JAWABAN SOAL UJIAN STUDI AGAMA HINDU 1. PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA, INDONESIA DAN KALIMANTAN TENGAH a.

Perkembangan Agama Hindu di India Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Agama Hindu pertama kali dikenal di India. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 Jaman/fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. 1. Jaman Weda–>Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut “Rta”. Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra. 2. Jaman Brahmana–>Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya “Tata Cara Upacara” beragama

yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. 3.Jaman Upanisad–>Pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. 4.Jaman Budha–>pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Agama Hindu makin lama semakin menyebar mulai dari India Selatan hingga keluar dari India dengan berbagai cara, sterutama melalui perdagangan bebas Internasional. Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini “Maitra Waruna” yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi. Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari

India. Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orangorang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan “Aztec” yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini. Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saatsaat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini disebut Inca. Kata “Inca” berasal dari kata “Ina” dalam bahasa Sanskerta yang berarti “matahari” dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya. Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park). Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda “Tri Kuta” atau tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman

Sedangkan pada Jaman Upanisad. Varuna. Indra. Pada jaman ini. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. masyarakat dibagi atas kaum Brahmana. yang kemudian dikembangkan pula pada . Vayu. akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi. yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu. mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni. Kitab Brahmana. kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. sekitar 2500 s. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta. setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. yang disebut "Rta". Siwa dan sebagainya. Salah satu peninggalan yang menarik. menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda.d 1500 tahun sebelum Masehi.Budha. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa. Pada Jaman Brahmana. yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja. Walaupun Dewa-dewa itu banyak. Vaisya dan Sudra. Ksatriya. namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda. adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi. karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa. ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa.

Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: “Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman”. Sejak jaman Purana. misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia. Ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Masuknya agama Hindu ke Indonesia. agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan . pada Jaman Budha ini. menimbulkan pembaharuan yang besar. perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. Perkembangan Agama Hindu di Indonesia Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi. dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta". Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara b. sebagai jalan untuk Tuhan. menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan menghubungkan sistem yoga diri dan semadhi. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa.ajaran Darsana. Tempat itu disebut dengan “Vaprakeswara“. dengan Agama Hindu. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur). Selanjutnya. pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. Itihasa dan Purana. dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien.

Pasir Awi. Cakra. Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa “Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu. Tugu dan Lebak. maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi. Kebonkopi. Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti. Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal. Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu” Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa. yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Kendi. Berdasarkan data tersebut. yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa . dengan Candra Sengkala berbunyi: “Sruti indriya rasa”. Jambu. merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah. Disamping itu. yakni prasasti Ciaruteun. Kapak dan Bunga Teratai Mekar. yaitu Trisula. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa. agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur. Muara Cianten. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi).diketemukannya tujuh buah prasasti. Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti. Selanjutnya.

Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. para pendeta dan penduduk negeri. Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit.sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia. sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda. Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. misalnya Kitab Smaradahana. sebagai pengemban agama Hindu. Setelah dinasti Isana Wamsa. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari. Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. para Brahmana besar. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran. Hal ini disamping dapat dibuktikan . Kitab Bharatayudha. Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal. Kitab Lubdhaka. di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222). yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu.

Beliau Moksa di Pura Silayukti. Perkembangan selanjutnya. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar. Menurut uraian lontar-lontar di Bali. Surya kanta tahun1925 di SIngaraja.dengan adanya prasasti-prasasti. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. yakni pada masa pemerintahan Udayana. bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat . kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung). Perkembangan agama Hindu selanjutnya. yang berasal dari abad ke-8. Khayangan Jagad. Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci. setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur. Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung. arsitektur. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra. agama. Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja. sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Dan pada masa Dalem Waturenggong. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu. Gianyar. seperti Pura Rambut Siwi. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama.

Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Dari lembah sungai sindhu. Krom (ahli .d 10 Oktober 1964). Mookerjee (ahli . dengan teori Waisya. diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis". Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Berdasarkan beberapa pendapat.India tahun 1912). Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia. Moens dan Bosch (ahli . menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India.Belanda) . Asia Tengah. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India.Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu.Belanda). Kontak yang berlangsung sangat lama ini. Dan pada tahun 1964 (7 s. yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia. yaitu ke India Belakang. diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Tiongkok.

maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau.Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya. Pita Segara. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu. maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti: Prasasti Dinoyo (Jawa Timur): Prasasti ini bertahun Caka 628. Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. India Selatan dan India Belakang. juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma. artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Yamuna. melalui sungai Gangga. Prasasti Porong (Jawa Tengah) Prasasti yang bertahun Caka 785. dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau. c. diantaranya adalah: Agastya Yatra. artinya bapak dari lautan. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali. Perkembangan Agama Hindu di Kalimantan Tengah . Data Peninggalan Sejarah di Indonesia.

Dampak positif budaya global sangat dirasakan oleh masyarakat Bali. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. EKSISTENSI KEBERADAAN AGAMA HINDU Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama Hindu dan budaya Bali. Proses globalisasi telah pula merambah kehidupan agama yang serba sakral menjadi sekuler. menggunakan hal-hal yang baik itu untuk merevitalisasi Agama Hindu dan budaya Bali. Di balik dampak positif globalisasi. dan bahkan pemerkosaan. Dampak negatif budaya global tersebut merupakan dampak dari kehidupan modern. pencurian. transportasi. untuk berkomunikasi ke mana saja di belahan bumi ini. Teknologi komunikasi dan informasi yang demikian maju memberi peluang masuknya berbagai pengaruh budaya asing. dan sebagainya). Berbagai produk budaya global telah merambah berbagai aspek kehidupan. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan . ke dalam rumah dan bahkan ke dalam kamar-kamar dan kepada pribadi masyarakat. tidak dapat dihindari adalah dampak negatif budaya global tersebut. Muncul berbagai masalah di antaranya masyarakat semakin individualis. dan informasi yang sangat canggih memberikan peluang kepada masyarakat Bali yang memang sangat terbuka. perampokan. Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global. yang dapat menimbulkan ketegangan bagi umat beragama. kurangnya solidaritas. penyalahgunaan obat-obat psikotropika (narkoba. Demikian pula alat-alat komunikasi. ekstasi.2. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya global. terutama dengan adanya kemajuan teknologi informasi mempercepat proses perubahan tersebut. Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi atau era kesejagatan yang demikian tampak pesat mendera setiap bangsa. Berkembangnya penyakit sosial seperti prostitusi. Wawasan masyarakat Bali terbuka untuk memetik hal-hal yang baik dari manapun berasal dan dengan kemampuannya yang selektif dan adaptif.

Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut. 2005:18). Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan globalisasi tersebut. dan menulis buku The Ramayana in Indonesia (2004) seperti dikutip oleh Dharma Putra dan Widhu Sancaya (2005:XV) menyatakan bahwa Bali dapat dijadikan satu contoh untuk Asia sebagai daerah yang memiliki kemampuan untuk mengadaptasi budaya tradisional agar relevan dengan budaya global.keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika. untuk itu kiranya perlu diketengahkan bagaimana sinergi dan dinamika Agama Hindu dengan budaya Bali dan melakukan fungsinya sesuai dengan budaya Bali. Vinod C. and can be an example to the rest Asia for its skill in adapting traditional cultural practices to suit a modern context. Sinergi dan dinamika Agama Hindu di Bali telah melahirkan berbagai kearifan lokal. Berbagai kearifan lokal telah terbukti mampu menjadikan Agama Hindu dan budaya Bali eksis sepanjang masa . namun demikian kekhawatiran sebagian masyarakat tentang dampak negatif globalisasi perlu diusahakan jalan untuk mengatasi dan mungkin mencegahnya. Agama Hindu dan tidak menghapuskan tradisi masyarakat dan budaya Bali sebelumnya. di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. mantan Duta Besar India. Seperti telah disebutkan di atas. Khanna dan Malini Saran yang telah beberapa kali mengunjungi Bali. Dalam situasi yang demikian. tampak beragam respon masyarakat Bali. Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Agama Hindu dan budaya Bali mampu menghadapi budaya globabal. bahwa Agama Hindu menjadi jiwa dan sumber nilai budaya Bali. tetapi sebaliknya memberikan pencerahan kepada budaya lokal. The island of Balinever lost sight of this truth while facing up to the relentless onslaught of tourism on its rich artistic heritage.

sunguh tidak sempurnanya Tuhan jika harus memiliki perwakilan di dunia. Itu salah. Aneh bukan jika itu ada. karena semua dilakukan dengan rasa bahagia dan keiklasan. bagi Hindu dosa tidak bisa hapus. Tidak ada dalam Hindu memberi secarik kertas dari sebuah . melainkan meminta untuk mengabdi dan berbakti pada beliau. dengan cara apapun. Hindu bukanlah agama yang membenarkan penghapusan Dosa. banyak umat Non-Hindu yang mengangap bahwa itu tidaklah praktis. Hindu percaya dalam menjaga dunia ini Tuhan juga berkorban untuk kita. Satu lagi mungkin juga yang membedakan Hindu dari agama yang lainya. karena walau beliau itu penuh dengan keajaiban namun beliau tetap tidak sesempurna tuhan. Bukanya hanya berdoa pada Tuhan lalu meminta berkahnya. Hindu merupakan agama yang universal. Seperti kebayakan Non-Hindu mengatakan bahwa umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba sebagai wakil tuhan di dunia. Tapi memang agama tidak bisa dilogikakan. Agama Hindu tidak pernah mempersalahkan agama lain yang ada di dunia ini. secara logika saja sudah agak aneh. Dalam mantra Hindu seperti maha mantra Hare Krisna dan lain-lain jika diartikan disebutkan pada awalnya bukan meminta berkah sesuatu seperti doa-doa ajaran yang lain. Tapi bagi Umat Hindu itulah cara mereka menunjukan rasa cinta dan kekaguman mereka pada sang pencipta. umat Hindu mengangap Sri Satya Sai Baba yang memiliki tidak saja pengikut dari Hindu melainkan juga Umat Non-Hindu sebagai Guru Besar Spritual dalam Hindu. IMPLEMENTASI AGAMA HINDU YANG BERSIFAT UNIVERSAL Hindu memang dikenal dengan banyaknya Upacara. yang mampu berdampingan dengan agama lain. umat Kristen percaya bahwa Yesus berkorban untuk umatnya. karena Umat Hindu tidak pernah mengangap seperti itu. Bagi Umat Hindu tidak ada upacara yang ribet atau tidak praktis. Dalam Hindu tidak ada namanya perwakilan Tuhan di dunia. Budha pun berkorban untuk kedamaiaan pengikutnya. Umat Hindu percaya bahwa beliau adalah Guru yang patut dihormati dan bukan berarti beliau diangap sebagai tangan tuhan di dunia ini. Namun perbuatan dosa bisa diimbangi dengan perbuatan Baik. dan bukan Hindu saja yang percaya hal itu.3.

sekarang mungkin kita sedikit melihat bagaimana ke agungan Hindu itu sendiri. lalu masuk sorga. Minoritas bukan berarti tidak berkualitas. HINDU ADALAH SANATANA DHARMA Dalam upaya memantapkan pandangan kita terhadap ajaran Hindu Dharma terlebih dahulu kami ingin menekankan kembali nama dan sumber ajaran Hindu atau Hindu Dharma yang kita kenal sebagai satu agama tertua yang masih dianut oleh umat manusia. atau dengan membunuh orang dengan atas nama Jihad kemudian masuk sorga. Dalam kontek pembicaraan kita . Yang dimaksud dengan Varna adalah pilihan profesi sesuai dengan Guóa (bakat pembawaan orang) dan Karma (kerja yang dia lakoni) oleh setiap orang.perwakilan yang menyebut dirinya perwakilan Tuhan di dunia. tanggal 11 Oktober 1993 di Yogyakarta menyatakan bahwa agama Hindu tidak mengenal missi karena dibatasi oleh sistem kasta. Dr. bagaimana orang Indonesia di masa yang lalu memeluk agama Hindu? Siapakah yang menyebarkan agama Hindu ke Indonesia? Selanjutnya tentang kasta adalah bentuk penyimpanan dan interpretasi yang keliru dari pengertian Varna sebagai tersebut dalam kitab suci Veda. Dipakai nama Hindu Dharma sebagai nama agama Hindu menunjukkan bahwa kata Dharma mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian kata agama dalam bahasa Indonesia. kemudian dosa bisa dikurangi. melainkan Moksha atau menyatu dengan Tuhan (Brahma) . karena sebenarnya kita adalah mayoritas dalam ajaran keagamaan. Mukti Ali. dan juga dalam Hindu sorga bukanlah tujuan utama mereka. Bilama Hindu tidak mengenal missi. Hal ini kami pandang sangat perlu mengingat sampai sekarang masih ada pandangan dan buku-buku yang mendiskreditkan agama Hindu dan menganggap agama Hindu sebagai agama yang tidak bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Hindu itu tidaklah ada. 4. Banggalah kita menjadi Hindu. Bahkan Prof. Jangan pernah kita merasa kita ini minoritas. sebagai tokoh ahli perbandingan agama di Indonesia pada Kongres Agama-Agama di Indonesia.

Para åûi atau mahàrûi yakni orang-orang suci dan bijaksana di India jaman dahulu telah menyatakan pengalaman-pengalaman spiritual-intuisi mereka (AparokûaAnubhuti) di dalam kitab-kitab Upaniûad. 1984: 13). Kata Sanàtana Dharma berarti agama yang bersifat abadi dan akan selalu dipedomani oleh umat manusia sepanjang Nama asli dari agama ini masa. merupakan santapan rohani dan pedoman hidup umat manusia yang tentunya tidak terikat oleh kurun waktu tertentu.9. Kebenaran yang tidak ternilai yang telah ditemukan oleh para mahàrûi dan orangorang bijak sejak ribuan tahun yang lalu. Pakistan. Jadi agama Hindu sama dengan Hindu Dharma. Kata Hindu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Persia yang mengadakan komunikasi dengan penduduk di lembah sungai Sindhu dan ketika orang-orang Yunani mengadakan kontak dengan masyarakat di lembah sungai Sindhu mengucapkan Hindu dengan Indoi dan kemudian orang-orang Barat yang datang kemudian menyebutnya dengan India.1 (Dayananda. Kitab suci Veda merupakan dasar atau sumber mengalirnya ajaran agama Hindu. Hindu Dharma memandang pengalaman-pengalaman para mahàrûi di jaman dahulu itu sebagai autoritasnya (sebagai wahyu-Nya).saat ini pengertian Dharma disamakan dengan agama. 1974:LI) maupun maharsi Aupamanyu sebagai yang dikutip oleh mahàrûi Yàûka . Kata Vaidika Dharma berarti ajaran agama yang bersumber pada kitab suci Veda. Bangladesh disebut dengan nama Bhàratavarsa yang disebut juga Jambhudvìpa. Pada mulanya wilayah yang membentang dari lembah sungai Shindu sampai yang kini bernama Srilanka. pengalaman-pengalaman ini sifatnya langsung dan sempurna. karena ajaran yang disampaikan adalah kebenaran yang bersifat universal. membentuk kemuliaan Hinduisme. 1988: 4) Kebenaran tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa ditegaskan oleh pernyataan yang terdapat dalam kitab Taittiriya Aranyaka 1. yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Mahadevan. oleh karena itu Hindu Dharma merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Sivananda.

Devatà (Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang menurunkan wahyu) dan Chanda (irama/syair dari mantra Veda). Bagi umat Hindu kebenaran Veda adalah mutlak. para maharsi mampu menerima mantra Veda. Puruûeyaý artinya dari manusia. Apakah artinya ketika seorang mengatakan bahwa Columbus menemukan Amerika ? Bukankah Amerika telah ada ribuan tahun sebelum Columbus lahir? Einstein. bukan dalam pengertian atau mengarang Veda. karena bersifat AnadiAnanta yakni kekal abadi mengatasi berbagai kurun waktu.11 (Loc. Untuk itu umat Hindu senantiasa memanjatkan doa pemujaan dan penghormatan kepada para Devatà dan maharsi yang menerima wahyu Veda ketika mulai membaca atau merapalkan mantra-mantra Veda (Chandrasekharendra. Mantra-mantra Veda telah ada dan senantiasa ada. Newton atau Thomas Edison dan para penemu lainnya menemukan hukum-hukum alam yang memang telah ada ketika alam semesta diciptakan. melainkan terdiri dari beberapa kitab yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Saýhità) yang dikenal dengan Catur Veda . Oleh karena kemekaran intuisi yang dilandasi kesucian pribadi mereka. Para maharsi menerima wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam) melalui kemekaran intuisi (kedalaman dan pengalaman rohani)nya. 1988: 5). Bila Veda merupakan karangan manusia maka para maharsi disebut Mantrakarta (karangan/buatan manusia) dan hal ini tidaklah benar.(Yàskàcarya) di dalam kitab Nirukta II. Selanjutnya Úrì Chandrasekarendra Sarasvati. pimpinan tertinggi Úaýkara-math yakni perguruan dari garis lurus Úrì Úaýkaràcarya menegaskan : Dengan pengertian bahwa Veda merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam atau non human being) maka para maharsi penerima wahyu disebut Mantradraûþaá (mantra draûþaá iti åûiá). Para mahàrûi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dihubungkan dengan Sùkta (himpunan mantra). karena merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa. Demikian pula para maharsi diakui sebagai penemu atau penerima wahyu tuhan Yang Maha Esa yang memang telah ada sebelumnya dan karena penemuannya itu mereka dikenal sebagai para maharsi agung. merealisasikan kebenaran Veda. Kitab suci Veda bukanlah sebuah buku sebagai halnya kitab suci dari agamaagama yang lain.Cit).

Àraóyaka dan Upaniûad) yang seluruhnya itu diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa Sanskerta disebut Úruti.(Ågveda. Hindu Dharma tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir. Majelis inilah yang berhak mengeluarkan Bhisama (semacam fatwa) bilamana tidak ditemukan sumber atau penjelasannya di dalam sumber-sumber kedudukannya lebih tinggi. Didalam memahami ajaran agama Hindu. Seorang maharsi Agung. Yajurveda. Úìla (yakni tauladan pada mahàrûi yang termuat dalam berbagai kitab Itihàsa (sejarah) dan Puràóa (sejarah kuno). Kata Úruti berarti sabda tuhan Yang Maha Esa yang didengar oleh para maharsi. kemerdekaan dari pemikiran. dikenal pula hiarki sumber ajaran agama Hindu yang lain yang merupakan sumber hukum Hindu adalah Småti (kitab-kitab Dharmaúàstra atau kitab-kitab hukum Hindu). yakni Vyàsa yang disebut Kåûóadvaipàyaóa dibantu oleh para muridnya menghimpun dan mengkompilasikan mantra-mantra Veda yang terpencar pada berbagai Úàkha. Sàmaveda atau Atharvaveda). Masing-masing kitab mantra ini memiliki kitab-kitab Bràhmaóa. yakni kesepakatan bersama berdasarkan pertimbangan yang matang dari para maharsi dan orang-orang bijak yang dewasa ini diwakili oleh majelis tertinggi umat Hindu dan di Indonesia disebut Parisada Hindu Dharma Indonesia. Aúsrama. perasaan dan pemikiran manusia. Àcàra (tradisi yang hidup pada masa yang lalu yang juga dimuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Àtmanastuûþi. disamping kitab suci Veda (Úruti) yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tertinggi. Pada mulanya wahyu itu direkam melalui kemampuan mengingat dari para maharsi dan selalu disampaikan secara lisan kepada para murid dan pengikutnya. Gurukula atau Saýpradaya. Karakteristik Hindu Dharma Hindu Dharma memperkenalkan kemerdekaan mutlak terhadap pikiran rasional manusia. lama kemudian setelah tulisan (huruf) dikenal selanjutnya mantra-mantra Veda itu dituliskan kembali. Ia memperkenalkan kebebasan yang ajaran Hindu yang .

bermacam-macam ritual serta adat-istiadat yang berbeda. Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan. oleh karena itu. yang ingin dipuja sesuai dengan kemantapan hati. Svami Sivananda. menyelidiki. Inilah gaambaran indah tentang Hindu Dharma. Àdikara berarti kebebasaan untuk memilih disiplin atau cara tertentu yang sesuai dengan kemampuan dan kesenangannya. jiwa. penciptaan. memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu Dharma dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya. Hindu Dharma adalah suatu agama pembebasan. 1987: 5). Hindu Dharma tidak bersandar pada satu doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu. bermacam-macam bentuk pemujaan atau sadhana. Seorang asing merasa terpesona keheranan apabila mendengar . Inilah salah satu ciri atau karakteristik dari Hindu Dharma. sedangkan Iûþa atau Iûþadevatà adalah kebebasan untuk memilih bentuk Tuhan Yang Maha Esa yang dijelaskan daalam kitab suci dan susatra Hindu. 1989: 27). Tentang kemerdekaan memberikan tafsiran terhadap Hindu Dharma di dalam Mahabharata dapat dijumpai sebuah pernyataan : "Bukanlah seorang maharsi (muni) bila tidak memberikan pendapat terhadap apa yang dipahami" (Radhakrishnan. toleran dan luwes. bentuk pemujaan dan tujuan kehidupan ini. bebas.paling luas dalam masalah keyakinan dan pemujaan. Ia memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap kemampuan berpikir dan perasaan manusia dengan memandang pertanyaan-pertanyaan yang mendalam terhadap hakekat Tuhan Yang Maha Esa. segala macam keyakinan/Úraddhà. mencari dan memikirkannya. Karakteristik atau ciri khas lainnya yang merupakan barikade untuk mencegah berbagai pandangan yang memungkinkan tidak menimbulkan pertentangan di dalam Hindu Dharma adalah Àdikara dan Iûþa atau Iûþadevatà (Morgan. I. seorang dokter bedah yang pernah praktek di Malaya (kini Malaysia) kemudian meninggalkan profesinya itu menjadi seorang Yogi besar dan rohaniawan agung pendiri Divine Life Society menyatakan : Hindu Dharma sangatlah universal.

KOTA SUCI HINDU DI BHARATIYA 6. tetapi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya merupakan berbagai tipe pemahaman dan tempramen. atau bahasa rakyat. dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. Sejalan dengan pernyataan ini Max Muller mengatakan bahwa Hindu Dharma mempunyai banyak kamar untuk setiap keyakinan dan Hindu Dharma merangkum semua keyakinan tersebut dengan toleransi yang sangat luas dan Dr. Hal ini adalah wajar.K. SANSKRTA MENYEBAR KE SELURUH UMAT HINDU Bahasa Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. Sen mengatakan bahwa dengan definisi Hinduisme menimbulkan kesulitan lain. Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India. Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal. Agama Hindu menyerupai sebatang pohon yang tuumbuh perlahan dibandingkan sebuah bangunan yang dibangun oleh arsitek besar padaa saat tertentu (Natih: 1994: 116) 5.M. Maksudnya. sehingga menjadi keyakinan yang bermacam-macam pula. sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak . Buddhisme. karena dalam Hindu dharma tersedia tempat bagi semua tipe pemikiran dari yang tertinggi sampai yang terendah. Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. Bahasa yang bisa menandingi 'usia' bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Hitit.tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda-beda dalam Hindu Dharma. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hindu Dharma. Kata Sansekerta. demi untuk pertumbuhan dan evolusi mereka (1984: 34). lawan dari bahasa Prakerta. dalam bahasa Sanskerta Saṃskṛtabhāsa artinya adalah bahasa yang sempurna.

Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. Bahasa ini muncul dalam bentuk praklasik sebagai bahasa Weda. tata laku. dan agamis. drama dan juga teks-teks ilmiah.bahasa-bahasa modern di anakbenua India. teknis. "Sila" berarti perilaku. Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya. Saat ini bahasa Sansekerta masih tetap dipakai secara luas sebagai sebuah bahasa seremonial pada upacara-upacara Hindu dalam bentuk stotra dan mantra. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi-sendi kesusilaan. Khazanah sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang kaya. falsafi. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. harmonis. Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia seharihari. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya. 7. membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin. ETIKA HINDU Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). indah. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua. Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan . oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur. Bahasa Sanskerta yang diucapkan masih dipakai pada beberapa lembaga tradisional di India dan bahkan ada beberapa usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Sanskerta. Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". "Su" berarti baik.

alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran 1. Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci. 2 Tri Kaya Parisudha individu guna Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang kesempurnaan dan kesucian hidupnya

merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap mencapai

3. Panca Yama dan Niyama Brata Lima Kebaikan yang harus dilakukan dan 5 keburukan yang harus dipantang. 4 Tri Mala Tiga sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil- kecilnya. 5. Sad Ripu Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. 6. Catur Asrama Empat tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu, disesuaikan dengan tahapan- tahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban menunaikan dharmanya.

7.

Catur Purusa Artha

Empat dasar tujuan hidup manusia 8. Catur Warna

Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang. 9. Catur Guru

Empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu. 10. PANCA SRADHA Sradha berarti "yakin", "percaya", yang melandasi umat Hindu dalam meyakini keberadaan-Nya. Umat Hindu mendasari keyakinannya berjumlah lima, yang disebut dengan panca Sradha. Panca Sradha meliputi:
• • •

Brahman — Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan Atman — Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman Karmaphala — Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). Samsara — Keyakinan pada kelahiran kembali

Moksha — Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman 11. APLIKASI PANCA MAHA YAJNA Panca Yadnya adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari: 1. DewaYadnya. Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa

dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lainlain. 2. PitraYadnya. lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: a. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. b. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha. c. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. 3. Manusa manusia. Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah: Yadnya.

Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup

dan mengamalkan ajaran. d. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat. dan lain. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari). Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi.a. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir. orang.ajaran para Sulinggih. c. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur. ResiYadnya. Membangun tempat. b. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama). Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. Resi. dan mengembangkan ajaran agama.orang suci. memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya. c. e. Mentaati. membina. .kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan. kesehatan. Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan. Pinandita. d. menghayati.tempat pemujaan untuk Sulinggih. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: a. 4. b.lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton).saat tertentu kepada Sulinggih.

Kata Siwa Siddhanta berarti sukses .tumbuhan. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-patra. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri. 13. 12.5. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. SAKTA. tumbuh. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta. berkembang dan hidup yang wajar.unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya. kami hanya ingin tumbuh. dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan. DESA KALA PATRA desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif.makhluk rendahan. tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. WAISNAWA DAN PASUPATA Agama Hindu sekte Siwa Siddhanta seperti yang dianut oleh umat Hindu di Bali pada umumnya memiliki tujuan yang sama dengan Hindu Siwa Pasupata itu. Bedanya hanya penekanannya saja. yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. FILSAFAT SIWA SIDANTA. hewan (binatang). sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan. tidak terkekang oleh dogma-dogma yang salah atau kedaluwarsa. baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). BhutaYadnya. Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk. Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur.

Umat dipersilakan secara mandiri untuk memilihnya atau memadukan semua cara tersebut. Umat Hindu di masa lampau terutama para pemimpinnya benar-benar sudah memiliki jiwa besar dalam mengelola perbedaan. perbedaan itu akan selalu ada sepanjang masa. Demikian juga halnya dengan peninggalan keagamaan Buddha Mahayana di Pura Goa Gajah yang jauh lebih awal berada di Bali. Karena perbedaan itu merupakan suatu kenyataan yang universal. Akan menjadi sesuatu yang tidak produktif kalau ada yang memaksakan agar mereka yang berbeda ditekan dengan cara-cara pendekatan kekuasaan. Sikap keagamaan umat Hindu yang dicerminkan oleh umat Hindu di masa lampau di Pura Goa Gajah dan sesungguhnya pada peninggalan Hindu kuno yang lainnya di Indonesia. Demikian juga sebaliknya yang menganut Siwa Pasupata tidak menganggap penganut Siwa Siddanta sebagai orang lain. Di Pura Goa Gajah. Ini artinya penganut Siwa Siddhanta tidak menganggap penganut Siwa Pasupata sebagai penganut sesat. Jadinya dalam satu sekte saja agama Hindu memberikan kebebasan pada umatnya untuk memilihnya. Artinya. Munculnya Sidharta Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas . Mereka menyadari substansi ajaran agama Hindu yang mereka anut sama yaitu berdasarkan Weda. Ini artinya umat Hindu pada zaman dahulu itu benar-benar menghormati privasi beragama sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi. kedua cara itu dapat hidup berkelanjutan dan umat tidak dipaksa harus ikut ini atau itu.mencapai Siwa yang terakhir atau tertinggi. di mana pun dan kapan pun. Tentunya akan sangat janggal kalau pada zaman sekarang ada misalnya umat yang bersifat negatif pada orang lain yang berbeda sistem penekanan beragamanya. Menyikapi perbedaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu dan nilai-nilai universal yang dianut oleh dunia dewasa ini.

Dengan nafsu itu terus dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Substansi ketiga corak keagamaan Hindu dan Buddha yang ada di Pura Goa Gajah itu . Lidah dibuat sampai tidak berfungsi. Ajarannya adalah Sila Prajnya dan Samadhi.dan Carwakas. Kedua aliran itu membuat umat menderita. Dalam berbuat baik hendaknya bersikap konsisten dengan konsentrasi yang prima. Inilah inti wacana Sidharta Gautama dalam menyelamatan umat dari perbedaan yang dipertentangkan itu. Ada yang sampai membakar kemaluannya agar nafsu seksnya hilang. Dalam keadaan seperti itulah muncul Sidharta Gautama yang telah mencapai alam Buddha memberikan pentunjuk praktis beragama. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indahindah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang terik. Sila berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani. Teknis berbuat baik itu didasarkan pada Prajnya artinya ilmu pengetahuan. Itulah Samadhi. Jadinya keberadaan agama Buddha di Pura Goa Gajah substansinya tidaklah berbeda apalagi berlawanan dengan ajaran Hindu Siwa Pasupata maupun Siwa Siddhanta. Atman adalah bagian dari Brahman. Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan nafsu tersebut. Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Tiga corak keagamaan yang ada di Pura Goa Gajah itu memang berbeda tetapi perbedaan itu terletak pada cara atau metodenya saja. Sebaliknya aliran Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan fungsi alat-alatnya. Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang tidak langgeng ini. Suara hati nurani adalah suara Atman. Setelah seratus tahun Sidharta mencapai Nirwana barulah wacana sucinya itu dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka.

yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika. dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. 14. Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga. para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana. Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya. serta Wisnu Purana dan Bhagavata Purana. yang dalam proses pemujaannya lebih menitik beratkan pada pemujaan Wisnu (beserta awataranya) sebagai dewa tertinggi. Isha Upanishad. Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali. Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa).sama-sama menuntun umat manusia untuk mencapai hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan mencapai alam ketuhanan di dunia niskala. PURNAMA DAN TILEM Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu. sesuai dengan namanya. canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar. Sanghyang Surya Candra. sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Hari Purnama. Waisnawa merupakan aliran dalam Hindu. yang mana kesemua ajaran tersebut didasarkan pada Veda dan susastra Purana seperti Bhagavad Gita. makadi. jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). . Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan: 'Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda. Waisnawa merupakan keyakinan dan ajaran yang juga memiliki pelaksanaan kewajiban bagi penganutnya (dalam Hindu disebut dengan Bakti Yoga). Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra. ngaturang wangiwangi.

bertepatan dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem. 19) Kerja yang dilakukan orang tanpa mengharapkan pahala bagi kepentingan diri pribadi adalah mulia.Parhyangan. 15. Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan. bertepatan dengan Sanghyang Surya beyoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi. namun dewasa ini orang bekerja hanyalah untuk memenuhi kebutuhan materi. umat juga hendaknya melakukan pembersihan badan dengan air. terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi. Kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran. Pada hari suci demikian itu. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dan kegiatan kerja. disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrah-Nya. Materi itu perlu dan harus diusahakan untuk memilikinya asalkan dengan jalan yang benar dan ditujukan untuk memperkokoh dharma. perkataan dan perbuatan yang bersih pula. Pekerjaan akan juga mulia bila dilakukan disertai tanda bakti daripada yang mengangkat orang pada penyucian dan kesempurnaan pikiran dan jiwanya. matirtha gocara puspa wangi"Ada sejak hari-hari dulu sama utama nilai penyelenggaraan upacara persembahyangan keutamaanya yaitu hari Purnama dan Tilem. sudah seyogyanya kita para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi. . Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan lahir batin. Karena itu. Pada hari Purnama. CATUR MARGA Dari itu laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa harap keuntungan sebab kerja tanpa keuntungan pribadi Membawa orang kekebahagiaan (Bhagavadgita III.

yang mereka pikirkan hanyalah masalah keduniawian. orang lebih memikirkan hasil daripada pekejaannya. sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Apabila kerja merupakan salah satu cara menghubungkan diri dengan Tuhan tentunya tujuan dan kerja itu adalah suci. Lagi-lagi agama menanggung beban tanggung jawab untuk memperbaiki moral manusia yang bobrok tersebut. sehingga tak ada yang ditakuti. Kesejahteraan jasmani sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. yang penting mereka bisa hidup mewah. Namun ego (ahamkara) manusia telah menutup nurani kita untuk berbuat jujur. benar atau salah. merampok. Karma Yoga merupakan bagian dan Catur Yoga (empat cara menghubungkan diri dengan Tuhan) terdiri dari : 1) Karma Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan kerja. Mereka tidak lagi menghiraukan apakah pekerjaannya merugikan orang lain atau tidak. berbuat sesuai kaidah-kaidah agama. 3) Jnana Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan kerohanian dan 4) Raja Yoga cara menghubungkan diri dengan jalan penghayatan spiritual. Pada dasarnya agama telah memberikan patokanpatokan terhadap perbuatan baik atau buruk. Dalam ajaran Hindu bekerja merupakan salah satu jalan untuk mencapai Tuhan yang biasa dikenal dengan Karma Yoga. namun harus diusahakan dan ditujukan untuk dharma. 2) Bhakti Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan Bakti.Dalam agama Hindu ada dua pemikiran yaitu untuk kesejahteraan rohani dan jasmani makhluk (“Bhukti & mukti”). Mereka tanpa merasa bersalah untuk berbuat dosa. Seperti apa yang terjadi saat ini. Namun karena pengaruh ahamkara (ego) manusia lupa diri dan menjadi serakah. . Sehingga mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan mencuri. sebagai pedoman hidup. Maksudnya harta yang diusahakan ditujukan bagi kesejahteraan umum disamping untuk kepentingan diri sendiri. menjual narkoba atau juga korupsi.

Tentunya untuk dapat menguasai guna tersebut didapat dari pengalaman kerja sehingga kita menemukan rahasia kerja. itulah idealnya karma yoga. Menurut Karma Yoga.ikan tindakan itu mengeluarkan buahnya. Karma Yoga mengajarkan rahasia dan pekerjaan. Mereka tertipu sifat guna Terikat pada keinginan yang dihasilkan olehnya Tetapi yang mengerti jangan sampai menyesatkan Mereka yang pengetahuannya tiada sempurna (Bhagavadgita III. maka tak ada kekuatan dalam alam yang akan menghentikan keluarnya buah kebaikan. sudah memperhitungkan hambatan-hambatan yang akan dihadapinya. tak ada kekuatan alam yang dapat menghentikan tindakan itu hingga tidak menibawa akibat. tak ada yang dapat menghalangi atau menahannya. (Swami Vivekananda). tak ada kekuatan alam yang dapat menghent. Bila kita berbuat sesuatu perbuatan jahat. Bila manusia dapat menguasai kekuatan guna tersebut maka mereka dapat bekerja giat tanpa memikirkan hasil. Karma Yoga sebenarnya merupakan suatu ilmu pengetaliuan mengenai rahasia pekerjaan. maka kita harus menderita karenanya. Mereka terlalu berharap dan kerjanya sehingga ketika bekerja mereka berpikir tentang apa yang akan mereka perbuat dengan hasil keijanya. Sesuatu sebab membawa akibat. Begitulah . daya organisasi dan kerja. tindakan yang dilakukan seseorang tidak dapat dihancurkan sebelum tindakan itu mengeluarkari buahnya. 29) Sloka 29 menjelaskan mereka yang terikat guna akan tertipu karena harapan yang berlebihan terhadap kerjanya. Dengan memahami cara kcrja manusia dapat lebih mudah menyelesaikan pekeijaannya dan akan mendapatkan hasil yang memuaskan.Karena pengaruh ahamkara tadi maka tujuan kerja pun menjadi bersifat duniawi. bukankah dengan hasil yang banyak uLaka imbalannya pun banyak. cara bekenja. Guna sebagai batas kebehasan manusia yang diperoleh dari kelahiran dan lingkungan yang mempunyai kekuatan membelenggu. Bekeija secara terorganisir akan membuat pekerjaan beijalan lancar karena sebelumnya telah membuat perencanaan. Dengan demikian kita hanya akan berpikir kuantitas bukan kualitas. Sama juga bila kita berbuat hal-hal baik.

manusia yang telab memahami rahasia pekenjaan, susah senang akan dihadapi dengan tenang. Tentunya hal tersebut dicapai apabila kita telah mampu melepaskan din dan belenggu guna. Kita harus bekerja, tidak boleh tidak, namun harus dengan tujuan tertinggi. Bekeijalah tanpa berhenti, tapi lepaskan segala pengikatan diri pada pekerjaan. Artinya jangan kita mempersamakan diri dengan sesuatu, sehingga kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam bekerja pun tak akan kita rasakan. Kita harus menghancurkan sifat keakuan, mampu mengekang diri agar tidak tenjerumus dalam pikiran keakuan. Dengan demikian kita bisa bekerja sebanyak yang dapat kita lakukan, dapat bergaul dengan siapa saja tanpa tertular sifat jahat. Tunjukkan semua kerjamu kepada-Ku. Dengan pikiranmu terpusat pada atman Bebas dari nafsu keinginan dan ke-aku-an. Enyahkan rasa gentar dan, bertempurlah! (Bhagavadgita III.30). Tujukan pekerjaan kita untuk Tuhan, karenanya kita akan bekerja tanpa terikat akan hasil. Apa yang dirasa, dilihat, didengar dan dibuat adalah untuk Tuhan. Dengan demikian kita akan bekerja bukan untuk kepentingan diri sendiri. Dengan tanpa memikirkan hasil pekerjaan kita akan berdaya guna, sebagai ilustrasi dapat saya contohkan seorang pelukis yang bekerja hanya untuk menghasilkan lukisan yang indah, dia tidak akan memikirkan apakah dikerjakan berbulan-bulan, memakan bahan yang mahal, tapi yang dia pikirkan adalah melukis untuk membuat karya seni. Dan tentunya orang-orang mengerti akan hal seni tersebut akan memberikan harga yang mahal untuk sebuah karya seni tersebut, tetapi si seniman pun tidak akan gusar apabila hasil lukisannya tidak ada yang membeli. Kita sebagai manusia tidak dapat lepas dari kegiatan kerja, namun untuk mencapai tujuan tertinggi kita harus mampu mengendalikan ke-aku-an. Sesuatu yang bersifat ke-aku-an adalah menyalahi kesusilaan (immoril) dan sesuatu yang bersifat tidak ke-aku-an adalah bersusila (moral) [Swami Vivekananda]. Bekerjalah untuk mencapai

hasil sebaik-baiknya dengan memperhatikan moral. Bersabarlah karena bekerja dengan tekun maka hasilpun akan mengikuti, tak perlu mencari jalan pintas yang hanya akan menyebabkan penderitaan.ºWHD No. 510 Juni 2009. 16. AJARAN BHAKTI DAN PARA BHAKTI Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang Widhi) yaitu: Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Yoga (Raja) Marga. BHAKTI MARGA. Bhakti artinya cinta kasih. Kata bhakti digunakan untuk menunjukkan cinta kasih kepada subyek yang lebih tinggi statusnya, atau lebih luas lingkupnya misalnya: orang tua, negara, bangsa, Tuhan (Hyang Widhi). Kata cinta kasih digunakan untuk sesama misalnya tunangan, istri/ suami, umat sedharma, umat manusia. Orang yang ber-bhakti kepada Hyang Widhi disebut Bhakta. Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu PARA-BHAKTI dan APARA-BHAKTI. Para artinya utama; jadi para-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara-bhakti artinya tidak utama; jadi apara-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama. Apara-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja. Para-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi. Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara-bhakti antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol (niyasa). Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para-bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan kuat/ berdisiplin

dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakta yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri). Pilihan menggunakan para atau apara bhakti tergantung dari tingkat inteligensi dan kesadaran rohani masing-masing. Yang ditemukan di masyarakat Hindu Indonesia dewasa ini adalah mix para dan apara-bhakti, namun bobotnya berbeda. Umat Hindu di Bali banyak menggunakan aparabhakti, sedangkan umat Hindu di luar Bali banyak menggunakan para-bhakti. Kenapa demikian? Apakah itu berarti umat Hindu di Bali inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang? Tidak selalu demikian. Ada umat Hindu di Bali yang inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi tetapi dibelenggu oleh tradisi beragama yang monoton dan feodalistis, sehingga menampakkan diri sebagai apara-bhakti. Sebaliknya umat Hindu diluar Bali lebih moderat, demokrat, rasional dan reformis, sehingga memudahkan mereka mencapai para-bhakti. Mengupayakan umat Hindu di Bali menjadi sebagian besar para bhakta tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena bottle-neck yang menghadang ya itu tadi: tradisi beragama dan feodalisme. Itulah sedikit ulasan kasus tentang para dan apara-bhakti. Sekarang kita teruskan tentang BHAKTI MARGA Bhakti marga sering disebut sebagai jalan menuju Hyang Widhi yang paling mudah karena dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Mungkin pendapat ini benar jika yang dimaksud adalah apara-bhakti. Jika yang dimaksud adalah para-bhakti, justru bhakti marga yang paling sulit dilaksanakan karena para bhakta harus benarbenar mempunyai kesadaran rohani yang tinggi. Untuk mencapai kesadaran rohani yang tinggi setidak-tidaknya sudah menempuh Karma-Jnana dan YogaMarga dengan baik.

Artinya: Dia yang tiada bersenang dan membenci. bhavani nachirat partha. tiada berduka dan bernafsu apa. karena itu bertentangan dengan hakekat bhakti. mam dhyayanta upasale. iri hati dan nafsu yang tidak tercapai bisa menimbulkan kebencian. Maka mereka yang para-bhakti sering ber-dana punia. tulus dan welas asih dengan melepaskan ikatan dan keinginan akan pahalanya. Pengampunan akan diberikan oleh Hyang Widhi kepada para Bhakta. Bebaskanlah dari kebathilan. mayi avesita chetasam. bermeditasi. Bhaktiman ya same priyah. janganlah terpengaruh oleh kesenangan karena ketakutan itu timbul bilamana kesenangan terancam.7: Ye tu sarvanni karmani. mayi samnyasya matparah. Juga jangan membenci karena kebencian menimbulkan amarah dan irihati atau sebaliknya. Artinya: Tetapi sesunguhnya mereka yang menumpahkan segala kegiatan . Tesham aham samuddharta. mrtyu samsara sagarat. benci. Seorang bhakta juga tidak boleh berduka dan kecewa jika ia yakin bahwa apapun yang kita alami di dunia ini semata-mata adalah atas kehendak-Nya.Seorang bhakta mempunyai keinginan-keinginan yang kuat yaitu: 1) Ingin dan rindu selalu dekat bahkan bertemu dengan Hyang Widhi sehingga ia rajin bersembahyang.17: Yo na hrishyati na dveshti. menolong sesama tanpa menghitung untung-rugi. anayenai va yogena. Bhakti kepada Hyang Widhi melenyapkan rasa takut. dan iri hati. Maksud dari sloka itu adalah: jika benar-benar kita bhakti kepada Hyang Widhi. dialah yang Ku-kasihi. 2) Ingin berkorban yang didasari oleh rasa ikhlas. marah. Bila kita cinta dan kasih kepada Hyang Widhi berarti juga kita harus cinta dan kasih kepada semua ciptaan-Nya. dan bebaskanlah dari rasa berbuat kebaikan karena itu sudah kewajiban seorang bhakta. amarah. Na sochati na kankshati. membebaskan diri dari kebathilan dan rasa berbuat kebaikan. Itulah hal-hal yang menjauhkan rasa kasih sayang kepada semua mahluk ciptaan-Nya.6. Bhagawadgita XII. beryoga. penuh dengan kebaktian. sedangkan mereka yang apara-bhakti banyak melaksanakan upacara panca yadnya. Bhagawadgita XII.

Kitab Ramayana terdiri dari 24. Itihāsa yang terkenal ada dua. 17. Setiap Kanda merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Kanda yang lain. memikirkan bermeditasi hanya kepada-Ku dengan kebaktian yang terpusatkan. Kitab Ramayana disusun oleh Rsi Walmiki Kitab Mahābhārata merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara. Pada zaman kerajaan di Indonesia. seperti misalnya Rsi Walmiki dan Rsi Vyāsa. Kitab Ramayana merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal.hidup mereka kepada-Ku.000 sloka. mitologi. dan makhluk supernatural. Itihāsa berarti “kejadian yang nyata”. Kitab Mahābhārata berisi lebih dari 100. yang pikiran mereka tertuju kepada-Ku. Mahābhārata berarti cerita keluarga besar Bharata. kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuna dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. yaitu Ramayana dan Mahābhārata.000 sloka dan memiliki tujuh bagian yang disebut Sapta Kanda. Kitab Itihāsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau. ITHIASA MAHABARATA DAN RAMAYANA Itihāsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisahkisah epik/kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu di masa lampau dan dibumbui oleh filsafat agama. Selayaknya Ramayana. Cerita dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin. Kitab Mahābhārata memiliki delapan belas bagian yang disebut Astadasaparwa. Kitab Mahābhārata disusun oleh Rsi Vyāsa . setiap Parwa merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Parwa yang lain. dengan segera dan langsung Aku bebaskan mereka ini dari lautan sengsara hidup lahir dan mati (artinya mencapai MOKSA).

18. Vinata memiliki hutang terhadap Kadru. ibu para ular karena suatu pertaruhan. dan menghabisi para ular. Garuda ini ada hubungannya dengan ceritra Sang Garuda yang terdapat di dalam Adi Parva. sekaligus menjadi musuh utama para ular. Meskipun para dewa bersatu menghadang Garuda. bumi gonjang ganjing (seperti waktu sun go kong lahir di film >. Bhagawan Kacyapa menawarkan kepada kedua istri beliau berapa jumlah anak yang ingin mereka miliki. Vishnu berjanji akan memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita. mereka bukanlah tandinganya. setelah Amrita diberikan. Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan. Sang Kadru meminta 1000 anak sedangkan Sang Winata meminta dua anak. konon saat Garuda lahir dari telurnya. Garuda diminta Kadru untuk memberikan obat keabadian yg disebut Amrita padanya. tunggangan kebanggan Vishnu. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari. Ceritra ringkasnya adalah sebagai berikut : Bhagawan Kacyapa mempunyai dua orang istri yaitu Sang Kadru dan Sang Winata. Garuda bertemu dengan Vishnu. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan Vishnu. Menurut Mahabarata. Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. MITOLOGI GARUDA Garuda Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. Dalam perjalanan pulang. Garuda berjanji akan memberikan Amrita pada Indra dan Indra akan memberikan para ular sebagai makanan Garuda. Untuk menghapus hutang tersebut. Bhagawan Kacyapa memberikan seribu butir telur pada Sang Kadru dan dua butir telur pada Sang Winata. sebagai gantinya Garuda menjadi kendaraan Vishnu. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk menghapus hutang ibunya. Indra turun dari langit. merebut Amrita.<) sehingga para dewa memohon padanya untuk tenang. dan memiliki mahkota di kepalanya. Kemudian Garuda bertemu dengan Indra dan sekali lagi dia mendapat penawaran. Garuda adalah anak Kasyapa dan Vinata. Setelah telur . Sejak saat itu Garuda menjadi rekan para dewa.

akhirnya mereka bertaruhan. jawab Sang Winata. siapa pun yang kalah akan menjadi budak dari yang menang.Sang Kadru menetas maka lahirlah seribu ekor ular. Besok ibu akan datang bersama Sang Winata ke tempat kuda itu untuk menyaksikan kebenaran kuda itu”. maka kalahlah Sang Winata. Sang Kadru menebak warna kuda itu hitam dan Sang Winata menebak putih. “Wah ibu pasti kalah. . “lbu mengapa ibu pergi pagi pulang sore. mereka menyaksikan warna kuda Ucchaisrawa itu betulbetul hitam. Setelah itu Sang Kadru lalu pulang dengan mengabarkan hal ikhwal taruhan itu kepada anak-anaknya. “Kalau demikian anakku berbuatlah sesuatu agar ibu tidak kalah sehingga menjadi budak Sang Winata. “Mengapa ibu menjadi budaknya ?” tanya Sang Garuda. Sementara itu Sang Garuda pun lahir dengan tubuh sempurna. Melihat Sang Kadru sudah melahirkan anak-anaknya maka Sang Winata ingin cepat juga punya anak. Suatu ketika Sang Kadru bertemu dengan Sang Winata membicarakan tentang rupa dari kuda Ucchaisrawa yang keluar pada waktu lautan air susu diaduk oleh para Dewa Raksasa. hingga ada keinginannya untuk menanyakan. apa pekerjaan ibu ?” tanya Sang Garuda. Maka para ular itu pun memenuhi permintaan ibunya lalu semuanya menuju ke tempat kuda itu berada. “Ibu jadi budak para naga. saban hari kerja ibu adalah menggembalakan ular-ular yang nakal. Setelah beberapa lama kemudian Sang Garuda pun heran melihat ibunya pergi pagi pulang sore. Masing-masing kukuh mempertahankan pendirianya. maka dengan tidak sabar dipecahkanlah sebutir dari telurnya maka lahirlah Aruna seekor burung yang belum sempurna bentuk tubuhnya karena belum punya kaki. Besok harinya ketika Sang Winata dan Sang Kadru datang. Sejak saat itu Sang Winata menjadi budak Sang Kadru menjaga dan mengantarkan ular-ular itu mencari makanan setiap hari dan sore hari baru pulang. pergi ke sana ke mari sekehendaknya”. karena kuda itu betul-betul putih mulus” kata ular-ular itu. Mereka semua lalu menyemburkan bisa (wisa)-nya ke tubuh si kuda sehingga warna bulu kuda itu menjadi berubah dari putih menjadi hitam karena pengaruh dari bisa ular itu.

Perangpun berlangsung lama. Akhirnya para Dewa lalu mohon bantuan kepada Bhatara Visnu. Mengetahui bahwa tirtha itu ditinggalkan begitu saja oleh para naga maka Bhatara Visnu pun . Setelah lama berpikir para Nagapun sepakat akan membebaskan Sang Garuda dari perbudakan kalau bisa mencarikan tirtha amerta untuk mereka. Sang Garuda menyetujui dan tirtha amerta pun diserahkan oleh Dewa Visnu dengan syarat “barang siapa yang akan meminumnya hendaknya bersuci-suci lebih dahulu. “Kalau demikian biarlah saya saja menggantikan ibu menggembalakan ular” demikian permintaan Sang Garuda yang kemudian diluluskan oleh Ibunya. Akhirnya Bhatara Wisnu menanyakan mengapa Sang Visnu memerangi para Dewa dan untuk apa dia mencari Amerta. Untuk itu dia berhadapan dengan para Dewa yang menjaga Amerta itu. Dewata Nawa Sanga dikalahkan semua. Para naga setelah menerimanya semua saling dahulu mendahului pergi mandi menyucikan diri. Lamalah sudah Sang Garuda menjadi budak dari para naga. agar dia bisa bebas dari perbudakan. takut tidak kebagian sehingga tirtha itu begitu saja ditinggal di tengah rumput alang-alang. Sang Garuda segera menyerahkan tirtha Amerta itu kepada para naga dengan segala persyaratannya. akhirnya dia menjadi bosan.“Karena ibu kalah taruhan dengan Sang Kadru mengenai warna kuda Ucchaisrawa”. karena tidak ada yang menyebabkan mereka bisa mati kalau sudah minum tirtha Amerta. kalau tidak demikian tirtha merta tidak akan sidhi atau bermanfaat”. Perang pun terjadi antara Dewa Visnu dengan Sang Garuda. Dengan demikian para naga beranggapan tidak perlu lagi ada penjaga seperti Sang Garuda. Ia pun lalu menanyakan kepada naga apakah ada cara sebagai pengganti atau menembus dirinya. Sang Garuda pergi ke sorga untuk mencari tirtha Amerta itu. Konon barang siapa yang dapat minum amerta itu akan bisa bebas dari kematian. Setelah Sang Garuda menjelaskan tujuannya mencari Amerta adalah untuk membebaskan dirinya dan ibunya dari perbudakan para naga maka Bhatara Visnu berkenan memberikan tirtha Amerta itu asal saja Sang Garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Visnu. kata Sang Winata.

Disebabkan tajamnya daun alang-alang itu maka lidah ular naga itupun terbelah. Kenyataannya saban hari dari pagi sampai sore manusia disibukkan untuk mendapatkan makan. Marilah kita simak arti dan simbul dari ceritra Sang Garuda ini dihubungkan dengan lontar Cri Purvana Tattva dan Stava yaitu Ananta bhoga stava. moksa itu adalah kebebasan.mengambil tirtha itu kembali dibawa ke sorga. Basuki stava dan Taksaka stava. mereka bebas dari perbudakan benda. Jawabannya adalah tirtha Amerta. Di muka telah dijelaskan bahwa inti bumi atau magma api itu dibungkus oleh tanah. Bale Gede umumnya terdapat pada rumah keluarga-keluarganya yang mampu di Bali. Itulah asal mula ceritra mengapa alang-alang menjadi daun yang dianggap suci karena terkena bekas tirtha amerta. air dan udara. Hal yang menguatkan lagi bahwa gambar Garuda merupakan simbul pembebasan dari perbudakan oleh benda-benda duniawi ialah : penggunaan patung Garuda di “Bale Gede” yaitu bangunan yang biasanya diperuntukkan untuk menempatkan mayat sebelum dibawa ke setra. pada waktu mayat itu dibawa dari rumah kesetra. Dengan penuh kecewa para naga hanya dapat menjilati sisa-sisa bekas tirtha yang ada di daun alang-alang itu. Siapa yang tidak bisa mati ? Hanya Tuhan ! Barang siapa yang telah bisa mencapai Tuhan mereka tidak lagi terikat oleh kemelekatan benda-benda dunia ini. Gambar-gambar yang terdapat pada Bade atau wadah yang digunakan sebagai kendaraan dari orang yang meninggal. Kami beranggapan bahwa Sang Garuda itu tidak lain dari simbul manusia yang mencari pembebasan dari perbudakan benda-benda duniawi. demikian pula mengapa lidah ular menjadi bercabang. mereka mencapai moksa. Ketiga jenis zat ini disimbulkan dengan naga (ular). Apa yang dimaksud dengan Amerta itu ? Amerta artinya tidak mati-mati atau keabadian. Gambar Garuda itu terdapa pada bagian belakang “wadah” . Pekerjaan yang tidak pernah selesai ini menjadikan manusia berpikir apakah hidup ini hanya untuk makan minum dan mendapatkan udara bersih ? Apakah manusia bisa membebaskan diri dari perbudakan benda ini. minum dan udara bersih (simbul 3 naga di atas).

Maka kesimpulannya. Sumber yang lain kita jumpai di dalam Upanisad yang menyebutkan “Atma yang ingin bersatu dengan Brahman itu seperti burung angsa yang mengepakngepakan sayapnya”. FILSAFAT SAD DARSANA Sad Darśana. Dalam ajaran filsafat hindu. dan gambar angsa adalah simbul manusia yang ingin kembali kepada Ida Sang Hyang Widhi. 19. yang mana merupakan dasar dari Filsafat Hindu. Tujuannya tentu erat hubungannya dengan semacam petunjuk atau perhatian kepada manusia baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal bahwa bila akan mencari Ida Sang Hyang Widhi hendaknya berbuat seperti Sang Garuda yaitu membebaskan diri dari perbudakan naga atau benda-benda dunia. . menjadi kata darśana yang berarti "penglihatan" atau "pandangan". Wujud angsa yang dilukiskan baik di belakang Padmasana maupun wadah itu selalu berwujud angsa dengan sayapnya yang mengepak-ngepak. Kata Darsana berasal dari akar kata drś yang bermakna "melihat".atau “bale” itu. agar roh orang yang meningggal selalu teringat dengan ceritra sang Garuda yang mengandung simbul kebebasan. Menurut lontar “Indik tetandingan” wujud angsa dengan sayap mengepak itu adalah simbul dari ardha candra windhu dan nada. biasanya kita menjumpai ada hiasan berbentuk angsa. Sad Darśana berarti Enam pandangan tentang kebenaran. Darśana berarti pandangan tentang kebenaran. Kedua sayap yang mengepak menggambarkan ardha candra. Itulah mungkin sebabnya mengapa di Bale Gede maupun di belakang wadah dilukiskan Garuda. lukisan Garuda adalah simbul manusia yang mencari kebebasan melalui pelepasan terhadap ikatan duniawi. yang juga disebut amoring acintya. Di atas gambar Garuda yang kita lihat di belakang Padmasana itu. kepala angsa menggambarkan windu dan mulut atau cocor angsa menggambarkan nada.

Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktivitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari Hatta Yoga. membangun ajaran Samkhya yang bersifat theistik. yogin bagi praktisi pria dan yogini bagi praktisi wanita. juga disebut dengan Sankhya adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif. 2. Kemudian Maharsi Kapila. Kata Saṁkhya berarti: pemantulan. yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Yoga berarti "penyatuan". Disebut dualistis karena terdapat dua realitas yang saling bertentangan tetapi bisa berpadu. Samkhya adalah ajaran filsafat tertua dalam filsafat India. Karya sastra mengenai Saṁkhya yang kini dapat diwarisi adalah Saṁkhyakarika yang di tulis oleh Īśvarakṛṣṇa sekitar 200 SM. biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan. Ajaran Saṁkhya bersifat realistis karena didalamnya mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh. oleh tubuh dan meditasi. Ajaran Saṁkhya ini sudah sangat tua umurnya. yaitu pemantulan filsafati. dibuktikan dengan termuatanya ajaran Saṁkhya dalam sastra-sastra Śruti. yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun. Saat ini ajaran Samkhya yang murni sudah tidak eksis lagi. . smrti. Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu. itihasa dan purana. putra Devaguti. yaitu purusa dan prakrti.[1] [2] Orang yang melakukan tapa yoga disebut yogi. seperti yang disebutkan dalam Bhagavatapurana[1]. Samkhya.1. Para ahli meyakini bahwa ajaran ini berakar dari nilai-nilai positif atheis. tapi ajaran ini banyak membawa pengaruh pada ajaran Yoga dan Wedanta. yang bermakna "penyatuan dengan alam" atau "penyatuan dengan Sang Pencipta".

Jnana Yoga/Marga. yang isinya adalah aturan tata upacara menurut Veda. disebut juga dengan nama lain Purwa Mimamsa. Ajaran ini berdasarka pada ilmu logika. Yogasutra. Penyelidikan sistematis terhadap Veda.Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga. diantaranya adalah Karma Yoga/Marga. kronologis dan analitis. Klasifikasi ajaran Yoga tertuang dalam Bhagavad Gita. 3. Kata Mimamsa berarti penyelidikan. Ajaran Wedanta sering juga disebut dengan Uttara Mimamsa. Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya. Meskipun sebagai sistem filsafat pada awalnya berdiri sendiri.Wedanta Védānta) adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. terdiri atas 5 adhyaya (bab) yang dibagi atas 5 pada (bagian). Ajaran Mimamsa didirikan oleh Maharsi Jaimini. Mimamsa juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. 6. 4. Mimamsa secara khusus melakukan pengkajian pada bagian Veda: Brahmana dan Kalpasutra.Vaisesika juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. yang menyusun Nyayasutra. Sumber ajaran ini tertuang dalam Jaiminiyasutra. Kitab ini terdiri atas 12 Adhyaya (bab) yang terbagi kedalam 60 pada atau bagian. 5. sistematis. Ajaran Nyaya didirikan oleh Maharsi Aksapada Gotama. yaitu "penyelidikan yang . Nyaya (Logic). Raja Yoga/Marga. Bhagavad Gita. yang menyusun Vaisesikasutra. namun dalam perkembangannya ajaran ini menjadi satu dengan Nyaya. Ajaran Vaisiseka dipelopori oleh Maharsi Kanada. Kata Nyaya berarti penelitian analitis dan kritis. Bakti Yoga/Marga. diantaranya adalah Upaishad.

Bisakah hati kita seluas dan sedalam . NADI DAN WANA Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. dengan kedinamisan gelombangnya. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. Kata Wedanta berakar kata dari wedasya dan antah yang berarti "akhir dari Weda". karena ajaran ini mengkaji salah satu bagian kitab Weda.kedua". segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. berfilsafat dengan keluasan kedalamannya. yaitu kitab Upanisad. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji. Pelopor ajaran ini adalah Maharesi Byasa. dilanda jutaan kubik kata-kata. tetap tidak bergeming. 20. FILOSOFI SAMUDRA. GIRI. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. Permukaan laut begitu indah. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. Permukaan laut begitu indah. Sumber ajaran ini adalah kitab Wedantasutra atau dikenal juga dengan nama Brahmasutra. Hati yang demikian ini. atau dikenal juga dengan nama Badarayana atau Krishna Dwaipayana. nyiur melambai. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. warna-warni awan. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. PARWATA. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. namun lautan tak pernah menolaknya. jauh lebih indah lagi. tidak teracuni.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam samudera. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera.

segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala. dengan kedinamisan gelombangnya. kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. namun lautan tak pernah menolaknya. melantunkan salam padamu. nyiur melambai.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. Ibarat samudera. warna-warni awan. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam . di dasar samudera ada tiram. pantai yang berkelok-kelok sampai jauh. gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. Seumpama samudera. akan selalu menyapamu. namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang. kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. dengan keelokan panoramanya Dalam seiring dan tiupan angin sejuk samudera menyegarkan. Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari. Permukaan laut begitu indah. berfilsafat dengan keluasan kedalamannya. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. Permukaan laut begitu indah. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok.samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. jauh lebih indah lagi. tak pernah diam.

dipandang sebagai lingga-acala. Siwasutra. tempat Hyang Siwa menurunkan ajaran-ajaranNya yang kemudian dicatat dalam berbagai Yamala.samudera. Bagi seorang sadhaka. dan Kitab Tantra dalam bentuk tanya jawab (dialogic catekismus) antara Hyang Siwa dengan SaktiNya Dewi Parwati. Karena gunung yang tertinggi (Mahameru. Kitab-kitab yang mengajarkan ajaran yoga. akan selalu menyapamu. kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia. Seumpama samudera. maka gunung-gunung yang lain menempati posisi dik-widik. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai. gunung-gunung dipandang sebagai satu kesatuan sehingga muncul konsepsi panca-giri. Gunung dalam a! am sakala maupun niskala sangat penting bagi umat Hindu. tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok. di kepala manusia. Bisakah hati kita seluas dan sedalam samudera? Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya. Hati yang demikian ini. Gunung Agung) dinyatakan berada di pusat padma dunia. melantunkan salam padamu. lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. Selain itu. tak pernah diam. pertama-tama menguraikan tentang Gunung Mahameru sebagai tempat Sthana Hyang Siwa yang digambarkan sebagai pusat padma dunia raya. dilanda jutaan kubik kata-kata.di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan. bisa menjadi tempat curhatan dan sharing. gunung merupakan pusat orientasi kesucian bagi umat Hindu. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. Ibarat samudera. gunung itu terletak di sahasrara padma. tetap tidak bergeming. meru. Lontar Tantu Pangelaran menyiratkan bahwa gunung (giri. kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji. Damara. di dasar samudera ada tiram. tidak teracuni. Dunia atau wilayah yang . lingga yang tidak bergerak. bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada.sikap dan perbuatan yang mengandung racun. parwata) memberikan kerahayuan (amreta) kepada manusia yang hidup di kaki dan datarannya.

Pura Kahyangan Jagat yang didirikan di seluruh Nusantara dapat berfungsi sebagai sahasra-dala. dengan sarinya berada di tengah. Sementara itu. sementara yang menempati posisi widik adalah Pura Gua Lawah di Tenggara. selanjutnya ditopang lagi oleh pura Sad Kahyangan (pura utama) yang terletak di delapan penjuru Pulau Bali atau asta-dala. Gunung Andakasa di Selatan. masingmasing Pura Gelap (Timur. dan Gunung Batur di Utara. Sadyojata. Pura Kiduling Kreteg (Selatan. maka Padma Tiga Pura Penataran Agung Besakih. Di tempat tersebut didirikan pura atau tempat suci utama. seribu kelopak bunga padma. Pura Luhur Uluwatu di Baratdaya. Pura Batu Madeg (Ulara. Gunung Batukaru di Barat. Pura Agung Besakih juga menempati posisi Timur Laut (Airsanya). Pada sari bunga padma yang suci itu didirikan Padma Agung (Padma Tiga) yang merupakan Linggih Beliau sebagai Paramashva. kisah-kisah ini diceritakan kepada orang kebanyakan supaya mereka mengerti kebenaran-kebenaran dari kehidupan yang lebih tinggi. Tatpurusa atau Mahadewa). 21. MAHA PURANA DAN UPA PURANA Purana-purana adalah kitab yang berisi cerita-cerita keagamaan yang menjelaskan tentang kebenaran. dan Siwa. Pura Pucak Mangu di Barat Laut. Secara holistik. Aghora atau Wisnu) yang disebut Pura Catur Lokaphala atau Catur-Dala. Pura Ulun Kulkul (Barat. Bhamadewa ahui Brahma). pertama-tama disangga oleh pura catur-dala. Pura Panataran Agung Besakih masih memiliki dala pada posisi dik. Purana-Purana . bagaikan sebuah bunga padma dengan delapan helainya (dala) yang menunjuk delapan penjuru. Gunung Agung menempati posisi di tengah padma-mandala. menempati posisi dik. atau Iswara).lebih kecil digambarkan sebagai bunga padma. Sama seperti cerita kiasan (parabel) yang dikisahkan oleh Jesus Kristus. Gunung Lempuyang di Timur. disebut padma-bhuwana atau padmamandala sehingga dalam konteks Bali. Pura yang biasa disebut Sad-Kahyangan tersebut merupakan kesatuan. Misteri alam semesta diungkapkan kepada orang-orang yang secara spiritual sudah bangun tapi kepada yang lain misteri-misteri itu harus dijelaskan dalam cerita kiasan Berdasarkan catatan ini. Sadasiwa.

Kata Purana berarti "purba" (ancient). Bhawishya Purana dan Wamana Purana. Diantara sejumlah besar Purana-Purana itu. sekalipun mereka tidak termasuk dalam daftar dari delapan belas Maha Purana (Major Purana). Menurut banyak orang. Dari duapuluh Purana ini. enam ditujukan kepada Wishnu. tapi nama-nama dalam daftar itu dalam beberapa Purana sedikit bervariasi. oleh karena itu kita mempunyai satu daftar dari duapuluh Maha Purana. Purana-Purana ini tidak memiliki catatan waktu kapan ia ditulis. Masing-masing dari padanya menyediakan satu daftar dari kedelapan belas Purana termasuk dirinya sendiri. Brahmanda Purana. Enam Purana yang ditujukan kepada Brahma adalah Brahma Purana. Narada Purana. mahluk supernatural. orang suci dan manusia biasa. garis keturunan atau asal-usul (genealogi) dari dewa-dewa dan para orang suci.itu dapat dikatakan Weda-Weda dari orang kebanyakan. Lingga purana. Percaya atau tidak." Mereka umumnya berisi kisah-kisah mengenai Dewa dan Dewi Hindu. delapan belas disebut Purana Besar atau Maha Purana. Wayu Purana. Purana kecil (Minor Purana) dikenal sebagai Upa Purana. Enam Purana yang ditujukan kepada Wishnu adalah Wishnu Purana. Siwa (atau Saiwa atau Dewi-Bhagawata) Purana dan Hariwamsa Purana adalah juga termasuk Maha Purana. ada paling sedikit duapuluh Purana Kecil. Srimad Bhawata Purana. Ya memang. Kurma Purana. Skanda Purana dan Agni Purana. karena kitab-kitab itu menyajikan seluruh misteri melalui mitos dan legenda. Markandeya Purana. Garuda Purana. mempunyai penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang sama seperti Kitab Wahyu dalam Injil. seperti Mahabbhagawatam. Enam Purana yang ditujukan kepada Siwa adalah Matsya Purana. Brahma-Waiwaswata atau Brahma-Waiwarta Purana. Purana-Purana ini ditulis dalam bentuk "tanya jawab. Purana-Purana itu selalu menekankan bhakti kepada Tuhan. Mereka adalah : . Beberapa dari Purana-Purana itu. Hampir semua Purana berkaitan dengan penciptaan dan penghancuran alam semesta. enam kepada Siwa dan enam kepada Brahma. Padma Purana dan Waraha Purana. dan rincian mengenai dinasti Bulan (Lunar) dan Matahari (Solar). tapi beberapa orang mengatakan Purana-Purana itu ditulis mulai abad enam.

meditasi. Ia ditulis oleh Reshi Badarayana. Samba. Nandikeswara. Surya. Mahaswara. Saiwa (beberapa menyebut ini Purana Besar). Waruna. Srimad Bhagawatam memuat kisah-kisah seluruh Awatara dari Wishnu. Parasara. buku ini merupakan kitab suci yang amat penting bagi pengikut Hare Krishna. Menurut kitab suci ini. Ia mempunyai dua belas bab yang disebut Skanda.Aditya. kitab suci yang penting bagi orang Hindu dan khususnya bagi para bhakta Hare Krishna. zaman sekarang. Kalki. Tokoh paling penting dari Srimad Bhawatam adalah Reshi Suka. Kalki.000 sloka. Aku yakin sekali bahwa daftar yang saya berikan kepadamu tidak lengkap. Ausanasa. alam semesta ini menjadi ada karena Tuhan menghendakinya sebagai permainan atau Lila. seperti mendengarkan kisah-kisah tentang Tuhan. putra dari Veda Vyasa. seperti telah kukatakan sebelumnya. Yuga. . Sanathkumara. Dewi. Narada. Waya dan Wrihan. atau Banjir Besar Buku ini merupakan sumber penting bagi Sekte Waisnawa dan. Ia berisi 18. Buku ini dibacakan kepada Raja Parikshit. Suta-Samhita. Durwasa. dinasti terakhir dari Pandawa. dan akhirnya penyerahan diri kepada kehendak Tuhan. Marichi. Disini juga ada gambaran yang sangat jelas mengenai Pralaya. Mungkin masih ada Purana dalam agama Hindu yang tidak diketahui bahkan oleh rasul atau pemikir doktrin Hindu. dan Awatara terakhir dari Wishnu yaitu. Bab terakhir secara khusus menjelaskan mengenai Kali Yuga. Bab sepuluh dari buku ini memuat kisah Krishna secara rinci. Usanas. Seorang pemuja yang sudah tercerahkan (a realized devotee) melihat dirinya sendiri dan seluruh mahluk sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan. Manawa. Narasimha. yang juga dikenal sebagai Veda Vyasa. Siwadharma. Ascharya. Menurut Srimad Bhawatam. Kalika. Bhaskara (Surya). Kapila. ada sembilan cara berbeda untuk menunjukkan bhakti kepada Tuhan. melayani. Sebagian besar isi dari buku ini merupakan dialog antara Raja Parikshit dengan Reshi Suka. oleh Reshi Suka satu minggu sebelum kematian raja karena gigitan ular yang telah diramalkan.

patung dan lukisan. Winayaka dan Pilleyar. termasuk Nepal. yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan. Buddha. yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama. • Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi.22. Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa. kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa mempedulikan golongan. meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda. muncul selama periode itu. "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan". gāṇapatya). dan di luar India. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati. ia sering digambarkan berkepala gajah.[4] Kitab utama yang didedikasikan . (Sanskerta: गाणपतय. Dalam tradisi pewayangan. Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya. Dalam relief. ganeṣa dengarkan (bantuan·info)) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu.[1] Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut. GANESHA Ganesa (Sanskerta गणेश .[2] Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu. Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara. ia disebut Bhatara Gana. Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9. dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). Dewa pelindung. dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". Wigneswara). berlengan empat dan berbadan gemuk. Tibet dan Asia Tenggara. Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India.[3] Ketenarannya naik dengan cepat. selama periode Gupta. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina.

berarti "pengatur" atau "pemimpin". terdiri dari kata gana (Sanskerta: गण. adalah kata majemuk yang terdiri dari kata gana. Etimologi dan nama lain Ganesa memiliki banyak gelar dan nama pujian. memiliki daftar delapan nama lain Ganesa: Winayaka. Ganadipa (sama dengan Ganapati dan Ganesa).[7] Ganapati (Sanskerta: गणपित . Ekadanta (yang memiliki satu gading). dan Gajanana (yang bermuka gajah).[5] Kata gana ketika dihubungkan dengan Ganesa seringkali merujuk kepada para gana. berarti penguasa atau pemimpin. dan pati.[9] Nama ini mencerminkan sebutan terhadap delapan kuil Ganesa yang terkenal di . Wignaraja (sama dengan Wignesa). orang banyak. atau sistem pengelompokan. gaṇa). juga dieja Shri atau Shree) seringkali ditambahkan di depan namanya. Salah satu cara yang terkenal dalam memuja Ganesa adalah dengan menyanyikan Ganesa Sahasranama. kelas. Mudgalapurana. sebuah doa pengucapan "seribu nama Ganesa". yaitu Sri (Sanskerta: शी. yaitu kamus bahasa Sanskerta.[6] Istilah itu secara lebih umum berarti golongan. salah satu versi diambil dari Ganeshapurana.untuk Ganesa adalah Ganesapurana. dan isha (Sanskerta: ईश. termasuk Ganapati dan Wigneswara. nama lain Ganesa. Setiap nama dalam sahasranama mengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek dari Ganesa. īśa). atau. dan Ganapati Atharwashirsa.[7] Kitab Amarakosha. gaṇapati). secara harfiah. pasukan makhluk setengah dewa yang menjadi pengikut Siwa. vināyaka) adalah nama umum bagi Ganesa yang muncul dalam kitab-kitab Purana Hindu dan Tantra agama Buddha. Lambodara (yang memiliki perut bak periuk. Nama Ganesa adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta.[8] Winayaka (Sanskerta: िवनायक . atau perserikatan. komunitas. Dwaimatura (yang memiliki dua ibu). persekutuan. berarti kelompok. śrī. yaitu sastra Hindu untuk menghormati Ganesa. Sekurang-kurangnya ada dua versi Ganesa Sahasranama. yang berarti "kelompok". Gelar dalam agama Hindu yang dipakai sebagai penghormatan. Heramba. yang perutnya bergelayutan).

Maharashtra yang mahsyur sebagai astawinayaka. Patungnya memiliki empat lengan. K. karena kata pillaka dalam bahasa Pali berarti "gajah muda". pella. Citra tentang Ganesa menjamur di berbagai penjuru India sekitar abad ke-6. menari. atau bersikap manis dalam suatu keadaan.[12] Tidak seperti dewa-dewi lainnya. Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. Nama Wignesa (Sanskerta: िवघ्नेश. beraksi dengan gagah berani melawan para iblis. Biasanya Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. Nama yang mahsyur bagi Ganesa dalam bahasa Tamil adalah Pille atau Pilleyar ("anak kecil"). bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki. penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu. pada tangan kiri bawah.[11] Penggambaran Ganesa adalah figur yang terkenal dalam kesenian India. dan pell dalam bahasa-bahasa rumpun Dravida berarti "gigi atau gading gajah". (Penguasa segala rintangan) merujuk kepada tugas utamanya dalam mitologi Hindu sebagai pencipta sekaligus penyingkir segala rintangan (vighna). A. duduk di bawah.[10] Seorang penulis buku yang bernama Anita Raina Thapan menambahkan bahwa akar kata pille pada nama Pillaiyar mungkin aslinya berarti "gajah muda". Dia menambahkan bahwa kata pallu. ditaksir berasal dari . yang ia comot dengan belalainya. yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa. vighneśa) dan Wigneswara (Sanskerta: िवघ्नेश् वर vighneśvara) . Dia kadangkala digambarkan berdiri. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis. namun lebih lazim diartikan "gajah". Narain membedakan arti istilah-istilah tersebut dengan mengatakan bahwa pille berarti seorang "anak" sementara pilleyar berarti seorang "anak yang mulia". Patung yang lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut.

[14] Kombinasi yang sama terhadap empat lengan dan atribut. muncul pada patung Ganesa yang sedang menari. yang konon memiliki mata terkutuk. Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala. memiliki beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda. yakni Heramba-Ganapati.abad ke-7. yang merupakan tema terkenal. Dewa Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala . Parwati. Sementara beberapa kitab mengatakan bahwa Ganesa terlahir dengan kepala gajah. menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa. satu-satunya variasi terhadap unsur-unsur kuno adalah tangan kanan bawah Ganesa tidak memegang patahan gading namun seolah-olah terarah ke mata pengamat dengan gerak tangan yang melambangkan perlindungan atau penyingkir ketakutan (abhaya mudra). Dalam kitab Brahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik.[13] Dalam perwujudan yang biasa. pada cerita yang terkenal dikatakan bahwa ia memperoleh kepala gajah di kemudian hari. Dewa Sani (Saturnus). Motif utama yang terulang dalam cerita-cerita tersebut adalah bahwa Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia. memiliki lima kepala gajah. Atribut umum Ganesa digambarkan berkepala gajah semenjak awal kemunculannya dalam kesenian India. Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkus pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya. Pengaruh unsur-unsur kuno dalam susunan penggambaran tersebut masih bisa diamati dalam penggambaran Ganesa secara kontemporer. dan variasi kecil lainnya pada jumlah kepala diketahui. kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan antara Siwa dan Parwati. Dalam sebuah penggambaran modern. Salah satu perwujudannya yang terkenal. Saat Ganesa lahir. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan kepala gajah. memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu. Tiba-tiba.[15] Mitologi dalam Purana memberi beberapa penjelasan mengenai kejadian yang menyebabkannya berkepala gajah. ibunya.

Ganesa melilitkan ular Basuki di lehernya.[17] Kedua nama tersebut merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang melukiskan bagaimana keadaan perutnya. secara harfiah. dililitkan di pergelangan kaki. Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang suci (IAST: yajñyopavīta) yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk. Ganeshapurana mengatakan . atau. wujudnya yang terkenal memiliki sekitar dua sampai enam belas lengan. sekarang. Perut buncit Ganesa muncul sebagai ciri-ciri khusus pada kesenian patung sejak zaman dulu. yang telah disebut dalam Purana dan ditetapkan sebagai wujud standar dalam beberapa kitab tentang ikonografi. IAST: brahmāṇḍa) di masa lalu.gajah.[21] Menurut Ganesapurana. Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat perhatian.[20] Ular adalah tampilan yang umum dalam penggambaran tentang Ganesa dan muncul dalam beragam bentuk. ia memberinya kepala gajah dan perut buncit. Jumlah lengan Ganesa bervariasi.[19] Wujud dengan 14 dan 20 lengan muncul di India Tengah selama abad ke-9 dan abad ke-10. Kisah lain dalam kitab Warahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta secara langsung oleh tawa Siwa. dua penjelmaan Ganesa yang berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara (perut buncit. Kitab Brahmandapurana mengatakan bahwa Ganesa bernama Lambodara karena segala semesta (yaitu "telur alam semesta". sedangkan yang lainnya patah. karena menurut Mudgalapurana. atau dipakai sebagai mahkota. dan yang akan datang ada di dalam tubuhnya. merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu. perut bergelantungan) dan Mahodara (perut besar). Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading). yang mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta.[18] Banyak penggambaran tentang Ganesa yang menampilkan ia bertangan empat. Pada dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa (Sanskerta: tilaka). yang ditaksir sejak periode Gupta (sekitar abad IV-VI). Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya. Wujudnya pada masa awal memiliki dua lengan.[16] Penampilan ini amat penting. yang berupa tiga garis mendatar. dipegang di tangan. Hal penting di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana.

Sebagai contoh. Wujud tertentu dari Ganesa yang disebut Bhalachandra (IAST: bhālacandra. Ekadanta-Ganapati digambarkan berwarna biru selama bermeditasi dalam wujud itu. dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. seekor merak saat menjelma sebagai Wikata. seperti misalnya tikus.[24] Ganesa seringkali digambarkan menunggangi atau diantar oleh seekor tikus. wahananya ada bermacam-macam. menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda. Mohotkata menunggangi singa. dan menggunakan Sesa. Namun warna lain yang spesifik dihubungkan dengan wujud tertentu. Ganapati Atharwashirsa mengandung sloka tentang Ganesa yang menyatakan bahwa gambar tikus terdapat . "Bulan di dahi") memasukkan unsur penggambaran tersebut. dan Gajanana menunggangi tikus. domba. putih dihubungkan dengan wujud Ganesa sebagai Heramba-Ganapati dan Rina-Mochana-Ganapati (Ganapati yang membebaskan dari belenggu). tikus juga selalu ditempatkan dekat dengan kakinya. Tikus sebagai wahana muncul pertama kali dalam kitab Matsyapurana dan kemudian dalam Brahmandapurana dan Ganesapurana. Dalam pandangan agama Jaina terhadap Ganesa.[23] Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana. di wilayah India Tengah dan Barat selama abad ke7. penyu. Dumraketu menunggangi kuda. naga ilahi. sebuah buku tentang ikonografi dalam Hinduisme. Martin-Dubost mengatakan bahwa tikus muncul sebagai wahana yang utama dalam sastra tentang Ganesa. Mayureswara menunggangi merak. atau merak.bahwa tanda tilaka sama saja dengan bulan sabit pada dahi kepala. dimana Ganesa menggunakannya sebagai kendaraan hanya pada inkarnasi terakhirnya.[22] Beberapa contoh mengenai hubungan warna dengan gerakan meditasi tertentu dinyatakan dalam Sritattvanidhi. Ganesa lima kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya. gajah. Wahana Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan). Pada empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana.

Itu merupakan kekuasaannya yang utama. dan kemunculan para Ganapatya. [25] Yuvraj Krishan. Jadi menurut teori tersebut. Michael Wilcockson mengatakan bahwa tikus melambangkan orangorang yang ingin mengatasi keinginan dan mengurangi sifat egois.[26] Paul Martin-Dubost yang juga pernah menulis buku tentang Ganesa memberi sebuah pandangan bahwa tikus adalah simbol yang memberi sugesti bahwa Ganesa. Nama Musakawahana (berwahana tikus) dan Akuketana (berbendera tikus) muncul dalam Ganesa Sahasranama.. seorang penulis buku Ganesa. Seorang penulis buku tentang Ganesa bernama John A.[29] M.dalam benderanya. Kata Sanskerta mūṣaka (tikus) diambil dari akar kata mūṣ (mencuri. Ia mahsyur dipuja sebagai penyingkir segala rintangan. K. mengatakan bahwa tikus itu bersifat merusak dan mengancam pertanian. baik yang bersifat material maupun spiritual. sehingga ada perubahan tekanan suara . sejenis wighna (rintangan) yang perlu untuk diatasi. Tikus ditafsirkan dalam berbagai pengertian. Paul Courtright mengatakan. mampu menembus bahkan memasuki tempat-tempat rahasia. Merupakan hal yang penting untuk menaklukkan tikus sebagai hama penghancur. Grimes telah menafsirkan makna tikus sebagai atribut Ganesa. seperti halnya tikus.[27] Asosiasi Rintangan Ganesa adalah Wigneswara atau Wignaraja. "pekerjaannya adalah menempatkan dan menyingkirkan rintangan. meski ia juga memasang rintangan pada umatnya yang perlu diberi cobaan. Ganesa sebagai penguasa tikus menunjukkan fungsinya sebagai Wigneswara (dewa segala rintangan) dan memberi bukti terhadap perannya sebagai grāmata-devatā (dewa pedesaan) bagi rakyat yang kemudian meningkat kemuliaannya. merampok). dewa segala rintangan.."[28] Yuvraj Krishan menyatakan bahwa beberapa nama Ganesa mencerminkan perannya yang berkembang dari waktu ke waktu. Dhavalikar beranggapan bahwa karena cepatnya ketenaran Ganesa di antara dewi-dewi Hindu.

merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia menjelma sebagai bunyi yang utama. juga dieja 'Om'). Engkaulah Indra.[34] Aum Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu (Simbol: ॐ.[31] Buddhi Ganesa dianggap sebagai Dewa Aksara dan Pelajaran.[32] Konsep buddhi erat dikaitkan dengan kepribadian Ganesa. kata buddhi adalah kata benda feminin yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan. "bahkan setelah Ganesa dalam Purana digambarkan dengan baik. dan Mahesa. sehingga memiliki aspek negatif maupun positif.[33] maka nama Buddhipriya bisa saja berarti "Yang dicintai oleh kecerdasan" atau "Suami Buddhi".dari wignakartā (pencipta rintangan) menjadi wignahartā (penyingkir rintangan). Dalam bahasa Sanskerta. ketika banyak kisah menonjolkan kepintarannya dan cinta terhadap kecerdasan. Istilah oṃ(ng)kāraswarūpa (Aum adalah wujudnya). Salah satu nama Ganesa dalam Ganeshapurana dan Ganesa Sahasranama adalah Buddhipriya. Swami Chinmayananda menerjemahkan pernyataan yang relevan berikut ini: (O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma. seperti yang dijelaskan Robert Brown. Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu). Kata priya bisa berarti "yang tercinta".[35] Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi penjelasan mengenai hubungan ini. dua fungsi tersebut menjadi amat penting dalam karakter Ganesa. Wisnu. atau akal. Engkaulah matahari . dan dalam konteks suami-istri bisa berarti "kekasih" atau "suami". kebijaksanaan. Ganesa meninggalkan banyak hal-hal penting untuk peran gandanya sebagai pencipta dan penyingkir rintangan. khususnya pada zaman Purana. Nama ini juga muncul dalam daftar 21 nama di akhir Ganesa Sahasranama yang menurut Ganesa amat penting. ketika diidentikkan dengan Ganesa. [30] Bagaimana pun.".

Ganesa memegang. mitos-mitos dalam Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. pondasi". Courtright menerjemahkan pernyataan sebagai berikut: "[O Ganesa. yang disebut muladhara. . dan Swargaloka [sorga].[38] Mitologi Kelahiran Meski Ganesa terkenal sebagai putera dari Siwa dan Parwati.[38] Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa. bahwa Engkaulah segala hal tersebut).[37] Cakra pertama Menurut Kundalini yoga. atau oleh Parwati. Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa. Engkaulah Brahman. namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana.(Surya) dan bulan (Candrama). menopang dan memandu cakra-cakra lainnya. adhara berarti "dasar. Engkaulah Om. atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. (Itu sebagai tanda. Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokokpokok kekuatan ilahi yang terpendam. utama".[36] Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan Tamil. Antariksa-loka [luar angkasa]. Mula berarti "asal. Ganesa menempati cakra pertama."[39] Maka dari itu. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa. sehingga ia mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan. atau oleh Siwa dan Parwati. Ganesa memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara.] Engkau senantiasa menempati urat sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra]. Engkaulah (tiga dunia) Bhuloka [bumi].

Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya. . Di India Utara. ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa. yaitu para gana.Dalam kitab Siwapurana dikisahkan. ia mendapati puteranya sudah tak bernyawa. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. sementara di India Selatan. Keluarga dan istri Dalam keluarga Ganesa ada saudaranya yang bernama Skanda. Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya. Ketika Parwati selesai mandi. suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa. Siwa mengutus abdinya. gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah. Karena tidak ingin diganggu. Murugan. Ketika turun ke dunia. Perbedaan wilayah memberikan versi berbeda tentang jenjang kelahiran mereka. Skanda biasanya dianggap yang lebih tua. ia menciptakan seorang anak laki-laki. sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. dan lain-lain. Atas saran Brahma. yang juga disebut Kartikeya. Siwa menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. Ganesa dianggap yang lebih dahulu lahir.

puteranya seringkali disebut Suba (keselamatan) dan Laba. Salah satu pola dalam mitos mengidentifikasi Ganesa sebagai seorang brahmacarya yang tak menikah.[42] Dia juga disangkutpautkan dengan dewi keberuntungan dan kemakmuran. Laksmi.[44] Kitab Siwapurana mengatakan bahwa Ganesa memiliki dua putera: Ksema (kemakmuran) dan Laba (keuntungan). yang konon menjadi para istri Ganesa. Menurut kisah versi India Utara. menghubungkan Ganesa dengan pohon pisang. dan Riddhi (kemakmuran).[45] Pemujaan dan festival Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian maupun kegiatan sehari-hari. memiliki beragam versi dalam cerita-cerita mitos.Skanda merupakan dewa perang yang mahsyur sekitar tahun 500 SM sampai 600 M. khususnya saat mulai berniaga seperti misalnya membeli kendaraan atau memulai . Seiring dengan memudarnya Skanda. Ganesa mulai berkembang. terutama yang menonjol di wilayah Benggala. ia diasosiasikan dengan konsep Buddhi (kecerdasan). Film berbahasa Hindi tahun 1975 berjudul Jai Santoshi Maa menampilkan Ganesa yang menikahi Riddhi dan Siddhi lalu memiliki puteri bernama Santoshi Ma. Dia bisa juga digambarkan dengan satu pasangan saja atau seorang pelayan tanpa nama (Sanskerta: daşi). Dalam contoh lain. dewi kepuasan.[43] Contoh lainnya. Beberapa kisah menceritakan persaingan antara kedua bersaudara tersebut dan bisa saja mencerminkan ketegangan yang terjadi antar sekte (pemuja Ganesa dan pemuja Skanda). Dalam contoh lain. ketika pemujaan terhadapnya berkurang secara signifikan di India Utara. ia diasosiasikan dengan dewi kebudayaan dan kesenian. subjek pembicaraan yang luas bagi para sarjana. yaitu Saraswati atau Śarda (umumnya di Maharashtra). Siddhi (kekuatan spiritual).[40] Status orangtua Ganesa. tiga kualitas ini kadangkala dipersonifikasikan sebagai para dewi. Kisah ini tidak memiliki dasar dari kitab Purana. Kala Bo.[41] Pandangan ini biasa terdapat di India Selatan dan di beberapa wilayah India Utara.

Karena ia diidentifikasikan dengan warna merah. "jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak memiliki arca Ganapati. Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu.bisnis. Festival yang dikaitkan dengan Ganesa adalah Winayaka caturti (Ganesa Caturti) pada śuklapakṣa (hari keempat bulan purnama) di bulan bhadrapada (Agustus/September) dan Ganesa jayanti (ulang tahun Ganesa) dirayakan pada cathurthī dalam kṛṣṇapakṣa (hari keempat bulan mati) di bulan magha (Januari/Februari). Rumput Dūrvā (Cynodon dactylon) dan benda lainnya sering dipakai dalam memujanya. .. kemakmuran dan perlindungan terhadap bencana. dan umat Hindu dari seluruh denominasi memanggil namanya saat memulai persembahyangan. memulai pertunjukkan seni seperti misalnya tari Bharatnatyam dengan terlebih dahulu memuja Ganesa. ia akan memberi kesuksesan. memulai usaha yang penting. Pemujanya memberi persembahan berupa manisan seperti misalnya modaka dan bola-bola kecil manis (laddu). Penari dan musisi. Dia seringkali digambarkan memegang semangkuk manisan. khususnya di India Selatan. sebagai dewa yang termahsyur di India. hormat pada Hyang Ganesa yang mahsyur-mulia) seringkali dipakai. ia seringkali dipuja dengan pasta cendana merah (raktacandana) atau bunga merah.N. dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara".] Ganapati. Salah satu mantra paling terkenal yang diasosiasikan dengan Ganesa adalah Om Gaṃ Ganapataye Namah. dan upacara keagamaan. [. Somayaji berkata. K. yang disebut modakapātra. Mantra-mantra seperti misalnya Om Shri Gaṇeshāya Namah (Om.[46] Pemujanya percaya bila Ganesa dibuat senang.

[47] Ia melakukannya untuk mengatasi kesenjangan antara golongan Brahmana dan non-Brahmana dan menemukan konteks tak lazim yang dimaksud untuk membangun akar persatuan di antara mereka.[48] Karena Ganesa dipuja secara luas sebagai "dewa bagi semua orang". dan menetapkan tradisi untuk mencelupkan semua citra Ganesa pada hari kesepuluh. Festival memuncak pada hari Ananta Caturdasi. umat Hindu di penjuru India merayakan festival Ganapati dengan semangat menyala.[50] Di masa kini.[49] Tilak adalah orang pertama yang memasang citra Ganesa yang besar bagi masyarakat umum di sebuah paviliun. atau sebagai dewa utama di sebuah kuil (pradhana). misalnya Astawinayaka (Sanskerta: अष्टिवनायक. Tilak memilihnya sebagai tempat menampung protes rakyat India terhadap pemerintahan Inggris. dimulai pada Ganesa Caturti. masing-masing dari delapan kuil ini memuliakan wujud utama . Dan juga. Terletak di jarak sekitar 100 kilometer dari kota Pune. "delapan (kuil) Ganesa") di Maharashtra yang paling mahsyur.Ganesa Caturti Festival tahunan untuk memuja Ganesa yang berlangsung selama sepuluh hari. Kuil Dalam tempat suci Hindu. yang jatuh pada akhir bulan Agustus atau awal September. dia banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau halhal buruk. meskipun hal itu paling populer di negara bagian Maharashtra. sebagai dewa yang erat dengan dewa utama (pariwaradewata). Pada tahun 1893. dalam cita-cita nasional menentang penjajahan Inggris di Maharashtra. yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati. Festival itu juga mendapat proporsi yang besar di Mumbai dan di sekitar kuil-kuil Astawinayaka. Ganesa dapat diuraikan beraneka macam: sebagai dewa bawahan (parswadewata). Lokmanya Tilak mengubah festival tahunan ini dari perayaan keluarga secara pribadi menjadi acara bagi masyarakat luas. dijamu bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu. beberapa kuil didedikasikan untuk Ganesa sendiri.[51] Sebagai dewa keluarmasuk. aṣṭavināyaka. ketika arca (murti) Ganesa dicelupkan ke dalam air.

Jodhpur. dan di beberapa negara barat. Nepal. Ada banyak kuil Ganesa yang penting di tempat-tempat berikut ini: Wai di Maharashtra. Kemunculan pertama Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4 sampai abad ke-5. Dhokala. menandai wilayah suci Ganesa. Pelopornya tak jelas. figur Wigneswara kelihatan tak berubah-ubah. Kuil Ganesa yang utama di India Selatan yaitu sebagai berikut: Kuil Jambukeśvara di Tiruchirapalli. yang melampaui batas mahzab dan teritorial.[53] Pemujaan tersendiri terhadapnya muncul sekitar abad ke-10.Ganapati. Hampi. meskipun desa kecil.[54] Narain mengikhtisarkan kontroversi antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap perkembangan Ganesa sebagai berikut: [A]pa yang selama ini tak terduga adalah kemunculan Ganesa yang agak dramatis menurut pandangan sejarah. Ujjain di Madhya Pradesh. T. Gopinatha berkata. yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta. dan Balsad di Gujarat dan Kuil Dhundiraj di Benares. dalam sebuah relung […]. termasuk Asia Tenggara. Nagaur dan Raipur (Pali) di Rajasthan. yang diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra. Keterbukaan dan ketenarannya yang luas. di bawah pohon bodhi […]. di Rameshvaram dan Suchindram di Tamil Nadu. dan Bhadrachalam di Andhra Pradesh. Kasargod. Baidyanath di Bihar. di kuil Wisnu maupun Siwa dan juga pada bangunan suci yang khususnya dibangun dalam kuil Siwa […]. dan Idagunji di Karnataka. memiliki citra Wigneswara-nya sendiri dengan atau tanpa kuil untuk menempatkannya. Baroda."[52] Kuil Ganesa juga dibangun di luar India. bersama-sama mereka membentuk sebuah mandala. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal. lengkap dengan cerita dan legendanya. "Setiap desa. . sungguh menakjubkan. Uttar Pradesh. Di jalan masuk menuju desa atau sebuah benteng. A.

. .[54] Pengaruh memungkinkan Buku yang ditulis Thapan tentang perkembangan Ganesa mengandung sebuah bab tentang spekulasi mengenai peran kepala gajah pada zaman awal di India.[59] Sastra Weda dan wiracarita Gelar "Pemimpin kelompok" (Sanskerta: ganapati) muncul dua kali dalam Regweda. yang beberapa di antaranya diidentifikasikan dengan Ganesa. muncul dalam kesenian dan koin India pada permulaan abad ke2. namun merupakan mitologi yang cukup menarik. Asal-usulnya mengikuti jejak empat Winayaka. itu tidak bisa dianggap menggambarkan GanapatiWinayaka. roh jahat. yang berkomentar datar tentang Ganesa. namun keduanya tidak merujuk pada Ganesa yang sekarang.[56] Dalam mitologi Hindu. "Dia bukan dewa dalam Weda.. baik dalam Purana-Purana maupun Tantra Buddha.Di satu sisi ada kepercayaan bagi umat yang ortodoks terhadap asal-usul Ganesa dari zaman Weda dan dalam Purana terdapat penjelasan yang membingungkan. namun mudah untuk ditenangkan.[58] Penggambaran figur manusia berkepala gajah. Istilah itu . para Winayaka adalah kelompok empat makhluk jahat yang membuat rintangan dan kesulitan. Ganapati-Winayaka masih membuat debutnya. Di sisi lain terdapat keraguan mengenai adanya gagasan dan arca tentang dewa ini sebelum abad keempat sampai kelima Masehi. "meski pada abad ke-2 Masehi ada perwujudan yaksa berkepala gajah. namun berkesimpulan bahwa."[55] Suatu teori mengenai asal-usul Ganesa mengatakan bahwa ia perlahan-lahan menjadi tenar sehubungan dengan empat Winayaka. dari Manawagrehyasutra (abad VII-IV SM) yang menyebabkan berbagai jenis kejahatan dan penderitaan".[57] Krishan adalah salah satu sarjana yang menerima teori ini. Tidak ada bukti mengenai dewa yang disebut memiliki wujud gajah atau berkepala gajah pada permulaan zaman ini. Nama Winayaka adalah nama yang biasa bagi Ganesa.

dan gada. Nama-nama ini mengingatkan kita pada Ganesa.[61] Dalam pembantahan bahwa pernyataan tersebut merupakan bukti keberadaan Ganesa dalam Regweda. diterjemahkan menjadi "Pemimpin perkumpulan (bagi para Marut). dan seorang komentator dari abad ke-14 bernama Sayana dengan tegas memastikan identifikasi ini.1).23. "referensi mengenai dewa berkepala gajah di Maitrayani Samhita telah terbukti sebagai sisipan paling akhir. maka tidak begitu berguna dalam menentukan informasi paling awal mengenai sang dewa (Ganesa)". sloka itu kemudian diadopsi untuk memuja Ganesa dan masih dipakai hingga sekarang.9) merujuk pada Indra.[67] Ganesa tidak muncul dalam wiracarita India pada zaman Weda.[65] Tapi. yang memiliki belalai bengkok (wakratunda) dan memegang jagung. menyatakan permohonan kepada dewa yang "bertaring satu" (Dantih). "bermuka gajah" (Hastimuka).muncul dalam Regweda (Rw 2. Krishan menganggap bahwa himne-himne ini adalah tambahan (carangan) pasca zaman Weda. tebu.[64] Deskripsi tentang Dantin. Ludo Rocher mengatakan bahwa itu dengan jelas merujuk kepada Wrehaspati—dewa himne-himne—dan hanya Wrehaspati. Ganesa setuju namun dengan syarat bahwa .1) sebagai gelar untuk Brahmanaspati. yaitu pernyataan kedua (Rw 10.[60] Saat sloka itu tak diragukan lagi merujuk pada Brahmanaspati. "tidak bisa dibantahkan lagi untuk menerima identifikasinya (ciri-ciri Ganesa) dengan (ciri-ciri) Dantin ini". seperti yang dikatakan Heras.[66] Thapan menambahkan bahwa pernyataan-pernyataan itu lazimnya dianggap sebagai sebuah sisipan. Dhavalikar mengatakan." Tetapi. merupakan karakteristik Ganapati yang utama secara Purana.1) dan Taittiriya Aranyaka (10. dan "berbelalai bengkok" (Wakratunda). yaitu Maitrayaniya Samhita (2. Rocher menyatakan bahwa sastra-satra Ganapatya terkini seringkali mengutip sloka-sloka Regweda untuk menghormati Ganesa.[63] Dua sloka dalam kitab yang termasuk Yajurweda hitam. menurut para komentator. yang diberi gelar 'ganapati'.9.[62] Hal yang juga mirip. Sebuah sisipan pada wiracarita Mahabharata mengatakan bahwa Resi Byasa meminta Ganesa untuk membantunya sebagai seorang penulis untuk mencatat wiracarita yang didikte oleh sang resi kepadanya.112.

yaitu. Ia meneliti masalah dan mengungkapkan bahwa referensi tentang Ganesa yang terdapat dalam Purana-purana awal. Brown memperkirakan waktunya terjadi sekitar abad ke-8. 900. adalah sisipan di kemudian hari yang dibuat dari abad ke7sampai abad ke-10. 600 dan seterusnya. ada dalam Purana yang digubah dari th. dan Moriz Winternitz menyimpulkan bahwa kisah itu dikenal pada awal th. sementara kitab-kitab Purana tidak menyebutkan kapan tepatnya suatu peristiwa terjadi. 600–1300.[70] Sebuah referensi tentang Wignakartrinam ("Pencipta rintangan") dalam Wanaparwa juga dipercaya sebagai sebuah sisipan dan tidak muncul dalam edisi kritikan.[71] . namun tidak ditambahkan ke dalam Mahabharata sampai sekitar 150 tahun kemudian.Byasa harus membeberkan wiracarita itu tanpa diselingi. sekitar th. Sang resi setuju. seperti misalnya Bayupurana dan Brahmandapurana.[72] Yuvraj Krishan mengatakan bahwa mitos mengenai kelahiran Ganesa dan bagaimana ia memperoleh kepala gajah.[73] . penuturan kisah hidup Ganesa yang lebih detil ada dalam kitab yang muncul belakangan.[68] Richard L. Kisah tersebut tidak dianggap sebagai sebuah bagian dalam kitab orisinilnya oleh editor dalam kitab Mahabharata edisi kritikan. Winternitz juga menambahkan bahwa versi berbeda dalam naskah Mahabharata di India Selatan adalah penghapusan terhadap legenda Ganesa tersebut. Brown mengatakan. namun sadar bahwa untuk melakukan jeda. tanpa berhenti. Hubungan antara Ganesa dengan ketangkasan pikiran dan pembelajaran adalah salah satu alasan sehingga ia ditampilkan sebagai penulis dikte yang dijabarkan Byasa tentang Mahabharata dalam sisipan tersebut. Zaman Purana Kisah mengenai Ganesa seringkali muncul dalam kitab-kitab Purana. ia perlu menceritakan suatu pernyataan yang sangat kompleks sehingga Ganesa akan bertanya untuk mengklarifikasi.[69] Istilah winayaka ditemukan dalam beberapa resensi dalam Santiparwa dan Anusasanaparwa yang dianggap sebagai sisipan.

Filsuf abad ke-9 bernama Shankaracarya mempopulerkan "pemujaan terhadap lima wujud" (pañcāyatana pūjā). sebuah sistem di antara kaum brahmana yang ortodoks dalam tradisi Smarta. dan Surya. beberapa brahmana memilih untuk memuja Ganesa sebagai dewa utama mereka. dia berkata. "Sepertinya. Anita Thapan mengutarakan komentar tentang masa penggubahan dan mengukuhkan pendapatnya. ketika secara formal ia dimasukkan ke dalam lima dewa utama dalam aliran Smarta. Phyllis Granoff menemukan masalah terhadap waktu yang tidak tetap ini dan ."[74] Lawrence W. Siwa. Wisnu. Masa penggubahan Ganeshapurana dan Mudgalapurana (dan waktunya tidak tetap antara satu sama lain) telah mengobarkan perdebatan para sarjana.Bangkitnya ketenaran Ganesa dikodifikasikan pada abad ke-9. Shankaracarya mendirikan tradisi itu dengan tujuan utama untuk menyatukan dewa-dewi utama dari lima sekte besar pada status yang sama. "namun kemudian diberi sisipan. Dalam pemujaan ini dilakukan pemanggilan lima dewa yaitu Ganesa. seperti yang dapat disimak dalam Ganeshapurana dan Mudgalapurana. mungkin pokok-pokok isi dari Ganeshapurana muncul sekitar abad keduabelas dan ketigabelas".[75] R. bersamaan dengan waktu berdirinya tempat-tempat suci seperti yang disebutkan dalam kitab itu. yang menurutnya digubah pada tahun 1100 dan 1400.[76] Tetapi. Mereka mengembangkan tradisi Ganapatya. Dewi. Hal ini sungguh-sungguh membuat peran Ganesa sebagai seorang dewa komplementer. Buku dan sastra Ketika Ganesa diterima sebagai salah satu dari lima dewa utama dalam Brahmanisme. Hazra mengatakan bahwa Mudgalapurana lebih tua daripada Ganeshapurana. Preston berpikir bahwa waktu yang memungkinkan untuk penggubahan Ganeshapurana antara tahun 1100 dan 1400.C. Keduaduanya berkembang dari waktu ke waktu dan mengandung isi yang bertumpuktumpuk.

Selama masa ini.[78] Kitab lain yang memuji Ganesa. sehubungan dengan pemujaan Ganapati yang menjadi penting dalam wilayah tertentu. termasuk Ganesa.[80] Ganesa khususnya disembah oleh para pedagang dan rombongannya. Ganesha. Bali. Mudgalapurana secara spesifik menyebut Ganeshapurana sebagai salah satu dari empat Purana (Brahma. Periode dari sekitar abad ke-10 sampai seterusnya ditandai oleh perkembangan jaringan-jaringan baru terhadap hal pertukaran. Arca-arca Ganesa ditemukan di sepanjang wilayah Nusantara dalam jumlah yang banyak. Ganesa adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi Hindu yang menjamah negeri asing sebagai akibatnya. dan bangkitnya sirkulasi keuangan. seringkali di samping kuil Siwa. Brahmanda. di antara bukti-bukti internal lainnya. Ia mengemukakan alasannya berdasarkan sebuah fakta bahwa. yaitu Ganapati Atharwashirsa. bersama mereka. ada kemungkinan digubah pada abad ke-16 atau ke-17. pembentukan serikat dagang.[77] Sementara isinya sudah usang. dan Kalimantan yang menunjukkan pengaruh regional yang spesifik.[82] Umat Hindu bermigrasi ke nusantara dan membawa budaya mereka. yang pergi ke luar India untuk malakukan hubungan dagang. Wujud Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa.berkesimpulan bahwa Mudgalapurana adalah kitab filsafat terakhir yang menyinggung masalah Ganesa. kitab itu diberi sisipan sampai abad ke-17dan ke-18.[81] Tulisan paling awal yang mengandung seruan kepada Ganesa sebelum memanggil dewa-dewi lainnya dikaitkan dengan komunitas rombongan pedagang. dan Mudgalapurana) yang menyinggung masalah Ganesa.[83] Penyebaran budaya Hindu . [79] Di luar India dan agama Hindu Hubungan dagang dan budaya telah memperluas pengaruh India di Asia Barat dan Tenggara. Ganesa menjadi dewa utama yang dikaitkan dengan para pedagang.

Sebagai dewa Vināyaka dalam agama Buddha. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan. Wujud ini. dikenal sebagai Heramba. tidak hanya dalam wujud dewa Vināyaka dalam agama Buddha. namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama yang sama. ia memiliki lima kepala dan menunggangi singa.[87] Di Nepal. pemujaan terhadap Ganesa pertama kali disebutkan pada tahun 806. Kamboja dan di Vietnam. kemudian diadopsi di Nepal. sangat terkenal. kadangkala dalam wujud sedang menari.secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa dimodifikasi di Burma. Ganesa digambarkan sedang diinjak oleh kaki Mahākāla. dan pengaruh timbal balik bisa dilihat dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu. disertai tulisan yang berangka tahun 531. dan termahsyur di wilayah India Utara. mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu. Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala rintangan. dan Thailand.[85] Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana. atau dewa keberhasilan. Afganistan memiliki ikatan budaya yang erat dengan India. disebut Nṛtta Ganapati. Ganesa terutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan. Bahkan kini oleh umat Buddha di Thailand. Di Indochina. Kamboja. dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama dijalankan. Di Thailand.[89] Dalam versi Tibet. ia seringkali digambarkan sedang menari. agama Hindu dan Buddha dijalankan dengan berdampingan. Penggambaran Ganesa di Tibet menunjukkan pandangan yang bertentangan terhadapnya.[84] Sebelum kedatangan Islam. ada patung batu dari zaman awal yang dikenal sebagai Ganesa. wujud Ganesa secara Hindu. Penggambaran lain menampilkan wujudnya sebagai pemusnah segala rintangan.[90] Di Jepang.[86] Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa kerajaan Gupta.[91] . yaitu dewa bangsa Tibet yang terkenal.[88] Ganapati versi Tibet adalah tshogs bdag. Ganesa muncul di Cina dan Jepang dalam wujud yang menampilkan karakter wilayah yang berbeda. Di Cina Utara. lalu di Tibet.

yang sudah tentu bersifat umum. walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak. bahwa lingga . sumbu (Zoetmulder.[93] Patung Ganesa tertua versi Jaina ditaksir berasal dari abad ke-9. Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali. sifat khas. muncul sebagai pengambil alih fungsi Kubera. petunjuk. isyarat. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat. Ganesa dipuja oleh banyak umat Jaina.[95] Citra Ganesa muncul dalam kuil Jaina di Rajasthan dan Gujarat. yang pada hakekatnya mempuriyai arti. peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau. titik tuju pemujaan.[94] Sebuah kitab Jaina dari abad ke-15 memaparkan prosedur untuk memasang citra Ganapati. bukti. Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda. lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu.[96] 23.[92] Hubungan Jaina dengan komunitas perdagangan mendukung gagasan bahwa Jainisme mengambil tradisi pemujaan Ganesa sebagai akibat dari hubungan perdagangan. poros. ciri. akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti lingga yang sebenarnya. khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. Namun. pusat. SIWA LINGGA (LINGGA YONI) Lingga merupakan lambang Dewa Siwa. titik pusat. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno.Sastra agama Jaina (Jainisme) tidak menyebutkan adanya pemujaan terhadap Ganesa. keterangan. Di Indonesia khususnya Bali. Patung Dewa. 2000 601).

Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono. (Agastia. Mengenai pemujaan lingga di Indonesia. 1916 : 69). 1975 : 104). Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa.diidentikkan dengan : linggih. 1973 : 40). maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme). Di India terutama di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte linggayat (Putra. Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di . yang artinya tempat duduk. malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa. Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore. 2002 : 2) kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu. menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao. yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa. Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu. pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali. Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan. di Indonesia. lingga merupakan lambang kesuburan. dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa.

Jawa Timur. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers. kesuburan dan sebagainya. (Soekmono. Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih. ”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan. di Bedahulu dan di Goa Gajah. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru. 1973 : 41-42). Gandhawarna rasairhinam . Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung.Kanjuruhan. 1959 102). Di dalam lingga purana disebutkan sebagai sabdasparsadi Artinya: berikut: warjitam”. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga. Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. Pura-pura di Pejeng.

Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:”Bhatara Siwalingga Artinya: Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa. Dalam “Pranalo Artinya: Jnana Brahma visnus ca Siddhanta Lingotpadah disebutkan: Siwarcayet”.Lingga awal yang mula-mula tanpa bau. Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga). Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya Bentuk sebagai Siwa. warna. . Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa. Lingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”. pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam). Jadi dalam Lingga Purana. lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. rasa. Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa.

berbentuk buah 93). Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi. 1916 : . bulat. bulat telur. Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah. Kemudian lingga yoni. setengah bulatan. persegi enam belas dan yang lainnya. segi empat panjang. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga. segi delapan.Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap sebagai sumber siwa. di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma. dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma. bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga. jadi lingga dan yoni. 1916 :99). Sebuah lingga berdiri. berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara). Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha. mentimun (tripusha kara). Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. Dengan istilah lingga pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga. Wisnu. Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air. pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain : berbentuk payung (chhatrakara). Wisnu dan Siwa. berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma. segi enam. Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. segi dua belas. berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao. berbentuk telur (kukkutandakara). Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao.

Achalalingga Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain . e. tanah pekat.Chalalingga . rumput kurcha. perak. janggery dan tepung. beras. Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti. Mrinmaya Lingga Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat. gandum. madhuka. bilva. Lingga : Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam. Daruja kristal. nasi.Jenis-Jenis Lingga Berdasarkan penelitian dan TA. chandana. tepung. Ratmaja mutiara. seperti : emas. badara. Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. d. serbuk cendana. karnikara. permata. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah: a. besi. yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. dan dewadara. tinduka. jamrud. menjadi adonan setelah beberapa b. arjuna. timah dan lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama. Lohaja logam c. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira. Gopinatha Rao. Lingga kuningan. waidurya. bunga . tembaga. pippala dan udumbara. Lingga kwarsa. baik yang sudah dibakar. Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami. sala. artinya lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu. Kshanika Lingga Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam.

A. sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan lingga yang paling utama (uttamottama). Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika lingga. sitrun atau apel hutan. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan. lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi. sebagai berikut: a. Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga. Arsha lingga. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang . Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. kumpulan kuliahkuliah agama jilid I”. c. Ganapatya lingga.dan rudrasha. Svayambhuva lingga. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas. menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan. Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani. II part I” dapat dijelaskan. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi. Dalam mitologi. lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan BhataraBhatari.b. Daivika lingga. lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di bumi. Lingga ini berhubungan dengan Ganesa. lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu. lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga. d. Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T.

Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci. Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). e. 437 Juli 2003. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. Sama halnya dengan Galungan. dipakai oleh brahman). Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Manusa lingga. karena langsung dibuat oleh tangan manusia. 24. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar).suci. Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama. Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun. HARI RAYA HINDU Pagerwesi Hari Raya Pagerwesi Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia.• WHD No. Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru. artinya hari raya untuk .

Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha Bhuta. . Dalam lontar Sundarigama disebutkan: Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara." Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. Hakikat pelaksanaan upacara Pegerwesi adalah lebih ditekankan pada pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan Mapasang Lingga. Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. baik pendeta maupun umat walaka. segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan). Dalam lontar Sundarigama disebutkan: "Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh. sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah. Artinya: Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi.semua masyarakat. ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta.

Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi). Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Prayascita. memohon. Canang dan Sodaan. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan. Dalam hal upacara. Memuja berarti menyerahkan diri. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Makna Filosofi Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama. Banten yang paling inti perayaan Pegerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip. Dapetan. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati. Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. memuji dan memusatkan diri. Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah "Sesayut Panca Lingga" sedangkan perlengkapannya Daksina. Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya . Tentunya dilengkapi Daksina. Suci Praspenyeneng dan Banten Penek. menghormati.

Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Kalau ada pihak yang dirugikan. Wanijyam. berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. itu berarti ada kecurangan. artinya perdagangan. Goraksya. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan.merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. maka adharma . artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh." Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Keuntungan yang benar. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat. Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu: Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh).

berarti para pendeta harus melakukan hal yang amat utama untuk mencapai vibrasi spiritual payogan Sanghyang Pramesti Guru. Penjelasan Manawa Dharmasastra ini adalah bahwa atma yang tidak diselimuti oleh awan kegelapan dari hawa nafsu akan dapat menerima vibrasi spiritual dari Brahman.tidak dapat masuk menguasai manusia. Tirtha suci itulah yang akan dibagikan kepada umat. Dalam Manawa Dharmasastra V. Hal ini dapat dipahami. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Mengingat ngargha mapasang lingga dianjurkan oleh lontar Sundarigama pada hari Pagerwesi ini. 109 disebutkan: Atma dibersihkan dengan tapa bratabudhi dibersihkan dengan ilmu pengetahuan (widia) manah (pikiran) dibersihkan dengan kebenaran dan kejujuran yang disebut satya. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Sesayut Panca Lingga dengan inti ketipat Lingga adalah memohon lima manifestasi Siwa untuk memberikan benteng kekuatan (pager besi) dalam . Karena itu amat ditekankan pada Hari Raya Pagerwesi para pendeta agar ngarga. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata. dengan pengasepan sampai disucikan dengan mantra-mantra tertentu sehingga tirtha yang dihasilkan betul-betul amat suci. mapasang lingga. Ngarga adalah suatu tempat untuk membuat tirtha bagi para pendeta. Sebelum membuat tirtha. Vibrasi spiritual itulah sebagai pagar besi dari kehidupan dan itu pulalah guru sejati. purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Pembuatan tirtha dalam upacaraupacara besar dilakukan dengan mapulang lingga. terlebih dahulu pendeta menyucikan arga dengan air. Dalam agama Hindu.

menghadapi hidup ini. Para pendetalah yang mempunyai kewajiban menghadirkan lebih intensif dalam masyarakat. Kemahakuasaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Siwa dengan simbol Panca Lingga, Sesayut Pageh Urip bagi kebanyakan atau umat yang masih walaka. Kata "pageh" artinya "pagar" atau "teguh" sedangkan "urip" artinya "hidup". "Pageh urip" artinya hidup yang teguh atau hidup yang terlindungi. Kata "sesayut" berasal dari bahasa Jawa dari kata "ayu" artinya selamat atau sejahtera. Natab Sesayut artinya mohon keselamatan atau kerahayuan. Banten Sesayut memakai alas sesayut yang bentuknya bundar dan maiseh dari daun kelapa. Bentuk ini melambangkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan haruslah secara bertahap dan beren-cana. Tidak bisa suatu kebaikan itu diwujudkan dengan cara yang ambisius. Demikianlah sepintas filosofi yang terkandung dalam lambang upacara Pagerwesi. Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan hari raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima pada intinya adalah hari raya untuk memuja Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang mendapatkan wahyu ten-tang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana. Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adi guru loka yaitu gurunya alam semesta. Sedangkan Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari Purnama. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24. 000 sloka

Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra. Ke-24 suku kata suci dari Tri Pada Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000 sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi Walmiki pun dipuja sebagai adi guru loka yaitu maha gurunya alam semesta. Sampai saat ini Mahabharata dan Ramayana yang disebut itihasa adalah merupakan pagar besi dari manusia untuk melindungi dirinya dari serangan hawa nafsu jahat. Jika kita boleh mengambil kesimpulan, kiranya Hari Raya Pagerwesi di Indonesia dengan Hari Raya Guru Purnima dan Walmiki Jayanti memiliki semangat yang searah untuk memuja Tuhan dan resi sebagai guru yang menuntun manusia menuju hidup yang kuat dan suci. Nilai hakiki dari perayaan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dengan Pegerwesi dapat dipadukan. Namun bagaimana cara perayaannya, tentu lebih tepat disesuaikan dengan budaya atau tradisi masing-masing tempat. Yang penting adalah adanya pemadatan nilai atau penambahan makna dari memuja Sanghyang Pramesti Guru ditambah dengan memperdalam pemahaman akan jasa-jasa para resi, seperti Resi Vyasa, Resi Walmiki dan resi-resi yang sangat berjasa bagi umat Hindu di Indonesia. (Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni) Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam

rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan: Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya. Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah

Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka. Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali. inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). . Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. tak jauh dari Pura Besakih. Disebutkan pula. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. sakti dari Dewa Siwa. Untuk mengetahui penyebabnya. Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa.datang tak henti-henti. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri. Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Makna Filosofis Galungan Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. barulah Galungan dirayakan kembali.

Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba.Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa . artinya luar. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut: Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi. enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sunarigama. galang apadang maryakena sarwa byapaning idep Artinya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Jadi. Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.

. Dan itulah yang disucikan." Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Dalam lontar disebutkan. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana. artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. "Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa. Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. karena itu hari penyucian semua bhatara). Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri.

Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga). Pada hari ini. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan "Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Galungan Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan sumbersumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel). Keesokan harinya. Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya. dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. umat menikmati waranugraha Dewata. Dalam lontar Sundarigama disebutkan. Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib melaksanakan. Sabtu Kliwon disebut Kuningan.Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. . Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan." Artinya. Upacara tersebut barmakna.

Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Jadi Galungan itu dirayakan. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali. setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara. kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disebutkan dalam lontar itu. yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut: . saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Galungan Nadi Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Karena itu Galungan. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Sapta Waranya Rabu. bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Sapta Wara dan Wuku. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Galungan Nara Mangsa Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Kalau Panca Waranya Kliwon. dan wukunya Dungulan.

pada hari Galungan itu. Kala Rau ngaranya yan mengkana." Artinya: Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu. membawa penyakit adanya. rah 9 tenggek 9. tan wenang ngegalung wong Baline. Tidak baik itu. rah 9. Mwah yan anemu sasih Kesanga. . yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung. poma haywa lali elingakna. tidak boleh merayakan Galungan. tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. tenggek 9. nasi cacahan maoran keladi. sigug ya mengaba gering ngaran. tenggek 9. itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru. Kala Rau namanya. Yan tekaning sasih Kapitu. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah. mwang sasih kesanga. moga ta sira kapereg denira Balagadabah. Galungan Nara Mangsa ngaran. Artinya: Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika. Tilem Galungan. semoga tidak lupa. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem. Galungan Nara Mangsa namanya. Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut: Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali. anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika. Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9. ingatlah. Tan kawasa mabanten tumpeng. tunggal kalawan sasih Kapitu."Yan Galungan nuju sasih Kapitu. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9. bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng.

Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang artinya. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa. pemakan daging manusia. Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk .Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng Galungan". Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru. Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Bahkan kemungkinan besar. Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Sebelum puncak perayaan. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula "Hari Raya Dasara". Kedua kata itu artinya "menang". Ini bisa dilihat dari kata "Wijaya" (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata "Galungan" dalam bahasa Jawa Kuna. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama. berupa nasi cacahan bercampur keladi. pertarungan antara aharma melawan adharma. Galungan di India Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India.

Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. seram. kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan. Pengertian sakti di India adalah kuat. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. maka diberi julukan Dewi Durgha. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara. keganasan hawa nafsu. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Berbeda dengan di Bali. Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. memiliki kemampuan yang tinggi. sangat menakutkan. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker.dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Karena Dewi Parwati menang. Pada .

Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana. Laksmana dan Anoman. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin. Kumbakarna atau Surphanaka. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. kota menjadi ramai. Kasih sayang itulah suatu "sakti" atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama. Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama.hari ini. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh . Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Di mana-mana. Dewi Sita. Sita. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. orang menjual panah sebagai lambang kenenangan.

Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani . Vedangga. Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual. Nyepi Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda. Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin). Wasista Siddhanta. Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang.setiap orang. Prof. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta. Paitamaha Siddhanta. Itihasa dan Purana. membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa. Karena mantramantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia). yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Kitab ini disusun kira-kira 12. ada yang bersifat adhyatmika.

Karena perjuangannya itu cukup berhasil. Sukusuku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. Sebelum lahirnya Tahun Saka. suku bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Akibat toleransi dan persatuan itu. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas. Yuehchi.tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Yuwana. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa. Malawa dan Saka. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat . Arah perjuangannya kemudian dialihkan. Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India. Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara). Semenjak itu. maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat. Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Pada tahun 79 Masehi. sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu. bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Tampaknya. dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya. dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu.

Beberapa hari sebelum Nyepi. Budha dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pendeta Siwa. 228. dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi. Menurut agama.(India) yang mendarat di Kabupaten Rembang. Di alun-alun Majapahit. LXXXVI XCII. kama dan moksha. manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Di Bali. para sarjana. Tuhan (Prajapati). LXXXV. berkumpu seluruh kepala desa. 45 dan Sarasamuscaya 135. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret). Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. artha. pada tahun 456 Masehi. Setelah Nyepi. Tujuan Hidup Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Jawa Tengah. prajurit. perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Untuk mewujudkan tujuan tersebut. Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Pada zaman Majapahit. . umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma. Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII. XII. Keesokan harinya. pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian.

artha kama moksha. manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dengan demikian jelaslah." Dalam Bhagavadgita III. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. mâng dharma.10: manusia harus beryajña kepada Tuhan. ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga. makhluk hidup menjelma. kama dan moksha. "Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani. 14 disebutkan. usahakanlah kesejahteraan semua makhluk. karena persembahan (yajña) turunlah hujan." Artinya: Oleh karenanya. karena hujan tumbuhlah makanan. untuk mewujudkan Catur Warga. binatang hidup dari tumbuhtumbuhan. Dalam kenyataannya. artha. jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk. manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita). Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb: "Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan." Artinya: Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma. karena makanan. kita bisa melihat sendiri. dan yajña lahir karena kerja. "Apan ikang prana ngaranya. tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup. .

Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengahtengah samudra.yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa. dilaksanakanlah brata penye-pian. pada saat upacara Tawur Kesanga. paklesa letuhing bhuwana. dan sarwaprani. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut: . Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga. pawana. Bhuwah Loka dan Swah Loka. Oleh karena itu. melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Sang Budha dan Sang Bujangga. kita mencari sari-sari kehidupan dunia. Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut: Anglukataken laraning jagat. Pada tanggal satu sasih kadasa. Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa. Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara. Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra.

Perbuatan .. brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya.. menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. kama dan moksha. ageni-geni saparanya tan wenang. yoga... berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh. artha. manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. samadhi. semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan." Jadi. tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. tidak menyalakan api. Sebagaimana kita ketahui. pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. Nyepi." Artinya: ". Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya. karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan. tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang.. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia.".besoknya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian. tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya.enjangnya nyepi amati geni. kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan.. amati lelungan dan amati lelanguan. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. melakukan yoga tapa dan samadhi. amati karya. Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri.

Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini. Pelaksanaan Upacara Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.." Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat.. Setelah upacara Melasti usai dilakukan. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi.manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah mengkhususkan diri dalam bidang kerohanian. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: ". dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan. tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci.mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya.. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka Menyimak sejarah lahirnya. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. . pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas.

upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). berem. tumpeng ketan sesayut. dandanan. upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara.12. Dalam rangkaian Nyepi di Bali. peras. Setelah usai menghaturkan pecaruan. Dalam upacara Melasti. segehan nasi sasah 100 tanding. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.00 . Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah). penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. tuak dan air tawar. banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya. Upacara di tingkat rumah tangga. Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding. semua anggota keluarga. yaitu melakukan upacara mecaru. dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina. Sedangkan di tingkat desa. Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi. Sedangkan di masing-masing rumah tangga. Sedang upacara Nagasankirtan di India. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh. dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa.00 (kala tepet). sujang berisi arak tuak. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah. segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah. ajuman. Setelah . umat Hindu berkeliling desa. kabupaten dan kecamatan.

lalu mengelilingi rumah membawa obor. umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan. umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Selain itu. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu. jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Nah. maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. kala. yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. . kertas. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi. lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa. Artinya. pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya. Karena bukan sarana upacara. Kalau di Bali. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar. Sejak tahun 1980-an. ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus). Patung yang dibuat dengan bam-bu. kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala. menaburkan nasi tawur. yaitu unsur-unsur kekuatan jahat. namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan. Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi.mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti. misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.

panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. mona.Sebagaimana telah dikemukakan. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci. Pada prinsipnya. menyepikan indria. . Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. . Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa. yaitu dengan melakukan upawasa. Yang terpenting. Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Arcana. Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spritual. dhyana dan arcana. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus.Amati lelanguan (tidak mencari hiburan). tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Dhyana. tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. . brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu: -Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Mona artinya berdiam diri. yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah.Amati lelungan (tidak bepergian). Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan . yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan.Amati karya (tidak bekerja). saat Nyepi. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat. tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Itu berarti melakukan upawasa (puasa). mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu. hening menuju jalan yang benar atau dharma.

Dari pandangan mata secara awam saja. karena perbuatan menyimpang dari ajaran dharma atau Agama. tetapi bisa masuk surga sesudah meninggal. Tetapi sebagaian orang lagi gelap merupakan media dalam mendapatkan ketentraman batinnya. Karena menurut mereka di dalam gelap bercokol setan dan berbagai mahluk pemangsa lainnya. Dalam kegelapan malam ada keheningan kesunyian dan kedamaian. Adalah Lubdhaka si pemburu miskin yang berbahagia dalam perjalanan hidupnya. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Latri berarti malam (gelap). menghilangkan nyawa mahluk lain di luar tujuan yadnya.terpaksa. . Misteri kematian dan perjalanan arwah Lubdhaka tidak banyak yang mengetahuinya. makanya mereka memburu gelap. 23 Januari 2001). tentu perbuatan membunuh. Umat patut melaksanakan brata. lantaran sekalipun dalam sehari-hari selalu melakukan tindakan sadis. Anggara Wage Wuku Gumbreg bertepatan Sasih Kapitu (Selasa. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan. Dikatakan berbahagia. Terbebas dari berbagai godaan yang bisa menjerumuskan dan menyesatkan hidup. Gelap bisa menakutkan dan menciutkan nyali bagi sebagian orang. meningkatkan kesucian rohani dan latihan mengekang hawa nafsu. adalah berdosa. Pada hari Siwaratri umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Siwa Mahadewa. melakukan pembunuhan satwa (binatang). Dan bahkan malam itu adalah malam tergelap dibanding malam-malam lainnya. sekalipun tidak disadari karena secara kebetulan. Hari tersebut dikenal dengan nama Siwalatri/Siwaratri atau Malam Siwa. Kalangan krama Bali beragama Hindu umum menyebutnya "peteng pitu". Tujuannya agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di dunia ini. termasuk malam siswa malam paling gelap sehari menjelang Tilem Kepitu 24 Januari 2001. merupakan hari suci bagi umat Hindu.

melihat bayangan binatang saja tidak. bertahan di hutan. Sangat apes hari itu perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu profesional. antisipasinya supaya terhindar dari sergapan binatang buas. Apa yang dilakukan Lubdhaka sehingga memperoleh tiket masuk surga setelah mati? Suatu hari lelaki itu seharian berburu. Waktu itu sebagai pemburu Lubdhaka tidak memiliki motip lain. Untuk menahan kantuknya tangan memetik satu persatu dahan pohon yang tidah. serta dalam petikan lelaki itu tpat mengenai patung Siwa tersebut. malam itu ia akan menemukan binatang dan berhasil memanahnya untuk dibawa pulang. Lubdhaka boleh saja berharap. Istri dan anak-anaknya merasa kehilangan.Pemburu tersebut dalam mitologi HIndu meniggal beberapa hari setelah Siwaratri lantaran menderita suatu penyakit. yakni malam payogan Hyang Siwa. karena takut jatuh otomatis laki-laki tetap terjaga (jagra) sampai pagi. namun kenyataannya sampai tengah malam yang sunyi senyap hasilnya tetap nihil. Aktivitas Lubdhaka malam itulah mendapat pahala dari Hyang Siwa. Dalam kehampaan. Pohon yang dinaiki adalah pohon Bila. Kecuali satu harapannya. Waktu itu jangankan ia berhasil memanah seekor binatang untuk dibawa pulang. Ternyata malam saat Lubdhaka menginap di hutan adalah Malam Siwa (Siwa Latri). hingga ia berhak masuk sorga. padang perburuannya seorang diri. jengkel bercampur lelah fisik karena lapar dan harus Lubdhaka memutuskan tidak bertolak pulang menemui istri dan anak-anak kesayangannya. lantas Lubdhaka memilih memanjat sebuah pohon yang lumayan rindang. namun sama sekali tidak mendapat binatang buruan. Dimana dibawah pohon tempatnya memanjat ada sebuah telaga dan perwujudan Siwa beryoga. Ia memilih berdiam di sebuah pohon dekat telaga yang airnya sangat bening. . Dengan perasaan pasrah dan nekat ia memutuskan bermalam di hutan. Malah dalam malam gelap ia dilanda ketakutan.

ia mengucapkan dua bait mantra berikut : Om Sarasvati namas tubhyam. Five Studies in Hindu-Balinese Religion (1964) dan menggunakan acuan atau sumber kajian adalah tiga jenis naskah.. Tutur dan Kakavin yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Sarasvati 1-2. Apabila seorangpemangku melakukan pemujaan pada hari Sarasvati. Malahan di kalangan umat Hindu sendiri hal ini masih menjadi masalah yang patut untuk didiskusikan. pantaskah seorang Lubdhaka yang melakukan pembunuhan terhadap sarwa buron ini mendapatkan pengampunan hanya karena melakukan kegiatan begadang semalam suntuk. Perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu sampai masuk sorga cukup kontroversial. Sarasvati dalam Veda Di dalam RgVeda. Beryoga. Kata Sarasvati dalam bahasa Sanskerta dari urat kata Sr yang artinya mengalir. yaitu: Stuti. varade kama rupini. Sarasvati berarti aliran air yang melimpah menuju danau atau kolam. Ia juga sering dihubungkan dengan pemujaan terhadap deva Visvedevah disamping juga dipuja bersamaan dengan Sarasvati. Hooykaas dalam bukunya Agama Tirtha. Sarasvati (n) namamy aham. menahan haus. stava atau stotra seperti halnya dengan menggunakan sarana banten (persembahan). Di Khayangan rohnya sempat menjadi rebutan. siddhir bhavantu mesada.) Hanya Engkaulah yang .Aktivitasnya itu sama nilainya dengan yang dikerjakan Siwa. tidak tidur dan menahan nafsu-nafsu lainnya. Sarasvati dalam Susastra Hindu di Indonesia Tentang Sarasvati di Indonesia telah dikaji oleh Dr. Pranamya sarya-devana ca. Sarasvati di Bali dipuja dengan perantaraan stuti. C. Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Jawa Bali. lapar. Arti Kata Sarasvati. siddhirambha karisyami. artinya begini. antara penguasa neraka dan surga. Sarasvati dipuji dan dipuja lebih dari delapan puluh re atau mantra pujaan. Paramatmanam eva ca. rupa siddhi prayukta ya. yakni pada setiap Saniscara Umanis Watugunung.

Vahana. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karuniaMu Pendahuluan Berbagai usaha atau jalan yang terbentang bagi Umat Hindu untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. kainnya yang putih menunjukkanbahwa ilmu itu selalu putih. 1989: 38).brahman) berupa Om. karena kemuliaan-Mu pula semua yang mulia menyatu Om Sarasvati namotubhyam varade kama rupini. Didalam Brahmavaivarta Purana dinyatakan bahwa warna putih merupakan simbolis dari salah satu Tri Guna. yaitu Sattva-gunatmika dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari lima jenis Prakrti. emngingatkan kita terhadap nilai ilmu yang murni dan tidak tercela (Shakunthala. Ilmu pengetahuan diidentikan dengan Sattvam-jnanam Caturbhuja : memiliki 4 tangan. aksamala (tasbih) dan kumbhaja (bunga teratai). Tuhan Yang Maha Esa digambarkan atau diwujudkan dalam alam pikiran dan materi sebagai Tuhan Yang Berpribadi (personal God). Atribut ini melambangkan : vina (di tangan kanan depan) melambangkan Rta (hukum alam) dan saat alam tercipta muncul nadamelodi (nada .menganugrahkan pengetahuan yang memberikan kebahagiaan. Demikian pula Tuhan Yang Maha Esa yang sesungguhnya tidak tergambarkan dalam alam pikiran manusia. Makna Penggambaran Dewi Saraswati Tubuh dan busana putih bersih dan berkilauan. siddhirambha karisyami siddhir bhavantu mesada Sarasvatistava I) Om Hyang Vidhi dalam wujud-MU sebagai dewi Sarasvati. wujud kasih bagai seorang ibu sangat didambakan. pustaka (kitab suci dan sastra). pemberi berkah. Engkau keutamaan dari setiap istri yang mulia. Engkau pula yang penuh keutamaan dan Engkaulah yang menjadikan segala yang ada. Aksamala (di tangan kanan belakang) melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tanpa keduanya ini manusaia tidak memiliki arti. sarasvati duduk diatas bunga teratai dengan . Suara Om adalah suara musik alam semesta atau musik angkasa. memegang vina (sejenis gitar). Demikian pula tingkah laku seorang anak yang sangat mulia. Engkau sesungguhnya permata yang sangat mulia. untuk kepentingan Bhakti. Berbagai aspek kekuasaan dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa dipuja dan diagungkan serta dimohon karunia-Nya untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia.

sarve santu niramayah..Penutup Berdasarkan uraian-uraian diatas. Om Sarve sukhino bhavantu. sarve bhadrani pasyantu. PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN AGAMA HINDU Kepemimpinan Hindu Dalam kehidupan manusia didunia ini banyak ditemui usaha kerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. 25. anugrahkanlah semoga semuanya memperoleh keselamatan dan kebahagiaan.kendaraan angsa atau merak. Sarasvati adalah dewi Ucap. EKONOMI. Demikian semoga Ida Sang Hyang Widhi senantiasa memberikan waranugrahanya berupa inspirasi. Keseluruhan proses . Angsa yang gemulai mengingatkan kita terhadap kemampuannya membedakan sekam dengan bijibijian dari kebenaran ilmu pengetahuan. Perwujudan Dewi Saraswati sebagai dewi yang cantik bertangan empat dengan berbagai atribut yang dipegangnya mengandung makna simbolis bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber ilmu-pengetahuan. Semoga semuanya memperoleh kedamaian. Dalam perkembangan selanjutnya. sumber wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Catur Veda dan lain-lain menunjukkan bahwa simbolis tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi dengan latar belakang filosofis yang sangat dalam. dewi yang memberikan inspirasi dan kahirnya ia dipuja sebagai dewi ilmu pengetahuan. maka Sarasvati di dalam Veda pada mulanya adalah dewi Sungai yang diyakini amat suci. KONSEP KEPEMIMPINAN. ma kascid duhkh bhag bhavet. seperti angsa mampu membedakan antara susu dengan air sebelum meminum yang pertama. kejernihan pikiran serta kerahayuan yang didambakan oleh setiap orang. Angsa adalah sejenis unggas yang sangat cerdas dan dikatakan memiliki sifat kedewataan dan spiritual. Ya Tuhan Yang maha Esa. Semoga semuanya memperoleh keutamaan dan semuanya terbebas dari segala duka dan penderitaan. 1989 : 38). Kendaraan yang lain adalh seekor burung merak yang melambangkan kebijaksanaan (Shakunthala.

maka status pemimpin menjadi jelas dan membuat proses kepemimpinan memungkinkantanpa ada yang mengarahkan. pasti dan teratur. Seorang pemimpin didalam sebuah organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan. Dengan kata lain organisasi adalah proses atau rangkaian kegiatan kerja sama sejumlah orang. Kepemimpinan juga berarti aktivitas mempengaruhi orang lain untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela. Dengan kata lain kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan apa yang diinginkan untuk dikerjakan oleh orang lain. 1 995:9). Setidaknya ada dua jenis organisasi yaitu Organisasi formal dan non formal. Organisasi formal memiliki struktur yang relatif permanen. Baik organisasi formal maupun non formal. yaitu 1) Kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikutnya. prosedur dan mekanisme yang statis. Dengan keinginan mereka untuk menerima pengarahan dari pimpinan. 1995:8). Dengan kata lain pemimpin adalah orangnya dan kepemimpinan adalah kegiatannya. Konsep demikian kelihatanya sederhana. semua kualitas kepemimpinan dari seorang manajer akan tidak . karena didalam kepemimpinan hadir suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi tugas-tugas yang berhubungan dengan kegiatan antar kelompok. pasti memeriukan seseorang untuk menempati posisi pemimpin (leader). Sedangkan Organisasi non formal memiliki struktur yang semi permanen. untuk mencapai tujuan tertentu (Nawawi da Handari. Kepemimpinan adalah proses mendorong dan membantu orang lain untuk bekerja secara antusias ke arah tujuan. prosedur dan mekanismenya mudah berubah sesuai dengan kebutuhan dan keputusannya cenderung ditentukan oleh kesepakatan bersama. tetapi pada kenyataannya sering kali sangat kompleks.kerjasama itu dinamakan organisasi. Sehubungan dengan itu maka kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan / kecerdasan mendorong sejumiah orang agar bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama (Nawawi dan Handari. Dari uraian diatas ada empat implikasi penting.

Pada politiklah semua berlindung. Hal ini banyak dijelaskan dalam percakapan antara Bhagawan Bhisma dengan Yudhistira pasca perang Bharatayudha. Akan tetapi. pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan. Dalam bab yang lain dijelaskan pula bahwa: "ketika tujuan hidup manusia . dan pada politiklah dunia terpusatkan" . melainkan adalah bagi penegakkan Dharma. 4) Aspek gabungan dari ketiganya yang mengakui bahwa kepemimpinan adalah sebuah nilai (value). Begitu juga pembagian masyarakat semakin kacau. yaitu dalam Santi Parwal LXIII. artha. Hindu memandang politik tidak semata-mata sebagai cara mencari. pada politiklah semua kegiatan agama/yajna diikatkan. Pada politiklah semua awal tindakan diwujudkan. pada politiklah semua dunia terpusatkan". semua kewajiban manusia terabaikan. Seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan lebih dari kelompok yang dipimpin. dan moksa semakin jauh. semua aturan hidup hilang musnah. maka pada politikiah semua berlindung. hal 147. 3) Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku-perilaku pengikut dalam sejumlah cara. Politik Hindu Banyak pihak yang beranggapan bahwa politik adalah kotor karena politik selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Ini adalah sebuah catatan berharga bahwa meskipun kepemimpinan dihubungkan dalam kepetingan dalam manajemen. kepemimpinan dan manajemen bukanlah konsep yang sama. kama. sebagai berikut:"manakala politik telah sirna. veda pun sirna pula. pada politikiah semua pengetahuan dipersatukan.dharma. 2) Kepemimpinan melibatkan sebuah pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan anggota kelompok.relevan. dan mempertahankan kekuasaan.

dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). dan kebenaran yang apabila dilanggar maka akan berakibat pada kehancuran umat manusia. Dharma adalah hukum. menjalin hubungan dengan perdagangan dengan kerajaan India dan mengadopsi konsep-konsep Hindu. yang diatur sangat Hirarkis. Yang sangat mencolok adalah pengaruh kepada organisasi negara.Untaian kalimat dalam Santiparwa tersebut mengisyaratkan bahwa antara Politik dan Agama mempunyai kaitan yang sangat erat. Kalimat ini menunjukkan bahwa sasaran pokok dalam politik Hindu adalah kebahagiaan rakyat. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan. dapat dibaca pada batu tertulis (Prasasti) di Kalimantan dan di Jawa Barat. untuk . sebagai aktualisasi dari konsepsi "raja adalah keturunan Dewa". bukanlah kesejahteraan penguasanya karena penguasa yang berhasil membawa rakyatnya pada kebahagiaan tertinggi. Dari peninggalan itu dapat disimpulkan bahwa gaya huruf dari tulusan ini yang digolongkan sebagai huruf Pallawa dan bila diperhitungkan umurnya kira-kira abad keempat Masehi. dan sebaliknya dharma yang dijaga akan membawa kemuliaan (dharma raksatah raksitah). Dalam Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa "apa yang menjadikan raja senang bukanlah kesejahteraan. bogha wiryawan"). mamukti sukha wibawa. Kerajaan pribumi pada waktu itu. Melalui konsep "raja adalah keturunan Dewa" maka kekuasaan raja menjadi absolut. yaitu politik Hindu adalah untuk menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. baik untuk mengatur negara maupun kerohanian. berorientasi ke atas. tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang raja". selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang rat). kemuliaan adalah pasti ("sang sura menanging ranaggana. Selayang Pandang Kepemimpinan di Era Hindu Indonesia Tanda-tanda tentang adanya pengaruh agama Hindu. Para pemimpin waktu itu berusaha dengan bantuan para Pendeta Hindu. Antara politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak dapat dipisahkan. kewajiban.

Hal ini nampak jelas dalam kutipan sebagai berikut: Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti kebenaran dan dharma. seluruh penjuru mamanggil dan memohon perlindunganmu. Waktu itu diyakini. . datanglah dengan cahaya.menarik garis keturunan kepada Dewa (Brahma. dalam kitab Atharva Veda: 3. Siwa dan Dewa lainnya) pada dirinya guna melegitimasi kekuasaanya. hadirlah sebagai pemimpin yang utama. Pemimpin yang ingin diakui oleh masyarakat adalah mereka yang berhasil "Mbrojol selaning Garu" (Iolos dari seleksi yang ketat). Kepemimpinan dalam Sastra-Sastra Hindu Dalam ajaran Agama Hindu banyak sekali ditemukan ajaran tentang kepemimpinan. Bila seorang pemimpin memperhatikan masalah kesejahteraan rakyat serta mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat. raihlah kehormatan dan pujian dalam negara ini. Tetapi yang terjadi tidak selalu demikian. maka rakyatpun akan melindungi pemimpin itu sendiri ibaratnya Singa dan hutan yang saling melindungi. serta mencukupi kebutuhan rakyatnya. demikianlah keberadaan pemimpin dengan yang dipimpinnya. Ia tersebar mulai dari Weda sampai pada berbagai sastra Hindu. Disamping sebagai pelindung rakyat. bahwa hanya keturunan Dewa bisa menjadi pemimpin.2). Wisnu. pemimpin juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat.4. maka semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan menyebarkan dharma kepada masyarakat luas (Atharva Veda: 3. lindungilah rakyat dengan penuh kehormatan.1 dijelaskan tentang tugas seorang pemimpin sebagai berikut: Wahai pemimpin negara.4.

melindungi rakyatnya dengan selalu meminta perlindungan Tuhan. Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang dipimpinnya.Pemimpin yang tidak terkalahkan. dan melindungi pemimpin tersebut.6) Dalam Nitisastra 1. Dalam sastra Jawa Kuno dikatakan bahwa Raja harus melaksanakan taktik Catur Upaya Sandhi. sebaliknya rakyatpun akan selalu menghormati. mati dibunuh oleh persekutuan si burung siung. (Rg Veda: 4.19. Dana dan Danda. Lihatlah itu si ular naga yang mencari tempat berlindung pada Bhatara Siwa karena Baktinya ia dijadikan kalung oleh Bhatara Siwa. Dalam Tantri Kamandaka. Beda. (Atharva Veda: 5. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV. Persekutuan dan persatuan merupakan suatu kekuatan yang maha besar sehingga akan mampu menumbangkan kekuatan sebesar apapun. lalat dan katak. Ketika burung Garuda datang (musuh ular) terpaksa ular itu dihormati pula. si gajah yang besar dan kuat namun angkuh. Namun dalam hal ini raja harus cerdik melaksanakan segala upaya mempersatukan rakyatnya.50. dipersaudarakan dengan menyatukan pura kawitannya dalam satu kompleks pura dengan pura raja dan menyebut mereka wargi sang raja. yaitu Sama. Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat. maka negara tersebut akan hancur.9) Bila seorang pemimpin yang pemarah dengan kesombongannya ingin menghancurkan dan menghina para Brahmana yang ahli Veda. 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang . Pada hari-hari tertentu wargi-wargi itu bertemu di Pura. 1 1 disebutkan bahwa : Orang tidak boleh tanpa Asraya (tempat mohon bantuan) namun usahakanlah Mahasraya. Warga-warga disatukan. yang menggalang rasa kelompok dan rasa bakti kepada raja. Penguasa-penguasa di Bali jaman dahulu rupa-rupanya memaklumi hal ini sehingga beliau melaksanakan strategi menggalang persatuan rakyat dalam wilayahnya.

kejammu pada musuh itu . yang demikian disebut Dhanabrata patut diteladani. 2. karena Ida Bhatara ada pada dirinya. setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau hormati. inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata. itulah sebabnya disebut Asta Brata" 1. engkau mengikat orang-orang jahat. berpakaian dan berhiaslah. tidak membatasi makan dan minum. demikian delapan jumlahnya. Agni. 7. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII. Candra. Nikmatilah hidup dengan nikmat. 6. tiada rintangan.ideal. pelan-pelan olehnya. Surya. 3. Sang Hyang Indra usahakan pegang. senyummu manis bagaikan amerta. Ia menjatuhkan hujan menyuburkan bumi. dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak kentara. 5. Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat. 4. Bayu. Kuwera. setiap yang merintangi usahakan musnahkan. ia memukul pencuri sampai mati. Bagaikan anginiah engkau waktu mengamati perangai orang. Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia. Adapun terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana adalah: "Dan ia disuruh untuk menghormatinya. 8. perilaku lemah lembut tampak. demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat. itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya. beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja. Yama. Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya. Baruna. inilah Bayu brata. delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu. Selalu membakar musuh itu perilaku api. tiada cepatcepat demikian Surya Brata. Bhatara Surya selalu menghisap air. itulah engkau tiru Pasabrata. hendaklah engkau mengetahui pikiran rakyat semua. Hyang Indra. tersembunyi namun mulia. sumbangansumbanganmu itulah bagaikan hujan membanjiri rakyat. Indra brata. demikianlah engkau mengambil penghasilan.

demikianlah yang disebut Agnibrata. Dalam kakawin Ramayana. Bhismaparwa dan lain-lain dijumpai uraian dharma sebagai pedoman raja (pemimpin) dalam memimpin negaranya. Tuntunan Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin. yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh bertidak sesuka hatinya ketika ia memegang kekuasaan. disimpulkan dalam dharma yang mengandung pengertian segala sesuatu yang mendukung orang untuk mendapatkan kerahayuan. Petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra sastra Jawa Kuna. Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin negaranya ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya. manupadesa prihatah rumaksa ya. setiap engkau serang cerai berai dan lenyap.asihning wwang ringSarwa bhuta marikang dharma mangkana ngaranyaKotamaning asih ika pagawenta piratrana ring rat.ika ta sang prabu. Mtangian mangkana. Artinya: Tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti Petunjuk-petunjuk hukum Manu (Manawa dharmasastra) usahakan pegang Hilangnya penderitaan itulah tujuannya Cinta orang tentu akan kita jumpai. Ksaya nikang papa nahan prayojana. Jananuragadi tuwi kapangguha. si mangraksa rat juga. Makambek mangakana Terjemahan: .usahakan. Ika ta prassidha dharma ulahaning kadiKita prabhu. "sakanikang rat kita yan wenang manut. Dari semua hukumhukum yang harus dipedomani oleh seorang pemimpin.

yeka anarub ngaranya. maka ia akan kehilangan kekuasaannya karena ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya. Kutipan ini menunjukkan beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang pemimpin agar tak ditinggalkan oleh para pengikutnya. yan hana ratu mangkana tininggal sira de ning janma wwang kulina janma. Kutipan diatas diambil dari Bhismaparwa. yang hana wang adhahjati dinuhuraken.Demikianlah dharma yang sempurna engkau kerjakan sebagai raja melindungi negara. Bila ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif. (slokantara 40) Terjemahan : Pelayan dapat meninggalkan rajanya. awisesa ngaranya manarub.penampilan kasih sayang itulah kamu kerjakan. Raja yang kikir dan sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa. yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira. ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa. ya hana wwang kulina janma sinoraken. Lebih baik raja yang kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang. tidak menjadi panutan yang dipimpinnya. itulah mencampur-baurkan namanya.sayangmu pada semua makhluk dharma namanya. byakta sira tininggal ing wadwa nira.yang merupakan nasehat Bhagawan Bhisma kepada Prabhu Yudistira. Seorang pemimpin yang baik menurut ajaran Hindu haruslah memperhatikan masalah . yan hana ratu akeras mapanas ing gawe. leheng ikang ratu makeras swapadi ngrutu makumed tar paradanda. Apabila sang Prabhu tidak melaksanakan tugas-tugasnya sebagai raja yang melindungi rakyat dan negara. demikianiah sang prabhu (pemimpin) seharusnya bertingkah laku. sebabnya demikian. Petunjuk tentang itu dapat diketahui dari kutipan berikut: "Laku bhrtya matinggal ratunya. bila raja kejam dan bengis tindakannya. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan dan orang yang hina dimuliakan. untuk melindungi negara. Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. yaitu raja yang mencampurbaurkan persoalan.

yaitu sifat seorang Ksatria yang gagah berani dalam menegakkan dharma. Bhukti akaharepta wehing bala kasukan. 54) Terjemahan: Pura-pura (tempat suci). Petunjuk tentang itu dapat dilihat pada nasehat Rama kepada Wibisana berikut ini: Dewa kusala salam mwang dharma ya pahayun. Santasih nitya thaganan Kasih sayang hendaknya engkau selalu lakukan. Kepemimpinan Yang Paripurna Menurut Hindu "Gunamanta Sang Dasarata Wruh Sira Ring Weda Bhakti Ring Dewa Tarmalupueng Pitra Puja Masih Ta Sireng Swagotra Kabeh" Kutipan bait Ramayana di atas. supaya diperbanyak untuk biaya pembangunan disimpan baik-baik. 26. Dharma kalawan artha mwang kama ta ngaranika. selalu dalam kesucian. seorang pemimpin harus memiliki kedua sifat dalam dirinya. (Ramayana III.kesejahteraan para pengikutnya. dan penuh cinta kasih. artha.Mas ya ta pahawreddhin bhaya ring hayu kekesan. dan kama namanya demikian itu. 65) Kutipan ini juga mengandung makna bahwa raja atau pemimpin harus mengembangkan nilai kejujuran (satya ta sira mojar) dan karena itu semua rakyat akan segan terhadap raja atau pemimpinnya. Nikmatilah apa yang kamu ingini berilah kesejahteraan. KERAGAMAN RITUAL . Artinya. dan seorang pandita yang arif bijaksana. rumah sakit dan pedarman supaya diperbaiki. (Kakawin Ramayana III. Dharma. menegaskan bahwa seorang pemimpin yang sempurna dalam konsep Hindu adalah seorang Rajarsi atau satria pandita.

Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri. 27. The sections on knowledge (jnanakanda) take precedence over sections on ritual (karmakanda). With these texts the increasing importance of knowledge of esoteric correspondences are observed as compared to ritual action. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada. desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kalapatra. . Bagianbagian pada pengetahuan (jnanakanda) didahulukan dari bagian pada ritual (karmakanda). tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan. yang berpendirian bahwa pengetahuan tentang korespondensi antara ritual dan kosmos adalah semacam kekuasaan. kami hanya ingin tumbuh. asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki kitab suci dan ajarannya hanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun. yang disebut Kaharingan. The Upanisads sebelumnya melanjutkan spekulasi magis dari Brahmanas. Dengan teks-teks ini semakin pentingnya pengetahuan esoterik korespondensi diamati dibandingkan dengan tindakan ritual. APLIKASI WEDA DI KALTENG Sebelum datangnya agama-agama tradisi besar dan resmi diakui oleh pemerintah Indonesia.ritual Hindu adalah representasi dari Upanishad yang melanjutkan pekerjaan Brahmana dan Aranyakas dalam menafsirkan makna dari ritual srauta. Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat. which maintained that knowledge of the correspondences between ritual and cosmos is a kind of power. The earlier Upanisads continue the magical speculations of the Brahmanas. berkembang dan hidup yang wajar. masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri. tetapi juga ajaran untuk berperilaku. tidak terkekang oleh dogmadogma yang salah atau kedaluwarsa.

kesialan. Bugis. seperti Jawa. Upaya penyebaran agama-agama tradisi besar ini cukup berhasil. Melayu. Islam telah masuk ke Kalimantan sejak abad ke-13. seperti arah terbang burung. pohon. maka dimanfaatkan oleh kaum misionaris untuk menyebarkan agamanya. misalnya Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi Mahatara. sungai. sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit. seperti dewa-dewa yang menguasai tanah. terdapat dewa yang tertinggi. dan pelayanan kesehatan. banyak yang kemudian memeluk agama Islam. seperti bantuan pendidikan. maupun Katholik. Akan tetapi sebagian dari mereka tetap . melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut. Mereka percaya adanya Tuhan. dan sebagainya. sakit. Kristen. Dari dewa-dewa tersebut. batu. mereka banyak menggunakan media pelayanan sosial. Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin terhadap dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam apabila hendak bepergian jauh. dan sebagainya. dan sebagainya. suara burungburung tertentu. Dalam upaya Kristenisasi dan Katholikisasi terhadap Suku Dayak di pedalaman. Sedangkan kegiatan misionaris agama Kristen Katholik dan Kristen Protestan telah masuk ke pedalaman Kalimantan dan berjalan dengan gencar sejak abad ke-19. bantuan ekonomi. dan sebagainya. dibawa oleh kaum pendatang yang berasal dari daerah lain. Hal ini bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. Dengan keterbukaannya tersebut. Suku Dayak sangat terbuka dengan pengaruh budaya luar. tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia. Suku Dayak yang tinggal di daerah pesisir dan banyak berhubungan dengan para pendatang dari suku-suku lain. yang sebutannya berbeda-beda antara Sub suku Dayak satu dengan yang lainnya. terutama dalam merekrut generasi mudanya sehingga pada saat ini sebagian besar generasi muda Dayak telah memeluk agama Islam. ada ular yang melintas di depannya. termasuk di antaranya kehadiran agama-agama tradisi besar. masyarakat Dayak mempercayai banyak dewa di sekitar mereka.Menurut kepercayaan Kaharingan.

dan sebagainya. dan harus diluruskan sesuai dengan ajaran agama mereka. Hindu Dharma. Kedatangan agama-agama tradisi besar tersebut di atas ternyata juga membawa dampak buruk terhadap kehidupan orang-orang Suku Dayak. Ia akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Melayu Menurut pandangan mereka. Katholik. yaitu Islam. pemujaan roh nenek moyang yang telah meninggal. Kristen. penghormatan terhadap leluhur. hilang pula nilai-nilai dan normanorma yang terkandung di dalam tatanan masyarakat Dayak. Banyak upacara Suku Dayak yang berhubungan dengan upacara kematian. salah. Di satu pihak mereka harus memilih salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah. dan pemujaan alam lingkungan yang dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katholik. Seorang Dayak yang sudah menganut Islam akan merasa malu mengakui dirinya sebagai orang Dayak. khususnya dengan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Suku Bali sebagai penganut agama Hindu Dharma mayoritas di Indonesia. Hal ini dikarenakan agama-agama tradisi besar pada umumnya memandang kepercayaan-kepercayaan di luar mereka sebagai sesuatu yang eksotik. sementara di pihak lain ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionanis dan penyebar agama tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka. Hal ini mengakibatkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. Dengan hilangnya upacara-upacara tersebut. . Sementara itu keberadaan agama Kristen dan Katholik juga tidak mendukung pelestarian adat-istiadat dan tradisi Suku Dayak. rasa menghargai terhadap semua makhluk hidup yang ada di alam lingkungan.bertahan pada kepercayaan Kaharingan. orang Melayu dengan agama Islamnya identik dengan kemajuan dan kemoderenan. seperti upacara Tewah/Dalo. upacara penolak bala dan sebagainya. seperti pelestarian hutan. dan Budha. sedangkan orang Dayak dengan kepercayaan Kaharingan-nya identik dengan ketertinggalan dan kekolotan. Pada akhirnya para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu Dharma sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar antara keduanya. Pada jaman Orde Baru pemerintah memberlakukan lima agama besar yang resmi diakui di Indonesia.

Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam . yaitu dikubur di dalam tanah. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. disemayamkan di atas tanah atau diatas pohon di dalam hutan. pertemuan sungai. Panca Wali Krama. seperti upacara Tawur Agung. dan dikremasi. Sedangkan di Bali arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga). maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan. Di Bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam masih berjalan lestari sampai saat ini. dan sebagainya Setelah bergabung dengan agama Hindu Dharma. binatang. baik ke dalam tubuh manusia. Sedangkan Dayak Ngaju menguburkan jenazah di dalam tanah terlebih dahulu. hutan Manfaat dan arwah hutan nenek bagi moyang orang yang Dayak. atau bersemayam pada benda-benda mati.Persamaan antara kepercayaan Kaharingan dengan ajaran Hindu Dharma adalah sebagai berikut 1) Percaya Reinkarnasi. berkaitan dengan sumber mata pencaharian : hutan sebagai sumber kehidupan karena merupakan tempat untuk berburu binatang dan mencari makanan. yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu Dharma. 2) Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur. misalnya batu besar. b. atau disemayamkan di atas tanah. melindungi antara lain: a. dan sebagainya. setelah beberapa tahun kemudian digali kembali dan tulang-tulangnya dibakar. 3) Upacara yang berkaitan dengan pemujaan kepada lingkungan alam. Eka Dasa Rudra. Upacara ini mempunyai persamaan dengan di Bali. di mana jenazah orang yang meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah. yaitu percaya bahwa roh yang telah meninggal dapat lahir kembali. berkaitan dengan kepercayaan hutan sebagai tempat tinggal dewa penguasa manusia. puncak-puncak gunung. Lingkungan alam yang paling dekat dengan Suku Dayak adalah lingkungan hutan. tumbuhan. Orang-orang Dayak memiliki tradisi yang beraneka ragam dalam memperlakukan jenazah dengan tiga cara.

Pada saat ini mereka tengah memperjuangkan kepada pemerintah agar agama Hindu Kaharingan dapat diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah. Dari uraian di atas. di lain pihak menginginkan Hindu Kaharingan berdiri sebagai agama tersendiri. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan. terpisah dari agama Hindu Dharma. Namun tampaknya juga belum ada kesepakatan bersama dalam membentuk “PHDI Tandingan” ini. maka timbul perpecahan di antara umat Hindu Kaharingan. yaitu mengapa umat Hindu Kaharingan terpecah menjadi dua? Di satu pihak menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma. lepas dari agama Hindu Dharma. Pihak yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Sebagian lagi menyatakan bahwa Hindu Kaharingan sebagai agama yang berdiri sendiri. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di luar PHDI. sejajar dengan agama-agama lainnya. Di pihak lain. Hal ini terlihat dari beberapa nama majelis yang ditawarkan sebagai wadah umat Hindu Kaharingan. Kebijakan apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini? Antara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. antara lain BAKDI (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia) dan Majelis Hindu Kaharingan. dan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah. sebagian dari mereka menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. . Ketika kekuasaan Orde Baru runtuh dan bergulir semangat reformasi. dapat diketahui permasalahannya.agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di Indonesia. Sebagian dari mereka menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma dengan tetap mengakui PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu yang resmi diakui oleh pemerintah.

yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi. kelahiran. dan sebagainya. pandita. laut. perkawinan. upacara Rsi Yadnya. dan manusia dengan alam semesta. yaitu upacara yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran manusia d) Manusa Yadnya. Di samping konsep Panca Yadnya. yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan. sedangkan Bhuta Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta. Upacara adalah sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di dalam Tri Hita Karana tersebut.Konsep-Konsep Upacara dalam Ajaran Hindu Dharma Di dalam ajaran agama Hindu Dharma. seperti gunung. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan manusia. binatang dan tumbuhan. dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan manusia. Kelima manifestasinya kelompok (perwujudan hesar Tuhan dalam tersebut bentuk adalah: dewa-dewa). sungai. nabi atau kaum ulama. yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta. -------------. a) Dewa Yadnya. upacara-upacara keagamaan terbagi dalam lima kelompok besar. Dengan demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita Karana. atau sering disebut dengan Panca Yadnya. ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana. karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci kepada manusia c) Pitra Yadnya. Pitra Yadnya. yaitu makhluk halus.Suksma -------------- . dan kematian e) Bhuta Yadnya. manusia dengan manusia. seperti kehamilan. yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh b) Rsi Yadnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful