P. 1
BOOK REPORT (Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar)

BOOK REPORT (Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar)

|Views: 2,429|Likes:
Published by Sigit Pamungkas
Judul Buku : Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar
Pengarang : Sardiman A.M
Penerbit : PT Raja Grafindo Persada
Tahun terbit : 2007
Jumlah Halaman : 236 halaman
Judul Buku : Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar
Pengarang : Sardiman A.M
Penerbit : PT Raja Grafindo Persada
Tahun terbit : 2007
Jumlah Halaman : 236 halaman

More info:

Published by: Sigit Pamungkas on Apr 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2013

pdf

text

original

Identitas Buku

Judul Buku Pengarang Penerbit Tahun terbit Jumlah Halaman

: Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar : Sardiman A.M : PT Raja Grafindo Persada : 2007 : 236 halaman

BAB I PENDAHULUAN

Manusia

adalah

makhluk

individu

dan

makhluk

sosial.

Dalam

hubungannya sebagai makhluk sosial, terkandung maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat telepas dari individu yang lain. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Dari berbagai bentuk interaksi, khususnya mengenai interaksi yang disengaja, ada istilah interaksi edukatif. Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Dalam arti yang lebih spesifik pada bidang pengajaran, dikenal adanya istilah interaksi belajar-mengajar. Dengan kata lain, apa yang dinamakan interaksi edukatif, secara khusus adalah sebagai interaksi belajar-mengajar. Belajar dan mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal tetapi memang memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah kegiatan penyediaan kondisi yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk memperoleh pengetahuan. Guru sebagai pembina dan pembimbing harus mau dan dapat menempatkan siswa sebagai anak didiknya di atas kepentingan yang lain. Ibarat seorang dokter, keselamatan pasien (keberhasilan siswa) harus diutamakan. Guru harus dapat mengembangkan motivasi dalam setiap kegiatan interaksi dengan siswanya.

BAB II ISI

BAB I : Pemahaman Awal Melalui Interaksi Edukasi Istilah interaksi berpangkal pada konsep komunikasi yang berarti menjadikan milik bersama atau memberitahukan tentang pengetahuan, pikiran pikiran, keterampilan, dan nilai. Kemudian Interaksi edukatif merupakan proses interaksi yang disengaja, sadar tujuan, yakni untuk mengantarkan anak didik ke tingkat kedewasaanya. Interaksi Edukatif memiliki ciri – ciri : a. Sadar tujuan b. Ada guru c. Ada metode d. Ada bahan atau pesan e. Ada subjek didik atau pelajar f. Ada situasi yang kondusif g. Ada penilaian. Semua itu merupakan ciri – ciri interaksi edukatif bisa terlaksana.

Pendidikan dapat dirumuskan dari sudut normatif, karena merupakan peristiwa yang memiliki norma-norma. Tetapi dalam kaitannya dengan interaksi edukatif, pendidikan dapat dirumuskan dari sudut proses teknis. Sehubungan dengan proses teknis inilah maka secara spesifik interaksi edukatif dapat dikatakan sebagai interaksi belajar - mengajar. Ciri – ciri interaksi belajar mengajar yakni memiliki tujuan, ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncana, ditandai suatu penggarapan materi secara khusus, ditandai dengan aktivitas, ada guru yang berperan sebagai pembimbing, membutuhkan disiplin dan ada batas waktu untuk pencapaian tujuan serta sudah barang tentu perlu adanya kegiatan penilaian.

BAB II : Konsep Belajar dan Mengajar

Sebagian besar orang belajar karena berinteraksi dengan lingkungan dalam rangka mengubah tingkah laku. Belajar dapat dikatakan sebagai upaya perubahan tingkah laku dengan serangkaian kegiatan, seperti membaca, mendengar, mengamati, meniru, dan lain sebagainya. Atau dengan kata lain belajar sebagai kegiatan psikofisik untuk menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Oleh karena dalam belajar perlu ada proses internalisasi, sehingga akan menyangkut matra kognitif, afektif dan psikomotorik. Belajar memiliki banyak prinsip antara lain, harus ada aktivitas untuk menunjukkan potensinya, perlu motivasi, keadaan siswa perlu diperhitungkan. Tujuan belajar terdiri dari instructional effect dan nurturant effect. Belajar ditujukan untuk mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, serta pembentukan sikap. Ada beberapa teori tentang belajar yakni teori menurut Ilmu Jiwa Daya, Ilmu Jiwa Gestalt dan Ilmu jiwa Asosiasi. Dalam ilmu jiwa asosisasi, ada dua teori yang sangat terkenal : Konektionisme dan conditioning. Dari berbagai teori

yang kelihatannya berbeda, sebenarnya ada persamaannya yang tercermin pada prinsip umum, bahwa untuk belajar memerlukan : motivasi, pengakuan adanya kesulitan atau hambatan, adanya aktivitas, dan berbagai respons. Di dalam belajar terdapat banyak faktor yang mempengaruhi salah satu faktor psikologis dalam belajar misalnya : faktor motivasi, konsentrasi, reaksi pemahaman, organisasi, ulangan dan masih ada macam – macam yang lain misalnya perhatian, minat, fantasi, faktor ingin tahu, sifat kreatif, dan lain lain. Sebagai kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar adalah kegiatan mengajar. Mengajar adalah usaha untuk menciptakan kondisi yang kondusif agar berlangsung kegiatan belajar yang bermakna dan optimal. Mengajar juga menyangkut transfer of knowledge dan mendidik yang transfer of values. Dengan demikian, akan dapat mengoptimalisasikan kegiatan belajar dengan hasil yang bermakna. Ciri dari hasil belajar yang bermakna adalah : tahan lama dan asli atau otentik.

BAB III : Tujuan Pendidikan dan Pengajaran Sebagai Dasar Motivasi

Tujuan adalah suatu rumusan hasil yang diharapkan dari siswa setelah menyelesaikan atau memperoleh pengalaman belajar. Tujuan ini sangat penting karena merupakan pedoman untuk mengarahkan kegiatan belajar. Tujuan ini perlu dirumuskan karena untuk membantu mempermudah guru dalam mendesain program dan kegiatan pengajaran, mempermudah pengawasan dan penilaian hasil belajar sesuai yang diharapkan dan memberikan pedoman bagi siswa dalam menyelesaikan materi dan kegiatan belajar. Dalam tujuan pendidikan dan pengajaran dikenal adanya tujuan akhir dan tujuan intermedier. Hal ini dijadikan dasar motivasi. Tujuan akhir bersifat filosofis dan politis. Filosofis dan bersifat politis karena tujuan itu ditetapkan sebagai

undang – undang atau peraturan. Tujuan intermedier relative bersifat operasional, karena akan menunjuk langkah-langkah yang dapat dikerjakan melalui suatu proses. Tujuan pendidikan itu berjenjang, yakni tujuan pendidikan Nasional, Institusional, kurikuler dan instruksional atau pembelajaran. Kemudian tujuan pembelajaran merupakan tujuan intermedier yang paling langsung dalam kegiatan interaksi belajar mengajar di kelas. Tujuan pembelajaran itu meliputi tujuan pembelajaran umum dan juga tujuan pembelajaran khusus (TUP dan TKP atau TIU dan TIK).

BAB IV : Motivasi dan Aktivitas dalam Belajar Motivasi berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Ada tiga elemen atau ciri pokokdalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energy, ditandai dengan adanya feeling dan dirangsang karena adanya tujuan. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Motivasi selalu berkait dengan soal kebutuhan. Ada beberapa jenis kebutuhan misalnya : kebutuhan untuk menyenangkan orang lain, kebutuhan untuk mencapai hasil, kebutuhan untuk mencapai kesulitan. Sehubungan dengan itu, timbulah beberapa teori motivasi yang berpangkal pada kebutuhan, yakni kebutuhan filosofis, ingin rasa aman, cinta kasih, mewujudkan diri sendiri. Di samping itu ada teori – teori : insting, fisiologis dan psikoanalitik. Ada beberapa ciri tentang motivasi antara lain: tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, menunjukkan minat terhadap bermacam-macam

masalah, lebih senang bekerja mandiri, cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin atau mekanis. Fungsi motivasi adalah untuk mendorong manusia untuk berbuat, menentukan arah perbuatan, untuk mencapai tujuan dan menyeleksi perbuatan mana yang akan dikerjakan. Motivasi dapat diklasifikasikan, dilihat dari dasar pembentukannya yakni motivasi bawaan dan motivasi yang dipelajari, menurut pembagian Woodworth dan Marquis terdiri dari : motivasi karena kebutuhan organis, motivasi darurat, dan motivasi objektif, ada juga motivasi jasmaniah dan rohaniah. Di samping itu ada motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Bentuk – bentuk motivasi dalam belajar itu terdiri antara lain : memberi angka, hadiah, ego-involvement, memberi ulangan, mengetahui hasil, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, dan minat. Di dalam belajar perlu adanya aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar itu dalah berbuat, “learning by doing”. Di dalam aktivitas belajar ada beberapa prinsip yang berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yakni menurut pandangan ilmu jiwa lama dan pandangan ilmu jiwa modern. Menurut pandangan ilmu jiwa lama, aktivitas didominasi oleh guru, sedang pandangan ilmu jiwa modern, aktivitas didominasi oleh siswa. Kemudian untuk aktivitas belajar dapat digolongkan dalam beberapa klasifikasi antara lain : visual activities, oral activities, listening activities, writing activities, drawing activities, motor activities, mental activities. BAB V : Hakikat Anak Didik Dalam bab ini menjelaskan mengenai beberapa pandangan tentang hakikat manusia :
1. Psikoanalitik (id,ego,super eg)

2. Humanistik (dapat menentukan n555asibnya sendiri dan bertanggung

jawab) 3. Martin Buber (keberadaan yang berpotensi, tetapi terbatas) 4. Behavioristik (ditentukan oleh faktor dari luar) Anak didik adalah subjek belajar, sebab anak didik adalah sentral kegiatan dan pihak yang mempunyai tujuan. Komponen – komponen yang lain adalah faktor pendukung. Jadi yang aktif adalah anak didik. Anak didik atau siswa sebagai subjek belajar sebenarnya memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi misalnya kebutuhan jasmaniah, sosial dan intelektual. Seseorang atau khususnya siswa dapat memenuhi kebutuhan, merasa puas kalau dapat memenuhi development tasked. Siswa sebagai subjek belajar, maka perlu dikembangkan individunya, karena yang dikatakan sebagai manusia utuh itu adalah bersifat personal. Sehingga dalam kegiatan belajar-mengajar perlu dikembangkan pada pebinaan individu – individu siswa. Oleh karena itu, perlu dikenal adanya karakteristik siswa, terutama yang berkait dengan kemampuan awal, latar belakang dan status sosial serta perbedaan – perbedaan kepribadian. Guru dalam hal ini perlu mengetahui data pribadi siswa untuk kepentingan belajar siswa. Cara yang ditempuh untuk mengetahui data pribadi siswa itu misalnya dengan menggunakan berbagai jenis tes, observasi, kunjungan rumah, angket. BAB VI : Kedudukan Guru Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru yang merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan

menempatkan kedudukannya sebagai tenaga professional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi guru, antara lain persyaratan administrative, teknis, psikis dan fisis. Kemudian sebagai guru harus memiliki kematangan jasmani, rohani maupun edukasi sosial. Di samping itu ada syarat khusus yang bersifat mental, yakni: roeping. Guru sebagai tenaga professional, berarti pekerjaan guru memerlukan pendidikan lanjut di dalam science dan teknologi yang dapat digunakan sebagai perangkat dasar untuk diterapakan dalam berbagai kegiatan demi kemaslahatan umum. Menitikberatkan pekerjaan mental daripada manual work pekerjaan guru sebagai tenaga professional ditandai juga adanya informed responsiveness dan hasil pekerjaannya akan berkait dengan accountability. Guru dikatakan sebagai pendidik dan pembimbing. Guru sebagai pendidik, karena di samping menyampaikan ilmu pengetahuan, juga transfer of values, menanamkan nilai – nilai dan sikap mental serta melatih berbagai keterampilan dalam upaya menantarkan anak didik kea rah kedewasaanya. Oleh karena itu, guru harus seorang yang berpribadi baik, dapat sebagai anutan, sehingga nantinya dapat memanusiakan manusia. Karena guru juga harus melakukan kegiatan bimbingan, yakni menuntun anak didik dan memberikan lingkungan yang sesuai dengan arah dan tujuan yang dicita – citakan. Untuk melaksanakan tugasnya secara operasional, guru memiliki beberapa peranan antara lain sebagai informator, organisator, motivator, fasilitator, mediator, konselor, evaluator. Dalam kaitan ini perlu diciptakan hubungan baik anatara guru dan siswa, termasuk pengebangan hubungan – hubungan secara informasi dan contract-hours. Dalam melaksanakan semua tugasnya itu, guru sebagai tenaga

professional memerlukan adanya kode etik guru. Kode etik guru akan merupakan pedoman tingkah laku bagi gurudalam berinterksi dengan subjek didik. Kode etik

guru juga sekaligus sebagai penangkal dari kecenderungan tingkah laku guru yang akan menyelewengkan. Kode etik guru terdiri 9 item yang apada prinsipnya membantu kesuksesan pekerjaan guru demi kepentingan anak didik.

BAB VII : Pengelolaan Interaksi Belajar Mengajar Guru sebagai tenaga professional di bidang kependidikan, di samping memahami hal – hal yang bersifat filosofis dan konseptual, juga harus mengetahui dan melaksanakan hal – hal yang bersifat teknis. Hal – hal yang bersifat teknis ini, terutama kegiatan menglola dan melaksanaan interaksi belajar mengajar. Kemudian, dalam melaksanakan proses belajar mengajar, guru harus memiliki Sepuluh Kompetensi guru, yang mana sepuluh kompetensi guru terdiri dari : menguasai bahan, mengelola program belajar – mengajar, mengelola kelas, menggunakan media atau sumber, menguasai landasan kependidikan, mengelola interaksi belajar-mengajar, menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran, mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, memahami prinsip – prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. Selanjutnya dalam melakukan interaksi belajar mengajar guru harus juga memahami dan dapat melaksanakan item – item keterampilan mengajar. Untuk itu perlu mengadakan microteaching. Sebagai program latihan mengelola interaksi belajar – mengajar. Keterampilan – keterampilan mengajar secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok sesuai dengan lembar – lembar dalam kegiatan microteaching.

1. Aspek materi, terdiri dari item – item :

a. Interes b. Titik pusat c. Rantai kognitif d. Kontak e. Penutup 2. Modal kesiapan, terdiri dari item – item : a. Gerak b. Suara c. Titik Perhatian d. Variasi media e. Variasi interaksi f. Isyarat g. Waktu selang
3. Keterampilan operasional, terdiri dari item – item :

a. Membuka pelajaran b. Mendorong dan melibatkan siswa c. Mengajukan pertanyaan d. Menggunakan isyarat nonverbal e. Menanggapi siswa f. Menggunakan waktu g. Menutup pelajaran

Untuk merealisasikan proses pembelajaran, pendekatan kontekstual tepat untuk diterapakan. Guru harus berusaha mengaitkan materi ajar dengan dunia nyata. Prinsip inkuiri dan CBSA menjadi penting

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Seorang guru haruslah mempunyai cara – cara tertentu dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Yang mana hal tersebut akan sangat penting sekali bagi para peserta didik dalam proses pembelajaran. Dengan proses pembelajaran yang menarik dan juga tersistematik, maka peserta didik akan lebih bisa menangkap hal – hal apa yang disampaikan oleh guru. Dalam proses pembelajaran, perlu adanya interaksi dan motivasi dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik akan lebih bisa menerima apa yang disampaikan oleh guru.

B. Refleksi Buku ini disajikan dengan kata – kata yang mudah untuk dipahami, sehingga dalam sekilas saja pembaca bisa memahami apa yang dimaksud oleh penulis lewat buku ini. Selain itu, pada tiap – tiap babnya juga

dicantumkan ringkasan – ringkasan dari masing – masing bab tersebut. Sehingga setelah kita membaca bab tersebut, kita bisa me- review kembali apa saja yang telah kita baca dalam bab tersebut. Sehingga di dalam otak kita bisa mengalami penguatan, yang mana penguatan tersebut membuat materi yang telah kit abaca bisa lebih lama tertanam di dalam otak kita. Namun, dalam buku ini sangat sedikit sekali ilustrasi – ilustrasi yang dimunculkan pada setiap materi yang diberikan, sehingga terkadang kita harus lebih berkonsentrasi daripada buku yang memiliki banyak ilustrasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->