P. 1
ppn_perdagangan_eceran

ppn_perdagangan_eceran

|Views: 92|Likes:
Published by Rimbun Pratama

More info:

Published by: Rimbun Pratama on Apr 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2011

pdf

text

original

PPN ATAS PERDAGANGAN ECERAN

Dosen Pembimbing : Bapak Memed Sueb Disajikan oleh : Rimbun Pratama NPM 120620100521 Devi Hastuti Parlina NPM 120620100536

KELAS KERJASAMA BEASISWA UNGGULAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2011

03/2007 tentang Penyesuaian Besarnya Peredaran Bruto bagi WP OP yang boleh Menghitung Penghasilan Neto dengan Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto PMK Nomor 45/PMK.03/2002 tentang PPN atas Penyerahan Barang Dagangan oleh Pedagang Eceran Selain Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto   .03/2002 tentang Perubahan atas KMK Nomor 253/KMK.03/2002 tentang Perubahan atas KMK Nomor 553/KMK.52/2003 tentang Pelaksanaan KMK Nomor 402/KMK.03/2008 tentang Penyesuaian Besarnya Peredaran Bruto bagi WP OP yang boleh Menghitung Penghasilan Neto dengan Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-102/PJ.03/2002 PPN atas Penyerahan Barang Dagangan oleh Pedagang Eceran Selain Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto  PMK Nomor 01/PMK.04/2000 KMK Nomor 402/KMK.Dasar Hukum     UU Nomor 18 Tahun 2000 tentang PPN UU Nomor 42 Tahun 2009 tentang PPN KMK Nomor 252/KMK.

atau dari rumah ke rumah. 4) Melakukan transaksi jual beli secara spontan tanpa didahului dengan penawaran tertulis. 3) Menyediakan BKP yang diserahkan di tempat penjualan secara eceran tersebut. atau dengan cara penjualan yang dilakukan langsung kepada konsumen akhir. atau lelang. kontrak. pemesanan. 2) Menyerahkan Barang Kena Pajak (BKP) melalui tempat penjualan eceran seperti toko. kios. dan pada umumnya bersifat tunai dan pembeli pada umumnya datang ke tempat penjualan tersebut langsung membawa sendiri Barang Kena Pajak yang dibelinya.Definisi Pedagang Eceran adalah Pengusaha yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha perdagangan dengan cara sebagai berikut : 1) Tidak bertindak sebagai penyalur kepada pedagang lainnya. Dasar hukum terkait adalah Pasal 1 UU PPN dengan perbedaan pada definisi PKP menurut UU 42/2009 dimana tidak disebutkan tentang pengecualian atas status PKP pengusaha kecil (pasal 1 angka 15) .

maka KPP yang bersangkutan dapat menerbitkan Keputusan Pengukuhan menjadi PKP dan memberi NP PKP secara jabatan.Form yang digunakan adalah SPT Masa PPN formulir 1195 .Dalam hal pengusaha tersebut tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi PKP.Melaporkan usahanya kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak dan kepadanya diberi Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NP PKP) selambat-lambatnya pada akhir bulan berikutnya setelah bulan dilampauinya batas nilai peredaran BKP tersebut. 3. 2.Kewajiban 1.

/2002) Setiap PKP PE bebas untuk menggunakan salah satu dari mekanisme yang ada. KMK Nomor 553/KMK. sepanjang memenuhi syarat dan dilakukan secara konsisten .KEP – 342/PJ.03/2002 dan Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP – 102/PJ.03/2007.04/2000 tentang Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak Memilih dikenakan Pajak dengan Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.Mekanisme  Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan dimana penghasilan netonya untuk PPh menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 252/KMK.03/2002 Jo. dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PMK.52/2003 jo. Nomor 253/KMK.03/2008)  Menggunakan Mekanisme Umum (Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 402/KMK.03/2002 Jo.

c. sebesar 70% (tujuh puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a.800. a.00 (satu miliar delapan ratus juta rupiah) yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaan utamanya adalah melakukan usaha perdagangan. Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan ditetapkan sebagai berikut: 1. tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.” . 3. sebesar 80% (delapan puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a.Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Pedagang Eceran yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto adalah Pengusaha Orang Pribadi dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto selama 1 (satu) tahun buku tidak lebih dari Rp. Pajak Keluaran dihitung dengan cara mengalikan nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto yang terutang Pajak Pertambahan Nilai pada Masa Pajak yang bersangkutan dengan tarif Pajak Pertambahan Nilai. 1. b. 2.000.000. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak yang dilakukan Pengusaha Kena Pajak selain Pedagang Eceran. Nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto sebagaimana dimaksud dalam huruf a. sebesar 40% (empat puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a. Untuk penyerahan Jasa Kena Pajak. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pedagang Eceran dengan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.

catatan wajib dipisah antara penyerahan yang terutang pajak dan penyerahan yang tidak terutang pajak.000.800.03/2008 batasannya adalah Rp 1.00. namun hal ini belum diatur secara khusus dalam aturan pelaksanaannya (menurut PMK nomor 01/KMK. maka mulai permulaan tahun buku berikutnya Pengusaha Kena Pajak tidak lagi diperkenankan menggunakan pedoman pengkreditan Pajak Masukan.000.Pedoman Penghitungan Pengkreditan PM (lanjutan) Kewajiban Membuat Pencatatan Pengusaha Kena Pajak wajib membuat catatan nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto yang menjadi DPP.00).000. Dengan demikian selain WP/ PKP tersebut harus menggunakan mekanisme umum. WP OP yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto adalah WP OP yang memiliki peredaran bruto kurang dari Rp 4.000. dan dalam hal Pengusaha Kena Pajak di samping melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak. Menurut UU 36 Tahun 2008 tentang PPh pasal 14 ayat (2).800. . Penghentian menggunakan pedoman pengkreditan Pajak Masukan Apabila dalam suatu Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak tidak lagi memenuhi syarat untuk dikenakan Pajak Penghasilan dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.

memungut dan menyetor pajak yang terutang. Pajak Masukan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran adalah: a. terutang Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10% (sepuluh persen) dari harga jual. b. .Mekanisme Umum Pajak Keluaran Atas penyerahan barang dagangan oleh Pedagang Eceran Selain Yang Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. serta melaporkannya pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai. wajib membuat Faktur Pajak. Kewajiban Membuat Faktur Pajak Pedagang Eceran Selain Yang Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak. Pajak Masukan atas perolehan Barang selain Barang dagangan. Pajak Masukan atas perolehan Jasa Kena Pajak.

Pencantuman alamat Pedagang Eceran pada Slip Cash Register atau Segi Cash Register sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat disingkat.Faktur Pajak Sederhana:    Slip Cash Register atau Segi Cash Register yang dibuat oleh Pedagang Eceran Selain Yang Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dapat diperlakukan sebagai Faktur Pajak Sederhana. Slip Cash Register atau Segi Cash Register sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib diberi keterangan “untuk Barang Kena Pajak harga sudah termasuk PPN”. . Apabila dalam harga jual Barang Kena Pajak sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai.

BERAPA PPN?  .Contoh   Toko XXX menjual alat tulis kantor dan makanan ringan di Maksi Unpad Square dengan omzet penjualan setahun Rp 800 juta. Dalam menghitung penghasilan neto untuk Pajak Penghasilan. menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Selama bulan September 2008 omzet penjualannya adalah Rp 150 juta dan membeli bahan dagangannya sebesar Rp 80 juta. Kong Paul sang pemilik toko.

000 PPN Kurang Bayar = Rp 15.000.000 = Rp 3.000.PPN Pedagang Eceran (1) Pedoman pengkreditan PM     Peredaran Usaha Rp 150.000 Pajak Masukan 80% x Rp 15.000.000.000.000.000 Pajak Keluaran 10% x Rp 150.000.000.000 .000 = Rp 12.000 (Perhitungan yang lazim digunakan: (100%-80%) x peredaran usaha x 10% = 2% x peredaran usaha = 2% x Rp 150.000 = Rp 3.

(2) Mekanisme umum      Peredaran Usaha Rp 150.000.000 Pajak Masukan 10% x Rp 80.000 = Rp 7.000. .000.000.000.000 = Rp 8.000.000.00) dan atas PM terkait tidak dapat dikreditkan. namun harus diingat bahwa mekanisme (1) memiliki persyaratan tertentu yang harus dipenuhi (WP OP dan peredarab bruto kurang dari Rp 1.000 PPN Kurang Bayar = Rp 15.000 Dari perhitungan tersebut terlihat bahwa mekanisme (1) lebih menguntungkan bagi pengusaha dibandingkan dengan mekanisme (2). Pengusaha dapat menyikapi nature dari masing-masing mekanisme ini untuk mendapatkan hasil yang paling menguntungkan baginya.800.000 Pembelian Rp 80.000 Pajak Keluaran 10% x Rp 150.000.000.

Terima Kasih .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->