P. 1
KEBIJAKAN PEMBAHARUAN AGRARIA DI INDONESIA “Studi Pilihan Kebijakan Landreform Pada Pola Kepemilikan Lahan Komunal”

KEBIJAKAN PEMBAHARUAN AGRARIA DI INDONESIA “Studi Pilihan Kebijakan Landreform Pada Pola Kepemilikan Lahan Komunal”

|Views: 5,661|Likes:
Published by Dw Kristianto
KEBIJAKAN PEMBAHARUAN AGRARIA DI INDONESIA
“Studi Pilihan Kebijakan Landreform Pada Pola Kepemilikan Lahan Komunal”
KEBIJAKAN PEMBAHARUAN AGRARIA DI INDONESIA
“Studi Pilihan Kebijakan Landreform Pada Pola Kepemilikan Lahan Komunal”

More info:

Published by: Dw Kristianto on Apr 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

Di Indonesia prinsip dan landasan landreform beralasan Prinsip Hak

Menguasai dari Negara. Dengan landreform diatur siapa-siapa yang berhak

mempunyai hak milik, pembatasan luas minimal dan maksimal luas tanah,

pencegahan tanah menjadi terlantar dan tanda bukti pemilikan atas tanah (Fauzi

1999). Jika diperinci, landasan landreform antara lain adalah :

a. Adalah hak negara untuk menguasai seluruh kekayaan alam Indonesia yang

bersumber dari pasal 33 ayat 3 UUD 1945. Hak menguasai dari negara bukan

hak pemilikan dari negara (kolonial) seperti asas domain, tetapi sama dengan

hak ulayat dalam hukum adat. Dalam kaitanya dengan itu, negara diberi

wewenang untuk mengatur antara lain kekayaan itu menyejahterakan rakyat,

antara lain dengan mengatur peruntukan, penggunaan, persediaan, dan

pemeliharaan bumi, air, dan ruang angkasa (pasal 2 UUPA).

b. Memberikan kewenangan pada negara untuk mengeluarkan tanda bukti

pemilikan tanah, Pemegang hak milik atas tanah hanya warga negara

Indonesia tanpa membedakan jenis kelamin. Warga negara asing tak diberi

hak yang demikian itu (prinsip nasionalitas-pasal 9 jo.21 ayat 1 UUPA). Pasal

ini membatasi kewenangan warga negara asing untuk menguasai tanah

Indonesia. Hal ini untuk mencegah beralihnya keuntungan sumber daya alam

Indonesia, seperti tanah partikelir yang menyebabkan rakyat Indonesia harus

37

menjadi buruh tani di tanah milik warga negara asing. Pemilik adalah

penguasa yang mengambil hasil kerja buruh tani.

c. Luas tanah dengan status hak milik dibatasi luasnya, luas minimal maupun

maksimal pemilikan tanah dibatasi agar tidak tumbuh lagi tuan tanah yang

menghisap tenaga kerja petani melalui sistim persawahan tanah atau gadai

tanah (pasal 7jo. Pasal 17 UUPA). Pengaturan batas minimal ditujukan agar

keluarga petani tidak hidup dari luas tanah yang kecil. Terdapat korelasi yang

saling menguatkan antara kecilnya produktivitas dengan kecilnya pemilikan

atas tanah. Pemilikan tanah yang terlalu kecil, tidak hanya berakibat kecilnya

pendapatan pemiliknya (baca:petani), juga secara mikro (nasional) merugikan

karena rendahnya karena rendahnya produktivitas (pasal 13 jo pasal 17

UUPA). Pemilikan tanah yang tidak terbatas (tanpa batas maksimal) akan

membuka peluang bagi sekelompok kecil orang menguasai tanah dalam luas

yang sangat besar dan sebagian besar yang lain terpaksa hanya mengandalkan

tenaga untuk menjadi buruh. Ketimpangan pendapatan dan ketidakadilan

senantiasa akrab dalam struktur masyarakat yang demikian. Sebaliknya, jika

tanah didistribusikan kepada semua orang, setiap orang memperoleh tanah

meski sedikit, memang lebih menjamin pemerataan tetapi resikonya adalah

produktivitas menjadi rendah, atau rata dalam ³kemiskinan´.

d. Pemilikan yang berhak atas tanah haruslah menggarap sendiri tanahnya secara

aktif (pasal 10 UUPA) sehingga dapat membawa manfaat bagi dirinya,

keluarga maupun masyarakat banyak. UUPA melarang pemilikan tanah

pertanian yang tidak dikerjakan sendiri oleh pemiliknya karena akan

menimbulkan tanah terlantar (tanah guntai/absentee) atau meluasnya

hubungan buruh tani dan pemilik tanah yang mempunyai kecenderungan yang

memeras (pasal 10 ayat 1 jo. pasal 11 ayat 1).

e. Panitia landreform akan mendaftar mereka yang mendapatkan pemilikan

tanah, untuk selanjutnya mereka akan diberikan suatu tanda bukti pemilikan

hak atas tanah. Alat bukti pemilikan itu, untuk menjamin kepastian hukum

atas tanah.

Selain berbagai hal diatas Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat

Republik Indonesia NOMOR IX/MPR/2001 Tentang Pembaruan Agraria dan

38

Pengelolaan Sumber Daya Alam juga memberi landasan yang kuat tentang

landreform . Beberapa yang menjadi pertimbangan kenapa landreform penting

adalah terdapat :

1. bahwa sumber daya agraria dan sumber daya alam sebagai Rahmat Tuhan

Yang Maha Esa kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan Nasional

yang wajib disyukuri. Oleh karena itu harus dikelola dan dimanfaatkan secara

optimal bagi generasi sekarang dan generasi mendatang dalam rangka

mewujudkan masyarakat adil dan makmur;

2. bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia mempunyai

tugas konstitusional untuk menetapkan arah dan dasar bagi pembangunan

nasional yang dapat menjawab berbagai persoalan kemiskinan, ketimpangan

dan ketidakadilan sosial-ekonomi rakyat serta kerusakan sumber daya alam;

3. bahwa pengelolaan sumber daya agraria dan sumber daya alam yang

berlangsung selama ini telah menimbulkan penurunan kualitas lingkungan,

ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan dan

pemanfaatannya serta menimbulkan berbagai konflik;

4. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan

sumber daya agraria dan sumber daya alam saling tumpang tindih dan

bertentangan;

5. bahwa pengelolaan sumber daya agraria dan sumber daya alam yang adil,

berkelanjutan, dan ramah lingkungan harus dilakukan dengan cara

terkoordinasi, terpadu dan menampung dinamika, aspirasi dan peran serta

masyarakat, serta menyelesaikan konflik;

6. bahwa untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia sebagaimana

tertuang dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, diperlukan

komitmen politik yang sungguh-sungguh untuk memberikan dasar dan arah

bagi pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam yang adil,

berkelanjutan dan ramah lingkungan;

Untuk menterjemahkan hal tersebut maka Pemerintah telah menyusun

beberapa Peraturan Perundang-Undangan Mengenai Hak Atas Tanah. Ketentuan

peraturan perundang-undangan tertinggi yang mengatur pengelolaan sumber daya

alam dan agraria adalah Pasal 28 H UUD 1945 yang melindungi hak atas properti.

39

Dua pasal tersebut, bila dipahami secara eksplisit, bertujuan untuk

melindungi hak masyarakat adat atas tanah dan sumber daya. Namun, pasal

tersebut bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945, yang melegitimasi Negara

untuk mengatur dan mengelola pemanfaatan sumber daya alam. Pasal 33

menyatakan bahwa:

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas

kekeluargaan.

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat

hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh

negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

4. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi

dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan

lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan

kesatuan ekonomi nasional.

5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam Undang-

Undang.

Perdebatan di atas harus ditarik dalam sebuah pertanyaan apa sebenarnya

dampak positif yang diharapkan dari Reforma Agraria? Karena itu Wiradi (2001)

menyatakan bahwa secara umum yang diharapkan dari reforma agraria adalah:

(a) Aspek hukum: akan tercipta kepastian hukum mengenai hak-hak rakyat

terutama kaum tani.

(b) Aspek sosial: akan tercipta suatu struktur sosial yang dirasakan lebih adil.

(c) Aspek psikologis: kedua hal tersebut pada gilirannya akan menimbulkan

social euphoria dan family security sehingga para petani termotivasi untuk

mengelola usaha taninya dengan lebih baik.

(d) Aspek politik: semua itu akhirnya dapat meredam keresahan sehingga gejolak

kekerasan dapat terhindari. Terciptalah stabilitas yang genuine, bukan

stabilitas semu akibat represi (seperti masa Orde Baru).

(e) Semuanya itu akhirnya bermuara kepada ketahanan ekonomi.

40

Sementara pemerintah melalui Program Pembaruan Agraria Nasional

(PPAN) Kepala BPN RI juga menekankan empat prinsip di dalam menjalankan

kebijakan, program dan proses pengelolaan pertanahan di masa depan, yaitu

(Winoto dalam Napiri M et.al., 2006b):

1. Pertanahan berkontribusi secara nyata untuk meningkatkan kesejahteraan

rakyat, penciptaan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat, pengurangan

kemiskinan dan kesenjangan pendapatan, serta pemantapan ketahanan pangan.

(Prosperity)

2. Pertanahan berkontribusi secara nyata dalam peningkatan tatanan kehidupan

bersama yang lebih berkeadilan dan bermartabat dalam kaitannya dengan

penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T). (Equity)

3. Pertanahan berkontribusi secara nyata untuk mewujudkan tatanan kepastian

yang harus dijaga kehidupan bersama yang harmonis dengan mengatasi

berbagai sengketa, konflik dan perkara pertanahan di seluruh tanah air dan

penataan perangkat hukum dan sistem pengelolaan pertanahan sehingga tidak

melahirkan sengketa, konflik dan perkara di kemudian hari. (Social Welfare)

4. Pertanahan berkontribusi secara nyata bagi terciptanya keberlanjutan sistem

kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan memberikan

akses seluas-luasnya pada generasi yang akan datang terhadap tanah sebagai

sumber kesejahteraan masyarakat. (Sustainability)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->