiatan reklamasi terhadap
lahan bekas tambang bahan galian C.

6

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->