JAWABAN SOAL UJIAN STUDI AGAMA HINDU 1. PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA, INDONESIA DAN KALIMANTAN TENGAH a.

Perkembangan Agama Hindu di India Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Agama Hindu pertama kali dikenal di India. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 Jaman/fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. 1. Jaman Weda–>Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut “Rta”. Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra. 2. Jaman Brahmana–>Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya “Tata Cara Upacara” beragama

yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. 3.Jaman Upanisad–>Pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. 4.Jaman Budha–>pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Agama Hindu makin lama semakin menyebar mulai dari India Selatan hingga keluar dari India dengan berbagai cara, sterutama melalui perdagangan bebas Internasional. Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini “Maitra Waruna” yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi. Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari

India. Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orangorang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan “Aztec” yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini. Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saatsaat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini disebut Inca. Kata “Inca” berasal dari kata “Ina” dalam bahasa Sanskerta yang berarti “matahari” dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya. Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park). Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda “Tri Kuta” atau tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman

akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi. yang kemudian dikembangkan pula pada . menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi.Budha. Walaupun Dewa-dewa itu banyak. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa. Indra. Sedangkan pada Jaman Upanisad. Vaisya dan Sudra. sekitar 2500 s. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi. Siwa dan sebagainya. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta. Kitab Brahmana. adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Varuna. namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu. kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Ksatriya. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik. kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda. Pada jaman ini.d 1500 tahun sebelum Masehi. mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni. yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Vayu. setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. yang disebut "Rta". ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. masyarakat dibagi atas kaum Brahmana. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. Pada Jaman Brahmana. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama.

dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. Selanjutnya. pada Jaman Budha ini. dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Masuknya agama Hindu ke Indonesia. dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta". agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan . menimbulkan pembaharuan yang besar. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur). dengan Agama Hindu. pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara b. menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan menghubungkan sistem yoga diri dan semadhi. Tempat itu disebut dengan “Vaprakeswara“. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: “Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman”. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Sejak jaman Purana. sebagai jalan untuk Tuhan. Itihasa dan Purana.ajaran Darsana. Ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia. Perkembangan Agama Hindu di Indonesia Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi.

diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi. yakni prasasti Ciaruteun. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa. Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa. Kebonkopi. Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal. Berdasarkan data tersebut. yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Kendi. Muara Cianten. Jambu. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi). yaitu Trisula. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti. Pasir Awi. agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur. Disamping itu. Cakra. Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti. Selanjutnya. yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa . merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu” Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah. dengan Candra Sengkala berbunyi: “Sruti indriya rasa”. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa “Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu. yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Tugu dan Lebak. Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi. maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Kapak dan Bunga Teratai Mekar.diketemukannya tujuh buah prasasti.

Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran. candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari. Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal. Kitab Bharatayudha. di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222). Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa. para Brahmana besar. Kitab Lubdhaka. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Setelah dinasti Isana Wamsa. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. sebagai pengemban agama Hindu. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur. misalnya Kitab Smaradahana. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda. yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama. Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. para pendeta dan penduduk negeri. Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan . Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu. sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara.sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno.

agama. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2. Beliau Moksa di Pura Silayukti. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Khayangan Jagad. arsitektur. Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung.dengan adanya prasasti-prasasti. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat . Perkembangan agama Hindu selanjutnya. setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Perkembangan selanjutnya. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. yakni pada masa pemerintahan Udayana. seperti Pura Rambut Siwi. Dan pada masa Dalem Waturenggong. Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur. sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Menurut uraian lontar-lontar di Bali. sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Surya kanta tahun1925 di SIngaraja. yang berasal dari abad ke-8. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar. kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci. Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Gianyar. Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung. juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra. Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung).

Asia Tengah. diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Mookerjee (ahli .India tahun 1912). Dari lembah sungai sindhu. Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya.Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Tiongkok. menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India. yaitu ke India Belakang. dengan teori Waisya. ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia. Dan pada tahun 1964 (7 s.Belanda) .Belanda). Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis". diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali. yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia. Kontak yang berlangsung sangat lama ini. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Berdasarkan beberapa pendapat. Krom (ahli . Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia. Moens dan Bosch (ahli . Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar.d 10 Oktober 1964). maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia.

Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. melalui sungai Gangga. maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti: Prasasti Dinoyo (Jawa Timur): Prasasti ini bertahun Caka 628. artinya bapak dari lautan. Yamuna. Perkembangan Agama Hindu di Kalimantan Tengah . dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau. Data Peninggalan Sejarah di Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali. diantaranya adalah: Agastya Yatra. India Selatan dan India Belakang. Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Pita Segara. yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu. c. dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya. maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau. Prasasti Porong (Jawa Tengah) Prasasti yang bertahun Caka 785. karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma. artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma.

Demikian pula alat-alat komunikasi. dan bahkan pemerkosaan. Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi atau era kesejagatan yang demikian tampak pesat mendera setiap bangsa. Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global. ekstasi. kurangnya solidaritas. menggunakan hal-hal yang baik itu untuk merevitalisasi Agama Hindu dan budaya Bali. ke dalam rumah dan bahkan ke dalam kamar-kamar dan kepada pribadi masyarakat. Di balik dampak positif globalisasi. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan . yang dapat menimbulkan ketegangan bagi umat beragama. dan informasi yang sangat canggih memberikan peluang kepada masyarakat Bali yang memang sangat terbuka. pencurian. untuk berkomunikasi ke mana saja di belahan bumi ini. Muncul berbagai masalah di antaranya masyarakat semakin individualis. tidak dapat dihindari adalah dampak negatif budaya global tersebut. penyalahgunaan obat-obat psikotropika (narkoba. Berbagai produk budaya global telah merambah berbagai aspek kehidupan. terutama dengan adanya kemajuan teknologi informasi mempercepat proses perubahan tersebut. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dan sebagainya). Proses globalisasi telah pula merambah kehidupan agama yang serba sakral menjadi sekuler. Teknologi komunikasi dan informasi yang demikian maju memberi peluang masuknya berbagai pengaruh budaya asing. EKSISTENSI KEBERADAAN AGAMA HINDU Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama Hindu dan budaya Bali. transportasi. Wawasan masyarakat Bali terbuka untuk memetik hal-hal yang baik dari manapun berasal dan dengan kemampuannya yang selektif dan adaptif. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya global. Dampak positif budaya global sangat dirasakan oleh masyarakat Bali. Berkembangnya penyakit sosial seperti prostitusi. Dampak negatif budaya global tersebut merupakan dampak dari kehidupan modern. perampokan.2.

Berbagai kearifan lokal telah terbukti mampu menjadikan Agama Hindu dan budaya Bali eksis sepanjang masa .keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika. Dalam situasi yang demikian. Agama Hindu dan tidak menghapuskan tradisi masyarakat dan budaya Bali sebelumnya. di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. untuk itu kiranya perlu diketengahkan bagaimana sinergi dan dinamika Agama Hindu dengan budaya Bali dan melakukan fungsinya sesuai dengan budaya Bali. namun demikian kekhawatiran sebagian masyarakat tentang dampak negatif globalisasi perlu diusahakan jalan untuk mengatasi dan mungkin mencegahnya. Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Agama Hindu dan budaya Bali mampu menghadapi budaya globabal. Seperti telah disebutkan di atas. Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan globalisasi tersebut. bahwa Agama Hindu menjadi jiwa dan sumber nilai budaya Bali. tampak beragam respon masyarakat Bali. tetapi sebaliknya memberikan pencerahan kepada budaya lokal. Sinergi dan dinamika Agama Hindu di Bali telah melahirkan berbagai kearifan lokal. The island of Balinever lost sight of this truth while facing up to the relentless onslaught of tourism on its rich artistic heritage. mantan Duta Besar India. Khanna dan Malini Saran yang telah beberapa kali mengunjungi Bali. Vinod C. dan menulis buku The Ramayana in Indonesia (2004) seperti dikutip oleh Dharma Putra dan Widhu Sancaya (2005:XV) menyatakan bahwa Bali dapat dijadikan satu contoh untuk Asia sebagai daerah yang memiliki kemampuan untuk mengadaptasi budaya tradisional agar relevan dengan budaya global. and can be an example to the rest Asia for its skill in adapting traditional cultural practices to suit a modern context. Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut. 2005:18).

Hindu bukanlah agama yang membenarkan penghapusan Dosa. karena walau beliau itu penuh dengan keajaiban namun beliau tetap tidak sesempurna tuhan. melainkan meminta untuk mengabdi dan berbakti pada beliau. Bagi Umat Hindu tidak ada upacara yang ribet atau tidak praktis. Aneh bukan jika itu ada. Satu lagi mungkin juga yang membedakan Hindu dari agama yang lainya. Tapi memang agama tidak bisa dilogikakan. Agama Hindu tidak pernah mempersalahkan agama lain yang ada di dunia ini. secara logika saja sudah agak aneh. Dalam mantra Hindu seperti maha mantra Hare Krisna dan lain-lain jika diartikan disebutkan pada awalnya bukan meminta berkah sesuatu seperti doa-doa ajaran yang lain. banyak umat Non-Hindu yang mengangap bahwa itu tidaklah praktis. Namun perbuatan dosa bisa diimbangi dengan perbuatan Baik.3. umat Kristen percaya bahwa Yesus berkorban untuk umatnya. Dalam Hindu tidak ada namanya perwakilan Tuhan di dunia. Hindu merupakan agama yang universal. karena Umat Hindu tidak pernah mengangap seperti itu. dengan cara apapun. karena semua dilakukan dengan rasa bahagia dan keiklasan. Seperti kebayakan Non-Hindu mengatakan bahwa umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba sebagai wakil tuhan di dunia. Umat Hindu percaya bahwa beliau adalah Guru yang patut dihormati dan bukan berarti beliau diangap sebagai tangan tuhan di dunia ini. sunguh tidak sempurnanya Tuhan jika harus memiliki perwakilan di dunia. Tidak ada dalam Hindu memberi secarik kertas dari sebuah . umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba yang memiliki tidak saja pengikut dari Hindu melainkan juga Umat Non-Hindu sebagai Guru Besar Spritual dalam Hindu. Budha pun berkorban untuk kedamaiaan pengikutnya. Bukanya hanya berdoa pada Tuhan lalu meminta berkahnya. IMPLEMENTASI AGAMA HINDU YANG BERSIFAT UNIVERSAL Hindu memang dikenal dengan banyaknya Upacara. yang mampu berdampingan dengan agama lain. bagi Hindu dosa tidak bisa hapus. Itu salah. Tapi bagi Umat Hindu itulah cara mereka menunjukan rasa cinta dan kekaguman mereka pada sang pencipta. Hindu percaya dalam menjaga dunia ini Tuhan juga berkorban untuk kita. dan bukan Hindu saja yang percaya hal itu.

bagaimana orang Indonesia di masa yang lalu memeluk agama Hindu? Siapakah yang menyebarkan agama Hindu ke Indonesia? Selanjutnya tentang kasta adalah bentuk penyimpanan dan interpretasi yang keliru dari pengertian Varna sebagai tersebut dalam kitab suci Veda. 4. Jangan pernah kita merasa kita ini minoritas. tanggal 11 Oktober 1993 di Yogyakarta menyatakan bahwa agama Hindu tidak mengenal missi karena dibatasi oleh sistem kasta. karena sebenarnya kita adalah mayoritas dalam ajaran keagamaan. Dalam kontek pembicaraan kita . Dipakai nama Hindu Dharma sebagai nama agama Hindu menunjukkan bahwa kata Dharma mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian kata agama dalam bahasa Indonesia. Hal ini kami pandang sangat perlu mengingat sampai sekarang masih ada pandangan dan buku-buku yang mendiskreditkan agama Hindu dan menganggap agama Hindu sebagai agama yang tidak bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Hindu itu tidaklah ada. Mukti Ali.perwakilan yang menyebut dirinya perwakilan Tuhan di dunia. melainkan Moksha atau menyatu dengan Tuhan (Brahma) . HINDU ADALAH SANATANA DHARMA Dalam upaya memantapkan pandangan kita terhadap ajaran Hindu Dharma terlebih dahulu kami ingin menekankan kembali nama dan sumber ajaran Hindu atau Hindu Dharma yang kita kenal sebagai satu agama tertua yang masih dianut oleh umat manusia. Bahkan Prof. Dr. sebagai tokoh ahli perbandingan agama di Indonesia pada Kongres Agama-Agama di Indonesia. Minoritas bukan berarti tidak berkualitas. Bilama Hindu tidak mengenal missi. sekarang mungkin kita sedikit melihat bagaimana ke agungan Hindu itu sendiri. lalu masuk sorga. Banggalah kita menjadi Hindu. dan juga dalam Hindu sorga bukanlah tujuan utama mereka. atau dengan membunuh orang dengan atas nama Jihad kemudian masuk sorga. Yang dimaksud dengan Varna adalah pilihan profesi sesuai dengan Guóa (bakat pembawaan orang) dan Karma (kerja yang dia lakoni) oleh setiap orang. kemudian dosa bisa dikurangi.

Para åûi atau mahàrûi yakni orang-orang suci dan bijaksana di India jaman dahulu telah menyatakan pengalaman-pengalaman spiritual-intuisi mereka (AparokûaAnubhuti) di dalam kitab-kitab Upaniûad.9. Kata Hindu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Persia yang mengadakan komunikasi dengan penduduk di lembah sungai Sindhu dan ketika orang-orang Yunani mengadakan kontak dengan masyarakat di lembah sungai Sindhu mengucapkan Hindu dengan Indoi dan kemudian orang-orang Barat yang datang kemudian menyebutnya dengan India. Kata Vaidika Dharma berarti ajaran agama yang bersumber pada kitab suci Veda. Hindu Dharma memandang pengalaman-pengalaman para mahàrûi di jaman dahulu itu sebagai autoritasnya (sebagai wahyu-Nya). Jadi agama Hindu sama dengan Hindu Dharma. 1974:LI) maupun maharsi Aupamanyu sebagai yang dikutip oleh mahàrûi Yàûka . 1984: 13). Kebenaran yang tidak ternilai yang telah ditemukan oleh para mahàrûi dan orangorang bijak sejak ribuan tahun yang lalu. Kitab suci Veda merupakan dasar atau sumber mengalirnya ajaran agama Hindu.1 (Dayananda. Pakistan. Pada mulanya wilayah yang membentang dari lembah sungai Shindu sampai yang kini bernama Srilanka. merupakan santapan rohani dan pedoman hidup umat manusia yang tentunya tidak terikat oleh kurun waktu tertentu.saat ini pengertian Dharma disamakan dengan agama. membentuk kemuliaan Hinduisme. pengalaman-pengalaman ini sifatnya langsung dan sempurna. oleh karena itu Hindu Dharma merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Sivananda. yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Mahadevan. karena ajaran yang disampaikan adalah kebenaran yang bersifat universal. Bangladesh disebut dengan nama Bhàratavarsa yang disebut juga Jambhudvìpa. Kata Sanàtana Dharma berarti agama yang bersifat abadi dan akan selalu dipedomani oleh umat manusia sepanjang Nama asli dari agama ini masa. 1988: 4) Kebenaran tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa ditegaskan oleh pernyataan yang terdapat dalam kitab Taittiriya Aranyaka 1.

11 (Loc. 1988: 5). bukan dalam pengertian atau mengarang Veda. pimpinan tertinggi Úaýkara-math yakni perguruan dari garis lurus Úrì Úaýkaràcarya menegaskan : Dengan pengertian bahwa Veda merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam atau non human being) maka para maharsi penerima wahyu disebut Mantradraûþaá (mantra draûþaá iti åûiá). Apakah artinya ketika seorang mengatakan bahwa Columbus menemukan Amerika ? Bukankah Amerika telah ada ribuan tahun sebelum Columbus lahir? Einstein. Bila Veda merupakan karangan manusia maka para maharsi disebut Mantrakarta (karangan/buatan manusia) dan hal ini tidaklah benar.Cit). melainkan terdiri dari beberapa kitab yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Saýhità) yang dikenal dengan Catur Veda . karena merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa. Para mahàrûi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dihubungkan dengan Sùkta (himpunan mantra). Demikian pula para maharsi diakui sebagai penemu atau penerima wahyu tuhan Yang Maha Esa yang memang telah ada sebelumnya dan karena penemuannya itu mereka dikenal sebagai para maharsi agung. merealisasikan kebenaran Veda. Oleh karena kemekaran intuisi yang dilandasi kesucian pribadi mereka. Newton atau Thomas Edison dan para penemu lainnya menemukan hukum-hukum alam yang memang telah ada ketika alam semesta diciptakan. para maharsi mampu menerima mantra Veda. Selanjutnya Úrì Chandrasekarendra Sarasvati. Para maharsi menerima wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam) melalui kemekaran intuisi (kedalaman dan pengalaman rohani)nya. Bagi umat Hindu kebenaran Veda adalah mutlak. Kitab suci Veda bukanlah sebuah buku sebagai halnya kitab suci dari agamaagama yang lain. Untuk itu umat Hindu senantiasa memanjatkan doa pemujaan dan penghormatan kepada para Devatà dan maharsi yang menerima wahyu Veda ketika mulai membaca atau merapalkan mantra-mantra Veda (Chandrasekharendra. Devatà (Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang menurunkan wahyu) dan Chanda (irama/syair dari mantra Veda). Puruûeyaý artinya dari manusia. Mantra-mantra Veda telah ada dan senantiasa ada. karena bersifat AnadiAnanta yakni kekal abadi mengatasi berbagai kurun waktu.(Yàskàcarya) di dalam kitab Nirukta II.

Seorang maharsi Agung. Karakteristik Hindu Dharma Hindu Dharma memperkenalkan kemerdekaan mutlak terhadap pikiran rasional manusia. Hindu Dharma tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir. kemerdekaan dari pemikiran. Úìla (yakni tauladan pada mahàrûi yang termuat dalam berbagai kitab Itihàsa (sejarah) dan Puràóa (sejarah kuno). Kata Úruti berarti sabda tuhan Yang Maha Esa yang didengar oleh para maharsi. dikenal pula hiarki sumber ajaran agama Hindu yang lain yang merupakan sumber hukum Hindu adalah Småti (kitab-kitab Dharmaúàstra atau kitab-kitab hukum Hindu). Àraóyaka dan Upaniûad) yang seluruhnya itu diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa Sanskerta disebut Úruti. Àcàra (tradisi yang hidup pada masa yang lalu yang juga dimuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Àtmanastuûþi. Gurukula atau Saýpradaya. perasaan dan pemikiran manusia. yakni Vyàsa yang disebut Kåûóadvaipàyaóa dibantu oleh para muridnya menghimpun dan mengkompilasikan mantra-mantra Veda yang terpencar pada berbagai Úàkha. yakni kesepakatan bersama berdasarkan pertimbangan yang matang dari para maharsi dan orang-orang bijak yang dewasa ini diwakili oleh majelis tertinggi umat Hindu dan di Indonesia disebut Parisada Hindu Dharma Indonesia. Masing-masing kitab mantra ini memiliki kitab-kitab Bràhmaóa. Yajurveda. Pada mulanya wahyu itu direkam melalui kemampuan mengingat dari para maharsi dan selalu disampaikan secara lisan kepada para murid dan pengikutnya. lama kemudian setelah tulisan (huruf) dikenal selanjutnya mantra-mantra Veda itu dituliskan kembali. Majelis inilah yang berhak mengeluarkan Bhisama (semacam fatwa) bilamana tidak ditemukan sumber atau penjelasannya di dalam sumber-sumber kedudukannya lebih tinggi. disamping kitab suci Veda (Úruti) yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tertinggi.(Ågveda. Aúsrama. Ia memperkenalkan kebebasan yang ajaran Hindu yang . Sàmaveda atau Atharvaveda). Didalam memahami ajaran agama Hindu.

seorang dokter bedah yang pernah praktek di Malaya (kini Malaysia) kemudian meninggalkan profesinya itu menjadi seorang Yogi besar dan rohaniawan agung pendiri Divine Life Society menyatakan : Hindu Dharma sangatlah universal.paling luas dalam masalah keyakinan dan pemujaan. toleran dan luwes. mencari dan memikirkannya. bentuk pemujaan dan tujuan kehidupan ini. oleh karena itu. Inilah gaambaran indah tentang Hindu Dharma. jiwa. Àdikara berarti kebebasaan untuk memilih disiplin atau cara tertentu yang sesuai dengan kemampuan dan kesenangannya. memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu Dharma dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya. I. Karakteristik atau ciri khas lainnya yang merupakan barikade untuk mencegah berbagai pandangan yang memungkinkan tidak menimbulkan pertentangan di dalam Hindu Dharma adalah Àdikara dan Iûþa atau Iûþadevatà (Morgan. Ia memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap kemampuan berpikir dan perasaan manusia dengan memandang pertanyaan-pertanyaan yang mendalam terhadap hakekat Tuhan Yang Maha Esa. Svami Sivananda. menyelidiki. bebas. Tentang kemerdekaan memberikan tafsiran terhadap Hindu Dharma di dalam Mahabharata dapat dijumpai sebuah pernyataan : "Bukanlah seorang maharsi (muni) bila tidak memberikan pendapat terhadap apa yang dipahami" (Radhakrishnan. bermacam-macam bentuk pemujaan atau sadhana. Hindu Dharma adalah suatu agama pembebasan. yang ingin dipuja sesuai dengan kemantapan hati. bermacam-macam ritual serta adat-istiadat yang berbeda. Seorang asing merasa terpesona keheranan apabila mendengar . segala macam keyakinan/Úraddhà. Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan. 1987: 5). Inilah salah satu ciri atau karakteristik dari Hindu Dharma. 1989: 27). penciptaan. sedangkan Iûþa atau Iûþadevatà adalah kebebasan untuk memilih bentuk Tuhan Yang Maha Esa yang dijelaskan daalam kitab suci dan susatra Hindu. Hindu Dharma tidak bersandar pada satu doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu.

SANSKRTA MENYEBAR KE SELURUH UMAT HINDU Bahasa Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. Sen mengatakan bahwa dengan definisi Hinduisme menimbulkan kesulitan lain. Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India. lawan dari bahasa Prakerta. sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu.tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda-beda dalam Hindu Dharma.K. atau bahasa rakyat. demi untuk pertumbuhan dan evolusi mereka (1984: 34). Bahasa yang bisa menandingi 'usia' bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Hitit. karena dalam Hindu dharma tersedia tempat bagi semua tipe pemikiran dari yang tertinggi sampai yang terendah. Maksudnya. Agama Hindu menyerupai sebatang pohon yang tuumbuh perlahan dibandingkan sebuah bangunan yang dibangun oleh arsitek besar padaa saat tertentu (Natih: 1994: 116) 5. Hal ini adalah wajar. Buddhisme. Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. KOTA SUCI HINDU DI BHARATIYA 6. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hindu Dharma. dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. Kata Sansekerta. dalam bahasa Sanskerta Saṃskṛtabhāsa artinya adalah bahasa yang sempurna. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak . Sejalan dengan pernyataan ini Max Muller mengatakan bahwa Hindu Dharma mempunyai banyak kamar untuk setiap keyakinan dan Hindu Dharma merangkum semua keyakinan tersebut dengan toleransi yang sangat luas dan Dr. sehingga menjadi keyakinan yang bermacam-macam pula. tetapi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya merupakan berbagai tipe pemahaman dan tempramen.M. Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal.

Bahasa Sanskerta yang diucapkan masih dipakai pada beberapa lembaga tradisional di India dan bahkan ada beberapa usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Sanskerta. Bahasa ini muncul dalam bentuk praklasik sebagai bahasa Weda. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi-sendi kesusilaan. tata laku. Saat ini bahasa Sansekerta masih tetap dipakai secara luas sebagai sebuah bahasa seremonial pada upacara-upacara Hindu dalam bentuk stotra dan mantra. "Sila" berarti perilaku. drama dan juga teks-teks ilmiah. falsafi. Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". teknis. membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin. indah. oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur. 7. dan agamis. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia seharihari. harmonis. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan .bahasa-bahasa modern di anakbenua India. "Su" berarti baik. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. Khazanah sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang kaya. ETIKA HINDU Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya.

alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran 1. Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci. 2 Tri Kaya Parisudha individu guna Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang kesempurnaan dan kesucian hidupnya

merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap mencapai

3. Panca Yama dan Niyama Brata Lima Kebaikan yang harus dilakukan dan 5 keburukan yang harus dipantang. 4 Tri Mala Tiga sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil- kecilnya. 5. Sad Ripu Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. 6. Catur Asrama Empat tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu, disesuaikan dengan tahapan- tahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban menunaikan dharmanya.

7.

Catur Purusa Artha

Empat dasar tujuan hidup manusia 8. Catur Warna

Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang. 9. Catur Guru

Empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu. 10. PANCA SRADHA Sradha berarti "yakin", "percaya", yang melandasi umat Hindu dalam meyakini keberadaan-Nya. Umat Hindu mendasari keyakinannya berjumlah lima, yang disebut dengan panca Sradha. Panca Sradha meliputi:
• • •

Brahman — Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan Atman — Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman Karmaphala — Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). Samsara — Keyakinan pada kelahiran kembali

Moksha — Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman 11. APLIKASI PANCA MAHA YAJNA Panca Yadnya adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari: 1. DewaYadnya. Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa

dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lainlain. 2. PitraYadnya. lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: a. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. b. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha. c. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. 3. Manusa manusia. Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah: Yadnya.

Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup

Pinandita.a. ResiYadnya. memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama). Mentaati.kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. . b. dan mengembangkan ajaran agama.orang suci. dan lain. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat. Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi.tempat pemujaan untuk Sulinggih. c. membina. 4. orang. dan mengamalkan ajaran. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: a. e. Membangun tempat. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton).ajaran para Sulinggih. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana. menghayati. Resi. b. Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan.saat tertentu kepada Sulinggih. kesehatan. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari). d. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur.lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. d. c.

FILSAFAT SIWA SIDANTA. BhutaYadnya.makhluk rendahan. Bedanya hanya penekanannya saja. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. 13. tumbuh. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta. yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur. SAKTA.5. tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa. hewan (binatang). 12. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-patra.tumbuhan. Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. WAISNAWA DAN PASUPATA Agama Hindu sekte Siwa Siddhanta seperti yang dianut oleh umat Hindu di Bali pada umumnya memiliki tujuan yang sama dengan Hindu Siwa Pasupata itu. DESA KALA PATRA desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. berkembang dan hidup yang wajar. sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan. tidak terkekang oleh dogma-dogma yang salah atau kedaluwarsa. Kata Siwa Siddhanta berarti sukses . baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala).unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya. kami hanya ingin tumbuh. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri.

Di Pura Goa Gajah. Demikian juga halnya dengan peninggalan keagamaan Buddha Mahayana di Pura Goa Gajah yang jauh lebih awal berada di Bali. perbedaan itu akan selalu ada sepanjang masa. Tentunya akan sangat janggal kalau pada zaman sekarang ada misalnya umat yang bersifat negatif pada orang lain yang berbeda sistem penekanan beragamanya. kedua cara itu dapat hidup berkelanjutan dan umat tidak dipaksa harus ikut ini atau itu. Sikap keagamaan umat Hindu yang dicerminkan oleh umat Hindu di masa lampau di Pura Goa Gajah dan sesungguhnya pada peninggalan Hindu kuno yang lainnya di Indonesia. Karena perbedaan itu merupakan suatu kenyataan yang universal. Munculnya Sidharta Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas . Menyikapi perbedaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu dan nilai-nilai universal yang dianut oleh dunia dewasa ini.mencapai Siwa yang terakhir atau tertinggi. Artinya. Jadinya dalam satu sekte saja agama Hindu memberikan kebebasan pada umatnya untuk memilihnya. Mereka menyadari substansi ajaran agama Hindu yang mereka anut sama yaitu berdasarkan Weda. Ini artinya penganut Siwa Siddhanta tidak menganggap penganut Siwa Pasupata sebagai penganut sesat. Demikian juga sebaliknya yang menganut Siwa Pasupata tidak menganggap penganut Siwa Siddanta sebagai orang lain. Ini artinya umat Hindu pada zaman dahulu itu benar-benar menghormati privasi beragama sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi. Umat dipersilakan secara mandiri untuk memilihnya atau memadukan semua cara tersebut. di mana pun dan kapan pun. Akan menjadi sesuatu yang tidak produktif kalau ada yang memaksakan agar mereka yang berbeda ditekan dengan cara-cara pendekatan kekuasaan. Umat Hindu di masa lampau terutama para pemimpinnya benar-benar sudah memiliki jiwa besar dalam mengelola perbedaan.

Sila berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani.dan Carwakas. Inilah inti wacana Sidharta Gautama dalam menyelamatan umat dari perbedaan yang dipertentangkan itu. Ada yang sampai membakar kemaluannya agar nafsu seksnya hilang. Dengan nafsu itu terus dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Setelah seratus tahun Sidharta mencapai Nirwana barulah wacana sucinya itu dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka. Lidah dibuat sampai tidak berfungsi. Kedua aliran itu membuat umat menderita. Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan nafsu tersebut. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indahindah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang terik. Dalam berbuat baik hendaknya bersikap konsisten dengan konsentrasi yang prima. Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Suara hati nurani adalah suara Atman. Itulah Samadhi. Teknis berbuat baik itu didasarkan pada Prajnya artinya ilmu pengetahuan. Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang tidak langgeng ini. Atman adalah bagian dari Brahman. Jadinya keberadaan agama Buddha di Pura Goa Gajah substansinya tidaklah berbeda apalagi berlawanan dengan ajaran Hindu Siwa Pasupata maupun Siwa Siddhanta. Ajarannya adalah Sila Prajnya dan Samadhi. Tiga corak keagamaan yang ada di Pura Goa Gajah itu memang berbeda tetapi perbedaan itu terletak pada cara atau metodenya saja. Dalam keadaan seperti itulah muncul Sidharta Gautama yang telah mencapai alam Buddha memberikan pentunjuk praktis beragama. Substansi ketiga corak keagamaan Hindu dan Buddha yang ada di Pura Goa Gajah itu . Sebaliknya aliran Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan fungsi alat-alatnya.

makadi. Waisnawa merupakan aliran dalam Hindu. . Hari Purnama. sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Waisnawa merupakan keyakinan dan ajaran yang juga memiliki pelaksanaan kewajiban bagi penganutnya (dalam Hindu disebut dengan Bakti Yoga). PURNAMA DAN TILEM Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu. Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan: 'Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda. Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra. Sanghyang Surya Candra. Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). Isha Upanishad. Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala).sama-sama menuntun umat manusia untuk mencapai hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan mencapai alam ketuhanan di dunia niskala. dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya. Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali. jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga. ngaturang wangiwangi. yang mana kesemua ajaran tersebut didasarkan pada Veda dan susastra Purana seperti Bhagavad Gita. atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika. canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar. yang dalam proses pemujaannya lebih menitik beratkan pada pemujaan Wisnu (beserta awataranya) sebagai dewa tertinggi. serta Wisnu Purana dan Bhagavata Purana. sesuai dengan namanya. 14.

Pada hari Purnama. terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi. namun dewasa ini orang bekerja hanyalah untuk memenuhi kebutuhan materi. Pekerjaan akan juga mulia bila dilakukan disertai tanda bakti daripada yang mengangkat orang pada penyucian dan kesempurnaan pikiran dan jiwanya. disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrah-Nya. Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan. 19) Kerja yang dilakukan orang tanpa mengharapkan pahala bagi kepentingan diri pribadi adalah mulia. Kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran. Materi itu perlu dan harus diusahakan untuk memilikinya asalkan dengan jalan yang benar dan ditujukan untuk memperkokoh dharma. bertepatan dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem. CATUR MARGA Dari itu laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa harap keuntungan sebab kerja tanpa keuntungan pribadi Membawa orang kekebahagiaan (Bhagavadgita III. Pada hari suci demikian itu. matirtha gocara puspa wangi"Ada sejak hari-hari dulu sama utama nilai penyelenggaraan upacara persembahyangan keutamaanya yaitu hari Purnama dan Tilem. Karena itu. Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan lahir batin. . Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dan kegiatan kerja. 15. umat juga hendaknya melakukan pembersihan badan dengan air.Parhyangan. bertepatan dengan Sanghyang Surya beyoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi. perkataan dan perbuatan yang bersih pula. sudah seyogyanya kita para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi.

Pada dasarnya agama telah memberikan patokanpatokan terhadap perbuatan baik atau buruk. orang lebih memikirkan hasil daripada pekejaannya. Lagi-lagi agama menanggung beban tanggung jawab untuk memperbaiki moral manusia yang bobrok tersebut. . Mereka tanpa merasa bersalah untuk berbuat dosa. Dalam ajaran Hindu bekerja merupakan salah satu jalan untuk mencapai Tuhan yang biasa dikenal dengan Karma Yoga. sehingga tak ada yang ditakuti. sebagai pedoman hidup. 2) Bhakti Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan Bakti. menjual narkoba atau juga korupsi. Apabila kerja merupakan salah satu cara menghubungkan diri dengan Tuhan tentunya tujuan dan kerja itu adalah suci. Seperti apa yang terjadi saat ini.Dalam agama Hindu ada dua pemikiran yaitu untuk kesejahteraan rohani dan jasmani makhluk (“Bhukti & mukti”). Namun karena pengaruh ahamkara (ego) manusia lupa diri dan menjadi serakah. Mereka tidak lagi menghiraukan apakah pekerjaannya merugikan orang lain atau tidak. Karma Yoga merupakan bagian dan Catur Yoga (empat cara menghubungkan diri dengan Tuhan) terdiri dari : 1) Karma Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan kerja. Namun ego (ahamkara) manusia telah menutup nurani kita untuk berbuat jujur. berbuat sesuai kaidah-kaidah agama. yang mereka pikirkan hanyalah masalah keduniawian. sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Maksudnya harta yang diusahakan ditujukan bagi kesejahteraan umum disamping untuk kepentingan diri sendiri. 3) Jnana Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan kerohanian dan 4) Raja Yoga cara menghubungkan diri dengan jalan penghayatan spiritual. Sehingga mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan mencuri. benar atau salah. yang penting mereka bisa hidup mewah. merampok. namun harus diusahakan dan ditujukan untuk dharma. Kesejahteraan jasmani sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup.

tindakan yang dilakukan seseorang tidak dapat dihancurkan sebelum tindakan itu mengeluarkari buahnya. Bila kita berbuat sesuatu perbuatan jahat. Guna sebagai batas kebehasan manusia yang diperoleh dari kelahiran dan lingkungan yang mempunyai kekuatan membelenggu. Bekeija secara terorganisir akan membuat pekerjaan beijalan lancar karena sebelumnya telah membuat perencanaan. Bila manusia dapat menguasai kekuatan guna tersebut maka mereka dapat bekerja giat tanpa memikirkan hasil. Karma Yoga mengajarkan rahasia dan pekerjaan. sudah memperhitungkan hambatan-hambatan yang akan dihadapinya. Mereka terlalu berharap dan kerjanya sehingga ketika bekerja mereka berpikir tentang apa yang akan mereka perbuat dengan hasil keijanya. Karma Yoga sebenarnya merupakan suatu ilmu pengetaliuan mengenai rahasia pekerjaan. Dengan memahami cara kcrja manusia dapat lebih mudah menyelesaikan pekeijaannya dan akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Menurut Karma Yoga. Begitulah . (Swami Vivekananda). Dengan demikian kita hanya akan berpikir kuantitas bukan kualitas. 29) Sloka 29 menjelaskan mereka yang terikat guna akan tertipu karena harapan yang berlebihan terhadap kerjanya. bukankah dengan hasil yang banyak uLaka imbalannya pun banyak.ikan tindakan itu mengeluarkan buahnya. itulah idealnya karma yoga. tak ada kekuatan alam yang dapat menghent. tak ada kekuatan alam yang dapat menghentikan tindakan itu hingga tidak menibawa akibat. cara bekenja. maka kita harus menderita karenanya. Sama juga bila kita berbuat hal-hal baik. daya organisasi dan kerja. maka tak ada kekuatan dalam alam yang akan menghentikan keluarnya buah kebaikan.Karena pengaruh ahamkara tadi maka tujuan kerja pun menjadi bersifat duniawi. tak ada yang dapat menghalangi atau menahannya. Tentunya untuk dapat menguasai guna tersebut didapat dari pengalaman kerja sehingga kita menemukan rahasia kerja. Sesuatu sebab membawa akibat. Mereka tertipu sifat guna Terikat pada keinginan yang dihasilkan olehnya Tetapi yang mengerti jangan sampai menyesatkan Mereka yang pengetahuannya tiada sempurna (Bhagavadgita III.

manusia yang telab memahami rahasia pekenjaan, susah senang akan dihadapi dengan tenang. Tentunya hal tersebut dicapai apabila kita telah mampu melepaskan din dan belenggu guna. Kita harus bekerja, tidak boleh tidak, namun harus dengan tujuan tertinggi. Bekeijalah tanpa berhenti, tapi lepaskan segala pengikatan diri pada pekerjaan. Artinya jangan kita mempersamakan diri dengan sesuatu, sehingga kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam bekerja pun tak akan kita rasakan. Kita harus menghancurkan sifat keakuan, mampu mengekang diri agar tidak tenjerumus dalam pikiran keakuan. Dengan demikian kita bisa bekerja sebanyak yang dapat kita lakukan, dapat bergaul dengan siapa saja tanpa tertular sifat jahat. Tunjukkan semua kerjamu kepada-Ku. Dengan pikiranmu terpusat pada atman Bebas dari nafsu keinginan dan ke-aku-an. Enyahkan rasa gentar dan, bertempurlah! (Bhagavadgita III.30). Tujukan pekerjaan kita untuk Tuhan, karenanya kita akan bekerja tanpa terikat akan hasil. Apa yang dirasa, dilihat, didengar dan dibuat adalah untuk Tuhan. Dengan demikian kita akan bekerja bukan untuk kepentingan diri sendiri. Dengan tanpa memikirkan hasil pekerjaan kita akan berdaya guna, sebagai ilustrasi dapat saya contohkan seorang pelukis yang bekerja hanya untuk menghasilkan lukisan yang indah, dia tidak akan memikirkan apakah dikerjakan berbulan-bulan, memakan bahan yang mahal, tapi yang dia pikirkan adalah melukis untuk membuat karya seni. Dan tentunya orang-orang mengerti akan hal seni tersebut akan memberikan harga yang mahal untuk sebuah karya seni tersebut, tetapi si seniman pun tidak akan gusar apabila hasil lukisannya tidak ada yang membeli. Kita sebagai manusia tidak dapat lepas dari kegiatan kerja, namun untuk mencapai tujuan tertinggi kita harus mampu mengendalikan ke-aku-an. Sesuatu yang bersifat ke-aku-an adalah menyalahi kesusilaan (immoril) dan sesuatu yang bersifat tidak ke-aku-an adalah bersusila (moral) [Swami Vivekananda]. Bekerjalah untuk mencapai

hasil sebaik-baiknya dengan memperhatikan moral. Bersabarlah karena bekerja dengan tekun maka hasilpun akan mengikuti, tak perlu mencari jalan pintas yang hanya akan menyebabkan penderitaan.ºWHD No. 510 Juni 2009. 16. AJARAN BHAKTI DAN PARA BHAKTI Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang Widhi) yaitu: Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Yoga (Raja) Marga. BHAKTI MARGA. Bhakti artinya cinta kasih. Kata bhakti digunakan untuk menunjukkan cinta kasih kepada subyek yang lebih tinggi statusnya, atau lebih luas lingkupnya misalnya: orang tua, negara, bangsa, Tuhan (Hyang Widhi). Kata cinta kasih digunakan untuk sesama misalnya tunangan, istri/ suami, umat sedharma, umat manusia. Orang yang ber-bhakti kepada Hyang Widhi disebut Bhakta. Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu PARA-BHAKTI dan APARA-BHAKTI. Para artinya utama; jadi para-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara-bhakti artinya tidak utama; jadi apara-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama. Apara-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja. Para-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi. Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara-bhakti antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol (niyasa). Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para-bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan kuat/ berdisiplin

dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakta yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri). Pilihan menggunakan para atau apara bhakti tergantung dari tingkat inteligensi dan kesadaran rohani masing-masing. Yang ditemukan di masyarakat Hindu Indonesia dewasa ini adalah mix para dan apara-bhakti, namun bobotnya berbeda. Umat Hindu di Bali banyak menggunakan aparabhakti, sedangkan umat Hindu di luar Bali banyak menggunakan para-bhakti. Kenapa demikian? Apakah itu berarti umat Hindu di Bali inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang? Tidak selalu demikian. Ada umat Hindu di Bali yang inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi tetapi dibelenggu oleh tradisi beragama yang monoton dan feodalistis, sehingga menampakkan diri sebagai apara-bhakti. Sebaliknya umat Hindu diluar Bali lebih moderat, demokrat, rasional dan reformis, sehingga memudahkan mereka mencapai para-bhakti. Mengupayakan umat Hindu di Bali menjadi sebagian besar para bhakta tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena bottle-neck yang menghadang ya itu tadi: tradisi beragama dan feodalisme. Itulah sedikit ulasan kasus tentang para dan apara-bhakti. Sekarang kita teruskan tentang BHAKTI MARGA Bhakti marga sering disebut sebagai jalan menuju Hyang Widhi yang paling mudah karena dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Mungkin pendapat ini benar jika yang dimaksud adalah apara-bhakti. Jika yang dimaksud adalah para-bhakti, justru bhakti marga yang paling sulit dilaksanakan karena para bhakta harus benarbenar mempunyai kesadaran rohani yang tinggi. Untuk mencapai kesadaran rohani yang tinggi setidak-tidaknya sudah menempuh Karma-Jnana dan YogaMarga dengan baik.

membebaskan diri dari kebathilan dan rasa berbuat kebaikan.17: Yo na hrishyati na dveshti. Na sochati na kankshati. benci. Itulah hal-hal yang menjauhkan rasa kasih sayang kepada semua mahluk ciptaan-Nya. Maka mereka yang para-bhakti sering ber-dana punia. tulus dan welas asih dengan melepaskan ikatan dan keinginan akan pahalanya. beryoga. bermeditasi. Juga jangan membenci karena kebencian menimbulkan amarah dan irihati atau sebaliknya. Bhaktiman ya same priyah. penuh dengan kebaktian. Bhagawadgita XII. Tesham aham samuddharta. bhavani nachirat partha. tiada berduka dan bernafsu apa. Bhagawadgita XII. Pengampunan akan diberikan oleh Hyang Widhi kepada para Bhakta.7: Ye tu sarvanni karmani. mam dhyayanta upasale. Bila kita cinta dan kasih kepada Hyang Widhi berarti juga kita harus cinta dan kasih kepada semua ciptaan-Nya.Seorang bhakta mempunyai keinginan-keinginan yang kuat yaitu: 1) Ingin dan rindu selalu dekat bahkan bertemu dengan Hyang Widhi sehingga ia rajin bersembahyang. mayi samnyasya matparah. menolong sesama tanpa menghitung untung-rugi. Bebaskanlah dari kebathilan. amarah.6. dan bebaskanlah dari rasa berbuat kebaikan karena itu sudah kewajiban seorang bhakta. Maksud dari sloka itu adalah: jika benar-benar kita bhakti kepada Hyang Widhi. janganlah terpengaruh oleh kesenangan karena ketakutan itu timbul bilamana kesenangan terancam. mrtyu samsara sagarat. Bhakti kepada Hyang Widhi melenyapkan rasa takut. sedangkan mereka yang apara-bhakti banyak melaksanakan upacara panca yadnya. dan iri hati. Seorang bhakta juga tidak boleh berduka dan kecewa jika ia yakin bahwa apapun yang kita alami di dunia ini semata-mata adalah atas kehendak-Nya. dialah yang Ku-kasihi. 2) Ingin berkorban yang didasari oleh rasa ikhlas. Artinya: Dia yang tiada bersenang dan membenci. Artinya: Tetapi sesunguhnya mereka yang menumpahkan segala kegiatan . marah. karena itu bertentangan dengan hakekat bhakti. mayi avesita chetasam. anayenai va yogena. iri hati dan nafsu yang tidak tercapai bisa menimbulkan kebencian.

Itihāsa yang terkenal ada dua. yang pikiran mereka tertuju kepada-Ku. 17. Mahābhārata berarti cerita keluarga besar Bharata. mitologi. Kitab Mahābhārata disusun oleh Rsi Vyāsa . dan makhluk supernatural. Kitab Ramayana disusun oleh Rsi Walmiki Kitab Mahābhārata merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Setiap Kanda merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Kanda yang lain. Kitab Itihāsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau. yaitu Ramayana dan Mahābhārata. dengan segera dan langsung Aku bebaskan mereka ini dari lautan sengsara hidup lahir dan mati (artinya mencapai MOKSA). Kitab Mahābhārata berisi lebih dari 100. Pada zaman kerajaan di Indonesia. kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuna dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal.000 sloka.hidup mereka kepada-Ku. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara. Kitab Ramayana terdiri dari 24. setiap Parwa merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Parwa yang lain. seperti misalnya Rsi Walmiki dan Rsi Vyāsa.000 sloka dan memiliki tujuh bagian yang disebut Sapta Kanda. ITHIASA MAHABARATA DAN RAMAYANA Itihāsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisahkisah epik/kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu di masa lampau dan dibumbui oleh filsafat agama. Cerita dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin. Kitab Ramayana merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. memikirkan bermeditasi hanya kepada-Ku dengan kebaktian yang terpusatkan. Kitab Mahābhārata memiliki delapan belas bagian yang disebut Astadasaparwa. Itihāsa berarti “kejadian yang nyata”. Selayaknya Ramayana.

mereka bukanlah tandinganya. MITOLOGI GARUDA Garuda Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. Untuk menghapus hutang tersebut. Vinata memiliki hutang terhadap Kadru. Sejak saat itu Garuda menjadi rekan para dewa. Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan. Meskipun para dewa bersatu menghadang Garuda.<) sehingga para dewa memohon padanya untuk tenang. Garuda adalah anak Kasyapa dan Vinata. bumi gonjang ganjing (seperti waktu sun go kong lahir di film >. Dalam perjalanan pulang. Menurut Mahabarata. Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. dan menghabisi para ular. Bhagawan Kacyapa memberikan seribu butir telur pada Sang Kadru dan dua butir telur pada Sang Winata. Sang Kadru meminta 1000 anak sedangkan Sang Winata meminta dua anak. Setelah telur . setelah Amrita diberikan. ibu para ular karena suatu pertaruhan. Garuda bertemu dengan Vishnu. Indra turun dari langit. Garuda diminta Kadru untuk memberikan obat keabadian yg disebut Amrita padanya. sebagai gantinya Garuda menjadi kendaraan Vishnu.18. tunggangan kebanggan Vishnu. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan Vishnu. Vishnu berjanji akan memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk menghapus hutang ibunya. Kemudian Garuda bertemu dengan Indra dan sekali lagi dia mendapat penawaran. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari. merebut Amrita. Ceritra ringkasnya adalah sebagai berikut : Bhagawan Kacyapa mempunyai dua orang istri yaitu Sang Kadru dan Sang Winata. Garuda ini ada hubungannya dengan ceritra Sang Garuda yang terdapat di dalam Adi Parva. Bhagawan Kacyapa menawarkan kepada kedua istri beliau berapa jumlah anak yang ingin mereka miliki. sekaligus menjadi musuh utama para ular. dan memiliki mahkota di kepalanya. Garuda berjanji akan memberikan Amrita pada Indra dan Indra akan memberikan para ular sebagai makanan Garuda. konon saat Garuda lahir dari telurnya.

Maka para ular itu pun memenuhi permintaan ibunya lalu semuanya menuju ke tempat kuda itu berada. Suatu ketika Sang Kadru bertemu dengan Sang Winata membicarakan tentang rupa dari kuda Ucchaisrawa yang keluar pada waktu lautan air susu diaduk oleh para Dewa Raksasa. “Kalau demikian anakku berbuatlah sesuatu agar ibu tidak kalah sehingga menjadi budak Sang Winata. akhirnya mereka bertaruhan. Mereka semua lalu menyemburkan bisa (wisa)-nya ke tubuh si kuda sehingga warna bulu kuda itu menjadi berubah dari putih menjadi hitam karena pengaruh dari bisa ular itu. Setelah itu Sang Kadru lalu pulang dengan mengabarkan hal ikhwal taruhan itu kepada anak-anaknya. jawab Sang Winata. karena kuda itu betul-betul putih mulus” kata ular-ular itu. Melihat Sang Kadru sudah melahirkan anak-anaknya maka Sang Winata ingin cepat juga punya anak. maka kalahlah Sang Winata. Besok harinya ketika Sang Winata dan Sang Kadru datang. hingga ada keinginannya untuk menanyakan. pergi ke sana ke mari sekehendaknya”. Sang Kadru menebak warna kuda itu hitam dan Sang Winata menebak putih. apa pekerjaan ibu ?” tanya Sang Garuda. Besok ibu akan datang bersama Sang Winata ke tempat kuda itu untuk menyaksikan kebenaran kuda itu”. siapa pun yang kalah akan menjadi budak dari yang menang. mereka menyaksikan warna kuda Ucchaisrawa itu betulbetul hitam. “Mengapa ibu menjadi budaknya ?” tanya Sang Garuda.Sang Kadru menetas maka lahirlah seribu ekor ular. saban hari kerja ibu adalah menggembalakan ular-ular yang nakal. Setelah beberapa lama kemudian Sang Garuda pun heran melihat ibunya pergi pagi pulang sore. Sejak saat itu Sang Winata menjadi budak Sang Kadru menjaga dan mengantarkan ular-ular itu mencari makanan setiap hari dan sore hari baru pulang. . “lbu mengapa ibu pergi pagi pulang sore. maka dengan tidak sabar dipecahkanlah sebutir dari telurnya maka lahirlah Aruna seekor burung yang belum sempurna bentuk tubuhnya karena belum punya kaki. Sementara itu Sang Garuda pun lahir dengan tubuh sempurna. “Ibu jadi budak para naga. Masing-masing kukuh mempertahankan pendirianya. “Wah ibu pasti kalah.

kalau tidak demikian tirtha merta tidak akan sidhi atau bermanfaat”. karena tidak ada yang menyebabkan mereka bisa mati kalau sudah minum tirtha Amerta.“Karena ibu kalah taruhan dengan Sang Kadru mengenai warna kuda Ucchaisrawa”. takut tidak kebagian sehingga tirtha itu begitu saja ditinggal di tengah rumput alang-alang. Para naga setelah menerimanya semua saling dahulu mendahului pergi mandi menyucikan diri. Sang Garuda pergi ke sorga untuk mencari tirtha Amerta itu. Akhirnya para Dewa lalu mohon bantuan kepada Bhatara Visnu. Dengan demikian para naga beranggapan tidak perlu lagi ada penjaga seperti Sang Garuda. “Kalau demikian biarlah saya saja menggantikan ibu menggembalakan ular” demikian permintaan Sang Garuda yang kemudian diluluskan oleh Ibunya. Setelah lama berpikir para Nagapun sepakat akan membebaskan Sang Garuda dari perbudakan kalau bisa mencarikan tirtha amerta untuk mereka. Konon barang siapa yang dapat minum amerta itu akan bisa bebas dari kematian. Sang Garuda segera menyerahkan tirtha Amerta itu kepada para naga dengan segala persyaratannya. Dewata Nawa Sanga dikalahkan semua. Ia pun lalu menanyakan kepada naga apakah ada cara sebagai pengganti atau menembus dirinya. Akhirnya Bhatara Wisnu menanyakan mengapa Sang Visnu memerangi para Dewa dan untuk apa dia mencari Amerta. akhirnya dia menjadi bosan. Perangpun berlangsung lama. Sang Garuda menyetujui dan tirtha amerta pun diserahkan oleh Dewa Visnu dengan syarat “barang siapa yang akan meminumnya hendaknya bersuci-suci lebih dahulu. agar dia bisa bebas dari perbudakan. Lamalah sudah Sang Garuda menjadi budak dari para naga. kata Sang Winata. Untuk itu dia berhadapan dengan para Dewa yang menjaga Amerta itu. Mengetahui bahwa tirtha itu ditinggalkan begitu saja oleh para naga maka Bhatara Visnu pun . Perang pun terjadi antara Dewa Visnu dengan Sang Garuda. Setelah Sang Garuda menjelaskan tujuannya mencari Amerta adalah untuk membebaskan dirinya dan ibunya dari perbudakan para naga maka Bhatara Visnu berkenan memberikan tirtha Amerta itu asal saja Sang Garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Visnu.

mereka mencapai moksa. minum dan udara bersih (simbul 3 naga di atas). Gambar Garuda itu terdapa pada bagian belakang “wadah” . air dan udara. Disebabkan tajamnya daun alang-alang itu maka lidah ular naga itupun terbelah. demikian pula mengapa lidah ular menjadi bercabang. Di muka telah dijelaskan bahwa inti bumi atau magma api itu dibungkus oleh tanah. Gambar-gambar yang terdapat pada Bade atau wadah yang digunakan sebagai kendaraan dari orang yang meninggal. pada waktu mayat itu dibawa dari rumah kesetra. Kami beranggapan bahwa Sang Garuda itu tidak lain dari simbul manusia yang mencari pembebasan dari perbudakan benda-benda duniawi. Siapa yang tidak bisa mati ? Hanya Tuhan ! Barang siapa yang telah bisa mencapai Tuhan mereka tidak lagi terikat oleh kemelekatan benda-benda dunia ini. Hal yang menguatkan lagi bahwa gambar Garuda merupakan simbul pembebasan dari perbudakan oleh benda-benda duniawi ialah : penggunaan patung Garuda di “Bale Gede” yaitu bangunan yang biasanya diperuntukkan untuk menempatkan mayat sebelum dibawa ke setra. Pekerjaan yang tidak pernah selesai ini menjadikan manusia berpikir apakah hidup ini hanya untuk makan minum dan mendapatkan udara bersih ? Apakah manusia bisa membebaskan diri dari perbudakan benda ini. Basuki stava dan Taksaka stava. Dengan penuh kecewa para naga hanya dapat menjilati sisa-sisa bekas tirtha yang ada di daun alang-alang itu. Bale Gede umumnya terdapat pada rumah keluarga-keluarganya yang mampu di Bali.mengambil tirtha itu kembali dibawa ke sorga. Kenyataannya saban hari dari pagi sampai sore manusia disibukkan untuk mendapatkan makan. Marilah kita simak arti dan simbul dari ceritra Sang Garuda ini dihubungkan dengan lontar Cri Purvana Tattva dan Stava yaitu Ananta bhoga stava. Jawabannya adalah tirtha Amerta. moksa itu adalah kebebasan. Ketiga jenis zat ini disimbulkan dengan naga (ular). mereka bebas dari perbudakan benda. Apa yang dimaksud dengan Amerta itu ? Amerta artinya tidak mati-mati atau keabadian. Itulah asal mula ceritra mengapa alang-alang menjadi daun yang dianggap suci karena terkena bekas tirtha amerta.

Tujuannya tentu erat hubungannya dengan semacam petunjuk atau perhatian kepada manusia baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal bahwa bila akan mencari Ida Sang Hyang Widhi hendaknya berbuat seperti Sang Garuda yaitu membebaskan diri dari perbudakan naga atau benda-benda dunia. Dalam ajaran filsafat hindu. Sad Darśana berarti Enam pandangan tentang kebenaran. yang juga disebut amoring acintya. Di atas gambar Garuda yang kita lihat di belakang Padmasana itu. kepala angsa menggambarkan windu dan mulut atau cocor angsa menggambarkan nada. Menurut lontar “Indik tetandingan” wujud angsa dengan sayap mengepak itu adalah simbul dari ardha candra windhu dan nada. 19. Kedua sayap yang mengepak menggambarkan ardha candra. menjadi kata darśana yang berarti "penglihatan" atau "pandangan". Itulah mungkin sebabnya mengapa di Bale Gede maupun di belakang wadah dilukiskan Garuda. FILSAFAT SAD DARSANA Sad Darśana. Wujud angsa yang dilukiskan baik di belakang Padmasana maupun wadah itu selalu berwujud angsa dengan sayapnya yang mengepak-ngepak. Maka kesimpulannya. yang mana merupakan dasar dari Filsafat Hindu. dan gambar angsa adalah simbul manusia yang ingin kembali kepada Ida Sang Hyang Widhi.atau “bale” itu. agar roh orang yang meningggal selalu teringat dengan ceritra sang Garuda yang mengandung simbul kebebasan. Sumber yang lain kita jumpai di dalam Upanisad yang menyebutkan “Atma yang ingin bersatu dengan Brahman itu seperti burung angsa yang mengepakngepakan sayapnya”. Kata Darsana berasal dari akar kata drś yang bermakna "melihat". biasanya kita menjumpai ada hiasan berbentuk angsa. lukisan Garuda adalah simbul manusia yang mencari kebebasan melalui pelepasan terhadap ikatan duniawi. . Darśana berarti pandangan tentang kebenaran.

Saat ini ajaran Samkhya yang murni sudah tidak eksis lagi. yaitu purusa dan prakrti. tapi ajaran ini banyak membawa pengaruh pada ajaran Yoga dan Wedanta. Disebut dualistis karena terdapat dua realitas yang saling bertentangan tetapi bisa berpadu. dibuktikan dengan termuatanya ajaran Saṁkhya dalam sastra-sastra Śruti. yogin bagi praktisi pria dan yogini bagi praktisi wanita. oleh tubuh dan meditasi.1. Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktivitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari Hatta Yoga. Kemudian Maharsi Kapila. juga disebut dengan Sankhya adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. . Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif.[1] [2] Orang yang melakukan tapa yoga disebut yogi. Kata Saṁkhya berarti: pemantulan. yaitu pemantulan filsafati. yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu. itihasa dan purana. seperti yang disebutkan dalam Bhagavatapurana[1]. biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan. yang bermakna "penyatuan dengan alam" atau "penyatuan dengan Sang Pencipta". membangun ajaran Samkhya yang bersifat theistik. Karya sastra mengenai Saṁkhya yang kini dapat diwarisi adalah Saṁkhyakarika yang di tulis oleh Īśvarakṛṣṇa sekitar 200 SM. Ajaran Saṁkhya ini sudah sangat tua umurnya. putra Devaguti. Ajaran Saṁkhya bersifat realistis karena didalamnya mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh. Samkhya adalah ajaran filsafat tertua dalam filsafat India. Samkhya. 2. Para ahli meyakini bahwa ajaran ini berakar dari nilai-nilai positif atheis. smrti. Yoga berarti "penyatuan". yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun.

Kata Nyaya berarti penelitian analitis dan kritis. Meskipun sebagai sistem filsafat pada awalnya berdiri sendiri. Ajaran Wedanta sering juga disebut dengan Uttara Mimamsa. yaitu "penyelidikan yang . disebut juga dengan nama lain Purwa Mimamsa. 5. juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Ajaran ini berdasarka pada ilmu logika. yang isinya adalah aturan tata upacara menurut Veda. Kitab ini terdiri atas 12 Adhyaya (bab) yang terbagi kedalam 60 pada atau bagian. Mimamsa secara khusus melakukan pengkajian pada bagian Veda: Brahmana dan Kalpasutra. yang menyusun Nyayasutra. Raja Yoga/Marga. kronologis dan analitis. Yogasutra. 4. Mimamsa juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. diantaranya adalah Karma Yoga/Marga. yang menyusun Vaisesikasutra. Bakti Yoga/Marga. Ajaran Nyaya didirikan oleh Maharsi Aksapada Gotama. 3. Nyaya (Logic). Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya. Kata Mimamsa berarti penyelidikan. Klasifikasi ajaran Yoga tertuang dalam Bhagavad Gita. Bhagavad Gita. Jnana Yoga/Marga. Penyelidikan sistematis terhadap Veda. diantaranya adalah Upaishad.Vaisesika juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. terdiri atas 5 adhyaya (bab) yang dibagi atas 5 pada (bagian). 6.Wedanta Védānta) adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu.Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga. sistematis. Ajaran Vaisiseka dipelopori oleh Maharsi Kanada. namun dalam perkembangannya ajaran ini menjadi satu dengan Nyaya. Ajaran Mimamsa didirikan oleh Maharsi Jaimini. Sumber ajaran ini tertuang dalam Jaiminiyasutra.

berfilsafat dengan keluasan kedalamannya. Permukaan laut begitu indah. atau dikenal juga dengan nama Badarayana atau Krishna Dwaipayana. jauh lebih indah lagi. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. Hati yang demikian ini. dengan kedinamisan gelombangnya. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji. Sumber ajaran ini adalah kitab Wedantasutra atau dikenal juga dengan nama Brahmasutra. Pelopor ajaran ini adalah Maharesi Byasa. tidak teracuni. segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. Permukaan laut begitu indah. nyiur melambai. PARWATA. GIRI. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. Bisakah hati kita seluas dan sedalam . Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. yaitu kitab Upanisad. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. karena ajaran ini mengkaji salah satu bagian kitab Weda. namun lautan tak pernah menolaknya. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. dilanda jutaan kubik kata-kata. FILOSOFI SAMUDRA. Kata Wedanta berakar kata dari wedasya dan antah yang berarti "akhir dari Weda". NADI DAN WANA Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. 20. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam samudera.kedua". tetap tidak bergeming. warna-warni awan. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera.

bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada.samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. berfilsafat dengan keluasan kedalamannya.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam . Permukaan laut begitu indah. Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. tak pernah diam. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. Seumpama samudera. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. di dasar samudera ada tiram. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. nyiur melambai. Permukaan laut begitu indah. dengan kedinamisan gelombangnya. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. melantunkan salam padamu. warna-warni awan. namun lautan tak pernah menolaknya. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. akan selalu menyapamu. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. Ibarat samudera. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. jauh lebih indah lagi.

Bagi seorang sadhaka. Siwasutra. maka gunung-gunung yang lain menempati posisi dik-widik. Hati yang demikian ini. Karena gunung yang tertinggi (Mahameru.samudera. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. tempat Hyang Siwa menurunkan ajaran-ajaranNya yang kemudian dicatat dalam berbagai Yamala. Kitab-kitab yang mengajarkan ajaran yoga. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. gunung-gunung dipandang sebagai satu kesatuan sehingga muncul konsepsi panca-giri. dilanda jutaan kubik kata-kata. tetap tidak bergeming. parwata) memberikan kerahayuan (amreta) kepada manusia yang hidup di kaki dan datarannya. Dunia atau wilayah yang . Damara. tak pernah diam. pertama-tama menguraikan tentang Gunung Mahameru sebagai tempat Sthana Hyang Siwa yang digambarkan sebagai pusat padma dunia raya. Gunung dalam a! am sakala maupun niskala sangat penting bagi umat Hindu. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. gunung merupakan pusat orientasi kesucian bagi umat Hindu.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. Selain itu. lingga yang tidak bergerak. dan Kitab Tantra dalam bentuk tanya jawab (dialogic catekismus) antara Hyang Siwa dengan SaktiNya Dewi Parwati. tidak teracuni. gunung itu terletak di sahasrara padma. di dasar samudera ada tiram. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. Ibarat samudera. melantunkan salam padamu. Bisakah hati kita seluas dan sedalam samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. di kepala manusia. Gunung Agung) dinyatakan berada di pusat padma dunia. Seumpama samudera. akan selalu menyapamu.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. meru. bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. Lontar Tantu Pangelaran menyiratkan bahwa gunung (giri. dipandang sebagai lingga-acala. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan.

masingmasing Pura Gelap (Timur. MAHA PURANA DAN UPA PURANA Purana-purana adalah kitab yang berisi cerita-cerita keagamaan yang menjelaskan tentang kebenaran. Tatpurusa atau Mahadewa). menempati posisi dik. atau Iswara). Pura yang biasa disebut Sad-Kahyangan tersebut merupakan kesatuan. Gunung Batukaru di Barat. pertama-tama disangga oleh pura catur-dala. Gunung Lempuyang di Timur. Pura Batu Madeg (Ulara. dan Siwa. Secara holistik. disebut padma-bhuwana atau padmamandala sehingga dalam konteks Bali. Pura Ulun Kulkul (Barat. seribu kelopak bunga padma. Pura Agung Besakih juga menempati posisi Timur Laut (Airsanya). Gunung Agung menempati posisi di tengah padma-mandala. Sementara itu.lebih kecil digambarkan sebagai bunga padma. kisah-kisah ini diceritakan kepada orang kebanyakan supaya mereka mengerti kebenaran-kebenaran dari kehidupan yang lebih tinggi. Pura Luhur Uluwatu di Baratdaya. Sadyojata. Pada sari bunga padma yang suci itu didirikan Padma Agung (Padma Tiga) yang merupakan Linggih Beliau sebagai Paramashva. Di tempat tersebut didirikan pura atau tempat suci utama. selanjutnya ditopang lagi oleh pura Sad Kahyangan (pura utama) yang terletak di delapan penjuru Pulau Bali atau asta-dala. Sama seperti cerita kiasan (parabel) yang dikisahkan oleh Jesus Kristus. maka Padma Tiga Pura Penataran Agung Besakih. Bhamadewa ahui Brahma). Pura Kahyangan Jagat yang didirikan di seluruh Nusantara dapat berfungsi sebagai sahasra-dala. Gunung Andakasa di Selatan. Misteri alam semesta diungkapkan kepada orang-orang yang secara spiritual sudah bangun tapi kepada yang lain misteri-misteri itu harus dijelaskan dalam cerita kiasan Berdasarkan catatan ini. Pura Pucak Mangu di Barat Laut. dengan sarinya berada di tengah. Aghora atau Wisnu) yang disebut Pura Catur Lokaphala atau Catur-Dala. Pura Kiduling Kreteg (Selatan. 21. bagaikan sebuah bunga padma dengan delapan helainya (dala) yang menunjuk delapan penjuru. sementara yang menempati posisi widik adalah Pura Gua Lawah di Tenggara. dan Gunung Batur di Utara. Purana-Purana . Sadasiwa. Pura Panataran Agung Besakih masih memiliki dala pada posisi dik.

Purana kecil (Minor Purana) dikenal sebagai Upa Purana. tapi nama-nama dalam daftar itu dalam beberapa Purana sedikit bervariasi. Enam Purana yang ditujukan kepada Siwa adalah Matsya Purana. Brahmanda Purana. enam ditujukan kepada Wishnu. Kata Purana berarti "purba" (ancient). Lingga purana. Srimad Bhawata Purana. Enam Purana yang ditujukan kepada Brahma adalah Brahma Purana. Percaya atau tidak. Padma Purana dan Waraha Purana. ada paling sedikit duapuluh Purana Kecil. mempunyai penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang sama seperti Kitab Wahyu dalam Injil. oleh karena itu kita mempunyai satu daftar dari duapuluh Maha Purana." Mereka umumnya berisi kisah-kisah mengenai Dewa dan Dewi Hindu. Wayu Purana. Bhawishya Purana dan Wamana Purana. Ya memang. Skanda Purana dan Agni Purana. Markandeya Purana. seperti Mahabbhagawatam. Diantara sejumlah besar Purana-Purana itu. Purana-Purana ini ditulis dalam bentuk "tanya jawab. Narada Purana. Kurma Purana. karena kitab-kitab itu menyajikan seluruh misteri melalui mitos dan legenda. tapi beberapa orang mengatakan Purana-Purana itu ditulis mulai abad enam. Brahma-Waiwaswata atau Brahma-Waiwarta Purana. Purana-Purana ini tidak memiliki catatan waktu kapan ia ditulis.itu dapat dikatakan Weda-Weda dari orang kebanyakan. dan rincian mengenai dinasti Bulan (Lunar) dan Matahari (Solar). Menurut banyak orang. mahluk supernatural. Masing-masing dari padanya menyediakan satu daftar dari kedelapan belas Purana termasuk dirinya sendiri. Mereka adalah : . Beberapa dari Purana-Purana itu. Garuda Purana. Enam Purana yang ditujukan kepada Wishnu adalah Wishnu Purana. Purana-Purana itu selalu menekankan bhakti kepada Tuhan. Hampir semua Purana berkaitan dengan penciptaan dan penghancuran alam semesta. enam kepada Siwa dan enam kepada Brahma. garis keturunan atau asal-usul (genealogi) dari dewa-dewa dan para orang suci. delapan belas disebut Purana Besar atau Maha Purana. Siwa (atau Saiwa atau Dewi-Bhagawata) Purana dan Hariwamsa Purana adalah juga termasuk Maha Purana. orang suci dan manusia biasa. sekalipun mereka tidak termasuk dalam daftar dari delapan belas Maha Purana (Major Purana). Dari duapuluh Purana ini.

Siwadharma. dan akhirnya penyerahan diri kepada kehendak Tuhan. yang juga dikenal sebagai Veda Vyasa. Mungkin masih ada Purana dalam agama Hindu yang tidak diketahui bahkan oleh rasul atau pemikir doktrin Hindu. Mahaswara. seperti mendengarkan kisah-kisah tentang Tuhan. Kalika. Nandikeswara. Samba. . Bab sepuluh dari buku ini memuat kisah Krishna secara rinci. dan Awatara terakhir dari Wishnu yaitu. melayani.000 sloka. putra dari Veda Vyasa. Kalki. Ia ditulis oleh Reshi Badarayana. Manawa. ada sembilan cara berbeda untuk menunjukkan bhakti kepada Tuhan. Ia berisi 18. zaman sekarang. Kapila. Narasimha. Buku ini dibacakan kepada Raja Parikshit. seperti telah kukatakan sebelumnya. dinasti terakhir dari Pandawa. Seorang pemuja yang sudah tercerahkan (a realized devotee) melihat dirinya sendiri dan seluruh mahluk sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan. Durwasa. Narada. Waya dan Wrihan. Sanathkumara. Marichi. Ia mempunyai dua belas bab yang disebut Skanda. Bhaskara (Surya). Sebagian besar isi dari buku ini merupakan dialog antara Raja Parikshit dengan Reshi Suka. Aku yakin sekali bahwa daftar yang saya berikan kepadamu tidak lengkap. Usanas. Ascharya. Surya. Parasara. alam semesta ini menjadi ada karena Tuhan menghendakinya sebagai permainan atau Lila. Menurut Srimad Bhawatam. Yuga. Saiwa (beberapa menyebut ini Purana Besar). Waruna. Kalki. Tokoh paling penting dari Srimad Bhawatam adalah Reshi Suka. atau Banjir Besar Buku ini merupakan sumber penting bagi Sekte Waisnawa dan. Dewi. Menurut kitab suci ini. meditasi. Bab terakhir secara khusus menjelaskan mengenai Kali Yuga. Srimad Bhagawatam memuat kisah-kisah seluruh Awatara dari Wishnu. Suta-Samhita. kitab suci yang penting bagi orang Hindu dan khususnya bagi para bhakta Hare Krishna. buku ini merupakan kitab suci yang amat penting bagi pengikut Hare Krishna. Ausanasa. Disini juga ada gambaran yang sangat jelas mengenai Pralaya.Aditya. oleh Reshi Suka satu minggu sebelum kematian raja karena gigitan ular yang telah diramalkan.

ia disebut Bhatara Gana. Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya. Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India. Dewa pelindung. dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9. dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). patung dan lukisan. GANESHA Ganesa (Sanskerta गणेश . selama periode Gupta.[2] Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu.[4] Kitab utama yang didedikasikan . yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan. kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Wigneswara). Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina. meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda. (Sanskerta: गाणपतय.[1] Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut. dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". Winayaka dan Pilleyar. berlengan empat dan berbadan gemuk. • Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi. Dalam tradisi pewayangan. yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama. Buddha. ia sering digambarkan berkepala gajah. Dalam relief. Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa. Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan.22.[3] Ketenarannya naik dengan cepat. ganeṣa dengarkan (bantuan·info)) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu. dan di luar India. termasuk Nepal. Tibet dan Asia Tenggara. Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara. gāṇapatya). muncul selama periode itu. "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan". Ia dikenal pula dengan nama Ganapati. Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa mempedulikan golongan.

terdiri dari kata gana (Sanskerta: गण. Dwaimatura (yang memiliki dua ibu). Ekadanta (yang memiliki satu gading). atau sistem pengelompokan. salah satu versi diambil dari Ganeshapurana. berarti "pengatur" atau "pemimpin". dan Ganapati Atharwashirsa.[7] Ganapati (Sanskerta: गणपित . persekutuan. Salah satu cara yang terkenal dalam memuja Ganesa adalah dengan menyanyikan Ganesa Sahasranama. īśa). yaitu kamus bahasa Sanskerta. Etimologi dan nama lain Ganesa memiliki banyak gelar dan nama pujian. juga dieja Shri atau Shree) seringkali ditambahkan di depan namanya.[8] Winayaka (Sanskerta: िवनायक . nama lain Ganesa. atau.[9] Nama ini mencerminkan sebutan terhadap delapan kuil Ganesa yang terkenal di .[6] Istilah itu secara lebih umum berarti golongan. atau perserikatan. dan pati. yaitu Sri (Sanskerta: शी.untuk Ganesa adalah Ganesapurana. yang perutnya bergelayutan). orang banyak. Wignaraja (sama dengan Wignesa). termasuk Ganapati dan Wigneswara.[7] Kitab Amarakosha. sebuah doa pengucapan "seribu nama Ganesa". secara harfiah. yang berarti "kelompok". adalah kata majemuk yang terdiri dari kata gana. gaṇapati). kelas. gaṇa). Lambodara (yang memiliki perut bak periuk. berarti penguasa atau pemimpin. Setiap nama dalam sahasranama mengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek dari Ganesa. śrī. komunitas. pasukan makhluk setengah dewa yang menjadi pengikut Siwa.[5] Kata gana ketika dihubungkan dengan Ganesa seringkali merujuk kepada para gana. dan isha (Sanskerta: ईश. Nama Ganesa adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta. Mudgalapurana. Ganadipa (sama dengan Ganapati dan Ganesa). yaitu sastra Hindu untuk menghormati Ganesa. memiliki daftar delapan nama lain Ganesa: Winayaka. Heramba. dan Gajanana (yang bermuka gajah). berarti kelompok. Gelar dalam agama Hindu yang dipakai sebagai penghormatan. vināyaka) adalah nama umum bagi Ganesa yang muncul dalam kitab-kitab Purana Hindu dan Tantra agama Buddha. Sekurang-kurangnya ada dua versi Ganesa Sahasranama.

penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu. pada tangan kiri bawah. Nama Wignesa (Sanskerta: िवघ्नेश. A. (Penguasa segala rintangan) merujuk kepada tugas utamanya dalam mitologi Hindu sebagai pencipta sekaligus penyingkir segala rintangan (vighna). Dia menambahkan bahwa kata pallu. atau bersikap manis dalam suatu keadaan. K.Maharashtra yang mahsyur sebagai astawinayaka.[12] Tidak seperti dewa-dewi lainnya. Dia kadangkala digambarkan berdiri.[10] Seorang penulis buku yang bernama Anita Raina Thapan menambahkan bahwa akar kata pille pada nama Pillaiyar mungkin aslinya berarti "gajah muda". yang ia comot dengan belalainya. duduk di bawah. karena kata pillaka dalam bahasa Pali berarti "gajah muda". Biasanya Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. pella. beraksi dengan gagah berani melawan para iblis. Narain membedakan arti istilah-istilah tersebut dengan mengatakan bahwa pille berarti seorang "anak" sementara pilleyar berarti seorang "anak yang mulia". yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa. ditaksir berasal dari . Patung yang lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut. menari. namun lebih lazim diartikan "gajah". bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki.[11] Penggambaran Ganesa adalah figur yang terkenal dalam kesenian India. Citra tentang Ganesa menjamur di berbagai penjuru India sekitar abad ke-6. dan pell dalam bahasa-bahasa rumpun Dravida berarti "gigi atau gading gajah". vighneśa) dan Wigneswara (Sanskerta: िवघ्नेश् वर vighneśvara) . Nama yang mahsyur bagi Ganesa dalam bahasa Tamil adalah Pille atau Pilleyar ("anak kecil"). Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis. Patungnya memiliki empat lengan.

Sementara beberapa kitab mengatakan bahwa Ganesa terlahir dengan kepala gajah. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan kepala gajah. Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala. yang konon memiliki mata terkutuk. Pengaruh unsur-unsur kuno dalam susunan penggambaran tersebut masih bisa diamati dalam penggambaran Ganesa secara kontemporer. kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan antara Siwa dan Parwati.abad ke-7. satu-satunya variasi terhadap unsur-unsur kuno adalah tangan kanan bawah Ganesa tidak memegang patahan gading namun seolah-olah terarah ke mata pengamat dengan gerak tangan yang melambangkan perlindungan atau penyingkir ketakutan (abhaya mudra). Parwati.[14] Kombinasi yang sama terhadap empat lengan dan atribut. memiliki beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda. Dewa Sani (Saturnus). Salah satu perwujudannya yang terkenal. ibunya. Tiba-tiba. yang merupakan tema terkenal. pada cerita yang terkenal dikatakan bahwa ia memperoleh kepala gajah di kemudian hari. Atribut umum Ganesa digambarkan berkepala gajah semenjak awal kemunculannya dalam kesenian India.[13] Dalam perwujudan yang biasa. Saat Ganesa lahir. dan variasi kecil lainnya pada jumlah kepala diketahui. memiliki lima kepala gajah. menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa. Motif utama yang terulang dalam cerita-cerita tersebut adalah bahwa Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia. muncul pada patung Ganesa yang sedang menari. Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkus pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya. memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu. Dewa Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala . Dalam sebuah penggambaran modern.[15] Mitologi dalam Purana memberi beberapa penjelasan mengenai kejadian yang menyebabkannya berkepala gajah. yakni Heramba-Ganapati. Dalam kitab Brahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik.

atau. yang ditaksir sejak periode Gupta (sekitar abad IV-VI).[21] Menurut Ganesapurana. merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu. Kisah lain dalam kitab Warahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta secara langsung oleh tawa Siwa.[19] Wujud dengan 14 dan 20 lengan muncul di India Tengah selama abad ke-9 dan abad ke-10. dipegang di tangan. karena menurut Mudgalapurana. Kitab Brahmandapurana mengatakan bahwa Ganesa bernama Lambodara karena segala semesta (yaitu "telur alam semesta". Ganeshapurana mengatakan . dan yang akan datang ada di dalam tubuhnya. atau dipakai sebagai mahkota.[17] Kedua nama tersebut merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang melukiskan bagaimana keadaan perutnya. wujudnya yang terkenal memiliki sekitar dua sampai enam belas lengan. yang mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta.[16] Penampilan ini amat penting.gajah. Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading). Wujudnya pada masa awal memiliki dua lengan. Ganesa melilitkan ular Basuki di lehernya. perut bergelantungan) dan Mahodara (perut besar). Perut buncit Ganesa muncul sebagai ciri-ciri khusus pada kesenian patung sejak zaman dulu. Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat perhatian. Hal penting di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana. sedangkan yang lainnya patah. Jumlah lengan Ganesa bervariasi. Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang suci (IAST: yajñyopavīta) yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk. IAST: brahmāṇḍa) di masa lalu. dililitkan di pergelangan kaki. ia memberinya kepala gajah dan perut buncit. secara harfiah. Pada dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa (Sanskerta: tilaka). yang telah disebut dalam Purana dan ditetapkan sebagai wujud standar dalam beberapa kitab tentang ikonografi. yang berupa tiga garis mendatar. Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya.[20] Ular adalah tampilan yang umum dalam penggambaran tentang Ganesa dan muncul dalam beragam bentuk. dua penjelmaan Ganesa yang berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara (perut buncit. sekarang.[18] Banyak penggambaran tentang Ganesa yang menampilkan ia bertangan empat.

"Bulan di dahi") memasukkan unsur penggambaran tersebut. Martin-Dubost mengatakan bahwa tikus muncul sebagai wahana yang utama dalam sastra tentang Ganesa. Dalam pandangan agama Jaina terhadap Ganesa. Sebagai contoh. Pada empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana. Ganesa lima kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya. domba. dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. sebuah buku tentang ikonografi dalam Hinduisme. penyu. Mayureswara menunggangi merak. naga ilahi. wahananya ada bermacam-macam.bahwa tanda tilaka sama saja dengan bulan sabit pada dahi kepala.[24] Ganesa seringkali digambarkan menunggangi atau diantar oleh seekor tikus.[22] Beberapa contoh mengenai hubungan warna dengan gerakan meditasi tertentu dinyatakan dalam Sritattvanidhi. putih dihubungkan dengan wujud Ganesa sebagai Heramba-Ganapati dan Rina-Mochana-Ganapati (Ganapati yang membebaskan dari belenggu). Dumraketu menunggangi kuda. dimana Ganesa menggunakannya sebagai kendaraan hanya pada inkarnasi terakhirnya.[23] Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana. atau merak. dan menggunakan Sesa. gajah. Tikus sebagai wahana muncul pertama kali dalam kitab Matsyapurana dan kemudian dalam Brahmandapurana dan Ganesapurana. menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda. dan Gajanana menunggangi tikus. seperti misalnya tikus. Wujud tertentu dari Ganesa yang disebut Bhalachandra (IAST: bhālacandra. Wahana Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan). Ganapati Atharwashirsa mengandung sloka tentang Ganesa yang menyatakan bahwa gambar tikus terdapat . Namun warna lain yang spesifik dihubungkan dengan wujud tertentu. Mohotkata menunggangi singa. Ekadanta-Ganapati digambarkan berwarna biru selama bermeditasi dalam wujud itu. seekor merak saat menjelma sebagai Wikata. tikus juga selalu ditempatkan dekat dengan kakinya. di wilayah India Tengah dan Barat selama abad ke7.

dalam benderanya. seorang penulis buku Ganesa. Ganesa sebagai penguasa tikus menunjukkan fungsinya sebagai Wigneswara (dewa segala rintangan) dan memberi bukti terhadap perannya sebagai grāmata-devatā (dewa pedesaan) bagi rakyat yang kemudian meningkat kemuliaannya. sejenis wighna (rintangan) yang perlu untuk diatasi. Kata Sanskerta mūṣaka (tikus) diambil dari akar kata mūṣ (mencuri. dan kemunculan para Ganapatya. Grimes telah menafsirkan makna tikus sebagai atribut Ganesa. Michael Wilcockson mengatakan bahwa tikus melambangkan orangorang yang ingin mengatasi keinginan dan mengurangi sifat egois. mampu menembus bahkan memasuki tempat-tempat rahasia. dewa segala rintangan. baik yang bersifat material maupun spiritual. [25] Yuvraj Krishan. Ia mahsyur dipuja sebagai penyingkir segala rintangan.[26] Paul Martin-Dubost yang juga pernah menulis buku tentang Ganesa memberi sebuah pandangan bahwa tikus adalah simbol yang memberi sugesti bahwa Ganesa. Nama Musakawahana (berwahana tikus) dan Akuketana (berbendera tikus) muncul dalam Ganesa Sahasranama. Dhavalikar beranggapan bahwa karena cepatnya ketenaran Ganesa di antara dewi-dewi Hindu.[29] M. seperti halnya tikus. Paul Courtright mengatakan."[28] Yuvraj Krishan menyatakan bahwa beberapa nama Ganesa mencerminkan perannya yang berkembang dari waktu ke waktu. Tikus ditafsirkan dalam berbagai pengertian. meski ia juga memasang rintangan pada umatnya yang perlu diberi cobaan.[27] Asosiasi Rintangan Ganesa adalah Wigneswara atau Wignaraja. Seorang penulis buku tentang Ganesa bernama John A.. mengatakan bahwa tikus itu bersifat merusak dan mengancam pertanian. merampok). Jadi menurut teori tersebut.. Itu merupakan kekuasaannya yang utama. "pekerjaannya adalah menempatkan dan menyingkirkan rintangan. sehingga ada perubahan tekanan suara . K. Merupakan hal yang penting untuk menaklukkan tikus sebagai hama penghancur.

Engkaulah matahari . seperti yang dijelaskan Robert Brown. Engkaulah Indra. sehingga memiliki aspek negatif maupun positif. merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia menjelma sebagai bunyi yang utama.".[35] Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi penjelasan mengenai hubungan ini. Swami Chinmayananda menerjemahkan pernyataan yang relevan berikut ini: (O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma. dua fungsi tersebut menjadi amat penting dalam karakter Ganesa. ketika banyak kisah menonjolkan kepintarannya dan cinta terhadap kecerdasan. kebijaksanaan. Ganesa meninggalkan banyak hal-hal penting untuk peran gandanya sebagai pencipta dan penyingkir rintangan.[31] Buddhi Ganesa dianggap sebagai Dewa Aksara dan Pelajaran.[33] maka nama Buddhipriya bisa saja berarti "Yang dicintai oleh kecerdasan" atau "Suami Buddhi". [30] Bagaimana pun. juga dieja 'Om'). "bahkan setelah Ganesa dalam Purana digambarkan dengan baik. dan dalam konteks suami-istri bisa berarti "kekasih" atau "suami". Wisnu. atau akal. Salah satu nama Ganesa dalam Ganeshapurana dan Ganesa Sahasranama adalah Buddhipriya.[34] Aum Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu (Simbol: ॐ. Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu).dari wignakartā (pencipta rintangan) menjadi wignahartā (penyingkir rintangan). khususnya pada zaman Purana. Kata priya bisa berarti "yang tercinta".[32] Konsep buddhi erat dikaitkan dengan kepribadian Ganesa. kata buddhi adalah kata benda feminin yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan. Istilah oṃ(ng)kāraswarūpa (Aum adalah wujudnya). Dalam bahasa Sanskerta. dan Mahesa. Nama ini juga muncul dalam daftar 21 nama di akhir Ganesa Sahasranama yang menurut Ganesa amat penting. ketika diidentikkan dengan Ganesa.

Antariksa-loka [luar angkasa]. (Itu sebagai tanda. mitos-mitos dalam Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati."[39] Maka dari itu. namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana. Engkaulah Brahman. Ganesa memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara. Ganesa memegang. atau oleh Parwati.[38] Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa. Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokokpokok kekuatan ilahi yang terpendam. Courtright menerjemahkan pernyataan sebagai berikut: "[O Ganesa. dan Swargaloka [sorga]. Engkaulah Om. Engkaulah (tiga dunia) Bhuloka [bumi]. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa. yang disebut muladhara. atau oleh Siwa dan Parwati.[36] Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan Tamil. Ganesa menempati cakra pertama. Mula berarti "asal. pondasi". sehingga ia mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan. bahwa Engkaulah segala hal tersebut). utama". .[38] Mitologi Kelahiran Meski Ganesa terkenal sebagai putera dari Siwa dan Parwati.[37] Cakra pertama Menurut Kundalini yoga.] Engkau senantiasa menempati urat sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra]. adhara berarti "dasar.(Surya) dan bulan (Candrama). menopang dan memandu cakra-cakra lainnya. Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa.

Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Skanda biasanya dianggap yang lebih tua. Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa. . Ketika Parwati selesai mandi. gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara. dan lain-lain. sementara di India Selatan. yang juga disebut Kartikeya. ia menciptakan seorang anak laki-laki. Murugan. suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Ketika turun ke dunia. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya. Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik. Keluarga dan istri Dalam keluarga Ganesa ada saudaranya yang bernama Skanda. Perbedaan wilayah memberikan versi berbeda tentang jenjang kelahiran mereka. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik.Dalam kitab Siwapurana dikisahkan. Di India Utara. Ganesa dianggap yang lebih dahulu lahir. Karena tidak ingin diganggu. Atas saran Brahma. Siwa menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. ia mendapati puteranya sudah tak bernyawa. yaitu para gana. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Siwa mengutus abdinya. Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa.

Siddhi (kekuatan spiritual). ia diasosiasikan dengan konsep Buddhi (kecerdasan).Skanda merupakan dewa perang yang mahsyur sekitar tahun 500 SM sampai 600 M. subjek pembicaraan yang luas bagi para sarjana. ketika pemujaan terhadapnya berkurang secara signifikan di India Utara. tiga kualitas ini kadangkala dipersonifikasikan sebagai para dewi. ia diasosiasikan dengan dewi kebudayaan dan kesenian. menghubungkan Ganesa dengan pohon pisang. Salah satu pola dalam mitos mengidentifikasi Ganesa sebagai seorang brahmacarya yang tak menikah. yang konon menjadi para istri Ganesa.[41] Pandangan ini biasa terdapat di India Selatan dan di beberapa wilayah India Utara. memiliki beragam versi dalam cerita-cerita mitos.[42] Dia juga disangkutpautkan dengan dewi keberuntungan dan kemakmuran.[45] Pemujaan dan festival Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian maupun kegiatan sehari-hari. Film berbahasa Hindi tahun 1975 berjudul Jai Santoshi Maa menampilkan Ganesa yang menikahi Riddhi dan Siddhi lalu memiliki puteri bernama Santoshi Ma. dan Riddhi (kemakmuran). puteranya seringkali disebut Suba (keselamatan) dan Laba. Dalam contoh lain. Seiring dengan memudarnya Skanda. khususnya saat mulai berniaga seperti misalnya membeli kendaraan atau memulai . Beberapa kisah menceritakan persaingan antara kedua bersaudara tersebut dan bisa saja mencerminkan ketegangan yang terjadi antar sekte (pemuja Ganesa dan pemuja Skanda). Menurut kisah versi India Utara. Kisah ini tidak memiliki dasar dari kitab Purana. terutama yang menonjol di wilayah Benggala.[43] Contoh lainnya. yaitu Saraswati atau Śarda (umumnya di Maharashtra). Laksmi.[44] Kitab Siwapurana mengatakan bahwa Ganesa memiliki dua putera: Ksema (kemakmuran) dan Laba (keuntungan). Kala Bo. Ganesa mulai berkembang. dewi kepuasan. Dalam contoh lain.[40] Status orangtua Ganesa. Dia bisa juga digambarkan dengan satu pasangan saja atau seorang pelayan tanpa nama (Sanskerta: daşi).

Mantra-mantra seperti misalnya Om Shri Gaṇeshāya Namah (Om. [. "jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak memiliki arca Ganapati. khususnya di India Selatan. kemakmuran dan perlindungan terhadap bencana. Festival yang dikaitkan dengan Ganesa adalah Winayaka caturti (Ganesa Caturti) pada śuklapakṣa (hari keempat bulan purnama) di bulan bhadrapada (Agustus/September) dan Ganesa jayanti (ulang tahun Ganesa) dirayakan pada cathurthī dalam kṛṣṇapakṣa (hari keempat bulan mati) di bulan magha (Januari/Februari). Somayaji berkata. hormat pada Hyang Ganesa yang mahsyur-mulia) seringkali dipakai. Dia seringkali digambarkan memegang semangkuk manisan. Pemujanya memberi persembahan berupa manisan seperti misalnya modaka dan bola-bola kecil manis (laddu).[46] Pemujanya percaya bila Ganesa dibuat senang. Karena ia diidentifikasikan dengan warna merah.. ia seringkali dipuja dengan pasta cendana merah (raktacandana) atau bunga merah.N. memulai usaha yang penting. dan umat Hindu dari seluruh denominasi memanggil namanya saat memulai persembahyangan. sebagai dewa yang termahsyur di India. ia akan memberi kesuksesan.] Ganapati. . dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara". Rumput Dūrvā (Cynodon dactylon) dan benda lainnya sering dipakai dalam memujanya. Salah satu mantra paling terkenal yang diasosiasikan dengan Ganesa adalah Om Gaṃ Ganapataye Namah.bisnis. Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu. yang disebut modakapātra. K. dan upacara keagamaan. Penari dan musisi. memulai pertunjukkan seni seperti misalnya tari Bharatnatyam dengan terlebih dahulu memuja Ganesa.

masing-masing dari delapan kuil ini memuliakan wujud utama . beberapa kuil didedikasikan untuk Ganesa sendiri. dan menetapkan tradisi untuk mencelupkan semua citra Ganesa pada hari kesepuluh. Pada tahun 1893. yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati. Tilak memilihnya sebagai tempat menampung protes rakyat India terhadap pemerintahan Inggris. atau sebagai dewa utama di sebuah kuil (pradhana). Festival memuncak pada hari Ananta Caturdasi. Festival itu juga mendapat proporsi yang besar di Mumbai dan di sekitar kuil-kuil Astawinayaka.[47] Ia melakukannya untuk mengatasi kesenjangan antara golongan Brahmana dan non-Brahmana dan menemukan konteks tak lazim yang dimaksud untuk membangun akar persatuan di antara mereka. misalnya Astawinayaka (Sanskerta: अष्टिवनायक. dijamu bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu. Kuil Dalam tempat suci Hindu.Ganesa Caturti Festival tahunan untuk memuja Ganesa yang berlangsung selama sepuluh hari. dalam cita-cita nasional menentang penjajahan Inggris di Maharashtra. sebagai dewa yang erat dengan dewa utama (pariwaradewata). dimulai pada Ganesa Caturti. aṣṭavināyaka.[49] Tilak adalah orang pertama yang memasang citra Ganesa yang besar bagi masyarakat umum di sebuah paviliun. dia banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau halhal buruk. Ganesa dapat diuraikan beraneka macam: sebagai dewa bawahan (parswadewata). meskipun hal itu paling populer di negara bagian Maharashtra.[51] Sebagai dewa keluarmasuk.[48] Karena Ganesa dipuja secara luas sebagai "dewa bagi semua orang". Dan juga. "delapan (kuil) Ganesa") di Maharashtra yang paling mahsyur. Lokmanya Tilak mengubah festival tahunan ini dari perayaan keluarga secara pribadi menjadi acara bagi masyarakat luas.[50] Di masa kini. umat Hindu di penjuru India merayakan festival Ganapati dengan semangat menyala. ketika arca (murti) Ganesa dicelupkan ke dalam air. Terletak di jarak sekitar 100 kilometer dari kota Pune. yang jatuh pada akhir bulan Agustus atau awal September.

Uttar Pradesh. "Setiap desa. Ujjain di Madhya Pradesh. meskipun desa kecil. Nepal. Dhokala. di Rameshvaram dan Suchindram di Tamil Nadu. yang diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal. Hampi. A. yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta.Ganapati. Ada banyak kuil Ganesa yang penting di tempat-tempat berikut ini: Wai di Maharashtra. Gopinatha berkata. dan Bhadrachalam di Andhra Pradesh. Baidyanath di Bihar. Kemunculan pertama Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4 sampai abad ke-5. menandai wilayah suci Ganesa. sungguh menakjubkan. dan Idagunji di Karnataka. yang melampaui batas mahzab dan teritorial. Kuil Ganesa yang utama di India Selatan yaitu sebagai berikut: Kuil Jambukeśvara di Tiruchirapalli. figur Wigneswara kelihatan tak berubah-ubah. memiliki citra Wigneswara-nya sendiri dengan atau tanpa kuil untuk menempatkannya.[53] Pemujaan tersendiri terhadapnya muncul sekitar abad ke-10. Di jalan masuk menuju desa atau sebuah benteng. lengkap dengan cerita dan legendanya."[52] Kuil Ganesa juga dibangun di luar India. Pelopornya tak jelas. di bawah pohon bodhi […]. Nagaur dan Raipur (Pali) di Rajasthan. Jodhpur. Keterbukaan dan ketenarannya yang luas. . dalam sebuah relung […]. dan Balsad di Gujarat dan Kuil Dhundiraj di Benares. Kasargod.[54] Narain mengikhtisarkan kontroversi antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap perkembangan Ganesa sebagai berikut: [A]pa yang selama ini tak terduga adalah kemunculan Ganesa yang agak dramatis menurut pandangan sejarah. Baroda. T. termasuk Asia Tenggara. di kuil Wisnu maupun Siwa dan juga pada bangunan suci yang khususnya dibangun dalam kuil Siwa […]. bersama-sama mereka membentuk sebuah mandala. dan di beberapa negara barat.

namun berkesimpulan bahwa. muncul dalam kesenian dan koin India pada permulaan abad ke2.[57] Krishan adalah salah satu sarjana yang menerima teori ini. Istilah itu . .[54] Pengaruh memungkinkan Buku yang ditulis Thapan tentang perkembangan Ganesa mengandung sebuah bab tentang spekulasi mengenai peran kepala gajah pada zaman awal di India. yang berkomentar datar tentang Ganesa. Di sisi lain terdapat keraguan mengenai adanya gagasan dan arca tentang dewa ini sebelum abad keempat sampai kelima Masehi. namun mudah untuk ditenangkan.. itu tidak bisa dianggap menggambarkan GanapatiWinayaka. "meski pada abad ke-2 Masehi ada perwujudan yaksa berkepala gajah.. Tidak ada bukti mengenai dewa yang disebut memiliki wujud gajah atau berkepala gajah pada permulaan zaman ini.Di satu sisi ada kepercayaan bagi umat yang ortodoks terhadap asal-usul Ganesa dari zaman Weda dan dalam Purana terdapat penjelasan yang membingungkan. Nama Winayaka adalah nama yang biasa bagi Ganesa. namun keduanya tidak merujuk pada Ganesa yang sekarang. baik dalam Purana-Purana maupun Tantra Buddha.[59] Sastra Weda dan wiracarita Gelar "Pemimpin kelompok" (Sanskerta: ganapati) muncul dua kali dalam Regweda. roh jahat. para Winayaka adalah kelompok empat makhluk jahat yang membuat rintangan dan kesulitan.[58] Penggambaran figur manusia berkepala gajah.[56] Dalam mitologi Hindu. Ganapati-Winayaka masih membuat debutnya. Asal-usulnya mengikuti jejak empat Winayaka."[55] Suatu teori mengenai asal-usul Ganesa mengatakan bahwa ia perlahan-lahan menjadi tenar sehubungan dengan empat Winayaka. yang beberapa di antaranya diidentifikasikan dengan Ganesa. namun merupakan mitologi yang cukup menarik. dari Manawagrehyasutra (abad VII-IV SM) yang menyebabkan berbagai jenis kejahatan dan penderitaan". "Dia bukan dewa dalam Weda.

yang memiliki belalai bengkok (wakratunda) dan memegang jagung.[61] Dalam pembantahan bahwa pernyataan tersebut merupakan bukti keberadaan Ganesa dalam Regweda. Rocher menyatakan bahwa sastra-satra Ganapatya terkini seringkali mengutip sloka-sloka Regweda untuk menghormati Ganesa. Krishan menganggap bahwa himne-himne ini adalah tambahan (carangan) pasca zaman Weda. tebu." Tetapi.[60] Saat sloka itu tak diragukan lagi merujuk pada Brahmanaspati. yaitu Maitrayaniya Samhita (2.1).9) merujuk pada Indra. dan seorang komentator dari abad ke-14 bernama Sayana dengan tegas memastikan identifikasi ini. seperti yang dikatakan Heras. Nama-nama ini mengingatkan kita pada Ganesa. Dhavalikar mengatakan. yang diberi gelar 'ganapati'. diterjemahkan menjadi "Pemimpin perkumpulan (bagi para Marut). "referensi mengenai dewa berkepala gajah di Maitrayani Samhita telah terbukti sebagai sisipan paling akhir.[66] Thapan menambahkan bahwa pernyataan-pernyataan itu lazimnya dianggap sebagai sebuah sisipan. dan gada.9.112. "bermuka gajah" (Hastimuka). menyatakan permohonan kepada dewa yang "bertaring satu" (Dantih). merupakan karakteristik Ganapati yang utama secara Purana.1) dan Taittiriya Aranyaka (10. Ganesa setuju namun dengan syarat bahwa . menurut para komentator.[63] Dua sloka dalam kitab yang termasuk Yajurweda hitam.1) sebagai gelar untuk Brahmanaspati.[67] Ganesa tidak muncul dalam wiracarita India pada zaman Weda. Ludo Rocher mengatakan bahwa itu dengan jelas merujuk kepada Wrehaspati—dewa himne-himne—dan hanya Wrehaspati. Sebuah sisipan pada wiracarita Mahabharata mengatakan bahwa Resi Byasa meminta Ganesa untuk membantunya sebagai seorang penulis untuk mencatat wiracarita yang didikte oleh sang resi kepadanya.23.[65] Tapi. sloka itu kemudian diadopsi untuk memuja Ganesa dan masih dipakai hingga sekarang.[64] Deskripsi tentang Dantin. yaitu pernyataan kedua (Rw 10. dan "berbelalai bengkok" (Wakratunda). "tidak bisa dibantahkan lagi untuk menerima identifikasinya (ciri-ciri Ganesa) dengan (ciri-ciri) Dantin ini". maka tidak begitu berguna dalam menentukan informasi paling awal mengenai sang dewa (Ganesa)".[62] Hal yang juga mirip.muncul dalam Regweda (Rw 2.

yaitu. ia perlu menceritakan suatu pernyataan yang sangat kompleks sehingga Ganesa akan bertanya untuk mengklarifikasi. Brown mengatakan. Brown memperkirakan waktunya terjadi sekitar abad ke-8. Hubungan antara Ganesa dengan ketangkasan pikiran dan pembelajaran adalah salah satu alasan sehingga ia ditampilkan sebagai penulis dikte yang dijabarkan Byasa tentang Mahabharata dalam sisipan tersebut.[70] Sebuah referensi tentang Wignakartrinam ("Pencipta rintangan") dalam Wanaparwa juga dipercaya sebagai sebuah sisipan dan tidak muncul dalam edisi kritikan.[69] Istilah winayaka ditemukan dalam beberapa resensi dalam Santiparwa dan Anusasanaparwa yang dianggap sebagai sisipan. namun sadar bahwa untuk melakukan jeda. Kisah tersebut tidak dianggap sebagai sebuah bagian dalam kitab orisinilnya oleh editor dalam kitab Mahabharata edisi kritikan. Zaman Purana Kisah mengenai Ganesa seringkali muncul dalam kitab-kitab Purana. seperti misalnya Bayupurana dan Brahmandapurana. Winternitz juga menambahkan bahwa versi berbeda dalam naskah Mahabharata di India Selatan adalah penghapusan terhadap legenda Ganesa tersebut. Ia meneliti masalah dan mengungkapkan bahwa referensi tentang Ganesa yang terdapat dalam Purana-purana awal. tanpa berhenti. sementara kitab-kitab Purana tidak menyebutkan kapan tepatnya suatu peristiwa terjadi.[73] . namun tidak ditambahkan ke dalam Mahabharata sampai sekitar 150 tahun kemudian. penuturan kisah hidup Ganesa yang lebih detil ada dalam kitab yang muncul belakangan.[71] . sekitar th. 900.[68] Richard L. 600–1300.Byasa harus membeberkan wiracarita itu tanpa diselingi. adalah sisipan di kemudian hari yang dibuat dari abad ke7sampai abad ke-10. ada dalam Purana yang digubah dari th. dan Moriz Winternitz menyimpulkan bahwa kisah itu dikenal pada awal th. Sang resi setuju. 600 dan seterusnya.[72] Yuvraj Krishan mengatakan bahwa mitos mengenai kelahiran Ganesa dan bagaimana ia memperoleh kepala gajah.

[76] Tetapi."[74] Lawrence W. seperti yang dapat disimak dalam Ganeshapurana dan Mudgalapurana. Preston berpikir bahwa waktu yang memungkinkan untuk penggubahan Ganeshapurana antara tahun 1100 dan 1400. yang menurutnya digubah pada tahun 1100 dan 1400. Buku dan sastra Ketika Ganesa diterima sebagai salah satu dari lima dewa utama dalam Brahmanisme. "Sepertinya. ketika secara formal ia dimasukkan ke dalam lima dewa utama dalam aliran Smarta. bersamaan dengan waktu berdirinya tempat-tempat suci seperti yang disebutkan dalam kitab itu. Mereka mengembangkan tradisi Ganapatya. dia berkata. dan Surya.C. Dalam pemujaan ini dilakukan pemanggilan lima dewa yaitu Ganesa. Filsuf abad ke-9 bernama Shankaracarya mempopulerkan "pemujaan terhadap lima wujud" (pañcāyatana pūjā). sebuah sistem di antara kaum brahmana yang ortodoks dalam tradisi Smarta. Hal ini sungguh-sungguh membuat peran Ganesa sebagai seorang dewa komplementer. Keduaduanya berkembang dari waktu ke waktu dan mengandung isi yang bertumpuktumpuk. beberapa brahmana memilih untuk memuja Ganesa sebagai dewa utama mereka. Phyllis Granoff menemukan masalah terhadap waktu yang tidak tetap ini dan .[75] R. Shankaracarya mendirikan tradisi itu dengan tujuan utama untuk menyatukan dewa-dewi utama dari lima sekte besar pada status yang sama. Dewi. Siwa. mungkin pokok-pokok isi dari Ganeshapurana muncul sekitar abad keduabelas dan ketigabelas". Anita Thapan mengutarakan komentar tentang masa penggubahan dan mengukuhkan pendapatnya. "namun kemudian diberi sisipan. Wisnu. Hazra mengatakan bahwa Mudgalapurana lebih tua daripada Ganeshapurana.Bangkitnya ketenaran Ganesa dikodifikasikan pada abad ke-9. Masa penggubahan Ganeshapurana dan Mudgalapurana (dan waktunya tidak tetap antara satu sama lain) telah mengobarkan perdebatan para sarjana.

dan Mudgalapurana) yang menyinggung masalah Ganesa. [79] Di luar India dan agama Hindu Hubungan dagang dan budaya telah memperluas pengaruh India di Asia Barat dan Tenggara. Ganesa menjadi dewa utama yang dikaitkan dengan para pedagang. Ganesa adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi Hindu yang menjamah negeri asing sebagai akibatnya. Ganesha. Selama masa ini.[77] Sementara isinya sudah usang.berkesimpulan bahwa Mudgalapurana adalah kitab filsafat terakhir yang menyinggung masalah Ganesa.[82] Umat Hindu bermigrasi ke nusantara dan membawa budaya mereka. Arca-arca Ganesa ditemukan di sepanjang wilayah Nusantara dalam jumlah yang banyak. dan Kalimantan yang menunjukkan pengaruh regional yang spesifik.[81] Tulisan paling awal yang mengandung seruan kepada Ganesa sebelum memanggil dewa-dewi lainnya dikaitkan dengan komunitas rombongan pedagang. yaitu Ganapati Atharwashirsa. Periode dari sekitar abad ke-10 sampai seterusnya ditandai oleh perkembangan jaringan-jaringan baru terhadap hal pertukaran.[80] Ganesa khususnya disembah oleh para pedagang dan rombongannya. Brahmanda. sehubungan dengan pemujaan Ganapati yang menjadi penting dalam wilayah tertentu. bersama mereka. Bali. pembentukan serikat dagang. Ia mengemukakan alasannya berdasarkan sebuah fakta bahwa. yang pergi ke luar India untuk malakukan hubungan dagang. ada kemungkinan digubah pada abad ke-16 atau ke-17. kitab itu diberi sisipan sampai abad ke-17dan ke-18.[78] Kitab lain yang memuji Ganesa.[83] Penyebaran budaya Hindu . termasuk Ganesa. seringkali di samping kuil Siwa. Wujud Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa. dan bangkitnya sirkulasi keuangan. Mudgalapurana secara spesifik menyebut Ganeshapurana sebagai salah satu dari empat Purana (Brahma. di antara bukti-bukti internal lainnya.

Di Indochina. dan termahsyur di wilayah India Utara. Di Cina Utara.[91] . Penggambaran Ganesa di Tibet menunjukkan pandangan yang bertentangan terhadapnya. kadangkala dalam wujud sedang menari.[88] Ganapati versi Tibet adalah tshogs bdag. lalu di Tibet.[85] Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana. disertai tulisan yang berangka tahun 531. dan Thailand. Penggambaran lain menampilkan wujudnya sebagai pemusnah segala rintangan. yaitu dewa bangsa Tibet yang terkenal. sangat terkenal. mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu. Sebagai dewa Vināyaka dalam agama Buddha.[86] Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa kerajaan Gupta. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan. atau dewa keberhasilan.secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa dimodifikasi di Burma.[90] Di Jepang. dan pengaruh timbal balik bisa dilihat dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu.[87] Di Nepal. Di Thailand.[84] Sebelum kedatangan Islam. tidak hanya dalam wujud dewa Vināyaka dalam agama Buddha. disebut Nṛtta Ganapati. Ganesa digambarkan sedang diinjak oleh kaki Mahākāla. Ganesa muncul di Cina dan Jepang dalam wujud yang menampilkan karakter wilayah yang berbeda. dikenal sebagai Heramba. ia seringkali digambarkan sedang menari. Kamboja. ada patung batu dari zaman awal yang dikenal sebagai Ganesa. agama Hindu dan Buddha dijalankan dengan berdampingan. Kamboja dan di Vietnam. namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama yang sama. Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala rintangan. pemujaan terhadap Ganesa pertama kali disebutkan pada tahun 806.[89] Dalam versi Tibet. Bahkan kini oleh umat Buddha di Thailand. kemudian diadopsi di Nepal. Ganesa terutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan. ia memiliki lima kepala dan menunggangi singa. Afganistan memiliki ikatan budaya yang erat dengan India. dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama dijalankan. wujud Ganesa secara Hindu. Wujud ini.

peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau. khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. 2000 601). yang sudah tentu bersifat umum. poros. Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali. SIWA LINGGA (LINGGA YONI) Lingga merupakan lambang Dewa Siwa. titik pusat. muncul sebagai pengambil alih fungsi Kubera. sifat khas. lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga. Ganesa dipuja oleh banyak umat Jaina. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat.Sastra agama Jaina (Jainisme) tidak menyebutkan adanya pemujaan terhadap Ganesa.[95] Citra Ganesa muncul dalam kuil Jaina di Rajasthan dan Gujarat. titik tuju pemujaan. bukti. bahwa lingga . Patung Dewa. petunjuk. keterangan. akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti lingga yang sebenarnya. Di Indonesia khususnya Bali. ciri.[96] 23. isyarat.[93] Patung Ganesa tertua versi Jaina ditaksir berasal dari abad ke-9. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno. yang pada hakekatnya mempuriyai arti.[94] Sebuah kitab Jaina dari abad ke-15 memaparkan prosedur untuk memasang citra Ganapati. Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda.[92] Hubungan Jaina dengan komunitas perdagangan mendukung gagasan bahwa Jainisme mengambil tradisi pemujaan Ganesa sebagai akibat dari hubungan perdagangan. sumbu (Zoetmulder. walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak. Namun. pusat.

maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme). 1916 : 69). Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di . Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan. Di India terutama di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte linggayat (Putra. pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali. 1973 : 40). Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa. di Indonesia.diidentikkan dengan : linggih. 2002 : 2) kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu. malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa. Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu. (Agastia. menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao. Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore. 1975 : 104). dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa. yang artinya tempat duduk. sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa. Mengenai pemujaan lingga di Indonesia. yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono. lingga merupakan lambang kesuburan.

Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih. yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. Jawa Timur. di Bedahulu dan di Goa Gajah. Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru.Kanjuruhan. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai sabdasparsadi Artinya: berikut: warjitam”. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan. Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. 1973 : 41-42). Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. kesuburan dan sebagainya. (Soekmono. Gandhawarna rasairhinam . 1959 102). Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. ”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Pura-pura di Pejeng.

pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam). Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Lingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”. Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya Bentuk sebagai Siwa. Dalam “Pranalo Artinya: Jnana Brahma visnus ca Siddhanta Lingotpadah disebutkan: Siwarcayet”. lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa. rasa.Lingga awal yang mula-mula tanpa bau. Jadi dalam Lingga Purana. warna. Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:”Bhatara Siwalingga Artinya: Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa. Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga). Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa. .

pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. berbentuk telur (kukkutandakara).Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap sebagai sumber siwa. berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma. berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao. setengah bulatan. jadi lingga dan yoni. berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara). sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga. segi empat panjang. Dengan istilah lingga pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga. Wisnu dan Siwa. Kemudian lingga yoni. 1916 :99). dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. 1916 : . Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao. Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air. persegi enam belas dan yang lainnya. Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah. Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha. Sebuah lingga berdiri. segi delapan. mentimun (tripusha kara). bulat telur. bulat. bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga. Wisnu. segi enam. Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain : berbentuk payung (chhatrakara). Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma. berbentuk buah 93). segi dua belas.

seperti : emas. timah dan lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah: a. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu. Gopinatha Rao. Lingga : Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam. Mrinmaya Lingga Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat. Lohaja logam c. chandana.Chalalingga . dan dewadara. Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. rumput kurcha. badara. e. tanah pekat. menjadi adonan setelah beberapa b. tinduka. waidurya.Achalalingga Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak. gandum. besi. janggery dan tepung. sala. d. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain . bunga . Ratmaja mutiara. baik yang sudah dibakar. Lingga kuningan. permata. beras. pippala dan udumbara.Jenis-Jenis Lingga Berdasarkan penelitian dan TA. Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti. tepung. yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. Lingga kwarsa. Kshanika Lingga Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam. tembaga. nasi. bilva. serbuk cendana. arjuna. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira. jamrud. artinya lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. Daruja kristal. madhuka. karnikara. perak. Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami.

sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan lingga yang paling utama (uttamottama).dan rudrasha. lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan BhataraBhatari. Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga. lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga. Ganapatya lingga. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas. Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun. lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi. sebagai berikut: a. lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di bumi. Arsha lingga. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi. Dalam mitologi. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani. kumpulan kuliahkuliah agama jilid I”. lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu. Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T. Daivika lingga. Lingga ini berhubungan dengan Ganesa. menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan. II part I” dapat dijelaskan. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang .b. Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika lingga. c. d.A. Svayambhuva lingga. sitrun atau apel hutan.

• WHD No. dipakai oleh brahman). Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci.suci. e. sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. 437 Juli 2003. beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru. Manusa lingga. HARI RAYA HINDU Pagerwesi Hari Raya Pagerwesi Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. artinya hari raya untuk . Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur. Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama. Sama halnya dengan Galungan. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar). Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. 24. Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. karena langsung dibuat oleh tangan manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun. Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.

. ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta. baik pendeta maupun umat walaka. Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan). sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah. Dalam lontar Sundarigama disebutkan: Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Artinya: Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi.semua masyarakat." Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha Bhuta. Hakikat pelaksanaan upacara Pegerwesi adalah lebih ditekankan pada pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan Mapasang Lingga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan: "Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.

Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya . Suci Praspenyeneng dan Banten Penek. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan. Dalam hal upacara. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati. Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Dapetan. Tentunya dilengkapi Daksina. Canang dan Sodaan. Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah "Sesayut Panca Lingga" sedangkan perlengkapannya Daksina. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. memuji dan memusatkan diri. Makna Filosofi Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama. Memuja berarti menyerahkan diri. Banten yang paling inti perayaan Pegerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip.Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi). memohon. Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Prayascita. menghormati. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.

berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan.merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan." Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Keuntungan yang benar. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma. Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan. Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu: Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh). itu berarti ada kecurangan. Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. Goraksya. artinya perdagangan. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Wanijyam. maka adharma . Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan. Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Kalau ada pihak yang dirugikan. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati.

Vibrasi spiritual itulah sebagai pagar besi dari kehidupan dan itu pulalah guru sejati. Tirtha suci itulah yang akan dibagikan kepada umat. Sebelum membuat tirtha.tidak dapat masuk menguasai manusia. mapasang lingga. Pembuatan tirtha dalam upacaraupacara besar dilakukan dengan mapulang lingga. dengan pengasepan sampai disucikan dengan mantra-mantra tertentu sehingga tirtha yang dihasilkan betul-betul amat suci. Dalam agama Hindu. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Dalam Manawa Dharmasastra V. Ngarga adalah suatu tempat untuk membuat tirtha bagi para pendeta. Penjelasan Manawa Dharmasastra ini adalah bahwa atma yang tidak diselimuti oleh awan kegelapan dari hawa nafsu akan dapat menerima vibrasi spiritual dari Brahman. purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Mengingat ngargha mapasang lingga dianjurkan oleh lontar Sundarigama pada hari Pagerwesi ini. Hal ini dapat dipahami. Karena itu amat ditekankan pada Hari Raya Pagerwesi para pendeta agar ngarga. 109 disebutkan: Atma dibersihkan dengan tapa bratabudhi dibersihkan dengan ilmu pengetahuan (widia) manah (pikiran) dibersihkan dengan kebenaran dan kejujuran yang disebut satya. terlebih dahulu pendeta menyucikan arga dengan air. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Sesayut Panca Lingga dengan inti ketipat Lingga adalah memohon lima manifestasi Siwa untuk memberikan benteng kekuatan (pager besi) dalam . berarti para pendeta harus melakukan hal yang amat utama untuk mencapai vibrasi spiritual payogan Sanghyang Pramesti Guru. karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah.

menghadapi hidup ini. Para pendetalah yang mempunyai kewajiban menghadirkan lebih intensif dalam masyarakat. Kemahakuasaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Siwa dengan simbol Panca Lingga, Sesayut Pageh Urip bagi kebanyakan atau umat yang masih walaka. Kata "pageh" artinya "pagar" atau "teguh" sedangkan "urip" artinya "hidup". "Pageh urip" artinya hidup yang teguh atau hidup yang terlindungi. Kata "sesayut" berasal dari bahasa Jawa dari kata "ayu" artinya selamat atau sejahtera. Natab Sesayut artinya mohon keselamatan atau kerahayuan. Banten Sesayut memakai alas sesayut yang bentuknya bundar dan maiseh dari daun kelapa. Bentuk ini melambangkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan haruslah secara bertahap dan beren-cana. Tidak bisa suatu kebaikan itu diwujudkan dengan cara yang ambisius. Demikianlah sepintas filosofi yang terkandung dalam lambang upacara Pagerwesi. Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan hari raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima pada intinya adalah hari raya untuk memuja Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang mendapatkan wahyu ten-tang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana. Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adi guru loka yaitu gurunya alam semesta. Sedangkan Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari Purnama. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24. 000 sloka

Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra. Ke-24 suku kata suci dari Tri Pada Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000 sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi Walmiki pun dipuja sebagai adi guru loka yaitu maha gurunya alam semesta. Sampai saat ini Mahabharata dan Ramayana yang disebut itihasa adalah merupakan pagar besi dari manusia untuk melindungi dirinya dari serangan hawa nafsu jahat. Jika kita boleh mengambil kesimpulan, kiranya Hari Raya Pagerwesi di Indonesia dengan Hari Raya Guru Purnima dan Walmiki Jayanti memiliki semangat yang searah untuk memuja Tuhan dan resi sebagai guru yang menuntun manusia menuju hidup yang kuat dan suci. Nilai hakiki dari perayaan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dengan Pegerwesi dapat dipadukan. Namun bagaimana cara perayaannya, tentu lebih tepat disesuaikan dengan budaya atau tradisi masing-masing tempat. Yang penting adalah adanya pemadatan nilai atau penambahan makna dari memuja Sanghyang Pramesti Guru ditambah dengan memperdalam pemahaman akan jasa-jasa para resi, seperti Resi Vyasa, Resi Walmiki dan resi-resi yang sangat berjasa bagi umat Hindu di Indonesia. (Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni) Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam

rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan: Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya. Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah

Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. tak jauh dari Pura Besakih. Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.datang tak henti-henti. setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. sakti dari Dewa Siwa. Untuk mengetahui penyebabnya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. . Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri. Makna Filosofis Galungan Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha. Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Disebutkan pula. Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. barulah Galungan dirayakan kembali. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya.

Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut: Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi. inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma. Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. enam hari sebelum Galungan. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba. Jadi. galang apadang maryakena sarwa byapaning idep Artinya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Dalam lontar Sunarigama. Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa . artinya luar.

Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Dan itulah yang disucikan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. . karena itu hari penyucian semua bhatara). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri.itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. "Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Dalam lontar disebutkan." Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana.

upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Dalam lontar Sundarigama disebutkan. Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan "Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga). Pada hari ini. Upacara tersebut barmakna. ada pula perbedaan dalam hal perayaannya.Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya. Berdasarkan sumbersumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel). umat menikmati waranugraha Dewata. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib melaksanakan. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Galungan Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Sabtu Kliwon disebut Kuningan. . Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya." Artinya. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara.

kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah.Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Disebutkan dalam lontar itu. setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali. yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Karena itu Galungan. saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan. dan wukunya Dungulan. Kalau Panca Waranya Kliwon. Galungan Nara Mangsa Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Galungan Nadi Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Sapta Wara dan Wuku. Sapta Waranya Rabu. Jadi Galungan itu dirayakan. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut: . Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan.

tunggal kalawan sasih Kapitu. semoga tidak lupa. moga ta sira kapereg denira Balagadabah. Galungan Nara Mangsa ngaran. nasi cacahan maoran keladi." Artinya: Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu. poma haywa lali elingakna. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem. tidak boleh merayakan Galungan. pada hari Galungan itu. Kala Rau namanya. yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung. membawa penyakit adanya. Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9. mwang sasih kesanga. ingatlah. Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut: Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali. tan wenang ngegalung wong Baline. Artinya: Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia. Mwah yan anemu sasih Kesanga. rah 9. . rah 9 tenggek 9. Kala Rau ngaranya yan mengkana. Galungan Nara Mangsa namanya. itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Tidak baik itu. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah. bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Tilem Galungan. tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tan kawasa mabanten tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9. sigug ya mengaba gering ngaran. anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika. tenggek 9."Yan Galungan nuju sasih Kapitu. tenggek 9. Yan tekaning sasih Kapitu. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru.

Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. pemakan daging manusia. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru. Sebelum puncak perayaan. pertarungan antara aharma melawan adharma. selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula "Hari Raya Dasara". Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk . Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang artinya. Bahkan kemungkinan besar. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng Galungan". Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa. Kedua kata itu artinya "menang". parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata "Wijaya" (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata "Galungan" dalam bahasa Jawa Kuna. Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. berupa nasi cacahan bercampur keladi. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama. Galungan di India Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan.

Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. sangat menakutkan. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Pada . Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. seram. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya.dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker. Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Berbeda dengan di Bali. keganasan hawa nafsu. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan. Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Pengertian sakti di India adalah kuat. kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas. memiliki kemampuan yang tinggi. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. maka diberi julukan Dewi Durgha. Karena Dewi Parwati menang. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma.

Kumbakarna atau Surphanaka. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin. Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. kota menjadi ramai. Dewi Sita. Laksmana dan Anoman. Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di mana-mana. orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Sita. Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana.hari ini. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh . Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Kasih sayang itulah suatu "sakti" atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama.

ada yang bersifat adhyatmika. Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani . Wasista Siddhanta. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur. Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.setiap orang. Kitab ini disusun kira-kira 12. Paitamaha Siddhanta. Itihasa dan Purana. Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha. Vedangga.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan. Karena mantramantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia). Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin). Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda. Prof. yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Nyepi Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa. Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta. Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang.

Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Semenjak itu. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas. dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Karena perjuangannya itu cukup berhasil. Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat. Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Sukusuku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. suku bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Akibat toleransi dan persatuan itu. Yuehchi. Malawa dan Saka. Arah perjuangannya kemudian dialihkan. Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Tampaknya.tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya. Sebelum lahirnya Tahun Saka. Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India. sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu. bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Yuwana. namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara). Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat . Pada tahun 79 Masehi. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut. Pendeta Siwa. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret). Tujuan Hidup Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. prajurit. para sarjana. 228. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat. berkumpu seluruh kepala desa. pada tahun 456 Masehi. LXXXV.(India) yang mendarat di Kabupaten Rembang. tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Setelah Nyepi. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III. Tuhan (Prajapati). Di alun-alun Majapahit. XII. . Keesokan harinya. artha. dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi. Budha dan Sri Baginda Raja. kama dan moksha. Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman Majapahit. Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma. LXXXVI XCII. 45 dan Sarasamuscaya 135. Di Bali. Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII. Jawa Tengah. manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Menurut agama. perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Beberapa hari sebelum Nyepi. pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian.

makhluk hidup menjelma. kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama. 14 disebutkan. binatang hidup dari tumbuhtumbuhan. . jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk. mâng dharma.10: manusia harus beryajña kepada Tuhan. Dalam kenyataannya. kita bisa melihat sendiri. manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita). ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga. manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. karena persembahan (yajña) turunlah hujan. tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan." Artinya: Oleh karenanya. "Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani. "Apan ikang prana ngaranya. karena makanan." Dalam Bhagavadgita III. dan yajña lahir karena kerja. Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb: "Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan. usahakanlah kesejahteraan semua makhluk. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. artha. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña." Artinya: Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma. untuk mewujudkan Catur Warga. karena hujan tumbuhlah makanan. Dengan demikian jelaslah. artha kama moksha. kama dan moksha.

Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat. Bhuwah Loka dan Swah Loka. Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa. dilaksanakanlah brata penye-pian. Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. pawana. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka. Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara. Sang Budha dan Sang Bujangga. melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut: . Oleh karena itu.yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. dan sarwaprani. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan. dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. kita mencari sari-sari kehidupan dunia. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Pada tanggal satu sasih kadasa. Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa. Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan. pada saat upacara Tawur Kesanga. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut: Anglukataken laraning jagat. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah. Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengahtengah samudra. upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. paklesa letuhing bhuwana. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga.

.. kama dan moksha. semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan. amati karya. manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni. Nyepi. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya. pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya. karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian.besoknya. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian. samadhi. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan. menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma. yoga..." Jadi. melakukan yoga tapa dan samadhi. Sebagaimana kita ketahui. Perbuatan .". artha. berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh. amati lelungan dan amati lelanguan..enjangnya nyepi amati geni. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri. ageni-geni saparanya tan wenang. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. tidak menyalakan api. tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan." Artinya: ".. tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya. Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi.

Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Pelaksanaan Upacara Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi.. tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu.." Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas. yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah mengkhususkan diri dalam bidang kerohanian. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: ". Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa.mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana..manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi. . dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan. Setelah upacara Melasti usai dilakukan. dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka Menyimak sejarah lahirnya. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.

diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. semua anggota keluarga. upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Dalam upacara Melasti. Dalam rangkaian Nyepi di Bali. Sedang upacara Nagasankirtan di India.00 (kala tepet). berem. Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi.Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. sujang berisi arak tuak. penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh. dandanan. dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11. peras. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. tumpeng ketan sesayut. pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara.00 . Setelah . Upacara di tingkat rumah tangga. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah. Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding. dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina. ajuman. kabupaten dan kecamatan. segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak.12. Setelah usai menghaturkan pecaruan. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Sedangkan di tingkat desa. umat Hindu berkeliling desa. tuak dan air tawar. segehan nasi sasah 100 tanding. yaitu melakukan upacara mecaru. mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya. kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah). upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. Sedangkan di masing-masing rumah tangga. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah.

maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti.mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala. umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan. Karena bukan sarana upacara. tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus). lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa. ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan. ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Selain itu. yaitu unsur-unsur kekuatan jahat. . yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi. pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya. kertas. menaburkan nasi tawur. kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Artinya. lalu mengelilingi rumah membawa obor. kala. Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar. Kalau di Bali. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala. Sejak tahun 1980-an. Patung yang dibuat dengan bam-bu. Nah.

tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. menyepikan indria. hening menuju jalan yang benar atau dharma. Dhyana. Mona artinya berdiam diri. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus. Pada prinsipnya. tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spritual. panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. . . mona. mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu. Yang terpenting. tidak bicara sama sekali selama 24 jam.Amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan . Itu berarti melakukan upawasa (puasa).Amati karya (tidak bekerja). . Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat. brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu: -Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Arcana.Sebagaimana telah dikemukakan. dhyana dan arcana. yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. saat Nyepi.Amati lelungan (tidak bepergian). Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa. yaitu dengan melakukan upawasa. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat.

Anggara Wage Wuku Gumbreg bertepatan Sasih Kapitu (Selasa. merupakan hari suci bagi umat Hindu. Tetapi sebagaian orang lagi gelap merupakan media dalam mendapatkan ketentraman batinnya. Pada hari Siwaratri umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Siwa Mahadewa. Dari pandangan mata secara awam saja. Misteri kematian dan perjalanan arwah Lubdhaka tidak banyak yang mengetahuinya. karena perbuatan menyimpang dari ajaran dharma atau Agama. Karena menurut mereka di dalam gelap bercokol setan dan berbagai mahluk pemangsa lainnya. Gelap bisa menakutkan dan menciutkan nyali bagi sebagian orang. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Tujuannya agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di dunia ini. makanya mereka memburu gelap. melakukan pembunuhan satwa (binatang). tentu perbuatan membunuh. tetapi bisa masuk surga sesudah meninggal. sekalipun tidak disadari karena secara kebetulan. meningkatkan kesucian rohani dan latihan mengekang hawa nafsu. menghilangkan nyawa mahluk lain di luar tujuan yadnya. adalah berdosa. lantaran sekalipun dalam sehari-hari selalu melakukan tindakan sadis. Dalam kegelapan malam ada keheningan kesunyian dan kedamaian. termasuk malam siswa malam paling gelap sehari menjelang Tilem Kepitu 24 Januari 2001. Latri berarti malam (gelap). Dikatakan berbahagia. .terpaksa. Dan bahkan malam itu adalah malam tergelap dibanding malam-malam lainnya. 23 Januari 2001). Umat patut melaksanakan brata. Kalangan krama Bali beragama Hindu umum menyebutnya "peteng pitu". Adalah Lubdhaka si pemburu miskin yang berbahagia dalam perjalanan hidupnya. Terbebas dari berbagai godaan yang bisa menjerumuskan dan menyesatkan hidup. Hari tersebut dikenal dengan nama Siwalatri/Siwaratri atau Malam Siwa. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan.

Waktu itu sebagai pemburu Lubdhaka tidak memiliki motip lain. yakni malam payogan Hyang Siwa. melihat bayangan binatang saja tidak. Dengan perasaan pasrah dan nekat ia memutuskan bermalam di hutan. Ia memilih berdiam di sebuah pohon dekat telaga yang airnya sangat bening. lantas Lubdhaka memilih memanjat sebuah pohon yang lumayan rindang. . Dimana dibawah pohon tempatnya memanjat ada sebuah telaga dan perwujudan Siwa beryoga. Pohon yang dinaiki adalah pohon Bila. Ternyata malam saat Lubdhaka menginap di hutan adalah Malam Siwa (Siwa Latri). padang perburuannya seorang diri. Sangat apes hari itu perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu profesional. antisipasinya supaya terhindar dari sergapan binatang buas. serta dalam petikan lelaki itu tpat mengenai patung Siwa tersebut. Untuk menahan kantuknya tangan memetik satu persatu dahan pohon yang tidah. jengkel bercampur lelah fisik karena lapar dan harus Lubdhaka memutuskan tidak bertolak pulang menemui istri dan anak-anak kesayangannya. namun sama sekali tidak mendapat binatang buruan. karena takut jatuh otomatis laki-laki tetap terjaga (jagra) sampai pagi. Aktivitas Lubdhaka malam itulah mendapat pahala dari Hyang Siwa. namun kenyataannya sampai tengah malam yang sunyi senyap hasilnya tetap nihil. malam itu ia akan menemukan binatang dan berhasil memanahnya untuk dibawa pulang. Apa yang dilakukan Lubdhaka sehingga memperoleh tiket masuk surga setelah mati? Suatu hari lelaki itu seharian berburu.Pemburu tersebut dalam mitologi HIndu meniggal beberapa hari setelah Siwaratri lantaran menderita suatu penyakit. Lubdhaka boleh saja berharap. bertahan di hutan. Waktu itu jangankan ia berhasil memanah seekor binatang untuk dibawa pulang. Kecuali satu harapannya. hingga ia berhak masuk sorga. Malah dalam malam gelap ia dilanda ketakutan. Dalam kehampaan. Istri dan anak-anaknya merasa kehilangan.

Hooykaas dalam bukunya Agama Tirtha. tidak tidur dan menahan nafsu-nafsu lainnya. stava atau stotra seperti halnya dengan menggunakan sarana banten (persembahan). Five Studies in Hindu-Balinese Religion (1964) dan menggunakan acuan atau sumber kajian adalah tiga jenis naskah. yakni pada setiap Saniscara Umanis Watugunung. Apabila seorangpemangku melakukan pemujaan pada hari Sarasvati. Paramatmanam eva ca. Di Khayangan rohnya sempat menjadi rebutan. pantaskah seorang Lubdhaka yang melakukan pembunuhan terhadap sarwa buron ini mendapatkan pengampunan hanya karena melakukan kegiatan begadang semalam suntuk.) Hanya Engkaulah yang . lapar.Aktivitasnya itu sama nilainya dengan yang dikerjakan Siwa. antara penguasa neraka dan surga. Kata Sarasvati dalam bahasa Sanskerta dari urat kata Sr yang artinya mengalir. Perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu sampai masuk sorga cukup kontroversial. Sarasvati dalam Susastra Hindu di Indonesia Tentang Sarasvati di Indonesia telah dikaji oleh Dr. yaitu: Stuti. Pranamya sarya-devana ca. Tutur dan Kakavin yang jumlahnya tidak terlalu banyak. menahan haus. C. Ia juga sering dihubungkan dengan pemujaan terhadap deva Visvedevah disamping juga dipuja bersamaan dengan Sarasvati. artinya begini. Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Jawa Bali. Sarasvati (n) namamy aham. siddhirambha karisyami. Malahan di kalangan umat Hindu sendiri hal ini masih menjadi masalah yang patut untuk didiskusikan.. varade kama rupini. Sarasvati berarti aliran air yang melimpah menuju danau atau kolam. Sarasvati 1-2. Beryoga. Arti Kata Sarasvati. Sarasvati dalam Veda Di dalam RgVeda. rupa siddhi prayukta ya. Sarasvati di Bali dipuja dengan perantaraan stuti. Sarasvati dipuji dan dipuja lebih dari delapan puluh re atau mantra pujaan. siddhir bhavantu mesada. ia mengucapkan dua bait mantra berikut : Om Sarasvati namas tubhyam.

Engkau keutamaan dari setiap istri yang mulia. Didalam Brahmavaivarta Purana dinyatakan bahwa warna putih merupakan simbolis dari salah satu Tri Guna. Atribut ini melambangkan : vina (di tangan kanan depan) melambangkan Rta (hukum alam) dan saat alam tercipta muncul nadamelodi (nada . untuk kepentingan Bhakti. aksamala (tasbih) dan kumbhaja (bunga teratai). Demikian pula Tuhan Yang Maha Esa yang sesungguhnya tidak tergambarkan dalam alam pikiran manusia. Vahana.brahman) berupa Om. Engkau sesungguhnya permata yang sangat mulia. pustaka (kitab suci dan sastra). Tuhan Yang Maha Esa digambarkan atau diwujudkan dalam alam pikiran dan materi sebagai Tuhan Yang Berpribadi (personal God). 1989: 38). yaitu Sattva-gunatmika dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari lima jenis Prakrti. kainnya yang putih menunjukkanbahwa ilmu itu selalu putih.menganugrahkan pengetahuan yang memberikan kebahagiaan. pemberi berkah. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karuniaMu Pendahuluan Berbagai usaha atau jalan yang terbentang bagi Umat Hindu untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. siddhirambha karisyami siddhir bhavantu mesada Sarasvatistava I) Om Hyang Vidhi dalam wujud-MU sebagai dewi Sarasvati. Demikian pula tingkah laku seorang anak yang sangat mulia. Berbagai aspek kekuasaan dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa dipuja dan diagungkan serta dimohon karunia-Nya untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. memegang vina (sejenis gitar). karena kemuliaan-Mu pula semua yang mulia menyatu Om Sarasvati namotubhyam varade kama rupini. Engkau pula yang penuh keutamaan dan Engkaulah yang menjadikan segala yang ada. Aksamala (di tangan kanan belakang) melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tanpa keduanya ini manusaia tidak memiliki arti. emngingatkan kita terhadap nilai ilmu yang murni dan tidak tercela (Shakunthala. Ilmu pengetahuan diidentikan dengan Sattvam-jnanam Caturbhuja : memiliki 4 tangan. Makna Penggambaran Dewi Saraswati Tubuh dan busana putih bersih dan berkilauan. sarasvati duduk diatas bunga teratai dengan . wujud kasih bagai seorang ibu sangat didambakan. Suara Om adalah suara musik alam semesta atau musik angkasa.

Angsa yang gemulai mengingatkan kita terhadap kemampuannya membedakan sekam dengan bijibijian dari kebenaran ilmu pengetahuan. seperti angsa mampu membedakan antara susu dengan air sebelum meminum yang pertama. Dalam perkembangan selanjutnya. EKONOMI.. Demikian semoga Ida Sang Hyang Widhi senantiasa memberikan waranugrahanya berupa inspirasi. Perwujudan Dewi Saraswati sebagai dewi yang cantik bertangan empat dengan berbagai atribut yang dipegangnya mengandung makna simbolis bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber ilmu-pengetahuan. sarve bhadrani pasyantu. 25. Semoga semuanya memperoleh kedamaian.Penutup Berdasarkan uraian-uraian diatas. Angsa adalah sejenis unggas yang sangat cerdas dan dikatakan memiliki sifat kedewataan dan spiritual.kendaraan angsa atau merak. Semoga semuanya memperoleh keutamaan dan semuanya terbebas dari segala duka dan penderitaan. Keseluruhan proses . kejernihan pikiran serta kerahayuan yang didambakan oleh setiap orang. Kendaraan yang lain adalh seekor burung merak yang melambangkan kebijaksanaan (Shakunthala. maka Sarasvati di dalam Veda pada mulanya adalah dewi Sungai yang diyakini amat suci. Sarasvati adalah dewi Ucap. sarve santu niramayah. Om Sarve sukhino bhavantu. Ya Tuhan Yang maha Esa. PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN AGAMA HINDU Kepemimpinan Hindu Dalam kehidupan manusia didunia ini banyak ditemui usaha kerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. ma kascid duhkh bhag bhavet. anugrahkanlah semoga semuanya memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. dewi yang memberikan inspirasi dan kahirnya ia dipuja sebagai dewi ilmu pengetahuan. 1989 : 38). sumber wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Catur Veda dan lain-lain menunjukkan bahwa simbolis tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi dengan latar belakang filosofis yang sangat dalam. KONSEP KEPEMIMPINAN.

untuk mencapai tujuan tertentu (Nawawi da Handari. 1 995:9). pasti dan teratur. Sehubungan dengan itu maka kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan / kecerdasan mendorong sejumiah orang agar bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama (Nawawi dan Handari. prosedur dan mekanismenya mudah berubah sesuai dengan kebutuhan dan keputusannya cenderung ditentukan oleh kesepakatan bersama. Dengan kata lain pemimpin adalah orangnya dan kepemimpinan adalah kegiatannya. pasti memeriukan seseorang untuk menempati posisi pemimpin (leader). karena didalam kepemimpinan hadir suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi tugas-tugas yang berhubungan dengan kegiatan antar kelompok. Dengan kata lain kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan apa yang diinginkan untuk dikerjakan oleh orang lain. yaitu 1) Kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikutnya. Setidaknya ada dua jenis organisasi yaitu Organisasi formal dan non formal. semua kualitas kepemimpinan dari seorang manajer akan tidak . maka status pemimpin menjadi jelas dan membuat proses kepemimpinan memungkinkantanpa ada yang mengarahkan. 1995:8). Kepemimpinan adalah proses mendorong dan membantu orang lain untuk bekerja secara antusias ke arah tujuan. Seorang pemimpin didalam sebuah organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan. tetapi pada kenyataannya sering kali sangat kompleks. Baik organisasi formal maupun non formal. Kepemimpinan juga berarti aktivitas mempengaruhi orang lain untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela. Dari uraian diatas ada empat implikasi penting. Sedangkan Organisasi non formal memiliki struktur yang semi permanen. Dengan kata lain organisasi adalah proses atau rangkaian kegiatan kerja sama sejumlah orang. Organisasi formal memiliki struktur yang relatif permanen.kerjasama itu dinamakan organisasi. Dengan keinginan mereka untuk menerima pengarahan dari pimpinan. Konsep demikian kelihatanya sederhana. prosedur dan mekanisme yang statis.

artha. 3) Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku-perilaku pengikut dalam sejumlah cara. semua kewajiban manusia terabaikan. Hal ini banyak dijelaskan dalam percakapan antara Bhagawan Bhisma dengan Yudhistira pasca perang Bharatayudha. Ini adalah sebuah catatan berharga bahwa meskipun kepemimpinan dihubungkan dalam kepetingan dalam manajemen.dharma. Dalam bab yang lain dijelaskan pula bahwa: "ketika tujuan hidup manusia . Begitu juga pembagian masyarakat semakin kacau. Hindu memandang politik tidak semata-mata sebagai cara mencari. 4) Aspek gabungan dari ketiganya yang mengakui bahwa kepemimpinan adalah sebuah nilai (value). Politik Hindu Banyak pihak yang beranggapan bahwa politik adalah kotor karena politik selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara. sebagai berikut:"manakala politik telah sirna. hal 147. yaitu dalam Santi Parwal LXIII. 2) Kepemimpinan melibatkan sebuah pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan anggota kelompok. pada politikiah semua pengetahuan dipersatukan. melainkan adalah bagi penegakkan Dharma. Pada politiklah semua berlindung. semua aturan hidup hilang musnah. dan mempertahankan kekuasaan.relevan. Akan tetapi. pada politiklah semua dunia terpusatkan". dan moksa semakin jauh. dan pada politiklah dunia terpusatkan" . Seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan lebih dari kelompok yang dipimpin. pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan. maka pada politikiah semua berlindung. kama. kepemimpinan dan manajemen bukanlah konsep yang sama. veda pun sirna pula. pada politiklah semua kegiatan agama/yajna diikatkan. Pada politiklah semua awal tindakan diwujudkan.

Antara politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak dapat dipisahkan. untuk . tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang raja". Kerajaan pribumi pada waktu itu. Yang sangat mencolok adalah pengaruh kepada organisasi negara. sebagai aktualisasi dari konsepsi "raja adalah keturunan Dewa". menjalin hubungan dengan perdagangan dengan kerajaan India dan mengadopsi konsep-konsep Hindu. dan kebenaran yang apabila dilanggar maka akan berakibat pada kehancuran umat manusia. Para pemimpin waktu itu berusaha dengan bantuan para Pendeta Hindu. bogha wiryawan"). dan sebaliknya dharma yang dijaga akan membawa kemuliaan (dharma raksatah raksitah). yaitu politik Hindu adalah untuk menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. Dalam Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa "apa yang menjadikan raja senang bukanlah kesejahteraan. kemuliaan adalah pasti ("sang sura menanging ranaggana. Melalui konsep "raja adalah keturunan Dewa" maka kekuasaan raja menjadi absolut. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan. bukanlah kesejahteraan penguasanya karena penguasa yang berhasil membawa rakyatnya pada kebahagiaan tertinggi. yang diatur sangat Hirarkis. mamukti sukha wibawa. dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). kewajiban. dapat dibaca pada batu tertulis (Prasasti) di Kalimantan dan di Jawa Barat. berorientasi ke atas. Dharma adalah hukum. Selayang Pandang Kepemimpinan di Era Hindu Indonesia Tanda-tanda tentang adanya pengaruh agama Hindu. baik untuk mengatur negara maupun kerohanian. Dari peninggalan itu dapat disimpulkan bahwa gaya huruf dari tulusan ini yang digolongkan sebagai huruf Pallawa dan bila diperhitungkan umurnya kira-kira abad keempat Masehi. Kalimat ini menunjukkan bahwa sasaran pokok dalam politik Hindu adalah kebahagiaan rakyat. selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang rat).Untaian kalimat dalam Santiparwa tersebut mengisyaratkan bahwa antara Politik dan Agama mempunyai kaitan yang sangat erat.

seluruh penjuru mamanggil dan memohon perlindunganmu. dalam kitab Atharva Veda: 3. Kepemimpinan dalam Sastra-Sastra Hindu Dalam ajaran Agama Hindu banyak sekali ditemukan ajaran tentang kepemimpinan. raihlah kehormatan dan pujian dalam negara ini. Wisnu. bahwa hanya keturunan Dewa bisa menjadi pemimpin. demikianlah keberadaan pemimpin dengan yang dipimpinnya. Hal ini nampak jelas dalam kutipan sebagai berikut: Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti kebenaran dan dharma. Ia tersebar mulai dari Weda sampai pada berbagai sastra Hindu.4. maka semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan menyebarkan dharma kepada masyarakat luas (Atharva Veda: 3.2). Tetapi yang terjadi tidak selalu demikian. pemimpin juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Pemimpin yang ingin diakui oleh masyarakat adalah mereka yang berhasil "Mbrojol selaning Garu" (Iolos dari seleksi yang ketat).4. datanglah dengan cahaya. Bila seorang pemimpin memperhatikan masalah kesejahteraan rakyat serta mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat. maka rakyatpun akan melindungi pemimpin itu sendiri ibaratnya Singa dan hutan yang saling melindungi.menarik garis keturunan kepada Dewa (Brahma. Waktu itu diyakini. serta mencukupi kebutuhan rakyatnya. . lindungilah rakyat dengan penuh kehormatan.1 dijelaskan tentang tugas seorang pemimpin sebagai berikut: Wahai pemimpin negara. hadirlah sebagai pemimpin yang utama. Siwa dan Dewa lainnya) pada dirinya guna melegitimasi kekuasaanya. Disamping sebagai pelindung rakyat.

Dana dan Danda. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV. Beda. Warga-warga disatukan.6) Dalam Nitisastra 1. Persekutuan dan persatuan merupakan suatu kekuatan yang maha besar sehingga akan mampu menumbangkan kekuatan sebesar apapun. Lihatlah itu si ular naga yang mencari tempat berlindung pada Bhatara Siwa karena Baktinya ia dijadikan kalung oleh Bhatara Siwa. Ketika burung Garuda datang (musuh ular) terpaksa ular itu dihormati pula. sebaliknya rakyatpun akan selalu menghormati. Penguasa-penguasa di Bali jaman dahulu rupa-rupanya memaklumi hal ini sehingga beliau melaksanakan strategi menggalang persatuan rakyat dalam wilayahnya. Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang dipimpinnya. Dalam sastra Jawa Kuno dikatakan bahwa Raja harus melaksanakan taktik Catur Upaya Sandhi. melindungi rakyatnya dengan selalu meminta perlindungan Tuhan. yang menggalang rasa kelompok dan rasa bakti kepada raja. Dalam Tantri Kamandaka.Pemimpin yang tidak terkalahkan. yaitu Sama.9) Bila seorang pemimpin yang pemarah dengan kesombongannya ingin menghancurkan dan menghina para Brahmana yang ahli Veda. mati dibunuh oleh persekutuan si burung siung. Pada hari-hari tertentu wargi-wargi itu bertemu di Pura. Namun dalam hal ini raja harus cerdik melaksanakan segala upaya mempersatukan rakyatnya. (Rg Veda: 4. (Atharva Veda: 5. maka negara tersebut akan hancur. si gajah yang besar dan kuat namun angkuh.50.19. 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang . Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat. lalat dan katak. 1 1 disebutkan bahwa : Orang tidak boleh tanpa Asraya (tempat mohon bantuan) namun usahakanlah Mahasraya. dan melindungi pemimpin tersebut. dipersaudarakan dengan menyatukan pura kawitannya dalam satu kompleks pura dengan pura raja dan menyebut mereka wargi sang raja.

Kuwera. Bayu.ideal. Indra brata. Bagaikan anginiah engkau waktu mengamati perangai orang. kejammu pada musuh itu . setiap yang merintangi usahakan musnahkan. ia memukul pencuri sampai mati. Adapun terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana adalah: "Dan ia disuruh untuk menghormatinya. yang demikian disebut Dhanabrata patut diteladani. Selalu membakar musuh itu perilaku api. itulah engkau tiru Pasabrata. Nikmatilah hidup dengan nikmat. hendaklah engkau mengetahui pikiran rakyat semua. Agni. engkau mengikat orang-orang jahat. Bhatara Surya selalu menghisap air. 2. demikian delapan jumlahnya. itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya. Candra. Surya. Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya. Sang Hyang Indra usahakan pegang. inilah Bayu brata. setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau hormati. Baruna. delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu. 3. 5. Yama. berpakaian dan berhiaslah. tersembunyi namun mulia. Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit. karena Ida Bhatara ada pada dirinya. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII. 7. perilaku lemah lembut tampak. Ia menjatuhkan hujan menyuburkan bumi. Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat. 6. beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja. inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata. demikianlah engkau mengambil penghasilan. tidak membatasi makan dan minum. 8. sumbangansumbanganmu itulah bagaikan hujan membanjiri rakyat. Hyang Indra. tiada cepatcepat demikian Surya Brata. pelan-pelan olehnya. 4. demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat. dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak kentara. tiada rintangan.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia. itulah sebabnya disebut Asta Brata" 1. senyummu manis bagaikan amerta.

Makambek mangakana Terjemahan: .usahakan. Jananuragadi tuwi kapangguha. Mtangian mangkana. Dari semua hukumhukum yang harus dipedomani oleh seorang pemimpin. "sakanikang rat kita yan wenang manut. Dalam kakawin Ramayana. Artinya: Tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti Petunjuk-petunjuk hukum Manu (Manawa dharmasastra) usahakan pegang Hilangnya penderitaan itulah tujuannya Cinta orang tentu akan kita jumpai. Ksaya nikang papa nahan prayojana. Bhismaparwa dan lain-lain dijumpai uraian dharma sebagai pedoman raja (pemimpin) dalam memimpin negaranya. demikianlah yang disebut Agnibrata. manupadesa prihatah rumaksa ya. Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin negaranya ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya.ika ta sang prabu. Petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra sastra Jawa Kuna. si mangraksa rat juga. Ika ta prassidha dharma ulahaning kadiKita prabhu. setiap engkau serang cerai berai dan lenyap. Tuntunan Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin.asihning wwang ringSarwa bhuta marikang dharma mangkana ngaranyaKotamaning asih ika pagawenta piratrana ring rat. yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh bertidak sesuka hatinya ketika ia memegang kekuasaan. disimpulkan dalam dharma yang mengandung pengertian segala sesuatu yang mendukung orang untuk mendapatkan kerahayuan.

Kutipan ini menunjukkan beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang pemimpin agar tak ditinggalkan oleh para pengikutnya.yang merupakan nasehat Bhagawan Bhisma kepada Prabhu Yudistira.penampilan kasih sayang itulah kamu kerjakan. yan hana ratu akeras mapanas ing gawe. awisesa ngaranya manarub. demikianiah sang prabhu (pemimpin) seharusnya bertingkah laku. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan dan orang yang hina dimuliakan. Bila ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif. yang hana wang adhahjati dinuhuraken. Kutipan diatas diambil dari Bhismaparwa. Petunjuk tentang itu dapat diketahui dari kutipan berikut: "Laku bhrtya matinggal ratunya. Raja yang kikir dan sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa. Seorang pemimpin yang baik menurut ajaran Hindu haruslah memperhatikan masalah . ya hana wwang kulina janma sinoraken. bila raja kejam dan bengis tindakannya. yaitu raja yang mencampurbaurkan persoalan. Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. tidak menjadi panutan yang dipimpinnya. yeka anarub ngaranya.Demikianlah dharma yang sempurna engkau kerjakan sebagai raja melindungi negara. Lebih baik raja yang kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang. itulah mencampur-baurkan namanya.sayangmu pada semua makhluk dharma namanya. yan hana ratu mangkana tininggal sira de ning janma wwang kulina janma. maka ia akan kehilangan kekuasaannya karena ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya. byakta sira tininggal ing wadwa nira. Apabila sang Prabhu tidak melaksanakan tugas-tugasnya sebagai raja yang melindungi rakyat dan negara. untuk melindungi negara. (slokantara 40) Terjemahan : Pelayan dapat meninggalkan rajanya. sebabnya demikian. leheng ikang ratu makeras swapadi ngrutu makumed tar paradanda. yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira. ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa.

Bhukti akaharepta wehing bala kasukan. (Kakawin Ramayana III. artha. selalu dalam kesucian. (Ramayana III. Artinya. Dharma kalawan artha mwang kama ta ngaranika. seorang pemimpin harus memiliki kedua sifat dalam dirinya. menegaskan bahwa seorang pemimpin yang sempurna dalam konsep Hindu adalah seorang Rajarsi atau satria pandita. rumah sakit dan pedarman supaya diperbaiki. dan penuh cinta kasih. 26. dan seorang pandita yang arif bijaksana. supaya diperbanyak untuk biaya pembangunan disimpan baik-baik. Dharma. 65) Kutipan ini juga mengandung makna bahwa raja atau pemimpin harus mengembangkan nilai kejujuran (satya ta sira mojar) dan karena itu semua rakyat akan segan terhadap raja atau pemimpinnya. KERAGAMAN RITUAL . Kepemimpinan Yang Paripurna Menurut Hindu "Gunamanta Sang Dasarata Wruh Sira Ring Weda Bhakti Ring Dewa Tarmalupueng Pitra Puja Masih Ta Sireng Swagotra Kabeh" Kutipan bait Ramayana di atas. Petunjuk tentang itu dapat dilihat pada nasehat Rama kepada Wibisana berikut ini: Dewa kusala salam mwang dharma ya pahayun. yaitu sifat seorang Ksatria yang gagah berani dalam menegakkan dharma. 54) Terjemahan: Pura-pura (tempat suci). dan kama namanya demikian itu.kesejahteraan para pengikutnya. Nikmatilah apa yang kamu ingini berilah kesejahteraan. Santasih nitya thaganan Kasih sayang hendaknya engkau selalu lakukan.Mas ya ta pahawreddhin bhaya ring hayu kekesan.

Dengan teks-teks ini semakin pentingnya pengetahuan esoterik korespondensi diamati dibandingkan dengan tindakan ritual. kami hanya ingin tumbuh. berkembang dan hidup yang wajar. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki kitab suci dan ajarannya hanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun. tidak terkekang oleh dogmadogma yang salah atau kedaluwarsa. Bagianbagian pada pengetahuan (jnanakanda) didahulukan dari bagian pada ritual (karmakanda). tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. which maintained that knowledge of the correspondences between ritual and cosmos is a kind of power. yang berpendirian bahwa pengetahuan tentang korespondensi antara ritual dan kosmos adalah semacam kekuasaan. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri. desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. The sections on knowledge (jnanakanda) take precedence over sections on ritual (karmakanda).ritual Hindu adalah representasi dari Upanishad yang melanjutkan pekerjaan Brahmana dan Aranyakas dalam menafsirkan makna dari ritual srauta. masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri. 27. . Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat. The Upanisads sebelumnya melanjutkan spekulasi magis dari Brahmanas. yang disebut Kaharingan. The earlier Upanisads continue the magical speculations of the Brahmanas. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. APLIKASI WEDA DI KALTENG Sebelum datangnya agama-agama tradisi besar dan resmi diakui oleh pemerintah Indonesia. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. With these texts the increasing importance of knowledge of esoteric correspondences are observed as compared to ritual action. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kalapatra. tetapi juga ajaran untuk berperilaku.

kesialan. dan sebagainya.Menurut kepercayaan Kaharingan. Upaya penyebaran agama-agama tradisi besar ini cukup berhasil. ada ular yang melintas di depannya. bantuan ekonomi. sakit. Suku Dayak sangat terbuka dengan pengaruh budaya luar. misalnya Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi Mahatara. batu. banyak yang kemudian memeluk agama Islam. tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia. Hal ini bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. Melayu. dan sebagainya. dan pelayanan kesehatan. Bugis. pohon. masyarakat Dayak mempercayai banyak dewa di sekitar mereka. seperti arah terbang burung. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam apabila hendak bepergian jauh. dan sebagainya. dibawa oleh kaum pendatang yang berasal dari daerah lain. Dalam upaya Kristenisasi dan Katholikisasi terhadap Suku Dayak di pedalaman. Mereka percaya adanya Tuhan. maka dimanfaatkan oleh kaum misionaris untuk menyebarkan agamanya. sungai. suara burungburung tertentu. dan sebagainya. maupun Katholik. yang sebutannya berbeda-beda antara Sub suku Dayak satu dengan yang lainnya. Kristen. terdapat dewa yang tertinggi. Dari dewa-dewa tersebut. sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit. Islam telah masuk ke Kalimantan sejak abad ke-13. melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut. Sedangkan kegiatan misionaris agama Kristen Katholik dan Kristen Protestan telah masuk ke pedalaman Kalimantan dan berjalan dengan gencar sejak abad ke-19. Akan tetapi sebagian dari mereka tetap . terutama dalam merekrut generasi mudanya sehingga pada saat ini sebagian besar generasi muda Dayak telah memeluk agama Islam. seperti Jawa. Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin terhadap dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana. mereka banyak menggunakan media pelayanan sosial. seperti dewa-dewa yang menguasai tanah. Suku Dayak yang tinggal di daerah pesisir dan banyak berhubungan dengan para pendatang dari suku-suku lain. termasuk di antaranya kehadiran agama-agama tradisi besar. Dengan keterbukaannya tersebut. seperti bantuan pendidikan.

hilang pula nilai-nilai dan normanorma yang terkandung di dalam tatanan masyarakat Dayak. orang Melayu dengan agama Islamnya identik dengan kemajuan dan kemoderenan. Sementara itu keberadaan agama Kristen dan Katholik juga tidak mendukung pelestarian adat-istiadat dan tradisi Suku Dayak. . Katholik. Pada jaman Orde Baru pemerintah memberlakukan lima agama besar yang resmi diakui di Indonesia. seperti pelestarian hutan. dan harus diluruskan sesuai dengan ajaran agama mereka. Dengan hilangnya upacara-upacara tersebut. Banyak upacara Suku Dayak yang berhubungan dengan upacara kematian. Di satu pihak mereka harus memilih salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah. salah. yaitu Islam.bertahan pada kepercayaan Kaharingan. sementara di pihak lain ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionanis dan penyebar agama tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka. Seorang Dayak yang sudah menganut Islam akan merasa malu mengakui dirinya sebagai orang Dayak. dan sebagainya. Hal ini mengakibatkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. dan Budha. Hindu Dharma. Ia akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Melayu Menurut pandangan mereka. Kristen. rasa menghargai terhadap semua makhluk hidup yang ada di alam lingkungan. penghormatan terhadap leluhur. Kedatangan agama-agama tradisi besar tersebut di atas ternyata juga membawa dampak buruk terhadap kehidupan orang-orang Suku Dayak. seperti upacara Tewah/Dalo. Hal ini dikarenakan agama-agama tradisi besar pada umumnya memandang kepercayaan-kepercayaan di luar mereka sebagai sesuatu yang eksotik. sedangkan orang Dayak dengan kepercayaan Kaharingan-nya identik dengan ketertinggalan dan kekolotan. pemujaan roh nenek moyang yang telah meninggal. dan pemujaan alam lingkungan yang dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katholik. khususnya dengan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Suku Bali sebagai penganut agama Hindu Dharma mayoritas di Indonesia. Pada akhirnya para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu Dharma sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar antara keduanya. upacara penolak bala dan sebagainya.

misalnya batu besar. Orang-orang Dayak memiliki tradisi yang beraneka ragam dalam memperlakukan jenazah dengan tiga cara. disemayamkan di atas tanah atau diatas pohon di dalam hutan. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. yaitu percaya bahwa roh yang telah meninggal dapat lahir kembali. atau disemayamkan di atas tanah. Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam .Persamaan antara kepercayaan Kaharingan dengan ajaran Hindu Dharma adalah sebagai berikut 1) Percaya Reinkarnasi. dan dikremasi. berkaitan dengan sumber mata pencaharian : hutan sebagai sumber kehidupan karena merupakan tempat untuk berburu binatang dan mencari makanan. melindungi antara lain: a. Sedangkan di Bali arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga). dan sebagainya Setelah bergabung dengan agama Hindu Dharma. Di Bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam masih berjalan lestari sampai saat ini. dan sebagainya. binatang. atau bersemayam pada benda-benda mati. Eka Dasa Rudra. 3) Upacara yang berkaitan dengan pemujaan kepada lingkungan alam. yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu Dharma. puncak-puncak gunung. pertemuan sungai. hutan Manfaat dan arwah hutan nenek bagi moyang orang yang Dayak. b. Upacara ini mempunyai persamaan dengan di Bali. 2) Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur. berkaitan dengan kepercayaan hutan sebagai tempat tinggal dewa penguasa manusia. Sedangkan Dayak Ngaju menguburkan jenazah di dalam tanah terlebih dahulu. di mana jenazah orang yang meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah. Panca Wali Krama. Lingkungan alam yang paling dekat dengan Suku Dayak adalah lingkungan hutan. maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan. tumbuhan. yaitu dikubur di dalam tanah. seperti upacara Tawur Agung. setelah beberapa tahun kemudian digali kembali dan tulang-tulangnya dibakar. baik ke dalam tubuh manusia.

di lain pihak menginginkan Hindu Kaharingan berdiri sebagai agama tersendiri. antara lain BAKDI (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia) dan Majelis Hindu Kaharingan. maka timbul perpecahan di antara umat Hindu Kaharingan. yaitu mengapa umat Hindu Kaharingan terpecah menjadi dua? Di satu pihak menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma. Sebagian dari mereka menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma dengan tetap mengakui PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu yang resmi diakui oleh pemerintah. Ketika kekuasaan Orde Baru runtuh dan bergulir semangat reformasi. Di pihak lain. . lepas dari agama Hindu Dharma. Sebagian lagi menyatakan bahwa Hindu Kaharingan sebagai agama yang berdiri sendiri. terpisah dari agama Hindu Dharma. Kebijakan apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini? Antara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di luar PHDI. Dari uraian di atas. sebagian dari mereka menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. dan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah. Pada saat ini mereka tengah memperjuangkan kepada pemerintah agar agama Hindu Kaharingan dapat diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah. Hal ini terlihat dari beberapa nama majelis yang ditawarkan sebagai wadah umat Hindu Kaharingan. Namun tampaknya juga belum ada kesepakatan bersama dalam membentuk “PHDI Tandingan” ini. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan. dapat diketahui permasalahannya. sejajar dengan agama-agama lainnya. Pihak yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok diterapkan pada kepercayaan Kaharingan.agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di Indonesia.

karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci kepada manusia c) Pitra Yadnya. manusia dengan manusia. yaitu makhluk halus. yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh b) Rsi Yadnya. yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia.Suksma -------------- . dan manusia dengan alam semesta. ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana. perkawinan. laut. upacara-upacara keagamaan terbagi dalam lima kelompok besar. yaitu upacara yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran manusia d) Manusa Yadnya. yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta. a) Dewa Yadnya. sungai. kelahiran. sedangkan Bhuta Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta.Konsep-Konsep Upacara dalam Ajaran Hindu Dharma Di dalam ajaran agama Hindu Dharma. dan kematian e) Bhuta Yadnya. dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan manusia. Kelima manifestasinya kelompok (perwujudan hesar Tuhan dalam tersebut bentuk adalah: dewa-dewa). seperti kehamilan. yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi. Di samping konsep Panca Yadnya. Pitra Yadnya. atau sering disebut dengan Panca Yadnya. -------------. seperti gunung. nabi atau kaum ulama. Dengan demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita Karana. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan manusia. Upacara adalah sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di dalam Tri Hita Karana tersebut. pandita. yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan. dan sebagainya. upacara Rsi Yadnya. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. binatang dan tumbuhan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful