Upaya Peningkatan Pembelajaran Lompat Jauh Dengan Bermain Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Sukogelap

Dibuat oleh : NAMA NIM : ADAM SETYAWAN : 06601247009

PRODI: S1 PJKR /PKS

PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2009

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan merupakan aspek yang penting dan berkaitan erat dengan seluruh proses pendidikan di sekolah. Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan tidak boleh di pandang sebelah mata atau terkesan “ disepelekan “ dalam pelaksanaannya. Mata pelajaran ini juga mempunyai bobot dan kualitas yang tidak kalah dengan pelajaran lain bahkan harus benar-benar mendapat perhatian yang serius serta ditangani oleh orang yang profesional. Siswa Sekolah Dasar mempunyai karakter khusus dan mereka dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, mereka juga generasi penerus bangsa, maju atau mundurnya sebuah bangsa sangat bergantung pada generasi penerusnya. Sebagai generasi penerus bangsa mereka harus mempunyai bekal hidup yang kuat, baik dari jasmani dan rohaninya. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain dan berolahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah, dan terencana. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina sekaligus untuk membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat. Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru seyogyanya dapat mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, salah satunya adalah seperti dikemukakan

oleh Tim penjas SD (2007:5) dalam materi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan kelas IV Semester I, Standar Kompetensi,. mempraktikan gerak dasar ke dalam permainan sederhana dan olahraga serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kompetensi dasar, mempraktikkan gerak dasar atletik sederhana, serta nilai semangat, percaya diri dan disiplin. Menurut Margono ( 2000:1 ) Atletik merupakan induk dari seluruh cabang olahraga. Hal ini tidak aneh karena gerak-gerak yang dilakukan dalam cabang atletik sebagian besar dilakukan di cabang olahraga lain. Sedangkan atletik sendiri masih terbagi menjadi empat cabang yaitu : jalan, lari, lompat dan lempar. Seorang guru pendidikan jasmani harus mampu memberikan pembelajaran dengan baik pada siswanya tentang materi gerak dasar atletik seperti tercantum pada kurikulum kelas IV sekolah dasar semester pertama, hingga siswa bisa menguasai teknik dasar tersebut. Berdasarkan pengamatan peneliti, bahwa kenyataan di lapangan tidak dapat di pungkiri bahwa atletik terkadang sangat menjemukan bagi siswa, apalagi bila guru pendidikan jasmani mengajar dengan monoton dan kurang variasi maka anak akan cepat jemu dan malas beraktivitas. Begitu pula yang terjadi pada siswa kelas IV SD Negeri Sukogelap, saat pembelajaran pendidikan jasmani dengan materi atletik nomor lompat jauh. Pada waktu siswa dibariskan kemudian diberi penjelasan tentang materi pembelajaran berupa atletik nomor lompat jauh, semua siswa terlihat kecewa dan secara serempak berseru hu… hu…, bahkan beberapa siswa berani mengusulkan untuk mengganti materi pembelajaran hari itu dengan permainan kasti atau

Kemudian ketika siswa dihadapkan pada bak lompat jauh dan disuruh melompat. karena tanpa melakukan dan mencoba teknik dasar yang diajarkan tentu mereka tidak akan menguasai teknik tersebut dengan baik. Mereka beranggapan bahwa lompat jauh sangat menjemukan dan melelahkan. Akan tetapi ketika melihat siswa putra bermain bola. Dari peristiwa di atas dapat disimpulkan ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam pembelajaran lompat jauh yaitu : 1) rasa kecewa dalam diri siswa 2) kurangnya motivasi siswa 3) pembelajaran yang monoton dan kurang variasi. Padahal teknik gerak lompat jauh merupakan gerak yang komplek dan terdiri . Mereka juga merasa belum berolahraga jika belum bermain sepak bola atau kasti. Setelah itu mereka minta berhenti dan ingin bermain sesuka hati mereka. Dengan keadaan seperti itu jelas akan sangat merugikan siswa itu sendiri. mereka hanya melakukan 2-3 kali saja.sepak bola. takut dengan guru tanpa didasari motivasi dalam diri mereka sendiri. Siswa lebih menginginkan pembelajaran yang penuh dengan tantangan. Apalagi siswa laki-laki. mereka mengatasi kejenuhan dengan duduk dibawah pohon dengan alasan sudah lelah dan kepanasan. Bahkan ada siswa laki-laki yang kemudian mengambil bola dari gudang dan langsung mengajak teman-temannya bermain. kreativitas dan permainan yang lebih memacu semangat dan tentunya sangat menyenangkan bagi mereka. mereka merasa kurang dapat berkreasi dan tantangan bila hanya melompati bak pasir terus. itupun mereka lakukan karena terpaksa. beberapa dari mereka dengan penuh semangat ikut bermain tanpa terlihat lelah dan kepanasan sedikitpun. Demikian pula siswi putri.

Apabila perasaan senang gembira telah muncul dalam diri siswa maka hal ini akan efektif untuk memacu semangat gerak. aktif dan bersemangat mengikuti proses pembelajaran sampai selesai. Oleh karena itu guru harus mampu menyajikan pembelajaran atletik khususnya nomor lompat jauh dalam nuansa kegembiraan dalam permainan. guru harus lebih dapat melihat karakteristik siswa SD usia 9-12 tahun. guru harus mampu mengembangkan pembelajaran yang efektiv. Rahman (2002:85) bahwa bermain adalah segala kegiatan yang dapat menimbulkan kesenangan bagi anak. hal ini senada seperti yang di kemukakan oleh Hibana S. melayang di udara dan pendaratan di bak pasir. Proses pembelajaran harus di buat agar siswa tertarik dan bergairah serta bersemangat melakukannya.dari Empat fase gerakan. Untuk mencapai tujuan tersebut guru pendidikan jasmani harus lebih kreatif dan inovatif dalam proses pembelajarannya. mampu membuat siswa bergairah. mereka masih cenderung menyukai bentuk-bentuk permainan. Bermain dilakukan anak dengan suka rela tanpa paksaan atau tekanan dari luar. tetapi permainan yang berisi seperangkat teknik dasar lompat jauh yang disajikan dalam bentuk variasi permainan yang bertujuan memperkaya gerak dan membangkitkan semangat dalam pelaksanaannya. disiplin dan menghilangkan pokok-pokok materinya. seperti yang di katakana Yoyo Bahagia dkk (2000:16) lompat jauh terdiri dari empat fase yaitu : awalan. Permainan yang tidak menghilangkan unsurunsur keseriusan. tolakan kaki. Perasaan senang dan gembira akan muncul dalam diri siswa bila di ajak untuk bermain. Memperhatikan uraian di .

Alat dan fasilitas yang tersedia di sekolah bersifat statis. 2. C. maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “ Bagaimana meningkatkan pembelajaran lompat jauh dengan bermain pada siswa kelas IV SD Negeri Sukogelap ? “ D.” B. 3. Rumusan Masalah Dari identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas. Identifikasi Masalah Berdasar latar belakang tersebut maka masalah yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut : 1. Suasana dalam proses pembelajaran menjemukan siswa karena kurang variasi dan monoton.atas. . Tujuan Penelitian Penelitian ini untuk memberikan gambaran bahwa dengan pembelajaran bermain dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan pembelajaran lompat jauh pada siswa kelas IV SD Negeri Sukogelap. maka peneliti bermaksud untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Upaya Peningkatan Pembelajaran Lompat Jauh dengan Bermain pada Siswa Kelas IV SD Negeri Sukogelap. Metode pembelajaran yang dilaksanakan kurang sesuai dengan karakter siswa yang masih senang dengan permainan.

Manfaat Penelitian Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh kesimpulan bahwa dengan bermain dapat digunakan sebagai upaya untuk peningkatan pembelajaran lompat jauh bagi siswa kelas IV SD Negeri Sukogelap. Guru pendidikan jasmani dapat memanfaatkan kegembiraan siswa dalam bermain sebagai metode untuk meningkatkan dan memperbaiki proses pembelajaran. c. b. Dan akhirnya akan memberi manfaat terhadap : 1. 3. Dengan hasil yang di perolehnya guru akan mampu menunjukkan otoritasnya sebagai guru yang professional. Bagi Siswa . b. Sekolah yang mendorong gurunya membuat inovasi maka telah berhasil pula meningkatkan kualitas pendidikan untuk siswanya. Sekolah yang gurunya mampu membuat perubahan akan punya kesempatan berkembang lebih pesat. Bagi Sekolah a. Guru pendidikan jasmani memperoleh perasaan puas karena sudah melakukan sesuatu untuk meningkatkan kualitas pembelajran yang di kelolanya.E. Guru pendidikan jasmani a. 2.

Melalui peningkatan pembelajaran lompat jauh dengan bermain diharapkan siswa lebih cepat menguasai materi yang diberikan tanpa ada perasaan jemu dan tertekan. Karena merasa senang dan gembira. bahkan di rumah. .a. b. siswa juga melakukan aktivitas tersebut di luar jam pembelajaran. Hal ini akan meningkatkan ketrampilan gerak siswa dengan cepat. Siswa lebih bersemangat dan penuh motivasi mengikuti pembelajaran. c.

Menurut Rochman Natawidjaja ( 1978:7 ) bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri seseorang. Hal senada juga di ungkapkan oleh Sri Rumini ( 1993:60 ) bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap. Hakikat Pembelajaran a. pengetahuan dan lainnya. Kemudian menurut Hergenhahn yang dikutip oleh Endang Rini S ( 2007:1 ) belajar yaitu perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku yang merupakan hasil dari pengalaman dan tidak bercirikan tanda-tanda yang disebabkan oleh pengaruh yang sifatnya sementara seperti yang disebabkan oleh sakit. Perubahan-perubahan itu dapat terjadi dalam bidang keterampilan. kelelahan atau pengaruh obat. kebiasaan.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Umum Belajar adalah suatu proses yang dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan yang memberikan perubahan pada orang yang belajar. Pembelajaran merupakan konsep yang terkait dengan proses belajar-mengajar. Diskripsi Teori 1. Dalam bidang pendidikan istilah belajar-mengajar lebih populer dengan istilah pembelajaran. Di dalam pendidikan . sikap.

Menurut Sukintaka ( 2001:24 ) pembelajaran mengandung pengertian bagaimana para guru mengajarkan sesuatu kepada peserta didik dan terjadi peristiwa bagaimana peserta didik mempelajarinya. Menurut Rusli Lutan ( 1988:382 ) pembelajaran berarti seperangkat kegiatan yang sengaja dan terencana dari seseorang yang memiliki kelebihan dalam hal pengetahuan keterampilan untuk disampaikan kepada oramg lain sebagai saran atau objek yang belum berkembang keterampilannya. Dalam peristiwa belajar dan mengajar antara siswa dan guru diperlukan media komunikasi.jasmani istilah belajar-mengajar pendidikan jasmani disebut juga proses pembelajaran pendidikan jasmani. b. Dari batasan di atas dapat ditarik tiga hal penting yaitu : . Proses pembelajaran jasmani berkaitan erat dengan proses belajar motorik dan proses mengajar keterampilan motorik. Dalam media tersebut ada semacam informasi yang disampaikan dari guru kepada siswa yang akan memberi respons. Pembelajaran Gerak Menurut Schimdt yang di kutip Endang R ( 2007:2 ) belajar gerak merupakan rangkaian proses yang berhubungan dengan latihan atau pengalaman yang mengarah pada terjadinya perubahan yang relatif permanent dalam kemampuan seseorang untuk menampilkan gerakan-gerakan yang terampil.

flim clip dan informasi verbal lainnya secara khusus memberikan manfaat dalam tahapan ini. 3. belajar tidak langsung teramati. . 3.1. 2. Tahapan verbal kognitif Pada tahap ini tugasnya adalah memberikan pemahaman secara lengkap mengenai bentuk gerak baru kepada peserta didik. bahkan untuk suatu keterampilan olahraga tertentu nampak dilakukan dengan gerakan yang rileks tapi mantap. Kemudian belajar gerak sendiri mempunyai tiga tahapan 1. Tujuan pembelajarannya adalah agar peserta didik dapat mentransfer informasi yang sudah dipelajari sebelumnya kepada bentuk keterampilan yang dihadapinya sekarang. belajar merupakan proses yang di dalamnya terjadi pemberian latihan atau pengalaman. perubahan yang terjadi permanent. demontrasi. Intruksi. Tahapan otomatisasi Tahap ini setiap gerakan yang dilakukan lebih efisien dan efektif. Menurut Gentile yang dikutip oleh Wawan S Suherman ( 2004:19 ) mengajukan 2 tahapan belajar berdasar tujuan pembelajaran yaitu : memperoleh pengertian gerakan dan penyempurnaan / peragaman. 2. Tahapan motorik Dalam tahapan ini fokusnya adalah membentuk organisasi gerak yang lebih efektif dalam menghasilkan gerakan.

lari. lompat tinggi dan lompat tinggi galah. artinya gerakan itu sesuai dengan proses yang seharusnya di lakukan . 2) efisien. Lompat sendiri terbagi menjadi empat : lompat jauh. lompat dan lempar ). artinya gerakan itu sesuai dengan produk yang diinginkan. Sehubungan dengan itu. (2000:35) mengemukakan tiga indikator gerak terampil sebagai berikut : 1) efektif. Tujuan utama dari pembelajaran gerak adalah perkembangan gerak yang terampil. yaitu ( jalan. lompat jangkit. Atletik merupakan induk dari segala cabang olahraga yang sangat dikenal .2. lompat jauh merupakan salah satu bagian dari empat nomor dalam atletik. 3) adaptif. Pembelajaran Lompat Jauh Pembelajaran lompat jauh merupakan salah satu keterampilan gerak yang harus di kuasai siswa sekolah dasar kelas IV semester I seperti telah tercantum pada Silabus dan Promes tahun ajaran 2009-2010 mata palajaran Penjas Orkes SDN Sukogelap UPT P dan K kecamatan Kemiri Purworejo Jawa Tengah. artinya gerakan itu sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan dimana gerak itu di lakukan. Gerak-gerak dalam aletik sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak manusia ada di bumi. guru harus mengetahui dan memahami karakteristik keterampilan yang akan di ajarkan dan bagaimana mengajarkannya pada siswa. Menurut Rink yang dikutip oleh Yoyo Bahagia dkk.

seperti dikemukakan oleh Yoyo Bahagia (2000:82) bahwa nomor lompat jauh dalam atletik bertujuan untuk melompat sejauh mungkin untuk memperoleh jarak horizontal maksimal. seluruh tenaga dan fikirannya harus . Menurut Yusuf Adisasmita (1992:65-68) lompat jauh terdiri atas empat unsur yaitu : 1) Awalan. Tumpuan adalah perpindahan yang sangat cepat antara lari awalan dan melayang. 2) Tumpuan. Hal senada juga dikemukakan oleh Margono (2002:4) tujuan dari semua gerakan anggota badan di udara adalah untuk memungkinkan pelompat membuat gerakan jatuh menyentuh tanah atau pasir sejauh mungkin dari balok tumpuan. Ini berarti bahwa kecepatan lari awalan adalah suatu keharusan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Kecepatan dan ketepatan dalam lari awalan sangat mempengaruhi pada hasil lompatan. Tujuan dalam nomor lompat jauh adalah melakukan lompatan sejauh mungkin dalam bak pasir.dengan istilah “ Mother of Sport “ karena gerak-gerak yang dilakukan dalam atletik sebagian besar juga dilakukan pada cabang olahraga yang lain. Teknik dalam lompat jauh terdiri dari beberapa unsur atau fase gerakan yang merupakan suatu kesatuan atau urutan gerakan lompat yang tidak terputus-putus. Beberapa langkah sebelum menumpu. pelompat harus sudah siap untuk bertumpu.

ditujukan pada ketepatan bertumpu. Margono (2002:35-37) mengatakan bahwa rangkaian gerak dalam lompat jauh dari kajian teknik dibagi menjadi tiga fase : . Pada waktu naik badan harus dapat ditahan dalam keadaan rilek. 3) Melayang. Setelah menumpu dengan kaki tumpu penting sekali meluruskan kaki tumpu untuk memperoleh ketinggian. Pelompat harus berusaha menjulurkan kedua tangan sejauh-jauhnya kemuka dengan tidak kehilangan keseimbangan badannya. Pada saat itu timbul perasaan titik badan berat akan jatuh dibawa kebelakang. dibantu pula dengan juluran tangan kemuka Pada waktu pendaratan lutut di bengkokkan hingga memungkinkan momentum membawa badan ke depan di atas kaki. Pada saat itu pelompat berpindah keadaan dari lari ke melayang. 4) Mendarat. Setelah pelompat menumpu pada balok tumpuan maka melayanglah pelompat itu. hingga badan dan lutut hampir merapat.Untuk kemuka dengan mencegahnya badan membungkukkan badan. Naiknya badan setelah tumpuan itu (melayang) adalah salah satu dari faktor yang sering dilalaikan oleh banyak pelompat. Mendarat dilakukan dengan tumit terlebih dahulu mengenai tanah.

1) fase lari awalan Lari awalan ini secara berangsur dan progresif dipercepat dan pada beberapa langkah terakhir pinggang sedikit di turunkan guna persiapan bagi kaki yang bertolak. Tujuan dari awalan dalam lompat jauh adalah untuk mendapat posisi optimal atlet melakukan tolakan kaki dengan kecepatan lari dan menolak secara terkontrol. Fase ini tergantung dari gaya lompatan yang di gunakan dan diteruskan dengan mendarat. Fase ini di lakukan dengan kuat. Yoyo Bahagia. 3) fase melayang. Kaki di hentakkan pada balok tumpuan di lakukan pada sol kaki dengan tumit ringan kontak dengan tanah sedikit mendahului pinggang dan dengan kaki penolak sedikit ditekuk. . 2) fase bertolak. Untuk tujuan analisis gerakan pada lompat jauh harus dipertimbangkan secara konsisten empat fase berikut : 1) awalan. dkk (2000:16-17) berpendapat bahwa. Pengukuran secara tepat terhadap panjang lari awalan dan pertimbangan yang baik se4lama beberapa langkah awalan merupakan yang sangat penting. Aktifitas ini cepat di luruskan pada waktu titik pusat grafitasi melewati di atas kaki penopang.

dalam lompat jauh dikenal beberapa gaya yang populer. Menurut pendapat Margono (2002:37) Gaya yang biasa dilakukan dalam lompat jauh adalah: 1) Schnepper / melenting / membusur. Tujuannya adalah memperoleh kecepatan vertical (mengangkat titik berat badan) dengan cara memanfaatkan kecepatan horizontal sedemikian rupa dengan kaki tolak mengerahkan gaya yang sangat besar.2) tolakan kaki. 2) Walking in the air / stride in the air / running in the air. Teknik-teknik tersebut harus bisa di kuasai dengan baik agar bisa menghasilkan lompatan sejauh mungkin. Melakukan tolakan kaki badan berada di udara. Oleh karena itu usaha yang harus di lakukan adalah mempertahankan selama mungkin di udara dengan melakukan gerakan tungkai atau lengan agar memperoleh sikap pendaratan yang efektif. 3) Sitting in the air. 4) pendaratan. Agar mendukung semua usaha di atas. . 3) melayang di udara. Gerak apapun yang di lakukan pelompat setelah di udara tidak akan meningkatkan titik berat badan.

Menurut Sukintaka (2001:48) Perkembangan kemampuan motorik anak dari tingkat SD sampai SMU merupakan tugas guru dikjas. Dari dua faktor ini masih ditentukan atau di dukung dengan berlatih sesuai dengan kematangan anak dan gizi yang baik. 3. Karakteristik Siswa kelas IV Perkembangan kemampuan motorik merupakan perubahan kualitas hasil gerak individu. Berkembangnya kemampuan motorik di tentukan dua faktor yaitu pertumbuhan dan perkembangan.Kemudian Yoyo Bahagia dkk. (2002:17) berpendapat. yaitu pada saat mempertahankan badan selama mungkin di udara. dalam lompat jauh ada tiga gaya yang dilakukan untuk mempertahankan sikap badan di udara yaitu : 1) Gaya jongkok. Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa sebenarnya semua gaya itu sama. Adapun tugas itu dalam rangka usaha pembentukan pribadi anak dan dalam mencapai kedewasaannya karena pertumbuhan dan perkembangan kemampuan motorik merupakan salah satu dasar tujuan dalam pembelajaran dikjas. hanya pelaksanaan fase melayanglah yang membedakan. 3) Gaya berjalan di udara. 2) Gaya lenting. .

b) Rasa dalam rumah seperti suasana bermain. Mampu menyelam dalam air. Perkembangan daya tahan. Menurut Sukintaka (2001:51-52) tentang tahap perkembangan motorik anak kelas III-IV (umur 8-10 tahun) 1. . Mengkoordinasi pernafasan dengan gerak yang layak. f) Berkeinginan belajar keterampilan sosial yang baru dan meningkat.Tahap kemampuan motorik dan fisik anak didik harus di jadikan dasar penentuan bahan pelajaran bagi siswa. Mengetahui secara layak masuk ke dalam air. d) Menilai keterampilan dengan membandingkan dengan anggota lain. e) Memperbaiki keterampilan berrekreasi. Aquatik. c) Mengembangkan secara cukup keterampilan untuk dapat menjadi layak dalam kelompok. Perkembangan kemampuan berenang dalam garis lurus dan dapat mengetahui tidak berubah arah. Mengembangkan bentuk gerak yaqng layak. 2. a) b) c) d) e) f) g) Pengembangan kemampuan yang berkaitan dengan air. a) Menggunakan situasi hidup sehari-hari. Aktifitas rekreasi.

Aktivitas ritmik a) Mempunyai keterampilan penampilan langkah lari yang sederhana. e) Belajar menuruti kelelahan badan untuk istirahat dan rilek. c) Belajar bila otot dan tulang berkembang. g) Pengembangan koordinasi mata dengan tangan dan mata dengan tungkai. b) Aktifitas itu menolong individu untuk meningkatkan kemampuan keterampilan motorik. . d) Mengetahui bahwa penambahan keterampilan biasanya menambah kesenangan. 4. f) Pengembang kekuatan dan daya tahan khusus pada otot perut dan tungkai. ketepatan waktu (timing) dalam tiap kesempatan. d) Mengembangkan kemampuan tentang irama. Permainan a) Mengembangkan daya tahan melalui aktifitas yang intensif. maka aktifitas dapat dibentuk lebih siap dengan keterampilan yang lebih baik karena di akibatkan oleh kematangan syaraf dan berlatih.3. e) Mengembangkan perasaan keseimbangan. b) Mengembangkan koordinasi badan. c) Belajar kehalusan gerak dan kesenangan.

c) Mampu menggunakan mekanikan tubuh yang baik. dan koordinasi otot merupakan tujuan. b) Mempelajari bahwa latihan sehari-hari akan menolong memperbaiki dan mengembangkan keterampilan. a) Belajar melatih otot-otot. daya tahan dan kelentukan. usia ini merupakan masa yang ideal untuk . e) Pembiasaan hidup sehat. maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan dan minatnya. kalau merasa lelah. Menurut Syamsu Yusuf (2004:183-184) mengatakan bahwa seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang. Pada masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktifitas motorik yang lincah. g) Aktif berlatih latihan dasar untuk tubuh. Tes terhadap diri sendiri. d) Mengatasi perbedaan sebanyak mungkin. Oleh karena itu. c) Mengetahui bahwa penampilan yang memuaskan dalam suatu gerak merupakan yang dapat dites dengan tes pencapaian.5. ketenangan. h) Mengembangkan kekuatan. f) Menentukan keterampilan sebanyak mungkin. d) Belajar bahwa ketertiban. b) Mengembangkan pembiasaan nutrisi yang baik. Aktifitas pengembangan a) Belajar rileks. 6.

kira-kira umur 9-10 sampai umur 12-13 tahun. menendang dan memukul). main bola dan atletik. Seperti pendapat Syamsu Yusuf (2004:25) bahwa kelas tinggi SD. Menurut Syamsu Yusuf (2004-184) dikatakan bahwa sesuai dengan perkembangan fisik motorik maka dikjas permulaan sangat tepat bila diajarkan : a) Dasar keterampilan menulis dan menggambar. d) Baris berbaris secara sederhana untuk menanmkan kebiasaan ketertiban dan kedisiplinan. hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan praktis. . berlari. melukis. seperti menulis.belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik. berenang dan sebagainya. b) Keterampilan dalam menggunakan alat-alat olahraga (menerima. Perkembangan fisik yang normal merupakan faktor yang menentukan kelancaran belajar. Karena itu perkembangan motorik yang telah matang pada usia SD menjadikan mereka telah siap menerima pelajaran keterampilan. c) Gerakan untuk meloncat. karena pada masa ini anak relative lebih matang dan mudah dididik. menggambar. Masa-masa SD mempunyai sifat-sifat khusus yang harus diperhatikan pula. mempunyai sifat-sifat khas yaitu: a) Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret. mengetik (komputer) berenang.

Selepas umur ini pada umunya anak menghadapi tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikannya. e) Pada masa ini. f) Anak-anak pada usia ini gemar membentuk kelompok sebaya biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. c) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus. Dalam permainan itu biasanya anak tidak lagi terikat kepada peraturan permainan yang tradisional (yang sudah ada) mereka membuat peraturan sendiri.b) Amat realistis. 4. anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah. Bermain dilakukan dengan suka rela tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban. ingin mengetahui. Menurut Hurlock (1978:320) bermain merupakan istilah yang digunakan secara bebas sehingga arti utamanya mungkin hilang. arti yang paling tepat adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya tanpa mempertimbangkan hasil akhir. ingin belajar. yang oleh para ahli yang mengikuti teori factor ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor bakat khusus. Sedangkan . Bermain Bermain banyak di lakukan oleh anak-anak bahkan orang dewasa juga masih senang bermain. d) Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk mrnyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya.

Beberapa pengaruh bermain bagi perkembangan anak seperti yang di jelaskan oleh Hurlock ( 1978: 323) yaitu : 1. memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak. 2) Dilakukan secara spontan. 4) Menghasilkan kepuasan. Anak yang dapat melaksanakan kegiatan bermain. Ada beberapa ciri kegiatan yang dipandang sebagai aktifitas bermain seperti yang dikemukakan Hibana. bukan pada hasil. Penyaluran bagi energi fungsional terpendam. Anak akan spontan melakukan kegiatan bermain saat anak ingin melakukannya. 3. bukan bagaimana hasil permainan. Anak melakukan kegiatan bermain tanpa ada unsur paksaan dari manapun. Bermain memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan anak baik secara fisik maupun mental. 4. secara otomatis akan mendapatkan. 3) Berorientasi pada proses. Dorongan komunikasi. S Rahman (2005:85) Yaitu: 1) Dilakukan dengan suka rela. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan.menurut Anggani Sudono (2000:1) Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi. Yang terpenting bagi anak adalah bagaimana proses kegiatan bermain. 2. Perkembangan fisik. .

Semula mereka meneruskan bermain dengan barang mainan. . Pendapat Hurlok ( 1978: 324) bahwa bermain mempunyai tahapantahapan tertentu : 1. Sumber belajar. maka perlu adanya penerapan bermain dalam aktifitas pembelajaran di sekolah.terutama bila sendirian. 11.5. 6. Selain itu mereka merasa tertarik dengan permainan olah raga hobi dan permainan matang lainnya. Tahap eksplorasi ( untuk bayi hingga usia 3 bulan) 2. Tahap permainan ( tahun pertama 5-6 tahun) 3. Rangsangan kreatifitas. Perkembangan wawasan diri. Belajar bermasyarakat. mengingat anak-anak masih menyenangi bentuk-bentuk permainan. 4. 9. 10. 7. Tahap bermain ( usia masuk sekolah) Setelah masuk sekolah jenis permainan mereka sangat beragam. Bermain sesuai dengan peran jenis kelamin. Tahap melamun (masa pubertas) Menyimak beberapa pendapat diatas tentang ciri-ciri permainan dan manfaatnya bagi perkembangan siswa. Standar moral. 8. Perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan.

Hal ini merupakan tantangan bagi guru penjas agar bisa menerapkan strategi pembelajaran untuk memberikan kesan yang sebaliknya dengan memasukkan unsur-unsur permainan di dalamnya. disiplin dan menghilangkan substansi pokok materi atletik. Menurut Yoyo bahagia ( 2000:57) bahwa berdasar pengalaman yang ada agar permainan atlelik berhasil. Pengembangan berbagai variasi gerakan atletik 3). Pengembangan dimensi irama atletik .Dengan kondisi seperti itu guru dituntut lebih kreatif agar bisa memanfaatkan kesenangan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. maka beberapa hal di bawah ini menjadi pertimbangan dan pedoman : 1). lompat dalam bentuk permainan bervariasi. dengan membuat modifikasi pembelajaran ke dalam bentuk permainan. Maka tidak mengherankan jika siswa akan merasa tidak tertarik melakukannya. Seperti di kemukakan Yoyo Bahagia dkk ( 2000: 56) bahwa permainan atletik maksudnya adalah materi pembelajaran / program pelajaran atletik yang di sajikan dalam nuansa permainan. Pengembangan dimensi permainan atletik. Permainan tidak berarti menghilangkan unsur serius. Banyak kesan dari siswa bahwa atletik hanya berisi gerak monoton dan tak bervariasi yang isinya meliputi lari. lempar dan lompat yang sangat melelahkan. namun permainan yang berisi seperangkat teknik dasar berupa lari. 2). lempar.

Pengembangan pengalaman atletik. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk tumbuh berkembang sesuai dengan karakteristiknya sangat memberikan pengaruh yang besar. . Pengembangan kemungkinan kompetisi atletik 5). . karena dengan bermain kebutuhan dan kemampuan siswa akan terpenuhi dan terbina .4). sehingga dengan merasakan senang siswa termotifasi untuk mengikuti pembelajaran dengan suka rela dan di harapkan siswa dapat menguasai gerak dasar yang diajarkan. Dengan memperhatikan beberapa konsep di atas niscaya pembelajaran atletik nomor lompat jauh di sekolah akan meningkat dan lebih membangkitkan motifasi gerak siswa.

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2010 pada kelas IV SD Negeri Sukogelap yang berjumlah 9 siswa. yaitu : perencanaan.BAB III METODE PENELITIAN A. Tindakan penelitin ini digambarkan seperti spiral yang saling terkait. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di halaman SD Negeri Sukogelap kemiri Purworejo Jawa Tengah. tindakan. Dari siklus pertama bila peneliti menilai masih ada kekurangan maka dapat diperbaiki pada siklus berikutnya dengan memperbaiki atau mengembangkan sesuai dengan kebutuhan. Desain Penelitian Menurut Pardjono dkk ( 2007:22 ) Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dengan desain yang dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan Robin Taggart dengan menggunakan empat komponen dalam tiap langkah. . Siklus dalam spiral ini baru berhenti apabila tindakan yang dilakukan telah berhasil dan di evaluasi dengan baik. 6 siswa putri dan 3 putra. pengamatan dan refleksi. B.

Kemudian hasilnya akan di diskusikan bersama rekan sejawat untuk menentukan rencana tindakan yang akan dilaksanakan. Siklus pertama Pada siklus pertama ini tindakan yang dilakukan ialah siswa diberikan materi pembelajaran lompat jauh dengan modifikasi berupa permainanpermainan yang menarik yaitu dengan variasi model kardus yang di susun dan diberi jarak untuk di lompati siswa dengan tujuan melatih gerak dasar lompatan kaki. kerja sama dan perkembangan gerak dasar lompat jauh dalam proses pembelajaran. baik dengan variasi lompat satu kaki ataupun dengan dua kaki. .C. Sedangkan yang diamati adalah motivasi siswa. Refleksi berupa diskusi dengan rekan sejawat ataupun dosen pembimbing untuk mengevaluasi hasil tindakan dan bila perlu untuk merumuskan kembali tindakan yang akan di ambil pada siklus berikutnya. Materi pembelajaran tersebut sudah dimodifikasi dalam bentuk permainan yang menyenangkan bagi siswa. Setiap pertemuan siswa diberikan materi pembelajaran lompat jauh. baik di lakukan oleh guru sendiri maupun rekan sejawat. Proses observasi dilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran. Rancangan Penelitian Tindakan Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang di lakukan dua siklus. Pada langkah refleksi dilaksanakan untuk mengamati segala hal yang terjadi dan berhubungan dengan tindakan yang dilakukan. setiap siklus dua kali pertemuan dan dalam satu minggu terdapat dua kali pertemuan.

yaitu proses pembelajaran lompat jauh yang di modifikasi ke dalam bentuk-bentuk permainan yaitu bermain dengan berbagai macam variasi melompati kardus dan tali dari karet gelang sebagai media pembelajaran. . Kegairahan dan semangat setiap siswa dalam beraktifitas tanpa ada paksaan dan tekanan dari guru. bahkan seluruh siswa bisa aktif tanpa ada paksaan. Segala hal yang masih kurang pada siklus sebelumnya harus diperbaiki pada siklus kedua. dan menggunakan tali dari karet gelang yang diatur sedemikian rupa untuk dilompati siswa serta di buat lebih menarik. diharapkan terus meningkat dari setiap siklus. D. yang dilakukan perseorangan maupun beregu. Permainan pada siklus ini tetap difokuskan pada lompatan kaki. Keberhasilan dari tindakan ini dapat dilihat dari indicator sikap dan perilaku siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Tindakan yang dilakukan yaitu pembelajaran lompat jauh dengan permainan melompati tali dari bahan karet gelang.Siklus kedua Berdasarkan hasil pada siklus pertama. Selama proses tindakan berlangsung maka observasi dan refleksi tetap dilaksanakan. maka tindakan pada siklus kedua merupakan penyempurnaan hasil siklus pertama. Definisi Operasional Variabel Variabel dalam penelitian ini ialah peningkatan pembelajaran lompat jauh dengan bermain.

Bentuk pedoman observasi seperti pada tabel berikut ini. dengan perbaikan jika diperlukan. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian ini menggunakan angket tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran dan pedoman observasi proses pembelajaran tentang motivasi dan perkembangan gerak dasar lompat jauh. Tabel 2. Tabel 1. Selanjutnya sebagai pedoman observasi terhadap perilaku siswa mencakup motivasi siswa. kerja sama dan perkembangan gerak dasar lompat jauh. Pedoman Observasi Kolaborator Terhadap Pekembangan gerak lompat jauh. Angket akan di gunakan pada siklus pertama dan kedua. .E. Angket Tanggapan Siswa terhadap Proses Pembelajaran NO 1 2 3 4 5 6 7 Pertanyaan Tanggapan Siswa Guru penjas menyenangkan Guru penjas menjelaskan dengan baik Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan Suasana pembelajaran menyenangkan Waktu pembelajaran penjas terasa pendek Banyak kesempatan melakukan Tugas di lakukan dengan baik Ya Tidak Tabel ini merupakan rencana angket yang akan disiapkan untuk mengali pendapat siswa terhadap pembelajaran.

No siswa B 1 2 3 4 Keterangan : Motivasi C K Kerja Sama B C K Perkembangan gerak B lompat jauh C K TM a. yaitu dengan mengamati perilaku siswa sebelum pembelajaran. Perkembangan yang dianggap kurang ( K ) yaitu dari sikap awal. Teknik Pengambilan dan Analisis Data Teknik pengambilan data yang dilakukan dengan menggunakan cara observasi saat proses pembelajaran. dan sesudah . selama proses pembelajaran berlangsung. Perkembangan yang dianggap cukup ( C ) yaitu dari sikap awal. F. b. tolakan kaki masih lemah dan saat mendarat kurang maksimal dan sering tidak melewati target. tolakan kaki dan mendarat di lakukan dengan benar tetapi sering tidak bisa melewati target yang di tentukan. c. tolakan kaki dan mendarat di lakukan dengan benar serta dapat melewati target yang di tentukan . Perkembangan yang dianggap baik ( B ) yaitu dari sikap awal.

pembelajaran selesai menggunakan angket dan pedoman observasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah deskriptif kuantitatif dan analisis kualitatif. Angket Tanggapan Siswa Terhadap Proses Pembelajaran NO Pertanyaan Tanggapan Siswa 1 Guru penjas menyenangkan 2 Guru penjas menjelaskan dengan baik 3 Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan Ya Tidak . Tabel 1.

4 5 6 7

Suasana pembelajaran menyenangkan Waktu pembelajaran penjas terasa pendek Banyak kesempatan melakukan Tugas di lakukan dengan baik

Tabel 2. Tabel Pedoman Observasi Terhadap motivasi dan Perkembangan gerak lompat jauh.

No sisw B a

Motivasi C K B

Perkembangan gerak lompat jauh C K TM

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) SIKLUS PERTAMA

Sekolah Mata Pelajaran Standar Kompetensi

: SD SUKOGELAP : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan : 1. Mempraktekkan gerak dasar kedalam Permainan Sederhana dan Olahraga serta Nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Kompetensi Dasar

: 1.2 Mempraktekkan gerak dasar atletik sederhana, serta nilai semangat, percaya diri dan disiplin.

Indikator

: Melompati rintangan dari kardus dengan berbagai variasi

Alokasi Waktu

: 2 x 35 menit.

A. Tujuan Pembelajaran Siswa dapat melakukan gerakan dasar lompat jauh. B. Materi Pembelajaran Lompat Jauh Melakukan gerak dasar lompat jauh demgam melompati kardus sebagai rintangan C. Metode Pembelajaran Metode Bermain D. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran Siswa dibariskan, berdoa, presensi, apersepsi dan motivasi. Pemanasan Pemberian Tugas Pengamatan, pertanyaan Pendinginan, berbaris, evaluasi berdoa, dibubarkan.

Uraian Materi a. Pendahuluan.

Bentuk pendahuluan berupa pemanasan dalam permainan Gobak Bunder. 1. Persiapan : Membuat lapangan permainan berbentuk lingkaran, diameter disesuaikan dengan jumlah siswa. Kemudian lingkaran di bagi 8 bagian sama luas dengan 4 garis diameter yang saling menyilang.Siswa di tentukan siapa yang jadi lebih dulu dengan hompimpa. 2. Pelaksanaan : Siswa jadi berada di tengah lingkaran dan berusaha menyentuh temannya melalui garis-garis diameter tersebut.Yang giliran lari tetap berada di dalam lingkaran dan menghindar jangan sampai tersentuh. b. Inti. 1. Melompati 4 kardus yang berjajar lurus, masing-masing kardus di beri jarak 2 meter, di lakukan sendiri bergantian. Pelaksanaan : Siswa berlari-lari kecil kenudian melompati kardus dengan tumpuan satu kaki ( kiri ) dan mendarat dengan dua kaki. 2. Melompati 4 kardus yang berjajar lurus, dilakukan berpasangan. Pelaksanaan : Siswa bergandengan dua orang, dan berlari-lari kecil kemudian melompati kardus bersama-sama, dengan tumpuan kaki kiri. 3. Melompati 6 kardus yang berjajar lurus. Pelaksanaannya : a. Siswa melakukan sendiri, melompati kardus dengan satu kaki.

b. Siswa dibagi dua kelompok melakukan seperti di atas tetapi dilombakan siapa yang tercepat. 4. Melompati 6 kardus yang berjajar lurus, bergandengan. Pelaksanaannya : a. Siswa melakukan bergandengan melompati kardus dengan tumpuan satu kaki. b. Siswa tetap bergandengan tapi dibagi dua kelompok dan di lombakan siapa yang tercepat. c. Penutup a. Berjalan santai keliling lapangan sambil tangan dan kaki

di ayun-ayun di lepas-lepaskan. b. Siswa dibariskan di beri evaluasi, umpan balik dan di beri

tugas pengayaan lalu berdoa terakhir di bubarkan. d. Alat dan fasilitas : - Peluit - Kardus bekas Sarimi RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) SIKLUS KEDUA - Lapangan Sekolah

Sekolah Mata Pelajaran

: SD SUKOGELAP : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Standar Kompetensi

: 1. Mempraktekkan gerak dasar kedalam Permainan Sederhana dan Olahraga serta Nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Kompetensi Dasar

: 1.2 Mempraktekkan gerak dasar atletik sederhana, serta nilai semangat, percaya diri dan disiplin.

Indikator

: Melompati rintangan dari kardus dengan berbagai variasi

Alokasi Waktu

: 2 x 35 menit.

E. Tujuan Pembelajaran Siswa dapat melakukan gerakan dasar lompat jauh. F. Materi Pembelajaran Lompat Jauh Melakukan gerak dasar lompat jauh demgam melompati kardus sebagai rintangan G. Metode Pembelajaran Metode Bermain H. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran Siswa dibariskan, berdoa, presensi, apersepsi dan motivasi. Pemanasan Pemberian Tugas Pengamatan, pertanyaan Pendinginan, berbaris, evaluasi berdoa, dibubarkan.

1. Lapangan menggunakan seluruh luas halaman Sekolah. 3. Kegiatan sama seperti diatas tapi di lakukan berpasangan. Persiapan : Siswa di undi siapa yang jadi dengan hompimpa. Pendahuluan Bentuk pendahuluan berupa pemanasan dalam permainan Wildok. Pelaksanaannya : Siswa lari pelan-pelan kemudian melompati kardus dengan tumpuan satu kaki dan berusaha melewati target yang di tentukan. Dari posisi jongkok harus di sentuh teman lebih dahulu jika mau lari lagi. . 2. Pelaksanaannya : Siswa jadi berusaha mengejar dan menyentuh. Melompati 4 kardus berjajar. Pelaksanaannya : siswa bergantian satu-satu melakukan lompatan dengan membentuk jalur angka delapan. Siswa yang di kejar bila lelah berlari boleh jongkok dan waktu jongkok tidak akan jadi bila di sentuh. b.Uraian Materi a. 1. siapa yang tersentuh akan gantian jadi. Inti Melompati 7 buah kardus yang di susun zig-zag dan membuat jalur angka delapan. 2. kardus ke.3 dan ke-4 dijajar dua buah kardus.

Tabel 1. Melompati kardus seperti latihan 3 Tetapi dilakukan berpasangan dan bergandengan.Peluit .Kardus Mie .Lapangan Sekolah. Alat dan Fasilitas . Angket Tanggapan Siswa Terhadap Proses Pembelajaran NO Pertanyaan Tanggapan Siswa 1 Guru penjas menyenangkan 2 Guru penjas menjelaskan dengan baik 3 Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan Ya Tidak . lalu sambil jalan perlahan-lahan sambil mengambil kotoran atau sampah yang ada di halaman sekolah.4. Penutup a. b. c. Siswa di barisakan diberi evaluasi. Siswa di bariskan 2 bersaf di pinggir lapangan. d. umpan balik dan tugas pengayaan lalu berdoa serta di bubarkan.

4 5 6 7 Suasana pembelajaran menjemukan Waktu pembelajaran penjas terasa pendek Banyak kesempatan melakukan Tugas di lakukan dengan baik Tabel 1. Angket Tanggapan Siswa Terhadap Proses Pembelajaran NO 1 2 3 4 5 6 7 Pertanyaan Tanggapan Siswa Guru penjas menyenangkan Guru penjas menjelaskan dengan baik Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan Suasana pembelajaran menjemukan Waktu pembelajaran penjas terasa pendek Banyak kesempatan melakukan Tugas di lakukan dengan baik Ya Tidak Pedoman Observasi Terhadap Motivasi. No siswa B 1 2 3 4 5 6 7 8 C K B C K B C Motivasi Kerja Sama Perkembangan gerak lompat jauh K TM - . kerja sama dan Perkembangan Lompat jauh.

” Pak. 2) pengamatan selama pembelajaran 3) pengamatan sesudah pembelajaran. Saat siswa berganti pakaian dan menuju halaman sekolah. Tetapi begitu melihat ada beberapa kardus yang ditata disamping halaman. Hal ini membuktikan bahwa mereka bersemangat karena melihat hal baru yang belum pernah mereka lakukan. Pengamatan sebelum pembelajaran. 1. mereka terlihat bersikap seperti biasa saja. sekarang olahraga apa.( pertemuan pertama ) Pada pertemuan pertama hasil penelitian akan di uraikan berdasar 1) pengamatan sebelum pembelajaran. kok pakai kardus dan ada garis-garis lingkaran. mereka terlihat penasaran dan penuh semangat bertanya. .” Beberapa siswa terlihat memegang kardus sambil tertawa-tawa gembira. Hasil Penelitian Hasil penelitian di uraikan sebagai berikut : Siklus I.9 10 11 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.

tanpa merasa malas untuk bergerak. maka dengan . Kemudian saat siswa di bariskan dan di berikan apersepsi tentang pembelajaran. Pengamatan selama pembelajaran. Mereka yang selama ini jenuh bila mendapat materi lompat jauh dengan bak pasir. Suasana Anak Dalam Permainan Gobak Bunder Pengamatan di lanjutkan saat latihan inti. Saat di lakukan pemanasan siswa sangat bersemangat mengikuti permainan gobak bunder. mereka tertawa riang berlari-lari menghindari kejaran teman yang jadi.Mereka juga kelihatan tidak sabar segera ingin tahu dan melakukan pembelajaran olahraga kali ini. Gambar 1. Sambil berlari mereka juga saling bercanda tetapi tetap serius dalam aturan permainan. mereka terlihat antusias mendengarkan. Suasana tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. 2. saat siswa melompati halangan kardus yang di jajar bervariasi.

Kemudian ketika guru menghentikan kegiatan untuk menuju kegiatan latihan berikutnya. siswa ada yang berteriak “ saya belum pak.” Hal ini menunjukkan bahwa dengan permainan baru yang di sukai anak maka mereka sangat luar biasa semangat tanpa sedikitpun terlihat lelah. permainan serta tantangan yang baru pula. anak lebih terpacu penuh semangat. . Siswa melakukan dengan penuh semangatdan perasaan gembira. bahkan bila giliran telah selesai mereka dengan cepat mengantri di belakang tidak sabar menunggu giliran lagi.melompati kardus siswa seperti mendapatkan pengalaman baru. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Apalagi saat di lombakan. saya mau melompat lagi.

Hasil Observasi Kolaborator Pada Siklus Pertama Pertemuan Pertama.Gambar 2. Suasana Anak dalam Mengikuti Pembelajaran Berikut ini hasil pengamatan terhadap perkembangan gerak lompat jauh siswa menggunakan tabel observasi Tabel 3. Motivasi B 1 2 3 4 5 6 7 8 9 V V V V V V V V V V V V 77% 22% C K Kerja Sama B V V V V V V V V V 77% 11% 11% C K Perkembangan gerak lompat jauh B C K TM V V V V V V No siswa persentase 88% 11% .

8 siswa (88%) kategori B (baik). tolakan kaki dan mendarat di lakukan dengan benar serta dapat melewati target yang di tentukan . Keterangan : a. mereka tetap semangat dan masih membahas pembelajaran . Kerja sama . 3. Pada perkembangan gerak lompat jauh. b. 7 siswa (77%) kategori B (baik). Motivasi anak. tolakan kaki masih lemah dan saat mendarat kurang maksimal dan sering tidak melewati target.Melihat hasil di atas maka dapat di uraikan bahwa perkembangan lompat jauh siswa pada umumnya. Perkembangan yang dianggap baik ( B ) yaitu dari sikap awal. kategori C (cukup) sebanyak 1 anak (11%) dan kategori K (kurang). Saat pembelajaran selesai. 1 siswa (11%) kategori C (cukup). anak mau dan mampu melakukan semua kegiatan (100%). Perkembangan yang dianggap cukup ( C ) yaitu dari sikap awal. 2 siswa (23%) kategori C (cukup). tolakan kaki dan mendarat di lakukan dengan benar tetapi sering tidak bisa melewati target yang di tentukan. c. Perkembangan yang dianggap kurang ( K ) yaitu dari sikap awal. kategori B (baik) sebanyak 7 anak (77%). ada 1 anak (11%). Pengamatan sesudah pembelajaran. anak-anak masih bergenbira dan tidak kelihatan lelah.

Guru penjas menjelaskan dengan baik. 2 anak (22%) menyatakan ya. Hasil Angket Tanggapan Siswa NO 1 2 3 4 5 6 7 Pertanyaan Tanggapan Siswa Guru penjas menyenangkan Guru penjas menjelaskan dengan baik Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan Suasana pembelajaran menjemukan Waktu pembelajaran penjas terasa pendek Banyak kesempatan melakukan Tugas di lakukan dengan baik Ya 9 100% 9 100% 9 100% 2 5 9 9 22% 55% 100% 100% Tidak 7 4 - 77% 44% - Dapat di terangkan secara rinci sebagai berikut : Guru penjas menyenangkan. Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan. 4 anak (44%) menyatakan . Kemudian siswa di bagikan angket tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran pada pertemuan pertama. 9 anak (100%) menyatakan ya. 7 anak menyatakan tidak.yang baru saja di lakukan dengan teman-temannya. 5 anak (55%) menyatakan ya. Dan hasilnya sebagai berikut : Tabel 4. Waktu pembelajaran penjs terasa pendek. 9 anak (100%) menyatakan ya. Suasana pembelajaran menjemukan. 9 anak (100%) menyatakan ya. Bahkan ada yang berani mengusulkan supaya besok olahraganya lompat kardus lagi.

Walau begitu mereka tetap merasa gembira dan asyik bermain. Setelah siswa berganti pakaian olahraga. 9 anak (100%) menyatakan ya. Ini dapat di buktikan pada gambar di bawah ini. 2) pengamatan selama pembelajaran 3) pengamatan sesudah pembelajaran. 2. Siklus I ( pertemuan ke dua ) Pada pertemuan kedua hasil penelitian akan di uraikan berdasar 1) pengamatan sebelum pembelajaran. Saat pemanasan siswa terlihat sangat bersemangat sekali.tidak. Tugas di lakukan dengan baik. Pengamatan saat pembelajaran. 9 anak (100%) menyatakan ya. . 1. maka mereka bergegas menuju halaman dengan sangat bergembira dan berteriak “ pak cepat pak olahraga pak” mereka seolah tidak sabar untuk segera memulai pembelajaran hari ini. Masih terbayang di pikiran mereka saat pembelajaran penjas beberapa hari lalu yang sangat menyenangkan. Pengamatan sebelum pembelajaran. Banyak kesempatan melakukan. kali ini mereka bermain “ WILDOK” permainan ini sudah tidak asing bagi mereka karena merupakan permainan tradisional yang sering mereka lakukan saat waktu luang.

bahkan anak terkesan lebih bersemangat menghadapai tantangan baru berupa variasi-variasi kardus untuk di lompati. Suasana Anak dalam Permainan Wildok Kemudian saat pembelajaran inti mereka juga tetap bersemangat seperti pada pertemuan pertama.Gambar 3. mereka tampak lebih dapat bekerja sama dengan baik dari siklus pertama. Kemudian yang sangat menarik lagi. Apalagi saat pembelajaran ini dilombakan sangat terlihat semangat juang yang tinggi untuk dapat menang tanpa merasa lelah dan tetap menjaga sportifitas untuk mengakui kemenangan temannya. siswa sangat ingin dan berusaha keras untuk dapat melakukan pembelajaran kali ini dengan baik. Keadaan seperti di atas dapat dilihat pada gambar di bawah ini: . dan mau mengulang terus jika ada kegagalan ataupun kesalahan. Demikian pula saat lompat beregu.

Suasana Anak dalam Mengikuti Pembelajaran Kemudian hasil pengamatan perkembangan gerak lompat jauh siswa dengan tabel observasi : Tabel 5. Hasil Observasi Kolaborator Pada Siklus Pertama Pertemuan Kedua Motivasi B 1 2 3 4 5 6 7 8 V V V V V V V V C K Kerja Sama B V V V V V V V V V V C K Perkembangan gerak lompat jauh B C K TM V V V V V V No siswa .Gambar 4.

. tolakan kaki masih lemah dan saat mendarat kurang maksimal dan sering tidak melewati target. Perkembangan yang dianggap baik ( B ) yaitu dari sikap awal. 1 anak (11%) kategori cukup. 7 anak (77%) kategori baik dan 1 anak (11%) kategori cukup. b. penuh perasaan gembira. 5. Mereka masih kelihatan bersemangat. Perkembangan yang dianggap cukup ( C ) yaitu dari sikap awal. Saat pembelajaran telah selesai. Kemudian pada perkembangan gerak lompat jauh belum mengalami peningkatan. tolakan kaki dan mendarat di lakukan dengan benar tetapi sering tidak bisa melewati target yang di tentukan. c. 8 anak (88%) kategori baik. 1 anak (11%) kategori kurang. Perkembangan yang dianggap kurang ( K ) yaitu dari sikap awal. semuanya 9 anak (100%) kategori baik. Kerja sama mengalami peningkatan yang baik. Mereka tetap mengusulkan untuk pembelajaran minggu depan masih bermain dengan kardus. anak-anak merasa kurang dan tetap ingin beraktifitas lagi.9 persentase 88% V 11% - V 100% - V 77% 11% 11% - Dari hasil di atas maka dapat di uraikan bahwa Motivasi anak. Keterangan : a. tolakan kaki dan mendarat di lakukan dengan benar serta dapat melewati target yang di tentukan .

9 anak (100%) menyatakan ya. 9 anak (100%) menyatakan ya. 9 anak (100%) menyatakan tidak. 9 anak (100%) menyatakan ya.Berikut hasil angket tanggapan siswa : Tabel 6. ( pertemuan pertama ) . Banyak kesempatan melakukan. Waktu pembelajaran penjas terasa pendek. Hasil Angket Tanggapan Siswa NO 1 2 3 4 5 6 7 Pertanyaan Tanggapan Siswa Guru penjas menyenangkan Guru penjas menjelaskan dengan baik Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan Suasana pembelajaran menjemukan Waktu pembelajaran penjas terasa pendek Banyak kesempatan melakukan Tugas di lakukan dengan baik 9 9 9 9 9 9 Ya 100% 100% 100% 100% 100% 100% 9 Tidak 100% - - Melihat hasil angket di atas dapat di simpulkan bahwa : Guru penjas menyenangkan. Guru penjas menjelaskan dengan baik. Suasana pembelajaran menjemukan. 9 anak (100%) menyatakan ya. Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan. 9 anak (100%) menyatakan ya. Siklus II. 9 anak (100%) menyatakan ya. Tugas di lakukan dengan baik.

apakah masih menyenangkan seperti kemarin. Setelah pembelajaran jam pertama usai. anak yang jadi pun mengejar dengan tanpa lelah. begitupun yang di kejar berusaha mati-matian untuk tidak tersentuh.Pada pertemuan pertama hasil penelitian akan di uraikan berdasar 1) pengamatan sebelum pembelajaran. mereka bergegas berganti pakaian olahraga dan menuju halaman. Pengamatan saat pembelajaran. Saat melakukan pemanasan dengan permainan Elang dan Induk Ayam. . mereka terlihat sangat riang gembira. 2) pengamatan selama pembelajaran 3) pengamatan sesudah pembelajaran. Mereka terlihat semangat dan penuh rasa penasaran. Dengan suasana penuh kegembiraan mereka saling bertanya dengan teman tentang materi hari ini. Terlihat suasana kegembiraan anak-anak pada gambar di bawah ini. Pengamatan sebelum pembelajaran. 1. 2.

Semangat dan kegembiraan itu dapat di lihat pada gambar di bawah ini. karena memang berbeda dengan materi sebelumnya yaitu lompat tali dari karet gelang. sudah mengalami kemajuan pesat pada siklus kali ini. apalagi anak yang kemampuan lompatnya sudah bagus. Suasana Anak dalam Permainan Elang dan Induk Ayam Kemudian waktu pembelajaran inti anak-anak sangat tertarik sekali dengan materi kali ini.Anak-anak melakukan lompatan dengan penuh semangat dan gembira. Sedangkan anak dalam data siklus I ( no 6 ) lompatan cukup. Rasa penasaran ingin selalu mencoba memang sengaja di hadirkan pada pertemuan kali ini dengan mengganti atau memvariasikan media untuk melompat. . Anak yang lompatnya masih kurang dalam data siklus I ( no 9 ) tetap terus berusaha melakukan lompatan dengan semangat.Gambar 5.

Hasil Observasi Kolaborator Pada Siklus Kedua Pertemuan Pertama B 1 V 2 V 3 V 4 V 5 V 6 V 7 V 8 V 9 V persentase 100% No siswa Motivasi C K Perkembangan gerak lompat jauh B C K TM V V V V V V V V V 88% 11% - - - .Gambar 6. Suasana Anak dalam Mengikuti Pembelajaran Kemudian hasil pengamatan perkembangan gerak lompat jauh siswa dengan tabel observasi : Tabel 7.

mereka masih terlihat gembira penuh dengan tenaga dan rasa penasaran ingin menambah jam olahraga lagi. b. Perkembangan yang dianggap baik ( B ) yaitu dari sikap awal. tolakan kaki dan mendarat di lakukan dengan benar tetapi sering tidak bisa melewati target yang di tentukan. 3.Perkembangan gerak lompat jauh. 8 anak (88%) kategori baik dan hanya 1 anak (11%) kategori cukup.Perkembangan yang dianggap kurang ( K ) yaitu dari sikap awal. bahkan dengan teman lain kelas. tolakan kaki masih lemah dan saat mendarat kurang maksimal dan sering tidak melewati target. Keterangan : a. Perkembangan yang dianggap cukup ( C ) yaitu dari sikap awal. Selama ganti istirahat mereka tetap membicarakan aktifitas yang baru mereka lakukan. Tidak terkesan rasa lelah dalam diri anak. tolakan kaki dan mendarat di lakukan dengan benar serta dapat melewati target yang di tentukan . Saat pembelajaran telah selesai. Kemudian hasil angket yang di bagikan pada siswa hasilnya sebagai berikut : . c.Dari hasil tersebut dapat di uraikan sebagai berikut : Motivasi seluruh anak kategori baik (100%).

Banyak kesempatan melakukan. 9 anak (100%) menyatakan ya. 9 anak (100%) menyatakan ya. Siklus II. 9 anak (100%) menyatakan ya. 9 anak (100%) menyatakan ya. 9 anak (100%) menyatakan tidak.Tabel 8. Guru penjas menjelaskan dengan baik. 9 anak (100%) menyatakan ya. Hasil Angket Tanggapan Siswa NO 1 2 3 4 5 6 7 Pertanyaan Tanggapan Siswa Guru penjas menyenangkan Guru penjas menjelaskan dengan baik Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan Suasana pembelajaran menjemukan Waktu pembelajaran penjas terasa pendek Banyak kesempatan melakukan Tugas di lakukan dengan baik 9 9 9 9 9 9 Ya 100% 100% 100% 100% 100% 100% 9 Tidak 100% - - Melihat hasil angket di atas dapat di simpulkan bahwa : Guru penjas menyenangkan. Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan. Waktu pembelajaran penjas terasa pendek. Suasana pembelajaran menjemukan. 9 anak (100%) menyatakan ya. ( pertemuan ke dua ) . Tugas di lakukan dengan baik.

45 anakanak bersorak kegirangan dan minta sekarang langsung olahraga. 2. 2) pengamatan selama pembelajaran 3) pengamatan sesudah pembelajaran. Anak-anak dengan cepat berganti pakaian olahraga dan berlarilarian menuju halaman sekolah. Suasana Anak dalam Permainan Gobak Sodor . terbukti saat peneliti datang ke sekolah jam 06. hasil penelitian akan di uraikan berdasar 1) pengamatan sebelum pembelajaran. Mereka merasa tidak sabar untuk cepatcepat berolahraga. Setelah melakukan pemanasan dengan permainan gobak sodor yang mereka lakukan dengan penuh semangat. Pengamatan selama pembelajaran.Pada pertemuan kedua. Pengamatan sebelum pembelajaran. 1. Hal itu dapat terlihat pada gambar di bawah ini. Gambar 7.

Anak merasa mendapat tantangan baru dan berusaha sebaik mungkin melakukan dan tidak mau kalah dengan temannya. Semangat dan kegembiraan mereka terlihat pada gambar di bawah ini. Hal inilah yang menyebabkan kemampuan mereka meningkat dengan cepat. Perkembangan pesat terlihat pada anak (no 6) anak tersebut makin berani dan bagus dalam lompatannya. Kemudian anak (no 9) juga mengalami kemajuan walaupun masih dalam kategori cukup. pada sore hari saat bermain mereka juga melakukannya. Ternyata selain di sekolah anak-anak juga melakukan lompat tali ataupun kardus di luar jam sekolah.Menuju latihan inti anak-anak sangat penasaran dan ingin cepat melompat melihat variasi baru yang di tunjukkan oleh peneliti. di dasari rasa senang dan gembira mereka melakukan di luar jam pelajaran tanpa ada paksaan. Gambar 8. Suasana Anak dalam Mengikuti Pembelajaran .

Perkembangan gerak lompat jauh 8 anak (88%) kategori baik dan hanya 1 anak (11%) kategori cukup.Berikut ini hasil dari perkembangan gerak lompat jauh pada pertemuan ke dua : Tabel 9. . tolakan kaki dan mendarat di lakukan dengan benar serta dapat melewati target yang di tentukan . b. Hasil Observasi kolaborator Pada Siklus Kedua Pertemuan Kedua No siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Motivasi B V V V V V V V V V 88% C K Perkembangan gerak lompat jauh B V V V V V V V V V 11% C K TM persentase 100% Dari hasil tersebut dapat di uraikan sebagai berikut : Motivasi seluruh anak kategori baik (100%). Perkembangan yang dianggap baik ( B ) yaitu dari sikap awal. tolakan kaki dan mendarat di lakukan dengan benar tetapi sering tidak bisa melewati target yang di tentukan. Keterangan : a. Perkembangan yang dianggap cukup ( C ) yaitu dari sikap awal.

Perkembangan yang dianggap kurang ( K ) yaitu dari sikap awal. bahkan ada yang usul. Pengamatan setelah selesai pembelajaran.c. tolakan kaki masih lemah dan saat mendarat kurang maksimal dan sering tidak melewati target. Mereka juga masih ingin bermain lompat tali. Anak-anak masih mengusulkan untuk minggu depan meteri pembelajarannya sama. 3.”pak waktu istirahat boleh lompat tali ya pak “. Karena memang pembelajaran di susun untuk menggugah semangat dan perasaan gembira dari anak. Ini membuktikan bahwa anak masih merasa senang dan belum menjadi jenuh.Hasil Angket Tanggapan Siswa NO 1 2 3 4 5 6 7 Pertanyaan Tanggapan Siswa Guru penjas menyenangkan Guru penjas menjelaskan dengan baik Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan Suasana pembelajaran menjemukan Waktu pembelajaran penjas terasa pendek Banyak kesempatan melakukan Tugas di lakukan dengan baik 9 9 9 9 9 9 Ya 100% 100% 100% 100% 100% 100% 9 Tidak 100% - - Melihat hasil angket di atas dapat di simpulkan bahwa : . Berikut ini juga di sajikan hasil angket yang di bagikan pada siswa Tabel 10.

pada pembelajaran kali ini anak terlihat senang. Guru penjas menjelaskan dengan baik. 9 anak (100%) menyatakan ya. 9 anak (100%) menyatakan tidak. 9 anak (100%) menyatakan ya. memberi kenangan maupun mengembangkan imajinasi. Namun kenyataannya.Guru penjas menyenangkan. Banyak kesempatan melakukan. 9 anak (100%) menyatakan ya. terutama bila akan mengikuti pembelajaran lompat jauh dengan melompati bak pasir. 9 anak (100%) menyatakan ya. Suasana pembelajaran menjemukan. Hal ini sesuai dengan pendapat Anggani S (2000:1) Bermain adalah suatu kegiatan yang di lakukan dengan alat ataupun tanpa alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi. antusias dan gembira serta tanpa terlihat lelah atau jemu. Pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan. Tugas di lakukan dengan baik. Waktu pembelajaran penjas terasa pendek. . Pembahasan Melihat dari hasil penelitian. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan biasanya. Demikian pula menurut Hurlock (1978:320) Bermain dilakukan sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban. 9 anak (100%) menyatakan ya. Pada saat proses pembelajaran terlihat sekali semangat dan keinginan anak yang tinggi untuk mengikuti pembelajaran. B. 9 anak (100%) menyatakan ya. maka pembahasan di fokuskan saat proses pembelajaran berlangsung.

Suasana pembelajaran menjemukan. Dalam waktu istirahatpun anak kelas IV di ikuti anak kelas lain dengan penuh semangat mengambil kardus lagi dari gudang dan melompati kardus seperti yang mereka lakukan dalam pembelajaran. Hal ini membuktikan bahwa anak meyenangi sesuatu hal yang baru dan tertarik untuk melakukan lagi. Anak yang tadinya malas-malasan berubah menjadi penuh gairah dan semangat melakukan tanpa dipaksa. Dari hasil angket tanggapan siswa : 1. masih ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. 2. hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan rencana. Namun melihat dari hasil angket dan dari tabel observasi. Melihat hasil tersebut. senang gembira tanpa terpaksa.Kemudian memperhatikan angket tanggapan siswa bahwa proses pembelajaran penjas bentuknya menyenangkan 100% anak menyatakan Ya. masih ada 2 anak yang menyatakan ya. Bahkan beberapa siswa dengan bersemangat ingin melekukan aktifitas lagi walau pembelajaran telah selesai. yaitu siswa mengikuti dengan aktif. Hasil yang di peroleh bahwa ternyata anak-anak tersebut salah persepsi tentang angket tersebut. Waktu pembelajaran terasa pendek. Maklum saja tingkat kecerdasan anak-anak . ada 4 anak yang menyatakan tidak. Hasil dari siklus I pertemuan pertama pada prinsipnya sudah banyak perubahan dalam suasana pembelajaran. peneliti merasa prihatin dan melakukan pendekatan kepada anak.

Berdasar hasil yang dicapai pada pertemuan pertama maka peneliti bersama rekan sejawat mengadakan evaluasi tentang tindakan yang telah di lakukan untuk kembali merencanakan tindakan selanjutnya pada pertemuan kedua. Semua dapat terlihat pada proses pembelajaran yang dilakukan penuh dengan semangat. mereka rata-rata bisa membaca lancar dan memahami benar makna dari tulisan saat menginjak kelas IV. 3. peneliti melihat suasana pembelajaran terus meningkat positif. anak baru benar-benar memahami. Motivasi anak tergolong bagus. 7 anak (77%) baik dan 2 anak (22%) kategori cukup.SDN Sukogelap memang tergolong kurang. gembira dan semua tugas dilakukan dengan baik tanpa terpaksa dari . 2. Kemudian setelah dijelaskan satu persatu maksud dan arti dari poin-poin pada angket. Melihat dari hasil di atas. dan 1 anak (11%) kategori kurang. Kemudian setelah dilakukan pertemuan kedua. hanya satu anak dalam kategori cukup. 7 anak (77%) baik. 1 anak (11%) kategori cukup. Kerja sama anak. Sedang dalam perkembangan lompat jauh. Dari hasil tabel observasi : 1. maka perkembangan gerak lompat jauh anak menunjukkan hasil yang kurang baik terbukti masih ada 1 anak (11%) kategori cukup dan 1 anak (11%) kategori kurang. Peningkatan ini di tandai dengan hasil angket tanggapan siswa yang memperlihatkan jawaban yang 100% positif.

Tapi dalam Motivasi dan perkembangan gerak lompat jauh belum ada perubahan. Hasil pada siklus II pertemuan pertama ----------------- .dan Siklus kedua. kemudian Pada sepakat ini untuk lebih melanjutkan penelitian Siklus mengutamakan tentang perkembangan gerak dasar lompat jauh dan motivasi karena untuk kerja sama sudah menunjukkan hasil yang baik. Bahkan di akhir pembelajaranpun anak-anak terlihat masih ingin melakukannya lagi.awal pembelajaran hingga akhir. Untuk itu peneliti dan rekan sejawat bekerja sama untuk memecahkan masalah pada tersebut. terutama kerja sama anak yang menunjukkan anak 100% kategori baik. Hasil dari tabel observasi juga menunjukkan peningkatan.

. Intinya anak-anak sangat suka dengan suasana. banyak yang menanyakan dan menginginkan pembelajaran penjas dengan melompati kardus. tantangan dan hal-hal yang baru. Untuk itu proses pembelajaran penjas harus terus di kembangkan dan kaya akan inovasi yang baru pula agar siswa tertarik beraktifitas.Penelitian ini juga berpengaruh pada siswa kelas lain.

88%) dan kategori cukup (11.11%). siswa yang termasuk kategori baik (88.BAB V KESIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN A. Hasil yang dicapai seperti terlihat pada tabel berikut : Tabel hasil perkembangan gerak lompat jauh Perkembangan gerak lompat jauh Siklus I 77.11% 11. Kesimpulan Berdasar analisis data. Implikasi Penelitian . Baik Siklus II 88.77 % Pada perkembangan gerak lompat jauh. maka kesimpulan dapat diambil bahwa pembelajaran pendidikan jasmani yang dilakukan dengan bermain dapat meningkatkan pembelajaran lompat jauh.11% - B.11% Kurang Siklus I Siklus II 11.88% Cukup Siklus I Siklus II 11.

Selain itu materi bermain yang di berikan harus tidak menghilangkan unsure serius. sarana alat dan gizi yang cukup serta waktu yang luang bagi setiap anak sangat di sarankan demi peningkatan status kebugaran jasmani siswa. sarana prasarana dan budaya setempat serta materi yang di berikan. kepala sekolah dan instansi terkait. . Saran 1. Guru Penjas SD hendaknya selalu menerapkan metode bermain dalam setiap pembelajaran. Perlu di lakukan penelitian tindakan kelas yang sejenis pada materi pembelajaran lain dengan tetap memperhatikan factor-faktor dalam pembelajaran. Tersedianya tempat yang lapang bagi siswa untuk beraktifitas. disiplin dan tetap mengacu pada kurikulum yang dirancang serta kebutuhan anak. Kelancaran proses pembelajaran penjas dan aktifitas jasmani siswa perlu dukungan dari orangtua. karena pada dasarnya anak-anak sangat suka diajak bermain. C. 4. khususnya pada siswa kelas bawah. 2. 3.Pembelajaran pendidikan jasmani dengan bermain pada siswa sekolah dasar perlu di kembangkan dan dilaksanakan oleh semua guru penjas khususnya Sekolah dasar dengan tetap memperhatikan karakter siswa. guru.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Manfaat fisik. kerja sama dan sarana komunikasi yang efektif. menambah kepercayaan diri. dengan berolah raga akan menjadikan seseorang lebih tahan terhadap stress dan lebih mampu berkonsentrasi. d. . Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya suplai darah dan menurunnya kadar garam di otak. Manfaat psikis. persendian.pppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppadalah proses sistematis menggunakan rangsang gerak untuk meningkatkan kualitas fungsi tubuh. meliputi: meningkatkan fungsi organ seperti paru jantung. pembuluh darah. Menu dilakukan secara teratur dengan takaran yang tepat akan bermanfaat antara lain: b.perbaikan metabolisme tubuh. Manfaat sosial. c. otot. mengurangi lemak tubuh dan menyeimbangkan kadar kolesterol.

Pendapat dari Mansur. M. Mampu latihan teknik dan taktik lebih lama. 7. Tidak mudah cedera. Prinsip beban berlebih. Jarang nyeri otot. Menurut Sudarno SP (1992:65) sebagai berikut: 1. 8. .S (2007:4) Latihan adalah proses berlatih yang dilakukan secara teratur. 9. Lebih enjoy dalam bermain. serta dimulai dari yang sederhana ke yang lebih kompleks (sistematis dan metodis). Cepat pulih jika cedera. Agar latihan tersebut memberi manfaat maka harus memperhatikan prinsip-prinsip latihan. terencana berulang-ulang dan semakin lama semakin bertambah bebannya. sistematis dan memiliki tujuan tertentu.Kemudian menurut Sukadiyanto (1997:6) Latihan merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar. 6. Mudah pulih setelah latihan dan kompetisi berat. Mencegah kelelahan mental dan memperbaiki konsentrasi. 4. 5. akibatnya penampilan bagus dan tidak merasa lelah. 10. 2. Prestasi lebih baik. Percaya diri lebih baik. Tidak lelah sekalipun dalam waktu yang lama.Kemudian latihan itu akan memberi manfaat: 1. 3.

Prinsip perorangan atau individual. 2. yakni antara 60 – 85% detak jantung maksimal. 2) Adaptasi. Frequency. adalah banyaknya sesi latihan per satuan waktu. 5) Spesifikasi. Prinsip kekhususan. Intensity. 3) Beban lebih. 10) Moderat. 7) Pemanasan dan Pendinginan.Detak jantung maksimal adalah 220-usia. Detak jantung latihan harus memasuki zona latihan. adalah kualitas latihan yang ditandai dengan berbagai indicator antara lain detak jantung. 3. 6) Variasi. harus pula diperhatikan pedoman dan takaran latihan menurut Djoko Pekik Irianto (2004:8) sebagai berikut: 1. Setiap orang berlatih harus dengan beban sesuai dengan kemampuan. e. 9) Berkebalikan. .Setelah tubuh beradaptasi dengan beban latihan maka beban latihan harus ditambah sedikit demi sedikit. 11) Sistematik. Prinsip berkebalikan Menekankan bahwa latihan dapat meningkatkan ketrampilan Sedangkan menurut Sukadiyanto (1997:6) prinsip-prinsip latihan yang baik adalah: 1) Individual. Agar latihan-latihan yang dilakukan memberi manfaat dan berdaya guna bagi kebugaran tubuh maka selain prinsip latihan. 8) Latihan jangka panjang. 2. 4) Progresif. Program latihan harus disesuaikan dengan tujuan yang dicapai. untuk memperoleh kebugaran harus berlatih 3-5 kali per minggu.

3. Time. meningkatkan laju metabolisme. Pemanasan Pemanasan dilakukan sebelum berlatih yang sesungguhnya memiliki manfaat untuk mempersiapkan fisik dan psikis meliputi: a. Intensitas latihan. agar tidak terjadi hal yang merugikan. 3. Menurut Sudarno (1992:67) Pedoman berlatih agar meningkatkan kebugaran adalah sebagai berikut: 1. 3. 2. maka sebelum memulai latihan harus memenuhi berbagai persyaratan. Lama latihan atau durasi. Fisiologis.Untuk meningkatkan kebugaran. memperkuat dan mempercepat reaksi otot. setiap kali berlatih diperlukan latihan antara 15-50 menit untuk latihan inti. Bila tujuan untuk membina kesegaran jasmani maka frekuensi latihan cukup tiga sampai lima kali seminggu. 4. Persyaratan latihan. setiap orang harus berlatih antara 20 sampai dengan 60 menit. 1. adalah kualitas latihan yang ditandai dengan detak jantung. Prosedur Latihan Dalam melakukan latihan kesegaran jasmani perlu diikuti prosedur latihan sebagai berikut agar terhindar dari ceferadan dapat bermanfaat. memperbesar kepekaan reseptor . Frekuensi latihan. disebut juga durasi yakni waktu yang diperlukan untuk setiap sesi latihan.

jogging dilanjutkan dengan penguluran dengan intensitas rendah agar suhu tubuh berangsur-angsur turun seperti keadaan sebelum berlatih. Dan proses pendidikan jasmani di Sekolah Dasar adalah sebagai sarana meningkatkan kesegaran jasmani anak. lebih siap untuk berlatih. 2. Latihan inti Latihan ini berisi latihan fisik dengan type gerak sesuai dengan tujuan latihan dan harus sesuai dengan prinsip dan pedoman latihan. 3. hal tersebut sangat diperlukan siswa untuk mendukung proses kegiatan belajar mengajar di sekolah serta berperan positf dalam proses . b. Psikologis. Mencegah cedera. Kesegaran jasmani adalah kemampuan melakukan aktifitas tanpa kelelahan yang berarti. Kerangka Berpikir Tujuan dari pembelajaran pendidikan jasmani adalah selaras dengan tujuan pendidikan nasional secara umum. Penenangan Berisi serangkaian gerak aerobic ringan. c.syaraf dan kecepatan transmisi impuls saraf serta melancarkan sirkulasi darah. peningkatan temperatur jaringan selama pemanasan akan mengurangi kemungkinan cedera otot atau sendi. seperti jalan di tempat. mengurangi kecemasan dan meningkatkan konsentrasi. B.

Kecepatan f. Kelincahan Komponen-komponen itu sangat berperan penting dalam membentuk dan meningkatkan kemampuan motorik siswa sehingga dapat menunjang kegiatan belajar mengajar mereka. Hipotesis Penelitian . Kelenturan e. Artinya proses pembelajaran pendidikan jasmani harus didesain sesuai dengan kebutuhan anak. C.perkembangan dan pertumbuhan anak. Peran aktif dalam pembelajaran permainan tradisional dapat merangsang otot tubuh dan meningkatkan kemampuan paru jantung dalam mendukung metabolisme tubuh. Dan salah satu cara penerapan pendidikan jasmani di sekolah dasar adalah dengan pembelajaran permainan tradisional. Kardiorespirasi b. dan secara umum dapat meningkatkan status kebugaran jasmani siswa. Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar harus memperhatikan karakteristik anak yang senang dengan bermain. Kekuatan otot d. Daya tahan otot c. Ada beberapa komponen utama kesegaran jasmani a. Dengan pembelajaran permainan tradisional diharapkan siswa akan tumbuh rasa senang dan sungguh-sungguh dalam menjalani proses pembelajaran.

Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain satu kelompok dengan tes awal dan tes akhir.Berdasar deskripsi teori dan kerangka berikir maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Ada pengaruh yang signifikan pada pemberian pembelajaran dengan permainan tradisional terhadap peningkatan kebugaran jasmani siswa. BAB III METODE PENELITIAN B. ( the one group pretest – posttest .

design ). Pembelajaran Permainan Tradisional Merupakan salah satu bentuk permainan yang telah dilakukan secara turun temurun untuk mengisi waktu senggang yang mengutamakan aktifitas . Menurut Sugiyono. variabel dalam penelitian ini di definisikan sebagai berikut : 1. Definisi Operasional Variabel Secara Operasional. diukur kembali tingkat kebugarannya dengan instrumen yang sama menjadi kelompok A2 ( Sugiyono. (1999: 65) desain penelitian the one group pretest – posttest design dapat digambarkan sebagai berikut . A1 Pretest X treatmen A2 posttest Keterangan : A1 = siswa diukur tingkat kebugarannya sebelum treatmen sebagai data awal ( pretest ) X = pemberian treatment berupa pembelajaran penjas dengan pendekatan bermain selama dua bulan A2 = Siswa diukur ingkat kebugarannya setelah treatment sebagai data akhir. Kelompok objek A1. Setelah selama dua bulan. Bila ada perubahan hasil pengukiran maka dianggap ada pengaruh dari perlakuan. 1999:64). C. diukur tingkat kebugarannya kemudian dikenakan perlakuan X.

(3) baring duduk 30 detik. Kesegaran jasmani adalah kemampuan siswa putra kelas IV. Tes ini mempunyai validitas dan reliabilitas . E. 2. (2) gantung siku tekuk. Permainan yang digunakan : gobak sodor. (5) lari 600 meter . Data status sosial diperoleh dengan mengukur kemampuan masing-masing individu dalam melaksanakan tes kesegaran jasmani dari TKJI untuk anak umur 10 – 12 tahun yang merupakan hasil penyempurnaan tes kesegaran jasmani untuk sekolah dasar tahun 1986.badan. Instrumen Instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes status kebugaran. V dan VI SD Negeri Sukogelap. V dan VI melakukan kegiatan sehari-hari dan masih mempunyai sisa cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggang. D. (4) loncat tegak. tikus kucing. elang dan induk ayam. Populasi dan Sampel Penelitian Menurut Drs. yang terdiri atas lima komponen yaitu (1) lari 40 meter. Mardalis ( 2008 : 53 ) populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengambilan sampel. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data 1. sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi. Sampel yang digunakan adalah seluruh populasi siswa kelas IV. boyboynan.

2.884 sedangkan untuk putri 0. Setelah selama dua bulan dilakukan pembelajaran dengan bermain. (2) tes ini lebih mudah diakukan dibanding instrumen yang lainnya karena terdiri dari 5 butir tes. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini penliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut : a. 1999:3). E. Petimbangan menggunakan instrumen adalah (1) instrumen ini merupakan hasil penelitian di Indonesia yang sudah dibakukan. Tes ini dilakukan untuk megetahui perkembangan status kebugaran tubuh. Niai reliabilitas untuk putra 0.yang tinggi. Adapun nilai valliditas untuk putra 0.897. Melaksanakan tes kebugaran yang pertama ( preteest ) b. Nilai validitas merupakan derajat ketatapn dari suatu tes pengukuran. Maka dilakukan tes kebugaran yang kedua ( posttest ) dengan test yang sama.942 (Puskesjasrek. c.911 sedangkan nilai reliabilitas untuk putri 0. Teknik Analisis Data . sedangkan nilai reliabilitas merupakan derajat dari suatu tes pengukuran. Melakukan pendekatan bermain permainan tradisional dalam proses pembelajaran.

Menurut Gerry R. Dalam proses analisis data. fh = Frekuennsi yang diharapkan dalam sampel sebagai pencerminan dari frekuensi yang diharapkan dalam populasi. Thomas (1985 : 127 ) rumus yang digunakan dalam uji t dua sampel berpasangan adalah sebagai berikut : Keterangan D = Selisih Oretest dan Posttest N = Jumlah Populasi Sebelum dilakukan uji t. yaitu untuk mengetahui apakah gejala-gejala yang diteliti mempunyai distribusi normal atau tidak.Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah uji t sampel berpasangan ( pairs sample t-test ) dengan taraf signifikansi 5 %. Uji homogenitas. maka dilakukan uji persyaratan yang meliputi normalitas dan homogenitas. penulis . yaitu menguji kesamaan kedua sampel yang dilakukan dengan uji Kai Kuadrat Bartlett. Uji normalitas dengan rumus Kai Kuadrat. 2. Teknik yang digunakan pada uji prasarat adalajh sebagai berikut : 1. Menurut Sutrisno Hadi (2004 :259) rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : X2 =∑ ( f o − Fh ) 2 fh Keterangan : X2 = Chi Kuadrat fo = Frekuensi yang dieroleh dari (diobservasi dalam ) sampel.

.dibantu oleh Seri Program Statistik ( SPS 2000 ) edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful