P. 1
Soal Ujian Agama Hindu

Soal Ujian Agama Hindu

|Views: 4,078|Likes:
Published by wayoune

More info:

Published by: wayoune on Apr 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2015

pdf

text

original

JAWABAN SOAL UJIAN STUDI AGAMA HINDU 1. PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA, INDONESIA DAN KALIMANTAN TENGAH a.

Perkembangan Agama Hindu di India Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Agama Hindu pertama kali dikenal di India. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 Jaman/fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. 1. Jaman Weda–>Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut “Rta”. Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra. 2. Jaman Brahmana–>Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya “Tata Cara Upacara” beragama

yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. 3.Jaman Upanisad–>Pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. 4.Jaman Budha–>pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Agama Hindu makin lama semakin menyebar mulai dari India Selatan hingga keluar dari India dengan berbagai cara, sterutama melalui perdagangan bebas Internasional. Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini “Maitra Waruna” yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi. Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari

India. Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orangorang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan “Aztec” yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini. Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saatsaat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini disebut Inca. Kata “Inca” berasal dari kata “Ina” dalam bahasa Sanskerta yang berarti “matahari” dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya. Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park). Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda “Tri Kuta” atau tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman

menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu. adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi. yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda. Siwa dan sebagainya. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa. Sedangkan pada Jaman Upanisad. Walaupun Dewa-dewa itu banyak. masyarakat dibagi atas kaum Brahmana. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa.Budha. yang disebut "Rta". Salah satu peninggalan yang menarik.d 1500 tahun sebelum Masehi. akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi. Vayu. yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. Pada jaman ini. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi. kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama. namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Pada Jaman Brahmana. Varuna. Kitab Brahmana. kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan. Indra. Ksatriya. yang kemudian dikembangkan pula pada . Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. sekitar 2500 s. Vaisya dan Sudra. karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa.

menimbulkan pembaharuan yang besar.ajaran Darsana. Itihasa dan Purana. perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Sejak jaman Purana. misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia. dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta". Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara b. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur). Tempat itu disebut dengan “Vaprakeswara“. Selanjutnya. agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan . sebagai jalan untuk Tuhan. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan menghubungkan sistem yoga diri dan semadhi. pada Jaman Budha ini. dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. Masuknya agama Hindu ke Indonesia. dengan Agama Hindu. pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: “Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman”. Perkembangan Agama Hindu di Indonesia Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi.

Berdasarkan data tersebut. agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah. agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur. Jambu. Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi. Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa “Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu. Kendi. diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti. Tugu dan Lebak. yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Selanjutnya. Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti. Disamping itu. maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Pasir Awi. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa. Kebonkopi. Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi).diketemukannya tujuh buah prasasti. merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu” Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. dengan Candra Sengkala berbunyi: “Sruti indriya rasa”. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal. yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa . yakni prasasti Ciaruteun. yaitu Trisula. yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Kapak dan Bunga Teratai Mekar. Cakra. Muara Cianten.

sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. misalnya Kitab Smaradahana. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. sebagai pengemban agama Hindu. yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama. Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit. Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu. para Brahmana besar. Kitab Lubdhaka. Kitab Bharatayudha. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia. Hal ini disamping dapat dibuktikan .sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Setelah dinasti Isana Wamsa. di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222). candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari. para pendeta dan penduduk negeri.

dengan adanya prasasti-prasasti. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung. kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2. Gianyar. Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Surya kanta tahun1925 di SIngaraja. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Perkembangan agama Hindu selanjutnya. Dan pada masa Dalem Waturenggong. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja. setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar. Khayangan Jagad. Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung). Menurut uraian lontar-lontar di Bali. juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu. yakni pada masa pemerintahan Udayana. seperti Pura Rambut Siwi. yang berasal dari abad ke-8. Perkembangan selanjutnya. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Beliau Moksa di Pura Silayukti. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci. sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. arsitektur. Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. agama. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat .

dengan teori Waisya.d 10 Oktober 1964). Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia. diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali. Berdasarkan beberapa pendapat. Dari lembah sungai sindhu. Asia Tengah. Mookerjee (ahli .India tahun 1912). Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya.Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Moens dan Bosch (ahli .Belanda). maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia. menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India. Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia. Kontak yang berlangsung sangat lama ini. ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia. Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis". Dan pada tahun 1964 (7 s. Tiongkok. Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar.Belanda) . yaitu ke India Belakang. Krom (ahli .

c. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia. maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti: Prasasti Dinoyo (Jawa Timur): Prasasti ini bertahun Caka 628. juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma. melalui sungai Gangga. yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Prasasti Porong (Jawa Tengah) Prasasti yang bertahun Caka 785. maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu. Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. artinya bapak dari lautan. dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya. Yamuna. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya. Pita Segara. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali. India Selatan dan India Belakang. diantaranya adalah: Agastya Yatra. Perkembangan Agama Hindu di Kalimantan Tengah . Data Peninggalan Sejarah di Indonesia.

tidak dapat dihindari adalah dampak negatif budaya global tersebut. Di balik dampak positif globalisasi. dan bahkan pemerkosaan. menggunakan hal-hal yang baik itu untuk merevitalisasi Agama Hindu dan budaya Bali. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan . perampokan. Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi atau era kesejagatan yang demikian tampak pesat mendera setiap bangsa. Dampak negatif budaya global tersebut merupakan dampak dari kehidupan modern. kurangnya solidaritas. EKSISTENSI KEBERADAAN AGAMA HINDU Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama Hindu dan budaya Bali. Berkembangnya penyakit sosial seperti prostitusi. ekstasi. transportasi. Muncul berbagai masalah di antaranya masyarakat semakin individualis. terutama dengan adanya kemajuan teknologi informasi mempercepat proses perubahan tersebut. Teknologi komunikasi dan informasi yang demikian maju memberi peluang masuknya berbagai pengaruh budaya asing. Demikian pula alat-alat komunikasi. ke dalam rumah dan bahkan ke dalam kamar-kamar dan kepada pribadi masyarakat. Berbagai produk budaya global telah merambah berbagai aspek kehidupan. penyalahgunaan obat-obat psikotropika (narkoba. Wawasan masyarakat Bali terbuka untuk memetik hal-hal yang baik dari manapun berasal dan dengan kemampuannya yang selektif dan adaptif. yang dapat menimbulkan ketegangan bagi umat beragama. dan informasi yang sangat canggih memberikan peluang kepada masyarakat Bali yang memang sangat terbuka. dan sebagainya). Dampak positif budaya global sangat dirasakan oleh masyarakat Bali. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya global. untuk berkomunikasi ke mana saja di belahan bumi ini. Proses globalisasi telah pula merambah kehidupan agama yang serba sakral menjadi sekuler. pencurian. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global.2.

Berbagai kearifan lokal telah terbukti mampu menjadikan Agama Hindu dan budaya Bali eksis sepanjang masa . Khanna dan Malini Saran yang telah beberapa kali mengunjungi Bali. Dalam situasi yang demikian. untuk itu kiranya perlu diketengahkan bagaimana sinergi dan dinamika Agama Hindu dengan budaya Bali dan melakukan fungsinya sesuai dengan budaya Bali. and can be an example to the rest Asia for its skill in adapting traditional cultural practices to suit a modern context.keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika. tetapi sebaliknya memberikan pencerahan kepada budaya lokal. Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut. The island of Balinever lost sight of this truth while facing up to the relentless onslaught of tourism on its rich artistic heritage. Seperti telah disebutkan di atas. di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. Sinergi dan dinamika Agama Hindu di Bali telah melahirkan berbagai kearifan lokal. bahwa Agama Hindu menjadi jiwa dan sumber nilai budaya Bali. dan menulis buku The Ramayana in Indonesia (2004) seperti dikutip oleh Dharma Putra dan Widhu Sancaya (2005:XV) menyatakan bahwa Bali dapat dijadikan satu contoh untuk Asia sebagai daerah yang memiliki kemampuan untuk mengadaptasi budaya tradisional agar relevan dengan budaya global. Agama Hindu dan tidak menghapuskan tradisi masyarakat dan budaya Bali sebelumnya. namun demikian kekhawatiran sebagian masyarakat tentang dampak negatif globalisasi perlu diusahakan jalan untuk mengatasi dan mungkin mencegahnya. mantan Duta Besar India. tampak beragam respon masyarakat Bali. Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan globalisasi tersebut. Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Agama Hindu dan budaya Bali mampu menghadapi budaya globabal. 2005:18). Vinod C.

Itu salah. Namun perbuatan dosa bisa diimbangi dengan perbuatan Baik. banyak umat Non-Hindu yang mengangap bahwa itu tidaklah praktis. umat Kristen percaya bahwa Yesus berkorban untuk umatnya. Agama Hindu tidak pernah mempersalahkan agama lain yang ada di dunia ini. Bukanya hanya berdoa pada Tuhan lalu meminta berkahnya. Seperti kebayakan Non-Hindu mengatakan bahwa umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba sebagai wakil tuhan di dunia. Tapi memang agama tidak bisa dilogikakan. Satu lagi mungkin juga yang membedakan Hindu dari agama yang lainya. Bagi Umat Hindu tidak ada upacara yang ribet atau tidak praktis. dan bukan Hindu saja yang percaya hal itu. bagi Hindu dosa tidak bisa hapus.3. Budha pun berkorban untuk kedamaiaan pengikutnya. karena Umat Hindu tidak pernah mengangap seperti itu. melainkan meminta untuk mengabdi dan berbakti pada beliau. sunguh tidak sempurnanya Tuhan jika harus memiliki perwakilan di dunia. IMPLEMENTASI AGAMA HINDU YANG BERSIFAT UNIVERSAL Hindu memang dikenal dengan banyaknya Upacara. Hindu percaya dalam menjaga dunia ini Tuhan juga berkorban untuk kita. Tidak ada dalam Hindu memberi secarik kertas dari sebuah . Hindu bukanlah agama yang membenarkan penghapusan Dosa. dengan cara apapun. Dalam mantra Hindu seperti maha mantra Hare Krisna dan lain-lain jika diartikan disebutkan pada awalnya bukan meminta berkah sesuatu seperti doa-doa ajaran yang lain. Umat Hindu percaya bahwa beliau adalah Guru yang patut dihormati dan bukan berarti beliau diangap sebagai tangan tuhan di dunia ini. secara logika saja sudah agak aneh. karena walau beliau itu penuh dengan keajaiban namun beliau tetap tidak sesempurna tuhan. yang mampu berdampingan dengan agama lain. Aneh bukan jika itu ada. Tapi bagi Umat Hindu itulah cara mereka menunjukan rasa cinta dan kekaguman mereka pada sang pencipta. Dalam Hindu tidak ada namanya perwakilan Tuhan di dunia. Hindu merupakan agama yang universal. karena semua dilakukan dengan rasa bahagia dan keiklasan. umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba yang memiliki tidak saja pengikut dari Hindu melainkan juga Umat Non-Hindu sebagai Guru Besar Spritual dalam Hindu.

HINDU ADALAH SANATANA DHARMA Dalam upaya memantapkan pandangan kita terhadap ajaran Hindu Dharma terlebih dahulu kami ingin menekankan kembali nama dan sumber ajaran Hindu atau Hindu Dharma yang kita kenal sebagai satu agama tertua yang masih dianut oleh umat manusia. sekarang mungkin kita sedikit melihat bagaimana ke agungan Hindu itu sendiri. karena sebenarnya kita adalah mayoritas dalam ajaran keagamaan. bagaimana orang Indonesia di masa yang lalu memeluk agama Hindu? Siapakah yang menyebarkan agama Hindu ke Indonesia? Selanjutnya tentang kasta adalah bentuk penyimpanan dan interpretasi yang keliru dari pengertian Varna sebagai tersebut dalam kitab suci Veda. 4. Dalam Hindu itu tidaklah ada. kemudian dosa bisa dikurangi.perwakilan yang menyebut dirinya perwakilan Tuhan di dunia. Banggalah kita menjadi Hindu. Minoritas bukan berarti tidak berkualitas. Dalam kontek pembicaraan kita . Dr. Dipakai nama Hindu Dharma sebagai nama agama Hindu menunjukkan bahwa kata Dharma mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian kata agama dalam bahasa Indonesia. Mukti Ali. lalu masuk sorga. Bahkan Prof. Yang dimaksud dengan Varna adalah pilihan profesi sesuai dengan Guóa (bakat pembawaan orang) dan Karma (kerja yang dia lakoni) oleh setiap orang. Hal ini kami pandang sangat perlu mengingat sampai sekarang masih ada pandangan dan buku-buku yang mendiskreditkan agama Hindu dan menganggap agama Hindu sebagai agama yang tidak bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Jangan pernah kita merasa kita ini minoritas. melainkan Moksha atau menyatu dengan Tuhan (Brahma) . dan juga dalam Hindu sorga bukanlah tujuan utama mereka. Bilama Hindu tidak mengenal missi. atau dengan membunuh orang dengan atas nama Jihad kemudian masuk sorga. tanggal 11 Oktober 1993 di Yogyakarta menyatakan bahwa agama Hindu tidak mengenal missi karena dibatasi oleh sistem kasta. sebagai tokoh ahli perbandingan agama di Indonesia pada Kongres Agama-Agama di Indonesia.

yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Mahadevan. Kebenaran yang tidak ternilai yang telah ditemukan oleh para mahàrûi dan orangorang bijak sejak ribuan tahun yang lalu. pengalaman-pengalaman ini sifatnya langsung dan sempurna. Kata Hindu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Persia yang mengadakan komunikasi dengan penduduk di lembah sungai Sindhu dan ketika orang-orang Yunani mengadakan kontak dengan masyarakat di lembah sungai Sindhu mengucapkan Hindu dengan Indoi dan kemudian orang-orang Barat yang datang kemudian menyebutnya dengan India. Kata Sanàtana Dharma berarti agama yang bersifat abadi dan akan selalu dipedomani oleh umat manusia sepanjang Nama asli dari agama ini masa. Para åûi atau mahàrûi yakni orang-orang suci dan bijaksana di India jaman dahulu telah menyatakan pengalaman-pengalaman spiritual-intuisi mereka (AparokûaAnubhuti) di dalam kitab-kitab Upaniûad. karena ajaran yang disampaikan adalah kebenaran yang bersifat universal. Hindu Dharma memandang pengalaman-pengalaman para mahàrûi di jaman dahulu itu sebagai autoritasnya (sebagai wahyu-Nya). Kitab suci Veda merupakan dasar atau sumber mengalirnya ajaran agama Hindu. 1988: 4) Kebenaran tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa ditegaskan oleh pernyataan yang terdapat dalam kitab Taittiriya Aranyaka 1. oleh karena itu Hindu Dharma merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Sivananda. Pakistan.1 (Dayananda. 1984: 13). Pada mulanya wilayah yang membentang dari lembah sungai Shindu sampai yang kini bernama Srilanka. Jadi agama Hindu sama dengan Hindu Dharma. membentuk kemuliaan Hinduisme.9. 1974:LI) maupun maharsi Aupamanyu sebagai yang dikutip oleh mahàrûi Yàûka . Bangladesh disebut dengan nama Bhàratavarsa yang disebut juga Jambhudvìpa. merupakan santapan rohani dan pedoman hidup umat manusia yang tentunya tidak terikat oleh kurun waktu tertentu. Kata Vaidika Dharma berarti ajaran agama yang bersumber pada kitab suci Veda.saat ini pengertian Dharma disamakan dengan agama.

para maharsi mampu menerima mantra Veda. Mantra-mantra Veda telah ada dan senantiasa ada.(Yàskàcarya) di dalam kitab Nirukta II. Para maharsi menerima wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam) melalui kemekaran intuisi (kedalaman dan pengalaman rohani)nya. karena bersifat AnadiAnanta yakni kekal abadi mengatasi berbagai kurun waktu. Selanjutnya Úrì Chandrasekarendra Sarasvati. pimpinan tertinggi Úaýkara-math yakni perguruan dari garis lurus Úrì Úaýkaràcarya menegaskan : Dengan pengertian bahwa Veda merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam atau non human being) maka para maharsi penerima wahyu disebut Mantradraûþaá (mantra draûþaá iti åûiá). karena merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa.Cit). Devatà (Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang menurunkan wahyu) dan Chanda (irama/syair dari mantra Veda). Oleh karena kemekaran intuisi yang dilandasi kesucian pribadi mereka. Puruûeyaý artinya dari manusia. Para mahàrûi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dihubungkan dengan Sùkta (himpunan mantra). Demikian pula para maharsi diakui sebagai penemu atau penerima wahyu tuhan Yang Maha Esa yang memang telah ada sebelumnya dan karena penemuannya itu mereka dikenal sebagai para maharsi agung. bukan dalam pengertian atau mengarang Veda. 1988: 5).11 (Loc. Kitab suci Veda bukanlah sebuah buku sebagai halnya kitab suci dari agamaagama yang lain. merealisasikan kebenaran Veda. Apakah artinya ketika seorang mengatakan bahwa Columbus menemukan Amerika ? Bukankah Amerika telah ada ribuan tahun sebelum Columbus lahir? Einstein. Newton atau Thomas Edison dan para penemu lainnya menemukan hukum-hukum alam yang memang telah ada ketika alam semesta diciptakan. Bagi umat Hindu kebenaran Veda adalah mutlak. Untuk itu umat Hindu senantiasa memanjatkan doa pemujaan dan penghormatan kepada para Devatà dan maharsi yang menerima wahyu Veda ketika mulai membaca atau merapalkan mantra-mantra Veda (Chandrasekharendra. Bila Veda merupakan karangan manusia maka para maharsi disebut Mantrakarta (karangan/buatan manusia) dan hal ini tidaklah benar. melainkan terdiri dari beberapa kitab yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Saýhità) yang dikenal dengan Catur Veda .

Yajurveda. Ia memperkenalkan kebebasan yang ajaran Hindu yang . yakni kesepakatan bersama berdasarkan pertimbangan yang matang dari para maharsi dan orang-orang bijak yang dewasa ini diwakili oleh majelis tertinggi umat Hindu dan di Indonesia disebut Parisada Hindu Dharma Indonesia. Àraóyaka dan Upaniûad) yang seluruhnya itu diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa Sanskerta disebut Úruti. Masing-masing kitab mantra ini memiliki kitab-kitab Bràhmaóa. kemerdekaan dari pemikiran. Majelis inilah yang berhak mengeluarkan Bhisama (semacam fatwa) bilamana tidak ditemukan sumber atau penjelasannya di dalam sumber-sumber kedudukannya lebih tinggi.(Ågveda. Aúsrama. Sàmaveda atau Atharvaveda). Úìla (yakni tauladan pada mahàrûi yang termuat dalam berbagai kitab Itihàsa (sejarah) dan Puràóa (sejarah kuno). Didalam memahami ajaran agama Hindu. Pada mulanya wahyu itu direkam melalui kemampuan mengingat dari para maharsi dan selalu disampaikan secara lisan kepada para murid dan pengikutnya. lama kemudian setelah tulisan (huruf) dikenal selanjutnya mantra-mantra Veda itu dituliskan kembali. Gurukula atau Saýpradaya. perasaan dan pemikiran manusia. Àcàra (tradisi yang hidup pada masa yang lalu yang juga dimuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Àtmanastuûþi. Hindu Dharma tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir. Seorang maharsi Agung. yakni Vyàsa yang disebut Kåûóadvaipàyaóa dibantu oleh para muridnya menghimpun dan mengkompilasikan mantra-mantra Veda yang terpencar pada berbagai Úàkha. disamping kitab suci Veda (Úruti) yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tertinggi. Kata Úruti berarti sabda tuhan Yang Maha Esa yang didengar oleh para maharsi. Karakteristik Hindu Dharma Hindu Dharma memperkenalkan kemerdekaan mutlak terhadap pikiran rasional manusia. dikenal pula hiarki sumber ajaran agama Hindu yang lain yang merupakan sumber hukum Hindu adalah Småti (kitab-kitab Dharmaúàstra atau kitab-kitab hukum Hindu).

Seorang asing merasa terpesona keheranan apabila mendengar . menyelidiki. 1987: 5). Inilah salah satu ciri atau karakteristik dari Hindu Dharma. yang ingin dipuja sesuai dengan kemantapan hati. Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan. segala macam keyakinan/Úraddhà. Hindu Dharma adalah suatu agama pembebasan. mencari dan memikirkannya.paling luas dalam masalah keyakinan dan pemujaan. bermacam-macam ritual serta adat-istiadat yang berbeda. Àdikara berarti kebebasaan untuk memilih disiplin atau cara tertentu yang sesuai dengan kemampuan dan kesenangannya. oleh karena itu. 1989: 27). jiwa. penciptaan. Inilah gaambaran indah tentang Hindu Dharma. bermacam-macam bentuk pemujaan atau sadhana. bentuk pemujaan dan tujuan kehidupan ini. Hindu Dharma tidak bersandar pada satu doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu. I. Karakteristik atau ciri khas lainnya yang merupakan barikade untuk mencegah berbagai pandangan yang memungkinkan tidak menimbulkan pertentangan di dalam Hindu Dharma adalah Àdikara dan Iûþa atau Iûþadevatà (Morgan. sedangkan Iûþa atau Iûþadevatà adalah kebebasan untuk memilih bentuk Tuhan Yang Maha Esa yang dijelaskan daalam kitab suci dan susatra Hindu. Ia memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap kemampuan berpikir dan perasaan manusia dengan memandang pertanyaan-pertanyaan yang mendalam terhadap hakekat Tuhan Yang Maha Esa. memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu Dharma dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya. toleran dan luwes. seorang dokter bedah yang pernah praktek di Malaya (kini Malaysia) kemudian meninggalkan profesinya itu menjadi seorang Yogi besar dan rohaniawan agung pendiri Divine Life Society menyatakan : Hindu Dharma sangatlah universal. Svami Sivananda. bebas. Tentang kemerdekaan memberikan tafsiran terhadap Hindu Dharma di dalam Mahabharata dapat dijumpai sebuah pernyataan : "Bukanlah seorang maharsi (muni) bila tidak memberikan pendapat terhadap apa yang dipahami" (Radhakrishnan.

sehingga menjadi keyakinan yang bermacam-macam pula. lawan dari bahasa Prakerta. KOTA SUCI HINDU DI BHARATIYA 6. SANSKRTA MENYEBAR KE SELURUH UMAT HINDU Bahasa Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. dalam bahasa Sanskerta Saṃskṛtabhāsa artinya adalah bahasa yang sempurna. Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India.M. Agama Hindu menyerupai sebatang pohon yang tuumbuh perlahan dibandingkan sebuah bangunan yang dibangun oleh arsitek besar padaa saat tertentu (Natih: 1994: 116) 5. demi untuk pertumbuhan dan evolusi mereka (1984: 34). Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal. Maksudnya.K. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak . tetapi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya merupakan berbagai tipe pemahaman dan tempramen. karena dalam Hindu dharma tersedia tempat bagi semua tipe pemikiran dari yang tertinggi sampai yang terendah. Buddhisme. sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu. Sejalan dengan pernyataan ini Max Muller mengatakan bahwa Hindu Dharma mempunyai banyak kamar untuk setiap keyakinan dan Hindu Dharma merangkum semua keyakinan tersebut dengan toleransi yang sangat luas dan Dr. Sen mengatakan bahwa dengan definisi Hinduisme menimbulkan kesulitan lain. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hindu Dharma. Bahasa yang bisa menandingi 'usia' bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Hitit. atau bahasa rakyat. Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. Hal ini adalah wajar. dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. Kata Sansekerta.tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda-beda dalam Hindu Dharma.

dan agamis. Bahasa Sanskerta yang diucapkan masih dipakai pada beberapa lembaga tradisional di India dan bahkan ada beberapa usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Sanskerta. 7. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua. membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin. Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya. falsafi.bahasa-bahasa modern di anakbenua India. Bahasa ini muncul dalam bentuk praklasik sebagai bahasa Weda. ETIKA HINDU Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). "Sila" berarti perilaku. indah. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi-sendi kesusilaan. Saat ini bahasa Sansekerta masih tetap dipakai secara luas sebagai sebuah bahasa seremonial pada upacara-upacara Hindu dalam bentuk stotra dan mantra. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. tata laku. Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan . Khazanah sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang kaya. harmonis. drama dan juga teks-teks ilmiah. "Su" berarti baik. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur. Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia seharihari. teknis.

alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran 1. Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci. 2 Tri Kaya Parisudha individu guna Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang kesempurnaan dan kesucian hidupnya

merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap mencapai

3. Panca Yama dan Niyama Brata Lima Kebaikan yang harus dilakukan dan 5 keburukan yang harus dipantang. 4 Tri Mala Tiga sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil- kecilnya. 5. Sad Ripu Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. 6. Catur Asrama Empat tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu, disesuaikan dengan tahapan- tahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban menunaikan dharmanya.

7.

Catur Purusa Artha

Empat dasar tujuan hidup manusia 8. Catur Warna

Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang. 9. Catur Guru

Empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu. 10. PANCA SRADHA Sradha berarti "yakin", "percaya", yang melandasi umat Hindu dalam meyakini keberadaan-Nya. Umat Hindu mendasari keyakinannya berjumlah lima, yang disebut dengan panca Sradha. Panca Sradha meliputi:
• • •

Brahman — Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan Atman — Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman Karmaphala — Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). Samsara — Keyakinan pada kelahiran kembali

Moksha — Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman 11. APLIKASI PANCA MAHA YAJNA Panca Yadnya adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari: 1. DewaYadnya. Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa

dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lainlain. 2. PitraYadnya. lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: a. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. b. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha. c. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. 3. Manusa manusia. Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah: Yadnya.

Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup

Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan. kesehatan. orang. dan mengembangkan ajaran agama. d. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana.tempat pemujaan untuk Sulinggih.a.ajaran para Sulinggih. b. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat.saat tertentu kepada Sulinggih. d. Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi. . ResiYadnya. Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama). Resi. membina. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari). 4. menghayati. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur. b.lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton). dan mengamalkan ajaran. dan lain. c. c. Pinandita. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: a. Mentaati. Membangun tempat. memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya.orang suci. e.

DESA KALA PATRA desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. 13. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. 12. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. Kata Siwa Siddhanta berarti sukses . yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta. tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur. WAISNAWA DAN PASUPATA Agama Hindu sekte Siwa Siddhanta seperti yang dianut oleh umat Hindu di Bali pada umumnya memiliki tujuan yang sama dengan Hindu Siwa Pasupata itu. kami hanya ingin tumbuh. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri.5. berkembang dan hidup yang wajar. hewan (binatang). dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan.unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya. SAKTA. Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk. sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan.tumbuhan. baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). tidak terkekang oleh dogma-dogma yang salah atau kedaluwarsa. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-patra. FILSAFAT SIWA SIDANTA. BhutaYadnya. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. Bedanya hanya penekanannya saja. tumbuh. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.makhluk rendahan.

Ini artinya umat Hindu pada zaman dahulu itu benar-benar menghormati privasi beragama sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi. Tentunya akan sangat janggal kalau pada zaman sekarang ada misalnya umat yang bersifat negatif pada orang lain yang berbeda sistem penekanan beragamanya. Di Pura Goa Gajah. Demikian juga sebaliknya yang menganut Siwa Pasupata tidak menganggap penganut Siwa Siddanta sebagai orang lain. Mereka menyadari substansi ajaran agama Hindu yang mereka anut sama yaitu berdasarkan Weda. di mana pun dan kapan pun. Karena perbedaan itu merupakan suatu kenyataan yang universal.mencapai Siwa yang terakhir atau tertinggi. Jadinya dalam satu sekte saja agama Hindu memberikan kebebasan pada umatnya untuk memilihnya. Umat dipersilakan secara mandiri untuk memilihnya atau memadukan semua cara tersebut. Munculnya Sidharta Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas . Akan menjadi sesuatu yang tidak produktif kalau ada yang memaksakan agar mereka yang berbeda ditekan dengan cara-cara pendekatan kekuasaan. Menyikapi perbedaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu dan nilai-nilai universal yang dianut oleh dunia dewasa ini. Ini artinya penganut Siwa Siddhanta tidak menganggap penganut Siwa Pasupata sebagai penganut sesat. Artinya. Sikap keagamaan umat Hindu yang dicerminkan oleh umat Hindu di masa lampau di Pura Goa Gajah dan sesungguhnya pada peninggalan Hindu kuno yang lainnya di Indonesia. Demikian juga halnya dengan peninggalan keagamaan Buddha Mahayana di Pura Goa Gajah yang jauh lebih awal berada di Bali. perbedaan itu akan selalu ada sepanjang masa. kedua cara itu dapat hidup berkelanjutan dan umat tidak dipaksa harus ikut ini atau itu. Umat Hindu di masa lampau terutama para pemimpinnya benar-benar sudah memiliki jiwa besar dalam mengelola perbedaan.

Lidah dibuat sampai tidak berfungsi. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indahindah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang terik. Tiga corak keagamaan yang ada di Pura Goa Gajah itu memang berbeda tetapi perbedaan itu terletak pada cara atau metodenya saja.dan Carwakas. Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Dengan nafsu itu terus dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Atman adalah bagian dari Brahman. Sila berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani. Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan nafsu tersebut. Suara hati nurani adalah suara Atman. Inilah inti wacana Sidharta Gautama dalam menyelamatan umat dari perbedaan yang dipertentangkan itu. Sebaliknya aliran Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan fungsi alat-alatnya. Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang tidak langgeng ini. Itulah Samadhi. Ada yang sampai membakar kemaluannya agar nafsu seksnya hilang. Teknis berbuat baik itu didasarkan pada Prajnya artinya ilmu pengetahuan. Jadinya keberadaan agama Buddha di Pura Goa Gajah substansinya tidaklah berbeda apalagi berlawanan dengan ajaran Hindu Siwa Pasupata maupun Siwa Siddhanta. Ajarannya adalah Sila Prajnya dan Samadhi. Dalam keadaan seperti itulah muncul Sidharta Gautama yang telah mencapai alam Buddha memberikan pentunjuk praktis beragama. Substansi ketiga corak keagamaan Hindu dan Buddha yang ada di Pura Goa Gajah itu . Dalam berbuat baik hendaknya bersikap konsisten dengan konsentrasi yang prima. Setelah seratus tahun Sidharta mencapai Nirwana barulah wacana sucinya itu dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka. Kedua aliran itu membuat umat menderita.

yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika. . PURNAMA DAN TILEM Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga. 14.sama-sama menuntun umat manusia untuk mencapai hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan mencapai alam ketuhanan di dunia niskala. Waisnawa merupakan keyakinan dan ajaran yang juga memiliki pelaksanaan kewajiban bagi penganutnya (dalam Hindu disebut dengan Bakti Yoga). Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Hari Purnama. ngaturang wangiwangi. Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). serta Wisnu Purana dan Bhagavata Purana. makadi. Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali. jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). yang dalam proses pemujaannya lebih menitik beratkan pada pemujaan Wisnu (beserta awataranya) sebagai dewa tertinggi. dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. Sanghyang Surya Candra. Waisnawa merupakan aliran dalam Hindu. Isha Upanishad. canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar. Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya. atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan: 'Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda. Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra. para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana. sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. yang mana kesemua ajaran tersebut didasarkan pada Veda dan susastra Purana seperti Bhagavad Gita. sesuai dengan namanya.

Parhyangan. Pada hari Purnama. 19) Kerja yang dilakukan orang tanpa mengharapkan pahala bagi kepentingan diri pribadi adalah mulia. bertepatan dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem. Karena itu. Pada hari suci demikian itu. terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi. CATUR MARGA Dari itu laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa harap keuntungan sebab kerja tanpa keuntungan pribadi Membawa orang kekebahagiaan (Bhagavadgita III. Kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran. Pekerjaan akan juga mulia bila dilakukan disertai tanda bakti daripada yang mengangkat orang pada penyucian dan kesempurnaan pikiran dan jiwanya. bertepatan dengan Sanghyang Surya beyoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi. . Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dan kegiatan kerja. namun dewasa ini orang bekerja hanyalah untuk memenuhi kebutuhan materi. umat juga hendaknya melakukan pembersihan badan dengan air. disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrah-Nya. sudah seyogyanya kita para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi. 15. perkataan dan perbuatan yang bersih pula. matirtha gocara puspa wangi"Ada sejak hari-hari dulu sama utama nilai penyelenggaraan upacara persembahyangan keutamaanya yaitu hari Purnama dan Tilem. Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan lahir batin. Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan. Materi itu perlu dan harus diusahakan untuk memilikinya asalkan dengan jalan yang benar dan ditujukan untuk memperkokoh dharma.

sebagai pedoman hidup. sehingga tak ada yang ditakuti. Namun karena pengaruh ahamkara (ego) manusia lupa diri dan menjadi serakah. 3) Jnana Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan kerohanian dan 4) Raja Yoga cara menghubungkan diri dengan jalan penghayatan spiritual. yang mereka pikirkan hanyalah masalah keduniawian. Namun ego (ahamkara) manusia telah menutup nurani kita untuk berbuat jujur. Kesejahteraan jasmani sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. Mereka tanpa merasa bersalah untuk berbuat dosa. menjual narkoba atau juga korupsi. Maksudnya harta yang diusahakan ditujukan bagi kesejahteraan umum disamping untuk kepentingan diri sendiri. yang penting mereka bisa hidup mewah. . Apabila kerja merupakan salah satu cara menghubungkan diri dengan Tuhan tentunya tujuan dan kerja itu adalah suci. Pada dasarnya agama telah memberikan patokanpatokan terhadap perbuatan baik atau buruk. Mereka tidak lagi menghiraukan apakah pekerjaannya merugikan orang lain atau tidak. Seperti apa yang terjadi saat ini.Dalam agama Hindu ada dua pemikiran yaitu untuk kesejahteraan rohani dan jasmani makhluk (“Bhukti & mukti”). Sehingga mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan mencuri. Lagi-lagi agama menanggung beban tanggung jawab untuk memperbaiki moral manusia yang bobrok tersebut. benar atau salah. Karma Yoga merupakan bagian dan Catur Yoga (empat cara menghubungkan diri dengan Tuhan) terdiri dari : 1) Karma Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan kerja. merampok. orang lebih memikirkan hasil daripada pekejaannya. sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. namun harus diusahakan dan ditujukan untuk dharma. berbuat sesuai kaidah-kaidah agama. Dalam ajaran Hindu bekerja merupakan salah satu jalan untuk mencapai Tuhan yang biasa dikenal dengan Karma Yoga. 2) Bhakti Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan Bakti.

maka kita harus menderita karenanya.ikan tindakan itu mengeluarkan buahnya. tindakan yang dilakukan seseorang tidak dapat dihancurkan sebelum tindakan itu mengeluarkari buahnya.Karena pengaruh ahamkara tadi maka tujuan kerja pun menjadi bersifat duniawi. Sesuatu sebab membawa akibat. Dengan memahami cara kcrja manusia dapat lebih mudah menyelesaikan pekeijaannya dan akan mendapatkan hasil yang memuaskan. tak ada kekuatan alam yang dapat menghent. tak ada yang dapat menghalangi atau menahannya. cara bekenja. Mereka tertipu sifat guna Terikat pada keinginan yang dihasilkan olehnya Tetapi yang mengerti jangan sampai menyesatkan Mereka yang pengetahuannya tiada sempurna (Bhagavadgita III. Mereka terlalu berharap dan kerjanya sehingga ketika bekerja mereka berpikir tentang apa yang akan mereka perbuat dengan hasil keijanya. Guna sebagai batas kebehasan manusia yang diperoleh dari kelahiran dan lingkungan yang mempunyai kekuatan membelenggu. Karma Yoga mengajarkan rahasia dan pekerjaan. Bila kita berbuat sesuatu perbuatan jahat. (Swami Vivekananda). sudah memperhitungkan hambatan-hambatan yang akan dihadapinya. daya organisasi dan kerja. maka tak ada kekuatan dalam alam yang akan menghentikan keluarnya buah kebaikan. Tentunya untuk dapat menguasai guna tersebut didapat dari pengalaman kerja sehingga kita menemukan rahasia kerja. Menurut Karma Yoga. tak ada kekuatan alam yang dapat menghentikan tindakan itu hingga tidak menibawa akibat. itulah idealnya karma yoga. Begitulah . 29) Sloka 29 menjelaskan mereka yang terikat guna akan tertipu karena harapan yang berlebihan terhadap kerjanya. bukankah dengan hasil yang banyak uLaka imbalannya pun banyak. Bila manusia dapat menguasai kekuatan guna tersebut maka mereka dapat bekerja giat tanpa memikirkan hasil. Karma Yoga sebenarnya merupakan suatu ilmu pengetaliuan mengenai rahasia pekerjaan. Bekeija secara terorganisir akan membuat pekerjaan beijalan lancar karena sebelumnya telah membuat perencanaan. Sama juga bila kita berbuat hal-hal baik. Dengan demikian kita hanya akan berpikir kuantitas bukan kualitas.

manusia yang telab memahami rahasia pekenjaan, susah senang akan dihadapi dengan tenang. Tentunya hal tersebut dicapai apabila kita telah mampu melepaskan din dan belenggu guna. Kita harus bekerja, tidak boleh tidak, namun harus dengan tujuan tertinggi. Bekeijalah tanpa berhenti, tapi lepaskan segala pengikatan diri pada pekerjaan. Artinya jangan kita mempersamakan diri dengan sesuatu, sehingga kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam bekerja pun tak akan kita rasakan. Kita harus menghancurkan sifat keakuan, mampu mengekang diri agar tidak tenjerumus dalam pikiran keakuan. Dengan demikian kita bisa bekerja sebanyak yang dapat kita lakukan, dapat bergaul dengan siapa saja tanpa tertular sifat jahat. Tunjukkan semua kerjamu kepada-Ku. Dengan pikiranmu terpusat pada atman Bebas dari nafsu keinginan dan ke-aku-an. Enyahkan rasa gentar dan, bertempurlah! (Bhagavadgita III.30). Tujukan pekerjaan kita untuk Tuhan, karenanya kita akan bekerja tanpa terikat akan hasil. Apa yang dirasa, dilihat, didengar dan dibuat adalah untuk Tuhan. Dengan demikian kita akan bekerja bukan untuk kepentingan diri sendiri. Dengan tanpa memikirkan hasil pekerjaan kita akan berdaya guna, sebagai ilustrasi dapat saya contohkan seorang pelukis yang bekerja hanya untuk menghasilkan lukisan yang indah, dia tidak akan memikirkan apakah dikerjakan berbulan-bulan, memakan bahan yang mahal, tapi yang dia pikirkan adalah melukis untuk membuat karya seni. Dan tentunya orang-orang mengerti akan hal seni tersebut akan memberikan harga yang mahal untuk sebuah karya seni tersebut, tetapi si seniman pun tidak akan gusar apabila hasil lukisannya tidak ada yang membeli. Kita sebagai manusia tidak dapat lepas dari kegiatan kerja, namun untuk mencapai tujuan tertinggi kita harus mampu mengendalikan ke-aku-an. Sesuatu yang bersifat ke-aku-an adalah menyalahi kesusilaan (immoril) dan sesuatu yang bersifat tidak ke-aku-an adalah bersusila (moral) [Swami Vivekananda]. Bekerjalah untuk mencapai

hasil sebaik-baiknya dengan memperhatikan moral. Bersabarlah karena bekerja dengan tekun maka hasilpun akan mengikuti, tak perlu mencari jalan pintas yang hanya akan menyebabkan penderitaan.ºWHD No. 510 Juni 2009. 16. AJARAN BHAKTI DAN PARA BHAKTI Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang Widhi) yaitu: Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Yoga (Raja) Marga. BHAKTI MARGA. Bhakti artinya cinta kasih. Kata bhakti digunakan untuk menunjukkan cinta kasih kepada subyek yang lebih tinggi statusnya, atau lebih luas lingkupnya misalnya: orang tua, negara, bangsa, Tuhan (Hyang Widhi). Kata cinta kasih digunakan untuk sesama misalnya tunangan, istri/ suami, umat sedharma, umat manusia. Orang yang ber-bhakti kepada Hyang Widhi disebut Bhakta. Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu PARA-BHAKTI dan APARA-BHAKTI. Para artinya utama; jadi para-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara-bhakti artinya tidak utama; jadi apara-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama. Apara-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja. Para-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi. Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara-bhakti antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol (niyasa). Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para-bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan kuat/ berdisiplin

dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakta yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri). Pilihan menggunakan para atau apara bhakti tergantung dari tingkat inteligensi dan kesadaran rohani masing-masing. Yang ditemukan di masyarakat Hindu Indonesia dewasa ini adalah mix para dan apara-bhakti, namun bobotnya berbeda. Umat Hindu di Bali banyak menggunakan aparabhakti, sedangkan umat Hindu di luar Bali banyak menggunakan para-bhakti. Kenapa demikian? Apakah itu berarti umat Hindu di Bali inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang? Tidak selalu demikian. Ada umat Hindu di Bali yang inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi tetapi dibelenggu oleh tradisi beragama yang monoton dan feodalistis, sehingga menampakkan diri sebagai apara-bhakti. Sebaliknya umat Hindu diluar Bali lebih moderat, demokrat, rasional dan reformis, sehingga memudahkan mereka mencapai para-bhakti. Mengupayakan umat Hindu di Bali menjadi sebagian besar para bhakta tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena bottle-neck yang menghadang ya itu tadi: tradisi beragama dan feodalisme. Itulah sedikit ulasan kasus tentang para dan apara-bhakti. Sekarang kita teruskan tentang BHAKTI MARGA Bhakti marga sering disebut sebagai jalan menuju Hyang Widhi yang paling mudah karena dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Mungkin pendapat ini benar jika yang dimaksud adalah apara-bhakti. Jika yang dimaksud adalah para-bhakti, justru bhakti marga yang paling sulit dilaksanakan karena para bhakta harus benarbenar mempunyai kesadaran rohani yang tinggi. Untuk mencapai kesadaran rohani yang tinggi setidak-tidaknya sudah menempuh Karma-Jnana dan YogaMarga dengan baik.

beryoga. Itulah hal-hal yang menjauhkan rasa kasih sayang kepada semua mahluk ciptaan-Nya.6. menolong sesama tanpa menghitung untung-rugi. Maka mereka yang para-bhakti sering ber-dana punia. tiada berduka dan bernafsu apa. Bhagawadgita XII. dan bebaskanlah dari rasa berbuat kebaikan karena itu sudah kewajiban seorang bhakta. karena itu bertentangan dengan hakekat bhakti. dialah yang Ku-kasihi. Artinya: Dia yang tiada bersenang dan membenci. mam dhyayanta upasale.Seorang bhakta mempunyai keinginan-keinginan yang kuat yaitu: 1) Ingin dan rindu selalu dekat bahkan bertemu dengan Hyang Widhi sehingga ia rajin bersembahyang. Artinya: Tetapi sesunguhnya mereka yang menumpahkan segala kegiatan . benci. Bebaskanlah dari kebathilan. marah. bhavani nachirat partha. membebaskan diri dari kebathilan dan rasa berbuat kebaikan. penuh dengan kebaktian. mayi avesita chetasam. Pengampunan akan diberikan oleh Hyang Widhi kepada para Bhakta. amarah. Bila kita cinta dan kasih kepada Hyang Widhi berarti juga kita harus cinta dan kasih kepada semua ciptaan-Nya. Na sochati na kankshati. bermeditasi. Maksud dari sloka itu adalah: jika benar-benar kita bhakti kepada Hyang Widhi. Seorang bhakta juga tidak boleh berduka dan kecewa jika ia yakin bahwa apapun yang kita alami di dunia ini semata-mata adalah atas kehendak-Nya. Bhagawadgita XII. iri hati dan nafsu yang tidak tercapai bisa menimbulkan kebencian. Bhakti kepada Hyang Widhi melenyapkan rasa takut. Bhaktiman ya same priyah. anayenai va yogena. Tesham aham samuddharta. Juga jangan membenci karena kebencian menimbulkan amarah dan irihati atau sebaliknya. 2) Ingin berkorban yang didasari oleh rasa ikhlas.7: Ye tu sarvanni karmani. sedangkan mereka yang apara-bhakti banyak melaksanakan upacara panca yadnya.17: Yo na hrishyati na dveshti. janganlah terpengaruh oleh kesenangan karena ketakutan itu timbul bilamana kesenangan terancam. dan iri hati. tulus dan welas asih dengan melepaskan ikatan dan keinginan akan pahalanya. mrtyu samsara sagarat. mayi samnyasya matparah.

dengan segera dan langsung Aku bebaskan mereka ini dari lautan sengsara hidup lahir dan mati (artinya mencapai MOKSA). seperti misalnya Rsi Walmiki dan Rsi Vyāsa. Kitab Ramayana merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal.000 sloka dan memiliki tujuh bagian yang disebut Sapta Kanda. Kitab Ramayana disusun oleh Rsi Walmiki Kitab Mahābhārata merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Pada zaman kerajaan di Indonesia. Itihāsa yang terkenal ada dua. mitologi. Cerita dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin. Mahābhārata berarti cerita keluarga besar Bharata. Itihāsa berarti “kejadian yang nyata”. dan makhluk supernatural. setiap Parwa merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Parwa yang lain. Setiap Kanda merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Kanda yang lain. Kitab Mahābhārata berisi lebih dari 100. Kitab Ramayana terdiri dari 24.hidup mereka kepada-Ku. 17. Kitab Itihāsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau. Selayaknya Ramayana. ITHIASA MAHABARATA DAN RAMAYANA Itihāsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisahkisah epik/kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu di masa lampau dan dibumbui oleh filsafat agama. Kitab Mahābhārata disusun oleh Rsi Vyāsa . yaitu Ramayana dan Mahābhārata. kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuna dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara.000 sloka. memikirkan bermeditasi hanya kepada-Ku dengan kebaktian yang terpusatkan. Kitab Mahābhārata memiliki delapan belas bagian yang disebut Astadasaparwa. yang pikiran mereka tertuju kepada-Ku.

MITOLOGI GARUDA Garuda Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. Garuda berjanji akan memberikan Amrita pada Indra dan Indra akan memberikan para ular sebagai makanan Garuda. Setelah telur . Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. dan memiliki mahkota di kepalanya. Menurut Mahabarata.18. Sang Kadru meminta 1000 anak sedangkan Sang Winata meminta dua anak. setelah Amrita diberikan. bumi gonjang ganjing (seperti waktu sun go kong lahir di film >. Garuda ini ada hubungannya dengan ceritra Sang Garuda yang terdapat di dalam Adi Parva. Bhagawan Kacyapa menawarkan kepada kedua istri beliau berapa jumlah anak yang ingin mereka miliki. Bhagawan Kacyapa memberikan seribu butir telur pada Sang Kadru dan dua butir telur pada Sang Winata. sekaligus menjadi musuh utama para ular. Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan. mereka bukanlah tandinganya. tunggangan kebanggan Vishnu. sebagai gantinya Garuda menjadi kendaraan Vishnu. Untuk menghapus hutang tersebut. Sejak saat itu Garuda menjadi rekan para dewa. Vinata memiliki hutang terhadap Kadru. Kemudian Garuda bertemu dengan Indra dan sekali lagi dia mendapat penawaran. Vishnu berjanji akan memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita. ibu para ular karena suatu pertaruhan. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari.<) sehingga para dewa memohon padanya untuk tenang. Ceritra ringkasnya adalah sebagai berikut : Bhagawan Kacyapa mempunyai dua orang istri yaitu Sang Kadru dan Sang Winata. Indra turun dari langit. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk menghapus hutang ibunya. Garuda bertemu dengan Vishnu. dan menghabisi para ular. konon saat Garuda lahir dari telurnya. Garuda diminta Kadru untuk memberikan obat keabadian yg disebut Amrita padanya. Garuda adalah anak Kasyapa dan Vinata. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan Vishnu. Meskipun para dewa bersatu menghadang Garuda. Dalam perjalanan pulang. merebut Amrita.

Setelah itu Sang Kadru lalu pulang dengan mengabarkan hal ikhwal taruhan itu kepada anak-anaknya. Maka para ular itu pun memenuhi permintaan ibunya lalu semuanya menuju ke tempat kuda itu berada. apa pekerjaan ibu ?” tanya Sang Garuda. siapa pun yang kalah akan menjadi budak dari yang menang. mereka menyaksikan warna kuda Ucchaisrawa itu betulbetul hitam. Sejak saat itu Sang Winata menjadi budak Sang Kadru menjaga dan mengantarkan ular-ular itu mencari makanan setiap hari dan sore hari baru pulang. saban hari kerja ibu adalah menggembalakan ular-ular yang nakal. Mereka semua lalu menyemburkan bisa (wisa)-nya ke tubuh si kuda sehingga warna bulu kuda itu menjadi berubah dari putih menjadi hitam karena pengaruh dari bisa ular itu. “Wah ibu pasti kalah. maka dengan tidak sabar dipecahkanlah sebutir dari telurnya maka lahirlah Aruna seekor burung yang belum sempurna bentuk tubuhnya karena belum punya kaki. “Kalau demikian anakku berbuatlah sesuatu agar ibu tidak kalah sehingga menjadi budak Sang Winata. maka kalahlah Sang Winata. Melihat Sang Kadru sudah melahirkan anak-anaknya maka Sang Winata ingin cepat juga punya anak. Besok harinya ketika Sang Winata dan Sang Kadru datang. jawab Sang Winata.Sang Kadru menetas maka lahirlah seribu ekor ular. akhirnya mereka bertaruhan. Besok ibu akan datang bersama Sang Winata ke tempat kuda itu untuk menyaksikan kebenaran kuda itu”. Sang Kadru menebak warna kuda itu hitam dan Sang Winata menebak putih. . Setelah beberapa lama kemudian Sang Garuda pun heran melihat ibunya pergi pagi pulang sore. Sementara itu Sang Garuda pun lahir dengan tubuh sempurna. “Ibu jadi budak para naga. hingga ada keinginannya untuk menanyakan. Masing-masing kukuh mempertahankan pendirianya. karena kuda itu betul-betul putih mulus” kata ular-ular itu. pergi ke sana ke mari sekehendaknya”. “Mengapa ibu menjadi budaknya ?” tanya Sang Garuda. “lbu mengapa ibu pergi pagi pulang sore. Suatu ketika Sang Kadru bertemu dengan Sang Winata membicarakan tentang rupa dari kuda Ucchaisrawa yang keluar pada waktu lautan air susu diaduk oleh para Dewa Raksasa.

Akhirnya Bhatara Wisnu menanyakan mengapa Sang Visnu memerangi para Dewa dan untuk apa dia mencari Amerta. Setelah lama berpikir para Nagapun sepakat akan membebaskan Sang Garuda dari perbudakan kalau bisa mencarikan tirtha amerta untuk mereka. Ia pun lalu menanyakan kepada naga apakah ada cara sebagai pengganti atau menembus dirinya. Untuk itu dia berhadapan dengan para Dewa yang menjaga Amerta itu. kata Sang Winata. Para naga setelah menerimanya semua saling dahulu mendahului pergi mandi menyucikan diri. akhirnya dia menjadi bosan. Akhirnya para Dewa lalu mohon bantuan kepada Bhatara Visnu. Sang Garuda segera menyerahkan tirtha Amerta itu kepada para naga dengan segala persyaratannya. Perang pun terjadi antara Dewa Visnu dengan Sang Garuda. Konon barang siapa yang dapat minum amerta itu akan bisa bebas dari kematian. Sang Garuda pergi ke sorga untuk mencari tirtha Amerta itu. kalau tidak demikian tirtha merta tidak akan sidhi atau bermanfaat”. agar dia bisa bebas dari perbudakan. Setelah Sang Garuda menjelaskan tujuannya mencari Amerta adalah untuk membebaskan dirinya dan ibunya dari perbudakan para naga maka Bhatara Visnu berkenan memberikan tirtha Amerta itu asal saja Sang Garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Visnu. takut tidak kebagian sehingga tirtha itu begitu saja ditinggal di tengah rumput alang-alang. Dewata Nawa Sanga dikalahkan semua. karena tidak ada yang menyebabkan mereka bisa mati kalau sudah minum tirtha Amerta. Dengan demikian para naga beranggapan tidak perlu lagi ada penjaga seperti Sang Garuda. Perangpun berlangsung lama. Mengetahui bahwa tirtha itu ditinggalkan begitu saja oleh para naga maka Bhatara Visnu pun .“Karena ibu kalah taruhan dengan Sang Kadru mengenai warna kuda Ucchaisrawa”. Sang Garuda menyetujui dan tirtha amerta pun diserahkan oleh Dewa Visnu dengan syarat “barang siapa yang akan meminumnya hendaknya bersuci-suci lebih dahulu. Lamalah sudah Sang Garuda menjadi budak dari para naga. “Kalau demikian biarlah saya saja menggantikan ibu menggembalakan ular” demikian permintaan Sang Garuda yang kemudian diluluskan oleh Ibunya.

moksa itu adalah kebebasan. air dan udara. Di muka telah dijelaskan bahwa inti bumi atau magma api itu dibungkus oleh tanah. Apa yang dimaksud dengan Amerta itu ? Amerta artinya tidak mati-mati atau keabadian. pada waktu mayat itu dibawa dari rumah kesetra. Gambar-gambar yang terdapat pada Bade atau wadah yang digunakan sebagai kendaraan dari orang yang meninggal. Ketiga jenis zat ini disimbulkan dengan naga (ular). Siapa yang tidak bisa mati ? Hanya Tuhan ! Barang siapa yang telah bisa mencapai Tuhan mereka tidak lagi terikat oleh kemelekatan benda-benda dunia ini. Kenyataannya saban hari dari pagi sampai sore manusia disibukkan untuk mendapatkan makan. Pekerjaan yang tidak pernah selesai ini menjadikan manusia berpikir apakah hidup ini hanya untuk makan minum dan mendapatkan udara bersih ? Apakah manusia bisa membebaskan diri dari perbudakan benda ini. Hal yang menguatkan lagi bahwa gambar Garuda merupakan simbul pembebasan dari perbudakan oleh benda-benda duniawi ialah : penggunaan patung Garuda di “Bale Gede” yaitu bangunan yang biasanya diperuntukkan untuk menempatkan mayat sebelum dibawa ke setra. Itulah asal mula ceritra mengapa alang-alang menjadi daun yang dianggap suci karena terkena bekas tirtha amerta. Jawabannya adalah tirtha Amerta. Kami beranggapan bahwa Sang Garuda itu tidak lain dari simbul manusia yang mencari pembebasan dari perbudakan benda-benda duniawi. Gambar Garuda itu terdapa pada bagian belakang “wadah” . minum dan udara bersih (simbul 3 naga di atas). mereka bebas dari perbudakan benda. mereka mencapai moksa. Basuki stava dan Taksaka stava. Marilah kita simak arti dan simbul dari ceritra Sang Garuda ini dihubungkan dengan lontar Cri Purvana Tattva dan Stava yaitu Ananta bhoga stava.mengambil tirtha itu kembali dibawa ke sorga. Bale Gede umumnya terdapat pada rumah keluarga-keluarganya yang mampu di Bali. Disebabkan tajamnya daun alang-alang itu maka lidah ular naga itupun terbelah. demikian pula mengapa lidah ular menjadi bercabang. Dengan penuh kecewa para naga hanya dapat menjilati sisa-sisa bekas tirtha yang ada di daun alang-alang itu.

Dalam ajaran filsafat hindu. dan gambar angsa adalah simbul manusia yang ingin kembali kepada Ida Sang Hyang Widhi. Di atas gambar Garuda yang kita lihat di belakang Padmasana itu. . Menurut lontar “Indik tetandingan” wujud angsa dengan sayap mengepak itu adalah simbul dari ardha candra windhu dan nada. agar roh orang yang meningggal selalu teringat dengan ceritra sang Garuda yang mengandung simbul kebebasan. Maka kesimpulannya. Sad Darśana berarti Enam pandangan tentang kebenaran. FILSAFAT SAD DARSANA Sad Darśana. kepala angsa menggambarkan windu dan mulut atau cocor angsa menggambarkan nada. Kedua sayap yang mengepak menggambarkan ardha candra. 19. Wujud angsa yang dilukiskan baik di belakang Padmasana maupun wadah itu selalu berwujud angsa dengan sayapnya yang mengepak-ngepak. Sumber yang lain kita jumpai di dalam Upanisad yang menyebutkan “Atma yang ingin bersatu dengan Brahman itu seperti burung angsa yang mengepakngepakan sayapnya”.atau “bale” itu. yang mana merupakan dasar dari Filsafat Hindu. Kata Darsana berasal dari akar kata drś yang bermakna "melihat". menjadi kata darśana yang berarti "penglihatan" atau "pandangan". Itulah mungkin sebabnya mengapa di Bale Gede maupun di belakang wadah dilukiskan Garuda. yang juga disebut amoring acintya. Tujuannya tentu erat hubungannya dengan semacam petunjuk atau perhatian kepada manusia baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal bahwa bila akan mencari Ida Sang Hyang Widhi hendaknya berbuat seperti Sang Garuda yaitu membebaskan diri dari perbudakan naga atau benda-benda dunia. lukisan Garuda adalah simbul manusia yang mencari kebebasan melalui pelepasan terhadap ikatan duniawi. Darśana berarti pandangan tentang kebenaran. biasanya kita menjumpai ada hiasan berbentuk angsa.

. Yoga berarti "penyatuan". Kemudian Maharsi Kapila. Para ahli meyakini bahwa ajaran ini berakar dari nilai-nilai positif atheis. yaitu purusa dan prakrti. juga disebut dengan Sankhya adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu. Samkhya adalah ajaran filsafat tertua dalam filsafat India. seperti yang disebutkan dalam Bhagavatapurana[1]. Saat ini ajaran Samkhya yang murni sudah tidak eksis lagi. Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktivitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari Hatta Yoga. 2. Karya sastra mengenai Saṁkhya yang kini dapat diwarisi adalah Saṁkhyakarika yang di tulis oleh Īśvarakṛṣṇa sekitar 200 SM. yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun. dibuktikan dengan termuatanya ajaran Saṁkhya dalam sastra-sastra Śruti. Ajaran Saṁkhya ini sudah sangat tua umurnya. Kata Saṁkhya berarti: pemantulan. Ajaran Saṁkhya bersifat realistis karena didalamnya mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif. Samkhya. itihasa dan purana. membangun ajaran Samkhya yang bersifat theistik. yaitu pemantulan filsafati. Disebut dualistis karena terdapat dua realitas yang saling bertentangan tetapi bisa berpadu. smrti. yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. yang bermakna "penyatuan dengan alam" atau "penyatuan dengan Sang Pencipta".[1] [2] Orang yang melakukan tapa yoga disebut yogi. tapi ajaran ini banyak membawa pengaruh pada ajaran Yoga dan Wedanta. biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan.1. oleh tubuh dan meditasi. yogin bagi praktisi pria dan yogini bagi praktisi wanita. putra Devaguti.

Jnana Yoga/Marga. Kitab ini terdiri atas 12 Adhyaya (bab) yang terbagi kedalam 60 pada atau bagian. Yogasutra. Klasifikasi ajaran Yoga tertuang dalam Bhagavad Gita. 4. yang isinya adalah aturan tata upacara menurut Veda. yang menyusun Vaisesikasutra. Ajaran ini berdasarka pada ilmu logika. juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. 5. Sumber ajaran ini tertuang dalam Jaiminiyasutra. sistematis. Raja Yoga/Marga. yaitu "penyelidikan yang . Bhagavad Gita. Mimamsa juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Kata Mimamsa berarti penyelidikan. Bakti Yoga/Marga. kronologis dan analitis. terdiri atas 5 adhyaya (bab) yang dibagi atas 5 pada (bagian). 3. Meskipun sebagai sistem filsafat pada awalnya berdiri sendiri.Vaisesika juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu.Wedanta Védānta) adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Nyaya (Logic). Ajaran Vaisiseka dipelopori oleh Maharsi Kanada. Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya. Ajaran Wedanta sering juga disebut dengan Uttara Mimamsa. Mimamsa secara khusus melakukan pengkajian pada bagian Veda: Brahmana dan Kalpasutra.Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga. Ajaran Mimamsa didirikan oleh Maharsi Jaimini. disebut juga dengan nama lain Purwa Mimamsa. Ajaran Nyaya didirikan oleh Maharsi Aksapada Gotama. namun dalam perkembangannya ajaran ini menjadi satu dengan Nyaya. diantaranya adalah Karma Yoga/Marga. 6. diantaranya adalah Upaishad. Penyelidikan sistematis terhadap Veda. Kata Nyaya berarti penelitian analitis dan kritis. yang menyusun Nyayasutra.

Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam samudera. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. PARWATA. yaitu kitab Upanisad.kedua". 20. Sumber ajaran ini adalah kitab Wedantasutra atau dikenal juga dengan nama Brahmasutra. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. karena ajaran ini mengkaji salah satu bagian kitab Weda. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera. Permukaan laut begitu indah. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. jauh lebih indah lagi. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. dilanda jutaan kubik kata-kata. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. nyiur melambai. namun lautan tak pernah menolaknya. dengan kedinamisan gelombangnya. Kata Wedanta berakar kata dari wedasya dan antah yang berarti "akhir dari Weda". kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji. tetap tidak bergeming. warna-warni awan. Bisakah hati kita seluas dan sedalam . berfilsafat dengan keluasan kedalamannya. Permukaan laut begitu indah. NADI DAN WANA Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. FILOSOFI SAMUDRA. GIRI. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. Hati yang demikian ini. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. atau dikenal juga dengan nama Badarayana atau Krishna Dwaipayana. Pelopor ajaran ini adalah Maharesi Byasa. tidak teracuni.

di dasar samudera ada tiram. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. jauh lebih indah lagi. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. warna-warni awan. namun lautan tak pernah menolaknya. nyiur melambai.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam . Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. Ibarat samudera.samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. tak pernah diam. akan selalu menyapamu. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. Permukaan laut begitu indah. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera. Permukaan laut begitu indah. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. berfilsafat dengan keluasan kedalamannya. Seumpama samudera. dengan kedinamisan gelombangnya. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. melantunkan salam padamu.

Karena gunung yang tertinggi (Mahameru.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. gunung itu terletak di sahasrara padma.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. gunung merupakan pusat orientasi kesucian bagi umat Hindu. Bagi seorang sadhaka. pertama-tama menguraikan tentang Gunung Mahameru sebagai tempat Sthana Hyang Siwa yang digambarkan sebagai pusat padma dunia raya. di dasar samudera ada tiram. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. Kitab-kitab yang mengajarkan ajaran yoga. tidak teracuni. tetap tidak bergeming. Ibarat samudera. parwata) memberikan kerahayuan (amreta) kepada manusia yang hidup di kaki dan datarannya. meru. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. dilanda jutaan kubik kata-kata. Gunung dalam a! am sakala maupun niskala sangat penting bagi umat Hindu.samudera. dan Kitab Tantra dalam bentuk tanya jawab (dialogic catekismus) antara Hyang Siwa dengan SaktiNya Dewi Parwati. Lontar Tantu Pangelaran menyiratkan bahwa gunung (giri. Hati yang demikian ini. Selain itu. dipandang sebagai lingga-acala. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. Dunia atau wilayah yang . Damara. Bisakah hati kita seluas dan sedalam samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. Gunung Agung) dinyatakan berada di pusat padma dunia. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji. Seumpama samudera. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. maka gunung-gunung yang lain menempati posisi dik-widik. lingga yang tidak bergerak. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. tak pernah diam. bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. akan selalu menyapamu. melantunkan salam padamu. di kepala manusia. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. tempat Hyang Siwa menurunkan ajaran-ajaranNya yang kemudian dicatat dalam berbagai Yamala. gunung-gunung dipandang sebagai satu kesatuan sehingga muncul konsepsi panca-giri. Siwasutra.

Sadasiwa. Pura yang biasa disebut Sad-Kahyangan tersebut merupakan kesatuan. pertama-tama disangga oleh pura catur-dala. dan Gunung Batur di Utara. 21. kisah-kisah ini diceritakan kepada orang kebanyakan supaya mereka mengerti kebenaran-kebenaran dari kehidupan yang lebih tinggi. Gunung Andakasa di Selatan. bagaikan sebuah bunga padma dengan delapan helainya (dala) yang menunjuk delapan penjuru. Sadyojata. Secara holistik. Purana-Purana . Di tempat tersebut didirikan pura atau tempat suci utama. Pura Kiduling Kreteg (Selatan. Gunung Batukaru di Barat. Pada sari bunga padma yang suci itu didirikan Padma Agung (Padma Tiga) yang merupakan Linggih Beliau sebagai Paramashva. dan Siwa. seribu kelopak bunga padma. maka Padma Tiga Pura Penataran Agung Besakih. Sementara itu. disebut padma-bhuwana atau padmamandala sehingga dalam konteks Bali. Tatpurusa atau Mahadewa). Pura Batu Madeg (Ulara. Gunung Lempuyang di Timur. Pura Panataran Agung Besakih masih memiliki dala pada posisi dik. Gunung Agung menempati posisi di tengah padma-mandala. Misteri alam semesta diungkapkan kepada orang-orang yang secara spiritual sudah bangun tapi kepada yang lain misteri-misteri itu harus dijelaskan dalam cerita kiasan Berdasarkan catatan ini. Pura Ulun Kulkul (Barat. menempati posisi dik. MAHA PURANA DAN UPA PURANA Purana-purana adalah kitab yang berisi cerita-cerita keagamaan yang menjelaskan tentang kebenaran. atau Iswara). dengan sarinya berada di tengah. Bhamadewa ahui Brahma). selanjutnya ditopang lagi oleh pura Sad Kahyangan (pura utama) yang terletak di delapan penjuru Pulau Bali atau asta-dala. Aghora atau Wisnu) yang disebut Pura Catur Lokaphala atau Catur-Dala. sementara yang menempati posisi widik adalah Pura Gua Lawah di Tenggara.lebih kecil digambarkan sebagai bunga padma. Sama seperti cerita kiasan (parabel) yang dikisahkan oleh Jesus Kristus. masingmasing Pura Gelap (Timur. Pura Agung Besakih juga menempati posisi Timur Laut (Airsanya). Pura Pucak Mangu di Barat Laut. Pura Luhur Uluwatu di Baratdaya. Pura Kahyangan Jagat yang didirikan di seluruh Nusantara dapat berfungsi sebagai sahasra-dala.

Bhawishya Purana dan Wamana Purana. Diantara sejumlah besar Purana-Purana itu. Purana-Purana ini ditulis dalam bentuk "tanya jawab. tapi nama-nama dalam daftar itu dalam beberapa Purana sedikit bervariasi. dan rincian mengenai dinasti Bulan (Lunar) dan Matahari (Solar). garis keturunan atau asal-usul (genealogi) dari dewa-dewa dan para orang suci. delapan belas disebut Purana Besar atau Maha Purana. Enam Purana yang ditujukan kepada Brahma adalah Brahma Purana. Srimad Bhawata Purana. Mereka adalah : . Enam Purana yang ditujukan kepada Wishnu adalah Wishnu Purana." Mereka umumnya berisi kisah-kisah mengenai Dewa dan Dewi Hindu. orang suci dan manusia biasa. mempunyai penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang sama seperti Kitab Wahyu dalam Injil. Narada Purana. Hampir semua Purana berkaitan dengan penciptaan dan penghancuran alam semesta. Dari duapuluh Purana ini. Purana-Purana itu selalu menekankan bhakti kepada Tuhan. Kata Purana berarti "purba" (ancient). Markandeya Purana. mahluk supernatural. Beberapa dari Purana-Purana itu. seperti Mahabbhagawatam. Wayu Purana. Lingga purana. Menurut banyak orang. Brahmanda Purana. karena kitab-kitab itu menyajikan seluruh misteri melalui mitos dan legenda. Purana kecil (Minor Purana) dikenal sebagai Upa Purana. enam kepada Siwa dan enam kepada Brahma. Garuda Purana. Brahma-Waiwaswata atau Brahma-Waiwarta Purana. Percaya atau tidak. Masing-masing dari padanya menyediakan satu daftar dari kedelapan belas Purana termasuk dirinya sendiri. Padma Purana dan Waraha Purana. Purana-Purana ini tidak memiliki catatan waktu kapan ia ditulis. enam ditujukan kepada Wishnu. ada paling sedikit duapuluh Purana Kecil. oleh karena itu kita mempunyai satu daftar dari duapuluh Maha Purana. Kurma Purana.itu dapat dikatakan Weda-Weda dari orang kebanyakan. Ya memang. Skanda Purana dan Agni Purana. sekalipun mereka tidak termasuk dalam daftar dari delapan belas Maha Purana (Major Purana). Siwa (atau Saiwa atau Dewi-Bhagawata) Purana dan Hariwamsa Purana adalah juga termasuk Maha Purana. Enam Purana yang ditujukan kepada Siwa adalah Matsya Purana. tapi beberapa orang mengatakan Purana-Purana itu ditulis mulai abad enam.

Bab sepuluh dari buku ini memuat kisah Krishna secara rinci. . kitab suci yang penting bagi orang Hindu dan khususnya bagi para bhakta Hare Krishna. meditasi. Sebagian besar isi dari buku ini merupakan dialog antara Raja Parikshit dengan Reshi Suka. Dewi. alam semesta ini menjadi ada karena Tuhan menghendakinya sebagai permainan atau Lila. Parasara. Kalki. Sanathkumara. Ascharya.000 sloka. Surya. atau Banjir Besar Buku ini merupakan sumber penting bagi Sekte Waisnawa dan. Mungkin masih ada Purana dalam agama Hindu yang tidak diketahui bahkan oleh rasul atau pemikir doktrin Hindu. Usanas. Ausanasa. dinasti terakhir dari Pandawa. Menurut kitab suci ini. dan akhirnya penyerahan diri kepada kehendak Tuhan. Disini juga ada gambaran yang sangat jelas mengenai Pralaya. dan Awatara terakhir dari Wishnu yaitu. Kalki. Seorang pemuja yang sudah tercerahkan (a realized devotee) melihat dirinya sendiri dan seluruh mahluk sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan. Menurut Srimad Bhawatam. Ia berisi 18. yang juga dikenal sebagai Veda Vyasa. Ia ditulis oleh Reshi Badarayana. Samba. Buku ini dibacakan kepada Raja Parikshit.Aditya. Manawa. Bab terakhir secara khusus menjelaskan mengenai Kali Yuga. Kapila. melayani. Suta-Samhita. Bhaskara (Surya). Narada. Mahaswara. Yuga. Waya dan Wrihan. Srimad Bhagawatam memuat kisah-kisah seluruh Awatara dari Wishnu. Marichi. Narasimha. putra dari Veda Vyasa. Siwadharma. seperti mendengarkan kisah-kisah tentang Tuhan. Waruna. oleh Reshi Suka satu minggu sebelum kematian raja karena gigitan ular yang telah diramalkan. Tokoh paling penting dari Srimad Bhawatam adalah Reshi Suka. Kalika. Saiwa (beberapa menyebut ini Purana Besar). ada sembilan cara berbeda untuk menunjukkan bhakti kepada Tuhan. Nandikeswara. Ia mempunyai dua belas bab yang disebut Skanda. buku ini merupakan kitab suci yang amat penting bagi pengikut Hare Krishna. Aku yakin sekali bahwa daftar yang saya berikan kepadamu tidak lengkap. Durwasa. zaman sekarang. seperti telah kukatakan sebelumnya.

Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India. Dalam tradisi pewayangan. dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9.[2] Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu.[4] Kitab utama yang didedikasikan .22. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina. GANESHA Ganesa (Sanskerta गणेश . ia sering digambarkan berkepala gajah. yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama. "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan". dan di luar India. • Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi. Dewa pelindung. selama periode Gupta. berlengan empat dan berbadan gemuk. Wigneswara). Tibet dan Asia Tenggara. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati. Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara. Buddha. Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa. yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan. muncul selama periode itu. dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa mempedulikan golongan.[3] Ketenarannya naik dengan cepat.[1] Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut. meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda. (Sanskerta: गाणपतय. kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya. termasuk Nepal. Dalam relief. patung dan lukisan. Winayaka dan Pilleyar. dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). ia disebut Bhatara Gana. ganeṣa dengarkan (bantuan·info)) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu. Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. gāṇapatya).

termasuk Ganapati dan Wigneswara. īśa).[5] Kata gana ketika dihubungkan dengan Ganesa seringkali merujuk kepada para gana.[7] Ganapati (Sanskerta: गणपित . memiliki daftar delapan nama lain Ganesa: Winayaka. berarti kelompok. orang banyak. atau.[8] Winayaka (Sanskerta: िवनायक . atau sistem pengelompokan. Salah satu cara yang terkenal dalam memuja Ganesa adalah dengan menyanyikan Ganesa Sahasranama. Etimologi dan nama lain Ganesa memiliki banyak gelar dan nama pujian. adalah kata majemuk yang terdiri dari kata gana. yang berarti "kelompok". juga dieja Shri atau Shree) seringkali ditambahkan di depan namanya.[6] Istilah itu secara lebih umum berarti golongan. nama lain Ganesa. atau perserikatan. gaṇapati). dan isha (Sanskerta: ईश. salah satu versi diambil dari Ganeshapurana. Setiap nama dalam sahasranama mengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek dari Ganesa. yaitu kamus bahasa Sanskerta. yaitu sastra Hindu untuk menghormati Ganesa. Gelar dalam agama Hindu yang dipakai sebagai penghormatan.[7] Kitab Amarakosha. Lambodara (yang memiliki perut bak periuk. pasukan makhluk setengah dewa yang menjadi pengikut Siwa. dan pati. gaṇa). Nama Ganesa adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta. komunitas. berarti penguasa atau pemimpin. Dwaimatura (yang memiliki dua ibu). śrī. Heramba. sebuah doa pengucapan "seribu nama Ganesa". persekutuan.[9] Nama ini mencerminkan sebutan terhadap delapan kuil Ganesa yang terkenal di . vināyaka) adalah nama umum bagi Ganesa yang muncul dalam kitab-kitab Purana Hindu dan Tantra agama Buddha. Mudgalapurana. yaitu Sri (Sanskerta: शी. yang perutnya bergelayutan). kelas. dan Gajanana (yang bermuka gajah). secara harfiah. dan Ganapati Atharwashirsa. Wignaraja (sama dengan Wignesa). Ekadanta (yang memiliki satu gading). terdiri dari kata gana (Sanskerta: गण. Ganadipa (sama dengan Ganapati dan Ganesa). Sekurang-kurangnya ada dua versi Ganesa Sahasranama.untuk Ganesa adalah Ganesapurana. berarti "pengatur" atau "pemimpin".

Dia kadangkala digambarkan berdiri. Patungnya memiliki empat lengan. Biasanya Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. yang ia comot dengan belalainya. Nama Wignesa (Sanskerta: िवघ्नेश. Citra tentang Ganesa menjamur di berbagai penjuru India sekitar abad ke-6. ditaksir berasal dari .[10] Seorang penulis buku yang bernama Anita Raina Thapan menambahkan bahwa akar kata pille pada nama Pillaiyar mungkin aslinya berarti "gajah muda".Maharashtra yang mahsyur sebagai astawinayaka. Patung yang lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut. namun lebih lazim diartikan "gajah". pada tangan kiri bawah. menari. (Penguasa segala rintangan) merujuk kepada tugas utamanya dalam mitologi Hindu sebagai pencipta sekaligus penyingkir segala rintangan (vighna). Nama yang mahsyur bagi Ganesa dalam bahasa Tamil adalah Pille atau Pilleyar ("anak kecil").[11] Penggambaran Ganesa adalah figur yang terkenal dalam kesenian India. dan pell dalam bahasa-bahasa rumpun Dravida berarti "gigi atau gading gajah". bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki. yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa. Narain membedakan arti istilah-istilah tersebut dengan mengatakan bahwa pille berarti seorang "anak" sementara pilleyar berarti seorang "anak yang mulia". beraksi dengan gagah berani melawan para iblis. Dia menambahkan bahwa kata pallu. atau bersikap manis dalam suatu keadaan. karena kata pillaka dalam bahasa Pali berarti "gajah muda". K.[12] Tidak seperti dewa-dewi lainnya. vighneśa) dan Wigneswara (Sanskerta: िवघ्नेश् वर vighneśvara) . duduk di bawah. pella. penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu. Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. A. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis.

yang merupakan tema terkenal. Pengaruh unsur-unsur kuno dalam susunan penggambaran tersebut masih bisa diamati dalam penggambaran Ganesa secara kontemporer.[14] Kombinasi yang sama terhadap empat lengan dan atribut.[15] Mitologi dalam Purana memberi beberapa penjelasan mengenai kejadian yang menyebabkannya berkepala gajah. Sementara beberapa kitab mengatakan bahwa Ganesa terlahir dengan kepala gajah. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan kepala gajah. Dalam kitab Brahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik. Salah satu perwujudannya yang terkenal. ibunya. Atribut umum Ganesa digambarkan berkepala gajah semenjak awal kemunculannya dalam kesenian India. muncul pada patung Ganesa yang sedang menari.[13] Dalam perwujudan yang biasa. dan variasi kecil lainnya pada jumlah kepala diketahui. Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala. menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa. Saat Ganesa lahir. Dalam sebuah penggambaran modern. kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan antara Siwa dan Parwati.abad ke-7. memiliki beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda. Dewa Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala . yang konon memiliki mata terkutuk. satu-satunya variasi terhadap unsur-unsur kuno adalah tangan kanan bawah Ganesa tidak memegang patahan gading namun seolah-olah terarah ke mata pengamat dengan gerak tangan yang melambangkan perlindungan atau penyingkir ketakutan (abhaya mudra). memiliki lima kepala gajah. Parwati. pada cerita yang terkenal dikatakan bahwa ia memperoleh kepala gajah di kemudian hari. yakni Heramba-Ganapati. Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkus pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya. Dewa Sani (Saturnus). Tiba-tiba. Motif utama yang terulang dalam cerita-cerita tersebut adalah bahwa Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia. memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu.

Perut buncit Ganesa muncul sebagai ciri-ciri khusus pada kesenian patung sejak zaman dulu. wujudnya yang terkenal memiliki sekitar dua sampai enam belas lengan. Ganesa melilitkan ular Basuki di lehernya.gajah. Kisah lain dalam kitab Warahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta secara langsung oleh tawa Siwa. Kitab Brahmandapurana mengatakan bahwa Ganesa bernama Lambodara karena segala semesta (yaitu "telur alam semesta". ia memberinya kepala gajah dan perut buncit. perut bergelantungan) dan Mahodara (perut besar). merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu.[21] Menurut Ganesapurana. Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading).[20] Ular adalah tampilan yang umum dalam penggambaran tentang Ganesa dan muncul dalam beragam bentuk. atau. yang berupa tiga garis mendatar. Jumlah lengan Ganesa bervariasi. Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat perhatian. secara harfiah. Pada dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa (Sanskerta: tilaka). Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang suci (IAST: yajñyopavīta) yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk. atau dipakai sebagai mahkota.[19] Wujud dengan 14 dan 20 lengan muncul di India Tengah selama abad ke-9 dan abad ke-10. sedangkan yang lainnya patah. karena menurut Mudgalapurana. dua penjelmaan Ganesa yang berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara (perut buncit. yang ditaksir sejak periode Gupta (sekitar abad IV-VI).[16] Penampilan ini amat penting. IAST: brahmāṇḍa) di masa lalu. yang mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta. Wujudnya pada masa awal memiliki dua lengan. Ganeshapurana mengatakan .[17] Kedua nama tersebut merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang melukiskan bagaimana keadaan perutnya. sekarang.[18] Banyak penggambaran tentang Ganesa yang menampilkan ia bertangan empat. yang telah disebut dalam Purana dan ditetapkan sebagai wujud standar dalam beberapa kitab tentang ikonografi. Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya. dipegang di tangan. Hal penting di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana. dan yang akan datang ada di dalam tubuhnya. dililitkan di pergelangan kaki.

Tikus sebagai wahana muncul pertama kali dalam kitab Matsyapurana dan kemudian dalam Brahmandapurana dan Ganesapurana. Martin-Dubost mengatakan bahwa tikus muncul sebagai wahana yang utama dalam sastra tentang Ganesa. dan Gajanana menunggangi tikus. naga ilahi. Mohotkata menunggangi singa. atau merak. menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda. Dalam pandangan agama Jaina terhadap Ganesa. Pada empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana. tikus juga selalu ditempatkan dekat dengan kakinya. penyu. seperti misalnya tikus. wahananya ada bermacam-macam. Namun warna lain yang spesifik dihubungkan dengan wujud tertentu. Dumraketu menunggangi kuda. Ganapati Atharwashirsa mengandung sloka tentang Ganesa yang menyatakan bahwa gambar tikus terdapat .[24] Ganesa seringkali digambarkan menunggangi atau diantar oleh seekor tikus. Sebagai contoh. seekor merak saat menjelma sebagai Wikata. dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. dimana Ganesa menggunakannya sebagai kendaraan hanya pada inkarnasi terakhirnya. sebuah buku tentang ikonografi dalam Hinduisme.bahwa tanda tilaka sama saja dengan bulan sabit pada dahi kepala.[23] Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana. Wujud tertentu dari Ganesa yang disebut Bhalachandra (IAST: bhālacandra. Ekadanta-Ganapati digambarkan berwarna biru selama bermeditasi dalam wujud itu. Mayureswara menunggangi merak. Ganesa lima kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya. domba. Wahana Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan). "Bulan di dahi") memasukkan unsur penggambaran tersebut. di wilayah India Tengah dan Barat selama abad ke7. dan menggunakan Sesa. putih dihubungkan dengan wujud Ganesa sebagai Heramba-Ganapati dan Rina-Mochana-Ganapati (Ganapati yang membebaskan dari belenggu). gajah.[22] Beberapa contoh mengenai hubungan warna dengan gerakan meditasi tertentu dinyatakan dalam Sritattvanidhi.

baik yang bersifat material maupun spiritual.. Seorang penulis buku tentang Ganesa bernama John A. Merupakan hal yang penting untuk menaklukkan tikus sebagai hama penghancur. meski ia juga memasang rintangan pada umatnya yang perlu diberi cobaan. sejenis wighna (rintangan) yang perlu untuk diatasi.[29] M. Nama Musakawahana (berwahana tikus) dan Akuketana (berbendera tikus) muncul dalam Ganesa Sahasranama. [25] Yuvraj Krishan. Ganesa sebagai penguasa tikus menunjukkan fungsinya sebagai Wigneswara (dewa segala rintangan) dan memberi bukti terhadap perannya sebagai grāmata-devatā (dewa pedesaan) bagi rakyat yang kemudian meningkat kemuliaannya. dan kemunculan para Ganapatya. mampu menembus bahkan memasuki tempat-tempat rahasia. seorang penulis buku Ganesa.[27] Asosiasi Rintangan Ganesa adalah Wigneswara atau Wignaraja. seperti halnya tikus. K.dalam benderanya. Ia mahsyur dipuja sebagai penyingkir segala rintangan. merampok)."[28] Yuvraj Krishan menyatakan bahwa beberapa nama Ganesa mencerminkan perannya yang berkembang dari waktu ke waktu.. mengatakan bahwa tikus itu bersifat merusak dan mengancam pertanian. "pekerjaannya adalah menempatkan dan menyingkirkan rintangan. Dhavalikar beranggapan bahwa karena cepatnya ketenaran Ganesa di antara dewi-dewi Hindu. dewa segala rintangan. Jadi menurut teori tersebut. Paul Courtright mengatakan. Michael Wilcockson mengatakan bahwa tikus melambangkan orangorang yang ingin mengatasi keinginan dan mengurangi sifat egois. Tikus ditafsirkan dalam berbagai pengertian. Grimes telah menafsirkan makna tikus sebagai atribut Ganesa. sehingga ada perubahan tekanan suara .[26] Paul Martin-Dubost yang juga pernah menulis buku tentang Ganesa memberi sebuah pandangan bahwa tikus adalah simbol yang memberi sugesti bahwa Ganesa. Itu merupakan kekuasaannya yang utama. Kata Sanskerta mūṣaka (tikus) diambil dari akar kata mūṣ (mencuri.

Istilah oṃ(ng)kāraswarūpa (Aum adalah wujudnya). dan Mahesa. kata buddhi adalah kata benda feminin yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan.[34] Aum Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu (Simbol: ॐ.[31] Buddhi Ganesa dianggap sebagai Dewa Aksara dan Pelajaran. atau akal.[33] maka nama Buddhipriya bisa saja berarti "Yang dicintai oleh kecerdasan" atau "Suami Buddhi". Engkaulah matahari . dan dalam konteks suami-istri bisa berarti "kekasih" atau "suami". Dalam bahasa Sanskerta. dua fungsi tersebut menjadi amat penting dalam karakter Ganesa. kebijaksanaan. ketika banyak kisah menonjolkan kepintarannya dan cinta terhadap kecerdasan.[32] Konsep buddhi erat dikaitkan dengan kepribadian Ganesa.[35] Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi penjelasan mengenai hubungan ini. Engkaulah Indra. Wisnu. Kata priya bisa berarti "yang tercinta".". "bahkan setelah Ganesa dalam Purana digambarkan dengan baik. sehingga memiliki aspek negatif maupun positif.dari wignakartā (pencipta rintangan) menjadi wignahartā (penyingkir rintangan). juga dieja 'Om'). Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu). khususnya pada zaman Purana. ketika diidentikkan dengan Ganesa. Nama ini juga muncul dalam daftar 21 nama di akhir Ganesa Sahasranama yang menurut Ganesa amat penting. merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia menjelma sebagai bunyi yang utama. Salah satu nama Ganesa dalam Ganeshapurana dan Ganesa Sahasranama adalah Buddhipriya. [30] Bagaimana pun. Ganesa meninggalkan banyak hal-hal penting untuk peran gandanya sebagai pencipta dan penyingkir rintangan. Swami Chinmayananda menerjemahkan pernyataan yang relevan berikut ini: (O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma. seperti yang dijelaskan Robert Brown.

yang disebut muladhara. dan Swargaloka [sorga].[38] Mitologi Kelahiran Meski Ganesa terkenal sebagai putera dari Siwa dan Parwati. atau oleh Siwa dan Parwati. pondasi". mitos-mitos dalam Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. utama". Mula berarti "asal. namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana. adhara berarti "dasar. menopang dan memandu cakra-cakra lainnya.] Engkau senantiasa menempati urat sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra]. Engkaulah Om. Ganesa menempati cakra pertama. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa. bahwa Engkaulah segala hal tersebut).[37] Cakra pertama Menurut Kundalini yoga. Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa. sehingga ia mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan.[36] Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan Tamil. Engkaulah Brahman. Engkaulah (tiga dunia) Bhuloka [bumi]. (Itu sebagai tanda. Courtright menerjemahkan pernyataan sebagai berikut: "[O Ganesa.(Surya) dan bulan (Candrama)."[39] Maka dari itu. Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokokpokok kekuatan ilahi yang terpendam. Ganesa memegang. Antariksa-loka [luar angkasa].[38] Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa. . atau oleh Parwati. atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. Ganesa memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara.

yang juga disebut Kartikeya. Perbedaan wilayah memberikan versi berbeda tentang jenjang kelahiran mereka. untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. sementara di India Selatan. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik. sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Ketika turun ke dunia. Di India Utara. Ketika Parwati selesai mandi. Skanda biasanya dianggap yang lebih tua. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan. dan lain-lain. Siwa mengutus abdinya. Karena tidak ingin diganggu. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa.Dalam kitab Siwapurana dikisahkan. Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. ia menciptakan seorang anak laki-laki. Ganesa dianggap yang lebih dahulu lahir. Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. yaitu para gana. ia mendapati puteranya sudah tak bernyawa. Murugan. Keluarga dan istri Dalam keluarga Ganesa ada saudaranya yang bernama Skanda. Siwa menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara. . Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Atas saran Brahma. ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya.

ketika pemujaan terhadapnya berkurang secara signifikan di India Utara. memiliki beragam versi dalam cerita-cerita mitos. subjek pembicaraan yang luas bagi para sarjana. tiga kualitas ini kadangkala dipersonifikasikan sebagai para dewi. ia diasosiasikan dengan dewi kebudayaan dan kesenian. Siddhi (kekuatan spiritual). terutama yang menonjol di wilayah Benggala. Kala Bo. menghubungkan Ganesa dengan pohon pisang. yaitu Saraswati atau Śarda (umumnya di Maharashtra). Film berbahasa Hindi tahun 1975 berjudul Jai Santoshi Maa menampilkan Ganesa yang menikahi Riddhi dan Siddhi lalu memiliki puteri bernama Santoshi Ma. Ganesa mulai berkembang. Dia bisa juga digambarkan dengan satu pasangan saja atau seorang pelayan tanpa nama (Sanskerta: daşi).[45] Pemujaan dan festival Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian maupun kegiatan sehari-hari. Kisah ini tidak memiliki dasar dari kitab Purana.[44] Kitab Siwapurana mengatakan bahwa Ganesa memiliki dua putera: Ksema (kemakmuran) dan Laba (keuntungan). Beberapa kisah menceritakan persaingan antara kedua bersaudara tersebut dan bisa saja mencerminkan ketegangan yang terjadi antar sekte (pemuja Ganesa dan pemuja Skanda).[40] Status orangtua Ganesa.Skanda merupakan dewa perang yang mahsyur sekitar tahun 500 SM sampai 600 M. khususnya saat mulai berniaga seperti misalnya membeli kendaraan atau memulai . Seiring dengan memudarnya Skanda. yang konon menjadi para istri Ganesa.[41] Pandangan ini biasa terdapat di India Selatan dan di beberapa wilayah India Utara. dan Riddhi (kemakmuran). Salah satu pola dalam mitos mengidentifikasi Ganesa sebagai seorang brahmacarya yang tak menikah. dewi kepuasan. Dalam contoh lain.[42] Dia juga disangkutpautkan dengan dewi keberuntungan dan kemakmuran. ia diasosiasikan dengan konsep Buddhi (kecerdasan). Menurut kisah versi India Utara. puteranya seringkali disebut Suba (keselamatan) dan Laba. Laksmi.[43] Contoh lainnya. Dalam contoh lain.

K. Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu. dan upacara keagamaan. Pemujanya memberi persembahan berupa manisan seperti misalnya modaka dan bola-bola kecil manis (laddu). yang disebut modakapātra. Dia seringkali digambarkan memegang semangkuk manisan.N. . Penari dan musisi. Festival yang dikaitkan dengan Ganesa adalah Winayaka caturti (Ganesa Caturti) pada śuklapakṣa (hari keempat bulan purnama) di bulan bhadrapada (Agustus/September) dan Ganesa jayanti (ulang tahun Ganesa) dirayakan pada cathurthī dalam kṛṣṇapakṣa (hari keempat bulan mati) di bulan magha (Januari/Februari). Salah satu mantra paling terkenal yang diasosiasikan dengan Ganesa adalah Om Gaṃ Ganapataye Namah. dan umat Hindu dari seluruh denominasi memanggil namanya saat memulai persembahyangan. khususnya di India Selatan. hormat pada Hyang Ganesa yang mahsyur-mulia) seringkali dipakai..] Ganapati. "jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak memiliki arca Ganapati. [.bisnis. dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara". ia seringkali dipuja dengan pasta cendana merah (raktacandana) atau bunga merah. memulai pertunjukkan seni seperti misalnya tari Bharatnatyam dengan terlebih dahulu memuja Ganesa. kemakmuran dan perlindungan terhadap bencana.[46] Pemujanya percaya bila Ganesa dibuat senang. sebagai dewa yang termahsyur di India. Somayaji berkata. Rumput Dūrvā (Cynodon dactylon) dan benda lainnya sering dipakai dalam memujanya. Mantra-mantra seperti misalnya Om Shri Gaṇeshāya Namah (Om. Karena ia diidentifikasikan dengan warna merah. memulai usaha yang penting. ia akan memberi kesuksesan.

yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati.[47] Ia melakukannya untuk mengatasi kesenjangan antara golongan Brahmana dan non-Brahmana dan menemukan konteks tak lazim yang dimaksud untuk membangun akar persatuan di antara mereka. atau sebagai dewa utama di sebuah kuil (pradhana). dalam cita-cita nasional menentang penjajahan Inggris di Maharashtra.Ganesa Caturti Festival tahunan untuk memuja Ganesa yang berlangsung selama sepuluh hari. Terletak di jarak sekitar 100 kilometer dari kota Pune. umat Hindu di penjuru India merayakan festival Ganapati dengan semangat menyala.[50] Di masa kini. dijamu bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu. masing-masing dari delapan kuil ini memuliakan wujud utama . Kuil Dalam tempat suci Hindu. Tilak memilihnya sebagai tempat menampung protes rakyat India terhadap pemerintahan Inggris. ketika arca (murti) Ganesa dicelupkan ke dalam air. Dan juga.[51] Sebagai dewa keluarmasuk. Pada tahun 1893. Ganesa dapat diuraikan beraneka macam: sebagai dewa bawahan (parswadewata).[49] Tilak adalah orang pertama yang memasang citra Ganesa yang besar bagi masyarakat umum di sebuah paviliun. dia banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau halhal buruk. "delapan (kuil) Ganesa") di Maharashtra yang paling mahsyur. yang jatuh pada akhir bulan Agustus atau awal September. sebagai dewa yang erat dengan dewa utama (pariwaradewata). misalnya Astawinayaka (Sanskerta: अष्टिवनायक. dan menetapkan tradisi untuk mencelupkan semua citra Ganesa pada hari kesepuluh. meskipun hal itu paling populer di negara bagian Maharashtra. Festival memuncak pada hari Ananta Caturdasi. aṣṭavināyaka. Lokmanya Tilak mengubah festival tahunan ini dari perayaan keluarga secara pribadi menjadi acara bagi masyarakat luas. beberapa kuil didedikasikan untuk Ganesa sendiri.[48] Karena Ganesa dipuja secara luas sebagai "dewa bagi semua orang". dimulai pada Ganesa Caturti. Festival itu juga mendapat proporsi yang besar di Mumbai dan di sekitar kuil-kuil Astawinayaka.

Hampi. Kasargod. Nagaur dan Raipur (Pali) di Rajasthan. Uttar Pradesh. Kemunculan pertama Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4 sampai abad ke-5. lengkap dengan cerita dan legendanya. yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta.[53] Pemujaan tersendiri terhadapnya muncul sekitar abad ke-10. yang melampaui batas mahzab dan teritorial. menandai wilayah suci Ganesa. figur Wigneswara kelihatan tak berubah-ubah. Nepal. Keterbukaan dan ketenarannya yang luas. .Ganapati. di Rameshvaram dan Suchindram di Tamil Nadu. dalam sebuah relung […]. dan di beberapa negara barat. bersama-sama mereka membentuk sebuah mandala. sungguh menakjubkan. dan Bhadrachalam di Andhra Pradesh. T. yang diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra. meskipun desa kecil. Jodhpur. A. memiliki citra Wigneswara-nya sendiri dengan atau tanpa kuil untuk menempatkannya. Ada banyak kuil Ganesa yang penting di tempat-tempat berikut ini: Wai di Maharashtra."[52] Kuil Ganesa juga dibangun di luar India. di kuil Wisnu maupun Siwa dan juga pada bangunan suci yang khususnya dibangun dalam kuil Siwa […]. dan Balsad di Gujarat dan Kuil Dhundiraj di Benares. Gopinatha berkata. Dhokala. dan Idagunji di Karnataka. Pelopornya tak jelas. Ujjain di Madhya Pradesh. di bawah pohon bodhi […].[54] Narain mengikhtisarkan kontroversi antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap perkembangan Ganesa sebagai berikut: [A]pa yang selama ini tak terduga adalah kemunculan Ganesa yang agak dramatis menurut pandangan sejarah. Di jalan masuk menuju desa atau sebuah benteng. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal. Baidyanath di Bihar. "Setiap desa. termasuk Asia Tenggara. Baroda. Kuil Ganesa yang utama di India Selatan yaitu sebagai berikut: Kuil Jambukeśvara di Tiruchirapalli.

muncul dalam kesenian dan koin India pada permulaan abad ke2. yang berkomentar datar tentang Ganesa. roh jahat. Ganapati-Winayaka masih membuat debutnya. "Dia bukan dewa dalam Weda. yang beberapa di antaranya diidentifikasikan dengan Ganesa. . Di sisi lain terdapat keraguan mengenai adanya gagasan dan arca tentang dewa ini sebelum abad keempat sampai kelima Masehi.. namun merupakan mitologi yang cukup menarik. Asal-usulnya mengikuti jejak empat Winayaka. namun mudah untuk ditenangkan.[56] Dalam mitologi Hindu.[59] Sastra Weda dan wiracarita Gelar "Pemimpin kelompok" (Sanskerta: ganapati) muncul dua kali dalam Regweda. dari Manawagrehyasutra (abad VII-IV SM) yang menyebabkan berbagai jenis kejahatan dan penderitaan".. Istilah itu . Tidak ada bukti mengenai dewa yang disebut memiliki wujud gajah atau berkepala gajah pada permulaan zaman ini.[58] Penggambaran figur manusia berkepala gajah.[54] Pengaruh memungkinkan Buku yang ditulis Thapan tentang perkembangan Ganesa mengandung sebuah bab tentang spekulasi mengenai peran kepala gajah pada zaman awal di India.Di satu sisi ada kepercayaan bagi umat yang ortodoks terhadap asal-usul Ganesa dari zaman Weda dan dalam Purana terdapat penjelasan yang membingungkan. Nama Winayaka adalah nama yang biasa bagi Ganesa. baik dalam Purana-Purana maupun Tantra Buddha. namun berkesimpulan bahwa."[55] Suatu teori mengenai asal-usul Ganesa mengatakan bahwa ia perlahan-lahan menjadi tenar sehubungan dengan empat Winayaka. itu tidak bisa dianggap menggambarkan GanapatiWinayaka.[57] Krishan adalah salah satu sarjana yang menerima teori ini. "meski pada abad ke-2 Masehi ada perwujudan yaksa berkepala gajah. para Winayaka adalah kelompok empat makhluk jahat yang membuat rintangan dan kesulitan. namun keduanya tidak merujuk pada Ganesa yang sekarang.

seperti yang dikatakan Heras. yaitu pernyataan kedua (Rw 10.[65] Tapi." Tetapi. yang diberi gelar 'ganapati'. Rocher menyatakan bahwa sastra-satra Ganapatya terkini seringkali mengutip sloka-sloka Regweda untuk menghormati Ganesa.1) sebagai gelar untuk Brahmanaspati. dan "berbelalai bengkok" (Wakratunda). yaitu Maitrayaniya Samhita (2. Ludo Rocher mengatakan bahwa itu dengan jelas merujuk kepada Wrehaspati—dewa himne-himne—dan hanya Wrehaspati.[67] Ganesa tidak muncul dalam wiracarita India pada zaman Weda.112.[61] Dalam pembantahan bahwa pernyataan tersebut merupakan bukti keberadaan Ganesa dalam Regweda.[63] Dua sloka dalam kitab yang termasuk Yajurweda hitam. diterjemahkan menjadi "Pemimpin perkumpulan (bagi para Marut).[62] Hal yang juga mirip. Krishan menganggap bahwa himne-himne ini adalah tambahan (carangan) pasca zaman Weda. "bermuka gajah" (Hastimuka). Ganesa setuju namun dengan syarat bahwa .muncul dalam Regweda (Rw 2. "tidak bisa dibantahkan lagi untuk menerima identifikasinya (ciri-ciri Ganesa) dengan (ciri-ciri) Dantin ini".1) dan Taittiriya Aranyaka (10.1).[60] Saat sloka itu tak diragukan lagi merujuk pada Brahmanaspati. "referensi mengenai dewa berkepala gajah di Maitrayani Samhita telah terbukti sebagai sisipan paling akhir.23. yang memiliki belalai bengkok (wakratunda) dan memegang jagung. merupakan karakteristik Ganapati yang utama secara Purana. dan gada.[64] Deskripsi tentang Dantin. dan seorang komentator dari abad ke-14 bernama Sayana dengan tegas memastikan identifikasi ini.[66] Thapan menambahkan bahwa pernyataan-pernyataan itu lazimnya dianggap sebagai sebuah sisipan. Nama-nama ini mengingatkan kita pada Ganesa.9. Sebuah sisipan pada wiracarita Mahabharata mengatakan bahwa Resi Byasa meminta Ganesa untuk membantunya sebagai seorang penulis untuk mencatat wiracarita yang didikte oleh sang resi kepadanya.9) merujuk pada Indra. Dhavalikar mengatakan. menurut para komentator. menyatakan permohonan kepada dewa yang "bertaring satu" (Dantih). sloka itu kemudian diadopsi untuk memuja Ganesa dan masih dipakai hingga sekarang. maka tidak begitu berguna dalam menentukan informasi paling awal mengenai sang dewa (Ganesa)". tebu.

900.[68] Richard L. Ia meneliti masalah dan mengungkapkan bahwa referensi tentang Ganesa yang terdapat dalam Purana-purana awal. ia perlu menceritakan suatu pernyataan yang sangat kompleks sehingga Ganesa akan bertanya untuk mengklarifikasi.[72] Yuvraj Krishan mengatakan bahwa mitos mengenai kelahiran Ganesa dan bagaimana ia memperoleh kepala gajah. Hubungan antara Ganesa dengan ketangkasan pikiran dan pembelajaran adalah salah satu alasan sehingga ia ditampilkan sebagai penulis dikte yang dijabarkan Byasa tentang Mahabharata dalam sisipan tersebut. adalah sisipan di kemudian hari yang dibuat dari abad ke7sampai abad ke-10.[69] Istilah winayaka ditemukan dalam beberapa resensi dalam Santiparwa dan Anusasanaparwa yang dianggap sebagai sisipan. ada dalam Purana yang digubah dari th. dan Moriz Winternitz menyimpulkan bahwa kisah itu dikenal pada awal th. sementara kitab-kitab Purana tidak menyebutkan kapan tepatnya suatu peristiwa terjadi. 600–1300. seperti misalnya Bayupurana dan Brahmandapurana. Brown memperkirakan waktunya terjadi sekitar abad ke-8. Kisah tersebut tidak dianggap sebagai sebuah bagian dalam kitab orisinilnya oleh editor dalam kitab Mahabharata edisi kritikan. yaitu.[73] . sekitar th. penuturan kisah hidup Ganesa yang lebih detil ada dalam kitab yang muncul belakangan. 600 dan seterusnya. Winternitz juga menambahkan bahwa versi berbeda dalam naskah Mahabharata di India Selatan adalah penghapusan terhadap legenda Ganesa tersebut.[71] . namun sadar bahwa untuk melakukan jeda. tanpa berhenti. Sang resi setuju. Zaman Purana Kisah mengenai Ganesa seringkali muncul dalam kitab-kitab Purana.Byasa harus membeberkan wiracarita itu tanpa diselingi. namun tidak ditambahkan ke dalam Mahabharata sampai sekitar 150 tahun kemudian.[70] Sebuah referensi tentang Wignakartrinam ("Pencipta rintangan") dalam Wanaparwa juga dipercaya sebagai sebuah sisipan dan tidak muncul dalam edisi kritikan. Brown mengatakan.

C. Phyllis Granoff menemukan masalah terhadap waktu yang tidak tetap ini dan . Anita Thapan mengutarakan komentar tentang masa penggubahan dan mengukuhkan pendapatnya. dia berkata. Shankaracarya mendirikan tradisi itu dengan tujuan utama untuk menyatukan dewa-dewi utama dari lima sekte besar pada status yang sama. yang menurutnya digubah pada tahun 1100 dan 1400. Masa penggubahan Ganeshapurana dan Mudgalapurana (dan waktunya tidak tetap antara satu sama lain) telah mengobarkan perdebatan para sarjana. Dewi.Bangkitnya ketenaran Ganesa dikodifikasikan pada abad ke-9.[75] R. dan Surya. "Sepertinya. mungkin pokok-pokok isi dari Ganeshapurana muncul sekitar abad keduabelas dan ketigabelas". Filsuf abad ke-9 bernama Shankaracarya mempopulerkan "pemujaan terhadap lima wujud" (pañcāyatana pūjā)."[74] Lawrence W. Mereka mengembangkan tradisi Ganapatya. beberapa brahmana memilih untuk memuja Ganesa sebagai dewa utama mereka. Keduaduanya berkembang dari waktu ke waktu dan mengandung isi yang bertumpuktumpuk. bersamaan dengan waktu berdirinya tempat-tempat suci seperti yang disebutkan dalam kitab itu. "namun kemudian diberi sisipan. Dalam pemujaan ini dilakukan pemanggilan lima dewa yaitu Ganesa. Hazra mengatakan bahwa Mudgalapurana lebih tua daripada Ganeshapurana. Hal ini sungguh-sungguh membuat peran Ganesa sebagai seorang dewa komplementer. Wisnu. ketika secara formal ia dimasukkan ke dalam lima dewa utama dalam aliran Smarta. seperti yang dapat disimak dalam Ganeshapurana dan Mudgalapurana.[76] Tetapi. sebuah sistem di antara kaum brahmana yang ortodoks dalam tradisi Smarta. Preston berpikir bahwa waktu yang memungkinkan untuk penggubahan Ganeshapurana antara tahun 1100 dan 1400. Siwa. Buku dan sastra Ketika Ganesa diterima sebagai salah satu dari lima dewa utama dalam Brahmanisme.

Periode dari sekitar abad ke-10 sampai seterusnya ditandai oleh perkembangan jaringan-jaringan baru terhadap hal pertukaran.[83] Penyebaran budaya Hindu . dan Kalimantan yang menunjukkan pengaruh regional yang spesifik. Ganesha. Ganesa adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi Hindu yang menjamah negeri asing sebagai akibatnya.[77] Sementara isinya sudah usang. dan bangkitnya sirkulasi keuangan.berkesimpulan bahwa Mudgalapurana adalah kitab filsafat terakhir yang menyinggung masalah Ganesa. Wujud Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa. Selama masa ini. ada kemungkinan digubah pada abad ke-16 atau ke-17.[81] Tulisan paling awal yang mengandung seruan kepada Ganesa sebelum memanggil dewa-dewi lainnya dikaitkan dengan komunitas rombongan pedagang. Bali. Mudgalapurana secara spesifik menyebut Ganeshapurana sebagai salah satu dari empat Purana (Brahma. di antara bukti-bukti internal lainnya. bersama mereka. Arca-arca Ganesa ditemukan di sepanjang wilayah Nusantara dalam jumlah yang banyak. kitab itu diberi sisipan sampai abad ke-17dan ke-18. Brahmanda.[82] Umat Hindu bermigrasi ke nusantara dan membawa budaya mereka. dan Mudgalapurana) yang menyinggung masalah Ganesa. seringkali di samping kuil Siwa. termasuk Ganesa. yaitu Ganapati Atharwashirsa.[80] Ganesa khususnya disembah oleh para pedagang dan rombongannya. Ganesa menjadi dewa utama yang dikaitkan dengan para pedagang. sehubungan dengan pemujaan Ganapati yang menjadi penting dalam wilayah tertentu. yang pergi ke luar India untuk malakukan hubungan dagang. [79] Di luar India dan agama Hindu Hubungan dagang dan budaya telah memperluas pengaruh India di Asia Barat dan Tenggara. pembentukan serikat dagang.[78] Kitab lain yang memuji Ganesa. Ia mengemukakan alasannya berdasarkan sebuah fakta bahwa.

Di Thailand. ada patung batu dari zaman awal yang dikenal sebagai Ganesa. ia seringkali digambarkan sedang menari. dan Thailand. Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala rintangan. pemujaan terhadap Ganesa pertama kali disebutkan pada tahun 806.[84] Sebelum kedatangan Islam.[86] Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa kerajaan Gupta. Afganistan memiliki ikatan budaya yang erat dengan India. tidak hanya dalam wujud dewa Vināyaka dalam agama Buddha. Penggambaran lain menampilkan wujudnya sebagai pemusnah segala rintangan. kemudian diadopsi di Nepal. Penggambaran Ganesa di Tibet menunjukkan pandangan yang bertentangan terhadapnya.[89] Dalam versi Tibet. disebut Nṛtta Ganapati. ia memiliki lima kepala dan menunggangi singa.[85] Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana. disertai tulisan yang berangka tahun 531. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan.[88] Ganapati versi Tibet adalah tshogs bdag. dan pengaruh timbal balik bisa dilihat dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu. agama Hindu dan Buddha dijalankan dengan berdampingan. Wujud ini. dikenal sebagai Heramba. atau dewa keberhasilan. Bahkan kini oleh umat Buddha di Thailand. lalu di Tibet.[91] . dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama dijalankan. Sebagai dewa Vināyaka dalam agama Buddha. dan termahsyur di wilayah India Utara. Ganesa terutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan. mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu. sangat terkenal. Di Cina Utara. wujud Ganesa secara Hindu. Ganesa digambarkan sedang diinjak oleh kaki Mahākāla. Ganesa muncul di Cina dan Jepang dalam wujud yang menampilkan karakter wilayah yang berbeda.secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa dimodifikasi di Burma. Kamboja.[90] Di Jepang. kadangkala dalam wujud sedang menari. namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama yang sama.[87] Di Nepal. Kamboja dan di Vietnam. Di Indochina. yaitu dewa bangsa Tibet yang terkenal.

Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga. Patung Dewa. ciri. Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda. pusat.[96] 23. isyarat. walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak. sifat khas.Sastra agama Jaina (Jainisme) tidak menyebutkan adanya pemujaan terhadap Ganesa. sumbu (Zoetmulder. 2000 601). Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat. petunjuk. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno. titik tuju pemujaan. bukti.[95] Citra Ganesa muncul dalam kuil Jaina di Rajasthan dan Gujarat. SIWA LINGGA (LINGGA YONI) Lingga merupakan lambang Dewa Siwa. muncul sebagai pengambil alih fungsi Kubera. khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. bahwa lingga . Di Indonesia khususnya Bali.[94] Sebuah kitab Jaina dari abad ke-15 memaparkan prosedur untuk memasang citra Ganapati. keterangan. lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu. poros. peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau. Namun. Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali. titik pusat. akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti lingga yang sebenarnya. Ganesa dipuja oleh banyak umat Jaina. yang sudah tentu bersifat umum.[93] Patung Ganesa tertua versi Jaina ditaksir berasal dari abad ke-9. yang pada hakekatnya mempuriyai arti.[92] Hubungan Jaina dengan komunitas perdagangan mendukung gagasan bahwa Jainisme mengambil tradisi pemujaan Ganesa sebagai akibat dari hubungan perdagangan.

maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme). lingga merupakan lambang kesuburan. 2002 : 2) kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu. 1973 : 40). Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di . pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali. 1916 : 69). sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa. Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono. dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa. yang artinya tempat duduk. Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa. Di India terutama di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte linggayat (Putra. Mengenai pemujaan lingga di Indonesia. (Agastia. Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu. Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore. menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao. di Indonesia.diidentikkan dengan : linggih. 1975 : 104). malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa. yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali.

Gandhawarna rasairhinam . Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. di Bedahulu dan di Goa Gajah. Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai sabdasparsadi Artinya: berikut: warjitam”. kesuburan dan sebagainya. 1959 102). Jawa Timur. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan. yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru. ”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers. (Soekmono. Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. 1973 : 41-42). Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung.Kanjuruhan. Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. Pura-pura di Pejeng.

Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:”Bhatara Siwalingga Artinya: Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa. Jadi dalam Lingga Purana. Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa.Lingga awal yang mula-mula tanpa bau. warna. Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya Bentuk sebagai Siwa. rasa. . pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam). Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa. Lingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”. Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga). lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam “Pranalo Artinya: Jnana Brahma visnus ca Siddhanta Lingotpadah disebutkan: Siwarcayet”.

Kemudian lingga yoni. Wisnu dan Siwa. jadi lingga dan yoni. bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga. segi dua belas. berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao. Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao. segi enam. persegi enam belas dan yang lainnya. Sebuah lingga berdiri. Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha. Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah. mentimun (tripusha kara). berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma. Wisnu. bulat telur. bulat. 1916 :99). Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga. 1916 : . berbentuk buah 93). di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma. sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. segi empat panjang. Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air. segi delapan. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma. Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi. pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. berbentuk telur (kukkutandakara). Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain : berbentuk payung (chhatrakara). berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara). setengah bulatan. dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. Dengan istilah lingga pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga.Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap sebagai sumber siwa.

Lohaja logam c.Chalalingga . Kshanika Lingga Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam. tepung. bunga . Gopinatha Rao. waidurya. dan dewadara. Lingga : Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam. d. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu. karnikara. arjuna. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain . Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. jamrud. baik yang sudah dibakar. Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti. janggery dan tepung. nasi. badara. tinduka. menjadi adonan setelah beberapa b. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira. besi. seperti : emas. bilva. permata. e. Daruja kristal. tembaga. serbuk cendana. chandana.Achalalingga Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak. tanah pekat. yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. Lingga kuningan. perak. Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami. Mrinmaya Lingga Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat. Ratmaja mutiara. rumput kurcha. gandum. sala. beras. pippala dan udumbara. timah dan lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama. artinya lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. madhuka. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah: a. Lingga kwarsa.Jenis-Jenis Lingga Berdasarkan penelitian dan TA.

dan rudrasha. lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan BhataraBhatari. sebagai berikut: a. menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan. Dalam mitologi. sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan lingga yang paling utama (uttamottama). lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi. d. Lingga ini berhubungan dengan Ganesa. Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. c. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi. Arsha lingga. Daivika lingga. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan. sitrun atau apel hutan. lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di bumi. Svayambhuva lingga. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang .b. II part I” dapat dijelaskan. kumpulan kuliahkuliah agama jilid I”. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani. Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga. lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga.A. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas. Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T. Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika lingga. Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun. lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu. Ganapatya lingga.

beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru. HARI RAYA HINDU Pagerwesi Hari Raya Pagerwesi Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. artinya hari raya untuk . Manusa lingga. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar).suci. Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi. karena langsung dibuat oleh tangan manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun. sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur. sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. 24. Sama halnya dengan Galungan.• WHD No. Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci. e. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. dipakai oleh brahman). 437 Juli 2003.

. Dalam lontar Sundarigama disebutkan: Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. baik pendeta maupun umat walaka." Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha Bhuta. Hakikat pelaksanaan upacara Pegerwesi adalah lebih ditekankan pada pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan Mapasang Lingga.semua masyarakat. Tengah malam melakukan yoga samadhi. ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta. sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah. Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan). Dalam lontar Sundarigama disebutkan: "Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh. Artinya: Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru).

Suci Praspenyeneng dan Banten Penek. Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan. Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah "Sesayut Panca Lingga" sedangkan perlengkapannya Daksina. Makna Filosofi Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama. Dalam hal upacara. Memuja berarti menyerahkan diri. Prayascita. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Canang dan Sodaan. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Banten yang paling inti perayaan Pegerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati. memuji dan memusatkan diri. menghormati. Tentunya dilengkapi Daksina. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. memohon. Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya . Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Dapetan. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru.Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi).

Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Goraksya." Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan. Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu: Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh). Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan. maka adharma . Keuntungan yang benar. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan. artinya perdagangan. Wanijyam. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material.merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. itu berarti ada kecurangan. Kalau ada pihak yang dirugikan. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat.

Ngarga adalah suatu tempat untuk membuat tirtha bagi para pendeta. Sesayut Panca Lingga dengan inti ketipat Lingga adalah memohon lima manifestasi Siwa untuk memberikan benteng kekuatan (pager besi) dalam . Vibrasi spiritual itulah sebagai pagar besi dari kehidupan dan itu pulalah guru sejati.tidak dapat masuk menguasai manusia. purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. dengan pengasepan sampai disucikan dengan mantra-mantra tertentu sehingga tirtha yang dihasilkan betul-betul amat suci. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Tirtha suci itulah yang akan dibagikan kepada umat. Hal ini dapat dipahami. karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Sebelum membuat tirtha. berarti para pendeta harus melakukan hal yang amat utama untuk mencapai vibrasi spiritual payogan Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu amat ditekankan pada Hari Raya Pagerwesi para pendeta agar ngarga. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Dalam Manawa Dharmasastra V. Mengingat ngargha mapasang lingga dianjurkan oleh lontar Sundarigama pada hari Pagerwesi ini. 109 disebutkan: Atma dibersihkan dengan tapa bratabudhi dibersihkan dengan ilmu pengetahuan (widia) manah (pikiran) dibersihkan dengan kebenaran dan kejujuran yang disebut satya. mapasang lingga. Pembuatan tirtha dalam upacaraupacara besar dilakukan dengan mapulang lingga. terlebih dahulu pendeta menyucikan arga dengan air. Dalam agama Hindu. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata. Penjelasan Manawa Dharmasastra ini adalah bahwa atma yang tidak diselimuti oleh awan kegelapan dari hawa nafsu akan dapat menerima vibrasi spiritual dari Brahman.

menghadapi hidup ini. Para pendetalah yang mempunyai kewajiban menghadirkan lebih intensif dalam masyarakat. Kemahakuasaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Siwa dengan simbol Panca Lingga, Sesayut Pageh Urip bagi kebanyakan atau umat yang masih walaka. Kata "pageh" artinya "pagar" atau "teguh" sedangkan "urip" artinya "hidup". "Pageh urip" artinya hidup yang teguh atau hidup yang terlindungi. Kata "sesayut" berasal dari bahasa Jawa dari kata "ayu" artinya selamat atau sejahtera. Natab Sesayut artinya mohon keselamatan atau kerahayuan. Banten Sesayut memakai alas sesayut yang bentuknya bundar dan maiseh dari daun kelapa. Bentuk ini melambangkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan haruslah secara bertahap dan beren-cana. Tidak bisa suatu kebaikan itu diwujudkan dengan cara yang ambisius. Demikianlah sepintas filosofi yang terkandung dalam lambang upacara Pagerwesi. Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan hari raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima pada intinya adalah hari raya untuk memuja Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang mendapatkan wahyu ten-tang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana. Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adi guru loka yaitu gurunya alam semesta. Sedangkan Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari Purnama. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24. 000 sloka

Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra. Ke-24 suku kata suci dari Tri Pada Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000 sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi Walmiki pun dipuja sebagai adi guru loka yaitu maha gurunya alam semesta. Sampai saat ini Mahabharata dan Ramayana yang disebut itihasa adalah merupakan pagar besi dari manusia untuk melindungi dirinya dari serangan hawa nafsu jahat. Jika kita boleh mengambil kesimpulan, kiranya Hari Raya Pagerwesi di Indonesia dengan Hari Raya Guru Purnima dan Walmiki Jayanti memiliki semangat yang searah untuk memuja Tuhan dan resi sebagai guru yang menuntun manusia menuju hidup yang kuat dan suci. Nilai hakiki dari perayaan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dengan Pegerwesi dapat dipadukan. Namun bagaimana cara perayaannya, tentu lebih tepat disesuaikan dengan budaya atau tradisi masing-masing tempat. Yang penting adalah adanya pemadatan nilai atau penambahan makna dari memuja Sanghyang Pramesti Guru ditambah dengan memperdalam pemahaman akan jasa-jasa para resi, seperti Resi Vyasa, Resi Walmiki dan resi-resi yang sangat berjasa bagi umat Hindu di Indonesia. (Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni) Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam

rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan: Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya. Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah

Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri. Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali. setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. barulah Galungan dirayakan kembali. . sakti dari Dewa Siwa. tak jauh dari Pura Besakih.datang tak henti-henti. Makna Filosofis Galungan Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu. Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Untuk mengetahui penyebabnya. inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek.

artinya luar. Dalam lontar Sunarigama. Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang. Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa . Jadi. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut: Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma. Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. galang apadang maryakena sarwa byapaning idep Artinya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri.Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba. enam hari sebelum Galungan. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma.

Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Dalam lontar disebutkan. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Dan itulah yang disucikan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan.itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa." Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. "Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. karena itu hari penyucian semua bhatara). Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. . Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan.

Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya. Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan. Sabtu Kliwon disebut Kuningan. umat menikmati waranugraha Dewata. Upacara tersebut barmakna. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Galungan Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma.Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib melaksanakan. dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan "Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga). ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Keesokan harinya. Pada hari ini. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran)." Artinya. Berdasarkan sumbersumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel). Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. . Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa.

Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku. kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. dan wukunya Dungulan. Kalau Panca Waranya Kliwon. Galungan Nadi Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Disebutkan dalam lontar itu. Sapta Waranya Rabu. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan. setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut: . Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Sapta Wara dan Wuku. bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Jadi Galungan itu dirayakan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Galungan Nara Mangsa Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Karena itu Galungan. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak.

rah 9 tenggek 9. Mwah yan anemu sasih Kesanga. anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika."Yan Galungan nuju sasih Kapitu. ingatlah. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah. itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. nasi cacahan maoran keladi. Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9. moga ta sira kapereg denira Balagadabah. Yan tekaning sasih Kapitu. Tan kawasa mabanten tumpeng. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem. yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung. tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. tenggek 9. Galungan Nara Mangsa ngaran. Galungan Nara Mangsa namanya. Kala Rau ngaranya yan mengkana. Tidak baik itu. rah 9. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru. Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut: Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali. tunggal kalawan sasih Kapitu. mwang sasih kesanga. Artinya: Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia. Kala Rau namanya. tenggek 9." Artinya: Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu. Tilem Galungan. tidak boleh merayakan Galungan. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika. membawa penyakit adanya. tan wenang ngegalung wong Baline. pada hari Galungan itu. poma haywa lali elingakna. sigug ya mengaba gering ngaran. semoga tidak lupa. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9. .

Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula "Hari Raya Dasara". Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk . pertarungan antara aharma melawan adharma. berupa nasi cacahan bercampur keladi. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa. Ini bisa dilihat dari kata "Wijaya" (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata "Galungan" dalam bahasa Jawa Kuna.Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Galungan di India Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang artinya. Kedua kata itu artinya "menang". pemakan daging manusia. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang. Sebelum puncak perayaan. selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng Galungan".

Pada . Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. sangat menakutkan. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Karena Dewi Parwati menang. keganasan hawa nafsu. Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April).dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker. maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Pengertian sakti di India adalah kuat. Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. seram. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai. memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Berbeda dengan di Bali. kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma.

Di mana-mana. Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh . Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kumbakarna atau Surphanaka. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Laksmana dan Anoman. ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. kota menjadi ramai. Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.hari ini. Kasih sayang itulah suatu "sakti" atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Dewi Sita. Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama. Sita. orang menjual panah sebagai lambang kenenangan.

Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Paitamaha Siddhanta. Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan. Karena mantramantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia). Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda. Kitab ini disusun kira-kira 12. Wasista Siddhanta. Itihasa dan Purana. yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Vedangga. Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin).000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). ada yang bersifat adhyatmika. Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Prof. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur. Nyepi Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu.setiap orang. Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani . Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha. Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual. membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa.

Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. suku bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Yuehchi. Semenjak itu. Pada tahun 79 Masehi. Yuwana. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat . Tampaknya. bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Akibat toleransi dan persatuan itu. Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India. sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu. Malawa dan Saka. Sebelum lahirnya Tahun Saka. Karena perjuangannya itu cukup berhasil. Sukusuku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa. dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu.tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat. Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Arah perjuangannya kemudian dialihkan. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas. namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara). dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya.

Pada zaman Majapahit. para sarjana. Tuhan (Prajapati). perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Budha dan Sri Baginda Raja. Jawa Tengah. diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat. 45 dan Sarasamuscaya 135. Menurut agama. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra. kama dan moksha. Di Bali. Di alun-alun Majapahit. Tujuan Hidup Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. XII. pada tahun 456 Masehi. berkumpu seluruh kepala desa. Setelah Nyepi. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III. . artha. Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII. Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. prajurit. pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret). Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. LXXXV. Keesokan harinya. Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. 228. tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Beberapa hari sebelum Nyepi. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga.(India) yang mendarat di Kabupaten Rembang. Untuk mewujudkan tujuan tersebut. umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma. Pendeta Siwa. Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi. manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. LXXXVI XCII.

Dalam kenyataannya. binatang hidup dari tumbuhtumbuhan. makhluk hidup menjelma. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan." Artinya: Oleh karenanya. kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama. karena hujan tumbuhlah makanan." Dalam Bhagavadgita III. karena makanan. dan yajña lahir karena kerja. artha.10: manusia harus beryajña kepada Tuhan. . Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb: "Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan. artha kama moksha. mâng dharma. kita bisa melihat sendiri. Dengan demikian jelaslah." Artinya: Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma. tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup. karena persembahan (yajña) turunlah hujan. jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk. "Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita). untuk mewujudkan Catur Warga. 14 disebutkan. usahakanlah kesejahteraan semua makhluk. kama dan moksha. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan. ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga. manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. "Apan ikang prana ngaranya.

Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat. Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut: . dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. pada saat upacara Tawur Kesanga. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan. Pada tanggal satu sasih kadasa. dan sarwaprani. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga. pawana. melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara. Sang Budha dan Sang Bujangga. Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa. Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa. kita mencari sari-sari kehidupan dunia. paklesa letuhing bhuwana. Bhuwah Loka dan Swah Loka. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka.yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan. Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengahtengah samudra. Oleh karena itu. upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. dilaksanakanlah brata penye-pian. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut: Anglukataken laraning jagat.

amati karya." Artinya: ". samadhi. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya. berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh.enjangnya nyepi amati geni. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan. semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri. menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma. karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian. Perbuatan . tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. artha. tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya. tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Nyepi.. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. kama dan moksha. brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya." Jadi. kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan. Sebagaimana kita ketahui.. yoga. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar.. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian. melakukan yoga tapa dan samadhi. ageni-geni saparanya tan wenang. Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi. tidak menyalakan api..besoknya.". amati lelungan dan amati lelanguan. pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa... Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni.

Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka Menyimak sejarah lahirnya. tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Setelah upacara Melasti usai dilakukan.manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan.mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Pelaksanaan Upacara Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi.." Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: ". dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. .. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah mengkhususkan diri dalam bidang kerohanian.. dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan.

pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara. segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak. semua anggota keluarga. upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. tumpeng ketan sesayut. dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. sujang berisi arak tuak. dandanan. kabupaten dan kecamatan. yaitu melakukan upacara mecaru. Sedangkan di masing-masing rumah tangga. penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. tuak dan air tawar. umat Hindu berkeliling desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India. Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh. Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi. ajuman. Setelah . Sedangkan di pintu masuk halaman rumah. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Upacara di tingkat rumah tangga. dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina. banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). peras. Dalam upacara Melasti. diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa.12. mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Setelah usai menghaturkan pecaruan. segehan nasi sasah 100 tanding. upacara dilakukan di natar merajan (sanggah).Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India.00 . Dalam rangkaian Nyepi di Bali. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah). kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa. berem. melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah.

Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan. . Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti.mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala. namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi. kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. menaburkan nasi tawur. kala. Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya. patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Selain itu. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus). jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa. yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Karena bukan sarana upacara. maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala. misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala. kertas. ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Nah. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu. umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Sejak tahun 1980-an. Kalau di Bali. yaitu unsur-unsur kekuatan jahat. lalu mengelilingi rumah membawa obor. Patung yang dibuat dengan bam-bu. Artinya.

yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan . menyepikan indria. Mona artinya berdiam diri.Amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Dhyana. Pada prinsipnya. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat. yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus. tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat.Sebagaimana telah dikemukakan. mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu. tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi.Amati karya (tidak bekerja). brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu: -Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). dhyana dan arcana. mona. . saat Nyepi. Arcana. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spritual.Amati lelungan (tidak bepergian). Yang terpenting. Itu berarti melakukan upawasa (puasa). hening menuju jalan yang benar atau dharma. yaitu dengan melakukan upawasa. . Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. . Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa.

Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan. Terbebas dari berbagai godaan yang bisa menjerumuskan dan menyesatkan hidup. Misteri kematian dan perjalanan arwah Lubdhaka tidak banyak yang mengetahuinya. tentu perbuatan membunuh. merupakan hari suci bagi umat Hindu. Latri berarti malam (gelap). Gelap bisa menakutkan dan menciutkan nyali bagi sebagian orang. makanya mereka memburu gelap. Dikatakan berbahagia. tetapi bisa masuk surga sesudah meninggal. Pada hari Siwaratri umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Siwa Mahadewa. Tetapi sebagaian orang lagi gelap merupakan media dalam mendapatkan ketentraman batinnya. melakukan pembunuhan satwa (binatang). termasuk malam siswa malam paling gelap sehari menjelang Tilem Kepitu 24 Januari 2001. Tujuannya agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di dunia ini. sekalipun tidak disadari karena secara kebetulan. . Hari tersebut dikenal dengan nama Siwalatri/Siwaratri atau Malam Siwa. adalah berdosa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. menghilangkan nyawa mahluk lain di luar tujuan yadnya. Karena menurut mereka di dalam gelap bercokol setan dan berbagai mahluk pemangsa lainnya. Adalah Lubdhaka si pemburu miskin yang berbahagia dalam perjalanan hidupnya. meningkatkan kesucian rohani dan latihan mengekang hawa nafsu. Anggara Wage Wuku Gumbreg bertepatan Sasih Kapitu (Selasa. Dan bahkan malam itu adalah malam tergelap dibanding malam-malam lainnya. Dari pandangan mata secara awam saja. lantaran sekalipun dalam sehari-hari selalu melakukan tindakan sadis. karena perbuatan menyimpang dari ajaran dharma atau Agama. Dalam kegelapan malam ada keheningan kesunyian dan kedamaian. Umat patut melaksanakan brata.terpaksa. 23 Januari 2001). Kalangan krama Bali beragama Hindu umum menyebutnya "peteng pitu".

malam itu ia akan menemukan binatang dan berhasil memanahnya untuk dibawa pulang. bertahan di hutan. . Waktu itu jangankan ia berhasil memanah seekor binatang untuk dibawa pulang. Sangat apes hari itu perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu profesional. Waktu itu sebagai pemburu Lubdhaka tidak memiliki motip lain. serta dalam petikan lelaki itu tpat mengenai patung Siwa tersebut. Malah dalam malam gelap ia dilanda ketakutan. Dengan perasaan pasrah dan nekat ia memutuskan bermalam di hutan. Lubdhaka boleh saja berharap. yakni malam payogan Hyang Siwa. Istri dan anak-anaknya merasa kehilangan. Dalam kehampaan. antisipasinya supaya terhindar dari sergapan binatang buas. Pohon yang dinaiki adalah pohon Bila. namun kenyataannya sampai tengah malam yang sunyi senyap hasilnya tetap nihil. lantas Lubdhaka memilih memanjat sebuah pohon yang lumayan rindang. melihat bayangan binatang saja tidak. Kecuali satu harapannya. Apa yang dilakukan Lubdhaka sehingga memperoleh tiket masuk surga setelah mati? Suatu hari lelaki itu seharian berburu.Pemburu tersebut dalam mitologi HIndu meniggal beberapa hari setelah Siwaratri lantaran menderita suatu penyakit. namun sama sekali tidak mendapat binatang buruan. Aktivitas Lubdhaka malam itulah mendapat pahala dari Hyang Siwa. padang perburuannya seorang diri. Ia memilih berdiam di sebuah pohon dekat telaga yang airnya sangat bening. karena takut jatuh otomatis laki-laki tetap terjaga (jagra) sampai pagi. hingga ia berhak masuk sorga. jengkel bercampur lelah fisik karena lapar dan harus Lubdhaka memutuskan tidak bertolak pulang menemui istri dan anak-anak kesayangannya. Dimana dibawah pohon tempatnya memanjat ada sebuah telaga dan perwujudan Siwa beryoga. Untuk menahan kantuknya tangan memetik satu persatu dahan pohon yang tidah. Ternyata malam saat Lubdhaka menginap di hutan adalah Malam Siwa (Siwa Latri).

antara penguasa neraka dan surga. Sarasvati 1-2. C. rupa siddhi prayukta ya. Beryoga. ia mengucapkan dua bait mantra berikut : Om Sarasvati namas tubhyam. Sarasvati di Bali dipuja dengan perantaraan stuti. pantaskah seorang Lubdhaka yang melakukan pembunuhan terhadap sarwa buron ini mendapatkan pengampunan hanya karena melakukan kegiatan begadang semalam suntuk. Di Khayangan rohnya sempat menjadi rebutan.. yakni pada setiap Saniscara Umanis Watugunung. Malahan di kalangan umat Hindu sendiri hal ini masih menjadi masalah yang patut untuk didiskusikan. Apabila seorangpemangku melakukan pemujaan pada hari Sarasvati. Five Studies in Hindu-Balinese Religion (1964) dan menggunakan acuan atau sumber kajian adalah tiga jenis naskah. Sarasvati dipuji dan dipuja lebih dari delapan puluh re atau mantra pujaan.Aktivitasnya itu sama nilainya dengan yang dikerjakan Siwa. Pranamya sarya-devana ca. lapar. Tutur dan Kakavin yang jumlahnya tidak terlalu banyak. siddhirambha karisyami. Sarasvati dalam Susastra Hindu di Indonesia Tentang Sarasvati di Indonesia telah dikaji oleh Dr. varade kama rupini. Paramatmanam eva ca. tidak tidur dan menahan nafsu-nafsu lainnya. Sarasvati (n) namamy aham. Sarasvati dalam Veda Di dalam RgVeda. Sarasvati berarti aliran air yang melimpah menuju danau atau kolam. Perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu sampai masuk sorga cukup kontroversial. artinya begini. Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Jawa Bali. Arti Kata Sarasvati. stava atau stotra seperti halnya dengan menggunakan sarana banten (persembahan). menahan haus. siddhir bhavantu mesada. Hooykaas dalam bukunya Agama Tirtha. Kata Sarasvati dalam bahasa Sanskerta dari urat kata Sr yang artinya mengalir. Ia juga sering dihubungkan dengan pemujaan terhadap deva Visvedevah disamping juga dipuja bersamaan dengan Sarasvati. yaitu: Stuti.) Hanya Engkaulah yang .

1989: 38). emngingatkan kita terhadap nilai ilmu yang murni dan tidak tercela (Shakunthala.menganugrahkan pengetahuan yang memberikan kebahagiaan. Berbagai aspek kekuasaan dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa dipuja dan diagungkan serta dimohon karunia-Nya untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. kainnya yang putih menunjukkanbahwa ilmu itu selalu putih. Didalam Brahmavaivarta Purana dinyatakan bahwa warna putih merupakan simbolis dari salah satu Tri Guna. memegang vina (sejenis gitar). siddhirambha karisyami siddhir bhavantu mesada Sarasvatistava I) Om Hyang Vidhi dalam wujud-MU sebagai dewi Sarasvati. pustaka (kitab suci dan sastra). pemberi berkah. Makna Penggambaran Dewi Saraswati Tubuh dan busana putih bersih dan berkilauan. Suara Om adalah suara musik alam semesta atau musik angkasa. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karuniaMu Pendahuluan Berbagai usaha atau jalan yang terbentang bagi Umat Hindu untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa digambarkan atau diwujudkan dalam alam pikiran dan materi sebagai Tuhan Yang Berpribadi (personal God).brahman) berupa Om. Engkau keutamaan dari setiap istri yang mulia. Ilmu pengetahuan diidentikan dengan Sattvam-jnanam Caturbhuja : memiliki 4 tangan. Engkau sesungguhnya permata yang sangat mulia. untuk kepentingan Bhakti. aksamala (tasbih) dan kumbhaja (bunga teratai). sarasvati duduk diatas bunga teratai dengan . Vahana. Engkau pula yang penuh keutamaan dan Engkaulah yang menjadikan segala yang ada. yaitu Sattva-gunatmika dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari lima jenis Prakrti. karena kemuliaan-Mu pula semua yang mulia menyatu Om Sarasvati namotubhyam varade kama rupini. Demikian pula Tuhan Yang Maha Esa yang sesungguhnya tidak tergambarkan dalam alam pikiran manusia. Aksamala (di tangan kanan belakang) melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tanpa keduanya ini manusaia tidak memiliki arti. wujud kasih bagai seorang ibu sangat didambakan. Demikian pula tingkah laku seorang anak yang sangat mulia. Atribut ini melambangkan : vina (di tangan kanan depan) melambangkan Rta (hukum alam) dan saat alam tercipta muncul nadamelodi (nada .

sumber wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Catur Veda dan lain-lain menunjukkan bahwa simbolis tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi dengan latar belakang filosofis yang sangat dalam. sarve santu niramayah. seperti angsa mampu membedakan antara susu dengan air sebelum meminum yang pertama. Semoga semuanya memperoleh kedamaian.Penutup Berdasarkan uraian-uraian diatas.. KONSEP KEPEMIMPINAN. dewi yang memberikan inspirasi dan kahirnya ia dipuja sebagai dewi ilmu pengetahuan. Sarasvati adalah dewi Ucap. Kendaraan yang lain adalh seekor burung merak yang melambangkan kebijaksanaan (Shakunthala. sarve bhadrani pasyantu. Angsa adalah sejenis unggas yang sangat cerdas dan dikatakan memiliki sifat kedewataan dan spiritual. ma kascid duhkh bhag bhavet. kejernihan pikiran serta kerahayuan yang didambakan oleh setiap orang. maka Sarasvati di dalam Veda pada mulanya adalah dewi Sungai yang diyakini amat suci. 25. Keseluruhan proses . anugrahkanlah semoga semuanya memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. Demikian semoga Ida Sang Hyang Widhi senantiasa memberikan waranugrahanya berupa inspirasi. Om Sarve sukhino bhavantu. EKONOMI. Perwujudan Dewi Saraswati sebagai dewi yang cantik bertangan empat dengan berbagai atribut yang dipegangnya mengandung makna simbolis bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber ilmu-pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya. PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN AGAMA HINDU Kepemimpinan Hindu Dalam kehidupan manusia didunia ini banyak ditemui usaha kerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. Angsa yang gemulai mengingatkan kita terhadap kemampuannya membedakan sekam dengan bijibijian dari kebenaran ilmu pengetahuan. 1989 : 38). Ya Tuhan Yang maha Esa. Semoga semuanya memperoleh keutamaan dan semuanya terbebas dari segala duka dan penderitaan.kendaraan angsa atau merak.

kerjasama itu dinamakan organisasi. yaitu 1) Kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikutnya. pasti dan teratur. 1 995:9). karena didalam kepemimpinan hadir suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi tugas-tugas yang berhubungan dengan kegiatan antar kelompok. Dengan kata lain kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan apa yang diinginkan untuk dikerjakan oleh orang lain. maka status pemimpin menjadi jelas dan membuat proses kepemimpinan memungkinkantanpa ada yang mengarahkan. Kepemimpinan adalah proses mendorong dan membantu orang lain untuk bekerja secara antusias ke arah tujuan. Sedangkan Organisasi non formal memiliki struktur yang semi permanen. 1995:8). Dengan kata lain organisasi adalah proses atau rangkaian kegiatan kerja sama sejumlah orang. Kepemimpinan juga berarti aktivitas mempengaruhi orang lain untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela. semua kualitas kepemimpinan dari seorang manajer akan tidak . pasti memeriukan seseorang untuk menempati posisi pemimpin (leader). Setidaknya ada dua jenis organisasi yaitu Organisasi formal dan non formal. prosedur dan mekanismenya mudah berubah sesuai dengan kebutuhan dan keputusannya cenderung ditentukan oleh kesepakatan bersama. Seorang pemimpin didalam sebuah organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan. Dengan keinginan mereka untuk menerima pengarahan dari pimpinan. Konsep demikian kelihatanya sederhana. Dengan kata lain pemimpin adalah orangnya dan kepemimpinan adalah kegiatannya. Baik organisasi formal maupun non formal. untuk mencapai tujuan tertentu (Nawawi da Handari. tetapi pada kenyataannya sering kali sangat kompleks. prosedur dan mekanisme yang statis. Sehubungan dengan itu maka kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan / kecerdasan mendorong sejumiah orang agar bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama (Nawawi dan Handari. Dari uraian diatas ada empat implikasi penting. Organisasi formal memiliki struktur yang relatif permanen.

Pada politiklah semua awal tindakan diwujudkan. Hal ini banyak dijelaskan dalam percakapan antara Bhagawan Bhisma dengan Yudhistira pasca perang Bharatayudha.relevan. kepemimpinan dan manajemen bukanlah konsep yang sama. Akan tetapi. 3) Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku-perilaku pengikut dalam sejumlah cara. 4) Aspek gabungan dari ketiganya yang mengakui bahwa kepemimpinan adalah sebuah nilai (value). semua aturan hidup hilang musnah. kama. artha. pada politiklah semua dunia terpusatkan". Seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan lebih dari kelompok yang dipimpin. Politik Hindu Banyak pihak yang beranggapan bahwa politik adalah kotor karena politik selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara. 2) Kepemimpinan melibatkan sebuah pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan anggota kelompok. semua kewajiban manusia terabaikan. pada politikiah semua pengetahuan dipersatukan. yaitu dalam Santi Parwal LXIII. Ini adalah sebuah catatan berharga bahwa meskipun kepemimpinan dihubungkan dalam kepetingan dalam manajemen. veda pun sirna pula. dan mempertahankan kekuasaan.dharma. dan pada politiklah dunia terpusatkan" . Pada politiklah semua berlindung. sebagai berikut:"manakala politik telah sirna. melainkan adalah bagi penegakkan Dharma. dan moksa semakin jauh. Begitu juga pembagian masyarakat semakin kacau. Hindu memandang politik tidak semata-mata sebagai cara mencari. Dalam bab yang lain dijelaskan pula bahwa: "ketika tujuan hidup manusia . pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan. maka pada politikiah semua berlindung. pada politiklah semua kegiatan agama/yajna diikatkan. hal 147.

bogha wiryawan"). untuk . dan sebaliknya dharma yang dijaga akan membawa kemuliaan (dharma raksatah raksitah). sebagai aktualisasi dari konsepsi "raja adalah keturunan Dewa". selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang rat). Para pemimpin waktu itu berusaha dengan bantuan para Pendeta Hindu. bukanlah kesejahteraan penguasanya karena penguasa yang berhasil membawa rakyatnya pada kebahagiaan tertinggi. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan. Kalimat ini menunjukkan bahwa sasaran pokok dalam politik Hindu adalah kebahagiaan rakyat. dan kebenaran yang apabila dilanggar maka akan berakibat pada kehancuran umat manusia. dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). Dharma adalah hukum.Untaian kalimat dalam Santiparwa tersebut mengisyaratkan bahwa antara Politik dan Agama mempunyai kaitan yang sangat erat. kewajiban. yaitu politik Hindu adalah untuk menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. dapat dibaca pada batu tertulis (Prasasti) di Kalimantan dan di Jawa Barat. Selayang Pandang Kepemimpinan di Era Hindu Indonesia Tanda-tanda tentang adanya pengaruh agama Hindu. Antara politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak dapat dipisahkan. Dari peninggalan itu dapat disimpulkan bahwa gaya huruf dari tulusan ini yang digolongkan sebagai huruf Pallawa dan bila diperhitungkan umurnya kira-kira abad keempat Masehi. baik untuk mengatur negara maupun kerohanian. Yang sangat mencolok adalah pengaruh kepada organisasi negara. Dalam Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa "apa yang menjadikan raja senang bukanlah kesejahteraan. tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang raja". kemuliaan adalah pasti ("sang sura menanging ranaggana. berorientasi ke atas. Melalui konsep "raja adalah keturunan Dewa" maka kekuasaan raja menjadi absolut. Kerajaan pribumi pada waktu itu. mamukti sukha wibawa. menjalin hubungan dengan perdagangan dengan kerajaan India dan mengadopsi konsep-konsep Hindu. yang diatur sangat Hirarkis.

dalam kitab Atharva Veda: 3. bahwa hanya keturunan Dewa bisa menjadi pemimpin. serta mencukupi kebutuhan rakyatnya.4. Waktu itu diyakini. Hal ini nampak jelas dalam kutipan sebagai berikut: Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti kebenaran dan dharma. Kepemimpinan dalam Sastra-Sastra Hindu Dalam ajaran Agama Hindu banyak sekali ditemukan ajaran tentang kepemimpinan. Siwa dan Dewa lainnya) pada dirinya guna melegitimasi kekuasaanya.menarik garis keturunan kepada Dewa (Brahma. maka semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan menyebarkan dharma kepada masyarakat luas (Atharva Veda: 3. Tetapi yang terjadi tidak selalu demikian. demikianlah keberadaan pemimpin dengan yang dipimpinnya. Ia tersebar mulai dari Weda sampai pada berbagai sastra Hindu. pemimpin juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Wisnu. raihlah kehormatan dan pujian dalam negara ini. . hadirlah sebagai pemimpin yang utama.4. maka rakyatpun akan melindungi pemimpin itu sendiri ibaratnya Singa dan hutan yang saling melindungi. datanglah dengan cahaya. Pemimpin yang ingin diakui oleh masyarakat adalah mereka yang berhasil "Mbrojol selaning Garu" (Iolos dari seleksi yang ketat). lindungilah rakyat dengan penuh kehormatan. Bila seorang pemimpin memperhatikan masalah kesejahteraan rakyat serta mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat.1 dijelaskan tentang tugas seorang pemimpin sebagai berikut: Wahai pemimpin negara. seluruh penjuru mamanggil dan memohon perlindunganmu. Disamping sebagai pelindung rakyat.2).

lalat dan katak. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV. melindungi rakyatnya dengan selalu meminta perlindungan Tuhan. (Atharva Veda: 5. dipersaudarakan dengan menyatukan pura kawitannya dalam satu kompleks pura dengan pura raja dan menyebut mereka wargi sang raja. dan melindungi pemimpin tersebut. 1 1 disebutkan bahwa : Orang tidak boleh tanpa Asraya (tempat mohon bantuan) namun usahakanlah Mahasraya. maka negara tersebut akan hancur. Pada hari-hari tertentu wargi-wargi itu bertemu di Pura. Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang dipimpinnya. si gajah yang besar dan kuat namun angkuh. yang menggalang rasa kelompok dan rasa bakti kepada raja. Ketika burung Garuda datang (musuh ular) terpaksa ular itu dihormati pula. (Rg Veda: 4. Penguasa-penguasa di Bali jaman dahulu rupa-rupanya memaklumi hal ini sehingga beliau melaksanakan strategi menggalang persatuan rakyat dalam wilayahnya.9) Bila seorang pemimpin yang pemarah dengan kesombongannya ingin menghancurkan dan menghina para Brahmana yang ahli Veda. mati dibunuh oleh persekutuan si burung siung.19. sebaliknya rakyatpun akan selalu menghormati. Persekutuan dan persatuan merupakan suatu kekuatan yang maha besar sehingga akan mampu menumbangkan kekuatan sebesar apapun. Namun dalam hal ini raja harus cerdik melaksanakan segala upaya mempersatukan rakyatnya. Dalam Tantri Kamandaka.6) Dalam Nitisastra 1. yaitu Sama. Dalam sastra Jawa Kuno dikatakan bahwa Raja harus melaksanakan taktik Catur Upaya Sandhi. Dana dan Danda. Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat. Warga-warga disatukan.50. 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang . Lihatlah itu si ular naga yang mencari tempat berlindung pada Bhatara Siwa karena Baktinya ia dijadikan kalung oleh Bhatara Siwa. Beda.Pemimpin yang tidak terkalahkan.

kejammu pada musuh itu . inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata. delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu. Ia menjatuhkan hujan menyuburkan bumi. demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat. itulah engkau tiru Pasabrata. Selalu membakar musuh itu perilaku api. 5. Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya. Agni. yang demikian disebut Dhanabrata patut diteladani. itulah sebabnya disebut Asta Brata" 1. engkau mengikat orang-orang jahat. Candra. setiap yang merintangi usahakan musnahkan. hendaklah engkau mengetahui pikiran rakyat semua.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia. Baruna. inilah Bayu brata. demikian delapan jumlahnya. beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja. dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak kentara. tidak membatasi makan dan minum. Kuwera. sumbangansumbanganmu itulah bagaikan hujan membanjiri rakyat. itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya. karena Ida Bhatara ada pada dirinya. Indra brata. Hyang Indra. 4. berpakaian dan berhiaslah. Bhatara Surya selalu menghisap air. tiada rintangan. 3. Yama. pelan-pelan olehnya. senyummu manis bagaikan amerta. tiada cepatcepat demikian Surya Brata. Adapun terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana adalah: "Dan ia disuruh untuk menghormatinya. demikianlah engkau mengambil penghasilan. Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat. 2. tersembunyi namun mulia. Bagaikan anginiah engkau waktu mengamati perangai orang. perilaku lemah lembut tampak. 7.ideal. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII. ia memukul pencuri sampai mati. Sang Hyang Indra usahakan pegang. 8. setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau hormati. Nikmatilah hidup dengan nikmat. 6. Bayu. Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit. Surya.

Ksaya nikang papa nahan prayojana. Artinya: Tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti Petunjuk-petunjuk hukum Manu (Manawa dharmasastra) usahakan pegang Hilangnya penderitaan itulah tujuannya Cinta orang tentu akan kita jumpai. Jananuragadi tuwi kapangguha.usahakan. Dari semua hukumhukum yang harus dipedomani oleh seorang pemimpin. Petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra sastra Jawa Kuna. manupadesa prihatah rumaksa ya. disimpulkan dalam dharma yang mengandung pengertian segala sesuatu yang mendukung orang untuk mendapatkan kerahayuan. yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh bertidak sesuka hatinya ketika ia memegang kekuasaan. Dalam kakawin Ramayana.asihning wwang ringSarwa bhuta marikang dharma mangkana ngaranyaKotamaning asih ika pagawenta piratrana ring rat. Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin negaranya ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya. demikianlah yang disebut Agnibrata. Mtangian mangkana. Makambek mangakana Terjemahan: . Bhismaparwa dan lain-lain dijumpai uraian dharma sebagai pedoman raja (pemimpin) dalam memimpin negaranya. "sakanikang rat kita yan wenang manut. Tuntunan Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin.ika ta sang prabu. Ika ta prassidha dharma ulahaning kadiKita prabhu. si mangraksa rat juga. setiap engkau serang cerai berai dan lenyap.

Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. yaitu raja yang mencampurbaurkan persoalan.sayangmu pada semua makhluk dharma namanya. byakta sira tininggal ing wadwa nira. sebabnya demikian. maka ia akan kehilangan kekuasaannya karena ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya. yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira. yan hana ratu mangkana tininggal sira de ning janma wwang kulina janma. Petunjuk tentang itu dapat diketahui dari kutipan berikut: "Laku bhrtya matinggal ratunya. ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa. yang hana wang adhahjati dinuhuraken. yan hana ratu akeras mapanas ing gawe. demikianiah sang prabhu (pemimpin) seharusnya bertingkah laku. untuk melindungi negara. Kutipan ini menunjukkan beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang pemimpin agar tak ditinggalkan oleh para pengikutnya. Bila ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif. awisesa ngaranya manarub. itulah mencampur-baurkan namanya. leheng ikang ratu makeras swapadi ngrutu makumed tar paradanda. Kutipan diatas diambil dari Bhismaparwa. Raja yang kikir dan sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa.Demikianlah dharma yang sempurna engkau kerjakan sebagai raja melindungi negara. Apabila sang Prabhu tidak melaksanakan tugas-tugasnya sebagai raja yang melindungi rakyat dan negara. Seorang pemimpin yang baik menurut ajaran Hindu haruslah memperhatikan masalah . yeka anarub ngaranya. (slokantara 40) Terjemahan : Pelayan dapat meninggalkan rajanya.penampilan kasih sayang itulah kamu kerjakan. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan dan orang yang hina dimuliakan. tidak menjadi panutan yang dipimpinnya. Lebih baik raja yang kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang.yang merupakan nasehat Bhagawan Bhisma kepada Prabhu Yudistira. ya hana wwang kulina janma sinoraken. bila raja kejam dan bengis tindakannya.

Santasih nitya thaganan Kasih sayang hendaknya engkau selalu lakukan. Kepemimpinan Yang Paripurna Menurut Hindu "Gunamanta Sang Dasarata Wruh Sira Ring Weda Bhakti Ring Dewa Tarmalupueng Pitra Puja Masih Ta Sireng Swagotra Kabeh" Kutipan bait Ramayana di atas. Artinya. 54) Terjemahan: Pura-pura (tempat suci). (Ramayana III.Mas ya ta pahawreddhin bhaya ring hayu kekesan. seorang pemimpin harus memiliki kedua sifat dalam dirinya. supaya diperbanyak untuk biaya pembangunan disimpan baik-baik.kesejahteraan para pengikutnya. Bhukti akaharepta wehing bala kasukan. selalu dalam kesucian. yaitu sifat seorang Ksatria yang gagah berani dalam menegakkan dharma. 26. 65) Kutipan ini juga mengandung makna bahwa raja atau pemimpin harus mengembangkan nilai kejujuran (satya ta sira mojar) dan karena itu semua rakyat akan segan terhadap raja atau pemimpinnya. Dharma. menegaskan bahwa seorang pemimpin yang sempurna dalam konsep Hindu adalah seorang Rajarsi atau satria pandita. dan kama namanya demikian itu. KERAGAMAN RITUAL . (Kakawin Ramayana III. dan seorang pandita yang arif bijaksana. Dharma kalawan artha mwang kama ta ngaranika. dan penuh cinta kasih. rumah sakit dan pedarman supaya diperbaiki. artha. Petunjuk tentang itu dapat dilihat pada nasehat Rama kepada Wibisana berikut ini: Dewa kusala salam mwang dharma ya pahayun. Nikmatilah apa yang kamu ingini berilah kesejahteraan.

With these texts the increasing importance of knowledge of esoteric correspondences are observed as compared to ritual action.ritual Hindu adalah representasi dari Upanishad yang melanjutkan pekerjaan Brahmana dan Aranyakas dalam menafsirkan makna dari ritual srauta. which maintained that knowledge of the correspondences between ritual and cosmos is a kind of power. masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri. tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki kitab suci dan ajarannya hanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun. yang berpendirian bahwa pengetahuan tentang korespondensi antara ritual dan kosmos adalah semacam kekuasaan. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. berkembang dan hidup yang wajar. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kalapatra. tidak terkekang oleh dogmadogma yang salah atau kedaluwarsa. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat. The Upanisads sebelumnya melanjutkan spekulasi magis dari Brahmanas. Bagianbagian pada pengetahuan (jnanakanda) didahulukan dari bagian pada ritual (karmakanda). APLIKASI WEDA DI KALTENG Sebelum datangnya agama-agama tradisi besar dan resmi diakui oleh pemerintah Indonesia. The sections on knowledge (jnanakanda) take precedence over sections on ritual (karmakanda). tetapi juga ajaran untuk berperilaku. kami hanya ingin tumbuh. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri. 27. desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. . Dengan teks-teks ini semakin pentingnya pengetahuan esoterik korespondensi diamati dibandingkan dengan tindakan ritual. The earlier Upanisads continue the magical speculations of the Brahmanas. yang disebut Kaharingan. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada.

seperti bantuan pendidikan. seperti arah terbang burung. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam apabila hendak bepergian jauh. seperti Jawa. Islam telah masuk ke Kalimantan sejak abad ke-13. pohon. banyak yang kemudian memeluk agama Islam. maupun Katholik. Dengan keterbukaannya tersebut. Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin terhadap dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana. Dalam upaya Kristenisasi dan Katholikisasi terhadap Suku Dayak di pedalaman. sungai. Sedangkan kegiatan misionaris agama Kristen Katholik dan Kristen Protestan telah masuk ke pedalaman Kalimantan dan berjalan dengan gencar sejak abad ke-19. kesialan. dibawa oleh kaum pendatang yang berasal dari daerah lain. dan sebagainya. ada ular yang melintas di depannya. sakit. dan sebagainya. Melayu. batu. Suku Dayak sangat terbuka dengan pengaruh budaya luar. Dari dewa-dewa tersebut. yang sebutannya berbeda-beda antara Sub suku Dayak satu dengan yang lainnya. dan sebagainya. terutama dalam merekrut generasi mudanya sehingga pada saat ini sebagian besar generasi muda Dayak telah memeluk agama Islam. dan pelayanan kesehatan. Hal ini bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit. Mereka percaya adanya Tuhan. Kristen. bantuan ekonomi. seperti dewa-dewa yang menguasai tanah. termasuk di antaranya kehadiran agama-agama tradisi besar. melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut. Akan tetapi sebagian dari mereka tetap . masyarakat Dayak mempercayai banyak dewa di sekitar mereka. dan sebagainya. maka dimanfaatkan oleh kaum misionaris untuk menyebarkan agamanya. suara burungburung tertentu. terdapat dewa yang tertinggi. Suku Dayak yang tinggal di daerah pesisir dan banyak berhubungan dengan para pendatang dari suku-suku lain. Upaya penyebaran agama-agama tradisi besar ini cukup berhasil.Menurut kepercayaan Kaharingan. mereka banyak menggunakan media pelayanan sosial. Bugis. tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia. misalnya Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi Mahatara.

pemujaan roh nenek moyang yang telah meninggal. khususnya dengan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Suku Bali sebagai penganut agama Hindu Dharma mayoritas di Indonesia. Kedatangan agama-agama tradisi besar tersebut di atas ternyata juga membawa dampak buruk terhadap kehidupan orang-orang Suku Dayak. Ia akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Melayu Menurut pandangan mereka. sedangkan orang Dayak dengan kepercayaan Kaharingan-nya identik dengan ketertinggalan dan kekolotan. upacara penolak bala dan sebagainya. Katholik. hilang pula nilai-nilai dan normanorma yang terkandung di dalam tatanan masyarakat Dayak. salah. Hindu Dharma. sementara di pihak lain ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionanis dan penyebar agama tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka. Dengan hilangnya upacara-upacara tersebut. Sementara itu keberadaan agama Kristen dan Katholik juga tidak mendukung pelestarian adat-istiadat dan tradisi Suku Dayak. dan pemujaan alam lingkungan yang dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katholik. dan harus diluruskan sesuai dengan ajaran agama mereka.bertahan pada kepercayaan Kaharingan. Seorang Dayak yang sudah menganut Islam akan merasa malu mengakui dirinya sebagai orang Dayak. Pada akhirnya para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu Dharma sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar antara keduanya. rasa menghargai terhadap semua makhluk hidup yang ada di alam lingkungan. dan sebagainya. . dan Budha. penghormatan terhadap leluhur. Kristen. Pada jaman Orde Baru pemerintah memberlakukan lima agama besar yang resmi diakui di Indonesia. Hal ini mengakibatkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. seperti pelestarian hutan. orang Melayu dengan agama Islamnya identik dengan kemajuan dan kemoderenan. Hal ini dikarenakan agama-agama tradisi besar pada umumnya memandang kepercayaan-kepercayaan di luar mereka sebagai sesuatu yang eksotik. Banyak upacara Suku Dayak yang berhubungan dengan upacara kematian. seperti upacara Tewah/Dalo. yaitu Islam. Di satu pihak mereka harus memilih salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah.

Sedangkan di Bali arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga). Panca Wali Krama. dan sebagainya. berkaitan dengan sumber mata pencaharian : hutan sebagai sumber kehidupan karena merupakan tempat untuk berburu binatang dan mencari makanan. dan dikremasi. tumbuhan. berkaitan dengan kepercayaan hutan sebagai tempat tinggal dewa penguasa manusia. Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam . Orang-orang Dayak memiliki tradisi yang beraneka ragam dalam memperlakukan jenazah dengan tiga cara. misalnya batu besar. 2) Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur. binatang. maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan. Lingkungan alam yang paling dekat dengan Suku Dayak adalah lingkungan hutan. dan sebagainya Setelah bergabung dengan agama Hindu Dharma. hutan Manfaat dan arwah hutan nenek bagi moyang orang yang Dayak. Eka Dasa Rudra. atau bersemayam pada benda-benda mati. atau disemayamkan di atas tanah. Sedangkan Dayak Ngaju menguburkan jenazah di dalam tanah terlebih dahulu. baik ke dalam tubuh manusia. b. Di Bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam masih berjalan lestari sampai saat ini. puncak-puncak gunung. yaitu percaya bahwa roh yang telah meninggal dapat lahir kembali. melindungi antara lain: a. 3) Upacara yang berkaitan dengan pemujaan kepada lingkungan alam. seperti upacara Tawur Agung. yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu Dharma. di mana jenazah orang yang meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah. Upacara ini mempunyai persamaan dengan di Bali. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. setelah beberapa tahun kemudian digali kembali dan tulang-tulangnya dibakar. yaitu dikubur di dalam tanah. disemayamkan di atas tanah atau diatas pohon di dalam hutan.Persamaan antara kepercayaan Kaharingan dengan ajaran Hindu Dharma adalah sebagai berikut 1) Percaya Reinkarnasi. pertemuan sungai.

Pada saat ini mereka tengah memperjuangkan kepada pemerintah agar agama Hindu Kaharingan dapat diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah. Dari uraian di atas. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan. Di pihak lain. terpisah dari agama Hindu Dharma. Namun tampaknya juga belum ada kesepakatan bersama dalam membentuk “PHDI Tandingan” ini.agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di Indonesia. Kebijakan apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini? Antara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di luar PHDI. dan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah. Sebagian lagi menyatakan bahwa Hindu Kaharingan sebagai agama yang berdiri sendiri. Ketika kekuasaan Orde Baru runtuh dan bergulir semangat reformasi. lepas dari agama Hindu Dharma. Sebagian dari mereka menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma dengan tetap mengakui PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu yang resmi diakui oleh pemerintah. antara lain BAKDI (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia) dan Majelis Hindu Kaharingan. Pihak yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. di lain pihak menginginkan Hindu Kaharingan berdiri sebagai agama tersendiri. sejajar dengan agama-agama lainnya. yaitu mengapa umat Hindu Kaharingan terpecah menjadi dua? Di satu pihak menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma. sebagian dari mereka menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. . maka timbul perpecahan di antara umat Hindu Kaharingan. dapat diketahui permasalahannya. Hal ini terlihat dari beberapa nama majelis yang ditawarkan sebagai wadah umat Hindu Kaharingan.

yaitu makhluk halus. yaitu upacara yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran manusia d) Manusa Yadnya. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan manusia.Suksma -------------- . seperti gunung. Kelima manifestasinya kelompok (perwujudan hesar Tuhan dalam tersebut bentuk adalah: dewa-dewa). Upacara adalah sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di dalam Tri Hita Karana tersebut. upacara Rsi Yadnya. upacara-upacara keagamaan terbagi dalam lima kelompok besar. sungai. yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh b) Rsi Yadnya. laut. yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Di samping konsep Panca Yadnya. yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi. atau sering disebut dengan Panca Yadnya. sedangkan Bhuta Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta. Pitra Yadnya. a) Dewa Yadnya. -------------. dan sebagainya. binatang dan tumbuhan. Dengan demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita Karana. manusia dengan manusia. kelahiran. karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci kepada manusia c) Pitra Yadnya. dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan manusia. pandita. ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana. dan manusia dengan alam semesta. yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia.Konsep-Konsep Upacara dalam Ajaran Hindu Dharma Di dalam ajaran agama Hindu Dharma. seperti kehamilan. nabi atau kaum ulama. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. dan kematian e) Bhuta Yadnya. perkawinan. yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->