P. 1
Pengasuhan Anak dalam Keluarga Sebagai Dasar Pembentukan Karakter atau Kepribadian1

Pengasuhan Anak dalam Keluarga Sebagai Dasar Pembentukan Karakter atau Kepribadian1

|Views: 1,343|Likes:
Published by Dwi Yoga Pranoto

More info:

Published by: Dwi Yoga Pranoto on Apr 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Keluarga adalah sekelompok makhluk ciptaan Tuhan yang merasa ada ikatan atau hubungan antara satu dan lainnya. Dapat berupa hubungan darah, keyakinan, agama, prinsip, kenangan, ikatan emosi, batin dan lain-lain. Keluarga adalah unit satuan terkecil didalam masyarakat. Sehingga keluarga itu terbagi menjadi dua, yaitu: a. Keluarga kecil, merupakan keluarga inti yaitu unit keluarga yang terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak mereka, yang kadang-kadang disebut juga sebagai ³conjugal family´. b. Keluarga besar, didasarkan pada hubungan darah dari sejumlah besar orang, yang meliputi orang tua, anak, kakek-nenek, paman, bibi, keponakan, dan seterusnya. Unit keluarga ini sering disebut sebagai µconguine family¶ (berdasarkan pertalian darah). Keluarga adalah tempat mengembangkan karakter dan kepribadian seseorang, dimana fenomena awal bagi seorang anak yang akan tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Karakter adalah bagian dari kepribadian yang keberadaanya melalui suatu proses, bukan berdasarkan bawaan dari lahir. Karakter dibentuk sesuai dengan pengalaman dan perhatian yang diberikan keluarganya. Pendidikan yang diberikan keluarga dalam hal ini orang tuanya, jika baik dan benar maka akan baik dan benar pula karakter yang dimiliki. Sebaliknya jika tidak ada perhatian yang optimal dari keluarga maka bisa jadi yang terbentuk adalah karakter yang negatif, sebab tidak ada arahan yang benar dari orangtua. Begitupun dengan mental, pikiran, perasaan, pandangan hidup, kecerdasan, emosi, dan dapat diarahkan pada perilaku yang positif. tentunya dengan bantuan dari orangtua sebagai motor penggerak arahan mental tersebut. Karakter yang sehat menunjukkan perilaku yang positif. Sedangkan mental yang sehat menunjukkan adanya kematangan dalam emosi, ketajaman berfikir (cerdas), cepat tanggap dalam setiap permasalahan dan mampu menyelesaikannya. Berdasarkan uraian
1

tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengasuhan anak dalam keluarga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan karakter atau kepribadian anak. Oleh karena itu, penulis akan membahas suatu permasalahan yang berjudul Pengasuhan Anak dalam Keluarga Sebagai Dasar Pembentukan Karakter atau Kepribadian. B. Rumusan Masalah a. Bagaimana pengasuhan anak dalam keluarga ? b. Apa dampak pengasuhan kepada pembentukan karakter dan kepribadian anak didalam keluarga ?

C. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dampak pengasuhan anak dalam keluarga sebagai dasar pembentukan karakter atau kepribadian. Serta untuk menyelesaikan tugas Ilmu Sosial Budaya Dasar sebelum mengikuti Ujian Akhir Semester.

2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengasuhan Anak dalam Keluarga Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat merupakan lingkungan budaya pertama dan utama dalam rangka menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang dianggap penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua, anak belajar tentang banyak hal, termasuk karakter dan kepribadian. Pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak justru dimulai dari keluarga sebelum dia berada di sekolah dan institusi masyarakat lainnya. Keluargalah yang pertama-tama bertanggung jawab terhadap si anak sebelum dia menjadi tanggung jawab institusi lainnya. Jika keluarga gagal membentuk fondasi pribadi yang baik bagi si anak maka jangan heran jika di masyarakat si anak itu menjadi beban hidup publik. Karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan lingkungan, sosialisasi atau pendidikan (nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak dini. Jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya sangat menentukan keberhasilan pembentukan karakter serta kepribadian anak. Coon (1983) mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Sementara itu menurut Megawangi (2003), kualitas karakter meliputi cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, tanggung jawab serta disiplin dan mandiri, jujur/amanah serta arif, hormat dan santun, dermawan serta suka menolong dan gotong-royong, percaya diri serta kreatif dan pekerja keras, kepemimpinan dan adil, baik dan rendah hati, toleran serta cinta damai dan kesatuan.

3

Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Menurut Megawangi (2003), ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi, yaitu maternal bonding, rasa aman, dan stimulasi fisik dan mental. Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. Menurut Erikson, dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibu-anak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. Dengan kata lain, ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak. Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Menurut pakar pendidikan anak, seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya, mengelus, menggendong, dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia usia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira, antusias mengeksplorasi lingkungannya, dan menjadikannya anak yang kreatif. Dalam perkembangannya anak perlu dibimbing untuk mengetahui, mengenal dan mengerti. Seorang anak diharapkan dapat menerapkan sendiri tingkah laku yang sesuai dan meninggalkan tingkah laku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral. Berkaitan dengan peranan orang tua, Zakiah Darajat

4

(1988) mengemukakan, orang tua adalah pembina pribadi dalam hidup anak. Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur pendidikan tidak langsung, yang dengan sendirinya akan masuk kedalam pribadi anak yang sedang atau baru tumbuh. Pendidikan anak yang diterima anak dari orang tuanya dalam pergaulan hidup, dalam cara mereka berbicara, bertindak dan sebagainya dapat menjadi teladan atau pedoman yang ditiru oleh anaknya, karena pendidikan yang diterima anak dari orang tuanya akan menjadi dasar dari pembinaan moral selanjutnya. Perkembangan kepribadian seorang anak sangat dipengaruhi oleh pengasuhan orang tua Freud pelopor penelitian tentang hubungan keluarga mengatakan ³ orang tua yang neuropatik yang melindungi anak secara berlebihan yang memberi kasih sayang yang berlebihan pula, membangkitkan anak pada suatu kecenderungan untuk penyakit neurotik´. Berbagai keterampilan kehidupan dikembangkan pada anak sejak dini di lingkungan keluarga dalam suasana kasih sayang. Keteladanan dalam suasana hubungan yang harmonis serta komunikasi yang efektif antar anggota keluarga merupakan hal yang fundamental bagi berkembangnya kepribadian anak. Dorothy Rich, mengemukakan berbagai keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang anak. Dia menyebutnya sebagai keterampilan mega (mega skills), yaitu percaya diri, motivasi disertai dengan keinginan yang kuat, daya juang disertai dengan kerja keras, tanggung jawab, keuletan, kepedulian, team work, positive thinking, dan problem solving. Seorang ibu dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan untuk menjadikan anakanaknya memiliki Mega Skills. Hal tersebut dapat dicapai dengan memberikan latihan dan tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuan anak sejalan dengan perkembangan usianya. Pendidikan dalam keluarga dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Tetapi secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi :
1. Pembinaan akidah dan akhlak

Akhlak adalah implementasi dari akidah atau keimanan dalam segala bentuk perilaku, pendidikan dan pembinaan anak. Keluarga dilaksanakan

5

dengan contoh dan teladan dari orang tua. Perilaku sopan santun orang tua dalam pergaulan dan hubungan antara ibu, bapak dan masyarakat. Dalam hal ini Benjamin Spock menyatakan bahwa setiap individu akan selalu mencari figur yang dapat dijadikan teladan ataupun idola bagi mereka.
2. Pembinaan intelektual

Pembinaan intelektual dalam keluarga memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, baik intelektual, spiritual maupun sosial.
3. Pembinaan kepribadian dan sosial

Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang dan rumit. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan mulai pembentukan produksi serta reproduksi nalar tabiat jiwa dan pengaruh yang melatar belakanginya. Mengingat hal ini sangat berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat menjaga emosional diri dan jiwa seseorang. Kewajiban orang tua untuk menanamkan pentingnya memberi dukungan kepribadian yang baik bagi anak yang relatif masih muda dan belum mengenal pentingnya arti kehidupan berbuat baik, hal ini cocok dilakukan pada anak sejak dini agar terbiasa berperilaku sopan santun dalam bersosial dengan sesamanya. Untuk memulainya, orang tua bisa dengan mengajarkan agar dapat berbakti kepada orang tua agar kelak si anak dapat menghormati orang yang lebih tua darinya. Anak sangat sensitif terhadap sikap lingkungannya dan orangorang terdekatnya. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sangat mempengaruhi kepribadian anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui bagaimana cara mengasuh anak dengan baik sehingga terbentuklah kepribadian yang baik pula. Kepribadian anak terbentuk dengan melihat dan belajar dari orang-orang disekitar anak. Keluarga adalah orang yang terdekat bagi anak dan mempunyai pengaruh yang sangat besar. Segala perilaku orang tua yang baik dan buruk akan ditiru oleh anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menerapkan sikap dan perilaku yang baik demi pembentukan kepribadian anak yang baik.

6

Pola asuh yang baik untuk pembentukan kepribadian anak yang baik adalah pola asuh orang tua yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi orang tua juga mengendalikan anak. Sehingga anak yang juga hidup dalam masyarakat, bergaul dengan lingkungan dan tentunya anak mendapatkan pengaruh-pengaruh dari luar yang mungkin dapat merusak kepribadian anak, akan dapat dikendalikan oleh orang tua dengan menerapkan sikap-sikap yang baik dalam keluarga serta contoh atau teladan dari orang tua. Orang tua yang bisa dianggap teman oleh anak akan menjadikan kehidupan yang hangat dalam keluarga. Sehingga antara orang tua dan anak mempunyai keterbukaan dan saling memberi. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, gagasan, keinginan, perasaan, serta kebebasan untuk menanggapi pendapat orang lain. Anak-anak yang hidup dengan pola asuh yang demikian akan menghasilkan karakteristik anak yang dapat mengontrol diri, anak yang mandiri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress dan mempunyai minat terhadap hal-hal baru. Pengasuhan anak perlu disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Perkembangan anak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : 1. Faktor bawaan Sifat yang dibawa anak sejak lahir seperti penyabar, pemarah, pendiam, banyak bicara, cerdas atau tidak cerdas. Keadaan fisik seperti warna kulit, bentuk hidung sampai rambut. Faktor bawaan merupakan warisan dari sifat ibu dan bapak atau pengaruh sewaktu anak berada dalam kandungan, misalnya pengaruh gizi, penyakit dan lain-lain. Faktor bawaan dapat mempercepat, menghambat atau melemahkan pengaruh dari lingkungan. Tidak dapat dibandingkan anak yang satu dengan anak yang lain tanpa memperhitungkan faktor ini. 2. Faktor lingkungan Faktor dari luar diri anak yang mempengaruhi proses perkembangan anak. Meliputi suasana dan cara pendidikan lingkungan tertentu, lingkungan rumah atau keluarganya dan hal lain seperti sarana dan

7

prasarana yang tersedia misalnya alat bermain atau lapangan bermain. Faktor lingkungan dapat merangsang berkembangya fungsi tertentu dari anak yang dapat menghambat atau mengganggu kelangsungan

perkembangan anak. Pengaruh yang sangat besar dan sangat menentukan dirinya nanti sebagai orang dewasa adalah ketika anak berusia dibawah 6 tahun, sehingga lingkungan keluarga sangat perlu diperhatikan. Hakikat mengasuh anak adalah proses mendidik agar kepribadian anak dapat berkembang dengan baik, ketika dewasa menjadi bertanggung jawab. Pola asuh yang baik menjadikan anak berkepribadian yang kuat, tidak mudah putus asa dan tangguh menghadapi tekanan hidup. Sebaliknya pola asuh yang salah menjadikan anak rentan terhadap stres, mudah terjerumus pada hal-hal yang negatif. Mengasuh anak melibatkan seluruh aspek kepribadian anak baik jasmani, intelektual, emosional, keterampilan, norma dan nilai-nilai. Hakikat mengasuh anak meliputi pemberian kasih sayang dan rasa aman, sekaligus disiplin dan contoh yang baik. Karenanya diperlukan suasana kehidupan keluarga yang stabil dan bahagia. Cara mengasuh anak harus sesuai dengan tahap perkembangan. Perkembangan anak, sejak dalam kandungan sampai umur 6 tahun, merupakan pondasi dalam membentuk kepribadian anak. Perkembangan ini dibagi 4 tahap, tiap tahapan mempunyai ciri dan tuntutan perkembangan tersendiri. Kebutuhan perkembangan anak meliputi kebutuhan mental, emosional dan sosial. Cara mengasuh anak yang sesuai dengan perkembangan anak, dibagi dalam 4 tahap sebagai berikut: 1. Sejak dalam kandungan Kesehatan anak di dalam kandungan dipengaruhi oleh keadaan kesehatan ibunya. Bila ibu sakit fisik (misalnya infeksi), maka anak dalam kandungan dapat tertular. Bila ibu stres, anak dalam kandungan juga dapat terpengaruh. Karena itu, ibu perlu mempersiapkan diri dengan baik agar anak dalam kandungan sehat fisik dan mental. Ibu perlu menjaga pikiran dan perasaan supaya anaknya nanti tidak rewel dan mudah menyesuaikan

8

diri. Suara ibu adalah suara yang sering di dengar anak. Suara keras atau lembut ibu akan diikuti anak setiap waktu. Bapak dan ibu perlu menjaga percakapannya supaya anak terbiasa mendengarkan dan mudah meniru yang baik-baik nantinya. Ibupun harus tenang. Jika ibu sering cemas, sedih, ketakutan dan marah, maka setelah lahir anak bisa menjadi rewel, selalu gelisah dan sukar menyesuaikan diri. 2. Sejak lahir sampai 1,5 tahun Sejak lahir anak sepenuhnya bergantung pada orang lain terutama ibu atau pengasuhnya. Anak perlu dibantu untuk mempertahankan hidupnya. Tahap ini untuk mengembangkan rasa percaya diri pada lingkungannya. Bila rasa percaya tidak dapat, maka timbul rasa tidak aman, rasa ketakutan dan kecemasan. Bayi belum bisa bercakap-cakap untuk menyampaikan keinginannya. Tangisan pada bayi menunjukkan bahwa ia membutuhkan bantuan. Ibu harus belajar mengerti maksud tangisan bayi. ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Dengan pemberian asi, bayi akan di dekap ke dada sehingga merasakan kehangatan tubuh ibu dan terjalinlah hubungan kasih sayang antara bayi dan ibunya. Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu dan anak pada tahap ini akan menyebabkan terganggunya pembentukan rasa aman dan rasa percaya diri. Gangguan yang dapat timbul pada tahap ini adalah kesulitan makan, mudah marah, menolak sesuatu yang baru, sikap dan tingkah laku yang seolah-olah ingin melekat pada ibu dan menolak lingkungan. 3. Usia 1,5 sampai 5 tahun Tahap ini merupakan tahap pembentukan kebiasaan diri. Aspek psikososialnya, anak bergerak dan berbuat sesuai kemauan sendiri, meraih apa yang bisa dijangkau, dapat menuntut apa yang dikehendaki atau menolak apa yang tidak dikehendaki. Pada tahap ini, akan tertanam dalam diri anak perasaan otonomi diri seperti makan sendiri, pakai baju sendiri dan lain-lain. Hal ini menjadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri dikemudian hari. Orang tua hendaknya mendorong agar anak

9

dapat bergerak bebas, menghargai dan meyakini kemampuannya. Jika terdapat gangguan dalam mencapai rasa otonomi diri, anak akan dikuasai rasa malu, ragu-ragu serta pengekangan diri yang berlebihan. Sebaliknya dapat juga terjadi melawan dan berontak. Gangguan yang timbul pada tahap ini, anak sulit makan, suka ngadat dan ngambek, menentang dan keras kepala, suka menyerang atau agresif. Konsep ruang dan sebab akibat mulai berkembang. Mulai mengenal nama-nama di sekitarnya dan mulai menggolongkan serta membedakan benda berdasarkan kegunaannya. Bahasa mulai berkembang dan mulai menirukan kata-kata dan perilaku orang disekitarnya walaupun anak belum mengerti. 4. Usia 3 sampai 6 tahun (prasekolah) Dengan meningkatnya kemampuan berbahasa dan kemampuan untuk melakukan kegiatan yang bertujuan, anak mulai memperhatikan dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Anak bersifat ingin tahu, banyak bertanya dan meniru kegiatan sekitarnya, libatkan diri dalam kegiatan bersama dan menunjukan inisiatif untuk mengerjakan sesuatu tetapi tidak mementingkan hasilnya, mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin. Pada tahap ini seorang ayah mempunyai peran yang penting bagi anak. Anak laki-laki merasa lebih sayang pada ibunya dan anak perempuan lebih sayang pada ayahnya. Melalui peristiwa ini anak dapat mengalami perasaan sayang, benci, iri hati, bersaing, memiliki dan lain-lain. Ia dapat pula mengalami perasaan takut dan cemas. Dalam hal ini, kerjasama ayah dan ibu sangat penting artinya. Yang diperlukan anak seusia ini adalah melatih kemampuan fisik, kemampuan berfikir, mendorong anak bergaul dan mengembangkan angan-angan. Pada tahap ini aspek intelektualnya mulai berkembang lebih nyata tentang konsep ruang dan waktu, mulai mengenal betuk-bentuk dua dan tiga dimensi, warna-warna dasar, simbol-simbol angka, matematika dan huruf. Gangguan yang dapat timbul pada tahap ini adalah masalah pergaulan dengan teman, pasif dan takut berbuat sesuatu,

10

takut mengemukakan sesuatu serta kurang kemauan, masalah belajar dan merasa bersalah. Pola asuh orang tua yang menyimpang berarti suatu pola yang berbeda dari pola yang umum diantara anak dengan siapa mereka bergaul. Dan karena perbedaan ini, anak merasa bahwa mereka menarik perhatian. Sebagai contoh, anak yang orang tuanya jauh lebih tua dari orang tua teman sebaya atau anak yang mempunyai orang tua tiri sementara teman bermainnya mempunyai orang tua kandung, menginterpretasikan hal ini sebagai tanda mereka berbeda. Pola asuh orang tua yang menyimpang berbahaya untuk penyesuaian pribadi dan sosial yang baik. Anak cenderung menilai ³perbedaan´ itu searti dengan ³inferioritas´. Siapa saja yang berbeda dari mereka, dengan standar ini dianggap ³inferior´. Bila anak dinilai inferior oleh kelompok teman sebaya, penilaian ini mempunyai pengaruh merugikan pada konsep diri mereka. Mereka menganggap dirinya inferior dari teman sebaya. Penilaian sosial yang tidak menguntungkan juga mempengaruhi tingkat penerimaan sosial yang mampu dicapai anak dalam kelompok teman sebaya. Seberapa besar bahaya pola asuh orang tua yang menyimpang terhadap penyesuaian pribadi dan sosial anak akan bergantung pada 3 kondisi yaitu : 1. Sikap sosial yang umum berlaku terhadap pola kehidupan keluarga yang menyimpang akan mempunyai pengaruh kuat pada sikap teman sebaya. Sikap sosial ini dipelajari anak dari orang tua dan orang dewasa lain dan kemudian dijadikannya sikapnya sendiri. 2. Terdapat keragaman menurut kelompok sosial yang memberikan penilaian. 3. Mencoloknya pola asuh orang tua yang menyimpang mempengaruhi si anak dalam penyesuaian sosialnya. Orang tua yang tidak mengerti dengan pribadi anaknya bisa disebut juga dengan kesalahan pola asuh orang tua. Ada tiga kesalahan pola asuh, yakni kesalahan pola asuh orang tua, kesalahan pada gen saraf yang dalam

11

pengobatannya membutuhkan waktu lama dengan cara terapi, dan kelambatan daya tangkap. Banyak orang tua yang tidak memberikan anaknya bermain keluar, padahal anak itu perlu bermain. Dalam hal ini kecerdasan emosi anak sudah diredam oleh orang tuanya. Agar anak mau tinggal di rumah, orang tua lalu memberikan play station. Dengan demikian anak bermain dengan benda mati. Akibatnya ketika nanti keluar, dia tidak akan bisa berteman dan individunya menjadi egois. Ciri-ciri anak seperti itu misalnya, tidak bisa duduk tenang dan tidak bisa mendengarkan perintah. Lebih baik anak tersebut bermain bola dengan banyak teman. Dengan begitu akan muncul kerjasama yang baik, muncul sikap demokratisnya, tahu disiplin, dan mampu merasakan kalah-menang. Orang tua perlu meminimalkan gaya pola asuh yang negatif. Menurut Gagne ada tiga gaya asuh orang tua: pertama, orang tua eksesif yang bisa disederhanakan dengan ungkapan, ³Awas! Ayah/Ibu bisa jadi marah´. Kedua, orang tua otoriter bisa dicontohkan dengan ungkapan, ³Lakukan yang Ibu katakan!´ ketiga, orang tua cuek. Orang tua seperti ini dalam pola asuhnya mengisyaratkan, ³Lakukan apa yang kau inginkan!´ keempat, orang tua absen, adalah orang tua yang bertindak seolah mereka tidak ada, hal ini biasanya karena orang tua yang sibuk bekerja. Seolah mereka mengatakan, ³Tolong jangan ganggu saya!´ kelima, orang tua pelatih (coach) yang menghadapi anaknya dengan gaya, ³ungkapkan keinginan dan pandanganmu!´. Sikap orang tua terhadap anak sangat mempengaruhi kepribadian anak. Sikap yang baik yang dapat mendukung pembentukan kepribadian anak antara lain : 1. Penanaman pekerti sejak dini Orang tua dan keluarga adalah penanggung jawab pertama dan utama penanaman sopan santun dan budi pekerti bagi anak. Baru kemudian, proses penanaman akan dilanjutkan oleh guru dan masyarakat. Ketiga unsur ini, menurut Yaumil C. Agoes Achir (2000: 43), hendaknya bekerja sama secara harmonis. Sopan santun harus ditanamkan pada anak sedini mungkin. Sebab sopan santun dan tata krama adalah perwujudan dari jiwa

12

yang berisi nilai moral. ³untuk selanjutnya moral akan turut berkembang dengan yang lain dan akan dijadikan nilai sebagai pedoman dalam perilaku keseharian´, ujar Yaumil Achir. Penanaman nilai baik dan buruk sebaiknya dilakukan perlahan-lahan, sesuai dengan tahap pertumbuhan anak, daya tangkap dan serap mentalnya. Ajarkan anak bersyukur setelah memperoleh sesuatu, ajarkan kejujuran, sopan santun, mencintai sesama, memelihara, memperbaiki, dan lain-lain. 2. Mendisiplinkan anak Dengan penerapan disiplin pada anak sejak dini, akan menumbuhkan pribadi anak yang mandiri. Seorang anak akan belajar berperilaku dengan cara yang diterima masyarakat, dan sebagai hasilnya anak dapat diterima oleh anggota kelompok sosial mereka. Banyak orang tua yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika anak mulai melanggar aturan yang telah diterapkan bersama dalam keluarga. Yang terjadi kemudian adalah reaksi emosional yang akhirnya menimbulkan rasa bersalah orang tua. Pendekatan yang bisa digunakan orang tua adalah mengkombinasikan cinta dengan batasan-batasan yang telah disepakati bersama dalam keluarga. Dr. Carolyn Webster-Stratton menekankan prinsip disiplin harus dibuat sangat individual, sesuai kebutuhan masing-masing anak dan keluarga. 3. Menyayangi anak secara wajar Bagi ayah dan ibu yang bekerja sepanjang hari, atau mempunyai aktivitas sosial/organisasi yang berlebihan, kebanyakan menitipkan anaknya kepada ibu pengganti. Itu bisa berarti nenek atau saudara orang tua sendiri atau menggaji perawat/pengasuh anak. Walaupun tidak

menemaninya sepanjang hari, sikap dan perilaku orang tua dalam memberikan kasih sayang sebaiknya dilakukan secara wajar. ³jangan memanjakan anak sebagai imbalan atas hilangnya waktu bersama anak akibat kesibukan orang tua. Apalagi memanjakan anak karena merasa berdosa, karena meninggalkan anak seharian´, ujar Fawzia Asmin Hadis (2005: 54).

13

4. Menghindari pemberian label ³malas´ pada anak Banyak orang tua yang acapkali memberi cap atau label ³malas´ kepada anaknya. Sebutan ini dapat merugikan anak sebab membuat anak kurang berusaha karena merasa upaya yang dilakukannya tidak akan diperhatikan. Bahkan anak akan berlaku sebagaimana diharapkan melalui label yang disandangnya itu. Label tersebut akan merusak pembangunan konsep diri anak yang dibentuk sejak masa kecil. Oleh karenanya, para orang tua hendaknya menghindari pemberian label ³malas´ kepada anaknya. Dengan label itu, anak akan merasa diperlakukan tidak adil menerima cap yang tidak pernah dikehendakinya, ujar Henny Sitepu M.A (2005: 56). Hal penting yang harus dilakukan orang tua justru membangun semangat anak. Hal ini dapat dilakukan melalui kepercayaan yang diberikan pada anak melalui kegiatan yang unik serta mengandung tantangan atau dorongan lainnya. Sehingga anak menjadi individu yang mandiri. 5. Hati-hati dalam menghukum anak Hukuman yang diberikan orang tua kepada anak adalah hukuman yang dapat mendidik anak, bukan hukuman yang dapat membuat anak menjadi trauma. Asumsi bahwa tiap perilaku salah itu disengaja adalah tidak benar. Anak terkadang tidak mengerti apa yang telah dilakukannya itu perilaku yang benar atau salah. Hukuman juga perlu diberikan kepada anak, sehingga anak akan mengetahui perilaku yang telah dilakukannya itu benar atau salah. Fungsi hukuman yaitu : a. Menghalangi Hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat. Bila anak menyadari bahwa tindakan tertentu akan dihukum, mereka biasanya urung melakukan tindakan tersebut. b. Mendidik Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman karena melakukan tindakan yang diperbolehkan.

14

c. Motivasi Pengetahuan tentang akibat-akibat tindakan yang salah perlu sebagai motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut. Untuk membangun dan membentuk anak yang berkarakter dan berkepribadian yang positif dibutuhkan langkah-langkah dan strategi yang jitu. Sebab strategi yang jitu dan pas akan berdampak sangat signifikan terhadap keberhasilan, strategi tersebut yaitu : 1. Tekankan segi positif Disiplin yang berhasil mencakup strategi untuk menumbuhkan dan menekankan perilaku serta kepribadian anak yang baik. Perilaku yang positif muncul secara alamiah sebagai bagian dari perkembangan yang normal seorang anak prasekolah. Akan tetapi, perilaku lain ada yang merupakan bukan bagian normal dari perkembangan anak prasekolah dan perlu diajarkan. Misalnya, anak prasekolah secara alamiah bersifat progresif terhadap milik mereka dan harus belajar untuk berbagi. Anak biasanya mementingkan dirinya sendiri dan harus diajarkan bagaimana bermain dan bersosialisasi dengan orang lain. Anak prasekolah juga tidak sabar, sehingga orang tua harus menunjukkan kepada mereka bagaimana menunggu giliran. Anak tidak secara otomatis akan bersikap sopan, jadi orang tua mendidik anak-anak mereka dalam hal tata krama. Anak prasekolah akan belajar dari contoh orang tua, oleh karena itu orang tua harus dapat menghargai perilaku yang baik ketika anak melakukannya. Memperhatikan anak ketika anak melakukan hal tersebut. Mengajarkan anak untuk mengetahuinya pada saat ia melakukan hal yang tepat. Dan mengajarkan anak untuk mengaitkan perilaku yang tepat dengan perasaan bangga terhadap dirinya sendiri. 2. Jaga agar peraturan tetap sederhana Peraturan yang dibuat sebaiknya peraturan yang di buat bersama. Jika anak membantu dalam membuat peraturan, lebih besar kemungkinanya anak akan menuruti peraturan tersebut. Orang tua harus memilih waktu yang tepat, yaitu ketika anak berperilaku baik kalau tidak anak akan

15

berpikir peraturan itu akibat dari perilakunya yang salah. Orang tua mendekati anak dan menjelaskan mengapa peraturan itu ada dan penting. 3. Bersikap proaktif Bersikap proaktif juga berarti memberikan pilihan kepada anak, menjaga keterlibatan mereka, dan mengizinkan mereka untuk

berpartisipasi. Orang tua memberikan pilihan berarti memperlengkap anak dengan kayakinan diri dan dapat meminimumkan penolakan. Pada awalnya bersikap proaktif berarti mengantisipasi masalah yang akan terjadi. Misalnya seorang anak yang akan pergi dengan ibunya ke tempat ibadah. Jika orang tua menyangka akan terjadi suatu masalah, maka bicarakan dengan anak sebelum berangkat. Orang tua memberitahu apa yang diharapkan dari anak. Orang tua mengatakan, ³ibu perlu kerja sama denganmu sewaktu sholat. kemarin kamu baik sekali. Ibu tahu kamu bisa seperti itu lagi´. 4. Mengarahkan kembali perilaku yang salah Mengarahkan kembali terdiri dari dua bagian, mengoreksi perilaku yang tidak sesuai lalu mengajarkan perilaku yang tepat. Jelaskan kepada anak mengapa tindakannya itu tidak dapat diterima, lalu jelaskan apa yang harus dilakukannya, sambil orang tua memberikan contoh yang tepat pada anak. Mengarahkan kembali merupakan teknik yang sangat bermanfaat selama orang tua tidak menyerah. Orang tua jangan memberikan imbalan untuk perilaku yang tidak dapat diterima. Kalau tidak anak akan sulit untuk diarahkan kembali, karena anak tahu bahwa dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya dengan caranya sendiri. 5. Mengatasi transisi Transisi adalah perubahan. Misalnya anak telah melakukan suatu kegiatan dan akan pindah ke kegiatan yang lain. Anak perlu mengubah dari satu suasana ke suasana yang lain. Transisi sering terjadi dalam sehari kehidupan anak. Para orang tua yang berhasil selalu mengantisipasi transisi dan merencanakannya untuk membuatnya selancar mungkin. Kembangkan

16

strategi transisi yang dimulai dengan peringatan tentang waktu. Lalu ingatkan anak tentang urutan-urutan kejadian selama tansisi. 6. Negosiasi dan kompromi Keterampilan negosiasi dan kompromi mengajar anak untuk

memecahkan masalah melalui komunikasi dan kesepakatan, bukan dengan memukul atau mengata-ngatai. Negosiasi memberikan suatu cara yang produktif bagi anak untuk mengungkapkan perasaan mereka. Hal ini mengurangi perilaku negatif dengan memberikan cara positif untuk mendapatkan apa yang mereka perlukan dan inginkan. Memecahkan ketidaksepakatan dimulai dengan mendorong anak untuk melihat hal-hal dari sudut pandang orang lain. Kompromi dan negosiasi memberikan lebih banyak kontrol pada anak atas dunia mereka dan mendorong kerja sama. Mengajarkan keterampilan ini tidak hanya bermanfaat selama tahun-tahun prasekolah, ini sangat penting sementara anak bertambah besar dan mencapai usia remaja dan terbentuknya kepribadian. 7. Jangan membuat alasan Terkadang orang tua memberikan alasan ketika anak mereka berperilaku salah. Tetapi dengan membuat alasan, secara tidak langsung orang tua mengajarkan anak untuk berperilaku salah. Kebiasaan memberikan alasan akan terus menghantui orang tua, orang tua memberi anak alasan untuk berperilaku salah dimasa mendatang. Anak akan menggunakan alasan tersebut untuk berdebat dan menghindari tanggung jawab. Orang tua biasanya menginginkan cara yang cepat yaitu dengan menyuap anak agar berperilaku baik. Penyuapan mengajar anak untuk bersikap argumentatif dan menentang. Penyuapan mendorong perilaku yang salah. Orang tua jangan memberikan imbalan untuk perilaku yang tidak dapat diterima. Jangan menyerah pada tuntutan, rengekan, atau sindiran. Hentikanlah imbalan untuk seterusnya. Bersikaplah konsisten dan sabar. Ketika anak berperilaku salah, tangani dengan cara yang baik bukan dengan alasan. Alasan hanya memberikan alasan kepada anak untuk berperilaku salah.

17

8. Hindari kontrol lewat rasa bersalah Mengendalikan perilaku yang salah dengan rasa bersalah, ejekan, atau hinaan tidaklah efektif karena merusak harga diri seorang anak. Setiap ejekan mengikis harga diri dan keyakinan diri seorang anak, serta menciptakan rasa malu yang kuat. Ketika seorang anak dihina, itu akan mengakibatkan kerusakan permanen terhadap karakter moralnya. Seorang anak yang sering dipermalukan atau dihina dapat mulai berpikir ia lebih rendah dan tidak mampu mengendalikan diri. Harga diri anak prasekolah masih terlalu rentan pada usia ini. Orang tua tentu tidak menginginkan anaknya berperilaku baik hanya untuk menghindari ejekan, akan tetapi orang tua tentu menginginkan anaknya berperilaku baik karena hal itu memang tepat untuk dilakukan. Dalam bentuk kepribadian, sistem-sistem psikofisik yang beragam yang membentuk kepribadian individu saling berkaitan, dan yang satu

mempengaruhi yang lain. Dua komponen utama bentuk kepribadian adalah inti ³konsep diri´ dan jari-jari roda ³sifat-sifat´ yang dipersatukan dan dipengaruhi inti. Komponen tersebut yaitu : 1. Konsep diri Konsep diri sebenarnya ialah konsep seseorang dari siapa dan apa dia tahu. Konsep ini merupakan bayangan cermin ditentukan sebagian besar oleh peran dan hubungan dengan orang lain terhadapnya. Konsep diri ideal ialah gambaran seseorang mengenai penampilan dan kepribadian yang didambakannya. Setiap macam konsep diri mempunyai aspek fisik dan psikologis. Aspek fisik terdiri dari konsep yang dimiliki individu tentang penampilannya, kesesuaian dengan seksnya, arti penting tubuhnya dalam hubungan dengan perilakunya, dan gengsi yang diberikan tubuhnya di mata orang lain. Aspek psikologis terdiri dari konsep individu tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Mula-mula kedua aspek ini terpisah, tetapi selama kanak-kanak secara bertahap aspek-aspek ini menyatu.

18

2. Sifat-sifat Sifat-sifat adalah kualitas perilaku atau pola penyesuaian spesifik, misalnya reaksi terhadap frustasi, cara menghadapi masalah, perilaku agresif dan defensif, dan perilaku terbuka atau tertutup di hadapan orang lain. Ciri tersebut terintegrasi dengan dan dipengaruhi oleh konsep diri. Beberapa di antaranya terpisah dan berdiri sendiri, sementara yang lain bergabung dalam sindroma atau pola perilaku yang berhubungan. Sifat-sifat mempunyai dua ciri yang menonjol, yaitu individualitas yang diperlihatkan dalam variasi kuantitas ciri tertentu, dan bukan dalam kekhasan ciri bagi orang itu, serta konsisten yang berarti bahwa orang itu bersikap dengan cara yang hampir sama dalam situasi dan kondisi serupa. Bentuk kepribadian merupakan hasil pengaruh hereditas dan

lingkungan. Thomas dan kawan-kawan mengatakan, ³kepribadian dibentuk oleh temperamen dan lingkungan yang terus menerus saling

mempengaruhi´. Mereka selanjutnya menerangkan bahwa ³jika kedua pengaruh itu harmonis, orang dapat mengharap perkembangan anak yang sehat, jika tidak harmonis, masalah perilaku hampir pasti akan muncul´ (93). Terdapat tiga faktor yang menentukan perkembangan kepribadian, faktor bawaan, pengalaman awal, dan pengalaman-pengalaman dalam kehidupan selanjutnya. Pola tersebut sangat erat hubunganya dengan kematangan ciri fisik dan mental yang merupakan unsur bawaan individu. Ciri-ciri ini menjadi landasan bagi struktur pola kepribadian yang dibangun melalui pengalaman belajar. Melalui belajar, sikap terhadap diri dan metode khas untuk menanggapi orang dan situasi, sifat-sifat kepribadian didapatkan melalui pengulangan dan kepuasan yang diberikannya. Pengalaman belajar yang awal terutama didapat di rumah dan pengalaman kemudian diperoleh dari berbagai lingkungan diluar rumah. Tekanan sosial di rumah, sekolah dan kelompok teman sebaya juga mempengaruhi corak sifat-sifat kemudian hari. Bila agresivitas diperkuat karena dianggap ciri yang sesuai dengan jenis kelamin untuk anak laki-laki, anak akan berusaha belajar bersikap agresif.

19

B. Dampak Pengasuhan Kepada Pembentukan Karakter dan Kepribadian Anak Didalam Keluarga Era globalisasi yang berbarengan dengan liberalisasi serta melonggarnya pendidikan/pengasuhan keluarga di rumah karena orang tua terlalu sibuk bekerja, arisan, nonton sinetron dan infotainment di TV. Akibatnya, perhatian terhadap anak jadi terabaikan. Sebagian dari orang tua beranggapan dengan memberikan sejumlah uang dan fasilitas/mainan sudah merasa cukup memberikan perhatian kepada anak. Padahal yang dibutuhkan anak adalah sentuhan kasih sayang dan perhatian dalam bentuk komunikasi langsung yang intensif. Anak butuh bimbingan yang menuntun perilaku mereka dan dapat membedakan mana yang boleh dan yang tidak boleh, mana yang baik dan yang buruk. Mereka membutuhkan pendidikan/pengajaran tentang hak dan kewajiban sebagai anak. Mereka juga perlu diajari tentang tanggung jawab, oleh karena itu anak harus diberi tugas sesuai dengan tingkat kemampuan dan kematangan usianya. Boleh jadi anak bermasalah juga dikarenakan salah asuh. Contoh ; anak yang terlalu dimanja dapat mengakibatkan dia kurang percaya diri, dan cengeng. Anak yang terlalu dikekang (over protective), menyebabkan dia bertindak liar, binal dan lepas kendali ketika jauh dari rumah. Sebaliknya, anak yang selalu dibebaskan (dimasabodohkan), dia juga akan masabodoh (permisif) tentang apa-apa yang terjadi di sekitarnya, dia akan sulit membedakan sesuatu yang benar daripada yang salah serta apa arti sebuah tanggung jawab. Ketika gejala negatif anak semakin meningkat sungguh sangat mencemaskan, karena hampir tidak ada upaya signifikan untuk mengatasinya. Seharusnya masalah anak itu menjadi perhatian kita bersama, pemerintah dan semua komponen masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga. Perlu ada upaya penyadaran guna merevitalisasi peran ibu dalam pendidikan, bimbingan dan pengasuhan keluarga (anak), karena ibulah yang memiliki kelembutan dan paling banyak berhubungan dengan anak. Berdasarkan hasil penelitian, ternyata sebagian besar orang terkenal dan berhasil dalam kariernya adalah mereka yang di masa kecil banyak mendapatkan curahan

20

perhatian dan kasih sayang dari keluarga, khususnya dari ibunya. Dengan kedekatannya seorang ibu dan anak, ibu akan tahu persis potensi dan kelemahan anak sehingga seorang ibu akan dapat mengarahkan pendidikan anak selanjutnya ke jurusan yang tepat dan atau pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat anak. Seorang anak yang sejak kecil mendapatkan pendidikan moral, agama, budi pekerti dan pengetahuan umum yang seimbang serta keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minatnya, cenderung menjadi seorang yang berkepribadian baik, bermanfaat bagi sesama, siap mengabdi bagi nusa dan bangsa serta bela negara. Karena mencintai nusa, bangsa dan bela negara merupakan sebagian dari iman dan kewajiban (right or wrong is my country). Keluarga adalah kelompok sosial pertama dengan siapa anak

diidentifikasikan, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya. Anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan anak selama tahun-tahun saat desas-desus kepribadian diletakkan, dan pengaruh keluarga jauh lebih luas dibandingkan pengaruh kepribadian lainnya, bahkan sekolahpun. Betapa besar pengaruh keluarga pada perkembangan kepribadian anak telah dinyatakan oleh seorang penulis tak bernama dengan cara berikut: 1. Bila seorang anak hidup dengan kecaman, dia belajar mengutuk 2. Bila dia hidup dalam permusuhan, dia belajar berkelahi 3. Bila dia hidup dalam ketakutan, dia belajar menjadi penakut 4. Bila dia hidup dikasihani, dia belajar mengasihi dirinya 5. Bila dia hidup dalam toleransi, dia belajar bersabar 6. Bila dia hidup dalam kecemburuan, dia belajar merasa bersalah 7. Bila dia hidup diejek, dia belajar menjadi malu 8. Bila dia hidup dipermalukan, dia belajar yakin akan dirinya 9. Bila dia hidup dengan pujian, dia belajar menghargai 10. Bila dia hidup dengan penerimaan, dia belajar menyukai dirinya 11. Bila dia memperoleh pengakuan, dia belajar mempunyai tujuan 12. Bila dia hidup dalam kebijakan, dia belajar menghargai keadilan

21

13. Bila dia hidup dalam kejujuran, dia belajar menghargai kebenaran 14. Bila dia hidup dalam suasana aman, dia belajar percaya akan dirinya dan orang lain Dari jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya sangat menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak. Kesalahan dalam pengasuhan anak akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik. Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua yaitu : 1. Pola asuh demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. 2. Pola asuh otoriter Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya. 3. Pola asuh permisif Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat

22

sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak. 4. Pola asuh penelantar Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biaya pun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya. Menurut Diane Baumrind dalam Djiwandono (1989: 23-24) pola asuh orang tua dapat diidentifikasikan menjadi 3, yaitu: 1. Pola asuh demokratis Pola asuh orang tua yang demokratis pada umumnya ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak. Mereka membuat semacam aturan-aturan yang disepakati bersama. Orang tua yang demokratis ini yaitu orang tua yang mencoba menghargai kemampuan anak secara langsung. 2. Pola asuh otoriter Pola asuh otoriter ditandai dengan orang tua yang melarang anaknya dengan mengorbankan otonomi anak. Menurut Danny (1986: 96), pola asuh otoriter mempunyai aturan-aturan yang kaku dari orang tua. 3. Pola asuh permisif Pola asuh permisif ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas kepada anak untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan keinginan anak. Moesono (1993: 18) menjelaskan bahwa pelaksanaan pola asuh permisif atau dikenal pula dengan pola asuh serba membiarkan adalah orang tua yang bersikap mengalah, menuruti semua keinginan, melindungi secara berlebihan, serta memberikan atau memenuhi semua keinginan anak secara berlebihan.

23

Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya, yaitu : 1. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik 2. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya 3. Bersikap kasar secara verbal, misainya menyindir, mengecilkan anak, dan berkata-kata kasar 4. Bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit, dan memberikan hukuman badan lainnya 5. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini. 6. Tidak menanamkan "good character' kepada anak Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas, menurut Megawangi akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah. Anak menjadi acuh tak acuh, tidak butuh orang lain, dan tidak dapat menerima persahabatan. Karena sejak kecil mengalami kemarahan, rasa tidak percaya, dan gangguan emosi negatif lainnya. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan, simpati, cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. la kelihatan sangat mandiri, tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang lain. Secara emosional tidak responsif, dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain. Berperilaku agresif, yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik. Menjadi minder, merasa diri tidak berharga dan berguna. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya, seperti rasa tidak aman, khawatir, minder, curiga dengan orang lain, dan merasa orang lain sedang mengkritiknya. Ketidakstabilan emosional, yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress, mudah tersinggung, mudah marah, dan sifat yang tidak dapat diprediksi oleh orang lain. Ketidakseimbangan antara

perkembangan emosional dan intelektual. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar, dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja, tawuran, dan lainnya. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan

24

anak, akan membuat anak merasa tidak dekat, dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ´role model´ Anak akan lebih percaya kepada "peer group"nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif. Pengaruh keluarga pada perkembangan kepribadian bergantung sampai batas tertentu pada tipe anak. Misalnya, seorang anak yang sehat akan sangat berbeda reaksinya terhadap perlindungan orang tua yang berlebihan dibandingkan dengan seorang anak yang sakit dan lemah. 1. Pengaruh pengasuhan orang tua yang bekerja dan yang tidak bekerja terhadap pembentukan kepribadian anak Sikap, kebiasaan dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama, sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. Kenyataan tersebut menyiratkan betapa pentingnya dasar-dasar yang diberikan orang tua pada anaknya pada masa kanak-kanak. Karena dasardasar inilah yang akan membentuk kepribadian yang dibawa sampai masa tua. Tidak dapat dipungkiri kesempatan pertama bagi anak untuk mengenal dunia sosialnya adalah dalam keluarga. Didalam keluarga untuk pertama kalinya anak mengenal aturan tentang apa yang baik dan tidak baik. Oleh karena itu, orang tua harus bisa memberikan pendidikan dasar yang baik kepada anak-anaknya agar nantinya bisa berkembang dengan baik. Kenyataan yang terjadi pada masa sekarang adalah berkurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya karena keduanya sama-sama bekerja. Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya interaksi orang tua dengan anaknya. Keadaan ini biasanya terjadi pada keluarga-keluarga muda yang semuanya bekerja. Anak-anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua karena keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masingmasing. Sedangkan anak pada usia ini sangat mambutuhkan perhatian lebih dari orang tua terutama untuk perkembangan kepribadian. Anak yang ditinggal orang tuanya dan hanya tinggal dengan seorang pengasuh yang dibayar

25

orang tua untuk menjaga dan mengasuh, belum tentu anak mendapatkan pengasuhan yang baik sesuai perkembangannya dari seorang pengasuh. Anak yang ditinggal kedua orang tuanya bekerja cenderung bersifat manja. Biasanya orang tua akan merasa bersalah terhadap anak karena telah meninggalkan anak seharian. Sehingga orang tua akan menuruti semua permintaan anak untuk menebus kesalahanya tersebut tanpa berpikir lebih lanjut permintaan anak baik atau tidak untuk perkembangan kepribadiaan anak selanjutnya. Kurangnya perhatiaan dari orang tua akan mengakibatkan anak mencari perhatian dari luar, baik di lingkungan sekolah dengan teman sebaya ataupun dengan orang tua pada saat mereka di rumah. Anak suka mengganggu temannya ketika bermain, membuat keributan di rumah dan melakukan hal-hal yang terkadang membuat kesal orang lain. Semua perlakuan anak tersebut dilakukan hanya untuk menarik perhatian orang lain karena kurangnya perhatian dari orangtua. Sedangkan orang tua yang tidak bekerja di luar rumah akan lebih fokus pada pengasuhan anak dan pekerjaan rumah lainnya. Anak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan anak menjadi kurang mandiri, karena terbiasa dengan orang tua. Segala yang dilakukan anak selalu dengan pengawasan orang tua. Oleh karena itu, orang tua yang tidak bekerja sebaiknya juga tidak terlalu over protektif. Sehingga anak mampu untuk bersikap mandiri. 2. Pengaruh pengasuhan orang tua yang berpendidikan tinggi dan

berpendidikan rendah terhadap pembentukan kepribadian anak Latar belakang pendidikan orang tua mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan kepribadian anak. Orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tingi akan lebih memperhatikan segala perubahan dan setiap perkembangan yang terjadi pada anaknya. Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya mengetahui bagaimana tingkat perkembangan anak dan bagaimana pengasuhan orang tua yang baik sesuai dengan perkembangan anak khususnya untuk pembentukan kepribadian yang baik bagi anak. Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya dapat

26

mengajarkan sopan santun kepada orang lain, baik dalam berbicara ataupun dalam hal lain. Berbeda dengan orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Dalam pengasuhan anak umumnya orang tua kurang memperhatikan tingkat perkembangan anak. Hal ini dikarenakan orang tua yang masih awam dan tidak mengetahui tingkat perkembangan anak. Bagaimana anaknya berkembang dan dalam tahap apa anak pada saat itu. Orang tua biasanya mengasuh anak dengan gaya dan cara mereka sendiri. Apa yang menurut mereka baik untuk anaknya. Anak dengan pola asuh orang tua yang seperti ini akan membentuk suatu kepribadian yang kurang baik. 3. Pengaruh pengasuhan orang tua dengan tingkat ekonomi menengah keatas dan menengah kebawah Permasalahan ekonomi dalam keluarga merupakan masalah yang sering dihadapi. Tanpa disadari bahwa permasalahan ekonomi dalam keluarga akan berdampak pada anak. Orang tua terkadang melampiaskan kekesalan dalam menghadapi permasalahan pada anak. Anak usia prasekolah yang belum mengerti tentang masalah perekonomian dalam keluarga hanya akan menjadi korban dari orang tua. Dalam pola asuh yang diberikan oleh orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah keatas dan orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah berbeda. Orang tua yang tingkat perekonominnya menengah keatas dalam pengasuhannya biasanya orang tua memanjakan anaknya. Apapun yang diinginkan oleh anak akan dipenuhi orang tua. Segala kebutuhan anak dapat terpenuhi dengan kekayaan yang dimiliki orang tua. Pengasuhan anak sebagian besar hanya sebatas dengan materi. Perhatian dan kasih sayang orang tua diwujudkan dalam materi atau pemenuhan kebutuhan anak. Anak yang terbiasa dengan pola asuh yang demikian, maka akan membentuk suatu kepribadian yang manja, serba menilai sesuatu dengan materi dan tidak menutup kemungkinan anak akan sombong dengan kekayaan yang

27

dimiliki orang tua serta kurang menghormati orang yang lebih rendah darinya. Sedangkan pada orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah dalam cara pengasuhannya memang kurang dapat memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi. Orang tua hanya dapat memenuhi kebutuhan anak yang benar-benar penting bagi anak. Perhatian dan kasih sayang orang tualah yang dapat diberikan. Anak yang hidup dalam perekonomian menengah kebawah terbiasa hidup dengan segala

kekurangan yang dialami keluarga. Sehingga akan terbentuk kepribadian anak yang mandiri, mampu menyelesaikan permasalahan dan tidak mudah stres dalam menghadapi suatu permasalahan.dan anak dapat menghargai usaha orang lain. Pada kenyataannya terdapat juga anak yang minder dengan keadaan ekonomi orang tua yang kurang. Oleh karena itu, peran orang tua dalam hal ini sangat penting. Orang tua harus menyeimbangkan dengan pendidikan agama pada anak. Sehingga anak mampu mensyukuri segala yang telah diberikan oleh sang Pencipta.

28

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan Pengasuhan yang dilakukan orang tua sangat mempengaruhi setiap kepribadian yang telah terbentuk. Segala gaya atau model pengasuhan orang tua akan membentuk suatu kepribadian yang berbeda-beda sesuai apa yang telah diajarkan oleh orang tua. Orang tua merupakan lingkungan pertama bagi anak yang sangat berperan penting dalam setiap perkembangan anak khususnya perkembangan kepribadian anak. Oleh karena itu, diperlukan cara yang tepat untuk mengasuh anak sehingga terbentuklah suatu kepribadian anak yang diharapkan oleh orang tua sebagai harapan masa depan. Pengasuhan yang baik untuk pembentukan kepribadian anak adalah

pengasuhan orang tua yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi dengan pengawasan dan pengendalian orang tua. Sehingga terbentuklah karakteristik anak yang dapat mengontrol diri, anak yang mandiri, mempunyai hubungan yang baik dengan teman, mampu menghadapi stres dan mempunyai minat terhadap hal-hal baru. Pendidikan dalam keluarga secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi : 1. Pembinaan akidah dan akhlak 2. Pembinaan intelektual 3. Pembinaan kepribadian dan sosial Pengasuhan anak perlu disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Perkembangan anak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : 1. Faktor bawaan 2. Faktor lingkungan Cara mengasuh anak harus sesuai dengan tahap perkembangan. Perkembangan anak, sejak dalam kandungan sampai umur 6 tahun, merupakan pondasi dalam membentuk kepribadian anak. Perkembangan ini dibagi 4 tahap, tiap tahapan mempunyai ciri dan tuntutan perkembangan tersendiri. Kebutuhan perkembangan anak meliputi kebutuhan mental, emosional dan
29

sosial. Cara mengasuh anak yang sesuai dengan perkembangan anak, dibagi dalam 4 tahap sebagai berikut: 1. Sejak dalam kandungan 2. Sejak lahir sampai 1,5 tahun 3. Usia 1,5 sampai 5 tahun 4. Usia 3 sampai 6 tahun (prasekolah) Pola asuh orang tua yang menyimpang akan berbahaya terhadap penyesuaian pribadi dan sosial anak akan bergantung pada 3 kondisi yaitu : 1. Sikap sosial yang umum berlaku terhadap pola kehidupan keluarga yang menyimpang akan mempunyai pengaruh kuat pada sikap teman sebaya. Sikap sosial ini dipelajari anak dari orang tua dan orang dewasa lain dan kemudian dijadikannya sikapnya sendiri. 2. Terdapat keragaman menurut kelompok sosial yang memberikan penilaian. 3. Mencoloknya pola asuh orang tua yang menyimpang mempengaruhi si anak dalam penyesuaian sosialnya. Sikap orang tua terhadap anak sangat mempengaruhi kepribadian anak. Sikap yang baik yang dapat mendukung pembentukan kepribadian anak antara lain : 1. Penanaman pekerti sejak dini 2. Mendisiplinkan anak 3. Menyayangi anak secara wajar 4. Menghindari pemberian label ³malas´ pada anak 5. Hati-hati dalam menghukum anak Hukuman juga perlu diberikan kepada anak, sehingga anak akan mengetahui perilaku yang telah dilakukannya itu benar atau salah. Fungsi hukuman yaitu : a. Menghalangi b. Mendidik c. Motivasi

30

Untuk membangun dan membentuk anak yang berkarakter dan berkepribadian yang positif dibutuhkan langkah-langkah dan strategi yang jitu. Sebab strategi yang jitu dan pas akan berdampak sangat signifikan terhadap keberhasilan, strategi tersebut yaitu : 1. Tekankan segi positif 2. Jaga agar peraturan tetap sederhana 3. Bersikap proaktif 4. Mengarahkan kembali perilaku yang salah 5. Mengatasi transisi 6. Negosiasi dan kompromi 7. Jangan membuat alasan 8. Hindari kontrol lewat rasa bersalah Dalam bentuk kepribadian, sistem-sistem psikofisik yang beragam yang membentuk kepribadian individu saling berkaitan, dan yang satu

mempengaruhi yang lain. Dua komponen utama bentuk kepribadian adalah inti ³konsep diri´ dan jari-jari roda ³sifat-sifat´ yang dipersatukan dan dipengaruhi inti. Komponen tersebut yaitu : 1. Konsep diri 2. Sifat-sifat Keluarga adalah kelompok sosial pertama dengan siapa anak

diidentifikasikan, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya. Anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan anak selama tahun-tahun saat desas-desus kepribadian diletakkan, dan pengaruh keluarga jauh lebih luas dibandingkan pengaruh kepribadian lainnya, bahkan sekolahpun. Betapa besar pengaruh keluarga pada perkembangan kepribadian anak telah dinyatakan oleh seorang penulis tak bernama dengan cara berikut: 1. Bila seorang anak hidup dengan kecaman, dia belajar mengutuk 2. Bila dia hidup dalam permusuhan, dia belajar berkelahi 3. Bila dia hidup dalam ketakutan, dia belajar menjadi penakut 4. Bila dia hidup dikasihani, dia belajar mengasihi dirinya

31

5. Bila dia hidup dalam toleransi, dia belajar bersabar 6. Bila dia hidup dalam kecemburuan, dia belajar merasa bersalah 7. Bila dia hidup diejek, dia belajar menjadi malu 8. Bila dia hidup dipermalukan, dia belajar yakin akan dirinya 9. Bila dia hidup dengan pujian, dia belajar menghargai 10. Bila dia hidup dengan penerimaan, dia belajar menyukai dirinya 11. Bila dia memperoleh pengakuan, dia belajar mempunyai tujuan 12. Bila dia hidup dalam kebijakan, dia belajar menghargai keadilan 13. Bila dia hidup dalam kejujuran, dia belajar menghargai kebenaran 14. Bila dia hidup dalam suasana aman, dia belajar percaya akan dirinya dan orang lain Dari jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya sangat menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak. Kesalahan dalam pengasuhan anak akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik. Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua yaitu : 1. Pola asuh demokratis 2. Pola asuh otoriter 3. Pola asuh permisif 4. Pola asuh penelantar Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya, yaitu : 1. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik 2. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya 3. Bersikap kasar secara verbal, misainya menyindir, mengecilkan anak, dan berkata-kata kasar 4. Bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit, dan memberikan hukuman badan lainnya 5. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini.

32

6. Tidak menanamkan "good character' kepada anak Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas, menurut Megawangi akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah. Anak menjadi acuh tak acuh, tidak butuh orang lain, dan tidak dapat menerima persahabatan. Karena sejak kecil mengalami kemarahan, rasa tidak percaya, dan gangguan emosi negatif lainnya. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan, simpati, cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. Secara emosional tidak responsif, dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain. Berperilaku agresif, menjadi minder, merasa diri tidak berharga dan berguna. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya, Ketidakstabilan emosional, yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress, mudah tersinggung, mudah marah, dan sifat yang tidak dapat diprediksi oleh orang lain. Ketidakseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak, akan membuat anak merasa tidak dekat, dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ´role model´ Anak akan lebih percaya kepada "peer group"nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif. Pengaruh keluarga pada perkembangan kepribadian bergantung sampai batas tertentu pada tipe anak. Misalnya, seorang anak yang sehat akan sangat berbeda reaksinya terhadap perlindungan orang tua yang berlebihan dibandingkan dengan seorang anak yang sakit dan lemah. Dalam cara pengasuhan orang tua yang bekerja dan orang tua yang tidak bekerja berbeda. Begitu pula dengan gaya pengasuhan orang tua yang mempunyai pendidikan yang tinggi dan orang tua yang mempunyai pendidikan yang rendah. Dan juga pola asuh orang tua yang tingkat perekonomian menengah keatas dan orang tua yang perekonomiannya menengah kebawah. Masing-masing pola asuh yang telah diberikan orang tua mempunyai pengaruh yang besar tehadap pembentukan kepribadian anak.

33

B. Saran Supaya pengasuhan anak dalam keluarga dapat berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal, maka hal yang patut untuk dicontoh adalah: 1. Dalam pengasuhan anak orang tua harus memperhatikan tingkat perkembangan anak 2. Semua perilaku orang tua yang baik atau buruk akan ditiru oleh anak, oleh karena itu perlunya orang tua untuk menjaga setiap perilakunya sehingga anak akan meniru sikap positif dari orang tua 3. Pola asuh orang tua harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi anak pada saat itu, ada kalanya orang tua bersikap demokratis, ada kalanya juga harus bersikap otoriter, ataupun bersikap permisif

34

DAFTAR PUSTAKA
Djoelisstee, Bertha. ³Keluarga Sebagai Pilar Pendidikan´ Jakarta 3 Februari 2010 akses internet www.btagallery.blogspot.com tanggal 19 Januari 2011 Hadi, Samsul. ³Peranan Keluarga dalam Pendidikan Karakter Anak´ Jakarta 17 Oktober 2010 akses internet www.strawberrysekolahbakatprestasi. wordpress.com tanggal 19 Januari 2011 Afifah, Deden S. Pd. ³Peran Serta Keluarga dalam Membentuk Mental dan Karakter yang Sehat Bagi Remaja´ Jakarta 28 Desember 2005 akses internet www.nurika99.com tanggal 19 Januari 2011 Setiawati, Dra. ³Optimalisasi Peran Wanita di Keluarga dalam Membentuk Sumber Daya Manusia Berkualitas´ Jakarta STT No. 2289 Volume 9 Nomor 16 Tahun 2006 akses internet

www.buletinlitbang.dephan.go.id tanggal 19 Januari 2011 Sunarsih. ³ Pendidikan Nilai dalam Keluarga dalam Perkembangan Teknologi di Era Globalisasi´ Bandung 2006 akses internet www.file.upi.edu,com tanggal 19 Januari 2011 Nuraeni. ³Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Kepribadian Anak Taman Kanak-kanak´ Semarang 2006 akses internet

www.digilib.unnes.ac.id tanggal 19 Januari 2011 Latifah, Melly. ³Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Anak´ Jakarta 21 Juli 2009 akses internet www.integral.sch.id tanggal 19 Januari 2011 Sa¶id, Emi Nur hayati Ma¶sum. ³Peran Lingkungan Keluarga dalam Membentuk Kepribadian Anak´ Jakarta 25 Februari 2007 akses internet

www.salehlapadi.wordpress.com tanggal 19 januari 2011

35

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->