TUGAS MPA PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN LINGKUNGAN PADA PROGRAM GERAKAN TERPADU PENGENTASAN KEMISKINAN (GERDU-TASKIN) DI DESA

BARENGKRAJAN

OLEH : Alfianto Pranata Novia Eltaria Rizki Previanti Raizah Ainurrachma (074674006) (074674012) (074674024) (074674034)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN PMP-KN PRODI S1-ADMINISTRASI NEGARA 2010

program-program . politik. karena dengan penghasilan yang rendah tidak mampu mengakses sarana pendidikan. (Wikipedia Indonesia. Indonesia berada pada tingkat menengah dalam pembangunan manusia global (medium Human Development) dengan peringkat ke-110 dari 177 Negara. Kondisi ini menyebabkan menurunnya kualitas sumber daya manusia sehingga produktivitas dan pendapatan yang diperolehnya rendah. Kemiskinan muncul karena ketidakmampuan sebagian masyarakat untuk menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi. Thailand dan Filipina. sosial budaya maupun psikologi sehingga semakin tidak mampu mendapatkan kesempatan yang baik dalam sistem ekonomi masyarakat. Selain itu. Dalam proses ini tidak dapat dihindari semakin meluasnya kesenjangan antar kelompok. Dalam laporan pembangunan manusia (Human development Report 2005) yang terbaru. kesehatan dan nutrisi secara baik sehingga menyebabkan kualitas sumber daya manusia dari aspek intelektual dan fisik rendah. terutama kesenjangan Indek Pembangunan Manusia (IPM) yang mencakup tentang masalah kemiskinan. Negara Indonesia yang pada saat ini masih berada pada tahap pemulihan restrukturisasi di bidang ekonomi dan juga perubahan-perubahan di bidang sosial politik.BAB I PENDAHULUAN Kemiskinan merupakan fenomena yang terjadi hampir di semua negara sedang berkembang. Lingkaran kemiskinan terus terjadi. 2005) Sejak awal kemerdekaan Bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. yang akhirnya berakibat pada rendahnya produktivitas. pencapaian pembangunan manusia di indonesia masih tertinggal dengan Negara-negara tetangga di ASEAN seperti Malaysia. juga antar daerah yang kaya dan daerah miskin. sebagaimana termuat dalam alenia ke empat Undang-Undang Dasar 1945. rendahnya kualitas sumber daya manusia menyebabkan kelompok ini tersisih dari persaingan ekonomi. Dengan melihat dari sisi Negara berkembang salah satunya adalah Negara Indonesia.

karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Sementara itu program kompensasi atau “compensatory programs” lebih bersifat jangka pendek. Oleh karena itu. seperti pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). semata-mata karena adanya program penyesuaian struktural ekonomi.yang dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya pengentasan kemiskinan. program pengentasan kemiskinan tidak harus sejajar atau diadakan. Gerdu Taskin merupakan program pengentasan kemiskinan yang terpadu dan menyeluruh yang dilakukan oleh Pemerintah. dalam konteks internasional dikenal sebagai “social safety net” (jaring pengaman sosial /JPS) dan “compensatory programs”. masyarakat yang terkena akibat langsung dari adanya kenaikan (penyesuaian) harga bahan bakar minyak (BBM). Pada prinsipnya program JPS bertujuan untuk membantu penduduk miskin agar tidak menjadi sangat terpuruk dan agar dapat hidup layak. Berdasarkan konsep pemikiran di atas. Program JPS merupakan suatu upaya khusus untuk menanggulangi kondisi sosial ekonomi masyarakat agar tidak semakin terpuruk Atau dengan kata lain program JPS dilaksanakan untuk memutar kembali roda perekonomian rakyat melalui tahapan “penyelamatan” (rescue). Meskipun demikian. Untuk memberdayakan masyarakat miskin. lembaga swadaya dan organisasi . Berbagai program pengentasan kemiskinan yang telah direncanakan oleh pemerintah tersebut. Kantor Menteri Kesra dan Taskin mengembangkan dan mencanangkan suatu program yang disebut “Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan” (Gerdu Takin). yang sekaligus dipadukan dengan program pengentasan kemiskinan atau “poverty ellevation”. Sedangkan program pengentasan kemiskinan merupakan program jangka panjang yang dilakukan secara berkesinambungan oleh pemerintah. yang sifatnya mendesak dan harus ditangani secepat mungkin dan tahapan “pemulihan” (recovery). dan bertujuan untuk menolong penduduk yang terkena dampak sementara akibat kebijaksanaan penyesuaian struktural ekonomi. Kedua tahapan ini merupakan strategi pelaksanaan Program JPS menuju pada tingkat pembangunaan dan pertumbuhan ekonomi yang normal. dan sebagainya. masalah kemiskinan sampai saat ini terus menerus menjadi masalah yang berkepanjangan. kalangan swasta.

267. dan kegiatan yang mempunyai dampak langsung terhadap perubahan positif pada faktor-faktor penyebab kemiskinan tersebut di atas. peraturan-peraturan dan produk hukum lainnya. Yaitu penelitian yang menggambarkan suatu gejala social yang ada. Metode penelitianyang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. proyek. Surat Gubernur Jatim No. Sebagai upaya mempercepat penurunan angka kemiskinan tersebut dan mengacu pada Surat Menko Kesra dan Taskin No. Tujuan dan sasaran ini ditindak lanjuti dengan berbagai perangkat dan strategi. mengatur.460/148/201. Jenis penelitian kualitatif disini memberikan informasi yang mutakhir sehingga bermanfaat dan dapat diterapkan pada masyarakat. penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi berlangsung.363 Rumah Tangga Mskin (RTM) yang diklasifikasikan dalam RTM sangat miskin dan RTM miskin. Pengumpulan data secara observasi dipilih peneliti untuk memperoleh informasi dan gambaran yang lebih jelas tentang permasalahan yang diteliti dilapangan.kemasyarakatan (LSOM).460/97/68/031/1998 tentang Gerdu Taskin Propinsi Daerah TK. Berdasarkan Pendataan Kemiskinan dengan Indikator Baru (PKIB) tahun 2001 jumlah penduduk miskin Jatim sebanyak 7.187/Menko/Kesra/VIII/1999 tentang Percepatan Taskin. Jenis penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. seperti kebijaksanaan. dimana . I Jatim serta Surat Wagub Jatim No. atau memanipulasikannya. Sedangkan teknik wawancara yang dipilih peneliti adalah teknik wawancara tak berstruktur. sehingga kondisi kesejahteraan penduduk target program yang lebih baik dapat dicapai.196.093 juwa atau 2. Atau dengan kata lain. program. yang dilakukan secara sistematis tanpa usaha yang sengaja untuk mempengaruhi. masyarakat luas dan keluarga miskin itu sendiri. Keunggulan program Gerdu Taskin ini adalah “keterpaduan tujuan dan sasaran” untuk menanggulangi sebab-sebab terjadinya kemiskinan. maka pemerintah Propinsi Jatim memprioritaskan program Gerdu Taskin ini diantara lima program pengungkit yang diterapkan oleh RENSTA Propinsi Jatim tahun 2001-2005.4/20001 tentang pelaksanaan program Gardu Taskin Tahun 2001.

. Data yang didapatkan kemudian dihimpun serta disusun kemudian dianalisa.proses wawancara yang dilakukan lebih bersifat bebas tanpa terpaku pada daftar pertanyaan. Setelah data dianalisa secara denkriptif dengan menggunakan metode penelitian yang dipilih. sehingga dengan demikian dapat ditarik kesimpulan dan saran sesuai dengan permasalahan. kemudian dihubengkan dengan kasus yang sedang dibahas.

(3) resiko keamanan dan kerawanan kehidupan social ekonomi dan lingkungannya. karena formulas dari para ahli dan penelitian dipengaruhi oleh focus kajian masing-masing. dan (5) kekurangan dalam kehidupan social yang dapat ditunjukkan oleh ketersisihan social. 2005). dan kualitas pendidikan yang rendah (Wikipedia ensiklopedia bebas) Maxwell (2007) menggunakan istilah kemiskinan untuk menggambarkan keterbatasan pendapatan dan konsumsi.BAB II KERANGKA TEORI A. a. Specker (1993) menyatakan bahwa kemiskinan mencakup (1) kekurangan fasilitas fisik bagi kehidupan yan normal. Teori Kemiskinan Kemiskinan adalah konsep yang abstrak yang dapat dijelaskan secara berbeda tergantung dari pengalaman. perspektif. Definisi Kemiskinan Untuk merumuskan suatu definisi kemiskinan dari sejumlah pandangan dan pendekatan yang dinamis memang tidak mudah. Landasan Teori Kebijakan Program Gerdu-Taskin 1. . Bila semua pengertian kemiskinan hanya ditekankan pada kurangnya pemilikan materi atau ketidakcukupan pendekatan untuk memenuhi kebutuhan dasar. maka kini kemiskinan telah mengalami perluasan arti dengan menyentuh posisi individu dalam proses-proses perubahan social ekonomi serta akses dalam dunia politik. (2) gangguan dan tinginya resiko kesehatan. Pendekatan dalam memahami kemiskinan sangat banyak mengaami kemajuan. ketersisihan dalam proses poitik. sudut pandang atau ideology yang dianut (Darwin. (4) kekurangan pendapatan yang mengakibatkan tidak bisi hidup layak.

budaya. kurangnya kemampuan dan ketidakberfungsian fisik untuk bekerja. 2005). yaitu seseorang dikatakan miskin apabila tingkat pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan. perkiraan tentang garis kemiskinan ini ditentukan melalui perhitungan kebutuhan minimum . Bappenas dalam dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan juga mendefinisikan masalah kemiskinan bukan hanya diukur dari pendapatan. dan adanya penghormatan. 19). dinyatakan dengan konsep penduduk yang berpenghasilan rata-rata per hari Rp20. pp. keadaan yang menderita karena sakit. tidak terpenuhinya kebutuhan dasar. Oleh karena itu. strategi dan kebijakan yang dirumuskan dalam strategi nasional pengentasan kemiskinan didasarkan atas pendekatan berbasis hak (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. kerentanan (dalam menghadapi perubahan politik dan ekonomi). tetapi juga masalah kerentanan dan kerawanan orang atau sekelompok orang. baik laki-laki maupun perempuan untuk menjadi miskin. sehingga pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. perlindungan dan pemenuhan hak-hak mereka. ketersingkiran sosial.00.keterbelakangan derajat dan martabat manusia. yaitu hak sosial. Masalah kemiskinan juga menyangkut tidak terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat miskin untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan bermartabat. dan adanya perampasan relatif(relative deprivation). menurut World Bank (2009. Badan Pusat Statistik (BPS) membedakan ada dua kelompok yaitu penduduk miskin dan sangat miskin. Ukuran Kemiskinan Pada studi ini yang dimaksud dengan kemiskinan adalah kemiskinan absolut. tiadanya keberlanjutan sumber kehidupan. Di Indonesia. Pemecahan masalah kemiskinan perlu didasarkan pada pemahaman suara masyarakat miskin. b.600. ekonomi dan politik. Ukuran kemiskinan.

seperti yang tertuang dalam UU 32 Tahun 2004 yaitu Otonomi daera diarahkan untuk meningkatkan Pemberdayaan kesejahteraan masyarakat melalui : Pelayanan. kepedulian terhadap sesama dan partisipasi kelompok. Pemberdayaan dan Pembangunan. yang mana melalui proses ini mereka yang tidak memiliki akses akan keadilan alokasi sumberdaya. Propinsi dan Kabupaten/kota uantuk melakukan kebijakan yang berpihak pada masyrakat terutama Pemerintah Kabupaten/Kota didalam mengimplementasikan tugasnya dan tugas Pemerintah Daerah adalah sebagai Pelayan. . BPS menghitung atas dasar jumlah pengeluaran (proksi pendapatan) per kapita menetapkan angka kebutuhan minimum bagi makanan 2100 kalori per hari ditambah dengan pengeluaran minimal untuk kebutuhan pokok lainnya seperti perumahan. memiliki prinsip saling menghormati. 2.atau kebutuhan dasar. pemberdayaan masyarakat didefinisikan sebagai suatu proses yang sedang dan terus berlangsung secara sengaja dan berpusat pada masyarakat lokal yang berpikir kritis. p. pendidikan. Menurut Cornell Empowerment Group. Masyarakat dan Peningkatan daya saing daerah. Kebutuhan minimum bukan makanan ini berbeda antara penduduk kota dan penduduk di daerah pedesaan. 1995.570). Teori Pemberdayaan Kemiskinan diakibatkan oleh kondisi masyarakat yang tidak berdaya dalam menghadapi kompetisi untuk melangsungkan kehidupan. pemeliharaan kesehatan dan barang tahan lama. Oleh sebab itu dituntut Pemerintah dalam menjalankan tugasnya harus berpihak pada masyarakat dan memang sudah merupakan kewajiban dari Pusat. pakaian. Kebijakan pemerintah dalam rangka mengurangi Kemiskinan diantaranya melalui Pemberdayaan Masyarakat yang sasarannya adalah masyarakat miskin. memiliki akses dan kendali akan sumberdaya tersebut (Perkins and Zimmerman.

Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu dengan mendorong. Dalam proses pemberdayaan harus dicegah yang lemah menjadi semakin lemah. rumah tangga menjadi faktor utama yang amat penting . Rumah tangga disini dapat diartikan sebagai sekelompok penduduk yang hidup dibawah satu atap. maing-masing rumah tangga membentuk pemerintahan dan ekonomi dalam bentuk miniature (Pranarka dalam Priyono. 1998. dan bersama-sama terlibat dalam proses pembuatan keputusan sehari-hari. 3) Memberdayakan mengandung arti melindungi.a. Pemberdayaan Keluarga Miskin Dalam mengkaji pemberdayaan. memberikan motivasi. yaitu ekonomi usaha kecil . Secara khusus perhatian harus diberikan dengan keberpihakan melalui pembangunan ekonomi rakyat. Sebagai unit dasar dari masyarakat sipil. dan menciptakan kebersamaan serta kemitraan antara yang sudah maju dan yang belum maju/berkembang. makan dari panci yang sama. 1995: 4) yaitu: 1) Menciptakan iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang. 2) Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering). Pada dasarnya. rumah tangga merupakan suatu unit yang proaktif dan produktif. Dalam rangka ini diperlukan langkah-langkah yang lebih positif dan nyata. Titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia dan masyarakat memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan. penyediaan berbagai masukan (input). serta pembukaan akses ke berbagai peluang yang akan membuat masyarakat menjadi makin berdaya dalam memanfaatkan peluang. Upaya pemberdayaan dapat juga dilakukan melalui 3 (tiga) jurusan (Kartasasmita. 61). dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkan.

Model Implementasi Kebijakan Model implementasi kebijakan yang digunakan dalam studi kali ini adalah mengunakan model implementasi kebijakan menurut George C. Oleh karena itu implementasi kebijakan merupakan aspek yang penting dari keseluruhan proses kebijakan. a. Pada pengertian diatas. agar tidak makin tertinggal jauh. Teori Implementasi Kebijakan Menurut Van Metter & Van Horn. melainkan justru dapat memanfaatkan momentum globalisasi bagi pertumbuhannya. baik yang diharapkan (intended) maupun yang tak diharapkan (spillover/negative effects). ia menyangkut masalah konflik. Landasan Teori yang Berisi Indikator Kinerja Kebijakan/Program 1. Edward III. yaitu : .termasuk koperasi. keputusan dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan (Grindle. Implementasi kebijakan sesungguhnya bukan sekedar bersangkut-paut dengan mekanisme penjabaran-penjabaran keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin melalui saluransaluran birokrasi. Dalam model ini. melainkan lebih dari itu. ekonomi dan social yang langsung maupun tak langsung dapat mempengaruhi perilaku dari semua pihak yang terlibat dan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap dampak. B. Edward menggunakan 2 pertanyaan yang digunakan sebagai acuan .1980). Selain itu. implementasi kebijakan diartikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan oleh kelompokkelompok pemerintah maupun swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. implementasi kebijakan juga menyangkut jaringan kekuatan-kekuatan poitik. apapun yang dilakukan pemerintah dalam mencapai suatu tujuan program atau kebijakan itulah yang dinamakan implementasi kebijakan.

Berikut adalah keempat varibel yang dimaksud : 1) Komunikasi Suatu Implementasi kebijakan akan berjalan efektif apabila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan kebijakan dipahami oleh individu-individu yang bertanggungjawab dalam pencapaian tujuan kebijakan. . sumber adalah pihak yang menciptakan pesan. Kejelasan ukuran dan tujuan kebijakan dengan demikian perlu dikomunikasikan secara tepat dengan para pelaksana. Edward mengemukakan empat variable yang saling berkaitan yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan.• Hal apa sajakah yang menjadi prasyarat bagi keberhasilan implementasi kebijakan ? • Apakah yang merupakan sarana utama bagi keberhasilan implementasi kebijakan? Guna menjawab 2 pertanyaan acuan tersebut. Konsistensi pemerintah dalam peran kebijakan yang diimplementasikan disini dipertanyakan. Konsistensi atau keseragaman dari ukuran dasar dan tujuan perlu dikomunikasikan sehingga implementors mengetahui secara tepat ukuran maupun tujuan kebijakan itu. baik seseorang maupun sekelompok. Menurut teori komunikasi Barlo (yang dikenal dengan model SMCR) terdapat empat variable dalam mengukur keberhasilan komunikasi. Sesungguhnya implementasi kebijakan harus diterima oleh semua personel dan harus mengerti secara jelas dan akurat mengenahi maksud dan tujuan kebijakan. Dalam studi ini yang menciptakan pesan pastilah pemerintah (Pusat/Daerah). yaitu : a) Source (Sumber) Sebagaimana dikemukakan Barlo.

kurangnya konsensus mengenai tujuan-tujuan kebijakan publik. Menurut mendorong Winarno (2005:128) informasi Faktor-faktor dalam yang ketidakjelasan implementasi kebijakan publik biasanya karena kompleksitas kebijakan.b) Message (Pesan) Pesan isi adalah kebijakan terjemahan pemerintah. Keberhasilan komunikasi juga dipengaruhi oleh penerima pesan itu sendiri. Sehingga tercipta suatu kejelasan kebijakan. sehingga apa yang diharapkan terdistorsi di tengah jalan. . d) Receiver (Penerima) Adalah orang yang menjadi sasaran komunikasi. bagaimana seorang implementor kebijakan mengartikan suatu kebijakan yang telah diinformasikan kepadanya. dan bagaimana pemerintah dalam memahami tujuan kebijakan yang hendak dicapai. c) Channel (Saluran) Adalah suatu media yang membawa pesan itu agar sampai kepada obyek penerima. Seringkali terjadi masalah dalam penyaluran komunikasi yaitu adanya salah pengertian (miskomunikasi) yang disebabkan banyaknya tingkatan birokrasi yang harus dilalui dalam proses komunikasi. Penyaluran komunikasi yang baik akan dapat menghasilkan suatu implementasi yang baik pula. gagasan ke dalam kode simbolik(bahasa). Yang berperan sebagai pesan disini adalah Bagaimana pemerintah mendefinisikan suatu kebijakan yang akan diimplementasikan. adanya masalah-masalah dalam memulai kebijakan yang baru serta adanya kecenderungan menghindari pertanggungjawaban kebijakan.

Winarno (2005:129) menyimpulkan: ”semakin banyak lapisan atau aktor pelaksana yang terlibat dalam implementasi kebijakan. semakin besar kemungkinan hambatan dan distorsi yang dihadapi”. Untuk itu perlu adanya manajemen SDM yang baik agar dapat meningkatkan kinerja program. Komunikasi yang efektif menuntut proses pengorganisasian komunikasi yang jelas ke semua tahap tadi.Proses implementasi kebijakan terdiri dari berbagai aktor yang terlibat mulai dari manajemen puncak sampai pada birokrasi tingkat bawah. Untuk itu. Jika jumlah staf pelaksana kebijakan terbatas maka hal yang harus dilakukan meningkatkan skill/kemampuan para pelaksana untuk melakukan program. Jika terdapat pertentangan dari pelaksana. serta adanya fasilitas-fasilitas pendukung yang dapat dipakai untuk melakukan kegiatan program seperti dana dan sarana prasarana. Menurut Edward III dalam Agustino (2006:158-159). sumber daya merupakan hal penting dalam implementasi kebijakan yang baik. 2) Sumber Daya (Resources) Komponen sumber daya ini meliputi jumlah staf. adanya kewenangan yang menjamin bahwa program dapat diarahkan kepada sebagaimana yamg diharapkan. maka kebijakan tersebut akan diabaikan dan terdistorsi. Sumber daya manusia yang tidak memadai (jumlah dan kemampuan) berakibat tidak dapat dilaksanakannya program secara sempurna karena mereka tidak bisa melakukan pengawasan dengan baik. Indikator-indikator yang digunakan untuk melihat sejauhmana sumberdaya mempengaruhi implementasi kebijakan terdiri dari: . keahlian dari para pelaksana. informasi yang relevan dan cukup untuk mengimplementasikan kebijakan dan pemenuhan sumber-sumber terkait dalam pelaksanaan program.

b) Informasi. . maka kekuatan para implementor di mata publik tidak dilegitimasi. Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan. sehingga dapat menggagalkan implementasi kebijakan publik. d) Fasilitas.a) Staf. ataupun tidak kompeten dalam bidangnya. Implementor mungkin mempunyai staf yang mencukupi. Kedua. Pada umumnya kewenangan harus bersifat formal agar perintah dapat dilaksanakan secara efektif. kapabel dan kompeten. tetapi tanpa adanya fasilitas pendukung (sarana dan prasarana) maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan berhasil. informasi mempunyai dua bentuk yaitu: pertama. Kewenangan merupakan otoritas atau legitimasi bagi para pelaksana dalam melaksanakan kebijakan yang ditetapkan secara politik. Sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf atau pegawai (street-level bureaucrats). Fasilitas fisik merupakan faktor penting dalam implementasi kebijakan. Ketika wewenang tidak ada. informasi mengenai data kepatuhan dari para pelaksana terhadap peraturan dan regulasi pemerintah yang telah ditetapkan. informasi yang berhubungan dengan cara melaksanakan kebijakan. Dalam implementasi kebijakan. salah-satunya disebabkan oleh staf/pegawai yang tidak cukup memadai. c) Wewenang. mencukupi.

suku. Ada tiga bentuk sikap/respon implementor terhadap kebijakan . Disamping itu penyediaan dana yang cukup guna memberikan insentif bagi para pelaksana program agar mereka mendukung dan bekerja secara total dalam melaksanakan kebijakan/program. agama. dan intensitas dari respon tersebut. Wujud dari dukungan pimpinan ini adalah Menempatkan kebijakan menjadi prioritas program. Disamping itu dukungan para pejabat pelaksana sangat dibutuhkan dalam mencapai sasaran program. kesadaran pelaksana. Struktur birokrasi adalah . penempatan pelaksana dengan orangorang yang mendukung program. Para pelaksana mungkin memahami maksud dan sasaran program tujuan namun yang ada seringkali mengalami sehingga kegagalan secara dalam melaksanakan program secara tepat karena mereka menolak didalamnya sembunyi mengalihkan dan menghindari implementasi program. memperhatikan keseimbangan daerah. petunjuk/arahan pelaksana untuk merespon program kearah penerimaan atau penolakan. jenis kelamin dan karakteristik demografi yang lain. Dukungan dari pimpinan sangat mempengaruhi pelaksanaan program dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien. implementasi implemetor setuju dengan bagian-bagian isi dari kebijakan maka mereka akan melaksanakan dengan senang hati tetapi jika pandangan mereka berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi akan mengalami banyak masalah. 4) Struktur Birokrasi Membahas badan pelaksana suatu kebijakan. tidak dapat dilepaskan dari struktur birokrasi.3) Disposisi Salah satu faktor yang adalah mempengaruhi sikap efektifitas Jika kebijakan implementor.

. norma-norma.karakteristik. dan pola-pola hubungan yang terjadi berulang-ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik potensial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dalam menjalankan kebijakan. Standard operational procedure (SOP) merupakan perkembangan dari tuntutan internal akan kepastian waktu. Menurut Edwards III dalam Winarno (2005:150) terdapat dua karakteristik utama dari birokrasi yakni: ”Standard Operational Procedure (SOP) dan fragmentasi”. Dengan menggunakan SOP. 2005:150). Ukuran dasar SOP atau prosedur kerja ini biasa digunakan untuk menanggulangi keadaan-keadaan umum diberbagai sektor publik dan swasta. sehingga dapat menimbulkan fleksibilitas yang besar dan kesamaan yang besar dalam penerapan peraturan. sumber daya serta kebutuhan penyeragaman dalam organisasi kerja yang kompleks dan luas”. para pelaksana dapat mengoptimalkan waktu yang tersedia dan dapat berfungsi untuk menyeragamkan tindakan-tindakan pejabat dalam organisasi yang kompleks dan tersebar luas. (Winarno.

Disamping pendekatan TRIDAYA itu juga didukung melalui Program Pengembangan Ekonomi Kawasan. peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi RTM. penelitian lebih difokuskan kepada pemberdayaan lingkungan di Desa Barengkrajan. 2. dan Program Pengembangan Desa Model Binaan Gerdu-Taskin bekerjasama dengan Perguruan Tinggi/LSM. yaitu : • pemberdayaaan manusia.BAB III KINERJA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN Program Gerdu-Taskin dirancang khusus sebagai upaya pengentasan kemiskinan dengan pendekatan TRIDAYA. pengurangan jumlah pengangguran. jenis atap-dinding-maupun lantai rumah). Selain itu . air bersih. Kegiatan pemberdayaan lingkungan desa Barengkrajan yang telah dilaksanakan ini meliputi : 1. Meningkatkan fasilitas umum. Arah kebijakan program ini difokuskan pada upaya penurunan angka kemiskinan. dan • pemberdayaan lingkungan. Upaya “bedah rumah” warga miskin Bedah rumah ini diperuntukkan bagi warga miskin yang memiliki kondisi rumah tak layak huni (indikator kelayakannya : ketersediaan jamban. Krian –Sidoarjo. • pemberdayaan usaha. Fasum yang telah diperbaiki meliputi jalan alternative menuju kota agar akses jalan menuju kota tidak bertumpu pada satu jalan saja. Dalam studi ini. dengan fokus utama pengembangan usaha ekonomi produktif RTM. Sedangkan tujuan program Gerdu-Taskin adalah untuk mewujudkan kemandirian masyarakat Desa/Kelurahan dalam penanggulangan kemiskinan dan pengangguran. pengurangan beban dan perbaikan mutu hidup kelompok miskin rentan dan penguatan kapasitas kelembagaan agar berfungsi dan berperan optimal dalam pengelolaan program penanggulangan kemiskinan.

Rukun Tetangga (RT) terutama Masyarakat agar berparstipasi dalam program pemberdayaan lingkungan (dalam Gerdu-Taskin) ini. Proses implementasinya. maka disini dapat dinilai bahwa program GerduTaskin yang diimplementasikan telah berjalan cukup efektif. . Namun dalam pengimplimentasian program pemberdayaan lingkungan ini telah berjalan cukup efektif. Membangun sarana/prasarana ekonomi desa. pemerintah Desa Barengkrajan mendorong para pengurus Rukun Warga (RW).perbaikan jalan tikus (jalan kecil/gang). 3. Dimana pada areal tersebut terdapat banyak warung yang menyediakan menu jajanan yang dapat dikunjungi warga tanpa menempuh jarak yang jauh. serta sanitasi lingkungan. apabila terjadi kecurangan di tingkat RW/RT maka warga berhak melapor kepada pemerintah desa. sarana/prasarana makan yang ekonomi desa pada ini dusun berupa deretan dipusatkan Sidorono-desa Pembangunan kios/warung Barenkrajan. Peran RW maupun RT disini adalah mensurvei dan mencatat para warga yang layak diberikan program “bedah rumah” serta menginformasikan kepada pemerintah desa mengenai kondisi lingkungan sekitar kawasan RW maupun RT yang perlu diperbaiki. meskipun masih terdapat sedikit penyimpangan yang terjadi dalam proses pendataan warga miskin. plesterisasi tepi sungai (tanggul). Sedangkan peran warga disini yaitu mengkontrol jalannya program. Melihat kenyataan diatas.