JAWABAN SOAL UJIAN STUDI AGAMA HINDU 1. PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA, INDONESIA DAN KALIMANTAN TENGAH a.

Perkembangan Agama Hindu di India Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Agama Hindu pertama kali dikenal di India. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 Jaman/fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. 1. Jaman Weda–>Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut “Rta”. Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra. 2. Jaman Brahmana–>Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya “Tata Cara Upacara” beragama

yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. 3.Jaman Upanisad–>Pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. 4.Jaman Budha–>pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Agama Hindu makin lama semakin menyebar mulai dari India Selatan hingga keluar dari India dengan berbagai cara, sterutama melalui perdagangan bebas Internasional. Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini “Maitra Waruna” yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi. Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari

India. Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orangorang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan “Aztec” yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini. Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saatsaat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini disebut Inca. Kata “Inca” berasal dari kata “Ina” dalam bahasa Sanskerta yang berarti “matahari” dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya. Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park). Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda “Tri Kuta” atau tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman

Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa. yang disebut "Rta". akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi. yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Varuna. yang kemudian dikembangkan pula pada . sekitar 2500 s. kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda. Ksatriya. ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Pada jaman ini. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Salah satu peninggalan yang menarik. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama. masyarakat dibagi atas kaum Brahmana. Vaisya dan Sudra. Vayu. Pada Jaman Brahmana.Budha. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta. Indra. yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Siwa dan sebagainya. adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu. Kitab Brahmana. kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja. Sedangkan pada Jaman Upanisad.d 1500 tahun sebelum Masehi. mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni. karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. Walaupun Dewa-dewa itu banyak. setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan.

dengan Agama Hindu. Ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. sebagai jalan untuk Tuhan. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: “Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman”. menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan menghubungkan sistem yoga diri dan semadhi. Masuknya agama Hindu ke Indonesia. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur). Selanjutnya. agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan . dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta". Sejak jaman Purana. Tempat itu disebut dengan “Vaprakeswara“.ajaran Darsana. pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara b. menimbulkan pembaharuan yang besar. dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Perkembangan Agama Hindu di Indonesia Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi. Itihasa dan Purana. pada Jaman Budha ini. dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara.

Selanjutnya. yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. yaitu Trisula. merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Jambu. diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi. Muara Cianten. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi). Berdasarkan data tersebut. dengan Candra Sengkala berbunyi: “Sruti indriya rasa”. Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.diketemukannya tujuh buah prasasti. agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti. Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal. yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Kebonkopi. agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur. Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu” Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Pasir Awi. Disamping itu. Cakra. Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi. Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa “Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa . Kendi. maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Tugu dan Lebak. Kapak dan Bunga Teratai Mekar. yakni prasasti Ciaruteun. Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa.

Hal ini disamping dapat dibuktikan . yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama.sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia. candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari. di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222). para pendeta dan penduduk negeri. sebagai pengemban agama Hindu. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda. para Brahmana besar. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu. Kitab Bharatayudha. Setelah dinasti Isana Wamsa. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal. Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit. Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa. Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Kitab Lubdhaka. misalnya Kitab Smaradahana. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa.

Perkembangan selanjutnya. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat . Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung). Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. arsitektur. sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2. Khayangan Jagad. kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja. sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Dan pada masa Dalem Waturenggong. juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. agama. Perkembangan agama Hindu selanjutnya. setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Beliau Moksa di Pura Silayukti. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci. Menurut uraian lontar-lontar di Bali. Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Gianyar.dengan adanya prasasti-prasasti. Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung. yang berasal dari abad ke-8. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. yakni pada masa pemerintahan Udayana. Surya kanta tahun1925 di SIngaraja. seperti Pura Rambut Siwi. bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali.

Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Dari lembah sungai sindhu. Tiongkok. ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia. Dan pada tahun 1964 (7 s. Asia Tengah. menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India.d 10 Oktober 1964). Berdasarkan beberapa pendapat. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. Mookerjee (ahli . Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda.Belanda) .Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali. yaitu ke India Belakang. maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia. Krom (ahli . Moens dan Bosch (ahli . yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia. Kontak yang berlangsung sangat lama ini.Belanda). Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis". diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.India tahun 1912). dengan teori Waisya. Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia.

Data Peninggalan Sejarah di Indonesia. yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Perkembangan Agama Hindu di Kalimantan Tengah . Yamuna. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali. juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma. diantaranya adalah: Agastya Yatra. Pita Segara. artinya bapak dari lautan. India Selatan dan India Belakang. c. artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia. Prasasti Porong (Jawa Tengah) Prasasti yang bertahun Caka 785. maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau. dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau. melalui sungai Gangga. dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya.Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti: Prasasti Dinoyo (Jawa Timur): Prasasti ini bertahun Caka 628.

Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi atau era kesejagatan yang demikian tampak pesat mendera setiap bangsa. Dampak negatif budaya global tersebut merupakan dampak dari kehidupan modern. yang dapat menimbulkan ketegangan bagi umat beragama. dan bahkan pemerkosaan. penyalahgunaan obat-obat psikotropika (narkoba. Wawasan masyarakat Bali terbuka untuk memetik hal-hal yang baik dari manapun berasal dan dengan kemampuannya yang selektif dan adaptif. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya global. perampokan. Demikian pula alat-alat komunikasi. dan informasi yang sangat canggih memberikan peluang kepada masyarakat Bali yang memang sangat terbuka. Di balik dampak positif globalisasi. Teknologi komunikasi dan informasi yang demikian maju memberi peluang masuknya berbagai pengaruh budaya asing. transportasi. menggunakan hal-hal yang baik itu untuk merevitalisasi Agama Hindu dan budaya Bali. kurangnya solidaritas. pencurian. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan . EKSISTENSI KEBERADAAN AGAMA HINDU Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama Hindu dan budaya Bali. Berbagai produk budaya global telah merambah berbagai aspek kehidupan. ekstasi. tidak dapat dihindari adalah dampak negatif budaya global tersebut.2. Berkembangnya penyakit sosial seperti prostitusi. Dampak positif budaya global sangat dirasakan oleh masyarakat Bali. Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global. untuk berkomunikasi ke mana saja di belahan bumi ini. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ke dalam rumah dan bahkan ke dalam kamar-kamar dan kepada pribadi masyarakat. terutama dengan adanya kemajuan teknologi informasi mempercepat proses perubahan tersebut. Muncul berbagai masalah di antaranya masyarakat semakin individualis. Proses globalisasi telah pula merambah kehidupan agama yang serba sakral menjadi sekuler. dan sebagainya).

keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika. Seperti telah disebutkan di atas. Dalam situasi yang demikian. namun demikian kekhawatiran sebagian masyarakat tentang dampak negatif globalisasi perlu diusahakan jalan untuk mengatasi dan mungkin mencegahnya. di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. tetapi sebaliknya memberikan pencerahan kepada budaya lokal. Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut. Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan globalisasi tersebut. Vinod C. dan menulis buku The Ramayana in Indonesia (2004) seperti dikutip oleh Dharma Putra dan Widhu Sancaya (2005:XV) menyatakan bahwa Bali dapat dijadikan satu contoh untuk Asia sebagai daerah yang memiliki kemampuan untuk mengadaptasi budaya tradisional agar relevan dengan budaya global. tampak beragam respon masyarakat Bali. 2005:18). Khanna dan Malini Saran yang telah beberapa kali mengunjungi Bali. bahwa Agama Hindu menjadi jiwa dan sumber nilai budaya Bali. Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Agama Hindu dan budaya Bali mampu menghadapi budaya globabal. Sinergi dan dinamika Agama Hindu di Bali telah melahirkan berbagai kearifan lokal. Agama Hindu dan tidak menghapuskan tradisi masyarakat dan budaya Bali sebelumnya. Berbagai kearifan lokal telah terbukti mampu menjadikan Agama Hindu dan budaya Bali eksis sepanjang masa . The island of Balinever lost sight of this truth while facing up to the relentless onslaught of tourism on its rich artistic heritage. and can be an example to the rest Asia for its skill in adapting traditional cultural practices to suit a modern context. untuk itu kiranya perlu diketengahkan bagaimana sinergi dan dinamika Agama Hindu dengan budaya Bali dan melakukan fungsinya sesuai dengan budaya Bali. mantan Duta Besar India.

dengan cara apapun. Dalam mantra Hindu seperti maha mantra Hare Krisna dan lain-lain jika diartikan disebutkan pada awalnya bukan meminta berkah sesuatu seperti doa-doa ajaran yang lain. banyak umat Non-Hindu yang mengangap bahwa itu tidaklah praktis. Tapi bagi Umat Hindu itulah cara mereka menunjukan rasa cinta dan kekaguman mereka pada sang pencipta.3. Umat Hindu percaya bahwa beliau adalah Guru yang patut dihormati dan bukan berarti beliau diangap sebagai tangan tuhan di dunia ini. secara logika saja sudah agak aneh. Bagi Umat Hindu tidak ada upacara yang ribet atau tidak praktis. bagi Hindu dosa tidak bisa hapus. yang mampu berdampingan dengan agama lain. Seperti kebayakan Non-Hindu mengatakan bahwa umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba sebagai wakil tuhan di dunia. Hindu bukanlah agama yang membenarkan penghapusan Dosa. Namun perbuatan dosa bisa diimbangi dengan perbuatan Baik. Aneh bukan jika itu ada. dan bukan Hindu saja yang percaya hal itu. karena Umat Hindu tidak pernah mengangap seperti itu. umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba yang memiliki tidak saja pengikut dari Hindu melainkan juga Umat Non-Hindu sebagai Guru Besar Spritual dalam Hindu. IMPLEMENTASI AGAMA HINDU YANG BERSIFAT UNIVERSAL Hindu memang dikenal dengan banyaknya Upacara. sunguh tidak sempurnanya Tuhan jika harus memiliki perwakilan di dunia. karena semua dilakukan dengan rasa bahagia dan keiklasan. Hindu merupakan agama yang universal. Dalam Hindu tidak ada namanya perwakilan Tuhan di dunia. Tapi memang agama tidak bisa dilogikakan. Bukanya hanya berdoa pada Tuhan lalu meminta berkahnya. karena walau beliau itu penuh dengan keajaiban namun beliau tetap tidak sesempurna tuhan. melainkan meminta untuk mengabdi dan berbakti pada beliau. Tidak ada dalam Hindu memberi secarik kertas dari sebuah . Hindu percaya dalam menjaga dunia ini Tuhan juga berkorban untuk kita. Itu salah. Agama Hindu tidak pernah mempersalahkan agama lain yang ada di dunia ini. Satu lagi mungkin juga yang membedakan Hindu dari agama yang lainya. umat Kristen percaya bahwa Yesus berkorban untuk umatnya. Budha pun berkorban untuk kedamaiaan pengikutnya.

bagaimana orang Indonesia di masa yang lalu memeluk agama Hindu? Siapakah yang menyebarkan agama Hindu ke Indonesia? Selanjutnya tentang kasta adalah bentuk penyimpanan dan interpretasi yang keliru dari pengertian Varna sebagai tersebut dalam kitab suci Veda. Hal ini kami pandang sangat perlu mengingat sampai sekarang masih ada pandangan dan buku-buku yang mendiskreditkan agama Hindu dan menganggap agama Hindu sebagai agama yang tidak bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Jangan pernah kita merasa kita ini minoritas. kemudian dosa bisa dikurangi. melainkan Moksha atau menyatu dengan Tuhan (Brahma) . Dr. Banggalah kita menjadi Hindu. dan juga dalam Hindu sorga bukanlah tujuan utama mereka. lalu masuk sorga. sebagai tokoh ahli perbandingan agama di Indonesia pada Kongres Agama-Agama di Indonesia. Bilama Hindu tidak mengenal missi. Bahkan Prof. Dipakai nama Hindu Dharma sebagai nama agama Hindu menunjukkan bahwa kata Dharma mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian kata agama dalam bahasa Indonesia. tanggal 11 Oktober 1993 di Yogyakarta menyatakan bahwa agama Hindu tidak mengenal missi karena dibatasi oleh sistem kasta. Minoritas bukan berarti tidak berkualitas. Dalam Hindu itu tidaklah ada. sekarang mungkin kita sedikit melihat bagaimana ke agungan Hindu itu sendiri. Mukti Ali. Yang dimaksud dengan Varna adalah pilihan profesi sesuai dengan Guóa (bakat pembawaan orang) dan Karma (kerja yang dia lakoni) oleh setiap orang. Dalam kontek pembicaraan kita . karena sebenarnya kita adalah mayoritas dalam ajaran keagamaan. HINDU ADALAH SANATANA DHARMA Dalam upaya memantapkan pandangan kita terhadap ajaran Hindu Dharma terlebih dahulu kami ingin menekankan kembali nama dan sumber ajaran Hindu atau Hindu Dharma yang kita kenal sebagai satu agama tertua yang masih dianut oleh umat manusia. 4. atau dengan membunuh orang dengan atas nama Jihad kemudian masuk sorga.perwakilan yang menyebut dirinya perwakilan Tuhan di dunia.

Hindu Dharma memandang pengalaman-pengalaman para mahàrûi di jaman dahulu itu sebagai autoritasnya (sebagai wahyu-Nya). 1984: 13).1 (Dayananda. Kata Sanàtana Dharma berarti agama yang bersifat abadi dan akan selalu dipedomani oleh umat manusia sepanjang Nama asli dari agama ini masa. Kebenaran yang tidak ternilai yang telah ditemukan oleh para mahàrûi dan orangorang bijak sejak ribuan tahun yang lalu. Para åûi atau mahàrûi yakni orang-orang suci dan bijaksana di India jaman dahulu telah menyatakan pengalaman-pengalaman spiritual-intuisi mereka (AparokûaAnubhuti) di dalam kitab-kitab Upaniûad. Pakistan. Bangladesh disebut dengan nama Bhàratavarsa yang disebut juga Jambhudvìpa. Jadi agama Hindu sama dengan Hindu Dharma. 1988: 4) Kebenaran tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa ditegaskan oleh pernyataan yang terdapat dalam kitab Taittiriya Aranyaka 1.saat ini pengertian Dharma disamakan dengan agama. Pada mulanya wilayah yang membentang dari lembah sungai Shindu sampai yang kini bernama Srilanka. membentuk kemuliaan Hinduisme. yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Mahadevan. Kata Hindu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Persia yang mengadakan komunikasi dengan penduduk di lembah sungai Sindhu dan ketika orang-orang Yunani mengadakan kontak dengan masyarakat di lembah sungai Sindhu mengucapkan Hindu dengan Indoi dan kemudian orang-orang Barat yang datang kemudian menyebutnya dengan India. oleh karena itu Hindu Dharma merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Sivananda. 1974:LI) maupun maharsi Aupamanyu sebagai yang dikutip oleh mahàrûi Yàûka . karena ajaran yang disampaikan adalah kebenaran yang bersifat universal. Kata Vaidika Dharma berarti ajaran agama yang bersumber pada kitab suci Veda. Kitab suci Veda merupakan dasar atau sumber mengalirnya ajaran agama Hindu.9. merupakan santapan rohani dan pedoman hidup umat manusia yang tentunya tidak terikat oleh kurun waktu tertentu. pengalaman-pengalaman ini sifatnya langsung dan sempurna.

Selanjutnya Úrì Chandrasekarendra Sarasvati. bukan dalam pengertian atau mengarang Veda. Oleh karena kemekaran intuisi yang dilandasi kesucian pribadi mereka. 1988: 5). merealisasikan kebenaran Veda. Mantra-mantra Veda telah ada dan senantiasa ada. melainkan terdiri dari beberapa kitab yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Saýhità) yang dikenal dengan Catur Veda . para maharsi mampu menerima mantra Veda. Newton atau Thomas Edison dan para penemu lainnya menemukan hukum-hukum alam yang memang telah ada ketika alam semesta diciptakan.(Yàskàcarya) di dalam kitab Nirukta II. karena bersifat AnadiAnanta yakni kekal abadi mengatasi berbagai kurun waktu. Bila Veda merupakan karangan manusia maka para maharsi disebut Mantrakarta (karangan/buatan manusia) dan hal ini tidaklah benar. Puruûeyaý artinya dari manusia. Bagi umat Hindu kebenaran Veda adalah mutlak. Untuk itu umat Hindu senantiasa memanjatkan doa pemujaan dan penghormatan kepada para Devatà dan maharsi yang menerima wahyu Veda ketika mulai membaca atau merapalkan mantra-mantra Veda (Chandrasekharendra. Kitab suci Veda bukanlah sebuah buku sebagai halnya kitab suci dari agamaagama yang lain. Para maharsi menerima wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam) melalui kemekaran intuisi (kedalaman dan pengalaman rohani)nya. pimpinan tertinggi Úaýkara-math yakni perguruan dari garis lurus Úrì Úaýkaràcarya menegaskan : Dengan pengertian bahwa Veda merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam atau non human being) maka para maharsi penerima wahyu disebut Mantradraûþaá (mantra draûþaá iti åûiá). Devatà (Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang menurunkan wahyu) dan Chanda (irama/syair dari mantra Veda).11 (Loc. Apakah artinya ketika seorang mengatakan bahwa Columbus menemukan Amerika ? Bukankah Amerika telah ada ribuan tahun sebelum Columbus lahir? Einstein.Cit). Demikian pula para maharsi diakui sebagai penemu atau penerima wahyu tuhan Yang Maha Esa yang memang telah ada sebelumnya dan karena penemuannya itu mereka dikenal sebagai para maharsi agung. karena merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa. Para mahàrûi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dihubungkan dengan Sùkta (himpunan mantra).

Didalam memahami ajaran agama Hindu. Ia memperkenalkan kebebasan yang ajaran Hindu yang . Aúsrama. Sàmaveda atau Atharvaveda). dikenal pula hiarki sumber ajaran agama Hindu yang lain yang merupakan sumber hukum Hindu adalah Småti (kitab-kitab Dharmaúàstra atau kitab-kitab hukum Hindu). disamping kitab suci Veda (Úruti) yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tertinggi. kemerdekaan dari pemikiran. Úìla (yakni tauladan pada mahàrûi yang termuat dalam berbagai kitab Itihàsa (sejarah) dan Puràóa (sejarah kuno). perasaan dan pemikiran manusia. Masing-masing kitab mantra ini memiliki kitab-kitab Bràhmaóa. Seorang maharsi Agung. Pada mulanya wahyu itu direkam melalui kemampuan mengingat dari para maharsi dan selalu disampaikan secara lisan kepada para murid dan pengikutnya. Kata Úruti berarti sabda tuhan Yang Maha Esa yang didengar oleh para maharsi. Yajurveda.(Ågveda. Àraóyaka dan Upaniûad) yang seluruhnya itu diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa Sanskerta disebut Úruti. Gurukula atau Saýpradaya. yakni Vyàsa yang disebut Kåûóadvaipàyaóa dibantu oleh para muridnya menghimpun dan mengkompilasikan mantra-mantra Veda yang terpencar pada berbagai Úàkha. Majelis inilah yang berhak mengeluarkan Bhisama (semacam fatwa) bilamana tidak ditemukan sumber atau penjelasannya di dalam sumber-sumber kedudukannya lebih tinggi. Karakteristik Hindu Dharma Hindu Dharma memperkenalkan kemerdekaan mutlak terhadap pikiran rasional manusia. Àcàra (tradisi yang hidup pada masa yang lalu yang juga dimuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Àtmanastuûþi. yakni kesepakatan bersama berdasarkan pertimbangan yang matang dari para maharsi dan orang-orang bijak yang dewasa ini diwakili oleh majelis tertinggi umat Hindu dan di Indonesia disebut Parisada Hindu Dharma Indonesia. lama kemudian setelah tulisan (huruf) dikenal selanjutnya mantra-mantra Veda itu dituliskan kembali. Hindu Dharma tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir.

menyelidiki. sedangkan Iûþa atau Iûþadevatà adalah kebebasan untuk memilih bentuk Tuhan Yang Maha Esa yang dijelaskan daalam kitab suci dan susatra Hindu. segala macam keyakinan/Úraddhà. seorang dokter bedah yang pernah praktek di Malaya (kini Malaysia) kemudian meninggalkan profesinya itu menjadi seorang Yogi besar dan rohaniawan agung pendiri Divine Life Society menyatakan : Hindu Dharma sangatlah universal. 1989: 27). jiwa. Svami Sivananda. Tentang kemerdekaan memberikan tafsiran terhadap Hindu Dharma di dalam Mahabharata dapat dijumpai sebuah pernyataan : "Bukanlah seorang maharsi (muni) bila tidak memberikan pendapat terhadap apa yang dipahami" (Radhakrishnan. yang ingin dipuja sesuai dengan kemantapan hati. bermacam-macam ritual serta adat-istiadat yang berbeda.paling luas dalam masalah keyakinan dan pemujaan. toleran dan luwes. 1987: 5). memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu Dharma dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya. Inilah gaambaran indah tentang Hindu Dharma. Àdikara berarti kebebasaan untuk memilih disiplin atau cara tertentu yang sesuai dengan kemampuan dan kesenangannya. Inilah salah satu ciri atau karakteristik dari Hindu Dharma. bebas. bentuk pemujaan dan tujuan kehidupan ini. I. mencari dan memikirkannya. Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan. Hindu Dharma adalah suatu agama pembebasan. Seorang asing merasa terpesona keheranan apabila mendengar . penciptaan. Ia memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap kemampuan berpikir dan perasaan manusia dengan memandang pertanyaan-pertanyaan yang mendalam terhadap hakekat Tuhan Yang Maha Esa. Karakteristik atau ciri khas lainnya yang merupakan barikade untuk mencegah berbagai pandangan yang memungkinkan tidak menimbulkan pertentangan di dalam Hindu Dharma adalah Àdikara dan Iûþa atau Iûþadevatà (Morgan. oleh karena itu. bermacam-macam bentuk pemujaan atau sadhana. Hindu Dharma tidak bersandar pada satu doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu.

dalam bahasa Sanskerta Saṃskṛtabhāsa artinya adalah bahasa yang sempurna. KOTA SUCI HINDU DI BHARATIYA 6. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hindu Dharma. Kata Sansekerta.tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda-beda dalam Hindu Dharma. Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal. sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu. Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India. Sejalan dengan pernyataan ini Max Muller mengatakan bahwa Hindu Dharma mempunyai banyak kamar untuk setiap keyakinan dan Hindu Dharma merangkum semua keyakinan tersebut dengan toleransi yang sangat luas dan Dr. Hal ini adalah wajar. karena dalam Hindu dharma tersedia tempat bagi semua tipe pemikiran dari yang tertinggi sampai yang terendah. Bahasa yang bisa menandingi 'usia' bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Hitit. Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. demi untuk pertumbuhan dan evolusi mereka (1984: 34). lawan dari bahasa Prakerta. atau bahasa rakyat. tetapi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya merupakan berbagai tipe pemahaman dan tempramen. dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. SANSKRTA MENYEBAR KE SELURUH UMAT HINDU Bahasa Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. sehingga menjadi keyakinan yang bermacam-macam pula. Maksudnya.K.M. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak . Buddhisme. Sen mengatakan bahwa dengan definisi Hinduisme menimbulkan kesulitan lain. Agama Hindu menyerupai sebatang pohon yang tuumbuh perlahan dibandingkan sebuah bangunan yang dibangun oleh arsitek besar padaa saat tertentu (Natih: 1994: 116) 5.

ETIKA HINDU Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). harmonis. falsafi. Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya. indah. "Sila" berarti perilaku. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais.bahasa-bahasa modern di anakbenua India. Khazanah sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang kaya. teknis. drama dan juga teks-teks ilmiah. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua. tata laku. Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan . "Su" berarti baik. oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur. Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin. dan agamis. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Saat ini bahasa Sansekerta masih tetap dipakai secara luas sebagai sebuah bahasa seremonial pada upacara-upacara Hindu dalam bentuk stotra dan mantra. 7. Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia seharihari. Bahasa ini muncul dalam bentuk praklasik sebagai bahasa Weda. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi-sendi kesusilaan. Bahasa Sanskerta yang diucapkan masih dipakai pada beberapa lembaga tradisional di India dan bahkan ada beberapa usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Sanskerta.

alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran 1. Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci. 2 Tri Kaya Parisudha individu guna Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang kesempurnaan dan kesucian hidupnya

merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap mencapai

3. Panca Yama dan Niyama Brata Lima Kebaikan yang harus dilakukan dan 5 keburukan yang harus dipantang. 4 Tri Mala Tiga sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil- kecilnya. 5. Sad Ripu Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. 6. Catur Asrama Empat tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu, disesuaikan dengan tahapan- tahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban menunaikan dharmanya.

7.

Catur Purusa Artha

Empat dasar tujuan hidup manusia 8. Catur Warna

Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang. 9. Catur Guru

Empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu. 10. PANCA SRADHA Sradha berarti "yakin", "percaya", yang melandasi umat Hindu dalam meyakini keberadaan-Nya. Umat Hindu mendasari keyakinannya berjumlah lima, yang disebut dengan panca Sradha. Panca Sradha meliputi:
• • •

Brahman — Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan Atman — Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman Karmaphala — Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). Samsara — Keyakinan pada kelahiran kembali

Moksha — Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman 11. APLIKASI PANCA MAHA YAJNA Panca Yadnya adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari: 1. DewaYadnya. Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa

dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lainlain. 2. PitraYadnya. lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: a. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. b. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha. c. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. 3. Manusa manusia. Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah: Yadnya.

Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup

Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari). memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya. Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan. Membangun tempat. dan mengembangkan ajaran agama. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: a. d. b. e. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur. membina. Resi.kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan.a.ajaran para Sulinggih. orang. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat. 4. Pinandita. dan mengamalkan ajaran.tempat pemujaan untuk Sulinggih. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton). Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama).lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. b.saat tertentu kepada Sulinggih. d.orang suci. Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi. Mentaati. ResiYadnya. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana. dan lain. menghayati. kesehatan. . Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. c. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir. c.

Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. Bedanya hanya penekanannya saja. tidak terkekang oleh dogma-dogma yang salah atau kedaluwarsa. tumbuh. 13. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. hewan (binatang). WAISNAWA DAN PASUPATA Agama Hindu sekte Siwa Siddhanta seperti yang dianut oleh umat Hindu di Bali pada umumnya memiliki tujuan yang sama dengan Hindu Siwa Pasupata itu. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur.5. Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk. dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. Kata Siwa Siddhanta berarti sukses . FILSAFAT SIWA SIDANTA. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri. BhutaYadnya. SAKTA. sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan. kami hanya ingin tumbuh. baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta.unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya. DESA KALA PATRA desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. 12. berkembang dan hidup yang wajar.tumbuhan. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-patra.makhluk rendahan.

mencapai Siwa yang terakhir atau tertinggi. kedua cara itu dapat hidup berkelanjutan dan umat tidak dipaksa harus ikut ini atau itu. Artinya. Di Pura Goa Gajah. Ini artinya umat Hindu pada zaman dahulu itu benar-benar menghormati privasi beragama sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi. Demikian juga halnya dengan peninggalan keagamaan Buddha Mahayana di Pura Goa Gajah yang jauh lebih awal berada di Bali. Umat Hindu di masa lampau terutama para pemimpinnya benar-benar sudah memiliki jiwa besar dalam mengelola perbedaan. Sikap keagamaan umat Hindu yang dicerminkan oleh umat Hindu di masa lampau di Pura Goa Gajah dan sesungguhnya pada peninggalan Hindu kuno yang lainnya di Indonesia. Tentunya akan sangat janggal kalau pada zaman sekarang ada misalnya umat yang bersifat negatif pada orang lain yang berbeda sistem penekanan beragamanya. Demikian juga sebaliknya yang menganut Siwa Pasupata tidak menganggap penganut Siwa Siddanta sebagai orang lain. Menyikapi perbedaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu dan nilai-nilai universal yang dianut oleh dunia dewasa ini. Karena perbedaan itu merupakan suatu kenyataan yang universal. Ini artinya penganut Siwa Siddhanta tidak menganggap penganut Siwa Pasupata sebagai penganut sesat. Umat dipersilakan secara mandiri untuk memilihnya atau memadukan semua cara tersebut. Akan menjadi sesuatu yang tidak produktif kalau ada yang memaksakan agar mereka yang berbeda ditekan dengan cara-cara pendekatan kekuasaan. di mana pun dan kapan pun. Mereka menyadari substansi ajaran agama Hindu yang mereka anut sama yaitu berdasarkan Weda. Jadinya dalam satu sekte saja agama Hindu memberikan kebebasan pada umatnya untuk memilihnya. perbedaan itu akan selalu ada sepanjang masa. Munculnya Sidharta Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas .

Ajarannya adalah Sila Prajnya dan Samadhi. Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang tidak langgeng ini. Suara hati nurani adalah suara Atman. Tiga corak keagamaan yang ada di Pura Goa Gajah itu memang berbeda tetapi perbedaan itu terletak pada cara atau metodenya saja. Inilah inti wacana Sidharta Gautama dalam menyelamatan umat dari perbedaan yang dipertentangkan itu. Sebaliknya aliran Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan fungsi alat-alatnya. Ada yang sampai membakar kemaluannya agar nafsu seksnya hilang. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indahindah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang terik. Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Atman adalah bagian dari Brahman. Dengan nafsu itu terus dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Jadinya keberadaan agama Buddha di Pura Goa Gajah substansinya tidaklah berbeda apalagi berlawanan dengan ajaran Hindu Siwa Pasupata maupun Siwa Siddhanta. Sila berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani. Dalam berbuat baik hendaknya bersikap konsisten dengan konsentrasi yang prima.dan Carwakas. Substansi ketiga corak keagamaan Hindu dan Buddha yang ada di Pura Goa Gajah itu . Teknis berbuat baik itu didasarkan pada Prajnya artinya ilmu pengetahuan. Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan nafsu tersebut. Setelah seratus tahun Sidharta mencapai Nirwana barulah wacana sucinya itu dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka. Kedua aliran itu membuat umat menderita. Itulah Samadhi. Dalam keadaan seperti itulah muncul Sidharta Gautama yang telah mencapai alam Buddha memberikan pentunjuk praktis beragama. Lidah dibuat sampai tidak berfungsi.

atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Waisnawa merupakan keyakinan dan ajaran yang juga memiliki pelaksanaan kewajiban bagi penganutnya (dalam Hindu disebut dengan Bakti Yoga). makadi. yang dalam proses pemujaannya lebih menitik beratkan pada pemujaan Wisnu (beserta awataranya) sebagai dewa tertinggi. jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Isha Upanishad. Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan: 'Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda. yang mana kesemua ajaran tersebut didasarkan pada Veda dan susastra Purana seperti Bhagavad Gita. Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra.sama-sama menuntun umat manusia untuk mencapai hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan mencapai alam ketuhanan di dunia niskala. . Sanghyang Surya Candra. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga. Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya. Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali. 14. Waisnawa merupakan aliran dalam Hindu. canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar. yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika. Hari Purnama. sesuai dengan namanya. sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). serta Wisnu Purana dan Bhagavata Purana. dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. ngaturang wangiwangi. PURNAMA DAN TILEM Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu. para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana.

CATUR MARGA Dari itu laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa harap keuntungan sebab kerja tanpa keuntungan pribadi Membawa orang kekebahagiaan (Bhagavadgita III. . bertepatan dengan Sanghyang Surya beyoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi. Karena itu. perkataan dan perbuatan yang bersih pula. 19) Kerja yang dilakukan orang tanpa mengharapkan pahala bagi kepentingan diri pribadi adalah mulia. Kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran. namun dewasa ini orang bekerja hanyalah untuk memenuhi kebutuhan materi. Pada hari Purnama. Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan.Parhyangan. Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan lahir batin. sudah seyogyanya kita para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi. Pekerjaan akan juga mulia bila dilakukan disertai tanda bakti daripada yang mengangkat orang pada penyucian dan kesempurnaan pikiran dan jiwanya. Pada hari suci demikian itu. 15. disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrah-Nya. matirtha gocara puspa wangi"Ada sejak hari-hari dulu sama utama nilai penyelenggaraan upacara persembahyangan keutamaanya yaitu hari Purnama dan Tilem. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dan kegiatan kerja. Materi itu perlu dan harus diusahakan untuk memilikinya asalkan dengan jalan yang benar dan ditujukan untuk memperkokoh dharma. terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi. bertepatan dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem. umat juga hendaknya melakukan pembersihan badan dengan air.

Maksudnya harta yang diusahakan ditujukan bagi kesejahteraan umum disamping untuk kepentingan diri sendiri. Mereka tidak lagi menghiraukan apakah pekerjaannya merugikan orang lain atau tidak. 3) Jnana Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan kerohanian dan 4) Raja Yoga cara menghubungkan diri dengan jalan penghayatan spiritual. Sehingga mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan mencuri. menjual narkoba atau juga korupsi. 2) Bhakti Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan Bakti.Dalam agama Hindu ada dua pemikiran yaitu untuk kesejahteraan rohani dan jasmani makhluk (“Bhukti & mukti”). Karma Yoga merupakan bagian dan Catur Yoga (empat cara menghubungkan diri dengan Tuhan) terdiri dari : 1) Karma Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan kerja. sehingga tak ada yang ditakuti. berbuat sesuai kaidah-kaidah agama. Kesejahteraan jasmani sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. Apabila kerja merupakan salah satu cara menghubungkan diri dengan Tuhan tentunya tujuan dan kerja itu adalah suci. sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Mereka tanpa merasa bersalah untuk berbuat dosa. Lagi-lagi agama menanggung beban tanggung jawab untuk memperbaiki moral manusia yang bobrok tersebut. Dalam ajaran Hindu bekerja merupakan salah satu jalan untuk mencapai Tuhan yang biasa dikenal dengan Karma Yoga. orang lebih memikirkan hasil daripada pekejaannya. . sebagai pedoman hidup. Namun ego (ahamkara) manusia telah menutup nurani kita untuk berbuat jujur. benar atau salah. yang mereka pikirkan hanyalah masalah keduniawian. Pada dasarnya agama telah memberikan patokanpatokan terhadap perbuatan baik atau buruk. Seperti apa yang terjadi saat ini. merampok. namun harus diusahakan dan ditujukan untuk dharma. Namun karena pengaruh ahamkara (ego) manusia lupa diri dan menjadi serakah. yang penting mereka bisa hidup mewah.

Dengan demikian kita hanya akan berpikir kuantitas bukan kualitas. Tentunya untuk dapat menguasai guna tersebut didapat dari pengalaman kerja sehingga kita menemukan rahasia kerja. Bekeija secara terorganisir akan membuat pekerjaan beijalan lancar karena sebelumnya telah membuat perencanaan. tindakan yang dilakukan seseorang tidak dapat dihancurkan sebelum tindakan itu mengeluarkari buahnya. Mereka terlalu berharap dan kerjanya sehingga ketika bekerja mereka berpikir tentang apa yang akan mereka perbuat dengan hasil keijanya. bukankah dengan hasil yang banyak uLaka imbalannya pun banyak. Bila manusia dapat menguasai kekuatan guna tersebut maka mereka dapat bekerja giat tanpa memikirkan hasil. daya organisasi dan kerja. Menurut Karma Yoga. tak ada yang dapat menghalangi atau menahannya. 29) Sloka 29 menjelaskan mereka yang terikat guna akan tertipu karena harapan yang berlebihan terhadap kerjanya.Karena pengaruh ahamkara tadi maka tujuan kerja pun menjadi bersifat duniawi. maka tak ada kekuatan dalam alam yang akan menghentikan keluarnya buah kebaikan. Bila kita berbuat sesuatu perbuatan jahat. (Swami Vivekananda). Mereka tertipu sifat guna Terikat pada keinginan yang dihasilkan olehnya Tetapi yang mengerti jangan sampai menyesatkan Mereka yang pengetahuannya tiada sempurna (Bhagavadgita III. Karma Yoga mengajarkan rahasia dan pekerjaan. Dengan memahami cara kcrja manusia dapat lebih mudah menyelesaikan pekeijaannya dan akan mendapatkan hasil yang memuaskan. tak ada kekuatan alam yang dapat menghentikan tindakan itu hingga tidak menibawa akibat. maka kita harus menderita karenanya. tak ada kekuatan alam yang dapat menghent.ikan tindakan itu mengeluarkan buahnya. Sesuatu sebab membawa akibat. Karma Yoga sebenarnya merupakan suatu ilmu pengetaliuan mengenai rahasia pekerjaan. Begitulah . Sama juga bila kita berbuat hal-hal baik. cara bekenja. Guna sebagai batas kebehasan manusia yang diperoleh dari kelahiran dan lingkungan yang mempunyai kekuatan membelenggu. itulah idealnya karma yoga. sudah memperhitungkan hambatan-hambatan yang akan dihadapinya.

manusia yang telab memahami rahasia pekenjaan, susah senang akan dihadapi dengan tenang. Tentunya hal tersebut dicapai apabila kita telah mampu melepaskan din dan belenggu guna. Kita harus bekerja, tidak boleh tidak, namun harus dengan tujuan tertinggi. Bekeijalah tanpa berhenti, tapi lepaskan segala pengikatan diri pada pekerjaan. Artinya jangan kita mempersamakan diri dengan sesuatu, sehingga kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam bekerja pun tak akan kita rasakan. Kita harus menghancurkan sifat keakuan, mampu mengekang diri agar tidak tenjerumus dalam pikiran keakuan. Dengan demikian kita bisa bekerja sebanyak yang dapat kita lakukan, dapat bergaul dengan siapa saja tanpa tertular sifat jahat. Tunjukkan semua kerjamu kepada-Ku. Dengan pikiranmu terpusat pada atman Bebas dari nafsu keinginan dan ke-aku-an. Enyahkan rasa gentar dan, bertempurlah! (Bhagavadgita III.30). Tujukan pekerjaan kita untuk Tuhan, karenanya kita akan bekerja tanpa terikat akan hasil. Apa yang dirasa, dilihat, didengar dan dibuat adalah untuk Tuhan. Dengan demikian kita akan bekerja bukan untuk kepentingan diri sendiri. Dengan tanpa memikirkan hasil pekerjaan kita akan berdaya guna, sebagai ilustrasi dapat saya contohkan seorang pelukis yang bekerja hanya untuk menghasilkan lukisan yang indah, dia tidak akan memikirkan apakah dikerjakan berbulan-bulan, memakan bahan yang mahal, tapi yang dia pikirkan adalah melukis untuk membuat karya seni. Dan tentunya orang-orang mengerti akan hal seni tersebut akan memberikan harga yang mahal untuk sebuah karya seni tersebut, tetapi si seniman pun tidak akan gusar apabila hasil lukisannya tidak ada yang membeli. Kita sebagai manusia tidak dapat lepas dari kegiatan kerja, namun untuk mencapai tujuan tertinggi kita harus mampu mengendalikan ke-aku-an. Sesuatu yang bersifat ke-aku-an adalah menyalahi kesusilaan (immoril) dan sesuatu yang bersifat tidak ke-aku-an adalah bersusila (moral) [Swami Vivekananda]. Bekerjalah untuk mencapai

hasil sebaik-baiknya dengan memperhatikan moral. Bersabarlah karena bekerja dengan tekun maka hasilpun akan mengikuti, tak perlu mencari jalan pintas yang hanya akan menyebabkan penderitaan.ºWHD No. 510 Juni 2009. 16. AJARAN BHAKTI DAN PARA BHAKTI Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang Widhi) yaitu: Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Yoga (Raja) Marga. BHAKTI MARGA. Bhakti artinya cinta kasih. Kata bhakti digunakan untuk menunjukkan cinta kasih kepada subyek yang lebih tinggi statusnya, atau lebih luas lingkupnya misalnya: orang tua, negara, bangsa, Tuhan (Hyang Widhi). Kata cinta kasih digunakan untuk sesama misalnya tunangan, istri/ suami, umat sedharma, umat manusia. Orang yang ber-bhakti kepada Hyang Widhi disebut Bhakta. Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu PARA-BHAKTI dan APARA-BHAKTI. Para artinya utama; jadi para-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara-bhakti artinya tidak utama; jadi apara-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama. Apara-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja. Para-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi. Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara-bhakti antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol (niyasa). Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para-bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan kuat/ berdisiplin

dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakta yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri). Pilihan menggunakan para atau apara bhakti tergantung dari tingkat inteligensi dan kesadaran rohani masing-masing. Yang ditemukan di masyarakat Hindu Indonesia dewasa ini adalah mix para dan apara-bhakti, namun bobotnya berbeda. Umat Hindu di Bali banyak menggunakan aparabhakti, sedangkan umat Hindu di luar Bali banyak menggunakan para-bhakti. Kenapa demikian? Apakah itu berarti umat Hindu di Bali inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang? Tidak selalu demikian. Ada umat Hindu di Bali yang inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi tetapi dibelenggu oleh tradisi beragama yang monoton dan feodalistis, sehingga menampakkan diri sebagai apara-bhakti. Sebaliknya umat Hindu diluar Bali lebih moderat, demokrat, rasional dan reformis, sehingga memudahkan mereka mencapai para-bhakti. Mengupayakan umat Hindu di Bali menjadi sebagian besar para bhakta tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena bottle-neck yang menghadang ya itu tadi: tradisi beragama dan feodalisme. Itulah sedikit ulasan kasus tentang para dan apara-bhakti. Sekarang kita teruskan tentang BHAKTI MARGA Bhakti marga sering disebut sebagai jalan menuju Hyang Widhi yang paling mudah karena dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Mungkin pendapat ini benar jika yang dimaksud adalah apara-bhakti. Jika yang dimaksud adalah para-bhakti, justru bhakti marga yang paling sulit dilaksanakan karena para bhakta harus benarbenar mempunyai kesadaran rohani yang tinggi. Untuk mencapai kesadaran rohani yang tinggi setidak-tidaknya sudah menempuh Karma-Jnana dan YogaMarga dengan baik.

dialah yang Ku-kasihi. anayenai va yogena. Bila kita cinta dan kasih kepada Hyang Widhi berarti juga kita harus cinta dan kasih kepada semua ciptaan-Nya. sedangkan mereka yang apara-bhakti banyak melaksanakan upacara panca yadnya. mayi avesita chetasam. Bhagawadgita XII. iri hati dan nafsu yang tidak tercapai bisa menimbulkan kebencian. dan iri hati.17: Yo na hrishyati na dveshti. Artinya: Dia yang tiada bersenang dan membenci. bermeditasi. tulus dan welas asih dengan melepaskan ikatan dan keinginan akan pahalanya. bhavani nachirat partha. benci. mrtyu samsara sagarat. Tesham aham samuddharta. Maksud dari sloka itu adalah: jika benar-benar kita bhakti kepada Hyang Widhi. Seorang bhakta juga tidak boleh berduka dan kecewa jika ia yakin bahwa apapun yang kita alami di dunia ini semata-mata adalah atas kehendak-Nya.6. janganlah terpengaruh oleh kesenangan karena ketakutan itu timbul bilamana kesenangan terancam. mayi samnyasya matparah. Itulah hal-hal yang menjauhkan rasa kasih sayang kepada semua mahluk ciptaan-Nya. Pengampunan akan diberikan oleh Hyang Widhi kepada para Bhakta. membebaskan diri dari kebathilan dan rasa berbuat kebaikan. marah.7: Ye tu sarvanni karmani. Bhagawadgita XII. karena itu bertentangan dengan hakekat bhakti. Juga jangan membenci karena kebencian menimbulkan amarah dan irihati atau sebaliknya. menolong sesama tanpa menghitung untung-rugi. penuh dengan kebaktian. mam dhyayanta upasale. Na sochati na kankshati. beryoga. amarah. Bhakti kepada Hyang Widhi melenyapkan rasa takut.Seorang bhakta mempunyai keinginan-keinginan yang kuat yaitu: 1) Ingin dan rindu selalu dekat bahkan bertemu dengan Hyang Widhi sehingga ia rajin bersembahyang. Maka mereka yang para-bhakti sering ber-dana punia. Artinya: Tetapi sesunguhnya mereka yang menumpahkan segala kegiatan . 2) Ingin berkorban yang didasari oleh rasa ikhlas. tiada berduka dan bernafsu apa. dan bebaskanlah dari rasa berbuat kebaikan karena itu sudah kewajiban seorang bhakta. Bhaktiman ya same priyah. Bebaskanlah dari kebathilan.

mitologi. Kitab Ramayana merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Kitab Mahābhārata memiliki delapan belas bagian yang disebut Astadasaparwa. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara. yang pikiran mereka tertuju kepada-Ku. yaitu Ramayana dan Mahābhārata. Kitab Itihāsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau. Pada zaman kerajaan di Indonesia.hidup mereka kepada-Ku. Kitab Ramayana terdiri dari 24. 17. Selayaknya Ramayana. Itihāsa yang terkenal ada dua. ITHIASA MAHABARATA DAN RAMAYANA Itihāsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisahkisah epik/kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu di masa lampau dan dibumbui oleh filsafat agama. dan makhluk supernatural. setiap Parwa merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Parwa yang lain. seperti misalnya Rsi Walmiki dan Rsi Vyāsa. Cerita dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin. Kitab Mahābhārata disusun oleh Rsi Vyāsa .000 sloka dan memiliki tujuh bagian yang disebut Sapta Kanda. Kitab Ramayana disusun oleh Rsi Walmiki Kitab Mahābhārata merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. dengan segera dan langsung Aku bebaskan mereka ini dari lautan sengsara hidup lahir dan mati (artinya mencapai MOKSA). memikirkan bermeditasi hanya kepada-Ku dengan kebaktian yang terpusatkan.000 sloka. Kitab Mahābhārata berisi lebih dari 100. Itihāsa berarti “kejadian yang nyata”. Setiap Kanda merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Kanda yang lain. kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuna dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. Mahābhārata berarti cerita keluarga besar Bharata.

Meskipun para dewa bersatu menghadang Garuda. Menurut Mahabarata. merebut Amrita. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari. Garuda berjanji akan memberikan Amrita pada Indra dan Indra akan memberikan para ular sebagai makanan Garuda. dan menghabisi para ular. Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. Garuda ini ada hubungannya dengan ceritra Sang Garuda yang terdapat di dalam Adi Parva. sebagai gantinya Garuda menjadi kendaraan Vishnu. setelah Amrita diberikan. ibu para ular karena suatu pertaruhan. Vishnu berjanji akan memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita. Kemudian Garuda bertemu dengan Indra dan sekali lagi dia mendapat penawaran. MITOLOGI GARUDA Garuda Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. konon saat Garuda lahir dari telurnya. Bhagawan Kacyapa menawarkan kepada kedua istri beliau berapa jumlah anak yang ingin mereka miliki. Untuk menghapus hutang tersebut. Sejak saat itu Garuda menjadi rekan para dewa.<) sehingga para dewa memohon padanya untuk tenang. Dalam perjalanan pulang. bumi gonjang ganjing (seperti waktu sun go kong lahir di film >. Vinata memiliki hutang terhadap Kadru. Garuda diminta Kadru untuk memberikan obat keabadian yg disebut Amrita padanya. Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan. Garuda adalah anak Kasyapa dan Vinata. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk menghapus hutang ibunya. dan memiliki mahkota di kepalanya. Ceritra ringkasnya adalah sebagai berikut : Bhagawan Kacyapa mempunyai dua orang istri yaitu Sang Kadru dan Sang Winata. tunggangan kebanggan Vishnu. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan Vishnu.18. Bhagawan Kacyapa memberikan seribu butir telur pada Sang Kadru dan dua butir telur pada Sang Winata. Garuda bertemu dengan Vishnu. Sang Kadru meminta 1000 anak sedangkan Sang Winata meminta dua anak. mereka bukanlah tandinganya. Setelah telur . Indra turun dari langit. sekaligus menjadi musuh utama para ular.

“Mengapa ibu menjadi budaknya ?” tanya Sang Garuda. Melihat Sang Kadru sudah melahirkan anak-anaknya maka Sang Winata ingin cepat juga punya anak. apa pekerjaan ibu ?” tanya Sang Garuda. “Ibu jadi budak para naga. . siapa pun yang kalah akan menjadi budak dari yang menang. Setelah beberapa lama kemudian Sang Garuda pun heran melihat ibunya pergi pagi pulang sore. Mereka semua lalu menyemburkan bisa (wisa)-nya ke tubuh si kuda sehingga warna bulu kuda itu menjadi berubah dari putih menjadi hitam karena pengaruh dari bisa ular itu. Masing-masing kukuh mempertahankan pendirianya. maka dengan tidak sabar dipecahkanlah sebutir dari telurnya maka lahirlah Aruna seekor burung yang belum sempurna bentuk tubuhnya karena belum punya kaki. pergi ke sana ke mari sekehendaknya”. Sejak saat itu Sang Winata menjadi budak Sang Kadru menjaga dan mengantarkan ular-ular itu mencari makanan setiap hari dan sore hari baru pulang. akhirnya mereka bertaruhan. Sang Kadru menebak warna kuda itu hitam dan Sang Winata menebak putih. Sementara itu Sang Garuda pun lahir dengan tubuh sempurna. “lbu mengapa ibu pergi pagi pulang sore. “Wah ibu pasti kalah. mereka menyaksikan warna kuda Ucchaisrawa itu betulbetul hitam. Besok ibu akan datang bersama Sang Winata ke tempat kuda itu untuk menyaksikan kebenaran kuda itu”. maka kalahlah Sang Winata. Besok harinya ketika Sang Winata dan Sang Kadru datang. saban hari kerja ibu adalah menggembalakan ular-ular yang nakal.Sang Kadru menetas maka lahirlah seribu ekor ular. Setelah itu Sang Kadru lalu pulang dengan mengabarkan hal ikhwal taruhan itu kepada anak-anaknya. karena kuda itu betul-betul putih mulus” kata ular-ular itu. “Kalau demikian anakku berbuatlah sesuatu agar ibu tidak kalah sehingga menjadi budak Sang Winata. Maka para ular itu pun memenuhi permintaan ibunya lalu semuanya menuju ke tempat kuda itu berada. jawab Sang Winata. hingga ada keinginannya untuk menanyakan. Suatu ketika Sang Kadru bertemu dengan Sang Winata membicarakan tentang rupa dari kuda Ucchaisrawa yang keluar pada waktu lautan air susu diaduk oleh para Dewa Raksasa.

takut tidak kebagian sehingga tirtha itu begitu saja ditinggal di tengah rumput alang-alang. Mengetahui bahwa tirtha itu ditinggalkan begitu saja oleh para naga maka Bhatara Visnu pun . Dewata Nawa Sanga dikalahkan semua. Perang pun terjadi antara Dewa Visnu dengan Sang Garuda. Untuk itu dia berhadapan dengan para Dewa yang menjaga Amerta itu. Ia pun lalu menanyakan kepada naga apakah ada cara sebagai pengganti atau menembus dirinya. Sang Garuda segera menyerahkan tirtha Amerta itu kepada para naga dengan segala persyaratannya. Akhirnya para Dewa lalu mohon bantuan kepada Bhatara Visnu. Para naga setelah menerimanya semua saling dahulu mendahului pergi mandi menyucikan diri. Sang Garuda menyetujui dan tirtha amerta pun diserahkan oleh Dewa Visnu dengan syarat “barang siapa yang akan meminumnya hendaknya bersuci-suci lebih dahulu. Akhirnya Bhatara Wisnu menanyakan mengapa Sang Visnu memerangi para Dewa dan untuk apa dia mencari Amerta. kalau tidak demikian tirtha merta tidak akan sidhi atau bermanfaat”. kata Sang Winata.“Karena ibu kalah taruhan dengan Sang Kadru mengenai warna kuda Ucchaisrawa”. akhirnya dia menjadi bosan. agar dia bisa bebas dari perbudakan. Dengan demikian para naga beranggapan tidak perlu lagi ada penjaga seperti Sang Garuda. Setelah lama berpikir para Nagapun sepakat akan membebaskan Sang Garuda dari perbudakan kalau bisa mencarikan tirtha amerta untuk mereka. karena tidak ada yang menyebabkan mereka bisa mati kalau sudah minum tirtha Amerta. Lamalah sudah Sang Garuda menjadi budak dari para naga. Sang Garuda pergi ke sorga untuk mencari tirtha Amerta itu. “Kalau demikian biarlah saya saja menggantikan ibu menggembalakan ular” demikian permintaan Sang Garuda yang kemudian diluluskan oleh Ibunya. Konon barang siapa yang dapat minum amerta itu akan bisa bebas dari kematian. Perangpun berlangsung lama. Setelah Sang Garuda menjelaskan tujuannya mencari Amerta adalah untuk membebaskan dirinya dan ibunya dari perbudakan para naga maka Bhatara Visnu berkenan memberikan tirtha Amerta itu asal saja Sang Garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Visnu.

mengambil tirtha itu kembali dibawa ke sorga. Disebabkan tajamnya daun alang-alang itu maka lidah ular naga itupun terbelah. demikian pula mengapa lidah ular menjadi bercabang. Kenyataannya saban hari dari pagi sampai sore manusia disibukkan untuk mendapatkan makan. Siapa yang tidak bisa mati ? Hanya Tuhan ! Barang siapa yang telah bisa mencapai Tuhan mereka tidak lagi terikat oleh kemelekatan benda-benda dunia ini. mereka bebas dari perbudakan benda. Itulah asal mula ceritra mengapa alang-alang menjadi daun yang dianggap suci karena terkena bekas tirtha amerta. Pekerjaan yang tidak pernah selesai ini menjadikan manusia berpikir apakah hidup ini hanya untuk makan minum dan mendapatkan udara bersih ? Apakah manusia bisa membebaskan diri dari perbudakan benda ini. Bale Gede umumnya terdapat pada rumah keluarga-keluarganya yang mampu di Bali. Kami beranggapan bahwa Sang Garuda itu tidak lain dari simbul manusia yang mencari pembebasan dari perbudakan benda-benda duniawi. Jawabannya adalah tirtha Amerta. Gambar-gambar yang terdapat pada Bade atau wadah yang digunakan sebagai kendaraan dari orang yang meninggal. air dan udara. Di muka telah dijelaskan bahwa inti bumi atau magma api itu dibungkus oleh tanah. mereka mencapai moksa. Dengan penuh kecewa para naga hanya dapat menjilati sisa-sisa bekas tirtha yang ada di daun alang-alang itu. Marilah kita simak arti dan simbul dari ceritra Sang Garuda ini dihubungkan dengan lontar Cri Purvana Tattva dan Stava yaitu Ananta bhoga stava. Basuki stava dan Taksaka stava. Hal yang menguatkan lagi bahwa gambar Garuda merupakan simbul pembebasan dari perbudakan oleh benda-benda duniawi ialah : penggunaan patung Garuda di “Bale Gede” yaitu bangunan yang biasanya diperuntukkan untuk menempatkan mayat sebelum dibawa ke setra. pada waktu mayat itu dibawa dari rumah kesetra. Gambar Garuda itu terdapa pada bagian belakang “wadah” . Ketiga jenis zat ini disimbulkan dengan naga (ular). moksa itu adalah kebebasan. minum dan udara bersih (simbul 3 naga di atas). Apa yang dimaksud dengan Amerta itu ? Amerta artinya tidak mati-mati atau keabadian.

Tujuannya tentu erat hubungannya dengan semacam petunjuk atau perhatian kepada manusia baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal bahwa bila akan mencari Ida Sang Hyang Widhi hendaknya berbuat seperti Sang Garuda yaitu membebaskan diri dari perbudakan naga atau benda-benda dunia. yang mana merupakan dasar dari Filsafat Hindu. biasanya kita menjumpai ada hiasan berbentuk angsa. agar roh orang yang meningggal selalu teringat dengan ceritra sang Garuda yang mengandung simbul kebebasan.atau “bale” itu. Maka kesimpulannya. dan gambar angsa adalah simbul manusia yang ingin kembali kepada Ida Sang Hyang Widhi. 19. FILSAFAT SAD DARSANA Sad Darśana. Sad Darśana berarti Enam pandangan tentang kebenaran. lukisan Garuda adalah simbul manusia yang mencari kebebasan melalui pelepasan terhadap ikatan duniawi. Itulah mungkin sebabnya mengapa di Bale Gede maupun di belakang wadah dilukiskan Garuda. yang juga disebut amoring acintya. Darśana berarti pandangan tentang kebenaran. Sumber yang lain kita jumpai di dalam Upanisad yang menyebutkan “Atma yang ingin bersatu dengan Brahman itu seperti burung angsa yang mengepakngepakan sayapnya”. Dalam ajaran filsafat hindu. Kata Darsana berasal dari akar kata drś yang bermakna "melihat". kepala angsa menggambarkan windu dan mulut atau cocor angsa menggambarkan nada. Di atas gambar Garuda yang kita lihat di belakang Padmasana itu. . Menurut lontar “Indik tetandingan” wujud angsa dengan sayap mengepak itu adalah simbul dari ardha candra windhu dan nada. Wujud angsa yang dilukiskan baik di belakang Padmasana maupun wadah itu selalu berwujud angsa dengan sayapnya yang mengepak-ngepak. menjadi kata darśana yang berarti "penglihatan" atau "pandangan". Kedua sayap yang mengepak menggambarkan ardha candra.

smrti. seperti yang disebutkan dalam Bhagavatapurana[1]. Disebut dualistis karena terdapat dua realitas yang saling bertentangan tetapi bisa berpadu. yogin bagi praktisi pria dan yogini bagi praktisi wanita. Para ahli meyakini bahwa ajaran ini berakar dari nilai-nilai positif atheis.[1] [2] Orang yang melakukan tapa yoga disebut yogi. yaitu pemantulan filsafati. Kata Saṁkhya berarti: pemantulan. 2. Yoga berarti "penyatuan". dibuktikan dengan termuatanya ajaran Saṁkhya dalam sastra-sastra Śruti.1. Samkhya. oleh tubuh dan meditasi. Ajaran Saṁkhya ini sudah sangat tua umurnya. tapi ajaran ini banyak membawa pengaruh pada ajaran Yoga dan Wedanta. Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktivitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari Hatta Yoga. Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu. Samkhya adalah ajaran filsafat tertua dalam filsafat India. Ajaran Saṁkhya bersifat realistis karena didalamnya mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh. yaitu purusa dan prakrti. juga disebut dengan Sankhya adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Saat ini ajaran Samkhya yang murni sudah tidak eksis lagi. putra Devaguti. yang bermakna "penyatuan dengan alam" atau "penyatuan dengan Sang Pencipta". membangun ajaran Samkhya yang bersifat theistik. Karya sastra mengenai Saṁkhya yang kini dapat diwarisi adalah Saṁkhyakarika yang di tulis oleh Īśvarakṛṣṇa sekitar 200 SM. biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan. yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun. itihasa dan purana. Kemudian Maharsi Kapila. . Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif.

Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya. Bakti Yoga/Marga. Penyelidikan sistematis terhadap Veda. Klasifikasi ajaran Yoga tertuang dalam Bhagavad Gita. 6. terdiri atas 5 adhyaya (bab) yang dibagi atas 5 pada (bagian). yaitu "penyelidikan yang . Mimamsa secara khusus melakukan pengkajian pada bagian Veda: Brahmana dan Kalpasutra. Ajaran Vaisiseka dipelopori oleh Maharsi Kanada. disebut juga dengan nama lain Purwa Mimamsa.Vaisesika juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. 5. 3. Jnana Yoga/Marga. Meskipun sebagai sistem filsafat pada awalnya berdiri sendiri. Ajaran Wedanta sering juga disebut dengan Uttara Mimamsa. Nyaya (Logic). Sumber ajaran ini tertuang dalam Jaiminiyasutra. Kitab ini terdiri atas 12 Adhyaya (bab) yang terbagi kedalam 60 pada atau bagian. kronologis dan analitis. Raja Yoga/Marga. Ajaran Mimamsa didirikan oleh Maharsi Jaimini. sistematis. Ajaran Nyaya didirikan oleh Maharsi Aksapada Gotama. 4.Wedanta Védānta) adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Kata Mimamsa berarti penyelidikan. juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. yang isinya adalah aturan tata upacara menurut Veda. Bhagavad Gita.Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga. diantaranya adalah Upaishad. namun dalam perkembangannya ajaran ini menjadi satu dengan Nyaya. diantaranya adalah Karma Yoga/Marga. yang menyusun Nyayasutra. Yogasutra. Mimamsa juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Kata Nyaya berarti penelitian analitis dan kritis. Ajaran ini berdasarka pada ilmu logika. yang menyusun Vaisesikasutra.

namun lautan tak pernah menolaknya. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji. atau dikenal juga dengan nama Badarayana atau Krishna Dwaipayana. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera. Hati yang demikian ini. berfilsafat dengan keluasan kedalamannya. Sumber ajaran ini adalah kitab Wedantasutra atau dikenal juga dengan nama Brahmasutra. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam samudera. NADI DAN WANA Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. tidak teracuni. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. Permukaan laut begitu indah. jauh lebih indah lagi.kedua". nyiur melambai. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. 20. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. warna-warni awan. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. yaitu kitab Upanisad. segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. tetap tidak bergeming. Bisakah hati kita seluas dan sedalam . karena ajaran ini mengkaji salah satu bagian kitab Weda. Permukaan laut begitu indah. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. Pelopor ajaran ini adalah Maharesi Byasa. PARWATA. dilanda jutaan kubik kata-kata. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. dengan kedinamisan gelombangnya.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. GIRI. FILOSOFI SAMUDRA. Kata Wedanta berakar kata dari wedasya dan antah yang berarti "akhir dari Weda".

kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. Seumpama samudera. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam . namun lautan tak pernah menolaknya. akan selalu menyapamu. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. berfilsafat dengan keluasan kedalamannya. Ibarat samudera. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. tak pernah diam. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. jauh lebih indah lagi. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang.samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. di dasar samudera ada tiram. warna-warni awan. Permukaan laut begitu indah. melantunkan salam padamu. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. nyiur melambai. Permukaan laut begitu indah. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. dengan kedinamisan gelombangnya. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan.

Gunung Agung) dinyatakan berada di pusat padma dunia. parwata) memberikan kerahayuan (amreta) kepada manusia yang hidup di kaki dan datarannya. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. Karena gunung yang tertinggi (Mahameru. Siwasutra. tetap tidak bergeming. tak pernah diam. pertama-tama menguraikan tentang Gunung Mahameru sebagai tempat Sthana Hyang Siwa yang digambarkan sebagai pusat padma dunia raya. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. Gunung dalam a! am sakala maupun niskala sangat penting bagi umat Hindu. dipandang sebagai lingga-acala. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. Bisakah hati kita seluas dan sedalam samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. Lontar Tantu Pangelaran menyiratkan bahwa gunung (giri. gunung merupakan pusat orientasi kesucian bagi umat Hindu. maka gunung-gunung yang lain menempati posisi dik-widik. Hati yang demikian ini. Seumpama samudera.samudera. akan selalu menyapamu. meru. di kepala manusia. bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. tempat Hyang Siwa menurunkan ajaran-ajaranNya yang kemudian dicatat dalam berbagai Yamala. Ibarat samudera. dan Kitab Tantra dalam bentuk tanya jawab (dialogic catekismus) antara Hyang Siwa dengan SaktiNya Dewi Parwati. Damara. tidak teracuni. Selain itu. Kitab-kitab yang mengajarkan ajaran yoga.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. melantunkan salam padamu. gunung itu terletak di sahasrara padma. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. dilanda jutaan kubik kata-kata. gunung-gunung dipandang sebagai satu kesatuan sehingga muncul konsepsi panca-giri. Dunia atau wilayah yang . di dasar samudera ada tiram. Bagi seorang sadhaka. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. lingga yang tidak bergerak.

masingmasing Pura Gelap (Timur. Secara holistik.lebih kecil digambarkan sebagai bunga padma. Pura Luhur Uluwatu di Baratdaya. Pura Ulun Kulkul (Barat. Pura Kahyangan Jagat yang didirikan di seluruh Nusantara dapat berfungsi sebagai sahasra-dala. menempati posisi dik. Misteri alam semesta diungkapkan kepada orang-orang yang secara spiritual sudah bangun tapi kepada yang lain misteri-misteri itu harus dijelaskan dalam cerita kiasan Berdasarkan catatan ini. Pada sari bunga padma yang suci itu didirikan Padma Agung (Padma Tiga) yang merupakan Linggih Beliau sebagai Paramashva. Sama seperti cerita kiasan (parabel) yang dikisahkan oleh Jesus Kristus. dan Gunung Batur di Utara. Pura yang biasa disebut Sad-Kahyangan tersebut merupakan kesatuan. Pura Agung Besakih juga menempati posisi Timur Laut (Airsanya). Sadasiwa. Gunung Batukaru di Barat. sementara yang menempati posisi widik adalah Pura Gua Lawah di Tenggara. pertama-tama disangga oleh pura catur-dala. Bhamadewa ahui Brahma). disebut padma-bhuwana atau padmamandala sehingga dalam konteks Bali. maka Padma Tiga Pura Penataran Agung Besakih. dengan sarinya berada di tengah. seribu kelopak bunga padma. dan Siwa. Purana-Purana . 21. Di tempat tersebut didirikan pura atau tempat suci utama. Pura Panataran Agung Besakih masih memiliki dala pada posisi dik. Aghora atau Wisnu) yang disebut Pura Catur Lokaphala atau Catur-Dala. Pura Batu Madeg (Ulara. Gunung Agung menempati posisi di tengah padma-mandala. Gunung Lempuyang di Timur. kisah-kisah ini diceritakan kepada orang kebanyakan supaya mereka mengerti kebenaran-kebenaran dari kehidupan yang lebih tinggi. Sementara itu. Pura Pucak Mangu di Barat Laut. atau Iswara). selanjutnya ditopang lagi oleh pura Sad Kahyangan (pura utama) yang terletak di delapan penjuru Pulau Bali atau asta-dala. MAHA PURANA DAN UPA PURANA Purana-purana adalah kitab yang berisi cerita-cerita keagamaan yang menjelaskan tentang kebenaran. bagaikan sebuah bunga padma dengan delapan helainya (dala) yang menunjuk delapan penjuru. Sadyojata. Gunung Andakasa di Selatan. Pura Kiduling Kreteg (Selatan. Tatpurusa atau Mahadewa).

ada paling sedikit duapuluh Purana Kecil. Wayu Purana. Purana-Purana itu selalu menekankan bhakti kepada Tuhan. garis keturunan atau asal-usul (genealogi) dari dewa-dewa dan para orang suci. Menurut banyak orang. oleh karena itu kita mempunyai satu daftar dari duapuluh Maha Purana. Percaya atau tidak. delapan belas disebut Purana Besar atau Maha Purana. Diantara sejumlah besar Purana-Purana itu. Beberapa dari Purana-Purana itu. mempunyai penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang sama seperti Kitab Wahyu dalam Injil. Dari duapuluh Purana ini. Enam Purana yang ditujukan kepada Siwa adalah Matsya Purana. Brahmanda Purana. mahluk supernatural. Ya memang. tapi beberapa orang mengatakan Purana-Purana itu ditulis mulai abad enam. Enam Purana yang ditujukan kepada Brahma adalah Brahma Purana. dan rincian mengenai dinasti Bulan (Lunar) dan Matahari (Solar). Kurma Purana.itu dapat dikatakan Weda-Weda dari orang kebanyakan. Enam Purana yang ditujukan kepada Wishnu adalah Wishnu Purana. Markandeya Purana." Mereka umumnya berisi kisah-kisah mengenai Dewa dan Dewi Hindu. Skanda Purana dan Agni Purana. Purana kecil (Minor Purana) dikenal sebagai Upa Purana. Narada Purana. Bhawishya Purana dan Wamana Purana. Padma Purana dan Waraha Purana. Purana-Purana ini tidak memiliki catatan waktu kapan ia ditulis. Garuda Purana. Hampir semua Purana berkaitan dengan penciptaan dan penghancuran alam semesta. enam ditujukan kepada Wishnu. Mereka adalah : . sekalipun mereka tidak termasuk dalam daftar dari delapan belas Maha Purana (Major Purana). Purana-Purana ini ditulis dalam bentuk "tanya jawab. tapi nama-nama dalam daftar itu dalam beberapa Purana sedikit bervariasi. Masing-masing dari padanya menyediakan satu daftar dari kedelapan belas Purana termasuk dirinya sendiri. seperti Mahabbhagawatam. karena kitab-kitab itu menyajikan seluruh misteri melalui mitos dan legenda. orang suci dan manusia biasa. Lingga purana. Kata Purana berarti "purba" (ancient). Srimad Bhawata Purana. enam kepada Siwa dan enam kepada Brahma. Brahma-Waiwaswata atau Brahma-Waiwarta Purana. Siwa (atau Saiwa atau Dewi-Bhagawata) Purana dan Hariwamsa Purana adalah juga termasuk Maha Purana.

Disini juga ada gambaran yang sangat jelas mengenai Pralaya. Ausanasa. seperti mendengarkan kisah-kisah tentang Tuhan. Saiwa (beberapa menyebut ini Purana Besar). dinasti terakhir dari Pandawa. seperti telah kukatakan sebelumnya. . Aku yakin sekali bahwa daftar yang saya berikan kepadamu tidak lengkap. Menurut kitab suci ini. Surya. alam semesta ini menjadi ada karena Tuhan menghendakinya sebagai permainan atau Lila. Durwasa. Usanas. Ia berisi 18. meditasi. ada sembilan cara berbeda untuk menunjukkan bhakti kepada Tuhan. Bab terakhir secara khusus menjelaskan mengenai Kali Yuga.000 sloka. Bab sepuluh dari buku ini memuat kisah Krishna secara rinci. dan Awatara terakhir dari Wishnu yaitu. atau Banjir Besar Buku ini merupakan sumber penting bagi Sekte Waisnawa dan. Waruna. Kalki. Samba. Mungkin masih ada Purana dalam agama Hindu yang tidak diketahui bahkan oleh rasul atau pemikir doktrin Hindu. yang juga dikenal sebagai Veda Vyasa. oleh Reshi Suka satu minggu sebelum kematian raja karena gigitan ular yang telah diramalkan. Kalika. Narada. Kapila. Ia mempunyai dua belas bab yang disebut Skanda. buku ini merupakan kitab suci yang amat penting bagi pengikut Hare Krishna. Siwadharma. Marichi. Kalki. dan akhirnya penyerahan diri kepada kehendak Tuhan. putra dari Veda Vyasa. Narasimha. Tokoh paling penting dari Srimad Bhawatam adalah Reshi Suka. Srimad Bhagawatam memuat kisah-kisah seluruh Awatara dari Wishnu. Mahaswara. Dewi. Manawa. Sanathkumara. Buku ini dibacakan kepada Raja Parikshit.Aditya. Ascharya. Seorang pemuja yang sudah tercerahkan (a realized devotee) melihat dirinya sendiri dan seluruh mahluk sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan. Sebagian besar isi dari buku ini merupakan dialog antara Raja Parikshit dengan Reshi Suka. zaman sekarang. kitab suci yang penting bagi orang Hindu dan khususnya bagi para bhakta Hare Krishna. Bhaskara (Surya). Nandikeswara. Waya dan Wrihan. Suta-Samhita. Ia ditulis oleh Reshi Badarayana. Yuga. melayani. Menurut Srimad Bhawatam. Parasara.

dan di luar India. ganeṣa dengarkan (bantuan·info)) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu. (Sanskerta: गाणपतय. ia disebut Bhatara Gana. dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9. termasuk Nepal. yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama. Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa mempedulikan golongan. Dalam tradisi pewayangan. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina. Dewa pelindung. meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda. selama periode Gupta.[2] Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu. dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan".22. • Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi. gāṇapatya). Buddha.[4] Kitab utama yang didedikasikan . muncul selama periode itu. yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan. Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara. Wigneswara). GANESHA Ganesa (Sanskerta गणेश . Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya. Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa. ia sering digambarkan berkepala gajah. Dalam relief.[1] Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut.[3] Ketenarannya naik dengan cepat. berlengan empat dan berbadan gemuk. kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Winayaka dan Pilleyar. Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati. Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). patung dan lukisan. Tibet dan Asia Tenggara. "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan".

[9] Nama ini mencerminkan sebutan terhadap delapan kuil Ganesa yang terkenal di .untuk Ganesa adalah Ganesapurana. memiliki daftar delapan nama lain Ganesa: Winayaka. yaitu kamus bahasa Sanskerta. nama lain Ganesa. juga dieja Shri atau Shree) seringkali ditambahkan di depan namanya. Mudgalapurana. Nama Ganesa adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta. vināyaka) adalah nama umum bagi Ganesa yang muncul dalam kitab-kitab Purana Hindu dan Tantra agama Buddha. yaitu Sri (Sanskerta: शी. Heramba.[7] Ganapati (Sanskerta: गणपित . Setiap nama dalam sahasranama mengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek dari Ganesa. komunitas. yang perutnya bergelayutan). atau sistem pengelompokan. terdiri dari kata gana (Sanskerta: गण. berarti kelompok. orang banyak. gaṇapati). dan Gajanana (yang bermuka gajah). pasukan makhluk setengah dewa yang menjadi pengikut Siwa. Wignaraja (sama dengan Wignesa). persekutuan. Lambodara (yang memiliki perut bak periuk. salah satu versi diambil dari Ganeshapurana. Ekadanta (yang memiliki satu gading). yaitu sastra Hindu untuk menghormati Ganesa. dan pati. kelas. yang berarti "kelompok". gaṇa). Etimologi dan nama lain Ganesa memiliki banyak gelar dan nama pujian. Gelar dalam agama Hindu yang dipakai sebagai penghormatan. termasuk Ganapati dan Wigneswara. adalah kata majemuk yang terdiri dari kata gana. berarti penguasa atau pemimpin.[5] Kata gana ketika dihubungkan dengan Ganesa seringkali merujuk kepada para gana.[6] Istilah itu secara lebih umum berarti golongan. secara harfiah. īśa). atau perserikatan. Salah satu cara yang terkenal dalam memuja Ganesa adalah dengan menyanyikan Ganesa Sahasranama.[8] Winayaka (Sanskerta: िवनायक . Ganadipa (sama dengan Ganapati dan Ganesa). berarti "pengatur" atau "pemimpin". śrī.[7] Kitab Amarakosha. dan Ganapati Atharwashirsa. sebuah doa pengucapan "seribu nama Ganesa". dan isha (Sanskerta: ईश. Dwaimatura (yang memiliki dua ibu). atau. Sekurang-kurangnya ada dua versi Ganesa Sahasranama.

[10] Seorang penulis buku yang bernama Anita Raina Thapan menambahkan bahwa akar kata pille pada nama Pillaiyar mungkin aslinya berarti "gajah muda". karena kata pillaka dalam bahasa Pali berarti "gajah muda". bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki. Citra tentang Ganesa menjamur di berbagai penjuru India sekitar abad ke-6. penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu. Nama yang mahsyur bagi Ganesa dalam bahasa Tamil adalah Pille atau Pilleyar ("anak kecil"). Patung yang lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut. K. Dia menambahkan bahwa kata pallu. A. ditaksir berasal dari .[12] Tidak seperti dewa-dewi lainnya. namun lebih lazim diartikan "gajah". atau bersikap manis dalam suatu keadaan. dan pell dalam bahasa-bahasa rumpun Dravida berarti "gigi atau gading gajah". Narain membedakan arti istilah-istilah tersebut dengan mengatakan bahwa pille berarti seorang "anak" sementara pilleyar berarti seorang "anak yang mulia". vighneśa) dan Wigneswara (Sanskerta: िवघ्नेश् वर vighneśvara) . pella. Patungnya memiliki empat lengan. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis. yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa.[11] Penggambaran Ganesa adalah figur yang terkenal dalam kesenian India. Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. yang ia comot dengan belalainya.Maharashtra yang mahsyur sebagai astawinayaka. menari. duduk di bawah. beraksi dengan gagah berani melawan para iblis. Biasanya Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. (Penguasa segala rintangan) merujuk kepada tugas utamanya dalam mitologi Hindu sebagai pencipta sekaligus penyingkir segala rintangan (vighna). pada tangan kiri bawah. Dia kadangkala digambarkan berdiri. Nama Wignesa (Sanskerta: िवघ्नेश.

memiliki lima kepala gajah. Tiba-tiba. ibunya. menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa. Motif utama yang terulang dalam cerita-cerita tersebut adalah bahwa Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia. yakni Heramba-Ganapati. pada cerita yang terkenal dikatakan bahwa ia memperoleh kepala gajah di kemudian hari. Dewa Sani (Saturnus). Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala.[15] Mitologi dalam Purana memberi beberapa penjelasan mengenai kejadian yang menyebabkannya berkepala gajah. Sementara beberapa kitab mengatakan bahwa Ganesa terlahir dengan kepala gajah. Dalam kitab Brahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik. Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkus pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya. kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan antara Siwa dan Parwati.[13] Dalam perwujudan yang biasa.[14] Kombinasi yang sama terhadap empat lengan dan atribut. dan variasi kecil lainnya pada jumlah kepala diketahui. Salah satu perwujudannya yang terkenal. Pengaruh unsur-unsur kuno dalam susunan penggambaran tersebut masih bisa diamati dalam penggambaran Ganesa secara kontemporer. yang merupakan tema terkenal. memiliki beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda.abad ke-7. yang konon memiliki mata terkutuk. muncul pada patung Ganesa yang sedang menari. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan kepala gajah. Dalam sebuah penggambaran modern. memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu. satu-satunya variasi terhadap unsur-unsur kuno adalah tangan kanan bawah Ganesa tidak memegang patahan gading namun seolah-olah terarah ke mata pengamat dengan gerak tangan yang melambangkan perlindungan atau penyingkir ketakutan (abhaya mudra). Dewa Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala . Parwati. Atribut umum Ganesa digambarkan berkepala gajah semenjak awal kemunculannya dalam kesenian India. Saat Ganesa lahir.

Ganesa melilitkan ular Basuki di lehernya.[19] Wujud dengan 14 dan 20 lengan muncul di India Tengah selama abad ke-9 dan abad ke-10. dua penjelmaan Ganesa yang berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara (perut buncit. Perut buncit Ganesa muncul sebagai ciri-ciri khusus pada kesenian patung sejak zaman dulu. atau dipakai sebagai mahkota. merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu.gajah. wujudnya yang terkenal memiliki sekitar dua sampai enam belas lengan. Ganeshapurana mengatakan . yang mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta. yang berupa tiga garis mendatar. dan yang akan datang ada di dalam tubuhnya. perut bergelantungan) dan Mahodara (perut besar). sedangkan yang lainnya patah. Kisah lain dalam kitab Warahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta secara langsung oleh tawa Siwa. IAST: brahmāṇḍa) di masa lalu. Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat perhatian. sekarang. Jumlah lengan Ganesa bervariasi. Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya.[17] Kedua nama tersebut merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang melukiskan bagaimana keadaan perutnya. ia memberinya kepala gajah dan perut buncit. Wujudnya pada masa awal memiliki dua lengan. Kitab Brahmandapurana mengatakan bahwa Ganesa bernama Lambodara karena segala semesta (yaitu "telur alam semesta". Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang suci (IAST: yajñyopavīta) yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk.[20] Ular adalah tampilan yang umum dalam penggambaran tentang Ganesa dan muncul dalam beragam bentuk. yang ditaksir sejak periode Gupta (sekitar abad IV-VI).[16] Penampilan ini amat penting. secara harfiah. Hal penting di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana. yang telah disebut dalam Purana dan ditetapkan sebagai wujud standar dalam beberapa kitab tentang ikonografi. atau. karena menurut Mudgalapurana. Pada dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa (Sanskerta: tilaka).[18] Banyak penggambaran tentang Ganesa yang menampilkan ia bertangan empat. dipegang di tangan. dililitkan di pergelangan kaki.[21] Menurut Ganesapurana. Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading).

naga ilahi. sebuah buku tentang ikonografi dalam Hinduisme.[22] Beberapa contoh mengenai hubungan warna dengan gerakan meditasi tertentu dinyatakan dalam Sritattvanidhi. Namun warna lain yang spesifik dihubungkan dengan wujud tertentu. dimana Ganesa menggunakannya sebagai kendaraan hanya pada inkarnasi terakhirnya. dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. Wujud tertentu dari Ganesa yang disebut Bhalachandra (IAST: bhālacandra. tikus juga selalu ditempatkan dekat dengan kakinya. dan Gajanana menunggangi tikus.[23] Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana. putih dihubungkan dengan wujud Ganesa sebagai Heramba-Ganapati dan Rina-Mochana-Ganapati (Ganapati yang membebaskan dari belenggu). domba. seperti misalnya tikus.bahwa tanda tilaka sama saja dengan bulan sabit pada dahi kepala. Martin-Dubost mengatakan bahwa tikus muncul sebagai wahana yang utama dalam sastra tentang Ganesa. Dalam pandangan agama Jaina terhadap Ganesa. penyu. Mayureswara menunggangi merak. gajah. seekor merak saat menjelma sebagai Wikata. wahananya ada bermacam-macam. Sebagai contoh. Wahana Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan).[24] Ganesa seringkali digambarkan menunggangi atau diantar oleh seekor tikus. Ganesa lima kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya. Ekadanta-Ganapati digambarkan berwarna biru selama bermeditasi dalam wujud itu. Mohotkata menunggangi singa. di wilayah India Tengah dan Barat selama abad ke7. Pada empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana. atau merak. menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda. Dumraketu menunggangi kuda. dan menggunakan Sesa. "Bulan di dahi") memasukkan unsur penggambaran tersebut. Tikus sebagai wahana muncul pertama kali dalam kitab Matsyapurana dan kemudian dalam Brahmandapurana dan Ganesapurana. Ganapati Atharwashirsa mengandung sloka tentang Ganesa yang menyatakan bahwa gambar tikus terdapat .

sejenis wighna (rintangan) yang perlu untuk diatasi. Ganesa sebagai penguasa tikus menunjukkan fungsinya sebagai Wigneswara (dewa segala rintangan) dan memberi bukti terhadap perannya sebagai grāmata-devatā (dewa pedesaan) bagi rakyat yang kemudian meningkat kemuliaannya. Kata Sanskerta mūṣaka (tikus) diambil dari akar kata mūṣ (mencuri. K. Paul Courtright mengatakan. dan kemunculan para Ganapatya. Itu merupakan kekuasaannya yang utama. merampok). Seorang penulis buku tentang Ganesa bernama John A."[28] Yuvraj Krishan menyatakan bahwa beberapa nama Ganesa mencerminkan perannya yang berkembang dari waktu ke waktu.. mampu menembus bahkan memasuki tempat-tempat rahasia. Grimes telah menafsirkan makna tikus sebagai atribut Ganesa. dewa segala rintangan.dalam benderanya. sehingga ada perubahan tekanan suara .[26] Paul Martin-Dubost yang juga pernah menulis buku tentang Ganesa memberi sebuah pandangan bahwa tikus adalah simbol yang memberi sugesti bahwa Ganesa. seperti halnya tikus. Tikus ditafsirkan dalam berbagai pengertian. mengatakan bahwa tikus itu bersifat merusak dan mengancam pertanian. meski ia juga memasang rintangan pada umatnya yang perlu diberi cobaan. Michael Wilcockson mengatakan bahwa tikus melambangkan orangorang yang ingin mengatasi keinginan dan mengurangi sifat egois. Jadi menurut teori tersebut.[27] Asosiasi Rintangan Ganesa adalah Wigneswara atau Wignaraja. Nama Musakawahana (berwahana tikus) dan Akuketana (berbendera tikus) muncul dalam Ganesa Sahasranama. Merupakan hal yang penting untuk menaklukkan tikus sebagai hama penghancur.[29] M. [25] Yuvraj Krishan.. Ia mahsyur dipuja sebagai penyingkir segala rintangan. baik yang bersifat material maupun spiritual. Dhavalikar beranggapan bahwa karena cepatnya ketenaran Ganesa di antara dewi-dewi Hindu. seorang penulis buku Ganesa. "pekerjaannya adalah menempatkan dan menyingkirkan rintangan.

dari wignakartā (pencipta rintangan) menjadi wignahartā (penyingkir rintangan). Engkaulah Indra.[31] Buddhi Ganesa dianggap sebagai Dewa Aksara dan Pelajaran. juga dieja 'Om'). ketika banyak kisah menonjolkan kepintarannya dan cinta terhadap kecerdasan. Ganesa meninggalkan banyak hal-hal penting untuk peran gandanya sebagai pencipta dan penyingkir rintangan.". Salah satu nama Ganesa dalam Ganeshapurana dan Ganesa Sahasranama adalah Buddhipriya. ketika diidentikkan dengan Ganesa. atau akal. dua fungsi tersebut menjadi amat penting dalam karakter Ganesa. sehingga memiliki aspek negatif maupun positif. merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia menjelma sebagai bunyi yang utama.[32] Konsep buddhi erat dikaitkan dengan kepribadian Ganesa.[34] Aum Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu (Simbol: ॐ. "bahkan setelah Ganesa dalam Purana digambarkan dengan baik. Dalam bahasa Sanskerta. [30] Bagaimana pun. khususnya pada zaman Purana. dan dalam konteks suami-istri bisa berarti "kekasih" atau "suami". Swami Chinmayananda menerjemahkan pernyataan yang relevan berikut ini: (O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma. Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu). Wisnu. Kata priya bisa berarti "yang tercinta". Engkaulah matahari . seperti yang dijelaskan Robert Brown. kata buddhi adalah kata benda feminin yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan. kebijaksanaan. Nama ini juga muncul dalam daftar 21 nama di akhir Ganesa Sahasranama yang menurut Ganesa amat penting. dan Mahesa.[35] Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi penjelasan mengenai hubungan ini.[33] maka nama Buddhipriya bisa saja berarti "Yang dicintai oleh kecerdasan" atau "Suami Buddhi". Istilah oṃ(ng)kāraswarūpa (Aum adalah wujudnya).

Ganesa memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara. atau oleh Parwati. utama". Ganesa memegang. pondasi".] Engkau senantiasa menempati urat sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra]. Antariksa-loka [luar angkasa]. .[37] Cakra pertama Menurut Kundalini yoga.[36] Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan Tamil.[38] Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa. atau oleh Siwa dan Parwati. Ganesa menempati cakra pertama. Courtright menerjemahkan pernyataan sebagai berikut: "[O Ganesa."[39] Maka dari itu. namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana. mitos-mitos dalam Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. adhara berarti "dasar. Engkaulah Om. Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokokpokok kekuatan ilahi yang terpendam. bahwa Engkaulah segala hal tersebut). dan Swargaloka [sorga]. atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. Mula berarti "asal. Engkaulah Brahman.[38] Mitologi Kelahiran Meski Ganesa terkenal sebagai putera dari Siwa dan Parwati. (Itu sebagai tanda. Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa. menopang dan memandu cakra-cakra lainnya.(Surya) dan bulan (Candrama). Engkaulah (tiga dunia) Bhuloka [bumi]. sehingga ia mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan. yang disebut muladhara.

Perbedaan wilayah memberikan versi berbeda tentang jenjang kelahiran mereka. Ketika Parwati selesai mandi. ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik. suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Ketika turun ke dunia. yaitu para gana. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. sementara di India Selatan. Skanda biasanya dianggap yang lebih tua. Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa. Di India Utara. . yang juga disebut Kartikeya. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan. Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya. Atas saran Brahma. dan lain-lain. gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara. Karena tidak ingin diganggu. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. Keluarga dan istri Dalam keluarga Ganesa ada saudaranya yang bernama Skanda. Siwa mengutus abdinya. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa. ia menciptakan seorang anak laki-laki. ia mendapati puteranya sudah tak bernyawa. untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Siwa menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. Ganesa dianggap yang lebih dahulu lahir. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya. Murugan.Dalam kitab Siwapurana dikisahkan.

tiga kualitas ini kadangkala dipersonifikasikan sebagai para dewi. yaitu Saraswati atau Śarda (umumnya di Maharashtra).[40] Status orangtua Ganesa. Salah satu pola dalam mitos mengidentifikasi Ganesa sebagai seorang brahmacarya yang tak menikah. Seiring dengan memudarnya Skanda.[41] Pandangan ini biasa terdapat di India Selatan dan di beberapa wilayah India Utara. Kala Bo. puteranya seringkali disebut Suba (keselamatan) dan Laba. Dalam contoh lain. Dalam contoh lain. dan Riddhi (kemakmuran). memiliki beragam versi dalam cerita-cerita mitos. yang konon menjadi para istri Ganesa. Film berbahasa Hindi tahun 1975 berjudul Jai Santoshi Maa menampilkan Ganesa yang menikahi Riddhi dan Siddhi lalu memiliki puteri bernama Santoshi Ma. ia diasosiasikan dengan konsep Buddhi (kecerdasan).[42] Dia juga disangkutpautkan dengan dewi keberuntungan dan kemakmuran. Ganesa mulai berkembang. Dia bisa juga digambarkan dengan satu pasangan saja atau seorang pelayan tanpa nama (Sanskerta: daşi). ia diasosiasikan dengan dewi kebudayaan dan kesenian. menghubungkan Ganesa dengan pohon pisang.Skanda merupakan dewa perang yang mahsyur sekitar tahun 500 SM sampai 600 M.[43] Contoh lainnya. khususnya saat mulai berniaga seperti misalnya membeli kendaraan atau memulai . terutama yang menonjol di wilayah Benggala. Menurut kisah versi India Utara. Kisah ini tidak memiliki dasar dari kitab Purana. subjek pembicaraan yang luas bagi para sarjana.[45] Pemujaan dan festival Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian maupun kegiatan sehari-hari. dewi kepuasan. ketika pemujaan terhadapnya berkurang secara signifikan di India Utara. Siddhi (kekuatan spiritual).[44] Kitab Siwapurana mengatakan bahwa Ganesa memiliki dua putera: Ksema (kemakmuran) dan Laba (keuntungan). Laksmi. Beberapa kisah menceritakan persaingan antara kedua bersaudara tersebut dan bisa saja mencerminkan ketegangan yang terjadi antar sekte (pemuja Ganesa dan pemuja Skanda).

bisnis.. ia seringkali dipuja dengan pasta cendana merah (raktacandana) atau bunga merah. Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu. dan upacara keagamaan. Mantra-mantra seperti misalnya Om Shri Gaṇeshāya Namah (Om. ia akan memberi kesuksesan. khususnya di India Selatan. Karena ia diidentifikasikan dengan warna merah. memulai usaha yang penting. dan umat Hindu dari seluruh denominasi memanggil namanya saat memulai persembahyangan.N. Somayaji berkata. "jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak memiliki arca Ganapati. Festival yang dikaitkan dengan Ganesa adalah Winayaka caturti (Ganesa Caturti) pada śuklapakṣa (hari keempat bulan purnama) di bulan bhadrapada (Agustus/September) dan Ganesa jayanti (ulang tahun Ganesa) dirayakan pada cathurthī dalam kṛṣṇapakṣa (hari keempat bulan mati) di bulan magha (Januari/Februari). kemakmuran dan perlindungan terhadap bencana. yang disebut modakapātra. K. [. Penari dan musisi.[46] Pemujanya percaya bila Ganesa dibuat senang. Pemujanya memberi persembahan berupa manisan seperti misalnya modaka dan bola-bola kecil manis (laddu). Dia seringkali digambarkan memegang semangkuk manisan. Rumput Dūrvā (Cynodon dactylon) dan benda lainnya sering dipakai dalam memujanya. dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara". memulai pertunjukkan seni seperti misalnya tari Bharatnatyam dengan terlebih dahulu memuja Ganesa.] Ganapati. sebagai dewa yang termahsyur di India. hormat pada Hyang Ganesa yang mahsyur-mulia) seringkali dipakai. Salah satu mantra paling terkenal yang diasosiasikan dengan Ganesa adalah Om Gaṃ Ganapataye Namah. .

ketika arca (murti) Ganesa dicelupkan ke dalam air. "delapan (kuil) Ganesa") di Maharashtra yang paling mahsyur.[47] Ia melakukannya untuk mengatasi kesenjangan antara golongan Brahmana dan non-Brahmana dan menemukan konteks tak lazim yang dimaksud untuk membangun akar persatuan di antara mereka. Festival itu juga mendapat proporsi yang besar di Mumbai dan di sekitar kuil-kuil Astawinayaka. Terletak di jarak sekitar 100 kilometer dari kota Pune. beberapa kuil didedikasikan untuk Ganesa sendiri. misalnya Astawinayaka (Sanskerta: अष्टिवनायक. Ganesa dapat diuraikan beraneka macam: sebagai dewa bawahan (parswadewata). meskipun hal itu paling populer di negara bagian Maharashtra.[50] Di masa kini. atau sebagai dewa utama di sebuah kuil (pradhana). Dan juga. yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati. dalam cita-cita nasional menentang penjajahan Inggris di Maharashtra. aṣṭavināyaka. Festival memuncak pada hari Ananta Caturdasi. Pada tahun 1893.[48] Karena Ganesa dipuja secara luas sebagai "dewa bagi semua orang". masing-masing dari delapan kuil ini memuliakan wujud utama .[51] Sebagai dewa keluarmasuk. dijamu bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu. dia banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau halhal buruk.Ganesa Caturti Festival tahunan untuk memuja Ganesa yang berlangsung selama sepuluh hari. Lokmanya Tilak mengubah festival tahunan ini dari perayaan keluarga secara pribadi menjadi acara bagi masyarakat luas. umat Hindu di penjuru India merayakan festival Ganapati dengan semangat menyala. yang jatuh pada akhir bulan Agustus atau awal September. Kuil Dalam tempat suci Hindu.[49] Tilak adalah orang pertama yang memasang citra Ganesa yang besar bagi masyarakat umum di sebuah paviliun. sebagai dewa yang erat dengan dewa utama (pariwaradewata). dan menetapkan tradisi untuk mencelupkan semua citra Ganesa pada hari kesepuluh. dimulai pada Ganesa Caturti. Tilak memilihnya sebagai tempat menampung protes rakyat India terhadap pemerintahan Inggris.

Dhokala.Ganapati. menandai wilayah suci Ganesa. Kasargod. Ada banyak kuil Ganesa yang penting di tempat-tempat berikut ini: Wai di Maharashtra. Kemunculan pertama Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4 sampai abad ke-5. Keterbukaan dan ketenarannya yang luas. yang melampaui batas mahzab dan teritorial. bersama-sama mereka membentuk sebuah mandala. di kuil Wisnu maupun Siwa dan juga pada bangunan suci yang khususnya dibangun dalam kuil Siwa […]. Jodhpur. Gopinatha berkata. Hampi."[52] Kuil Ganesa juga dibangun di luar India. dan di beberapa negara barat. di Rameshvaram dan Suchindram di Tamil Nadu. meskipun desa kecil. dan Bhadrachalam di Andhra Pradesh. termasuk Asia Tenggara.[53] Pemujaan tersendiri terhadapnya muncul sekitar abad ke-10. Di jalan masuk menuju desa atau sebuah benteng. sungguh menakjubkan. A. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal. Kuil Ganesa yang utama di India Selatan yaitu sebagai berikut: Kuil Jambukeśvara di Tiruchirapalli. di bawah pohon bodhi […]. yang diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra. lengkap dengan cerita dan legendanya. Baidyanath di Bihar. yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta.[54] Narain mengikhtisarkan kontroversi antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap perkembangan Ganesa sebagai berikut: [A]pa yang selama ini tak terduga adalah kemunculan Ganesa yang agak dramatis menurut pandangan sejarah. . Pelopornya tak jelas. Nagaur dan Raipur (Pali) di Rajasthan. Uttar Pradesh. T. figur Wigneswara kelihatan tak berubah-ubah. dan Balsad di Gujarat dan Kuil Dhundiraj di Benares. "Setiap desa. Nepal. dalam sebuah relung […]. Baroda. memiliki citra Wigneswara-nya sendiri dengan atau tanpa kuil untuk menempatkannya. Ujjain di Madhya Pradesh. dan Idagunji di Karnataka.

yang beberapa di antaranya diidentifikasikan dengan Ganesa.[59] Sastra Weda dan wiracarita Gelar "Pemimpin kelompok" (Sanskerta: ganapati) muncul dua kali dalam Regweda. Di sisi lain terdapat keraguan mengenai adanya gagasan dan arca tentang dewa ini sebelum abad keempat sampai kelima Masehi. namun berkesimpulan bahwa.[56] Dalam mitologi Hindu. yang berkomentar datar tentang Ganesa.. Tidak ada bukti mengenai dewa yang disebut memiliki wujud gajah atau berkepala gajah pada permulaan zaman ini. namun merupakan mitologi yang cukup menarik. itu tidak bisa dianggap menggambarkan GanapatiWinayaka.. namun mudah untuk ditenangkan. roh jahat. Istilah itu .[58] Penggambaran figur manusia berkepala gajah. namun keduanya tidak merujuk pada Ganesa yang sekarang. Ganapati-Winayaka masih membuat debutnya. dari Manawagrehyasutra (abad VII-IV SM) yang menyebabkan berbagai jenis kejahatan dan penderitaan". . Nama Winayaka adalah nama yang biasa bagi Ganesa. "Dia bukan dewa dalam Weda. baik dalam Purana-Purana maupun Tantra Buddha."[55] Suatu teori mengenai asal-usul Ganesa mengatakan bahwa ia perlahan-lahan menjadi tenar sehubungan dengan empat Winayaka. para Winayaka adalah kelompok empat makhluk jahat yang membuat rintangan dan kesulitan.[57] Krishan adalah salah satu sarjana yang menerima teori ini. Asal-usulnya mengikuti jejak empat Winayaka. "meski pada abad ke-2 Masehi ada perwujudan yaksa berkepala gajah. muncul dalam kesenian dan koin India pada permulaan abad ke2.Di satu sisi ada kepercayaan bagi umat yang ortodoks terhadap asal-usul Ganesa dari zaman Weda dan dalam Purana terdapat penjelasan yang membingungkan.[54] Pengaruh memungkinkan Buku yang ditulis Thapan tentang perkembangan Ganesa mengandung sebuah bab tentang spekulasi mengenai peran kepala gajah pada zaman awal di India.

menurut para komentator. Sebuah sisipan pada wiracarita Mahabharata mengatakan bahwa Resi Byasa meminta Ganesa untuk membantunya sebagai seorang penulis untuk mencatat wiracarita yang didikte oleh sang resi kepadanya. yang diberi gelar 'ganapati'.[60] Saat sloka itu tak diragukan lagi merujuk pada Brahmanaspati. tebu. Ganesa setuju namun dengan syarat bahwa .1). "tidak bisa dibantahkan lagi untuk menerima identifikasinya (ciri-ciri Ganesa) dengan (ciri-ciri) Dantin ini". dan gada.9) merujuk pada Indra. sloka itu kemudian diadopsi untuk memuja Ganesa dan masih dipakai hingga sekarang.[61] Dalam pembantahan bahwa pernyataan tersebut merupakan bukti keberadaan Ganesa dalam Regweda.[66] Thapan menambahkan bahwa pernyataan-pernyataan itu lazimnya dianggap sebagai sebuah sisipan. Rocher menyatakan bahwa sastra-satra Ganapatya terkini seringkali mengutip sloka-sloka Regweda untuk menghormati Ganesa.[65] Tapi. seperti yang dikatakan Heras. Krishan menganggap bahwa himne-himne ini adalah tambahan (carangan) pasca zaman Weda.[62] Hal yang juga mirip. "referensi mengenai dewa berkepala gajah di Maitrayani Samhita telah terbukti sebagai sisipan paling akhir. yaitu Maitrayaniya Samhita (2.112.9.[63] Dua sloka dalam kitab yang termasuk Yajurweda hitam.[67] Ganesa tidak muncul dalam wiracarita India pada zaman Weda. maka tidak begitu berguna dalam menentukan informasi paling awal mengenai sang dewa (Ganesa)". yang memiliki belalai bengkok (wakratunda) dan memegang jagung.23. diterjemahkan menjadi "Pemimpin perkumpulan (bagi para Marut).1) dan Taittiriya Aranyaka (10.1) sebagai gelar untuk Brahmanaspati. menyatakan permohonan kepada dewa yang "bertaring satu" (Dantih). merupakan karakteristik Ganapati yang utama secara Purana.muncul dalam Regweda (Rw 2." Tetapi. "bermuka gajah" (Hastimuka). Ludo Rocher mengatakan bahwa itu dengan jelas merujuk kepada Wrehaspati—dewa himne-himne—dan hanya Wrehaspati. dan seorang komentator dari abad ke-14 bernama Sayana dengan tegas memastikan identifikasi ini. Nama-nama ini mengingatkan kita pada Ganesa. dan "berbelalai bengkok" (Wakratunda).[64] Deskripsi tentang Dantin. Dhavalikar mengatakan. yaitu pernyataan kedua (Rw 10.

[70] Sebuah referensi tentang Wignakartrinam ("Pencipta rintangan") dalam Wanaparwa juga dipercaya sebagai sebuah sisipan dan tidak muncul dalam edisi kritikan. namun tidak ditambahkan ke dalam Mahabharata sampai sekitar 150 tahun kemudian. Sang resi setuju.[68] Richard L. sekitar th.[72] Yuvraj Krishan mengatakan bahwa mitos mengenai kelahiran Ganesa dan bagaimana ia memperoleh kepala gajah. Brown memperkirakan waktunya terjadi sekitar abad ke-8. tanpa berhenti. Ia meneliti masalah dan mengungkapkan bahwa referensi tentang Ganesa yang terdapat dalam Purana-purana awal.[73] .[71] . 600 dan seterusnya. Hubungan antara Ganesa dengan ketangkasan pikiran dan pembelajaran adalah salah satu alasan sehingga ia ditampilkan sebagai penulis dikte yang dijabarkan Byasa tentang Mahabharata dalam sisipan tersebut. Winternitz juga menambahkan bahwa versi berbeda dalam naskah Mahabharata di India Selatan adalah penghapusan terhadap legenda Ganesa tersebut. 600–1300. Kisah tersebut tidak dianggap sebagai sebuah bagian dalam kitab orisinilnya oleh editor dalam kitab Mahabharata edisi kritikan. ada dalam Purana yang digubah dari th. dan Moriz Winternitz menyimpulkan bahwa kisah itu dikenal pada awal th. seperti misalnya Bayupurana dan Brahmandapurana. sementara kitab-kitab Purana tidak menyebutkan kapan tepatnya suatu peristiwa terjadi.[69] Istilah winayaka ditemukan dalam beberapa resensi dalam Santiparwa dan Anusasanaparwa yang dianggap sebagai sisipan.Byasa harus membeberkan wiracarita itu tanpa diselingi. penuturan kisah hidup Ganesa yang lebih detil ada dalam kitab yang muncul belakangan. Brown mengatakan. yaitu. Zaman Purana Kisah mengenai Ganesa seringkali muncul dalam kitab-kitab Purana. adalah sisipan di kemudian hari yang dibuat dari abad ke7sampai abad ke-10. ia perlu menceritakan suatu pernyataan yang sangat kompleks sehingga Ganesa akan bertanya untuk mengklarifikasi. namun sadar bahwa untuk melakukan jeda. 900.

sebuah sistem di antara kaum brahmana yang ortodoks dalam tradisi Smarta. Hal ini sungguh-sungguh membuat peran Ganesa sebagai seorang dewa komplementer.Bangkitnya ketenaran Ganesa dikodifikasikan pada abad ke-9."[74] Lawrence W. Preston berpikir bahwa waktu yang memungkinkan untuk penggubahan Ganeshapurana antara tahun 1100 dan 1400. beberapa brahmana memilih untuk memuja Ganesa sebagai dewa utama mereka. Phyllis Granoff menemukan masalah terhadap waktu yang tidak tetap ini dan . Anita Thapan mengutarakan komentar tentang masa penggubahan dan mengukuhkan pendapatnya. Filsuf abad ke-9 bernama Shankaracarya mempopulerkan "pemujaan terhadap lima wujud" (pañcāyatana pūjā). "Sepertinya. Shankaracarya mendirikan tradisi itu dengan tujuan utama untuk menyatukan dewa-dewi utama dari lima sekte besar pada status yang sama.[75] R. Dalam pemujaan ini dilakukan pemanggilan lima dewa yaitu Ganesa. "namun kemudian diberi sisipan. Hazra mengatakan bahwa Mudgalapurana lebih tua daripada Ganeshapurana. dia berkata. Siwa. ketika secara formal ia dimasukkan ke dalam lima dewa utama dalam aliran Smarta. Dewi. Buku dan sastra Ketika Ganesa diterima sebagai salah satu dari lima dewa utama dalam Brahmanisme.C. mungkin pokok-pokok isi dari Ganeshapurana muncul sekitar abad keduabelas dan ketigabelas". seperti yang dapat disimak dalam Ganeshapurana dan Mudgalapurana. Mereka mengembangkan tradisi Ganapatya. Keduaduanya berkembang dari waktu ke waktu dan mengandung isi yang bertumpuktumpuk. bersamaan dengan waktu berdirinya tempat-tempat suci seperti yang disebutkan dalam kitab itu. Masa penggubahan Ganeshapurana dan Mudgalapurana (dan waktunya tidak tetap antara satu sama lain) telah mengobarkan perdebatan para sarjana. dan Surya.[76] Tetapi. Wisnu. yang menurutnya digubah pada tahun 1100 dan 1400.

Ganesa adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi Hindu yang menjamah negeri asing sebagai akibatnya. yang pergi ke luar India untuk malakukan hubungan dagang. Ganesa menjadi dewa utama yang dikaitkan dengan para pedagang. sehubungan dengan pemujaan Ganapati yang menjadi penting dalam wilayah tertentu. dan bangkitnya sirkulasi keuangan. Ganesha. seringkali di samping kuil Siwa. Mudgalapurana secara spesifik menyebut Ganeshapurana sebagai salah satu dari empat Purana (Brahma. pembentukan serikat dagang. yaitu Ganapati Atharwashirsa. dan Kalimantan yang menunjukkan pengaruh regional yang spesifik. [79] Di luar India dan agama Hindu Hubungan dagang dan budaya telah memperluas pengaruh India di Asia Barat dan Tenggara. di antara bukti-bukti internal lainnya.[78] Kitab lain yang memuji Ganesa. Periode dari sekitar abad ke-10 sampai seterusnya ditandai oleh perkembangan jaringan-jaringan baru terhadap hal pertukaran. Selama masa ini.berkesimpulan bahwa Mudgalapurana adalah kitab filsafat terakhir yang menyinggung masalah Ganesa.[77] Sementara isinya sudah usang. dan Mudgalapurana) yang menyinggung masalah Ganesa. bersama mereka. Brahmanda. termasuk Ganesa. Bali. Arca-arca Ganesa ditemukan di sepanjang wilayah Nusantara dalam jumlah yang banyak. ada kemungkinan digubah pada abad ke-16 atau ke-17. Ia mengemukakan alasannya berdasarkan sebuah fakta bahwa.[83] Penyebaran budaya Hindu . kitab itu diberi sisipan sampai abad ke-17dan ke-18. Wujud Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa.[82] Umat Hindu bermigrasi ke nusantara dan membawa budaya mereka.[81] Tulisan paling awal yang mengandung seruan kepada Ganesa sebelum memanggil dewa-dewi lainnya dikaitkan dengan komunitas rombongan pedagang.[80] Ganesa khususnya disembah oleh para pedagang dan rombongannya.

Ganesa muncul di Cina dan Jepang dalam wujud yang menampilkan karakter wilayah yang berbeda.[91] . Di Cina Utara. Afganistan memiliki ikatan budaya yang erat dengan India. Penggambaran lain menampilkan wujudnya sebagai pemusnah segala rintangan. kadangkala dalam wujud sedang menari. pemujaan terhadap Ganesa pertama kali disebutkan pada tahun 806.[89] Dalam versi Tibet. ia memiliki lima kepala dan menunggangi singa. Sebagai dewa Vināyaka dalam agama Buddha. Kamboja dan di Vietnam. Wujud ini.secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa dimodifikasi di Burma. dan termahsyur di wilayah India Utara. atau dewa keberhasilan. tidak hanya dalam wujud dewa Vināyaka dalam agama Buddha.[84] Sebelum kedatangan Islam.[88] Ganapati versi Tibet adalah tshogs bdag. disertai tulisan yang berangka tahun 531. Ganesa terutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan. agama Hindu dan Buddha dijalankan dengan berdampingan. Kamboja. sangat terkenal. dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama dijalankan.[86] Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa kerajaan Gupta. ia seringkali digambarkan sedang menari. Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala rintangan. Penggambaran Ganesa di Tibet menunjukkan pandangan yang bertentangan terhadapnya. kemudian diadopsi di Nepal. ada patung batu dari zaman awal yang dikenal sebagai Ganesa. Bahkan kini oleh umat Buddha di Thailand. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan. dikenal sebagai Heramba. dan pengaruh timbal balik bisa dilihat dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu. namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama yang sama. Di Indochina. Ganesa digambarkan sedang diinjak oleh kaki Mahākāla. mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu. disebut Nṛtta Ganapati.[87] Di Nepal. Di Thailand. yaitu dewa bangsa Tibet yang terkenal. lalu di Tibet.[85] Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana.[90] Di Jepang. dan Thailand. wujud Ganesa secara Hindu.

bukti. Di Indonesia khususnya Bali. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga. pusat.[93] Patung Ganesa tertua versi Jaina ditaksir berasal dari abad ke-9.[92] Hubungan Jaina dengan komunitas perdagangan mendukung gagasan bahwa Jainisme mengambil tradisi pemujaan Ganesa sebagai akibat dari hubungan perdagangan. peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau. ciri. Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali. lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu. yang sudah tentu bersifat umum. titik tuju pemujaan. Ganesa dipuja oleh banyak umat Jaina. keterangan. Namun. Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno.[95] Citra Ganesa muncul dalam kuil Jaina di Rajasthan dan Gujarat. SIWA LINGGA (LINGGA YONI) Lingga merupakan lambang Dewa Siwa. bahwa lingga . Patung Dewa. muncul sebagai pengambil alih fungsi Kubera.[96] 23. akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti lingga yang sebenarnya. khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. titik pusat. yang pada hakekatnya mempuriyai arti. petunjuk. poros. 2000 601). walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak. isyarat. sumbu (Zoetmulder.[94] Sebuah kitab Jaina dari abad ke-15 memaparkan prosedur untuk memasang citra Ganapati. sifat khas.Sastra agama Jaina (Jainisme) tidak menyebutkan adanya pemujaan terhadap Ganesa.

(Agastia. sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa. malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa. 2002 : 2) kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu. lingga merupakan lambang kesuburan. dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa. Mengenai pemujaan lingga di Indonesia. 1975 : 104). menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao. Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan. di Indonesia. Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di .diidentikkan dengan : linggih. 1916 : 69). 1973 : 40). yang artinya tempat duduk. maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme). Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono. yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali. Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore. Di India terutama di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte linggayat (Putra. Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa.

Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. Gandhawarna rasairhinam . Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. 1959 102). Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. Pura-pura di Pejeng. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai sabdasparsadi Artinya: berikut: warjitam”. Jawa Timur. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers.Kanjuruhan. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru. (Soekmono. 1973 : 41-42). Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan. ”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. di Bedahulu dan di Goa Gajah. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih. kesuburan dan sebagainya. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung.

rasa. Dalam “Pranalo Artinya: Jnana Brahma visnus ca Siddhanta Lingotpadah disebutkan: Siwarcayet”. Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:”Bhatara Siwalingga Artinya: Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa. warna. Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya Bentuk sebagai Siwa. pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam). lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan.Lingga awal yang mula-mula tanpa bau. Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. . Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa. Jadi dalam Lingga Purana. Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga). Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa. Lingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”.

bulat. berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma.Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap sebagai sumber siwa. Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao. pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. 1916 :99). Sebuah lingga berdiri. berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara). berbentuk buah 93). segi dua belas. Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha. Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah. Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain : berbentuk payung (chhatrakara). 1916 : . Kemudian lingga yoni. Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. mentimun (tripusha kara). Dengan istilah lingga pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga. segi empat panjang. persegi enam belas dan yang lainnya. Wisnu. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma. bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga. Wisnu dan Siwa. berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao. Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi. sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. berbentuk telur (kukkutandakara). jadi lingga dan yoni. segi delapan. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga. bulat telur. setengah bulatan. Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air. di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma. dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. segi enam.

besi. bilva.Achalalingga Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak. chandana. jamrud. timah dan lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama. baik yang sudah dibakar. serbuk cendana. janggery dan tepung. Gopinatha Rao. sala. tepung. tembaga. d. artinya lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. Lingga kuningan. tanah pekat. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain . Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti. dan dewadara. bunga . perak. waidurya. badara. Lingga : Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam. pippala dan udumbara. Kshanika Lingga Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah: a. beras. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu. Lingga kwarsa. rumput kurcha. nasi. gandum. Lohaja logam c.Chalalingga . seperti : emas. madhuka. e. Mrinmaya Lingga Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat. karnikara.Jenis-Jenis Lingga Berdasarkan penelitian dan TA. tinduka. arjuna. Daruja kristal. permata. Ratmaja mutiara. Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami. yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira. menjadi adonan setelah beberapa b.

sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan lingga yang paling utama (uttamottama). Lingga ini berhubungan dengan Ganesa. sitrun atau apel hutan. Dalam mitologi. Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga. Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga. sebagai berikut: a. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan.b.dan rudrasha. Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika lingga. kumpulan kuliahkuliah agama jilid I”. c. lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi.A. lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani. lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di bumi. Ganapatya lingga. Daivika lingga. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang . lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan BhataraBhatari. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas. Svayambhuva lingga. Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun. Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T. menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan. Arsha lingga. II part I” dapat dijelaskan. d.

Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi. sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. karena langsung dibuat oleh tangan manusia.• WHD No. HARI RAYA HINDU Pagerwesi Hari Raya Pagerwesi Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Manusa lingga. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar). dipakai oleh brahman). Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun. beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. 24. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru.suci. Sama halnya dengan Galungan. Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). artinya hari raya untuk . Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur. 437 Juli 2003. e. Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru. Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama.

Artinya: Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Hakikat pelaksanaan upacara Pegerwesi adalah lebih ditekankan pada pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan Mapasang Lingga. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha Bhuta.semua masyarakat. Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta." Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. Dalam lontar Sundarigama disebutkan: "Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh. baik pendeta maupun umat walaka. . Tengah malam melakukan yoga samadhi. segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan). Dalam lontar Sundarigama disebutkan: Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah.

Makna Filosofi Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama. memuji dan memusatkan diri. Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah "Sesayut Panca Lingga" sedangkan perlengkapannya Daksina. Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan. Memuja berarti menyerahkan diri. Dapetan. Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Suci Praspenyeneng dan Banten Penek. Banten yang paling inti perayaan Pegerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya . Canang dan Sodaan. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. menghormati. Prayascita. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati. Dalam hal upacara. Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. memohon.Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi). Tentunya dilengkapi Daksina. ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.

artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan." Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. artinya perdagangan. itu berarti ada kecurangan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Kalau ada pihak yang dirugikan. Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Goraksya. Wanijyam. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan.merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu: Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh). Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma. Keuntungan yang benar. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat. maka adharma . Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan.

Ngarga adalah suatu tempat untuk membuat tirtha bagi para pendeta. Hal ini dapat dipahami. mapasang lingga. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Sebelum membuat tirtha.tidak dapat masuk menguasai manusia. Tirtha suci itulah yang akan dibagikan kepada umat. Sesayut Panca Lingga dengan inti ketipat Lingga adalah memohon lima manifestasi Siwa untuk memberikan benteng kekuatan (pager besi) dalam . karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. 109 disebutkan: Atma dibersihkan dengan tapa bratabudhi dibersihkan dengan ilmu pengetahuan (widia) manah (pikiran) dibersihkan dengan kebenaran dan kejujuran yang disebut satya. Dalam Manawa Dharmasastra V. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Karena itu amat ditekankan pada Hari Raya Pagerwesi para pendeta agar ngarga. dengan pengasepan sampai disucikan dengan mantra-mantra tertentu sehingga tirtha yang dihasilkan betul-betul amat suci. berarti para pendeta harus melakukan hal yang amat utama untuk mencapai vibrasi spiritual payogan Sanghyang Pramesti Guru. Mengingat ngargha mapasang lingga dianjurkan oleh lontar Sundarigama pada hari Pagerwesi ini. Dalam agama Hindu. terlebih dahulu pendeta menyucikan arga dengan air. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata. Pembuatan tirtha dalam upacaraupacara besar dilakukan dengan mapulang lingga. Vibrasi spiritual itulah sebagai pagar besi dari kehidupan dan itu pulalah guru sejati. purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Penjelasan Manawa Dharmasastra ini adalah bahwa atma yang tidak diselimuti oleh awan kegelapan dari hawa nafsu akan dapat menerima vibrasi spiritual dari Brahman.

menghadapi hidup ini. Para pendetalah yang mempunyai kewajiban menghadirkan lebih intensif dalam masyarakat. Kemahakuasaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Siwa dengan simbol Panca Lingga, Sesayut Pageh Urip bagi kebanyakan atau umat yang masih walaka. Kata "pageh" artinya "pagar" atau "teguh" sedangkan "urip" artinya "hidup". "Pageh urip" artinya hidup yang teguh atau hidup yang terlindungi. Kata "sesayut" berasal dari bahasa Jawa dari kata "ayu" artinya selamat atau sejahtera. Natab Sesayut artinya mohon keselamatan atau kerahayuan. Banten Sesayut memakai alas sesayut yang bentuknya bundar dan maiseh dari daun kelapa. Bentuk ini melambangkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan haruslah secara bertahap dan beren-cana. Tidak bisa suatu kebaikan itu diwujudkan dengan cara yang ambisius. Demikianlah sepintas filosofi yang terkandung dalam lambang upacara Pagerwesi. Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan hari raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima pada intinya adalah hari raya untuk memuja Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang mendapatkan wahyu ten-tang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana. Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adi guru loka yaitu gurunya alam semesta. Sedangkan Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari Purnama. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24. 000 sloka

Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra. Ke-24 suku kata suci dari Tri Pada Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000 sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi Walmiki pun dipuja sebagai adi guru loka yaitu maha gurunya alam semesta. Sampai saat ini Mahabharata dan Ramayana yang disebut itihasa adalah merupakan pagar besi dari manusia untuk melindungi dirinya dari serangan hawa nafsu jahat. Jika kita boleh mengambil kesimpulan, kiranya Hari Raya Pagerwesi di Indonesia dengan Hari Raya Guru Purnima dan Walmiki Jayanti memiliki semangat yang searah untuk memuja Tuhan dan resi sebagai guru yang menuntun manusia menuju hidup yang kuat dan suci. Nilai hakiki dari perayaan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dengan Pegerwesi dapat dipadukan. Namun bagaimana cara perayaannya, tentu lebih tepat disesuaikan dengan budaya atau tradisi masing-masing tempat. Yang penting adalah adanya pemadatan nilai atau penambahan makna dari memuja Sanghyang Pramesti Guru ditambah dengan memperdalam pemahaman akan jasa-jasa para resi, seperti Resi Vyasa, Resi Walmiki dan resi-resi yang sangat berjasa bagi umat Hindu di Indonesia. (Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni) Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam

rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan: Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya. Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah

Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. tak jauh dari Pura Besakih. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata.datang tak henti-henti. inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri. . Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu. Disebutkan pula. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka. Untuk mengetahui penyebabnya. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. sakti dari Dewa Siwa. Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha. barulah Galungan dirayakan kembali. Makna Filosofis Galungan Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa . Jadi. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut: Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi. Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba.Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). enam hari sebelum Galungan. galang apadang maryakena sarwa byapaning idep Artinya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma. Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. artinya luar.

Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. karena itu hari penyucian semua bhatara). Dalam lontar disebutkan. Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. . Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Dan itulah yang disucikan. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana. "Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan." Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan.itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa.

upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari.Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Upacara tersebut barmakna. Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Galungan Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. . Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib melaksanakan. umat menikmati waranugraha Dewata. Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya." Artinya. Berdasarkan sumbersumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel). Keesokan harinya. Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan. Pada hari ini. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga). Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan "Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara.

Galungan Nadi Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali. Jadi Galungan itu dirayakan. bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka.Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disebutkan dalam lontar itu. setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. dan wukunya Dungulan. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan. Sapta Waranya Rabu. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Kalau Panca Waranya Kliwon. Sapta Wara dan Wuku. Galungan Nara Mangsa Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Karena itu Galungan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut: . yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi.

Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9."Yan Galungan nuju sasih Kapitu. bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Tilem Galungan. Kala Rau ngaranya yan mengkana. moga ta sira kapereg denira Balagadabah. tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. tenggek 9. Mwah yan anemu sasih Kesanga. ingatlah. mwang sasih kesanga. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah. Galungan Nara Mangsa namanya. anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika. yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung. pada hari Galungan itu. nasi cacahan maoran keladi. Artinya: Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia. membawa penyakit adanya. tunggal kalawan sasih Kapitu. tidak boleh merayakan Galungan. Kala Rau namanya. rah 9." Artinya: Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu. tenggek 9. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem. tan wenang ngegalung wong Baline. sigug ya mengaba gering ngaran. Tidak baik itu. Galungan Nara Mangsa ngaran. Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut: Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali. poma haywa lali elingakna. Tan kawasa mabanten tumpeng. Yan tekaning sasih Kapitu. . rah 9 tenggek 9. semoga tidak lupa. itu nasi cacahan dicampur ubi keladi.

selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Galungan di India Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk . Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang. Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula "Hari Raya Dasara". Sebelum puncak perayaan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang artinya.Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Bahkan kemungkinan besar. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Kedua kata itu artinya "menang". Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Ini bisa dilihat dari kata "Wijaya" (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata "Galungan" dalam bahasa Jawa Kuna. pemakan daging manusia. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa. pertarungan antara aharma melawan adharma. berupa nasi cacahan bercampur keladi. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng Galungan". Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru.

Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). memiliki kemampuan yang tinggi. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker.dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara. maka diberi julukan Dewi Durgha. kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas. sangat menakutkan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. seram. keganasan hawa nafsu. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Berbeda dengan di Bali. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan. Pada . Pengertian sakti di India adalah kuat. Karena Dewi Parwati menang.

Sita. kota menjadi ramai. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Dewi Sita. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama.hari ini. Kasih sayang itulah suatu "sakti" atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Kumbakarna atau Surphanaka. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin. Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana. Di mana-mana. ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama. Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh . Laksmana dan Anoman.

ada yang bersifat adhyatmika. membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan. Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Karena mantramantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia). Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin). Prof. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda. Wasista Siddhanta. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Kitab ini disusun kira-kira 12. Paitamaha Siddhanta. yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta. Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Itihasa dan Purana. Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani . Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha. Vedangga. Nyepi Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu.setiap orang. Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur.

Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia.tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Sebelum lahirnya Tahun Saka. suku bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya. Pada tahun 79 Masehi. Arah perjuangannya kemudian dialihkan. Yuwana. sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu. Malawa dan Saka. dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Sukusuku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. Semenjak itu. maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat . Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa. Yuehchi. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas. Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Tampaknya. bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Akibat toleransi dan persatuan itu. namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara). Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India. Karena perjuangannya itu cukup berhasil.

LXXXVI XCII. Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma. Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Pendeta Siwa. pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Keesokan harinya. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Tuhan (Prajapati). prajurit. . manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat. LXXXV. Tujuan Hidup Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. XII. perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Untuk mewujudkan tujuan tersebut. Di Bali. Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III. Jawa Tengah. artha. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret). Di alun-alun Majapahit. Beberapa hari sebelum Nyepi. kama dan moksha. pada tahun 456 Masehi. 228. 45 dan Sarasamuscaya 135. Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. berkumpu seluruh kepala desa. para sarjana. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra. Setelah Nyepi. Budha dan Sri Baginda Raja. dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi. Menurut agama.(India) yang mendarat di Kabupaten Rembang. diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Pada zaman Majapahit.

binatang hidup dari tumbuhtumbuhan. usahakanlah kesejahteraan semua makhluk. artha. untuk mewujudkan Catur Warga. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb: "Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan. jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk. karena persembahan (yajña) turunlah hujan. artha kama moksha. Dengan demikian jelaslah. karena hujan tumbuhlah makanan. makhluk hidup menjelma. kama dan moksha. dan yajña lahir karena kerja." Artinya: Oleh karenanya. "Apan ikang prana ngaranya. "Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani. 14 disebutkan. mâng dharma.10: manusia harus beryajña kepada Tuhan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan." Dalam Bhagavadgita III. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. Dalam kenyataannya. . tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup. karena makanan. manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga. kita bisa melihat sendiri. manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita). kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama." Artinya: Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma.

Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa. kita mencari sari-sari kehidupan dunia. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah. upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. dilaksanakanlah brata penye-pian. Bhuwah Loka dan Swah Loka. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut: . Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa. Sang Budha dan Sang Bujangga. melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. pada saat upacara Tawur Kesanga. dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. pawana. Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara.yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. paklesa letuhing bhuwana. dan sarwaprani. Pada tanggal satu sasih kadasa. Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat. Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengahtengah samudra. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Oleh karena itu. Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut: Anglukataken laraning jagat.

tidak menyalakan api.besoknya. amati lelungan dan amati lelanguan. semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan. brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian." Jadi. amati karya. pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan." Artinya: ".. Perbuatan . manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. melakukan yoga tapa dan samadhi. menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma.. Nyepi. Sebagaimana kita ketahui. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya. kama dan moksha. berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh... Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni.enjangnya nyepi amati geni.. kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan. samadhi. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian. ageni-geni saparanya tan wenang. tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya. Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri. Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi. artha..". Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. yoga.

Setelah upacara Melasti usai dilakukan.. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah mengkhususkan diri dalam bidang kerohanian. pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Pelaksanaan Upacara Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat.mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. . Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat." Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: ". Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka Menyimak sejarah lahirnya. tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi.. dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan.. dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini. baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas.

Sedangkan di tingkat desa.00 (kala tepet). melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah. Dalam rangkaian Nyepi di Bali. dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina. umat Hindu berkeliling desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India. yaitu melakukan upacara mecaru. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh. segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak. Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding. Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi. dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11. Dalam upacara Melasti. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah). upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). tuak dan air tawar. upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur.12. Upacara di tingkat rumah tangga. diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa.00 . banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). sujang berisi arak tuak. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Setelah . peras. Setelah usai menghaturkan pecaruan. semua anggota keluarga. penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah. berem.Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. dandanan. kabupaten dan kecamatan. kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi. mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya. segehan nasi sasah 100 tanding. tumpeng ketan sesayut. ajuman. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Sedangkan di masing-masing rumah tangga.

pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. yaitu unsur-unsur kekuatan jahat. jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala. kertas.mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala. misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala. patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. lalu mengelilingi rumah membawa obor. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar. Sejak tahun 1980-an. Kalau di Bali. ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan. menaburkan nasi tawur. . ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa. Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Nah. kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. kala. Patung yang dibuat dengan bam-bu. namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan. Artinya. Selain itu. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi. umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Karena bukan sarana upacara. tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus). Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti.

Pada prinsipnya. tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu: -Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). saat Nyepi. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat. yaitu dengan melakukan upawasa. Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spritual. Mona artinya berdiam diri. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan .Amati karya (tidak bekerja). tidak bicara sama sekali selama 24 jam. . tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. hening menuju jalan yang benar atau dharma. Arcana. Itu berarti melakukan upawasa (puasa). Yang terpenting. dhyana dan arcana. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus.Amati lelungan (tidak bepergian). menyepikan indria. mona. . Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci.Amati lelanguan (tidak mencari hiburan). yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu. . Dhyana. Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa.Sebagaimana telah dikemukakan.

Umat patut melaksanakan brata. karena perbuatan menyimpang dari ajaran dharma atau Agama. meningkatkan kesucian rohani dan latihan mengekang hawa nafsu. Terbebas dari berbagai godaan yang bisa menjerumuskan dan menyesatkan hidup. Dari pandangan mata secara awam saja. merupakan hari suci bagi umat Hindu. adalah berdosa. Anggara Wage Wuku Gumbreg bertepatan Sasih Kapitu (Selasa. makanya mereka memburu gelap. Latri berarti malam (gelap). menghilangkan nyawa mahluk lain di luar tujuan yadnya. Dalam kegelapan malam ada keheningan kesunyian dan kedamaian. Tujuannya agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di dunia ini. melakukan pembunuhan satwa (binatang). termasuk malam siswa malam paling gelap sehari menjelang Tilem Kepitu 24 Januari 2001. Kalangan krama Bali beragama Hindu umum menyebutnya "peteng pitu". Adalah Lubdhaka si pemburu miskin yang berbahagia dalam perjalanan hidupnya. Tetapi sebagaian orang lagi gelap merupakan media dalam mendapatkan ketentraman batinnya. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan. tentu perbuatan membunuh. Hari tersebut dikenal dengan nama Siwalatri/Siwaratri atau Malam Siwa. Dan bahkan malam itu adalah malam tergelap dibanding malam-malam lainnya. . Dikatakan berbahagia. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Misteri kematian dan perjalanan arwah Lubdhaka tidak banyak yang mengetahuinya. sekalipun tidak disadari karena secara kebetulan. tetapi bisa masuk surga sesudah meninggal. Karena menurut mereka di dalam gelap bercokol setan dan berbagai mahluk pemangsa lainnya.terpaksa. 23 Januari 2001). lantaran sekalipun dalam sehari-hari selalu melakukan tindakan sadis. Gelap bisa menakutkan dan menciutkan nyali bagi sebagian orang. Pada hari Siwaratri umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Siwa Mahadewa.

Apa yang dilakukan Lubdhaka sehingga memperoleh tiket masuk surga setelah mati? Suatu hari lelaki itu seharian berburu. hingga ia berhak masuk sorga. melihat bayangan binatang saja tidak. Ternyata malam saat Lubdhaka menginap di hutan adalah Malam Siwa (Siwa Latri). Waktu itu sebagai pemburu Lubdhaka tidak memiliki motip lain. namun sama sekali tidak mendapat binatang buruan. Waktu itu jangankan ia berhasil memanah seekor binatang untuk dibawa pulang. Aktivitas Lubdhaka malam itulah mendapat pahala dari Hyang Siwa. lantas Lubdhaka memilih memanjat sebuah pohon yang lumayan rindang. Lubdhaka boleh saja berharap. Kecuali satu harapannya. jengkel bercampur lelah fisik karena lapar dan harus Lubdhaka memutuskan tidak bertolak pulang menemui istri dan anak-anak kesayangannya. Ia memilih berdiam di sebuah pohon dekat telaga yang airnya sangat bening. malam itu ia akan menemukan binatang dan berhasil memanahnya untuk dibawa pulang. Dengan perasaan pasrah dan nekat ia memutuskan bermalam di hutan. serta dalam petikan lelaki itu tpat mengenai patung Siwa tersebut. Untuk menahan kantuknya tangan memetik satu persatu dahan pohon yang tidah. .Pemburu tersebut dalam mitologi HIndu meniggal beberapa hari setelah Siwaratri lantaran menderita suatu penyakit. antisipasinya supaya terhindar dari sergapan binatang buas. Pohon yang dinaiki adalah pohon Bila. padang perburuannya seorang diri. Sangat apes hari itu perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu profesional. Malah dalam malam gelap ia dilanda ketakutan. namun kenyataannya sampai tengah malam yang sunyi senyap hasilnya tetap nihil. Dimana dibawah pohon tempatnya memanjat ada sebuah telaga dan perwujudan Siwa beryoga. bertahan di hutan. karena takut jatuh otomatis laki-laki tetap terjaga (jagra) sampai pagi. Dalam kehampaan. Istri dan anak-anaknya merasa kehilangan. yakni malam payogan Hyang Siwa.

Sarasvati berarti aliran air yang melimpah menuju danau atau kolam. Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Jawa Bali. menahan haus. siddhir bhavantu mesada. lapar. Beryoga.) Hanya Engkaulah yang . Malahan di kalangan umat Hindu sendiri hal ini masih menjadi masalah yang patut untuk didiskusikan. rupa siddhi prayukta ya. Ia juga sering dihubungkan dengan pemujaan terhadap deva Visvedevah disamping juga dipuja bersamaan dengan Sarasvati. Sarasvati dalam Susastra Hindu di Indonesia Tentang Sarasvati di Indonesia telah dikaji oleh Dr. varade kama rupini. tidak tidur dan menahan nafsu-nafsu lainnya. siddhirambha karisyami. yakni pada setiap Saniscara Umanis Watugunung. Paramatmanam eva ca. pantaskah seorang Lubdhaka yang melakukan pembunuhan terhadap sarwa buron ini mendapatkan pengampunan hanya karena melakukan kegiatan begadang semalam suntuk.Aktivitasnya itu sama nilainya dengan yang dikerjakan Siwa. Sarasvati dipuji dan dipuja lebih dari delapan puluh re atau mantra pujaan. Sarasvati dalam Veda Di dalam RgVeda. Apabila seorangpemangku melakukan pemujaan pada hari Sarasvati.. Sarasvati (n) namamy aham. Tutur dan Kakavin yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Five Studies in Hindu-Balinese Religion (1964) dan menggunakan acuan atau sumber kajian adalah tiga jenis naskah. ia mengucapkan dua bait mantra berikut : Om Sarasvati namas tubhyam. Sarasvati di Bali dipuja dengan perantaraan stuti. stava atau stotra seperti halnya dengan menggunakan sarana banten (persembahan). Pranamya sarya-devana ca. C. artinya begini. Hooykaas dalam bukunya Agama Tirtha. Arti Kata Sarasvati. yaitu: Stuti. antara penguasa neraka dan surga. Perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu sampai masuk sorga cukup kontroversial. Sarasvati 1-2. Kata Sarasvati dalam bahasa Sanskerta dari urat kata Sr yang artinya mengalir. Di Khayangan rohnya sempat menjadi rebutan.

Makna Penggambaran Dewi Saraswati Tubuh dan busana putih bersih dan berkilauan. Engkau pula yang penuh keutamaan dan Engkaulah yang menjadikan segala yang ada. Atribut ini melambangkan : vina (di tangan kanan depan) melambangkan Rta (hukum alam) dan saat alam tercipta muncul nadamelodi (nada . emngingatkan kita terhadap nilai ilmu yang murni dan tidak tercela (Shakunthala. pemberi berkah. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karuniaMu Pendahuluan Berbagai usaha atau jalan yang terbentang bagi Umat Hindu untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. karena kemuliaan-Mu pula semua yang mulia menyatu Om Sarasvati namotubhyam varade kama rupini. wujud kasih bagai seorang ibu sangat didambakan. Didalam Brahmavaivarta Purana dinyatakan bahwa warna putih merupakan simbolis dari salah satu Tri Guna. Engkau keutamaan dari setiap istri yang mulia. kainnya yang putih menunjukkanbahwa ilmu itu selalu putih. pustaka (kitab suci dan sastra). Vahana. aksamala (tasbih) dan kumbhaja (bunga teratai). siddhirambha karisyami siddhir bhavantu mesada Sarasvatistava I) Om Hyang Vidhi dalam wujud-MU sebagai dewi Sarasvati. Demikian pula tingkah laku seorang anak yang sangat mulia. yaitu Sattva-gunatmika dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari lima jenis Prakrti. sarasvati duduk diatas bunga teratai dengan .menganugrahkan pengetahuan yang memberikan kebahagiaan. 1989: 38). memegang vina (sejenis gitar). Berbagai aspek kekuasaan dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa dipuja dan diagungkan serta dimohon karunia-Nya untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. Tuhan Yang Maha Esa digambarkan atau diwujudkan dalam alam pikiran dan materi sebagai Tuhan Yang Berpribadi (personal God). Ilmu pengetahuan diidentikan dengan Sattvam-jnanam Caturbhuja : memiliki 4 tangan. Aksamala (di tangan kanan belakang) melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tanpa keduanya ini manusaia tidak memiliki arti. Suara Om adalah suara musik alam semesta atau musik angkasa. untuk kepentingan Bhakti. Demikian pula Tuhan Yang Maha Esa yang sesungguhnya tidak tergambarkan dalam alam pikiran manusia. Engkau sesungguhnya permata yang sangat mulia.brahman) berupa Om.

dewi yang memberikan inspirasi dan kahirnya ia dipuja sebagai dewi ilmu pengetahuan. Ya Tuhan Yang maha Esa. Keseluruhan proses . EKONOMI. maka Sarasvati di dalam Veda pada mulanya adalah dewi Sungai yang diyakini amat suci. Semoga semuanya memperoleh keutamaan dan semuanya terbebas dari segala duka dan penderitaan. Angsa adalah sejenis unggas yang sangat cerdas dan dikatakan memiliki sifat kedewataan dan spiritual. Semoga semuanya memperoleh kedamaian. anugrahkanlah semoga semuanya memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. Angsa yang gemulai mengingatkan kita terhadap kemampuannya membedakan sekam dengan bijibijian dari kebenaran ilmu pengetahuan. KONSEP KEPEMIMPINAN. 1989 : 38).. kejernihan pikiran serta kerahayuan yang didambakan oleh setiap orang. 25. PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN AGAMA HINDU Kepemimpinan Hindu Dalam kehidupan manusia didunia ini banyak ditemui usaha kerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. Demikian semoga Ida Sang Hyang Widhi senantiasa memberikan waranugrahanya berupa inspirasi. sarve bhadrani pasyantu. Dalam perkembangan selanjutnya.Penutup Berdasarkan uraian-uraian diatas. Sarasvati adalah dewi Ucap. seperti angsa mampu membedakan antara susu dengan air sebelum meminum yang pertama.kendaraan angsa atau merak. ma kascid duhkh bhag bhavet. Om Sarve sukhino bhavantu. Perwujudan Dewi Saraswati sebagai dewi yang cantik bertangan empat dengan berbagai atribut yang dipegangnya mengandung makna simbolis bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber ilmu-pengetahuan. sumber wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Catur Veda dan lain-lain menunjukkan bahwa simbolis tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi dengan latar belakang filosofis yang sangat dalam. Kendaraan yang lain adalh seekor burung merak yang melambangkan kebijaksanaan (Shakunthala. sarve santu niramayah.

Sedangkan Organisasi non formal memiliki struktur yang semi permanen. Dari uraian diatas ada empat implikasi penting. 1995:8). Setidaknya ada dua jenis organisasi yaitu Organisasi formal dan non formal. Dengan kata lain organisasi adalah proses atau rangkaian kegiatan kerja sama sejumlah orang. yaitu 1) Kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikutnya. karena didalam kepemimpinan hadir suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi tugas-tugas yang berhubungan dengan kegiatan antar kelompok. tetapi pada kenyataannya sering kali sangat kompleks. Organisasi formal memiliki struktur yang relatif permanen. prosedur dan mekanismenya mudah berubah sesuai dengan kebutuhan dan keputusannya cenderung ditentukan oleh kesepakatan bersama. pasti memeriukan seseorang untuk menempati posisi pemimpin (leader). Sehubungan dengan itu maka kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan / kecerdasan mendorong sejumiah orang agar bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama (Nawawi dan Handari. Kepemimpinan adalah proses mendorong dan membantu orang lain untuk bekerja secara antusias ke arah tujuan.kerjasama itu dinamakan organisasi. semua kualitas kepemimpinan dari seorang manajer akan tidak . Kepemimpinan juga berarti aktivitas mempengaruhi orang lain untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela. Dengan kata lain pemimpin adalah orangnya dan kepemimpinan adalah kegiatannya. pasti dan teratur. 1 995:9). Seorang pemimpin didalam sebuah organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan. Baik organisasi formal maupun non formal. Dengan kata lain kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan apa yang diinginkan untuk dikerjakan oleh orang lain. prosedur dan mekanisme yang statis. Konsep demikian kelihatanya sederhana. untuk mencapai tujuan tertentu (Nawawi da Handari. Dengan keinginan mereka untuk menerima pengarahan dari pimpinan. maka status pemimpin menjadi jelas dan membuat proses kepemimpinan memungkinkantanpa ada yang mengarahkan.

Seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan lebih dari kelompok yang dipimpin. dan mempertahankan kekuasaan. Pada politiklah semua berlindung. kama. artha.relevan. 3) Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku-perilaku pengikut dalam sejumlah cara. pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan. Hindu memandang politik tidak semata-mata sebagai cara mencari. semua aturan hidup hilang musnah. Pada politiklah semua awal tindakan diwujudkan. pada politiklah semua dunia terpusatkan". sebagai berikut:"manakala politik telah sirna. 2) Kepemimpinan melibatkan sebuah pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan anggota kelompok. Ini adalah sebuah catatan berharga bahwa meskipun kepemimpinan dihubungkan dalam kepetingan dalam manajemen. melainkan adalah bagi penegakkan Dharma.dharma. semua kewajiban manusia terabaikan. Dalam bab yang lain dijelaskan pula bahwa: "ketika tujuan hidup manusia . 4) Aspek gabungan dari ketiganya yang mengakui bahwa kepemimpinan adalah sebuah nilai (value). hal 147. dan moksa semakin jauh. veda pun sirna pula. Hal ini banyak dijelaskan dalam percakapan antara Bhagawan Bhisma dengan Yudhistira pasca perang Bharatayudha. pada politikiah semua pengetahuan dipersatukan. Akan tetapi. pada politiklah semua kegiatan agama/yajna diikatkan. Politik Hindu Banyak pihak yang beranggapan bahwa politik adalah kotor karena politik selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Begitu juga pembagian masyarakat semakin kacau. kepemimpinan dan manajemen bukanlah konsep yang sama. yaitu dalam Santi Parwal LXIII. maka pada politikiah semua berlindung. dan pada politiklah dunia terpusatkan" .

Untaian kalimat dalam Santiparwa tersebut mengisyaratkan bahwa antara Politik dan Agama mempunyai kaitan yang sangat erat. Kalimat ini menunjukkan bahwa sasaran pokok dalam politik Hindu adalah kebahagiaan rakyat. dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). yang diatur sangat Hirarkis. Dalam Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa "apa yang menjadikan raja senang bukanlah kesejahteraan. berorientasi ke atas. dan kebenaran yang apabila dilanggar maka akan berakibat pada kehancuran umat manusia. yaitu politik Hindu adalah untuk menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. mamukti sukha wibawa. sebagai aktualisasi dari konsepsi "raja adalah keturunan Dewa". menjalin hubungan dengan perdagangan dengan kerajaan India dan mengadopsi konsep-konsep Hindu. kemuliaan adalah pasti ("sang sura menanging ranaggana. Para pemimpin waktu itu berusaha dengan bantuan para Pendeta Hindu. Antara politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak dapat dipisahkan. bukanlah kesejahteraan penguasanya karena penguasa yang berhasil membawa rakyatnya pada kebahagiaan tertinggi. Yang sangat mencolok adalah pengaruh kepada organisasi negara. Selayang Pandang Kepemimpinan di Era Hindu Indonesia Tanda-tanda tentang adanya pengaruh agama Hindu. selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang rat). Dari peninggalan itu dapat disimpulkan bahwa gaya huruf dari tulusan ini yang digolongkan sebagai huruf Pallawa dan bila diperhitungkan umurnya kira-kira abad keempat Masehi. untuk . Dharma adalah hukum. baik untuk mengatur negara maupun kerohanian. Melalui konsep "raja adalah keturunan Dewa" maka kekuasaan raja menjadi absolut. kewajiban. dapat dibaca pada batu tertulis (Prasasti) di Kalimantan dan di Jawa Barat. tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang raja". dan sebaliknya dharma yang dijaga akan membawa kemuliaan (dharma raksatah raksitah). bogha wiryawan"). Kerajaan pribumi pada waktu itu. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan.

maka rakyatpun akan melindungi pemimpin itu sendiri ibaratnya Singa dan hutan yang saling melindungi. Siwa dan Dewa lainnya) pada dirinya guna melegitimasi kekuasaanya. Pemimpin yang ingin diakui oleh masyarakat adalah mereka yang berhasil "Mbrojol selaning Garu" (Iolos dari seleksi yang ketat). demikianlah keberadaan pemimpin dengan yang dipimpinnya. lindungilah rakyat dengan penuh kehormatan. Tetapi yang terjadi tidak selalu demikian. Wisnu.2).4. pemimpin juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Hal ini nampak jelas dalam kutipan sebagai berikut: Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti kebenaran dan dharma. hadirlah sebagai pemimpin yang utama. Kepemimpinan dalam Sastra-Sastra Hindu Dalam ajaran Agama Hindu banyak sekali ditemukan ajaran tentang kepemimpinan. maka semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan menyebarkan dharma kepada masyarakat luas (Atharva Veda: 3.menarik garis keturunan kepada Dewa (Brahma. Bila seorang pemimpin memperhatikan masalah kesejahteraan rakyat serta mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat. dalam kitab Atharva Veda: 3. serta mencukupi kebutuhan rakyatnya. Ia tersebar mulai dari Weda sampai pada berbagai sastra Hindu.1 dijelaskan tentang tugas seorang pemimpin sebagai berikut: Wahai pemimpin negara. datanglah dengan cahaya. Disamping sebagai pelindung rakyat.4. Waktu itu diyakini. seluruh penjuru mamanggil dan memohon perlindunganmu. . bahwa hanya keturunan Dewa bisa menjadi pemimpin. raihlah kehormatan dan pujian dalam negara ini.

(Atharva Veda: 5. (Rg Veda: 4. mati dibunuh oleh persekutuan si burung siung. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV. si gajah yang besar dan kuat namun angkuh. 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang . Pada hari-hari tertentu wargi-wargi itu bertemu di Pura. yaitu Sama.50. Beda.6) Dalam Nitisastra 1. 1 1 disebutkan bahwa : Orang tidak boleh tanpa Asraya (tempat mohon bantuan) namun usahakanlah Mahasraya. yang menggalang rasa kelompok dan rasa bakti kepada raja. Lihatlah itu si ular naga yang mencari tempat berlindung pada Bhatara Siwa karena Baktinya ia dijadikan kalung oleh Bhatara Siwa. Namun dalam hal ini raja harus cerdik melaksanakan segala upaya mempersatukan rakyatnya. Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang dipimpinnya. melindungi rakyatnya dengan selalu meminta perlindungan Tuhan. Ketika burung Garuda datang (musuh ular) terpaksa ular itu dihormati pula. Persekutuan dan persatuan merupakan suatu kekuatan yang maha besar sehingga akan mampu menumbangkan kekuatan sebesar apapun. Dalam Tantri Kamandaka. Warga-warga disatukan. sebaliknya rakyatpun akan selalu menghormati.19.Pemimpin yang tidak terkalahkan. dipersaudarakan dengan menyatukan pura kawitannya dalam satu kompleks pura dengan pura raja dan menyebut mereka wargi sang raja. Dana dan Danda. dan melindungi pemimpin tersebut. Dalam sastra Jawa Kuno dikatakan bahwa Raja harus melaksanakan taktik Catur Upaya Sandhi.9) Bila seorang pemimpin yang pemarah dengan kesombongannya ingin menghancurkan dan menghina para Brahmana yang ahli Veda. maka negara tersebut akan hancur. Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat. Penguasa-penguasa di Bali jaman dahulu rupa-rupanya memaklumi hal ini sehingga beliau melaksanakan strategi menggalang persatuan rakyat dalam wilayahnya. lalat dan katak.

dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak kentara. Bhatara Surya selalu menghisap air. 2. Bayu. tiada rintangan. 7. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII. Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya. demikianlah engkau mengambil penghasilan. 8.ideal. Selalu membakar musuh itu perilaku api. Nikmatilah hidup dengan nikmat. beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja. Baruna. Ia menjatuhkan hujan menyuburkan bumi. Agni. sumbangansumbanganmu itulah bagaikan hujan membanjiri rakyat. Yama.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia. 4. itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya. Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat. tidak membatasi makan dan minum. tersembunyi namun mulia. Sang Hyang Indra usahakan pegang. yang demikian disebut Dhanabrata patut diteladani. pelan-pelan olehnya. berpakaian dan berhiaslah. 3. Surya. Bagaikan anginiah engkau waktu mengamati perangai orang. kejammu pada musuh itu . karena Ida Bhatara ada pada dirinya. Candra. ia memukul pencuri sampai mati. hendaklah engkau mengetahui pikiran rakyat semua. Adapun terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana adalah: "Dan ia disuruh untuk menghormatinya. senyummu manis bagaikan amerta. inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata. perilaku lemah lembut tampak. 5. Indra brata. itulah engkau tiru Pasabrata. Kuwera. delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu. setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau hormati. demikian delapan jumlahnya. inilah Bayu brata. Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit. engkau mengikat orang-orang jahat. itulah sebabnya disebut Asta Brata" 1. setiap yang merintangi usahakan musnahkan. 6. tiada cepatcepat demikian Surya Brata. Hyang Indra. demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat.

demikianlah yang disebut Agnibrata. Tuntunan Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin. disimpulkan dalam dharma yang mengandung pengertian segala sesuatu yang mendukung orang untuk mendapatkan kerahayuan. si mangraksa rat juga. Dalam kakawin Ramayana. yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh bertidak sesuka hatinya ketika ia memegang kekuasaan. Makambek mangakana Terjemahan: .usahakan. manupadesa prihatah rumaksa ya. Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin negaranya ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya. Petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra sastra Jawa Kuna. Dari semua hukumhukum yang harus dipedomani oleh seorang pemimpin.ika ta sang prabu.asihning wwang ringSarwa bhuta marikang dharma mangkana ngaranyaKotamaning asih ika pagawenta piratrana ring rat. setiap engkau serang cerai berai dan lenyap. Artinya: Tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti Petunjuk-petunjuk hukum Manu (Manawa dharmasastra) usahakan pegang Hilangnya penderitaan itulah tujuannya Cinta orang tentu akan kita jumpai. Jananuragadi tuwi kapangguha. Ksaya nikang papa nahan prayojana. Bhismaparwa dan lain-lain dijumpai uraian dharma sebagai pedoman raja (pemimpin) dalam memimpin negaranya. Mtangian mangkana. "sakanikang rat kita yan wenang manut. Ika ta prassidha dharma ulahaning kadiKita prabhu.

(slokantara 40) Terjemahan : Pelayan dapat meninggalkan rajanya. byakta sira tininggal ing wadwa nira. Kutipan ini menunjukkan beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang pemimpin agar tak ditinggalkan oleh para pengikutnya.sayangmu pada semua makhluk dharma namanya. Bila ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif. yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira. Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. yan hana ratu akeras mapanas ing gawe. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan dan orang yang hina dimuliakan. yan hana ratu mangkana tininggal sira de ning janma wwang kulina janma. yaitu raja yang mencampurbaurkan persoalan. awisesa ngaranya manarub. ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa. yang hana wang adhahjati dinuhuraken.penampilan kasih sayang itulah kamu kerjakan. demikianiah sang prabhu (pemimpin) seharusnya bertingkah laku. Kutipan diatas diambil dari Bhismaparwa. Apabila sang Prabhu tidak melaksanakan tugas-tugasnya sebagai raja yang melindungi rakyat dan negara. yeka anarub ngaranya. bila raja kejam dan bengis tindakannya. leheng ikang ratu makeras swapadi ngrutu makumed tar paradanda. Lebih baik raja yang kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang.yang merupakan nasehat Bhagawan Bhisma kepada Prabhu Yudistira. ya hana wwang kulina janma sinoraken.Demikianlah dharma yang sempurna engkau kerjakan sebagai raja melindungi negara. untuk melindungi negara. itulah mencampur-baurkan namanya. Petunjuk tentang itu dapat diketahui dari kutipan berikut: "Laku bhrtya matinggal ratunya. Seorang pemimpin yang baik menurut ajaran Hindu haruslah memperhatikan masalah . tidak menjadi panutan yang dipimpinnya. Raja yang kikir dan sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa. sebabnya demikian. maka ia akan kehilangan kekuasaannya karena ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya.

Bhukti akaharepta wehing bala kasukan. 54) Terjemahan: Pura-pura (tempat suci). Kepemimpinan Yang Paripurna Menurut Hindu "Gunamanta Sang Dasarata Wruh Sira Ring Weda Bhakti Ring Dewa Tarmalupueng Pitra Puja Masih Ta Sireng Swagotra Kabeh" Kutipan bait Ramayana di atas. (Ramayana III. seorang pemimpin harus memiliki kedua sifat dalam dirinya. yaitu sifat seorang Ksatria yang gagah berani dalam menegakkan dharma. KERAGAMAN RITUAL .kesejahteraan para pengikutnya.Mas ya ta pahawreddhin bhaya ring hayu kekesan. Dharma. menegaskan bahwa seorang pemimpin yang sempurna dalam konsep Hindu adalah seorang Rajarsi atau satria pandita. artha. Nikmatilah apa yang kamu ingini berilah kesejahteraan. Petunjuk tentang itu dapat dilihat pada nasehat Rama kepada Wibisana berikut ini: Dewa kusala salam mwang dharma ya pahayun. dan seorang pandita yang arif bijaksana. Dharma kalawan artha mwang kama ta ngaranika. Artinya. Santasih nitya thaganan Kasih sayang hendaknya engkau selalu lakukan. (Kakawin Ramayana III. rumah sakit dan pedarman supaya diperbaiki. dan kama namanya demikian itu. 65) Kutipan ini juga mengandung makna bahwa raja atau pemimpin harus mengembangkan nilai kejujuran (satya ta sira mojar) dan karena itu semua rakyat akan segan terhadap raja atau pemimpinnya. dan penuh cinta kasih. selalu dalam kesucian. 26. supaya diperbanyak untuk biaya pembangunan disimpan baik-baik.

tetapi juga ajaran untuk berperilaku. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kalapatra. tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki kitab suci dan ajarannya hanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun. Dengan teks-teks ini semakin pentingnya pengetahuan esoterik korespondensi diamati dibandingkan dengan tindakan ritual. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. tidak terkekang oleh dogmadogma yang salah atau kedaluwarsa. .ritual Hindu adalah representasi dari Upanishad yang melanjutkan pekerjaan Brahmana dan Aranyakas dalam menafsirkan makna dari ritual srauta. The earlier Upanisads continue the magical speculations of the Brahmanas. desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. yang berpendirian bahwa pengetahuan tentang korespondensi antara ritual dan kosmos adalah semacam kekuasaan. Bagianbagian pada pengetahuan (jnanakanda) didahulukan dari bagian pada ritual (karmakanda). berkembang dan hidup yang wajar. With these texts the increasing importance of knowledge of esoteric correspondences are observed as compared to ritual action. APLIKASI WEDA DI KALTENG Sebelum datangnya agama-agama tradisi besar dan resmi diakui oleh pemerintah Indonesia. The sections on knowledge (jnanakanda) take precedence over sections on ritual (karmakanda). asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. which maintained that knowledge of the correspondences between ritual and cosmos is a kind of power. The Upanisads sebelumnya melanjutkan spekulasi magis dari Brahmanas. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri. masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri. kami hanya ingin tumbuh. Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat. 27. yang disebut Kaharingan.

Islam telah masuk ke Kalimantan sejak abad ke-13. dan sebagainya. tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia. suara burungburung tertentu. kesialan. Dalam upaya Kristenisasi dan Katholikisasi terhadap Suku Dayak di pedalaman. masyarakat Dayak mempercayai banyak dewa di sekitar mereka. Upaya penyebaran agama-agama tradisi besar ini cukup berhasil. Melayu. Mereka percaya adanya Tuhan. Dengan keterbukaannya tersebut. ada ular yang melintas di depannya. sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit. dan sebagainya. maka dimanfaatkan oleh kaum misionaris untuk menyebarkan agamanya. bantuan ekonomi. dibawa oleh kaum pendatang yang berasal dari daerah lain. Sedangkan kegiatan misionaris agama Kristen Katholik dan Kristen Protestan telah masuk ke pedalaman Kalimantan dan berjalan dengan gencar sejak abad ke-19. yang sebutannya berbeda-beda antara Sub suku Dayak satu dengan yang lainnya. terdapat dewa yang tertinggi. Dari dewa-dewa tersebut. dan sebagainya. Suku Dayak yang tinggal di daerah pesisir dan banyak berhubungan dengan para pendatang dari suku-suku lain. terutama dalam merekrut generasi mudanya sehingga pada saat ini sebagian besar generasi muda Dayak telah memeluk agama Islam. dan pelayanan kesehatan.Menurut kepercayaan Kaharingan. Bugis. dan sebagainya. Kristen. Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin terhadap dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana. sakit. Hal ini bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. misalnya Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi Mahatara. seperti bantuan pendidikan. termasuk di antaranya kehadiran agama-agama tradisi besar. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam apabila hendak bepergian jauh. seperti dewa-dewa yang menguasai tanah. Akan tetapi sebagian dari mereka tetap . melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut. maupun Katholik. Suku Dayak sangat terbuka dengan pengaruh budaya luar. batu. seperti Jawa. pohon. seperti arah terbang burung. sungai. banyak yang kemudian memeluk agama Islam. mereka banyak menggunakan media pelayanan sosial.

salah. Di satu pihak mereka harus memilih salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah. dan Budha. yaitu Islam. rasa menghargai terhadap semua makhluk hidup yang ada di alam lingkungan. khususnya dengan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Suku Bali sebagai penganut agama Hindu Dharma mayoritas di Indonesia. penghormatan terhadap leluhur. Banyak upacara Suku Dayak yang berhubungan dengan upacara kematian. dan harus diluruskan sesuai dengan ajaran agama mereka. Kedatangan agama-agama tradisi besar tersebut di atas ternyata juga membawa dampak buruk terhadap kehidupan orang-orang Suku Dayak.bertahan pada kepercayaan Kaharingan. Hal ini mengakibatkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. sementara di pihak lain ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionanis dan penyebar agama tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka. Kristen. Pada akhirnya para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu Dharma sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar antara keduanya. pemujaan roh nenek moyang yang telah meninggal. seperti pelestarian hutan. Katholik. Hal ini dikarenakan agama-agama tradisi besar pada umumnya memandang kepercayaan-kepercayaan di luar mereka sebagai sesuatu yang eksotik. . Sementara itu keberadaan agama Kristen dan Katholik juga tidak mendukung pelestarian adat-istiadat dan tradisi Suku Dayak. hilang pula nilai-nilai dan normanorma yang terkandung di dalam tatanan masyarakat Dayak. orang Melayu dengan agama Islamnya identik dengan kemajuan dan kemoderenan. Dengan hilangnya upacara-upacara tersebut. Hindu Dharma. dan sebagainya. Seorang Dayak yang sudah menganut Islam akan merasa malu mengakui dirinya sebagai orang Dayak. sedangkan orang Dayak dengan kepercayaan Kaharingan-nya identik dengan ketertinggalan dan kekolotan. seperti upacara Tewah/Dalo. dan pemujaan alam lingkungan yang dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katholik. Ia akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Melayu Menurut pandangan mereka. upacara penolak bala dan sebagainya. Pada jaman Orde Baru pemerintah memberlakukan lima agama besar yang resmi diakui di Indonesia.

tumbuhan. dan dikremasi. dan sebagainya. Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam . hutan Manfaat dan arwah hutan nenek bagi moyang orang yang Dayak. berkaitan dengan sumber mata pencaharian : hutan sebagai sumber kehidupan karena merupakan tempat untuk berburu binatang dan mencari makanan. Panca Wali Krama. Di Bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam masih berjalan lestari sampai saat ini. Lingkungan alam yang paling dekat dengan Suku Dayak adalah lingkungan hutan. melindungi antara lain: a. pertemuan sungai. berkaitan dengan kepercayaan hutan sebagai tempat tinggal dewa penguasa manusia. disemayamkan di atas tanah atau diatas pohon di dalam hutan. baik ke dalam tubuh manusia. yaitu dikubur di dalam tanah. atau bersemayam pada benda-benda mati. 3) Upacara yang berkaitan dengan pemujaan kepada lingkungan alam. Eka Dasa Rudra. puncak-puncak gunung. Upacara ini mempunyai persamaan dengan di Bali. setelah beberapa tahun kemudian digali kembali dan tulang-tulangnya dibakar.Persamaan antara kepercayaan Kaharingan dengan ajaran Hindu Dharma adalah sebagai berikut 1) Percaya Reinkarnasi. misalnya batu besar. di mana jenazah orang yang meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah. dan sebagainya Setelah bergabung dengan agama Hindu Dharma. 2) Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur. maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan. atau disemayamkan di atas tanah. yaitu percaya bahwa roh yang telah meninggal dapat lahir kembali. Sedangkan di Bali arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga). b. Sedangkan Dayak Ngaju menguburkan jenazah di dalam tanah terlebih dahulu. Orang-orang Dayak memiliki tradisi yang beraneka ragam dalam memperlakukan jenazah dengan tiga cara. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. binatang. yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu Dharma. seperti upacara Tawur Agung.

antara lain BAKDI (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia) dan Majelis Hindu Kaharingan. Sebagian lagi menyatakan bahwa Hindu Kaharingan sebagai agama yang berdiri sendiri.agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di Indonesia. dan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah. yaitu mengapa umat Hindu Kaharingan terpecah menjadi dua? Di satu pihak menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma. sejajar dengan agama-agama lainnya. dapat diketahui permasalahannya. Hal ini terlihat dari beberapa nama majelis yang ditawarkan sebagai wadah umat Hindu Kaharingan. Di pihak lain. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di luar PHDI. Kebijakan apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini? Antara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. sebagian dari mereka menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. terpisah dari agama Hindu Dharma. di lain pihak menginginkan Hindu Kaharingan berdiri sebagai agama tersendiri. . Sebagian dari mereka menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma dengan tetap mengakui PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu yang resmi diakui oleh pemerintah. maka timbul perpecahan di antara umat Hindu Kaharingan. Dari uraian di atas. Pada saat ini mereka tengah memperjuangkan kepada pemerintah agar agama Hindu Kaharingan dapat diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah. Namun tampaknya juga belum ada kesepakatan bersama dalam membentuk “PHDI Tandingan” ini. lepas dari agama Hindu Dharma. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan. Pihak yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Ketika kekuasaan Orde Baru runtuh dan bergulir semangat reformasi.

ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana. sedangkan Bhuta Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta. Pitra Yadnya. perkawinan. binatang dan tumbuhan. yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan manusia. dan kematian e) Bhuta Yadnya. -------------. yaitu makhluk halus. yaitu upacara yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran manusia d) Manusa Yadnya. nabi atau kaum ulama. seperti kehamilan. laut. atau sering disebut dengan Panca Yadnya. kelahiran.Suksma -------------- . pandita. Dengan demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita Karana. seperti gunung. dan manusia dengan alam semesta. yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Upacara adalah sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di dalam Tri Hita Karana tersebut.Konsep-Konsep Upacara dalam Ajaran Hindu Dharma Di dalam ajaran agama Hindu Dharma. manusia dengan manusia. karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci kepada manusia c) Pitra Yadnya. upacara-upacara keagamaan terbagi dalam lima kelompok besar. yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi. yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia. yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh b) Rsi Yadnya. dan sebagainya. sungai. dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan manusia. Di samping konsep Panca Yadnya. upacara Rsi Yadnya. Kelima manifestasinya kelompok (perwujudan hesar Tuhan dalam tersebut bentuk adalah: dewa-dewa). a) Dewa Yadnya. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan.