P. 1
Sarana Berpikir ilmiah

Sarana Berpikir ilmiah

|Views: 804|Likes:
Published by sudartoguntoro
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah diperlukan sarana berupa bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut pada orang lain
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah diperlukan sarana berupa bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut pada orang lain

More info:

Published by: sudartoguntoro on Apr 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN A.

Latar belakang masalah Perbedaan utama antara manusia dan binatang terletak pada kemampuan manusia meng ambil jalan melingkar dalam mencapai tujuannya. Seluruh pikiran binatang dipenuh i oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari objek yang diin ginkannya atau membuang benda yang menghalanginya. Misalnya seekor monyet yang menjangkau sia-sia benda yang dia inginkan; sedangkan manusia yang paling primit if pun telah tahu mempergunakan bandringan, laso atau melempar dengan batu. ) Ma nusia sering disebut Homo Faber; makhluk yang membuat alat, kemampuan membuat al at dimungkinkan oleh pengetahuan. Berkembangnya pengetahuan juga memerlukan alat -alat. Dalam usaha kegiatan ilmiah diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana terse but memungkinkan dilakukannya penelitian ilmiah secara teratur dan cermat. Pengu asaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bag i seorang ilmuwan. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegi atan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu bi asanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Salah satu sebab sarana merupakan a lat yang membantu kita didalam mencapai suatu tujuan tertentu; dengan kata lain sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kegiatan ilmiah secara men yeluruh. Sarana berfikir ilmiah dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi ters endiri. Dalam hal ini kita harus memperhatikan dua hal. Pertama, sarana ilmiah b ukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yan g memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal in i sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk me ngembangkan materi pengetahuannya berdaarkan metode ilmiah. Kesimpulannya fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah dan bukan merupaka n ilmu itu sendiri. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah diperlukan sarana berupa bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh berpikir ilmi ah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut pada orang lain. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik haru s didukung oleh penguasaan sarana berpikir dengan baik pula. Karena kegiatan kei lmuan tidak mencapai taraf yang memuaskan sekiranya berpikir ilmiahnya memang ku rang dikuasai. Bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan penalaran yang cermat tanpa menguasai struktur bahasa yang tepat. B. 1. 2. 3. 4. 5. Rumusan Masalah Bagaimana konsep bahasa sebagai sarana berfikir ilmiah ? Apa yang dimaksud dengan berpikir ilmiah ? Apakah sebenarnya bahasa ? Apa fungsi bahasa bagi manusia ? Apa kekurangan bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah ?

2 C.

Tujuan

Dalam penulisan makalah ini diharapkan dapat : 1. Memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa dan pembaca pada umumnya. 2. Memahami konsep bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah 3. Mengerti dan memahami pengertian, fungsi dan kekurangan bahsasa sebagai

sarana berpikir ilmiah

3 PEMBAHASAN A. Konsep Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melaink an terletak pada kemampuannya berbahasa. Ernst Cassiret menyebut manusia sebagai Animal Symbolicum, yaitu makhluk yang mempergunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan luas daripada Homo Sapiens yakni makhluk yang berpikir, sebab berpikirnya manusia menggunakan simbol ). Tanpa mempunyai kemampuan berbahasa m aka kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakuka n dan juga manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya sebab tanpa mempunyai bahasa maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari s atu generasi ke generasi selanjutnya. Simpul Aldous Huxley, ”Tanpa bahasa,” manusia tak berbeda dengan anjing atau monyet.” ) Manusia dapat berpikir dengan baik karena dia mempunyai bahasa. Tanpa bahasa man usia tidak dapat berpikir rumit dan abstrak seperti yang kita lakukan dalam kegi atan ilmiah juga tanpa bahasa manusia tidak dapat mengkomunikasikan pengetahuan kita kepada orang lain. Berpikir abstrak yang dimaksud adalah dimana obyek-obyek yang faktual di transformasikan menjadi simbol bahasa yang bersifat abstrak. Ad anya simbol yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia untuk memikirkan sesu atu secara berlanjut. Demikian juga bahasa memberikan kemampuan untuk berpikir t eratur dan sistematis yang diwujudkan lewat perbendaharaan kata-kata yang dirang kaikan oleh tata bahasa untuk mengemukakan jalan pemikiran atau ekspresi perasaa n. Kedua asapek bahasa ini yakni informatif dan emotif tercermin dalam bahasa ya ng kita gunakan. Artinya kalau kita berbicara maka hakekatnya informasi yang kit a sampaikan mengandung unsur-unsur emotif, demikian juga kalau kita menyampaikan perasaan maka ekspresi itu mengandung unsur-unsur informatif, misalnya musik da pat dianggap sebagai bentuk dari bahasa, dimana emosi terbebas dari informasi, s edangkan buku telepon memberikan kita informasi tanpa emosi”. ) Kalau kita telaah lebih lanjut, bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan, da n sikap. B. Berpikir Ilmiah 1. Pengertian Berfikir. Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep di d alam diri seseorang (Bochenski, dalam Suriasumantri, 1983:52). Menurut Solso (19

98, dalam khodijah, 2006:117) berfikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komple k. Berdasarkan definisi di atas, berfikir adalah kemampuan pemikiran seseorang yang dapat melahirkan ide-ide dan konsep-konsep, sehingga ide dan konsep tersebut da pat dipindahkan dari satu orang ke orang lainnya guna pemecahan masalah, sehingg a orang yang berfikir tersebut mendapatkan pengetahuan baru yang berguna bagi di rinya. Berfikir juga berarti berupaya secara mental untuk memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Di dalam berfiki r juga termuat kegiatan saat seseorang dalam kondisi sedang meragukan sesuatu, m emastikan, merancang, menghitung, mengevaluasi, membandingkan, menggolongkan, me mbedakan, menghubungkan, dan menafsirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada serta menarik kesimpulan. Berfikir ialah mengelola, memproses, dan menyusun serta mentransformasi informa si secara kognitif di dalam memori otak manusia. Berfikir sering dilakukan manus ia dengan tujuan menghasilkan konsep, logika dan membuat keputusan guna memecahk an masalah. Berfikir akan menghasilkan penalaran yaitu sebuah konsep yang logis dan sistematis untuk mendapatkan kesimpulan, baik kesimpulan induktif maupun kes impulan deduktif. Kesimpulan induktif ialah hasil pemikiran yang dimulai dari ha l-hal khusus menjadi kesimpulan yang berlaku umum. Sedangkan kesimpulan deduktif ialah hasil pemikiran dari yang umum hingga menuju ke hal-hal khusus. Menurut Suharnan (2005:281) Berfikir dapat diartikan sebagai proses menghasilkan reprensentasi mental yang baru melalui transformasi informasi yang melibatkan i nteraksi secara komplek antara atribu-atribut mental, seperti penilaian, abstrak si, penalaran, imajinasi, dan pemecahan masalah. Proses berfikir ini akan mengha silkan informasi baru. Taylor (dalam Suharnan, 2005) mendefinisikan berfikir sebagai proses penarikan k esimpulan. Berfikir dilakukan untuk menghadapi dan memahami realitas dengan mena rik kesimpulan dan meneliti berbagai penjelasan dari realitas internal dan ekste rnal. Biasanya kegiatan berfikir dimulai ketika muncul keraguan dan pertanyaan untuk d ijawab atau berhadapan dengan persoalan atau masalah yang memerlukan pemecahan. Kegiatan berfikir juga dirangsang oleh kekaguman dan keheranan dengan apa yang t erjadi atau apa yang dialami. Dengan demikian kegiatan berfikir manusia selalu t ersituasikan dalam kondisi konkret subjek yang bersangkutan Perbedaan dalam cara berfikir dan memcahkan masalah merupakan hal yang penting d an nyata. Perbedaan itu mungkin disebabkan oleh faktor pembawaan sejak lahir dan sebagian lagi berhubungan dengan taraf kecerdasan seseorang. Namun, jelas bahwa proses kesuluruhan dari pendidikan formal dan pendidikan informal sangat mempen garuhi gaya berfikir seseorang dan mempengaruhi pula mutu pemikirannya. 6 Berfikir ialah memproses informasi secara kognitif guna menyusun ulang informasi dari internal dan eksternal. Menurut Nyayu Khadijah (2009:130) Ada tiga pandang an dasar tentang berfikir yaitu : 1. Berfikir adalah proses kognitif yang timbul dalam pikiran secara interna l dan hasilnya dapat berupa perilaku. 2. Berfikir merupakan proses memanipulasi pengetahuan yang ada dalam memori otak manusia. 3. Berfikir akan menghasilkan pemikiran yang dapat membantu manusia memecah kan masalah dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi. Screven and Paul (1996) berfikir kritis sebagai proses disiplin cerdas dari kons eptualisasi penerapan, analisis, sintesis, evaluasi aktif dan berketrampilan yan g dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh, observasi, pengalaman, refleksi, penalaran atau komunikasi seba gai penuntun menuju kepercayaan dan aksi. Berfikir kritis juga telah didefinisik an sebagai berfikir yang memiliki maksud, masuk akal dan berorientasi pada tujua n serta kecakapan untuk menganalisis informasi dan ide-ide secara logis dari ber bagai macam perspektif. 2. Ilmiah

Ilmiah yang dimaksud adalah kegiatan yang didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, ya itu rasional, empiris dan sistematis. Rasional artinya kegiatan itu dilakukan de ngan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empi ris berarti cara-cara yang dilakukan dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematika artinya proses yang digunakan menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifa t logis walaupun langkahnya mungkin berbeda. Kesimpulan berpikir ilmiah adalah kegiatan berpikir yang didasarkan pada ciri-ci ri keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis untuk melahirkan ide-ide dan konsep-konsep, sehingga ide dan konsep tersebut dapat dipindahkan dari satu orang ke orang lainnya guna pemecahan masalah, sehingga orang yang berfikir tersebut mendapatkan pengetahuan baru yang berguna bagi dirinya. 7 D. Bahasa Pertama-tama, bahasa kita cirikan sebagai serangkaian bunyi. Dalam hal ini buny i sebagai alat komunikasi yang paling utama selain memakai berbagai isyarat. Kom unikasi dengan bunyi dikatakan juga sebagai komunikasi verbal, dan manusia yang bermasyarakat dengan alat komunikasi bunyi disebut juga sebagai masyarakat verba l. Kedua, bahasa merupakan lambang dimana rangkaian bunyi membentuk suatu arti tert entu yang kita kenal dengan kata melambangkan suatu obyek tertentu, umpamanya gu nung atau seekor burung merpati. Perkataan gunung dan burung merpati sebenarnya merupakan lambang yang kita berikan kepada kedua obyek tersebut. Manusia mengump ulkan lambang-lambang ini dan menyusun yang disebut perbendaharaan kata-kata yan g merupakan akumulasi pengalaman dan pemikiran. Artinya dengan perbendaharaan ka ta-kata yang mereka punyai maka manusia dapat mengkomunikasikan segenap pengala man dan pemikiran mereka. Inilah yang menyebabkan bahasa terus berkembang seirin g dengan pengalaman dan pemikiran manusia yang diperkaya oleh seluruh la pisan masyarakat yang mempergunakan bahasa; para ilmuwan, pendidik, ahli politik , remaja dan bahkan tukang copet. Adanya lambang-lambang ini memungkinkan manus ia dapat berpikir dan belajar lebih baik. Manusia dengan kemampuannya berbahasa memungkinkan untuk memikirkan sesuatu masalah secara terus menerus. Berbeda deng an binatang karena mereka tidak mempunyai bahasa seperti yang kita punyai maka mereka baru bisa berpikir jika obyek itu berada di depan matanya. Jika seekor tikus melihat makanan di atas meja baru dia mulai berpikir, apakah d ia akan mencoba mengambil makanan atau tidak, jika ya lalu bagaimana caranya. P erbedaan pendidikan manusia dan binatang terutama terletak dalam tujuannya; manu sia belajar agar berbudaya sedangkan binatang belajar untuk mempertahankan jenis nya. Jadi dengan bahasa manusia dapat berpikir secara 8 teratur namun juga dapat mengkomunikasikan apa yang sedang dia pikirkan kepada orang lain. Bukan itu saja, dengan bahasa kita dapat mengekspresikan sikap dan p erasaan kita. Lewat seni suara manusia akan mengekspresikan perasaannya, kedukaa n, dan kesukaan lewat liku nada kata-kata. Dengan bahasa manusia hidup dalam dun ia yakni dunia pengalaman yang nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan b ahasa. Lewat bahasa manusia menyusun sendi-sendi yang membuka rahasia alam dalam berbagai teori seperti elektronika, relativitas, dan quantum.”Pengetahuan adalah kekuasaan,” dan dengan kekuasaan manusia mencoba mengerti hidupnya. Kejadian sehar i-hari yang penuh dengan ketawa dan air mata, kelahiran dan kematian, pertemuan dan perpisahan, semuanya dirangkainya dengan bahasa menjadi sesuatu yang koheren dan mempunyai arti. Dengan ini manusia memberi arti kepada hidupnya. Dari katakata lalu mempunyai arti bahkan kekuatan. Kekuatan dalam mantera jampi-jampi, ke percayaan, dan keayakinan moral. Kekutan yang memberi dorongan dan arah dalam b erkehidupan. Atau kita memadukannya dengan seni suara, dimana kita menyanyi, men angisi, dan merayakan hidup kita lewat kata-kata. Bulan hanyalah tumpukan gersan g, manusia hanyalah tumpukan daging dan tulang. Kemanusiaan tak lagi punya peras aan. Pengetahuan dan perasaan sama pentingnya dalam kehidupan individual dan mas yarakat,”ujar Bertrand Russel”....dunia tanpa kesukaan dan kemesraan adalah dunia ta

npa nilai. E. Fungsi Bahasa

Menurut Kneller bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif , dan afektif . ) Fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah, sedangkan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi estetik. Dalam komunikasi ilmi ah proses komunikasi harus terbebas dari unsur emotif agar pesan yang disampaik an bisa diterima secara reproduktif, artinya identik dengan pesan yang dikirimka n. Namun dalam prakteknya hal ini sukar dilaksanakan kecuali informasi yang terd apat dalam buku telepon inilah yang menjadi salah satu kelemahan bahasa sebagai sarana komunikasi ilmiah dimana menurut Kemeny bahasa mempunyai kecenderungan em osional. ) Komunikasi ilmiah mengisyaratkan bentuk komunikasi yang sangat lain dengan komun ikasi estetik. Komunikasi ilmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi yang ber ujud pengetahuan. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bila si pengirim komunikasi menyampaikan suatu informasi katkanlah x, maka si penerima k omunikasi harus menerima informasi x pula.Informasi x yang diterima harus merupa kan reproduksi yang benar-benar sama dari informasi x yang dikirimkan. Hal ini d imaksudkan untuk menghindari salah informasi, yakni suatu proses komunikasi yang mengakibatkan penyampaian informasi yang tidak sesuai dengan apa yang dimaksudk an,dimana suatu informasi yang berbeda akan menghasilkan proses berfikir yang be rbeda pula. Oleh sebab itu maka proses komunuikasi ilmiah harus bersifat jelas d an obyektif yakni terbebas dari unsur-unsur emotif. Berbahasa dengan jelas artinya ialah bahwa makna yang terkandung dalam kata-kata yang dipergunakan diungkapkan secara ekplisit untuk mencegah pemberian makna ya ng lain. Berbahasa yang jelas artinya juga mengemukakan pendapat atau jalan pemi kiran yang jelas. Kalau kita teliti lebih lanjut kalimat dalam karya ilmiah pada dasarnya merupakan suatu pernyataan. Kalimat seperti ” Logam jika dipanaskan akan memanjang” pada hakekatnya suatu pernyataan yang mengandung pengetahuan tentang h ubungan sebab akibat. Untuk mampu mengkomunikasikan suatu pernyataan dengan jela s maka seseorang harus menguasai tata bahasa yang baik. Menurut Charlton Laird, tata bahasa merupakan alat dalam mempergunakan aspek logis dan kreatif dari piki ran untuk mengungkapkan arti dan emosi dengan mempergunakan aturan-aturan terten tu. Karya ilmiah juga mempunyai gaya penulisan yang pada hakekatnya usaha un tuk mencoba menghindari kecenderungan yang bersifat emosional bagi kegiatan seni , namun merupakan kerugian bagi kegiatan ilmiah. F. Kekurangan Bahasa

Kekurangan bahasa hakekatnya, Pertama terletak pada peranan bahasa itu sendiri y ang bersifat multifungsi yakni sebagai sarana komunikasi emotif, afektif, dan si mbolik. Kita tidak bisa menggunakan salah satu fungsi saja untuk mengkomunikasik an informasi tanpa kaitan emotif dan afektif karena bahasa ilmiah harus bersifa t objektif tanpa mengandung emosi dan sikap atau dengan perkataan lain harus be rsifat antiseptik, dan reproduktif. Kekurangan kedua, terletak pada arti yang tidak jelas dan eksak yang dik andung oleh kata-kata yang membangun bahasa. Misalnya kata ”cinta” sering digunakan dalam lingkup yang luas umpamanya dalam hubungan ibu dan anak, ayah dan anak, ka kek nenek, dua orang kekasih, perasaan pada tanah air dan ikatan pada rasa keman usiaan yang besar. Kelemahan ketiga, terletak pada sifat majemuk (pluralistik) dari bahasa. Sebuah kata kadang mempunyai lebih dari satu arti yang berbeda,misalnya kata Ilusi dala m Kamus Bahasa Indonesia mempunyai arti angan; khayal; 1: sesuatu yang memperday a pikiran dengan memberikan kesan yang palsu; 2: gagasan yang keliru; suatu kepe rcayaan yang tidak berdasar; keadaan pikiran yang memperdaya seseorang. 11 Kelemahan keempat, bahasa sering bersifat berputar-putar (sirkular) dalam memper gunakan kata-kata terutama dalam memberikan definisi. Umpamanya kata ”pengelolaan” d

idefinisikan sebagai ”kegiatan yang dilakukan dalam sebuah organisasi”. Sedangkan ”org anisasi” didefinisikan sebagai ”suatu bentuk kerja sama yang merupakan wadah dari ke giatan pengelolaan”.

12 PENUTUP A. Kesimpulan Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah diperlukan sarana berupa bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh berpikir ilmi ah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut pada orang lain. Berpikir ilmiah adalah kegiatan berpikir yang didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis untuk melahirkan ide-ide dan konsep-konsep, sehingga ide dan konsep tersebut da pat dipindahkan dari satu orang ke orang lainnya guna pemecahan masalah, sehingg a orang yang berfikir tersebut mendapatkan pengetahuan baru yang berguna bagi di rinya. Pertama-tama, bahasa kita cirikan sebagai serangkaian bunyi. Dalam hal ini buny i sebagai alat komunikasi yang paling utama selain memakai berbagai isyarat, bah asa merupakan lambang dimana rangkaian bunyi membentuk suatu arti tertentu yang kita kenal dengan kata melambangkan suatu obyek tertentu. Bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif, dan afektif. F ungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah, sedangkan fungsi em otif menonjol dalam komunikasi estetik. Dalam komunikasi ilmiah proses komunikas i harus terbebas dari unsur emotif agar pesan yang disampaikan bisa diterima se cara reproduktif, artinya identik dengan pesan yang dikirimkan. Kekurangan bahas a hakekatnya terletak pada : 1. peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multifungsi yakni sebagai saran a komunikasi emotif, afektif, dan simbolik. 2. arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang memba ngun bahasa, 3. sifat majemuk (pluralistik) dari bahasa, dan 4. sering bersifat berputar-putar (sirkular) dalam mempergunakan kata-kata terutama dalam memberikan definisi 13 B. Saran

Tanpa bahasa manusia tidak dapat berpikir rumit dan abstrak seperti yang kita la kukan dalam kegiatan ilmiah juga tanpa bahasa manusia tidak dapat mengkomunikasi kan pengetahuan kita kepada orang lain. Karena bahasa merupakan salah satu saran a ilmiah maka didalam penulisan karya ilmiah harus menggunakan bahasa, perbendah araan kata, struktur dan tata bahasa yang baik sesuai aturan- aturan atau kaidah penulisan karya ilmiah.

14 DAFTAR PUSTAKA Philip E.B Jourdin, “The Nature Of Mathematics”, TheWord Of Mathematics; vol , l , ed. by James R Newman ( New York; Simon & Schuster, 1956, hlm. 9 . Dalam Filsa fat Ilmu sebuah Pengantar Popular,ed. Jujun S. Suriasumantri, 2007, Jakarta: P T.Pancaranintan Indahgraha, hlm 165 Ernst Cassiret, An Essay on Man ( New Heaven: Yale University Press,1994). Dalam Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Popular,ed. Jujun S. Suriasumantri, 2007, Jaka rta: PT.Pancaranintan Indahgraha, hlm 171 Aldous Huxley,”Word and Their Meaning”. The Importance of Language, ed. Max Black (E nglewood Cliffs, N.J.:Prentice Hall, 1962),hlm.5. Dalam Filsafat Ilmu sebuah Pen gantar Popular, ed. Jujun S. Suriasumantri, 2007, Jakarta: PT.Pancaranintan In dahgraha, hlm 171 Betrand Russel, Human Knowledge: Its Scope and Limits (New York: Simon and Schu ster,1984), hlm 59. Dalam Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Popular,ed. Jujun S. Suriasumantri, 2007, Jakarta: PT.Pancaranintan Indahgraha, hlm. 173. George F. Kneller, Introduction to the Philosophy of Education (New York: John Wiley,1964), hlm. 28. Dalam Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Popular,ed. Jujun S . Suriasumantri, 2007, Jakarta: PT.Pancaranintan Indahgraha. hlm. 175. John G. Kemeny, A Philosophy Looks at Science (New York: Van Nostrand, 1959), hl m 5. Dalam Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Popular,ed. Jujun S. Suriasumantri, 2007, Jakarta: PT.Pancaranintan Indahgraha, hlm 175 Suriasumatri, S, Jujun, 2007, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Popular, Jakarta : PT.Pancaranintan Indahgraha Khadijah, Nyayu, 2009, Psikologi Pendidikan, Palembang: Grafika Telindo Press

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->