JAWABAN SOAL UJIAN STUDI AGAMA HINDU 1. PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA, INDONESIA DAN KALIMANTAN TENGAH a.

Perkembangan Agama Hindu di India Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Agama Hindu pertama kali dikenal di India. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 Jaman/fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. 1. Jaman Weda–>Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut “Rta”. Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra. 2. Jaman Brahmana–>Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya “Tata Cara Upacara” beragama

yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. 3.Jaman Upanisad–>Pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. 4.Jaman Budha–>pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Agama Hindu makin lama semakin menyebar mulai dari India Selatan hingga keluar dari India dengan berbagai cara, sterutama melalui perdagangan bebas Internasional. Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini “Maitra Waruna” yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi. Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari

India. Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orangorang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan “Aztec” yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini. Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saatsaat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini disebut Inca. Kata “Inca” berasal dari kata “Ina” dalam bahasa Sanskerta yang berarti “matahari” dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya. Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park). Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda “Tri Kuta” atau tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman

karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama. kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan. ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi. Pada Jaman Brahmana. yang disebut "Rta". Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa. Ksatriya.Budha. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi. Vaisya dan Sudra. Indra. Varuna. namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Salah satu peninggalan yang menarik. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi. yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta. Kitab Brahmana. masyarakat dibagi atas kaum Brahmana. Sedangkan pada Jaman Upanisad. Siwa dan sebagainya. menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. yang kemudian dikembangkan pula pada . Pada jaman ini. setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan.d 1500 tahun sebelum Masehi. sekitar 2500 s. Vayu. Walaupun Dewa-dewa itu banyak.

agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan . Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara b. perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur). menimbulkan pembaharuan yang besar.ajaran Darsana. Tempat itu disebut dengan “Vaprakeswara“. menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan menghubungkan sistem yoga diri dan semadhi. dengan Agama Hindu. dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. Perkembangan Agama Hindu di Indonesia Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi. dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta". dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Itihasa dan Purana. pada Jaman Budha ini. Selanjutnya. Sejak jaman Purana. sebagai jalan untuk Tuhan. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: “Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman”. Masuknya agama Hindu ke Indonesia. misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia. pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.

Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi). Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa “Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti. Jambu.diketemukannya tujuh buah prasasti. diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi. Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi. Cakra. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa. Tugu dan Lebak. agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah. Selanjutnya. Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa. Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal. dengan Candra Sengkala berbunyi: “Sruti indriya rasa”. Pasir Awi. Berdasarkan data tersebut. Disamping itu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu” Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Kendi. merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Muara Cianten. Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti. Kapak dan Bunga Teratai Mekar. yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur. yaitu Trisula. Kebonkopi. yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa . yakni prasasti Ciaruteun. yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu.

Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda. candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari. para Brahmana besar. misalnya Kitab Smaradahana. yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Hal ini disamping dapat dibuktikan . Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. para pendeta dan penduduk negeri. Kitab Lubdhaka. Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222). Setelah dinasti Isana Wamsa. Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit. Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa. Kitab Bharatayudha. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. sebagai pengemban agama Hindu. sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama.

sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Beliau Moksa di Pura Silayukti. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. seperti Pura Rambut Siwi. Perkembangan agama Hindu selanjutnya. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur. Menurut uraian lontar-lontar di Bali. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat . yakni pada masa pemerintahan Udayana. setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci. Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja.dengan adanya prasasti-prasasti. yang berasal dari abad ke-8. Gianyar. Khayangan Jagad. arsitektur. agama. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2. sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Surya kanta tahun1925 di SIngaraja. Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung. juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu. Perkembangan selanjutnya. Dan pada masa Dalem Waturenggong. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra. bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung). Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16.

Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Tiongkok.Belanda) . Krom (ahli . Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia. Asia Tengah. Dari lembah sungai sindhu. Kontak yang berlangsung sangat lama ini. yaitu ke India Belakang. yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia. Mookerjee (ahli .Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Berdasarkan beberapa pendapat. menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda.d 10 Oktober 1964).Belanda). Moens dan Bosch (ahli . Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Dan pada tahun 1964 (7 s. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India.India tahun 1912). diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali. dengan teori Waisya. Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis". ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.

maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti: Prasasti Dinoyo (Jawa Timur): Prasasti ini bertahun Caka 628. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu. Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia.Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya. artinya bapak dari lautan. karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma. artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. c. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali. Perkembangan Agama Hindu di Kalimantan Tengah . Data Peninggalan Sejarah di Indonesia. Prasasti Porong (Jawa Tengah) Prasasti yang bertahun Caka 785. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya. yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Pita Segara. juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia. India Selatan dan India Belakang. Yamuna. melalui sungai Gangga. diantaranya adalah: Agastya Yatra. dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.

dan bahkan pemerkosaan. dan sebagainya). Di balik dampak positif globalisasi. Dampak negatif budaya global tersebut merupakan dampak dari kehidupan modern. terutama dengan adanya kemajuan teknologi informasi mempercepat proses perubahan tersebut. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi atau era kesejagatan yang demikian tampak pesat mendera setiap bangsa. tidak dapat dihindari adalah dampak negatif budaya global tersebut. Demikian pula alat-alat komunikasi. Berkembangnya penyakit sosial seperti prostitusi.2. menggunakan hal-hal yang baik itu untuk merevitalisasi Agama Hindu dan budaya Bali. dan informasi yang sangat canggih memberikan peluang kepada masyarakat Bali yang memang sangat terbuka. ke dalam rumah dan bahkan ke dalam kamar-kamar dan kepada pribadi masyarakat. penyalahgunaan obat-obat psikotropika (narkoba. Dampak positif budaya global sangat dirasakan oleh masyarakat Bali. pencurian. Proses globalisasi telah pula merambah kehidupan agama yang serba sakral menjadi sekuler. Teknologi komunikasi dan informasi yang demikian maju memberi peluang masuknya berbagai pengaruh budaya asing. perampokan. EKSISTENSI KEBERADAAN AGAMA HINDU Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama Hindu dan budaya Bali. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya global. Wawasan masyarakat Bali terbuka untuk memetik hal-hal yang baik dari manapun berasal dan dengan kemampuannya yang selektif dan adaptif. Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global. transportasi. untuk berkomunikasi ke mana saja di belahan bumi ini. yang dapat menimbulkan ketegangan bagi umat beragama. ekstasi. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan . kurangnya solidaritas. Muncul berbagai masalah di antaranya masyarakat semakin individualis. Berbagai produk budaya global telah merambah berbagai aspek kehidupan.

bahwa Agama Hindu menjadi jiwa dan sumber nilai budaya Bali. Berbagai kearifan lokal telah terbukti mampu menjadikan Agama Hindu dan budaya Bali eksis sepanjang masa . mantan Duta Besar India. Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut. and can be an example to the rest Asia for its skill in adapting traditional cultural practices to suit a modern context. Dalam situasi yang demikian. Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Agama Hindu dan budaya Bali mampu menghadapi budaya globabal. tetapi sebaliknya memberikan pencerahan kepada budaya lokal. Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan globalisasi tersebut. Agama Hindu dan tidak menghapuskan tradisi masyarakat dan budaya Bali sebelumnya.keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika. Seperti telah disebutkan di atas. di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. namun demikian kekhawatiran sebagian masyarakat tentang dampak negatif globalisasi perlu diusahakan jalan untuk mengatasi dan mungkin mencegahnya. untuk itu kiranya perlu diketengahkan bagaimana sinergi dan dinamika Agama Hindu dengan budaya Bali dan melakukan fungsinya sesuai dengan budaya Bali. The island of Balinever lost sight of this truth while facing up to the relentless onslaught of tourism on its rich artistic heritage. Sinergi dan dinamika Agama Hindu di Bali telah melahirkan berbagai kearifan lokal. tampak beragam respon masyarakat Bali. 2005:18). Khanna dan Malini Saran yang telah beberapa kali mengunjungi Bali. dan menulis buku The Ramayana in Indonesia (2004) seperti dikutip oleh Dharma Putra dan Widhu Sancaya (2005:XV) menyatakan bahwa Bali dapat dijadikan satu contoh untuk Asia sebagai daerah yang memiliki kemampuan untuk mengadaptasi budaya tradisional agar relevan dengan budaya global. Vinod C.

Umat Hindu percaya bahwa beliau adalah Guru yang patut dihormati dan bukan berarti beliau diangap sebagai tangan tuhan di dunia ini. dan bukan Hindu saja yang percaya hal itu. IMPLEMENTASI AGAMA HINDU YANG BERSIFAT UNIVERSAL Hindu memang dikenal dengan banyaknya Upacara. umat Kristen percaya bahwa Yesus berkorban untuk umatnya. karena semua dilakukan dengan rasa bahagia dan keiklasan. karena Umat Hindu tidak pernah mengangap seperti itu. sunguh tidak sempurnanya Tuhan jika harus memiliki perwakilan di dunia. Dalam mantra Hindu seperti maha mantra Hare Krisna dan lain-lain jika diartikan disebutkan pada awalnya bukan meminta berkah sesuatu seperti doa-doa ajaran yang lain. Bagi Umat Hindu tidak ada upacara yang ribet atau tidak praktis. Bukanya hanya berdoa pada Tuhan lalu meminta berkahnya. yang mampu berdampingan dengan agama lain.3. karena walau beliau itu penuh dengan keajaiban namun beliau tetap tidak sesempurna tuhan. Tapi bagi Umat Hindu itulah cara mereka menunjukan rasa cinta dan kekaguman mereka pada sang pencipta. dengan cara apapun. Hindu bukanlah agama yang membenarkan penghapusan Dosa. Tapi memang agama tidak bisa dilogikakan. Agama Hindu tidak pernah mempersalahkan agama lain yang ada di dunia ini. secara logika saja sudah agak aneh. Hindu percaya dalam menjaga dunia ini Tuhan juga berkorban untuk kita. melainkan meminta untuk mengabdi dan berbakti pada beliau. Namun perbuatan dosa bisa diimbangi dengan perbuatan Baik. Budha pun berkorban untuk kedamaiaan pengikutnya. bagi Hindu dosa tidak bisa hapus. Dalam Hindu tidak ada namanya perwakilan Tuhan di dunia. Satu lagi mungkin juga yang membedakan Hindu dari agama yang lainya. Aneh bukan jika itu ada. banyak umat Non-Hindu yang mengangap bahwa itu tidaklah praktis. umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba yang memiliki tidak saja pengikut dari Hindu melainkan juga Umat Non-Hindu sebagai Guru Besar Spritual dalam Hindu. Tidak ada dalam Hindu memberi secarik kertas dari sebuah . Hindu merupakan agama yang universal. Itu salah. Seperti kebayakan Non-Hindu mengatakan bahwa umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba sebagai wakil tuhan di dunia.

Jangan pernah kita merasa kita ini minoritas. 4. Yang dimaksud dengan Varna adalah pilihan profesi sesuai dengan Guóa (bakat pembawaan orang) dan Karma (kerja yang dia lakoni) oleh setiap orang. sebagai tokoh ahli perbandingan agama di Indonesia pada Kongres Agama-Agama di Indonesia. Banggalah kita menjadi Hindu. melainkan Moksha atau menyatu dengan Tuhan (Brahma) . Dalam Hindu itu tidaklah ada. Hal ini kami pandang sangat perlu mengingat sampai sekarang masih ada pandangan dan buku-buku yang mendiskreditkan agama Hindu dan menganggap agama Hindu sebagai agama yang tidak bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Dr. kemudian dosa bisa dikurangi. Dipakai nama Hindu Dharma sebagai nama agama Hindu menunjukkan bahwa kata Dharma mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian kata agama dalam bahasa Indonesia. tanggal 11 Oktober 1993 di Yogyakarta menyatakan bahwa agama Hindu tidak mengenal missi karena dibatasi oleh sistem kasta. karena sebenarnya kita adalah mayoritas dalam ajaran keagamaan. sekarang mungkin kita sedikit melihat bagaimana ke agungan Hindu itu sendiri. Bahkan Prof. HINDU ADALAH SANATANA DHARMA Dalam upaya memantapkan pandangan kita terhadap ajaran Hindu Dharma terlebih dahulu kami ingin menekankan kembali nama dan sumber ajaran Hindu atau Hindu Dharma yang kita kenal sebagai satu agama tertua yang masih dianut oleh umat manusia. Mukti Ali. atau dengan membunuh orang dengan atas nama Jihad kemudian masuk sorga. Bilama Hindu tidak mengenal missi. Dalam kontek pembicaraan kita . lalu masuk sorga.perwakilan yang menyebut dirinya perwakilan Tuhan di dunia. bagaimana orang Indonesia di masa yang lalu memeluk agama Hindu? Siapakah yang menyebarkan agama Hindu ke Indonesia? Selanjutnya tentang kasta adalah bentuk penyimpanan dan interpretasi yang keliru dari pengertian Varna sebagai tersebut dalam kitab suci Veda. dan juga dalam Hindu sorga bukanlah tujuan utama mereka. Minoritas bukan berarti tidak berkualitas.

Kitab suci Veda merupakan dasar atau sumber mengalirnya ajaran agama Hindu. oleh karena itu Hindu Dharma merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Sivananda. Pakistan. Kata Vaidika Dharma berarti ajaran agama yang bersumber pada kitab suci Veda. Hindu Dharma memandang pengalaman-pengalaman para mahàrûi di jaman dahulu itu sebagai autoritasnya (sebagai wahyu-Nya). merupakan santapan rohani dan pedoman hidup umat manusia yang tentunya tidak terikat oleh kurun waktu tertentu. pengalaman-pengalaman ini sifatnya langsung dan sempurna. yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Mahadevan.1 (Dayananda. Bangladesh disebut dengan nama Bhàratavarsa yang disebut juga Jambhudvìpa. 1988: 4) Kebenaran tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa ditegaskan oleh pernyataan yang terdapat dalam kitab Taittiriya Aranyaka 1. Kebenaran yang tidak ternilai yang telah ditemukan oleh para mahàrûi dan orangorang bijak sejak ribuan tahun yang lalu. Kata Sanàtana Dharma berarti agama yang bersifat abadi dan akan selalu dipedomani oleh umat manusia sepanjang Nama asli dari agama ini masa.saat ini pengertian Dharma disamakan dengan agama. 1984: 13). membentuk kemuliaan Hinduisme. Kata Hindu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Persia yang mengadakan komunikasi dengan penduduk di lembah sungai Sindhu dan ketika orang-orang Yunani mengadakan kontak dengan masyarakat di lembah sungai Sindhu mengucapkan Hindu dengan Indoi dan kemudian orang-orang Barat yang datang kemudian menyebutnya dengan India. karena ajaran yang disampaikan adalah kebenaran yang bersifat universal.9. 1974:LI) maupun maharsi Aupamanyu sebagai yang dikutip oleh mahàrûi Yàûka . Para åûi atau mahàrûi yakni orang-orang suci dan bijaksana di India jaman dahulu telah menyatakan pengalaman-pengalaman spiritual-intuisi mereka (AparokûaAnubhuti) di dalam kitab-kitab Upaniûad. Pada mulanya wilayah yang membentang dari lembah sungai Shindu sampai yang kini bernama Srilanka. Jadi agama Hindu sama dengan Hindu Dharma.

Kitab suci Veda bukanlah sebuah buku sebagai halnya kitab suci dari agamaagama yang lain. Para mahàrûi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dihubungkan dengan Sùkta (himpunan mantra). Mantra-mantra Veda telah ada dan senantiasa ada. Oleh karena kemekaran intuisi yang dilandasi kesucian pribadi mereka. melainkan terdiri dari beberapa kitab yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Saýhità) yang dikenal dengan Catur Veda . Demikian pula para maharsi diakui sebagai penemu atau penerima wahyu tuhan Yang Maha Esa yang memang telah ada sebelumnya dan karena penemuannya itu mereka dikenal sebagai para maharsi agung. 1988: 5).11 (Loc. Untuk itu umat Hindu senantiasa memanjatkan doa pemujaan dan penghormatan kepada para Devatà dan maharsi yang menerima wahyu Veda ketika mulai membaca atau merapalkan mantra-mantra Veda (Chandrasekharendra. Para maharsi menerima wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam) melalui kemekaran intuisi (kedalaman dan pengalaman rohani)nya. Selanjutnya Úrì Chandrasekarendra Sarasvati. merealisasikan kebenaran Veda. karena merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa.Cit). Bila Veda merupakan karangan manusia maka para maharsi disebut Mantrakarta (karangan/buatan manusia) dan hal ini tidaklah benar. Newton atau Thomas Edison dan para penemu lainnya menemukan hukum-hukum alam yang memang telah ada ketika alam semesta diciptakan. bukan dalam pengertian atau mengarang Veda. pimpinan tertinggi Úaýkara-math yakni perguruan dari garis lurus Úrì Úaýkaràcarya menegaskan : Dengan pengertian bahwa Veda merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam atau non human being) maka para maharsi penerima wahyu disebut Mantradraûþaá (mantra draûþaá iti åûiá). para maharsi mampu menerima mantra Veda. Apakah artinya ketika seorang mengatakan bahwa Columbus menemukan Amerika ? Bukankah Amerika telah ada ribuan tahun sebelum Columbus lahir? Einstein.(Yàskàcarya) di dalam kitab Nirukta II. Devatà (Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang menurunkan wahyu) dan Chanda (irama/syair dari mantra Veda). Bagi umat Hindu kebenaran Veda adalah mutlak. Puruûeyaý artinya dari manusia. karena bersifat AnadiAnanta yakni kekal abadi mengatasi berbagai kurun waktu.

Kata Úruti berarti sabda tuhan Yang Maha Esa yang didengar oleh para maharsi. dikenal pula hiarki sumber ajaran agama Hindu yang lain yang merupakan sumber hukum Hindu adalah Småti (kitab-kitab Dharmaúàstra atau kitab-kitab hukum Hindu). Gurukula atau Saýpradaya. kemerdekaan dari pemikiran. Hindu Dharma tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir. lama kemudian setelah tulisan (huruf) dikenal selanjutnya mantra-mantra Veda itu dituliskan kembali. yakni Vyàsa yang disebut Kåûóadvaipàyaóa dibantu oleh para muridnya menghimpun dan mengkompilasikan mantra-mantra Veda yang terpencar pada berbagai Úàkha. perasaan dan pemikiran manusia. disamping kitab suci Veda (Úruti) yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tertinggi. Karakteristik Hindu Dharma Hindu Dharma memperkenalkan kemerdekaan mutlak terhadap pikiran rasional manusia. Majelis inilah yang berhak mengeluarkan Bhisama (semacam fatwa) bilamana tidak ditemukan sumber atau penjelasannya di dalam sumber-sumber kedudukannya lebih tinggi. Yajurveda. Sàmaveda atau Atharvaveda). Úìla (yakni tauladan pada mahàrûi yang termuat dalam berbagai kitab Itihàsa (sejarah) dan Puràóa (sejarah kuno).(Ågveda. Pada mulanya wahyu itu direkam melalui kemampuan mengingat dari para maharsi dan selalu disampaikan secara lisan kepada para murid dan pengikutnya. Didalam memahami ajaran agama Hindu. Seorang maharsi Agung. Àraóyaka dan Upaniûad) yang seluruhnya itu diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa Sanskerta disebut Úruti. Ia memperkenalkan kebebasan yang ajaran Hindu yang . Aúsrama. Àcàra (tradisi yang hidup pada masa yang lalu yang juga dimuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Àtmanastuûþi. Masing-masing kitab mantra ini memiliki kitab-kitab Bràhmaóa. yakni kesepakatan bersama berdasarkan pertimbangan yang matang dari para maharsi dan orang-orang bijak yang dewasa ini diwakili oleh majelis tertinggi umat Hindu dan di Indonesia disebut Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Inilah gaambaran indah tentang Hindu Dharma. bermacam-macam bentuk pemujaan atau sadhana. Tentang kemerdekaan memberikan tafsiran terhadap Hindu Dharma di dalam Mahabharata dapat dijumpai sebuah pernyataan : "Bukanlah seorang maharsi (muni) bila tidak memberikan pendapat terhadap apa yang dipahami" (Radhakrishnan. Seorang asing merasa terpesona keheranan apabila mendengar . 1989: 27). Ia memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap kemampuan berpikir dan perasaan manusia dengan memandang pertanyaan-pertanyaan yang mendalam terhadap hakekat Tuhan Yang Maha Esa. Inilah salah satu ciri atau karakteristik dari Hindu Dharma. Karakteristik atau ciri khas lainnya yang merupakan barikade untuk mencegah berbagai pandangan yang memungkinkan tidak menimbulkan pertentangan di dalam Hindu Dharma adalah Àdikara dan Iûþa atau Iûþadevatà (Morgan. toleran dan luwes. Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan. memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu Dharma dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya. menyelidiki. Àdikara berarti kebebasaan untuk memilih disiplin atau cara tertentu yang sesuai dengan kemampuan dan kesenangannya. segala macam keyakinan/Úraddhà.paling luas dalam masalah keyakinan dan pemujaan. yang ingin dipuja sesuai dengan kemantapan hati. penciptaan. Hindu Dharma tidak bersandar pada satu doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu. 1987: 5). I. oleh karena itu. seorang dokter bedah yang pernah praktek di Malaya (kini Malaysia) kemudian meninggalkan profesinya itu menjadi seorang Yogi besar dan rohaniawan agung pendiri Divine Life Society menyatakan : Hindu Dharma sangatlah universal. sedangkan Iûþa atau Iûþadevatà adalah kebebasan untuk memilih bentuk Tuhan Yang Maha Esa yang dijelaskan daalam kitab suci dan susatra Hindu. Hindu Dharma adalah suatu agama pembebasan. mencari dan memikirkannya. bermacam-macam ritual serta adat-istiadat yang berbeda. bebas. bentuk pemujaan dan tujuan kehidupan ini. jiwa. Svami Sivananda.

dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. Sejalan dengan pernyataan ini Max Muller mengatakan bahwa Hindu Dharma mempunyai banyak kamar untuk setiap keyakinan dan Hindu Dharma merangkum semua keyakinan tersebut dengan toleransi yang sangat luas dan Dr. Sen mengatakan bahwa dengan definisi Hinduisme menimbulkan kesulitan lain. Agama Hindu menyerupai sebatang pohon yang tuumbuh perlahan dibandingkan sebuah bangunan yang dibangun oleh arsitek besar padaa saat tertentu (Natih: 1994: 116) 5. Bahasa yang bisa menandingi 'usia' bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Hitit. atau bahasa rakyat. tetapi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya merupakan berbagai tipe pemahaman dan tempramen.K. Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India. sehingga menjadi keyakinan yang bermacam-macam pula.M. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hindu Dharma. Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal. SANSKRTA MENYEBAR KE SELURUH UMAT HINDU Bahasa Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. lawan dari bahasa Prakerta. demi untuk pertumbuhan dan evolusi mereka (1984: 34). Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak . Kata Sansekerta. Maksudnya. Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. karena dalam Hindu dharma tersedia tempat bagi semua tipe pemikiran dari yang tertinggi sampai yang terendah.tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda-beda dalam Hindu Dharma. sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu. Hal ini adalah wajar. KOTA SUCI HINDU DI BHARATIYA 6. dalam bahasa Sanskerta Saṃskṛtabhāsa artinya adalah bahasa yang sempurna. Buddhisme.

indah. Saat ini bahasa Sansekerta masih tetap dipakai secara luas sebagai sebuah bahasa seremonial pada upacara-upacara Hindu dalam bentuk stotra dan mantra. "Su" berarti baik. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan . drama dan juga teks-teks ilmiah. Bahasa ini muncul dalam bentuk praklasik sebagai bahasa Weda. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi-sendi kesusilaan. oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur. Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya. tata laku. harmonis. Bahasa Sanskerta yang diucapkan masih dipakai pada beberapa lembaga tradisional di India dan bahkan ada beberapa usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Sanskerta. Khazanah sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang kaya. "Sila" berarti perilaku. membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin.bahasa-bahasa modern di anakbenua India. 7. Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya. ETIKA HINDU Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). teknis. dan agamis. falsafi. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua. Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia seharihari.

alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran 1. Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci. 2 Tri Kaya Parisudha individu guna Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang kesempurnaan dan kesucian hidupnya

merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap mencapai

3. Panca Yama dan Niyama Brata Lima Kebaikan yang harus dilakukan dan 5 keburukan yang harus dipantang. 4 Tri Mala Tiga sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil- kecilnya. 5. Sad Ripu Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. 6. Catur Asrama Empat tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu, disesuaikan dengan tahapan- tahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban menunaikan dharmanya.

7.

Catur Purusa Artha

Empat dasar tujuan hidup manusia 8. Catur Warna

Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang. 9. Catur Guru

Empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu. 10. PANCA SRADHA Sradha berarti "yakin", "percaya", yang melandasi umat Hindu dalam meyakini keberadaan-Nya. Umat Hindu mendasari keyakinannya berjumlah lima, yang disebut dengan panca Sradha. Panca Sradha meliputi:
• • •

Brahman — Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan Atman — Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman Karmaphala — Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). Samsara — Keyakinan pada kelahiran kembali

Moksha — Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman 11. APLIKASI PANCA MAHA YAJNA Panca Yadnya adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari: 1. DewaYadnya. Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa

dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lainlain. 2. PitraYadnya. lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: a. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. b. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha. c. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. 3. Manusa manusia. Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah: Yadnya.

Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup

ResiYadnya. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari). dan mengamalkan ajaran. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton). memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya. dan mengembangkan ajaran agama. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan. c. . Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur. menghayati. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: a. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat.saat tertentu kepada Sulinggih. Membangun tempat. Mentaati.ajaran para Sulinggih. Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi. kesehatan. b.orang suci.kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan. c. b. membina.tempat pemujaan untuk Sulinggih. 4. Pinandita. d.lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama). orang.a. Resi. dan lain. d. e.

12. Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk.5. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. tidak terkekang oleh dogma-dogma yang salah atau kedaluwarsa. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.tumbuhan. tumbuh. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. DESA KALA PATRA desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. WAISNAWA DAN PASUPATA Agama Hindu sekte Siwa Siddhanta seperti yang dianut oleh umat Hindu di Bali pada umumnya memiliki tujuan yang sama dengan Hindu Siwa Pasupata itu. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). SAKTA. dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan. Bedanya hanya penekanannya saja.makhluk rendahan. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta. berkembang dan hidup yang wajar. 13. yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. BhutaYadnya.unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya. Kata Siwa Siddhanta berarti sukses . kami hanya ingin tumbuh. FILSAFAT SIWA SIDANTA. hewan (binatang). sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-patra.

Akan menjadi sesuatu yang tidak produktif kalau ada yang memaksakan agar mereka yang berbeda ditekan dengan cara-cara pendekatan kekuasaan. Artinya. Karena perbedaan itu merupakan suatu kenyataan yang universal. kedua cara itu dapat hidup berkelanjutan dan umat tidak dipaksa harus ikut ini atau itu. Sikap keagamaan umat Hindu yang dicerminkan oleh umat Hindu di masa lampau di Pura Goa Gajah dan sesungguhnya pada peninggalan Hindu kuno yang lainnya di Indonesia. Demikian juga halnya dengan peninggalan keagamaan Buddha Mahayana di Pura Goa Gajah yang jauh lebih awal berada di Bali. Tentunya akan sangat janggal kalau pada zaman sekarang ada misalnya umat yang bersifat negatif pada orang lain yang berbeda sistem penekanan beragamanya. perbedaan itu akan selalu ada sepanjang masa. Ini artinya umat Hindu pada zaman dahulu itu benar-benar menghormati privasi beragama sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi. Di Pura Goa Gajah. Munculnya Sidharta Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas . Mereka menyadari substansi ajaran agama Hindu yang mereka anut sama yaitu berdasarkan Weda. Menyikapi perbedaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu dan nilai-nilai universal yang dianut oleh dunia dewasa ini. Demikian juga sebaliknya yang menganut Siwa Pasupata tidak menganggap penganut Siwa Siddanta sebagai orang lain.mencapai Siwa yang terakhir atau tertinggi. Ini artinya penganut Siwa Siddhanta tidak menganggap penganut Siwa Pasupata sebagai penganut sesat. Umat dipersilakan secara mandiri untuk memilihnya atau memadukan semua cara tersebut. Umat Hindu di masa lampau terutama para pemimpinnya benar-benar sudah memiliki jiwa besar dalam mengelola perbedaan. di mana pun dan kapan pun. Jadinya dalam satu sekte saja agama Hindu memberikan kebebasan pada umatnya untuk memilihnya.

Ada yang sampai membakar kemaluannya agar nafsu seksnya hilang.dan Carwakas. Itulah Samadhi. Sila berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani. Setelah seratus tahun Sidharta mencapai Nirwana barulah wacana sucinya itu dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka. Jadinya keberadaan agama Buddha di Pura Goa Gajah substansinya tidaklah berbeda apalagi berlawanan dengan ajaran Hindu Siwa Pasupata maupun Siwa Siddhanta. Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan nafsu tersebut. Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Atman adalah bagian dari Brahman. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indahindah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang terik. Substansi ketiga corak keagamaan Hindu dan Buddha yang ada di Pura Goa Gajah itu . Dengan nafsu itu terus dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Kedua aliran itu membuat umat menderita. Inilah inti wacana Sidharta Gautama dalam menyelamatan umat dari perbedaan yang dipertentangkan itu. Sebaliknya aliran Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan fungsi alat-alatnya. Teknis berbuat baik itu didasarkan pada Prajnya artinya ilmu pengetahuan. Dalam keadaan seperti itulah muncul Sidharta Gautama yang telah mencapai alam Buddha memberikan pentunjuk praktis beragama. Suara hati nurani adalah suara Atman. Ajarannya adalah Sila Prajnya dan Samadhi. Tiga corak keagamaan yang ada di Pura Goa Gajah itu memang berbeda tetapi perbedaan itu terletak pada cara atau metodenya saja. Lidah dibuat sampai tidak berfungsi. Dalam berbuat baik hendaknya bersikap konsisten dengan konsentrasi yang prima. Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang tidak langgeng ini.

canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar. . dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). yang mana kesemua ajaran tersebut didasarkan pada Veda dan susastra Purana seperti Bhagavad Gita. para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana. ngaturang wangiwangi. atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Isha Upanishad. Sanghyang Surya Candra. sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Hari Purnama. sesuai dengan namanya. serta Wisnu Purana dan Bhagavata Purana. Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya. PURNAMA DAN TILEM Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu. Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan: 'Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda. Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra. yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika. Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali.sama-sama menuntun umat manusia untuk mencapai hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan mencapai alam ketuhanan di dunia niskala. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga. 14. yang dalam proses pemujaannya lebih menitik beratkan pada pemujaan Wisnu (beserta awataranya) sebagai dewa tertinggi. Waisnawa merupakan keyakinan dan ajaran yang juga memiliki pelaksanaan kewajiban bagi penganutnya (dalam Hindu disebut dengan Bakti Yoga). makadi. Waisnawa merupakan aliran dalam Hindu.

perkataan dan perbuatan yang bersih pula.Parhyangan. Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan lahir batin. Pada hari suci demikian itu. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dan kegiatan kerja. CATUR MARGA Dari itu laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa harap keuntungan sebab kerja tanpa keuntungan pribadi Membawa orang kekebahagiaan (Bhagavadgita III. Pada hari Purnama. bertepatan dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem. umat juga hendaknya melakukan pembersihan badan dengan air. Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan. Kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran. 15. . sudah seyogyanya kita para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi. disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrah-Nya. 19) Kerja yang dilakukan orang tanpa mengharapkan pahala bagi kepentingan diri pribadi adalah mulia. Pekerjaan akan juga mulia bila dilakukan disertai tanda bakti daripada yang mengangkat orang pada penyucian dan kesempurnaan pikiran dan jiwanya. matirtha gocara puspa wangi"Ada sejak hari-hari dulu sama utama nilai penyelenggaraan upacara persembahyangan keutamaanya yaitu hari Purnama dan Tilem. Materi itu perlu dan harus diusahakan untuk memilikinya asalkan dengan jalan yang benar dan ditujukan untuk memperkokoh dharma. terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi. Karena itu. namun dewasa ini orang bekerja hanyalah untuk memenuhi kebutuhan materi. bertepatan dengan Sanghyang Surya beyoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi.

namun harus diusahakan dan ditujukan untuk dharma. Karma Yoga merupakan bagian dan Catur Yoga (empat cara menghubungkan diri dengan Tuhan) terdiri dari : 1) Karma Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan kerja. . yang penting mereka bisa hidup mewah. benar atau salah. sebagai pedoman hidup. berbuat sesuai kaidah-kaidah agama. Kesejahteraan jasmani sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. menjual narkoba atau juga korupsi. Namun karena pengaruh ahamkara (ego) manusia lupa diri dan menjadi serakah. 3) Jnana Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan kerohanian dan 4) Raja Yoga cara menghubungkan diri dengan jalan penghayatan spiritual. Maksudnya harta yang diusahakan ditujukan bagi kesejahteraan umum disamping untuk kepentingan diri sendiri. sehingga tak ada yang ditakuti. Mereka tidak lagi menghiraukan apakah pekerjaannya merugikan orang lain atau tidak. sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Dalam ajaran Hindu bekerja merupakan salah satu jalan untuk mencapai Tuhan yang biasa dikenal dengan Karma Yoga. Namun ego (ahamkara) manusia telah menutup nurani kita untuk berbuat jujur. 2) Bhakti Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan Bakti. Apabila kerja merupakan salah satu cara menghubungkan diri dengan Tuhan tentunya tujuan dan kerja itu adalah suci. Seperti apa yang terjadi saat ini. merampok. Lagi-lagi agama menanggung beban tanggung jawab untuk memperbaiki moral manusia yang bobrok tersebut. Pada dasarnya agama telah memberikan patokanpatokan terhadap perbuatan baik atau buruk. Sehingga mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan mencuri. orang lebih memikirkan hasil daripada pekejaannya. yang mereka pikirkan hanyalah masalah keduniawian.Dalam agama Hindu ada dua pemikiran yaitu untuk kesejahteraan rohani dan jasmani makhluk (“Bhukti & mukti”). Mereka tanpa merasa bersalah untuk berbuat dosa.

sudah memperhitungkan hambatan-hambatan yang akan dihadapinya. Karma Yoga sebenarnya merupakan suatu ilmu pengetaliuan mengenai rahasia pekerjaan. tak ada yang dapat menghalangi atau menahannya. Bila manusia dapat menguasai kekuatan guna tersebut maka mereka dapat bekerja giat tanpa memikirkan hasil. Begitulah . Tentunya untuk dapat menguasai guna tersebut didapat dari pengalaman kerja sehingga kita menemukan rahasia kerja. itulah idealnya karma yoga. Sama juga bila kita berbuat hal-hal baik. cara bekenja. maka kita harus menderita karenanya. (Swami Vivekananda). Dengan memahami cara kcrja manusia dapat lebih mudah menyelesaikan pekeijaannya dan akan mendapatkan hasil yang memuaskan. tak ada kekuatan alam yang dapat menghentikan tindakan itu hingga tidak menibawa akibat. 29) Sloka 29 menjelaskan mereka yang terikat guna akan tertipu karena harapan yang berlebihan terhadap kerjanya. Mereka tertipu sifat guna Terikat pada keinginan yang dihasilkan olehnya Tetapi yang mengerti jangan sampai menyesatkan Mereka yang pengetahuannya tiada sempurna (Bhagavadgita III. daya organisasi dan kerja.Karena pengaruh ahamkara tadi maka tujuan kerja pun menjadi bersifat duniawi. Karma Yoga mengajarkan rahasia dan pekerjaan.ikan tindakan itu mengeluarkan buahnya. Guna sebagai batas kebehasan manusia yang diperoleh dari kelahiran dan lingkungan yang mempunyai kekuatan membelenggu. Bila kita berbuat sesuatu perbuatan jahat. Mereka terlalu berharap dan kerjanya sehingga ketika bekerja mereka berpikir tentang apa yang akan mereka perbuat dengan hasil keijanya. bukankah dengan hasil yang banyak uLaka imbalannya pun banyak. Dengan demikian kita hanya akan berpikir kuantitas bukan kualitas. tindakan yang dilakukan seseorang tidak dapat dihancurkan sebelum tindakan itu mengeluarkari buahnya. Menurut Karma Yoga. tak ada kekuatan alam yang dapat menghent. Sesuatu sebab membawa akibat. Bekeija secara terorganisir akan membuat pekerjaan beijalan lancar karena sebelumnya telah membuat perencanaan. maka tak ada kekuatan dalam alam yang akan menghentikan keluarnya buah kebaikan.

manusia yang telab memahami rahasia pekenjaan, susah senang akan dihadapi dengan tenang. Tentunya hal tersebut dicapai apabila kita telah mampu melepaskan din dan belenggu guna. Kita harus bekerja, tidak boleh tidak, namun harus dengan tujuan tertinggi. Bekeijalah tanpa berhenti, tapi lepaskan segala pengikatan diri pada pekerjaan. Artinya jangan kita mempersamakan diri dengan sesuatu, sehingga kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam bekerja pun tak akan kita rasakan. Kita harus menghancurkan sifat keakuan, mampu mengekang diri agar tidak tenjerumus dalam pikiran keakuan. Dengan demikian kita bisa bekerja sebanyak yang dapat kita lakukan, dapat bergaul dengan siapa saja tanpa tertular sifat jahat. Tunjukkan semua kerjamu kepada-Ku. Dengan pikiranmu terpusat pada atman Bebas dari nafsu keinginan dan ke-aku-an. Enyahkan rasa gentar dan, bertempurlah! (Bhagavadgita III.30). Tujukan pekerjaan kita untuk Tuhan, karenanya kita akan bekerja tanpa terikat akan hasil. Apa yang dirasa, dilihat, didengar dan dibuat adalah untuk Tuhan. Dengan demikian kita akan bekerja bukan untuk kepentingan diri sendiri. Dengan tanpa memikirkan hasil pekerjaan kita akan berdaya guna, sebagai ilustrasi dapat saya contohkan seorang pelukis yang bekerja hanya untuk menghasilkan lukisan yang indah, dia tidak akan memikirkan apakah dikerjakan berbulan-bulan, memakan bahan yang mahal, tapi yang dia pikirkan adalah melukis untuk membuat karya seni. Dan tentunya orang-orang mengerti akan hal seni tersebut akan memberikan harga yang mahal untuk sebuah karya seni tersebut, tetapi si seniman pun tidak akan gusar apabila hasil lukisannya tidak ada yang membeli. Kita sebagai manusia tidak dapat lepas dari kegiatan kerja, namun untuk mencapai tujuan tertinggi kita harus mampu mengendalikan ke-aku-an. Sesuatu yang bersifat ke-aku-an adalah menyalahi kesusilaan (immoril) dan sesuatu yang bersifat tidak ke-aku-an adalah bersusila (moral) [Swami Vivekananda]. Bekerjalah untuk mencapai

hasil sebaik-baiknya dengan memperhatikan moral. Bersabarlah karena bekerja dengan tekun maka hasilpun akan mengikuti, tak perlu mencari jalan pintas yang hanya akan menyebabkan penderitaan.ºWHD No. 510 Juni 2009. 16. AJARAN BHAKTI DAN PARA BHAKTI Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang Widhi) yaitu: Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Yoga (Raja) Marga. BHAKTI MARGA. Bhakti artinya cinta kasih. Kata bhakti digunakan untuk menunjukkan cinta kasih kepada subyek yang lebih tinggi statusnya, atau lebih luas lingkupnya misalnya: orang tua, negara, bangsa, Tuhan (Hyang Widhi). Kata cinta kasih digunakan untuk sesama misalnya tunangan, istri/ suami, umat sedharma, umat manusia. Orang yang ber-bhakti kepada Hyang Widhi disebut Bhakta. Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu PARA-BHAKTI dan APARA-BHAKTI. Para artinya utama; jadi para-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara-bhakti artinya tidak utama; jadi apara-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama. Apara-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja. Para-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi. Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara-bhakti antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol (niyasa). Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para-bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan kuat/ berdisiplin

dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakta yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri). Pilihan menggunakan para atau apara bhakti tergantung dari tingkat inteligensi dan kesadaran rohani masing-masing. Yang ditemukan di masyarakat Hindu Indonesia dewasa ini adalah mix para dan apara-bhakti, namun bobotnya berbeda. Umat Hindu di Bali banyak menggunakan aparabhakti, sedangkan umat Hindu di luar Bali banyak menggunakan para-bhakti. Kenapa demikian? Apakah itu berarti umat Hindu di Bali inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang? Tidak selalu demikian. Ada umat Hindu di Bali yang inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi tetapi dibelenggu oleh tradisi beragama yang monoton dan feodalistis, sehingga menampakkan diri sebagai apara-bhakti. Sebaliknya umat Hindu diluar Bali lebih moderat, demokrat, rasional dan reformis, sehingga memudahkan mereka mencapai para-bhakti. Mengupayakan umat Hindu di Bali menjadi sebagian besar para bhakta tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena bottle-neck yang menghadang ya itu tadi: tradisi beragama dan feodalisme. Itulah sedikit ulasan kasus tentang para dan apara-bhakti. Sekarang kita teruskan tentang BHAKTI MARGA Bhakti marga sering disebut sebagai jalan menuju Hyang Widhi yang paling mudah karena dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Mungkin pendapat ini benar jika yang dimaksud adalah apara-bhakti. Jika yang dimaksud adalah para-bhakti, justru bhakti marga yang paling sulit dilaksanakan karena para bhakta harus benarbenar mempunyai kesadaran rohani yang tinggi. Untuk mencapai kesadaran rohani yang tinggi setidak-tidaknya sudah menempuh Karma-Jnana dan YogaMarga dengan baik.

sedangkan mereka yang apara-bhakti banyak melaksanakan upacara panca yadnya. bhavani nachirat partha. marah. Pengampunan akan diberikan oleh Hyang Widhi kepada para Bhakta.6. Seorang bhakta juga tidak boleh berduka dan kecewa jika ia yakin bahwa apapun yang kita alami di dunia ini semata-mata adalah atas kehendak-Nya. dan iri hati. anayenai va yogena. Bhaktiman ya same priyah. penuh dengan kebaktian. bermeditasi. membebaskan diri dari kebathilan dan rasa berbuat kebaikan. iri hati dan nafsu yang tidak tercapai bisa menimbulkan kebencian. Bhakti kepada Hyang Widhi melenyapkan rasa takut. Bila kita cinta dan kasih kepada Hyang Widhi berarti juga kita harus cinta dan kasih kepada semua ciptaan-Nya. benci. janganlah terpengaruh oleh kesenangan karena ketakutan itu timbul bilamana kesenangan terancam. beryoga.Seorang bhakta mempunyai keinginan-keinginan yang kuat yaitu: 1) Ingin dan rindu selalu dekat bahkan bertemu dengan Hyang Widhi sehingga ia rajin bersembahyang. dan bebaskanlah dari rasa berbuat kebaikan karena itu sudah kewajiban seorang bhakta. mayi avesita chetasam. Artinya: Dia yang tiada bersenang dan membenci. Maksud dari sloka itu adalah: jika benar-benar kita bhakti kepada Hyang Widhi. tulus dan welas asih dengan melepaskan ikatan dan keinginan akan pahalanya. Artinya: Tetapi sesunguhnya mereka yang menumpahkan segala kegiatan . Bhagawadgita XII. karena itu bertentangan dengan hakekat bhakti. Itulah hal-hal yang menjauhkan rasa kasih sayang kepada semua mahluk ciptaan-Nya. Tesham aham samuddharta. 2) Ingin berkorban yang didasari oleh rasa ikhlas. amarah. mayi samnyasya matparah. dialah yang Ku-kasihi. Juga jangan membenci karena kebencian menimbulkan amarah dan irihati atau sebaliknya. tiada berduka dan bernafsu apa. Bebaskanlah dari kebathilan.17: Yo na hrishyati na dveshti. mrtyu samsara sagarat. Na sochati na kankshati. Bhagawadgita XII. menolong sesama tanpa menghitung untung-rugi. Maka mereka yang para-bhakti sering ber-dana punia. mam dhyayanta upasale.7: Ye tu sarvanni karmani.

Kitab Mahābhārata berisi lebih dari 100.000 sloka dan memiliki tujuh bagian yang disebut Sapta Kanda. yang pikiran mereka tertuju kepada-Ku. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara. dengan segera dan langsung Aku bebaskan mereka ini dari lautan sengsara hidup lahir dan mati (artinya mencapai MOKSA). kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuna dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. Pada zaman kerajaan di Indonesia. mitologi. Itihāsa berarti “kejadian yang nyata”. dan makhluk supernatural.000 sloka. Kitab Ramayana disusun oleh Rsi Walmiki Kitab Mahābhārata merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. setiap Parwa merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Parwa yang lain. Selayaknya Ramayana. Itihāsa yang terkenal ada dua.hidup mereka kepada-Ku. Cerita dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin. seperti misalnya Rsi Walmiki dan Rsi Vyāsa. ITHIASA MAHABARATA DAN RAMAYANA Itihāsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisahkisah epik/kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu di masa lampau dan dibumbui oleh filsafat agama. Kitab Mahābhārata memiliki delapan belas bagian yang disebut Astadasaparwa. yaitu Ramayana dan Mahābhārata. Kitab Ramayana merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Setiap Kanda merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Kanda yang lain. Kitab Itihāsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau. Kitab Mahābhārata disusun oleh Rsi Vyāsa . Mahābhārata berarti cerita keluarga besar Bharata. memikirkan bermeditasi hanya kepada-Ku dengan kebaktian yang terpusatkan. 17. Kitab Ramayana terdiri dari 24.

Vinata memiliki hutang terhadap Kadru. Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan. Setelah telur . Meskipun para dewa bersatu menghadang Garuda. Ceritra ringkasnya adalah sebagai berikut : Bhagawan Kacyapa mempunyai dua orang istri yaitu Sang Kadru dan Sang Winata. konon saat Garuda lahir dari telurnya. Garuda bertemu dengan Vishnu. tunggangan kebanggan Vishnu. sebagai gantinya Garuda menjadi kendaraan Vishnu. Sang Kadru meminta 1000 anak sedangkan Sang Winata meminta dua anak. dan menghabisi para ular. Menurut Mahabarata. Bhagawan Kacyapa memberikan seribu butir telur pada Sang Kadru dan dua butir telur pada Sang Winata. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan Vishnu. Sejak saat itu Garuda menjadi rekan para dewa. setelah Amrita diberikan. merebut Amrita. Bhagawan Kacyapa menawarkan kepada kedua istri beliau berapa jumlah anak yang ingin mereka miliki.<) sehingga para dewa memohon padanya untuk tenang. sekaligus menjadi musuh utama para ular. Indra turun dari langit. Garuda diminta Kadru untuk memberikan obat keabadian yg disebut Amrita padanya. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari.18. Garuda ini ada hubungannya dengan ceritra Sang Garuda yang terdapat di dalam Adi Parva. bumi gonjang ganjing (seperti waktu sun go kong lahir di film >. Kemudian Garuda bertemu dengan Indra dan sekali lagi dia mendapat penawaran. Dalam perjalanan pulang. Garuda adalah anak Kasyapa dan Vinata. Untuk menghapus hutang tersebut. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk menghapus hutang ibunya. ibu para ular karena suatu pertaruhan. mereka bukanlah tandinganya. dan memiliki mahkota di kepalanya. Vishnu berjanji akan memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita. Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. MITOLOGI GARUDA Garuda Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. Garuda berjanji akan memberikan Amrita pada Indra dan Indra akan memberikan para ular sebagai makanan Garuda.

“Mengapa ibu menjadi budaknya ?” tanya Sang Garuda. pergi ke sana ke mari sekehendaknya”. Sang Kadru menebak warna kuda itu hitam dan Sang Winata menebak putih. Sejak saat itu Sang Winata menjadi budak Sang Kadru menjaga dan mengantarkan ular-ular itu mencari makanan setiap hari dan sore hari baru pulang. Melihat Sang Kadru sudah melahirkan anak-anaknya maka Sang Winata ingin cepat juga punya anak. “Ibu jadi budak para naga. akhirnya mereka bertaruhan. Besok ibu akan datang bersama Sang Winata ke tempat kuda itu untuk menyaksikan kebenaran kuda itu”. “Wah ibu pasti kalah. mereka menyaksikan warna kuda Ucchaisrawa itu betulbetul hitam. . Suatu ketika Sang Kadru bertemu dengan Sang Winata membicarakan tentang rupa dari kuda Ucchaisrawa yang keluar pada waktu lautan air susu diaduk oleh para Dewa Raksasa.Sang Kadru menetas maka lahirlah seribu ekor ular. maka dengan tidak sabar dipecahkanlah sebutir dari telurnya maka lahirlah Aruna seekor burung yang belum sempurna bentuk tubuhnya karena belum punya kaki. Sementara itu Sang Garuda pun lahir dengan tubuh sempurna. jawab Sang Winata. siapa pun yang kalah akan menjadi budak dari yang menang. apa pekerjaan ibu ?” tanya Sang Garuda. Mereka semua lalu menyemburkan bisa (wisa)-nya ke tubuh si kuda sehingga warna bulu kuda itu menjadi berubah dari putih menjadi hitam karena pengaruh dari bisa ular itu. Masing-masing kukuh mempertahankan pendirianya. karena kuda itu betul-betul putih mulus” kata ular-ular itu. saban hari kerja ibu adalah menggembalakan ular-ular yang nakal. hingga ada keinginannya untuk menanyakan. Setelah itu Sang Kadru lalu pulang dengan mengabarkan hal ikhwal taruhan itu kepada anak-anaknya. “lbu mengapa ibu pergi pagi pulang sore. “Kalau demikian anakku berbuatlah sesuatu agar ibu tidak kalah sehingga menjadi budak Sang Winata. Setelah beberapa lama kemudian Sang Garuda pun heran melihat ibunya pergi pagi pulang sore. Maka para ular itu pun memenuhi permintaan ibunya lalu semuanya menuju ke tempat kuda itu berada. Besok harinya ketika Sang Winata dan Sang Kadru datang. maka kalahlah Sang Winata.

Setelah Sang Garuda menjelaskan tujuannya mencari Amerta adalah untuk membebaskan dirinya dan ibunya dari perbudakan para naga maka Bhatara Visnu berkenan memberikan tirtha Amerta itu asal saja Sang Garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Visnu. Konon barang siapa yang dapat minum amerta itu akan bisa bebas dari kematian. Untuk itu dia berhadapan dengan para Dewa yang menjaga Amerta itu. “Kalau demikian biarlah saya saja menggantikan ibu menggembalakan ular” demikian permintaan Sang Garuda yang kemudian diluluskan oleh Ibunya. Sang Garuda segera menyerahkan tirtha Amerta itu kepada para naga dengan segala persyaratannya. takut tidak kebagian sehingga tirtha itu begitu saja ditinggal di tengah rumput alang-alang. kata Sang Winata. Ia pun lalu menanyakan kepada naga apakah ada cara sebagai pengganti atau menembus dirinya. Sang Garuda pergi ke sorga untuk mencari tirtha Amerta itu. Setelah lama berpikir para Nagapun sepakat akan membebaskan Sang Garuda dari perbudakan kalau bisa mencarikan tirtha amerta untuk mereka. akhirnya dia menjadi bosan. Akhirnya para Dewa lalu mohon bantuan kepada Bhatara Visnu. Para naga setelah menerimanya semua saling dahulu mendahului pergi mandi menyucikan diri. Dengan demikian para naga beranggapan tidak perlu lagi ada penjaga seperti Sang Garuda. Sang Garuda menyetujui dan tirtha amerta pun diserahkan oleh Dewa Visnu dengan syarat “barang siapa yang akan meminumnya hendaknya bersuci-suci lebih dahulu. Perang pun terjadi antara Dewa Visnu dengan Sang Garuda. agar dia bisa bebas dari perbudakan.“Karena ibu kalah taruhan dengan Sang Kadru mengenai warna kuda Ucchaisrawa”. karena tidak ada yang menyebabkan mereka bisa mati kalau sudah minum tirtha Amerta. Dewata Nawa Sanga dikalahkan semua. kalau tidak demikian tirtha merta tidak akan sidhi atau bermanfaat”. Perangpun berlangsung lama. Mengetahui bahwa tirtha itu ditinggalkan begitu saja oleh para naga maka Bhatara Visnu pun . Lamalah sudah Sang Garuda menjadi budak dari para naga. Akhirnya Bhatara Wisnu menanyakan mengapa Sang Visnu memerangi para Dewa dan untuk apa dia mencari Amerta.

air dan udara. Marilah kita simak arti dan simbul dari ceritra Sang Garuda ini dihubungkan dengan lontar Cri Purvana Tattva dan Stava yaitu Ananta bhoga stava. demikian pula mengapa lidah ular menjadi bercabang. Gambar-gambar yang terdapat pada Bade atau wadah yang digunakan sebagai kendaraan dari orang yang meninggal. Hal yang menguatkan lagi bahwa gambar Garuda merupakan simbul pembebasan dari perbudakan oleh benda-benda duniawi ialah : penggunaan patung Garuda di “Bale Gede” yaitu bangunan yang biasanya diperuntukkan untuk menempatkan mayat sebelum dibawa ke setra. Dengan penuh kecewa para naga hanya dapat menjilati sisa-sisa bekas tirtha yang ada di daun alang-alang itu. Kenyataannya saban hari dari pagi sampai sore manusia disibukkan untuk mendapatkan makan. Di muka telah dijelaskan bahwa inti bumi atau magma api itu dibungkus oleh tanah. Apa yang dimaksud dengan Amerta itu ? Amerta artinya tidak mati-mati atau keabadian. moksa itu adalah kebebasan. Itulah asal mula ceritra mengapa alang-alang menjadi daun yang dianggap suci karena terkena bekas tirtha amerta. Gambar Garuda itu terdapa pada bagian belakang “wadah” . Siapa yang tidak bisa mati ? Hanya Tuhan ! Barang siapa yang telah bisa mencapai Tuhan mereka tidak lagi terikat oleh kemelekatan benda-benda dunia ini. Basuki stava dan Taksaka stava. Pekerjaan yang tidak pernah selesai ini menjadikan manusia berpikir apakah hidup ini hanya untuk makan minum dan mendapatkan udara bersih ? Apakah manusia bisa membebaskan diri dari perbudakan benda ini. pada waktu mayat itu dibawa dari rumah kesetra.mengambil tirtha itu kembali dibawa ke sorga. mereka mencapai moksa. minum dan udara bersih (simbul 3 naga di atas). Disebabkan tajamnya daun alang-alang itu maka lidah ular naga itupun terbelah. Ketiga jenis zat ini disimbulkan dengan naga (ular). Kami beranggapan bahwa Sang Garuda itu tidak lain dari simbul manusia yang mencari pembebasan dari perbudakan benda-benda duniawi. Bale Gede umumnya terdapat pada rumah keluarga-keluarganya yang mampu di Bali. Jawabannya adalah tirtha Amerta. mereka bebas dari perbudakan benda.

lukisan Garuda adalah simbul manusia yang mencari kebebasan melalui pelepasan terhadap ikatan duniawi. yang juga disebut amoring acintya. menjadi kata darśana yang berarti "penglihatan" atau "pandangan". Sad Darśana berarti Enam pandangan tentang kebenaran. Kedua sayap yang mengepak menggambarkan ardha candra. biasanya kita menjumpai ada hiasan berbentuk angsa. agar roh orang yang meningggal selalu teringat dengan ceritra sang Garuda yang mengandung simbul kebebasan. Menurut lontar “Indik tetandingan” wujud angsa dengan sayap mengepak itu adalah simbul dari ardha candra windhu dan nada. kepala angsa menggambarkan windu dan mulut atau cocor angsa menggambarkan nada. Sumber yang lain kita jumpai di dalam Upanisad yang menyebutkan “Atma yang ingin bersatu dengan Brahman itu seperti burung angsa yang mengepakngepakan sayapnya”. Maka kesimpulannya. 19. Wujud angsa yang dilukiskan baik di belakang Padmasana maupun wadah itu selalu berwujud angsa dengan sayapnya yang mengepak-ngepak. Dalam ajaran filsafat hindu.atau “bale” itu. Itulah mungkin sebabnya mengapa di Bale Gede maupun di belakang wadah dilukiskan Garuda. dan gambar angsa adalah simbul manusia yang ingin kembali kepada Ida Sang Hyang Widhi. Kata Darsana berasal dari akar kata drś yang bermakna "melihat". Di atas gambar Garuda yang kita lihat di belakang Padmasana itu. yang mana merupakan dasar dari Filsafat Hindu. Tujuannya tentu erat hubungannya dengan semacam petunjuk atau perhatian kepada manusia baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal bahwa bila akan mencari Ida Sang Hyang Widhi hendaknya berbuat seperti Sang Garuda yaitu membebaskan diri dari perbudakan naga atau benda-benda dunia. FILSAFAT SAD DARSANA Sad Darśana. Darśana berarti pandangan tentang kebenaran. .

membangun ajaran Samkhya yang bersifat theistik.1. Kemudian Maharsi Kapila. . oleh tubuh dan meditasi. putra Devaguti. seperti yang disebutkan dalam Bhagavatapurana[1]. yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Samkhya adalah ajaran filsafat tertua dalam filsafat India. Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu. biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan. Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktivitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari Hatta Yoga. yaitu purusa dan prakrti. Karya sastra mengenai Saṁkhya yang kini dapat diwarisi adalah Saṁkhyakarika yang di tulis oleh Īśvarakṛṣṇa sekitar 200 SM. itihasa dan purana. yogin bagi praktisi pria dan yogini bagi praktisi wanita. Kata Saṁkhya berarti: pemantulan.[1] [2] Orang yang melakukan tapa yoga disebut yogi. yaitu pemantulan filsafati. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif. Samkhya. Yoga berarti "penyatuan". Disebut dualistis karena terdapat dua realitas yang saling bertentangan tetapi bisa berpadu. juga disebut dengan Sankhya adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Saat ini ajaran Samkhya yang murni sudah tidak eksis lagi. Ajaran Saṁkhya ini sudah sangat tua umurnya. dibuktikan dengan termuatanya ajaran Saṁkhya dalam sastra-sastra Śruti. yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun. 2. Para ahli meyakini bahwa ajaran ini berakar dari nilai-nilai positif atheis. yang bermakna "penyatuan dengan alam" atau "penyatuan dengan Sang Pencipta". tapi ajaran ini banyak membawa pengaruh pada ajaran Yoga dan Wedanta. smrti. Ajaran Saṁkhya bersifat realistis karena didalamnya mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh.

Ajaran ini berdasarka pada ilmu logika. Nyaya (Logic). Kitab ini terdiri atas 12 Adhyaya (bab) yang terbagi kedalam 60 pada atau bagian. 6. Mimamsa secara khusus melakukan pengkajian pada bagian Veda: Brahmana dan Kalpasutra. Sumber ajaran ini tertuang dalam Jaiminiyasutra. Mimamsa juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Yogasutra. Kata Mimamsa berarti penyelidikan. yang menyusun Vaisesikasutra. yang isinya adalah aturan tata upacara menurut Veda. Ajaran Mimamsa didirikan oleh Maharsi Jaimini. terdiri atas 5 adhyaya (bab) yang dibagi atas 5 pada (bagian). namun dalam perkembangannya ajaran ini menjadi satu dengan Nyaya. Bakti Yoga/Marga. Kata Nyaya berarti penelitian analitis dan kritis. Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya.Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga. Ajaran Vaisiseka dipelopori oleh Maharsi Kanada. Penyelidikan sistematis terhadap Veda. Ajaran Wedanta sering juga disebut dengan Uttara Mimamsa. 5. 3. 4. Raja Yoga/Marga.Wedanta Védānta) adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. diantaranya adalah Upaishad. Jnana Yoga/Marga. diantaranya adalah Karma Yoga/Marga. Ajaran Nyaya didirikan oleh Maharsi Aksapada Gotama. disebut juga dengan nama lain Purwa Mimamsa. juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. kronologis dan analitis.Vaisesika juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. yang menyusun Nyayasutra. Bhagavad Gita. sistematis. Klasifikasi ajaran Yoga tertuang dalam Bhagavad Gita. yaitu "penyelidikan yang . Meskipun sebagai sistem filsafat pada awalnya berdiri sendiri.

karena ajaran ini mengkaji salah satu bagian kitab Weda. PARWATA. dilanda jutaan kubik kata-kata. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. FILOSOFI SAMUDRA. Kata Wedanta berakar kata dari wedasya dan antah yang berarti "akhir dari Weda". Sumber ajaran ini adalah kitab Wedantasutra atau dikenal juga dengan nama Brahmasutra. Permukaan laut begitu indah. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji. NADI DAN WANA Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. Permukaan laut begitu indah. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. 20. GIRI. Hati yang demikian ini. Bisakah hati kita seluas dan sedalam . Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. jauh lebih indah lagi. tetap tidak bergeming. warna-warni awan.kedua". nyiur melambai. namun lautan tak pernah menolaknya. yaitu kitab Upanisad. dengan kedinamisan gelombangnya. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. atau dikenal juga dengan nama Badarayana atau Krishna Dwaipayana. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. Pelopor ajaran ini adalah Maharesi Byasa. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam samudera. segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. tidak teracuni. berfilsafat dengan keluasan kedalamannya.

tak pernah diam. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. dengan kedinamisan gelombangnya. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. warna-warni awan.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam . bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. Permukaan laut begitu indah. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. nyiur melambai. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. Ibarat samudera. Permukaan laut begitu indah. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. jauh lebih indah lagi. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. namun lautan tak pernah menolaknya. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. Seumpama samudera. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera.samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. di dasar samudera ada tiram. berfilsafat dengan keluasan kedalamannya. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. melantunkan salam padamu. akan selalu menyapamu. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera.

gunung itu terletak di sahasrara padma. Selain itu. dipandang sebagai lingga-acala. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. Lontar Tantu Pangelaran menyiratkan bahwa gunung (giri.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. tetap tidak bergeming. maka gunung-gunung yang lain menempati posisi dik-widik. di kepala manusia. Kitab-kitab yang mengajarkan ajaran yoga. tak pernah diam. Bagi seorang sadhaka. dan Kitab Tantra dalam bentuk tanya jawab (dialogic catekismus) antara Hyang Siwa dengan SaktiNya Dewi Parwati. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. akan selalu menyapamu. bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. gunung-gunung dipandang sebagai satu kesatuan sehingga muncul konsepsi panca-giri. dilanda jutaan kubik kata-kata. Bisakah hati kita seluas dan sedalam samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. Gunung Agung) dinyatakan berada di pusat padma dunia.samudera. gunung merupakan pusat orientasi kesucian bagi umat Hindu. meru. Dunia atau wilayah yang . parwata) memberikan kerahayuan (amreta) kepada manusia yang hidup di kaki dan datarannya. Siwasutra. Karena gunung yang tertinggi (Mahameru. tempat Hyang Siwa menurunkan ajaran-ajaranNya yang kemudian dicatat dalam berbagai Yamala. Gunung dalam a! am sakala maupun niskala sangat penting bagi umat Hindu. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. di dasar samudera ada tiram. tidak teracuni. melantunkan salam padamu. Seumpama samudera. Damara. pertama-tama menguraikan tentang Gunung Mahameru sebagai tempat Sthana Hyang Siwa yang digambarkan sebagai pusat padma dunia raya. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. Hati yang demikian ini. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. lingga yang tidak bergerak. Ibarat samudera.

seribu kelopak bunga padma. maka Padma Tiga Pura Penataran Agung Besakih. Purana-Purana . dan Gunung Batur di Utara. dengan sarinya berada di tengah. Pura Luhur Uluwatu di Baratdaya. Secara holistik. MAHA PURANA DAN UPA PURANA Purana-purana adalah kitab yang berisi cerita-cerita keagamaan yang menjelaskan tentang kebenaran. Pura Batu Madeg (Ulara. Sadasiwa. 21. Gunung Andakasa di Selatan. Pura Pucak Mangu di Barat Laut. Sadyojata. Gunung Lempuyang di Timur. Pura Ulun Kulkul (Barat. Pura Panataran Agung Besakih masih memiliki dala pada posisi dik. Pura yang biasa disebut Sad-Kahyangan tersebut merupakan kesatuan. kisah-kisah ini diceritakan kepada orang kebanyakan supaya mereka mengerti kebenaran-kebenaran dari kehidupan yang lebih tinggi. Misteri alam semesta diungkapkan kepada orang-orang yang secara spiritual sudah bangun tapi kepada yang lain misteri-misteri itu harus dijelaskan dalam cerita kiasan Berdasarkan catatan ini. disebut padma-bhuwana atau padmamandala sehingga dalam konteks Bali. bagaikan sebuah bunga padma dengan delapan helainya (dala) yang menunjuk delapan penjuru. Aghora atau Wisnu) yang disebut Pura Catur Lokaphala atau Catur-Dala. menempati posisi dik. Pura Kiduling Kreteg (Selatan. selanjutnya ditopang lagi oleh pura Sad Kahyangan (pura utama) yang terletak di delapan penjuru Pulau Bali atau asta-dala. masingmasing Pura Gelap (Timur. Pura Kahyangan Jagat yang didirikan di seluruh Nusantara dapat berfungsi sebagai sahasra-dala. Gunung Batukaru di Barat. atau Iswara). Sama seperti cerita kiasan (parabel) yang dikisahkan oleh Jesus Kristus. Pura Agung Besakih juga menempati posisi Timur Laut (Airsanya). sementara yang menempati posisi widik adalah Pura Gua Lawah di Tenggara. Bhamadewa ahui Brahma). Tatpurusa atau Mahadewa). Gunung Agung menempati posisi di tengah padma-mandala. Sementara itu. Di tempat tersebut didirikan pura atau tempat suci utama.lebih kecil digambarkan sebagai bunga padma. pertama-tama disangga oleh pura catur-dala. Pada sari bunga padma yang suci itu didirikan Padma Agung (Padma Tiga) yang merupakan Linggih Beliau sebagai Paramashva. dan Siwa.

enam kepada Siwa dan enam kepada Brahma. Mereka adalah : . Beberapa dari Purana-Purana itu. Kurma Purana. Purana kecil (Minor Purana) dikenal sebagai Upa Purana. orang suci dan manusia biasa. Markandeya Purana. Purana-Purana ini tidak memiliki catatan waktu kapan ia ditulis. ada paling sedikit duapuluh Purana Kecil. Wayu Purana. garis keturunan atau asal-usul (genealogi) dari dewa-dewa dan para orang suci. Skanda Purana dan Agni Purana. Purana-Purana ini ditulis dalam bentuk "tanya jawab. Ya memang. Percaya atau tidak. Enam Purana yang ditujukan kepada Siwa adalah Matsya Purana. enam ditujukan kepada Wishnu. delapan belas disebut Purana Besar atau Maha Purana. Masing-masing dari padanya menyediakan satu daftar dari kedelapan belas Purana termasuk dirinya sendiri. Enam Purana yang ditujukan kepada Wishnu adalah Wishnu Purana. oleh karena itu kita mempunyai satu daftar dari duapuluh Maha Purana. Purana-Purana itu selalu menekankan bhakti kepada Tuhan." Mereka umumnya berisi kisah-kisah mengenai Dewa dan Dewi Hindu. mempunyai penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang sama seperti Kitab Wahyu dalam Injil. mahluk supernatural. Diantara sejumlah besar Purana-Purana itu. karena kitab-kitab itu menyajikan seluruh misteri melalui mitos dan legenda. Dari duapuluh Purana ini. Hampir semua Purana berkaitan dengan penciptaan dan penghancuran alam semesta. sekalipun mereka tidak termasuk dalam daftar dari delapan belas Maha Purana (Major Purana). tapi nama-nama dalam daftar itu dalam beberapa Purana sedikit bervariasi. dan rincian mengenai dinasti Bulan (Lunar) dan Matahari (Solar). Bhawishya Purana dan Wamana Purana. Siwa (atau Saiwa atau Dewi-Bhagawata) Purana dan Hariwamsa Purana adalah juga termasuk Maha Purana. Menurut banyak orang. Brahma-Waiwaswata atau Brahma-Waiwarta Purana.itu dapat dikatakan Weda-Weda dari orang kebanyakan. Lingga purana. Narada Purana. Garuda Purana. Padma Purana dan Waraha Purana. Enam Purana yang ditujukan kepada Brahma adalah Brahma Purana. Kata Purana berarti "purba" (ancient). Srimad Bhawata Purana. tapi beberapa orang mengatakan Purana-Purana itu ditulis mulai abad enam. Brahmanda Purana. seperti Mahabbhagawatam.

Menurut kitab suci ini. yang juga dikenal sebagai Veda Vyasa. zaman sekarang. melayani. Waruna. Surya. Ia berisi 18.000 sloka. Aku yakin sekali bahwa daftar yang saya berikan kepadamu tidak lengkap. Yuga. Kalika. Samba. alam semesta ini menjadi ada karena Tuhan menghendakinya sebagai permainan atau Lila. Buku ini dibacakan kepada Raja Parikshit. Disini juga ada gambaran yang sangat jelas mengenai Pralaya. Ausanasa. Narada. Menurut Srimad Bhawatam. Waya dan Wrihan. Sanathkumara. Sebagian besar isi dari buku ini merupakan dialog antara Raja Parikshit dengan Reshi Suka. atau Banjir Besar Buku ini merupakan sumber penting bagi Sekte Waisnawa dan. Kapila. Ia mempunyai dua belas bab yang disebut Skanda. Bhaskara (Surya). Siwadharma. Nandikeswara. dinasti terakhir dari Pandawa. Bab terakhir secara khusus menjelaskan mengenai Kali Yuga. Kalki. Narasimha. seperti telah kukatakan sebelumnya. Ascharya. buku ini merupakan kitab suci yang amat penting bagi pengikut Hare Krishna. Suta-Samhita. dan akhirnya penyerahan diri kepada kehendak Tuhan. dan Awatara terakhir dari Wishnu yaitu. Manawa. Parasara. Tokoh paling penting dari Srimad Bhawatam adalah Reshi Suka. Marichi. kitab suci yang penting bagi orang Hindu dan khususnya bagi para bhakta Hare Krishna. oleh Reshi Suka satu minggu sebelum kematian raja karena gigitan ular yang telah diramalkan. ada sembilan cara berbeda untuk menunjukkan bhakti kepada Tuhan.Aditya. Mahaswara. Durwasa. Usanas. Kalki. Seorang pemuja yang sudah tercerahkan (a realized devotee) melihat dirinya sendiri dan seluruh mahluk sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan. Bab sepuluh dari buku ini memuat kisah Krishna secara rinci. Dewi. seperti mendengarkan kisah-kisah tentang Tuhan. Ia ditulis oleh Reshi Badarayana. Srimad Bhagawatam memuat kisah-kisah seluruh Awatara dari Wishnu. . Mungkin masih ada Purana dalam agama Hindu yang tidak diketahui bahkan oleh rasul atau pemikir doktrin Hindu. Saiwa (beberapa menyebut ini Purana Besar). meditasi. putra dari Veda Vyasa.

• Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi. Buddha. GANESHA Ganesa (Sanskerta गणेश . Ia dikenal pula dengan nama Ganapati. dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). Dewa pelindung.[2] Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu.22. gāṇapatya).[3] Ketenarannya naik dengan cepat. Tibet dan Asia Tenggara. dan di luar India. meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda. yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama. ganeṣa dengarkan (bantuan·info)) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu.[1] Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut. selama periode Gupta. Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya. dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9. yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan. Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Dalam tradisi pewayangan. berlengan empat dan berbadan gemuk. Wigneswara). Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India. Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina. Winayaka dan Pilleyar. Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara. Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa mempedulikan golongan. Dalam relief. "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan". ia disebut Bhatara Gana. ia sering digambarkan berkepala gajah. termasuk Nepal. (Sanskerta: गाणपतय. muncul selama periode itu. dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". patung dan lukisan.[4] Kitab utama yang didedikasikan . kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali.

śrī. adalah kata majemuk yang terdiri dari kata gana. Gelar dalam agama Hindu yang dipakai sebagai penghormatan. Setiap nama dalam sahasranama mengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek dari Ganesa. dan isha (Sanskerta: ईश. Ekadanta (yang memiliki satu gading). termasuk Ganapati dan Wigneswara. dan pati. nama lain Ganesa. berarti penguasa atau pemimpin.[8] Winayaka (Sanskerta: िवनायक . kelas. komunitas. pasukan makhluk setengah dewa yang menjadi pengikut Siwa. juga dieja Shri atau Shree) seringkali ditambahkan di depan namanya.[9] Nama ini mencerminkan sebutan terhadap delapan kuil Ganesa yang terkenal di . yaitu Sri (Sanskerta: शी. atau sistem pengelompokan.untuk Ganesa adalah Ganesapurana. atau perserikatan. terdiri dari kata gana (Sanskerta: गण. Mudgalapurana. yang berarti "kelompok".[7] Kitab Amarakosha. Dwaimatura (yang memiliki dua ibu). berarti "pengatur" atau "pemimpin". Nama Ganesa adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta. vināyaka) adalah nama umum bagi Ganesa yang muncul dalam kitab-kitab Purana Hindu dan Tantra agama Buddha. Ganadipa (sama dengan Ganapati dan Ganesa). salah satu versi diambil dari Ganeshapurana. atau. sebuah doa pengucapan "seribu nama Ganesa". Salah satu cara yang terkenal dalam memuja Ganesa adalah dengan menyanyikan Ganesa Sahasranama. Lambodara (yang memiliki perut bak periuk.[6] Istilah itu secara lebih umum berarti golongan. Heramba.[7] Ganapati (Sanskerta: गणपित . memiliki daftar delapan nama lain Ganesa: Winayaka. īśa). Sekurang-kurangnya ada dua versi Ganesa Sahasranama. gaṇa). Wignaraja (sama dengan Wignesa). yang perutnya bergelayutan). dan Gajanana (yang bermuka gajah). persekutuan. berarti kelompok. secara harfiah. Etimologi dan nama lain Ganesa memiliki banyak gelar dan nama pujian. yaitu kamus bahasa Sanskerta. dan Ganapati Atharwashirsa. orang banyak. gaṇapati). yaitu sastra Hindu untuk menghormati Ganesa.[5] Kata gana ketika dihubungkan dengan Ganesa seringkali merujuk kepada para gana.

Nama Wignesa (Sanskerta: िवघ्नेश. yang ia comot dengan belalainya. Dia menambahkan bahwa kata pallu. Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. Dia kadangkala digambarkan berdiri. Narain membedakan arti istilah-istilah tersebut dengan mengatakan bahwa pille berarti seorang "anak" sementara pilleyar berarti seorang "anak yang mulia". karena kata pillaka dalam bahasa Pali berarti "gajah muda". Patung yang lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut. duduk di bawah. pella. (Penguasa segala rintangan) merujuk kepada tugas utamanya dalam mitologi Hindu sebagai pencipta sekaligus penyingkir segala rintangan (vighna). Citra tentang Ganesa menjamur di berbagai penjuru India sekitar abad ke-6. menari. Biasanya Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. A. bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis. penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu. dan pell dalam bahasa-bahasa rumpun Dravida berarti "gigi atau gading gajah". namun lebih lazim diartikan "gajah". vighneśa) dan Wigneswara (Sanskerta: िवघ्नेश् वर vighneśvara) . yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa. ditaksir berasal dari . pada tangan kiri bawah. Patungnya memiliki empat lengan. atau bersikap manis dalam suatu keadaan. beraksi dengan gagah berani melawan para iblis. Nama yang mahsyur bagi Ganesa dalam bahasa Tamil adalah Pille atau Pilleyar ("anak kecil").[11] Penggambaran Ganesa adalah figur yang terkenal dalam kesenian India. K.[12] Tidak seperti dewa-dewi lainnya.Maharashtra yang mahsyur sebagai astawinayaka.[10] Seorang penulis buku yang bernama Anita Raina Thapan menambahkan bahwa akar kata pille pada nama Pillaiyar mungkin aslinya berarti "gajah muda".

Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkus pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya. Tiba-tiba. Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala. Parwati. Saat Ganesa lahir. muncul pada patung Ganesa yang sedang menari. yang konon memiliki mata terkutuk. memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu. pada cerita yang terkenal dikatakan bahwa ia memperoleh kepala gajah di kemudian hari.abad ke-7. Dalam sebuah penggambaran modern. Dewa Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala . Motif utama yang terulang dalam cerita-cerita tersebut adalah bahwa Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia. memiliki beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda.[13] Dalam perwujudan yang biasa. Atribut umum Ganesa digambarkan berkepala gajah semenjak awal kemunculannya dalam kesenian India. memiliki lima kepala gajah. kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan antara Siwa dan Parwati.[15] Mitologi dalam Purana memberi beberapa penjelasan mengenai kejadian yang menyebabkannya berkepala gajah. satu-satunya variasi terhadap unsur-unsur kuno adalah tangan kanan bawah Ganesa tidak memegang patahan gading namun seolah-olah terarah ke mata pengamat dengan gerak tangan yang melambangkan perlindungan atau penyingkir ketakutan (abhaya mudra). yang merupakan tema terkenal. Dalam kitab Brahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik. yakni Heramba-Ganapati. Salah satu perwujudannya yang terkenal. Pengaruh unsur-unsur kuno dalam susunan penggambaran tersebut masih bisa diamati dalam penggambaran Ganesa secara kontemporer. Sementara beberapa kitab mengatakan bahwa Ganesa terlahir dengan kepala gajah. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan kepala gajah. Dewa Sani (Saturnus). ibunya. dan variasi kecil lainnya pada jumlah kepala diketahui. menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa.[14] Kombinasi yang sama terhadap empat lengan dan atribut.

Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading).gajah. Hal penting di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana.[20] Ular adalah tampilan yang umum dalam penggambaran tentang Ganesa dan muncul dalam beragam bentuk. Perut buncit Ganesa muncul sebagai ciri-ciri khusus pada kesenian patung sejak zaman dulu. sekarang.[19] Wujud dengan 14 dan 20 lengan muncul di India Tengah selama abad ke-9 dan abad ke-10. dan yang akan datang ada di dalam tubuhnya. atau. dua penjelmaan Ganesa yang berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara (perut buncit. Ganesa melilitkan ular Basuki di lehernya. wujudnya yang terkenal memiliki sekitar dua sampai enam belas lengan.[17] Kedua nama tersebut merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang melukiskan bagaimana keadaan perutnya. merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu.[18] Banyak penggambaran tentang Ganesa yang menampilkan ia bertangan empat. perut bergelantungan) dan Mahodara (perut besar). dililitkan di pergelangan kaki. sedangkan yang lainnya patah. secara harfiah. Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya. Pada dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa (Sanskerta: tilaka). yang mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta.[21] Menurut Ganesapurana. Wujudnya pada masa awal memiliki dua lengan. karena menurut Mudgalapurana. yang telah disebut dalam Purana dan ditetapkan sebagai wujud standar dalam beberapa kitab tentang ikonografi. Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang suci (IAST: yajñyopavīta) yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk. yang berupa tiga garis mendatar. IAST: brahmāṇḍa) di masa lalu. atau dipakai sebagai mahkota. Ganeshapurana mengatakan . ia memberinya kepala gajah dan perut buncit. Kitab Brahmandapurana mengatakan bahwa Ganesa bernama Lambodara karena segala semesta (yaitu "telur alam semesta". Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat perhatian. Jumlah lengan Ganesa bervariasi. dipegang di tangan.[16] Penampilan ini amat penting. Kisah lain dalam kitab Warahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta secara langsung oleh tawa Siwa. yang ditaksir sejak periode Gupta (sekitar abad IV-VI).

penyu. naga ilahi. domba. atau merak. putih dihubungkan dengan wujud Ganesa sebagai Heramba-Ganapati dan Rina-Mochana-Ganapati (Ganapati yang membebaskan dari belenggu). Mayureswara menunggangi merak. Namun warna lain yang spesifik dihubungkan dengan wujud tertentu. Tikus sebagai wahana muncul pertama kali dalam kitab Matsyapurana dan kemudian dalam Brahmandapurana dan Ganesapurana. Wujud tertentu dari Ganesa yang disebut Bhalachandra (IAST: bhālacandra. tikus juga selalu ditempatkan dekat dengan kakinya. Wahana Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan).[23] Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana. sebuah buku tentang ikonografi dalam Hinduisme.[24] Ganesa seringkali digambarkan menunggangi atau diantar oleh seekor tikus. Dumraketu menunggangi kuda.bahwa tanda tilaka sama saja dengan bulan sabit pada dahi kepala. Ekadanta-Ganapati digambarkan berwarna biru selama bermeditasi dalam wujud itu. seperti misalnya tikus. "Bulan di dahi") memasukkan unsur penggambaran tersebut. dan Gajanana menunggangi tikus. menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda. Mohotkata menunggangi singa. Ganesa lima kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya. wahananya ada bermacam-macam. dan menggunakan Sesa. Pada empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana. Sebagai contoh. dimana Ganesa menggunakannya sebagai kendaraan hanya pada inkarnasi terakhirnya. dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. seekor merak saat menjelma sebagai Wikata.[22] Beberapa contoh mengenai hubungan warna dengan gerakan meditasi tertentu dinyatakan dalam Sritattvanidhi. Martin-Dubost mengatakan bahwa tikus muncul sebagai wahana yang utama dalam sastra tentang Ganesa. Ganapati Atharwashirsa mengandung sloka tentang Ganesa yang menyatakan bahwa gambar tikus terdapat . Dalam pandangan agama Jaina terhadap Ganesa. di wilayah India Tengah dan Barat selama abad ke7. gajah.

sehingga ada perubahan tekanan suara . seorang penulis buku Ganesa. mampu menembus bahkan memasuki tempat-tempat rahasia. dan kemunculan para Ganapatya. Ganesa sebagai penguasa tikus menunjukkan fungsinya sebagai Wigneswara (dewa segala rintangan) dan memberi bukti terhadap perannya sebagai grāmata-devatā (dewa pedesaan) bagi rakyat yang kemudian meningkat kemuliaannya. Merupakan hal yang penting untuk menaklukkan tikus sebagai hama penghancur. Seorang penulis buku tentang Ganesa bernama John A.[26] Paul Martin-Dubost yang juga pernah menulis buku tentang Ganesa memberi sebuah pandangan bahwa tikus adalah simbol yang memberi sugesti bahwa Ganesa..dalam benderanya. seperti halnya tikus. Jadi menurut teori tersebut. Itu merupakan kekuasaannya yang utama. Nama Musakawahana (berwahana tikus) dan Akuketana (berbendera tikus) muncul dalam Ganesa Sahasranama.[27] Asosiasi Rintangan Ganesa adalah Wigneswara atau Wignaraja.. dewa segala rintangan. mengatakan bahwa tikus itu bersifat merusak dan mengancam pertanian. Grimes telah menafsirkan makna tikus sebagai atribut Ganesa. meski ia juga memasang rintangan pada umatnya yang perlu diberi cobaan. merampok)."[28] Yuvraj Krishan menyatakan bahwa beberapa nama Ganesa mencerminkan perannya yang berkembang dari waktu ke waktu. Michael Wilcockson mengatakan bahwa tikus melambangkan orangorang yang ingin mengatasi keinginan dan mengurangi sifat egois. K. "pekerjaannya adalah menempatkan dan menyingkirkan rintangan. Tikus ditafsirkan dalam berbagai pengertian.[29] M. sejenis wighna (rintangan) yang perlu untuk diatasi. Paul Courtright mengatakan. Ia mahsyur dipuja sebagai penyingkir segala rintangan. baik yang bersifat material maupun spiritual. Kata Sanskerta mūṣaka (tikus) diambil dari akar kata mūṣ (mencuri. Dhavalikar beranggapan bahwa karena cepatnya ketenaran Ganesa di antara dewi-dewi Hindu. [25] Yuvraj Krishan.

Engkaulah matahari . khususnya pada zaman Purana. ketika banyak kisah menonjolkan kepintarannya dan cinta terhadap kecerdasan. Engkaulah Indra. Dalam bahasa Sanskerta.[33] maka nama Buddhipriya bisa saja berarti "Yang dicintai oleh kecerdasan" atau "Suami Buddhi". dan dalam konteks suami-istri bisa berarti "kekasih" atau "suami". dua fungsi tersebut menjadi amat penting dalam karakter Ganesa. Kata priya bisa berarti "yang tercinta". dan Mahesa. atau akal. "bahkan setelah Ganesa dalam Purana digambarkan dengan baik. Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu).". kebijaksanaan. sehingga memiliki aspek negatif maupun positif. Swami Chinmayananda menerjemahkan pernyataan yang relevan berikut ini: (O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma. merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia menjelma sebagai bunyi yang utama.[34] Aum Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu (Simbol: ॐ. seperti yang dijelaskan Robert Brown.[32] Konsep buddhi erat dikaitkan dengan kepribadian Ganesa. Istilah oṃ(ng)kāraswarūpa (Aum adalah wujudnya).[31] Buddhi Ganesa dianggap sebagai Dewa Aksara dan Pelajaran.[35] Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi penjelasan mengenai hubungan ini. kata buddhi adalah kata benda feminin yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan. Ganesa meninggalkan banyak hal-hal penting untuk peran gandanya sebagai pencipta dan penyingkir rintangan.dari wignakartā (pencipta rintangan) menjadi wignahartā (penyingkir rintangan). juga dieja 'Om'). Salah satu nama Ganesa dalam Ganeshapurana dan Ganesa Sahasranama adalah Buddhipriya. Wisnu. ketika diidentikkan dengan Ganesa. [30] Bagaimana pun. Nama ini juga muncul dalam daftar 21 nama di akhir Ganesa Sahasranama yang menurut Ganesa amat penting.

[37] Cakra pertama Menurut Kundalini yoga.[38] Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa.[36] Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan Tamil. dan Swargaloka [sorga]. menopang dan memandu cakra-cakra lainnya. utama". . adhara berarti "dasar.] Engkau senantiasa menempati urat sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra]. Engkaulah Om. Ganesa memegang. atau oleh Parwati. namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana. sehingga ia mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan. pondasi". mitos-mitos dalam Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. Engkaulah (tiga dunia) Bhuloka [bumi]. Courtright menerjemahkan pernyataan sebagai berikut: "[O Ganesa. atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. Engkaulah Brahman. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa.(Surya) dan bulan (Candrama). Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokokpokok kekuatan ilahi yang terpendam. Mula berarti "asal. bahwa Engkaulah segala hal tersebut). Ganesa memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara. Antariksa-loka [luar angkasa]. Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa."[39] Maka dari itu. yang disebut muladhara. (Itu sebagai tanda. atau oleh Siwa dan Parwati.[38] Mitologi Kelahiran Meski Ganesa terkenal sebagai putera dari Siwa dan Parwati. Ganesa menempati cakra pertama.

Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik. Atas saran Brahma. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah.Dalam kitab Siwapurana dikisahkan. Siwa menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan. untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Di India Utara. Ketika turun ke dunia. Keluarga dan istri Dalam keluarga Ganesa ada saudaranya yang bernama Skanda. Ganesa dianggap yang lebih dahulu lahir. yaitu para gana. sementara di India Selatan. sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya. Murugan. dan lain-lain. ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Karena tidak ingin diganggu. . Perbedaan wilayah memberikan versi berbeda tentang jenjang kelahiran mereka. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya. gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara. yang juga disebut Kartikeya. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa. ia menciptakan seorang anak laki-laki. Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. Ketika Parwati selesai mandi. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Skanda biasanya dianggap yang lebih tua. Siwa mengutus abdinya. suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. ia mendapati puteranya sudah tak bernyawa.

Beberapa kisah menceritakan persaingan antara kedua bersaudara tersebut dan bisa saja mencerminkan ketegangan yang terjadi antar sekte (pemuja Ganesa dan pemuja Skanda). Seiring dengan memudarnya Skanda. khususnya saat mulai berniaga seperti misalnya membeli kendaraan atau memulai . Salah satu pola dalam mitos mengidentifikasi Ganesa sebagai seorang brahmacarya yang tak menikah. tiga kualitas ini kadangkala dipersonifikasikan sebagai para dewi. Kisah ini tidak memiliki dasar dari kitab Purana.[45] Pemujaan dan festival Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian maupun kegiatan sehari-hari. Dalam contoh lain. memiliki beragam versi dalam cerita-cerita mitos. dan Riddhi (kemakmuran). menghubungkan Ganesa dengan pohon pisang. ketika pemujaan terhadapnya berkurang secara signifikan di India Utara. puteranya seringkali disebut Suba (keselamatan) dan Laba. dewi kepuasan. Menurut kisah versi India Utara. terutama yang menonjol di wilayah Benggala. yang konon menjadi para istri Ganesa. subjek pembicaraan yang luas bagi para sarjana. ia diasosiasikan dengan dewi kebudayaan dan kesenian. Siddhi (kekuatan spiritual). yaitu Saraswati atau Śarda (umumnya di Maharashtra).[42] Dia juga disangkutpautkan dengan dewi keberuntungan dan kemakmuran. Dia bisa juga digambarkan dengan satu pasangan saja atau seorang pelayan tanpa nama (Sanskerta: daşi). Dalam contoh lain. Kala Bo. Ganesa mulai berkembang.[43] Contoh lainnya.[44] Kitab Siwapurana mengatakan bahwa Ganesa memiliki dua putera: Ksema (kemakmuran) dan Laba (keuntungan). Film berbahasa Hindi tahun 1975 berjudul Jai Santoshi Maa menampilkan Ganesa yang menikahi Riddhi dan Siddhi lalu memiliki puteri bernama Santoshi Ma. ia diasosiasikan dengan konsep Buddhi (kecerdasan).[41] Pandangan ini biasa terdapat di India Selatan dan di beberapa wilayah India Utara.Skanda merupakan dewa perang yang mahsyur sekitar tahun 500 SM sampai 600 M. Laksmi.[40] Status orangtua Ganesa.

Festival yang dikaitkan dengan Ganesa adalah Winayaka caturti (Ganesa Caturti) pada śuklapakṣa (hari keempat bulan purnama) di bulan bhadrapada (Agustus/September) dan Ganesa jayanti (ulang tahun Ganesa) dirayakan pada cathurthī dalam kṛṣṇapakṣa (hari keempat bulan mati) di bulan magha (Januari/Februari). Mantra-mantra seperti misalnya Om Shri Gaṇeshāya Namah (Om. ia akan memberi kesuksesan.bisnis. memulai usaha yang penting.[46] Pemujanya percaya bila Ganesa dibuat senang. [. Karena ia diidentifikasikan dengan warna merah. "jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak memiliki arca Ganapati. hormat pada Hyang Ganesa yang mahsyur-mulia) seringkali dipakai. Salah satu mantra paling terkenal yang diasosiasikan dengan Ganesa adalah Om Gaṃ Ganapataye Namah. Rumput Dūrvā (Cynodon dactylon) dan benda lainnya sering dipakai dalam memujanya. kemakmuran dan perlindungan terhadap bencana. sebagai dewa yang termahsyur di India. Somayaji berkata. .] Ganapati. Dia seringkali digambarkan memegang semangkuk manisan. yang disebut modakapātra. dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara". Penari dan musisi.. Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu. dan umat Hindu dari seluruh denominasi memanggil namanya saat memulai persembahyangan. dan upacara keagamaan. K. Pemujanya memberi persembahan berupa manisan seperti misalnya modaka dan bola-bola kecil manis (laddu).N. ia seringkali dipuja dengan pasta cendana merah (raktacandana) atau bunga merah. khususnya di India Selatan. memulai pertunjukkan seni seperti misalnya tari Bharatnatyam dengan terlebih dahulu memuja Ganesa.

Festival itu juga mendapat proporsi yang besar di Mumbai dan di sekitar kuil-kuil Astawinayaka. umat Hindu di penjuru India merayakan festival Ganapati dengan semangat menyala. dalam cita-cita nasional menentang penjajahan Inggris di Maharashtra.[48] Karena Ganesa dipuja secara luas sebagai "dewa bagi semua orang".[50] Di masa kini. atau sebagai dewa utama di sebuah kuil (pradhana). dia banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau halhal buruk. dimulai pada Ganesa Caturti. Dan juga. "delapan (kuil) Ganesa") di Maharashtra yang paling mahsyur. Festival memuncak pada hari Ananta Caturdasi.[47] Ia melakukannya untuk mengatasi kesenjangan antara golongan Brahmana dan non-Brahmana dan menemukan konteks tak lazim yang dimaksud untuk membangun akar persatuan di antara mereka. Terletak di jarak sekitar 100 kilometer dari kota Pune. dijamu bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu. Pada tahun 1893. Ganesa dapat diuraikan beraneka macam: sebagai dewa bawahan (parswadewata).[51] Sebagai dewa keluarmasuk. beberapa kuil didedikasikan untuk Ganesa sendiri. masing-masing dari delapan kuil ini memuliakan wujud utama . sebagai dewa yang erat dengan dewa utama (pariwaradewata). meskipun hal itu paling populer di negara bagian Maharashtra. Kuil Dalam tempat suci Hindu. dan menetapkan tradisi untuk mencelupkan semua citra Ganesa pada hari kesepuluh. aṣṭavināyaka.[49] Tilak adalah orang pertama yang memasang citra Ganesa yang besar bagi masyarakat umum di sebuah paviliun. yang jatuh pada akhir bulan Agustus atau awal September. Lokmanya Tilak mengubah festival tahunan ini dari perayaan keluarga secara pribadi menjadi acara bagi masyarakat luas. ketika arca (murti) Ganesa dicelupkan ke dalam air. Tilak memilihnya sebagai tempat menampung protes rakyat India terhadap pemerintahan Inggris. misalnya Astawinayaka (Sanskerta: अष्टिवनायक.Ganesa Caturti Festival tahunan untuk memuja Ganesa yang berlangsung selama sepuluh hari. yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati.

figur Wigneswara kelihatan tak berubah-ubah. Ujjain di Madhya Pradesh. Di jalan masuk menuju desa atau sebuah benteng. menandai wilayah suci Ganesa. yang diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra. dalam sebuah relung […]. Baroda. memiliki citra Wigneswara-nya sendiri dengan atau tanpa kuil untuk menempatkannya. meskipun desa kecil. di kuil Wisnu maupun Siwa dan juga pada bangunan suci yang khususnya dibangun dalam kuil Siwa […]. Hampi. yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta. Jodhpur. dan di beberapa negara barat. di Rameshvaram dan Suchindram di Tamil Nadu. Keterbukaan dan ketenarannya yang luas.[53] Pemujaan tersendiri terhadapnya muncul sekitar abad ke-10. "Setiap desa.[54] Narain mengikhtisarkan kontroversi antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap perkembangan Ganesa sebagai berikut: [A]pa yang selama ini tak terduga adalah kemunculan Ganesa yang agak dramatis menurut pandangan sejarah. . yang melampaui batas mahzab dan teritorial. termasuk Asia Tenggara. dan Balsad di Gujarat dan Kuil Dhundiraj di Benares. di bawah pohon bodhi […]. Dhokala. A. Kemunculan pertama Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4 sampai abad ke-5. Kuil Ganesa yang utama di India Selatan yaitu sebagai berikut: Kuil Jambukeśvara di Tiruchirapalli. Baidyanath di Bihar. Uttar Pradesh. Nepal. bersama-sama mereka membentuk sebuah mandala. Gopinatha berkata."[52] Kuil Ganesa juga dibangun di luar India. T. Kasargod. Pelopornya tak jelas.Ganapati. Nagaur dan Raipur (Pali) di Rajasthan. sungguh menakjubkan. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal. Ada banyak kuil Ganesa yang penting di tempat-tempat berikut ini: Wai di Maharashtra. lengkap dengan cerita dan legendanya. dan Bhadrachalam di Andhra Pradesh. dan Idagunji di Karnataka.

Ganapati-Winayaka masih membuat debutnya. muncul dalam kesenian dan koin India pada permulaan abad ke2. namun keduanya tidak merujuk pada Ganesa yang sekarang. "meski pada abad ke-2 Masehi ada perwujudan yaksa berkepala gajah. roh jahat.[58] Penggambaran figur manusia berkepala gajah.[54] Pengaruh memungkinkan Buku yang ditulis Thapan tentang perkembangan Ganesa mengandung sebuah bab tentang spekulasi mengenai peran kepala gajah pada zaman awal di India. Tidak ada bukti mengenai dewa yang disebut memiliki wujud gajah atau berkepala gajah pada permulaan zaman ini.[56] Dalam mitologi Hindu. namun merupakan mitologi yang cukup menarik. .Di satu sisi ada kepercayaan bagi umat yang ortodoks terhadap asal-usul Ganesa dari zaman Weda dan dalam Purana terdapat penjelasan yang membingungkan. baik dalam Purana-Purana maupun Tantra Buddha.. "Dia bukan dewa dalam Weda.[57] Krishan adalah salah satu sarjana yang menerima teori ini."[55] Suatu teori mengenai asal-usul Ganesa mengatakan bahwa ia perlahan-lahan menjadi tenar sehubungan dengan empat Winayaka. Di sisi lain terdapat keraguan mengenai adanya gagasan dan arca tentang dewa ini sebelum abad keempat sampai kelima Masehi. itu tidak bisa dianggap menggambarkan GanapatiWinayaka. dari Manawagrehyasutra (abad VII-IV SM) yang menyebabkan berbagai jenis kejahatan dan penderitaan". namun mudah untuk ditenangkan. Istilah itu . para Winayaka adalah kelompok empat makhluk jahat yang membuat rintangan dan kesulitan.[59] Sastra Weda dan wiracarita Gelar "Pemimpin kelompok" (Sanskerta: ganapati) muncul dua kali dalam Regweda. Asal-usulnya mengikuti jejak empat Winayaka. Nama Winayaka adalah nama yang biasa bagi Ganesa. yang berkomentar datar tentang Ganesa. yang beberapa di antaranya diidentifikasikan dengan Ganesa.. namun berkesimpulan bahwa.

23. maka tidak begitu berguna dalam menentukan informasi paling awal mengenai sang dewa (Ganesa)". seperti yang dikatakan Heras. menurut para komentator.9) merujuk pada Indra. Sebuah sisipan pada wiracarita Mahabharata mengatakan bahwa Resi Byasa meminta Ganesa untuk membantunya sebagai seorang penulis untuk mencatat wiracarita yang didikte oleh sang resi kepadanya. dan "berbelalai bengkok" (Wakratunda).112. Ludo Rocher mengatakan bahwa itu dengan jelas merujuk kepada Wrehaspati—dewa himne-himne—dan hanya Wrehaspati. "referensi mengenai dewa berkepala gajah di Maitrayani Samhita telah terbukti sebagai sisipan paling akhir." Tetapi. Nama-nama ini mengingatkan kita pada Ganesa. dan seorang komentator dari abad ke-14 bernama Sayana dengan tegas memastikan identifikasi ini.1) sebagai gelar untuk Brahmanaspati.[64] Deskripsi tentang Dantin.1). tebu. "bermuka gajah" (Hastimuka). yang memiliki belalai bengkok (wakratunda) dan memegang jagung. Rocher menyatakan bahwa sastra-satra Ganapatya terkini seringkali mengutip sloka-sloka Regweda untuk menghormati Ganesa. yaitu Maitrayaniya Samhita (2.[66] Thapan menambahkan bahwa pernyataan-pernyataan itu lazimnya dianggap sebagai sebuah sisipan.[61] Dalam pembantahan bahwa pernyataan tersebut merupakan bukti keberadaan Ganesa dalam Regweda.[65] Tapi. sloka itu kemudian diadopsi untuk memuja Ganesa dan masih dipakai hingga sekarang. diterjemahkan menjadi "Pemimpin perkumpulan (bagi para Marut). Krishan menganggap bahwa himne-himne ini adalah tambahan (carangan) pasca zaman Weda. menyatakan permohonan kepada dewa yang "bertaring satu" (Dantih).[63] Dua sloka dalam kitab yang termasuk Yajurweda hitam.[60] Saat sloka itu tak diragukan lagi merujuk pada Brahmanaspati. Ganesa setuju namun dengan syarat bahwa .1) dan Taittiriya Aranyaka (10. "tidak bisa dibantahkan lagi untuk menerima identifikasinya (ciri-ciri Ganesa) dengan (ciri-ciri) Dantin ini".9.[62] Hal yang juga mirip.[67] Ganesa tidak muncul dalam wiracarita India pada zaman Weda. dan gada. merupakan karakteristik Ganapati yang utama secara Purana.muncul dalam Regweda (Rw 2. yaitu pernyataan kedua (Rw 10. yang diberi gelar 'ganapati'. Dhavalikar mengatakan.

ia perlu menceritakan suatu pernyataan yang sangat kompleks sehingga Ganesa akan bertanya untuk mengklarifikasi. seperti misalnya Bayupurana dan Brahmandapurana. 900. tanpa berhenti. 600–1300. 600 dan seterusnya.Byasa harus membeberkan wiracarita itu tanpa diselingi. penuturan kisah hidup Ganesa yang lebih detil ada dalam kitab yang muncul belakangan. Winternitz juga menambahkan bahwa versi berbeda dalam naskah Mahabharata di India Selatan adalah penghapusan terhadap legenda Ganesa tersebut.[73] . Brown mengatakan. dan Moriz Winternitz menyimpulkan bahwa kisah itu dikenal pada awal th. Ia meneliti masalah dan mengungkapkan bahwa referensi tentang Ganesa yang terdapat dalam Purana-purana awal. adalah sisipan di kemudian hari yang dibuat dari abad ke7sampai abad ke-10. sementara kitab-kitab Purana tidak menyebutkan kapan tepatnya suatu peristiwa terjadi.[70] Sebuah referensi tentang Wignakartrinam ("Pencipta rintangan") dalam Wanaparwa juga dipercaya sebagai sebuah sisipan dan tidak muncul dalam edisi kritikan. yaitu. Hubungan antara Ganesa dengan ketangkasan pikiran dan pembelajaran adalah salah satu alasan sehingga ia ditampilkan sebagai penulis dikte yang dijabarkan Byasa tentang Mahabharata dalam sisipan tersebut. sekitar th. namun sadar bahwa untuk melakukan jeda. Zaman Purana Kisah mengenai Ganesa seringkali muncul dalam kitab-kitab Purana.[69] Istilah winayaka ditemukan dalam beberapa resensi dalam Santiparwa dan Anusasanaparwa yang dianggap sebagai sisipan. Sang resi setuju. namun tidak ditambahkan ke dalam Mahabharata sampai sekitar 150 tahun kemudian.[71] .[68] Richard L.[72] Yuvraj Krishan mengatakan bahwa mitos mengenai kelahiran Ganesa dan bagaimana ia memperoleh kepala gajah. ada dalam Purana yang digubah dari th. Kisah tersebut tidak dianggap sebagai sebuah bagian dalam kitab orisinilnya oleh editor dalam kitab Mahabharata edisi kritikan. Brown memperkirakan waktunya terjadi sekitar abad ke-8.

"namun kemudian diberi sisipan. Wisnu. Filsuf abad ke-9 bernama Shankaracarya mempopulerkan "pemujaan terhadap lima wujud" (pañcāyatana pūjā). Siwa. mungkin pokok-pokok isi dari Ganeshapurana muncul sekitar abad keduabelas dan ketigabelas".[75] R. Dalam pemujaan ini dilakukan pemanggilan lima dewa yaitu Ganesa. Anita Thapan mengutarakan komentar tentang masa penggubahan dan mengukuhkan pendapatnya. Keduaduanya berkembang dari waktu ke waktu dan mengandung isi yang bertumpuktumpuk. sebuah sistem di antara kaum brahmana yang ortodoks dalam tradisi Smarta. Hal ini sungguh-sungguh membuat peran Ganesa sebagai seorang dewa komplementer. seperti yang dapat disimak dalam Ganeshapurana dan Mudgalapurana. Mereka mengembangkan tradisi Ganapatya."[74] Lawrence W.[76] Tetapi. Shankaracarya mendirikan tradisi itu dengan tujuan utama untuk menyatukan dewa-dewi utama dari lima sekte besar pada status yang sama. Masa penggubahan Ganeshapurana dan Mudgalapurana (dan waktunya tidak tetap antara satu sama lain) telah mengobarkan perdebatan para sarjana. Preston berpikir bahwa waktu yang memungkinkan untuk penggubahan Ganeshapurana antara tahun 1100 dan 1400. "Sepertinya.Bangkitnya ketenaran Ganesa dikodifikasikan pada abad ke-9. dia berkata. dan Surya. beberapa brahmana memilih untuk memuja Ganesa sebagai dewa utama mereka. yang menurutnya digubah pada tahun 1100 dan 1400. ketika secara formal ia dimasukkan ke dalam lima dewa utama dalam aliran Smarta. Buku dan sastra Ketika Ganesa diterima sebagai salah satu dari lima dewa utama dalam Brahmanisme.C. Hazra mengatakan bahwa Mudgalapurana lebih tua daripada Ganeshapurana. Dewi. bersamaan dengan waktu berdirinya tempat-tempat suci seperti yang disebutkan dalam kitab itu. Phyllis Granoff menemukan masalah terhadap waktu yang tidak tetap ini dan .

di antara bukti-bukti internal lainnya.[82] Umat Hindu bermigrasi ke nusantara dan membawa budaya mereka. Ganesa menjadi dewa utama yang dikaitkan dengan para pedagang. Wujud Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa.[80] Ganesa khususnya disembah oleh para pedagang dan rombongannya. pembentukan serikat dagang. seringkali di samping kuil Siwa. [79] Di luar India dan agama Hindu Hubungan dagang dan budaya telah memperluas pengaruh India di Asia Barat dan Tenggara. Mudgalapurana secara spesifik menyebut Ganeshapurana sebagai salah satu dari empat Purana (Brahma.[81] Tulisan paling awal yang mengandung seruan kepada Ganesa sebelum memanggil dewa-dewi lainnya dikaitkan dengan komunitas rombongan pedagang. Arca-arca Ganesa ditemukan di sepanjang wilayah Nusantara dalam jumlah yang banyak. Brahmanda. yaitu Ganapati Atharwashirsa. ada kemungkinan digubah pada abad ke-16 atau ke-17. dan Mudgalapurana) yang menyinggung masalah Ganesa. dan Kalimantan yang menunjukkan pengaruh regional yang spesifik.[78] Kitab lain yang memuji Ganesa.[83] Penyebaran budaya Hindu . Bali. yang pergi ke luar India untuk malakukan hubungan dagang. dan bangkitnya sirkulasi keuangan. Selama masa ini. Ganesa adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi Hindu yang menjamah negeri asing sebagai akibatnya. Ia mengemukakan alasannya berdasarkan sebuah fakta bahwa. Ganesha.berkesimpulan bahwa Mudgalapurana adalah kitab filsafat terakhir yang menyinggung masalah Ganesa. Periode dari sekitar abad ke-10 sampai seterusnya ditandai oleh perkembangan jaringan-jaringan baru terhadap hal pertukaran.[77] Sementara isinya sudah usang. kitab itu diberi sisipan sampai abad ke-17dan ke-18. sehubungan dengan pemujaan Ganapati yang menjadi penting dalam wilayah tertentu. termasuk Ganesa. bersama mereka.

dan pengaruh timbal balik bisa dilihat dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu.[85] Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana.[91] . mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu.[89] Dalam versi Tibet. Ganesa digambarkan sedang diinjak oleh kaki Mahākāla. Wujud ini. wujud Ganesa secara Hindu. ia memiliki lima kepala dan menunggangi singa. kemudian diadopsi di Nepal. ada patung batu dari zaman awal yang dikenal sebagai Ganesa. dan Thailand. namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama yang sama. Afganistan memiliki ikatan budaya yang erat dengan India. dikenal sebagai Heramba. Di Cina Utara.secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa dimodifikasi di Burma. pemujaan terhadap Ganesa pertama kali disebutkan pada tahun 806. dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama dijalankan.[84] Sebelum kedatangan Islam. ia seringkali digambarkan sedang menari. Di Thailand. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan. tidak hanya dalam wujud dewa Vināyaka dalam agama Buddha.[88] Ganapati versi Tibet adalah tshogs bdag. disebut Nṛtta Ganapati.[86] Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa kerajaan Gupta. Kamboja. Penggambaran Ganesa di Tibet menunjukkan pandangan yang bertentangan terhadapnya. Di Indochina. Sebagai dewa Vināyaka dalam agama Buddha.[90] Di Jepang. Kamboja dan di Vietnam. Bahkan kini oleh umat Buddha di Thailand. dan termahsyur di wilayah India Utara. Ganesa terutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan.[87] Di Nepal. Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala rintangan. atau dewa keberhasilan. sangat terkenal. kadangkala dalam wujud sedang menari. lalu di Tibet. Penggambaran lain menampilkan wujudnya sebagai pemusnah segala rintangan. Ganesa muncul di Cina dan Jepang dalam wujud yang menampilkan karakter wilayah yang berbeda. yaitu dewa bangsa Tibet yang terkenal. agama Hindu dan Buddha dijalankan dengan berdampingan. disertai tulisan yang berangka tahun 531.

Sastra agama Jaina (Jainisme) tidak menyebutkan adanya pemujaan terhadap Ganesa. Di Indonesia khususnya Bali. SIWA LINGGA (LINGGA YONI) Lingga merupakan lambang Dewa Siwa. keterangan.[95] Citra Ganesa muncul dalam kuil Jaina di Rajasthan dan Gujarat. walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak. isyarat. Namun.[92] Hubungan Jaina dengan komunitas perdagangan mendukung gagasan bahwa Jainisme mengambil tradisi pemujaan Ganesa sebagai akibat dari hubungan perdagangan. bahwa lingga . sumbu (Zoetmulder. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga. Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali.[96] 23. titik pusat. khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. titik tuju pemujaan. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno.[94] Sebuah kitab Jaina dari abad ke-15 memaparkan prosedur untuk memasang citra Ganapati. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat. ciri. Ganesa dipuja oleh banyak umat Jaina. muncul sebagai pengambil alih fungsi Kubera. peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau. yang pada hakekatnya mempuriyai arti. sifat khas. Patung Dewa.[93] Patung Ganesa tertua versi Jaina ditaksir berasal dari abad ke-9. poros. bukti. akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti lingga yang sebenarnya. petunjuk. 2000 601). lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu. Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda. yang sudah tentu bersifat umum. pusat.

Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa. malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa. pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali. Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di . maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme).diidentikkan dengan : linggih. 1973 : 40). sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono. Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan. menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao. Mengenai pemujaan lingga di Indonesia. yang artinya tempat duduk. Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore. di Indonesia. yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. Di India terutama di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte linggayat (Putra. 1916 : 69). lingga merupakan lambang kesuburan. dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa. 1975 : 104). Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu. 2002 : 2) kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu. (Agastia.

kesuburan dan sebagainya. (Soekmono. 1959 102). Pura-pura di Pejeng.Kanjuruhan. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai sabdasparsadi Artinya: berikut: warjitam”. 1973 : 41-42). Gandhawarna rasairhinam . Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers. yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. di Bedahulu dan di Goa Gajah. Jawa Timur. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih. ”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru. Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya.

warna. rasa. Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga). Jadi dalam Lingga Purana. lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa. pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam). Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:”Bhatara Siwalingga Artinya: Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa. . Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa. Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya Bentuk sebagai Siwa. Dalam “Pranalo Artinya: Jnana Brahma visnus ca Siddhanta Lingotpadah disebutkan: Siwarcayet”. Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa.Lingga awal yang mula-mula tanpa bau. Lingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”.

segi dua belas. Sebuah lingga berdiri. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma. jadi lingga dan yoni. Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain : berbentuk payung (chhatrakara). mentimun (tripusha kara). sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma. berbentuk telur (kukkutandakara). pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. 1916 : . berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao. persegi enam belas dan yang lainnya. setengah bulatan. Dengan istilah lingga pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga. dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga. bulat. berbentuk buah 93).Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap sebagai sumber siwa. bulat telur. berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara). Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao. Kemudian lingga yoni. Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. segi enam. segi empat panjang. 1916 :99). berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma. Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air. Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. Wisnu. Wisnu dan Siwa. segi delapan. bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga. Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha. Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi. Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah.

rumput kurcha. waidurya. gandum. pippala dan udumbara. perak. menjadi adonan setelah beberapa b. Ratmaja mutiara. dan dewadara. e. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah: a. madhuka. tinduka. janggery dan tepung. tepung. seperti : emas. timah dan lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama. artinya lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. Lohaja logam c. jamrud. permata. bilva. nasi. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira. tanah pekat. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu. Lingga : Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam. baik yang sudah dibakar. serbuk cendana. chandana. Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami. Lingga kuningan. d. beras.Chalalingga . Mrinmaya Lingga Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat. bunga . arjuna. karnikara. Daruja kristal. Lingga kwarsa. Gopinatha Rao.Jenis-Jenis Lingga Berdasarkan penelitian dan TA. sala. Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol.Achalalingga Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak. tembaga. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain . badara. Kshanika Lingga Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam. besi. Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti.

sitrun atau apel hutan. Dalam mitologi. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani. Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika lingga. lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi. lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga.b. sebagai berikut: a.A. Daivika lingga. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas. kumpulan kuliahkuliah agama jilid I”. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi. d. menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan. II part I” dapat dijelaskan. lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan BhataraBhatari. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang . Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga. Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T. Arsha lingga. sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan lingga yang paling utama (uttamottama).dan rudrasha. lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu. Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. c. Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun. lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di bumi. Lingga ini berhubungan dengan Ganesa. Svayambhuva lingga. Ganapatya lingga.

Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. dipakai oleh brahman). Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru. Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama. karena langsung dibuat oleh tangan manusia. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. artinya hari raya untuk . beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. e. 24. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur. Sama halnya dengan Galungan. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun. sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci.• WHD No. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar). Manusa lingga. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru. HARI RAYA HINDU Pagerwesi Hari Raya Pagerwesi Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat.suci. 437 Juli 2003.

. ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta. Artinya: Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha Bhuta. sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah. Tengah malam melakukan yoga samadhi. segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan). Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. Dalam lontar Sundarigama disebutkan: "Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh. baik pendeta maupun umat walaka. Hakikat pelaksanaan upacara Pegerwesi adalah lebih ditekankan pada pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan Mapasang Lingga.semua masyarakat." Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. Dalam lontar Sundarigama disebutkan: Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara.

Dalam hal upacara. ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Canang dan Sodaan. memohon. Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Banten yang paling inti perayaan Pegerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa.Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi). Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan. Makna Filosofi Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati. Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. memuji dan memusatkan diri. Prayascita. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Suci Praspenyeneng dan Banten Penek. Tentunya dilengkapi Daksina. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Memuja berarti menyerahkan diri. Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah "Sesayut Panca Lingga" sedangkan perlengkapannya Daksina. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. menghormati. Dapetan. Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya .

Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat. Wanijyam. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Kalau ada pihak yang dirugikan. itu berarti ada kecurangan. artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan." Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. maka adharma . artinya perdagangan.merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma. Goraksya. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh. Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu: Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh). Keuntungan yang benar. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh.

Mengingat ngargha mapasang lingga dianjurkan oleh lontar Sundarigama pada hari Pagerwesi ini. Vibrasi spiritual itulah sebagai pagar besi dari kehidupan dan itu pulalah guru sejati. Hal ini dapat dipahami. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Pembuatan tirtha dalam upacaraupacara besar dilakukan dengan mapulang lingga. Karena itu amat ditekankan pada Hari Raya Pagerwesi para pendeta agar ngarga. purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. dengan pengasepan sampai disucikan dengan mantra-mantra tertentu sehingga tirtha yang dihasilkan betul-betul amat suci. mapasang lingga. Dalam agama Hindu. berarti para pendeta harus melakukan hal yang amat utama untuk mencapai vibrasi spiritual payogan Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru.tidak dapat masuk menguasai manusia. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata. Sebelum membuat tirtha. terlebih dahulu pendeta menyucikan arga dengan air. Tirtha suci itulah yang akan dibagikan kepada umat. karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Ngarga adalah suatu tempat untuk membuat tirtha bagi para pendeta. Penjelasan Manawa Dharmasastra ini adalah bahwa atma yang tidak diselimuti oleh awan kegelapan dari hawa nafsu akan dapat menerima vibrasi spiritual dari Brahman. Dalam Manawa Dharmasastra V. Sesayut Panca Lingga dengan inti ketipat Lingga adalah memohon lima manifestasi Siwa untuk memberikan benteng kekuatan (pager besi) dalam . 109 disebutkan: Atma dibersihkan dengan tapa bratabudhi dibersihkan dengan ilmu pengetahuan (widia) manah (pikiran) dibersihkan dengan kebenaran dan kejujuran yang disebut satya.

menghadapi hidup ini. Para pendetalah yang mempunyai kewajiban menghadirkan lebih intensif dalam masyarakat. Kemahakuasaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Siwa dengan simbol Panca Lingga, Sesayut Pageh Urip bagi kebanyakan atau umat yang masih walaka. Kata "pageh" artinya "pagar" atau "teguh" sedangkan "urip" artinya "hidup". "Pageh urip" artinya hidup yang teguh atau hidup yang terlindungi. Kata "sesayut" berasal dari bahasa Jawa dari kata "ayu" artinya selamat atau sejahtera. Natab Sesayut artinya mohon keselamatan atau kerahayuan. Banten Sesayut memakai alas sesayut yang bentuknya bundar dan maiseh dari daun kelapa. Bentuk ini melambangkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan haruslah secara bertahap dan beren-cana. Tidak bisa suatu kebaikan itu diwujudkan dengan cara yang ambisius. Demikianlah sepintas filosofi yang terkandung dalam lambang upacara Pagerwesi. Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan hari raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima pada intinya adalah hari raya untuk memuja Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang mendapatkan wahyu ten-tang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana. Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adi guru loka yaitu gurunya alam semesta. Sedangkan Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari Purnama. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24. 000 sloka

Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra. Ke-24 suku kata suci dari Tri Pada Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000 sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi Walmiki pun dipuja sebagai adi guru loka yaitu maha gurunya alam semesta. Sampai saat ini Mahabharata dan Ramayana yang disebut itihasa adalah merupakan pagar besi dari manusia untuk melindungi dirinya dari serangan hawa nafsu jahat. Jika kita boleh mengambil kesimpulan, kiranya Hari Raya Pagerwesi di Indonesia dengan Hari Raya Guru Purnima dan Walmiki Jayanti memiliki semangat yang searah untuk memuja Tuhan dan resi sebagai guru yang menuntun manusia menuju hidup yang kuat dan suci. Nilai hakiki dari perayaan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dengan Pegerwesi dapat dipadukan. Namun bagaimana cara perayaannya, tentu lebih tepat disesuaikan dengan budaya atau tradisi masing-masing tempat. Yang penting adalah adanya pemadatan nilai atau penambahan makna dari memuja Sanghyang Pramesti Guru ditambah dengan memperdalam pemahaman akan jasa-jasa para resi, seperti Resi Vyasa, Resi Walmiki dan resi-resi yang sangat berjasa bagi umat Hindu di Indonesia. (Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni) Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam

rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan: Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya. Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah

Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Disebutkan pula. Makna Filosofis Galungan Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha. Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu. sakti dari Dewa Siwa. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata.datang tak henti-henti. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Untuk mengetahui penyebabnya. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri. . Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali. tak jauh dari Pura Besakih. setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. barulah Galungan dirayakan kembali.

Jadi. artinya luar. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. enam hari sebelum Galungan. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang. galang apadang maryakena sarwa byapaning idep Artinya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma.Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Kata Jawa di sini sama dengan Jaba. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut: Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi. Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa .

artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana. Dalam lontar disebutkan. karena itu hari penyucian semua bhatara). Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Dan itulah yang disucikan. . Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan.itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa. "Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi." Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban.

Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa.Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Berdasarkan sumbersumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel). Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. umat menikmati waranugraha Dewata. Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Pada hari ini. dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Dalam lontar Sundarigama disebutkan. Upacara tersebut barmakna." Artinya. Sabtu Kliwon disebut Kuningan. . Keesokan harinya. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Galungan Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan "Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga). Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya. Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib melaksanakan.

Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Galungan Nara Mangsa Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Karena itu Galungan. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Disebutkan dalam lontar itu. saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan. Sapta Wara dan Wuku. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). dan wukunya Dungulan. Galungan Nadi Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Jadi Galungan itu dirayakan.Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Sapta Waranya Rabu. kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut: . setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara. Kalau Panca Waranya Kliwon. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.

Mwah yan anemu sasih Kesanga. Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9. Tidak baik itu. anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika. Yan tekaning sasih Kapitu. yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung. Kala Rau ngaranya yan mengkana. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9. rah 9. bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Galungan Nara Mangsa ngaran."Yan Galungan nuju sasih Kapitu. Tilem Galungan. ingatlah. rah 9 tenggek 9. mwang sasih kesanga. Artinya: Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia. Galungan Nara Mangsa namanya. Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut: Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru. poma haywa lali elingakna." Artinya: Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem. pada hari Galungan itu. membawa penyakit adanya. nasi cacahan maoran keladi. moga ta sira kapereg denira Balagadabah. tan wenang ngegalung wong Baline. Kala Rau namanya. . itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. tenggek 9. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah. sigug ya mengaba gering ngaran. tidak boleh merayakan Galungan. Tan kawasa mabanten tumpeng. semoga tidak lupa. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika. tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. tenggek 9. tunggal kalawan sasih Kapitu.

Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Galungan di India Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama. berupa nasi cacahan bercampur keladi. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang.Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng Galungan". Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru. Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Sebelum puncak perayaan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang artinya. Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula "Hari Raya Dasara". Kedua kata itu artinya "menang". pertarungan antara aharma melawan adharma. pemakan daging manusia. Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk . Bahkan kemungkinan besar. Ini bisa dilihat dari kata "Wijaya" (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata "Galungan" dalam bahasa Jawa Kuna. selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam).

Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karena Dewi Parwati menang. Pada . Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. maka diberi julukan Dewi Durgha. kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara. Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. sangat menakutkan. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. memiliki kemampuan yang tinggi. umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Pengertian sakti di India adalah kuat. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. keganasan hawa nafsu. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. seram. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker.

Di mana-mana. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama. orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.hari ini. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Laksmana dan Anoman. Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana. kota menjadi ramai. Kumbakarna atau Surphanaka. Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma. ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Dewi Sita. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Sita. Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama. Kasih sayang itulah suatu "sakti" atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh .

Prof. Vedangga. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan. Paitamaha Siddhanta. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda. Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha. Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin).setiap orang.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Karena mantramantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia). Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani . membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa. Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Wasista Siddhanta. Kitab ini disusun kira-kira 12. Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Itihasa dan Purana. Nyepi Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. ada yang bersifat adhyatmika. umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta.

Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Yuehchi. bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Sebelum lahirnya Tahun Saka. Tampaknya. Karena perjuangannya itu cukup berhasil. Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa. Yuwana. Akibat toleransi dan persatuan itu. Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Semenjak itu. namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara).tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas. maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat. Sukusuku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya. Malawa dan Saka. Arah perjuangannya kemudian dialihkan. dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. suku bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu. Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Pada tahun 79 Masehi. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat .

kama dan moksha. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III. dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi. Tuhan (Prajapati).(India) yang mendarat di Kabupaten Rembang. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra. berkumpu seluruh kepala desa. artha. Untuk mewujudkan tujuan tersebut. Keesokan harinya. Pada zaman Majapahit. umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma. perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. XII. Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII. Beberapa hari sebelum Nyepi. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret). pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. para sarjana. LXXXV. tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Jawa Tengah. LXXXVI XCII. Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Budha dan Sri Baginda Raja. Di alun-alun Majapahit. 228. manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Setelah Nyepi. Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. prajurit. Tujuan Hidup Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. pada tahun 456 Masehi. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Pendeta Siwa. Menurut agama. 45 dan Sarasamuscaya 135. Di Bali. . Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat.

manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita). manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. usahakanlah kesejahteraan semua makhluk. artha kama moksha. Dalam kenyataannya. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. "Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani. kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama." Dalam Bhagavadgita III. dan yajña lahir karena kerja. Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb: "Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan. untuk mewujudkan Catur Warga. tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan. kama dan moksha." Artinya: Oleh karenanya. karena hujan tumbuhlah makanan. 14 disebutkan. artha. makhluk hidup menjelma. karena persembahan (yajña) turunlah hujan. binatang hidup dari tumbuhtumbuhan." Artinya: Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma. karena makanan.10: manusia harus beryajña kepada Tuhan. "Apan ikang prana ngaranya. mâng dharma. kita bisa melihat sendiri. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. . jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk. ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga. Dengan demikian jelaslah.

Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah. Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara. Sang Budha dan Sang Bujangga.yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut: Anglukataken laraning jagat. Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa. pada saat upacara Tawur Kesanga. upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat. Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. paklesa letuhing bhuwana. kita mencari sari-sari kehidupan dunia. melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. pawana. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka. Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengahtengah samudra. Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. dan sarwaprani. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut: . Bhuwah Loka dan Swah Loka. Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa. dilaksanakanlah brata penye-pian. Pada tanggal satu sasih kadasa. Oleh karena itu.

enjangnya nyepi amati geni. kama dan moksha. tidak menyalakan api. tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang.. amati lelungan dan amati lelanguan." Jadi. menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma. yoga.. kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan. tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. melakukan yoga tapa dan samadhi. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh. Sebagaimana kita ketahui.. amati karya. Perbuatan .besoknya. ageni-geni saparanya tan wenang. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni.. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan. manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya.". Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian. semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya.. brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya." Artinya: ". artha. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. Nyepi. pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa. karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang.. Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri. samadhi.

manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata. baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Pelaksanaan Upacara Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. Setelah upacara Melasti usai dilakukan.. tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. . Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi.. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka Menyimak sejarah lahirnya. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat.. dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu. yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: ". Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan. pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa." Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah mengkhususkan diri dalam bidang kerohanian.mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana.

dandanan. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata. ajuman. Setelah usai menghaturkan pecaruan. Setelah . Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Upacara di tingkat rumah tangga.00 . dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina. segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak. tumpeng ketan sesayut. tuak dan air tawar. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh.12. mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya. umat Hindu berkeliling desa. upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. segehan nasi sasah 100 tanding. Sedang upacara Nagasankirtan di India. Dalam rangkaian Nyepi di Bali. peras. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah. melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah. Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding. yaitu melakukan upacara mecaru. upacara dilakukan di natar merajan (sanggah).00 (kala tepet). berem. sujang berisi arak tuak. Sedangkan di masing-masing rumah tangga. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. kabupaten dan kecamatan. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah). dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11. semua anggota keluarga. pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara. Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi. Sedangkan di tingkat desa. banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi. Dalam upacara Melasti. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak.Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India.

ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Selain itu. kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi. ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan. . jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di Bali. lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa. namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Karena bukan sarana upacara. tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus). pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya. kala. Patung yang dibuat dengan bam-bu. misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. lalu mengelilingi rumah membawa obor. Sejak tahun 1980-an. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar. Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Nah. menaburkan nasi tawur. Artinya. patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. kertas. yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala. yaitu unsur-unsur kekuatan jahat.

.Sebagaimana telah dikemukakan. Mona artinya berdiam diri. . . Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus. Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. saat Nyepi. yaitu dengan melakukan upawasa. mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci. hening menuju jalan yang benar atau dharma.Amati lelungan (tidak bepergian). Itu berarti melakukan upawasa (puasa). Arcana. tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat. panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Dhyana. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan .Amati karya (tidak bekerja). Pada prinsipnya.Amati lelanguan (tidak mencari hiburan). yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spritual. Yang terpenting. brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu: -Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. menyepikan indria. Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa. mona. dhyana dan arcana. yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan.

Kalangan krama Bali beragama Hindu umum menyebutnya "peteng pitu". Pada hari Siwaratri umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Siwa Mahadewa. Misteri kematian dan perjalanan arwah Lubdhaka tidak banyak yang mengetahuinya. . tentu perbuatan membunuh. Anggara Wage Wuku Gumbreg bertepatan Sasih Kapitu (Selasa. lantaran sekalipun dalam sehari-hari selalu melakukan tindakan sadis. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. 23 Januari 2001). Karena menurut mereka di dalam gelap bercokol setan dan berbagai mahluk pemangsa lainnya. karena perbuatan menyimpang dari ajaran dharma atau Agama. Dan bahkan malam itu adalah malam tergelap dibanding malam-malam lainnya. Tujuannya agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di dunia ini. melakukan pembunuhan satwa (binatang). termasuk malam siswa malam paling gelap sehari menjelang Tilem Kepitu 24 Januari 2001. Umat patut melaksanakan brata. Terbebas dari berbagai godaan yang bisa menjerumuskan dan menyesatkan hidup. sekalipun tidak disadari karena secara kebetulan. Latri berarti malam (gelap). Dikatakan berbahagia. merupakan hari suci bagi umat Hindu. tetapi bisa masuk surga sesudah meninggal. Tetapi sebagaian orang lagi gelap merupakan media dalam mendapatkan ketentraman batinnya. Adalah Lubdhaka si pemburu miskin yang berbahagia dalam perjalanan hidupnya. meningkatkan kesucian rohani dan latihan mengekang hawa nafsu.terpaksa. Hari tersebut dikenal dengan nama Siwalatri/Siwaratri atau Malam Siwa. makanya mereka memburu gelap. menghilangkan nyawa mahluk lain di luar tujuan yadnya. Dalam kegelapan malam ada keheningan kesunyian dan kedamaian. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan. Dari pandangan mata secara awam saja. adalah berdosa. Gelap bisa menakutkan dan menciutkan nyali bagi sebagian orang.

Apa yang dilakukan Lubdhaka sehingga memperoleh tiket masuk surga setelah mati? Suatu hari lelaki itu seharian berburu. Pohon yang dinaiki adalah pohon Bila. Aktivitas Lubdhaka malam itulah mendapat pahala dari Hyang Siwa. Dalam kehampaan. antisipasinya supaya terhindar dari sergapan binatang buas.Pemburu tersebut dalam mitologi HIndu meniggal beberapa hari setelah Siwaratri lantaran menderita suatu penyakit. . Dengan perasaan pasrah dan nekat ia memutuskan bermalam di hutan. Ia memilih berdiam di sebuah pohon dekat telaga yang airnya sangat bening. Dimana dibawah pohon tempatnya memanjat ada sebuah telaga dan perwujudan Siwa beryoga. melihat bayangan binatang saja tidak. Ternyata malam saat Lubdhaka menginap di hutan adalah Malam Siwa (Siwa Latri). Istri dan anak-anaknya merasa kehilangan. Waktu itu sebagai pemburu Lubdhaka tidak memiliki motip lain. Kecuali satu harapannya. Malah dalam malam gelap ia dilanda ketakutan. Waktu itu jangankan ia berhasil memanah seekor binatang untuk dibawa pulang. padang perburuannya seorang diri. lantas Lubdhaka memilih memanjat sebuah pohon yang lumayan rindang. yakni malam payogan Hyang Siwa. Sangat apes hari itu perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu profesional. Lubdhaka boleh saja berharap. karena takut jatuh otomatis laki-laki tetap terjaga (jagra) sampai pagi. bertahan di hutan. serta dalam petikan lelaki itu tpat mengenai patung Siwa tersebut. malam itu ia akan menemukan binatang dan berhasil memanahnya untuk dibawa pulang. hingga ia berhak masuk sorga. Untuk menahan kantuknya tangan memetik satu persatu dahan pohon yang tidah. jengkel bercampur lelah fisik karena lapar dan harus Lubdhaka memutuskan tidak bertolak pulang menemui istri dan anak-anak kesayangannya. namun sama sekali tidak mendapat binatang buruan. namun kenyataannya sampai tengah malam yang sunyi senyap hasilnya tetap nihil.

Paramatmanam eva ca. Pranamya sarya-devana ca. Sarasvati (n) namamy aham. menahan haus. Five Studies in Hindu-Balinese Religion (1964) dan menggunakan acuan atau sumber kajian adalah tiga jenis naskah.. Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Jawa Bali.Aktivitasnya itu sama nilainya dengan yang dikerjakan Siwa. Arti Kata Sarasvati. Di Khayangan rohnya sempat menjadi rebutan. Sarasvati 1-2. lapar. Ia juga sering dihubungkan dengan pemujaan terhadap deva Visvedevah disamping juga dipuja bersamaan dengan Sarasvati. Sarasvati dipuji dan dipuja lebih dari delapan puluh re atau mantra pujaan. yakni pada setiap Saniscara Umanis Watugunung. Beryoga. pantaskah seorang Lubdhaka yang melakukan pembunuhan terhadap sarwa buron ini mendapatkan pengampunan hanya karena melakukan kegiatan begadang semalam suntuk.) Hanya Engkaulah yang . Tutur dan Kakavin yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Sarasvati dalam Susastra Hindu di Indonesia Tentang Sarasvati di Indonesia telah dikaji oleh Dr. tidak tidur dan menahan nafsu-nafsu lainnya. siddhir bhavantu mesada. stava atau stotra seperti halnya dengan menggunakan sarana banten (persembahan). Sarasvati berarti aliran air yang melimpah menuju danau atau kolam. Sarasvati di Bali dipuja dengan perantaraan stuti. Perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu sampai masuk sorga cukup kontroversial. C. rupa siddhi prayukta ya. ia mengucapkan dua bait mantra berikut : Om Sarasvati namas tubhyam. siddhirambha karisyami. Malahan di kalangan umat Hindu sendiri hal ini masih menjadi masalah yang patut untuk didiskusikan. Hooykaas dalam bukunya Agama Tirtha. varade kama rupini. antara penguasa neraka dan surga. artinya begini. Sarasvati dalam Veda Di dalam RgVeda. Kata Sarasvati dalam bahasa Sanskerta dari urat kata Sr yang artinya mengalir. yaitu: Stuti. Apabila seorangpemangku melakukan pemujaan pada hari Sarasvati.

menganugrahkan pengetahuan yang memberikan kebahagiaan. pustaka (kitab suci dan sastra). 1989: 38).brahman) berupa Om. kainnya yang putih menunjukkanbahwa ilmu itu selalu putih. wujud kasih bagai seorang ibu sangat didambakan. Tuhan Yang Maha Esa digambarkan atau diwujudkan dalam alam pikiran dan materi sebagai Tuhan Yang Berpribadi (personal God). Didalam Brahmavaivarta Purana dinyatakan bahwa warna putih merupakan simbolis dari salah satu Tri Guna. yaitu Sattva-gunatmika dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari lima jenis Prakrti. karena kemuliaan-Mu pula semua yang mulia menyatu Om Sarasvati namotubhyam varade kama rupini. Vahana. Suara Om adalah suara musik alam semesta atau musik angkasa. emngingatkan kita terhadap nilai ilmu yang murni dan tidak tercela (Shakunthala. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karuniaMu Pendahuluan Berbagai usaha atau jalan yang terbentang bagi Umat Hindu untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. aksamala (tasbih) dan kumbhaja (bunga teratai). Makna Penggambaran Dewi Saraswati Tubuh dan busana putih bersih dan berkilauan. siddhirambha karisyami siddhir bhavantu mesada Sarasvatistava I) Om Hyang Vidhi dalam wujud-MU sebagai dewi Sarasvati. pemberi berkah. Aksamala (di tangan kanan belakang) melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tanpa keduanya ini manusaia tidak memiliki arti. Demikian pula tingkah laku seorang anak yang sangat mulia. Ilmu pengetahuan diidentikan dengan Sattvam-jnanam Caturbhuja : memiliki 4 tangan. Berbagai aspek kekuasaan dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa dipuja dan diagungkan serta dimohon karunia-Nya untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. memegang vina (sejenis gitar). Engkau keutamaan dari setiap istri yang mulia. Demikian pula Tuhan Yang Maha Esa yang sesungguhnya tidak tergambarkan dalam alam pikiran manusia. untuk kepentingan Bhakti. Engkau pula yang penuh keutamaan dan Engkaulah yang menjadikan segala yang ada. Atribut ini melambangkan : vina (di tangan kanan depan) melambangkan Rta (hukum alam) dan saat alam tercipta muncul nadamelodi (nada . sarasvati duduk diatas bunga teratai dengan . Engkau sesungguhnya permata yang sangat mulia.

anugrahkanlah semoga semuanya memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. Kendaraan yang lain adalh seekor burung merak yang melambangkan kebijaksanaan (Shakunthala. seperti angsa mampu membedakan antara susu dengan air sebelum meminum yang pertama. KONSEP KEPEMIMPINAN. Keseluruhan proses . sarve santu niramayah. kejernihan pikiran serta kerahayuan yang didambakan oleh setiap orang.. PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN AGAMA HINDU Kepemimpinan Hindu Dalam kehidupan manusia didunia ini banyak ditemui usaha kerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. Semoga semuanya memperoleh keutamaan dan semuanya terbebas dari segala duka dan penderitaan. Angsa yang gemulai mengingatkan kita terhadap kemampuannya membedakan sekam dengan bijibijian dari kebenaran ilmu pengetahuan. sumber wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Catur Veda dan lain-lain menunjukkan bahwa simbolis tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi dengan latar belakang filosofis yang sangat dalam.Penutup Berdasarkan uraian-uraian diatas.kendaraan angsa atau merak. maka Sarasvati di dalam Veda pada mulanya adalah dewi Sungai yang diyakini amat suci. Demikian semoga Ida Sang Hyang Widhi senantiasa memberikan waranugrahanya berupa inspirasi. EKONOMI. dewi yang memberikan inspirasi dan kahirnya ia dipuja sebagai dewi ilmu pengetahuan. 1989 : 38). sarve bhadrani pasyantu. Om Sarve sukhino bhavantu. Perwujudan Dewi Saraswati sebagai dewi yang cantik bertangan empat dengan berbagai atribut yang dipegangnya mengandung makna simbolis bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber ilmu-pengetahuan. Sarasvati adalah dewi Ucap. Ya Tuhan Yang maha Esa. ma kascid duhkh bhag bhavet. Angsa adalah sejenis unggas yang sangat cerdas dan dikatakan memiliki sifat kedewataan dan spiritual. Semoga semuanya memperoleh kedamaian. Dalam perkembangan selanjutnya. 25.

1 995:9). Sehubungan dengan itu maka kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan / kecerdasan mendorong sejumiah orang agar bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama (Nawawi dan Handari. pasti memeriukan seseorang untuk menempati posisi pemimpin (leader). Setidaknya ada dua jenis organisasi yaitu Organisasi formal dan non formal. Organisasi formal memiliki struktur yang relatif permanen.kerjasama itu dinamakan organisasi. pasti dan teratur. untuk mencapai tujuan tertentu (Nawawi da Handari. Baik organisasi formal maupun non formal. maka status pemimpin menjadi jelas dan membuat proses kepemimpinan memungkinkantanpa ada yang mengarahkan. prosedur dan mekanisme yang statis. yaitu 1) Kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikutnya. Dari uraian diatas ada empat implikasi penting. semua kualitas kepemimpinan dari seorang manajer akan tidak . Seorang pemimpin didalam sebuah organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan. karena didalam kepemimpinan hadir suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi tugas-tugas yang berhubungan dengan kegiatan antar kelompok. Dengan kata lain organisasi adalah proses atau rangkaian kegiatan kerja sama sejumlah orang. Dengan kata lain pemimpin adalah orangnya dan kepemimpinan adalah kegiatannya. Kepemimpinan adalah proses mendorong dan membantu orang lain untuk bekerja secara antusias ke arah tujuan. Konsep demikian kelihatanya sederhana. Dengan keinginan mereka untuk menerima pengarahan dari pimpinan. prosedur dan mekanismenya mudah berubah sesuai dengan kebutuhan dan keputusannya cenderung ditentukan oleh kesepakatan bersama. Dengan kata lain kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan apa yang diinginkan untuk dikerjakan oleh orang lain. Sedangkan Organisasi non formal memiliki struktur yang semi permanen. Kepemimpinan juga berarti aktivitas mempengaruhi orang lain untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela. tetapi pada kenyataannya sering kali sangat kompleks. 1995:8).

veda pun sirna pula. sebagai berikut:"manakala politik telah sirna. kama. Begitu juga pembagian masyarakat semakin kacau. Seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan lebih dari kelompok yang dipimpin. hal 147. Pada politiklah semua awal tindakan diwujudkan. pada politiklah semua kegiatan agama/yajna diikatkan. Hal ini banyak dijelaskan dalam percakapan antara Bhagawan Bhisma dengan Yudhistira pasca perang Bharatayudha. Hindu memandang politik tidak semata-mata sebagai cara mencari. yaitu dalam Santi Parwal LXIII. pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan. 4) Aspek gabungan dari ketiganya yang mengakui bahwa kepemimpinan adalah sebuah nilai (value). Ini adalah sebuah catatan berharga bahwa meskipun kepemimpinan dihubungkan dalam kepetingan dalam manajemen. Pada politiklah semua berlindung. semua aturan hidup hilang musnah.dharma. Politik Hindu Banyak pihak yang beranggapan bahwa politik adalah kotor karena politik selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Dalam bab yang lain dijelaskan pula bahwa: "ketika tujuan hidup manusia .relevan. dan mempertahankan kekuasaan. artha. dan pada politiklah dunia terpusatkan" . 2) Kepemimpinan melibatkan sebuah pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan anggota kelompok. melainkan adalah bagi penegakkan Dharma. maka pada politikiah semua berlindung. pada politiklah semua dunia terpusatkan". semua kewajiban manusia terabaikan. dan moksa semakin jauh. 3) Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku-perilaku pengikut dalam sejumlah cara. Akan tetapi. kepemimpinan dan manajemen bukanlah konsep yang sama. pada politikiah semua pengetahuan dipersatukan.

berorientasi ke atas. baik untuk mengatur negara maupun kerohanian. bogha wiryawan"). Antara politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak dapat dipisahkan. Dalam Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa "apa yang menjadikan raja senang bukanlah kesejahteraan. selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang rat). kewajiban. dan kebenaran yang apabila dilanggar maka akan berakibat pada kehancuran umat manusia. bukanlah kesejahteraan penguasanya karena penguasa yang berhasil membawa rakyatnya pada kebahagiaan tertinggi. Dari peninggalan itu dapat disimpulkan bahwa gaya huruf dari tulusan ini yang digolongkan sebagai huruf Pallawa dan bila diperhitungkan umurnya kira-kira abad keempat Masehi. mamukti sukha wibawa. Para pemimpin waktu itu berusaha dengan bantuan para Pendeta Hindu. yaitu politik Hindu adalah untuk menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. sebagai aktualisasi dari konsepsi "raja adalah keturunan Dewa". dan sebaliknya dharma yang dijaga akan membawa kemuliaan (dharma raksatah raksitah). tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang raja". menjalin hubungan dengan perdagangan dengan kerajaan India dan mengadopsi konsep-konsep Hindu. Melalui konsep "raja adalah keturunan Dewa" maka kekuasaan raja menjadi absolut. Selayang Pandang Kepemimpinan di Era Hindu Indonesia Tanda-tanda tentang adanya pengaruh agama Hindu. untuk . kemuliaan adalah pasti ("sang sura menanging ranaggana. dapat dibaca pada batu tertulis (Prasasti) di Kalimantan dan di Jawa Barat. Dharma adalah hukum. Kerajaan pribumi pada waktu itu. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan. yang diatur sangat Hirarkis. dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). Yang sangat mencolok adalah pengaruh kepada organisasi negara.Untaian kalimat dalam Santiparwa tersebut mengisyaratkan bahwa antara Politik dan Agama mempunyai kaitan yang sangat erat. Kalimat ini menunjukkan bahwa sasaran pokok dalam politik Hindu adalah kebahagiaan rakyat.

raihlah kehormatan dan pujian dalam negara ini.4. Hal ini nampak jelas dalam kutipan sebagai berikut: Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti kebenaran dan dharma. pemimpin juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Pemimpin yang ingin diakui oleh masyarakat adalah mereka yang berhasil "Mbrojol selaning Garu" (Iolos dari seleksi yang ketat). Disamping sebagai pelindung rakyat. lindungilah rakyat dengan penuh kehormatan. serta mencukupi kebutuhan rakyatnya. hadirlah sebagai pemimpin yang utama.1 dijelaskan tentang tugas seorang pemimpin sebagai berikut: Wahai pemimpin negara. Waktu itu diyakini. dalam kitab Atharva Veda: 3. Siwa dan Dewa lainnya) pada dirinya guna melegitimasi kekuasaanya. Tetapi yang terjadi tidak selalu demikian. Ia tersebar mulai dari Weda sampai pada berbagai sastra Hindu. .4. Wisnu. datanglah dengan cahaya. seluruh penjuru mamanggil dan memohon perlindunganmu.2). bahwa hanya keturunan Dewa bisa menjadi pemimpin. maka semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan menyebarkan dharma kepada masyarakat luas (Atharva Veda: 3. maka rakyatpun akan melindungi pemimpin itu sendiri ibaratnya Singa dan hutan yang saling melindungi. Bila seorang pemimpin memperhatikan masalah kesejahteraan rakyat serta mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat. demikianlah keberadaan pemimpin dengan yang dipimpinnya.menarik garis keturunan kepada Dewa (Brahma. Kepemimpinan dalam Sastra-Sastra Hindu Dalam ajaran Agama Hindu banyak sekali ditemukan ajaran tentang kepemimpinan.

Pada hari-hari tertentu wargi-wargi itu bertemu di Pura. Persekutuan dan persatuan merupakan suatu kekuatan yang maha besar sehingga akan mampu menumbangkan kekuatan sebesar apapun.Pemimpin yang tidak terkalahkan. (Rg Veda: 4. melindungi rakyatnya dengan selalu meminta perlindungan Tuhan. Namun dalam hal ini raja harus cerdik melaksanakan segala upaya mempersatukan rakyatnya. (Atharva Veda: 5.50. Lihatlah itu si ular naga yang mencari tempat berlindung pada Bhatara Siwa karena Baktinya ia dijadikan kalung oleh Bhatara Siwa. 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang . dipersaudarakan dengan menyatukan pura kawitannya dalam satu kompleks pura dengan pura raja dan menyebut mereka wargi sang raja.19. Beda. Ketika burung Garuda datang (musuh ular) terpaksa ular itu dihormati pula. dan melindungi pemimpin tersebut.9) Bila seorang pemimpin yang pemarah dengan kesombongannya ingin menghancurkan dan menghina para Brahmana yang ahli Veda. Dalam Tantri Kamandaka. 1 1 disebutkan bahwa : Orang tidak boleh tanpa Asraya (tempat mohon bantuan) namun usahakanlah Mahasraya. si gajah yang besar dan kuat namun angkuh. yang menggalang rasa kelompok dan rasa bakti kepada raja. lalat dan katak. Dana dan Danda. Dalam sastra Jawa Kuno dikatakan bahwa Raja harus melaksanakan taktik Catur Upaya Sandhi. mati dibunuh oleh persekutuan si burung siung.6) Dalam Nitisastra 1. Warga-warga disatukan. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV. Penguasa-penguasa di Bali jaman dahulu rupa-rupanya memaklumi hal ini sehingga beliau melaksanakan strategi menggalang persatuan rakyat dalam wilayahnya. maka negara tersebut akan hancur. sebaliknya rakyatpun akan selalu menghormati. yaitu Sama. Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang dipimpinnya. Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat.

tersembunyi namun mulia. Ia menjatuhkan hujan menyuburkan bumi. Indra brata. itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia. Selalu membakar musuh itu perilaku api. 5. berpakaian dan berhiaslah. Kuwera. Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya. delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu. 3. tiada rintangan. pelan-pelan olehnya. Yama. Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit. kejammu pada musuh itu . tiada cepatcepat demikian Surya Brata. dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak kentara. engkau mengikat orang-orang jahat. Adapun terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana adalah: "Dan ia disuruh untuk menghormatinya. Agni. Bayu. 4. yang demikian disebut Dhanabrata patut diteladani. perilaku lemah lembut tampak. itulah engkau tiru Pasabrata. setiap yang merintangi usahakan musnahkan. Bagaikan anginiah engkau waktu mengamati perangai orang. Surya. inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata. demikian delapan jumlahnya. Baruna. sumbangansumbanganmu itulah bagaikan hujan membanjiri rakyat. setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau hormati. hendaklah engkau mengetahui pikiran rakyat semua. Sang Hyang Indra usahakan pegang. beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja. 6. 8. ia memukul pencuri sampai mati. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII. inilah Bayu brata. Hyang Indra. Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat. Nikmatilah hidup dengan nikmat. itulah sebabnya disebut Asta Brata" 1. demikianlah engkau mengambil penghasilan. karena Ida Bhatara ada pada dirinya. senyummu manis bagaikan amerta. Candra. demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat. Bhatara Surya selalu menghisap air. tidak membatasi makan dan minum. 7.ideal. 2.

Jananuragadi tuwi kapangguha. Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin negaranya ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya. disimpulkan dalam dharma yang mengandung pengertian segala sesuatu yang mendukung orang untuk mendapatkan kerahayuan. demikianlah yang disebut Agnibrata. Artinya: Tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti Petunjuk-petunjuk hukum Manu (Manawa dharmasastra) usahakan pegang Hilangnya penderitaan itulah tujuannya Cinta orang tentu akan kita jumpai. Ika ta prassidha dharma ulahaning kadiKita prabhu.usahakan. Bhismaparwa dan lain-lain dijumpai uraian dharma sebagai pedoman raja (pemimpin) dalam memimpin negaranya. Dalam kakawin Ramayana. manupadesa prihatah rumaksa ya. Tuntunan Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin. Petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra sastra Jawa Kuna. si mangraksa rat juga. setiap engkau serang cerai berai dan lenyap.asihning wwang ringSarwa bhuta marikang dharma mangkana ngaranyaKotamaning asih ika pagawenta piratrana ring rat. "sakanikang rat kita yan wenang manut.ika ta sang prabu. Makambek mangakana Terjemahan: . yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh bertidak sesuka hatinya ketika ia memegang kekuasaan. Dari semua hukumhukum yang harus dipedomani oleh seorang pemimpin. Mtangian mangkana. Ksaya nikang papa nahan prayojana.

Demikianlah dharma yang sempurna engkau kerjakan sebagai raja melindungi negara. yang hana wang adhahjati dinuhuraken. yaitu raja yang mencampurbaurkan persoalan. Lebih baik raja yang kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang. ya hana wwang kulina janma sinoraken. bila raja kejam dan bengis tindakannya. yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira.sayangmu pada semua makhluk dharma namanya. Kutipan ini menunjukkan beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang pemimpin agar tak ditinggalkan oleh para pengikutnya.yang merupakan nasehat Bhagawan Bhisma kepada Prabhu Yudistira. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan dan orang yang hina dimuliakan. awisesa ngaranya manarub.penampilan kasih sayang itulah kamu kerjakan. Petunjuk tentang itu dapat diketahui dari kutipan berikut: "Laku bhrtya matinggal ratunya. demikianiah sang prabhu (pemimpin) seharusnya bertingkah laku. Kutipan diatas diambil dari Bhismaparwa. yan hana ratu akeras mapanas ing gawe. Apabila sang Prabhu tidak melaksanakan tugas-tugasnya sebagai raja yang melindungi rakyat dan negara. maka ia akan kehilangan kekuasaannya karena ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya. leheng ikang ratu makeras swapadi ngrutu makumed tar paradanda. sebabnya demikian. (slokantara 40) Terjemahan : Pelayan dapat meninggalkan rajanya. itulah mencampur-baurkan namanya. yeka anarub ngaranya. Bila ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif. tidak menjadi panutan yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang baik menurut ajaran Hindu haruslah memperhatikan masalah . Raja yang kikir dan sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa. untuk melindungi negara. Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. yan hana ratu mangkana tininggal sira de ning janma wwang kulina janma. ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa. byakta sira tininggal ing wadwa nira.

dan penuh cinta kasih.Mas ya ta pahawreddhin bhaya ring hayu kekesan. Petunjuk tentang itu dapat dilihat pada nasehat Rama kepada Wibisana berikut ini: Dewa kusala salam mwang dharma ya pahayun. Dharma kalawan artha mwang kama ta ngaranika. Bhukti akaharepta wehing bala kasukan. 26. selalu dalam kesucian. Nikmatilah apa yang kamu ingini berilah kesejahteraan. yaitu sifat seorang Ksatria yang gagah berani dalam menegakkan dharma.kesejahteraan para pengikutnya. 54) Terjemahan: Pura-pura (tempat suci). Artinya. KERAGAMAN RITUAL . Santasih nitya thaganan Kasih sayang hendaknya engkau selalu lakukan. menegaskan bahwa seorang pemimpin yang sempurna dalam konsep Hindu adalah seorang Rajarsi atau satria pandita. Kepemimpinan Yang Paripurna Menurut Hindu "Gunamanta Sang Dasarata Wruh Sira Ring Weda Bhakti Ring Dewa Tarmalupueng Pitra Puja Masih Ta Sireng Swagotra Kabeh" Kutipan bait Ramayana di atas. dan seorang pandita yang arif bijaksana. seorang pemimpin harus memiliki kedua sifat dalam dirinya. artha. Dharma. (Ramayana III. rumah sakit dan pedarman supaya diperbaiki. 65) Kutipan ini juga mengandung makna bahwa raja atau pemimpin harus mengembangkan nilai kejujuran (satya ta sira mojar) dan karena itu semua rakyat akan segan terhadap raja atau pemimpinnya. (Kakawin Ramayana III. supaya diperbanyak untuk biaya pembangunan disimpan baik-baik. dan kama namanya demikian itu.

Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. tetapi juga ajaran untuk berperilaku. The earlier Upanisads continue the magical speculations of the Brahmanas. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. Dengan teks-teks ini semakin pentingnya pengetahuan esoterik korespondensi diamati dibandingkan dengan tindakan ritual. Bagianbagian pada pengetahuan (jnanakanda) didahulukan dari bagian pada ritual (karmakanda). The sections on knowledge (jnanakanda) take precedence over sections on ritual (karmakanda). desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kalapatra. which maintained that knowledge of the correspondences between ritual and cosmos is a kind of power. The Upanisads sebelumnya melanjutkan spekulasi magis dari Brahmanas.ritual Hindu adalah representasi dari Upanishad yang melanjutkan pekerjaan Brahmana dan Aranyakas dalam menafsirkan makna dari ritual srauta. berkembang dan hidup yang wajar. tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki kitab suci dan ajarannya hanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun. 27. . Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri. masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri. APLIKASI WEDA DI KALTENG Sebelum datangnya agama-agama tradisi besar dan resmi diakui oleh pemerintah Indonesia. With these texts the increasing importance of knowledge of esoteric correspondences are observed as compared to ritual action. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. tidak terkekang oleh dogmadogma yang salah atau kedaluwarsa. Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat. kami hanya ingin tumbuh. yang disebut Kaharingan. yang berpendirian bahwa pengetahuan tentang korespondensi antara ritual dan kosmos adalah semacam kekuasaan.

mereka banyak menggunakan media pelayanan sosial. termasuk di antaranya kehadiran agama-agama tradisi besar. dan sebagainya. tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia. Mereka percaya adanya Tuhan. dan pelayanan kesehatan. Dengan keterbukaannya tersebut. Hal ini bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. sakit. Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin terhadap dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana. pohon. batu. Sedangkan kegiatan misionaris agama Kristen Katholik dan Kristen Protestan telah masuk ke pedalaman Kalimantan dan berjalan dengan gencar sejak abad ke-19.Menurut kepercayaan Kaharingan. terdapat dewa yang tertinggi. suara burungburung tertentu. Bugis. kesialan. Melayu. seperti arah terbang burung. sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit. seperti dewa-dewa yang menguasai tanah. Dari dewa-dewa tersebut. bantuan ekonomi. Dalam upaya Kristenisasi dan Katholikisasi terhadap Suku Dayak di pedalaman. banyak yang kemudian memeluk agama Islam. Akan tetapi sebagian dari mereka tetap . seperti Jawa. dan sebagainya. Upaya penyebaran agama-agama tradisi besar ini cukup berhasil. maupun Katholik. Kristen. Suku Dayak sangat terbuka dengan pengaruh budaya luar. seperti bantuan pendidikan. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam apabila hendak bepergian jauh. terutama dalam merekrut generasi mudanya sehingga pada saat ini sebagian besar generasi muda Dayak telah memeluk agama Islam. misalnya Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi Mahatara. melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut. dibawa oleh kaum pendatang yang berasal dari daerah lain. sungai. Suku Dayak yang tinggal di daerah pesisir dan banyak berhubungan dengan para pendatang dari suku-suku lain. yang sebutannya berbeda-beda antara Sub suku Dayak satu dengan yang lainnya. masyarakat Dayak mempercayai banyak dewa di sekitar mereka. dan sebagainya. dan sebagainya. ada ular yang melintas di depannya. maka dimanfaatkan oleh kaum misionaris untuk menyebarkan agamanya. Islam telah masuk ke Kalimantan sejak abad ke-13.

seperti upacara Tewah/Dalo. . Banyak upacara Suku Dayak yang berhubungan dengan upacara kematian. Hindu Dharma. Dengan hilangnya upacara-upacara tersebut. Di satu pihak mereka harus memilih salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah. Sementara itu keberadaan agama Kristen dan Katholik juga tidak mendukung pelestarian adat-istiadat dan tradisi Suku Dayak. penghormatan terhadap leluhur. salah. Seorang Dayak yang sudah menganut Islam akan merasa malu mengakui dirinya sebagai orang Dayak. dan sebagainya. Ia akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Melayu Menurut pandangan mereka. pemujaan roh nenek moyang yang telah meninggal. sedangkan orang Dayak dengan kepercayaan Kaharingan-nya identik dengan ketertinggalan dan kekolotan. orang Melayu dengan agama Islamnya identik dengan kemajuan dan kemoderenan. Katholik. Kedatangan agama-agama tradisi besar tersebut di atas ternyata juga membawa dampak buruk terhadap kehidupan orang-orang Suku Dayak. Hal ini mengakibatkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. Hal ini dikarenakan agama-agama tradisi besar pada umumnya memandang kepercayaan-kepercayaan di luar mereka sebagai sesuatu yang eksotik. yaitu Islam. Kristen. seperti pelestarian hutan. Pada akhirnya para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu Dharma sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar antara keduanya. Pada jaman Orde Baru pemerintah memberlakukan lima agama besar yang resmi diakui di Indonesia. hilang pula nilai-nilai dan normanorma yang terkandung di dalam tatanan masyarakat Dayak. dan pemujaan alam lingkungan yang dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katholik. upacara penolak bala dan sebagainya. khususnya dengan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Suku Bali sebagai penganut agama Hindu Dharma mayoritas di Indonesia. dan harus diluruskan sesuai dengan ajaran agama mereka. sementara di pihak lain ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionanis dan penyebar agama tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka.bertahan pada kepercayaan Kaharingan. rasa menghargai terhadap semua makhluk hidup yang ada di alam lingkungan. dan Budha.

atau disemayamkan di atas tanah. disemayamkan di atas tanah atau diatas pohon di dalam hutan. Lingkungan alam yang paling dekat dengan Suku Dayak adalah lingkungan hutan. Sedangkan Dayak Ngaju menguburkan jenazah di dalam tanah terlebih dahulu. melindungi antara lain: a. Panca Wali Krama. Di Bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam masih berjalan lestari sampai saat ini. berkaitan dengan kepercayaan hutan sebagai tempat tinggal dewa penguasa manusia. berkaitan dengan sumber mata pencaharian : hutan sebagai sumber kehidupan karena merupakan tempat untuk berburu binatang dan mencari makanan. maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan. puncak-puncak gunung. seperti upacara Tawur Agung. atau bersemayam pada benda-benda mati.Persamaan antara kepercayaan Kaharingan dengan ajaran Hindu Dharma adalah sebagai berikut 1) Percaya Reinkarnasi. yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu Dharma. baik ke dalam tubuh manusia. tumbuhan. yaitu percaya bahwa roh yang telah meninggal dapat lahir kembali. misalnya batu besar. dan sebagainya Setelah bergabung dengan agama Hindu Dharma. Eka Dasa Rudra. di mana jenazah orang yang meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah. pertemuan sungai. 3) Upacara yang berkaitan dengan pemujaan kepada lingkungan alam. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. setelah beberapa tahun kemudian digali kembali dan tulang-tulangnya dibakar. Orang-orang Dayak memiliki tradisi yang beraneka ragam dalam memperlakukan jenazah dengan tiga cara. Sedangkan di Bali arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga). binatang. yaitu dikubur di dalam tanah. Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam . dan sebagainya. b. Upacara ini mempunyai persamaan dengan di Bali. dan dikremasi. hutan Manfaat dan arwah hutan nenek bagi moyang orang yang Dayak. 2) Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur.

Pihak yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. lepas dari agama Hindu Dharma. sebagian dari mereka menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. . Di pihak lain. Sebagian lagi menyatakan bahwa Hindu Kaharingan sebagai agama yang berdiri sendiri.agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di Indonesia. Dari uraian di atas. sejajar dengan agama-agama lainnya. Ketika kekuasaan Orde Baru runtuh dan bergulir semangat reformasi. dapat diketahui permasalahannya. terpisah dari agama Hindu Dharma. di lain pihak menginginkan Hindu Kaharingan berdiri sebagai agama tersendiri. Pada saat ini mereka tengah memperjuangkan kepada pemerintah agar agama Hindu Kaharingan dapat diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah. antara lain BAKDI (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia) dan Majelis Hindu Kaharingan. Sebagian dari mereka menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma dengan tetap mengakui PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu yang resmi diakui oleh pemerintah. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan. maka timbul perpecahan di antara umat Hindu Kaharingan. Namun tampaknya juga belum ada kesepakatan bersama dalam membentuk “PHDI Tandingan” ini. yaitu mengapa umat Hindu Kaharingan terpecah menjadi dua? Di satu pihak menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma. Kebijakan apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini? Antara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. Hal ini terlihat dari beberapa nama majelis yang ditawarkan sebagai wadah umat Hindu Kaharingan. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di luar PHDI. dan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah.

Suksma -------------- . pandita. seperti gunung. karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci kepada manusia c) Pitra Yadnya. upacara-upacara keagamaan terbagi dalam lima kelompok besar. ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana. binatang dan tumbuhan. yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh b) Rsi Yadnya. dan manusia dengan alam semesta. yaitu upacara yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran manusia d) Manusa Yadnya.Konsep-Konsep Upacara dalam Ajaran Hindu Dharma Di dalam ajaran agama Hindu Dharma. dan kematian e) Bhuta Yadnya. dan sebagainya. Pitra Yadnya. Kelima manifestasinya kelompok (perwujudan hesar Tuhan dalam tersebut bentuk adalah: dewa-dewa). Upacara adalah sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di dalam Tri Hita Karana tersebut. yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia. yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi. yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan. sungai. yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta. dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan manusia. sedangkan Bhuta Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta. perkawinan. -------------. kelahiran. manusia dengan manusia. atau sering disebut dengan Panca Yadnya. a) Dewa Yadnya. Di samping konsep Panca Yadnya. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan manusia. yaitu makhluk halus. seperti kehamilan. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. laut. nabi atau kaum ulama. upacara Rsi Yadnya. Dengan demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita Karana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful