JAWABAN SOAL UJIAN STUDI AGAMA HINDU 1. PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA, INDONESIA DAN KALIMANTAN TENGAH a.

Perkembangan Agama Hindu di India Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Agama Hindu pertama kali dikenal di India. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 Jaman/fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. 1. Jaman Weda–>Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut “Rta”. Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra. 2. Jaman Brahmana–>Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya “Tata Cara Upacara” beragama

yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. 3.Jaman Upanisad–>Pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. 4.Jaman Budha–>pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Agama Hindu makin lama semakin menyebar mulai dari India Selatan hingga keluar dari India dengan berbagai cara, sterutama melalui perdagangan bebas Internasional. Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini “Maitra Waruna” yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi. Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari

India. Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orangorang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan “Aztec” yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini. Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saatsaat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini disebut Inca. Kata “Inca” berasal dari kata “Ina” dalam bahasa Sanskerta yang berarti “matahari” dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya. Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park). Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda “Tri Kuta” atau tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman

d 1500 tahun sebelum Masehi. akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik. Siwa dan sebagainya. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Pada jaman ini. Indra. ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan. Varuna. yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni. kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi.Budha. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta. Vayu. Sedangkan pada Jaman Upanisad. yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja. yang kemudian dikembangkan pula pada . Walaupun Dewa-dewa itu banyak. setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. Kitab Brahmana. sekitar 2500 s. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama. yang disebut "Rta". yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda. Ksatriya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. masyarakat dibagi atas kaum Brahmana. Vaisya dan Sudra. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa. Pada Jaman Brahmana. Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu.

ajaran Darsana. agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan . perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: “Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman”. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara b. dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. dengan Agama Hindu. pada Jaman Budha ini. Masuknya agama Hindu ke Indonesia. menimbulkan pembaharuan yang besar. Selanjutnya. dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur). dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta". menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan menghubungkan sistem yoga diri dan semadhi. Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana. pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. Perkembangan Agama Hindu di Indonesia Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi. sebagai jalan untuk Tuhan. Ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Tempat itu disebut dengan “Vaprakeswara“.

Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu” Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Selanjutnya. Berdasarkan data tersebut. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi). Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah. Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa. yakni prasasti Ciaruteun. Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti. Disamping itu. Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti. Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa. agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur. maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa . Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa “Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu. yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa.diketemukannya tujuh buah prasasti. diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi. yaitu Trisula. Kebonkopi. Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi. Kapak dan Bunga Teratai Mekar. Jambu. Muara Cianten. dengan Candra Sengkala berbunyi: “Sruti indriya rasa”. Cakra. yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Pasir Awi. Kendi.

Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292).sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu. Setelah dinasti Isana Wamsa. Kitab Bharatayudha. para Brahmana besar. Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal. para pendeta dan penduduk negeri. Hal ini disamping dapat dibuktikan . sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. sebagai pengemban agama Hindu. di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222). Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur. misalnya Kitab Smaradahana. candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari. yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda. yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama. Kitab Lubdhaka. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu.

Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat . Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. agama. bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja.dengan adanya prasasti-prasasti. Surya kanta tahun1925 di SIngaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. yang berasal dari abad ke-8. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci. Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung. juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu. Menurut uraian lontar-lontar di Bali. Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja. Perkembangan agama Hindu selanjutnya. Dan pada masa Dalem Waturenggong. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Perkembangan selanjutnya. seperti Pura Rambut Siwi. arsitektur. Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung). Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2. kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Khayangan Jagad. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra. Beliau Moksa di Pura Silayukti. Gianyar. yakni pada masa pemerintahan Udayana. setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa.

Mookerjee (ahli .Belanda) . Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India. Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Berdasarkan beberapa pendapat. Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis". maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia.Belanda). Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia. Dari lembah sungai sindhu. Moens dan Bosch (ahli . Krom (ahli . Kontak yang berlangsung sangat lama ini. Tiongkok. Dan pada tahun 1964 (7 s. dengan teori Waisya.d 10 Oktober 1964). Asia Tengah. yaitu ke India Belakang. yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India.India tahun 1912). ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia.Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India.

Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali. dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia. maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau. Pita Segara. Prasasti Porong (Jawa Tengah) Prasasti yang bertahun Caka 785. maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti: Prasasti Dinoyo (Jawa Timur): Prasasti ini bertahun Caka 628. karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma. melalui sungai Gangga. Perkembangan Agama Hindu di Kalimantan Tengah . yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. artinya bapak dari lautan. dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau. juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. India Selatan dan India Belakang. Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Yamuna. c. artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Data Peninggalan Sejarah di Indonesia. diantaranya adalah: Agastya Yatra. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu.

Wawasan masyarakat Bali terbuka untuk memetik hal-hal yang baik dari manapun berasal dan dengan kemampuannya yang selektif dan adaptif. menggunakan hal-hal yang baik itu untuk merevitalisasi Agama Hindu dan budaya Bali. penyalahgunaan obat-obat psikotropika (narkoba. EKSISTENSI KEBERADAAN AGAMA HINDU Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama Hindu dan budaya Bali. transportasi. Demikian pula alat-alat komunikasi. untuk berkomunikasi ke mana saja di belahan bumi ini. Berkembangnya penyakit sosial seperti prostitusi. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan . pencurian. ekstasi. dan informasi yang sangat canggih memberikan peluang kepada masyarakat Bali yang memang sangat terbuka. yang dapat menimbulkan ketegangan bagi umat beragama. Dampak negatif budaya global tersebut merupakan dampak dari kehidupan modern.2. Proses globalisasi telah pula merambah kehidupan agama yang serba sakral menjadi sekuler. Berbagai produk budaya global telah merambah berbagai aspek kehidupan. perampokan. Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya global. Dampak positif budaya global sangat dirasakan oleh masyarakat Bali. Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi atau era kesejagatan yang demikian tampak pesat mendera setiap bangsa. dan bahkan pemerkosaan. ke dalam rumah dan bahkan ke dalam kamar-kamar dan kepada pribadi masyarakat. terutama dengan adanya kemajuan teknologi informasi mempercepat proses perubahan tersebut. Teknologi komunikasi dan informasi yang demikian maju memberi peluang masuknya berbagai pengaruh budaya asing. kurangnya solidaritas. tidak dapat dihindari adalah dampak negatif budaya global tersebut. Muncul berbagai masalah di antaranya masyarakat semakin individualis. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di balik dampak positif globalisasi. dan sebagainya).

and can be an example to the rest Asia for its skill in adapting traditional cultural practices to suit a modern context. Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan globalisasi tersebut. 2005:18). Vinod C. Dalam situasi yang demikian. Agama Hindu dan tidak menghapuskan tradisi masyarakat dan budaya Bali sebelumnya. untuk itu kiranya perlu diketengahkan bagaimana sinergi dan dinamika Agama Hindu dengan budaya Bali dan melakukan fungsinya sesuai dengan budaya Bali. bahwa Agama Hindu menjadi jiwa dan sumber nilai budaya Bali. Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut. dan menulis buku The Ramayana in Indonesia (2004) seperti dikutip oleh Dharma Putra dan Widhu Sancaya (2005:XV) menyatakan bahwa Bali dapat dijadikan satu contoh untuk Asia sebagai daerah yang memiliki kemampuan untuk mengadaptasi budaya tradisional agar relevan dengan budaya global. Sinergi dan dinamika Agama Hindu di Bali telah melahirkan berbagai kearifan lokal. Seperti telah disebutkan di atas. Khanna dan Malini Saran yang telah beberapa kali mengunjungi Bali.keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika. tampak beragam respon masyarakat Bali. namun demikian kekhawatiran sebagian masyarakat tentang dampak negatif globalisasi perlu diusahakan jalan untuk mengatasi dan mungkin mencegahnya. di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Agama Hindu dan budaya Bali mampu menghadapi budaya globabal. mantan Duta Besar India. Berbagai kearifan lokal telah terbukti mampu menjadikan Agama Hindu dan budaya Bali eksis sepanjang masa . tetapi sebaliknya memberikan pencerahan kepada budaya lokal. The island of Balinever lost sight of this truth while facing up to the relentless onslaught of tourism on its rich artistic heritage.

Bukanya hanya berdoa pada Tuhan lalu meminta berkahnya.3. Hindu merupakan agama yang universal. yang mampu berdampingan dengan agama lain. banyak umat Non-Hindu yang mengangap bahwa itu tidaklah praktis. Tidak ada dalam Hindu memberi secarik kertas dari sebuah . Dalam mantra Hindu seperti maha mantra Hare Krisna dan lain-lain jika diartikan disebutkan pada awalnya bukan meminta berkah sesuatu seperti doa-doa ajaran yang lain. umat Kristen percaya bahwa Yesus berkorban untuk umatnya. karena semua dilakukan dengan rasa bahagia dan keiklasan. dengan cara apapun. Itu salah. bagi Hindu dosa tidak bisa hapus. Agama Hindu tidak pernah mempersalahkan agama lain yang ada di dunia ini. karena walau beliau itu penuh dengan keajaiban namun beliau tetap tidak sesempurna tuhan. Namun perbuatan dosa bisa diimbangi dengan perbuatan Baik. sunguh tidak sempurnanya Tuhan jika harus memiliki perwakilan di dunia. Aneh bukan jika itu ada. dan bukan Hindu saja yang percaya hal itu. Hindu bukanlah agama yang membenarkan penghapusan Dosa. Tapi bagi Umat Hindu itulah cara mereka menunjukan rasa cinta dan kekaguman mereka pada sang pencipta. umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba yang memiliki tidak saja pengikut dari Hindu melainkan juga Umat Non-Hindu sebagai Guru Besar Spritual dalam Hindu. Hindu percaya dalam menjaga dunia ini Tuhan juga berkorban untuk kita. Bagi Umat Hindu tidak ada upacara yang ribet atau tidak praktis. Satu lagi mungkin juga yang membedakan Hindu dari agama yang lainya. karena Umat Hindu tidak pernah mengangap seperti itu. IMPLEMENTASI AGAMA HINDU YANG BERSIFAT UNIVERSAL Hindu memang dikenal dengan banyaknya Upacara. Tapi memang agama tidak bisa dilogikakan. secara logika saja sudah agak aneh. melainkan meminta untuk mengabdi dan berbakti pada beliau. Dalam Hindu tidak ada namanya perwakilan Tuhan di dunia. Umat Hindu percaya bahwa beliau adalah Guru yang patut dihormati dan bukan berarti beliau diangap sebagai tangan tuhan di dunia ini. Budha pun berkorban untuk kedamaiaan pengikutnya. Seperti kebayakan Non-Hindu mengatakan bahwa umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba sebagai wakil tuhan di dunia.

dan juga dalam Hindu sorga bukanlah tujuan utama mereka. Yang dimaksud dengan Varna adalah pilihan profesi sesuai dengan Guóa (bakat pembawaan orang) dan Karma (kerja yang dia lakoni) oleh setiap orang. Jangan pernah kita merasa kita ini minoritas. Bilama Hindu tidak mengenal missi. Mukti Ali. Dipakai nama Hindu Dharma sebagai nama agama Hindu menunjukkan bahwa kata Dharma mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian kata agama dalam bahasa Indonesia. sekarang mungkin kita sedikit melihat bagaimana ke agungan Hindu itu sendiri.perwakilan yang menyebut dirinya perwakilan Tuhan di dunia. Dalam kontek pembicaraan kita . bagaimana orang Indonesia di masa yang lalu memeluk agama Hindu? Siapakah yang menyebarkan agama Hindu ke Indonesia? Selanjutnya tentang kasta adalah bentuk penyimpanan dan interpretasi yang keliru dari pengertian Varna sebagai tersebut dalam kitab suci Veda. Minoritas bukan berarti tidak berkualitas. atau dengan membunuh orang dengan atas nama Jihad kemudian masuk sorga. melainkan Moksha atau menyatu dengan Tuhan (Brahma) . HINDU ADALAH SANATANA DHARMA Dalam upaya memantapkan pandangan kita terhadap ajaran Hindu Dharma terlebih dahulu kami ingin menekankan kembali nama dan sumber ajaran Hindu atau Hindu Dharma yang kita kenal sebagai satu agama tertua yang masih dianut oleh umat manusia. Bahkan Prof. Dalam Hindu itu tidaklah ada. Dr. kemudian dosa bisa dikurangi. Hal ini kami pandang sangat perlu mengingat sampai sekarang masih ada pandangan dan buku-buku yang mendiskreditkan agama Hindu dan menganggap agama Hindu sebagai agama yang tidak bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa. lalu masuk sorga. 4. tanggal 11 Oktober 1993 di Yogyakarta menyatakan bahwa agama Hindu tidak mengenal missi karena dibatasi oleh sistem kasta. karena sebenarnya kita adalah mayoritas dalam ajaran keagamaan. sebagai tokoh ahli perbandingan agama di Indonesia pada Kongres Agama-Agama di Indonesia. Banggalah kita menjadi Hindu.

Jadi agama Hindu sama dengan Hindu Dharma.1 (Dayananda. membentuk kemuliaan Hinduisme. Bangladesh disebut dengan nama Bhàratavarsa yang disebut juga Jambhudvìpa. oleh karena itu Hindu Dharma merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Sivananda. Hindu Dharma memandang pengalaman-pengalaman para mahàrûi di jaman dahulu itu sebagai autoritasnya (sebagai wahyu-Nya).saat ini pengertian Dharma disamakan dengan agama. Kata Sanàtana Dharma berarti agama yang bersifat abadi dan akan selalu dipedomani oleh umat manusia sepanjang Nama asli dari agama ini masa. Pakistan. Pada mulanya wilayah yang membentang dari lembah sungai Shindu sampai yang kini bernama Srilanka. 1974:LI) maupun maharsi Aupamanyu sebagai yang dikutip oleh mahàrûi Yàûka . pengalaman-pengalaman ini sifatnya langsung dan sempurna.9. 1984: 13). Kebenaran yang tidak ternilai yang telah ditemukan oleh para mahàrûi dan orangorang bijak sejak ribuan tahun yang lalu. 1988: 4) Kebenaran tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa ditegaskan oleh pernyataan yang terdapat dalam kitab Taittiriya Aranyaka 1. Kitab suci Veda merupakan dasar atau sumber mengalirnya ajaran agama Hindu. Kata Vaidika Dharma berarti ajaran agama yang bersumber pada kitab suci Veda. Para åûi atau mahàrûi yakni orang-orang suci dan bijaksana di India jaman dahulu telah menyatakan pengalaman-pengalaman spiritual-intuisi mereka (AparokûaAnubhuti) di dalam kitab-kitab Upaniûad. merupakan santapan rohani dan pedoman hidup umat manusia yang tentunya tidak terikat oleh kurun waktu tertentu. karena ajaran yang disampaikan adalah kebenaran yang bersifat universal. yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Mahadevan. Kata Hindu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Persia yang mengadakan komunikasi dengan penduduk di lembah sungai Sindhu dan ketika orang-orang Yunani mengadakan kontak dengan masyarakat di lembah sungai Sindhu mengucapkan Hindu dengan Indoi dan kemudian orang-orang Barat yang datang kemudian menyebutnya dengan India.

merealisasikan kebenaran Veda.(Yàskàcarya) di dalam kitab Nirukta II.Cit). Kitab suci Veda bukanlah sebuah buku sebagai halnya kitab suci dari agamaagama yang lain. melainkan terdiri dari beberapa kitab yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Saýhità) yang dikenal dengan Catur Veda . Para mahàrûi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dihubungkan dengan Sùkta (himpunan mantra). pimpinan tertinggi Úaýkara-math yakni perguruan dari garis lurus Úrì Úaýkaràcarya menegaskan : Dengan pengertian bahwa Veda merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam atau non human being) maka para maharsi penerima wahyu disebut Mantradraûþaá (mantra draûþaá iti åûiá). Apakah artinya ketika seorang mengatakan bahwa Columbus menemukan Amerika ? Bukankah Amerika telah ada ribuan tahun sebelum Columbus lahir? Einstein. Mantra-mantra Veda telah ada dan senantiasa ada. Newton atau Thomas Edison dan para penemu lainnya menemukan hukum-hukum alam yang memang telah ada ketika alam semesta diciptakan. Oleh karena kemekaran intuisi yang dilandasi kesucian pribadi mereka.11 (Loc. Untuk itu umat Hindu senantiasa memanjatkan doa pemujaan dan penghormatan kepada para Devatà dan maharsi yang menerima wahyu Veda ketika mulai membaca atau merapalkan mantra-mantra Veda (Chandrasekharendra. Bila Veda merupakan karangan manusia maka para maharsi disebut Mantrakarta (karangan/buatan manusia) dan hal ini tidaklah benar. Puruûeyaý artinya dari manusia. 1988: 5). para maharsi mampu menerima mantra Veda. Devatà (Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang menurunkan wahyu) dan Chanda (irama/syair dari mantra Veda). Para maharsi menerima wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam) melalui kemekaran intuisi (kedalaman dan pengalaman rohani)nya. Selanjutnya Úrì Chandrasekarendra Sarasvati. Demikian pula para maharsi diakui sebagai penemu atau penerima wahyu tuhan Yang Maha Esa yang memang telah ada sebelumnya dan karena penemuannya itu mereka dikenal sebagai para maharsi agung. Bagi umat Hindu kebenaran Veda adalah mutlak. karena merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa. karena bersifat AnadiAnanta yakni kekal abadi mengatasi berbagai kurun waktu. bukan dalam pengertian atau mengarang Veda.

Seorang maharsi Agung. lama kemudian setelah tulisan (huruf) dikenal selanjutnya mantra-mantra Veda itu dituliskan kembali. kemerdekaan dari pemikiran. Sàmaveda atau Atharvaveda). Kata Úruti berarti sabda tuhan Yang Maha Esa yang didengar oleh para maharsi. Karakteristik Hindu Dharma Hindu Dharma memperkenalkan kemerdekaan mutlak terhadap pikiran rasional manusia. Àraóyaka dan Upaniûad) yang seluruhnya itu diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa Sanskerta disebut Úruti.(Ågveda. perasaan dan pemikiran manusia. Hindu Dharma tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir. Didalam memahami ajaran agama Hindu. yakni Vyàsa yang disebut Kåûóadvaipàyaóa dibantu oleh para muridnya menghimpun dan mengkompilasikan mantra-mantra Veda yang terpencar pada berbagai Úàkha. Úìla (yakni tauladan pada mahàrûi yang termuat dalam berbagai kitab Itihàsa (sejarah) dan Puràóa (sejarah kuno). Gurukula atau Saýpradaya. Pada mulanya wahyu itu direkam melalui kemampuan mengingat dari para maharsi dan selalu disampaikan secara lisan kepada para murid dan pengikutnya. Yajurveda. dikenal pula hiarki sumber ajaran agama Hindu yang lain yang merupakan sumber hukum Hindu adalah Småti (kitab-kitab Dharmaúàstra atau kitab-kitab hukum Hindu). Masing-masing kitab mantra ini memiliki kitab-kitab Bràhmaóa. Àcàra (tradisi yang hidup pada masa yang lalu yang juga dimuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Àtmanastuûþi. Majelis inilah yang berhak mengeluarkan Bhisama (semacam fatwa) bilamana tidak ditemukan sumber atau penjelasannya di dalam sumber-sumber kedudukannya lebih tinggi. Ia memperkenalkan kebebasan yang ajaran Hindu yang . Aúsrama. disamping kitab suci Veda (Úruti) yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tertinggi. yakni kesepakatan bersama berdasarkan pertimbangan yang matang dari para maharsi dan orang-orang bijak yang dewasa ini diwakili oleh majelis tertinggi umat Hindu dan di Indonesia disebut Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Tentang kemerdekaan memberikan tafsiran terhadap Hindu Dharma di dalam Mahabharata dapat dijumpai sebuah pernyataan : "Bukanlah seorang maharsi (muni) bila tidak memberikan pendapat terhadap apa yang dipahami" (Radhakrishnan. sedangkan Iûþa atau Iûþadevatà adalah kebebasan untuk memilih bentuk Tuhan Yang Maha Esa yang dijelaskan daalam kitab suci dan susatra Hindu. Inilah gaambaran indah tentang Hindu Dharma. Inilah salah satu ciri atau karakteristik dari Hindu Dharma. bermacam-macam bentuk pemujaan atau sadhana. jiwa. penciptaan. Karakteristik atau ciri khas lainnya yang merupakan barikade untuk mencegah berbagai pandangan yang memungkinkan tidak menimbulkan pertentangan di dalam Hindu Dharma adalah Àdikara dan Iûþa atau Iûþadevatà (Morgan. Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan. bebas. seorang dokter bedah yang pernah praktek di Malaya (kini Malaysia) kemudian meninggalkan profesinya itu menjadi seorang Yogi besar dan rohaniawan agung pendiri Divine Life Society menyatakan : Hindu Dharma sangatlah universal. bentuk pemujaan dan tujuan kehidupan ini. Svami Sivananda. Hindu Dharma tidak bersandar pada satu doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu. 1989: 27). oleh karena itu. yang ingin dipuja sesuai dengan kemantapan hati. segala macam keyakinan/Úraddhà. menyelidiki. bermacam-macam ritual serta adat-istiadat yang berbeda. Ia memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap kemampuan berpikir dan perasaan manusia dengan memandang pertanyaan-pertanyaan yang mendalam terhadap hakekat Tuhan Yang Maha Esa. Seorang asing merasa terpesona keheranan apabila mendengar . 1987: 5). mencari dan memikirkannya.paling luas dalam masalah keyakinan dan pemujaan. memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu Dharma dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya. I. Hindu Dharma adalah suatu agama pembebasan. toleran dan luwes. Àdikara berarti kebebasaan untuk memilih disiplin atau cara tertentu yang sesuai dengan kemampuan dan kesenangannya.

sehingga menjadi keyakinan yang bermacam-macam pula. karena dalam Hindu dharma tersedia tempat bagi semua tipe pemikiran dari yang tertinggi sampai yang terendah. sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu.K. dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. SANSKRTA MENYEBAR KE SELURUH UMAT HINDU Bahasa Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. tetapi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya merupakan berbagai tipe pemahaman dan tempramen. Kata Sansekerta.tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda-beda dalam Hindu Dharma. atau bahasa rakyat. Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India. dalam bahasa Sanskerta Saṃskṛtabhāsa artinya adalah bahasa yang sempurna. KOTA SUCI HINDU DI BHARATIYA 6. Maksudnya. Buddhisme. Sejalan dengan pernyataan ini Max Muller mengatakan bahwa Hindu Dharma mempunyai banyak kamar untuk setiap keyakinan dan Hindu Dharma merangkum semua keyakinan tersebut dengan toleransi yang sangat luas dan Dr. Agama Hindu menyerupai sebatang pohon yang tuumbuh perlahan dibandingkan sebuah bangunan yang dibangun oleh arsitek besar padaa saat tertentu (Natih: 1994: 116) 5. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak . demi untuk pertumbuhan dan evolusi mereka (1984: 34). Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa.M. Hal ini adalah wajar. Bahasa yang bisa menandingi 'usia' bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Hitit. Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hindu Dharma. lawan dari bahasa Prakerta. Sen mengatakan bahwa dengan definisi Hinduisme menimbulkan kesulitan lain.

falsafi. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya. tata laku. Khazanah sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang kaya. membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin. drama dan juga teks-teks ilmiah. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan . Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua.bahasa-bahasa modern di anakbenua India. dan agamis. Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya. indah. "Su" berarti baik. 7. oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur. Saat ini bahasa Sansekerta masih tetap dipakai secara luas sebagai sebuah bahasa seremonial pada upacara-upacara Hindu dalam bentuk stotra dan mantra. Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia seharihari. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi-sendi kesusilaan. harmonis. "Sila" berarti perilaku. Bahasa ini muncul dalam bentuk praklasik sebagai bahasa Weda. Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". ETIKA HINDU Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. Bahasa Sanskerta yang diucapkan masih dipakai pada beberapa lembaga tradisional di India dan bahkan ada beberapa usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Sanskerta. teknis.

alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran 1. Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci. 2 Tri Kaya Parisudha individu guna Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang kesempurnaan dan kesucian hidupnya

merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap mencapai

3. Panca Yama dan Niyama Brata Lima Kebaikan yang harus dilakukan dan 5 keburukan yang harus dipantang. 4 Tri Mala Tiga sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil- kecilnya. 5. Sad Ripu Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. 6. Catur Asrama Empat tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu, disesuaikan dengan tahapan- tahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban menunaikan dharmanya.

7.

Catur Purusa Artha

Empat dasar tujuan hidup manusia 8. Catur Warna

Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang. 9. Catur Guru

Empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu. 10. PANCA SRADHA Sradha berarti "yakin", "percaya", yang melandasi umat Hindu dalam meyakini keberadaan-Nya. Umat Hindu mendasari keyakinannya berjumlah lima, yang disebut dengan panca Sradha. Panca Sradha meliputi:
• • •

Brahman — Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan Atman — Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman Karmaphala — Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). Samsara — Keyakinan pada kelahiran kembali

Moksha — Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman 11. APLIKASI PANCA MAHA YAJNA Panca Yadnya adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari: 1. DewaYadnya. Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa

dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lainlain. 2. PitraYadnya. lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: a. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. b. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha. c. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. 3. Manusa manusia. Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah: Yadnya.

Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup

Mentaati. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.a. orang. dan lain. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton). membina. dan mengembangkan ajaran agama. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur.saat tertentu kepada Sulinggih. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. .lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. c. Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari). 4. kesehatan.tempat pemujaan untuk Sulinggih. memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya. Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi.kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan. b. e. Resi. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: a. Pinandita. c. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama). d. dan mengamalkan ajaran. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana. Membangun tempat. b. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat.orang suci.ajaran para Sulinggih. menghayati. d. ResiYadnya.

Bedanya hanya penekanannya saja. dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan. 13.unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya. Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk. hewan (binatang).tumbuhan. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta. Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur. tidak terkekang oleh dogma-dogma yang salah atau kedaluwarsa. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan. BhutaYadnya. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa. SAKTA. tumbuh. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.5. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri. berkembang dan hidup yang wajar.makhluk rendahan. yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). FILSAFAT SIWA SIDANTA. WAISNAWA DAN PASUPATA Agama Hindu sekte Siwa Siddhanta seperti yang dianut oleh umat Hindu di Bali pada umumnya memiliki tujuan yang sama dengan Hindu Siwa Pasupata itu. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-patra. kami hanya ingin tumbuh. DESA KALA PATRA desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. 12. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. Kata Siwa Siddhanta berarti sukses .

Ini artinya umat Hindu pada zaman dahulu itu benar-benar menghormati privasi beragama sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi. perbedaan itu akan selalu ada sepanjang masa. kedua cara itu dapat hidup berkelanjutan dan umat tidak dipaksa harus ikut ini atau itu. Karena perbedaan itu merupakan suatu kenyataan yang universal.mencapai Siwa yang terakhir atau tertinggi. Akan menjadi sesuatu yang tidak produktif kalau ada yang memaksakan agar mereka yang berbeda ditekan dengan cara-cara pendekatan kekuasaan. Umat Hindu di masa lampau terutama para pemimpinnya benar-benar sudah memiliki jiwa besar dalam mengelola perbedaan. Jadinya dalam satu sekte saja agama Hindu memberikan kebebasan pada umatnya untuk memilihnya. Mereka menyadari substansi ajaran agama Hindu yang mereka anut sama yaitu berdasarkan Weda. Munculnya Sidharta Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas . Demikian juga halnya dengan peninggalan keagamaan Buddha Mahayana di Pura Goa Gajah yang jauh lebih awal berada di Bali. Di Pura Goa Gajah. Ini artinya penganut Siwa Siddhanta tidak menganggap penganut Siwa Pasupata sebagai penganut sesat. Sikap keagamaan umat Hindu yang dicerminkan oleh umat Hindu di masa lampau di Pura Goa Gajah dan sesungguhnya pada peninggalan Hindu kuno yang lainnya di Indonesia. Menyikapi perbedaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu dan nilai-nilai universal yang dianut oleh dunia dewasa ini. Tentunya akan sangat janggal kalau pada zaman sekarang ada misalnya umat yang bersifat negatif pada orang lain yang berbeda sistem penekanan beragamanya. Demikian juga sebaliknya yang menganut Siwa Pasupata tidak menganggap penganut Siwa Siddanta sebagai orang lain. Artinya. di mana pun dan kapan pun. Umat dipersilakan secara mandiri untuk memilihnya atau memadukan semua cara tersebut.

Ada yang sampai membakar kemaluannya agar nafsu seksnya hilang. Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang tidak langgeng ini. Ajarannya adalah Sila Prajnya dan Samadhi. Dalam keadaan seperti itulah muncul Sidharta Gautama yang telah mencapai alam Buddha memberikan pentunjuk praktis beragama. Teknis berbuat baik itu didasarkan pada Prajnya artinya ilmu pengetahuan. Jadinya keberadaan agama Buddha di Pura Goa Gajah substansinya tidaklah berbeda apalagi berlawanan dengan ajaran Hindu Siwa Pasupata maupun Siwa Siddhanta.dan Carwakas. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indahindah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang terik. Sebaliknya aliran Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan fungsi alat-alatnya. Dalam berbuat baik hendaknya bersikap konsisten dengan konsentrasi yang prima. Kedua aliran itu membuat umat menderita. Lidah dibuat sampai tidak berfungsi. Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Setelah seratus tahun Sidharta mencapai Nirwana barulah wacana sucinya itu dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka. Tiga corak keagamaan yang ada di Pura Goa Gajah itu memang berbeda tetapi perbedaan itu terletak pada cara atau metodenya saja. Inilah inti wacana Sidharta Gautama dalam menyelamatan umat dari perbedaan yang dipertentangkan itu. Dengan nafsu itu terus dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Itulah Samadhi. Atman adalah bagian dari Brahman. Substansi ketiga corak keagamaan Hindu dan Buddha yang ada di Pura Goa Gajah itu . Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan nafsu tersebut. Suara hati nurani adalah suara Atman. Sila berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani.

Sanghyang Surya Candra. yang dalam proses pemujaannya lebih menitik beratkan pada pemujaan Wisnu (beserta awataranya) sebagai dewa tertinggi. . sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya.sama-sama menuntun umat manusia untuk mencapai hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan mencapai alam ketuhanan di dunia niskala. PURNAMA DAN TILEM Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu. ngaturang wangiwangi. serta Wisnu Purana dan Bhagavata Purana. Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. yang mana kesemua ajaran tersebut didasarkan pada Veda dan susastra Purana seperti Bhagavad Gita. Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya. jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). makadi. Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra. Isha Upanishad. Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali. sesuai dengan namanya. atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Waisnawa merupakan aliran dalam Hindu. Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan: 'Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda. yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika. Waisnawa merupakan keyakinan dan ajaran yang juga memiliki pelaksanaan kewajiban bagi penganutnya (dalam Hindu disebut dengan Bakti Yoga). Hari Purnama. para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana. canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga. 14.

Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan. terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi. perkataan dan perbuatan yang bersih pula. Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan lahir batin.Parhyangan. sudah seyogyanya kita para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi. Kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran. disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrah-Nya. 19) Kerja yang dilakukan orang tanpa mengharapkan pahala bagi kepentingan diri pribadi adalah mulia. Karena itu. Pada hari Purnama. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dan kegiatan kerja. Materi itu perlu dan harus diusahakan untuk memilikinya asalkan dengan jalan yang benar dan ditujukan untuk memperkokoh dharma. bertepatan dengan Sanghyang Surya beyoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi. matirtha gocara puspa wangi"Ada sejak hari-hari dulu sama utama nilai penyelenggaraan upacara persembahyangan keutamaanya yaitu hari Purnama dan Tilem. bertepatan dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem. umat juga hendaknya melakukan pembersihan badan dengan air. Pekerjaan akan juga mulia bila dilakukan disertai tanda bakti daripada yang mengangkat orang pada penyucian dan kesempurnaan pikiran dan jiwanya. . namun dewasa ini orang bekerja hanyalah untuk memenuhi kebutuhan materi. CATUR MARGA Dari itu laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa harap keuntungan sebab kerja tanpa keuntungan pribadi Membawa orang kekebahagiaan (Bhagavadgita III. Pada hari suci demikian itu. 15.

Namun ego (ahamkara) manusia telah menutup nurani kita untuk berbuat jujur. . sebagai pedoman hidup. 3) Jnana Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan kerohanian dan 4) Raja Yoga cara menghubungkan diri dengan jalan penghayatan spiritual. Pada dasarnya agama telah memberikan patokanpatokan terhadap perbuatan baik atau buruk. benar atau salah. berbuat sesuai kaidah-kaidah agama. orang lebih memikirkan hasil daripada pekejaannya. 2) Bhakti Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan Bakti. Mereka tanpa merasa bersalah untuk berbuat dosa. menjual narkoba atau juga korupsi. yang penting mereka bisa hidup mewah. Kesejahteraan jasmani sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. Lagi-lagi agama menanggung beban tanggung jawab untuk memperbaiki moral manusia yang bobrok tersebut. sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. sehingga tak ada yang ditakuti. Sehingga mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan mencuri. Dalam ajaran Hindu bekerja merupakan salah satu jalan untuk mencapai Tuhan yang biasa dikenal dengan Karma Yoga. Karma Yoga merupakan bagian dan Catur Yoga (empat cara menghubungkan diri dengan Tuhan) terdiri dari : 1) Karma Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan kerja. namun harus diusahakan dan ditujukan untuk dharma.Dalam agama Hindu ada dua pemikiran yaitu untuk kesejahteraan rohani dan jasmani makhluk (“Bhukti & mukti”). Maksudnya harta yang diusahakan ditujukan bagi kesejahteraan umum disamping untuk kepentingan diri sendiri. yang mereka pikirkan hanyalah masalah keduniawian. Seperti apa yang terjadi saat ini. Apabila kerja merupakan salah satu cara menghubungkan diri dengan Tuhan tentunya tujuan dan kerja itu adalah suci. merampok. Namun karena pengaruh ahamkara (ego) manusia lupa diri dan menjadi serakah. Mereka tidak lagi menghiraukan apakah pekerjaannya merugikan orang lain atau tidak.

29) Sloka 29 menjelaskan mereka yang terikat guna akan tertipu karena harapan yang berlebihan terhadap kerjanya. (Swami Vivekananda). Dengan demikian kita hanya akan berpikir kuantitas bukan kualitas. maka tak ada kekuatan dalam alam yang akan menghentikan keluarnya buah kebaikan. itulah idealnya karma yoga. tak ada kekuatan alam yang dapat menghent. tak ada kekuatan alam yang dapat menghentikan tindakan itu hingga tidak menibawa akibat. Tentunya untuk dapat menguasai guna tersebut didapat dari pengalaman kerja sehingga kita menemukan rahasia kerja. daya organisasi dan kerja.ikan tindakan itu mengeluarkan buahnya. Karma Yoga sebenarnya merupakan suatu ilmu pengetaliuan mengenai rahasia pekerjaan. Menurut Karma Yoga. sudah memperhitungkan hambatan-hambatan yang akan dihadapinya. Guna sebagai batas kebehasan manusia yang diperoleh dari kelahiran dan lingkungan yang mempunyai kekuatan membelenggu. Sama juga bila kita berbuat hal-hal baik. Bekeija secara terorganisir akan membuat pekerjaan beijalan lancar karena sebelumnya telah membuat perencanaan. Karma Yoga mengajarkan rahasia dan pekerjaan. Begitulah . bukankah dengan hasil yang banyak uLaka imbalannya pun banyak. Bila manusia dapat menguasai kekuatan guna tersebut maka mereka dapat bekerja giat tanpa memikirkan hasil. tak ada yang dapat menghalangi atau menahannya. cara bekenja. Sesuatu sebab membawa akibat. tindakan yang dilakukan seseorang tidak dapat dihancurkan sebelum tindakan itu mengeluarkari buahnya. Mereka tertipu sifat guna Terikat pada keinginan yang dihasilkan olehnya Tetapi yang mengerti jangan sampai menyesatkan Mereka yang pengetahuannya tiada sempurna (Bhagavadgita III. Mereka terlalu berharap dan kerjanya sehingga ketika bekerja mereka berpikir tentang apa yang akan mereka perbuat dengan hasil keijanya. Bila kita berbuat sesuatu perbuatan jahat.Karena pengaruh ahamkara tadi maka tujuan kerja pun menjadi bersifat duniawi. Dengan memahami cara kcrja manusia dapat lebih mudah menyelesaikan pekeijaannya dan akan mendapatkan hasil yang memuaskan. maka kita harus menderita karenanya.

manusia yang telab memahami rahasia pekenjaan, susah senang akan dihadapi dengan tenang. Tentunya hal tersebut dicapai apabila kita telah mampu melepaskan din dan belenggu guna. Kita harus bekerja, tidak boleh tidak, namun harus dengan tujuan tertinggi. Bekeijalah tanpa berhenti, tapi lepaskan segala pengikatan diri pada pekerjaan. Artinya jangan kita mempersamakan diri dengan sesuatu, sehingga kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam bekerja pun tak akan kita rasakan. Kita harus menghancurkan sifat keakuan, mampu mengekang diri agar tidak tenjerumus dalam pikiran keakuan. Dengan demikian kita bisa bekerja sebanyak yang dapat kita lakukan, dapat bergaul dengan siapa saja tanpa tertular sifat jahat. Tunjukkan semua kerjamu kepada-Ku. Dengan pikiranmu terpusat pada atman Bebas dari nafsu keinginan dan ke-aku-an. Enyahkan rasa gentar dan, bertempurlah! (Bhagavadgita III.30). Tujukan pekerjaan kita untuk Tuhan, karenanya kita akan bekerja tanpa terikat akan hasil. Apa yang dirasa, dilihat, didengar dan dibuat adalah untuk Tuhan. Dengan demikian kita akan bekerja bukan untuk kepentingan diri sendiri. Dengan tanpa memikirkan hasil pekerjaan kita akan berdaya guna, sebagai ilustrasi dapat saya contohkan seorang pelukis yang bekerja hanya untuk menghasilkan lukisan yang indah, dia tidak akan memikirkan apakah dikerjakan berbulan-bulan, memakan bahan yang mahal, tapi yang dia pikirkan adalah melukis untuk membuat karya seni. Dan tentunya orang-orang mengerti akan hal seni tersebut akan memberikan harga yang mahal untuk sebuah karya seni tersebut, tetapi si seniman pun tidak akan gusar apabila hasil lukisannya tidak ada yang membeli. Kita sebagai manusia tidak dapat lepas dari kegiatan kerja, namun untuk mencapai tujuan tertinggi kita harus mampu mengendalikan ke-aku-an. Sesuatu yang bersifat ke-aku-an adalah menyalahi kesusilaan (immoril) dan sesuatu yang bersifat tidak ke-aku-an adalah bersusila (moral) [Swami Vivekananda]. Bekerjalah untuk mencapai

hasil sebaik-baiknya dengan memperhatikan moral. Bersabarlah karena bekerja dengan tekun maka hasilpun akan mengikuti, tak perlu mencari jalan pintas yang hanya akan menyebabkan penderitaan.ºWHD No. 510 Juni 2009. 16. AJARAN BHAKTI DAN PARA BHAKTI Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang Widhi) yaitu: Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Yoga (Raja) Marga. BHAKTI MARGA. Bhakti artinya cinta kasih. Kata bhakti digunakan untuk menunjukkan cinta kasih kepada subyek yang lebih tinggi statusnya, atau lebih luas lingkupnya misalnya: orang tua, negara, bangsa, Tuhan (Hyang Widhi). Kata cinta kasih digunakan untuk sesama misalnya tunangan, istri/ suami, umat sedharma, umat manusia. Orang yang ber-bhakti kepada Hyang Widhi disebut Bhakta. Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu PARA-BHAKTI dan APARA-BHAKTI. Para artinya utama; jadi para-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara-bhakti artinya tidak utama; jadi apara-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama. Apara-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja. Para-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi. Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara-bhakti antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol (niyasa). Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para-bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan kuat/ berdisiplin

dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakta yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri). Pilihan menggunakan para atau apara bhakti tergantung dari tingkat inteligensi dan kesadaran rohani masing-masing. Yang ditemukan di masyarakat Hindu Indonesia dewasa ini adalah mix para dan apara-bhakti, namun bobotnya berbeda. Umat Hindu di Bali banyak menggunakan aparabhakti, sedangkan umat Hindu di luar Bali banyak menggunakan para-bhakti. Kenapa demikian? Apakah itu berarti umat Hindu di Bali inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang? Tidak selalu demikian. Ada umat Hindu di Bali yang inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi tetapi dibelenggu oleh tradisi beragama yang monoton dan feodalistis, sehingga menampakkan diri sebagai apara-bhakti. Sebaliknya umat Hindu diluar Bali lebih moderat, demokrat, rasional dan reformis, sehingga memudahkan mereka mencapai para-bhakti. Mengupayakan umat Hindu di Bali menjadi sebagian besar para bhakta tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena bottle-neck yang menghadang ya itu tadi: tradisi beragama dan feodalisme. Itulah sedikit ulasan kasus tentang para dan apara-bhakti. Sekarang kita teruskan tentang BHAKTI MARGA Bhakti marga sering disebut sebagai jalan menuju Hyang Widhi yang paling mudah karena dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Mungkin pendapat ini benar jika yang dimaksud adalah apara-bhakti. Jika yang dimaksud adalah para-bhakti, justru bhakti marga yang paling sulit dilaksanakan karena para bhakta harus benarbenar mempunyai kesadaran rohani yang tinggi. Untuk mencapai kesadaran rohani yang tinggi setidak-tidaknya sudah menempuh Karma-Jnana dan YogaMarga dengan baik.

dan bebaskanlah dari rasa berbuat kebaikan karena itu sudah kewajiban seorang bhakta. Bila kita cinta dan kasih kepada Hyang Widhi berarti juga kita harus cinta dan kasih kepada semua ciptaan-Nya.6. menolong sesama tanpa menghitung untung-rugi. Na sochati na kankshati. anayenai va yogena. Bhagawadgita XII. bhavani nachirat partha. Pengampunan akan diberikan oleh Hyang Widhi kepada para Bhakta. Seorang bhakta juga tidak boleh berduka dan kecewa jika ia yakin bahwa apapun yang kita alami di dunia ini semata-mata adalah atas kehendak-Nya. Artinya: Dia yang tiada bersenang dan membenci. Bhaktiman ya same priyah. penuh dengan kebaktian. tiada berduka dan bernafsu apa. Maka mereka yang para-bhakti sering ber-dana punia. dialah yang Ku-kasihi. benci. Itulah hal-hal yang menjauhkan rasa kasih sayang kepada semua mahluk ciptaan-Nya. 2) Ingin berkorban yang didasari oleh rasa ikhlas. mam dhyayanta upasale. mayi samnyasya matparah. dan iri hati. marah. membebaskan diri dari kebathilan dan rasa berbuat kebaikan. tulus dan welas asih dengan melepaskan ikatan dan keinginan akan pahalanya. beryoga. iri hati dan nafsu yang tidak tercapai bisa menimbulkan kebencian. janganlah terpengaruh oleh kesenangan karena ketakutan itu timbul bilamana kesenangan terancam. Tesham aham samuddharta. bermeditasi. Juga jangan membenci karena kebencian menimbulkan amarah dan irihati atau sebaliknya. karena itu bertentangan dengan hakekat bhakti.Seorang bhakta mempunyai keinginan-keinginan yang kuat yaitu: 1) Ingin dan rindu selalu dekat bahkan bertemu dengan Hyang Widhi sehingga ia rajin bersembahyang. Bhagawadgita XII. Bhakti kepada Hyang Widhi melenyapkan rasa takut. sedangkan mereka yang apara-bhakti banyak melaksanakan upacara panca yadnya. Bebaskanlah dari kebathilan. Artinya: Tetapi sesunguhnya mereka yang menumpahkan segala kegiatan . amarah.17: Yo na hrishyati na dveshti. Maksud dari sloka itu adalah: jika benar-benar kita bhakti kepada Hyang Widhi.7: Ye tu sarvanni karmani. mrtyu samsara sagarat. mayi avesita chetasam.

Setiap Kanda merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Kanda yang lain. seperti misalnya Rsi Walmiki dan Rsi Vyāsa. Pada zaman kerajaan di Indonesia.000 sloka. mitologi. Kitab Ramayana terdiri dari 24.000 sloka dan memiliki tujuh bagian yang disebut Sapta Kanda. setiap Parwa merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Parwa yang lain. Itihāsa berarti “kejadian yang nyata”. yang pikiran mereka tertuju kepada-Ku. yaitu Ramayana dan Mahābhārata. Mahābhārata berarti cerita keluarga besar Bharata. Selayaknya Ramayana.hidup mereka kepada-Ku. Kitab Ramayana disusun oleh Rsi Walmiki Kitab Mahābhārata merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Kitab Mahābhārata berisi lebih dari 100. dan makhluk supernatural. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara. Kitab Itihāsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau. Kitab Ramayana merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Kitab Mahābhārata disusun oleh Rsi Vyāsa . memikirkan bermeditasi hanya kepada-Ku dengan kebaktian yang terpusatkan. kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuna dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. Cerita dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin. dengan segera dan langsung Aku bebaskan mereka ini dari lautan sengsara hidup lahir dan mati (artinya mencapai MOKSA). Itihāsa yang terkenal ada dua. ITHIASA MAHABARATA DAN RAMAYANA Itihāsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisahkisah epik/kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu di masa lampau dan dibumbui oleh filsafat agama. Kitab Mahābhārata memiliki delapan belas bagian yang disebut Astadasaparwa. 17.

Garuda ini ada hubungannya dengan ceritra Sang Garuda yang terdapat di dalam Adi Parva. Bhagawan Kacyapa memberikan seribu butir telur pada Sang Kadru dan dua butir telur pada Sang Winata. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk menghapus hutang ibunya. Garuda berjanji akan memberikan Amrita pada Indra dan Indra akan memberikan para ular sebagai makanan Garuda. mereka bukanlah tandinganya. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan Vishnu. Ceritra ringkasnya adalah sebagai berikut : Bhagawan Kacyapa mempunyai dua orang istri yaitu Sang Kadru dan Sang Winata. Meskipun para dewa bersatu menghadang Garuda. Garuda bertemu dengan Vishnu. Kemudian Garuda bertemu dengan Indra dan sekali lagi dia mendapat penawaran. setelah Amrita diberikan. MITOLOGI GARUDA Garuda Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. Vinata memiliki hutang terhadap Kadru. tunggangan kebanggan Vishnu. Garuda adalah anak Kasyapa dan Vinata. Sang Kadru meminta 1000 anak sedangkan Sang Winata meminta dua anak. Indra turun dari langit. bumi gonjang ganjing (seperti waktu sun go kong lahir di film >. Dalam perjalanan pulang. Vishnu berjanji akan memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita. Garuda diminta Kadru untuk memberikan obat keabadian yg disebut Amrita padanya. Untuk menghapus hutang tersebut. Menurut Mahabarata. Sejak saat itu Garuda menjadi rekan para dewa. merebut Amrita. sebagai gantinya Garuda menjadi kendaraan Vishnu. sekaligus menjadi musuh utama para ular. dan menghabisi para ular. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari. Setelah telur .<) sehingga para dewa memohon padanya untuk tenang. konon saat Garuda lahir dari telurnya. Bhagawan Kacyapa menawarkan kepada kedua istri beliau berapa jumlah anak yang ingin mereka miliki. dan memiliki mahkota di kepalanya.18. Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan. ibu para ular karena suatu pertaruhan.

Sang Kadru menetas maka lahirlah seribu ekor ular. Sejak saat itu Sang Winata menjadi budak Sang Kadru menjaga dan mengantarkan ular-ular itu mencari makanan setiap hari dan sore hari baru pulang. “lbu mengapa ibu pergi pagi pulang sore. Sang Kadru menebak warna kuda itu hitam dan Sang Winata menebak putih. “Mengapa ibu menjadi budaknya ?” tanya Sang Garuda. apa pekerjaan ibu ?” tanya Sang Garuda. jawab Sang Winata. saban hari kerja ibu adalah menggembalakan ular-ular yang nakal. akhirnya mereka bertaruhan. hingga ada keinginannya untuk menanyakan. Masing-masing kukuh mempertahankan pendirianya. . pergi ke sana ke mari sekehendaknya”. Melihat Sang Kadru sudah melahirkan anak-anaknya maka Sang Winata ingin cepat juga punya anak. Sementara itu Sang Garuda pun lahir dengan tubuh sempurna. Setelah beberapa lama kemudian Sang Garuda pun heran melihat ibunya pergi pagi pulang sore. maka dengan tidak sabar dipecahkanlah sebutir dari telurnya maka lahirlah Aruna seekor burung yang belum sempurna bentuk tubuhnya karena belum punya kaki. Maka para ular itu pun memenuhi permintaan ibunya lalu semuanya menuju ke tempat kuda itu berada. “Kalau demikian anakku berbuatlah sesuatu agar ibu tidak kalah sehingga menjadi budak Sang Winata. maka kalahlah Sang Winata. mereka menyaksikan warna kuda Ucchaisrawa itu betulbetul hitam. Setelah itu Sang Kadru lalu pulang dengan mengabarkan hal ikhwal taruhan itu kepada anak-anaknya. Mereka semua lalu menyemburkan bisa (wisa)-nya ke tubuh si kuda sehingga warna bulu kuda itu menjadi berubah dari putih menjadi hitam karena pengaruh dari bisa ular itu. Besok ibu akan datang bersama Sang Winata ke tempat kuda itu untuk menyaksikan kebenaran kuda itu”. “Wah ibu pasti kalah. karena kuda itu betul-betul putih mulus” kata ular-ular itu. “Ibu jadi budak para naga. Besok harinya ketika Sang Winata dan Sang Kadru datang. Suatu ketika Sang Kadru bertemu dengan Sang Winata membicarakan tentang rupa dari kuda Ucchaisrawa yang keluar pada waktu lautan air susu diaduk oleh para Dewa Raksasa. siapa pun yang kalah akan menjadi budak dari yang menang.

Lamalah sudah Sang Garuda menjadi budak dari para naga. Untuk itu dia berhadapan dengan para Dewa yang menjaga Amerta itu. kata Sang Winata. Ia pun lalu menanyakan kepada naga apakah ada cara sebagai pengganti atau menembus dirinya. Setelah Sang Garuda menjelaskan tujuannya mencari Amerta adalah untuk membebaskan dirinya dan ibunya dari perbudakan para naga maka Bhatara Visnu berkenan memberikan tirtha Amerta itu asal saja Sang Garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Visnu. karena tidak ada yang menyebabkan mereka bisa mati kalau sudah minum tirtha Amerta. “Kalau demikian biarlah saya saja menggantikan ibu menggembalakan ular” demikian permintaan Sang Garuda yang kemudian diluluskan oleh Ibunya. Akhirnya Bhatara Wisnu menanyakan mengapa Sang Visnu memerangi para Dewa dan untuk apa dia mencari Amerta. Akhirnya para Dewa lalu mohon bantuan kepada Bhatara Visnu. takut tidak kebagian sehingga tirtha itu begitu saja ditinggal di tengah rumput alang-alang. Sang Garuda menyetujui dan tirtha amerta pun diserahkan oleh Dewa Visnu dengan syarat “barang siapa yang akan meminumnya hendaknya bersuci-suci lebih dahulu. Mengetahui bahwa tirtha itu ditinggalkan begitu saja oleh para naga maka Bhatara Visnu pun . Setelah lama berpikir para Nagapun sepakat akan membebaskan Sang Garuda dari perbudakan kalau bisa mencarikan tirtha amerta untuk mereka. akhirnya dia menjadi bosan. Perang pun terjadi antara Dewa Visnu dengan Sang Garuda. Perangpun berlangsung lama.“Karena ibu kalah taruhan dengan Sang Kadru mengenai warna kuda Ucchaisrawa”. Konon barang siapa yang dapat minum amerta itu akan bisa bebas dari kematian. kalau tidak demikian tirtha merta tidak akan sidhi atau bermanfaat”. Dewata Nawa Sanga dikalahkan semua. Para naga setelah menerimanya semua saling dahulu mendahului pergi mandi menyucikan diri. agar dia bisa bebas dari perbudakan. Sang Garuda pergi ke sorga untuk mencari tirtha Amerta itu. Sang Garuda segera menyerahkan tirtha Amerta itu kepada para naga dengan segala persyaratannya. Dengan demikian para naga beranggapan tidak perlu lagi ada penjaga seperti Sang Garuda.

Basuki stava dan Taksaka stava. pada waktu mayat itu dibawa dari rumah kesetra. Disebabkan tajamnya daun alang-alang itu maka lidah ular naga itupun terbelah. Ketiga jenis zat ini disimbulkan dengan naga (ular). Pekerjaan yang tidak pernah selesai ini menjadikan manusia berpikir apakah hidup ini hanya untuk makan minum dan mendapatkan udara bersih ? Apakah manusia bisa membebaskan diri dari perbudakan benda ini. air dan udara. minum dan udara bersih (simbul 3 naga di atas). Hal yang menguatkan lagi bahwa gambar Garuda merupakan simbul pembebasan dari perbudakan oleh benda-benda duniawi ialah : penggunaan patung Garuda di “Bale Gede” yaitu bangunan yang biasanya diperuntukkan untuk menempatkan mayat sebelum dibawa ke setra. mereka bebas dari perbudakan benda. Gambar-gambar yang terdapat pada Bade atau wadah yang digunakan sebagai kendaraan dari orang yang meninggal. Jawabannya adalah tirtha Amerta. Dengan penuh kecewa para naga hanya dapat menjilati sisa-sisa bekas tirtha yang ada di daun alang-alang itu. Di muka telah dijelaskan bahwa inti bumi atau magma api itu dibungkus oleh tanah. Itulah asal mula ceritra mengapa alang-alang menjadi daun yang dianggap suci karena terkena bekas tirtha amerta. Apa yang dimaksud dengan Amerta itu ? Amerta artinya tidak mati-mati atau keabadian. Gambar Garuda itu terdapa pada bagian belakang “wadah” . Kenyataannya saban hari dari pagi sampai sore manusia disibukkan untuk mendapatkan makan. Bale Gede umumnya terdapat pada rumah keluarga-keluarganya yang mampu di Bali. Siapa yang tidak bisa mati ? Hanya Tuhan ! Barang siapa yang telah bisa mencapai Tuhan mereka tidak lagi terikat oleh kemelekatan benda-benda dunia ini. mereka mencapai moksa.mengambil tirtha itu kembali dibawa ke sorga. Kami beranggapan bahwa Sang Garuda itu tidak lain dari simbul manusia yang mencari pembebasan dari perbudakan benda-benda duniawi. moksa itu adalah kebebasan. Marilah kita simak arti dan simbul dari ceritra Sang Garuda ini dihubungkan dengan lontar Cri Purvana Tattva dan Stava yaitu Ananta bhoga stava. demikian pula mengapa lidah ular menjadi bercabang.

FILSAFAT SAD DARSANA Sad Darśana. kepala angsa menggambarkan windu dan mulut atau cocor angsa menggambarkan nada.atau “bale” itu. lukisan Garuda adalah simbul manusia yang mencari kebebasan melalui pelepasan terhadap ikatan duniawi. Kedua sayap yang mengepak menggambarkan ardha candra. Itulah mungkin sebabnya mengapa di Bale Gede maupun di belakang wadah dilukiskan Garuda. Sad Darśana berarti Enam pandangan tentang kebenaran. Tujuannya tentu erat hubungannya dengan semacam petunjuk atau perhatian kepada manusia baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal bahwa bila akan mencari Ida Sang Hyang Widhi hendaknya berbuat seperti Sang Garuda yaitu membebaskan diri dari perbudakan naga atau benda-benda dunia. Sumber yang lain kita jumpai di dalam Upanisad yang menyebutkan “Atma yang ingin bersatu dengan Brahman itu seperti burung angsa yang mengepakngepakan sayapnya”. 19. Darśana berarti pandangan tentang kebenaran. Menurut lontar “Indik tetandingan” wujud angsa dengan sayap mengepak itu adalah simbul dari ardha candra windhu dan nada. yang juga disebut amoring acintya. Wujud angsa yang dilukiskan baik di belakang Padmasana maupun wadah itu selalu berwujud angsa dengan sayapnya yang mengepak-ngepak. dan gambar angsa adalah simbul manusia yang ingin kembali kepada Ida Sang Hyang Widhi. . biasanya kita menjumpai ada hiasan berbentuk angsa. yang mana merupakan dasar dari Filsafat Hindu. Maka kesimpulannya. Kata Darsana berasal dari akar kata drś yang bermakna "melihat". menjadi kata darśana yang berarti "penglihatan" atau "pandangan". agar roh orang yang meningggal selalu teringat dengan ceritra sang Garuda yang mengandung simbul kebebasan. Di atas gambar Garuda yang kita lihat di belakang Padmasana itu. Dalam ajaran filsafat hindu.

biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan. . smrti. tapi ajaran ini banyak membawa pengaruh pada ajaran Yoga dan Wedanta. membangun ajaran Samkhya yang bersifat theistik. 2. Disebut dualistis karena terdapat dua realitas yang saling bertentangan tetapi bisa berpadu.[1] [2] Orang yang melakukan tapa yoga disebut yogi. yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun. Kata Saṁkhya berarti: pemantulan. dibuktikan dengan termuatanya ajaran Saṁkhya dalam sastra-sastra Śruti. juga disebut dengan Sankhya adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Yoga berarti "penyatuan". Ajaran Saṁkhya bersifat realistis karena didalamnya mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh. oleh tubuh dan meditasi. Samkhya adalah ajaran filsafat tertua dalam filsafat India.1. Para ahli meyakini bahwa ajaran ini berakar dari nilai-nilai positif atheis. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif. itihasa dan purana. Karya sastra mengenai Saṁkhya yang kini dapat diwarisi adalah Saṁkhyakarika yang di tulis oleh Īśvarakṛṣṇa sekitar 200 SM. Saat ini ajaran Samkhya yang murni sudah tidak eksis lagi. yang bermakna "penyatuan dengan alam" atau "penyatuan dengan Sang Pencipta". putra Devaguti. yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Samkhya. yaitu pemantulan filsafati. seperti yang disebutkan dalam Bhagavatapurana[1]. yaitu purusa dan prakrti. Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu. Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktivitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari Hatta Yoga. Kemudian Maharsi Kapila. Ajaran Saṁkhya ini sudah sangat tua umurnya. yogin bagi praktisi pria dan yogini bagi praktisi wanita.

Bhagavad Gita. diantaranya adalah Karma Yoga/Marga. kronologis dan analitis. Kata Nyaya berarti penelitian analitis dan kritis.Wedanta Védānta) adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. disebut juga dengan nama lain Purwa Mimamsa. Kata Mimamsa berarti penyelidikan. yang isinya adalah aturan tata upacara menurut Veda. 5. Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya. Ajaran Wedanta sering juga disebut dengan Uttara Mimamsa. sistematis. juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. namun dalam perkembangannya ajaran ini menjadi satu dengan Nyaya. Kitab ini terdiri atas 12 Adhyaya (bab) yang terbagi kedalam 60 pada atau bagian. yaitu "penyelidikan yang . Nyaya (Logic). 4. Klasifikasi ajaran Yoga tertuang dalam Bhagavad Gita. Mimamsa secara khusus melakukan pengkajian pada bagian Veda: Brahmana dan Kalpasutra. Mimamsa juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Ajaran Mimamsa didirikan oleh Maharsi Jaimini. Jnana Yoga/Marga. Raja Yoga/Marga. Penyelidikan sistematis terhadap Veda. diantaranya adalah Upaishad. 6. Meskipun sebagai sistem filsafat pada awalnya berdiri sendiri. yang menyusun Nyayasutra. terdiri atas 5 adhyaya (bab) yang dibagi atas 5 pada (bagian). Yogasutra. Ajaran Nyaya didirikan oleh Maharsi Aksapada Gotama. 3. Ajaran Vaisiseka dipelopori oleh Maharsi Kanada.Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga. Sumber ajaran ini tertuang dalam Jaiminiyasutra. yang menyusun Vaisesikasutra.Vaisesika juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Bakti Yoga/Marga. Ajaran ini berdasarka pada ilmu logika.

tidak teracuni.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam samudera. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. yaitu kitab Upanisad. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. namun lautan tak pernah menolaknya. Bisakah hati kita seluas dan sedalam . berfilsafat dengan keluasan kedalamannya. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera.kedua". Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera. segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. karena ajaran ini mengkaji salah satu bagian kitab Weda. 20. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. nyiur melambai. GIRI. jauh lebih indah lagi. PARWATA. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. Hati yang demikian ini. FILOSOFI SAMUDRA. warna-warni awan. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. Pelopor ajaran ini adalah Maharesi Byasa. atau dikenal juga dengan nama Badarayana atau Krishna Dwaipayana. Permukaan laut begitu indah. dilanda jutaan kubik kata-kata. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji. Permukaan laut begitu indah. Kata Wedanta berakar kata dari wedasya dan antah yang berarti "akhir dari Weda". NADI DAN WANA Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. Sumber ajaran ini adalah kitab Wedantasutra atau dikenal juga dengan nama Brahmasutra. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. tetap tidak bergeming. dengan kedinamisan gelombangnya.

pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. Seumpama samudera. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. Permukaan laut begitu indah. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. akan selalu menyapamu. Ibarat samudera. berfilsafat dengan keluasan kedalamannya.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. warna-warni awan. Permukaan laut begitu indah. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. jauh lebih indah lagi. Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. namun lautan tak pernah menolaknya. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. melantunkan salam padamu. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. tak pernah diam.samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. dengan kedinamisan gelombangnya. di dasar samudera ada tiram. nyiur melambai. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam . kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia.

Seumpama samudera.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. melantunkan salam padamu. Lontar Tantu Pangelaran menyiratkan bahwa gunung (giri. dipandang sebagai lingga-acala. Ibarat samudera.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. di dasar samudera ada tiram. tidak teracuni. meru. tempat Hyang Siwa menurunkan ajaran-ajaranNya yang kemudian dicatat dalam berbagai Yamala. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. dan Kitab Tantra dalam bentuk tanya jawab (dialogic catekismus) antara Hyang Siwa dengan SaktiNya Dewi Parwati. Dunia atau wilayah yang . gunung-gunung dipandang sebagai satu kesatuan sehingga muncul konsepsi panca-giri. lingga yang tidak bergerak. Hati yang demikian ini. Karena gunung yang tertinggi (Mahameru. gunung merupakan pusat orientasi kesucian bagi umat Hindu. di kepala manusia. tetap tidak bergeming. Siwasutra.samudera. Selain itu. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. gunung itu terletak di sahasrara padma. bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. pertama-tama menguraikan tentang Gunung Mahameru sebagai tempat Sthana Hyang Siwa yang digambarkan sebagai pusat padma dunia raya. Kitab-kitab yang mengajarkan ajaran yoga. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. Damara. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. akan selalu menyapamu. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. Bisakah hati kita seluas dan sedalam samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. Bagi seorang sadhaka. tak pernah diam. dilanda jutaan kubik kata-kata. maka gunung-gunung yang lain menempati posisi dik-widik. parwata) memberikan kerahayuan (amreta) kepada manusia yang hidup di kaki dan datarannya. Gunung Agung) dinyatakan berada di pusat padma dunia. Gunung dalam a! am sakala maupun niskala sangat penting bagi umat Hindu. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji.

Gunung Agung menempati posisi di tengah padma-mandala. Sadasiwa. pertama-tama disangga oleh pura catur-dala. Sama seperti cerita kiasan (parabel) yang dikisahkan oleh Jesus Kristus. selanjutnya ditopang lagi oleh pura Sad Kahyangan (pura utama) yang terletak di delapan penjuru Pulau Bali atau asta-dala. masingmasing Pura Gelap (Timur. Secara holistik. seribu kelopak bunga padma. Aghora atau Wisnu) yang disebut Pura Catur Lokaphala atau Catur-Dala. Pura Pucak Mangu di Barat Laut. Pura Kahyangan Jagat yang didirikan di seluruh Nusantara dapat berfungsi sebagai sahasra-dala. Misteri alam semesta diungkapkan kepada orang-orang yang secara spiritual sudah bangun tapi kepada yang lain misteri-misteri itu harus dijelaskan dalam cerita kiasan Berdasarkan catatan ini. Pura Panataran Agung Besakih masih memiliki dala pada posisi dik. 21. Bhamadewa ahui Brahma). Gunung Batukaru di Barat. dan Gunung Batur di Utara. disebut padma-bhuwana atau padmamandala sehingga dalam konteks Bali. Pura Ulun Kulkul (Barat. Pura Batu Madeg (Ulara. Sementara itu. Purana-Purana . Pura Kiduling Kreteg (Selatan. maka Padma Tiga Pura Penataran Agung Besakih. Sadyojata. Pura Agung Besakih juga menempati posisi Timur Laut (Airsanya). Pura Luhur Uluwatu di Baratdaya. menempati posisi dik. MAHA PURANA DAN UPA PURANA Purana-purana adalah kitab yang berisi cerita-cerita keagamaan yang menjelaskan tentang kebenaran. Gunung Andakasa di Selatan. Tatpurusa atau Mahadewa). Pada sari bunga padma yang suci itu didirikan Padma Agung (Padma Tiga) yang merupakan Linggih Beliau sebagai Paramashva. dan Siwa. dengan sarinya berada di tengah. Pura yang biasa disebut Sad-Kahyangan tersebut merupakan kesatuan. bagaikan sebuah bunga padma dengan delapan helainya (dala) yang menunjuk delapan penjuru. Di tempat tersebut didirikan pura atau tempat suci utama.lebih kecil digambarkan sebagai bunga padma. atau Iswara). kisah-kisah ini diceritakan kepada orang kebanyakan supaya mereka mengerti kebenaran-kebenaran dari kehidupan yang lebih tinggi. Gunung Lempuyang di Timur. sementara yang menempati posisi widik adalah Pura Gua Lawah di Tenggara.

dan rincian mengenai dinasti Bulan (Lunar) dan Matahari (Solar). Purana-Purana itu selalu menekankan bhakti kepada Tuhan. delapan belas disebut Purana Besar atau Maha Purana. Bhawishya Purana dan Wamana Purana. Garuda Purana. oleh karena itu kita mempunyai satu daftar dari duapuluh Maha Purana. Narada Purana. karena kitab-kitab itu menyajikan seluruh misteri melalui mitos dan legenda. Hampir semua Purana berkaitan dengan penciptaan dan penghancuran alam semesta. Enam Purana yang ditujukan kepada Wishnu adalah Wishnu Purana. Purana-Purana ini ditulis dalam bentuk "tanya jawab." Mereka umumnya berisi kisah-kisah mengenai Dewa dan Dewi Hindu. Kurma Purana. Enam Purana yang ditujukan kepada Siwa adalah Matsya Purana. Brahmanda Purana. garis keturunan atau asal-usul (genealogi) dari dewa-dewa dan para orang suci. seperti Mahabbhagawatam. Brahma-Waiwaswata atau Brahma-Waiwarta Purana. Menurut banyak orang. Lingga purana. enam ditujukan kepada Wishnu. sekalipun mereka tidak termasuk dalam daftar dari delapan belas Maha Purana (Major Purana). Enam Purana yang ditujukan kepada Brahma adalah Brahma Purana. Skanda Purana dan Agni Purana. Srimad Bhawata Purana. Diantara sejumlah besar Purana-Purana itu. tapi nama-nama dalam daftar itu dalam beberapa Purana sedikit bervariasi. Markandeya Purana. mahluk supernatural. Siwa (atau Saiwa atau Dewi-Bhagawata) Purana dan Hariwamsa Purana adalah juga termasuk Maha Purana. Wayu Purana. Percaya atau tidak. Kata Purana berarti "purba" (ancient). tapi beberapa orang mengatakan Purana-Purana itu ditulis mulai abad enam.itu dapat dikatakan Weda-Weda dari orang kebanyakan. orang suci dan manusia biasa. Masing-masing dari padanya menyediakan satu daftar dari kedelapan belas Purana termasuk dirinya sendiri. Padma Purana dan Waraha Purana. Beberapa dari Purana-Purana itu. Dari duapuluh Purana ini. Purana kecil (Minor Purana) dikenal sebagai Upa Purana. Purana-Purana ini tidak memiliki catatan waktu kapan ia ditulis. Mereka adalah : . Ya memang. ada paling sedikit duapuluh Purana Kecil. mempunyai penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang sama seperti Kitab Wahyu dalam Injil. enam kepada Siwa dan enam kepada Brahma.

oleh Reshi Suka satu minggu sebelum kematian raja karena gigitan ular yang telah diramalkan. Ia mempunyai dua belas bab yang disebut Skanda. kitab suci yang penting bagi orang Hindu dan khususnya bagi para bhakta Hare Krishna. Usanas. Siwadharma. Menurut Srimad Bhawatam. Ausanasa. Parasara. ada sembilan cara berbeda untuk menunjukkan bhakti kepada Tuhan. Disini juga ada gambaran yang sangat jelas mengenai Pralaya. Kalki. Srimad Bhagawatam memuat kisah-kisah seluruh Awatara dari Wishnu. Narada. Buku ini dibacakan kepada Raja Parikshit. Dewi. Aku yakin sekali bahwa daftar yang saya berikan kepadamu tidak lengkap. Nandikeswara. Kalki. atau Banjir Besar Buku ini merupakan sumber penting bagi Sekte Waisnawa dan. Saiwa (beberapa menyebut ini Purana Besar). putra dari Veda Vyasa. Durwasa. .Aditya. Marichi. Bab terakhir secara khusus menjelaskan mengenai Kali Yuga. Ascharya. Bhaskara (Surya).000 sloka. Waya dan Wrihan. Seorang pemuja yang sudah tercerahkan (a realized devotee) melihat dirinya sendiri dan seluruh mahluk sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan. melayani. Mahaswara. Kapila. dinasti terakhir dari Pandawa. Surya. zaman sekarang. seperti mendengarkan kisah-kisah tentang Tuhan. Bab sepuluh dari buku ini memuat kisah Krishna secara rinci. Yuga. Kalika. yang juga dikenal sebagai Veda Vyasa. Ia ditulis oleh Reshi Badarayana. Menurut kitab suci ini. Sanathkumara. Manawa. Suta-Samhita. dan Awatara terakhir dari Wishnu yaitu. seperti telah kukatakan sebelumnya. Sebagian besar isi dari buku ini merupakan dialog antara Raja Parikshit dengan Reshi Suka. Mungkin masih ada Purana dalam agama Hindu yang tidak diketahui bahkan oleh rasul atau pemikir doktrin Hindu. meditasi. Samba. Ia berisi 18. Narasimha. Tokoh paling penting dari Srimad Bhawatam adalah Reshi Suka. dan akhirnya penyerahan diri kepada kehendak Tuhan. Waruna. buku ini merupakan kitab suci yang amat penting bagi pengikut Hare Krishna. alam semesta ini menjadi ada karena Tuhan menghendakinya sebagai permainan atau Lila.

Winayaka dan Pilleyar. berlengan empat dan berbadan gemuk. GANESHA Ganesa (Sanskerta गणेश . Buddha. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina. Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India.22. Dewa pelindung. termasuk Nepal. dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9. Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. dan di luar India. Dalam relief. Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara. Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya.[1] Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut.[4] Kitab utama yang didedikasikan .[2] Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu. Dalam tradisi pewayangan. Tibet dan Asia Tenggara. ia sering digambarkan berkepala gajah. Wigneswara). (Sanskerta: गाणपतय. muncul selama periode itu. kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda. yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan. Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa mempedulikan golongan. gāṇapatya). Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa. yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati. selama periode Gupta.[3] Ketenarannya naik dengan cepat. ia disebut Bhatara Gana. patung dan lukisan. "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan". ganeṣa dengarkan (bantuan·info)) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu. dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". • Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi.

termasuk Ganapati dan Wigneswara. Dwaimatura (yang memiliki dua ibu). dan Ganapati Atharwashirsa. Sekurang-kurangnya ada dua versi Ganesa Sahasranama. Nama Ganesa adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta. juga dieja Shri atau Shree) seringkali ditambahkan di depan namanya. atau sistem pengelompokan.[7] Kitab Amarakosha. dan pati.[5] Kata gana ketika dihubungkan dengan Ganesa seringkali merujuk kepada para gana. atau. memiliki daftar delapan nama lain Ganesa: Winayaka. sebuah doa pengucapan "seribu nama Ganesa". dan Gajanana (yang bermuka gajah). Ekadanta (yang memiliki satu gading). yang berarti "kelompok". salah satu versi diambil dari Ganeshapurana. persekutuan. īśa).untuk Ganesa adalah Ganesapurana. Gelar dalam agama Hindu yang dipakai sebagai penghormatan. adalah kata majemuk yang terdiri dari kata gana. Setiap nama dalam sahasranama mengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek dari Ganesa. śrī. pasukan makhluk setengah dewa yang menjadi pengikut Siwa.[7] Ganapati (Sanskerta: गणपित . terdiri dari kata gana (Sanskerta: गण. komunitas. atau perserikatan. yaitu Sri (Sanskerta: शी. berarti penguasa atau pemimpin. orang banyak. Salah satu cara yang terkenal dalam memuja Ganesa adalah dengan menyanyikan Ganesa Sahasranama. dan isha (Sanskerta: ईश. secara harfiah. nama lain Ganesa.[6] Istilah itu secara lebih umum berarti golongan. Heramba. yaitu sastra Hindu untuk menghormati Ganesa. berarti "pengatur" atau "pemimpin". yaitu kamus bahasa Sanskerta. gaṇa). Etimologi dan nama lain Ganesa memiliki banyak gelar dan nama pujian. Wignaraja (sama dengan Wignesa). gaṇapati). Mudgalapurana. berarti kelompok. vināyaka) adalah nama umum bagi Ganesa yang muncul dalam kitab-kitab Purana Hindu dan Tantra agama Buddha. Lambodara (yang memiliki perut bak periuk. kelas.[9] Nama ini mencerminkan sebutan terhadap delapan kuil Ganesa yang terkenal di .[8] Winayaka (Sanskerta: िवनायक . Ganadipa (sama dengan Ganapati dan Ganesa). yang perutnya bergelayutan).

karena kata pillaka dalam bahasa Pali berarti "gajah muda". Patung yang lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut. Nama yang mahsyur bagi Ganesa dalam bahasa Tamil adalah Pille atau Pilleyar ("anak kecil"). Nama Wignesa (Sanskerta: िवघ्नेश. vighneśa) dan Wigneswara (Sanskerta: िवघ्नेश् वर vighneśvara) . Patungnya memiliki empat lengan.[11] Penggambaran Ganesa adalah figur yang terkenal dalam kesenian India. penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu.Maharashtra yang mahsyur sebagai astawinayaka. menari. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis.[10] Seorang penulis buku yang bernama Anita Raina Thapan menambahkan bahwa akar kata pille pada nama Pillaiyar mungkin aslinya berarti "gajah muda". K. pella. pada tangan kiri bawah. Citra tentang Ganesa menjamur di berbagai penjuru India sekitar abad ke-6. atau bersikap manis dalam suatu keadaan. (Penguasa segala rintangan) merujuk kepada tugas utamanya dalam mitologi Hindu sebagai pencipta sekaligus penyingkir segala rintangan (vighna).[12] Tidak seperti dewa-dewi lainnya. Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. Dia kadangkala digambarkan berdiri. dan pell dalam bahasa-bahasa rumpun Dravida berarti "gigi atau gading gajah". duduk di bawah. Narain membedakan arti istilah-istilah tersebut dengan mengatakan bahwa pille berarti seorang "anak" sementara pilleyar berarti seorang "anak yang mulia". yang ia comot dengan belalainya. yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa. namun lebih lazim diartikan "gajah". ditaksir berasal dari . Biasanya Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki. beraksi dengan gagah berani melawan para iblis. A. Dia menambahkan bahwa kata pallu.

Pengaruh unsur-unsur kuno dalam susunan penggambaran tersebut masih bisa diamati dalam penggambaran Ganesa secara kontemporer. Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala. Salah satu perwujudannya yang terkenal.[14] Kombinasi yang sama terhadap empat lengan dan atribut. Motif utama yang terulang dalam cerita-cerita tersebut adalah bahwa Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia. Dalam sebuah penggambaran modern. muncul pada patung Ganesa yang sedang menari. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan kepala gajah.[13] Dalam perwujudan yang biasa. pada cerita yang terkenal dikatakan bahwa ia memperoleh kepala gajah di kemudian hari. yang konon memiliki mata terkutuk. ibunya. memiliki beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda. Sementara beberapa kitab mengatakan bahwa Ganesa terlahir dengan kepala gajah. Dalam kitab Brahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik.[15] Mitologi dalam Purana memberi beberapa penjelasan mengenai kejadian yang menyebabkannya berkepala gajah.abad ke-7. Saat Ganesa lahir. yang merupakan tema terkenal. yakni Heramba-Ganapati. Tiba-tiba. Atribut umum Ganesa digambarkan berkepala gajah semenjak awal kemunculannya dalam kesenian India. Dewa Sani (Saturnus). menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa. Dewa Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala . Parwati. memiliki lima kepala gajah. Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkus pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya. dan variasi kecil lainnya pada jumlah kepala diketahui. satu-satunya variasi terhadap unsur-unsur kuno adalah tangan kanan bawah Ganesa tidak memegang patahan gading namun seolah-olah terarah ke mata pengamat dengan gerak tangan yang melambangkan perlindungan atau penyingkir ketakutan (abhaya mudra). kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan antara Siwa dan Parwati. memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu.

Ganeshapurana mengatakan . Jumlah lengan Ganesa bervariasi.[19] Wujud dengan 14 dan 20 lengan muncul di India Tengah selama abad ke-9 dan abad ke-10. atau. wujudnya yang terkenal memiliki sekitar dua sampai enam belas lengan. karena menurut Mudgalapurana. ia memberinya kepala gajah dan perut buncit. Kitab Brahmandapurana mengatakan bahwa Ganesa bernama Lambodara karena segala semesta (yaitu "telur alam semesta". Kisah lain dalam kitab Warahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta secara langsung oleh tawa Siwa. yang ditaksir sejak periode Gupta (sekitar abad IV-VI). Perut buncit Ganesa muncul sebagai ciri-ciri khusus pada kesenian patung sejak zaman dulu. secara harfiah. yang berupa tiga garis mendatar.[17] Kedua nama tersebut merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang melukiskan bagaimana keadaan perutnya. sedangkan yang lainnya patah. dililitkan di pergelangan kaki.[21] Menurut Ganesapurana. merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu.[20] Ular adalah tampilan yang umum dalam penggambaran tentang Ganesa dan muncul dalam beragam bentuk. IAST: brahmāṇḍa) di masa lalu. perut bergelantungan) dan Mahodara (perut besar). Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading).[18] Banyak penggambaran tentang Ganesa yang menampilkan ia bertangan empat. Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang suci (IAST: yajñyopavīta) yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk. Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya. Hal penting di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana. sekarang. dan yang akan datang ada di dalam tubuhnya. Wujudnya pada masa awal memiliki dua lengan. atau dipakai sebagai mahkota.[16] Penampilan ini amat penting. yang telah disebut dalam Purana dan ditetapkan sebagai wujud standar dalam beberapa kitab tentang ikonografi. Ganesa melilitkan ular Basuki di lehernya. dipegang di tangan. yang mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta. Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat perhatian. dua penjelmaan Ganesa yang berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara (perut buncit.gajah. Pada dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa (Sanskerta: tilaka).

[23] Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana. Mayureswara menunggangi merak. Martin-Dubost mengatakan bahwa tikus muncul sebagai wahana yang utama dalam sastra tentang Ganesa. Ganesa lima kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya. Ganapati Atharwashirsa mengandung sloka tentang Ganesa yang menyatakan bahwa gambar tikus terdapat . Wujud tertentu dari Ganesa yang disebut Bhalachandra (IAST: bhālacandra.bahwa tanda tilaka sama saja dengan bulan sabit pada dahi kepala. seperti misalnya tikus. Dalam pandangan agama Jaina terhadap Ganesa. tikus juga selalu ditempatkan dekat dengan kakinya. Sebagai contoh. sebuah buku tentang ikonografi dalam Hinduisme. wahananya ada bermacam-macam. dan Gajanana menunggangi tikus. Pada empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana. dan menggunakan Sesa. seekor merak saat menjelma sebagai Wikata. gajah.[22] Beberapa contoh mengenai hubungan warna dengan gerakan meditasi tertentu dinyatakan dalam Sritattvanidhi. naga ilahi. Tikus sebagai wahana muncul pertama kali dalam kitab Matsyapurana dan kemudian dalam Brahmandapurana dan Ganesapurana. Wahana Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan). di wilayah India Tengah dan Barat selama abad ke7. domba. Namun warna lain yang spesifik dihubungkan dengan wujud tertentu. atau merak. Ekadanta-Ganapati digambarkan berwarna biru selama bermeditasi dalam wujud itu. dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. "Bulan di dahi") memasukkan unsur penggambaran tersebut. dimana Ganesa menggunakannya sebagai kendaraan hanya pada inkarnasi terakhirnya. putih dihubungkan dengan wujud Ganesa sebagai Heramba-Ganapati dan Rina-Mochana-Ganapati (Ganapati yang membebaskan dari belenggu). Dumraketu menunggangi kuda. menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda.[24] Ganesa seringkali digambarkan menunggangi atau diantar oleh seekor tikus. Mohotkata menunggangi singa. penyu.

dewa segala rintangan. baik yang bersifat material maupun spiritual.. Michael Wilcockson mengatakan bahwa tikus melambangkan orangorang yang ingin mengatasi keinginan dan mengurangi sifat egois. Nama Musakawahana (berwahana tikus) dan Akuketana (berbendera tikus) muncul dalam Ganesa Sahasranama. Tikus ditafsirkan dalam berbagai pengertian. Jadi menurut teori tersebut. merampok). Seorang penulis buku tentang Ganesa bernama John A. sehingga ada perubahan tekanan suara .[26] Paul Martin-Dubost yang juga pernah menulis buku tentang Ganesa memberi sebuah pandangan bahwa tikus adalah simbol yang memberi sugesti bahwa Ganesa. Paul Courtright mengatakan. seorang penulis buku Ganesa. K."[28] Yuvraj Krishan menyatakan bahwa beberapa nama Ganesa mencerminkan perannya yang berkembang dari waktu ke waktu.. Dhavalikar beranggapan bahwa karena cepatnya ketenaran Ganesa di antara dewi-dewi Hindu. Grimes telah menafsirkan makna tikus sebagai atribut Ganesa. Ia mahsyur dipuja sebagai penyingkir segala rintangan. meski ia juga memasang rintangan pada umatnya yang perlu diberi cobaan. sejenis wighna (rintangan) yang perlu untuk diatasi. dan kemunculan para Ganapatya. "pekerjaannya adalah menempatkan dan menyingkirkan rintangan. Kata Sanskerta mūṣaka (tikus) diambil dari akar kata mūṣ (mencuri. Itu merupakan kekuasaannya yang utama. Ganesa sebagai penguasa tikus menunjukkan fungsinya sebagai Wigneswara (dewa segala rintangan) dan memberi bukti terhadap perannya sebagai grāmata-devatā (dewa pedesaan) bagi rakyat yang kemudian meningkat kemuliaannya. [25] Yuvraj Krishan.[27] Asosiasi Rintangan Ganesa adalah Wigneswara atau Wignaraja. mampu menembus bahkan memasuki tempat-tempat rahasia. Merupakan hal yang penting untuk menaklukkan tikus sebagai hama penghancur.[29] M.dalam benderanya. seperti halnya tikus. mengatakan bahwa tikus itu bersifat merusak dan mengancam pertanian.

[31] Buddhi Ganesa dianggap sebagai Dewa Aksara dan Pelajaran. Engkaulah matahari . kata buddhi adalah kata benda feminin yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan. kebijaksanaan. dua fungsi tersebut menjadi amat penting dalam karakter Ganesa.[33] maka nama Buddhipriya bisa saja berarti "Yang dicintai oleh kecerdasan" atau "Suami Buddhi". Swami Chinmayananda menerjemahkan pernyataan yang relevan berikut ini: (O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma. sehingga memiliki aspek negatif maupun positif. Istilah oṃ(ng)kāraswarūpa (Aum adalah wujudnya). Wisnu. khususnya pada zaman Purana. juga dieja 'Om'). Engkaulah Indra. atau akal. dan dalam konteks suami-istri bisa berarti "kekasih" atau "suami".[32] Konsep buddhi erat dikaitkan dengan kepribadian Ganesa. merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia menjelma sebagai bunyi yang utama.[34] Aum Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu (Simbol: ॐ. Nama ini juga muncul dalam daftar 21 nama di akhir Ganesa Sahasranama yang menurut Ganesa amat penting. Salah satu nama Ganesa dalam Ganeshapurana dan Ganesa Sahasranama adalah Buddhipriya. seperti yang dijelaskan Robert Brown. ketika banyak kisah menonjolkan kepintarannya dan cinta terhadap kecerdasan. "bahkan setelah Ganesa dalam Purana digambarkan dengan baik. Ganesa meninggalkan banyak hal-hal penting untuk peran gandanya sebagai pencipta dan penyingkir rintangan. ketika diidentikkan dengan Ganesa.dari wignakartā (pencipta rintangan) menjadi wignahartā (penyingkir rintangan). Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu). Dalam bahasa Sanskerta. dan Mahesa. [30] Bagaimana pun.".[35] Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi penjelasan mengenai hubungan ini. Kata priya bisa berarti "yang tercinta".

Ganesa memegang. bahwa Engkaulah segala hal tersebut). pondasi". utama".] Engkau senantiasa menempati urat sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra]. Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokokpokok kekuatan ilahi yang terpendam. atau oleh Siwa dan Parwati. yang disebut muladhara. Engkaulah Brahman. sehingga ia mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan. atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. . adhara berarti "dasar. (Itu sebagai tanda. dan Swargaloka [sorga]. Antariksa-loka [luar angkasa]. Ganesa memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara. atau oleh Parwati. Courtright menerjemahkan pernyataan sebagai berikut: "[O Ganesa. Engkaulah (tiga dunia) Bhuloka [bumi]. mitos-mitos dalam Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya.[38] Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa."[39] Maka dari itu. Mula berarti "asal. menopang dan memandu cakra-cakra lainnya. namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana.[37] Cakra pertama Menurut Kundalini yoga. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa.[36] Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan Tamil.(Surya) dan bulan (Candrama).[38] Mitologi Kelahiran Meski Ganesa terkenal sebagai putera dari Siwa dan Parwati. Engkaulah Om. Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa. Ganesa menempati cakra pertama.

Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa. Di India Utara. Ketika turun ke dunia. Siwa mengutus abdinya. yang juga disebut Kartikeya. dan lain-lain. ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Skanda biasanya dianggap yang lebih tua. Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. yaitu para gana. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya. Ganesa dianggap yang lebih dahulu lahir. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Perbedaan wilayah memberikan versi berbeda tentang jenjang kelahiran mereka. ia menciptakan seorang anak laki-laki. sementara di India Selatan. untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara. Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya.Dalam kitab Siwapurana dikisahkan. Keluarga dan istri Dalam keluarga Ganesa ada saudaranya yang bernama Skanda. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan. Karena tidak ingin diganggu. Ketika Parwati selesai mandi. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik. sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Murugan. . Atas saran Brahma. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah. Siwa menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. ia mendapati puteranya sudah tak bernyawa.

Siddhi (kekuatan spiritual).Skanda merupakan dewa perang yang mahsyur sekitar tahun 500 SM sampai 600 M. yang konon menjadi para istri Ganesa. Ganesa mulai berkembang. Dalam contoh lain. Kisah ini tidak memiliki dasar dari kitab Purana. Dia bisa juga digambarkan dengan satu pasangan saja atau seorang pelayan tanpa nama (Sanskerta: daşi). tiga kualitas ini kadangkala dipersonifikasikan sebagai para dewi. yaitu Saraswati atau Śarda (umumnya di Maharashtra). Menurut kisah versi India Utara. ia diasosiasikan dengan konsep Buddhi (kecerdasan).[43] Contoh lainnya. Kala Bo. Dalam contoh lain. dewi kepuasan.[42] Dia juga disangkutpautkan dengan dewi keberuntungan dan kemakmuran.[41] Pandangan ini biasa terdapat di India Selatan dan di beberapa wilayah India Utara. ia diasosiasikan dengan dewi kebudayaan dan kesenian. Film berbahasa Hindi tahun 1975 berjudul Jai Santoshi Maa menampilkan Ganesa yang menikahi Riddhi dan Siddhi lalu memiliki puteri bernama Santoshi Ma. Seiring dengan memudarnya Skanda.[45] Pemujaan dan festival Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian maupun kegiatan sehari-hari. subjek pembicaraan yang luas bagi para sarjana. Salah satu pola dalam mitos mengidentifikasi Ganesa sebagai seorang brahmacarya yang tak menikah. puteranya seringkali disebut Suba (keselamatan) dan Laba. terutama yang menonjol di wilayah Benggala. Beberapa kisah menceritakan persaingan antara kedua bersaudara tersebut dan bisa saja mencerminkan ketegangan yang terjadi antar sekte (pemuja Ganesa dan pemuja Skanda). menghubungkan Ganesa dengan pohon pisang. memiliki beragam versi dalam cerita-cerita mitos. khususnya saat mulai berniaga seperti misalnya membeli kendaraan atau memulai .[44] Kitab Siwapurana mengatakan bahwa Ganesa memiliki dua putera: Ksema (kemakmuran) dan Laba (keuntungan). Laksmi. ketika pemujaan terhadapnya berkurang secara signifikan di India Utara.[40] Status orangtua Ganesa. dan Riddhi (kemakmuran).

Dia seringkali digambarkan memegang semangkuk manisan. ia seringkali dipuja dengan pasta cendana merah (raktacandana) atau bunga merah. Karena ia diidentifikasikan dengan warna merah. khususnya di India Selatan. "jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak memiliki arca Ganapati. Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu.] Ganapati. yang disebut modakapātra. dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara". ia akan memberi kesuksesan. Rumput Dūrvā (Cynodon dactylon) dan benda lainnya sering dipakai dalam memujanya. [. K. Festival yang dikaitkan dengan Ganesa adalah Winayaka caturti (Ganesa Caturti) pada śuklapakṣa (hari keempat bulan purnama) di bulan bhadrapada (Agustus/September) dan Ganesa jayanti (ulang tahun Ganesa) dirayakan pada cathurthī dalam kṛṣṇapakṣa (hari keempat bulan mati) di bulan magha (Januari/Februari).[46] Pemujanya percaya bila Ganesa dibuat senang. Salah satu mantra paling terkenal yang diasosiasikan dengan Ganesa adalah Om Gaṃ Ganapataye Namah. kemakmuran dan perlindungan terhadap bencana.bisnis. Pemujanya memberi persembahan berupa manisan seperti misalnya modaka dan bola-bola kecil manis (laddu). dan upacara keagamaan.N. sebagai dewa yang termahsyur di India. memulai pertunjukkan seni seperti misalnya tari Bharatnatyam dengan terlebih dahulu memuja Ganesa. dan umat Hindu dari seluruh denominasi memanggil namanya saat memulai persembahyangan. . Mantra-mantra seperti misalnya Om Shri Gaṇeshāya Namah (Om.. Penari dan musisi. hormat pada Hyang Ganesa yang mahsyur-mulia) seringkali dipakai. Somayaji berkata. memulai usaha yang penting.

dalam cita-cita nasional menentang penjajahan Inggris di Maharashtra. atau sebagai dewa utama di sebuah kuil (pradhana). Ganesa dapat diuraikan beraneka macam: sebagai dewa bawahan (parswadewata). Kuil Dalam tempat suci Hindu.[47] Ia melakukannya untuk mengatasi kesenjangan antara golongan Brahmana dan non-Brahmana dan menemukan konteks tak lazim yang dimaksud untuk membangun akar persatuan di antara mereka. ketika arca (murti) Ganesa dicelupkan ke dalam air. Dan juga. sebagai dewa yang erat dengan dewa utama (pariwaradewata). Pada tahun 1893. dia banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau halhal buruk. Festival memuncak pada hari Ananta Caturdasi. masing-masing dari delapan kuil ini memuliakan wujud utama . "delapan (kuil) Ganesa") di Maharashtra yang paling mahsyur. dan menetapkan tradisi untuk mencelupkan semua citra Ganesa pada hari kesepuluh. yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati. dijamu bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu.[49] Tilak adalah orang pertama yang memasang citra Ganesa yang besar bagi masyarakat umum di sebuah paviliun.[48] Karena Ganesa dipuja secara luas sebagai "dewa bagi semua orang". yang jatuh pada akhir bulan Agustus atau awal September.[51] Sebagai dewa keluarmasuk. umat Hindu di penjuru India merayakan festival Ganapati dengan semangat menyala. Lokmanya Tilak mengubah festival tahunan ini dari perayaan keluarga secara pribadi menjadi acara bagi masyarakat luas. aṣṭavināyaka. Terletak di jarak sekitar 100 kilometer dari kota Pune. beberapa kuil didedikasikan untuk Ganesa sendiri. Tilak memilihnya sebagai tempat menampung protes rakyat India terhadap pemerintahan Inggris. misalnya Astawinayaka (Sanskerta: अष्टिवनायक. meskipun hal itu paling populer di negara bagian Maharashtra.[50] Di masa kini. Festival itu juga mendapat proporsi yang besar di Mumbai dan di sekitar kuil-kuil Astawinayaka. dimulai pada Ganesa Caturti.Ganesa Caturti Festival tahunan untuk memuja Ganesa yang berlangsung selama sepuluh hari.

memiliki citra Wigneswara-nya sendiri dengan atau tanpa kuil untuk menempatkannya. termasuk Asia Tenggara. Kemunculan pertama Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4 sampai abad ke-5. Dhokala. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal. Ada banyak kuil Ganesa yang penting di tempat-tempat berikut ini: Wai di Maharashtra.[54] Narain mengikhtisarkan kontroversi antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap perkembangan Ganesa sebagai berikut: [A]pa yang selama ini tak terduga adalah kemunculan Ganesa yang agak dramatis menurut pandangan sejarah. Ujjain di Madhya Pradesh. yang melampaui batas mahzab dan teritorial. di kuil Wisnu maupun Siwa dan juga pada bangunan suci yang khususnya dibangun dalam kuil Siwa […]. Gopinatha berkata. di Rameshvaram dan Suchindram di Tamil Nadu. lengkap dengan cerita dan legendanya. dan di beberapa negara barat. "Setiap desa. Di jalan masuk menuju desa atau sebuah benteng. Kuil Ganesa yang utama di India Selatan yaitu sebagai berikut: Kuil Jambukeśvara di Tiruchirapalli. Uttar Pradesh. dan Balsad di Gujarat dan Kuil Dhundiraj di Benares. dan Bhadrachalam di Andhra Pradesh. yang diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra. Hampi. Nepal. Baidyanath di Bihar. A.Ganapati."[52] Kuil Ganesa juga dibangun di luar India. menandai wilayah suci Ganesa. bersama-sama mereka membentuk sebuah mandala. Pelopornya tak jelas. . figur Wigneswara kelihatan tak berubah-ubah.[53] Pemujaan tersendiri terhadapnya muncul sekitar abad ke-10. Keterbukaan dan ketenarannya yang luas. Kasargod. Baroda. meskipun desa kecil. Jodhpur. di bawah pohon bodhi […]. dan Idagunji di Karnataka. yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta. T. Nagaur dan Raipur (Pali) di Rajasthan. dalam sebuah relung […]. sungguh menakjubkan.

"meski pada abad ke-2 Masehi ada perwujudan yaksa berkepala gajah. Di sisi lain terdapat keraguan mengenai adanya gagasan dan arca tentang dewa ini sebelum abad keempat sampai kelima Masehi... "Dia bukan dewa dalam Weda. namun keduanya tidak merujuk pada Ganesa yang sekarang.[54] Pengaruh memungkinkan Buku yang ditulis Thapan tentang perkembangan Ganesa mengandung sebuah bab tentang spekulasi mengenai peran kepala gajah pada zaman awal di India.[58] Penggambaran figur manusia berkepala gajah. namun berkesimpulan bahwa. yang beberapa di antaranya diidentifikasikan dengan Ganesa. Asal-usulnya mengikuti jejak empat Winayaka. Nama Winayaka adalah nama yang biasa bagi Ganesa.[59] Sastra Weda dan wiracarita Gelar "Pemimpin kelompok" (Sanskerta: ganapati) muncul dua kali dalam Regweda. muncul dalam kesenian dan koin India pada permulaan abad ke2."[55] Suatu teori mengenai asal-usul Ganesa mengatakan bahwa ia perlahan-lahan menjadi tenar sehubungan dengan empat Winayaka. itu tidak bisa dianggap menggambarkan GanapatiWinayaka. Ganapati-Winayaka masih membuat debutnya. dari Manawagrehyasutra (abad VII-IV SM) yang menyebabkan berbagai jenis kejahatan dan penderitaan". namun merupakan mitologi yang cukup menarik. para Winayaka adalah kelompok empat makhluk jahat yang membuat rintangan dan kesulitan.[56] Dalam mitologi Hindu. roh jahat. yang berkomentar datar tentang Ganesa. . baik dalam Purana-Purana maupun Tantra Buddha.Di satu sisi ada kepercayaan bagi umat yang ortodoks terhadap asal-usul Ganesa dari zaman Weda dan dalam Purana terdapat penjelasan yang membingungkan. namun mudah untuk ditenangkan.[57] Krishan adalah salah satu sarjana yang menerima teori ini. Istilah itu . Tidak ada bukti mengenai dewa yang disebut memiliki wujud gajah atau berkepala gajah pada permulaan zaman ini.

112.[64] Deskripsi tentang Dantin. dan seorang komentator dari abad ke-14 bernama Sayana dengan tegas memastikan identifikasi ini.[60] Saat sloka itu tak diragukan lagi merujuk pada Brahmanaspati. menyatakan permohonan kepada dewa yang "bertaring satu" (Dantih). Rocher menyatakan bahwa sastra-satra Ganapatya terkini seringkali mengutip sloka-sloka Regweda untuk menghormati Ganesa. yang diberi gelar 'ganapati'." Tetapi. Dhavalikar mengatakan.[65] Tapi.9. dan "berbelalai bengkok" (Wakratunda). dan gada. sloka itu kemudian diadopsi untuk memuja Ganesa dan masih dipakai hingga sekarang.23. yang memiliki belalai bengkok (wakratunda) dan memegang jagung. "tidak bisa dibantahkan lagi untuk menerima identifikasinya (ciri-ciri Ganesa) dengan (ciri-ciri) Dantin ini". menurut para komentator. Krishan menganggap bahwa himne-himne ini adalah tambahan (carangan) pasca zaman Weda.muncul dalam Regweda (Rw 2. maka tidak begitu berguna dalam menentukan informasi paling awal mengenai sang dewa (Ganesa)". merupakan karakteristik Ganapati yang utama secara Purana. diterjemahkan menjadi "Pemimpin perkumpulan (bagi para Marut). "bermuka gajah" (Hastimuka).[62] Hal yang juga mirip.1) sebagai gelar untuk Brahmanaspati. "referensi mengenai dewa berkepala gajah di Maitrayani Samhita telah terbukti sebagai sisipan paling akhir.1).[67] Ganesa tidak muncul dalam wiracarita India pada zaman Weda.9) merujuk pada Indra. yaitu pernyataan kedua (Rw 10. seperti yang dikatakan Heras. Nama-nama ini mengingatkan kita pada Ganesa.[61] Dalam pembantahan bahwa pernyataan tersebut merupakan bukti keberadaan Ganesa dalam Regweda. tebu. Ganesa setuju namun dengan syarat bahwa .1) dan Taittiriya Aranyaka (10. Sebuah sisipan pada wiracarita Mahabharata mengatakan bahwa Resi Byasa meminta Ganesa untuk membantunya sebagai seorang penulis untuk mencatat wiracarita yang didikte oleh sang resi kepadanya. yaitu Maitrayaniya Samhita (2.[63] Dua sloka dalam kitab yang termasuk Yajurweda hitam. Ludo Rocher mengatakan bahwa itu dengan jelas merujuk kepada Wrehaspati—dewa himne-himne—dan hanya Wrehaspati.[66] Thapan menambahkan bahwa pernyataan-pernyataan itu lazimnya dianggap sebagai sebuah sisipan.

Kisah tersebut tidak dianggap sebagai sebuah bagian dalam kitab orisinilnya oleh editor dalam kitab Mahabharata edisi kritikan.[72] Yuvraj Krishan mengatakan bahwa mitos mengenai kelahiran Ganesa dan bagaimana ia memperoleh kepala gajah. Zaman Purana Kisah mengenai Ganesa seringkali muncul dalam kitab-kitab Purana. dan Moriz Winternitz menyimpulkan bahwa kisah itu dikenal pada awal th. Ia meneliti masalah dan mengungkapkan bahwa referensi tentang Ganesa yang terdapat dalam Purana-purana awal. 900. Hubungan antara Ganesa dengan ketangkasan pikiran dan pembelajaran adalah salah satu alasan sehingga ia ditampilkan sebagai penulis dikte yang dijabarkan Byasa tentang Mahabharata dalam sisipan tersebut.Byasa harus membeberkan wiracarita itu tanpa diselingi. 600 dan seterusnya. namun sadar bahwa untuk melakukan jeda. 600–1300. sekitar th. adalah sisipan di kemudian hari yang dibuat dari abad ke7sampai abad ke-10. ia perlu menceritakan suatu pernyataan yang sangat kompleks sehingga Ganesa akan bertanya untuk mengklarifikasi. namun tidak ditambahkan ke dalam Mahabharata sampai sekitar 150 tahun kemudian. Sang resi setuju. yaitu. sementara kitab-kitab Purana tidak menyebutkan kapan tepatnya suatu peristiwa terjadi.[68] Richard L. Brown mengatakan. ada dalam Purana yang digubah dari th.[69] Istilah winayaka ditemukan dalam beberapa resensi dalam Santiparwa dan Anusasanaparwa yang dianggap sebagai sisipan.[70] Sebuah referensi tentang Wignakartrinam ("Pencipta rintangan") dalam Wanaparwa juga dipercaya sebagai sebuah sisipan dan tidak muncul dalam edisi kritikan. Winternitz juga menambahkan bahwa versi berbeda dalam naskah Mahabharata di India Selatan adalah penghapusan terhadap legenda Ganesa tersebut.[73] . Brown memperkirakan waktunya terjadi sekitar abad ke-8. tanpa berhenti. penuturan kisah hidup Ganesa yang lebih detil ada dalam kitab yang muncul belakangan.[71] . seperti misalnya Bayupurana dan Brahmandapurana.

yang menurutnya digubah pada tahun 1100 dan 1400. Hal ini sungguh-sungguh membuat peran Ganesa sebagai seorang dewa komplementer.Bangkitnya ketenaran Ganesa dikodifikasikan pada abad ke-9. dia berkata. ketika secara formal ia dimasukkan ke dalam lima dewa utama dalam aliran Smarta. beberapa brahmana memilih untuk memuja Ganesa sebagai dewa utama mereka. Mereka mengembangkan tradisi Ganapatya. Phyllis Granoff menemukan masalah terhadap waktu yang tidak tetap ini dan ."[74] Lawrence W. "Sepertinya. bersamaan dengan waktu berdirinya tempat-tempat suci seperti yang disebutkan dalam kitab itu. dan Surya.[76] Tetapi. Masa penggubahan Ganeshapurana dan Mudgalapurana (dan waktunya tidak tetap antara satu sama lain) telah mengobarkan perdebatan para sarjana. Wisnu. Hazra mengatakan bahwa Mudgalapurana lebih tua daripada Ganeshapurana. Siwa. Dewi. Filsuf abad ke-9 bernama Shankaracarya mempopulerkan "pemujaan terhadap lima wujud" (pañcāyatana pūjā). seperti yang dapat disimak dalam Ganeshapurana dan Mudgalapurana. mungkin pokok-pokok isi dari Ganeshapurana muncul sekitar abad keduabelas dan ketigabelas". Keduaduanya berkembang dari waktu ke waktu dan mengandung isi yang bertumpuktumpuk.[75] R. Dalam pemujaan ini dilakukan pemanggilan lima dewa yaitu Ganesa.C. sebuah sistem di antara kaum brahmana yang ortodoks dalam tradisi Smarta. Shankaracarya mendirikan tradisi itu dengan tujuan utama untuk menyatukan dewa-dewi utama dari lima sekte besar pada status yang sama. "namun kemudian diberi sisipan. Preston berpikir bahwa waktu yang memungkinkan untuk penggubahan Ganeshapurana antara tahun 1100 dan 1400. Buku dan sastra Ketika Ganesa diterima sebagai salah satu dari lima dewa utama dalam Brahmanisme. Anita Thapan mengutarakan komentar tentang masa penggubahan dan mengukuhkan pendapatnya.

[81] Tulisan paling awal yang mengandung seruan kepada Ganesa sebelum memanggil dewa-dewi lainnya dikaitkan dengan komunitas rombongan pedagang. ada kemungkinan digubah pada abad ke-16 atau ke-17. Ganesha. Periode dari sekitar abad ke-10 sampai seterusnya ditandai oleh perkembangan jaringan-jaringan baru terhadap hal pertukaran. pembentukan serikat dagang.[80] Ganesa khususnya disembah oleh para pedagang dan rombongannya. bersama mereka.berkesimpulan bahwa Mudgalapurana adalah kitab filsafat terakhir yang menyinggung masalah Ganesa. Ganesa menjadi dewa utama yang dikaitkan dengan para pedagang. dan Mudgalapurana) yang menyinggung masalah Ganesa. Wujud Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa. yaitu Ganapati Atharwashirsa. seringkali di samping kuil Siwa. di antara bukti-bukti internal lainnya. kitab itu diberi sisipan sampai abad ke-17dan ke-18. Bali. Ganesa adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi Hindu yang menjamah negeri asing sebagai akibatnya. Arca-arca Ganesa ditemukan di sepanjang wilayah Nusantara dalam jumlah yang banyak. dan bangkitnya sirkulasi keuangan. Selama masa ini. termasuk Ganesa. Ia mengemukakan alasannya berdasarkan sebuah fakta bahwa. Brahmanda. [79] Di luar India dan agama Hindu Hubungan dagang dan budaya telah memperluas pengaruh India di Asia Barat dan Tenggara.[78] Kitab lain yang memuji Ganesa. yang pergi ke luar India untuk malakukan hubungan dagang.[77] Sementara isinya sudah usang. sehubungan dengan pemujaan Ganapati yang menjadi penting dalam wilayah tertentu. Mudgalapurana secara spesifik menyebut Ganeshapurana sebagai salah satu dari empat Purana (Brahma.[82] Umat Hindu bermigrasi ke nusantara dan membawa budaya mereka.[83] Penyebaran budaya Hindu . dan Kalimantan yang menunjukkan pengaruh regional yang spesifik.

Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala rintangan. namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama yang sama. Ganesa muncul di Cina dan Jepang dalam wujud yang menampilkan karakter wilayah yang berbeda. disebut Nṛtta Ganapati. Ganesa terutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan.[86] Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa kerajaan Gupta. Ganesa digambarkan sedang diinjak oleh kaki Mahākāla. atau dewa keberhasilan. ada patung batu dari zaman awal yang dikenal sebagai Ganesa. dan Thailand. mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan. sangat terkenal. Di Thailand. disertai tulisan yang berangka tahun 531. tidak hanya dalam wujud dewa Vināyaka dalam agama Buddha.[89] Dalam versi Tibet. Bahkan kini oleh umat Buddha di Thailand. Kamboja dan di Vietnam. ia memiliki lima kepala dan menunggangi singa. dan termahsyur di wilayah India Utara.[91] . agama Hindu dan Buddha dijalankan dengan berdampingan.[84] Sebelum kedatangan Islam. lalu di Tibet.secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa dimodifikasi di Burma. dikenal sebagai Heramba. dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama dijalankan. yaitu dewa bangsa Tibet yang terkenal. Di Cina Utara.[90] Di Jepang.[88] Ganapati versi Tibet adalah tshogs bdag. Sebagai dewa Vināyaka dalam agama Buddha. Penggambaran Ganesa di Tibet menunjukkan pandangan yang bertentangan terhadapnya. Afganistan memiliki ikatan budaya yang erat dengan India. ia seringkali digambarkan sedang menari.[85] Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana. dan pengaruh timbal balik bisa dilihat dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu. Di Indochina.[87] Di Nepal. wujud Ganesa secara Hindu. kemudian diadopsi di Nepal. Penggambaran lain menampilkan wujudnya sebagai pemusnah segala rintangan. Kamboja. kadangkala dalam wujud sedang menari. pemujaan terhadap Ganesa pertama kali disebutkan pada tahun 806. Wujud ini.

khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. poros. muncul sebagai pengambil alih fungsi Kubera. isyarat. sifat khas. bahwa lingga . Patung Dewa. SIWA LINGGA (LINGGA YONI) Lingga merupakan lambang Dewa Siwa.[93] Patung Ganesa tertua versi Jaina ditaksir berasal dari abad ke-9. petunjuk. titik tuju pemujaan. Ganesa dipuja oleh banyak umat Jaina.[94] Sebuah kitab Jaina dari abad ke-15 memaparkan prosedur untuk memasang citra Ganapati. sumbu (Zoetmulder. Namun. pusat.[95] Citra Ganesa muncul dalam kuil Jaina di Rajasthan dan Gujarat. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga. Di Indonesia khususnya Bali.[96] 23. walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak. titik pusat. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno. akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti lingga yang sebenarnya. peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau. ciri. 2000 601). yang sudah tentu bersifat umum. keterangan. yang pada hakekatnya mempuriyai arti. bukti. Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda. Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali. lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu.[92] Hubungan Jaina dengan komunitas perdagangan mendukung gagasan bahwa Jainisme mengambil tradisi pemujaan Ganesa sebagai akibat dari hubungan perdagangan. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat.Sastra agama Jaina (Jainisme) tidak menyebutkan adanya pemujaan terhadap Ganesa.

(Agastia. Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan. Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa. pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali. di Indonesia. Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore. menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao. sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono. dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa. 1916 : 69). Mengenai pemujaan lingga di Indonesia. 2002 : 2) kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu. maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme). Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di . Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu. 1973 : 40). Di India terutama di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte linggayat (Putra. 1975 : 104).diidentikkan dengan : linggih. malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa. yang artinya tempat duduk. yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. lingga merupakan lambang kesuburan.

Jawa Timur. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai sabdasparsadi Artinya: berikut: warjitam”. Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. 1959 102). Gandhawarna rasairhinam . yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan. ”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. (Soekmono. di Bedahulu dan di Goa Gajah. Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga.Kanjuruhan. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers. Pura-pura di Pejeng. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru. Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih. kesuburan dan sebagainya. Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. 1973 : 41-42).

Lingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”.Lingga awal yang mula-mula tanpa bau. Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam “Pranalo Artinya: Jnana Brahma visnus ca Siddhanta Lingotpadah disebutkan: Siwarcayet”. rasa. Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya Bentuk sebagai Siwa. Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa. lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa. . warna. Jadi dalam Lingga Purana. Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:”Bhatara Siwalingga Artinya: Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa. pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam). Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga).

persegi enam belas dan yang lainnya. Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah. Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. Dengan istilah lingga pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga. Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air. berbentuk buah 93). Sebuah lingga berdiri. berbentuk telur (kukkutandakara). Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao. sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. mentimun (tripusha kara). bulat telur. berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma. Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi. 1916 : . bulat. segi enam. jadi lingga dan yoni. Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha.Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap sebagai sumber siwa. setengah bulatan. Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain : berbentuk payung (chhatrakara). di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma. 1916 :99). segi empat panjang. dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. Wisnu. segi delapan. bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga. Kemudian lingga yoni. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma. segi dua belas. berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara). berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao. Wisnu dan Siwa.

Lingga kuningan. Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti. jamrud. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah: a. Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami. seperti : emas. dan dewadara. Ratmaja mutiara. baik yang sudah dibakar. madhuka. pippala dan udumbara. d. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira. beras. serbuk cendana. Lohaja logam c. sala.Chalalingga . karnikara.Achalalingga Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak. Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. Daruja kristal. tanah pekat. rumput kurcha. tembaga. Lingga : Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam. Lingga kwarsa. badara. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain . besi.Jenis-Jenis Lingga Berdasarkan penelitian dan TA. menjadi adonan setelah beberapa b. tinduka. artinya lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. bunga . nasi. janggery dan tepung. tepung. e. Gopinatha Rao. arjuna. waidurya. timah dan lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama. yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu. perak. permata. Mrinmaya Lingga Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat. bilva. gandum. Kshanika Lingga Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam. chandana.

Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T. Svayambhuva lingga. Dalam mitologi. lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi. lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu. Arsha lingga. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi.A. Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga. Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun. c. Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika lingga. sebagai berikut: a. menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan. lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di bumi.dan rudrasha. lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga. II part I” dapat dijelaskan. lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan BhataraBhatari. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan.b. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang . d. sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan lingga yang paling utama (uttamottama). sitrun atau apel hutan. Lingga ini berhubungan dengan Ganesa. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani. kumpulan kuliahkuliah agama jilid I”. Ganapatya lingga. Daivika lingga. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas.

Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci. Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. Manusa lingga. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar). e.• WHD No. HARI RAYA HINDU Pagerwesi Hari Raya Pagerwesi Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. 437 Juli 2003. 24. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru. karena langsung dibuat oleh tangan manusia. Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama. dipakai oleh brahman). Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi. sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun. Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali.suci. beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. artinya hari raya untuk . Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru. Sama halnya dengan Galungan.

Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha Bhuta." Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah. baik pendeta maupun umat walaka. Hakikat pelaksanaan upacara Pegerwesi adalah lebih ditekankan pada pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan Mapasang Lingga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan: "Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh. Tengah malam melakukan yoga samadhi. Artinya: Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). . ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta.semua masyarakat. Dalam lontar Sundarigama disebutkan: Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan). Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama.

Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya . memuji dan memusatkan diri. Suci Praspenyeneng dan Banten Penek. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Dalam hal upacara. Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati. Dapetan. Tentunya dilengkapi Daksina. ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan. Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Makna Filosofi Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama. menghormati. Canang dan Sodaan. memohon. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Prayascita. Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah "Sesayut Panca Lingga" sedangkan perlengkapannya Daksina.Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi). Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Memuja berarti menyerahkan diri. Banten yang paling inti perayaan Pegerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip.

Goraksya. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat. artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan. Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. artinya perdagangan. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Kalau ada pihak yang dirugikan. Keuntungan yang benar." Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. itu berarti ada kecurangan. Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu: Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh). Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan. maka adharma . Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma. Wanijyam. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen.merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan.

Sebelum membuat tirtha.tidak dapat masuk menguasai manusia. Dalam Manawa Dharmasastra V. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Penjelasan Manawa Dharmasastra ini adalah bahwa atma yang tidak diselimuti oleh awan kegelapan dari hawa nafsu akan dapat menerima vibrasi spiritual dari Brahman. Hal ini dapat dipahami. Sesayut Panca Lingga dengan inti ketipat Lingga adalah memohon lima manifestasi Siwa untuk memberikan benteng kekuatan (pager besi) dalam . Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. berarti para pendeta harus melakukan hal yang amat utama untuk mencapai vibrasi spiritual payogan Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu amat ditekankan pada Hari Raya Pagerwesi para pendeta agar ngarga. Dalam agama Hindu. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Pembuatan tirtha dalam upacaraupacara besar dilakukan dengan mapulang lingga. Ngarga adalah suatu tempat untuk membuat tirtha bagi para pendeta. terlebih dahulu pendeta menyucikan arga dengan air. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata. Vibrasi spiritual itulah sebagai pagar besi dari kehidupan dan itu pulalah guru sejati. Tirtha suci itulah yang akan dibagikan kepada umat. karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. mapasang lingga. dengan pengasepan sampai disucikan dengan mantra-mantra tertentu sehingga tirtha yang dihasilkan betul-betul amat suci. purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Mengingat ngargha mapasang lingga dianjurkan oleh lontar Sundarigama pada hari Pagerwesi ini. 109 disebutkan: Atma dibersihkan dengan tapa bratabudhi dibersihkan dengan ilmu pengetahuan (widia) manah (pikiran) dibersihkan dengan kebenaran dan kejujuran yang disebut satya.

menghadapi hidup ini. Para pendetalah yang mempunyai kewajiban menghadirkan lebih intensif dalam masyarakat. Kemahakuasaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Siwa dengan simbol Panca Lingga, Sesayut Pageh Urip bagi kebanyakan atau umat yang masih walaka. Kata "pageh" artinya "pagar" atau "teguh" sedangkan "urip" artinya "hidup". "Pageh urip" artinya hidup yang teguh atau hidup yang terlindungi. Kata "sesayut" berasal dari bahasa Jawa dari kata "ayu" artinya selamat atau sejahtera. Natab Sesayut artinya mohon keselamatan atau kerahayuan. Banten Sesayut memakai alas sesayut yang bentuknya bundar dan maiseh dari daun kelapa. Bentuk ini melambangkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan haruslah secara bertahap dan beren-cana. Tidak bisa suatu kebaikan itu diwujudkan dengan cara yang ambisius. Demikianlah sepintas filosofi yang terkandung dalam lambang upacara Pagerwesi. Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan hari raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima pada intinya adalah hari raya untuk memuja Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang mendapatkan wahyu ten-tang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana. Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adi guru loka yaitu gurunya alam semesta. Sedangkan Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari Purnama. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24. 000 sloka

Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra. Ke-24 suku kata suci dari Tri Pada Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000 sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi Walmiki pun dipuja sebagai adi guru loka yaitu maha gurunya alam semesta. Sampai saat ini Mahabharata dan Ramayana yang disebut itihasa adalah merupakan pagar besi dari manusia untuk melindungi dirinya dari serangan hawa nafsu jahat. Jika kita boleh mengambil kesimpulan, kiranya Hari Raya Pagerwesi di Indonesia dengan Hari Raya Guru Purnima dan Walmiki Jayanti memiliki semangat yang searah untuk memuja Tuhan dan resi sebagai guru yang menuntun manusia menuju hidup yang kuat dan suci. Nilai hakiki dari perayaan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dengan Pegerwesi dapat dipadukan. Namun bagaimana cara perayaannya, tentu lebih tepat disesuaikan dengan budaya atau tradisi masing-masing tempat. Yang penting adalah adanya pemadatan nilai atau penambahan makna dari memuja Sanghyang Pramesti Guru ditambah dengan memperdalam pemahaman akan jasa-jasa para resi, seperti Resi Vyasa, Resi Walmiki dan resi-resi yang sangat berjasa bagi umat Hindu di Indonesia. (Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni) Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam

rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan: Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya. Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah

Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. barulah Galungan dirayakan kembali. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. tak jauh dari Pura Besakih. Untuk mengetahui penyebabnya. Disebutkan pula. inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri. . Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan.datang tak henti-henti. Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu. Makna Filosofis Galungan Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. sakti dari Dewa Siwa. Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan).

Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. artinya luar. Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. enam hari sebelum Galungan. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba. Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut: Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi. Jadi. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Dalam lontar Sunarigama. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. galang apadang maryakena sarwa byapaning idep Artinya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma. arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa .Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad).

itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa. Dalam lontar disebutkan. artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. . Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana. karena itu hari penyucian semua bhatara). Dan itulah yang disucikan. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. "Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi." Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan.

Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga). Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan "Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan. ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Galungan Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Upacara tersebut barmakna.Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru." Artinya. umat menikmati waranugraha Dewata. . Berdasarkan sumbersumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel). Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib melaksanakan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan. Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Pada hari ini. Keesokan harinya. dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan.

saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan. Galungan Nadi Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Sapta Wara dan Wuku. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). dan wukunya Dungulan.Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan. yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Karena itu Galungan. bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali. Kalau Panca Waranya Kliwon. kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Galungan Nara Mangsa Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut: . Sapta Waranya Rabu. Disebutkan dalam lontar itu. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak.

Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem."Yan Galungan nuju sasih Kapitu. Galungan Nara Mangsa ngaran. tidak boleh merayakan Galungan. membawa penyakit adanya. tunggal kalawan sasih Kapitu. anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika. Kala Rau namanya. rah 9 tenggek 9. pada hari Galungan itu." Artinya: Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu. tenggek 9. Tilem Galungan. Mwah yan anemu sasih Kesanga. sigug ya mengaba gering ngaran. moga ta sira kapereg denira Balagadabah. semoga tidak lupa. tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9. tan wenang ngegalung wong Baline. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru. bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah. . Yan tekaning sasih Kapitu. Tan kawasa mabanten tumpeng. rah 9. yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung. tenggek 9. mwang sasih kesanga. ingatlah. itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Galungan Nara Mangsa namanya. Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9. Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut: Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali. Artinya: Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia. Tidak baik itu. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika. nasi cacahan maoran keladi. Kala Rau ngaranya yan mengkana. poma haywa lali elingakna.

Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama. Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula "Hari Raya Dasara". Sebelum puncak perayaan. Galungan di India Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar. pemakan daging manusia. Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Kedua kata itu artinya "menang". pertarungan antara aharma melawan adharma. Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk . Ini bisa dilihat dari kata "Wijaya" (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata "Galungan" dalam bahasa Jawa Kuna. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang. berupa nasi cacahan bercampur keladi.Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru. selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng Galungan". Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang artinya. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa.

Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas. Berbeda dengan di Bali. seram. Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. memiliki kemampuan yang tinggi. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara. Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Pada . maka diberi julukan Dewi Durgha. keganasan hawa nafsu. sangat menakutkan. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker. Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pengertian sakti di India adalah kuat. Karena Dewi Parwati menang.dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa.

Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama. Laksmana dan Anoman. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh . Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sita. Kasih sayang itulah suatu "sakti" atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama.hari ini. ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kumbakarna atau Surphanaka. Di mana-mana. Dewi Sita. kota menjadi ramai. orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama.

Itihasa dan Purana. Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani . Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin). Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur. Wasista Siddhanta. Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Vedangga. Paitamaha Siddhanta. Karena mantramantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia). membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa. umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual. yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda. Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Prof. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). ada yang bersifat adhyatmika.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Kitab ini disusun kira-kira 12. Nyepi Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu.setiap orang. Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta. Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha.

maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat. Yuehchi. namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara). suku bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Tampaknya. Akibat toleransi dan persatuan itu. bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas. Sebelum lahirnya Tahun Saka. Sukusuku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain.tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa. sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya. Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India. Semenjak itu. Karena perjuangannya itu cukup berhasil. Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Yuwana. Pada tahun 79 Masehi. Malawa dan Saka. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat . Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Arah perjuangannya kemudian dialihkan.

umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma. prajurit.(India) yang mendarat di Kabupaten Rembang. . Menurut agama. kama dan moksha. diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. berkumpu seluruh kepala desa. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra. 228. Pada zaman Majapahit. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III. Untuk mewujudkan tujuan tersebut. pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. artha. dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi. Tuhan (Prajapati). Keesokan harinya. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. Jawa Tengah. Setelah Nyepi. Tujuan Hidup Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat. XII. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Beberapa hari sebelum Nyepi. pada tahun 456 Masehi. manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII. Pendeta Siwa. Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret). Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. LXXXVI XCII. 45 dan Sarasamuscaya 135. tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. LXXXV. Di Bali. Budha dan Sri Baginda Raja. para sarjana. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Di alun-alun Majapahit. Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan.

kita bisa melihat sendiri. manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita). Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk. makhluk hidup menjelma. karena persembahan (yajña) turunlah hujan. tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup. Dalam kenyataannya.10: manusia harus beryajña kepada Tuhan. untuk mewujudkan Catur Warga. Dengan demikian jelaslah. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan. "Apan ikang prana ngaranya. mâng dharma. kama dan moksha." Dalam Bhagavadgita III." Artinya: Oleh karenanya. manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. dan yajña lahir karena kerja. artha kama moksha. ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga. Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb: "Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan. "Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani. . karena hujan tumbuhlah makanan. 14 disebutkan." Artinya: Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma. karena makanan. artha. usahakanlah kesejahteraan semua makhluk. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. binatang hidup dari tumbuhtumbuhan. kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama.

Bhuwah Loka dan Swah Loka. kita mencari sari-sari kehidupan dunia. Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara. upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan. Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengahtengah samudra. dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan. Oleh karena itu. Pada tanggal satu sasih kadasa. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga. paklesa letuhing bhuwana. Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah. Sang Budha dan Sang Bujangga. dilaksanakanlah brata penye-pian. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka. Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa. pada saat upacara Tawur Kesanga. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut: Anglukataken laraning jagat. pawana. Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut: .yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. dan sarwaprani. Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat.

. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian. Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. yoga." Jadi.. berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh. tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya. kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan." Artinya: ". tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. tidak menyalakan api. Perbuatan . Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.besoknya. amati karya. kama dan moksha. samadhi. amati lelungan dan amati lelanguan. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa. Sebagaimana kita ketahui. semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan. artha. tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian. manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. melakukan yoga tapa dan samadhi. menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma... Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia.enjangnya nyepi amati geni. brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya. Nyepi. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni. Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri. ageni-geni saparanya tan wenang."...

dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu." Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas. . Brata penyepian adalah untuk umat yang telah mengkhususkan diri dalam bidang kerohanian. pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa.manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata. baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Pelaksanaan Upacara Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi.mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Setelah upacara Melasti usai dilakukan. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka Menyimak sejarah lahirnya. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: "..

dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11. ajuman. tuak dan air tawar. mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya. umat Hindu berkeliling desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India. peras. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh. Upacara di tingkat rumah tangga. segehan nasi sasah 100 tanding. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi. tumpeng ketan sesayut.Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. kabupaten dan kecamatan. melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.12. Setelah . Sedangkan di tingkat desa. segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak. upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah). Setelah usai menghaturkan pecaruan. dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina. kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi.00 . Sedangkan di masing-masing rumah tangga. pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara. penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. berem. upacara dilakukan di natar merajan (sanggah).00 (kala tepet). sujang berisi arak tuak. Dalam upacara Melasti. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah. semua anggota keluarga. yaitu melakukan upacara mecaru. Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding. dandanan. Dalam rangkaian Nyepi di Bali.

ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. kertas. lalu mengelilingi rumah membawa obor. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi. Karena bukan sarana upacara. Selain itu. maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala. tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus). kala. kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Sejak tahun 1980-an. pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya. Kalau di Bali. lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa. Artinya. menaburkan nasi tawur. Patung yang dibuat dengan bam-bu. umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan. patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. yaitu unsur-unsur kekuatan jahat. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu. namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan. jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. . Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Nah. yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar.mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala.

. yaitu dengan melakukan upawasa. Arcana. Itu berarti melakukan upawasa (puasa). Pada prinsipnya. hening menuju jalan yang benar atau dharma. menyepikan indria. Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa. tidak bicara sama sekali selama 24 jam. mona. dhyana dan arcana.Sebagaimana telah dikemukakan. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci.Amati lelanguan (tidak mencari hiburan). tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu: -Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). . Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Yang terpenting.Amati lelungan (tidak bepergian). Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan . tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Mona artinya berdiam diri. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Dhyana. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat. saat Nyepi. yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. . panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan.Amati karya (tidak bekerja). Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus. mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu. Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spritual.

melakukan pembunuhan satwa (binatang). Misteri kematian dan perjalanan arwah Lubdhaka tidak banyak yang mengetahuinya. termasuk malam siswa malam paling gelap sehari menjelang Tilem Kepitu 24 Januari 2001. Terbebas dari berbagai godaan yang bisa menjerumuskan dan menyesatkan hidup. Anggara Wage Wuku Gumbreg bertepatan Sasih Kapitu (Selasa. Tujuannya agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di dunia ini. Latri berarti malam (gelap). karena perbuatan menyimpang dari ajaran dharma atau Agama. Dan bahkan malam itu adalah malam tergelap dibanding malam-malam lainnya. Dari pandangan mata secara awam saja. meningkatkan kesucian rohani dan latihan mengekang hawa nafsu. adalah berdosa.terpaksa. menghilangkan nyawa mahluk lain di luar tujuan yadnya. Adalah Lubdhaka si pemburu miskin yang berbahagia dalam perjalanan hidupnya. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. merupakan hari suci bagi umat Hindu. lantaran sekalipun dalam sehari-hari selalu melakukan tindakan sadis. tetapi bisa masuk surga sesudah meninggal. sekalipun tidak disadari karena secara kebetulan. . Pada hari Siwaratri umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Siwa Mahadewa. Karena menurut mereka di dalam gelap bercokol setan dan berbagai mahluk pemangsa lainnya. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan. Dalam kegelapan malam ada keheningan kesunyian dan kedamaian. Hari tersebut dikenal dengan nama Siwalatri/Siwaratri atau Malam Siwa. 23 Januari 2001). Kalangan krama Bali beragama Hindu umum menyebutnya "peteng pitu". tentu perbuatan membunuh. Umat patut melaksanakan brata. Gelap bisa menakutkan dan menciutkan nyali bagi sebagian orang. makanya mereka memburu gelap. Dikatakan berbahagia. Tetapi sebagaian orang lagi gelap merupakan media dalam mendapatkan ketentraman batinnya.

bertahan di hutan. malam itu ia akan menemukan binatang dan berhasil memanahnya untuk dibawa pulang. Malah dalam malam gelap ia dilanda ketakutan. namun sama sekali tidak mendapat binatang buruan. lantas Lubdhaka memilih memanjat sebuah pohon yang lumayan rindang. padang perburuannya seorang diri. Kecuali satu harapannya. melihat bayangan binatang saja tidak.Pemburu tersebut dalam mitologi HIndu meniggal beberapa hari setelah Siwaratri lantaran menderita suatu penyakit. Dalam kehampaan. Istri dan anak-anaknya merasa kehilangan. Aktivitas Lubdhaka malam itulah mendapat pahala dari Hyang Siwa. Untuk menahan kantuknya tangan memetik satu persatu dahan pohon yang tidah. jengkel bercampur lelah fisik karena lapar dan harus Lubdhaka memutuskan tidak bertolak pulang menemui istri dan anak-anak kesayangannya. hingga ia berhak masuk sorga. Dengan perasaan pasrah dan nekat ia memutuskan bermalam di hutan. serta dalam petikan lelaki itu tpat mengenai patung Siwa tersebut. Apa yang dilakukan Lubdhaka sehingga memperoleh tiket masuk surga setelah mati? Suatu hari lelaki itu seharian berburu. Waktu itu jangankan ia berhasil memanah seekor binatang untuk dibawa pulang. yakni malam payogan Hyang Siwa. Ia memilih berdiam di sebuah pohon dekat telaga yang airnya sangat bening. Waktu itu sebagai pemburu Lubdhaka tidak memiliki motip lain. Pohon yang dinaiki adalah pohon Bila. antisipasinya supaya terhindar dari sergapan binatang buas. Dimana dibawah pohon tempatnya memanjat ada sebuah telaga dan perwujudan Siwa beryoga. namun kenyataannya sampai tengah malam yang sunyi senyap hasilnya tetap nihil. . Lubdhaka boleh saja berharap. karena takut jatuh otomatis laki-laki tetap terjaga (jagra) sampai pagi. Ternyata malam saat Lubdhaka menginap di hutan adalah Malam Siwa (Siwa Latri). Sangat apes hari itu perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu profesional.

Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Jawa Bali. Apabila seorangpemangku melakukan pemujaan pada hari Sarasvati. Sarasvati dipuji dan dipuja lebih dari delapan puluh re atau mantra pujaan.. siddhir bhavantu mesada. Sarasvati dalam Veda Di dalam RgVeda. C. Paramatmanam eva ca. lapar.) Hanya Engkaulah yang . Sarasvati dalam Susastra Hindu di Indonesia Tentang Sarasvati di Indonesia telah dikaji oleh Dr. ia mengucapkan dua bait mantra berikut : Om Sarasvati namas tubhyam. Hooykaas dalam bukunya Agama Tirtha. Sarasvati (n) namamy aham. Beryoga. varade kama rupini. Sarasvati berarti aliran air yang melimpah menuju danau atau kolam. artinya begini. Sarasvati di Bali dipuja dengan perantaraan stuti. menahan haus. Di Khayangan rohnya sempat menjadi rebutan. Perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu sampai masuk sorga cukup kontroversial. stava atau stotra seperti halnya dengan menggunakan sarana banten (persembahan). Arti Kata Sarasvati. Five Studies in Hindu-Balinese Religion (1964) dan menggunakan acuan atau sumber kajian adalah tiga jenis naskah. yaitu: Stuti. Malahan di kalangan umat Hindu sendiri hal ini masih menjadi masalah yang patut untuk didiskusikan. Kata Sarasvati dalam bahasa Sanskerta dari urat kata Sr yang artinya mengalir. Sarasvati 1-2. Tutur dan Kakavin yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Pranamya sarya-devana ca. siddhirambha karisyami.Aktivitasnya itu sama nilainya dengan yang dikerjakan Siwa. tidak tidur dan menahan nafsu-nafsu lainnya. pantaskah seorang Lubdhaka yang melakukan pembunuhan terhadap sarwa buron ini mendapatkan pengampunan hanya karena melakukan kegiatan begadang semalam suntuk. yakni pada setiap Saniscara Umanis Watugunung. antara penguasa neraka dan surga. Ia juga sering dihubungkan dengan pemujaan terhadap deva Visvedevah disamping juga dipuja bersamaan dengan Sarasvati. rupa siddhi prayukta ya.

Demikian pula Tuhan Yang Maha Esa yang sesungguhnya tidak tergambarkan dalam alam pikiran manusia. Engkau pula yang penuh keutamaan dan Engkaulah yang menjadikan segala yang ada. Engkau sesungguhnya permata yang sangat mulia. sarasvati duduk diatas bunga teratai dengan .menganugrahkan pengetahuan yang memberikan kebahagiaan. Makna Penggambaran Dewi Saraswati Tubuh dan busana putih bersih dan berkilauan. aksamala (tasbih) dan kumbhaja (bunga teratai). Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karuniaMu Pendahuluan Berbagai usaha atau jalan yang terbentang bagi Umat Hindu untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa digambarkan atau diwujudkan dalam alam pikiran dan materi sebagai Tuhan Yang Berpribadi (personal God). Berbagai aspek kekuasaan dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa dipuja dan diagungkan serta dimohon karunia-Nya untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. pemberi berkah. Vahana. untuk kepentingan Bhakti. karena kemuliaan-Mu pula semua yang mulia menyatu Om Sarasvati namotubhyam varade kama rupini. yaitu Sattva-gunatmika dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari lima jenis Prakrti. 1989: 38). Demikian pula tingkah laku seorang anak yang sangat mulia. Ilmu pengetahuan diidentikan dengan Sattvam-jnanam Caturbhuja : memiliki 4 tangan. memegang vina (sejenis gitar). wujud kasih bagai seorang ibu sangat didambakan. siddhirambha karisyami siddhir bhavantu mesada Sarasvatistava I) Om Hyang Vidhi dalam wujud-MU sebagai dewi Sarasvati. kainnya yang putih menunjukkanbahwa ilmu itu selalu putih. Atribut ini melambangkan : vina (di tangan kanan depan) melambangkan Rta (hukum alam) dan saat alam tercipta muncul nadamelodi (nada . Suara Om adalah suara musik alam semesta atau musik angkasa.brahman) berupa Om. Didalam Brahmavaivarta Purana dinyatakan bahwa warna putih merupakan simbolis dari salah satu Tri Guna. emngingatkan kita terhadap nilai ilmu yang murni dan tidak tercela (Shakunthala. pustaka (kitab suci dan sastra). Engkau keutamaan dari setiap istri yang mulia. Aksamala (di tangan kanan belakang) melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tanpa keduanya ini manusaia tidak memiliki arti.

KONSEP KEPEMIMPINAN. Kendaraan yang lain adalh seekor burung merak yang melambangkan kebijaksanaan (Shakunthala. Ya Tuhan Yang maha Esa. kejernihan pikiran serta kerahayuan yang didambakan oleh setiap orang. sarve santu niramayah. Angsa yang gemulai mengingatkan kita terhadap kemampuannya membedakan sekam dengan bijibijian dari kebenaran ilmu pengetahuan. PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN AGAMA HINDU Kepemimpinan Hindu Dalam kehidupan manusia didunia ini banyak ditemui usaha kerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. Demikian semoga Ida Sang Hyang Widhi senantiasa memberikan waranugrahanya berupa inspirasi. Dalam perkembangan selanjutnya. sumber wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Catur Veda dan lain-lain menunjukkan bahwa simbolis tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi dengan latar belakang filosofis yang sangat dalam.Penutup Berdasarkan uraian-uraian diatas. dewi yang memberikan inspirasi dan kahirnya ia dipuja sebagai dewi ilmu pengetahuan.kendaraan angsa atau merak. anugrahkanlah semoga semuanya memperoleh keselamatan dan kebahagiaan.. 1989 : 38). EKONOMI. Keseluruhan proses . 25. Angsa adalah sejenis unggas yang sangat cerdas dan dikatakan memiliki sifat kedewataan dan spiritual. Semoga semuanya memperoleh kedamaian. sarve bhadrani pasyantu. Sarasvati adalah dewi Ucap. maka Sarasvati di dalam Veda pada mulanya adalah dewi Sungai yang diyakini amat suci. seperti angsa mampu membedakan antara susu dengan air sebelum meminum yang pertama. Semoga semuanya memperoleh keutamaan dan semuanya terbebas dari segala duka dan penderitaan. Perwujudan Dewi Saraswati sebagai dewi yang cantik bertangan empat dengan berbagai atribut yang dipegangnya mengandung makna simbolis bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber ilmu-pengetahuan. Om Sarve sukhino bhavantu. ma kascid duhkh bhag bhavet.

Baik organisasi formal maupun non formal. Konsep demikian kelihatanya sederhana. Seorang pemimpin didalam sebuah organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan. semua kualitas kepemimpinan dari seorang manajer akan tidak .kerjasama itu dinamakan organisasi. tetapi pada kenyataannya sering kali sangat kompleks. Dengan kata lain pemimpin adalah orangnya dan kepemimpinan adalah kegiatannya. Dengan kata lain organisasi adalah proses atau rangkaian kegiatan kerja sama sejumlah orang. yaitu 1) Kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikutnya. Kepemimpinan adalah proses mendorong dan membantu orang lain untuk bekerja secara antusias ke arah tujuan. 1 995:9). Organisasi formal memiliki struktur yang relatif permanen. 1995:8). pasti dan teratur. Dengan kata lain kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan apa yang diinginkan untuk dikerjakan oleh orang lain. pasti memeriukan seseorang untuk menempati posisi pemimpin (leader). Dengan keinginan mereka untuk menerima pengarahan dari pimpinan. prosedur dan mekanisme yang statis. prosedur dan mekanismenya mudah berubah sesuai dengan kebutuhan dan keputusannya cenderung ditentukan oleh kesepakatan bersama. untuk mencapai tujuan tertentu (Nawawi da Handari. Sehubungan dengan itu maka kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan / kecerdasan mendorong sejumiah orang agar bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama (Nawawi dan Handari. Sedangkan Organisasi non formal memiliki struktur yang semi permanen. karena didalam kepemimpinan hadir suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi tugas-tugas yang berhubungan dengan kegiatan antar kelompok. maka status pemimpin menjadi jelas dan membuat proses kepemimpinan memungkinkantanpa ada yang mengarahkan. Setidaknya ada dua jenis organisasi yaitu Organisasi formal dan non formal. Dari uraian diatas ada empat implikasi penting. Kepemimpinan juga berarti aktivitas mempengaruhi orang lain untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela.

pada politiklah semua dunia terpusatkan". maka pada politikiah semua berlindung. pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan. veda pun sirna pula. kepemimpinan dan manajemen bukanlah konsep yang sama. 4) Aspek gabungan dari ketiganya yang mengakui bahwa kepemimpinan adalah sebuah nilai (value). Politik Hindu Banyak pihak yang beranggapan bahwa politik adalah kotor karena politik selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Pada politiklah semua berlindung. Pada politiklah semua awal tindakan diwujudkan. pada politikiah semua pengetahuan dipersatukan. semua aturan hidup hilang musnah. artha. Ini adalah sebuah catatan berharga bahwa meskipun kepemimpinan dihubungkan dalam kepetingan dalam manajemen. pada politiklah semua kegiatan agama/yajna diikatkan. dan moksa semakin jauh. dan pada politiklah dunia terpusatkan" . Seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan lebih dari kelompok yang dipimpin. Akan tetapi. kama. Dalam bab yang lain dijelaskan pula bahwa: "ketika tujuan hidup manusia . 2) Kepemimpinan melibatkan sebuah pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan anggota kelompok. hal 147.dharma. melainkan adalah bagi penegakkan Dharma. Hal ini banyak dijelaskan dalam percakapan antara Bhagawan Bhisma dengan Yudhistira pasca perang Bharatayudha. dan mempertahankan kekuasaan.relevan. yaitu dalam Santi Parwal LXIII. semua kewajiban manusia terabaikan. Hindu memandang politik tidak semata-mata sebagai cara mencari. sebagai berikut:"manakala politik telah sirna. Begitu juga pembagian masyarakat semakin kacau. 3) Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku-perilaku pengikut dalam sejumlah cara.

kewajiban. Selayang Pandang Kepemimpinan di Era Hindu Indonesia Tanda-tanda tentang adanya pengaruh agama Hindu. Para pemimpin waktu itu berusaha dengan bantuan para Pendeta Hindu.Untaian kalimat dalam Santiparwa tersebut mengisyaratkan bahwa antara Politik dan Agama mempunyai kaitan yang sangat erat. dapat dibaca pada batu tertulis (Prasasti) di Kalimantan dan di Jawa Barat. Dari peninggalan itu dapat disimpulkan bahwa gaya huruf dari tulusan ini yang digolongkan sebagai huruf Pallawa dan bila diperhitungkan umurnya kira-kira abad keempat Masehi. dan kebenaran yang apabila dilanggar maka akan berakibat pada kehancuran umat manusia. bukanlah kesejahteraan penguasanya karena penguasa yang berhasil membawa rakyatnya pada kebahagiaan tertinggi. baik untuk mengatur negara maupun kerohanian. kemuliaan adalah pasti ("sang sura menanging ranaggana. yang diatur sangat Hirarkis. Kalimat ini menunjukkan bahwa sasaran pokok dalam politik Hindu adalah kebahagiaan rakyat. dan sebaliknya dharma yang dijaga akan membawa kemuliaan (dharma raksatah raksitah). Kerajaan pribumi pada waktu itu. menjalin hubungan dengan perdagangan dengan kerajaan India dan mengadopsi konsep-konsep Hindu. sebagai aktualisasi dari konsepsi "raja adalah keturunan Dewa". Dalam Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa "apa yang menjadikan raja senang bukanlah kesejahteraan. Antara politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak dapat dipisahkan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan. mamukti sukha wibawa. Dharma adalah hukum. Yang sangat mencolok adalah pengaruh kepada organisasi negara. selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang rat). yaitu politik Hindu adalah untuk menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. untuk . dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). bogha wiryawan"). berorientasi ke atas. Melalui konsep "raja adalah keturunan Dewa" maka kekuasaan raja menjadi absolut. tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang raja".

pemimpin juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat. bahwa hanya keturunan Dewa bisa menjadi pemimpin.2).1 dijelaskan tentang tugas seorang pemimpin sebagai berikut: Wahai pemimpin negara. Waktu itu diyakini. Pemimpin yang ingin diakui oleh masyarakat adalah mereka yang berhasil "Mbrojol selaning Garu" (Iolos dari seleksi yang ketat). maka rakyatpun akan melindungi pemimpin itu sendiri ibaratnya Singa dan hutan yang saling melindungi. serta mencukupi kebutuhan rakyatnya. demikianlah keberadaan pemimpin dengan yang dipimpinnya. dalam kitab Atharva Veda: 3. raihlah kehormatan dan pujian dalam negara ini. Disamping sebagai pelindung rakyat. Ia tersebar mulai dari Weda sampai pada berbagai sastra Hindu.4. Hal ini nampak jelas dalam kutipan sebagai berikut: Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti kebenaran dan dharma. Wisnu.4. Bila seorang pemimpin memperhatikan masalah kesejahteraan rakyat serta mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat. lindungilah rakyat dengan penuh kehormatan. Tetapi yang terjadi tidak selalu demikian. seluruh penjuru mamanggil dan memohon perlindunganmu. Siwa dan Dewa lainnya) pada dirinya guna melegitimasi kekuasaanya. . datanglah dengan cahaya.menarik garis keturunan kepada Dewa (Brahma. maka semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan menyebarkan dharma kepada masyarakat luas (Atharva Veda: 3. Kepemimpinan dalam Sastra-Sastra Hindu Dalam ajaran Agama Hindu banyak sekali ditemukan ajaran tentang kepemimpinan. hadirlah sebagai pemimpin yang utama.

dan melindungi pemimpin tersebut.9) Bila seorang pemimpin yang pemarah dengan kesombongannya ingin menghancurkan dan menghina para Brahmana yang ahli Veda. 1 1 disebutkan bahwa : Orang tidak boleh tanpa Asraya (tempat mohon bantuan) namun usahakanlah Mahasraya. Penguasa-penguasa di Bali jaman dahulu rupa-rupanya memaklumi hal ini sehingga beliau melaksanakan strategi menggalang persatuan rakyat dalam wilayahnya. Persekutuan dan persatuan merupakan suatu kekuatan yang maha besar sehingga akan mampu menumbangkan kekuatan sebesar apapun. Ketika burung Garuda datang (musuh ular) terpaksa ular itu dihormati pula. mati dibunuh oleh persekutuan si burung siung. (Atharva Veda: 5. Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang dipimpinnya. Warga-warga disatukan. Dalam sastra Jawa Kuno dikatakan bahwa Raja harus melaksanakan taktik Catur Upaya Sandhi. lalat dan katak. maka negara tersebut akan hancur.6) Dalam Nitisastra 1. Lihatlah itu si ular naga yang mencari tempat berlindung pada Bhatara Siwa karena Baktinya ia dijadikan kalung oleh Bhatara Siwa. (Rg Veda: 4. dipersaudarakan dengan menyatukan pura kawitannya dalam satu kompleks pura dengan pura raja dan menyebut mereka wargi sang raja.Pemimpin yang tidak terkalahkan. Beda. si gajah yang besar dan kuat namun angkuh. yang menggalang rasa kelompok dan rasa bakti kepada raja. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV. 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang .19.50. Dalam Tantri Kamandaka. sebaliknya rakyatpun akan selalu menghormati. Namun dalam hal ini raja harus cerdik melaksanakan segala upaya mempersatukan rakyatnya. yaitu Sama. melindungi rakyatnya dengan selalu meminta perlindungan Tuhan. Pada hari-hari tertentu wargi-wargi itu bertemu di Pura. Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat. Dana dan Danda.

dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak kentara. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII. sumbangansumbanganmu itulah bagaikan hujan membanjiri rakyat. Indra brata. tersembunyi namun mulia. Ia menjatuhkan hujan menyuburkan bumi. 2. pelan-pelan olehnya. 6. berpakaian dan berhiaslah. inilah Bayu brata. perilaku lemah lembut tampak. 8. 5. Bhatara Surya selalu menghisap air. Bagaikan anginiah engkau waktu mengamati perangai orang. setiap yang merintangi usahakan musnahkan. Kuwera. karena Ida Bhatara ada pada dirinya. Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat. 3. beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja. Adapun terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana adalah: "Dan ia disuruh untuk menghormatinya. tiada rintangan.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia. Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit. Bayu. kejammu pada musuh itu . demikianlah engkau mengambil penghasilan. itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya. Surya. Sang Hyang Indra usahakan pegang. delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu. ia memukul pencuri sampai mati. itulah engkau tiru Pasabrata. yang demikian disebut Dhanabrata patut diteladani. Baruna. engkau mengikat orang-orang jahat. Nikmatilah hidup dengan nikmat. demikian delapan jumlahnya. Yama.ideal. demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat. hendaklah engkau mengetahui pikiran rakyat semua. 7. Agni. tidak membatasi makan dan minum. Candra. setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau hormati. tiada cepatcepat demikian Surya Brata. itulah sebabnya disebut Asta Brata" 1. Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya. Selalu membakar musuh itu perilaku api. Hyang Indra. senyummu manis bagaikan amerta. inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata. 4.

disimpulkan dalam dharma yang mengandung pengertian segala sesuatu yang mendukung orang untuk mendapatkan kerahayuan. manupadesa prihatah rumaksa ya. Ika ta prassidha dharma ulahaning kadiKita prabhu. Dalam kakawin Ramayana. Jananuragadi tuwi kapangguha. "sakanikang rat kita yan wenang manut. Tuntunan Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin.ika ta sang prabu.usahakan. si mangraksa rat juga. Petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra sastra Jawa Kuna. Dari semua hukumhukum yang harus dipedomani oleh seorang pemimpin. Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin negaranya ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya. Ksaya nikang papa nahan prayojana. setiap engkau serang cerai berai dan lenyap. Mtangian mangkana. demikianlah yang disebut Agnibrata. Artinya: Tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti Petunjuk-petunjuk hukum Manu (Manawa dharmasastra) usahakan pegang Hilangnya penderitaan itulah tujuannya Cinta orang tentu akan kita jumpai. Bhismaparwa dan lain-lain dijumpai uraian dharma sebagai pedoman raja (pemimpin) dalam memimpin negaranya. Makambek mangakana Terjemahan: .asihning wwang ringSarwa bhuta marikang dharma mangkana ngaranyaKotamaning asih ika pagawenta piratrana ring rat. yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh bertidak sesuka hatinya ketika ia memegang kekuasaan.

byakta sira tininggal ing wadwa nira. bila raja kejam dan bengis tindakannya. Apabila sang Prabhu tidak melaksanakan tugas-tugasnya sebagai raja yang melindungi rakyat dan negara. Kutipan ini menunjukkan beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang pemimpin agar tak ditinggalkan oleh para pengikutnya. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan dan orang yang hina dimuliakan.Demikianlah dharma yang sempurna engkau kerjakan sebagai raja melindungi negara. (slokantara 40) Terjemahan : Pelayan dapat meninggalkan rajanya. maka ia akan kehilangan kekuasaannya karena ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya.sayangmu pada semua makhluk dharma namanya. untuk melindungi negara. Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira. ya hana wwang kulina janma sinoraken.yang merupakan nasehat Bhagawan Bhisma kepada Prabhu Yudistira. Kutipan diatas diambil dari Bhismaparwa. itulah mencampur-baurkan namanya. Petunjuk tentang itu dapat diketahui dari kutipan berikut: "Laku bhrtya matinggal ratunya. yan hana ratu akeras mapanas ing gawe. Raja yang kikir dan sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa. yan hana ratu mangkana tininggal sira de ning janma wwang kulina janma. Seorang pemimpin yang baik menurut ajaran Hindu haruslah memperhatikan masalah . awisesa ngaranya manarub. yang hana wang adhahjati dinuhuraken.penampilan kasih sayang itulah kamu kerjakan. sebabnya demikian. demikianiah sang prabhu (pemimpin) seharusnya bertingkah laku. yaitu raja yang mencampurbaurkan persoalan. leheng ikang ratu makeras swapadi ngrutu makumed tar paradanda. Lebih baik raja yang kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang. tidak menjadi panutan yang dipimpinnya. yeka anarub ngaranya. ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa. Bila ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif.

Nikmatilah apa yang kamu ingini berilah kesejahteraan. dan penuh cinta kasih. 65) Kutipan ini juga mengandung makna bahwa raja atau pemimpin harus mengembangkan nilai kejujuran (satya ta sira mojar) dan karena itu semua rakyat akan segan terhadap raja atau pemimpinnya. (Ramayana III. (Kakawin Ramayana III. selalu dalam kesucian. supaya diperbanyak untuk biaya pembangunan disimpan baik-baik. Kepemimpinan Yang Paripurna Menurut Hindu "Gunamanta Sang Dasarata Wruh Sira Ring Weda Bhakti Ring Dewa Tarmalupueng Pitra Puja Masih Ta Sireng Swagotra Kabeh" Kutipan bait Ramayana di atas. Dharma kalawan artha mwang kama ta ngaranika. KERAGAMAN RITUAL . Artinya. Petunjuk tentang itu dapat dilihat pada nasehat Rama kepada Wibisana berikut ini: Dewa kusala salam mwang dharma ya pahayun. Dharma. Santasih nitya thaganan Kasih sayang hendaknya engkau selalu lakukan. 54) Terjemahan: Pura-pura (tempat suci). rumah sakit dan pedarman supaya diperbaiki. dan kama namanya demikian itu.kesejahteraan para pengikutnya. dan seorang pandita yang arif bijaksana. 26.Mas ya ta pahawreddhin bhaya ring hayu kekesan. yaitu sifat seorang Ksatria yang gagah berani dalam menegakkan dharma. menegaskan bahwa seorang pemimpin yang sempurna dalam konsep Hindu adalah seorang Rajarsi atau satria pandita. seorang pemimpin harus memiliki kedua sifat dalam dirinya. Bhukti akaharepta wehing bala kasukan. artha.

yang berpendirian bahwa pengetahuan tentang korespondensi antara ritual dan kosmos adalah semacam kekuasaan. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kalapatra. Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat. The earlier Upanisads continue the magical speculations of the Brahmanas.ritual Hindu adalah representasi dari Upanishad yang melanjutkan pekerjaan Brahmana dan Aranyakas dalam menafsirkan makna dari ritual srauta. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. . The sections on knowledge (jnanakanda) take precedence over sections on ritual (karmakanda). berkembang dan hidup yang wajar. 27. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki kitab suci dan ajarannya hanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun. tidak terkekang oleh dogmadogma yang salah atau kedaluwarsa. masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri. yang disebut Kaharingan. kami hanya ingin tumbuh. which maintained that knowledge of the correspondences between ritual and cosmos is a kind of power. The Upanisads sebelumnya melanjutkan spekulasi magis dari Brahmanas. desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. Bagianbagian pada pengetahuan (jnanakanda) didahulukan dari bagian pada ritual (karmakanda). tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. APLIKASI WEDA DI KALTENG Sebelum datangnya agama-agama tradisi besar dan resmi diakui oleh pemerintah Indonesia. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri. With these texts the increasing importance of knowledge of esoteric correspondences are observed as compared to ritual action. Dengan teks-teks ini semakin pentingnya pengetahuan esoterik korespondensi diamati dibandingkan dengan tindakan ritual. tetapi juga ajaran untuk berperilaku. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif.

bantuan ekonomi. Upaya penyebaran agama-agama tradisi besar ini cukup berhasil. Sedangkan kegiatan misionaris agama Kristen Katholik dan Kristen Protestan telah masuk ke pedalaman Kalimantan dan berjalan dengan gencar sejak abad ke-19. dan sebagainya. Bugis. Dalam upaya Kristenisasi dan Katholikisasi terhadap Suku Dayak di pedalaman. Suku Dayak sangat terbuka dengan pengaruh budaya luar. pohon. batu. dan sebagainya. mereka banyak menggunakan media pelayanan sosial.Menurut kepercayaan Kaharingan. terutama dalam merekrut generasi mudanya sehingga pada saat ini sebagian besar generasi muda Dayak telah memeluk agama Islam. termasuk di antaranya kehadiran agama-agama tradisi besar. banyak yang kemudian memeluk agama Islam. sakit. Mereka percaya adanya Tuhan. masyarakat Dayak mempercayai banyak dewa di sekitar mereka. suara burungburung tertentu. seperti arah terbang burung. seperti bantuan pendidikan. misalnya Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi Mahatara. maupun Katholik. seperti dewa-dewa yang menguasai tanah. tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia. dan sebagainya. kesialan. yang sebutannya berbeda-beda antara Sub suku Dayak satu dengan yang lainnya. terdapat dewa yang tertinggi. Akan tetapi sebagian dari mereka tetap . sungai. melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut. Kristen. dan sebagainya. Dengan keterbukaannya tersebut. ada ular yang melintas di depannya. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam apabila hendak bepergian jauh. Dari dewa-dewa tersebut. seperti Jawa. dibawa oleh kaum pendatang yang berasal dari daerah lain. Hal ini bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit. Melayu. Islam telah masuk ke Kalimantan sejak abad ke-13. Suku Dayak yang tinggal di daerah pesisir dan banyak berhubungan dengan para pendatang dari suku-suku lain. dan pelayanan kesehatan. maka dimanfaatkan oleh kaum misionaris untuk menyebarkan agamanya. Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin terhadap dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana.

upacara penolak bala dan sebagainya. Dengan hilangnya upacara-upacara tersebut. dan harus diluruskan sesuai dengan ajaran agama mereka. seperti upacara Tewah/Dalo. dan Budha. Ia akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Melayu Menurut pandangan mereka. Katholik. orang Melayu dengan agama Islamnya identik dengan kemajuan dan kemoderenan. Hindu Dharma. Seorang Dayak yang sudah menganut Islam akan merasa malu mengakui dirinya sebagai orang Dayak. Hal ini mengakibatkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. sementara di pihak lain ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionanis dan penyebar agama tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka. penghormatan terhadap leluhur. Kedatangan agama-agama tradisi besar tersebut di atas ternyata juga membawa dampak buruk terhadap kehidupan orang-orang Suku Dayak. khususnya dengan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Suku Bali sebagai penganut agama Hindu Dharma mayoritas di Indonesia. yaitu Islam. dan pemujaan alam lingkungan yang dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katholik. Sementara itu keberadaan agama Kristen dan Katholik juga tidak mendukung pelestarian adat-istiadat dan tradisi Suku Dayak. hilang pula nilai-nilai dan normanorma yang terkandung di dalam tatanan masyarakat Dayak. Pada akhirnya para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu Dharma sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar antara keduanya.bertahan pada kepercayaan Kaharingan. Pada jaman Orde Baru pemerintah memberlakukan lima agama besar yang resmi diakui di Indonesia. Banyak upacara Suku Dayak yang berhubungan dengan upacara kematian. sedangkan orang Dayak dengan kepercayaan Kaharingan-nya identik dengan ketertinggalan dan kekolotan. dan sebagainya. salah. . pemujaan roh nenek moyang yang telah meninggal. rasa menghargai terhadap semua makhluk hidup yang ada di alam lingkungan. seperti pelestarian hutan. Kristen. Di satu pihak mereka harus memilih salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah. Hal ini dikarenakan agama-agama tradisi besar pada umumnya memandang kepercayaan-kepercayaan di luar mereka sebagai sesuatu yang eksotik.

seperti upacara Tawur Agung. binatang. Di Bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam masih berjalan lestari sampai saat ini. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. b. Sedangkan di Bali arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga). hutan Manfaat dan arwah hutan nenek bagi moyang orang yang Dayak. maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan. 3) Upacara yang berkaitan dengan pemujaan kepada lingkungan alam. misalnya batu besar. yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu Dharma. dan dikremasi. baik ke dalam tubuh manusia. tumbuhan. disemayamkan di atas tanah atau diatas pohon di dalam hutan. yaitu dikubur di dalam tanah. Upacara ini mempunyai persamaan dengan di Bali. atau bersemayam pada benda-benda mati. di mana jenazah orang yang meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah. melindungi antara lain: a. pertemuan sungai. Panca Wali Krama.Persamaan antara kepercayaan Kaharingan dengan ajaran Hindu Dharma adalah sebagai berikut 1) Percaya Reinkarnasi. dan sebagainya. berkaitan dengan kepercayaan hutan sebagai tempat tinggal dewa penguasa manusia. Eka Dasa Rudra. 2) Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur. Lingkungan alam yang paling dekat dengan Suku Dayak adalah lingkungan hutan. Orang-orang Dayak memiliki tradisi yang beraneka ragam dalam memperlakukan jenazah dengan tiga cara. berkaitan dengan sumber mata pencaharian : hutan sebagai sumber kehidupan karena merupakan tempat untuk berburu binatang dan mencari makanan. yaitu percaya bahwa roh yang telah meninggal dapat lahir kembali. setelah beberapa tahun kemudian digali kembali dan tulang-tulangnya dibakar. atau disemayamkan di atas tanah. puncak-puncak gunung. Sedangkan Dayak Ngaju menguburkan jenazah di dalam tanah terlebih dahulu. dan sebagainya Setelah bergabung dengan agama Hindu Dharma. Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam .

Kebijakan apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini? Antara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. . sejajar dengan agama-agama lainnya. lepas dari agama Hindu Dharma. yaitu mengapa umat Hindu Kaharingan terpecah menjadi dua? Di satu pihak menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma. Sebagian lagi menyatakan bahwa Hindu Kaharingan sebagai agama yang berdiri sendiri. di lain pihak menginginkan Hindu Kaharingan berdiri sebagai agama tersendiri. sebagian dari mereka menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. antara lain BAKDI (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia) dan Majelis Hindu Kaharingan. terpisah dari agama Hindu Dharma. Sebagian dari mereka menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma dengan tetap mengakui PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu yang resmi diakui oleh pemerintah. Pada saat ini mereka tengah memperjuangkan kepada pemerintah agar agama Hindu Kaharingan dapat diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah. Hal ini terlihat dari beberapa nama majelis yang ditawarkan sebagai wadah umat Hindu Kaharingan. Namun tampaknya juga belum ada kesepakatan bersama dalam membentuk “PHDI Tandingan” ini. maka timbul perpecahan di antara umat Hindu Kaharingan. Ketika kekuasaan Orde Baru runtuh dan bergulir semangat reformasi. Pihak yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Dari uraian di atas. Di pihak lain. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan. dan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah.agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di Indonesia. dapat diketahui permasalahannya. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di luar PHDI.

yaitu upacara yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran manusia d) Manusa Yadnya. sungai. nabi atau kaum ulama. sedangkan Bhuta Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta. -------------. atau sering disebut dengan Panca Yadnya. upacara Rsi Yadnya. kelahiran.Suksma -------------- . a) Dewa Yadnya. dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan manusia. pandita. yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh b) Rsi Yadnya. dan sebagainya. seperti gunung. yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi. Dengan demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita Karana. karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci kepada manusia c) Pitra Yadnya. laut. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. manusia dengan manusia. Upacara adalah sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di dalam Tri Hita Karana tersebut. yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta. ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana. Pitra Yadnya. perkawinan. upacara-upacara keagamaan terbagi dalam lima kelompok besar. dan kematian e) Bhuta Yadnya. Di samping konsep Panca Yadnya. Kelima manifestasinya kelompok (perwujudan hesar Tuhan dalam tersebut bentuk adalah: dewa-dewa).Konsep-Konsep Upacara dalam Ajaran Hindu Dharma Di dalam ajaran agama Hindu Dharma. yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan manusia. binatang dan tumbuhan. dan manusia dengan alam semesta. seperti kehamilan. yaitu makhluk halus. yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful